[FF February Love Mission] Promise ||Yuna Seijuurou


ADMIN’s NOTE: FF ini dikirim authornya tanggal 29 february malam, dan berhubung admin (?) hanya bisa ON PC pada pagi hari, makanya agak telat publishnya. *bow. 

.

.

.

—Han…

Ia yang selalu tangguh, kini merapuh.

Rapuh, serapuh-rapuhnya anak randa tapak yang terbang dimainkan angin, sebelum akhirnya hanyut ditindas riakan anak sungai.

Tanpa sempat untuk menyemai benih.

.

Luhan…

Di tempat itu, segala kekacauan bermuara.

Teriakan. Jeritan pilu. Erangan kesakitan.

Penuh akan nafsu membunuh.

Demi secuil harapan untuk hidup bagi mereka yang enggan berkawan dengan kematian.

.

Dengarkan aku.

Di tengah kekacauan itu, ia memaksakan diri.

Berdiri dengan segenap tenaga yang dimiliki.

Melawan takdir yang selalu mempermainkannya tanpa henti.

Sampai ia tak tahu lagi…

Apakah dirinya masih hidup, atau sudah mati.

.

Ketika tiba saatnya

Barangkali, ia sendiri sudah mati.

Saat kedua tangannya menggenggam gagang pedang.

Lalu menghunuskannya.

Hingga tetesan darah mengelilinginya.

.

—aku menghunuskan pedang ke arahmu…

“Lu … Han.”

Pipi tirus yang diterjuni tangis, diusap perlahan.

Jemari yang membelainya, ternodai darah.

Cahaya dari bola mata itu telah pudar.

.

Berjanjilah untuk membunuhku lebih dulu…

.

.

.

Apa kita tak boleh memiliki ruang untuk bahagia?

.

.

.

Pemuda itu tertegun.

Luhan membeku. Bukan karena hembusan angin malam yang menusuk kulit. Bukan pula karena daun jendela kamarnya yang menjeblak terbuka. Bulan malam itu memang tersamarkan gumpalan awan, tapi Luhan tak pernah salah mengenali rupa seseorang.

“Lama tak bertemu…”

Sepasang mata cokelat mengerjap tak percaya, sekalipun suara itu menggaung begitu jelas.

“Pangeran Luhan,” si pemuda melanjutkan. Luhan masih terdiam. Terpana. Menyangka sosok itu sebatas fatamorgana.

Luhan, detik itu, merasa takut.

Takut, jika sosok yang berdiri di hadapannya hanya ilusi semata. Yang akan lenyap ketika ia berlari, melompati jendela, dan memeluknya.

“Kenapa diam saja, pangeran Lu? Apa kau lupa padaku?”

Bukan, Luhan tak pernah lupa.

Luhan tak pernah mengenyahkan sosok itu dari ingatannya, dari pikirannya, ataupun dari mimpi yang selalu membayanginya hampir setiap malam. Harapan untuk bertemu—sekalipun itu semustahil mengharap hujan mengguyur di musim kemarau—selalu dipendamnya diam-diam.

 

“Kau—“

Bukan mimpi ‘kan? Kau tak akan menghilang kalau aku berlari memelukmu seperti mimpi yang berkesudahan ‘kan?

“Ya, ini aku. Luhan-ku.”

Betapa Luhan merindukannya. Wajah itu, sosok itu, dan suara yang menyebut namanya. Luhan tak tahan berlama-lama mengingkari rasa rindu. Ia ingin berlari sekarang juga. Melompati bingkai jendela, mengulurkan tangan, dan mendarat dalam dekapan yang selama ini hanya bisa ia rasakan dalam mimpi.

Sekalipun itu ilusi, ia tak peduli.

Satu kaki terangkat. Kain tersibak. Kaki telanjang mulai menapak. Tak peduli tanah tempatnya berpijak masih lembab—bekas tersiram guyuran hujan—ataupun tertusuk pecahan kerikil, Luhan sungguh tak peduli.

“H-hei, apa yang kau lakukan, Lu?”

Luhan sungguh-sungguh melompat. Pemuda yang berdiri di tepi jendela, terperangah. Tapi sigap memeluk tubuh kurus Luhan seperti menangkap bidadari jatuh dari kahyangan.

Sama seperti waktu itu.

“Lu—astaga.”

Kehangatan yang dirasakan Luhan kini nyata adanya. Dalam bahu kekar yang mendekapnya, Luhan merasa ingin menangis sejadi-jadinya.

Dia nyata. Benar-benar ada. Bukan mimpi. Bukan ilusi.

Dia tidak lenyap saat kupeluk.

“Sehun … Sehun.”

Nama yang selalu dipendamnya, untuk pertama kalinya disuarakan begitu lantang. Di tengah isakan.

Pemuda yang dipanggil Sehun membenamkan wajahnya dalam puncak kepala Luhan. Menghirup dalam-dalam aromanya. “Ini aku, sayangku. Aku rindu mendengarmu memanggilku begitu lagi. Aku sangat merindukanmu, Luhan-ku.”

.

.

.

Promise

[HunHan Version]

Sehun x Luhan

Promise [HunHan Version] © Yuna Seijuurou

Sehun & Luhan © EXO

AU Kingdom/ Slash/ Romance/ Angst/ Tragedy/ Hurt-Comfort

Rated : T – M

Dibuat untuk event FEBRUARY LOVE MISSION by KC

[Author’s Note] : Cerita ini merupakan remake dengan segala perubahan dari fanfik AkaKuro (Akashi/Kuroko) dari fandom Kuroko no Basuke karya Yuna Seijuurou yang pernah diposting di ffn dengan link : https://www.fanfiction.net/s/10546359/1/Promise

Nama tempat atau istilah yang disebut dalam cerita ini adalah fiksi belaka, serta tidak ada hubungannya dengan kejadian sebenarnya

.

.

.

Kamar Luhan kini menampung dua orang.

Jendela telah tertutup. Angin malam kini tak lagi mengusik mereka. Gulungan awan tak lagi menyamarkan purnama. Sinarnya mampu menerobos masuk melalui celah jendela. Membuat keduanya mampu menelisik wajah satu sama lain. Melampiaskan kerinduan dengan saling memandang.

Diam—adalah cara yang paling tepat untuk mengungkapkan rindu, sepertinya.

Tangan si pemuda terulur, menelusuri lekuk wajah Luhan. Mulai dari rambut, turun ke pelipis, membelai pipi. Sempat berhenti sejenak saat jarinya tersendat tulang pipi yang menonjol.

“Kau begitu kurus, Luhan-ku. Apa kau jarang makan saat aku tak ada?”

Luhan tak menyahut. Hanya memberi kecupan singkat pada telapak tangan yang membelainya. Kerinduan ini begitu menyiksa—dan sepertinya isyarat itu sampai pada pemuda di hadapannya.

“Sudah empat tahun.” Luhan mengangguk, mengiyakan. Empat tahun sudah mereka tak saling bersua. “Aku tidak memberi ucapan selamat ulang tahun kepadamu sebanyak empat kali. Berapa usiamu sekarang, Luhan-ku?”

“Dua puluh lima tahun. Tapi mereka belum mendesakku untuk menikah.”

“Kerajaan pasti mencari penerus tahta. Aku ragu dengan ucapanmu. Ratu Baek Hyun pasti bersemangat mencari menantu.”

Eomma tidak begitu,”  Luhan menyangkal. Menggenggam pergelangan tangan si pemuda yang sekarang jauh lebih kekar, dari pemandangan terakhir yang dilihatnya. “Kau juga sudah bertumbuh dewasa, Sehun. Terakhir kali aku melihatmu, kau masih remaja tanggung.”

“Dan kau tak ada bedanya dengan empat tahun lalu. Masih tetap mungil. Dan tetap cantik.”

Luhan tersipu. “Panglima Oh Sehun, berapa usiamu sekarang?”

“Aku baru saja genap dua puluh satu tahun, tiga hari yang lalu.”

“Selamat … bertambah dewasa, Sehun. Kau datang terlalu mendadak. Aku tak sempat menyiapkan hadiah.”

“Aku kabur diam-diam dari Seomgyuk demi mendapatkan hadiah ulang tahunku malam ini.”

“Kau menantang maut rupanya.” Luhan meletakkan kedua telapak tangannya di atas pundak Sehun. Merasakan kehangatan pemuda itu. “Appa bisa memenggal kepala setiap penghuni Seomgyuk yang berani menginjak tanah Gyujseon.”

Sehun tersenyum. “Dan kau tak takut menemuiku? Tak takut aku membahayakanmu? Tak menyesal memasukkan aku ke dalam kamarmu?”

“Aku tidak takut. Kalau itu Sehun—“

Sehun memangkas jarak. “Maaf kalau aku lancang, Luhan-ku. Tapi perasaanku sama sekali tak berubah sejak empat tahun yang lalu.” Kedua bibir mereka nyaris bersentuhan. Sehun terdiam sejenak, meminta izin lebih dulu. “Bolehkah?”

Luhan tak pernah menolak. Selama Sehun yang meminta.

.

.

.

Luhan, dalam ingatan Sehun, bagaikan pipit kecil yang terpenjara dalam sangkar.

Kesayangan kaisar dan ratu. Dielu-elukan rakyat. Dimanjakan para dayang, dan dilindungi dengan segenap jiwa raga oleh panglimanya.

Tapi justru semua anugerah itu yang membuatnya terkungkung, dan tak mampu mengepakkan sayap.

.

.

.

Pertemuan mereka adalah suatu ketidaksengajaan—yang terencana.

Sehun sedang menambatkan kuda, beristirahat sejenak dalam sebuah lawatan. Kuda ditambatkan di dahan pohon mahoni. Sementara ia mengawasi kudanya dari kejauhan, bersandar pada dinding batu yang kokoh.

Menikmati semilir angin. Melepas penat sejenak dari kewajiban mendampingi. Angin Gyujseon entah mengapa, membuatnya nyaman sejak kali pertama menginjakkan kaki. Wanginya tak ingin membuatnya berpaling.

Tapi distraksi terlalu cepat datang. Suara ranting yang patah dari atas kepalanya membuyarkan lamunan. Sehun mendongak, mendapati sesosok tubuh meluncur bebas.

Jatuh tepat ke dalam pelukannya.

Itulah pertemuan pertama mereka.

.

.

.

Ciuman mereka tak berkesudahan. Tapi Sehun selalu memberi kesempatan untuk Luhan mengambil napas.

“Saat menangkapmu tadi, aku jadi ingat pertemuan pertama kita.”

Luhan tersipu. “Terima kasih telah menyelamatkanku waktu itu, panglima Seomgyuk. Tapi aku masih penasaran, bagaimana kau bisa ada di bawah jendela kamarku saat aku mencoba kabur?”

Sehun tersenyum. Mengeratkan pelukan. “Entahlah. Mungkin angin yang berhembus membawaku padamu. Aku selalu menyukai semilir angin di sini. Dan selalu merindukannya.”

“Merindukan anginnya saja?”

Hidung mungil disentil. “Kau lucu kalau cemburu.”

“Tidak, aku tidak cemburu. Karena aku tahu Oh Sehun hanya selalu datang untukku.”

.

.

.

“Kh—kukira aku sudah mati…”

“Kupikir aku baru saja menangkap bidadari.”

.

.

.

“Kau bahkan tak menyebutkan nama saat aku menolongmu dulu. Lari begitu saja seperti rusa yang takut pada pemburu.”

“Tentu saja bodoh. Mana ada rusa yang menyerahkan dirinya sukarela untuk diburu.”

Luhan membenamkan dirinya dalam kehangatan tubuh Sehun. Merasakan aroma tubuh yang sudah lama tak disesapi. Empat tahun sudah Luhan menahan kerinduan. Ini benar-benar bukan mimpi. Sehun ada di sana dan memeluknya.

Sehun memberikan kecupan dalam pada puncak kepala Luhan.

“Aku bersyukur datang ke Gyujseon dan bertemu denganmu, Luhan-ku.”

.

.

.

“Luhan, kemarilah. Duduklah bersama eomma di sini.”

Luhan melangkah malu-malu. Pakaian resmi yang melekat sesekali membuat perutnya gatal. Langkahnya diseret, terhalang kain yang jatuh sampai mata kaki. Acara formal selalu tak disukainya. Kali ini, ia diwajibkan menghadiri acara makan malam yang diadakan untuk menjamu tamu ayahnya.

Lawatan kerajaan Seomgyuk akan berlangsung tiga hari. Luhan sedikit mendengus saat mendengar kabar burung itu dari pengawal pribadinya, Kris. Tapi, Luhan tak bisa menolak saat diceramahi Kris; “Pemimpinnya sendiri yang datang langsung mengunjungi Gyujseon. Tunjukkan sedikit tata kramamu, Lu. Jangan mengecewakan kaisar Chan Yeol.”

Kaisar Seomgyuk bernama Kai. Beliau datang didampingi perdana menteri dan beberapa prajurit—Luhan sudah menggali sedikit informasi sebelum menghadiri jamuan makan malam. Setidaknya nama-nama penting yang harus diingatnya tidak banyak; Kai dan Suho, si perdana menteri. Lainnya tak begitu penting.

Luhan melemparkan senyum abal pada semua tamu undangan. Kursi itu tidak mampu membuatnya nyaman sekalipun Baek Hyun sudah mencubiti pahanya berkali-kali. Memaksa anak kesayangannya untuk menurut.

“Terima kasih atas kunjungannya, kaisar Kai. Ini hanyalah jamuan makan malam sederhana yang bisa kami siapkan. Mohon dinikmati sajiannya.”

Luhan mendengarkan ayahnya, Chan Yeol. Sambil berharap bisa kabur di tengah acara. Kris yang diharapkannya bisa membantu, hanya mengawasi dari kejauhan. Luhan mendengus. Tanpa sadar sedikit bermuka masam. Baek Hyun tersenyum menjamu para tamu. Tak sadar putera semata wayang sudah menggerutu.

“Yang Mulia Ratu,”

Baek Hyun menoleh. Luhan terkejut. Ada suara yang tidak asing baru saja memanggil eomma-nya.

“Mungkin pangeran bisa dipersilakan mencicipi sup terlebih dahulu. Saya belakangan saja. Beliau daritadi menggerutu. Mungkin beliau sudah lapar.”

Baek Hyun menatap sinis Luhan. Sang pangeran hanya membalas tatapan ibunda dengan senyuman keki. “Ah tidak, tidak. Tamu harus mengambil sajiannya lebih dulu. Luhan belum lapar, iya ‘kan sayang? Jangan khawatir panglima Oh Sehun, Luhan-ku hanya sedikit kelelahan. Ayolah sayang, jangan bermuka masam begitu di hadapan tamu.”

Sekarang ada satu nama lagi yang harus Luhan ingat; Oh Sehun. Panglima Seomgyuk dan tangan kanan kaisar Kai yang sudah mempermalukannya di depan Baek Hyun.

“Tenang saja, panglima Oh. Saya belum lapar. Silakan menikmati sup ini terlebih dahulu. Benar apa yang dikatakan ibunda. Maaf kalau sikap saya kurang mengenakkan. Saya lelah setelah seharian berkutat dengan buku sejarah.”

Mangkuk sup yang sudah disodorkan, dikembalikan lagi. “Anda yang lebih membutuhkan supnya, pangeran. Sepertinya anda lelah berlari seharian. Anda pasti kelaparan.”

Baek Hyun keheranan. Konversasi ini terdengar cukup aneh baginya. “Luhan, kau tidak kabur lagi dari pelajaran sejarah ‘kan?”

Luhan meremas bajunya. Enggan menatap balik Sehun. Dalam hati bersumpah, akan menumpahkan wajah Sehun dengan kuah sup setelah acara makan malam ini berakhir. “Mengapa eomma berpikir begitu? Bukankah ananda baru bertemu panglima Oh hari ini?”

Ya, hari ini. Tapi tidak pada malam itu.

Sehun diam-diam memungut selendang yang terjatuh saat Luhan kabur darinya. Berniat mengembalikannya setelah jamuan berakhir.

.

.

.

“Apakah pukulanku saat itu terasa sakit?”

Sehun mengernyit sejenak, “Memukul? Kau pernah memukulku?” Lalu tersenyum setelah beberapa saat. Teringat sesuatu. “Ah ya, padahal aku sudah mengembalikan selendangmu. Itu cukup sakit, Luhan-ku.”

“Aku memukulmu sepenuh hati. Bukannya kau panglima kerajaan? Seharusnya tubuhmu sekeras batu.”

“Tapi batu ini juga punya perasaan. Ia bisa merasakan sakit, dan juga rindu.” Pipi yang tak lagi kenyal itu dicubit pelan. Luhan tidak meringis. Sebaliknya, Sehun secara mendadak melemparkan tatapan miris.

“Kenapa Sehun? Raut wajahmu mendadak berubah.”

“Tidak, hanya saja … aku tak ingat kau pernah sekurus ini.” Bekas cubitan diusap pelan. Tulang pipi yang sedikit menonjol disusuri. “Kau tak makan dengan baik saat aku tak ada?”

“Sebelum menanyakanku, tanyakan dirimu sendiri, Oh Sehun. Kau datang kemari artinya mengumpankan nyawa. Seomgyuk dan Gyujseon tak lagi seperti dulu. Appa bisa memasungmu kalau tahu kau ada di kamarku.”

“Aku dengan mudah bisa mengelabuhi puluhan penjaga di luar sana. Jangan khawatir, sayangku. Yang Mulia Chan Yeol tidak akan menyadari keberadaanku di sini.”

“Kau datang kemari dengan bertaruh nyawa. Kehadiranmu di sini pasti bukan semata-mata karena mengejar hadiah ulang tahunmu. Katakan sejujurnya, Oh Sehun. Apa yang membuatmu datang kemari?”

Ketika raut wajah Sehun berubah serius, Luhan sudah mempersiapkan diri. Kemungkinan pertama, kemurkaan kaisar Kai. Kemungkinan kedua, undangan perang. Kemungkinan ketiga—

“Kaisar Kai begitu murka setelah lamarannya ditolak secara resmi olehmu. Bagi beliau, itu adalah penghinaan.”

“Kukira kau mau bicara apa. Kalau kaisar Kai bisa jatuh cinta pada pandangan pertama denganku saat jamuan makan malam itu, maka aku pun juga bisa jatuh cinta pada pandangan pertama dengan orang lain. Atau kau datang kemari untuk menculikku dan membawaku padanya?”

“Sekalipun kaisar menitahkan demikian, aku tak bisa melakukannya. Aku tak bisa menyerahkanmu pada orang lain.”

“Panglima kesayangan Seomgyuk bisa berkhianat juga rupanya.” Luhan tertawa getir. Kemelut yang terjadi di antara dua kerajaan ternyata terinisiasi kisah cinta terlarang. Bagi seorang yang merindukan kebebasan, apakah tidak boleh sedikitpun ia mencicipi rasanya bahagia? Bagi Luhan yang selalu kesepian, hanya Sehun yang bisa menawarinya cinta.

.

.

.

Pertemuan yang membekas di hati Luhan itu sesungguhnya berlanjut.

Tak hanya Sehun yang diam-diam meninggalkan Seomgyuk, Luhan sendiri juga sering kabur dari pengawasan Baek Hyun. Hutan kecil di perbatasan Gyujseon menjadi tempat yang tanpa disadari dipilih untuk bertemu. Awalnya malu-malu, akhirnya makin memburu.

Yang disukai Luhan dari Sehun, salah satunya adalah lelaki itu tak pernah mengizinkannya untuk cemburu. Tak pernah sekalipun. Pemuda itu selalu, dan selalu menjaga hatinya.

“Kadang aku masih bertanya-tanya. Kenapa aku harus kabur dari eomma dan berkuda sendirian ke hutan ini setiap hari Rabu saat matahari mulai meninggi, dan baru kembali ke kamarku saat petang mulai membayang. Bisakah kau beri aku alasan untuk itu, Oh Sehun?”

Sang panglima Seomgyuk tertawa renyah, sembari membantu Luhan turun dari kudanya. “Aku juga masih bertanya-tanya, pangeran Lu. Kenapa aku selalu menantikan saat-saat untuk bertemu denganmu dan meninggalkan kaisar Kai sendirian. Padahal kalau menteri Suho tahu, beliau bisa memenjarakanku.”

“Kau menempuh resiko sejauh itu hanya demi bertemu denganku?”

“Sama sepertimu yang bebal dan tak takut dihukum ratu Baek Hyun ‘kan?”

Luhan diam-diam tersipu. Pemuda ini selalu tahu bagaimana membuatnya merona malu. “Tadi aku nyaris gagal kemari. Kris belakangan mengawasiku dengan begitu ketat. Berkali-kali ia mengecek kamarku. Memastikan aku kabur atau tidak.”

“Kris lagi. Entah kenapa belakangan nama itu membuatku cemburu.”

Luhan tertawa senang. Membuat Oh Sehun cemburu memang hobi yang menyenangkan. “Kenapa kau harus cemburu, Oh Sehun? Apa hubungan kita sampai kau berhak untuk cemburu?”

Sehun terdiam sejenak. Luhan tanpa sadar menunggu jawaban. Entah apa yang harus ia tunggu. Luhan juga tak mengerti. Yang ia tahu, dadanya berdebar melihat Sehun yang begitu antusias terhadapnya.

“Mungkin karena aku seorang pemburu yang sudah menetapkan mangsaku, rusa kecil yang tak bisa diam.”

Makin berdebar. “Apa … maksudmu, panglima Seomgyuk?”

Sehun sendiri terlihat salah kaprah. Salah tingkah. Tak seperti biasanya. “Pangeran Lu, mungkin ini terdengar gila. Tapi aku juga tak mengerti. Yang kutahu, aku selalu senang saat melihatmu. Selalu kesal saat kau mengucapkan nama pria lain. Kakakku bilang, itu adalah perasaan yang lazim disebut jatuh cinta. Apakah kau marah pangeran Lu, kalau seandainya aku bilang; aku jatuh cinta padamu?”

Dan demi apapun, Luhan tak tahu energi macam apa yang mendorongnya untuk berjinjit, menggapai Sehun yang lebih tinggi darinya, dan mengecup kulit pipi putih itu singkat.

Sehun terhenyak. Luhan pun buru-buru menjauh.

“Pangeran Lu, yang barusan itu?”

“Y—ya, itu jawabanku! Kau bertanya aku marah atau tidak, jelas saja aku marah! Aku marah karena kau baru bilang itu sekarang, dasar Sehun bodoh!”

Cinta itu buta. Tapi cinta pada pandangan pertama jauh lebih gila. Sejak Sehun menangkapnya, Luhan tahu hatinya akan ikut tertangkap juga. Tubuh Sehun didorong jatuh. Mendarat di atas tumpukan ilalang. Luhan, bertumpu di atasnya.

“H-hei, Luhan! Apa yang kau lakukan?”

Luhan dengan antusias, mendekatkan wajahnya.

Luhan membawa sebelah tangan Sehun. Meletakkannya tepat di atas dada. “Bisa rasakan degup jantungku? Itu bukti kalau kau juga bersinar di sana. Kurasa aku … juga jatuh cinta padamu, Oh Sehun.”

Di bawah pepohonan rindang, terlindungi dari sinar matahari yang sudah meninggi, keduanya berciuman untuk pertama kali. Luhan yang mengawali. Sehun yang menyambut. Keduanya saling berkejaran dalam satu napas.

.

.

.

“Aku masih belum paham, Oh Sehun. Apa kau diusir dari kerajaanmu karena ketahuan menjalin cinta dengan seseorang yang baru saja menolak kaisar Seomgyuk?”

Kini keduanya terbaring di atas ranjang. Masih berpakaian lengkap. Sehun memeluk Luhan lagi. Pangeran Gyujseon menenggelamkan wajahnya dalam bahu kekar Sehun. Panglima Seomgyuk mengarahkan pandangannya pada langit-langit kamar Luhan yang dilukisi ornamen hasil bentukan telusupan cahaya bulan. Bentuknya tidak beraturan. Sama seperti ketidakteraturan hidup yang mereka jalani. Bertemu diam-diam. Berpisah pun diam-diam.

Sehun tertawa simpul. “Kalau kaisar Kai tahu bahwa aku yang mematahkan hatinya, tentu aku tak bisa menemuimu dalam keadaan utuh begini, Luhan-ku.”

“Kaisarmu masih belum tahu kalau kau berhasil mencuri hatiku?”

“Alih-alih menghukumku, aku lebih takut kalau dia menyakitimu juga.”

“Aku tangguh. Kau tak perlu khawatir. Kai atau siapapun dia, bahkan Kris tak bisa menyentuhku. Kau seharusnya mengkhawatirkan dirimu sendiri, panglima Oh Sehun. Cepat atau lambat, Seomgyuk akan tahu kalau panglima kepercayaan kaisar menghilang tiba-tiba.”

“Mendengarmu mengucapkan itu, membuatku tenang. Aku kemari untuk memastikan itu. Jangan khawatirkan aku. Aku akan segera kembali ke Seomgyuk setelah menyampaikan ini padamu.”

“Menyampaikan apa?” Kemungkinan kedua, undangan perang. “Seomgyuk akan menyerang Gyujseon? Kalau soal itu, Appa dan eomma sudah mengantisipasi kemungkinan perang. Kris mengajariku bela diri. Aku boleh menggunakan pedang. Aku juga mulai mahir memanah.”

“Kau memang secerdas yang dibicarakan orang-orang, pangeran Lu. Tapi selalu ada kemungkinan terburuk dari yang terburuk.”

Luhan mengernyit. “Apa maksudmu?”

“Lusa dini hari, Seomgyuk akan memulai serangan melalui hutan kecil tempat kita biasa bertemu. Kai memberiku misi khusus.” Luhan meneguk ludah. Tampaknya masih ada kemungkinan ketiga yang sama sekali tak diduganya. “Melenyapkan semua penghuni kerajaan Gyujseon. Membunuh kaisar Chan Yeol, ratu Baek Hyun, termasuk melenyapkan nyawa anak kesayangan mereka yang telah membuat kaisar Seomgyuk murka, Luhan.”

Kemungkinan ketiga—Sehun dikirim sebagai pembunuh untuk mengakhiri hidupnya.

Luhan tersenyum getir. Menggigit bibir. Tak peduli jika nantinya mencium bau anyir. “Jadi, sekarang kau kemari untuk mencabut nyawaku? Mau mencuri start?” Kata-katanya makin tak terkendali. Luhan mengambil posisi dari Sehun. Menjauh. Sang panglima terkejut. Tapi urung menggapai kekasihnya.

“Luhan…”

“Kau … apa kau lebih memilih menuruti perintah kaisarmu, dibanding nyawa kekasihmu!?”

“Lu, aku—“

“Jangan mendekat!”

Luhan meraih apa saja yang ada di dekatnya, cermin, guci, atau apapun. Sayangnya tak ada pedang yang biasa Kris pinjamkan kepadanya.

“Mendekat satu langkah, aku tak akan segan melukaimu, Sehun!” Cermin di atas meja dibanting sampai pecahan kacanya berserakan. Sehun buru-buru melompat dari atas ranjang saat melihat darah menetes dari telapak tangan Luhan yang menyentuh pecahan kaca.

“Luhan, jangan berbuat bodoh! Buang pecahan kacanya!”

“Jangan dekati aku, pembunuh! Menyingkir dariku! Aku menyesal memasukkanmu ke dalam kamarku!” Pecahan kaca diacungkan tinggi-tinggi, tapi Sehun mampu menghindar dengan gesit. “Kau akan membunuh kedua orang tuaku kalau aku tidak membunuhmu! Pergi! Menjauh dariku, pembunuh!”

Pergelangan tangan Luhan diraih paksa. Pecahan kaca terlepas dan terjatuh ke atas lantai. Sehun meraih Luhan ke dalam dekapannya. Luhan sungguh membenci dirinya sendiri, mempertanyakan alasan mengapa ia tak mampu berontak. Kenapa ia membiarkan Sehun mendekapnya, Luhan sama sekali tak mengerti.

“Jangan berbuat bodoh, Lu. Tanganmu—“ Sehun meraih pergelangan tangan Luhan. “Tanganmu terluka. Darahnya banyak sekali, ah sial—“ Sehun merobek tirai jendela. Membebatkannya dengan hati-hati pada tangan Luhan. “Aku menyesal sudah membuatmu terluka, maafkan aku.”

“Kenapa meminta maaf?” Luhan berkata sinis. “Bukannya kau ingin membunuhku? Luka ini bukan apa-apa. Cabut pedangmu dari sarungnya. Bunuh aku sekarang juga.”

“Lu, itu keinginan kaisar Kai. Bukan keinginanku. Bukannya kau yang paling mengerti diriku?”

Luhan terhenyak. Menatap Sehun yang masih serius membebat tangannya.

“Tentu saja aku tak akan membiarkan itu terjadi, Luhan-ku. Aku tak akan membiarkanmu mati.”

“Apakah ada—“ Apakah aku masih bisa berharap, untuk kemungkinan keempat; “—kemungkinan bagi kita untuk pergi? Kita kabur? Kau datang kemari karena mau membawaku pergi ‘kan? Iya ‘kan?”

Sehun sayangnya, tidak mengiyakan. “Kalau aku bisa, sudah tentu aku ingin melakukannya, Luhan-ku. Tapi itu tetap akan mengorbankan nyawa kedua orang tuamu. Nyawa kaisar Chan Yeol dan ratu Baek Hyun.”

Tak ada harapan yang tersisa untuk Luhan. Semuanya telah pupus. “Bagaimana … sebaiknya?” Haruskah aku menyerahkan nyawaku pada orang yang mencintaiku?

“Luhan.” Nada tegas. Tak ada keraguan di dalamnya. Sehun telah memutuskan sesuatu yang sama sekali tak bisa Luhan terka. “Masih ada cara, untuk menyelamatkan Gyujseon. Untuk menyelamatkanmu, kaisar Chan Yeol dan juga ratu Baek Hyun.”

“Cara apa?”

Air mata Luhan menetes. Pemandangan yang paling dibenci Sehun. Jemari Sehun terulur, mengusap air mata Luhan. Kesakitan yang ditanggung Luhan, seperti belati yang menusuk jantung Sehun di saat yang bersamaan.

“Ketika … aku datang menghunuskan pedang dua hari lagi, saat itu jangan ragu—“ Jeda. Napas Luhan tertahan. “—untuk membunuhku lebih dulu. Sama seperti saat kau mengacungkan pecahan kaca tadi. Arahkan pedangmu tanpa ragu, dan bunuhlah aku.”

Kemungkinan selanjutnya, ia sendiri yang harus menghabisi nyawa Sehun.

Hati Luhan pecah berkeping-keping. Membunuh orang yang selalu dirindukannya sama sekalo tak pernah terpikirkan sebelumnya. Tidak pernah sedetikpun terbesit, sekalipun Sehun menghilang secara tiba-tiba darinya empat tahun lalu.

“Apa itu—“ Jangan, kumohon. Jika ada cara lain yang bisa kulakukan untuk melindungi semua nyawa orang-orang yang kusayangi, tolong katakan. “Tidak, aku tidak mau. Aku tidak mau membunuhmu!”

“Luhan, tolonglah. Kai pasti akan mengirimkan aku untuk membunuhmu. Kalau kau tak bisa melakukannya, kau boleh minta bantuan Kris, atau siapapun terserah, untuk mengambil nyawaku…”

“Sebegitu loyalnyakah kau pada kaisarmu itu, sampai-sampai kau tega menyakiti perasaanku sedalam ini? Kau sudah menyakitiku, Sehun. Kau—brengsek.”

“Luhan, sama sepertimu yang tak ingin kehilangan kaisar Chan Yeol ataupun ratu Baek Hyun, aku juga tak ingin kehilangan keluargaku. Kai menggenggam nyawa mereka semua. Sekali aku berkhianat, nyawa mereka melayang.”

Keduanya—Luhan dan Sehun—sama sekali tak punya pilihan.

“Kita—“ Bagaimana kalau kita mati bersama sekarang. “—akhiri saja nyawa kita di sini sekarang. Kalau dunia tempatku hidup tidak ada dirimu, maka tak ada gunanya aku hidup. Untuk apa hidup di dunia yang menghujat kita untuk bersama—“

“Tidak, Luhan…” Sehun merengkuhnya lebih erat. “Cukuplah kau yang hidup, demi orang-orang yang kau cintai. Aku tak akan memaafkanmu kalau kau menyakiti dirimu sendiri, Luhan-ku. Berjanjilah … untuk tetap hidup.”

Luhan hancur. Sehancur-hancurnya. Ia tidak bisa melakukannya. Ia tidak bisa membunuh Sehun. Ia juga tidak bisa membiarkan Sehun terbunuh. Ia tidak bisa mengabulkan permintaan Sehun. Ia tidak sanggup dipaksa berjanji.

“Oh Sehun, aku menyesal—“ Air mata terlanjur berderai. “—aku menyesal sudah mencintai orang sebrengsek dirimu. Aku menyesal sudah merindukanmu. Aku menyesal … sudah berharap banyak darimu.”

“Ada banyak hal yang bisa kau harapkan,” Jeda. Sehun menarik napas dalam. “Tapi dari orang lain. Bukan dari orang brengsek sepertiku. Jika Kris bisa menjagamu, jangan pernah tinggalkan dia. Berjanjilah padaku, kumohon. Berjanjilah kalau kau akan tetap hidup. Berjanjilah kalau kau tak akan menyakiti dirimu sendiri.”

.

.

.

Malam itu, ketika seorang panglima Seomgyuk diam-diam meninggalkan kerajaannya demi menghampiri penerus tahta Gyujseon;

Adalah malam terakhir dimana keduanya mendapatkan kesempatan untuk bertemu lagi setelah sekian lama menahan kerinduan.

Adalah malam terakhir bagi mereka untuk memeluk satu sama lain.

Adalah malam terakhir bagi mereka untuk menyatukan cinta dari masing-masing hati yang hancur berkeping-keping.

Luhan-ku, berjanjilah kepadaku,

Ketika tiba saatnya aku menghunuskan pedang kepadamu, berjanjilah untuk membunuhku terlebih dulu.

.

.

.

Satu purnama telah berlalu sejak terjadinya perang.

Gyujseon, atas peringatan pangeran Luhan sebelumnya, berhasil memenangkan perang. Kaisar Chan Yeol dan ratu Baek Hyun selamat. Penebar teror, kaisar Kai beserta menteri Suho dipenjara seumur hidup. Tiga ratus tiga puluh empat jiwa melayang dalam perang, salah satunya adalah panglima Seomgyuk; Oh Sehun.

Sejak saat itu pula, Luhan terus mengurung diri dalam kamarnya. Tak beranjak sedikitpun. Makanan yang disodorkan para dayang tak disentuh sama sekali. Ratu Baek Hyun khawatir bukan main, tapi Luhan selalu menutup diri. Kaisar Chan Yeol sampai turun tangan mendatangi kamar Luhan. Tapi tak pernah mampu membuat tubuh kurus Luhan mau menerima makanan.

Kris—pengawal Luhan—mau tak mau merasa harus turun tangan.

Sore itu, ia mendatangi kamar Luhan. Memohon untuk kesekian kalinya supaya bisa menyuapi Luhan sesendok nasi.

“Lu—“

Tapi, Luhan yang menutup diri, terlanjur mengabaikan sekitarnya sama sekali. Kehadiran Kris tak digubrisnya. Sang pangeran melemparkan tatapannya ke arah jendela. Meskipun Kris tahu, tidak ada apapun dalam tatapan matanya. Kosong. Sendu. Pudar.

“Ini ada semangkuk sup. Kalau kau belum mau makan nasi, minumlah kuahnya. Bisa membuat perutmu yang kosong jadi hangat. Atau mau kusuapkan?”

Tak ada sahutan. Tawaran Kris tak bersambut.

“Jangan membuat Yang Mulia ratu khawatir, Lu. Makanlah walau hanya sedikit.”

“Ah … benar juga.” Untuk pertama kalinya, Luhan mau membuka suara. Kris mulai merasa lega. Kris sudah bersiap menyendok kuah sup ketika Luhan melanjutkan ucapannya, “Bisa panggilkan tabib Lay? Sepertinya aku sakit perut. Kalau begini, aku tak bisa menikmati supnya. Tolong panggilkan tabib Lay untukku, Kris.”

“Kau sakit? Kenapa tidak bilang sebelumnya kalau kau sakit?”

“Yah, aku … baru merasakannya sekarang. Tolong panggilkan beliau untukku sekarang.”

Hati kecil Kris mencium sesuatu yang janggal. Perubahan sikap Luhan dirasa tak wajar, menurutnya. Tapi Kris tak ingin berbuat lancang dengan menyanggah; “Baiklah, pangeran Lu. Akan segera kupanggilkan tabib Lay untukmu. Tapi berjanjilah, setelah kau sembuh, kau harus mau makan lagi.”

Luhan kembali diam. Hanya melempar senyum tipis.

.

.

.

“Kenapa dengan pangeran Lu?”

Kris mendesak tabib istana, Lay, untuk buka mulut. Lay yang baru saja kembali dari kamar Luhan setelah berkunjung dua kali, ternyata sangat sulit dimintai jawaban. Seolah menyembunyikan sesuatu.

“Kutanya sekali lagi. Apa yang terjadi pada pangeran Lu? Apa separah itukah penyakitnya sampai kau tak bisa bicara?”

Tabib Lay tampak ketakutan. Tapi Kris tak berhenti mengancam. “Katakan sekarang. Yang Mulia kaisar dan ratu sangat mengkhawatirkan keadaannya. Aku butuh jawaban yang bisa menenangkan mereka.”

Sedikit gugup, tabib Lay akhirnya mau bersuara. “I-itu, pangeran Lu sebenarnya sama sekali tidak sakit. Beliau sehat, secara fisik.”

Kris terkejut. Nyaris membenturkan tubuh tabib Lay ke tembok istana. “Apa!? Apa maksudmu? Apa yang disembunyikan Luhan dariku!?”

“Pa-pangeran Lu memintaku membawakan … sesuatu.”

“Sesuatu?” Firasat buruk itu entah kenapa datang menyergap. “Apa itu?”

“Maafkan hamba, Yang Mulia Pangeran—“ Tabib Lay bermonolog memohon ampun sebelum menjawab pertanyaan Kris. “Racun. Pangeran Lu meminta hamba menyiapkan racun. Katanya—beliau ingin membunuh orang yang sudah menghabisi nyawa kekasihnya.”

Kris terperanjat.

Membunuh orang yang sudah menghabisi nyawa kekasihnya?

Ingatannya kembali berputar.

.

.

.

Di bawah guyuran hujan, Luhan dengan gagah berani turun ke medan perang menggenggam sebilah pedang. Sementara ia mengamankan setiap langkah Luhan dengan menebas prajurit Seomgyuk yang mencoba menyerangnya.

Tapi, ada satu prajurit Seomgyuk yang tak bisa ia lumpuhkan.

“Se … hun.”

Kris tahu siapa dia. Panglima Seomgyuk yang juga kepercayaan kaisar Kai, dan orang yang selalu diam-diam ditemui Luhan setiap Rabu. Hubungan macam apa yang terjalin di antara keduanya, Kris tidak ingin mengetahuinya. Kris mengenalnya sebagai Oh Sehun.

“Luhan—“

Sehun mendekati Luhan. Kris mengutuk para prajurit Seomgyuk yang masih menghadangnya. Ia harus bisa melindungi nyawa pangerannya, apapun yang terjadi.

Tapi di luar dugaan, Sehun sama sekali tidak mengacungkan pedang. Hanya berjalan begitu saja. Mendekati Luhan yang gemetaran. Berusaha mati-matian memegang pedang.

“Luhaaaan!”

Tapi suara Kris sepertinya tak sampai di telinga Luhan.

Luhan tak terhubung dengan apapun. Tidak juga dengan tanah tempatnya berpijak. Dengan angin. Dengan napas. Apalagi suaranya yang tak didengar.

Pandangan matanya hanya tertuju pada Oh Sehun.

Kris semakin keheranan saat melihat Sehun membuang pedangnya. Lalu berjalan mendekati Luhan seolah mengumpankan nyawa. Tapi Luhan tampak ragu untuk menghunuskan pedangnya.

Hingga akhirnya Sehun berdiri tepat di hadapannya.

Entah bagaimana caranya, konversasi yang terjadi di antara keduanya bisa tertangkap olehnya.

“Ini permintaan seumur hidupku, Luhan. Penuhi janjimu. Aku membuang pedangku. Tolong habisi aku dengan tanganmu.”

“Tidak! A-aku tidak bisa melakukan itu, Sehun.”

“Kalau kau tak melakukannya sekarang, tak akan ada kesempatan lain lagi, Luhan-ku. Aku tak lagi memiliki penyesalan. Selain—menyesal karena tak mampu membahagiakanmu. Maaf atas seluruh nyawaku, telah membuatmu berada dalam posisi sulit.”

“Aku … tak mau membunuhmu, Sehun. Aku tak bisa mengabulkan janji itu, Aku … aku…”

Sehun meraih tubuh Luhan. Mendekapnya. Memotong ucapannya dengan satu kecupan. Dan Kris melihat semua itu tepat di depan matanya.

Hingga akhirnya…

Sehun ambruk.

Darah mengalir dari luka tusukan di dada.

Pedang yang digenggam Luhan terpelanting.

Luhan mendekap tubuh Sehun yang jatuh ke tanah.

“SE-SEHUUUUUNNN!”

Bukan.

Bukan Luhan yang melakukannya.

Di balik ciuman itu, Sehun sendiri yang menggiring tangan Luhan untuk menghabisi nyawanya.

“Sehun … Sehun. Jangan mati!  Hiduplah! Kumohon tetap hidup!”

“Luhan … ku.” Dengan tenaga yang masih tersisa, tangan Sehun yang ternodai darah membelai wajah Luhan. “Jangan … menangis. Penuhi janjimu … padaku. Hiduplah … Berbahagialah …”

“Oh Sehun! Dengarkan aku! I-ini perintah! Tetaplah hidup! Aku mencintaimu … sangat mencin—“

Tangan Sehun terkulai.

Sepasang mata milik Sehun telah kehilangan sinarnya.

“Tidak … Sehun. SEHUN! AAAAAAAAAA…..!!”

Teriakan Luhan hari itu hanya didengar guyuran hujan.

.

.

.

Firasat buruk itu datang lagi.

Kris buru-buru menapaki anak tangga. Tujuannya hanya satu; kamar Luhan.

Kumohon, jangan sampai terjadi apapun. Jangan biarkan Luhan—

Pintu geser dibuka paksa. Mata menelanjangi seluruh isi kamar.

Sayangnya, apa yang dilihatnya tak sesuai dengan harapan.

“Luhaaan!!”

Kris berlari. Menghampiri tubuh Luhan yang terbujur kaku. Di sampingnya, tergeletak botol kecil yang sudah kosong.

“Luhaan!! Bangun, bangun!”

Kris menggoncangkan tubuh Luhan. Menepuk kedua pipinya. Apa saja—tapi tubuh Luhan tak menyahut. Kedua matanya yang terpejam tak lagi terbuka.

“LUUUHAAAANN!!”

.

.

.

Aku memenuhi janjiku padamu, Sehun.

Aku berhasil bertahan hidup tanpamu.

Tapi maaf, aku hanya mampu bertahan satu purnama saja.

Kalau aku menyusulmu, jangan usir aku.

Mari kita hidup bersama di dunia yang baru.

Sekarang aku datang untukmu.

.

.

.

[Seoul, 2012]

Jam berdetak sendirian. Air yang mengembun dari permukaan gelas plastik menetes satu demi satu. Ia menunggu sendirian. Tapi ada dua gelas yang sudah siap di meja. Jari telunjuk dimainkan di atas meja. Headset dipasang untuk mengusir kesepian.

Pengunjung kafe mulai membludak. Tapi yang ditunggu belum kunjung datang. Pemuda itu duduk sendirian di sofa pinggir jendela. Melemparkan tatapan ke arah keramaian dan lalu lalang kendaraan. Bubble milk tea cokelat di hadapannya belum disentuh sama sekali.

Pintu berlonceng berderit. Seseorang memasuki kafe dengan langkah tergesa-gesa. Pemuda yang menunggu sendirian menoleh. Dia yang ditunggu, akhirnya datang juga.

“Aku datang. Maaf aku terlambat, Sehun.”

Sehun tersenyum.

“Kau sudah membuatku menunggu, hyung.”

.

.

.

END

[ Author’s note ] :

Special thanks for:

ALF & Kiaara selaku penyelenggara even,

Sehun dan Luhan yang menjadi inspirasi,

Ini adalah kado ulang tahun yang sangat terlambat untuk Kiaara. Fanfik HunHan pertama, semoga kau suka.

Kansahamnida!

YUNA

4 thoughts on “[FF February Love Mission] Promise ||Yuna Seijuurou

  1. Ping-balik: [!!!] List FF February Love Mission | Keluarga_Cemara

  2. Ya ampun, diksinya badai banget. Aku sampe merinding bacanya.
    Manis romantis sekaligus mengiris. Jarang banget nemu fic model begini.
    Kamu keren banget Yuna-san! Well, Makasih udah bikin perasaan aku campuraduk melalui fic ini… T.T
    Terus menulis, ya!

    Re Srsn

  3. padahal sejak awal sampe klimaks cerita aku berteriak dari dalam kokoro; ini angst…ini angst…ini AANGSSTT! astagaa tapi tetap aja aku babat habis -___-
    dan yah….setelah nyesel karena nyiksa diri harus baca bagian OhSeh almarhum /andwaee~~/ seketika teriak (dalam kokoro) ‘PUJAKERANGAJAIB!’ Hunhan reinkarnasi muncul sebagai epilog yang epik!😄
    kkkk sekarang gk tau harus misuh atau justru gelayutan manja sama kak Yuna😄
    btw yg versi akakuro belum pernah tak baca tp….gak, aku mesti kudu nyiapin mental menyan buat liat another badass of seme wafat😦
    yup tetap ditunggu karya lainnya ya, especially Hunhan ^^)9

  4. Maaf baru baca. Belakangan ini gak bisa baca fanfic krn yeaahh something trouble lah.

    Jujur ku pikir ini ff gs tapi pas di baca ulNg ternyata dugaan ku salah.

    Diksinya bagus, aku suka.
    Semua ff yg d post d kc emang keren yah. Daebak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s