[FF February Love Mission] The World Revolves Around You || LiaKim


cover

Ketika langkahmu tak dapat bergerak maju

Ketika tanganmu tak dapat menggapi bayangku

Maka, akulah yang akan membawa dunia padamu

Akulah yang akan menyongsong uluran tanganmu

 

“Jika kau diberi satu kesempatan untuk mewujudkan keinginanmu. Apa yang kau inginkan?”

“Aku? Hmm…  Aku ingin melihat dunia. Aku ingin berkeliling di seluruh belahan dunia untuk melihat warna yang belum kulihat dari balik sangkar ini.”

“Aku tidak mungkin bisa membawamu keluar dari sangkar ini tetapi aku bisa… Aku bisa membawa dunia untukmu.”

 

The World Revolves Around You

By: LiaKim

Rate: T

Genre: Romance,Hurt(?), Fluff(?)

Warning: BL, OOC, AU, Bahasa berantakan, Indikasi Kebosanan dll

Disclaimer: The story is mine, Baekhyun is mine#plakkk

 

Suara berisik yang berasal dari laptop yang berada dipangkuan seorang namja meramaikan ruangan yang didominasi putih. Namja berambut hitam kelam itu tampak nyaman dengan tubuh yang menyandar pada tumpukan bantal dan mata yang terpaku pada layar 14 inchi di depannya. Sesekali wajahnya tersenyum tipis ataupun mendengus pelan ketika benda tipis berwarna silver itu menampilkan beberapa sosok namja tengah menari dan melambaikan tangan ke penonton.

“Ck, dasar sok tampan.”guman namja bermata sipit itu pelan ketika sesosok  namja tinggi terlihat di layar.

Namja mungil bernama Baekhyun itu kemudian mencibir sebal saat melihat namja tinggi tadi kini terlihat berangkulan akrab dengan namja lain yang lebih mungil dan mengemaskan karena mata bulatnya yang berbinar.

“Serasi sekali.”bisiknya penuh nada jengkel.

Kerutan di dahinya semakin jelas saat layar laptopnya masih menampilkan adegan mesra kedua namja tadi. Bibirnya yang sejak tadi melengkung ke bawah perlahan naik ke atas saat melihat sosok namja lain kini memanjakan matanya. Namja berkulit tan dengan senyum manis terlihat melambai ke arah penonton sambil sesekali membungkukkan badan. Baekhyun tanpa sadar bertepuk tangan kecil sambil tersenyum lebar saat wajah close up namja tadi memenuhi layar laptopnya.

Streaming konser EXO lagi?”

Sebuah suara dari arah pintu kamar itu membuat Baekhyun terlonjak senang,”Hyung, sini lihat. Kai-ku ada di layar!”ucap Baekhyun excited.

Namja tinggi yang baru saja masuk hanya bisa menggeleng pelan melihat tingkah adiknya itu. Sekantung plastik besar berisi buah langsung ia letakkan di meja yang berada di depan sofa yang tidak jauh dari ranjang besar tempat Baekhyun berbaring.

“Heuh… apa bagusnya dari makhluk hitam itu?”tanya namja itu pelan sambil melangkah mendekat ke arah Baekhyun yang masih fokus dengan laptopnya. Ia kemudian mendudukkan dirinya di samping Baekhyun dengan mata yang melirik ke arah benda yang masih duduk nyaman di pangkuan adik manisnya itu.

“Kris-hyung! Kai itu tidak hitam! Dia hanya sedikit tan dan itu sexy!”teriak Baekhyun tidak terima. Mata sipitnya melirik sinis ke arah Kris yang hanya tertawa kecil dengan tangan mencubit pelan pipi Baekhyun. Tidak tahan dengan rasa gemas yang menguasai hatinya saat melihat tingkah imut adiknya itu.

“Baiklah. Kai yang tersexy.

Namja tampan itu akhirnya mengalah dan kembali mencubit pelan pipi Baekhyun saat melihat senyum penuh kemenangan terukir di bibir tipis namja mungil itu.

Mata Kris kemudian menjelajah ke seluruh ruangan. Mengamati kamar bercat putih yang hampir setengah tahun ditempati oleh Baekhyun. Bau obat yang menyengat tercium jelas oleh Kris dengan beberapa peralatan medis yang berdiri rapi di samping ranjang besar adiknya. Botol-botol obat nampak berjejer di meja nakas tepat disamping tiang infus. Namja berambut coklat gelap itu kemudian melirik ke arah Baekhyun. Adiknya itu masih terlihat manis meskipun tubuh mungilnya hanya dibalut oleh pakaian rumah sakit.

“Kau sudah minum obat?”

“Sudah. Tadi pagi obatku bertambah beberapa butir. Ugh…sepertinya Dokter Zhang dendam padaku karena membuang obat yang—opps!”

Baekhyun menutup bibirnya dengan mata membulat kaget. Hatinya menggerutu sebal saat tanpa sadar ia telah membuka rahasianya sendiri. Matanya kemudian bergulir untuk melihat ke arah Kris yang kini sudah menatapnya dengan mata memicing tidak suka.

“Byun Baekhyun, kau…”

“Aku cuma melakukannya sekali.”bela Baekhyun dengan nada meyakinkan.

Kris hanya terdiam dengan mata tajamnya yang masih memaku pandangan Baekhyun. Membuat namja mungil itu bergerak tidak nyaman.

“Eum… baiklah. Dua kali.”

Sebelah alis tebal Kris kemudian terangkat. Kedua matanya masih menatap penuh selidik. Kini tangannya bersendekap di depan dada.

“Ugh! Tiga kali! Aku melakukannya tiga kali!”

“Ck, kau~”

“Hyung~ aku berjanji tidak akan melakukannya lagi.”

Kris mendengus pelan,”Ini sudah janji yang keberapa?”

Tawa kecil terdengar renyah dari bibir Baekhyun. Tangannya yang tidak memegang laptop memeluk lengan Kris,”Baiklah, ini yang terakhir. Aku benar-benar berjanji.”

“Baekhyun, hyung hanya tidak ingin kondisimu semakin memburuk apabila kau tidak meminum obatmu.”ucap Kris sambil mengusap rambut hitam Baekhyun penuh sayang.

“Hmm…”

Namja mungil itu bergumam pelan. Mengisyaratkan kepada Kris bahwa ia tidak ingin melanjutkan perdebatan mereka. Matanya kembali fokus pada layar laptopnya. Senyum lebar terukir di bibirnya saat melihat penampilan solo Kai.

“Hyung! Hyung!”

“Hm?”

“Lihat! Kai keren sekali!”pekik Baekhyun dengan antusias. Matanya berbinar-binar melihat gerakan indah dari namja di balik layar.

Kris memutar bola matanya bosan. Telinganya seakan sudah tuli oleh pujian-puiian yang dilontarkan Baekhyun untuk namja berkulit tan itu. Namja tampan itu hanya tidak mengerti dimana letak sexy dan kerennya gerakan yang terlihat seperti cacing kepanasan di matanya.

“Uhuk!”

Mata Kris yang sejak tadi menyorot bosan kini terbelalak kaget saat mendengar suara batuk. Namja itu segera menarik beberapa lembar tisu yang berada tidak jauh darinya. Menutup mulut Baekhyun dan mengelus pelan punggung kecilnya.

“Kau tidak apa-apa?”tanya Kris dengan khawatir.

Perlahan ia mengambil laptop yang berada di pangkuan Baekhyun. Membaringkan dengan perlahan adiknya yang masih terbatuk pelan dengan bahu yang terguncang. Beberapa saat Baekhyun hanya terdiam dengan tangan yang semakin membekap mulutnya sendiri dengan tisu.

Sebuah senyuman lebar ia berikan pada Kris setelah batuknya perlahan terhenti,”Aku baik-baik saja, hyung.”

Kris hanya bisa tersenyum pedih. Matanya menatap nanar Baekhyun yang kini tengah memberikan cengiran menenangkan padanya. Ia dapat melihat cairan merah di sela-sela bibir adiknya. Menandakan bahwa adiknya tidak baik-baik saja.

“Kau ingin hyung memanggilkan dokter?”

Baekhyun menggeleng,”Tidak, aku hanya butuh tidur.”

Nama tampan itu hanya mengangguk pelan untuk menanggapi, Tangannya menarik selimut yang berada di bawah kaki Baekhyun untuk membalut tubuh mungil adiknya. Telapak tangannya kemudian menepuk-nepuk pelan perut Baekhyun. Kebiasaan yang ia lakukan ketika namja mungil yang kini terkekeh padanya itu hendak mengarungi mimpi. Perlahan mata sipit itu semakin memberat hingga akhirnya terpejam dengan damai. Bersiap mengarungi alam dimana ia dapat berlari bebas. Dimana ia hidup tanpa butiran obat dan jarum suntik.

***

“Bagaimana keadaannya?”

Sebuah suara di ujung telepon sana membuat Kris menghela napas,”Lebih baik daripada sebelumnya. Tapi ia masih sering batuk.”

Desahan keras menggema di telinga namja tampan itu. Matanya sesekali melirik ke arah Baekhyun yang nampak tidur dengan lelap.

“Beberapa hari ini ia tidak mau menerima telepon dariku.”

“Bukankah itu kesalahanmu sendiri? Kau mengabaikannya.”

“Aku tidak mengabaikannya, hyung. Hanya saja pekerjaanku semakin sibuk.”

“Hm….dan sibuk bermesraan dengan namja lain. Aku tau. Aku tau.”

“Aku tidak bermesraan dengan siapapun!”

Bentakan itu membuat Kris terpaksa menjauhkan handphone dari telinganya. Ia kemudian mendengus sebal saat telinganya terasa berdengung.

“Sebaiknya kau cepat pulang dan jelaskan sendiri padanya.”ucap Kris sambil menyandarkan tubuhnya pada sofa.

“Aku tidak bisa pulang dalam waktu dekat. Tolong bujuklah dia untuk mengangkat teleponku, hyung.”

Kris terdiam,”Entahlah, aku bisa membantumu atau tidak. Sepertinya ia benar-benar kesal padamu.”

“Hyung~”

“Jangan merengek dengan suara bassmu. Tidak manis sama sekali.”

“Ck!”

“Ini akibat dari perbuatanmu sendiri yang terlalu mengumbar kemesraan dengan namja lain.”

“Sudah kukatakan aku tidak bermesraan dengan siapapun!”

“Baiklah, terserah padamu. Aku hanya berharap kau bisa menjaga perasaan Baekhyun.”

Beberapa saat hanya keheningan yang tercipta hingga akhirnya suara bass itu mengalun dengan kesungguhan.

“Menyakiti Baekhyun adalah hal petama yang tidak ingin kulakukan. Aku akan selalu membuatnya bahagia. Aku berjanji, hyung.”

“Kuharap kau bisa pegang janjimu sendiri, Park.”

***

Baekhyun memandang keluar jendela rumah sakit dengan tatapan bosan. Matanya menatap tanpa minat kesibukan orang-orang yang berada diluar sana. Sesekali kakinya berayun pelan dengan senandung lirih yang terdengar dari bibirnya.

“Hyung, k-“

Sebuah suara yang terdengar bersamaan dengan pintu yang terbuka membuat Baekhyun menoleh. Mata sipitnya mendapat seorang remaja tinggi tengah berdiri mematung di depan pintu rawatnya.

Alis Baekhyun langsung berkerut bingung. Menyadari bahwa ia tidak mengenal pemuda tampan yang masih berdiri kaku di sana,”Maaf, kau siapa?”

Pemuda itu tidak langsung menjawab. Kakinya malah melangkah mendekat ke arah Baekhyun. Tatapan mata bulatnya langsung mengunci setiap gerakan kecil dari namja mungil yang mulai risih karena di perhatikan sedemikian rupa.

“Kau indah. Berkenankah kau menjadi pemilik hatiku?”

Baekhyun melotot syok. Matanya membulat tak percaya kepada namja yang kini tengah tersenyum tampan ke arahnya. Ia pun langsung mengambil telepon di dekat ranjangnya.

“Suster, tolong ke kamarku. Sepertinya ada pasien rumah sakit jiwa disini.”

“Hey, aku tidak gila!”

Pemuda tampan itu langsung menyambar telepon yang berada di genggaman Baekhyun,”Maaf, suster. Dia bercanda.”

Pemuda tampan itu kemudian meletakkan gagang telepon itu pada tempatnya. Tersenyum begitu lebar ke arah Baekhyun yang kini beringsut menjauh. Menjaga jarak dari pemuda yang masih dipertanyakan kewarasannya.

“Hey, kau tidak perlu takut. Aku seratus persen tidak mengalami gangguan kejiwaan.”ucap pemuda itu dengan suara bassnya.

Baekhyun menyipitkan matanya tidak percaya. Pandangannya kemudian menilai penampilan pemuda itu. Dari ujung kakinya yang dilapisi sepatu hingga ujung rambut berwarna hitamnya yang membingkai begitu sempurna wajah tampannya. Namja mungil itu mengerjap pelan. Ingin ia menampar dirinya sendiri karena menganggap namja gila itu tampan.

“Lalu kenapa kau masuk kesini? Aku tidak merasa kita pernah kenal sebelumnya.”

Namja itu mengusap pelan tengkuknya. Kebiasaan ketika ia tengah gugup,”Sebenarnya aku sedang mencari kamar temanku yang dibawa ke rumah sakit kemarin tetapi sepertinya aku salah masuk kamar.”

“Huh?Jika seperti itu sepertinya pintu kamarku terbuka lebar untuk mengantar kepergianmu.”

“Ketus sekali.”gerutu namja itu kemudian mendudukkan dirinya di dekat Baekhyun tanpa meminta persetujuan dari namja mungil yang kini melotot ke arahnya.

“Ka-“

“Namaku Park Chanyeol. Jadi, siapa namamu cantik?”

Baekhyun berdecak,”Jika kau bisa melihat seharusnya kau tau aku seorang lelaki dan tidak ada lelaki yang suka disebut cantik!”

“Well, kau luar biasa cantik.”goda Chanyeol tanpa menanggapi ucapan Baekhyun sebelumnya.

Baekhyun hampir saja melayangkan botol obat yang ada di dekatnya jika saja Chanyeol tidak tiba-tiba berdiri kemudian berjalan menuju ujung ranjangnya. Namja tinggi itu tersenyum sambil melirik ke arah Baekhyun,”Byun Baekhyun, huh? Akan lebih indah jika berganti dengan Park Baekhyun.”

“A-apa?!”

Wajah Baekhyun memerah hingga menjalar sampai telinganya. Entah itu karena terlalu kesal atau rasa malu yang tiba-tiba menghinggapi hatinya. Matanya terus menatap tajam namja yang masih membaca tulisan di ujung ranjangnya.

Dering ponsel membuat Chanyeol segera merogoh saku jeansnya. Membuka ponsel flip-nya sekilas kemudian kembali menutup dan memasukkan handphone itu ke dalam saku belakang celananya. Matanya kemudian menatap lembut ke arah Baekhyun yang masih menatap waspada padanya.

“Aku harus pergi.Sampai jumpa, malaikatku.”

Namja tampan itu berlalu setelah melempar senyum sesaat sebelum ia menutup pintu. Baekhyun hanya bisa mengerjap beberapa kali sebelum dengusan keluar dari hidungnya,”Dasar namja aneh.”bisiknya pelan.

***

Baekhyun membulatkan matanya lebar-lebar saat melihat seorang namja kini tengah berdiri di samping ranjangnya dengan sekantung makanan. Chanyeol- namja itu- kini tersenyum sambil menarik kursi di samping ranjang Baekhyun.

“Selamat pagi, malaikat cantikku.”sapanya ramah sambil menaruh makanan yang ia bawa di atas meja.

“K-kau!”

Baekhyun tidak tau harus berekspresi seperi apa. Ini sudah lebih dari seminggu sejak namja yang kini duduk di dekatnya itu masuk ke dalam kamar inapnya. Meskipun tidak ingin mengakui, tetapi jauh di dalam hatinya Baekhyun berharap dapat bertemu namja aneh itu lagi dan sekarang sepertinya harapan itu terkabul.

“Merindukanku?”tanya Chanyeol dengan nada menggoda.

“Siapa yang merindukanmu! Dasar aneh!”sanggah Baekhyun sambil memalingkan muka. Mencoba menutupi wajahnya yang terasa panas karena godaan Chanyeol.

Namja tampan itu terkekeh pelan. Tanpa ragu tangannya menggenggam jemari Baekhyun yang berada di atas buku yang tadi namja mungil itu baca sebelum kedatangannya.

“Aku senang melihatmu sehat.”ucap Chanyeol pelan sambil meremas lembut jemari Baekhyun.

Namja bermata sipit itu hanya terdiam. Sebenarnya ia bisa saja menghempaskan genggaman tangan Chanyeol pada jemarinya. Namun entah mengapa, ia suka perasaan hangat yang menelusup dari ujung jemarinya hingga menjalar ke seluruh tubuh bahkan perlahan masuk ke dalam hatinya. Ia suka saat Chanyeol menatapnya dengan tulus dan penuh kesungguhan.

“Kau…namja yang aneh.”lirih Baekhyun setelah beberapa saat bertukar pandang dengan Chanyeol.

Pemilik suara bass itu hanya tersenyum tipis,”Karena keanehan ini yang akan membuatmu mengingatku.”

“Huh?”

“Jika aku mendekatimu dengan cara biasa kau akan cepat melupakanku. Tetapi dengan cara aneh ini kau akan selalu mengingatku bukan?”

Chanyeol bertanya sambil menaik turunkan alisnya. Membuat Baekhyun menjebik kesal meskipun wajahnya memerah karena malu. Ia kemudian menarik tangannya dan memukul kepala Chanyeol dengan buku yang sejak tadi terbuka di pangkuannya.

“Pergi saja sana!”usirnya main-main.

Chanyeol tertawa kecil,”Aku akan pergi jika malaikatku sudah ada yang menjaganya. Selain itu aku juga ingin bertemu orang tuamu untuk meminta restu.”

“MWO?”

“Ah…aku  tidak sabar melihatmu berjalan di altar.”

“DASAR GILA!”

***

Setelah pertemuan kedua yang tidak kalah aneh dari pertemuan pertama mereka, keduanya menjadi semakin dekat. Setiap minggu pagi Chanyeol akan selalu datang  dan membawa makanan untuk Baekhyun. Keduanya akan mengobrol lama hingga mentari nyaris tenggelam di ujung Barat. Dari percakapan-percakapan itu Baekhyun mengetahui bahwa Chanyeol adalah seorang trainee agensi besar yang sebentar lagi akan menjadi bintang. Itulah alasan mengapa Chanyeol mengunjunginya di hari Minggu saja.

“Rambutmu bagus.”ucap Baekhyun kepada Chanyeol yang duduk di sampingnya. Saat ini mereka berdua tengah berada di taman rumah sakit.

Namja tampan itu mengelus pelan rambutnya yang kini berwarna coklat terang dan sedikit bergelombang,“Aku tau. Semakin tampan bukan?”tanya Chanyeol dengan percaya dirinya.

Baekhyun mendengus sebal. Matanya kemudian melirik ke arah case gitar Chanyeol. Namja tampan itu memang sering membawa gitarnya ketika mengunjungi Baekhyun. Entah itu hanya sebagai pajangan ataupun menjadi alunan melodi ketika keduanya bernyanyi bersama.

“Chanyeol…”

“Ada apa sayang?”

Namja mungil itu memutar bola matanya jengah. Chanyeol selalu memanggilnya dengan mesra meskipun Baekhyun sudah melarangnya berulang kali.  Padahal status mereka hanya teman tetapi Chanyeol memperlakukan Baekhyun seolah namja mungil itu adalah kekasihnya.

“Nyanyikan satu lagi untukku.”

“Tidak biasanya.”

“Sebentar lagi kau akan debut. Pasti kau akan sangat sibuk hingga tidak sempat mengunjungiku. Jadi, sebelum kau menjadi bintang besar aku ingin kau menyanyikan lagu untukku.”

Chanyeol tersenyum kecil sebelum membuka case gitarnya dan mulai memangku benda kesayangannya itu,”Lagu apa?”

“Terserah.”

Jemari panjang Chanyeol mulai memetik sinar gitar dengan lihai. Nada-nada pembuka lagu terdengar mengalun merdu di telinga Baekhyun.

I do believe all the love you give
All of the things you do
Love you, Love you…
I’ll keep you safe, don’t you worry

I wouldn’t leave, wanna keep you near
Cause i feel the same way too
Love you, Love you….
Want you to know that I’m with you

I will love you and love you and love you
Gonna hold you and hold you and squeeze you
I will please you for all time

I don’t wanna lose you and lose you and lose you
Cause I need you and need you and need you
So I want you to be my angel
You’ve got to understand my love…

You are beautiful, beautiful, beautiful, beautiful, beautiful, beautiful boy
You are beautiful, beautiful, beautiful, beautiful, beautiful, beautiful boy

Baekhyun tersenyum tanpa sadar saat tau Chanyeol mengubah lirik lagu itu. Suara bassnya pun tersdengar sedikit aneh saat menyanyikan lagu yang biasanya di nyanyikan dengan suara falsetto. Namun, ia tetap memejamkan matanya. Menikmati alunan nada dan suara Chanyeol yang melebur menjadi satu.
I will love you and love you and love you
Gonna hold you and hold you and squeeze you
I will please you for all time
I don’t wanna lose you and lose you and lose you
Cause I need you and need you and need you
So I want you to be my angel
You’ve got to understand my love…

You are beautiful, beautiful, beautiful, beautiful, beautiful, beautiful boy
You are beautiful, beautiful, beautiful, beautiful, beautiful, beautiful boy

 

Baekhyun perlahan membuka matanya saat merasakan usapan halus pada pipinya. Tanpa sadar pipinya langsung merona saat mendapati wajah Chanyeol yang begitu dekat dengannya. Ia seakan dapat mendengar suara jantungnya sendiri yang berdebar keras.

“Ch-chanyeol?”

“Dimatamu mungkin aku hanyalah lelaki aneh yang tiba-tiba masuk ke dalam kehidupanmu. Perkenalan kita pun sama sekali tidak berkesan. Pertemanan kita baru beberapa bulan. Tetapi percayalah, jantungku sudah berdebar keras sejak pertama kali aku melihatmu. Mataku tak bisa berpaling ke orang lain saat bayang wajahmu yang hanya tercapai oleh pandanganku. Hati ini seakan terbelenggu oleh tatapan matamu.”

Nama mungil itu terdiam hingga akhirnya terkekeh pelan melihat wajah serius Chanyeol yang kini mengernyit kebingungan sekaligus tersinggung karena Baekhyun secara tidak langsung menertawakannya. Padahal jantung Chanyeol nyaris berontak dari tempatnya.

“Hey, aku mencoba serius disini Baek.”ucap Chanyeol kesal.

“Maaf…maaf… aku hanya tidak menyangka kau bisa berkata seperti itu.”

“Aku mencoba romantis untukmu.”

Mendengar itu Baekhyun menghentikan kekehannya. Telapak tangannya perlahan menangkup tangan Chanyeol yang masih bertengger manis di pipinya.

“Aku bukan seorang gadis, Yeol. Aku tidak menuntutmu menjadi romantis. Aku lebih suka dirimu yang apa adanya.”

“Jadi, apa itu artinya kau-”

“Dengarkan aku.”

Ucapan Chanyeol terhenti saat tiba-tiba Baekhyun menyela ucapannya. Namja manis itu kemudian menatap sendu wajah tampan yang menatap penuh harap padanya.

“Jujur, aku menyukaimu Yeol. Sangat menyukaimu. Kau bagaikan cahaya di gelapnya kehidupanku. Kau bagai warna di putihnya hariku. Tetapi kau harus tau bahwa aku tidak bisa membawa kebahagiaan untukmu.”

Chanyeol masih bungkam. Menunggu lanjutan kata dari bibir tipis di depannya.

“Aku seorang kesakitan, Yeol. Mungkin dari luar aku tampak baik-baik saja tetapi di dalam tubuhku hancur. Berbagai penyakit telah menggerogotinya. Aku tidak tau sampai kapan aku dapat hidup. Jika aku menerima cintamu, aku hanya akan menjadi beban untukmu. Kita tidak akan dapat berkencan seperti pasangan normal lainnya. Kau akan selalu dibayangi oleh perasaan khawatir. Aku.. aku…”

Ucapan Baekhyun terputus saat merasakan benda kenyal menyentuh bibirnya lembut. Benda itu menekan pelan bibir Baekhyun sebelum perlahan menjauh. Chanyeol menciumnya.

“Aku bukan orang bodoh yang tidak tau apapun,Baek. Aku sudah tau sejak awal tentang keadanmu. Aku tau semuanya dari kakak maupun ibumu dan itu semua tidak cukup menghentikanku untuk mencintaimu. Ketika aku memutuskan untuk mencintaimu, itu berarti aku akan mencintai semua kekurangan ataupun kelebihanmu. Aku sudah siap untuk apapun yang terjadi nantinya.”

Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Menahan isakan yang ingin keluar dari bibirnya. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di rumah sakit sehingga hanya sedikit teman yang ia miliki. Tak pernah terlintas di benaknya jika ia akan bertemu dengan orang yang tulus mencintainya di tempat ini. Tempat yag ia benci karena merenggut kebebasannya.

“Chanyeol, aku…”

“Aku tidak menerima penolakan.”

Sebuah senyum kemudian terukir di bibir Baekhyun. Wajah cantiknya berbinar bahagia. Telapak tangannya menangkup kedua pipi Chanyeol. Perlahan ia mendekatkan bibirnya pada telinga lebar namja tampan itu.

“Aku juga mencintaimu.”bisiknya pelan sebelum mencium lembut pipi Chanyeol.

***

Menjadi kekasih dari seorang bintang besar di Korea nyatanya tidak mudah. Selama lebih dari enam bulan Baekhyun tidak dapat bertatap muka dengan Chanyeol ketika namja tampan itu debut menjadi rapper boyband bernama EXO. Mereka berkomunikasi hanya melalui telepon dan sesekali video call ketika Chanyeol mempunyai waktu senggang yang lumayan banyak. Seperti saat ini.

“Kau tampak lelah.”ucap Baekhyun saat mendapati wajah lesu Chanyeol di layar handphonenya.

“Ya, hanya sedikit kurang tidur, baby. Bagaimana keadaanmu?”

“Seperti biasa. Aku baik-baik saja.”jawab Baekhyun sambil tersenyum manis. Menyembunyikan kenyataan bahwa semalam keadaannya sempat drop.

“Aku melihat penampilanmu dan EXO. Seperti biasa. Sangat mengagumkan.”

Namja tampan itu tampak tersenyum penuh kebanggaan. Berpose sok tampan yang membuat Baekhyun langsung menyesali perkataannya yang sempat memuji.

“Oh, terlebih Kai. Dia sangat keren dan sexy.Tariannya sungguh…”

“Baby!”

Kekehan terdengar dari bibir Baekhyun saat Chanyeol menyela ucapannya dengan kesal. Namja tampan itu tampak merajuk karena ia memuji namja lain yang merupakan anggota grupnya.

“Padahal kekasihmu sendiri tidak kalah kerennya tetapi kenapa kau malah memuji namja lain!”

“Itu beda, Chanyeolie. Kai memang keren. Tolong mintakan tanda tangan untukku.”

“Tidak akan!”

“Dasar pelit!”

“Aku saja yang akan memberimu tanda tangan.”

“Hmph! Tidak mau! Aku sudah mendapatkan orangnya. Jadi, untuk apa aku mendapatkan tanda tanganmu.”

Bibir Chanyeol tersenyum begitu lebar,”Ya, kau memang sudah mendapatkanku.”

Namja mungil itu bersemu merah dengan tatapan yang masih menatap ke arah Chanyeol,”Apa kau sudah makan? Jangan lupa makan dan jaga kesehatanmu.”

“Itu yang seharusnya kukatakan padamu. Jangan lupa minum obatmu.”

Baekhyun hanya mengangguk imut.

“Tidurlah,Chanyeolie. Kau butuh istirahat.”

“Tapi aku masih merindukanmu, baby.”

“Besok aku akan mengirimu pesan.”

“Hhh… baiklah. Selamat tidur. Aku mencintaimu.”

“Nado.”

***

Chanyeol menghempaskan tubuhnya di kamar hotel yang berada di Amerika. Satu jam yang lalu ia dan anggota EXO lainnya baru saja menyelesaikan konser. Tubuhnya terasa remuk saat harus menjalani tur dunia untuk konser mereka yang seakan tidak ada habisnya. Belum lagi hampir dua minggu kekasih hatinya itu tidak bersedia untuk mengangkat telepon darinya. Padahal ia begitu rindu untuk mendengar ataupun melihat Baekhyun.

“Kekasihmu masih belum mau mengangkat telepon darimu, hyung?”

Kai yang baru saja keluar dari kamar mandi bertanya sambil berjalan ke arah ranjang yang berada tepat di samping Chanyeol.

“Begitulah. Sepertinya dia marah karena sesuatu. Tetapi aku merasa tidak melakukan kesalahan apapun.”jawab Chanyeol sambil memandang ponselnya yang menampilkan foto Baekhyun yang tersenyum. Foto yang hampir dua tahun ini menjadi wallpaper handphonenya.

“Ck, kau ini dasar tidak peka.”

“Huh? Apa maksudmu?”

“Mungkin dia cemburu padamu dan Kyungsoo.”

“Mwo?”

“Kau bilang bukan jika disetiap kesempatan dia selalu melakukan streaming konser kita. Dan jika kau tidak sadar. Kau selalu melakukan fanservice dengan Kyungsoo.”

Chanyeol semakin mengerutkan keningnya bingung,”Itu cuma fanservice, Kai. Lagipula Baekhyun juga tau itu tuntutan dari pekerjaanku.”

“Inilah letak ketidakpekaanmu, hyung.”desah Kai sambil menatap malas ke arah Chanyeol.

“Kau selalu mengatakan ini pekerjaan tetapi terkadang apa yang kau lakukan berlebihan. Baekhyun-hyung tau ini adalah pekerjaanmu sehingga ia tidak dapat menyerukan protesnya padamu tetapi seharusnya kau juga bisa menjaga perasaan orang yang kau sayang. Coba bayangkan jika kau berada di posisi Baekhyun-hyung. Kau hanya bisa diam saat melihatnya berpelukan, berangkulan, dan lain sebagainya dengan orang lain karena kau tau ini adalah pekerjaannya. Apa kau tidak cemburu?”

Mulut Chanyeol langsung terbungkam. Ia memang melakukan semua fanservice bersama Kyungsoo agar para fans senang. Namja tampan itu benar-benar tidak sadar jika ia telah menyakiti hati kekasihnya. Selama ini Baekhyun hanya tersenyum dan tertawa gembira setiap ia bercerita tentang pengalamannya di negeri orang selama konser. Namja mungil itu juga tidak pernah menyinggung masalah fanservicenya dengan Kyungsoo.

“Annyeong, Baekhyung-hyung~”

Chanyeol langsung menoleh saat Kai bersuara dengan tangan yang melambai kea rah tabletnya. Alisnya terangkat saat mendengar nama sang kekasih terucap.

“Annyeong, Kai~”

Suara merdu dengan aksen menggemaskan itu membuat mata Chanyeol melebar. Ia nyaris melompat ke arah Kai sebelum namja itu mengangkat telapak tangannya. Menyuruhnya untuk berhenti dan tetap berada di tempatnya.

“Bagaimana kabarmu, hyung?”tanya Kai sambil melihat wajah mungil Baekhyun di layar.

Ia mengenal Baekhyun ketika berada di rumah sakit karena cidera. Saat itu ia melihat Chanyeol yang selalu berkunjung ke kamar di sebelah kamarnya sebelum mengunjunginya. Didorong rasa penasaran, akhirnya ia mencoba berkunjung ke kamar Baekhyun dan berkenalan dengan namja mungil itu. Siapa sangka keduanya dapat menjadi akrab hingga sekarang. Terlebih status Baekhyun yang merupakan kekasih dari teman seperjuangannya.

“Aku baik. Bagaimana denganmu? Aku tadi melihat konsermu. Sangat keren seperti biasanya.”jawab Baekhyun.

Chanyeol hanya bisa menggigit bibirnya gemas. Ia bisa membayangkan wajah berseri Baekhyun saat mengatakan hal itu.

“Aku baik juga. Terima kasih, aku tau aku memang tampan dan mempesona.”

Suara tawa Baekhyun menggema di kamar mewah itu. Membuat Chanyeol semakin ingin merebut paksa tablet Kai dan menatap wajah pujaan hatinya.

“Beri aku tanda tanganmu~ Kau selalu menolak saat aku meminta sign.”suara merajuk Baekhyun semakin membuat pertahanan Chanyeol menipis. Agh! Namja itu benar-benar ingin bertemu dengan kekasihnya.

Kai tertawa kecil melihat wajah imut Baekhyun,”Kau harus membeli album EXO dulu sebelum meminta tanda tanganku.”

“Huh! Dasar pelit!”

“Aku sekarang bintang besar, hyung.”

“Iya..iya Kkamjong.”

“Ya!”

Tawa renyah itu kembali memenuhi ruangan itu.

“Oh, apakah kau ingin berbicara dengan Chanyeol-hyung? Sepertinya dia merindukanmu. Aku akan memanggil-“

“Andwae! Aku sedang tidak ingin berbicara padanya!”

Kai melirik ke arah Chanyeol yang menghela napas lelah setelah mendengar jawaban Baekhyun.

“Kalian bertengkar?”

“Tidak, hanya saja…”

“Hanya saja?”

“Bukan apa-apa. Aku hanya sedang malas berbicara dengannya.”

“Benarkah? Apa jangan-jangan hyung cemburu karena tadi Chanyeol-hyung memeluk mesra Kyungsoo?”goda Kai sambil melirik Chanyeol yang kini melotot ke arahnya.

Biasanya Baekhyun akan langsung mengelak dengan suara meledak-ledak. Namun, hanya keheningan yang menjawab pertanyaan Kai sebelum suara lirih Baekhyun terdengar.

“Mungkin. Mereka terlihat serasi.”

Tidak tahan hanya dengan menjadi pendengar, Chanyeol segera merebut tablet Kai,”Baby, aku tidak-“

Bola mata Chanyeol langsung membulat saat sambungan video call itu terputus. Ia dapat melihat sekilas wajah terkejut kekasih mungilnya sebelum layar itu menampilkan mode standby.

“Sial!”

***

Seorang namja tinggi terlihat berjalan dengan tergesa-gesa. Sebuah topi dan syal menutupi sebagian wajahnya hingga kini meskipun ia berjalan di koridor rumah sakit yang ramai tidak ada yang mengenalinya. Namja itu segera memasuki ruangan yang sangat ia kenali meskipun cukup lama ia tidak mengunjunginya.

Napasnya cukup tak beraturan karena ia langsung kesini setelah pesawat yang mengantarkannya pulang ke negara asal mendarat. Sebenarnya jadwal kepulangannya adalah esok hari namun Chanyeol sudah tidak dapat menahan rindu untuk kekasih tercinta.

“Baekhyun, ak-“

Mata bulatnya melebar. Jantungnya berdentum tidak nyaman dengan tusukan yang terasa menyakitkan. Darahnya seakan ditarik paksa hingga ia kesulitan bernapas. Matanya menatap nanar ke arah tubuh mungil Baekhyun yang kini tergolek lemah di ranjang rumah sakit dengan selang inpus dan oksigen yang mengelilinginya. Chanyeol seakan terpaku di tempatnya. Ia bahkan tidak menyadari bahwa Kris dan ibu Baekhyun tengah berada di ruangan yang sama dengannya.

“Chanyeol! Chanyeol!”

Namja tampan itu mengerjap pelan. Menatap Kris yang tadi menyerukan namanya. Ia menatap penuh pertanyaan ke arah namja yang sedikit lebih tinggi darinya itu.

“Baekhyun tidak apa-apa. Hanya saja tiba-tiba tadi ia kesulitan bernapas serta tidak berhenti terbatuk, tetapi semunya baik-baik saja.”

Baik-baik saja? Apa benar pemilik hatinya itu baik-baik saja saat ia melihat bekas tisu yang berdarah di tempat sampah? Apa benar Baekhyunnya baik-baik saja saat ia melihat dengan jelas mata sembab calon ibu mertuanya? Apa benar malaikatnya baik-baik saja saat ia menderita kanker paru-paru?

Chanyeol berjalan perlahan ke arah Baekhyun. Meraih tangan kekasihnya yang semakin kurus. Mengelusnya perlahan sebelum mencium lembut punggung tangan itu.

“Aku pulang, baby. Tidakkah kau ingin mengucapkan selamat datang padaku?” bisik Chanyeol pelan.

Kris dan sang ibu yang melihat itu saling berpandangan sebelum akhirnya memilih keluar dan memberikan waktu untuk namja tampan yang sejak dua tahun yang lalu meminta restu kepada mereka untuk memiliki Baekhyun.

Chanyeol berulang kali mencium punggung tangan Baekhyun. Berharap namja mungil itu akan terusik dan bangun dari tidurnya. Ia pulang lebih awal karena ingin menjelaskan kesalahpahaman Baekhyun sejak seminggu yang lalu. Ketika namja mungil itu menerima panggilan dari Kai. Berbagai cara sudah ia lakukan untuk membujuk Baekhyun tetapi tidak ada satupun yang membuahkan hasil sehingga ia memutuskan untuk pulang lebih cepat agar bisa menjelaskan secara langsung. Ia ingin memberikan kejutan tetapi sepertinya ialah yang terkejut.

“Baby, aku merindukanmu.”

Melihat keadaan Baekhyun yang seperti ini membuat Chanyeol merasa sesak. Kesibukannya sebagai seorang idol membuatnya tidak bisa menemani ataupun menjaga Baekhyun. Ia tidak bisa menggenggam tangan mungil ini ketika Baekhyun membutuhkan penopang. Ia tidak bisa memberikan pelukan ketika Baekhyun membutuhkan kehangatan. Terkadang, ia menyalahkan dirinya sendiri yang tidak berguna sama sekali. Status kekasih tampak seperti nama tanpa makna. Ia seperti hanya bisa berkata cinta tanpa bukti nyata.

“Kumohon bertahanlah untukku.”

***

Baekhyun menderita kanker sejak remaja. Ia bukan perokok namun kemungkinan ia menderita penyakit ini karena ayahnya yang perokok aktif. Sejak kecil Baekhyun hidup bersama ayahnya yang bercerai dengan ibunya ketika ia masih berusia delapan tahun. Hidup di lingkungan yang tidak sehat membuat Baekhyun sering sakit-sakitan hingga akhirnya menderita kanker ini. Ayahnya sendiri meninggal saat Baekhyun berumur dua belas tahun dan sejak itu ia tinggal bersama Kris dan juga ibunya. Tepat di umurnya yang ketujuh belas tahun, Baekhyun mengalami sesak napas dan batuk darah hingga akhirnya harus dilarikan ke rumah sakit. Ia kemudian menerima kenyataan bahwa virus kanker perlahan telah menyebar ke tubuhnya. Sejak saat itu ia tinggal di rumah sakit untuk menambah angka kehidupannya. Ia tidak dapat makan sembarang dan terkadang kesulitan menelan sesuatu sehingga cairan infuslah yang menopang hidupnya. Tetapi Tuhan sepertinya masih sayang padanya karena mempunyai ibu yang seorang pemilik perusahaan serta kakak seorang designer terkenal. Terlebih warisan dari ayahnya yang cukup banyak sehingga ia tidak mengalami kesulitan dalam pembayaran biaya pengobatannya yang tidak murah. Namun, karena penyakitnya ini membuat Ibu dan Kris-kakaknya- harus bekerja keras dan semakin disibukkan oleh pekerjaan. Baekhyun sempat ingin melakukan rawat jalan tetapi sang ibu menolak dengan alasan bahwa tidak akan ada yang mengurusnya sehingga kini rumah sakit menjadi rumahnya.

Setahun di rumah sakit membuat Baekhyun mengenal hampir semua dokter, perawat maupun pasien yang ada disana. Ia terkadang iri melihat pasien yang diperbolehkan pulang dan dapat melihat dunia luar sedangkan ia disini terkurung hanya agar dapat bernapas lebih lama. Ia juga ingin melihat ramainya jalan. Penuhnya angkutan umum. serta tempat-tempat lain yang belum pernah ia kunjungi. Ia ingin melihat dunia.

Jatuh cinta adalah hal terakhir yang terpikirkan oleh Baekhyun saat ia tau bahwa kemungkinan hidupnya tidak akan lebih dari sepuluh tahun lagi. Ia tidak menyangka bahwa ia akan memberikan hatinya kepada namja aneh yang selalu menganggu pikirannya. Namja yang terlihat begitu tampan ketika bernyanyi dengan gitarnya. Namja yang begitu bersinar dan menyilaukan bagai matahari. Seorang namja yang begitu sulit ia gapai seberapa keraspun ia mencoba tetapi namja itulah yang mengulurkan tangan padanya. Memberi sedikit cahaya dan warna pada jalan hidupnya yang terasa gelap karena dulu setiap detiknya ia akan menghitung waktu seberapa lama lagi ia dapat menghidup udara.

Namja itu kini semakin bersinar. Selalu mempesona ketika berdiri di panggung besar. Membuat Baekhyun merasa bahwa jarak diantara keduanya semakin jauh, semakin tak terjangkau. Namja itu seakan berlari pergi sedangkan Baekhyun hanya bisa berdiri kaku di tempatnya. Memanggil tanpa suara. Panggilan yang tak akan pernah sampai pada orang yang telah memiliki cintanya.

“Ch-chanyeol..”

Baekhyun perlahan membuka matanya. Mengerjap pelan untuk menyesuaikan cahaya lampu yang masuk ke dalam retina matanya. Namja mungil itu termenung sejenak saat mengingat mimpi dimana Chanyeol berlari pergi darinya. Mimpi yang terlalu menakutkan untuk menjadi kenyataan.

“Baby?”

Perlahan Baekhyun menolehkan kepalanya saat mendengar suara yang begitu ia rindukan. Suara bass yang dulu tiap minggu ia nantikan.

“Ch-chanyeol?”

Namja tampan itu tersenyum begitu lebar. Bibirnya mengecup lembut bibir Baekhyun dengan berbisik penuh syukur.

“Akhirnya kau bangun juga.” Ucap Chanyeol sambil mencium kening Baekhyun lama.

“Kau di-disini?”

“Tentu saja aku disini.”

Baekhyun masih terdiam dengan mata yang menatap lekat Chanyeol. Ia kemudian tersenyum lembut sebelum merentangkan tangannya,”Peluk aku.”

Tanpa diminta dua kali Chanyeol segera meraup Baekhyun ke dalam pelukannya. Menahan berat tubuhnya agar tidak menimpa tubuh Baekhyun yang masih berbaring. Sesekali ia mengecup pelipis dan pipi tirus Baekhyun.

“Aku merindukanmu.”bisik Baekhyun lirih namun terdengar begitu jelas di telinga Chanyeol.

“Aku juga merindukanmu, malaikatku.”

***

“Jadi, dia tidak mau menerima telepon darimu karena cemburu?”

Ini sudah dua hari setelah Baekhyun mengalami sesak napas tiba-tiba. Namja mungil itu tampak lebih cerah dan selang oksigen pun tak nampak menggelayuti hidungnya. Saat ini Chanyeol yang dua hari ini selalu mengunjunginya berbincang dengan Kris masalah kecembruan Baekhyun.

“Aku tidak cemburu, hyung!”sanggah Baekhyun dengan bibir mengerucut.

“Benarkah? Lalu kenapa kau tidak mau menerima telepon dariku?”goda Chanyeol yang duduk di sampingnya. Saat ini mereka duduk di sofa yang berada di kamar Baekhyun.

“Hanya malas saja melihat wajahmu.”

“Tapi dua hari yang lalu kau bilang kau merindukanku.”

“Ugh! Tidak , kau pasti salah dengar.”

“Kau bahkan meminta pelukan.”

Wajah mungil Baekhyun langsung memerah saat mengingatnya,”Ani! Kau Cuma mengarang!”

Chanyeol tertawa gemas sambil mencium singkat pipi Baekhyun. Mengabaikan kehadiran Kris yang masih duduk berhadapan dengan mereka.

“Malaikatku malu eoh?”

“Berhenti menggodaku, Chanyeolie.”

“Berhenti menganggapku tidak ada!”

Suara berat Kris membuat sepasang kekasih itu saling pandang hingga akhirnya tertawa pelan.

“Makanya cepatlah cari kekasih, hyung.” ucap Chanyeol sambil memeluk bahu Baekhyun erat.

Kris memutar bola matanya,”Aku tidak ingin mencari kekasih tetapi calon istri.”

“Wow! What a man!” seru Chanyeol sambil terkekeh.

“Diamlah, telinga peri. Lagipula apa kau tidak ada jadwal? Sudah dua hari ini aku bosan melihat wajahmu.”

“Kami diberi libur beberapa hari sebelum menggelar konser di sini, hyung. Jika kau bosan sebaiknya kau pergi agar aku bisa menikmati waktu berdua dengan Baekhyun.”

“Ya! Noe!”

Chanyeol hanya melengos tidak peduli dan kembali memainkan rambut hitam Baekhyun yang menggelitik pipinya.

“Kau akan mengadakan konser di Korea? Benarkah Chanyeollie?”tanya Baekhyun yang sejak tadi diam.

“Iya baby. Di Olympic Gymnastics Arena.”

Mata sipit Baekhyun langsung berbinar-binar,“Aku ingin menonton! Bolehkan?”

Chanyeol segera melayangkan tatapannya pada Kris. Meminta bantuan pada namja tampan yang duduk di depannya.

“Baekhyun, tapi-“

“Sekali ini saja,hyung. Aku mohon.”

Kini Kris yang menelan ludahnya paksa. Diberi tatapan seperti anjing yang ingin di bawa pulang seperti itu mana mungkin ia bisa menolak,”Hhh… baiklah, tetapi hanya jika dokter Zhang mengizinkannya.”

Roger!

Baekhyun menoleh ke arah Chanyeol dengan senyum lebar,”Akhirnya aku bisa menonton konser EXO. Aku tidak sabar melihat Kai menari secara langsung.”

“Ya! Jadi, kau ingin menonton hanya untuk melihat Kai?”tanya Chanyeol tidak percaya. Kini ia menyesal pernah memperkenalkan mereka berdua.

Namja mungil itu terkekeh pelan sambil memeluk lengan Chanyeol erat,”Aku juga ingin melihatmu bersinar di atas panggung.”

Senyum kembali terukir di  bibir Chanyeol,”Nanti jangan cemburu ya kalau aku melakukan fanservice dengan Kyungsoo.”

Bibir Baekhyun langsung mengerucut dengan kening yang berkerut,”Aku tidak akan cemburu jika kau tidak memeluknya seperti konser di Amerika dulu. Aku tidak suka!”

“Ah, jadi sekarang kau mengaku cemburu?”

“Jadi, aku tidak boleh cemburu?”

“Tidak, aku malah sangat senang kau cemburu karena itu artinya kau mencintaiku.”

“Bukannya kau sudah tau itu sejak dulu? Dasar bodoh!”

Keduanya kembali berdebat dengan mesra. Kembali mengabaikan Kris yang menatap jengah keduanya.

***

Baekhyun tersenyum lebar menatap pantulan dirinya di cermin. Hari ini ia akan menonton konser EXO setelah mendapat ijin dari dokter yang selama ini menanganinya, dengan catatan ia harus segera kembali ke rumah sakit jika merasa sesak napas ataupun batuk yang tak kunjung berhenti. Ini pertama kalinya bagi Baekhyun menonton pertunjukkan kekasihnya sendiri secara live meskipun sudah hampir dua tahun Chanyeol menjadi idol Korea.

Sebuah sweater berwarna putih dan celana jeans biru tua membalut tubuhnya. Kakinya dilapisi sneaker berwarna putih dan beanie abu-abu menutupi rambutnya.

“Kau terlihat semangat.”ucap Kris sambil memasukkan beberapa obat, tisu dan masker pada tas kecil. Ia juga akan ikut menemani Baekhyun menonton konser. Tidak mungkin ia membiarkan adik manisnya itu pergi sendiri.

“Tentu saja. Selama ini aku hanya mengunjungi rumah sakit, taman, kantor umma, kantor hyung, butik, dan supermarket. Ini pengalaman pertamaku melihat tempat konser.”jawab Baekhyun dengan antusias.

Kris tersenyum tipis. Ia sebenarnya ingin mengajak Baekhyun jalan-jalan namun pekerjaan dan kondisi Baekhyun tidak memungkinkan hal itu. Untuk hari ini saja, Kris diberi tenggang waktu empat jam oleh dokter Zhang. Udara luar yang tercemar polusi tidak baik untuk kesehatan Baekhyun.

“Jadi, apa kau sudah siap?”

“Sangat siap!”

Sepanjang perjalanan menuju tempat konser Baekhyun tak henti-hentinya berdecak kagum melihat pemandangan yang hampir tidak pernah ia lihat sebelumnya. Bibirnya selalu menyerukan pertanyaan hingga membuat Kris kewalahan.

“Wow!”bibir Baekhyun membulat sempurna saat melihat bangunan besar di depannya. Ia dapat melihat banyak gadis remaja dan sebagian remaja lelaki sepertinya mengantri untuk masuk.

“Kita tidak perlu mengantri disana. Kita bisa langsung masuk lewat pintu belakang.”ucap Kris yang berdiri di samping Baekhyun.

“Jinjja?”

“Eoh. Aku mempunyai koneksi dari penyelenggaran konser ini.”

Kedua kakak beradik itu kemudian masuk melewati pintu belakang setelah Kris memperlihatkan kartu identitasnya kepada petugas yang berjaga disana. Mata Baekhyun seakan enggan berkedip ketika melihat berbagai hal baru di sekitarnya. Orang-orang sibuk berlari kesana-sini dengan earphone kecil yang terpasang di telinga masing-masing.

“Ah.. hyung ingin ke toilet sebentar. Tunggulah disini oke?”

Kris segera berjalan cepat menuju toilet. Meninggalkan Baekhyun yang berdiri di pinggir koridor yang cukup sepi meskipun tidak jauh dari tempatnya berdiri banyak orang yang tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Baekhyun menatap itu semua dengan perasaan gembira.

“Kau siapa? Apa yang kau lakukan disini?”

Sebuah suara membuat Baekhyun langsung menoleh. Seorang namja yang tak kalah mungil darinya tampak berdiri di hadapannya. Namja bermata bulat itu nampak menilai Baekhyun dari atas ke bawah.

‘Kyungsoo?’batin Baekhyun sambil menatap mata bulat yang balik menatapnya.

“Ah…kau ini namja penyakitan kekasih Chanyeol-hyung kan?”

Deg!

Jantung Baekhyun berdetak cepat tidak karuan. Terselip rasa sakit saat mendengar orang lain mengatainya penyakitan.

“Ternyata kau tidak semenawan yang diceritakan Chanyeol-hyung.”ejek namja mungil itu masih dengan tatapan menilai.

Baekhyun hanya mampu terdiam. Tidak ingin menjawab ataupun menanggapi perkataan main vocal EXO itu.

“Seharusnya kau tau diri bahwa kau tidak pantas bersanding dengan Chanyeol-hyung. Apa kau tau kesulitan apa saja yang dilalui oleh Chanyeol-hyung karena menjalin hubungan denganmu?”

Bibir tipis Baekhyun tertutup rapat. Ia berusaha pergi dari sana sebelum lengannya di cengkram erat oleh Kyungsoo.

“Apa selain penyakitan kau juga tuli?”

“Lepaskan aku.”

“Tidak! Dengarkan aku! Gara-gara kau saat trainee Chanyeol-hyung selalu dihukum karena pergi di hari minggu. Gara-gara kau dia dimarahi karena membolos rapat demi menjengukmu. Apa kau tau ia juga sering melakukan kesalahan saat latihan hanya karena memikirkan namja tidak berguna sepertimu! Apa bagusnya namja yang sebentar lagi akan mati!”

Tusukan kuat terasa di dadanya. Sakit. Hatinya sakit sekali mendengar perkataan namja yang masih menatap tajam ke arahya. Tanpa diberi tau ia sudah tau bahwa ia hanyalah beban di kehidupan Chanyeol. Tanpa orang lain katakan ia sudah sadar bahwa ia hanyalah namja yang tidak berguna. Tetapi apakah salah jika ia memilih untuk egois agar Chanyeol tetap bersamanya? Apakah ia egois jika ia menginginkan cinta Chanyeol sebelum ajal benar-benar menjemputnya?

“Kau seharusnya sadar bahwa kau tidak akan membuat Chanyeol bahagia! Kau harus sadar bahwa kehadiranmu di kehidupannya adalah sebuah kesalahan!”

Kyungsoo melepaskan cengkraman tangannya pada lengan Baekhyun sebelum mendorong keras tubuh kurus Baekhyun hingga membentur dinding di belakangnya. Namja itu kemudian berjalan pergi meninggalkan Baekhyun yang masih termenung. Memikirkan setiap perkataan yang namja itu lontarkan untuknya.

“Apakah aku benar-benar sebuah kesalahan dalam kehidupan  Chanyeol?”

Memikirkan itu membuat dada Baekhyun semakin sesak. Alisnya berkerut dalam saat merasa udara tidak dapat dihirupnya. Tanpa sadar tangannya mencengkram erat kaosnya di bagian dada. Mencoba menormalkan napasnya  yang mulai terputus-putus.

‘Tidak! Bertahanlah! Setidaknya sampai aku melihat Chanyeol yang bersinar di atas panggung.’batin Baekhyun sambil berjongkok.

Perlahan-lahan namja itu menormalkan kembali napasnya. Menghirup rakus udara sebelum menghembuskannya perlahan. Beberapa saat Baekhyun hanya terdiam disana sebelum berdiri. Matanya menatap ke  rah dimana Kyungsoo berjalan pergi.

“Jika aku adalah sebuah kesalahan maka aku akan pergi jika Chanyeol sendiri yang memintanya.”bisik Baekhyun pelan.

***

“Ugh! Mataku akan segera buta jika kau terus tersenyum lebar seperti itu.”ucap seorang namja berwajah kotak kepada Chanyeol yang tampak berseri-seri. Tidak lupa senyum lebar yang senantiasa menghiasi bibirnya.

“Terserah apa katamu, Jongdae. Aku senang sekali hari ini.”jawab Chanyeol tidak peduli.

“Oh, apakah ini tentang kekasihmu yang akan menonton konser kali ini?” tanya Xiumin dengan penasaran.

Telah menjadi rahasia umum di antara anggota EXO bahwa main rapper itu telah memiliki kekasih bahkan sebelum debut.

“Benar sekali, hyung. Hari ini ia akan datang ke konser.”

“Hmm… aku penasaran untuk melihatnya secara langsung.”komentar Suho.

“Kuharap dia seimut fotonya.”sahut Lay dengan senyum dimple-nya.

“Tentu saja dia lebih menggemaskan.”ucap Kai tiba-tiba.

Sehun mengangkat alisnya,”Kenapa kau yang menjawab?”

“Karena aku kan pernah bertemu langsung dengannya.”

Suara pintu yang terbuka membuat semua member EXO menoleh ke arah Kyungsoo yang baru saja masuk ke dalam ruang ganti mereka.

“Tidak biasanya kau lama di toilet, Kyungsoo.”ucap Luhan sambil melirik kea rah Kyungsoo yang duduk di sampingnya.

“Perutku sedikit sakit.”

Tao berjalan mendekat,”Kau tidak apa-apa?”

“Aku baik-baik saja.”

Percakapan itu terhenti saat sang manajer memberitahukan bahwa konser sebentar lagi akan dimulai. Semua member yang telah siap langsung bergegas menuju backstage. Teriakan fans yang menggema terdengar hingga belakang panggung. Menambah rasa gugup juga excited para member EXO.

“Baiklah, mari kita lakukan yang terbaik. EXO?!”

“Saranghaja!!”

Para member kemudian berjalan ke posisinya masing-masing karena konsep kali ini adalah mereka akan muncul di panggung dari posisi yang berbeda-beda. Teriakan para fans terdengar semakin keras ketika satu persatu member muncul dari bawah panggung. Cahaya dari light stick para penggemar nampak memenuhi gedung besar itu. Ketika Chanyeol naik ke atas panggung, matanya langsung menyapu ke arah bangku VVIP dimana sang kekasih berada. Tepat di barisan depan tampak Baekhyun dan Kris tengah duduk dengan tenang sedangkan para penonton yang lainnya sudah berdiri sambil mengacungkan lightstick mereka. Chanyeol hanya bisa menahan senyum saat kekasihnya itu terlihat begitu menggemaskan dengan salah satu tangan memegang lightstick juga.

***

Berulang kali Kris menghela napas saat mendengar teriakan ataupun jeritan dari yeoja-yeoja yang ada disampingnya. Jika bukan karena mengkhawatirkan adik kesayangannya, ia tidak akan mau berada disini. Matanya kemudian melirik ke arah Baekhyun yang duduk manis di bangkunya sambil sesekali menggoyangkan lightsticknya ketika alunan lagu kembali terdengar. Ia kira Baekhyun akan lebih antusias lebih dari ini.

“Apa kau senang?”bisik Kris sedikit keras pada telinga Baekhyun.

Namja mungil itu menoleh kemudian tersenyum manis,”Sangat senang. Terima kasih, hyung.”jawabnya pelan.

Kris ikut tersenyum sambil mengusap kepala Baekhyun yang tertutupi oleh beanie,”Apapun untukmu, nae dongsaeng.”

Keduanya kemudian terdiam dan kembali memusatkan pandangannya pada panggung. Sesi kali ini adalah penampilan solo masing-masing member. Pertama dimulai oleh suara merdu Chen kemudian permainan piano Lay dan sekarang adalah tarian Kai. Namja berkulit tan itu menari dengan tempo lambat. Baekhyun yang sejak tadi menyandarkan pungungnya pada kursi mulai duduk dengan tegak saat melihat penampilan Kai. Namja mungil itu sedikit membulatkan matanya saat tiba-tiba Kai menoleh kepadanya dan berjalan menghampirinya. Para penggemar yang lain langsung menjerit heboh saat tanpa aba-aba Kai mengajaknya berdiri dan menuntunnya ke atas panggung.

“Ini sebagai ganti tanda tanganku yang tertunda, hyung.”bisik Kai sambil mendudukkan Baekhyun di sebuah bangku di tengah-tengah panggung.

Namja itu kemudian kembali menari. Meliukkan badannya mengelilingi Baekhyun yang tidak lelah tersenyum dengan pipi yang bersemu. Terlihat cantik dan menggemaskan.

“Apa-apaan Kkamjong itu!”sentak Chanyeol tak suka dari belakang panggung.

“Memangnya kenapa? Ah…apa dia kekasihmu, hyung?” tanya Sehun sambil ikut melihat kea rah panggung dimana Kai masih menari dan Baekhyun yang menatap lekat namja berkulit tan itu.

“Dia…mempesona.”bisik Chen pelan.

“Berhenti menatapnya seperti itu mata unta.”

“Ck, posesif sekali!”

Namja-namja itu kembali menatap panggung dimana kini Kai telah mengakhiri tariannya dengan berlutut di depan Baekhyun. Sorakan para penonton yang lain semakin menggema. Dengan gentle, Kai kembali menuntun Baekhyun kembali ke tempat duduknya. Diiringi terikan histeris para gadis disana.

“Kau beruntung sekali.”ucap beberapa yeoja saat Baekhyun telah kembali duduk. Baekhyun hanya tersenyum kecil untuk menanggapi. Hatinya masih berbunga karena tidak menyangka Kai akan menari untuknya.

“Si hitam itu lumayan juga.”bisik Kris saat melihat Kai kembali membungkuk di atas panggung sebelum menghilang di balik panggung.

Setelah itu semua member bergiliran menampilkan bakat mereka diiringi oleh riuh tepuk tangan dan teriakan histeris para penonton. Kini Chanyeol memasuki panggung sebagai member terakhir yang akan menampilkan penampilan solonya.

“Um…lagu ini special kupersembahakan untuk malaikatku.”ucap Chanyeol sebelum memetik gitarnya. Matanya menoleh sekilas ke arah Baekhyun yang nampak duduk dengan tegang.

“Gotta Be You”

Girl I see it in your eyes you’re disappointed
‘Cause I’m the foolish one that you anointed with your heart
I tore it apart
And girl what a mess I made upon your innocence
And no woman in the world deserves this
But here I am asking you for one more chance

Can we fall one more time?
Stop the tape and rewind
Oh, and if you walk away
I know I’ll fade
‘Cause there is nobody else

It’s gotta be you
Only you
It’s got to be you
(Oh) Only you
Hey (hey)

Now, girl, I hear it in your voice and how it trembles
When you speak to me I don’t resemble who I was
You’ve almost had enough
And your actions speak louder than your words
And you’re about to break from all you’ve heard
But don’t be scared, I ain’t going nowhere

I’ll be here by your side
No more fears, no more crying
But if you walk away
I know I’ll fade
‘Cause there is nobody else

It’s gotta be you
Only you
It’s got to be you
Only you

Oh, girl,
Can we try one more, one more time?

One more, one more?
Can we try one more, one more time?
I’ll make it better

One more, one more,
Can we try one more, one more…

Can we try one more time and make it all better?

‘Cause it’s gotta be you
It’s gotta be you
Only you
Only you

It’s gotta be you
Only you
It’s got to be you
(Oh) Only you

 

Tepuk tangan menggema di seluruh gedung setelah Chanyeol menyelesaikan nyanyiannya. Namja itu kemudian tersenyum ke arah Baekhyun yang sejak tadi hanya terdiam dan menatap lekat padanya,”Mungkin lagu ini tidak sepenuhnya mencerminkan perasaanku padamu tetapi perlu kau tau bahwa.. there is nobody else. It’s gotta be you. Only you.”

Beberapa yeoja menatap ke arah Baekhyun yang masih bertukar pandang dengan Chanyeol yang tersenyum ke arahnya sebelum namja tampan itu berdiri dan membungkukkan badannya dan pergi ke belakang panggung untuk penampilan akhir mereka. Tanpa sadar wajah Baekhyun memerah dengan jantung yang berdegup kencang. Namja mungil itu segera mengerjapkan matanya beberapa kali dan menepuk-nepuk pipinya yang terasa panas.

“Dia romantis juga.”goda Kris sambil menyenggol lengan Baekhyun dan menusuk pipi Baekhyun yang masih memerah.

“Diamlah, hyung.”

Sepanjang akhir konser Baekhyun berusaha keras mengbaikan pandangan penasaran dari beberapa yeoja yang ada di sekitarnya. Namja mungil itu fokus kepada Chanyeol yang kini terlihat bahagia menyanyi di atas panggung. Sesekali namja itu melirik ataupun melambai ke arahnya.

Dengan berani pun Baekhyun menggerakkan bibirnya saat tatapan mereka bertemu dan langsung di balas oleh gerakan bibir serta senyum lebar dari Chanyeol.

‘Saranghae’

‘Nado.’
***

“Apa kau ingin go public ,hyung? Kodemu sangat jelas terlihat.”tanya Kai saat mereka kembali ke ruang ganti

Senyum di bibir Chanyeol semakin melebar,”Tinggal menunggu waktu yang tepat.”

“Mwo?”

“Aku sudah mendapatkan ijin dari manajer-hyung dan sajangnim. Jadi, tidak ada alasan untuk menutupinya terlalu lama.”

“Kau gila, hyung? Fansmu akan kabur semua.”sahut Sehun.

“Well, itu resiko yang harus kuambil.”

“Cinta memang membutakan segalanya.”sinis Kyungsoo setelah mendengar perkataan Chanyeol.

“Tidak, Kyungsoo. Cinta tidak membutakanku tetapi menuntunku ke jalan hidup yang ingin kulalui.”

Kyungsoo ingin membalas ucapan Chanyeol sebelum terdengar ketukan pada ruang ganti mereka. Suho yang memang paling dekat dengan pintu langsung membuka pintu dan menatap kaget namja mungil yang tengah berdiri di balik pintu sambil memeluk sebuket bunga.

“An-annyeonghaseyo~ Selamat untuk kesuksesan konser kalian.”ucap Baekhyun sambil menyerahkan buket bunga itu kepada Suho.

“Baby!”

Chanyeol berjalan dengan semangat dan segera menenggelamkan tubuh mungil Baekhyun ke dalam pelukannya. Bibirnya tanpa bisa dicegah langsung mengecup sayang pelipis Baekhyun.

“Chanyeolie~” Baekhyun berusaha melepas pelukan erat Chanyeol. Bukannya ia tidak suka, ia hanya malu karena mereka berpelukan dengan penonton para member EXO serta berapa staff yang masih membereskan ruang ganti itu.

Perlahan Chanyeol melepas pelukannya dan merangkul pundak Baekhyun. Menghadapkan namja mungil itu pada anggota kelompoknya yang terlihat tidak sabar ingin berkenalan dengan kekasihnya.

“Perkenalkan. Park Baekhyun. Calon istriku.”

“Ya!” Baekhyun langsung menusuk perut Chanyeol dengan sikunya.

***

Malam ini setelah konser berakhir Chanyeol segera membawa Baekhyun menuju apartemennya. Ia sudah mendapatkan ijin dari Kris maupun dokter Zhang sehingga berani memboyong kekasih mungilnya itu ke apartemen yang sudah ia beli setahun yang lalu.

“Hari ini aku sangat bahagia.”ucap Baekhyun saat berada di dalam lift. Tangannya terlihat bertautan dengan tangan Chanyeol.

“Kenapa?”

“Aku bisa pergi keluar. Aku bisa melihat Kai menari secara langsung. Dan aku bisa melihatmu bernyanyi dengan begitu bagus. Kau terlihat sangat tampan.”

“Benarkah? Apa kau benar-benar tampan?”goda Chanyeol sambil mencium sekilas kening Baekhyun.

“Kau ini.” Baekhyun menggerutu denga malu.

Lift itu kemudian terbuka. Mereka berjalan beriringan menuju apartemen bernomor 0461. Chanyeol langsung memasukkan kode dan membuka pintu apartemen itu. Lampu seketika menyala di sana.

“Ayo, masuk.”

Namja tinggi itu segera menuntun Baekhyun menuju ke dalam setelah keduanya melepaskan sepatu dan memakai sandal rumah. Mata Baekhyun langsung berbinar saat melihat dekorasi di ruangan besar itu.

“I-ini-“

“Apakah kau suka?”

Baekhyun tidak mampu mengatakan apa-apa. Matanya tanpa sadar memerah saat melihat dinding apartemen itu dilapisi oleh foto-foto dari berbagai belahan dunia. Ada banyak sekali foto disana dan Chanyeol menyusunnya dengan sangat indah. Terlebih banyak sekali perabotan dan aksesoris ruangan itu juga berasal dari belahan dunia yang berbeda.

“Aku sengaja merahasiakannya darimu. Foto-foto ini aku ambil ketika aku melakukan konser ke seluruh dunia. Apakah kau suka?”

Namja mungil itu tidak mampu mengatakan apa-apa. Namun, senyum dan matanya yang berbinar menunjukkan bahwa ia sangat menyukai kejutan dari Chanyeol.

“Maaf, aku belum bisa mengajakmu keliling dunia. Tetapi aku bisa membawa dunia untukmu. Ini adalah belahan dunia yang kuciptakan untukmu.”

Baekhyun segera memeluk erat tubuh tinggi Chanyeol,”Gomawo~.”

Chanyeol hanya membalas dengan kecupan sayang di mata kanan Baekhyun. Perlahan namja mungil itu melepaskan pelukannya. Matanya kembali memandang foto-foto indah itu hingga kemudian tertumbuk pada foto yang paling besar disana. Foto pemandangan sebuah taman yang sangat ia kenal.

“Bukankah ini?”

“Kau ingat?”

Baekhyun menoleh kea rah Chanyeol yang sekarang memeluknya dari belakang,”Ingat apa?”

“Kita pernah bertemu di taman ini saat usiamu dua belas tahun.”

“Huh?”

“Kau datang dengan wajah merah dan mata basah tetapi setelah melihatku menangis disana kau langsung berhenti terisak dan menghampiriku.”

Baekhyun mulai menggali ingatannya. Mencoba mengingat kenangannya di taman yang selalu menjadi tempat bermainnya waktu kecil.

Baekhyun kecil menangis dengan wajah merah. Ia tidak mau percaya pada orang-orang yang mengatakan bahwa ayahnya sudah meninggal.

“Ayahku belum meninggal…ayahku belum meninggal.”isak Baekhyun sambil berlari menuju tempat persembunyiannya. Sebuah terowongan yang berada di taman favoritnya.

Langkah Baekhyun yang semula cepat perlahan melambat ketika melihat seorang anak seumuran dengannya tengah duduk di ayunan sambil menangis. Anak berbadan gemuk itu tampak menangis tersedu-sedu hingga akhirnya Baekhyun memutuskan untuk menghampirinya.

“Hey, kau kenapa? Apa kau sakit?”tanya Baekhyun sembari duduk di ayunan yang lain.

Perlahan anak itu menghentikan tangisnya dan menoleh ke arah Baekhyun,”Aku hanya sedih. Semua orang mengejekku jelek dan mengatakan bahwa aku tidak pantas menjadi seorang bintang.”

“Huh? Bintang?”

“Iya, aku ingin menjadi idola besar di negara ini. aku suka bermain gitar dan bernyanyi. Oleh karen itu aku bercita-cita menjadi seorang idol.”

“Keren sekali~”

Anak bertubuh gemuk itu menoleh ke arah Baekhyun,”Apa memang benar-benar keren?”

“Tentu saja!” Baekhyun mengangguk antusias,”Kau bisa menghibur banyak orang dan berkeliling dunia ketika namamu semakin terkenal. Kau bisa berjalan-jalan kemana saja. aku juga ingin keliling dunia.”

“Tapi apa aku bisa menjadi seorang idol terkenal?”

“Kau harus yakin bahwa kau bisa. Buktikan bahwa ejekkan mereka tidak benar.”

 

Mata sipit Baekhyun membula,”K-kau?”

“Setelah hari itu aku selalu ke taman dengan harapan agar dapat bertemu denganmu lagi tetapi hingga sekian tahun berlalu aku tidak pernah berjumpa denganmu. Aku kemudian memutuskan untuk mewujudkan impianku dan pergi ke Seoul untuk mengikuti audisi dan siapa sangka aku berhasil menjadi trainee. Aku tidak pernah melupakanmu meskipun pertemuan kita hanyalah kenangan singkat tetapi sepertinya takdir membawamu kepadaku. Kau tidak tau betapa senangnya aku melihatmu di rumah sakit kala itu. wajahmu tidak banyak berubah meskipun sudah lima tahun berlalu.”jelas Chanyeol sambil mencium gemas pipi Baekhyun.

“Kau tau Baekhyun? Apa yang dikatakan Kyungsoo itu tidak benar sama sekali.”bisik Chanyeol sambil mempererat pelukannya saat merasakan tubuh Baekhyun menegang. Chanyeol mengetahui hal itu karena ternyata Kris tanpa sengaja mendengar semua percakapan kedua namja mungil itu dan sebagai calon kakak ipar yang baik ia memberitahukannya kepada Chanyeol.

“Tapi…”

“Ssst!” Chanyeol menempelkan jari telunjuknya di bibir Baekhyun.

“Bagiku kehadiranmu adalah sebuah anugerah. Kau memberikan kepercayaan diri dan harapan untukku. Kau memberikan cinta yang selama ini kuinginkan dalam hidupku. Tidak ada yang lebih aku inginkan selain kau selalu ada disampingku.”

Chanyeol kemudian membalikkan badan Baekhyun. Menangkup lembut kedua pipi Baekhyun dan menatap penuh cinta kedua bola mata bening Baekhyun yang memantulkan bayangannya.

“Sejak pertama kali kau menyapaku di taman waktu itu, maka sejak itu pula duniaku berputar dengan kau sebagai porosnya. Aku bisa membawa dunia kehadapanmu tetapi aku tidak akan bisa hidup tanpa duniaku. Dan dunia itu adalah kau.”

Chanyeol menyatukan kening keduanya. Memejamkan mata saat merasakan desah hangat napas Baekhyun.

“Aku akan selalu kembali padamu selama kau mengulurkan tangan padaku. Aku akan selalu pulang kepelukanmu selama hatimu masih mengukir namaku. Aku akan selalu mencintaimu selama kenangan tentang kita melekat dalam pikiranmu.”

Chanyeol kemudian menempelkan bibirnya pada bibir Baekhyun. Menekan lembut bibir tipis itu sebelum melumatnya pelan dan penuh perasaan. Beberapa saat keduanya terdiam dalam posisi seperti itu hingga dengan perlahan Chanyeol mulai melepas tautannya.

“Jadi, bertahanlah dan terus mencintaiku.”

“Apa ini sebuah permintaan?”tanya Baekhyun dengan senyum manis di bibirnya.

“Ini adalah perintah.”

“Baiklah, kalau begitu aku juga punya perintah untukmu.”

“Apa?”

“Cintai aku untuk selama-lamanya.”

As you wish, my world.”

“Ugh! Bisakah kita hentikan ucapan sok romantis ini? Aku merasa mual.”

“YA!”

 

END dengan tidak elitnya T^T

 

FF apa ini!! *bantinglaptopdiataskasur*

Maaf, jikalau mengecewakan dan tidak berasa(?) sama sekali..

Saya yang buat aja ngerasa ini terlalu flat tanpa nano nano #plakkk

Terima kasih telah bersedia menampung epep tidak berkualitas ini *bowdalemdalem*

 

 

 

 

4 thoughts on “[FF February Love Mission] The World Revolves Around You || LiaKim

  1. mau canyuuuulllllll
    seriusan pengen punya pacar kaya canyul, dia mau nerima bek apa adanya
    terus terus bekhyun nya jg beruntung banget~~~
    awalnya aku pikir canyul selingkuh gitu sama dio gara2 bekhyun sakit2an tau nya ga cuma fanservice doang
    dan lebih ga nyangkanya lagi dio ternyata jahat ngomong yg ga baik k bekhyun
    aku pikir dio baik ternyata hiihhh menyebalkan wkwk
    seriusan canyul sweet banget
    ceritanya keren nano2 gitu ada sedihnya ada terharunya ada bahagianya haha
    keep writing yah~~

  2. kok kaya ngegantung/? endingnya .-.
    kurang greget endingnya, kurang klimaks/? gitu padahal udah intinya ya itu ._.
    suka gitu tiap chanyeol manggil baby x3
    kyungsoo pedes amat omongannya —

  3. Ping-balik: [!!!] List FF February Love Mission | Keluarga_Cemara

  4. Chanyeollie aku padamu.

    Efek lihat TEL kemarin dunia ku seakan berpusat hanya pada Chanyeol huaannjjiir emang itu org. Oke lupakan krn ujung2 nya aku akan kembali pada Baekhyun.

    Sad nya gk berasa justru pluff nya yg mendominasi. Aku sukkkaaaaa. Untunglah ceritanya gak sampe baek menutup mata(tidur maksdnya).

    Ihhh mak soo perkataanmu pedes amat.
    Wkwkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s