[FF February Love Mission] Farewell || YESBYUNBAEKHEE12


FAREWELL

[SEHUN, BAEKHYUN, CHAN YEOL]

[YESBYUNBAEKHEE12]

[ONESHOOT 7.713.W] [SAD ROMANCE] [RATE T]

CUAP-CUAP MUAH(?)

Sebenarnya rada minder buat ngepost FF disini. Soalnya, kalau inget Ffnya kak ALF atau kak Kiaraa, gue jadi nyadar gitu kalau kemampuan menulis gue masi rada ancur :”v gila tulisan mereka itu keren banget sumpah. Btw, semoga semua FF di KC bisa selesai semua ya kak ALF, kak Kiaraa. Dan sampe skrg gue minta pass payphone tapi belum di kasi padahal uda komen :”v. Btw soal FF ini, PLOT CAMPURAN. Keterangan waktu juga nggak aku tulis secara terang-terangan. Aku pengen para readers mencari tau sendiri tiap scene tuh sebenarnya pas kapan :v terinspirasi dari author fav gue, kwondami. Last but not least, thank you so much buat KC :*

 

Baek Hyun yang berlari di bawah lebatnya butiran salju yang menusuk kulit demi memperjuangkan cintanya. Se Hun yang menyerah akan keadaan setelah semua perjuangannya. Chan Yeol yang tidak membiarkan hal yang dianggapnya seharusnya menjadi miliknya menjadi milik orang lain.

Tiga hati, Tiga cinta, Dua arah, Satu arah

 

Semua orang sibuk. Benar-benar sibuk. Ini sudah dimulai kira-kira sejak 4 hari yang lalu. Mereka kesana-kemari. Sibuk menyelesaikan apa yang harus mereka selesaikan. Dan ini adalah hari puncaknya. Dimana semua orang akhirnya bisa melihat awal sesungguhnya dari apa yang telah mereka awali selama ini.

Di satu ruangan berdinding putih dengan meja rias berderet beserta pelengkapnya ditambah cermin yang memberi refleksi setiap benda tanpa dusta. Ya tanpa dusta. Merefleksikan kecantikan tanpa celah seorang pemuda cantik yang sedang duduk bersandar sembari menatap bayangan dirinya sendiri.

“Sudah selesai, Baek.” Ujar salah seorang di dalam ruangan yang tenang itu. Ruangan yang paling berbeda dari pada ruangan yang lain.

“Terima kasih, Mi Young.” Jawabnya.

Setelah meletakan alat-alat make upnya ke kotak. Gadis bernama Hwang Mi Young itu menatap ke cermin.

“Baek, kau sangat cantik. Chan Yeol sangat beruntung.” Pujinya sembari meraih kedua pundak sempit Baekhyun.

“Sekali lagi terima kasih.”

Mi Young terkekeh. Masih menatap cermin.

“Chan Yeol juga sangat tampan. Kalian pasti akan sangat bahagia.” Tambah gadis itu. Eyesmile berpadu dengan senyum gulanya.

Baekhyun terkekeh dan tidak menjawab.

Mi Young hanya tersenyum.

“Jangan pecicilan seperti biasanya. Aku ingin hari ini kau kalem dan manis. Aku tidak ingin karya yang ku buat di wajah mu susah payah lalu luntur.”

Baekhyun mengangguk dengan senyumannya. Mi Young tidak pernah salah memilih. Tuxedo putih dengan desain sederhana tapi terkesan elegan melekat di tubuh Baekhyun hari ini.

“Aku tidak sabar untuk melihat mu berjalan menuju altar, Baekhyun—ah.”

….

Salju jatuh sangat banyak hari ini. Menari indah dengan lembut meramaikan langit hampa kota Seoul yang tampak putih karena salju sejak kemarin. Membuat banyak orang memilih tetap di dalam rumah ditemani penghangat ruangan dan minuman dengan asap yang mengepul. Well, itu tidak berlaku bagi beberapa orang tapi tetap saja berlaku bagi orang lain. Pemuda ini termasuk salah satu dari sebagian orang di opsi kedua.

Kaki panjangnya yang dibalut oleh celana kain yang cukup modis serta suitable dengan kedua penopang tubuhnya yang jenjang. Berjalan meraih gelas yang berisi kopi hitam hangat yang diharapkan bisa membangkitkan semangat untuk menghabiskan hari-harinya.

Dari kejauhan, ia bisa mendengar suara dering ponsel yang terletak di dalam kamar. Dengan pelan ia membawa segelas kopinya menuju kamar untuk melihat apa yang terjadi hingga ponsel itu berdiring. Namun, saat ia baru saja sampai disana, ponsel tersebut justru diam mendadak. Ia telat mengangkat panggilan. Pria itu berniat mengacuhkan smartphone yang menunjukan tanggal dua puluh satu januari dua ribu lima belas. Akan tetapi, selang beberapa menit, nada notifikasi yang singkat berbunyi. Membuatnya mau tak mau kembali ke tempat itu. Menemukan sebuah pesan tertera di layar.

Ia membukanya.

From : Joonmyun.

Se Hun, kau datang ‘kan?

Setelah mengetik beberapa kata, pemuda yang diketahui bernama Se Hun itu melempar pelan ponselnya ke atas ranjang putih. Ia berjalan mendekati meja belajarnya yang terletak di dekat pintu kaca yang ditutupi gorden.

Tuk!

Se Hun meletakan pelan gelasnya di meja. Tangannya turun menuju laci dan menariknya pelan. Menemukan sebuah kotak beludru biru tua. Ia meraih benda itu dan berjalan menuju pintu kaca tertutup gorden.

Srak~

Ia menyibak gorden pelan. Dari sini, ia bisa melihat betapa pucatnya kota metropolitan yang sudah menjadi tempat tinggalnya sejak puluhan tahun lalu karena tertutup salju.

“Hujan salju lagi?” Se Hun heran. Ia tidak bisa membayangkan betapa tebalnya salju tahun ini.

Ngomong-ngomong, Se Hun tidak melupakan soal kotak beludru yang ia ambil dari laci mejanya tadi. Ia membuka kotak itu perlahan dan menemukan sepasang cincin logam mulia terdapat disana. Se Hun tersenyum melihat kedua benda itu. Dengan perlahan, ia mengambil salah satu cincin. Memperhatikannya sebentar, lalu memasangkannya di jari manis tangan kirinya. Cincin berwarna perak itu terlihat sangat cocok di jarinya yang panjang. Se Hun kembali mengulang senyum.

Detik-detik selanjutnya, Se Hun meraih satu cincin lagi. Cincin yang ini agak berbeda. Terdapat sedikit ukiran manis di permukaannya sebagai hiasan. Senyuman itu terus terkembang. Lalu, Se Hun memasangkan cincin itu di jari kelingking tangan kirinya—berdampingan dengan cincin yang lain di jari manis Se Hun.

Pria tinggi itu terkekeh.

“Ini memang sangat cocok.”

…..

Tap! Tap! Tap!

Derap langkah kaki terdengar memenuhi ruangan dengan desain interior memikat indera mata. Seorang pria dengan balutan tuxedo hitamnya yang menawan sedang melangkah dengan gagah dan pasti diikuti oleh beberapa orang di kiri dan kanannya. Setiap helai rambutnya tertapa rapi kebelakang dengan begitu modis memamerkan setiap inchi garis wajah yang tegas dan tampan.

“Tuan muda Chan Yeol, semua sudah siap. Tuan dan Nyonya sudah menunggu anda di mobil.” Ujar salah satu bawahannya disana.

Chan Yeol tersenyum dengan tampan tanpa menghentikan langkahnya sama sekali.

“Baik, Tuan Choi.”

“Aku tidak sabar untuk segera berdiri di altar.” Tambah Chan Yeol dengan antusias namun tidak melupakan kesan coolnya yang ia junjung tinggi.

Tuan Choi tertawa kecil dengan senyuman yang juga turut bahagia.

“Saya juga tidak sabar untuk menyaksikan hari bersejarah tuan.”

“Selamat Tuan Muda Park.”

“Terima kasih Tuan Choi.”

Maka Chan Yeol melajukan langkahnya agar segera sampai dan melihat pemuda yang ia cintai berjalan di atas red carpet menuju altar.

…..

Se Hun melangkahkan kaki-kaki panjangnya di atas jalanan Seoul yang sudah dibersihkan dari salju oleh petugas. Salju masih saja turun dengan deras mengguyur kota besar ini. Ia baru saja turun dari bus kota untuk mempercepat perjalanannya menuju suatu tempat agar tidak terlambat dengan sebuah payung transparan di tangan kanan. Se Hun adalah tipe orang yang sangat menghargai waktu. Apa lagi hari ini akan menjadi hari bersejarah baginya. Jadi, ia benar-benar tidak akan terlambat.

Beberapa puluh menit sudah Se Hun lewati hingga akhirnya ia sampai di depan sebuah gedung hotel yang tidak asing baginya. Ia menurunkan payungnya. Menguncupkan benda itu dan kemudian menitipkannya di counter penitipan barang. Setelah itu, ia berjalan menelusuri hotel dan sampai di depan sebuah pintu besar suatu ruangan yang dibuka lebar. Menampakan hiruk piruk keramaian di dalam ball room yang didesain sedemikian rupa indahnya untuk merayakan sesuatu yang spesial hari ini.

Kemudian, ia menunjukkan sebuah undangan dari dalam saku jasnya dan ia diizinkan masuk oleh beberapa orang berbadan tegap yang berjaga di kiri kanan pintu. Setelah itu, Se Hun masuk ke ball room yang sudah ramai didatangi oleh para tamu undangan yang lain. Orang-orang dengan berbagai macam jenis pakaian yang berpadu dalam satu nuansa mewah sedang saling berbincang-bincang akrab. Terdapat sebuah music band di sisi kanan dekat altar tengah memainkan musik jazz yang begitu manis dan mengalun lembut. Suasana cukup ramai tapi tidak riuh. Ball room seolah disulap menjadi seperti gereja. Kursi-kursi berderet panjang dalam dua daerah yang dibelah dengan red carpet menuju altar berhias bunga berada di tengah-tengah.

Setelah mengamati beberapa menit, Se Hun mengambil tempat duduk hampir di paling ujung barisan. Duduk diam dengan tenang disana sembari mengamati dua cincin yang tersemat di jari kelingking dan jari manis tangan kirinya. Begitu sinkron.

Se Hun tersenyum.

…..

Baekhyun berjalan dengan tenang dengan membawa sebuah buket perpaduan berbagai bunga dengan makna masing-masing yang saling menyingkronkan diri satu sama lain. Menciptakan satu kesatuan makna yang indah.

“Jangan gugup.” Ujar seorang pria yang berjalan di sampingnya.

Ne, Xiumin oppa.” Jawab Baekhyun tersenyum.

“Aku tidak menyangka kau akan menikah lebih cepat dari ku.”

Baekhyun terkekeh mendengar penuturan kakak laki-lakinya. Alih-alih memanggil kakaknya dengan ‘hyung’, Baekhyun lebih suka menggunakan ‘oppa´ karena menurutnya itu terdengar lebih menggemaskan. Walaupun begitu, Xiumin tidak keberatan. Ia suka melihat Baekhyun manja padanya.

“Aku akan menunggu pernikahan mu.” Ujar Baekhyun.

“Ehem, baiklah. Disana, Ayah sudah menunggu mu. Ingat, jangan gugup. Aku manyayangi mu.” Ujar Xiumin mengecup pipi adiknya lembut. Baekhyun tersenyum. Ia merasa sangat beruntung memiliki kakak yang begitu menyayanginya.

Gomawo, oppa.

Pria berumur 25 tahun itu mengangguk dan masuk lebih dulu ke dalam ball room. Kemudian, Baekhyun berjalan mendekati ayahnya.

“Kau sudah siap?”

Baekhyun mengangguk.

Di dalam sana. Se Hun yang awalnya tengah berbincang dengan Joomyun—teman satu fakultasnya—agak terkejut ketika MC meminta seluruh para tamu undangan untuk berdiri karena sang mempelai akan memasuki ball room menuju altar. Se Hun terdiam beberapa saat hingga tepukan di bahunya membuat dirinya sadar.

Itu Joonmyun. Yang tersenyum penuh arti untuk menguatkan sahabatnya.

“Ayo berdiri.” Ujar pria tampan yang tubuhnya lebih pendek dari pada Se Hun.

Se Hun mengagguk. Ia berdiri dan sedikit merapikan jas hitamnya. Ia sudah siap.

Detik-detik berikutnya.

Baekhyun berjalan dengan anggun dan menawan memasuki ball room sembari membawa sebuah buket. Dengan bantuan sepatu putih yang berinsol lebih tebal, ia tampak sedikit lebih tinggi dan membuat Baekhyun terlihat semakin sempurna untuk memikat seluruh tamu undangan yang memperhatikan dirinya berjalan menuju altar bersama Sang Ayah dan dua orang anak perempuan di belakangnya yang juga menggenggam buket bunga. Warna kebahagian menguar menutup warna lainnya di ruangan indah itu.

Pemuda cantik itu mengedarkan mata kesana kemari untuk mencari seseorang yang tidak ia harapkan kedatangannya hari ini. Namun, setelah beberapa kali mencari, hati Baekhyun seolah hampir remuk ketika ia melihat seseorang disana. Seorang pria tampan memandangnya dengan mata yang redup dan sayu. Menyimpan penuh luka.

Se Hun agak sedikit kaget ketika ia dan Baekhyun saling memandang satu sama lain ketika wanita itu berlalu semakin dekat menuju altar. Lihatlah, betapa cantiknya pemuda itu. Membuat Se Hun tak mampu untuk mengalihkan pandangannya dari objek tersebut barang sedetik ‘pun.

Detik demi detik berlalu. Baekhyun akhirnya berhasil sampai di altar. Berdiri di depan calon suaminya yang terlihat begitu tampan dengan balutan tuxedo hitam.

Chan Yeol menatap takjub pada Baekhyun yang begitu bersinar hari ini. Membuatnya seolah tidak rela hanya untuk berkedip barang sekali saja. Ia merasa menjadi pria paling beruntung di dunia karena memiliki calon istri yang tak dapat lagi ia deskripsikan lagi betapa ia mencintai dan mengaguminya.

“Kau benar-benar cantik.” Puji Chan Yeol.

Sekali lagi, Baekhyun tersenyum cantik.

Disisi lain, Se Hun semakin tidak bisa menahan setiap jarum yang menusuk hatinya secara bergantian ketika mendengar MC berkata bahwa pastur akan memulai upacara sakral untuk menyatukan dua insan yang sudah sepakat untuk memulai hidup baru sehidup semati, sehati sejiwa.

Dari altar, Baekhyun beberapa kali melirik tempat dimana Se Hun duduk di belakang sana. Hatinya tidak tenang dan pikirannya tidak bisa fokus. Ia sungguh tidak tega jika membiarkan Se Hun melihat semua ini secara langsung dengan matanya sendiri.

Se Hun masih memperhatikan setiap hal yang terjadi di altar setiap detiknya. Ia bisa melihat Baekhyun beberapa kali tersenyum kepada calon suaminya. Mata Se Hun memanas. Ia bisa merasakan sesuatu menumpuk di ujung pandang. Cukup menunggu sedikit lebih lama untuk melihat benda-benda itu jatuh menunjukan kelemahan pria itu.

“Baek…”

Panggil Se Hun begitu lirih. Sangat lirih hingga hanya Joonmyun yang bisa mendengarnya dan pria itu memilih diam.

“Aku mencintai mu.”

Maka Se Hun dengan pelan berdiri, menatap Baekhyun untuk terakhir kalinya. Keluar dari barisan tempat duduk. Membalik badan dan berjalan pelan keluar dari ball room. Mengabaikan pandangan nanar Joonmyun dan lirikan Baekhyun dari kejauhan.

Melalui ujung matanya, Baekhyun bisa melihat punggung kokoh Se Hun yang menghilang di balik pintu masuk dan keluar dari ruangan. Ia semakin tidak fokus ketika merasakan betapa panas kedua bola matanya untuk menahan bulir-bulir itu menganak sungai dengan begitu pilu. Baekhyun bahkan menulikan diri dari suara pastur yang memulai acara pernikahannya.

“Aku bersedia.”

Suara mantap dan tegas Chan Yeol membawa Baekhyun kembali ke dunia nyata. Membuat pemuda itu sedikit gelagapan karena ia benar-benar tidak menyimak apa saja yang sudah terjadi.

“Dan kau, Byun Baekhyun. Apa kau bersedia menerima Park Chan Yeol sebagai suami mu? Menerima segala kekurangannya. Menjadi istri yang baik untuknya. Mencintainya dan setia padanya hingga ajal memisahkan kalian.”

Baekhyun menarik nafas dalam-dalam.

“Aku….”

Ia memberi jeda. Membuat suasana hening dengan tanda tanya imajiner yang terdapat di atas kepala setiap orang.

“Aku bersedia.” Dengan sedikit bergetar, Baekhyun akhirnya menyelasaikan kalimat pendek itu.

Momen berikutnya adalah tukar cincin. Dengan bimbingan sang pastur, Chan Yeol dan Baekhyun akan bertukar cincin.

Beberapa detik selanjutnya, Chan Yeol sudah berhasil menyematkan sebuah cincin berlian yang begitu indah dan tampak cocok di jari manis Baekhyun. Lelaki tampan itu tersenyum bangga atas apa yang telah ia lakukan.

Orang tua kedua mempelai tampak bahagia dan bangga melihat momen manis itu di altar.

Dan kini, giliran Baekhyun.

Sebuah cincin yang akan memberikan kesan maskulin pada Chan Yeol telah Baekhyun pegang dengan tangannya yang bergetar hebat.

“Jangan gugup.” Ujar pastur kepada Baekhyun.

Si cantik tersenyum canggung.

Kemudian, Baekhyun mendekatkan cincin tersebut ke jari manis Chan Yeol untuk di pasangkan cincin. Pemuda itu bahkan keringat dingin karena tak kuasa menahan gejolak di hatinya. Dengan pelan, Baekhyun menggerakan tangannya. Cincin itu setidaknya sudah memasuki bagian kuku jari Chan Yeol. Ia memberi jeda—lagi. Tangannya bergetar hebat dan Chan Yeol bisa merasakan itu.

“Kau baik-baik saja?” tanya Chan Yeol khawatir.

Baekhyun mengangguk. Namun, tiba-tiba saja ia menjatuhkan cincin itu ke lantai. Membuat semua orang terkejut dan menatap heran padanya yang telah melakukan kesalahan fatal tersebut.

Pemuda mungil itu memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya.

“Baekhyun…”

Chan Yeol hendak meraih pundak Baekhyun namun ia tepis secara spontan. Menyebabkan orang-orang semakin menatapnya heran dan bingung.

“Kau baik-baik saja?” tanya Chan Yeol lagi. Baekhyun mundur beberapa langkah.

Tap! Tap!

Suara sepatu yang mengetuk lantai terdengar ke seluruh penjuru ruangan ketika Baekhyun tiba-tiba berbalik dan berlari menjauh dari altar. Hingga—

BUGH

Pemuda itu terjatuh di atas red carpet karena ia tidak biasa untuk berlari menggunakan yang sedikit tinggi. Membuat semua orang terkejut atas tindakan yang sudah ia lakukan. Beberapa di antaranya berbisik-bisik membicarakan Baekhyun.

Baekhyun tidak peduli. Ia melepaskan cincin yang tersemat di jari manisnya. Ia bangkit lalu melepas kedua sepatu serta tuxedonya dan berlari keluar dari ball room dengan kaki telanjang. Meninggalkan Chan Yeol yang terdiam akibat luka yang teramat dalam. Menerobos hujan salju yang lebat tanpa mengenakan pakaian yang cukup untuk menghangatkan tubuh. Mengundangan setiap mata untuk melihat dirinya yang berlari di bawah salju yang dingin dengan air mata yang terus membasahi pipi.

FAREWELL

“Astaga!” Baekhyun berlari sekencang mungkin keluar dari lingkungan universitasnya dengan tergesa-gesa. Sesekali ia menabrak beberapa mahasiswa atau mahasiswi lain dan mendapat death glare atau bahkan umpatan karena tingkahnya itu.

“Aku minta maaf.” Hanya itu yang dapat Baekhyun lakukan untuk menebus kesalahan. Ia sungguh terburu-buru.

Beberapa menit berlalu, ia akhirnya keluar dari pagar perguruan tinggi dan dengan cepat melesat di atas trotoar menuju suatu tempat. Masih dengan nafas tersengal namun Baekhyun abaikan. Setelah melalui beberapa block, akhirnya ia sampai di tempat tujuan.

Sebuah taman. Terdapat beberapa wahana permainan seperti ayunan, jungkat-jungkit, seluncuran atau kolam pasir yang tertutupi salju tebal. Kalian tau? Musim dingin di bulan februari memang sangat buruk. Maklum saja, tadi malam salju turun dengan deras. Ia menuju sebuah bilik telepon di tepi taman.

Baekhyun tersenyum ketika menemukan benda itu. Ia harus menelpon kakaknya sekarang karena hari ini adalah hari ulang tahun ke-23  saudara satu-satunya yang ia miliki tersebut. Ia hampir lupa soal salah satu hari paling bersejarah di keluarganya itu. Bukannya Baekhyun manusia primitif yang tidak memiliki ponsel canggih. Hanya saja, pulsanya habis dan lupa mengisi ulang. Konter juga sedikit jauh dari sini. Sedangkan ia sangat  terburu-buru.

Percobaan pertama.

Tutt….tuttt…

Panggilan pertama tidak dijawab.

“Astaga, oppa.” Keluhnya. Ketika Baekhyun menyadari bahwa ia hanya punya satu koin, ia membalikan badan dan betapa kagetnya Baekhyun ketika melihat seseorang dengan badan yang sangat tinggi sedang berdiri di depan bilik telepon berdinding kaca tersebut.

Sebuah ide terlintas di otak Baekhyun.

“Permisi, bisa ku pinjam koin mu? Aku ada keperluan yang sangat penting.” Pinta Baekhyun dengan santainya.

Pria itu, bernama Se Hun, entah kenapa dengan mudahnya mengangguk dan memberikan salah satu koin miliknya pada Baekhyun.

“Ini.” ujar Se Hun dengan senyum tampan.

“Terima kasih. Aku akan menggantinya.”

“Ahh, tidak perlu kok. Santai saja, hehehe.”

Baekhyun sedikit merasa tidak enak hati. Tapi ia menerimanya.

“Terima kasih.” Ujar Baekhyun dengan senyum manis.

Ne, cheonma.”

Pemuda mungil itu kembali masuk ke bilik telepon. Percobaan kedua dan hasilnya masih sama. Kakaknya masih tidak menjawab. Well, untuk kedua kalinya.

“Bisa aku pinjam lagi koin mu? Aku akan benar-benar menggantinya. Kakak ku tidak menjawab telepon. Jika aku tidak menelponnya di hari ulang tahunnya, ia bisa marah.” Cerita Baekhyun dengan polosnya. Membuat Se Hun sedikit banyak berusaha menahan tawa. Jadi, ia hanya terkekeh.

“Tentu, ini. kau tidak perlu mengganti apapun.” Se Hun memberi koin kedua untuk Baekhyun.

“Terima kasih ya.” ujar Baekhyun manis.

You’re welcome.”

Baekhyun masuk kembali ke bilik telepon. Ia menunggu dalam jeda beberapa detik hingga kembali sama. Kakaknya tidak menjawab teleponnya. Baekhyun meletakan gagang telepon dengan ganas.

Yak Xiumin Oppa! Ish jinjja!.” Geramnya. Ia kembali membalikkan badan dengan wajah tertekuk. Membuat Se Hun yang awalnya sedang bersiul jadi terdiam dan melihat Baekhyun dengan wajah heran.

“Bisa aku pinjam lagi koin mu?” tanya Baekhyun lemas.

Se Hun terdiam beberapa saat melihat wajah Baekhyun yang lemas dan terkesan memelas. Membuatnya terlihat sangat imut dan manis. Ia jadi gemas sendiri.

“Tidak bisa ya?” tanya Baekhyun lagi. Se Hun tiba-tiba tersadar dari lamunannya yang membayangkan Baekhyun.

Ani, tentu saja bisa.” Ujar Se Hun kemudian memberikan koinnya pada Baekhyun. Pemuda tersebut menyambutnya dengan wajah cerah.

“Terima kasih. Aku benar-benar akan menggantinya.” Belum sempat Se Hun menyahut, Baekhyun sudah masuk kembali ke bilik telepon.

“Halo. Ini si—“

Oppa!!” pekik Baekhyun. Membuat Se Hun yang berada di luar bilik agak kaget.

“Omo! Ini kau Baekhyun—ah? Kenapa berteriak?”

“Kemana saja kau, Oppa? Aku sudah menelpon mu 4 kali!”

“Aku sedang nge-gym bersama Yixing dan Chen.”

Baekhyun agak mendecih mengejek oppanya.

“Sok keren sekali. Tenang saja, pipi mu tidak akan kempis. Bhaks.”

“Eh?! Dasar adik durhaka. Setidaknya tubuh ku kekar. Ngomong-ngomong, ada apa?”

Baekhyun hampir lupa rencana awalnya.

Saengil Chukae Xiumin Oppa!!!!” seru Baekhyun girang. Xiumin sedikit menjauhkan ponselnya. Se Hun yang melihat Baekhyun tampak begitu senang hanya terkekeh.

“Kau mengingatnya ya? wkwkwkwk. Terima kasih. Aku sudah 20 tahun sekarang. Kekeke.”

“20 tahun mwoya??! Jangan sok muda! Oppa, kau itu 90 liner. Sekarang sudah 2013 dan itu berarti kau sudah 23 tahun!” ujar Baekhyun mengingat umur kakaknya.

“Kekeke, aku hanya bercanda.”

“Jika kau ingin kado. Cepat kunjungi aku ke Seoul. Kalau tidak ya tidak ada kado.”

“Aku ke Seoul tanggal 20 bulan ini. Kapan kau pulang ke beijing?

“Oke, berarti tiga hari lagi. Belum tau, oppa.”

Disana, Xiumin mengangguk.

“Aku tutup ya, oppa. Aku ada mata kuliah lagi.”

“Oke, baik-baik disana. Saranghae~.

Ne, nado.

Baekhyun keluar setelah menutup teleponnya.

“Akhirnya urusan ku dan kakak ku selesai. Terima kasih ya. Aku akan mengganti ketiga koin mu.” Ujar Baekhyun dengan wajah yang jauh lebih cerah.

“Tidak perlu sungguh.” Se Hun berniat untuk menolak tapi Baekhyun terus memaksa.

“Jangan seperti itu. Aku tidak enak. Apa kau anak kuliahan?” tanya Baekhyun.

Sehun rasa kesempatannya untuk menolak semakin kecil.

Ne, aku anak kuliahan. Aku kuliah di Universitas Seoul.” Jawab Se Hun agak ragu awalnya. Baekhyun sedikit terkejut.

“Apa? Yang benar? Aku juga kuliah disitu!” seru Baekhyun semangat.

“Tapi, aku tidak pernah melihat mu.” Tambahnya.

“Aku mahasiswa kedokteran. Bagaimana dengan mu? Aku tidak pernah melihat mu di fakultas kedokteran.” Giliran Se Hun bertanya.

“Pantas saja tidak pernah melihat mu. Aku mahasiswa management bisnis. Jadi wajar tidak pernah melihat mu.” Jelas Baekhyun.

Se Hun terkekeh. Menurutnya, Baekhyun adalah orang yang sangat ramah dan menyenangkan.

“Kalau boleh tau, siapa nama mu? Nama ku Se Hun. Oh Sehun.”

Pria berbahu lebar itu mengulurkan tangannya. Baekhyun tersenyum ramah. Lalu menyambut tangan Se Hun dengan hangat.

“Aku Baekhyun. Kim Baekhyun.”

Keduanya menarik tangan masing-masing.

“Aku duluan ya Sehun—ssi. Sampai jumpa nanti. aku akan mengganti koin mu.”

“Ah, ne.”

Setelah itu, Sehun menatap Baekhyun yang menjauh darinya. Kemudian, ia menatap ke tangan kanannya yang tadi berjabat tangan dengan Baekhyun. Tangan pemuda itu benar-benar lembut. Begitu hangat walaupun sedang musim dingin. Entah kenapa, lelaki itu tersenyum sendiri menatap tangannya.  Setelah dipikir, tidak ada salahnya jika Baekhyun memaksa untuk mengganti koin yang ia pinjam tadi.

Setidaknya, Se Hun punya kesempatan untuk bertemu Baekhyun lagi.

FAREWELL

Langkah kaki berhenti di tengah-tengah sebuah taman. Sebuah taman yang begitu putih karena salju yang turun sangat deras sejak kemarin bahkan sampai hari ini. karena letaknya tidak terlalu dekat dengan jalan raya yang besar, Se Hun bisa merasakan bahwa taman ini cukup tenang. Dengan keheningannya yang diisi dengan suara nafas angin yang berpadu dengan salju yang terus turun bergerombolan.

Lelaki itu menoleh ke arah tenggara dan melihat sebuah tiang dengan jam tamannya yang menunjukan ini sudah pukul 11 siang. Ia tersenyum miris. Kembali merasakan sebuah pisau tak kasat mata menusuk tepat jantungnya.

“Kau pasti sudah menjadi milik orang lain, bukan?”

Se Hun kemudian menundukkan kepalanya.

“Rasanya sangat sakit Baekhyun—ah. Semua janji kita.”

Se Hun tidak mampu untuk melanjutkan kalimatnya. Ia mengangkat wajahnya. Se Hun adalah seorang laki-laki. Apapun yang terjadi, seperti pesan mendiang ayahnya dulu, ia harus tahan banting.

Jadi, ia kembali melanjutkan langkahnya. Kembali memperkuat pertahanannya berkali-kali lipat.

FAREWELL

“Chaaa!~ ini sandwich mu.” Baekhyun baru saja selesai membuatkan sandwich untuk Se Hun.

“Suap~” pinta Se Hun dengan nada manja yang dibuat-buat. Membuat Baekhyun agak geli mendengarnya. Bagaimana tidak, suara Se Hun terlalu berat dan besar untuk melakukan aegyo. Kemudian, Baekhyun membuat gestur seolah-olah ia akan memotong sandwich dalam ukuran kecil untuk disuapkan ke mulut Se Hun.

“Aaaa~” tuntun Baekhyun. Se Hun ‘pun tersenyum dengan wajahnya yang cerah dan senang. Lelaki itu membuka mulutnya lebar-lebar dengan mata terjepam.

“Nih telan bulat-bulat. Hahahaha.” Baekhyun tertawa saat melihat Se Hun kaget karena disuapi sandwich utuh-utuh. Se Hun yang kaget ‘pun segera membuka matanya dan melihat Baekhyun tertawa dengan bahagianya. Eyesmilenya turut melengkapi tawa itu sebagai pemanis. Membuat Se Hun tersenyum dalam hati. Ia kemudian menggigit sedikit sandwichnya. Setelah mengunyah dan menelan. Ia menghampir Baekhyun yang tertawa. Memeluk dan menggelitik perutnya. Baekhyun setengah mati menahan geli.

Kalian ingat pertemuan mereka waktu itu di bilik telepon? Sekarang, mereka sudah menjalin suatu hubungan spesial sebagai sepasang kekasih telah 1 tahun lamanya.

“Ahhh~ hentikan Hun.” Lega Baekhyun ketika Se Hun berhenti menggelitiknya.

Sekarang, posisi mereka adalah Baekhyun duduk di pangkuan Se Hun dengan kedua lengan kekar pria itu melingkari perut ramping Baekhyun dengan hangat dan lembut. Se Hun juga meletakan dagunya di bahu sempit Baekhyun dengan manis—back hug.

Mereka sedang piknik di taman yang dipenuhi pohon bunga cherry yang sedang mekar di musim semi dengan rumput-rumput hijau yang segar sebagai tikar mereka. Hembusan nafas angin terasa begitu lembut dan menyegarkan. Membawa beberapa kelompak bunga pink itu melayang kesana-kemari dengan begitu indah.

Mereka diam. Hening. Menikmati suasana ini.

Baekhyun memejamkan matanya lembut. Dan Se Hun menyesap betapa wanginya rambut halus Baekhyun yang begitu indah.

“Bisa ‘kah kita terus seperti ini?” tanya Se Hun.

Pemuda yang dipangkunya hanya mengangguk.

“Tentu.”

“Aku mencintai mu.” Ujar Se Hun tulus tanpa cela dan dusta.

“Aku mencintai mu sebanyak kau mengatakan bahwa kau mencintai ku.” balas Baekhyun.

Mereka saling mencintai. Begitu indah bukan?

FAREWELL

Baekhyun terus berlari menyusuri jalan di bawah salju yang terus menghujani kota Seoul tanpa ampun. Butiran-butiran halus itu terus turun dan jatuh di atas kulit halusnya. sungguh, tidak bisakah ia merasakannya? Lihatlah rambutnya yang sekarang tampak memutih karena tiap butir salju yang tersangkut di rambut brunetnya yang tebal. Celana panjangnya yang putih tampak sedikit kotor karena Baekhyun sempat beberapa kali terjatuh karena tubuhnya juga lemah untuk menahan betapa rendahnya suhu kota metropolitan ini. Tapi, Baekhyun tidak perduli.

“Se Hun…” lirih Baekhyun dengan isakan-isakannya yang sesekali terdengar. Ia terus melanjutkan larinya untuk mengejar Se Hun yang sekarang entah ada dimana.

Ia terus berlari menelusuri jalan dingin itu. Berlari dengan matanya yang kadang fokus ke depan atau kesana kemari untuk menemukan pria pujaannya. Tidak mengindahkan pandangan orang-orang yang tertuju padanya saat ia berlari di trotoar depan toko-toko yang menghiasi kota.

Dengan kulit putihnya yang semakin memucat, dengan kepulan hawa yang keluar dari belah bibir pulm yang memudar, atas setiap air mata yang keluar setelah ia tahan, untuk pilihan hatinya yang kuat, Baekhyun terus berlari di bawah hujan salju yang seolah menguji kekuatan cintanya.

…..

“Ini sungguh memalukan!!!” geram tuan Kim—ayah Baekhyun—karena pesta pernikahan yang ia dan orang tua Sehun rencanakan benar-benar hancur karena anaknya yang berlari keluar demi seorang pria yang benar-benar ia cintai.

“Harusnya aku tahu bahwa mengundang pria bajingan itu salah besar!” umpat Tuan Kim. Para tamu undangan tampak sangat kebingungan dan juga kecewa. Mereka mulai meninggalkan tempat acara resepsi itu. Orang tua Chan Yeol tampak memijit kepalanya karena pusing memikirkan perkara ini. Rasa malu benar-benar tak dapat ia hindari atas insiden separah ini.

“Apa yang kalian lakukan?! Cepat kejar Baekhyun!” titah Tuan Kim geram melihat bawahannya justru diam melihat Baekhyun lari.

“JANGAN KEJAR ANAK KU! ANAK KU BUKAN PENJAHAT!” pekik Nyonya Kim untuk menghentikan setiap gerak-gerik bawahan suaminya.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Tuan Kim heran.

“Jangan kejar Baekhyun! Ia bukan penjahat! Ia tidak bersalah.” Sang Ibu mencoba untuk membela anaknya.

“Apa maksud mu tidak bersalah? Ia mencoreng nama keluarga kita dan keluarga Tuan Park, Sooyoung—ah.”

“Itu salah mu sendiri, Kim Siwon!” Sooyoung tak mau kalah. Ia tidak rela anaknya harus merasakan sakit lagi.

“Salah ku sendiri? apa mak—“

“Jika kau tidak segila ini untuk menjodohkan Baekhyun dengan Chan Yeol demi menyelamatkan perusahaan, ia tidak akan lari dari pernikahan menyakitkan ini. tidak kah kau berpikir seperti itu? Demi Tuhan dia itu anak mu juga Siwon!” Nyonya Kim kini menangis sejadi-jadinya. Ia merasa sangat tidak berguna karena baru membela Baekhyun sekarang.

“Ini juga demi kepentingan perusahaan. Demi kepentingan kita bersama. Jangan biarkan anak itu menjadi egois.”

Sooyoung terkekeh. Ia mengusap air matanya sebentar walaupun itu kembali turun.

“Kau bilang jangan egois? Jangan egois? Kau lupa bagaimana kau merampas masa kecilnya dengan terus-terusan diam di rumah untuk belajar tentang ini dan itu. belajar bisnis dan hal semacamnya bahkan saat itu bukanlah minatnya. Saat kau merampas kebahagiaannya. Merampas mimpinya! Kau ingat? Saat itu, ia sudah berhasil lolos audisi menyanyi di SM Ent. Ia sudah berlatih setiap hari dengan Bibinya agar bisa lolos. Dan kau dengan mudahnya menolak tawaran agensi dan menggagalkan semua impian Baekhyun untuk menjadi penyanyi! Kau seolah menjualnya demi perusahaan! Kau kejam Siwon—ah!” Sooyoung sudah tidak tahan. Ia menangis sejadinya dan mengambil tempak duduk untuk bersandar.

Disisi lain, Xiumin terdiam melihat kejadian ini. ia merasa sangat tak berguna sebagai kakak satu-satunya Baekhyun. Ia tidak bisa apa-apa. Orang tuanya bertengkar hebat dan adiknya entah lari kemana. Rasanya kedua kakinya benar-benar lemas.

“Aku tidak peduli dengan omong kosong mu.” Ujar Siwon. Membuat Sooyoung yang sedang menangis sedikit terkejut.

“Kalian, cepat kejar—“

“Jangan! Biar aku saja yang mengejarnya. Ia tanggungjawab ku.” Chan Yeol berujar tiba-tiba setelah diam beberapa menit.

“Chan, kau tidak harus mengejarnya nak. Biar kami yang—“

“Tidak apa, Bu. Aku pria sejati. Aku akan bertanggungjawab atas apa yang harus aku pertanggungjawabkan.” Jelas Chan Yeol tersenyum. Ia berusaha tenang.

“Pak Hwang, tolong siapkan mobil ku.” Pintanya sopan pada supir pribadinya.

“Semuanya aku permisi.” Chan Yeol pamit.

Setelah sampai di luar. Ia langsung masuk kedalam mobilnya dan melesatkan mobilnya di jalan raya kota Seoul untuk mencari Baekhyun yang kabur entah kemana.

“Kita lihat Baekhyun—ah, apa yang akan terjadi selanjutnya dan siapa yang akan mendapat ucapan selamat jalan.” Ujar Chan yeol dengan suara rendah dan matanya yang menatap tajam ke depan.

Disisi lain, Xiumin berusaha tenang mengikuti pemuda itu dari belakang. Ia sedikit curiga terhadap tindakan Chan Yeol yang tadinya mencoba untuk tetap tenang seolah ini hanya perkara kecil.

“Apa yang akan pria itu lakukan?”

Bukan apa-apa. Baekhyun adalah adik kecil satu-satunya yang ia miliki. Ia tidak akan main-main jika ini menyangkut adiknya. Sebagai kakak, ia menginginkan yang terbaik untuk Baekhyun tentu saja.

“Baekhyun—ah, kau dimana? Oppa mengkhawatirkan mu.”

FAREWELL

Tik! Tok! Tik Tok!

Suara denting jarum jam yang menempel di dinding kamar berwarna putih memenuhi ruangan sunyi. Angin-angin musim gugur masuk melalui jendela-jendela kamar yang terbuka. Meniup-niup tiap helai gorden putih tipis untuk menari bersama menghiasi sore hari.

Di tempat lain, terdapat seorang pemuda bertubuh mungil yang sedang duduk di depan meja riasnya.

“Hiks…hiks…” ia menangis entah untuk yang keberapa kali.

Mengabaikan ponselnya yang terus berdering menampilkan kontak yang sama untuk lebih dari yang ke-30 kali setiap hari.  Ia hanya terus-terusan menggenggam sebuah foto ukuran saku dengan kedua tangan kecilnya dengan mata yang terus memandangi benda tersebut tanpa henti dan air mata yang jatuh tanpa jeda.

“Se Hun—ah…hiks hiks…mianhae…”

Ia menggenggam foto itu semakin erat. Ponselnya berhenti berdering. Jeda beberapa detik, ponsel itu kembali berbunyi. Masih dengan penelpon yang sama. Ia—Baekhyun—membiarkan itu terus terjadi.

Hatinya semakin teriris. Biar lah ia merasakannya. Karena Baekhyun yakin, nanti, akan ada saatnya, Se Hun merasakan hal yang jauh lebih sakit karena dirinya sendiri. Karena Baekhyun. Karena orang yang pria itu cintai hidup dan matinya.

Di sisi lain, Xiumin terdiam di depan pintu kamar adiknya yang berwarna putih krem. Samar-samar, ia bisa mendengar suara tangisan sang di dalam kamar. Seolah mengiris hatinya secara perlahan.

Tok! Tok! Tok!

“Ini oppa.” Ujar Xiumin pelan. Ia membuka pintu feminin itu dengan perlahan.

“Boleh oppa masuk?” tanya pria berbadan tegap itu lembut.

Ia bisa melihat Baekhyun mengangguk. Xiumin masuk ke kamar itu dan menutup pintunya dengan pelan. Kemudian, lelaki itu mengambil kursi meja belajar Baekhyun dan duduk di sebelah pemuda cantik yang sedang menangis itu.

Ponsel Baekhyun berdering dengan nama kontak yang masih sama.

“Kau tidak mau mengangkatnya?” tanya Xiumin.

Baekhyun mengangguk.

Xiumin semakin merasakan pisau seolah mengulitinya melihat air mata Baekhyun yang terus tumpah dengan deras. Ia tahu betapa kejam ayahnya menjodohkan Baekhyun dengan putra tunggal keluarga Park yang terkenal kaya untuk menciptakan relasi demi menyelamatkan perusahaan ayahnya yang nyaris jatuh. Ia tahu betul bagaimana ayahnya menculik Baekhyun untuk dibawa pulang ke Beijing sejak lima hari yang lalu. Ia tahu dengan sangat jelas betapa Baekhyun mencintai Se Hun.

“Maafkan Oppa. Maafkan oppa tidak bisa berbuat apa-apa untuk mu.” Ujar Xiumin bergetar. Baekhyun hanya menggeleng. Xiumin yang merasakan hatinya semakin robek mendekati Baekhyun dan menenggelamkan wajah cantik sang di dada. Berusaha memberikan adik tersayangnya kehangatan dan tempat untuk bersandar.

“Aku mencintai Sehun, oppa.”

Ujar Baekhyun di sela tangisnya.

“Maafkan aku, Baekhyunie.” Xiumin menangis diam-diam sembari memeluk adiknya.

…..

Se Hun sedang dalam perjalanan pulang dari kampusnya ketika sore menjelang. mata kuliah hari ini benar-benar padat namun tak menyurutkan setitik ‘pun semangatnya. Ia terus berjalan menelusuri setiap deretan toko.

Sebentar lagi, hubungannya dan Baekhyun akan menginjak usia dua tahun dan ia benar-benar bahagia. Walaupun sudah sebulan ia tidak bertemu dengan Baekhyun karena kekasih cantiknya itu sedang pulang ke Beijing dan mengambil cuti cukup lama. Katanya ada urusan keluarga. Meskipun mereka juga jarang berkomunikasi. Se Hun berusaha memaklumi itu. Mungkin kekasihnya sibuk.

Jadi, mumpung Baekhyun sedang tidak di dekatnya. Ia akan menyiapkan sesuatu yang sangat spesial untuk dirinya dan Baekhyun.

Dengan senyum tampan terpatri di wajahnya, Kris berhenti dan memasuki sebuah toko perhiasan.

“Aku mau ambil pesanan ku.”

“Atas nama?”

“Oh Se Hun.”

Setelah melalui beberapa menit administrasi, sebuah paper bag berisi sebuah kotak beludru berwarna biru tua sudah ada di tangan. Karena penasaran dengan hasilnya, ia membuka kotaknya di toko tersebut saat itu juga.

“Sesuai harapan.”

Disana, terdapat sepasang cincin beda ukuran. Yang lebih besar cincin emas putih polos dan yang satunya yang lebih kecil terdapat ukiran manis yang akan sangat cocok jika dipakai oleh Baekhyun di jari manisnya. Kedua cincin itu Se Hun dapatkan dengan hasil uang tabungannya lebih dari sepuluh tahun.

“Terima kasih.” Ujar Se Hun kemudian pergi dari sana setelah meletakan benda itu di tempat teraman tasnya.

Ia pulang dengan langkah semangat menuju apartement sederhana yang ia miliki. Se Hun bahkan menaiki tangga dengan nyanyian-nyanyian konyolnya karena terlalu bahagia. Lelaki itu tak bisa membayangkan betapa bahagianya ia saat melihat orang yang sangat ia cintai terharu melihat apa yang ia akan berikan nanti.

Akhirnya, Se Hun sampai di depan pintu apartement. Dengan pelan, ia memasukan kunci dan membuka pintu. Ia agak kaget waktu melihat sebuah kertas tergeletak di lantai. Mungkin orang lain menyelipkannya lewat bawah pintu.

“Undangan pernikaham siapa ini? C dan B?” tanya Se Hun heran.

“Apa Cheon Young dan Bona menikah secepat ini?” tanyanya heran. Ia melihat namanya ditulis dengan tepat di bagian nama tamu undangan. Lalu, dengan perlahan ia membuka undangan mewah itu dan betapa terkejutnya ia.

“Baekhyun…. Kim Baekhyun…. Chan Yeol?”  lirih Se Hun. Kakinya serasa lemas dan ia mati rasa. Ia bermimpi ‘kan?

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Lima.

Enam.

Tujuh.

Dela—

Beberapa menit berlalu.

Masih dalam keterkejutannya yang mengguncang, Sehun meraih ponselnya. Mendial nomor seseorang.

“Halo… Se Hun. Ada apa?” suara disana terdengar sangat bergetar. Membuat Se Hun semakin takut dan lidahnya kelu untuk berucap.

“Baek…”

“….”

Se Hun menarik nafasnya dalam-dalam.

“Chan Yeol…Baekhyun?” tanya Se Hun bergetar. Air matanya jatuh juga.

Selanjutnya, Se Hun hanya bisa mendengar isakan dari seberang sana.

FAREWELL

Deru nafas berat seseorang beradu dengan kencangnya deru nafas dunia. Begitu dingin, kencang dan melumpuhkan dengan salju-salju kecil yang berjuta-juta menyertai setiap hembusan.

Disana, Se Hun berdiri, seorang diri. Di sebuah jembatan kota yang begitu besar. Di jalur pejalan kaki Jembatan Banpo yang begitu sepi dan lenggang. Ia hanya diam berdiri disana merasakan betapa dinginnya angin yang bertiup dengan begitu pilu. Suara setiap hembusannya yang menyanyi dengan gloomy di telinga lelaki itu.

Se Hun sedikit mengangkat tangan. Melihat kedua cincin itu masih berada disana dengan indahnya sejak sebelum pernikahan Baekhyun dengan Chan Yeol dimulai. Puas mengamati, ia menurunkan tangannya dan kembali melihat ke depan. Memperhatikan sungai yang mengalir dan melawan arus angin.

Tes. Tes.

Lelaki juga bisa menangis. Ia sudah tidak mampu lagi menahan setiap perih yang ia rasakan. Se Hun menangis disana dalam diam dengan kedua tangannya tersembunyi dalam kedua saku celana.

Setelah itu, ia tersenyum lemah.

FAREWELL

Hujan turun dengan derasnya membasahi kota. Saat itu, Se Hun sedang berbelanja di supermarket. Memang, sejak ia menemukan undangan pernikahan Sehun dan Baekhyun dua minggu lalu dan akan di adakan kira-kira 5 hari lagi. Se Hun seolah kehilangan nyawa. Ia hanya makan telur dan mie selama tiga hari. Karena pasokan makanan mulai habis, ia memutuskan untuk berbelanja sore ini. Walaupun hujan.

Setelah membayar, Se Hun keluar dari supermarket tersebut dan saat itu pula, ia membeku seketika. Dari kejauhan, ia bisa melihat Chan Yeol yang keluar dari mobil mewahnya yang terparkir di parkiran menggunakan payung transparan.

Se Hun menatapnya tajam. Sangat tajam. Tanpa sadar, ia menjatuhkan kantung belanjaannya dan berjalan menghampiri Chan Yeol lalu…

BUGHH!!

“Argghhh…”

Chan Yeol tersungkur ke tanah.

SRAKK!! Se Hun menarik kerah kemeja Chan Yeol.

“Apa yang kau lakukan bajingan?!” hardik Chan Yeol.

“Apa yang kau tanyakan brengsek?!!” Se Hun naik pitam.

BUGH!! BUGHH BUGHH!!!

Se Hun menghajar Chan Yeol habis-habisan di bawah hujan yang begitu deras disana.

Omo Se Hun!!” pekik Baekhyun yang langsung keluar dari dalam mobil mendekati Se Hun.

“Se Hun—ah, hentikan ku mohon!” Baekhyun menangis saat melihat kekasihnya tampak begitu marah.

“Aku sudah berusaha sekuat tenaga ku untuk merebut kembali Baekhyun. Namun kau! Kalian! Dengan semua uang yang kalian punya, membuat segala usaha dan perjuangan ku sia-sia!! Kurang ajar!!” Se Hun murka.

Baekhyun menahan lengan Se Hun yang siap menonjok Chan Yeol lagi.

“Hiks hiks. Ku mohon, hentikan. Aku takut melihat mu begini.” Baekhyun menangis semakin hebat lalu memeluk Se Hun.

“Se Hun, hentikan, ku mohon. Hiks hiks.” Baekhyun memeluk pria itu semakin erat.

SRAKK!!

Se Hun menghempas badan Chan Yeol. Pria itu hanya meringkuk di tanah karena merasakan betapa sakitnya pukulan-pukulan Se Hun yang menyebabkan beberapa memar dan luka. Hujan bahkan membuatnya semakin perih.

“Baekhyun—ah.” Se Hun menangkup kedua pipi basah Baekhyun.

“Katakan semua ini tidak benar. Katakan! aku mohon aku mohon aku mohon.” Se Hun kemudian ikut menangis namun tanpa suara. Bahunya yang lebar ikut bergetar. Bahu yang biasanya begitu kokoh untuk menjadi sandaran dan untuk melindungi Baekhyun kini terlihat rapuh.

Baekhyun menangis dengan kepala tertunduk. Ia tidak bisa untuk sekedar menenangkan hati Se Hun yang benar-benar terluka.

Melihat itu, Se Hun merendahkan kepalanya. Ia mendongakkan kepala Baekhyun. Kemudian, ia menempelkan dahinya dengan dahi Baekhyun. Mata mereka sama-sama tertutup. Sama-sama menangis. Merasakan kesedihan masing-masing. Merasakan deru nafas masing-masing. Air mata mereka sama-sama mengalir dengan derasnya dan tertutup oleh tiap tetes hujan. Ditambah suara hujan yang merdu berusaha meredam tangisan pilu mereka.

“Katakan.”

“Katakan kau mencintai ku. katakan semua ini hanya mimpi buruk, Baekhyun—ah.”

FAREWELL

“Aku mencintai mu, Se Hun.” Lirih Baekhyun bergetar.

Ia masih berlari di trotoar dan kini ia semakin dekat dengan salah satu jembatan terbesar di Korea Selatan. Entah kenapa, hatinya menuntunnya untuk berlari ke tempat itu.

Baekhyun berhenti sejenak. Ia memandang setiap salju yang turun dan lalu memandang jembatan besar tersebut. Air matanya kembali menetes.

Lalu, dengan kaki telanjangnya, ia berlari lagi masuk ke jembatan. Ia terus berlari dan berlari hingga dari kejauhan, ia bisa melihat Se Hun tengah berdiri memandang sungai yang luas dan sangat dingin. Melihat itu, Baekhyun menambah kecepatan larinya dan ia bahkan hampir terjatuh.

“SE HUN!!”

Baekhyun berteriak sekeras mungkin. Se Hun yang masih sangat muda tentunya mendengar dengan jelas. Terutama itu adalah suara orang yang sangat ia cintai.

“Baekhyun…?”

Pemuda itu bahkan berlari semakin cepat. Se Hun yang melihat itu juga berlari menghampiri Baekhyun. Semakin dekat dan…

GREPPP!!

Baekhyun memeluk Se Hun dengan sangat erat dan air matanya tumpah saat itu juga ketika wajahnya terbenam di dada bidang kekasihnya.

“Baekhyun, apa yang kau lakukan disini?” tanya Se Hun khawatir.

“Aku mencintai mu Se Hun.” Ujar Baekhyun lirih masih dengan tangisannya.

“Apa yang terjadi? Demi Tuhan kulit mu sangat pucat! Sangat dingin.” Se Hun dengan sigap melepas jas hitamnya. Tidak hanya itu, ia juga melepas kemejanya. Kemudian, ia pakaikan kemeja itu ke tubuh mungil Baekhyun lalu di lapis dengan jas hitamnya. Jadilah ia hanya mengenakan kaos hitam yang tidak terlalu tebal untuk tubuh bagian atasnya.

“Apa yang terjadi?” tanya Se Hun heran.

“Aku pergi dari acara itu. aku tidak mau. Aku tidak mau kebahagiaan ku dirampas lagi. Aku mencintai mu.” Ujar Baekhyun sambil menangis.

“Kenapa? Kau bisa di kejar oleh bawahan Ayah mu. Aku tak ingin mereka menyakiti mu.” Se Hun memegang erat kedua pundak Baekhyun.

“Mereka sudah menyakitiki ku. hiks hiks. Aku tidak mau kita berpisah. Se Hun aku takut.” Baekhyun makin menangis.

“Tenanglah. Aku bersama mu sekarang. Kau akan baik-baik saja. Apapun yang terjadi. Aku akan melindungi mu. Tenanglah sayang. Aku mencintai mu. Tenang oke?” Se Hun memeluk Baekhyun dengan sangat erat. Mengusap-usap pungguh rapuh itu.

Dari jauh, Chan Yeol bisa melihat adegan itu dari dalam mobilnya dengan sangat jelas. Adegan paling menyakitkan yang pernah ia lihat seumur hidupnya. Begitu menyakitkan dan menusuk. Bagaimana Baekhyun memeluk Se Hun dengan erat dan bagaimana pria itu melindungi Baekhyun dengan segenap raganya. Seolah menampar Chan Yeol telak dan sangat keras di pipinya.

Kemudian, Chan Yeol memejamkan matanya sejenak dan bulir bening itu turun dengan tenang. Ia menangis. Dengan sangat tenang dan diam. Tangannya mencengkram kemudi mobilnya untuk menahan setiap emosi yang ia rasakan.

Maafkan aku Baek.” Chan Yeol menghembuskan nafas. Ia mencengkram setir mobil semakin kuat.

“Aku tidak bisa membiarkan orang lain mendapatkan apa yang seharusnya aku dapatkan.” Lelaki itu membuka matanya secara perlahan dan manatap tajam sosok Se Hun yang masih memeluk erat tubuh mungil Baekhyun.

Suara mobil yang semula mati kembali terdengar.

Xiumin akhirnya menemukan Baekhyunn. Ia menepikan dan turun dari mobilnya.

“Syukurlah.” Lelaki itu menghela nafas senang saat dari jarak yang tidak terlalu jauh bisa ia lihat Se Hun dan Baek Hyun sedang berpelukan dengan begitu hangat.

“Tapi…” sesuatu mengganggu hatinya. Xiumin teringat akan Chan Yeol.

“Dimana pria itu?”

Matanya mencari kesegala arah. Hingga saat ia menoleh ke satu arah. Agak jauh dari posisinya, Xiumin melihat mobil yang sangat ia kenali—mobil Chan Yeol—melaju dengan begitu cepat menuju Baek Hyun dan Se Hun.

“Kurang ajar! CHAN YEOL JANGAN GILAA!!” Xiumin berteriak dengan begitu keras. Ia reflek berlari menuju arah yang sama. Namun, belum jauh ia berlari, Xiumin terjatuh dan kakinya cedera karena tersandung.

Andwe!!! BAEKHYUNNN!!!!!” Xiumin memekik dan Baekhyun mendengarkannya.

Oppa?” Baekhyun keheranan melihat kakaknya meringis kesakitan di tanah.

“Awas Chan Yeol!!!” teriak Xiumin lagi.

Baekhyun menaikan sebelah alisnya dan Se Hun menoleh ke belakang.

“BAEKHYYUN!!!”

Se Hun berteriak dan langsung mendekap Baekhyun dengan erat. Lalu ketika sebuah mobil melesat semakin dekat—terlampau—Se Hun langsung membalikan badan.

BRAKKK!!!
CKIITT!!

Menjadikan punggungnya sebagai pelindung tubuh mungil Baekhyun.

Tubuh keduanya terpental jauh. Baekhyun dapat merasakan pelukan erat Se Hun terlepas dan ia terguling di jalanan jembatan. Kepalanya berdenyut sakit dan ia tidak bisa mendengar apapun untuk sesaat.

“Arghh…”

Perlahan, Baekhyun membuka mata dan jantungnys serasa hampir lepas. Sekitar empat langkah darinya Sehun terbaring lemah dengan bersimpah darah. Mulai dari tangan, kepala serta yang mengalir dari sudut bibir.

“Se—sehun…” lirih Baekhyun lemah. Air matanya langsung turun tanpa terkendali.

Mata mereka bertemu. Memandang satu sama lain dengan intens. Menyelami obsidian satu dan lainnya. Dari tempatnya terbaring, Baekhyun dapat melihat Se Hun meneteskan air matanya. Sesuatu yang sangat jarang Baekhyun lihat karena lelaki itu selalu kuat untuk melindungi Baekhyun seperti sebelumnya.

“Se Hun…” lirihnya lagi.

Disana, Se Hun tersenyum dengan perlahan. Baekhyun dapat melihat dengan jelas Se Hun berusaha berucap walaupun tanpa suara.

Jangan… menangis lagi.

“Se Hun…”

Aku mencintai…mu.

Hiduplah dengan lebih baik.

 

Selamat tinggal.

 

Se Hun melihat Baekhyun menggeleng. Kekasihnya itu kemudian memaksakan diri untuk bangun dan berjalan terseok-seok dan meraih kepalanya yang mati rasa ke atas pangkuannya.

“Se Hun ku mohon. Bertahanlah, ku mohon Sehun, ku mohon. Aku mencintai mu. Se Hun.”

Se Hun mendengar itu semua.

“Aku mohon. Seseorang panggil ambulan!”

Baekhyun berteriak.

“Sehun ayolah!!! Bukankah kau pria yang kuat?!” tanya Baekhyun pilu disela isak tangisnya. Ia bahkan semakin menangis saat melihat kini celana putihnya perlahan bercampur menjadi merah karena kepala Se Hun terus mengeluarkan darah.

Disisi lain, Se Hun senang. Ia berhasil menyelamatkan Baekhyun—nya. Ia berhasil melindugi orang yang sangat ia cintai. Namun disisi yang lainnya lagi, ia juga takut. Takut, setelah ini, siapa yang akan menjaga Baekhyun—nya lagi seperti ia merelakan nyawa demi Baekhyun.

“Se Hun…”

Se Hun merasakan tangannya diraih seseorang.

“Lihat, aku memakai cincin yang kau belikan untuk kita. Ini benar-benar indah. Aku sangat menyukainya. Kita akan menikah, Se Hun. Jadi aku mohon bertahanlah. Aku sangat mencintai mu.”

Se Hun senang melihatnya. Baekhyun memakai cincin yang sudah ia usahakan susah payah.

“Baekh…”

“Jangan bicara dulu. Lihat, ambulan datang!”

“Aku…”

“Mencintai mu.”

FAREWELL

CLEK!

Baek Hyun turun dari mobil yang ia kendarai. Udara sedikit lebih dingin karena angin musim gugur berhembus lebih kencang dari biasanya. Perlahan, ia mengeratkan jaketnya sembari melangkah memasuki sebuah gedung berwarna putih.

Di sisi kanan gedung, terdapat sebuah plang bertuliskan Seoul Psicolgy Rehabilitation Center. Sudah sekitar satu bulan Baekhyun tidak datang kemari karena sibuk mengurusi perusahaan yang berhasil bangkit dari keterpurukan bersama kakaknya.

Setelah bertemu dengan salah seorang dokter spesialis, Baekhyun di bimbing oleh beberapa orang berseragam putih menuju sebuah kamar khusus berwarna dominan yang sama dengan sedikit kolaborasi biru pastel.

“Belum ada perkembangan yang signifikan. Chan Yeol masih sering menangis di malam hari dan memanggil-manggil nama mu, Baek.” Ujar seorang dokter.

Baekhyun menghela nafas.

“Aku tidak menyangka bahwa kejadian itu benar-benar memberi dampak besar pada Chan Yeol, Jong In hyung.”

Dokter bernama Jong In tersebut mengangguk.

“Kau jenguklah ia dulu.”

Baekhyun mengangguk lalu masuk ke dalam ruangan. Disana, Chan Yeol tengah duduk di atas ranjang memeluk kedua kakinya dengan pandangan kosong menuju jendela berteralis.

“Chan Yeol.” Baekhyun memanggilnya dengan lembut. Tidak mendapat respon apapun. Ia ikut duduk disamping pria berbadan atletis tersebut.

“Chan Yeol.” Ia meraih tangan Chan Yeol dan menggenggamnya erat. Kontak fisik tersebut berhasil membuat Baekhyun mendapatkan perhatian Chan Yeol.

“Kau agak kurus. Apa kau tidak makan dengan baik?” tanya Baekhyun.

Chan Yeol diam. Tidak menjawab apapun. Pandangannya kembali kosong.

Ini sudah lebih dari setahun dan kondisi Chan Yeol masih sama seperti sembelumnya. Ia mendapat tekanan mental yang kuat dan berat sejak tragedi saat itu ketika ia melihat Baekhyun menangis selama 3 hari dan sering termenung lebih dari sebulan. Benar-benar memberi dampak begitu buruk pada psikologinya. Ia hanya diam dan memandangan kosong terhadap apapun. Terkadang ia akan menangis secara tiba-tiba dengan begitu miris lalu memanggil-manggil Baekhyun. Namun, jika Baekhyun datang dan berbicara padanya, ia hanya akan menatap mata Baekhyun dalam selama lima detik dan kemudian kembali seperti semula.

“Hiks hiks.”

Chan Yeol mulai lagi.

“Hiks hiks hiks.” Ia kembali menangis dan Baekhyun merasa tertusuk menyaksika hal tersebut.

“Baekhyun… hiks hiks.”

“Chan Yeol, aku disini. Uljima.” Baekhyun perlahan memeluk tubuh besar tersebut dengan lembut. Namun, bukannya mereda, Chan Yeol justru semakin menangis dan air matanya jatuh semakin deras.

“Baekhyun, mianhae. Baekhyun mianhae. Hiks hiks.”

Ne, Chan Yeol. Aku sudah memaafkan mu. Oleh karena itu sembuhlah. Hiks hiks.” Baekhyun meleluk Chanyeol—yang tak membalas pelukannya—semakin erat. Mereka menangis bersama di dalam ruangan hening itu.

“Baekhyun, mianhae. Hiks hiks.”

FAREWELL

Senja itu, angin berhembus lebih kencang dari biasanya. Menggerakan ilalang untuk menari, menyebabkan gesekan satu sama lain.  Menciptakan harmoni indah bak orchestra di bawah lampu sorot menawan. Langit tidak begitu cerah dengan awan berwarna kelabu.

Disinilah Baekhyun sekarang. Berdiri di atas sebuah bukit kecil yang dikelilingi ilalang dengan jalan kecil membelah di tengahnya. Sejauh mata memandang adalah hijau. Di tangannya, Baekhyun pegang sebuket bungi lili putih yang begitu bersih.

“Sehun…”

Buket tersebut Baekhyun letakan tepat di sebuah batu nisan bertuliskan nama Oh Se Hun. Kemudian, ia menunduk sebentar untuk berdoa.

“Aku datang menjenguk. Apa kau baik-baik saja disana?”

Suara hembusan angin mengisi kekosongan jeda.

“Tentu saja.” Baekhyun mengangguk. Menjawab pertanyaannya sendiri.

Ini sudah tiga tahun berlalu dan perasaan Baekhyun masih sama. Ia masih mencintai Sehun—nya.

“Aku mengikuti pesan mu. Dan aku melakukannya dengan baik. Maka kau harus melakukan pesan ku dengan baik pula. Ingat? istirahatlah dengan tenang.” Air matanya jatuh perlahan dan Baekhyun dengan cepat menghapusnya. Ia tidak ingin menangis di depan makam Sehun lagi.

“Aku pulang dulu Sehun—ah. Kasihan dia menunggu ku terlalu lama.

Baekhyun berbalik perlahan dan mulai berjalan. Hingga belum genap langkah ke enam, ia berbalik.

“Saranghae.” Bisiknya.

Baekhyun melanjutkan langkahnya menuruni bukit hijau dan berjalan di jalan kecil di tengah hamparan ilalang. Dari jauh, ia dapat melihat siluet seorang pria berbadan tinggi menghampirinya dengan senyum menenangkan terpatri di wajah tampannya.

“Sudah bertemu Lu Han?” tanya Baekhyun pada pria itu.

Ia menghela nafas sebelum menjawab.

“Sudah. Kau juga sudah bertemu Se Hun?”

Baekhyun tersenyum dan mengangguk.

“Fuhhh, pemandangan disini betul-betul indah tapi sangat dingin ya.” rambut lebat pria tersebut bergerak tertiup angin.

“Aku jadi butuh kehangatan.” Ujarnya memberi kode.

BaekHyun terkekeh mendengarnya.

“Kim Jong In, kau ini selalu saja.”

Pria itu, bernama Kim Jong In. Ia bernasib sama dengan Baekhyun. Ditinggal oleh kekasihnya yang meninggal karena kecelakaan. Sempat jatuh namun itu semua terhenti sejak ia bertemu Baekhyun yang kembali membawa semangat baru untuk hidup. Begitu pula sebaliknya. Bertemu karena makam kekasih mereka berada di area yang sama dengan riwayat yang sama pula.

“Kau tahu? Aku mencintai mu.”

Baekhyun tersenyum manis dan mengangguk.

“Maka aku mencintai mu juga tuan Kim.”

Kemudian, bibir mereka menyatu dalam sebuah kelembutan yang hangat. Dibelai angin dengan begitu syahdu. Di tengah luasnya hamparan hijau bak lukisan klasik eropa.

Baekhyun memang mencintai Jongin dengan segenap hatinya. Ia juga mencintai Se Hun bahkan sampai kapapun itu. Walaupun Se Hun dan Jong In berada di tempat yang berbeda dalam hatinya.

Maka Se Hun tidak perlu khawatir lagi. Karena orang yang begitu ia cintai, menjalani hidup dengan memenuhi pesan terakhirnya.

END

3 thoughts on “[FF February Love Mission] Farewell || YESBYUNBAEKHEE12

  1. Ping-balik: [!!!] List FF February Love Mission | Keluarga_Cemara

  2. What the? Endingnya kaibaek?

    Kasian ih sama yeol. Udah mgebunuh sehun trus depresi eh sekarang malah gak bisa bersama org yg di cintai.
    Sebenarnya yeol itu tidak jahat dia hanya di butakan oleh api cemburunya makanya berbuat nekat. Terbukti yeol menjadi depresi melihat org yg di cintainya bersedih.

    Aku tak tahu mau bilang apa.

    Tidak adakah ff yg endingnya chanbaek?
    Aku perlu asupan chanbaek nih. Wkwkwkw

  3. huaaaaaa kaibaek ending..
    gak nyangka banget..
    kirain bakal hunbaek..
    hahahha anyyeong. baru sempet buka kc lagi. udah baca beberapa ff project kak alf. tepatnya ini ff ketiga yg aku baca dlm projek ini.
    semper tertark soalnya manang kann
    chukkae…
    ffnya bagus jadi wajar aja menang.
    aku suka genrenya menyentuh bangett..
    akhir kata…
    keep writing authornim
    fightinggggggggg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s