[FF February Love Mission] Dreamland || SHeyna


PhotoGrid_1455816789505

Title : Dreamland
Cast : Luhan, Sehun, Baekhyun, and the other

Note : because the power of ‘Lacrimosa’ is so strong, terciptalah susunan kata yang nggak jelas ini.
Typo everywhere, bersabarlah.
Jangan sungkan untuk mengerutkan kening selama membaca ini.
Kritik membangun sangat dibutuhkan.
안녕!

Terlalu indah untuk dijadikan kenangan
Terlalu nyata untuk dijadikan mimpi
Terlalu kuat untuk dijadikan sebuah ilusi
Lebih dari sekedar khayalan
Bukannya tidak ada
Namun juga tak bisa disebut ada
Dua dunia, satu cinta
Sebuah kebohongan yang tulus
Rangkaian kata membentuk suatu cerita


“HOI! Luhan! Bangun! Cepat. Ini sudah hampir siang!”
Samar-samar pemuda manis itu bisa mendengar suara eommanya. Pasti sebentar lagi wanita itu akan sampai dan menghancurkan kamarnya. Haahhh..
Satu..
Dua..
Tiga..
BRAKK
“Dasar pemalas! HOI! Cepat bangun!”
Wanita itu menggoncang dahsyat tubuh Luhan yang dengan perlahan membuka mata dan mendudukan diri karena penasaran. Hell, ia belum berhasil mengumpulkan semua nyawa yang tadi malam terbang kemana-mana. HAH? Tapi ini aneh. Biasanya eomma akan mengamuk dan melempar dengan barang-barang yang tidak bisa dibilang empuk. Kenapa pagi ini tidak seperti biasanya?
Ia lihat eommanya itu memakai pakaian yang rapi dan formal, berdiri di samping tempat tidur. Seperti ketika ia akan berangkat ke kantor. Tunggu-
“Ck, kenapa eomma ke kantor dihari minggu? Eomma tidak salah minum obat kan?”
TUK
“Ah, eomma! Kenapa eomma memukul kepalaku? Sakit!”
“Yah, dasar pemalas. Kau ini yang salah minum obat atau apa sih. Ini hari Senin bodoh!”
“Haih, ternyata ada juga ibu yang mengatai anaknya bodoh. Benarkan? Ini hari senin?”
“Eomma tau kau sedang libur sekolah, tapi jangan jadi pemalas seperti ini. Bangun, mandi lalu sarapan. Jatah sarapanmu sudah ada di atas meja makan. Eomma dan appa pergi dulu ke kantor, kakakmu juga sudah berangkat les piano dari tadi pagi. Jangan malas! Baik-baik di rumah, kau tak takut sendirian lagi kan? Kau kan sudah tua, masih seperti anak kecil saja. Yasudah, eomma dan appa ke kantor dulu. Bye bye!”
Luhan hanya melongo mendengar ucapan eommanya barusan.
TINN TIIN..
HAH! Wah? Eommanya sudah hilang? Apa dia sudah berangkat? Kenapa cepat sekali. Tiba-tiba menghilang, seperti hantu saja. Ini sebenarnya dirinya atau sang eomma yang aneh sih?
Luhan menengokkan kepala pada nakas di samping tempat tidur. Tepatnya pada jam kecil di atasnya. Masih jam 8.40 pagi dibilang hampir siang, eommanya ini benar-benar aneh. Ah, dia baru ingat jika hari ini libur, beruntung sekolahnya sedang ada pembangunan. Sehingga proses pembelajaran ‘terpaksa’ ditunda.
Oh, tuhan..
BRUKK
Ia kembali merebahkan tubuhnya ke kasur, lalu memandangi langit-langit putih kamar itu.
“Eomma mimpi apa semalam? Kenapa ia bisa seperti itu? Hmm.. tidak biasanya.” Gumamnya heran.
Eh, ngomong-ngomong soal mimpi. Tadi malam Luhan memimpikan ‘dia’ lagi. Tak sadar matanya berbinar dan bibirnya melengkung, dan membentuk sebuah senyuman. Dia lagi, Luhan bahkan tak tau dan tak mengenal siapa dia. Tapi kenapa ia merasa menyukainya? GILA!
Mimpi itu..
**
“Luhan sayang mau ikut ke rumah teman appa? Teman appa punya seorang anak yang sangat lucu. Luhan mau ketemu dia?” sebuah tangan halus mengelus puncak kepala Luhan kecil ketika ia bertanya.
“Luhan ikut!” tentu saja! Luhan akan sangat senang jika memiliki teman baru.
Luhan yang saat itu masih 5 tahun, dan akan sangat senang jika bisa memiliki teman baru. Ia genggam erat tangan eommanya dan berjalan menuju mobil.
“Appa! Luhan ingin ikut yah..”
“Boleh. Tentu saja sayang” Appanya tersenyum, woaahh.. senyum lebarnya membuat wajahnya terlihat berseri-seri.
Selama perjalanan Luhan kecil melihat keluar jendela dan terus mengoceh, seperti..
‘woah, aku belum pernah lewat sini sebelumnya’
‘woah, apa anak teman appa itu masih kecil?’
‘woah, aku ingin sekali menemuinya’
Dan beberapa ‘woah-woah’ lainnya..
Ternyata perjalanan dari rumah menuju rumah teman appanya itu tak memakan waktu yang lama.
‘woah rumahnya besar sekali.’ Gumam Luhan ternganga.
Si pemilik rumah langsung menyambut kedatangan mereka dengan gembira, setelah mengetahui seorang temannya datang. Entahlah, Luhan tak memperhatikan mereka. Ia yang masih penasaran melongokkan kepalanya kedalam rumah itu. Tak sopan memang, tapi Luhan kan hanya anak kecil yang imut dan masih polos.
“Hai, siapa namamu adik manis?” hah? Kaget. Sepertinya pertanyaan itu benar-benar berhasil mengambil perhatian Luhan.
“Nama saya Luhan, Xi Luhan. Senang bertemu dengan paman” ucapnya sopan sambil membukukkan badan.
“Kau pasti mencari Sehun ya? Dia ada di dalam kamar itu, kau masuk saja ke dalam. Dia sedang bermain sendiri, temani ya!” ucapnya sambil memandu ke ruang tamu. Oohh, jadi namanya Sehun ya. Ia menunjuk ke salah satu kamar. Dan tentu saja Luhan kecil berjalan kesana setelah tersenyum lebar kearah eommanya dan paman itu.
Ia melihat seorang anak laki-laki kecil sedang bermain dengan boneka-boneka robot kecilnya.
“Sehun ya? Namaku Luhan” ucap Luhan ketika bola matanya menuju ke arah dirinya. Luhan langsung tersenyum senang dan mendudukkan diri di samping anak lelaki itu, ketika ia tersenyum menyambut. Luhan rasa ini pertemuan pertama yang baik.
**

“Ck, mengapa aku jadi frustasi seperti ini. Apa aku sudah gila ya? Sepertinya begitu. Apa aku satu-satunya orang yang menyukai orang tak dikenal yang ada di mimpinya? Terdengar lebih gila dari pada adengan gila di film-film yang gila malahan”
Tadi pagi di saat Luhan membuka mata, ia masih mengingat wajah lelaki itu dengan jelas. Sangat jelas. Tapi mengapa sekarang ia melupakan wajahnya? Tapi yang ia ingat, tinggi lelaki itu melebihi tinggi dirinya. Memiliki kulit putih pucat. Rambut berponi samping kiri, dan lurus hitam legam.
Hhh.. andai saja ia memang ada di dunia nyata.

**

Luhan dan Sehun sudah berteman selama bertahun-tahun. Yahh.. Mungkin sekarang tidak bisa lagi disebut dengan ‘teman’. Sekarang status mereka sedikit lebih jauh dari ‘teman’. Meskipun perbedaan umur mereka terpaut 4 tahun. Dan Luhan yang lebih tua pastinya. Tapi sekarang ini Sehun yang lebih tinggi dari pada dirinya.
Sehun selalu bersikeras mengantarkan Luhan sampai ke sekolah, yang berada di tingkat 2 Senior High School. Sedangkan Sehun masih berada di tingkat 1 Junior High School. Benar-benar jauh.
Bahkan teman-teman Luhan mengira Sehun ini adiknya. Selain mempunyai wajah yang mirip, Sehun terlalu perhatian padanya. Pernah suatu hari sahabat Luhan, Baekhyun menghampiri saat ia berangkat sekolah bersama Sehun. Saat itu mereka bergandengan tangan menuruni mobil di depan gerbang sekolah Luhan. Tiba tiba Baekhyun mengagetkannya dari belakang, untung saja Sehun menahan pinggangnya. Jika tidak, mungkin Luhan akan terjungkal ke depan. Aahh, malunya.
“Waahh, romantis sekali. Andai ia itu bukan adikmu, pasti kalian sudah berkencan saat ini” ucap Baekhyun sambil menaik-turunkan alisnya bermaksud menggoda. Dan sepertinya ia berhasil membuat wajah Luhan memanas.
Baru saja Luhan ingin membenarkan ucapan itu, tapi suara Sehun menginterupsinya. Membuat Luhan tercengang kaget sekaligus terpana.
“Maaf, aku tidak tau kau ini siapa. Tapi kulihat kau orang yang baik dan dekat dengannya. Jadi tolong jaga pacarku ini ya, dia ini sedikit bodoh dan ceroboh. Kalau begitu aku pamit dulu.”
Dapat ia lihat Sehun tersenyum miring ketika mata Baekhyun membulat beserta mulut yang menganga tak percaya.
“Aku berangkat dulu sayang”
CUP
“bye bye!” Luhan melihat ia terburu-buru masuk ke mobil, membuka jendelanya lalu mengedipkan sebelah matanya ke arah Luhan. Baru saja ia akan meneriakinya, tapi mobil yang membawa Sehun telah menghilang dari pandangan.
Oh My God! Demi apapun Luhan ingin sekali meninju wajah tampannya itu!
Berani-beraninya dia mencium bibirnya di depan Baekhyun! AAAA! Mau ditaruh mana nanti mukanya? Luhan berani bertaruh, jika saat ini Ini Baekhyun sedang berpikiran yang tidak-tidak. Dan, yeah.. ternyata ia benar.
“Ya tuhan, apa yang ia bilang tadi itu benar? Kenapa kau tak pernah bercerita padaku? Apa dia masih Junior? Kau ini suka berondong ya? Yaa! Kau ini sahabat macam apa, mengapa kau tak bercerita padaku?”
“hehee, peace!” ucap Luhan sambil mengangkat tangan yang membentuk simbol ‘peace’
“kau tau? Kau berhutang cerita yang sangat panjang padaku Lu”
“iya iya, aku tau. Ayo masuk ke dalam” ucapnya sambil menarik lengan Baekhyun. Dapat Luhan lihat wajah Baekhyun yang cemberut, tapi Luhan tau jika ia mengkhawatirkan dirinya. Khawatir? Haih, untuk apa..

**

“Haahh.. lebih baik aku mandi dulu saja dari pada pikiranku melantur kemana-mana.” Gumam Luhan yang langsung beranjak pergi ke kamar mandi.
SKIP
“woah, sarapannya nasi goreng kimchi? Ahay, kesukaanku!”
Tapi ternyata sarapan sendiri itu tidaklah mengasikan. Yahh meskipun orang tuanya cukup sibuk dengan pekerjaannya, tapi mereka selalu menyempatkan untuk sarapan dan makan malam bersama. Untung saja Luhan bukan anak dari orang konglomerat. Jika iya, bisa-bisa ia akan selalu makan sendiri setiap harinya.
“Anak konglomerat ya..”
Haahh.. lagi-lagi teringat mimpi itu..

**

Setelah dipersilakan masuk oleh satpam penjaga gerbang rumah Sehun, Luhan memandangi rumah besar bak istana itu dari halaman depan.
‘tak berubah sama sekali ya..’
“Kenapa kau senyum-senyum tak jelas seperti itu pada rumahku?” EH! Luhan berjengit kaget.
“Yah! Kau mengagetkanku!” ucapnya, lalu menghampiri Sehun yang sedang duduk di kursi taman tak jauh dari tempat Luhan berdiri. Lalu duduk tepat di sebelahnya.
“Jangan bilang jika kau berpikir rumahku tak berubah sama sekali?”
‘TEPAT!’
“Hah? Tidak aku tak berpikiran seperti itu. Aku sama sekali tak berpikir seperti itu tau! Aku hanya melihat, ya hanya melihat. Tak seperti itu”
Ia terkikik, dasar! Apanya yang lucu sih?
“hahaaa, jangan mengelak. Kau tau? Aku bisa membaca pikiranmu tau!”
“Jangan bicara omong kosong! Mana ada yang seperti itu!” ucap Luhan kesal.
‘Dia benar-benar aneh, kenapa berbicara seperti itu? Apa benar ia bisa membaca pikiranku?’
“Aku tidak aneh, aku hanya berbicara faktanya.”
HAH? Apa dia sudah gila?
“Aku masih waras kok tenang saja. Aku tidak akan memperkosamu disini”
Luhan terkejut, sangat. Mendengarnya berbicara seperti itu, jelas saja wajahnya memanas. Luhan segera berdiri dan menghadap dirinya yang mendongak agar dapat menatap dirinya..
Dasar! Seharusnya aku meninggalkannya, mengingat dia bukan anak kecil lagi!
“YA! Apa yang kau pikirkan? Aku tak akan benar-benar melakukannya bodoh! Jangan pernah berpikir akan meninggalkanku lagi. Kau tau? Aku kesepian jika kau tak ada di dekatku! Dan jika kau meninggalkan aku.. maka aku.. akan.. kesepian”
Terdengar nada suaranya meninggi di awal kalimat, dan kata terakhir yang ia ucapkan hampir seperti bisikan. Tapi dapat Luhan dengar dengan sangat jelas. Ia lihat Sehun menundukkan kepalanya. Ya tuhan, apa yang ia lakukan? Membuatnya sedih? Mengapa ia jadi sangat sensitif seperti ini?
Luhan mendudukkan kembali tubuhnya di samping Sehun yang kembali manatap Luhan, tergambar sangat jelas ada kesedihan yang terpancar dari matanya. Luhan tersenyum menenangkan, lalu memeluknya. Sekelebat ingatan muncul, kejadian yang sama dan di tempat yang sama pula. Oh, Luhan jadi merasa semakin bersalah.
Agak geli ketika merasakan wajah Sehun yang ia simpan di perpotongan lehernya. Luhan merasakan tangan Sehun yang memeluknya dengan erat. Terlalu erat hingga rasanya sedikit menyesakkan, tapi tak apa. Selama ia menyukainya, Luhan akan membiarkannya.
‘Aku berjanji tak akan meninggalkanmu’
“Benarkah? Kau janji?”
Luhan mendengar suara beratnya yang agak serak, terdengar sangat menyedihkan. Luhan mengangguk dan tersenyum kecil.

**

“Hhh.. kenapa aku terbayang-banyang oleh Sehun itu. Padahalkan dia hanya mimpi. Andai ia benar-benar ada. Dan jika ia memang benar ada, aku ingin bertemu dengannya. Ingin bersamanya. Ingin menjaganya. Ingin selalu disisinya. Heeh? Kenapa aku jadi bicara sendiri sih? Ah sudahlah!”
Luhan beranjak dari ruang makan setelah menyelesaikan sarapan, ah sekaligus makan siangnya, mengingat waktu hampir menunjukkan pukul 12 siang. Ia melangkahkan kakinya ke kamarnya bersiap pergi, unutk berjalan-jalan dengan temannya. Oh, beruntung sekali ia mengingat janji itu, tidak seperti Luhan yang sering kali ceroboh dan lupa.
Ia memakai kaos putih, dengan kemeja biru laut yang tak dikancingkan. Oh, jangan lupakan celana jeans putih yang ia padukan dengan sepatu nike hitam, yang membuatnya terlihat man- ah tampan. Ia menyambar kunci motor kesayangannya di atas meja belajar, lalu berjalan keluar. Setelah mengunci pintu depan, ia merasa telah meninggalkan sesuatu.
Dan, binggo! Helm, keselamatan nomor satu kan? Ia membuka pintu depan lagi, berniat mengambil helm yang ia lupakan tadi. Namun yang tak ia sadari adalah, genangan air di depannya. Oh, dewi fortuna tidak sedang di pihaknya. Ia terpeleset jatuh ke belakang, membuat kepalanya terantuk dinginnya lantai. Ia sempat meringis kesakitan, sebelum rasa sakit itu menghilang, seiring hilangnya kesadarannya.

Sinar mentari membuat pemuda manis itu terusik dari tidurnya. Ia mendudukan tubuhnya, merasa ringan dan.. tanpa beban. Ia memandangi sekitarnya, padang rumput? Kenapa ia bisa ada disini? Tunggu, apa yang terjadi?
Ia berdiri, yang hampir jatuh sebelum kemudian menyeimbangkan kedua kakinya. Ia berjalan, menyusuri padang rumput itu. Memasuki sebuah taman hutan, yang terdapat banyak sekali bangku di tepi jalan setapak. Ia mengikuti jalan itu, merasa aneh berada di tempat yang aneh pula, dan dengan perasaan yang lebih aneh.
Terus mengikuti jalan setapak itu, namun ia tak kunjung mendapati sesuatu lain. Ia berhenti berjalan, lalu duduk pada salah satu bangku di sana. Ia menunduk menatap sepatu nike hitamnya, berharap ada seseorang yang membantunya. Dan, yah harapannya terkabul sepertinya. Ia mendongak ketika mendengar sesuatu –langkah kaki tak jauh darinya.
Ia menoleh ke kanan –jalan yang telah ia lalui- tak mendapati siapapun, lalu menoleh ke kiri, agak terkejut ketika mendapati seorang lelaki berjalan ke arahnya. Pemuda itu mengenakan kemeja abu-abu dengan celana hitam dan sepatu kets hitam. Sederhana, namun terkesan agak suram sebenarnya.
Ia merasa agak gugup dan risih ketika pemuda itu berdiri tak jauh di hadapannya, menatapnya intens.
“Uh.. Aku a-“
“Luhan benar?” terkejut, bagaimana pemuda itu tahu namanya?
“Ya, kau, siapa?” Hening sejenak sebelum pemuda itu tersenyum tipis, sangat tipis, membuat Luhan sedikit ragu apakah pemuda itu benar-benar tersenyum atau tidak.
“Perkenalkan, namaku Sehun. Oh Sehun” Luhan membelalakkan matanya, tidak. Tidak mungkin. Ini pasti hanya khayalannya saja kan? Bagaimana bisa terjadi..
Tidak..
Ada..
Tidak, ia tidak mungkin salah lihat!
Itu jelas seekor ular!
Luhan bergetar ketika ada seekor ular besar melintas di belakang pemuda yang mengaku bernama Sehun itu. Luhan takut sekali pada ular ngomong-ngomong.
“Seh.. Sehun, bisa kau, uh, menyingkir?” Luhan tak sanggup oh, rasanya ingin segera lari dari sana. Apalagi ketika ular itu berhenti bergerak, menatap mereka seakan-akan target untuknya makan.
“Apa?” Sehun sepertinya agak kaget mendengar itu tapi-
“Ada u-ular di belakangmu” Sehun sepertinya mempunyai gerak refleks yang bagus, terbukti ketika Luhan menunjuk ke belakangnya, ia langsung tersentak, menoleh ke belakang sebentar sebelum menarik tangan Luhan untuk menjauh. Sedikit banyak Luhan ikut terkejut melihat tangannya yang digenggam pemuda itu, merasa hangat sampai wajahnya memerah malu.
Sehun menghentikan langkahnya setelah dirasa cukup aman untuk bicara berdua dengan pemuda yang juga ikut berhenti. Sehun menatap mata pemuda yang satu lagi, berharap ada sesuatu yang muncul di sana. Namun sepertinya ia harus menelan pahitnya kekecewaan ketika tak menemukan itu.
“Ada yang salah denganku?” Oh, Luhan merasa pemuda di depannya ini agaknya berbahaya. Dari cara menatap dirinya tajam seolah dapat melihatnya jauh sekali ke dalam.
“Aku seperti pernah melihatmu.” Luhan mengernyit mendengarnya, lalu mengamati wajah Sehun lamat-lamat. wajah dingin tanpa ekspresi, bahkan nada bicaranya pun lebih datar daripada dataran yang paling datar sekalipun. Yah, pemuda di hadapannya ini memang tampan. Apalagi dengan tubuh proposional layaknya seorang model. Tapi..
“Benarkah? Ah, tapi kurasa ini pertama kalinya kita bertemu. Emm, bisa kau beritahu aku ini ada dimana?” Hening sejenak, membuat Luhan tak yakin apakah pemuda di hadapannya itu mendengar pertanyaan barusan ataukah tidak.
“Jeju. Ini di Pulau Jeju.” Luhan berjengit.
“Jeju? Bagaimana aku bisa pulang?” monolognya. Sehun yang mendengar itu seakan baru menyadari sesuatu, ia tersenyum miring lalu maju satu langkah mendekati Luhan.
“Pulang? Bukankah kau sudah dekat dari rumah?” Luhan mengernyit, pemuda ini bahkan bisa tahu rumahnya? Tunggu, rumah?
“Y-ya, kurasa-” Senyum Sehun berkembang setelahnya, membuat Luhan agak terpana.
“Kalau begitu biara aku antar kau pulang. Dengan selamat tentu saja.”
“Em, aku mau saja sebenarnya. Tapi, jalan ini seperti tak berujung.” Sehun melangkahkan kakinya mendekati Luhan.. terus mendekat.. sedikit lagi.. sampai beberapa senti.. lalu melewati samping kirinya.. membuat organ di dada kiri Luhan hampir keluar dari sarangnya.
Luhan mengambil nafas panjang lalu menoleh ke belakang, terkejut melihat Sehun telah menaiki sebuah motor besar hitamnya. Lengkap dengan helm di kepala dan satu lagi yang ia ulurkan pada Luhan. Luhan, sebegitu tak pekanya kah kau bahkan untuk menyadari ada motor besar disitu tadi?
Tapi.. memang seingatnya.. tak ada adapun di tempat itu tadi.. dan saat i-
“Aku akan pergi jika ka-” Luhan hampir melompat di tempatnya mendengar suara yang sekali lagi, lebih dari sedatar-datarnya dataran yang paling datar.
“Oh, baik, t-tunggu aku”
Pemuda manis –menurut Sehun- itu segera menerima helm dari Sehun, memakainya lalu membonceng di belakang Sehun. Ragu harus berpegangan atau tidak, karena yahh.. ini motor sport bung!
NGEENGG..
Benar saja, Luhan hampir terjungkal ke belakang ketika Sehun melajukan motornya tiba-tiba. Membuatnya mau tak mau berpegangan pada pinggang Sehun, tak tahu jika Sehun tersenyum puas dari balik helmnya.

Luhan mengerjabkan matanya, terasa ringan seperti tak ada kantuk sedikitpun yang tersisa. Ia bangkit dari tempat tidur besar nan mewahnya, menuju kamar mandi. Menghabiskan beberapa menit disana, menikmati me-time-nya. Lalu bersenandung riang menuruni tangga klasik yang terlihat mahal.
TING TONG!
Luhan sedikit mengernyit mendengar bunyi pintu itu, melihat jam di tangannya yang masih menunjukan pukul 10.27. oh, siapa yang datang berkunjung yah? Berjalan sedikit tergesa lalu membuka pintu kayu kokoh yang besar itu. Matanya membola melihat siapa yang datang berkungjung.
Yah, itu Sehun.
“Hmm, jalan-jalan?” Tak perlu kata hai, apalagi hanya sekedar basa-basi. Oh Luhan sampai ingin pingsan melihat betapa tampan lelaki di hadapannya. Kemeja dan jeans hitam yang kontras dengan kulit putih pucatnya, ditambah rambut legam yang ditarik ke atas. Sepatu hitam polos yang –entahlah- terlihat mahal sebenarnya. Tatapan mata elangnya, hidungnya yang mancung, dan bibir itu seperti akan membakar mata Luhan jika ia tak segera mengalihkan tatapannya dari sana. Oh sejak kapan dia jadi pengamat wajah seperti ini.
Luhan berdehem, mengembalikan fokusnya yang berterbangan ke sembarang arah. “Hm, masuklah dulu. Aku akan bersiap.”
Sehun masuk ke dalam, lalu mendudukkan diri di atas sofa bewarna coklat muda. Tatapannya tertuju pada bunga mawar putih yang layu, itu diletakkan di dalam vas kristal bening yang ada di atas meja depannya. Ia melirik Luhan yang tengah berjalan cepat menaiki tangga, lalu menempatkan tangannya di atas bunga itu, setelah Luhan menghilang dari pandangannya. Menjentikkan jarinya, membuat bunga itu perlahan segar kembali, dengan warna yang berbeda. Yang tadinya putih, kini berubah menjadi merah. Lalu tersenyum kecil setelahnya.
Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, mengamati rumah besar yang dijadikan tempat tinggal Luhan. Oh tidak salah, pilihannya adalah yang terbaik tentu saja.
Beberapa menit kemudian terdengar suara langkah kaki, dan Luhan yang muncul di depannya terlihat sungguh manis -menurut Oh Sehun-. Dengan sweater biru laut bergambar panda di tengah, celana putih dan kets hitam. Oh, apakah ia mengatur temperatur udara yang terlalu dingin? Tidak kan?

Mereka pergi ke tebing, bermain paralayang, menaiki balon udara, makan siang di restauran Italia, lalu pergi ke planetarium, yah takut kehabisan waktu? Haha. Itu lucu sekali bung! Bahkan tak perlu khawatir akan adanya orang lain. Dan sekarang ini mereka berada di sea world. Yah meski sebenarnya Sehun ingin mengajak Luhan ke Jurassic Park, lalu Disneyland tapi sepertinya itu sedikit agak-
“Sehun, lihat itu! Wah ikannya lebar sekali ya. Coba saja kalau kita bisa naik di atasnya, seru pasti!” Sehun terkekeh mendengar ocehan Luhan, tak disangkanya pemuda itu masih saja agak kekanakkan.
“Heheh, jika bisa apa benar kau berani?” Luhan mendelik ke arah Sehun, lalu berjalan lagi untuk melihat-lihat.
“Tapi Sehun, apa kau tak merasa sedikit aneh?” DEG! Sehun yang tadinya akan mengikuti langkah Luhan tiba-tiba terdiam ditempatnya.
Merasa diabaikan, Luhan berhenti berjalan lalu menoleh ke arah Sehun berdiri tadi. Mendapati Sehun sedang mendongak melihat ke dinding kaca. Luhan mengikuti arah pandang Sehun, dan melihat objek yang sedang diamati pemuda pucat itu.
Seorang penyelam sedang memberi makan seekor hiu putih raksasa, membuat Luhan bergidik membayangkan yang tidak-tidak. Tanpa disadarinya, Sehun menatap Luhan, lama sebelum menghembuskan nafasnya lega. Sebenarnya agak tidak rela ketika ada orang lain ada di dunianya, apa lagi ketika bersama Luhan. Agaknya ia tak rela perhatian pemuda manis itu terbagi.
Tanpa suara, Sehun berjalan ke arah Luhan menghalangi pandangan yang lebih pendek untuk melihat si penyelam itu. Berdiri berhadapan seperti itu.. dalam jarak dekat.. membuat masing-masing takut jika yang lain dapat mendengar detak jantungnya yang cepat. Dengan itu Sehun mendekat lagi kepada Luhan, membuat yang lebih pendek tak sadar menahan nafas.
“Sehun..” Oh suara Luhan terdengar bergetar lucu.
“Hmm..”
“Parfummu..” Luhan menatap kerah kemeja Sehun sebelum meraihnya. “..Memabukkan” Dan dengan itu belah bibir keduanya bertemu, yang Luhan ingat adalah ciuman pertama mereka.

Siang itu Luhan terbangun dari tidur malamnya yang begitu panjang, membuatnya agak pening, lalu memutuskan untuk menyegarkan badan sekaligus pikirannya dengan berendam sebentar. Seharian lemarin, bertamasya bersama Sehun membuatnya sedikit banyak merasa capek. Tapi tak ayal membuatnya senang sekali.
Hari ini ia berencana bermalas-malasan saja, menonton film, makan snack sepuasnya, tidur, dan sebagainya. Ah indahnya dunia ini. Ia sudah siap dengan segala snack yang ia keluarkan dari lemari es, ditata di meja depan televisi. Luhan membaringkan diri di sofa panjang nan empuk di depan televisi raksasa, meraih sekotak besar es krim rasa vanilla lalu melahapnya. Tatapannya terpaku pada layar datar itu, sebelum-
TING TONG!
Oh God, apalagi ini. Luhan melirik pintu depan dengan kesal. Berniat membiarkan orang itu sampai akhirnya pergi karena menyerah. Tapi sepertinya niat itu gagal, karena si tamu dengan berulang kali menekan bel. Luhan mendengus, kemudian beranjak dari comfort-zonenya. Oh jangan lupakan kotak es krim yang masih ada di tangan, serta sendok yang menggantung di mulutnya.
Ia membuka pintu itu, terkejut setengah mati ketika menemukan Sehun yang bersandar di tembok dengan tangan di saku. Seketika ingatannya melayang saat di sea world kemarin. Sendok di mulutnya meluncur begitu saja, Luhan sebenarnya sudah menyiapkan diri untuk bunyi itu. Tapi sekali lagi, harus Luhan akui Sehun memiliki gerak refleks yang luar biasa cepat. Hingga ia bisa menangkap sendok yang bahkan hanya dapat setengah perjalanannya untuk sampai di lantai.
“Ceroboh, masih tak berubah Lu” Luhan merona mendengarnya. Lalu bergeser untuk mempersilahkan Sehun masuk rumah besar itu. Sehun menyerahkan kembali sendok itu ke tangan Luhan ketika melewatinya. Luhan diam ditempat, melihat Sehun duduk di tempat ia bersantai tadi. Sedikit malu melihat makanan yang berserakan di meja sana.
“Jadi? Ayo lihat film ini bersama”
Oh, Luhan agak terkejut mendengarnya. Jujur saja, setiap berada di dekat Oh Sehun ini jantungnya harus bekerja ekstra.
Ia menutup pintu besar, berjalan menuju Sehun. Duduk agak jauh di sampingnya, bersila. Kembali memakan es krim. Pandangannya selalu melirik Sehun yang terlihat sangat santai. Ia menatap layar datar itu, sedit malu ketika menyadari film yang sedang ia lihat adalah film animasi “frozen”. Tapi sungguh, dibanding anna, atau elsa, ia suka sekali Olaf. Maka dari itu ia melihat ulang film in.
TUK
Sehun meliriknya ketika suara ketukan ketika Luhan selesai menghabiskan sekotak es krimnya. Dan meletakkan itu di meja. Lalu Luhan jadi gugup sendiri merasa Sehun menatapnya intens. Luhan tak tahan lagi, ia segera mendengus lalu menoleh ke arah Sehun yang secara terang-terangan menatapnya. Niatnya yang ingin protes batal ketika melihat tatapan lembut Sehun. Oh sebelum ini mang Sehun sering tertangkap basah menatapnya lembut. Namun ia segera menajamkan kembali, tapi kali ini tidak.
Luhan tak tau ini fantasinya saja atau bukan, tapi ia melihat Sehun menelah ludahnya. Lalu menggeser duduknya mendekati Luhan, menaruh tangan kanannya di pipi Luhan mengelusnya sesaat lalu memajukan wajanya.
Oh dalam keadaan seperti ini apa yang hrus ia lakukan? Pura-pura pingsan? Eh, bersin? Batuk? Atau mungkin bis-
Oh
Sepertinya
Kau terlambat Lu
Luhan mengerjapkan matanay merasakan sentuhan hangat di bibirnya, membuatnya terlena ketika itu bergerak perlahan dengan lembut. Perlahan ikut menikmati, menutup matanya. Membiarkan perasaan yang memimpin hati dan pergerakannya. Sehun yang tadinya harap-harap cemas akan ditolak, sepertinya tak perlu lagi. Hati Sehun tampaknya bersorak-sorai merasa Luhan membalasnya dikemudian detik.
Rasanya..
Begitu pas..
Begitu manis..
Dan begitu benar..
Luhan merasa hampa ketika Sehun melepasnya beberapa menit setelahnya. Menempelkan kening mereka, sama-sama merasakan nafas yang memburu. Sehun terkekeh setelahnya, membuat Luhan juga ikut merasa geli.
“Sehun..”
“Hmm..”
“Aku.. Mau lagi”
Luhan merona ketika mengatakannya, membuat Sehun ingin tertawa sebenarnya. Tapi sekaligus terkesan dengan kepolosan dan keberanian pemida manis-nya itu.
“Tidak sebelum kau jadi milikku” Luhan akan memukul kepala Sehun, tapi tidak jadi karena yah.. Itu sedikit memalukan.
Luhan menggeser tubuhnya, duduk di paha Sehun dan mengalungkan tangannya di leher Sehun. Jangan lupakan wajah semerah tomat busuknya itu.
“Diam kau” Dengan itu Luhan jadi miliknya.” Sehun terkekeh, lalu tersenyum puas dalam ciuman mereka.
Dan Luhan sendiri yang memulai malam panjang mereka..
Desahan nafas..
Keringat bercucuran..
Teriakan kepuasan..
Bau khas menyebar ke seluruh penjuru..
Saling memuji dan menyebut nama yang lain..
Hingga tertidur dalam pelukan yang nyaman..
Sehun tersenyum menatap wajah Luhan yang tertidur di pelukannya, entah apa yang ada dipikirannya yang lalu menatap jauh.
Luhan yang tak menyadari arti senyum itu. Tak tahu apapun. Bahwa tak seorangpun boleh mengambil apapun yang sudah menjadi milik Sehun, tak seorangpun boleh mengganggunya. Yang telah menjadi miliknya, tak boleh dan tak bisa pergi tanpa seijinnya.
Sehun tersenyum licik, dunianya. Yah ini duanianya, hanya ia yang dapat mengaturnya, sesuka hatinya.
Cinta membutakannya, berniat membawa dan menahan jiwa Luhan bersamanya di dunianya.
Satu keputusan kecil dapat merubah banyak hal
Satu kebohongan kecil, dapat merusak kepercayaan

Di sisi lain, tampak seorang pemuda manis tergeletak lemah dengan selang oksigen pada hidungnya, di sebuah kamar rumah sakit Seoul. Seorang dokter yang baru saja memasang infus baru di tangan kanannya, menoleh merasakan tatapan berharap dari seorang ibu pasiennya. Dokter itu tersenyum menenangkan, lalu mengamati data pasien yang dia ambil dari ujung tempat tidur. Menulis sesuatu di sana sebentar, mengembalikan itu sebelum mengatakan
“Dia telah melewati masa kritis, tulang tengkoraknya juga membaik.” Wanita paru baya itu menghela nafas lega.
“Tapi, sepertinya dia belum ingin bangun dari tudur pulasnya.” Sang dokter tersenyum mendengar ucapan sang ibu. Ikut merasa sedih melihat tatapan sendu ibu itu mengarah pada pemuda yang menjadi pasiennya sejak 8 bulan lalu.

END

3 thoughts on “[FF February Love Mission] Dreamland || SHeyna

  1. Ping-balik: [!!!] List FF February Love Mission | Keluarga_Cemara

  2. Jujur aku agak bingung sama ceritanya. Pas ending baru ngerti.

    Saran aja ya, kedepannya bisa d perhatikan lagi penempatan spasi agar readers yg lain merasa nyaman saat membaca. Penggunaan kalimat untuk menjelaskan sesuatu bisa d persempit lagi agar tidak terlalu banyak memakai suku kata. Intinya kalimat itu walau singkat tapi sudah cukup menggbambarkan sesuatu yg ingin d jelaskan( aduh aku review apaan yah? Lupakan thor klo kmu bingung krn akupun jg bingung mengungkapkannya) Maaf jika saranku tdk berkenan.

  3. Omoooooo TTATT
    Sehun😭 kasian luhannya koma. Kirain pas baca awalnya teh sehun itu teman masa kecilnya Luhan atau gimana. Ternyata, TERNYATAAA, TERNYATAA sehun makhluk dari dunia lain u.u
    Jadi mau diculik sama Sehun juga euy. Berarti selama Luhan masih comfort sm Sehun, dia ga akan bangun Thor?? Hhhh kasian sama emaknya :”
    Harusnya juga Luhan sadar lah kalo di pagi2 emaknya ga marah marah.
    Baper thor maygat😩
    Lanjutkan karya2 muu💪

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s