[FF FEBRUARY Love Mission] Gone Not Around Any Longer || Nura Lau


Luhan

Luhan panik, hati bergetar bukan kaki. Langkah cepat membawanya ke kantor ketua redaksi SMTEEN. Pintu dibuka tak sabaran, deritnya membuat wanita yang duduk di tengah ruangan mendongak. Dia menaikkan kacamata, berusaha mengenali siapa yang ada di depan pintu.

“Luhan-ku sayang,” sapanya tanpa tersenyum.

Tanpa embel-embel ketukan, salam, maupun bungkukan badan, Luhan melesat menuju meja wanita itu. Kelakuan baik selama ini dikubur dalam-dalam, berharap wanita di depannya tahu. Kalau Luhan ingin segera pergi dari sana. Tidak sopan jadi cara terakhir Luhan agar segera ditendang dari SMTEEN.

“Ini soal pengunduran diriku, Nyonya Kim, kenapa kau terus menundanya?”

Kim Hyoyeon, selaku ketua redaksi majalah SMTEEN tidak terusik dengan sikap anak buahnya. Dia kembali menjelajahi, mempelajari majalah punya tetangga sebelah. Bukan niat ingin membaca, hanya mencari kesalahan, dia akan punya senjata untuk edisi minggu depan.

“Nyonya Kim—“

“Kita sudah membicarakan ini berkali-kali dalam seminggu terakhir ini,” Nyonya Kim mengatup majalah di mejanya, beralih ke Luhan, “tidak ada seorang pun termasuk kau, yang akan keluar dari SMTEEN. Mengerti?”

Luhan memutar bola matanya, kesal. Nyonya Kim tidak akan mengerti masalahnya yang dia alami sekarang. Sesuatu yang gawat terjadi dan Luhan harus pergi. Dia tidak ingin bertemu dengan orang itu.

“Tapi aku harus pergi dari sini,” Luhan menggigit bibir.

“Kenapa? Apa ada staf di sini yang berbuat kasar padamu? Apa modelku mengganggumu? Apa makanan di kantin sekarang jorok?”

Jelas sekali nyonya Kim menganggap enteng dirinya—dan masalahnya. Luhan membusungkan dada, mencoba tidak menjadi pengecut.

“Aku punya masalah pribadi yang harus diselesaikan.”

Nyonya Kim mendengus geli. “Klasik sekali. Masalah pribadi seharusnya tidak dicampur aduk dalam pekerjaan, semua pro tahu itu. Kalau memang kau ada masalah yang sangat serius kau bisa bercerita pada seniormu, Donghae. Jangan cerita padaku, aku tidak bisa menyelesaikan masalah orang lain.”

Anda tidak tahu seberapa pentingnya ini,” Luhan menekan tiap kata-katanya.

“Kau juga tidak mengerti situasi sekarang Luhan,” Nyonya Kim tampak mulai terganggu. “Saat ini masa-masa penting. Kau tahu kan, akhirnya EXO menyetujui untuk bekerja sama. Sulit sekali mengajak anggota boyband terkenal di Korea untuk menjadi model majalah kita. Kumohon sekali lagi Luhan, tetaplah di sini. Setidaknya sampai semua ini selesai.”

Justru itu motivasi yang membuat Luhan ingin keluar dari SMTEEN. Tiap hari—kalau dia masih berada di sana, dia akan bertemu dengan anggota EXO. Dengan orang itu juga. Luhan cepat menggeleng, dia tidak ingin bertemu orang itu. Selama enam tahun ini Luhan selalu menghindarinya dan tidak ingin hal tersebut terganggu. Malah kalau bisa selamanya.  Jika pekerjaan yang akan menghubungkan mereka kembali, Luhan siap melepasnya. Sekarang juga.

“Baiklah, aku juga sudah lelah. Aku ingin minta cuti saja—“

“Pembicaraan kita berakhir, Luhan. Sudah jam makan siang, kau tidak ingin melewatkannya bukan?”

Pengusiran halus. Dia hafal tabiat wanita itu. Tanpa pamit Luhan pergi dari ruangan atasannya.

 

 

Gone Not Around Any Longer

Pair : HunHan

Genre : Friendship, Romance, Hurt/Comfort.

Rating : T

Story by Nura Lau

 

 

“Menyerah sajalah.”

Kunyahan di mulut Luhan terhenti sejenak, menatap sebal orang di depannya. Sekarang dia ada di halaman belakang gedung tempatnya bekerja. Makan siang berdua dengan temannya sejak jaman SMA, Kris. Mereka selalu bersama sampai di tempat kerja pun begitu. Sempat ada gosip aneh di antaranya, tapi Luhan segera mengklarifikasi. Dia tidak suka dengan laki-laki. Dia itu normal.

Hanya saja Luhan kesulitan membaur, jadi dia butuh Kris di sampingnya. Catatan, Luhan bukan TKB (Teman Kalau Butuh). Kris kesulitan Luhan rela membantunya. Ini serius.

“Aku jadi ingin kita bertukar tugas,” gumam Luhan, mengaduk lemon teanya.

Kris tertawa mengejek. “Bagian editting tidak bisa apa-apa tanpa aku.”

Tentu saja Luhan tidak suka diremehkan. “Bagian pemotretan juga tidak bisa apa-apa tanpa diriku.”

“Kalau begitu kita kerjakan saja tugas masing-masing,” Kris tersenyum penuh kemenangan.

Lemon tea di mulut ingin rasanya Luhan sembur ke orang di depannya. Kris benar-benar teman tanpa adat. Dia selalu mengatakan apa yang dia mau tanpa peduli orang lain. Meski begitu. perkataannya sering tepat sasaran, itu membuat Luhan sedikit iri pada keterbukaannya.

“Sudah enam tahun berlalu, dia pasti melupakan kejadian itu. Tenang saja.”

Usahan Kris sia-sia untuk menghiburnya. Dia tahu benar, kenangan enam tahun lalu tidak mudah dilupakan seperti memori kau pernah menangis saat bayi. Apalagi kenangan buruk. Kenangan mengerikan yang sudah Luhan berikan ke orang itu akan terus ada. Sampai kapanpun. Meski Luhan matipun kesalahannya tidak akan tertebus semudah membalikkan kacang goreng.

“Aku bahkan sudah lupa apa saja yang kita lakukan saat SMA. Aku juga lupa siapa nama orang itu.”

“Itu, sih karena kau bodoh,” cibir Luhan.

“Bercanda,” Kris mengangkat bahu. “Jangan dipikirkan. Kalau kau bertemu dengannya, bersikap biasa saja. Jangan bertingkah aneh apalagi salah tingkah seperti gadis SMA. Kuakui dia tampan sekarang.”

“Memangnya kenapa kalau dia tampan?” tantang Luhan.

“Kalian bakal balikan mungkin,” Luhan bersiap melempar gelas kosong ke arah Kris, sengaja pria jangkung itu menyilang kedua tangan untuk melindungi diri. “Oi! Hanya bercanda!”

“Kami tidak pernah pacaram dan aku ini normal! Aku juga sedang naksir seorang gadis,” Luhan kembali meletakkan gelas dengan bantingan keras.

“Siapa?” satu alis Kris naik.

Lidah Luhan digigit pelan. Kenapa dia mengatakan itu? Apa supaya dirinya terlihat normal? Memang dia normal kok! Hanya saja perkataan tersebut keluar tanpa dia sadari. Tidak ada gadis yang Luhan sukai. Tidak ada seorang pun. Dia terlalu sibuk untuk memikirkan hal picisan macam percintaan. Umurnya juga masih muda.

“Ya sudah kalau tidak mau jawab. Kita punya privasi masing-masing, kan?” kata Kris kalem, “Luhan, dari dulu aku selalu ingin menanyakan suatu hal padamu.”

“Tanya saja.”

“Apakah orang itu—Oh Sehun itu benar-benar gay?”

Isi perut Luhan rasanya ditarik paksa keluar. Sakit sekali di sana. Membahas Sehun memang menguras pikirannya, hatinya. Luhan tahu Kris sedang menunggu jawaban dari mulutnya. Jawaban itu tidak bisa keluar.

“Kalau bukan aku kasihan padanya sampai dibuli separah itu waktu tahun ketiga kita di SMA…”

Kris tidak tahu apa-apa soal dia dan Sehun. Soal mereka. Sehun adalah sahabat Luhan kala itu. Mereka selalu bersama. Tapi Luhan membuat cacat di hati sahabatnya. Cacat yang tidak mungkin dapat sembuh.

Sejak tahun ketiga. Mulai ada gosip kalau Sehun itu gay. Luhan tidak bisa menerima sahabatnya dituduh. Berandal sekolah pun mulai mengumpulkan bukti penyimpangan yang dilakukan Sehun. Luhan tidak bisa berkata apa-apa saat melihat bukti nyata di depan matanya. Bahkan Sehun minta maaf karena merahasiakan hal itu darinya.

“…kalau iya, aku kasihan padamu, Luhan…”

Tidak. Jangan mengasihaninya. Dia yang salah. Sehun di sana waktu itu, wajah kusut karena dipukuli. Harusnya Luhan bisa menghentikan berandal itu memukuli Sehun atau dia bisa berlari ke ruang guru, memberi tahu apa yang terjadi sehingga mereka berhenti. Karena mereka berteman. Luhan seharusnya tidak ingin siapapun menyakiti Sehun.

Tetapi Luhan tidak melakukannya.

Dia hanya menatap kosong Sehun. Pandangan minta maaf terus terpancar dari mata sahabatnya ketika dipukuli. Luhan tahu, Sehun berusaha meminta maaf padanya bahkan saat dia yang paling disakiti. Lebih parahnya lagi, Luhan mengabaikan tangan Sehun. Dia mengatakan sesuatu yang sangat disesalinya sampai sekarang.

“Aku dan Sehun tidak begitu dekat untuk bisa disebut teman.”

“…Luhan? Kau baik-baik saja?”

Keringat membanjiri wajah Luhan, dia sendiri sadar ketika Kris mendorong kotak tisu ke arahnya. Segeralah keringat itu dilap cepat-cepat. Jantung Luhan dag dig dug panik tidak karuan. Kenangannya bersama Sehun berakhir begitu saja dengan cara yang menyedihkan.

“Aku baik-baik saja,” jawab Luhan bergetar.

“Maaf sudah mengungkit masa lalumu. Lagi pula kau tidak perlu khawatir lagi pada Oh Sehun. Dia sekarang sudah jadi idol besar bersama EXO, kan—“

“Kris, maaf, aku ingin sendirian,” matanya menghindari mata Kris. “Sampai jumpa.”

Belum sempat mendengar Kris protes, dia beranjak dari sana. Terburu-buru. Langkahnya tidak beraturan, kadang cepat, kadang lambat. Sudah Luhan duga. Dia tidak bisa bertemu Sehun. Apapun yang terjadi. Bagaimanapun juga dia harus pergi dari sini. Seperti yang dilakukannya selama enam tahun. Pergi dan selalu melarikan diri tiap mendengar nama Sehun.

Dia akan pergi sejauh mungkin. Ke ujung dunia sekalipun.

Semakin dewasa kau akan menyadari yang selama dilakukan saat remaja adalah hal bodoh. Luhan menyadari hal itu, bahkan sebelum dia dewasa. Tepat pada hari dimana dia mencampakkan Sehun, dia selalu menyesalinya.

Mimpi buruk selalu datang, tidak pernah absen. Insomnia akut dialaminya. Obat tidur tidak banyak membantu kadang memperparah. Dia tidak bisa bangun dari mimpi buruk kalau meminum obat tidurnya. Hidup menjadi serba salah.

Pagi ini Luhan sukses bermimpi buruk soal Sehun, lagi dan lagi. Suara panggilan di ponsel-lah yang membangunkannya. Dia tidak mengangkat, hanya mendengarkan nada dering, matanya menerawang menatap lampu reman-remang bergantung di atas kamar minimalis.

Kemarin dia pulang lebih awal dan hari ini juga tidak ada niatan untuk bekerja.

“Brengsek!”

Ponselnya terus berdering tanpa ampun. Dengan kasar Luhan meraih ponselnya, mengetik sebal tombol panggilan jawab.

“Halo?”

Tidak ada yang menjawab. Luhan merasa dipermainkan. Dia menatap nomor yang tertera di layarnya. Nomor itu tidak ada di kontak Luhan.

Dia kembali menempelkan ponselnya di telinga. “Halo? Siapa ini?”

Panggilan itu diakhiri sepihak. Bukan oleh Luhan, tapi orang yang meneleponnya. Akhirnya Luhan bangkit dari kasur, pergi ke dapur untuk minum. Dia baru sadar tenggorokannya sakit ketika bicara tadi.

Selesai meneguk air dari kulkas, ponselnya kembali berdering. Nomor yang sama tertera di sana. Ulah orang iseng? Luhan membatin jengkel. Dia tidak pernah berurusan dengan siapapun yang berpotensi mengerjainya. Kris tidak mungkin melakukan itu—

“Halo? Luhan! Ini Kris, apa kau masih di sana? Hei jawab aku!”

—Kris punya bakat iseng sekarang?

“Ada apa?” tanya Luhan tidak tertarik. “Kau ganti nomor?”

Dari telepon Luhan bisa mendengar keramaian. Pasti Kris berada di studio, entah dimanapun itu. Apa dia bersama anggota EXO—termasuk Sehun? Luhan kembali menenggak airnya.

“Bukan, aku pinjam ponsel orang. Sudahlah itu tidak penting. Semua orang di sini mencarimu dan aku bosan menjawab ‘tidak tahu’. Cepatlah datang!”

“Aku bolospun SMTEEN tidak akan bangkrut,” Luhan menutup pintu kulkas, berjalan menuju meja makan dan duduk di sana.

Dia bisa mendengar Kris berbisik menjauh dari ponsel, kata-kata seperti ‘tunggu sebentar ya’ yang ditangkap telinganya, “bukan begitu. Kita akan melakukan pemotretan di luar kota, dan akan ada rapat. Donghae absen karena kecelakaan, tapi dia baik-baik saja. Hanya memar. Pokoknya kau harus datang! Kita kekurangan orang—“

“Kris, dengar. Aku tidak akan bekerja di sana lagi. Paham?”

Dia bisa mendengar suara Kris tertawa renyah, “kau akan terus melarikan diri?”

“Ya,” Luhan tidak mengelak.

“Pengecut.”

Tentu saja dia sakit hati Kris berkata demikian tetapi kenyataannya memang begitu. “Sejak dulu aku sudah seperti itu. Pengecut yang mengabaikan permintaan tolong seorang teman.”

“Baiklah kalau itu maumu. SILAHKAN BERSEMBUNYI SAMPAI KIAMAT.”

Bersamaan dengan itu, telepon dimatikan paksa. Luhan bisa tahu kalau Kris sangat marah dan mungkin sekarang dia tidak bisa menahan diri untuk membanting ponsel pinjaman. Wajah Luhan ditempel ke meja makan. Tidak ada makanan di sana. Luhan tidak biasa sarapan, tidak ada menyiapkan juga lagipula.

Jika bisa dia ingin kembali tidur, tetapi takut kalau mimpinya berlanjut sampai sekarang. Luhan memejamkan matanya perlahan untuk menenangkan diri. Yang Kris katakan tentangnya memang benar. Luhan pengecut namun tidak sepenuhnya. Dia hanya merasa tidak pantas bertemu Sehun. Apa kira-kira yang akan Sehun lakukan kalau mereka bertemu? Apa Sehun akan balas dendam padanya?

Balas dendam pilihan pas buat orang yang sudah diperlakukan dengan buruk. Luhan kembali tenggelam di pikirannya. Selama ini ternyata dia hanya takut kalau Sehun membalasnya. Dia mungkin tidak akan sanggup. Ya, Luhan takut akan hal itu. Bukan takut dipukuli. Takut Sehun mengatakan sesuatu yang buruk tentang pertemanan mereka. Sesuatu seperti ‘aku menyesal berteman denganmu’ dan sejenisnya.

Suara lain menggema di pikiran Luhan. Apa salahnya Sehun balas dendam? Toh dia berhak melakukan itu. Apa masalah ini bisa selesai kalau Sehun membalasnya? Bisa jadi. Luhan bangkit dari meja. Matanya terlihat lebih tegas dari sebelumnya. Dia menuju kamar mandi untuk bebersih. Untuk pergi kerja. Untuk menyelesaikan masalahnya.

Ya, dia akan menyelesaikan masalah itu sekarang agar tidak dihantui lagi.

Sesampainya di tempat kerja, pertama dia ingin bertemu Kris. Luhan ingin minta maaf dan minta wejangan seputar masalahnya. Di sinilah dia, di tengah-tengah keramaian orang lalu lalang di pintu masuk gedung. Dia harus menghubungi Kris untuk bertemu.

Kris tadi menghubungi pakai ponsel pinjaman. Pasti ponselnya sedang bermasalah. Kris bukan tipe orang yang suka pinjam barang orang asing. Dia akan meminjam staf di sana.

Ponsel ditempelkan di telinga. Begitu tersambung, Luhan berbicara, “halo? Apa ini temannya Kris?”

Tidak ada jawaban. Luhan mendecakkan lidahnya. Apa sinyal dalam gedung jelek? Atau orang di sana yang tuli?

“Halo?” suara Luhan naik setengah oktaf.

“Ya.”

Luhan berdeham tidak sabar. “Apa kau tahu dimana dia sekarang?”

“Dia sedang bersamaku,” kata orang yang di telepon, “di halaman belakang gedung tempat biasa kau makan dengannya.”

Luhan langsung pergi ke sana. Di tempat biasa, sepi, dan nyaman untuk makan bersama sahabatnya. Dia menyukai tempat itu. Hanya di sanalah dia melepas penat. Butuh waktu agak lama untuk sampai ke sana. Dia harus saling dorong ketika melewati koridor. Pagi-pagi orang memang selalu terlihat sibuk.

Dia sampai dengan napas terengah. Di sana ada bangku kayu tempat biasa dia dan Kris makan bersama. Seseorang duduk di sana. Luhan menghampiri, menyeringai.

Sekali pukulan diterima di kepala Kris—bukan! Dia bukan Kris! Astaga, apa yang sudah Luhan lakukan. Suara Kris jeritan tidak seperti itu. Orang itu menunduk, mengusap bagian kepala yang kena pukul.

Luhan buru-buru membungkuk minta maaf di depan orang itu, “maafkan aku. Maaf…” dan kembali mendongak.

Sesuatu di belakang Luhan memaksanya mundur beberapa langkah. Di sana berdiri orang yang membuatnya paling merasa hina di muka bumi. Membuatnya bermimpi buruk setiap malam. Matanya tajam, hidungnya juga demikian, bibirnya tipis terlihat menawan. Semua itu sangat mirip dengan orang itu karena memang dialah orang itu.

Oh Sehun.

Kenapa dia bisa ada di sini? Luhan tidak butuh jawaban. Dia hanya butuh pergi dari sana. Bukan waktu yang pas untuk bertemu Sehun sekarang. Dia bahkan belum menyiapkan kata-kata klise untuk minta maaf. Astaga.

“Luhan, kau sudah datang,” dari belakang Kris merangkulnya, “aku ke kamar mandi sebentar tadi. Apa aku menganggu?”

“Tidak, Luhan juga baru datang,” kata Sehun. “Lama tidak bertemu,” kali ini Sehun menatapnya. Tidak ada ekspresi di sana. Luhan hanya menunduk, tidak tahu menjawab apa.

Lengan Luhan ditarik oleh Kris di paksa duduk di bangku itu. Sekarang Luhan dan Sehun hanya berjarak beberapa senti, itu juga karena Kris duduk di antara mereka. Semenjak enam tahun lalu, mereka tidak pernah sedekat ini lagi. Baik soal jarak maupun hubungan.

“Kenapa kau lama sekali menjawab teleponnya? Baru bangun tidur?” Kris memecah keheningan di antara mereka. Tipikal Kris sekali.

Butuh waktu lama bagi Luhan mencerna pertanyaan temannya. “Aku angkat kok, sekali. Tapi tidak ada yang menjawab di telepon.”

Kali ini Kris menatap Sehun lama. Entah ada apa Luhan tidak tahu.

“Langsung ke intinya saja kalau begitu, Luhan aku ingin kau tetap di sini sampai Nyonya Kim dapat suami.”

“A-apa?” Luhan tergagap.

“Perandaian bodoh. Maksudku kau harus tetap bekerja di SMTEEN selamanya,” Kris memukul kepala belakang Luhan pelan.

Luhan mendengus. “Jangan bodoh, kau tidak tahu saja kalau Nyonya Kim dekat dengan seseorang sekarang.”

Sekarang malah Sehun yang mendengus. “Nyonya Kim tidak pernah benar-benar dekat dengan seseorang. Itu hanya kenalan kencan buta.”

Tidak terima tentu saja. Dia tahu Nyonya Kim lebih dari siapapun di SMTEEN. Karena dia sering mondar-mandir ruangan wanita berumur kepala tiga itu. Sehun berbicara seolah-olah dia telah mengenalnya begitu lama. Menyebalkan sekali. Dan cara bicara yang sok itu. Dari mana Sehun mempelajarinya? Dulu dia tidak begitu.

Luhan menarik telinga Kris untuk berbisik di sana.

“Katakan padanya aku kenal Nyonya Kim. Jadi jangan sok,” itu bukan bisikan, Sehun dapat mendengar itu. Luhan sengaja tentu saja.

Kris mengusap telinganya. Suara Luhan cukup menggelegarkan gendang telinga. Baru saja mengusap kuping kanan, bagian kiri ditarik oleh Sehun.

“Katakannya juga padanya, kalau Nyonya Kim belum ada rencana menikah sampai umur 50. Wanita itu sedang main-main sekarang.” Sehun menjulurkan lidah saat Luhan memelototinya.

Wajah Kris memerah kesal.

“Hei! Aku bukan kabel telepon jadul! Kalau kalian ingin ribut, sana cari kasur—bukan, lapangan! Sudahlah, aku harus pergi. Ada pekerjaan lagi. Aku akan kembali, tidak lama, sampai jumpa kalian berdua.”

Kris pergi tanpa menoleh. Luhan tidak bisa membaca sikap sahabatnya itu. Suara Kris memang terdengar keras dan marah, tetapi ada nada bercanda di sana. Apa dia sengaja meninggalkan Luhan dan Sehun berdua? Picisan.

Keheningan terasa lagi. Tidak adanya Kris membuat Luhan canggung. Dia mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa apa-apa tanpa Kris. Apa yang harus dilakukannya sekarang?

“Kau sehat?”

Sehun yang pertama kali bertanya. Luhan hanya mengangguk dengan gerakan cepat. Suasana canggung ini mencekiknya.

“Sudah makan?” lagi, hanya anggukan.

“Luhan,” dia bisa merasakan kalau Sehun tengah memperhatikannya, mata Luhan jelalatan ke segala arah. “Jangan membuatku ngobrol sendirian—”

Luhan menetapkan hati. Dia harus meminta maaf dengan benar sekarang. Masalah bisa cepat selesai. Tapi masalahnya, bagaimana minta maaf yang benar? Dia tidak pernah sungguh-sungguh melakukan itu pada orang lain. Sehun memang terlihat seolah-olah mereka tidak punya masa lalu yang buruk, tapi Luhan tahu kalau Sehun ingin menyimpan itu sendirian. Terkubur di dasar paling dalam di hatinya. Kenangan buruk, beserta Luhan di dalamnya.

“—jangan membuatku seperti orang bodoh—“

“Sehun,” Luhan memotong kalimatnya, “ada yang ingin aku lakukan kalau kita bertemu.”

“Ya?” Sehun menggeser bokongnya lebih dekat pada Luhan, soalnya suara laki-laki itu semakin lama semakin mengecil.

Luhan memainkan jarinya, “aku selalu ingin minta maaf padamu. Tapi bukan minta maaf yang biasa. Aku ingin melakukan itu dengan benar. Kalau saja ada sesuatu yang bisa kulakukan untukmu katakan saja. Aku akan melakukan apapun untukmu, Sehun.”

Sehun terdiam. Luhan yakin dia sedang kembali berenang di kenangan buruknya. Jadi Luhan tidak akan menuntut respon atas pernyataannya. Semua kembali lagi pada Sehun. Pilihan ada di tangannya, memilih memaafkan Luhan atau tidak. Semoga yang dipilih opsi pertama. Luhan berharap—kalau bisa, mereka bisa kembali seperti dulu. Meski sulit memang.

“Luhan, apa kau ingin mendengar ceritaku?” kata Sehun,tersenyum lemah, “tapi setelah kau mendengarnya, kuharap kau tidak berpikir buruk tentangku. Ini hanya cerita enam tahun lalu dan sekarang semuanya sudah berubah. Ada suatu hal yang dari dulu ingin kusampaikan padamu tapi tidak bisa. Hal itu terus mengganjal dalam hati kalau tidak dikeluarkan.”

Luhan menghela napas, hatinya masih tidak karuan.

“Tentu saja, aku sudah bertekad untuk tidak berpikir buruk tentangmu. Menyelesaikan masalah di antara kita dan kemudian menjadi teman baik seperti dulu.”

Sehun tertawa ringan. “Kurasa akan sulit untuk kembali berteman.”

“Ke-kenapa?” kerongkongan Luhan terasa kering dan menyakitkan, “apa kau tidak memaafkan aku atas semua itu?”

“Bukan, tidak seperti itu.”

“Lalu?”

Sehun menyenderkan punggungnya ke bangku kayu. “Kau itu cinta pertamaku, Luhan.”

“Semenjak kita berteman aku selalu merasa nyaman di dekatmu. Aku tahu itu perasaan yang salah karena kita sama-sama lelaki. Tapi aku tahu jelas perasaan itu adalah cinta yang sebenarnya. Pertemanan dan norma masyarakat menjadi dinding penghalan bagiku untuk bisa menyatakan perasaanku. Kau juga pasti akan jijik mendengar hal itu, tapi percayalah Luhan aku tidak main-main sama sekali. Dan ketika kau meninggalkanku saat itu aku tidak tahu lagi harus bagaimana tanpamu. Aku selalu ingin membencimu tapi tidak bisa. Yeah, itu hanya cerita enam tahun lalu, sekarang semua sudah berubah. Bukan berarti aku bisa menyukai seorang wanita. Hanya saja, selama enam tahun aku berusaha keras melupakanmu. Apa ini terdengar seperti pernyataan cinta yang menyedihkan?”

Itulah hal terakhir yang Sehun katakan sebelum mereka berpisah karena panggilan pekerjaan.

“Jadi jangan pernah merasa bersalah padaku lagi.”

Sejujurnya, Luhan sama sekali tidak terkejut pada pernyataan cinta Sehun—yang terlambat enam tahun. Meski orang itu menyatakan perasaannya toh itu sudah berlalu. Perasaan Luhan menjadi kacau sendiri. Apa berarti masalah mereka sudah selesai? Semudah itu? Kalau begitu apa gunanya Luhan melarikan diri selama enam tahun?

Tidak. Bukan ini yang Luhan harapkan.

Karena itulah dia membawa dua minuman dingin di tangannya. Satu untuknya dan untuk Sehun. Tidak seberapa memang, tapi dia akan terus melakukan hal sepele begini sampai dia menemukan apa yang sebenarnya dia harapkan.

“Untukmu,” Luhan menyodorkan kaleng berisi ketika Sehun keluar dari kamar ganti. “Pakaian yang bagus, semoga sukses pemotretannya.”

“Baru pertama kali aku mendengarmu basa-basi,” Sehun tersenyum, meraih minuman kaleng yang diberikan Luhan. “Terima kasih.”

Sehun langsung bergegas pergi, tapi sebelum itu, Luhan menarik tangannya. Sehun bertanya melalui mata, Luhan menggigit bibirnya. Sesuatu seperti gejolak terus bergemuruh di relungnya.

“Sehun, bisakah kau tidak usah mengucapkan terima kasih kalau aku melakukan sesuatu untukmu?”

Sekarang laki-laki itu berbalik, berhadap-hadapan dengan Luhan. “Kenapa?”

“Itu hanya hal kecil.”

“Hal kecil buatmu tapi besar untukku. Luhan, kita sudah membicarakan ini tadi. Kau tidak perlu merasa bersalah padaku. Kalau kau melakukan sesuatu karena hal itu, segera hentikan.”

Luhan mendesah pelan, “entahlah Sehun, aku tidak mengerti. Semenjak obrolan kita tadi, ada yang masih mengganjal pikiranku.”

Sehun mencondongkan badan sehingga wajahnya dan Luhan hanya berjarak beberapa senti. Luhan sedikit memundurkan langkahnya, napasnya terhenti seketika.

“Apa setelah aku menyatakan perasaanku, kau jadi menyukaiku?” senyum jahil menghiasi wajah tampannya.

Minuman kaleng di tangan Luhan digunakan sebagai pemukul. Sehun meringis mengusap perutnya. Tapi setelah itu dia malah tertawa dan mengusap kasar rambut Luhan.

“Ya, seperti itulah Luhan yang kukenal. Kasar dan suka main pukul. Aku sempat merinding kau basa-basi tadi,” Sehun sekarang benar-benar akan pergi, “sampai ketemu nanti.”

Dan dia pun pergi. Luhan hanya terdiam tidak bergerak dari tempatnya. Mereka akan bertemu nanti, kan? Seperti kata Sehun sebelum pergi. Luhan akan menunggu saat itu. Entah kenapa, dia sangat ingin bertemu Sehun. Dibalik perasaannya yang ketakutan selama enam tahun, dalam hatinya dia selalu ingin bertemu Sehun. Dia merindukan teman baiknya di SMA.

Mengingat pekerjaan membuatnya bergerak dari sana. Banyak yang harus dia kerjakan. Salah satunya menarik kembali surat pengunduran dirinya. Mungkin Luhan akan tetap di sana selama beberapa waktu. Sambil berjalan dia memikirkan Sehun.

“Apa Sehun masih ingat markas kecil di belakang gedung sekolah?” batinnya geli.

“Kau ingin main ke rumahku selesai bekerja besok?”

Baru beberapa barang yang dimasukan Sehun ke dalam tasnya ketika Luhan menghampiri. Dia menatap Luhan sebentar, menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, kemudian segera memasukan barang yang tersisa. Sekarang dia menatap Luhan kembali. Luhan tidak mengerti entah kenapa dia harus melirik ke arah lain dulu sebelum bicara pada Sehun. Efek lama tidak bertemu, huh?

“Ayo kita buka kapsul waktu saat SMA dulu, kebetulan aku menyimpannya.”

“Kau mengambilnya dari markas kita?”

Luhan berbinar Sehun mengingatnya. “Ya, aku mengambilnya satu tahun yang lalu karena sekolah akan dibongkar.”

Sehun tampak menimbang. Dilihat dari raut wajahnya, mungkin Sehun tidak bisa.

“Maaf Luhan, hari itu tidak bisa. Aku ada fansign,”—benar, kan. Wajar saja, Sehun adalah anggota EXO, boyband terkenal di Korea. Sibuk bukan lagi hal baru. Tapi tetap saja Luhan menginginkan Sehun untuk melihat kapsul waktu mereka bersama. Dia menundukkan wajahnya, baru mendongak ketika Sehun berdeham. “Ini untukmu, kalau ingin datang.”

Di tangan Sehun ada selembar kertas—tiket fansign EXO. Luhan pernah mendengar hal ini dari staf gadis. Jaraknya juga tidak terlalu jauh dari tempat kerja.

“Pasti yang datang perempuan semua,” Luhan tidak mengambil tiket itu.

Dia tidak mau datang ke acara yang isinya hanya gadis remaja. Pasti berisik. Dan mereka semua akan menatap Luhan dengan pandangan curiga. Kenapa laki-laki datang ke fansign boyband? Katakanlah Luhan orang jadul. Dia hanya tidak terbiasa.

“Kami juga punya fanboy, kok,” suara Sehun terdengar seperti bujukan.

Luhan mengangkat bahu. Dia hanya merasa risih kalau datang ke acara seperti itu. Dia kembali memundurkan langkahnya ketika Sehun mendekat. Aroma maskulin mencemari hidung. Meski begitu, ada aroma lain di sana. Aroma Sehun. Aroma yang berbeda dari yang lain. Luhan sedikit terlonjak, tangan Sehun masuk ke dalam kantong celana jinsnya. Lama di sana, Sehun melirik Luhan sebentar sebelum mengeluarkan tangannya.

Kenapa Sehun membuatnya seperti ini?

Dia merogoh kantong itu, di sana ada selembar kertas. Tanpa dilihat, Luhan juga tahu Sehun tadi memasukan tiket fansign-nya ke dalam saku. Hanya saja cara Sehun yang tidak biasa membuat Luhan kaget sendiri.

“Datanglah kalau sempat,” Sehun segera menghampiri teman EXOnya sudah menunggu di pintu keluar studio dari tadi.

Ketika Sehun sampai di pintu, Luhan memanggilnya, sedikit berteriak agar dia mendengar.

“Sehun, berikan aku nomor ponselmu.”

Sehun melambaikan tangannya, “kau sudah punya. Kris waktu itu yang meminjam ponselku. Sampai ketemu besok Luhan.”

Semua jelas ketika pintu studio tertutup.

Sampai di rumah Luhan tidak langsung tidur seperti biasanya. Dia hanya terlentang di sofa, tiket dibolak-balik di tangannya, matanya tidak fokus ke sana. Dia sedang memikirkan untuk datang atau tidak. Sempat terbesit ingin mengajak Kris tapi pasti laki-laki itu langsung menolak mentah-mentah. Kalau Luhan mengajaknya ke fansign girlband pasti dia mau. Dasar.

Apa Sehun benar-benar menginginkannya untuk datang? Jika ya, berarti Luhan harus mengabulkan keinginan itu. Memang Sehun tidak memaksanya tetapi dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melakukan apapun buat Sehun.

Pada akhirnya Luhan tertidur dengan tiket dalam genggamannya. Dia tidak bermimpi buruk lagi. Syukurlah.

Hari berikutnya Luhan hanya bekerja setengah hari. Dia juga sudah minta izin pada Nyonya Kim. Tidak hanya dia yang izin, banyak staf wanita yang lain juga. Itu cukup membuat Nyonya Kim stres bukan main.

“Pergilah kalian semua! SMTEEN bakal ditutup kalau kalian begini terus!”

Baru pertama kali Luhan merasa iba pada atasannya itu.

Selesai memgambil gambar beberapa model, Luhan membereskan barang-barangnya, para staf wanita pergi bersama menuju tempat fansign yang akan dilaksanakan. Luhan sengaja berlama sedikit agar tidak pergi bersama mereka. Malu, kan? Dia baru keluar dari gedung 15 menit setelah staf wanita di sana. Dia akan naik bus. Tidak, nanti ketahuan. Taksi? Ya taksi!

Begitu taksi lewat, langsung diberhentikan. Luhan masuk ke dalam taksi, berbincang sebentar dengan supir tua dan roda berputar menuju tempat fansign dilaksanankan.

Jantung Luhan memburu tidak sabaran. Maklum, baru pertama kali dia ikut fansign. Apa yang biasa dilakukan saat fansign? Tentu saja bagi-bagi tanda tangan. Luhan akan meminta tanda tangan Sehun saja. Dia tidak kenal dengan member EXO yang lain, kenal nama sih iya, maksud Luhan kenal secara pribadi. Sesekali Luhan berpapasan dengan member EXO di tempat kerja dan Luhan di sapa. Mereka bukan orang yang buruk.

Ngomong-ngomong, dia tidak punya photobook atau album EXO yang bisa dibubuhi tanda tangan. Dia melupakan hal penting saat fansign. Apa nanti akan ada yang menjualnya?

Hanya beberapa menit Luhan sampai di tempat yang akan berlangsung fansign. Di sana hanya ada sebuah bangunan satu lantai. Lumayan lebar untuk diisi oleh fans EXO. Mata Luhan mencari-cari penjual merchandise. Ada banyak stand yang berdiri di dekat lokasi. Luhan mendatangi salah satunya. Ramai sekali di sana. Tidak sengaja Luhan menabrak seorang gadis setelah selesai membeli photobook.

“Maaf, kau baik-baik saja?”

Gadis itu pendek, dia juga masih pakai seragam. Bolos, huh?

“Aku tidak apa-apa, terima kasih.”

“Baguslah, aku pergi du—“

“Tunggu,” gadis itu meraih tangannya, “apa kau datang untuk fansign? Kau fanboy EXO?”

Luhan mencoba terdengar ramah di suaranya, “ya, aku sangat ngefans EXO.”

“Siapa kesukaanmu di EXO?” mata gadis itu berbinar.

Luhan paham pola ini. Basa-basi fangirl. Mereka akan berteman dengan orang yang memiliki kesukaan yang sama.

“Se—“ Luhan tersentak sebentar, “—Chanyeol. Dia kesukaanku.”

Maaf, Chanyeol, siapapun kau. Dimana pun kau berada. Luhan sudah berbohong memilihmu.

“Benarkah? Aku juga suka dia! Apa kau suka ChanBaek couple?”

“A-apa? Couple?”

Gadis itu mencibir ketidaktahuan Luhan. Penjaga pintu tempat fansign memberi sinyal kalau mereka sudah boleh masuk. Gadis itu pergi begitu saja meninggalkan Luhan. Dia juga tidak peduli. Anak remaja jaman sekarang etikanya buruk ternyata.

Begitu masuk ke dalam ruangan, di sana sudah tertata rapih kursi untuk fans. Meja persegi panjang berada di paling unjung ruangan. Itu untuk anggota EXO nanti. Luhan pernah melihat seperti ini di yutub.

Dalam tiket terdapat nomor bangku. Luhan tidak senang ketika dapat bangku paling depan. Dia jadi terlihat jelas, baik oleh fans EXO atau Sehun. Apa Sehun sengaja? Menyebalkan. Dia pun duduk di kursi itu. Menggeliyat tidak nyaman ketika gadis yang kurang ajar padanya tadi duduk di sebelahnya.

Gadis itu menatap Luhan sebentar, lalu menjulurkan tangannya.

“Kurasa kita akan terus bertemu, namaku Kang Seulgi.”

Luhan menyambut singkat. “Luhan.”

Kemudian mereka terdiam. Luhan sibuk memainkan ponselnya, Seulgi ngobrol pada fangirl yang lain. Baguslah, dia tidak akan mengganggu. Luhan mengernyit saat Seulgi berteriak. Gadis itu dan temannya membahas sesuatu seperti ‘Chanyeol menurunkan resleting Baekhyun’.

MC mulai membuka acaranya, dia terlihat sok asik di mata Luhan. Beberapa menit kemudian dia sudah lupa siapa nama MC itu.

Para fans yang lain bersiap untuk melakukan fansign. Mereka semua mulai berdiri dan berbaris, Luhan mengikuti. Sesampainya di meja EXO, Luhan berkali-kali membungkukan badan minta maaf karena tidak menginginkan tanda tangan mereka. Semua anggota EXO dilewatinya, termasuk Chanyeol—‘kesukaan’ Luhan. Tiba di bagian paling ujung akhirnya di sana ada Sehun. Dia segera mendorong photobooknya ke arah teman baik jaman SMAnya itu.

“Ternyata kau datang,” Sehun membuka photobook baru milik Luhan. “Kau ingin aku menulis apa di sini?”

“Apa saja,” kata Luhan.

Sehun nyengir jahil, “jadi, siapa namamu?”

“Luhan,” seolah mengerti ke arah mana pembicaraan Sehun. “Oppa, bisakah kau tulis ‘aku mencintaimu, Luhan’ di photobook-ku? Di atas fotomu.”

Jemari Sehun terhenti, dia tidak menatap Luhan melainkan sedang berpikir. Luhan jadi penasaran apa yang dipikirkan Sehun. Apa dia salah bicara tadi?

Baru saja Luhan ingin bertanya apa ada yang salah, Sehun kembali menulisi photobook-nya. Senyum jahil kembali menghiasi wajah tampan sang idol ketika dia mengembalikan buku itu pada Luhan. Karena antrean di belakanya makin panjang, Luhan memutuskan kembali ke tempat duduknya, nanti saja dia bertanya pada Sehun.

Setelah duduk nyaman, Luhan membuka photobooknya. Dia ingin melihat tulisan dan tanda tangan Sehun. Darah Luhan langsung naik ke ubun-ubun begitu membaca.

“Luhan, wajahmu seperti rusa betina.”

Itulah yang tertulis di sana. Ingin rasanya Luhan membanting photobooknya itu.

“Katamu kesukaanmu Chanyeol,” Seulgi sudah kembali, dia cemberut menatap Luhan. “Dasar tidak setia.”

Jadi Seulgi melihatnya tadi. Maaf saja, Chanyeol bukan siapa-siapa untuk bisa mendapatkan kesetiaaan Luhan.

Luhan tidak merespon sikap Seulgi padanya. Dia terlalu fokus memperhatikan Sehun, padangan sebalnya runtuh. Dia melihat Sehun bersikap ramah pada fansnya, Sehun juga sering memberi senyum. Luhan bersyukur dalam hati kalau Sehun baik-baik saja.

Sekarang MC menjelaskan acara selanjutnya. Hanya sekedar bagi-bagi hadiah pada fans. Secara mengejutkan Luhan mendapat topi dari Kai. Warnanya biru tua. Kebetulan dia suka warna biru. Selain itu, Seulgi juga dapat hadiah jepitan dari Suho.

Pekerjaan hari ini berjalan sama dengan hari sebelumnya. Luhan hanya perlu memotret model lalu selesai. Yang paling sibuk memang Kris karena itulah Luhan menunggunya di luar ruang editor, duduk di kursi tunggu. Topi dari Kai dia taruh di rumah. Takut kalau dipakai kemana-mana malah hilang. Ternyata benda dari idol punya nilai tinggi juga.

“Hei.”

Luhan mendongak, matanya menyipit memastikan siapa yang memanggilnya. Ternyata itu Kai. Laki-laki tinggi itu berlari menuju arahnya.

“Kau tahu aku kan?” tanya Kai.

“Mana bisa aku tidak tahu kau kalau wajahmu di jalan selalu muncul,” Dia sedang tidak minat diganggu.

Kai hanya tertawa. Dia mengambil posisi duduk di sebelah Luhan. Kakinya kanannya ditaruh di atas kaki kiri.

“Kau masih simpan topi dariku?”

Luhan agak terkejut ternyata Kai mengingatnya, Luhan menjawab, “masih.”

“Kau temannya Sehun, kan?” kata Kai. “Aku selalu melihatmu bersama dengannya, siapa namamu?”

Tidak apa-apa kan kalau dia berkata jujur?

“Aku temannya waktu SMA, Luhan.”

“Teman SMA ya,” perkataan Kai mengambang di udara. “Apa kau tahu berita panas baru-baru ini?”

Luhan hanya menggeleng, dia jarang menonton televisi. Begitu sampai rumah dia langsung tertidur. Melewatkan makan malam sehingga dia bisa sekurus itu.

“Ada rumor Sehun seorang gay,” kata Kai tenang, Luhan nyaris mengumpat. “Ada  seseorang yang mengaku teman SMA-nya yang membeberkan ke media. Aku tidak tahu pasti siapa orang itu karena kami juga sedang mencarinya, berharap dia menyebarkan rumor palsu. Ini sangat penting bagi karir Sehun. Luhan, apa kau tahu sesuatu?”

Kejadian enam tahun lalu seolah tidak pernah berakhir baginya, begitu juga untuk Sehun. Pasti para berandal itu yang membocorkannya. Apa yang berandal itu inginkan dari Sehun? Dia bisa mengambil apapun milik Luhan sekarang. Asal jangan Sehun. Temannya sudah cukup menderita. Astaga. Luhan ingin menangis sekarang. Dia ingin menyelamatkan Sehun. Harus.

“Luhan—“

Pintu ruang editor terbuka, kepala Kris muncul dari sana. Dia menengok ke arah Luhan dan menyapanya. Tidak lupa juga menyapa orang di sebelah Luhan. Kris memang selalu seperti itu sejak dulu.

Apa Kai tahu Kris juga teman SMA Sehun? Luhan meneguk ludah. Dia harus menutup mulut Kris apapun yang terjadi.

“Aku sepertinya melewatkan sesuatu—“

“Kris,” Luhan segera menyambar lengan temannya begitu Kai bangkit untuk memberi salam. “Maaf Kai, aku harus pergi ke rapat penting bersama Kris. Sampai jumpa.”

Sepanjang koridor Luhan menarik tangan Kris. Mengabaikan orang di sekitar mereka berbisik. Luhan tidak peduli. Dia harus mencari tempat sepi untuk bicara. Tidak ada seorang pun yang boleh curi dengar. Sepanjang perjalanan Kris menuntut penjelasan, Luhan berpura-pura tidak mendengar. Tidak Kris, tidak sekarang. Mata Luhan menangkap ruang busana. Seharusnya di sana sepi saat jam makan siang.

Didorongnya pintu itu, dilihat sebentar ternyata kosong, dia membiarkan Kris masuk lebih dahulu baru dirinya. Luhan menutup pintu, tapi tidak dikunci. Pintu itu ditahan dengan menyenderkan punggungnya di sana.

“Sekarang sudah mau cerita?” tuntut Kris.

“Aku akan memintamu melakukan sesuatu untukku. Ini permintaan sekali seumur hidup.”

Kris menyilang tangan, menunggu Luhan berbicara lagi.

“Kumohon. Kalau ada seseorang bertanya padamu ‘apakah kau teman Sehun waktu SMA’ atau ‘apakah kau dekat dengan Sehun’ jawab saja kau tidak tahu apa-apa mengenainya.” Luhan mengakhiri kalimatnya dengan cepat.

“Tanpa kausuruh pun aku akan melakukan itu,” Kris menatap kakinya, “aku sudah lihat beritanya di televisi semalam. Kasihan benar Sehun itu.”

Napas Luhan terdengar lebih tenang dari sebelumnya. Untunglah dia kenal dengan Kris. Pria yang baik sebenarnya, hanya mulut tajamnya saja yang harus diperbaiki.

“Kau punya petunjuk siapa yang melakukan itu?” tanya Kris.

Lagi, Luhan hanya menggeleng. Dia benci ketidaktahuannya. “Tapi firasatku mengatakan, berandal itu yang melakukannya,” katanya tajam.

“Berandal?” alis Kris naik satu.

“Cho Khyuhyun,” ada nada jijik saat Luhan menyebut nama itu. Dia segera mengeluarkan ponselnya mencari kontak telepon. “ Dan teman-temannya yang tidak berguna itu. Aku akan mencari orang itu, nanti. Sekarang aku harus menghubungi orang yang kenal dengan Sehun. Temannya waktu tahun pertama, kedua, dan ketiga, menyuruh mereka tutup mulut dan—“

“Luhan,” Kris memotong, mengenggam erat kedua bahu Luhan. “Kendalikan dirimu.”

Kris menyadarkannya. Emosi mengerumungi Luhan sejak tadi meninggalkan keringat di keningnya. Bibir Luhan gemetar tidak karuan. Wajahnya memerah menahan gejolak amarah.

“Maaf.”

Luhan ditarik mendekat, satu lengan Kris memeluknya, sesekali menepuk punggung Luhan dengan lembut. Getaran di tubuh Luhan perlahan menghilang. Gejolak emosi pelan mulai buyar. Larut dalam pelukan hangat Kris.

“Tenang saja,” Kris berbisik di telinganya. “Pelan-pelan, oke? Aku akan membantumu menyelesaikan ini.”

“Aku tidak mau Sehun terluka lagi,” Luhan memejamkan mata, keningnya bersandar di bahu Kris.

“Iya, aku tahu.”

“Apa yang harus kulakukan kalau berandalan itu melakukan hal buruk padanya?”

“Tidak ada yang akan kau lakukan karena hal buruk tidak akan terjadi.”

Pintu ruang busana berderit terbuka. Luhan menengadahkan kepala, tapi Kris belum juga melepaskan pelukannya. Luhan jadi tidak bisa tahu siapa yang ada di pintu. Apa dia mendengar percakapan barusan? Kalau begitu tambah lagi satu orang ke daftar ‘yang harus tutup mulut’ miliknya.

“Apa kau mendengar pembicaraan kami?” Kris bertanya, tangannya makin menekan Luhan dalam pelukan. Luhan jadi sulit bergerak. “Letakkan saja baju itu di sana. Kau boleh pergi dan tutup pintunya lagi.”

Pintu perlahan tertutup, Kris melepaskan Luhan sekarang.

“Kau sudah baikan?”

Luhan mengangguk. “Apa orang tadi mendengarkan pembicaraan kita?”

“Dia bilang tidak. Tapi kalau seandainya iya, kau tidak usah khawatir,” Kris mengacak rambut Luhan. “Ayo pergi. Aku belum makan dari pagi.”

Kris menggapai engsel pintu, tapi Luhan menahannya. “Kalau iya justru aku khawatir! Katakan siapa dia, aku harus menyuruhnya tutup mulut.”

Kris mengangkat bahu kemudian membuka pintu. Luhan menantikan jawaban, cemas. Apa orang itu bisa diajak kerja sama?

“Oh Sehun,” katanya sebelum pergi.

Beberapa hari ini Luhan dan Kris disibukan menghubungi teman lama, dan syukurlah respon mereka sangat baik. Lagipula jaman SMA Sehun terkenal pintar dan suka membantu orang lain, tidak mungkin mereka berbuat jahat pada Sehun kecuali Kyuhyun dan kroninya.

“Aku sudah menghubungi Tao, katanya dia akan tutup mulut soalnya dia punya adik yang ngefans Sehun setengah mati.”

Laporan yang diberikan Kris juga cukup memuaskan. Hampir semua kenalan sudah dihubungi tinggal para berandal. Luhan tidak punya kontak mereka. Pokoknya dia bisa tenang sementara. Rumor itu masih hangat-hangatnya dibicarakan, tapi belum ada bukti yang pasti kalau Sehun benar-benar gay. Luhan tersenyum rencananya lancar.

Sekarang mereka berada di kafe tidak jauh dari tempat kerja.

“Cho Kyuhyun tidak ada dimanapun,” Luhan menghirup tehnya. “Aku sudah menghubungi wali kelasnya dulu dan meminta kontak Cho Kyuhyun, nomornya tidak aktif. Alamat pun sudah berganti.”

Kris malah tersenyum geli.

“Apa?” Luhan jengkel.

“Rasanya seperti main detektif-detektifan. Kita cari pelaku lalu menangkapnya,” kata Kris riang. “Kita tidak pernah begini. Dulu kau selalu bermain dengan Oh Sehun.”

“Aku mengajakmu main kok,” Luhan membela diri. “Kau saja yang terlalu sibuk main dengan para gadis.”

“Gadis mana? Hei!” Luhan mencuri kue terakhir Kris. “Jangan makan kue—eh, Sehun, sini-sini!”

Luhan menoleh saat Sehun menghampiri mereka dengan wajah bingung. Luhan langsung buang muka. Sejujurnya beberapa hari kemarin laki-laki itu mengabaikan Luhan. Ketika Luhan ingin mengajak ke rumahnya, Sehun bilang sedang ada acara bersama EXO, tapi Kai yang bilang sendiri kalau mereka tidak ada acara selama seharian itu. Belum lagi kemarin mereka di ruang studio berdua, Sehun menghindari mata Luhan.

Luhan terlalu sibuk untuk bertanya kenapa Sehun menghindarinya. Dia jadi hanya terfokus menghubungi teman lama.

Sehun tiba dan duduk di sebelah Kris.

“Nah, Sehun,” Kris merangkul laki-laki itu. “Luhan bilang padaku kalau aku dekat dengan gadis saat SMA. Pacar saja tidak punya!”

Sehun hanya tersenyum canggung. Luhan mendesis kesal padanya.

“Kalian marahan?” tanya Kris.

“Tidak.”

“Iya.”

Sehun melotot pada Luhan. “Kenapa kau marah padaku?”

“Kenapa, ya?” Luhan tidak mau menjawab. “Tanya saja pada Kris yang bergoyang.”

Kris cemberut, dia mulai berdiri dan menggoyangkan pinggul menjijikan. “Sehunnie, apa yang ingin kau tanyakan padaku?”

Sehun mendorong bokong Kris kasar, setelahnya dia tertawa lepas. Itu membuat Luhan makin kesal. Baru kemarin kau menghindariku Oh Sehun, sekarang kau malah tertawa.

“Aku akan mengadakan jumpa pers lusa. Terkait rumor itu.”

Luhan dan Kris menoleh ke arahnya bersamaan. Sehun menunduk sambil tersenyum.

“Aku tahu kalian mengkhawatirkanku, terima kasih. Teman lamaku baru kemarin menghubungi kembali, kata mereka, kalian membantuku.” Sehun berdiri, membungkuk singkat, “sekarang aku harus pergi. Sampai nanti.”

Sehun pergi begitu saja, dia terlihat terburu-buru, wajar, masalah besar menderanya. Luhan kembali pada tehnya, menebak-nebak kenapa Sehun menghindarinya. Karena idol itu memang banyak masalah. Dia tidak boleh marah pada Sehun karena hal sepele. Ia akan kembali bicara pada Sehun nanti. Kalau ada kesempatan.

“Ah, ponsel Sehun,” Kris mengambil ponsel putih di atas meja. “Ceroboh sekali dia.”

“Biar aku saja yang kembalikan,” Luhan merebut ponsel itu.

Kecerobohan Sehun jadi kesempatan buat Luhan. Dia akan menggunakan itu sebagai basa-basi agar Sehun mendengarkannya.

Segera Luhan membereskan mejanya, memasukan barang ke dalam tas. Setelah mengecek tidak ada yang tertinggal dia bangun dari kursi, berharap Sehun belum pergi jauh.

“Sekarang?” Kris menatap bingung Luhan.

Tapi Luhan tidak menjawabnya. Dia hanya pergi, meninggalkan Kris yang memasang wajah kecewa.

Di luar kafe mata Luhan tidak berhenti melirik ke segala arah, tapi dia tidak menemukan Sehun dimanapun. Ponsel Sehun di tangannya bergetar tanda panggilan masuk. Butuh waktu beberapa lama untuk Luhan mencerna nama yang tertera di sana.

Cho Kyuhyun.

Itu benar-benar dia, kan? Bajingan itu. Kenapa dia menghubungi Sehun? Apa mereka sudah berhubungan sejak lama? Apa dia mengancam Sehun? Brengsek.

“Luhan?”

Suara berat mengagetkannya, buru-buru dia masukan kembali ponsel itu ke dalam saku. Badan Luhan gemetar hebat antara kaget dan marah. Dia menoleh ke belakang, ke asal suara, di sana dia menemukan Sehun.

“I-iya?”

Sehun mendekat, Luhan mengeratkan ponsel Sehun di dalam sakunya.

“Kau lihat ponselku?” Sehun menggaruk kepalanya, “aku menghilangkannya barusan. Apa tertinggal di kafe, ya?”

Tentu saja ponsel itu ada pada Luhan. Etikanya, kalau kau menemukan barang orang lain harus dikembalikan. Tapi Luhan singkirkan etika itu untuk sementara. Dia butuh ponsel Sehun agar bisa menghubungi Kyuhyun, menyuruhnya menghentikan semua ini.

“M-mungkin,” Luhan tidak biasanya tergagap seperti itu.

Tangan Sehun mengusap pelan kening Luhan, “kau demam? Wajahmu pucat sekali.”

“Tidak,” Luhan menepis kasar tangan Sehun. Suasana hatinya tidak karuan sekarang. “Aku harus pergi sekarang.”

Sebelum benar-benar pergi lengannya ditarik Sehun. Ada paksaan dalam genggaman itu, seolah-olah Luhan akan pergi jauh. Benar-benar jauh dan sangat lama.

“Kau marah karena aku menghindarimu?” Sehun bertanya, membawa Luhan tenggelam dalam matanya. “Ingin tahu alasannya?”

Tidak. Sekarang bukan itu masalah yang terpenting. Memang Luhan sempat marah tapi sudah tidak lagi. Dia hanya sedang emosi. Luhan ingin sendirian dan mengurus berandal yang menganggu Sehun. Luhan berusaha meronta, harusnya Sehun melepaskan tangannya.

“Biarkan aku pergi,” suara Luhan mendingin, datar, dan menusuk.

Sehun tidak melakukan itu.

“Oh Sehun kuperingatkan kau,” Luhan menelan ludahnya. “Jangan mengangguku.”

Butuh waktu lama untuk Sehun melepaskan tangannya. Laki-laki itu menatap Luhan sebentar, sangat dalam, Luhan tidak mengerti tatapan itu. Perlahan tangannya dilepas.

“Apa menurutmu aku ini penganggu?”

Luhan mengacak rambutnya frustasi. “Aku sedang kesal! Kenapa semua orang mengangguku?!”

“Termasuk Kris?”

“A-apa? Tidak, Kris banyak membantuku.”

Sehun mengangkat bahunya, langsung pergi meninggalkan Luhan. Dia juga tidak ingin memanggil Sehun kembali. Nanti dia bisa minta maaf. Yang terpenting adalah menyelesaikan masalah dengan Cho Kyuhyun.

Di tempat kerja Sehun mengabaikannya lagi. Jelas sekali. Tapi bukan itu yang sedang dipusingkan Luhan. Bagaimana dia akan menghubungi Kyuhyun? Berandal itu adalah yang paling menakutkan saat SMA. Dia ingin sekali mengajak Kris kalau bisa, tapi dia tidak mungkin merepotkan temannya lagi. Masalah ini memang harus dia selesaikan sendiri.

Tinggal beberapa jam lagi sebelum Sehun jumpa pers dan ponselnya masih di tangan Luhan. Dia sudah memegang nomor Kyuhyun tapi tidak tahu cara mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya. Tidak mungkin dia bilang ‘Sehun ternyata ponselmu ada di kantongku kemarin.’

Apalagi selama seharian ini Kyuhyun terus menelepon. Luhan tidak bisa mengangkatnya. Matanya langsung melotot begitu dapat SMS dari berandal itu.

“Apa kau mengabaikan ancamanku? Perhatikan Oh Sehun, aku akan tetap menunggumu sebelum jumpa pers dilaksanakan. Dan ada pergantian lokasi kita bertemu nanti. Jangan sampai lupa dan jangan bawa siapapun bersamamu. Bawa saja apa yang aku inginkan.”

Darahnya kembali naik ke atas kepala. Ternyata dugaannya benar. Orang itu mengancam Sehun. Ini tidak bisa dibiarkan. SMS keduapun masuk, tangan Luhan gemetar membuka pesan, isinya hanya lokasi pertemuannya yang sudah diganti.

Pasti Sehun tidak tahu karena ponselnya ada pada Luhan. Apa ini berarti Luhan yang harus menemui Kyuhyun? Jika itu yang diperlukan dia harus ke sana. Setidaknya dia akan melindungi Sehun saat ini dan menebus kesalahannya enam tahun lalu. Apa ini yang Luhan harapkan waktu itu?

Menyelamatkan Sehun dan mengenyahkan Kyuhyun.

“Kau mau kemana? Hei!”

Luhan berlarian di koridor, teriakan Kris dia abaikan. Setelah keluar dari gedung dia segera memberhentikan taksi menuju lokasi. Tempatnya lumayan jauh. Setelah mencari di gugel, tempat pertemuan mereka adalah sebuah gudang penyimpanan mobil bekas di pinggir kota. Tipe kriminal jaman sekarang menggunakan tempat itu untuk melakukan kejahatan mereka. Termasuk Kyuhyun.

Kaki tidak berhenti menghentak lantai taksi. Dalam hati Luhan takut sebenarnya. Tapi rasa amarah menutupi rasa takut itu. Pikiran negatif mengurubungi otaknya. Kyuhyun mengharapkan Sehun yang datang dan jika dia melihat Luhan apa yang akan terjadi? Apa Luhan akan dibunuh karena dianggap pengganggu?

Tidak. Jauhkan pikiran aneh itu. Luhan anak yang kuat. Dia pernah ikut karate jaman SMA, meski sedikit masih tersisa kemampuannya. Tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja.

Taksipun berhenti. Luhan segera membayar dan taksi itu pergi. Sedikit kehilangan sebenarnya. Dia berharap supir taksi tadi tetap di sini dan akan menghubungi polisi kalau-kalau terjadi sesuatu pada Luhan.

Sebuah gudang tua berdiri di depan Luhan. Dia yakin itu tempat pertemuan mereka, antara dia dan Kyuhyun. Perlahan tapi pasti Luhan memasuki gudang itu. Seperti gudang pada umumnya. Kotor, berdebu, tidak terurus, dan banyak sarang laba-laba. Yang membedakan hanya karena gudang itu tempat penyimpanan mobil lama.

Sejenak Luhan kagum. Banyak mobil tua di sana. Kalau Donghae melihat ini pasti dia akan merengek minta dibelikan satu.

“Oh Sehun?”

Luhan mematung. Ada orang lain selain di sini? Oh, tentu saja ada.

“Cho Kyuhyun,” kata Luhan, berbalik. “Sayang sekali bukan Sehun yang datang.”

Dia mendapati tiga orang menghampirinya. Luhan tidak kenal dua orang yang lain yang berbadan besar. Dia hanya tahu Kyuhyun ada di tengah. Apa mereka kroni barunya? Menyedihkan. Dia bertanya dalam hati, apa kemampuan karatenya masih sebagus dulu? Akan sulit melawan tiga orang sekaligus kalau mereka ingin berkelahi. Dia bukan Jackie Chan.

“Luhan,” Kyuhyun meludah, “dimana pengecut itu?”

“Kenapa terburu-buru sekali? Apa sikapmu seperti ini pada teman lama?” Luhan sengaja berbasa-basi untuk menghilangkan ketakutannya.

“Kau melindunginya? Kenapa baru sekarang? Yang kutahu dulu kau hanya menonton saat aku memukulinya,” sindir Kyuhyun.

Tangan Luhan terkepal kuat. Dia ingin menghancurkan wajah seseorang sekarang. Siapa yang berhak menerima pukulan pertamanya? Kyuhyun sepertinya pantas.

“Aku tidak ada urusan denganmu. Cepat panggil Sehun ke sini. Aku butuh uang itu.”

Dia memeras Sehun.

“Kau butuh uang?” Luhan berusaha menahan getaran di suaranya.

“Semua manusia butuh uang,” Kyuhyun dan kroninya tertawa. “Jangan berpikiran aneh dulu. Aku dan Sehun sudah sejak SMA melakukan ini. Dia sering jadi dompetku ketika di sekolah dan dimanapun.”

Luhan memejamkan matanya sebentar sebelum berbicara kembali, “dan kenapa kau melakukan itu padanya? Dari sekian banyak orang kaya di sekolah kita dulu.”

Kyuhyun melakukan gerakan konyol. Dia meletakan satu jarinya di bibir, seolah sedang berpikir. Luhan ingin segera menghancurkan wajah itu.

“Kau itu pelupa atau Sehun yang sok heroik tidak ingin memberitahumu?”

“Memberitahu soal apa?”

“Dia melindungimu, bodoh.”

Apa?

Kyuhyun meninggalkan kroninya dan mulai mengelilingi Luhan. Dia sama sekali tidak berkedip, Luhan mengetahui itu dari sudut mata. Kyuhyun memperhatikannya begitu dalam dan menakutkan. Itu membuat Luhan sesak. Apa lagi pernyataan Kyuhyun barusan mencekiknya. Sehun melindunginya dari apa? Atau lebih tepatnya, siapa?

“Luhan, siswa yatim piatu yang sekolah karena beasiswa,” Kyuhyun belum berhenti mengitarinya, “pernah jadi bahan bulian saat kelas satu. Memang hanya sebentar. Pertanyaannya adalah, kenapa orang yang membulimu—aku—tiba-tiba berhenti?”

Luhan ingat sekarang karena kenangan itu pernah ada di otaknya. Dia pernah dibuli tapi hanya beberapa hari, setelah itu tidak ada lagi yang mengerjainya. Apa Sehun melindunginya? Apa Sehun menjadi dompet mereka supaya Luhan tidak dikerjai lagi?

Mata Luhan menajam ketika mengawasi Kyuhyun.

“Kau sudah tahu jawabannya?”

“Lalu,” Luhan menekan suaranya, “kalau hanya masalah uang kenapa kau sampai menyuruhnya ke sini?”

Kyuhyun mengedikkan bahu enteng. “Entahlah, aku hanya kesal melihat wajahnya di televisi. Aku dan dua temanku ingin sekali menghancurkan wajahnya—“

Pukulan di wajah diterima Kyuhyun. Luhan menindih Kyuhyun yang sudah tersungkur, memukul lagi dan lagi berandal itu. Dia memeras Sehun. Kyuhyun berteriak seperti orang gila. Dia ingin menghancurkan Sehun. Kedua teman Kyuhyun menghampirinya. Dia—

Kerah Luhan ditarik ke belakang. Dia berusaha meronta tapi tidak bisa, dua orang yang menahannya. Di depannya sekarang Kyuhyun bangkit, mengelap darah di sekitaran bibirnya. Dia mulai menghantam perut Luhan.

Tidak hanya sekali dua kali. Berkali-kali sampai darah keluar dari mulutnya. Luhan tidak berteriak. Dia hanya berjengit kesakitan. Sekarang Kyuhyun memukuli wajahnya, hidung Luhan juga ikutan berdarah. Sentuhan terakhir Kyuhyun pada korbannya adalah memukul kepala Luhan menggunakan pentungan temannya.

Luhan tersungkur lemas ketika kedua kroni Kyuhyun melepaskannya. Seluruh badannya sakit. Baru pertama kali dia merasakan sekujur tubuhnya panas karena luka. Apa dulu Sehun juga merasakan ini? Luhan memejamkan mata, siap kehilangan kesadaran.

“Sekarang kita pergi saja ke jumpa pers itu, biar Oh Sehun jera bermain-main denganku.”

Dia tidak boleh pingsan sekarang.

“Tinggalkan saja dia di sini.”

Pintu gudang perlahan menutup ketika Kyuhyun dan kroninya pergi. Luhan tidak bisa terus di sini. Sehun sedang dalam bahaya. Dia segera bangkit, menjerit ketika sadar bagian perutnya sangat sakit, kepalanya pusing karena hantaman benda tumpul. Penglihatannya mengabur.

Tidak. Dia tidak boleh mati di sini. Tidak setelah menyelamatkan Sehun.

Tangan memegangi bagian perut yang terasa sakit, yang satunya mendorong lemah pintu gudang. Untung Kyuhyun tidak menguncinya.

Meski sempoyongan Luhan mencari jalan raya terdekat untuk naik taksi menuju tempat diadakannya jumpa pers Sehun. Dia harus cepat. Lebih cepat dari Kyuhyun dan temannya. Begitu sampai di jalan raya, taksi diberhentikan dan dia naik. Setelah selesai menyampaikan alamatnya, Luhan bisa merasakan kepalanya seperti melayang. Telinganya mulai berdengung.

Hal yang ditangkap telinga selama perjalanan adalah. “Sebaiknya kau ke rumah sakit.”

“Tidak,” Luhan terengah. “Kumohon ahjussi, dipercepat saja.”

Beberapa menit setelah itu, ban taksi berdenyit, tanda sudah sampai tujuan. Luhan kebingungan mengeluarkan uanganya. Entah berapa yang dia berikan pada supir taksi itu. Dia segera menuju ke dalam gedung tempat jumpa pers dilaksanakan, mengabaikan supir yang berteriak kalau uanganya kelebihan.

Jumpa pers dilaksanakan di aula besar di lantai satu. Luhan bisa tahu karena mengikuti seorang wartawan yang baru datang.

Darah mulai mengalir sedikit demi sedikit dari kepala Luhan, dia mengabaikan itu, dan juga mengabaikan tatapan orang-orang. Kalau soal Sehun dia siap mengabaikan apapun di dunia ini. Sesampainya di ruang jumpa pers, Luhan dapat melihat dari kejauhan. Di sana berdiri Oh Sehun. Di sekelilingnya banyak kamera wartawan.

Tidak hanya Sehun yang ada di sana. Seorang wanita cantik berambut panjang digandengnya. Mereka berdua terlihat dekat.

“Tentu saja rumor itu tidak benar. Aku tidak mungkin penyuka sesama jenis karena tidak ingin mengecewakan pacarku,” Luhan berkata pada wartawan.

“Apa dia benar-benar pacarmu?”

Sehun dan wanita itu tersenyun malu-malu.

“Maaf sudah merahasiakan ini pada fansku,” Sehun mencium mesra kening wanita itu. “Dan juga maaf pacarku, karena merahasiakanmu dari dunia.”

Pandangan Luhan memerah. Darah sudah deras turun dari kepalanya. Seluruh tubuhnya sakit. Termasuk hatinya. Bukan hati yang ada di perut, tetapi hatinya, sesuatu yang tidak terlihat di dalam dada. Entah kenapa gejolak aneh muncul. Luhan tidak suka perasaan kacau seperti ini. Dia menggeleng kepala, berusaha mengusir rasa aneh itu.

Apa Cho Kyuhyun sudah tiba di sini? Luhan membatin. Apa dia akan mengacaukan jumpa pers itu? Apa aku sudah melindungi Sehun?

Kepala Luhan semakin berat. Akhirnya dia jatuh pingsan. Hal yang terakhir dilihatnya adalah Sehun yang turun dari panggung dan berlari ke arahnya.

Apa wanita itu benar-benar pacar Sehun?

Hal pertama yang dilihat Luhan adalah warna putih. Dia membuka mata lebar-lebar, melirik sekelilingnya, tersadar ternyata dia ada di rumah sakit. Semua lukanya sudah diobati dan diperban. Di menyentuh keningnya, masih terasa sakit sekali di sana.

Di sebelah kasurnya ada orang tertidur dengan posisi duduk.

“Kris?”

Suara Luhan berat sekali. Dia sangat haus.

Perlahan kepala orang itu terangkat, Luhan akhirnya menyadari kalau itu bukan Kris. Itu Sehun. Dia menggigit bibir, salah bicara, memalukan. Dia tidak berharap orang di sana adalah Kris tapi yang Luhan tahu, hanya Krislah yang selalu menemaninya.

“Mau minum?” Sehun tersenyum padanya.

Tanpa menunggu jawaban Luhan, dia mengambil segelas air bening di meja sebelah kasur. Dia membantu Luhan meminum air itu.

“Aku sudah dengar ceritanya dari Kris,” Sehun berkata serius, mencubit pipi Luhan. “Kenapa kau sendirian pergi ke sana? Itu masalahku. Ya Tuhan, kau tidak tahu betapa khawatirnya aku? Kenapa kau selalu membuatku kacau seperti ini?”

“Di sana masih sakit, bodoh,” Luhan, lagi, menepis tangannya. “Cerita dari Kris? Dia bilang apa? Padahal aku tidak menceritakan apapun padanya.”

Sehun menatap kesal Luhan. “Kris. Selalu Kris.”

“Apa, sih?” Luhan lama-lama jengkel dengan sikap Sehun.

Nyengir, Sehun mencubit lagi pipi Luhan. “Dia mengikutimu saat tiba-tiba kau pergi saja dari kantor tanpa pamitan. Ketika sampai di sana dia bertemu dengan Kyuhyun menanyakan keberadaanmu, tapi Kyuhyun malah menantangnya. Jadilah Kris menelepon polisi. Mereka semua dibawa. Begitu Kris ingin menjemputmu di gudang kau sudah tidak ada di sana.”

Bibir Luhan membentuk huruf o.

“Kenapa kau melakukan itu?”

“Aku hanya ingin melindungimu.”

“Melindungiku dari Kyuhyun? Jangan bercanda,” Sehun mendengus, “jangan pikirkan aku. Aku bisa jaga diriku sendiri. Orang sekurus kau ingin melindungiku beginilah akibatnya.” Sehun menunjuk bagian tubuh Luhan yang terluka.

Luhan tidak terima usahanya tidak dihargai.

“Kurasa seharunya aku mendapat ucapan terima kasih bukan omelan.”

“Terima kasih untuk semua lukamu?”

Luhan menggigit bibirnya lagi. “Sudahlah aku tidak mau berdebat.”

“Astaga, aku ingin memelukmu sekarang.”

Baru saja selesai minum, Luhan ingin menyemburkannya ke segala arah.

“Peluk saja pacarmu itu,” malah kata-kata itu yang keluar dari mulut Luhan, berbeda apa yang ada di pikirannya. “Maksudku, kau sudah punya pacar, kan?”

Alis Sehun naik sebelah. “Apa kau tidak tahu seperti apa dunia hiburan itu? Gadis itu berpura-pura jadi pacarku untuk menutupi rumor. Sampai sekarang aku belum bisa menyukai gadis.”

Luhan jadi serba salah ingin merespon bagaimana.

Semua jadi serba membingungkan. Kenapa perasaannya begitu lega sekarang? Ada apa dengannya? Gejolak aneh yang sempat dia rasakan memudar begitu cepat, digantikan tarian kupu-kupu di bagian atas perutnya.

“Apa aku boleh memelukmu?”

“Tidak.”

Jawaban itu keluar tanpa dipikirkan dahulu. Wajahnya, entah kenapa, malah memanas. Dulu Sehun pernah memeluknya tapi hanya sebatas pelukan sahabat biasa. Itu juga pelukan kasar dengan tendangan. Luhan mengutuk dirinya sendiri, harusnya dia menerima saja pelukan Sehun. Toh mereka teman, kan?

“Kau melakukan itu dengan Kris,” Sehun cemberut. “Menyebalkan.”

“A-apa? Kapan aku memeluknya?”

“Waktu kalian di ruang busana. Aku memergoki kalian sedang berbuat yang tidak-tidak.”

Oh waktu itu. Berbuat yang tidak-tidak? Otak Sehun bermasalah sekarang. Lagian waktu itu mereka tidak berpelukan. Menurut Luhan, Kris hanya menepuk pundaknya. Apa mungkin saat itu dia terbawa suasana jadi tidak menyadarinya?

“Yah, itu—“

“Apa?”

“Ah, berisik!” Luhan meringkuk di kasur, menyelimuti seluruh tubuhnya. Dia tidak ingin melihat mata Sehun.

Dengan begitu dia tidak akan melihat wajah Sehun atau berbicara padanya. Jantungnya berdetak lebih cepat ketika sadar seseorang menaiki kasurnya, memeluknya dari belakang. Luhan ketakutan. Jantungnya berdebar sangat keras. Dia ingin jantungnya berhenti sekarang juga. Masa bodoh bisa mati yang penting Sehun tidak mendengarnya.

Satu tangan Sehun melingkar di pinggangnya, Luhan sesak napas dibalik selimut. Begitu selimut dibuka, dia bisa merasakan napas Sehun di tengkuknya. Hangat dan dingin disaat yang bersamaan.

“Jangan membuatku khawatir lagi,” kata Sehun.

“Iya, tidak akan,” kata Luhan, berusaha tertawa dan menganggap sikap Sehun hanya bercanda. “Sekarang lepaskan aku.”

“Tadi aku sudah bilang ingin memelukmu.”

“Y-ya baiklah. Jangan lama-lama, satu menit cukup, kan?”

“Bagaimana kalau selamanya?”

Wahai jantung, kenapa detakanmu semakin cepat? Luhan menyumpah dalam hati. Kata-kata Sehun barusan terdengar hangat. Sialan! Apa jalan lurusnya sudah berbelok? Sekarang dia berdebar karena seorang laki-laki. Astaga.

Pelukan malah makin mengerat, Luhan mengernyit kesakitan, di sana lukanya belum sembuh total.

“Sehun, perutku sakit. Jangan erat-erat peluknya,” Luhan meringis.

Bukannya melepaskan Luhan, tangan Sehun malah masuk ke dalam bajunya. Mengelus perut Luhan yang sudah diperban. Si pemilik mengejang dibuatnya.

“Lukamu cukup parah,” dia bisa mendengar ada nada tajam di suara Sehun. “Cho Kyuhyun, sepertinya aku sudah terlalu lunak padanya.”

Apa ini? Kenapa suara barusan terdengar seksi? Seolah-olah Sehun tidak akan memaafkan berandal itu karena sudah memukulinya. Luhan tidak kuat. Jantungnya tidak kuat.

“Luhan, kau itu cinta pertamaku,”—iya Luhan tahu itu—“begitu seterusnya sampai sekarang.”

Luhan tidak merespon. Dia terlalu sibuk berdebat dengan jantungnya.

“Semenjak tahu kita akan selalu bertemu karena pekerjaan, itu membuatku frustasi. Sesuai dugaanku kau menjauh dariku. Saat itulah Kris memintaku untuk berbaikan denganmu. Aku tidak masalah karena sejak awal aku tidak punya rasa benci itu,” kata Sehun lembut, bahkan sampai ke nafasnya. “Ketika aku mendengar suaramu di telepon, aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku sangat merindukanmu ternyata.”

“Tapi kau bilang kau sudah melupakan aku,” Luhan menekan dadanya sendiri.

“Aku ‘sedang berusaha’ melupakanmu,” Sehun menggigit telinga Luhan. “Kau sangat menggemaskan.”

“Jangan gigit-gigit, aku bukan makanan!” Luhan berang, tidak suka diperlakukan begitu.

Bisa saja denganmudah Luhan mendorong Sehun agar terjatuh dari kasur. Tapi dia tidak melakukan itu. Sebagian dirinya menginginkan Sehun agar tetap tinggal di sampinya, di sisinya.

Sehun melepaskan pelukannya, dia mengambil posisi duduk. Perlahan dia menarik tangan Luhan agar tidak kesakitan, supaya duduk dan sejajar dengannya. Dia bisa melihat mata Sehun dengan jelas. Mata itu membuatnya seperti tenggelam di dasar lautan, kesulitan bernapas, dan akhirnya mati tenggelam. Tapi mata Sehun sangat menawan, membuatnya rela berenang di sana.

Luhan menyukai mata Sehun. Dia menyukai semua tentang Sehun. Dia menyukai Sehun.

“Aku jadi ingin memakanmu,” Sehun nyegir.

Lagi, wajah Luhan memanas, “terserah kau saja tapi aku tidak suka ditaburi bawang goreng.”

Sehun tertawa lepas, baru akan mengacak rambut Luhan tidak jadi. Masih ada luka di sana. Nanti saja kalau Luhan sudah sembuh. Dia bisa bebas mengacak rambut Luhan, menyentuhnya juga.

“Aku senang kau tidak marah aku menembakmu lagi barusan,” kata Sehun. “Sekarang sudah tidak jijik padaku lagi?”

“Kapan aku jijik padamu?”

“Enam tahun la—“

“Ya, ya! Dengar ya, aku sama sekali tidak jijik padamu dari dulu. Hanya saja aku takut kalau ternyata aku punya perasaan yang sama—“

Terkutuklah Luhan dan mulutnya yang ceplas ceplos turunan dari Kris.

“Aku tidak salah dengar, kan?” Sehun semakin mendekat pada Luhan, “kau punya perasaan yang sama denganku?”

Ingin sekali rasanya dia protes tetapi bibir Sehun menempel di bibirnya. Luhan bungkam seribu bahasa. Ciuman itu hanya ciuman sederhana, hangat, dan penuh kasih sayang. Tetapi itu hanya sementara. Sehun mulai mendominasi ciuman itu, Luhan meringis karena memar di sekitar bibirnya belum sembuh. Lawan mainnya mengigit bibir Luhan, meminta izin untuk masuk lebih dalam. Darimana Sehun belajar teknik mencium seperti ini?

Luhan sama sekali tidak membuka bibirnya. Dia terlalu takut. Ini pertama kali untuk Luhan, dia hanya tidak terbiasa.

Sehun yang pertama kali melepas ciuman mereka. Luhan menangkap perasaan bersalah dari mata Sehun.

“Maafkan aku,” kata Sehun sedih. “Kau boleh memukulku sekarang.”

Namun Luhan tidak melakukan itu, jadi dia hanya berkata dengan wajah memerah, “jangan lakukan itu lagi. Kau membuatku kaget.”

Sehun tersenyum tapi kali ini hanya memberikan kecupan singkat di pipi Luhan.

“Apa aku harus mengadakan jumpa pers lagi?”

.

.

.

The End

[a/n] meski sekarang kapal HunHan nggak sebesar kapal Titanic, tapi kapal itu nggak akan tenggelam hanya karena ditabrak gunung es. Itu semua berkat cinta dari para HunHan shipper.

Semoga kalian suka cerita ini.

13 thoughts on “[FF FEBRUARY Love Mission] Gone Not Around Any Longer || Nura Lau

  1. Halo, Author Nura Lau ^^
    Wuihhhh FF nya manis membabi buta.
    But…..
    aduhhhh Kyuhyuuuun bias pertama gue di dunia per kuriyanan what are you doing kenapa kau jadi hang cuma gara2 dendam kesumat sama Sehun???
    Dan Luhan my (present and future) bias…… FIX LU FIX kamu benar2 songong, rempong dan fatal uke. Luhan mmg ga menye, dia bahkan berani ngehajar berandal. Semoga kamu ga gelap mata Lu, sekalipun aku tahu pesona Sehun sungguh membutakan.
    Aku suka karakter Sehun di sini… tapi lebih suka Kris /tabokKris
    Gatau kenapa karakternya cucok, playboy playboy kelas Avatar the last airbender (?)
    Plotnya santai, nyodorin konfliknya juga timingnya pas bangetttt. Resolusinya juga manis. Jadi mereka akhirnya coming out ke publik kah???? cieeeeee siap2 selamatan yuk HunHan shippers………. *tebar bunga*
    FF nya kecehhhhhhh
    Rapiiiiiihhhhhhhhhh
    Lezaaaaatttttttt
    Ada 2 typo tapi gak masalah.
    Pesan moralnya: HunHan memang diciptakan untuk bersama sekalipun sempat terpisahkan.
    All hail HunHan.
    Tetap semangat berkarya ya ^^

    • Terima kasih udah ngisi komentar kak Kiara, sebenernya ada tiga typo. Saya nulis Sehun jadi Luhan. Apa itu bisa disebut typo? Mengingat mereka itu satu arti~

  2. Ping-balik: [!!!] List FF February Love Mission | Keluarga_Cemara

  3. kkkk ngakak masa sama Kris yang bergoyang😄 dih, menjijikkan pasti /dibakar Kris/
    ini sweet banget masa, padahal menurutku ini kurang panjang /ehem/ tp gk tau kenapa ngerasa kalo timing tiap scenenya pas, gk keburu gk lelet juga A0A nicesseu~
    dan buat ohSeh..,,,aku padamu oppaaa~~
    keep writing ya especially HunHan ^^)9 yosh

    • Terima kasih udah ngisi kolom komentar. Dan soal kurang panjang–ehm. sebenarnya ff ini aslinya berchapter cuma karena persyaratan hanya 10k jadi potong sana potong sini. Hehe~

  4. Sok suit ih. Wkwkwkwk yoloh jadi kangen sama kapel hunhan.

    Sehun yg dewasa emtah kenapa ku suka kalo perannya seperti itu. Terkesan lebih pas aja sama wajah dinginnya.

    Aduh gk bisa review banyak. Alu terbawa suasana.

  5. Waaaaaa😍 Another ff manis hunhan😍
    Aaaakkkk TTATT aku bisa diabetes kali kebanyakan baca ff sweet hunhan thoooor :”) jadi rindu Luhan. Pengen EXO OT12 lagi😦 apalagi br kemaren exo aniv ke 4 tahun…

    Authooooor daebak *tepuk tangan* feel nya dapet, alur nya nggak terkesan maksa samasekali. Sehuni gentle banget iiii jadi bikin pengen😍 (jd pacarnya). Luhan juga walaupun gengsi tp masih lucu2 gituu. Ngikik pirih😂

    “Tapi mata Sehun sangat menawan, membuatnya rela berenang di sana.”

    BENER BANGETTT THOR

    aku telah tersihir ff mu. Lanjutkan karyamu.. FIGHTING

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s