[FF February Love Mission] Antara Sutra dan Bulan || Lala Maqfira


12698955_439772839524995_1206815117_o

Antara Sutra dan Bulan

 

“Kau tahu, Chanyeollie… aku juga sebenarnya menantikan pengakuanmu atas diriku..” – Baekhyun [ChanBaek Fiction/Songfic/Romance]

 

 

Baekhyun –atau Byun Baekhyun–  seorang pria manis dengan jalan hidup yang terkesan sederhana  tengah menghabiskan waktu senggangnya di sebuah tempat yang syarat akan keramaian. Hingar bingar alunan musik jazz juga percakapan yang mendominasi tak membuatnya acuh. Ia memilih untuk terus memainkan sebuah beanie berwarna abu-abu yang tadinya melindungi surai magenta miliknya.

 

Bibir tipis nan merekah miliknya bergerak tanpa suara, merapalkan untaian lirik lagu yang tanpa sengaja mampir di ingatannya. Well, ia hanya sedang berusaha membunuh waktu sekarang. Waktu yang berjalan amat lambat ketika menunggu seseorang, bukan?

 

Jemari lentiknya bergerak random, mengimbangi tempo senandung melodi yang terproyeksi di fikirannya. Matanya mengerjap, mengurangi rasa perih karena terkena hembusan udara sejuk yang keluar dari pendingin ruangan.

 

“Tuan Byun?”

 

Sebuah suara menginterupsi aktifitas tak berartinya. Baekhyun yang tadinya sudah ingin meluapkan emosi menegakkan punggung sempitnya sebelum akhirnya menoleh, guna memastikan siapa si empunya suara. “Ya, saya sendiri..”

 

Sosok itu tersenyum. Dengan jelas kelegaan terpancar di paras tampannya. “Akhirnya saya menemukan Anda.” Ia menjeda ucapannya sejenak. “Apakah Anda sudah menunggu lama?”

 

Baekhyun mengernyit. Ada dua alasan mengapa ia begitu. Yang pertama dan yang paling utama, ia tidak tahu sosok tersebut. Yang kedua, kenapa sosok itu yang menghampirinya padahal kan Baekhyun dengan jelas menunggu seseorang yang–

 

“Tuan Chanyeol mengutus saya untuk menjemput Anda.”

 

–bertubuh jangkung dengan telinga perinya yang khas. T-tunggu, Chanyeol mengutus pria ini?

 

“Chanyeol mengutusmu?” Baekhyun nampak terkejut.

“Benar, Tuan Chanyeol mengutus saya untuk Anda.”

 

Baekhyun menggeram kecil. Tangannya terkepal guna menahan amarah yang entah mengapa dengan cepat naik hingga puncak ubun-ubunnya. Mata indahnya sesekali terpejam, dengan bibir yang terkatup rapat. Hela nafas berat terdengar setelahnya.

 

“Katakan pada Tuanmu..” dingin dan datar, membuat pesuruh itu menatap Baekhyun was-was.

“Ya?”

“Aku pulang!”

 

Baekhyun beranjak, dengan langkah yang tergesa. Sumpah serapah mulai terdengar dari bibir tipisnya. Dan yang pasti, ia meninggalkan meja yang ia tempati selama kurang lebih empat jam, di mana ada sosok tampan yang membatu.

 

Antara Sutra dan Bulan

© Lala Maqfira a.k.a Prince–coret–  Caspian (ºωᴖ)

Length : Oneshoot

Main Cast : Park Chanyeol –Eksekutif muda(!Cheesy)– beserta sang istri tercinta Byun Baekhyun –Mahasiswa tingkat akhir(!Feminine, sensitive dan Childish)–

(Dan beberapa pemeran lain sebagai pendukung jalannya cerita.)

Genre : Romance, Songfic, AU, Fluff and Cheesy –as always–

Rate : [M]asih be[T]ah di ti[K]ungan :v :v /ditampol/

Inspired by : Iklim – Antara Sutra dan Bulan’s lyric, some pict about ChanBaek’s momen :ɜ

Notes : FF ini aku persembahkan untuk kak ALFRora dan kak Kiaarapunzel yang selalu mencerahan hari-hariku yang kelabu, juga untuk readers setia KC

Warning Typo(s)

Maaf jika alur yang ada membuat readers kecewa.

Rude and Bad words, Kissing scene –maybe–

Hope you enjoy it~

 

 

 

 

Goresan pena dan kertas mendominasi sebuah ruangan dengan interior klasik. Sesekali suara tumbukan map maupun buku tebal juga merobek keheningan yang ada.

 

Seorang pria dengan surai sekelam malam bertatanan rapi terus mencurahkan atensinya pada deretan berkas yang tersusun rapi di meja kerjanya. Iris bulatnya bergerak mengikuti deret kalimat yang tercetak rapi di lembar-lembar kerja yang sudah menyita waktunya beberapa saat terakhir.

 

Tok

Tok

Tok

 

Ketukan pintu memecah konsentrasi pria tersebut. Di alihkan olehnya tatapan matanya sejenak, sebelum ia memutuskan untuk kembali berkutat dengan apa yang sedang ia kerjakan. Jemari panjangnya dengan tangkas menggerakan sebuah pena tepat di atas kolom khusus untuk membubuhi tanda tangan.

 

“Masuklah..” suara beratnya memecah keheningan yang kembali tercipta.

 

Pintu kayu berukir seekor phoenix itu terbuka, disusul dengan munculnya sosok tambun dengan seragam butler  berupa setelan tuxedo abu-abu yang kemudian membungkuk hormat padanya. “Maafkan saya mengganggu kegiatan Tuan Muda Park..”

 

Sosok yang di panggil Tuan Muda Park hanya mengangguk. Ia menyandarkan punggung tegapnya, memberi gestur bahwa ia siap menerima laporan dari sang butler kebanggaan. “Jadi, ada apa?” tanyanya tanpa tedeng aling-aling.

 

“Begini, Tuan.. Ji Hyun baru saja kembali.” Butler itu tampak menelan salivanya kasar, membuat sang Tuan mengernyit. “Dan.. dan dia mengatakan bahwa Tuan Baekhyun pulang..”

 

Sang Tuan membelalak. Ia langsung berdiri dengan telapak tangan yang menepuk keras meja kokoh di hadapannya. Gemeletuk geraham yang terdengar membuat suasana yang hening berubah mencekam. Bibir penuhnya terkatup. Pandangannya terlihat menerawang.

 

“T-tuan?”

“Ah, Pak Kim, bisakah Anda siapkan mobil untukku?”

 

Sang butler, Kim Jong Woon atau akrab di sapa Pak Kim –oleh anggota keluarga Park– atau Senior Kim –oleh para pekerja– mengangguk paham. Ia membungkuk kembali sebelum akhirnya dengan sigap melaksanakan permintaan sang Tuan Muda. Agaknya ia bisa sedikit menerka situasi yang membuat majikannya yang terkenal kalem itu berlagak seperti orang kesetanan.

 

Beberapa maid dan butler yang sibuk dengan aktifitas masing-masing sempat terhenti. Mereka melemparkan tatapan bingung mendapati suara ribut dari ruang kerja dan parahnya berlanjut hingga kamar sang Tuan Muda di lantai dua.

 

Tap

Tap

Tap

 

Derap langkah yang menuruni anak tangga membuat pekerja tersentak. Tanpa aba-aba mereka segera berbaris rapi guna menyambut sang empunya rumah. Lima detik berlalu, muncul sosok jangkung dengan balutan coat cokelat yang membungkus tubuh tegapnya. Mata bulat tajamnya kini sayu, menggambarkan rasa cemas dan gelisah yang tergambar jelas di paras rupawannya.

 

“Tuan Muda Chanyeol, mobil sudah siap.”

 

Chanyeol –Park Chanyeol lengkapnya– yang ternyata adalah sang Tuan Muda segerap melesat setelah mengucapkan terima kasih kepada Pak Kim. Ia bahkan memakai kilat jam tangan sport yang tadinya tersimpan rapi di saku coat yang dikenakannya. Langkahnya kian bertambah intensitasnya di kala ia menagkap refleksi Lamborgini Veneno metalik di depan pintu utama mansion.

 

Tak perlu menunggu lama, ia segera melajukan mobil sport itu dengan kecepatan penuh, membelah jalanan Seoul yang mulai sepi.

 

Sementara itu..

 

Di waktu yang bersamaan, sosok Baekhyun terus mendengus dengan mata yang melirik sinis pada sebuah benda yang menampilkan potret antara dirinya dan sang belahan hati. Bibir tipisnya tak berhenti untuk meloloskan sumpah serapah yang benar-benar membuat polusi –menurut salah satu sepupunya–

 

“Apa-apaan dia. Sudah di tunggu empat jam lebih dan dengan seenaknya menyuruh orang lain untuk menjemputku?” gerutunya. “Dasar brengsek! Aku tahu dia sibuk tapi setidaknya kan bisa memberitahuku tadi pagi. Aku benar-benar kesal sudah menunggunya seperti orang dungu.”

 

Jemari lentiknya kini bergerak untuk meremas selembar kertas menjadi gumpalan tak beraturan sebagai pelampiasan emosinya. Wajahnya memerah, dengan bibir yang melengkung ke bawah. “Chanyeollie idiot Aku kan sibuk juga atas tesisku yang harus segera di laporkan pada Prof. Lee”

Ia meraih ponsel pintarnya, membuka sebuah aplikasi yang bisa digunakan untuk membuat presentasi sederhana yang akan ia bawakan di pertemuan esok hari. Bibirnya berubah mengerucut dengan emosi yang tergambar jelas di paras ayunya. Binar cemerlangnya berganti dengan kabut tipis, diikuti dengan hidung mungilnya yang memerah. Yep, beginilah reaksi jika moodnya memburuk. Bibir tipisnya yang tak henti mengumpat berganti dengan getaran-getaran pilu. Well, mungkin dalam hitungin beberapa detik ke depan akan terdengar isak tangis darinya.

Baekhyun beranjak dari posisinya. Ia menyeret kaki jenjangnya, meninggalkan ayunan di balkon apartemen-nya dengan langkah yang malas. Tujuannya kini adalah dapur, untuk menyiapkan jus dan beberapa cemilan. Firasatnya mengatakan bahwa akan ada seseorang yang datang menemuinya.

Suara detak jam melingkar manis di pergelangan tangannya agaknya mengusik kegiatannya. Bulir peluh yang menetes; menuruni pelipisnya membuat ia mendesah pasrah. Ia mulai memikirkan beberapa hal lain yang harus ia persiapkan –entah untuk apa, ia sendiri bingung– kali ini.

“Huh, setelah mempersiapkan jamuan, apakah aku harus mandi juga?” gumamnya. “Fine, saatnya membersihkan diri..”

Baekhyun melenggang begitu saja, ia menghiraukan dering bel apartemen yang sejatinya memekakkan telinga. Kalau boleh jujur, ia tahu siapa sosok di balik pintu huniannya. Fufufu.. ia bisa menebak dengan jitu jika sang kekasihlah yang kini menampilkan ekspresi cemas, takut dan was-was berlebihan di sana.

.
.
.

“Sayang, maafkan aku..”

Entah keberapa kalinya kalimat yang sama, intonasi yang sama, gesture yang sama, serta ekspresi yang sama berasal dari pria jangkung bernama lengkap Park Chanyeol –yang bisa disebut sial atau anugerah– karena didiamkan begitu saja oleh Baekhyun. Ayolah, ini bahkan lebih menyebalkan dari menghadapi tumpukan berkas laporan akhir tahun yang menumpuk di meja kerjanya.

“…”

Baekhyun tetap acuh. Bahkan kini ia asyik mengunyah pocky matcha yang kesekian dengan hazel yang fokus pada tayangan komedi ‘Daddy day’s care’. Bibir tipisnya bergerak beraturan, mau tak mau membuat Chanyeol menelan ludahnya gugup, sesaat setelah tanpa sengaja memperhatikannya.

“S-sayang?”
“Hng?”

Chanyeol mengacak surai kelamnya frustasi. Akhirnya, ia bertekat untuk meruntuhkan dinding tak kasat mata yang diam-diam dibangun oleh si Mungil. Ia beranjak dari posisinya di sudut sofa dan justru mendudukan tubuh jangkungnya di hadapan Baekyun. Di tatapnya intens paras manis yang selalu membuat dirinya mabuk kepayang.

Cup

Dikecupnya lembut punggung tangan selembut kapas milik Baekhyun, menyalurkan segenap perasaan yang tak pernah berhenti menguasai hati dan logikannya. Meta bulatnya mulai terpejam, meresapi rasa hangat yang menguar begitu saja.

Baekhyun? Jangan tanya lagi bagaimana kondisinya sekarang. Bibirnya berkedut menahan senyum dengan mata yang mulai berbinar. Jangan lupa pipinya yang memerah, sewarna tomat masak dan bibir bawahnya yang ia gigit guna menahan teriakan nyaring yang nyaris lolos begitu saja.

“Pink Rose[1].. maafkan aku..” lirih Chanyeol dengan bibir yang masih menempel di punggung tangan Baekhyun. “Aku mengaku, jika aku amat bersalah kali ini.”

Chanyeol membuka kelopak matanya. Menatap lurus ke wajah manis sang kekasih yang memerah. Oh, ia ingat jika Baekhyun akan bereaksi demikian jika Chanyeol memanggilnya dengan sebutan bunga indah itu. “Perlukah aku bersujud sekarang? Guna menebus kesalahanku?”

Baekhyun menggeleng cepat; dengan bibir bawah yang masih ia gigit. Bola matanya bergulir ke kanan, sebelum ia mulai menggerakan cherry tipisnya; merapalkan sederet kalimat yang membuat kedua ujung bibir si Jangkung tertarik keatas. “Tak perlu Daffodil[2] man-ku..” Baekhyun memainkan jemarinya yang masih tergenggam hangat oleh prianya.

Pria jangkung itu tersenyum, memamerkan single dimple di paras rupawannya. Dan hal itu tentu saja kian menambah intensitas rona kemerahan di wajah Baekhyun. Baekhyun benar-benar mati kutu di buatnya.

“Ish, berhenti memandangiku begitu, Chanyeollie..” Baekhyun berucap sembari melepaskan genggaman tangan sang kekasih, diikuti dengan menangkup wajahnya yang terasa panas. “A-aku, maluuu…”

Chanyeol terkekeh, diraihnya kepala Baekhyun, kemudian ia sandarkan di bahu tegapnya. Tak lupa jemari panjangnya ia gunakan untuk mengelus lembut penuh perasaan poni yang menjuntai di kening pria cantiknya. “Baiklah. Eung, apa Baekhyunie sibuk kali ini, heum?”

Mengerjap, sekali dua kali, berlanjut dengan bibir tipisnya yang terbuka dan menutup sebelum akhirnya suara merdu itu terdengar lucu. “Apa kau baru saja menghinaku?” Chanyeol mengernyit.

“Aku tak merasa jika dalam konteks pertanyaanku ada unsur hinaan.”

Baekhyun memberengut lucu. “Ish.. itu.. kau kan tahu aku bukan businessman sepertimu yang selalu sibuk.” Ia menjeda protesannya. “Tentu saja aku free, kecuali besok karena aku harus kembali berkutat dengan tesis sialan itu.”

Pria jangkung yang masih memeluknya itu menganggguk mafhum. Setidaknya ia tahu mengapa mood Baekhyun berkali lipat buruk. Selain janji kencan yang batal, juga skripsi yang tentunya menguras tenaga, fikiran dan waktu. Tapi, ia mengernyit –lagi– setelahnya karena menemukan kata-kata kasar yang terlontar dari bibir manis Baekhyun.

“Err.. sayang. Apa kau baru saja mengumpat di sela protesanmu?” Chanyeol memfokuskan matanya pada sosok di pelukannya yang menegang. Tak perlu waktu lama, kekehan yang menyertai wajah yang menampilkan ekspresi seakan tak berdosa terekam jelas oleh otaknya. Hembusan nafas berat yang terdengar darinya lah bentuk responnya. Jujur saja, ia sendiri bingung harus bereaksi bagaimana. “Baiklah, lupakan. Dan aku tak ingin mendengar bibir manismu berkata kasar lagi, okay?”

Baekhyun mengangguk-angguk bak puppy yang membuat siapapun gemas. Terutama Chanyeol tentu saja.

`Chup`

“Eh?” Baekyun mematung. Jemari lentiknya bergerak untuk memegang bagian wajahnya –lebih tepatnya bibir– yang baru saja menjadi sasaran bibir apel si Jangkung Park. “Aku gemas, sayang. Ayo kita ke Lotte World.”

Dan Baekhyun pikir tak ada yang lebih membahagiakan ketika kekasihmu yang super duper –bahkan mungkin triple, abaikan– sibuk itu mengajak kencan sebagai penebus kesalahan. Yeah, bisa di anggap demikian sih menurut pemikiran childishnya.

‘So, tak sia-siakan aku merajuk padanya beberapa jam terakhir??’ – batinnya bergumam nista.

Ck, biarkan Baekhyun bahagia dengan ekspektasinya yang kelewat konyol.

.
.
.

Dua hari berlalu..

Sejak ia menghabiskan waktu luangnya dengan Chanyeol di Lotte World, Baekhyun terus memancarkan aura positif. Perlakuan Chanyeol selama lima jam mereka di sana benar-benar sukses membuat jantung Baekhyun berdetak menggila. Bahkan jika ia tak ingat situasi dan kondisi ataupun iia tak memikirkan rasa malu, ia pasti sudah berjoget heboh, jika perlu sekalian ia akan mengcover dance salah satu lagu yang bisa mewakilinya. Eum.. Heart Attack dari girl group AOA sepertinya gagasan yang cukup baik? Eh, ia mulai melantur. Tapi akan ia pertimbangkan juga sih jika Chanyeol terus bersikap manis. Sebagai ucapan terima kasih, mungkin?

“Hei, Byun?”

Suara berat seseorang yang sarat akan emosi membuat Baekhyun tersadar dari transnya. Ia meringis ketika mendapati raut tak bersahabat lawan bicaranya yang kini melipat kedua tangannya di dada bidangnya. “Jadi, Anda tidak mendengarkan penjelasanku?” Pria itu tersenyum remeh. “Apakah ini sikap mahasiswa teladan angkatan 2016?”

Baekhyun gelagapan. Mulutnya terbuka dan menutup berulang selama beberapa saat. Nafasnya terdengar berat. Uh, ia merutuk kecerobohannya yang justru melamun ketika seorang pendamping menerangkan salah satu proyek yang mungkin bisa mendukungnya untuk meraih predikat camclaude di acara wisuda dua bulan mendatang. “Maafkan saya, Senior Cho..”

Sosok itu mengangguk. Sedikit memaklumi Baekhyun yang kurang fokus (meskipun ia sempat bergidik saat mendapati adik tingkatnya yang memang ia sayangi itu tersenyum sendiri bak orang yang kehilangan kewarasan) saat berdiskusi tadi. Ia meraih sebuah sketchbook, menggoreskan pensil mekanik yang tercengkeram kuat jemarinya. “Baiklah aku maafkan. Setidaknya kau sempat menangkap sepatah dua patah petunjuk yang aku jelaskan di awal, bukan?”

Kini Baekhyun lah yang mengangguk. Ia memang sudah mendapat gambaran konsep yang akan ia terapkan di proyeknya nanti. Ia dengan sigap menyalin coretan yang seniornya buat. Ia mulai mengaplikasikan konsep tersebut dengan bantuan beberapa program di netbooknya. “Setelah ini, apa yang bisa saya lakukan, Senior Cho?”

Senior Cho –bernama asli Cho Kyuhyun– menghela nafas. Ia menggerakan lagi pensil di tangannya, membuat coretan baru yang ternyata desain sebuah ruangan dengan batas yang samar terlihat mirip sekat rotan. “Aku memadukan konsep negara kita dengan negara lain yang baru saja teamku sambangi. Menurutku konsep ini akan menimbulkan kesan unik yang bisa saja membuat para costumer kerasan untuk sekedar menikmati hasil proyek ini.” Ia menyodorkan hasilnya pada Baekhyun yang selesai dengan aktifitasnya. “Kau hanya perlu menambahkan beberapa aksen atau warna supaya tidak terkesan monoton.” Lanjutnya.

Si Mungil mengerutkan keningnya. Ia mulai berfikir keras setelah mendapat beberapa arahan dan saran dari sang pembimbing. Tidak salah memang Prof. Lee memasangkan dirinya dengan Kyuhyun yang notabennya selalu membuat terobosan baru dalam bidang desain grafis. Ia makin mengagumi sepupu kekasih tingginya itu.”Selesaikan semuanya dalam waktu tiga hari. Kau tahu bukan aku juga harus menyelesaikan laporan akhir tahunku supaya bisa cepat menyelesaikan pendidikan pasca sarjanaku?”

“Baiklah, senior. Saya juga minta maaf sudah membuat waktu Anda tersita bahkan hingga akhir bulan nanti.” Baekhyun berdiri, kemudian membungkukkan badannya sekejap. “Akan saya selesaikan secepat mungkin.”

Kyuhyun tersenyum. Ia mulai merapikan barang bawaannya dan memasukannya ke dalam ransel hitam yang tergeletak manis di salah satu kursi yang kosong. Ia mengeluarkan sebuah flashdisk yang berisi beberapa hal yang bisa menunjang tugas Baekhyun.

“Ini ada beberapa bahan yang bisa kau gunakan untuk mengembangkan konsepmu. Semangat, Byun. Dan aku harus pergi sekarang.” Pria jangkung itu mengusak poni Baekhyun lembut dan beranjak dari kursinya.

Baekhyun hanya mengangguk dan memperhatikan punggung kokoh Kyuhyun yang kian menghilangg dari pandangannya. Ah, ia harus segera menyelesaikan semuanya, karena ia memang tak enak hati terus merepotkan bungsu keluarga Cho itu.

Ia mulai menancapkan flashdisk yang Kyuhyun berikan di slot yang ada. Bibirnya mulai merapalkan berbait lirik guna membunuh rasa bosan yang menyambangi tepat disaat ia menanti proses scanning yang sebenarnya tidak memakan waktu lama. Sebenarnya ia agak sedikit merasa lucu ketika memperhatikan lampu LED flashdisk yang menyala. Padahal kan Kyuhyun bisa memanfaatkan e-mail untuk mengirimkan bahan penunjang proyeknya….

“Eh?”

Ia tersentak ketika menyadari sesuatu. Benar juga kan, di era sekarang orang lebih senang memanfaatkan salah satu produk Google, Yahoo atau apapun untuk bertukar data? Lagipula entah mengapa ia merasa familiar dengan benda yang terus berkedip di hadapannya. Bukankah..

“I-ini kan.. flashdisk Chanyeol?” Mata sipitnya mengedip dua kali.

Ia segera menekan tombol enter dan mengarahkan pandangan serta pointer ke arah manapun yang sekiranya terasa ganjil baginya. Dan hup! Viola! Ada satu folder asing dengan file name : Red Carnation.

Baekhyun dengan refleks menutup mulutnya yang terbuka. Entah bagaimana wajah manisnya pun kini merona. Belum lagi detak sang penyokong hidup –Jantung– bertambah dua kali lipat dari biasanya. Ia sempat mensugesti dirinya sendiri untuk tidak terlalu besar kepala. Bisa saja itu merupakan folder khusus gambar tentang bunga yang bersangkutan. Ia hafal betul kegilaan sang calon mertua pada bunga Carnation.

Ia menggeleng, sebelum akhirnya mulai memperhatikan jendela yang menampilkan isi dari flashdisk yang ia ‘buka’. Detik berikutnya ia kembali mengernyit dengan pipi chubbynya yang merona –bahkan lebih parah dari yang semula–.

Red Carnation…
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku menginginkanmu.

Baekhyun menelan salivanya kasar, kemudian mengarahkan pointer ke arah folder tersebut dengan hati-hati. Matanya terpejam erat setelah jari telunjuknya dengan cepat menekan tombol enter di keyboard netbook.

1 detik..
2 detik.

Mata kanan terbuka perlahan. Ia masih memejamkan salah satu matanya.

3 detik.
4 detik.

Berlanjut dengan mata kirinya yang juga terbuka. Benar, kedua matanya kini telah terbuka. Nafasnya mulai tertahan, suaranya pun bagaikan tertahan di kerongkongannya. Bibir tipisnya juga terbuka, seiring dengan volume matanya yang bertambah.

“Oh My God! Apa sih sebenarnya isi dari flashdisk ini..” rutuknya.

Matanya kini menangkap sebuah program yang memiliki file name : Orange Tulip. Kenapa justru berkaitan dengan bunga? Baekhyun tidak terlalu mendalami floriography (Bahasa bunga). Ia akui kini dirinya mulai diliputi kesal. Kendati begitu tetap saja rongga dadanya terasa sesak karena penghuninya kian menggila.

Tunggu, ia mulai sedikit ingat dengan beberapa arti bunga yang Chanyeol perkenalkan padanya. Ia meminum jus strawberry yang terhidang di mejanya sebelum kembali berkutat dengan salah satu perangkat elektroniknnya. Benaknya mulai memproyeksi rentetan kenangan saat Chanyeol dengan romantisnya menyodorkan beberapa tangkai bunga di setiap acara kencan mereka.

Ada Cattleya[3] di kencan mereka yang pertama dengan panti asuhan yang mereka jadikan tujuan. Ah, ia jadi tersenyum ketika Chanyeol memeluk dirinya yang tengah asyik menimang seorang anak kecil bernama Park Jae In.

“Kita keluarga yang bahagia sekarang” bisik Chanyeol mesra kala itu sembari melesakkan setangkai bunga Cattleya di dekapan hangatnya.

Berlanjut dengan Gypsophila[4] di kencan mereka yang kedua di perkebunan buah milik keluarga Park di daerah Busan. Sesaat setelah Baekhyun merajuk karena di cibir oleh Jongin (anak bibinya yang memang berandal), menyinggung bahwa Baekhyun itu kuno karena belum pernah melakukan hubungan intim dengan Chanyeol.

Ada juga Chinese Aster[5] di kencan ketiga, tepatnya saat Chanyeol mendapati dirinya yang sedang bergurau dengan salah satu kenalannya, Kris Wu, seorang General Manager di perusahaan cabang Park Inc yang terletak di Tiongkok.

“Aku benci mengakui ini, tapi aku benar-benar merasa hancur melihatmu tertawa dengan orang lain.” Jangan lupa wajah tampan Chanyeol yang terlihat konyol dan lucu dengan ekspresi merajuknya.

Red Carnation sebelum ia memberikan first kissnya di Lotte Mall sebulan yang lalu, dan Orange Tulip yang disodorkan oleh Chanyeol tepat ketika ia membuka matanya di pagi yang cerah setelah ia menghabiskan malam yang panjang dengan luapan cinta, sayang, hasrat dan tentunya gairah bersama Chanyeol. Tunggu, Orange Tulip…
.
.
.
.
Energi (semangat), gairah dan hasrat.

DEG!

Baekhyun segera menyambar smartphone miliknya yang tersimpan rapi di saku coat cokelat yang melekat di tubuh mungilnya. Telapak kirinya beberapa kali ia gunakan untuk menampar pipinya sendiri, berharap mampu mengenyahkan –setidaknya meminimalisir– rona merah di wajahnya. Meskipun hasilnya nihil, justru intensitasnya kian bertambah.

“Halo, sayang..”

Baekhyun merasa mual mendengar sapaan mesra dari sambungan di seberngnya. “H-Halo Chanyeollie..”

“Jadi, kau sudah melihat isi dari titipanku pada Kyuhyun?” Nada suara Chanyeol yang santai dan tanpa beban justru Baekhyun rasakan seperti melodi kematian.
“Eung.. Y-ya. Tapi, ah maksudku belum seluruhnya..”

“Benarkah?”

Duh, suara menggoda Chanyeol membuat Baekhyun ingin menjerit. Kenapa sih kekasihnya tidak mau mengerti akan kondisi Baekhyun saat ini?

“Ya. Aku baru membuka foldernya Chanyeollie..” Baekhyun menjelaskan.

Hening agak lama. Mau tak mau Baekhyun mengalihkan handponenya guna memastikan apakah sambungannya sudah terputus atau belum melalui screen ponselnya. “Chanyeollie?”

“Ya, sayang. Buka saja, bukankah hanya satu program dan satu aplikasi, heum?”

Baekhyun mengangguk, padahal ia sadar jika Chanyeol tak melihatnya. Ia segera menekan file aplikasi dengan nama White Chrysanthemum[6] dan mengikuti prosedur untuk menginstall software tersebut di netbooknya. “Aplikasi ini aman untuk perangkatku, kan?”

“Tentu saja, sayang.” Baekhyun tersenyum. “Aku tidak akan bertindak bodoh untuk menyisipkan virus di perangkatmu”

Baekhyun menyandarkan punggungnya, ia menanti netbooknya yang mulai memproses aplikasinya. “Ngomong-ngomong, bagaimana dengan programnya?”

“Sebenarnya program itu bagian dari aplikasinya, sayang. Jadi kau tak perlu repot untuk menginstall bolak-balik.” Chanyeol terkekeh setelahnya. “Dan selesaikan saat ini juga.”

Kening Baekhyun berkerut. Ia pikir kalimat terakhir yang Chanyeol lontarkan terasa ambigu. Tapi ia tidak mau ambil pusing dan mulai menjalankan program yang ada.

‘Selamat Datang Byun Baekhyun’

Baekhyun tersenyum ia berbisik pada Chanyeol di line seberang. “Let’s start, Chanyeollie!” dan hanya dengungan sebagai jawaban.

‘Masukkan tanggal lahir Anda’

Baekhyun menggerakan jemarinya di papan ketik setelah sebelumnya merubah mode sambungannya dengan Chanyeol menjadi headset dengan bantuan bluetooth. Pria mungil itu mulai menginput sederet angka yang memang tanggal lahirnya. Dan ia mengakhirinya dengan menekan tombol enter.

Muncul jendela lain yang membuat Baekhyun bersemu. “Apa-apaan ini?”
“Turuti saja, sayang. Dan aku harap kau memberi jawaban yang aku harapkan di akhir nanti”

Baekhyun terus menginput jawaban untuk beberapa pertanyaan yang menyangkut kehidupannya. Seperti statusnya dengan Park Chanyeol, berapa lama mereka berhubungan, sudah berapa kali mereka berkencan (dan Baekhyun mencibir setelahnya), dan yang paling konyol –cenderung memalukan– berapa kali mereka menghabiskan malam panas yang panjang.

“Chanyeol, kenapa harus ada pertanyaan seperti ini?”

Baekhyun memekik dengan berjuta rasa yang menyambanginya. Dan ketika ia menyadari pengunjung cafe lain memandangnya tak suka, ia langsung membungkuk meminta maaf walaupun hatinya merasa dongkol.

“Baiklah maafkan aku, sayang.” Tawa menggelegar memecah pendengaran Baekhyun. “Dua pertanyaan setelah itu pertanyaan klimaks, sayang.”

Baekhyun masih bersungut meski pipinya terus memerah. Ia memperhatikan pertanyaan yang akan ia ‘hadapi’. “Eoh, ini pertanyaan terakhir ya?”

‘Byun Baekhyun, bersediakah Anda untuk mendampingi Park Chanyeol, baik dalam keadaan suka maupun duka? Dan tentunya menghabiskan sisa hidup Anda bersamanya?’

Gerakan jemari Baekhyun terhenti. Bibirnya terbuka –ternganga– dengan tidak elitnya. Mata indahnya mulai berkabut, seolah siap menumpahkan buliran bening yang memang sudah melesak di pelupuknya. “C-Chanyeol?”

“Heum? Bagaimana? Apa kau sudah punya jawabannya? Pilihlah sesuai hati nuranimu. Jangan memaksa.”

Pria mungil itu segera menginput jawaban yang sudah ia yakini. Tak ia pedulikan tatapan aneh pengunjung lain dan juga aliran jernih yang membasahi paras ayunya.

Tik.

Ia menekan tombol enter dengan secepat mungkin dan langsung menangkup wajahnya.

.
.
.
.

“Baekhyunie, sudah siang!”

Suara nyaring milik wanita paruh baya dengan paras yang serupa dengan si Bungsu Byun menggema di sudut kamar Baekhyun yang lengang. Sebulan sudah ia lewati hari-harinya yang terasa aneh pasca ia menerima kejutan Chanyeol malalui program dan juga aplikasi yang bahkan masih ‘terpasang’ di netbooknya.

Baekhyun yang masih asyik termangu di balkon kamarnya mengerjap, sebelum akhirnya ia memilih untuk beranjak dan memenuhi peringatan sang Ibunda. Wajah cantiknya terlihat mengerikan dengan kantung mata tebal, kulit kusam dan juga bibi merekahnya yang kini memucat. Pikirannya kembali melayang jauh ketika tanpa sengaja ia melihat sebuah boneka rilakkuma seukuran balita yang tersimpan rapi di lemari khusus yang ada di sudut ruangan favoritnya ini.

“Chanyeollie.. aku merindukanmu..” bisiknya.

Sebenarnya ia belum sempat menjawab pertanyaan itu. Karena ia terlalu ceroboh untuk mengingat nasib daya perangkat dan juga ponselnya sendiri. Yang paling parah, ia melupakan charger kedua benda tersebut yang justru tergeletak dengan manis di laci nakasnya. Oh, Baekhyun iangat betul bahwa imajinasinya memproyeksikan kedua benda itu tersenyum sinis bahkan mengejek atas kebodohannya.

Flashback On

Baekhyun dengan cepat mengarahkan jarinya ke arah tombol enter, menekannya dengan keras sebagai penyalur rasa gemas. Namun yang terjadi adalah netbooknya mati. Ia sempat di buat bingung. Dan ketika ia akan bertanya pada Chanyeol, ponselnya bernasib sama. Dan sialnya, ia teringat jika perangkatnya itu bahkan sudah meregang ‘nyawa’ bahkan sebelum ia menjawab pertanyaan Chanyeol.

Setelahnya ia menangkup wajahnya. Dan di lihat dari bahunya yang bergetar, ia menangis. Samar-samar isakan dan makian terdengar dari bibirnya dengan tersendat-sendat.

Baekhyun segera membereskan peralatannya. Ia memasukan buku dan alat tulis dengan asal-asalan. Ponselnya ia lempar begitu saja ke dalam bagian untuk menyimpan benda penting di ransel setelah sebelumnya nyaris melempar netbook yang notabennya adalah benda kesayangannya.

Dengan langkah terburu ia meninggalkan cafe, menghentikan taksi yang melintas dan kembali menangis. Sang pengemudi yang dibuat bingung dengan tingkahnya memilih diam karena agaknya ia bisa memahami bahwa suasana hati penumpangnya ini benar-benar buruk.

Tiga puluh menit berlalu..

Baekhyun membayar tarif argo dengan nominal yang sangat tinggi. Ketika sang supir protes, ia menjawab dengan suara tergugu, bahwa sesungguhnya ia berani membayar tinggi karena merasa telah merepotkan pria paruh baya itu. “Anggap saja sebagai permintaan maaf saya, Paman..” ujarnya.

Sang pengemudi memilih untuk menutup mulut ketika Baekhyun membalikan tubuh mungilnya dan langsung memasuki gerbang kokoh berwarna merah bata di depannya.

Baekhyun terus melangkah, menghiraukan pertanyaan bingung sang Ibu dan ujaran dengan nada mengejek yang khas milik sang Kakak. Jangan tanya di mana Tuan Byun karena saat ini ia sedang rapat para pimpinan di kantor pusat.

Brak

Bantingan daun penghubung antar ruangan membuat celotehan Nyonya Byun dan Baekbeom yang tadinya bersahutan berhenti dengan serempak. “Pasti tentang Chanyeol.”

Si Bungsu Byun tak peduli. Ia menghampiri buffet dan nakas bergantian, memastikan apakah benda penyambung daya perangkat-perangkatnya ada. Seingatnya ia sudah menata semuanya di ransel pagi ini. Dan ia memekik jengkel ketika mendapati kenyataan bahwa dua charger yang ia cari tersimpan dengan manis di laci nakas.

“Hiks, Ibuuu…” rengeknya kesal. “Kenapa aku sial sekali, huh??”

Ia meraih charger ponselnya. Dan tanpa tedeng aling-aling segera di hubungkan ke ponsel dan memasukan rentetan nomor yang ia hapal hingga luar kepala.

Tut..
Tut…

‘Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..”

Pik.

“AAAAA!! IBUUUU..”

Jeritan bak anak gadis yang telah kehilangan keperawanannya itu sontak membuat Nyonya Byun dan Baekbeom tergopoh untuk menghampiri Baekhyun yang kini terduduk mengenaskan dengan rambut yang acak-acakan. Jangan lupa hidung mungilnya yang memerah dan wajahnya yang sembab.

“Ada apa, sayang?/Ada apa, Baekhyunie?”
“Kenapa hiks.. kenapa Chanyeollie tidaka bisa dihubungi??”

Nyonya Byun dan Baekbeom saling pandang. Raut mereka berubah sendu bahkan di dominasi oleh iba dan juga penyesalan. “Maaf, sayang..” baru dua patah kata yang belum terselesaikan, justru membuat Baekhyun yang memang peka kian meraung.

“Chanyeol akan berada di luar negeri dalam kurun waktu dua bulan mendatang.”

Apa ada yang lebih sial dari yang Baekhyun alami? Karena ia tahu betul tabiat sang Kekasih.
.
.
.
Pria jangkung bermarga Park itu tidak akan pernah menyentuh ponselnya yang berisi nomor dengan kode negaranya ketika sedang transit ke luar negeri.

Flashback Off

Baekhyun menyandarkan tubuh ringkihnya di bingkai pintu berbahan plat baja yang menghubungkan kamarnya dan juga balkon. Kepalanya tertunduk dengan pikiran yang mulai melalang buana, menimbang-nimbang tindakan apa yang akan ia lakukan ketika Chanyeol kembali ke Korea dua minggu mendatang.

Perlahan ia mengangkat wajahnya, dan mulai mengedarkan pandangannya. Berharap dengan melihat benda-bendda di kamarnya ia bisa menemukan inspirasi yang bisa membuat Chanyeol senang. Pandangannya terhenti pada lemari pakaiannya setelah lima menit lebih mengobservasi. Entah bagaimana tiba-tiba ia mendapat dorongan untuk menghampiri benda dengan ukiran phoenix dan light di kamarnya itu.

‘srek’

Pintu geser terbuka. Kegiatan jemari lentiknya yang menyusuri deretan tumpukan outfit yang tersusun rapi di segmen benda balok yang terbuat dari kayu ek dengan kualitas terbaik.

“Aha!”

Seulas senyum terkembang sempurna setelah ia mendapat apa yang cocok untuk menyambut Chanyeol. “Pasti Chanyeollie suka.”

Dia melangkah riang setelah memasukkan benda yang ia butuhkan ke dalam tas selempang yang berlogo khas salah satu produk outfit sport dan menjingjingnya. “Ibu, Baekhyunie pergi dulu!”

“Kemana?”

Hanya derum mobil yang meninggalkan kediaman keluarga Byun yang menjadi jawabannya. Dan Nyonya Byun hanya mampu menghela nafas, memaklumi tindakan sang putra bungsu yang bisa disebut kurang ajar itu.

“Pasti berhubungan dengan Chanyeol..”

Kalimat yang familiar, bukan?

.
.
.

Seorang pria manis dengan mata rusanya yang berbinar bergerak lincah mengikuti hentak irama yang terdengar hingga luar ruangan. Bibirnya bergerak mengikuti lirik yang dinyanyikan sempurna oleh salah satu group yang meraih popularitas tinggi meskipun hanya mempromosikan mini album. Dan yang luar biasa, kelompok idola itu bahkan teramat populer di kalangan militer. Sekedar informasi sebenarnya.

Baekhyun yang baru saja sampai dengan terburu menghampiri sosok terseut dan memeluknya. “Luhannie~~!” sapanya riang sembari memeluk tubuh yang kini basah kuyup karena peluh. “Aku membutuhkan bantuanmu~!”

Sosok manis yang ternyata salah satu sahabat Baekhyun itu mengangguk dan menyunggingkan seringai yang benar-benar tidak pantas dengan wajahnya. Ia melirik barang bawaan Baekhyun dan menyeret kekasih mungil Park Chanyeol menuju ruang ganti. Agaknya ia bisa menebak apa yang Baekhyun rencanakan. “Let’s party, baby!”

Detik berikutnya ruangan kian riuh, sesaat setelah kedatangan beberapa orang yang menyandang status seperti mereka. Yup, uke atau bottom atau slave atau apapun yang jelas mereka adalah pihak yang didominasi. Dan sesekali pekikan bak seorang gadis yang mendapat surat cinta dari sang Pangeran pujaan terdengar begitu memekakkan telinga.

Dua jam sudah mereka menghabiskan waktu untuk melatih kelenturan, kelincahan dan keselarasan gerakan mereka dengan hentak irama nada. Saat ini keempat pria cantik itu melepas penat dengan merebahkan tubuh lelah mereka di lantai ruang dance.

“Aku yang akan menyiapkan kesiapan alatnya..” pemuda dengan pipi bulatnya berkata dengan nada yang terdengar antusias. “Aku jamin Chanyeol akan terkesima, Baek.”
“Ah, aku menghargainya, terima kasih Minseokkie~”

“Aku yang akan bertanggung jawab atas makeup, guys.” Luhan tertawa. “Dan Kyungsoo pasti akan bertanggung jawab atas kostum.”

Pria dengan tubuh termungil, mata sebulat kelereng, tatapan polos tak mudah terbaca memandang Baekhyun yang di sebelahnya dengan wajah datar. Kontan saja Baekhyun yang mendadak membuka mata berjengit. Ia nyaris memekik kesal namun urung dilakukan setelah mendapati senyum indah tersemat di paras manis Kyungsoo.

“Terima kasih semuanya.”

.
.
.

Chanyeol yang memang sibuk dengan rangkuman hasil rapat memijit pangkal hidungnya. Ia menghiraukan kacamata berframe hitam yang melintang kokoh di atasnya. Ia merasa bahwa tubuhnya nyaris remuk redam setelah dengan beringas ia hampir melumat habis berkas dari beberapa anak perusahaan Park Inc.

Belum lagi akan pikiran mengenai kekasih mungilnya yang tak ketahuan kabarnya. Ia akui jika ini adalah konsekuensi yang selalu ia hadapi setiap ia mencoba untuk profesional. Sebenarnya jemari panjangnya sudah teramat gatal untuk mengotak atik ponsel dengan case bermotif heartbeat miliknya.

Melirik kalender yang sudah penuh akan coretan di laci meja kerjanya, kemudian meraih benda tersebut dan mengelusnya lembut. Seakan sang Kekasih lah yang dirinya sentuh. Tak lupa ia mengcross check agenda yang sudah salah satu tangan kanannya persiapkan.

“Bersiaplah sayang, aku akan pulang dua hari lagi..”

Pria jangkung itu menyandarkan punggung kokohnya dengan senyum menawan yang terlukis di wajah tampannya. Otaknya mulai membayangkan hal-hal indah yang akan ia lalui. Ia mengakui sempat kecewa karena belum mendengar jawaban Baekhyun atas pertayaan yang ia selipkan pada program bodoh yang ia ciptakan setelah tanpa sengaja menyaksikan pengujian program oleh salah satu tenaga ahli di kantornya.

Ia terlelap dan berharap bahwa apa yang ia impikan menjadi kenyataan.

Drtt..
Drtt..
Drrtt..

Getaran ponsel pintarnya yang tersimpan rapi di saku jas mewahnya membuat dirinya yang asyik terbuai oleh segala khayalan indah segera tersadar. Sedikit merutuk ia meraih ponsel itu dan mulai memeriksa apakah ada hal penting.

Eoh, e-mail masuk dari sepupunya?

| From : GaemGyu1988.kr
To : real_pcy1127.kr
Subject : –

Baekhyun berpesan padaku. Saat pulang nanti datanglah ke Seoul Park.
[Today, 05.30 PM] |

Chanyeol mencelos. Demi menjaga keprofesionalitasnya, Baekhyun sampai berpesan pada Kyuhyun. Oh, betapa pengertiannya calon pendamping hidupnya itu. Ia dengan semangat mengetik balasan untuk kabar dari sepupunya itu, mengesampingkan rasa bersalah karena terkesan mengabaikan pria mungilnya dan lebih mementingkan kerjaannya.

| From : real_pcy1127.kr
To : GaemGyu1988.kr
Subject : Pesan Baekhyun

Ya. Tolong katakan padanya aku akan sampai pukul 06.00 PM lusa.
[Today, 05.40 PM] |

Ia tersenyum lebar, mulai berkespektasi jika Baekhyun akan menjawab ajakannya untuk segera meresmikan hubungan mereka dengan ikatan yang lebih sakral. Dan tanpa ia ketahui sang Kekasih sudah menyiapkan sesuatu untuknya selain menjawab lamaran tidak langsungnya.

.
.
.

Dua hari kemudian..
Seoul Park, 05.00 PM.

Luhan dengan seragam khas club softball kampusnya tengah mengerucutkan bibirnya. Ia tak habis pikir mengapa teman-temannya terus mengatakan bahwa ia cantik. Ditangannya sudah ada hair clip berwarna light brown yang niatnya akan ia pasang di helaian mahkota di kepala Minseok. “Aku jengah dengan ide crossdress ini.” Amuknya lagi.

Kyungsoo yang duduk manis di dekat tenda khusus penjual permen kapas hanya mengerjap kecil. Mata polosnya terus memandang ke arah Baekhyun yang sedari tadi sibuk mencocokkan beberapa potong pakaian yang berserakan.

“Baekhyunie.. kau lebih cocok dengan seragam putihnya..” dia menjeda ucapannya, “dan sepertinya kau tak harus menambahkan hair clip. Rambutmu sendiri kan sudah cukup panjang.”

Si objek saran Kyungsoo terdiam. Ia menghentikan kegiatannya yang mengacak-acak outfit dan juga surai karamelnya. Ia kemudian menghentak-hentakan kakinya sebelum akhirya duduk di hadapan Minseok yang sudah melewati tahap make over. “Bagaimana menurutmu, Minseokkie?”

Yang lebih tua tertawa kecil. Ia meraih sebuah jepit rambut hitam dengan aksen merah muda dan menyelipkannya di rambut yang ada di atas telinga Baekhyun. Jemarinya dengan tangkas merapihkan helai poni yang menjuntai begitu saja di kening sahabat manisnya itu*). “Nah, begini pun kau sudah cantik, dear.”

Luhan mengangguk menyetujui, begitu pula dengan Kyungsoo. Mereka yang memang sudah bertransformasi menjadi ‘gadis’ cantik dan energik itu segera beranjak dan mengambil asal seragam yang bertumpuk bak pakaian kotor di meja yang cukup besar.

Mereka melangkah dengan riang menuju sudut ruang tenda, setelah sebelumnya menyeret tubuh mungil Baekhyun. Bermaksud membantu Baekhyun berganti pakaian.

Minseok menggeleng kecil, ia mempersiapkan beberapa aksesoris penunjang yang akan terpasang di tubuh kekasih Park Chanyeol itu. Tak lupa ia menghubungi Jongdae dan yang lain di lapangan, bermaksud memberi kode bahwa mereka sudah siap untuk memberi kejutan pada Chanyeol. “It’s showtime..” seringai lucu terlukis di wajah menggemaskannya.

Sementara itu…

Chanyeol memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang. Berlawanan dengan kondisi detak jantungnya yang memburu bagaikan tengah bermarathon di tempatnya –analogi yang kurang pas memang–. Kedua sudut bibir penuhnya terangkat, mengukir senyum tulus yang khas.

Mata tajamnya kian memancarkan binar cemerlang ketika di kejauhan ia bisa menangkap refleksi tempat yang ia tuju. Namun, kening lebarnya mengenyit ketika samar-samar mendengar riuh sorak sorai beberapa pengunjung. “Ada apa ini? Kenapa ramai sekali?”

Ia melambatkan laju mobil sport kebanggannya. Bola matanya bergulir kesana-kemari bermaksud memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Dan viola! Ia segera menghentikan –lebih tepatnya mengerem– mobilnya dengan mendadak ketika ia tahu apa penyebabnya. Ia tercengang menyaksikan sebuah banner besar yang menyambutnya.

‘Welcome home, Park Chanyeol.’

Kerumunan manusia yang terpecah hingga membuatnya mudah melihat pertunjukan yang ada. Di sana, kurang lebih berjarak tiga meter darinya, ada sekelompok orang yang berbaris dengan seragam cheerledance berwarna putih. Detik berikutnya sebuah backsound yang tedengar familiar menyulut kembali sorak sorai pengunjung yang di dominasi oleh pasangan tersebut.
[ ♫ AOA – 심궁해 (Heart Attack)]

`A-ye! Brave sound a little goes to round like this!`

Barisan itu terpecah, hingga terpampang jelas wajah-wajah para performer. Chanyeol berdecak kagum ketika matanya menangkap profil sosok yang amat ia kenal –dan tentunya ia rindukan–. Baekhyun. Byun Baekhyun. Kekasihnya, belahan jiwanya, dan juga tambatan hatinya.

Chanyeol tersenyum, ia meraih buket Red Rose dan Gypsophila yang ada di bangku sebelahnya. Ia bukanya pintu mobil berwarna hitam metaliknya dan ia menutupnya perlahan sebelum akhirnya ia meletakkan bawaannya di kap mobil. Tangannya ia lipat di dada dengan tubuh jangkungnya yang bersandar di pintu untuk pengemudi. Pandangannya tak pernah lepas dari gerak gerik sang kekasih yang ternyata mulai memasuki chorus backsound.

`Jakkuman simkunghae, nal beomyeo bolssurok
Gaseumi kungkundae, nado meoregeusseo~’

Mata berhias eyeliner itu mengedip sekali, menggoda pria yang menjabat sebagai petinggi di Park Inc yang mulai panas dingin di tempatnya berada. Senyum manis yang terukir di cherry tipisnya kian membuat si Jangkung kalang kabut. Tapi yang pasti itu semua tersembunyi rapi dengan wajah angkuh dan senyum tampan di paras rupawannya.

Penampilan mereka sudah memasuki klimaks, dan berakhir dengan sambutan riuh para pengunjung. Baekhyun dengan nafas yang terengah-engah menatap kekasihnya yang kini menghampirinya dengan sesuatu yang tersembunyi di belakang punggungnya.

“Jadi, bagaimana?” tanya Baekhyun dengan wajah yang berseri. “Apa kau suka, Chanyeollie?”
“Hmm… tentu saja aku suka.” Jawab pria yang lebih tinggi, perlahan ia merendahkan tubuhnya dengan tatapan yang tak perlah lepas dari paras cantik sang kekasih. “Terima kasih, Baekhyunku. Sudikah kiranya kau menerima lamaranku?”

Baekhyun menutup mulutnya. Matanya yang berbinar ceria perlahan berkaca-kaca. Rona kemerahan yang merambati wajahnya kian pekat ketika mendangar sorak sorai pengunjung yang memintanya menerima pinangan sang Pangeran hati. “Ya, aku mau.”

Chanyeol meraih kotak berwarna biru saphire di saku jaket baseball yang membalut tubuh kekarnya. Dengan cepat ia membuka, dan mengambil sebuah cincin platina dengan ukiran C & B dengan font Old English.

Ia meremas jemari lentik Baekhyun, mengecupnya lembut, dan memasang lingkaran simbol pengikat itu di jari tengah Baekhyun. “Sementara kita biarkan lingkaran kasih ini di sini, dan satu minggu ke depan akan memindahnya di sini,” Chanyeol tersenyum. “di jari manis.”

Kedua anak adam itu terus berpandangan. Chanyeol perlahan bangkit dari posisinya, melimpahkan atensinya pada Baekhyun. Tangannya bergerak untuk menangkup pipi bulat si Mungil, mengelusnya lembut penuh perasaan. Ia juga tak sungkan untuk mengeliminasi jarak antara mereka dan tanpa komando segera mendaratkan bibir penuhnya pada dua bilah tipis sang kekasih.

Awalnya hanya kecupan lembut. Dua detik berikutnya, Chanyeol mulai melumat bibir bawah Baekhyun yang dibalas oleh yang lebih pendek dengan mengulum bibir atas Chanyeol. Lenguhan-lenguhan yang terdengar dari keduanya justru membuat sorak sorai yang terdengar kian ramai. Bahkan beberapa di antara mereka sudah mengabadikan momen tersebut dengan bantuan ponsel maupun kamera digital.

“I…hh.. Love.. You..” bisik Chanyeol di sela lumatannya.
Baekhyun tersenyum dengan jemari yang terus meremas surai belakang Chanyeol. “I..Love You, too.. Chanyeolliehhh”

oOo FIN oOo

Epilogue :

Janji suci yang terucap di antara Chanyeol dan Baekhyun sudah terlewat dua jam yang lalu. Baekhyun yang kini menghapus sisa make up di wajahnya terus larut dalam kegiatannya, tanpa menyadari sosok ‘suami’nya yang telah selesai membersihkan diri dan memperhatikannya di daun pintu.

Aroma maskulin menguar di berbagai sudut ruangan ketika ia mulai mendekat ke arah prianya. Tetesan air yang menuruni tubuh atasnya yang telanjang nyatanya tak membuat Baekhyun yang asyik dengan dunianya bergeming.

“Hai, sayang..”

Suara berat yang tiba-tiba memecah keheningan membuat Baekhyun terlonjak dari kursi yang ia duduki. Lututnya bahkan terantuk meja rias dengan bunyi yang cukup keras, membuat Chanyeol meringis dengan ekpresi penuh penyesalan dan rasa bersalah yang kentara. Dengan tergesa ia menghampiri Baekhyun. “Oh, maafkan aku..” ucapnya sembari merendahkan tubuhnya, menatap penuh perasaan wajah polos sang pendamping hidup, sebelum akhirnya ia menundukan wajah dan mengecup lutut si Mungil yang terantuk. ‘chu’

Baekhyun terbelalak. Wajahnya merona parah mendapat perlakuan manis sang ‘Suami’. Ia menggigit bibir bawahnya. Matanya kian sayu ketika Chanyeol mengalihkan wajahnya tepat berhadapan dengannya.

Jarak antara keduanya kian menipis. Hembus nafas hangat Baekhyun rasakan seakan menampar pipi mulusnya yang memerah. Hawa ruangan berubah. Ia merasa jika ruangan yang mereka tempati kian panas.

“Baekhyuniee..” Chanyeol menghembuskan nafasnya di telinga Baekhyun, berbisik mesra dengan hasrat yang terasa menggelora. “You’ll be mine..”
“Ugh… I’m yours..” Baekhyun berujar di sela-sela menahan rasa geli yang menjalar.

Chanyeol meraih bibir tipis Baekhyun dengan miliknya. Disesapnya dengan rakus dan diiringi dengan lumatan dan gigitan yang berkesinambungan. Jemarinya dengan aktif meraih kaitan bathrobe yang menyelubungi tubuh mungil sang Kekasih hati dan juga dirinya sendiri hingga tubuh keduanya polos tanpa sehelai benang pun.
Dan kegiatan itu berlanjut dengan pergulatan untuk menyalurkan perasaan dan kehangatan di atas ranjang.

“Aku mencintaimu Baekhyunieeee..” erang yang lebih tinggi ketika menjemput kenikmatan.
Baekhyun tersenyum di sela kegiatannya yang menormalkan deru nafasnya. “Dan begitu pula denganku..”

`chu`

Kecupan lembut sebagai penutup. “Akhirnya kutemukan kepingan terakhir dalam hidupku.”
Hening dalam hitungan detik, “usai sudah penantian panjangku.”

Dan mulai detik itu perjalanan bahtera rumah tangga yang terbina diantara mereka dimulai.

oOo 찬벡oOo 찬벡oOo 찬벡oOo

Floriography :
[1] Pink Rose : “Sayangku”, rasa kagum, kebahagiaan, “percayalah padaku’, terima kasih
[2] Daffodil : Menghormati, menghargai, kelahiran kembali
(*satu tangkai berarti kemalangan, satu rangkaian berarti harapan, kegembiraan dan optimisme)
[Dan disini aku artikan sebagai Pria yang aku hormati, Pria yang menghargaiku.]
[3] Cattleya : Pesona dewasa
[4] Gypsophila (Baby’s Breath) : Kepolosan, ketulusan
[5] Chinese Aster : Kecemburuan
[6] White Chysanthemum : Kejujuran/kebenaran, setia

Notes :
*) Ingat TEL yang Baekhyun memakai jepit dengan nama Sehun? Itulah gambarannya.
Mohon maaf ya epilogue-nya kurang memuaskan..
Terimakasih yang sudah berkenan membaca..
Salam sayang dari Caspian/g
Salam Pramuka!!!

 

18 thoughts on “[FF February Love Mission] Antara Sutra dan Bulan || Lala Maqfira

  1. ff nya manis bgt kaya kue ..
    banyak bahasa bunga nya jadi makin kerasa romantisnya ..

    apalagi cara lamAran chanyeol yang tidak biasa . jadi kesannya dia pria romantis bgt .

    terus cara baekhyun menyambut chanyeol juga lucu . ngebayangin aja anggota exo yang manis nari heart attacknya Aoa kan sexy bgt .

    aku gk tahu dech mau komentar apa lagi . semangat aja buat ff nya dan terima kasih

    • Aaaa… terimakasih sebelumnya sudah berkenan membaca dan juga meninggalkan jejak di ff-ku.
      Jangan dibayangkan mendingan daripada nanti mimisan😄 /tampar diri sendiri/
      Iya, yang scene lamaran Chanyeol terinspirasi pas aku buat program sederhana..
      terima kasih sekali lagi^^

  2. ff nya manis bgt kaya kue ..
    banyak bahasa bunga nya jadi makin kerasa romantisnya ..

    apalagi cara lamAran chanyeol yang tidak biasa . jadi kesannya dia pria romantis bgt .

    terus cara baekhyun menyambut chanyeol juga lucu . ngebayangin aja anggota exo yang manis nari heart attacknya Aoa kan sexy bgt .

    aku gk tahu dech mau komentar apa lagi . semangat aja buat ff nya dan terima kasih

  3. Sumpah ya ini sweet banget. Tiap scene yang aku baca senyum ku gak pernah ilang. Seakan aku juga ikut merasakan kebahagiaan ChanBaek.

    Author di kc emang waarrrbbiiaaassaaah
    Keren.

    Ah aku gak tahu mau review apa. Terhanyut aku sama ceritanya jadi otakkua ngeblenk kaya gak menemukan cacat sedikitpun dalam ff nya.

    Bahasa yang di gunakan simple dan alurnya pun walau oneshoot gak terkesan buru2. Seperti udah terkonsep sangat matang gitu.

    Keren author nim

    • hehehe..
      Sebenarnya ide ceritanya sudah ada sejak beberapa bulan yang lalu dan baru terealisasikan dalam waktu seminggu yang lalu😀

      terima kasih sudah berkenan membaca dan meninggalkan review🙂

  4. yampun sweet banget sih pas bagian chanyeol minta maaf ke baekhyun, mau dikaya gituin, beruntung banget sih kamu bee><

  5. seneng nya baca ff ini. aku selalu suka baca fanfict chanbaek yang karakter yeol nya gilain baek banget.
    lamaran lewat aplikasi… itu hal yang baru buat aku, baru di ff ini nemunya. dan itu gula banget. alias manis nis nis…. eh si baek malah gak sempet jawab udah keburu mati aja tu laptop dan yeolnya udah keburu berangkat luar negeri.
    baek nya manjah ya. selalu tau cara nya bikin yeol ketar ketir. dan itu aku sukaaaaaa.
    hanya menurut ku konfliknya kurang berasa, itu ajah. *abaikan saran gak pentingku*. hehehe
    gak kebayang aja baek nariin heart attack nya aoa. uh aku juga bakal keringet dingin kali. hihihi
    segitu aja, love love buat author.

    • A-Yo! (?) Caspian, here~~ /hula-hula/
      Yes, that was me who likes to make Chanyeol character who is crazy about Baekhyun~~ /senyum 5 jari/
      Ey..
      Baekhyun yang manja kan Unyu😄 wkwkwkwk
      Aku sengaja buat konfliknya yang ringan..
      Soalnya konflik batinku udah berat /apaan sih *ditampol*/
      Thanks for review~
      And love you too❤

  6. Halo Lalaspian /apasih
    Garam mana garammm
    busettttt manisnya lubeeeeeerrrrrrrrr
    senyum mulu bacanya astaga
    tim emak2 rempong bantuin calon mempelai uke (?) cross dress untuk membuat PCY tersepona. Ihhhh aku juga mau dong dikasih bahasa bunga *colek pcy* bahasa duit apalagi *colek suho* (?????)
    FFnya bukan cheesy, tapi chrunchy. Asli Chanyeol pria idaman jagat raya banget. Baekhyun, beruntungnya dirimu, Barbie. Langgeng ajalah pokoknya *tebar mawar*
    plotnya ringan, legit dan asyik.
    Konfliknya tipis tapi nyess di hati.
    Tetap semangat nulis ya Lala. ^^

    • hohohohohoho~~ Kak PUNZEL KOMEN SENANGNYA HATI CASPIAN/g. Aku kirimin garam satu gepok(?) tenang ae, kak~ tapi nanti soalnya si(?) garam masih di gudang kak /bukan merk produk🙂 /

      Doh chrunchy cem keripik ae :> /tutup muka pake panci😄 /
      Sengaja bikin konflik ringan ketimbang berat soalnya jalan hidupku sendiri sudah berat🙂 *tsahh*
      Insya Allah langgeng dengan restu kita bersama /Amin/ *aposeh*
      Thanks ya kakakku tertjintah :*
      Kau benar-benar laksana mawar peach yang menghias sudut florist di Rawabelong *eaaa mulai modus*

      Kakak juga semangat~
      jangan lupa lacrimosa ditunggu~~ (/’o’)/ *melipir sembari hula-hula*

  7. eung,bahasanya agak berat/? klo menurutku ._.v
    gimana ya jelasinnya,.kaya kata2nya itu..doh ,.mungkin bahasanya itu bisa dipermudah dan jgn terlalu puitis/?..doh maaf aku komen gini,.jgn marah atau kesinggung , aku cuma berpendapat,dan ini ya ciri khas mu ._.v
    klo buat isi ceritanya,maniss banget,.sweet2 adem2 gmana gitu,park chanyeol nya idaman banget..

    • Ehehehe /ditabok/
      Maaf ini reply di awali dengan cengengesan GJ /sungkem/
      Waduh, maaf dear kalau bahasaku terlalu berat..
      padahal biasanya…
      .
      .
      .
      .
      .
      .
      .
      .
      .
      -juga gitu sih, kayaknya(?) ._.v *peace*
      tenang ae, aku ndak bakal kesinggung kok. Your opinion like vitamin(?) for me🙂 *eaaa*
      Thanks for review~~

  8. Ping-balik: [!!!] List FF February Love Mission | Keluarga_Cemara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s