[KC Project] September Rain – ChanBaek || D.O.ssy


September Rain

 

ALF Zone: Wuih… ada aroma sad sadnya itu gue banget (?). btw posternya keren #plak. skali lagi makasih buat partisipasinya memeriahkan(?) blog KC lagi. adminnya memang mau disogok soekarno hatta biar aktif lagi. #nadah duit. okay, back to story. keanya timpang dengan tema september ceria, ini mah september kelabu #eaaaaaa. dan sepertinya ane udah gak sabar buat baca. yuk… mari dibaca…

 

 

 

Title : September Rain

Author : D.O.ssy

Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Park Minsung

Genre : Sad Romance

Rating : PG15

Warning : Typo(s), alur maju mundur, boys love

Disclaimer : Cerita di FF ini diadaptasi dari komik Jepang yang judulnya Don’t Let Me Awake if This is a Dream karya Yasuko /mungkin kak ALF pernah baca?/. Ah beneran deh, itu komiknya bagus banget, jadi untuk yang belum baca komiknya, aku bikin deh versi FF nya hehe..

Poster Credit : lightlogy @ Art Fantasy

Disaat bener-bener kangen sama FF nya kak ALF, terus mampir di KC, eh ada proyek September Ceria. Ngebet pengen ikutan, dan bikin deh FF, sebenernya bukan FF ini yang mau aku kirimin, tapi berhubung FF itu belum selesai dan malah buntu di tengah jalan sedangkan waktu nya mepet banget, belum lagi kalo request poster ga mungkin beres dalam waktu kurang dari 3 hari, ya udah deh aku bikin FF adaptasian dari komik ini. Gak apa-apa kan ya?

Ngga ngarepin hadiah atau apa-apa /emang siapa yang mau ngasih hadiah ke aku??/, cuma pengen memeriahkan blognya kak ALF. Mudah-mudahan ada yang baca FF gaje saya😀

Karena FF ini alurnya maju mundur, pokoknya paragraf yang dicetak miring berarti ingatan Baekhyun yaa..

 

Happy reading!

 

 

 

 

Summary : Park Chanyeol, aku mencintaimu, dan semua kebohonganmu.

 

 

 

 

–Baekhyun POV—

 

“Ayo kita naik bianglala itu!” Aku menunjuk-nunjuk salah satu wahana di hadapanku pada teman-temanku dengan semangat.

 

“Naik jet coaster saja.” Salah satu temanku, Kai, memprotes. “Bianglala kan membosankan.”

 

“Nae, aku juga ingin naik jet coaster!” seru teman-temanku yang lain tanda setuju akan usulan Kai.

 

Aku cemberut. “Ya sudah aku naik sendiri saja.”

 

“Ah, aku juga mau naik bianglala, ayo kita naik bersama.” Temanku yang lain, yang bernama Chanyeol, mengintrupsi.

 

Aku menoleh pada si jangkung itu dengan mata berbinar. “Oke!”

 

“Ya sudah, 30 menit lagi kita berkumpul disini, okay?”

 

Rombongan pun membubarkan diri, berpencar-pencar sesuai dengan permainan yang ingin dinikmati di taman bermain ini. Aku menarik Chanyeol dan berlari riang menuju wahana yang akan kita tumpangi berdua.

 

Bianglala….

 

*

 

“Wah, hebat, hebat! Chanyeol-ah, lihat kemari! Pemandangan dari atas sini keren sekali!” Tak henti-hentinya aku berteriak sumringah, sekaligus takjub akan keindahan pemandangan saat sunset dari bianglala ini.

 

Hening. Tidak ada tanggapan dari Chanyeol. Aku melirik namja yang duduk di hadapanku itu. Wajahnya pucat sekali. Apa dia sakit?

 

“Chanyeol-ah, kenapa?” Aku pindah dari tempat duduku tepat ke sampingnya, membuat bianglala itu sedikit bergoyang. Aku melihat reaksi Chanyeol yang tampak sedikit aneh. Oh, dia tidak sakit, hanya— “Kau takut ketinggian?” terkaku.

 

“T… Tidak,” sanggahnya, padahal dengan jelas dapat kulihat raut wajah tegang sekaligus takutnya.

 

“Padahal kau tidak perlu memaksakan naik kalau takut keting—-“

 

“Aku mana mungkin membiarkan namja yang kusukai naik bianglala seorang diri!”

 

DEG

 

Ia menatap manik mataku lamat-lamat. “Aku menyukaimu Byun Baekhyun. Jadilah kekasihku.”

 

Diam.

 

Aku diam mematung, masih terpana akan apa yang barusan kudengar. Bias cahaya langit senja menerpa wajah putih namja di sampingku ini, membuatnya tampak bersinar bagai malaikat yang turun ke bumi untuk menemuiku. Oke, aku berlebihan tapi aku tak pernah tahu bahwa Park Chanyeol setampan ini, bahkan ekspresi gugupnya tak mengalahkan pesonanya. Obsidiam hitamnya yang indah kini bergerak-gerak cemas menunggu jawabanku.

 

“Ehmm… Byun… Baekhyun….” tegurnya canggung. “Itu…. aku….”

 

Aku tersenyum tipis. “Boleh…..”

 

Ia membulatkan matanya. “Ng…”

 

“Aku mau jadi kekasihmu.”

 

“SUNGGUH?” Ia spontan berdiri saking terkejutnya, membuat bianglala kembali bergoyang. “Huwaaaaa….!” Chanyeol menjatuhkan dirinya ke lantai sembari berpegagan erat pada kursi. Aku dapat mendengar deru nafas tak beraturannya.

 

Aku terkekeh kecil, “tuh kan benar, kau takut ketinggian.” Aku mengulurkan tanganku untuk membantunya. “Dasar pembohong.”

 

Ia tersenyum menyambut tanganku.

 

Park Chanyeol, aku…. juga menyukaimu. Dan kebohongan kecilmu.

 

 

—–Author POV—–

 

“Selamat pagi Baekhyunie, hari ini cerah sekali ya..”

 

Seorang namja berperawakan tinggi, berambut gondrong, dan sedikit berewok di wajahnya menatap sendu pada sosok yang terbaring dalam keadaan koma di hadapannya, sosok Byun Baekhyun. Ia masih setia disana, menunggui Baekhyun yang belum juga sadarkan diri. Namja itu menghembuskan nafas berat seraya memaksakan senyumnya. “Baekhyunie, aku menunggumu seperti ini selamanya pun, tak apa-apa. Aku sudah cukup bahagia.”

 

“Pembohong..”

 

“Eh?” Namja itu membelalakkan matanya kaget. Apa ia tak salah dengar? Itu suara Baekhyun. Ia memperhatikan dengan seksama tubuh namja yang masih terpejam di hadapannya, untuk memastikan asal suara yang barus aja ia dengar.

 

Untuk sepintas namja itu ragu akan indera pendengarannya, namun tak berlangsung lama karena setelah itu ia mendapati kelopak mata Baekhyun yang mulai bergerak perlahan.

 

Tuhan, ini bukan mimpi kan?

 

Namja itu melihat mata Baekhyun terbuka seluruhnya.

 

“Byun Baekhyun….” panggil namja itu terharu. Pelan, Baekhyun memutar pandangannya menatap namja yang telah dengan setianya menemani dirinya selama ini.

 

“Ahjusshi siapa?” Pertanyaan pertama yang meluncur dari bibir tipis Baekhyun membuat namja itu tercengang.

 

“Ah, aku panggilkan dokter,” ujarnya lantas beranjak meninggalkan kamar rawat. Baekhyun beralih mengamati suasana di sekelilingnya, masih bingung atas apa yang terjadi dan dimana ia sekarang.

 

Tak lama, namja itu kembali bersama dengan seorang dokter dan perawat. Dokter memeriksa kondisi Baekhyun lalu melepaskan alat-alat kedokteran yang ada pada tubuhnya. Setelah berbincang cukup lama dengan dokter itu di depan pintu kamar, akhirnya namja misterius itu kembali menghampiri Baekhyun.

 

“Menurut pemeriksaan dokter, kondisimu stabil. Tapi kau belum bisa kembali seperti semula. Kau mengalami kecelakaan dan koma selama sebulan,” terangnya sambil membereskan barang-barang di kamar rawat Baekhyun.

 

“Satu bulan?” Baekhyun bertanya sedikit tak percaya. “Ngomong-ngomong, ahjusshi siapa?” Ia masih penasaran.

 

Namja itu terdiam sejenak mendengar pertanyaan Baekhyun. “Park Minsung, saudara jauhmu,” jawabnya dingin. “Hanya aku yang menjagamu selama kau tertidur.”

 

Baekhyun menautkan alisnya. Ia bersumpah bahwa ia tidak pernah punya saudara jauh yang bernama Park Minsung. Seketika ketakutan melanda hatinya. Ia meremas selimut yang menaungi tubuhnya. “Aku kan masih punya orang tua, dan juga….. Park Chanyeol. Dimana dia?”

 

“Byun Baekhyun, kepalamu terbentur saat kecelakaan. Jadi kau tidak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan.”

 

Ha? Apa yang ia katakan barusan? keluh Baekhyun dalam hati. Mimpi?

 

“Ayo kita pulang.”

 

“Pu… Pulang kemana?”

 

“Ke rumahku.”

 

“Apa?” Tanpa sepatah kata lagi, namja itu mengangkat tubuh Baekhyun untuk membawanya pergi.

 

Dan Baekhyun hanya bisa memberontak sekuat tenaga untuk melepaskan diri. “Ya! Ahjusshi turunkan aku! Kenapa aku harus ikut pulang ke rumahmu?” Namun tampaknya usahanya sia-sia karena ahjusshi itu tentu lebih kuat, ditambah lagi kondisi Baekhyun yang belum pulih sepenuhnya.

 

 

—–*****—–

 

 

Di depan sebuah rumah sederhana di pinggiran kota, namja yang mengaku bernama Park Minsung itu menurunkan tubuh kecil Baekhyun. “Tunggu sebentar,” titah Minsung kemudian masuk ke rumahnya.

 

Baekhyun sebenarnya sudah mempunyai rencana untuk segera melarikan diri dari sana, namun…

 

PPRRAAAAAANNNNGGGGGGG!!!!

 

Ia terlonjak kaget mendengar suara ribut memekakkan telinga yang berasal dari rumah itu. Ada apa ini? Baekhyun mulai ketakutan.

 

Tak lama sosok Minsung muncul. “Ayo masuk,” ajaknya sembari menarik tangan Baekhyun. Perasaan khawatir mulai menjalar seiring langkahnya masuk ke rumah orang asing itu.

 

Baekhyun menghentikan langkahnya. “Tunggu ahjusshi..” panggil Baekhyun takut-takut, ia mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Minsung, lantas memberanikan diri melakukan kontak mata dengannya. “Mana ponselku?”

 

Ada jeda sejenak sebelum namja itu menjawab. “Rusak sewaktu kecelakaan,” jawabnya datar.

 

“Lalu appa dan eommaku?”

 

Ia diam, tak menjawab.

 

“Dan Chanyeol?”

 

Ia kembali bungkam, kini bahkan ia memandang ke dalam manik mata Baekhyun dengan dinginnya.

 

“Aku bertemu dengan Chanyeol sebelum kecelakaan itu. Aku masih mengingatnya! Dan aku tidak kenal ahjussi!”

 

“Sudah kubilang, mereka yang kau sebut itu hanyalah khayalan. Kau sedang bermimpi.” Minsung tidak mengalihkan tatapan tajamnya dari wajah Baekhyun. “Wajar kau tidak mengenalku, karena aku saudara jauhmu.”

 

Baekhyun jengah. Bagaimana mungkin ini adalah khayalan? Sementara ia dapat dengan jelas mengingat semuanya. Ia tidak hilang ingatan. Baekhyun melangkah mundur, berusaha menjauh. Sosok Minsung benar-benar menakutkan baginya. Namja misterius itu sama sekali tidak menghampiri Baekhyun, tetapi tatapan tajamnya seolah memburu dan hendak membunuh Baekhyun saat itu juga.

 

Trekkkkk…

 

Jantung Baekhyun semakin kencang berdetak, kala kakinya menyentuh sesuatu yang dingin. Keringat mulai deras bercucuran di pelipisnya. Ia menoleh untuk memastikan ada apa di kakinya. Ternyata itu adalah sebuah potongan kaca dari cermin dinding yang sudah pecah di belakangnya. Dan tatkala Baekhyun kembali mengalihkan penglihatan ke depan, ia tersentak, Minsung sudah berada persis di hadapannya.

 

“Ini kenyataannya Byun Baekhyun.” Ia menyeringai.

 

Brukkkkk….

 

Baekhyun akhirnya jatuh pingsan.

 

 

—–*****—–

 

 

“Nae, gwaenchana…” Baekhyun mendengarkan dengan seksama ucapan seseorang dari seberang telepon. “Sekarang aku sedang bersama Chanyeol. Nae, aku akan pulang cepat kok. Daaahhhh.”

 

Klik.

 

“Eomma mu?” tanya namja di sampingnya. Mereka sedang berjalan beriringan sepulang dari sekolah.

 

Baekhyun mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya. “Nae, aku hanya bilang pada eomma kalau aku diikuti seseorang, reaksinya malah jadi heboh begitu,” jelasnya setelah menutup layar ponsel flipnya.

 

“Lebih baik kau lapor polisi, Hyunnie. Bisa saja penguntit itu mencelakaimu.”

 

“Biarkan saja. Dulu dia terus-terusan mengikutiku, sekarang sudah jarang terlihat lagi. Mungkin ia cemburu karena aku sudah punya kekasih. Yah, apa boleh buat, orang semanis aku pasti banyak yang mengejar-ngejar.”

 

Chanyeol menghela nafas pelan menanggapi kenarsisan Baekhyun. “Baiklah, tapi sebaiknya kau berhati-hati.”

 

“Tenang saja. Kan ada Chanyeollie yang melindungiku,” jawab Baekhyun tertawa-tawa.

 

“Oke, kalau musuh datang, aku akan berlari meninggalkan Hyunnie,” candanya.

 

“Huh…” Baekhyun mendesis kesal. Dan Chanyeol hanya bisa tertawa melihat kekasih menggemaskannya itu.

 

“Nah, sampai besok ya. Daaahhh…” pamit Chanyeol sesampainya di depan rumah Baekhyun.

 

“Heummm…” Baekhyun mengangguk seraya tersenyum manis mengantarkan kepulangan Chanyeol. Namja jangkung itu membalikkan badan seiring dengan lambaian tangannya.

 

Baekhyun tak lekas beranjak masuk. Ia masih diam di depan rumahnya menatap punggung kekasihnya yang berjalan menjauh. Punggung seseorang yang begitu Baekhyun cintai dan selalu ia rindukan.

 

“Chanyeollie….” panggil Baekhyun setengah berteriak.

 

Chanyeol menolehkan kepalanya ke belakang. “Ada apa? Cepat masuk Baekhyunie, hari sudah makin gelap dan dingin,” balasnya. Wajahnya memerah, mungkin efek dari udara musim gugur di bulan September ini yang semakin menurun suhunya. Baekhyun terkekeh dalam hati melihat wajah lucu sang kekasih. Ia hanya ingin mengucapkan terima kasih atas perhatian dan kasih sayang yang diberikan Chanyeol selama ini padanya. Sungguh, Baekhyun merasa sangat beruntung dipertemukan dengan takdirnya, Park Chanyeol. Dan ia tidak menyesal telah menerima Chanyeol di sisinya, ia bahagia. Teramat bahagia…. Hingga Baekhyun tidak menyadari akan perubahan raut wajah Chanyeol saat itu.

 

“Park Chanyeol…Goma—“

 

“BYUN BAEKHYUN, AWAAAASSSSSS!!!!!!!”

 

 

BRRUUUUUUUUUUUUKKKKKKK….

 

 

Sebuah mobil berkecepatan tinggi menghantam keras tubuh Baekhyun dari belakang.

 

*

 

Baekhyun mengerjapkan matanya, lantas memijat sedikit pelipisnya yang agak pusing. Ia bermimpi. Kejadian itu. Kejadian saat kecelakaan itu. Bahkan sampai sekarang Baekhyun masih bisa mengingatnya seperti hari kemarin. Saat itu ia memang tidak melihat siapa pengemudi mobil yang menabraknya, tapi apakah mungkin orang itu adalah………. Park Minsung???

 

Baekhyun bangkit dari pembaringannya, kemudian memeriksa sekujur tubuhnya karena seingatnya ia tak sadarkan diri setelah hampir menginjak pecahan cermin yang berhamburan di lantai. Namun ia sedikit bingung menemukan dirinya baik-baik saja, bahkan tak sedikitpun terdapat luka pada tubuhnya. Tak lama, kebingungannya terjawab sudah ketika ia mendapati sosok Park Minsung yang tertidur dalam keadaan duduk di sudut ranjang dengan tangan besarnya berbalut perban. Sesaat Baekhyun terkesima, namun ia mendengkus kemudian. “Salah sendiri memecahkan kaca.”

 

Minsung bergerak pelan, ia terbangun. Mungkin karena suara Baekhyun mengusiknya.

 

“Oh sudah sadar, ya,” sambutnya begitu melihat Baekhyun. Suaranya serak, matanya setengah terpejam. Ia meregangkan tubuhnya, mengumpulkan nyawanya. “Maaf membuatmu kaget.” Ia mengusap surai hitam Baekhyun dengan lembutnya. Kemudian ia beranjak ke kamar mandi, mencuci mukanya, lalu mengambil jaketnya dan bergegas keluar.

 

“Mau kemana?” tanya Baekhyun penasaran.

 

“Kerja.”

 

Baekhyun melirik jam yang terpasang di dinding cream kamar tak jauh dari tempatnya.

 

Pukul 5 sore, memang apa pekerjaannya?

 

“Aku pulang agak malam. Tirainya jangan dibuka, ya. Bahaya,” pesan terakhirnya sebelum benar-benar keluar dari rumah.

 

BLAM

 

Baekhyun mengernyitkan dahi. Apa-apaan ini? Seharusnya ia yang lari dari sini, tapi kenapa malah Minsung yang pergi?

 

“Ah ini kesempatan yang bagus untuk kabur,” pikir Baekhyun. Ia meraih telepon di meja nakas, secepat kilat menekan tombol yang sudah ia hapal di luar kepala. Nomor Park Chanyeol.

 

“Nomor yang anda hubungi tidak terdaftar.”

 

Suara operator menyambut panggilan Baekhyun. “Aneh,” gumamnya. Ia menekan tombol lain, nomor rumahnya. Namun kembali, jawaban yang sama ia dapatkan.

 

Baekhyun jadi bergidik ngeri tatkala ia teringat akan ucapan Minsung tadi siang.

 

Mereka yang kau sebut itu hanyalah khayalan.

 

“Benarkah begitu? Orang tuaku, Chanyeol dan semuanya, adalah khayalan? Tidak mungkin!” Baekhyun berniat menelepon polisi.

 

Sejurus kemudian netranya menangkap sesuatu di bawah nakas, yang ternyata adalah tas penuh berisi pakaiannya. Ya, pakaiannya. Baekhyun yakin itu adalah pakaiannya, mengingat ukuran tubuh Minsung yang terlalu besar untuk memakai pakaian sekecil ini.

 

Jadi, diakah yang selalu merawatku?

 

Baekhyun lirik gagang telepon yang tadi hendak digunakannya untuk menghubungi polisi. Sekilas ia memang merasa ada sesuatu yang janggal disini, tapi Baekhyun pun ragu untuk melaporkan Minsung pada polisi. Akhirnya ia mengurungkan niatnya, ia tutup kembali gagang telepon tersebut.

 

Baekhyun beralih menelusuri tiap sudut kamar Minsung yang ditempatinya dengan seksama. Begitu suram dan redup. Layaknya sebuah ruangan yang ditinggal penghuninya.

 

Baekhyun membuka tirai selebar-lebarnya, membiarkan cahaya petang merembes masuk ke dalam. Ia melihat Minsung yang belum begitu jauh. Punggung itu….. Entah mengapa punggung Minsung mengingatkannya pada punggung orang yang terkasihnya, Park Chanyeol.

 

.

 

Malam itu, Minsung pulang sangat larut. Ia menemukan Baekhyun yang sedang terlelap di ranjangnya. Ia tersenyum lega seraya memandang Baekhyun amat lembut dan tulus. Namun yang Minsung tidak sadari adalah bahwa Baekhyun hanya berpura-pura tertidur. Ia dapat melihat semuanya.

 

Sejak saat itulah Baekhyun merasa, Minsung bukanlah si penguntit.

 

 

—–*****—–

 

 

Waktu menunjukkan pukul 5 pagi. Baekhyun terbangun akibat suara gaduh dari halaman rumah yang terdengar jelas sampai ke kamarnya. Ia menyibak tirai kamar di lantai dua tersebut hanya untuk memastikan sumber suara berisik itu.

 

DEG

 

Baekhyun memicingkan matanya, tak yakin atas apa yang ditangkap indera penglihatannya. Tetapi seberapa kalipun ia mengerjap-ngerjap, tidak ada yang salah dengan matanya. Ia yakin bahwa itu adalah…… Chanyeol yang sedang bercakap-cakap dengan Minsung!

 

BRUKKK…

 

Baekhyun ambruk ke lantai. Ia lupa bahwa tubuhnya belum sepenuhnya pulih dan belum bisa digerakkan semaunya pasca koma yang cukup lama. Baekhyun meringis. Yang ada di pikirannya sekarang hanyalah berlari menemui Chanyeol. Ia begitu merindukannya, namun ia tidak berdaya bahkan hanya untuk turun tangga dan berjalan ke halaman rumah sekalipun. Baekhyun kembali mengintip ke arah jendela, berharap Chanyeol masih ada disitu dan menyadari keberadaannya.

 

Disana, tampak Chanyeol beranjak pergi menjauh dari rumah bersamaan dengan Minsung yang sepertinya akan berangkat kerja.

 

Ini nyata! Tidak salah lagi, ini bukan mimpi!

 

 

—–*****—–

 

 

Minsung yang baru saja bangun dari tidurnya sedikit tertegun menemukan Baekhyun yang terlihat sibuk di dapur.

 

“Pagi,” sambut Baekhyun menyadari kehadiran Minsung dan hanya ditanggapi anggukan kikuk oleh namja gondrong itu. “Di lemari es mu tidak ada bahan yang bagus, ahjusshi. Jadi aku buat seadanya saja.” Baekhyun menyajikan hasil masakannya di atas meja makan.

 

“Selamat makan,” ucap Minsung dengan ekspresi datarnya, seperti biasa.

 

“Ngomong-ngomong, ahjusshi. Pekerjaanmu apa?” Baekhyun membuka pembicaraan, melihat Minsung yang dengan tenang melahap sarapan paginya.

 

“Macam-macam. Di konstruksi bangungan, jadi satpam, pengantar koran.”

 

“Oh..” Baekhyun menundukkan kepalanya. Apa benar itu semua untuk biaya perawatanku? Ia membatin.

 

“Gomawo. Makanannya enak.” Suara Minsung memecah lamunan Baekhyun. Ia sudah selesai rupanya. Entah mengapa kalimat sederhana yang dilontarkan Minsung barusan memberikan sensasi hangat pada diri Baekhyun. Ia jadi gugup.

 

“Be.. benarkah?” Baekhyun salah tingkah lantas menyambar mangkuk sup miliknya yang sama sekali belum disentuh, kemudian meneguk kuahnya cepat-cepat. Berharap dengan begitu perasaan aneh yang tiba-tiba muncul itu bisa hilang.

 

“Uhukkk…” Baekhyun terbatuk hampir mengeluarkan lagi apa yang telah ia telan. “Ukkhhh… Bohong!” keluhnya setelah merasakan hasil masakannya. Bukan hanya tidak enak, ia bahkan tidak yakin bahwa ini layak disebut sebagai makanan. Tapi kenapa Minsung bisa menghabiskan benda ini dengan santainya?

 

“Ahjusshi!” panggil Baekhyun menghentikan Minsung yang sudah beranjak dari ruang makan dan hendak pergi kerja. “Kemarin pagi aku melihatnya. Ahjusshi berbicara dengan Chanyeol di halaman rumah. Ia pasti datang kemari untuk mencariku kan? Pertemukan aku dengannya!”

 

Minsung menatap Baekhyun intens. “Tidak ada orang seperti itu yang datang.”

 

Apa? Setelah berbohong mengatakan makananku enak, sekarang ia lagi-lagi melakukannya. Ada apa dengan orang ini? Aku jelas-jelas melihat Chanyeol kemarin. Mengapa ia masih berbohong?

 

“Kumohon ahjusshi, katakan yang sebenarnya. Aku percaya ahjusshi orang yang baik, jadi—“

 

“Kau bermimpi lagi.”

 

“Aku tidak bermimpi ahjusshi. Kenapa kau tidak mau memberitahukan apapun?” sentak Baekhyun. Ia sudah berada pada limit kesabarannya.

 

Minsung tidak menjawab lagi. Ia mengambil jaketnya dan pergi.

 

“Ahjussi, tung—“

 

BLAM

 

Pintu rumah tertutup dengan sedikit bantingan. Baekhyun mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia kesal bukan main. Tidak sudi dipermainkan terus-terusan. “Biar aku saja yang keluar dari rumah ini!”

 

 

*

 

 

Baekhyun menatap nanar jalanan di sekitar rumah Minsung layaknya orang yang kehilangan arah dan tujuan. Memang begitulah keadaan Baekhyun sekarang. Ia betul-betul tak tahu sebenarnya dimana ia berada. Berkali-kali kakinya goyah hingga hampir terjatuh. Ia masih belum bisa menggerakkan tangan dan kakinya dengan sempurna. Sampai akhirnya Baekhyun merasakan lelah yang sangat menderanya, ia bersandar pada sebatang pohon di pinggir jalan.

 

Aku harus pergi kemana?

 

Chanyeol, kau dimana?

 

Eomma…

 

Appa…

 

Baekhyun berada pada keputus-asaannya.

 

DEG

 

Sekali lagi Baekhyun melihatnya. “Cha…Chanyeol,” gumamnya tak percaya. Sekuat tenaga ia berusaha menyeret kakinya untuk mendekati sosok itu. Namun…

 

Langkahnya terhenti. Kakinya tiba-tiba kaku. Tubuhnya bergetar keras. Dadanya berdentam hebat. Ia menyaksikan Chanyeolnya, merangkul seseorang yang lain ––yang sama sekali tidak Baekhyun kenal–– dengan mesranya.

 

*

 

“Baekhyunnie, boleh aku menciummu?” pintanya Chanyeol takut-takut.

 

Baekhyun sedikit terkejut namun berusaha sesantai mungkin. “Dasar. Tak perlu tanya segala!” balasnya ketus.

 

“Ma… maaf,” jawab Chanyeol rikuh.

 

“Baiklah. Kalau kau mau berjanji, seumur hidup bersamaku, kau boleh menciumku.”

 

Chanyeol terlihat berpikir keras. “Seumur hidup? Kalau begitu tidak jadi, deh.”

 

“Mwo?” Chanyeol memalingkan wajahnya ke arah lain. “Park Chanyeol!” Baekhyun sedikit kesal. Apa Chanyeol tidak mau serius bersamanya?

 

CUPPPP….

 

Tanpa aba-aba Chanyeol mengecup bibir tipis Baekhyun tiba-tiba. Ciuman yang singkat namun tak terbesit sedikitpun maksud lain selain cinta di dalamnya. Seketika wajah Baekhyun memerah sempurna karena perlakuannya. “Kau tertipu,” ejek Chanyeol dengan cengiran khasnya menunjukkan gigi putihnya yang berjejer rapi. “Selamanya, Park Chanyeol akan berada di sisi Byun Baekhyun.”

 

*

 

“Kenapa. Kenapa ia mengingkari janjinya semudah itu?” Baekhyun ambruk ke tanah. Tak kuasa lagi menahan perih di hatinya. Tubuhnya lemas seakan tak memiliki tenaga sama sekali. Air mata yang tak bisa dibendungnya meluncur bebas di pipi pucatnya.

 

Tes… Tess…

 

Hujan turun seolah ikut menangis bersamanya.

 

“Park Chanyeol… Park Chanyeol….” Baekhyun tak henti-hentinya memanggil nama itu. Nama orang yang begitu dicintainya. Meskipun Baekhyun tahu, ini mungkin sudah berakhir. Chanyeol tidak akan mendengarnya.

 

Ciplak… Cipluk…

 

Baekhyun mengangkat wajahnya saat samar-samar ia mendengar langkah kaki yang mendekat ke arahnya disertai nafas terengah sang pemilik langkah kaki. Orang itu…. Park Minsung!

 

“Baekhyunnie, sudah kubilang jangan keluar rumah!” Ia betul-betul panik. Lalu melepas jaketnya dan menyelubungi tubuh namja kecil yang sebenarnya sudah basah kuyup itu agar tak lagi terkena guyuran hujan.

 

“Chan… Chanyeol….” lirihnya.

 

“Ah… Dia… Chanyeol… Kemarin mengatakan padaku bahwa ia akan bersekolah keluar negeri. Ia langsung berangkat kemarin. Jadi ia meminta padaku untuk menjagamu.”

 

Baekhyun kembali mengeluh dalam hati. Apa yang sebenarnya dibicarakan Minsung? Padahal Baekhyun baru saja melihat Chanyeol. Mengapa Minsung selalu saja berbohong padanya.

 

GREP

 

Minsung memeluk tubuh lemah Baekhyun dengan erat seolah tak ingin kehilangannya. Rasa ini… Rasa hangat yang Minsung berikan… Baekhyun merasakan rasa yang sangat familiar.

 

“Aku menyukaimu, Byun Baekhyun. Aku ingin berada disisimu.” Serta penuturan lembutnya. Semuanya. Baekhyun merasakan sesuatu yang tidak asing baginya. Ragu, Baekhyun pun membalas pelukan hangat Minsung. Membiarkan dirinya merasakan kehangatan yang sama seperti yang Chanyeol berikan padanya dulu.

 

 

—–*****—–

 

 

Sejak kejadian itu, Baekhyun mulai membuka dirinya pada Minsung. Bahkan mereka mulai saling bercengkrama dan tertawa bersama. Tak ada yang aneh, karena masing-masing diantara mereka masih menganggap hubungan itu adalah hubungan saudara jauh. Tetapi pada suatu malam, ketika Baekhyun pura-pura tertidur dan Minsung yang baru pulang kerja masuk ke kamarnya, mengulas senyum lembut, membelai wajah dan rambut hitamnya sembari mengucapkan selamat malam padanya, Baekhyun akhirnya tersadar bahwa mungkin ia… mencintai namja itu.

 

 

—–*****—–

 

 

Ting Tong…

 

Suara bel rumah membuyarkan konsentrasi Baekhyun membaca majalah. Ia sedikit heran. Bukankah Minsung baru saja berangkat tadi? Kenapa pulang lagi? Dan juga, kenapa ia memencet bel segala? Apa ada yang tertinggal?

 

“Ada apa lagi ahjuss—-“

 

Baekhyun terpaku. Diam mematung mendapati seseorang yang berdiri di depan pintunya. Park Chanyeol?

 

“Ah… Ternyata sudah keluar dari rumah sakit ya?” tanyanya tak bersahabat. “Mana paman Park? Sudah berangkat kerja?” Ia mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling. “Yah, walau berat, kalau sudah bisa berjalan, kerja dong. Jangan diam saja. Bantu sedikit meringankan beban paman,” ucapnya sinis.

 

Namja itu berbalik, lalu membuka pintu depan. “Aku datang melihat-lihat karena khawatir. Tapi sepertinya semua baik-baik saja. Ya sudah aku pergi…” Ia beranjak bersiap keluar dari rumah. Tapi ia menghentikan langkahnya sebentar. “Oh iya…” Ia menolehkan kepalanya ke belakang, ke arah Baekhyun yang masih juga diam tak berkutik. “Sebaiknya kau berpakaian sesuai umurmu.” Ia tersenyum meremehkan seakan mengejek Baekhyun sarkas kemudian ia berlalu begitu saja.

 

Padahal sudah sedekat ini… Benarkah itu Chanyeol? Mengapa aku tidak merasakan apapun? Dan apa maksudnya tadi, berpakaian sesuai dengan umurku?

 

Baekhyun benar-benar tak mengerti keadaannya sekarang. Apa yang salah dengan semua ini? Semuanya tampak sangat ganjil. Apakah benar ia bermimpi? Dan sekarang apa yang membuatnya bingung dan mengobrak-abrik rumah, hanya untuk mencari sebuah cermin?

 

DEG

 

PRANGGGG…

 

Baekhyun membungkam mulutnya tak percaya setelah mengamati refleksi dirinya sendiri pada sebuah pecahan cermin kecil sisa dari cermin yang waktu itu Minsung pecahkan. Seketika itu pula ia teringat sesuatu. Dengan langkah getir ia menuju ruang tengah, menyalakan televisi, memastikan sesuatu.

 

Baekhyun kembali terperangah.

 

Hari ini…… adalah bulan September, tahun 2015!

 

 

—–Baekhyun POV—–

 

 

“Taman bermain?” tanya Minsung heran dengan permintaanku.

 

Aku mengangguk pasti. “Itu tempat kenanganku dengan Chanyeol. Aku ingin menghilangkan perasaanku padanya, jadi antarkan aku kesana.”

 

“Baiklah. Aku bisa mengambil cuti. Ayo kita pergi.”

 

*

 

“Waaaahhhhhh, kangennyaaaa!” Aku berjalan semangat di atas balok-balok sepanjang jalan taman bermain dengan riang. “Saat kelas 1 SMA, aku pernah kemari dengan teman-temanku. Dengan Chanyeol juga.”

 

Minsung tersenyum kecil. “Awas hati-hati, nanti kau terjatuh.”

 

“Ah, itu dia!” Aku menunjuk sebuah wahana yang kami temui, bianglala. “Aku ingin naik itu!” pintaku.

 

“Eung. Boleh.” Minsung mengangguk, masih dengan senyum bertengger di bibirnya.

 

.

 

Tak lama mengantri, kami akhirnya mendapatkan giliran untuk menaiki wahana itu. Wahana yang menyimpan kenanganku dengan Chanyeol. Aku menghirup udara dalam-dalam, bahkan sekarang kami menaiki gerbong yang sama seperti waktu itu, waktu aku menaikinya bersama Chanyeol. Semuanya bagai terekam di memori terdalam hatiku.

 

Aku menikmati pemandangan sore ini sama seperti kemarin. Aku melirik namja yang duduk di hadapanku. Sinar matahari senja menerpa wajahnya, membuat permata jernihnya terlihat bersinar di mataku. Yang jika kuperhatikan, entah kenapa kutangkap ekspresi kaku darinya. Semuanya tampak sama.

 

“Padahal Chanyeol takut ketinggian. Tapi ia memaksakan diri naik, demi aku,” celotehku. Aku kembali memandang ke dalam matanya, memberikan tatapan penuh arti. “Ahjusshi tidak takut tempat tinggi kan?”

 

“Te…Tentu saja,” jawabnya. Meskipun ia memasang suara sedatar mungkin, aku masih bisa mendengar kegugupannya.

 

“Ahjusshi, boleh aku pindah kesana? Ke sampingmu?” Lalu tanpa persetujuan aku langsung bangkit dan mengambil tempat duduk di sebelahnya. Berusaha sekuat mungkin menjatuhkan tubuhku ke kursi, sehingga bianglala itu bergoyang.

 

“Uwaaaa!” Minsung berteriak refleks. Namja itu beringsut ke lantai, memegangi kaki kursi. Terdengar deru nafas tak beraturannya.

 

Aku tersenyum pilu. “Dasar pembohong.”

 

“Bukan begitu. Itu…. Tadi ada serangga. Jadi aku kaget.”

 

Aku ikut turun dari kursi, duduk di lantai menghadapnya. Obsidian hitamnya, ekspresi takutnya, aku mengingatnya. “Kau tidak perlu berbohong lagi.”

 

CUPPP…..

 

Aku mencium bibir namja itu. Melampiaskan semua perasaan yang bertumpuk di hatiku. Betapa sesaknya aku menahan segalanya.

 

“B… Baekhyun..?” ucapnya terkejut ketika aku melepaskan ciumanku.

 

“Aku bisa melihatnya semuanya. Di matamu…” Bulir-bulir kristal bening memenuhi sudut mataku. “Park Chanyeol, berapa umurku sekarang?”

 

Ia terpana.

 

*

 

“APA?” Chanyeol terperangah mendengar penuturan kedua orang tua Baekhyun.

 

“Ini sudah tahun kedua Baekhyun mengalami koma, tapi tidak ada tanda-tanda ia akan siuman. Kondisi tubuhnya pun tidak ada kemajuan. Kami tidak mampu lagi membiayai perawatan Baekhyun. Oleh karena itu, dengan berat hati kami……huks….” Eomma Baekhyun terisak tak mampu melanjutkan kata-kata. “Kami menyerah.”

 

“Mungkin dengan begini Baekhyun pun bisa beristirahat dengan tenang di alam sana, tanpa perlu tersiksa mempertahankan dirinya antara hidup dan mati.” Appa menambahkan.

 

Chanyeol menggeleng keras, tidak terima dengan keputusan itu. “Biar aku…. Biar aku yang akan menjaga Baekhyun,” tegasnya penuh keyakinan.

 

*

 

“Sejak saat itu, aku memutuskan untuk berbohong tentang semuanya. Appa, eomma, dan Park Chanyeol. Jika semua itu hilang, kau tidak akan terluka lebih dalam lagi.” Minsung yang ternyata adalah Chanyeol yang telah berusia 31 tahun itu, memejamkan matanya. Menahan rasa bersalahnya. “Dan yang kau kira Park Chanyeol, adalah keponakanku.”

 

Aku memukul-mukul dadanya. Air mataku meluncur cepat, menganak di kedua pipiku. “Bodoh! Kau selalu saja… membuat kebohongan yang mudah ketahuan!”

 

“Maaf… Maafkan aku, Baekhyunnie.”

 

Sesak. Rasanya sesak sekali. Mengapa aku tidak menyadarinya dari awal? Mengapa aku begitu bodoh? Park Chanyeol lah yang selalu berada di sisiku. Ia tidak pergi kemanapun. Bahkan setelah 15 tahun aku tidak sadarkan diri sekalipun, ia tetap berada di sampingku. Apa aku begitu tolol hingga tidak mengenalinya saat pertama kali membuka mata. “Park Chanyeol, kekasihku. Maafkan aku. Aku mencintaimu. Terima kasih karena kau tidak pernah mengingkari janjimu.”

 

Ia memelukku erat. Benar, perasaan hangat ini. Chanyeol lah yang memberiku perasaan ini. 15 tahun sudah ia membuang hidupnya demi memberiku kehangatan ini. Untuk semua yang telah berlalu, apa aku bisa membayar semuanya?

 

Walau waktu telah mengubah wujud kami berdua, namun aku yakin tidak ada yang bisa mengubah perasaan ini, bahkan waktu sekalipun. Dan aku berjanji pada diriku sendiri, Byun Baekhyun akan selalu berada disisi Park Chanyeol, selamanya.

 

Park Chanyeol, aku mencintaimu. Dan semua kebohonganmu.

 

 

—–*****—–

 

 

“Ah… hujan lagi ya,” gumamku ketika membuka tirai rumah kami dan mendapati langit sudah mendung. Aku buru-buru berlari menyelamatkan pakaian yang dijemur di halaman belakang.

 

“Ahjusshi..” Aku mengernyitkan kening, lalu melirik ke asal suara saat telingaku mendengar dua orang yeoja kecil di depan pagarku. “Bunga itu… Indah sekali… Namanya bunga apa, ahjusshi?”

 

Grrrr… Mereka memanggilku apa? “YA! PANGGIL AKU OPPA!” seruku garang.

 

“Uwaaa… Galak sekali. Kabuuurrr..!!” Kedua anak itu berlari.

 

Tsk. Dasar bocah. Lihat jemuranku jadi berjatuhan. Keluhku dalam hati sambil memunguti pakaian itu. Sial! Aku harus mencucinya lagi.

 

Tiba-tiba sebuah tangan besar menyentuh tanganku yang sedang sibuk mengambil salah satu kaosku. “Jangan marah-marah pada anak kecil. Nanti cepat tua.”

 

Aku mengangkat wajahku mendengar suara berat itu. Suara yang amat kusuka. Suara Chanyeol yang sekarang terdengar lebih seksi bukan? Ia membantuku mengambil kaosku yang tercecer.

 

“Ah kau sudah pulang.”

 

“Eummm…” Ia tersenyum.

 

“Selamat datang.” Aku membalas senyumannya semanis mungkin.

 

 

—–END—–

 

 

Akhirnya beres. Makasih yang udah baca. Maafin ya, kalo malah jadi aneh dan feelingnya gak berasa. Apapun itu, kritik dan saran ditunggu yaa🙂

20 thoughts on “[KC Project] September Rain – ChanBaek || D.O.ssy

  1. Demi apa gua mewek bacanya ;A;
    Daebak, ceritanya bagus bgt Author-nim
    Aku suka bgt sama jalan ceritanya.

    Sedih deh jadi Baekhyun, koma 15 tahun. Tapi Chanyeol tetep setia nungguin dia sadar yamvun ;A;

    Tapi ngomong2 appa sama eoma baekhyun kemana ya thor ? Dia masih ada atau udah ga ada ? Aku rada lemot maafkan aku ;A;

    Semoga Chanbaek selalu bahagia forever ya. Aminnn

    Keep writing author nim :*

    • masa? demi apaaa??? duhhhh, seneng deh😀
      sebenernya disini masih ada yang belum tuntas chingu, tentang orangtua baek kemana, dan siapa si penguntit yang udah nabrak baek… ini emang aku gak masukin ke cerita…
      jadi gini, orangtua baek masih ada, cuma udah pindah, makanya nomor teleponnya udah gak nyambung lagi waktu baek nelepon, yah pokonya jadi putus hubungan lah… terus yang nabrak baek itu orang suruhan sebenernya..
      aduh susah dijelasinnya. mungkin entar aku bikin sequel dan di post di blog pribadi aku, jadi kapan2 mampir yaa🙂
      btw makasih ya udah baca… salam cinta❤

  2. Hallo cantik.
    Hehehe maaf yah baru bisa review. Baru ada kesempatan soalnya.
    Okay… Markitmul

    Ane suka tema yg kamu angkat. Manis manis gimana gituh. Selalu suka sama karakter yeol yg paduli banget ama baek. Yg kepentingannya di atas segalanya. Cintanya ke baek bahkan lebih gede dari cinta org tua sendiri. Itu bikin terharu bener.

    Untuk penyampaian ceritanya udh oke. Ane nikmatin banget. Cuman mungkin kalau ffnya jadi mode(?) Deskriptif, akan lebih asyik dan makin masuk ke cerita. Flownya serasa saling mengejar, sampai plot twistnya tertebak di awal. Entah ane bacanya cepat, atau emang scene per scene berasa kejar-kejaran. Ampe ending berasa ngos-ngosan. Tpi overall, ane nikmatin banget.

    Ff dengan porsi oneshot emang sulit. Saya juga sering gagal memainkan flownya. Hanya butuh sering berlatih lagi dan menambah perbendaharaan kata. Ayo berlatih bersama.

    Oh iya, scene di bianglala itu romantis skali. Coba tambahkan lagi perasaan cintamu saat nulis scene itu. Yakin deh bakal tersalurkan ke pembaca.

    Okeh. Tetap berkarya yah cantik. Makasih udah nyumbangin karya emasnya di KC. Jangan bosen2 main.

    Adios

    • sumpah kak aku deg-degan abis waktu ngirim fic ini… kirim jangan kirim jangan, antara ragu tapi yakin (?) dan takut-takut juga…
      tapi ya Alhamdulillah meskipun dikirim telat banget tapi kak alf berbaik hati memuat ff saya juga :’))) beneran terharu banget… nama aku muncul di blog yang selalu aku puja-puja (?) /crying confetti/

      jujur ini ff paling ngebut yang pernah aku tulis, ide dari lama, cuma baru diselesein sekarang dalam waktu kurang dari seperlima hari /aku emang gak pandai nulis, dan butuh banyak waktu buat nyelesein satu cerita/. jadi yah begini, kurang maksimal hehe… sebagian besar ceritanya aku ambil dari komik itu. improvisasi (?) cerita dari aku cuma sedikit. dan kurang deskripsi juga kaya yg kak alf bilang. dan itu semua aku baru sadar setelah ff nya dikirim terus aku baca ulang.
      ini emang salah aku juga sih kak alf, aku terlalu ngebet pengen ikutan proyek ini.
      awalnya aku mau ngirim ff original buatan aku, cuma ditengah jalan mentok sendiri, dan akhirnya aku nerusin ff ini deh.
      bener ya kak alf, nuangin pikiran dalam sebuah tulisan itu gak gampang, aku masih harus banyak latihan..

      akhir kata makasih banget kak, komentarnya, saran dan kritiknya. aku jadi tambah semangat buat bikin karya yang lainnya. kak alf emang inspirasi aku banget hehehe..

      ya ampun aku masih histeris sampe sekarang coba haha. mana dibilang cantik lagi /plakkkk/ /abaikan/

  3. aku sempet bingung baca nya kupikir chanyeol bener – bener ninggalin baekhyun ternyata dia emang selallu menjaga baekhyun ..

    terharu bgt lihat chanyeol yang rela naik biang lala padahal takut ketinggian . rela jagain baekhyun

    kirain chanyeol ngapain mecahin kaca ternyata biar baekhyun gk bisa lihat kalau dia tuch sudah berumur ..
    makasih ff nya

    • makasih juga chingu udah mau baca🙂
      iyaaa lelaki aku emang hebat banget ya /loh/
      yaps bener chingu, chanyeol mecahin kaca supaya baek gak bisa liat dirinya sendiri. hebat analisanya hehe😀

  4. awalnya aku gk ngrti sm jln ceritanya tapi pas mau end baru lah aku ngeh. ah otak ku dalam frase error kayaknya.

    ku pikir juga semua yg terjadi adalah khayalan baek semata.

    ih yeol bnr2 laki2 sejati setiap hari banting tulang demi pengobatan buaek udah gitu selalu di sisi baek pula selama 15 tahun baek koma.

    • ahaha… emang disini dibikin supaya pada penasaran dulu chingu🙂
      yah begitulah cinta, apapun rela dilakuin. sayang nya di kehidupan nyata sudah jarang ditemukan yang seperti itu haha
      btw makasih udah mau baca❤

  5. Kereeeeennnnnnn……
    Aku sudah nebak yang aneh-aneh lanjutan ceritanya, eh ternyata?????
    Suka banget endingnya, HAPPYYYYYYY

  6. pas paman tdi muncul q udah kira it yeol,tpi pas baek g ngenalin q jd ragu pa lg ktany koma cma 1 bln.trnyta 15 thn.’
    perjuangan yeol bkin q trharu jd nangis bombay deh.’
    q blm pernah bca komik n g bsa bca komik kecuali yg webtoon atau berwarna,hahahaha
    dan trnyta ini bgus,’

    • iyaaa ceritanya channya emang suka banyak bohong disini..
      coba deh chingu baca komik aslinya, hehe..
      btw makasih ya udah baca ff aku😀

  7. Haiii… ma’af baru nongol skrg.

    Sweet, beneran sweet ini ceritanya.
    Tapi andaikan ini agak panjangan mungkin lbh klop lg. soalnya agak kecepetan ya, eum dan lagi gk dijelasin siapa penguntit yg nyelakain baekhyun + motifnya, andai dijelasin dikiiiiiiit aja pasti agak dimaklumi.
    Dan sewaktu koma apa ortunya baekhyun benar2 ngebuang dia sampai gk ada kabar??
    Aku suka loh sama tulisan kamu, cuma agak dikurangi kata2 yg terlalu indo bgt kyk ‘sih, kok, dll’ karna memberi kesan yg kurang rapi (menurutku). soalnya ini latar belakangnya kan korea nih, jd kalau bisa diminimalisir kata2 yg terkesan gaul ala2 kita.
    Kalau berkenan, bikin epilog atau squel gimana???
    misalnya menceritakan gimana kehidupan chanyeol yg harus pontang panting cari uang demi biaya perawatan baekhyun sampai akhirnya dia siuman dan fakta siapa yg nyelakain baekhyun!!??.

    scene favorite pastilah wkt di biang lala… itu romantis bgtttttttt.

    Ok lah aku tunggu ya squel atau epilognya!!

    (p.s :kalau mau belajar, gurunya dket loh *lirikALF*, bkn gk pny pendirian ya nyontek.. cuma belajar)

  8. Meweeeeek ;A; pas bacanya keputer lagu broken heart nya monsta x doh kena feelnya, btw itu komiknya keren kali yak ah jadi pengen 😭😭😭. Demi apa ga nyangka banget sama ff nya, 15 tahun koma dan nunggu demi baekhyun sampe umur 31 tahun….. Itu itu 😭 Sweet moment itu yang pas pelukan hangat itu. Ah, lanjutin cobaaa ff nya 😭😭 biar makin ena/eh. Ayo thooorrr lanjutt thoorrr. Bingung pas awal itu minsung minsung padahal yg ngomong chanyeol, tali pas baca ujung langsung mewek ;A; /cakar dinding/ /g. Lanjutkan ffmu thor, bikin sequelnya yakkkkkk, sweet momentnya masih kurang, blum puas 😂😂

    Salam pramukaa /ikut kak alf/

  9. kereeeennnn!!! huwee nangis…. jjang!
    tapi baru mewek pas terakhiran, pas udah tau kalo minsung tuh park chanyeol…
    rada bingung dan kurang nge-feel awalnya sampe baca berulang kali daftar cast-nya yg d atas, “chanbaek bukan sih? chanbaek bukan sih?”
    tapiiii sekarang semuanya terjawab sudahh HAHAHAHAHA *uhukuhuk* maap ya kolaps

    di tunggu lanjutannya
    finghting (^^)9

  10. Awalnya rada bingung juga sebenernya park minsung itu siapa wkwkwkw
    Dan gak kepikiran juga sih kalo chanyeol ninggalin baekhyun, yamasa tega sih 😩

    Ternyata eh ternyata si minsung itu chanyeol, kirain ahjussi beneran wkakakaka abis keknya tua banget kalo dibayangin bewokan gitu

    Duh baek kasian banget koma ampe 15 tahun, mana ditinggalin orangtua, untung ada chanyeol yg setia menemani hingga akhir waktu 😱

    Huah bagus deh pokoknya thor ff nya, walau otakku rada lemot awalnya gak nyampe tapi endingnya nyampe juga wkakakakakak

    Keep writing ne! 😊

  11. Aaaaaa authornya sa ae😢
    Maafin ya thor, ini mau curhat dikit. Awal bacanya tuh feel yg aku pribadi dapetin kayak kecepetan, langsung to the point banget.
    Pas baeknya siuman, terus ada park minsung rasa nya kayak aneh aja. Apa jangan2 genre ff ini psyco atau crime gitu apa gimana. Sedih banget pas org yg dikira baekhyun chanyeol malah bilang kalo dia nyusahin park minsung TAT aku awalnya sempet kira kl sebenernya appa eomma baekhyun dan pcy itu cuma mimpi2 baek pas lagi koma.
    GATAUNYAAAA TAT kenapa pula chanyeol harus bohong segala kalo dia teh org lain 😭 segala bilang baek koma 1 bulan padahal 15 th thorrr :”
    chanyeol baikkkkk bgt sm baek, rela kerja apa aja:(
    Baper dah ahh.
    Keren thor lanjutkan karya mu💪💕

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s