[KC Project] Love Is Pain – ChanBaek || Albybe


ALF ZONE(?): Love is Pain, membawa nostalgila() tersendiri, mengingatkan ane sama FF alaylebayforever ane zaman bahula. Hati bergejolak saat tahu fic ini mention of krisbaek, ya taulah, yang bikin ane hancur lebur dan gagal mulu move onnya ampe sekarang gegara siapa. wkwkwkj jadi sesi curhat. okay… gak usah berlama-lama nanggepin ALF. mari kita baca karya emas yang satu ini. salam pramuka

Tittle : Love is Pain

Author : Albybe

Pairing and Cast : main!Baekhyun/Chanyeol, slight!Chanyeol/Kyungsoo slight!Baekhyun/Kris, and other EXO Member

Rating : T to M (Nyerempet dikit)

Genre : Yaoi romance (gagal), angst (gak yakin)

Disclaimer : The cast/pairing belong to their Parent and God! But the story is mine! ß tumben gue pinter bahasa Inggris.

.

.

Summary : “Mereka bodoh, mereka angkuh, mereka rapuh, mereka jatuh, namun cinta menjelaskan segalanya.”

.

.

Cuap-cuap : Uyee~ apa ya? Firstly, thank you so so much buat Kak ALF yang kece badai tiada tara. Finally, gue bisa bikin yang beginian kaaak~ *party party* (meskipun gue sangsi entah ada yang mau baca). Oke, gue gak tau mendeskripsikan ff ini begimana, soalnya ff ini udah luamaa banget mendekam/? Di laptop gue, ya, meskipun belum kelar sih. Nah, berhubung ada event di KC (which is salah satu wish list hidup gue –harus ikut event KC meskipun hanya sekali-), gue berusaha mengelarkan/? Ff ini (sumpah gue gak bo’ong ternyata mengendingkan ff lebih susah daripada memulai ff itu sendiri. Sekarang gue ngerti kenapa kak ALF marah banget pas tau ffnya di plagiat) . Ples akhir-akhir ini gue lagi demen sama In a Blue Moonnya mbak Ilana Tan, gue pinjem satu nama tempat disana. Jadi kalo reader ada merasa sesuatu yang familiar dengan tempat itu, Yes, that’s it! Terus, sebenernya gue bingung nyari judul buat ff ini, jadi maaf banget kalo gak nyambung sama isinya. Judulnya juga terinspirasi dari ff Kak ALF yang ngebawa gue kesini –ke KC I mean-, Love And Pain (ff paling fenomenal di KC menurut gue), maaf sekaligus makasih ya Kak ALF. Apalagi ya? Uyeee~(lagi) 10K Word lebih, gila gue nulis apaan sih? Pokoknya gitu dah, maaf kalo ffnya bulukan, feelnya gak dapet, gue masih amatir banget-banget soalnya.

Happy reading yeorobun~

 

.

.

.

Sudah terhitung belasan kali Baekhyun melirik ke arah pergelangan tangan kirinya, ya, dia tahu bahwa Oakley Oscar yang baru dipakainya sebulan yang lalu –hadiah ulang tahun ke-21 dari Luhan- itu sangat menarik. Namun Baekhyun tidak sedang dalam mode mengagumi jam tangan mahal tersebut, alasannya simpel, menunggu kedatangan tunangannya dari Inggris dan satu jam itu sudah di luar batas toleransi seorang Byun Baekhyun.

“Oke Baekhyun, waktunya pergi!” gumamnya pada diri sendiri. Baekhyun baru saja menarik sweaternya di tempat gantungan ketika pintu apartemen terbuka dan menampilkan sosok lelaki tinggi berbalut long coat berwarna cokelat tua yang sangat pas di tubuhnya.

“Apa kau tidak diajari sopan santun? Menerobos masuk ke apartemen orang lain tanpa izin dari pemiliknya adalah tindakan kriminal. Aku bisa saja menuntutmu untuk ini.” Baekhyun tersenyum mendengar kata-kata yang baru saja menyapa telinganya.

“Welcome home, Park Chanyeol. Tidak perlu berbicara sopan santun di depanku. Oke, tuntut saja jika kau mau.” Baekhyun kembali duduk di kursinya –di kitchen Island apartemen Chanyeol.

“Apa yang kau lakukan di apartemenku? Apa kau sekarang berniat menarik perhatianku?” Chanyeol memijit pelipisnya. “Sebaiknya kau berhenti membuang energimu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat seperti ini dan satu lagi, jangan pernah membawa sampah ke tempatku.” Chanyeol melangkah ke arah Baekhyun lalu mengambil hidangan di atas meja dan membuangnya ke tempat sampah.

“Apa seperti ini sikapmu terhadap tunangan yang sudah satu tahun tidak kau temui? Sepertinya Inggris benar-benar membuat pribadimu jadi lebih buruk, Park Chanyeol.”

“Berhentilah bersikap dramatis di depanku. Jika kau kemari hanya untuk mengingatkanku akan tanggal peringatan ulang tahun pertunangan bodoh itu, sebaiknya kau pulang,” Chanyeol meninggalkan Baekhyun yang masih duduk manis di kursinya dengan ekspresi wajah yang sama sekali tidak berubah –datar.

“Aku senang kau ingat hari ini. Setidaknya biarkan aku disini sebentar lagi. Ibuku akan curiga jika aku kembali sekarang,” Baekhyun melirik Oakley Oscarnya (lagi). “Anggap saja aku tidak ada jika kau keberatan.” Lanjutnya. Baekhyun baru saja akan membereskan hidangan  yang tersisa di atas meja ketika matanya menangkap satu sosok asing yang berdiri tidak jauh darinya.

“Jadi ini alasanmu tidak mau dijemput di bandara olehku dan keluargamu? Manis sekali, mainan baru made in Inggris, Park Chanyeol?” ujar Baekhyun dengan tawa sumbangnya sambil menatap sosok manis bermata bulat yang masih diam terpaku di posisinya.

“Mulutmu, Byun! Asal kau tahu, dia bukan mainanku! Aku serius dengannya!” jawab Chanyeol tegas dan menarik sosok itu mendekat kepadanya.

Baekhyun hanya bisa terdiam melihat adegan yang terjadi di depannya dengan rahang mengeras.

Well, kurasa kau harus kembali sekarang karena kutahu kau tidak akan suka berada disini.”

“Ya, terima kasih sudah membuatku begitu menyesal menunggumu disini, Park Chanyeol!”

Baekhyun benar-benar meninggalkan apartemen Chanyeol tanpa melirik sang pemilik apartemen sedikitpun. Persetan dengan ulang tahun pertunangannya. Persetan dengan kemarahan ibunya. Yang ada dipikirannya sekarang adalah bagaimana caranya agar ia sampai di kamarnya dan bergulung dengan selimut hangatnya.

.

.

.

 

.

.

.

Semuanya baik-baik saja sebelum hari itu terjadi. 10 Desember dua tahun yang lalu. Hari pertunangannya dengan Park Chanyeol. Byun Baekhyun yang merupakan pewaris tunggal JK Corporation benar-benar belum pernah mengalami ketidakpuasan dalam 21 tahun hidupnya.

Disamping ibu dan ayahnya yang sering bertengkar dan berbeda pendapat, ia baik-baik saja dengan hidupnya. Ibunya mungkin seringkali mengatur hidupnya, namun Baekhyun tahu semua itu dilakukan ibunya untuk kebaikannya sendiri. Namun tidak ntuk yang satu ini, bertunangan dengan Park Chanyeol, putra kedua dari Real Estate Group ini adalah awal dari mimpi buruknya.

Baekhyun yang selama ini terkenal dingin, angkuh dan keras kepala benar-benar mati kutu dengan keputusan ibunya. Ya, kehidupan pewaris tunggal memang tidak pernah jauh dari yang namanya perjodohan. Baekhyun tahu, ini bukan seperti adegan dalam drama-drama membosankan tentang keuarganya yang ingin menjual dirinya agar perusahaan keluarganya selamat dari kebangkrutan. Tidak! Keluarga Baekhyun terlalu kaya untuk itu –dan ia yakin keluarganya tidak serendah itu. Ini juga bukan tentang wasiat sebelum kakeknya meninggal, sekali lagi ini bukan adegan dalam drama-drama seperti itu –ya, walaupun Baekhyun sadar kalau hidupnya memang penuh dengan drama. Menurut ibunya, ini tidak lebih tentang keinginan untuk menyatukan dua keluarga –meskipun Baekhyun pikir ini hanyalah kedok semata karena nyatanya keinginan keluarganya dan keluarga Park Chanyeol adalah untuk menyatukan JK Corporation dan Real Estate Group untuk menjadi perusahaan nomor satu di Asia.

Baekhyun sebenarnya tidak keberatan dengan keputusan ibunya. Hanya saja, kenapa ia harus dijodohkan dengan Chanyeol. Park Chanyeol, lelaki yang sudah dikenalnya lebih dari setengah umurnya. Teman masa kecilnya, lelaki bertelinga lebar dengan senyum konyol –dan semua orang menyukainya. Baekhyun tidak menyukai itu. Chanyeol selalu mendapatkan yang ia mau padahal ia tidak pernah berusaha sekeras usaha Baekhyun. Dan Baekhyun semakin tidak menyukai Chanyeol. Sejak Senior High School Chanyeol telah mendapatkan kencan pertamanya dan menjadi player setelahnya –sampai sekarang. Sedangkan Baekhyun, jangankan berkencan, keluar rumah saja harus menunggu izin dari ibunya. Ya, hubungannya dengan Chanyeol lumayan buruk dan pertunangan bodoh mereka membuatnya menjadi lebih buruk. Baekhyun tahu, Chanyeol juga akan semakin membenci dirinya –Chanyeol pikir hidupnya berantakan dan itu karena Baekhyun.

.

.

.

“Lalu apa maumu? Bercerai?”

Baekhyun tercekat, ia mempercepat langkahnya ke lantai dasar. Itu suara ayahnya. Sementara ibunya duduk di lantai dengan wajah penuh airmata. Hati Baekhyun seperti diiris melihat keadaan ibunya. Menyadari kehadiran Baekhyun, ibunya cepat-cepat mengusap pipinya sendiri.

“Baekhyun, kau mau berangkat? Bagaimana makan malammu kemarin dengan Chanyeol?” ibunya tersenyum –pura-pura, Baekhyun tahu itu.

“Aku berangkat!” seru ayahnya tiba-tiba.

Baekhyun melangkah santai ke ruang makan. Baekhyun bukannya tidak peduli, ia hanya sudah terbiasa dengan pertengkaran kedua orang tuanya.

“Meskipun kau juga dijodohkan. Eomma harap rumah tanggamu nanti tidak seperti Eomma. Kau harus bahagia bersama Chanyeol.” Suara ibunya menghentikan kegiatan Baekhyun menyendok serealnya.

“Kenapa Eomma masih bertahan dengan Appa? Kalau Eomma sudah tidak tahan, berpisahlah dengannya Eomma,” sudah lama Baekhyun ingin mengatakan ini kepada Ibunya.

“Sshh.. Jangan sampai kau mengatakan itu lagi di depan Eomma. Kau tau, ini tidak semudah yang kau ucapkan Baekhyun-ah. Appamu adalah hidup Eomma. Eomma tidak bisa meninggalkan Appamu.” Baekhyun menatap Ibunya. Sungguh ia sangat menyayangi wanita di depannya ini.

Appa selingkuh Eomma. Appa tidak mencintai Eomma. Eomma harus meninggalkannya agar Eomma tidak seperti ini!” Baekhyun tahu, ucapannya menyakiti perasaan Ibunya. Ia hanya tidak ingin Ibunya semakin terluka dan membuat ia makin membenci Ayahnya.

“Sudah pukul setengah delapan. Kau bisa terlambat. Chanyeol mungkin sudah menunggumu di depan.” Ibunya memang pintar mengalihkan pembicaraan.

“Ini baru pukul tujuh Eomma. Dan Chanyeol tidak akan pernah menungguku.”

“Tentu saja Chanyeol menunggumu, ini kan hari pertama Chanyeol di kampusmu. Bergegaslah. Kau membuatnya menunggu.”

“Apa? Chanyeol? Di kampusku? Eomma jangan bercanda!”

“Hei, kau lupa siapa pemilik kampusmu? Itu Real Estate Group, sayang. Demi Tuhan Baekhyun! Chanyeol sudah menunggumu.”

Baekhyun mengerjapkan matanya. Ia kemudian membuka pintu setelah mengecup pipi Ibunya. Dan demi Jenggot Thor, Baekhyun benar-benar tersedak melihat Bugatti Veyron putih itu terpakir di depan rumahnya.

.

.

.

“Jangan salah paham. Aku dipaksa menjemputmu. Sekarang turunlah. Seseorang sedang menungguku.” Chanyeol memutari mobil dan membukakan pintu untuk Baekhyun. “aku sarankan kau mencari alasan agar aku tidak melakukan ini setiap hari. Ini sangat merepotkan..” Tambahnya kemudian.

“Aku tidak pernah memintamu untuk melakukan ini.” Baekhyun tersenyum angkuh sambil berjalan melewati Chanyeol.

“Sama-sama Byun Baekhyun.” Chanyeol melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Baekhyun melangkah pelan menuju gedung kuliahnya. Beberapa pasang mata melihatnya dengan penuh tanda tanya. Sesekali berbisik. Baekhyun rasa tidak ada yang salah dengan penampilannya hari ini. Seperti Baekhyun yang biasanya. Apakah syalnya yang berwarna merah ini terlalu mencolok?

“Hei, aku tidak tahu. Apakah seperti ini ekspresimu jika kau sedang bahagia.” Itu suara Tao –satu-satunya teman atau Baekhyun ragu menyebut Tao sebagai teman. Ya, Baekhyun adalah tipikal orang yang sangat tertutup dengan orang lain dan ia tidak suka berteman.

“Apa yang kau bicarakan? Dan kurasa kita tidak cukup dekat untuk membicarakan ini.” Baekhyun tetap berjalan tanpa menghiraukan Tao.

“Oh, come on Baekhyun! Semua orang di kampus ini sudah mengetahui kalau tunanganmu itu kembali ke Korea. Kembali ke kampus ini tepatnya. Oh, aku tidak sabar melihatnya lagi.” Tao tersenyum lebar dan mengikuti Baekhyun –well, berita buruknya Tao selalu berada di kelas yang sama dengan Baekhyun.

“Kau tahu darimana?” Baekhyun mempercepat langkahnya. Ia merasa dibodohi, ia bahkan baru mengetahui hal ini dari ibunya tadi pagi.

“Baek, apa kau bercanda? Korea selatan itu Negara dengan akses internet tercepat di dunia. Dan jangan katakan kalau.. oh Tuhan, kupikir dia sudah datang.” Tao menghentikan ucapannya dan menarik Baekhyun untuk mengikuti beberapa siswa yang berlari histeris menuju gerbang kampus. Baekhyun memijit pelipisnya. Hari-harinya akan lebih berat setelah ini.

“Heol! Daebak! Apa aku ketinggalan informasi? Chanyeol mempunyai adik?” Tao bertanya kepada Baekhyun. Pertanyaan Tao otomatis membuat Baekhyun menoleh kepada Chanyeol. Disana, terhitung kira-kira lima belas meter dari tempatnya berdiri, Park  Chanyeol berjalandengan senyuman di bibirnya bersama seseorang. Seseorang yang masih Baekhyun ingat wajahnya. Lelaki mungil bermata bulat, dan itu berhasil membuat rahang Baekhyun kembali mengeras. Menyaksikan tunangannya degan laki-laki lain tepat di depan matanya –dan puluhan mahasiswa lainnya. Park Chanyeol benar-benar telah menginjak harga dirinya. Baekhyun segera meninggalkan tempat itu tanpa menghiraukan teriakan Tao.

“Hei Baek, kau mau kemana? Kau belum menjawab pertanyaanku!”

.

.

 

Kyungsoo menguatkan ikatan syalnya, meskipun hawa dingin terasa menusuk hingga ke sum-sum tulang, menikmati angin musim dingin di malam hari sambil memandangi lampu-lampu kota dari ketinggian seperti ini adalah salah satu kegiatan favoritnya. Kyungsoo sesekali meniup telapak tangannya lalu mengusapkan ke pipinya yang putih bersih untuk mengurangi rasa dingin. Gerakannya tiba-tiba berhenti karena seseorang menarik tangannya.

“Kau mau mati beku disini, heum?” Kyungsoo tertawa pelan mendengar pertanyaan Chanyeol.

“Pemandangan disini indah bukan? Aku seperti berdiri di luar angkasa dan lampu-lampu itu adalah bintang-bintang di galaksi.” Ucap Kyungsoo sambil tersenyum menatap Chanyeol. “Chanyeol-ah, tidak bisakah kita sampai disini saja? Aku.. aku akan kembali ke tempatku.”

“Ssshh.. kau tidak ingat perjanjian kita. Disni adalah tempatmu, bersamaku.” Chanyeol meremas pelan tangan Kyungsoo.

“Tapi ini salah Chanyeol-ah, kau sudah punya Baekhyun. Aku tidak ingin dicap sebagai perusak hubungan orang lain dan membuat reputasimu menurun di kampus! Aku tidak mau itu terjadi.”

“Itu tidak akan terjadi. Kumohon, tunggulah sedikit lebih lama. Kita akan mengatasi ini bersama-sama. Jika kuliah disini terlalu sulit untukmu, kita bisa kembali ke London, oke?” Chanyeol mengeratkan pelukannya dengan Kyungsoo.

“Jangan, aku ingin tetap disini. Kau sangat tau itu, butuh waktu yang lama untukku agar bisa kembali lagi ke Korea, Chanyeol-ah.” Kyungsoo melepaskan pelukannya, kemudian menatap Chanyeol lamat-lamat. ”Aku ingin bertemu dengannya Chanyeol-ah. aku ingin bertemu dengannya.” Ucapnya kemudian dengan mata berkaca-kaca.

“Ya, kita akan segera menemukannya. Kau bisa percaya padaku, oke? uljima. Sekarang ayo masuk sebelum kita mati beku disini.” Chanyeol kembali mengusap perlahan pipi Kyungsoo yang putih bersih.

“Gomawo, Canyeol-ah.”

“Eum… Apapun untukmu. Aku mencintaimu, Kyungsoo-ya.”

“Aku tahu.”

.

.

 

 

“PARK CHANYEOL!! Apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan?” semua orang di ruang makan membisu mendengar suara tuan Park.

“Maafkan aku appa, tapi aku benar-benar tidak bisa melanjutkan pertunangan ini!”

“Duduk Park Chanyeol! Aku akan berpura-pura tidak mendengar apapun.” jawab Tuan Park tegas.

“Tapi appa, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri lebih lama lagi. Aku yakin, Baekhyun juga merasakan hal yang sama. Appa harus mengerti, tidak ada cinta diantara kami. Hubungan ini akan sia-sia jika terus dilanjutkan.” Chanyeol menatap satu persatu semua orang di ruang makan. “Aku minta maaf eomma, eommonim. Aku tidak yakin bisa membahagiakan Baekhyun, jadi kumohon, segera batalkan pertunangan ini!”

Hening. Tidak ada jawaban atas pernyataan Chanyeol.

“Aku selesai. Selamat malam, aku harus kembali ke kamar.” Suara Baekhyun memecah keheningan. Baekhyun bangkit dari kursinya, membungkuk lalu meninggalkan ruang makan.

“Baekhyun… Baekhyun-ah!!” itu suara Nyonya Park. “Baekhyun eomma, mohon maafkan kelancangan Chanyeol barusan. Kita anggap percakapan ini tidak pernah terjadi. Kami permisi.”

Eomma…”

“Diamlah Park Chanyeol!”

.

.

 

 

Baekhyun melangkahkan kakinya perlahan menuju ruang musik, tempatnya menghabiskan waktu ketika jam kuliah kosong –atau ketika ia berada dalam suasana hati yang kurang baik. Ini sudah hari ke sepuluh sejak incident makan malam di rumahnya dan itu berarti ini juga hari ke sepuluh Baekhyun tidak bertemu dengan Chanyeol, lebih tepatnya ia menghindari kemungkinan bertemu dengan Chanyeol.

Baekhyun juga tidak mengerti kenapa ia seperti ini, seharusnya Baekhyun senang ketika Chanyeol berusaha membatalkan pertunangan mereka malam itu, seharusnya ia menyetujui usulan Chanyeol, bukankah hal itu juga menjadi keinginannya? Baekhyun sangat mengenal bagaimana Chanyeol, bagaimana hubungan mereka, bagaimana perasaannya terhadap Chanyeol –ya, ia sangat membenci lelaki bertelinga lebar itu. Namun nyatanya, pernyataan Chanyeol malam itu malah membuatnya kesal, membuat darahnya seperti mendidih, dan yang membuatnya marah adalah ia tidak menemukan alasan kenapa ia merasakan hal itu.

Okay, lihat siapa disini.” Gerakan Baekhyun untuk membuka pintu ruang musik terhenti mendengar suara itu.

“Byun Baekhyun, merasa lebih baik setelah dicampakkan tunanganmu? Kau tau, mataku benar-benar sakit melihat dia dan mainan barunya yang manis itu berkeliaran disini. Tidak bisakah kau menghentikannya untukku? Atau aku perlu menghentikannya sendiri? Byun Baekhyun! tidak bisakah kau menatapku! Aku sedang berbicara denganmu!” Baekhyun kembali membuka pintu ruang musik namun tangannya tiba-tiba ditarik dengan kasar.

“Leppass.. Kau menyakitiku Kris Wu!” Baekhyun mencoba melepaskan cengkraman Kris, dan semua orang tahu bahwa usahanya itu akan sia-sia, karena kekuatan Kris tidak sebanding dengannya.

“Lepaskan dia Kris!” Baekhyun dan Kris spontan  menoleh ke sumber suara.

“Hohoo. Lihatlah Baekhyun, pahlawanmu datang tepat waktu. Sudah lama Park-Chan-Yeol?” Kris tertawa lalu menarik Baekhyun mendekat ke arah Chanyeol.

“Kris.. kau tuli! Kubilang lepaskan tanganmu darinya!” Chanyeol mencoba meraih tangan Baekhyun di cengkraman Kris, namun Kris dengan sigap menarik Baekhyun ke belakang. Menyembunyikan Baekhyun di balik punggungnya.

“Tidak semudah itu Park Chanyeol. Lagipula, kurasa sekarang aku lebih berhak atas Baekhyun daripada dirimu.”

“Apa maksudmu?”

“Jangan berlagak bodoh di depanku Park chanyeol, apa perlu kuingatkan kalau sebentar lagi Baekhyun akan menjadi adikku?”

“Hentikan Kris! Kumohon hentikan!” Baekhyun berlari meninggalkan Kris dan Chanyeol setelah menarik paksa tangannya –demi Tuhan lengannya terasa mau putus- dari cengkraman Kris.

“Pertunjukan selesai! Bukankah sangat manis, aku membuat calon adikku menangis di depan tunangannya sendiri. Atau mantan tunangannya Park Chanyeol?” Kris menepuk pundak Chanyeol perlahan sebelum melangkahkan kakinya.

“Tidak kusangka kau sebrengsek ini Wu Yifan!”

Kris menghentikan langkahnya, lalu menatap Chanyeol. “Tidak lebih brengsek darimu Park! Omong-omong, mainan barumu cukup mengesankan, boleh kupinjam kapan-kapan?” Kris melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan umpatan Chanyeol.

.

.

 

Kris menghisap rokoknya kuat-kuat hingga kedua pipinya membentuk cekungan, lalu dihembuskannya asap berbahaya itu perlahan-lahan. Dilakukannya hal yang sama berulang kali. Kris sebenarnya tipe orang yang cukup peduli dengan kesehatan, namun saat ini ia sedang tidak ingin mempedulikan apapun. Ya, anggap saja Kris sedang kehilangan pikirannya. Jika ia mampu, ingin rasanya ia menarik lepas kepalanya untuk melenyapkan begitu banyak pikiran yang berkecamuk disana. Bunyi musik yang begitu keras dan lampu-lampu yang berkilat-kilat terasa semakin menusuk-nusuk kepalanya. Bayangan ayahnya di balik jeruji besi, ibunya, selingkuhan ibunya, dan bayangan laki-laki mungil dengan tampang angkuh dan sikap sedingin es itu terus berputar-putar di kepalanya.

Merlotmu, tuan Wu?” ucapan bartender muda itu mengalihkan perhatian Kris sesaat dari rokoknya.

“Ya, terima kasih” jawabnya acuh.

“Sudah cukup lama sejak terakhir kali kau mengacau disini. Biar kutebak, sesuatu yang buruk telah terjadi padamu hari ini. Benar begitu, tuan Wu?”

“Diamlah Kim Jongin, kau dibayar karena tanganmu, bukan mulutmu!”

“Jawaban yang sesuai dengan apa yang ingin kudengar. Jadi, apa terjadi sesuatu dengan ice princemu di kampus hari ini?” bartender dengan nama Kim Jongin itu kembali berniat menyulut emosi Kris.”Oh c’mon dude, kau bisa berbagi denganku!”

“Ya, aku membuatnya menangis hari ini, kau puas?” Kim Jongin tertawa puas mendengar jawaban Kris. “Ugh, kau yakin tidak menambahkan sesuatu yang lain ke dalam gelas merlotku ini? rasanya mengerikan!”

“Benarkah? Sesuatu yang lain? terasa seperti urinku maksudmu? Ya, aku menambahkannya! Kukira kau membutuhkannya!”

“Brengsek kau Kim Jongin! Oh ya, bagaimana denganmu? Apa ada perkembangan? Kau sudah dapat kabar dari’nya’” tawa Jongin seakan tertelan medengar pertanyaan Kris.

Nope, kurasa kau mulai mabuk Kris, kuharap kau segera pulang sebelum mengacau, karena tidak akan ada kali ketiga aku membereskan kekacauanmu!” ya, pertama kali Kris mengacau –berkelahi dengan pelanggan lain tanpa sebab- ketika Baekhyun bertunangan dengan Chanyeol, kedua kalinya ketika ia mengetahui kalau Baekhyun adalah putra selingkuhan Ibunya –ia nyaris mematahkan leher seorang bartender karena salah mengambilkan pesanan.

“Ohoo.. kau mengusir pelanggan sekaligus sahabatmu Kim Jongin?”

“Ya, aku mengusirmu dengan rasa hormat tuan Wu! Kuharap kau tidak kembali kesini! Jangan lupa membayar sebelum pergi!”

“Ya, ya, aku pergi manusia hitam” Kris bangkit dari kursinya setelah meletakkan beberapa lembar Won di atas meja.”Oh iya, aku hampir lupa, kau benar-benar akan di Drop Out jika tidak menghadiri mata kuliah Ms. Ahn minggu depan. Selamat malam, tuan Kim Jongin”

.

.

 

.

.

Eomma, aku pergi!” seru Baekhyun pada ibunya yang sedang sibuk memasak di dapur.

“Kau tidak sarapan dulu Baekhyun-ah?” Nyonya Byun menghampiri Baekhyun dengan salah satu tangan berlumuran tepung. “Kalau kau tidak sarapan, kau harus membawa ini bersamamu.”

“Bekal? Eomma bercanda? Aku sudah semester enam eomma, tidak ada mahasiswa semester enam yang membawa bekal ke kampus! Sudah, aku pergi” Baekhyun meningalkan Nyonya Byun dengan satu kecupan manis di pipi.

Baekhyun menutup pintu rumah dan mengeluarkan kunci mobil dari dalam tasnya, tapi tiba-tiba matanya menangkap Bugatty Veyron putih memasuki pekarangan rumahnya.

“Mau berapa jam kau berdiri disitu? Jangan membuatku menyesal telah menjemputmu!” seru sang pengemudi Bugatty.

Baekhyun ingin membantah, tapi seperti ada sesuatu yang mengendalikan dirinya hingga membuat ia melangkahkan kaki menuju mobil Park Chanyeol tersebut.

Keheningan yang canggung adalah hal biasa bagi Baekhyun jika berada di tempat yang sama dengan Chanyeol, tapi kali ini Baekhyun berani bertaruh, kecanggungan di antara mereka meningkat beberapa kali lipat. Tidak ada yang bersuara di antara mereka  sampai mobil Chanyeol berhenti di parkiran Fakultas –Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

“Tanganmu tidak apa-apa?” pertanyaan Chanyeol membuat Baekhyun mengurungkan niatnya keluar dari mobil Chanyeol.

“Ya. Tidak apa-apa.” Jawab Baekhyun lirih.

“Baekhyun, ada yang ingin kubicarakan denganmu. Kau tahu Kyungsoo bukan?” Chanyeol menahan napasnya sesaat sebelum menatap Baekhyun. “Aku tahu ini tidak ada hubungannya denganmu, tapi ya, kurasa kau perlu terlibat di dalam hal ini. Do Kyungsoo, laki-laki itu, aku serius  dengannya!”

“Aku rasa ini bukan kali pertama kau menyatakannya di depanku. Apa yang ingin kau sampaikan sebenarnya Park Chanyeol?” ujar Baekhyun terlalu tenang.

“Pertunangan itu, mari kita membatalkannya!” jawab Chanyeol cepat.

“Jadi ini alasanmu menjemputku? karena kau ingin membujukku membatalkan pertunangan kita agar kau bisa bersama mainanmu? Dan kau meminta izin dariku? Apa kau benar-benar Park Chanyeol?” Baekhyun bersiap keluar dari mobil Chanyeol, namun Chanyeol menahannya. Chanyeol menahannya. Baekhyun tersedak ludahnya sendiri, ini adalah skinship pertamanya dengan Chanyeol sejak mereka berstatus tunangan.

“Baekhyun, aku serius. Ini mungkin terdengar gila, tapi aku membutuhkanmu untuk meyakinkan orang tuaku agar mereka mau membatalkan pertunangan ini. Dan aku percaya, kau tidak akan keberatan melakukannya.”

“Kau benar-benar tidak pernah mengenalku Park Chanyeol. Jawabanku sama seperti appamu, aku akan berpura-pura tidak mendengar apapun. Terima kasih atas tumpangannya Park chanyeol.” Baekhyun kemudian turun dari mobil Chanyeol setelah menyelesaikan kalimatnya.

“Bisa kutahu apa alasannya, Byun Baekhyun?” seperti harapan Baekhyun, Chanyeol menahannya sekali lagi.

Baekhyun menahan tawanya.“Alasan? Itu adalah pertanyaan terbodoh yang pernah kudengar. Baiklah, kuberi tahu, aku mempunyai alasan yang sama denganmu.” Baekhyun menunggu reaksi Chanyeol.

“Maksudmu?” Chanyeol menatap Baekhyun bingung.

“Apa alasanmu membatalkan pertunangan ini? Karena kau membenciku bukan?” Baekhyun menahan napasnya. “Aku juga membencimu sehingga aku tidak bisa membatalkan pertunangan ini.” Baekhyun meninggalkan Chanyeol tanpa berniat menoleh sedikitpun ke arah tunangannya itu.

“Baekhyun! Apa maksudmu?! Byun Baekhyun! Sial!” Chanyeol menatap kepergian Baekhyun dengan begitu banyak pertanyaan di kepalanya.

.

.

 

“Chanyeol, tumben kau pulang ce…pat?” Kyungsoo membeku melihat sosok yang berdiri di depannya. Ia tahu, suatu saat hal ini pasti akan terjadi, tapi ia tidak menyangka suatu saat itu adalah hari ini.

“Sepertinya kau cukup baik dalam bersih-bersih. Bagaimana rasanya tinggal satu atap dengan tunanganku? Apakah begitu menyenangkan sehingga membuatmu tidak bisa meninggalkan tempat ini?” Baekhyun mengitari ruang tamu apartemen Chanyeol sambil sesekali menyapukan jemari lentiknya di permukaan perabotan yang ada disana.

“Maaf, Chanyeol sedang tidak disini.” Kyungsoo menutup kembali pintu apartemen.

“Siapa yang mengatakan aku mencari Chanyeol. Baguslah kalau dia tidak disini.” Baekhyun menghentikan gerakannya. “Jadi, namamu Do Kyungsoo?” Tanya Baekhyun sambil mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu Chanyeol.

“Ya, Baekhyun-ssi” jawab Kyungsoo pelan.

“Begini Do Kyungsoo-ssi, aku tipe orang yang tidak bisa berbasa-basi dengan siapapun. Jadi kapan kau akan angkat kaki dari sini? Oh bukan itu pertanyaannya, kapan kau akan meninggalkan tunanganku? Kurasa waktu yang kuberikan untuk bersenang-senang dengan tunanganku sudah lebih dari cukup.” Baekhyun menatap Kyungsoo dengan tatapan yang sulit diartikan. “Aku tahu kau tidak menderita tuli apalagi bisu Do Kyungsoo-ssi.”

“A.. Aku.. Maafkan aku Baekhyun-ssi. Aku tahu ini salah, tapi aku tidak bisa meninggalkan Chanyeol.” Jawab Kyungsoo dengan suara bergetar menahan tangis.

“Aku tahu kau akan menjawab seperti itu. mungkin ketika kutanya alasannya, kau akan menjawab bahwa kau mencintai Chanyeol? Atau kau akan menjawab bahwa Chanyeol mencintaimu? Begitu?” Baekhyun bertanya dengan nada suara yang sama seperti pertanyaan sebelumnya –pelan dan tenang.

“Baekhyun-ssi..” Kyungsoo menatap Baekhyun dengan mata berkaca-kaca.

“Dua hari. Kuberi kau waktu dua hari. Dan kuharap waktu dua hari cukup untuk membuatmu tidak muncul lagi di hidupku. Terima kasih atas waktumu Do Kyungsoo-ssi. Aku permisi”

Kyungsoo tidak bisa menahan air matanya setelah kepergian Baekhyun.

.

.

 

Baekhyun sedang menarikan jemarinya di tuts-tuts piano ketika Chanyeol masuk dan membanting pintu ruang musik. Baekhyun bersyukur karena hanya ada beberapa mahasiswa di ruang musik saat ini, dan Baekhyun tahu, mereka tidak perlu menjadi peramal untuk memahami situasi yang sedang terjadi. Jadi tanpa komando dari siapapun, mereka satu-persatu meninggalkan ruang musik sehingga menyisakan Baekhyun –yang masih sibuk bermain piano- dan Chanyeol disana.

“Apa yang kau katakan pada Kyungsoo?”

“Jadi dia melapor padamu?” Baekhyun masih sibuk menekan tuts-tuts piano.

“Jadi memang benar kau, Baekhyun. Apa yang kau katakan padanya?” Chanyeol mengulang pertanyaannya.

“Tidak terlalu penting. Hanya beberapa hal kecil, seperti, kapan kau akan meninggalkan tunanganku?”Baekhyun menghentikan permainan pianonya. “Jadi benar dia mengadu padamu? Mainanmu benar-benar mengesankan, Park Chanyeol.”

“Dia punya nama dan dia bukan mainanku. Kau sudah terlalu ikut campur dalam hidupku Byun Baekhyun.”

“Lalu kau mau aku melakukan apa? Berpangku tangan sementara tunanganku bersenang-senang dengan mainannya? Menggelikan sekali kau Park Chanyeol?”

“Sejak kapan kau begitu peduli tentang statusmu sebagai tunanganku? Jangan mempersulit diri sendiri Byun Baekhyun. Aku tahu kau tidak menyukaiku. Jadi kumohon, mulai sekarang mari tidak mencampuri urusan masing-masing. Hiduplah seperti kau yang biasanya. Kita batalkan pertunangan ini dan semuanya selesai.” Chanyeol meletakkan sesuatu di antara tuts-tuts piano. “Jangan katakan apapun, aku tidak akan mendengarkan apapun darimu. Annyeong, Byun Baekhyun.”

Sepeninggal Chanyeol, Baekhyun mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Dadanya terlalu sesak bahkan hanya untuk sekedar bernapas. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan. Ia terbatuk karena terlalu keras memukul dadanya sendiri. Dengan satu kali sentakan, dilemparkannya benda mungil di atas tuts-tuts piano itu ke arah pintu. Ya, itu cincin pertunangannya dengan Park Chanyeol.

“Kupikir kau menangis hanya karena aku, ternyata tunanganmu, eum mantan tunanganmu juga bisa membuatmu menangis Byun Baekhyun?”

“Keluarlah Kris, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu.”

“Ohohoo.. Apa kau sadar Byun Baekhyun? Itu kalimat terpanjang yang pernah kau ucapkan padaku dua tahun terakhir.” Kris melangkah mendekati Baekhyun.

“Jangan mendekat!” bukan Kris namanya kalau ia mendengarkan kata-kata orang lain.

“Kubilang jangan mendekat atau aku akan membunuhmu!”

Another long sentences! Kau lumayan kalau sedang marah begini!” Kris sekarang dalam posisi berjongkok di depan Baekhyun. Dan Kris berani bertaruh, baru sekali ini dalam hidupnya ia melihat Baekhyun dalam keadaan seperti ini. Menyedihkan. Wajah penuh air mata sementara tangannya terkepal erat di kedua sisi tubuhnya.

“Untuk sekali saja, bisakah kau memperlakukanku seperti manusia Kris?” bukannya mengindahkan pertanyaan Baekhyun, Kris malah memegang pergelangan tangan Baekhyun. membuka kepalan tangan Baekhyun perlahan-lahan. Baekhyun sempat menarik tangannya, namun Kris menahannya. Belum cukup dengan menggenggam tangan Baekhyun, sekarang Kris mengusap air mata di pipi Baekhyun dengan tangan kanannya.

“Kau lebih menyedihkan daripadaku jika seperti ini. Jadi berhentilah menangis, dan temani aku makan siang.” Kris mengerutkan dahinya bingung melihat reaksi baekhyun.

“Kau benar-benar gila Kris Wu!” Baekhyun melepaskan tangannya dari genggaman laki-laki berambut pirang itu lalu mengusap pipinya kasar.

“Aku bahkan heran jika kau tidak mengatakannya. Jadi bisa kita makan siang sekarang?” Kris kemudian berdiri dan mengulurkan sebelah tangannya kepada Baekhyun.

“Makan saja dengan otak gilamu!” Baekhyun bangkit dari kursinya dan melangkah ke arah pintu ruang musik.

“Sama-sama Byun Baekhyun.” seru Kris sambil tersenyum menang. Ia kemudian mengambil sesuatu dari saku celananya.

“Haruskah kujual untuk modal minum di Queveera malam ini? dari bentuknya saja ini benar-benar mahal. Oi Baekhyun, terima kasih.” Kris terkekeh pelan menatap benda mungil di tangannya itu. “atau haruskah kupakai?” tanyanya pada diri sendiri.

.

.

 

 

Kyungsoo sedang sibuk dengan bahan masakannya sejak pagi-pagi sekali. Ia sedang dalam mood yang baik untuk memasak. Kyungsoo berencana membawa bekal untuk dirinya dan Chanyeol ke kampus, berhubung ia dan Chanyeol berada di kelas yang sama hari ini. Gerakannya mengiris bawang tiba-tiba terhenti. Meskipun sekarang ia merasa lebih baik, kejadian tiga hari yang lalu masih melekat di kepalanya.

“Kau harus bertahan Kyungsoo-ya! Sebentar lagi! Hanya Chanyeol yang kau punya sekarang! Jangan pikirkan apapun! Hanya pikirkan tentang kau dan Chanyeol!” Kyungsoo membuat gerakan menepuk-nepuk pundaknya sendiri.

“Aromanya membuatku lapar! Atau aku memang lapar karena tidak sempat makan tadi malam?” Chanyeol berjalan ke arah Kyungsoo sambil sesekali mengucek matanya.

“Chanyeol-ah, kau sudah bangun? Aku membuat bekal untuk kita. Kuharap kau tidak keberatan membawa bekal ke kampus.” Chanyeol mengabaikan pertanyaan Kyungsoo beberapa saat karena sibuk memeluk Kyungsoo dari belakang dan manyimpan dagunya di perpotongan leher Kyungsoo.

“Chanyeol-ah, aku sedang memasak. Aku tidak bisa bergerak kalau kau seperti ini. Park Chanyeol, kumohon lepaskan tanganmu, supku menguap.” Kyungsoo berusaha membebaskan dirinya dari Chanyeol.

“Aku tiba-tiba merindukan eomma mendengarmu berbicara seperti ini.” tangan Kyungsoo berhenti di udara mendengar pernyataan Chanyeol.

“Pergilah temui eommamu kalau begitu.”

“Tentu saja, natal tinggal dua hari lagi. Keluarga besarku akan berkumpul di rumah. Dan kau akan ikut bersamaku! Bagaimana?” Chanyeol memutar tubuh Kyungsoo agar menghadap ke arahnya. “tatap aku Kyungsoo-ya, kau mau kan bertemu keluargaku?” Chanyeol menempatkan tangan kanannya di pipi kiri Kyungsoo. Menatap Kyungsoo penuh harap.

“Maafkan aku Chanyeol-ah. kurasa, aku tidak bisa. Aku.. Baekhyun..” Kyungsoo menggigit bibirnya, ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.

“Hei, lihat aku. Aku dan Baekhyun sudah berakhir, oke? sekarang hanya ada kau dan aku.” Chanyeol mengusap penuh sayang air mata yang berhasil lolos di pipi Kyungsoo. “Aku mencintaimu Do Kyungsoo, dan kau sangat tahu itu.” Chanyeol menangkup kedua pipi Kyungsoo dengan tangannya yang besar, lalu mengecup perlahan bibir Kyungsoo.

Kajja, bersiap-siap. Kita bisa terlambat! Ms. Ahn tidak akan memberikan toleransi untuk mahasiswa yang terlambat kau tahu?” Ujar Chanyeol sambil mengacak surai kecoklatan Kyungsoo.

.

.

 

Whats up, Kim Jongin! Kau masih hidup rupanya?” Kris menghampiri Kim Jongin yang sedang melepaskan helmnya.

“Aku tidak mau di drop out hanya karena tidak menghadiri mata kuliah professor Snape versi wanita itu, tuan Wu. Walaupun sebenarnya aku terlalu tampan untuk di drop out. Haha..”

“Apa? Ayo, sini kukembalikan kau kau ke Queveera!”

“Percaya padaku, itu adalah hal pertama yang aku lakukan jika Ms. Ahn tidak hadir hari ini.”

“Tentu saja. Kau kan gila.” Kris menjepit leher Jongin dengan tangannya lalu mereka meninggalkan tempat parkir dengan tawa.

“Ow, sepertinya kau tidak mendapatkan hal pertamamu hari ini, Kim.” Kris melepaskan jepitan tangannya di leher Jongin. Memperbaiki sedikit penampilannya. “annyeong haseyo Ahn Saem!”

Ready for test today Mr. Wu?” Jawab Ms. Ahn dengan senyum manis di bibirnya. Kris tidak perlu menjadi cucu Enstein untuk mengetahui kalau senyum itu adalah palsu.

Good morning everybody? Silahkan letakkan laporan Informative Speech di atas meja masing-masing.”

“Selamat pagi.. Ms. Ahn. Maaf.. kami…terlambat…” Kyungsoo menupumkan tangan pada kedua lututnya untuk menormalkan pernapasannya.

“Selamat pagi Do Kyungsoo-ssi, Park Chanyeol-ssi. Silahkan ambil bangku kalian sebelum aku berubah pikiran.”

Kamsahamnida Ms. Ahn” jawab Kyungsoo

.

 

“Selamat pagi Do Kyungsoo-ssi, Park Chanyeol-ssi. Silahkan ambil bangku kalian sebelum aku berubah pikiran.”

Kim Jongin seketika bangkit dari kursinya mendengar kalimat Ms. Ahn barusan.

Kamsahamnida Ms. Ahn”

Kim Jongin tercekat dan menatap tidak percaya terhadap apa yang dilihatnya. Sosok itu, laki-laki mungil bermata bulat dengan senyum menawan yang hanya berdiri beberapa langkah di depannya. Itu benar-benar dia. Do Kyungsoo. Do Kyungsoonya. Tanpa pikir panjang, Jongin berlari ke tempat Kyungsoo berdiri dan langsung membawa laki-laki mungil itu ke dalam pelukannya.

Hyung, ini benar-benar kau? Hyung.. Kyungsoo hyung..” Jongin mengeratkan pelukannya pada Kyungsoo. Kyungsoo masih terdiam di posisinya, untuk sesaat ia tidak bisa mencerna apa yang terjadi. Namun setelah mendengar suara itu menyebut namanya, tangisnya pecah di pelukan laki-laki uang memeluknya itu.

“Jongin? Jongin.. ini benar-benar aku. Aku.. aku merindukanmu Jongin-ah.” Kyungsoo tidak peduli dengan tatapan heran semua orang di ruangan itu. Termasuk seruan Ms. Ahn ketika Jongin membawanya keluar kelas.

.

.

.

“Bagaimana kabarmu Jongin-ah? apa kau baik-baik saja? bagaimana kau bisa berada disini? Bagaimana kau bisa.. “

“Sshh, tenanglah hyung. Kita punya banyak waktu untuk menjawab semua pertanyaanmu. Sekarang jawab aku, kapan kau kembali ke Korea? Bagaimana eomma?”

Kyungsoo menarik napasnya perlahan, kemudian menatap Jongin lurus-lurus. “itu, aku kembali dua minggu yang lalu. Eomma, eomma sudah tidak ada Jongin-ah” tangis Kyungsoo kembali pecah di pelukan Jongin.

“Oh Tuhan. Maafkan aku hyung, aku harus mengatakan ini, hal yang sama juga terjadi kepada appa, seminggu setelah kepergianmu dengan eomma. Appa mengalami kecelakaan hingga merenggut nyawanya.”

“Lalu bagaimana denganmu? Kau sekarang tinggal dimana?” Tanya Kyungsoo tergesa-gesa.

“Tenang saja hyung, seperti harapanmu, aku tumbuh menjadi lelaki yang kuat. Aku menjalani hidupku dengan baik selama ini. katakan aku durhaka atau gila mengatakan ini di depanmu, tapi aku senang kau bisa kembali hyung.”

Ya, Jongin tidak bisa bagaimana menjelaskan hubungannya dengan Kyungsoo. Apa yang terjadi di antara mereka. Yang pastinya, sejak ayahnya dan ibu Kyungsoo bercerai lima yang lalu, Jongin tidak pernah bisa berhenti memikirkan Kyungsoo. Ia tahu, salah satu alasan kenapa ayahnya dan ibu Kyungsoo bercerai adalah Karena ia dan Kyungsoo tidak hanya terlibat hubungan saudara tiri. Ayahnya mengetahui bahwa ia dan Kyungsoo memiliki hubungan yang lebih dari itu.

“Sekarang semuanya sudah berakhir hyung, aku senang bisa bertemu denganmu lagi. Kau tahu betapa aku merindukanmu selama ini hyung? kau mau kan hyung, memulai dari awal bersamaku? Kau masih mencintaiku kan hyung?” Jongin menunggu jawaban Kyungsoo dengan dada bergemuruh.

“Jongin-ah, aku.. maafkan aku Jongin-ah, tapi aku bersama seseorang sekarang.” Kyungsoo mengalihkan pandangannya dari mata Jongin.

Hyung, bukan itu yang ingin kudengar darimu. Aku tahu kau masih mencintaiku. Siapa orang itu? Park Chanyeol? Aku akan berbicara dengannya.” Jongin tiba-tiba berdiri dari duduknya.

“Jongin-ah, kumohon jangan begini. Kita sudah berakhir dan kau tahu itu. Tapi aku masih hyungmu, tidak bisakah kau kembali menjadi adikku, Jongin-ah? aku akan tinggal bersamamu mulai sekarang, sebagai kakakmu. Eoh?” Kyungsoo perlahan melepaskan cengkramannya dari tangan Jongin.

“Tidak ingatkah kau pada janjimu hyung. Kau bilang aku harus menunggumu, sudah kulakukan hyung. Aku tidak akan bisa menjadi adikmu kembali setelah semua yang terjadi di antara kita hyung. Aku akan menemui Park Chanyeol.”

“Jangan Jongin-ah. Kau tidak bisa menemuinya sekarang!”

“Kenapa? Kau takut dia mengetahui tentangku? Tentang kita?” Kyungsoo bungkam mendengar suara Jongin. “jawab aku, hyung!”

“Jongin-ah, aku, maafkan aku. Aku tidak bisa meninggalkannya.”

“Kenapa hyung? Kenapa kau tidak bisa? Kau mencintainya?” Lagi-lagi Kyungsoo bungkam mendengan suara Jongin. “lihat, kau tidak bisa menjawabnya kan? hyung, aku mengenalmu seperti aku mengenal diriku sendiri, dan kau masih mencintaiku.”

“Jongin-ah, aku sudah terlalu banyak terlibat dalam hidupnya. Dia orang pertama yang bisa memahamiku setelah dirimu. Aku telah melewati masa-masa sulitku bersamanya. Dia mengatakan kalau dia sangat mencintaiku dan dia tidak bisa tanpaku. Jongin-ah. aku minta maaf.”

“Lalu, apa kau kira aku bisa hidup tanpamu mulai sekarang, hyung?” Kyungsoo tidak berani menjawab pertanyaan Jongin, lebih tepatnya tidak bisa.

“Maafkan aku Jongin-ah.” lirihnya pelan.

“Kau kejam Do Kyungsoo.” Jongin meninggalkan Kyungsoo tanpa menghiraukan tangisannya yang kembali pecah.

.

.

 

“Bagaimana pertemuanmu dengan Jongin? Kau senang sekarang Do Kyungsoo?”

Siang itu Chanyeol memutuskan untuk membawa Kyungsoo pulang ke apartemennya. Setelah membereskan kekacauan yang disebabkan Kyungsoo di kelas Ms. Ahn, ia terus memikirkan Kyungsoo. Makanya, setelah menemukan Kyungsoo menangis di gazebo kampus tanpa Jongin, ia memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah hari ini.

Eoh. Tentu saja aku senang.  Dunia begitu kecil bukan? Aku tidak menyangka akan menemukannya secepat ini. Gomawo Chanyeol-ah.” Kyungsoo mengubah posisinya dari tiduran di atas paha Chanyeol menjadi bersandar di bahu laki-laki itu.

“Karena kau senang hari ini, mari kita berbelanja. Kau harus tampil luar biasa di depan keluargaku nanti malam. Kajja!”

“Chanyeol-ah, bisakah kita tidak pergi? Aku, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu.” Kyungsoo menatap Chanyeol takut-takut.

“Tidak, kau harus pergi bersamaku. Ini kesempatan kita Kyungsoo-ya. Kita sudah menemukan Jongin. Jadi kau tidak perlu memikirkan apapun lagi selain hubungan kita. Oke?” Chanyeol mengecup mata Kyungsoo. “Apa yang ingin kau bicarakan denganku, heum?”

“Aku.. Jongin. Mulai besok aku akan tinggal bersama Jongin. Kau mengizinkanku kan, Chanyeol?”

“Jadi kau meninggalkan kekasihmu ini setelah kau menemukan adikmu, begitu? Kau benar-benar kacang yang lupa dengan kulitnya, Do Kyungsoo.”

Kyungsoo tersentak mendengar jawaban Chanyeol. “Chanyeol-ah, aku.. Maksudku tidak seperti itu. Aku hanya tidak ingin terus-terusan merepotkanmu. Kalau kau tidak mengizinkanku, aku tidak akan pergi, sungguh!”

“Hahaha.. Kau menggemaskan sekali Do Kyungsoo. Baiklah, aku akan mengizinkanmu tinggal dengan Jongin jika kau setuju menemui keluargaku malam ini? Bagaimana?”

“Chanyeol.. benarkah? Terima kasih Chanyeol-ah. Aku akan menemui keluargamu malam ini.”

“Tcih.. Kalau aku tahu Jongin adalah Achilles Heelmu, sudah kugunakan sejak dulu.” Chanyeol tertawa pelan melihat mata Kyungsoo yang berbinar-binar.

Achilles Heelku?” Tanya Kyungsoo dengan dahi berkerut.

“Titik kelemahanmu.” Jawab Chanyeol.

“Apakah begitu jelas?” Tanya Kyungsoo lagi.

“Sangat. Ya, aku tahu bagaimana perasaanmu. Sama sepertiku, Luhan hyung juga salah satu Achille’s Heelku. Kajja, kita pergi sekarang.” Kyungsoo mengangguk patuh mendengar perkataan Chanyeol.

.

.

 

 

“Akhirnya kau datang juga Byun Baekhyun, atau aku harus memanggilmu Park Baekhyun mulai sekarang?” itu suara Park Luhan –kakak sulung Chanyeol.

Hyung? Kapan hyung kembali?” Baekhyun segera berlari ke pelukan Luhan.

Aigoo, adik kecilku yang manis. Makanya, jangan terlalu sibuk dengan Chanyeol, kakak iparmu sendiri sudah kembali ke Korea kau tidak tahu.” Luhan melepaskan pelukannya dari Baekhyun.

“Aku minta maaf. Jadi apa hukumanku karena tidak mengetahui kepulangan hyungku ini?” Tanya Baekhyun jahil.

“Eum, apa ya? Menikah secepatnya dengan Park Chanyeol bodoh itu mungkin?” Luhan tidak bisa menahan tawanya melihat reaksi Baekhyun.

Hyuuung..” Baekhyun memukul pelan pergelangan tangan Luhan.

“Ayo! Semua orang sdang menunggu di ruang makan.” Luhan menggamit lengan Baekhyun menuju ruang makan.

“Lihat siapa disini eomma,” seru Luhan tiba-tiba kepada Nyonya Park.

“Oh Baekhyun, Merry Christmas, sayang.” Ujar Nyonya Park sambil mengecup sebelah pipi baekhyun.

Merry Christmas, eommonim.” Jawab Baekhyun sopan.

“Oh, Baekhyun. kau disini.” Itu suara Nyonya Byun dengan kedua tangan penuh hiasan natal. Baekhyun mengangguk kecil ke arah ibunya.

“Semua orang sudah berkumpul, haruskah kita mulai makan malam?” Tuan Park menatap semua orang satu persatu. “Tapi dimana Chanyeol?” Tanyanya kemudian. “Kau tidak bersama Chanyeol, Baekhyun-ah?” Lanjut Tuan Park. Baekhyun menjawab pertanyaan Tuan Park dengan sebuah gelengan.

“Chanyeol sedang dalam perjalanan appa, tadi dia mengirimiku pesan.” Jelas Luhan.

Baekhyun mengikuti Luhan dan Nyonya Park ke ruang makan, di ruang makan terlihat eommanya dan Tuan Park sedang menata hidangan di atas meja. Bisa disebut ini adalah kegiatan rutin mereka setiap tahun, keluarga Chanyeol dan Baekhyun selalu merayakan malam natal bersama-sama, karena tahun lalu mereka merayakannya di kediamanam keluarga Byun, maka tahun ini mereka merayakannya di mansion keluarga Park.

Baekhyun sedang sibuk membalik daging di atas panggangan ketika Chanyeol memasuki ruang makan.

“Oh Chanyeol, kau sudah datang? Dan, membawa teman?”

Kyungsoo tersenyum dan membungkuk ke arah laki-laki cantik di depannya.

Annyeong hyung, perkenalkan hyung, Do Kyungsoo. Kyungsoo, ini Luhan hyung.” Chanyeol  mengedipkan sebelah matanya ke arah Kyungsoo.

Annyeong ha..seyo, Do.. Do Kyungsoo imnida” Kyungsoo mengulurkan tangannya kepada Luhan dan disambut hangat oleh Luhan.

Annyeong Kyungsoo-ssi. Tidak biasanya Chanyeol membawa seseorang ke rumah saat natal selain Baekhyun. Kau pastinya sahabat dekat adikku, Kyungsoo-ssi.” Luhan menatap Chanyeol penuh selidik, lalu mempersilahkan Kyungsoo duduk di kursi makan.

“Perkenalkan eomma, appa, ini tamu Chanyeol. Do Kyungsoo.” Seru Luhan kepada eomma dan appanya yang masih sibuk menata hidangan.

Semua orang di ruangan itu menghentikan kegiatannya mendengar seruan Luhan dan menoleh ke arah Kyungsoo. Sementara Baekhyun menatap miris kea rah Kyungsoo dan Chanyeol.

“Kebetulan semuanya sedang disini, aku ingin membicarakan sesuatu dengan kalian. Aku.. Aku dan Kyungsoo__”

“Aku ingin membatalkan pertunangan dengan Park Chanyeol!” Baekhyun memotong ucapan Chanyeol denga suaranya yang melengking. Sekarang semua orang mengalihkan perhatiannya kepada Baekhyun. “aku ingin membatalkan pertunangan dengan Park Chanyeol.” Baekhyun mengulang pernyataan yang sama dengan suara yang lebih pelan.

“Baekhyun, apa maksudmu sayang?” Nyonya Byun menghampiri putra semata wayangnya itu.

Eomma tidak dengar? Aku ingin pertunanganku dengan Chanyeol dibatalkan!” Baekhyun menjawab pertanyaan eommanya dengan tatapan tajam.

“Tunggu.. Tunggu.. Baekhyun, apa maksudmu? Eomma, appa? Apa maksud semua ini?” Luhan masih menatap Baekhyun tidak percaya.

“Maafkan aku Luhan hyung.” Kepergian Baekhyun malam itu mengakhiri acara makan malam keluarga Park yang bahkan belum sempat di mulai.

.

.

 

Natal sudah berakhir dua hari yang lalu, itu berarti Baekhyun harus kembali menjalani kegiatannya seperti biasa –pergi ke kampus. Baekhyun memarkirkan Pagani Zondanya di parkiran fakultas dan bersiap keluar dari mobilnya, namun sesorang lebih dulu membukakan pintu untuknya.

“Huang Zi Tao! Apa yang kau lakukan?” Tanya Baekhyun dengan tatapan heran.

“Selamat pagi, Byun Baekhyun. aku.. Aku benar-benar minta maaf dan turut berduka untukmu, Baekhyun-ah.”

“Apa yang kau bicarakan Huang Zi Tao?” Tanya Baekhyun tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Tao.

“Kenapa bisa dunia begitu kejam kepadamu, Baekhyun-ah?”

“Tao, jangan bertele-tele, sebenarnya apa maksudmu?” Tao memberikan ponselnya kepada baekhyun dan mata Baekhyun seakan terlepas dari kepalanya menatap ponsel Tao. Bukan, Baekhyun bukan mengagumi ponsel canggih keluaran terbaru milik Tao tersebut. Yang membuatnya terkejut adalah Headline berita online yang tertera di layar ponsel itu.

‘CEO JK CORPORATION, BYUN SOO HYUK MENGUMUMKAN TANGGAL PERNIKAHAN KEDUANYA NYA DENGAN MANTAN ISTRI KEVIN WU, LADY MARRY’

“Baekhyun, kau tidak apa-apa? Hei Baekhyun!” Tao tersentak karena Baekhyun tiba-tiba menjatuhkan dirinya di lantai parkiran yang penuh salju.

“Tolong tinggalkan aku sendiri. Aku tidak apa-apa Tao.” Jawab Baekhyun dengan suara lemah, bahkan nyaris berbisik. Dan teriakan Tao adalah hal terakhir yang didengarnya sebelum pandangannya menggelap.

“Baekhyun! Baekhyun! Kumohon sadarlah! Byun Baekhyun!” Tao mengguncang-guncang bahu Baekhyun dengan panik. “Baekhyun, siapa yang harus kuhubungi untukmu? Chanyeol? Oh sial, bukan Chanyeol. Kris, oh bukan.. Ah, eottokkhae?” Tao menjambak rambutnya frustasi. “Bodoh, seharusnya aku tidak memberi tahumu hal ini. Baekhyun, maafkan aku. Tunggu sebentar, aku akan menghubungi seseorang.” Tao berlari terburu-buru meninggalkan area parkiran.

.

.

.

“Syukurlah aku menemukanmu, hahh.. Hah.. Chanyeol, Chanyeol.. Baekhyun.. Hah.. Baekhyun..” Tao menghampiri Chanyeol dengan napas tersengal-sengal.

Chanyeol menghentikan petikan gitarnya, lalu memandang Kyungsoo yang duduk di sampingnya. “Berbicaralah dengan jelas, Tao!” perintah Chanyeol lantang.

“Baekhyun.. Baekhyun__”

“Ada apa dengan Baekhyun?!” Tao gagal melanjutkan kalimatnya setelah mendengar seruan seseorang di belakangnya.

“Kris sunbae, Baekhyun pingsan di parkiran!” lanjut Tao dengan mata tertutup.

BRUGH../?

Chanyeol berlari menyusul Kris setelah melemparkan gitar di pelukannya ke sudut ruangan.

.

.

.

“Baekhyun-ah! Byun Baekhyun! Sadar Byun Baekhyun!” Kris menepuk-nepuk pelan pipi Baekhyun yang penuh salju. “Jangan mendekat!” langkah Chanyeol tiba-tiba berhenti mendengar bentakan Kris. “Jangan pernah mendekat, Park Chanyeol! Tao, bisa kau bukakan pintu mobil untukku?” Kris melemparkan kunci mobilnya kepada Tao sebelum mengangkat tubuh tak berdaya Baekhyun. sementara Chanyeol hanya menatap diam kepergian mereka.

“Chanyeol-ah..” Kyungsoo menghampiri Chanyeol dan mengusap pergelangan tangannya, Mencoba untuk menenangkan Chayeol.

“Maafkan aku Soo-ya, aku sedang ingin sendiri. Bolehkah?” Kyungsoo mengangguk dan meninggalkan Chanyeol di tempat parkir. Ya, Chanyeol memang butuh sendiri. Sama seperti dua hari yang lalu, Chanyeol mengurung diri di kamarnya setelah mengantarkan Kyungsoo ke tempat Jongin.

 

“Tenang saja, pasien hanya kelelahan karena terlalu banyak beban pikiran. Dia mungkin pingsan karena mendengar sesuatu yang membuatnya tertekan. Kami sudah memberinya obat penenang dan beberapa jam lagi dia akan siuman.” Kris mendengar dengan cermat penjelasan dokter yang baru saja selesai memeriksa Baekhyun.

“Terima kasih dokter.” Setelah membungkuk hormat dan mengantarkan dokter ke depan pintu, Kris menghampiri brangkar Baekhyun. Kris menggenggam tangan Baekhyun yang tidak di infus lalu di kecupnya tangan terindah yang pernah digenggamnya itu.

“Bodoh, tak kusangka kau akan selemah ini. Berapa lama lagi akan kau sembunyikan sifat sok tegarmu ini Byun Baekhyun?” Kris meletakkan kembali tangan Baekhyun di pinggir brangkar tanpa melepaskan genggamannya. “Kenapa harus kau Byun Baekhyun? Dari sekian banyak orang, kenapa harus dirimu yang akan menjadi adikku?” Kris mengusap pipi Baekhyun hati-hati dengan ujung jarinya.

“Apa kau masih ingat pertemuan pertama kita Byun Baekhyun?, Aku yakin kau tidak akan ingat. Ya, tentu saja, dimatamu hanya ada Park Chanyeol!” Kris terkekeh  mendengar ucapannya sendiri. “Hanya saja kau terlalu bodoh dan tidak menyadari perasaanmu. Bukankah kita sama-sama menyedihkan Byun baekhyun?” lanjutnya.

.

.

.

Tiga tahun yang lalu

Kris memeriksa satu-persatu buku catatan wajib mahasiswa baru, ya ia adalah salah satu panitia pelaksana Orientasi Mahasiswa Baru –tepatnya ketua pelaksana. Karena prestasinya yang cemerlang, meskipun Kris masih di tahun keduanya di universitas, ia dipercayakan menjadi ketua pelaksana Orientasi Mahasiswa baru di fakultasnya.

Kris tertawa membaca tulisan-tulisan pada buku catatan wajib mahasiswa baru –ya, di hari terakhir orientasi Fakultas, setiap mahasiswa baru harus menuliskan kesan dan pesannya pada senior, yang kebanyakan isinya adalah pujian-pujian yang ditujukan kepada dirinya sendiri. Namun tawanya tiba-tiba berhenti karena mendapati sebua buku yang putih bersih, tidak ada satupun coretan di dalamnya.

“Kenapa Kris?” Tanya temannya –Kim Minseok, yang berdiri di sebelahnya.

“Sepertinya ada yang ingin menantang kita. Lihatlah, bukunya benar-benar bersih.” Kris memberikan buku itu kepada Minseok.

Daebaaak! Byun Baekhyun?” ujarnya setelah memeriksa bagian depan buku. “Siapapun di antara kalian yang bernama Byun Baekhyun tolong maju ke depan!” Minseok mengambil mikrofon dari tangan Suho –pemandu acara hari itu.

Minseok mengulas senyum penuh arti melihat seorang mahasiswa baru berdiri dari kursinya dan melangkah ke arah podium.

“Jadi, Byun Baekhyun, boleh kutahu kenapa catatanmu tidak berisi apapun?” giliran Kris yang menginterogasi mahasiswa baru itu.

“Aku tidak bisa menulis hal-hal bodoh seperti itu.” Jawab Baekhyun dengan tenang. Otomatis Kris, Minseok dekan-rekannya tertawa mendengar jawaban Baekhyun.

“Hal-hal bodoh seperti ini katamu? Kami tidak menerima alasan apapun, jadi Byun Baekhyun, silahkan ambil kembali catatanmu dan tulis.”

“Sudah kukatakan, aku tidak bisa menulis hal-hal bodoh seperti itu! aku mengenal pemilik kampus ini dan ancamanmu tidak berarti apa-apa bagiku. Terima kasih!”

“Tunggu Byun Baekhyun! Kau tidak ingin mengatakan apapun lagi?” Kris menahan pergelangan tangan Baekhyun.

“Kau ingin mendengar maaf atau sejenisnya dariku?” Baekhyun meatap tangan Kris yang memegang pergelangan tangannya. “Kau tidak mau mempermalukan diri sendiri kan, sunbaenim? Jadi jauhkan tanganmu dariku!” lanjut Baekhyun sambil menatap Kris, tepat di mata. Dan ajaibnya, Kris –yang biasanya tidak pernah mendengarkan orang lain- melepaskan tangannya perlahan-lahan dari Baekhyun. Kris membeku menatap iris sipit bereyeliner itu, dan ia berani bersumpah, mata itu adalah mata terindah yang pernah dilihatnya.

“Bagaimana bisa ada manusia sepertimu?” Kris bahkan tidak percaya dengan apa yang diucapkannya.

.

.

.

“Ugh..” Baekhyun memegang kepalanya yang terasa seperti dijatuhi barbel.

“Kau masih bisa tidur sangat nyenyak di saat seperti ini Byun Baekhyun?” Baekhyun menoleh ke sumber suara, disana, di depan pintu yang Baekhyun kenali sebagai kamar mandi berdiri Kris yang sedang menepuk-nepuk tangannya ke celana.

“Kenapa aku bisa berada disini? Dan kau, apa yang kau lakukan disini?” Baekhyun balik bertanya kepada Kris.

“Aku yang seharusnya bertanya, apa yang kau lakukan sehingga tidak sadarkan diri selama..” Kris melirik jam tangannya. “Delapan jam?”

“Delapan jam? Jangan katakan kau yang membawaku kesini?!” Tanya Baekhyun tidak percaya.

“Sayangnya iya Byun Baekhyun, mungkin bisa ditambahkan dengan menunggumu delapan jam disini?” Kris menghampiri Baekhyun dan menempatkan tangannya di dahi Baekhyun. “Panasmu sudah turun, bagaimana perasaanmu sekarang Byun Baekhyun?” Baekhyun bahkan terlalu lemah untuk menggerakkan tubuhnya dan pasrah ketika Kris memeriksa dirinya di beberapa tempat.

“Aku tidak akan berterima kasih kepadamu.” Ujar Baekhyun tiba-tiba.

“Percaya padaku, akan terdengar sangat menggelikan kalau kau benar-benar mengucapkannya padaku. Nah, sekarang waktunya minum obat, pasien Byun Baekhyun.” Kris memberikan sepotong roti dan beberapa tablet obat kepada Baekhyun.

“Kau pikir aku akan tersanjung dengan perlakuanmu, Kris Wu? Jangan sok baik di depanku! Aku membenci orang-orang sepertimu!” Baekhyun menampar tangan Kris sehingga roti dan beberapa tablet obat yang ada di atas telapak tangannya terlempar ke lantai.

“Byun baekhyun, mari kita menikah!”

Baekhyun melebarkan matanya mendengar ucapan Kris. “Mari kita menikah dan tinggalkan negara brengsek ini!” Kris meraih tangan Baekhyun.

“Kris.. kurasa bukan aku yang perlu berbaring disini. Tapi kau! Kau sakit, Kris!” Baekhyun menarik tangannya dari genggaman Kris.

“Ya, aku tahu kau akan menjawabnya seperti ini. Sekali saja, tidak bisakah kau menoleh ke arahku Byun Baekhyun? Apa aku terlalu berdosa di matamu?”

“Bukan kau! Tapi ibumu! Sama seperti seseorang, ibumu merusak rumah tangga orang tuaku! Karena kau anak ibumu, makanya aku membencimu!” Baekhyun tidak bisa menahan tangisnya setelah menyelesaikan kalimatnya.

“Lalu kau pikir orang tuaku bercerai karena siapa? Ayahku mendekam di penjara karena siapa? Hah? Semuanya gara-gara ayahmu, Byun Baekhyun! tapi aku yang terlalu bodoh, seharusnya aku juga membencimu Byun Baekhyun. Tapi aku tidak bisa! Aku tidak bisa, karena aku.. aku..” Kris berdiri dan meninggalkan Baekhyun. ia tidak bisa –atau tidak sanggup- melanjutkan kalimatnya.

Baekhyun terdiam melihat kepergian Kris.

.

.

 

Baekhyun memperbaiki syalnya sebelum memperlihatkan kartu identitas kepada dua penjaga Queveera yang berbadan besar dan lengan penuh tatto –Baekhyun tidak bisa membayangkan betapa sakitnya selama proses pembuatan tattoo tersebut.

Baekhyun benar-benar tidak mengerti dengan pikirannya sendiri, ia, putra tunggal JK Corporation yang terhormat, dan telah berjanji kepada diri sendiri tidak akan pernah menjejakkan kaki di tempat seperti ini. Baekhyun bersumpah, ini akan menjadi yang pertama dan terakhir kali ia berada di tempat laknat seperti ini.

Baekhyun membawa tubuhnya ke arah bar –karena disitu tempat teraman disini menurutnya. suara musik dan lampu disko semakin membuat kepalanya sakit karena memang, belum genap lima jam sejak ia siuman. Ditambah bau alkohol dan asap rokok yang menyengat terasa seperti menusuk indra penciumannya. Beberapa wanita dengan dandanan menor dan dress ketat mencetak bentuk tubuh melintas di depannya, diikuti oleh beberapa laki-laki paruh baya –lebih tepatnya hidung belang- yang sesekali menyentuh bagian-bagian tertentu di tubuh wanita itu.

Baekhyun tiba-tiba merasa perutnya di aduk ketika matanya tidak sengaja menangkap sesuatu di sudut ruangan, sepasang lelaki berciuman panas dan beberapa orang berusaha menyorakinya. Ini benar-benar neraka. Tidak seharusnya Baekhyun berada disini. Baekhyun baru saja akan melangkahkan kakinya menuju pintu masuk ketika seseorang mencekal lengannya.

“Aarrggh.. Kumohon.. Lepaskan aku.. Kau boleh mengambil semua uangku.. Kumohon lepaskan aku..” Baekhyun merasa usahanya sia-sia karena orang itu menariknya kembali ke dalam Queveera.

.

.

 

Yeo.. yeoboseyo?” Chanyeol menjawab ragu-ragu panggilan di ponselnya.

“Chanyeol-ah, bisakah kau membantu eomma? Baekhyun belum kembali ke rumah dan ponselnya tidak bisa dihubungi.” Chanyeol menatap jam di nakasnya, pukul 22.21.

Eomma takut dia akan melakukan hal-hal bodoh yang membayahakan dirinya.” Berarti Kris belum menghubungi Nyonya Byun, pikirnya kemudian.

“Chanyeol, eomma mohon Chanyeol-ah, kau bisa kan?”

“Baiklah eommonim, akan kuhubungi lagi setelah aku menemukan Baekhyun” jawab Chanyeol pelan lalu menutup telponnya.

.

.

.

Chanyeol memencet bel apartemen Tao tidak sabaran.

“Bimana Baekhyun?” Chanyeol bertanya sebelum Tao berhasil membuka pintu apartemennya dengan sempurna.

“Chanyeol? Baekhyun? bukankah ia di rumah sakit bersama Kris sunbae?” Tao balik bertanya kepada Chanyeol.

“Aku tidak akan bertanya padamu jika aku menemukannya di rumah sakit. Jadi kau benar-benar tidak tahu dimana Baekhyun?”

“Chanyeol, aku sungguh minta maaf, aku tidak bermaksud membuat Baekhyun pingsan seperti tadi pagi. Tapi aku benar-benar tidak tahu dimana Baekhyun.”

Chanyeol menatap Tao heran. “Apa maksudmu?”

“Aku, tidak seharusnya aku memberitahu baekhyun tentang appanya.”

“Tao, aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu.”

Appa Baekhyun mengumumkan tanggal pernikahannya dengan mama Kris hari ini. Kau benar-benar tidak tahu?”

What the… Terima kasih atas informasimu Tao.” Chanyeol setengah berlari meninggalkan apartemen Tao.

.

.

Tiba-tiba dering ponsel di dashboard mobil memecah konsentrasi mengemudi Chanyeol.

Kyungsoo calling..

Chanyeol menggeser ikon telepon berwarna merah di layar ponselnya.

“Maafkan aku, Kyungsoo.” gumamnya.

.

.

.

Chanyeol sedang berpikir dimana kira-kira Baekhyun di saat seperti ini ketika matanya tidak sengaja menangkap sesuatu yang familiar terparkir tidak jauh dari tempatnya menghentikan mobil. Ya, tidak salah lagi, Koenigsegg Agera R berwarna hitam itu adalah mobil Kris. Tanpa membuang-buang waktu, Chanyeol turun dari mobilnya dan menghampiri mobil Kris.

 

“Queveera?” Chanyeol tidak salah lagi, Kyungsoo pernah menyebut tempat ini sebagai tempat Jongin bekerja. Chanyeol tahu kalau Kris dan Jongin berteman. Makanya tanpa ragu Chanyeol melangkahkan kakinya memasuki Queveera.

.

.

 

“Apa kau kehilangan pikiranmu Byun Baekhyun?! Kau sadar dimana kau berada sekarang?!” baekhyun membuka matanya perlahan dan berhenti meronta mendengar suara yang sangat familiar di telinganya itu.

 

“Kris?” gumamnya. Baekhyun memandang ke sekililingnya. Mengetahui Kris yang menarik tangannya, ia mulai tenang.

“Ya, aku kehilangan pikiranku!” Baekhyun menyambar gelas berisi minuman yang terletak tidak begitu jauh dari Kris dan meminumnya dengan cepat. Lidah dan tenggorokannya  terasa terbakar setelah menghabiskan minuman itu –yang ia tidak tahu entah apa- dengan sekali tenggak.

“Bisa kau buatkan lagi yang seperti ini” Tanya Baekhyun kepada bartender yang dari tadi terdiam menatap ia dan Kris.

“Tentu saja, itu adalah pekerjaanku.” jawab si bartender ringan.

“Satu inci saja kau berpindah tempat, maka kau tidak akan melihat matahari besok pagi Kim Jongin.” Kris menatap Jongin dengan kejam.

“Bagaimana kau bisa tau tempat ini?” Tanya Kris pada Baekhyun.

“Ponselmu, darimana lagi?” Baekhyun melambaikan ponsel pintar berwarna hitam itu dengan tangan kirinya sebelum menyerahkan kepada Kris.

“Kris, mari kita menikah.”

.

.

PRANG..

.

.

Kris menjatuhkan gelasnya setelah mendengar ucapan Baekhyun. Namun, belum sempat ia menanggapi pernyataan Baekhyun, sebuah tinju telah bersarang di pelipis kirinya. Baekhyun menutup mulutnya tidak percaya melihat Kris tersungkur di lantai dengan pelipis robek. Beberapa orang mulai berteriak panik dan Baekhyun semakin membelalakkan matanya melihat siapa yang melayangkan pukulan terhadap Kris.

“Sekali kukatakan kau brengsek, kau benar-benar brengsek Kris Wu!” Chanyeol menarik kerah baju Kris dan bersiap melayangkan pukulannya sekali lagi, beruntung Jongin berhasil menangkap pergelangan tangannya.

“Urusan kita belum selesai Kris!” Chanyeol menarik lengan Baekhyun dengan kasar. Meninggalkan Kris yang sedang tertawa menatap telapak tangannya yang berlumuran darah dan Jongin yang mencoba membantu Kris berdiri.

“Bukankah hidupku benar-benar indah, Kim Jongin.”

.

.

 

“Chanyeol.. Lepaskan aku! Sakit Chanyeol!” Baekhyun berusaha menarik tangannya dari cengkraman Chanyeol –Baekhyun heran, kenapa semua orang sangat suka menari pergelangan tangannya dengan cara yang kasar.

“Masuk!” Chanyeol membukakan pintu mobil. “Kubilang masuk Byun Baekhyun!” Chanyeol melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh setelah berhasil memasang sabuk pengaman untuk Baekhyun.

“Turunkan aku! Turunkan aku Park Chanyeol!”

CKIITT..

Chanyeol menginjak rem mendadak dan merentangkan tangan kirinya di depan Baekhyun.

“Kau sadar dengan apa yang kau lakukan Byun Baekhyun? Baru tadi pagi kau terbaring di rumah sakit dan barusan aku menemukanmu di tempat terkutuk itu. Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padamu? Hah?” Chanyeol menatap Baekhyun dengan emosi meledak-ledak. “Tidak tahukah kau? Eommamu setengah mati mencemaskanmu!”

“Ya, aku terlalu berharap! Ternyata eommaku!” Baekhyun tersenyum miris menatap Chanyeol. “Kumohon, biarkan aku turun, Park Chanyeol!” Pinta Baekhyun. Entah kenapa, hati Chanyeol terasa seperti di remas mendengar suara Baekhyun.

“Tidak, aku akan mengantarkanmu pulang.” Chanyeol kembali melajukan mobilnya.

“Pernahkah sekali saja kau mendengarkanku, Park Chanyeol? Aku tidak akan pulang! Aku tidak bisa!” Baekhyun mengusap air matanya kasar. Suaranya terdengar begitu putus asa.

Tiba-tiba Chanyeol membelokkan mobilnya. Berlawanan dengan arah menuju rumah Baekhyun.

.

.

.

“Kau tidak mau masuk?” ujar Chanyeol sambil menahan daun pintu untuk Baekhyun.

“Tidak ada siapapun disini. Jadi masuklah.” Chanyeol tidak butuh waktu lama untuk menyadari arti tatapan Baekhyun.

Baekhyun melangkahkan kakinya perlahan memasuki apartemen Chanyeol. Setelah menutup pintu, Chanyeol menyusul Baekhyun.

“Aku akan menyiapkan pakaian untukmu, bersihkanlah dirimu. Kau benar-benar terlihat sangat menyedihkan.” Chanyeol membuka pintu kamarnya dan mengode Baekhyun agar mengikutinya.

“Kau tahu kenapa aku membatalkan pertunangan kita?” Gerakan Chanyeol mencari sesuatu di lemari terhenti mendengar pertanyaan Baekhyun.

“Karena kau membenciku, tentu saja!” jawabnya tanpa menoleh ke arah Baekhyun.

Baekhyun berjalan mendekati Chanyeol dan Chanyeol menjatuhkan piama yang di pegangnya karena Baekhyun tiba-tiba memeluknya dari belakang.

“Baekhyun…”

“Kau bodoh! Aku bodoh! Kita bodoh Chanyeol-ah!” Chanyeol berusaha memutar badannya ke belakang. “Jangan! Aku akan pergi jika kau berani bergerak sedikit saja!” Namun Chanyeol tetap bersikeras melepaskan pelukan Baekhyun di perutnya, dan memutar badannya hingga berhadapan dengan Baekhyun.

“kau benar-benar menginginkan aku pergi, Park Chanyeol.” Baekhyun mundur beberapa langkah. Menjauh dari Chanyeol.

“Baek, Baekhyun!” Chanyeol menggapai tangan Baekhyun yang berhasil menarik gagang pintu kamar. Pintu kamar kembali tertutup karena Chanyeol menghempaskan tubuh Baekhyun ke daun pintu dengan cepat. “Biarkan aku pergi, Park Chan__” Baekhyun tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena bibirnya sudah lebih dulu dibungkam oleh Park Chanyeol dengan satu ciuman kasar dan menuntut –Ciuman pertama Baekhyun. Baekhyun berhenti meronta dan menangis dalam diam setelah Chanyeol mengakhiri ciuman mereka.

Dan malam itu, kamar Chanyeol serta butiran-butiran salju yang berhasil lolos ke dalam kamar melalui jendela yang terbuka menjadi saksi penyatuan tubuh Byun Baekhyun dengan Park Chanyeol.

.

.

 

Chanyeol berusaha bangkit dari tempat tidur setelah berhasil mengumpulkan sedikit demi sedikit kesadarannya. Ia memegang kepalanya yang terasa seperti mau meledak, lalu memandang sekeliling kamarnya. Ia tidak menemukan siapapun, matanya tiba-tiba menangkap secarik kertas di sudut tempat tidur. Chanyeol berusaha meraih kertas itu dan membacanya.

Annyeong, Chanyeollie.’

.

.

Chanyeol merasa sesuatu menancap tepat di ulu hatinya saat membaca tulisan itu. Air matanya mengalir tanpa bisa dicegahnya, dibawanya kertas itu kepelukannya.

“Byun Baekhyun…” lirihnya dengan suara bergetar. Tiba-tiba bayangan Baekhyun berputar-putar di kepalanya.

.

.

“Halo Chanyeollie, aku Byun Baekhyun.” 15 tahun yang lalu.

“Chanyeollie, kita harus masuk ke sekolah yang sama agar kita bisa terus bersama-sama.” 14 tahun yang lalu.

“Chanyeollie, aku mendapatkan nilai sempurna di kelas menyanyi.” 10 tahun yang lalu.

“Chanyeollie harus meminta izin dariku terlebih dahulu jika mau berkencan. Oke?” 7 tahun yang lalu.

Juga kejadian hari itu, titik awal muncul kebenciannya terhadap Baekhyun. 5 tahun yang lalu.

“Chanyeollie, jangan pedulikan kata eommonim. Chanyeollie bisa melakukan yang lebih baik. Percayalah padaku. Nilai Chanyeollie turun karena terlalu banyak bermain. Chanyeollie juga dekat dengan Taemin sunbae akhir-akhir ini. Jadi mulai hari ini Chanyeollie harus pandai membagi waktu. Arra?”

“Tidak semudah yang kau katakan, Byun Baekhyun. Eomma selalu membandingkan aku denganmu. Kau memang sempurna dalam semua hal, berbeda denganku. Kenapa tidak kau saja yang menggantikan aku menjadi anak eomma.” Chanyeol berlari meninggalkan Baekhyun.

“Chanyeollie…” Panggil Baekhyun lirih.

“Jangan panggil aku dengan nama menjijikkan itu. Aku membencimu! Menjauhlah dari hidupku.”

Chanyeol semakin mengeratkan pelukannya pada kertas yang ditinggalkan Baekhyun itu.

“Byun Baekhyun…” lirihnya dengan putus asa.

.

.

.

 

Baekhyun segera menyetop Taxi setelah berhasil mendapatkan alamat apartemen Kris dari Jongin. Ya, ia berharap apa yang dilakukannya ini adalah yang terbaik untuk dirinya.

Baekhyun menatap lama pintu berwarna abu-abu di depannya sebelum memutuskan untuk menekan tombol kecil di bagian tengah pintu.

“Apa yang kau lakukan di apartemenku pagi-pagi begini Byun Baekhyun? mau mengajakku menikah lagi, eoh?” Tanya Kris setelah berhasil membuka pintu tepat pada saat bel pertama berbunyi –Jongin menelponnya beberapa menit yang lalu.

“Kris.. Aku.. Aku.. Tolong aku… Aku telah melakukan sesuatu yang gila… Bantu aku Kris!” Kris memperkecil jaraknya dengan Baekhyun lalu menarik syal yang terlilit di leher jenjang Baekhyun. Kris tersenyum dengan apa yang dilihatnya, tanda merah keunguan di leher yang putih bersih itu telah menjawab apa maksud pembicaraan Baekhyun.

“Kris.. Kumohon.. Bantu aku meninggalkan Korea. Aku tidak mau lebih lama lagi tinggal di Negara ini. Atau aku akan benar-benar gila Kris..” Kris mengusap air mata Baekhyun dan membawa laki-laki yang dicintainya itu ke pelukannya.

.

.

 

 

New York, 5 tahun kemudian…

“Selamat atas kesuksesanmu Mr. Byun. Kerja kerasmu dua tahun terakhir benar-benar terbukti.”

Baekhyun membungkuk dan menyalami Mr. Ford dengan sopan sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali.

“Bos, telepon dari tunanganmu!” Alison, manager A Piece of Cake –nama toko Cake Baekhyun- memanggil dari meja kasir.

“Ya, aku segera kesana. Sekali lagi terima kasih atas kunjunganmu, Mr. Ford. Semoga harimu menyenangkan.” Ucap Baekhyun setelah mengantar Mr. Ford, salah satu pelanggan setia toko kuenya itu ke pintu keluar.

“Bos. Tunanganmu mulai berbicara dengan Bahasa Korea dan aku yakin seratus persen itu adalah umpatan.” Baekhyun tertawa mendengar ucapan manager tokonya itu.

Alison meninggalkan Baekhyun di meja kasir setelah menyerahkan telepon kepada bosnya itu. Baekhyun mengucapkan terima kasih tanpa suara dan dibalas dengan senyuman hangat oleh pemuda cantik berusia 22 tahun itu.

“Ya, dengan Byun Baekhyun disini. Ada yang bisa dibantu?”

Demi Tuhan Byun Baekhyun. Aku mencoba menelponmu 20 kali dan tidak satupun kau angkat?!” Baekhyun mengusap daun telinganya lalu tertawa.

“Maafkan aku.. Aku sedang sibuk, sayang. A Piece of Cake benar-benar ramai hari ini.” Baekhyun membenarkan posisi gagang telepon  di telinganya. “Jadi apa yang ingin kau katakan padaku? Waktumu tidak banyak, tuan?”

Tidakkah kau merindukan calon suamimu ini Byun Baekhyun?”

“Oh, tidak. Perutku mual! Aku akan menutup telepon jika kau benar-benar tidak punya sesuatu untuk dikatakan, tuan!”

Tut.. tut.. tut.. Baekhyun menatap gagang telepon dengan heran. Tidak biasanya tunangannya itu memutuskan sambungan lebih dulu.

“Kau benar-benar tidak berubah Byun Baekhyun.” Baekhyun membalikkan badannya dengan cepat setelah mendengar suara itu. Suara yang ia rindukan.

“Lili putih, Mr. Byun?”  Baekhyun menerima buket bunga berisi lili putih itu dengan senyum lebar.

“Terima kasih.” Ucap Baekhyun sambil menghirup aroma bunga yang ada di pangkuannya itu.

“Hanya itu? Apa kau serius? Tidak ada pelukan untukku?” Laki-laki tinggi itu mendekati Baekhyun namun Baekhyun malah memudurkan langkahnya.

“Jangan gila Park Chanyeol. Kau tidak lihat betapa ramainya disini?” Baekhyun menepis tangan Chanyeol yang berusaha menggapai pinggangnya. Sayangnya, Chanyeol mempunyai tangan yang lain untuk membawa Baekhyun ke dalam pelukannya dan Baekhyun hanya bisa pasrah menerima perlakuan tunangannya itu.

“Nyamannya.. Tunggu, kau mengganti shampomu, Baek?” Tanya Chanyeol setelah berhasil mencuri satu ciuman di kepala Baekhyun.

“Baru seminggu yang lalu kau meninggalkan New York dan kau sudah lupa dengan aroma shampoku? Berani sekali kau denganku, Park Chanyeol?!” Chanyeol terkekeh geli mendengar jawaban Baekhyun.

“Benarkah?” Tanya Chanyeol sambil menciumi kembali kepala Baekhyun.

Mr. Park, take a room, juseyo. Too much under age right here!” Baekhyun dan Chanyeol kompak tertawa mendengar teguran Alison.

“Maafkan aku Alison. Tapi bisakah kutinggal sebentar? Aku punya sesuatu untuk diselesaikan dengan bayi besar ini.” Baekhyun menatap Alison dengan tatapan sedikit memelas.

“Tentu saja, bos. Ya! Kau harus mengurus bayi besarmu segera sebelum dia mengacaukan toko ini.” jawab Alison dengan bahasa Inggris yang fasih –tentu saja.

“Thank you, Alison.” Alison sengaja memperbesar volume musik pada speaker di samping meja kasir setelah kepergian bos dan tunangan bosnya itu.

.

.

.

Baekhyun percaya, kebahagiaan itu pasti akan datang pada waktunya. Jika kau sabar menunggu, lebih mencintai dirimu sendiri, berusaha menerima, dan bersikap lebih terbuka, maka kebahagiaan tidak akan ragu menghampirimu. Seperti Baekhyun sekarang contohnya, mendesah di bawah Park Chanyeol di siang bolong seperti ini adalah salah satu bentuk kebahagiaannya yang paling nyata.

.

.

FIN

 

Epilog

.

.

Korea, 5 tahun yang lalu..

.

.

Jam menunjukkan pukul sebelas pagi ketika Kyungsoo sampai di apartemen Chanyeol dan begitu terkejut menemukan Chanyeol menangis di atas tempat tidurnya.

“Kyungsoo-ya.. Bantu aku menghilangkan rasa sakit ini..” Kyungsoo menatap prihatin keadaan kekasihnya itu.

“Sshh.. tenanglah, Chanyeol. Jongin sudah menceritakan padaku apa yang terjadi tadi malam.” Kyungsoo naik ke tempat tidur lalu memeluk Chanyeol yang masih menangis. Tangannya mengambil kertas kecil dalam genggaman Chanyeol yang sudah basah oleh air mata itu dan tersenyum setelah membacanya.

“Kyungsoo-ya.. Rasanya sakit sekali.. Disini..” Chanyeol memukul-mukul dadanya sendiri hingga terbatuk.

“Chanyeol.. Hei, tatap aku! Itu bukan rasa sakit Chanyeol-ah, itu adalah perasaanmu yang sebenarnya.”

“Maksudmu?” Chanyeol menjauhkan tubuhnya dari Kyungsoo dan menatap laki-laki di depannya itu penuh selidik.

“Alasan kenapa kau merasakan sakit. Karena Baekhyun meninggalkanmu bukan? Sadarlah Chanyeol-ah!             Mau berapa lama lagi kau memanipulasi perasaanmu? Kau mencintai Baekhyun! Perasaan yang kau sembunyikan begitu besar padanya hingga kau merasa sesakit ini!”

Chanyeol menggelengkan kepalanya. “Tidak. Kau salah Kyungsoo-ya, aku mencintaimu!”

“Chanyeol-ah, cinta yang sebenarnya adalah rasa sakit. Kau tidak mencintaiku! Kau hanya kasihan padaku! Jadi berhenti menyangkal perasaanmu!”

“Aku mencintai Baekhyun?” Chanyeol menggelengkan kepalanya (lagi). Tapi anehnya, setelah mengucapkan kalimat itu rasa sakit di hatinya mulai berkurang. “Aku mencintai Baekhyun.” ulangnya. Chanyeol memegang dadanya lalu menatap Kyungsoo. “Kyungsoo-ya, rasa sakitnya menghilang.” Kyungsoo tertawa pelan mendengar pernyataan Chanyeol.

“Tentu saja! Oke, sekarang waktunya bersiap-siap!”

“Apa maksudmu?”

“Jongin mengirimiku pesan. Kris dan Baekhyun sedang dalam perjalanan menuju bandara. Jika kau bertanya sekali lagi apa maksudku, kau benar-benar akan kehilangan Baekhyun.” Dan belum pernah Kyungsoo melihat Chanyeol sesemangat ini dalam urusan menuju kamar mandi.

.

.

 

“Kau yakin dengan keputusanmu, Byun Baekhyun?” Tanya Kris sekali lagi.

“Kris, pertanyaan itu lagi?! Ya! Aku bahkan sudah menelepon eommaku! Harus berapa kali lagi kukatakan padamu?!” Jawab Baekhyun ketus.

“Oke oke! Apa sudah pernah kukatakan? Kau sangat seksi ketika sedang marah. Jadi berhentilah marah-marah, karena aku tidak tahan dengan sesuatu yang seksi, kau tahu?” Kris mengedipkan sebelah matanya kepada Baekhyun.

“Kris! Jika kau tidak mau pergi bersamaku. Aku akan pergi sendiri.”

“Sebentar lagi Byun Baekhyun.”

“Sebenarnya apa yang kau tunggu? Bukankah seharusnya kita menunggu di ruang tunggu bandara. Bukan di tempat parkir seperti ini. Penerbangannya satu jam lagi, Kris Wu!”

“Astaga Byun Baekhyun! Apa bercinta dengan Park Chanyeol memang seluar biasa itu? Ice princeku mendadak cerewet seperti ini?!”

Baekhyun membelalakkan matanya mendengar pernyataan Kris. “Kris, kau?!”

“Sudah, itu mereka.” Kris melambaikan tangannya ke arah Kyungsoo.

“Kris, apa yang kau lakukan?” Baekhyun menahan langkah Kris.

“Aku harus melakukan sesuatu. Ini demi masa depan seseorang, bukan,  dua orang, atau beberapa orang, mungkin?. Jadi diam disini, jangan kemana-mana. Tiketmu ada padaku. Oke?”

.

.

“Oh, kau juga datang, Kim Jongin?” Kris meninju pelan bahu sahabatnya itu.

“Kau?!” itu suara Chanyeol, menatap Kris dengan amarah tertahan.

Kris tersenyum ke arah Chanyeol. “Apa kau sudah sadar, Park Chanyeol? Berhentilah protes dan temui tunanganmu, oh, mantan tunanganmu.” Chanyeol melangkahkan kakinya tanpa mau meladeni Kris. “Tunggu Park Chanyeol, kurasa kau butuh ini.” Chanyeol menghentikan langkahnya lalu berbalik. “Bagaimana..? Kau?!..” Chanyeol menatap benda mungil di telapak tangannya dan Kris bergantian.

“Kau berhutang satu terima kasih padaku, Park Chanyeol!”

.

.

“Jadi, tonjokan Chanyeol bekerja dengan sangat baik, Kris Wu.” Jongin menyikut lengan Kris.

“Ya, kurasa seperti itu. Hahh.. Aku tidak mengerti apa yang sedang kulakukan.” Kris mendongakkan kepalanya. “Tapi menjadi orang baik ternyata tidak buruk juga.”

“Kau melakukan hal yang benar.” Kris menoleh kepada Kyungsoo. “Ya, tentu saja benar katamu. Karena setelah ini kau bisa bersama Jongin tanpa merasa bersalah kepada Chanyeol, bukan?”

“Kris, bukan itu maksudku. Tapi ya, aku berterima kasih padamu. Aku penasaran, apa kau benar-benar mencintai Baekhyun?”

“Tentu saja aku mencintainya.”

“Lalu?” Kyungsoo menunggu jawaban Kris dengan penasaran.

“Mencintainya sebagai adikku tidak buruk juga.” Jawab Kris santai. “Maksudmu?” Giliran Jongin yang bertanya.

“Ya, cinta memang mengalahkan apapun. Kalian yang paling tahu itu. Pernikahan ibuku dengan ayah Baekhyun akan diadakan minggu depan. Sudah, aku pergi. Aku merindukan Queveera. Memang dia yang paling setia padaku. Aku tunggu kau disana, bartender Kim?” Kris meneruskan langkahnya tanpa mendengarkan teriakan Jongin.

.

.

.

“Baek, kau mendengarku kan?” Chanyeol masih berusaha meyakinkan Baekhyun. “Seperti katamu, aku bodoh, kau bodoh dan kita bodoh!” Chanyeol mencoba menormalkan helaan nafasnya. “Aku mencintaimu! Aku begitu bodoh hingga aku tidak menyadarinya.” Chanyeol berusaha mendekati Baekhyun namun laki-laki cantik itu terus menjauh darinya.

“Aku.. Aku tidak tau harus merespon seperti apa Park Chanyeol.” Baekhyun terus menggelengkan kepalanya.

“Maka jangan! Jangan lakukan apapun. Hanya diam, dan dengarkan aku. Aku tidak tahu apakah terlambat untuk mengatakan ini, tapi aku benar-benar ingin memulainya lagi bersamamu Baek. Kumohon?”

Baekhyun menatap Chanyeol dengan mata berkaca-kaca. “Tapi aku tidak ingin tinggal di Negara ini, Park Chanyeol. Aku tidak..” Baekhyun tidak sanggup meneruskan kata-katanya.

“Ya.. Kita akan meninggalkan Negara ini bersama. Kemanapun, kita akan pergi bersama.” Tanpa pikir panjang, Baekhyun berlari ke pelukan Chanyeol dan menangis sepuas-puasnya disana.

“Aku.. aku juga mencintaimu, Park Chanyeol bodoh.” Ujar Baekhyun disela-sela tangisnya.

“Chanyeollie, Baekhyun-ah.”

“Ya, aku mencintaimu, Chanyeollie bodoh.”

.

.

KEUT!!

P.S : tolong maafkan jika cuap-cuap gue tadi terlalu panjang.

BENAR BENAR KEUT!!

21 thoughts on “[KC Project] Love Is Pain – ChanBaek || Albybe

  1. Hallo cantik. Hehehe sebenernya ini udh ane baca, cuman ane butuh time (alah sok english) yg tepat buat ngasih kesan.
    Oke, jujur ane suka tema yg kamu angkat. Ane suka yg drama drama gini, yg nusuk2 kokoro gini ane suka. Dan point penting yg kamu curi dari perhatian ane adalah…
    KRISBAEKKKK… Demi gigi tonggosnya yg ane kangenin, itu krisbaek ya Allah….

    Oke… Tarik nafas, hembuskan. Ane mau komen soal plotnya. Udah fix, ini drama kuriyah binggo. Dan skali lagi ane bilang ane suka ini. Cuman yah cantik, ane kok ngerasa ini konfliknya terlalu rame yah. Ane pernah bikin fic yg gak selese2, trus nekat konsul ama tetangga(?), dan akhirnya nemu deh kerikil lepasnya. Banyak konflik emang asyik. Kita mikirnya bakal meraja lela, cuman jangan sampe justru kita yg bunuh diri. Seperti yg kamu bilang, mengawali itu gampang, tapi mengendingkan(?)Nya susah.
    Ficnya selesai, iya. Dan ane bilang udah cukup sukses. Cuman jujur, ini ngaruh ke flownya. Untuk fic yg konfliknya rame, dengan porsi satu kali dor itu wah skali. Dan wah yg ane maksud malah mengurangi estetika fic itu sendiri.
    Konflik chanbaek oke, krisbaek (sangat) oke, perusahaan ya boleh lah. Yg ane pikir bikin sumpek(?) Itu konflik perselingkuhan mama kris papa baek. Konflik kaisoo (aduhhh kalo boleh jujur, ane skip bagian ini), apa lagi yah… Ah chansoo. Boleh lah yah konfliknya, cuman tersendat di porsi satu kali dor mungkin yah. Padahal awalnya sudah sangat kuat.

    Jujur yah ane udah jatuh hati di scene pertama ampe tengah2. Selanjutnya malah ane kelabakan dan babak belur. Tapi di ending yah alhamdulillah.

    Ane suka diksi kamu. Ringan dan nyaman. Typo ada beberapa tpi gak ganggu lah. Dan selain masalah plot di atas, semuanya oke. Ane suka. Hihihi tengkyu besar (?) Udah nyelipin krisbaek. Huhuhu, ane ngarepin lebih sih, tapi ane sadar ini ff chanbaek wkwkwkwk. Intinya laaahhh ane sukaaaa.

    Adios

    • :’)

      Pertama, makasih banget buat kakak, finally ff gue nongol disini. Aduh terharu.

      Daaan, THANK YOU banget-banget buat komennya kaaak. Serius, gue baca komen kakak sampe berulang-ulang sambil teriak-teriak dalam hati.

      Ulalaaa~ ini emang drama koriya banget kok kak (gue sebenernya terinspirasi dari hubungan Yoo Rachel dan Kim Tan -tau kan kaaak?)

      Kkk~, jujur gue juga mikirnya gitu kak. Kok konfliknya jadi banyak gini ya? Mungkin karena ini ff pertama yg gue bikin sampe end kali ya kak, gue itu kek sejenis menciptakan konflik yang satu untuk menjelaskan konflik yg lain (yg ternyata bikin kakak kelabakan/?) I’m so sorry buat yg ini kak :’)

      Dan buat scene Kaisoo, serius gue juga minta maaf/? Ya kak, sekarang gue juga mikir, scene itu sangat tidak seharusnya dibuat/?.

      Uwaaaa/?
      Pokoknya gue seneng banget kalo kak ALF suka ff ini. Juga komentar kakak yg ‘ugh’ (banyak sedikit menginspirasi/? saya).
      Sekali lagi makasih kak ALF~

      Adios balik😀

  2. sejujurnya aku kurang ngerti cerita nya .. hehehe

    di cerita gk banyak momen chanbaek apalagi krisbaek

    terus hubungan jongin sama kyungsoo gimana .

    biar bagaimanapun terima kasih telah membuat ff nya . aku hanya seorang pembaca . buat kak alf juga makasih

  3. Ff yg kaya gini mengingatkan aku ke jamannya baca ff di masa lalu, pemilihan cast nya pas dengan ceritanya, sukses mengobar-abrik(?) hati. Keren thor ngefeel bgt ceritanya😀

  4. Kereeeeeennnnnnn, suka banget……
    Seandainya, ini lebih panjang lagi! aku pasti semangat bacanya.
    Miris banget nasib Baekhyun, tapi puas dengan endingnya.

    ff yang kereeeennnnn

  5. pas kris ngajak baek nikah it rasany sesuatu bgt dah.’
    tpi q ad kbgungan soal umur,mreka kul udah smster 6 kan.?’ tpi kog 5 thn kmudianny cma 22, mgkn q yg g tliti,’
    ad kalanya q berharap ini krisbaek d lihat dri sikap ny yeol n gmana kris cinta bgt ma baek ,tpi end yg pertma bkin q pnasaran q kra jd krisbaek bneran,hahahaha

    • Makasih udah baca yaa..

      Oke, sepertinya kamu sedikit salah paham dengan kalimat ini, sayang. coba baca lagi deh “Alison meninggalkan Baekhyun di meja kasir setelah menyerahkan telepon kepada bosnya itu. Baekhyun mengucapkan terima kasih tanpa suara dan dibalas dengan senyuman hangat oleh pemuda cantik berusia 22 tahun itu.”
      Yang berumur 22 tahun disini itu si Alison maksudnya ^^

  6. Haiiiii….. *lambai lambai cantik*

    Ma’af baru nongol sekarang. Nunggu moment soalnya… ceilehhh…

    Ekhem…. seperti yg eon bilang, eon agak pedes loh kalau ngoment.
    eumm menurut eon ff mu ini kesannya tanggung saengie…
    Tau sih diawal udah dibilang kamunya aja gk yakin, well….. awal-awal sih kena bgt, alurnya rapi. Cocok ama cast-nya.
    Tp agak ketengah agak blur, gk tau karna konfliknya atau karna terkesan agak buru-buru jd pada gk fokus.
    Tulisanmu udah bagus kok, cuma kurang fokus aja sih menurut eon.
    Tp eon suka scene makan malam pas natal ituloh… aduhhh itu nyesek bgt, berasa angst-nya.
    Dan eon sangat mengapresiasi tekad kamu buat nulis. karna yaa… sedikit bnyk eon tau rasanya gimana ngerangkai kata jd sebuah cerita itu susaaaaaahh sekali. eon jg blm tentu bisa buat cerita sebagus pny kamu gini.
    Jd… jgn menyerah dan terus belajar OK!!

    p.s: yg kelupaan ntar nyusul #digampar

    • Hai juga Eooon~
      kkk~ makasih udah baca ya Eon. Nah itu dia Eon, aku juga mikir gitu, berasa ada yang kurang di ff ini. Well, kalo soal buru-burunya sih, jujur Eon aku juga ngerasa gitu, mungkin kalo dijadiin chapter ff ini lebih lumayan ya?

      adududuh, makasih buat semangat/?nya Eon. I’ll never give up dan bakal terus belajar kok Eon, mohon bimbingannya ya Eooon ^^

  7. sebelumnya aku sedikit bingung sama chanbaeknya.. sepertinya mereka saling menyukai tp nggak sadar (chanyeol),, disini chanyeol nyebelin ya ,,, knp kris punya posisi yg sulit,, dan cerita cinta yg menyedihkan,,😥 berat banget,,, mungkin klo dibuat chapter seru kali ya,,, semangat
    terima kasih

  8. Pas awal awal dibikin bete sendiri, Aaaarrrgghhh bete banget aahh👀 Greget sih ya bener bener kek nnton drama korea kalo udah pernikahan perusahaan. Pertama kali suka pairing krisbaek di sini, entah kenapa. Kalo chansoo gapernah masuk ke hati, entah kenapa, susah masukinnya(?) pas awal2 cuap cuap gue komen itu komen ini pas baca, trus sedih pas bagian baekhyun di apartemen chanyeol yang meluk chanyeol itu. Padahal ya ya ya, brrrm. *gaje ah lu reader* Tapi pas ujung itu, masih bingung. Itu yang nelpon siapa? Atau guenya yg ga ngeh? Ih sriusan kenapa harus bayi besar? Tapi ah, emg niat authornya gtu. Wkwkwk, gapapa deh. Daebak! Cukup puas sama ff yang satu ini. 🙋🏼

  9. Ff nya luar biasa, aku kira chanbaek gabakal bersatu, hehe
    Ujungnya hah happy ending bgt, sesek baca pas mau akhir2 setelah chanyeol mulai sadar kalo dia sayang sama baek, feel nya kerasa bgt 😂 dibuatin squelnya aja author pasti seru, waa pokoknya ff disini bener2 the best! Hwaiting😁😂😄😍😍😘

  10. ah kakaaaaaaak baibe kasian kris ;-; kenapa miris bgt dia disini huweeee. kyungsoo juga kasiaaaaaan:’)sumpah kaya gadis desa bgt waktu baek ngelabrak dia suruh ningggalin apartemen canyol. ah gatega liatnya:’) biasanya kan pihak yg tersakiti selalu bbh. hmzzzz
    endingnya unpredictable binggowwww. kirain kris egois yaaaaa ternyataaa baik juga:’) ah emg bener kataa quotes “ketika kau mencintai seseorang maka kau akan ikut bahagia melihat org yg kau cintai bahagia bersama org lain” awh awh sakit tp tak berdaraaaaah<\3
    btw aku SUKAKKKKKK sm bbh disini dia bitchy bgtttt awhhh galak galak mau tp malu wkwk
    canyol disini rada bego bego gmana gitu ya hmmmz
    trs menurut aku sih kurang daleeem penjelasan waktu canyol sadar kalo bbh yg die cinta. soalnya yg terakhir flashback kan cuma jelasin kalo canyol benci sm bbh karna emaak canyol tu selalu banding-bandingin diaa ama bbh. jd yg aku tangkkep cintanya canyol maasih dangkal kak. hmzzz kalo bisa sih biar dlm dibuat sequelnyaaaa (wooo maunya) wkwkwk
    over all good job kakaaaaa fanfictnya enak dibaca. trs nulis ya kak luv yuuu❤

  11. kereeenn…
    akhir ceritanya ga bisa ketebak hehe…
    aku suka gaya cerita mu, thor
    nyesek-nyesek manis gitu #apasih?
    berhasil banget ngubek-ngubek perasaan reader-nya (apa cuma gue doang yak?)
    cucok abiz daah..

    keep fighting ya

  12. Baekhyun endingnya sama chanyeol? Kirain sama Kris TAT ngarepin KrisBaek salah ga siih :”
    Sebenernya itu Chanyeol ga benci sama Baekhyun, dia cuma sebel aja gara2 eommanya ngebanding2in dia sama Baek. Hhhhh aawalnya aku rada kesian sama Baek gara2 Chanyeol nya jaat banget sama dia😦
    Kyungsoonya juga sabar banget yaampun terhura😂
    Tapi menurut aku yg paling kasian eomma nya Baek. Gimana tuh rasanya udah di madu, eh anak satu2nya malah pergi keluar negeri:””

    keren thor ffnya. Sukses bikin terkejut di part endingnya. KIRAIN BAKAL KRISBAEK IIIII. tapi akhirnya Chanyeol ngakuin jg perasaan nya kr Baek. Lanjutkan karya2 muuu💪💪

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s