[KC project] LATTE – HunBaek || Boomiee92


ALF Zone(?): HunBaek? satu-satunya dari sekian FF ChanBaek. asyik…  Mengambil Tema anak sekolahan yang kerja part time membawa nuansa sendiri. yah, ALF sama penasarannya dengan kalian. so… Happy reading.

Latte

EXO Fiction

Pairing: HunBaek (Sehun x Baekhyun)

Cast: Oh Sehun, Byun Baekhyun, DO Kyungsoo, Xiumin

Rating: T

Warning: BL

Oneshoot

By: Boomiee92

Summary

Baekhyun murid biasa yang bekerja sambilan di sebuah kafe, menyukai pelanggan tetapnya yang selalu menikmati segelas Latte.

.

.

.

“Baekhyun Latte untuk meja empat.”

“Baik.” dengan semangat Baekhyun mengangkat nampan cokelat berbentuk bulat sempurna itu dengan tangan kanannya. Kedua kakinya lincah berjalan melewati meja-meja lain. “Latte Anda.” Baekhyun berhenti tepat di samping meja nomor empat, menyajikan Latte dengan senyum ramah mengembang. “Selamat menikmati.”

“Terima kasih.” Balas sang pelanggan. Baekhyun memamerkan senyum simpul kemudian beranjak pergi.

“Hari ini kafenya sangat ramai.” Keluh Xiumin yang berdiri di sampingnya, Baekhyun melirik rekan kerjanya yang sedang menyeka keringat di dahinya dengan tisu.

“Bagus kan, kalau sepi itu yang tidak bagus.”

“Bagus untuk bos kita.” Cibir Xiumin pelan. Baekhyun hanya terkikik pelan, tak ingin menarik perhatian siapapun. “Semoga tak ada pelanggan lain.”

“Kenapa? Karena jika ada pelanggan itu giliranmu kan?”

“Kau benar.” Baekhyun diam dan itu adalah hal yang aneh, Xiumin melirik memastikan sahabatnya itu baik-baik saja. “Oh, kau memandanginya lagi?”

“Siapa?!” pekik Baekhyun salah tingkah.

“Meja nomor empat, Latte.” Jelas Xiumin.

“Tidak, jangan bercanda!” dengus Baekhyun. Xiumin hanya membalas dengan senyuman. “Sungguh, aku tidak memperhatikan apa-apa!”

“Sayangnya Sehun selalu membawa orang lain bersamanya, apa mereka menjalin hubungan spesial?”

“Sudahlah!” putus Baekhyun kemudian memilih pergi memeriksa dapur dibanding melayani kecurigaan Xiumin, yang hampir tepat.

Oh Sehun, siapa yang tak mengenalnya. Dia tampan dan populer di sekolah apalagi terdengar kabar burung jika dia akan debut menjadi penyanyi di salah satu agensi besar Korea. Oh Sehun teman sekelasnya, Oh Sehun yang dikaguminya, Oh Sehun yang sama sekali tak menganggapnya, tragis, sungguh tragis. Dan satu lagi, Sehun telah memiliki kekasih. Sangat manis, memiliki mata indah, bulat besar.

“Baekhyun!” pekik Xiumin menyusul Baekhyun dan menarik kerah kemeja belakangnya.

“Apa?!” Baekhyun sedikit risih dengan tindakan Xiumin.

“Maaf, tapi kau tahu kekasih seseorang yang kau sukai itu memesan Latte lagi.”

“Antarkan saja ini giliranmu kan.”

“Tidak, kau saja. Dengan begini kesempatanmu untuk memandangi dia lebih banyak lagi kan?”

“Xiumin hyung…,”

“Tidak ada penolakan!” pekik Xiumin, ia tarik lengan kanan Baekhyun dan membawanya kedepan tentu setelah meneriakkan Latte.

Lima menit kemudian Latte pesanan siap, dengan malas Baekhyun mengantar pesanan untuk meja nomor empat. Ia heran karena Latte Sehun belum habis dan biasanya kekasih Sehun akan memesan jus.

“Aku tidak memesan untuk diminum di sini.” Kalimat ketus itu membuat Baekhyun melongo, dia bahkan belum sempat mengucapkan sesuatu, kalimat atau kata yang ramah.

“Ah, maaf?”

“Ya, aku memesannya untuk dibawa pulang.”

“Tapi tadi Anda tidak mengatakan hal itu saat memesan.”

“Aku mengatakannya.”

“Maaf atas kesalahan ini, saya akan membungkus Latte ini untuk Anda.”

“Tidak semudah ini, kau tidak serius bekerja ya?!” kening Baekhyun mengkerut, ayolah, dia tak tahu siapa yang salah di sini yang jelas tak ada kata-kata dibungkus dari konter pemesanan.

“Sudahlah Kyungsoo,” ucap Sehun dengan ekspresi wajah datar. “Bungkus saja dan maafkan Kyungsoo ya.” Seulas senyum tipis menghiasi wajah tampan Sehun.

Baekhyun sedikit menundukkan kepalanya kemudian berbalik pergi, membereskan pesanan Latte menyebalkan dan berantakan ini. “Tunggu!” tangan kiri Baekhyun ditarik ke belakang, membuat tubuhnya hampir hilang keseimbangan beruntung ia tak terjatuh juga gelas Latte di tangannya, beruntung, jika kau melewatkan isi Latte yang membasahi hampir kemeja bagian depannya.

“Kyungsoo sudahlah!” nada suara Sehun meninggi. Ia menggeser tubuh Kyungsoo dan berdiri di hadapan Baekhyun. “Maafkan saya.”

“Tak masalah.” Balas Baekhyun, bukan karena dia menyukai Sehun, ya, mungkin itu salah satunya, selain itu Baekhyun tak terlalu suka keributan. Baekhyun menurunkan nampannya. “Maaf atas ketidaknyaman ini.” Baekhyun membungkukka badan meminta maaf kepada semua pelanggan.

“Aku tak ingin Latte lagi.” Dengus Kyungsoo.

“Sebaiknya kita pergi sekarang.” Perintah Sehun dengan nada tajam dan menarik tangan kanan Kyungsoo cepat, menyeretnya meninggalkan kafe.

Baekhyun menggeleng pelan, menekan semua rasa penasaran di dalam dirinya. Ia melangkah menuju konter pemesanan. Di sana sudah ada Xiumin dan dua orang temannya yang melempar tatapan iba.

“Dia menyebalkan.” Xiumin menjadi orang pertama yang membuka mulut.

“Hmm.” Balas Baekhyun sambil meletakkan nampan dengan gelas kosong ke atas konter, dan langsung dibawa pergi oleh karyawan lain. “Apa dia mengatakan dibawa pulang?”

“Tidak, aku yakin dia tak mengatakan hal itu. benarkan Chen?” Xiumin menelengkan kepalanya meminta persetejuan.

“Ya.” Chen membalas yakin.

“Hah, mungkin aku sedang sial hari ini.”

“Cepat ganti seragammu, dan cuci dengan air bersih sebelum noda Latte melekat.”

“Ya.” Baekhyun menggangguk pelan, berikutnya ia berjalan menuju ruang istirahat karyawan dengan langkah gontai. Sejak enam bulan bekerja sambilan di tempat ini, dia baru menemui pelanggan semenyebalkan Kyungsoo.

Setelah mengganti kemeja putihnya dengan kemeja cadangan, Baekhyun pergi ke kamar mandi. Noda Latte yang masih basah hilang dengan cepat di bawah guyuran air kran. Selanjutnya Baekhyun memeras kemejanya dan memasukkannya ke dalam kantong plastik hitam, ia akan mencucinya di rumah, sekarang ia harus kembali bekerja sampai pukul sepuluh malam.

.

.

.

Baekhyun berjalan pelan menyusuri trotoar yang cukup ramai, sekarang tengah malam. Setelah jam bekerjanya selesai Baekhyun memilih untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah, ia selalu melakukan hal itu karena jika dikerjakan di rumah, godaan untuk tidur terlalu besar. Jika di kafe ia bahkan melupakan tempat tidurnya.

“Kau pulang larut sekali?”

“Astaga! Sehun!” Baekhyun melompat mundur, ia tak melihat Sehun, sesungguhnya ia tak mengira Sehun akan menemuinya.

“Halo, ya, ini aku Oh Sehun.” Sehun tersenyum simpul.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Baekhyun berusaha agar suaranya tak terdengar bergetar, jika memang bergetar dia bisa menyalahkan udara dingin sebagai alasan.

“Aku ingin minta maaf.”

“Minta maaf untuk apa?” astaga otak Baekhyun benar-benar membeku kala berhadapan dengan seorang Oh Sehun.

Sehun yang tadinya berdiri di depan salah satu toko pakaian, berjalan mendekati Baekhyun dan mengisyaratkan Baekhyun untuk meneruskan perjalanannya. “Tadi sore, apa yang Kyungsoo lakukan aku sangat menyesal akan hal itu.”

“Itu—aku bahkan tak memikirkannya lagi.”

“Ah, benarkah? Semudah itu? padahal kau dipermalukan di depan umum, jika aku berada di posisimu aku pasti menuntut atau setidaknya menginginkan balasan.”

Baekhyun mengerutkan kening, sepanjang ingatannya ia tak pernah melihat Sehun bicara banyak. Bahkan dengan orang terdekatnya, Kyungsoo. Hal itu membuat Baekhyun tanpa sadar tersenyum.

“Kenapa tersenyum?”

“Oh itu! Aku!” Baekhyun merutuk dalam hati karena sekali lagi dirinya terlihat bodoh di depan Oh Sehun. “Aku hanya—terkejut kau bicara banyak dengan topik balas dendam.” Sambung Baekhyun tak tahu apakah Sehun percaya atau tidak dengan alasan bodohnya.

“Bagaimana perasaanmu melihat sisi lainku?”

“Apa maksudmu?” Baekhyun melempar tatapan bingung.

“Maksudku, apa aku tampak mengerikan?”

“Tidak juga, justru sebaliknya, kau tampak menyenangkan.” Kedua mata sipit Baekhyun membulat sempurna, ia juga menggigit pipi bagian dalamnya, menyesali kalimat lancangnya.

“Terima kasih.” Balas Sehun kemudian tersenyum meluluhkan semua kecemasan Baekhyun.

“Hmmm, apa kau menungguku di sini? Ah aku hanya ingin tahu, tapi tak mungkin kau menungguku kan hanya untuk meminta maaf, tidak penting sama sekali, kau pasti baru membeli pakaian atau membeli sesuatu…,”

“Aku menunggumu.” Kalimat Sehun memotong racauan Baekhyun seketika.

“Ah kau menungguku—apa?! Kau menungguku?!” pekik Baekhyun tak percaya, Sehun tertawa pelan entah mengapa ekspresi wajah Baekhyun terlihat sangat lucu sekarang. “Untuk apa?”

“Untuk minta maaf, tadi sudah aku katakan kan? Kau tidak mendengarkan aku?”

“Bukan begitu, maaf, tapi itu terdengar sangat konyol, maksudku berapa lama kau menungguku? Itu lama sekali untuk sekedar meminta maaf.”

“Meminta maaf bukan hal yang sederhana, saat aku menyakiti orang lain aku pasti akan memikirkan hal itu terus menerus. Aku tak ingin disakiti jadi sebisa mungkin, aku tidak boleh menyakiti orang lain.”

“Hmm, baiklah karena aku sudah memaafkan kau dan Kyungsoo,” lidah Baekhyun terasa sedikit berat menyebut nama Kyungsoo sejujurnya. “Selamat tinggal Sehun.”

“Aku akan menemanimu sampai di rumah. Tidak ada penolakan.” Tatapan Sehun menuntut membungkam apapun kalimat protes yang sedang dirancang Baekhyun dalam otaknya.

“Baiklah,” bisik Baekhyun hampir tak terdengar.

“Bukankah kita sekelas?”

“Ya kurasa kita satu kelas.”

Sehun tertawa pelan. “Tapi kenapa kau tak pernah menyapaku? Hah, masuk ke kelas yang seharusnya baru aku tempuh dua tahun lagi, ternyata menyebalkan, aku tak memiliki teman satupun.”

“Bukan begitu.” Balas Baekhyun cepat bercampur canggung. “Aku hanya sangat lelah setiap ke sekolah, jadi—kau tahu maksudku.”

“Aku tahu, lebih baik tidur daripada mengisi waktu istirahat untuk mengobrol dengan teman sekelas bukan?”

Baekhyun menelan ludah kasar. “Tak ada yang ingin mengobrol denganku.”

“Kenapa?”

“Mungkin aku terlihat aneh—ya kurasa itu, aku pasti terlihat aneh.”

“Menurutku kau tidak aneh, tidak sama sekali.”

“Ah benarkah? Mana ada remaja seusiaku yang bekerja sambilan, mungkin itu salah satu alasan aku tak memiliki teman.” Baekhyun melirik Sehun dari ekor matanya, kemudian pandangannya tertuju pada jam tangan kecil yang melingkari pergelangan tangan kanannya. Mereka baru berbicara selama sepuluh menit, namun, entah mengapa rasanya Baekhyun bisa mengungkapkan semua rahasia hidupnya kepada seorang Oh Sehun.

“Bagaimana jika mulai besok kita berteman?”

“A—apa?!” balas Bekhyun bingung dan canggung.

“Mulai besok kita bicara banyak hal dan melakukan banyak hal layaknya teman, anggap saja tawaran ini sebagai bentuk permintaan maafku.” Baekhyun hanya menatap Sehun tanpa berkedip, ayolah, di hari biasanya dirinya adalah orang yang tak pernah kehilangan kosakata dan bahan pembicaraan tapi sekarang berbeda. Sehun membuatnya berubah seperti orang lain. “Jangan ditolak atau aku akan sangat kecewa.”

“Baiklah.” Balas Baekhyun pelan.

“Rumahmu masih jauh?”

“Tidak sedikit lagi, kenapa? Apa kau lelah?”

“Tidak, tidak sama sekali tapi lumayan jauh juga, kenapa tak membawa sepeda?”

“Aku suka berjalan kaki.” Jawab Baekhyun jujur.

“Dingin sekali.” Ucap Sehun kemudian entah mengapa Baekhyun merasa Sehun semakin merapatkan dirinya, atau mungkin itu hanya ilusi.

.

.

.

Baekhyun berjalan pelan menuju sekolahnya yang berjarak sekitar tiga kilometer dari sekolahnya. Ini adalah tahun terakhirnya di SMA. Dan tahun terakhir bagi Sehun juga, menyebalkan padahal seharusnya dia masih di kelas awal. Salahkan otak Sehun yang terlalu encer.

Pipi Baekhyun terasa panas jika mengingat Sehun dan apa yang dia ucapkan semalam. “Mulai besok kita bicara banyak hal dan melakukan banyak hal layaknya teman, anggap saja tawaran ini sebagai bentuk permintaan maafku. Jangan ditolak atau aku akan sangat kecewa.”

“Ah berhentilah Baekhyun atau kau akan gila,” peringat Baekhyun pada dirinya sendiri sebelum kemudian mempercepat langkah kakinya. Mengingat Sehun menimbulkan perasaan aneh di dalam dadanya, membuat Baekhyun ingin tersenyum setiap saat.

Sesampainya di sekolah, tak ada yang istimewa semua masih sama membosankannya. Meski berusaha bersikap biasa namun Baekhyun tak mampu membohongi dirinya, jika dia sedang menunggu Sehun. Kapan Sehun muncul dan menyapanya, saling menyapa itu yang biasa dilakukan oleh teman bukan?

Nyatanya, sesampai di kelas tak terjadi hal yang istimewa. Sehun bahkan tak terlihat ada di kelas. Baekhyun berjalan tempat duduknya, menyimpan tasnya di bawah laci meja kemudian bertopang dagu.

“Sampai nanti Kyungsoo.” Suara Sehun menarik perhatian Baekhyun yang tadi sempat melamun. Baekhyun menoleh ke arah pintu masuk tanpa sadar. Dilihatnya Sehun dan Kyungsoo berpelukan kemudian Kyungsoo pergi karena mereka berada di kelas yang berbeda.

Baekhyun bersyukur Sehun dan Kyungsoo tak sekelas, jika mereka sekelas, maka bisa dipastikan setiap hari dirinya akan pulang dengan patah hati. Cepat-cepat Baekhyun mengalihkan pandangannya dari pintu masuk ketika Sehun melangkah masuk.

“Selamat pagi Baekhyun.” Ucap Sehun ramah diselingi usapan pelan di puncak kepala Baekhyun. Baekhyun diam, terlalu terkejut untuk bereaksi. “Baekhyun…,”

“Ah ya, selamat pagi Sehun.” Baekhyun menoleh dan memotong cepat kalimat Sehun, iapun tersenyum meski sangat dipaksakan.

“Kupikir kau masih melamun, aku berencana menyentil telingamu.” Ucap Sehun enteng kemudian tersenyum membuat kedua matanya menyipit.

Baekhyun diam, kedua matanya hanya mengikuti Sehun yang berjalan menuju kursinya. Setelah Sehun duduk dan sekali lagi melemparkan sebuah senyuman untuknya, Baekhyun sadar jika seluruh perhatian kelas tertuju padanya. Baekhyun mengacuhkan semua tatapan itu, toh selama ini tak ada yang peduli dengannya kenapa ia harus peduli dengan pendapat orang lain.

Sorakan dan desahan penuh kelegaan terdengar saat lonceng tanda istirahat berbunyi nyaring, Baekhyun membersihkan mejanya, mengambil kantong kertas cokelat berisi bekal, dan berniat pergi saat seseorang menarik tangan kanannya dan memutar tubuhnya cepat.

“Baekhyun ayo ke kantin bersama!” ajak Sehun antusias.

“Tidak, terimakasih Sehun tapi di kantin—aku tidak suka dipandangi.”

“Abaikan saja kita kan bukan orang terkenal.” Jawab Sehun enteng.

“Belum,” gumam Baekhyun tanpa sadar.

“Apa?!” pekik Sehun mencoba memancing Baekhyun untuk mengulang kalimatnya lebih keras.

“Tidak, tidak ada apa-apa. Aku tidak suka kantin.”

“Oh.” Wajah Sehun terlihat kecewa, atau itu hanya bayangan Baekhyun saja. “Baiklah, kau mau makan siang dimana?”

“Aku—biasanya di taman belakang sekolah, di sana sepi.”

“Kau suka tempat yang sepi?”

“Hanya di sekolah saja.” Baekhyun membalas cepat kemudian berjalan melewati Sehun karena dia melihat Kyungsoo berdiri di depan pintu kelas.

“Sehun, makan siang bersama ya?” Kyungsoo tersenyum manis. Sehun terlihat ragu sebelum akhirnya mengangguk pelan, menyetujui ajakan Kyungsoo. “Terima kasih!” pekik Kyungsoo bahagia, Sehun tak mengerti kenapa makan siang bersama menjadi saat yang membahagiakan untuk Kyungsoo, apa yang istimewa dari makan siang bersama?

Pohon oak yang rimbun mungkin terlihat mengerikan, bagi murid di sekolah ini. Terbukti bangku panjang di bawah pohon tak pernah menjadi pilihan untuk makan siang atau beristirahat. Baekhyun duduk menekuk kedua kakinya, menikmati setangkup roti dengan isi telur buatan ibunya dan sekotak jus apel. “Ah, di sini sejuk sekali,” gumam Baekhyun kemudian tersenyum lebar. Baginya kesederhanaan ini adalah sebuah kesempurnaan.

Saat lonceng berbunyi untuk yang kedua kalinya, Baekhyun sudah berhasil menghabiskan menu makan siang, ia remas kantong kertas cokelat memasukkannya ke dalam tempat sampah bersamaan dengan kotak jus kosong, ia berlari melintasi halaman belakang sekolah. Tak ingin berdesakan saat masuk kelas, Baekhyun ingin tiba pertama kali.

Baekhyun mengubah acara berlarinya menjadi langkah cepat, saat ia melihat Sehun dan Kyungsoo mengobrol di depan kelas, Baekhyun menundukkan kepala tak ingin melihat dua orang itu dengan jelas.

“Halo Baekhyun.” Sehun menyapa dengan ramah mau tak mau Baekhyun harus menatap wajah Sehun dan berusaha tersenyum.

“Halo juga, Oh Sehun.” Sehun tersenyum lebar, dan Kyungsoo melempar tatapan tidak suka yang membuat Baekhyun bergidik. Baekhyun cepat-cepat masuk kelas.

.

.

.

“Baekhyun! Tunggu!” Baekhyun berhenti menoleh ke belakang dan mendapati Sehun berlari ke arahnya.

“Ada apa?”

“Langsung ke kafe?” Baekhyun mengangguk pelan. “Bagus, kita pergi bersama ya, aku ingn membeli Latte.”

“Hmm.”

“Kau harus mengantarkan ke mejaku.” Sehun tersenyum lebar tak peduli dengan tatapan bingung Baekhyun. Keduanya berjalan beriringan tak sadar akan tatapan cemburu yang ditujukan pada mereka.

“Sehun.”

“Ya?”

“Sepertinya Kyungsoo benci jika kita dekat, maksudku berteman.”

“Kenapa dia harus benci?” entah Sehun yang polos atau Sehun termasuk pria yang tak pernah peduli.

“Entahlah tatapannya terlihat tak mengenakan, sebainya kita tak terlalu akrab, aku tak ingin menyakiti Kyungsoo, kau juga bilang tak ingin menyakiti hati orang lain.”

“Maksudmu Kyungsoo cemburu karena aku menyapamu?”

“Itu yang kulihat.” Balas Kyungsoo pelan sambil memalingkan wajah tak ingin menatap Sehun. “Jangan menyakiti kekasihmu, Sehun.”

“Kekasih?!” Baekhyun menoleh menatap Sehun dengan dahi berkerut, kenapa Sehun tampak terkejut dengan kalimatnya.

Sehun terkikik kemudian disusul dengan tawa lepas. “Oh astaga, Baekhyun, Kyungsoo bukan kekasihku.”

“Tapi semua kabar yang beredar…,”

“Bukan.” Potong Sehun. “Kyungsoo bukan kekasihku, kami hanya teman biasa.”

“Tapi kalian selalu bersama.” Baekhyun bersikeras.

“Karena kami berteman.” Baekhyun terlihat ingin mengatakan sesuatu namun akhirnya ia memilih bungkam. “Isu itu, hanya isu murahan, sepertinya Kyungsoo terpengaruh dengan isu itu.”

“Mungkin kau membuatnya terlalu mudah.” Bisik Baekhyun.

“Hmm, apa?!”

“Tidak, tidak ada, sudahlah aku harus bergegas.” Baekhyun melangkah cepat mendahului Sehun, dengan perbedaan tinggi keduanya Sehun tentu bisa menyusul Baekhyun dengan cepat.

Sesampainya di kafe Baekhyun bergegas menuju ruang karyawan sedangkan Sehun tentu saja dia langsung mencari meja kosong dan duduk.

“Baekhyun cepat pelangganmu menunggu.” Xiumin datang dengan heboh.

“Pelanggan?” Baekhyun menaikkan alisnya sebelah.

“Latte.” Balas Xiumin sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Ah.” Balas Baekhyun ia palingkan wajahnya dari Xiumin, memeriksa penampilannya di depan cermin dan memastikan wajahnya tak memerah. Baekhyun menarik napas dalam-dalam meredam dentuman jantungnya, yang terasa jelas memukul-mukul tulang dadanya.

Seperti hari-hari biasa, Baekhyun mengantarkan pesanan, namun kali ini jantungnya benar-benar sedang tak bisa diajak kompromi. Baekhyun takut tangannya bergetar dan nampannya terjatuh. “Latte Anda.” Baekhyun menyajikan Latte dengan senyum ramah mengembang. “Selamat menikmati.”

“Kenapa tanganmu gemetaran?”

“Ah, ini karena aku mengangkat barang berat di belakang tadi.” Baekhyun tak pernah menanggapi pertanyaan pelanggan di luar menu yang disajikan, mungkin karena Sehun yang bertanya semua itu menjadi pengecualian.

“Hmm, setelah ini aku pulang.” Baekhyun mengernyit bingung, kenapa Sehun harus memberitahukan jadwal kegiatan hariannya. Mengingat dirinya dan Sehun bukanlah teman baik. “Nanti malam aku akan menemanimu pulang, jam dua belas kan?”

“Apa?”

“Kau pulang jam dua belas malam kan?”

“Kurasa iya.” Baekhyun menjawab asal, karena ia harus kembali bekerja, Baekhyun berbalik dan melangkah meninggalkan meja Sehun.

“Kenapa wajahmu memerah?”

“Memerah? Apa? Wajahku? Ah benarkah?”

“Baekhyun kau terdengar linglung.” Xiumin memperhatikan wajah Baekhyun dengan teliti. “Apa karena pelangganmu itu?”

“Bukan, bukan itu.” jawab Baekhyun cepat.

“Ayolah jangan berbohong, kau tak akan bisa membohongiku.” Baekhyun diam, tak menanggapi dan memilih untuk menyibukkan diri.

.

.

.

“Sehun!”

“Halo Baekhyun, kau pulang lebih awal hari ini.”

“Tak ada tugas yang harus dikerjakan.” Dahi Sehun berkerut. “Aku mengerjakan tugas sekolah di kafe, jika aku pulang aku pasti memilih tidur.” Jelas Baekhyun.

“Hmm.” Gumam Sehun membalas penjelasan Baekhyun tanpa ada kalimat lain.

“Dingin.” Ucap Baekhyun sambil menjejalkan kedua tangannya ke dalam saku mantel musim dingin. “Ah!” pekik Baekhyun saat Sehun menarik tangan kanannya dan menggenggamnya erat.

“Hangat?” Baekhyun tak menjawab pertanyaan Sehun.

Keduanya berjalan beriringan, Sehun masih memasang tampang datar sedangkan Baekhyun berusaha keras untuk menenangkan jantungnya yang bergemuruh, serta harapannya yang memuncak. Bisa saja bepegangan tangan bagi seorang Sehun adalah hal biasa yang wajar dilakukan oleh sesama teman, mengingat betapa akrabnya Sehun dengan Kyungsoo.

Lima belas menit kemudian keduanya sampai di depan halaman rumah Baekhyun. “Terima kasih Sehun.”

“Ya.”

“Selamat malam.” Ucap Baekhyun, ia membungkukkan badannya sebagai ucapan terima kasih, meski Sehun lebih muda darinya. Baekhyun mendorong pagar pendek kira-kira satu meter lebih sedikit, bercat putih dan melangkah memasuki halaman rumahnya.

“Baekhyun.” Panggilan Sehun menghentikan langkah Baekhyun, ia diam dan berbalik menatap Sehun di luar pagar rumahnya. Baekhyun diam, menunggu Sehun. “Sampai jumpa lagi.”

“Ya, sampai jumpa lagi Sehun. Sampai jumpa di sekolah.”

“Tidak! Ah, maksudku—di luar sekolah bisakah kita bertemu lagi?”

“Baekhyun cepat masuk di luar dingin!” teriakkan ibunya terdengar dari balik pintu masuk.

“Ya Ibu!” pekik Baekhyun. “Ya, kita bisa bertemu di luar sekolah.” Ucap Baekhyun sambil memandangi wajah Sehun yang tampak semakin tampan malam ini. Baekhyun melambaikan tangannya singkat kemudian berlari pergi. Sehun mengulas senyum tipis di balik pagar rumah Baekyun, ia pandangi punggung Baekhyun hingga menghilang, kemudian diapun beranjak pergi dengan perasaan aneh di dalam dadanya.

 

.

.

.

“Byun Baekhyun.”

“Oh, halo Kyungsoo, ada apa?”

“Kau pasti sangat bahagia selalu bersama dengan Sehun.”

Nada suara Kyungsoo terdengar berbahaya, Baekhyun tak ingin meladeni kekesalan orang lain karena akhirnya tak akan pernah baik. “Aku harus bergegas Baekhyun, maaf.”

“Hei, mau kemana?” Kyungsoo menahan pergelangan tangan kanan Baekhyun, menyentak Baekhyun kembali ke tempatnya semula. “Aku minta kau menjauhi Sehun, atau kau tahu apa akibatnya!”

“Apa akibatnya?”

“Halo Sehun.” Kyungsoo memutar tubuhnya terlalu cepat, menatap Sehun dengan senyum ramah yang terlihat jelas dipaksakan.

“Kalian terlihat akrab sampai-sampai menunggu kelas sampai kosong untuk berbicara.”

“Maaf, aku harus bergegas.” Baekhyun berniat pergi namun kali ini giliran Sehun yang menahan tangannya.

“Apa Kyungsoo mengancammu?” Baekhyun terlihat ragu namun pada akhirnya dia menggeleng. “Kau yakin?” tegas Sehun.

“Kami membicarakan udara yang semakin dingin dan Kyungsoo…,”

“Aku menyuruh Baekhyun menjauhimu.” Baekhyun tersentak mendengar kalimat Kyungsoo, sepertinya Kyungsoo bukan tipe orang yang berbasa-basi.

“Hmm, kalau begitu mulai detik ini jangan meminta Baekhyun untuk menjauhiku lagi, mengerti Kyungsoo?”

“Kenapa? Kalian memiliki hubungan khusus?”

“Ya.” Balas Sehun singkat. Baekhyun tak ingin menoleh menatap Kyungsoo namun dari punggung Kyungsoo saat berjalan pergi bisa dilihat dengan jelas dia sedang sangat, sangat, dan sangat kesal.

Baekhyun menarik tangannya dari genggaman Sehun. “Kau yakin Kyungsoo tak akan menggangguku lagi?”

“Ya, kenapa kau memilih membela Kyungsoo?”

“Hmm, karena aku menganggap hal itu benar.”

“Kau aneh.”

“Terimakasih atas pujianmu, Sehun.” Baekhyun berniat pergi namun sekali lagi Sehun menahan pergelangan tangannya.

“Sehun,” peringat Baekhyun, dia harus bergegas ke tempat kerja sementara Sehun terus saja mencegah kepergiannya.

“Mungkin ini terdengar konyol tapi aku menyukaimu.”

“Apa?! Jangan bercanda Sehun, kita baru kenal selama—tiga hari kurasa, tak mungkin jatuh cinta secepat itu.” Baekhyun tersenyum geli.

“Tidak, aku mengenalmu sudah sejak lama, aku memperhatikanmu.” Baekhyun masih tampak bingung.

“Entahlah aku menyukaimu itu saja, jika kau meminta penjelasan lebih aku tak bisa menjawabnya, semua yang ada pada dirimu aku menyukainya. Bukan suka kurasa ini cinta.”

“Kyungsoo bagaimana?”

“Tentu saja aku menyesal, menyesal tidak dapat membalas perasaannya.”

Kedua mata Baekhyun menyipit, mencoba mencerna kalimat Sehun. “Jadi kau memperhatikanku sejak lama?” Sehun mengangguk. “Apa kau sengaja datang ke kafe untukku?” sekali lagi Sehun mengangguk. “Hmm, sejak kapan kau—menyukaiku?”

“Tahun pertamaku di sekolah.” Baekhyun tersentak, ia ingat dengan jelas mulai kapan dirinya tertarik dengan Sehun, tak lebih dari setahun, itu artinya rasa suka Sehun lebih lama dari perasaannya.

“Oh.” Baekhyun terdiam ia menunduk mengamati kedua sepatunya yang sebenarnya tak menarik sama sekali.

“Apa kau menerimaku?”

“Ini membingungkan,” bisik Baekhyun.

“Kau tak perlu menjawabnya sekarang.”

Baekhyun mendongak menatap Sehun dengan senyuman lebar. “Aku juga menyukaimu.”

“Hah benarkah?!” sekarang giliran Sehun yang terdengar terkejut. Baekhyun mengangguk pelan, menjawab pertanyaan Sehun.

“Ya, aku juga menyukaimu, mungkin mencintaimu.”

“Terima kasih Baekhyun.” Sehun menarik lembut tangan kanan Baekhyun kemudian memeluk erat tubuh mungil Baekhyun, melingkarkan kedua lengan kekarnya pada pinggang Baekhyun.

Baekhyun tersenyum senang di dalam pelukan Sehun, ia hirup dalam-dalam aroma parfum Sehun yang entah mengapa langsung disukainya. “Sehun. Salju!” Sehun merenggangkan pelukannya pada Baekhyun, menoleh ke arah jendela kelas yang kosong. “Indah,” gumam Baekhyun.

“Ya, indah sekali.” Balas Sehun. Sehun menundukkan kepala serta mendekatkan bibirnya, ia cium bibir merah Baekhyun dengan lembut, tidak terpaksa, tidak tergesa, tak ada lumatan, hanya sebuah ciuman lembut yang singkat.

“Panggil aku Hyung, aku lebih tua darimu.” Ucap Baekhyun segera setelah ciuman itu berakhir. Sehun hanya tertawa pelan. “Aku serius!” ancam Baekhyun.

“Tidak mau.” Balas Sehun datar. Baekhyun mendengus kesal. “Mana ada Hyung yang lebih pendek.” Goda Sehun.

“Kurang ajar!” pekik Baekhyun bersiap melayangkan pukulan, namun, kedua tangannya dengan sigap ditahan oleh Sehun.

“Bagaimana jika kau menciumku daripada memukulku?”

“Brengesek!” pekik Baekhyun, Sehun terkejut dengan makian Baekhyun.

“Hei, jangan memaki dengan bibir indahmu.”

“Diam.” Dengus Baekhyun, memalingkan wajahnya tak ingin wajahnya yang kini merona terlihat oleh Sehun.

“Ayo pergi ke kafe, kau pernah minum Latte?”

“Belum.”

“Aku traktir.”

“Ini—kencan?” Baekhyun bertanya ragu.

“Kau bisa menyebutnya seperti itu.” Sehun merangkul pundak Baekhyun membawa tubuh mereka mendekat, jika Baekhyun protes ia bisa memberi alasan berbagi kehanagatan di tengah udara dingin dan salju pertama yang turun.

END

 

 

 

13 thoughts on “[KC project] LATTE – HunBaek || Boomiee92

  1. Kyaaaaaaaaa HunBaek :3

    Nada suara Kyungsoo terdengar berbahaya, Baekhyun tak ingin meladeni kekesalan orang lain karena akhirnya tak akan pernah baik. “Aku harus bergegas Baekhyun, maaf.” –> maaf itu mungkin bukan baekhyun tp kyungsoo???hehe

    yeaaaayyy happy ending 😊
    lu kurang ajar bgt ama yg tua hun,,bukan baekhyun yg pendek elu aja yg kelebihan kalsium hun 😃
    mana main nyosor aja,,gue mau donk hun di cium *di tendang*

    keep writing!!!!and hwaiting!!! 😊😊😊😊😊😊

  2. sweet sweet sweet…kyaaaaa
    hunbaek manis pake banget,,habis baca ff hunbaek yang angst langsung ke romance itu beh..kaya dapet berkah..haha

  3. Ada sedikit typo di penggunaan nama Baekhyun dan kyungsoo, but… it ok!!

    Ceritanya simple ala-ala anak SMA bgt, nice!!
    Tingkatkan karya mu dimasa depan ya!!

  4. hunbaek ceilllah ….
    bukan maksud mau kritik atau gk menghargai karya orang lain yah tapi pertama nya aku gk ngerti sama jalan cerita nya . kupikir sehun beneran pacaran sama kyungsoo . abis nya mesra bgt sih

    ternyata gk . sehun so sweet bgt nungguin baekhyun pulang kerja sampai tengah malam .. coba pas bilang dingin langsung peluk aja kan tambah sweet gitu .
    ketahuan bgt agresif nya

    sepertinya gk ada yang bisa aku katakan lagi . makasih ff nya

  5. Hunbaek….. jujur aku suka hunbaek. Ini apa alurnya ga kecepetan? Dan yeah wth kyungsoo itu muncul drmn wkwk. Dan ada dialognya baekhyun yg kea rancu, kupikir bakal ada penjelasanya apa. Semisal kea pas sehun ngomong ‘kita ga terkenal’ tp baek ngomong belum. Kupikir abis itu konfliknya ada di sekolah. Bagus sih hunbaeknya, sehun yg udah lama merhatiin baekhyun, yeah tp menurut gue ini kecepetan alurnya, apa dibatasi max word? Lupa sama rule nya alf wkwkw . Keep writing deh🙂

  6. kyaa!! hunbaek!!!! aku suka aku suka
    tpi kyknya bnyak typonya ya? hehehe
    banyakin kaibaek,sama hunbaek dong aku suka mereka padahal aku chanbaek shipper*kagakadayangnanyak*
    btw tetp smngat nulisnya

  7. wow ada hunbaek di antara chanbaek.
    sejak Kapan kyungsoo jd org menyebalkan seperti itu.

    entah perasaan ku aja atau gimana tp alur nya agak kecepetan. mgkin jg krn ini oneshoot.
    oh iia maaf jika aku salah tp kayaknya ada typo deh. but cm sedikit kok hanya beberapa aja.

  8. HAAAAA HUNBAEEEK!!!
    Suka bangetttt sama jalan ceritanyaaaa . Ternyata oh ternyata sehun duluan yang sukaaaa. Duuuuh dikirain sehun sama kyungsoo bener2 pacarannnnn. Ternyata cuma teman. Hduduu
    Alur ceritanya jelas jadi bacanya enak,ngalir aja gt. Daebaaaak

  9. sebenernya seru, cuma kurang greget pas kyungsoo pergi aja. kl d panjangin dkit d kasih konflik g masalah sih. jd kesannya kecepetan gitu jadiaannya.

    buat ayu, AQ UDAH KOMEN..HAYUK MANA BAYAR HUTANGMU..

  10. wahaa… ceritanya ringan tapi feel-nya dapet…
    ga nyangka pairing ini juga bisa bikin senyum-senyum sendiri wkwk
    daebakk lah pokona

    semangat berkarya terus ya buat authornya
    fighting (^^)9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s