Get Married || ChanBaek


gm copy

|| GET MARRIED ||

 

Kata orang, fase terindah dalam sebuah kehidupan adalah saat menyambung sebuah tali yang mereka sebut sebagai pernikahan. Menyatukan dua figur yang sudah pasti beda karakter dan mencari masing-masing persamaan untuk dijadikan alasan untuk memperkokoh sebuah rumah tangga. Katanya sih begitu.

 

Tapi tidak dengan sepasang manusia, pemuda dan pria yang sebenarnya hanya sebuah kebetulan yang mempertemukan mereka. Walaupun dengan sangat tegas si pria membantah bahwa dalam kehidupan itu (apalagi jodoh) tidak ada yang namanya kebetulan. Semuanya sudah di atur dalam sebuah alur kehidupan yang orang-orang mengagungkannya dengan nama Takdir Tuhan. Sedikit menilik lebih jauh bahwa sebenarnya pemuda dan pria ini tidak saling mengenal sebelumnya.

 

Yang pemuda ketahui adalah, saat ia sedang sibuk dengan naskah mentah yang akan ia serahkan pada pihak penerbit sebagai jembatan awal menggapai cita-cita sebagai novelis, si pria menggeret bangku perpustakaan dan duduk di sebelahnya. Menanyakan nama, umur, pekerjaan, juga status. Walau sedikit mencurigakan seolah ia seorang detektif (atau kalau si pemuda ingin berpikir sederhana, pria yang menghampirinya adalah seorang petugas sensus penduduk), tapi toh si pemuda tetap meladeni.

 

“Namaku Byun Baek Hyun, Byun adalah nama pemilik yayasan panti asuhan yang merawatku hingga lulus SMU. Usiaku 22 tahun sekarang, pekerjaanku tidak menentu, kadang menjadi pekerja part time di sebuah café, membantu tetanggaku berdagang bunga di tokonya, atau apapun yang penting menghasilkan uang yang bersih. Sekarang kufokuskan waktuku untuk menulis kalau saja aku berhasil menjadi seorang novelis. Status… status dalam keluarga… Aku tinggal dengan kerabat ibu panti yang tinggal di kota ini, dia adalah wanita yang cukup bermumur dengan 2 orang anak gadisnya yang masih belia, itupun kalau ini bisa disebut sebagai status dalam keluarga, selebihnya aku tidak tahu pasti karena aku yatim piatu sejak lahir. Status dalam berhubungan… heum… aku singel. Hanya saja aku sedang dekat dengan seorang pria yang melobiku ke perusahaan penerbit untuk mempublikasikan novel perdanaku.”

 

Perkenalan yang tidak terlalu singkat tapi tidak terlalu jelas untuk dipatok sebagai harga mati bahwa si pria sudah sangat mengenalnya, sampai tanpa sungkan ia menggeser sebuah kotak dengan beludru merah sebagai pembungkus, juga pita sebagai penghias.

 

“Namaku Park Chan Yeol, usiaku 26 tahun. Aku seorang dokter. Anak tunggal dari keluarga Park yang kini sisa dua orang, aku dan ibuku. Aku cukup percaya diri bahwa hari ini pacarku akan menerima pinanganku untuk menjadikannya salah satu anggota keluarga Park hingga aku tanpa cacat menyiapkan segala macam pernak pernik pesta pernikahan yang dengan sombongnya kupatok minggu depan. Sayangnya, pacarku lebih memilih statusnya sebagai Mahasiswa yang mengejar strata 2 di Amerika 3 hari lagi daripada menjadi pendampingku di altar pernikahan. Intinya, aku adalah pria bujang yang siap menikah dan telah menyiapkan semuanya. Dan akan sangat malu jika saja mereka tahu bahwa aku telah ditolak oleh calon pendampingku.”

 

Dengan alis keriting, dan itu temporer karena bukan turunan genetik, Baek Hyun membuka kotak yang tidak misterius itu. Nyatanya seperti dugaan, isinya logam mulia mengkilap dengan ukiran unik mengelilinginya. “Ini cincin,” itu bukan pertanyaan, tapi nada ragunya mengisyaratkan kalau itu juga bukan pernyataan. Intinya… Baek Hyun bingung kenapa pria itu memperlihatkan cincin yang batal dipasangkan di jari manis pacarnya.

 

“Byun Baek Hyun… menikahlah denganku,” begitu kalimat penyertanya yang keluar dari mulut segampang membuang permen karet yang telah bosan dikunyah.

Jujur… Itu adalah acara lamaran paling absurd yang pernah dialami Baek Hyun. Walau pada kenyataannya ini baru pertama kalinya ada yang melamarnya menjadi pendamping hidup. Laki-laki pula. Pasalnya, ini bukan perihal orientasi seks yang menyimpang, toh orang yang dekat dengannya juga adalah seorang pria. Dia keturunan China jika ada yang penasaran. Tapi kenapa pria satu ini tanpa ragu mengajaknya menikah? Apakah aura Baek Hyun sudah terlalu kuat mengundang pria berorientasi seks yang sama dengannya untuk datang menggodanya. Oh… ini cukup dramatis, mengingat Baek Hyun adalah seorang novelis pecandu kisah romansa. Kenapa itu dramatis… hei dia juga memimpikan berada di atas sebuah perahu mengarungi sungai di bawah kelamnya malam bertabur bintang, dengan sang pujaan yang rela mendayung mengiringi samudera bersama (walau nyata-nyata itu sungai), meletakkan dayung di sisi sampan, berlutut dengan sangat hati-hati agar mereka tidak berakhir dengan tercebur ke dalam air yang suhunya bisa saja membuat mereka menggigil. Si pria menyerahkan sekotak perhiasan yang berisi cincin dan bersuara dengan sangat mendayu. “Byun Baek Hyun terkasih, sudikah kau menjadi pendamping hidupku sehidup semati?”

 

Baek Hyun melepas kacamata bacanya setelah lamunannya buyar. Tidak ada perahu cinta, tidak ada sungai dengan riak pelan yang menggoda jemari indah Baek Hyun untuk bermain di permukaannya, tidak ada langit bertabur bintang, tidak ada semilir angin dan semua setting yang mendukung kisah romansa klasik yang sering ia baca. Hanya ada sebuah ruangan bernama perpustakaan, dengan pendingin udara seadanya, buku yang bertumpuk di rak, beberapa berhasil diculik dan diletakkan di atas meja. Ah… dan sebuah kotak beludru merah yang diletakkan kembali oleh Baek Hyun tadi.

 

“Apa kita saling mengenal? Tuan Park… menikah itu tidak sesimpel mengajak berkenalan.”

 

Dan pria yang baru beberapa tahun menyandang gelar dokter Park itu mengangguk paham. Diusapnya peluh bekas kekecewaan sehabis ditolak sang tercinta yang menemaninya melewati fase remaja bahkan dewasa muda. “Menikah juga tidak serumit menyusun strategi untuk menyerang Korea utara, Byun muda. Jika alasanmu karena tidak mengenalku dengan baik, aku hanya bisa menjanjikan beberapa hal yang sekiranya bisa menjadi pertimbanganmu. Aku bukan pemerkosa, aku bukan pembunuh, aku bukan pembohong, dan aku bukan pencuri. Sisanya bisa kau lihat nanti saat kita sudah tinggal dalam satu atap. Ah… aku sudah punya apartemen sendiri, dan itu milikku. Bukan sewaan.”

 

“Dan kenapa aku harus?”

 

Tuan atau dokter Park itu mengulas senyum yang sepertinya sudah sangat ringan. Artinya, otot-otot sekitar wajahnya memang terlalu lentur karena sering digunakan untuk berekspresi seperti itu. Bisa jadi bahan pertimbangan, pria itu sangat ramah. “Karena kau orang baik, Byun Baek Hyun.”

 

Bukan alasan yang cukup banyak ditemukan dalam lembaran novel yang menceritakan sesi penembakan. Kalimat, ‘Karena kau begitu mempesona, kau sangat cantik, kau pantas menjadi ibu dari anak-anakku, kau ini dan kau itu’ tidak cukup eksis dalam percakapan ini. terlebih kalimat sakral sekaligus mistis dan horor seperti, “Karena aku mencintaimu,” sama sekali tidak layak dibahasakan secara terang-terangan. Kalau iya, artinya Chan Yeol menyangkal tentang hal yang dia janjikan. Bukankah dia bukan pembohong? Kalau dia mengatakan karena ‘cinta’, itu sudah murni dan tanpa rekayasa adalah sebuah kebohongan.

 

“Hm… sepertinya kau hanya butuh bantuan Park Chan Yeol, dan kau cukup nekat untuk memintanya pada orang asing.”

 

Sekali lagi, dalam ulasan senyum yang sama, kali ini plus tangan yang ditopang di dagu, memperhatikan lekuk indah wajah calon pendamping di altar, juga di rumahnya nanti. Kalau bisa di ranjangnya. “Menikah denganku adalah salah satu cara agar kita tidak akan terasa asing satu sama lain. Kau tahu, ibuku bukan pengekang. Tidak setelah ayahku kabur dan ditemukan bunuh diri bersama kekasih prianya dalam sebuah kamar hotel saat usiaku 14 tahun.”

 

“Ugh…”

 

“Artinya, ibuku tidak lagi mengekang orang-orang yang dicintainya untuk mengikuti keinginannya. Aku tidak suka perempuan selain dirinya, dan dia menerimanya. Jadi…” Chan Yeol mengeluarkan cincin tadi dari tempatnya, dan memasangkannya di jari indah Baek Hyun tanpa kendala. “Ini cocok, bahkan sangat pas. Byun Baek Hyun… ayo kita menikah.”

 

Pipi menghangat. Ini jauh dari kata romantis jika merujuk pada semua novel romansa yang dijadikan Baek Hyun sebagai kiblat. Namun entah kenapa dari sudut pandang berbeda, kesederhanaan terkadang bisa mengalahkan apa saja di sisi keromantisan. Cincin itu begitu indah, siapapun yang telah batal memakai benda itu karena menolaknya langsung dari pemberi adalah seorang yang kurang beruntung. Setidaknya itu bisa dijadikan persepsi awal. Selebihnya Baek Hyun belum bisa berkomentar banyak. Ini bukan tentang mencoba menerima pendekatan pria dan belajar bagaimana itu berpacaran. Ini tentang bagaimana mengabiskan hari dengan seseorang yang akan bestatus sebagai pemilik, jika bisa sampai akhir hayat. Sebuah hak paten jika suatu saat ada yang ingin mengusik. Dan keputusan paling gila yang pernah diambil Baek Hyun tanpa pertimbangan matang adalah… “Baiklah. Aku mau. Ayo kita menikah.”

 

 

 

 

Tittle: Get Married
Genre: asam manis pedas
Rate: dikhususkan pada yang dewasa, namun tidak menyuguhkan konten dewasa.
Cast: Byun Baek Hyun dan pemuja rahasianya.
Disclaimer: Baek Hyun bukan milikku. Milik pemuja rahasianya.
Copyright: penulis (?)
a/n: sebuah tulisan absurd yang tercipta karena ALF gak bisa memikirkan bagaimana menyusun kerangka Fic lain menjadi satu kesatuan. Terimalah ini sebagai permintaan maaf. Berikut jeda yang nantinya bisa ALF manfaatkan. With love…

 

 

 

~ Pengantin Baru~

 

 

Pagi yang tidak seperti biasanya. Baek Hyun kini hanya bisa menatap ragu beberapa butir telur yang ia keluarkan dari kulkas. Bukan berarti itu benda asing. Dia sering melihatnya dalam keadaan mentah, karena memang dulu dia yang mendapat tugas berbelanja. Hanya saja, yang bertugas mengolah semua makanan adalah 2 anak gadis yang tinggal bersamanya di rumah yang ia tumpangi selama beberapa tahun sebelum ia pindah ke apartemen mewah milik seseorang yang telah mengikrarkan janji suci bersamanya 23 jam yang lalu. Jadinya, kompor, panci, alat penggorengan dan sebagainya terlihat seperti alien jika Baek Hyun harus menggunakannya sekarang.

 

Tidak cukup lama, hingga entah dengan sulap apa akhirnya telur-telur itu terhidang dalam keadaan tidak lagi mentah di atas 2 piring yang kini ia letakkan di atas meja makan. Asap yang mengepul di atasnya itu sebagai bukti bahwa Baek Hyun berhasil membawa mereka selamat dari proses penggorengan tanpa membuatnya terlihat hitam.

 

“Selamat pagi…”

 

Baek Hyun menoleh kaget saat ia mendapat sambutan selamat pagi dari seorang pria. Bertahun-tahun hidup bersama 3 manusia berkelamin wanita cukup membuatnya asing dengan situasi itu. Oh iya… baru sadar, kemarin dia sudah menikah.

 

“Selamat pagi Chan Yeol. Apa tidurmu pulas?” sambut Baek Hyun setelah Chan Yeol duduk di hadapannya, meraih segelas air putih dan meneguknya perlahan.

 

“Pulas. Sangat pulas,” jawaban singkat disertai senyuman sebagai pengantar sarapan paginya kala itu.

 

“Apa kau tidak kerja?”

 

Chan Yeol tertawa kemudian menarik piring yang berisi telur dadar itu ke depannya. “Apa kau bercanda? Mereka akan menertawaiku jika aku datang ke rumah sakit setelah melewati malam pertamaku.”

 

“Kenapa begitu?” Baek Hyun tampak penasaran, kepalanya yang dimiringkan lucu sebagai penegas.

 

“Pria yang melewati malam pertamanya seharusnya tidak melanjutkan aktivitas seperti biasa karena kelelahan. Itu pada umumnya. Lagipula aku sudah mengambil cuti selama seminggu sebagai alasan bulan madu. Itu cukup setimpal.”

 

“Kenapa pria harus kelelahan di malam pertamanya?”

 

Chan Yeol tersedak setelah sepotong telur dadar berhasil menyentuh lidahnya. Selain karena pertanyaan Baek Hyun sepolos baju kaos putihnya sekarang, rasa telur dadar itu juga cukup ekstrim. Berapa sendok garam yang dimasukkan Baek Hyun dalam adonannya tadi? “Apa kau tidak tahu aktivitas yang dilakukan pengantin baru di malam pertama mereka?”

 

Barulah Baek Hyun mengangguk-angguk paham. “Oh yang itu.”

 

“Itu apa?”

 

“Ya tentu saja bersetubuh. Apalagi?”

 

Kali ini Chan Yeol tersedak kopinya. Apakah Baek Hyun diam-diam adalah maniak garam? Kopi saja bisa terasa sangat ekstrim jika diolah oleh tangan cantiknya. “Kau terlalu santai untuk ukuran orang yang awalnya kukira polos.”

 

“Aku sudah 22 tahun. Aku cukup banyak membaca novel bergenre dewasa, jadi aku tahu. Hanya saja, sulit membuat bayangannya. Terlebih aku membaca novel yang menjabarkannya secara implisit.”

 

Chan Yeol mengangguk-angguk berusaha paham, juga mencoba mematikan kerja indra pengecapnya setelah sekali lagi memasukkan potongan telur dadar ke mulutnya. “Mungkin kita akan melakukannya, tapi tidak dalam waktu dekat. Aku tidak ingin dianggap sebagai pria yang mengambil keuntungan.”

 

“Iya, aku mengerti. Itulah alasan kau menyiapkan kamar tersendiri untukku. Aku sangat menghargai itu Chan Yeol. Aku suka kamar baruku. Terima kasih banyak.”

 

“Tidak masalah. Seharusnya aku yang berterima kasih karena kau rela membantuku dan menyelamatkan namaku yang hampir hancur.”

 

Baek Hyun tertawa, kemudian menjauhkan piringnya setelah mencicipi masakannya sendiri. Sedikit heran kenapa Chan Yeol bisa menelan telur seasin itu. “Lalu apa rencanamu hari ini?”

 

“Hm… sebenarnya aku ingin tidur. Jujur saja, semalam itu adalah tidur terpanjang yang pernah kulalui selama aku memutuskan mengambil profesi kedokteran. Tapi kupikir, mungkin seharian ini bisa kita lewati dengan… saling mengenal satu sama lain.”

 

“Ide yang bagus. Jujur saja aku masih canggung. Masih terasa asing. Deadline yang ditentukan editorku juga masih 2 minggu lagi. Yah, aku setuju. Ayo saling mengenal.”

 

“Hm baiklah. Pertama, sepertinya aku harus mengatakannya secara jujur agar kedepannya ini tidak menjadi pemicu pertengkaran. Baek Hyun, aku akan mengajarimu cara memasak. Tapi sebelumnya, kau harus bisa membedakan mana gula dan mana garam.”

 

Baek Hyun pun tertawa salah tingkah. Ternyata indera pengecap Chan Yeol tidak salah. “Terlalu asin yah? Maaf. Aku tidak pernah memasak.”

 

“Iya, aku mengerti. Telur dadar buatanmu sebenarnya tidak terlalu buruk, terlebih tidak gosong untuk percobaan pertama. Hanya saja… ini terlalu asin.”

 

Baek Hyun menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. “Err… itu telur mata sapi.”

 

Chan Yeol mengangkat kedua alisnya, takjub sekaligus heran. Bagaimana mungkin telur yang bahkan kuning dan putihnya tidak bisa dibedakan saking menyatunya bisa disebut telur mata sapi? “Oh… begitu, mungkin sapinya katarak dan tercebur kubangan lumpur garam.”

 

Dan itu membuat Baek Hyun sekali lagi tertawa. Lelucon seorang dokter muda dan tampan ternyata bisa diperhitungkan juga.

 

 

***

 

 

~Mengenalmu Baik~

 

 

“Dengan ini kunyatakan kalian sebagai sepasang suami dan… is… suami,” kukuh seorang pendeta dengan kening berkerut, “saudara pak Chan Yeol, kau boleh mencium pasanganmu.”

 

Baek Hyun kembali senang dengan keputusannya. Park Chan Yeol adalah orang yang bijak. Baginya yang begitu mendewakan ciuman pertama ternyata dimengerti Park Chan Yeol. Pria matang dan tampan itu memiringkan kepala hingga yang di kecupnya adalah bagian pipi dekat dagu yang hampir tak mengenai sudut bibir. Sedikit tidak apa-apa, asal bukan bibirnya secara utuh.

 

Dan kamuflase itu cukup baik hingga mengundang suara riuh para undangan yang hadir. Walau di antaranya masih ada yang merasa sedikit risih membayangkan jika yang di depan itu adalah putra mereka dengan putra orang lain.

 

Kejamnya dunia bagi yang memandang sebelah mata akan persamaan. Gender.

 

“Aku pulang…”

 

Seruan itu terdengar dari pintu depan, diikuti suara gesekan sol sandal rumahan yang sudah disiapkan di dekat pintu.

 

Baek Hyun mematikan DVD player sekaligus TV yang tadi menampilkan video pernikahannya dengan Chan Yeol. “Selamat datang,” sambutnya langsung meraih tas kerja suaminya (ini harus digaris bawahi mulai sekarang) dan mengiringinya untuk duduk di sofa ruang tengah. “Bagaimana harimu?”

 

“Hm… tidak buruk.”

 

Baek Hyun mulai sedikit tahu kebiasaan Chan Yeol. Jika dia mengatakan ‘tidak buruk’ artinya ada sesuatu yang terjadi dan itu jelas tidak baik. “Aku bisa mendengarkan.”

 

Chan Yeol memijat pucuk hidungnya dan bersandar di sofa, memejamkan mata lelahnya. “Mereka. Para senior sepertinya tidak menyukai eksistensiku. Sukses besar dalam operasi perdanaku, menikah di usia 26 tanpa hambatan, terlebih mereka bilang kau begitu mengagumkan dan seksi, walau sebenarnya aku tidak tahu mereka melihatmu dengan kacamata apa. Tadi, di depan pasien yang kutangani sendiri mereka bekerja sama memojokkanku dengan menyindir bekas jahitan pasien yang kutangani. Katanya jarak jahitannya terlalu dekat dan bekasnya akan semakin jelek. Itu mereka katakan terang-terangan di depan pasienku yang sebenarnya adalah seorang wanita cantik yang berprofesi sebagai model. Kurasa dia tidak akan mengenakan pakaian yang memperlihatkan perut dan pusarnya, karena jahitan membujur itu akan terlihat.”

 

“Mereka orang-orang yang gagal.”

 

“Eh?”

 

“Memojokkan orang yang sukses besar di operasi perdana, terlebih kau cukup muda untuk dipercayakan menangani operasimu sendiri, kurasa mereka hanya iri. Berapa umur mereka saat mereka dipercayai melakukan operasi yang dipimpin sendiri? Abaikan saja orang-orang bodoh itu dan lanjutkan menjadi dirimu sendiri. Kau tahu, memang baru 3 minggu aku mengenalmu. Tapi aku senang bisa berada di sisimu. Kau orang yang baik. Kau sangat pengertian, dan kau sangat bertanggung jawab. Abaikan mereka, karena aku yakin tidak sedkit orang yang mengakui eksistensimu dengan mata terbuka.”

 

Chan Yeol tidak ingat kapan pertama kali Baek Hyun memujinya, tapi ia mematenkan bahwa ini adalah pujian paling menyentuh yang pernah ia terima. Hebatnya lagi, itu adalah dari pendamping hidupnya yang masih tegas menyatakan bahwa hubungan mereka masih terasa asing. “Kau akan memasak apa untuk makan malam?”

 

Baek Hyun mengangkat bahu, mungkin masih belum mengikuti alur perubahan topik yang terlalu mendadak itu. “Aku belum memastikan. Tapi tadi siang sepulang kuliah, aku membeli belut segar, sayangnya pasti akan lebih buruk dari telur mata sapi katarak jika aku nekat memasaknya sendiri.”

 

Barulah Chan Yeol tersenyum, melonggarkan kancing kemejanya dan mengajak Baek Hyun ke dapur. “Ayo kita memasak, akan kuajarkan cara mengolah belut yang baik dan benar. Mungkin kita bisa memanggangnya dan mengolesinya dengan saos asam manis pedas. terima kasih karena telah memilih belut sebagai menu malam ini.”

 

“Oh ya Chan Yeol, kalau boleh jujur, aku bukan membelinya dari uang yang kau berikan.”

 

“Lalu?”

 

“Aku bertemu dengan Ibu pemilik panti. Dan dia membelikan belut itu untukku. Katanya sangat bagus untuk pengantin baru. Kita harus banyak-banyak makan protein tinggi katanya. Dan aku harus memastikan kau memakan bagian ekornya. Entah apa relasinya.”

 

Chan Yeol tertawa kikuk kemudian mengusap tengkuknya yang berkeringat. Terkadang Chan Yeol penasaran, bagaimana nantinya ia mengubah kepolosan Baek Hyun menjadi…

 

Oh… ini tidak baik. Dia tidak boleh memancing birahinya sendiri.

 

“Katanya, belut bisa menambah vitalitas pria, Baek Hyun.”

 

“Untuk apa?”

 

Chan Yeol mengedipkan matanya setelah mengambil sekantung plastik belut dari dalam kulkas, meletakkannya di dalam wadah penadah air di tempat pencucian piring.  “Mungkin aku akan menggunakan bahasamu. Bersetubuh, tentu saja.”

 

Dan Baek Hyun hanya mengangguk-angguk paham dengan kedua pipi yang perlahan bersemu.

 

 

***

 

Langkah Pertama

 

 

Siang itu Chan Yeol menemukan Baek Hyun tengah berkutat dengan laptopnya di ruang tengah. TV sengaja dimatikan karena sepertinya aktivitas Baek Hyun menuntut konsentrasi penuh, juga keseimbangan otak kiri dan kanan tanpa adanya pengalih yang menjelma menjadi penganggu.

 

“Tidak biasanya kau di rumah siang-siang begini,” tegur Chan Yeol yang langsung mengambil posisi di sofa, persis di belakang Baek Hyun yang duduk melantai sambil memunggunginya.

 

“Hanya ada kelas pagi, tadi,” jawabnya tidak bermaksud acuh. Sekali lagi, aktivitasnya menuntut untuk konsentrasi penuh.

 

“Kau sedang mengetik apa?”

 

“Cerita mentah untuk digubah.”

 

“Masih novel perdanamu yang gagal publish itu?”

 

Baek Hyun kontan menghentikan kerja jemari indahnya kemudian menoleh dan menatap Chan Yeol sedikit tajam. “Bukan gagal, hanya perlu perbaikan di beberapa bagian. Kata editorku, ceritanya terlalu pasaran. Aku harus berani membuat gebrakan baru dan menaikkan ratenya untuk dikhususkan pada pembaca dewasa.”

 

“Ha? Kau disuruh menulis novel porno?”

 

“Astaga Chan Yeol… kau vulgar sekali.”

 

“Kau bilang diminta menulis yang ditujukan untuk pembaca dewasa, jelas saja itu adalah bacaan yang mengandung sesuatu yang porno.”

 

“Bacaan dewasa tidak harus ada konten seperti itu. Mengangkat tema kriminalitas dengan banyak penjabaran kekerasan, pembantaian, mutilasi dan sebagainya itu sudah masuk bacaan untuk orang dewasa karena anak-anak jelas kesulitan mencerna itu semua.”

 

“Hanya orang bermental psikopat yang suka membaca hal seperti itu.”

 

Baek Hyun diam, kelihatannya sedikit berpikir. Ia kembali menghadap laptopnya, memblok semua tulisan yang hampir mencapai 100 halaman kemudian menekan tombol delete.

 

“Kenapa dihapus? Aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung,” tegur Chan Yeol sedikit merasa bersalah.

 

“Tidak. Maksudku, kau benar. Aku bahkan tidak pernah melihat secara langsung bagaimana seseorang kepalanya pecah ditembusi peluru. Aku khawatir pendeskripsianku terlalu berlebihan. Aku harus membatasi imajinasiku menjadi sedikit lebih real,” keluh Baek Hyun kemudian berpindah duduk ke sebelah Chan Yeol sambil memeluk bantal.

 

“Bukankah kau suka hal-hal yang berbau romansa. Tetaplah di jalurmu.”

 

“Tapi ceritaku terlalu garing. Terlalu biasa. Editorku bilang, aku seperti anak SMP yang baru belajar menulis surat cinta.”

 

Chan Yeol memilih untuk tertawa. Bisa jadi benar, mengingat pikiran Baek Hyun cukup polos dalam hal-hal seperti itu. Matanya perlu dibuka. Boleh saja secara paksa agar bocah itu bisa mengenal langsung seperti apa cerita romansa yang sebenarnya. Lagipula, menyentuh Baek Hyun walau Cuma sedikit itu sah-sah saja sekarang. Toh Chan Yeol sudah mengantongi sertifikat pernikahan yang dilegalkan pemerintah. Jadi, menyentuh Baek Hyun bahkan di area teritorialnya bukan lagi termasuk pelecehan. “Mungkin karena kau belum pernah merasakannya.”

 

“Merasakan apa?”

 

“Jatuh cinta mungkin. Maksudku… memang kau tidak harus membakar tanganmu untuk tahu bahwa api itu panas. Tapi tetap saja tidak cukup hanya dengan mendengar orang-orang membicarakannya.”

 

“Aku tidak mengerti. Kenapa kau tidak menjadikan objek lain sebagai sampel. Api terlalu berbahaya.”

 

Chan Yeol kembali tertawa, memberanikan diri mengacak rambut Baek Hyun, membuat pemuda itu mempertahankan kontak mata dengan pria yang memiliki lensa sehitam rambutnya. “Apa kau pikir cinta tidak berbahaya? Kau hanya membayangkan yang manis-manis saja Baek Hyun. Cinta itu seperti kembang api. Indah memang, tapi itu berbahaya jika ia tidak meledak di tempat sebenarnya. Aku contohnya. Bukan bermaksud jujur kalau aku masih patah hati, tapi… hanya untuk menyadarkanmu bahwa cinta tidak selamanya indah.”

 

“Penjabaranmu tidak jauh-jauh dari api. Kau seperti memiliki dendam pribadi pada cinta.”

 

“Memang. Cinta itu panas Baek Hyun. Mungkin saat nanti kita bersetubuh, kau akan bisa merasakan sepanas apa itu cinta.” Satu kedipan nakal menutup kalimat vulgar barusan.

 

Baek Hyun menepuk wajahnya dengan telapak tangan kemudian memejamkan mata. “Apa karena kau selalu berada di ruang operasi dan melihat organ pribadi pasien-pasienmu hingga pikiranmu tidak jauh-jauh dari sana?”

 

“Aku serius. Tapi sebenarnya aku berniat membantumu untuk memperlajarinya. Agar tulisanmu tidak seperti anak SMP yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta.”

 

Baek Hyun membuka matanya dan menatap Chan Yeol kembali. Chan Yeol itu tampan sebenarnya. Baek Hyun hanya terlambat menyadari. Mungkin terlalu disibukkan dengan hal-hal yang menuntut imajinasi. Sebagai penggila cerita romansa, Baek Hyun sebenarnya buta akan hal yang paling mendasar.

 

Cinta.

 

“Bagaimana caranya?” tanya pemuda berambut cokelat itu pada akhirnya.

 

“Pertama, aku bukan bermaksud kurang ajar. Tapi jujur saja, ini agak ekstrim kalau saja aku tidak bisa mengendalikan hasratku.”

 

“Maksudnya?”

 

“Aku pria yang sehat. Terlebih kita baru saja menikah dan melewati setiap malam hanya dengan selimut masing-masing. Artinya…” pria yang lebih dewasa itu mendekat, menaikkan kedua kakinya hingga ia seperti merangkak menuju Baek Hyun yang kini tersudut di pegangan sofa sambil memeluk bantal dengan ekspresi kaget, juga heran. Apa Chan Yeol kesurupan roh dari pasien yang meninggal di rumah sakit tempatnya bekerja? “Akan kuperlihatkan bagaimana sepasang suami istri mengekspresikan perasaan cinta mereka.”

 

“Suami istri? Tapi tidak ada istri di sini. Aku bukan istri, dan kau pasti menolak mentah-mentah jika kusebut istri.”

 

“BAgaimana dengan sepasang kekasih?”

 

“Bukankah sepasang kekasih adalah 2 orang yang saling mencintai?”

 

Chan Yeol mendesis kesal. Ia menarik bantal yang dipeluk Baek Hyun dan melemparnya ke sembarang arah. Hampir mengenai gelas di atas meja. “Terserah bagaimana kau menyebutnya. Oh ya, siapa nama tokoh dalam novelmu?”

 

“Eum… Bryan dan Chris.”

 

Chan Yeol mengerutkan kening bingung. Itu terlihat jelas oleh Baek Hyun karena Chan Yeol sudah berada di atasnya (entah dengan alasan apa kini Baek Hyun mengambil posisi berbaring) mengurungnya dengan kedua lengan kekarnya.

 

“Aku menulis novel boys love, editorku bilang, itu cukup jarang tapi banyak yang minat.”

 

“Oh… berarti itu tidak akan sulit. Kita sama-sama pria. Ah salah, kau belum menjadi pria. Mungkin kau perlu ku itukan sedikit agar setidaknya kau pantas disebut pria.”

 

“Itukan apa?”

 

Chan Yeol tersenyum simpul, lebih kepada senyuman licik. “Aku cukup gagah Baek Hyun. Sangat gagah, ingin kubagi kegagahanku?”

 

“Errr…”

 

“Aku hanya bercanda. Aku bukan pemerkosa, dan aku sudah berjanji padamu tentang hal itu.” Dan Chan Yeol mulai menurunkan wajahnya, mulai menekuk siku agar jarak yang menjadi celah di antara kedua tubuh berbeda ukuran itu semakin menyempit.

 

“Chan Yeol… aku jadi tidak suka ini.”

 

“Hanya memberikanmu gambaran luarnya Baek Hyun. Kalaupun nantinya kau tidak suka, kuberi kau 3 kesempatan untuk menamparku. Walau sebenarnya aku yakin, 3 kesempatan itu akan kau lewatkan.”

 

Siapa yang bisa menduga, Baek Hyun mulai menikmati debaran-debaran tidak halus di jantungnya. Ada rasa hangat di beberapa tempat pada bagian tertentu tubuhnya. Dan Baek Hyun rasa Chan Yeol benar. 3 kesempatan untuk menamparnya akan dilewatkan Baek Hyun.

 

Sepertinya.

 

Kecupan pertama mendarat, itu di kening Baek Hyun. Dan desiran hebat menjalar dari tempat mendaratnya kecupan hingga ke semua saraf tepi, mengakibatkannya gemetar tanpa penyebab yang jelas. Bodoh… Chan Yeol terlalu nyata bila diabaikan sebagai penyebab getaran itu.

 

Bibir Chan Yeol bergerak turun, menempel ringan pada pipi yang permukaannya selembut pantat bayi. Baek Hyun merasa tergelitik karena hembusan nafas Chan Yeol, membuat rambut-rambut halus yang terkena dampak hembusan itu mendadak meremang.

 

Bibir Chan Yeol kini menjajaki telinga Baek Hyun, mengecupi tiap sisinya sambil berbisik lirih, entah apa. Karena Baek Hyun terlalu sibuk dengan detak jantungnya yang nampaknya mendadak mengadakan marching band di rongga dadanya.

 

“Kau sangat menggairahkan, apa kau sadar itu Baek Hyun?”

 

Setidaknya itu yang ditangkap telinganya saat Chan Yeol lebih lama memainkan bibirnya di daerah itu. Dan seketika ada hal yang membuatnya merasa lucu hingga tergelitik di perutnya. Anehnya sensasi itu terus turun ke area bawah tubuhnya.

 

 

Kaki.

 

Kakinya mendingin.

 

Chan Yeol mengangkat wajahnya dan kini Ia arahkan persis di depan wajah Baek Hyun yang matanya mulai sayu. Entah pengaruh apa. Mungkin hal lucu yang terus menggelitik perutnya hingga ke tubuh bagian bawahnya.

 

Kaki.

 

Astaga… kakinya makin mendingin.

 

Semenit dua menit mereka hanya saling menatap. Seperti dianugerahi kekuatan hingga bisa berbicara lewat telepati. Aku membutuhkanmu dan kau menginginkanku. Begitu kira-kira artinya, seperti sepotong bait lagu yang berjudul Sejarah yang diam-diam sering didengarkan Baek Hyun karena menurutnya Chan Yeol lebih tampan dari salah satu member yang menyanyikan lagu itu.

 

Chan Yeol mulai menurunkan wajahnya, posisi sejajar itu membuat Baek Hyun gugup. Apa ini sudah saatnya menyerahkan ciuman pertama?

 

Nyatanya Chan Yeol tidak menghentikan gerakannya saat kedua hidung mereka bertabrakan. Chan Yeol justru memiringkan wajahnya agar penghalang itu tersingkir. Baek Hyun menyerah. Impiannya untuk memberikan ciuman pertama pada lelaki tampan yang ia cintai sepertinya akan kandas di bibir Chan Yeol.

 

Tapi… setidaknya Chan Yeol itu tampan. Jadi impiannya tidak kandas-kandas juga.

 

“Kau sudah mengerti?” tanya Chan Yeol saat Baek Hyun sudah lebih dari sekedar siap untuk menerima bibir lain di atas bibirnya.

 

“Eh?” ia terheran-heran, terlebih saat membuka mata, wajah Chan Yeol sudah menjauh. Apa rasanya berciuman memang sehambar itu? Seperti meraup udara kosong? Apa semua penjabaran dalam novel cinta yang ia gilai itu terlalu berlebihan?

 

“Tenang saja, aku jelas tidak akan menciummu tanpa persetujuan. Walaupun kita sudah menikah, aku tetap menghargai hakmu.”

 

Oh… Chan Yeol tidak menciumnya. Mana mungkin dengan semua perasaan hebat yang mengiringinya tadi, berakhir dengan meraup udara kosong. Pasti berciuman akan lebih hebat dari pada semua hal yang dilakukan Chan Yeol untuk membuatnya hampir kejang-kejang. Terlebih pada tubuh bagian bawahnya yang sudah basah sejak tadi.

 

Kaki Baek Hyun ternyata sampai keringat dingin.

 

“Mau kemana?” tanya Baek Hyun saat Chan Yeol beranjak dari duduknya.

 

“kamar mandi. Ini harus diselesakan. Aku tidak mau terkena resiko impoten hanya karena berhenti di tengah jalan. Kau benar-benar menggairahkan, dan aku tidak bercanda,” itu penjelasan singkat Chan Yeol sebelum tubuh jangkungnya menghilang di balik pintu kamar.

 

Apa yang harus diselesaikan Chan Yeol di kamar mandi? Apa perutnya mulas? Apa dia juga segugup itu? Dan apa itu impoten?

 

Masa bodoh. Tapi Baek Hyun langsung bergerak menyambar laptopnya, membuka file lamanya mengenai kisah romansa Chris and Bryan. Otaknya seperti menggebu-gebu karena sesuatu.

 

Ini dia… ini feel  yang dimaksud editor berdarah china itu. Jadi begitu rasanya hendak dicium? Berdebar-debar tidak karuan, ada sensasi luar biasa yang menjalar ke seluruh tubuh dan…

 

Ide Baek Hyun mulai menggila. Tidak pernah seumur hidupnya mengetik selancar itu. Bisa jadi ia akan menyerahkan naskah mentah besok pagi. Persetan dengan typo, apa gunanya editor?

 

***

 

 

~Kerikil lepas~

 

 

Siang itu cukup terik. Sang raja api tengah semangat-semangatnya menebar lidah kemana-mana, bahkan 7 lapisan atmosfer masih tidak cukup tangguh untuk menghadang hawa yang jaraknya masih ratusan tahun cahaya dari pusat panas. Panasnya tidak main-main, menambah kerja metabolisme tubuh dua kali lipat dan mempercepat proses dehidrasi. Terlebih bagi orang yang semalam suntuk begadang karena cukup banyak manusia yang mengalami kelainan pada organ dalam tubuhnya. Setidaknya ada sekitar 5 atau 6 pasien yang perutnya habis dibongkar pasang oleh dokter muda yang telah menikah beberapa bulan yang lalu. Keberadaan pria bermarga Park di sebuah café resto yang menyediakan berbagai jenis minuman hangat dan dingin juga makanan berat dan ringan adalah sebagai alasan bahwa tubuhnya butuh rehat setelah sejak malam hingga pagi ia berada di rumah sakit memimpin jalannya operasi yang menjadi tanggung jawabnya. Itu membanggakan tentu saja. Menambah jam terbang hingga nanti Chan Yeol bisa mengobrak-abrik organ tubuh manusia tanpa membuka mata.

 

Oke itu hal paling hiperbolis yang pernah ada. Hanya sebagai bukti bahwa Chan Yeol butuh lebih banyak pengalaman.

 

“Bukankah itu Nyonya Park?” tegur Su Ho, atau lebih sering dipanggil dokter Kim oleh rekan-rekannya. 2 tahun lebih senior dari pada Chan Yeol tapi bukan dari kelompok yang suka memojokkannya. Itu mengapa ia suka mengikuti seniornya yang satu ini. selain dia ramah, tangannya juga terlalu mudah menarik kartu kredit dari dompet untuk membayar semua tagihan yang bahkan bukan darinya. Chan Yeol tidak miskin, tapi siapa yang menolak makanan gratis yang mewah dan enak

 

“Jangan bercanda Hyung. Ibuku baru menelpon tadi pagi, dia masih sibuk dengan butiknya di Jepang dan tidak ada rencana ke Korea sampai tahun depan,” balas Chan Yeol sambil menikmati sajian di hadapannya. Sedikitpun tidak ada niat menoleh ke objek yang dikatakan Su Ho sebagai nyonya Park. Seniornya itu pasti sedang mengerjainya.

 

“Bukan nyonya Park ibumu, tapi nyonya Park yang kau nikahi 2 bulan yang lalu.”

 

“Ha? Baek Hyun?” Chan Yeol langsung menoleh spontan, dan benar dia menemukan sesosok pemuda mungil (dan cantik tentu saja plus bokong yang sebenarnya sangat seksi) tengah duduk dengan segelas jus strawberry di depannya. Chan Yeol kontan tersenyum lebar. Sangat jarang dia bertemu dengan pendamping hidupnya itu di luar rumah. Dan yang lebih penting, sedang apa dia? Apa dia tidak ada kuliah?

 

“Kau memanggil istrimu dengan namanya saja?” pertanyaan Su Ho membuat Chan Yeol kembali menoleh. Seperti gerakan yang tidak disadari, ia membetulkan kemeja dan juga rambutnya, mungkin bersiap untuk menghampiri.

 

“Kalau boleh jujur, kau jangan menyebut Baek Hyun sebagai istriku Hyung, dia memang tidak akan mengamuk, tapi dia tidak suka disangkut pautkan dengan hal-hal yang berbau perempuan walau terkadang dia terlihat lebih girly dari semua wanita yang kukenal.”

 

“Lalu bagaimana aku harus menyebutnya. Kukatakan sebagai Nyonya Park, kau mengira aku menyebut ibumu.”

 

Chan Yeol sebenarnya sedkit gelisah. Rasanya ingin sekali menghampiri Baek Hyun, tapi demi mempertahankan etika kedokteran (karena yang bersamanya sekarang adalah seorang dokter), Chan Yeol memilih meladeni Su Ho dulu untuk mengobrol. “Panggil saja namanya. Jika orang menanyakan siapa, katakan saja Baek Hyun adalah pemuda yang dinikahi Park Chan Yeol beberapa bulan yang lalu. Itu sudah cukup Hyung.”

 

Su Ho menghela nafas panjang. Itulah kenapa ia katakan pada Chan Yeol bahwa menikah dengan orang yang bergender sama sedikit lebih rumit. Selain mereka tidak akan bisa mendapatkan keturunan, ada beberapa hal ambigu yang sulit dijelaskan dengan bahasa sehari-hari. Sebut saja istri. Seperti yang Chan Yeol bilang, Baek Hyun menolak sipanggil istri. “Tapi ngomong-ngomong Chan Yeol, siapa pria tinggi yang menghampiri pemuda yang kau nikahi beberapa bulan yang lalu  itu?”

 

Sedikit terperanjat, Chan Yeol menoleh lagi ke arah Baek Hyun yang memang sedang tersenyum menyambut pria tinggi berambut pirang yang tanpa sungkan menarik kursi untuk duduk di hadapannya. Baek Hyun memang sering tersenyum, tapi senyum yang itu cukup jarang dilihat Chan Yeol. Apa… teman lama?

 

Oh Chan Yeol baru ingat kalau Baek Hyun pernah mengatakan sempat dekat dengan seorang pria yang melobinya ke pihak penerbitan. Apa itu orangnya? Sial… dia tampan sekali.

 

“Aku tidak tahu, mungkin kenalannya.”

 

“Wah… kenapa justru aku yang merasa cemburu?”

 

Chan Yeol tertawa karena sindiran Su Ho itu, membatalkan niat menghampiri Baek Hyun. Sepertinya memang pertemuan kedua orang di sana sudah direncanakan sebelumnya. Chan Yeol memilih menjadi orang bijak untuk tidak mengganggu. Baginya, mencuri masa lajang Baek Hyun sudah lebih dari sekedar keterlaluan. Lagipula, Baek Hyun itu orang yang sangat baik, juga berprinsip. Dia menghargai suatu hubungan. Menikah tanpa dasar cinta bukan berarti hubungan mereka rapuh. Saling mengerti, menghargai dan saling percaya masih bisa mereka andalkan di tahun pertama pernikahan mereka.

 

Yah… walau sebenarnya terasa ada yang mengganjal bagi Chan Yeol. Mungkin sebelum memakai sepatu, ada kerikil yang tersesat di lapisan dalam sepatunya. Dan rasa-rasanya ia akan menolak ajakan Su Ho untuk minum-minum malam itu. Lain kali saja mungkin.

 

Chan Yeol menyeka keringat di pelipisnya. “Ruangan ini panas sekali Hyung.”

 

Dan Su Ho hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala berkali-kali. Adik kelasnya itu sungguh memiliki gengsi yang tinggi. Ruangan itu full AC, sekedar info. Alasan kenapa Su Ho masih bisa memesan kopi panas dengan krim banyak. Dan… kenapa jus jeruk yang diteguk Chan Yeol tidak meredakan hawa panas orang itu.

 

“Ah… ingin rasanya aku cepat-cepat menikah juga.”

 

 

***

 

~Anggap saja aku cemburu~

 

 

“Aku pulang…”

 

Chan Yeol menoleh pada pintu tanpa daun yang membatasi ruang tamu dengan ruang tengah. Baek Hyun muncul dengan beberapa kantong belanjaan di tangannya.

 

“Hm, dari belanja?” sambut sang suami. Ia berjalan mengiringi Baek Hyun, membantunya membawa beberapa kantong belanjaan menuju dapur.

 

“Iya. Persediaan makanan mulai menipis. Aku khawatir beberapa hari kedepan aku terlalu sibuk dengan persiapan perilisan novel perdanaku. Jadi, aku belanja lebih awal saja. Oh ya, kau sudah makan malam?” balas Baek Hyun sambil menyusun sayuran dan buah-buahan ke dalam kulkas setelah mencucinya.

 

“Sudah. Ditraktir senior tadi.”

 

Bohong. Sebenarnya Chan Yeol lapar. Ia sedikit berharap Baek Hyun tidak bertanya dan langsung memasak untuknya. Bukankah itu tugas seorang istri? (jangan beritahu Baek Hyun, Chan Yeol hanya menyebutnya dalam hati).

 

Terlalu gengsi atau sedikit segan, mungkin keduanya, apalagi Baek Hyun terlihat lelah. Sebenarnya indra pengecap Chan Yeol mulai terbiasa dengan makanan yang diolah Baek Hyun. Jujur saja semakin hari, Baek Hyun sudah semakin layak untuk memegang spatula di dalam dapur. Dia hanya terlambat belajar hingga Chan Yeol terkena imbasnya untuk mencicipi eksperimen pertama Baek Hyun dulu. Di hari pertama setelah mereka menikah pula.

 

“Kubuatkan kopi?” tawar Baek Hyun lagi.

 

“Boleh. Tadi ada acara TV yang menarik. Dan lagi, kau belum menceritakan perkembangan novel perdanamu.”

 

“Iya, tunggulah di ruang tengah. Kupanaskan airnya dulu.”

 

Tidak cukup 20 menit, Baek Hyun menyusul Chan Yeol untuk duduk di sofa ruang tengah dengan 2 cangkir kopi di tangannya. Satu diletakkan di atas meja, persis di depan Chan Yeol, dan satu lagi di meja sudut yang dekat dengan tempatnya duduk. “Bagaimana harimu?”

 

“Melelahkan,” Chan Yeol melirik kopi di depannya. Baek Hyun semakin ahli membuat kopi krim tanpa ampas.

 

“Sepertinya kau butuh istirahat, Chan Yeol. Apa besok kau masih kerja?”

 

“Tentu saja. Aku hanya dapat jam istirahat hari ini saja.”

 

Chan Yeol menyadarinya, Baek Hyun dengan dua mata mungil serupa mata kucing menatapnya dari samping. Ekspresi prihatin itu tidak bisa disembunyikan.

 

“Jika tidak keberatan, aku bisa memijat punggungmu Chan Yeol.”

 

Tawaran yang lebih dari sekedar menggiurkan. Lihat jemari itu, sandingkan dengan jemari milik wanita tulen dan Chan Yeol yakin 100% akan sulit membedakan mana yang lebih lentik. Terkadang Chan Yeol membayangkan, akan seperti apa wujud Baek Hyun saat pemuda itu mengenakan wig panjang. Minimal sebahu.

 

Oke, pikiran Chan Yeol mulai tidak fokus.

 

“Kenapa aku harus keberatan. Justru aku khawatir kau terlalu lelah. Jadi tidak usah saja,” tolak Chan Yeol setengah-setengah. Membayangkan jemari cantik itu menari di atas kulitnya… dan…

 

“Tidak, aku tidak selelah itu,” Baek Hyun berdiri dan meletakkan bantal di pinggir sofa panjang. “Berbaringlah dengan posisi tengkurap. Aku tidak menjanjikan kalau pijatanku akan mengurangi lelahmu, tapi aku akan berusaha.”

 

Oh baiklah, Chan Yeol penganut prinsip ‘tidak akan ada kesempatan kedua’, untuk itu dengan gengsi yang masih dipertahankan, ia hanya mengangguk kemudian menganggalkan kaos oblongnya dan menelungkup di tempat yang disediakan Baek Hyun.

 

“Sebenarnya tidak harus buka baju juga. tapi ya sudahlah.”

 

Yakinkan Chan Yeol kalau itu bukan teguran telak. Bayangkan bagaimana malunya Chan Yeol kalau saja Baek Hyun berpikir bahwa suaminya itu sedang memberi kode keras kalau dia ingin.

 

Itu.

 

Ayolah, ini sudah hampir 3 bulan sejak mereka menikah dan tidak ada kemajuan sama sekali. Chan Yeol akan ditertawai habis-habisan oleh senior yang sering memojokkannya itu kalau mereka mengetahui bahwa baik Chan Yeol dan Baek Hyun sama-sama masih virgin.

 

Tidak usah melambung terlalu jauh membahas keperjakaan. Saling menyentuh bibir saja sepertinya sangat mustahil. Mengingat tidak ada perubahan berarti sejak Chan Yeol memberikan gambaran luar sebagai inspirasi novel romansa milik Baek Hyun. Walau sebenarnya itu berhasil, entah apa yang ditulis Baek Hyun hingga novel itu tinggal menghitung hari menunju tanggal perilisan.

 

“Eh?”

 

Chan Yeol tersentak saat ia merasakan beban yang cukup berat di bagian pinggangnya. Dan ia tidak perlu menoleh untuk memastikan bahwa Baek Hyun duduk di atasnya. Karena detik selanjutnya ia merasakan sesuatu yang ‘enak’ menjalar di sekitar punggungnya.

 

Terlalu cepat berpikiran erotis. Apa Baek Hyun pernah bekerja di panti pijat? Sial… dia ahli sekali. Ternyata jari-jari lentik itu tercipta cantik tidak hanya untuk anatomi saja. Secara fisiologi, jemari itu sungguh luar biasa. Tinggal menghitung mundur, kapan pertahanan Chan Yeol runtuh sebagai pria baik-baik dan bijak agar ia tidak membalikkan badan dan langsung meraih Baek Hyun ke dalam rengkuhannya tanpa lepas.

 

“Ngh…” Chan Yeol kelepasan. Ia sigap membenamkan wajahnya di atas bantal agar meredam desahan menjijikkan itu. Ini baru jemari cantik Baek Hyun yang bekerja, bagaimana dengan tubuh cantiknya?

 

Chan Yeol sadarlah, kau bukan pemerkosa seperti yang kau janjikan.

 

“Baek Hyun…” panggil Chan Yeol. Mekanisme pengalihan pikiran yang terlalu menjurus ke arah yang iya iya.

 

“Hm? Apa terlalu keras?”

 

“Tidak… tidak. Pijatanmu enak,” Chan Yeol mengerutkan kening atas jawabannya sendiri. Tampaknya ia harus mulai berhati-hati dalam mengucapkan sebuah kalimat. Dikhawatirkan menimbulkan kecurigaan karena maknanya ambigu. “Maksudku,  itu sudah lebih dari cukup. Aku hanya ingin mengobrol.”

 

“Silakan.”

 

“Tadi… selain kuliah dan berbelanja, kau kemana?”

 

“Hm? Kemana?” Baek Hyun justru bertanya ulang. Atau mungkin itu kebiasannya kalau sedang berpikir. Chan Yeol sedikit bertaruh. Mungkin predikat Baek Hyun sebagai orang baik akan segera ia copot kalau saja ia tertangkap basah berbohong.

 

“Sepulang kuliah, aku langsung berbelanja.”

 

Sayang sekali, jawaban Baek Hyun sangat mengecewakan.

 

“Tapi sebelum masuk ke supermarket, temanku menelpon dan minta bertemu. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya, karena seminggu sebelum kita menikah, dia pergi ke China untuk menyelesaikan permasalahan keluarganya. Kalau tidak salah dengar mengenai harta warisan.”

 

Terlalu cepat menilai. Baek Hyun ternyata masih orang baik.

 

“Kalian bertemu?”

 

“Iya, apa kau tahu café yang terletak tidak jauh dari tempatmu bekerja? Kami bertemu di situ. Anehnya dia sama sekali tidak tahu kalau aku sudah menikah. Saat dia bertanya kenapa aku memakai cincin di jari manisku, kujawab saja dengan kenyataan yang ada, tapi aku tidak menceritakan proses lamaranmu yang ajaib itu, hanya bagian kau datang melamarku dan kita menikah seminggu kemudian. Setelahnya dia membelalak dan tidak bicara lagi. Tadi saja aku meninggalkannya karena kuajak bicara, dia tidak menggubrisku.”

 

Ada senyum nakal terukir di bibir Chan Yeol, beruntung sekali posisinya yang tengkurap justru membuatnya bebas berekspresi. Sedikit menyayangkan kenapa dia memutuskan pulang lebih cepat saat itu, andai saja tidak, dia pasti bisa menyaksikan fenomena seru itu. Mungkin bisa ditambah dengan kehadirannya di samping Baek Hyun, berlagak seolah kaget mendaati istrinya tengah duduk berdua dengan pria lain, bersikap sangat pengertian dan dengan sebuah kecupan hebat di bibir…. “Dia shock pasti,” ucapan Chan Yeol sebenarnya tertuju pada imajinasi liarnya.

 

“Entahlah. Kami hanya teman dekat. Tidak ada alasan kuat sampai dia shock. Dia sangat tampan, bisa memacari belasan bahkan puluhan gadis. Atau laki-laki, berhubung dia suka laki-laki.”

 

“Apa kau menyukainya?”

 

“Iya.”

 

Dan jawaban spontan itu juga menghasilkan reaksi spontan. Chan Yeol berbalik, namun tidak secara penuh dan itu membuat Baek Hyun hampir terjatuh kalau saja ia tidak berpegangan di lengan Chan Yeol. “Kau bilang apa?”

 

“Ap… Apa? Yang mana?”

 

Chan Yeol membetulkan posisinya, menggeser Baek Hyun dari pinggangnya hingga kini mereka duduk berhadapan. “Bagian… kau… menyukainya.”

 

Sebelah alis Baek Hyun terangkat. Isyarat kalau ia merasa tidak ada yang salah dengan pernyataan barusan. “Eum, iya. Maksudku… aku memang menyukainya, kami sudah hampir berpacaran kalau saja kau tidak mengajakku menikah lebih dulu.”

 

Meneliti. Jika ada sedikit saja celah bahwa pemuda di hadapannya berbohong atau minimal mengerjainya. Tapi pemuda itu terlalu jujur, dan memang sulit atau tidak pernah ada niat untuk menyembunyikan apapun. tipe yang blak-blakan dan mengutarakan apa yang berputar di otaknya saat itu juga. tipe yang benar-benar polos dan harus dinodai. Dalam artian diberi warna mengenai pengalaman hidup.

 

“Apa kau akan menjawab hal yang sama jika aku bertanya sekarang. Saat kau sudah menerima statusmu sebagai… kau tahu, pendampingku?” tanya Chan Yeol harap-harap cemas.

 

Satu ulas senyuman mengirim pertanda baik. “Kurasa biasa saja. Aku dulu menyukainya karena dia sangat tampan dan pandai berbahasa Inggris. Terlebih dia punya kenalan sesama orang china yang bekerja di perusahaan penerbitan. Sekarang… aku tidak tahu. Dia masih tampan, tapi… yah biasa saja.”

 

Kalau jawaban itu, Chan Yeol berharap Baek Hyun tidak bohong. Dibayar berapapun juga Baek Hyun sepertinya tidak akan bohong. Pemuda itu terlalu… baik.

 

“Baguslah kalau begitu.”

 

“Kenapa kau mengatakan bagus?”

 

“Ya artinya aku tidak menghalangi hubungan kalian. Ah tentu saja itu juga sudah tidak boleh karena kau sudah bersamaku sekarang. Bukan bermaksud mengekang. Tapi apa kata orang kalau kau menjalin hubungan dengan orang lain sementara kau sudah berikrar di hadapan Tuhan untuk menjad pendampingku.”

 

Baek Hyun mengangguk paham. Sekali lagi mengulas senyum andalannya, membuat apa saja meleleh. Tapi tidak dengan benda mati di sekitarnya, itu berbahaya. Bisa-bisa mereka kehilangan tempat tinggal. Yang meleleh adalah sesuatu yang diyakini Chan Yeol ada di rongga dadanya. Ia berharap itu bukan jantungnya atau apapun yang mengharuskannya dilarikan ke rumah sakit.

 

“Aku mengerti. Itu memang tidak baik. Itu namanya berselingkuh. Tapi aku sedikit penasaran kenapa kau cukup terkejut. Apa ini juga mempengaruhimu?”

 

Seperti tersedak sesuatu. Chan Yeol terbatuk beberapa saat kemudian melempar pandangan ke arah lain. Tiba-tiba saja, layar datar TV nya terlihat begitu menarik walau hanya menampilkan warna hitam buram. “T… Tentu saja tidak.”

 

Hening. Nyatanya Chan Yeol juga tidak pandai berbohong. Tidak bisa lebih tepatnya.

 

“Baiklah. Itu berpengaruh. Aku suamimu, dan anggap saja… aku cemburu.”

 

Kali ini Baek Hyun memilih tertawa. Ia mengangkat tangannya dan ia letakkan di pipi Chan Yeol. “Aku tidak akan membuatmu cemburu. Jadi lakukan pula hal yang sama.”

 

Chan Yeol tidak ingat bagaimana proses atau rentetan kejadian hingga ia bisa jatuh cinta pada mantan pacarnya dulu. Yang ia tahu, ia dan mantan pacarnya itu sudah bersama sejak sekolah menengah. Sering jalan bersama, kencan, berpegangan, berpelukan, bahkan berciuman. Intinya yang dia ingat, bagian jatuh cintanya saja. Permulaannya ia rasa tidak penting.

 

Waktu berbeda, tempat berbeda, orang berbeda. Chan Yeol tidak bisa menegaskan kalau ia sudah jatuh cinta. Ia tidak mungkin semudah itu jatuh cinta dua kali bukan? Sebenarnya Chan Yeol pernah mendengar, obat patah hati yang paling mujarab adalah jatuh cinta lagi. tapi mengenai itu bisa dianggap sebagai kebenaran atau tidak, mungkin dimensi yang namanya waktu akan menjawabnya tidak lama lagi.

 

***

 

~Lupa dan tidak tahu.~

 

Chan Yeol pernah mempertanyakan, apa sebuah pabrik yang memproduksi barang elektronik bernama AC telah melewati beberapa uji coba dan pertimbangan? Jujur saja, bangun bangun dalam keadaan tampan dan kedinginan itu sedikit berbahaya. Apalagi bagi dirinya, pria sehat yang sudah menikah 5 bulan yang lalu. Jika saja pernikahannya melewati proses yang normal seperti pasangan yang lain, misalnya saling mencintai dan rentetannya, ia tidak akan begitu polosnya mempersalahkan produsen barang elektronik karena itu tidak ada hubungannya. Mereka sudah mempertimbangkan baik buruknya dengan menyediakan pengatur suhu dan tombol off pada remote control nya. Permasalahan sebenarnya hanya terletak pada Chan Yeol yang masih sungkan menghampiri Baek Hyun di dapur dan meminta sebuah pelukan hangat.

 

Kusut, kedinginan, dan tampan. Apa masih kurang sebagai alasan untuk Baek Hyun datang padanya dan mengganti selimut Chan Yeol menjadi dirinya?

 

Oh pernikahan ini.

 

“Eum… bagaimana menjelaskannya. Aku tidak bisa, lagipula suamiku tidak akan mengizinkan. Tolong mengertilah. Aku sudah menikah.”

 

Kening Chan Yeol mengerut heran. Itu suara pemuda yang dinikahinya 5 bulan yang lalu, sepertinya sedang mengobrol dengan seseorang. Chan Yeol yang berniat untuk menghampiri justru terhenti di ruang tengah setelah mendapati jejeran bingkisan, bunga, kue dan apa saja yang mengingatkan Chan Yeol pada sebuah kata yang bernama hadiah kini memenuhi ruang tengahnya. Hari apa ini? kenapa Baek Hyun begitu romantis padanya? Apa Baek Hyun juga kedinginan? Apa ini pertanda baik?

 

“Aku sudah menikah Kris. Bagian mana yang tidak kau mengerti sebenarnya? Hanya karena kau tidak pernah melihatku jalan dengan suamiku, bukan berarti aku cukup gila dengan menciptakan tokoh fiktif untuk kehidupanku sendiri. Dan jangan membahas cinta.”

 

Kris? Siapa itu? Apa pria yang hampir menjadi pacarnya?

 

Chan Yeol berjalan menuju dapur, bertepatan saat Baek Hyun menoleh padanya. Kontan merubah ekspresi menjadi sangat hangat dengan sebuah senyum penakluk sukma sebagai sambutan selamat pagi. Chan Yeol membalas dengan senyum yang sama, dihampirinya meja makan yang seperti biasa sudah lengkap dengan segala hidangan pengganjal perut untuknya.

 

“Sudah dulu Kris. Suamiku sudah bangun. sampai jumpa.”

 

Baek Hyun menghentikan obrolannya via smartphone dan meletakkan benda itu di atas meja makan setelah ia menggeret kursi dan berhadapan dengan Chan Yeol.

 

“Bagaimana tidurmu? Kenapa bangunnya cepat sekali?” sambut Baek Hyun serutin biasanya.

 

“Tadi malam tidak begitu banyak pasien jadi aku sempat tidur satu jam di rumah sakit. Dan tidur pagi itu membuatku sakit kepala. Akan kulanjut saja nanti siang.”

 

Chan Yeol berhenti beberapa saat ketika ia mendapati semangkuk sup rumput laut di depannya. Nasi, dan beraneka jenis lauk. Tumben sekali Baek Hyun memasak banyak untuk sarapan, walau sekarang memang sudah pukul 10 sih. Dan… sup rumput laut?

 

“Eum, Baek Hyun? Kenapa di depan banyak kotak kado dan bingkisan? Bunga, kue, boneka… itu dari siapa?”

 

Baek Hyun mengangkat wajahnya. Menyodorkan piring setelah mencampurkan makanan untuk Chan Yeol. “Oh, itu pemberian dari beberapa orang. Bunga mawar dan boneka itu dari Kris yang dikirim pagi-pagi sekali, kue, kado dan lain lain itu dari editorku dan beberapa orang yang mengaku sebagai penggemarku.”

 

“Eum… kenapa mereka memberimu hadiah? Apa novelmu menjadi best seller?”

 

“Mungkin bisa dibilang begitu. Minggu ini akan dicetak lagi karena angka penjualan kemarin melebihi. Ini sudah masuk cetakan ke 3. Dan sebenarnya sebagian besar bingkisan di luar itu kado ulang tahun.”

 

Chan Yeol menghentikan kegiatannya menyantap makanan di depannya. Ia tatap Baek Hyun dengan perasaan yang mulai kurang nyaman. Tanggal berapa sekarang? Apa Baek Hyun ulang tahun?

 

“B… Baek Hyun… Apa sekarang ulang tahunmu?”

 

Dan anggukan pelan satu kali sebagai jawaban sudah cukup menjadi bom nuklir di kepala Chan Yeol. Menghamburkan otaknya hingga terburai tak berbentuk.

 

Tidak ada cinta dalam hubungan pernikahan mereka bukan berarti tidak ada perhatian dan pengertian. Demi Tuhan, hari ini adalah hari ulang tahun pemuda yang menyelamatkan namanya dari kehancuran dan Chan Yeol benar-benar lupa. Atau kalau boleh jujur, Chan Yeol sama sekali tidak pernah tahu kapan hari ulang tahun Baek Hyun. Panggil dia suami kurang ajar, dan dia tidak berhak memimpikan pelukan hangat lagi. biarkan saja dia mati kedinginan dalam keadaan tampan.

 

“Maaf. Aku lupa. Selamat ulang tahun Baek Hyun. Semoga kau bahagia selalu,” ucapnya setelah berhasil meraih tangan Baek Hyun dan mengusap jemari cantik itu dengan ibu jarinya.

 

“Terima kasih. Kau sangat baik Chan Yeol.”

 

Satu hal yang semakin diketahui Chan Yeol. Baek Hyun itu ahli sekali dalam menyindir. Walau sebenarnya ia juga ragu itu sindiran atau memang tulus sebagai ucapannya. Masalahnya adalah, Chan Yeol tersindir telak. Dari segi mana Chan Yeol dikatakan baik? Bagian mengucapkan ulang tahun paling terakhir? Tidak memberikan kado? Atau ketahuan terang-terangan kalau dia lupa (lebih tepatnya tidak tahu) hari ulang tahun orang yang sudah mendampinginya selama 5 bulan? Wah… Chan Yeol sangat baik.

 

“Oh ya Baek Hyun, apa ada sebuah benda yang kau inginkan? Atau sesuatu yang sangat kau butuhkan?”

 

Sebuah senyuman manis dan gelengan polos mengantarnya pada jawaban tidak. “Dalam waktu dekat ini tidak. Semuanya lengkap, kurasa. Penghasilanku sudah lumayan bertambah, sesekali aku yang akan memenuhi biaya hidup kita, ya sebulan dua bulan mungkin. Kau bisa menyisihkan gajimu jika saja suatu saat kita membutuhkan sesuatu yang mendesak.”

 

Chan Yeol menggumam. Sedikit lega karena Baek Hyun tidak pernah memberi batasan berarti dalam masalah finansial mereka. Awalnya Chan Yeol sedikit ragu jika saja Baek Hyun tersinggung saat Chan Yeol memberinya uang bulanan. Menurut berbagai referensi, itu tugas kepala rumah tangga untuk mencari nafkah bukan? Dan selalu, Baek Hyun akan menjadi pihak yang baik karena dia mengerti masalah itu. Secara keseluruhan dalam membina rumah tangga, Baek Hyun mengerti perannya. Dia sudah sangat pandai memasak, mungkin sudah menjadi hobbi, dia rajin membersihkan rumah, dan jangan lupa mengenai cucian. Sudah 5 bulan Chan Yeol tidak menyentuh detergen dan mesin cuci. Yah, semuanya bisa dilakukan Baek Hyun, kecuali satu. Hanya di bagian di mana ia seharusnya mengisi tempat kosong di ranjang Chan Yeol yang besar. Mungkin itu masih lama.

 

“Ya, kau benar. Lagipula kau sudah mendapatkan banyak dari… siapa tadi mantan calon pacarmu?”

 

Kali ini Baek Hyun terkikik. Ia meraih sendok yang tidak dipakai dan mengetuk ringan punggung tangan Chan Yeol di atas meja. “Jangan tersinggung. Sebenarnya aku juga tidak butuh boneka dan mawar. Tapi tidak apa-apa. Bonekanya diletakkan saja sebagai hiasan. Ah, aku juga melihat vas kosong di lemari. Kita bisa meletakkan mawarnya di situ. Dan… Oh ya Chan Yeol, kau libur hari ini kan? Di luar sangat banyak kue. Kita bisa menghabiskannya sedikit demi sedikit sambil menonton DVD. Editorku mengirimkan beberapa film. Dia bilang di antaranya ada selipan AV. Apa itu AV?”

 

Chan Yeol terbatuk telak. Ia langsung menyambar susu putih yang disediakan Baek Hyun pagi itu. Kebiasaan pemuda itu jika tahu bahwa Chan Yeol libur. Jika ada aktifitas, Baek Hyun menyediakan kopi. Dan Chan Yeol suka itu. “Kupikir nonton yang lain saja. Jangan yang itu.”

 

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Chan Yeol, apa itu AV?”

 

Setetes keringat bergulir di pelipis Chan Yeol. Rasanya jadi hangat begini. Seingatnya dia tadi bangun dalam keadaan dingin. Ini berita buruk. “Itu… err… bagaimana menjelaskannya. Itu AV itu adult video. Yah seperti namanya, isinya konten dewasa.”

 

Dan reaksi yang tidak diduga Chan Yeol justru ia dapatkan dari pemuda di hadapannya itu. Dua pasang mata kecil yang membulat antusias, jangan lupa binar-binar harapan di sana. “Benarkah? Ayo kita nonton. Aku butuh referensi untuk sekuel novelku.”

 

“Baek Hyun, isinya tidak baik. Dan… tidak boleh dinonton oleh dua orang yang belum terikat.”

 

“Terikat? Maksudmu menikah? Kita sudah menikah.”

 

“Ck, ini perkaranya lain. Tidak boleh ya tidak boleh.”

 

“Kenapa? Apa kau tidak suka?”

 

Dan pembicaraan itu sepertinya tidak akan berhenti begitu saja. Tumben sekali Chan Yeol tidak punya akal untuk berkelit. Kalaupun Chan Yeol berani membelokkan topik, rasa penasaran yang menggebu-gebu yang terpancar dari wajah pemuda manis di hadapannya itu akan mengembalikan alur permbicaraan mereka. Chan Yeol harus berhati-hati dalam pemilihan kata. Sedikit saja ia terpeleset, maka ia sendiri yang akan terjebak. Hampir setengah tahun, dan dia tidak mendapatkan nafkah batin, itu terlalu menyiksa. “Bukan tidak suka. Hanya… tidak baik. Apalagi kita menontonnya berdua.”

 

“Memangnya konten seperti apa?”

 

“I… Itu…”

 

“Hm, atau mungkin kutonton bersama editorku saja. Atau…” Baek Hyun tampak menerawang, sepertinya anak itu benar-benar serius. “Kris mungkin mau.”

 

Chan Yeol menghentikan gerakannya menyantap makanan. Ia tatap pemuda di depannya yang masih mempertimbangkan sesuatu, seolah itu sangat penting. “Kris itu siapa?”

 

“Oh, itu. Pria yang melobiku ke pihak penerbitan. Yang kau bilang tadi, mantan calon pacarku.”

 

Kali ini bukan hanya perasaan hangat. Hei, jam berapa sekarang. Kenapa rasanya matahari sudah tinggi sekali? Apa Baek Hyun lupa membuka jendela? Ah atau justru udara luar yang membuat ruangannya terasa panas?

 

“Jangan. Aku tidak membolehkan.”

 

“Eh? Kenapa? Jadi aku harus menontonnya sendirian?”

 

Chan Yeol meletakkan sendoknya di atas piring. Meneguk air putih yang juga sudah tersedia tadi. Selanjutnya, ia tatap Baek Hyun cukup intens. “Apa kau mau menonton film yang isinya adalah 2 orang dewasa yang sedang bersetubuh?”

 

Baek Hyun membelalak. Hampir tersedak makanannya. “B… Bersetubuh?”

 

“Kalau aku menyebutkan konten dewasa, itu sudah menjurus ke sana. Jangan sekali-sekali menontonnya dengan orang lain. Aku tidak membolehkan,” Chan Yeol berdehem sejenak, melonggarkan tenggorokannya yang sangat gatal, “kita akan menontonnya kapan-kapan. Tapi tidak sekarang. Mungkin itu bagus untuk dijadikan referensi nantinya.”

 

“Referensi? Untuk menulis novel vulgar?”

 

“Pikirkan saja sendiri.”

 

“Referensi untuk apa? Kau  juga ingin menulis?”

 

Chan Yeol menghela nafas. Memejamkan mata perlahan, kemudian kembali memusatkan titik fokus pada perangai murni di hadapannya itu. “Kapan-kapan akan kujelaskan. Mungkin sekalian prakteknya. Jadi, habiskan sarapanmu. Kita ke depan dan makan kue. Bukankah kau belum meniup lilin ulang tahun?”

 

Tawa renyah Baek Hyun menghiasi ruang makan. Membayangkan prosesi tiup lilin itu kesannya kekanakan, tapi mereka hanya berdua. Rasanya sah-sah saja. “Aku sudah 23, Chan Yeol.”

 

“Hm, dan beberapa bulan lagi aku 27, dan kita belum melakukan apapun.”

 

“Eh…”

 

“Ayo. Rasanya ingin sekali mencicipi yang manis-manis.”

 

 

***

 

Best Birthday Ever

 

 

Seharian hanya dihabiskan Baek Hyun bersama Chan Yeol di ruang tengah. Tidak ada yang terlalu istimewa. Tapi menurut Baek Hyun, itu adalah hari terbaik. Belum pernah ia merasa sesenang itu saat menghabiskan hari ulang tahunnya, setidaknya bukan dengan merenung di dalam kamar sambil membaca novel kemudian besoknya ia baru memeriksa ponselnya bahwa ada ajakan keluar untuk makan malam karena umurnya sudah bertambah sehari sebelumnya. Yah, Baek Hyun memang terkadang melupakan hari istimewanya itu, namun kini setelah menikah, perubahannya cukup drastis. Walau hanya mengobrol lepas, makan kue dan menonton drama China yang salah satu pemerannya mirip dengan editor Baek Hyun. Judulnya Kembali ke usia 17. Tapi sebenarnya, mereka lebih banyak mengobrol dari pada menonton. Kaki mulus milik Baek Hyun diluruskan dan bertumpu di atas pangkuan Chan Yeol karena pria itu menawarkan pijatan betis profesional. Itu kata Chan Yeol, namun kenyataannya itu terlihat lebih kepada mengelus dan meraba dari pada memijat. Telapak tangan yang tidak halus seperti memberi sensasi tersendiri di kulit Baek Hyun, makanya ia hanya membiarkan itu berlangsung selama mereka mengobrol.

 

Ia ingat obrolan yang membuat mereka sempat berada pada fase diam dan berdebar. Itu karena pertanyaan polos Baek Hyun.

 

“Chan Yeol, apa yang akan kau lakukan jika saja kau diberi kesempatan untuk kembali ke usia 17?”

 

Dan tanpa ragu Chan Yeol menjawab, “Aku akan ke perpustakaan umum lebih awal untuk menemukanmu di sana.”

 

“Eh, kenapa?”

 

“Agar aku bisa mengenalmu lebih awal, kalau bisa menikahimu lebih cepat dari rencana. Dengan begitu, pernikahan kita bisa dimulai lebih awal, tahu tentang dirimu lebih awal dan mungkin bisa jatuh cinta padamu lebih awal.”

 

Dan hal yang terjadi selanjutnya adalah… tidak ada. Maksudnya, Baek Hyun tidak berkata apa-apa lagi, hanya menatap Chan Yeol tepat di matanya yang bergerak tidak fokus mencari objek lain sebagai pelarian. Apapun agar tidak bertumbukan dengan tatapan Baek Hyun dan menangkap basahnya dalam keadaan gugup. Tangannya di betis Baek Hyun mulai mengalami penurunan suhu, mendingin dan lembab.

 

“Ku… Kuenya sudah habis. Aku akan memotong lagi.”

 

“Apa kau yakin bisa jatuh cinta padaku? Maksudku bukan berarti aku ingin menikah denganmu di usiaku yang masih 13 tahun saat itu. Tapi jika benar kita bisa mengenal lebih awal, apa kau akan jatuh cinta padaku?”

 

Chan Yeol hanya menggosok tengkuknya yang berkeringat. Menggigit bibir sebagai pelampiasan kekesalan karena tidak cukup pandai merangkai kata hingga membuat suasana menjadi terlalu canggung untuk dilanjutkan. “Aku… Bisa saja seperti itu. Siapa yang tahu takdir.”

 

“Saat umurmu 17, apa kau sudah berpacaran dengan orang itu? orang yang menolak lamaranmu itu.”

 

“Ya… tentu saja. Kami sudah bersama sejak aku masih sekolah dasar.”

 

“Oh…”

 

“17 tahun adalah… saat di mana aku pertama kali menciumnya.”

 

Oke, pembicaraan semakin memburuk sejak saat itu. Dan Baek Hyun memilih diam, melanjutkan tontonannya. Pemeran di film itu mengalami kecelakaan dan dilarikan ke rumah sakit. Yang jadi masalah adalah, kenapa Baek Hyun yang merasakan dampak kecelakaan itu? Ada yang remuk redam di rongga dadanya.

 

“Akan kupotong kuenya. Tart berbentuk hati itu sepertinya enak. Baek Hyun, kau ingin sepotong?”

 

Baek Hyun mengangguk. matanya masih tidak lepas dari layar TV. Chan Yeol tidak menurunkan betis Baek Hyun yang masih bebas berada di pangkuannya. Pria itu mengambil kotak kue tart yang di maksud. Meletakkannya di atas tulang kering Baek Hyun sebagai penyangga.

 

Kue tart berbentuk hati dengan krim merah muda berbentuk mawar kecil kecil di pinggirannya, berhiaskan tulisan berbunyi ‘Happy birthday my Angel’ dan tepat di sudut bawah ada inisial huruf ‘K’ sebagai pengirim. Chan Yeol memotong kue itu dan membuang ujungnya yang terdapat huruf K tadi. Saat Baek Hyun bertanya kenapa, pria itu menjawab dengan cukup enteng ‘Tadi ada lalat yang hinggap, tapi sudah pergi’, dan saat Baek Hyun ingin mencicipinya, sapuan jari penuh krim merah mudah melintasi hidungnya dan menempel di sana. Itu adalah sebuah permulaan, setidaknya ada yang harus dilakukan Chan Yeol untuk memperbaiki atmosfer yang menebal di antara mereka. Chan Yeol tidak pernah menebak kalau Baek Hyun sangat suka bermain. Baek Hyun yang menatap Chan Yeol shock selanjutnya langsung melebarkan senyumnya dan menapakkan jemari indahnya di atas tart merah muda. Dan terakhir, setidaknya tart itu sudah tak lagi berbentuk karena semua lapisan krimnya berceceran di lantai, sofa, meja, dan lebih banyak di rambut, wajah, baju, dan tangan Chan Yeol. Baek Hyun terlalu gesit menghindar dan menyerang, dan Chan Yeol tidak bisa membalas. Wow… gesit menghindar dan menyerang. Mungkin itu tidak akan berlaku jika diaplikasikan pada permainan lain. Di kamar Chan Yeol yang dingin mungkin.

 

Seperti sebuah program komputer yang bisa menghapus apapun yang tidak diinginkan. Seolah tidak ada pembahasan yang menyerempet perasaan pribadi masing-masing barusan. Hanya ada ledakan tawa, barang-barang berjatuhan, nafas terengah di sela jeritan ‘Chan Yeol… Baek Hyun… Chan Yeol… Baek Hyun…’. Padahal mereka hanya  berlarian sampai ke ruang tamu. Seolah tak puas memporak-porandakan satu ruangan. Sasaran berikutnya adalah tempat yang paling bersih di apartemen mereka. Debu hanya akan terlihat jika menyertakan kaca pembesar. Baek Hyun cukup baik dalam hal kebersihan.

 

Bantal sofa beterbangan, taplak meja lenyap entah ke mana, vas kristal pun raib. Sebenarnya Baek Hyun cukup lincah mengamankannya dan menyimpannya di bawah meja. Jika ada yang melihat mereka, orang-orang akan segera menjudge bahwa masa kecil dua orang itu tidak bahagia. Tidak seperti itu sebenarnya, jika boleh dijelaskan dengan kata-kata, anggap saja itu adalah puncak dari sisi kekanak-kanakan mereka. Berlarian di dalam rumah, mengabaikan sakit saat lutut terantuk siku meja dan berakhir dengan Chan Yeol yang tersandung taplak meja yang ternyata ada di lantai saat berlari mundur dan Baek Hyun yang tidak cukup siap menginjak pedal rem ikut terjatuh dan mendarat telak di atas tubuh kekar suaminya.

 

“Aduh…” entah siapa yang mengeluh.

 

Saling menatap shock, refleks yang sangat lambat untuk segera memperbaiki posisi, karena tiba-tiba saja kedua mata yang bertumbukan itu seolah menemukan kunci masing-masing. Seperti ada yang dengan kurang ajarnya memutar lagu Serangan Jantung yang menjadi track favorit Baek Hyun sepanjang hampir 2 tahun walau group idolanya telah bersiap meluncurkan album ke dua. Tak ada yang berani berkedip. Menarik nafaspun seolah haram untuk mereka. Takut jika saja ada salah satu dari mereka menarik nafas, mereka akan tersadar dari sebuah ilusi yang menggiurkan. Tensi yang meningkat, irama jantung yang dipercepat, dan nafas yang masih tercekat.

 

Entah hanya perasaan saja, atau memang semua hal yang terjadi di sekitar mereka seolah berhenti, atau mungkin sengaja di atur dalam frame slow motion. Hingga mereka tidak menyadari perguliran waktu dan mengantar mereka pada dimensi yang diciptakan sendiri. Hanya ada kau dan aku. Dan di benak Baek Hyun kini tengah berputar sebuah track lagu favoritnya yang lain. ‘Ke dalam duniamu’ hanya karena menatap mata Chan Yeol yang begitu menjanjikan sebuah dunia baru. Lagu yang begitu merdu, seolah dinyanyikan langsung oleh member group idolanya yang ia khawatirkan memiliki jari lebih indah darinya, bersama dua rekan yang tidak melebihi tingginya.

 

♫ Terbawa oleh angin lembut ke dalam duniamu.

Kau bertanya padaku dengan keceriaan di wajahmu,

Di manakah aku datang ke sisimu?

Dan aku mengatakan padamu ini sebuah rahasia.

Kemanapun kita berjalan bersama, itu akan menjadi surga

 

Cukup lambat, tapi terarah dan pasti, pancaran mata Chan Yeol meredup seiring kelopak mata yang melemas. Ia turunkan pandangan dari mata, hidung yang mancung, hingga berhenti di bibir tipis Baek Hyun yang di sudutnya terdapat krim merah muda yang lancang menempel. Seolah diperintah oleh hati, tangan kanannya terangkat, menapak dengan sangat hati-hati di pipi Baek Hyun yang mulus. Gemetar, dingin, dan berkeringat adalah dampak sekunder dari perasaannya yang bergejolak sekarang.

 

Otot leher Baek Hyun mulai kaku. Entah hanya perasaannya atau memang tangan besar Chan Yeol yang menempel di pipinya seolah menariknya mendekat. Seiring sensasi hebat yang kembali menjalar di sekujur tubuhnya seperti yang dilakukan Chan Yeol beberapa bulan yang lalu. Kelopak matanya melemah, dengan pandangan sayu, ia menyerahkan kekuatannya menopang wajah pada tangan Chan Yeol yang besar yang masih menariknya. Mengikuti apa keinginannya dan ke mana ia dituntun.

 

“Baek Hyun…”

 

Lirihan mengalun lembut namun berat. Mengelus logika yang perlahan dipadamkan, mengantar dua pasang mata yang akhirnya terpejam. Masing-masing  menumpuk gejolak di titik temu yang akan sampai dalam hitungan _

 

 

Lima… empat… tiga… dua…

 

 

Dan kembali ke hitungan ribuan detik saat suara bel yang tidak terlalu keras justru terdengar memekak, memecah hening yang  awalnya ada di pihak mereka.

 

Siapapun yang bertamu itu, matilah besok.

 

 

***

 

 

~Milikku, hanya Milikku.~

 

 

Mental break down.

 

Siapa yang tidak merasakannya jika kini ia duduk berhadapan dengan seorang tuan rumah berwajah bajak laut di sofa ruang tamu (yang tadi dibersihkan kilat oleh Baek Hyun). Baek Hyun sendiri sudah menghilang ke dapur dengan alasan ingin membuatkan minum, walau si tamu sudah menolak cukup keras.

 

“Hm… jadi, anda teman Baek Hyun?” tanya Chan Yeol basa-basi. Merasa kurang nyaman dengan suasana mencekam itu. Seolah berada dalam sebuah scene film thriller yang tengah digadang-gadang sebagai film terekstrim sepanjang tahun. Hanya kurang sebilah pedang di tangan kanan Chan Yeol, kapak berdarah di tangan kiri, dan ikat kepala berlambang bendera negara Korea Selatan di dahinya. Dan juga musik horror sebagai latarnya. Tapi menurut orang yang bertamu itu, penampilan Chan Yeol yang acak-acakan sudah lebih dari sekedar mengintimidasi.

 

“I… Iya pak,” jawab pria itu spontan.

 

“Pak?”

 

Sang tamu hanya bisa mengaduh. Ia tahu yang ia hadapi adalah suami Baek Hyun bukan ayahnya, alasan kenapa ia harus menggagalkan rencana romantisnya untuk Baek Hyun malam ini (karena ternyata cerita Baek Hyun tentang dia sudah menikah adalah kebenaran). “Maaf… maksudku eum… tuan…”

 

“Park. Park Chan Yeol. Dan anda?”

 

“Wu Yi Fan. Dan benar, saya adalah teman Baek Hyun.”

 

Suara yang sama-sama berat dan dalam, namun suara Chan Yeol terdengar lebih menggelegar. Penampilannya yang berantakan menambah kesan garang pada dirinya yang sebenarnya bisa lebih lembut dari siapapun. “Wu Yi Fan… kupikir anda yang bernama Kris.”

 

“Itu benar. Kris adalah nama penaku.”

 

“Nama pena? Anda juga penulis?”

 

“Bukan. Aku seorang pelukis. Aku jelas tidak menyebutnya nama kuasku, bukan?”

 

“Oh…”

 

Suasana kembali hening. Sudah belasan lembar tissue yang ditarik Chan Yeol untuk menyeka wajah dan rambutnya. Melawan Baek Hyun saat ia berada di titik paling cerianya benar-benar menimbulkan efek luar biasa. Setidaknya, Chan Yeol butuh minimal satu jam untuk membersihkan dirinya nanti di kamar mandi.

 

“Eum… Jika boleh bertanya. Kapan anda mengenal Baek Hyun? Maksudku… pernikahannya dengan anda begitu mendadak, dan aku sama sekali tidak pernah mendengar cerita tentang anda darinya.”

 

Obrolan baru yang sepertinya akan memancing emosi jika salah satu di antara mereka (terutama Chan Yeol) tidak cukup pandai menguasai situasi. “Apa itu penting? Jika kau mempermasalahkan apa aku mengenal Baek Hyun dengan baik atau tidak, sebaiknya hilangkan prasangkamu. Kami tidak butuh waktu tahunan untuk saling mengenal. Bahkan jika itu hanya untuk 10 menit, dan kami merasa sudah sangat cocok, kurasa tidak ada kendala. Kami bahagia, kami menikmati pernikahan ini.”

 

Chan Yeol sebenarnya mulai terpancing, ia sudah tidak berniat berbicara sopan lagi pada pria berwajah oriental khas daratan China di hadapannya itu.

 

“Mohon jangan tersinggung. Aku tidak bermaksud memancing pertengkaran di sini. Hanya saja, aku tidak bisa menutupi keterkejutanku mengenai berita itu. Dan parahnya, aku baru mendengarnya 2 bulan setelah kalian menikah.”

 

“Itu bukan berita lagi Tuan Wu. Itu adalah kenyataan. Kami sudah menikah. Dan kau sudah memastikannya sekarang bukan?”

 

Hening kembali menyergap. Kris memilih meletup-letupkan jarinya, menyembuhkan gugup yang menyiksa. Situasi yang begitu keterlaluan menurutnya. Kenapa tidak? Dia sudah mengenal Baek Hyun sejak 2 tahun yang lalu. Kenapa pria asing dengan wajah angkuh itu dengan seenaknya mengklaim bahwa Baek Hyun sudah menjadi miliknya? Itu benar, cincin dengan ukiran yang sama yang pernah ia lihat di jari indah Baek Hyun  tengah melingkar pula di jari manis pria itu. Artinya, pernikahan mereka bedua itu nyata.

 

“Ada apa dengan mawar itu, tuan Wu?”

 

“Hadiah ulang tahun.”

 

“Ya aku bisa menebak. Tapi, mawar cukup identik dengan kau tahu… kenapa tidak memberinya buku sebagai hadiah? Baek Hyun hanya temanmu, terlebih dia sudah menikah, mawar itu cukup… membuatku terganggu.”

 

“Aku tidak tahu kalau ada batasan memberikan mawar pada orang lain. Aku tidak bermaksud apa-apa, mawar adalah salah satu benda yang mengungkapkan perasaan yang sifatnya universal.”

 

Kali ini Chan Yeol tertawa. Ia meremuk tissue bekas yang belepotan krim mentega itu kemudian dibuangnya asal. Ia membetulkan duduknya, sedikit mencondongkan tubuh ke depan dengan kedua siku menumpu di kedua paha. Sebuah gaya menantang. “Aku juga tidak tahu kalau di negaramu, memberi mawar pada orang yang sudah menikah itu kau anggap biasa. Maksudku, memang pikiranku sedikit kolot. Jika kau memberikan Baek Hyun bunga mawar, terlebih itu di depan mataku sendiri, itu artinya nyalimu cukup besar juga menyatakan perasaanmu pada seseorang yang sudah menjadi milikku. Apa aku salah tuan Wu?”

 

Keadaan semakin memburuk, keduanya tampak bersitegang. Lagipula kenapa Baek Hyun begitu lama membuat kopi?

 

“Kau benar tuan Park. Aku… Menyukai Baek Hyun,” Kris terdiam sejenak, berani menatap Chan Yeol tepat di bola matanya yang membesar, “Tidak… aku mencintainya, dan aku tahu ini adalah sebuah pengakuan yang lebih dari sekedar terlambat.”

 

Benar, pengakuan yang sangat terlambat. Dan menurut Chan Yeol, itu sudah lebih dari sekedar berani. Kris seperti terang-terangan menantang.

 

“Aku bahkan berniat melamarnya malam ini jika saja pernikahan yang ia maksud itu adalah sebuah lelucon,” lanjut pria berdarah China-Canada itu.

 

Terdengar bunyi gemeretak. Itu dari geraham yang dikatupkan kuat-kuat, juga dari jemari yang diremukkan. Ingatkan Chan Yeol bahwa ia bukan petinju, atau orang di depannya ini akan dihajar habis-habisan. “Kau berani tuan Wu, sangat berani. Aku salut.”

 

Kris sudah bersiap membuka mulut, tapi sosok Baek Hyun dengan nampan berisi 3 cangkir kopi hangat muncul dari dalam. Meletakkan ketiga benda tersebut di atas meja dengan jatah masing-masing, kemudian mengambil posisi duduk di sebelah Chan Yeol setelah meletakkan nampan di dekat kakinya. Ada seulas senyum penuh kemenangan yang terpatri dari bibir seksi Chan Yeol, dan dengan wajah sangat menantang, ia menyandarkan punggung dan meletakkan lengan kokohnya di sandaran sofa persis di belakang Baek Hyun. Dari sudut pandang Kris, pria yang angkuh itu tampak sedang merangkul Baek Hyun.

 

“Aku cukup terkejut kau datang ke sini Kris. Dari mana kau tahu alamat tempat tinggalku?” tanya Baek Hyun membuka obrolan ringan, tanpa tahu bahwa beberapa detik sebelumnya hampir saja terjadi perang nuklir antara negara Korea Selatan dan China.

 

“Lu Han yang memberitahuku. Jangan salahkan dia, aku yang mendesaknya,” jawab Kris dengan senyum yang lepas. Senyum yang ia siapkan hanya untuk Baek Hyun.

 

“Ya sudahlah. Tidak apa-apa.”

 

Kris mengusap kedua tangannya, kemudian meraih sebuket mawar yang tadi diletakkan di sebelahnya dan menyerahkannya pada Baek Hyun. Mawar yang tidak sempat ia berikan pada Baek Hyun saat sang pujaan membuka pintu untuknya tadi. Itu karena ada sosok pria bajak laut yang berdiri di belakangnya seperti bayangan kematian.

 

“Untukmu. Selamat ulang tahun Baek Hyun,” ucapnya penuh perasaan. Ia cukup senang karena bisa memberikannya langsung, terlebih Baek Hyun menerimanya suka cita. Mengabaikan sosok tak kasat mata di sebelah pujaan hatinya yang tampak kesal memutar bola mata besarnya.

 

“Terima kasih Kris, tapi bunga yang tadi pagi saja belum kuapa-apakan.”

 

“Tidak perlu diapa-apakan. Hanya dengan kau memegangnya dan menciumnya, aku sudah lebih dari sekedar senang.”

 

Ada yang yang punya kantung muntah? Perut Chan Yeol bergemuruh. Entah karena kebanyakan makan kue, atau memang kata-kata Kris lebih dari sekedar memuakkan.

 

“Sekali lagi terima kasih,” Baek Hyun menghirup aroma mawar itu dan masih menggenggamnya. Tidak sadar bahwa seseorang di sebelahnya hendak membakar buket itu. “Oh ya Kris, perkenalkan. Ini Chan Yeol, pria yang menikahiku 5 bulan yang lalu. Dia__”

 

“Tidak perlu memperkenalkanku. Kami sudah berkenalan,” potong Chan Yeol cepat. Tidak bisa membayangkan jika saja Baek Hyun punya ide untuk meminta mereka bersalaman. Ugh…

 

“Ah, baguslah kalau kalian cepat akrab.”

 

Chan Yeol hendak muntah lagi.

 

Kris berdehem sejenak, melonggarkan tenggorokannya yang seperti terjepit. Dan kode itu menarik perhatian dua orang di hadapannya itu. “Oh ya Baek Hyun, tentang ajakanku tadi siang… aku masih menanti jawabanmu.”

 

“Ajakan apa?” Chan Yeol yang bertanya. Dibalas desisan kesal dari Kris, menganggap bahwa pria itu suka sekali ikut campur. Walau itu haknya sih.

 

Tidak terlalu menggubris, Kris kembali memusatkan pandangannya pada sang pujaan, masih dengan senyuman menawan. Berharap akan memikat sedikit saja perhatian Baek Hyun. “Kau mau kan? Aku sudah menyiapkan semuanya.”

 

“Eum… jawabanku masih sama Kris. Aku tidak bisa. Maaf.”

 

“Hanya makan malam, dan… ada yang ingin kukatakan padamu.”

 

“Katakan saja sekarang.”

 

“Empat mata Baek Hyun.”

 

“Aku tidak keberatan menutup kedua mataku,“ imbuh Chan Yeol dengan alis terangkat, “Ini sudah di luar jalur tuan Wu. Anda sudah melangkahi otoritasku.”

 

“Aku tidak bertanya pada anda tuan Park. Lagipula, pernikahan bukan sebuah ajang untuk mengekang kebebasan seseorang. Aku paham betul situasi ini, aku hanya ingin meluruskan sesuatu di antara kami yang sempat tertunda.”

 

Chan Yeol mencelos, jemari Baek Hyun langsung menangkap pergelangan tangannya saat dilihat pria itu sudah mulai emosi. Ajaibnya, itu ampuh. Chan Yeol menghembuskan nafas panjang dan kelihatan lebih tenang saat ia kembali menatap Kris. “Akan kubantu meluruskan tuan Wu. Byun Baek Hyun, atau haruskah kusebut dia Park Baek Hyun? Dia sudah menikah denganku 5 bulan yang lalu. Menikah itu adalah mengikat sepasang manusia dengan sebuah tali suci. Mengikat, tuan Wu. Bukan mengekang. Mengikat artinya, ada beberapa batasan yang tidak boleh dilalui karena hak itu sudah berpindah,” Chan Yeol melepas genggaman tangan Baek Hyun, berganti dengan ia yang menggenggam jemari indah itu. Merapatkan jari panjangnya di sela jari Baek Hyun dan menyatukannya dalam sebuah genggaman erat. “Batasan yang kumaksud adalah, menerima ajakan kencan dari pria lain yang terang-terangan menyatakan suka padanya. Dengan kau memaksa Baek Hyun keluar dari jalur yang telah kami batasi, itu artinya kau betul-betul tidak menghormati pernikahan kami.”

 

Hening. Baek Hyun cukup takjub melihat bagaimana Chan Yeol begitu menggebu-gebu hanya untuk menjelaskan situasi mereka pada Kris. Ia tersentuh tentu saja. Siapa yang tidak akan tersentuh saat dengan tegasnya pasanganmu mengajukan protes keras saat ada yang berniat mendekatimu. Chan Yeol memang tidak main-main saat dia mengatakan sudah siap menikah. Karena memang, kesiapannya sudah sampai sejauh ini. bahkan untuk Baek Hyun yang awalnya sangat asing bagi pria itu.

 

Tidak ada respon berarti dari Kris. Ia hanya menunduk, memperhatikan tangannya yang kini melemah. Sama sekali tidak membantu. Situasi sudah sangat memburuk, dan dia memang perlu disadarkan dengan cara seperti itu.

 

“Tuan Wu. Aku sangat menghormati Baek Hyun sebagai pendampingku, dan aku menghargai usahamu sebagai temannya. Jika betul ada yang ingin kau bicarakan dengannya, akan kuberi kalian waktu. aku akan ke dalam. Bersiap-siap karena kami berencana keluar untuk makan malam. Manfaatkan waktumu, karena ini tidak akan terjadi dua kali,” suara Chan Yeol seperti angin yang sejuk sekaligus menusuk, di dalamnya ada harapan sekaligus ancaman. Dan Kris pikir, Chan Yeol cukup bijak juga.

 

Pria yang bersikeras mengaku bahwa Baek Hyun sudah menjadi miliknya itu kini menoleh pada seseorang yang berada pada posisi diperebutkan. Ditatapnya dalam, diselingi senyuman. Setelahnya ia mendekatkan wajahnya ke telinga Baek Hyun sembari berbisik, “Maaf, aku cemburu.” Dan kecupan ringan mendarat pelan di pelipis pemuda manis itu sebelum Chan Yeol pamit dan masuk ke dalam. Seperti katanya, bersiap untuk makan malam yang seingat Baek Hyun tidak ada dalam agenda hari ulang tahunnya.

 

Rona merah menggoda semakin pekat di kedua pipi mulus Baek Hyun. Senyum malu-malu itu dan pandangannya yang belum fokus jelas Kris sadar bahwa itu bukan untuknya. Itu terlihat sangat manis sebenarnya, dan Kris belum pernah melihat Baek Hyun memasang ekspresi indah itu di hadapannya.

 

“Baek Hyun.”

 

Dan reaksi Baek Hyun yang tersentak kaget sudah lebih dari sekedar bukti bahwa ia terlarut dalam suasana membahagiakan dengan kupu-kupu beterbangan di sekelilingnya. “A… ada apa Kris?”

 

“Apa kau mencintainya?”

 

Sebuah pertanyaan yang cukup terburu-buru namun sudah menjadi inti permasalahan. Buat apa basa-basi dan berputar-putar pada sebuah kalimat yang nantinya akan membingungkan.

 

“Kenapa bertanya begitu?”

 

“Semua terlalu tiba-tiba Baek Hyun. Kau tidak merasakan bagaimana di posisiku.”

 

“Maaf. Aku tidak pernah tahu kalau kau menganggapku lebih dari itu.”

 

Kris mengusap wajahnya yang tiba-tiba saja berkeringat. Tidak pernah selama hidupnya ia sampai seperti itu di depan seorang pemuda. Jujur saja, dengan penampilan sempurna bak seorang model, wajah tampan bak aktor film ‘Di suatu tempat hanya kita yang tahu’, kharisma yang luar biasa bak mantan member group idola favorit Baek Hyun, Kris bisa mendapatkan belasan bahkan puluhan manusia dengan gender apapun. ini tidak main-main. Gadis, pemuda, pria, wanita, bahkan yang gendernya dipertanyakan mampu ia tahlukkan hanya dengan sekali kedipan mata. Hanya saja, kedipan matanya tidak berpengaruh pada seorang pemuda yang memegang teguh prinsip hidupnya.

 

“Aku mencintaimu Baek Hyun. Dan yang kau lakukan ini sungguh…”

 

Baek Hyun sudah pernah mendengarnya. Berkali-kali, dan sayangnya itu terjadi setelah sebuah cincin sudah melingkar di jari manisnya. Lagipula, kenapa baru sekarang? Baek Hyun tidak akan menolak jika saja saat itu Kris melamarnya, atau paling tidak memintanya menjadi pacar. Toh 2 tahun bukan waktu yang sebentar. Park Chan Yeol yang notabenenya adalah seorang pria asing bisa langsung merebut kepercayaan Baek Hyun, bagaimana dengan pria yang sudah mengenalnya lebih dulu?

 

Sayang sekali, Kris tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik.

 

“Aku tidak pernah terlibat janji apapun denganmu Kris. Lain lagi ceritanya jika pada saat itu kau memberi kejelasan tentang hubungan kita. Kris, kau tahu aku adalah orang yang berpegang teguh pada janji. Sayangnya kau tidak memanfaatkannya. Dan sekarang, aku sudah memegang janji pada Tuhan, di hadapan ratusan pasang mata. Kris… aku akan memegang janjiku untuk sehidup semati dengan pria yang telah bersamaku sekarang.”

 

Dalam kegamangan, di sudut tergelap hatinya, hendak rasanya Kris membawa Baek Hyun kabur. Entah dalam keadaan sadar ataupun tidak. Namun apa artinya jika Baek Hyun tetap akan meninggalkan hatinya di sini bersama pria asing yang tanpa izin merebut Baek Hyun darinya.

 

“Aku sudah bersiap melamarmu saat aku kembali ke Korea, Baek Hyun. Kupikir… aku tidak berani membawamu hidup bersamaku sementara aku tidak cukup sukses dalam karirku sebagai pelukis, dan masih bergantung pada orang tuaku. Sekarang kasusnya berbeda. Aku sudah dipercayakan mengelola perusahaan sendiri. Aku seorang direktur sebuah perusahaan besar di Beijing, Baek Hyun. Aku… aku sudah bisa membiayai hidup kita nantinya dan…”

 

“Maaf. Aku sudah menikah Kris.”

 

Hatinya kembali remuk. Ia tatap sebuket mawar yang masih digenggam Baek Hyun. Berdelusi jika saja mawar itu ia berikan sejak awal. Tidak perlu menunggu Baek Hyun berulang tahun, tidak perlu menunggu hingga ia telah menjadi milik orang lain yang memanfaatkan betul hak atas kepemilikan.

 

Terlambat Kris. Betul-betul terlambat.

 

“Aku tidak pernah tahu kalau perasaanmu padaku sampai seperti itu,” Baek Hyun kembali membuka suara.

 

“Seharusnya kau lebih peka. Dengan semua sikap yang kutunjukkan padamu. Mengantar jemputmu berkuliah, mengajakmu jalan-jalan, membelikanmu ini dan itu, bahkan mengenalkanmu pada Lu Han sebagai awal karirmu. Apa kau tidak menyadari hal itu?”

 

“Aku tidak secerdas orang kebanyakan Kris, aku tidak akan tahu jika tidak diberitahu.”

 

Kris menghela nafas, ia arahkan pandangannya tepat di manik mata Baek Hyun yang selalu membuatnya tenggelam. “Kembali ke pertanyaan awal Baek Hyun. Apa kau mencintainya? Apa kau mencintai Park Chan Yeol?”

 

“Kenapa itu penting untukmu?”

 

“Aku butuh jawaban. Jangan memberiku pertanyaan lain.”

 

“Maaf Kris. Aku ingin Chan Yeol menjadi orang pertama yang mendengarkan jawabanku itu.”

 

Alis Kris terangkat. Takjub dan heran. “Apa itu berarti, kalian masih belum mengungkapkan? Ya Tuhan, kau terlibat dalam pernikahan konyol rupanya. Baek Hyun, hentikan ini.”

 

“Itu bukan hakmu Kris. Aku sudah menjalani pernikahan ini, dan ini bukan hal konyol. Jadi tolong, jika masih ada yang ingin kau sampaikan maka katakan padaku secepatnya. Chan Yeol tidak memberi waktu sebanyak itu. Dan seperti yang kau dengar, kami berencana keluar malam ini. hargai waktu kami.”

 

Helaan nafas pasrah terdengar. Sumbu semangat yang dibakar sejak tadi kini sudah habis. Dan apinya sudah padam. Kris tidak diberi pilihan lain, selain menyerah. Apapun yang dia katakan, apapun yang dia ungkapkan, hati Baek Hyun sudah diberikan pada orang lain. Dan memintanya langsung pada orang itu adalah hal yang mustahil, mengingat bagaimana kokohnya orang itu mempertahankan statusnya sebagai suami Baek Hyun.

 

Ini sudah berakhir.

 

“Selamat ulang tahun Baek Hyun. Aku mencintaimu.”

 

Hanya itulah yang bisa ia ucapkan sebelum meninggalkan tempat itu. Tempat di mana ia menyerahkan Baek Hyun pada orang yang ia harap bisa memberi Baek Hyun semua hal yang terbaik.

 

 

***

 

 

 ~FIRST…~

 

 

Steak sapi impor tidak pernah senikmat itu menyentuh lidah. Bisa jadi hanya karena suasananya terlalu memabukkan. Tidak akan menyinggung suasana yang sungguh romantis. Intinya, mereka sedang berdua. Baiklah, sebaiknya memang dibahas. Di dalam sebuah private room restoran nuansa Eropa kelas satu di tengah kota. Hanya sebuah meja dan dua kursi yang berhadapan. Tirai merah mengelilingi, senada dengan warna darah taplak meja, sebuah vas kristal dengan setangkai mawar merah di dalamnya. 2 gelas wine merah yang belum tersentuh setegukpun, dan tiga buah lilin yang masih menyala berada di tengah. Sebenarnya nuansa itu lebih kepada mistis dari para romantis. Tapi karena pemandangan di depannya adalah Baek Hyun, semuanya akan tampak jauh lebih indah. Chan Yeol bahkan menolak seorang pemain biola yang hendak menyumbangkan senandung, bukan karena ia tidak suka. Hanya saja ia betul-betul ingin berdua saja.

 

Tidak ada obrolan yang begitu penting. Chan Yeol tidak membahas tentang pria China itu sejak mereka keluar dari apartemen. Hanya hal-hal random yang akan terdengar menarik karena yang membicarakannya adalah sepasang manusia yang memiliki kecocokan satu sama lain.

 

Makan malam romantis, yang ditutup dengan saling mencuri pandang saat mereka meneguk wine. Jemari indah yang tidak pernah lepas dari genggaman Chan Yeol, melintasi beberapa pasang mata yang menatap iri (beberapa di antaranya risih), dan berhenti di pelataran parkir saat Chan Yeol membukakan pintu mobilnya untuk Baek Hyun.

 

Sungguh hari penting yang sangat disayangkan jika berlalu begitu saja. Setidaknya itu yang tertanam di otak mereka berdua. Mobil itu berbelok, cukup menikung menjauhi keramaian pusat kota, memakan waktu satu jam perjalanan dan berhenti di area pegunungan yang sangat dingin.

 

Baek Hyun tidak menyerukan kebingungannya. Ia hanya menurut saat Chan Yeol membukakan pintu dan menuntunnya keluar. Chan Yeol duduk di atas kap mobil, menarik Baek Hyun mendekat, hingga berdiri memunggunginya dan mengapit pinggangnya dengan kedua paha. Dilingkarkannya lengan kokoh di depan dada Baek Hyun, ditarik hingga kepala pemuda itu bersandar nyaman di dada Chan Yeol.

 

Oh… lelucon apa yang mengatakan tidak ada cinta di antara mereka?

 

“Apa hari ini kau senang?”

 

Baek Hyun tersenyum, tidak ragu menyembunyikannya karena Chan Yeol juga tidak melihatnya. Ia mengangkat tangan kanannya dan meraih lengan kokoh yang masih melingkar di depan dadanya, ia angkat sedikit hingga lengan itu melingkari lehernya. Sedikit khawatir jika saja Chan Yeol bisa meraba debaran gila jantungnya. “Tidak hanya senang Chan Yeol. Aku sangat bahagia. Ini adalah kado terbaik dan terindah yang pernah kuterima sepanjang hidupku.”

 

“Kado terbaik? Aku bahkan tidak memberimu apa-apa.”

 

Baek Hyun menggeleng pelan, diturunkannya sedikit wajahnya hingga bisa menghirup aroma parfum maskulin yang menempel di lengan jas hitam Chan Yeol.  “Kado tidak harus dalam wujud benda Chan Yeol. Tapi jika itu memang harus, bisakah kusebut kau dan keberadaanmu di sisiku adalah kado terbaik sepanjang hidupku?”

 

Tidak buruk. Bahkan terlalu baik. Mungkin Chan Yeol seharusnya mengatakan kalimat yang sama, tapi dia punya cara lain. “Bisa, bisa sekali. Aku hanya perlu menunggu sampai kau juga menyerahkan dirimu sebagai kado untukku. Dan pada saat itu, kau sudah bisa memiliki seluruh jiwa ragaku Baek Hyun.”

 

“Bukankah kita sudah melakukannya? Di hadapan Tuhan kita sudah mengatakannya bukan?”

 

Sebuah gelengan pelan dirasakan oleh Baek Hyun saat Chan Yeol menunduk dan menumpukan dagunya di bahu sempit Baek Hyun, menatap keramaian kota dengan segala jenis temaram lampu di sana. Seperti kunang-kunang dari seluruh penjuru dunia, mengadakan pesta karena telah berhasil menginvasi bumi. “Nanti juga kau akan tahu Baek Hyun. Mungkin belum saatnya.”

 

“Baiklah, aku akan menunggu.”

 

Hening menyergap. Chan Yeol semakin merapatkan Baek Hyun dalam pelukannya saat ia rasakan tubuh ringkih itu merinding karena kedinginan, ia menambah satu lengan lagi untuk melingkar d perut Baek Hyun. Dan efeknya luar biasa. Baek Hyun tertawa dan ikut menyentuh kedua lengan Chan Yeol di perutnya. Kesannya begitu… manis. Dengan banyaknya pelukan dan ciuman yang Chan Yeol bagi pada mantan kekasihnya. Tidak pernah staupun yang meninggalkan kesan mendalam seperti ini baginya. Yah, kecuali mengenai ciuman pertama. Itu memang tidak bisa diganggu gugat.

 

“Setengah jam lagi hari ulang tahunmu berakhir. Apa permintaanmu Baek Hyun? Akan kukabulkan.”

 

Baek Hyun sedikit memiringkan kepalanya dan menengok wajah Chan Yeol yang juga menoleh bersamaan. Sempat membuat moment di mana wajah mereka hanya berjarak beberapa ruas jari. Tapi tidak ada yang merasa terganggu, karena sudah beberapa kali berada dalam posisi seperti itu. Hanya saja, tidak cukup beruntung karena kesulitan melepas penghalang tak kasat mata itu.

 

“Aku sudah punya semua Chan Yeol. Aku harus meminta apa lagi?”

 

“Tidak menginginkan sesuatu hal yang lebih spesifik? Aku misalnya.”

 

Uap nafas mereka bertemu di udara, menggumpal menjadi kabut tipis berwarna putih di antara wajah mereka. Memberi kehangatan. Terima kasih pada permen mint yang ditemukan Baek Hyun dalam laci dashboard mobil Chan Yeol tadi, hingga aroma steak sapinya tidak begitu dominan terhirup dari nafas mereka.

 

“Bukankah aku sudah memilikimu?”

 

Kembali tenggelam dalam keheningan. Mempertahankan tatapan yang saling beradu, mencari proyeksi diri masing-masing di kedua lensa yang sewarna. Dunia yang sama, penghuni yang sama. sampai ketika perasaan halus mengelus ubun-ubun, merayap secara perlahan melalui celah kapiler pembuluh darah, hingga kembali pada pusat organ kehidupan, membuatnya semakin berdebar.

 

Baek Hyun tidak memberinya pertanyaan tersirat. Itu adalah kalimat yang menunggu jawaban kepastian. Dan memang jawabannya sudah sangat jelas.

 

“Hm, aku milikmu. Byun Baek Hyun.”

 

Ucapan singkat, pelan, namun tegas sebagai pengukuh janji. Menggoda sepasang mata untuk memindahkan fokus pada sepasang bibir tipis yang terbuka setengah, menghembuskan uap hangat membentuk kabut tipis. Mengundangnya untuk memberi kehangatan.

 

“Aku milikmu, dan kau… milikku,” ucapan yang diulang dengan kalimat terakhir yang diperhalus. Mengantar dua sisi pada titik temu dengan gesekan halus permukaan kulit bibir. Pelan, namun memberikan gejolak luar biasa. Kembali pada sebuah atmosfer di mana hanya mereka berdua yang berada dalam lapisannya. Di luar sana seolah tidak berarti apa-apa. Mereka berhenti, atau terserap dalam sebuah jejeran film yang berderet dengan irama slow motion. Bibir mereka menyatu tanpa sekat, tanpa penghambat, dan tanpa perlu ditunda lagi.

 

Merasa lehernya kaku karena harus menoleh ke belakang, Baek Hyun melepas tautan bibirnya, disambut tatapan kecewa oleh Chan Yeol, namun tidak bertahan cukup lama karena Baek Hyun membalik tubuhnya hingga berhadapan dengannya. Mengangkat kedua lengan kurus dan mengalungkannya di leher Chan Yeol. Tidak menunggu terlalu lama, Chan Yeol menunduk dan kembali menggapai sepasang bibir tipis yang lebih manis dari permen apapun. mengecapnya secara hati-hati, khawatir jika saja benda itu pecah dan terluka. Dan lama kelamaan ciuman itu berubah hingga tak sepolos permulaannya.

 

Sekali lagi, ini lelucon besar jika mereka masih terasa asing satu sama lain. Nyatanya, Chan Yeol meninggalkan memori mengenai ciuman pertamanya dengan mantan pacarnya. Katakan ia brengsek, bedebah, penjahat. Namun ia mengklaim bahwa inilah ciuman pertama yang membuatnya hampir luruh, menyatu dengan tanah yang dipijaknya. Melebur, menyatu dengan embun yang membasahi kap mobilnya.

 

5 bulan persiapan untuk sebuah ciuman yang sangat berharga.

 

Bukan ciuman pertama, bukan untuk cinta pertama.

 

Ciuman untuk cinta yang akan mendampinginya selamanya.

 

Chan Yeol tidak menghitung berapa kali jarum panjang di arlojinya berotasi 360 derajat. Ia baru melepas tautan bibirnya dengan Baek Hyun saat pemuda yang dipagutnya cukup lama itu mengeluh kedinginan. Ia tangkup pipi yang memancarkan rona merah alami itu. Dikecupnya sekitaran wajah bersih itu dan ia tempelkan keningnya di kening Baek Hyun.

 

“Selamat bertambah dewasa Byun… Park Baek Hyun.”

 

Dan pemuda itu hanya menyunggingkan senyum sebelum menyusupkan wajahnya ke dada bidang Chan Yeol yang hangat. Nampaknya kata asing itu mulai ditinggalkan jauh-jauh sebelumnya. Mereka telah saling mengenal, saling mengerti, memahami, percaya, dan saling membutuhkan.

 

Sejarah siap mengukir kisah. Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Mereka sudah saling mengenal. Artinya mereka sudah saling menyayangi.

 

Mereka sudah saling menyayangi. Artinya…

 

.

 

.

 

.

 

Biarkan mereka mengungkapnya suatu hari.

 

 

 

 

~END~

 

 

Get Married By ALF
Created : March 07, 2015

Edited : Everytime when I’m free

Published: March 27, 2015

 

ALF note: Awalnya saya mau ini cuman sepanjang drable atau apalah di bawah oneshot, eh keterusan. ALF memang tipe yang suka panjang-panjang dan itu sulit diubah. Btw kalau ada yang nanya ini beneran END? Jawabannya iya. Hanya saja mungkin ALF akan menyelipkan cerita-cerita seperti ini kalau lagi senggang. Mungkin ada season ke 2, ke 3, dst. Yang jelas gak sampai bikin tahan napas kea TBC di FF chaptered loh. Istilahnya awal dari dari sebuah akhir cerita. Wkwkwk artinya ini bisa berkelanjutan juga sih. Sekali-sekali bikin beginian ya bahan refreshing juga kan. Sekalian ngelanjutin FF yang tertunda. ALF lagi masa orientasi di tempat kerja baru sih. Jadi masih tegang-tegangnya.

Oke… semoga kalian terhibur. Mind to review? ALF terima dengan tangan terbuka. Muihihi… sampai jumpa next FF yah. Doian ALF sehat selalu. Adiosss

 

Salam pramuka.

 

Iklan

105 thoughts on “Get Married || ChanBaek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s