EGO Te Requiro || ChanBaek || Chapter 1


1391004732927

Also published at Marya’s blog on February 4, 2014

 

Ego te requiro [I Miss you]

“Chasing for someone who has stolen my heart”

Author: Fla_Rency_ a.k.a AyouLeonForever

Genre: Shounen ai

Main Cast:

Park Chan Yeol

Byun Baek Hyun

A/N: Ada yang kenal FF ini? wkwkwkw… kalo iya yah syukur. FF ini tercipta saat ALF lagi kangen-kangennya nulis, dan ALF penasaran dengan readers yang kenal tulisan ALF. apakah jika ALF nyamar sebagai new writer, tulisan ALF bakal dikenal? maka terciptalah konspirasi(?) ama si Marya. ane sebagai author freelance di sana dan nitip ini ff kali aja ada yg apal tulisan ane. hasilnya… eh yang biasanya bilang di kc “Ini sih ALF banget” aaaaa boong kamu #plak.

yodah… intinya, FLa_Rency itu ane si ALF songong. jadi monggo di baca.

BTW mampir juga di blognya marya klik ini . ffnya bagus-bagus loh. ALF pernah dibikinin ff kaibaek. dan ALF komen sepanjang kereta api sesuai judul (eh?)

oke… silakan dibaca. ini FF lama tapi repost di KC. berhubung gak afdal kalo gak ngepost ff ALF di KC. yang One million per Night juga sebenernya mau ngepost. tapi itu rada enseh…. ragu deh.

ok terlalu banyak cuap cuap. silakan dibaca.

 

|Ego Te Requiro|

 

 

Author POV

 

Salju turun tidak selebat kemarin, cuaca sedikit tidak bersahabat karena memang ini sudah memasuki pertengahan musim dingin. Hari libur begini, kebanyakan orang lebih memilih berada di rumah, menyalakan pemanas, duduk di sofa bersama sang terkasih di balik selimut dan menonton acara TV yang sekiranya bisa menambah kehangatan suasana.

 

Tapi… dia tidak seperti kebanyakan orang.

 

Bukan pemandangan jarang memang jika memilih berjalan-jalan di trotoar depan area pertokoan yang lumayan sepi. Terlalu banyak alasan yang bisa menjelaskannya. Malas di rumah salah satunya, atau lapar. Hingga berjalan-jalan di tengah hujan salju yang tidak begitu lebat menjadi salah satu alternatif yang sebenarnya tidak buruk. Membunuh sepi yang menyerangnya jika ia hanya berdiam diri di rumah.

 

Berhasil?

 

Tentu saja tidak. Suara angin yang menghembus, juga suara gesekan sepatu bergeriginya dengan tumpukan salju tidak jua menghapus hening. Ia lupa… kapan terakhir ia merasaramai. Tidakkah ia dikenal sebagai orang yang sangat ramai?

 

Park Chan Yeol.

 

Begitu ia dikenal sebagai pribadi yang ceria. Tapi pribadi itu seperti hilang jika mematoknya pada sosok Park Chan Yeol yang sekarang.

 

 

Gumpalan kabut berkali-kali keluar dari mulut dan hidungnya setiap kali ia menghembuskan nafas, pertanda bahwa cuaca memang tidak main-main saat itu. Kedua pipinya memerah, tanda lain dari pengaruh cuaca ekstrim.

 

Srak…

 

Gesekan antara sepatu bergeriginya dan tumpukan saljupun terhenti seiring ia menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke kiri, tepatnya ke arah sebuah cafe yang cukup bersejarah baginya. Tempat yang sering ia kunjungi bersama sahabatnya.

 

Do Kyung Soo.

 

Dan dalam hitungan detik, seulas senyuman pahit terukir di sana.

 

Kenapa ia tersenyum pahit? Apakah terjadi sesuatu yang buruk pada Do Kyung Soo hingga namja tinggi itu menampakkan ekspresi seperti itu?

 

Jawabannya tidak. Do Kyung Soo kini tengah berbahagia dengan seseorang yang telah berikrar akan menemaninya seumur hidup, dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit. Ya, setidaknya itulah kalimat yang Park Chan Yeol dengar saat dengan berat hatinya ia menghadiri acara pernikahan Do Kyung Soo dengan namja lain.

 

 

Atau begini… Pembenaran sedikit, yang menjadi pendamping Do Kyung Soo bukanlah namja lain, tapi… sahabat dekat Chan Yeol yang sudah dianggapnya kakak sendiri. Kim Joon Myun, atau dia panggil dengan nama Su Ho.

 

Lalu kenapa Chan Yeol tersenyum pahit? Kenapa Chan Yeol dengan berat hati menghadiri pernikahan kedua sahabatnya kemarin itu? kenapa ia sangat terluka?

 

Sangat mudah ditebak. Ekspresi Chan Yeol sekarang adalah ekspresi seseorang yang patah hati, bagaimana tidak, ia sudah mengenal Kyung Soo sejak SMU, dan juga sudah menyukainya sejak SMU, dan kesemuanya hancur saat Su Ho melamar Kyung Soo 2 bulan yang lalu. Terkesan sangat buru-buru, karena mengingat Kyung Soo masih terhitung sebagai mahasiswa tingkat 3 di kampusnya, sama dengan Chan Yeol, tapi kematangan Kim Joon Myun menjawab semuanya. Mereka adalah pasangan yang siap.

 

Bukan salah Kyung Soo yang meninggalkan Chan Yeol, bukan salah Su Ho yang merebut orang yang disukai Chan Yeol. Lalu? Chan Yeol akan dengan tegas mengatakan bahwa itu adalah murni kesalahannya. Park Chan Yeol  tidak pernah satu kalipun mengungkapkan perasaannya pada Kyung Soo. Dan faktanya, 5 tahun itu bukan waktu yang sebentar untuk diabaikan. Terlalu banyak peluang dan waktu yang disia-siakan Chan Yeol hanya untuk menyempatkan diri mengatakan….

 

Kyung Soo-ya… saranghae.

 

Kalau ia berani mengatakan itu, ia tidak akan semerana sekarang ini. Mengingat apa yang dikatakan Kyung Soo 3 hari sebelum pernikahannya dengan Kim Joon Myun. Peluang terakhir yang dibuang Chan Yeol, di cafe ini.

 

 

Flashback

 

 

“Wah… sebentar lagi kau akan menikah Kyung Soo-ya…”

 

“Chan Yeol…”

 

“Hm…”

 

“Kau senang kalau aku menikah dengan Su Ho hyung?”

 

 Chan Yeol terlalu pintar, atau mungkin karena ia terlalu bodoh, hingga dengan kejamnya ia menekan hatinya agar tidak terlihat merana. “Tentu saja, bukankah kalian saling mencintai?”

 

Kyung Soo menghembuskan nafas, memejamkan mata sejenak kemudian memandang Chan Yeol. “Ya, aku sudah mulai belajar mencintainya.”

 

Alis Chan Yeol terangkat, kemudian mengerut. “Belajar?”

 

“Hm… aku sudah belajar mencintainya karena sebelumnya… aku belajar untuk… melupakan cintaku… padamu.”

 

DEG…

 

Seperti tertohok pedang panjang, Chan Yeol bahkan tidak tahu apa yang baru saja di dengarnya. Jika ini adalah semacam lelucon sebelum pernikahan, maka Kyung Soo adalah komedian paling tidak lucu sepanjang sejarah. Chan Yeol berani mengatakannya karena ia benar-benar tidak tertawa akan lelucon itu.

 

Dan karena ekspresi tak terbaca itu, Kyung Soo masih melanjutkannya. “Saat Su Ho hyung melamarku, sebenarnya aku ingin menolak, karena aku memang mencintai orang lain, yaitu kau. Tapi… melihat bahwa sepertinya aku hanya bertepuk sebelah tangan, terlebih aku tidak punya alasan yang kuat untuk menolak Su Ho hyung yang begitu mencintaiku… kurasa tidak ada salahnya. Bisa jadi ini adalah kesempatan kedua untuk jatuh cinta lagi.”

 

Chan Yeol menatap Kyung Soo dalam keadaan tercengang, ia masih tidak bisa bersuara, selama bertahun-tahun berada di dekat Kyung Soo, bagaimana mungkin ia setidak peka itu. Semakin ia diam, semakin ia merenung, maka semakin ia sadar bahwa ia tidak hanya bodoh. Tapi idiot.

 

“Tapi tidak apa, kurasa Chan Yeol memang hanya menganggapku sahabat, itu sudah membuatku bahagia.”

 

“Tu… Tunggu…”

 

“Hm? Ada yang ingin kau katakan padaku?”

 

Namja tampan itu gelisah, ia remukkan tangannya yang berkeringat padahal cuacanya begitu dingin. Nafasnya sudah tidak beraturan sejak tadi, dan kepalanya seperti hendak meledak.

 

Apakah mengatakannya sekarang bisa menyelesaikan semuanya? Apakah dengan mengatakannya sekarang maka Kyung Soo akan membatalkan pernikahannya?

 

Dan tegakah Chan Yeol merusak kebahagiaan Su Ho yang sudah ia anggap sebagai kakak kandung sendiri, di detik-detik terakhir?

 

Sebut saja ia pengecut dan pecundang. Betul-betul kalah dengan pertarungan hati dan logikanya.

 

“Kyung Soo-ya… aku…”

 

“Ya?”

 

“Aku…” Chan Yeol mengeratkan remukan tangannya. Menahan gejolak di dadanya juga pertarungan batinnya menentukan pilihan yang tepat untuknya. “Aku doakan kalian hidup bahagia, karena aku yakin kau bisa mencintai Su Ho hyung dengan segenap hatimu,” ucapnya lancar, tanpa tahu topeng apa yang ia gunakan saat mengatakan itu. Sukses… sangat sukses mematahkan hati untuk kesekian kalinya.

 

Ironisnya, ia tidak hanya mematahkan hati Kyung Soo. Tapi hatinya sendiri.

 

Kyung Soo terdiam sejenak, terlihat sekali dia kecewa, sampai akhirnya ia tersenyum sedikit dipaksakan. “Hm, terima kasih Chan Yeol-ah… datanglah di hari pernikahanku, dan aku akan semakin berbahagia, setidaknya aku masih bisa melihatmu tersenyum, sampai aku betul-betul menjadi milik orang lain.”

 

Chan Yeol… bertemu pada kehancurannya…

 

“Y… Ya… aku jelas akan datang.”

 

 

 

 

~***~

 

 

 

Gumpalan kabut tipis kembali terlihat saat Chan Yeol menghembuskan nafas panjang. Ia bukannya lelah secara fisik… tapi… batinnya.

 

Kenapa kata sesal selalu berada di belakang? Oh jelas karena kalau tidak ada kata sesal, maka tidak ada yang akan menyadari kesalahan.

 

Seandainya Chan Yeol mengatakan bahwa ia mencintai Kyung Soo sejak lama, mungkin yang berdiri di altar kemarin siang itu bukan Su Ho, tapi Chan Yeol.

 

Sekali lagi ia hembuskan nafas berkabut itu, dan akhirnya pasrah pada apa yang seharusnya ia terima. Karena memang tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain…

 

Menyerah…

 

Menerima keadaan bahwa Kyung Soo bukan untuknya.

 

 

 

“Yak… pencuri… berhenti kau anak nakal…” seru seseorang dari belakang.

 

Hanya sebuah insiden kecil yang sebenarnya tidak membuat Chan Yeol tertarik. Hanya saja seolah ada yang memintanya menoleh ke belakang hingga…

 

 

Dugh

 

“Awww…”

 

Greb

 

Tangan Chan Yeol yang mencengkram kuat lengan seorang pemuda pendek itu pun seperti refleks. Mata tajamnya memandang pemuda itu fokus, maka bisa ia saksikan wujud namja pendek yang baru saja menabraknya itu.

 

Wajahnya kecil, matanya sipit, kulitnya putih seperti salju, kedua pipi dan hidung mancungnya memerah karena hawa dingin, kabut yang keluar dari mulut dan hidungnya dalam tempo cepat itu menandakan ia sedang tersengal-sengal.

 

Namja ini..

 

 

 

 

Indah

 

 

 

 

Setidaknya itulah yang dipikirkan Chan Yeol pertama kali.

 

“Anak muda, jangan lepaskan dia… dia mencuri di tokoku,” teriak Ahjushii gemuk yang berada puluhan meter dari tempat Chan Yeol berdiri.

 

Chan Yeol kembali fokus pada namja pendek yang ditawannya. Sedikit aneh jika anak ini adalah pencuri. Maksudnya, penampilan anak ini terlalu modis dan elegan untuk ukuran seorang gelandangan apalagi pencuri.  “Kau mencuri? Apa yang kau curi?”

 

“Aku… tidak… mencuri. Hanya ingin… Roti ini…” keluh namja itu dengan nafas tersengal-sengal sambil memperlihatkan sepotong roti yang tidak begitu besar di tangannya.

 

“Kenapa kau mencuri roti?”

 

“Aku lapar…”

 

Deg

 

Dan tangan Chan Yeol refleks terlepas.

 

Namja pendek itu membungkuk berkali-kali. “Terima kasih banyak… Hyung,” ucapnya kemudian berlari secepat mungkin meninggalkan tempat itu.

 

“Ya! Kenapa kau melepaskannya?” bentak Ahjushii tadi saat ia sudah tiba di tempat Chan Yeol berdiri.

 

“Dia hanya mencuri sepotong roti, Ahjushii.”

 

“Tetap saja dia mencuri, bayangkan kalau dia setiap hari mencuri di tokoku, aku bisa bangkrut.”

 

“Lalu sudah berapa hari dia mencuri di toko anda?”

 

Ahjushii itu menatap Chan Yeol dengan alis terangkat. “Apa masalahmu? Dia temanmu?”

 

“Bukan… tapi aku juga manusia sepertinya. Dia lapar, dan terlihat jelas dia tidak sepenuhnya berniat mencuri.”

 

“Cih, alasan basi. Kalau dia lapar, kenapa dia tidak pulang untuk makan? Kenapa harus mencuri? Kalaupun dia tidak punya rumah, seharusnya dia bekerja, karena di dunia ini tidak ada yang gratis.”

 

“Berapa harga roti tadi, Ahjushii?”

 

“Apa?”

 

“Anda mempermasalahkan kerugian anda bukan? Jadi kutanyakan berapa harga sepotong roti tadi?”

 

“I… itu, 2 ribu Won,” jawab Ahjushii itu bingung.

 

Chan Yeol merogoh saku celananya mencari dompet, dan ia serahkan uang 10 ribu won. “Itu ganti ruginya.”

 

“Ah ini… maksudku… Ck, baiklah… kau tunggu di sini, aku akan mengambil kembaliannya dulu.”

 

“Tidak usah Ahjushii…”

 

“Ha?”

 

“Ambil saja beserta kembaliannya. Anda bilang di dunia ini tidak ada yang gratis kan?” Chan Yeol tersenyum, kembali memasukkan dompet ke saku. “Anggap itu adalah salah satu hal dari sekian banyak hal gratis di dunia ini. Karena kalau memang di dunia ini tidak ada yang gratis, maka tidak akan ada lagi kata memberi dalam kamus kehidupan.”

 

Ahjushii itu memandang Chan Yeol dengan wajah memerah, antara marah dan malu.

 

Chan Yeol berbalik, kemudian melanjutkan langkahnya sembari tersenyum. Seperti ada kelegaan sendiri di hatinya, bukan karena telah berhasil memberi pelajaran pada Ahjushii pelit tadi, tapi ia seperti mendapatkan hal baru dari teorinya sendiri.

 

Memberi…

 

Bukankah cinta juga adalah memberi? Dan memberi itu artinya tidak mengharapkan pamrih, karena kalau mengharap balasan… itu artinya menjual. Dan jelas saja cinta bukan untuk di jual.

 

Naif sekali, tapi Chan Yeol lega setelah mengerti kalimat itu.

 

 

 

~***~

 

 

“Kau mencuri? Apa yang kau curi”

 

“Aku… tidak… mencuri. Hanya ingin… Roti ini

 

“Kenapa kau mencuri roti?”

 

“Aku lapar…”

 

 

 

Chan Yeol POV

 

Aku membuka mata pagi itu, lebih awal dari pada kemarin-kemarin. Sudah beberapa minggu belakangan ini aku terus memimpikan hal yang sama. Pertemuanku dengan anak itu, meninggalkan…

 

Sesuatu…

 

Entah apa… aku tidak begitu mampu mengartikannya.

 

“Sudah bangun Chan Yeol-ah? Maaf sayang, Eomma tidak bisa lama-lama, pesawatnya berangkat pagi-pagi sekali, Eomma juga tidak masak banyak, hanya menyiapkan roti bakar untukmu. Di kulkas ada persiapan masakan selama beberapa minggu. Kalau Eomma belum pulang sampai 4 minggu, kau belanja saja untuk keperluan dapur, atau sekalian makan saja di luar. Sampai jumpa sayang, oh iya… setelah sarapan langsung ke kampus, jangan membolos, kau mengerti!” sambut ibuku buru-buru. Terlihat sangat jelas, bahkan ia tidak sempat mengecup keningku seperti biasa.

 

Sudahlah, aku paham kehidupan seorang single parent seperti ibuku.

 

Aku menggeret kursi dan duduk di depan meja makan (setelah mengantar ibuku sampai depan pintu). Dua potong roti bakar dengan selai cokelat sudah tersedia di sana, segelas susu dan… um tidak ada lagi. Hanya itu, tapi kurasa cukup untuk pengganjal perutku pagi ini.

 

Kuambil roti yang masih hangat itu dan memasukkannya ke mulutku dalam bentuk gigitan besar. Apa yang lebih enak di dunia ini dari pada masakan ibu? Walau hanya sepotong roti…

 

 

Roti…

 

 

“Kenapa kau mencuri roti?”

 

“Aku lapar…”

 

 

Aku meletakkan kembali roti itu dan memijit keningku. Apa-apaan ini? bahkan saat dalam keadaan sadar pun aku terus terbayang-bayang kejadian itu.

 

 

Siapa anak itu?

 

Dan apa yang telah dia lakukan padaku?

 

Aku seperti kehilangan sesuatu…

 

Dan kurasa, dia memang seorang pencuri karena telah berhasil mencuri sesuatu dariku.

 

Apa itu?

 

Akupun tidak tahu.

 

Yang pasti apa yang dia curi adalah sesuatu yang paling berharga bagiku.

 

 

~***~

 

 

Author POV

 

 

“Oke, kelas hari ini cukup. Dan Chan Yeol… konsentrasimu sepertinya buyar, semuanya jadi terlihat kacau, irama gitarmu berantakan dan… ah sudahlah,” tegur Dong Hae, pelatih di kelas musik.

 

Cwesonghamnida Hyung,” sahut Chan Yeol dengan ekspresi aneh.

 

Gwenchana, perbanyak istirahat. Jika kuliahmu padat, tidak perlu memaksakan waktumu untuk mengikuti latihan, walau bagaimanapun kami tetap membutuhkanmu di pertunjukan nanti.” Dong Hae menepuk pundak Chan Yeol sebelum meninggalkan kelas yang mulai bubar itu.

 

Chan Yeol menyeret langkah beratnya menuju pojok ruangan, tempat ia meletakkan tasnya. Ia terduduk dan bersandar tanpa tenaga di sana, memejamkan mata dan berusaha mengembalikan staminanya.

 

“Hei…” Teguran seseorang yang sangat dikenalnya itu tak jua membuat Chan Yeol membuka matanya.

 

“Pulanglah duluan Lay,” balas Chan Yeol terkesan tidak peduli.

 

“Ayolah Chan Yeol, ini sudah hampir sebulan sejak Kyung Soo menikah, kenapa kau makin mengenaskan saja.”

 

Chan Yeol berdecak, dengan paksa membuka mata lelahnya dan menatap malas ke arah Lay. “Percaya sesuatu? Aku lebih baik malihat Kyung Soo berpelukan dengan Su Ho hyung berkali-kali dibandingkan seperti ini. Benar-benar tidak jelas…”

 

Lay menautkan alisnya. “Jadi ini bukan ekspresi patah hati? Lalu apa?”

 

“Ck, sudah kubilang, ini tidak jelas. Kalau aku terpuruk karena Kyung Soo menikah, kurasa itu masih lebih baik karena penyebabnya jelas, tapi minggu-minggu belakangan ini, aku betul-betul merasakan sesuatu yang aneh, dan semakin hari semakin parah. Dan kalau saja aku tidak bertemu Kyung Soo kemarin, dan mendapati diriku tenang-tenang saja melihatnya, aku pasti mengira ini masih pengaruh sakit hatiku.”

 

“Wow… menakjubkan, kau sudah bertemu Kyung Soo lagi sejak bulan madunya dengan Su Ho hyung?”

 

“Hm…”

 

“Dan kau santai saja?”

 

“Hm….”

 

“Tidak ingin bunuh diri karena membayangkan apa yang dilakukan Kyung Soo dan Su Ho hyung selama hampir sebulan?”

 

“Tidak, aku hanya ingin membunuhmu karena suaramu membuat kepalaku semakin pusing.”

 

Lay tertawa dan menepuk paha Chan Yeol. “Sebenarnya apa yang terjadi? Kupikir Kyung Soo satu-satunya nama yang bisa membuatmu terpuruk, tapi karena kau bilang cukup santai menghadapinya jadi kupikir…”

 

“Sebenarnya tidak sepenuhnya sesantai itu. Tapi di luar ekspektasi, aku tidak seterpuruk itu.”

 

“Jadi sebenarnya apa yang menyebabkanmu seperti ini heum?”

 

“Sudah kubilang ini tidak jelas, apa kau tuli?”

 

“Ayolah… mana mungkin kau tidak tahu. Pasti terjadi sesuatu sehingga kau seperti orang idiot begini. Kau jatuh cinta lagi?”

 

 

Deg

 

“Zhang Yi Xing…”

 

“Aku tidak bercanda, seorang pujangga bilang, kalau kau ingin melihat orang yang betul-betul idiot, lihatlah tingkah orang yang sedang jatuh cinta.”

 

Chan Yeol meraih handuk, dan menyeka wajahnya. “Apapun, asal jangan jatuh cinta.” Ia pun menyambar tasnya dan beranjak meninggalkan tempat itu sebelum Lay terus menggodanya.

 

 

 

~***~

 

 

Chan Yeol betul-betul bingung dengan dirinya. Akhir-akhir ini dia makin parah, semakin gelisah dan betul-betul terlihat seperti orang idiot.

 

Seperti sore itu? Ia hanya berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, sesekali mengacak rambutnya yang memang sudah sangat berantakan, sesekali memukul dadanya saat ia merasa jantungnya ada gangguan hingga detakannya terasa aneh, sesekali ia menarik nafas dalam-dalam karena merasa paru-parunya kosong, dan sesekali dia menggeram frustasi ketika sekali lagi ia mengingat kejadian singkat dan sama sekali konyol jika dianggap berkesan.

 

“Kenapa kau mencuri roti?”

 

“Aku lapar…”

 

 

Chan Yeol mendudukkan dirinya di pinggiran tempat tidur dan memegangi kepalanya. “Apa yang sebenarnya kau curi dariku????” bentaknya seorang diri.

 

 

~***~

 

“Selamat datang… silakan memilih segala jenis roti di sin__” Ucapan Pramusaji itu terhenti tatkala melihat siapa yang baru saja masuk ke toko rotinya.

 

Seorang pemuda tampan, dengan postur tubuh sempurna, tengah melangkah kikuk mendekati etalase yang dijaga Pramusaji tadi.

 

Hanya dalam hitungan detik, ekspresi wajah sang pramusaji yang seorang pria paruh baya itu langsung berubah drastis. “Untuk apa kemari anak muda?”

 

Pemuda tampan itu, Chan Yeol… sudah bisa menebak apa yang akan dihadapinya. Ia sudah sampai limit, dan sebelum ia betul-betul kehilangan kewarasan, ia harus melakukan sesuatu.

 

“Ahjushii, aku ingin bertanya.”

 

“Tanya apa?” sambutan itu kedengaran sekali tidak ramah.

 

“Anak yang… Waktu itu mencuri di tokomu..”

 

Ahjushii itu mengangkat alis, sebelah sudut bibirnya terangkat, terlihat sangat sinis. “Wae? Kau ingin tahu siapa anak itu?”

 

Mata Chan Yeol membulat, seolah menemukan harapan dari ucapan Ahjushii di depannya ini. “Ne… Bisa beritahu aku di mana dia tinggal?”

 

“Aku tidak tahu.”

 

“Ahjushii… Tolonglah aku, ada… sesuatu… yang…”

 

“Biar kutebak? Kau kehilangan sesuatu kan?”

 

Chan Yeol terdiam, secara harfiah pertanyaan itu tidak salah. Chan Yeol memang merasa kehilangan sesuatu sejak pertemuannya dengan anak itu. Hanya saja ini bukan berupa benda, hanya sebuah materi yang abstrak, tapi sangat berharga, karena Chan Yeol betul-betul merasakan kekosongan pasca kehilangan itu.

 

“Sudah kubilang, jangan lengah terhadap pencuri itu. Apa yang dia ambil darimu?”

 

Chan Yeol tidak menjawab pertanyaan meremehkan itu.

 

“Hm, sepertinya cukup penting. Tapi sayang sekali aku tidak bisa membantu.”

 

Chan Yeol menghembuskan nafas pasrah, dengan kepala tertunduk dia terlihat betul-betul menyedihkan. Bahkan Ahjushii yang sebenarnya masih kesal dengannya pun turut prihatin. Atau mungkin ini masih pengaruh uang kembalian 8 ribu Won yang terus mengusik pikirannya. Anggap saja keduannya.

 

“Aku pernah melihat anak itu berkeliaran di daerah sini pada malam hari. Mungkin sudah menemukan pekerjaan atau apa.”

 

“Ne?”

 

“Hm… Aku tidak bisa membantu banyak, tapi cobalah kau cari lagi dia di wilayah ini pada malam hari.”

 

Chan Yeol mengangguk antusias. “Kamsahamnida Ahjushii…”

 

“Tunggu… memangnya apa yang dia curi?”

 

Chan Yeol tersenyum. “Belum jelas Ahjushii, akan kupastikan saat bertemu dengannya.”

 

 

 

~***~

 

Chan Yeol menghempaskan punggungnya pada pintu mobil hitamnya yang ia parkir di depan area pertokoan, sudah belasan atau mungkin puluhan toko, cafe, dan restoran yang ia singgahi hanya untuk menanyakan, Apakah di sini ada seorang namja yang baru saja melamar pekerjaan? Tingginya seperti ini, kira-kira sampai telingaku, kulitnya putih pucat, bibirnya tipis, hidungnya runcing, matanya kecil, dan eum… sangat manis?”

 

Dan Chan Yeol mendapat jawaban yang beragam walau intinya hanya satu, “Tidak ada.”

 

Ia sudah hampir dihadapkan pada keputusasaan, dan saat ia sudah berniat untuk menyerah, ekor matanya menangkap sesuatu yang tidak begitu jauh dari tempatnya duduk. Kedua mata Chan Yeol melebar. Dan dalam sekejap jantungnya berdegup lebih cepat.

 

 

Found ya…

 

Ia sudah mengembangkan senyumnya, bersiap untuk melangkah dan menghampiri, namun berhenti saat ia merasa sedikit tergelitik dengan ulah pemuda di sana itu.

 

Ya, pemuda dengan penampilan yang terlalu bagus jika dikatakan gelandangan. Lihat mantel kelabu yang dikenakannya itu, Chan Yeol berani menjamin harganya ratusan ribu won atau lebih. Namun bukan itu. Bukan penampilan pemuda itu yang membuat Chan Yeol memilih untuk berdiam untuk sementara. Hanya sebuah tingkah kecil yang menurutnya konyol, atau justru lucu.

 

Di sana, pemuda mungil yang tampak sedang bimbang, berdiri tak jauh di depan toko roti sambil memegangi perutnya. Wajahnya cemas, gelisah dan sangat tidak tenang. Sesekali ia melangkah mendekati pintu toko, namun ia urung dan menggelengkan kepalanya. Ia mundur beberapa langkah, tapi kembali memegangi perutnya dan meringis seperti kesakitan.

 

Dia lapar.

 

Dan Chan Yeol tahu itu. Sampai saat pemuda mungil itu seperti bertekad untuk sesuatu yang sepertinya salah, Chan Yeol mempercepat langkahnya ke sana. Tanpa basa-basi langsung mencengkram lengan pemuda mungil itu yang akhirnya terperanjat kaget.

 

“Kau…”

 

Mata sipit pemuda itu melebar. “Ah… Hyung yang waktu itu.”

 

“Jangan mencuri… Atau kali ini kau tidak akan lolos,” ancam Chan Yeol dengan senyumnya yang tersembunyi.

 

“Si… Siapa yang mencuri. Aku tidak mencuri… aku…”

 

“Kembalikan.”

 

“A-apa? Kembalikan apa? Aku bahkan belum melakukan apa-apa.”

 

Chan Yeol menarik nafas, kemudian menghembuskannya pelan. Setelahnya ia menyunggingkan senyum yang sejak tadi ditahannya. “Kembalikan apa yang telah kau curi dariku.”

 

 

 

~***~

 

 

Chan Yeol POV

 

 

 

Rasa penasaranku sebenarnya belum terjawab. Dia sudah ada di hadapanku sekarang, tengah menyantap sup ayam ginseng yang kumasakkan untuknya tapi belum terdengar sepatah katapun darinya (kecuali saat ia mengatakan, ah lezatnya). Aku cukup bersabar, karena aku tidak sekejam itu menghentikan kegiatannya mengobati lapar. Berapa hari dia tidak makan? Sungguh, jika aku tidak khawatir lambungnya meledak, maka akan kumasakkan beberapa porsi lagi.

“Ah… aku tertolong,” ucapnya entah sadar atau tidak sadar setelah menghabiskan makanannya.

 

“Jadi sudah bisa kita mulai?” tegurku, membuatnya mengerjapkan mata berkali-kali kemudian memasang tampang tegang.

 

“Mu… Mulai apa?”

 

“Baiklah, bagaimana kalau kita mulai dengan nama. Agar aku tahu bagaimana aku memanggilmu.”

 

“Nama?”

 

“Hm nama. Namamu…”

 

“Namaku…” ia langsung mengatupkan rahangnya dan menutup mulutnya rapat-rapat. Seperti hendak mengatakan sesuatu tapi urung.

 

“Iya… namamu.”

 

Dan setelahnya, ia merubah sikap. Dia kelihatan bingung, sedikit bersikap aneh dengan menggaruk alis kanannya seolah apa yang kutanyakan adalah pertanyaan yang sangat sulit.

 

“Ah begini saja, namaku Park Chan Yeol. Namamu siapa?” tanyaku sekali lagi. Bisa jadi memang dia masih anak-anak seperti tampangnya hingga ia tidak cukup mengerti dengan bahasaku.

 

“Ah… Namaku…” serunya seolah sudah mengerti.

 

Ya Tuhan…

 

“Iya, namamu,” balasku cukup sabar.

 

“Namaku adalah…”

 

“Ya?”

 

“Namaku adalah…”

 

“Iya namamu…”

 

“Namaku adalah… eum… namaku… aku tahu aku punya nama.”

 

Pembicaraan ini makin lama makin aneh. Entah anak ini mempermainkanku atau apa, tapi wajahnya terlalu serius jika dikatakan ia sedang berkelakar.

 

“Lalu?”

 

Barulah ia menunduk. Memegangi area pelipisnya seolah berpikir keras. “Tapi aku sama sekali tidak tahu bagaimana mereka memanggilku. Namaku… aku punya nama… tapi aku tidak tahu namaku.”

 

Firasatku mulai tidak baik tentang ini. Aku khawatir akan beberapa hal. Tentu saja latar belakang pemuda cantik di hadapanku ini.

 

Pertama, bisa jadi dia adalah seorang penipu ulung dan dia tengah berusaha menarik simpatiku, dan jika aku lengah ia akan merampas semua barang berharga yang kumiliki di rumah ini. Tapi aku tidak bisa mempertahankan pendapat pertamaku ini karena suara hatiku mengatakan itu salah. Anak ini hanya mencuri karena terpaksa. Ia lapar, dan mencuri adalah pilihan terakhirnya, jadi tidak bisa kutegaskan bahwa tindakannya sepenuhnya salah.

 

Kedua… anak ini bisa jadi kehilangan ingatan masa lalunya. Dan ini yang paling benar.

 

“Kau punya tempat tinggal?”

 

“Ada… Aku tahu aku punya rumah.”

 

Oh baiklah, sebelum ini berlanjut seperti aku menanyakan namanya, mungkin aku bisa mempersempit pertanyaanku. “Maksudku… sekarang, kau tinggal dimana?”

 

“Di sebuah rumah kecil yang kusewa untuk beberapa bulan.”

 

“Menyewa? Dengan uang?”

 

Wajahnya memerah, sepertinya tersinggung. “Tentu saja dengan uang, kau pikir dengan apa?”

 

“Jangan salah sangka. Aku hanya tidak mengerti bagaimana kau bisa menyewa rumah sementara makan saja kau harus mencuri.”

 

Wajahnya semakin memerah. “Aku tidak mencuri. Sudah kubilang aku terpaksa. Aku lapar.”

 

“Aku tahu, untuk itu aku heran. Bagaimana bisa kau menyewa sebuah rumah?”

 

“Aku bukan gelandangan, dan aku tahu pasti itu. Wa… Walau aku tidak bisa memastikannya tapi aku yakin aku bukan orang seperti ini sebelumnya.”

 

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Tentang rumah.”

 

“Jam tangan. Hari itu, setelah aku bertemu denganmu… Aku menjual jam tanganku dan mereka menghargainya beberapa ratus ribu won. Cukup untuk menyewa rumah beberapa bulan. Sisanya kugunakan untuk makan. Dan kemarin, sisa uang itu sudah habis. Beginilah keadaan terakhirku.”

 

Benar tebakanku bahwa dia tidak sepenuhnya gelandangan. Jam tangannya yang ia jual, sebenarnya aku yakin bisa dihargai lebih dari itu, dan itu membuktikan bahwa sebelumnya, anak ini berasal dari keluarga yang berada.

 

Ah… tunggu! Sebenarnya kenapa anak ini kehilangan ingatannya?

 

 

 

~***~

 

 

Saat ia mengatakan bahwa ia menyewa sebuah rumah kecil, kupikir bahwa wujudnya memang rumah. Oke, sekarang aku memang berdiri di sebuah ruangan yang ia sebut sebagai rumah karena memang ini rumah. Memiliki dinding dan atap. Tapi bagaimana mungkin ini adalah rumah jika hanya ada satu ruangan di sini (jika kamar mandi tidak dihitung). Ruang tamu, ruang makan, ruang untuk tidur, bahkan dapur ada di ruangan yang sama yang luasnya bahkan tidak cukup setengah dari kamar tidurku. Tidak ada pemanas ruangan, dan di musim dingin seperti ini bagaimana dia bisa bertahan? Apalagi jika ada badai salju.

 

“Sudah berapa lama kau tinggal di sini?” tanyaku saat kulihat ia sudah membenahi sebuah selimut tipis yang ia jadikan alas untuk tidurnya nanti.

 

“Sejak pertemuan pertama kita. Satu bulan. Kurang lebih,” jawabnya kemudian menguap cukup lebar.

 

“Sebelum di sini?”

 

Ia diam. Jika tidak kulihat kedua matanya masih terbuka maka aku akan mengira ia sudah tidur. Sepertinya untuk pertanyaan ini dia juga tidak punya jawabannya.

 

“Sama sekali tidak ada bayangan?” tanyaku lagi setelah memposisikan diri untuk duduk di sebelahnya.

 

“Tidak… Jika aku berusaha mengingat, yang berputar-putar di kepalaku hanya suara teriakan, juga suara tangis, dan kurasa itu bukan hal yang baik jika diingat. Aku punya firasat bahwa Tuhan sedang menyelamatkanku  dengan menghapus ingatan masa laluku.”

 

Aku tidak lagi mendesaknya. Sepertinya memang ada yang terjadi padanya sebelum ini. Untuk itu, kubiarkan ia sedikit tenang.

 

“Chan Yeol-shii… betul kan?”

 

Aku menggumam, kemudian mengangguk.

 

“Sudah sangat larut, seharusnya kau kembali ke rumahmu. Aku juga sudah sangat mengantuk. Ah terima kasih telah memberiku makan. Masakanmu lezat.”

 

Aku terdiam lagi. Memandangi tingkahnya yang tengah mengusap-usap kelopak matanya yang berair.

 

“Aku tidak mengusirmu, tapi aku betul-betul mengantuk. Jadi aku tidur dulu. Kalau kau pulang tolong rapatkan saja pintunya. Selamat malam.” Dan setelah ia berhenti berucap, ia membaringkan tubuhnya di atas selimut tipis.

 

Dia tertidur.

 

Tubuh mungil itu meringkuk. Di balik mantel kelabu tebal yang aku tahu cukup hangat, namun tidak sehangat itu untuk tubuh yang terlihat rapuh. Ah… bisa jadi aku berlebihan, buktinya ia bisa bertahan selama satu bulan di ‘rumah’ kecil ini.

 

Aku hendak beranjak, tapi… masih ada yang tertinggal. Maksudku… aku hanya membawa dompet dan kunci mobil saat mengantar pemuda tanpa nama ini ke sini. Dan kedua benda itu lengkap di sakuku, jadi tidak ada yang tertinggal.

 

Tunggu…

 

Bukankah aku masih belum menemukan apa yang dicuri anak ini dariku?

 

Ah benar… jadi aku punya alasan kuat untuk terus memantau pergerakannya. Benar… aku bukan penguntit. Aku hanya ingin ‘sesuatu’ yang ia curi itu kembali padaku.

 

“Hei… Kau sudah tidur?”

 

Pemuda itu menggeliat, sangat terganggu kemudian memaksa matanya terbuka. “Kenapa masih di sini?”

 

“Kau belum mengembalikannya.”

 

“Mengembalikan apa? Sudah kubilang aku tidak mencuri apa-apa darimu Chan Yeol-shii Hyung. Dalam hidupku aku hanya satu kali mencuri, hanya roti yang waktu itu. Mungkin akan terjadi dua kali kalau tadi kau tidak memberiku makan.”

 

Anak ini lucu. Sungguh… jika tidak sadar bahwa sebenarnya dia juga sudah cukup dewasa, maka aku akan meraihnya dalam pelukanku dan meremukkannya. Oh baiklah… aku mulai berpikir seperti  seorang piskopat.

 

“Aku tidak yakin. Begini saja, mulai  sekarang kau  ikut denganku. Tinggal di rumahku sampai kuketahui apa yang sebenarnya kau curi dariku.”

 

Dia berdecak kesal, akhirnya bangkit dari tidurnya dan memasang wajah cemberut. Oh… bibirnya yang kecil itu.

 

“Bagaimana jika orang tuamu tidak setuju kau membawa orang asing ke rumahmu? Apalagi aku yang latar belakang keluarga saja tidak jelas.”

 

“Itu cukup sebagai alasan kuat untuk aku menampungmu. Ibuku juga punya jiwa sosial yang kuat sepertiku, hanya saja dia tidak punya waktu.”

 

“Lalu Ayahmu?”

 

“Kurasa dia sudah tenang di Surga sana.”

 

Ia terdiam, kemudian memasang senyum kikuk. “Maaf…”

 

“Bukan masalah. Jadi betulkan mantelmu dan ikut denganku.”

 

 

~***~

 

 

Pemuda itu baru beberapa hari tinggal di rumahku. Dan semakin kesini aku semakin tahu sifat dan tingkahnya. Persepsiku mengenai dia berasal dari kalangan atas itu sepertinya tidak salah. Cara ia duduk, berjalan, makan (kecuali kemarin itu, saat ia dengan bringasnya menghabiskan satu mangkuk penuh sup ayam ginseng), semuanya… sangat elegan. Seperti telah dilatih sejak kecil. Ia bahkan menatapku tidak suka saat dengan santainya aku bersendawa di hadapannya saat makan malam. Dan saat kutanya kenapa, ia menjawab dengan ketus. “Itu sungguh tidak sopan Chan Yeol-shii Hyung.”

 

Lihat saja cara dia memanggilku. Cukup unik, mungkin karena ia juga tidak ingat berapa usianya. Dan dilihat dari segi fisik, sepertinya aku memang lebih tua darinya.

 

Dia sungguh… ah aku tidak tahu apa kata yang tepat untuk mendeskripsikannya. Kata indah saja tidak cukup, manis juga tidak cukup, imut, lucu, menggemaskan, mengagumkan… ah aku tidak tahu kenapa aku mengaguminya. Dia orang asing, jadi mana mungkin aku mengaguminya.

 

Maksudku, suatu pagi ia keluar dari kamar tamu yang kusediakan untuknya. Untuk ukuran orang yang baru saja bangun dari tidur lelapnya… dia terlalu indah. Ini konyol… aku bahkan masih berani mengatakan bahwa keadaannya yang berantakan masih terlalu menarik.

 

Caranya tertawa, sungguh menenangkan. Obrolan kami terkesan ringan dan sangat akrab, pembawaannya ramah dan… ceria. Aku tidak pernah serileks ini sejak terakhir aku kehilangan Kyung Soo. Seperti tanpa beban (kecuali sesuatu yang ia curi dan belum kutemukan sampai sekarang itu masih disebut sebagai beban), entahlah… akan kubenarkan perkataan Lay jika aku terlihat semakin idiot karena ia menemukanku tersenyum-senyum sendiri di pojok ruang latihan sambil mengelus badan gitarku.

 

“Siapa?” tanya Lay padaku saat itu.

 

“Siapa apa?” tanyaku kembali.

 

“Siapa yang membuatmu tampak idiot seperti ini?”

 

“Apa maksudmu? Apa aku terlihat seperti orang idiot?”

 

“Kau punya cermin? Lihat saja sendiri wujudmu. Ayo katakan, siapa yang membuatmu jatuh cinta?”

 

Blush…

 

“Zhang Yi Xing!!!”

 

“Ya Tuhan… Kukira sebesar apa cintamu pada Kyung Soo sampai kau sulit berpaling, ternyata tidak sebesar yang kubayangkan. Aku bahkan tidak pernah melihatmu seperti ini, seperti anak remaja yang baru mengalami pubertas.”

 

“Ya Tuhan… Aku juga tidak tahu bahwa kau sangat tidak sopan. Siapa bilang aku sedang jatuh cinta???”

 

“Jika seluruh dunia melihatmu sekarang, maka seluruh dunia juga akan mengatakan bahwa kau sedang jatuh cinta.”

 

“Brengsek…”

 

“Kau yang brengsek. Cepat katakan siapa dia.”

 

“Aku tidak tahu.”

 

“Oh… berarti kau sekarang menjadi seorang pengagum rahasia? Hanya bisa mengagumi dari jauh?”

 

“Eum tidak juga… Dia ada di rumahku sekarang.”

 

Lay membelalak, langsung mencengkram pundakku. “KAU GILA?”

 

“Hei… sudah cukup kau mengatakanku idiot, jadi jangan menambahnya menjadi gila.”

 

“Tapi…. Wow… kau sungguh luar biasa. Jadi kalian sudah tinggal bersama?”

 

“Karena suatu alasan, dia tinggal di rumahku.”

 

“Suatu alasan?” Lay tampak berpikir serius, kemudian membelalak tidak percaya. “ASTAGA CHAN YEOL!!! KAU MENGHAMILI ANAK ORANG?”

 

Dan aku tidak segan-segan memukul kepala sahabatku itu karena dia sudah berlebihan. “Dia seorang laki-laki.”

 

Dan Lay hanya tertawa kecil sambil mengusap kepalanya. “Maaf maaf, aku lupa.”

 

Aku memutar bola mata malas dan kembali memainkan gitarku.

 

“Jadi bagaimana dia? Apa dia seperti Kyung Soo?”

 

Aku sedikit berpikir, kemudian tersenyum. “Kalau kau bilang ukuran tubuh dan tinggi badan mungkin benar, dia seperti Kyung Soo. Selebihnya bertolak belakang. Kyung Soo punya kelopak mata yang lebar sementara dia sipit dan kecil, Kyung Soo punya pipi yang chubby sementara dia sedikit tirus, kuusahakan dia akan cukup banyak makan kedepannya. Kyung Soo punya bibir yang cukup tebal sementara dia punya bibir tipis dan senyumnnya menenangkan. Rambutnya mengkilat dan terlihat sangat lembut, kulitnya putih bersih, lembut. Jarinya indah, lentik. Semua yang ada padanya sangat indah. Berada di dekatnya sangat menenangkan, kami bisa membicarakan banyak hal. Aku menemukan bahwa dia punya minat cukup tinggi pada musik, mungkin di masa lalu dia gemar musik. Dan…”

 

Suara tawa Lay mengusikku, dan sungguh… itu menjengkelkan.

 

“Kenapa?” tanyaku kesal.

 

“Si idiot yang sudah terang-terangan mengaku jatuh cinta. Di kalimat awal kau membandingkannya dengan Kyung Soo, dan sisanya sampai akhir kau hanya membahas orang tanpa nama itu.”

 

Aku membelalak karena dia terus menertawaiku. “AKU TIDAK JATUH CINTA!!!”

 

“Lalu apa heum? Jatuh hati? Sama saja, idiot.”

 

“BERHENTI MEMANGGILKU IDIOT!!!”

 

 

 

~***~

 

 

Pagi tidak pernah secerah ini sebelumnya, walau tetap mendung karena salju masih terus turun. Cuaca tidak pernah sehangat ini, walau nyata-nyata hari ini adalah hari terdingin di musim salju tahun ini. Semuanya seperti tidak masuk akal hanya karena pemuda yang duduk di hadapanku, menemaniku sarapan pagi. Sesekali membicarakan film laga yang kami tonton semalam.

 

Sekali lagi… senyumnya itu. Dimana ia mendapatkannya? Kupikir kedua orang tuanya adalah manusia yang paling diberkati Tuhan hingga melahirkan anak sepertinya.

 

“Chan Yeol-shii Hyung??? Hei… kau mendengarku?”

 

Dan lihat betapa memalukannya aku. Aku terlalu sibuk memandanginya tanpa sadar bahwa ia sedang mengajakku bicara. “Ah iya, kenapa?”

 

“Sudah pukul 10, kau tidak ada kuliah?”

 

Sebenarnya ada. Tapi… aku hanya tidak ingin dikatakan gila jika menjadikan alasan keberadaannya di rumahku agar tidak pergi kuliah. Maksudku, aku semangat menatap masa depanku, dan orang ini juga termasuk pemicu. Bukan penghambat. “Ada, tapi masih 2 jam lagi. Kenapa?”

 

“Tidak. Hanya saja kau tidak boleh membolos.”

 

Hanya pernyataan sederhana, tapi bagiku itu adalah bentuk perhatian.

 

 

 

~***~

 

 

Sampai di minggu ke tiga ia berada di rumahku. Tanpa sengaja aku berpapasan dengannya di depan kamar mandi. Ia baru saja keluar dari sana.

 

Abaikan saja tanggapanku yang susah payah menahan arah mataku untuk tidak tertuju pada area leher dan sebagian bahunya yang terbuka karena ia mengenakan kaos longgar yang sebenarnya sangat pas jika di badanku.

 

Bukan itu titik fokusnya, tapi apa yang bergelantung di lehernya dan baru kali ini kusadari kalau ia memang memakainya sejak awal.

 

“Kenapa?” tanyanya curiga saat aku terus memandangi lehernya.

 

“Itu…” jawabku sambil menunjuk lehernya. Tepatnya apa yang menjuntai di lehernya.

 

Ia menatapku horor, dan dengan refleks ia menyilangkan kedua tangannya melindungi dada dan lehernya kemudian bergerak mundur. “Itu apa?”

 

Oh… apa aku terlihat semesum itu sekarang?

 

“Itu… kalung berbandul cincin yang kau kenakan. Apa sudah lama ada padamu?”

 

Barulah ekspresi wajahnya melunak. “Oh ini, kurasa begitu. Ini sangat penting, jadi tidak kujual.”

 

“Penting? Kenapa kau tahu bahwa itu sangat penting? Kau ingat sesuatu?”

 

Ia terdiam, seperti berpikir. “Ti… Tidak. Hanya merasa kalau benda ini penting.”

 

“Ah bisa jadi itu semacam petunjuk mengenai jati dirimu.”

 

“Eh?”

 

Dan sebelum ia menyerukan protes, aku meraih kalung itu, sebenarnya tidak terlalu kasar tapi langsung terlepas dan berpindah ke tanganku sekarang. “Maaf… tapi sepertinya memang harus dilihat dalam jarak dekat, akan kubetulkan nanti,” ucapku kemudian mengeluarkan cincin yang bergelantungan di tengahnya sebagai bandul.

 

Cincin ini unik, dan tanpa mengamatinya lebih detailpun orang-orang akan langsung tahu bahwa harga cincin ini tidak main-main. Aku membolak-baliknya perlahan sampai aku menemukan ukiran sebuah huruf di atasnya. Ukiran huruf latin yang cukup mudah di baca. “B?”

 

“B?” tanyanya juga.

 

“Mungkin itu inisial namamu,” seruku riang, seperti menemukan petunjuk letak harta karun yang terpendam bertahun-tahun.

 

“Bisa jadi…”

 

“Tapi B… B apa? mana mungkin aku harus memanggilmu dengan B saja.”

 

“Setidaknya kedengaran lebih baik daripada kau memanggilku ‘hei’,” responnya, dan kurasa dia benar. dia memang kurang suka kupanggil ‘hei’ karena itu tidak sopan.

 

“Baiklah, ada jutaan kemungkinan untuk nama yang diawali dengan huruf B. Babymisalnya.”

 

“Ugh…”

 

“Kau tidak suka kan? Dan dari pada aku memberimu nama asal-asalan, kupanggil saja kau B.”

 

(a/n: B read Bi)

 

Ia mengangguk, lebih kepada setuju.

 

Setelahnya, aku kembali mengamati cincin berbahan logam mulia itu. Mencari sesuatu yang mungkin saja tidak terlacak dengan pengamatan sebentar. Dan benar saja, aku memicingkan mata saat kuraba permukaan lingkaran dalam cincin itu, dan saat kufokuskan tatapanku ke lingkaran dalam itu, aku menemukan ukiran huruf lain, kali ini bukan hanya inisial huruf, tapi… “Kris?”

 

Dan saat ingin kupastikan respon pemuda yang mulai saat ini akan kupanggil B itu, ia membelalak. Dan kurasa, nama Kris cukup tabu di telinganya.

 

“Kris? Jadi bukan nama dengan huruf B di awal?”

 

Ia terdiam, kaku. Kemudian menggeleng ragu.

 

“Atau Kris adalah nama Inggrismu? Dan nama yang berawalan B adalah nama Koreamu?”

 

“Aku tidak tahu. Tapi aku yakin akan sesuatu kalau mereka tidak pernah memanggilku dengan nama Kris. Maksudku… sepertinya aku juga memanggil seseorang dengan nama itu.”

 

Aku berhenti berpikir saat suatu analisa sederhana singgah di otakku. Cincin yang begitu elegan ini, ukiran nama B dan seseorang yang bernama Kris…

 

 

 

 

 

Dia sudah bertunangan.

 

 

 

~***~

 

 

 

Aku menatap langit-langit kamarku yang sebenarnya tidak ada apa-apa di sana kecuali beberapa bentuk retakan karena catnya terkelupas. Itu sama sekali tidak penting karena fokus pikiranku bukan di sana. Hanya seorang pemuda yang kutahu berinisial nama B yang sekarang mungkin sedang tidur di kamar tamu yang kusediakan.

 

Sampai sekarang aku bahkan belum menemukan petunjuk mengenai apa yang telah ia curi dariku. Tapi setidaknya aku bisa sedikit merasakan kelegaan saat ia berada di dekatku, mungkin karena sesuatu yang ia curi itu ada padanya di saat yang bersamaan berada di dekatku.

 

Akh…

 

Tapi kelegaan itu berubah menjadi kegelisahan justru di saat aku sedikit demi sedikit menemukan petunjuk tentang latar belakangnya.

 

Dia sudah bertunangan dengan seseorang yang bernama Kris…

 

Dan ada sesuatu yang cukup aneh di sudut hatiku. Rasanya ngilu dan itu tidak mengenakkan. Karena itu memicu seluruh metabolisme dalam tubuhku. Sesak….

 

Seperti…

 

Tidak suka pada kenyataan itu.

 

Rasanya sama seperti aku melihat Kyung Soo berdampingan dengan Su Ho Hyung di altar pernikahan. Ya… rasanya sama, hanya saja ini lebih tidak mengenakkan karena terlalu banyak yang menyertainya. Terlalu banyak rasa penasaranku pada B yang belum terjawab.

 

Tok… tok… tok

 

Aku menghentikan lamunanku dan menoleh ke arah pintu kamar. “Masuk, tidak dikunci.”

 

Dan detik selanjutnya kulihat pintu itu terbuka, menampakkan sosok B dengan ekspresi bingung yang tidak pernah lepas dari wajahnya. “Chan Yeol-shii Hyung… Telepon rumahmu berbunyi, dan karena kau tidak juga keluar, aku yang menjawabnya.”

 

Aku mengerutkan kening, langsung bangkit dari tempat tidurku dan duduk di sana, menyambar ponsel di atas nakas dan memeriksanya. Ternyata memang baterenya mati. Dan akhirnya terjawab kenapa telepon rumahku yang berdering karena seingatku memang jarang orang yang menelpon ke rumah karena aku dan Ibu punya ponsel. “Siapa yang menelpon?”

 

“Aku tidak tahu. Dia tidak menyebutkan namanya. Dia sepertinya marah. Atau mungkin panik, terlebih bukan kau yang menjawab telepon.”

 

Aku semakin mengerutkan keningku. “Duduk di sini,” panggilku sambil menepuk sisi tempat tidurku. B menurut dan duduk di sebelahku. Kupikir dia harus tenang dulu sebelum menyampaikan apa isi panggilan tadi. “Nah abaikan saja sikap marah-marah orang itu, dia bilang apa?”

 

“Dia terus bertanya dimana Chan Yeol. Kubilang kau mungkin tertidur, tapi dia mengumpat.”

 

“Lalu?”

 

“Aku juga bingung harus bagaimana, jadi kubilang saja tinggalkan pesanmu. Sambil marah-marah, dia bilang beritahu Chan Yeol, dia harus ke RS Seoul detik ini juga, jika terjadi apa-apa ini adalah kesalahanmu. Begitu, lalu sambungannya terputus.”

 

Dan firasatku berkata, telah terjadi hal yang buruk.

 

“B… sepertinya aku harus ke RS sekarang. Kau tunggulah di rumah, dan jangan lupa kunci pintunya. Ah, jangan asal terima tamu. Tunggu teleponku.”

 

Dia hanya mengangguk bingung, tapi aku yakin dia mengerti.

 

 

~***~

 

 

“DARI MANA SAJA KAU? KENAPA PONSELMU TIDAK AKTIF BRENGSEK!”

 

Ini pertama kalinya kudengar Kyung Soo mengumpatku sekasar itu. Air matanya membanjir dan ia terus memukulku saat aku berusaha memeluknya.

 

Su Ho mengalami kecelakaan, dan sekarang ia sedang menjalani penanganan serius di ruang operasi jadi aku tidak heran kenapa Kyung Soo sekacau itu di hadapanku.

 

“Dia akan baik-baik saja Kyung Soo-ya, percayalah.”

 

“INI SUDAH 4 JAM DAN TIDAK ADA KABAR YANG MENJELASKAN KALAU DIA BAIK-BAIK SAJA!!! BAGAIMANA MUNGKIN KAU BISA SESANTAI ITU MENGATAKANNYA!!!”

 

“Do Kyung Soo, tenangkan dulu dirimu, semuanya akan bertambah parah kalau kau sepanik ini!” bentakku sebagai jalan terakhir. Kupeluk ia sekuat mungkin, menghentikan usahanya meronta, dan aku harus menghabiskan waktu sepuluh menit hingga ia benar-benar berhenti meronta dalam pelukanku. Membenamkan wajahnya di dadaku dan terisak di sana. “Tenanglah…” suaraku melunak berikut usahaku menenangkannya dengan mengelus punggungnya.

 

“Bagaimana aku bisa tenang sementara Su Ho Hyung memperjuangkan hidupnya di sana. Aku membutuhkan seseorang di sampingku, aku membutuhkanmu tapi kau justru bersenang-senang bersama orang lain di rumahmu…. aku….”

 

“Do Kyung Soo… fokuslah. Ini bukan tentang kau dan aku. Tapi kau dengan Su Ho Hyung.”

 

“Lalu sejak kapan aku sudah tidak bisa mengandalkanmu? Sejak kapan?”

 

“Sampai kapanpun kau tetap masih bisa mengandalkanku.”

 

“Lalu orang itu?”

 

Aku menghela nafas, kemudian melepaskan pelukanku. Menatapnya lembut dan mengusap air mata yang membasahi wajahnya. Demi Tuhan, aku mencintai Kyung…

 

Mencintai???

 

 

Deg…

 

Tidak…

 

Bukan mencintai…

 

Kenapa aku tidak bisa semudah dulu mengatakannya bahkan dalam hati?

 

Aku… mencintai Do Kyung Soo??? Kenapa itu terasa sedikit keliru?

 

Aku… menyayangi Do Kyung Soo.

 

Menyayangi???

 

 

Benar… Aku menyayangi namja ini. Aku menyayanginya….

 

Lalu… cinta???

 

Deg…

 

Mataku membelalak seketika. “B!!!”

 

“Chan Yeol???” teguran Kyung Soo menyadarkanku. Bukankah aku di sini untuk menemaninya? Sebagai sandarannya? Lalu bagaimana mungkin aku justru memikirkan B sementara ia hanya orang asing dalam kehidupanku? Dia hanya seorang pencuri ulung. Dia licik, dan terlalu cerdik hingga aku tidak tahu bahkan sampai sekarang, apa yang ia curi dariku.

 

“Chan Yeol… kenapa?”

 

Aku tersentak sekali lagi, kemudian mengulas senyuman. Membawa Kyung Soo untuk duduk di bangku tunggu depan ruang operasi. “Semua akan baik-baik saja. percayalah.”

 

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Namja yang berada di rumahmu…”

 

“Dia… Eum sebaiknya kita tidak membicarakannya dulu. Sekarang kita fokus pada kondisi Su Ho Hyung. Kau sudah menghubungi orang tuanya?”

 

Kyung Soo menunduk kemudian menggeleng. Kurasa memang dia sudah terlalu panik sampai tidak tahu harus berbuat apa.

 

“Baiklah, biar aku saja yang menghubungi mereka. Tenangkan dirimu dan berusahalah untuk beristirahat. Sisanya serahkan padaku.”

 

Kyung Soo tidak bersuara cukup lama. ia masih terisak di sisa tangisnya. Sedikit mengangkat wajah untuk memandangku.

 

“Kyung Soo-ya…”

 

“Terima kasih… Terima kasih karena kau masih mempedulikanku.”

 

Aku mengangguk kemudian mengusap kepalanya, membawanya kembali ke pelukanku.

 

Aku menyayanginya…

 

Sudah sangat jelas.

 

 

~***~

 

 

 

Aku berjalan gontai menuju rumahku, membuka pintu dengan kunci cadangan yang menyertai gantungan kunci mobilku. Operasi Su Ho Hyung berjalan lancar, walaupun belum sadar, namun Dokter memastikan bahwa kondisinya stabil. Orang tua Su Ho Hyung sudah di sana, dan mereka sedang menunggui anak mereka di Rumah sakit setelah memintaku mengantar Kyung Soo untuk pulang dan beristirahat. Kurasa dia memang butuh itu.

 

Sudah pukul 4 subuh, dan aku yakin B masih tid__

 

“Ah kau sudah pulang?”

 

Mataku membelalak saat melihat pemuda itu  justru menyambutku di ruang tamu.

 

“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanyanya masih dengan ekspresi bingung yang sama yang ia tunjukkan semalam.

 

Ya Tuhan… apa yang dia lakukan? Apa semalaman ini dia menungguku? Dan … Astaga, aku bahkan tidak menelponnya karena kupikir dia sudah tertidur.

 

Apa yang bisa kulakukan? Aku hanya mematung, memandanginya takjub. Memikirkan kembali semua hal yang menjadi pertimbanganku hingga aku tidak bisa lagi semudah dulu mengatakan bahwa aku mencintai Kyung Soo. Tidak setelah kenyataan menamparku bahwa Kyung Soo sudah menjadi milik orang lain.

 

Tidak setelah B hadir dalam kehidupanku.

 

Orang asing yang mencuri sesuatu dariku… Yang tidak kuketahui apa itu.

 

Orang asing yang sudah memiliki tunangan yang mungkin saja sekarang sedang panik mencarinya…

 

Namun orang asing ini menyita segalanya. Mungkin juga kewarasanku, karena aku juga tidak yakin bahwa tebakan Lay mengenai aku yang sedang jatuh cinta itu salah.

 

Tapi jatuh cinta?

 

Semudah itu?

 

Sesingkat itu?

 

Pada orang asing yang kemungkinan besar juga sudah dimiliki orang lain?

 

“Chan Yeol-shii Hyung? Kau baik-baik saja?”

 

Sedetik…

 

2 detik…

 

3 detik…

 

5 detik…

 

10 detik…

 

Oh Tuhan, maafkan aku karena aku hanya bisa bertahan untuk 10 detik. Karena detik ke 11 aku menjatuhkan kunci mobilku ke lantai, melepaskan mantelku dan berjalan cepat ke arah B yang menatapku bingung.

 

“Chan Yeol-shi Hyu__” dan belum sempat kubiarkan ia menyerukan kebingungannya, kuraih tengkuk dan pinggangnya dalam waktu bersamaan, menariknya merapat padaku dan menggapai bibirnya tidak secara lembut.

 

Perasaan yang menggebu-gebu ini. Hasrat ini, ego ini…

 

Dan saat merasakan bibirnya yang menyatu denganku… aku menyadari sesuatu.

 

Alasan kenapa aku tidak bisa lagi mengatakan cinta pada Kyung Soo…

 

Alasan kenapa aku begitu tenang berada di dekat B…

 

Aku menemukannya. Aku menemukan apa yang dia curi dariku.

 

 

Terjawab.

 

 

 

 

 

 

Hatiku.

 

 

 

 

Ada pada B.

 

 

 

~***~

 

 

B tidak menamparku saat aku menciumnya kurasa aku sudah sangat beruntung. Atau mungkin karena dia terlalu polos atau sejenisnya hingga ia hanya bisa mengerjapkan matanya saat aku melepas tautan bibir kami yang kupastikan tidak berlangsung sebentar.

 

“Cha… Chan Yeol-shii Hyung?” lirihnya tidak percaya.

 

“Kau mencurinya B. Kau mencurinya,” balasku tak kalah lirih. Matanya terperjam karena nafasku menyapu wajahnya terlalu dekat.

 

Ia menggeleng, masih dengan mata terpejam. “Aku bersumpah tidak mencuri apa-apa selain roti.”

 

“Tidak… Tidak. Mungkin aku yang menjatuhkannya, dan kau mengambilnya.”

 

B membuka mata, masih bingung. Kali ini menuju tingkat cemas. “Aku tidak mengambil apa-apa. percayalah…”

 

“Lalu apa ini?”

 

“Ini apa? aku tidak mengerti.”

 

Aku mengecup kembali bibirnya lembut.

 

“A… Aku masih tidak mengerti.”

 

“Kenapa aku merasa ini milikku?”

 

Semburat merah muncul di kedua pipinya dalam waktu singkat, dan B menunduk rikuh. “Ba… bagaimana mungkin kau mengira bahwa bibirku adalah milikmu?”

 

“Karena aku merasakannya saat menciummu. Aku menemukannya, yang kau curi dariku.”

 

“Apa yang kau temukan?”

 

Aku terdiam sejenak. Masih menikmati pemandangan terindah hanya beberapa ruas jari dari mataku.

 

“Hatiku.”

 

B terdiam. Masih tidak menunjukkan penolakan saat aku mengelus pipinya dengan sisi jariku. “Lalu kau ingin memintanya kembali?”

 

Aku tersenyum, membawa wajahnya hingga mendongak ke arahku. “Kurasa tidak bisa. Mungkin aku akan memintanya dengan cara lain.”

 

“Maksudmu?”

 

“Bisakah kau tetap berada di sisiku?”

 

Ia membulatkan mata lucunya. Dan jika saja aku tidak menunggu jawabannya, mungkin aku akan kembali meraup bibirnya. Tidak! karena ini penting. Mana bisa aku hidup tanpa hatiku. Dan B sudah memilikinya. Egoiskah jika aku meminta B tetap berada di sisiku?

 

“Ku… Kurasa aku tidak punya tempat lain Chan Yeol-shii Hyung…”

 

“Maksudku, jika sebenarnya kau punya tempat di sisi orang lain, masih bisakah kuminta kau tetap di sisiku?”

 

Pipinya memanas, dan aku bisa merasakannya dengan sisi jariku.

 

“Tahu sesuatu Chan Yeol-shii Hyung? Aku ingat bahwa aku bukan tipe orang yang bisa begitu mudah mengakui sesuatu yang memalukan.”

 

“Lalu apa yang menurutmu memalukan itu?”

 

“Tentu saja mengakui bahwa aku sangat suka berada di sisimu. Kupikir aku memiliki ingatan bahwa aku senang berada di sisi seseorang. Namun… tidak seperti ini. Tidak sesenang ini.”

 

Baiklah… itu cukup. Mungkin itu cara B mengatakannya. “Kalau begitu tetaplah di sisiku.” Selanjutnya kuraih B dalam pelukanku. Erat, dan akhirnya sesuatu yang kosong itu kembali terisi sebagaimana mestinya. Tempat B memang di sini. Di pelukanku.

 

 

~***~

 

 

Setengah hari penuh kuhabiskan bersama B di tempat tidurku.

 

Kedengaran ambigu tapi sebenarnya kami hanya tidur bersebelahan, dengan B yang memeluk lenganku. Secepat apapun aku jatuh cinta padanya, bukan jaminan bahwa aku akan memiliki hak untuk mengklaim tubuhnya sebagai milikku. Aku tidak sebajingan itu. Dan demi Tuhan, B tidak semurahan itu.

 

Semuanya beralasan. Sejak semalam aku tidak tidur sama sekali karena menemani Kyung Soo menunggui suaminya. Sementara B juga tidak tidur karena menungguku pulang. Anggap saja ini balas dendam karena kami baru membuka mata saat perut kami sudah lapar. Pukul 2 siang, dan kurasa jika kami tidur lebih lama lagi maka kepalaku akan pecah.

 

“Sebenarnya apa yang terjadi? Kemana kau tadi malam?” tanya B saat kami tengah sarapan, atau lebih tepatnya makan siang.

 

Betul juga, aku belum sempat menjawab pertanyaannya karena aku sudah lebih dulu kehilangan kewarasan karena bibirnya. Oke lupakan!

 

“Sahabatku, maksudku… eum suami sahabatku mengalami kecelakaan serius hingga ia harus menjalani operasi. Yang menelponmu itu adalah Kyung Soo, sahabatku. Maafkan dia karena membentakmu, dia sangat kacau karena… ya kuharap kau mengerti, suaminya kritis.”

 

“Ah tentu saja aku paham. Aku turut bersedih mengenai sahabatmu itu, apa suaminya baik-baik saja?”

 

“Heum. Operasinya berjalan lancar. Kami hanya perlu menunggu 2 kali 24 jam sampai dia siuman.”

 

B mengangguk paham, kelihatan cukup lega. Aku juga senang dia bisa mengerti keadaanku. “Kau tidak kembali kesana?”

 

“Kemana?”

 

“Tentu saja ke Rumah Sakit untuk menemani sahabatmu.”

 

Aku tidak langsung menjawab. Kutatap ia sambil terus mengunyah makananku.

 

“Chan Yeol-shii Hyung…”

 

“Aku lebih suka di sini bersamamu.”

 

“Tapi sahabatmu lebih membutuhkanmu.”

 

“Jadi kau tidak membutuhkanku?”

 

Dan pemandangan terbaik selain melihat B tersenyum adalah, pipi B yang merona malu. “A… Aku baik-baik saja. bukankah memang selalu seperti itu? Kondisiku sekarang sebenarnya ratusan kali lebih baik dari pada menjadi gelandangan dan pencuri roti.”

 

“Oh, jadi kau lebih suka menjadi pencuri hati?”

 

“Chan Yeol-shii Hyung!!!”

 

Aku tertawa lepas. Lihat… aku bahkan lupa kapan terakhir aku tertawa selepas ini. B tidak hanya mengembalikan kebahagiaanku, tapi memberikan nuansa baru yang intinya hanyalah bahagia. Walau sebenarnya ada cemas menyertainya.

 

Bagaimana jika tunangan B yang bernama Kris itu muncul di hadapan kami dan meminta B kembali? Apa aku punya hak untuk mempertahankannya?

 

“B…”

 

“Heum?”

 

“Kau menyukaiku?”

 

“Bukankah sudah kubilang aku bukan tipe orang yang mudah mengakui sesuatu.”

 

“Jawab saja, aku tidak pernah menertawaimu.”

 

“Lalu tadi?”

 

“Itu bukan menertawaimu, tapi tertawa bersamamu. Jadi jawablah.”

 

B menghela nafas, meletakkan sendok dan sumpitnya ke atas meja dan berdehem. “Ya… Aku menyukaimu Park Chan Yeol-shii Hyung.”

 

Aku kembali tersenyum, kemudian meraih tangan kanan B yang memang tidak terlalu jauh dari jangkauanku. “Sebenarnya terlalu kaku jika kau memanggilku seformal itu, apalagi ada kata ‘Hyung’ yang menyertainya. Tapi aku menyukainya, aku suka panggilan itu. Atau… lebih tepatnya aku suka segala hal yang ada padamu. Asal itu kau, aku akan suka.”

 

B terbatuk, sengaja mengalihkan pandangannya ke arah lain yang tertangkap jelas oleh mataku bahwa ia mati-matian menahan senyum malu-malunya. Dan itu membuatku gemas hingga kuraih tangannya dan kukecup lembut. Membuatnya terlonjak kaget dan menoleh padaku. “Yak! Park Chan Yeol-shii Hyung!!!”

 

“Kenapa? Keberatan?”

 

“Bu… Bukan begitu. Kau selalu melakukan tindakan yang tiba-tiba. Membuatku kaget. Seperti tadi subuh yang tiba-tiba saja datang dan langsung menciumku. Untung saja aku ingat bahwa aku tidak punya riwayat penyakit jantung, karena kalau iya… mungkin kau harus melarikanku ke RS karena terkena serangan jantung.”

 

Aku tertawa kecil, kemudian meremas jari-jari indahnya. “Apa kau juga ingat bahwa kau memang sangat cerewet?”

 

Ia menanggapinya serius, sedikit menerawang ke langit-langit kemudian mengangguk. “Mungkin… aku tidak punya kenangan kalau aku adalah orang yang pendiam.”

 

“Baiklah, kita semakin mengetahui jati dirimu. Bukankah itu kabar baik?”

 

Ia mengangguk antusias, ikut memainkan jariku.

 

“B…”

 

“Ya?”

 

“Bisa kutanya sesuatu? Tapi kau harus jujur.”

 

“Bertanyalah, aku tidak pernah melarang.”

 

Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan. “Itu… di cincinmu.”

 

“Kenapa?”

 

“Kau sama sekali tidak ingat siapa yang memberikannya padamu?”

 

B tidak langsung menjawab. ia terdiam sejenak, seperti berpikir. Mungkin mencari sebuah memori di otaknya, dan kurasa itu cukup lama sampai aku menemukan jawabannya. Ia menggeleng. “Kenapa? Apa itu penting?”

 

“Tentu saja, karena aku mengkhawatirkan satu hal.”

 

“Apa itu?”

 

Aku melepaskan tautan tangan kami, menggeser kursi hingga lebih dekat dengannya. Menurunkan kerah sweater kelabu milikku yang ia kenakan kemudian meraih cincin yang menggantung di kalung miliknya. “Ada nama seseorang di sini, dan seperti yang kau katakan, ini bukan namamu karena kau juga pernah memanggil seseorang dengan nama itu.”

 

B tidak langsung merespon, dia terus menungguku menyelesaikan ucapanku.

 

“Kris…” lirihku.

 

Dan aku bisa menangkap responnya. Tubuhnya memang tidak tersentak sebagai respon bahwa ia terkejut, tapi gerakan bola matanya itu yang aku yakini bahwa pengaruh nama Kris terlalu besar untuknya.

 

“Sama sekali tidak ingat sesuatu?”

 

Lagi. B tidak langsung menjawab. ia terkesan berhati-hati dengan memorinya. “Tidak. Dan aku yakin, nama Kris bukanlah kenangan yang baik.”

 

“Lalu kenapa masih menyimpan cincin yang berukirkan namanya?”

 

Ia bungkam. Manik matanya tidak bisa bertahan cukup lama untuk fokus pada mataku, ia menghindari topik ini. Aku yakin.

 

“Akh…” keluhnya membuatku terkejut. Ia memejamkan matanya dan memijit pelipisnya sambil meringis.

 

“B! Kau tidak apa-apa?”

 

“Kepalaku… sakit sekali.”

 

Aku jelas panik. Ini pasti karena aku terlalu memaksanya untuk mengingat. Ini pasti dampaknya. “Maaf… Maaf. Baiklah, jangan dipaksakan lagi. Tidak apa-apa kalau kau tidak bisa mengingatnya. Oke, tenangkan pikiranmu sekarang,” pintaku sembari menyuguhkannya segelas air putih. “Masih sakit? perlu kubawa ke dokter? Bisa jadi kau lupa ingatan karena sebuah benturan di kepalamu. Sebaiknya kita memeriksakan__”

 

“Tidak. Tidak perlu… kepalaku hanya sakit biasa. Bukan hal yang terlalu buruk. Istirahat sebentar pasti akan sembuh.”

 

“Benar begitu?”

 

“Heum… mungkin karena terlalu memaksakan otakku berpikir.”

 

“Dan terima kasih untukku, itu kesalahanku.”

 

Ia tersenyum karena ucapanku. Menepuk punggung tanganku yang menapak di pipi kanannya. “Jangan khawatir. Ini biasa terjadi, jadi bukan kesalahanmu. Sebaiknya kau bersiap-siap dan kembalilah ke rumah sakit menemui sahabatmu.”

 

Aku mengangguk kemudian bergegas membereskan meja. “Aku akan pergi setelah memastikan kau istirahat dengan baik.”

 

Ia tertawa kecil kemudian memeluk lenganku erat. menghentikan kegiatanku menumpuk piring kotor.  “Aku ingat sesuatu Chan Yeol-shii Hyung.”

 

“Apa itu?”

 

“Aku anak yang penurut. Jadi tenang saja.”

 

Aku balas tertawa, melepas rengkuhannya di tanganku kemudian menariknya ke arahku hingga bisa memeluknya utuh. “Kalau begitu kau perlu di beri hadiah.”

 

Ia mendongakkan wajah lucunya, persis di depan wajahku. “Hadiah apa?”

 

“Cium…”

 

 

 

~***~

 

 

 

Aku cukup terkejut saat ada situasi yang cukup tegang di depan ruang perawatan Su Ho Hyung. Di sana ada Kyung Soo yang sedang ditenangkan oleh Ayah mertuanya karena ia sedang membentak-bentak orang asing yang tidak kukenali. Orang itu kondisinya tidak cukup baik karena ia juga mengenakan seragam pasien Rumah sakit ini. Ia berdiri tidak cukup tegak, tangan kirinya dibidai, dahinya diperban, dan kursi roda yang terletak acak di dekatnya juga cukup meyakinkan kalau orang asing itu memang tidak dalam keadaan baik. Ditambah menerima makian dan bentakan dari Kyung Soo yang histeris…

 

Wah… sempurna.

 

“Ada apa ini?” tanyaku memberanikan diri.

 

Kyung Soo yang sudah banjir air mata menoleh padaku, sedikit meronta hingga ia terlepas dari rengkuhan Ayah mertuanya dan langsung menghambur ke pelukanku. “Orang itu Chan Yeol-ah… Orang itu yang menyebabkan Su Ho Hyung sekarat. Aku ingin dia dipenjara, aku ingin dia dihukum seberat-beratnya, aku ingin…”

 

Dan kesadaran Kyung Soo pun sampai pada limitnya. Aku tahu kondisi Kyung Soo sebenarnya masih belum pulih. Secara fisik dia memang sehat-sehat saja, tapi mentalnya. Tentu saja mengenai kenyataan hampir ditinggalkan oleh suaminya saat usia pernikahan keduanya belum genap 2 bulan. Tidakkah itu ironis?

 

Kyung Soo pingsan dalam pelukanku, dan dengan sigap aku menggendongnya masuk ke dalam ruang perawatan Su Ho dan membaringkannya di sofa. Ibu mertuanya yang menunggu di dalam sempat terkejut dan langsung menghampiri kami, berikut Ayah mertua Kyung Soo yang baru masuk.

 

“Dia kenapa?”

 

“Dia terlalu lelah Omoni, jadi biarkan dia istirahat. Dia baik-baik saja.”

 

Ibu kandung Su Ho yang terlihat sangat lelah itu hanya bisa menghembuskan nafas, sesekali mengusap rambut menantunya. Terlalu banyak hal yang menimpanya, jadi aku paham kondisinya.

 

Kusisakan tempat di sofa agar ia lebih leluasa duduk dan beristirahat. Aku juga meminta Ayah Su Ho untuk beristirahat, tapi kurasa aku cukup tahu ia dan anaknya punya perangai yang sama. sama-sama keras kepala, ia akan tetap terlihat kuat sampai akhir.

 

 

~***~

 

 

 

Aku melangkah keluar dari ruang perawatan Su Ho dan mendapati orang asing tadi masih di sana. Kukatakan bahwa kondisinya cukup mengenaskan. Ia bersadar di tembok dengan kepala tertunduk, memandangi ujung kakinya yang beralaskan sandal khusus pasien. Tanpa melihat kedua matanya, aku bisa menangkap raut penyesalan di sana. Dan sebagai manusia, aku mungkin lebih memilih mengerti keadaannya dari pada menghajarnya. Mengingat bahwa dia juga menerima dampak yang sama pasca kecelakaan itu. Ditambah makian dan cercaan dari Kyung Soo tadi, kurasa itu sudah lebih dari cukup sebagai pelajarannya.

 

“Kau baik-baik saja?” tanyaku pelan, berusaha untuk tidak mengejutkannya. Tapi gagal. Suaraku yang berat dan dalam membuatnya tersentak dan hampir terjatuh kalau saja aku tidak menangkap tangannya dan membantunya duduk di kursi rodanya. Aku sendiri memilih duduk di bangku tunggu.

 

Pria itu terlihat masih muda, mungkin seusiaku, kalaupun lebih tua, mungkin setahun atau dua tahun.

 

“Ba… Bagaimana kondisinya?” tanya pria itu ragu-ragu.

 

“Siapa? Orang yang memakimu atau yang kau tabrak?”

 

Dia bungkam, kembali menunduk penuh sesal. Oh lidahku yang tidak bisa kukontrol.

 

“Maksudku… eum. Kyung Soo, yang tadi itu namanya Kyung Soo, dia hanya pingsan. Dan suaminya… yang terbaring di dalam, namanya Su Ho. Kata dokter kondisinya baik-baik saja. sisa menunggu ia siuman untuk dilakukan perawatan lebih lanjut.”

 

Ia tidak menjawab, tapi dari gerakan bibirnya dan matanya yang terpejam aku bisa membaca bahwa ia tengah mengucap syukur.

 

“Lalu bagaimana kondisimu? Kau terlihat tidak lebih baik dari Su Ho, kau juga kelihatan parah.”

 

Ia berusaha tersenyum, walau kaku. “Aku baru siuman tadi pagi, dan seketika aku ingat bahwa karena kelalaianku, aku mengakibatkan orang lain celaka.”

 

“Jadi kau tidak menabraknya secara langsung?”

 

“Tentu saja tidak. Kau bisa memeriksa kerusakan mobilnya. Mobilnya terbalik karena menghindari mobilku yang melaju kencang. Aku seperti ini karena menabrak pembatas jalan.”

 

Aku mengangguk kemudian tersenyum. artinya memang bukan sepenuhnya kesalahan pria ini. Dan tentu saja bukan kesalahan Su Ho Hyung. Mereka masing-masing menghindar walau ujung-ujungnya tetap celaka. “Oh ya, aku Park Chan Yeol. Aku kerabat mereka, tapi tenang saja, aku masih bisa menguasai emosi.”

 

Barulah kulihat ia tersenyum lega. “Aku Yifan. Wu Yi Fan,”balasnya sambil membalas jabatan tanganku.

 

“Wu Yi Fan?”

 

“Ya, Aku keturunan China.”

 

“Tapi Bahasa Koreamu sangat fasih, aku bahkan tidak habis pikir.”

 

Ia kembali tersenyum. kurasa obrolan ini semakin ringan. “Heum, karena kekasihku memang orang Korea.”

 

“Wah… Begitu rupanya. Keren sekali, walau sebenarnya akan repot jika nanti kalian menikah, salah satu dari kalian akan perpindah kewarganegaraan.”

 

“Itu bukan masalah, Kekasihku akan mengikutiku…” ucapnya antusias, namun detik selanjutnya ia berubah murung. “Semoga…”

 

“Semoga? Eum, dia pernah menolak?”

 

Yi Fan menggeleng, wajahnya semakin mendung. “Dia akan menuruti apa saja keinginanku karena dia memang sangat penurut. Itu kenapa aku begitu mencintainya. Tapi…”

 

“Ya?”

 

“Sampai sekarang aku tidak tahu dimana keberadaannya.”

 

“K… Kenapa?”

 

“Sekitar 2 bulan yang lalu, saat kami berlibur ke Korea… dia menghilang, dan sampai sekarang tidak juga kutemukan. Aku kehilangannya… Kekasihku.” Ia menunduk penuh sesal, jelas sekali terpuruk. “Byun Baek Hyun…”

 

 

 

 

to be continued

 

 

ALF cuap cuap: dan berhubung KC udah buka, jadi lanjutan FF ini akan ane post di KC

 

 

 

 

 

 

 

 

92 thoughts on “EGO Te Requiro || ChanBaek || Chapter 1

  1. Wah~ wah~ wah~ kok aq baru baca ya hohoho ~^O^~ trnyata ff ini udh prnah d publish di thn 2014 wlaupun bkn d KC ! O.O

    Soalnya smnjak ALF hiatus jd jrang banget baca FF ! apalagi yg pke Bahasa Indonesia pling2 nyari d aff yg satu chap nya kdang lama ngerti hohoho ~^O^~ #Lupakan #KembalikeFF

    Awal nya kirain yg jln2 di luar dan yg lagi galau itu BBH trnyata si PCY, dan emang POV lbih bnyak dri sisi Chanyeol !

    Chanyeol yg galau karena d tnggal nikah sama KyungSoo shbat yg d sukai Chanyeol slama hmpir 5 thn ! tp nggak prnah d ungkapkan “-_- dan parah nya lgi trnyta KyungSoo jg suka sama Chanyeol ! #Tertohok Haaahhh~ jd inget kata Mario Teguh :

    “Lebih baik menyatakan cinta dan kemudian ditolak, daripada ternyata dia mencintaimu tapi terlanjur menerima orang lain yang lebih dulu menyatakan cinta”

    Wuahahaha… ~^O^~

    Tp klw gk kaya gitu Chanyeol gk bkalan ktemu *ditabrak* sama Baek yg d kejar2 karena maling roti ! Hohoho ~^O^~

    Dari kejadian itu Chanyeol udh suka sma Baek jatuh cinta pandangan prtama lah gitu mksud nya~ <3O<3

    Smpe diajak tinggal serumah bareng Chanyeol !

    Tapi tunggu… masa lalu Baekhyun masih samar2 sbnernya Baekhyun alias s 'B' itu siapa ? anak siapa ? tinggal dimana ? dari mana ?

    Trs soal Kris ? Kris itu pacar nya Baekhyun kan ?

    AFAFAGAGYQIQOQJAJAIAIJJJKKKLLL !

    Ini mah PAYPHONE jilid 2 ! Hohoho cman ke adaan nya d balik !

    Apalagi Chanyeol udh bilang suka dan kaya nya gk mau nglepasin Baek alias s B ! tp klw s Kris udh nemuin Baek, trs Baek ingatan nya pulih, Chanyeol gmn ? Bisa2 dia patah hati lagi donk !

    ANDWAEEE ! #JeritAlaKwangSoo O.O

    Pkok nya d tunggu Chap slanjutnya ALF Eonni Hohoho ~^O^~
    Dan jngan lupa sama FF2 yg lain jg ~^O^~ apalagi yg AMATERASU ! ASDFGGFAAGSGUAIAOALAJUAIWAKAJJJKKKLLL !

    FIGHTING ! ~^O^~

  2. Omg ini keren banget kak alf. Hahah kirain temanya bakalan gimana soalnya liat aja baekhyun jadi gelandangan gitu, nyuri lagi haduh. Dan cepet banget chanyeol move on nya, baru ditinggal kawin kyungsoo eh dapet cinta yang baru. Lucky banget yeol itu🙂

    dan kira2 baekhyun liat apa ya, kenapa dia bilang kris kenangan yang buruk? Kenapa dalam ingatannya baekhyun nangis, teriak kalo kris disebut2? Tapi dari cerita kris dia cinta banget sama baekhyun… Arrggghh penasaran kak, cepet apdet please T.T

  3. whahahahaha Park Chanyeol-ssi hyung xD berasa inget pas Tao manggil “oppa” dulu wkwkwkwkwk :v sebenernya udah mulai curiga kalau si B ini amnesia pasdia belibet ditanyain soal nama whahahaha xD gatau unn, gue bayanginnya si B ini berasa kayak Lee Seul Bi di H! School Love On /ggg

    btw itu B bilang nama Kris bukan sesuatu yang menyenangkan /? tapi Kris nya bilang Baekhyun penurut aw aw aw aw ada apa ini sesungguhnya? next chap ditungguin unn, udah lama nggak nulis tapi tulisannya masih bagus aja :v

  4. Aaaaaaaaa~!!
    Aku kayak pernah baca ff ini!!! Tapi lupa juga sama alurnya >o<
    /doengg/
    Kak.. Itu Baekhyun a.k.a B sebenarnya kenapa, eoh?
    Ngenes amat kek-nya nasib dia :v /ditampol/
    dan yeah.. Agak ndak suka sama moment Chan……….soo di part awal chapter ini :v /dirajam kak ALF/
    kakak.. Kek-nya Kris penuh dengan teka-teki..
    Kembali ke pertanyaan awal..
    Byun-byun kenapa?? Dan ucapan Chanyeol ya Allah.. Bikin greget to the max /joget catch me bareng duo TVXQ/
    keep writing and fighting kak :* :*
    ku tunggu kelanjutannya :3

  5. Staga eon o.0 aku suka ff barunya karna alu blom prnh baca sebelumnya , ceritannya keren^^
    Itu baekhyun bnr2 ilang ingatan atau pura2? Untung chan udh muponxp
    Duhh stuck di krisbaek nd chanbaek lg eon tpi smoga baek akhirnya sma chan aja eon biar chan gk galau mulu

  6. Aduhh rempong nih
    Kasian si cahyo nya kalo baki balik ke keris.
    Kenapa itu baki kok bisa jdi gitu kak alf? Penasasaran deh ama lanjutannyo.
    Ini ff bakal berchapter-chapter kah? Ato hanya beberapa kak alf?
    Tetep semangat yaaaaaaa

  7. wahh aku tunggu2 thor karyamu yg khusus chanbaek slain NRL dan akhirnya inii , ya ini namannya cinta pada pandang prtama haha , suka thor caramu mmbuat sifat baek jd gituu gemesss ihh , ini chap 1 udh pnasaran apa yg mnyebabkan baek ilang ingatan dan si yifan org ke 3 ini ya lah terima =_= , ok thor next chap yah

  8. Yeayyy!!
    baru bisa komen~~
    aku suuuuuuukaaaa baek disini kakak..
    lucuk, unyu, polos, gemesinnn~~rasanya aku juga kepengin sekap baek diruma..?ditendang yeol?kkkkk~~~
    nah tuh..ternyata yang ilang itu hatinya kamu yeol..ckckck..absurd banget, dan yeol sumpah idiot..
    but well..i love that idiot!!
    duh..Kriseu uda muncul~~yehet!!
    ditunggu next chap kenapa baek bisa amnesia? gimana baek kalo ketemu kris? gimana kalo tiba2 baek jadi inget lagi? gimana kelanjutan chanbaeknya? fufufu~~ditunggu,,

  9. ea, modusnya si chanyeol aja itu, bilang saja kalau pengen baekhyun deket kamu terus, jadi di ajak tinggal bareng..

    au, disini baekhyun cute banget ih, pengen bungkus terus bawa pulang..

    asik endingnya itu loh si chanyeol ketemu kris, situnangan B,
    baekhyun gak cinta ya sama kris, cuman sekedar nurut aja?
    penasaran kedepannya reaksi chanyeol apakah langsung tahu kalau baekhyun itu Bnya, trus nnt kris ketemu baekhyunnya gimana, trus baekhyunnya nanti bakalan bareaksi kyk apa?

    lanjut

  10. aku baru baca unnn walau kata unn udah pernah dipublish..
    aaaa chanyeol ga berani ngungkapin cinta ke kyungsoo yg akhirnya malah nyesel,.parahnya kyungsoo nya juga ada rasa sama chanyeol,..tapi mungkin tuhan/authornya punya jalan lain,.sampai akhirnya dia dipertemukan sama baekhyun xD
    baekhyun hilang ingatan apa gimana? tapi dari ceritanya kris masih banyak tanda tanya???
    chanyeol akhirnya nemuin apa yg b curi xD
    terlambat menyadari/? chanyeol klo dia udah jatuh cinta sama baekhyun dari awal pertemuan mereka xD
    baekhyun gemesinnn,polos,.
    tapi masih banyak tanya adohh,.itu baekhyun hilang ingatan atau gimana? klo iya apa penyebabnya? aaaa penasarannnnnnn

  11. the power of bacon. chanyeol lngsung jtuh cnt d hri prtm dia ktemu ama baek. kris bilang baek hilang. hilangnya itu krn baek kabur ato baek kcelakaan. karna aku blm yakin klo baek ilang ingatan beneran. masih waspada. diliat ff di KC alur ceritanya gk gampang ditebak. jujur, aku pling suka ff dimana baek jd tkoh yg lemah/naughty, pmberontak, tp ujung2nya gk brdaya, terus si seme tg paling berkuasa. tp bru kali ini aku nemuin wp yg bisa bikin aku enjoy bgt baca ff apapun krkter2 baek n semenya. cool!

  12. oh! BaekYeol again aseeek,,
    lama ga mampir, trnyata banyak BaekYeol beterbangan,,

    Bagus bagus,,, Chan… si kyung emang bkn bwt u, udh direlain aja, lgian udh ketemu tuh ama si maling roti eh maling hati~~~~ & jatuh cinta deh, cepet amat u pindah hatinya, tp gpp lbh cepat lbh baik utk kebaikan semua org,,

    dan menarikny lg krn si Baeknya amnesia, knp ya bkin penasaran,
    dan ada si Kris,,
    knp selalu ada mereka berdua di dunia perhelatan BaekYeol, trutama akang Kris? tp itulah yg bikin seru,,
    apalagi nih Chanyeol udh ketemu ama dia, wah wah………..
    tak sabar menunggu kelamjutannya,,
    thx for this great story~~

  13. Aku baru baca, Again!

    Ohkai ku pikir ini bkl jd oneshoot krn panjang bgt mah hehe.
    Makanya yeol kalo suka sm org blg aja jgn d pendam pan nyesel kan akhirnya.Oh y aku suka bgt sm kalimat”Anda bilang di
    dunia ini tidak ada yang gratis kan?” Chan Yeol
    tersenyum, kembali memasukkan dompet ke
    saku. “Anggap itu adalah salah satu hal dari sekian
    banyak hal gratis di dunia ini. Karena kalau
    memang di dunia ini tidak ada yang gratis, maka
    tidak akan ada lagi kata memberi dalam kamus
    kehidupan.” y ampun pesan kehidupan ny dpt bgt sangat pantas d jadikan pedoman dlm kehidupan yg lg kacau saat ini/eh?

    Well jika dalam memori’B’ nama Kris bukan lah kenangan yg menyenangkan lantas kenapa wufan berkata kalau dia sangat mencintai Baekhyun? Yg qt anggap B dan Baekhyun adalah org yg sama begitupun dgn Kris dan Wufan {kenyataan ny memang sama}.hmm rencana apalagi yg sdg kau jalankan tuan Wu. Oh atau pertunangan B dan Kris adalah paksaan.

    Jika B sdh ingat siapa diriny dan kembali kpd Kris,kasian Yeol dong patah hati lagi bhkn ini lbh parah dr pd patah hati terhadap Kyungsoo.

    Pada dasarny kenangan d masa lalu memang penting dan berharga tapi pada beberapa kasus terkadang kenangan d saat seseorang kehilangan jati diriny lah yg lebih kuat dan berkesan dan semoga itu terjadi pada B

  14. ternyata eh ternyata baek sudah bertunangan?!?!?!?!?miris banget lu yeol sian gue sini sama gue aja 😂😂😂
    Baek gimana misalnya ingetan lo pulih lo bakal ninggalin ceye?kaga kan?jawab baek /guncang2 badan baek/

    ceye seneng lo ada dideket dia baek awas jha sampe leave ceye alone gue kurung lo di hati cete selamanya 😏
    maunya jangan sampe ingetan baek pulih udah chanbaek aja udah wkwkwk kria kris kan udah sama cewe yg di film dia noh 😂

    Buat kak alf mangat ea ff mu selalu ku nanti kan maaf klo comment ku terlalu pendek kak:((((

  15. waaaaa ternyata ‘B’ hilang ingatan tohh….
    chanyeol kasihan dirimu….

    wahhhh kk ALF seru ceritanya terus bikin penasaran banget aku baru pertama kali baca ff dari kk ALF maaf kalo komennya pendek lagian bingung mau ngomong apa soalnya FF nya DAEBAKKKKKKKKK #capslockjeboll

    HWAITING kk ALF…..:D

  16. chanbaek chanbaek asik asikkkk, aku suka bnget klo pairing nya chanbaek :’D suho gak akan meninggal kan ya alf? jangan dong jangan klo meninggal ntar kasian chanyeol harus milih lagi antara kyungsoo atau baekhyun, udah chanyeol sma baekhyun ajaaa, hahahahhaa tuhan maafkan hamba yang menginginkan umatmu untuk menyimpang :’) penasaran bnget sama chapter 2 nyaaaaa, ditunggu ya alf😉

  17. seruuuu thoor tapi kayanya chanyeol bakal patah hati karna bakal ngerelain baekhyun kembali ke kris😥 atau mungkin kris yg harus relain baekhyun ke chanyeol yah? aaah penasaraaaan

  18. Udah main tuduh-menuduh, dibawa pulang, mencium sembarangan, de el el, sebut saja Park Chanyeol-ssi Hyung hahaha

    Namanya nista banget sih baek, kaya orangnya#diarakkelilingkampung

    Yeol jahat bnget lu, udah nuduh orang mencuri tapi engga ada buktinya. Dilaporinn nnti baru tau. Kasian baekyunnya, udah manis, lucu, gelandangan, kelapaaran, ga ada uang#plakk

    Sebutin smuanya deh. Asal elu senang, gue dihina-hina, terserah. Aku rapopo~~

    And it’s so freakin’ amazing saat yeol bilang, “aku telah menemukannya,apa yang telah ia curi dariku. Hatiku…ada pada B.” OMFG!! Itu kata-kata kenapa terasa bngt. Feelnya ga Cuma kerasa, tapi sekaligus kaya digampar -bayangkan saja gimana hebohnya gue-

    Dalam suatu hubungan pasti akan muncul orang ketiga, nah lo. Kris wu, biarkan baek kembali ke chanyeol, atau lu nya aja yg balik ke china, kan di sanah banyak tu yg cantik2

    ‘Cantik, pantat panda! I need no one but baekhyun, you moron.’

    Iya, gue tau. Tapi jangan menyalahi takdir, baek ama yeol telah dibenangmerah(?)kan oleh yang maha kuasa. Sadarlah-

    ‘I will fvck you up. Jangan menggurui gue!’

    Tapi-

    Stop! Gue ngomong sendiri orz.. sebelum gue makin engga waras, yaudah kak!! Tolong lanjutin fic-nya, kalo perlu baek amnesia permanen aja, biar terus ama yeol hahhaha#evillaugh
    Fighting!!!

  19. SO HELLA FLUFFYYYY OMGD!!!!!!!!
    I love how the story went. speednya pas! Bromancenya keluar disaat dan dg intens yg pas juga!!

    Tapi karena latar dan alurnya yg jelas, mungkin 2 chapter adalah panjang Jyang pas. Terus saran nih ALF, mungkin ALF improve cara bicara+berpikirnya baek yah. Masa dia rasanya baru idup kalo diajak ngomong chanyeol?nah selama dia ga interaksi sama chanyeol dia ngapain? Ga berusaha inget2 apa gimana gtu?. Maaf loh sok ngritik2.

    Anyway, well done! Ditunggu next chapternya!

  20. Chapter pertma ini bkin bingung,’
    Bnyl tanda tnya d kpala q,’

    Kliatan bgt sich B it Baek,dia kya,’
    Tpi tiba2 lupa ingatan,’
    Mgkin bkn krna benturan tpi shock atau trauma* ,tpi dia msh ingat dia dlu it kya gmana,ap krna hatinya*,mgkn yg lupa cma otak ny yg menolak untk mengingat*.

    B blg dia ingt pernah pggl Krir,tpi knpa kenanganny buruk? Sdangkan kris it pcar ny baek kan ,kya yg d blg yifan d rs,
    Tpi knpa jga baek g pake cincin ny d jari,knpa mlah d kalungin(inget crita lubaek) ap baek g cinta kris,tpi dia dlu pernah senang mskpun g sesenang pas ma yeol,

    ????????????

    *sok tau
    Smga ja ALF g bnci ya ma reader yg sok tau kya q gni,hahahahag.a

  21. astagfirullah hal adzim. aku syedih sekali kalo Sampek baekhyun ktmu ma kris, chanyeolku ya opo? aku kudu piye?

    boleh gk thor si eyun di simpen buat chanyeol aja jgn dibagi2 buat kris, kan kasian. habis di tinggal nikah eh ditinggal lagi sama eyun. aku melu nangis nek ngene. ini cuma teoshoot kan

  22. Masyaallah pret baekhyun ngegemesin banget astaga;;;;; apalagi pas ditanya nama asdfghjkl kebayang mukanya bingung! Doh yak pas mau maling roti aja bimbangnya lucu

    Eh yak btw chanbaek momentnya suka banget looooooohhhhh;;; apa ya gimana nyebutnya ini. Kesannya ringan tapi nyes. Gitu deh/? Tuh kan yak bingung mau ngomong apa

    Eh tapi tuh ya si baekhyun tunangan kris. Fav egen mah ini. Berkesinambungan merekanya, ada aja bikin ketemu. Fav lah!!!!

    Ps:diawal ngiranya oneshoot. Eh gataunya greget

  23. HAHAHA SHIT TEGANG DIA BAGIAN SCENE TERAKHIR KAAAA WKWK DOHH :’v chanyeol kasian plis kalau nanti kris ama si bi di pertemukan, chanyeol kudu piye unn astaga complicated lagi un as usual ceritamu un khas bingit selalu complicated wkwk xD
    kayaknya ini bakal masuk list ff fav aku setelah amaterasu ama nrl, wkwk ka tau ga? aku ampe nunda mandi dulu gegara mau baca ff ini lol xD
    atau perasaan aku aja yah, tulisannya un asa beda gimana gitu lebih gampang ngerti sih wkwk kalau setaun yang lalu aku bacanya kudu pelan pelan balik lagi ngescroll keatas lagii haha xD
    btw un? ini ampe berapa chapter? gaakan ampe hiatus setaun lagi kann anjir :’)
    pokoknyaa ditunggu chap selanjutnya dah unn,
    adiosss mwaaahh xD

  24. Duu enak bet dibaca, flow nya pas gt. Terus bikin was2 bgt diakhir wadudududu ga sabar sama kelanjutannya omg. Semoga chapter selanjutnya membahana yaa wkwkw
    Cemangat nulisnya, ditunggu yaaa🙂

  25. selalu ada si kris yang bikin kacaau suasana, asdfghjklll
    baek itu emng bagus bgt dibikin karakter innocent ky gtu, kalau ada gembel kayak baek gw bersedia nampung dech wkwkwkwkw

    tulisanmu untuk ff ini aku suka, agak ringan diawal tapi entah lah kalau udah masuk pertengahan atau akhir2, biasanya suka agak ribet konfliknya. dan gw fikir itu karaktermu alf,, tapi sumpah dech, dari chapter pertama baca udah penasarn aja ama kelanjutannya. dan gw fikir itu karakter gw hahahahhahaha *tepok jidat*

    sebenrnya sih udah bisa nebak dkit2, baek kecelakaan hilang ingatan dan kris nyari tunangannya berinisial B, dan gw yakin B itu baek. tapi alf lo ga niat bikin chanyeol yang terluka kan? aarrrgggghhh asdfgghjfjeifuiqregfhdql ditunggu aja lanjutannya ya. bye *cipok chanyeol*
    arigatou,, assalamualaikum

  26. selalu kris lagiiiii huaaaa tolong selamatkan chanbaek ku :((((((
    lah itu ceritanya baek bisa hilang ingatan gimana?????? huaaaa btw baru baca ff ini dan ini bagus banget, gak mengecewakan sama sekali walaupun di akhir, kris lagi kris lagi xD jangan menganggu chanbaek ku jebal xD
    dan oooh chando di awal itu aku kira ceritanya bakal chando semua dan untung suho datang dan menyerang seperti negara api xD
    bagus thorrr bagus, gak sabar nunggu kelanjutannya… mangat!!!!!!😀

  27. ini bneran kren nih. baek amnesia knpa tuh? tpi ko chan tba” jth cnta sma si baek sih? cpet bgt. tpi gpp. keren.. nah itu si bang kris ktmunya ama si baek gmna ya? bngung mau ngmong apa. yg psti msh pnsaran sma klanjutannya

  28. ya Allah, ditinggal kawin sama orang yang udah disukai selama bertahun-tahun, rasanya kok…. Nyesssss…
    ah chan lo pengecut! dua2nya juga sama-sama gak peka. mana ada dua insan yang bersahabat lama tanpa ada kasih sayang dan cinta yang bakalan timbul diantaranya? mana ada! pasti rasa itu bakalan tumbuh dengan sendirinya… tapi dua2nya ga mau ngaku satu sama lain… setelah terlambat baru deh semuanya nyesel…
    ahh baru aja baca di awal-awal udah marah-marah sendiri aja aku ni… haha… untungnya tidak berlangsung lama, keburu ada si unyu munyu byun baekhyun yang kelaparan…

    tapi aku ga habis pikir.. bisa2nya suka sama orang asing yang baru pertama kali dilihat.. malah sampe berani menyatakan bahwa itu adalah cinta… bahkan sampe bisa melupakan 5 tahun dengan kyungsoo semudah itu… hmmmm
    ya udah lah ya, kalo engga kaya gitu entar bukan ff chanbaek namanya.. justru berterimakasihlah pada suho, kalo engga kaya gitu, engga akan lahir ff chanbaek ini… wkwkwkw

    malang nian kau byun baekhyun… kelaparan, hilang ingatan, ga punya rumah, ga punya uang… untung ketemunya sama chanyeol, bukan sama om2 atau preman, bisa2 dia diperk**a… kkkkk~

    penasaran deh, sebenernya apa yang terjadi dengan baek dn kris di masa lalu? kenapa baek mengingat kris itu bukan kenangan yang baik, sedangkan kris sendiri mengaku kalo dia sangat mencintai baek? entar kalo baek kembali ingatannya terus kembali lagi sama kris gimana, kasian dong uri chanyeol? huhuuu…
    kelanjutannya ditunggu banget kak ALF😄

  29. sial sial sial baru baca ff ini dan ini keren bangetttt fluffynya itu loh ya Allah si chanyeol disini sikapnya antara manis, dewasa, dan apa ya asdfghjkl boyfriend material banget.

    baekhyun-ahhh kamu gemesin sekali disiniii<3 puppy, polos santun gimana gitu hehehe pengen bawa pulang rasanyaaaaa :((

    KRIS tunangannya baekhyun hueee jangan pertemukan baek dengan kris #okejahat. Semoga aja baekhyun tetep disisi Chanyeol ga tega ngeliat mereka misah.

    Aku pikir ini sedikit mirip kaya mvnya davichi yg don't say goodbye, yg nanti baekhyunnya diambil sm kris secara paksa/? tapi sepertinya beda apalagi pas bagian terakhir kayaknya kris sayang banget sama baek e_e tapi kenapa baek bilang kalo dia lupa ingatan karena kenangan buruk? Dan sebenernya hal apa yg ngebuat baek jadi lupa ingatan? pls banyak banget pertanyaan yg aku kepoin semoga kak alf setelah hiatus bakal lanjut ff ini lagi<3

  30. wah- chan udah bisa menerima kalo soo itu bukan untuk chan, dan si chan bisa merelakan soo… ak suka egonya chan #plakk ya iya sih si chan keliatan egois karena pengen tetep ama baek sekalipun dia tau baek udah punya tunangan. tapi yg namanya cinta mah gak masalah ngegunain ego dikit buat ngedapetin baek kan? hohoho, pertahankan terus si unyuk baek ya chan! eh tapi ak penasaran ama latar belakang baek trus seperti apa kris itu? kok kayaknya kris juga cinta bgt ya ama si baek, apa kris disitu orangnya pengertian atau malah kurang peka dan sering menyuruh baek buat ngelakuin yg dikehendakinya? kalo baek nantinya ama si chan ya aku juga kasian nantinya ama si bang kris… pengen liat seberapa besarkah cinta kris buat baek? tapi kok disitu baek bilang kalo kris bukanlah suatu kenangan yg indah, nah terus kris siapa, bagaimana, seperti apa? penasaran bgt lah ama ceritanya, pengen cepet liat si unyuk baek jadi rebutan, kekeke, next yup! semangat buat authornya! hwaithing! ^^

  31. Sialaalalala gmz!? berasa berbeda banget abis baca nrl ke ff ini. dari watak aja 😂 kaku aned gue bacanya. d nrl chanyeol brengsek d sini kalem banget 😂 kris d nrl brengsek di sini kalem yatuhan. ff ini sukses bikin gue senyum ketawa sampe bingung. ewh, rada asing dikit gue krisbaek tpi skrg gue ngebiasain itu biar ga aneh(?) guenya baca ff ff lu un. dtunggu chapter 2 nya. gue suka kata kata chanyeol pas ngomong sama lay ah lupa yg mana, anjr ngakak bacanya. yawla kenapa alf eon kren bngt bikin ff dri kata katanya aja. keren semua ff nya. kapan ya gue bisa gtu? wkwk, un, alf eon ada wattpad gak? saran sih, boleh tuh d post k wattpad ffnya. trus ni gue mau bcotin ffnya dulu. test. test. test. ok. KAN GUE LEBIH SUKA CHANBAEK DARI CHANSOO, JADI PAS CHAN PERGI DARI KYONGSU DISITU GUEBAHAGIA.G WKWK LALU KETEMU BEKI, GUE SENENG JUGA PERTEMUANNYA ANEH GITU, TRUS BEKI LUCU JUGA ORANGNYA DISITU, BERASA BACA MASA LALU GUE SOALNYA PERNAH BRU MTAN BRP HRI LGSG ANU EHMKSDNYA SUKA KOK MALAH GUE CURCOL, JADI, LANJUT DULU DEH, ITU SI BEKI KEK ANAK ILANG DONG YABERARTI, TERUS APA MAKSUDNYA KENANGAN BURUK ? TERUS TERUS SI KYONGSU MASIH ADASUKA KE CHAN, YAAMPUN LEPAS AJA AH KYONGSU SI CHANNYA KAN UDAH ADA SUHO ETAPI SULIT SIH EMANG APALG PDKTNYA 5 THN KAN GEWLA. ITU WU YI PAN KEKNYA GA BRENGSEK YA TAPI KENAPA BEKI BILANGNYA ADA KENANGAN BURUK ? ATAU MUNGKIN DI LUAR BEDA YA SAMA YANG DI DALEM? OKE GUE NGERTI PDAHAL GA NGERTI OK SOK SOK NGERTI AJA. OKE UN GUE SUKA GAYA TULISANNYA SEMOGAGUE BISA KAYAK LU UN YANG BISA BIKIN FF KATAKATANYA KEREN. OKE. KEEP WRITING UN GUE TUNGGU KELANJUTAN FF INI WALOPUN GA SEANTUSIAS NRL. MAAF YA KEA NYAMPAH GUE DISINI TAPI INI LAH GUE UN #bahasalo

  32. Bisa yah jatuh cinta semudah itu?? Sesingkat itu??
    Ahhh Byun Baekhyun mah memang pencuri/? ulung kkk~ /pencuri hati Park Chanyeol sama gue ahahaha

    Btw Baekhyun knpa tuh, knpa dia bisa hilang ingatan kek gitu? Penasaran ihh… dia gk inget kalo dia udah punya tunangan si Kris.
    Trus gimana kalo misalnya ingatan Baekhyun udah pulih, apa dia bakal ninggalin Chanyeol?? huwaaaa tidaaaaakkk Chanyeol gk boleh patah hati utk k’2 kali huhuhu

    Okelah seperti apapun akhirnya nanti, pokonya di tunggu kelanjutannya😀
    Semangat kakak 😉😁

  33. Ping-balik: LIST FF CHANBAEK FAVORITE | Shouda Shikaku's World

  34. Status baek mulai menemui titik terang dengan munculnya si Kris,hanya saja yg jadi pertanyaannya “kenapa baekhyun menghilang?” Heol~penasaran😄

  35. Sempat menduga-duga si Baek sakit apa.. Alzeimer atau apa itu..

    Ah, sudah kuduga itu Kris.. Eh, disitu Wu Yi Fan ding. Atau Kris dan Yi Fan beda di FF ini? Atau satu orang? *pikiranmacamapaini.

    Semakin penasaran..
    Dilanjut kakak..

    Terimakasih FF ChanBaeknya..🙂

  36. Setelah baca Get Married, ternyata ff ini tidak seringan yang itu. Meskipun tetep manisnya dapet. Ah- Chanyeol emang selalu manis sih kalau sama Baekhyun. Kurma aja kalah manis:’D

    Saya belum pernah baca ff ini btw/? Emang dasarnya saya orangnya gak sabaran, jadi jarang banget merhatiin judulnya. Dan pas ada pic to be continue itu saya baru sadar kalau ini ternyata chaptered huhu saya akan sabar menunggu:’D

    Dari awal sama sekali gaada bayangan ini bakalan cinta segitiga, bersama Kris lagi, Kris lagi (ceritanya masih dendam gara-gara LaP). Karena, seperti yang dibilang diatas, saya pikir ini oneshoot hoho

    Dan hati saya sempat mencelos /ea pas tau kalau ukiran di cincin Baekhyun ternyata ada nama Krisnya. Hmmm. Tapi sedikit banyak ngerasa bangga juga pas tebakan saya bener ternyata cowok yang nabrak Suho itu emang Kris. Haft, ini tak akan mudah/?

    Anw, gemes banget sama Baekhyun disini. Imuuut banget. Saya juga kalau jadi Chanyeol pasti gemes banget ditatap sama mata kecil Baekhyun yang kedip-kedip lucu, duhhh apalagi bibirnya /mulai ngawur.

    Sedikit penasaran, apa Kyungsoo nanti bakal mencoba rebut Chanyeol dari Baekhyun? Ya, siapa tahu Suho nya misalnya meninggal /slapped/ duh, saya berdoa yang terbaik aja buat Chanbaek deh /kibarin banner chanbaek/ semangat eonni!!!!!!!!!mwah

  37. chanyeol yang patah hati karena kyungsoo nikah sama joonmyeon akhir nya ketemu sama baekhyun walaupun kejadian nya sedikit aneh

    dan akhir nya chanyeol jatuh cinta dech sama baekhyun walaupun baekhyun sendiri gk inget sama diri nya sendiri ..

    kris tunangan nya baekhyun kan .. jadi bingung mau nya baekhyun sama siapa …

    hehehe sama siapapun semoga baekhyun bahagia dech

  38. Kak ALF aku lupa udah comment apa belum..
    Kalaupun udah aku pengin comment lagi, boleh yaaa???
    Kak FF ini keren banget!!! So Sweet banget miapa!!!
    Bacanya sampe merinding, part paling suka itu pas Baek ngomong, bibirku kenapa milikmu, yah yang kayak gitu..
    Aku merinding, kejer2 so sweeeeeetttt!!!!!
    Alamaaak!!! Ngape ada bang Yifan egen??
    Pengin deh ChanBaek gak ada yang ganggu.,😦
    Pokoknya hidup CHANBAEK!!!!!!
    Kak ALF, aku request endingnya ChanBaek yaaahh…??? *digebuk

    Love U Kakak ALF!!
    Karya2 Kakak emang yang paling ditunggu2..
    Cepet dilanjut ya Kak..??

  39. Yass krisbaek chanbaek yasss. 2 otp trpaporit. Lel. Tp ttp chanbaek yg numero uno. Pliz baek jan balik lg ingetannyaa n bikin dia jtoh cnt ma yeoli. Plz chanyeol kqsih lebih bnyk prhtian n kasih sayang sbg teman sm kyungsoo,, bikin baek sedih. Biar ada kesan sdikiiit angstnya#slap..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s