NO REGRET LIFE || CHANBAEK || CHAPTER 6


NRL 6 ccopy

Fanfiction-EXO Couple
Tittle: No Regret Life [Machine]
Author: AyouLeonForever
Cover pic/poster edited by: AyouLeonForever
Genre: BL, drama(?), Romance, Sad (?) Romance, action(?) dll
Length: Chaptered
Rating: T to M
Pairing: Suka suka ALF
Main Cast:
  • Park Chan Yeol
  • Byun Baek Hyun
  • Kim Jong In/Kai
  • Do Kyung Soo
  • Oh Se Hun
  • Lu Han
  • Kris
  • dll
 
Disclaimer: GOD
Copyright: AyouLeonForever™

 

ALF’s note: Ada yang nunggu FF ini? Sebelumnya ALF mau say thanks sebanyak-banyaknya karena apreasiasi readers akan FF abal ini. NRL 1 tembus 800 komen itu… eum… Gak taulah, antara terharu dan entahlah… kadang kewalahan ngeladenin pw. Wkwkw salah sendiri dipassword. dan agar FF ini tetap jalan… mohon kerja samanya yah. mari kita saling mencintai dan menghargai dan menghormati dan menyayangi dan mengasihi.

Warning: Boys Love, Out of character, Little bit lime, Bad Words, Not for kids

 

 

Preview

 

 

“Jangan Park Chan Yeol… jang__ Arrgghhh,” pekik Baek Hyun lagi namun terhenti saat Kris semakin menguatkan tekukan lengannya di leher Baek Hyun, kini ia betul-betul tercekik.

 

“Aku menunggu Park Chan Yeol…” lanjut Kris dengan suara meremehkan. Betul-betul menikmati wajah pucat Chan Yeol yang menatap penuh harap pada kekasihnya yang tengah tersiksa.

 

“Kau licik!” bentak Kai tidak terima, “kau benar-benar sampah Kris Wu, kau sungguh__” ucapan Kai terpotong saat tangan Chan Yeol menapak di dadanya. Menyuruhnya mundur. Dan itu adalah pertanda buruk.

 

“Chan Yeol-ah, jangan bodoh…”

 

Namun Chan Yeol tidak menggubris. Mengenai harga diri yang dijunjung tinggi sejak ia lahir, mungkin akan ia pertaruhkan demi orang yang betul-betul ia butuhkan.

 

Untuk saat ini…

 

Persetan dengan harga diri!

 

 

“Tolong… Lepaskan Byun Baek Hyun…” pinta Chan Yeol tulus.

 

Kris tertawa lepas, ditatapnya Chan Yeol yang terlihat sangat lemah di hadapannya. “Tidak… bukan itu yang ingin kulihat. Kubilang lakukan hal yang sama, seperti yang kulakukan saat itu dihadapanmu!”

 

Deg~

 

“Park Chan Yeol… berlututlah dan mengemis padaku!”

 

 

 

 

 

 

 

||Chapter 6 ||

 

 

Sebuah mobil mewah terparkir buru-buru di dekat Phoenix dan motor hitam milik Kai. Sosok tampan Se Hun keluar dari mobil dan langsung menghampiri Lu Han yang tertunduk penuh penyesalan di sana.

 

Ia tidak bertanya. Dan melihat kondisi di depannya, ia bisa membaca situasi bahwa kelompoknya berada dalam posisi tersulit. Dan seingatnya, ia tidak pernah melihat sosok Chan Yeol selemah itu, seolah tidak ada kekuatan lagi hingga harus dipapah Kyung Soo dan Kai di sana.

 

Lu Han mendongak, menatap Se Hun dengan tatapan sendunya. “Ini salahku,” lirihnya tanpa suara. Sempat membuat Se Hun terkejut, namun detik berikutnya pemuda tampan itu menarik Lu Han ke dalam pelukannya dan membiarkan pemuda berwajah indah itu menangis di sana.

 

Sementara itu….

 

 

Chan Yeol terlihat menahan nafas, sangat jelas dari wajahnya yang menegang dan memucat. Bisa jadi pengaruh kondisi tubuhnya yang belum pulih sepenuhnya, tapi di samping itu semua, ia terlihat sangat sekarat saat matanya tidak bisa sedetikpun lepas dari kekasihnya yang tampak sangat teraniaya di sana. Persis di depan matanya.

 

Byun Baek Hyun. Kekasihnya itu menggeleng dengan air mata yang telah bercucuran sejak tadi. Dengan isyarat bibir, karena suaranya tercekat oleh cekikan lengan Kris, ia menyampaikan pengharapannya pada Chan Yeol.

 

“Kumohon jangan lakukan…”

 

Di dunia ini Chan Yeol bisa saja melakukan apapun yang dia mau, tapi berlutut? Mungkin sampai ia matipun tidak akan dia lakukan entah pada siapapun.

 

Lalu saat ia dihadapkan pada situasi yang mengharuskannya memilih, prinsip itu lenyap begitu saja, seolah menguap tanpa tersisa. Nyatanya, ia seperti kehilangan akal dan berpikir akan melakukan apa saja agar kekasihnya selamat. Jangankan berlutut dan mengemis, bisa jadi ia rela mematahkan tangannya saat itu juga.

 

“Aku menunggu Park Chan Yeol,” tegur Kris dengan suaranya yang meremehkan.

 

Baek Hyun berusaha melepaskan cengkraman tangan Kris, tampak jelas ia tidak ingin Chan Yeol mengemis hanya untuknya. Ini bukan tentang berlutut saja, tapi harga diri. “Jangan Park Chan Yeol. Sedikitpun jangan mau berlutut demi aku.”

 

Chan Yeol hendak membuka mulutnya tapi tidak tahu harus berkata apa. Sudah cukup ia melihat kondisi Baek Hyun yang seperti itu, dan demi Tuhan ia tidak ingin terjadi hal yang lebih buruk lagi.

 

Kris tertawa, sangat licik. Bahkan saat tangan kirinya merogoh sesuatu di balik saku jeansnya ia tak ubahnya seorang iblis. “Mungkin kita butuh ini untuk membuat situasinya lebih menarik.”

 

Kali ini Chan Yeol tercekat, ia menggerakkan kakinya selangkah ke depan karena refleks tatkala Kris mendekatkan sisi pisau lipat di pipi lebam Baek Hyun.

 

“Berlututlah Park Chan Yeol, datang padaku dan mengemislah seperti anjing agar aku melepaskan kekasihmu.”

 

Kai yang sejak tadi menahan amarahnya di belakang hampir saja meledak kalau saja Chan Yeol yang masih dipapahnya tidak segera menahan dadanya. “Brengsek… kau sampah Kris Wu…” hardiknya berang.

 

“Yah setidaknya kita akan melihat ada orang yang lebih buruk dari sampah setelah ini. Ayo Park Chan Yeol. Lakukan.” Dan Kris tampak tidak main-main saat sisi tajam pisau itu mulai menempel di kulit mulus Baek Hyun.

 

“Aku bersumpah Kris Wu, setiap inchi kulitnya yang kau lukai, akan kau bayar ratusan kali lipat,” geram Chan Yeol dengan suara bergetar.

 

“Itu urusan nanti jagoan. Sekarang lakukan perintahku.”

 

“Kau…”

 

“Ja…, ngan Park Chan Yeol. Aku bersumpah hubungan kita berakhir jika kau melakukannya,” pinta Baek Hyun sebisanya bersuara. Masih berusaha melepaskan cengkraman Kris juga berhati-hati agar pisau itu tidak meninggalkan jejak permanen di pipinya.

 

“Oh, jadi kau lebih memilih kulitmu cacat dari pada melihat kekasihmu mengemis? Wah aku terharu sekali.”

 

“Lepaskan tanganmu bajingan!” bentak Chan Yeol saat ia melihat Kris membelai pipi Baek Hyun.

 

“Kurasa kita semua tahu, kau tidak berada di posisi yang terlihat pantas untuk mengancam. Aku tidak ingin membuang-buang waktu, jadi berlututlah sebelum aku menghiasi kulit kekasihmu dengan darah segar.” Kali ini Kris memindahkan pisau itu ke leher Baek Hyun, menguatkan intimidasinya.

 

Chan Yeol mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Masih ia rasakan genggaman tangan Kai di lengannya semakin menguat untuk sekedar mengingatkan agar ia bertindak bijak. Tapi posisinya sekarang hanya diberi satu pilihan. Bukan dua, karena jelas ia akan memilih berlutut dari pada melihat Baek Hyun terluka. “Kau akan membayarnya brengsek,” Chan Yeol menepis pelan genggaman Kai dan Kyung Soo di masing-masing lengannya kemudian melangkah maju.

 

“Park Chan Yeol!!! Aku serius jangan berlutut atau kau tidak perlu cemas bajingan ini melukaiku karena aku sendiri yang akan meninggalkanmu kalau tetap melakukannya!” bentak Baek Hyun tak mempedulikan pisau itu akan menggores kulit lehernya.

 

Chan Yeol tidak menggubris. Ia melempar helmnya ke aspal dan menghembuskan nafas berat sudah bersiap untuk berlutut.

 

Suasana semakin hening namun tegang. Seperti yang diharapkan Kris bahwa banyak dari peserta balapan dan penonton  yang mengabadikan moment itu. Moment di mana raja lintasan yang bernama Park Chan Yeol merontokkan harga dirinya.

 

Kyung Soo langsung memeluk lengan Kai dan membenamkan wajahnya di dada kekasihnya itu karena tidak sanggup melihat pemandangan di depannya. Sementara Kai hanya bisa memejamkan mata dan mengatupkan rahangnya kuat-kuat.

 

Kris tersenyum penuh kemenangan saat melihat ekspresi tanpa daya di depannya itu. Terlihat sangat lemah dan… tidak berarti apa-apa lagi. Sedikit tidak menyangka bahwa Chan Yeol yang angkuh itu justru terlihat lebih rendah dari sampah hanya demi menyelamatkan kekasihnya. Dan itulah keinginan terbesar Kris.

 

Baek Hyun terus menggeleng kuat saat Chan Yeol terlihat bersiap untuk…

 

Brugh~

 

Mata Baek Hyun membelalak saat satu lutut Chan Yeol sudah ambruk ke aspal. Ia menggigit bibir bawahnya sampai berdarah, tubuhnya bergetar hebat sampai akhirnya dia memutuskan sesuatu yang sangat penting.

 

Dan….

 

 

“DEMI TUHAN PARK CHAN YEOL… AKU AKAN MEMBENCIMU,” pekiknya mendarah daging dan tanpa memikirkan apa-apa lagi ia memberontak dan…

 

Slash~

 

Membiarkan Kris tanpa sengaja menggores leher Baek Hyun dengan pisau itu.

 

 

 

 

Ada jeda di mana keheningan membuat situasi itu semakin mencekam. Sampai kemudian Kris mundur beberapa langkah setelah menjatuhkan pisau yang berlumuran darah itu dan menggeleng tidak percaya.

 

Chan Yeol lebih tercengang. “Baek… Hyun…”

 

Sampai saat setetes air mata yang keluar begitu saja dari pelupuk matanya membuatnya tersadar akan apa yang baru saja terjadi persis di depan matanya.

 

Baek Hyun masih berdiri di sana, menatapnya sayu dan penuh air mata.

 

“BYUN BAEK HYUN!!!!” pekik Chan Yeol  langsung menghambur dan menangkap tubuh Baek Hyun sebelum ia ambruk dan menghantam aspal.

 

Dan situasi pun akhirnya pecah menjadi kepanikan saat Kai melempar helmnya ke arah kelompok Kris dan di susul Se Hun, mereka  menghambur ke arah Kris  bagai orang kesetanan.

 

Dalam sekejap Chan Yeol seolah buta dan tuli untuk situasi di sekitarnya yang semakin kacau saat Kai dan Se Hun menghajar Kris dan rekan-rekannya, belum lagi saat ada beberapa peserta yang ikut campur yang entah berada di pihak siapa. Chan Yeol betul-betul tidak peduli karena semua fokus inderanya tertuju pada satu objek, yaitu pada kekasihnya yang terbaring tanpa daya di pangkuannya. Matanya terlihat sayu, sesekali terpejam dan sesekali terbuka hanya untuk memastikan bahwa ia sekarang tengah berada di tangan Chan Yeol.

 

Seumur hidup, ketakutan terbesar Chan Yeol adalah saat di mana ia mendapati bahwa sosok yang terbaring di atas tempat tidur rumah sakit dan tertutup kain putih itu adalah ibunya, dan kini kejadian itu seolah terulang. Tangannya yang gemetar menyingkap kerah baju Baek Hyun dan berlumuran darah, dan di sanalah ia tercengang dengan luka gores memanjang yang dikhawatirkan memutus batang tenggorok dan pembuluh darah besarnya. “Byun Baek Hyun…”

 

Pemuda yang dipanggil itu hanya menggeleng dengan kelopak mata yang semakin melemah. “Hentikan… sampai di sini… Park Chan Yeol… sudah… berakhir… kumohon.” Dan kesadarannya pun hilang di detik selanjutnya.

 

Leher Chan Yeol tercekat. Ia lupa kapan terakhir pandangannya kabur karena air mata. Yang jelas ia semakin ketakutan saat Baek Hyun tidak lagi meresponnya. “Byun Baek Hyun… kalau kau berani meninggalkanku, maka aku akan mematahkan kakimu. Bangun kau bodoh…”

 

Kyung Soo dan Lu Han langsung menghampiri Chan Yeol. Keduanya tidak kalah ketakutan namun di saat seperti itu harus ada pihak yang tenang dan mampu menenangkan seorang Park Chan Yeol yang kalap.

 

“Chan Yeol-ah…, kita harus segera membawa Baek Hyun ke rumah sakit sebelum dia kehabisan darah,” jerit Kyung Soo persis di depan wajah Chan Yeol yang terus mengguncang tubuh Baek Hyun.

 

Chan Yeol menggeleng panik, pandangan matanya tidak fokus dan Kyung Soo tahu bahwa Chan Yeol sedang tidak dalam kondisi sadar sepenuhnya sekarang. Buktinya, ia merengkuh tubuh Baek Hyun erat seolah tidak ingin ada yang merenggutnya dari dekapannya, menampik semua uluran tangan Kyung Soo dan Lu Han seolah itu akan melukai Baek Hyun lebih berat.

 

“Park Chan Yeol!!!” pekik Kyung Soo lagi.

 

Namun Chan Yeol seperti bukan dirinya, seperti tidak berada di tempatnya. Ia benamkan Baek Hyun dalam dekapannya dengan pandangan mata mencekam namun tidak fokus pada satu objek, hanya terbaca jelas ketakutan berlebihan di sana.

 

Plaaak!!

 

Bunyi  tamparan itu menggema, menarik perhatian Kai dan Se Hun yang baru saja menjatuhkan beberapa anggota Kris yang terakhir mereka ketahui namanya adalah Min Seok dan Chen. Kris pergi entah kemana, pemuda bernama Lay dan Tao juga tidak berada di tempatnya. Dan demi Tuhan, Kai dan Se Hun memilih untuk tidak lagi peduli.

 

Mereka pun berlari menghampiri kelompoknya dan mematikan hati saat menyaksikan pemandangan tragis di hadapan mereka itu.

 

“APA KAU INGIN BAEK HYUN MATI HA???” pekik Kyung Soo mendarah daging. Suaranya bergetar karena tangisnya pecah.

 

Chan Yeol kembali menoleh pada kekasihnya yang terbaring tanda daya dan semakin memucat. Dan itulah yang membuatnya sadar. Dengan gerak cepat ia bangkit dan menggendong Baek Hyun ke arah mobil yang dibawa Se Hun.

 

“Se Hun, urus Phoenix dan motorku, setelah itu susul kami ke rumah sakit,” perintah Kai sebelum ia berlari menyusul Chan Yeol dan mengambil alih jok kemudi.

 

Kyung Soo dan Lu Han ikut ke dalam mobil, karena memang, harus ada yang meyakinkan Chan Yeol untuk tetap tenang.

 

 

 

~Chan♥Baek~

 

 

 

Kai POV

 

 

Chan Yeol akhirnya sudah tidak mampu mempertahankan kesadarannya. Setelah berhasil mengacaukan ruang UGD karena lambannya tim medis menangani Baek Hyun (yang sebenarnya kutahu adalah konsentrasi mereka buyar karena Chan Yeol mengacau), akhirnya ia pun jatuh pingsan bertepatan saat seorang dokter memutuskan untuk menangani Baek Hyun di ruang operasi. Kekasih sahabatku itu harus menjalani operasi karena dikhawatirkan goresan di lehernya memutus beberapa pembuluh penting. Ah masa bodoh dengan semua yang dikatakan petugas medis tadi. Dan sebagai orang yang dituakan setelah Chan Yeol dalam kelompok ini dan berhubung Chan Yeol juga sedang tidak bisa dandalkan, terlebih ayah Baek Hyun tidak tahu apa-apa tentang kondisi anaknya, maka akulah yang menandatangani surat persetujuan semua tindakan medis yang akan dilakukan untuk Baek Hyun.

 

Demi Tuhan, bahkan jika sekarang aku harus mendonorkan salah satu organ tubuhku, akan kulakukan. Bukan mengenai seberapa besar rasa sayangku untuk Baek Hyun…

 

 

Oh baiklah, aku sangat menyayanginya. Tapi aku serius, terlebih karena dia adalah orang yang sangat dicintai Chan Yeol. Jika terjadi apa-apa pada Baek Hyun… maka aku tidak hanya akan kehilangannya, tapi juga akan kehilangan Chan Yeol sekaligus karena kutahu Chan Yeol akan melakukan hal-hal yang nekat dan gila hanya untuk kekasihnya.

 

Sekarang, Baek Hyun sedang ditangani di ruang operasi, sementara Chan Yeol masih di UGD. Lengan kanannya terluka dan kuyakin itu adalah luka yang ia terima saat terjatuh di tikungan ke tiga. Dokter di UGD bilang, sejak awal kondisi fisiknya juga tidak sepenuhnya membaik. Dan ia harus menjalani beberapa tes laboratorium, dan sedikit membuatku terkejut, adalah saat dokter bertanya apakah Chan Yeol seorang pemakai obat-obatan terlarang atau tidak.

 

Chan Yeol memang perokok berat, tapi setahuku Chan Yeol enggan menyentuh obat-obatan. Takut diputuskan Baek Hyun katanya, entah kapan Baek Hyun mengancamnya seperti itu. Tapi tunggu… jelas saja ada sesuatu yang aneh saat dokter menanyakan itu, dan sampai sekarang kami masih menunggu hasil lab Chan Yeol.

 

“Apa mereka gila?”

 

Aku menoleh saat kulihat Kyung Soo datang bersama Lu Han. Mereka baru saja menyelesaikan administrasi di ruang rekam medik. Mereka lebih tahu. Aku hanya disuruh Kyung Soo menandatangani lembar persetujuan tindakan operasi itu.

 

“Ada masalah baby?” tanyaku saat Kyung Soo datang dan langsung memelukku. Aku tahu kalau kekasihku itu marah. Terlebih saat aku menatap Lu Han yang ekspresinya juga tidak baik. Beruntung Se Hun yang sejak tadi menemaniku menunggu di depan ruang operasi, langsung menghampiri Lu Han dan membawanya untuk duduk di bangku ruang tunggu.

 

“Dokter Jung, yaitu dokter bedahnya tidak ada. Dia sedang melakukan operasi besar di ruangan lain,” itulah jawaban yang kudapat. Itupun dari suara lemah Lu Han.

 

“Tu… Tunggu, lalu siapa yang sedang menangani Baek Hyun sekarang?” tanyaku panik setelah melepaskan pelukan Kyung Soo.

 

Kekasihku yang bermata indah itu menggeleng dan dia sudah menangis.

 

“Kudengar dia seorang dokter yang baru melakukan operasi pertamanya,” lagi-lagi Lu Han yang menjawab.

 

Brengsek!!!

 

“Apa rumah sakit ini gila? Apa mereka pikir Baek Hyun adalah pasien percobaan?” bentakku tidak terima. Walau kutahu jelas saja salah membentak di depan teman-temanku yang tidak tahu apa-apa.

 

“Tapi kondisi Baek Hyun akan jauh lebih berbahaya jika kita tidak menyetujuinya, dan kurasa sudah sangat terlambat untuk mencari rumah sakit lain.”

 

Lu Han benar. Di tengah situasi sulit seperti ini tidak seharusnya aku berpikian negatif. Aku tidak boleh seperti Chan Yeol yang kalap dan semakin memperburuk keadaan. Dan kuharap dokter baru itu bisa menyelamatkan Baek Hyun. Bagaimanapun caranya.

 

“Bagaimana kondisi Chan Yeol?” tanya Lu Han setelah kami dihantui keheningan yang mencekam.

 

“Aku tidak tahu. Kondisi terakhir yang kulihat, luka di lengan kanannya masih dijahit. Hasil labnya juga belum keluar dan dia belum sadar. Kurasa memang sebaiknya Chan Yeol dalam kondisi seperti itu. Aku khawatir jika ia tahu bahwa bukan dokter ahli yang menangani Baek Hyun, maka ia akan mengamuk lagi,” jawabku kemudian mengajak Kyung Soo ikut duduk di bangku tunggu.

 

“Kenapa semuanya jadi seperti ini?”

 

Barulah kudengar suara Kyung Soo setelah sejak tadi ia menangis. “Tenanglah… kita harus berdoa agar semuanya baik-baik saja,” hiburku. Yang aku sendiri tidak yakin dengan ucapanku. Memangnya kapan terakhir aku berdoa?

 

“Kenapa harus Baek Hyun? Kenapa bukan kita saja yang memang sejak awal tumbuh dengan kehidupan yang berantakan?”

 

“Kyung Soo…”

 

“Kenapa harus Baek Hyun, Kai… kenapa?”

 

Aku kembali meraih Kyung Soo dalam pelukanku, berusaha sebisa mungkin menenangkannya. Mengecup sisi telinganya dan membisikkan kalimat-kalimat lembut yang kuharap bisa membuatnya berhenti menangis.  Tapi… tidak cukup berhasil. Karena kutahu sedekat apa Kyung Soo dengan Baek Hyun.

 

“Tenangkan dirimu, dan berharaplah yang terbaik.”

 

Hanya itu yang bisa kukatakan padanya semberi mempererat pelukanku.

 

Ada jeda saat aku menoleh ke arah kiri dan kudapati Lu Han juga tengah menatapku. Astaga… aku tidak mungkin lupa dengan kondisi kami. Tentu saja tentang status kami… bukankah Lu Han masih kekasihku? Maksudku, aku memang berjanji akan menjadikannya kekasihku sampai turnamen usai. Tapi, bukan ini akhir yang baik untuk kami. Seharusnya kupersiapkan cara bagaimana melepaskan Lu Han tanpa menyakitinya.

 

Aku lalai. Sungguh… awalnya yang kupentingkan hanya egoku. Lalu semuanya seolah menamparku telak terlebih kulihat bagaimana sorot mata Lu Han saat Kyung Soo berada dalam pelukanku.

 

Sial…

 

Seharusnya kudengarkan kata-kata Baek Hyun. Dia benar bahwa tidak seharusnya kulibatkan orang lain dalam urusan pribadiku. Dia benar… bukan hanya Kyung Soo yang nantinya akan terluka, tapi Lu Han juga. Lihatlah apa yang kami dapat karena ambisi menggebu-gebu kami untuk menghabisi Kris.

 

Baek Hyun benar…

 

Baek Hyun selalu benar.

 

Dan pada akhirnya justru Baek Hyun yang menerima dampak dari keegoisan kami.

 

 

***

 

4 jam yang terasa seperti menunggu eksekusi mati. Lampu di depan ruang operasi masih menyala, dan tiap tenaga medis yang berlalu lalang di hadapan kami tidak jua punya jawaban yang bisa menghilangkan kecemasan kami.

 

Kyung Soo pergi untuk menunggui Chan Yeol yang sudah dipindahkan ke ruang perawatan, alasannya adalah agar ada yang menemani dan menenangkan sahabatku itu saat ia sadar. Dan saat aku mengajukan diri untuk menemaninya, Kyung Soo menolak dan mengatakan bahwa aku lebih dibutuhkan di sini, menunggui Baek Hyun menjalani operasinya. Kyung Soo justru meminta Se Hun untuk menemaninya. Dan sial… sekarang aku harus berada pada situasi canggung bersama Lu Han.

 

Entah hilang ke mana rasa percaya diriku yang pernah kugunakan saat kuminta Lu Han menjadi kekasihku. Kini nyaliku menciut, menatapnya saja aku sudah tidak berani.

 

“Kai…”

 

Aku hampir terjatuh dari kursi saat mendengar suara lembut Lu Han memanggilku. Suaranya begitu pelan, tapi karena dia persis di sebelahku, aku terkejut bukan main.

 

“Y… ya?” jawabku gugup.

 

“Maafkan aku.”

 

Aku mengerutkan kening. Entah kenapa Lu Han mengucapkan kata maaf di saat seperti ini. Sungguh… jika ada yang ingin disalahkan, tentu saja si China brengsek itu. “Untuk apa meminta maaf? Ini bukan salahmu.”

 

Lu Han terdiam sejenak, kemudian menunduk. Memperhatikan jemarinya yang sebenarnya sangat indah. Walau aku berani bertaruh tidak ada pemuda yang bisa mengalahkan keindahan jemari Baek Hyun. Tapi jemari Lu Han masih terlihat indah bagiku.

 

Astaga… apa yang kupikirkan sekarang ini?

 

“Jika saja… aku sedikit berhati-hati saat itu. Baek Hyun tidak akan diculik, Baek Hyun tidak akan disekap dan dijadikan tawanan. Chan Yeol tidak akan kacau dan… semuanya tidak akan seperti ini,” lanjutnya dengan suara bergetar. Kupikir nada suaranya penuh dengan perasaan sesal. Walau sebenarnya kutahu ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Lu Han. Justru kamilah yang melibatkannya.

 

“Kenapa kau berpikiran seperti itu. Bukan salahmu. Bukan salah siapapun di antara kalian. Yang lalai itu aku dan Chan Yeol, seharusnya kami bisa lebih waspada dan menebak alur permainan yang disiapkan Kris untuk kita. Jadi…” kuangkat tanganku dan mengusap pundak Lu Han pelan. “Jangan salahkan drimu lagi.”

 

Pemuda manis itu menghembuskan nafas lelahnya, kemudian mengangguk. “Kai…”

 

“Ya…”

 

“Ada yang ingin kutanyakan, tapi kumohon kau jangan marah.”

 

Aku terdiam sejenak. Mencoba menebak apa yang akan ditanyakan Lu Han dan aku punya beberapa kemungkinan, diantaranya adalah hubungan kami yang tidak jelas. “Tanyakanlah.”

 

“Aku sangat berharap Baek Hyun selamat dan Chan Yeol cepat sembuh. Karena dengan begitu… semuanya akan kembali membaik.”

 

Aku mengerutkan kening, apa tebakanku meleset. “Eum… Lalu?”

 

Lu Han menoleh, kemudian menatapku dengan pancaran aneh dari mata indahnya. Astaga… aku tidak mungkin langsung mengalihkan pandangan, karena dengan begitu Lu Han pasti tahu bahwa aku sedang tidak bisa mempertahankan kontak mata dengannya.

 

“Jika… situasinya sudah pulih kembali, berarti semuanya sudah selesai kan?”

 

“Tentang?”

 

“Turnamen itu… dan apa kau dan Chan Yeol akan menyuruhku pergi dari Red Villa? Ma… maksudku, aku tahu aku tidak boleh berharap lebih sementara aku hanya dibutuhkan untuk mendampingi kalian di turnamen. Tapi…”

 

“Lu Han…”

 

“Apa itu juga berarti bahwa hubungan kita telah berakhir?”

 

Ini dia… ini yang paling kutakutkan. Dan yang bisa kulakukan hanya menghela nafas dan memejamkan mata sesaat. Setelahnya kukumpulkan keberanian untuk menatap Lu Han dan menyentuh pipi mulusnya. “Kita bicarakan lagi saat Baek Hyun dan Chan Yeol telah melewati masa kritis. Yang perlu kau tahu, kami tidak menganggapmu hanya sebatas itu. Kau adalah teman… dan benar, aku tidak bisa menampik kenyataan bahwa aku pernah… memintamu menjadi kekasihku dan… itu masih berlaku.”

 

Dan entah aku harus senang atau justru sedih melihat Lu Han menyunggingkan senyum yang sangat manis. Kurasa aku tidak hanya kejam pada Kyung Soo karena telah mengkhianatinya, tapi juga sangat kejam pada Lu Han karena mempermainkannya.

 

“Terima kasih… Terima kasih Kai. Aku senang. Aku… aku sangat senang karena bisa bersama kalian. Dan… bersamamu.”

 

Oh tidak… tidak… jangan seperti itu. Ya Tuhan.

 

Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa, terlebih menolak saat Lu Han menggeser duduknya lebih dekat dan memelukku erat. Membenamkan wajahnya di perpotongan bahu dan leherku. Dan kurasa… dia menangis.

 

“Lu Han…”

 

“Terima kasih Kai… Terima kasih.”

 

Dan akhirnya aku mengangkat kedua tanganku dan membalas pelukannya. Mengusap punggungnya yang bergetar dan mengecup sisi telinganya untuk menenangkannya.

 

Sepertinya status Lu Han sebagai kekasihku saat Kyung Soo tidak ada masih berlaku sampai detik ini.

 

Maafkan aku Kyung Soo. Tapi aku tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja.

 

Kau adalah prioritas utamaku…

 

Tapi sial…

 

Aku menyayangi Lu Han.

 

Oh Park Chan Yeol… kenapa aku baru tahu bahwa aku kesulitan mengatasi situasi ini saat tak ada kau bersamaku. Setidaknya kau masih bisa memberiku advise yang terkadang tidak masuk akal dan sialnya berhasil.

 

Sungguh… Terkadang aku merasa baik-baik saja jika aku tahu ada Chan Yeol di dekatku. Entah Chan Yeol  sedang mengamuk atau sedang waras. Yang jelas… Chan Yeol punya caranya.

 

Lu Han masih terisak, tapi ia sudah bisa menguasai tangisnya. Bisa kulihat saat ia menjauhkan wajahnya dariku, tapi di saat aku menoleh untuk menatapnya… pandangan kami bertemu. Jarak yang begitu dekat. situasi yang begitu rumit dan kami tahu kami sama-sama kacau saat ini. Dan aku tidak bisa pura-pura buta saat dengan jelasnya kulihat Lu Han mengarahkan mata indahnya pada bibirku.

 

Tidak… tunggu.

 

Setidaknya jangan di sini.

 

Astaga… maksudku…

 

“Kai…”

 

Dan aku membelalak saat Lu Han akhirnya menggapai bibirku dengan sentuhan lembut bibirnya setelah dengan indahnya memanggil namaku.

 

Hanya ciuman polos, tapi… entahlah. Ini tidak seperti bagaimana aku mencium Kyung Soo. Tidak ada satupun dari kami yang menggerakkan bibir kami, hanya menempel tapi seperti menyampaikan sesuatu, dan aku tahu kami berdua sangat resah, hingga kubiarkan tanganku menyentuh pipi Lu Han dan memejamkan mataku seperti yang ia lakukan.

 

Hanya beberapa detik sampai Lu Han yang lebih dulu menjauhkan wajahnya dariku. Ia tersenyum, kemudian menoleh ke arah lain karena kutahu dia sedang malu. Wajahnya yang memerah itu sungguh manis…

 

Ya Tuhan, aku yakin aku sudah gila.

 

Setelahnya, tidak ada satupun dari kami yang mengeluarkan suara. Ini sudah tengah malam, bahkan sudah dini hari. Aktivitas di rumah sakit tidak terlalu banyak, jadi tidak heran tempat kami menunggu cukup sepi saat itu.

 

Hei Kim Jong In, lalu kenapa kalau sepi? Kau tidak berniat melakukan hal yang aneh kan?

 

Ya benar… aku sudah gila.

 

“Kai… sepertinya sudah selesai,” tegur Lu Han membuatku sedikit tersentak dan menoleh ke arah pintu ruang operasi yang memang lampunya sudah mati.

 

Ya Tuhan ya Tuhan… seharusnya aku lebih mempersiapkan diri untuk ini. Kenapa aku begitu gugup. Apa Baek Hyun baik-baik saja? Ya Tuhan… kenapa aku takut begini?

 

“Apa Baek Hyun selamat?” tanya Lu Han yang sebenarnya tidak tertuju padaku. Terlihat ia sedang menangkupkan kedua tangan di depan wajahnya, mungkin berdoa mati-matian. Dan itu membuatku tersadar bahwa seharusnya aku harus terlihat kuat, bukan justru lemah di hadapan Lu Han karena hanya aku yang tersisa yang bisa menenangkan semua anggota kelompokku.

 

Pintu itu terbuka. Dan jantungku hampir lepas dari tempatnya saat kulihat seorang dokter yang memang masih muda keluar dengan beberapa perawat yang mendampinginya. Aku sudah hampir berlari untuk menyerbunya dengan berjuta pertanyaan sebelum dokter itu melepas maskernya dan berjalan dengan senyum mengambang ke arahku.

 

Greb~

 

Mataku membelalak, dan aku refleks menggenggam tangan Lu Han saat dokter muda itu mendekat, masih tidak melepaskan senyumnya.

 

“Temanmu selamat,” ucapnya lembut. “Jong In-ah…”

 

Dan bumi tempatku berpijak seolah runtuh.

 

Hyung…” lirihku tanpa sadar.

 

***

 

 

Author POV

 

Kyung Soo menolah pada jam yang tergantung di dinding ruang perawatan Chan Yeol. Pukul 4 dini hari dan Chan Yeol belum juga siuman. Kyung Soo juga belum mendengar kabar apa-apa mengenai operasi Baek Hyun. Ia seperti akan gila saja kalau memikirkan hal itu.

 

Se Hun sedang mengupas apel di sofa dekat jendela. Kyung Soo tahu bahwa anak itu sangat lapar. Hanya saja ini bukan waktu yang tepat untuk mementingkan diri sendiri.

 

“Se Hun-ah…”

 

Pemuda tampan itu menoleh.

 

“Kau ingin keluar untuk mencari makan?”

 

Se Hun menggeleng.

 

“Apa kau tidak lapar?”

 

Se Hun mengulas senyum kemudian kembali menggeleng. Dan Kyung Soo akhirnya hanya menghela nafas. Mungkin Se Hun juga sadar bahwa sekarang bukan waktunya untuk memikirkan diri sendiri.

 

Kyung Soo sedikit tersentak saat mendengar pintu ruangan itu diketuk beberapa kali dan detik selanjutnya seorang pemuda tampan berjubah putih masuk dengan senyum manis di bibirnya.

 

Kyung Soo jelas heran, karena seingatnya bukan dokter itu yang menangani Chan Yeol tadi.

 

“Kerabat Byun Baek Hyun?” tanya dokter itu.

 

Kyung Soo membebelalak sambil memegangi dadanya, bersiap untuk menerima berita buruk. Se Hun juga berjalan menghampirinya dan memegang pundak Kyung Soo, bersiap-siap jika pemuda manis itu jatuh pingsan. “I… Iya aku temannya. Apa operasinya sudah selesai? Bagaimana hasilnya?”

 

“Operasinya berjalan lancar. Kami berhasil menghentikan perdarahan dan menangani lukanya tanpa merusak pita suara. Bersyukurlah karena lukanya tidak begitu dalam, dan tidak memutus pembuluh penting. Walau sebenarnya jahitannya cukup memanjang. Tapi itu perkara belakangan. Setelah lukanya kering, konsultasikan saja dengan dokter kulit untuk mengatasi bekas jahitan permanennya. Setelah pasien dibenahi, dia akan dipindahkan di ruang perawatan ini juga.”

 

Lutut Kyung Soo seolah lumpuh, beruntung Se Hun sudah bersiap menangkapnya, dan dia cukup beruntung temannya itu cukup kuat menopang tubuhnya. Kyung Soo terpaksa bersandar sejenak di dada Se Hun agar ia tidak luruh ke lantai. “Terima kasih Tuhan… terima kasih,” lirih Kyung Soo dengan air mata yang menetes tanpa henti. Setelahnya ia berusaha berdiri tegak dan kembali berhadapan dengan dokter tampan itu. “Terima kasih dokter. Terima kasih banyak. Kau bahkan sampai repot-repot datang kesini untuk menyampaikan berita penting ini.”

 

“Ini sudah tugasku, terlebih ini adalah pertama kalinya aku sendiri yang memimpin jalannya operasi. Jadi… operasi perdana yang cukup berhasil. Aku terlalu gembira dan ingin menyampaikannya pada keluarga pasien juga.”

 

“Sekali lagi terima kasih. Kurasa teman-temanku yang menunggu Baek Hyun juga sedang bergembira sampai lupa datang ke sini.”

 

Dokter muda itu tersenyum kikuk dan menggaruk tengkuknya. “Mengenai itu, aku tidak sempat memberitahukannya secara jelas, tapi mereka sudah tahu kalau pasien sudah melewati masa kritisnya.”

 

“Eh kenapa?”

 

“Sebelum kujelaskan lebih terperinci. Jong In sudah berlari meninggalkanku, dan temannya menyusul entah ke mana.”

 

Kyung Soo menoleh pada Se Hun sejenak kemudian kembali pada dokter tampan itu. “Aneh sekali, kenapa Jong In lar__” Kyung Soo langsung membelalak kaget dan menatap dokter itu dengan tatapan horror. “Tunggu! Apa tadi? Jong In? Kenapa kau tahu kalau nama Kai adalah Jong In?”

 

Dokter muda itu tertawa kecil, walau sebenarnya ada raut sendu di wajah tampannya. “Kenapa aku harus tidak tahu? Aku sudah memanggilnya dengan nama itu sejak dia masih bayi.”

 

“Tunggu… kau…”

 

“Maaf tidak memberitahu kalian lebih awal. Aku sempat melihat Jong In dan kalian membawa pasien ke UGD sebelum dipindahkan ke ruang operasi, dan kupikir mungkin ini adalah salah satu jalan terbaik dari Tuhan untuk mempertemukanku dengan adik kesayanganku.”

 

“A… adik…”

 

Dokter itu tersenyum lagi. “Benar, aku Kim Joon Myeon, dan Kim Jong In adalah adik kandungku.”

 

Dan kali ini Kyung Soo betul-betul pingsan.

 

 

***

 

~Chan♥Baek~

 

 

Kai tidak terkejut saat ada yang duduk di sebelahnya. Satu penjelasan bahwa ia sedang bergelut dengan pemikirannya sendiri.

 

“Kai.”

 

Barulah Kai menoleh pada sumber suara yang sangat lembut itu.

 

“Lu Han…” lirihnya sebagai balasan.

 

“Kenapa menyendiri di sini?” tanya pemuda China itu pada Kai yang memang sedang duduk di taman rumah sakit yang tampak lengang.

 

“Terlalu banyak hal yang terjadi Lu Han. Kurasa nanti bukan hanya kepala Chan Yeol yang akan meledak. Akupun…” Kai menghela nafas kemudian menunduk dengan sedikit mengacak rambutnya.

 

“Ada yang ingin kau sampaikan? Aku siap mendengarkan.”

 

Kai terdiam cukup lama, sampai kemudian ia menoleh dan menatap Lu Han lamat-lamat. “Aku tidak tahu Lu Han. Ada masa di mana aku tidak butuh siapa-siapa. Bahkan Kyung Soo. Maksudku… di saat seperti ini, aku butuh seseorang yang tahu keadaanku. Tapi dia sedang tidak bisa menemaniku. Dia sekarat.”

 

“Baek Hyun?”

 

Kai kembali menatap ke arah lain dan mengangguk. “Kurasa karena memang hanya Baek Hyun yang tahu.”

 

“Mengenai statusmu sebagai Kim Jong In?”

 

Kai tertawa pilu kemudian menghembuskan nafas lelah. “Sepertinya kaupun tahu.”

 

“Heum, dari ekspresimu terbaca jelas tadi.”

 

Kai mendesis, mengalihkan pandangannya ke arah lan. “Nama itu memuakkan. Tapi mereka selalu memanggilku dengan nama itu saat mereka berbicara serius. Seperti memintaku menyadari jati diriku.”

 

“Aku tidak mengerti.”

 

“Aku benci nama itu. Nama yang mengingatkanku tentang asal usulku. Bahwa aku berasal dari keluarga Kim yang terpandang. Dan itu memuakkan.”

 

Lu Han terdiam, menunggu sampai Kai menyelesaikan kalimat ambigunya.

 

“Salah satu anggota keluarga Kim telah menyelamatkan Baek Hyun. Dan… aku tidak bisa menyerukan protesku. Aku benci.”

 

“Kai.”

 

“Bahkan di duniaku sebagai Kai, dunia di mana aku tidak perlu terlibat dengan keluarga Kim, dunia yang kubentuk bersama orang-orang seperti Chan Yeol… dia pun mengusiknya Lu Han. Orang yang sangat kubenci karena kesempurnaannya.”

 

Tebakannya tidak meleset. Tapi Lu Han tidak bisa berbangga hati karena siapapun yang melihat kondisi Kai pasti akan tahu apa yang sedang ia pikirkan sekarang. Perlahan namun pasti, ia meraih tangan Kai dan menggenggamnya erat. “Lalu apa yang menjadi bebanmu?”

 

Kai diam, dan bungkamnya menjadi sebuah jawaban yang sangat jelas.

 

“Tidak bermaksud mengesampingkan masalah pribadimu Kai. Tapi, kita tidak punya waktu banyak untuk memindahkan Baek Hyun di rumah sakit lain dan ditangani dokter lain. Maksudku, jangan melihatnya sebagai orang yang kau benci, tapi orang yang telah menyelamatkan sahabat kita sekarang.”

 

“Aku tidak sudi Lu Han. Bahkan jika Baek Hyun hanya sahabatku, aku tidak sudi orang itu menanganinya. Aku…”

 

“Kau menyayangi Baek Hyun kan?”

 

Kai mengangguk lemah, masih menatap tangannya yang digenggam kuat oleh Lu Han. “Kali ini saja Kai. Jangan lihat ia sebagai ‘kakakmu’, lihat dia sebagai dokter yang sedang menjalankan tugasnya. Lihat dia sebagai satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan Baek Hyun tepat waktu. Jangan menyiksa dirimu sendiri dengan menambah beban baru.”

 

Kai semakin menunduk dan memejamkan matanya. “Kurasa Tuhan sedang mempermainkanku. Interaksiku dengannya, kurasa akan kembali dimulai. Dan aku tidak suka.”

 

“Kau ingin menghindar?”

 

Kai tidak menjawab.

 

Lu Han ikut terdiam, masih memandangi Kai yang tertunduk. Dan itu berlangsung cukup lama, sampai kemudian Lu Han mengangkat tangannya yang satu lagi dan meletakkannya di pipi Kai, meminta pemuda itu untuk menatapnya. “Baek Hyun.”

 

“Kenapa dengan Baek Hyun?”

 

“Kurasa anak itu selalu punya cara untuk memperbaiki sesuatu. Bahkan jika sesuatu itu sudah hancur berhamburan, Baek Hyun punya cara untuk menyatukannya.”

 

“Aku tidak mengerti.”

 

“Tunggu sampai waktu menjawabnya Kai.”

 

Sama seperti yang ia lakukan padaku__ keluh Lu Han dalam hati.

 

 

 

~Chan♥Baek~

 

 

 

Se Hun yang menunggu di depan ruang perawatan Chan Yeol langsung berdiri saat ia melihat Kai dan Lu Han berjalan bersisian dari ujung koridor. Ekspresi Kai masih terlihat kacau, tapi setidaknya sedikit lebih baik sejak terakhir ia meninggalkan tempat itu dengan tergesa-gesa.

 

Darimana saja kau? tanya Se Hun dengan bahasa isyaratnya, tampak sekali ia cemas. Kai hanya tersenyum simpul sebagai jawaban.

 

‘Kyung Soo pingsan.’

 

Kai membelalak saat Se Hun menggerakkan tangannya untuk memberitahukan informasi itu. “APA?” dan tidak menunggu waktu lama sampai ia melewati Se Hun dan menghambur memasuki ruang perawatan Chan Yeol.

 

Matanya semakin membelalak saat melihat siapa yang tengah membantu Kyung Soo untuk duduk bersandar di tempat tidur kosong tak jauh dari tempat tidur Chan Yeol. “APA YANG KAU LAKUKAN???” bentaknya kemudian menarik baju dokter Kim dan menjauhkannya dari Kyung Soo.

 

“Kai!” tegur Kyung Soo.

 

“Ah maaf, temanmu pingsan dan baru saja siuman. Kubantu ia duduk agar lebih mudah untuk minum obat. Kurasa dia butuh vitamin dan__”

 

“Omong kosong… kau hanya mencari kesempatan!”

 

“Jong In, aku…”

 

“Keluar!!!”

 

“Tapi…”

 

“Aku tahu kau yang menyelamatkan Baek Hyun. Jadi sudah cukup sikap sok pahlawanmu di hadapanku. Sekarang keluar!!!”

 

Kim Joon Myeon atau lebih di kenal dengan nama Su Ho itupun terdiam beberapa saat. Ia sempat menoleh pada Kyung Soo yang menatapnya tidak enak dan mengucapkan kata maaf hanya dengan gerakan bibir, dan Su Ho membalasnya juga dengan gerakan bibir. “Tidak apa-apa.”

 

Setelahnya ia tersenyum dan meninggalkan ruangan itu. Sempat berpapasan dengan Se Hun dan Lu Han di depan pintu. “Kalian bisa ikut denganku? Masih ada yang perlu diurus.”

 

“A… Ah baiklah Dokter.”

 

Su Ho tersenyum ramah kemudian menepuk pundak Se Hun. “Kalian teman Jong In. Tidak usah memanggilku seformal itu. Hyung saja sudah cukup.”

 

Lu Han tertawa kikuk terlebih Su Ho mengernyit heran saat Se Hun tidak menjawab.

 

“Err… Dok, eh… Hyung, temanku ini tidak bisa bicara.”

 

Su Ho terkejut, kemudian kembali menatap Se Hun. “Maaf…”

 

‘Tidak masalah.’

 

 

***

 

 

Kyung Soo masih menunggu kesempatan sampai ia bisa membuka suara. Melihat Kai dengan wajah kerasnya, nyalinya menciut bahkan jika Kai adalah kekasihnya sendiri.

 

“Kenapa kau bisa pingsan?” tanya Kai saat ia membantu Kyung Soo untuk meninggikan sandaran bantalnya.

 

“Aku hanya sedikit terkejut. Entahlah… mungkin karena serangan bertubi-tubi ini. Tiba-tiba saja pikiranku blank dan yah sempat tak sadarkan diri beberapa menit.”

 

“Apa yang pria brengsek itu katakan padamu?”

 

“Kai, jangan berbicara setidak sopan itu tentang kakakmu.”

 

Kai mengangkat alisnya dan menatap Kyung Soo tajam. “Kurasa dia juga sudah memberitahumu. Benar-benar brengsek. Lalu kenapa kalau dia seorang dokter? Apa dia ingin pamer?”

 

“Kai… kurasa tidak seperti itu. Kakakmu tidak seperti itu.”

 

“TAHU APA KAU?”

 

Kyung Soo terdiam. Ini sudah kali kedua Kai membentaknya. Tapi jelas dia tidak terbiasa. Tidak bisa terbiasa.

 

Dan melihat bibir Kyung Soo yang bergetar, Kai menyadari kelalaiannya. “Ya Tuhan, Kyung Soo maafkan aku baby. Aku … aku tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya… akh sial… aku sangat kacau saat ini. Tolong mengertilah. Orang terakhir yang ingin kulihat dan ingin kubahas adalah orang itu. Jadi tolong aku Kyung Soo, tolong jangan sebut nama orang itu di hadapanku.”

 

Kyung Soo mengangguk. Masih tidak bersuara karena tenggorokannya sakit menahan sakit.

 

“Maafkan aku. Demi Tuhan, aku tidak bermaksud membentakmu.” Ia raih Kyung Soo dalam pelukannya dan mengusap punggungnya. “Kyung Soo…”

 

“Iya Kai. Aku mengerti. Seharusnya akulah yang meminta maaf,” balas Kyung Soo dengan suara bergetar.

 

Kai langsung melepas pelukannya dan menangkup wajah kekasihnya itu. “Tidak… tidak. Bukan salah salahmu, sedikitpun bukan salahmu. Jadi lupakanlah.”

 

Kyung Soo mengangguk, dan berusaha tersenyum.

 

Kai menyeka tetesan air yang berhasil lolos dari pelupuk mata indah Kyung Soo, setelahnya ia mendekat dan menempelkan bibirnya di bibir Kyung Soo. Hanya sejenak, hanya kecupan ringan tapi itu sudah cukup bagi Kyung Soo untuk mendengar…

 

“Aku sangat menyayangimu, dan aku takut kehilanganmu.”

 

Kyung Soo mengatupkan rahangnya. Kenapa Kai sulit sekali mengatakan cinta padanya? “Hm… aku juga Kai. Aku mencintaimu.”

 

“Aku tahu.” Dan selanjutnya Kai kembali memeluknya.

 

Mungkin itu sudah cara Kai mengatakan cinta kepadanya. Yah setidaknya Kyung Soo berharap seperti itu.

 

 

***

 

 

Baek Hyun sudah dipindahkan di ruang perawatan yang sama dengan Chan Yeol. Itu memudahkan teman-teman mereka untuk menjaga mereka di waktu yang bersamaan. Terlebih, mereka khawatir Chan Yeol akan mengamuk jika saat ia terbangun, bukan wajah Baek Hyun yang menyambutnya.

 

Lu Han meringkuk di pojok ruangan. Tubuhnya bergetar, terlebih melihat kondisi Baek Hyun pasca operasi. Lehernya itu dibalut perban yang sangat tebal. Dan semakin ia melihat Baek Hyun, semakin besar rasa bersalah yang melandanya.

 

Kai ingin menghampirinya, namun tidak bisa. Tidak saat Kyung Soo ada di sebelahnya. Dan akhirnya ia cukup lega saat Se Hun yang baru saja datang membawa beberapa bungkus makanan, langsung menghampiri Lu Han dan membawanya ke sofa untuk duduk dengan tenang.

 

“Baek Hyun akan baik-baik saja,” ucap Kai dan itu jelas ditujukan untuk menenangkan Lu Han.

 

Dan pemuda manis itu mengangguk beberapa kali dan membiarkan Se Hun mengusap pundaknya.

 

“Kenapa Chan Yeol belum bangun? Ini sudah pagi dan tidak ada tanda-tanda kalau dia akan bangun,” tanya Kyung Soo yang saat duduk di dekat tempat tidur Baek Hyun sambil mengusap lembut rambut sahabatnya itu.

 

“Dokter yang menangani Chan Yeol bilang kalau… sesuai hasil pemeriksaan labnya, ini pengaruh obat yang ia konsumsi,” jawab Kai yang di saat yang bersamaan justru menempati kursi di dekat tempat tidur Chan Yeol.

 

“Obat apa?”

 

Kai berdehem sejenak untuk melonggarkan tenggorokannya. Ia jelas tidak bisa mengatakannya secara blak-blakan pada Kyung Soo, karena ia tidak ingin kekasihnya itu ikut terkejut dengan apa yang akan ia dengarkan. Sama seperti Kai yang beberapa menit lalu diminta untuk menemui dokter untuk mendengarkan bagaimana dokter itu membaca hasil labnya.

 

Ditemukan zat adiktif yang terkadung dalam urin dan darah Chan Yeol. Artinya, mungkin sebelum turnamen, Chan Yeol sempat mengkonsumsi obat-obatan terlarang tanpa diketahui Kai dan yang lainnya. Dan hal mengejutkan itu membuat Kai hampir menghajar dokter yang ia pikir sedang membuat lelucon. Chan Yeol bukan pemakai, tapi saat dokter bilang bahwa kandungannya tidak terlalu tinggi dan kemungkinan Chan Yeol baru saja menggunakannya dalam waktu dekat, Kai sedikit bisa menerimanya.

 

Benar… sebelum turnamen memang Chan Yeol kelihatan tampak aneh, terlalu tenang untuk ukuran pria yang kekasihnya disekap. Jadi ada kemungkinan besar Chan Yeol menggunakan obat-obatan terlarang untuk menenangkan diri.

 

Dan Kai bersumpah, akan menghajar sahabatnya itu jika sudah sadar nanti.

 

“O… Obat, yah entahlah. Semacam obat yang memberikan efek tertidur,” jawab Kai pada akhirnya.

 

Kyung Soo semakin mengerutkan keningnya. “Untuk apa Chan Yeol mengkonsumsi obat tidur kalau ia tahu ia akan melakukan turnamen penting?”

 

Karena itu bukan obat tidur Kyung Soo. Itu narkotika!!!__pekik Kai dalam hati.

 

“Nanti kujelaskan,” tegas Kai pada akhirnya dan itu membuat Kyung Soo kembali memfokuskan dirinya untuk membelai rambut Baek Hyun.

 

Kai tidak menyadari Lu Han sempat terhenyak di tempatnya. Dan ia mengumpat dalam hati berkali-kali bahwa ia harus menemui Kris saat ini juga. ada yang ingin ia pastikan.

 

“Baek Hyun sampai babak belur begini,” lirih Kyung Soo pilu melihat beberapa lebam di wajah indah Baek Hyun.

 

“Hm, dan Si China itu akan mendapatkan balasan 1000 kali lipat. Tidak hanya dari Chan Yeol, tapi dariku,” balas Kai.

 

Kyung Soo menghela nafas panjang kemudian menatap Kai di seberang. “Tidak bisakah kita hanya fokus dulu pada kesembuhan mereka? Balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah Kai. Dan kurasa kau sudah melihat buktinya.”

 

Kai terdiam. Kata-kata Kyung Soo hampir sama dengan Baek Hyun. Dan sekali lagi ia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama.

 

“Kai…” panggil Lu Han.

 

Kai menoleh dan mendapati pemuda itu sudah berdiri dan berjalan mendekatinya. Dan entah kenapa setiap tindakan sederhana Lu Han membuatnya sangat gugup, terlebih ada Kyung Soo di sana.

 

“Ada apa?”

 

“Aku… Bisakah aku kembali ke villa lebih dulu?” tanya Lu Han pelan.

 

“Kenapa?”

 

“Aku ingin… mengambil beberapa pakaian.”

 

“Tunggu saja sampai Chan Yeol sadar, aku akan mengantarmu pulang.”

 

Lu Han mengeluh dalam hati, alasan yang terlalu bodoh. “Sekalian ingin membersihkan diriku dulu Kai. Mungkin kita bisa bergantian untuk menjaga Chan Yeol dan Baek Hyun. Menghemat tenaga, karena kupikir kau juga sangat lelah. Setelah aku mandi dan berganti pakaian, aku akan kembali untuk menggantikanmu dan Kyung Soo.”

 

Kai sedikit berpikir, dan memang Lu Han benar. Mereka semua sangat lelah, dan ada baiknya untuk menghemat tenaga, mereka harus bergantian menjaga Chan Yeol dan Baek Hyun. “Baiklah. Biar Se Hun yang mengantarmu.”

 

“Eh… tidak perlu, aku bisa pulang sendiri.”

 

“Tidak. Ini bukan permintaan, tapi perintah. Lu Han… mulai detik ini aku akan waspada pada apapun yang terjadi pada kelompok ini. Tidak akan kubiarkan kejadian yang menimpa Baek Hyun terulang lagi. Tidak pada siapapun. Terutama kau,” tegasnya bahkan tidak sadar apa yang baru saja dikatakannya. Ia baru menyadarinya saat ia menangkap ekspresi terkejut Kyung Soo.

 

“Maksudku karena kau adalah anggota baru, dan mereka juga pasti akan lebih mudah mengincarmu,” ralat Kai yang mungkin saja sudah terlambat.

 

“Baiklah, terima kasih atas perhatianmu. Aku pergi dulu. Ayo Se Hun-ah.”

 

Dan kedua orang itupun meninggalkan ruangan setelah Se Hun menyempatkan diri menghampiri Baek Hyun dan mengecup keningnya.

 

Se Hun sangat menyayangi Baek Hyun. Siapa yang bisa mengelaknya?

 

Dan setelah mereka betul-betul pergi, suasana di dalam ruangan menjadi cukup hening kecuali beberapa peralatan medis yang berbunyi seperti EKG yang berada di dekat Baek Hyun.

 

“Kyung Soo… aku…”

 

“Hm, tidak apa-apa. Aku tahu kau ingin meralatnya tapi percayalah aku tidak apa-apa. Aku mengerti keadaanmu. Saat Chan Yeol sedang tidak bisa diandalkan sekarang, kaulah yang bertanggung jawab atas kami semua. Jadi… tidak perlu diralat. Aku mengerti.”

 

Dan itu membuat Kai cukup lega. “Terima kasih Kyung Soo. Terima kasih. Kau adalah kekasih terbaik yang pernah kumiliki.”

 

Kyung Soo tertawa kecil, kedengaran sangat geli. “Terbaik? Memangnya kau punya berapa kekasih sampai aku menjadi yang terbaik.”

 

Ouch!!!

 

“Ma… Maksudku… kau satu-satunya yang terbaik. Perbandingannya adalah Baek Hyun untuk Chan Yeol. Kau terbaik untukku. Yah.. seperti itu.”

 

Kyung Soo kembali tertawa geli, “Aku hanya bercanda. Santai sajalah. Kurasa bagi Chan Yeol, Baek Hyun adalah yang terbaik untuknya. Dan terima kasih karena posisiku masih yang terbaik untukmu.”

 

Oh… Kyung Soo. Maafkan aku.

 

“Selalu dan selamanya,” lirih Kai. Berusaha untuk yakin.

 

“Ng… Baek Hyun…”

 

Kai dan Kyung Soo tersentak saat mereka mendengar keluhan itu.

 

“Cha… Chan Yeol?” tanya Kai memastikan pergerakan sahabatnya itu.

 

“Baek Hyun… bertahanlah… tetap bersamaku. Tetap bersamaku, Baek Hyun… bodoh…” benar, Chan Yeol sedang bebicara. Sepertinya mengigau.

 

“Apa dia sudah sadar?” tanya Kyung Soo cemas.

 

“Entahlah… sebentar, kupanggilkan dokter.” Dan Kai langsung beranjak dalam hitungan detik.

 

***

 

 

Kyung Soo menangkupkan tangannya di depan wajah dan Kai masih setia merangkulnya agar tidak jauh-jauh darinya sementara dokter tengah memeriksa kondisi Chan Yeol.

 

“Bagaimana kondisinya dokter?” serbu Kai langsung saat dokter berusia paruh baya itu menanggalkan stetoskopnya dan mengantongi penlight yang ia gunakan untuk memeriksa Chan Yeol tadi.

 

Dokter itu tersenyum dan menepuk pelan pundak Kai. “Tidak ada yang perlu dicemaskan. Teman kalian baik-baik saja. Mungkin sebentar lagi dia akan sadar. Dan tolong pastikan dia tidak terlalu banyak bergerak. Saat bangun dia pasti akan merasa sangat pusing.”

 

“Ah syukurlah kalau begitu. Terima kasih dokter.”

 

“Dan mengenai temanmu yang satu lagi, mungkin dokter Kim akan segera datang untuk mengobservasi keadaannya.”

 

Dan senyum lega Kai menghilang. Tidak begitu fokus saat dokter yang menangani Chan Yeol tadi sudah keluar dari ruangan.

 

“Kai…”

 

Pemuda berkulit sehat itu hanya memejamkan mata dan mengatupkan rahang rapat-rapat. “Sial…”

 

“Kai… tenangkan dirimu.”

 

“Bagaimana mungkin aku harus tenang sementara dalam jangka waktu yang kurasa akan cukup lama, aku akan berinteraksi dengan orang itu.”

 

“Tapi bukan sepenuhnya padamu Kai. Ini lebih kepada kesembuhan Baek Hyun.”

 

“Tetap saja Kyung Soo… tetap saja aku harus bertatapan muka dengannya.”

 

“Kai… Tolong. Untuk kali ini saja, bisakah kau kesampingkan kebencianmu itu dulu?”

 

Kai menoleh dan menatap kekasihnya dengan cukup tajam. “Dan kau pikir akan semudah itu?”

 

Kyung Soo tidak menjawab, hanya menatap Kai dengan penuh harap. Dan bertepatan saat ia ingin membuka suara, pintu ruangan itu diketuk dan selanjutnya menampakkan sosok dokter muda yang begitu berwibawa. Tidak sedikitpun melepas senyumnya dan langsung meminta izin untuk memeriksa keadaan Baek Hyun.

 

Kai tidak menunggu sampai jarum detik bergeser cukup lama, ia langsung meninggalkan ruangan itu dengan langkah buru-buru.

 

Benci terlalu menguasainya.

 

“Ma… Maafkan sikapnya. Terkadang dia kesulitan menguasai emosi,” ucap Kyung Soo sedikit tidak enak.

 

“Hm, aku paham. Bukan pertama kalinya dia seperti itu. Jadi kurasa wajar saja.”

 

“Kuharap kau tidak tersinggung.”

 

Su Ho tertawa kecil sebelum menghampiri tempat tidur Baek Hyun. “Jika aku bisa tersinggung karena ulahnya, mungkin sudah dari dulu,” ucapnya sembari meletakkan diafragma stetoskop di sekitar dada Baek Hyun. Memeriksa nadi, juga tekanan darah yang terpampang di monitor dan mencocokkannya dengan pemeriksaan manual. “Vital sign nya masih stabil. Dan kurasa jika kondisinya terus seperti ini tidak akan terjadi masalah apa-apa.”

 

Kyung Soo cukup takjub dengan sikap profesional Su Ho. Menurutnya, kakak Kai itu adalah orang yang paling tenang yang pernah ia kenal. “Jadi, apa Baek Hyun akan siuman secepatnya?”

 

Su Ho melirik arlojinya, masih dengan senyum berwibawanya. “Efek anastesi sudah hilang sejak tadi, temanmu ini masih tertidur. Kehilangan banyak darah, terlebih sejak awal kondisinya sudah sangat lemah, itu cukup wajar. Jadi kau tenang saja. Obat yang kuberikan akan mempercepat pemulihannya.”

 

“Ah terima kasih banyak dokter, terima kasih banyak.” Kyung Soo membungkuk beberapa kali, seolah tak kuasa menahan harunya.

 

Su Ho tertawa kecil dan menyentuh pundak Kyung Soo. “Kau pun juga, santailah. Aku adalah kakak dari temanmu. Jadi, panggil saja aku hyung.”

 

Pipi Kyung Soo merona, sungguh ia tidak habis pikir bagaimana Kai bisa membenci sosok sesempurna ini.

 

Ah benar… justru karena sosok ini terlalu sempurna, maka dari itu Kai iri.

 

“Baiklah… hyung,” ucapnya dengan kikuk.

 

“Lalu, kemana teman-temanmu? Ah maksudku selain Kai, bukankah masih ada 2 orang lagi tadi?”

 

“Mereka pulang lebih dulu hyung. Kami akan bergantian menjaga Chan Yeol dan Baek Hyun.”

 

“Ah iya juga. Baek Hyun… kukira namanya saja yang familiar. Tapi memang aku pernah bertemu dengannya di toko buku, saat itu dia bersama Kai. Jadi kupikir… dia adalah kekasihnya.”

 

Kyung Soo tersenyum simpul, dan dengan pipi yang semakin merona, ia menunduk. “Baek Hyun kekasih Chan Yeol, pemuda yang berbaring di sana. Dan kekasih Kai…”

 

“Aku tahu. Pasti kekasih Kai adalah pemuda cantik yang berambut pirang tadi. Yang sama-sama menunggui Baek Hyun di ruang operasi kan?”

 

Kyung Soo langsung mengangkat wajahnya dan membelalakkan mata. “Apa?”

 

“Eh, apa aku salah menebak? Kupikir karena mereka tampak sangat dekat jadi…”

 

“Apa memang terlihat seperti itu?” tanya Kyung Soo cemas.

 

Dan dari kecemasan itu, Su Ho langsung tersadar bahwa ia tidak hanya salah menebak, tapi juga membahas topik itu pada orang yang salah. “Ti… Tidak juga. aku hanya bercanda. Kalian justru lebih mesra, apa kau kekasihnya Kai?”

 

Walau masih tersisa sedikit kecemasan, akhirnya Kyung Soo mengangguk.

 

Su Ho tertawa kikuk, ia hampir saja semakin memperparah keadaan dengan sikap sok tahunya. “Sudah kuduga. Kalian memang sangat cocok,” ucapnya jelas berusaha mengalihkan pembicaraan yang tadi.

 

Sungguh bodoh, kenapa aku bisa menebak bahwa yang pirang itu adalah kekasih Kai?

 

“Ja… jadi… eum… aku keluar dulu. Aku akan kembali beberapa jam lagi untuk memeriksa kondisi Baek Hyun. Sebaiknya kau cari Kai.”

 

“Hyung…”

 

“Ya…?”

 

“Kurasa mungkin akan lebih baik jika kau yang mencarinya dan mencoba bicara padanya.”

 

Suho tersenyum pahit kemudian menggeleng pasrah. “Tidak. Itu bukan ide yang baik. Aku adalah orang yang paling tidak ingin ia temui. Semuanya akan bertambah buruk jika aku yang menemuinya.”

 

“Lalu akan sampai kapan hubungan kalian akan sedingin itu?”

 

“Entahlah. Mungkin Kai akan merasa senang jika aku betul-betul tidak ada.”

 

“Hyung.”

 

“Tapi tenanglah, aku bukan tipe orang yang begitu cepat putus asa. Aku menyayangi adikku, dan aku masih berusaha memberi yang terbaik untuknya. Apapun, yang bisa kulakukan untuknya.”

 

Dan Kyung Soo kehilangan kata-kata lagi untuk merespon kalimat bijak Su Ho.

 

“Oh ya, sampai jumpa lagi eung…”

 

“Kyung Soo. Do Kyung Soo,” ucapnya sambil mengulurkan tangan.

 

“Ah… Kyung Soo. Nama yang indah. Seindah pemiliknya.”

 

Dan tidak hanya bijak, Su Ho juga pandai menggombal. Dan gombalan itu berhasil membuat wajah Kyung Soo merona dan hanya tersenyum sebagai balasan.

 

“Aku Kim Joon Myeon. Panggil saja Su Ho. Atau sesukamu saja,” balasnya pada akhirnya sembari menjabat tangan Kyung Soo.

 

“Senang mengenalmu hyung.”

 

“Hm… Kau juga.”

 

***

 

 

Lu Han sedikit gelisah saat Se Hun menemaninya pulang. Ia harus mencari cara agar bisa menemui Kris di suatu tempat. Dan jelas saja harus tanpa sepengetahuan Se Hun. Dan sebuah ide mampir di otaknya. Dengan cepat ia meraih smartphonenya dan mengirimkan beberapa kali pesan instant pada Kris yang ia tahu masih berada di Korea.

 

Dan setelah mendapat beberapa balasan juga, Lu Han menyunggingkan senyum dan bernafas lega.

 

“Oh ya Se Hun, apa kau bisa mengantarku ke rumah lamaku? Aku baru ingat bahwa ada yang ingin kuambil.”

 

Se Hun menoleh, sedikit mengerutkan keningnya.

 

“Tidak perlu memutar. Terus saja, dan belok kiri di persimpangan itu.”

 

Berhubung Se Hun sedang menyetir, ia tidak bisa bertanya lebih jelas, apalagi menyerukan protes. Terakhir, ia hanya mengangguk dan mengikuti instruksi Lu Han yang menuntunnya menuju tempat yang dimaksud.

 

Dan setelah hampir satu jam Se Hun menuruti semua instruksi Lu Han, akhirnya mereka sampai pada sebuah rumah sederhana yang memang cukup jauh dari kota.

 

Se Hun baru ingin melepas sabuk pengamannya untuk mengikuti Lu Han sebelum pemuda cantik itu menahan tangannya.

 

“Tunggulah di sini, aku tidak akan lama. Kalau kau ingin istirahat sebentar juga tidak apa-apa,” cegat Lu Han membuat Se Hun terdiam (atau memang dia selalu diam)

 

Baiklah’

 

Lu Han tersenyum lega dan refleks mendekat untuk mengecup pipi Se Hun. “Terima kasih.” Setelahnya ia turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumahnya.

 

Butuh waktu beberapa menit sampai Se Hun tersadar dari ketermanguannya. Dan detik selanjutnya ia menyentuh pipinya. Sebenarnya hanya sebuah kecupan ringan di pipi. Tapi…

 

Kenapa kesan yang ia terima cukup… membuatnya merasa gugup.

 

Ini tidak seperti kesan yang ia tangkap saat Kyung Soo atau Baek Hyun mencium pipinya. Dan memang Baek Hyun tidak pernah menciumnya selama Chan Yeol masih bernafas di dunia, jadi Baek Hyun tidak bisa dijadikan perbandingan.

 

Tapi sungguh, ada sesuatu yang aneh memang sejak Lu Han ada. Dan Se Hun tidak memikirkannya terlalu banyak karena perubahan itu justru ke arah yang positif.

 

Sebuah helaan nafas panjang mengantarnya pada sebuah senyum lebar di bibir. Rasanya beban dan penat yang belakangan ini menyiksanya terasa sedikit berkurang. Dan sebenarnya Lu Han benar, dia butuh sedikit istirahat.

 

***

 

 

 

Kris langsung menoleh begitu ia tahu Lu Han membuka pintu kamar itu dan segera menutupnya kembali. Ekspresi wajahnya tidak sesenang biasanya dan Kris hampir tidak bisa menebak saat Lu Han berjalan mendekatinya. Bukan memberikannya ciuman hebat di bibir tapi justru menamparnya cukup keras.

 

“A… ada apa ini? Lu Han? Apa kau sudah gila?” tanya Kris tidak percaya. Lebam di wajahnya jelas masih terlihat pasca dihajar oleh Kai dan Se Hun, sekarang Lu Han justru menambahnya dengan sebuah tamparan telak.

 

“Kau yang gila Kris. Kau yang gila. Pertama, sudah kubilang jangan coba-coba menyentuh Baek Hyun secuilpun, tapi yang kau lakukan justru keterlaluan. Kau bahkan hampir membunuhnya. Kedua__”

 

Kris membelalak kaget. “Ja… Jadi dia selamat? Dia tidak mati kan?”

 

Lu Han mendengus acuh. “Kenapa? Apa kau kecewa karena Baek Hyun tidak jadi mati? Ha?”

 

“Aku… Sungguh, itu… bukan sepenuhnya kuasaku, aku…”

 

“Ini di luar rencana Kris. Ini sudah sangat keterlaluan… ini…”

 

Greb~

 

Lu Han terlihat sangat kacau, dan Kris menyadarinya. Ini pertama kalinya Lu Han sangat tidak puas dengan hasil kerjanya, padahal semuanya lebih dari sekedar berhasil. Kecuali di bagian di mana Baek Hyun nyaris mati dengan leher terputus.

 

“Lu Han… apa yang terjadi?” tanya Kris bingung. Terlebih tubuh Lu Han bergetar, dan wajahnya memerah seperti menahan tangis.

 

“Aku tidak tahu… aku tidak tahu. Semuanya terasa aneh Kris. Ini… entah kenapa semuanya tidak sesuai dengan keinginanku.”

 

Kris menggeleng pelan, menangkup wajah indah Lu Han dan memaksanya untuk saling bertatapan. “Ini sudah berjalan dengan sangat sempurna Lu Han. Melebihi kata sempurna. Apa kau tidak melihat, Chan Yeol sudah hampir berlutut di hadapanku dan mengemis seperti anjing? Sedikit lagi Lu Han. Sisa sedikit lagi sampai Chan Yeol akan berhenti dari lintasan dan aku yang akan menguasai arenanya juga.”

 

“Tidak Kris… bukan begini akhir yang kuinginkan. Ini pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa telah melakukan hal yang benar-benar salah. Aku tidak__”

 

“APA? Apa maksudmu dengan hal yang salah?”

 

Lu Han tidak menjawab, ia mencoba mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tapi Kris jelas tidak membiarkannya. Sedikit mencengkram rahang pemuda cantik itu, ia memaksanya agar menatap tepat di manik matanya.

 

“Jawab aku jalang. Bagian mana yang salah?”

 

Lu Han menatap Kris cukup tajam, air matanya sudah menumpuk di pelupuk mata. Berikut amarahnya yang terpendam. “Kau Kris… kaulah kesalahan besar itu. Berada di sisimu benar-benar kesalahan besar.”

 

“LU HAN!!!”

 

“Kau bahkan dengan mudahnya membodohiku saat menyuruhku memberi obat itu pada Chan Yeol, Kris. Obat tidur berdosis rendah kau bilang? Kau tahu… Chan Yeol akan dicurigai sebagai seorang pemakai obat-obatan terlarang karena kelicikanmu. Kau bahkan sama sekali tidak mengkhawatirkan keselamatanku saat menyuruhku memberikan obat itu untuk Chan Yeol. Bagaimana kalau Chan Yeol betul-betul melayang saat itu dan kami mengalami kecelakaan berat? Kau…. Brengsek!”

 

Kris terdiam cukup lama, mencoba mencari celah pada wajah Lu Han yang menunjukkan ekspresi yang tidak biasanya. “Aku tidak pernah tahu bahwa kau bisa mengkhawatirkan orang lain selain dirimu sendiri.”

 

“Jangan mengalihkan pembicaraan.”

 

Kris menurunkan sebelah tangannya dan memeluk pinggang Lu Han, menarik pemuda itu menempel lebih rapat di dadanya. “Apa karena mereka sudah mengubahmu menjadi orang baik?”

 

Lu Han semakin kacau, ia menggeleng dan berdecak berkali-kali namun tidak bisa mengeluarkan suara sepatah katapun

 

“Atau karena… pria bernama Kai itu? Apa kau menikmati peran sebagai kekasihnya?” Kris merayapkan tangannya di balik kaos tebal Lu Han dan meremas kulit punggungnya. “Apa yang ia lakukan padamu hingga kau berubah?”

 

Lu Han masih tidak menjawab. Nyatanya, ia sendri ragu mengenai apa yang sebenarnya ia pikirkan. Ia sudah sangat jelas bahwa semua yang terjadi tidak seperti keinginannya, tapi… di sisi lain ia jelas tidak bisa mengakui hal yang mengganjal di otaknya pada Kris. Pada orang yang selama ini selalu bersamanya.

 

“Aku saudaramu Lu Han. Hanya aku yang boleh kau percayai, hanya kata-kataku yang boleh kau turuti. Dan kau memang diciptakan untuk terus bersamaku.” Kris memutar tubuh Lu Han dan memeluk perutnya erat. Menurunkan kerah bajunya dan menciumi lehernya cukup kasar.

 

Lu Han memejamkan matanya, menerima sensasi yang begitu familiar tapi untuk saat itu sama sekali tidak dia inginkan. “Kris… kumohon tidak sekarang. Aku akan… aku akan menemuimu setelah situasinya membaik… kumohon jang__ akh…”

 

“Tidak… Aku butuh penegasan. Mereka hampir sepenuhnya merubahmu, dan kau harus sadar dari mana kau berasal dan siapa yang berhak atas kepemilikan dirimu.”

 

Dan dengan satu sentakan, Lu Han terdorong ke atas sofa panjang sementara Kris langsung berdiri di hadapannya, membuka kemejanya dengan tatapan intimidasi.

 

“Kris…”

 

“Kau hanya penyusup Lu Han, bukan bagian dari mereka. Jangan masuk terlalu dalam pada kehidupan mereka. Statusmu sebagai kekasih Kai bukan apa-apa. Kau itu milikku.”

 

Dan Lu Han hanya bisa mengatupkan mulutnya rapat-rapat saat dengan mudah Kris menerjang tubuhnya. Sedikit berdoa bahwa apa yang akan Kris lakukan padanya tidak akan berlangsung lama.

 

 

***

 

 

Chan Yeol POV

 

 

Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku seperti tidak merasakan tubuhku. Ini aneh, seperti melayang. Dengan bayangan Baek Hyun menangis di setiap sudut pandanganku. Ingin menggapainya, tapi tanganku seolah sangat pendek dan Baek Hyun semakin menjauh. Bagaimana mungkin bisa kuabaikan ia berteriak kesakitan saat pria lain melukainya?

 

“Chan Yeol… tolong.”

 

Dan seketika mataku membelalak saat sebuah pemandangan mengerikan terpampang di hadapanku.

 

“BAEK HYUN!!!!” pekikku mendarah daging.

 

“Chan Yeol?”

 

Itu bukan suara Baek Hyun. Itu Kyung Soo yang berlari ke arahku bersama seorang dokter yang masih muda. Sejak kapan Kai menjadi seorang dokter? Sejak kapan Kai menjadi sependek itu? Sejak kapan kulitnya put__

 

“Hei, kau baik-baik saja Chan Yeol?”

 

“DI MANA BAEK HYUN???” tanyaku panik. Aku juga heran kenapa yang terbaring di tempat tidur yang serba putih ini adalah aku? Seingatku aku mengantar Baek Hyun ke rumah sakit, dan bagaimana mungkin sekarang ia terlepas dari dekapanku?

 

“Tenanglah, Baek Hyun sudah melewati masa kritisnya. Dia selamat, dan dia__”

 

“DI MANA DIA???” bentakku pada Kyung Soo. Hampir mencengkram kerah bajunya jika saja aku tidak menyadari rasa nyeri di tanganku.

 

“Tenangkan dirimu Chan Yeol, kau juga masih belum pulih. Baek Hyun ada di sebelahmu. Di situ,” ucapnya pelan.

 

Dan aku tidak perlu menunggu waktu lama untuk menoleh dan mendapati orang terpenting dalam hidupku itu sedang terbaring tak sadarkan diri dengan berbagai peralatan medis yang menempel di tubuhnya.

 

“Sial…” pekikku sebelum melompat dari tempat tidurku. Aku bahkan tidak peduli saat jarum infus sialan itu terlepas dari tanganku, menyebabkan darah bercucuran dari bekas jarum infus di tanganku. Persetan dengan semuanya. “Baek Hyun… Byun Baek Hyun. Kau mendengarku? Baek Hyun… bodoh bangunlah,” pintaku histeris, takut-takut menyentuh wajahnya karena dia begitu… rapuh. Aku takut sedikit saja kesalahan dan dia raib dari sisiku.

 

“Chan Yeol, kembalilah berbaring. Kau masih belum pulih.”

 

Kyung Soo benar, aku hampir saja terjatuh saat tidak bisa mempertahankan keseimbangan tubuhku. Bumi tempatku berpijak seperti berputar hebat. Tapi aku tidak peduli. Yang terpenting sekarang adalah Baek Hyun.

 

“Baek Hyun… bangunlah, kumohon buka matamu.”

 

Seorang dokter yang kukira adalah Kai itu menghampiriku dan menyentuh pelan pundakku. Kalau dia bukan dokter, sudah kuhabisi dia.

 

“Tenangkan dirimu. Pasien hanya tertidur sejenak. Itu untuk pemulihan kondisinya, jadi kembalilah beristirahat, akan kubetulkan infusmu,” ucapnya tenang.

 

“Persetan dengan infus. Tinggalkan aku,” bentakku marah.

 

Entah kenapa semua orang bisa menghadapi situasi ini dengan tenang. Lagipula? Kemana yang lainnya? Mana Kai? Mana Se Hun dan Lu Han?

 

Kukembalikan fokusku pada sosok yang paling penting dalam hidupku itu, kuraih tangannya yang tidak terdapat selang infus. Kugenggam dengan pelan dan mengecupnya berkali-kali. “Tetap bersamaku Byun Baek Hyun. Kumohon, tetap bersamaku.”

 

Kyung Soo juga dokter itu tidak lagi bersuara. Aku tidak tahu bagaimana menghadapi situasi ini.

 

Di satu sisi aku ingin berteriak dan memarahi semua orang tapi aku takut mempengaruhi kondisi Baek Hyun. Di sisi lain aku… aku bahkan ingin menangis. Bagaimana kalau kondisi Baek Hyun memburuk? Bagaimana kalau dia meninggalkanku? Bagaimana kalau…

 

“Chan Yeol, aku akan mencari Kai. Tidak apa-apa jika kutinggal sebentar?” tanya Kyung Soo yang masih berdiri di belakangku.

 

Aku tidak menggubris. Dan kurasa dia tahu jawabanku. Terbukti saat ia keluar bersama dokter itu. Benar… aku butuh waktuku bersama Baek Hyun. Aku butuh waktuku bersama…

 

Kekasihku.

 

Kutatap sosoknya yang tidak berdaya itu. Bagaimana lebam dan bekas luka mengotori wajahnya, bagaimana perban yang begitu tebal di lehernya, bagaimana…

 

… ketidak berdayaanku saat pria brengsek itu melukainya…

 

“Baek Hyun… maafkan aku…” lirihku berikut air mata yang keluar dengan sendirinya. Demi Tuhan aku tidak pernah menangis sepilu ini sejak terakhir ibuku meninggal. Tapi… apa yang menimpa kekasihku ini bertubi-tubi tidak hanya berhasil membuatku menangis. Aku… aku betul-betul menerima kehancuranku. Dan aku bersumpah, tidak akan kubiarkan seseorangpun yang telah melukai Baek Hyun-ku masih bisa tertawa di luar sana.

 

Aku bersumpah.

 

“Baek Hyun… bangunlah. Kumohon…” dan terakhir, aku hanya merintih pilu di tangannya.

 

***

 

 

Author POV

 

Se Hun sedikit cemas, ah tidak. Tapi sangat cemas. Lu Han terlihat dalam keadaan yang… tidak baik. Sejak dari rumah itu dan dalam perjalanan pulang ke red Villa, dia tidak mengeluarkan suara sedikitpun (kecuali meringis beberapa kali saat membetulkan duduknya). Ia tidak bisa menebak apa Lu Han menangis atau tidak, karena matanya sudah sembab sejak tadi malam.

 

Se Hun sudah mandi dan berganti pakaian tapi Lu Han belum juga keluar dari kamarnya. Ia memang tahu bahwa Lu Han itu seperti Baek Hyun yang membutuhkan waktu yang cukup lama di kamar mandi.

 

Dan sekarang ia sudah berdiri di depan kamar Lu Han di lantai 2 Red Villa. Mencoba menyusun kata yang nantinya akan ia sampaikan padanya. Dan setelah mengatur nafas berkali-kali, ia memberanikan diri mengetuk pintu kamar Lu Han.

 

Tidak ada sahutan. Mungkin Lu Han masih di kamar mandi, dan itu membuat Se Hun semakin gelisah.

 

Smartphone miliknya bergetar, dan sebuah pesan instan masuk berentetan. Kesemuanya dari Kyung Soo. Dan setelah membacanya, kedua mata yang selalu menampakkan ekspresi datar itupun akhirnya membelalak. Dan senyum lebar tergambar di bibir tipisnya.

 

Ia kembali mengetuk pintu kamar Lu Han, kali ini lebih antusias. Ia butuh hampir 10 menit sampai pemuda cantik itu keluar dengan kondisi sudah sangat rapi dan selalu saja menawan. Se Hun sempat termangu beberapa detik sampai ia sadar apa yang seharusnya ia sampaikan untuk Lu Han.

 

“Maaf membuatmu menunggu lama, aku sempat ketiduran,” ucap Lu Han lemah.

 

Se Hun mengangguk beberapa kali cukup antusias memperlihatkan smartphonenya. Tepatnya semua pesan dari Kyung Soo.

 

“Chan Yeol sudah sadar?” seru Lu Han akhirnya terlihat cukup semangat. “Kondisi Baek Hyun membaik. Ya Tuhan, syukurlah.” Dan Lu Han langsung menghempaskan tubuhnya ke pelukan Se Hun. Dan anehnya, ia justru menangis di sana.

 

Se Hun sempat membeku beberapa saat ketika Lu Han berada dalam pelukannya. Sedikit pelan, ia merengkuh lengan atas Lu Han, dan melepaskan pelukannya dengan lembut. Sedikit terhenyak saat mata indah itu justru mengeluarkan air mata. Ia tatap pemuda itu dengan tatapan cemas, mengharapkan jawaban atas pertanyaannya, ‘kenapa Lu Han menangis di saat seperti ini?’

 

“Aku tidak apa-apa, hanya… aku hanya lega akhirnya Chan Yeol siuman,” lirih Lu Han seolah tahu makna tatapan cemas Se Hun. “Ayo kita ke rumah sakit sekarang.”

 

Dan Se Hun pun mengangguk antusias sebelum menggenggam tangan Lu Han dan menuntunnya menuruni tangga.

 

 

***

 

 

Kyung Soo yang memeluk lengan Kai di pojok ruangan, Se Hun dan Lu Han yang berdiri tak jauh dari mereka, juga Chan Yeol yang tidak melepaskan tangan Baek Hyun sedetikpun hanya bisa terdiam saat beberapa dokter termasuk Su Ho, masuk ke ruang perawatan Baek Hyun untuk mengobservasi kondisinya.

 

Seorang dokter yang rambutnya sudah memutih di beberapa bagian, hanya mengangguk-angguk saat Su Ho menjelaskan rentetan proses operasi yang dilalui Baek Hyun kemarin, dan dari ekspresi wajahnya, dokter senior itu cukup puas dengan hasil kerja anak didiknya bahkan untuk ukuran operasi perdana sebagai dokter residen.

 

“Kau mengambil keputusan yang sangat cepat, dan yang paling membuatku senang adalah ketelitianmu hingga tidak ada organ penting yang terganggu saat operasi berjalan.”

 

“Lukanya cukup dalam, namun tidak cukup untuk merobek batang tenggorok dan pembuluh inti, awalnya aku khawatir dengan pita suaranya, tapi setelah melihat hasil pemeriksaan selanjutnya, aku yakin tidak akan ada yang salah.”

 

Dokter senior itu kembali mengangguk dan tersenyum puas. “Pasien akan segera siuman, lanjutkan pengobatan. Jangan lupa ganti perban lebih sering dari biasanya karena ini area lipatan. Rawan infeksi.”

 

“Bak dr. Jung.” Su Ho membungkuk dan langsung memberi instruksi kepada beberapa dokter muda dan perawat untuk melakukan tindakan selanjutnya.

 

Dokter senior bermarga Jung itu menoleh pada sosok pemuda yang tidak juga melepaskan tangan pasien. Dan itu sedikit membuatnya tersenyum. “Apa dia saudaramu?”

 

Chan Yeol menoleh ke arah dokter itu, kemudian menoleh lagi ke kanan dan ke kiri untuk memastikan dialah yang diajak berbicara.

 

“Iya… anda.”

 

“Bukan. Mana mungkin dokter mengira bahwa aku saudaranya?”

 

“Karena kalian mirip.”

 

Chan Yeol menatap dokter itu dengan jengkel. Dan itu membuat Su Ho yang berada di sebelahnya hanya tertawa kecil.

 

“Kau tahu Chan Yeol-shii? Dokter Jung itu punya pandangan yang mengagumkan. Saat dia mengatakan sepasang kekasih itu memiliki wajah yang mirip, itu artinya kalian akan berjodoh,” tutur Su Ho yang sebenarnya adalah cara mereka untuk menenangkan keluarga pasien.

 

“Baguslah kalau begitu,” balas Chan Yeol kembali menatap Baek Hyun dan mengelus rambutnya.

 

“Dan juga… karena kupikir, jika kau hanya temannya, kau tidak akan sekhawatir ini sampai mengabaikan kondisimu sendiri. Dokter Nam dari UGD mengatakan bahwa kondisimu tidak cukup baik untuk beranjak dari tempat tidur,” tambah Dokter Jung lagi.

 

“Aku tidak peduli. Hal terpenting sekarang adalah, bagaimana Baek Hyun bisa melewati ini semua tanpa ada dampak buruk baginya.”

 

Dokter jung mengusap punggung Chan Yeol sejenak, kemudian berpamitan. Kyung Soo langsung mengantar dokter senior itu berikut beberapa dokter lainnya untuk keluar ruangan. Kecuali Su Ho, karena ia masih mencatat beberapa hal yang menunjukkan perkembangan kesehatan pasien yang ia tangani sendiri itu.

 

“Kapan Baek Hyun akan membuka matanya?” tanya Chan Yeol pelan.

 

“Tidak lama lagi. tanda-tanda vitalnya sudah stabil.” Su Ho melirik jam tangannya dan tersenyum. “Jadi kau boleh istirahat dulu.”

 

“Tidak dokter, aku ingin menjadi orang pertama yang ia lihat saat ia membuka mata.”

 

Su Ho masih tersenyum kemudian mengusap pundak Chan Yeol. “Bersabarlah. Baek Hyun akan baik-baik saja.”

 

“Terima kasih dokter.”

 

“Panggil saja Hyung. Tidak ada orang lain di sini.”

 

Chan Yeol sedkit melirik ke pojok ruangan di mana Kai terus membuang muka dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Apapun yang terjadi, Chan Yeol akan tetap di pihak Kai. Tapi… kondisi ini adalah pengecualian. Chan Yeol tidak melihat Su Ho sebagai kakak Kai, tapi dokter yang telah menyelamatkan Baek Hyun. Dan sialnya, hal penting itu baru ia sadari beberapa jam yang lalu.

 

“Terima kasih Hyung.”

 

“Tidak perlu sungkan. Panggil saja kalau ada apa-apa. Aku ke ruangan lain dulu,” pamit Su Ho kemudian mengulas senyum pada empat orang yang masih berdri di pojok ruangan. Kyung Soo hendak beranjak mengantar Su Ho tapi tangannya dicekal oleh Kai. Dan sebagai orang yang harus bersikap bijak, Su Ho hanya bisa maklum dan keluar dari ruangan itu.

 

“Kyung Soo, Kai… sebaiknya kalian pulanglah dulu beristirahat. Biar aku dan Se Hun yang menjaga mereka,” usul Lu Han saat melihat wajah lelah Kyung Soo, utamanya Kai.

 

“Eum, baiklah. Tolong hubungi aku kalau ada apa-apa,” balas Kyung Soo kemudian memeluk Lu Han dan Se Hun bergantian.

 

“Tentu saja. Akan segera kuhubungi jika Baek Hyun siuman lebih awal.”

 

“Terima kasih Lu Han.” Kyung Soo pun mengajak Kai mendekati tempat tidur Baek Hyun, ia memberikan kecupan sayang di kening Baek Hyun kemudian mengusap pundak Chan Yeol. “Kami pulang dulu Chan Yeol-ah. Jangan lupa makan dan sempatkan istirahat.”

 

Chan Yeol hanya mengangguk dan membiarkan Kyung Soo memeluknya sejenak.

 

“Chanyeol.”

 

Pemuda itu menoleh saat Kai memanggilnya dan menatapnya dengan cara berbeda. “Ada apa?”

 

“Aku ingin membahas sesuatu denganmu, tapi mungkin bisa kutunggu sampai Baek Hyun sadar.”

 

“Tentang apa?”

 

“Bagiku cukup penting. Dan kurasa kau tidak cukup stabil untuk membahasnya denganku saat ini.”

 

Chan Yeol terdiam sejenak, mencoba membaca ekspresi lain dari Kai itu. Namun ia tetap tidak menemukan apa-apa. “Baiklah.”

 

“Hm… hubungi aku jika ada sesuatu.”

 

Tak cukup 2 langkah saat Kai dan Kyung Soo beranjak, pintu ruang perawatan itu terbuka dengan sebuah bantingan. Menampakkan sosok pria paruh baya yang wajahnya pucat dan wajahnya memerah.

 

“BAEK HYUN!!!”

 

Dan Chan Yeol yakin, penjelasan saja tidak akan cukup untuk menenangkan orang kedua yang sangat mencintai Baek Hyun setelah dirinya itu.

 

 

 

***

 

 

 

 

“Maafkan aku… Ayah…” ucap Chan Yeol akhirnya, setelah bermenit-menit dihantui keheningan yang mencekam. Ruangan itu terasa semakin sepi sejak Kai dan Kyung Soo kembali ke Red Villa juga Se Hun dan Lu Han yang beralasan mencari makan siang. Nyatanya, ada pembicaraan serius yang membutuhkan ruang tersendiri bagi Chan Yeol dan Ayah Baek Hyun.

 

Pria paruh baya yang akhirnya baru bisa menguasai air matanya setelah berjam-jam menangis tanpa henti sejak pertama kali mendengar anak semata wayangnya mengalami kecelakaan serius di Korea. “Bukankah kau sudah berjanji padaku untuk melindunginya?”

 

Chan Yeol menelan ludahnya susah payah. Nyatanya, ia baru menemukan ketakutan baru dalam hidupnya. Bagaimana jika ayah Baek Hyun kecewa?

 

“Sudah kulakukan sebisaku, Ayah. Aku… Aku hanya lalai karena Baek Hyun lepas dari pengawasanku dan orang itu…”

 

Chan Yeol menghentikan ucapannya begitu melihat Ayah Baek Hyun mengusap wajahnya dengan satu tangan.

 

“Aku tahu kehidupanmu Park Chan Yeol, aku tahu seliar apa pekerjaan yang kau geluti. Tapi… Aku tidak pernah berpikir sejauh ini, dan… ini di luar harapanku tentang caramu melindungi anakku. Aku… Aku tidak tahu Park Chan Yeol, apa keputusanku membiarkan anakku bersamamu adalah hal yang tepat?”

 

Chan Yeol tersentak. Seketika berdiri dan hampir kembali limbung jika saja ia tidak berpegang pada tepi tempat tidur Baek Hyun. “A… Ayah, komohon jangan mengatakan hal itu. Aku… aku akan lebih mengawasinya. Aku akan menjaganya lebih sering dari biasanya. Aku… aku akan melakukan apapun. tapi kumohon jangan meragukanku.”

 

“Chan Yeol…”

 

Chan Yeol semakin panik, terlebih melihat ekspresi sendu dari wajah ayah Baek Hyun. Seolah akan menyerah. Dan seperti telah kehabisan akal, Chan Yeol beranjak dan berpindah ke hadapan Ayah Baek Hyun, dan seketika berlutut di hadapannya. Membuat pria paruh baya itu langsung terkejut dan hampir terjatuh dari duduknya.

 

“APA YANG KAU LAKUKAN?” bentaknya langsung menghampiri Chan Yeol dan memaksa anak itu berdiri.

 

“Aku tahu ini salahku. Tolong jangan ambil Baek Hyun. Atau… Atau… Aku bisa berhenti dari dunia balap kalau itu membuatmu cemas, aku bisa menjual motorku, aku… Apapun… katakan saja, akan kulakukan.”

 

Ayah Baek Hyun semakin berang saat Chan Yeol tetap saja berlutut dan memohon. “HENTIKAN ITU DAN BERDIRI! MANA HARGA DIRIMU!!!”

 

Chan Yeol terdiam cukup lama, ia tatap sepatu hitam milik ayah Baek Hyun, kemudian menghela nafas pendek. Seperti teguran telak, ia pun tertawa dalam kepiluannya. “Harga diri…” lirihnya dengan tatapan kosong.

 

“Dengar Park Chan Yeol. Orang tua manapun sudah pasti akan marah melihat anaknya hampir mati hanya karena kelalaian orang yang dikiranya akan bisa menjaga amanah dengan baik. Tapi… bukan begini yang kumaksud Park Chan Yeol. Kau tidak boleh merendahkan martabatmu di hadapan orang lain hanya karena anakku.”

 

Chan Yeol mengangkat wajahnya, menatap ayah Baek Hyun dengan tatapan yang… sulit diartikan. Yang jelas, ada sedih di sana, kecewa, marah (entah kepada siapa), yang jelas ia sudah hampir mendekati tahap menyerah. “Hanya anakmu?”

 

“Chan Yeol…”

 

“Jangankan harga diriku, ayah. Aku bisa saja menyerahkan nyawaku saat ini juga demi Baek Hyun. Demi orang yang kau katakan ‘hanya anakmu’,” Chan Yeol memberi jeda untuk mengatur nafasnya. “Mungkin aku tidak pernah mengatakannya, tapi bukan berarti aku tidak serius,” Chan Yeol menoleh pada sosok Baek Hyun yang masih juga belum membuka matanya. “Aku mencintai anakmu. Aku mencintai Byun Baek Hyun. Lebih dari aku mencintai siapapun di dunia ini. Dan aku tidak tahu apa jadinya hidupku kalau kaupun memisahkanku darinya.” Chan Yeol mengembalikan pandangannya pada Ayah Baek Hyun yang posisinya kini serba salah. “Tolong… Jangan meragukanku.”

 

Ayah Baek Hyun memejamkan matanya, kemudian menghembuskan nafas panjang. Setelahnya, ia kembali fokus pada pemuda keras kepala di hadapannya. “Berdirilah, dan jangan katakan apapun lagi.”

 

“Tapi, apa kau tetap akan melarangku bersama Baek Hyun?” tanya Chan Yeol panik.

 

Dan itu justru membuat Ayah Baek Hyun tertawa dalam pilunya. “Setelah apa yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri?”

 

“Ayah… aku…”

 

“Aku tahu, berhentilah dan kembali ke tempat dudukmu.”

 

“Tapi…”

 

“Tidak ada tapi. Akan kita bahas lagi setelah Baek Hyun sadar.”

 

Chan Yeol menghela nafas panjang kemudian dengan susah payah berdiri dan berjalan limbung menuju tempat duduknya. Dan itu membuat ayah Baek Hyun hanya bisa menghembuskan nafas panjang.

 

Anak bodoh!

 

 

***

 

 

 

Ayah Baek Hyun membatalkan niatnya menaiki mobil hitam miliknya saat ia melihat mobil putih mengkilap melintas di dekatnya. Pintu penumpang terbuka, dan ia pun menghela nafas kemudian masuk ke mobil putih itu.

 

“Bagimana keadaannya?” tanya pria yang hampir seusianya yang kini duduk di bangku penumpang sebelahnya.

 

“Putramu baik-baik saja. Aku hanya melihat lilitan perban di lengannya, sedikit pucat tapi kurasa kondisinya tidak separah putraku,” jawab ayah Baek Hyun dengan ekspresi sendu.

 

“Maafkan aku Tuan Byun.”

 

“Tidak perlu meminta maaf Tuan Park. Ini bukan sepenuhnya kesalahan putramu.”

 

“Seharusnya kau tidak mengizinkan putramu bergaul dengan Chan Yeol. Aku saja ayahnya sulit mengendalikannya, lalu bagaimana bisa kau yakin anak nakal itu bisa menjaga putramu dengan baik?”

 

“Putramu memang keras kepala.”

 

“Aku tahu, dia tidak akan lari dari rumah kalau dia tidak keras kepala.”

 

“Tapi… Aku suka sikapnya. Dia tidak jauh berbeda denganmu, dan kurasa… sejak awal aku memang mengambil keputusan yang benar.”

 

Tuan Park terdiam, kemudian menoleh pada Ayah Baek Hyun. “Apa kau masih yakin dengan perjodohan ini? maksudku, aku sungguh senang karena ada anak dari pria terhormat yang mau menerima putra nakalku. Tapi… aku tidak ingin kau menanggung risiko terlalu banyak hanya karena ulah anakku.”

 

“Kau tahu tuan Park? Kurasa sejak awal anakmu memiliki hati yang polos, dia tidak sepenuhnya pembangkang. Hanya saja… ia menerima tekanan tepat di saat mentalnya masih butuh perkembangan di usia yang sangat belia.”

 

“Hm, aku tahu. Anakku memang sulit diselamatkan.”

 

“Tidak. Maksudku… anak kita memiliki banyak kesamaan, hanya saja mekanisme mereka dalam menyelesaikan masalah jauh berbeda. Anakmu menjadi pembangkang dan liar, sementara anakku hampir menjadi orang yang menderita depresi jika saja ia tidak bertemu dengan Chan Yeol. Apa kau tahu, anakmu sangat manis saat mengatakan bahwa ia bisa melakukan apa saja demi Baek Hyun.”

 

“Jangan mengingatkanku, terakhir Chan Yeol bersikap manis padaku saat usianya 7 tahun.”

 

Ayah Baek Hyun tersenyum kemudian menepuk pundak sahabat lamanya. “Anakku menyukai putramu dan aku tahu alasannya. Jadi… aku tidak akan menarik keputusanku.”

 

Ayah Chan Yeol tersenyum, kemudian menyentuh tangan sahabatnya itu di pundaknya. “Terima kasih. Aku tidak akan melupakan ini.”

 

 

***

 

 

 

“Chan Yeol… apa kau tidak lapar? Sejak kemarin kau tidak makan apa-apa,” tegur Lu Han saat ia sudah kembali bersama Se Hun sambil menenteng beberapa plastik makanan.

 

“Kalian makanlah. Aku akan makan kalau Baek Hyun sudah sadar,” balas Chan Yeol masih tidak bisa melepaskan pandangannya dari kekasihnya.

 

Se Hun dan Lu Han saling bertatapan, dan saat pemuda tampan tak bersuara itu memberi anggukan, Lu Han pun tersenyum kemudian menggeret kursi dan duduk di dekat Chan Yeol.

 

“Baek Hyun tidak akan senang melihatmu seperti ini.”

 

“Biar saja. Setidaknya kalau Baek Hyun memarahiku, itu membuktikan kalau dia baik-baik saja.”

 

“Chan Yeol…”

 

“Kau tahu Lu Han? Ayahnya hampir saja meragukanku karena aku lalai menjaga Baek Hyun. Dan… aku tidak tahu apa yang kulakukan, tiba-tiba saja kusadari diriku sudah berlutut dan mengemis di hadapan ayahnya.”

 

“Cha… Chan Yeol?”

 

“Seperti… Seperti tidak apa-apa jika mengemis. Seperti tidak ada apa-apanya, selama itu demi Baek Hyun. Katakan aku gila, tapi… mungkin jika mereka menyuruhku memotong tanganku saat itu juga, maka akan kulakukan demi Baek Hyun.”

 

Lu Han menelan ludahnya susah payah, menatap wajah Chan Yeol dari samping saat pemuda tidak melepaskan pandangannya dari Baek Hyun yang masih lelap dalam tidurnya. Ia lihat, bagaimana lembutnya belaian Chan Yeol di rambut kekasihnya, dan itu ia lakukan dengan penuh perasaan.

 

Dibandngkan dengan Kris… Chan Yeol memang tidak sekuat itu karena nyatanya Chan Yeol memiliki titik lemah yang bisa merubahnya menjadi sosok tak berdaya jika itu disentuh. Tapi… Chan Yeol memiliki sesuatu yang orang-orang seperti Kris sudah pasti mustahil memilikinya.

 

Chan Yeol memiliki cinta yang begitu besar.

 

“Baek… Baek Hyun?”

 

Lu Han tersadar dari lamunannya saat mendengar Chan Yeol seolah mengigau, tapi entahlah. Chan Yeol seperti memanggil kekasihnya itu.

 

“Apa dia sudah sadar?” tanya Lu Han bingung.

 

“Aku… Aku belum yakin, tapi tangannya tadi bergerak,” jawab Chan Yeol antusias, berkali-kali menciumi jemari lentik Baek Hyun di genggamannya. “Baek Hyun bodoh… kau mendengarku?”

 

“Mungkin hanya perasaanmu saja Chan Yeol. Baek Hyun masih belum sadar.”

 

“Dia sudah bangun. Lihat matanya…”

 

Lu Han masih kebingungan, terlebih saat Se Hun sudah berdiri di belakangnya, hendak memeriksa keadaan sahabat kesayangannya. “Tapi… mata Baek Hyun sudah seperti itu dari awal Chan Yeol.”

 

“Tidak…” Chan Yeol tertawa namun air matanya menetes. “Dia sudah sadar…” dan Chan Yeol sedikit memajukan wajahnya untuk memberi kecupan ringan di kening Baek Hyun kemudian mengusap rambutnya lembut.

 

Lu Han hampir mempertanyakan kondisi kejiwaan Chan Yeol jika saja ia tidak menyaksikan apa yang terjadi di depan matanya.

 

“Park… Chan Yeol… brengsek…”

 

Lu Han membelalak kaget, hampir terjatuh dari duduknya jika saja Se Hun tidak menahan punggungnya. Itu sangat jelas. Walau cukup lirih tapi itu suara Baek Hyun. Ia mendengarnya.

 

“Hai bodoh… kenapa kau tertidur pulas sekali? Hm?” balas Chan Yeol, masih meneteskan air matanya.

 

“Chan… Yeol…”

 

“Hm… Aku di sini bodoh. Aku di sini bersamamu. Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi. ini janjiku.”

 

“Kau… jelek sekali…”

 

Lu Han melihatnya… bibir tipis Baek Hyun yang pucat menyunggingkan senyuman, dan ia tidak bisa menyangkal bahwa ia sendiri merindukannya, bagaimana dengan Chan Yeol?

 

“Hei… Bangunlah, jangan tidur lagi,” tegur Chan Yeol saat Baek Hyun kembali memejamkan matanya.

 

“Haus…”

 

“Haus? Tunggu… Lu Han… tolong ambilkan air.”

 

“Apa itu tidak apa-apa Chan Yeol? Apa tidak sebaiknya kita memanggil dokter Kim?”

 

Chan Yeol menoleh kesal dan berdecak satu kali. “Berikan botol airnya, dan pergilah mencari dokter Kim.”

 

“Ba… Baik. Aku juga akan menelpon Kai dan Kyung Soo.”

 

Lu Han pun segera berlari bersama Se Hun setelah memberi botol air minum pada Chan Yeol.

 

“Kau bisa bangun?” tanya Chan Yeol pelan.

 

“Sakit, Chan Yeol…”

 

“J… Jangan bergerak dulu. Akan kucarikan sedotan.”

 

“Chan Yeol…”

 

“Iya sebentar.”

 

“Aku mencintaimu.”

 

Dan ucapan begitu lirih itu membuat Chan Yeol menjatuhkan botol minuman dari tangannya. Dan dalam hitungan detik ia berbalik dan langsung meraih tangan Baek Hyun. “Coba katakan lagi.”

 

“Chan Yeol…”

 

“Ya…?”

 

“Aku…”

 

“Hm?”

 

“Jangan… menangis.”

 

“Bukan, kau tidak mengatakan ini tadi. Bodoh!”

 

“Kau jelek sekali.”

 

“Baek Hyun!”

 

Baek Hyun mengulas senyumnya. Matanya terlihat sangat sayu, antara ingin terbuka dan terpejam, begitu lemah. “Aku… rindu.”

 

Chan Yeol tertawa di sela tangisnya yang tak kunjung berhenti. “Aku juga, bodoh.”

 

Baek Hyun menggerakkan tangannya yang masih digenggam oleh Chan Yeol, melepasnya dan mendekatkannya ke wajah Chan Yeol yang basah karena air mata. Perlahan, bahkan seperti tak bergerak sama sekali, Baek Hyun menyeka air mata itu. Betul-betul bukan pemandangan indah jika seorang Park Chan Yeol menangis. “Aku baik-baik saja.”

 

“Kau bohong, berhentilah memaksakan dirimu bodoh.”

 

“Kau benar. Ini sakit… sangat sakit.”

 

“Mana yang sakit?”

 

Baek Hyun tidak menjawab, ia hanya menggapai tangan Chan Yeol dan menuntunnya untuk menyentuh dada kirinya. “Ini… Chan Yeol, sakit.”

 

Dan itu membuat Chan Yeol memejamkan mata, membiarkan genangan air di pelupuk matanya menetes tanpa pembatas. “Maafkan aku, ini salahku.”

 

Baek Hyun masih tersenyum. “Sudah berakhir Chan Yeol… sudah berakhir.” Kemudian ia biarkan Chan Yeol menunduk untuk meletakkan kepalanya di dada Baek Hyun. Memberi akses kekasihnya itu untuk memeluknya hangat. “Jangan lakukan apapun lagi.”

 

Dan tanpa Chan Yeol sadari, Baek Hyun meneteskan air mata kepiluan, yang hanya Baek Hyun yang tahu apa maknanya.

 

 

to be continued

See You NEXT Chapter.

 

12K words.

 

 

262 thoughts on “NO REGRET LIFE || CHANBAEK || CHAPTER 6

  1. aku kembali membaca FF ini di blog yang bener2 punya cerita Great!!
    Aku lupa pernah komen disini dengan email/uname/account apa waktu itu. tapi yang aku ingat aku jatuh cinta sama FF ini!

    Kak AyouLeonForever a.k.a (banyak sekaleee namanya :D) ini udah 2016 dan belum keluar cha 7. maaf tiba2 ngebahas lanjutan FF ini tapi aku benar2 penasaran sama ending FF ini(walau dalam hati bersedia sepenuh hati FF ini infinite kayak sinetron indo :D)

    Aku nggak tau apa kakak udah hiatus atau kena Block writer atau super duper busy sama kehidupan pribadi kakak, maaf nggak nge-check ttg kakak, karna buka fb pun jarangnya super banget aku. Tapi fyi aku akan selalu nunggu FF ini, karna aku benar2 jatuh cinta sama NRL, aku sangat ingin FF ini cepet dilanjut

    Great Job kak Eun Yoo

  2. Omaigatt sumpah sangking penasaran nya dan d chap 5 gda pw nya lgsg ke chap 6 mian thor

    D Sni mengharukan bgttt syg bgt sm baekki,,,akhir nya setelah lama scrol baek sadar 😢😢

    Semoga next chap nya gak lama, sumpah d tunggu banget thor!!

    Campur aduk bgt, trnyta tuan park sm tuan byun jdohin chanbaek dari awal oemjii lope bgttt waiting for the next!!! Love you thor

  3. Yuhuuuuu kak Alf /terjang-peluk-tindih(?)/ aku belum baca chapter 5 kak karena blm dapet pw nyaaaa:’) jadi aku putusin buat baca chapter 6 dluuuu horeeeee /tiup terompet/

    Dan tau gak kak? aku mewek baca chapter ini sumpah seriously kak mewek sampek pluto. aku diputusin pacar aja gak mewek begini kak:'( /gak nanya/
    Chanyeol yaampun nak kamu gentle sekali, sayang bgt sm baekkie yaampun terhura akuuu/lap ingus/

    Hey lo kris. i hate you so much but you’re so hot=g Jahat banget sih kamuuu. Baekhyun jadi masuk rumah sakit grgr pisau lo tau gak. KASIAN WOY MY BAEKKIE /dibanting/
    Luhan juga sok merasa bersalah gtu halah telat. baekhyun udh dirumah sakit baru lo ngerasa bersalah!
    Kai juga sama aja, dasar playboy ih mentang2 cakep:* wkwkwkwk
    Aku kasian sm kyungsoo. Hatiku terkenyut kyungsoo digituin:’)

    Mewek parah pas bapak nya baekhyun dateng kerumah sakit. kebayang gak sih cemas nya kyak mana:’) apalagi pas baca obrolan chanyeol sm bapaknya baekhyun. yaampun akhirnya terucap juga dari tuh bibir pengakuan saranghae nya cieeee.
    Feelnya dapet banget kak. Nangis parah. Sakit tapi tak berdarah kak my hati. air mata gue kak jadi saksinyaaaT.T

    Pas baekkie sadar pun gue malah lebih nangis kejer kak. Nyesek bgt:’) chanbaek tuh feel nya dapet bgt disini:’) udh lah kak aku gakbisa ngomong apalagi selain ff kakak emang bener2 daebakkkk. jjang!
    Lanjutin dong kak sampai tamat. ff sebagus ini jgn ditelantarin kak. harus lanjut yaaa kak. aku janji bakal review terus kok;) Semangat terus kak alf aku fansmuuuu:* Laflaflaffff

  4. Eonni, sebenernya aku udah komen di 2015 kemaren. Dan, hoy, lo kemana sih eon??? You have such a great story but, alas, it cost too much of a waiting just to see the next chapter. Aku akan selalu ngedukung kak ayou, okay? Keep up the good work and please, please don’t left this story hanging!

  5. ALF~ Aku udah ngikutin nih cerita dari SMP (lupa kelas berapa), aku tungguin lanjutannya sampe sekarang kok belom ada? Huhuu TT_TT. Ayo semangat, jernihkan pikiran supaya mendapat inspirasi baru wkwk😄 Bakalan tetep aku tunggu kok, soalnya menurut aku ini ceritnya W.O.W bangeett, tapi jangan PHP yaa.. jangan kelamaan juga hehe. ALF Fighting!!

  6. Author-nim~ you did a great job! You have to finish this story! Ceritanya terlalu bagus untuk nggak dilanjutin huhu TT suka chanyeol bgt disiniii, baek beruntung bgt TT hehe lanjutin yaa, im waiting yoouu :3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s