ETERNITY || KrisBaek – ChanBaek || Chapter 1


eternity copy

KrisBaek- ChanBaek
Tittle: Eternity
Author: AyouLeonForever
Genre: Romance, BL, angst
Rate: teTap aMan
Length: se- KrisYeol
 
Main Cast:
Byun Baek Hyun
Kris Wu
Park Chan Yeol
Lu Han
 
Other cast:
Do Kyung Soo
Kim Joon Myun
 
Warning: Angst detected. Typo kiri kanan, flat, feel gak dapat…
 

ALF note: pertama, reader akan dinina bobokan dengan prolog yang lumayan panjang. Dan saya berharap banyak untuk kesabaran reader untuk tetap menikmati prolognya karena feelnya akan semakin jauh(?) jika prolognya diabaikan. Karena semuanya bermula dari situ tentu saja. Dan kenapa saya mengangkat sedikit tema psikologi. Errr… mungkin karena pengalaman paling menarik dan seru itu di Departemen Keperawatan Jiwa. Iyalah seru, bawaannya ketawa mulu liat orang gila. Nanti saya sendiri yang disangka orgil. Tapi di balik itu semua, saya beberapa kali mendengarkan kisah miris sebagian dari mereka. Ceritanya jelas tidak persis sama, lebih pada kelainan mentalnya. Tapi… ah sudahlah, silakan dinikmati.

 

Oh ya, mungkin tema yang seperti ini akan sangat banyak, terlebih saat Kris udah… uhuk… hengkang uhuk…. Dari EXO (asli blom bisa move on). Jadi jika ada kemiripan cerita, Insya Allah itu hanya kebetulan semata. Kecuali kalau memang dari awal ampe akhir plek… alurnya sama. Perlu dipertanyakan.

 

Oke… selamat membaca. Jangan tidur.

 

 

||E T E R N I T Y ||

 

 

First time I met “him”…

 

I don’t know exactly…

 

Yang tertanam di memoriku adalah, dia orang pertama selain Ibu dan Ayahku yang kukenali.

 

2 atau 3 tahun di mana usiaku sudah mampu mengingat orang yang begitu familiar.

 

Dia bukan keluarga, tapi lebih dari sekedar keluarga.

 

Tidakkah ada yang percaya bahwa kami mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan fisik mental bersama? Itu benar. Walau dia lebih tua 2 tahun dariku, dan lebih dulu pandai berbicara.

 

Baek Hyunie…”

 

Panggilan pertamanya padaku. Dan butuh waktu yang cukup lama sampai aku bisa memanggilnya…

 

 

Kelieseu Hyung…”

 

 

Kaki panjangnya yang melangkah lucu. Sering terjatuh bersamaku.

 

Tangan lembutnya yang sering menyentuh pipiku.

 

Bibir tebalnya yang menawan. Sering tersenyum padaku.

 

Ah… Dia juga sering menangis. Walau dia tidak lebih cengeng dariku.

 

Hyung… jangan menangis… Baek Hyun… Baek Hyun  jadi… ingin menangis.”

 

“Ayah kejam, Baek Hyunie. Dia bilang… aku tidak boleh menemui Ibuku.”

 

“Kenapa?”

 

“Aku tidak tahu. Padahal kemarin-kemarin aku boleh menemaninya di rumah sakit. Tapi setelah orang-orang besar berjubah putih itu membawa Ibu ke kamar lain, Ayah tidak mengizinkanku lagi menemui Ibu.”

 

“Kenapa orang-orang dewasa bertindak seenaknya? Dia ibumu, lalu kenapa mereka melarangmu menemuinya?”

 

“Aku tidak tahu… Aku…”

 

“Hyung kumohon… Jangan menangis. Baek Hyun akan menemanimu. Ayo, malam ini kau menginap di rumahku saja. Ayah baru saja membelikanku mainan, Baek Hyun belum membukanya.”

 

“Benarkah?”

 

“Ayo…”

 

” Eung… Baiklah.”

 

 

 

Dan janji konyol pertama dimulai.

 

 

 

“Kenapa banyak sekali orang di rumahmu Hyung?”

 

“Aku tidak tahu. Ayah hanya menyuruhku ke rumahmu karena rumahku dalam keadaan tidak baik. Sudah beberapa hari aku tidak bisa melihat Ibu.”

 

“Ah… Ayahku juga ke rumahmu. Dia bilang Ibu Kris Hyung meninggal.”

 

“Meninggal? Apa itu meninggal?”

 

“Meninggal… Eum. Pergi ke tempat yang jauh. Seperti Ibuku.”

 

“Ah iya, aku baru sadar,  Ibu Baek Hyunie pergi kemana? Aku tidak pernah melihatnya.”

 

“Itu, kata Ayah, Ibuku juga meninggal, tapi sudah lama sekali.”

 

“Kapan kembali?”

 

“Kata Ayah, tidak akan kembali. Tapi nanti Baek Hyun dan Ayah akan menemuinya kalau Baek Hyun dan Ayah juga meninggal.”

 

“Kapan itu? Aku juga ingin meninggal, aku ingin bertemu Ibu.”

 

“Ah, kalau begitu ayo meninggal bersama. Baek Hyun juga ingin bertemu Ibu. Ibuku juga pasti sangat cantik seperti Ibumu Hyung.”

 

“Oke. Janji yah…”

 

 

 

Itu adalah janji terkonyol yang pernah kubuat dengannya. Tapi… Tidak sekonyol itu jika kuselami maknanya.

 

Aku dan Kris akan hidup dan mati bersama.

 

 

***

 

 

Usiaku menginjak 7 tahun saat aku dan dia duduk di sebuah bangku yang berderet rapi di dekat altar pernikahan yang digelar di pekarangan rumahku yang luas.

 

Di sana, Ayahku dan seorang wanita yang akan menjadi Ibuku sedang berhadapan dan mengucapkan janji suci pernikahan.

 

“Kau senang sekali hari ini.”

 

“Tentu saja Hyung, Ayah memberiku Ibu baru. Cantik bukan?”

 

“Iya, cantik. Semua orang yang menikah akan terlihat seperti itu. Mengagumkan.”

 

“Aku juga mau…”

 

“Baiklah, bagaimana kalau kita juga menikah?”

 

“Menikah??? Oke… Ayo kita menikah.”

 

“Tapi tunggu saat kita sudah besar seperti Ayah. Baru kita bisa menikah. Ayah bilang, kalau kita sudah bisa membeli rumah sendiri, baru bisa menikah.”

 

“Kapan itu Hyung?”

 

“Ayah bilang kalau kita rajin ke sekolah dan pandai, kita bisa jadi sepertinya. Punya pekerjaan dan bisa beli rumah.”

 

“Eum… Baiklah. Nanti kalau tamat sekolah, aku ingin menikah dengan Kris Hyung.”

 

“Tentu saja. Aku hanya akan mau menikah dengan Baek Hyunie.”

 

“Janji?”

 

“Heum… Janji.”

 

 

 

Satu lagi janji konyol tapi bermakna lebih bagiku.

 

 

 

 

Kris tidak pernah semarah itu sepanjang hidupnya. Bahkan setelah ia tahu apa makna meninggal yang sebenarnya. Tidak… Itu karena ia sudah bisa menerima keadaan bahwa ia sudah tidak lagi memiliki seorang Ibu.

 

Murka… Itu lebih tepatnya.

 

Usiaku memasuki tahun ke 10 dan aku tidak bisa menyembunyikan perubahan sikapku di depannya walau sudah kuusahakan sebisa mungkin. Itu kulakukan karena aku tidak ingin membuatnya khawatir. Tapi aku salah akan satu hal. Kris terlalu mengenalku, serapi apapun aku menyembunyikannya, ia tetap menyadarinya. Sampai di saat ia sudah mulai jengah akan sikapku, saat di mana ia sudah tidak tahan lagi, saat di mana ia begitu merindukanku, ia nekat memanjat jendela kamarku di lantai dua. Dan…

 

Di situlah ia menemukan apa yang kusembunyikan darinya cukup lama.

 

Aku hanya menatapnya penuh harap bertepatan saat mata kami bertemu setelah sebuah tangan menyentuh pipiku begitu keras. Membuatku meringkuk di pojok ruangan, menangis tertahan.

 

“AHJUMMA!!!” Pekiknya setelah berhasil melompat masuk ke kamarku. Langsung berlari dan memelukku erat. Aku jelas membalas pelukannya, takut akan perlakuan wanita yang kukira akan menjadi ibu yang baik untukku.

 

Ya… wanita itulah penyebabnya.

 

“Apa yang kau lakukan pada Baek Hyun?” bentak Kris murka.

 

“Pulang kau anak nakal. Ini bukan urusanmu.”

 

“Akan kulaporkan kau pada Abonim,” ancamnya dengan mata menyala.

 

Wanita iblis itu hendak memisahkanku dengan Kris. Apa yang bisa dilakukan dua anak berusia 10 dan 12 tahun untuk melawan wanita dewasa berperangai monster? Dia sudah hampir memukul kami saat Kris menangkap tangannya dan menggigitnya sekeras mungkin.

 

“ANAK KURANG AJAAARRR!!!”

 

Dan kuikuti kemanapun langkah Kris yang membawaku lari malam itu.

 

 

***

 

 

 

“Kembalilah pada orang tuamu. Akan kuurus perceraian kita secepat mungkin.”

 

Tidak bisa kusembunyikan kelegaanku saat Ayah memberikan keputusan finalnya. Bisa kulihat Kris yang saat itu terus menggenggam tanganku bersorak tertahan karena usahanya memperjuangkan keselamatanku akhirnya terbayar. Dengan dukungan Ayah Kris yang juga sebagai saksi bagaimana Kris membawaku dalam keadaan memperihatinkan setelah wanita iblis itu menyiksaku.

 

“Mereka hanya anak-anak, bagaimana mungkin kau lebih mempercayai mereka?”

 

“Mereka hanya anak-anak. Tapi Baek Hyun adalah anakku, dan Kris juga sudah kuanggap sebagai anakku. Apapun yang mereka katakan, aku akan mempercayainya. Kau pikir kenapa aku menikahimu? Itu karena aku tidak ingin anakku tumbuh dewasa tanpa Ibu. Tapi sepertinya jauh lebih baik jika anakku besar tanpa Ibu dari pada memiliki Ibu iblis sepertimu. Bereskan barangmu detik ini juga, akan kukembalikan kau ke rumah orang tuamu.”

 

 

Benar… Ayah benar. Aku tidak butuh Ibu iblis. Walau sejak lahir aku tidak bisa bertemu dengan Ibu, aku yakin tidak akan ada yang bisa menggantikan sosoknya.

 

 

“Hyung…”

 

“Heum?”

 

“Jangan pernah meninggalkanku. Apapun yang terjadi.”

 

“Tentu saja Baek Hyunie. Aku akan selalu di sisimu. Apapun yang terjadi.”

 

“Aku menyayangimu.”

 

“Aku jauh lebih menyayangimu.”

 

 

 

Sampai saat usiaku menginjak tahun ke 12 dan kami dipertemukan pada satu hal yang… tidak pernah terbayangkan.

 

Kris akan melanggar janjinya. Tepat sehari setelah perayaan ulang tahunku yang ke 12.

 

“Apa maksudmu dengan kembali ke China? Apa… Eung… Berlibur? Seperti tahun sebelumnya kan?”

 

Ia menatapku nanar, aku cukup tahu bahwa Kris  mengeluarkan sangat banyak air mata saat ia memberitahuku bahwa ia akan meninggalkan Korea dan menetap di China dalam jangka waktu yang tidak bisa ia tentukan. Kuharap ini tentang cara Kris dan Ayahnya menghabiskan libur musim panas di Beijing, karena memang Ayah Kris berdarah campuran China-Canada sementara Ibunya orang Korea asli. Tapi tunggu, ini sedikit mengganggu pikiranku. Seharusnya aku sudah curiga kenapa tengah malam begini Kris lari ke rumahku, langsung menerobos ke kamarku dan memelukku erat sambil menangis. Dan sekarang aku sudah tahu alasannya.

 

“Maafkan aku Baek Hyunie. Tapi aku harus mengikuti Ayah. Ini sudah beberapa tahun sejak Ibu meninggal, tapi Ayah semakin merindukan Ibu jika ia terus berada di Korea. Dan… aku harus mengikuti kemauan Ayah karena dialah satu-satunya keluargaku di dunia ini.”

 

“Aku… Aku. Lalu aku siapamu?”

 

“Kau adalah segalanya Baek Hyunie. Aku hanya belum cukup dewasa untuk mandiri tanpa pengawasan Ayah. Sungguh, jika aku diberi pilihan lain, maka meninggalkanmu adalah pilihan yang akan kuletakkan paling akhir. Tapi aku hanya diberi satu pilihan.”

 

“Tapi Hyung… Bukankah kau sudah berjanji akan terus berada di sisiku? Sampai kita menikah. Bahkan sampai kita meninggal, lalu apa ini?”

 

“Kupegang janjiku Baek Hyunie… Selalu. Tunggu aku, sampai aku sudah cukup dewasa hingga bisa berdiri sendiri tanpa bantuan Ayah. Aku berjanji akan kembali padamu. Secepatnya. Aku akan selalu bersamamu, menikah denganmu, dan menunggu sampai ajal menjemput kita.

 

“Terlalu banyak janji. Aku khawatir kau tidak bisa menepati satupun.”

 

Kris memberiku senyuman lemah sebelum mengecup keningku begitu mudah karena dia hanya lebih tinggi sedikit dariku. “Akan kutepati. Pegang kata-kataku.”

 

“Aku menyayangimu Hyung… Sangat sayang.”

 

“Aku jauh lebih menyayangimu. Sangat sangat sayang.”

 

 

 

Berapa macam janji yang Kris ikrarkan padaku?

 

 

Menikahiku

 

Selalu berada di sisiku.

 

Meninggal bersamaku

 

Ah tidak… sebelum semuanya ia penuhi, sebenarnya … Janji pertama yang harus ia selesaikan  adalah…

 

Kembali ke sisiku.

 

 

 

 

 

 

(•̪ -̮ •̷̴̪)

 

 

Kris meninggalkanku untuk sementara. Setidaknya itu yang ia katakan padaku. Minggu-minggu pertama tanpa Kris di sisiku betul-betul hambar. Tidak akan ada lagi yang mau repot-repot masuk ke kamarku pagi-pagi sekali hanya untuk membangunkanku. Tentu saja untuk bersiap ke sekolah. Aku bukannya tipe anak yang susah untuk bangun pagi, tapi terkadang, pagi akan jauh lebih indah saat wajah Kris yang pertama kali menyambutku saat kubuka mataku.

 

Tidak ada lagi tawa Kris yang menyertaiku. Genggaman tangan yang hangat saat ia mengiringiku masuk ke gerbang sekolah, bahkan sampai ke kelas. Tidak ada lagi yang melindungiku saat ada teman kelas yang dengan jahilnya mendorongku. Ah… aku ingat, Kris hampir mematahkan hidung anak kelas sebelah yang menendang bola dan mengenai wajahku. Kris marah, itu kali kedua kulihat ia marah besar. Aku bahkan khawatir Kris dikeluarkan dari sekolah karena menghajar siswa lain. Tapi, beruntung alasannya cukup kuat karena aku memang sudah menjadi korban yang terbaring lemah di UKS.

 

Kris… Kris ku.

 

Satu bulan pertama ia meninggalkanku, komunikasi kami masih lancar. Kris akan mencocokkan jadwal kosong kami hingga ia bisa meneleponku dan menceritakan apa saja yang menurutnya menarik di sana. Tapi Kris bilang, tidak ada yang terlihat menarik karena aku tidak berada di sisinya.

 

Bulan berikutnya Kris menceritakan padaku tentang siswa yang menjadi teman sebangkunya. Katanya, siswa itu sangat manis, kulitnya putih, hidungnya juga kecil. Tapi matanya tidak cukup sipit untuk bisa menyamai rupaku. Awalnya kukatakan bahwa Kris rindu padaku hingga ia menganggap ada orang lain yang mirip denganku, tapi ia menolak saat kukatakan seperti itu. Ia bilang…

 

“Tidak akan ada yang bisa menyamai Baek Hyunie di mataku. Baek Hyunie tetap yang terindah.”

 

Dan kurasa, usiaku yang ke 12 sudah cukup untuk merasakan sesuatu yang menjalar di dadaku saat ia mengatakan itu. Rasanya hangat, dan jantungku akhirnya akan berdetak lebih cepat setiap kali ada telepon dari Kris.

 

Aku menanyakan hal itu pada Kyung Soo, teman sebangkuku. Dan jawabannya adalah…

 

“Tentu saja kau seperti itu karena kau jatuh cinta pada Kris Hyung. Sama seperti aku dan Su Ho Hyungku.”

 

Jatuh cinta…

 

Pada Kris?

 

Kurasa itu adalah jawaban yang paling benar yang pernah ada mengenai apa yang kurasakan pada Kris. Lebih dari apapun.

 

Aku mencintainya.

 

 

(•̪ -̮ •̷̴̪)

 

 

Sudah dua minggu Kris tidak menghubungiku. Terakhir kudengar kabar darinya ia cukup sibuk dengan club musik yang baru ia masuki. Dia berprestasi di sana, tidak ada keraguan karena Kris selalu menjadi yang terbaik. Aku rindu padanya. Dan beberapa minggu lagi tepat satu tahun ia meninggalkan Korea. Artinya, sebentar lagi adalah ulang tahunku yang ke 13. Kris jelas mengingatnya. Itu sudah pasti, karena Kris adalah orang yang paling ingat segala hal tentangku.

 

Aku bukan khawatir kalau Kris akan melupakannya, tapi… aku merindukan suaranya. Sungguh.

 

“Ni Hao…”

 

Aku cukup terkikik mendengar Kris menjawab panggilanku. “Hyung,” sapaku masih tertawa.

 

“Hey, Baek Hyun-ku, ya Tuhan aku bahkan tidak sadar kalau kau yang menelepon. Ada apa?”

 

Hatiku hangat, mendengar suaranya yang makin hari terdengar makin seksi. “Apa harus ada alasan untuk menelponmu orang sibuk?”

 

Terdengar tawa khasnya di seberang. “Tentu saja tidak. Aku baru berencana meneleponmu nanti malam karena sekarang aku sedang sibuk latihan. Beberapa minggu lagi ada festival, kau tahu, diantara anggota baru hanya 2 orang yang terpilih mendampingi senior untuk pentas. Bukankah itu hebat Baek Hyun-ah?”

 

“Dua orang? Kau dengan?”

 

“Dengan teman sebangkuku, yang sering kuceritakan padamu. Dia hebat. Dia adalah vokalis terpilih dari sekian banyak siswa untuk band kami. Walau range vocalnya tidak terlalu lebar, tapi suara merdunya sangat cocok dengan aransemen yang kami buat, terutama dengan instrumen yang kubawakan.”

 

Sebenarnya aku tidak cukup mengerti tentang pembahasan ini, tapi mendengar Kris seantusias itu jelas membuatku ikut bahagia. “Benarkah, wah hebat.”

 

“Iya, dia memang hebat.”

 

“Tapi Kris Hyung jelas lebih hebat kan? Itu yang kutahu.”

 

Ia tertawa lagi. “Tentu saja, aku tidak mungkin terpilih menjadi drummer untuk band kami jika aku tidak hebat. Kau tahu__”

 

“__Yi Fan… cepatlah, sudah giliran kita.”

 

Aku mengerutkan kening saat kudengar ada seruan dari seberang, mungkin tepat di sebelah Kris karena kedengaran sangat jelas. Dan hei… Yi Fan?  Nama siapa itu?

 

“Ah, Baek Hyun, sudah dulu yah. Nanti malam aku janji akan menelponmu. Jangan tidur duluan. Oke, bye. Aku sayang Baek Hyun.”

 

“Aku juga say___”

 

Pip….

 

Aku menghela nafas panjang sambil memandang kosong ponselku yang sambungannya sudah terputus. “Aku juga sayang Kris Hyung.”

 

Tapi setidaknya Kris sudah berjanji akan menelponku malam harinya. Kris selalu pandai untuk membuat janji.

 

Sayangnya, tidak cukup pandai untuk menepatinya.

 

Malam itu, aku menunggu teleponnya sampai pukul 4 dini hari, tapi tidak ada panggilan bahkan pesan satupun darinya.

 

Kris ingkar.

 

 

_________(•̪ -̮ •̷̴̪)

 

 

Kris baru menelpon 2 minggu setelahnya. Tepat di malam pergantian hari ulang tahunku. Dan kurasa aku bisa menarik kesimpulan tentang itu semua. Kris ingin mengerjaiku dengan berlagak sibuk dan mengabaikanku, sekarang puncaknya. Tepat pukul 11.50 malam, dia menelpon. Dan kurasa dia ingin mengatakan…

 

“Baek Hyun-ah… 3 hari lagi adalah hari festival sekolah, hari perdana aku tampil sebagai seorang drummer.”

 

Ah… mungkin ucapan ulang tahunnya menjadi penutup.

 

“Wah benarkah? Kau pasti gugup.”

 

“Heum, sangat gugup. Aku bahkan tidak bisa makan sejak tadi pagi.”

 

“Kenapa begitu? Makanlah Hyung, takutnya kau kurang energi.”

 

“Rasanya mual kalau ada sesuatu yang masuk ke perutku. Ah aku khawatir besok aku akan pingsan. Bagaimana ini?”

 

“Sudah minum susu?”

 

“Aku mual, Baek Hyun sayang… kau malah menawarkan susu.”

 

“Setidaknya agar ada kalori yang masuk ke tubuhmu walau sedikit. Ayolah…”

 

“Suapi aku… aaaa…”

 

Aku terkikik. Kami akan seperti ini kalau ada salah satu dari kami yang malas makan. “Kemarilah, akan kusuapi.”

 

Diapun tertawa. “Ahhh… setidaknya aku sedikit lebih tenang mendengar suaramu. Kau tahu seberapa banyak aku merindukanmu?”

 

“Yang jelas tidak sebanyak aku rindu padamu. Kau saja yang malas menelponku. Aku ingin menelponmu duluan tapi takut mengganggu jadwalmu.”

 

“Hei, tentu saja tidak. Ah iya, aku lupa. Malam itu aku ketiduran. Besoknya aku ingin menelponmu tapi selalu tidak ada kesempatan karena temanku menjemput pagi-pagi sekali.”

 

“Teman?”

 

“Teman sebangkuku yang selalu___”

 

“__kau ceritakan padaku. Iya aku tahu.”

 

Kris terkekeh pelan kemudian bergumam. “Kau tidak cemburu aku punya teman baru kan?”

 

“A… Aku? Cemburu? Tentu saja tidak. Bukankah lebih bagus kalau kita punya banyak teman?”

 

“Ah kupikir kau cemburu.”

 

“Aku akan cemburu kalau kau lebih mementingkan teman barumu dari pada aku.”

 

“Tidak akan. Byun Baek Hyun tetap nomor satu.”

 

Kris Wu bohong. Buktinya tinggal 3 menit lagi usiaku berganti menjadi 13 tahun, tapi ia tetap tidak menyinggung masalah itu. “Benarkah?”

 

“Heum… tentu saja.”

 

Hening… masih tidak ada tanda-tanda Kris akan mengucapkannya.

 

“Hoaahmmm, aku sudah mengantuk. Terima kasih sudah menemaniku mengobrol Baek Hyun-ah. Aku merasa lebih rileks sekarang.”

 

“J-jangan sungkan begitu Hyung. Aku justru senang bisa menemanimu mengobrol, juga  membuatmu sedikit lebih rileks.”

 

“Baguslah. Lain kali kutelepon lagi. Aku mengantuk sekali. Kau juga tidurlah, sudah tengah malam.”

 

Dia lupa. Betul-betul lupa.

 

“Heum… selamat tidur Kris Hyung-ku sayang, semoga mimpi indah.”

 

“Iya, mimpi bertemu denganmu dan memelukmu. Aku sayang Baek Hyun.”

 

Aku tersenyum. Setidaknya Kris masih menyayangiku. Manusia memang terkadang lupa kan? Aku yakin besok Kris akan ingat. “Aku juga menyayangimu. Sampai jumpa di alam mimpi.”

 

Pip….

 

Kuhembuskan nafasku cukup panjang dan menatap ponselku dengan senyum hambar. Sudahlah… memangnya kenapa kalau Kris lupa ulang tahunku? Bukan berarti dia tidak sayang padaku kan?

 

6 Mei 2005

 

12.00 am KST

 

Kupejamkan mataku perlahan dan kutangkupkan kedua tanganku di depan wajah.

 

“Tuhan… aku tahu ini sangat konyol. Tapi, aku sudah menjadi anak yang baik satu tahun ini. Bisakah kuminta Kris Wu sebagai kado ulang tahunku?”

 

 

 

Dan perlahan saat kubuka mataku…

 

Srak~

 

“Doamu terkabul anak baik…”

 

Aku hampir terjungkal dari tempat tidurku saat melihat siapa yang sedang duduk di kusen jendela kamarku yang sama sekali tidak kusadari sejak kapan terbuka lebar seperti itu.

 

Mataku memanas, aku tidak tahu karena tiba-tiba saja pandanganku kabur karena biasan air mata.

 

Aku pasti bermimpi.

 

Tapi… dia terlalu nyata.

 

Dia… Kris Hyung-ku. Melompat dari jendela dan kini berdiri di hadapanku dengan senyuman lebarnya. “Kenapa? Apa saking terharunya sampai kau tidak bisa berkata apa-apa?” ledeknya.

 

Aku menggeleng cepat, mati-matian menahan air mataku agar tidak terjatuh. Tapi gagal, Kris menertawaiku karena pipiku sudah sangat basah. “Kau terlambat. Kris Hyung bodoh!!!” pekikku sebelum melompat dari tempat tidur dan berlari ke arahnya.

 

Kris juga sedikit melangkah ke arahku dan menyambut hempasan tubuhku dalam pelukannya. “Apa kejutanku terlalu berlebihan yah? Hahaha rasakan, siapa bilang aku tidak merindukanmu. Aku hampir mati karena rindu, tau.”

 

Dan akhirnya aku hanya bisa menangis dalam pelukan orang yang sangat kurindukan. Hanya bisa seperti itu, sementara Kris mengusap punggung dan rambutku secara lembut.

 

“Selamat ulang tahun Byun Baek Hyun. Bahagialah selalu,” bisiknya lembut kemudian kurasakan ia mengecup puncak kepalaku. Aku tidak tahu kalau Kris kini tidak perlu berjinjit untuk mengecup puncak kepalaku. Aku juga baru sadar kalau semakin tinggi beberapa sentimeter.

 

“Aku akan selalu bahagia Hyung, karena kau.”

 

Kris melepas pelukan kami, memberiku kesempatan untuk memandangi wajahnya yang semakin tampan. Kulitnya juga semakin sehat. Yah… pasti karena cuaca di China sangat bagus untuk kulitnya.

 

“Baek Hyunn-ah…”

 

“Heum?”

 

Kris tersenyum, dan memperlihatkan kepalan tangannya di depan wajahku. Kupikir dia mau memukulku atau apa, walau kutahu itu tidak akan mungkin terjadi. Dan detik selanjutnya, saat Kris membuka kepalan tangannya, sebuah kalung dengan bandul aneh di ujungnya terjuntai di depan wajahku. “Selamat ulang tahun…”

 

Aku mengulas senyum haru, kemudian meraih benda itu dan meletakkannya di telapak tanganku seolah kalung itu adalah benda paling berharga di dunia hingga tak ingin membuatnya tergores sedikit saja. “Terima kasih Hyung. Kalungnya keren.” Kusentuh bandul logam dengan pangkal pipih berukiran sangat rumit, terlihat ada patahan yang tampaknya disengaja teletak pada ujungnya, dan setelah beberapa menit mengamati, aku masih belum tahu benda apa itu.

 

“Itu patahan kunci,” jawab Kris seolah tahu apa yang kupikirkan.

 

“Patahan kunci?” tanyaku bingung.

 

“Benar.” Tanpa melepas senyumnya, Kris membuka 3 kancing kemeja atasnya. Aku memang masih cukup muda untuk memikirkan hal yang aneh-aneh, dan memang sebenarnya tidak terjadi hal aneh setelahnya. Kris menarik sesuatu di balik kemejanya, dan itu adalah kalung yang sama dengan hiasan berbeda. “Ini patahannya, kau punya pangkalnya, dan aku ujungnya.”

 

Dan benar juga. Kris meraih kalung milikku dan menyatukan benda itu dengan miliknya.

 

Demi Tuhan, aku sama sekali tidak tertarik dengan benda-benda antik, tapi sungguh… itu adalah model kunci terkeren yang pernah kulihat.

 

“Kau mengerti?”

 

Aku menggeleng jujur. Betul-betul tidak tahu. Karena kalaupun Kris menghadiahkan sebuah rumah, ia tidak mungkin memberikanku kunci rumah yang rusak.

 

“Ini kunci masa depan kita Baek Hyun-ah. Di masa depanku, harus ada kau karena patahan kuncinya ada padamu. Untuk membuka pintu masa depanku, kau harus bersamaku. Begitupun sebaliknya,” tuturnya lembut, kemudian memasangkan kalung itu di leherku. “Di masa depan… kita akan bersama di sebuah tempat yang tidak akan ada lagi orang yang bisa memisahkan kita, karena kita punya kunci masa depan kita sendiri.”

 

Sekali lagi, aku menangis. Langsung memeluk Kris dengan sangat erat. “Itu alasan kenapa aku begitu menyayangimu Hyung, kau punya apa saja untuk membuatku bahagia. Aku menyayangimu. Sangat sangat sayang.”

 

Kris melepas pelukan kami, kemudian menangkup wajahku. Menghapus semua jejak air mata di pipiku. “A… aku memang masih terlalu remaja Baek Hyun-ah, tapi… aku akan mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu. Mau menjadi… kekasihku kan?”

 

Ya Tuhan… walau Kris tidak meminta, dia sudah menjadi kekasihku sejak umurku masih 1 tahun. “Tentu saja Hyung, tentu saja.”

 

Dan hal terbaik yang pernah terjadi sepanjang 13 tahun kehidupanku adalah… sepasang bibir tebal milik pemuda berusia 15 tahun, menyapa bibirku dengan sangat lembut dan hangat.

 

6 Mei 2005

 

12.16 am KST

 

Aku Byun Baek Hyun, mendapatkan ciuman pertamaku dari cinta pertamaku.

 

Kris Wu.

 

Dan kebahagiaanku tidak berhenti sampai di situ. Aku bahkan tidak bisa menebak bahwa Kris sudah mempersiapkan segalanya untukku termasuk pesta kecil-kecilan malam itu juga. Air mata kebahagiaanku tidak berhenti mengalir saat kulihat Ayahku dan Ayah Kris menyambut kami di ruang tamu dengan berbagai pernak-pernik pesta ulang tahun di sekitarnya.

 

Sahabatku Kyung Soo dan kekasih kecilnya Su Ho Hyung juga hadir malam itu. Ditambah supir pribadi Ayah Kris yang setia mengikuti beliau, juga 3 orang pelayan setia di rumahku. Sudah lebih dari sekedar ramai.

 

6 Mei 2005

 

12.30 am KST

 

Pesta ulang tahunku yang ke 13. Pesta terbaik sepanjang hidupku dengan Kris yang selalu menggenggam tanganku.

 

 

(•̪ -̮ •̷̴̪)

 

 

 

 

||ETERNITY||

 

-1-

 

 

7 years later

 

`August 23`

 

 

Baek Hyun tidak pernah merasa selelah ini seumur hidupnya. Tidak semenjak pemuda bernama Kris meninggalkannya.

 

Ini bahkan sudah memasuki tahun ke duanya di Universitas ternama Seoul tapi rasanya sama saja saat ia pertama kali menginjakkan kakinya di kampus itu. Lebih buruk, karena ia tidak dibully oleh kakak seniornya.

 

“Jadi sudah kau kerjakan?” tanya seseorang yang mencegat Baek Hyun tepat di depan kelas mereka.

 

Baek Hyun menghela nafas, kemudian membuka ranselnya untuk menyerahkan setidaknya 3 jilid makalah yang ‘diamanahkan’ teman sejurusannya itu.

 

“Hm… kerja bagus. Jadi kalau ada tugas lagi, tolong kau kerjakan punyaku yah!”

 

Baek Hyun hanya mengangguk tanpa menatap wajah temannya itu.

 

“Manis sekali,” lanjut pemuda itu setelah mengacak rambut Baek Hyun tidak secara lembut.

 

Baek Hyun mengangkat wajah dan menatapnya datar. Dan itu sudah cukup sebagai pandangan tidak suka.

 

Pemuda yang bernama Park Chan Yeol itu menautkan alis, kemudian tertawa. “Oh maaf, maaf. Aku lupa kalau kau tidak suka disentuh. Baiklah, Tuan Muda terhormat. Silakan masuk kelas.” Chan Yeol masih tertawa kemudian meninggalkan Baek Hyun setelah menepuk pipinya. “Sampai jumpa manis…”

 

Baek Hyun terdiam beberapa detik. Menarik nafas sedalam mungkin, dan menghembuskannya perlahan. Terakhir, Baek Hyun pun melangkahkan kaki lelahnya memasuki kelas.

 

Sekali lagi…

 

Tanpa Kris.

 

(•̪ -̮ •̷̴̪)

 

Baek Hyun baru saja membereskan buku-bukunya saat 2 modul dan sebuah kamus tebal mendarat di atas mejanya. Dan Baek Hyun tidak perlu mengangkat wajah untuk tahu siapa pelakunya.

 

“2 hari lagi kuambil, oke manis!!!”

 

Dan sebuah tepukan pelan di pipi Baek Hyun menandakan bahwa Chan Yeol tidak akan mengganggunya lebih lama karena pemuda tampan itu sudah beranjak pergi. Setidaknya Baek Hyun tidak harus pulang dalam keadaan basah kuyup seperti tahun-tahun yang lalu ketika ia menolak permintaan Chan Yeol. Terima kasih pada Kyung Soo karena sudah melabrak Chan Yeol habis-habisan.

 

Baek Hyun kembali mengumpulkan buku-buku di depannya, tanpa mengubah ekspresi datarnya. Semuanya tidak baik-baik saja.

 

Baek Hyun menegaskannya.

 

Semuanya tidak akan pernah baik-baik saja karena tidak ada Kris di sisinya.

 

 

 

(•̪ -̮ •̷̴̪)

 

 

“Selamat datang sayang, bagaimana kuliahmu?”

 

Baek Hyun hanya mengulas senyum tipis kepada Ayahnya, bahkan terlalu tipis untuk dikatakan sebagai senyuman.

 

“Ayah akan ke Jeju akhir pekan ini. Kau ingin ikut? Sudah lama kita tidak berlibur.”

 

“Lain kali saja, Ayah. Kuliahku padat.”

 

Ayah Baek Hyun menghela nafas panjang, namun tak melepaskan senyum lembutnya. “Baek Hyun, kemari nak.”

 

Dan Baek Hyun membatalkan niatnya untuk langsung menuju kamarnya di lantai 2. Ia memilih menghampiri Ayahnya di sofa ruang tengah dan duduk di sebelahnya.

 

“Kau baik-baik saja sayang?”

 

Baek Hyun mengangguk pelan sebagai jawaban.

 

“Kemarin, saat Kyung Soo datang ke rumah, Ayah sempat mengobrol dengannya. Kami mengobrol cukup banyak. Dan…”

 

Baek Hyun tetap diam, menunggu Ayahnya melanjutkan kalimatnya.

 

“Kyung Soo bilang… dia punya kenalan. Tepatnya kerabat dari Su Ho. Usianya 28 tahun, dan sudah punya pekerjaan tetap. Maksud Ayah… mungkin jika kau ada waktu__”

 

“Kita sudah membahas ini Ayah. Jika yang kau maksud adalah ingin menjodohkanku dengan orang asing, maafkan aku karena tidak bisa menuruti keinginanmu.”

 

“Bu… Bukan seperti itu nak. Ayah tahu, kau punya teman. Kyung Soo dan Su Ho adalah sahabat yang baik untukmu karena sampai sekarang mereka masih memperhatikanmu. Tapi, Baek Hyun. Ada masa dimana nanti saat Ayah sudah cukup tua untuk menjagamu, dan kedua sahabatmu memiliki kehidupannya masing-masing, sementara kau…”

 

“Aku punya Kris Hyung, Ayah. Aku punya Kris Hyung. Tolong jangan hapus bagian penting itu.”

 

“Tapi nak…”

 

“Kumohon Ayah…”

 

Dan sebuah helaan nafas panjang terdengar. Ayah Baek Hyun menunduk dan menutup wajahnya dengan satu tangan. “Andai ada yang bisa kulakukan, nak,” lirih Ayah Baek Hyun, yang sebenarnya tidak sepenuhnya tertuju pada anak semata wayangnya itu.

 

“Semuanya baik-baik saja Ayah. Dan kau sudah melakukan semuanya. Tidak ada lagi yang perlu kau lakukan untukku.”

 

“Baek Hyun…”

 

“Hanya satu, Ayah. Sekali lagi kumohon. Jangan memaksaku untuk berhenti berharap.”

 

“Tapi sayang… ini sudah 7 tahun dan…”

 

“Aku tahu. Tapi aku percaya pada keyakinanku sendiri. Jika kau ingin melakukan sesuatu untukku, maka tolong… jangan memaksaku mempercayai kebohongan kalian.”

 

Ayah Baek Hyun tidak merespon lagi. Ia hanya menatap kedua mata anaknya yang sinarnya telah meredup. Terkadang ia rindu pada sosok anaknya yang dulu. Sosok Baek Hyun yang ceria dan bersinar. Sosok yang sangat bahagia dan membawa kebahagiaan untuknya.

 

“Aku lelah Ayah. Aku ingin istirahat.”

 

Ayah Baek Hyun mengangguk setelah mengusap pipi anaknya. “Istirahatlah nak. Dan jangan lupa beritahu Ayah jika kau membutuhkan sesuatu.”

 

Baek Hyun hanya menggumam sebagai jawaban, kemudian beranjak meninggalkan Ayahnya. Menuju lantai dua.

 

Satu-satunya tempat dimana Baek Hyun tidak harus mempercayai mereka semua. Tempat dimana Baek Hyun menyimpan semuanya. Tempat dimana semua tentang Kris terasa nyata.

 

Baek Hyun berbaring terlentang sambil memejamkan mata. Ia menurunkan kerah kemeja cokelatnya dan meraih kalung yang selalu menjuntai di lehernya. Keadaannya masih sama, warnanya bahkan tidak luntur sedikitpun. Karena ia tahu, Kris selalu memberikannya yang terbaik dari yang terbaik.

 

Aku merindukanmu Hyung. Sangat merindukanmu. Kembalilah… dan buat mereka percaya bahwa kau akan menepati janjimu!

 

Dan tetesan bening yang keluar dari sudut matanya itupun mengantarnya pada tidur yang lelap.

 

Baek Hyun lelah.

 

Namun ia tidak pernah menyerah.

 

(•̪ -̮ •̷̴̪)

 

 

Baek Hyun cukup heran saat pagi-pagi sekali Kyung Soo dan Su Ho sudah menjemputnya. Dan sekarang mereka sudah bergabung di ruang makan keluarga Byun untuk sarapan bersama.

 

“Kudengar Pak Jung sedang sakit, makanya kami menjemputmu,” itu jawaban enteng Kyung Soo untuk menjawab pertanyan tersirat dari Baek Hyun dengan tatapan bingungnya.

 

“Aku tidak tau kalau Pak Jung sakit,” ucap Baek Hyun setelah menoleh pada Ayahnya.

 

“A… Ah iya itu benar. Pak Jung sedang kurang enak badan, iya benar.”

 

Dan Baek Hyun tidak sebodoh itu untuk tidak melihat Kyung Soo mengirimkan kode kepada Ayahnya dengan kedipan-kedipan mata. Dan kegugupan Ayahnya juga sudah menjadi jawaban jelas dari kecurigaannya. Tapi Baek Hyun memilih tidak mempermasalahkannya.

 

“Kuliahku padat,” ucap Baek Hyun sebagai penegasan.

 

“Iya, kami tahu. Tentu saja kami tahu. Untuk itu kami ingin mengantarmu berhubung Pak Jung sedang sakit,” jawab Kyung Soo sambil mengunyah roti isinya.

 

“Baiklah.”

 

Baek Hyun belum menemukan maksud terselubung dari tingkah Kyung Soo dan Su Ho. Setidaknya belum muncul selama perjalanan ke kampus. Hanya bayangan samar dari obrolan random yang entah kenapa Baek Hyun merasa bahwa ia terlibat.

 

“Jadi Siwon Hyung itu seorang dokter?” tanya Kyung Soo dengan nada yang sengaja dikeraskan agar Baek Hyun yang duduk di jok belakang bisa mendengarnya.

 

“Hm,  tepatnya psikiater. Dia lulusan California, dan sudah magang di beberapa rumah sakit dan klinik di Asia, dan katanya ingin kembali ke Seoul dan membantu Ayah di rumah sakitnya. Kurasa memang lebih baik mencari uang di negara sendiri,” jawab Su Ho juga dengan nada yang sama.

 

“Wah, keren sekali. Kau juga akan seperti itu kan sayang?”

 

“Hm, mungkin lebih cepat karena aku mengambil kodekteran umum.”

 

“Oh ya, Siwon Hyung sudah punya pacar?”

 

“Kurasa belum. Dia terlalu fokus pada karirnya sampai mengesampingkan urusan pribadi seperti itu. Padahal sangat banyak yang mengejar-ngejar cintanya. Mungkin juga karena dia terlalu pemilih. Kalau tidak salah, dia punya kriteria sendiri untuk tipe idealnya.”

 

Mata Kyung Soo berbinar, dan sedikit-sedikit melirik Baek Hyun yang memilih membaca bukunya karena ia mulai tahu arah pembicaraan ini.

 

“Seperti apa?”

 

“Hm… Dia suka yang imut-imut. Dia kadang gemas sendiri dengan sesuatu yang menurutnya lucu. Tapi dia tidak suka tipe orang yang banyak bicara, karena kadang orang yang banyak bicara itu lebih banyak omong kosongnya. Dia lebih suka orang yang pendiam, karena disitulah dia bisa membuktikan kemampuan pendekatannya sebagai seorang psikiater.”

 

“Benarkah? Semua yang kau sebutkan seolah menjurus pada Baek Hyun.”

 

“Hm… Siwon Hyung pernah melihat album foto yang ada di kamarku. Kau ingat? Foto kita bertiga saat kelulusan SMU. Dan dia sangat tertarik pada foto Baek Hyun dan terus menanyakannya.”

 

Kyung Soo tertawa girang, atau sengaja dibuat-buat agar terlihat girang. Permbicaraan mereka terkesan dibuat-buat, seolah dialog mereka sudah terususn rapi dalam sebuah skrip yang kemudian akan diperankan. Seperti yang mereka lakukan sekarang.

 

“Tentu saja, Baek Hyun kita sangat menarik perhatian siapa saja. Teman sejurusanku bahkan sering menanyakan Baek Hyun.”

 

Su Ho balas tertawa, ia kemudian menepikan mobilnya di pelataran parkir Fakultas Bisnis perkantoran, karena di situlah Baek Hyun akan turun. “Wah, Baek Hyun kita benar-benar mempesona. Bagaimana menurutmu Baek Hyun-ah?”

 

Baek Hyun menutup buku dan melepas kacamatanya. “Terima kasih, tapi kurasa kalian hanya buang-buang waktu.”

 

Barulah Kyung Soo membalikkan badannya agar bisa lebih leluasa menatap Baek Hyun. “Tapi Baek Hyun-ah, ini berita bagus. Siwon Hyung itu keren, dia kaya, dan sudah mapan.”

 

“Maaf, tapi aku tidak tertarik.”

 

“Tapi Baek Hyun… kau sudah lama eum… kau tahu, singel dan…”

 

Baek Hyun menatap Kyung Soo dengan tatapan tajam, dan itu membuat Kyung Soo bungkam. “Kuharap kau tidak mengulangi perkataanmu di depan Kris Hyung nantinya. Kau tahu, perkataanmu tidak hanya membuatku tersinggung. Tapi Kris  Hyung juga.”

 

Kyung Soo menoleh ke arah Su Ho yang juga menatapnya, setelah mendapat anggukan dari Su Ho, barulah Kyung Soo berani membuka suara. “Baek Hyun-ah, sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini secara serius. Maksudku… Baek Hyun, ini sudah 7 tahun dan__”

 

“Kalau kau ingin memaksaku untuk mempercayai omong kosong itu, kumohon hentikan semua ini. Aku muak Kyung Soo-ya.”

 

“Tidak Baek Hyun. Aku tidak bisa membiarkanmu seperti ini terus. Selama 7 tahun ini kubiarkan kau hidup dengan keyakinanmu yang salah. Selama ini kutunjukkan sikap lunakku karena sungguh, aku juga tidak tega melihatmu terluka. Tapi kali ini tidak lagi. Akan kubuktikan bahwa sebagai sahabatmu harus kubuat kau menerima kenyataan bahwa Kris Hyung sudah__”

 

“KUBILANG HENTIKAN DO KYUNG SOO!!!”

 

Kyung Soo dan Su Ho terhenyak dengan pekikan Baek Hyun. Ini adalah bentakan pertama yang mereka dengar dari Baek Hyun sejak kabar terakhir dari Kris.

 

“Kalau kalian mengaku sebagai sahabatku, maka jangan pojokkan aku karena keyakinanku. Kalian terima atau tidak, Kris Hyung pasti akan kembali. Dan aku percaya itu,” tegas Baek Hyun sebelum turun dari mobil Su Ho dan sempat membanting pintunya.

 

Ada hening yang cukup lama menyertai Kyung Soo dan Su Ho di dalam mobil. Itu mereka gunakan untuk menenangkan diri. Baek Hyun mengeluarkan suara tinggi setelah selama ini menampakkan diri sebagai pribadi yang pendiam, itu sungguh membuat mereka…

 

Shock!

 

“Apa aku sudah keterlaluan?” tanya Kyung Soo dengan pandangan matanya yang tidak fokus.

 

“Tentu saja tidak sayang. Kau sudah melakukan yang terbaik. Kau benar, selama ini kita terus mengikuti kemauannya. Kita biarkan dia percaya bahwa Kris…” Su Ho menggantung kalimatnya. Ia bahkan tidak sanggup melanjutkannya.

 

Barulah tangis Kyung Soo pecah. Ia segera berbalik dan menghempaskan dirinya ke pelukan Su Ho. “Dia tidak boleh terus-terusan seperti ini Hyung, tidak boleh. Kita tidak boleh membiarkannya seperti ini. Aku bahkan sudah lupa Hyung, kapan dia tersenyum? Kapan dia tertawa? Dan aku tidak bisa melakukan apa-apa…”

 

Su Ho mengusap punggung kekasihnya itu dan sesekali mengecup sisi telinganya. “Kita sudah mengusahakan yang terbaik Kyung Soo-ya. Setidaknya, kita masih berada di sisinya sebagai seorang sahabat yang sangat menyayanginya.”

 

“Hyung…”

 

“Bersabarlah. Aku yakin akan ada jalan keluarnya. Siwon Hyung adalah seorang psikiater, dan bukan tanpa alasan kenapa aku ingin mengenalkannya pada Baek Hyun.”

 

Kyung Soo perlahan melepaskan pelukannya dan menatap wajah Su Ho penuh harap. “Apakah akan berhasil?”

 

Su Ho mengangguk, sesekali menyeka air mata Kyung Soo yang masih menetes. “Heum, kita hanya perlu mempertemukan mereka. Sisanya… serahkan saja pada Siwon Hyung.”

 

 

(•̪ -̮ •̷̴̪)

 

 

Baek Hyun mengatupkan rahangnya rapat-rapat, berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah. Ia sudah cukup menjadi pusat perhatian dengan langkahnya yang sangat cepat dan sesekali menabrak orang lain karena emosinya tidak terkendali. Dan hal itu juga terjadi persis di depan kelas pertamanya pagi itu.

 

WHAT THE__ Hei… brengsek!!! Apa kau tidak punya mata ha?” bentak Park Chan Yeol yang berhasil ditabrak oleh Baek Hyun, walau sebenarnya yang terjatuh dan tersungkur ke belakang adalah Baek Hyun sendiri.

 

Baek Hyun tidak menjawab, ia masih berusaha menguasai emosinya, dan dengan tangan gemetar ia mengumpulkan bukunya yang berserakan.

 

“Oh… Byun Baek Hyun rupanya. Kau mau cari masalah?”

 

Chan Yeol langsung menangkap lengan Baek Hyun saat pemuda itu memilih tidak memperdulikannya.

 

“Hei, mana sopan santunmu saat orang lain sedang mengajakmu bicara,” bentaknya lagi tapi Baek Hyun terus menghindari kontak mata dengan pemuda itu. “Hei Tuan muda, lihat aku kalau aku sedang bicara!” terakhir, Chan Yeol mencengkram rahang Baek Hyun memaksa pemuda itu untuk menatapnya. Dan…

 

Deg~

 

“Wow… Wow… apakah sedang hujan salju di luar? Tatapanmu dingin sekali Byun Baek Hyun. Kau seperti ingin memakanku saja. Sudah lama sekali aku menantikan reaksimu yang seperti ini,” tantang Chan Yeol yang sebenarnya sangat takjub dengan perubahan ekspresi Baek Hyun. Selama ia mengenal pemuda itu, baru kali ini ia melihat ekspresi berbeda. Dingin dan…

 

Baek Hyun tidak bersuara. Hanya menatap Chan Yeol dingin, air matanya sudah menumpuk di pelupuk mata, dan ia tidak bisa bertahan lebih lama lagi.

 

Chan Yeol jelas tidak buta hingga tidak melihatnya. Semuanya sangat jelas, dan itu membuat Chan Yeol refleks melepas cengkaramannya cukup gugup. Dan tidak sempat ia mengeluarkan suara, Baek Hyun sudah meninggalkan tempat itu. Bukan ke kelas, tapi ke arah koridor yang Chan Yeol tahu menuju toilet.

 

Chan Yeol menatap kepergian Baek Hyun dengan tanda tanya besar. Seingatnya, Baek Hyun adalah sosok manusia yang tidak pernah menunjukkan ekspresi apa-apa di wajahnya. Sebrengsek apapun cara Chan Yeol mengerjainya, Baek Hyun tetap menatapnya dengan ekspresi datar. Tapi kali ini…

 

“Anak itu kenapa?” gumamnya seorang diri.

 

Sementara itu, Baek Hyun yang sudah tidak mampu menahan emosinya langsung mengunci diri di dalam salah satu bilik WC kampusnya. Dadanya sesak, tenggorokannya sakit. Ia sudah menghadapi hal itu berkali-kali, tapi kali ini ia seolah tidak mampu menanggungnya. Terlalu banyak… terlalu sakit. Semua orang menudingnya, semua orang menyalahkan apa yang ia yakini selama ini.

 

Ia bahkan hampir tidak bisa bertahan saat ia tahu bahwa ayahnya dan kedua sahabatnya akan membawanya pada seorang psikiater.

 

DEMI TUHAN! BAEK HYUN TIDAK GILA!!!

 

Dan ingin sekali ia berteriak di hadapan Ayah dan kedua sahabatnya itu. Dia tidak gila, ia hanya menolak percaya bahwa…

 

Kris…

 

 

 

 

 

Sudah mati 7 tahun yang lalu.

 

Baek Hyun membungkam mulutnya saat ia hampir berteriak. Mengingat bagaimana Su Ho dan Kyung Soo datang padanya, membawa kabar bahwa pesawat yang ditumpangi Kris  menuju China siang itu mengalami kecelakaan parah saat mendarat. Hampir semua penumpang dipastikan tewas termasuk Kris dan Ayahnya.

 

Leher Baek Hyun tercekat. Nafasnya bahkan terputus-putus. Ia menolak untuk mengingat hal mengerikan itu. Ia menolak untuk mengingat sumber kebohongan itu. Menolak bahwa ia kehilangan Kris tepat sehari setelah ulang tahunnya.

 

Rasanya sungguh…

 

Sakit!

 

Dengan panik ia mencari apa saja di dalam tasnya untuk menghentikan rasa sakit di dadanya. Apapun… tapi dia tidak menemukan apa-apa. Semua bukunya berhamburan di lantai toilet, ia bahkan luruh ke bawah, dan emosinya sudah sampai pada limit.

 

Kris Hyung tidak mati… Kris Hyung-ku tidak mati!!!

 

Ia tegaskan hal itu berulang-ulang, namun suara ayahnya dan kedua sahabatnya terus terngiang di kepalanya. Memaksa Baek Hyun percaya pada kebohongan itu. Ia menutup telinganya dengan kedua tangan, tapi suara itu semakin jelas. Kepanikan semakin menyerangnya, ia butuh sesuatu sebagai bentuk pengalihan. Ia menampar pipinya berkali-kali, tapi tidak cukup. Itu sama sekali tidak sakit dibandingkan apa yang dirasakan hatinya.

 

Sekali lagi ia membongkar isi tasnya sampai ia menemukan suatu benda yang biasanya ia gunakan untuk mempertajam pensil.

 

Pisau cutter.

 

Dan dari situlah Baek Hyun mulai menemukan obat terbaik untuk menghilangkan sakit yang menyerang hatinya.

 

 

(•̪ -̮ •̷̴̪)

 

 

Baek Hyun baru kembali saat kelas pertama mereka berakhir. Itu jelas membuat kebingungan Chan Yeol semakin meningkat. Dan itu tentu saja akan berpengaruh kepada satu-satunya sumber tenaga untuk menyelesaikan tugas-tugasnya.

 

Masih dengan kesan cuek dan seolah tidak peduli, Chan Yeol sengaja menjatuhkan buku di sebelah kursi Baek Hyun, dan saat ia membungkuk untuk memungutnya, ia mencoba mencuri pandang ke arah wajah Baek Hyun yang terus menunduk.

 

“Hei, kau sudah mengerjakan tugasku?” tanya Chan Yeol pelan, namun tetap dengan sikap jual mahalnya.

 

Baek Hyun tidak menjawab, bahkan tidak menggubris Chan Yeol. Dan itu membuatnya sangat tersinggung.

 

“Oh… jadi kau sudah mulai berani melawanku sekarang?”

 

Masih tidak ada respon.

 

“Byun Baek Hyun!!!” bentak Chan Yeol bersamaan saat ia menarik tangan Baek Hyun. Dan begitu terkejut saat Baek Hyun meringis kesakitan. Chan Yeol bisa memastikan bahwa cengkaraman tangannya tidak sekuat itu untuk bisa membuat orang lain kesakitan. Dan matanya membelalak melihat apa yang sedikit demi sedikit merembes dari lengan kemeja panjang Baek Hyun. “K… Kau… berdarah…”

 

Baek Hyun mengangkat wajah pucatnya dan menatap Chan Yeol, kembali dengan ekspresinya yang datar dan tidak terbaca apa-apa di sana. “Bukan urusanmu.”

 

Tapi bukan Park Chan Yeol namanya kalau dengan mudah membiarkan hal menarik seperti itu terlewat begitu saja. Chan Yeol menarik tangan Baek hyun dan menyingsingkan lengan bajunya. Dan yang ia temukan berikutnya adalah hal yang tidak pernah terbayangkan dalam benaknya selama hidup sebagai manusia. ia bahkan tersentak beberapa langkah ke belakang dengan sendirinya. “Baek Hyun… kau…”

 

Dan pemuda itupun pergi tanpa mengambil barang-barangnya.

 

“Byun Baek Hyun!!!”

 

(•̪ -̮ •̷̴̪)

 

Chan Yeol POV

 

 

Aku semakin bingung, dan kebingunganku justru membuatku semakin frustasi. Bukankah selama ini Baek Hyun tidak pernah mempermasalahkan saat aku terang-terangan mengerjainya? Ia tidak pernah menangis, tidak pernah marah. Dan itu yang membuatku semakin penasaran terhadapnya. Tapi setelah sekian lama, kenapa baru sekarang Baek Hyun bersikap seperti itu padaku?

 

Dan… Ya Tuhan… apa itu di tangannya? Begitu banyak luka goresan yang masih segar dan mengeluarkan darah. Aku yakin lukanya tidak begitu dalam. Tapi… luka gores memanjang dalam jumlah banyak seperti itu… dia pasti kesakitan.

 

Ah sial… kurasa permainan ini sudah tidak asyik lagi. Dan lebih sial lagi, kenapa itu membuatku cemas?

 

Cemas?

 

Ah tentu saja bukan kepada Baek Hyun… tapi apa yang terjadi pada Baek Hyun. Kenapa wajahnya pucat? Kenapa lengannya… penuh luka dan berdarah?

 

Oh … Park Chan Yeol bodoh, bukankah itu sama saja? Kau mencemaskannya. Arrrggghhh….

 

“Kau kenapa?”

 

Aku menoleh saat salah seorang teman mendapatiku mengacak rambutku sendiri. Aku melengos dan menatapnya tajam. “Aku ingin menghajar seseorang, kau mau jadi korban pertama?”

 

Dan temanku itu bergidik kemudian meninggalkanku. Aku hanya termangu dan menatap kosong bangku Baek Hyun beserta barang-barangnya. Sudah pasti ada yang terjadi padanya, setahuku dia tidak pernah meninggalkan barang-barangnya, bahkan hanya untuk keluar kelas selama satu detik.

 

Tunggu. Aku tidak peduli. Sungguh, sedikitpun aku tidak peduli padanya. Aku hanya… heran. Yah tentu saja heran. Aku tidak mau kalau terjadi apa-apa padanya dan saat aku membutuhkan tenaganya untuk mengerjakan tugasku, dia justru sakit. Itu jelas sangat merugikan untukku.

 

Ya, seperti itu. Sudah pasti seperti itu. Untuk apa seorang Park Chan Yeol mengkhawatirkan pecundang sepertinya? Itu sungguh cerita yang tidak masuk akal.

 

Lamunanku buyar saat seseorang yang setahuku adalah teman Baek Hyun yang sangat cerewet itu masuk ke kelas kami. Ada urusan apa anak jurusan seni itu ke sini?

 

“Mana Baek Hyun?” tanyanya sinis.

 

Oh, seharusnya aku sudah bisa menebak. “Sejak kapan aku menjadi orang yang bertanggung jawab tentang keberadaannya?” balasku tak kalah sinis.

 

“Tentu saja karena kau selalu mengganggunya. Dia tidak berada di kelas sudah pasti karena ulahmu.”

 

“Hei hei… jaga bicaramu. Temanmu itu yang aneh, siapa yang tidak tergiur untuk mengganggunya? Dia tidak bisa ditebak. Kemarin-kemarin seperti mayat hidup, sekarang justru menunjukkan sikap yang membuat orang lain takut.”

 

Teman Baek Hyun yang bermata bulat itu terdiam, keningnya berkerut dan menatapku curiga. “Apa terjadi sesuatu padanya?”

 

Hei… bukankah itu aneh? Setahuku anak bermata besar ini mengaku sebagai sahabat karibnya. Dia bahkan pernah menamparku satu kali saat aku kedapatan menumpahkan sekaleng cola ke rambut Baek Hyun. Dan itu terakhir kalinya aku dibuat malu di depan umum. Aku tidak ingin berurusan lagi dengannya, dan memilih mengerjai Baek Hyun dengan cara lain. Tapi tunggu. Apa tadi pertanyaannya?

 

“Aku mana tahu. Bukannya selama ini yang bersikeras seperti ibunya itu kau sendiri. Jadi kurasa kau lebih tahu kenapa Baek Hyun datang sambil menangis.”

 

Mata bulatnya semakin besar. Aku bahkan takut kalau bola matanya akan keluar kalau dia membelalak lagi. “Baek Hyun menangis?”

 

Dan itu justru menambah daftar kebingunganku. Aku memang tidak pernah melihat Baek Hyun menangis, separah apapun aku mengerjainya. Tapi… sebagai orang yang mengaku sahabatnya sejak kecil, kenapa anak ini justru heran kalau Baek Hyun menangis? Seolah jika Baek Hyun menangis maka pertanda bahwa besok akan kiamat.

 

“Ya maksudku… matanya berair, wajahnya merah dan…” aku memicingkan mataku dan menatapnya curiga. “Aha aku tahu, pasti kau yang membuatnya seperti itu. Kau datang untuk meminta maaf kan? Sudah kuduga, kau bukan sahabat yang baik. Perangaimu saja galak begitu.”

 

“Kau terlalu banyak bicara pohon kelapa jelek.”

 

“Heh, itu hakku dasar pendek!”

 

Anak itu sudah siap menghajarku, dan aku sudah memasang kuda-kuda sampai seseorang yang kami bicarakan tiba-tiba masuk ke dalam kelas.

 

“Baek Hyun…” seru pemuda bermata bulat itu dan langsung menghambur memeluk Baek Hyun. Dan sekali lagi aku menangkap ekspresi Baek Hyun yang meringis saat sahabatnya memeluknya sangat erat. Dan ia berusaha merubah air mukanya saat sahabatnya itu melepas pelukannya. Menunjukkan sikap kalau dia baik-baik saja. Dan hei… sejak kapan Baek Hyun mengganti bajunya? Dimana?

 

“Kyung Soo…”

 

Ah benar, nama pemuda bermata bulat itu Kyung Soo.

 

“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengungkit masalah tadi. Aku hanya…”

 

“Iya, aku tahu. Jangan membahasnya lagi.”

 

“Kau memaafkanku?”

 

Baek Hyun mengangguk dan tampak sekali di mataku kalau ia ingin segera mengakhiri percakapan itu.

 

“Terima kasih Baek Hyun-ah.”

 

Dan sekali lagi kulihat Baek Hyun meringis saat Kyung Soo memeluknya. Haih, kenapa si pendek itu tidak menyadari kalau Baek Hyun kesakitan. Hendak rasanya kupukul kepala anak itu.

 

“Baiklah, aku harus kembali karena kelas keduaku akan dimulai. Pulang kuliah jangan kemana-mana, kutunggu di parkiran, oke!” ucap Kyung Soo sembari mengusap pipi Baek Hyun dengan sayang. Hei… itu merusak mataku.

 

“Iya,” jawab Baek Hyun singkat.

 

“Ah, kalau si bodoh itu mengganggumu lagi, jangan lupa bilang padaku,” tegasnya mengintimidasi. Ia bahkan melirikku dengan tajam.

 

“Kau kira aku takut? Dasar pendek!”

 

“Kau!!!”

 

“Kyung Soo-ya, kembalilah. Dia tidak pernah menggangguku lagi.”

 

Kyung Soo melengos kemudian mengangguk pada sahabatnya. “Ya sudah, aku pergi. Jaga dirimu.”

 

Bye pendek…” seruku sambil melambaikan tangan. Si pendek itu justru mengacuhkanku seolah aku tidak ada.

 

Kurang ajar…

 

Ah, aku hampir lupa. “Kau dari mana saja Byun Baek Hyun? Dari mana kau mendapatkan baju ganti? Dan apa yang terjadi pada lengan__”

 

“Itu bukan urusanmu,” potongnya kemudian kembali ke bangkunya.

 

“Tapi aku melihatnya. Bagaimana mungkin itu bukan urusanku. Kau terluka kan?”

 

Baek Hyun menoleh dan menatapku tajam.

 

Tatapan menyeramkan itu lagi. Dan hal itu membuatku menyerah.

 

“O…Okay.”

 

Dan memilih untuk meninggalkannya sendiri.

 

Tapi aku yakin… pasti ada yang dia sembunyikan.

 

 

(•̪ -̮ •̷̴̪)

 

Dosen mata kuliah terakhir telah keluar, beberapa teman sejurusanku juga sudah keluar. Pandanganku masih terfokus pada Baek Hyun yang menyusun bukunya dengan sangat pelan. Memakai ranselnya juga sedikit hati-hati dan sesekali ia meringis.

 

Dia terluka. Itu sudah pasti dan aku harus mengetahui penyebabnya. Dan kurasa Baek Hyun nanti akan bangga jika tahu anak pemilik yayasan Universitas ini memperhatikannya. Dia hanya buta dengan kehadiranku di sekitarnya.

 

Aku membuntuti langkahnya. Belum menemukan gelagat yang mencurigakan, sampai pada saat ia berhenti di pelataran parkir, tidak terlalu jauh dari tempat Su Ho dan Kyung Soo menunggu di depan mobil hitam mereka.

 

Anehnya, Baek Hyun memilih arah lain untuk dilalui, sepertinya dia menghindari mereka. Dan kurasa tebakanku benar mengenai alasan kenapa tadi dia menangis. Sudah pasti karena sahabatnya yang galak itu.

 

Aku langsung mencegahnya saat ia sudah berada di depan gerbang, mencoba menyetop taxi. Sekarang aku berdiri di hadapannya sambil melipat tangan di dada.

 

“Jadi… bisa kutahu kenapa kau menghindari mereka? Seingatku mereka itu selalu bersamamu seperti ayah dan ibumu saja. Lalu, apa yang mereka lakukan sampai anaknya ini menghindari mereka?” tanyaku penuh selidik.

 

Baek Hyun tidak merespon, selalu seperti itu. Dan saat ia sudah ingin melewatiku, aku menangkap tangannya cepat.

 

“Apa perlu kutanyakan sendiri pada mereka berdua kenapa kau menghindari mereka?” ancamku.

 

Sama sekali tidak ada yang luput dari penglihatanku, Baek Hyun betul-betul meringis kesakitan bahkan hanya kugenggam selemah itu. Astaga… tentu saja luka di tangannya itu.

 

“Dan sepertinya mereka juga perlu tahu kalau kau terlu__”

 

“Jangan… Jangan memberitahukan apapaun pada mereka.”

 

Alisku terangkat cukup tinggi. Sepertinya aku menemukan sebuah ide menarik. “Kenapa? Apa kau tidak ingin mereka mencemaskanmu?”

 

Baek Hyun terdiam.

 

“Kalau begitu, beritahu padaku kenapa kau terluka.”

 

Baek Hyun mengeluh, dan kulihat matanya membelalak saat ia seolah melihat sesuatu di belakangku, dan saat kuikuti arah pandangannya, kulihat Su Ho dan Kyung Soo tak jauh di sana, mereka belum melihat kami, tapi kalau kami masih berdiri di tempat yang sama cukup lama, salah satu dari mereka jelas akan melihat kami.

 

“Park Chan Yeol, tolong lepaskan aku.”

 

“Tidak sebelum kau memberitahuku.”

 

“Akan kuberitahu besok, aku harus pulang.”

 

“Tidak. Kau harus memberitahuku sekarang.”

 

Baek Hyun terlihat panik, setelahnya ia mengangguk berkali-kali. “Baiklah, tapi bisakah kita pergi dari sini? Dan jangan sampai mereka melihatku.”

 

Akupun tersenyum penuh kemenangan. “Kalau itu gampang. Ikut denganku.”

 

Dengan cara yang terlalu mudah, kubawa Baek Hyun menuju mobilku yang berada di pelataran parkir di depan gedung rektorat. Hei… aku anak pemilik yayasan, memarkir mobil juga harus di tempat yang spesial.

 

“Jadi… bisa jelaskan padaku kenapa kau bisa terluka?” tanyaku langsung saat ia sudah berada di dalam mobilku, duduk di jok sebelahku.

 

Ia tidak menatapku, mungkin tidak berani. “Terpeleset di kamar mandi.”

 

Aku mengerutkan kening bingung. “Sampai tergores dan berdarah begitu?”

 

Ia mengangguk.

 

“Aku tidak percaya.”

 

“Aku tidak butuh kepercayaanmu.”

 

“Berani-beraninya kau. Seharusnya kau bangga karena aku sudah mengkhawatirkanmu.”

 

Hening…

 

Aku bahkan baru sadar kalau kalimatku barusan terdengar sedikit ambigu.

 

“Maksudku… tentu saja kalau kau sakit, siapa yang akan mengerjakan tugas-tugasku?” ralatku cepat-cepat.

 

Lukaku tidak akan mempengaruhi itu, jadi berhentilah bersikap sok tahu.”

 

“Sayangnya aku harus. Dan lihat…” aku menunjuk lengan kaos panjangnya. “Kau berdarah lagi.”

 

Ia kembali membelalak dan langsung melipat tangannya seolah berusaha menyembunyikannya.

 

“Kau ini bodoh ya? Aku sudah melihatnya, untuk apa kau menyembunyikannya?”

 

Ia tidak menjawab, sepertinya juga baru menyadari bahwa ucapanku benar.

 

“Kau tidak akan pulang dengan kondisi seperti itu kan?”

 

Dan lagi ia tidak menjawab. Ia memilih menunduk tanpa sudi melihatku.

 

“Kalau begitu, kubawa kau ke apartemenku. Setidaknya kau harus mengobati lukamu dan mengganti pakaianmu. Ah… dan mungkin masih banyak yang ingin kutanyakan.”

 

Ia langsung menoleh, ingin mengatakan sesuatu (mungkin protes), tapi setelah kutunggu cukup lama, dia juga tidak bersuara. Kurasa dia menerima ideku. Dan seolah melihat lampu hijau, aku melajukan mobilku meninggalkan pelataran parkir, menuju apartemenku yang jaraknya tempuhnya membutuhkan waktu setengah jam dari kampus.

 

 

(•̪ -̮ •̷̴̪)

 

 

Baek Hyun tidak banyak protes saat kubawa masuk ke apartemenku. Sebenarnya bukan pertama kalinya kubawa orang lain ke sini. 2 malam yang lalu kubawa adik tingkatku dan menghabiskan satu malam full untuk bercinta, dan kurasa bukan hal yang aneh jika Baek Hyun kubawa kesini.

 

Hei, bukan berarti aku ingin bercinta dengannya. Selain karena dia sudah pasti menolak mentah-mentah, aku sendiri juga punya kelas. Baek Hyun itu bukan tipeku. Dia terlalu culun untuk kujadikan partner. Entah untuk satu malam atau seterusnya. Dia juga terlalu kurus dan kecil. Aku khawatir dia tulangnya akan patah kalau… ah sudahlah. Sekali lagi, aku hanya penasaran. Ya, hanya penasaran.

 

Er… tapi kalau dia mau… eum, aku tidak akan menolak. Sebenarnya jari-jari Baek Hyun sangat cantik. Aku pernah membayangkan jari-jari itu meraba tubuhku, menyentuhku tepat di area__

 

“Bisa kau tunjukkan kamar mandinya?” tanya Baek Hyun membuatku tersentak dari lamunan kotorku. Dan itu suara pertamanya setelah setengah jam full dalam perjalanan tanpa mengajakku bicara. Betul-betul kurang ajar.

 

“Kamar mandi tamu sedang dibenahi. Pakai yang di kamarku saja.”

 

Alisnya sedikit mengerut, dan ia memasang tampang curiga. Sebenarnya sangat lucu dan manis, dan beruntung aku memilih tertawa dari pada tersinggung.

 

“Kau jangan setakut itu. Kau pikir aku akan berbuat macam-macam padamu? Kau tahu, walaupun kau menawarkan tubuhmu secara gratis padaku, aku tidak akan sudi menyentuhmu. Tubuh sekurus itu siapa yang bernafsu?” ledekku sambil mendengus kesal.

 

Barulah kudengar ia menghembuskan nafas lega. “Di mana kamarmu?”

 

Aku hanya menunjuk sebuah pintu di dekat jam pendulum raksasa. Setelahnya ia mengangguk dan meninggalkanku di ruang tengah.

 

“Di lemari ada pakaianku. Kalau tidak ada yang seukuran, coba buka box di rak paling bawah. Ada pakaianku waktu SMA, mungkin cocok di tubuhmu. Di kamar mandi ada lemari kecil, isinya peralatan P3K dan beberapa jenis obat yang mungkin kau butuhkan. Tapi perhatikan labelnya, di sana ada obat khusus penambah stamina. Kau tidak perlu itu.”

 

Walau ia tidak menyahut, aku tahu ia mendengarnya. Untuk itu aku memilih menuju dapur dan melihat-lihat apa yang sudah dimasak seorang pekerja part time sebagai pelayan di apartemenku. Dia hanya datang di pagi hari untuk membersihkan rumah dan menyiapkan makanan. Karena malamnya aku juga jarang makan di rumah. Aku hanya butuh makan pagi dan makan siang di sini. Dan lebih utama jelas saja kebersihan apartemenku, karena terkadang orang yang kubawa ke sini tidak cukup sopan untuk tidak membuat kamarku seperti kapal pecah.

 

Sup ayam ginseng, dan itu favoritku. Dan kebetulan sekali, kurasa Baek Hyun juga butuh ini agar lukanya cepat sembuh. Aku akan menginterogasinya saat makan siang.

 

Butuh 30 menit sampai pemuda kecil itu muncul dari dalam kamarku. Dengan penampilan baru kurasa Baek Hyun terlihat semakin lucu. Maksudku, sweater yang dikenakannya adalah sweater masa SMA ku, itupun sudah kekecilan untukku, tapi di badannya yang mungil itu tetap saja kebesaran. Aku juga sempat melihat lilitan perban di lengannya sebelum ia menurunkan lengan sweaternya. Haih… itu terlalu mengusik pikiranku. Baek Hyun tidak mungkin melakukan itu kan?

 

“Masih ada yang ingin kau tanyakan? Aku ingin segera pulang.”

 

Sekali lagi aku tersentak karena suaranya. “Duduklah dulu, dan makanlah. Lebih cepat kau menurutiku,  lebih cepat aku menanyakan semua yang mengganjal di otakku, dan lebih cepat pula kau kuantar pulang.”

 

Baek Hyun menghembuskan nafas panjang, kemudian menggeret kursi dan duduk berhadapan denganku. Ia menatap semangkuk sup ayam ginseng yang sudah kuhangatkan untuknya. Setiap gerakan sederhananya saat mengambil sendok, mengaduk supnya dan mencicipi kuahnya, terlihat cukup elegan. Kurasa hanya penampilannya saja yang dibuat terlalu sederhana. Aku bisa tahu latar belakang seseorang hanya dari etika saat ia makan dan berbicara.

 

Berhubung Baek Hyun jarang berbicara, terlebih padaku, maka aku baru bisa menebak latar belakangnya saat ia makan di depanku.

 

Dia dari kalangan atas. Aku tahu itu.

 

“Jadi… kenapa kau masuk kelas dengan menangis? Berlari setelah menabrakku? Kembali dengan lengan penuh sayatan, menghindari Kyung Soo dan Su Ho, terakhir kenapa kau bersikap sangat aneh dan mau saja mengikuti ajakanku?”

 

Aku menunggu sampai Baek Hyun mengunyah betul makanannya dan menelannya. “Jawabannya hanya satu Park Chan Yeol-shii. Itu semua adalah urusan pribadiku.”

 

Dan sebenarnya itu sudah jawaban yang tepat. Aku mana punya hak mengganggu privasi orang lain. Tapi yang namanya penasaran tetap saja tidak bisa dilawan dengan cara apapun, terlebih bagiku yang sangat keras kepala. “Dan sepertinya kau harus kuberi pilihan untuk memberitahuku atau tidak.”

 

“Dan aku memilih tidak.”

 

Aku tersenyum kemudian melipat tangan di dada. “Jadi bersiaplah, saat kuantar kau pulang, aku akan menemui ayahmu, dan sudah pasti Kyung Soo dan Su Ho juga ada di rumahmu karena mereka mencemaskanmu. Dan aku akan menanyakan pada mereka kenapa Byun Baek Hyun menangis, berlari ke kamar mandi, kembali dengan lengan penuh luka sayat.”

 

Baek Hyun tidak segera merespon, tapi aku bisa menangkap tatapan tidak suka darinya.

 

“Byun Baek Hyun… katakan kalau aku salah. Kau… tidak melukai dirimu sendiri kan?” tanyaku lebih kepada memastikan.

 

Dan inilah dia yang kutunggu. Sepasang mata mungil itu membelalak, dan aku bisa menjamin 500% bahwa tebakanku memang selalu benar. Dan sudah cukup terlambat saat ia buru-buru merubah sikap.

 

“Dengan apa? Menyayat kulit lenganmu sendiri?” lanjutku.

 

Masih dengan reaksi yang sama. Oh astaga, sejak kapan aku pandai sekali membaca situasi?

 

“Apa semua itu berhubungan dengan masa lalumu?”

 

Kali ini Baek Hyun langsung menatapku dengan tajam, tanpa berkedip dan itu berlangsung cukup lama.

 

Sebenarnya sedikit horror, seolah ia akan membunuhku, “Tahu apa kau?”

 

“Aku tahu segalanya. Semua tebakanku benar bukan?”

 

Baek Hyun tampak sangat marah, tanpa menunggu lebih lama, dia meninggalkan tempat duduknya, dan berjalan cepat meninggalkanku. Tapi… aku butuh jawabannya. Untuk itu segera kususul dia tepat di depan pintu apartemenku. Menarik pundaknya hingga ia berbalik dan kuhempaskan ia hingga punggungnya membentur daun pintu.

 

Ekspresinya itu… Oh sekarang sudah terbaca jelas.

 

Aku tertawa kecil dan mengangkat dagunya dengan sisi jariku. “Apa dulu kau punya kekasih? Mungkin kekasih yang sangat tampan dan mengaku sangat mencintamu, terakhir kau sadar bahwa dia itu munafik karena memintamu membuktikan cinta dengan menyerahkan tubuhmu. Dan saat kau menolak, dia justru memperkosamu. Kau trauma dan akhirnya mengalami ketakutan berlebihan jika ada pemuda yang mendekatimu. Dan saat ketakutan itu melandamu, kau memilih menyakiti dirimu sendiri sebagai bentuk pengalihan kan?”

 

Dan jawaban yang kudapat selanjutnya adalah…

 

Sebuah tamparan telak di pipiku sebelum Baek Hyun pergi sambil menangis.

 

(•̪ -̮ •̷̴̪)

 

 

 

 

to be continued

How is it? Ini FF baru dan pengerjaannya sedikit terburu-buru. Ini mungkin jadi mini chaptered karena otak ane mumet kalau semakin panjang. Tapi entahlah, tergantung mood.

Don’t expected to much. Reviewnya yah

71 thoughts on “ETERNITY || KrisBaek – ChanBaek || Chapter 1

  1. yeah,, comeback kakak dimulai dengan publish ff baru,,,,
    prolognya gak kepanjangan kog, aku menikmati banget malahan baca prolognya,
    hubungan baekhyun sama kris kayak udah lebih dari deket banget,
    7 tahun penantian gak tahu deh kayak apa rasanya baekhyun, sampai untuk mengalihkan rasa sakitnya dia melukai diiri sendiri gitu,
    chanyeol songong ya, tapi gak papa pasti chanyeol nanti bisa ngerubah baekhyun lagi,,
    baekhyun yakin kris masih hidup dan aku antara yakin dan gak yakin, kalo dari pengalaman kris pasti masih hidup, trus baliknya pasti pas chanbaek udah bersama.. hahah ngarag banget ini.
    di tunggu lanjutannya

  2. Can i just say something crazy??? I love ur ff unniranggssss yeahhhh
    Aku nunggu ffmu bertahun tahun omg tiap buka kc selalu di protek and nowww tiba2 kc dibuka lagi?!?!?! Ahhh senangnya hatiku
    Anyway seriusan awal baca prolog aku pikir ff ini happy ending ga sad gitu. Kiranya kris ninggalin baekhyun karna selingkuh dan ganyangka ternyata dia meninggal. Awal2 srmpet dibuat sweet bgt sama cerita kejutan ulang tahun barkhyun dan ganyangka akhir2 dibikin jleb seribu bahasa waktu tau kris meninggal sehari sesudah ulang tahunnya.. omg chanyeol penasaran sama baekhyun? Udah mulai ada tanda2 cemburu juga. Lemme gues akhirnya chanyeol jatuh cinta sama baekhyun kan? Tapi baekhyunnya masih stuck sm kenangan masa lalu yakan yakan(?) Seems like saya songong hahaha (ok who’s care) btw lanjut trs ya ff ini unni jan protek lg blogmu. Ilyy!!! Keep writing thornims

  3. 😄 paling suka pnutup chapter ini😄
    yol kena gamparr😄.. lu mah.. makanya yoda, kalo mikir jangan asal. n hangan mesum terus -_-
    jadi weh kena gamperr -_-
    btw, salah prediksi lagi(as always). kukira kris nikah ma org laen. n tebakan kris metong itu ada di daftar terakhir di kepalaku. tp mlh slh besar. aku tadinya dah happy mikir seenggaknya krisbaek bkln punya porsi bnyk d ff ini. eh ternyatah T T… tp gk pp lah. asal ada gntinya, aka chanbaek. wonbaek jugacada😄 seneng. sumpah. aku suka cross pair ini. apalagi ada ckp bnyk mment2 mreka. siwon yg ngangkat baek, siwon yg nepok bokong baek, dll. moga porsi mereka dikasih bnyk d ff ini.

  4. Pret kesel banget sama chanyeol ngeeeh. Sumpah ngeselin banget disini. Songong, suka nyuruh ini itu. Asdfghjkl

    Ngakak ih ada siwon wkwkwks. Finally Suho siwon jadi saudara di ff!! Suka banget haha.

    Sebenernya peran kris tuh udah ngena banget. Eh tau-taunya meninggal trus baekhyunnya jadi gitu, haiih angst dapet. Gemes nunggu lanjutannya;;;;;;

  5. Well, diawali dengan kisah cinta masa kecil yg sweet bener, trus gue bingung sendiri, kenapa kalo baek msih cinta ama kris keluargany pada kasian ama baek, emangnya kris udah nikah ama orang lain, atau kris udah selingkuh . ternyata eh udah dijemput ama malaikat maut#plakkk
    Miris banget nasibny baek. Sabar baek, masih ada tiang listrik lain yg mencintaimu~
    Ciee bang yeol yg jatuh cinta ama anaknya mami soo hahaha, tp kayanya baek ogah banget ketemu ama lu yeol, salah sendiri tumbuhnya kelewat tinggi, pegel deh lehernya baek, trus ditambah suara lu yg so fuckin’ annoying#plak
    Lu juga sih baek, kok mau-mau aja diperbudak ama bang yeol, gratis lagi juga tugasnya, poor ur life~~

    ‘Emang masalah ya buat lu. Lagian, kalo gua yg ngerjain tugasnya makhluk itu yg capek elu? Songong banget sih lu huu…’

    uhukkk… gue greget banget habis bca fic elu kak,, berasa nnton film box office haha,, ini serius loo. Mungkin ini sedikit err… apa namanya, sok tau mungkin. Judulnya eternity, yaitu abadi. Iya krisnya udah pergi jauh tapi kenangannya kris masih ada dan selalu abadi di hati baekhyun hiks. Entah dah.. gue suka.
    Keep writing ya, kak~~

  6. KAK ALF ini cerita APAAAAAAAAAAAAAAAAAA???????? sumvah demi gue makin kesemsem sama luhan gue ga ngerti -…..- dan menurut gue ini terlalu singkat aigukkk meskipun multichap ngahahhahahahahhaahhaahhahahaajjaaj😂😅😁 /ditimpuk alf wkwkwkwkwk
    bentar bentar kak itu kris mati kan ??? 7 tahun lalu gabakal balik lagi kan gue maunya ini ending chanbaekkkkkkkkkkkkkkkkkkk /bawa lightstick/ gue takutnya entar kris tiba tiba nongol lagi setelah sekian lama diaanggap mati disaat baekhyun sama chanyeol (mungkin) mulai saling mencintai ughhhhhhhhh😰😱 dan itu sama kek payphoneeeeeeeeee dddduuuuaaaarrrrrr-………………….-
    kak usul ya entar endingnya baekhyun jadiin janda aja eaaaa kriskan udh mati/eh terus chanyeol bikin mati/gg juga eh tapi terserah kaka aja yang penting ending bagus sebagus jari lentik baekhyun mwah… ya terus apa ya bingung pala cecan mau komen apa… ah iya itu masih ada typo di beberapa kata meski ga sebanyak(mungkin) di love me not hehehehe mungkin cuma satu dua😪
    langsung ke intinya dah. disini gue suka ma chanyeol ka(selalu) entahlah kalo baca ffnya kaka kalo castnya chanyeol karakternya kek ngepas gitu kek rlnya berasa itu beneran karakter chanyeol haduh pokonya suka luvvvv😽 dan disini malah gasuka sama karakternya kris haduhh entahlah mungkin efek samping dari tahun lalu itu… kaka knowlah what i mean/g tapi tetep sayang kris hyung kok sayang sayang banget😗🙈
    aahhh iya itu main castnya ada luhan ya kak💩 btw luhan jadi apa kak, karakternya gimana, aahhh gue mikirnya luhan entar jadi pho /gggg oke yg ini gausah dibaca kak abaikan aja wkwkwkw😬
    udah itu aja ding yg penting maknyos wkwk

  7. Saat baca Kris yg meninggal kan Baekhyun selama 7 tahun dan usaha tuan Byun yg berusaha membuat Baek membuka hatinya utk org lain serta penyangkalan serta keyakinan mati2 an dari Baek bahwa Kris akan menepati janjinya, udah curiga jangan2 Kris meninggal. Dan itu terjawab saat Baek menangis d dalam toilet”kris sudah meninggal tujuh tahun lalu” eh tapi itu beneran meninggal atau gimana? Takutny pas ChanBaek udah bersama tiba2 Kris nongol dan menjelaskan kalo dy masih hidup dan selama 7 tahun d rawat oleh teman sebangkunya yg kalo boleh ku asumsikan adalah Luhan. Ntar malah jadi payphone ke 2,eh kebalikan nya bisa juga sic. Payphone pan d awali dgn Chanbaek tp d akhiri dgn Krisbaek, nah yg ini d awali dgn Krisbaek dan d akhiri dgn chanbaek/amien.

    Moga end ny Chanbaek ya, aku kangen sm ff Chanbaek mu selain ff chanbaek d atas tentunya. Tptptp kalo d lht dari penulisan couplenya berkaca dari ff sblum ny, d mana Krisbaek lbh dulu ketimbang chanbaek besar kemungkinan end ny krisbaek, soalny kaya payphone*again* lbh dlu Krisbak ketimbang chanbaek dan end ny pun krisbaek. Dan juga yg love and pain, lbh dlu Chanbaek ketimbang Krisbaek dan end ny chanbaek/alhamdulillah. Eh tp terserah aja sic end ny mw yg mana yg penting keren, yah walau aku tetep ngarep ny Chanbaek biar aku bisa move on dr payphone krn sumpah demi apa itu ff sukses bikin aku galau tingkat dewa zeus. So moga end ny chanbaek/amien.

    Aw aku demen sama karakter yeol, berasa real aja gtu dgn sifat aslinya.

    Aduh Chanyeol mulutmu sok tahu bgt ya, memang bener luka d tangan baek berhubungan dgn masa lalunya tapi bkn seperti apa yg kau katakan, baek jadi marah kan dan setelah ini baekhyun pasti menghindari chanyeol dan itu akan membuat yeol gelabakan krn kehilangan ‘pesuruhnya’ dalam mengerjakan tugas2 kuliah.

    Ah apapun yg d lakukan chanyeol dan bagaimanapun menghindarnya Baekhyun semoga Chanyeol mampu mengembalikan keceriaan dalam hidup Baek.

  8. OOOHH…aku butuh banget kelanjutannya >_<

    Ku mohonnn baekhyun baekhyun baekhyuuuuunnnn jangan semenderita itu. aku tak tega melihat hati nya yang terus sakit, apalagi fisiknya pula… uuuh~! Lama-lama jadi ikutan demam kalo sampai baekhyun terus-terusan sakit batin seperti ini ^3^

    Aku harap jga ALF kesih aku n para reader lainnya untuk membaca lanjutannya dgn lancar. Ooohh! Aku kepo of very very want to know😀 haha. This is good story for success mengobrak-abrikkan and troubling of my heart.

    Keep Writing !!!

  9. yeahhh!!! ada ff baruu lagiiiiiiii!!!!😀
    seruu deh nih ff nyaa, tpi kesian baekhyun nya nih, aku gak bsa ngebayangin jadi baekhyun😦 sedih bnget deh pstinyaa😥 tp aku suka suka suka sukaaa!!!! gasabar sma chapter 2 nya nih :’) semangaat yaa alf!!!!! :’)

  10. dapet peringatan buat baca prolognya dulu, dan alhasil gw ngantuk *tepok jidat*
    tapi bener dech, klo bca prolongya dilewat2 malah ga dapet feelnya. dan alhasil gw baca ulang. *tepok jidat lagi*

    oke, sebenrnya dari pertama baca ff ini gw ga tau ini author mau bawa cerita ini kemna? dan semua itu terjawab ketika ternyata gw tau kris meninggal yuhuuuuu #jingkrak.
    sebenrya ngenes juga sih baek ampe ky gtu, dan gw harap cerita ini berakhir happy ending dan baekyeol bersatu…

    dan aku suka karakter chanyeol yang mulutnya pengen gw cipok bgt. hahahahaha tapi utnuk ff ini entah kenapa aku seperti melihat sosok alf yang lain. hehehehe agak beda aje gtu tulisannya. perasaan gw aja kali ya. hihihihi

    gtu aja ah, udah ah.. assalamualaikum.

  11. Ini pas banget pas lagi baca ini terus muter lagu VIXX yang ETERNITY sama ngeresapin MV-nya… huaaaa😦 gilaaa ternyata Kris muncul cuma bentar dan gak nyangka banget dia meninggal (di cerita xD) kirain mah Kris udah nikah lagi atau apaa huffft. Tapi untung ada si ksatria berbaju biru eakkkk xD si Chanyeol yang mungkin bakalan jadi pengganti Kris ngisi hati baekhyun… huaaa penasaran deh xD di akhir udah ada tanda-tanda ChanBAek di temukan tapi udah keburu TBC xD sukses terus nulisnya thorrrr bikin kami (para reader) nangis kejerrrr xD gara2 kekerasan dalam hidup baekhyun huaaa mulaih baper nih😄

    btw thor saya suka banget sama judulnyaaaa, dalem bangetttt artinya. semoga se-ETERNITY hubungan ChanBaek ciatttt xD

    FIGHTING!!!!😀

  12. Pas baca judulnya langsung keinget sama VIXX masa /apaini
    TAPI SERIUS INI KEREN GEWLA GREGED IH KENAPA KRIS MATI KENAPAAAA
    BACA PROLOGNYA AJA UDAH KETEBAK INI KEREN. SERIUS. CHANYEOL ITU MULUT BISA DIJAGA GA SI-_- SEBEL LAMA LAMA SAMA INI ORANG /GA/ LANJUT THOR XDD JANGAN GANTUNGIN KITA, AUTHOR-NIM /SUNGKEM/

  13. aduuuuh.. ini smpah kashan bgt si baek.. awalnya aku kra ini cma ff yg biasa aja, soalnya wktu bca msa kcilnya bosen, tpi gk bsen” bgt sih.. aku kra krin cma pnya pacar bru, tnangan, atau nikah sma orng lain. tpi ko trnyata kris mati? ha? yg sbar ya baek..

  14. Aaa byun kenapa kamu malah nyakitin diru kamu sendiri, ishh jadi ngeri deh, ga bisa bayang in baek yg imut main? Sayat sayat tangan nya itu aduhh please ;( ;( ;(

    ciee chanyeol tadi nya ga peduli jadi mencemaskan baekhyun :>,

    kris ga mati beneran kan??? Masa cuman dikit banget ka alf kontrak? Kris di sini hehe😀, moga aja kris ga mati bener an dan dia bkal balik ke korea buat baekhyun dan di saat kris udah balik chanyeol nya nyadar kalo dia suka sama baek huweeee galooon deh #readersoktau #dirajamkaAlf

    yohoo still waiting buat next chap nya ka alf😀 keep writing tetap semangat !!!

  15. Aigoo….. seriusan nangis aku…. ini rekor.. aku nangis darah!!! Enggak ding, hehe…

    Kasian banget… jauh dari perkiraan… sangat jauh.. kirain aku kris bakal selingkuh atau baek yang selingkuh….

    Ayo chanyeol bawa baekhyun bersamamu… bawa dia.. semangat!!

    Thor, terus bikin ff kaya gini ya… biar aku bisa nangis.. eh
    Keren, kece, daebak!!!
    Lope lope buat author tercinta….. see you..

  16. maygod!! kris bneran mati kak? jadi ke inget sma janji janji yg pernah di buat kris untuk baekhyun, dan itu miris~

    baekhyun bnr2 kyk org frustasi yg hilang akal. Baekhyun bahkan ngelukain diri sendiri sbgai penghilang rasa sakit.

    dan chanyeol dengan sikap angkuh dan menyebalkan malah ngnmng kyk td ke baekhyun (di part ending). semoga chanyeol bisa ngebuat baekhyun perlahan lupa sma kenangan dia dgn kris. kasian baekhyun, beda bgt sm yg dulu.

    next aah kak ^^ buruan comeback aaaaaa~

  17. UWOWOWOW KRISBAEK DAN CHANBAEKK. GUA SUKA NIH!!
    gua kira Kris selingkuh wkwk eeeeh ternyata mati gara2 kecelakaan dan matinya mendadak pula aaaahhh
    moment KrisBaeknya baru dikit tapi si kris udah mati laaah sedih juga
    dan gua baru ngeh si Chanyeol muncul dengan ngejadiin Baekhyun budak(?) huhuhuhu cuek amat si ceye.
    suka banget sama karakter chanyeol disini cuek, kasar, kepo, nyebelin tapi manis kok mueheheh
    btw, om siwon cocok jadi psikiater hahaha tapi gua ngukuk dan kalau dijodohin sm baekhyun mah big no deh.

    ditunggu yah kelanjutannya!!!
    fighting

  18. aku kira konflik nya tuch di mana karena kris tinggal Di china jadi nya dia lupaa sama baekhyun .. ternyata karena kris kecelakaan ..

    temen kris di china . luhan kan ..
    kris belum meninggal kan . dia masih hidup kan

    baekhyun nya setia banget sama kris . tetep di tungguin walaupun kata orang sudah meninggal

    chanyeol jahilin baekhyun terus . untung ada suho sama kyungsoo yang jagain ..

    chanyeol akan suka kah sama baekhyun .. kalau iya harus jagain baekhyun yah

  19. Huaa…. kapan nih di lanjut???🙂 bener bener menguras air mata… huaaa bebeb Kris mati??!! what the, bebeb kris guaa…. itu juga napa si yuni kayak psyco gitu sih? takut gue bacanya, gimana klo tiba-tiba yuni bunuh diri? gimana nasib chan? ayo lanjut, lanjut…

  20. aku nggak nyangka Kris mati. awalnya kukira dia cm pergi ninggalin Baek gitu aja.
    aku mulai curiga kalo Kris tewas itu pas KyungSoo dan Suho bersikeras ngomong ke Baekhyun yang jadinya bikin si Baek langsung frustasi dan baper.
    kasihan si Baek. apalagi rasa cintanya kelihatan besaaaaarrr banget buat Kris.
    hmm si PCY udah mulai kelihatan suka sama Baek. walopun dia sendiri masih nyangkal semuanya. .

    Baek mengidap pnyakit apa ya itu? semoga kehadiran PCY bisa bikin dia sembuh.

    Siwon nongol ya. perannya jd orang kaya lagi. cocok. hahaha.

    nice fict kak Alf. tulisan kakak juga bagus dan rapi. asyik bacanya. lanjutannya kutungguin. semangat!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s