Love Me -NOT- ||LuBaek – TaoBaek


1472183_257551267731312_1380936281_n

LuBaek-TaoBaek Fanfiction

Tittle: Love Me NOT

Author tercinta(?): AyouLeonForever

Genre: Suka-suka ALF

Rate: Semau ALF.

Length: yang pendek sajalah. Gak mau ngutang.

Main cast: Byun Baek Hyun (WAJIB)

Lu Han (Tumben)

Huang Zi Tao (Lebih tumben lagi)

(#dan Akhirnya ALF dihajar rame2. KENAPA ITU UKE SEMUA?

Oh tidak darling… kali ini saja, biarkan Lu Han dan Tao menunjukkan

ke-manly-annya(?)

Main pair: ALF cari suasana baru dengan LuBaek dan TaoBaek diCobek jadi satu. #ganti ALF yg dicobek

Other cast: Temukan mereka yang beruntung

Disclaimer: Byun Baek Hyun , Lu Han, Huang Zi Tao adalah milik kita bersama (loh?). maksud ane… mereka ada yg punya. Emak bapaknya pasti hohoho.

 

Copyright: Ide cerita, alur/plot, OC murni dari otak korslet ALF. Jika ada kesamaan nama, karakter, cerita, itu murni kebetulan semata. Dilarang memperbanyak, mengedarkan, menyebarluaskan, dan menjiplak baik sebagian, maupun seluruh isi FF ini (beuh… udah kea penerbit aja ini mah)

 

Description: Lu Han tidak pernah berpikir bahwa ia akan sembuh dari sakitnya berkat seseorang yang bahkan hanya ia pandang dengan sebelah mata. Bukan karena ia tidak suka… hanya tidak biasa. Seseorang yang menjanjikannya cinta sepenuh hati, bahkan jika saja ajal menjemputnya lebih dulu.

 

Byun Baek Hyun, pemuda dengan sinar yang mengalahkan terangnya matahari. Menghilangkan redup dan dan menyembuhkan kelamnya kehidupan. Menganggap lebih baik tersakiti, dari pada menyakiti orang yang dicintai.

 

Huang Zi Tao tidak akan membiarkan siapapun dengan leluasa menyakiti orang yang dianggapnya lebih berharga daripada nyawanya. Jika itu terjadi, ia tidak pernah takut untuk dipenjara. Hukuman matipun bisa ia hadapi.

 

(Description ane gak banget -_- )

ALF Special note pake telor bebek:

Teruntukmu My Baby Adekku sayang Jung Nilam Susanti(?)…

Plus Emak ane yang cerewetnya Naudzubillah -_- Mak Uthie pradit. Awas kalo gak komen #asah golok.
Ama Dinna a.k.a Anna juga deh wkwkwk

 

Dan untuk siapapun yang masa bodoh ama couplenya wkwkw yang penting ajip ye…

Buat yang gak suka… Please… ALF ngemis nih, toloonnng JANGAN dibaca. ALF gak suka komen rusuh cuman gegara bukan pair andalannya(?). APALAGI SR DAN PLAGIATOR SONOH JAUH2… #sediain mantra.

 

Judul… heum au ah, itu aja…

Chanyeol, Kris, Kai, Se Hun… hahah ALF kunciin dalam kamar pribadi. Eaaa…

WARNING: BOYS LOVE, TYPO(S) DETECTED, ALUR SOROT BALIK, BOCAH HATI-HATI.

Selamat menikmati.

 

||Love Me NOT ||

 

 

Senja tak seindah biasanya. Itu sudah jelas karena memandangnya pun dari sudut yang berbeda, kini di titik buta hatinya. Berharap masih ada yang tertinggal, sisa dari masa lalu. Namun kenyataan tidak bisa ditampik sedemikian rupa karena memang…

 

Semuanya sudah berubah.

 

Goooolllll!!!!!

 

Pekikan itu membahana. Berasal dari sekelompok anak dengan semangat menggebu-gebu setelah menghasilkan cetakan gol pertama untuk tim mereka.

 

Begitu….

 

Hidup…

 

Cerah…

 

Dan…

 

Menyilaukannya.

 

Dulu… akan ada senyum di sana untuk pemandangan indah itu. Namun kini… yang tersisa hanya kelam.

 

“Hyung? Kau di sini?”

 

Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang menyapanya. Tidak meminta izin untuk duduk di sebelahnya dan mengusap pelipisnya yang berkeringat.

 

“Kenapa tidak berteduh? Kau keringatan Hyung.”

 

Masih dengan posisi mengabaikan. Hingga sebuah kecupan lembut mendarat pelan di pipinya. Penuh perasaan dan…

 

Jujur saja menyesakkan.

 

“Sebentar lagi,” jawabnya pada akhirnya. Membiarkan sepasang bibir itu menempel cukup lama di pipinya.

 

“Oh, menonton anak-anak bermain bola?” tanya pemuda yang kini bersandar di pundaknya, begitu mesra. Penuh sayang.

 

“Heum.” Namun tetap dengan jawaban yang… seadanya.

 

“Ayo pulang. Kau tidak boleh kelelahan Hyung.”

 

Ia memejamkan mata. Menghembus nafas yang selalu akan terasa berat jika mendengar kalimat yang sama setiap hari. “Heum… kau juga. Baek Hyun-ah.”

 

Dan pemuda bernama Baek Hyun itu mengulas senyum cerah seperti biasa, sebelum berdiri dan mengulurkan tangan kirinya untuk segera di sambut. “Kajja, Lu Hanie Hyung.”

 

Di sana, di jari manis pemuda bernama Byun Baek Hyun. Sebuah logam mulia melingkar begitu jelas, terukir nama ‘Lu Han’ di sana. Akan selalu dikenakan Baek Hyun, kapanpun, dimanapun. Sebagai pertanda bahwa benda itu mengikatnya dengan seorang pria bernama Lu Han.

 

Lu Han mengulurkan tangan kirinya yang kosong, tidak ada apa-apa di jarinya. Menggenggam tangan indah itu dan mengikutinya kemanapun pemuda itu membawanya pergi.

 

“Ingin makan apa malam ini? Akan kumasakkan.”

 

“Terserah saja.”

 

“Aku tidak terlalu pandai memasak, tapi kau tahu Hyung? Kyung Soo, mengajariku sebuah resep yang simple tapi memuaskan. Maksudku enak dan mengenyangkan. Sehat juga jadi tenang saja. hanya butuh ….”

 

Lu Han memilih mendengar semua itu tanpa singgah di otaknya. Terkadang ia justru marasa terlalu senyap bahkan jika Baek Hyun bicara terlalu banyak. “Sesukamu saja,” dan itulah jawaban yang akan selalu menjadi jalan terakhirnya.

 

“Oke Hyung, kau pasti menyukainya.”

 

“Heum…”

 

Semoga…

 

 

◁◈◁

 

 

 

 

~past

 

 

“Lu Han…”

 

“Heum…”

 

“Kau tidak sadar kalau siswa di belakangmu itu terus mengamatimu?”

 

Lu Han menyambar gelas air mineralnya kemudian pura-pura menoleh. “Mana?”

 

“Yang berambut cokelat. Yang matanya tidak berkedip itu. Kalau tidak salah, teman kelasnya Kyung Soo.”

 

Lu Han mengerutkan kening saat ia menangkap sosok yang dimaksud. Untuk ukuran siswa kelas satu SMU, dia sangat manis, hanya saja jika ditatap seperti itu, Lu Han jadi ngeri sendiri.

 

“S… Su Ho-ya, ingatkan aku kalau aku pernah ada salah dengan adik kelas.”

 

“Seingatku tidak, kau bahkan bukan panitia saat OSPEK.”

 

“Lalu kenapa dia menatapku seolah akan membunuhku?”

 

“Hahahaha… apa kau bodoh? Itu tatapan kagum, bukan ingin membunuhmu.”

 

“Mengerikan. Aku tidak suka.”

 

“Ayolah, dia manis.”

 

“Tetap saja mengerikan.”

 

 

◁◈◁

 

 

Present~

 

 

“Hyung, sudah pukul 10. Saatnya tidur.”

 

“Sebentar lagi.”

 

Terdengar derap langkah mendekat, dan Lu Han tidak perlu menoleh ke belakang untuk mengetahui posisi Baek Hyun karena namja itu sedang memijat punggungnya sekarang. “Tugas kuliah semakin menumpuk sepertinya. Butuh bantuan?”

 

“Aku bisa menyelesaikannya,” balas Lu Han masih konsentrasi dengan laptopnya. Sebenarnya tidak bisa menampik, begitu nyamannya jemari Baek Hyun memijat pundak dan tengkuknya yang terasa kaku.

 

“Hehehe, bukan membantumu menyelesaikannya Hyung, karena aku tidak secerdas itu untuk mampu mengerjakan tugas Mahasiswa tingkat 3. Maksudku seperti ini, membuatkanmu cokelat hangat, memijatmu atau…”

 

“Tidak apa-apa. kalau kau mengantuk, tidur saja duluan.”

 

“Aku tidak mengantuk. Aku akan menemanimu.”

 

Lu Han memejamkan matanya cukup lama. berhenti sekian detik untuk melanjutkan ketikannya. Setelah itu ia meghembuskan nafasnya panjang. “Baiklah…”

 

“Apanya?”

 

“Buatkan aku cokelat hangat.”

 

Baek Hyun tersenyum girang. Kemudian sedikit bergeser dan menunduk agar mampu mengecup pipi Lu Han sebelum beranjak menuju dapur.

 

Di sana… Lu Han termenung beberapa detik sebelum menggeleng dan akhirnya melanjutkan tugasnya.

 

 

 

◁◈◁

 

~past

 

 

Lu Han menyadarinya. 3 bulan belakangan ini ia melihat keanehan pada dirinya. Ada rasa nyeri saat berkemih. Urinenya pekat dan volumenya lebih sedikit dari biasanya. Ia bahkan merasa terlalu mudah lelah, padahal ia hanya berlatih sepak bola beberapa menit. Biasanya ia bisa bermain sepak bola sampai berjam-jam tanpa merasa lelah.

 

Ia memandangi bayangannya di cermin washtafel toilet siswa. Tidak bisa memungkiri bahwa wajahnya kelihatan pucat di sana. Ia basuh berkali-kali tetap saja wajahnya jauh dari kata segar.

 

“Hyung…”

 

Lu Han menoleh saat seseorang menyapanya. Ia berdecak kesal dalam hati saat ia tahu siapa yang berdiri di ambang pintu dengan tatapan penuh binar yang membuatnya ngeri. “Kenapa?”

 

“Kau sakit?”

 

“Tidak…”

 

“Aku tidak melihatmu di lapangan hari ini. Padahal ingin sekali menontonmu bermain bola.”

 

“Aku sibuk.”

 

“Ah benar, kau sudah kelas 3.”

 

“Bisa tinggalkan aku?”

 

“Ya?”

 

“Tidak bisakah kau memberiku sedikit ruang? Bahkan untuk kegiatan pribadi seperti di toiletpun kau selalu mengangguku.”

 

“Ah maaf. Ini, hanya ingin memberimu ini. Kemarin aku membelinya bersama Kyung Soo.”

 

Lu Han megerutkan kening saat Baek Hyun memberinya sebuah sapu tangan berwarna biru. Sebenarnya bagus untuknya menyeka keringat atau apa saja. tapi… bisakah tidak dipakaikan pita seperti itu? “Terima kasih, sekarang kau boleh pergi.”

 

“Sama-sama Hyung. Oh ya… kau sedikit pucat. Tolong jaga kesehatanmu.”

 

“Tidak perlu kau beritahu. Pergilah.”

 

“Bye bye Hyung…”

 

Lu Han meremuk sapu tangan biru itu, mengamatinya beberapa detik sebelum membuangnya ke tempat sampah dekat washtafel.

 

Namun ia lupa segigih apa Byun Baek Hyun terhadap dirinya.

 

Saat itu sudah pulang sekolah, ia baru saja menghampiri mobilnya namun sosok Byun Baek Hyun sudah berdiri di sana.

 

“Kenapa lagi?” tanya Lu Han menahan kesal.

 

“Ini Hyung, sapu tangan yang kuberikan untukmu terjatuh di toilet. Kutemukan kemarin. Tenang saja aku sudah mencucinya sebersih mungkin. Kurendam juga dengan cairan anti septik jadi kumannya hilang. Kau pasti kebingungan mencarinya. Untunglah aku menemukannya,” serbu Baek Hyun antusias. Kali ini wujud sapu tangan itu tidak lebih baik dari kemarin yang menggunakan pita. Sekarang ada di dalam kotak kecil seperti kado.

 

“Terima kasih. pulanglah, karena aku buru-buru.”

 

“Rumah kita searah Hyung.”

 

“Lalu?”

 

“Hehehe…”

 

Seharusnya Lu Han tidak bertanya, karena Baek Hyun selalu memberinya jawaban yang mengejutkan dan menjengkelkan. Sekarang Baek Hyun sudah berpindah tempat. Dengan santainya duduk di dalam jok mobil Lu Han. Tepat di sebelahnya.

 

Lu Han hanya tidak ingin terlihat seperti kakak kelas yang kejam dengan menyeret Baek Hyun keluar dari mobilnya. Maka dari itu, ia hanya diam dan menahan jengkel saat ia melajukan mobilnya dengan sosok Baek Hyun yang duduk manis begitu tidak tenangnya tepat di jok sebelah Lu Han. Berceloteh mengenai apa saja yang membuat Lu Han hendak meminta Tuhan untuk membuatnya tuli, atau Baek Hyun saja yang bisu.

 

“Terima kasih tumpangannya Hyung… aku menyukaimu…”

 

Dan hal paling kurang ajar yang pernah diterima Lu Han oleh Baek Hyun adalah…

 

Sebuah kecupan ringan di pipi.

 

 

 

◁◈◁

 

 

~ present

 

 

Senyum dokter itu membuat Lu Han sedikit lega. Karena itu artinya ia masih mendengar kabar yang baik.

 

“Semuanya masih normal. Teruslah seperti ini. Baek Hyun betul-betul banyak membantumu.”

 

Lu Han tersenyum, kemudian mengangguk.

 

“Kalian pasangan yang cocok. Dia sangat mencintaimu.”

 

“Aku tahu…”

 

“Kuharap kau juga mencintainya.”

 

Lu Han mengeluh dalam hati, namun menyembunyikannya dengan sebuah senyuman datar. Setelahnya ia keluar dari ruang pemeriksaan. Sudah ada Baek Hyun di luar yang menungguinya dengan perasaan cemas.

 

“Bagaimana?”

 

“Aku sehat. Semuanya baik-baik saja.”

 

Baek Hyun memejamkan mata kemudian mengelus dadanya lega. “Syukurlah.”

 

“Terima kasih…”

 

“Eh?”

 

“Terima kasih sudah menolongku.”

 

Baek Hyun tertawa, menggandeng lengan Lu Han dan mencium pipinya lembut. “Yang menlongmu itu adalah Tuhan. Aku hanya perantara.”

 

Dan Lu Han tidak bisa berkata apa-apa lagi.  Membiarkan Baek Hyun menuntun langkahnya menuju pelataran parkir, kemudian pulang.

 

Ke rumah mereka.

 

 

◁◈◁

 

 

~past

 

 

“Hey… kudengar kau mundur dari tim sepak bola sekolah?”

 

Lu Han menoleh saat mendengar teguran dari Su Ho itu. “Siapa yang bilang?”

 

“Ha? Memangnya itu tidak benar? Banyak yang bilang begitu, karena tahun ini Min Seok yang jadi kapten tim saat pertandingan persahabatan minggu depan dengan SMU tetangga.”

 

Lu Han memebelalak kaget. Tepatnya shock. “Dari mana kabar bohong itu? Dan… kenapa tidak ada yang memberitahuku kalau ada pertandingan persahabatan minggu depan?”

 

Su Ho menggeleng panik, ia bahkan tidak tahu jika Lu Han lebih tidak tahu apa-apa. “Kupikir… eum… kau betul-betul mundur.”

 

Lu Han meremuk gelas air mineralnya kemudan buru-buru meninggalkan kantin. Menabrak beberapa siswa yang akhirnya mengumpatnya dari belakang.

 

Hanya satu tempat yang ia tuju…

 

“Apa maksudnya semua ini?” bentak Lu Han saat ia betul-betul mendapati tim nya sedang pemanasan di GOR. Dia bahkan tidak mendapatkan informasi apa-apa tentang jadwal latihan.

 

Park Sonsaeng, pelatih mereka langsung menoleh. Sebenarnya masih tidak enak melihat Lu Han semurka itu. Lu Han adalah siswanya yang paling berprestasi di tim sepak bola. “Jadi… kau sudah tahu?”

 

Lu Han semakin membelalak, ia bahkan tidak bisa mengatupkan rahangnya dengan benar. Ia mencoba mencari tahu jawaban pada rekan-rekannya, tapi tidak ada satupun dari mereka yang berani menatapnya. “Jadi ini benar? Kalian mendepakku tanpa memberitahuku sebelumnya?”

 

“Maaf.”

 

“Maaf untuk apa sonsaeng-nim? Ini sudah lebih dari sekedar kejam. Kalian memperlakukanku seperti sampah setelah apa yang kuhasilkan mati-matian untuk sekolah ini…”

 

“Ini… ini semua demi kau juga, Lu Han.”

 

“Demi aku???” Lu Han mendesis, ia bahkan tidak bisa menebak jawaban itu. “Bagaimana mungkin anda bisa mengatakan itu padaku Sonsaeng-nim?”

 

“Mengenai penyakitmu… kami sudah tahu.”

 

Deg~

 

Dalam hitungan detik, Lu Han diserang perasaan panik. “Pe… Penyakit apa? Siapa yang sakit. Jangan mengalihkan pembicaraan atau aku__”

 

“Gagal ginjal bukan penyakit yang bisa dianggap remeh. Keberadaanmu di tim sepak bola sangat beresiko untuk kesehatanmu. Itu yang kupertimbangkan. Lu Han…”

 

Lu Han membelalak tak percaya, ia mundur beberapa langkah dengan rahang tak mampu tertutup rapat. Benar-benar tidak menyangka. “Siapa… Siapa yang mengatakan itu…? Siapa yang memberitahu semua itu?”

 

Tidak ada yang menjawab. Namun sosok pemuda berpostur tubuh mungil berdiri di ambang pintu sambil memainkan jarinya gugup cukup untuk memberinya jawaban yang amat sangat jelas. Terlebih melihat sikapnya yang menunduk penuh… sesal.

 

Lu Han bungkam dalam beberapa detik. Kemudian ia tertawa putus-putus. Air matanya mengalir tanpa ia sadari. Setelahnya ia mengangguk berkali-kali sebelum pergi dan sempat menyambar bahu pemuda yang masih berdiri di ambang pintu itu.

 

Byun Baek Hyun.

 

 

◁◈◁

 

 

~Present

 

 

“Tao???”

 

“Yo…”

 

Baek Hyun mengerjap tidak percaya, namun sosok yang berdiri di halaman rumahnya (dan Lu Han) itu betul-betul nyata. “Tao???? Kau benar-benar Tao?”

 

Pemuda dengan postur tubuh tinggi dan atletis itu mendesis, sesekali memutar bola mata jengkel. “Apa kau sudah buta Byun Baek Hyun? Aku Tao… memangnya siapa lagi?”

 

Baek Hyun tertawa kemudian berlari dan menghambur memeluk Tao. “Kupikir kau tidak akan mau melihatku lagi.”

 

“Ck, terkadang manusia bisa melanggar sumpahnya karena suatu keadaan.” Tao melepas pelukan Baek Hyun kemudian menangkup kedua pipi mulus itu. Tanpa sungkan menunduk dan mengecup sepasang bibir menggoda di hadapannya.

 

Dan pukulan telak di perut sebagai hadiah yang akan selalu ia terima atas kelancangannya itu. “Sudah kubilang jangan menciumku tiba-tiba.”

 

Tao meringis sambil tertawa. “Memangnya kalau kuberi aba-aba, kau mau dicium?”

 

“Tentu saja tidak,” kesal Baek Hyun sembari mengusap bibirnya cepat-cepat.

 

“Hei hei… tidak perlu menghapusnya sekasar itu, aku tidak membawa virus.”

 

“Ini terlarang, bodoh. Aku sudah menjadi milik orang lain.”

 

Dan tawa di bibir Tao berubah menjadi tawa sinis. Bertepatan saat sosok Lu Han yang baru saja memarkir mobil di garasi mucul dengan langkah pelan namun tanpa ragu. “Oh, masih hidup?”

 

Baek Hyun membelalak, dan menatap Tao tajam. “Huang Zi Tao!!!”

 

“Ya, aku masih hidup. Tidakkah itu hebat?”

 

“Hyung!!!” kali ini teguran itu tertuju pada Lu Han.

 

“Hebat, sangat hebat. Tentu saja kau masih hidup karena Baek Hyun ada di sisimu. Tapi tenang saja, kau tidak perlu menunggu Tuhan untuk mencabut nyawamu karena aku sendiri yang akan membunuhmu kalau kau menyakiti Baek Hyun-ku.”

 

Lu Han tersenyum, sengaja melepas 2 kancing kemejanya di bagian atas, memperlihatkan kalung berbandul cincin dengan bahan logam mulia yang bentuknya sama persis yang dikenakan Baek Hyun di jari manisnya. Hanya menunjukkannya, tanpa mengatakan apapapun. Membuat Tao bungkam karena itu sudah menjadi penegasan, siapa pemilik Baek Hyun sekarang.

 

“Sudah sudah… ayo masuk, akan kubuatkan makanan yang sangat lezat. Aku dan Kyung Soo menemukan resep baru kemarin di internet. Dan…”

 

Dan selalu seperi itu. Lu Han tidak bisa menyimpan dengan baik semua celotehan Baek Hyun.

 

 

◁◈◁

 

 

~

 

Baek Hyun tahu Lu Han marah padanya. Baek Hyun sadar bahwa ia telah memperburuk keadaannya. Jadi ia tidak heran kenapa Lu Han menghadangnya di gerbang sekolah dan menyeretnya masuk ke dalam mobil. Membawanya pergi… entah kemana.

 

Tidak ada pembicaraan selama perjalanan. Hanya deru nafas yang mencekam, dan Baek Hyun tahu semarah apa Lu Han sekarang.

 

Decitan keras terdengar memekakkan telinga saat Lu Han menghentikan paksa mobilnya di depan sebuah rumah minimalis namun elegan. Tidak menunggu sampai mobil itu terparkir dengan benar, Lu Han segera turun untuk kembali menyeret Baek Hyun keluar dari mobil. Berlanjut dengan membawanya masuk ke dalam rumah dengan langkah pontang panting.

 

“Akh…” pekik Baek Hyun tertahan saat dengan kasar Lu Han mendorongnya hingga terhempas di atas sofa panjang ruang tengah.

 

“Siapa kau?” tanya Lu Han dengan mata berapi-api.

 

Baek Hyun menggeleng takut. “Aku…. Aku tidak mengerti.”

 

“SIAPA KAU YANG BERANI-BERANINYA IKUT CAMPUR URUSANKU???”

 

Baek Hyun memejamkan mata dan menutup telinganya dengan kedua tangan karena bentakan Lu Han padanya.

 

Lu Han mendesis marah, ia mendekat dan menarik kedua tangan Baek Hyun, memaksa pemuda rapuh itu untuk menatapnya. “Dari mana kau tahu tentang penyakitku? HA?”

 

Baek Hyun bungkam, wajahnya pucat pasi dan tidak berani menatap Lu Han yang saat ini sangat murka.

 

“JAWAB!!!”

 

“A… Aku tidak…”

 

“TIDAK APA HA???”

 

“A… Aku tidak sengaja melihatmu saat memeriksakan diri ke rumah sakit dan…”

 

Lu Han takjub. Itu membuatnya langsung melepas cengkraman tangannya dan menatap Baek Hyun tak percaya. “Kau sakit Byun Baek Hyun. Kau tidak hanya mengikutiku kemanapun, bahkan kegiatan yang kuanggap privasi pun kau tahu semuanya.”

 

Baek Hyun menggeleng cepat, ia tatap Lu Han penuh harap. “Aku bersumpah tidak mengikutimu. Aku… aku juga sedang memeriksakan diri karena aku terkena flu. Aku… aku kehujanan saat membeli sapu tangan itu dan…”

 

“KAU PIKIR AKU PEDULI????”

 

Baek Hyun kembali bungkam dan menunduk.

 

Lu Han mendesis. Menutup wajahnya dengan satu tangan, kemudian jatuh terduduk di lantai. “Duniaku sudah hancur saat dokter memvonisku menderita penyakit sialan itu. Dan kau membuatnya semakin buruk dengan begitu mudahnya Byun Baek Hyun.”

 

“Ma… maaf…”

 

Lu Han berang, ia mengangkat wajahnya dan menatap Baek Hyun penuh dendam. “Kau pikir kata maaf bisa menghapus semua yang telah kau lakukan?”

 

“Setidaknya kau tahu bahwa aku melakukan semua ini… untuk kebaikanmu. Dokter bilang, kau harus membatasi kegiatanmu yang terlalu berat… untuk itu…”

 

Cukup…

 

Lu Han tidak bisa lagi menampung kata-kata Baek Hyun dengan baik. “PERSETAN DENGANMU…”

 

Baek Hyun membelalak saat tiba-tiba Lu Han berdiri, meraih kerah bajunya dan menghempaskannya kembali ke sofa, kali ini hingga membuatnya terbaring. Setelahnya, ia memejamkan matanya rapat-rapat saat ia melihat tangan Lu Han sudah melayang di udara bersiap untuk menghajarnya. Namun…

 

Satu detik…

 

Dua detik…

 

Tiga detik…

 

Lima detik…

 

Sepuluh detik…

 

Itu adalah jeda yang terlalu lama untuk memukul seseorang. Baek Hyun membuka matanya perlahan, dan di sanalah untuk pertama kalinya ia melihat Lu Han yang menangis.

 

Betul-betul menangis.

 

Sosok yang terlihat begitu kuat, mengagumkan dan… hebat kini terlihat bergitu rapuh karena air matanya.

 

Baek Hyun bahkan mengabaikan sakit di perutnya saat Lu Han duduk di sana. Masih mencengkram kerah bajunya dengan tangan gemetar menahan emosi yang meluap-luap.

 

Jika saja Lu Han bisa melihat hati Baek Hyun sekarang, maka ia akan tahu betapa pemuda itu merasakan sakit jutaan kali lipat dari yang dirasakan Lu Han sekarang.

 

“Aku membencimu Byun Baek Hyun. Persetan denganmu…”

 

Baek Hyun tidak membalas. Ia hanya terdiam, menatap Lu Han yang terluka. Terpancar jelas di matanya.

 

“Aku membencimu Byun Baek Hyun… sangat membencimu… kau orang yang paling kubenci di dunia ini… aku betul betul memben__”

 

“Aku mencintaimu Lu Han Hyung. Sangat mencintaimu. Kau orang yang paling kucintai di dunia ini…”

 

Lu Han tidak akan kaget lagi. Baginya, Baek Hyun adalah orang tergila yang pernah ada. “Kau brengsek…”

 

“Maafkan aku Hyung. Aku bersumpah, kulakukan semua ini demi kebaikanmu.”

 

Lu Han mengusap sisa air matanya dengan kasar, selanjutnya mencengkram rahang bawah Baek Hyun hingga pemuda mungil itu memejamkan mata menahan sakit. “Ini peringatan terakhir Byun Baek Hyun, kita lihat sampai dimana keberanianmu mengatakan kalau kau mencintaiku.”

 

Baek Hyun memekik tertahan, rahangnya seolah retak saking kuatnya cengkraman itu. Awalnya ia tidak tahu kenapa Lu Han menyentak kemejanya hingga seluruh kancingnya terlepas, namun setelah ia merasakan ciuman kasar di sekitar lehernya, ia akhirnya sadar, apa yang dimaksud Lu Han dengan peringatan terakhir.

 

“Ma… Maafkan aku Hyung… tolong… jangan…”

 

“Seharusnya kau tahu, siapa yang telah kau usik kehidupannya.”

 

Dan pada akhirnya, Baek Hyun hanya bisa menangis menahan kesakitannya.

 

 

◁◈◁

 

~Present

 

 

 

“Wah… masakanmu enak. Aku tidak pernah menyangka kau pandai memasak,” puji Tao saat ia membantu Baek Hyun membersihkan meja makan.

 

Lu Han? Dia sedang di kamar sekarang. Tidak lapar adalah alasan terbaik yang ia punya untuk menghindari ruang yang sama dengan Tao.

 

“Aku mulai belajar saat tinggal bersama Lu Han Hyung. Yah walaupun ada beberapa bahan makanan yang menjadi pantangannya sekarang, aku harus tetap cerdik untuk menyiasatinya. Makanan yang sehat tapi tetap enak.”

 

Tao tersenyum hambar. Kemudian memutar otak agar dapat menemukan topik yang tidak terselip nama brengsek Lu Han di sana. “Bagaimana kuliahmu?”

 

“Lancar. Kau tahu, Lu Han Hyung selalu membantuku mengerjakan tugas. Ah… rasanya jadi lebih mudah.”

 

Gagal~

 

“Kau terlihat sangat sehat sekarang.”

 

“Tentu saja. aku mengikuti pola hidup sehat Lu Han Hyung, makanya juga bisa ikut sehat.”

 

“Bagaimana kabar Kyung Soo? Dia masih dengan Su Ho?”

 

“Heum… mereka juga langgeng, seperti aku dan Lu Han Hyung. Kami biasa kencan berempat kalau kami menemukan waktu yang sama-sama kosong.”

 

“Bagaimana kabar kucing peliharaan tetanggamu?”

 

“Ha? Kucing tetangga? Tetanggaku tidak punya kucing.”

 

Ah akhirnya tidak ada nama Lu Han breng__

 

“Kemarin aku dan Lu Han Hyung melewati toko binatang, di sana ada kucing Angora yang seluruh bulunya putih dan…”

 

Cukup~

 

“Byun Baek Hyun…”

 

“Dan Lu Han Hyung sebenarnya menyukainya, tapi aku khawatir itu akan berpengaruh__”

 

“BYUN BAEK HYUN!!!”

 

Barulah Baek Hyun diam dan menatap Tao kaget.

 

Tao memejamkan matanya sejenak, kemudian mengontrol nafasnya. “Bisakah sejenak saja kau tidak melibatkan pria brengsek itu dalam obrolan kita?”

 

“Huang Zi Tao, dia bukan pria brengsek. Dia kekasihku.”

 

“Persetan dengan hubungan itu. Apa kau benar-benar buta?”

 

“Tao…”

 

“Aku ada di sini Byun Baek Hyun, dan kau bahkan tidak menanyakan kabarku. Apa yang kulakukan selama 3 tahun ini tanpamu, apa yang membuatku akhirnya membatalkan sumpahku untuk tidak menemuimu lagi, seharusnya kau tanyakan apa saja tentangku, bukan apapun yang menyangkut pria brengsek yang merenggutmu dariku…”

 

“Tao…”

 

“Seharusnya ini tentang aku…”

 

“Aku tahu…”

 

“KAU TAHU APA???”

 

“Aku tidak perlu menanyakannya karena aku tahu jawabanmu.”

 

Tao mengalihkan pandangannya ke arah lain saat ia ditatap seserius itu oleh Baek Hyun. Ia mengatupkan rahangnya rapat-rapat, menahan gejolak emosi yang menyiksanya. Sampai saat sebuah tangan yang permukaan kulitnya lembut menyentuh pipinya, menuntunnya untuk menoleh, ia kembali luluh. Bagaimana mungkin ia bisa marah terlalu lama pada orang yang begitu ia cintai ini.

 

“Jawabanmu akan tetap sama kan? Kau selalu memikirkanku, karena kau mencintaiku,” tutur Baek Hyun dengan teganya.

 

“Lalu kenapa kau mengabaikanku?”

 

“Kau juga tahu jawabannya kan?”

 

“Tapi dia tidak mencintaimu… dia selalu menyakitimu.”

 

Baek Hyun tersenyum, kemudian menggeleng pelan. “Tidak. Dia tidak pernah menyakitiku.” Baek Hyun mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan cincin yang melingkar kokoh di jari manisnya. “Kami sudah saling memiliki.”

 

Tao mendesis acuh. Ia merengkuh kedua pundak Baek Hyun dan menatapnya tajam. “Kau betul-betul buta Byun Baek Hyun. Pria brengsek itu bahkan tidak memakai cincinnya.”

 

“Dia memakainya.”

 

“TAPI BUKAN DI JARINYA!!!”

 

“Tetap saja dia memakainya.”

 

Tao memejamkan matanya rapat-rapat. Sampai kapanpun ia tidak akan pernah menang melawan Lu Han.

 

 

◁◈◁

 

 

~past

 

 

Rasa antusias Tao untuk memberi Baek Hyun kejutan mengenai kedatangannya kini lenyap, digantikan dengan rasa cemas berlebih. Ini sudah pukul 1 malam tapi Baek Hyun tidak juga pulang ke apartemennya. Tao cukup beruntung karena ia tau kode kunci digital apartemen itu, hingga ia tidak perlu mengambil resiko disangka pencuri yang berdiri tidak jelas di depan apartemen orang lain.

 

Ia sudah berada di kamar Baek Hyun sejak… pukul 4 sore. Tapi sampai detik inipun Baek Hyun tidak menampakkan batang hidungnya.

 

“Masa bodoh dengan kejutan.” Ia membuang buket bunga matahari yang sengaja ia beli di jalan tadi. Selanjutnya ia keluar dari kamar Baek Hyun hendak menuju pintu depan untuk mencari__

 

Cklek~

 

Tao membelalak saat pintu itu terbuka dengan sendirinya tanpa sempat ia sentuh gagangnya. Detik selanjutnya ia tahu penyebabnya.

 

“Baek Hyun?”

 

Dan sepertinya Tao sukses memberinya kejutan. Atau terlalu sukses sampai pria mungil itu terperanjat ke belakang dan jatuh ke lantai. “Ta… Tao? Kau kah?” tanya Baek Hyun dengan suara gemetar.

 

Pemandangan terburuk yang penah dilihat Tao dari sosok seceria Baek Hyun. Rambutnya acak-acakan. Kemeja sekolahnya tidak terkancing dengan benar, lebih tepatnya tidak betul-betul terkancing. Wajahnya kusut, matanya sembab dan memerah. Sudah pasti ada yang membuat orang yang paling dicintainya itu menangis. “A… Apa yang terjadi?” Tao membantunya berdiri, dan semakin tercekat saat melihat Baek Hyun meringis kesakitan saat ia membawanya untuk duduk di sofa.

 

“A… Aku… Aku berkelahi. Maksudku… dihajar.”

 

Itu bohong. Tentu saja. ia tidak akan lupa bagaimana Baek Hyun membanggakan sabuknya dalam ilmu bela diri hapkido. Dihajar adalah hal paling memalukan untuk pemegang sabuk hitam. Lagipula, tidak ada bekas memar di wajahnya… jadi…

 

“Jangan berbohong.”

 

Leher Baek Hyun terkunci. Menjadi orang terdekat Tao  sejak mereka berusia 3 tahun jelas bukan perkara mudah. Pemuda tampan itu terlalu megenalnya. “Ah, dari pada membahas tentangku, sekarang katakan padaku kapan kau datang, kenapa kau tidak menelponku dulu, aku bisa menjemputmu di bandara, bagaimana kabar Ayah dan ibuku di China? Kau selalu mengunjungi mereka kan? Apa mereka sehat-sehat saja? aku bukannya lupa menelpon mereka, aku hanya sedikit sib__”

 

Sret~

 

Baek Hyun membelalak saat tiba-tiba saja Tao menarik kerah bajunya hingga terbuka lebar. Menampakkan beberapa tanda yang … membuat dunianya seperti sudah berakhir.

 

“APA YANG KAU LAKUKAN????” jeritan Baek Hyun dengan pandangan mencekam akhirnya menjawab semuanya.

 

Tao mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Matanya memerah, dan buliran air mata itu mulai terlihat sedikit demi sedikit. “Siapa dia?” tanya Tao dengan suara tertahan.

 

Baek Hyun tersadar dari tercengangannya, ia menggeleng cepat untuk berusaha bersikap senormal mungkin. “Siapa… apanya? Eum… Tao, aku sedikit lelah. Aku ingin istirahat dulu. Besok baru__”

 

Greb~

 

Tao mencengkram tangan Baek Hyun cukup kuat, membuatnya kembali terduduk dan meringis di daat yang bersamaan. “SIAPA YANG MELAKUKAN HAL BEJAT ITU PADAMU???”

 

Baek Hyun menggeleng panik. Hal pertama yang singgah di otaknya adalah…

 

 

Keselamatan Lu Han.

 

 

◁◈◁

 

 

~Present

 

 

Baek Hyun memejamkan matanya rapat-rapat saat ia merasakan ciuman Tao terlalu menuntut. Ia bahkan terdesak hingga punggungnya membentur kulkas dan terperangkap oleh tubuh Tao di sana.

 

Tao marah, ia tahu jelas hal itu. Dan menghindar saat Tao ingin menciumnya jelas bukan pilihan yang tepat. Ia hanya berusaha agar mulutnya terkatup rapat, membatasi akses Tao hingga ia tidak bisa menciumnya lebih dari itu.

 

“Bisa kalian lakukan di tempat lain?”

 

Teguran itu terdengar jelas. Tao melepaskan bibirnya dari bibir Baek Hyun kemudian menoleh. Disambut pandangan dingin dari Lu Han. “Terganggu?”

 

“Sangat. Karena aku ingin minum.” Lu Han meraih gelas di atas meja, kemudian berjalan menuju kulkas, membuka pintunya hingga Baek Hyun yang wajahnya sedikit pucat di sana tergeser ke arah Tao yang langsung menangkap tubuhnya agar tidak limbung.

 

“Bisakah kau lembut sedikit brengsek?”

 

Lu Han tidak menggubris, ia meraih botol air es yang ditemukannya di kulkas, meneguknya asal-asalan dan berlalu begitu saja setelah membanting pintu kulkas.

 

Ia lupa, kapan terakhir ia semarah itu.

 

“APA KAU PUNYA TELINGA, ANAK PELAC*R????”

 

Lu Han menghentikan langkahnya, kemudian menoleh. “Kau bilang apa barusan?”

 

Tao tertawa cukup keras. “Aku mencium tunanganmu dan kau bersikap biasa saja. tapi saat kusebut kau anak pelac*r, sepertinya kau marah besar.”

 

Lu Han tidak bisa menahannya lagi. Dan semuanya dimulai saat Baek Hyun berteriak keras karena Lu Han langsung menghambur dan memukul wajah Tao dengan sangat keras. “KAU PIKIR SIAPA YANG KATAKAN PELAC*R… BRENGSEK… KAU INGIN MULUTMU HANCUR HA???”

 

Tao terjatuh ke belakang dan punggungnya membentur meja makan. Sudut bibirnya mengeluarkan bercak darah, anehnya ia justru tertawa. “Bukankah ada pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya? Sikap brengsekmu kuyakin diturunkan dari orang tuamu.”

 

Baek Hyun jelas adalah pihak yang paling panik. Ia menatap cemas ke arah Tao yang terbatuk di sana, tapi ia tidak bisa melepaskan tangannya yang memeluk lengan Lu Han untuk menghentikan pergerakannya.

 

“KAU…”

 

“Hyung… tolong Hyung… jangan dengarkan dia… Tolong.”

 

“Kenapa tidak ingin mendengarku? Sadarlah Byun Baek Hyun. Pria brengsek itu tidak pantas kau bela.“

 

“Huang Zi Tao…”

 

“Dia bahkan tidak mepedulikanmu. Aku menciummu di depannya, ia sama sekali tidak marah. Ah… bagaimana kalau aku menidurimu, di kamar kalian.”

 

“HUANG ZI TAO!!!”

 

Baek Hyun lengah. Ia tidak membaca pergerakan Lu Han yang lepas begitu saja dan langsung menghambur menyerang Tao dengan pukulan bertubi-tubi di pelipisnya. Tapi… siapa yang tidak mengenal Tao? Terlebih jika lawannya hanya pria sakit seperti Lu Han. Pukulan-pukulan itu bisa dihentikan dengan mudah, hanya dengan menangkap lengan kurus itu.

 

“Kau marah karena apa? heum? Karena aku mengatakan hal itu atau karena harga dirimu sebagai tunangan Baek Hyun terinjak-injak?” Tao mendesis acuh, kemudian dengan mudah menghempas tubuh rapuh Lu Han hingga hampir menabrak kulkas jika Baek Hyun tidak menahannya lebih dulu dan terjatuh bersama ke lantai.

 

“Tao… tolong, pergilah.”

 

“Tidak perlu mengusirku Byun Baek Hyun. Aku akan pergi. 3 tahun aku belajar mati-matian untuk mengendalikan emosiku ini. Tapi hancur begitu saja tak cukup satu jam aku melihat wajah brengseknya. Sadarlah Baek Hyun… Dia bahkan tidak pernah sedikitpun memikirkanmu. Kucium kau di hadapannya, bahkan jika sekalian kita bercinta di hadapannya dia tidak akan peduli. Dia hanya tersinggung karena harga dirinya terinjak-injak. Selalu… dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Bukan kepentinganmu.”

 

Baek Hyun menunduk, kemudian memejamkan matanya. Membiarkan air yang menggenang di pelupuk matanya terjatuh tanpa daya. “Tao… Tolong… pergilah.”

 

Pemuda tampan itu terdiam. Baek Hyun sudah melukainya berkali-kali, tapi kenapa itu tidak bisa membuatnya menumbukan sedikit saja rasa benci agar dia bisa melupakan bahwa Byun Baek Hyun adalah orang yang begitu ia cintai namun tidak pernah sedikitpun berniat membalas cintanya?

 

Dan Tao pun tidak mengatakan apa-apa lagi saat ia melangkah meninggalkan tempat itu. Sedikitpun tidak menoleh untuk melihat betapa Baek Hyun hanya mengkhawatirkan Lu Han. Bukan dirinya.

 

Blam~

 

Debuman pintu itu sebagai pertanda bahwa Tao telah meninggalkan rumah Lu Han dan Baek Hyun. Dan rasa sesak kembali menyeruak, membuka luka lama yang sebenarnya tidak sembuh total.

 

“Kau tidak apa-apa Hyung?” tanya Baek Hyun lembut.

 

Lu Han hanya menggeleng, kemudian menepis tangan Baek Hyun yang berusaha membantunya berdiri.

 

“Hyung… Aku…”

 

Lu Han menghentikan langkahnya, hanya sekitar beberapa meter setelah meninggalkan Baek Hyun. “Kenapa kau tidak mendengarkannya? Aku brengsek… itu benar.”

 

“Hyung…”

 

“Jika kau ingin ikut bersamanya, maka pergilah.”

 

“Hyung… Aku mencintaimu.”

 

Lu Han terdiam, masih tidak ingin menoleh.

 

“Aku akan terus mengikutimu kemanapun kau pergi Hyung. Aku betul-betul mencintaimu.”

 

“Berhentilah menyiksa diri, karena kau tahu jawabanku.”

 

“Aku tahu… Kau mencintaiku.”

 

“Byun Baek Hyun…”

 

“Kau hanya tidak mau mengatakannya.” Baek Hyun berjalan mendekat, sampai ia berdiri persis di belakang Lu Han. Dan tidak menunggu terlalu lama, ia langsung memeluk Lu Han dari belakang. “Tao adalah sahabatku, aku sangat menyayanginya. Kau adalah kekasihku, dan aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin berada pada posisi yang mengharuskanku memilih. Karena baik kau maupun Tao… sudah tahu apa pilihanku.”

 

Lu Han tidak bersuara lagi, ia hanya melayangkan tatapan kosong ke depan.

 

Hambar…

 

Namun ada sesuatu yang aneh.

 

Kemana amarah yang meluap-luap tadi?

 

“Duduklah Hyung, akan kusiapkan makananmu, kau juga belum minum obat.”

 

Dan itulah kenyataannya. Bahkan jika ia berusaha keras pun… ia tidak akan bisa lepas dari bayangan Byun Baek Hyun yang sudah menjadi bagian dari hidupnya.

 

Sementara di luar sana. Di sisi pintu depan yang tertutup. Pemuda tampan yang terluka hatinya terduduk di lantai dan bersandar di sana. Baek Hyun tidak akan pernah tahu bahwa…

 

Kenyataan mengenai Huang Zi Tao tidak pernah menangis selama hidupnya… tidak berlaku jika sudah menyangkut Byun Baek Hyun.

 

Sekali lagi… di sana. Pemuda yang terluka hatinya, menumpahkan air mata yang mewakili sakit yang menyeruak di dadanya.

 

Adakah sesuatu yang bisa kulakukan untuk membunuh cinta ini?

 

 

 

◁◈◁

 

 

~past

 

 

Lu Han berharap apa yang terjadi kemarin hanyalah sebuah mimpi. Namun tidak begitu yang ia dapat saat ia membuka mata.

 

Seperti kondisi terakhir yang ada di ingatannya, ia tidak tertidur di dalam kamarnya, tapi di atas sofa panjang ruang tengah. Ia tidak lagi mengenakan pakaian atasnya, dan saat ia menyibak selimut (yang entah terbang dari mana) ia semakin mengutuk dirinya. Ia ingat betul bahwa ia tidak memiliki kebiasaan untuk tidur dalam keadaan tanpa busana. Dan keadaannya sekarang sudah terlalu nyata untuk ditampik keberanarannya.

 

Kesimpulannya… apa yang ia lakukan pada Byun Baek Hyun kemarin bukan sebuah ilusi. Mimpi buruk memang, dan sialnya itu adalah kenyataan.

 

Baek Hyun (dan pakaiannya yang seingatnya berserakan di lantai) sudah tidak ada. Mungkin sudah pulang, setelah memastikan Lu Han tertidur. Dan akhirnya Lu Han menemukan jawaban tentang ‘dari mana selimut yang menutupi tubuhnya itu berasal?’ ia tidak bisa menghindari kenyataan bahwa, Baek Hyun itu cukup gila. Bahkan jika Lu Han menyakitinya berkali-kali, tetap saja pemuda itu tetap menjadikan Lu Han sebagai prioritas utama.

 

Lu Han mengeluh, terlihat semakin frustasi setelah mengacak-acak rambutnya. “Seharusnya kuhajar ia sampai babak belur. Bukan justru menyetubuhinya,” makinya pada diri sendiri.

 

Dan kepanikan semakin berlanjut saat ia tidak menemukan tanda-tanda bahwa Baek Hyun akan mengampirinya di kantin sekolah seperti hari-hari sebelumnya. Su Ho tidak lagi meledeknya karena terus ditatap seintes iu oleh siswa manis bernama Byun Baek Hyun. Tidak untuk hari itu.

 

Lu Han itu manusia. Jadi sebenci apapun ia pada Byun Baek Hyun, nuraninya tetap bersuara bahwa apa yang telah dilakukannya adalah salah.

 

“Aku sudah mendengarnya. Aku bahkan tidak tahu kalau kau menderita gagal ginjal Lu Han.”

 

Pemuda itu tidak menggubris. Ia hanya menatap gelas air mineral di tangannya. Tidak ada yang bisa menyangka bahwa sikap tenang Lu Han siang itu justru adalah wujud kepanikannya.

 

“Setiap penyakit pasti ada obatnya. Jadi jangan putus asa.”

 

“Kau bertemu Kyung Soo tadi pagi?” tanya Lu Han tiba-tiba.

 

Su Ho jelas kebingungan. Entah apa relasi antara gagal ginjal dengan Kyung Soo kekasihnya itu. “Iya… kami berangkat ke sekolah bersama-sama. seperti biasa. Kenapa?”

 

Lu Han mengangkat wajahnya, menatap Su Ho yang balas menatapnya bingung. “Bukankah kau bilang bahwa Byun Baek Hyun itu sekelas dengan Kyung Soo?”

 

“Benar… Lalu?”

 

“Apa Byun Baek Hyun… masuk hari ini?”

 

Barulah Su Ho membulatkan bibirnya tanda mengerti. jujur saja, ini obrolan paling random yang pernah ia bicarakan dengan Lu Han. “Saat kuantar Kyung Soo ke kelasnya, Baek Hyun tidak ada. Mereka duduk bersebelahan, jadi gampang mengetahuinya. Seingatku juga, Baek Hyun selalu datang lebih dulu dari pada kami. Tapi entahlah, mungkin hanya terlambat. Kenapa memangnya?”

 

Lu Han menelan ludah susah payah, kemudian menggeleng cuek. “Tidak, hanya bertanya.”

 

Dan Lu Han tidak pernah menerka bahwa sebenarnya ia tidak hanya melakukan sebuah kesalahan. Kenyataannya memang satu… tapi itu sangat fatal hingga dampaknya betul-betul tidak bisa ia bayangkan.

 

Ia mengangkat alis tinggi-tinggi saat seorang pemuda yang tidak mengenakan seragam sekolah sedang berdiri di dekat mobilnya. Lu Han mendekatinya tanpa curiga, karena pikirnya bahwa pemuda itu memang ada perlu.

 

“Permisi, apa bisa geser sedikit? Aku mau lewat,” sapa Lu Han sebenarnya cukup ramah.

 

“Oh, jadi kau pemilik mobil ini?” tanya pemuda tinggi atletis itu. Tatapannya dingin, dan sulit terbaca karena ekspresinya kaku.

 

“Benar, ada apa?”

 

“Benar kau bernama Lu Han?”

 

“Benar… Kenapa?”

 

“Benar kau yang membawa Baek Hyun kemarin sepulang sekolah?”

 

Deg~

 

Lu Han bungkam seketika. Dan akhirnya sebuah firasat buruk mulai menghantuinya.

 

“Kau mendengarku? Kau yang membawa Baek Hyun kemarin?”

 

Lu Han menelan ludahnya susah payah. Bukan karena ia takut pada pemuda di depannya ini. Hanya saja… sebuah kesalahan fatal, akan menerima imbas yang bisa jadi lebih parah. Ia bahkan menganggap bahwa pemuda di hadapannya ini membawa maut untuknya. “Itu… benar.”

 

Terdengar suara gemeretak, dan Lu Han tahu bahwa itu berasal dari remukan kedua tangan orang di depannya. “Jadi… Jawab dengan cepat. Kau apakan Baek Hyun-ku?”

 

Baek Hyun-ku?

 

Kekasih Baek Hyun kah?

 

“Jawab sebelum aku sendiri yang merobek mulutmu.”

 

Lu Han menghembuskan nafas panjang, ada jeda sekitar 10 detik sampai kemudian ia mengangguk pelan. “Aku menidurinya… dan seperti yang kau duga, itu dengan paksaan.”

 

“Bagus, jadi berdoalah bahwa malaikat maut tidak membiarkanmu terlalu lama menderita.”

 

Dan sebuah pukulan telak mendarat di ulu hati Lu Han tanpa sempat terbaca. Mengerang bersamaan saat ia terhempas dengan punggung terlebih dulu menghantam aspal.

 

Tidak sempat ia menarik nafas dengan baik, sebuah cengkraman kuat di lehernya membuatnya tercekik. Satu, dua, tiga pukulan dan akhirnya dia tidak bisa menghitung sudah berapa kali tubuhnya menerima hantaman yang begitu keras. Ia pun membenarkan perkataan pria yang menghajarnya. Berdoa agar malaikat maut segera mencabut nyawanya sekarang karena ia tidak bisa lagi menahan sakitnya pukulan itu.

 

Tubuhnya sudah rapuh… dan ia hanya bisa menertawai kehidupannya yang berakhir dengan cara yang sangat memalukan.

 

Dihajar oleh seseorang yang murka karena kekasihnya diperkosa.

 

Miris…

 

“HUANG ZI TAO!!!!”

 

Ia tidak kenal nama itu. Ia hanya hapal suara itu. Suara yang selalu menyebut namanya dengan lembut, dan terakhir ia ingat adalah suara itu meneriakkan namanya di tengah kesakitannya.

 

Dia… Byun Baek Hyun.

 

“Hentikan Tao… kau bisa membunuhnya…” pekikan itu pun terdengar jelas. Ia tidak lagi merasakan pukulan di sekujur tubuhnya. Entah karena sudah betul-betul berhenti atau ia sudah terlalu sekarat untuk bisa menerima rasa nyeri lagi.

 

“AKU TIDAK PEDULI… ORANG BRENGSEK INI HARUS MATI!!!!”

 

“TAO… DEMI AKU.”

 

“KAU GILA? AKU JUSTRU INGIN MEMBUNUHNYA DEMI KAU…”

 

“AKU MENCINTAINYA… AKU MENCINTAI LU HAN HYUNG!!!!”

 

Dan seketika Lu Han merasa pendengarannya terganggu. Atau mungkin ia sudah di dunia lain hingga ia bisa mendengar ucapan yang tidak masuk akal. Itu sudah jelas suara Baek Hyun. Dan Lu Han tahu segila apa namja mungil itu… tapi kalimat barusan adalah hal tergila yang masih bisa ia dengar setelah apa yang ia lakukan pada namja mungil itu.

 

Byun Baek Hyun… benar-benar namja tergila yang pernah ia kenal…

 

Dan Lu Han pun tidak bisa lagi merasakan apa-apa selain hampa. Juga gelap gulita. Orang bilang indera terpeka adalah pendengaran. Dan dia bisa mendengar jeritan Baek Hyun meraung-raungkan namanya.

 

 

◁◈◁

 

 

~Present

 

 

 

Lu Han terbangun. Dan seperti hari-hari sebelumnya, Baek Hyun sudah tidak ada di sebelahnya saat ia membuka mata. Akan tercium aroma roti bakar yang memanja hidungnya di pagi hari. Dan sekali lagi, seperti aktifitasnya setiap pagi, ia tidak akan keluar menemui Baek Hyun di meja makan sebelum ia mandi dan siap dengan pakaiannya yang rapih.

 

“Selamat pagi Hyung!” sambut Baek Hyun langsung menghampiri Lu Han dan mengecup pipinya hangat. Setelahnya ia menggandeng lengan Lu Han dan menuntunnya ke meja makan. Sudah tersedia segelas air mineral sebagai pembuka sarapannya.

 

“Heum, pagi.”

 

“Bagaimana tidurmu?”

 

“Nyenyak.”

 

“Baguslah. Saatnya sarapan, setelah itu minum obat. Ada kuliah pagi?”

 

“Tidak. Hari ini jadwalku kosong.”

 

“Sempurna.”

 

Sebenarnya Lu Han tidak akan bertanya kenapa Baek Hyun seceria itu. Namun tatapan Baek Hyun selalu penuh harap bahwa Lu Han tetap mempertahankan obrolan. “Kenapa?” barulah ia bertanya.

 

“Karena hari ini ulang tahunku Hyung.”

 

Lu Han tercekat. Ini adalah ketiga kalinya Baek Hyun mengingatkannya perihal hari yang sebenarnya sangat penting itu. Bukan bermaksud tidak peduli. Lu Han bahkan sudah tidak yakin tentang hari ulang tahunnya sendiri.

 

“Kita harus merayakannya Hyung. Eum… di rumah saja, dan aku akan mengundang Su Ho dan Kyung Soo. Tidak usah banyak-banyak karena rumah akan sangat berantakan kalau ada pesta.”

 

Ini bukan tentang bagaimana perasaan Lu Han yang sebenarnya. Sekali lagi, Lu Han adalah manusia, dan nurani yang berbicara. “Selamat ulang tahun Baek Hyun. Maaf aku tidak menyiapkan kado,” ucapnya berusaha seekspresif mungkin. Namun ia yakin kalimat yang ia keluarkan barusan sama persis dengan kalimatnya tahun lalu, dan tahun lalunya lagi.

 

“TERIMA KASIH HYUNG!!!” seru Baek Hyun girang. Dan Lu Han tahu, Baek Hyun tidak pernah mengharapkan kado darinya. Karena ucapan selamat saja sudah membuatnya sehisteris itu.

 

Atau mungkin… ia bisa sedikit menggerakkan hatinya karena mengingat, ia adalah manusia yang memiliki hati.

 

Lu Han menggeser kursinya hingga ia bisa duduk di sebelah Baek Hyun. Sebenarnya terlalu kaku, dan Baek Hyun sedikit bingung melihatnya. Lu Han menyentuh sisi telinga Baek Hyun dengan tangan kanan. Dan selanjutnya, Lu Han mendekatkan wajahnya dan memberikan kecupan lembut namun singkat di kening tunangannya itu.

 

“Selamat ulang tahun. Semoga semua harapanmu terkabul,” ucap Lu Han tulus. Disertai senyum yang… baiklah, setidaknya ia sudah berusaha.

 

Baek Hyun mengerjapkan matanya tidak percaya. Nyatakah itu? Lu Han menciumnya lebih dulu? Sadarkan ia jika itu hanya mimpi.

 

“Eum… Byun Baek Hyun? Kau tidak apa-apa?”

 

“A… Ya? Kenapa Hyung?”

 

Baek Hyun tidak fokus. Entah kenapa hanya sebuah kecupan di kening membuatnya sampai melupakan bahwa kakinya masih berpijak di bumi.

 

“Kau baik-baik saja?” ulang Lu Han.

 

“Y… Ya? Aku baik-baik saja. Ah sepertinya aku melupakan sesuatu di kamar, tunggu sebentar.” Dan Baek Hyun berlari dengan tergesa-gesa menuju kamar mereka.

 

Lu Han sebenarnya bisa menebak. Baek Hyun butuh ruang untuk mengontrol histerianya.

 

Tebakan Lu Han benar. Baek Hyun begitu kacau hanya karena sebuah kecupan ringan di kening ditambah ucapan dan doa selamat ulang tahun. Namun satu yang tidak diketahui Lu Han.

 

Baek Hyun berada di kamar, karena di dalam sana ada sebuah bantal yang cukup tebal hingga bisa ia gunakan sebagai tempat membenamkan wajahnya. Meredam tangis yang entah kenapa justru muncul di hari bahagia itu.

 

Itu bukan air mata sedih. Seperti tebakan Lu Han, Baek Hyun hanya terlalu histeris. Namun Baek Hyun tidak ingin membuat Lu Han terganggu karena itu. Ia butuh setidaknya 5 menit untuk menumpahkan haru itu. Demi Tuhan… itu adalah hari ulang tahun terhebat selama 21 tahun hidupnya.

 

Lu Han menyembunyikan keterkejutannya saat Baek Hyun keluar dengan mata sembab. Namun tawanya semakin lebar. Itulah yang membuat Lu Han tidak menyinggung masalah kenapa Baek Hyun menangis di dalam kamar.

 

Sebahagia itu kah?

 

“Kau tidak ingin ke suatu tempat? Memesan kue ulang tahun mungkin, untuk nanti malam,” tawar Lu Han. Dan sepertinya itu masuk dalam kalimat terpanjang dan terlembut yang pernah ia ucapkan untuk Baek Hyun.

 

“Aku akan membuatnya Hyung. Kyung Soo akan membantuku. Nanti sore dia dan Su Ho Hyung akan datang. Jadi, kau dan Su Ho Hyung mengobrol, aku dan Kyung Soo menyiapkan makanannya.”

 

Sebenarnya Lu Han berpikir, adanya kado itu memang cukup penting. “Kau ingin apa?”

 

“Ha?”

 

“Sebagai hadiah ulang tahunmu.”

 

“Ah… tidak perlu. Aku tidak butuh apa-apa. kau bersamaku itu sudah melebihi kata sempurna.”

 

Selalu tentangku

 

“Aku… berniat memberikanmu sesuatu.”

 

“Ah tidak perlu Hyung, aku serius. Kau bersamaku saja, itu sudah kado terhebat.”

 

“Aku juga serius. Seingatku, aku tidak pernah memberimu apapun.”

 

“Ah itu tidak benar… Ini… cincin ini. Ini pemberianmu.”

 

“Itu bukan pemberian. Orang yang bertunangan saling bertukar cincin, itu hal yang biasa.”

 

Baek Hyun menghela nafas, kemudian menyunggingkan senyum simpul. “Kalau begitu… bisakah kau gunakan cincinmu di tempat dimana semestinya ia berada Hyung?”

 

Lu Han bungkam.

 

“Kupikir, itu bisa jadi kado terbaik, saat kau menggenggam tanganku, dan cincin kita…” Baek Hyun menggantung kalimatnya saat melihat Lu Han yang menatapnya datar. “Ah… Hanya bercanda. kupikir dijadikan kalung juga keren. Mungkin aku bisa membeli kalung juga biar terlihat seperti pasangan.”

 

Itu miris. Sungguh. Mereka sudah bertunangan. Dan Baek Hyun bahkan masih berharap bahwa mereka bisa terlihat seperti pasangan.

 

Lu Han… manusia macam apa kau__makinya pada diri sendiri.

 

Trak~

 

Baek Hyun hampir terjatuh dari kursi saat melihat Lu Han begitu santainya menarik kalungnya hingga putus.

 

“Hyung!!!”

 

Dan lehernya tercekat saat logam mulia dengan nama Baek Hyun terukir di sana kini telah melingkar indah di jari manis Lu Han. “Ternyata ukurannya pas. Kupikir waktu itu cukup longgar, makanya kulepas karena aku khawatir akan terjatuh.”

 

Baek Hyun membungkam mulutnya dengan satu tangan. Hari ulang tahun memang identik dengan kejutan. Tapi ia rasa, jantungnya tidak begitu siap dengan semuanya itu.

 

Isakan pertamanya terdengar. Dan ia panik sendiri. “A… Ah maaf Hyung, aku melupakan sesuatu di kamar.”

 

Dan baru 3 langkah ia beranjak, Lu Han langsung menangkap tangannya. Membuatnya terhenti di sana.

 

“Baek Hyun…”

 

Pemuda mungil itu tidak berani menoleh. Cari mati jika ia memperlihatkan air matanya. “Aku harus buru-buru Hyung, nanti hilang…”

 

Greb~

 

Dan runtuhlah pertahanan Baek Hyun saat itu juga. Lu Han menariknya ke dalam pelukan hangat.

 

“Jika kau ingin menangis, maka menangislah. Jangan menahannya karena itu sakit.”

 

Dan detik berikutnya Baek Hyun pun menumpahkan semuanya. Ia meraung di sana. Belum pernah ia merasa betul-betul diterima seperti itu. “Terima kasih Hyung… terima kasih.”

 

“Byun Baek Hyun… aku yang seharusnya berterima kasih. Karena kau telah,… memberiku hidup.”

 

 

 

◁◈◁

 

~Past

 

 

   Di sana… pemuda yang terluka hatinya kini tengah meringkuk dalam di pojok ruang tahanan. Membenamkan wajahnya di lipatan lengan yang bertumpu di kedua lututnya. Bukan karena menyesali perbuatannya yang hampir membunuh orang. Ia hanya tidak pernah berpikir bahwa ia akan mendengar kalimat menyakitkan itu dari mulut orang yang begitu dicintainya.

 

‘Aku mencintai Lu Han Hyung!!!’

 

Kalimat itu terus berputar-putar di kepalanya. Mengekang memorinya seperti pagar kawat berduri, semakin kuat dan semakin sakit. tidak pernah ia bayangkan ia akan secepat itu kehilangan Baek Hyun setelah belasan tahun kebersamaan mereka.

 

Seharusnya ia tidak mendukung rencana Baek Hyun untuk melanjutkan sekolah di tanah kelahirannya. Seharusnya ia melarangnya, tetap melanjutkan kebersamaan mereka hingga lulus SMU, perguruan tinggi, dan… tentu saja menikah.

 

Lalu apa? ia begitu tinggi hati menempatkan posisi sebagai orang yang paling mengerti keinginan Baek Hyun. Dan lihatlah… karena dukungannya atas rencana Baek Hyun untuk kembali ke Korea melanjutkan Sekolah, ia justru bertemu pada petakanya.

 

“Huang Zi Tao… penjengukmu datang lagi.”

 

Tao butuh waktu beberapa detik untuk membawanya kembali pada alam nyata. Pada dunia yang begitu dibencinya sekarang. Karena di tempat itu ia hidup, dan telah melakukan kesalahan terbesar.

 

Pemuda yang kini tidak terlihat sekuat biasanya itu bangkit seolah tanpa tenaga. Menyeret langkah menuju pintu sel, dan digiring ke sebuah ruangan tertutup tak jauh dari situ dimana Baek Hyun akan menunggunya.

 

Diantara semua hal yang membuatnya benci dunia. Hanya Byun Baek Hyun lah yang membuatnya masih bisa bertahan untuk mensyukuri hidupnya.

 

Seperti sebelumnya, baik Baek Hyun maupun Tao, menemukan kesulitan untuk membuka obrolan. Mereka sudah duduk berhadapan. Namun tidak ada keberanian untuk saling menatap.

 

Sret~

 

Sebuah kotak makan plastik kini terpajang di atas meja segi empat yang tidak begitu besar. Tao mengangkat wajahnya dan bisa dilihat jemari indah Baek Hyun masih menyentuh sisi kotak itu.

 

“Aku membuatkan makan siang untukmu. Makanlah…”

 

Tao menggerakkan kelopak matanya saat Baek Hyun membuka penutup koak bekal itu. Hanya kimbab dengan porsi satu orang. Tapi itu adalah buatan Baek Hyun. Jadi tidak peduli sesederhana apa, itu adalah makanan paling berharga yang ada di dunia.

 

Tao mengangkat kedua tangannya yang diborgol dan meletakkannya di atas meja, mengisyaratkan ia tidak bisa apa-apa. Dan Baek Hyun tidak sebodoh itu untuk tidak mengerti. ia segera berpindah tempat duduk ke sebelah Tao, menggeser kotak bekalnya lebih dekat, mengambil sumpit dan menyuapkan sepotong kimbab ke mulut Tao.

 

“Apa mereka memberimu makan dengan baik?” tanya Baek Hyun cemas, melihat selemas apa Tao di hadapannya.

 

Pemuda tampan itu hanya mengangguk. Sekali lagi ia terlalu angkuh hingga selalu menempatkan diri sebagai orang yang mengerti Baek Hyun. Ia tidak ingin orang terkasihnya itu khawatir.

 

“Aku sudah mengusahakan kebebasanmu. Mereka bilang, sebenarnya mudah jika korbanmu… tidak menuntut.”

 

“Oh, jadi dia masih hidup?”

 

“TAO!!!”

 

“Kenapa? Masih mengkhawatirkannya? Mengkhawatirkan orang yang telah…” Tao mengatupkan  rahangnya rapat-rapat, tidak sanggup melanjutkannya.

 

“Maafkan aku. Tapi… Aku betul-betul mencintainya.”

 

Tepat di titik rawan. Ia menatap Baek Hyun dengan tajam. “Apa kau tuli Byun Baek Hyun? Bukankah sudah kuperingatkan, jangan mengatakan kalimat memuakkan itu di hadapanku.”

 

“Maaf…”

 

“Pulanglah…”

 

“Tao… Tolong maafkan aku.”

 

“Pulang dan jangan pernah menemuiku jika kau masih memasang wajah memuakkan itu. Aku tidak suka.”

 

“Tao…”

 

Greb~

 

Baek Hyun tidak kaget lagi saat Tao mengangkat tangannya yang terborgol dan menangkup kedua pipi Baek Hyun.

 

“Sejak kapan kau terbiasa untuk tidak lagi mendengarkanku? Ha?”

 

“Maaf…”

 

Dan sepertinya Tao akan mulai membenci kata maaf jika itu terucap dari bibir Baek Hyun.

 

“Tidak bisa…” balasnya tegas, bersamaan saat ia mendekatkan wajahnya dan menggapai bibir Baek Hyun dengan bibirnya. Begitu menggebu-gebu seakan ingin menyadarkan Baek Hyun bahwa dirinyalah yang seharusnya dicintai. Bukan namja brengsek itu.

 

Dan Baek Hyun yang hapal betul sifat Tao, memilih untuk tidak melawan saat Tao menciumnya. karena menolak di saat Tao sedang marah adalah pilihan yang sangat tidak tepat.

 

 

 

 

◁◈◁

 

 

 

 

~present~

 

 

 

“Hyung, kau tunggu di mobil saja.”

 

“Kenapa? Ada yang kelupaan?”

 

“Heum. Kita lupa membeli minuman kalengnya.”

 

Lu Han mengerutkan keningnya bingung. “Kita tidak mengkonsumsi itu, untuk apa membelinya?”

 

“Tentu saja untuk menjamu tamu. Kita tidak mungkin menyuguhkan air mineral saja untuk Su Ho Hyung dan Kyung Soo kan?”

 

“Oh…”

 

“Tunggulah di mobil, aku kembali ke dalam dulu.”

 

“Biar kutemani.”

 

“Jangan, kau tidak boleh terlalu lelah. Kita sudah cukup lama berkeliling, jadi istirahat saja.”

 

Greb~

 

Baek Hyun menoleh kaget saat Lu Han menghentikan langkahnya dengan mengcengkram lengannya.

 

“Kenapa Hyung?”

 

“Kondisi kita sama, jadi jangan mengabaikan kondisimu juga.”

 

Baek Hyun tertawa, kemudian mengecup pipi Lu Han lembut sebelum mengusapnya. “Setidaknya aku lebih kuat, karena ini ginjalku sendiri. Walaupun hanya satu. Tunggu saja di mobil. Aku segera kembali.”

 

Selalu… Lu Han hanya bisa terdiam jika Baek Hyun sudah mengatakan itu.

 

Sementara itu. Baek Hyun mengumumkan pada dunia bahwa hari itu, dia adalah manusia paling bahagia sejagat raya. Senyum dan tawanya tidak pernah lepas. Memori di mana Lu Han mengecup keningnya, mengucapkan selamat ulang tahun dengan lembut, dan juga memeluknya terus berputar di otaknya. Dan dia bersumpah tidak akan melupakannya seumur hidup.

 

 

 

 

◁◈◁

 

 

~Past

 

 

 

“Syukurlah akhirnya kau siuman juga,” ucap Su Ho, tersirat jelas kelegaan di wajahnya.

 

Lu Han mengerang kesakitan di sekujur tubuhnya saat ia berusaha untuk duduk.

 

“Jangan memaksakan diri dulu Hyung,” tegur Kyung Soo cemas.

 

“Apa yang terjadi?”tanya Lu Han, sebenarnya dengan pandangan yang masih belum fokus.

 

“Kau sekarat karena dihajar seseorang. Kabar terakhir kudengar, dia adalah kekasih Byun Baek Hyun yang datang dari China,” jawab Su Ho sambil membantu Lu Han untuk duduk bersandar.

 

Lu Han terdiam. Sebenarnya masih menunggu kelanjutan kalimat Su Ho. Dan pemuda cerdas itu bisa membacanya.

 

“Jujur saja, Baek Hyun yang menjagamu selama kau tidak sadarkan diri 3 hari. Dan dia juga harus bolak-balik kantor Polisi karena orang yang menghajarmu itu ditahan. Eum … Lu Hanie, aku mendengar desas desus yang cukup buruk tentangmu.” Su Ho mengalihkan pandangannya ke arah Kyung Soo, dan kekasihnya itu mengangguk sebagai anda setuju agar Su Ho melanjutkan kalimatnya. “Eum… kudengar… kau melakukan sesuatu yang errr… sangat buruk pada Baek Hyun. Dan apa yang kau terima sekarang ini adalah dampaknya, karena kekasih Baek Hyun murka kau telah__”

 

“Ya, itu benar. aku me… ‘melukai’ Byun Baek Hyun,” potong Lu Han sebelum Su Ho melanjutkannya. Ia sudah tahu itu, dan ia akan semakin sadar betapa bejatnya perbuatan itu jika terdengar dari mulut orang lain, apalagi sahabatnya.

 

Su Ho dan Kyung Soo tercekat. Mereka saling pandang dengan ekspresi shock. “Tapi mana mungkin… Ya Tuhan… a… aku tahu kau tidak menyukai Byun Baek Hyun… tapi bagaimana bisa…”

 

“Aku tidak tahu… Seingatku aku begitu marah dan ingin menghabisinya. Tapi… semuanya terjadi begitu saja, karena kupikir mungkin dengan melukainya seperti itu, dia akan jera dan berhenti mengusik kehidupanku.”

 

“Kau salah Hyung…”

 

Lu Han dan Su Ho menoleh bersamaan ke arah Kyung Soo. Mereka tahu, Kyung Soo adalah orang terdekat Baek Hyun di sekolah, jadi bukan tanpa alasan kenapa ia terlihat begitu emosional karena pembahasan itu.

 

“Baek Hyun bukan ingin mengusik kehidupanmu. Ia hanya ingin melakukan apapun untuk membantumu, karena kurasa kau paling tahu bahwa dia mencintaimu. Sangat mencintaimu. Dia hanya terlalu lugu hingga kau anggap pengganggu. Tapi… percayalah Hyung, di dunia ini tidak ada yang begitu tulus mencintaimu selain namja itu.”

 

Lu Han tidak menjawab. ucapan Kyung Soo… baiklah itu terlalu melankolis, dan Lu Han benci hal-hal seperti itu. Tapi dia tidak bisa mengelak, karena itu benar.

 

Baek Hyun hanya terlalu lugu, hingga tidak tahu bahwa tingkahnya justru dipandang salah oleh Lu Han.

 

“Pasien Lu Han-shii… Ayah anda datang.”

 

Dan Lu Han pun menghela nafas panjang, kemudian menutup matanya. Memikirkan apa saja agar dia bisa terlihat kuat di hadapan Ayahnya.

 

Su Ho dan Kyung Soo langsung pamit saat seorang pria paruh baya dengan darah China kental sudah masuk ke ruangan itu. Mereka tahu, karena Ayah dan anak itu butuh privasi.

 

“Jadi…” terlihat jelas sekali, pria dewasa itu terluka. Lehernya terkunci, dan Lu Han bisa membacanya. Ayahnya itu mati-matian untuk terlihat tegar. “Kau pun mewarisi penyakit itu?”

 

Lu Han tersenyum (tepatnya berusaha tersenyum). “Maaf tidak bisa menjemputmu di Bandara.”

 

“Penyakit yang beberapa tahun yang lalu merenggut ibumu dari kita?”

 

“Duduklah dulu, kau pasti lelah. Kulihat kau juga masih mengenakan pakaian kantormu, Ayah.”

 

“Dan penyakit sialan itu juga berniat merenggut putraku satu-satunya?”

 

Baiklah, Lu Han memang selalu gagal untuk menenangkan Ayahnya, sama seperti beberapa tahun yang lalu, saat ibunya meninggal karena penyakit yang sama. “Masih tahap akut. Masih bisa diatasi sedini mungkin. Aku tidak seperti ibu yang menyembunyikannya sampai kondisi tubuhnya sudah tidak tertolong lagi.”

 

“Akan kudonorkan ginjalku.”

 

Lu Han menggeleng, masih tersenyum. “Tidak seperti itu Ayah. Aku akan dicap gagal sebagai anak jika kubuat Ayahku mengorbankan dirinya untukku.”

 

“Ini bukan berkorban, kau adalah putraku satu-satunya, ini juga demi diriku sendiri, karena aku tidak ingin  kehilangan putraku.”

 

“Percayalah… Kau tidak akan kehilanganku. Aku jauh-jauh bersekolah di Korea untuk membanggakanmu, bukan membuatmu menderita.”

 

“Lu Han…”

 

“Percaya padaku Ayah. Ada jalan keluarnya.”

 

Sementara itu… Di waktu yang sama, di belahan bumi yang sama. pemuda yang selalu memprioritaskan nama Lu Han di atas segalanya, akhirnya mengambil keputusan terbijak yang pernah ia pikirkan.

 

Tidak salah… jika itu demi orang yang kita cintai.

 

Mengutip perkataan Ayah Lu Han, bahwa ia bukan berkorban, tapi ia juga melakukan itu demi dirinya sendiri karena ia tidak ingin kehilangan orang yang sangat ia cintai.

 

 

◁◈◁

 

 

~Present

 

 

 

Baek Hyun hampir membanting orang yang menyekap mulutnya dari belakang kalau saja ia tidak hapal aroma parfum yang maskulin itu. Ia biarkan tubuhnya dibawa diam-diam menuju ruang paling belakang supermarket itu yang sepertinya memang digunakan untuk ruang penyimpanan.

 

Setelah memastikan cukup aman, orang yang menyekap Baek Hyun itu akhirnya melepaskannya. Membawa Baek Hyun ke pojok ruangan dan mengurungnya di sana dengan rentangan tangannya yang menempel kokoh di dinding.

 

“Tao?”

 

“Tidak kaget?”

 

Baek Hyun berusaha mengulas senyumnya, kemudian menyentuh pipi Tao yang lebam. Ia tidak akan lupa bagaimana Lu Han menghajarnya semalam. “Sedikit, tapi… aku tahu ini kau.”

 

Tao menoleh, membiarkan bibirnya menyentuh telapak tangan Baek Hyun yang lembut itu. Menghirup aroma lembut, cologne yang tidak begitu mahal. Tapi aromanya begitu menyatu dengan Baek Hyun. Terlalu khas.

 

“Memarnya sudah dikompres?”

 

Tao menggeleng, kemudian kembali menatap Baek Hyun. “Selamat ulang tahun…” lirihnya kemudian menyodorkan sehelai sapu tangan yang terlipat dengan rapi. Terlihat bordiran unik di ujung kainnya, huruf latin yang rumit, namun terbaca jelas. Itu adalah inisial nama dengan tanda hai di tengahnya. HZT dan BBH.

 

Dan Baek Hyun betul-betul telah mengumumkan pada dunia bahwa hari itu adalah hari terhebat sepanjang sejarah kehidupannya. “Terima… kasih Tao. Terima kasih.”

 

“Sebenarnya ingin kuberi kau cincin. Tapi sudah ada cincin jelek yang terpasang di jarimu. Dan kau adalah orang yang suka bermasa bodoh dengan kado, yang penting maknanya.” Tao membuka lipatan sapu tangan itu, kemudian meletakkannya ke tangan Baek Hyun. “Anggap ini aku, gunakan untuk menghapus air matamu jika pria brengsek itu menyakitimu.”

 

Baek Hyun kembali tersenyum begitu manis setelah menghirup aroma khas Tao di sapu tangan lembut itu, setelahnya ia menempelkannya di dada kiri. “Terima kasih, tapi kalau fungsinya adalah seperti itu, berarti sapu tangan ini tidak akan kugunakan. Karena Lu Han Hyung tidak akan pernah membuatku menangis.”

 

Seharusnya Tao sudah bisa menduga itu. Tapi… apa salahnya berjuang sampai akhir. “Baek Hyun-ah…”

 

“Heum?”

 

“Bisakah malam ini saja, kau habiskan waktu bersamaku?”

 

“Berdua saja?”

 

“Ya… Berdua saja denganku. Jauh dari semua hal yang berhubungan dengan pria brengsek itu.”

 

“Maaf Tao, tapi malam ini aku dan Lu Han Hyung akan merayakan ulang tahunku di rumah. Kami akan mengundang Su Ho dan Kyung Soo. Sebenarnya… aku juga ingin kalau kau datang. Tapi kau pasti keberatan jika berada dalam satu ruangan bersama Lu Han Hyung.”

 

Tao menghela nafas panjang, kemudian kembali menatap mata Baek Hyun lamat-lamat. “Jika kuminta waktumu beberapa jam saja. kau mau?”

 

Baek Hyun menggigit bibirnya kikuk, merasa sangat tidak enak hati. “Lu Han Hyung… menungguku di luar.”

 

“Aku tidak peduli…”

 

“Tapi dia tidak boleh kelelahan. Kau tahu kan?”

 

“Jangan mengajakku merundingkannya. Itu masih alasan terkuat yang kupendam untuk menghabisi nyawanya.”

 

“Tao…”

 

Pemuda tampan itu memejamkan mata. Mengatur nafas sebisa mungkin untuk meredam emosi. “Baiklah… Hanya beberapa menit, bersamaku. Tapi tolong, selama menit-menit itu… tatap aku Byun Baek Hyun. Hanya aku…”

 

“Tapi aku… aku sudah…”

 

“Haruskah aku mengemis? Haruskah orang yang sudah belasan tahun bersamamu ini mengemis hanya untuk waktu beberapa menit? Aku bahkan terkesan setidak penting itu untuk merebut perhatianmu hanya dalam waktu yang sangat singkat. Seberat itukah mengesampingkan namja bejat itu sejenak dan hanya fokus padaku?”

 

Baek Hyun menunduk, serba salah.

 

“Tatap aku Byun Baek Hyun. Tatap aku… seperti saat itu. Saat tidak ada nama pria brengsek itu di otakmu. Saat hanya ada aku sebagai orang terdekatmu… seperti dulu Byun Baek Hyun. Saat kupikir kau hanya milikku.”

 

Baek Hyun menelan ludahnya kasar. Ia mengangkat wajahnya, dan detik itu juga kedua matanya terkunci pada dua manik mata tegas di depannya.

 

“Hanya sejenak Baek Hyun-ah… hanya beberapa menit, kembalilah menjadi Baek Hyun-ku. Kumohon…”

 

 

Baek Hyun menggigit bibir saat tangan Tao berpindah ke sisi rahangnya, mengusapnya lembut, membuat Baek Hyun tidak bisa untuk tidak memejamkan mata. “T… Tao…”

 

 

“Heum… Kau Baek Hyun-ku… seperti ini…”

 

Baek Hyun berani bersumpah bahwa satu-satunya orang yang ia cintai adalah Lu Han. Namun ia tidak bisa semakin menyakiti pria di hadapannya ini, yang selalu melakukan apa saja untuknya. Selain itu… Tao memang benar, bahwa kebersamaan mereka belasan tahun itu tidak bisa ia kesampingkan begitu saja.

 

Ia menyayangi Tao…

 

Dan saat Tao meminta Baek Hyun untuk membalas ciumannya, iapun menurut. Ia meremuk sapu tangan itu sebelum mengulurkan tangannya dan memeluk tengkuk Tao.

 

Benar… hanya beberapa menit. Mungkin bisa mengobati luka yang ia berikan pada pria ini selama 3 tahun lebih.

 

 

◁◈◁

 

 

~past

 

 

Jika Lu Han diminta mendeskripsikan arti kata bahagia, maka kondisinya sekarang bisa ia jadikan contoh. Mendapatkan pendonor organ itu sulit, jika bukan dari keluarga kemungkinannya tidak mencukupi 10%. Dan kemungkinan itu makin diperkecil karena tidak selamanya organ pendonor cocok diterima tubuh seorang resipien.

 

Dan bahagia adalah, saat dokter mengatakan bahwa ada pendonor yang yang sangat cocok untuknya. Bahagia juga adalah Operasi transplantasi ginjal itu tidak semngerikan seperti yang ia bayangkan. Beberapa pekan pasca operasi, ia merasakan seolah mampu kembali menguasai tubuhnya.

 

“Jadi… sudah bisa kutemui siapa malaikat berhati mulia itu?” tanya Lu Han antusias.

 

Ayahnya mengangguk mantap, didukung oleh senyuman dokter yang sangat yakin hal itu. Sementara di belakang mereka ada Su Ho yang menggenggam erat jemari Kyung Soo yang hampir tidak bisa membendung tangisnya.

 

“Tolong, bawa aku padanya…”

 

Itu adalah permintaan tulus. Sederet ucapan rasa terima kasih sudah ia siapkan. Ia bahkan tidak yakin bahwa semua ucapannya akan cukup dia berikan untuk orang yang memberinya kesempatan untuk menambah angka harapan hidup.

 

Unuk pertama kalinya dalam hidup. Lu Han benar-benar percaya bahwa malaikat itu ada.

 

 

 

Namun…

 

 

 

Semuanya runtuh saat Su Ho mendorong kursi roda Lu Han memasuki sebuah ruang perawatan intensif. Seorang pemuda terbaring damai di atas brankar. Di tangannya masih menempel jarum infus, dan matanya masih terpejam risau.

 

Lu Han terdiam hampir beberapa menit saat ia memastikan penglihatannya itu. “Kita… sepertinya salah masuk ruangan Su Ho-ya.”

 

Su Ho yang menemaninya saat itu tidak langsung menjawab. ia juga butuh beberapa menit untuk menguasai emosinya. “Tidak… Yang kau lihat itu benar. dia… dialah yang mendonorkan ginjalnya untukmu.”

 

Seperti mendengar jarum detik berbunyi, dan waktu di seluruh dunia juga berhenti. Lu Han tercekat di tenggorokannya, dan sesak menyergap dadanya. “Tidak mungkin…”

 

“Sudah kubilang. Di dunia ini tidak orang yang betul-betul tulus mencintaimu selain … Byun Baek Hyun.”

 

Detik itu, Lu Han menganggap bahwa sebenarnya dirinya sudah mati.

 

Dan dipertegas 2 pekan berikutnya saat ia sudah diizinkan untuk rawat jalan.

 

Rasa bersalah itu semakin menumpuk melihat seorang ibu menangis di pelukan suaminya. Meratapi kebodohan sang anak yang tidak berpikir panjang saat menyumbangkan salah satu organ tubuhnya hanya untuk orang asing yang sebenarnya tidak pernah memberinya apa-apa selain luka.

 

Untuk kedua kalinya, Lu Han hampir meregang nyawa di tangan seorang pria bernama Huang Zi Tao jika saja para orang dewasa ditambah Baek Hyun tidak melerai mereka.

 

“KUBUNUH KAU BRENGSEK… KUBUNUH KAU!!!”

 

Ia tidak heran dengan umpatan penuh emosi itu.

 

“SETELAH APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA, KINI DENGAN SEENAKNYA KAU MENGAMBIL GINJALNYA HA????”

 

Lu Han tidak berkata apa-apa. karena ia memang tidak punya kalimat yang tepat untuk membalasnya.

 

“Tao… kumohon tenanglah…”

 

Dan suara itu selalu akan menjadi nyanyian yang paling merdu bahkan ditengah medan perang sekalipun.

 

“APA KAU GILA BYUN BAEK HYUN??? KAU AKAN SELAMANYA HIDUP DENGAN SATU GINJAL KARENA PRIA BRENGSEK INI DAN KAU MASIH SETENANG ITU MEMBELANYA???”

 

“Kau tahu alasanku… jadi kumohon, hentikan ini.”

 

Ada hening yang mencekam selama beberapa menit, sampai suara pecahan kaca terdengar membahana saat Tao meninju lemari kaca tunggal di ruang yang tidak cukup besar itu. Bau anyir darah merebak dalam hitungan detik, tapi tidak ada yang bertindak lebih lanjut karena Tao sendiri yang punggung tangannya mengeluarkan banyak darah sama sekali tidak peduli. “Baiklah… Ini pilihanmu, dan dengarkan ini baik-baik. Aku bersumpah… ini terakhir kalinya aku menemuimu Byun Baek Hyun. Ini terakhir kalinya kau melihat wajahku. Aku bersumpah.”

 

Dan detik berikutnya Tao keluar dari rumah itu tanpa sedikitpun menoleh. Bahkan saat Baek Hyun berteriak meraungkan namanya.

 

Suasana kembali mencekam. Saat hanya terdengar suara tangis Baek Hyun dan seorang ibu di sana.

 

“Kami… Kami sungguh menyesal tuan Byun, kami betul-betul tidak tahu jika Baek Hyun masih memiliki perwalian. Keegoisanku sebagai Ayah terlalu mendominasi hingga tidak memikirkan apapun lagi selain menerima bantuannya. Sungguh Tuan Byun, Nyonya Byun, jika ada yang bisa kulakukan sekarang untuk menebusnya, maka akan kulakukan saat ini juga.”

 

Lu Han juga tidak lagi memiliki kekuatan untuk membantu ayahnya meminta maaf. Ia hanya bungkam, melihat Baek Hyun bahkan bersimpuh meminta maaf di hadapan kedua orang tuanya.

 

Ini gila… benar-benar gila. Ini hal terburuk yang pernah ada. Sekiranya, divonis tidak akan bertahan hidup lebih lama itu terdengar lebih baik dari pada situasinya sekarang. Kini… ia merasa menjadi manusia yang paling bejat yang pernah diciptakan di muka bumi.

 

Dan hanya ada satu jalan yang memang tidak bisa mengembalikan segalanya menjadi utuh. Tapi… sedikit bisa memperbaikinya. “Abonim… Omonim… maafkan atas kelancanganku ini. Tapi… bisakah kuminta restu kalian untuk mendampingi Baek Hyun sampai… ajal memisahkan kami?”

 

Deg~

 

Bisa saja saat itu Lu Han menerima tamparan atas ucapannya yang lebih dari sekedar lancang. Ia bahkan menerima tatapan tajam dari ayahnya sendiri karena ia tahu bahwa pria paruh baya itu sudah merancang masa depan putranya sedemikian rupa. Dan tentu saja manusia dengan hanya satu ginjal ditubuhnya tidak termasuk dalam daftar masa depan Lu Han. Tapi… manusia yang kini hanya memiliki satu ginjal itu tidak akan seperti itu jika bukan karena Lu Han. Maka… anggap saja itu adalah sebuah bentuk tanggung jawab.

 

Dan semuanya berlalu begitu cepat. Hanya sepekan sejak Lu Han akhirnya lulus dari bangku SMU, disaksikan banyak pasang mata ia menyematkan cincin dengan bahan logam mulia ke jari manis seorang Byun Baek Hyun yang tersenyum penuh binar di hadapannya. Tidak pernah ia melihat wujud seorang Byun Baek Hyun seceria itu kecuali malam itu. Dan sepanjang malam sampai pesta itu berakhir… Baek Hyun tidak henti-hentinya manatap cincin yang melingkar di jari manisnya.

 

Dan kalimat terakhir Lu Han yang ia ingat saat itu adalah. “Maaf… Aku tidak bisa membalasmu dengan cara  lain. Kuharap dengan ini, semuanya setimpal.”

 

Tanpa berpikir bahwa itu kalimat terburuk untuk seseorang yang sedang berhutang budi. Tapi tetap saja, Baek Hyun adalah sosok manusia yang lugu. Ia akan mengangguk, kemudian tanpa sungkan memegang tangan Lu Han sebelum mendekat dan mengecup pipinya lembut dan penuh sayang.

 

 

◁◈◁

 

 

~Present…

 

 

 

 

Lu Han tidak bertanya kenapa hanya membeli beberapa kaleng bir membuat Baek Hyun menghabiskan waktu hampir setengah jam? Ia juga tidak bertanya dimana Baek Hyun melupakan senyumnya, karena seingat Lu Han, pemuda ceria itu tidak pernah melepaskan senyumnya satu harian itu. Bukan karena tidak peduli, menurutnya ia tidak pada tempatnya untuk bertanya.

 

Pesta yang hanya dihadiri 4 orang itu tidak buruk. Lu Han tahu betul, Baek Hyun jika bertemu dengan Kyung Soo, maka ia tidak butuh 20 orang untuk meramaikan pesta.  Duo itu saja sudah cukup. Dan entah karena lalai, atau memang Lu Han tidak seperhatian itu hingga ia tidak tahu bahwa Baek Hyun berhasil mencuri-curi minum malam itu.

 

Lu Han terpaksa meminta maaf pada Su Ho dan Kyung Soo karena harus mengakhiri pesta lebih cepat dari yang mereka rencanakan karena sepertinya Baek Hyun sudah mabuk berat.

 

Di sana, di balkon kamar mereka, Baek Hyun menari-nari, entah karena senang atau ia memiliki terlalu banyak hal untuk dipikirkan.

 

“Baek Hyun… sudah tengah malam, ayo masuk. Saatnya tidur,” tegur Lu Han saat terbersit rasa khawatir karena Baek Hyun menari terlalu ke pinggir. Sedikit mengingatkan bahwa kamar mereka ada di lantai dua. Dan terjatuh dari sana jelas akan menimbulkan cedera paling ringan adalah patah tulang leher.

 

“Selamat ulang tahun… selamat ulang tahun… selamat ulang tahun Baek Hyun… selamat ulang tahun,” senandung merdu itulah yang justru terdengar dari bibir mungilnya. Pemuda itu… bukan terlalu bahagia. Hanya saja ada yang sedang ia pikirkan.

 

Lu Han menggenggam tangan Baek Hyun erat dan sedikit menariknya agar pemuda itu mau bergerak. Namun orang mabuk adalah kondisi yang paling sulit di hadapi. Mereka selalu membuat ulah yang membuat orang sadar akan jengkel.

 

Baek Hyun jusru menghempaskan tubuhnya hingga membentur dada Lu Han, langsung mengalungkan tangannya di tengkuk Lu Han dan memandangi tunangannya itu cukup intens. “Menyanyi untukku Hyung…”

 

“Aku tidak pandai bernyanyi.”

 

“Kau bohong, suaramu bagus.”

 

Lu Han menghela nafas, masih berusaha mempertahankan posisi berdirinya karena jujur saja Baek Hyun terlalu menumpukan dirinya pada Lu Han. “Selamat ulang tahun… Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun Baek Hyun. Selamat ulang tahun.”

 

Baek Hyun menyunggingkan senyum puas. Matanya semakin sayu, tapi bisa Lu Han pastikan bahwa Baek Hyun masih setengah sadar. “Aku mencintaimu Hyung.”

 

Ini dia… situasi yang paling dihindari Lu Han. Bukan karena ia tidak suka mendengar kalimat itu. Ia hanya tidak punya kalimat yang tepat untuk membalasnya. “Terima kasih…”

 

Baek Hyun menggeleng. Cegukan kecil terdengar beberapa kali sebelum Baek Hyun melepas tangan kanannya dan meletakkan telunjuknya di bibir Lu Han. “Bukan begitu… Katakan bahwa kau juga mencintaiku. Itu baru benar.”

 

“Baek Hyun… sebaiknya kita masuk, udara semakin dingin.”

 

“Aku mencintaimu Lu Han Hyung.”

 

“Baek Hyun…”

 

“Heum… Apa kelanjutannya?”

 

Lu Han menelan ludahnya kasar. Kemudian membuang nafasnya cepat. “Aku juga. Jadi ayo masuk.”

 

“Juga apa?”

 

“Baek Hyun… kau mabuk. Jadi dengarkan aku, ayo kita masuk dan__”

 

“Sekali saja Hyung. Hanya satu kali… katakan bahwa kau mencintaiku.”

 

Deg~

 

Itu bukan permintaan yang berat. Cukup mengatakannya saja bukan? Tapi tidakkah itu kejam jika Lu Han mengatakannya hanya dengan mulutnya? Tidak dengan hatinya…

 

“Hyung… Tolong… katakan satu kali saja bahwa kau mencintaiku. Agar aku yakin bahwa sebenarnya… kau juga menginginkanku.”

 

“B…. Baek Hyun.” Dan itu adalah gugupnya yang pertama sejak mereka secara resmi menjalin hubungan.

 

“Atau… Katakan saja kau mencintaiku walaupun itu tidak benar. biar aku yang menilainya.”

 

Dan Lu Han menguuk dirinya karea ia hanya bungkam. Ada sesuatu yang menusuk dada kirinya, menyebarkan nyeri kemana saja dan berkumpul di pangkal tenggorokannya, mengunci pita suaranya hingga ia tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun.

 

“Atau… cium aku Hyung. Cium aku dan sampaikan perasaanmu…”

 

Tapi tetap seperti itu. Seperti patung yang memang diciptakan untuk tak bergerak.

 

Baek Hyun memberinya waktu sampai hampir 5 menit, namun tidak ada tanda-tanda bahwa Lu Han akan melakukan sesuatu. Karena itulah ia tertawa pelan, namun terbaca jelas bahwa ia sedang sakit. “Aku mencintaimu Hyung, aku tidak bohong.” Dan kesadarannya pun menghilang sementara. Lu Han langsung menangkap tubuh rapuh itu. Membiarkannya sejenak dalam pelukannya, menciptakan debaran asing yang belakang ini mengusiknya.

 

Apapun itu, Lu Han tidak suka kondisinya. Sakit sekali di dada kirinya. Namun tidak ia biarkan berlangsung lama karena ia langsung mengangkat tubuh Baek Hyun dan membawanya masuk ke kamar mereka, membaringkannya di ranjang mereka, menyelimutinya dengan selimut mereka dan ikut berbaling di sebelahnya. seperti malam-malam sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya pikirannya bergejolak hanya karena semua ucapan dan permintaan aneh Baek Hyun.

 

Dan paginya semua terjawab dengan samar-samar tapi sukses membuatnya hampir kehilangan nyawa.

 

Sepanjang 3 tahun kerbesamaan mereka, untuk pertama kalinya tidak Baek Hyun yang menyambutnya di ruang makan. Tidak ada kecupan lembut penuh sayang di pipinya, tidak ada yang menuntunnya duduk di kursi dan menyuguhkannya segelas air mineral.

 

Semuanya lengkap. Itu benar. hanya saja tidak ada sosok Baek Hyun di sana.

 

Sehelai kertas dengan sebuah logam mulia yang sangat familiar tergeletak di atas meja, persis di dekat gelas air mineralnya. Dan Lu Han tidak membuang-buang waktu untuk segera menyambarnya dan membaca seluruh isinya.

 

 

Dear Lu Han Hyung ku

 

Jika kau menemukan surat beserta cincin ini, itu berarti aku betul-betul sudah teguh dengan keputusanku. Tao benar, selama 3 tahun ini kita hanya membangun sebuah hubungan di mana hanya ada satu tiang yang menyangganya. Dan itu hanya aku. Tidak heran mengapa hubungan kita begitu rapuh.

 

Malam itu aku membuat pertaruhan Hyung. Jika saja kau mengatakan bahwa kau juga mencintaiku, maka aku bersumpah tidak akan terpengaruh pada kata-kata Tao lagi. Tapi ternyata Tao memang benar. aku membangun sebuah sangkar dan mengurungmu di dalam sana bersamaku. Menganggap bahwa kau aman bersamaku, namun aku justru mengekangmu.

 

Sampai titik terakhir harapanku Hyung, aku ingin sekali mendengar bahwa kau juga mencintaiku. Agar kuyakinkan diriku bahwa aku menang, bahwa memang kau bahagia bersamaku hingga kau memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupmu bersamaku. Tapi sekali lagi Tao benar. kau melakukan semua itu bukan untuk berbahagia bersamaku, tapi hanya untuk membuat orang yang kau anggap menolong nyawamu itu berbahagia. Lalu apa arti kebahagianku yang sepihak jika kebahagiaan itu justru menyiksamu?

 

Sudah kukatakan Hyung bahwa aku mencintaimu, dan itu tidak bohong. Tao bilang jika aku betul-betul mencintaimu, maka seharusnya kulakukan sesuatu agar kau bahagia. Dan sepertinya, kau tidak akan bisa menemukan kebahagiaanmu jika bersamaku.

 

Aku terobsesi menganggap semua ini cinta. Tapi Tao bilang bukan… kau bertahan bukan karena cinta, namun karena hutang budi. Dan sekali lagi Hyung, itu benar. aku buta akan semua itu karena harapanku yang terlalu melambung.

 

Tapi berbesar hatilah Hyung. Karena Tuhan telah menyadarkanku akan segala obsesi ini. Jika disuruh memilih melihatmu berbahagia tanpaku atau menderita bersamaku, jelas akan kupilih melihatmu berbahagia tanpaku. Itu baru cinta Hyung. Benar bukan?

 

Untuk itu, kutinggalkan cincin yang berukirkan namamu di sana, karena nyatanya cincin itu bukan untuk mengikat namaku. Walau sakit mengatakannya, tapi benar bahwa akan ada orang yang lebih tepat untuk kau  ikat dengan cincin itu. Untuk itu… kuambil cincin yang berukirkan namaku karena aku tidak punya hak untuk mengikatmu.

 

Lu Han Hyung-ku. Ah bukan… maksudku… Lu Han-shii. Berhentilah menganggap bahwa kau berhutang nyawa padaku. Sudah kukatakan Tuhan yang memberimu hidup, aku hanya sebagai perantara. Dan 3 tahun menuruti segala keinginan dan keegoisanku kurasa sudah lebih dari cukup jika kau ingin membalas budi. Lu Han-shii… kau memberikan 3 tahun terbaik sepanjang 21 tahun hidupku. Aku bersumpah tidak akan pernah melupakannya bahkan jika aku mati.

 

Aku mencintaimu… sangat mencintaimu. Dan kuharap setelah ini, kau bisa kembali tersenyum selepas mungkin setelah 3 tahun terkurung dalam kekanganku.

 

I love you Lu Han-shii. Farewell…

 

 

Byun Baek Hyun yang akan selalu mencintaimu.

 

 

 

Prang!!!!

 

Gelas air mineral itu terjatuh dan pecah berhamburan di lantai saat Lu Han ingin meraihnya dan meneguknya cepat-cepat. Ada gumpalan yang mendesak jantungnya, dan itu sesak… ia butuh sesuatu untuk menyingkirkannya.

 

Dalam hidupnya, tidak pernah ia merasa sepanik itu. Ia baru berhasil mengambil gelas utuh setelah memecahkan paling tidak 4 diantaranya. Tangannya gemetar, belum pernah ia merasakan sesulit itu menuangkan air. Dan meminumnya pun sulit. Terakhir ia terjatuh ke lantai dan merengkuh dadanya. Ia bahkan baru menyadari bahwa jari manisnya memang sudah tidak terikat cincin lagi. Baek Hyun betul-betul telah mengambilnya dan… memutus ikatan mereka.

 

“Aku… Aku…” Lu Han semakin panik, dan bayangan dimana tidak ada lagi Baek Hyun dalam kehidupannya ternyata lebih menakutkan dari apapun. “AKU MENCINTAIMU BYUN BAEK HYUN!!!!”

 

Dan siapapun tahu, itu sudah sangat terlambat.

 

 

◁◈◁

 

 

~Earlier

 

 

Tao baru melepaskan bibirnya dari bibir Baek Hyun saat ia rasa namja itu kesulitan menarik nafas. Ditatapnya Baek Hyun lamat-lamat dengan perasaan cinta yang masih meluap-luap dalam dadanya.

 

“Kembalilah bersamaku. Byun Baek Hyun, tempatmu adalah di sisiku.”

 

Baek Hyun masih berusaha mengatur nafas, kemudian mengangkat wajahnya setelah ia rasa cukup mengumpulkan keberaniannya. “Tempatku adalah bersama Lu Han Hyung.”

 

“Berhentilah menyiksa dirimu. Ini terakhir kalinya kusadarkan kau bahwa pria itu tidak mencintaimu.”

 

“Dia mencintaiku…”

 

“Apa yang membuatmu yakin?”

 

“Karena dia ingin menikah denganku.”

 

Tao mendesis marah, ia tatap Baek Hyun cukup tajam masih mengurungnya dengan rentangan tangan. “HARUS BERAPA KALI KUBILANG, IA HANYA MEMBALAS BUDI…”

 

“Cukup. Aku mau pulang. Lu Han Hyung sudah menunggu terlalu lama. dan kau sudah mendapatkan waktuku 20 menit lebih, kurasa itu sudah lebih dari cukup.”

 

“Tidak… Tidak akan kubiarkan kau pergi.”

 

“Tao…”

 

“AKU MENCINTAIMU…”

 

Baek Hyun terdiam. Walau ia sudah tahu, tetap saja itu masih membuatnya tercengang. “Aku mencintai Lu Han Hyung.”

 

“Oh Tuhan… Byun Baek Hyun sadarlah. Dia tidak mencintaimu.”

 

“Tao… Lepaskan aku…”

 

“Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu dan membiarkanmu pergi untuk seseorang yang hanya bisa menyakitimu. Dengarkan aku Byun Baek Hyun. Dia tidak mencintaimu. Dia hanya ingin membahagiakanmu karena kini ia masih bisa hidup karena kau memberikan satu ginjalmu. Tidak akan kukatakan bahwa sebenarnya hanya kau yang menganggap itu cinta. Hubungan kalian tidak akan kokoh jika hanya kau yang menyangganya. Pria brengsek itu sekali lagi hanya melakukan apa yang kau mau agar kau bahagia, agar ia merasa telah melakukan hal yang benar untuk membalas budi. Pada kenyataanya ia membuat dirinya terkurung bersamamu yang menganggap itu adalah kebahagian. Nyatanya tidak. Aku hanya tidak ingin terlalu jelas mengatakan bahwa cintamu justru mengekangnya.”

 

Deg~

 

“O… Omong kosong. Lepaskan aku Huang Zi Tao, dan jangan pernah menemuiku lagi jika kau masih mengajakku membahas hal konyol ini. Lu Han Hyung mencintaiku. Sama seperti aku mencintainya.”

 

“LALU PERNAHKAH KAU MENDENGARNYA MENGATAKAN LANGSUNG BAHWA DIA MENCINTAIMU? HA?”

 

Baek Hyun membelalak, bukan karena Tao murka. Tapi… Lu Han memang tidak pernah mengatakannya.

 

“Sadarlah Byun Baek Hyun. Untuk apa kau bertahan dengan orang yang hanya bisa menyia-nyiakanmu sementara ada aku yang rela melakukan apa saja demi kebahagiaanmu,”tutur Tao sudah hampir putus asa.

 

“Dia… Dia mencintaiku. Aku yakin…”

 

“Bagaimana jika tidak?”

 

Deg~

 

Baek Hyun menelan ludahnya kasar. “Dia mencintaiku…”

 

Tao mengeluh. Seperti memaksa batu untuk berbicara, membujuk Baek Hyun untuk kembali bersamanya adalah hal yang sangat mustahil. “Baiklah… Maka beri aku penegasan bahwa pria itu mencintaimu, maka aku akan melepasmu.”

 

Baek Hyun tercengang, tidak langsung merespon kata-kata Tao.

 

“Tapi jika dia memang tidak mencintaimu. Tolong Byun Baek Hyun, berhentilah. Kau tidak hanya membuat pria itu menderita, tapi kaupun menyiksa diri karena menanamkan paham yang salah.”

 

Baek Hyun masih belum merespon, pikirannya berkecamuk. Tatapannya bahkan kosong ke depan.

 

“Demi kebahagiaanmu Baek Hyun-ah, jika benar kalian saling mencintai. Maka aku mundur. Tapi sekali lagi, jika kau sudah mendapatkan kepastian bahwa itu hanya hutang budi. Maka tolong… hentikan obsesi ini.”

 

 

◁◈◁

 

 

~Present…

 

 

 Lu Han berusaha mati-matian agar tangannya yang gemetar itu tidak membuatnya celaka. Ia menggenggam kuat setir mobil dan tetap fokus mengemudikannya. Pikirannya kosong, ia baru sadar bahwa ia melewati 3 tahun itu dengan mata tertutup. Hatinya sudah berteriak bahwa ia butuh Byun Baek Hyun, ia mencintai namja itu. Tapi keangkuhan itu menghalangi segalanya.

 

Kini apa? ia bahkan tidak begitu mengenal siapa yang telah bersamanya selama 3 tahun itu. Ia tidak menemukannya di manapun. Kampus, rumah Kyung Soo, rumah Su Ho, dan… tidak ada lagi. Ia hanya mengenal Baek Hyun dari luar, tapi tidak betul-betul mengenalnya hingga ia tidak ada ide kemana namja itu pergi.

 

Parahnya… jika ia tidak bertanya pada Kyung Soo, maka ia tidak akan pernah tahu di mana Baek Hyun tinggal sebelum pindah ke rumahnya. Sebuah apartemen kelas menengah yang letaknya di lantai paling atas.

 

Keberadaan Tao di sana tidak membuatnya kaget. Tao tidak punya keluarga di Korea, dan ia rasa bukan tanpa alasan yang jelas kenapa Tao bisa berada di apartemen Baek Hyun.

 

Butuh perjuangan ekstra bagi Tao untuk tidak langsung menyerang dan membunuh pria brengsek di depan matanya itu, tapi melihat betapa pucatnya Lu Han sekarang, betapa mencekam dan paniknya wajah iu, maka Tao tidak melakukan apa-apa selain bergerak mundur dan mempersilakan pria itu masuk.

 

“Ada apa? kau tidak ke sini untuk mencariku kan?” tanya Tao sinis.

 

Lu Han mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, namun tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Baek Hyun. Jadi ia tidak punya pilihan selain berkomunikasi dengan Tao. “Apa dia ada di sini?”

 

Tao mengangkat alis. Sedikit heran dengan sikap Lu Han. “Dia?”

 

“Baek Hyun… Byun Baek Hyun, tunanganku.”

 

Brengsek…

 

“Oh jadi kau berpikir karena Baek Hyun tidak ada di rumahmu, maka ia ada di sini bersamaku? Manis sekali.”

 

“Huang Zi Tao… aku tidak sedang bercanda.” Lu Han merogoh saku celananya dan mengeluarkan cincin yang selalu dikenakan Baek Hyun. “Ini masalah serius. Baek Hyun pergi.”

 

Tao membelalak takjub. Ia menyunggingkan senyum saking tidak percayanya. “Oh, jadi  dia sudah sadar rupanya?”

 

“Apa maksudmu?”

 

“Apa saat ia memintamu mengatakan cinta padanya, kau hanya diam?”

 

Lu Han tidak menjawab, mengingat bahwa Baek Hyun cukup banyak membahas Tao dalam suratnya. Dengan kata lain, memang benar bahwa Tao adalah penyebab di balik semua ini.

 

“Jadi kau sudah tidak perlu heran. Dia pergi artinya kau sudah bebas. Tidak perlu memasang wajah seolah kau tidak menginginkan ini terjadi. Siapapun tahu, kau pasti orang yang paling pertama bersyukur jika Baek Hyun per__”

 

Bugh~

 

Tao menggeram saat tanpa aba-aba, Lu Han sudah menghantam pelipsnya. “APA YANG KAU__”

 

“Kau tidak tau apa-apa, jadi jangan membuatnya semakin bertambah parah. Aku brengsek seperti yang sering kau katakan. Tapi… Salahkah pria brengsek ini jika ia terlalu takut mengakui bahwa ia telah jatuh cinta pada Baek Hyun sejak lama, tanpa ia sadari?”

 

Tao tercekat. Wajah pucat di depannya itu tidak menunjukkan tanda apa-apa jika ia berbohong.

 

“Kau membuat segalanya menjadi kacau Huang Zi Tao. Saat kupikir aku akan menemukan waktu yang tepat untuk menghilangkan sifat pengecutku dan mengakui segalanya, kau justru datang dengan sikap sok tahumu seolah kau yang mengatur hidup kami.” Lu Han mengontrol nafasnya sejenak, berusaha agar emosinya tidak semakin meningkat. “Aku mencintainya, brengsek. Kau dengar? Aku mencintainya, karena itu aku ingin tinggal bersamanya hingga ajal menjemputku, bukan karena aku membalas budi. Aku mencintainya, karena itu aku berhati-hati menjaga hubungan ini, bukan justru merasa terkurung bersamanya. Aku mencintainya, tapi terlalu takut mengakuinya… kau tidak akan mengerti bagaimana sulitnya kuhilangkan perasaan bersalah sialan ini. Itu yang membuatku menutup sebelah mata dan tidak bisa mengambil sikap yang benar di depan orang yang sebenarnya sangat kucintai. Kau dengar… aku mencintainya, brengsek.”

 

Jika berada di kondisi normal, maka sudah sejak tadi Lu Han habis di tangan Tao. Tapi lihat bagaimana wajah pucat itu gemetar menahan panik. Begitu tidak terkontrol dan tidak bisa fokus. Selama hidupnya, Tao akan menganggap semua sikapnya benar jika itu sudah menyangkut masalah Baek Hyun. Namun untuk pertama kalinya ia sadar…

 

Ia salah besar. Ia justru menghancurkan kebahagiaan orang yang sangat ia cintai.

 

Seperti tertegur telak, Tao mengatakan bahwa cinta Baek Hyun terhadap Lu Han adalah sebuah obsesi. Lalu bagaimana dengan dirinya sendiri? Justru lebih parah karena ia terlambat menyadari bahwa ia telah memisahkan dua orang yang SALING mencintai.

 

Dalam sekejap ia merasa apa yang pernah dikaakannya pada Baek Hyun justru berbalik padanya. Jika ia akhirnya bisa bersama Baek Hyun, tidakkah kasusnya sama bahwa hanya ia yang akan menyangga hubungan rapuh itu? Tidakkah ia akan mengurung Baek Hyun dalam tempat yang ia kira melindungi, tapi justru mengekang? Semuanya… semua yang dikatakannya pada Baek Hyun justru berbalik padanya.

 

“Dimana Baek Hyun?” tanya Lu Han pada akhirnya. Memecah hening yang cukup lama.

 

Dan seperti katanya sendiri pada Baek Hyun. Jika benar ia mencintai namja mungil itu, kenapa tidak ia biarkan ia bahagia?

 

“Aku tidak tahu,” jawab Tao lemah.

 

“Tolong… haruskah aku mengemis padamu? Atau… kau boleh menghajarku sepuasmu, tapi tolong, berikan aku kesempatan bertemu Baek Hyun dan memberitahunya bahwa aku sangat mencintainya. Tolong…”

 

Dan entah kenapa sikap Lu Han lama-kelamaan semakin mirip dengan Baek Hyun. “Aku tidak tahu. Kurasa, akupun gagal. “

 

“Huang Zi Tao…”

 

“Kurasa ini hukuman. Bagiku yang memaksakan cinta, dan kau yang tidak menghargai cinta.”

 

“MAU KEMANA KAU?” bentak Lu Han saat ia melihat Tao menyambar jaketnya dan bersiap pergi.

 

“Akan kuhubungi jika aku menemukannya. Pulanglah, kau tidak mau kan, saat kutemukan Baek Hyun, ia justru harus berkunjung ke pemakamanmu kan? Kau sudah seperti mayat hidup. Jadi pulanglah.”

 

“Huang Zi Tao…”

 

“Kali ini aku serius… Lu Han.”

 

“Aku percaya… maksudku… jika kau menemukannya… tolong, jangan menciumnya.”

 

Tao mengangkat alisnya tinggi-tinggi. “Apa masalahmu?”

 

“Dia… dia tunanganku. Aku… cemburu.”

 

Dan Tao pun meneruskan langkahnya sambil menyembunyikan senyum.

 

Kau terlambat menyadarinya bodoh…

 

 

◁◈◁

 

 

~Present…

 

 

 

Satu bulan tanpa kabar apa-apa dari Baek Hyun sudah cukup membuat Lu Han kacau. Ia hanya merasa beruntung karena ia punya Su Ho dan Kyung Soo yang selalu menenangkannya. Terakhir, ia punya Huang Zi Tao yang kini justru berada di pihaknya dan memberinya semangat agar ia tidak putus asa.

 

“Kalau kau menyerah seperti itu, maka aku akan membawa Baek Hyun pergi jika kutemukan dia lebih dulu.”

 

Memang dengan sedikit intimidasi, tapi itu ampuh. Membuat Lu Han bisa melewati bulan berikutnya tanpa kabar dari Baek Hyun. Dengan sangat hati-sati ia menghubungi orang tua Baek Hyun di China, pura-pura menanyakan kabar, dan saat calon mertuanya itu menanyakan kabar Baek Hyun, ia pun menemukan jawaban bahwa Baek Hyun tidak pulang ke rumah orang tuanya. Menelpon ayahnya pun percuma. Ia memang menyukai Baek Hyun tapi tidak begitu dekat dengannya, jadi mana mungkin Baek Hyun ada di sana.

 

Dan lama kelamaan, menjalani aktivitas sambil mencari tahu keberadaan Baek Hyun sudah menjadi kebiasaan dan rutinitasnya. Pernah satu kali Lu Han hampir menyerah, dan berpengaruh pada kondisi tubuhnya. Beruntung ia masih diberi kesempatan untuk hidup lebih lama karena dokter lebih cepat memberinya pertolongan saat ia dilarikan ke rumah sakit.

 

Saat pergantian tahun, Lu Han menemukan titik terang saat sebuah surat rahasia tiba di rumahnya.

 

Matanya membelalak saat membaca nama pengirimnya.

 

Byun Baek Hyun.

 

 

Dear Lu Han-shii.

 

Selamat ulang tahun. Jaga kesehatanmu.

 

 

 

Hanya itu. Dan ia langsung menghubungi Tao untuk menyelidiki alamat pengirim. Tapi… seperti dugaannya itu hanya kedok. Alamat itu tidak ada. Tapi setidaknya surat itu memberinya kepastian bahwa Baek Hyun baik-baik saja.

 

 

 

◁◈◁

 

 

 

 

4 years later… till the end

 

 

Lu Han buru-buru menyetir mobilnya menuju rumah. Ia hapal hari apa itu. Tepatnya besok. Hari yang selalu ia nantikan tiap tahunnya, karena di hari itulah ia akan kembali mendapat petunjuk satu-satunya tentang keberadaan Baek Hyun.

 

Tao sudah menyelidikinya. 4 surat yang datang tiap tahunnya itu bukan dikirim oleh pihak pos. Karena tidak terdaftar di sana. Untuk itu dia maykinkan Lu Han bahwa bisa jadi surat itu justru dibawa langsung oleh… Byun Baek Hyun.

 

Sayang sekali Tao sudah kembali ke China hingga ia tidak bisa lagi meminta bantuannya. Tapi Lu Han jelas semakin percaya diri, terlebih kemungkinan bahwa ia akan menangkap basah Baek Hyun itu cukup besar. Hanya saja, rapat sialan yang baru berakhir pukul 11 malam itu memperlambat semuanya.

 

Lu Han menghentikan mobilnya sebelum pembelokan menuju gang rumahnya. Dari situ ia bisa mengamati kotak surat yang ada di tembok pagar rumahnya. Terlihat lengang di sana, hanya ada 2 kemungkinan. Baek Hyun mungkin sudah meletakkan suratnya di sana, atau belum. Dia memilih berharap pada opsi kedua.

 

10 menit…

 

20 menit…

 

30 menit…

 

Satu jam…

 

Dua jam…

 

Dan sekarang sudah pukul 2 pagi tapi tidak ada tanda apa-apa. Lu Han sudah hampir menyerah namun sesosok manusia bertubuh mungil muncul dari arah berlawanan. Lu Han sudah bersiap turun dari mobilnya, masih waspada jika saja sosok itu langsung lari (atau mungkin terbang, karena ini yang dikhawatirkan).

 

Ia memaksa matanya untuk melihat sefokus mungkin, memproyeksi bentuk wajah yang jaraknya belasan meter dari tempatnya memarkir mobil.

 

Sosok itu mengenakan jaket putih dan topi, jadi cukup sulit melihat wajahnya. Dan saat gerak-geriknya mulai terbaca, berhenti persis di depan rumah Lu Han dan menatap cukup lama kotak suratnya, Lu Han sudah tidak bisa menunggu lagi. Ia langsung memutar kunci dan memasukkan perseneling dan menginjak gas dalam-dalam.

 

Sosok itu terkejut saat sebuah mobil melesat tajam hampir menabraknya. Sebenarnya hanya bertujuan mengepungnya. Dan itu berhasil.

 

Lu Han turun dengan tidak sabarannya, bahkan melompati kap depan agar langsung berhadapan dengan sosok yang diyakiani sebagai…

 

“Byun Baek Hyun!!! Jika kau lari lagi, kupatahkan kakimu.” Bentaknya saat ia melihat sosok  itu menyembunyikan wajahnya dan hendak kabur.

 

Greb~

 

Lu Han langsung menangkap lengan sosok itu sebelum sempat meninggalkan tempatnya. “Byun Baek Hyun…” bentaknya lagi saat sosok itu berusaha mati-matian menyembunyikan wajahnya.

 

Brugh~

 

Dan itu sudah pilihan terakhir. Lu Han mencengkram kedua lengan sosok itu dan menghempas punggungnya ke tembok pagar. Membuatnya mengerang, bersamaan saat topinya terlepas.

 

Dan…

 

Tuhan… betapa rindunya Lu Han dengan wajah itu.

 

“H… Hai Lu Han Hyung, ah maksudku… Lu Han-shii… Se… Selamat ulang tahun. Kau tampak sehat.”

 

Lu Han menggeleng tidak percaya. Betapa kakunya ucapan itu. Kemana senyum malaikatnya, kemana tatapan mata penuh binar dan pendar menyilaukan, kemana kecupan lembut penuh sayang yang selalu didaratkan di pipi Lu Han, kemana pelukan manja itu? KEMANA BAEK HYUN NYA? “Aku merindukanmu bodoh,” ucap Lu Han tertahan. “Masih belum puas menyiksaku?”

 

“L… Lu Han-shii…”

 

“Kenapa? Kenapa sekaku itu padaku?”

 

“Kita sudah… Tidak ada hubungan apa-ap__”

 

Baek Hyun membelalak saat tanpa aba-aba berarti, Lu Han langsung meraih tubuhnya ke dalam pelukan hangatnya. “Aku merindukanmu Byun Baek Hyun, jadi cukup. Berhentilah menyiksaku karena aku sudah hampir mati karenamu.”

 

“Lu Han-shii..”

 

“BERHENTI MEMANGGILKU SEKAKU ITU.”

 

Baek Hyun terdiam. Membiarkan Lu Han menenggelamkannya dalam pelukan.

 

Lu Han pun tidak banyak bicara. Ia memeluk Baek Hyun seerat mungkin, seolah takut jika ia melepasnya, maka namja itu akan raib dari sisinya.

 

“Hyung…”

 

Seolah meleleh dengan panggilan yang begitu ia rindukan itu, Lu Han melepaskan pelukannya dan langsung menangkup pipi Baek Hyun. Menatapnya lamat-lamat, seolah menyimpan setiap garis yang membentuk wajah sempurna itu di dalam memorinya. Setelahnya, ia tidak mengatakan apa-apa dan langsung menunduk untuk menggapai bibir Baek Hyun yang dingin dengan bibirnya. Bisa ia rasakan tubuh mungil itu tersentak kaget luar biasa. Terlebih Lu Han tidak hanya mengecup bibirnya, namun… menciumnya. french kiss pasionatly, deep, and warm.

 

Baek Hyun mengerjap berkali-kali untuk mengembalikan kesadarannya. Selama ia bersama Lu Han… belum pernah bibirnya disentuh oleh namja itu. Bahkan sejak terakhir Lu Han menyetubuhinya.

 

Ini pertama kalinya Lu Han  menciumnya di bibir. Dan Baek Hyun bersumpah sebanyak apapun Tao menciumnya, ia akan enganggap ciuman Lu Han kali ini adalah ciuman pertamanya.

 

Penuh dengan berbagai macam perasaan. Ada rindu yang terbaca jelas, ada sayang, ada kesal dan marah, ada sakit, dan juga haru. Dan itu berlangsung tidak hanya sebentar. Karena Lu Han baru menarik bibirnya saat Baek Hyun kesulitan menarik nafas.

 

“Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu Byun Baek Hyun.”

 

Baek Hyun shock. Tentu saja. belum sempat ia mengatur dengan baik nafas dan detak jantungnya, Lu Han sudah membuatnya semakin sekarat.

 

“Aku mencintaimu sejak lama. aku hanya terlalu pengecut untuk mengakuinya. Seperti katamu, aku tidak bisa mengatakannya. Aku mencintaimu Byun Baek Hyun, bukan karena kau adalah orang yang memberi satu ginjal ini untukku. Aku mencintaimu segenap hatiku, bukan karena balas budi. Aku betul-betul mencintaimu. Sebagai Lu Han yang mencintai Byun Baek Hyun,” serbu Lu Han seakan tidak ingin waktu mengalahkannya.

 

“H… Hyung…”

 

“Kembalilah bersamaku. Aku membutuhkanmu di sisiku. Aku… aku… ARRRGGHHH BYUN BAEK HYUN… TAHUKAH KAU KALAU TELAH MEMBUATKU GILA????” Lu Han mengeram frustasi, karena Baek Hyun hanya menatapnya shock.

 

“Ta.. Tapi bukankah… Saat itu kutanyakan…”

 

“ITU KARENA AKU BODOH, AKU IDIOT, AKU PENGECUT,” potong Lu Han tegas. “Aku mencintaimu. Dan itulah jawaban yang sebenarnya.”

 

Baek Hyun tertawa pendek, kemudian menggeleng. Sedikit-sedikit memukul kepalanya, tapi saat ia mengaduh, ia percaya bahwa sebenarnya itu nyata. Bukan mimpi. Lu Han menciumnya di bibir, Lu Han mengatakan cinta padanya,  Lu Han memintanya kembali dan…

 

“Byun Baek Hyun, bicaralah…”

 

“Untuk apa Hyung, kau lebih tahu bagaimana perasaanku terhadapmu.”

 

“Lalu apa? kenapa kau meninggalkanku dan tidak memberiku kabar ha?”

 

“Aku… Aku benar-benar terluka. Dan kurasa berada di Seoul akan membuatku selalu teringat denganmu. Aku memuuskan untuk tinggal di luar kota yang cukup terpencil, dan jika aku sudah begitu rindu, seperi saat ini, aku akan datang dan mengirimkan surat ucapan selama ulang tahun… dan…”

 

“Cukup… Aku sudah tidak mau mendengarnya.”

 

“Tapi…. Kau, tidak marah kan?”

 

“AKU MARAH… AKU SANGAT MARAH. KENAPA KAU SEBODOH ITU UNTUK TIDAK MENCARI KABAR BAGAIMANA GILANYA AKU TANPAMU. 4 TAHUN, BYUN BAEK HYUN, APA KAU MANUSIA???”

 

Baek Hyun tertawa, dan dengan sedikit manja iya mengalungkan lengannya di leher Lu Han dan mengecup pipinya. “Masih marah?”

 

Blush~

 

Baek Hyun memang selalu punya cara untuk meluluhkannya. “Heum, dan kau harus mendapatkan hukumanmu.”

 

Lu Han langsung meraih tubuh Baek Hyun dan menggendongnya masuk ke dalam rumah mereka. Ke kamar mereka, membaringkan Baek Hyun di tempat tidur mereka.

 

“Hyung!!!” pekik Baek Hyun dengan mata membelalak saat Lu Han mendidihnya.

 

Lu Han melihatnya. itu adalah ekspresi mencekam yang sama seperti yang diperlihatkan Baek Hyun saat Lu Han menyakitinya di masa lalu. Lu Han buru-buru menyentuh pipi Baek Hyun, memintanya tenang. “Ini tidak akan sama. percayalah… aku mencintaimu.”

 

Leher Baek Hyun terkunci, pandangannya masih mencekam, namun Lu Han memperlakukannya sangat lembut. Mengecup keningnya, pipinya, puncak hidungnya dan terakhir bibirnya.

 

Dan Baek Hyun perlahan bisa menerima kelembutan itu. Menghapus trauma yang di tinggalkan Lu Han untuknya. Dan ia rasa… Lu Han punya cara untuk menyembuhkannya. Atau… ini kah cara menebus kesalahannya?

 

Biar Lu Han yang menjawabnya malam itu. Yang jelas… ia tidak akan lagi menyia-nyiakan hal berharga yang kini ada di hadapannya.

 

Orang yang paling ia cintai di dunia ini.

 

 

 

HIDUP LUBAEEEEKKKK

#Dimutilasi

Proyek Alpha NHHG398 DONE

 

 

 

118 thoughts on “Love Me -NOT- ||LuBaek – TaoBaek

  1. Ini ff lubaek yg Aku baca pertama Kali >.<
    Luhan dingin bgt disini, tapi baek ttp suka ma Dia
    Miris bgt hidupnya baekhyun ㅋㅋㅋㅋ
    Suka bgt wkt Luhan bilang " … jika kau menemukannya… tolong, jangan menciumnya.
    “Dia… dia tunanganku. Aku… cemburu.”
    Wkwkwkwkwk
    Sama siapapun baek dipasangin ttp cocok..

  2. ternyata, istilah “don’t judge a book by it’s cover” itu bener pake banget lagi. pas liat pairnya, huh? lubaek(oke lah gk mslh, aku suka), tp pas baca option ke-2 taobaek? aku lngsung males buat baca. tp inget lg klo author punya ‘sesuatu’ yg jrng bgt author lain punya/miliki, kyk misal sesuatu yg aku biasa liat/baca dri yg lain, tp bs jadi sangaat luar biasa ditanganmu author. makanya aku baca. dan? pada akhirnya, ini sukses bgt bikin aku mewex T T. sumpah. ff ke2 stelah ff 10080 yg sukses bikin perasaanku cmpur aduk. angstnya dpet bgt. gregetnya jg. baik cara pnyampaiannya/pnceritaan/pnulisannya cool!! aku harap kdepannya author bkln bikin project fic semi(?) angst kyk gini lg. ini keren bgt!

  3. Awalny q agk susah buat bygin baek semalaikat it,’
    Yg biasany semauny,agresif n kasar,’
    Smua jd sbliknya ,hehehe
    Walaupun alurny maju mundur tpi gmpang bgt buat d pahami,
    OCC bgt,tpi Super duper Keren dah,’
    Q msh g bsa k byang ajh klo q ad d posisi mreka,mpe nangs bombay q,hiks hiks hiksg.’
    Jempol deh,’
    Smga cpet dpet pw ny no regret life #5 n one million/night #2 ,

  4. 1. BhAKKKKKKKKK gue baru bisa nongol dan bacaaaaa sekarang ini ff T,T padahal ini ff ke post sebelum kak alf hiatus bhay. 2. kak alf balik dari hiatus disaat ga tepat bhakkk (menurut gue) karena hp gue lagi rusak-………….- 3. abis hiatus kak alf langsung ngepost ff bejibun dan gue bingung mau baca dari mana dan berhubung medianya juga jarang ada huhu😭 4. gue suka sama ff iniiiiiiii!!!!!!!!!!!! dan gue emng lagi kesemsem ngeliat luhan jadi seme wkwkwkw yaallah ini effek main repe wkwk /abaikan. dan disini gue ngebayangin yang jadi uke itu bukan baekhyun bhakkkkk!!!! kak alf ampunnnn gue menistakan baekhyun 😂😦 tapi gue ngebayangin chara cewe yang lagi gue mainin di repe😁 yaampun sekali lagi maafin gue ya kak gue ga bermaksud wkwk. tapi gue tetep sempet mikirin baekhyun juga yg jd ukenya wk. disini gue suka banget karakter semenya luhan yaampun pas banget ma anu gue/curcol/gg, ngepast gitu ya berasa luhan punya kepribadian ganda wkwk hanjwrr😁 tapi gue belom sempet kepikiran tao jadi seme, bikos kalo pas tao jadi uke kepribadian tao itu manja dll pokonya kek cewe bangetz gitu jadi gue belom bisa nerima tao jadi seme wkwkwk terus ya gue agak mikir kalo baekhyun disni tuh kek pengen banget, kebelet banget, napsu ngets ma luhan gitu aiguk ga kaya biasanya gitu wk tapi gapapa yang penting happy ending wkwkwk. oke sekian bacutan saya, salam pramukaaaaaaaa!!!!

  5. 1. BhAKKKKKKKKK gue baru bisa nongol dan bacaaaaa sekarang ini ff T,T padahal ini ff ke post sebelum kak alf hiatus bhay. 2. kak alf balik dari hiatus disaat ga tepat bhakkk (menurut gue) karena hp gue lagi rusak-………….- 3. abis hiatus kak alf langsung ngepost ff bejibun dan gue bingung mau baca dari mana dan berhubung medianya juga jarang ada huhu😭 4. gue suka sama ff iniiiiiiii!!!!!!!!!!!! dan gue emng lagi kesemsem ngeliat luhan jadi seme wkwkwkw yaallah ini effek main repe wkwk /abaikan. dan disini gue ngebayangin yang jadi uke itu bukan baekhyun bhakkkkk!!!! kak alf ampunnnn gue menistakan baekhyun 😂😦 tapi gue ngebayangin chara cewe yang lagi gue mainin di repe😁 yaampun sekali lagi maafin gue ya kak gue ga bermaksud wkwk. tapi gue tetep sempet mikirin baekhyun juga yg jd ukenya wk. disini gue suka banget karakter semenya luhan yaampun pas banget ma anu gue/curcol/gg, ngepast gitu ya berasa luhan punya kepribadian ganda wkwk hanjwrr😁 tapi gue belom sempet kepikiran tao jadi seme, bikos kalo pas tao jadi uke kepribadian tao itu manja dll pokonya kek cewe bangetz gitu jadi gue belom bisa nerima tao jadi seme wkwkwk terus ya gue agak mikir kalo baekhyun disni tuh kek pengen banget, kebelet banget, napsu ngets ma luhan gitu aiguk ga kaya biasanya gitu wk tapi gapapa yang penting happy ending wkwkwk. oke sekian bacutan saya, salam pramukaaaaaaaa!!!!😆

  6. gilaaaaaaaaaa sumpah sedih bgt bacanya pas hari ultahnya baek. terharu bgt…. sedih jga yg wktu baek prgi, smpet nangis jga bcanya, gk kuaaaaat.. tpi akhirnya happy ending sesuai harapan saya

  7. gilaaaaaaaaaa sumpah sedih bgt bacanya pas hari ultahnya baek. terharu bgt…. sedih jga yg wktu baek prgi, smpet nangis jga bcanya, gk kuaaaaat.. tpi akhirnya happy ending sesuai harapan saya.. seneng bgt

  8. Gila badai sumpah, jujur ya. Hiks* aku sempat menitihkan setetes air mata begitu Baekhyun pergi tanpa kabar, waktu Luhan setelah mbaca surat Baekhyun dan baru ngaku kalo dia mencintai Baekhyun. Ditambah lagi, pas “4YEARS LATERTILL THE END” Adehduy…

    Uaah ALF thanks, roman mu tak kan bisa dikalahkan oleh siapapun, bahkan jika itu aku sekalipun. Huaaah…rasanya. Aku jadi kepingin deh jadi Luhan. Hahaha…#peace.
    Uah (lagi)…mau donk ALF kapan2 temanya sama kayak gini tapi pake tokoh lain, hehe. Yang pasti Baekhyun mutlak harus ada. Uhh~ aku ikut terbawa deh. Bagus-bagus, sesekali akhirnya ada juga FF yg mampu bkin aku menitihkan setetes air mata. Hehe…

    Ngomong-ngomong, habis baca LOVE ME, aku jdi keinget lho sama MV EXO 902014 nya Tao. Nyaris sih, tpi menurutku gitu sih. #peace.

  9. kukira bakal sad ending. salah satu mati atau berpisah. tp oh akhirnya happy ending luhan bersatu dengan baekhyun.
    gila… perjuangan cinta baekhyun itu sungguh mengharukan n bikin nyesek. mencintai dg tulus, rela berkorban hingga memberikan satu ginjalnya buat luhan, menemaninya sepanjang waktu, meski luhan kasar sam baekhyun, tp baekhyun ga menyerah dan ia berhasil membuka hati luhan yah walaupun jalanya cukup berliku, sampe hrs berpisah dulu sampai 4 thn.
    tp baekhyun mendapatkan apa yg jd impianya, Luhan.
    Tao sikapnya buruk tp pada akhirnya sadar dan melepas barkhyun buat luhan. poor Tao…

  10. dari awal aku baca, aduh kenapa luhan ini?
    segitu engga bersyukurnya kah disukain sama namja super cute kaya baek? kenapa luhan selalu ngeri ngeliat baek? sebel kan..

    sedih banget waktu Baek dibentak kaya gitu, padahal semua yang baek lakukan adalah untuk luhan juga…

    gak tau lah bias aku emang bukan baek, tapi banyak dari ff alf yang bikin aku sukaaaa banget sama baek (meskipun ada juga di beberapa cerita yang aku gasuka karakter baeknya) kaya di ff ini aku suka, baek yang lugu, baek yang mencintai luhan tulus, baek yang gigih, baek yg tidak pernah menyerah, baek yang tidak pernah mengeluh, bahkan baek yang rela mendonorkan ginjalnya sendiri… sumpah orang kaya apa luhan kalo dia masih mengabaikan baek kaya gitu…

    demi apaaa ini meweeeekkk baca suratnya baek… huwaaaa… luhan jahat, padahal dia juga udah suka sama baek kan, kenapa ga bilang aja? kenapa ga ungkapin semuanya? kenapa malah meninggikan gengsi?

    huhuuuu…. sebenernya aku kesel banget sama luhan disini, tapi gatau kenapa suka juga sih sama sikap dinginnya.. aku justru lebih seneng sama karakter luhan daripada tao disini (entah emang akunya gasuka karakter yang tipe2 pengganggu hubungan orang hahaha) aku ga seneng baca ff perselingkuhan soalnya wkakakak…
    untunglah di akhir cerita akhirnya tao sadar, bahwa sebenarnya cinta yang obsesif itu cintanya dia ke baek..

    singkat kata ff ini DAEBAK banget.. alur maju mundurnya, sukaaaa.. kereeennnn…

  11. Cinta nya keren bgt hahah klo aq d.posisi baek iihh no way aq bkal brtahan haha. keren lah meskipun si baek.y bodoh bgt. emang hidup itu cma buat luhan aja apa. mending sm tao deh. atau sama kris aja hahahahah. bagus ceritany aplg gk trlalu maksa plot.y. oke!

  12. Anyeong haseo ka alf
    aku reader baru banget di ff mu!
    Jadi tolong terima aku😀
    aku penggemarmu!
    Ka alf ini ff nya kerenn! (Y)
    malem malem saya mewek baca nya! *huwe*
    sungguh penyayat biru!
    Disini si baek kekeuh banget cinta sama luhan! Bikin saya sedih *huwe*#nangislagi
    Akhirnya sekian lama luhan sadar juga *yeah*
    happy end
    kak alf ini pokoknya ff nya keren.

  13. kampret jalan ceritanya hahahaha
    good banget ini lah huhuhu. aku yg gak suka lubaek jadi suka kan hiks
    sakit jadi baekhyun
    aa pokoknya kereeeennn!

  14. ini ff oneshoot lubaek terbaik yang pernah ak baca thorr TvT suka bangettt. Gila aku bacanya di sekolah dan bary selsai pas lanjut baca di rumah. Panjang tp gak bikin bosen suntuk. Feel sedihnya itu kerasa bangettttttttttttttttttttttttt TvT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s