Love Needs Reason — Chap 2 || Baek Hyun And…


lnr2 copy

Tittle: Love Needs Reason

Author: AyouLeonForever

Genre: Yaoi, Romance, Bromance.

Rate: T to M (Serius), Bocah awas!

Length: –

Main cast:

      Byun Baek Hyun,

      Oh Se Hun,

      Kim Jong In,

      Park Chan Yeol,

      Kris Wu.

.

Main pair: Baek with seme lah

Other cast: Find them… ^^

Disclaimer: Semua cast milik emak abahnya, ciptaan Tuhan yang bernaung di Sment, bukan milik ALF, bukan milik readers, cuman minjam nama doang untuk kepentingan cerita dan imajinasi.

Copyright: Ide, alur/plot… murni dari otak brengsek(?)nya ALF yang lagi stress gegara masa lalu(?). dilarang memperbanyak, mengedarkan, mempublikasikan baik seluruh ataupun sebagian dari FF ini tanpa sepengetahuan ALF. Urusannya langsung sama Tuhan. Kecuali dirimu tidak beragama, maka abaikan saja.

 

 

 

PLAGIATOR dan Silent reader dilarang mendekat, ada ranjau. Wkwkwk 

 

 

CHAPTER 2

 

 

Saat seorang Byun Baek Hyun mengatakan bahwa ‘tidak ada kata cinta dalam kamusku’, itu sama sekali tidak salah. Bisa jadi sepenuhnya benar. Membahas tentang kekasih-kekasihnya di masa lalu? Oh… sekali lagi, Baek Hyun memeluk mereka hanya dengan tangan, bukan dengan hatinya, Baek Hyun mencium mereka hanya dengan menempelkan permukaan kulit bibirnya di bibir mereka bukan karena ada rasa bergejolak untuk terus bersama, dan… yah intinya Baek Hyun melihat mereka dengan mata. Bukan dengan hati.

 

Jadi kesimpulannya… bahwa benar tidak ada kata cinta dalam kamus Baek Hyun.

 

Namun pada lipatan halaman berbeda dalam kamus Baek Hyun. Ditemukan sebuah kata yang Baek Hyun menjunjungnya lebih tinggi dari pada kata cinta. Jika ada perasaan yang lebih tinggi dari pada cinta maka itulah ia…

 

Oh Se Hun. Adik tampan satu ibu namun beda Ayah satu-satunya yang ia miliki.

 

Hanya saja Baek Hyun diciptakan dengan wujud seorang manusia, bukan malaikat yang konon bisa mengabulkan apa saja yang diminta. Tapi percaya saja, untuk pria tampan bernama Oh Se Hun, Byun Baek Hyun bisa melakukan apa saja.

 

Semua percaya…

 

Bahkan Park Chan Yeol percaya.

 

 

 

❀❀❀

 

 

 

Pagi itu seperti biasa, Baek Hyun menyiapkan sarapan untuk ia dan adiknya. Tidak tergesa-gesa, karena memang tidak ada jadwal kuliah pagi.

 

“Hyung, tadi malam kau dari mana lagi? Aku baru merasakanmu pulang sektar jam 11 malam kan? Bukankah kudengar kekasihmu yang baru itu ada di China sekarang?” tanya Se Hun saat ia sudah duduk rapi di depan meja makan.

 

“Oh, itu. Ada urusan,” jawab Baek Hyun sekenanya. Ia meletakkan sepiring roti bakar yang sudah diolesi selai di atas meja, persis di depan Se Hun. Selanjutnya membuat susu untuk adik kesayangannya itu.

 

“Urusan apa?”

 

“Membantu teman mengatur barang-barang di rumah barunya.”

 

“Eh? Kau punya teman akrab selain Chan Yeol Hyung?”

 

“Sudah, jangan banyak tanya. Habiskan sarapanmu dan bergegaslah ke sekolah.”

 

Se Hun menggerutu, kemudian menggigit asal roti bakarnya. “Pasti ada sesuatu.”

 

Baek Hyun menghela nafas pendek, kemudian menghampiri Se Hun dan mengusap rambutnya lembut. “Tidak ada yang perlu kau cemaskan Se Hun-ah, yang perlu kau tahu bahwa aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaanmu. Ara!”

 

“Tapi jangan sampai itu menyulitkanmu Hyung.”

 

Baek Hyun tertawa kecil kemudian memeluk Se Hun gemas. “Tidak akan, percaya sajalah. Ini mengasyikkan.

 

Barulah Se Hun bisa tersenyum lega. Ia segera menghabiskan sarapannya. Meneguk susunya sampai  tak bersisa kemudian menyambar ransel sekolahnya yang sudah disiapkan Baek Hyun untuknya. “Hyung, nanti siang kalau sempat jemput aku di sekolah. Aku ingin kita makan di luar lagi”

 

“Ha? Nanti siang? Eum… bolehlah, akhir-akhir ini kita memang jarang kencan.”

 

Se Hun sumringah dengan mata berbinar. “Deal!”

 

“Ya sudah,  berangkatlah. Belajar yang rajin, dan jangan buat masalah,” pesan Baek Hyun sembari membantu Se Hun mengikat tali sepatunya.

 

“Siap Hyung!”

 

“Bergegaslah sebelum kau ketinggalan bis.”

 

Ara… Ara,” Se Hun menyempatkan diri merangkul pinggang kakaknya dan mengecup bibirnya singkat. “Aku pergi Hyung, kau jangan membawa pria aneh ke rumah.”

 

“Haih kau ini cerewet sekali. Tidak akan. Jadi pergilah.”

 

Se Hun tertawa puas telah mengerjai kakaknya pagi-pagi. “Annyeong!”

 

 

❀❀❀

 

“Astaga, jam berapa sekarang?” pekik Baek Hyun setelah berhasil mendorong tubuh Chan Yeol yang menghimpitnya.

 

“Kenapa? Kau punya janji? Bukankah kekasihmu ada di China sekarang?” sergah Chan Yeol ikut panik saat melihat Baek Hyun buru-buru mengancing kembali kemejanya dan merapikan rambutnya.

 

“Heum, aku janji menjemput Se Hun, dan aku sudah hampir terlambat.”

 

“Ya sudah, sekalian kuantar.”

 

“Tidak perlu. Aku sudah berjanji siang ini khusus untuk Se Hun.”

 

“Ck, kejam sekali. Aku hanya kau berikan waktu 10 menit? Itu mengerikan Baek Hyun-ah!”

 

“Maaf… lain kali saja,” balas Baek Hyun dengan senyum manisnya. Akan selalu membuat Chan Yeol luluh dan mengabulkan semua permintaan mustahilnya. “Pinjam sehari,” ucapnya sambil terkekeh setelah berhasil menyambar kunci mobil di atas nakas.

 

“Heum, jangan sungkan begitu. Itu juga mobilmu. Satu dari tujuh mobilmu,” balasnya juga ikut tertawa.

 

“Kubilang mobilku nanti yang keluaran Eropa, bukan Jepang.”

 

Ouch, telak sekali Byun Baek Hyun. Baiklah, akan kuganti bulan depan.”

 

“Bercanda. Bye…”

 

Chan Yeol hanya melambai dari arah tempat tidurnya. Bukan karena malas mengantar sampai ke depan, ia hanya masih kesal setelah Baek Hyun meninggalkannya dalam keadaan… seperti itu. Tapi menurutnya, bahkan jika ia sedang sekaratpun, Baek Hyun tetap akan meninggalkannya jika itu sudah menyangkut tentang Se Hun, adik tercintanya. Terkesan kekanak-kanakan, tapi jujur saja Chan Yeol iri dengan posisi Se Hun itu.

 

 

❀❀❀

 

 

 

 

Baek Hyun  melirik arlojinya untuk yang kesekian kali karena sepertinya jadwal pulang Se Hun sudah lewat sejam yang lalu, tapi anak itu belum juga muncul sejak tadi. Dia tidak masalah dengan menunggu selama itu untuk adiknya, yang jadi masalah adalah, dia sedikit risih saat siswa-siswa SMU itu melintasinya di depan gerbang sembari melayangkan tatapan… membuatnya jijik tentu saja. Seolah Baek Hyun akan membuka sepatu ketsnya dan melemparnya ke wajah anak-anak itu sambil berteriak, “URUSI SAJA SEKOLAH KALIAN!!! DASAR ANAK INGUSAN!!!”

 

Tapi jelas itu tidak ia lakukan berhubung sebagian besar dari mereka tahu bahwa dirinya adalah kakak dari seorang siswa populer bernama Oh Se Hun. Dan jelas saja dia tidak ingin merusak reputasi adiknya itu jika saja ia bertindak anarkis.

 

Membicarakan tentang siswa populer bernama Oh Se Hun, ini sudah kelewatan. Sekolahnya sudah hampir sepi tapi batang hidungnya juga tidak muncul sampai sekarang.  Baek Hyun sudah hampir merogoh saku jeans-nya untuk mencari ponsel tapi sosok yang ditunggu sudah muncul dari arah gedung sekolah menuju gerbang. Baek Hyun pun mengulas senyum dan melambai pelan agar adik tampannya itu mengetahui keberadaannya.

 

Ada yang aneh. Betul ini aneh. Jelas-jelas Se Hun melihatnya, namun reaksi Se Hun tidak seperti biasanya. Ia hanya balas melambai satu kali kemudian melanjutkan langkahnya menuju Baek Hyun dengan pelan. Dalam hal ini justru teramat santai.

 

Baiklah, bisa jadi ini berlebihan, tapi jujur saja ini tidak biasanya terjadi. Seingat Baek Hyun, setiap ia akan menjemput Se Hun di sekolahnya, maka setiap menit menjelang bel sekolah berbunyi, Se Hun akan mengirimi pesan singkat untuk kakaknya, sekedar mengingatkan dan memastikan. Kali ini tidak, dan Baek Hyun maklum karena bisa saja Se Hun sedang malas mengetik SMS. Yang paling aneh itu, seingat Baek Hyun biasanya saat ia melambai ke arah Se Hun yang sudah keluar dari gedung sekolah, maka namja tampan itu akan balas melambai antusias dan langsung berlari dengan semangat menuju kakaknya.

 

Kali ini … Lihat bagaimana santainya Se Hun melangkah ke arahnya tanpa memasang senyum sedikitpun.

 

“Lelah Se Hun-ah? Atau kita makan di rumah saja?” sambut Baek Hyun sedikit cemas, terlebih Se Hun terlihat jelas menghindari kontak mata dengan kakaknya. Ia lebih banyak menoleh ke arah lain atau menundukkan wajah.

 

“Tidak Hyung, ayo kita makan di luar,” balas Se Hun sembari tersenyum tipis, dan itu bukan senyum yang Baek Hyun kenal.

 

Baek Hyun juga penasaran kenapa Se Hun menghindari kontak mata dengannya, dan kesimpulannya…

 

Pasti telah terjadi sesuatu.

 

“Se Hun-ah…”

 

“Ayo pergi Hyung.”

 

“Lihat aku.”

 

Se Hun terdiam, masih menatap ke arah lain.

 

“Se Hun-ah,” kali ini Baek Hyun yang menangkup pipi adiknya dan memaksanya menoleh hingga mereka bertatapan. Namun betapa kagetnya Baek Hyun melihat apa yang disembunyikan Se Hun dari tadi. Seharusnya sudah bisa ia tebak kenapa rambut Se Hun dibagian depan sengaja diturunkan dan dikumpulkan di bagian pelipis kiri, kenapa Se Hun kebanyakan menunduk dan menghindari kontak mata karena memang ada sesuatu di sana yang Se Hun tidak ingin kakaknya menyadarinya.  “Kau berkelahi???” bentaknya murka saat mendapati pelipis kiri adiknya memar kebiruan. “Siapa yang memukulmu? Cepat katakan padaku, akan kuhajar orang itu, berani-beraninya dia__”

 

“Hyung,” cegat Se Hun pelan. “Aku terjatuh di lapangan basket, dan ini terbentur. Bukan berkelahi,” jelasnya dengan ekspresi datar.

 

Dan di sinilah Baek Hyun hanya bisa menghela nafas. Ia bukan hanya mengenal baik adiknya, namun ia tahu betul watak adiknya luar dalam. Nyatanya sejak Se Hun lahir, Baek Hyun lah yang selalu berada di sisinya.

 

Dan Baek Hyun juga tahu betul, jika Se Hun sudah mengatakan kebohongan, maka ia memang tidak ingin membahasnya dulu. Ia akan menunggu sampai Se Hun cukup tenang untuk menceritakan semuanya.

 

“Ya sudah, ayo kita ke klinik terdekat dulu untuk mengobati lukamu.”

 

“Tidak usah, ini bukan apa-apa. Aku lapar sekali, jadi jangan menundanya.”

 

Baek Hyun menghela nafas pendek kemudian tersenyum sembari membelai rambut adiknya. “Baiklah, nanti di rumah akan kuobati lukamu.”

 

“Aku lapar…”

 

Ne… Ne, aku tahu, jadi ayo kita pergi. Aku meminjam mobil Chan Yeol tadi.”

 

“Tunggu,” cegat Se Hun sebelum Baek Hyun masuk ke mobil.

 

“Apa?”

 

“Kau memberikan apa sebagai imbalan?”

 

“Ha? Imbalan? Tidak ada. Tadi sepulang kuliah kami pulang bersama. Chan Yeol meminjamkan mobilnya setelah ia kuturunkan di rumahnya.”

 

“Hyung…”

 

“Ada apa Se Hun-ah?”

 

Se Hun menghela nafas lelah kemudian menurunkan sedikit kerah kemeja kakaknya. Bercak merah keunguan yang masih baru di sana membuatnya hanya bisa menahan sabar. “Biar aku yang menyetir?”

 

Baek Hyun jelas terheran-heran melihat semua perubahan kontras dari ekspresi wajah Se Hun hari ini, dan itu semakin membuatnya cemas. “Kau baik-baik saja?”

 

Se Hun mengulas senyum pahit. “Aku akan selamanya baik-baik saja karena ada kau Hyung. Tapi aku tidak ingin keadaanku yang baik-baik saja ini harus ditukar dengan kesulitan yang kau dapat.”

 

“Se Hun-ah… aku tidak mengerti.”

 

Se Hun memejamkan matanya sejenak, kemudian meraih Baek Hyun dalam pelukannya. “Hm, tidak apa-apa. Anggap saja aku sedang mengigau. Karena aku tidak apa-apa. Aku akan selalu baik-baik saja. Dan sebisa mungkin akan kupertahankan keadaan itu agar kau juga tidak kesulitan Hyung.”

 

Bohong… jelas itu bohong karena Se Hun bukan lagi anak-anak yang tidak mengerti keadaan. Dan inilah sebenarnya yang sedang dipikirkan Se Hun saat ini.

 

Dulu ia baik-baik saja saat kakaknya pulang ke rumah dengan kondisi cukup lelah. Namun senyum ceria kakaknya selalu menipunya. Senyum yang mengisyaratkan bahwa kakaknya itu menikmati semua perannya di luar. Se Hun tidak pernah menyerukan protes karena ia tidak ingin membebani kakaknya. Namun Se Hun sudah menginjak usia 18 tahun, sudah tahu cukup banyak hal dalam interaksi manusia. Terlebih dalam hubungan sepasang kekasih yang tidak lepas dari kehidupan sehari-hari kakaknya.

 

Se Hun sudah cukup dewasa untuk mengerti bahwa… apa yang dilakukan kakaknya selama ini tidak jauh lebih baik dari seseorang yang menjadikan tubuhnya sebagai imbalan untuk mendapatkan uang. Secara halus mungkin karena Baek Hyun tidak seceroboh itu untuk melayani kekasih-kekasihnya, tapi Se Hun tahu sedikitnya ada beberapa orang seperti Park Chan Yeol yang pernah menyentuh tubuh kakaknya.

 

Dan saat seorang siswa dengan entengnya mengatakan bahwa kakak dari seorang Oh Se Hun ternyata mudah dibeli dengan uang, maka Se Hun tidak menunggu sampai jarum detik bergeser karena saat itu juga ia sudah menghantam mulut siswa itu dengan keras hingga tersungkur dengan bibir pecah mengeluarkan darah.

 

Se Hun akan memilih acuh saja jika ada yang menyindirnya. Namun tidak begitu jika ada yang menjelekkan kakaknya. Siswa yang mengatakan hal buruk itupun nyaris sekarat dan tak sadarkan diri jika saja seorang siswa lainnya tidak nekat menarik Se Hun dan menghantam pelipisnya agar namja tampan itu sadar kalau dia hampir saja membunuh orang lain.

 

Dia juga tidak banyak bicara saat ia diseret ke ruang konseling dan tatar habis-habisan oleh gurunya yang terkenal galak, karena ia memang tidak peduli. Siapapun itu, akan ia lawan jika sudah menjelekkan bahkan menyakiti satu-satunya orang yang ia cintai di dunia ini.

 

 

 

Kakakku orang baik… yang terbaik.

 

Dan Se Hun berpegang teguh pada kalimat itu.

 

 

 

❀❀❀

 

 

Se Hun hanya bisa menahan sabar saat ia dibiarkan menikmati makanannya sendiri sementara yang diajak tengah sibuk tertawa malu-malu sebagai respon dari percakapan yang dilakukannya dengan seseorang via ponselnya.

 

“Hm, aku baik-baik saja Kris, jadi jangan terlalu mengkhawatirkanku___ Hm, aku sedang di luar, sedang berkencan dengan namja yang tidak kalah tampan darimu___ Hahahah kau mengenalnya, dia namja bermarga Oh yang sudah bersamaku sejak bayi__ Ya Tuhan, aku baru tahu kalau kau cemburu maka daya tangkapmu akan lemah. Maksudku dia Se Hun, Oh Se Hun!”

 

Setidaknya itu yang ditangkap oleh telinga Se Hun yang masih dengan sabarnya menikmati makanannya sendiri. Ia memilih melihat-lihat keadaan di sekitar restoran outdoor itu. Sebenarnya romantis, tapi apa bedanya jika ia membawa seseorang yang membuatnya tercampakkan.

 

“Eum, hanya makan siang, kami menyebutnya kencan, wae? Jealous? Ani?__ Ya sudah, aku makan dulu, kau juga jaga kesehatanmu, dan jangan keseringan mengirimiku uang, kau bisa bangkrut___ Ne, sampai jumpa seminggu lagi __ Nado saranghae.” Baek Hyun menghembuskan nafas lega kemudian memasukkan ponselnya ke saku. “Hampir saja lupa kalau aku punya kekasih bernama Kris.”

 

“Memangnya kau punya berapa kekasih sekarang?”

 

Seolah tersindir telak, Baek Hyun terbatuk karena tersedak jus strawberry-nya. “Ha… Hanya satu Se Hun-ah, maksudku aku hampir lupa kapan terakhir dia menghubungiku. Dia sibuk sekali.”

 

“Oh,” respon Se Hun sebelum meletakkan sendoknya di atas piring yang setengah kosong.

 

“Ha? Kau sudah selesai? Aku bahkan belum menyentuh makananku sedikitpun.”

 

“Itu karena kau terlalu sibuk dengan ponselmu Hyung. Kalau waktunya makan, ya makan. Apa tidak bisa kau mengabaikan orang-orang seperti mereka dulu saat kau sedang menghabiskan waktu denganku?”

 

Baek Hyun justru tertawa geli. “Kau cemburu Se Hun-ah?”

 

Se Hun menggeleng jujur. “Tidak, untuk apa aku cemburu sementara aku tahu bahwa Hyung lebih mencintaiku dari siapapun di dunia ini.”

 

Baek Hyun menggantikan tawanya dengan senyuman, “Hm, dan itu benar.”

 

“Jadi jangan membuat ulah lagi sebelum egoku memuncak dan tidak kubiarkan kau menemui kekasih-kekasihmu.”

 

“Maaf, maaf. Tadi ini hanya kebetulan Kris menelponku saat kita sedang bersama. Aku makan dulu, ini tidak akan lama.”

 

“Makanlah dengan benar Hyung, aku tidak terburu-buru.”

 

“Tapi makananmu sudah habis, tidak asyik sekali.”

 

“Tidak apa-apa. Melihatmu saat makan itu lebih mengasyikkan.”

 

“Oh Se Hun…”

 

“Itu jujur, kakakku tersayang.”

 

 

 

❀❀❀

 

 

 

“Mau kemana?” tanya Se Hun saat ia baru saja keluar dari kamar mandi hanya dibalutkan handuk putih yang melilit di pinggangnya.

 

“Ada urusan sebentar Se Hun-ah. Pakaianmu kuletakkan di atas ranjang, mian hari ini kau pakai kaos yang berwarna kelabu saja, karena yang hitam belum kering,” jawab Baek Hyun cepat bersamaan saat ia sibuk mengikat tali sepatunya.

 

“Aku tidak latihan dulu Hyung, kepalaku  sakit.”

 

Sret~

 

Baek Hyun kontan menghentikan gerakannya mengikat tali sepatu dan langsung menoleh ke arah Se Hun. Wajah adiknya itu memang tampak lesu sekarang. “Kita ke rumah sakit Se Hun-ah?”

 

Se Hun menggeleng. Ia menyeret langkahnya agak malas ke arah tempat tidur dan mengenakan pakaiannya juga dengan gerakan malas. “Aku tidak apa-apa,” lanjutnya karena mendapati Baek Hyun menatapnya cemas.

 

Namja mungil yang lahir lebih dulu dari Se Hun itupun menghela nafas panjang kemudian melepas kembali sepatunya. Ia menghampiri Se Hun dan bergegas membantunya mengenakan kaos longgar itu. “Sepertinya memang masih memar, akan kukompres ulang, kau berbaringlah.”

 

“Tidak perlu Hyung, bukankah kau ada urusan?”

 

“Kurasa aku tidak akan bisa berkonsetrasi menyelesaikan urusanku kalau adikku kesakitan di sini.”

 

“Hyung, aku tidak apa-apa.”

 

“Aku yang apa-apa. Berbaringlah, akan kukompres.”

 

Greb~

 

Baek Hyun menghentikan langkahnya saat tiba-tiba Se Hun memeluknya dari belakang. “Se Hun-ah?”

 

“Apa aku bekerja saja Hyung?”

 

Deg~

 

“APA???”

 

Se Hun menolak saat Baek Hyun hendak melepas pelukannya untuk menoleh. Se Hun justru semakin menguatkan lingkaran tangannya di perut kakaknya itu, menumpukan dagu di bahunya, juga untuk menghindari Baek Hyun menoleh. “Aku sudah cukup dewasa, mungkin aku sebaiknya menggantikanmu mencari uang. Aku tidak ingin terus-terusan menikmati semua hasil kerjamu sementara kau mendapatkannya dengan susah payah.”

 

“Se Hun-ah, itu tidak benar. Ya Tuhan, aku mendapatkannya dengan mudah, jadi jangan memikirkannya. Tabunganku sudah sangat banyak, kalau kau butuh sesuatu bilang saja, akan kubelikan.”

 

“Bukan Hyung, bukan itu. Bukan tentang kebutuhanku. Karena aku tidak butuh apa-apa selama ada kau yang selalu tersenyum di dekatku. Untuk itu, aku ingin kau berhenti mengencani mereka. Berhenti merusak dirimu karena aku tahu, Hyungku terlalu baik untuk… hal seperti itu.”

 

“Ta… tapi Se Hun-ah, kau? Bekerja?”

 

Ne, aku sudah dewasa, jadi akan sangat mudah mendapat pekerjaan.”

 

“Pekerjaan apa? Kau masih SMU Se Hun-ah.”

 

Se Hun menghela nafas, akhirnya melepas pelukannya dan membiarkan Baek Hyun menoleh untuk menatapnya. “Banyak  yang seusiaku Hyung, dan mereka bisa bekerja. Sebut saja… rivalku itu, Kai… Kim Jong In.”

 

Deg~

 

“Ta… tapi Jong In itu beda. Dia sudah terbiasa hidup seperti itu, kau tidak Se Hun-ah, aku tidak akan membiarkanmu kesulitan.”

 

“Tunggu…”

 

Ne?”

 

Se Hun terdiam sejenak, mengamati ekspresi cemas kakaknya. “Dari mana Hyung tahu kalau Kai sudah terbiasa hidup seperti itu?”

 

Baek Hyun langsung membelalak, menyadari ucapan spontannya barusan. “Ma… Maksudku, untuk anak berusia belasan tahun yang bekerja part time, kurasa namja seperti Kai sudah terbiasa, karena aku juga melakukan hal yang sama saat aku seusia kalian… maksudku lebih muda dari kalian… ya… itu maksudku. Benar begitu.”

 

Se Hun semakin megerutkan keningnya, tumben sekali ucapan kakaknya kedengaran sangat berantakan. “Kalau memang seperti itu, berarti aku juga sudah bisa bekerja kan, Hyung?”

 

Baek Hyun memijit keningnya sejenak, mencoba untuk tenang agar sedikitnya bisa meladeni ucapan tidak masuk akal Se Hun. Demi mendiang orang tuanya, Baek Hyun sudah bersumpah untuk tidak meletakkan Se Hun pada kondisi yang menyusahkan, dan ini? Bekerja? Mungkin Baek Hyun akan melihat adiknya bekerja jika kedua kaki dan tangannya sudah buntung. “Dengar Se Hun-ah, tabunganku sudah sangat banyak. Bisa untuk memenuhi kebutuhan kita beberapa tahun termasuk melanjutkan pendidikanmu, aku sudah menyisihkannya di rekening berbeda. Jadi sebelum kau menyelesaikan pendidikanmu, jangan memikirkan hal lain, termasuk bekerja karena itu adalah tugasku sebagai kakakmu. Kau mengerti?”

 

“Tapi Hyung, aku tidak suka.”

 

“Apanya? Apa yang tidak kau suka? Bilang saja, akan kuganti dengan benda yang kau suka.”

 

“Maksudku… caramu mendapatkan uang dari kekasih-kekasihmu. Aku betul-betul tidak suka.”

 

Deg~

 

“Se… Se Hun-ah…”

 

Se Hun memejamkan matanya sejenak, kemudian menatap kakaknya dengan serius. “Hyung, tolong… demi aku, berhentilah.”

 

“Tapi ini tidak seperti yang kau pikirkan, mereka saja yang memberikan uang  padaku, aku  tidak pernah meminta.”

 

“TAPI KAU MEMBERIKAN TUBUHMU SEBAGAI IMBALAN, DAN AKU TIDAK SUKA!!!”

 

Baek Hyun tersentak beberapa langkah ke belakang. Untuk pertama kalinya, sepanjang 18 tahun kebersamaannya dengan Se Hun. Adik tercintanya itu membentak dan marah seperti itu kepadanya. Ada hal yang  baru disadarinya. Kelalaian yang seharusnya tidak ia abaikan.

 

Se Hun bukan lagi adik kecilnya. Dia sudah menjadi seorang pria yang beranjak  dewasa dan mengerti segalanya.

 

“A… aku tidak… seperti itu…” dan untuk pertama kalinya sepanjang  18  tahun  kebersamaannya dengan  Se Hun,  Baek Hyun  tidak punya  keberanian menatap mata  adiknya itu.

 

“Tidak apa Hyung?” Se Hun berjalan mendekat,  menyentuh bahu kanan kakaknya, dan dengan tangan kiri  ia  menurunkan  kerah baju  kakaknya  itu. “Aku sudah bukan lagi anak-anak yang akan begitu mudahnya percaya saat kau mengatakan bahwa ini adalah bekas gigitan nyamuk.”

 

Dan Baek Hyun tidak bisa berkata apa-apa lagi selain terperangah. Seharusnya ia sadar bahwa Se Hun tidak hanya tumbuh dewasa secara fisik, namun juga mentalnya. Seharusnya ia sudah menyiapkan segala macam penjelasan jika ia menghadapi situasi ini. Saat dimana Se Hun sudah mengerti segalanya, dan… tidak menerima sedikitpun dari apa yang dilakukan Baek Hyun. Sekarang mungkin masih tahap untuk menyerukan protes, tapi tidak menutup kemungkinan suatu saat Se Hun betul-betul tidak akan membiarkan kakaknya untuk melanjutkan ‘kegemaran’ yang ia anggap sebagai mata pencahariannya.

 

“Se Hun-ah… aku…”

 

Se Hun menghembuskan nafasnya terluka. Bukan karena Baek Hyun tidak bisa membalas ucapannya. Tapi ia seolah menempatkan kakaknya pada posisi terjepit. Ia juga sebenarnya sudah sedewasa itu untuk tahu bahwa semua yang dilakukan kakaknya itu adalah untuk dirinya, untuk kebahagiaannya. Tapi tetap saja…

 

Ia tidak terima…

 

Greb~

 

“Aku mencintaimu Hyung… sangat mencintaimu, jadi tolong, demi aku,” lirih Se Hun lelah, dan lelah itu menuntunnya untuk memejamkan mata dalam pelukan Baek Hyun.

 

Baek Hyun mengatupkan rahangnya rapat-rapat, menyambut Se Hun dalam pelukan eratnya dan menahan agar air matanya tidak terburai. Ia sadar, keadaan tidak akan selama baik-baik saja seperti pengharapannya. “A… Aku juga sangat mencintaimu Se Hun-ah. Aku bahkan melakukan ini semua… demi kau…”

 

Tidak ada sahutan lagi, hanya hembusan nafas yang putus-putus. Dan semakin lama Baek Hyun merasakan bahwa Se Hun menumpukan seluruh berat tubuhnya pada Baek Hyun, membuat kakaknya itu kesulitan berdiri tegak.

 

“Se Hun-ah?” panggil Baek Hyun memastikan, bisa jadi Se Hun sudah tertidur. “Se Hun-ah?” kali ini sedikit keras, bersamaan saat Baek Hyun melepaskan pelukannya dan akhirnya Se Hun ambruk bersama Baek Hyun ke lantai.

 

Mengabaikan nyeri pada tulang ekornya, Baek Hyun langsung membetulkan posisi Se Hun untuk berbaring di pangkuannya dan menepuk-nepuk pipinya panik. “Se Hun-ah, kau jangan menggodaku di saat seperti ini, bangunlah…”

 

Tak ada respon. Se Hun juga menampakkan ekspresi kesakitan, dan itu membuat tingkat kepanikan Baek Hyun bertambah berkali-kali lipat. “SE HUN-AH!!!”

 

 

 

 

❀❀❀

Dokter muda bermarga Choi itu berusaha menahan sabar saat tengah mengahadapi dua anak muda yang ‘tidak biasa’.  Bukan bermaksud apa-apa tapi kesabarannya betul-betul diuji saat salah satu dari mereka yang bertubuh tinggi terus mengguncang-guncang bahunya untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang berulang-ulang.

 

“Bagaimana keadaan Se Hun? Bagaimana dia sekarang? Apa dia parah?”

 

Dan sekali lagi dokter Choi berusaha menahan sabar. “Sudah saya katakan, pasien baik-baik saja. hanya trauma kapitis ringan dan tidak menimbulkan dampak apa-apa karena sampai sekarang pasien tidak menunjukkan gejala seperti muntah. Dari hasil CT scan juga tidak menunjukkan adanya kelainan. Artinya baik-baik saja. hanya demam, dan…”

 

“Lalu kenapa dia belum sadar? Parah… pasti parah. Bagaimana keadaan sebenarnya dokter?”

 

Dokter Choi meremukkan jari-jarinya, ia sudah hampir limit, terlebih ia juga cukup pusing mulihat satu anak muda lagi yang terus menangis di bangku tunggu. Yang kalau dia tidak salah ingat, dia adalah kakak dari pasien yang bernama Oh Se Hun. Dan pria tinggi yang masih mengguncang-guncang bahunya ini entah siapa. “Harus berapa kali saya katakan, pasien tidak apa-apa. dia juga bukan pingsan, hanya kelelahan. Dan demam.”

 

“Tidak mungkin… Dokter pasti bersikap begini untuk menenangkan kami kan, padahal Se Hun sedang sekarat sekarang. Dia butuh apa? donor darah? Donor ginjal? Sum-sum tulang belakang? Saya bersedia mendonorkannya dokter… jadi tolong selamatkan Se Hun. Dia sudah kuanggap sebagai adik sendiri dokter, karena di masa depan dia juga akan menjadi adik ipar saya.”

 

Dokter muda itu sudah hampir gila. Belum lagi, dari mana semua informasi aneh yang didapatkan anak muda di depannya ini sampai mengira bahwa orang yang hanya kelelahan dan demam membutuhkan donor darah, sum-sum tulang belakang dan… dokter choi hampir saja ambruk mendengar pria di depannya ingin mendonorkan ginjal. Ia yakin otak pria itu sudah terkontaminasi dengan drama-drama melankolis yang sedang merebak sekarang. “Baiklah begini saja, kalau anda tidak percaya, silakan masuk ke ruang perawatannya. Tapi jangan heran kenapa pasien tidak merespon, karena dia sedang tidur. Ingat, hanya tidur, bukan pingsan apalagi koma.”

 

“Anda yakin dokter?”

 

Dokter Choi menghembuskan nafasnya. Kali ini menyerah. “Bawa teman anda sekalian. Saya harus menangani pasien lain. Jika ada apa-apa, silakan panggil perawat yang menangani pasien. Permisi.”

 

“Eh dokter… tunggu… Se Hun… aih, kenapa dokternya ketus begitu?” Chan Yeol mendengus kesal kemudian menghampiri Baek Hyun yang masih sesenggukan di bangku tunggu. “Tenang Baek Hyun-ah, aku yakin Se Hun baik-baik saja. kalaupun ada apa-apa, aku akan melakukan apapun agar Se Hun selamat,” tuturnya gigih.

 

“Ini salahku Chan Yeol-ah… Aku tidak cukup baik menjaganya, aku… tidak cukup baik menjadi kakaknya,” raung Baek Hyun sesenggukan.

 

“Itu tidak benar. Kau kakak terbaik yang pernah ada, percayalah. Kalau tidak, Se Hun tidak mungkin sampai sprotektif itu padamu –dan itu membuatku kesal-, jadi jangan menyalahkan dirimu, okay. Sekarang tenanglah, dan ayo kita menengok Se Hun.”

 

Baek Hyun berusaha mereda tangisnya, dan Chan Yeol membantunya menyeka air mata, memeluknya sebentar, terakhir mengecup keningnya saat ia merasa Baek Hyun sudah agak baikan.

 

“Ayo…”

 

 

◁◈▷

 

 

Se Hun terlihat cukup pucat. Dan jika saja seorang perawat tidak meyakinkan Baek Hyun puluhan kali bahwa Se Hun hanya tertidur, mungkin Baek Hyun akan meraung-raung dan meminta siapa saja untuk melakukan sesuatu agar adik tersayangnya itu membuka mata.

 

Masih melekat di otaknya, pembicaraan serius yang ia lakukan dengan Se Hun beberapa jam yang lalu sebelum adiknya itu jatuh pingsan. Mengenai apa yang ia lakukan selama ini untuk mendapatkan uang. Ia pikir, Se Hun akan selalu mengangguk setuju jika Baek Hyun pamit keluar pada malam hari dengan alasan rutin ‘mencari uang’, tapi ternyata Baek Hyun terlambat menyadari bahwa ia tidak selamanya bisa menempatkan adiknya pada posisi ‘tidak tahu apa-apa’. Se Hun sudah mulai menampakkan rasa tidak suka saat ia mendapati Baek Hyun dan Kris berciuman. Ia juga menyerukan protes saat Chan Yeol terang-terangan mencium Baek Hyun saat ia ada. Menanyakan siapa yang ia telepon, atau kemana ia akan pergi, atau… dari mana dia sampai harus pulang larut malam. Seharusnya Baek Hyun menyadari semua itu.

 

Menyadari bahwa… adiknya sudah beranjak dewasa, dan berpikiran cukup dewasa untuk tahu bahwa apa yang disebut Baek Hyun sebagai ‘pekerjaan’ adalah hal yang … tidak baik.

 

Memang tidak seburuk para penjaja sex di luar sana, tidak gila untuk berkeliaran di bar atau diskotik dan berjalan di kerumunan manusia yang tidak cukup dipuaskan oleh pasangannya yang menunggu di rumah. Tidak seburuk itu… tapi Baek Hyun tidak terlalu jauh dari itu.

 

Lalu apa sebutan untuk seseorang yang mengencani seorang pria, dan selalu mendapatkan jaminan berupa uang atau benda mahal saat mereka bersama? Dan setelah ia rasa pasangannya tidak cukup lagi memenuhi kebutuhannya, maka akan ia tinggalkan dan mencari pasangan baru.

 

Demi mendiang kedua orang tuanya, Baek Hyun sama sekali tidak peduli. Satu hal yang tertanam kuat di benaknya, menjadi prinsip bahkan sebagai pondasi kehidupannya agar tetap kokoh sampai ia mati adalah… apapun akan ia lakukan agar Se Hun bahagia.

 

Baek Hyun menyeka sisa air matanya, kemudian sedikit bergeser ke arah Se Hun yang masih terbaring dengan mata terpejam di atas brankar-nya, mengusap rambutnya pelan kemudian ia kecup kening adiknya itu penuh kasih sayang. “Mianhae Se Hun-ah…” bisiknya sebelum beranjak mendekati Chan Yeol yang sedang tertidur pulas di atas sofa ruang perawatan Se Hun.

 

Ia sedikit… ah sangat beruntung memiliki sahabat seperti Chan Yeol. Memiliki orang yang dapat dipercaya dan betul-betul bisa diandalkan saat ia tidak bisa berpikir jernih dengan kepanikan yang menyerangnya. Chan Yeol akan menjadi orang pertama yang akan ia hubungi jika ia mendapat masalah.

 

Park Chan Yeol…

 

Sahabatnya…

 

Atau mungkin, Baek Hyun akan memikirkan sekali lagi tentang komitmen yang telah mereka buat untuk masa depan. Kedengarannya memang seperti lelucon, tapi Baek Hyun percaya bahwa Chan Yeol mampu melakukan apa saja agar Baek Hyun bahagia, termasuk dengan berusaha agar semua mata kuliahnya mendapat nilai di atas rata-rata. Dan itu sangat baik sebagai modalnya di kemudian hari. Tentu saja untuk menjadi seorang pengusaha sukses seperti yang ia janjikan pada Baek Hyun.

 

Pria bertubuh mungil itu menghela nafas lelah. Membuka lemari sudut dan mengambil sehelai selimut di dalam sana. Menghampiri Chan Yeol dan menyelimuti sahabatnya yang tertidur cukup pulas itu. “Gomawo Chan Yeol-ah,” bisiknya sebelum mengelus rambut Chan Yeol dan mengecup keningnya.

 

Ia menatap 2 orang terkasihnya itu sekali lagi sebelum keluar dari ruangan dan menutup pintunya rapat. Mungkin sekaleng cola dan udara dingin bisa menyejukkan pikirannya.

❀❀❀

 

 

Langkah mungilnya terhenti tepat di saat kedua matanya menangkap sosok familiar yang duduk termenung di bangku tunggu ruang administrasi dan registrasi pasien. Terlihat begitu fokus membaca beberapa lembar kertas dalam sebuah map kelabu. Kemudian menutup kembali mapnya sembari memijit batang hitung di antara kedua sudut matanya.

 

Baek Hyun membatalkan niat untuk keluar dan melanjutkan langkahnya mendekati sosok familiar itu. “Jong In-ah?” sapanya pelan saat ia sudah berdiri persis di hadapan namja tampan berkulit sehat itu.

 

Namja yang dipanggil tidak merespon sama sekali. Masih memejamkan mata dan kali ini memijat pelipisnya.

 

Baek Hyun memilih duduk di sebelahnya dan menyentuh bahunya pelan. “Jong In-ah… kau baik-baik saja?”

 

Barulah namja bernama Kim Jong In itu tersentak dan menoleh. Lebih terkejut lagi saat tahu bahwa sudah ada sosok yang begitu dikenalnya tengah duduk sambil tersenyum tepat di sebelahnya. “B… Baek Hyun-ah? Sedang apa di… sini?” balasnya masih kaget.

 

“Adikku sakit, tapi tidak akan kujelaskan karena akulah yang pertama kali bertanya. Apa kau sakit?”

 

Kai langsung menyisipkan map yang tadi di pegangnya ke dalam jaket tebalnya, terkesan tidak peduli jika map itu akan kusut atau bahkan sobek. “Tidak, tentu saja tidak. Aku hanya… Hanya menjenguk teman di sini.”

 

Baek Hyun memicingkan matanya. Hanya orang bodoh yang percaya bahwa Kai berkata jujur. Terlebih sikap Kai terlihat berlebihan, terlalu panik jika disebut sedang menjenguk teman. “Kau tidak sedang berbohong kan?”

 

Kai menggeleng kuat dengan tatapan mata berharap, “Tidak… tentu saja tidak. Aku betul-betul sedang menjenguk teman.”

 

“Bukan kau yang sakit?”

 

“Bukan… Temanku saja yang sakit.”

 

“Teman? Bukankah kau bilang tidak memiliki teman akrab? Dan kurasa kau tidak sebodoh itu untuk membuang-buang waktu istirahatmu demi menjenguk seorang teman yang tidak akrab denganmu tengah malam begini.”

 

Kai berdehem sejenak, mengulum bibir tebalnya gugup sebelum ia menghembuskan nafas untuk terlihat sedikit tenang. “Temanku sakit Baek Hyun-ah. Dan… cukup parah hingga ia harus dirawat di sini dalam jangka waktu yang cukup lama. Dan kurasa seorang teman memang harus menjenguk temannya yang sakit kan?”

 

Baek Hyun diam, masih menatap ekspresi wajah Kai penuh selidik.

 

“Kau tidak percaya padaku?”

 

Butuh sepuluh detik sampai Baek Hyun luluh dengan tatapan penuh harap itu, dan akhirnya ia hanya menghela nafas dan mengulas senyum. “Aku percaya. Karena aku kekasihmu.”

 

Deg~

 

Kai terdiam cukup lama sambil mengatupkan rahangnya cukup kuat.

 

Terharu?

 

Mungkin saja karena ia tidak pernah memiliki seseorang yang bisa ia percayai dan begitu mempercayainya. “Terima kasih Baek Hyun-ah…”

 

“Jangan sungkan begitu, ya Tuhan. Aku memang harus percaya padamu kan? Dan aku tidak akan pernah meragukanmu.”

 

“Terima kasih karena kau mau menjadi kekasihku.”

 

Dan kali ini Baek Hyun yang bungkam.

 

Seperti tertegur, ia merasa bahwa permainannya kali ini sama sekali tidak menyenangkan. Biasanya, ia akan tertawa dalam hati dan bersorak riang jika ia sudah berhasil mendapatkan kepercayaan penuh dari kekasih barunya. Dan ia betul-betul merasa kali ini cukup dan bahkan sangat berbeda. Mungkin karena tujuannya bukan uang. Lebih buruk karena ini permainan hati. Kai juga cukup jauh berbeda dari kekasih-kekasihnya terdahulu, bisa jadi karena ia lebih muda dari Baek Hyun. Kai bukan tipe yang agresif, ia cukup polos. Sangat polos hingga Baek Hyun bisa dengan mudahnya masuk ke dalam kehidupannya dan…

 

Mempermainkannya.

 

Oh bukan. Baek Hyun jelas tidak akan mempermainkan anak yang polos jika tujuannya tidak jelas. Sekali lagi, ini demi adiknya tercinta. Demi kebahagiaan Se Hun. Apalah arti sebuah kemenangan dalam kompetisi dance? Kai juga sudah menikmatinya tahun lalu, jadi apa salahnya jika Baek Hyun sedikit berusaha agar adiknya yang menikmati kemenangan itu tahun ini.

 

Benar… tidak ada yang salah selama itu demi

 

Se Hun.

 

 

◁◈▷

 

 

Baek Hyun terkekeh saat ia menyeka saos yang melekat di sudut bibir Kai. “Kau seperti orang yang tidak makan berhari-hari. Pelan-pelan saja, kita tidak terburu-buru. Bukankah besok libur sekolah?”

 

Kai balas tertawa kecil dan meneguk cola dinginnya sebelum menyantap kembali potongan daging panggang yang masih panas di depannya. “Aku lupa makan sejak siang, terlalu banyak kegiatan. Besok pagi-pagi sekali ada latihan sampai sore, malam baru bisa istirahat.”

 

“Perhatikan kesehatanmu Jong In-ah. Terlebih pola makanmu. Dengan kegiatan sebanyak itu, kau tidak boleh mengesampingkan waktu makan dan istirahat, kau bisa sakit.”

 

Kai tersenyum kemudian meraih tangan indah Baek Hyun untuk digenggamnya. “Kalau begitu, jangan tinggalkan aku.”

 

Ne?

 

“Mau tahu sesuatu? Sebenarnya selera makanku sangat baik kalau ada kau di dekatku. Ini bukan membual, tapi serius… dengan kegiatan melelahkan yang kujalani setiap hari sepanjang tahun, kurasa aku menemukan satu hal yang lebih dari sekedar menyenangkan.”

 

“Apa itu?”

 

“Ya seperti ini. Bersamamu.”

 

Blush~

 

Baek Hyun berani bersumpah sudah ribuan kali mendengar kata-kata gombal dan bualan dari kekasih-kekasihnya terdahulu. Tapi tidak pernah satu kalipun ia merasa sehangat ini menyapa hati hingga membuat pipinya memerah hanya karena sebuah kalimat yang… jauh lebih sederhana dari kalimat gombal dan menjanjikan dari para mantan kekasihnya. Tapi justru kesederhanaan itulah yang membuatnya tidak bisa menahan senyum dan menundukkan wajahnya karena tersipu.

 

“Sepertinya kau kedinginan, wajahmu memerah,” tegur Kai setelah menghentikan makannya. Ia menggenggam kedua tangan Baek Hyun dan mengusap-usapnya hangat, setelah itu ia meniup-niupkan nafas hangatnya ke tangan indah Baek Hyun dengan harapan bisa sedikit menolong.

 

Melihat Kai semanis itu, Baek Hyun merasa sedikit penasaran akan sesuatu. “Jong In-ah…”

 

“Heum?”

 

“Kau pernah punya kekasih sebelum ini?”

 

Kai menggeleng polos, dan kelihatannya memang anak itu tidak berbohong.

 

“Kau serius aku yang pertama untukmu?”

 

“Eum… Bisa dibilang begitu.”

 

“Eh, bukankah kau bilang tidak punya kekasih sebelumnya, lalu kenapa jawabanmu tidak meyakinkan begitu?”

 

“Ya karena kupikir, kekasih itu bukan hanya sekedar status. Jadi kubilang kau yang pertama.”

 

Baek Hyun mengerutkan keningnya bingung. “Kau sedang bicara apa sebenarnya?”

 

Kai tertawa kemudian mengecup punggung tangan Baek Hyun sebelum menggenggamnya erat. “Jangan bertanya lagi, aku juga tidak mengerti. intinya, kau harus percaya bahwa bagiku, kau yang pertama. Semoga sampai akhir.”

 

Deg~

 

Dan inipun pertama kalinya Baek Hyun merasa khawatir. Sekali lagi ada beberapa mantan kekasihnya yang punya harapan seperti itu, tapi Baek Hyun selalu menganggapnya angin lalu. Cukup mengatakan ‘ya, semoga kita terus bersama sampai akhir’ dan melupakannya seolah itu sama sekali tidak penting. Tapi… ini kembali menjadi pembuktian bahwa Kai memang cukup berbeda dari sudut pandang Baek Hyun sekarang. ‘Semoga sampai akhir’ seperti sebuah janji yang harus ia tepati. Dan sungguh… itu cukup mengusik pikirannya. “N… Ne, Jong In-ah, semoga kita terus bersama sampai akhir,” dustanya kali ini tidak selancar biasanya.

 

Dan senyum manis Kai semakin memperparah keadaan.

 

 

❀❀❀

 

 

 

“Oh ya Jong In-ah, kenapa kau sangat suka menari?” tanya Baek Hyun saat ia dan Kai berjalan sambil bergenggaman tangan menyusuri trotoar kembali menuju rumah sakit.

 

“Kenapa? Eum entahlah, aku hanya merasa menjadi diri sendiri saat menari. Sebelum ada kau, kupikir menari adalah satu-satunya hal yang membuatku bisa melupakan sulitnya menjalani kehidupan,” jawab Kai sesekali menerawang. Kabut tipis yang keluar dari mulutnya setiap kali ia berbicara cukup menandakan bahwa cuaca malam itu semakin dingin, tapi Kai tidak ada masalah berada di luar karena ia sedang menggenggam tangan yang lebih hangat dari apapun. Dan itu sampai ke hatinya.

 

“Jadi… cita-citamu?”

 

“Tentu saja menjadi dancer professional. Melakukan banyak pertunjukan di berbagai negara, menghasilkan banyak uang, dan setelah aku cukup berumur, aku akan membuka kelas dance dan menjadi pelatih. Ah dan tentu saja kau ada dalam daftar teratas masa depanku. Tidakkah itu hebat?” Kai menoleh dan menatap Baek Hyun dengan pendar indah di kedua mata tajamnya.

 

Dan semua penuturan optimis namun terdengar sangat manis itu berubah menjadi sebuah pukulan kecil di jantung Baek Hyun. Baek Hyun bisa merasakan jantungnya berbunyi dug cukup keras sebelum debarannya meningkat drastis. Kai cukup membuatnya sekarat malam ini. “T… Tentu saja hebat. Aku… aku mendukungmu Jong In-ah.”

 

Kai terkekeh bangga, melepaskan genggaman tangannya kemudian merangkul bahu Baek Hyun dan menariknya merapat. Posisi yang semakin hangat. “Rencana Tuhan memang hebat, tahun-tahun sebelumnya Ia membuatku sibuk dan tidak punya waktu untuk memikirkan hubungan yang cukup rumit dengan seseorang, dan pada akhirnya, Tuhan mengirimmu di saat yang tepat.”

 

Baek Hyun bungkam, tidak punya kalimat yang tepat untuk menanggapi Kai yang begitu bahagia. Ia hanya tersenyum  dengan harapan Kai tidak menanyakan pendapatnya.

 

Langkah mereka terhenti tepat di depan gerbang rumah sakit, Kai langsung menggenggam tangan Baek Hyun dan menariknya untuk berhadapan.

 

“Jadi… Kau akan langsung pulang?” tanya Baek Hyun berusaha tetap santai.

 

“Sepertinya begitu. Besok pagi-pagi harus menemui Eun Hyuk Hyung. Ada yang harus kudiskusikan secara pribadi dengannya. Aku menemukan musik yang keren dan di bagian chorus bisa kuselipkan gerakan rumit yang kuharap sesuai harapanku untuk menarik perhatian juri nanti,” jawab Kai semangat.

 

Baek Hyun hanya mengangguk setuju, karena sebenarnya ia tidak tahu banyak tentang dance. Yang ia tahu, ia suka melihat Se Hun saat menunjukkan bakat dance nya. Menurutnya, Se Hun sudah yang terhebat, tapi jika ia pun kalah oleh seorang Kai, maka Baek Hyun jelas penasaran sehebat apa Kai sebenarnya.

 

“Kau sendiri tidak pulang?”

 

“Tidak, mungkin besok karena adikku masih dirawat.”

 

“Ya Tuhan, benar juga. Kalau begitu ayo kita masuk. Aku ingin sekali bertemu adikmu, sekalian menjenguknya.”

 

Baek Hyun terbatuk karena kaget, segera ia menahan dada Kai saat namja tampan itu hendak melangkah masuk. “Ah tidak usah Jong In-ah, adikku pasti sedang tertidur. Dan kau terlihat sangat lelah. Lain kali saja kau menemuinya.”

 

“Benar juga. Yang ada aku akan mengusiknya.”

 

“Bukan begitu… eum hanya… itu…”

 

Kai tertawa kemudian menangkup kedua pipi Baek Hyun yang merona itu. “Tidak apa-apa. kau sudah sepengertian ini, kenapa aku tidak? Jadi santai sajalah Baek Hyun-ah.”

 

Baek Hyun semakin mengeluh dalam hati. Kenapa setiap perlakuan manis Kai padanya, justru membuat Baek Hyun merana? “Kau pulang naik apa?”

 

“Tentu saja naik bis, kau berharap aku punya kendaraan pribadi?”

 

“Ah maksudku… Apa masih ada bis jam begini?”

 

Kai kembali tertawa, masih menangkup kedua pipi Baek Hyun, mempertahankannya agar tetap hangat. “Masih banyak taxi, kupikir tidak apa-apa sesekali memanjakan diri.”

 

Baek Hyun mengangguk pelan, berusaha tersenyum. “Aku akan menemuimu besok.”

 

“Kau bisa menemuiku kapan saja. akan sangat manis kalau kau melihatku berlatih.”

 

Baek Hyun menggigit bibir bawahnya, sepanjang sejarah ia berpacaran dengan siapa saja, tidak pernah terpikir ia akan dengan manisnya menengok kekasihnya yang sedang berlatih –entah itu apa-, membawakannya bekal makan siang, melambai padanya sambil tersenyum, atau membawakan handuk kecil dan menyeka peluhnya…

 

Sungguh… semua itu tidak pernah terpikir sama sekali. Bukankah status kekasih hanya sebagai alasan agar ia punya hak untuk menguras dompet meraka?

 

Sekali lagi… ini tidak berlaku untuk Kai.

 

“Tentu saja,” dan Baek Hyun tetap menjawab pada akhirnya.

 

Kai mengulas senyum yang sebenarnya tidak pernah lepas sejak tadi. Sedikit membungkuk hingga sepasang bibir tebalnya menyentuh permukaan kening Baek Hyun, membuat pemuda itu memejamkan mata spontan, merasakan kehangatan yang dikirimkan Kai lewat kecupan manisnya.

 

Rasanya…

 

Merana…

 

Baek Hyun bosan membedakan Kai dengan mereka. Tapi bukankah ini salah satu dari sekian banyak poin penting? Ia dan Kai memang belum lama menjalin hubungan, tapi mereka sudah beberapa kali berciuman. Terakhir Baek Hyun sadari, Kai tidak pernah mengambil inisiatif untuk menciumnya lebih dulu di bibir, Kai lebih suka mencium Baek Hyun di kening. Jika pada akhirnya mereka berciuman di bibir, tentu saja Baek Hyun yang memulai.

 

“Sampai jumpa besok Baek Hyun-ah, tidur yang nyenyak. Aku mencintaimu…” bisik Kai persis di depan wajah Baek Hyun.

 

Cinta

 

“K… Kau juga Jong In-ah. Setiba di rumah langsung istirahat. Aku… j… juga mencintaimu,” balasnya.

 

Kai terkekeh kemudian mengusap pipi Baek Hyun yang masih merona. “Manis sekali… Selamat malam…” pamitnya kemudian beranjak meninggalkan Baek Hyun yang berdiri mematung di depan gerbang rumah sakit.

 

Seolah ada yang tertinggal, dan itu bukan pertanda baik. Tentu saja bagi Baek Hyun dan tujuan awalnya mendekati Kai.

 

Untuk pertama kalinya… Baek Hyun merasa kalimat ‘aku mencintaimu’ begitu sulit untuk diucapkan. Mengingat sudah tak terhitung ia mengumbar kalimat itu pada siapa saja yang pernah menjadi kekasihnya. Ia juga tidak pernah merasa sebersalah ini pada beberapa pria yang telah ia kuras dompetnya. Kalimat aku mencintaimu itu awalnya hanya sebuah untaian kata tak berarti, hanya diucapkan saja tanpa perlu memikirkan maknanya. Tapi kenapa, justru pada Kai ia begitu berat mengatakan hal itu, begitu tidak ingin memberi harapan banyak, dan… menerima apapun darinya.

 

Dan sekali lagi, Baek Hyun tidak mengerti akan satu hal… memangnya apa yang telah diberikan Kai untuknya?

 

Haruskah ia mencari tahu?

 

“Kim Jong In?” seru Baek Hyun cukup keras karena Kai sudah berada beberapa meter di depan, menuju halte bis terdekat.

 

Kai menoleh, kedua tangannya ia sembunyikan di balik sakit jaket tebalnya. Dingin tentu saja. “Ya?”

 

Apa yang kau punyai Kim Jong In?

 

Dan saking ingin tahunya Baek Hyun akan hal itu, ia sedikit berlari menuju Kai yang berdiri beberapa meter di sana. Tidak terlalu jauh, tapi debaran jantung Baek Hyun yang cepat membuat sistem kerja metabolisme organ lainnya juga meningkat. Ia sudah berdiri di hadapan Kai. Nafasnya memburu, kabut tipis itu terlihat berkali-kali keluar dari hidung dan mulutnya.

 

“Ada apa Baek Hyun-ah?”tanya Kai bingung. Siapa yang tidak heran melihat kondisi Baek Hyun di hadapannya. Berdiri dengan nafas tersengal, mata tegas seperti ingin mengirimkan sesuatu lewat isyarat pancaran matanya. Bibirnya beberapa kali terbuka, namun terkatup lagi. “Baek Hyun-ah?”

 

“Kau… Hhh…Betul… Kau mencintaiku?”

 

Kai semakin mengerutkan keningnya. Bingung. “Tentu saja. bukankah sudah kukatakan? Aku mencintaimu. Ini bukan karena jangka waktu hubungan kita yang masih terhitung singkat. Bukan soal waktu… hanya karena kau adalah orang yang tepat.”

 

Baek Hyun menelan ludahnya yang seperti karang. Kenapa Kai mengatakannya terlalu mudah? Kenapa orang yang berkata jujur begitu ringan dan tanpa beban? “Kenapa? Kenapa kau mencintaiku?”

 

“Itu juga sudah kukatakan. Aku mencintaimu karena kau adalah orang pertama yang mencintaiku tanpa alasan.”

 

Baek Hyun menggeleng. Itu masih terlalu mudah. “Itu bukan alasan…”

 

“Seingatku kau bilang cinta tidak membutuhkan alasan Baek Hyun-ah.”

 

Dan benar, Baek Hyun yang saat itu hanya mengucapkan teori asal justru seperti menjilat ludah sendiri. Persetan dengan itu. “Jika aku memiliki suatu alasan. Maka apa yang akan kau lakukan? Apa kau masih mencintaiku?”

 

Deg~

 

Kai bergumam, masih menatap Baek Hyun tepat di manik matanya. “Bahkan saat kau mengatakan itu, aku masih mencintaimu. Yah… itulah yang kurasakan. Tidak berubah.” Kai menyentuh dada kirinya dan memejamkan mata, kemudian mengangguk. “Debarannya sama. aku tetap mencintaimu.”

 

Tuhan… apa ini?

 

Dan itu semakin membuat Baek Hyun merana. “Lalu kenapa Kim Jong In? Sebenarnya kenapa kau mencintaiku?”

 

Kai tersenyum, begitu ringan. Kemudian berjalan semakin mendekat hingga ujung sepatunya bertemu dengan ujung sepatu Baek Hyun. Membuat pria mungil itu semakin mendongak di jarak yang sedekat itu.

 

“Kalau kukatakan aku tidak tahu, kurasa itu cukup bodoh. Mana mungkin aku tidak tahu kenapa aku mencintaimu, padahal sangat jelas bahwa perasaan ini nyata. Jadi mungkin aku bisa meminjam jawaban pertamamu. Karena aku tidak punya alasan kenapa aku mencintaimu. Yang kutahu, aku sudah mencintai Byun Baek Hyun sejak kau memintaku jadi kekasihmu.”

 

Baek Hyun mengeluh, kemudian memejamkan mata sebelum menumpukan keningnya di dada bidang Kai. Hanya seperti itu, Kai juga belum mengangkat kedua tangannya untuk memeluk tubuh mungil itu. Hanya membiarkan Baek Hyun bertumpu di sana.

 

“Kenapa Kim Jong In… kenapa?”

 

Barulah Kai mengangkat tangannya dan merengkuh punggung sempit Baek Hyun. “Aku mencintaimu. Mencintai Byun Baek Hyun. Jangan tanyakan alasannya, karena aku tidak butuh alasan untuk mencintaimu.”

 

Baek Hyun menggeleng dalam rengkuhan itu. Semakin merana. “Love needs reason Kim Jong In. Jadi tidak mungkin kau hanya mencintaiku seperti ini tanpa alasan.”

 

“Lalu, jika aku memang tidak memiliki alasannya?”

 

Baek Hyun bungkam. Hanya bisa mengeluh di sana.

 

I love you… just it.

 

Baek Hyun semakin merana, ia pun mengangkat tangannya, mencengkram masing-masing sisi jaket tebal Kai sebelum mencoba untuk melepaskan rengkuhan hangat itu. Ia mendongak, menatapnya penuh arti. Ribuan kata tak terbaca ada di sana, ingin menyampaikan pada Kai bahwa…

 

Apa???

 

Bukankah tidak ada kata cinta dalam kamus Byun Baek Hyun?

 

Lalu perasaan ini?

 

“Jong In-ah…”

 

“Ya…”

 

“Bisakah kuminta sesuatu?”

 

“Apa?”

 

“Aku sedang mencarinya. Bantu aku menemukannya.”

 

“Tentu, akan kubantu, di mana aku mencarinya?”

 

Baek Hyun meraih tangan kanan Kai, memintanya untuk menyentuh dada kiri Baek Hyun. “Apa … memang sudah ada di sini?”

 

Kai tersenyum, kemudian mengangguk. “Ada… dan aku percaya.”

 

Bohong… itu jelas mustahil__ keluh Baek Hyun lagi.

 

“Terima kasih Baek Hyun-ah, terima kasih telah mencintaiku.”

 

Tidak mungkin…

 

Dan saat itulah Kai menunduk, dan untuk pertama kalinya lebih dulu menggapai bibir Baek Hyun dengan lembutnya. Memintanya menyatu cukup erat saat tangan Kai yang satunya lagi meraih pinggang Baek Hyun untuk merapat.

 

Baek Hyun bisa merasakan seluruh persendiannya lumpuh. Seperti meleleh dan membentuk genangan kesangsian. Ia suka Kris menciumnya, karena kekasihnya itu cukup dewasa memperlakukannya. Ia suka Chan Yeol menciumnya karena… rasanya berbeda. Tapi Kim Jong In? Di sana seperti ada segalanya. Tapi saat ini yang lebih dominan adalah sakit. bukan di bibir, tapi di hatinya.

 

Perasaan apa ini?

 

Deg~

 

 

Baek Hyun lebih dulu menarik bibirnya dengan kikuk. Sedikit malu dengan bunyi decakan setelah bibir mereka berpisah. Tidak terhitung sudah berapa kali bibirnya menyentuh bibir orang lain, tapi kali ini… “Jong In-ah… Ada sesuatu yang harus kau… tahu.”

 

Sebelum semuanya terlambat…

 

“Apa itu?”

 

“Sebenarnya aku… Aku…”

 

“Ya?”

 

Baek Hyun memejamkan mata.

 

 

“Se Hun-ah, ayo cerita.”

 

“Aku tidak yakin menang Hyung.”

 

“Eh?”

 

“Namanya Kim Jong In, dan dia dancer terhebat yang akan menjadi rivalku di putaran final.”

 

“Sehebat apa dia hingga bisa membuat dancer terhebat seperti adikku seresah ini?”

 

“Dia… Mengalahkanku tahun lalu.”

 

 

 

Deg~

 

 

“Baek Hyun-ah?”

 

Baek Hyun membuka matanya dengan sangat terkejut. Apa yang baru saja ia pikirkan? Membongkar semuanya? Bersikap lemah hanya karena Kai memberikannya sesuatu yang beda? Yang sampai detik ini ia tidak yakin hal apa itu?

 

Tidak…

 

Tentu saja tidak. Baek Hyun tidak akan semudah itu menempatkan Kai dalam posisi penting, apalagi hubungan mereka masih berjalan dalam hitungan minggu. Apapun itu… tidak akan cukup menebus kebersamaannya dengan adik tercintanya selama 18 tahun.

 

Sejak awal ia sudah teguh. Dan tidak mungkin hanya karena sesuatu yang ‘baru’ didapatnya itu dari Kai maka ia runtuh.

 

Tidak…

 

Tidak akan.

 

“Ada apa? Katakanlah.”

 

Baek Hyun memejamkan matanya sejenak, dan bayangan Se Hun yang mendominasi di kepalanya memperjelas bahwa memang dunia yang Baek Hyun bangun sejak awal, semuanya untuk Se Hun. Ia pun menghembuskan nafas panjang sebelum membuka mata dan tersenyum, “Kurasa… Aku memang mencintaimu tanpa alasan, Kim Jong In,” ucapnya kemudian dengan menyembunyikan dustanya.

 

Ia harus ingat prinsipnya.

 

Apapun… demi Se Hun.

 

Dan Kai pun balas tersenyum sebelum meraih kekasihnya itu kembali ke dalam dekapannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Maaf… tapi aku harus…

 

 

 

 

~*~♥~*~

 

 

 

Chan Yeol menoleh saat pintu kamar perawatan Se Hun terbuka, dan Baek Hyun dengan wajah lesunya muncul dari sana sebelum kembali menutup pintu.

 

“Dari mana? Aku baru saja ingin mencarimu, tapi tidak ada yang menjaga Se Hun,” sambut Chan Yeol hendak menghampiri Baek Hyun.

 

Pemuda berambut cokelat terang itu tidak menyahut, ia hanya terus berjalan ke arah Chan Yeol dengan pandangan sayu yang mengarah tepat ke kedua mata besar Chan Yeol.

 

“Eh? Kau kenapa? Terjadi sesuatu?” tanya Chan Yeol bingung saat Baek Hyun tidak juga menghentikan langkahnya sementara ujung sepatu mereka sudah bertemu. Chan Yeol bahkan berpikir bahwa Baek Hyun akan menginjak kakinya jika ia tidak bergerak mundur. Dan benar saja, Baek Hyun sama sekali tidak berniat untuk berhenti. “Hei… hei, kau membuatku takut. Apa kau kesurupan?”

 

Baek Hyun tidak menjawab. ia justru mendorong tubuh Chan Yeol saat pria jangkung itu sudah berhenti melangkah karena betisnya menyentuh pinggiran sofa, dan itu justru membuat Chan Yeol terduduk dengan paksa di atas sofa panjang.

 

“Byun Baek Hyun… kau kenapa?”

 

Baek Hyun tetap bungkam, masih dengan ekpresi yang sama, ia duduk di atas pangkuan Chan Yeol dengan mengapit kedua paha pria tinggi itu, tanpa memberi aba-aba berarti, ia memeluk leher Chan Yeol dan segera menunduk untuk menyatukan bibir mereka.

 

Chan Yeol jelas kaget. Tidak berbohong bahwa ia juga senang akan perlakuan Baek Hyun itu. Tapi tetap saja, ini tidak seperti biasanya. Belum pernah ia lihat Baek Hyun seresah itu. Terbukti bagaimana cara Baek Hyun menggerakkan bibirnya di permukaan bibir Chan Yeol. Resah itu terbaca jelas.

 

“Kau kenapa?” tegas Chan Yeol saat ia berhasil menangkup kedua pipi Baek Hyun dan menjauhkan wajah mereka.

 

Baek Hyun kembali mendekatkan wajahnya, tapi tangan Chan Yeol cukup kuat untuk menahannya.

 

“Jawab aku Byun Baek Hyun, kau kenapa? Ada yang menyakitimu? Katakan, biar kuhajar dia.”

 

Baek Hyun tidak menjawab. ia hanya menatap mata Chan Yeol dengan sendu, tapi tak terbaca apa-apa di sana.

 

“Baek Hyun-ah…”

 

Dan pemuda mungil itu hanya menghela nafas pendek, sebelum memejamkan matanya, memperlihatkan lelah yang tidak hanya dirasakan fisiknya. Selanjutnya, ia merunduk dan menumpukan dahinya di bahu kokoh Chan Yeol. “Aku tidak tahu Chan Yeol-ah, tidak biasanya aku begini,” lirihnya pelan terdengar betul-betul lelah.

 

Chan Yeol mengangkat tangannya dan memeluk utuh punggung Baek Hyun, sesekali mengusapnya. “Kau tidak akan seperti ini jika tidak ada penyebabnya. Setidaknya sekarang ini pasti sedang ada yang menganggu pikiranmu. Kau hanya perlu menyebut satu nama yang membuatmu gusar saat ini.”

 

Kim Jong In…

 

Baek Hyun mengeluh dalam hati. Ia tidak mungkin merana hanya karena seorang pria yang bahkan 2 tahun lebih muda darinya.

 

“Tidak apa-apa jika kau tidak ingin bercerita, tapi hanya untuk mengingatkanmu, bahwa kalau kau butuh seseorang untuk mendengar__”

 

“Chan Yeol…”

 

“Ya?”

 

“Apa kau menyukaiku?”

 

“Kenapa kau menanyakannya lagi? Aku tidak hanya menyukaimu, aku sangat mencintaimu.”

 

“Seperti apa?”

 

“Maksudnya?”

 

Baek Hyun menghembuskan nafas pendek, kemudian menolehkan kepalanya hingga pucuk hidungnya bertemu dengan permukaan kulit leher Chan Yeol. “Bagaimana kau tahu dan yakin bahwa kau mencintaiku?”

 

“Itu mudah, dalam sekejap, kau adalah orang yang paling tidak ingin kulihat terluka. Aku merasa lebih baik menyakiti diri sendiri dari pada melihatmu terluka.”

 

“Kenapa? Kenapa kau mencintaiku?”

 

“Karena aku… Eum entahlah. Kau itu seperti separuh dari hidupku, aku akan merasa sangat bahagia jika kau juga bahagia. Sudah kubilang aku tidak ingin melihatmu terluka. Bisa jadi itu adalah alasannya.”

 

Baek Hyun terdiam, masih memejamkan mata. Menghirup aroma maskulin dari parfum yang sering digunakan Chan Yeol. “Bagaimana jika kau harus menyakitiku karena suatu alasan yang lebih penting. Apa yang akan kau rasakan?”

 

“Kau ingin jawaban apa? itu tidak akan mungkin kulakukan.”

 

“Anggap saja ada sesuatu yang mengharuskanmu menyakitiku.”

 

“Oh Tuhan… Aku lebih baik mati. Rasanya sakit, tentu saja.”

 

“Sakit?”

 

“Heum, sakit tapi bukan secara fisik. Mana mungkin aku harus menyakiti orang yang paling tidak ingin kulihat terluka. Oh sungguh, aku tidak bisa membayangkannya Baek Hyun-ah.”

 

“Seperti apa sakitnya?”

 

“Tidak bisa kujabarkan. Tapi pusatnya di sini… di jantung.”

 

“Apa… rasanya seperti ada yang meremuk jantungmu? Seperti tertusuk di dada kiri? Dan kau kesulitan bernafas?”

 

Chan Yeol terdiam. Dan detik selanjutnya ia mencengkram kedua bahu Baek Hyun dan mendorongnya sedikit menjauh hingga ia bisa menatap matanya. “Kau… tidak sedang jatuh cinta dengan orang lain kan?”

 

Baek Hyun bungkam. Dan kebungkaman itu justru menjadi jawaban yang cukup jelas.

 

“Byun Baek Hyun, jangan mencoba mengajakku bercanda karena ini tidak lucu. Kau tahu? Aku sudah cukup gila untuk membiarkanmu mengencani siapa saja hanya karena kupikir kau menyukai uang mereka saja. Tapi ini?” Chan Yeol mengalihkan pandangannya dari wajah Baek Hyun sejenak, menatap langit-langit hanya sepersekian detik, sudut kiri ruangan, dan terakhir kembali menatap wajah Baek Hyun yang ekspresinya masih sama. “Siapa dia? Apa anak pengusaha China itu?”

 

Masih dengan ekspresi yang sama ia menggeleng.

 

“Lalu siapa? Siapa orang itu? Ha?”

 

Baek Hyun tetap bungkam. Pandangannya lurus, tertuju pada dada Chan Yeol, namun tanpa sinar. Kosong, kecuali resah yang terbaca jelas di sana. Menurut Chan Yeol… Baek Hyun tidak hanya jatuh cinta sekarang, tapi juga patah hati di saat yang sama.

 

“Jawab aku Byun Baek Hyun. Berikan aku penegasan bahwa kau tidak akan mencintai siapapun kecuali aku. Tolong… Aku bertahan sampai sekarang dengan semua ulah dan tindakanmu hanya karena aku memegang janjimu. Kau boleh menganggapnya lelucon, tapi kupegang itu sampai mati.”

 

Deg~

 

Barulah kelopak mata Baek Hyun bergerak. Ia mengarahkan pandangannya ke wajah Chan Yeol yang mengeras, menatapnya tajam dan… marah.

 

“Tidak akan Chan Yeol-ah… Aku tidak akan jatuh cinta pada siapapun.”

 

“Kecuali aku!” tambah Chan Yeol tegas.

 

Baek Hyun menelan ludah susah payah, memejamkan mata sejenak kemudian menghembuskan nafas sangat panjang. Hampir menghabiskan sisa udara di paru-parunya. “Kecuali kau,” lanjutnya kemudian.

 

“Benar… Kupegang kata-katamu Baek Hyun-ah.”

 

Baek Hyun mengangguk lemah sebelum kembali menyandarkan kepalanya di bahu Chan Yeol. Ia butuh itu, sungguh.

 

“Tapi siapa dia?”

 

“Dia siapa?”

 

“Yang membuatmu seperti ini?”

 

Baek Hyun membutuhkan waku beberapa detik untuk berpikir, menegaskan dalam hati bahwa ia adalah Byun Baek Hyun. Sosok yang tidak pernah melibatkan perasaan sesungguhnya dalam sebuah hubungan. “Hanya seorang manusia yang mempunyai sesuatu Chan Yeol-ah. Dan aku ingin itu darinya.”

 

“Apa itu?”

 

“Entahlah, kurasa sudah kudapatkan. Tapi aku justru takut menyimpannya.”

 

“Byun Baek Hyun…”

 

“Dan aku baru sadar bahwa aku salah dalam mengambil sesuatu. Sejak awal aku membutuhkan yang lain. Tapi dia justru memberiku…”

 

“Byun Baek Hyun bisakah kau tidak mengatakan hal-hal aneh yang membuatku gila? Jika kau tidak ingin menjelaskannya, ya sudah, tidak perlu kau jawab.”

 

“Aku tetap akan mendapatkan yang pertama Chan Yeol-ah.” Baek Hyun menoleh sedikit, mengecup sisi leher Chan Yeol yang menjadi salah satu sisi yang ia sukai. “Demi Se Hun.”

 

Chan Yeol menghembuskan nafas panjang. Jika Baek Hyun sudah mengeluarkan kalimat sakral itu, maka ia sudah tidak bisa mengganggu gugatnya. Dari dulu… semuanya memang demi Se Hun.

 

Beberapa menit dalam diam. Memeluk senyap. Hanya suara nafas teratur yang didengar dan dirasakan Chan Yeol pada sisi lehernya. Sudah sangat larut, dan Baek Hyun memang terlalu lelah. Secara fisik, dan batinnya. Ia  menggeser tubuhnya lebih ke sudut sofa, membawa Baek Hyun yang masih berada di pangkuannya itu ikut bergeser, setelahnya ia membaringkan tubuh orang tercintanya itu secara perlahan di sana, membuat posisi tidurnya nyaman, sebelum ia menyelimutinya.

 

Chan Yeol berpindah, duduk dengan satu lutut menyentuh lantai. Menyejajarkan dirinya pada kepala Baek Hyun yang berbaring tanpa bantal di atas sofa itu. Namja mungil itu memang butuh lebih banyak pasokan darah ke otaknya untuk menghilangkan penatnya, itu yang dilakukan Chan Yeol hingga tidak memberinya bantal.

 

“Kapan… kau akan mencintaiku Byun Baek Hyun?” lirihnya pelan, dan tentu saja tidak akan ada jawaban selain dengkuran halus. Memperlihatkan seberapa lelah Baek Hyun saat ini. “Aku mencintaimu… segenap jiwaku,” lanjutnya sebelum menunduk dan mengecup bibir tipis Baek Hyun dengan lembut. Setelahnya, ia memilih sofa lain untuk duduk dan bersandar. Ia tidak butuh tempat yang nyaman, karena ia pastikan ia tidak akan mampu tertidur dengan baik satu malam itu.

 

 

~*~♥~*~

 

 

 

“Baek Hyun-ah… Apa betul kau mencintaiku?”

 

“T.. Tentu saja Kim Jong In, aku mencintaimu.”

 

“Hyung…”

 

“S… Se Hun-ah? Kenapa kau bisa ada di tempat ini? T… tempat apa ini? Kenapa kalian berdua bisa ada di sini?”

 

“Jadi kau lebih mencintainya dari pada aku Hyung?”

 

“Ya Tuhan… Bicara apa kau Se Hun-ah.”

 

“Kau mencintainya Hyung. Kau mencintai Kim Jong In…”

 

“I… Itu tidak…”

 

“Benar… dia mencintaiku Oh Se Hun. Jadi pergilah. Baek Hyun telah memilih bersamaku.”

 

“Tidak… ini tidak…”

 

“Geure… Kupikir kau tidak akan bisa untuk mencintaiku selamanya. Selamat tinggal, akan kusampaikan salammu pada Ayah dan Ibu.”

 

“OH SE HUN!!! JAGA BICARAMU!!!”

 

“Selamat tinggal Hyung, sampai kapanpun… aku akan tetap mencintaimu…”

 

“SE HUN-AH…. MAU KEMANA KAU… TIDAK … JANGAN LAKUKAN… SE HUN-AAAHHH!!!!”

 

 

Brugh~

 

“SE HUN-AH!!!!”

 

Chan Yeol langsung terbangun kaget saat mendengar suara tubrukan yang cukup keras, terlebih Baek Hyun memekik. Ternyata sumbernya benar, Baek Hyun terjatuh dari sofa dan tubuhnya membentur lantai. “Baek Hyun-ah kau tidak apa-apa?” tanya Chan Yeol langsung menghampirinya.

 

Baek Hyun menepis tangan Chan Yeol saat namja tampan itu ingin membantunya berdiri. Ia terlalu panik, terlihat jelas saat ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan berhenti pada tempat di mana Se Hun masih terbaring. “Se Hun-ah…” serunya cemas, dan dengan segera ia berdiri menghampiri brankar Se Hun. Meraih tangan kanannya yang tidak ditempeli jarum infus dan menggenggamnya erat. kedua matanya masih terpejam tapi gerakan dadanya untuk bernafas membuktikan bahwa ia masih hidup. “Se Hun-ah… kau baik-baik saja kan? Dengar… Aku lebih mencintaimu dari siapapun, jadi apapun yang kau lihat, apapun yang kau dengar jangan pernah menganggapnya buruk. Jangan pernah meninggalkanku. Okay, semua kulakukan untukmu, apapun untukmu. Jadi jangan salah paham tentang apa yang___”

 

“Dia masih tidur Baek Hyun-ah,” tegur Chan Yeol setelah menepuk pelan bahu Baek Hyun.

 

“Tapi tadi… tadi… dia pergi meninggalkanku karena aku… aku…”

 

“Apapun itu, kau hanya bermimpi. Tenanglah.”

 

“Tapi Chan Yeol… dia…”

 

Chan Yeol menghela nafas, kemudian menarik Baek Hyun perlahan dan mendekapnya hangat. “Semuanya baik-baik saja. percayalah. Se Hun tidak apa-apa. seperti yang dokter bilang. Hanya tidur, dan sekarang bahkan masih pukul 5 pagi. Artinya dia masih tetidur.”

 

“Chan Yeol-ah…”

 

“Tenangkan dirimu, kumohon. Kau sudah terlalu kacau sejak kemarin.”

 

Baek Hyun pun terdiam, masih membiasakan diri dengan kesadarannya, mencoba memperjelas bahwa kejadian dimana Se Hun meninggalkannya hanya sebuah mimpi, hanya sisa kekhawatiran yang membuatnya membenuk sebuah memori yang berputar di otaknya. Dan pada akhirnya Baek Hyun menyerah, ia membiarkan wajahnya terbenam di dada Chan Yeol, dan di sanalah ia menangis.

 

“Semua ini untuknya Chan Yeol-ah… semua kulakukan untuknya. Aku hanya tidak ingin karena kelalaianku… dia meninggalkanku, tidak… aku tidak mau.”

 

Chan Yeol menghela nafas pendek, mengelus punggung Baek Hyun sembari mengecup puncak kepalanya. “Aku tahu Byun Baek Hyun. Dan Se Hun juga tahu hal itu. Jadi… tenanglah, jangan bebani pikiranmu.”

 

“Aku mencintainya Park Chan Yeol… aku mencintainya…”

 

“Aku tahu… semua orang tahu. Jadi berhentilah.”

 

 

~*~♥~*~

 

 

Baek Hyun duduk termenung di sebelah brankar Se Hun, mengamati adiknya itu lamat-lamat, seolah tidak ingin terjadi sesuatu yang mungkin bisa menyakiti adiknya walau itu hanya dengan jarak kedipan mata.

 

Wajah Se Hun sudah tidak sepucat sebelumnya. Demamnya sudah turun, dan ekspresi resahnya perlahan menghilang. Tapi tetap belum cukup untuk menghilangkan kecemasan Baek Hyun. Sudah tidak terhitung berapa kali ia meraih tangan kanan adiknya dan mengecupnya lembut, seolah mengirimkan rasa sayang yang tak terbendung, juga harapan agar Se Hun selalu baik-baik saja.

 

“Ng… Hyung…”

 

Baek Hyun sedikit terperanjat saat telinganya menangkap suara samar itu. Ia segera membuka matanya lebar-lebar, memastikan bahwa Se Hun sudah sadar hingga mampu menyapanya. “Se Hun-ah?”

 

Tapi tidak ada perubahan dari raut wajah Se Hun. Ia masih tertidur sangat lelap. Namun suara tadi???

 

“Hyung…”

 

Jelas… sangat jelas bibir tipis itu bergerak dan menciptakan suara yang selalu dirindukan Baek Hyun.

 

“A… Aku di sini Se Hun-ah…” jawab Baek Hyun ragu. Entah Se Hun sudah sadar atau anak itu hanya mengigau, Baek Hyun tidak peduli. Yang ia harus tegaskan adalah, ia selalu ada saat Se Hun membutuhkannya.

 

“Ini untukmu Hyung…”

 

Baek Hyun mengerutkan kening saat Se Hun masih berbicara dengan mata terpejam. “A… Apa?”

 

“Piala dan semua penghargaan ini kupersembahkan untukmu.”

 

“Se… Se Hun-ah…”

 

“Aku menang Hyung… aku menang… eum… ng… jangan bekerja lagi… Hyung… aku menang… berkatmu.”

 

Setelahnya, Se Hun mengulas senyum lega dan tidak bersuara lagi. Terlihat sangat damai dalam lelapnya.

 

Bohong besar Baek Hyun tidak memikirkan igauan Se Hun barusan. Demi Tuhan ada sesuatu yang menyeruak di dalam dadanya. Begitu mendera, hingga ia bungkam, mematung. Sebesar itukah keinginan Se Hun untuk memenangkan kompetisi itu? Sekuat itukah tekadnya?

 

Dan sebuah rasa bernama sesal langsung menamparnya. Ia hampir mengabaikan itu semua hanya karena perasaan asing yang diberikan Kai padanya. Tidakkah itu ironis?

 

Baek Hyun menggeleng kuat, mengatupkan rahangnya rapat-rapat hingga urat di dahinya menebal.

 

Persetan dengan semuanya…

 

“Ne Se Hun-ah… kau akan menang sayang, pasti menang.”

 

 

 

“Baek Hyun-ah…”

 

Baek Hyun menoleh saat namanya dipanggil. Chan Yeol muncul dari arah pintu sambil membawa ransel berisi pakaian ganti dan tas plastik berisi makanan. “Eum? Sudah datang?” Baek Hyun buru-buru menyeka sisa air matanya dan beranjak untuk menyambut Chan Yeol. Membanunya meletakkan tas plastik itu ke atas meja.

 

“Maaf agak lama. Aku ketiduran di kamar mandi.”

 

Baek Hyun tersenyum kemudian mengusap pipi Chan Yeol. “Tidak apa-apa. seharusnya kau tidak usah buru-buru ke sini. Semalaman sepertinya kau tidak tidur karena menjaga Se Hun. Pulanglah, dan istirahat. Aku tidak mau kau juga sakit.”

 

“Hehehe… Tidak akan. Tubuhku ini kuat, jadi tetap bisa kau andalkan. Oke! Sekarang saatnya sarapan.”

 

 

 

~*♥*~

 

 

 

Ada canggung di antara Baek Hyun dan Se Hun sore itu. Adiknya itu sudah bangun sejak satu jam yang lalu. Dan sekarang dia sudah bebas tanpa selang infus di tangannya dan sedang bertengkar dengan Chan Yeol memperebutkan makan siang. Chan Yeol bukannya pelit atau ingin membuat masalah, hanya saja makan siang Se Hun sudah disiapkan perawat di atas meja dekat brankarnya, tapi ia tidak mau memakannya.

 

“Itu bukan makanan manusia,” protes Se Hun saat Chan Yeol bersikeras memaksanya memakan makanan yang sudah disediakan khusus untuknya.

 

“Tapi ini tidak baik untuk orang sakit. ini makan siangku dan kakakmu. Ini banyak lemaknya, dan pedas, dan…”

 

“Aku suka itu Hyung. Orang sakit itu harus banyak makan, dan aku mau makan daging itu.”

 

“Ha? Bukannya tadi kau bilang kau tidak sakit apa-apa sebagai alasan agar kau bisa makan ini? Dasar penipu.”

 

“Hyung… Aku lapar sekali.”

 

Baek Hyun menggigit bibirnya kikuk, kemudian sedikit canggung menghampiri 2 orang itu dan memilih duduk tak jauh dari mereka. “Biarkan saja Chan Yeol-ah… Dia sedang lapar.”

 

“Lihat, kakakku saja tidak cerewet sepertimu. Cepat berikan padaku, dasar Chan Yeol Hyung pelit.”

 

Chan Yeol berdecak frustasi, pada akhirnya menyerah. “Ya sudah, tapi jangan meminta pertolongan padaku kalau kau kenapa-napa.”

 

“Untuk apa? aku punya Baek Hyun Hyung,” ucap Se Hun langsung menyantap daging panggang saos lada hitam itu.

 

“Oh, secara tidak langsung kau meminta bantuan padaku adik kecil. Baek Hyun Hyung mu selalu mengandalkanku.”

 

Se Hun memutar bola mata malas. “Itu karena kau saja yang cari muka.”

 

“Bilang saja kau cemburu.”

 

Kali ini Se Hun tertawa meremehkan. “Percaya sesuatu Hyung? Sampai kapanpun aku tidak akan cemburu pada siapapun yang mendekati kakakku, karena dia lebih mencintaiku dari siapapun di dunia ini. Paham?”

 

Chan Yeol menggeram jengkel, sedikit menyesal karena dia tahu bahwa dia akan selalu kalah jika membahas itu.

 

Di sana, di sofa tunggal sebelah Chan Yeol, Baek Hyun tersenyum melihat adiknya kembali bersemangat. Mungkin sebaiknya dia tidak membahas perihal siapa-siapa dulu di hadapan Se Hun.

 

Hanya karena satu hal…

 

Baek Hyun cukup terpukul mendapati adiknya seterluka itu karena ulahnya.

 

“Hyung… Kau pulanglah dulu. Kau belum mandi kan?” tegur Se Hun saat menyadari kakaknya itu mengamatinya.

 

“Ah… sekalian besok saja. sudah hampir malam,” balasnya masih canggung.

 

“Sekalian istirahat Hyung. Matamu berkantung. Besok baru kembali lagi, aku tidak apa-apa hanya ditemani Chan Yeol Hyung bodoh ini.”

 

“Hei, memangnya siapa yang mau menemanimu?” protes Chan Yeol.

 

“Jadi kau tidak mau? Ya sudah.” Se Hun kembali menoleh pada kakaknya, “Hyung… jangan berteman lagi dengannya, lihat… selain pelit, dia juga tidak setia kawan.”

 

Dan sekali lagi Chan Yeol menyesal mengajak Se Hun berperang masalah itu, karena di atas kertas dia memang sudah kalah jika menyangkut hak kepemilikan atas Baek Hyun. “Ck, kenapa kau selalu melapor pada kakakmu ha? Dasar manja.”

 

“Tambahan Hyung, dia mengataiku manja.”

 

“Oke oke…. Aku menyerah.”

 

Baek Hyun tertawa kecil, kemudian membuang rasa canggung yang mengganggunya sejak tadi. Perlahan ia bangkit dan berpindah duduk di sebelah Se Hun. “Aku akan pulang kalau kau sudah dibolehkan pulang Se Hun-ah.”

 

“Itu baru besok sore Hyung. Masih lama, jadi tolong gunakan waktu itu untuk beristirahat. Aku tidak ingin melihatmu ikut sakit karenaku.”

 

Baek Hyun membelai rambut adiknya dengan sayang, kemudian mengecup bibirnya singkat. “Baiklah, tapi aku akan kembali malam ini. Aku justru tidak bisa tidur kalau tidak memastikan sendiri kondisimu.”

 

“Ya sudah, asal Hyung pulang dan istirahat penuh. Ingat… mandi dan istirahat, kau baru boleh ke sini sekitar…” Se Hun melirik jam di dinding kamar perawatannya kemudian mengangguk, “Jam 9 malam. Artinya 5 jam dari sekarang.”

 

“Baiklah Oh Se Hun, adikku tersayang.”

 

“Ya sudah, pulanglah. Dan jangan lupa menelpon atau SMS kalau sudah tiba di rumah.”

 

“Siap, laksanakan kapten Oh.”

 

Dan Se Hun pun tersenyum sebelum mendapat pelukan dari kakaknya itu.

 

“Akan kuantar,” tawar Chan Yeol sudah bersiap meraih kunci mobilnya.

 

“Ah, tidak perlu. Aku naik taxi saja. lagipula harus ada yang menjaga Se Hun di sini sebelum aku kembali,” tolak Baek Hyun halus.

 

“Heum, sebenarnya bukan menjaga, karena aku bukan bayi. Aku hanya membutuhkan teman mengobrol saja Hyung, dan Chan Yeol Hyung memang teman yang baik untuk diajak mengobrol.”

 

“Ya sudah kalau begitu. Aku pulang. Chan Yeol-ah, hubungi aku kalau ada apa-apa.”

 

Chan Yeol mengangguk mantap sebelum Baek Hyun meraih tas plastik berisi pakaian kotor Se Hun dan keluar dari ruangan itu.

 

“Sekarang apa? tidak asyik sekali,” keluh Chan Yeol langsung menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dan menatap langit-langit.

 

“Tadi itu aku serius ingin mengobrol denganmu Hyung.”

 

“Tentang apa?” tanya Chan Yeol malas-malasan.

 

“Aku hanya ingin menanyakan sesuatu.”

 

“Tanya saja.”

 

“Kau… Kau tulus mencintai kakakku?”

 

Chan Yeol langsung mengubah posisi duduknya hingga tegap dan menghadap Se Hun. “Apa?” tanyanya ulang memastikan pendengarannya barusan.

 

“Kau betul-betul mencintai kakakku?”

 

Chan Yeol mengerutkan keningnya. Ia ragu kalau Se Hun serius menanyakannya, ia bahkan yakin kalau Se Hun hanya memancingnya. “Tentu saja, aku tulus, sungguh-sungguh, murni, sangat-sangat mencintainya. Tapi seperti yang selalu kau bilang, sebesar apapun aku mencintainya, orang yang paling dia cintai di dunia ini hanya kau.”

 

Se Hun menghela nafas panjang, terdiam sejenak kemudian kembali menatap Chan Yeol serius. “Ini bukan tentang siapa yang dicintai kakakku, Hyung. Aku hanya ingin memastikan sesuatu.”

 

“Mengenai apa? ketulusanku? Oh ayolah Oh Se Hun… aku yakin kau tidak buta hingga tidak bisa melihat seberapa besar aku mencintai kakakmu. Aku bahkan sudah belajar banyak untuk menerima adik ipar menyebalkan sepertimu karena aku betul-betul memahami kakakmu. Kau sangat penting baginya, makanya aku…”

 

“Lalu… bisa kuminta satu hal?”

 

Chan Yeol semakin mengerukan keningnya. Se Hun jika berbicara topik serius terlihat sangat menyeramkan. “Meminta apa?”

 

“Tolong… Lindungi kakakku.”

 

“Ya Tuhan, kupikir kau akan meminta apa. jangan bodoh begitu Oh Se Hun, tanpa kau minta pun aku akan selalu melindunginya.”

 

“Dari siapapun?”

 

Chan Yeol mengangguk pasti. “Dari siapapun.”

 

“Termasuk dirimu sendiri?”

 

Deg~

 

A… Aku? Maksudnya?”

 

“Tolong Hyung… Cinta tulus itu tidak menuntut apa-apa sebagai balasan. Aku senang melihatmu menunjukkan rasa cintamu pada kakakku, tapi… kumohon jangan menyakitinya lagi.”

 

“Me… Menyakitinya? Demi Tuhan Oh Se Hun… aku tidak penah__”

 

“Jangan menyakitinya Hyung… jangan lagi. Aku tidak sanggup melihat kakakku seperti itu.”

 

Chan Yeol jadi panik sendiri, ia membetulkan posisi duduknya untuk sekedar mengurangi kegelisahannya. “Oh Se Hun… aku tidak mengerti, sungguh… apa maksudmu dengan menyakiti?”

 

“Apapun yang kau berikan pada kakakku, tolong jangan meminta imbalan apa-apa. terlebih… tubuhnya.”

 

Chan Yeol sontak berdiri saking terkejutnya. “OH SE HUN!!! JAGA BICARAMU.”

 

Se Hun menggeleng pelan, ekspresi wajahnya masih sama. “Aku tidak akan melarangmu memeluknya dan menciumnya. tapi tolong hanya seperti itu, hanya sebatas itu. Jangan menyentuhnya lebih dari itu, karena kakakku terlalu berharga.”

 

Chan Yeol terkesiap, akhirnya kehilangan kata-katanya. Tidak pernah terpikir bahwa ia akan sampai pada suatu masa dimana ia akan membahas hal seperti ini dengan orang yang sejak lama dilihatnya sebagai anak kecil yang tidak mengerti apa-apa. seperti Baek Hyun yang terlalu menikmati perannya sebagai kakak, ia pun luput akan satu hal bahwa adik kecil mereka tidak akan selamanya selugu itu.

 

“Jika kau bisa melindungi kakakku dari dirimu sendiri, maka aku semakin percaya bahwa kaupun bisa melindunginya dari orang lain. Karena hanya kau yang bisa kupercaya untuk menjaganya Hyung. Dari mereka… yang menganggap bahwa kakakku bisa dibeli dengan uang.”

 

Leher Chan Yeol semakin tercekat. Se Hun sudah lebih dari sekedar tahu. Semuanya… Se Hun tahu semuanya.

 

“Hyung…”

 

Chan Yeol menelan ludah sudah payah, kemudian mengatur nafasnya agar ia merasa sedikit lebih tenang. “Baek Hyun… tidak seperti yang kau bayangkan Se Hun-ah, tidak seburuk yang kau pikirkan, terlebih… dia melakukan semua ini demi kau.”

 

“Aku tahu Hyung, aku tahu. Untuk itu, aku akan semakin bersalah jika mendesaknya untuk berhenti sementara Baek Hyun Hyung melakukan semuanya untukku. Jadi… Tolong aku Hyung. Lakukan apa saja agar kakakku berhenti mengencani mereka.”

 

“Se Hun-ah…”

 

“Tolong aku Hyung…”

 

Chan Yeol hanya bisa mengeluh dalam hati, dan pada akhirnya, ia kembali duduk setelah memberi anggukan tegas pada Se Hun. “Aku… Sejak lama aku memang tidak suka dengan apa yang dilakukannya. Tapi… Aku terlalu mencintainya Se Hun-ah, sampai aku tidak bisa menolak apapun keputusannya. Yang bisa kulakukan hanyalah, memastikan bahwa pria yang dikencaninya adalah orang yang tidak akan menyakitinya.”

 

“Terima kasih Hyung… Sungguh, aku hanya bisa meminta bantuan darimu, karena aku mempercayaimu.”

 

“Selalu Se Hun-ah… selalu kuusahakan. Untuk Baek Hyun…”

 

 

~*♥*~

 

 Next  day~

 

Baek Hyun masih mengerutkan keningnya saat ia berdiri di depan sebuah pintu apartemen yang tidak terlalu besar. Aneh sekali pagi itu saat adiknya masih tertidur, ia iseng menelpon Kai, dan kekasihnya itu masih di rumah. Itu sungguh tidak biasa. Maksudnya, ia tahu serajin apa Kai, sebagus apa managemen waktunya, jadi mana mungkin saat jam sekolah, dia masih di rumah terlebih itu hari senin.

 

Dan jawabannya ia dapat saat Kai membuka pintunya dengan wajah cukup pucat. “Baek Hyun-ah? Kau datang?”

 

“Ne, kupikir kau kenapa-kenapa sampai kau tidak masuk sekolah,” sahutnya setelah menggantung mantelnya di dekat pintu. Kai sudah lebih dulu melangkah dan kembali membaringkan dirinya di sofa panjang ruang tamu.

 

“Hanya sedikit malas. Satu hari bolos kurasa tidak apa-apa,” ujar namja tampan itu kembali memejamkan mata.

 

Baek Hyun sedikit terkejut juga karena tingkah Kai yang seperti ini tidak jauh beda dengan Se Hun sebelum dilarikan ke rumah sakit. Jadi bukan hanya tebakan kalau kondisi Kai sekarang sedang tidak baik, bisa jadi dia sakit. Dan untuk memastikannya, ia membawa dirinya untuk berjongkok di dekat sofa, persis berhadapan dengan wajah Kai. Sedikit menunduk hingga ia bisa menempelkan keningnya di kening Kai. “Ck, kau bukan sedang malas, kau memang sedang demam.”

 

“Heum? Tidak, aku tidak demam. Kau yang terlalu dingin karena membawa cuaca dari luar,” balas Kai masih dengan mata terpejam. Terlihat lingkaran hitam di bawah matanya, bibirnya pun pucat, dan itu membuat Baek Hyun sedikit prihatin. Terlebih ia ingat bahwa seharian penuh kemarin, Kai sibuk latihan untuk kompetisi dance nanti.

 

“Jong In-ah…”

 

Kai membuka matanya perlahan, menggenggam tangan Baek Hyun yang tergeletak tak jauh darinya, kemudian tersenyum lembut. “Kau tidak ada kuliah hari ini? Pergilah, aku tidak apa-apa. Siang nanti juga aku akan bugar kembali.”

 

Baek Hyun tidak menjawab, ia hanya melepaskan genggaman tangan Kai kemudian beranjak pergi.

 

“Baek Hyun-ah…” seru Kai kaget, langsung mengejar Baek Hyun yang sudah memakai kembali mantelnya. Baek Hyun pasti tersinggung.

 

“Tunggu saja di sini.”

 

“Kau mau kemana?”

 

Baek Hyun tersenyum, menyentuh rahang kokoh Kai perlahan, berjinjit sedikit untuk menggapai bibirnya lembut. “Tidak akan lama, istirahatlah.”

 

Kai hanya bisa mematung. Bukan karena ia ingin menurut saja, tapi sungguh ia semakin menyukai posisinya yang mendapat perhatian lembut kekasihnya itu.

 

~*♥*~

 

 

Pemuda berambut cokelat terang itu memandangi bungkusan di tangannya. Bingung, heran, sekaligus tidak mengerti kenapa ia mau repot-repot mengabaikan cuaca dingin di pagi hari hanya untuk ke apotek membeli obat dan vitamin. Semakin membingungkan lagi karena semua itu untuk seorang namja yang sengaja ia dekati dengan tujuan tertentu. Ini sudah melenceng jauh dari tujuan awal, dan Baek Hyun sadar penuh akan hal itu. Tapi apa? sekarang dia sudah keluar dari sebuah apotek besar dengan semua bungkusan obat di tangannya.

 

“Kau siapa Kim Jong In?” tanyanya entah pada siapa. Selanjutnya ia menghembuskan nafas panjang sebelum kembali melanjutkan langkahnya menuju halte bis terdekat. Sebenarnya hanya sekitar 5 langkah sampai ia kembali terhenti. Bukan karena melupakan sesuatu, tapi kedua matanya menangkap sesuatu atau tepatnya seseorang di sana yang cukup familiar. Baek Hyun memicingkan matanya, memastikan penglihatannya. Ia tidak serabun itu untuk salah mengenali orang yang dekat dengannya.

 

Dalam gerak cepat ia merogoh ponselnya dan mengontak nomor yang sejak kemarin memang menghubunginya tapi ia abaikan berkali-kali karena lebih mementingkan kondisi Se Hun.

 

Bertepatan saat panggilannya tersambung, sosok tadi langsung masuk ke dalam sebuah mobil yang tadinya terparkir rapi di depan cafe, dan detik berikutnya mobil itu sudah melaju bersama kendaraan lain di jalan raya.

 

“Hallo Baek Hyun-ah… tumben sekali menelponku? Kemarin kenapa sulit sekali dihubungi?” sapa seseorang diseberang saat panggilan Baek Hyun dijawab.

 

“Ah maaf Kris, adikku sakit dan sedang dirawat sekarang, aku tidak memegang ponselku kemarin.”

 

“Ya Tuhan… Se Hun sakit? sakit apa? bagaimana keadaannya sekarang?”

 

“Dokter bilang hanya demam dan kelelahan. Dia sudah lebih baik sekarang, dan sudah bisa pulang sore ini.”

 

“Ah syukurlah, kupikir parah.”

 

Baek Hyun berdehem sejenak, karena memang ada tujuan lain kenapa ia menghubungi Kris saat itu. “Oh ya Kris, kau… masih di China?”

 

“Iya, masih ada urusan. Minggu depan baru pulang. Kenapa?”

 

“A… Ah… Tidak apa-apa. aku merindukanmu.”

 

Terdengar cekikikan geli di seberang, Kris pasti menertawainya. “Aku juga. Kau lebih tahu.”

 

“Eum, ya sudah. Sepertinya memang salah orang.”

 

“Eh?”

 

“Ah tidak, tadi aku ke apotek membeli obat, ah untuk jaga-jaga saja kalau Se Hun demam lagi.  Dan… aku melihat seseorang yang sangat mirip denganmu baru saja keluar dari cafe. Tapi sekarang sudah pergi dengan mobilnya.”

 

“Aneh sekali. Aku juga sedang berada di mobil, tapi menuju kantor. Mana mungkin bisa tiba-tiba muncul di cafe… itu?”

 

Baek Hyun tertawa garing, jadi malu sendiri. “Makanya kubilang salah orang. Untung saja aku tidak kalap karena terlalu merindukanmu. Akan sangat memalukan kalau aku berlari dan memeluk orang lain yang kukira kekasihku.”

 

Kembali, terdengar tawa di seberang. “Ya Tuhan… Jadi tidak sabar menunggu minggu depan.”

 

“Heum, ya sudah. Sampai ketemu minggu depan Kris.”

 

“Ne… “

 

“Aku mencintaimu…” ucap Baek Hyun dengan mudahnya.

 

“Aku juga…”

 

Dan seperti biasanya, Baek Hyun hanya mengangkat bahu dan menganggapnya angin lalu, semudah ia meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku. “Aku mencintaimu… hhh… Terlalu mudah. Kenapa hanya di depan Kim Jong In kalimat itu susah sekali diucapkan,” keluhnya seorang diri kemudian melanjutkan langkahnya menuju halte bis.

 

 

~*♥*~

 

 

“Kenapa melihatku begitu? Ada yang salah dengan penampilanku hari ini?” tanya Baek Hyun setelah cukup lama ditatap intens oleh Kai yang tengah terbaring di ranjangnya.

 

“Orang bilang, sempurna itu sifat Tuhan. Tapi entahlah, kupikir tidak apa-apa aku meminjam sifat Tuhan sekali saja,” balas Kai yang  terus tersenyum saat Baek Hyun mengompres keningnya dengan air hangat dan menyuapinya semangkuk bubur yang baru dimasaknya tadi.

 

“Bukan saatnya membual, habiskan ini dan minum obatmu. Setelah itu tidur, jangan banyak bergerak.”

 

“Aku tidak membual Byun Baek Hyun. Aku berani bersumpah kalau aku memiliki kekasih yang sempurna.”

 

Gerakan Baek Hyun mengaduk mangkuk bubur itu terhenti. Tanpa kentara ia menunduk dan memejamkan matanya perlahan. Lagi-lagi dada sebelah kirinya terasa tertusuk, kata-kata Kai selalu meremuk jantungnya. Dan ia butuh beberapa detik untuk meredakan semua itu. “Kalau begitu, menurutlah padaku, atau kau akan melihatku menjadi kekasih yang jahat.”

 

“Tidak jahat. Kau memarahiku karena kau memperhatikanku. Kubilang itu sempurna.”

 

Oh…. bisakah kau hentikan ini Kim Jong In?

 

Baek Hyun menatapnya tajam, semacam intimidasi agar kekasih-nya itu diam.

 

“Baiklah… Baiklah. Aku diam. Aaaa…”

 

Dan Baek Hyun melajutkan kegiatannya menyuapi Kai. “Nah, kalau kau jinak begini, jadi kelihatan manis.”

 

“Jinak? Wah kejam… kau menyamakanku dengan hewan peliharaan?”

 

Baek Hyun tertawa, sesekali menyeka sudut bibir Kai  yang belepotan. “Sudah kubilang aku bisa saja berubaah menjadi kekasih yang kejam.”

 

“Kalau kejammu seperti itu tidak apa-apa. kejam saja terus, manis sekali.”

 

Baek Hyun memutar bola matanya malas. “Oke cukup, saatnya minum obat.”

 

“Aku tidak sakit Baek Hyun-ah… istirahat saja cukup, nanti sore juga aku sehat kembali.”

 

“Sudah kubilang jangan membantah.”

 

“Aku tidak suka obat.”

“Memangnya ada orang yang suka obat?”

 

Kai terdiam sejenak, kemudian menatap Baek Hyun lamat-lamat. “Sepertinya ada.”

 

“Maksudmu obat terlarang? Hahaha… tentu saja banyak yang suka.”

 

“Bukan… tapi obat untuk menyembuhkan penyakit.”

 

“Hanya orang bodoh yang suka obat. Makanya, kalau tidak suka obat perhatikan kesehatanmu, jangan terlalu memaksakan  tubuhmu melakukan kegiatan yang berat.”

 

“Tidak… mereka tidak bodoh. Hanya saja orang seperti mereka menjadikan obat sebagai sesuatu yang bisa menambah  angka harapan hidup.”

 

Hening…

 

“Eung… Jong In-ah…”

 

“Ya?”

 

“Kau… baik-baik saja?”

 

“Aku baik-baik saja, kau yang bersikeras mengatakan aku demam.”

 

“Bukan… Maksudku… Malam itu juga, kau bersikap aneh. Kau serius tidak terjadi apa-apa denganmu?”

 

Kali ini Kai tersenyum. mengambil alih mangkuk di tangan Baek Hyun dan meletakkannya di atas nakas. Setelahnya ia meraih tangan Baek Hyun dan menggenggamnya. Tangan itu hangat, dan Baek Hyun bisa memastikan kalau suhu tubuh Kai  sekarang berada beberapa derajat di atas suhu tubuh orang normal, jadi dia tidak mengada-ada saat mengatakan Kai   sedang  demam.

 

“Aku tidak apa-apa.  Tidak terjadi apa-apa. Selama ada kau… Aku akan baik-baik saja.”

 

Deg~

 

Tidakkah itu berlebihan? Kai menjadikannya sebagai termometer semangat hidupnya, tanpa tahu bahwa tidak lama lagi ia akan mendatangkan bencana untuk Kai.

 

Kai sedikit beringsut, membetulkan posisinya hingga duduk bersandar. Refleks membuat Baek Hyun membetulkan duduknya di tepi tempat tidur, kali ini lebih dekat dengan kai.

 

“Seperti yang kukatakan malam itu. Kalau kau di dekatku, segalanya jadi semakin  mudah  dan menyenangkan. Selera makanku membaik,  semangatku juga meningkat drastis. Sejak kematian orang tuaku, kupikir hidup ini adalah kutukan. Tapi kehadiranmu mematahkan kutukan itu. Aku tidak pernah tahu seperti apa itu surga. Bahkan  sedikit  ragu kalau surga memang  ada. Jika bersamamu saja sudah membuatku sebahagia ini…   kupikir, aku tidak butuh  surga untuk bahagia.”

 

Slash~

 

Baek Hyun merasakannya. Bagai teriris pedang panjang,  menciptakan perih di hatinya. Bukan hanya  kata-kata tulus itu, namun pancaran mata penuh pendar harapan,  seolah  menempatkannya pada posisi tertinggi dalam hidup Kai. Masihkah ia pantas  disebut manusia jika  dengan seenaknya mempermainkan harapan itu?

 

“J… Jong In-ah…” hanya lirihan bodoh yang bisa ia  ucapkan. Mengalihkan pandangan  ke arah lain karena tatapan mata Kai terlalu berbinar. Tak terbendung.

 

“Aku mencintaimu Byun Baek Hyun. Dan aku sudah menemukan alasannya.”

 

Baek Hyun menoleh pelan. Membalasnya  dengan tatapan sayu,  menutupi rasa  bersalah. “Apa?”

 

“Eum… Karena  kau adalah kau. Karena kau  adalah  Byun Baek Hyun. Karena aku tidak menemukan sosokmu pada diri orang lain. Karena  itulah aku mencintaimu.”

 

Baek Hyun kembali  merana. Lagi-lagi Kai membuatnya seperti  itu.

 

“Alasan yang aneh bukan? Tapi kurasa memang sudah seperti itu. Kau selalu menanyakan alasan kenapa aku mencintaimu. Ya… dari pada tidak kujawab sama sekali. Tapi itu  sudah jawaban  yang tepat. Aku tidak akan mencintai orang lain yang bukan kau. Byun Baek Hyun…”

 

Baek Hyun memejamkan matanya. Mengundang tetesan bening yang entah sejak kapan menggenang  di pelupuk matanya.

 

Kai melihatnya begitu  murni,  terlihat  sangat tulus  dan  rapuh, membawanya mengangkat kedua tangannya  dan menyeka tetesan yang menciptakan garis kesedihan  di kedua  pipi  indah itu.

 

“Jong In-ah…” lirih Baek Hyun setelah membuka matanya. Disambut wajah  Kai yang tersenyum hangat padanya.

 

“Aku mencintaimu. Betul-betul mencintaimu,”  tambah Kai makin memperparah kondisi hati Baek Hyun.

 

Menuntunnya untuk tidak bergerak, apalagi mengelak saat Kai mendekatkan wajahnya untuk mempersatukan bibir mereka dalam ciuman lembut penuh cinta.

 

Sebuah  catatan penting tercetak tebal  dalam kamus kehidupan Baek Hyun…

 

Byun Baek Hyun kalah dengan sebuah perasaan asing bernama  cinta.

 

Ia  menangis sementara  Kai mengulum bibirnya lembut. Ciuman yang sangat berbeda yang pernah ia dapatkan dari mereka –pria berdompet tebal- bahkan Chan Yeol…

 

Ciuman yang sangat lembut, tidak menuntut tapi membuatnya merana.

 

Ciuman yang membuatnya tidak menemukan alasan untuk mengakhirinya.

 

Ciuman yang___

 

“Sepertinya nanti kau yang harus minum obat. Aku lupa kalau aku sakit. kau bisa tertular,” lirih Kai persis di hadapan Baek Hyun.

 

__membuat Baek Hyun lupa akan segalanya.

 

“Jong In-ah…”

 

“Heum?”

 

“Maafkan aku…”

 

“Untuk?”

 

Baek Hyun tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya meraih Kai ke dalam pelukannya yang erat. mati-matian menahan tangisnya di sana.

 

Kai tersenyum, kemudian membalas pelukan Baek Hyun tak kalah erat. “Apapun itu… akan kumaafkan.”

 

 

 

 

Maaf karena aku harus melukaimu…

 

 

 

 

~See you next chap~

 tbc

ALF Cuap-cuap: Hello readers KC yang KECE to the Max Changmin(?)
Merindukanku? Tidak? Yang bener?
Hohoho…
Ane (sok) sibuk banget bener deh… akhir oktober kemaren sebenernya udah mau update LNR ini, tapi tiba tiba negara Api menyerang #plak. Maksudnya langsung ada panggilan dari kampus buat test lagi. Wkwkwkw dan kemaren (gak tau hari apa noh) udah ada pengumuman kalo ane LULUS yeaaaaaaaaaaaaa #bakar rambut Chan Yeol…
 
Oke… Alhamdulillah juga kemaren kasus plagiatnya udah agak beres (walopun gak beres-beres amat). Jadi 4 lapak yang dijadikan tempat penyebaran(?) FF plagiat semuanya udah beres.
1. blog pribadinya udah close
2. Di blacklist ama Blog “J”
3. FF nya diapus di blog “ES”
4. blog HSF ….Yang ini walopun gak ada konfirmasi ke ane, tapi pas ane cek FF nya udah ilang.
Ya intinya walopun si IPS belom nongol dan ngajak ane ngomong(?), ya setidaknya FF ane yang dipagiat udah dihapus. Ya gitulah… akhirnya. Alhamdulillah …
Masalah die mau ngaku ke ane apa kagak, ya terserah saja lah. Itu urusan dia ama Tuhan aja.
Oke readers KC yang KECE. Sebentar lagi ane bakalan disibukkan ama jadwal kuliah (lagi), jadi ya status ane entah semi hiatus, hiatus doang, atau permanent O.O. tergantung sikon sajalah. Jadi untuk masalah PW Insya Allah saya ladenin sesempat-sempatnya. Untuk sementara, ALF Onlen nya pagi, sekitar jam 8 ampe 10. Trus malam juga jam 8 abis Isya, itupun gak bisa lama-lama paling ampe jam 10 malam juga. jadi sebelom ada yang nanya2 trus ngatain ALF di belakang “Ih authornya songong banget, dimintain PW pelit amat” ya tolong mengertilah situasi. ALF tidak hidup di dunia Fantasy (ecieeee), ALF punya real Life yang harus dibenahi. Toh copas kata mbak Anggun, hidup tak semulus pahanya Chibi (ini bener gak singkatannya?).
Ya sudahlah segitu aja. Kalau masih ada yang mau ditanyain, komen aja di bawah. Wkwkw atau kontak ane di FB atau twitter (asal gak nanyain pw di twitter. Ane gak ladnein pw di twitter). Kalo BBM,paketan abis. Tunggu hujan duit dulu baru beli wkwkwk okeh…
 
Catatan penting dah. Yang udah baca tapi gak komen… hm… didoain satu KC gak kawin-kawin wkwkwkwkwkwk sadis amat ane.
Trus yang Plagiat plagiat onoooohh… jangan kemari neng, neraka noh….
Yang nyebarin PW juga. Hai dear… bokongnya bisulan 7 tahun #plak
 
Lagian ampe ane warning kea mana juga namanya bebal ya bebal. -_-
Ya sudahlah, (dari tadi yasudahlah mulu) intinya kesadaran diri masing-masing ajalah.
 
Silakan berkomentar.
 
 
 
 
 

123 thoughts on “Love Needs Reason — Chap 2 || Baek Hyun And…

  1. Hola kak…
    Aduh saya tadi ngerefresh. Apa aku udah komen chap ini ya thun lalu ?
    Jawaban yang aku dapat malah..
    AKU LUPA…
    Jadi komen aja deh..
    Gak apa2 kan kak ?😉
    gak papa dong..
    Aku baca chap ini lagi, biar soalnya udah agak buram (?) tbcnya dimana.
    Hahaha
    .
    Overprotectif baek bener2 ngingetin aku ama seseorang..
    Hehe masalah pribadi dibawa-bawa.
    Kalo baek yg ngejaga se hun malah kebalik. Harusnya SeHun tuh..
    Badannya kan lebih gedekk..
    Walaupun kurus sih.
    Plakk
    hohoho…
    Ff LNR..
    Complicated banget, kris, chan, sehun, kai. The ultimate seme..
    Pada ngumpul ke baek. Eh kurang suho ama chen. Tapi suho biasa diukein sama kris.
    Kekekek.
    .
    Disini aku kasian ama kai, tapi keknya baek suka tuh ama abang tan satu ini. Siapa juga yg bakal gak kecantol ama abang yg satu ini..
    Huaaa
    karismanya itu lohhh.
    Saya kelepek2 liatnya.
    Pribadi baek yg naughty bener2 bikin aku pengen gigit dia.
    Hihihi
    gemes banget saya kak ngebayangin dia.
    The real of uke emang baby byun. Muka.y cuantik pake banget dah.
    *Cipok baek..
    *Ditendang kak alf

  2. ahhh jongin abis ini jangan merasa tersakiti
    jongin sakit yah???
    itu baekhyun beneran jatoh buat jongin
    sehun ah…jangan nganggep sehun begitu

  3. KAKKK!!! GW READER BARUU kayanya!!!!
    #PLAKK
    OKEH TERSERAHH,, GW MW TOBAT TRUS BUANG SAMPAH DIKOLOM KOMEN T.T

    entahlah baekk lu mau tidur ama siapa, mau cium siapapun gw ga masalah.. gw lebih sayang sama si adik ganteng to the max loe!! hiks.. can i take him to my fvckin’ home, pweaseee!!!!~~~

    krikk..krikk

    terus lagi ni, kalo si sehunnya bilang ke aku: “tolong lindungi kakakku, dari siapapun..”
    maaf sehunn,,, aku tidak bisa menahan diiriku, bagaimana jika aku melindungi kakakmu sehunnahh

    udee cukup,,
    gw takut kalo comen gw bawa penyakit bwt kk alf hoho
    kak alf fighting!!! :*

  4. kak alf~ aku baru selesain baca chap 2/? kapan dilanjuttttttt T.T baek cinta banget ya ama adeknya aduh sehun enak banget/?

    itu baekhyunnya ada rasa kan ama kaiiiii yaampun byuncabe bisa galau juga???? acieeeeeee chanyeol egois ya mentang2 udah kaya lampu ijo jadi kekeh baek harus cinta ama dia-_- tapi sakit sih kalo udah mendem cinta bertahun tahun tau2nya berpaling juga/?

    btws kris gimana kabarnyaaaa T^T

  5. Ini novel atau apa??? Panjaaaaaaaaaaang. Ini mah monster of chapter😮

    emang susah ya mbak, jadi orang cakep kea baekhyun. Sana sini dapet cinta mulu -_- mana si baek gantung lagi, huh syebel.
    Aku udah mulai melihat ?/ kroniknya kai nih, dan kris eum… Gak apa apa sih kalo dirimu selingkuh, bohong atau apapun itu tapi mencurigakan sekali yah dirimu malem2 dikafe. Heumm… /jiwa detektif menggerayangi/

    dan sehun… Eum… Gimana ya… Dia tuh tipeku banget disini. Sering manja tapi bisa dewasa juga, adegan pas bicara empat mata sama chanyeol itu, wuahh… Salut deh sama baekhyun sampe punya adek kek gitu. Apa musti kak alf yang harus aku kasi seratus rebu??? Ngerasa penting banget peran sehun disini T,T

  6. Ternyata sehun diem-diem juga syg bgt ama baek’a.. Sedihh😥 tp mereka ga incest kan ka alf?? Itu yg diliat baek ky kris psti kris beneran kan ya? Kris jg pasti py selingkuhan.. Dari chapter ini sih kaya’a baek bakalan jatuh cinta ama kai.. Kok aku dsinu kasian bgt ama sosok chanyeol ya, dy ky’a yg pling tulus ama baek tp baek’a gtuh msih maen2 T.T

  7. Ugh sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaa baekyun cabeku:* wkwk
    Bentar deh,ini hunbaek atau kaibaek atau chanbaek kak?wkwkw
    Hunbaek adudu mereka adik kakak yang errr selalu poppo sehun di bibirnya yang tipis itu ugh 😂😂😂😂✌

    Baekhyun hayolo galau gue yakin lo cinta kai HAHAHAHA hayolo hayolo,nah pas kai bilang surga surga aduh itu pasti……..ah gamau nebak semoga tebakan ku salah 😂😂😂 SEMOGA AJA SEHUN SETUJU HUB BAEK SAMA KAI ><

    CHANYEOL sabar ya sayang kamu bisa dapetin baek tapi sayangnya kai lebih dulu sabar yah kamu mau terus pantang jelek/?😂😂😂😂

    KAK ALF SEMANGAT TERUS FIGHTING KAK 👻👻👻👻

  8. Gaaaaaaaaaah!!! Tingkat kaibaek shipper meningkat cyin. Serius ya, moment mereka tuh asdfghjkl%&>\ banget deh!

    Eh pas liat chanbaek momentnya malah bingung lagi -_- susah nentuin yang mana sukanya. Suka semua soalnya, selagi baekhyun jadi uke mah ya suka semua wkwkwkwks

    Sehun juga, antara incest apa gimana gitu juga suka. Duh ya fav! Sampe bingung sendiri komen gimana lagi nggg

  9. Noh kan Baek kemakan omongan sendiri. Baek bisa lolos dari namja2 berkantong tebal tp takluk dari namja sepolos dan sesederhana Kai.

    Eh Kai sakit ya? Entah kenapa dalam pikiran ku Kai d diagnosa suatu penyakit yg mgkn bisa membuat ny tidak bisa menari lagi. Atau mgkn sesuatu yg lbh parah.

    Aduh aku nebak2 ih end ny baek sama siapa. Kalo d chapt sblum ny kandidat kuat itu Chanyeol tp kali ini Kai jg kandidat kuat terlebih sepertinya Baek jg udah cinta sama Kai yah walau Yeol masih sdkt d atas angin krn dpt dukungan dari Sehun

    Dan utk Sehun,tetap y kalo udah urusan adek yg protectif Sehun lah juaranya. Eh tp bentar jangan end ny Baek jstru sm Sehun ya, ah tdk apa2 aku jg suka kok HunBaek.

    Bwt busway, thor aku kangen sama ff ChanBaek mu. Bikin lagi dong. Hahaha

  10. Hhhhmmmm… Sepertinya aku lupa review ff ini… ato emank udah trz kelupaan…. Ahh, entahlaahh….
    Q dah penasaran bgt ma klanjutan kisah prjalan cinta si ‘cabe’….
    Baek bener beneeeeeerrrrr naughty eooh!! Pngn q gigit!!!!
    Baek galaoo nih gara2 permainannya sendiri. Kaciaaaaannnn….. #pukpuk
    Kkamjong dilawannn…
    Btw, kai tuh sakit parah ya kak Alf? Apa kira2?? ‘Kemampuan asli’ kak Alf mw muncul nih…. #ecieeeeee

    Kris ketauan selingkuh…. Baek bisa bebas dg mudah dr si Bule..

    Q sangat terharu ma kasih sayang persaudaraan HunBaek. Yg g tau mgkn akn nganggap mrk pasangn kkasih… Chan aja yg dah knl lama ma mereka masih aja cemburu.

    Cabe, tega bgt ma Chan.. Chan tu tulus lho cinta kamu tauuu! ‘katanya’
    Kalo menurutq, Chan lebih ke SAYANG ma Baek. Yg TULUS cinta Baek tu ya si ‘maliKAI’.. tp kl akhirnya Kai sakit parah trz g bs sama Baek gmn coba??? 😭 q g tegaaaaa!!!
    Apalagi pas kompetisi, si Kai tau kebenarannya…. IT’S DANGER!!! 안돼!!!!!! 😭😭😭😭😭

    Q tunggu klanjutannya… 파이팅!!! ✊✊✊✊

  11. authooorrr………
    pliss hati jadi gak karuan baca ff ini, terlalu ngeJLEB.. gabisa bayangin ada di posisi baekhyun….. sumpah ya baru pertama kali baca ff yng bisa bikin hati sekacau ini cz terlalu terbawa suasana… apalagi kata2 kai… itu terlalu ma-nis.. tapi aku sukaaa.. gabisa bayangin kalo itu beneran terjadi.. ouchhhhh
    aku belum sempet ninggalin komen di chap 1 karna lngsung cus chap 2 saking penasarannya. awal bacanya jujur kurang tertarik gara2 baekhyun kaya gitu tapi makin scroll kebawah lanjut cerita makin sukaaa apalagi chap 2nya goshhhhh…
    pokoknya ff ini keceeh bgt.. sampe bisa bikin reader ngrasain apa yng baekhyun sehun kai chanyeol rasain….
    ditunggu lanjutannya thorr… keep writing!^^

  12. Serius ini nano-nano bngt.. G biaa milih antara chanyeol ato jongin.. Keduanya punya porsi tersendiri buat baek klo mnurut q .. Tp aq rsa baek mulai ada rasa lebih k kaii..

    Ini blum jg kris bakal muncul dn mungkin jg baek bkal lebih sulit lgi… Hhh,, jngn smpe dh baek trjebak sma permainannya sndiri… Kasian kn uri baekhyunie,😦

    Okkelah, d tunggu klnjutannya
    keep writting
    Fighting!!

  13. Serius ini nano-nano bngt.. G bisa milih antara chanyeol ato jongin.. Keduanya punya porsi tersendiri buat baek klo mnurut q .. Tp aq rsa baek mulai ada rasa lebih k kaii..

    Ini blum jg kris bakal muncul dn mungkin jg baek bkal lebih sulit lgi… Hhh,, jngn smpe dh baek trjebak sma permainannya sndiri… Kasian kn uri baekhyunie,😦

    Okkelah, d tunggu klnjutannya
    keep writting
    Fighting!!

  14. ini ff baru apa udh lama sih? kok sy ngerasa apadeh apadeh br baca ff ini. hahah. aq gak berharap baek jd sama siapa2. kasian kan org2 yg kena jebakan cabe (?). jgn smpe ada salah satu dr kai atau sehun yg pnya penyakit atau ntr kris chan ada yg ketabrak. duh si cabe aja deh yg dosa.y tp jgn org yg menderita.y. ngmong apa sih sy. ha. oh btw klo mau bca ff ini ada pw.y ya? heu sy gk tau. yaa semoga aja gk ada pw.y haha (readers baru). sy gk mengharapkan ini happy end (loh). akan lebih keren klo ini sad end tanpa kematian (ngajak ribut) haha. coba wp ini bkin cerita misteri pasti keren. aq udh baca 2 ff dr 2 author disini itu keren klo soal main rahasia2an. coba dong menjajaki dunia misteri hoho

  15. seneng banget sih ngeliat hubungan baek dan sehun yg akur.. jadi iri.. ga kaya aku di rumah, pasti aja berisik adik-adik pada berantem huhuuu😥 dan disini baek beruntung banget ya punya adik kaya sehun..

    kapan aku juga terkahir menyadari bahwa adik aku bukan anak kecil lagi ya? memang kakak itu rata2 ga peka ya dengan pertumbuhan sang adik.. kaya disini, tanpa disadari baek, sehun udah mulai ngerti semuanya, apa yang baek lakukan untuk mencari uang, apa yg baek lakukan hingga tengah malam, sehun udah ngerti.. dan sebagai adik yang tidak ingin kakaknya rusak, sehun melakukan hal yang benar dengan menasihati kakaknya lalu menawarkan diri untuk bekerja.. kurang apalagi coba adik macam gini? huwaaa pengen punya adik kaya sehunnn :’)

    sebagai kakak yang baik juga, baek harusnya jangan terlalu memanjakan sehun.. anak yang dimanja itu kedepannya ga bakalan bagus.. biarlah setidaknya, seminimal2nya, sehun berusaha dengan keringat sendiri untuk membeli apa yang diinginkan.. supaya mandiri entarannya..

    ah kenapa malah jadi aku yang berkhotbah gini sih?

    back to story, waktu sehun sakit dan chan mau donor darah dan sumsum tulang belakang.. aduh ini teori macam apa demam harus didonor darah? wkakakak.. chanyeol terlalu panik ah..

    sebenarnya disini aku juga mempertanyakan ketulusan cinta chan sama baek nih, kalo misalnya chan bener2 suka, harusnya dia ga akan ngerusak baek dengan berhubungan fisik dong ya? bener apa kata sehun deh.. tapi ngeliat dia ngelakuin apa aja demi baek ya aku agak2 percaya aja.. mudah2an chan entar bakal terus ngelindungin baek dari tangan-tangan jahil (?)

    beralih ke kai, oke aku bener2 sedih lama2 ngeliat kai diginiin.. ngebayangin senyum cerah ceria hangat dan polosnya kai bakal hancur gara2 baek.. ahhhh, mudah2an baek sadar deh dan akhirnya bener2 punya kekasih yang bener2 dicintainya… walaupun aku berharapnya baek sama kai aja..

    baek jangan gini dong, biarin sehun menang dengan perjuangannya sendiri, bukan dengan menjatuhkan pihak lawan dan membuat kai jadi… ahhhhh asdfghjkl😦

    diantara semua pairnya baek disini, aku paling suka kaibaek… paling ngefeel disini.. apalagi kainya yang lucu dan polos, semua perlakuan sederhannya manis banget.. suka sama cara kai memperlakukan baek /peluk kai/

    masih penasaran itu kai kenapa sebenernya? aku udah punya firasat buruk waktu baek ketemu kai di rumah sakit waktu itu.. pliiisss mudah2an jangan ada apa2 sama kai.. masa aja kan harus sad ending di pihak kai? kai ngejadiin baek sebagai cinta terakhirnya sebelum ia akhirnya menyerah pada penyakit yang diidapnya /ahhh andwae andwae/ /kai harus bahagia di endingnya/ /kasian kan udah bertahun-tahun menderita terus masa endingnya menderita lagi/

    huwaaaa pokonya kak, kasih yang terbaik buat kai deh! kesian kan, udah sebatang kara, sakit, ga punya temen, sekalinya punya pacar ternyata ada maunya.. moga baek cepet2 tobat nasuha deh.. ayooo kaaiiii semangat sadarkan tuh pacarmuh yang mata duitan wkwkwkwk..

    /aduuhhh reader cerewet, kan udah ada kerangka ceritanya!/ wkwkwk.. apa aja deh cerita ALF entarannya aku mah nerima2 aja apa adanya (?)🙂

  16. Oh, air mata belum merembes kemata rupanya.
    Ham pir saja..

    Pada masing-masing tokoh memiliki sisi yang menyakitkan.

    Aku udah ngebayangin Kai gagal. Terus punya penyakit

    Udah seneng Baek sama Chan..Eh, si Sehun ngasih ultimatum menyesakkan.

    Terus Baek…. Cukup wakili dengan kalimat.
    . Demi Sehun. Kalau udah ada kata ‘Demi’ mah, bisa apa atuh..

    Eh, gatau kalau di Kris. Dia.. Mencurigakan. Kkk

    SSudah ah,

    Terima kasih sudah bisa bikin hampir nangis..

    Ini keren..

  17. duhhhh kaibaek bikin nyesek momentx huhuhuhuhu

    jadi ikutan ngerasa bersalah😦

    Kris beneran sayang ya ma Baek

    Chnayeol yg sabar ya bang😄 maklumin aja si Baek😄

    HINBAEKPLSSSSSS

  18. sehun – ah sakit .. dan dia tahu semua yang di lakukan sama baekhyun .
    walaupun semua nya buat sehun tapi dia gk suka juga kan kalau ada yang ngerusak kakak nya .

    baekhyun sudah mulai goyah sama cinta dari jongin . gimana sama janji nya sama chanyeol . terus kalau kris gk mau putusin baekhyun gimana ..

    jadi tambah pusing kan baekhyun nya . tapi apa jongin sakit parah kok dia ada di rumah sakit malem – malem …
    gk sabar nunggu gimana kelanjutan nya
    makasih

  19. tuh kan kak… aku sedih ngerasain gimana merananya ChanBaekKaiHun.
    Chanyeol yang merana karena tau Baekhyun jatuh cinta sama orang lain, sementara dia yang udah nungguin Baekhyum dan bahkan nggak marah ketika Baekhyun punya hubungan sama cowo kece lain.

    Baekhyun yang galau antara hatinya atau logikanya. antara Sehun. Kai. Chanyeol. dan mungkin Kris. ahh mungkin klo Kris mah gmpang. tinggal putusin aja. walau aku agak skeptis juga kalo Kris bisa terima diputusin gitu aja. aku khawatir Kris ga terima dan berubah jahat ke Baekki.

    dan soal Chan Yeol, mungkin dia yg bakal jadi opsi nomer satu pilihan Baek karena Sehun juga suka dia.

    lalu Kai?? karena Kai rivalnya Sehun. gamungkin Sehun terima gitu aja Kai jadi orang yang dipilih Baekhyun.. sementara kelihatannya Baekhyun paling cintaaa sama Kai. dan Kai sekali lagi kubilang….tuluuuus banget sama Baekhyun.

    dan Kai kayaknya sakit ya? pasti parah tuh sakitnya. *digetok karna sotoy* dan ntar bikin Baekhyun semakin bersalah udah mempermainkan Kai. dan dia dilemma antara ChanHun(?) atau Kai. aduh merananya si Baekhyun.

    aku nangis pas baca part2 KaiBaek yang manis2 mellow galau sakit(?) gimanaaaa gitu. apalagi bacanya smbil denger lagu galau lagi. lengkap deh.

    part yang bikin ngakak adalah pas Chan Yeol smangat pengen nawarin darah, sum2 tulang belakang, dan bahkan ginjal buat Se Hun.
    demi apa knapa ada orang seabsurd PCY sih?
    hahaha.
    sukaaa bgt chapter ini. next chapter ya kak Alf.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s