Not Behind Me || KrisBaek/KrisDO ||KaiSoo/KaiBaek


1017355_210991609053945_648101036_n

Tittle: Not Behind Me.

Author: AyouLeonForever

Genre: What the hell is going on? My brain totally in mess

Rate: Not for bocah. INI SERIUS.

Length: Gak mau ambil resiko lama-lama

Main cast: Do Kyung Soo (?)

Kris Wu (?)

Byun Baek Hyun

Kim Jong In

Main pair: saya tidak yakin. Mungkin akan terdeteksi di inti cerita.

 

Summary: Untuk mereka yang saling mencintai…

Namun tak mampu untuk saling melengkapi.

untuk mereka yang saling memiliki,…

Namun tak mampu untuk saling mengerti.

ALF Note:

 

Errr… apa ye? Pertama kenapa ane bikin FF yang castnya ada Baek Hyun tapi bukan fokus utama(?). aih gak tau. Kalo reader KC yang aktif yang tau ALF luar dalem(?) pasti bisa dikit ngerti kenapa nongol nama Do Kyung Soo paling atas disusul Kris Wu nomer dua. Ya intinya, itu orang(?) dua ya bias ane banget setelah Byun Baek Hyun. Trus hubungannya sama FF ini??? Gak ada kan? Ane bilang juga apa, jangan dengerin omongan ALF wkwkwkwk <— Stress. Harap maklum, ini ALF masih sakit sebenernya.

 

||Not Behind Me||

1

 

_Kyung Soo POV_

 

 

Mungkin karena aku tidak cukup baik saat meladeninya berbicara.

 

“Telepon dari siapa?” tanyaku saat Kai kembali ke ruang makan dan memasukkan ponselnya ke saku.

 

“Baek Hyun,” jawabnya santai kemudian kembali menyantap kimchi spagethi yang kubuat untuknya petang ini.

 

Dan nama itu sudah kudengar lebih dari 40 kali dalam satu minggu terakhir ini. “Oh… Baek Hyun. Dia baik-baik saja?”

 

“Dia baik-baik saja. Yang tidak baik itu pacarnya.”

 

“Maksudmu Kris Hyung?”

 

“Hm,” Kai menyeka sisa saos di sudut bibirnya kemudian meneguk jus yang juga kubuat untuknya. Melihat sikapnya itu, sepertinya dia buru-buru. Dan aku tahu yang akan ia ucapkan  selanjutnya adalah, “Aku selesai. Sepertinya Baek Hyun memang membutuhkan teman sekarang. Aku pergi dulu, dan ah… jangan menungguku. Mungkin aku pulang agak malam. Kalau misalnya kau takut sendirian di sini, akan kuantar kau pulang ke apartemenmu sekarang.”

 

“Ah tidak, aku tidak apa-apa di sini. Aku juga ingin membereskan rumah. Kau pergilah. Mungkin Baek Hyun benar-benar butuh teman berbagi, akhir-akhir ini dia sudah jarang bercerita padaku.”

 

“Aku dan kau apa bedanya. Dia sahabatmu, otomatis dia juga sahabatku.” Kai beranjak dari duduknya, menghampiriku sejenak kemudian mengecup bibirku singkat. Setidaknya kebiasaannya itu masih dia pertahankan sampai sekarang. “Aku pergi, jangan lupa mengunci pintu rapat-rapat. Jangan menerima tamu sembarangan.”

 

“Aku tahu,” balasku sambil tersenyum. Dan akan selalu begitu.

 

 

 

◁◈▷%

_Kris POV_

 

 

 

“Kemana?” tanyaku saat kuihat Baek Hyun sudah sangat rapi padahal ini sudah pukul 7 malam. Dan setahuku kami tidak janji untuk kemana-mana malam ini.

 

“Keluar,” jawabnya setelah selesai mengenakan parfum yang kuberikan untuknya pekan lalu.

 

“Maksudku kemana kau pergi? Akan kuantar.”

 

“Tidak perlu, ada Kai yang menjemputku.”

 

Kai… nama itu sudah sering tertangkap oleh telingaku beberapa minggu belakangan ini. “Kai? Kim Jong In?”

 

“Iya, kekasihnya Kyung Soo. Kau tahu Kyung Soo kan? Dia sahabatku.”

 

“Heum, aku tahu Kyung Soo. Tapi yang baru kuketahui adalah kau juga bersahabat dengan kekasihnya.”

 

Baek Hyun menoleh padaku setelah ia mengenakan sweaternya. “Ada masalah?”

 

Dan ini kebiasaan Baek Hyun yang tidak bisa kurubah sampai sekarang. Maksudku, dia tahu aku tidak suka memperpanjang masalah, jadi seharusnya dia tidak mengucapkan kalimat menantang seperti itu. “Tidak.”

 

“Baguslah. Ah, mungkin aku akan pulang cukup larut. Kau tidurlah duluan Hyung.”

 

“Baek Hyun-ah…”

 

“Ya?”

 

“Ah tidak, lupakanlah. Hati-hati di jalan. Telepon aku kalau ada sesuatu.”

 

Kekasihku itu tersenyum, kemudian menghampiriku. “Kau terihat lelah akhir-akhir ini Hyung. Istirahatlah. Aku pergi,” ucapnya sebelum ia berjinjit dan mengecup bibirku.

 

Masih rasa yang sama. Tapi tetap saja, ia terlihat semakin jauh. Semakin sulit kukenal. Ia terlihat sangat jelas, bisa kusentuh kapanpun, tapi dinding abstrak yang memisahkan kami terasa semakin kokoh. Dan aku tidak tahu dengan cara apa kurobohkan dinding itu.

 

 

◁◈▷

 

 

 

_Author POV_

 

Kai menepikan mobilnya di depan pagar rumah yang tidak terlalu besar namun terlihat sangat elegan. Senyum sumringah masih  terpasang di wajah tampannya, terlebih setelah ia menoleh pada pria mungil yang juga tak henti-hentinya tertawa di sebelahnya.

 

“Aku baru tahu kalau kau punya teman sekacau itu,” ucap Baek Hyun di sela gelak tawanya.

 

“Dia memang seperti itu. Kalau jadi temannya memang menguntungkan karena dia sangat ramai. Tapi dia bisa sangat kejam untuk orang yang tidak dikenalnya. Misalnya saja kau, kalau tidak kukatakan bahwa kau teman kencanku, dia pasti akan menyerangmu.”

 

“Dia lumayan tampan. Siapa tadi namanya? Se Hun?”

 

“Benar. Namanya Se Hun. Dan bar yang kita tempati tadi itu miliknya.”

 

“Benarkah? Dia bisa mengelola club malam sebesar itu di usianya yang masih muda?”

 

“Jika kau punya kuasa, terlebih hobbimu di bidang itu, apa yang tidak mungkin?”

 

Baek Hyun mengangguk sebagai pembenaran, kemudian tersenyum. “Ya sudah, intinya aku senang malam ini Kai. Sungguh, terima kasih.”

 

“Jangan sungkan, aku juga merasakan hal yang sama. Kau tahu? Aku tidak mungkin mengajak Kyung Soo ke tempat seperti itu.”

 

“Sama. Kris Hyung juga akan berpikiran seperti itu. Makanya aku cukup asing dengan suasana club malam tadi.”

 

“Ingin mencobanya lagi akhir pekan?”

 

Baek Hyun mengangguk tegas dengan mata berbinar. “Kenapa tidak? Mungkin aku akan minta izin semalaman penuh. Kurasa 5 jam saja tidak cukup.”

 

“Akan lebih sempurna lagi kalau kau menemaniku minum.”

 

Kali ini Baek Hyun begidik, sedikit tidak enak sebenarnya. “Maaf, untuk yang satu itu aku belum berani.”

 

“Kenapa? Kris Hyung melarangmu?”

 

“Bukan secara tegas. Tapi… yah… dia tetap melarangku. Jadi tidak bisa kubayangkan bagaimana tanggapannya jika aku pulang dalam keadaan mabuk.”

 

Kai mengangguk paham. Terdiam sejenak kemudian menatap Baek Hyun tepat di manik matanya. “Kris Hyung betul-betul bodoh jika menyia-nyiakanmu.”

 

“Maksudnya?”

 

Kai berdehem, sesekali mengusap tengkuknya. “Ah tidak, mungkin masih pengaruh alkohol. Kau terlihat sangat mengagumkan malam ini.”

 

Spontan membuat wajah Baek Hyun merona. “Dan Kyung Soo pasti sudah berkali-kali terbuai karena gombalanmu.”

 

“Tidak…. yang ini jujur,” ucapnya sembari menyentuh tangan Baek Hyun yang menapak di atas pahanya, membuat namja mungil itu mendongak kaget.

 

“K… Kai?”

 

“Maaf… tapi ini sedikit sulit,” lirih Kai sebelum ia sedikit bergeser ke arah Baek Hyun dan menggapai bibir mungil itu dengan bibirnya sendiri.

 

Baek Hyun mengerjap berkali-kali sebelum menutup matanya rapat-rapat. Membiarkan sepasang bibir berbeda yang baru pertama kali menyentuh bibirnya. Ciuman yang cukup berbeda karena sepanjang sejarah ia berpacaran dengan Kris, ia tidak pernah menerima ciuman yang seperti itu. “K… Kai… ini… sedikit… berlebihan,” keluh Baek Hyun saat Kai mulai menurunkan ciumannya di leher jenjang Baek Hyun.

 

Kai menghentikan gerakannya sejenak kemudian menjauhkan wajahnya, menatap Baek Hyun dengan pandangan sayu. “Maaf…”

 

Baek Hyun menggeleng pelan. Jujur ia juga mengalami gejolak yang sama. Namun sebagai orang yang sepenuhnya sadar dan tidak dipengaruhi alkohol sama sekali, seharusnya Baek Hyun lebih mampu mengendalikan diri.  “Jangan lebih dari ini Kai, atau kita akan menyakiti mereka.”

 

Dan namja tampan itupun menghela nafas dalam diamnya, sebelum ia bergeser dan membenahi  rambutnya.

 

“Aku… masuk dulu. Mungkin Kris Hyung masih menungguku,” pamit Baek Hyun canggung.

 

“Heum. Aku juga akan langsung pulang. Kyung Soo juga pasti sedang menungguku walau sudah kukatakan untuk tidak menunggu.”

 

“Ya, satu lagi kesamaan kita. Sikap kekasih kita, tidak jauh beda.”

 

Kai kembali tersenyum kemudian membelai pipi merona milik Baek Hyun. “Kita tidak akan sedekat ini jika tidak memiliki banyak kesamaan. Kita hanya terlambat dipertemukan. Itu saja.”

 

Dan Baek Hyun tidak punya kalimat untuk membalas kalimat yang sebenarnya ia sendiripun membenarkan.

 

“Ya sudah, masuklah. Ini sudah jam 2 pagi. Kau butuh banyak istirahat.”

 

“Baiklah. Aku masuk dulu. Kau juga setelah sampai rumah langsung istirahat. Ah, dan hati-hati menyetir.”

 

Kai mengangguk sebelum mempersilakan Baek Hyun turun dari mobilnya. Karena memang kebersamaannya dengan Baek Hyun adalah sesuatu yang fana. Ada seseorang untuk Baek Hyun, dan seseorang untuk Kai yang lebih nyata. Menunggu masing-masing dari mereka dalam dekapan.

 

Ini bukan benci. Hanya saja… ada masa saat suatu hubungan telah menemukan titik jenuh. Alternatif untuk mempertahankannya adalah, mencari fokus lain agar hubungan itu tidak semakin membosankan.

 

Dan tanpa mereka berdua sadari… mereka melakukannya, dan semakin lama semakin terbuai oleh hal yang seharusnya hanya sebagai pengalih kejenuhan. Kata yang lebih tepat adalah…

 

Mereka menemukan apa yang tidak mereka dapat dari pasangan masing-masing.

 

 

 

◁◈▷

 

 

Kris hanya diam saat Baek Hyun masuk ke kamar mereka dalam kondisi lelah. Untuk membuka sepatu dan mencuci wajahpun sepertinya ia sudah tidak punya tenaga. Dan Kris akan sekali lagi membantu Baek Hyun membuka sepatunya, mengganti pakaiannya dengan piyama yang lebih nyaman kemudian dengan penuh kasih sayang membaringkan tubuh kekasihnya itu di tempat tidur mereka.

 

“Terima kasih…”

 

Sebenarnya ucapan seperti itu sangat hangat. Tapi bagi Kris, ucapan terima kasih adalah kalimat yang tidak ia sukai jika keluar dari bibir Baek Hyun. Nyatanya, ia tidak butuh ucapan itu karena ia melakukan semuanya untuk kekasihnya sendiri. Bukan orang lain.

 

“Tidurlah. Kau sangat lelah,” ucapnya pelan sebelum mengecup kening kekasihnya itu penuh perasaan.

 

“Selamat tidur Hyung.”

 

“Aku mencintaimu,” lirih Kris sekedar mengingatkan. Karena memang beberapa bulan terakhir, Baek Hyun sudah tidak pernah mengucapkan kalimat indah itu sebagai ucapan menjelang tidur mereka.

 

“Aku juga…”

 

Dan Kris hanya menghela nafas saat Baek Hyun mengucapkan kalimat itu dengan mata terpejam dan suara berat.

 

Selelah apa Byun Baek Hyun sebenarnya? Dan lelah dalam hal apa?

 

Itu yang terus dipikirkan Kris sampai detik ini. Berharap ia menemukan jawabannya dan buru-buru memperbaiki segalanya sebelum ada sesuatu yang terjadi dengan hubungan mereka yang baik-baik saja.

 

 

◁◈▷

 

Kyung Soo menatap prihatin tubuh Kai yang terbaring lemah di sebelahnya. Sedikit mengandai-andai jika saja Kyung Soo jauh lebih kuat dari yang sekarang, ia akan membopong tubuh Kai untuk berendam air hangat di kamar mandi. Memberinya apa saja agar namja tampan itu merasa lebih baik, karena ia tahu orang yang mabuk itu benar-benar tidak merasa nyaman pada tubuhnya.

 

“Kubuatkan susu?” bisik Kyung Soo pelan.

 

“Tidurlah. Besok baru kau buatkan. Aku lelah sekali,” balas Kai semakin mengeratkan pelukannya di perut Kyung Soo.

 

“Baiklah. Tapi jika kau butuh sesuatu, katakan saja.”

 

“Aku hanya butuh tidur, jadi diamlah.”

 

Kyung Soo pun menurut. Ia menyeka lelehan peluh di sekitar pelipis Kai sebelum mengecupnya lembut. “Aku mencintaimu,” bisiknya.

 

“Hm…”

 

Dan perasaan itu kembali menyergapnya. Ini sudah bulan ke sekian sejak Kai terakhir kali membalas ucapannya dengan benar. Biasanya Kai akan terkekeh dan langsung memberikannya ciuman dan dekapan yang lebih hangat dari apapun. Namun kini? Ia rasa Kai lebih kepada membutuhkan Kyung Soo sebagai penyangga lengannya yang lelah. Bukan memeluknya secara utuh.

 

kau kenapa Kai?

 

 

 

◁◈▷

 

 

 

Kyung Soo POV

 

Kai semakin ceria akhir-akhir ini. Dan jujur saja itu membahagiakan. Hanya saja alasannya…

 

“Dan kau tidak akan tahu Baek Hyun-ah, walaupun Se Hun punya wajah setampan itu, dia juga pernah ditolak satu kali.”

 

“Uhuk… benarkah? Ya Tuhan, manusia bodoh mana yang mengabaikan Se Hun sampai seperti itu?”

 

“Dia tidak bodoh, hanya berpikiran realistis. Se Hun memang tampan dan banyak uang, tapi latar belakangnya.”

 

“Oh aku mengerti. Mungkin akan kulakukan hal yang sama kalau saja Se Hun menggodaku.”

 

“Tenang saja, Se Hun nakal-nakal begitu tidak akan menyerang temannya.”

 

Dan mereka berdua kembali tertawa. Aku ingin ikut berpartisipasi tapi aku sama sekali buta akan topik yang mereka bicarakan. Sungguh, siapa pria bernama Oh Se Hun itu. Kai bahkan tidak pernah menceritakannya padaku jika memang dia punya teman seakrab itu.

 

Lalu… Baek Hyun?

Maksudku, aku tidak keberatan jika ia ikut acara makan siang kami di cafetaria kampus kami. Itu wajar bukan? Aku, Kai, dan Baek Hyun memang satu jurusan, walaupun aku dan Baek Hyun lebih banyak mengambil kelas yang sama. Yah itu wajar… walau selama ini yang kuketahui Baek Hyun akan makan siang dengan kekasihnya sehabis kelas terakhir kami.

 

“Baek Hyun-ah… ada saos di bibirmu.”

 

Aku menoleh saat Kai menegur Baek Hyun seperti itu. Dan aku saja yang duduk di hadapan Baek Hyun tidak begitu memperhatikan satu titik noda saos di sudut bibirnya yang sangat tipis itu. Sungguh, terkadang mata Kai terlalu jeli. Atau… mungkin objeknya yang terlalu menarik perhatian? Entahlah.

 

“Ah maaf, kalau aku lapar memang seperti ini, agak ceroboh,” balas Baek Hyun dengan senyum malaikatnya. Menyeka sudut bibirnya yang salah.

 

“Bukan di situ, tapi ini…”

 

Deg~

 

Ini… ini wajar. Iya ini wajar karena Baek Hyun dan Kai duduk bersebelahan, jadi tidak masalah jika Kai menyeka sisa saos di sudut bibir Baek Hyun. Aku jelas tidak bisa membantu Baek Hyun karena ada meja yang membatasi kami.

 

“Ah terima kasih Kai.”

 

“Hm sama-sama. Jangan sungkan begitu. Kita teman.”

 

Ah benar, mereka teman. Jadi tidak ada yang salah jika sesama teman saling membantu. Tidak ada salahnya juga jika yang duduk berdampingan dengan Kai adalah Baek Hyun, bukan aku. Kurasa sama saja karena memang ini hanya acara makan siang, bukan berkencan. Ah benar. Kami bertiga bukankah sudah akrab sejak kami berkuliah di sini. Maksudku, Baek Hyun memang teman SMP ku jadi kami langsung akrab saat tahu bahwa kami kuliah di tempat yang sama, bahkan satu jurusan dan banyak mengambil kelas yang sama. Mengenai Baek Hyun akrab dengan Kai, bukankah wajar jika aku memperkenalkan kekasihku pada sahabatku? Di tahun kedua kami kuliah di tempat ini, mereka semakin akrab. Mungkin karena kami sering belajar bertiga. Jadi tidak apa-apa. Tentu saja tidak akan apa-apa.

 

“Baek Hyun-ah…”

 

Kami bertiga menoleh bersamaan saat suara yang kiranya cukup familiar itu terdengar.

 

“Ah hyung, kelasmu sudah selesai?” sambut Baek Hyun hangat. Karena memang yang datang itu adalah kekasihnya.

 

“Iya, baru saja.”

 

“Duduklah, kau mau makan apa? Akan kupesankan.”

 

“Tidak usah, aku makan di rumah saja. Kulihat kau juga sudah selesai makan.”

 

Baek Hyun menoleh padaku dan Kai bergantian, kemudian tersenyum. Kurasa untuk meminta kami sedikit maklum. “Kai, Kyung Soo-ya, aku duluan. Terima kasih sudah ditraktir.”

 

“Makananmu belum habis Baek Hyun-ah,” tegur Kai saat Baek Hyun mulai memakai ranselnya kembali.

 

“Aku sudah kenyang. Sampai jumpa lagi, bye.”

 

Dan Baek Hyun akhirnya berdiri dan langsung menggamit lengan kekasihnya yang sejak tadi memasang wajah dingin. Atau memang wajahnya sudah begitu sejak lama, seingatku belum pernah kulihat ia tersenyum apalagi tertawa. Dia hanya mengangguk padaku dan Kai. Yang kutahu itu caranya jika ia ingin pamit pada kami jika kebetulan kami memang bersama kekasihnya.

 

“Aku heran bagaimana Baek Hyun bisa bertahan dengan pria dingin seperti itu,” keluh Kai entah kepada siapa. Yang jelas hanya ada aku yang kini bersamanya.

 

“Mungkin pembawaannya memang begitu Kai. Dan bukankah hubungan mereka sudah hampir memasuki tahun ke 5? Jadi kurasa memang Kris hyung tidak sedingin yang kita bayangkan. Setidaknya bagi Baek Hyun. Kekasihnya,” balasku berusaha diplomatis. Tepatnya, berpikir positif.

 

“Apa Baek Hyun tidak pernah cerita padamu?”

 

“Tentang apa?”

 

“Hubungannya dengan Kris hyung beberapa bulan belakangan ini.”

 

Aku menggeleng ragu. Seingatku memang Baek Hyun tidak pernah cerita tentang kehidupan pribadinya. Maksudku, kami cukup dekat, tapi Baek Hyun sangat jarang  mengajakku membahas sesuatu yang tidak berhubungan dengan kuliah. “Apa terjadi sesuatu?”

 

“Sudahlah. Kurasa memang Baek Hyun tidak ingin semua orang tahu,” tutupnya sebelum ia menyelesaikan makannya dengan buru-buru. “Ayo pulang.”

 

Aku mengangguk, jelas saja tidak lepas dengan senyumku yang memang akan selalu kuberikan untuknya. Untuk orang yang paling kucintai di dunia ini.

 

 

◁◈▷

_Kris POV _

 

Baek Hyun sedikit mendorongku saat kudengar suara samarnya mengeluh. Ini sudah tidak terhitung untuk kesekian kalinya ia merasa tidak betah saat berciuman cukup intim denganku.

 

“Kemana?” tanyaku saat ia sudah lebih dulu beranjak dari tempat tidur kami.

 

“Perutku sakit. Kau tidurlah dulu, aku akan lama sepertinya,” jawabnya sedikit…

 

Acuh?

 

“Apa ada masalah dengan pencernaanmu belakangan ini?” buru-buru kuraih pakaianku di sisi tempat tidur dan mengenakannya kilat.

 

“Entahlah…”

 

“Tunggu di sini, akan kucarikan obat di luar.”

 

“Eh tidak perlu Hyung,” cegatnya saat aku sudah berhasil menuju pintu kamar kami. “Aku baik-baik saja. Mungkin hanya siklus pencernaan biasa, bukan masalah besar. Lagipula ini sudah larut malam. Kau mau cari obat di mana?”

 

“Apotik di ujung jalan itu buka 24 jam. Atau sekalian saja kita ke rumah sakit? Kurasa memang sudah waktunya kau chek up kesehatan untuk bulan ini.”

 

Ia terdiam sejenak dan menatapku sedikit… aneh. Entahlah, tatapan lelah itu lagi. Dan ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam toilet. Melangkah pelan ke hadapanku dan menatapku masih seperti itu. “Aku tidak butuh obat, aku juga tidak butuh rumah sakit. Aku tidak butuh chek kesehatan, karena aku sehat-sehat saja. Tidak sakit.”

 

“Lalu kau butuh apa? Akan kuusahakan untuk__”

 

“Tidak. Aku tidak butuh apa-apa. Jadi jangan mengusahakan apapun lagi Hyung,” potongnya cepat sebelum ia menghela nafas dan beranjak dari hadapanku. Menuju nakas dan menyambar ponsel miliknya di sana. Setelahnya ia masuk ke dalam toilet dan menguncinya rapat-rapat.

 

Kupikir ia tidak butuh ponsel jika ia ingin melakukan aktivitas kamar mandi. Jadi yang aku tahu, dia hanya butuh toilet sebagai ruang agar ia bisa lebih leluasa berbicara dengan seseorang via ponsel. Dan aku tidak perlu mencari nama lain. Karena kuyakin dia akan memilih nama Kai sebagai temannya untuk berbicara.

 

Kapan terakhir Baek Hyun menjadikanku satu-satunya teman untuk mencurahkan segala keresahannya? Aku sedikit lupa, yang jelas aku mulai kehilangan sosoknya yang hanya memikirkanku itu sejak beberapa bulan terakhir ini. Tepatnya, sejak ia mulai dekat dengan kekasih sahabatnya sendiri.

 

Kim Jong In. Kai…

 

Ada yang berubah diantara kami. Sesuatu yang membuat hubungan kami semakin lama semakin terasa hambar. Maksudku, mungkin itu yang dirasakan Baek Hyun sekarang. Apa itu? Apa pemicunya? Akupun tidak tahu, karena naluriku mengatakan kami baik-baik saja. Aku tidak sedikitpun berubah untuknya. Kecuali perasaan cintaku. Kuakui memang berubah, karena semakin hari, aku semakin mencintainya.

 

Sungguh… satu hal yang paling ingin kulakukan sekarang adalah, mencari tahu apa yang terjadi pada hubungan kami. Berusaha sebisa mungkin memperbaikinya, karena jika ini terus berlarut-larut, dan Baek Hyun akhirnya jenuh padaku dan meminta berpisah dariku, maka aku akan bertemu pada penyesalan terbesarku sepanjang hidupku.

 

 

 

◁◈▷

 

Author POV~

 

 

 

Pagi itu, tepat satu minggu sejak Kai memiliki kebiasaan baru untuk menginap di luar. Artinya, dia akan pergi sore hari dengan penampilan sangat tampan, dan pulang keesokan harinya dengan keadaan cukup berantakan dan… lelah. Bohong besar jika Kyung Soo tidak khawatir, namun ia tidak ingin kekhawatirannya itu justru menambah beban untuk Kai.

 

Namun hari ini, Kyung Soo sudah tidak bisa membendung kekhawatirannya. Sudah pukul 11 siang, dan Kai belum juga bangun sejak ia kembali tidur pukul 8 pagi tadi. Kyung Soo jelas khawatir karena Kai tidak menyentuh sarapan paginya sebelum ia kembali tidur.

 

“Kai…” lirih Kyung Soo hati-hati, seiring jemari lembutnya yang membelai rambut Kai yang menutupi dahinya. “Bangunlah dulu. Ini sudah pukul 11, dan kau belum makan apa-apa sejak tadi pagi,”

 

“Nanti… sekalian makan siang,” balas Kai yang memalingkan wajahnya ke arah lain membuat belaian lembut Kyung Soo terlepas.

 

Kyung Soo itu begitu gigih, jika itu sudah menyangkut tentang Kai. Terbukti ia memilih duduk di tepian tempat tidur, persis di sebelah Kai, kembali membelai rambut kekasihnya itu dengan sangat lembut. “Kau bisa sakit kalau seperti ini terus Kai. Kusiapkan air mandimu dulu? Setidaknya agar kau sedikit segar.”

 

“Aku hanya ingin tidur Kyung Soo-ya, jangan menggangguku dulu.”

 

“Apa semalam kau minum banyak lagi?”

 

“Hm…”

 

Kyung Soo menghela nafas panjang, masih setia membelai rambut Kai. “Jangan keseringan minum Kai, Itu tidak baik untuk kesehatanmu.”

 

“HMMM….”

 

“Apa kepalamu masih pusing? Kubuatkan susu hang_”

 

“ARRRGGHHH… kenapa kau cerewet sekali ha?” bentak Kai saat dengan jengkelnya ia bangkit dari tidurnya dan menatap Kyung Soo marah.

 

Deg~

 

“Ma… Maaf… aku hanya tidak ingin kau sakit.”

 

Kai mengusap wajahnya yang kusut. Sklera matanya yang merah membuktikan bahwa matanya benar-benar terpaksa untuk dibuka. Mungkin juga masih pengaruh alkohol. “Aku justru merasa sakit kalau kau terus-terusan seperti ini.”

 

Kyung Soo terdiam sejenak. Mencoba menerjemahkan kalimat sederhana Kai yang menurutnya ada yang salah. “Terus-terusan seperti apa?” dan akhirnya ia menanyakannya.

 

“Arrgghhh… sudahlah. Kau siapkan saja makananku, aku mau mandi.”

 

“Makanannya sudah siap sejak tadi, tapi akan kupanaskan untukmu. Kau ingin kubuatkan sup atau__”

 

“Terserah… terserah… Lakukan apa sesukamu, jangan membuat kepalaku semakin sakit.”

 

Blam~

 

Kyung Soo tersentak ke belakang saat Kai dengan seenak hati membentaknya dan masuk ke kamar mandi sambil membanting pintu.

 

Kai saat kesal memang seperti itu. Dan Kyung Soo sudah hapal betul sifat kekasihnya itu. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini, intensitasnya semakin meningkat. Ia ingat 2 hari yang lalu Kai marah hanya karena Kyung Soo menunggunya pulang sampai tertidur di ruang tamu dan lupa mengunci pintu. Sebenarnya bukan sepenuhnya kesalahan Kyung Soo. Kai lah yang lupa memberitahukan bahwa (lagi-lagi) ia menginap di luar. Tapi, bukan Kyung Soo namanya jika bukan ia yang meminta maaf lebih dulu dan mengaku salah.

 

Ia hanya tidak ingin karena kesalahan kecilnya justru menimbulkan masalah besar bagi hubungannya yang selalu baik-baik saja dengan Kai. Untuk itu, yang bisa ia lakukan hanyalah menuruti semua keinginan Kai dan menghindari semua hal yang tidak disukai oleh kekasinya itu.

 

Alasannya hanya satu. Sungguh, ia mencintai pria itu dengan sepenuh hatinya.

 

 

 

◁◈▷%

 

Kyung Soo mengerutkan kening saat ia melihat Kris di luar kelasnya. Mungkin ingin menyampaikan langsung padanya kalau Baek Hyun sedang sakit hari ini, makanya tidak ikut kelas sejak pagi. Tapi menurutnya, telepon dari Baek Hyun tadi pagi sudah cukup untuk Kyung Soo tahu dan sudah cukup untuk memintakan izin pada dosen yang masuk hari ini. Apa Kris memang tidak segan-segan untuk membuat dirinya repot seperti itu jika sudah menyangkut masalah Baek Hyun? Jujur saja Kyung Soo sedikit penasaran.

 

“Ada apa Hyung?” tanya Kyung Soo nekat. Sebenarnya dia sudah pernah berbicara pada Kris, tentu saja saat Baek Hyun memperkenalkan mereka. Selebihnya hanya salam formalitas semata.

 

“Ah, kau. Apa Baek Hyun masuk hari ini?” tanya Kris balik. Tidak bisa ia sembunyikan raut kecemasan di wajah tampannya itu.

 

“Eh?” Kyung Soo sedikit membelalak. “Bukankah dia izin tidak masuk hari ini karena sakit?”

 

“Da… Darimana kau tahu? Sakit apa dia?”

 

Kyung Soo semakin kaget, juga semakin bingung. “Dia menelponku tadi pagi. Kenapa kau tidak tahu Hyung? Kalian sudah tidak tinggal bersama?”

 

“M… Masih. Hanya saja, dia belum pulang sejak kemarin. Kupikir dia langsung ke kampus atau, ke tempatmu.”

 

Kyung Soo menggeleng. Masih bingung. “Dia tidak kembali ke rumahnya?”

 

Kris menghela nafas, terlihat sekali ia kecewa. “Rumah itu sudah dijual sejak keluarga Baek Hyun pindah ke Jepang satu tahun yang lalu. Dan di Korea, dia hanya punya aku. Dan hanya punya rumah kami sebagai tempat tinggalnya. Jadi kupikir mungkin dia ada di tempatmu.”

 

Kyung Soo diam-diam bersorak kagum dalam hatinya. Kalimat ‘rumah kami’ yang baru saja diucapkan Kris memang terdengar sangat manis. Ia tidak akan lupa bahwa Baek Hyun pernah satu kali bercerita mengenai rumah yang tidak terlalu besar tapi sangat mewah itu. Rumah itu milik Kris, dan ia mengajak Baek Hyun untuk tinggal bersama sejak Baek Hyun lulus dari SMU dua setengah tahun yang lalu. Sebenarnya tidak jauh beda dengan ia dan Kai, hanya saja Kai tidak pernah menyebutkan secara jelas bahwa rumah yang mereka tempati bersama sekarang adalah ‘rumah mereka’.  “Kenapa tidak kau hubungi dia Hyung?”

 

Kris menggeleng lemah, dengan fokus mata entah kemana. Lingkaran hitam di bawah kantung matanya cukup membuktikan bahwa namja itu tidak cukup memperhatikan dirinya karena terlalu dipusingkan untuk memikirkan orang lain. Ah bukan orang lain, tentu saja kekasihnya sendiri. “Sudah puluhan kali kuhubungi tapi dia tidak menjawab panggilanku. Mungkin dia melupakan ponselnya di suatu tempat.”

 

Dan Kyung Soo tidak akan menyela lagi bahwa tadi pagi Baek Hyun menelponnya dengan nomornya sendiri, jadi tidak mungkin jika ia melupakan ponselnya. Dan jika ia mengatakan itu, justru akan memperparah keadaan.

 

“Oh ya, mana Kai?” tanya Kris tiba-tiba.

 

“Kemarin dia pamit padaku untuk keluar kota bersama temannya,” jawab Kyung Soo santai. Setidaknya ia sedikit lebih beruntung karena Kai tetap memberitahukan keadaannya pada Kyung Soo.

 

“Ke… Keluar kota? Dengan siapa?”

 

“Dia bilang dengan teman-temannya satu club dance.”

 

Kris semakin membelalak. Dan kondisinya yang mengenaskan itu semakin membuatnya terlihat menyeramkan. “Club dance? Bukankah ketuanya adalah Lee Taemin?”

 

“Benar…”

 

“Apa bisa satu club mengadakan kegiatan yang tidak diikuti ketuanya sendiri?”

 

Kyung Soo mengerutkan keningnya bingung. Sungguh dari awal sampai akhir ia tidak mengerti mengenai apa yang sebenarnya mereka bicarakan ini. “Maksudnya?”

 

 

 

 

&&&

Dan Kyung Soo pun menemukan jawabannya saat Kris tanpa sungkan mengajaknya menemui Lee Taemin di ruang latihan club dance.

 

“Keluar kota apanya? Tadi pagi aku justru menerima telepon dari Kai kalau ia tidak masuk hari ini karena kakinya terkilir saat terpeleset di kamar mandi. Harusnya kau lebih tahu itu karena kalian tinggal bersama.” Itulah jawaban Taemin saat Kyung Soo betul-betul mempertanyakannya.

 

“Ah terima kasih informasimu Taemin-shii,” Kris yang membalas karena Kyung Soo terlihat cukup shock mendengar jawaban itu.

 

“Sama-sama Hyung. Oh iya, kudengar dari Baek Hyun kau tidak enak badan, tampaknya sepertinya memang begitu.”

 

“Kapan kau mendengarnya dari Baek Hyun?”

 

“Tadi malam, saat aku kebetula bertemu dengannya di bar milik Se Hun. Aku menanyakanmu karena terlihat aneh Baek Hyun berkeliaran tanpa kau di sebelahnya Hyung.”

 

Kyung Soo dan Kris tersentak bersamaan, saling menatap satu sama lain kemudian kembali menatap Taemin.

 

“BERSAMA KAI???” sergah mereka bersamaan.

 

Taemin cukup tersentak, sampai kemudian ia mengangguk cepat. Aneh memang mendapati Kris dan Kyung Soo repot-repot mendatanginya hanya untuk menanyakan keberadaan Kai. Ia tidak mau ambil pusing, jadi ia hanya menjawab dan memberikan info apa saja yang ia tahu.

 

 

 

 

◁◈▷

Kyung Soo mendongak saat sebuah kaleng minuman terpajang di depannya. Kris yang tadi pamit membeli minuman kembali dengan dua kaleng cola.

 

“Sudah agak baikan?” tanya Kris saat ia duduk di bangku taman, persis di sebelah Kyung Soo.

 

Namja bermata indah itu hanya menghembuskan nafas panjang sebelum menerima kaleng cola itu dan hanya menggenggamnya. “Aku tidak tahu. Ini pertama kalinya Kai bohong padaku.  Atau mungkin ini pertama kalinya aku mengetahui bahwa Kai membohongiku.”

 

“Hm, aku tahu kau kecewa. Karena aku juga merasakan hal yang sama. tapi setidaknya aku sedikit lega karena aku tahu Baek Hyun tidak kenapa-kenapa.”

 

Kyung Soo menoleh cepat. Menatap Kris yang mendongakkan wajahnya menghadap langit yang mulai memerah petang itu. “Kau tidak merasakan cemburu sama sekali? Maksudku, Baek Hyun bersama Kai, dan kau tidak tahu apa yang mereka lakukan semalaman, bahkan sampai sekarang.”

 

“Kalau kubilang aku tidak cemburu berarti aku bohong.” Kris meneguk colanya sedikit, kemudian kembali menggenggamnya. Masih tidak mengalihkan pandangannya dari langit. “Aku seperti ingin menghabisi Kai saat ini juga. Tapi lebih penting dari itu semua adalah, Baek Hyun baik-baik saja sekarang.”

 

Kyung Soo melebarkan matanya takjub. “Tapi kau tidak marah sama sekali.”

 

“Siapa bilang?” Kris menoleh, memperlihatkan wajah terlukanya pada namja yang juga mengalami nasib yang sama dengannya. “Aku marah, sangat marah. Hanya saja jika aku memperturutkan amarah ini, semuanya akan semakin berantakan.”

 

“Maksudmu?”

 

“Tidak susah-susah. Aku bisa saja mencari keberadaan Kai saat ini juga dan menghajarnya habis-habisan. Tapi dampaknya adalah, Baek Hyun tidak akan suka sikapku. Dia akan marah besar, dan yang paling tidak ingin kulihat adalah, saat ia marah… maka ia akan menangis.”

 

Kyung Soo terdiam. Untuk pertama kalinya ia menghapus segala persepsinya tentang Kris yang berhati dingin. Sungguh, tidak pernah ia bayangkan sehangat apa namja tampan di sebelahnya ini. Terlihat jelas dari sikapnya, betapa ia melakukan segalanya hanya untuk Baek Hyun. Mempertimbangkan baik buruknya dan pada akhirnya ia akan menempatkan kalimat ‘demi Baek Hyun’ sebagai pertimbangan terakhir.

 

“Kau sendiri?”

 

Kyung Soo kembali mendongak saat Kris bertanya padanya. “Apa?”

 

“Perasaanmu sekarang. Kau marah?”

 

Kyung Soo menggeleng pelan. Terlihat sangat ragu. “Aku tidak tahu. Aku tidak pernah marah pada Kai. Aku hanya marah pada diriku sendiri, mungkin aku melakukan kesalahan sampai Kai mengacuhkanku seperti ini.”

 

“Benarkah?”

 

“Apanya?”

 

“Mengenai kau tidak pernah marah pada Kai.”

 

“Hm. Rasanya aneh. Kai terlalu benar dan terlalu sempurna di mataku. Jadi jika ada sesuatu yang salah pada kami, kurasa pasti penyebabnya adalah aku.”

 

Kris mengangguk pelan, kembali meneguk colanya. “Kau dan Baek Hyun sungguh bertolak belakang. Namja mungilku itu tidak kenal  arti mengalah. Dan sebagai orang yang lebih dewasa darinya, maka aku yang akan selalu mengalah. Sebenarnya bukan masalah, hanya saja aku khawatir dengan sikapnya itu. Takutnya jika ia bertemu dengan orang yang tidak bisa mengerti sikapnya, maka ia akan terluka.”

 

“Apa itu salah Hyung? Maksudku, pola pikir kita sama. kita akan melakukan apapun agar orang yang kita cintai tidak terluka. Salah satunya dengan selalu mengalah.”

 

“Aku tidak tahu. Karena jika aku tahu, tentu saja Baek Hyun tidak akan memperlakukanku seperti ini.”

 

“Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?”

 

Kris menghela nafas, meremuk kaleng cola-nya dan membuangnya di tempat sampah persis di sebelah bangku yang ia duduki. “Aku tidak tahu. Aku tidak bisa berpikir tanpa ada dia hadapanku. Jika saja ia ada di sini, dan aku tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi antara kami, mungkin aku akan menemukan jawabannya.”

 

Kyung Soo menunduk lesu, menatap pasrah keleng cola yang sama sekali tidak ia buka. “Hyung…”

 

“Hm…”

 

“Kalau kau tahu jawabannya. Tolong beritahu aku. Sejak kita berada di posisi yang sama, mungkin kita juga butuh penyelesaiaan yang sama.”

 

Kris menoleh, menatap lekat namja yang tidak kalah mungil dari kekasihnya itu. “Hm, tapi lakukan hal yang sama padaku jika kau menemukan jawabannya lebih dulu.”

 

 

◁◈▷

 

 

“Terima kasih atas tumpangannya Hyung,” ucap Kyung Soo lembut saat Kris menepikan mobilnya di depan pagar rumah Kai.

 

“Tidak perlu sungkan. Justru aku yang berterima kasih padamu karena sudah membantuku cukup banyak hari ini.”

 

“Eh? Membantu?”

 

“Hm… Tidak bisa kubayangkan jika aku tidak bertemu denganmu tadi. Mungkin sampai sekarang aku akan terpuruk karena mencemaskan Baek Hyun. Walau kuakui aku tetap mencemaskannya.”

 

Kyung Soo tersenyum lembut dan mengusap lengan Kris pelan. “Jika bukan karena kau juga, aku pasti masih tertipu sampai sekarang. Maksudku, mengenai kebohongan Kai. Aku cukup bersyukur bahwa aku mengetahuinya. Dan semua berkat bantuanmu.”

 

“Jadi kau akan mengambil tindakan untuk itu?”

 

“Kau sendiri apa kau akan melakukan tindakan? Menurutku kita masih pada keputusan yang sama. masih berhati-hati agar hubungan kita dengan pasangan masing-masing tetap terjaga. Dan menurutku, baik kau maupun aku tidak akan berbuat hal cukup banyak.”

 

Dan entah kenapa itu justru membuat Kris tersenyum tipis. Tapi Kyung Soo melihat jelas senyum itu. Sungguh ini pertama kalinya ia melihat namja dingin itu tersenyum, dan ia berani bertaruh bahwa senyum itu begitu…

 

 

Menawan…

 

 

“Ini aneh, kenapa justru orang lain yang bisa mengerti aku. Kekasihku sendiri yang sudah hampir 5 tahun bersamaku justru terkadang tidak mengerti apa yang kurasakan, bahkan jika aku sudah cukup terluka dibuatnya.”

 

“Hyung…”

 

“Hm…”

 

“Boleh kuakui satu hal?”

 

“Mengenai apa?”

 

“Kurasa aku juga merasakan hal yang sama.  maksudku… walau hubunganku dan Kai tidak selama kalian, tapi kurasa hampir 4 tahun bersama adalah waktu yang tidak singkat untuk dia mengerti perasaanku. Mungkin karena aku selalu tersenyum padanya apapun yang terjadi sampai ia tidak menyadari bahwa di saat yang sama, ia sebenarnya sedang melukaiku.”

 

“Kurasa kita bisa bangga akan hal itu Kyung Soo-ya.”

 

“Hal apa?”

 

“Bahwa kita bisa bersabar seperti ini karena cinta. Setidaknya kita termasuk orang-orang yang beruntung karena mengerti makna cinta.”

 

Dan Kyung Soo pun akhirnya tersenyum sebelum mengangguk sebagai pembenaran. “Terima kasih Hyung, kau sungguh… membuatku lebih baik.”

 

Dan Kris balas tersenyum, menepuk pelan punggung tangan Kyung Soo yang masih bertumpu di lengannya. “Senang berbagi denganmu.”

 

 

◁◈▷

 

 

“Dari mana?”

 

Kyung Soo tersentak saat suara yang familiar itu mengagetkannya tepat saat ia menutup kembali pintu rumahnya. Ia menoleh spontan dan mendapati Kai sedang berdiri tak jauh di hadapannya sembari memegang sebuah mug kesayangannya. “Kai? Kau sudah pulang?” serunya tidak bisa menahan histerianya.

 

“Bukankah aku yang bertanya lebih dulu? Ah atau karena aku sedang tidak di rumah jadi kau bisa seenaknya pergi tanpa memberitahuku?”

 

Kyung Soo tersenyum kemudian sedikit berlari kearah Kai untuk memeluk lengannya. “Bukan begitu. Tadi aku bertemu dengan Kris Hyung.”

 

Kai langsung menatap Kyung Soo tajam begitu ia memastikan pendengarannya memang tidak salah. “Kau bertemu dengan pria dingin itu?”

 

Kyung Soo hendak meralat tentang label yang digunakan Kai untuk Kris, tapi sepertinya ia teringat sesuatu. Ia harus hati-hati dalam setiap pemilihan katanya. “Iya, tadi sepulang kuliah dia terlihat sedang kebingungan di depan kelasku. Dia mencari Baek Hyun. Katanya Baek Hyun tidak pulang sejak kemarin.”

 

“Oh…” dan sikap buru-buru Kai untuk terlihat tidak peduli itu cukup jelas bahwa ia tidak akan melanjutkan obrolan itu. Kyung Soo hanya lebih dulu tahu bahwa Kai sedang membohonginya, untuk itu dia sedikit lebih peka sekarang. Tapi ia berpikir, pasti ada sesuatu hal yang salah pada dirinya sampai Kai membohonginya seperti itu. Dan agar semuanya kembali seperti semula dan baik-baik saja, sebisa mungkin Kyung Soo menghindari hal yang bisa menyulut pertengkaran mereka.

 

“Kau sudah makan?” tanya Kyung Soo masih bergelayut di lengan Kai. Mengajaknya ke dapur.

 

“Aku mau makan apa? Kau tidak memasakkan apa-apa untukku.”

 

Kyung Soo pun terkekeh, setidaknya ada hal yang membuat Kai tergantung kepadanya. “Aku mana tahu kalau kau pulang hari ini. Ya sudah, akan kubuatkan makanan kesukaanmu. Duduklah dulu.”

 

“Hm. Kebetulan ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

 

“Tentang?”

 

Dan ekspresi serius Kai membuat Kyung Soo sedikit cemas. Untuk pertama kalinya ia punya firasat akan ada hal besar yang akan disampaikan Kai padanya. Apapun itu, sudah pasti bukan kabar baik.

 

 

 

◁◈▷

 

 

Kris mematung tak percaya saat ia baru saja menanggalkan kaos di tubuhnya dan pintu kamar mandi di kamarnya terbuka. Menampakkan Baek Hyun yang baru keluar dari sana sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil.

 

Ini berlebihan, tapi sungguh seharian penuh ia tidak melihat kekasihnya itu, ia sudah merasa sangat parah. Rindu itu sudah membuatnya sekarat.

 

“Kuliahmu padat Hyung? Tumben pulang malam begini,” tegur Baek Hyun santai sembari mencari pakaiannya di lemari.

 

“Aku… Aku baru saja mengantar Kyung Soo pulang.”

 

Gerakan Baek Hyun memilah pakaian terhenti seketika, ia spontan menoleh dan menatap Kris dengan kening berkerut. “Aku tidak salah dengar? Kau mengantar Kyung Soo? Dalam rangka apa?”

 

Kris berjalan mendekat. Mengeluarkan sepasang piyama biru di rak paling atas dan memberikannya pada Baek Hyun. “Tadi sepulang kuliah aku mencarimu di kampusmu. Dan aku bertemu Kyung Soo, kupikir kau bersamanya. Berhubung dia tidak ada kendaraan pulang, terlebih kudengar Kai keluar kota, makanya kutawarkan ia tumpangan.”

 

“Oh…” Baek Hyun terlihat jelas menghindari kontak mata. Jelas karena ia tidak ingin memperpanjang obrolan berisiko itu. Setidaknya bukan sekarang. “Aku lapar,” ucapnya setelah menolak piyama biru yang dipilihkan Kris. Ia lebih memilih kaos kelabu longgar dan jeans gelap. Sedikit aneh memang jika dikenakan untuk tidur.

 

“Memangnya kau dari mana sampai kau tidak makan?”

 

“Kenapa? Kau curiga padaku?”

 

Kris menggeleng. Mengambil handuk di tangan Baek Hyun dan menggunakannya untuk mengeringkan rambut kekasihnya itu saat Baek Hyun kesulitan mengenakan jeans nya. Baek Hyun memang tidak cukup baik mengerjakan apapun seorang diri. “Hanya mencemaskanmu.”

 

“Aku tidak apa-apa Hyung. Usiaku sudah 22 tahun.”

 

“Aku tahu, kita baru saja merayakannya beberapa bulan yang lalu.”

 

“Jadi berhentilah memperlakukanku seperti anak-anak.”

 

Kontan membuat Kris menghentikan gerakannya. Ia sedikit menunduk, menangkap manik mata mungil dengan matanya yang tajam namun lembut. “Maksudmu… selama ini aku memperlakukanmu seperti anak-anak?”

 

Baek Hyun hanya berdecak sebagai jawaban, menepis pelan tangan Kris dan mengambil alih kegiatannya mengeringkan rambut sendiri. Dan Kris tahu bahwa kekasihnya itu tidak ingin berdebat lagi.

 

“Kau ingin makan apa?” tanya Kris lembut, kembali mendekati Baek Hyun yang duduk di tepi tempat tidur mereka.

 

“Aku tidak ingin apa-apa. Sepertinya rasa laparku hilang.”

 

“Jangan begitu. Nanti perutmu sakit. Tunggulah, kumasakkan sesuatu.”

 

Tep~

 

Gerakan Kris yang hendak beranjak pergi, terhenti seketika saat tangan lentik itu mencekal lengannya.

 

“Hyung… aku ingin bicara sesuatu. Dan melihat keadaan kita yang seperti sekarang, kurasa aku sudah tidak bisa menundanya lagi.”

 

Kris terdiam sejenak, sebenarnya berpikir dan mencoba untuk membaca ekspresi Baek Hyun sekarang. Hampir 5 tahun kebersamaan mereka dan tidak ada lagi alasan untuk Kris tidak mengerti arti tatapan itu.

 

Ia ingin mengelak dari kenyataan bahwa akan ada hal besar yang akan ia dengar dari bibir kecil milik kekasihnya. Sungguh, untuk sesaat Kris mati-matian berpikir segala macam cara agar ia tidak mendengar apapun dari Baek Hyun saat ini. “Sebaiknya kita makan dulu, bukankah kau lapar? Akan kumasakkan__”

 

“Aku ingin kita berpisah.”

 

 

Deg~

 

◁◈▷

 

 

Kyung Soo mencoba untuk menarik nafas, tapi sesuatu mengganjal di tenggorokannya hingga tidak sedikitpun ia mampu untuk melakukannya. Ingin mengerjapkan matanya pun rasanya ia kesulitan. Ia hanya terlalu takut dengan apa yang baru didengar dan dilihatnya adalah sebuah kenyataan.

 

“Ka… Kau ingin tambah? Kebetulan aku membuat banyak. Tunggu sebentar,” ucap Kyung Soo dengan suara gemetar. Berikut tangannya yang merebut mangkuk sup Kai yang tidak kosong, beranjak dengan sangat buru-buru dari meja makan menuju pantry yang hanya beberapa langkah dari tempatnya. “Apa kau merasa ada yang kurang Kai? Mungkin garamnya atau__”

 

Greb~

 

Kyung Soo sedikit tersentak ke depan saat ia merasakan lengan kekar favoritnya memeluknya dari belakang. “Maafkan aku, tapi… aku sudah membuat keputusan ini sematang mungkin. Jadi kumohon mengertilah.”

 

Persendian Kyung Soo melemah, kekuatan genggamannya pun menghilang. Mangkuk itu terjatuh tanpa daya ke dalam panci yang sebenarnya tinggal setengah. Pandangannya kosong ke depan, tidak tahu harus berbuat apa dan juga mengucapkan apa. selama hidupnya bersama Kai, ia tidak pernah memikirkan sebuah kemungkinan jika suatu saat mereka… berpisah. Untuk itu, saat kenyataan itu akhirnya menamparnya telak-telak, ia tidak bisa berbuat apa-apa.

 

“Aku mencintaimu. Sungguh, tapi… aku membutuhkan Baek Hyun di sisiku. Aku… sangat menginginkannya.”

 

Kyung Soo menelan ludahnya yang terasa seperti karang. Sungguh, apa yang ia hadapi sekarang bukan mimpi, ini bahkan lebih mengejutkannya dari apapun. “Tapi Kai… aku tidak pernah melarangmu berteman dengan Baek Hyun. Maksudku… untuk apa kau meminta berpisah denganku sementara kau bisa berteman dengan Baek Hyun sesukamu. Aku… tidak pernah keberatan.”

 

Ada hening sejenak, dan jeda itu digunakan Kai untuk membalikkan wajah Kyung Soo. Memaksa kekasihnya itu untuk menatap matanya. Perlahan ia meraih tangan mungil Kyung Soo dan meletakkannya di dada. “Di sini… ada sesuatu yang aneh di sini, ada yang kosong dan tidak lengkap yang kurasakan saat bersamamu. Tapi… saat aku bersama Baek Hyun, kekosongan itu lenyap. Maksudku… sekali lagi aku sangat mencintaimu, tapi Baek Hyun mempunyai segalanya yang kubutuhkan. Jadi kumohon Kyung Soo-ya, mengertilah.”

 

Kyung Soo menggelengkan kepalanya. Kali ini ia sudah tidak mampu membendung kepanikannya. “Tidak apa-apa, aku tidak melarangmu menemuinya Kai, sesering apapun yang kau mau aku tidak akan keberatan, dan memang aku tidak pernah keberatan. Jadi tolong… jangan meninggalkanku, aku tidak…”

 

“Maaf Kyung Soo-ya, tapi… kami sudah sepakat untuk… bersama.”

 

“Bersama? Ma… maksudmu?”

 

Kai menghembuskan nafasnya perlahan, masih menatap lekat sepasang mata yang mulai berair di hadapannya. “Benar. Bersama. Dan untuk mewujudkan kebersamaan kami, maka… aku harus mengakhiri kebersamaanku denganmu. Dengan kata lain, untuk memulai hubunganku dengan Baek Hyun, maka kita seharusnya berpisah.”

 

Deg~

 

Kyung Soo hendak membuka mulutnya lagi, tapi tidak tahu harus mengatakan apa. ia sudah sangat panik dan tidak punya bayangan mengenai apa yang akan terjadi pada dirinya jika saja Kai betul-betul meninggalkannya.

 

“Kyung Soo-ya.”

 

Kyung Soo menggeleng cepat dan itu membuat air matanya berhamburan. “Tidak… aku tidak mau, Kai… jangan tinggalkan…”

 

“Bahkan jika ini adalah untuk kebahagiaanku?”

 

Deg~

 

Dan Kyung Soo tidak mampu lagi mengeluarkan kata-kata selain tangisnya.

 

 

◁◈▷

 

 

Kris hanya berdiri di sana, sudah sekitar 20 menit sejak Baek Hyun mengutarakan keinginannya dengan sangat tegas bahwa…

 

“Aku ingin kau melepasku agar aku bisa bersama Kai,” ulangnya sekali lagi. Berharap kali ini Kris memberi responnya.

 

Masih dengan ekspresi yang sama,  Kris menatapnya. Bungkam dalam ketakutan yang akhirnya harus ia hadapi secara nyata. “Istirahatlah, kau terlihat lelah,” ucap Kris akhirnya berniat meninggalkan kamar.

 

“Tapi Hyung, aku serius. Aku ingin bersamanya.”

 

“Sepertinya kau betul-betul membutuhkan istirahat Baek Hyun-ah. Semua ucapanmu sungguh tidak masuk akal.”

 

“Hyung bisakah kali ini kau mendengar dan menuruti keinginanku?”

 

Tepat di titik rawan.

 

Kris kembali menoleh, menatap Baek Hyun lurus-lurus, seolah memang akan ada yang meledak di sana. “Kali ini? Kapan aku tidak mendengarkan dan menuruti keinginanmu Baek Hyun-ah? Kapan?”

 

Baek Hyun bungkam, menyadari bahwa apa yang baru saja diucapkannya memang salah.

 

“Kapan aku tidak mengabulkan semua permintaanmu? Kau ingin ini, kau ingin itu, kau ingin seperti ini dan seperti itu semuanya kuberikan. Bahkan dari hal terkecilpun di rumah ini aku melakukannya sesuai dengan keinginanmu. Lalu apa? sekarang kau memintaku bicara dengan serius hanya untuk mendengarkan permintaan tidak masuk akalmu?”

 

Baek Hyun meradang, ia akhirnya bangkit dari duduknya dan membalas tatapan Kris tidak kalah tajam. “Jadi selama ini kau seperti ini Hyung? Jadi kau menganggap semua permintaanku menyusahkanmu?”

 

“Baek Hyun-ah…”

 

“Aku senang kau memperhatikanku, aku senang kau mencintaiku sampai seperti ini. Tapi tahukah kau Hyung, aku merasa cintamu itu begitu menyesakkan. Kau seperti mengurungku dan membatasi gerakku. Oke, kau memang menuruti keinginanku, tapi kau akan selalu menempatkan diriku sebagai sosok rapuh yang akan hancur dengan mudah jika aku lepas dari pengawasanmu. Kau begitu pengekang Hyung… aku… sulit bernafas.”

 

Kris terhenyak. Ia bersumpah selama ini tidak pernah sedikitpun ia berniat untuk mengekang Baek Hyun di sisinya, apalagi sampai membuat kekasihnya itu merasa sesak. Demi Tuhan, dia bahkan mengesampingkan semua hal tentang dirinya dan menomor satukan semua kepentingan Baek Hyun, lalu… inikah hasilnya? Dengan jelas dan sangat tegas Baek Hyun mengatakan bahwa semua hal yang dilakukan Kris padanya adalah… sebuah kekangan?

 

“Aku tidak boleh ini, tidak boleh itu, jangan melakukan ini dan jangan melakukan itu. Belum lagi dengan rutinitas chek kesehatan bulanan yang menjadi jadwal permanenku sejak bersamamu… aku merasa seperti seseorang yang kau anggap  bahkan berjalanpun susah. usiaku 22 tahun Hyung, aku bisa menyiapkan dan memakai pakaianku sendiri, aku bisa mengeringkan rambutku sendiri, aku bisa melakukan semuanya tanpa harus berada dalam pengawasanmu.” tutur Baek Hyun dengan suara ditinggikan, bahkan air matanya yang bercucuran menandakan bahwa ia betul-betul meluapkan emosinya saat itu juga.

 

Kris mendengar, melihat, bahkan merasakannya. Teriakan itu, berikut air mata sebagai luapan emosi yang sepertinya sudah dipendam Baek Hyun sejak lama.

 

“Aku… aku mencintaimu Hyung, sangat mencintaimu. Bahkan dengan tegas aku memilih tetap tinggal bersamamu saat orang tuaku pindah ke Jepang. Tapi… semakin lama, aku merasa tidak sanggup lagi menghadapi sikapmu yang seperti ini.”

 

Kris tak memberinya respon. Hanya tatapan yang sangat sulit dibaca. Membuat hening berhasil menguasai mereka. Hanya bertatapan dengan pikiran bergejolak, ingin menyampaikan maksud yang terpendam sejak lama.

 

“Apa itu sudah semuanya Byun Baek Hyun?”

 

Namja mungil itu sempat tersentak saat mendengar Kris menyebut namanya setegas itu. Ia bisa melihatnya, tatapan Kris yang terluka tepat di hatinya, tapi Baek Hyun tetap bersikeras bahwa dirinyalah yang paling terluka. “Lepaskan aku Hyung, aku ingin hidup bebas bersama orang yang betul-betul bisa mengerti keinginanku, yang memperlakukanku layaknya seorang kekasih. Bukan benda keramat yang begitu dijaga hingga debupun sulit mendekatinya. Aku ingin hidup bersama Kai yang bisa membuatku tertawa lepas, memberiku kebahagiaan. Bukan rasa sesak bahkan setiap kali aku menarik nafas.”

 

Kris menelan ludahnya susah payah. Ekspresi wajahnya tetap dingin, namun tatapan itu melemah. “Kau sudah selesai Byun Baek Hyun?”

 

Sekali lagi, Kris memanggilnya seperti itu. “Hanya itu kemauanku Hyung, jadi jika kau mengabulkannya, maka aku tidak akan meminta apapun lagi.”

 

Ada jeda yang digunakan Kris untuk mengontrol nafasnya. Ia bahkan tidak begitu yakin jika udara yang ia hirup sudah cukup untuk mengisi paru-parunya yang serasa kosong. Baek Hyun itu adalah udara untuknya, dan saat udaranya itu meminta lepas, maka tidak ada lagi jawaban yang tepat untuk pertanyaan mengapa ia merasakan sesak yang luar biasa di dadanya?

 

Satu hembusan nafas mengantarnya pada kata menyerah. “Kapan Kai akan menjemputmu?”

 

Dan Baek Hyun hanya bisa tersentak mendengar kalimat itu. “Kuharap Tuhan tetap mengingatkanku untuk tidak menyesal bahwa aku pernah mengambil keputusan penting dengan lebih memilih masa depanku bersamamu dari pada kedua orang tuaku, Hyung.” Baek Hyun menggeleng pelan dengan air mata terburai.  Ia meraih kembali kaos gelap yang belum sempat dikenakannya, kali ini ia pakai dengan kilat. “Jaga kesehatanmu.” Setelahnya ia melintasi Kris tanpa mau menatapnya, sebelum ia keluar dari kamar dengan sebuah bantingan pintu.

 

Dan Kris, jangankan untuk mengejar Baek Hyun. Untuk berkedippun ia seperti tidak sanggup. Semua dayanya hilang, dan terakhir ia pun ambruk dengan kedua lutut lebih dulu menghantam lantai. “Jangan pergi…” lirihnya seperti orang bodoh.

 

 

 

◁◈▷

 

 

 

“Kai kumohon, jika ada sikapku yang tidak kau sukai, aku berjanji akan merubahnya. Atau… atau, apapun itu tolong katakan padaku, apa yang harus kulakukan agar kau tidak meninggalkanku?” Kyung Soo semakin histeris saat Kai mengeluarkan sebuah koper besar dari kamar mereka. Terlihat jelas bahwa Kai sudah menyiapkannya sejak tadi.

 

Kai menghela nafas kemudian menepis pelan tangan Kyung Soo yang masih merengkuh lengan Kai cukup kuat. “Yang bisa kau lakukan sekarang adalah, menolongku. Kyung Soo-ya hubungan kita berakhir sampai di sini bukan karena ada yang kurang padamu. Aku hanya menemukan apa yang kucari selama ini ada pada Baek Hyun. Kami hanya… terlambat dipertemukan. Dan sebelum semuanya semakin terlambat, kami memutuskan untuk memperjuangkan hubungan kami. Jadi tolong Kyung Soo-ya,  hargai keputusanku.”

 

“Kai…”

 

“Do Kyung Soo!”

 

Dan bentakan itupun mengantar Kyung Soo untuk melepas cekalan tangannya. Ia luruh ke lantai mengiringi tangis yang tidak sanggup lagi ia bendung.

 

“Do Kyung Soo, berhentilah bersikap seolah kau sudah kehilangan nyawa. Hubungan kita berakhir bukan berarti hidupmu juga berakhir. Seperti aku menemukan Baek Hyun, kuharap kau juga menemukan orang yang tepat untukmu,” tegas Kai .

 

Tapi hidupku betul-betul berakhir tanpamu Kai__

 

“Rumah ini… jadi milikmu saja, karena aku dan Baek Hyun sudah menyewa sebuah apartemen untuk tempat tinggal kami. Jadi kau tidak perlu khawatir karena aku tidak menelantarkanmu begitu saja. Rumah ini, anggap saja sebagai rasa terima kasihku padamu karena sudah menemaniku sepanjang tiga setengah tahun ini.”

 

“Kai…” seruan itu sudah tidak terdengar, ditutupi isak tangisnya.

 

“Jaga dirimu Kyung Soo-ya, semoga kau menemukan orang yang lebih tepat untukmu. Selamat tinggal.”

 

Kyung Soo menggeleng panik, ia bahkan sudah meraung namun tidak ada respon berarti dari Kai. Namja tampan itu memang sempat menoleh hanya untuk menatapnya sekali lagi, namun setelahnya ia pun membawa koper besar itu keluar bersama dirinya.

 

“Kai… Kai… Tolooong… jangan meninggalkanku…” raungnya panjang, sampai ia tidak sanggup lagi mempertahankan kesadarannya.

 

Di sana, di atas lantai yang dingin ia ambruk dan menyerah pada keadaan fisiknya.

 

 

◁◈▷

 

 

Orang itu adalah dia… seorang manusia yang diciptakan sangat sempurna di mataku. Membuatku mencintai hidup karena dipertemukan dengannya, dan membenci mati karena tidak bisa bersamanya.

Orang itu adalah dia, membawa nafasku beserta senyumnya.

Orang itu adalah dia… meninggalkanku bersama tangis, tapi masih tidak membuatku berhenti mencintainya.

 

Satu minggu berlalu sejak Kyung Soo akhirnya sadar bahwa apa yang menimpanya adalah sebuah kenyataan, bukan mimpi yang terus membuatnya menyangkal bahwa Kai tidak lagi berada di sisinya. Kai bukan lagi kekasihnya. Dan Kai tidak akan pernah lagi datang padanya mengucap cinta dan memberinya sebuah kecupan yang akan membuat nafasnya sesak.

 

Pagi itu setelah ia akhirnya mampu menyiapkan dirinya sendiri untuk melajutkan hidupnya, ia justru kembai dihadapkan pada situasi yang meremuk redamkan hatinya.

 

Di sana, di pelataran parkir kampus, di sisi mobil hitam yang dulu sering ditumpanginya terlihat dua orang yang sangat familiar baginya. Seorang diantaranya adalah namja tampan berkulit eksotis yang merupakan daya tariknya tengah berhadapan dan berangkulan mesra dengan namja mungil berparas menawan yang terkadang membuat Kyung Soo iri. Mereka adalah ‘mantan’ kekasih dan ‘mantan’ sahabatnya.

 

Demi Tuhan, ini baru satu minggu sejak ia dan Kai berpisah dan apa yang mereka lakukan di sana? Mereka bahkan tidak sungkan untuk berciuman di depan banyak orang yang menatap mereka heran.

 

Kai yang tidak bersama Kyung Soo…

 

Baek Hyun yang tidak bersama Kris…

 

Dan kenapa justru Kai dan Baek Hyun yang berpelukan dan berciuman di sana?

 

Aku hanya buta atau dibutakan kesempurnaanmu hingga tidak sadar bahwa selama ini kau justru melakukannya  di hadapanku, bukan di belakangku.

 

Kyung Soo menunduk saat kedua matanya tak mampu lagi memproyeksi apa yang terjadi tak jauh dari tempatnya berdiri. Dan sebelum fisiknya menyerah, ia berlari dari tempat itu. Menuju tempat dimana setidaknya ia lebih menerima kesendiriannya.

 

 

◁◈▷

 

 

Kyung Soo terkejut saat sebuah kaleng cola melayang di hadapannya. Ia pun mendongak dan akhirnya baru menyadari bahwa ada sosok tinggi yang berdiri di sebelahnya sembari menawarkannya sekaleng cola.

 

“Hyung?” sebenarnya hanya sebuah seruan kecil, karena ia sudah sangat tahu bahwa namja itu adalah Kris.

 

“Tidak masuk kelas?” tanya Kris setelah memastikan Kyung Soo mengambil kaleng cola itu.

 

Kyung Soo menggeleng lemah. “Aku tidak tahu harus bagaimana Hyung, aku mengambil kelas yang sama dengan Baek Hyun.”

 

Sebuah helaan nafas berat mengantar Kris untuk duduk di sebelah Kyung Soo. “Kuharap kau tidak membencinya.”

 

“Ah tidak. Aku tidak membencinya. Aku tidak tahu, seharusnya aku memang membencinya, tapi…” Kyung Soo tidak melanjutkan kalimatnya,  ia memang merasa semakin lemah setiap kali membahas mereka.

 

Dan Kris tidak juga menunggu jawabannya. Sedikitnya ia paham perasaan namja yang tengah terluka di sebelahnya itu. “Kau sudah melakukan hal yang benar.”

 

Kyung Soo menoleh cepat saat Kris mengatakan hal itu. “Dengan menyerah?”

 

“Berjuang pun percuma, karena pada akhirnya baik kau maupun aku tidak bisa mempertahankan mereka. Lebih baik menyerah dari pada melihatnya terluka bukan?”

 

Kyung Soo menjilat bibirnya yang kering. Untuk sejenak ia merasa sedikit lebih baik hanya mendengar kalimat sederhana itu. “Apa Baek Hyun juga meminta putus darimu Hyung?”

 

Kris mengulas senyum pahit. “Kejadian di parkir tadi itu tidak akan terjadi jika aku dan Baek Hyun masih berhubungan. Kurasa mereka memang sudah memantapkan keputusan mereka untuk bersama setelah melepaskan kekasih masing-masing.”

 

Kyung Soo memilih diam sejenak, memandangi wajah Kris dari samping berikut garis yang membentuk wajahnya dengan sempurna. “Kaupun melihat apa yang mereka lakukan di parkiran tadi Hyung?”

 

Kris tersenyum pahit, meneguk colanya sejenak kemudian menghembuskan nafas panjang. Masih tak jenuh memandang langit yang sangat cerah pagi itu. “Heum, aku selalu melihat mereka. Selalu ada Kai di dekat Baek Hyun. Aku hanya tidak melihat Baek Hyun saat malam hari. Saat dia pulang ke apartemen Kai.”

 

“Kai bilang itu apartemen mereka.”

 

“Heum, mungkin benar. Tapi aku masih berharap bahwa Baek Hyun tetap menganggap rumah kami adalah tempatnya untuk kembali.”

 

Kyung Soo menunduk, meremas kaleng cola yang tidak ia buka. “Aku juga masih berharap bahwa suatu hari Kai akan pulang. Tapi setiap kali aku berharap, aku semakin teringat kata-katanya yang mengucapkan selamat tinggal dengan sangat tegas. Mengisyaratkan bahwa tidak akan ada kesempatan lagi untuk ia kembali, karena tempatnya kembali bukan padaku, tapi pada Baek Hyun.”

 

Kris menoleh, memandangi wajah lesu Kyung Soo yang merunduk itu. “Kau benar.”

 

“Eh?”

 

“Aku terlalu sering berharap, mungkin itu alasannya sakitku justru bertambah, bukan berkurang.”

 

“Hyung…”

 

Kris menghela nafas kemudian melirik arlojinya. “Kau tidak ingin kembali ke kelas?”

 

Kyung Soo menggeleng lemah. “Mungkin tidak sekarang, aku betul-betul tidak siap untuk meihat Baek Hyun, berikut segala kesempurnaannya yang tidak kupunya hingga Kai berpaling dariku.”

 

Kris tidak memberi respon dan itu membuat Kyung Soo menoleh padanya untuk memastikan.

 

“Hyung…”

 

“Kau salah jika meminta pendapatku tentang Baek Hyun. Aku tidak bisa menilainya secara objektif sejak dari sudut pandangku dia memang sempurna. Tapi…” Kris ikut menoleh, membuat kedua matanya terikat pada sepasang mata indah di depannya. “Bisa jadi bagi Kai, Baek Hyun tidak sesempurna yang kau bayangkan. Maksudku, sampai sekarang aku masih tidak tahu apa dipunya Kai dan aku tidak hingga membuat Baek Hyun berpaling. Tapi menurutku, Kai tidak betul-betul menganggap Baek Hyun sesempurna itu sementara dia sudah tinggal denganmu cukup lama. Intinya, kau bisa sedikit yakin bahwa kau punya hal lebih dari sekedar sempurna untuk membuat hubunganmu dan Kai bertahan hingga bertahun-tahun. Berbanggalah untuk itu.”

 

Kyung Soo hendak membuka mulutnya, tapi terkatup kembali saat ia semakin mengerti dari sorot mata Kris yang meyakinkannya. “Hyung…”

 

“Heum?”

 

“Bisa kukatakan satu hal juga padamu?”

 

“Kenapa tidak?”

 

“Aku tidak cukup baik untuk menghibur orang lain, tapi kurasa kau juga bisa berhenti mempertanyakan kesempurnaan Kai. Kurasa bagi Baek Hyun kau pun bisa saja lebih dari itu. Maksudku, aku pernah cukup dekat dengannya saat SMP, dan aku cukup tahu bahwa Baek Hyun mudah bosan dengan sesuatu. Tapi jika ia sudah betul-betul suka atau mungkin saja cinta pada satu objek, maka dia tidak akan mudah berpaling. Kurasa hampir lima tahun bersamanya itu bukan waktu yang sebentar, jadi aku yakin kau juga punya hal lebih dari yang dibutuhkan Baek Hyun dari Kai.”

 

Kris terdiam sejenak, sampai kemudian ia tersenyum. Kali ini sedikit lebih ikhlas. “Aku tidak tahu, dua orang yang patah hati jika bertemu bisa saling menenangkan seperti ini.”

 

Dan Kyung Soo pun ikut tersenyum setelahnya. “Aku memang pernah mendengarnya Hyung. Luka yang sama bagi dua orang bila saling berbagi bisa saling menyembuhkan. Yah mungkin ini lebih kepada kita sama-sama merasakannya.”

 

Kali ini Kris tertawa kecil, tapi terdengar melegakan. “Aku serius. Senang mengobrol denganmu Kyung Soo-ya.”

 

“Kuharap kau tidak keberatan karena kali inipun aku akan mengatakan hal yang sama. aku tidak pernah merasa lebih baik seminggu ini sampai aku bertemu denganmu Hyung.”

 

It’s okay. Kita sama-sama orang tercampakkan.”

 

Dan mereka kembali tertawa, walau luka masih menghiasi tatapan mereka.

 

“Jadi kau masih tidak siap untuk ke kelasmu?” tanya Kris sekali lagi.

 

Kyung Soo menggeleng ragu. “Aku tidak yakin.”

 

“Bagaimana jika kau ikut metodeku.”

 

“Metode apa?”

 

“Sedikit penyelesaian masalah di bagian yang tidak mau bekerja sama.” Kris menepuk-nepuk dada kirinya. “Bohong besar jika aku tidak merasakan hal yang sama setiap kali aku melihat Kai. Tapi coba saja.”

 

“Caranya?”

 

Kris sedikit menggumam, kemudian meraih sesuatu di sakunya. “Pertama kau butuh sebuah benda yang pas dalam genggaman. Ambil ini.”

 

Kyung Soo sedikit bingung saat Kris memberinya permen bulat yang masih terbungkus rapat. “Aku harus memakan ini?”

 

“Bukan… hanya benda penyelamat. Kau bisa memulainya sekarang.” Kris meraih tangan mungil Kyung Soo dan membuatnya menggenggam erat permen bulat itu. “Tarik nafasmu sedalam mungkin, dan tahan selama 3 detik.”

 

Kyung Soo menurut. Mengesampingkan tangan Kris yang menggegamnya hangat, ia pun menarik nafas sedalam mungkin dan menahanannya selama 3 detik.

 

“Setelah itu keluarkan sambil meneguhkan dalam hati kalau kau kuat.”

 

Kyung Soo pun melakukan instruksi selanjutnya, ia bahkan berucap seiring hembusan nafasnya. “Aku kuat.” Dan itu membuat Kris tertawa sekali lagi.

 

“Merasa lebih baik?”

 

Kyung Soo mengangguk pelan. “Sedikit.”

 

“Lakukan berulang kali, mungkin hasilnya akan lebih baik.”

 

“Apa kau yakin ini akan berhasil, Hyung?”

 

“Menurutku begitu. Aku melakukannya sejak lama, ini metode relaksasi paling sederhana yang menurutku cukup ampuh. Jika tidak, kau pasti sudah melihat Kai terbaring sekarat di rumah sakit sekarang.”

 

Itu terdengar seperti lelucon, tapi sebenarnya tidak. Kyung Soo tidak bisa apa-apa selain membenarkannya. Untuk ukuran pria seperti Kris yang bisa melakukan apa saja untuk orang yang dicintainya, menghajar Kai sampai babak belur itu bukan masalah besar. Untuk itu Kyung Soo takjub dengan cara Kris mengendalikan emosinya itu. “Baiklah, akan kucoba.”

 

Kris melirik arlojinya sejenak kemudian berdiri setelah membuang kaleng minumannya. “Kelasku juga akan mulai 10 menit lagi, mungkin ada baiknya kuantar kau ke kelasmu dulu sebelum kembali.”

 

“Sekalian melihat Baek Hyun?”

 

Kris menoleh padanya dan menatapnya lurus-lurus.

 

“Ah maaf, kupikir… “

 

“Tidak apa-apa. kau memang benar, aku ingin sekalian melihatnya dari jauh.” Dan Kris pun mengulurkan tangannya untuk menarik namja itu berdiri dari duduknya.

 

Ada jeda dimana Kyung Soo berdiri tepat di hadapan Kris, mendongak cukup ke atas untuk sekali lagi mengagumi goresan sempurna yang membentuk wajah tampan Kris. Aneh memang jika Kyung Soo mengatakannya saat ini, tapi mungkin benar bahwa di matanya Kai sangat sempurna, tapi ada sisi yang tidak dimiliki Kai, namun ia temukan jika ia melihat Kris. Dan satu kata untuk mendefisinikannya adalah…

 

Ketenangan.

 

◁◈▷

 

 

 

Kris tidak akan mempertanyakan kenapa langkah mungil Kyung Soo berhenti dengan gerakan spontan. Tidak juga mempertanyakan kenapa jemari mungil yang ia genggam sejak tadi semakin kuat meremas jemari besarnya. Tidak akan mempertanyakan kenapa tiba-tiba bibirnya sedikit bergetar. Terakhir, ia juga tidak akan bertanya kenapa permen bulat di tangan kiri Kyung Soo jatuh begitu saja ke lantai tanpa disadarinya.

 

“Kyung Soo-ya…” lirih Kris bermaksud mengingatkan. Dan itu didengar baik oleh Kyung Soo. Namja mungil bermata indah itu berusaha menarik nafasnya sedalam mungkin namun yang ada ia justru sesak dan tidak bisa bernafas dengan baik. Terlihat jelas saat bibir indahnya perlahan memucat.

 

“A… Aku tidak bisa Hyung… tidak bisa… tidak…” Kyung Soo menggeleng berkali-kali seiring pandangannya yang mulai mengabur karena biasan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

 

Kris memejamkan matanya sejenak, kemudian kembali menoleh pada objek yang membuat mereka berdua seolah tenggelam dalam kondisi memprihatinkan. Di sana, sekitar beberapa meter dari tempat mereka berdiri, tepatnya di depan kelas yang akan dituju Kyung Soo, sudah berdiri dua orang yang menikmati keegoisan mereka.

 

Kris menarik nafasnya sedalam mungkin dan menahannya selama 3 detik sebelum menghembuskannya cukup panjang dan menegaskan diri untuk tidak segera melangkah cepat ke arah namja berkulit sehat yang tengah menenggelamkan orang tercintanya dalam sebuah ciuman yang… tidak ingin dijelaskannya. Sekali lagi menarik nafas dan menahannya 3 detik kemudian dihembuskan cukup panjang dengan penegasan agar tidak segera menghajar namja yang membuat Baek Hyun berpaling darinya itu. Dan sekali lagi ia menarik nafas, menahannya 3 detik dan menghembuskannya perlahan dengan penegasan bahwa…

 

Kyung Soo harus diselamatkan dari situasi ini.

 

Air mata Kyung Soo terburai seiring tubuhnya yang bergerak tanpa keinginannya saat Kris menarik tangannya untuk pergi dari tempat itu. Menyandarkannya pada sebuah tembok yang menjadi pemisah antara pertigaan koridor kelas, memintanya untuk mendongak.

 

“Kyung Soo-ya…” lirih Kris sekali lagi. Namun namja bermata indah itu tidak memberi  respon berarti selain pandangan hampa yang dikotori air mata terluka. Terakhir, Kris tidak bisa berbuat apa-apa selain menarik tubuh mungil itu dalam pelukannya yang erat, membenamkan wajah itu di dadanya sebelum ia menunduk dan berbisik lirih persis di telinganya. “Tenangkan dirimu, kau bisa Kyung Soo-ya.”

 

Deg~

 

Kyung Soo bisa mendengarnya. Bunyi degupan saat katup jantungnya membuka secara spontan seolah mengalirkan darah yang sejak tadi tertahan di salah satu ruang jantung yang membuatnya sesak. Dan selanjutnya, seperti mendapatkan kekuatan baru, ia mampu menarik nafasnya cukup dalam, menghirup aroma menenangkan dari tubuh Kris, menahannya selama 3 detik seolah menguncinya dalam sebuah kotak memori untuk dikenalnya suatu saat. Setelahnya ia hembuskan cukup panjang berikut perasaan brengsek yang membuatnya sesak. Dan ia melakukannya berkali-kali, semakin mudah terlebih ia merasakan tangan Kris mengusap punggungnya perlahan, seolah mengelus bagian yang sakit dan meredakan sesaknya.

 

Pelukan terbaik adalah dalam dekapan Kai. Kyung Soo meyakini hal itu. Tapi untuk kali ini, ia sudah mempatenkan bahwa, pelukan paling menenangkan adalah… dalam rengkuhan Kris yang bahkan status pertemanan dengannya pun tidak begitu jelas.

 

“Merasa lebih baik?” tanya Kris pelan, seiring saat ia melepaskan pelukannya.

 

Kyung Soo menunduk rikus, kemudian mengangguk sebagai jawaban.

 

“Mungkin sebaiknya kuantar kau pulang. Kurasa kau memang belum betul-betul siap.”

 

“Maaf.”

 

“Kenapa meminta maaf?”

 

Kyung Soo terdiam, sebenarnya ia juga tidak mengerti kenapa ia meminta maaf. “Maksudku, aku baik-baik saja. aku tidak ingin semakin banyak tertinggal mata kuliah.”

 

“Kau yakin?”

 

Kyung Soo mengangkat wajahnya perlahan, sekali lagi mendapat ketenangan saat memproyeksi  wajah Kris. “Aku yakin.”

 

Kris pun mengangguk, kemudian menepuk pelan pundak Kyung Soo sebelum meraih tangannya dan mengajaknya beranjak dari tempat itu menuju kelas Kyung Soo.

 

Demi Tuhan mereka masih di sana, tidak lagi berciuman tapi masih berhadapan dan bertatapan sangat mesra. Bohong besar jika itu tidak memperngaruhi Kris dan Kyung Soo, tapi tidakkan akan terlihat semakin buruk jika Kris maupun Kyung Soo memperlihatkan kehancuran mereka?

 

Kai dan Baek Hyun menoleh bersamaan saat mantan kekasih mereka melintas sambil berpegangan tangan. Pemandangan yang aneh memang, dan susah untuk bersikap acuh karena mereka sama sekali tidak tahu kapan Kris dan Kyung Soo terlihat sedekat itu.

 

Kai mengerutkan keningnya saat Kris mengusap puncak kepala Kyung Soo sangat akrab. Dan Baek Hyun mengangkat alis cukup tinggi saat telinganya menangkap kalimat…

 

“Selamat belajar…” dari Kris pada Kyung Soo. Dia tidak mungkin bisa lupa bahwa kalimat itu akan sering ia dengar saat Kris mengantarnya ke kelas.

 

“Terima kasih, Hyung.”

 

“Jangan sungkan, sepulang kuliah, akan kutunggu di parkiran.”

 

Dan Baek Hyun akhirnya mendengus acuh, terdengar seperti meledek. Hal yang sama yang dilakukan Kai saat ia lebih memilih untuk meraih pinggang Baek Hyun dan menciumi pipinya, membuat nama mungil itu tertawa kecil dibuatnya.

 

“Aku ke kelas dulu.”

 

Dan Kyung Soo tahu, bahwa Kris tidak cukup kuat mengendalikan emosinya dalam kurun waktu yang cukup lama. Dan menghindar adalah pilihan yang tepat sebelum metode relaksasi sederhana tidak lagi ampuh.

 

Seperti Kris yang menolongnya, Kyung Soo berniat melakukan hal yang sama.

 

“Hyung… sebentar,” seru Kyung Soo pelan saat Kris baru meninggalkannya 4 langkah.

 

“Ada apa?”

 

Dengan sangat kikuk dan bermodalkan nekat, Kyung Soo melangkah mendekati Kris, menyentuh dada bidangnya sebagai tumpuan sebelum ia berjinjit dan mengecup ringan bibir namja itu. Sebenarnya hanya sekilas, namun Kyung Soo memilih untuk menatap Kris cukup lama sebelum kedua pipinya memperlihatkan semburat merah dan akhirnya tersenyum rikuh dan beranjak meninggalkan Kris untuk masuk ke kelasnya sendiri. Mengabaikan tatapan kaget dari Kai juga Baek Hyun yang sudah jelas merekam moment sepintas tapi mengejutkan itu.

 

Kris terdiam sejenak, sempat memperlihatkan tatapan bingung, sampai kemudian ia memilih tersenyum sebelum meninggalkan tempat itu.

 

“Baek Hyun-ah…”

 

“Eum…”

 

“Aku malas kuliah. Ayo kita pulang.”

 

Baek Hyun pun mengangguk dengan tatapan masih lekat ke arah punggung Kris yang mulai menjauh.

 

Aku sudah sempurna… dan kutemukan kesempurnaan…

Tapi… kenapa seolah ada yang hilang?

 

 

 

~First Meet… over~

 tbc

 ALF special note:
Ini ide ceritanya pasaran, sumpah banyak banget sinetron kea beginian. Tapi 8 rius deh, ALF gak berkiblat ke sinetron kok. Tiba2 aja ada ide cerita macam gini, siapa suruh jatuhnya justru kea sinetron. Ya sudahlah, ini mungkin 2shot. Kalo bisa mau ALF kelarin sebelum hiatus. Untuk FF lama, apalagi yang mau ending, bah, tungguin ALF abis hiatus ye, soalnya itu pengerjaannya rada berat. Kudu pokus sama kerangka cerita yang ALF bikin. Untuk itu, buat readernya ALF, mohon maaf lahir batin (loh?), mohon doanya biar ALF sehat selalu, trus doakan biar tujuan (?) ALF tercapai, doakan ALF biar sukses di real life, trus kao udah sukses, ALF janji bakal balik dengan membayar(?) segunung hutang2 nya ALF. Kan gak asek juga ALF kerjain buru-buru tapi hasilnya malah… “LOH KOK KEA GINI?” nah kan? Jadi… KEEP CALM AND WISH ME LUCK, WISH ME SUCCESS, pokoknya WISH ME ALL THE BEST yah… (lah berasa hepi bersdey?)
 
Untuk Password FF, maaf… ALF buat PM2 yang tidak ALF balas. Mungkin ada sebagian yang ALF balas karena ALF lumayan hapal unamenya. Untuk reader baru (apalagi yang pake banyak akun palsu karena akun lama gak diladenin akhirnya ngata2ain ALF, neror ALF dengan kata2 ‘indahnya’, maaf ‘teman’. Dikecewain aja blom tentu ALF bisa maafin, apalagi sampe ngata2in ALF kea begitu. Makasih. reader memang segalanya untuk seorang writer, tanpa reader gak bakal ada yang bisa ngehargain seorang writer. Tapi terima kasih dek,, saya lebih ikhlas kehilangan reader seperti ‘anda’ yang bukan hanya tidak menghargai saya, tapi sudah melukai saya dengan kata2 BEJAT anda. Saya cuman bisa bilang terima kasih. #ps: untuk seseorang yang semoga membaca ini). Sekali lagi buat reader baru… ya maaf, ALF belom sempat check komennya. Ini aja Alhamdulillah bisa ngepost FF mumpung lappy mau kerjasama.
 
Tapi bukan berarti KC udah gak ladenin  pw loh? Masih, tapi tetep cuman via Facebook. Kalo semisal ALF gak sempat lagi OL, langsung aja minta ke Jung Nilam dengan syarat2 yang sudah ada di KC.
 
Yang kemaren capslocknya keinjek, koar2 di tiser NRL 5, itu udah postingan lama neng, ada beberapa yang sudah tidak berlaku termasuk peladenan(?) pw via SMS. Itu bukannya gak dibales, tapi emang nomernya ilam udah gak aktif. Okeh… nanti ane sekalian apus aja tiser NRL 5 biar gak pada terkecoh, atau paling nggak ane edit dikit kalo sempat.
 
Ya sudah… segitu doang. Oye maaf ye kalo ada kata-kata ALF yang sangat tidak menyenangkan. Jika ada pihak yang tersinggung, jangan masukkan di hati kalau memang anda tidak merasa sebagai orang yang saya maksud. Oke…
 
Selamat berpuasa. Semoga puasanya gak batal gegara ini bah -_-
 
 
 
 
 

207 thoughts on “Not Behind Me || KrisBaek/KrisDO ||KaiSoo/KaiBaek

  1. wow wow wow dan wow. rasanya kayak diaduk aduk kesel jengkel marah benci banget sama kaibaek. kenapa harus gitu coba. uda bagus punya pasangan masing masing yang cukup sempurna kenapa harus selingkuh juga. kris kurang ganteng apa coba kyungsoo kurang imut gimana. astaga nyesek banget pokoknya apa lagi pas dikantin kaisoo baek . bisa bisa nya kai kayak gitu sama baek. ga tau apa sakitnya tuh disini kalo diselingkuhin pengen bejek bejek pasangan itu. apa lagi baekhyun kan sahabatnya sendiri emang dasar kebangetan kamu byun baek.uda gitu dengan santainya pelukan dan ciuman depan kelas. emang ga tau malu banget.dasar pasangan laknat. tumben gak nampak bau bau chanyeol.tp jangan nampak deh daripada bikin makin complicated.
    arghhhhhh tapi kayak kayaknya nanti krisoo ya. gpp deh kalo akhirnya krisoo aku krisoo shipper soalnya. i ship kyungsoo with everyone. tapi sukses banget ini bikin nangis padahal baru chapter 1 . tapi kalo jadinya krisoo kaibaek jadi tukeran pasangan dong mereka. APA KATA DUNIA coba.sayang banget itu kaisoo.
    seneng juga KC buka lagi tutupnya kelamaan.setelah lama ga baca malah baca ff nyesek kyk begini mohon maaf kalo komennya penuh emosi soalnya fanficnya agak agak bikin inget jaman sma dulu ( curcol pengalaman pribadi ) mengalami hal yang sama persis kayak yang dialami soo soo

  2. Nah kan temanya suka banget deh. Sebodo amat sama sinetron kak;; cast disini lebih asik ahayde.

    Buat baekhyun, muka apa aja bisa diamah. Peran apa aja bisa hnggg. Nemu dimana cowo kaya kris;; gila baik banget. Trus si kyungsoo juga lembut banget.

    Kalo di realisasi dikenyataan sih pahit banget wks. Ngga tau lagi gimana ngomongin kaibaek, swag banget.

    Cerita begini mah fav fav fav abisssssss;;

  3. OH MY OH MY OH MY….
    demi apa?????? ini krisoo kan?? AMIN
    karakter mereka berdua di ff ini cucok bu… pacar idaman
    sama2 sayang dan tulus sama orang yang mereka cintai,
    tapi dasarnya yg dicintai mungkin jenuh jadi ya… ck ck ck
    serba salah ya… kita berusaha membahagiakan orang tercinta, tapi orang tersebut malah merasa terbebani sama sikap kita
    baru ini deh karakter baekhyun dibuat nyebelin sama kak alf
    (tapi seneng juga karena akhirnya baekhyun nggak selalu jadi orang yg sempurna, kekeke)
    rasanya pengen nendang baekhyun sama kai ke kutub utara
    biar mereka bisa ber2an terus disana tanpa perlu keganggu sama moment krissoo yang kayaknya bakal merajalela, HAHAHAHA

    kyungsoo pokoknya kamu sama kris aja ya…
    udah, lupain aja itu kamjjong
    sama kris hidupmu lebih terjamin nak
    KRISSOO JJANG!!!

  4. Baekhyun…. -_-
    Biasanya sikapmu manis, imut, kiyut kek semut kenapa sekarang jadi begini ?
    Kenapa hanya karna si temsek kau jadi terlena ?
    Oh… Baekhyunnnnnnn bagaimana bisa kau lepas dari Kris ?!!! Sedangkan hati gua adalah KrisBaek Shipper !!! Pendukung kopellll & pasangann luuuu ?!! Kamvrett ;A;
    /injek Baekhyun
    /dicium Kris #eh

    Ini FF mu yg satu ini bener2 Nano nano Unn -_-
    Bener deh sumpah nyesek bgt kalo ada di posisi Kris ama Kyung..
    Ditinggalin gitu aja demi jadian sama orang yg baru aja dikenal ngalahin hubungan yg udah dijalanin bertahun – tahun -_-

    GRRRRRRRRRR
    /makan baekhyun sama Kai/
    /mutilasi Kris ama Kyung/

    ALF keren deh sumpah, selalu punya ide ide FF yg bagus bgt :3
    Aku sampe bener2 ga bisa bilang apa2 selain WOW…

    Tetep semangat nulis ya Unn…
    FIGHTINGGGG !!!!❤

  5. ya ya yak, baek kog malah ama si kai, hayooo baek selingkuh dari kris, kai juga selingkuh dari soo, wahh pasti seru! si kris disini perhatian bgt ak bacanya ampek dibuat melted, kai juga sikapnya manis bgt kalo lg ama baek, ak penasaran nanti jadinya kaibaek or krisbaek? trus soo gimana? apa soo bakalan ama kai atau malah si soo nanti jadinya ama bang kris, astaga penasaran! lanjuuut… semangat buat authornya sipp! hwaithing!

  6. huwaaaaa aku kesel banget sama kaibaek……, apalagi kan kyungsoo bias aku dan setiap baca partnya kyungsoo rasanya nyesek banget dan rasanya pengen nangis….., rasanya itu aku pengen mukul kai buat nyadarin dia terus pokoknya ngelakuin apapun buat kai sadar tp aku juga ga mau klo kai nya langsung menyesal tanpa ada sakit hati *smirk evil , pokoknya kaibaek harus ngerasain sakitnya yg di rasain krisoo, walaupun rada ga tega sama baekhyun tetap aja aku kesal, buat authornya ini ff keren banget dan sayang banget klo ga di lanjutin hehehe tp jgn jahat2 sama kyungsoo ya…., ini endingnya bakalan kaisoo atau krisoo??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s