Payphone – Chapter 7 || KrisBaek


Pertama-tama saya mau minta maaf pemirsaaahhh… soalnya udah bikin ini blog terlantar berminggu-minggu.

Kedua, saya juga minta maaf karena perkiraan saya meleset. Saya memaksakan ini ending di chap 7 tapi tetep gak bisa. Harus sesuai kerangka, dan akhirnya meleset ending ke chap 8. Jadi masih satu chap lagi #plak. Gile aja, hampir 30k word mau dijadiin satu chapter ckckckckkck -_-
jadi jangan heran(?) kenapa ini gak diprotek wkwkw… inada unsur kesengajaan(?) sih. kan emang bukan ending #plak

Ya sudah itu aja… ini juga kalo ada yang baca.

Selamat reading(?) deh, ini blom di protek. Ilam belum balik, jadi blom ada yang bantuin nyebar(?) pw. Okeh… selamat membacaaahhh(?)

FF stress dari ALF

untitled-1-copy (1)

 

FF KrisBaek

 

Tittle: Payphone

Author: AyouLeonForever

Genre: whatever -__-

Rate: TTM (?)

Length: Chaptered (sesuai peminat)

Main cast: Byun Baek Hyun-Kris-Park Chan Yeol

Main pair: KrisBaek/BaeKris

Slight: Baekyeol

Other cast: Find them… ^^

Disclaimer: Kris, Baek Hyun, Chan Yeol, ama semua member EXO ntu punya emak abahnya, makhluk ciptaan Tuhan yang bernaung di SM Ent, ALF cuman pinjam nama doang.

Copyright: Ide cerita, Alur/plot ntu dari hasil kerja sistem saraf sensorik yang ada di otaknya ALF gak tau apa hubungannya yang jelas jangan copas, menyebarluaskan, mempublikasikan dengan alasan apapun tanpa sepengetahuan ALF. Neraka ntu luas (?)

 

Summary: “I Love you… I Love you… I Love you… I really Love you…”

 

WARNING: Wahai kau anak-anakku(?) janganlah jadi reader labil sehingga menimbulkan kerusuhan. Ini hanya fiksi tanpa ada niat pembunuhan karakter (Gue ngomong apa ini.. haih capek sih ngadepin yang labil-labil)

 

 

ALF note: Buat bocah… awas ada ranjau ^^ . istighfar ye 

 

Preview~

 

 

 

 

“Aku… betul-betul merindukanmu. Aku benci ini, tapi aku ingin kau terus berada di sisiku. Karena aku… juga sesak tanpamu.”

 

Deg~

 

Tidak lagi, Kris tidak ingin berharap lagi. Segera ia melepaskan pelukan Baek Hyun dan menatapnya tajam, “Jangan mengucapkan kalimat yang tidak bisa kau pertanggung jawabkan Baek Hyun-ah. Kondisiku yang sekarang, juga pengaruh ucapanmu yang hampir membuatku gila. Kau pikir sejauh apa anganku saat kau mengatakan bahwa kau tidak hanya sekedar menyayangiku? Semua hal, mulai dari perkataanmu juga perlakuanmu betul-betul membuatku gila. Jadi kumohon, sebelum aku berakhir dengan mati di tanganmu, hentikan semua ucapan itu, berhenti mengatakan hal-hal yang tidak bisa kau pertanggung jawabkan… berhenti membuatu berharap dan akhirnya menjatuhkanku dengan hempasan keras, jangan bersikap seolah-olah kau__”

 

“Aku mencintaimu Kris… !!!”

 

 

 

Payphone

Chapter 7

Kris tidak hanya terhenyak saat Baek Hyun memutus perkataannya dengan sebuah untaian kalimat yang menurutnya sungguh mustahil untuk ia dengar dari kedua bibir Baek Hyun.  Betul-bukan tidak hanya terhenyak kaget, namun jantungnya hampir meledak. “Apa?”

 

Baek Hyun menarik nafas sedalam-dalamnya. “Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu. Kris Wu aku mencintaimu…. aku sangat mencintaimu!” tegasnya dengan binar keyakinan di matanya. Sedikitpun tanpa celah, tidak tertangkap adanya keraguan dan itu membuat Kris terhuyung ke belakang dan punggungnya menabrak tembok.

 

Cara yang sama dengan waktu dan tempat yang berbeda, tapi itu terdengar olehnya. Kalimat yang pernah ia keluarkan bertubi-tubi untuk Byun Baek Hyun. Kalimat yang menjadi pembuktian bahwa ia sudah betul-betul tidak mampu membendung perasaannya. Namun… apa yang baru saja ia dengar? “Tidak mungkin. Ini tidak nyata… Ini… pasti sebuah lelucon,” lirihnya dengan tatapan tak percaya. Wajahnya bahkan memucat seiring peningkatan kerja metabolisme tubuhnya. Ia yakin bahwa Baek Hyun bisa saja mendengar degup jantungnya yang serupa dentuman keras saat ini.

 

“Aku bodoh, benar karena aku baru berani mengatakannya sekarang. Tapi aku akan tampak semakin bodoh lagi jika aku tidak mengatakan apa yang kurasakan dan menyimpann ini selamanya. Dan berakhir… dengan kehilanganmu…”

 

Kris masih terperangah beberapa menit, namun ia kembali tertampar oleh sebuah kenyataan yang tidak bisa ia elakkan, bahwa Baek Hyun sudah berkali-kali membuatnya seperti ini. Melambungkan angannya, namun kemudian ia lepaskan hingga Kris tidak punya pegangan untuk mengokohkan posisinya. “Byun Baek Hyun, kuharap ini yang terakhir kau memperlakukanku seperti ini. Tolong, ini sudah lebih dari sekedar cukup untuk menyiksaku.  Bahkan jika kau tidak ingin aku melihatmu dari jauh, mencintaimu dari jauh, bagiku itu tidak apa-apa. Maka akan kulakukan dalam diam hingga kau tidak tahu. Itu masih lebih baik jika kau mengatakan suatu hal yang mustahil untukku… dan aku__”

 

“Aku betul-betul mencintaimu…”

 

Masih saja membuat Kris terkaget, dan sekali lagi menggeleng cepat. “Byun Baek Hyun, tolong… kau bisa membunuhku secara perlahan.”

 

Baek Hyun menunduk sembari memejamkan matanya. Bahunya bergetar hebat, kedua tangannya ia genggam sekuat mungkin hingga buku-buku jarinya memutih. “Lalu aku harus apa? Aku harus mengatakan apa?” Baek Hyun menarik nafas cukup dalam kemudian mengangkat wajahnya yang membuat Kris terkejut akan air mata yang mulai bergerombol di wajah namja mungil itu. “APA AKU JUGA HARUS DIAM? APA AKU JUGA HARUS BERPURA-PURA TIDAK TAHU TENTANG PERASAAN INI? APA AKU HARUS MENGABAIKANNYA DAN MATI-MATIAN MENAHAN PERASAANKU SAAT AKU BEGITU MERINDUKANMU?”

 

“Baek Hyun-ah…”

 

Baek Hyun menggeleng pelan. “Kau kejam Kris, kenapa hanya kau yang boleh mengatakan bahwa kau mencintaiku? Kenapa hanya kau yang mempunyai hak untuk mengatakannya? Kenapa hanya kau yang boleh membiarkanku tahu bahwa kau mencintaiku?” lanjutnya dengan suara bergetar.

 

Kris terdiam sejenak, tapi sekali lagi dia tidak ingin terbuai begitu mudah oleh ilusi memabukkan namun beracun. Diusapnya wajah lelahnya dengan kasar untuk mengembalikan kesadarannya, bahwa apa yang ia dengar dan apa yang ia lihat belum tentu sesuai dengan apa yang ia harapkan. “LALU BAGAIMANA DENGAN SUAMIMU???”

 

Baek Hyun tidak menjawab, hanya bisa melanjutkan tangisnya.

 

“Sudah kubilng ini tidak nyata, ini hanya fatamorgana, hanya ilusi karena kau tidak mungkin mencintaiku sementara kau mencintai suamimu.”

 

Kembali, hening itu menguasai. Hanya isak tangis dari bibir mungil Baek Hyun yang terdengar memecah sunyi.  Dan sungguh, itu tak hanya memilukan, namun melukai Kris yang menjadi satu-satunya pendengar.

 

“Baek Hyun-ah,” lirihnya pelan, bahkan terdengar sendu.

 

“Aku betul-betul mencintaimu,” balas Baek Hyun terlihat lebih sendu. Dan itu menuntun Kris memejamkan matanya erat. seolah tak kuasa melihatnya. “Aku tidak tahu harus mengatakan apalagi, tapi… sakit sekali Kris, di sini…” lanjutnya sembari merengkuh dada kirinya.

 

Kris membuka matanya, langsung terikat oleh sepasang manik mata hitam yang terlindung di dalam kelopak mata sempit namun sukses menyita habis perhatiannya sejak pertama kali menatapnya. Mata itu begitu kecil, namun daya tariknya sungguh besar hingga sukses memperdaya Kris di pertemuan pertama. Mata itu begitu polos, membawa Kris pada sebuah masa di mana ia mengubah kepolosan itu hanya dengan setitik noda, namun membekas, tidak hanya dalam jangka waktu yang lama, bisa jadi sampai Kris menghembuskan nafas terakhirnya. Bahwa ia tidak akan bisa melupakan masa terindah dalam hidupnya…

 

Saat ia diperkenalkan oleh sesuatu yang naif … terakhir ia tahu bahwa namanya adalah cinta.

 

 

Ia menelan ludah susah payah, kemudian menghembuskan nafas panjang. Setelahnya ia menyeret langkah ke depan hingga ujung sepatunya berjarak tak cukup sejengkal dengan ujung sepatu sepatu Baek Hyun. “Kau tahu Baek Hyun-ah?” ia meraih tangan lentik Baek Hyun dan menuntunnya untuk menyentuh dada bidangnya. “Aku merasakan lebih dari sekedar sakit di sini.”

 

Baek Hyun terdiam, matanya masih terpaku pada mata tajam Kris yang baginya justru lebih menenangkan dari apapun. Tangannya yang menapak di dada kiri Kris, merasakan degupan yang begitu cepat dan keras, hingga ia tahu bahwa tangannya persis menapak di luar jantungnya.

 

“Aku bahagia mencintaimu, namun menderita di saat yang sama karena tidak bisa meraihmu. Lukaku dimulai saat itu, dan sedikit berhasil kau sembuhkan saat kau mengatakan bahwa kau menyayangiku. Nyaris membuatnya sembuh sempurna saat kau bilang tak sekedar menyayangiku, dan kembali berdarah saat kau memperlihatkan keraguanmu. Sekarang… kau mempertegasnya, namun entah kenapa itu justru membuatku semakin sakit Byun Baek Hyun. Katakan aku pengecut, karena aku takut semakin terluka,” lanjut Kris dengan suara yang hampir tidak terdengar akibat sesak yang dirasakan di dadanya, menyebar ke tenggorokannya.

 

Baek Hyun menggeleng pelan sampai akhirnya ia pun tidak bisa lagi berbuat apa-apa selain menghempaskan tubuh mungilnya ke pelukan Kris.  “Mianhae Kris… Jeongmal mianhaeyo… Maaf atas luka yang kuberikan padamu.” Baek Hyun mengeratkan pelukannya dan semakin menenggelamkan wajahnya di dada Kris. “Aku sungguh-sungguh mencintaimu, maka izinkan aku untuk mengobati lukamu dengan ini.”

 

Kris membalas pelukan itu, pelan namun tak ragu sama sekali. Menariknya merapat hingga ia bisa menempelkan pipinya di sisi telinga Baek Hyun. Demi Tuhan… ia tidak menyangka bahwa ini nyata. “Jika… ini bukan mimpi…. Tolong katakan sekali lagi,” bisiknya.

 

“Aku mencintaimu…”

 

Kris tersenyum dengan deraian air mata yang perlahan menetes, membasuh luka yang dijanjikan untuk disembuhkan oleh Baek Hyun. “Lagi…”

 

“Aku mencintaimu.”

 

“Sekali lagi Byun Baek Hyun…”

 

“Aku mencintaimu… Aku mencintaimu… Aku sangat mencintaimu.”

 

 

 

 

☏☎☏

 

 

 

Kyung Soo mengerutkan keningnya saat denting di jam dinding ruang makan itu berbunyi, menandakan waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, artinya sudah hampir satu jam sejak Baek Hyun keluar hanya untuk membeli 4 buah kaleng minuman.

 

“Apa harus kususul Baek Hyun?” tanya Kyung Soo memutus obrolan heboh Chan Yeol dan Kai yang entah membahas apa, Kyung Soo betul-betul tidak peduli jika kedua orang itu protes saat obrolannya dipotong.

 

“Tunggu saja, mungkin tidak akan lama lagi,” jawab Chan Yeol masih keasyikan menyantap dagingnya panggangnya.

 

“Itu karena kau tidak ingin ketahuan memakan daging dalam jumlah banyak kan?”

 

Chan Yeol terkekeh pelan kemudian meraih segelas air untuk meneguknya. “Mungkin dia sekalian membeli yang lain. Selama di Korea dia memang jarang keluar untuk sekedar berbelanja. Jadi biarkan saja.”

 

“Kau yakin tidak akan apa-apa?”

 

Chan Yeol mengangguk pasti sambil tersenyum penuh makna. “Dia tidak pergi jauh kan? Dia akan baik-baik saja.”

 

“Ya sudah, kalau kau yang mengatakannya.”

 

 

 

☏☎☏

 

 

 

 

Ruangan itu cukup remang. Hanya sejumlah berkas cahaya lampu yang berasal dari ruang tamu menembus lewat pintu pemisah. Cukup sunyi karena memang ruangan itu kedap suara, hanya terdengar suara nafas teratur yang berasal dari dua namja yang berpelukan di atas sebuah karpet tebal berwarna putih, menghadap sebuah TV layar besar yang sebenarnya tidak menyala sama sekali.

 

Namja bertubuh mungil, Baek Hyun, masih betah membenamkan wajahnya di dada bidang Kris yang aroma maskulinnya begitu ia rindukan. Sementara Kris memejamkan matanya, menghirup aroma lembut shampo yang berasal dari rambut Baek Hyun yang begitu halus. Sesekali membelainya karena kulit jari Kris begitu tergoda oleh kelembutannya.

 

“Baek Hyun-ah,” panggil Kris dengan suara pelan.

 

“Hm…”

 

“Apa ini nyata?”

 

“Apanya?”

 

“Kau… di sini… bersamaku.”

 

Baek Hyun tersenyum, kemudian menjauhkan wajahnya dari dada bidang Kris yang terbungkus kaos gelap itu. “Buka matamu Tuan muda, dan lihat aku.”

 

Kris menurut, ia membuka matanya perlahan, disambut oleh wajah orang tercintanya yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya itu.

 

“Kau melihatku?” tanya Baek Hyun pelan.

 

Ne, aku melihatmu sangat jelas, bahkan dalam cahaya remang seperti inipun,” jawab Kris jujur.

 

Baek Hyun mengangkat tangan kirinya yang tidak diperban untuk menyentuh pipi Kris yang begitu kokoh menurutnya. “Artinya aku bersamamu Kris…”

 

“Aku tahu, hanya saja masih tidak percaya.” Kris meraih tangan lentik itu dan mengecupnya lembut.

 

“Ingin memperjelasnya?”

 

Kris mengangkat alisnya sedikit terkejut, menyadari kalimat menantang dari Baek Hyun. “Kau sadar? Aku mengartikan lain kata-katamu.”

 

“Ma… Maksudku … dengan memelukmu sangat erat sampai kau tidak bisa bernafas dan akhirnya sadar bahwa ini nyata.”

 

Namja tampan itu menarik sudut bibirnya untuk mengulas senyum berarti. “Percaya saja, aku masih belum sepenuhnya sembuh Byun Baek Hyun.”

 

Sret~

 

Mata kecil  Baek Hyun melebar saat tanpa persetujuannya Kris menggeser tubuhnya hingga dengan sedikit leluasa ia menindih tubuh mungil itu di bawahnya.

 

“K… Kris, a… Aku rasa jangan sekarang,” cegahnya sembari meletakkan kedua tangannya di dada bidang Kris agar jarak antara mereka sedikit tercipta.

 

“Jujur saja aku tidak lupa saat pertama kali kita melakukannya. Tapi… sungguh, aku merindukan hal itu.”

 

“Ta… Tapi Kris…”

 

 

Greb~

 

 

Kris menyingkirkan kedua tangan Baek Hyun yang menjadi penghalang, menggenggam kuat dan menekannya di samping telinga Baek Hyun. “I miss you… so much…”  lirih Kris lembut dan tentu saja tulus, membuat Baek Hyun tak berniat  lagi menyerukan protes.

 

Mata kecilnya tertuju pada sepasang bibir yang dalam ingatannya belum pernah menyentuh bibirnya. Sepasang bibir yang pernah memanja kulit tubuhnya dengan begitu lembut dan melukiskan memori indah di benaknya, dan bisa jadi… hal indah itu akan terlukis di kotak memori baru.

 

Kris tidak ragu, namun terlalu hati-hati saat ia menundukkan wajah. Matanya masih terbuka untuk mengawasi, tidak lagi fokus pada mata Baek Hyun yang terpejam indah dengan gairah menggoda namun sesekali terbuka saat Kris membuatnya menunggu karena tak juga menyatukan bibir mereka.

 

Kris semakin mengeratkan genggamannya yang menapak di atas telapak tangan indah Baek Hyun, meresapi tekstur lembut dari pemukaan kulit tangan Baek Hyun, bergerak gelisah seiring nafasnya yang semakin berat untuk mendapat penerimaan tulus, Kris merasakan Baek Hyun pun ikut mengeratkan genggaman tangannya. Mungkin gugup, juga ikut gelisah, atau justru panik? Entahlah karena bagi Baek Hyun ini mungkin akan menjadi yang pertama di mana ia akan disentuh tepat di bibir yang selama ini hanya ia pertahankan untuk suaminya.

 

Hembusan nafas itu semakin terasa menyapu philtrumnya, artinya bibir Kris sudah berada persis membayangi permukaan bibirnya, namun mengapa begitu lama?

 

Lama?

 

Apakah Baek Hyun menunggu?

 

Sungguh tidak jelas. Terlihat sekali ia bergerak gelisah, namun tak punya alasan kuat untuk menolak karena ia menunggu. Ragu tapi ingin…

 

Kris melepas genggamannya di tangan kanan Baek Hyun yang di perban, ia gunakan untuk menyentuh dagu runcing Baek Hyun dan menariknya untuk sedikit mendongak.

 

Ces~

 

Bagai tetesan embun saat Baek Hyun merasakann hidug Kris menyentuh puncak hidungnya, menuntunnya untuk membuka mata, dan wajah tampan Kris masih berada persis di atasnya. Terkesan terlalu berhati-hati, karena ia sedang mengukir kenangan pertama yang sebisa mungkin akan dijadikannya dan Baek Hyun sebagai kenangan terindah selamanya.

 

Saat ia pertama kali mencium Baek Hyun dengan penerimaan seutuhnya.

 

“Kris…” lirih Baek Hyun tertahan, bersamaan saat ia membuka matanya.

 

Dan melihat itu, Kris tahu, bahkan sudah hapal bahwa yang akan keluar selanjutnya dari bibir indah itu adalah.

 

“Chan Yeol…”

 

Kris menghela nafasnya berat saat nama itu betul-betul disebut. “Sudah kubilang sejak awal ini pasti  hanya__”

 

“Tidak… Tidak, bukan itu maksudku. Ini tetap nyata, dan aku betul-betul mencintaimu.” Baek Hyun buru-buru melepas genggaman Kris di tangan kirinya dan langsung meraih ponsel di saku jeansnya yang bergetar tadi. “Tapi Chan Yeol menelpon,” ucapnya sambil memperlihatkan layar ponselnya di depan wajah Kris.

 

Hanya decakan kesal yang bisa dikeluarkan namja tampan itu sebelum ia beringsut dan membetulkan posisinya dan duduk membelakangi Baek Hyun.

 

“Ne Chan Yeol-ah…” sahut Baek Hyun saat menjawab panggilan itu, berusaha mengontrol nafas agar suaranya terdengar senormal mungkin. Ia pun ikut membetulkan posisi duduknya di sebelah Kris yang tidak ingin menatapnya. “Hm aku… aku sudah membelinya, dan sekarang… dalam perjalanan pulang, tadi ramai sekali dan … eum… ada sedikit kecelakaan kecil__ Ah tidak… aku tidak apa-apa, hanya luka kecil. Tunggu saja di situ aku sudah dalam perjalanan, tidak perlu cemas__ Ne, aku segera pulang.” Baek Hyun menghembuskan nafasnya cukup panjang setelah mengakhiri pembicaraan itu. “Eum Kris…”

 

“Ne, aku tahu. Kau memang harus pulang,” potongnya sembari membantu Baek Hyun berdiri.

 

“Kris,” Baek Hyun tersenyum, menyentuh pipi Kris yang memang terlihat semakin tirus.

 

Kris justru tertawa miris. “Ini aneh Byun Baek Hyun. Kau milik orang lain tapi kebersamaan ini…”

 

“Ne, aku tahu konsekuensinya, tapi kupikir jika aku menyerah maka aku akan menyesal selamanya.”

 

“Baek Hyun-ah… sebenarnya tidak apa-apa jika ini tak terbalas, sudah kubilang cintaku tidak menuntut.”

 

“Kris tolong, pembahasan ini sudah berakhir, dan kesimpulannya adalah, aku tidak pernah melarangmu mencintaiku, maka jangan larang aku untuk mencintaimu juga.”

 

“Tapi…”

 

“Tolong… hanya bertahan, karena cinta ini tidak akan kugunakan untuk melawan siapapun.”

 

Kris menghembuskan nafasnya pasrah, kemudian memaksakan bibirnya tersenyum. “Baiklah, aku tidak akan bertanya bagaimana posisiku di hatimu sementara kau punya Chan Yeol.” Kris sudah beranjak lebih dulu menuju pintu depan, namun langkahnya terhenti saat tangan mungil Baek Hyun menahan lengannya, membuat namja tampan itu menoleh.

 

“Aku mencintai Chan Yeol, dan dia adalah suamiku,” tegas Baek Hyun.

 

“Hm, aku tahu… jadi tidak perlu membahas__”

 

“Aku lebih mencintaimu, karena aku tidak bisa bernafas dengan baik tanpamu. Kau nafasku.”

 

Singkat, tapi sukses membuat Kris hampir luruh tak berdaya ke lantai. Ia sudah siap dengan jawaban Baek Hyun bahwa hubungan mereka hanya sekedar perselingkuhan untuk dua insan yang terlena akan ego. Tapi sungguh, belum pernah ia melihat Baek Hyun setegas itu menyatakan sesuatu padanya, tidak ada ragu sedikitpun seperti yang selama ini ia lihat dan ia dengar, juga ia terima berupa perlakuan yang membuatnya tersiksa.

 

Ini cinta…

 

Pangkal dan ujungnya adalah luka.

 

Salahkah jika Kris memilih bertahan di tengah-tengah?

 

Seperti yang Baek Hyun bilang, hanya bertahan… karena cinta ini tidak bermaksud melukai.

 

 

 

Kris pun tersenyum. Jika Baek Hyun saja begitu ingin bertahan, lalu apalagi yang perlu ia khawatirkan. “Jadi tidak apa-apa jika tidak ada masa depan?”

 

“Selama aku masih bisa terus bersamamu Kris, masa depan seperti apapun, aku tidak peduli.”

 

Namja tampan itupun kembali menarik tubuh Baek Hyun dan memeluknya lebih erat dari sebelumnya. “Kau yang mengatakannya Byun Baek Hyun, maka jangan salahkan aku jika cintaku yang awalnya tidak menuntut, akhirnya mulai terbiasa meminta balasan.”

 

Baek Hyun mengangguk dalam dekapan hangat itu. Tidak hanya membenarkan, namun mengikrarkan dalam hati. “Hm, tapi aku betul-betul harus pulang, atau kebersamaan kita akan berakhir malam ini juga.”

 

Kris tertawa kecil kemudian melepas pelukannya, membantu Baek Hyun merapikan zipper jaket dan rambutnya, juga memeriksa kembali perban di tangan kanannya.

 

“Astaga… belanjaanku!” pekik Baek Hyun saat ia akhirnya tersadar tujuan sebenarnya kenapa tadi ia keluar dari apartemennya.

 

“Belanjaan apa?”

 

“4 kaleng minuman, dan jika aku pulang tanpa itu, Chan Yeol jelas akan curiga kemana saja aku pergi.”

 

Kris bergumam lirih seperti memikirkan sesuatu. “Sepertinya kita memulai hubungan ini dengan sedikit kejam karena ini namanya tipuan,” ia menarik tangan Baek Hyun menuju dapur dan membongkar isi kulkasnya, mengeluarkan 4 kaleng minuman yang memang tersedia di sana. “Maaf, tapi aku membantumu berbohong,” lanjutnya setelah memasukkan 4 kaleng minuman itu ke dalam plastik dan memberikannya pada Baek Hyun.

 

“Hm, masalahnya aku tidak terbiasa berbohong, dan sepertinya aku akan kembali memulainya malam ini.”

 

“Maaf…”

 

“Tidak, ini caranya bertahan.”

 

“Baiklah, kuantar kau sampai depan.”

 

Baek Hyun mengangguk pelan sebelum Kris kembali menarik tangannya dan mengantarnya sampai depan pintu. “Besok aku akan kembali, itu janji.”

 

“Heum…” gumamnya bersamaan saat ia melepaskan genggaman tangannya, membiarkan Baek Hyun membalikkan badan dan berjalan pelan menuju pintu depan.

 

 

Jika ini mimpi, maka aku tidak ingin terbangun.

 

Jika ini kebohongan, maka aku rela menjadi pendusta.

 

Jika ini racun, maka aku akan mengabaikan tubuhku yang terkoyak.

 

Tidak mengapa jika aku menjadi orang yang paling hina di dunia ini.

 

Demi Tuhan….

 

Cinta ini untuknya!!!

 

 

 

 

Baek Hyun meremukkan gagang pintu seolah akan menghancurkannya, seiring matanya yang terpejam rapat. Ada yang bergejolak di dalam dirinya dan ia rasa ia tidak akan selamat jika gejolak itu tak di redam.

 

Srak~

 

Kris hanya bisa terdiam saat Baek Hyun tak juga bergerak memutar kenop pintu itu, dan akhirnya terkejut saat Baek Hyun menjatuhkan plastik berisi 4 kaleng minuman itu hingga berhamburan ke lantai. Belum sempat ia bertemu pada alasan kenapa Baek Hyun menjatuhkannya, namja mungil itu sudah berbalik dengan wajah resah. Berlari cukup gigih sampai ia berhasil menghempaskan tubuhnya ke dada Kris, memeluk tengkuknya dan menyampaikan gejolak yang melandanya itu dengan sebuah ciuman mahal.

 

For the first… your lips touched mine perfectly…

 

Di sana… di sepasang bibir tebal berwarna alami, yang menyambutnya terkejut. Hanya 3 detik, karena detik selanjutnya tangan kokoh Kris memeluk pinggang dan punggung Baek Hyun untuk menyangga tubuhnya, pun menyampaikan gejolak yang ia rasakan tak kalah membuatnya resah.

 

 

Fatamorgana, kebohongan, dan racun…

 

Sudah kukatakan tidak mengapa…

 

Karena ini cinta.

 

 

Kris memindahkan tangan kanannya ke telinga Baek Hyun, menahannya sejenak saat ia menggerakkan kepalanya ke arah berlawanan, memperdalam penyampaian cinta yang ia yakin tidak akan ada habisnya.

 

Tidakkah ini hebat? Sesuatu yang dipertahankan Baek Hyun untuk tidak disentuh oleh orang lain kini justru tengah memabukkannya.  Dan  lihat… ia bahkan tidak berada di pihak yang merampas.

 

Sekali lagi… ini cinta!

 

 

Ciuman itu akhirnya terlepas tanpa rela. Kris masih menyangga sisi telinga Baek Hyun. Juga mata yang masih terpejam, ia merasakan Baek Hyun menjauhkan wajahnya setelah merapatkan tumit ke lantai.

 

Tanpa kerelaan, Kris tetap menunduk, menempelkan keningnya di kening Baek Hyun, menyatukan nafas yang memburu, membentuk kabut tipis pada sekat udara yang memisah mereka.

 

Seolah diikat dalam kontak batin, mereka membuka mata bersamaan, mencari fokus sang tercinta di depan. Memberi dan disambut oleh senyuman rikuh namun lega.

 

I love you…”

 

“Hm… nado…”

 

Kau boleh membunuhku setelah ini, tapi sungguh… aku mencintaimu,” lirih Kris seakan memanja permukaan kulit Baek Hyun dengan nafasnya.

 

“Jika kau bertanya, kurasa kau tahu jawabanku.”

 

Kris kembali mendongakkan wajah Baek Hyun dengan tangannya yang masih menangkup wajah mungil itu, sekali lagi memberikan kecupan lembut penuh perasaan di bibir itu.

 

“Kris…”

 

“Hm…”

 

“Sampai jumpa besok.”

 

Kris pun tersenyum, kembali menciumi Baek Hyun dan berjanji itu yang terakhir untuk malam ini. “Tempatmu di sini Baek Hyun-ah…”

 

 

 

☏☎☏

 

 

“Terjepit pintu mobil?” tanya Chan Yeol sembari menautkan alisnya bingung, sebenarnya masih dalam kondisi panik saat menyaksikan Baek Hyun pulang dengan tangan kanan di perban. Terlebih ia sudah tidak bisa melakukan apa-apa karena tangan Baek Hyun sudah dibalut perban dengan cukup rapi. Lebih terkejut lagi saat Baek Hyun membuat kesabarannya menipis karena cerita setengah-setengah yang ia dapat perihal kronologis kejadiannya.

 

“Ne,” jawab Baek Hyun berusaha tenang. “Ayo minum, aku beli 4 kaleng. Tapi kau jangan terlalu banyak minum karena__”

 

“Lalu mana Ahjushii  yang kau tolong itu? Seharusnya dia juga mengantarmu sampai pulang karena kau sudah menolongnya membawakan belanjaan. Setidaknya sebagai bentuk pertanggung jawaban karena telah melukai tanganmu.”

 

“Dia tidak sengaja Chan Yeol-ah, aku hanya kurang cermat saja.”

 

“Dia yang kurang cermat, bagaimana bisa dia menutup pintu mobilnya sementara tanganmu masih di dalam.”

 

“Sudahlah, ini hanya cedera biasa. Ayo lanjutkan makannya.”

 

“Lain kali jangan asal menolong orang!” tegas Chan Yeol akhirnya.

 

“Jangan berlebihan Chan Yeol-ah,” potong Kai menengahi. “Apa salahnya menolong orang, lagipula Baek Hyun bilang kalau Ahjushii itu kerepotan, manusiawi lah kalau Baek Hyun menolongnya. Perihal kecelakaan kecil itu, setidaknya Ahjushii itu bertanggung jawab dengan membawa Baek Hyun ke klinik kan?”

 

Chan Yeol hanya bisa berdecak, ia masih belum puas. Tetap saja ia tidak terima. Entah pada bagian apanya.

 

“Siapa yang menghabiskan satu bungkus daging ini?” tanya Baek Hyun mengalihkan pembicaraan.

 

Kai dan Kyung Soo kompak menggelengkan kepalanya.

 

“Chan Yeol-ah…”

 

“Jangan mencari alasan untuk memarahiku. Aku masih tidak terima masalah Ahjushii itu melukai tanganmu.”

 

Baek Hyun memejamkan matanya sejenak, kemudian menghembuskan nafas cepat. Setelahnya, ia meraih tangan Chan Yeol dengan tangan kirinya untuk ia genggam, mengirimkan sesuatu berupa penegasan bahwa ia tidak apa-apa. “Aku baik-baik saja Chan Yeol-ah, ini akan sembuh dalam beberapa hari.”

 

“Ck, tapi tetap saja…”

 

“Chan Yeol-ah… tolong…” pinta Baek Hyun tulus. Dan itu jelas membuat Chan Yeol tidak bisa berbuat apa-apa, terlebih setelah melihat sepasang mata mungil itu seperti memelas.

 

“Arasso, lupakan saja. Besok sepulang kerja akan kuantar kau ke rumah sakit untuk memeriksakan tanganmu.”

 

“Eh tidak usah, ini sudah tidak apa-apa setelah kuperiksakan ke klinik tadi.”

 

“Byun Baek Hyun!”

 

“Ya, tapi kalau kau memaksa, baiklah. Besok aku akan ke rumah sakit. Aku sebenarnya cukup bosan tidak ada kegiatan pagi-pagi sementara kau berangkat kerja.”

 

“Sendiri?”

 

“Aku bisa menemaninya,” seru Kyung Soo semangat.

 

Baek Hyun langsung menoleh kaget, siapa yang sangka bahwa itu hanya sebuah alasan. “Eh tidak perlu, aku bisa pergi sendiri, bukankah kau sibuk?”

 

“Tidak terlalu sibuk jika hanya untuk menemanimu.”

 

“Hm, ya sudah. Maaf merepotkanmu Kyung Soo-ya,” ucap Chan Yeol akhirnya merasa lebih baik.

 

Baek Hyun merasakannya, Chan Yeol memang cukup peka, sangat peka, atau justru terlalu peka. Tapi setidaknya masih dalam kondisi baik karena kecemasan Chan Yeol itu tertuju pada luka ringan Baek Hyun, bukan apa yang menyertai luka itu.

 

Dua kali dalam hidupnya, Baek Hyun merasa sangat bersalah pada Chan Yeol. Dua kali, tapi dengan kesalahan yang sama. Pertama memang karena terpaksa, tapi selanjutnya adalah menuruti kata hati dan inilah menurutnya kesalahan terbesar itu.

 

Maafkan aku Park Chan Yeol…

 

Aku mencintaimu… tapi juga mencintainya…

 

Aku tidak ingin kau terluka… tapi berpisah dengannya aku tak kuasa.

 

Hanya bisa seperti ini… mencintaimu… dan mencintainya.

 

 

☏☎☏

 

 

 

Chan Yeol hanya bisa mematung seperti orang bodoh saat ia baru saja keluar dari kamar mandi dan mendapati Baek Hyun sudah tertidur damai di ranjang mereka. Lebih kejamnya lagi tidurnya sangat pulas, sampai terdengar dengungan kecil yang menandakan bahwa namja mungil itu terlalu lelah jika Chan Yeol nekat menganggunya.

 

“Kubunuh juga Ahjushii itu,” keluh Chan Yeol tertahan karena jelas ia telah men-judge Ahjushii yang ditolong Baek Hyun sebagai penyebab kenapa ia begitu lelah. Dan hal terakhir yang bisa ia lakukan hanyalah melangkah malas menaiki tempat tidur, menarik selimut dan memeluk Baek Hyun dari belakang, karena jujur saja, Baek Hyun tidur memunggunginya. Apa yang lebih kejam?

 

Satu yang tidak diketahui Chan Yeol, bahwa mata mungil itu tidak sepenuhnya terpejam, dengkuran halus itu tidak sepenuhnya asli walau cukup sulit menyatakan bahwa dengkuran itu dibuat-buat. Jujur saja, itu cara Baek Hyun untuk tidak terlihat semakin bersalah di hadapan Chan Yeol.

 

Maaf…

 

Hanya sepenggal kata yang terucap lirih dari bibir Baek Hyun.

 

Kebohongan betul-betul dimulai. Disertai dengan menghindar… dan waktu yang bergulir mengajarkannya untuk terbiasa.

 

 

☏☎☏

 

 

 

Pukul 8 lewat 15 menit, artinya setengah jam yang lalu Chan Yeol sudah berangkat untuk bekerja. Ia juga sudah memberitahu Kyung Soo bahwa ia bisa pergi sendiri ke rumah sakit, yang tentu saja bukan itu tujuannya. Jadi bukan tanpa alasan kenapa sekarang Baek Hyun berdiri di depan sebuah apartemen yang tentu saja bukan miliknya, menatap bingung pada benda segiempat pipih yang melekat permanen di gagang pintu, memintanya memasukkan beberapa digit angka sebagai aksesnya masuk ke apartemen itu.

 

Biasanya ia menggunakan tanggal pernikahannya dengan Chan Yeol sebagai kode kunci apartemennya, tapi jelas saja itu tidak akan berfungsi untuk pintu apartemen di depannya itu karena jelas-jelas itu adalah apartemen yang ia kunjungi semalam.

 

Apartemen Kris.

 

Ia merengut kesal saat ia memasukkan digit angka yang seingatnya adalah tanggal ulang tahunnya, dan ternyata salah. Padahal ia cukup percaya diri sebelumnya bahwa Kris akan menggunakan angka 920506 sebagai  kode kuncinya.

 

Tidak sopan memang membobol apartemen milik orang lain, dia bisa saja menekan bel atau menelpon Kris, atau apapun agar Kris sendiri yang membukakan pintu untuknya. Tapi apa salahnya berharap jika Kris menganggapnya cukup penting hingga menggunakan digit angka yang berhubungan dengannya.

 

Mata kecilnya melebar saat deretan angka lain muncul di benaknya. Sedikit tidak yakin, tapi jari mungilnya menekan tombol  kunci digital sesuai dengan angka yang menurutnya lucu itu.

 

Bip~

 

Cklek~

 

Baek Hyun semakin membelalak saat kuncinya terbuka. Dan itu justru membuatnya tertawa. “Ya Tuhan… Kris, kau sungguh transparan,” ucapnya geli kemudian membuka pintu itu.

 

Tampak lengang karena Baek Hyun memang tidak memberitahu Kris mengenai jam kedatangannya, jadi tidak aneh jika Kris tidak menyambutnya. Ia melanjutkan langkah menuju dapur, membuka tas plastik yang ia bawa dan mengeluarkan kotak makan bersusun.

 

Terdengar derap langkah cepat dari luar, dan berhenti tepat di depan pintu dapur. “Baek Hyun-ah?” seru Kris kaget.

 

“Eh selamat pagi, maaf aku masuk seenaknya,” sambut Baek Hyun masih sibuk menata kotak makanan di atas meja. Sebenarnya juga agak kaget saat mendapati Kris hanya mengenakan baju mandi.

 

“Bukan masalah, tapi kupikir kau akan datang agak siang. Makanya pintu depan belum kubuka… tapi… kuncinya…”

 

Baek Hyun tertawa pelan. “Aku juga tidak bisa melupakan hari itu Kris, jadi… eum kupikir…” Baek Hyun menunduk, menyembunyikan rona wajahnya.

 

Kris berdehem canggung, sembari menggaruk tengkuknya. “Itu murni spontanitas, aku tidak memikirkan angka lain,” jelasnya sembari melangkah pelan hingga akhirnya berdiri di sebelah Baek Hyun.

 

“Hm , tidak apa-apa. Setidaknya kita berpikiran yang sama dan hanya kita yang tahu angka itu.”

 

Kris pun akhirnya tersenyum lega, dan tanpa sungkan lagi memeluk perut  Baek Hyun dari belakang, sedikit membungkuk agar mampu menyandarkan dagunya di pundak Baek Hyun.  “Apa ini?”

 

“Eh,ini? Tadi pagi aku memasak cukup banyak. Untuk Chan Yeol dan juga untukmu.”

 

Terdengar tawa kecil dari Kris, dan kelihatannya dia memang merasa geli. “Jadi sekarang kau punya dua tugas?”

 

“Tidak juga, hanya porsinya saja yang ditambah. Ayo sarapan.”

 

“Sebentar.” Kris menolak melepaskan pelukannya saat Baek Hyun sudah bersiap untuk duduk di kursi.

 

“Eh Kris?” dan Baek Hyun hanya bisa terkaget-kaget saat Kris memintanya berbalik untuk sekedar memberinya kecupan selamat pagi.

 

Baek Hyun tersenyum simpul, tak mampu menyembunyikan rona merah di kedua pipinya setelah ciuman  itu terlepas. “Kedua?”

 

“Apanya?” tanya Kris tidak fokus saat ia membelai wajah indah Baek Hyun.

 

“Ini yang kedua kalinya, kau menciumku di bibir,” jawab namja bermarga Byun itu rikuh dan malu-malu.

 

“Kedua? Bukankah yang ketiga?”

 

“Ketiga?”

 

Kris tersenyum, kemudian kembali mencium Baek Hyun di bibirnya. “Empat.” Di kecupnya lagi. “Lima,” lagi. “Enam, tujuh, delapan…” dan terakhir ia tersenyum. “Kita berhenti pada hitungan ini, karena aku yakin selanjutnya kau tidak akan mampu menghitungnya lagi.”

 

“Kris…” dan Baek Hyun kembali mendapatkan ciuman ke sembilannya dari Kris detik itu juga. “Sa…rapan dulu… eum… Kris.”

 

Already dear… you’re my breakfast for the truth.”

 

“Kris…” dan  Baek Hyun tidak lagi menyerukan protesnya saat dengan mudahnya Kris membawanya bersama membuka kotak memori yang sangat berharga.

 

Sebuah kesalahan yang indah dan berakhir dengan penyatuan cinta yang megah.

 

 

☏☎☏

 

Manager Jung terkejut saat melihat atasannya ambruk di meja kerjanya. “Chan Yeol-shii, gwenchanayo?”

 

Chan Yeol tidak menjawab, hanya merengkuh dada kirinya seerat mungkin, seolah jika ia melakukan itu maka rasa sakit yang menyerang dadanya itu berkurang. Namun nyatanya tidak, wajahnya yang memerah serta peluh yang berjatuhan menandakan bahwa ia seolah tak mampu meredam sakitnya sedikitpun.

 

“Chan Yeol-shii? Apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang?”

 

Chan Yeol mengangkat tangan kanannya seolah ingin mencegah saat manager Jung hendak memapahnya. “Bisa tolong aku ambilkan botol obat di laciku…” pinta Chan Yeol dengan suara berat dan nafas terengah-engah.

 

Manager Jung tidak menunggu sampai jarum detik berpindah, ia segera menerjang laci meja dan menemukan satu-satunya botol obat di sana dan membantu Chan Yeol meminumnya. “Apa perlu kutelpon Baek Hyun?”

 

Chan Yeol menggeleng cepat sambil memejamkan matanya. “Jangan, dia pasti cemas. Ini hanya serangan biasa, mungkin karena aku… tidak pernah melakukan kontrol lagi..”

 

“Tapi setidaknya dia harus tahu bahwa kau sering mengalami serangan seperti ini beberapa hari belakangan.”

 

Chan Yeol membuka matanya. Masih pucat dan lemah tentu saja. “Jangan. Jangan memberitahunya. Sudah cukup kubuat ia cemas selama setahun penuh, aku tidak akan membiarkannya tersiksa seperti itu lagi. Tidak akan…”

 

“Chan Yeol-shii…”

 

“Tidak… Aku tidak ingin karena penyakit ini lagi… ia mengemis pada orang lain.”

 

Dan manager Jung hanya bisa menatap prihatin atasannya itu.

 

 

 

☏☎☏

 

 

 

 

 

Kris menghempas lelahnya di atas tubuh mungil Baek Hyun. Nafasnya masih berantakan, menyapu pundak Baek Hyun yang menampakkan beberapa tanda darinya di sana. “Baek Hyun-ah… Are you okay?

 

Sebuah anggukan kecil sebagai jawaban namun tidak meyakinkan Kris sebagai jawaban dari pertanyaannya. Untuk itu ia mengangkat wajah dan memastikan apakah orang tercintanya ini betul-betul baik-baik saja?

 

Mata mungil yang setengah terpejam itu, mulut yang terbuka menghembus nafas berkali-kali, semburat merah menggoda di kedua pipi, juga peluh yang menetes perlahan di pelipis masih terlihat sama. Masih pemandangan yang sama saat Kris pertama kali ‘menyentuh’ namja yang kini begitu ia cinta ini. “Kau baik-baik saja?” ulang Kris untuk memastikan.

 

“Ne…” Baek Hyun membuka matanya perlahan. “Aku baik-baik saja,” kemudian tersenyum.

 

Kris mengecup kening Baek Hyun dengan lembut, namun cukup lama. Mengirimkan cinta yang berwujud cemas akan keadaannya itu. Dan Baek Hyun menyambutnya pula dengan cinta, sebelum Kris memindahkan tubuhnya untuk berbaring di sebelahnya. “I love you.”

 

“Aku lebih mencintaimu.”

 

☏☎☏

 

 

Chan Yeol menghembuskan nafasnya cukup panjang, kemudian menyeka peluh yang membasahi sekitaran wajah pucatnya. “Mungkin sebaiknya aku pulang untuk isirahat. Bahkan obat itupun tidak bisa meredakan nyeri dadaku.”

 

“Ne Chan Yeol-shii, seperti yang kukatakan lebih baik kau memeriksakan kondisimu. Mengingat kau melakukan chek kesehatan terakhir sejak di Beijing. Bukankah kau harus sering  kontrol? Terlebih kau sering mengalami serangan jantung belakangan ini,” saran Manager Jung.

 

“Hm, mungkin akan kulakukan kapan-kapan. Sebaiknya tanpa sepengetahuan Baek Hyun atau dia akan mencemaskanku lagi.”

 

“Tapi… bukankah lebih baik jika dia menemanimu untuk cek kesehatan?”

 

Chan Yeol meraih jas kerjanya kemudian beranjak dari meja kerjanya. “Kuserahkan sisanya hari ini manager Jung, maaf harus merepotkanmu lagi.”

 

“Ah, sama sekali tidak merepotkan Chan Yeol-shii, aku justru berterima kasih kau masih mempercayakan pekerjaan ini padaku.”

 

“Hm, itu karena hanya kau yang sampai sekarang masih bisa dipercaya. Cukup satu kali saja aku dikecewakan oleh orang-orang yang kupercayai, dan kuharap… tidak akan adalagi yang kedua kalinya.”

 

 

☏☎☏

 

 

 

“Kris…”

 

“Eum…”

 

“Kau meninggalkan Beijing sudah hampir 2 minggu, apa itu tidak akan berdampak buruk?”

 

Tidak ada jawaban, itu membuat Baek Hyun mendongakkan wajahnya, memastikan apakah Kris tertidur atau tidak. Ia sedikit beringsut, memindahkan wajahnya yang sejak tadi berbaring nyaman di atas dada polos Kris, sedikit bergeser hingga ia bisa memperhatikan wajah lelah Kris dari samping.

 

“Kau tertidur?”

 

“Tidak,” barulah terdengar jawaban dari namja tampan yang memang sedang memejamkan mata itu.

 

Baek Hyun tersenyum, perlahan menyeka peluh di sekitar pelipis Kris. “Lalu kenapa tidak menjawab pertanyaanku?”

 

“Karena aku tidak ingin membahas hal lain selain tentang kita.”

 

“Kris…”

 

Kris membuka matanya, kemudian menoleh pada Baek Hyun yang berbaring di sebelahnya. Sembari menyunggingkan senyum, ia memindahkan tangannya, menarik Baek Hyun lebih merapat dan membiarkan lengannya sebagai bantal untuk Baek Hyun berbaring di sisinya. “Semua akan baik-baik saja Baek Hyun-ah, memang akan ada dampak seperti pembatalan kotrak kerja atau sejenisnya, tapi percayalah, pihak yang rugi itu bukan aku.”

 

“Tapi Kris…”

 

Kris menunduk sedikit, mengecup bibir mungil itu. “Diam…”

 

Baek Hyun hanya bisa menghela nafas, kemudian menurut. “Baiklah… kalau begitu ayo kita makan.”

 

“Aku tidak lapar.”

 

“Kau betul-betul tidak lapar? Ini sudah hampir masuk jam makan siang.”

 

“Tidak. Aku bisa makan kapan saja, tapi bersamamu seperti ini belum tentu bisa sesering mungkin.” Kris kembali menciumi sekitaran wajah Baek Hyun, membuat namja mungil itu tertawa sambil memejamkan mata.

 

“Aku hanya tidak bersamamu saat malam hari, tapi pagi sampai sore hari, aku milikmu.”

 

“Oh? Sejak kapan kau membagi jadwal itu?”

 

“Sejak aku menyadari ada dua namja sebagai pemilik hatiku.”

 

“Apa benar ada yang seperti itu?”

 

Baek Hyun mengangkat bahunya, kembali membaringkan kepalanya di dada Kris yang selalu membuatnya nyaman, kemudian memeluknya erat.

 

“Baek Hyun-ah.”

 

“Heum…”

 

“Apa betul ini tidak apa-apa?”

 

“Apanya?”

 

Kris terdiam sejenak, membiarkan Baek Hyun bermanja-manja dalam dekapannya. “Hubungan ini.”

 

Baek Hyun tidak menjawab. Bisa jadi karena ia tidak punya jawabannya. Atau justru ia takut jawabannya itu menimbulkan dampak buruk. Untuk itu ia hanya memilih diam.

 

Dan Kris mengerti akan hal itu. Jadi ia tidak akan mempertanyakan hal itu untuk kedua kalinya, karena mereka berada pada posisi yang sama. Mereka tahu apa yang mereka lakukan adalah salah. Namun tidak ada satupun dari mereka yang ingin lepas dari kesalahan itu.

 

Hanya bertahan…

 

Dan Kris memegang kalimat itu.

 

 

☏☎☏

 

 

 

 

 

Kris terlihat cukup sibuk berbicara via ponsel dengan Chen. Siapa yang bisa melupakan bahwa Kris seorang presiden direktur sebuah perusahaan besar dengan berbagai cabang. Dua minggu menelantarkan perusahaan jelas bukannnya tidak menimbulkan dampak apa-apa. Chen yang menelpon itulah sebagai buktinya.

 

“Jadi kuharap kau bisa menanganinya dulu sebelum aku kembali. Berkas yang kau maksud ada di laci meja kerjaku, map berwarna merah,” terang Kris sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk. “Hm… Jika ada apa-apa, telepon aku lagi.” Kris langsung meletakkan ponselnya sembarangan di atas sofa, kemudian kemudian mengampiri Baek Hyun yang sibuk memilah pakaian di dalam lemari. “Mencari yang ukurannya pas?” goda Kris langsung memeluk perut Baek Hyun yang hanya dibalut baju mandi itu.

 

“Bajuku sobek dan aku baru ingat tadi memang kau terlalu bersemangat.”

 

“Jangan meledekku, bahan kaosmu saja yang terlalu tipis, kusentak sedikit saja sudah sobek seperti itu.”

 

Baek Hyun hanya tertawa dan akhirnya memilih dua kaos putih untuknya dan Kris.  “Cepat kenakan pakaianmu, kusiapkan makan siang.”

 

“Aku tidak lapar, ya Tuhan. Kau ini susah sekali dibuat percaya.”

 

“Bagaimana mungkin kau tidak lapar? Semalam kuyakin kau tidak makan, tadi pagipun kau tidak memakan makanan yang kubawa, dan siang inipun kau menolak untuk makan. Kau ingin maag mu kambuh lagi heum?” Baek Hyun berbalik dan menatap Kris tajam.

 

Dan sekali lagi Kris tertawa.

 

“Kenapa kau justru tertawa?”

 

“Bukankah sudah pernah kukatakan kalau aku suka saat kau memarahiku?”

 

“Ah maaf Kris, bukannya aku marah… hanya…”

 

“Iya aku mengerti, sudah kubilang aku suka.”

 

Baek Hyun pun mengulas senyum hangat, sedikit manja ia mengalungkan lengannya di tengkuk Kris dan menatapnya lembut. “Tapi kau tetap mendengarkan ucapanku kan? Percuma aku memarahimu kalau kau tidak menurut.”

 

“Aku akan menurut dear… tapi setelah ini.”

 

“Apa?”

 

Kris hanya menjawabnya dengan senyum penuh makna. Sedikit menunduk untuk sekali lagi mengecap manis bibir tipis itu. Salah satu hal yang belakangan ini menjadi hal yang paling membuatnya senang, yaitu gerak refleks Baek Hyun yang memejamkan matanya saat Kris menyapa bibir lembutnya. Suatu bentuk penerimaan utuh, tak lagi ragu apalagi menolak. Hal yang ia damba sejak lama, telah menjadi milik Kris… sepenuhnya.

 

Drrt… drrtt…

 

Baek Hyun menoleh kaku ke arah nakas di mana ponselnya tergeletak rapi. Sedikit terpaksa ia melepas tautan bibirnya dengan Kris sebelum berjalan cepat menuju nakas untuk menyambar ponselnya.

 

“Chan Yeol!” pekiknya tertahan sembari menatap cemas pada layar ponselnya dan Kris secara bergantian. “N… Ne Chan Yeol-ah?” sapa Baek Hyun saat ia menjawab panggilan itu.

 

Kau dimana?”

 

“Aku di rum__”

 

Kenapa kau meninggalkan apartemen dalam keadaan tidak terkunci?”

 

Baek Hyun semakin membelalak saat sadar ternyata Chan Yeol sudah pulang. “A… Aku sedang keluar… me… me… memeriksakan tanganku.”

 

Oh, di klinik mana? Akan kujemput.”

 

“TIDAK PERLU!!!”

 

Ha?”

 

“Maksudku… kau tidak perlu menjemputku karena aku sudah dalam perjalanan pulang.” Baek Hyun buru-buru meraih kaos putih juga pakaiannya yang tergeletak acak di atas tempat tidur. Dan memakainya secepat mungkin.

 

Kris yang melihatnya hanya bisa mendesah pelan kemudian beranjak mendekati Baek Hyun untuk membantunya mengenakan pakaian.

 

Tanganmu tidak apa-apa kan? Apa perlu sekalian diperiksa di rumah sakit?” tanya Chan Yeol lagi.

 

“Ini baik-baik saja. D… Dokternya bilang tidak akan apa-apa selama kebersihan lukanya tetap dijaga dan aku rutin minum antibiotik,” jawab Baek Hyun sekenanya.

 

Hm, baiklah. Aku sudah di rumah, akan kubuatkan makan siang dan kita makan bersama.”

 

“N… Ne…”

 

Sampai ketemu di rumah. Aku mencintaimu.”

 

Deg~

 

“A… Aku juga mencintaimu… Chan Yeol-ah.”

 

Seketika gerakan Kris menaikkan zipper celana jeans Baek Hyun terhenti. Itu murni refleks ketika hal tabu itu terdengar di telinganya.

 

Baek Hyun melihatnya amat sangat jelas, seperti seseorang yang mendapat tusukan telak di jantung. “Ma… Maafkan aku Kris,” lirih Baek Hyun hampir tanpa suara.

 

Kris menatapnya, memasang senyum maklum. “Hm, kenapa kau minta maaf untuk sebuah kenyataan? Aku sadar posisimu lah yang paling sulit.”

 

Baek Hyun menunduk, tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.

 

“Hey,” tegur Kris lembut, melanjutkan gerakannya mengancing celana Baek Hyun kemudian mengajaknya duduk bersebelahan di atas tempat tidur. “Ini hanya sedikit dari sekian banyak risiko yang akan menanti kita di depan Baek Hyun-ah. Keputusanmu memintaku tetap di sisimu dan keputusanku untuk mempertahankan hubungan ini jelas bukan tanpa risiko. Salah satunya ini, aku akan terbiasa menerima keadaan bahwa aku adalah pihak ketiga dalam hubungan kalian.”

 

“Kris…”

 

Namja tampan itu tersenyum, kemudian merapikan rambut lembab Baek Hyun dengan jarinya. “It’s okay. Selama bukan kau yang memintaku menjauhimu, maka tidak akan kulakukan.”

 

Baek Hyun pun tersenyum tipis sebelum menghempaskan tubuhnya ke pelukan Kris. “Maafkan aku Kris, maaf jika aku tidak punya pilihan yang lebih tepat selain ini.”

 

Kris mengecup puncak kepala Baek Hyun sembari mengusap punggung kekasihnya itu. “Gwenchana, seperti ini pun tidak apa-apa.”

 

 

☏☎☏

 

 

 

Baek Hyun POV~

 

 

Aku terdiam sekitar 10 menit di depan pintu apartemenku tanpa bisa berbuat apa-apa. Benar tanganku sudah menyentuh handle pintu, tinggal memutarnya sedikit dan mendorongnya maka pintu itu akan terbuka. Maksudku, ini sangat mudah untuk sekedar masuk ke sebuah rumah dimana Chan Yeol menungguku di dalam. Setidaknya itu dulu, sebelum aku bertemu dengan orang lain yang entah dengan cara apa mencuri pikiran dan perhatianku lebih dari setengahnya.

 

Bahkan untuk membuka pintu inipun kurasakan sejuta beban yang menggantung di pundakku. Berjuta kesalahan yang entah kenapa tak juga membuatku menyesal. Benar aku sudah terjerat dalam kesalahan fatal, namun aku tidak berniat keluar. Lalu bagaimana aku bisa mempertahankan senyumku untuk bertatapan dengan Chan Yeol? Namja yang masih kucintai tapi sengaja kukhianati karena egoku.

 

Tuhan… bagaimana bisa kutanggung dua perasaan semegah ini sekaligus? Bahkan jika Kau sendiri yang memintaku memilih, maka aku tidak bisa melepas salah satunya.

 

Benar bahwa aku egois? Benar bahwa aku kejam. Tapi tidakkah ini wajar jika aku baru mengenal perasaan seperti itu sekarang?

 

Aku… mencintai dia… dan dia…

 

 

Cklek~

 

 

Aku menarik nafas sedalam mungkin dan menghembuskannya panjang sebelum memasuki apartemen itu. Rumahku dan Chan Yeol.

 

“Chan Yeol-ah, aku pulang…” seruku setelah menutup kembali pintu itu. “Chan Yeol-ah?” seruku sekali lagi karena kupikir Chan Yeol tidak mendengarku. Namun sampai kuulangi 3 kalipun tidak adalagi sahutan yang kudengar. Dan alasannya kuketahui saat aku sampai di dapur kami. Tepatnya di sana, di meja makan. Chan Yeol terduduk di kursi dan membaringkan kepalanya di atas kedua lengan yang ia tumpukkan di atas meja. Dari jarak inipun bisa kulihat lelahnya, kulihat lemahnya ia, dan kulihat kesalahanku semakin menumpuk jika aku masih terus mempertahankan ego untuk mengkhinati namja itu.

 

Perlahan, bahkan dengan langkah terseret aku mendekatinya. Duduk bersimpuh di sampingnya dan memperhatikan wajah lelahnya yang  tertidur. Kelopak matanya yang setengah terbuka, bukan menandakan ia terbangun, tapi sebuah kebiasaan Chan Yeol yang kuketahui jika ia betul-betul sedang lelah dan jatuh tertidur di tempat seperti ini.

 

Tes~

 

Tidak akan kupertanyakan kenapa aku meneteskan air mata dalam diam. Mati-matian menahan isak tangis agar tidak mengusiknya.

 

Tuhan… hukuman apapun yang akan kau berikan padaku kelak atas keegoisanku ini, semuanya akan kuterima. Kecuali…

 

Melihat Kris… terlebih Chan Yeol terluka.

 

“Enggghh…”

 

Aku terperanjat saat kudengar keluhan kecil dari bibir Chan Yeol. Aku bahkan tidak menyadari saat tanganku menapak di pipinya dengan lembut.

 

“Hoaaahhmm… ngg… Baek Hyun-ah? Sudah pulang?” tanya Chan Yeol sembari mengusap kedua mata lelahnya.

 

“Maaf aku sedikit terlambat. Taxi yang lewat… penuh semua.”

 

Sekali lagi, kebohongan besar.

 

“Hm tidak apa-apa. Harusnya tadi kau menelponku untuk menjemputmu.” Chan Yeol terbangun dan menarik kursi di sebelahnya, memintaku duduk di sana. “Bagaimana tanganmu?” tanyanya sembari menyentuh tangan kananku yang diperban.

 

“I… Ini tidak apa-apa,” jawabku pelan. Ikut memperhatikan kondisi tanganku yang perbannya sempat diganti oleh Kris tadi.

 

“Syukurlah kalau tidak apa-apa,” balasnya lagi. Tersenyum, kemudian mengecup tanganku itu.

 

Tuhan… hukum aku!

“Kenapa menatapku begitu?”

 

Aku tersentak saat Chan Yeol menegurku. Entah karena kesalahan yang menumpuk ini hingga aku menatapnya terlalu sendu. Aku tidak tahu… “Tidak… Tidak ada apa-apa.”

 

“Heran kenapa aku cepat pulang?”

 

Aku menggumam pelan sembari mengangguk. “Kau baik-baik saja? Tidak terjadi apa-apa dengan jantungmu kan?”

 

Ia tersenyum, sekali lagi mengecup punggung tanganku. “Tenang saja. Kalau masih terjadi sesuatu yang buruk dengan jantungku, berarti kita harus menuntut rumah sakit itu. Kau sudah membayar mereka sangat mahal, betul-betul mahal. Tuhan terlalu kejam jika masih membuat kondisiku kembali buruk.”

 

Aku bungkam lagi. Kali ini lebih dalam karena ucapan Chan Yeol seperti belati yang menusuk dadaku tepat di jantung. Jangankan bersuara, bernafaspun rasanya sangat berat.

 

“Eh… Kau kenapa? Kenapa menangis?” tanya Chan Yeol panik.

 

Lihat betapa sulitnya kusembunyikan semua ini. Tidakkah ini dramatis jika aku mengaku mencintai Chan Yeol sementara aku telah membagi cintaku untuk namja lain? Tidakkah ini dramatis jika kuminta Kris tetap bertahan sementara aku sudah hampir goyah?  Apa yang lebih dramatis jika ku khianati Chan Yeol dan kusakiti Kris dalam waktu yang bersamaan?

 

“Hei? Kau baik-baik saja? Kau sakit?”

 

Aku menggeleng cepat saat Chan Yeol sudah berpindah duduk dan berlutut di hadapanku, menggenggam kedua tanganku yang bertumpu di pangkuanku. “Maafkan aku Chan Yeol-ah…” ucapku dengan suara bergetar.

 

“Tidak… Tidak. Ya Tuhan… apa yang baru saja kukatakan. Maaf… aku tidak bermaksud mengungkitnya. Maksudku bukan itu, sungguh. Baek Hyun-ah maafkan aku.”

 

“Aku yang bersalah Chan Yeol-ah, jadi aku yang harus meminta maaf.”

 

Maafkan aku Chan Yeol-ah, maafkan aku telah membohongimu.

 

Chan Yeol menghela nafasnya cukup panjang. Berdiri di hadapanku dan meraihku ke dalam pelukannya. “Tidak… Ini karena aku yang ceroboh. Kau sudah berjuang di tempatmu sampai batas terakhir kemampuanmu, seharusnya kupertimbangkan hal itu. Jika bukan karena kau Baek Hyun-ah, mungkin aku sudah menyatu dengan tanah sekarang.”

 

“Chan Yeol-ah! Kumohon jaga bicaramu.”

 

Chan Yeol terdiam, dan bisa kurasakan ia mengecup puncak kepalaku. “Maaf… Ini yang terakhir. Sudah kukatakan sebelumnya, kita akan memulai kembali hidup baru kita, tanpa… pengusik. Jadi anggap saja ini terakhir kalinya kita membahas ini.”

 

Aku memejamkan mataku erat saat Chan Yeol mengatakan hal itu. Bukan karena ia mengatakan bahwa Kris adalah seorang pengusik. Kupikir akulah pihak paling bersalah di sini, karena kujamin, pembicaraan kami tentang Kris… tidak betul-betul  berakhir sampai di sini.

 

 

☏☎☏

Blam~           

         

“Dasar Kai. Kupikir kenapa dia datang malam-malam begini. Ternyata dia hanya datang untuk mengadu karena Kyung Soo marah padanya, ada-ada saja mereka.”

 

Aku mendengar suara Chan Yeol semakin jelas saat ia sudah menutup kembali pintu kamar kami. Aku tidak memberi respon, hanya memejamkan mata serileks mungkin dan memeluk bantal.

 

“EH, sudah tidur?”

 

Kuusahakan sebisa mungkin tidak bergerak saat Chan Yeol naik ke tempat tidur kami dan memeluk pinggangku.

 

“Hei, betul-betul tertidur?” tanya Chan Yeol lagi, dan aku masih kukuh untuk tidak memberi respon.  “Baek Hyun-ah?” keluhnya sembari membalik tubuhku untuk berhadapan dengannya.

 

“Eum…” hanya bisa mendengung dengan mata yang kuusahakan tetap terpejam.

 

“Bangunlah, ini masih terlalu cepat kalau kau sudah tertidur.”

 

Lalu apa yang seharusnya kulakukan? Sungguh, aku tidak berniat untuk menghindar. Tapi… entah kenapa aku merasa sangat kotor jika Chan Yeol pun menyentuhku malam ini sementara aku sudah tidur dengan Kris beberapa jam yang lalu. Sungguh, aku betul-betul tidak ubahnya seorang namja murahan jika melakukan hal itu. Lalu bagaimana jika Chan Yeol menemukan jejak yang ditinggalkan Kris di tubuhku? Walau kuakui Kris tidak membuatnya di tempat yang mudah terlihat. Tapi…

 

“Hm, ya sudah. Tapi besok malam tidak akan kubiarkan kau tidur lebih dulu,” putus Chan Yeol pada akhirnya. Dan sekali lagi aku hanya bisa bungkam saat dengan lembutnya ia menyentuh bibirku. Bukan tidak ingin membalas, tapi…. aku sudah tidak punya apa-apa lagi yang khusus untuk kuberikan padanya, karena… semua yang ada padaku sudah kuberikan pada Kris. Termasuk hatiku.

 

Maafkan aku Chan Yeol-ah…

 

Maafkan aku Kris…

 

 

Maafkan aku karena cintaku melukai dan mengkhianati kalian dalam waktu yang sama.

 

 

☏☎☏

 

“Aku berangkat dulu,” pamit Chan Yeol sembari mengusap pipiku.

 

“Ne, hati-hati menyetir. Kalau merasa tidak sehat, pulanglah,” pesanku sembari membetulkan dasinya yang agak miring.

 

Chan Yeol hanya tertawa kemudian memeluk pinggangku, yang aku tahu betul ia ingin menciumku. Dan aku hanya memejamkan mata untuk menyambutnya. “Aku akan pulang cukup sore. Kalau kau ada kegiatan di luar, misalnya berbelanja dengan Kyung Soo sebaiknya kau pergi saja.”

 

“Ne… jangan lupa setelah makan siang di sana, minum obatmu. Yang berbentuk tablet 2 biji, yang kapsul…”

 

“Arasso… Arasso… aku sudah bertahun-tahun mengkonsumsinya, jadi sudah hapal. Aku berangkat,” pamitnya sekali lagi mengecup bibirku.

 

Aku membalasnya dengan senyum tipis dan melambai saat ia sudah mulai menjauh dan menghilang di tembok pemisah koridor. Artinya… waktuku untuk Chan Yeol sudah cukup pagi ini.

 

Dan Kris…

 

 

 

 

Deg~

 

 

☏☎☏

 

 

Author POV~

 

 

Tepat di detik pertama Baek Hyun menoleh, disanalah ia menangkap sosok itu. Sosok namja tinggi bermasker, berjaket dan bertopi hitam tengah menyandarkan punggungnya di pintu apartemen miliknya. Mengarahkan tatapan yang walaupun tidak dilihat jelas oleh Baek Hyun, namun ia tahu artinya.

 

“Kris…” lirih Baek Hyun tanpa suara.

 

Namja tinggi itu memang Kris. Masih di sana tanpa mengubah posisinya. Dan Baek Hyun hanya bisa menatapnya dari tempat ia berdiri. Tidak cukup mampu untuk menggerakkan langkahnya dan memeluk namja itu.

 

Hanya bisa menunduk… pasrah. Menyerah pada kesalahan.

 

Sampai Kris lah yang memutuskan untuk menghampirinya perlahan. Berdiri di hadapannya, melepas masker dan topinya, terakhir menyentuh dagu Baek Hyun agar tatapan mereka bertemu, walau dalam hening.

 

Bertahan seperti itu selama beberapa menit. Menyampaikan isi hati lewat sorot mata terluka dan melukai.

 

“Masih… bisa bertahan?” tanya Kris pada akhirnya saat ia lihat retak pada sorot mata yang kemarin meyakinkannya itu.

 

Baek Hyun membuka mulutnya, tapi mengatupkannya kembali. Mencoba untuk memilih kata yang tepat untuk diucapkan pada Kris.

 

“Tidak apa-apa Baek Hyun-ah, tidak usah kau paksakan. Jika memang tidak bisa bersama maka__”

 

“Tidak, bukan begitu. Aku hanya tidak bisa memperlihatkan wajah serakahku padamu Kris. Saat aku memilih untuk bersamamu tanpa bisa melepas Chan Yeol. Saat kukatakan aku sangat mencintaimu sementara masih ada cinta untuk Chan Yeol. Dan saat kuserahkan diriku yang tidak bisa sepenuhnya kau miliki karena aku milik orang lain,” potong Baek Hyun cepat.

 

Dan sekali lagi, niat Kris untuk mundur kembali surut. Bagaimana mungkin ia mundur sementara Baek Hyun pun masih kuat mempertahankannya? Masih meyakinkannya bahwa kemarin itu betul-betul nyata, bukan ilusi.

 

Sangat pelan, Baek Hyun mendekatkan langkahnya dan membenamkan wajah lesunya di dada Kris yang selalu membuatnya tenang. Kris pun menyambutnya dengan memeluknya lebih erat. “Maaf telah melukaimu Kris.”

 

“Tidak… Aku tahu, kaulah yang paling terluka.”

 

Baek Hyun masih menyembunyikan wajahnya di dada Kris. Mencoba meredam dua gemuruh yang saling berperang dalam hatinya. Ia mengira akan baik-baik saja selama Chan Yeol tidak tahu, namun terakhir ia sadar, bahwa ini sama sekali tidak akan mendatangkan bahagia yang kekal, karena selama ia bertahan, ia akan terus dihantui rasa bersalah.

 

Bukan hanya karena pengkhianatannya kepada Chan Yeol… namun juga egonya menempatkan Kris pada posisi yang rapuh, dan jika ia jatuh maka lukanya akan abadi.

 

Dan jika itu benar-benar terjadi, maka kata maaf tidak akan pernah berarti.

 

 

☏☎☏

 

 

Kris dengan telaten melepas perban di tangan kanan Baek Hyun. Sebenarnya semuanya dalam diam. Namun setelah Kris menutup kotak P3Knya, sebuah senyuman muncul di bibir Baek Hyun. Senyum yang cukup langka sejak satu jam yang lalu mereka dalam kebisuan. Bahkan saat mereka sarapan tadi.

 

“Kenapa? Apa masih perlu memakai perban?”tanya Kris juga ikut tersenyum.

 

“Tidak. Lukanya sudah lumayan kering. Aku hanya tidak habis pikir bagaimana mungkin kau bisa merawat luka seperti ini sementara pakaianmu saja tidak bisa kau bereskan,” jawab Baek Hyun masih tersenyum tipis.

 

“Jangan menghina, aku masih cukup bisa diandalkan untuk hal seperti ini.”

 

“Makanya aku heran. Selain pekerjaan kantor, ternyata ada juga hal lain yang kau kuasai.”

 

“Bukankah itu hebat, dan kugunakan hal itu untuk merawatmu.”

 

Baek Hyun kembali  tersenyum  kemudian menyandarkan kepalanya di pundak Kris. Dan namja tinggi itu akan selalu menyambunya, memberi tempat yang paling nyaman.

 

“Kau lelah?”

 

Baek Hyun hanya menggumam kemudian memejamkan matanya. Karena benar ia lelah, namun bukan secara fisik.

 

“Kuajak ke suatu tempat?” tawar Kris lembut.

 

“Kemana?”

 

“Ikut saja.”

 

Baek Hyun sedikit ragu, namun tidak menolak saat Kris menarik tangannya. “Tapi…”

 

“Sebentar, mungkin kalau kau mengenakan sweater besar dan topi, tidak akan ada yang bisa mengenalimu.”

 

Dan Baek Hyun pun tersenyum karena Kris betul-betul tahu apa yang ia khawatirkan.

 

Benar… salah satu alasan kenapa Baek Hyun begitu bahagia di sisi Kris, adalah karena namja itu begitu mengerti akan dirinya.

 

 

☏☎☏

 

 

 

Baek Hyun betul-betul tidak mengerti saat Kris meminta supir taxi untuk berhenti di depan sebuah cafe yang terletak di wilayah yang tidak terlalu ramai. Lebih tidak mengerti lagi karena Kris tidak mengajaknya masuk ke dalam cafe, tapi justru melanjutkan langkah menyusuri trotoar sambil bergandengan tangan. Masih tak melepas senyum misteriusnya.

 

 

“Sebenarnya kita kemana?” tanya Baek Hyun yang tidak mampu lagi membendung rasa penasarannya.

 

Kris mengeratkan genggamannya di tangan kiri Baek Hyun, menariknya merapat dan memasukkan tangan mereka di saku jaketnya yang besar. “Waktu itu aku melewati wilayah ini, dan aku menemukan tempat itu.”

 

“Tempat apa?”

 

“Tempat yang hanya melihatnya saja dari jauh, maka aku akan langsung teringat padamu. Yah, walau tiap detik aku memang memikirkanmu, tapi tempat itu betul-betul akan memperkuat ingatanku tentangmu.”

 

“Misterius sekali.”

 

“Ikut saja, kupikir kau pasti sudah membayangkan tempat seperti apa yang kumaksud.”

 

“Tapi Kris, langitnya cukup mendung, sepertinya akan hujan deras.”

 

“Tidak mengapa, kita bisa berteduh di tempat itu.”

 

“Ya sudah, aku menyerah.”

 

Kris tertawa, sesekali menunduk untuk sedikit membenturkan kepalanya di kepala Baek Hyun. “Kita sedang berkencan, jadi jangan mengeluh.”

 

Blush~

 

“A… Aku tidak mengeluh, hanya sedikit penasaran.”

 

“Hm, sudah dekat.” Kris melepas genggaman tangannya kemudian merangkul pundak Baek Hyun agar ia sedikit mendekat, setelahnya ia menutup mata Baek Hyun dengan satu tangan.

 

“Kau seperti ingin menunjukkan sesuatu yang megah sampai harus menutup mataku seperti ini.”

 

“Memang sesuau yang megah. Karena punya makna mendalam, sebuah tempat yang selalu menghubungkan kita Baek Hyun-ah.”

 

Langkah Kris terhenti, otomatis membuat Baek Hyun dalam rangkulannya pun ikut berhenti.

 

“Sudah sampai,” bisik Kris pelan, sejalan saat ia melepas tangannya dari mata Baek Hyun.

 

“Eh?”

 

Dan saat namja mungil itu perlahan membuka matanya…

 

 

☏☎☏

 

Baek Hyun POV~

 

Deg~

 

 

Seperti kehilangan akal saat aku sadar kemana Kris membawaku. Sebenarnya hanya sebuah wilayah yang cukup sepi dilalui kendaraan, tapi apa yang terpampang di depan mataku kini menjelaskan mengapa aku hanya bisa mematung, menutup mulutku dengan satu tangan dan… seperti ingin berteriak histeris.

 

Di sana, di sebelah pohon tunggal…

 

Sebuah bilik telepon umum cukup berumur berdiri kokoh.

 

Benar… hanya sebuah bilik telepon, tapi bagiku dan Kris benda itu tidak pantas jika kusebut dengan kata ‘hanya’.

 

“Kris…” lirihku masih tak percaya.

 

“Mirip bukan?” tanya Kris kembali.

 

“Ta… Tapi bagaimana mungkin bisa? Ma… maksudku…”

 

Di saat seperti ini, tawa hangat Kris bahkan tidak sanggup meredakan gejolak di dadaku. Tubuhku mendingin walau jaket yang dipakaikan Kris padaku cukup tebal. Bukan karena hujan mulai turun, karena sensasi ini memang berasal dari diriku.

 

“Hujan Baek Hyun-ah,” tegur Kris langsung menarik tanganku untuk masuk ke dalam bilik telepon itu. Sedikit mengabaikannya saat ia sibuk menepis butiran air yang belum berhasil meresap di pakaianku. Aku sendiri cukup sibuk menyentuh telepon itu dengan tanganku yang sedikit gemetar.

 

“Sayangnya ini sudah rusak. Mungkin karena tidak pernah dipakai dan biaya pemeliharaan dan operasionalnya dialihkan ke hal lain,” ujar Kris mungkin menyadari kebingunganku saat kuraih gagang telepon dan mendekatkannya di telingaku namun tak terdengar suara apapun yang menandakan bahwa benda itu masih berfungsi.

 

Masih tidak menggubris, kuletakkan kembali gagang itu ke tempatnya. Menyentuhnya sekali lagi dengan bibir ikut bergetar. Dan sedikit demi sedikit pandanganku mulai kabur karena biasan air mata.

 

“Hei… Kenapa malah menangis? Aku mengajakmu kesini bukan untuk membuatmu menangis.”

 

Aku menggeleng pelan, mengatupkan bibir rapat-rapat sebagai usaha agar aku tidak bersuara saat menangis.

 

“Baek Hyun-ah…”

 

Kutolehkan wajahku, dan mendongak ke arah Kris yang memang berdiri di sebelahku, menatapnya penuh arti. “Kenapa harus kesini?”

 

Ia tampak terkejut, bahkan salah tingkah. “Ku… Kukira kau akan suka? Maaf.”

 

Aku buru-buru menggeleng dan meraih lengannya untuk kupeluk. “Bukan… maksudku… ini… tempat ini Kris… seperti…”

 

Kris mengukir senyum tipisnya kemudian menarikku agar berdiri di hadapannya hingga ia bisa memelukku dari belakang, menuntun tanganku untuk menyentuh gagang telepon dan tombol-tombolnya. “Mirip bukan? Lokasinya juga agak mirip, karena ada pohon tunggal di sebelahnya. Bedanya hanyalah, yang di Beijing masih berfungsi dan tempatnya sangat ramai.”

 

Aku hanya menggumam pelan dan mengangguk, masih membiasakan permukaan tanganku yang menyentuh benda setengah logam yang terasa dingin itu.

 

“Aku sering memikirkannya Baek Hyun-ah, setiap aku merasa gelisah karena memikirkanmu,  ponselku berbunyi nyaring dan nomor yang tak asing itu terpajang nyata di ponselku. Entahlah… kakiku seperti tidak menyentuh lantai karena kupikir pasti ada sesuatu denganmu hingga kau harus ke tempat itu hanya untuk menelponku.”

 

Kupejamkan mataku perlahan, membiarkan genangan air di pelupuk mataku mengalir  tanpa pembatas.  Semakin memejamkan mata saat meresapi nafas Kris yang menghembus di sisi leherku. “Aku juga menanyakannya pada diriku sendiri Kris. Kenapa saat aku kalut, saat tak mampu lagi membendung kesedihanku, maka kakiku ini akan membawaku ke tempat itu. Tanganku akan bergerak sendiri membuka pintu bilik telepon itu, dan spontan menghubungimu. Dan yang kusesalkan adalah, kenapa aku harus selalu mengadu padamu saat aku punya masalah? Kenapa harus disaat aku gundah maka aku lari padamu? Seolah kau adalah…”

 

“Pelarian?”

 

“Kris… Aku tidak pernah menjadikanmu pelarian, karena kau pun punya tempat di sini,” ralatku cepat.

 

“Tidak apa-apa. Karena pada akhirnya kau tetap datang padaku bukan?”

 

Dan ucapan Kris membuatku tertawa kecil dalam isak tangisku. Kulepas pelukan Kris di perutku agar aku bisa membalikkan badan dan menatap wajah namja yang sungguh kucintai ini. “Karena kau memberiku sesuatu yang megah Kris, dan aku membutuhkanmu untuk memeliharanya bersama.”

 

“Hm?”

 

Kuangkat tangan kananku dan menyentuh pipinya perlahan. “Cinta. Kau memberiku itu.”

 

Kris menyentuh punggung tanganku, mendekatkannya ke bibir sendiri untuk ia kecup perlahan. “Dan terima kasih kau pun memberiku hal yang sama.”

 

“Bukankah cinta memang untuk memberi?”

 

Kris tertawa kecil, sesekali menyeka sisa air mata di pipiku yang sudah pasti memerah. “Dari mana kau belajar itu?”

 

“Tentu saja darimu.”

 

“Apa aku semenyedihkan itu?”

 

Aku menggeleng, kembali membawa tubuhku ke dalam pelukan Kris, tempat yang paling tenang di dunia ini. Menurutku. “Kau mengagumkan. Dan aku mencintaimu.”

 

Kris kembali tertawa, membalas pelukanku dan sesekali mengusap punggungku. “Dan kau tahu alasan keberadaanku di sini. Aku lebih mencintaimu.”

 

Aku tidak bersuara lagi, hanya memejamkan mata dan menyelami kehangatan dalam pelukan Kris.

 

Dan kurasa aku semakin tahu alasan kenapa aku akan berlari ke tempat Kris jika aku merasa tidak punya tempat lagi di dunia ini. Alasannya sederhana, karena Kris menyediakan tempat seindah ini di sisinya, tempat yang begitu tenang, damai, dan membahagiakan. Penuh dengan cinta, perhatian dan kasih sayang.

 

“Baek Hyun-ah…”

 

“Hm…”

 

“Aku bahagia… sungguh.”

 

Aku tersenyum, masih memejamkan mata dan memeluk tubuh atletisnya dengan erat.  “Aku juga, jadi jangan membahasnya lagi. Bahagia ini untuk dirasakan bersama, bukan untuk diumbar.”

 

Kris tertawa kecil kemudian melepaskan pelukan kami, menangkup pipiku agar kami bisa bertatapan lekat. “Maksudku, aku betul-betul telah menggapai kebahagiaan terbesarku selama hidupku ini. Yaitu bisa bersamamu seperti ini, memelukmu, dan menciummu dengan penerimaan utuh darimu. Dan jika saja Tuhan beriat mencabut nyawaku, maka aku rela karena sisa hidupku kuhabiskan dengan berbahagia bersamamu.”

 

Deg~

 

“Bicara apa kau? Kris kumohon jangan anggap ini lelucon. Bahkan jika itu kehendak Tuhan, aku tidak ingin Dia mengambilmu dariku,” tegasku sembari menatapnya tajam.

 

“Maaf…Maaf, itu hanya ungkapan betapa aku bahagia bersamamu seperti ini. Jangan kau tanggapi serius.”

 

“Tolong, jangan bahas masalah kematian. Aku.. tidak suka.”

 

Kris tersenyum, sedikit menunduk untuk mengecup bibirku perlahan dan singkat. “Aku janji, tidak akan membahas kematian bahkan jika Ia dekat. Jadi… ayo pulang.”

 

Aku menoleh ke luar, tidak sadar bahwa kaca pintu itu sudah berembun tebal, bahkan sudah sangat buram. Sejak kapan hujannya sederas ini? “Kita tidak bawa payung. Jadi bagaimana bisa kita pulang? Kaupun tidak membawa mobil.”

 

“Kenapa? Kau takut hujan?”

 

Aku tertawa kecut dan menatapnya sedikit sinis. “Hujan itu temanku sejak lama. Aku dan hujan sudah beberapa kali bersatu, jadi jangan meremehkanku.”

 

Dan ucapanku itu berhasil membuatku mendapat subuah cubitan kecil di hidung dari Kris. “Kalau begitu tidak perlu khawatir. Aku dan hujan juga berteman. Dan kau yang memperkenalkanku pada hujan.”

 

Terakhir aku tersenyum dan menggamit lengan Kris saat ia sudah membuka pintu bilik telepon umum itu. Benar, Kris pun telah berteman dengan hujan. Pria kaya yang saat itu mengabaikan apapun, menerobos hujan demi menjemputku di tempat bersejarah kami…

 

Payphone.

 

 

“WHOOAAAA…” pekiknya cukup keras saat kami mencoba melawan derasnya hujan yang langsung menerpa tubuh kami saat pertama kali keluar dari bilik telepon.

 

“Kau yakin akan ada taxi yang mau menampung kita yang basah kuyup ini?” tanyaku saat Kris menarik tanganku dan berlarian di sepanjang trotoar.

 

“Siapa yang mau naik taxi? Masa-masa seperti ini sangat langka Baek Hyun-ah, bisa jadi nanti kita tidak akan punya kesempatan lagi untuk bermain hujan seperti ini.”

 

“Ya sudah. Aku juga sudah terbiasa berlarian di tengah hujan deras seperti ini.”

 

“Sebentar…”

 

Aku sontak menghentikan langkah saat Kris berhenti mendadak. “Ada apa?”

 

“Berdiri di situ,” ucapnya sebelum bergerak meninggalkaku dan berlari ke seberang jalan.

 

“Apa yang ingin kau laku___”

 

 

 

“BYUN BAEK HYUN!!! KAU MENDENGARKU???”

 

Aku tertawa melihat tingkah kekanak-kanakannya, kupikir ia bawa kemana wibawa yang ia punya sebagai Tuan Muda selama ini? Tapi tidak mengapa, seperti yang Kris bilang, masa-masa seperti ini belum tentu selalu ada. Jadi apa salahnya mengukir kenangan seindah mungkin saat kami diberi kesempatan untuk bersama. “IYA! AKU MENDENGARMU TUAN MUDA KRIS…” Sahutku tak kalah keras, bahkan derasnya hujan tak mampu meredam gelegar suara kami.

 

Ia melambaikan kedua tangannya kemudan meletakkannya di depan mulutnya berbentuk corong. “BYUN BAEK HYUN!!! AKU MENCINTAIMU…I LOVE YOU… I REALLY LOVE YOU…” Pekiknya sekeras mungkin.

 

Aku hanya bisa terperangah melihat tingkahnya seperti itu. Bahkan sampai detik ini Kris mungkin sudah mengatakan kalimat itu ratusan kali, tapi sampai detik ini pula kalimat itu tetap membuat dadaku bergejolak. Dan kurasa jika aku tidak memeluk namja ini sekarang juga, maka aku akan kehilangan nafasku.

 

Kuhapus air mata yang bercampur hujan di wajahku, menarik nafas sedalam mungkin sebelum menerobos hujan dan menyeberangi jalan yang memisahkan kami itu.

 

Dan… Kurasa aku paham tindakan Kris ini. Ia mengisyaratkan bahwa…

 

Dimanapun Kris berada, ia akan tetap mencintaiku semegah ini.

 

Dan kurasa Kris akan tahu jawabanku…

 

Sejauh apapun jarak yang memisahkan kami, maka akan kulalui dan kutempuh demi bisa bersamanya.

 

 

Kuhempaskan tubuhku yang basah kuyup ke dalam pelukan eratnya. Bersamanya di tempat yang sama. Dengan perasaan yang sama.

 

Kris tidak berbicara lagi saat ia melepaskan pelukanku, menyentuh sisi leherku untuk memintaku mendongak. Hujan yang menerpa wajahku memaksaku untuk memejamkan mata, tapi tak mengapa karena detik selanjutnya kurasakan sentuhan lembut di bibirku.

 

Kris menciumku sekali lagi di bibir. Entah untuk yang ke berapa kalinya karena Kris memintaku berhenti berhitung pada ciuman ke delapan kami. Dan aku memang memilih tidak peduli . karena bagiku, ciuman pertama dan keberapapun dari Kris… adalah yang paling berkesan dan berarti dalam.

 

Bersama…

 

Kris…

 

Aku…

 

Dan teman kami…

 

Hujan.

 

 

☏☎☏

 

Author POV~

 

 

Chan Yeol berdecak cukup kesal sebelum meletakkan ponselnya di atas meja. Ada sesuatu yang aneh yang menyeruak di dadanya. Demi Tuhan ini bukan perkara nyeri dada sebagai manifestasi klinis penyakitnya. Ia lebih dari sekedar familiar dengan nyeri dada, tapi kali ini tidak mudah diredakan dengan obat.

 

“Ada masalah Chan Yeol-shii?” tanya Manager Jung saat ia masuk membawa sebuah map dan meletakkannya di meja kerja Chan Yeol.

 

“Tidak. Hanya sedikit heran kenapa Baek Hyun tidak menjawab panggilanku? Telepon rumah tidak diangkat juga,” jawab Chan Yeol masih cemas.

 

“Mungkin sedang berbelanja, Chan Yeol-shii.”

 

“Di tengah hujan selebat ini? Sendiri?”

 

“Bersama teman mungkin?”

 

“Aku sudah menghubungi sahabatku Kyung Soo, dia tidak bersama Baek Hyun sekarang, padahal biasanya mereka akan pergi bersama untuk berbelanja.”

 

“Berpikir positiflah Chan Yeol-shii. Di dunia ini, orang yang bisa melakukan apa saja demi kau itu hanya Byun Baek Hyun.”

 

Chan Yeol sedikit merenung. “Aku tahu, aku hanya cemas padanya.”

 

“Jika terjadi apa-apa, aku yakin kaulah orang pertama yang akan dia hubungi.”

 

Dan akhirnya Chan Yeol hanya bisa menghela nafas pasrah sebelum kembali memeriksa laporan keuangan yang dibawa oleh manager Jung tadi. “Aku benci hujan…” lirihnya.

 

Seorang waiters masuk ke ruangan Chan Yeol dan membungkuk hormat. “Mianhamnida Sajang-nim, di depan ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda.”

 

“Siapa? Baek Hyun?” tanya Chan Yeol semangat. “Kenapa kaku begitu? Suruh saja masuk.”

 

“Bukan, e… entahlah, mungkin kerabatnya karena marganya juga Byun.”

 

Chan Yeol mengerutkan kening bingung. “Siapa?”

 

Dan detik selanjutnya pintu ruangan Chan Yeol kemali terbuka, menampakkan sesosok namja paruh baya yang biasanya akan memasang wajah keras jika bertatapan muka dengan Chan Yeol. “Apa kau sibuk? Park Chan Yeol?”

 

Chan Yeol berdiri spontan, hampir membuat kursinya terjungkal ke belakang kalau saja manager Jung tidak buru-buru menahannya. “A… Abonim?” pekik Chan Yeol tertahan.

 

 

☏☎☏

 

 

Tubuh Kris sangat hangat, alasan kedua kenapa Baek Hyun betah memeluknya.             Ruangan itu hanya terlalu terang, karena jika tidak, maka ia tidak butuh selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.

 

“Kau sudah tidur?” tanya Baek Hyun lembut.

 

“Tidak. Aku tidak mau tertidur saat bersamamu,” jawab Kris sesekali mengusap kulit punggung Baek Hyun.

 

“Kenapa? Memangnya tidak lelah?”

 

“Waktu denganmu sangat berharga, dan aku tidak ingin melewatkannya begitu saja hanya dengan tertidur.”

 

Baek Hyun terkekeh kecil kemudian mengubah posisinya. Sedikit bergeser hingga ia sedikit menindih dada Kris dan menyejajarkan wajahnya dengan wajah tampan itu di bawahnya. “Masih beberapa jam lagi sebelum aku pulang. Ingin melakukan hal lain?”

 

“Ha? Kau tidak lelah sedikitpun? Hebat…”

 

Wajah Baek Hyun memerah hendak rasanya menyerukan protes keras. “Bukan itu. Maksudku, hal lain.”

 

“Seperti?”

 

“Eum… terserah kau.”

 

Kris mengangkat tangannya, mengacak rambut Baek Hyun yang belum sepenuhnya kering. “Ayo bermain.”

 

“Bermain apa?”

 

“Akan kuajukan pertanyaan dan kau harus menjawabnya dengan jujur.”

 

“Baiklah. Silakan dimulai.”

 

“Akan kuberikan dua pilihan dalam setiap pertanyaanku, dan kau harus pilih salah satunya.”

 

“Hm menarik. Ayo mulai.”

 

Kris terkekeh geli, sedikit ingin mengerjai namja mungil di hadapannya ini. “Aku atau Chan Yeol?”

 

“K…” Baek Hyun membelalak kaget. “Kris… Kenapa harus pertanyaan itu?.”

 

Kali ini tawa Kris lebih keras karena ia yakin pertanyaan itulah yang paling tidak bisa dijawab Baek Hyun. “Ya sudah, pertanyaan lain. Restoran atau telepon umum?”

 

“Telepon umum.”

 

“Musim semi atau musim gugur?”

 

“Musim gugur, karena akan sering hujan.”

 

“Cokelat atau strawberry?”

 

“Strawberry.”

 

Kris mengangguk sambil menggumam. “Miskin atau kaya?”

 

“Asal bisa hidup saja. Hahaha.”

 

“Baiklah, kita ganti. Miskin tapi bersamaku,  atau kaya tapi berpisah denganku.”

 

“Apa tidak ada pilihan kaya tapi terus bersamamu?”

 

“Hei, aku yang memberi pilihan.”

 

Baek Hyun tersenyum, sedikit menundukkan wajah dan mengecup bibir Kris sekilas. “Apa saja, asal bersamamu.”

 

“Menjadi pembohong tapi bisa bersamaku, atau jujur tapi kita berpisah.”

 

“Ck, aku sudah menjadi pembohong sekarang, karena aku ingin bersamamu.”

 

Kris kembali tertawa karena merasa di atas awan. “Aku atau Chan Yeol?”

 

“Kenapa itu lagi?”

 

“Mian… hanya bercanda. Ini saja… Kalau misalnya aku juga punya penyakit seperti Chan Yeol dan hanya kau yang bisa menolongku, apa yang akan kau lakukan?”

 

“Ya tentu saja aku akan menolongmu.”

 

“Kalau Chan Yeol pun membutuhkan pertolonganmu?”

 

“Eum, akan kubagi dua tubuhku.”

 

Kris berdecak, mencubit hidung Baek Hyun dengan gemas. “Kalau aku mati?”

 

Deg~

 

“Kenapa kau selalu membahas mati satu harian ini?”

 

“Hanya sekedar bertanya, jawab saja.”

 

“Ya… aku akan menyusulmu.”

 

Kris tersenyum, ia merengkuh punggung Baek Hyun dan menukar posisi mereka. “Kali ini aku tidak suka jawabanmu.”

 

“Kenapa? Kalau kau mati, lalu apa gunanya aku hidup?”

 

“Bukankah itu artinya kau tidak perlu kebingungan lagi untuk memilih antara aku dan Chan Yeol?”

 

“Kris… sudah kubilang jangan membahas itu.”

 

Kris tertawa, kemudian menggelitik leher Baek Hyun dengan ciumannya. “Tapi aku serius. Kalau aku mati, kau jangan menyusulku atau aku tidak akan mau bertemu denganmu di surga nanti.”

 

“Tapi…”

 

“Aku hidup untuk bahagiamu, dan aku ingin jika aku mati nanti, itu juga untuk bahagiamu.”

 

Baek Hyun tidak bersuara lagi. Terseyum pun tidak. Ia hanya meraih wajah Kris dan menangkup kedua pipinya, menatapnya dalam. “Kau ingin aku bahagia?”

 

Kris mengangguk pasti, masih tidak melepaskan senyumnya yang membuatnya terlihat sangat tampan hari itu.

 

Baek Hyun menggerakkan jarinya, menyusuri guratan halus yang membentuk wajah sempurna Kris, tak melepaskan tatapan lekatnya pada sepasang manik mata tajam yang selalu meneduhkannya. “Jika benar begitu, maka jangan pernah berniat meninggalkanku… sedikitpun.”

 

“Aku tidak pernah punya niat sedikitpun untuk meninggalkanmu, karena keinginan terbesarku adalah bersamamu selamanya. Tapi jika suatu saat aku harus dihadapkan pada pilihan seperti itu demi kebahagiaanmu maka…”

 

“Jangan meninggalkanku,” potong Baek Hyun cepat, air matanya sudah menggenang dan bibirnya mulai bergetar. “Kumohon Kris… jangan meninggalkanku. Jangan meninggalkanku… jangan…” dan tangisnya pun pecah.

 

Kris langsung gelagapan, diraihnya tubuh rapuh itu ke dalam pelukannya dan mengusap punggungnya berkali-kali. “Maaf… maaf, ne… aku tidak akan meninggalkanmu. Aku berjanji.”

 

“Jangan meninggalkanku Kris…”

 

“Ne, tidak akan.” Kris mengecup kening Baek Hyun perlahan, dan kembali mengusap punggungnya, berharap itu akan membantu Baek Hyun meredakan tangisnya. Demi Tuhan, hal yang paling tidak ingin dilihat Kris dari Baek Hyun adalah air matanya, terlebih jika air mata itu adalah hasil perbuatannya, maka ia tidak akan memaafkan dirinya sampai kapanpun. “Aku akan terus bersamamu…”

 

 

 

☏☎☏

 

 

Atmosfer semakin mendingin di ruangan Chan Yeol, walau namja itu sudah memastikan bahwa AC nya telah dimatikan dan penghangat ruangan dinyalakan. Di dalam ruangan itu, ia duduk berhadapan dengan seorang namja paruh baya dengan setelan jas yang selalu membuatnya terlihat dingin di mata Chan Yeol. Setelan jas yang menjadi titik patokan untuk orang seperti Park Chan Yeol agar tidak berusaha menyejajarkan diri karena derajatnya lebih di bawah.

 

“Jadi… restoran? Tidak buruk, kulihat kau sudah cukup sukses,” tutur namja paruh baya itu dengan intonasi suara yang tidak akan pernah dilupakan Chan Yeol.

 

“Mianhamnida Abonim, kurasa kita memang tidak cocok untuk bicara basa-basi. Jadi jika ada yang ingin anda katakan, silakan bicara.”

 

Namja paruh baya itu. Ayah dari Byun Baek Hyun, yang Chan Yeol pastikan sampai detik inipun masih tidak merelakan anaknya untuk menikah dengannya. “Bagaimana kabar kalian sekarang?”

 

“Abonim…”

 

“Kurasa ini wajar. Aku menanyakan kabar anak dan menantuku, di mana letak kesalahannya?”

 

Deg~

 

Chan Yeol berani bersumpah, selama ia menjalin hubungan dengan Baek Hyun, belum pernah satu kalipun Ayah Baek Hyun mengakuinya sebagai menantu, lalu apa yang baru saja ia dengar? “Seperti yang anda lihat, walau anda berusaha keras menjatuhkan kami, dengan usaha keras pula kami tetap bediri.”

 

Ayah Baek Hyun menggumam, kemudian tersenyum. Jelas sangat langka di mata Chan Yeol. “Kudengar kalian tinggal di sebuah apartemen kelas menengah?”

 

“Benar, tapi percayalah, kami sangat bahagia.”

 

“Hum, bisa kulihat.”

 

“Lalu apa tujuan anda sekarang? Ingin menjatuhkan kami lagi? Ingin membuat usaha kami bangkrut? Melaporkanku pada Polisi?”

 

“Park Chan Yeol,” tegur Ayah Baek Hyun pelan. Sekali lagi Chan Yeol belum pernah mendengar namja tua itu memanggil namanya dengan intonasi rendah seperti itu. Namja itu lebih sering menyebut namanya disertai bentakan dan umpatan kasar. Lalu apa artinya ini?

 

“Tolong Abonim, jika benar ada yang anda inginkan dariku, tolong katakan.”

 

“Lalu jika kukatakan itu, apa kau akan memberikannya?”

 

Chan Yeol tersenyum pahit. “Jika yang anda inginkan adalah untuk memintaku mengembalikan anak anda maka aku minta maaf.”

 

“Lalu jika kuminta anak dan menantuku kembali, kaupun tidak bisa mengabulkannya?”

 

Deg~

 

“Ma… Maksud anda?”

 

Namja paruh baya itu tersenyum miris, mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Satu tahun lebih, kurasa itu sudah lebih dari cukup bagi kalian untuk menghukum tua bangka ini.”

 

Chan Yeol mengerutkan keningnya semakin tidak mengerti. Ada apa sebenarnya ini? Kenapa Chan Yeol menangkap ekspresi menyesal di wajah namja itu. “Abonim… a… aku tidak mengerti.”

 

Ayah Baek Hyun menghembuskan nafasnya cukup panjang, kemudian memperlihatkan raut menyesal itu pada Chan Yeol. “Sebenci apapun kau padaku, sekejam apapun aku di matamu, tapi pada hakekatnya aku adalah seorang Ayah. Dan seorang Ayah yang merindukan anaknya adalah sesuatu yang lumrah bukan?”

 

Chan Yeol hendak membuka mulutnya, tapi ia tetap menggeleng tidak mengerti.

 

“Aku tidak merestui hubungan kalian, bukan karena aku ragu bahwa kau tidak bisa membahagiakan anakku. Realistislah Park Chan Yeol. Aku seorang pengusaha ternama di negeri ini. Mendidik anakku sejak kecil dan mempersiapkan masa depannya secerah mungkin. Kau pikir seterpukul apa aku saat anakku memperkenalkan seorang anak yatim piatu yang identitasnya tidak jelas sebagai calon pendamping hidupnya? Kau tahu, akan ada masa dimana aku akan mengajak anakku dan memperkenalkannya pada rekan-rekanku, dan aku tidak punya bayangan jika aku pun harus memperkenalkan pendamping hidup anakku yang… bukan siapa-siapa.”

 

“Abonim, aku bahkan tidak pernah berpikir bahwa anak yatim sepertiku terlalu buruk untuk nama baikmu di depan kolegamu.”

 

Namja paruh baya itu mengangguk, masih mengontrol nafasnya. “Untuk itu… aku datang menemuimu. Memberitahumu bahwa pemikiranku salah. Apa untungnya nama besar jika pada akhirnya anakku pun meninggalkanku? Terakhir kusadari, kenapa aku sekeras ini? Kenapa aku menentang kalian? Dan pada akhirnya… tinggallah aku seorang Ayah renta yang tidak mendapatkan apa-apa. Lalu untuk apa kekayaan ini?untuk apa perusahaan dengan cabang berpuluh-puluh di banyak negara jika pada akhirnya bukan darah dagingku sendiri yang menikmati hasilnya?”

 

“A… Abonim?”

 

“Mengenai aku membatasi gerakmu semasa di Beijing, itu semata-mata kulakukan agar kalian menyerah dan kembali ke Korea. Tapi yang kudapat adalah, aku justru kehilangan jejak kalian.”

 

Chan Yeol tidak bisa berkata apa-apa. Jujur ia tidak percaya dengan pemandangan di hadapannya ini. Ayah Baek Hyun yang terkenal keras menyatakan penyesalannya? Sungguh… ini tidak bisa dipercaya.

 

Ayah Baek Hyun mengulas senyum tipis, dan menatap Chan Yeol penuh harap. “Jika ini tidak cukup terlambat Park Chan Yeol.” Ia sedikit bergeser, dibantu tongkat ukiran singa di pangkalnya dan meraih tangan Chan Yeol untuk ia genggam. “Kembalilah nak, bawa Baek Hyun bersamamu. Kembalilah ke rumah. Rumah Baek Hyun, rumahmu. Karena Ayah Baek Hyun, adalah Ayahmu juga.”

 

Deg~

 

“A… Abonim?”

 

 

☏☎☏

 

Kris mengangkat kepalanya untuk melirik Baek Hyun yang masih berbaring di dadanya. Sudah tidak ada isakan, hanya terdengar suara nafas teratur dan dengkuran halus. Iapun tersenyum kemudian membelai rambut namja mungil itu. “Mianhae Baek Hyun-ah. Aku bersumpah tidak akan pernah meninggalkanmu,” lirihnya sebelum mengecup puncak kepala Baek Hyun. “Tapi hubungan seperti ini tidak akan kokoh Baek Hyun-ah, tidak akan abadi karena kau bukan sepenuhnya milikku. Dan jika aku akhirnya dihadapkan pada pilihan antara kebahagiaanmu dan kebersamaan rapuh ini… maka akan kulakukan apapun agar kau tetap bahagia. Bahkan jika… aku tidak harus berada di sisimu. Karena aku… mencintaimu. Sangat mencintaimu.”

 

 

 

☏☎☏

 

 

Chan Yeol masih dilanda kebingungan. Jujur ia senang, ia bahagia, dan ia tidak menyangka bahwa hati keras mertuanya ini telah sepenuhnya luluh untuknya. Ia bahkan tidak bisa berkata apa-apa saat dengan sedikit sungkan ia mengantar Ayah Baek Hyun ke pelataran parkir setelah menjamunya dengan hidangan restoran, cukup canggung.

 

“Oh ya Chan Yeol-ah,” panggil Ayah Baek Hyun hangat.

 

“Ne Abonim?”

 

“Restoranmu sudah sangat sukses, jadi sangat sayang jika kau jual. Tidak apa-apa jika kau menyerahkannya pada orang lain untuk kau kelola. Karena besok-besok aku jamin kau tidak akan punya waktu lagi mengelola restoran ini karena kau akan sangat sibuk di perusahaan.”

 

Chan Yeol tersenyum kaku, masih sangat grogi. “A… Akan kupertimbangkan Abonim.”

 

“Ne, sekalian kita bicarakan juga dengan Baek Hyun. Jadi malam ini datanglah ke rumah untuk makan malam. Bicarakan dulu baik-baik dengan anak itu, karena aku khawatir dia tidak akan mau datang kalau bukan kau yang memaksanya.”

 

“Ne Abonim.”

 

Ayah Baek Hyun tersenyum kemudian tanpa ragu lagi memeluk Chan Yeol hangat, membuat namja jangkung itu terkejut bukan main. Sungguh, tidak pernah terlintas di benaknya sedikitpun bahwa Ayah Baek Hyun akan memeluknya seperti ini. Jangankan mendapat pelukan, diperlakukan layaknya manusia saja sudah sangat mustahil dalam bayangannya.

 

“Kutunggu kalian di rumah. Jika kalian sudah bersiap pindah, akan kuminta orangku untuk mengurus semuanya,” ucap namja itu setelah melepas pelukannya pada Chan Yeol.

 

Dan lagi-lagi Chan Yeol hanya bisa menjawab. “Ne… Abonim.”

 

“Ya Tuhan, hampir lupa.” Ayah Baek Hyun kembali menoleh. “Aku sedikit penasaran relasi antara kalian dengan Presdir Wu. Apa kalian memang rekan bisnis di Beijing?”

 

Deg~

 

“Presdir siapa?” tanya Chan Yeol kaget. Terlebih setelah mendengar kata Beijing.

 

“Presdir muda bermarga Wu. Generasi ke enam pemilik Group WYF yang berpusat di Beijing. Kris Wu.”

 

Chan Yeol hampir limbung ke belakang saat mendengar nama itu lagi. “Ka… Kami tidak ada relasi apapun…” jawabnya gugup.

 

“Oh, kupikir kalian rekan bisnis. Karena saat orang suruhanku kuperintahkan menjemput Baek Hyun, orang itu menghalangi mereka padahal kupikir ada sedikit kesalah pahaman. Itu bukan jemput paksa, karena aku hanya ingin sekali bertemu Baek Hyun saat itu.”

 

Chan Yeol semakin membelalak. Nafasnya kembali tidak teratur dan denyut sakit di dada kirinya kembali terasa. “A… Apa maksud anda Abonim? Menjemput Baek Hyun di mana? Kapan?”

 

“Beberapa hari yang lalu, di depan gedung apartemen kalian. Kupikir setelah kujemput Baek Hyun maka kau akan menyusul, tapi kudengar dari orang suruhanku, Presdir Wu muncul dan menghajar mereka satu persatu karena mengira aku berniat menjemput paksa anakku. Dia hanya menitip salam padaku, berhubung kami memang pernah terlibat kerja sama saat meluncurkan sebuah produk eletronik dengan pemasaran global.”

 

Chan Yeol sudah tidak memikirkan penjelasan panjang Ayah Baek Hyun. Karena dia sudah menangkap intinya.

 

Kris wu ada di Korea… dan Baek Hyun tahu!!!

 

“Aneh sekali sebenarnya Presdir Wu ada di korea sementara tidak ada proyek besar yang sampai ke telingaku. Jadi kukira ia memang sengaja berlibur dan menemui kalian.”

 

Chan Yeol merengkuh dada kirinya dan menggeleng berkali-kali. Sebuah prasangka buruk kembali menghantuinya. Sejak beberapa hari belakangan ini tingkah Baek Hyun memang sangat aneh. Ia akan bangun pagi-pagi sekali menyiapkan makanan dengan porsi cukup banyak yang Chan Yeol kira untuk sekalian makan siang. Tapi saat pulang bekerja, Chan Yeol tidak mendapati makanan yang sama dengan yang Baek Hyun masak paginya. Baek Hyun juga terlihat sangat ceria saat Chan Yeol pergi dan pulang kerja. Kecuali kemarin yang memang terlihat jelas bahwa Baek Hyun seperti sedang terbebani sesuatu. Dan yang paling janggal dari semuanya adalah. Baek Hyun seperti menghindar pada malam hari saat Chan Yeol ingin berhubungan dengannya. Bahkan Chan Yeol tidak lagi menerima balasan seperti biasanya saat ia mencium Baek Hyun… seperti ada yang…

 

Ya Tuhan… mungkinkah…

 

“Chan Yeol? Park Chan Yeol, kau baik-baik saja?” tegur Ayah Baek Hyun bingung.

 

Chan Yeol menoleh dan menggeleng pelan, masih dengan pikiran berkecamuk. “Ne Abonim, sepertinya aku melupakan sesuatu di rumah.”

 

“Oh begitu? Sekalian saja kau sampaikan ini pada Baek Hyun.”

 

“Ne Abonim.”

 

“Ya sudah… Kutunggu kalian di rumah saat makan malam.”

 

“Ne Abonim…”

 

 

Byun Baek Hyun… apapun yang kudengar nanti…

 

Tolong…

 

 

 

Jujurlah…

 

 

 

 

☏☎☏

 

 

Baek Hyun menggeliat malas di tempat tidur, meraba tempat di sebelahnya, mencari keberadaan Kris tentu saja. Dan saat ia tidak menemukan apa-apa selain bantal, ia sontak membuka matanya dan bangkit menatap sekeliling kamar. “Kris?” serunya, namun kamar itu kosong. Hanya ada dirinya yang masih berselimut. “Kris… kau di mana?” serunya sekali lagi. Sedikit cemas. “Kris…” dan kecemasannya berubah menjadi panik saat ia tak juga mendengar sahutan. Dengan buru-buru ia meraih baju mandi yang tadi pakainya dan berlari keluar kamar. “Kris… kau di mana???” panggilnya panik, sudah hampir menangis.

 

“Aku di dapur…” barulah suara berat itu terdengar.

 

Baek Hyun langsung berlari ke sumber suara, dan mendapati Kris tengah menyiapkan makan siang untuk mereka. “Kris!”

 

Namja tampan itu mendongak dan mengulas senyum. “Sudah bangun? Ayo, sekalian kita makan siang.”

 

Baek Hyun menggeleng pelan, mengusap matanya yang sedikit berkabut kemudian berlari memeluk Kris erat.

 

“Hei hei… ada apa ini?” tanya Kris sambil tertawa geli melihat tingkah posesif Baek Hyun.

 

“Kukira kau meninggalkanku, kukira kau… pergi…” raung Baek Hyun teredam di dada Kris.

 

“Ya Tuhan, aku hanya menyiapkan makan siang, bukannya pergi.”

 

“Tapi kau tidak mengatakannya padaku, jadi kupikir kau…”

 

Kris kembali tertawa, merenggangkan pelukan mereka dan menatap wajah sendu Baek Hyun. Sesekali mengusap air mata yang mengotori wajah indah itu. “Kau tertidur seperti beruang putih yang sedang hibernasi. Pulas sekali, makanya aku tidak ingin mengganggumu.”

 

Baek Hyun tidak menjawab lagi, ia hanya menatap Kris dengan bibir melengkung ke bawah, seperti berusaha agar tangisnya tidak kembali pecah.

 

“Jadi kau masih takut aku meninggalkanmu?”

 

Baek Hyun mengangguk pelan. Masih tak bersuara.

 

“Lalu apa yang bisa kulakukan agar kau tak lagi resah? Tinggal bersamamu jelas mustahil kan? Atau kau mau kita tinggal bertiga dengan Chan Yeol?” godanya. Namun itu berhasil membuat bibir Baek Hyun sedikit mengulas senyum.

 

“Kau terlalu sering memberiku isyarat bahwa kau akan meninggalkanku Kris, dan itu membuatku takut jika itu benar-benar terjadi suatu saat.”

 

“Baiklah, baiklah, tidak akan kuulangi lagi. Sekarang kembali ke kamar dan pakailah bajumu dengan benar. Penampilanmu seperti ini betul-betul mengujiku. Aku hanya ingin menyantap makan siang saat ini, bukan menyantapmu.”

 

“Kris…”

 

“Cepatlah, kutunggu di sini.”

 

Baek Hyun   mengangguk cepat sebelum melangkah meninggalkan dapur. Dan tingkahnya yang berjalan sambil sesekali menoleh itu membuat Kris tertawa.

 

“Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku berjanji.” Dan ucapan Kris itu sukses membuat wajah Baek Hyun bersemu merah, hingga untuk menyembunyikannya ia mempercepat langkah menuju kamar Kris untuk mengganti pakaian.

 

Mata sipitnya melebar saat ia melihat ponselnya di atas nakas. Ia bahkan lupa bahwa ia memang meninggalkan ponselnya di sana. Dan begitu terkejutnya ia saat menemukan belasan panggilan tak terjawab yang kesemuanya dari Chan Yeol.

 

 

☏☎☏

 

 

Apartemen mereka kosong. Dan kekosongan itu semakin meyakinkan Chan Yeol bahwa Baek Hyun berada di suatu tempat yang tidak Chan Yeol ketahui. Namun satu yang paling jelas…

 

Baek Hyun bersama lelaki itu. Melakukan sesuatu yang bisa ia sebut sebagai…

 

Pengkhianatan!

 

Kris berada di Korea sudah jelas untuk menemukan jejak Baek Hyun. Dan perubahan sikap Baek Hyun yang sangat aneh belakangan ini jelas alasannya adalah karena Kris.

 

Chan Yeol menghempaskan duduknya di atas tempat tidur mereka, menatap kosong lantai kamar yang tidak sebersih biasanya. Satu lagi pembuktian bahwa Kris betul-betul menyita habis perhatian Baek Hyun. Dan itu betul-betul membuatnya remuk redam.

 

Ia meraih ponsel di sakunya. Memandangi layarnya yang menunjukkan potret mereka saling berangkulan mesra. “Baek Hyun-ah… apakah waktu itu kuberikan kau jeda hingga hatimu kosong? Dan namja sialan itu berhasil merebut kekosongan itu dengan kelicikannya? Kenapa? Bahkan keberadaanku pun tidak bisa menjadi pertimbangan kuat agar kau tetap kokoh di sisiku.” Chan Yeol memejamkan matanya perlahan, meloloskan air mata yang sejak tadi menggenang. “Apa cintaku tidak cukup untukmu?”

 

Mata sembabnya erbuka saat ia merasakan Ponsel itu bergetar, dan nama Baek Hyun tertera jelas di sana.

 

Ia ragu, ia cemas, bahkan takut jika panggilan itu adalah sebuah pemberitahuan untuk sebuah akhir. Namun akan ada sesal yang menyiksa jika Chan Yeol tidak melakukan apa-apa.

 

“Ne Baek Hyun-ah…” sahut Chan Yeol pelan saat ia menjawab panggilan itu.

 

“Maaf… Maaf, aku tidak melihat panggilanmu. Ada apa Chan Yeol-ah? Kau baik-baik saja?”

 

Chan Yeol merengkuh dada kirinya saat mendengar suara lembut itu. Suara yang disertai rasa khawatir yang sejak dulu hanya untuknya. Bahkan jika saja Chan Yeol tidak tahu bahwa Kris tidak berada di Korea, maka ia akan kembali luluh dengan nada suara cemas itu. “Ne, aku baik-baik saja. Aku hanya ingin menelponmu. Hujannya sangat deras. Kau di mana?”

 

“Aku di rumah…”

 

Deg~

 

Jadi… inikah cara Byun Baek Hyun membohonginya telak-telak?

 

Chan Yeol hanya bisa menahan sakit di tenggorokannya. Berusaha sebisa mungkin agar getar suaranya tidak terdengar. “Oh, sedang apa?”

 

“Sedang… menyiapkan makan siang.”

 

Chan Yeol menghembuskan nafasnya cukup panjang. Mungkin benar dia sedang berada di rumah, tapi jelas bukan rumah mereka. Mungkin benar dia sedang menyiapkan makan siang sekarang, tapi bukan untuk Chan Yeol… namun untuk pria lain. Tepatnya Kris. “Oh, sayang sekali, aku tidak bisa makan siang bersamamu.”

 

“Tidak apa-apa. Kita bisa makan malam bersama.”

 

Sesak itu  kembali menyiksanya. Ia rengkuh dada kirinya yang saat inipun tidak bisa ia kontrol kesakitannya. Secara fisik mungkin saja ia telah sembuh, namun beban mental yang terus menderanya justru memperburuk keadaannya. “Ne… kita akan makan malam di suatu tempat,” ucapnya masih berusaha mati-matian terdengar wajar.

 

“Di mana?”

 

“Nanti kuberitahu.”

 

“Oh baiklah. Sampai ketemu nanti sore… Annyeong”

 

“Sebentar…”

 

“Ne?”

 

Chan Yeol menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Pertaruhan terakhir, demi perasaan agung sebagai pondasi kokoh hubungan mereka. “Baek Hyun-ah… Aku mencintaimu.”

 

Ada jeda sekitar beberapa detik sampai kemudian Baek Hyun menjawab. “Aku juga mencintaimu.”

 

Chan Yeol mengatupkan rahangnya cukup keras, hingga menimbulkan suara gemeretak. Urat nadi di dahinya pun menebal, dan wajahnya memerah. Mengisyaratkan gemuruh yang berusaha ia redam dalam diam. “Hanya… mencintaiku?”

 

1 detik…

 

2 detik…

 

3 detik…

 

5 detik…

 

7 detik…

 

10 detik…

 

“Ne, aku hanya… mencintaimu.”

 

Chan Yeol akhirnya menumpahkan air mata yang menumpuk di pelupuk matanya saat ia betul-betul bertemu pada kehancurannya yang sempurna. 10 detik memang waktu yang cukup singkat, namun terlalu lama untuk sekedar menyampaikan jawaban jujur. 10 detik adalah waktu yang terlalu lama untuk sebuah ungkapan tanpa pertimbangan. Dan jawaban “Ya” setelah waktu 10 detik itu adalah pembuktian bahwa… kalimat itu tidak sepenuhnya… benar.

 

“Aku juga Baek Hyun-ah. Sampai kapanpun, hanya akan mencintaimu. Apapun yang akan, sedang, dan telah terjadi. Aku… tetap… hanya mencintaimu.”

 

 

☏☎☏

 

 

Baek Hyun menatap ponselnya nanar. Pembicaraannya dengan Chan Yeol sudah berakhir 5 menit yang lalu, namun ucapan terakhir Chan Yeol sebelum memutuskan sambungan betul-betul menyisakan sebuah rasa yang …

 

Sulit dijelaskannya.

 

“Baek Hyun-ah, aku lupa kalau persediaan buah dan sayuranku habis, apa kau punya beberapa?”

 

Baek Hyun tersentak dan langsung menoleh ke arah pintu kamar di mana Kris sudah berdiri dengan santainya. “A… Ne,  di rumahku ada. Akan kuambilkan.” Baek Hyun buru-buru meraih pakaian di dalam lemari Kris dan memakainya kilat. Setelahnya ia melangkah tergesa-gesa keluar kamar.

 

“Ada apa?” tanya Kris saat melihat ada yang aneh dari ekspresi Baek Hyun.

 

“Tidak kenapa-napa. Oh iya, butuh berapa banyak?”

 

“Secukupnya  saja.”

 

Baek Hyun menghentikan langkahnya saat ia sudah hampir membuka pintu depan apartemen. Kontan menoleh pada Kris, membuat namja tinggi itu merengut heran.

 

“Kenapa?”

 

“Kau jangan kemana-mana.”

 

Kris semakin mengerutkan keningnya. “Memangnya aku mau kemana?”

 

Baekhyun menggigit bibirnya. Ikut bingung. Entah kenapa ia merasa ada yang aneh dengan dirinya, mengkhusus kepada apa yang dirasakannya. Mungkin berupa firasat, atau sejenisnya.

 

“Baek Hyun-ah, aku tidak akan kemana-mana. Aku akan menunggumu di sini, jadi pergilah. Aku jelas tidak bisa ikut denganmu ke apartemen kalian kan?”

 

Baek Hyun mengangkat kedua alisnya, seperti menemukan sebuah ide cemerlang untuk mengatasi kegundahannya.  Sambil tersenyum ia kembali ke arah Kris dan memeluk lengannya. “Bagaimana kalau kau menemaniku?”

 

“Ya Tuhan, hanya untuk memastikan bahwa aku tidak akan pergi, kau sampai memintaku menemanimu ke sana? Bagaimana kalau Chan Yeol tiba-tiba pulang dan menemukanku bersamamu?”

 

“Chan Yeol ada di kantor. Dan aku sudah memastikannya. Kalaupun dia ingin pulang, akan memakan waktu hampir sejam dari kantornya ke sini. Lagipula, hujan masih sangat deras. Chan Yeol sedikit benci dengan hujan.”

 

Kris tampak berpikir, sebenarnya bukan karena ia takut. Namun hanya ingin berhati-hati. “Kau yakin tidak apa-apa?”

 

“Hm, aku yakin dan aku berani menjamin. Dari pada aku resah dan terburu-buru karena mengkhawatirkanmu, lebih baik aku memastikan kau bersamaku.”

 

Kris tertawa saat namja mungil itu masih memeluk lengannya setelah mereka keluar dari apartemen Kris menuju apartemen Baek Hyun ‘dan Chan Yeol’ yang letaknya hanya beberapa meter dari tempat mereka berada. “Kau ini aneh. Menganggapku seolah akan bunuh diri saja kalau kau meninggalkanku.”

 

“Aku yang akan bunuh diri kalau kau meninggalkanku. Jadi tolong tetap bersamaku.”

 

 

 

☏☎☏

 

 

Chan Yeol mengusap air matanya saat ia mendengar suara pintu depan terbuka, dan suara tapak kaki mungil berlarian di depan. Mungkin Baek Hyun sudah pulang__ pikirnya. Dan saat ia hendak memastikannya dengan membuka pintu kamar, telinganya menangkap  suara langkah kaki lain yang menyertai. Matanya semakin membelalak saat terdengar…

 

“Baek Hyun-ah, kau yakin Chan Yeol masih ada di restorannya?”

 

Deg~

 

Demi Tuhan, sampai kapanpunn Chan Yeol tidak akan pernah melupakan suara itu. Suara yang ia tetapkan sebagai suara malaikat di awal, namun terakhir menusuknya dengan pedang iblis di akhir.

 

“Ne, tadi dia menelponku dan dia ada di kantor,” sahut Baek Hyun dari arah dapur, dan Chan Yeol bisa mendengar semuannya.

 

“Lalu kenapa sepatunya ada?”

 

“Ck, kami tidak semiskin itu. Chan Yeol punya banyak sepatu.”

 

“Hahaha… Maaf, aku hanya bercanda. Kupikir dia ada di sini.”

 

Chan Yeol hampir jatuh tersungkur di lantai. Jantungnya yang sudah lemah semakin berdenyut sakit saat dengan gemetarnya ia membuka sedikit pintu kamar itu dan mencari celah untuk melihat pemandangan di hadapannya.

 

Dan… Ia tidak akan bisa menyalahkan telinga dan matanya atas apa yang didengar dan dilihatnya. Di sana, Kris berdiri di pintu pemisah ruang tengah dan dapur. Bersandar di tembok sembari melipat tangan di dada dan memperhatikan seisi ruangan itu.

 

Namja itu betul-betul datang menyusul Baek Hyun!

 

“Aku punya banyak strawberry, bagaimana kalau sekalian kita buat jus,” seru Baek Hyun riang. Dan seingat Chan Yeol, ia belum pernah melihat orang tercintanya itu seriang dan seceria itu saat ia bersamanya.

 

“Terserah saja, jangan lupa sayurannya. Aku butuh itu untuk eksperimen masakanku.”

 

“Yakin tidak akan membuang-buang makanan?”

 

“Maksudnya?”

 

Chan Yeol membungkam mulutnya saat ia melihat Baek Hyun muncul dengan sekantung penuh sayuran dan buah di tangannya. Bediri di hadapan Kris dengan wajah terang dan bersinar. Sekali lagi ia sadar, bahwa Baek Hyun sudah tidak pernah lagi menatapnya seperti itu.

 

“Maksudku…” Baek Hyun memindahkan plastik itu di tangan kirinya, dan dengan tangan kanan ia meraih sisi leher Kris agar jarak mereka cukup dekat. “Kau yakin masakanmu bisa di makan?”

 

“Oh… sejak kapan kau mulai meremehkanku Byun Baek Hyun?”

 

“Bukan meremehkan, hanya bertany__ Yak! Geli,”

 

Dan Chan Yeol akhirnya betul-betul ambruk ke lantai saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Baek Hyun mengalungkan tangannya di tengkuk Kris saat namja biadab itu menggelitik leher Baek Hyun dengan ciumannya.

 

Kris dan Baek Hyun terperanjat kaget saat mendengar suara keras dari arah kamar. Setelah itu mereka bertatapan dengan perasaan kalut.

 

Baek Hyun yang lebih dulu memisahkan diri, dan dengan langkah cepat-cepat dan panik, ia mendekat ke arah pintu kamar yang setengah terbuka. Dan…

 

 

 

 

Alangkah terkejutnya ia saat melihat Chan Yeol terduduk di lantai, dengan kedua lutut dan tangan bersimpuh di atas lantai. Bahunya bergetar hebat dengan isak teredam.

 

“Cha… Chan Yeol?” pekik Baek Hyun langsung berlari menghampiri suaminya itu.

 

“LEPASKAN AKU BYUN BAEK HYUN!!!” bentak Chan Yeol setelah berhasil menepis tangan Baek Hyun yang ingin memapahnya.

 

“Chan Yeol… Chan Yeol-ah… Kau baik-baik saja?” serbunya panik. Wajahnya sudah pucat pasi dengan bibir bergetar dan air mata mulai bergerombol.

 

Chan Yeol mengangkat wajahnya yang penuh air mata, menatap Baek Hyun marah, dan sudah pasti terluka. “Setelah apa yang kau lakukan di belakangku, dan kini di hadapanku… kau masih bisa bertanya tentang keadaanku?”

 

Baek Hyun menggeleng cepat, masih berusaha menyentuh tangan Chan Yeol, namun namja itu bersikeras tidak ingin disentuh olehnya. “Chan Yeol… Chan Yeol… Chan Yeol-ah dengarkan… aku… itu… tolong, aku…”

 

Chan Yeol berusaha bangkit. Mengusap wajahnya yang penuh air mata.

 

“Chan Yeol…” seru Baek Hyun degan suara hampir tak terdengar.

 

Chan Yeol kembali menepisnya, bahkan tak sudi lagi melihatnya. Dan dengan langkah diseret, ia mulai meninggalkan ruangan itu.

 

“Chan Yeol-ah, kau mau kemana? Kondisimu…” Baek Hyun masih berusaha meraihnya. Namun Chan Yeol tetap menepisnya.

 

Langkah rapuh itu terhenti saat matanya menangkap sosok yang betul-betul ingin dihancurkannya dengan harga yang sama dengan apa yang ia rasakan. Ditatapnnya tajam namja tinggi yang tak bersuara sedikitpun dan hanya memasang wajah sesal yang betul-betul membuat Chan Yeol muak.

 

Bugh~

 

Kris tidak akan mempertanyakan alasan kenapa Chan Yeol  memukul wajahnya sekeras itu hingga membuatnya tersungkur ke lantai. Ia pun tidak akan membalas. Bahkan untuk tetap mempertahankan kontak mata dengan Chan Yeol ia pun telah kehilangan keberaniannya. Karena pada kenyataannya, ia memang berada pada posisi yang salah.

 

“Apa kau seorang manusia, Kris Wu?” tanyanya dengan suara hampir tak terdengar saking paraunya. Terlebih Baek Hyun terus meraung penuh penyesalan di sana.

 

Menyesal?

 

Jika ia memang menyesal, ia tidak akan mungkin menyia-nyiakan kesempatan dan kepercayaan yang telah diberikan Chan Yeol. Dan untuk seseorang yang masih melakukan kesalahan yang sama berkali-kali, apa ia pantas untuk dikatakan menyesal?

 

“Bukan… Kau bukan seorang manusia. Kau tak ubahnya seekor binatang yang serakah!” makinya sebelum meneruskan langkah rapuhnya menuju pintu depan.

 

“Chan Yeol-ah jebal… dengarkan aku…” pinta Baek Hyun saat ia berhasil berlutut dan memeluk kaki Chan Yeol.

 

“Apalagi Byun Baek Hyun? Mendengarkanmu mengatakan bahwa kau ingin bersamanya?”

 

Baek Hyun mempererat pelukannya di kaki Chan Yeol, dan menangis sejadi-jadinya. “Maafkan aku, maafkan aku.”

 

Chan Yeol memejamkan matanya dan mendongak ke langit-langit. “Kau bahkan tidak berniat menyangkalnya Byun Baek Hyun. Bahkan jika aku sudah terluka ini, kau pun tidak bisa mengatakan bahwa kau akan melakukan apapun agar aku memaafkanmu. Lalu untuk apa maafmu? Agar aku merestui hubungan kalian?”

 

“Chan Yeol-ah…”

 

“Sekarang katakan padaku bahwa maafmu adalah karena kau menyesal telah mengkhianatiku. Dan maafmu adalah untuk kembali padaku. Bahwa kau hanya mencintaiku, bahwa kau telah khilaf saat membiarkan hatimu kosong untuk sesaat dan membiarkan namja biadab itu mengisinya, katakan…”

 

Baek Hyun semakin meraung, menempelkan wajahnya di betis Chan Yeol. “Mianhae… jeongmal mianhae…”

 

Dan ucapan Baek Hyun itu sukses menggilas habis harapan terakhir Chan Yeol. Karena pada kenyataannya, maaf Baek Hyun adalah…

 

Karena ia pun tidak bisa menyangkal bahwa ia telah mencintai orang lain selain Chan Yeol.

 

“Lepaskan aku Byun Baek Hyun!”

 

“Andwae… tolong, jangan pergi Chan Yeol-ah…”

 

“Lalu aku harus apa? Kurasa percuma kau memintaku tetap tinggal sementara tempatku sendiri telah diisi oleh orang lain.”

 

“Chan Yeol-ah jebal… kau boleh melakukan apapun, kau boleh menghukumku, kau boleh…”

 

“Tidak lagi Byun Baek Hyun…”

 

“CHAN YEOL-AH!!!!!” pekik Baek Hyun saat Chan Yeol memaksa melepaskan tangan Baek Hyun dari kakinya, kemudian mempercepat langkahnya meninggalkan tempat itu.

 

Kemanapun… asal tak lagi melihat pengkhianatan Baek Hyun…

 

“Park Chan Yeol…” seru Baek Hyun sekali lagi, berusaha bangkit dan mengejar Chan Yeol yang berlari terpontang panting menahan sakit di dadanya.

 

Kris terperanjat kaget, ikut mengejar dua orang yang sudah cukup jauh darinya itu.

 

Sebenarnya ia sudah bisa membayangkan kejadian seperti ini, karena selamanya, kebohongan tidak akan pernah bertahan. Untuk itu, jika masih ada yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki hubungan yang hancur itu, maka akan ia lakukan.

 

“Baek Hyun-ah, tunggu…” seru Kris saat Baek Hyun memilih tangga darurat untuk mengejar Chan Yeol yang sudah lebih dulu menggunakan elevator. Mengingat seceroboh apa Baek Hyun, bisa saja justru namja mungil itu yang celaka. “Baek Hyun-ah….” seru Kris sekali lagi namun Baek Hyun tidak juga menoleh. Namja mungil itu sudah terjatuh beberapa kali dan hampir membuat Kris gila saat orang yang paling dicintainya itu tidak tegap lagi saat berlari.

 

Baek Hyun langsung menghambur ke arah pintu lift yang sudah kembali tertutup dan tak menampakkan tanda apa-apa dari Chan Yeol. Semakin histeris saat ia melihat Chan Yeol keluar melewati pintu utama gedung dan menerobos hujan di luar. “CHAN YEOL-AH!!!” pekiknya sekali lagi, melanjutkan langkah pincangnya mengejar Chan Yeol.

 

“BAEK HYUN TUNGGU!!!” kali ini pekikan Kris lebih keras saat ia menyusul Baek Hyun  keluar menerobos hujan. Matanya membelalak saat ia menyaksikan Chan Yeol yang sudah hampir terkejar justru dengan cerobohnya menerobos jalan raya yang begitu ramai bahkan di tengah hujan. Dan sialnya…

 

Baek Hyun melakukan hal yang sama.

 

Dan…

 

 

!!!

 

“PARK CHAN YEOL!!!!!!” pekik Baek Hyun mendarah daging saat sebuah mobil box melaju dengan kecepatan tinggi dari arah kiri. Dengan sisa tenaganya ia membawa tubuhnya melompat dan mendorong tubuh Chan Yeol ke tepi dan…

 

Ckiiitttt….

 

BRUUUAAAAAKKK!!!!

 

 

 

 

 

☏☎☏

 

Aku telah dibutakan olehmu, yang sinarnya mebuat semua cahaya lain meredup,

kaulah pancaran cahaya kuat.

Kau bagaikan sebuah ulasan gambar, sebuah kilasan balik

Aku berjalan melalui labirin panjang, di antara ilusimu

Seolah mampu meraihmu, tapi tanganku hanya menggapai udara kosong

 

Satu-satunya hal yang ada di kepalaku hanyalah kau…

Aku gila akan fantasi yang tampak seperti kenyataan

Oh tidak, tidak, tidak mungkin, tidak mungkin itu kau

Saat melangkah ke arahmu, dengan hati berdebar-debar …

 

 

Untuk sesaat,  pada akhirnya jantung ini berhenti…

Dunia ini menyelimutiku  dengan perasaan gembira dari serangan jantung ini

Kau begitu dekat bahkan aku tidak peduli jika nafas ini terhenti

 

 

Jantung ini berhenti… akhir dari penantian.

Hatiku seakan ingin meledak dalam kesunyian

Kurasakan kedamaian, bahkan aku tidak peduli jika nafas ini terhenti

 

[EXO –K Heart attack. Failed trans by ALF]

 

 

☏☎☏

 

 

Ketika seseorang akan mati, hal yang akan paling ia sesali adalah menyerah. Untuk itu, aku tidak ingin menyesal saat ajal menjemputku. sampai nafas ini terhenti… aku tidak akan pernah menyerah untuk terus mencintaimu.

 

Sampai akhir…

 

 

 

Baek Hyun membuka matanya sangat pelan. Hempasan tadi, benar ia rasakan. Namun…

 

 

 

“KRISSSSSSSSSSSSS!!!!!!!!!!!!!!!!!” pekiknya mendarah daging saat dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan sesosok tubuh yang tergeletak beberapa meter darinya tak bergerak sedikitpun, bersimbah darah, dan hujan yang semakin deras membentuk sebuah genangan merah pudar di sekitarnya.

 

Tubuhnya menegang seketika saat kenyataan menamparnya telak-telak. Sebelum mobil box itu menabrak tubuh lusuhnya, Kris lebih dulu melompat kearahnya. Mendorong tubuh Baek Hyun ke tepi hingga mobil itu sukses menghempas tubuh Kris beberapa meter ke tengah.

 

“Kris!!!” pekiknya sekali lagi saat ia tak mampu menggerakkan kakinya ke tempat Kris tergeletak bersimbah darah. “KRISSS!!!”

 

Chan Yeol melihatnya dalam keterpanaan. Tak mampu bersuara, hanya berusaha mempertahankan kesadaran saat sakit di dadanya semakin menyiksa.

 

Baek Hyun tak kunjung bisa menggerakkan kakinya, dan Chan Yeol tidak bisa berbuat apa-apa melihat orang tercintanya itu merayap di  jalan beraspal yang digenangi air hujan yang tak kunjung mereda. “Kris…” serunya terus menerus. Mengabaikan beberapa orang yang berlarian panik hendak membawanya kembali ke tepi.

 

Mata mungilnya yang hampir tak mampu betahan untuk tetap terbuka karena terpaan hujan deras akhirnya membelalak saat ia melihat tubuh itu bergerak. Tubuh bersimbah darah itu menoleh ke arahnya, menggerakkan tangan dan kaki seolah hendak berdiri.

 

“Kris!!! Jebal!!!”

 

Namun Kris tak mendengarkannya. Iapun mengabaikan orang-orang yang cukup khawatir mendekatinya, mengingat kondisi tubuhnya yang dipenuhi darah. Dan dengan sisa kekuatannya, Kris akhirnya mampu berdiri dan berjalan gontai menuju tempat Baek Hyun yang meraung meneriakkan namanya.

 

Kris yang mungkin saja dengan nafas terakhirnya… meraih tubuh Baek Hyun yang betul-betul memucat seolah tak lagi dialiri darah. Menggendongnya dengan sisa tenaga yang bisa saja sebagai kesempatan terakhir yang diberikan malaikat maut untuknya. Menyelesaikan hal terakhir sebelum ia betul-betul terlepas dari raganya.

 

Seolah dikejar waktu.

 

“Kris…” teriakan Baek Hyun kali ini sudah tak terdengar lagi. Raungannya bahkan disertai nafas putus-putus. Menyaksikan Kris yang terus mengeluarkan darah dari mulutnya namun tetap berusaha berjalan gontai, menggendong tubuh Baek Hyun untuk kembali ke tepi.

 

Ke tempat Chan Yeol.

 

Brugh~

 

Keduanya pun ambruk persis di hadapan Chan Yeol yang bersimpuh dengan tatapan kosong.

 

“Kris jebal… jebal… Jangan tinggalkan aku… jangan tinggalkan aku,” sergah Baek Hyun panik. Tangannya yang dingin dan bergetar ia gunakan untuk mengusap darah di sekitaran wajah Kris, walau ia tahu itu tak akan berhasil.

 

Kris menatapnya nanar, tak bisa lagi membedakan anntara air mata, air hujan, dan darah, semuanya menyatu dalam tetesan luka, tak hanya di fiisik. Sebuah gelengan pelan dari Kris membuat Baek Hyun seolah kehilangan nafas.

 

“ANDWAE… JANGAN MENINGGALKANKU!!! JANGAN!!!… jangan….” dan Baek Hyun pun menyerah pada kondisi fisiknya yang tak mampu bertahan. Kris memeluk tubuh mungil itu, dengan tubuhnya menghalau derasnya air hujan yang mendera. Setelahnya, ia melayangkan tatapan penuh makna ke arah Chan Yeol.

 

Sesal…

 

Rasa bersalah…

 

Dan terakhir…

 

Penuh harap.

 

Chan Yeol bahkan tak mampu mengedipkan matanya saat Kris meraih tangannya untuk ia persatukan dengan tangan Baek Hyun yang melemah, memaksanya menguatkan genggaman saat Chan Yeol tak juga mampu menggenggam tangan mungil yang memucat itu.

 

Kris tidak berbicara, hanya menyampaikan sesuatu lewat gerakan singkat dan tatapan mata. Dan Chan Yeol betul-betul akan menjadi pihak yang paling bersalah jika di tempat terakhirpun ia tetap kokoh pada egonya. Sampai akhirnya ia mengangkat wajah, menatap Kris yang mati-matian mempertahankan kesadaran sampai akhir.

 

“Kris Wu…” lirih Chan Yeol hanya dengan gerakan mulut. “Wae?”

 

Kris mengulas senyum dalam kesakitannya. Direngkuhnya dada kirinya sejenak, kemudian menyentuh dada kiri Baek Hyun, masih dengan tatapan penuh makna.

 

Karena aku mencintainya…

 

Kris terbatuk dan memuntahkan cukup banyak darah. Dan ia tahu tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Ditatapnya Chan Yeol masih dengan penuh harap.  Seolah ada yang ingin ia sampaikan sebelum, waktu mendesaknya.

 

Mianhae…

Tolong… Jaga Baek Hyun… sampai … akhir…

 

 

Dengan mata yang menyalurkan luka perih.

 

 

Kris memohon!

 

Sebelum kesadaran fisik meninggalkannya.

 

Tubuh itupun akhirnya menyerah dan ambruk di atas tubuh Baek Hyun yang tak melepaskan tautan tangan kanannya di lengan Kris.

 

 

 

Maafkan aku… Byun Baek Hyun!!!

Aku ingkar…

 

 

~PAYPHONE~

tbc

 

 

268 thoughts on “Payphone – Chapter 7 || KrisBaek

  1. so heartbreaking..
    Aigoo..
    Setiap moment krisbaek manis banget.. Tapi setiap bagian chanyeol itu rada sakit gimn.
    Dan adegan terakhr itu.. I can’t say anything..
    ini krisbaek kan?? sdkt egois si tapi please let them together..

  2. Huwwwwweeeee baaca chap ini bikin mewewk hiksss!
    Angst ,feel nya kerasa banget!
    Gak kuat! Ini kata2 nya bikin nyesek banget thor.
    Bener kata kris disini yang paling menderita itu sebenernya baek karna dia bingung pilih yg mana tapi satu sisi ya begitulah.
    Btw disini penyakit yeol balk lagi kah?
    Dan apakah kris disini bakal died kah?
    Aahh jinja sama penasaran sama kelanjutannya!
    Chap 8 di protect! Aku reader baru jadi masih bingung mau minta pw nya boleh kah?
    Aku sudah riview di setiap chap. Aku bakal PM lewat fb, semoga ka alf baca.
    Dan diterima,
    khamsaminda

  3. Penjabaranny, gaya bahasany, alurnya aku selalu suka karyamu kak ..
    Masih tbc ? Lalu apa lg setelah ini ;-( baek bner2 buat aku kecewa ! Bukan, bukan karna aku chanbaek hard , tp baek terlalu egois dia ttp memilih keduany . Tp sikat sm perhatiaan dy fokuskan sm 1 orang . Aku fikir ff ini akan jadi ff yg buat aku ga bkal suka lg sm baekkris . Tp aku tercengang dg endingny :-O ya wlw bkn end yg sbenernya, tp aku mohon kak tetap lah seperti itu .
    Sosok dia seolah sudah mencabik2 tp dy torehkan kesan baik d ujung ny , knp harus gt kris ;-( it malah lbih menyakitkan untk kami para readers .
    Kak Payphone ini lebih ngenes dr love n pain yg selalu ak klaim sbg ff terbaik yg pernah aku baca .
    Aku mewek tengah mlm gegara karya kakak ini ;-( ;-( nahan math matian biar tangisku ga terdengar sm ibu dn adikku yg udh tidur pulas dari sore !! Pokokny kak ALF harus tanggung jwb ! #JEONGMALSARANhae

  4. Oke, baiklah ini menyesakaan..

    Aku kira Chanyeol yang ketabrak..

    Diluar dugaan..

    Terus Baek gimana?

    Dua orang sama-sama sekarat..

    Siapa yang selamat..??

    Lirik lagunya..

    Pesan Kris..

    Omaigat..

    Tapi..

    End di lindungi..

    Digembok…

    Kak..

    Gimana

    Cara dapet..

    Kuncinya???

  5. Disini, yang paling menderita itu Baekhyun sebenarnya. Dia benarbenar bingung harus gimana. Sebenarnya, ini sudah salah dari awal. Kalau Baekhyun bener* pergi ninggalin Kris pas sekitar di chap2 kah berapa gue lupaa -___- kalau Baekhyun benerbener pergi dari Kris pas di awal, dan kalau Chan bisa berhubungan intim sama Baekhyun pas dia udh sembuh, gue yakin, Baekhyun gak bakal berpaling. Dr crita ini,kisahnya kayak menunjukan bahwa kekurangan perhatian dan well hubungan badan dalam rumah tangga bisa aja jd awal masalah yang rumt. Gue suka banget ff nya tapi radarada merinding pas liat justru Kris yang tertabrak dan gue takut lagi garabara Kris nyatuin tangan Chanyeol dan Baekhyun. Feel gue ke KrisBaek terlalu besarrr!!!! TvT tapi tetep gue menerima keputusan author apapun itu di ending. Nyesek ndak nyesek.

    Oh iya, ini sbenarnya udh gue baca dr td malam kak ALF. Cuman gue mintaa maafffffffffffff bangetttttt baru komen sekarang. Bukannya gue readers gak tau diri, cuman gue tadi malam emang pengen ngejar banget sampe chap7 supaya bisa gue selesai baca. Mumpung libur, soalnya gue udh kelas 12 TvT. Jadi pas gue mau komen td malam, gue udh kelewat ngantuk dan berakhir dgn tdr penuh akan rasa penasaran TvT

    Oh iya kak ALF, chap final di protek ya? Gimana nih kak cara nya mau minta sandi? Apa yang harus gue lakuin? Gue benerbener cinta sama ini FF TvT Daebak Sagonn!!!! Plis buat ff KrisBaek chapterd lagi kak. Paitingg!!! Kak, password TvT maaf komennya panjang -_-

  6. Hiksssssss andwaeeeeeeeeeee. Krissss!!!😢😢😢 ini angst banget. Bantal basah gara air mata. Kakkkkk ALF tanggung jawab. Hiks. Sumpah. Krisbaek nya pisah? Huwaaaaaaaa kris. Andai aku bisa mendapatkan sosok seperti mu di indonesia.
    Masih kebayang saat baekhyun berjalan dan sesekali noleh “kau jangan kemana mana” hahahaha sukaaa banget ituuu lucu😂
    Chap 8 nya di protect? Gimanaaaaaa cara dapet pw nyaaaaaa kakaaaaa😢😢😢😢

  7. Astaga kenapa jadi kris yg ketabrak :-O drama bgt inih .. Tak tau kesalahan terletak pada siapa .. Bukan kemauan chanyeol mengidap penyakit seperti itu, dn keputusaasaan baehkyun yg mengantarkanny pada kris, lalu keterlanjuran/? kris yg jatuh hati *aduhbahasaoh intinya gada yg mau disalahin titik😀 … Benar , baek yg paling tersakiti yaampun nak nak ckck … Krisbaekkan ya ? Tapi egois dikit gapapalah kak ya ‘semoga ending chap 8 nanti chanbaek yg gusti’ ^^ sebenarnya sakit bgt bca ff ini, secara aku cbhs serasa ikut ngerasain pengkhianatannya baekhyun habis d depan kris manis bgt tp depan chanyul minta maaf aja bilangnya tp kegnya gada penyesalan — tapi emg ga bisa nyalahin baek sepenuhnya si .. Au ah ga bisa ngomong apa2 lg pokoknya ff kak Alf selalu daebak,berhasil,sukses nembus hati apalagi LOVENPAIN sm PAYPHONE ini ^_^ oh iya kak ini aku yg minta pw d fb kemarin hehe terakhir aku komen tuh masih muncul d atas JUNI 2015 , dan skrg MARET 2016 baru dpt pwnya .. Jadilah aku ulang bacany dr chap 6 wkwkkwk ..
    Sgitu aja ah cuap2nya semoga d chap 8 yg pw udah d tangan (horee akhirnya) end nya bakal happy dan tak ada pihak yg merasa tersakiti .. Jahat si tp berharap kris emg berakhir di kecelakaan ini hehe

  8. ALF ….kamu harus tanggung jawab… soalnya gara2 part ini gue nangis ampe ngabisin tisu satu gulung…….ampun beneran deh nyesek banget bacanya……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s