Amaterasu (The Undying Flames)|| ChanBaek-BaekYeol || – [Chapter 8]


ama 8s

Fanfiction-BaekYeol/ChanBaek

Tittle: Amaterasu (The Undying Flames) – Sequel Avenger’s Fault

Author: AyouLeonForever

Cover pic/poster edited by: AyouLeonForever

Genre: Yaoi, Romance, Thriller, crimes, Tragedy

Length: Chaptered- Sequel

Rating: T, NC 17 (untuk adegan kekerasan dan darah-darahan(?), dan juga… ehem, a lil’ bit lime, maybe *evil smirk).

Main Cast:

  • Park Chan Yeol

  • Byun Baek Hyun

  • Kim Jong In/Kai

  • Lu Han

  • Wu Yi Fan/Kris

Support Cast:

  • Oh Se Hun (yang dalam cerita ini udah almarhum)

  • Do Kyung Soo

  • Kim Joon  Myeon /Su Ho

Disclaimer: GOD

Copyright: AyouLeonForever

 

 Preview

 

 

“Kau… Betul-betul ingin bertemu denganku?”

 

DEG~

 

Suara itu!!!

 

 

 

Baek Hyun langsung menolehkan kepalanya ke arah sumber suara itu.

 

 

Dan kedua matanya pun hampir keluar dari tempatnya saat ia memastikan siapa pemilik suara yang memang sangat ingin ditemuinya itu.

Segala aktivitas metabolismenya mendadak bekerja 3 kali lebih cepat dari biasanya. Degup jantung, pernafasan, juga aliran darahnya. Sebagai respon pertama saat ia mendapati sosok yang begitu ia rindukan itu tengah berdiri di hadapannya.

 

Menatapnya sendu…

 

 

“Park… Chan Yeol….” Lirihnya tanpa suara.

 

 

 

Chapter #8

AMATERASU

Kyung Soo menatap aneh benda persegi dan pipih di atas nakas kamar hotel tempatnya dan Su Ho menginap. Itu seperti ponsel, tapi tidak juga karena layarnya hanya menunjukkan grafik dan deretan angka dan huruf aneh. Benda itu berbunyi, “Bip… Bip…” dengan cepat beberapa kali dan terlihat nyala berwarna merah di ujung bendanya.

 

“Hyung… Ponselmu berbunyi!” seru Kyung Soo di depan kamar mandi, karena memang Su Ho sedang mandi sekarang. Namun sepertinya suaranya tak cukup keras karena Su Ho tak juga menyahut, terlebih suara kran shower dari dalam terdengar lebih mendominasi.

 

Namja bertubuh mungil dan bermata indah itupun hanya mengangkat bahu, mengamati benda persegi yang kini ada di tangannya. “Apa semacam mesin penerima pesan?” dan ia pun menekan tombol di tengah-tengah hingga benda itu berhenti berbunyi. Matanya membulat kaget, ia pikir benda itu rusak atau apa, dan dengan bergegas ia kembali meletakkan benda itu di atas nakas, buru-buru naik ke atas tempat tidur dan menyalakan TV. “Mu… Mungkin hanya sebuah alarm. Benar, alarm. Jangan panik, Su Ho Hyung tidak mungkin marah padaku.”

 

 

 

~**Amaterasu**~

 

 

 

Baek Hyun membungkam mulutnya tidak percaya. Di sana, sosok tinggi seorang Park Chan Yeol tengah berdiri, menatapnya sendu dan kelihatan sangat kacau.

 

Ilusi?

 

Entahlah, yang jelas Baek Hyun hendak berlari dan menghempaskan tubuhnya ke dekapan namja itu.

 

“Chan Yeol….” lirihnya dengan suara bergetar.

 

Ne.. Ini aku.”

 

Dan suara itu sebagai pembenaran bahwa sosoknya bukan ilusi.

 

Tangisnya pun pecah, dan ia memaksa kaki lemahnya untuk melangkah ke arah Chan Yeol. Tinggal 3 langkah lagi namun ia dihentikan oleh sebuah benda yang mengacung ke arahnya, sejajar persis ke dahinya. Benda yang terbuat dari logam berat sebagai penyebab mesin pendeteksi itu tak berhenti berbunyi.

 

“Kau ingin mati Byun Baek Hyun?” tanyanya dengan nada yang cukup datar, seolah mati adalah sesuatu hal yang sangat biasa.

 

Baek Hyun masih terisak, kemudian memejamkan mata perlahan. “Jika itu membuatmu tak lagi tersiksa oleh dendam itu Chan Yeol-ah. Maka lakukanlah.”

 

“Kau tahu artinya mati?”

 

Baek Hyun mengangguk pelan, bisa jadi ini adalah interaksi terakhirnya dengan Chan Yeol, untuk itu ia berusaha menjawab sebisa mungkin. “Hm… mati adalah… tidak bisa lagi menatapmu, tidak bisa lagi memanggil namamu, tidak bisa lagi menyentuhmu, tidak bisa lagi merasakan pelukan hangatmu, dan ciumanmu. Mati adalah… tidak berada di sisimu Park Chan Yeol.”

 

 

Benda di tangan Park Chan Yeol itu bergetar, seiring genggaman tangan Chan Yeol yang tidak stabil. “Apa itu defenisi mati bagimu?”

 

Baek Hyun kembali membuka matanya. “Bukankah mati adalah kehilangan kesempatan melanjutkan tujuan hidup? Hari itu… hari di mana aku menyerah dalam dekapanmu, dan aku mengatakan bahwa aku mencintaimu, adalah hari di mana aku meneguhkan keputusanku, bahwa tujuan hidupku… adalah bersamamu. Jadi, jika bagimu kebersamaan kita adalah sebuah kemustahilan, kurasa… mati di tanganmu pun tidak apa-apa. Dengan begini aku tidak akan menyesal karena detik terakhir kehidupanku, kuhabiskan dengan melihatmu dari jarak yang sangat dekat.”

 

Chan Yeol menelan ludah dengan susah payah, masih dengan tangan yang mengarahkan pistol ke kening Baek Hyun. “Aku… masih hidup sampai sekarang adalah untuk membunuhmu Byun Baek Hyun. Tidakkah kau tahu hal itu? Tujuanku adalah melenyapkan semua anggota keluargamu tanpa tersisa. Tidakkah kau paham hal itu?”

 

“Aku tahu…”

 

“Lalu kenapa kau masih bisa bersikap seolah mati bukan apa-apa bagimu?”

 

Baek Hyun tersenyum, ia maju dua langkah hingga ujung pistol itu menempel di kulit dahinya. “Dulu selalu ada kalimat tidak tahu yang akan muncul jika ada pertanyaan seperti ini. Tapi kali ini aku sudah memiliki jawabannya dengan sangat jelas,” tetesan murni mengalir mempertegas garis di kedua pipi tirus Baek Hyun saat ia kembali memejamkan mata. “Karena aku… mencintaimu Park Chan Yeol… sangat mencintaimu, dan jika mati di tanganmu adalah jalan satu-satunya agar kau terlepas dari belenggu yang menyiksamu ini, maka bagiku itu tidak apa-apa, selama itu kulakukan demi kau.”

 

Chan Yeol mengatupkan rahangnya kuat-kuat, terdengar gesekan geraham yang cukup keras pertanda bahwa ia memang tengah berada pada situasi yang sulit.

 

Trak~

 

Dengan tangan gemetar Chan Yeol menarik pelatuk pistolnya, berharap akan ada perubahan ekspresi dari wajah Baek Hyun berupa ketakutan yang mencekam, namun tidak ada apa-apa selain air mata yang terus mengalir dari mata yang terpejam itu, dan senyum ikhlas yang terulas dari bibir tipis itu.

 

“Kenapa Byun Baek Hyun? Kenapa kau tidak takut mati di tanganku?” tanya Chan Yeol dengan suara nyaris tak terdengar.

 

“Karena aku sudah pernah dihadapkan pada hal yang sama. Tapi mungkin dengan akhir yang berbeda. Se Hun tidak melesatkan pelurunya ke jantungku karena ia… mencintaiku, dan berakhir menggantikan dirinya sebagai bayaran atas dendam itu. Kurasa… Sosokmu lebih kuat dari itu Park Chan Yeol…”

 

“Apa yang membuatmu yakin?”

 

“Karena kau adalah seorang Avenger sesungguhnya. Avenger yang akan menuntaskan dendamnya.”

 

 

 

 

~**Amaterasu**~

 

 

 

 

 

Su Ho mengembangkan senyumnya saat melihat Kyung Soo meliriknya sesekali sementara ia tengah mengenakan pakaiannya.

 

“Kenapa?” tanya Su Ho dengan nada menyindir.

 

Ani…  memangnya aku terlihat kenapa?” balas Kyung Soo.

 

Su Ho sedikit merenggangkan otot tengkuknya yang kaku, kemudian menghampiri kekasihnya itu di tempat tidur. “Ada sesuatu?”

 

“Tidak ada,” jawab Kyung Soo gugup.

 

“Kalau begitu ayo tidur. Selama kita masih punya waktu untuk beristirahat.” Su Ho meraih selimut, menarik tubuh mungil Kyung Soo lebih merapat padanya.

 

“Hyung…” lirih Kyung Soo ragu.

 

“Hm apa?”

 

“Itu…” Kyung Soo semakin gugup, terlihat saat ia mengigit bibirnya.

 

“Apa? Jangan membuatku gemas, tolong.” Su Ho meraih wajah Kyung Soo dan mengecup keningnya, juga pipinya.

 

“Itu… Aku… Tidak bermaksud merusaknya. Aku hanya menekan sesuatu, dan benda itu  berhenti berbunyi.”

 

“Benda apa?” tanya Su Ho setengah-setengah, karena ia juga sedikit teralihkan oleh wajah Kyung Soo yang betul-betul membuatnya gemas malam itu.

 

“Benda segi empat yang kukira ponsel. Yang bunyinya bip… bip.”

 

Deg~

 

“Kau bilang benda apa barusan?” sergah Su Ho kaget.

 

“I… itu, yang ada di atas meja dekat ponselmu.”

 

“MWORAGO???” Su Ho menyibak selimut dan segera melompat turun dari tempat tidur. Menyambar alat pendeteksi yang ada di atas nakas dan menyalakannya kilat.

 

Bip…bip…bip…

 

Su Ho meremukkan benda itu di tangannya, langsung menyambar ponsel dan pistol yang tempatnya berdekatan. “Kyung Soo-ya, jangan kemana-mana. Tunggu di sini,” serunya sambil berlari keluar kamar hotel.

 

“Hyung… apa Baek Hyun baik-baik saja?” sergah Kyung Soo panik.

 

Namun Su Ho sudah lebih dulu menghilang dari hadapannya dengan langkah tergesa-gesa.

 

~**Amaterasu**~

 

 

 

 

“Gila!! Kemana Polisi yang menjaga di depan?” pekik Su Ho langsung saat ia tidak melihat seorangpun polisi di depan pintu utama rumah sakit. Ia melanjutkan langkahnya menuju ruang perawatan Baek Hyun yang sebenarnya berada di lantai 2. “Brengsek…” pekiknya bahkan pada lift yang kebetulan saat itu tidak bisa diajak kerjasama. “Byun Baek Hyun… sudah kubilang orang itu tidak akan melepaskanmu!” keluh Su Ho tertahan. Ia memutuskan memakai tangga karena menunggu pintu liftnya terbuka betul-betul membuang waktu.

 

Kagetnya ia saat pertama kali membuka pintu tangga darurat. 4 Polisi berseragam yang seingatnya memang ia minta untuk berjaga di depan kini tengah tergeletak tak sadarkan diri di tempat itu. Tidak ada bercak darah sedikitpun, jadi bisa ia pastikan mereka hanya sukses dibuat pingsan. Yang jelas, hanya pembunuh kelas berat seperti Chan Yeol yang bisa melumpuhkan 4 petugas sekalipun dalam waktu singkat.

 

“Tolong… Jangan sampai terjadi apapun padamu Byun Baek Hyun!”

 

 

~**Amaterasu**~

 

 

 

Derik itu semakin terdengar, sejalan dengan getaran hebat dari tangan kanan Chan Yeol yang menggenggam sebuah revolver. Ia sudah sampai pada akhir yang ia inginkan. Hari yang ditunggu-tunggunya sejak lama hingga ia harus menahan insing pembunuhnya untuk tidak segera melenyapkan Baek Hyun di detik pertama mereka bertatapan mata. Menunggu untuk membuat Byun Baek Hyun jatuh cinta padanya dan menganggap Chan Yeol sebagai hidupnya. Dan di saat itu pula lah moment terbaik mengantarnya pada kematian.

 

Tapi apa itu? Byun Baek Hyun tidak memucat karena takutnya. Byun Baek Hyun tidak menangis karena ketidaksiapannya. Tidak pula berteriak untuk meminta pertolongan. Namja berparas murni itu hanya tersenyum. Kontras dengan air mata yang tidak berhenti mengalir dari pelupuk matanya yang terpejam. Bibirnya yang kering terus berucap lirih. Setiap kata membentuk kalimat yang sukses merajam Chan Yeol habis-habisan.

 

“Aku mencintaimu… Aku mencintaimu… Aku mencintaimu.”

 

Lirih, tapi di telinga Chan Yeol terdengar seperti ledakan bom yang meluluh lantakkan nalurinya.

 

Persetan dengan cinta.

 

Pertaruhan terakhir. Sekarang atau tidak sama sekali.

 

“Byun Baek Hyun…” lirih Chan Yeol. Menuntun namja yang dipanggilnya itu untuk membuka mata sembabnya. “Jika…” Chan Yeol menggantung kalimatnya. Bodoh jika ia membiarkan batinnya menenggelamkan insting pembunuhnya. Tapi ada yang ingin ia pastikan.

 

Baek Hyun menunggu kelanjutan kalimatnya. Masih dengan ekspresi yang sama.

 

“Jika… Kau dihadapkan pada dua keadaan. Dan kau harus memilih salah satunya. Kau akan memilih apa?” Chan Yeol menelan ludahnya yang seperti karang. “Aku membunuhmu sebagai Park Chan Yeol, seorang Avenger tanpa perasaan. Atau… Kau… mati bersama Park Chan Yeol yang… mencintaimu?”

 

Baek Hyun membelalak kaget. Memastikan indera pendengarannya berfungsi sebagaimana mestinya. “A… Apa?”

 

“AKU MENCINTAIMU BRENGSEK! MAKA KUBERI KAU PILIHAN UNTUK MATI BERSAMAKU KARENA PERASAAN SIALAN ITU!”

 

Baek Hyun tersentak ke belakang, refleks menutup mulutnya dengan telapak tangan. Menggeleng cepat dengan air mata berhamburan. Seperti de javu. Saat Se Hun, cintanya itu memeperkenalkannya pada kematian, sebuah tawaran manis serupa yang ditawarkan Chan Yeol terdengar olehnya. Mati bersama… itu ironis, tapi sungguh ada nama cinta sebagai latar belakangnya. Dan dengan polosnya Baek Hyun menjawab bahwa bukankah hidup bersama jauh lebih baik? Dan apa hasil yang ia dapat?

 

Bukan mati bersama, lebih-lebih hidup bersama. Se Hun mati sebagai seorang Avenger yang menyerah. Dan Baek Hyun tidak ingin Chan Yeol mengambil jalan yang sama.

 

“Tidak. Jangan memberi pilihan yang tidak seharusnya dilakukan seorang Avenger. Dalam hal ini, hanya ada satu orang yang harus mati. Dan itu aku.” Baek Hyun kembali mendekat, meraih tangan Chan Yeol yang menggegam pistol dan mengarahkannya pada dada kirinya sendiri. “Mati di tanganmu, dalam keadaan sangat mencintaimu itu sudah sangat membahagiakan untukku. Apalagi setelah aku tahu bahwa kau… juga mencintaiku. Maka aku sudah mendapatkan kebahagiaanku, Park Chan Yeol. Selesaikan tugasmu, dan pergilah jauh-jauh dari tempat ini. Hapus jejakmu dan lanjutkan hidupmu sebagai orang baru. Dan kuharap, saat aku akan menghadap Tuhan, aku tidak akan sungkan meminta pada-Nya untuk mempertemukan kita lagi di kehidupan selanjutnya dalam kondisi berbeda. Sebagai dua pribadi yang saling mencintai, tanpa ada latar belakang menyakitkan bernama rantai dendam dan kebencian.”

 

“Byun Baek Hyun…”

 

“Lakukan… Tolong, harus ada ending berbeda dari yang dilakukan Avenger bernama Park Se Hun. Karena Avenger sebenarnya itu adalah kau.”

 

Krak

 

Chan Yeol bahkan mampu mendengar suara retakan yang disebabkan oleh sesuatu di dalam hatinya. Membentuk celah yang sukses diresapi oleh sesuatu. Menyeruak, menciptakan bimbang yang semakin menyiksanya.

 

Ayahnya…

 

Ibunya…

 

Terakhir, adiknya yang paling ia sayangi…

 

Dengan apa Chan Yeol akan membayar kematian orang-orang tercintanya kalau bukan dengan nyawa Byun Baek Hyun? Anak tunggal dari namja bejat yang telah menghancurkan kehidupannya.

 

Dan Byun Baek Hyun yang menghancurkan harga dirinya sebagai seorang Avenger dengan memberinya sebuah perasaan yang di matanya sungguh asing.

 

Cinta.

 

Dan kini terjawab sudah kenapa Se Hun memilih melenyapkan nyawanya sendiri dari pada melihat namja yang ia cintai mati di tangannya sendiri. Sungguh terkutuk, tapi ini kenyataan, bahwa Chan Yeol kini menempati posisi yang sama.

 

 

Cklek~

 

Bugh… bugh… bugh…

 

“YA  PARK CHAN YEOL!!! BUKA PINTUNYA SIALAN!!! AKU TAHU KAU DI DALAM!!!” seru seseorang dari luar kamar perawatan Baek Hyun.

 

Chan Yeol menoleh dengan lemah, kemudian kembali mengarahkan tatapan terlukanya pada Baek Hyun.

 

“Ya Tuhan, itu Su Ho Hyung. Chan Yeol-ah… cepat bunuh aku, lalu kabur dari sini, cepat lakukan?” seru Baek Hyun panik. Ia buru-buru memejamkan matanya rapat-rapat. Bersiap menerima hunjaman peluru di dada kirinya.

 

Chan Yeol hanya bisa menatapnya nanar. Mendengar dan melihat bahwa namja di depannya ini, yang dengan terkutuknya justru sangat ia cintai, begitu ikhlasnya menyerahkan nyawa demi membebaskannya dari kepungan api dendam yang membara abadi dalam dirinya.

 

Ia kembali memikirkan 2 pilihan. Mati bersama… atau…

 

“BAEK HYUN-AH!!!”

 

Bugh…bugh…bugh….

 

Su Ho sudah kalap mendobrak pintu dari luar. Sedikit menyesal karena dia yang meminta petugas untuk memperkuat kunci ruangan Baek Hyun.

 

Chan Yeol memilih acuh. Ia kembali mengangkat tangannya yang sempat tak berdaya. Di arahkannya ujung pistol itu persis di tengah dahi Baek Hyun. “Ini akhirnya Byun Baek Hyun.”

 

“Ne… lakukan,” tegas Baek Hyun.

 

Chan Yeol mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Terlihat urat pembuluh darahnya yang menebal di sekitar dahi, menandakan betapa ia mati-matian menahan pertarungan antara gejolak amarahnya sebagai seorang Avenger, dan suara hati kecilnya yang terdalam mengenai cinta yang baru dikenalnya.

 

For the true ending…. as….

 

An Avenger… or… as a lover.

 

 

Deg~

 

 

“PARK CHAN YEOL!!! AKU TIDAK AKAN MELEPASKANMU!!!” seruan itu masih menggelegar di luar, sementara Su Ho mati-matian mendobrak pintu.

 

Chan Yeol  memejamkan matanya perlahan. Sedikit mengucap sumpah bahwa ia akan melenyapkan nyawanya sendiri setelah ini selesai.

 

“Demi Ayahku, ibuku, dan Park Se Hun adikku….” Chan Yeol menarik nafas sedalam-dalamnya. Mengembangkan ekspansi dadanya, dan secara tidak sengaja, indra perasa di bagian kulit dadanya yang tak terbalut perban merasakan sentuhan dinginnya logam yang menjuntai di sana. Dan dengan gerak cepat ia merengkuh benda di balik baju yang ia kenakan itu.

 

Kalung berbandul peluru…

 

 

 

 

“Hyung… Hajima… Jebal…”

 

 

 

 

 

 

Deg~

 

 

 

 

 

 

Matanya seketika terbuka, bahkan terbelalak. Wajahnya memucat pasi setelah apa yang baru saja tertangkap oleh telinganya. atau dalam hal ini, batinnya.

 

Demi Tuhan, tidak akan mungkin ia lupakan suara adiknya yang paling ia sayangi itu. Tapi suara barusan adalah…

 

“Tidak mungkin…” Chan Yeol meremukkan kedua tangannya. Dan ia bersumpah….

 

 

….

 

 

 

…. Ia sudah sampai pada limitnya. “Terkutuk kau Byun Baek Hyun!” pekiknya tertahan, kemudian ia hempaskan pistol di tangannya itu entah kemana. Membuat Baek Hyun terkaget dan kontan membuka mata. Tapi belum sempat mendapatkan titik fokus, ia sudah merasakan tangan kekar Chan Yeol mencengkram tengkuknya, dan menariknya untuk mendekat.

 

Sekali lagi, namun dengan cara berbeda. Bibir mereka menyatu tanpa sekat udara.  Tanpa ada pemisah. Tidak dilatari apa-apa selain perasaan yang menumpuk. Terkesan sangat menuntut, mengisyaratkan perasaan yang menggebu-gebu. Dan Baek Hyun tidak butuh waktu yang cukup lama untuk mengerti pilihan terakhir Chan Yeol yang ia ambil dengan pertaruhan mahal itu.

 

Dengan tangis tertahan, Baek Hyun mengangkat kedua tangannya dan menarik jaket Chan Yeol agar namja itu lebih merapat padanya. Seolah meneriakkan bahwa betapa ia rindu namja yang begitu berambisi membunuhnya ini.

 

Sekali lagi dalam sebuah catatan di halaman berbeda…

 

Satu lagi Avenger yang terobati luka dendamnya oleh sebuah perasaan yang seharusnya menjadi musuhnya.

 

 

 

 

 

 

Cinta…

 

 

 

 

 

~**Amaterasu**~

 

 

 

Su Ho menatap jengkel pada belasan polisi yang menghampirinya dengan tergesa-gesa. Dan tanpa aba-aba, beberapa di antara mereka langsung mendobrak pintu kamar yang sialnya tidak bergerak seinchipun itu.

 

 

BRUAAAAKKK!!!

 

 

Su Ho langsung menerjang pintu begitu benda sialan itu akhirnya bisa terbuka. Dengan sigap diarahkannya senjata api yang ada di tangannya ke segala penjuru ruangan. Namun…

 

 

Nihil…

 

Ruangan itu kosong tanpa menyisakan Baek Hyun ataupun jasadnya. Jendela yang terbuka lebar, serta tirai yang beterbangan itu menunjukkan bahwa Chan Yeol membawa Baek Hyun atau jasadnya entah kemana.

 

“KENAPA KALIAN DIAM SAJA??? KEJAR!!!” pekik Su Ho mendarah daging. Belum pernah selama hidupnya ia merasa betul-betul terlihat seperti pecundang di hadapan musuhnya. Dan sungguh, sampai matipun Su Ho tidak akan membiarkan Chan Yeol bebas tertawa di luar sana.

 

 

 

 

~**Amaterasu**~

 

 

 

 

Jalanan itu cukup lengang. Aktivitas pada malam hari di daerah itu memang tidak cukup banyak terlihat. Tapi Chan Yeol memilih sebuah wilayah di pinggir kota Seoul yang cukup sepi itu untuk melepas semua penat yang hampir membuatnya gila.

 

Setengah jam yang lalu, ia sudah sampai pada sebuah titik puncak dimana dua unsur yang paling bertolak belakang dalam dirinya berperang.

 

Logika dan perasaan.

 

Logikanya sudah tidak sehat sejak ia menjadi seorang Avenger, dan semua akan terlihat normal-normal saja jika logikanya itu yang menuntun. Namun perasaan yang sebenarnya terlarang untuk dimiliki seseorang seperti dirinya justru lebih menguasainya detik itu.

 

Di dalam sebuah mobil yang nomor platnya sudah pasti tidak terdaftar di Kepolisian. Chan Yeol duduk di jok kemudi. Menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata. Tangan kanannya tidak memegang kemudi, juga tidak menyentuh tongkat perseneling karena mobil itu memang terparkir rapih dan tersembunyi di balik pepohonan.

 

Bukan masalah, karena sekali lagi perasaan yang menuntun tangan kanannya menggenggam tangan indah di sebelahnya. Tangan dengan jemari lentik yang terasa dingin dalam genggamannya.

 

Untuk sementara, Chan Yeol memutuskan berteman dengan hening dan senyap. Karena memang ia butuh itu. Belum pernah ia merasa lelah yang betul-betul menguras semua energinya jiwa dan raga.

 

Namja di sebelahnya. Byun Baek Hyun juga memutuskan untuk tidak mengganggu. Ia ikut diam, memandangi wajah namja yang dicintainya itu dari samping. Merasakan hangat yang menjalar dari genggaman Chan Yeol yang erat di tangannya. Betul-betul hangat, dan Baek Hyun tidak lupa bahwa Chan Yeol adalah sosok api yang tidak pernah padam.

 

Bisa jadi masih belum padam. Namun api itu bukan lagi api dendam.

 

 

“Aku lapar.” Suara pertama Chan Yeol, masih dengan mata terpejam.

 

“Kucarikan makanan?” tawar Baek Hyun.

 

Chan Yeol membuka matanya, terlihat cukup merah, kemudian menoleh pada Baek Hyun. “Mencari di mana?”

 

“Mungkin di sekitar sini ada toko makanan atau sejenisnya.”

 

“Kau bawa uang?”

 

Baek Hyun langsung memeriksa seluruh pakaiannya, dan benar saja, ia hanya memakai seragam pasien rumah sakit. “Tidak.”

 

Chan Yeol menghela nafas, masih menatap Baek Hyun. “Kurasa kau paham posisi kita. Aku buronan dan kau tawanan. Kita tidak bisa pulang ke rumahmu, ataupun ke apartemenku. Jadi untuk sementara, hanya bisa seperti ini. Menghindari mereka.”

 

Baek Hyun mengulas senyum dan mengelus punggung tangan Chan Yeol dengan tangannya yang satu lagi. “Aku tidak masalah. Kemanapun kau membawaku, asal bersamamu.”

 

Chan Yeol mendesis ringan, masih terlihat sangat lemah. “Apa kau tidak sadar aku hampir saja membawamu ke neraka.”

 

“Tidak masalah. Sudah kubilang, asal aku bersamamu sampai akhir hayatku, mati di tanganmu pun tidak masalah.”

 

“Sudah, jangan bahas itu lagi,” tegur Chan Yeol sembari menanggalkan jaket kulitnya. “Pakai ini, di depan sana ada penginapan. Kita menginap di sana saja untuk sementara.”

 

“Eh? Bukankah kita tidak punya uang untuk makan? Apalagi untuk menginap?”

 

“Kalau masalah uang gampang. Tapi ini perkara serius. Kita tidak bisa berbuat apa-apa dengan kondisi lemah, sialnya aku lupa kapan terakhir aku makan dan beristirahat dengan benar sejak kejadian di makam Se Hun waktu itu.”

 

Baek Hyun kembali tersenyum tipis. “Sama denganku.”

 

Chan Yeol menggumam, lebih dulu turun dari mobil dan menyambut Baek Hyun yang baru turun dari pintu sebelah.

 

“Chan Yeol…” panggil Baek Hyun saat tubuhnya yang mungil dengan begitu mudahnya digendong oleh Chan Yeol.

 

“Hm…”

 

“Apa yang akan kita lakukan setelah ini?”

 

“Kau jangan memikirkannya dulu. Semuanya akan kuselesaikan secepat mungkin. Karena kita tidak sepenuhnya aman. Bukan soal polisi-polisi kacang itu, tapi… ck, nanti kuceritakan.”

 

“Chan Yeol…”

 

“Apalagi? Kau diam saja dulu. Kalau tidak, aku akan membunuhmu.”

 

“Itu… Bagaimana keadaan lukamu?”

 

“Ck, luka seperti itu bukan apa-apa. Mungkin bisa membuat orang biasa sepertimu terbunuh dalam hitungan menit. Tapi tidak untuk seorang Avenger.”

 

Baek Hyun terdiam sejenak, masih menatap wajah Chan Yeol dari jarak yang sangat dekat. “Apakah… Park Chan Yeol masih seorang Avenger?”

 

Srak~

 

Chan Yeol menghentikan langkahnya, menimbulkan gesekan keras dari kerikil jalan setapak yang ia lewati, sedikit menunduk untuk mampu bertatapan dengan Baek Hyun. “Menurutmu?”

 

“Aku tidak tahu. Sikapmu selalu berubah-ubah. Waktu itu di rumahku kau begitu lembut padaku, membuatku lupa bahwa orang yang sedang bersamaku adalah orang yang berambisi untuk membunuhku. Dan di makam Se Hun, kudapati sosok aslimu yang begitu kasar. Membuatku lupa bahwa orang yang ingin membunuhku ini sebelumnya pernah memelukku dengan begitu hangatnya. Dan sekarang pun…”

 

“Byun Baek Hyun….”

 

“Ne?”

 

“Kalau sekali lagi kau melihatku sekasar itu padamu. Tolong lakukan apa saja untuk menyadarkanku, kalau perlu bunuh aku.”

 

Baek Hyun membelalak, jelas terkaget. “Kau gila?”

 

Chan Yeol menghela nafas kemudian melanjutkan langkahnya. “Aku tidak tahu Byun Baek Hyun. Entah kemana sosokku yang itu pergi. Sosok yang ditempa bertahun-tahun, setiap detik berhadapan dengan kekerasan, amarah, senjata dan… darah. Pertama kali dalam hidupku semenjak aku menjadi seorang Avenger, aku tidak bisa menuntun tanganku sendiri untuk meledakkan pistolku. Dan sekarang aku mengerti, betul-betul mengerti kenapa Se Hun lebih memilih melenyapkan nyawanya dari pada melihatmu mati.”

 

Baek Hyun tidak merespon, masih setia menatap rahang kokoh Chan Yeol dari dekat.

 

“Akan kukatakan ini satu kali, dan kuharap dalam waktu dekat jangan memintaku dulu untuk mengulanginya.”

 

“Apa itu?”

 

Chan Yeol menurunkan Baek Hyun di depan pintu sebuah penginapan yang cukup sepi. Resepsionisnya juga sedang tertidur dengan wajah tertutup koran di sana.

 

“Aku…” Chan Yeol menyentuh pipi Baek Hyun dengan tangannya dan mengusapnya perlahan. “Aku mencintaimu.”

 

Baek Hyun seketika membeku. Jika tidak melihat manik matanya yang bergerak memandangi wajah Chan Yeol, maka mungkin orang lain akan mengira ia telah mati berdiri. Sungguh, seperti air matanya yang perlahan kembali menetes, ia betul-beul hampir luruh ke lantai. “Aku… Aku juga…”

 

“Hm aku tahu. Kau sudah mengatakannya ratusan kali.”

 

“Chan Yeol…”

 

Namja tampan berpostur tinggi itu merunduk sejenak. Mengecup kening Baek Hyun dalam kurun waktu yang cukup lama. “It’s okay. Jangan bebani pikiranmu lagi. Kita akan terus bersama.”

 

 

 

~**Amaterasu**~

 

 

 

 

Ahjushi pemilik penginapan itu mengamati dengan teliti sebuah arloji yang baru saja disodorkan padanya.

 

“Itu Luminor Panerai asli, Ahjushi. Dan tipe ini kudapatkan saat aku mengikuti pelelangan di Amerika latin. Jumlahnya hanya 30 unit di dunia,” ucap Chan Yeol, pemilik dari arloji mahal itu.

 

“I… Iya, aku tahu. Aku sudah memimpikan jam ini sejak lama, tapi tidak masuk akal jika kau memberikan jam ini hanya untuk menginap beberapa malam, sementara harga originalnya saja bisa membeli penginapanku ini, bahkan lebih dari itu.”

 

“Tidak masalah. Kami betul-betul butuh tempat sekarang. Kami baru saja mendapat musibah, kami dirampok di tengah jalan dan satu-satunya yang tertinggal untuk kami hanyalah jam tanganku itu.”

 

“Ba… Baiklah. Akan kuminta anakku untuk menyiapkan kamar khusus untuk kalian segera.”

 

“Ah dan tolong bawakan makanan juga dalam porsi besar. Sejak kemarin kami tidak makan.”

 

“Tentu… Tentu saja.”

 

“Dan juga…” Chan Yeol menoleh pada Baek Hyun yang hanya bisa tersenyum di sampingnya itu. “Beberapa potong pakaian untukku dan kekasihku ini.”

 

“Baik… Baik. Apapun akan kami sediakan.”

 

“Terakhir, tolong pastikan keamanan kami.”

 

“Kalian tenang saja, walau penginapan ini berada di wilayah terpencil, tempat ini sangat aman. Kebanyakan yang singgah memang orang-orang luar seperti kalian. Ah, dengan tuan siapa tadi?”

 

“Chan Lie, Wu Chan Lie.”

 

 

 

 

 

~**Amaterasu**~

 

 

“Sepertinya memang sudah putus koneksi Tuan. Komputerku tidak lagi menangkap respon dari alat itu,” lapor seseorang berjubah Laboratorium dengan nametag Dr. Lim di dadanya.

 

Kris mengangkat alisnya tinggi-tinggi, meletakkan gelas minumannya di meja dekat kursi rodanya. “Bukankah kau bilang alat itu akan bertahan paling sebentar 1 tahun?”

 

“Itu jika tidak ada kendala seperti kontak langsung dengan pemindai infra merah dan zat perusak seperti Tar dalam rokok, tuan.”

 

“Jadi maksudmu?”

 

“Suara terakhir yang kita dengar adalah ketika Park Chan Yeol terlibat perkelahian singkat kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan yang kurasa… terdapat alat pemindai infra merah.”

 

Kris menghela nafas pendek kemudian tersenyum. “Beruntung sekali aku masih membutuhkanmu, kalau tidak, sudah kubuat baju putihmu itu bermandikan darah dari kepalamu. Saat alatmu itu gagal untuk Kai dengan alasanmu bahwa Kai perokok aktif, aku bisa memaklumi karena setiap alat yang canggih pasti ada kekurangannya, walau seharusnya sudah bisa kau perkirakan itu sejak awal, dan terakhir dengan santainya kau mengatakan bahwa alatmu itu juga sensitif dengan alat pemindai infra merah?” desisan kesal terdengar sebelum Kris menyambar gelasnya dan membantingnya ke lantai. “Pergi dari hadapanku sebelum aku betul-betul memecahkan kepalamu.”

 

Dr. Lim membungkuk berkali-kali kemudian meninggalkan ruangan pribadi Kris dengan wajah memucat.

 

Kris mendesis marah, dengan cepat ia meraih tongkat golf yang bersandar di meja yang tak jauh darinya, dan dengan tidak sabarnya ia melayangkan tongkat itu hingga menghancurkan satu unit benda yang sudah menjadi ‘mainan’nya beberapa minggu belakangan ini, namun karena benda itu sudah tidak gunanya lagi, maka ia tidak sungkat-sungkan menjadikan benda itu tak berbentuk lagi. Mengabaikan beberapa percikan api kecil akibat kerusakan parah yang disebabkan oleh tongkatnya.

 

“Kai…” lirihnya marah, karena memang satu-satunya orang yang ingin ia hubungi sekarang adalah namja bernama Kai itu.

 

 

 

 ~**Amaterasu**~

 

 

 

 

Seorang yeoja yang ditugaskan pemilik penginapan untuk menyiapkan makanan porsi besar di kamar khusus itu menoleh. Ada yang membuatnya sedikit mengertukan kening. Namja dengan tubuh yang tidak terlalu tinggi keluar dari kamar mandi dengan wajah cantiknya yang bersemu merah, menurutnya, bukan karena air yang dipakai namja itu untuk mandi terlalu hangat, karena ia hapal betul bahwa penginapan milik ayahnya itu menyediakan air untuk mandi dengan temperatur yang cukup. Alasannya ternyata diketahui setelah 10 detik kemudian namja lain dengan postur tubuh tinggi dan atletis juga keluar dari kamar mandi yang sama dengan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Membuat yeoja itu segera menunduk salah tingkah dan bergegas menyelesaikan pekerjaannya.

 

“Makanan sudah siap tuan, silakan dinikmati,” ucap yeoja itu kemudian bergegas keluar dari kamar itu. Sedikit khawatir jika ia akan menangkap pemandangan aneh lagi selanjutnya.

 

“Terima kasih,” balas Baek Hyun sebelum yeoja itu betul-betul pergi. Baek Hyun melangkah pelan ke arah pintu dan menguncinya. Kemudian kembali ke tempat tidur di mana tersedia beberapa bungkus pakaian.

 

“Lapar sekali,” keluh Chan Yeol kemudian menghempaskan duduknya di atas tempat tidur, cukup dekat dengan Baek Hyun yang masih memilah pakaian yang disediakan. Ajaibnya semua pakaian itu masih baru.

 

“Berpakaian dulu sebelum makan, dan ah… sebaiknya perhatikan kondisimu. Itu, bekas lukamu. Tadi terkena air bukan? Tunggu di sini, kuambilkan kotak P3K dulu, sepertinya ada di lemari itu.”

 

“Tidak perlu. Luka seperti ini kalau dimanjakan akan lama sembuh.”

 

Baek Hyun menghela nafas pendek, kemudian menyerahkan sepasang kaos longgar dan jeans panjang untuk Chan Yeol. “Itulah kau, terlalu menyepelekan kondisimu sendiri.”

 

Chan Yeol mendesis acuh, langsung menarik kaos dari tangan Baek Hyun dengan gerak cepat hingga tubuh mungil Baek Hyun kontan ikut terhempas ke pangkuannya. “Meremehkanku?”

 

Baek Hyun menggeleng cepat. “Bukan begitu,” ralatnya cepat, mengingat bahwa Chan Yeol itu memang cukup menakutkan jika sedang mengancam, entah dia sebagai Avenger atau sebagai Park Chan Yeol yang biasanya.

 

“Percaya saja, tertembak di bahu itu bagiku, sama rasanya bagimu saat aku menggigit tanganmu.”

 

“Chan Yeol…”

 

“Aku tidak bercanda. Aku pernah mengalami luka tembak lebih parah dari ini. Hampir memeca jantungku karena letaknya di dada kiri.”

 

“Ughhh…” Baek Hyun kontan menutup mulutnya, menahan mual.

 

“Maaf… Maaf.” Chan Yeol segera menyingkirkan tangan Baek Hyun dan langsung mengecup bibirnya cukup lama.

 

Baek Hyun sudah tidak perlu berpikir beberapa kali untuk tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Secara naluriah ia menumpukan kedua tangannya di dada bidang Chan Yeol dan sedikit-sedikit mengimbangi ciuman Chan Yeol yang sebenarnya tidak pernah membuatnya jenuh. Sebaliknya, ia merindukannya, selalu merindukannya. Sempat mengira bahwa ia tidak akan berada pada posisi ini lagi selamanya.

 

Chan Yeol sudah bersiap merebahkan Baek Hyun di tempat tidur sampai suara-suara aneh mengusik di tengah kegiatan mereka. Baek Hyun lebih dulu menarik bibirnya dan menatap Chan Yeol dengan eskpresi bingung, ditambah pipinya yang merona.

 

“Perutmu atau perutku?” tanya Chan Yeol yang sepertinya juga merasa terganggu dengan suara aneh itu.

 

Molla, tapi suara perut siapapun itu, kurasa kita berdua memang merasakan hal yang sama,” jawab Baek Hyun pelan, juga malu-malu.

 

“Ini yang kukatakan masalah penting. Yang seperti ini pun butuh energi, sementara aku… juga kau sama-sama lupa kapan terakhir kita makan dengan benar.” Chan Yeol bangkit kemudian membantu Baek Hyun berdiri.

 

“Aku benar-benar lapar,” keluh Baek Hyun sembari mengikuti langkah Chan Yeol menuju meja makan yang memang tersedia di kamar sewaan mereka itu. “Beruntung kau memakai jam tanganmu itu. Benar-benar asli?”

 

“Tentu saja, itu kudapatkan saat di Argentina.” Chan Yeol meraih sebuah kursi dan langsung duduk di sana, menarik tangan Baek Hyun untuk duduk di pangkuannya sebelum namja cantik itu memilih kursi lain.  “Sebenarnya milik seorang kepala mafia, musuh bebuyutan orang tempatku mengabdi.” Diraihnya sesendok sop hangat dan disuapkan ke mulut Baek Hyun.  “Aku yang membunuhnya dengan memutuskan leher orang itu,”

 

“Ugh Chan Yeol… jangan membahas hal menjijikkan saat makan.”

 

Chan Yeol tersenyum tipis kemudian menyeka tetesan sup di sudut bibir Baek Hyun. “Suapi aku.”

 

Baek Hyun balas tersenyum, mengusap pipi Chan Yeol pelan dan menatapnya penuh makna. “Kuharap ini berlangsung lama Chan Yeol-ah, tidak singkat. Karena aku… begitu bahagia bersamamu.”

 

Chan Yeol meraih tangan Baek Hyun dan mengecupnya lembut. “Aku akan memperjuangkannya Byun Baek Hyun…”

 

 

 

 ~**Amaterasu**~

 

 

 

 

 

Jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Namun namja berkulit sedikit gelap itu masih juga terjaga. Duduk di tepi tempat tidur dengan pandangan kosong ke depan. Seperti biasa, akan terlihat kepulan asap rokok di sekitarnya, berasal dari benda yang terselip kokoh di sela jarinya.

 

“Eungh…”

 

Kai menoleh pelan saat mendengar keluhan lemah itu. Persis di sebelahnya, Lu Han tertidur cukup pulas namun wajahnya terlihat resah, dengan peluh yang sedikit membuat kulit putihnya mengkilap. Rambutnya pun terlihat agak basah pada bagian ujung, menarik perhatian Kai untuk sekedar mematikan puntung rokoknya, bergeser sedikit kemudian menyeka peluh di sekitar  pelipis Lu Han. “Aku di sini,” lirihnya.

 

Barulah resah itu perlahan meredup. Tangan Lu Han terulur kemudian meraih tangan kokoh Kai yang masih menyentuh wajahnya. Menggenggamnya erat kemudian ia letakkan di depan bibirnya.

 

Kai menghembuskan nafasnya perlahan, kemudian tersenyum miris. Selalu ada rasa sesal, sakit dan rasa bersalah jika ia melihat wajah Lu Han. Namun kembali lagi ia tidak punya kuasa untuk mengendalikan keadaan saat ini.

 

Sudah saatnya kembali menjadi seorang Avenger.

 

 

Kai menunduk, memberi kecupan ringan di sudut bibir Lu Han sebelum ia menarik tangannya agar terlepaas dari genggaman Lu Han. Bertepatan dengan itu, ponselnya yang tergeletak di lantai persis di atas celana jeansnya yang terjatuh acak di sana. Dan ia tidak perlu bertanya siapa yang akan menelponnya di jam-jam tidur seperti itu kalau bukan seseorang yang memegang kendali hidupnya?

 

Sudah pasti itu Kris Wu…

 

Kai memakai celana pendeknya secepat mungkin kemudian menyambar ponselnya dan ia jawab panggilan itu sembari berjalan ke luar balkon.

 

“Kuharap kau terlalu sibuk melatih Lu Han sampai kau tidak sadar bahwa Chan Yeol meninggalkan tempatmu beberapa jam yang lalu.”

 

Mianhamnida Sajang-nim, aku baru saja selesai mengajak Lu Han untuk menembak objek hidup.”

 

Hening sejenak, sampai terdengar tawa pelan di seberang. “Benar begitu? Lalu apa hasilnya?”

 

“Korbannya meninggal kehabisan darah. Dia cukup baik dalam hal menembak, walau tidak tepat sasaran, kurasa… ia bisa.”

 

“Hm, begitu?”

 

“Ne  sajang-nim.”

 

Suara helaan nafas lega terdengar, sepertinya obrolan selanjutnya akan jauh lebih ringan. “Bagaimana tugasmu perihal Detektif itu.”

 

“Akan segera kukirim kabar kematiannya padamu secepatnya Sajang-nim.”

 

“Tidak perlu buru-buru, tapi terserah kau. Lagipula, aku ingin tahu di mana keberadaan anak sialan itu.”

 

Kai mengerutkan keningnya. “Park Chan Yeol?”

 

“Benar, anak didikku yang paling kukagumi perihal dendamnya yang membara tapi pada ujungnya justru berubah menjadi orang yang paling lemah dan menjijikkan.”

 

“Terjadi sesuatu, Sajang-nim?”

 

“Seharusnya malam ini kau sudah mendengar kabar bahwa Chan Yeol telah berhasil mengeksekusi Byun Baek Hyun, tapi apa? Kurasa memang terjadi sesuatu, dan firasatku mengatakan bahwa itu akan cukup membuatku mual.”

 

Kai tidak merespon, menunggu lanjutan kalimat namja di seberang itu. Karena sudah ia hapal betul bahwa penyampaian selanjutnya adalah sebuah perintah yang cukup serius.

 

“Selesaikan dulu Detektif itu, dan pastikan keberadaan Park Chan Yeol tidak begitu jauh dari jangkauanmu. Dan jika saat itu sudah tiba…”

 

Kai menelan ludah dengan hati-hati, takut gugupnya terdengar. Karena jika suara Kris sudah seserius itu, berati memang harus ada nyawa yan harus ia antarkan padanya.

 

“Kuharap kau bisa membereskan semuanya… Tanpa tersisa.”

 

Kai memejamkan matanya sejenak persis di akhir kalimat perintah itu. Sedikit menoleh ke belakang di mana Lu Han terbaring di atas tempat tidur dengan sehelai selimut tebal yang menjadi satu-satunya penutup tubuh polosnya. “Aku mengerti, Sajang-nim. Akan kuselesaikan secepatnya.”

 

 

 

~**Amaterasu**~

 

 

 

 

Baek Hyun betul-betul terkejut saat ia bangun cukup kesiangan dan tempat di sebelahnya sudah kosong. Ia panik dengan pandangan menatap ke sekeliling, hasilnya nihil, tidak ada keberadaan Chan Yeol sama sekali. Ia sudah hampir menangis kalau saja pintu kamar itu tidak terbuka dan menampilkan sosok Chan Yeol yang masuk sembari membawa ransel.

 

“Sudah bangun? Selamat pagi Byun Baek Hyun,” sambutnya sembari meletakkan ransel miliknya sehati-hati mungkin di atas nakas.

 

“Kau dari mana saja?” tanya Baek Hyun dengan suara bergetar.

 

Chan Yeol mengerutkan keningnya, kemudian menghampiri Baek Hyun untuk duduk di sebelahnya. “Aku mengambil sesuatu di bagasi mobil, kau kenapa?”

 

“Tidak,” jawabnya singkat kemudian menunduk. “Kukira kau meninggalkanku.”

 

Terdengar helaan nafas pendek dari namja jangkung itu, diraihnya pelan tubuh Baek Hyun dan didekapnya erat. “Sudah kubilang kita akan terus bersama, dan aku serius.”

 

“Maaf… Aku hanya takut karena setiap terjadi pergantian hari, maka kau pun akan berubah.”

 

Chan Yeol tersenyum tipis, kemudian mengecup kening Baek Hyun lembut. “Tidak akan berubah. Park Chan Yeol yang sebenarnya, adalah Park Chan Yeol yang ini. Dan kuharap Park Chan Yeol yang waktu itu membuatmu takut, tidak akan muncul lagi selamanya, karena dia sudah mati sejak tertembak di makam Se Hun waktu itu.”

 

Baekhyun tidak menjawab lagi. Ia mengeratkan pelukannya di tubuh Chan Yeol, seolah menunjukkan bahwa ia benar-benar tidak ingin kehilangan namja yang sudah begitu ia cintai ini.

 

“Hei, cepat kenakan pakaianmu, ada yang ingin kutunjukkan padamu,” tegur Chan Yeol perlahan melepas pelukan mereka.

 

“Apa?” Baek Hyun menurut, ia meraih sepasang kaos longgar dan celana pendek yang tergeletak acak tak jauh darinya, kemudian memakainya kilat.

 

Chan Yeol mengambil kembali ranselnya dengan hati-hati dan mengeluarkan beberapa komponen logam berat dari dalam.

 

“YA TUHAN!!! ITU SENJATA API?” pekik Baek Hyun saat melihat betapa lincahnya Chan Yeol menyusun komponen itu hingga membentuk satu unit senjata api sejenis pistol.

 

“Tenanglah. Aku membawa ini bukan untuk melukai siapa-siapa.” Chan Yeol menoleh kemudian menarik tangan Baek Hyun hingga mereka duduk berdampingan.

 

“Kenapa bawa benta seperti itu lagi?” tegurnya khawatir.

 

“Bukankah sudah kubilang keadaan kita tidak sepenuhnya aman. Ini bukan mengenai polisi-polisi itu.” Chan Yeol meraih tangan lentik Baek Hyun dan meletakkan benda itu di sana. Baek Hyun yang menerimanya sudah pasti gemetar. “Aku bersumpah akan melindungimu sampai titik darah penghabisan. Tapi ini hanya prediksi, namja itu bisa saja melakukan hal apa saja untuk merealisasikan keinginannya, termasuk membuat keadaan kita terpojok. Sungguh, sebisa mungkin akan kuhindari keadaan ini, tapi jika nanti namja itu melakukan sesuatu sampai aku tidak bisa melindungimu, kuharap kau bisa menggunakan benda ini untuk melindungi dirimu sendiri,” tutur Chan Yeol serius.

 

“Tapi aku tidak bisa… ini sungguh menakutkan.” Baek Hyun kembali menyerahkan senjata yang membuat tangannya mendadak lumpuh itu.

 

“Tidak untuk dalam waktu yang lama Byun Baek Hyun. Aku berjanji, sampai kita sudah betul-betul lolos dari pantauan namja itu, maka aku akan melepaskan benda ini selamanya.”

 

Baek Hyun semakin gelisah, menatap Chan Yeol dengan sangat cemasnya. “Memangnya apa yang diinginkan namja itu padamu? Kenapa tidak dia lepaskan saja kau dengan keputusanmu untuk membebaskan diri dari doktrinnya?”

 

Chan Yeol tersenyum pahit kemudian mengusap pundak Baek Hyun, berniat menenangkannya. “Tidak semudah itu Baek Hyun-ah. Namja yang kumaksud ini bisa jadi bukan manusia, karena dia tidak punya naluri seorang manusia. Aku sudah dididik olehnya bertahun-tahun dan bahkan diangkat menjadi anaknya. Dan dia tidak suka jika ada yang melanggar perintahnya. Aku, Se Hun, dan juga…”

 

Kai…__sambung Baek Hyun dalam hati.

 

“Ah sudahlah. Intinya, ini seperti ia akan mencari anaknya yang durhaka kepadanya.”

 

Baek Hyun langsung menyentuh pipi Chan Yeol, menuntunnya untuk bertatapan. “Tapi kita bisa pergi dari empat ini kan? Memulai hidup baru di suatu tempat yang sulit dilacak olehnya. Kita bisa mengganti identitas diri kita dan__”

 

“Kita tidak membicarakan manusia biasa Baek Hyun-ah, sudah kubilang dia punya kuasa apa saja. Bisa jadi dia juga sudah tahu keberadaan kita sekarang.”

 

“Ya Tuhan…”

 

“Tapi tenang saja. Setidak lazim apapun dia, tapi dia juga pada dasarnya seorang manusia. Dan tidak ada manusia yang tidak punya kelemahan.”

 

“Jadi kau berniat melawannya?”

 

“Aku akan melawan jika dia mengusik kita. Jadi anggap saja kita hanya waspada saat ia bertindak.”

 

Baek Hyun mengeluh untuk kesekian kalinya saat Chan Yeol kembali meletakkan pistol di genggamannya. “Aku tidak bisa menggunakan ini.”

 

“Akan kuajari. Tapi bukan untuk membunuh, hanya melumpuhkan orang yang hendak mencelakaimu. Karena membunuh itu adalah tugasku”

 

“Chan Yeol, aku tidak bisa… tolong.”

 

Chan Yeol terdiam sejenak, masih menatap Baek Hyun lamat-lamat. “Kau mencintaiku?”

 

Sempat membuat Baek Hyun tersentak kaget. “Bicara apa kau? Tentu saja aku mencintaimu.”

 

“Kau ingin terus hidup bersamaku kan?”

 

“Tentu saja, aku bahkan ingin menghabiskan hidupku sampai tua nanti bersamamu.”

 

Chan Yeol tersenyum, kemudian mempererat genggaman tangan Baek Hyun dimana pistol itu berada. “Maka kau harus berjuang bersamaku. Karena kebersamaan kita ini harus dibayar dengan harga mahal.” Chan Yeol mengajak Baek Hyun berdiri, menuju ke jendela yang ia buka tadi pagi, jendela yang menghadap ke belakang penginapan, menampakkan wilayah yang dipenuhi pepohonan menyerupai hutan. Namja bermarga Park itu meminta Baek Hyun berdiri di depannya sementara ia sendiri memeluk Baek Hyun dari belakang. Perlahan Chan Yeol meraih tangan Baek Hyun yang masih menggeggam pistol itu dengan tangannya yang gemetar kemudian mengarahkannya keluar jendela. Persis mengarah pada seekor burung gagak yang secara tidak sengaja hinggap di ranting sebuah pohon. “Anggap ini sebuah pertaruhan Byun Baek Hyun, karena kalau bukan kita yang membunuh, maka…”

 

Dooorr~

 

Mata Baek Hyun membelalak tak percaya saat dengan santainya Chan Yeol menuntun jemari lentiknya menarik pelatuk dan melesatkan peluru menembus tubuh burung gagak yang tidak seberapa besarnya itu hingga hewan itu terjatuh dari atas pohon dan tergeletak di atas rerumputan.

 

“…Kita yang akan terbunuh,” lanjut Chan Yeol setelahnya. Membuat Baek Hyun langsung membalikkan badan dan memeluknya erat. tubuhnya bergetar hebat dan itu tidak main-main.

 

“Apa kita akan baik-baik saja? Apa kita bisa melawan orang itu? Bukankah kau bilang dia bukan manusia?” serbunya panik.

 

Chan Yeol mengulas senyum tipis sembari mengusap punggung Baek Hyun lembut. “Untuk melawannya dengan kekuatan kita sendiri, aku tidak yakin. Tapi aku berjanji, selama aku masih hidup, tidak akan kubiarkan siapapun menyakitimu sedikitpun.”

 

Baek Hyun tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya mengangguk pelan dan mempererat pelukannya di tubuh jangkung namja yang sangat ia cintai itu.

 

 

 

 

 

 

Se Hun-ah… bantu aku melindunginya… melindungi namja yang kita cintai.

 

 

 

 

 ~**Amaterasu**~

 

 

 

 

 

 

Untuk kesekian kalinya Lu Han mengeluh, namun keluhannya kali ini membuatnya terbangun. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali sampai pupilnya terbiasa dengan bias cahaya matahari yang masuk dari balik tirai jendela. Dan melihat itu, Lu Han bisa memastikan bahwa Kai sudah bangun sejak tadi.

 

“Kai? Eodiga?” seru Lu Han dengan suara paraunya. Ia berjalan tertatih menuju sofa untuk mengambil baju mandi tebal berwarna putih dan memakainya, masih dengan tatapan ke   segala penjuru ruangan mencari sosok Kai.

 

Sayup-sayup ia menangkap suara aneh dari luar, tepatnya mungkin ruang bawah tanah rumah itu. Dan Lu Han tidak berpikir dua kali untuk keluar dari kamar kemudian sedikit berlari menuju ruang bawah tanah yang bisa jadi bisa menjawab di mana keberadaan Kai.

 

Dan tepat seperti dugaannya. Di sana, dengan lincahnya Kai merakit beberapa komponen senjata di atas meja kayu yang panjang. Melihat sudah ada 4 sampai 5 unit senjata berbeda jenis yang dia selesaikan, Lu Han menjamin bahwa Kai sudah cukup lama di ruangan itu.

 

“Kai…” sapa Lu Han pelan.

 

Kai mendongak sebentar, kemudian mengulas senyum tipis. “Ah, sudah bangun?”

 

“Hm, maaf aku kesiangan,” jawabnya kemudian menghampiri Kai perlahan.

 

“Tidak apa-apa. Jika kau masih lelah, lanjutkan saja tidurmu.”

 

“Aku sudah baikan.” Lu Han meraih satu unit pistol yang sudah lengkap dan mengecek pelurunya. “Kau ada misi apa?”

 

“Detektif itu. Harus kulenyapkan hari ini juga.”

 

“Tapi apa perlu dengan senjata sebanyak ini?”

 

Kai menoleh, mengambil alih senjata dari tangan Lu Han dan mengeceknya sekali lagi.  “Ini saja cukup. Dan beberapa perangkat tambahan mungkin.”

 

“Lalu sisanya?”

 

Kai tersenyum penuh makna. “Apa salahnya berjaga-jaga,” jawabnya sembari memasukkan pistol itu di balik saku jaketnya.

 

“Ya sudah, semoga kau sukses Kai,” ucap Lu Han sembari menyentuh pundak Kai sebagai pegangan ketika ia mengecup ringan bibirnya. Membuat Kai mematung sejenak.

 

“Kau mau kemana?” tanya namja berkulit sehat itu saat melihat Lu Han hendak beranjak.

 

“Ke dapur, menyiapkan sarapan untuk Chan Yeol.”

 

“Kurasa tidak perlu, Chan Yeol tidak ada di sini.”

 

Lu Han tersentak kaget, refleks kembali menoleh. “Maksudmu?”

 

“Dia pergi.”

 

“Kemana?”

 

“Tempatnya hanya satu, namun tujuannya ada dua. Ia pergi menemui Baek Hyun, dan tujuannya adalah… untuk membunuh atau justru menyelamatkannya.”

 

“Tidak…!” Lu Han meraih pegangan terdekat, dan itu adalah ujung meja tempatnya menyandarkan pinggang saat ia hampur limbung. “Kumohon… jangan yang terakhir.”

 

Kai menghembuskan nafasnya cukup panjang, kemudian menghampiri Lu Han. Menggendongnya dan mendudukkannya di sofa panjang berwarna cokelat di dekat lemari. “Tidak ada yang bisa menebak Lu Hannie. Di sini kita bertemu pada dua realita yang masing-masing berada pada posisi kuat. Pertama, Park Chan Yeol hidup dan bertahan sampai sekarang adalah untuk menuntaskan dendamnnya, dan yang kedua… kenyataan bahwa dia akhirnya jatuh cinta pada Baek Hyun hingga tidak bisa melenyapkannya di makam Se Hun waktu itu tetap tidak bisa kita abaikan begitu saja. Intinya, jika kau ingin Chan Yeol membunuh Baek Hyun, maka berharaplah bahwa dendamnya selama bertahun-tahun tidak padam begitu saja oleh cinta yang baru tumbuh beberapa bulan belakangan ini.”

 

“Kai…”

 

Namja tampan itu segera menyeka tetesan air mata yang membasahi pipi mulus di depannya itu, mengulas senyum hangat dengan maksud menenangkannya. “Aku tidak ingin munafik. Jujur saja, aku tidak menginginkan kematian Byun Baek Hyun. Tapi ini perintah, jadi aku tidak menolak saat Kris Sajang-nim memintaku mengajarimu menggunakan senjata yang kemungkinan pada akhirnya akan kau gunakan untuk melenyapkan nyawa Baek Hyun, menggantikan tugas Chan Yeol.”

 

“Aku… Aku… akan membunuhnya,” lirih Lu Han dengan suaranya yang bergetar hebat. Seiring deraian air mata kecewanya.

 

Kai menghela nafas sekali lagi kemudian ia biarkan Lu Han merebahkan kepalanya di dada bidang milik Kai. Tempat yang sekiranya bisa melepas penat Lu Han sejenak. “Maaf, tapi aku harus mengatakan ini Lu Hannie. Masalahnya, jika benar Chan Yeol melindungi Baek Hyun, maka kau akan menemui kesulitan. Kau tidak boleh lupa, diantara kami bertiga, Chan Yeol lah yang paling tidak bisa diremehkan kemampuannya. Kecuali jika kau tidak sendiri menghadapinya dan… Sajang-nim ikut turun tangan dalam hal ini.”

 

“Bantu aku Kai, jebal… bantu aku menyelesaikan semua ini. Dan setelah itu, bawa aku kemanapun bersamamu. Tinggalkan Sajang-nim dan kita memulai hidup baru tanpa ada latar seorang avenger lagi.”

 

Kai tidak menjawab dengan kata-kata. Hanya sebuah senyuman tipis dan simpul. Kaya akan makna, namun salah satunya adalah sesal.

 

Sesal karena tidak akan pernah ada hidup baru untuk mereka berdua di masa depan. Dan pada akhirnya, jika saat itu harus tiba, Kai hanya bisa mengucapkan kata…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Maaf

 

 

 

 

 

 

~**Amaterasu**~

 

 

Kyung Soo langsung berlari menghambur ke arah Su Ho yang petang itu baru pulang ke rumahnya.  Tepatnya rumah Kyung Soo, karena Su Ho tahu bahwa Kyung Soo ada di sana. “Maafkan aku.. maafkan aku…” serunya sambil menangis.

 

“Kenapa kau minta maaf?” tanya Su Ho sembari melepas pelukan Kyung Soo darinya. Menatapnya lembut dengan mata lelahnya.

 

“Karena kecerobohanku. Kau terlambat menyelamatkan Baek Hyun, semua salahku… salahku. Jika benar terjadi apa-apa pada Baek Hyun, semua salahku… aku pantas mati.”

 

Su Ho menggeleng kemudian mengusap rambut Kyung Soo dengan sayang. “Tidak, bukan salahmu. Sejak awal memang aku yang salah. Kupikir karena 6 hari berlalu tanpa reaksi dari Park Chan Yeol, maka Baek Hyun sudah selamat. Ternyata perkiraanku salah. Justru di saat aku melemahkan pengawasan, namja sialan itu mengambil kesempatan.”

 

“Hyung…”

 

“Tenanglah, aku berani menjamin bahwa Park Chan Yeol tidak akan bisa seinchi pun meninggalkan Seoul. Jadi jangan khawatir. Aku juga mendapat informasi akurat bahwa Baek Hyun belum mati.”

 

“Hyung…” raung Kyung Soo menumpahkan tangisnya di bahu Su Ho.

 

“Tenanglah, semua akan baik-baik saja,” balas Su Ho sesekali mengecup puncak kepala kekasihnya itu.

 

“Aku takut Hyung, aku takut. Tidak bisakah Park Chan Yeol ditangkap secepatnya, dihukum seberat mungkin agar Baek Hyun terbebas?” Kyung Soo menatap Su Ho penuh harap, masih dengan mata sembab dan air mata terburai. “Aku tidak ingin masalah ini berlarut-larut dan membuatmu ikut terseret dalam bahaya. Aku… aku tidak ingin terjadi apa-apa pada orang-orang yang penting dalam hidupku. Aku tidak ingin…”

 

“Ssstt…” potong Su Ho cepat sembari menempelkan telunjuknya di permukaan bibir tebal Kyung Soo. “Jangan kau cemaskan apapun. Percayalah padaku, Baek Hyun akan baik-baik saja, aku juga akan baik-baik saja, dan kau… tentu saja tidak akan kubiarkan terjadi apa-apa padamu. Bukankah aku sudah berjanji akan menikahimu setelah semua ini selesai?”

 

“Hyung…”

 

Su Ho tersenyum tipis, kemudian mengecup kening Kyung Soo untuk sedikit menenangkannya. “Kau adalah sumber kekuatanku. Melihatmu menangis rasanya aku kesulitan berpikir apa-apa mengenai kasus ini. Jadi tolong… jangan salahkan dirimu, jangan terbebani masalah ini dan percayakan semuanya padaku.”

 

Kyung Soo mengangguk cepat sembari mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Cara terakhir agar tangisannya tidak terdengar lagi.

 

 

Beberapa detik kemudian, keheningan itu dipecah oleh suara bel yang bersahutan lambat. Su Ho melepaskan pelukannya dan menatap Kyung Soo bingung. “Sejak kapan kau menerima tamu menjelang malam?”

 

Kyung Soo jelas  menggeleng tidak paham. “Aku tidak tahu, mungkin saja orang dari cafe, karena aku tidak memantaunya sudah hampir seminggu.”

 

“Eum, begitu. Ya sudah, kau terima tamu saja dulu. Aku ingin menumpang mandi di sini.”

 

Kyung Soo mengusap sisa air matanya kemudian mengulas senyum tipis. “Pakaianmu ada di lemariku Hyung.”

 

Thanks dear…”

 

 

 

~**Amaterasu**~

 

 

 

Kyung Soo mengusap matanya berkali-kali saat ia membuka pintu rumahnya. Bukan karena apa-apa, hanya saja sedikit tidak percaya melihat siapa yang bertamu petang itu. “K… Kai-shii?”

 

Kai tersenyum cukup hangat sembari merapatkan jaketnya. “Hai, apakah aku mengganggu?”

 

“Tidak… tentu saja tidak. Hanya saja aku cukup terkejut kau mengunjungiku.”

 

“Itu, eum… Apa kau tahu Baek Hyun kemana?” tanya namja tampan itu, yang sebenarnya hanya dia yang tahu bahwa itu adalah basa-basi.

 

Kyung Soo tersenyum pahit, kemudian menunduk. “Itu yang sedang kupikirkan sekarang. Baek Hyun… tidak kuketahui keberadaannya. Apa dia selamat, ataukah…”

 

Kai memicingkan mata, teringat bahwa namja manis di depannya ini juga hampir kehilangan nyawanya karena obsesi Chan Yeol yang sempat tak beralasan. “Terjadi sesuatu?” tanya namja tampan itu seolah turut perihatin.

 

“Heum, tapi sebaiknya kau masuk dulu. Di luar dingin.”

 

“Ah ne, terima kasih.”

 

Kyung Soo buru-buru membereskan ruang tamu yang yang cukup banyak bertebaran tissue bekas. “Maaf sedikit berantakan.”

 

“Tidak masalah. Aku tahu perasaanmu, mengingat kau dan Baek Hyun sudah seperti saudara,” ucap Kai memaklumi. “Jadi bisa kutahu apa yang terjadi?” lanjut Kai setelah ia merapatkan duduknya di sofa tamu.

 

“Hm, banyak hal Kai-shii, bukan sesuatu hal saja. Tapi mengingat kau adalah sahabat Se Hun, kekasih terdahulu Baek Hyun, jadi kuharap kau tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Kyung Soo mengusap air matanya yang kembali terburai. “Tidak bisa kujelaskan, tapi aku betul-betul takut terjadi apa-apa pada Baek Hyun,” lanjutnya dengan suara kembali bergetar.

 

Kai memasang ekspresi prihatinnya, secara naluriah ia bergeser mendekat ke arah Kyung Soo dan merangkul pundaknya.

 

Merasa mendapat sandaran, Kyung Soo justru membenamkan wajahnya di dada Kai dan terisak di sana. Ia sendiri tidak tahu alasannya, seketika ia lupa bahwa ia telah berjanji pada Su Ho untuk tidak menangis lagi.

 

Sedikit ragu, Kai mengelus punggung Kyung Soo, berusaha menenangkannya.

 

“Mianhae Kai-shii, mianhae…”

 

“Tidak apa-apa. Menangislah kalau kau memang ingin menangis.”

 

Dan jujur saja Kyung Soo memang lebih ingin menangis sekarang daripada bersikap seolah tegar di hadapan Su Ho. “Mianhae…”

 

“Gwenchana…”

 

 

 

“Maaf, tapi bisa aku tahu apa hubunganmu dengan Kyung Soo?”

 

Kyung Soo kontan membuka mata sembabnya kemudian melepaskan diri dari dekapan Kai. Seketika menoleh dan mendapati Su Ho yang berdiri di anak tangga pertama.

 

“Hyung…” Kyung Soo menghapus air matanya kilat kemudian berlari ke arah Su Ho untuk memeluk lengannya. “Dia Kai, teman lama Baek Hyun. Dia juga termasuk orang yang membantu Baek Hyun bangkit dalam keterpurukan.”

 

Su Ho mengangkat alis kemudian menatap Kai waspada. “Bisa kutahu tujuanmu ke sini Kai-shii?”

 

Kai ikut berdiri memasang senyum ramah. “Tadi siang aku mencari Baek Hyun di rumahnya, tapi dia tidak ada. Dan kupikir Kyung Soo tahu keberadaan  Baek Hyun sekarang.”

 

Su Ho memicingkan matanya. Ini aneh, tidak ada yang mencurigakan dari sosok Kai ini, tapi firasatnya menangkap sesuatu yang ganjil.  “Baek Hyun diculik,” ucap Su Ho tiba-tiba.

 

“Siapa yang menculiknya?”

 

Su Ho mengangkat sebelah alisnya, takjub akan respon santai dari orang yang dikatakan Kyung Soo sebagai teman lama Baek Hyun. “Seseorang yang mengincarnya sejak dulu, kakak kandung dari Park Se Hun yang sukses membantai keluarga Baek Hyun dengan latar dendam keluarga,” jawabnya sembari melangkah maju. Tanpa kentara ia menarik  tangan Kyung Soo untuk berdiri di belakangnya.

 

Kai hanya bisa menahan senyum takjubnya, melihat kewaspadaan Su Ho yang spontan itu, Kai tahu jelas bahwa memang dia bukan orang biasa. “Aku tahu, karena aku adalah teman Park Se Hun di Beijing. Apa Baek Hyun tidak pernah cerita?”

 

Bip…bip…bip…

 

Su Ho menelan ludah susah payah, menghentikan langkahnya tepat di saat alat pendeteksi di sakunya berbunyi. Ia sudah tidak mencerna betul kalimat terakhir yang dikeluarkan Kai karena ada yang lebih penting dari hal itu.

 

Tentu saja alasan kenapa alat pendeteksi senjata api itu berbunyi sementara alat itu sudah ia program untuk tidak memberi respon pada revolver-nya. Sedikit hati-hati ia merogoh alat itu dan memperhatikan layarnya. Grafik menunjukkan keberadaan senjata api dengan radius tak cukup 2 meter dan terbaca sebagai pistol berjenis magnum F92.

 

Kai tersenyum simpul. Mainan seperti itu sudah berkali-kali dilihatnya, bahkan lebih canggih karena bisa mendeteksi senjata api dalam radius 10 meter. Untuk itu dia bisa menebak kelanjutannya adalah…

 

“Letakkan senjatamu Kai-shii, atau aku tidak akan segan-segan melumpuhkanmu,” ancam Su Ho yang ‘sudah diperkirakan’gerakannya oleh Kai saat ia mengeluarkan revolvernya dan menodongkannya ke arah Kai.

 

“Hyung!!” pekik Kyung Soo tertahan.

 

“Mundur Kyung Soo-ya, namja ini membawa senjata.”

 

Kai akhirnya tertawa karena betul-betul tidak bisa menahannya. “Pelan-pelan saja Detektif Kim, kau terlalu kaku”

 

“Jangan banyak bicara!!! Angkat tanganmu ke atas,” bentak Su Ho sembari perlahan mendekat ke arah Kai, tidak lepas fokus dengan senjata yang terus mengarah ke dada Kai. Selanjutnya dengan mudah ia membuat namja tinggi itu berlutut dengan kedua tangan terangkat ke atas. Ekspresinya yang begitu santai membuat Su Ho meradang dan langsung melumpuhkan Kai dengan menghantam pelipisnya dengan gagang revolver miliknya. Cukup ampuh membuat luka yang mengucurkan darah segar.

 

“Oh, jadi kau tidak ingin diajak bermain? Baiklah,” Kai menurunkan tangan kanannya untuk meraih sesuatu di balik jaketnya.

 

“KUBILANG JANGAN BERGERAK!!!” bentak Su Ho langsung menarik pelatuk pistolnya.

 

Kai tersenyum, menyiratkan makna yang hanya bisa dipahami orang-orang sepertinya. “Kau menghabiskan waktu berapa tahun untuk belajar menggunakan senjata? Kau sungguh payah!” ucapnya tidak menunjukkan sikap menurut.

 

“KAU!!!”

 

 

DORRR!!!

 

 

 

Kyung Soo yang sejak tadi gugup luar biasa di belakang langsung membungkam mulutnya tak percaya, dan detik berikutnya…

 

 

 

 

 

 

 

“HYUUUUUUUUNNNGGG!!!!!!”

 

 

 

~**Amaterasu**~

 

 

 

 

Baek Hyun ambruk ke tanah berumput yang lembab itu, di tatapnya nanar papan kayu berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri sejajar dengannya. “Aku tidak bisa… Aku tidak bisa,” pekiknya dengan suara bergetar. Seiring tangannya yang melemah dan melepas pistol yang sejak tadi membuat tangannya keringat dingin.

 

“Sedikit lagi Baek Hyun-ah, luruskan sikumu dan tatap titik fokus di depan itu, setelahnya tarik pelatuk dan__”

 

“AKU TIDAK BISA!!!” pekiknya frustasi. “Bahkan jika orang yang kuhadapi nanti adalah orang yang menyerupai malaikat maut, aku tetap tidak bisa melesatkan peluru ini ke arahnya. Aku tidak bisa Park Chan Yeol… aku tidak bisa…”

 

“Baek Hyun-ah…”

 

Namja mungil itu mengusap air matanya cepat kemudian memaksa kakinya yang bergetar untuk berdiri. “Maafkan aku Chan Yeol-ah…” pintanya kemudian berniat beranjak kembali ke penginapan.

 

“Tunggu…” cegat Chan Yeol bertepatan saat ia mencekal pergelangan tangan Baek Hyun. Cukup tertegun karena benar bahwa tangan Baek Hyun betul-betul dingin.

 

“Aku tidak bisa Chan Yeol-ah, tolong jangan paksa aku.”

 

“Tidak, aku tidak akan memaksamu. Hanya ingin memberikanmu gambaran untuk sebuah kondisi yang bisa saja terjadi di waktu yang akan datang.”

 

“Maksudmu?”

 

Chan Yeol tersenyum kemudian berjalan meninggalkan Baek Hyun yang masih tidak mengerti kemana arah pembicaraan mereka. Dan beberapa detik kemudian firasatnya memburuk saat Chan Yeol berdiri persis di sebelah papan target yang dibuat Chan Yeol tadi siang dan menancapkannya persis di sebuah area yang dikelilingi pohon, tak jauh dari penginapan.

 

“Jangan bilang kalau…”

 

“sekarang tembak papan targetnya,” seru Chan Yeol sembari bersandar di batang pohon raksasa tempat melekatnya papan target itu.

 

Baek Hyun membelalak tak percaya. “APA KAU GILA?”

 

“Lakukan! Bisa jadi akan ada kondisi seperti ini, saat salah satu dari mereka membuatku terpojok dan akan membunuhku, apa yang akan kau lakukan? Diam saja? Dan melihatku terbunuh?”

 

“Park Chan Yeol… apa kau sadar apa yang kau lakukan? Kau memintaku melesatkan peluru ke arah sana yang 90 % kemungkinannya justru mengenaimu?”

 

Chan Yeol melipat tangan di dada sembari tersenyum. “Setidaknya masih ada 10 % kemungkinan kau berhasil. Dan aku yakin pada 10 % itu.”

 

“Tidak… aku tidak mau, aku tidak ingin kau terluka.”

 

Chan Yeol menghela nafas, kemudian mengambil satu unit pistol lain dari sakunya. “Maaf Byun Baek Hyun, tapi kau harus.”

 

Baek Hyun semakin membelalak, hampir ambruk saat melihat Chan Yeol dengan snatainya meletakkan ujung pistol di pelipisnya sendiri. “KAU GILA… KAU GILA!!!”

 

“Lakukan Byun Baek Hyun, tolong. Demi kita, demi keseelamatan kita, demi kelangsungan hidup kita.”

 

“Tapi tidak dengan__”

 

 

Traak~

 

 

Baek Hyun hampir melompat saat Chan Yeol dengan santainya menarik pelatuk pistolnya. “Jika begitu, lebih baik kita mati saja di sini. Bukankah tidak ada bedanya karena memang sudah tidak ada kesempatan untuk berjuang?”

 

“Chan Yeol jebal… jebal…”

 

“Satu…”

 

Baek Hyun terperanjat, dan langsung mengambil pistol yang tadi tergeletak di tanah, seketika mengarahkannya ke papan target, namun tangannya yang bergetar justru tidak mampu betul-betul mendapatkan titik fokus.

 

“Dua…”

 

“Park Chan Yeol kumohon aku tidak bisa… ini sama saja kalau kau ingin membunuhku,”

 

“Bukan… ini seperti kau melihatku hampir di tembak mati oleh namja itu.”

 

“Park Chan Yeol…”

 

“Tig__”

 

“PARK CHAN YEOL!!!!”

 

 

Doorrr…

 

 

 

 

 

 

~**Amaterasu**~

 

Kris tersenyum saat melihat layar ponselnya. Dan nama Kai tertera dengan tegasnya di sana.

“Selamat malam anakku sayang. Ada yang ingin kau sampaikan?”

“Aku sudah membereskan Detektif itu Sajang-nim.”

“Hm, mengingat itu adalah kau, tentu saja aku akan mendengarkan kabar gembira. Lalu apa yang tersisa?”

Hening sejenak, sampai kemudian terdengar suara batuk dan nafas terengah-engah dari Kai. Suara beratnyapun mengisyaratkan kalau dia tidak sedang dalam kondisi baik. “Tidak ada Sajang-nim, hanya luka tembak ringan di lenganku.”

“Kalau begitu istirahatlah. Kita butuh kondisimu yang betul-betul fit. Park Chan Yeol telah melanggar aturanku, dan balasan akan menimpanya tidak lama lagi.”

“Ne Sajang-nim.”

That’s my son. Aku akan mengunjungimu dua hari lagi, dan kau tahu? Aku paling suka kejutan penyambutan darimu.”

“Tentu saja Sajang-nim. Akan kupersiapkan.”

“Bagus. Beristirahatlah.”

“Kamsahamnida Sajang-nim.”

Kris melebarkan senyumnya setelah meletakkan kembali ponselnya di atas meja.

“Anda terlihat bahagia sekali Tuan, ada kabar gembira?” tanya seorang namja paruh baya berjubah Lab.

“Hm, bukan mengenai misinya yang berhasil. Tapi sebentar lagi seleksi terakhir mengenai siapa yang akan menjadi penerusku akan segera terlihat. Sungguh sayang, Park Se Hun gugur lebih awal.”

“Saya takjub Tuan. Sejak dulu saya memang melihat potensi yang anda inginkan berada pada diri Kai.”

“Aku tahu, bukan perkara dia lebih lama kudidik ketimbang Chan Yeol, bukan juga karena dia terlalu penurut. Ada sesuatu yang dia punya tapi tidak dipunyai Chan Yeol dan Se Hun.”

“Apa itu?”

Kris tersenyum, sarat akan makna. “Aku akan segera mengetahuinya saat berhadapan langsung dengannya, dan tentu saja dengan… Park Chan Yeol.”

“Jadi anda masih mengharapkan Chan Yeol?”

“Tentu saja. Walau bagaimana pun, dialah yang akan berdiri di ujian terakhir bersama Kai. Dan di situlah kita lihat, siapa yang pantas menjadi… Avenger yang sebenarnya.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 tbc

 

ALF special Note: Ehem halo… ajegile hancur sudah ini FF, sorry sorry kalo jatuhnya ancur gini. Pengaruh nganggurin FF ya gini, kerangkanya ilang, padahal udah dipikir ampe beneran ending. SALAHIN KRIS YANG SOK SOK MINTA PERHATIAN DENGAN BERUBAH MENJADI BANG TOYIB #dibekap Soekarno Hatta

 

Kalo gak salah FF pure ChanBaek sisa ini ye wkwkkwkwk kamfret gue #eh?
lumayan waktu itu ilam ngasih pic Chanyeol yang sekseh naujubileh, bangkitin api dendam(?), err maksudnya semangat buat nerusin amaterasu, lagian kemaren menang polling(?).

 

A sudahlah, mau kacau ya kacau aja ini FF, terserah mau dibakar mah, asal tetep ye sisain Baek Hyun buat ALF. Kris juga, eh Kyung Soo jangan lupa, eum detektip Oh juga ding, sama Chan Yeol kalo bisa, err Kai deh Kai… ha? Masa ALF lupa Lu Han, ya sudah sekalian ama Su Ho, tapi gak enak juga gak ada Lay, ah Umin juga makin kece, apalagi kalo deketan ama halilintar Chen, tapi semua gak bakal kece kalo Tao gak gabung.

 

Wkwkwkkw ambil semuaaa…

 

Btw ALF baca respon dan reviewnya buat LNR, serius ALF terharu banyak yang suka #peluk satu-satu. Mian sekali lagi ALF jelek banget gak bisa balas satu-satu, tapi intinya ALF terima kasih banget sama apresiasinya, juga masukan dan sarannya. Wkwkw endingnya nanti ye, chapternya pendek kok kea Baek Hyun. #ditalak

 Btw chapter depan di protek ye, jadi yang belom lengkap komennya sejak Avenger’s fault harap dilengkapi, supaya pas diinterogasi ama Byun Kyeongjal-nim gak nemu kesulitan.

NEXT CHAP WOULD BE THE ENDING (heheh maybe)

 

Ya sudah, segitu dulu, ALF mau ngerjain project lain menjelang hiatus kudu kelar semua. Okeh…

 

Kalo ada typo tandain dulu, ntar ALF benerin kalo sempat.

 

Adioss… salam pramuka. ALF cinta kalian semua.

 

Siders tidak… apalagi plagiator, lebih2 si sebar pw. ALF benci(?)

 

 

Sudah… wassalam…

350 thoughts on “Amaterasu (The Undying Flames)|| ChanBaek-BaekYeol || – [Chapter 8]

  1. Uh gheelak gue mo komen aja nyekrolnya (apaan bahasa gue nyekrol omegat ampuni) lama banget kaya nunggu gue taken ^^v btw, ga ada yg bisa dicela sama sekali dari ini cerita. SEMUA PERFÉCTO ALDENTE DAEBAK MARVELOUS SANGAR BAH! Jadi ini gue ceritanya harus coment disemua chapter? Okeh! gue jabanin mumpung liburan imlek dah.

  2. Bentar nafas dlu yg dlm ya,’
    Huuuft,
    Bnyk bgt pertnyaan d pkiran q.#kebiasaan
    Suho gmana suho.?’
    Chanyeol jga,’ bnyk bgt suara tmbakan tpi q g tau gmana hsilnya.klo maen tbak2an mgkn yeol msh idup,trus gmana dgn suho.?’

    Mksd bereskan tanpa sisa,kai d suruh bnuh smua ny.? suho,kyungsoo,baekhyun,chanyeol dan luhan.
    Sumpah y sbnerny si kris it maunya ap sich,

    Smga cpet d update ma kak alf dech,bner2 bkin penasaran, mendebrkan kya nunggu eksekusi(?) ,
    Smgat ya kak alf,klo motifasi ny fto yeol yg sexy ntar q cri d gugel dah ,hehegehe

  3. OMG, dri pertama q baca ni ff, q gc berhenti nahan nafas n bekep mulut (?) gra” tegang, aaa ff admin daebak smua😀 (y) ampe rela gc nyelesein kasus yg hrs q revisi demi gc pnsran tp di bwh tertulis 3 kata yg paling membuat q kecewa “To Be Continue” bnr” pnsran sma kelanjutan’a di tunggu part 9’a update smga gc lama” truz smga ChanBaek Happy ending (/\) Fighting admin,!!!

  4. bener kan chanyeol nemuin baekhyun, pengen ngebunuh baekhyun tp ga sampe hati.
    alasan lain dia begitu mencintai baekhyun n menguapkan jiwa avenger di hatinya.
    ckkkk. jd buronan polisi n yg jd tawanannya kekasihnya sendiri,,, ehhemmmm….. seneng donk.
    tp kenapa baekhyu. hrs di ajari menembak. dia begitu polos n baik hati. ga sampe hati. melihat baekhyun melukai orang lain.
    ohhh suho. apa dia beberan mati. kenapa kai hrs ngebubunuh suho?
    aku kesel sm kris. sebenernya yg ada di otaknya itu apa? jng2 dia makan peluru atau bubuk mesiu. otaknya rada geser.

  5. Aishh, alhamdulillah Chanyeol sadar:D Itu yg bicara sama Kris siapa sih? Malaikat nya Kris mana lagi, ish, Tokoh yang misterius siapa duhh. Kai cepatlah sadaaaaarr>< kalian ini diperalat:3*bahasanya_- Baekhyun kamu pasti bisa, bersabarlah darl:* Baekhyun harus kuat:( Chanyeol, Kai, Luhan, Kyungsoo juga:( itu Suho hiks, bakalan banyak nimbulin dendam lagi gini mah:3*soktau ceritanya kereeeeen, next chapter tamat? Happy ending ya^^ hoho, em keep writing yaap^^

  6. HOREEE AKHIRNYA CHANYEOL TOBAT LALALA, tapi aduh kris udahlah lepasin chanyeol huhuhu.
    ngeselin banget etdah itu tembakan baekhyun nyasar gaaaaa mana bentar lagi kris balik huhuhu.
    aduh kasian suho;(( plis jangan dimatiin/? ntar d.o sama siapa;(((
    dan kris semoga dia cepet dapet pintu hidayah/?;;;
    fast update ya thornim mwah /dijambak/

  7. aku tuh gak tega ligat kaiiii -_- kai kamu juga harus berenti, dosa sayang dosaaa huaaaaa…
    udah sm luhan aja gpp klo gk bs sama kyungsoo hehe

    tiba tiba ngehayal klo baekhyun sebenernya penembak jitu wkwkw pasti seru mereka lgsg menang dr kriss hahah

    ff nya bagus🙂 tp kadang baekhyun terlihat terlalu lemah😦 aku jadi gimana gituuuuu hehehe

  8. amazing! chanbaek bersatu Horaaaaaaaay! *kibar bendera chanbaek
    itu suho nya mati tah? trus gmana dgn kyungsoo? apa dia selamat? Si Kai kejem suwer! dia setia bgt sama sajangnim nya.
    duh penasaran sm kelanjutannya..

    keep writing author tercintaaah �� *kecupbasah

  9. hahahahahaha kn bneran si chanyeol gk bkal pernah snggup mbunuh si baekhyun meskipun dia dendam bgt ama keluarganya baekhyun. kn dendamnya ama appanya baekhyun. bkan sma baekhyun nyaaa jdi si baekhyun jgn di ikut-ikutin..

  10. Di chap ini bingug mau coment apa yg jelas ini campur aduk perasaan aku deh, menegangkan, miris, sweet, aduhh pokonya nano nano dah😉

    buat kris kenapa kamu itu obses banget sihhhhhh #bantingmeja
    oke emosi banget aku sama kris di sini ishh meskipun kris kesayangan aku setelah byun cutie baek cantik hyun tapi tetep aku agak sebel sama karakternya disini yang minta di timpuk #dirajamkaAlf

    okedah ka alf keep writing dan SEMANGAT!!!! Yohooo ~~

  11. anjiiirrrrrr kereeeennnb banggettt thorrrrr,bikin nangis tapi.juga bikin deg deg an,bunuh Kris Bunuh Krissss y tuhan.thorrr q dah nunggu lamaaaaaa h h h alayyy
    udah nggak bs mbayangin thor gmn perasaan.chan buat baek,sumpah pngen.bunuh luhan jugaa nyebelin sh rusa cantik it jugaan,,,coba y thor cinta chanbaek.bner2 real besar banget di keidpan nyata, q nggak tau hrus ngomong ap lg liat perjuangan mreka yg bahaya bangeeett,keep writing thorrrrr fighting

  12. Aaaa Yeol lu akhirnya nyerah juga yew-_-
    Gitu dong, cinta itu bilang aja, kalau di sembunyiin ntar BOMM meledak deh tu hati kebanyakan isinya*ApaanSih
    Eh eh eh, aku bingung ama Kai-,-
    Labil bener-,-
    Sukanya itu ke Baekhyun atau ke Luhan seeh ?
    Heran deh bacanya-,-
    Tapi karena saya KaiBaek shipper, saya percaya Kai cintanya ama BaeBaek aja daah, iya kagak ?*DikeroyokMassa
    Itu aja deh dari pada makin nyampah okayy, byeeee*KetjupBasahAuthor*MuntahBerjamaah

  13. aq emang gk prnah bosen nngguin ff. ini eon.kece banget problemnya. moga si chan gk mati yeth di tembak asal si baek.si detectif juga,knape harus mati.
    ironi banget.huhuhu
    udh psti penasaran nih aq eon nngguin lanjutanya.

  14. Seneng dh akhirnya chanyeol ngaku cinta sma baek, itu baekhyun yakin nembak papannya kan bukan chanyeol..??

    Kaii,, serius kmu bnr2 setia mati (?) sma kris yy,, yy ampun so sweet bngt sih bebeb q yg atu ini.. Tapi jngn kebablasan juga dong beb,, klo g kuat mending lambaikan tangan ke kamera ajja #halah ^_^

    Suho mati, kyungsoo merana, jadi plis bikin chanbaek atau g kailu bersatu,, *wink

    D tunggu bngt kelanjutanya,,
    Keep Writting.. Fighting!!

  15. haaaann*iirr kirain bkal tamat disinii. jangan bunuh luhaaan laah *nawar* kasian luhan udh dr dlu menderita masa d.akhir hrs menderita jg? haha lgian kan yg pnya dendan si park masa luhan yg kena? huweee. iih si chan koplak bilang kris namja lumpuh -,- sini lawan bini nya duluuu (‘w’)9 *grrr. suhooolang kayaa adik ipar sayaaa *kiss siwon* jgn matii km yaa naak, nanti gk bsa yadongin diyoo *gahahah. Sehun aduduh gk bsa lupaa deh sm sehun disini mskipun udh almarhumah (?). KAI *enak jd luhan di yadongin kai* hahah bcnda. kaaaiiyaaaahh nice nice nice km aja yg jd penerus mybaby kriss biar agak bener (?) sekalian nikahin aja luhan. waah klo luhan gk mati ntr siapa yg jd pasangan oseh di akhirat? uuhh bingung. Kai sm gw ajaaa. ngahah. penulis.y tlong di pikirkan lg gmn ending.y yaaaa. d.percayakan ending.y pasti bkal memuaskan. d.tunggu okee! Nice! hahah

  16. RANGAJAR SI CHAN GUE DAPET KETEGANGAN DISITU!!! Udah pasti tebakan gue kalo beki d bunuh chan dan lagi, salah -_- D.O tenang amat ama benda itu yawla salah si suho juga si gak ngasi tau, terus yg chan bawa beki ke penginapan itu gue damai banget rasanya itu gak sedamai di nrl dan gak sedamai di sebelum chapter lalu semacem gak ada masalah banget d situ dan gue menikmati ketenangan itu. itu yang yg beki nembak chan pasti pas ke tujuan kan ? bukan chan, kalo gak si chan kena dikit paling, gak mungkin kalo dia mati karena da dapet karakter penting d sini, terus si kai, yawla gue tau ati lu baek gak kek setan (re:kris d ff ini ) gue tau lu murni, gue tau lu kek yang laen kayaknya bener si kai terpaksa banget ngelakuin sesuatu walaupun sok ikhlas gitu, kan bener tebakan gue si luhan udah d kirim kris pasti anu! iya! mau bunuh beki! bener kaaan tebakan gue! kebawa dri ff nrl si karakter luhan gue bawa sini yg anggapan gue si luhan jadi avenger juga akhirnya, menurut gue luhan yang paling berbahaya banding yang lain, karena kai itu cuma suruhan dan punya hati, kalo si chan emang masih punya hati, gue rasa kris bakal d bunuh sama didikannya sendiri, maksud dari tuntaskan sisanya kai, itu abis luhan bunuh chan dan beki, kai bakal bunuh si luhan, lalu kai juga bunuh kris dan dirinya sendiri kalopun iya, tebakan gue yang lain itu, si chanyeol kan gesit, jadi gabakal deh luhan bisa bunuh dia, yang ada chan yg malah bunuh dia, gue berasa ada hawa chan kai bakal bunuh kris. kayaknya kris punya masa lalu kelam dengan namanya cinta, makanya dia gak pandang bulu gitu, gue rasa cewenya yang bikin dia lumpuh gitu, entahlah, gue cuma mikir gitu alf eon, banyak nih pertanyaan d otak gue un, moga cepet ya chapt 9 nya dan pen cepet ending, heheh3!

  17. Ping-balik: LIST FF CHANBAEK FAVORITE | Shouda Shikaku's World

  18. Uwaaaaa aku kira d chap ini bakal end >_
    oke segitu aja cuap cuap nya d tunggu next chap ny kak😉
    sekian terima bekyun :-*
    #SARANGHANDA kak ALF *Salam rinduku untuk LOVE AND PAIN

  19. Andwaeeeeeeeeeeeeeeeee….
    Suh0 gag meninggalkan??
    Ini yg q takutkan,,
    gak,gak mungkin,suh0 pasti cma tertembak biasa n bisa d’selamatkan,,benci gua ma kai,,t0bat kai t0bat,,

    kris itu gag bsa di matiian aja y,gag bsa aja ngeliat 0rg bhgia,pengen rasanya gua injek ntu kakinya yg lumpuh,,atau perlu gua panggil ta0 hah,??

    tp seneng juga akhrnya chan memenangkan cinta nya,bagus chan kau melakukan hal yg bnar,,..
    B’juang lh chanbaek,jgn biarkan cinta membunuh kalian,tapi bunuh lah kris dgn cinta kalian,,asheek,asheek j0s..

    Th0r,chap dpan kpn d’publis??
    M0ga chap dpn ending yach,s0al’a penasaran ma akhrnya..
    Kkhamshahamnida..

  20. Kris wuuuuu kauuuu dasar namja penghianat/?-_-
    Mestinya ada tao nih biar luluh juga hatinya kaya pcy wkwkw
    Atau kaya osh wkwk
    Seneng juga dichapter ini akhinya ada moment pcy-bbh yg romantis wkwk bacanya sampe gregett banget wkwk
    Duh senengnya sama ff ini eh iya ALF jangan lupa post juga chapter kelanjutan No regret life ndee,aku alwes menunggu wkwk
    Yang ini juga yaaa wkwk eh aku minta pw nya nde ALF buat chapter selanjutnya
    Kamshamidaa😚

  21. Well, ini ff terburuk(?) yang pernah aku baca. Terburuk dalam arti lain ya ALF. Terburuk nya garagara bikin gue bapeeeeeeerrrrrr banget. Garagar bc FF ini, gue jd gak suka sama Kai ataupun Chanyeol dan Luhan TvT serius deh. Aku bacanya terlalu pake hati soalnya. Paling ak benci waktu liat chanyeol bunuh orang orang apalagi Lay TvT APA SALAH ICINGGG?!!! trus si Kai juga asem dia bunuh Suho TvT kasiannnnn TvT sial memang garagara ini ff yg bagusnya kebangetan bikin aku gak suka chanyeol sm kai -_- maaf ya baru komen thor, gue tunggu ni chap nextnya

  22. penasarapenasaranpenasaran!!!!! sumpah ff ini bagus bangettttttt, ayo dong authornim lanjuttttin ini ff ampe slesai~ udah 2 tahunihh

  23. kan keren banget kan😂makin di buat penasaran sama chap ini. suho gimana? dia koid ya?😂 gajadi nikah sama kyungsoo dong? terus kyungsoo nya akhirnya sama kai nanti? ohiya ambisi nya luhan buat ngebunuh baekhyun gede banget anjay jadi ngeri😂 terus itu di dialog terakhir chanbaek yang kena dor siapa? papan nya atau pcy nya nih adoh makin penasaran😂 lanjut dong kak udah dua tahun loh😭

  24. Kata kata kris yg terakhir itu sangat mengkhawatirkan. Mungkn nnti akn berakhir dngn prtarungan yeol vs kai?? Terus luhan?? Duh srsly, ff ini unpredictable! Gak mudah buat dikira kira apalagi dibayangin(?).. Smuanya msh putih abu abu. Gak kebaca! Daebakk!! Sayangnya ini chapt terakhir dan blm ada update-annya.. Please update soon please senpaii. Jeball.. Bener2 pnasaran. Looking forward for the next chapie.. Yeah apapun, keep writtttiiiing n semangat selaluu nee~ ohya,, mungkin udah terlambat tapi daripada gk ngucapin sm skali,, hapyyyyy new yeaaaarrr.. Good luck in every step of your life..

  25. Ko kris lamalama ngeselin yaa?? Huuuu biarin apa sihh chanyeol bahagiaa, udh gitu suka bgt ama chanyeol yg kek guru paud ngajarin baekhyun yg tereak2 *panik* wkwkkw udh gitu dikatain gila lagi hihi thorr update nya cepet yaa aku always waiting nih ff lohhh ciuss dehh

  26. Gangerti lagi harus gimana ini ff action yang kesekian kalinya aku baca tapi ini yang paling thebest!!!! Keren banget trus ketara gitu alf actionnya…aku sukaaaa:)) aku juga udah rekomendasiin ff ini ketemen2ku kok dan mereka juga suka katanya.. Btw jangan lama2 ya alf lanjutinnya aku udah ngebet pengen tau kelanjutannya

  27. asfttgghxhdyvzhzjsbh….
    aku kayak abis nonton pilem pilem eksion sungguhan ..omg..omg..omg..omg..omgSTOPPpp^^v..aigooaigoo
    daebak dah detail dari cerita yang dijelaskan sangat jelas dan mudah dipahami sampai sampai aku ngerasa jadi baekhyun#plakk#nyadartantemangsitusapa*hehe

    CHANYEOL OPPA n BAEKHYUN OPPA SARANGHAEEEEEE#capslockjebol#
    ..Tapi aku bingung .. yang disukai sama kai itu sapa ya? katanya punya perasaan sama si baekhyun tapi kom malah ..piiiip.. sama si rusa eii luhan… atau jangan jangan kai suka sama aku lagi*plakkplak*kai:nyadartante(T.T)hikksshikss
    aarrrrrgggghhh… molla yang penting chanbaek lah always OP CHANBAEK

    NEXTNEXTNEXT!!!

  28. asstfghsvdjshvjsbb……
    .serasa nonton pilem eksion sungguhan ..omg..omg..omg..omg..omg..omSTOPPPPPP*hehe^^v
    detail dari penceritaannya sangat jelas dan mudah dipahami sampai sampai aku merasa menjadi baekhyun#plakk#nyadartante*

    tapi aku bingung ni sama perasaan kai itu sukanya sama sapa si?? kata kai dia punya perasaan sama barkhyun eee malah ..piiip.. sama luhan atau jangan jangaan kai suka sama aku lagi??#ngarepbangeett#
    aarrrgghhh.. molla yang penting chanbaek lah always selalu forever selamanya!!

    OP CHANBAEK fighting!!

    next!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s