Love Needs Reason — Chap 1 || Baek Hyun And…


LNR

Tittle: Love needs Reasons

Author: AyouLeonForever

Genre: Yaoi, Romance, Bromance.

Rate: T to M (Serius), Bocah awas!

Length: –

Main cast:

*      Byun Baek Hyun,

*      Oh Se Hun,

*      Kim Jong In,

*      Park Chan Yeol,

*      Kris Wu.

.

Main pair: Baek with seme lah

Other cast: Find them… ^^

Disclaimer: Semua cast milik emak abahnya, ciptaan Tuhan yang bernaung di Sment, bukan milik ALF, bukan milik readers, cuman minjam nama doang untuk kepentingan cerita dan imajinasi.

Copyright: Ide, alur/plot… murni dari otak brengsek(?)nya ALF yang lagi stress gegara masa lalu(?). dilarang memperbanyak, mengedarkan, mempublikasikan baik seluruh ataupun sebagian dari FF ini tanpa sepengetahuan ALF. Urusannya langsung sama Tuhan. Kecuali dirimu tidak beragama, maka abaikan saja.

 

WARNING: YAOI, BOYS LOVE, TYPO(S) EVERY WHERE, NOT FOR KIDS (ALF 7 RIUS). SIDERS and PLAGIATORS GO TO HELL

 

ALF note: cara penulisan ane di sini kepengaruh Time capsule. Maklum,, masih kebawa-bawa. Tapi selanjutnya akan mengalir seperti biasa kok. Ini cirinya ALF… okeh!

 

Anyway Mian… ALF belom bisa kelarin Triloginya Forbidden Love (Dan FF lainnya), soalnya buntu… ya mau gimana lagi -_-

Untuk itu sebagai gantinya ALF ngusung LNR (bukan NRL ye awas kebalik) Love Needs Money eh Reasons sebagai pengganti lah istilahnya hohho, soalnya ini KaiBaek, eum… KrisBaek Juga sih, eh ChanBaek juga… wkwkwkwk dan itu napa nongol Thehun? Ya mungkin little bit HunBaek juga… (ALF borong).

Oh ya, walopun ALF gak pernah bikin yang full NC, jg bukan full rated M, tapi ALF tetap nyelipin yang kecut-kecut manis kok *slap (ngomong paan nih?), ya intinya ALF juga suka yang lime-lime kok, kalo ada yang gak suka ya gak usah baca, gampang kan? Dari pada kita adu golok(?).

Dan Please jangan request Full NC… ALF gak bisa, okeh!!!

YaSooman lah, silakan menikmati(?).

 

Yang coba-coba jadi silent reader dan curi-curi cerita, wkwkwkwk jerawatan ampe 7 tahun *plak.

 

 

 

Prolog

 

Sedikit mengenai kehidupan berikut sekian banyak hal yang mengakarinya. Tapi sebenarnya, kehidupan itu hanya ada dua. Bahagia, atau menderita. Setidaknya itu pendapat segelintir orang yang pada dasarnya cukup acuh dengan hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Intinya… asal dia dan orang-orang yang dia cintai bahagia… melakukan hal apapun, Why not?

 

Byun Baek Hyun misalnya. Namja berusia 20 tahun, seorang Mahasiswa tingkat 2 Fakultas Ekonomi di sebuah Universitas yang cukup terkenal di Korea. Ia bahkan tidak tahu kenapa ia masuk Fakultas Ekonomi sementara ia tidak begitu tertarik dengan hal-hal semacam itu. Eum… mungkin ada beberapa alasan untuknya.

 

Pertama, setahu Baek Hyun, dan menurut pengamatannya sebelum lulus SMU, rata-rata calon penerus perusahaan besar, berkuliah di sana.

Kedengaran ambigu, tapi Byun Baek Hyun punya alasan kuat untuk itu.

 

“Mereka kaya-kaya, dompet mereka tebal, dan setiap ke kampus mereka sering ganti-ganti mobil.”

 

Dan itu benar.

 

Byun Baek Hyun matrealistis?

 

Jika ada yang bertanya seperti itu, ia akan dengan santainya menjawab, “Jadi kau tidak butuh uang?”

 

Tapi apa harus dengan mengencani mereka satu persatu Byun Baek Hyun?

 

Sekali lagi Byun Baek Hyun punya cara sendiri untuk menjawab.

 

“Ini namanya realistis, bukan matrealistis. Dan ini bukan lagi sebuah fenomena langka karena aku sudah cukup banyak melihat dan mengalami sendiri. Hidup tanpa materi, hahahahaha bagiku itu bukan hidup. Selama aku tidak mencuri, bukankah itu lumrah?”

 

Yah, biarkan Byun Baek Hyun memiliki prinsip sendiri.

 

Alasan selanjutnya adalah, dia akan dengan mudah bertemu dengan sahabatnya di sana.

 

Park Chan Yeol.

 

Yah, sahabat… Karena Byun Baek Hyun lebih suka status ini. Tapi jangan heran saat tanpa sengaja kalian melihat Byun Baek Hyun dan Park Chan Yeol mengobrol di pojok ruangan cafetaria dan hal-hal seperti berpegangan tangan, berpangkuan, dan berpelukan akan terlihat sangat wajar. Atau jika kalian cukup beruntung, maka  pemandangan seperti berciuman di koridor yang sepi bisa saja terjadi.

 

Alasannya adalah, sampai sekarang, Byun Baek Hyun masih butuh mereka –mahasiswa-berdompet-tebal-. Dan jika memiliki status sebagai kekasih Park Chan Yeol, bukankah itu artinya Byun Baek Hyun akan kesulitan mendapatkan mereka?

 

Lalu Park Chan Yeol? Tidakkah ia keberatan?

 

“Aku menyayangimu Baek Hyun-ah, jadi berhentilah. Mengenai hidupmu dan adikmu, aku yang akan menanggungnya. Tinggallah di apartemenku,” tutur Chan Yeol di tahun pertama mereka berkuliah di tempat yang sama. Saat itu, di apartemen milik Chan Yeol.

 

Dan Baek Hyun akan tertawa cukup keras dan mencubit hidung Chan Yeol karena ia gemas. “Aku butuh banyak uang Park Chan Yeol, dan kau tahu itu. Aku suka uang, dan kau juga sangat tahu hal itu. Aku juga menyayangimu, maka dari itu aku tidak ingin membuat uang sakumu habis. Seriuslah berkuliah, dan kalau kau sudah sukses tanpa dibiayai orang tuamu, maka aku akan dengan suka rela jatuh ke tanganmu, itupun kalau kau masih menganggapku berguna.” Dan lagi-lagi Baek Hyun akan bergelayut di pangkuan Chan Yeol untuk sekali lagi melewati satu malam kebersamaan, melakukan hubungan fisik yang terkadang tidak didasari sebuah alasan kuat. Tapi itu cara Baek Hyun untuk membuat Chan Yeol tetap bertahan di sisinya, walau sebenarnya tanpa harus melakukan itupun, Chan Yeol akan tetap bersamanya. Karena Chan Yeol  menyayanginya (Sebenarnya bukan hanya sayang, biarkan Chan Yeol saja yang menyimpannya).

 

Hidup itu untuk bahagia, dan bahagia itu sulit. Sesulit memanjat dan turun tebing hanya untuk mendapatkan satu ikat umbi untuk dijadikan persediaan makanan selama 8 hari. Dan Baek Hyun pernah melihat hal itu di TV.

 

Bahagia itu adalah kembali memiliki orang tua lengkap setelah kehilangan Ayah. Kembali bergelimang harta melimpah, hidup di rumah mewah dan bermain bersama adik yang sangat disayangi. Tapi mempertahankannya sulit. Sesulit saat sebuah kecelakaan pesawat merenggut nyawa kedua orang tua mereka. Sesulit memiliki kerabat yang awalnya sangat dipercayai tapi akhirnya justru mengambil alih semua aset kekayaan milik 2 anak yang masih belum bisa mandiri dan akhirnya di kirim ke panti asuhan.

Sulit bukan? Tapi itu yang dialami Baek Hyun dan adiknya.

 

Jadi bagi Baek Hyun, mendapat kebahagiaan itu sulit. Salah satu caranya adalah saat ia mendengar bahwa ‘kekasihnya’ sudah kesulitan meminta uang pada orang tuanya, dan Baek Hyun akan bersikap ‘sok’ pengertian dengan meminta putus saja agar beban kekasihnya berkurang. Dan tidak cukup sehari setelah putus, ‘mantan’ kekasih Baek Hyun itu akan melihat Baek Hyun berjalan beriringan di pelataran parkir dengan seorang namja populer di kampus. Menaiki Mercy putih dan melintasi sang ‘mantan’ seolah mereka tidak pernah kenal.

 

See? Hidup itu sulit… Dan itu cara Baek Hyun mengatasi kesulitan.

 

 

❀❀❀

 

 

 

Chapter 1

Baek Hyun pulang cukup malam, sekitar pukul setengah satu (Sebenarnya termasuk kategori beruntung, dari pada ia harus menginap di apartemen kekasih barunya!). Dan ia cukup kaget karena masih mendapati Se Hun, adik tiri satu-satunya itu masih terjaga di ruang TV. Adik tiri? Ah bukan… mereka satu ibu, masih saudara kandung. Hanya saja setelah Tuan Byun meninggal karena gagal jantung, Ibu Baek Hyun menikah dengan Tuan Oh dan akhirnya lahirlah Oh Se Hun.

 

“Belum tidur Se Hun-ah?” tanya Baek Hyun setelah meletakkan ranselnya di atas meja dan langsung mengambil posisi duduk di sebelah Se Hun.

 

“Aku menunggumu Hyung,” jawabnya kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan kakak tersayangnya yang sudah menjadi ibu sekaligus ayahnya sejak usia Se Hun masih belum fasih mengingat.

 

“Hei? Waegureyo? Kalau kau sudah semanja ini, pasti ada sesuatu.”

 

“Eum…”

 

“Dan apa itu? Aku ingin tahu.”

 

Se Hun terdiam cukup lama, ia lebih sibuk meraih tangan indah kakaknya dan menggenggamnya erat sebelum ia letakkan di depan bibirnya sendiri.

 

“Se Hun-ah!”

 

“Aku… Mengikuti kompetisi dance tingkat SMU, Hyung… dan aku masuk putaran Final.”

 

Mata kecil Baek Hyun membulat, “Jinjja? Ya Tuhan, kenapa baru bilang? Kita seharusnya merayakannya bukan?”

 

“Aku… Ingin memberimu kejutan, Hyung.”

 

“Baiklah Se Hun-ah, aku terkejut. Tapi ekspresimu tidak seperti orang yang ingin memberi kejutan, ada yang salah?”

 

Se Hun menatap kakaknya lekat, dari sudut manapun, wajah kakaknya tetap yang terbaik, bagaimana mungkin seorang namja memiliki wajah secantik itu?

 

“Se Hun-ah, ayo cerita.”

 

“Aku tidak yakin menang Hyung.”

 

“Eh?”

 

“Namanya Kim Jong In, dan dia dancer terhebat yang akan menjadi rivalku di putaran final.”

 

“Sehebat apa dia hingga bisa membuat dancer terhebat seperti adikku seresah ini?” Baek Hyun mengelus rambut pirang Se Hun dengan sayang, dan itu membuat Se Hun tidak betul-betul membutuhkan sentuhan seorang ibu.

 

“Dia… Mengalahkanku tahun lalu.”

 

Baek Hyun mengerutkan kening, “Bukankah nama rivalmu tahun lalu adalah Kai?”

 

Se Hun mengangguk dengan wajah murung. “Kita membicarakan orang yang sama. Kai… nama lengkapnya Kim Jong In.”

 

“Jadi… Apa yang bisa kubantu Se Hun-ah? Melatihmu untuk dance jelas mustahil, aku payah dalam hal itu, kau tahu?”

 

Se Hun tertawa, ada-ada saja ucapan kakaknya yang bisa membuatnya merasa geli. “Aku hanya butuh dukunganmu Hyung, dan nonton pertunjukanku bulan depan.”

 

“Ck, tanpa kau minta pun akan aku lakukan. Kapan aku tidak mendukungmu?”

 

“Eum… Yang jelas saat harinya tiba, seluruh waktumu hanya untukku. Tidak ada kerja, tidak ada kuliah, dan tidak ada kencan dengan siapapun. Bahkan dengan Chan Yeol Hyung. Atau panggil juga dia untuk menonton pertunjukanku.”

 

Baek Hyun pura-pura berpikir keras, dan itu membuat Se Hun merengut. “Hahahaha, arasso… arasso, apa yang tidak buatmu Se Hun-ah.”

 

Se Hun pun menyunggingkan senyumnya, mengeratkan genggaman di tangan kakaknya dan mengecupnya ringan. Dan Baek Hyun melihat dengan jelas bahwa keresahan adiknya itu masih mengganggunya. Dan jujur saja ia paling tidak suka ada ekspresi itu di wajah adiknya.

 

“Kim Jong In itu… Satu sekolah denganmu?”

 

Se Hun menggeleng, “Tidak. Tapi kami sering bertemu di club dance Eun Hyuk Hyung, dan sejak dia mengalahkanku tahun lalu, kami menjadi rival abadi.”

 

“Hm begitu?”

 

“Kenapa menanyakannya Hyung?”

 

Ani, hanya penasaran.”

 

Se Hun tertawa kemudian mencubit pipi kakaknya. “Dia seksi, jadi jangan pernah menemuinya atau kau akan tergoda.”

 

Baek Hyun mengangkat alisnya. “Dia kaya?”

 

“Kaya? Eum tidak juga, dia bekerja part time di sebuah cafe dekat gedung Club dance Eun Hyuk Hyung. Orang kaya tidak akan berkerja part time saat usianya masih 18 tahun kan?”

 

“Hahaha, jadi tenang saja, aku tidak akan tergoda.”

 

“Haih Hyung ku yang mata duitan.”

 

“Kalau tidak begini kau mana bisa hidup enak?”

 

ArassoArasso, kau selalu benar untuk urusan seperti ini jadi aku tidak bisa melarangmu Hyung.” Se Hun bangkit dari pembaringannya dan berdiri di hadapan Baek Hyun sembari merenggangkan ototnya.

 

“Ini hanya perasaanku saja atau memang kau semakin tinggi  Se Hun-ah?”

 

“Kau yang berhenti tumbuh Hyung, 180 cm di usiaku yang ke 18 tahun kurasa wajar, tidak seperti Hyung.”

 

Baek Hyun melipat tangannya dan menatap Se Hun dengan alis terangkat. “Berani menghinaku Oh Se Hun?”

 

Se Hun menggeleng polos, sedikit membungkuk dan mengurung tubuh mungil kakaknya dengan rentangan kedua tangan yang menumpu di sandaran sofa. “Bukankah ini kenyataan? Hyung ku tersayang?”

 

“Dan kau sudah mulai dewasa Se Hun-ah.”

 

“Eum, aku tidak mungkin seterusnya menjadi anak manja kan Hyung?”

 

Baek Hyun tersenyum, mengelus pipi adiknya dan mengecup bibirnya sekilas, sama seperti saat Se Hun memberikan hadiah sebuah ciuman ketika kakaknya membelikannya bubble tea.

 

Kajja, saatnya tidur Se Hun dewasa.”

 

Se Hun terkekeh. “Kugendong ya Hyung.”

 

“Hum, kau juga mulai sombong rupanya, mentang-mentang kau lebih besar dariku yah!”

 

Dan Se Hun merealisasikannya, ia menggendong Baek Hyun ala bridal kemudian membawanya ke kamar. “Besok libur Hyung, aku akan memijat punggungmu karena sudah bekerja keras seharian.”

 

Baek Hyun tertawa puas. “Tidak sekeras itu Se Hun-ah, menguras dompet mereka tidak sulit, besok kita belanja lagi.”

 

“Kali ini siapa Hyung?”

 

“Anak pengusaha dari Canada tapi berdarah China. Lumayan, di pertemuan pertama dia tidak sungkan menghabiskan beberapa ratus ribu won.”

 

“Wow, dan sepertinya ranselmu tadi bau uang. Kau pasti dari Bank lagi.”

 

Baek Hyun mengulas senyum saat Se Hun  merebahkannya di ranjang. “Hidungmu tajam sekali.”

 

“Bau uangnya yang tajam sekali.”

 

“Jadi… Kau suka uang atau aku, Hyungmu?”

 

“Ya tentu saja kau Hyung. Uang itu bisa dicari, tapi kau hanya satu-satunya di dunia ini.”

 

“Anak pintar. Jadi tidurlah, tidak usah memijat punggungku. Besok kita belanja.”

 

Arasso…”

 

Bagi Se Hun, tempat terbaik itu adalah di sebelah kakaknya. Pelukan terhangat itu bukan pelukan seorang ibu, tapi pelukan Baek Hyun, kakaknya.

 

Intinya jangan salahkan Se Hun jika ia mengganggap bahwa hidup itu adalah… terus bersama kakaknya.

 

 

❀❀❀

 

 

 

Sore itu, Baek Hyun terlihat sedang mengobrol ringan dengan seorang namja tampan di sebuah cafe, sehabis mengajak Se Hun berbelanja sepuasnya.

 

Namja yang tengah mengobrol dengan Baek Hyun itu bukan Se Hun, walau rambutnya juga pirang, wajahnya tampan, dan tubuhnya tinggi, tapi namja ini terlihat lebih dewasa.

Baek Hyun terus memasang senyum manisnya, hal terampuh yang ia miliki untuk meluluhkan siapa saja termasuk kekasihnya ini karena ia bahkan terlambat satu jam saat diminta bertemu di cafe tersebut. Dan lihat, sama sekali tidak ada ekspresi kesal di wajah kekasihnya.

 

“Besok aku akan ke China. Sekitar 2 atau 3 minggu,” ucap namja itu membuka obrolan sembari menunggu pesanan mereka datang.

 

Baek Hyun melebarkan mata kecilnya, ini sebenarnya berita baik. 2 atau 3 minggu kosong bukankah suatu kesempatan untuk menggaet namja lain?

 

“Kenapa baru bilang? Tega sekali. Kita baru beberapa hari yang lalu resmi berpacaran, dan kau sudah meninggalkanku.” Balas Baek Hyun, tentu saja memasang ekspresi semanja mungkin seolah ia akan jatuh sakit jika ditinggal.

 

Dan itu berhasil, sangat berhasil. Terbukti kekasihnya langsung menggenggam tangan Baek Hyun dan menatapnya intens. “Hanya 3 minggu sayang. Ah tidak, akan kuusahan hanya 2 minggu. Tidak apa-apa kan?”

 

Baek Hyun pura-pura menepis ringan tangan kekasihnya dan membuang muka, tidak lupa bibir bawah yang sedikit ditekuk memperlihakan kekesalannya. “Geure… Pergilah, memangnya apa arti kehadiranku?”

 

Kekasihnya itu menahan senyum melihat ekspresi lucu Baek Hyun, dengan pelan ia pindah ke kursi sebelah Baek Hyun, meraih tangan kanannya dan mengecupnya singkat. “Mau oleh-oleh apa?”

 

Sebisa mungkin Baek Hyun tidak akan tersenyum, padahal ini yang dia tunggu. “Aku tidak butuh apa-apa.”

 

“Ayolah… Agar aku tidak merasa semakin bersalah.”

 

Baek Hyun menghela nafas, bersikap seperti kekasih yang sangat pengertian. “Kris… Tidak perlu, kau pulang dengan cepat dan selamat itu sudah cukup. Aku tadi hanya kaget saat tiba-tiba saja kau akan meninggalkanku.”

 

“Hei, aku mana tega meninggalkan kekasihku yang cantik ini. Kalau bukan karena ada hal penting, aku tidak akan pergi kan? Atau kalau kau tidak sedang sibuk kuliah dan tidak harus menjaga adikmu, aku akan membawamu ikut serta. Akan kutunjukkan indahnya negara asalku itu.”

 

“Kris…”

 

“Jadi, mau oleh-oleh apa?”

 

“Sudah kubilang tidak usah.”

 

“Hm… Tunggu, akan lebih manis lagi kalau aku membawakanmu sesuatu sebagai kejutan.”

 

“Kris…”

 

Namja bernama Kris itupun tertawa saat melihat ekspresi manis Baek Hyun, sedikit gemas untuk sekedar memberinya ciuman singkat di bibir.

 

“Jadi malam ini, menginaplah di tempatku.”

 

Baek Hyun menghela nafas lagi. “Bukannya aku tidak mau Kris. Tapi besok adikku berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali, aku harus menyiapkan sarapan dan keperluannya pagi-pagi sekali, dan biasanya dia akan terlambat bangun kalau tidak kubangunkan.”

 

Kris terdiam, menatap sepasang mata mungil dan indah itu dengan cukup dalam. “Pasti sangat sulit Baek Hyun-ah.”

 

“Eh? Apanya?”

 

“Sejak kecil hidup berdua hanya dengan adikmu. Dan keadaan memaksamu untuk tumbuh dewasa lebih cepat dari waktunya. Kau bahkan memulai peranmu menjadi seorang ibu dan Ayah sekaligus di usiamu yang ke 10 tahun. Itu adalah masa di mana seorang anak harus tumbuh dengan menerima kasih sayang, bukan sepenuhnya memberi kasih sayang.” Kris kembali mengecup jemari lentik Baek Hyun. “Saat kau di sisiku, akan kubuat kau menerima perhatianku sepenuhnya. Akan kuberikan semua hal yang tidak kau dapat saat kau masih kecil.”

 

“Kris… Aku.”

 

“Dan abaikan cemohan orang tentang kau hanya memanfaatkan namja kaya untuk menghidupimu, karena mereka tidak mengenalmu.”

 

Baek Hyun tidak merespon lagi. Ia akan menunduk dengan wajah memerah, seolah menahan tangis, padahal sebenarnya ia berusaha agar air matanya keluar.

 

Kris yang melihatnya akan semakin iba kemudian meraih kekasihnya itu dalam pelukan hangatnya.

 

“It’s okay, let it flow baby, don’ hold it anymore.”

 

Baek Hyun membenamkan wajahnya di dada bidang Kris dengan satu tangan merengkuh jaketnya. Ini cara agar senyum kemenangannya tidak terlihat oleh siapapun. Dan tidak lupa ia terisak sembari menggetarkan bahunya.

 

TUK~

 

 

Kris langsung melepas pelukannya saat melihat seorang pelayan meletakkan secangkir cappuchino pesanannya di atas meja, dan juga segelas jus strawberry pesanan Baek Hyun. Tak lupa cake pesanan mereka.

 

Pelayan itu cukup canggung, terlihat jelas dia merasa tidak enak menginterupsi moment manis sepasang kekasih itu.

 

Cwesonghamnida, silakan dinikmati.”

 

Kris mengangguk dan mengulas senyum maklum. Sementara Baek Hyun terlihat mengusap air matanya yang cukup kering.

 

Ia sedikit terkejut saat tanpa sengaja membaca name tag waiters  tadi.

 

Kim Jong In.

 

Chamkkanmanyo,” seru Baek Hyun sebelum pelayan bernama Kim Jong In itu pergi.

 

“Ada apa tuan?”

 

“Aku tadi lupa meralat, aku ingin minum jus jeruk.”

 

Kai terlihat kebingungan. “Jadi yang ini?”

 

“Ini tidak apa-apa, biarkan saja. Satu jus jeruk lagi, kalau bisa segera.”

 

“Ah ne, saya buatkan dulu tuan.”

 

“Hm, gomawo.”

 

Baek Hyun mengulas senyum tipis setelah namja itu menghilang ke dapur. Iapun membenarkan pernyataan Se Hun bahwa namja itu… seksi!

 

“Kenapa tidak ingin minum jus strawberry?” tanya Kris heran.

 

“Bukan tidak ingin, hanya eum… Hanya sedang suka jus jeruk,” jawabnya santai.

 

Kris tersenyum kemudian mengusap puncak kepala Baek Hyun dengan sayang. Siapa yang tahu bahwa sedang melintas ide nakal di otak Byun Baek Hyun itu.

 

 

 

Kai kembali 10 menit kemudian dengan membawa nampan berisi segelas jus jeruk. Dan maksud Baek Hyun yang sebenarnya adalah seperti ini.

 

Baek Hyun tanpa kentara menggeser gelas jus strawberrynya agak ke tepi meja persis di depannya, dan saat Kai meletakkan gelas jus jeruk, maka tanpa sengaja ia akan menyenggol gelas jus strawberry dan akhirnya tertumpah dan mengenai kemeja dan celana Baek Hyun.

 

Dan ajaib itu benar-benar terjadi.

 

“Ya Tuhan, cwesonghamnidaCwesonghamnida,” seru Kai sembari membungkuk berkali-kali.

 

Baek Hyun akan berlagak kaget dan langsung berdiri sebelum jus itu membentuk genangan di celanannya.

 

“Hei kau, tidak bisa hati-hati?” tegur Kris sedikit kesal.

 

“Saya tidak sengaja Tuan, jeongmal Cwesonghamnida.”

 

“Tidak apa-apa Kris,” Baek Hyun mengulas senyum pada kekasihnya yang tengah berusaha membersihkan tumpahan jus itu dengan tissue.

 

“Oh ya, Kim Jong In,” panggil Baek Hyun ramah.

 

“Eh?” Namja yang dipanggil jelas kaget karena seorang pelanggan memanggilnya dengan nama lengkapnya.

 

“Bisa tolong antarkan aku ke toliet. Aku harus membersihkan ini.”

 

“Ah tentu saja tuan, ikut saya.”

 

“Perlu kutemani Baek Hyun-ah?” tawar Kris sudah bersiap berdiri.

 

Gwenchana, tidak akan lama,” balas Baek Hyun tetap dengan senyuman andalannya.

 

 

❀❀❀

 

 

 

 

“Mau kemana?” tanya Baek Hyun saat melihat Kai akan keluar dari toilet setelah mengantarnya.

 

“Bukankah anda ingin membersihkan diri? Saya jelas harus keluar.”

 

“Jadi menurutmu aku tidak butuh bantuan?”

 

“Eh itu…”

 

Baek Hyun berjalan pelan ke arah Kai, membuat namja itu refleks bergerak mundur dan punggungnya membentur daun pintu yang tertutup. Baek Hyun terkekeh geli melihat namja polos ini, ia betul-betul teringat pada adiknya.

 

Klek

 

Mata Kai membulat saat Baek Hyun dengan santainya mengunci pintu toilet sementara yang ada di dalam hanya mereka berdua.

 

“Bisa bantu aku…” Baek Hyun melepas kemeja putihnya, menampakkan tubuh mungil dan mulus yang hanya dibalut kaos tanpa lengan berwarna putih yang cukup transparan, “Membersihkan ini?”

 

Kai mati-matian menelan ludah karena ia belum pernah berada di posisi seperti itu sebelumnya. Dekat dengan seseorang pun tidak pernah, jadi ia betul-betul grogi menghadapi situasi itu.

 

“Kim Jong In…” Panggil Baek Hyun dengan lembutnya.

 

“N… N…Ne…”

 

Baek Hyun terkikik geli terlebih melihat Kai sudah mengeluarkan keringat dingin. “Jong In-ah…”

 

Dan semakin terkejut lagi saat Kai mendengar ada yang memanggil namanya selembut dan semanja itu.

 

“Kau tidak ingin membantuku membersihkan ini?”

 

Kai kembali menelan ludah dengan susah payah, kemudian mengangguk cepat. Terlepas dari situasi aneh itu, ia jelas harus bertanggung jawab karena telah mengotori pakaian pelanggan.

 

Dengan tangan gemetar Kai mengambil kemeja putih itu dan berjalan kaku ke arah wahstafel, berniat membersihkan noda itu dengan mencipratkan air dan menyekanya dengan tissue.

 

“Jong In-ah…” Lagi, Baek Hyun memanggilnya manja. Ia bahkan duduk di atas tembok dekat washtafel.

 

“N… Ne.”

 

“Namaku Baek Hyun.”

 

“Ne, B… Baek Hyun-shii.”

 

“Hey, lihat aku.” Baek Hyun tidak sungkan menarik dagu kokoh Kai untuk menoleh padanya.

 

“A… Aku sedang membersihkan baju anda, Baek Hyun-shii.”

 

“Ck, jangan terlalu formal. Apa aku terlihat jelas lebih tua darimu?”

 

Kai menggeleng. “Anda adalah pelanggan, dan saya pelayan.”

 

“Hm? Di sini tidak ada siapa-siapa.” Baek Hyun sedikit melompat untuk turun, kemudian berdiri di hadapan Kai dengan jarak yang cukup dekat. Ia mengambil kembali kemejanya sebelum Kai membuatnya semakin basah.

 

“B… Baek Hyun-shii…”

 

“Aku menyukaimu.”

 

Kai tersentak dan mata tegasnya membulat. “Mwo?”

 

Dan Baek Hyun tidak akan sungkan memeluk leher Kai, sedikit berjinjit kemudian ia memberinya kecupan ringan di bibir. “Senang bertemu denganmu, kuharap ini bukan yang terakhir. Annyeong,” ucapnya sebelum meninggalkan toilet di mana Kai hanya bisa membelalak terperangah dengan mulut terbuka lebar.

 

Jantungnya seperti meledak tatkala bibirnya merasakan sentuhan lembut dari bibir Baek Hyun barusan. Seperti orang bodoh, ia menoleh ke cermin washtafel dan menyentuh bibirnya. “I… Ige Mwoya?”

 

 

❀❀❀

 

 

 

“Terima kasih untuk hari ini Kris,” ucap Baek Hyun saat Kris mengantarnya sampai ke depan pintu apartemennya.

 

“Eum, kecuali saat pelayan tadi menumpahkan jus di pakaianmu, kuharap selebihnya kau cukup senang hari ini.”

 

Baek Hyun terkekeh kemudian mengangkat tas plastik yang berisi pakaiannya yang terkena tumpahan jus. Tentu saja pakaian yang melekat di tubuhnya sekarang adalah pemberian Kris yang langsung membawanya ke toko pakaian setelah pulang dari cafe tadi sore.

 

“Ini sudah lebih dari cukup Kris. Aku bahkan sangat senang, apapaun asal bersamamu akan terasa menyenangkan.”

 

Kris pun tersenyum, kemudian dengan perlahan menyentuh pipi Baek Hyun yang merona saat itu. “Semoga kau tidak geli mendengarnya tapi… sepertinya aku sudah betul-betul mencintaimu Baek Hyun-ah.”

 

Baek Hyun balas tersenyum. “Nado Kris.” Dan iapun memejamkan matanya perlahan saat Kris sedikit menunduk untuk menggapai bibirnya.

 

Sebenarnya Baek Hyun menyukai Kris, selain uangnya tentu saja. Ia suka karena Kris adalah kekasihnya yang 2 tahun lebih tua darinya, ia suka cara Kris memperlakukannya, tidak seperti kebanyakan kekasihnya yang terdahulu yang terkadang Baek Hyun harus menahan jengkel saat mereka mengajaknya untuk tidur bersama dan tentu saja melakukan hubungan fisik bahkan di hari pertama mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Kris lain, caranya saja saat mencium Baek Hyun pun sangat lembut, dan Baek Hyun suka.

 

“Ehem…”

 

Deheman itu sontak membuat Kris melepaskan ciumannya, dan langsung menoleh ke sumber suara.

 

Se Hun sudah berada di sana sambil melipat tangan di dada dan mengangkat alis tinggi-tinggi.

 

“Eh Adik… selamat malam!” sapa Kris canggung, betul-betul salah tingkah karena ia lupa melepaskan tangannya yang masih memeluk pinggang Baek Hyun.

 

“Namaku bukan adik. Aku Se Hun.”

 

Baek Hyun melotot gemas pada Se Hun karena sudah mengerjai kekasihnya.

 

“Ah ne… Se Hun-ah.”

 

“Sudah malam Hyung, masuk.” Se Hun tanpa sungkan menarik tangan kakaknya untuk masuk ke apartemen mereka.

 

“Kris sampai jumpa… saranghae…” seru Baek Hyun sembari melambaikan tangan.

 

Nado saranghae Baek Hyun-ah,  selamat malam.”

 

 

❀❀❀

 

 

Baek Hyun terus tertawa saat Se Hun memaksanya duduk di sofa seolah ingin menghakiminya.

 

“Jangan tertawa Hyung, aku tidak sedang bercanda.”

 

“Tunggu… Tunggu, kenapa tampangmu aneh begitu?”

 

“Aku tidak suka.”

 

“Tidak suka apanya?”

 

Se Hun mendengus, ia sedikit membungkuk dan mengusap bibir kakaknya dengan ibu jari. “Apa Hyung selalu berciuman dengan cara seperti itu?”

 

Baek Hyun menahan tawanya kemudian memiringkan kepala. “Seperti apa?”

 

“Ya seperti tadi.”

 

“Bagian mananya yang salah?”

 

Se Hun berdecak kesal. “Hyung… Aku tidak suka melihatnya. Namja tadi seperti seorang Ahjushi yang memanfaatkan anak-anak.”

 

“Tunggu-tunggu, aku tidak akan membahas kau memanggilnya Ahjushi, tapi… kau tega mengatai Hyungmu sebagai anak-anak?”

 

“Ck, kupikir karena selama ini aku tidak melihatmu langsung berkencan dengan kekasih-kekasihmu, jadi kurasa wajar saja. Tapi cara namja tadi menciummu betul-betul menjengkelkan. Aku serius, sungguh tidak suka.”

 

Baek Hyun masih terus tertawa kemudian menarik tangan adiknya untuk duduk di sebelahnya. “Dia dari Canada, jadi life style-nya juga mungkin terpengaruh dari sana. Tapi Kris namja yang pengertian dan sangat lembut, tidak seperti kekasih-kekasihku yang terdahulu.”

 

“Ha? Yang tadi saja lembut? Bagaimana yang dulu?”

 

Baek Hyun hanya mengangkat bahunya kemudian mencubit dagu adiknya. “Sudah makan?”

 

“Jangan mengalihkan pembicaraan.”

 

“Se Hun-ah.”

 

“Hyung!”

 

“Ck, apa sebaiknya kucarikan pacar untukmu agar kau mengerti ciuman seperti apa tadi.”

 

“Aku tidak mau.”

 

“Se Hun-ah, jangan marah jebal…”

 

Se Hun menghembuskan nafas panjang kemudian menoleh pada kakaknya. “Aku mencintamu Hyung, sangat mencintaimu. Aku menginginkan yang terbaik untukmu, sama seperti kau telah mengusahakan yang terbaik untukku. Dan menurutku, namja yang bernama Kris tadi… bukan yang terbaik.”

 

Baek Hyun mengulas senyum kemudian memeluk Se Hun, menyandarkannya di dada. “Kris itu baik. Percayalah, tapi kalau memang kau tidak suka padanya, mungkin aku akan memutuskannya 3 minggu lagi.”

 

Barulah Se Hun tertawa lega dalam pelukan kakaknya.

 

“Hm… Dasar anak nakal,” tegur Baek Hyun sembari menjitak pelan kepala adiknya itu.

 

“Chan Yeol Hyung itu lumayan, kenapa Hyung tidak coba saja menjalin hubungan serius dengannya.”

 

“Hei, dia juga masih kuliah sama sepertiku, biaya hidupnya juga banyak. Kami juga sudah sepakat, kalau semisal dia sudah sukses dan menjadi penerus ayahnya, mungkin kami akan bersama.”

 

Se Hun melepaskan pelukan kakaknya dan menatapnya cemas. “Lalu aku?”

 

Baek Hyun mati-matian menahan tawanya melihat ekspresi manja adiknya. “Ya tentu saja kita akan bersama Se Hun-ah, sampai kau juga menemukan seseorang yang akan mendampingimu kelak.”

 

Se Hun menggeleng. “Aku ingin terus bersamamu Hyung.”

 

“Haih, kau akan mengatakan hal ini karena kau belum pernah menjalin suatu hubungan dengan orang lain. Bersosialisasilah di sekolahmu, jika ada yang kau sukai, ajaklah berteman.”

 

“Mereka semua menyusahkan, aku pusing.”

 

“Ya sudah, nanti kucarikan. Sepertinya kau memang butuh seseorang yang lebih tua darimu.”

 

“Kalau bisa yang sepertimu Hyung.” Se Hun terkekeh jahil dan kembali memeluk kakaknya dengan manja.

 

“Ne… Ne, arasso. Jadi… sudah makan?”

 

Se Hun menggeleng. “Lapar…”

 

Baek Hyun mengulas senyum tipis kemudian mengecup puncak kepala adiknya. “Ayo ke dapur, kumasakkan sesuatu.”

 

“Ne!”

 

 

❀❀❀

 

 

 

Baek Hyun bersandar di sebuah pohon yang berada di pelataran parkir cafe tempat Kim Jong In atau Kai bekerja. Menurut informasi yang ia dapat, Kai akan selesai pukul 5 sore, untuk itu dia menunggunya.

 

Akhir-akhir ini dia memang malas meladeni beberapa namja yang mendekatinya setelah Kris berangkat ke China. Bukan karena uang mereka kurang, hanya saja Baek Hyun cukup bosan berkencan dengan mereka, lagipula Kris masih terus mengiriminya uang, tentu saja Baek Hyun akan berpura-pura kesal dengan menelpon Kris saat ia melihat tabungannya bertambah, dan nominalnya tidak main-main. Dan Kris akan mengatakan bahwa anggap saja itu pengganti dirinya yang tidak bisa menemani Baek Hyun.

 

Namja manis itu mengulas senyum setiap kali ia mengingat jumlah tabungannya sekarang. Ia bahkan sedikit menyesal karena baru dipertemukan dengan Kris belum lama ini, sementara apa yang ia dapatkan dari Kris, bisa 5 sampai 7 kali lipat pendapatannya dari  namja-namja kaya yang ia kencani dulu.

 

Baek Hyun akhirnya tertawa kecil, dan tidak sedikit orang melintas yang keheranan melihatnya. Beruntung wajahnya sangat manis, dan penampilannya sangat modis, jadi ia tidak akan disangka sebagai orang kelainan jiwa.

 

Matanya membulat saat sosok tinggi berkulit sehat dan tentu saja tampan keluar dari pintu cafe tempatnya bekerja sembari membetulkan jaketnya. Baek Hyun buru-buru menghampirinya dan menggamit lengan namja tersebut.

 

“Jong In-ah…” serunya manja.

 

“Ya Tuhan…” balas Kai tentu saja terkejut. “B… Baek Hyun-shii, a… ada apa ini?”

 

Wae? Kau tidak suka?”

 

“Bu… Bukan, hanya saja… Bagaimana kalau kekasihmu melihat tingkahmu seperti ini, dia akan salah paham.”

 

“Aku tidak punya kekasih.”

 

Kai mengerutkan keningnya tidak mengerti. “Lalu namja tinggi yang datang bersamamu waktu itu?”

 

“Oh, kami sudah putus. Kau tidak lihat? Dia membuatku menangis. Dia meninggalkanku, dan pergi ke China.” Baek Hyun mengalihkan pandangannya ke kiri, memasang tampang sedramatis mungkin. “Ia… Menikah dengan orang lain.”

 

Entah dari mana ide itu, tapi sukses membuat Kai terkejut dan tentu saja iba melihat Baek Hyun. “Mi… Mianhae.”

 

Baek Hyun menghembuskan nafasnya lewat mulut, semacam mekanisme menenangkan diri, dan lagi-lagi itu hanya tipuan. “Ck, Jong In-ah… Kau membuatku sedih kembali, padahal aku sudah bisa menerimanya.”

 

“Maafkan aku Baek Hyun-shii, aku betul-betul tidak tahu.”

 

Baek Hyun pun mengulas senyuman, kembali menggamit lengan kekar Kai. “Kau mau kemana?”

 

“Sebenarnya aku ingin ke suatu tempat, tapi aku cukup lelah hari ini, jadi kutunda besok saja. Kenapa Baek Hyun-shii?”

 

Ani, kau tinggal di mana?”

 

“Di sebuah apartemen kecil, tak jauh dari sini.”

 

“Aku ikut!”

 

“EH?”

 

❀❀❀

 

Kai sedikit canggung saat Baek Hyun dengan santainya masuk ke dalam apartemen kecilnya dan duduk di sebuah sofa tunggal yang hanya muat untuk 3 orang. Itu dijadikan Kai sebagai sofa tamu.

 

“Maaf kalau tempatku tidak nyaman. Aku hanya bisa menyewa tempat ini karena kebutuhanku lebih banyak lagi,” ucap Kai tidak enak sembari berjalan ke arah dapur yang hanya dibatasi tembok pemisah dari ruang tamu.

 

“Ah ani, tempatmu sangat nyaman. Dan sangat rapi, kau tinggal sendiri?”

 

Kai muncul sembari membawa 2 cangkir cokelat hangat dan meletakkannya di meja, iapun duduk di sebelah Baek Hyun, “Hm…”

 

“Mana orang tuamu?”

 

“Mereka sudah meninggal 4 tahun yang lalu.”

 

“Ah maaf.”

 

Gwenchana, sudah terbiasa.”

 

Baek Hyun sedikit bergumam, “Sebenarnya kita sama.”

 

“Eh?”

 

“Aku juga sudah menjadi yatim piatu sejak usiaku 10 tahun.”

 

Kai terbatuk, keadaan Baek Hyun justru lebih mengenaskan darinya. Setidaknya, Kai sudah sedikit lebih dewasa saat ia ditinggal kedua orang tuanya. “M… Maaf..”

 

“Ah sudahlah, setidaknya nasib kita sama.”

 

Hening, dan itu membuat Kai cukup canggung. Baek Hyun sendiri tidak pernah canggung. Ia masih sibuk mengamati tatanan ruang kecil itu, walau sempit tapi rapi. Ia juga tertarik dengan beberapa piagam penghargaan yang dipajang di atas lemari kayu, yang Baek Hyun yakin kesemuanya adalah di bidang dance.

 

“Baek Hyun-shii,” sapa Kai memberanikan diri.

 

“Hm?” Baek Hyun menoleh santai.

 

“Itu… Ke… Kenapa kau ingin berteman denganku?”

 

Baek Hyun mengerutkan keningnya. “Kapan aku bilang ingin berteman denganmu.”

 

Sukses membuat Kai terbatuk telak, dan wajahnya memerah sempurna. “Ah.. M… Maaf kalau aku salah sangka.”

 

“Aku tidak ingin berteman denganmu.” Baek Hyun bergeser, kemudian dengan santai menyandarkan kepalanya di bahu Kai, membuat namja tampan itu gugup bukan main.

 

“La… Lalu apa ini?”

 

Baek Hyun mendongakkan wajah, menumpukan dagunya di bahu kekar Kai. “Aku? Eum… aku ingin menjadi kekasihmu, bukan temanmu.”

 

Kai hampir terjatuh dari sofa kalau saja tangannya tidak mencengkram pegangan sofa. “B… Baek Hyun-shii, jangan bercanda. Kita baru kenal beberapa hari, itupun dalam situasi yang aneh.”

 

“Lalu apa salahnya? Aku menyukaimu sejak pertama kali aku melihatmu.”

 

“Ta… Tapi kenapa?”

 

“Kenapa? Molla, aku menyukaimu. Itu saja…”

 

Kai menggaruk kepalanya sedikit frustasi, belum pernah ia dihadapkan pada situasi seaneh ini. “Apa… Karena aku seorang dancer?”

 

Baek Hyun mengangkat alis. “Kau seorang dancer?”

 

Kai menghembuskan nafas. “Jadi bukan karena itu? Ck…”

 

“Kau tidak menyukaiku Jong In-ah?”

 

“Bukan begitu, aku…”

 

“Jadi kau menyukaiku?”

 

Wajah Kai memerah, kali ini ia tak sanggup lagi mempertahankan kontak mata, dan ia pun menoleh ke arah berlawanan. “Aku hanya bingung.”

 

“Bingung kenapa?” jemari lentik Baek Hyun kembali menyapa rahang kokoh Kai, membuat namja tampan itu menoleh dan berhadapan dengannya.

 

“Aku… Tidak punya apa-apa. Jadi mana mungkin kau menyukaiku.”

 

Baek Hyun tertawa cukup keras karena kalimat Kai membuatnya geli. Selain karena itu sangat benar, wajah Kai saat menyampaikannya memang terlihat lucu.

 

“Baek Hyun-shii…”

 

“Ah maaf, kau sangat menggemaskan, makanya aku tertawa.” Baek Hyun berdehem sejenak, kemudian mulai serius (untuk berpura-pura tentu saja). “Jadi harus ada alasan dulu untuk menyukai seseorang?”

 

Kai mengangguk polos. “Setahuku begitu.”

 

“Kalau aku tidak. Percaya saja, aku sudah menyukaimu saat kau menumpahkan jus di bajuku. Err… tidak masuk akal memang, tapi aku serius. Tapi kalau kau butuh alasan dan pertimbangan, yang menurutku adalah sebuah pemicu untuk menyukai seseorang…” Baek Hyun membelai pipi Kai dan menatapnya intens. “Kau sangat tampan Kim Jong In.”

 

“Hanya… Itu? Em… maksudku, tidak ada yang lain?”

 

“Memangnya harus ada yang lain? Kenapa kau terkesan hati-hati sekali?”

 

Kai menggaruk kepalanya, rona merah yang tertutup kulit gelapnya menyebar di sekitar pipinya. “Biasanya orang-orang akan mendekatiku karena mereka mengatakan aku keren saat melakukan gerakan dance, dan saat mereka tahu bahwa aku tidak punya orang tua, juga tidak sekaya mereka, ujung-ujungnya mereka mengacuhkanku, jadi kupikir… kau pun juga…”

 

“Hei, jangan samakan aku dengan mereka, atau aku akan tersinggung.”

 

“Maafkan aku.”

 

“Jadi?”

 

Kai mengerutkan keningnya. “Jadi apa?”

 

“Aku boleh menjadi kekasihmu kan?”

 

Deg~

 

“Baek Hyun-shii, kau bisa menyesal membuang-buang waktumu untuk bersamaku, aku tidak punya apa-apa.”

 

“Hei, aku suka kau, bukan suka dengan apa yang kau punya.”

 

“Tapi…”

 

Baek Hyun berdecak kemudian melepaskan rangkulan manjanya. “Sejak awal kau memang tidak menyukaiku. Kenapa bilangnya susah?”

 

“Tunggu, bukan begitu maksudku.”

 

Baek Hyun melirik arlojinya dengan raut wajah kesal. “Sudah sangat petang, aku pulang. Terima kasih waktumu Kim Jong In.”

 

“Ya Tuhan, Baek Hyun-shii… Maksudku… Aduh… Bagaimana ini?”

 

Baek Hyun menahan senyumnya melihat kepanikan Kai saat Baek Hyun merapikan jaketnya. “Selamat tinggal…”

 

~Tep

 

 

Baek Hyun sedikit tidak menyangka saat Kai menangkap pergelangan tangannya. “Jong In-ah?”

 

“Aku bukannya tidak menyukaimu Baek Hyun-shii, anggap saja aku bodoh. Aku… bersikap seperti ini karena aku tidak menyangka orang sepertimu bisa menyukaiku. Bagaimana mengatakan ini… Aku… eerrr…”

 

Baek Hyun mengulum bibirnya kuat-kuat agar senyumnya tidak tampak.

 

“Aku… menyukaimu Baek Hyun-shii, karena kau orang pertama yang menyatakan suka padaku tanpa memandang latar belakangku, ck… bagaimana menjelaskannya, aku payah dalam hal ini… jadi…”

 

Greb~

 

Mata Kai membulat saat tiba-tiba Baek Hyun memeluknya cukup erat.

 

“Itu sudah cukup, tidak perlu dijelaskan lagi.”

 

“Tapi..”

 

“Kau menyukaiku kan?”

 

“N… Ne…”

 

“Ya sudah, kita resmi berpacaran.”

 

Kai menelan ludahnya susah payah, ia bohong saat ia mengatakan kalau ia tidak senang, justru sebaliknya ia senang luar biasa, hanya saja, ia masih tidak percaya.

 

Baek Hyun itu manis, sangat. Dia sangat ceria, ramah dan… ia bahkan tidak tahu kapan ia merasa cukup dekat dengan Baek Hyun setelah insiden di cafe itu? Entah karena ciuman singkat yang berkesan itu, atau memang ada alasan lain setelahnya. Seperti telah mengenalnya cukup lama, dan tidak perlu banyak alasan untuk menolaknya.

 

“Baek Hyun-shii..”

 

“Bukan…” Baek Hyun melepas pelukannya, mengalungkan tangannya di tengkuk Kai dan menatapnya lembut. “Jangan seformal itu padaku Jong In-ah.”

 

“A… Aku bahkan tidak tahu kau kelas berapa.”

 

Baek Hyun kembali menahan senyumya, bukan kali pertama ia disangka masih SMU, “Tebaklah.”

 

“Eum… Kelas satu?”

 

“Wah, penghinaan, jadi kau mengira aku lebih muda dua tahun darimu?”

 

Kai mengerutkan kening. “Lebih muda 2 tahun? Tapi aku kelas 3 SMU, bukan kelas 3 SMP.”

 

Mata Baek Hyun membesar. “Tunggu… kau mengira aku masih kelas 1 SMP?”

 

Kai menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. “Jadi bukan anak SMP?”

 

Baek Hyun shock mendengarnya. “Kim Jong In!!!”

 

 

 

 

❀❀❀

 

 

Baek Hyun menghembuskan nafas lega saat ia memasuki apartemennya dan Se Hun. Ada senyum kepuasan di sana. Tentu saja karena telah berhasil menjerat anak polos seperti Kai. Ini pertama kalinya dalam sejarah Baek Hyun menjadikan namja ‘tidak’ kaya sebagai kekasihnya, karena memang kali ini lain perkaranya, karena ini ia lakukan untuk,… yah tentu saja adik tersayangnya. Oh Se Hun. Lagipula lumayan untuk mengisi waktu luang selama kekasih aslinya, Kris tidak berada di Korea, Kai juga sangat tampan dan keren menurutnya, akan sedikit membanggakan saat ia nanti membawanya jalan-jalan untuk berkencan.

 

“Se Hun-ah… aku pulang. Kau di rumah?” seru Baek Hyun setelah meletakkan tasnya di sofa ruang tamu. Ia mendengar suara tawa dari arah dapur, dan dia juga melihat ada sepasang sepatu di depan.

 

“Hyung…”

 

“Eh Baek Hyun-ah, sudah pulang? Dari mana?” sambut Chan Yeol yang saat itu tengah bereksperimen di dapur.

 

Baek Hyun langsung menghampiri Chan Yeol untuk sekedar memberinya kecupan di pipi. “Tadi ada urusan sedikit. Eh ada acara apa main ke sini?” kemudian menghampiri Se Hun yang sibuk mencicipi masakan.

 

“Aku bosan, tadi ingin mengajakmu dan Se Hun jalan-jalan, tapi Se Hun bilang kau keluar. Ya rencana selanjutnya kami ingin membuat makan malam sekaligus menunggumu pulang.”

 

“Sudah jadi?”

 

“Eum… Ayo sekalian makan saja.”

 

“Sebenarnya aku kenyang, tapi sepertinya memang enak.”

 

“Aku yang memasak Hyung,” seru Se Hun bangga, dan itu memberi sedikit kelegaan di hati Baek Hyun saat melihat adik kesayangannya seceria itu. Sebenarnya itu lebih membahagiakan dari pada melihat jumlah tabungannya terus bertambah setiap hari. Senyum Se Hun itu adalah segalanya.

 

 

❀❀❀

 

 

 

“Kudengar… Kau menjalin hubungan dengan seorang anak pengusaha dari China.” Chan Yeol membuka obrolan saat ia, Baek Hyun, dan Se Hun tengah menonton TV di ruang tengah.

 

Se Hun sudah tertidur sejak tadi di pangkuan Baek Hyun sementara Chan Yeol masih betah memainkan jemari lentik Baek Hyun yang duduk di sebelah kirinya.

 

“Eum, namanya Kris. Dia baik,” balas Baek Hyun masih dengan mata setengah fokus ke arah layar TV, tangan kirinya sibuk membelai rambut Se Hun yang tertidur di pangkuannya, dan tangan kanannya tengah digenggam oleh Chan Yeol.

 

“Aku tahu, karena kalau dia tidak baik, kau pasti sudah memutuskannya setelah 2 hari berpacaran. Kudengar kalian sudah menjalin hubungan lebih dari seminggu?”

 

Baek Hyun terkekeh, “Itu benar, dari mana kau tahu?”

 

Chan Yeol balas tertawa, “Apa hal yang tidak kuketahui tentangmu? Kurasa tidak ada.”

 

Baek Hyun menoleh, sedikit tertarik dengan pembahasan baru itu. “Oh ya?”

 

“Hm… Makanan kesukaanmu, warna favoritmu, musim favoritmu, buah favoritmu, lagu favoritmu, semuanya aku tahu.”

 

Namja mungil itu mengangkat sebelah alisnya, semakin tertarik dengan pembahan itu, “Semuanya?”

 

“Hm…, termasuk perasaanmu padaku.”

 

Baek Hyun langsung tertawa tapi buru-buru membungkam mulutnya sebelum Se Hun terbangun. “Geure? Lalu apa yang aku rasakan padamu?”

 

“Apalagi? Walaupun kau punya puluhan kekasih, satu-satunya orang yang kau cintai itu hanya aku.”

 

“Percaya diri sekali, sudah kubilang tidak ada cinta dalam kamusku. Tapi kau sedikit ada benarnya juga, aku punya banyak kekasih, tapi kalau bisa dibilang, aku lebih menyayangimu dari pada mereka.”

 

“Benar begitu?”

 

Baek Hyun mengangguk sambil menggumam kecil.

 

“Hanya sayang?”

 

“Bagiku rasa sayang itu sudah sangat lumayan.” Baek Hyun menunduk sejenak, menatap wajah pulas Se Hun yang tertidur damai di pangkuannya. “Di dunia ini aku hanya punya Se Hun, dan satu-satunya orang yang kucintai di dunia ini hanya Se Hun. Tapi bisa kubilang…” Baek Hyun kembali menoleh pada Chan Yeol. “Kau orang pertama yang kusayangi setelah Se Hun.”

 

Chan Yeol mengulas senyum tipis, mengangkat tangan kirinya dan membelai pipi Baek Hyun. “Kuharap kau akan cepat bosan bermain-main dengan namja-namja itu dan sepenuhnya kembali ke pelukanku.”

 

“Chan Yeol-ah, kita sudah membahasnya ribuan kali, jadi jangan memulai lagi. Lagipula apa bedanya? Toh kau bisa menganggapku kekasihmu, hanya saja kita tidak punya status itu.”

 

“Beda… Jelas beda. Menganggapmu sebagai kekasihku dan betul-betul menjadikanmu kekasihku itu adalah 2 perkara yang berbeda. Hanya sebuah anggapan bahwa kau kekasihku, namun nyatanya kau bukan kekasihku tidak ada landasan kuat untuk sebuah hubungan, dan itu akan sangat rapuh. Tapi jika kau menjadi kekasihku seutuhnya, maka aku akan punya hak untuk menghajar namja lain yang menyentuhmu. Itu bedanya Baek Hyun-ah.”

 

“Sudah, aku tidak mau membahasnya. Sudah kubilang kan kalau kau tidak mau mengikuti gaya hidupku ya sekalian saja kita tidak usah berteman.”

 

Chan Yeol mendesis kesal. “Ara… Ara, memang apa salahnya berharap?”

 

“Seriuslah berkuliah, agar kau bisa menjadi namja sukses. Jadi saat kau sudah kaya raya tanpa mengandalkan bantuan orang tuamu, kau memintaku jadi apapun aku mau, asal jangan jadi budakmu.”

 

“Hm, aku berpegang teguh pada janjimu itu. Dan jika suatu saat aku sudah sukses dan kau justru menjadi milik orang lain, aku punya hak untuk menuntut kan?”

 

Baek Hyun lagi-lagi tertawa, sebisa mungkin tak terdengar dan mengganggu Se Hun. “Terserah kau sajalah, siapa yang bisa menebak kehidupan?”

 

“Kenapa tidak dicoba?”

 

“Apanya?”

 

“Menebak kehidupan.”

 

Baek Hyun mengulum bibirnya, menahan senyum. “Lalu apa tebakanmu?”

 

“Eum?” Chan Yeol sedikit bergeser agar lebih merapat hingga bisa merangkul pundak Baek Hyun dan mendekatkan wajah mereka. “Coba pejamkan matamu?” perintahnya bertepatan saat ia menempelkan keningnya di kening Baek Hyun.

 

Baek Hyun masih terus tersenyum geli, tapi ia menurut.

 

“Aku akan mengirimkanmu sugesti masa depan kita. Jadi bayangkan sebuah padang rumput yang pendek tapi lebat, di kelilingi bunga-bunga yang bergitu indah dan wangi. Kita duduk berangkulan di bawah sebuah pohon mapple yang rindang di musim semi.”

 

“Tunggu, mana rumahnya? Kita gelandangan?”

 

“Jangan menyela, kita sedang bersantai di taman belakang rumah mewah kita. Menolehlah ke belakang dan lihatlah bangunan itu menyerupai istana, begitu besar dan elegan.”

 

“Hm, bisa kubayangkan, dengan 7 mobil keluaran Eropa yang berjejer di garasi.”

 

Chan Yeol terkekeh. “kenapa harus 7?”

 

“Karena dalam satu minggu itu ada 7 hari. Harus menggunakan mobil berbeda di setiap harinya.”

 

“Ckckck Ya sudah, terserah. 7 mobil. Dan kau akan melihat belasan pelayan yang berjejer menunggui kita di teras belakang, menyiapkan alat barbeque dan segala perlengkapannya.”

 

“Se Hun kemana?”

 

“Se Hun sedang berbulan madu ke Barcelona setelah menikah seminggu sebelumnya.”

 

“Oh, jadi kita hanya berdua?”

 

“Memang masih berdua, tapi beberapa bulan kemudian akan bertiga.”

 

“Se Hun kembali? Tapi bukankah dia sudah menikah?”

 

“Hei… Se Hun kembali ke Beijing karena ia menikahi namja cantik yang berasal dari sana.”

 

Masih dengan mata terpejam, Baek Hyun mengerutkan keningnya, dan itu dirasakan oleh Chan Yeol. “Lalu siapa yang melengkapi kita menjadi 3 orang?”

 

“Ya tentu saja anak kita yang sedang kau kandung saat itu.”

 

“Ha? Bagaimana bisa aku mengandung?”

 

“Bisa, sudah kubilang kita akan kaya raya, bisa membayar dokter terkenal dan menanamkan rahim di tubuhmu jadi kau bisa mengandung anakku.”

 

“Ya Tuhan, itu mengerikan, belum lagi kudengar itu merepotkan. Adopsi saja, 2 orang cukup. Satu namja dan satu yeoja.”

 

“Haih… Kau tidak akan bisa membayangkan betapa bahagianya memiliki anak kandung.”

 

“Ya sudah, kau saja yang mengandung.”

 

“Eh, tapi aku diciptakan untuk menjadi suami, aku tidak mungkin mengandung.”

 

Baek Hyun berdecak kesal. “Skip saja bagian itu, nanti kupikirkan. Lalu?”

 

“Eum… Kau akan mengatakan dengan manja padaku bahwa kau sudah lapar, dan aku akan mencium dan mengelus perutmu yang membuncit?”

 

“Ha? Di masa depan aku jadi orang gemuk?”

 

“Ck, bukankah saat itu kau sedang hamil 5 bulan?”

 

“Hamil? Mengerikan…”

 

“Tidak, tapi menyenangkan. Karena aku akan selalu bersamamu dan memanjakanmu karena kau sedang mengandung anakku.”

 

“Eh, memangnya kau tidak kerja?”

 

“Ck, aku itu akan menjadi pengusaha muda yang super kaya dan sukses, memiliki puluhan cabang perusahaan dengan masing-masing dipimpin oleh orang kepercayaan, aku hanya akan diam di rumah, menandatangani beberapa dokumen dan terima beres. Atau kalau misalnya aku sedang bosan di rumah, sementara kau sibuk berbelanja, aku akan mengunjungi perusahaan sesekali.”

 

“Wah, hebat…  Kecuali bagian hamilnya, Aku suka semuanya. Lanjutkan.”

 

“Jadi saat kau ingin sesuatu, kau tinggal bilang saja. Karena semuanya akan segera tersedia dengan uang.”

 

“Eum… Kehidupan yang keren.” Baek Hyun perlahan membuka matanya, disambut oleh cengiran lebar Chan Yeol.

 

“Jadi?”

 

“Apanya?”

 

“Ini komitmen kita kan?”

 

“Itu… Ya tidak bisa kupastikan juga.”

 

“Hei, aku  sudah menjanjikan banyak hal.”

 

Baek Hyun tertawa geli. Kali ini sudah tidak bisa ditahannya. “Sudahlah, jangan bicarakan itu dulu. Kalau kita memang berjodoh, kita pasti akan bersama pada akhirnya.”

 

Chan Yeol pun tersenyum, mengangkat tangan Baek Hyun yang digenggamnya kemudian dikecupnya lembut. “Jangan terlalu ‘merusak’ dirimu.”

 

“Ya Tuhan… kau ini.”

 

Chan Yeol tidak  membalas lagi. Ia tidak jenuh memandangi wajah Baek Hyun yang jaraknya cukup dekat dengannya. Ia berdehem pelan sebelum ia mendekatkan wajahnya dan menggapai bibir tipis di depannya itu. Setidaknya ada hal yang bisa ia dapat dengan mudah dari Baek Hyun, tanpa pernah ditolak oleh namja yang begitu ia sayangi itu. Lagipula Baek Hyun pernah bilang, kalau berciuman dengan Chan Yeol itu rasanya beda. Waktu ia bertanya alasannya, Baek Hyun hanya tertawa dan kembali menciumnya. setidaknya itu tidak berarti buruk. Perasaan berbeda yang dimaksud Baek Hyun mungkin karena membuatnya suka.

 

“Hem… Jangan sampai aku memukul orang malam ini.”

 

Dengungan menyebalkan itu terdengar jelas, membuat Chan Yeol menjauhkan wajahnya dan ototmatis melepas ciumannya dari  bibir Baek Hyun. “Ya…! bukannya kau sudah tidur?” dengus Chan Yeol kesal.

 

“Ne, aku sudah sangat pulas, tapi perutmu menghimpit kepalaku, Chan Yeol Hyung bodoh! Lagipula, siapa yang mengizinkanmu mencium bibir kakakku sementara aku ada di sini?” balas Se Hun lebih kesal, karena memang saat Chan Yeol mencium Baek Hyun tadi, menyebabkan kepala Se Hun yang berbaring di pangkuan kakaknya menjadi terhimpit oleh Chan Yeol. Dan Baek Hyun hanya bisa tertawa kecil sembari mengelus rambut adiknya pelan.

 

“Jangan seprotektif itu, lanjutkan tidurmu. Ini urusan orang dewasa. Masuk sana, ke kamarmu,” Chan Yeol tak mau kalah.

 

Se Hun pun bangkit, kemudian menarik tangan kakakknya. “Ya sudah, ayo Hyung, kita tidur. Chan Yeol Hyung sudah mau pulang.”

 

“Eh? Siapa yang mau pulang. Aku mau menginap.”

 

“Ya sudah, menginap saja di kamar tamu.”

 

“Tapi!”

 

Se Hun bertolak pinggang dan menatap Chan Yeol tajam. “Diantara teman kakakku, aku hanya menyukaimu Hyung, tapi tetap saja. Aturan mengenai tidak ada yang boleh menyentuh kakakku di rumah ini selain aku, berlaku bagi siapapun. Termasuk kau!”

 

“Wow, kejam sekali.”

 

“Aku tidak mau berdebat. Aku mengantuk. Selamat malam,” ucap Se Hun malas kemudian menarik tangan Baek Hyun yang sejak tadi tidak bisa berhenti tertawa.

 

Chan Yeol hanya mendesis kesal setelah Se Hun membawa Baek Hyun ke kamar, meninggalkan dirinya yang hanya bisa menggerutu tidak jelas. “Dasar pengganggu.”

 

 

❀❀❀

 

Sore itu, pukul 5 tepat, Baek Hyun menunggui Kai lagi di depan cafe tempatnya bekerja. Dan seperti hari-hari sebelumnya, Kai akan tersenyum lebar melihat Baek Hyun menunggunya di sana.

 

“Sudah selesai?” sambut Baek Hyun langsung menggamit lengan ‘kekasihnya’ itu. Mengiringi langkahnya menuju apartemen kecil yang tak jauh dari tempat itu.

 

“Hm, hari ini pelanggan tidak cukup banyak. Kenapa tidak menungguku di dalam saja?” sahut Kai hangat.

 

“Kalau aku masuk, kau tidak akan berkonsentrasi bekerja.”

 

“Ha? Mana mungkin?”

 

“Berani bertaruh?”

 

Kai tersenyum ringan. Melepas kaitan tangan Baek Hyun hingga ia bisa merangkul pundak namja yang lebih pendek darinya itu. “Tidak, karena kau pasti menang. Waktu pertama bertemu saja aku sudah grogi sampai menumpahkan jus di pakaianmu. Lama-lama aku bisa dipecat bosku kalau melakukan kesalahan terus.”

 

Baek Hyun tertawa puas, sesekali memukul ringan dada Kai. “Kau saja yang payah.”

 

“Kau lebih payah  karena menyukai orang sepayah aku.”

 

“Wah, kau terlalu percaya diri tuan Kim, kapan aku bilang menyukaimu?”

 

Kai memutar bola matanya malas. “Kalau ucapanmu tempo hari kurekam, maka akan kuperdengarkan ulang sekarang ini.”

 

“Dan untung saja kau tidak berpikir untuk merekamnya. Jadi kau kekurangan bukti.”

 

Kai mencubit pipi Baek Hyun yang terlihat sedikit memerah, mungkin pengaruh cuaca yang mulai memasuki musim dingin. “Ini saja sudah jadi bukti yang menjanjikan. Kalau kau tidak menyukaiku, kenapa kau mau menjadi kekasih dari namja yang tidak punya apa-apa ini?”

 

“Kenapa? Aku tidak tahu. Bukankah cinta tidak butuh alasan?”

 

“Wah, dan kau termasuk segelintir orang yang berpikiran begitu. Aku takjub, karena aku sendiri belum bisa seperti itu.”

 

“Eh? Jadi menurutmu cinta juga membutuhkan alasan?”

 

“Eum, seperti yang kau bilang waktu itu. Bukan sepenuhnya alasan, mungkin lebih kepada pemicu. Seperti kenapa aku menyukaimu. Aku punya jawabannya.”

 

“Apa?”

 

Kai tersenyum manis, kemudian mengecup ringan kening Baek Hyun. “Karena kau orang pertama yang menyukaiku tanpa alasan.”

 

Deg~

 

Ini seperti teguran telak. Dan baru kali ini Baek Hyun kesulitan memasang wajah polosnya. Masih beruntung Kai tidak begitu menyadari kegugupannya itu.

 

Sedikit kejam memang. Ah tidak, sangat kejam. Menyukai Kai tanpa alasan, itu sungguh kebohongan besar. Ia mendekati Kai karena ia punya tujuan khusus, yang sayangnya sedikit licik. Tapi setidaknya, bagi Baek Hyun, semua yang dilakukannya benar, selama itu untuk adiknya yang paling ia cintai.

 

“Kau lelah Jong In-ah?” tanya Baek Hyun mengalihkan pembicaraan.

 

“Kenapa?”

 

“Tidak, aku hanya ingin jalan-jalan denganmu.”

 

Mata  Kai berbinar. “Mau sekali, tapi cuacanya cukup dingin. Bajumu tidak terlalu tebal. Mungkin lain kali saja.”

 

Dan Baek Hyun baru tahu bahwa ini cara Kai jika menolak sesuatu. Ujung-ujungnya pasti demi kepentingan Baek Hyun. “Hm, ya sudah, kita di apartemenmu saja.”

 

“Aku bawa banyak makanan di ranselku. Tadi aku sempat bereksperimen dengan rekan kerjaku di cafe. Hasilnya lumayan. Dan aku ingin kau orang pertama yang mencicipi hasil kerjaku.”

 

Baek Hyun terdiam, menatap wajah Kai yang terlihat bersemangat.

 

“Hei kenapa hanya melihatku begitu? Tenang saja, rasanya enak dan sudah pasti tidak akan membuatmu sakit perut,” ujar Kai sambil tertawa.

 

“Ternyata kau orang yang ceria juga. Senang sekali melihatmu tertawa.”

 

Kai menghela nafas panjang di sela tawanya. Terlihat kabut tipis yang keluar dari mulut dan hidungnya, menandakan bahwa memang cuaca semakin dingin. “Aku tidak tahu Baek Hyun-ah, mungkin aku lupa kapan terakhir aku tertawa selepas ini.”

 

“Eh kenapa?”

 

“Yang kuingat, aku hanya berjuang agar tetap bisa melanjutkan kehidupan. Mengenai sosialisasi dengan orang lain, terkadang aku mengesampingkannya karena memang diantara mereka tidak ada yang benar-benar tulus.” Kai menoleh, masih memasang senyum hangatnya.

 

Tampan!

 

Baek Hyun tidak bohong. Kai sungguh tampan, begitu cocok dengan senyum itu.

 

“Mungkin benar, sudah seharusnya aku juga memikirkan hal yang seperti ini. Dan beruntungnya, aku tidak perlu mencari karena malaikatku mendatangiku sendiri,” lanjutnya.

 

“Haih, kupikir karena kau jarang bersosialisasi maka kau tidak akan kenal dengan kalimat menjijikkan tadi. Tapi ternyata kau cukup pandai membual juga,” balas Baek Hyun masih ekstra hati-hati menutupi kepalsuannya.

 

“ Jangan salahkan aku. Kata-kata itu keluar begitu saja kalau aku melihatmu.”

 

Baek Hyun mendesis, berlagak kesal. “Menjijikkan.”

 

Dan lagi-lagi itu mampu membuat Kai tertawa lepas.

 

Tawa yang mungkin akan dengan kejamnya Baek Hyun lenyapkan dengan sebuah pengkhianatan berkedok ketulusan.

 

 

❀❀❀

 

 

 

Baek Hyun cukup asyik menyantap sepotong pie di piring kecil yang terselip di tangan kirinya. Matanya tidak berpaling pada layar televisi berukuran tidak cukup besar di depannya itu.

 

“Lihat… mana mungkin dia tidak tahu bahwa pembunuhnya itu adalah adiknya sendiri,” lirih Baek Hyun, takut merusak konsentrasi menontonnya sendiri. Namun karena merasakan bahwa namja yang duduk di sofa sambil memeluknya itu tidak memberi respon, ia pun menoleh.

 

Kai tertidur dengan raut wajah cukup lelah. Baek Hyun mungkin sedikit mengerti, karena waktu Kai satu harian itu betul-betul penuh. Pagi untuk sekolah, siang untuk latihan dance, dan sore untuk bekerja di cafe. Belum lagi Kai bilang mulai besok ia akan meningkatkan frekuensi latihannya karena akan ada kompetisi dance tahap final beberapa minggu lagi. Dan bisa jadi waktu untuk sekedar berkencan tidak akan ada.

 

Baek Hyun meletakkan piring kuenya di atas meja persegi di depannya, kemudian perlahan turun dari pangkuan Kai dan duduk di sebelahnya. Menatap wajahnya yang sangat kelelahan itu. “Menyerah saja….” lirih Baek Hyun bahkan tanpa suara.

 

Perlahan dan hati-hati, Baek Hyun mengangkat tangannya, hingga ujung jari indahnya menyentuh permukaan bibir Kai yang tebal, namun menurutnya seksi. Ada sensasi aneh yang hinggap di kulit jemarinya, terlebih saat hembusan nafas hangat Kai ikut dirasakannya.

 

Ia tersenyum, kemudian masih dengan hati-hati ia mendekat dan mengecup ringan pipi Kai. Setidaknya ia harus menyisakan sesuatu yang baik sebelum pada akhirnya ia melakukan ‘hal buruk’ pada namja polos ini.

 

“Ini termasuk pelecehan,” ucap Kai dengan mata masih terpejam.

 

Baek Hyun jelas terlonjak kaget karena mengira Kai betul-betul tertidur. “Ya! Kau tidak tidur?”

 

Kelopak mata tegas Kai pun terbuka, menolehkan kepalanya yang masih bersandar untuk mencari posisi yang nyaman memandangi wajah cantik kekasihnya itu. “Kenapa menciumku saat aku tertidur?”

 

Wae? Tidak boleh? Atau kau tidak suka?”

 

“Bukan, hanya saja tidak adil.”

 

“Maksudnya?”

 

Kai tersenyum, kemudian ia sentuh pipi Baek Hyun dengan lembut. “Aku hanya tidak ingin melewatkan hal-hal manis seperti itu jika saja aku tertidur.”

 

Dan Baek Hyun pun balas tersenyum sebelum ia kembali bergeser, meraih rahang kokoh Kai dan menyatukan bibir mereka. Yah setidaknya Kai menganggap hal-hal seperti ini sebagai kenangan manis sebelum Baek Hyun menghancurkannya dengan terpaksa.

 

Mungkin awalnya Baek Hyun hanya menganggap ini lelucon, tapi semakin lama, kenapa kesannya justru serius. Namun tidak mengapa. Apapun asal adiknya bahagia.

 

 

❀❀❀

tbc

ALF sepcial note: wkwkwkwk jadi ini ChanBaek? KrisBaek? KaiBaek? Apa justru Hunbaek? Bwakakaka tanyakan pada ALF yang bergoyang seksi #dilempar Soekarno Hatta (duit seratus rebu)

 

Wkwkwkwkwk ALF ada-ada aja ye masangin Baek Sama siapa aja. Ya emang manurut ALF emang kagak ada istilah Official couple ama crack couple. Ya elah… Yang official itu BaekYoo #slap.

 

Jadi begini, kalo ALF dapat feelnya ni couple, ALF bakal bikinin FF, jadi untuk Baek Hyun sejauh ini ALF dapat Feelnya ChanBaek, KrisBaek, KaiBaek dan HunBaek. Dan DI KELUARGA CEMARA GAK ADA ISTILAH MEREKA CRACK COUPLE (Loh siapa yang nginjek caps?). wkwkwk selama ini ALF cuman ketawa-ketawa aja ama Ilam kalo dengar kata2 official couple dan crack couple, apalagi pas nemu kalo alasan ada istilah seperti official couple itu karena telah ditetapkan oleh management. ALF mikir, dari segi apa? SM pernah gitu ye ngumumin ChanBaek ntu official couple, ALF gak tau, ALF kan Katrok. Setahu ALF mah ya ChanBaek adalah Roommate, dan momentnya aduhai bikin teler. Ya kalo berpatok ama roommate, HunHo (kapelnya Se Hun Su Ho apaan sih?) ntu official couple dong. KrisChen, TaoMin(?), HanLay juga Official couple dong. #ditampar satu kampung.

 

Wkwkwk sante.. sante buat harshipper. Ini cuman pendapat pribadinya ALF, sudah pasti banyak yang kagak setuju. Tapi balik lagi, rada aneh aja pas ada yang komenin monochrome dengan kalimat seperti ini “Astaga, walopun ini crack couple, tapi aku sudka ceritanya” ya minimal begitulah, sekalian muji FF sendiri #ditampar lagi. Kagak ngarti dah crak crack office office gitu. ALF emang bego masalah begituan.

 

Wkwk ya sudin, ini Ffnya udah 9K words lebih, tambah bacotan ALF genap 10K words. Wkwkwk Komen ding, ini masih TBC, sebisa mungkin ini chapnya pendek kok. Adiooosss

 

 

Salam pramuka

375 thoughts on “Love Needs Reason — Chap 1 || Baek Hyun And…

  1. naughty baek. again. aku sukaa😄
    apalagi pairnya smua aku suka banget. krisbaek chanbaek kaibaek(sayang hunbaek jd sodaraan#plakk marukk).. moga entaran ada yg posesif, lbih bagus psycho ma baek#dicekik.. cool pokoknya.

  2. BAEKHYUN CENTRIXXXXXX!! Incest juga ada, selingkuh ada, yang sama sahabat juga ada. Yaelah favorit banget-bangetan asdfghjkl

    Sehun gayanya oke banget kalo soal incest men incest, si kris pacar yang ajib banget. Pffffffft aura cabe si baekhyun dapet banget deh disini. Gila favorit bangeeeeeeet

  3. Hei saoloh byun baek awas lho kena batunya. Jangan suka mainin namja{eh?} ntar jd jatuh cinta beneran. Aduh kasian Kai perasaan ny d mainin gtu.

    Kira2 end ny dgn siapa ya? Soaln Chanyeol,Kai dan Kris punya kesan tersendiri d mata Baek, tp kalo d lht dr keseluruhan crt ini, Chanyeol kandidat kuat, pertama Sehun menyukai nya, kedua Chanyeol org pertama yg d sayangi Baekhyun setelah Sehun. Tp smw bisa berubah sic.

    Btw sugesti yg d kirim Chan pada Baek bikin aku senyum2,memang agak sdkt wah tp romantis euy.

  4. baru baca ini ff hahah keren deh, ini rated M bukan? klo iya bagus aja gk ngebosenin bagian grepe2.y jd bkin greget nunggu nc.y (kpan kris nc baek) haha krisbaek shipper maklum. cuma diawal2 agak ngebosenin doang pas cerita awal sblm ada tulisan chap 1. sbgai krisbaek kaibaek chanbaek dan hunbaek shipper sy senang ada ff semacam begini. haha. terimakasih ya ff.y

  5. waktu baca castnya, sehun, jongin, chanyeol, kris… waduh baek.. udah embat aja semua nya embat! hanjiiiirrr baekhyun disini kok gitu banget ya? tapi oh ternyata sehun jadi adiknya baek nih disini, untung bukan pacarnya juga. maruk amat nih ALF, eh.. baek maksudnya hehehe //kan yang ngejadiin baek kaya gini juga kan kak ALF//

    aku ngebayangin sehun aduuuhhh lucu banget… jadi pengen banget punya adik laki-laki kaya sehun.. kalo aja beneran aku punya, pasti bakalan aku kasih apa aja deh buat diaaa…

    dan chan juga.. sesetia itu sama baek.. sampai bikin sugesti2 masa depan gitu.. hahaha bodor waktu baek bilang “kau saja yang mengandung” ciee elaah nyuruh orang mengandung, kaya nyuruh orang beli permen, emangnya mengandung semudah itu hahaha

    sejak baek nanyain tentang kai, aku udah nebak-nebak, ini pasti baek mau jadiin kai pacar deh, demi sehun, yah pertamanya sih oke2 aja, tapi setelah tau ternyata kai sepolos itu dan hidupnya sendirian dan yah cukup dibilang menderita, aku ga rela kai diginiin.. plisss baek jangaaan… ga peduli sesayang apa km sama sehun plis jangan permainin perasaan kai.. lebih baik km cari duit yang banyak sono, terus nyewa pelatih dance yang lebih hebat biar sehun bisa menang..

    pertamanya ngakak sama tingkah dramatis baek waktu ngerjain kai, tapi lama2 gak lucu ah.. malah terkesan jahattt.. kasian kan kai huhuuu..

  6. Assalmu’alaikun
    Tak lupa wajib diucapkan ketika sesama muslim bertemu untuk sekedar mengucapkan do’a *apasih bahasa gue (aneh) :#

    Langsung ke TKP aje yeh..
    Gak bs nebak kalo baek nnt pd akhirnya jadian sama siapa/?/ kekasih sesungguhnya (yg tnpa pura2 atau cinta tanpa krn sesuatu) . Kalo kris kayaknya egak deh *ah sok tau loh
    Kecurigaan sih ke chan atu kai . alsanya sih gue emang hard shipper ChanBaek yah (kibarkan bendera chanbaek) :# tp tdk menutup kemungkinan Si Baek jatuh kepelukan Bang Kai (baca hrs pake spas!) Secara character dia (kai) disini itu gk kek biasanya (?) Kenapa dia Yg jd Kalem, polos dan hidupnya mengenaskan (?) Dan gue pun kasian trs pengen bawa pulang dan gue rawat dirumah *emang kucing (gila ganteng2 gni disamain kucing hahaha) . Biasanya kn jd cowo playboy yg punya otak yadong mesumnya tingkat tinggi , tp masalah seksi, cakep dan coolnya gk bs dibantah krn emang bawaan dr lahir/aduuhh… Seksiinya 😍 seketika jongin berpose seseksi mungkin berusaha menggodaku krn tlh memujinya, dan gue pun gak tahan (?) Nelen ludah dan .. *ngelantur __stop!
    Ampe lupa sampe mana td wkwk . Ya intinya sih Kaibek atau ChanBaek gue lbh setuju dripada KrisBaek atau HunBaek (ini sdh pasti kagak mngkin lah, saudara men ! Apa kata dunia coba) . Kalo pd endingnya Kaibaek jadian,, gue pesen aja buat bang yeol jngn nangis kejer spt ponakan gue yg mengira emaknya ilang pdhl kebelakng bentar mau pipis. Ihhh apaaan siiih … Bang Yeol gk ush sedih pokoknya (chan : gmn gk sedih saat gebetan lo jadian sama cwo lain?, gue jg sedih kok bang, bngt malah #curhat) jd kita senasib so.. Bang Yeol sama Matilda aja yah, kita wujudkan imajinasi yg di pandang rumput yg dibelakangnya terdapat rumah mewah semewah istana dan seterusnya …..Happy Ending
    (Epik high- Happy Ending Play 🎶)
    ah gue sadar kalo semakin ngelantur kagak jelas ..

    Akhir kata dr komen saya , kalopun ada kata yg aneh itu memang saya sengaja dan kalo koment berasa kurang panjaaaang , besok gue pinjem sinetron punya Tukang Haji Naik Bubur yg panjaaaangnya gak tau sampe kapan yah (mungki pas haji muhidin meninggal baru kelar *Astaghfirullohal adhiiim, maaf haji muhidin bukanya saya mendoakan anda :v tp…. mboh ah 😝😂) .
    Udh ah tambah gak jelas ini … sekin dlu kk Alf yg cantek kita ketemu lg di next chapt.
    your fanfiction is jjang pokoknya😆 plng the best dr semua yg pernsh ane baca😍 .

    Wassalam. . Kecup dikit boleh *tsaahhh 💋

  7. Aigoo itu kai nya mu di apain aduh kasian…..
    Baekhyun suksee banget lah dengan perannya keren!!! Hahahha….. gimana dong?? Tadi teh akuu nulis apa ya lupa..
    Pkoknya belajar dari baekhyun! Eh salah maksudnya.. tetap semangat buat author…. yg masih nyempetin.. menulis… meskipin lagi sibuk. Thanks thor..

    Oh iyah maap yah thor bukan maksudnya mengajari tapi setahu aku yg di prolog ada kata2 “bahagia, atau menderita” itu ga pake koma, karena pilihannya cuma dua, kecuali kalau lebih dari dua baru pake koma..

    Maap ya thor kalo salah…
    Makasih….😁

  8. Haduh, ini masih belum bisa nebak apalagi ini yang nulis udah sering bikin pikiran, perasaan (elah) naik turun. Dari beberapa yang sudah kubaca

    Emang Baek cocok sama sapa aja,(sekalipun sama Kyungsoo ) dan hampir semua karakter itu pas buat Baek.

    Hanya berharap semoga Baek tidak terlalu kesiksa sama karmanya nanti/? -ya kalau ada-

    Hati saya suka nge Deg deh kalau udah banyak pihak yang tersakiti nanti. Baru chap 1 aja udah was-was.

    Yawes ah, segitu saja..
    Sekian dan .. Terimakasih sangat..🙂

  9. Sumpah ya kelakuan Baekhyun
    ….
    gemes2 pengen nabok gimana gitu

    sapa nih yg bakalan bikin jera ? aq harap Kai
    tp endingnya Hunbaek aja ya LOLOL

  10. karakter baekhyun di sini kuat banget . dia yang biasanya polos . di buat tangguh dan memperdaya semua pria .

    baekhyun sayang bgt sama sehun . semuanya buat sehun . tapi chanyeol juga di sayang sama baekhyun .

    tapi jongin yang cinta tulus bgt sama baekhyun . baekhyun nya juga tapi jongin lawan sehun saat lomba dance nanti .

    ff ini kaya paket komplit . ada krisbaek . chanbaek . kaibaek . dan hunbaek .

    aku suka hunbaek . incest gimana gitu .. hehehe

    makasih ff nya

  11. haloo kak Alf.
    baru baca LNR.
    aku sukaaaa banget karakter Baekhyun disini. dia nakal. matre. pembohong. penggoda kaum berduit. dan peduli sama keluarganya.

    udah gitu Baekhyun centric lagi. aihhh. senengnya. aku suka semua pairnya. ChanBaek. KaiBaek. KrisBaek. HunBaek. walaupun OTP ku ChanBaek sih. *gada yang nanya*

    sepertinya yang berpotensi dipilih Baek ya PCY sama Kai. Kris mungkin bisa dipilih sih. tp krena Baek pernah bilang ke Se Hun kalo bakal mutusin Kris bgtu dia pulang, karena Se Hun gasuka. dan Baek bilang bakal nglakuin apapun demi Se Hun kan?
    tapi bisa aja sih ga gitu. Kris duitnya banyak kan. LOL. sayang kalo diputusin. masih bisa diporotin. *reader mata duitan*

    kasihan Kai kalo sampe dia tahu Baekhyun udah pura2 suka sama dia. pasti dia sakiiiit banget. apalagi kayaknya Kai polos dan asli baik gitu anaknya.

    jangan-jangan ntar Baekhyun kena karma lagi. dia jd suka beneran sama Kai. hahahaha.
    lagian dilihat dari sikapnya Kai kayaknya dia tuluuuuus sayang sama Baekhyun.

    trus itu yang dibilang PCY ke Baekhyun pas mereka lagi bayangin masa depan pas part Sehun nikah trus pulang ke Beijing itu jangan-jangan Luhan yaa?? ya kan? ya? ya? ya? ya? *diinjek*

    trus nih yaaa aku sedih kalo HunBaek sodaraaaaan. mereka gabisa mesraan dikit. *ditendang Chan Yeol*

    okeh Kak Alf. segitu aja komen gapenting dariku. takutnya ntar kepanjangan -_-
    pokoknya fF ini jjang!! lengkap banget. bahkan ada incest juga.
    satu kata kak Alf.
    SUKAAAAAAAAA. ♡♡

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s