Monochrome || HunBaek || Chap 1 of 2


monochromex

Tittle: Monochrome

Author: AyouLeonForever

Cover pic/poster edited by: AyouLeonForever

Genre: Yaoi, Romance, Sad (?) Romance, Action(?), Comedy. Diramu menjadi satu.

Length: 2shot

Pairing: HunBaek

Slight: HunHan and others #smirk

Main Cast:

  • Oh Se Hun

  • Byun Baek Hyun.

  • Wu Fan / Kris Wu

  • Kim Joon Myun / Su Ho

  • Do Kyung Soo

  • Dll

 

Disclaimer: semua cast bukan punya ALF, cuman pinjam nama buat imajinasi(?).

Copyright: Alur/plot belongs to me. AyouLeonForever™. Dilarang menyebarkan(?) alias copy paste without permission.

 

Summary: Hanya karena aku mempunyai masa lalu yang membuatku jatuh ke dalam kehidupan tanpa warna, bukan berarti aku tidak punya hak untuk bangkit. Terlebih saat kau muncul di hadapanku. Mengubah hidupku yang berlatar satu warna, kini justru dihiasi puluhan warna.

 

Warning: Boys Love, OOC, AU, Little bit lime. Yang bocah nyadar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

||Monochrome||

 

 

 

 

 

 

Author POV

 

 

Baek Hyun bergidik saat sebuah map yang tidak begitu tebal dihempas cukup keras di atas meja. Beberapa jengkal dari tempatnya berdiri tegap.

 

“Sudah berapa kali ini?” teguran itu memecah senyap yang mencekam. Menambah aura menyeramkan di dalam ruangan yang tidak bisa dibilang sepi itu, karena sekiranya, terhitung 4 orang selain Baek Hyun yang ada di sana.

 

“Maafkan aku, Seojang-nim,” ucapnya lemah. “Tapi yang kulakukan ini untuk membela diri!” lanjutnya antusias.

 

“Tidak ada alasan!” bentakan lagi. “Kali ini kau tidak tanggung-tanggung Byun Baek Hyun. Anak seorang Menteri???”

 

“Aku mana tau kalau dia anak Menteri,” keluh Baek Hyun dengan suara kecil.

 

“Apa?”

 

“A… Tidak, itu hanya…”

 

Sang atasan menghela nafas lelah, masih cukup kesal ah tidak, sangat kesal pada ulah bawahannya itu. “Ini tahun pertamamu bergabung di Departemen ini dan kau sudah membuat masalah tidak kurang dari 10 kali. Kau tahu, kalau saja kesabaranku sudah habis, aku bukan hanya akan menyetujui pemindahanmu ke Departemen Kenakalan Anak dan Remaja, kalau perlu aku akan meminta kantor pusat untuk memberhentikanmu.”

 

“Yah, jangan Seojang-nim. Kalau aku dipecat, siapa yang akan memberi makan dan menyekolahkan adik-adikku.”

 

“Berhenti mengeluh, aku sudah hapal kalimat itu.”

 

“Tapi sungguh, aku tidak tahu kalau namja itu anak Menteri. Aku hanya menjalankan kewajiban saat membantu Min Ho  Hyung melakukan penertiban di Bar itu, dan tiba-tiba saja namja itu datang dan er… menyentuh bokongku. Kalaupun dia anak Presiden sekalipun, aku tetap tidak akan sungkan membantingnya.”

 

Arasso… Arasso, aku sudah mendengar itu ratusan kali. Tapi masalahnya dia sedang dirawat di Rumah Sakit sekarang karena menderita patah tulang ekor. Tunggu saja sampai pak Menteri menuntut dan aku tidak akan membelamu lagi seperti sebelum-sebelumnya. Lagipula kau punya prestasi apa untuk dibela? Menyusahkanku saja.”

 

“Ayolah Seojang-nim… Kalau kau tidak membelaku dan aku diberhentikan? Adik-adikku akan makan ap__”

 

“Cukup… Cukup!”

 

Baek Hyun bergidik lagi, semakin menunduk dengan keluhan beruntun yang tersangkut di ujung lidahnya.

 

Sekali lagi sang atasan menghela nafas, mengontrol amarahnya. Sampai kemudian dering telepon di meja kerjanya membuatnya tersentak kaget membuatnya semakin panik.

 

“Itu… Lihat itu… Lihat Byun Baek Hyun, itu pasti dari pusat lagi. Dan berdoa saja kau tidak langsung dipecat tanpa pembelaan.”

 

“Seojang-nim… Tolong…”

 

“Haih…” sang atasan langsung menyambar gagang telepon setelah berusaha untuk terlihat tenang. “Selamat malam, dengan Kepala Departemen Penyidikan, Kris Wu di sini,” sahut sang atasan yang terdengar sangat kaku dari biasanya. Keningnya berkerut dan sebelah matanya terpejam seolah akan mendengar ledakan pistol di seberang. “Be… Benar Kang Sunbae-nim. Polisi muda itu berasal dari Departemen ini, dia kutangani langsung sekarang.” Sang atasan bernama Kris itu menggigit bibir bawahnya, mencoba menerka-nerka ledakan apalagi setelah ini. “P.. Prestasinya,” Kris menatap jengkel pada Baek Hyun yang masih berdiri di depan mejanya, memohon sambil menangkupkan kedua tangannya. “Cukup banyak  Sunbae-nim. Beberapa bulan yang lalu, dia membantu Departemen Penertiban Umum untuk menangani kerusuhan saat kampanye salah satu partai di daerah Daegu.” Wajah Kris memucat, terlihat jelas bahwa yang ia katakan mungkin sedikit mendekati kebohongan.

 

Waktu itu, Baek Hyun memang ikut penertiban, tapi tidak melakukan apa-apa sama sekali karena dia diminta seorang nenek untuk menyelamatkan kucing yang tersangkut di gorong-gorong jalan.

 

“Dan… dan… dia juga membantu rekannya di Departemen ini menangani kasus saat terjadi pembunuhan di sebuah apartemen.”

 

Kalau ini murni kebohongan. Baek Hyun memang mempunyai rekan yang cukup dekat di Departemen penyidikan, dan saat itu mereka sedang mengobrol di Cafe saat rekannya itu ditelepon untuk menyelidiki pembunuhan di salah satu apartemen. Baek Hyun ikut, sampai ke lapangan parkir dan menunggu di sana, sebenarnya alasannya cukup masuk akal. Rekannya itu tidak mau kalau penyelidikannya kacau karena Baek Hyun.

 

“Sebenarnya masih banyak lagi, akan kubuka riwayat kasus yang dia tangani beberapa bulan yang lalu.” Kris melengos ke arah Baek Hyun, menandakan bahwa atasannya itu mendapat teguran nyata.

 

Baek Hyun melayangkan tatapan penuh harap agar atasannya yang tampan itu tetap mempertahankannya. Demi kelangsungan hidupnya dan 3 orang adiknya tentu saja.

“Bi… Bisa anda ulangi?” Kris sedikit membelalak. “Ta… Tapi Kang Sunbae-nim, anak ini baru bertugas tak cukup setahun, jika langsung dipindahkan ke Departemen itu…” Kris bergumam resah. “Bukan, bukan bermaksud menentang. Tapi  Sunbae-nim, aku masih butuh anak ini untuk membantuku.” Kris memutar bola mata telah mengucapkan kebohongan terbesar. “A… Akan kuusahakan  Sunbae-nim. Akan kukirim laporan itu secepatnya. Eum, 3 hari mungkin,” Kris melayangkan tatapan mematikan pada Baek Hyun. “Ne  Sunbae-nim. Aku tidak akan mempertahankan anak ini tanpa alasan. Saya mengerti… Selamat malam. Terima kasih!”

 

“Bagaimana? Bagaimana? Bagaimana??” serbu Baek Hyun khawatir.

 

“Kau tidak jadi dipecat, juga tidak jadi dipindahkan. Kau tetap di Departemen ini,” jawab Kris malas.

 

Jeongmalyo Seojang-nim? Yeeeeaaaaahhh!!!” seru Baek Hyun  semangat. Tindakan yang sebenarnya akan membuat atasannya tersenyum, namun kali ini jelas tidak.

 

“Jangan senang dulu. Ada syaratnya.”

 

“Apapun itu, akan kulaksanakan dengan baik.”

 

“Begini, akhir-akhir ini banyak kasus yang tidak tuntas. Kalaupun tuntas, waktu yang dibutuhkan betul-betul sangat lama, hingga kasus-kasus lain bertumpuk di belakang. Ini terjadi sejak kau bergabung.”

 

Baek Hyun mengerucutkan bibirnya. Betul-betul kebiasaan buruk bagi seorang Polisi yang dididik tegas.

 

“Baiklah, anggap saja aku tidak betul-betul mengatakan kalimat terakhir. Tapi ini betul, reputasi Departemen kita menurun drastis sejak ‘dia’ tidak aktif lagi di sini.”

 

Baek Hyun mengerutkan keningnya tidak mengerti. “Dia? Siapa yang anda maksud?”

“Hm, seseorang yang harus kau tangani agar dia kembali aktif di sini. Itu syaratnya.”

 

“Maksudnya kutangani?”

 

“Lakukan apa saja agar dia mau kembali bekerja di departemen kita.”

 

“Siapa dia?”

 

Kris tersenyum, meraih sebuah map yang terletak di rak sebelahnya, kemudian menyerahkannya pada Baek Hyun. “Sekaligus untuk memperbaiki reputasi kita. Kita butuh orang ini.”

 

Baek Hyun meraih map itu, membukanya perlahan, dan matanya terlihat membesar ketika melihat lembaran pertama yang berisikan identitas seseorang.

 

“Oh Se Hun, 26 tahun,” Baek Hyun mengangkat kepalanya. “Detektif Oh?”

 

Kris mengangguk. “Kau pasti sering mendengar sepak terjangnya. Untuk itu tidak akan kujelaskan kenapa kita sangat membutuhkannya di sini. Waktumu untuk membujuknya kembali adalah, 3 hari. Kalau kau tidak berhasil, aku tidak bisa lagi mempertahankanmu.”

 

“Eh, apa benar ada tugas seperti ini Seojang-nim? Membujuk? Aneh sekali.”

 

“Karena dia orang penting, jadi ini dimasukkan kedalam daftar tugas. Kalau kau menolak, terpaksa kau harus menyerahkan surat pengunduran dirimu malam ini.”

 

“A… Aku setuju, akan kubawa dia ke sini secepatnya.”

 

Kris kembali tersenyum. Tipis namun bermakna. “Geure…  laksanakan.”

 

Baek Hyun memberi hormat. ‘Siap laksanakan!”

 

 

 

😦🙂😦

 

 

 

“Hyung… Ayo bantu aku,” rengek Baek Hyun sembari mengguncang-guncang tubuh Su Ho yang tertidur lelap (kini terganggu) di balik selimutnya.

 

Ige mwoya Byun Baek Hyun. Kau sadar baru jam berapa sekarang? Hoooaaahhmmm…” keluh Su Ho kesal. Ia sudah cukup jengkel saat Baek Hyun menerobos ke apartemennya dan langsung meminta tolong padanya. Sedikit menyesal karena ia memberikan kode password untuk kunci apartemennya pada Baek Hyun.

 

“Tapi Hyung, aku hanya diberi waktu 3 hari oleh ahjushi pervert itu.”

 

“Apa waktu 3 harinya sudah berakhir?”

 

“Belum, aku baru diberi tugas ini tadi malam.”

 

“Ya sudah, biarkan aku istirahat beberapa jam lagi, tolong. Aku lelah, habis menangani kasus pembunuhan.”

 

“Tapi belum selesai juga kan? Makanya bantu aku menemukan Detektif Oh, itu juga untuk kelancaran tugasmu. Kudengar dia sangat hebat.”

 

“Tapi ini baru jam 5 subuh, Byun Baek Hyun. Bertamu ke rumahnya sama saja dengan mengganggu. Terlebih aku yakin kau tidak akan berhasil membujuknya.”

 

“Kenapa? Dia keras kepala?”

 

“Tidak…”

 

“Lalu?”

 

“Ya setahuku sudah banyak Polisi yang ditugaskan untuk membawanya kembali, tapi tidak satupun yang berhasil.”

 

“Hum, begitu? Eh, memangnya apa alasan dia berhenti?”

 

“Alasan yang sangat melankolis. Permasalahan cinta.”

 

Baek Hyun mendengus. “Jangan meremehkan begitu. Kudoakan kau jatuh cinta dan patah hati di saat yang sama, baru kau tarik kembali ucapanmu.”

 

“Biar saja, kau kan ada.”

 

“Uhuk? Aish jinjja.. Aku tidak akan mau denganmu, dasar pemalas. Tolonglah… bantu aku.”

Su Ho menggaruk kepalanya yang benar-benar gatal. “Ya sudah, tunggu di sini. Aku mandi dulu. Ah sekalian siapkan sarapan untukku.”

 

Baek Hyun tersenyum penuh kemenangan. “Itu baru Su Ho Hyung ku. Beres!”

 

 

😦🙂😦

 

 

Baek Hyun menatap heran pagar rumah minimalis yang cukup berlumut itu. “Kau yakin Hyung, ini rumahnya?”

 

Su Ho menguap berkali-kali dan mengusap matanya yang berair. “Ne, aku sangat yakin. Aku belum mendengar kabar kalau Detektif Oh pindah rumah,” jawabnya sembari menyandarkan kepala di sandaran jok mobil dan memejamkan mata.

 

“Tapi Hyung, ini lebih mirip rumah hantu dari pada rumah seorang Detektif.”

 

“Jangan banyak bicara, cepat masuk dan bujuk dia sebisamu.”

 

“Tapi benar ini rumahnya…”

 

“IYA Byun Baek Hyun!!!”

 

“Kau tidak masuk Hyung?”

 

“Wae? Kau takut?” tanya Su Ho dengan nada meledek.

 

“Ah siapa yang takut. Polisi mana mungkin takut,” jawab Baek Hyun angkuh.

 

“ya sudah, masuklah.”

 

Arasso… Arasso. Kau tunggu di sini, jangan meninggalkanku.”

 

“hm…”

 

 

😦🙂😦

 

 

Baek Hyun mengangkat alisnya saat ia mendorong pintu depan rumah ‘hantu’ itu. Alternatif terakhir karena ia sudah lelah mengetuk sejak 15 menit yang lalu. Pintunya tidak terkunci, sama halnya dengan pagar rumahnya. Hanya ada dua kemungkinan rumah itu tidak terkunci. Pertama, penghuninya sudah bangun dan baru saja kembali dari Jogging, atau memang pintunya tidak dikunci sejak semalam. Baek Hyun mengangguk-angguk akan analisanya itu.

 

Lagipula, ia kan seorang Polisi, jadi dia punya alasan untuk menerobos rumah orang tanpa permisi. Dia akan mengatakan ini perintah dari atasan. Betapa Baek Hyun ingin tertawa dengan pikirannya itu. Sungguh menyenangkan jadi polisi.

 

“Permisi… Ada orang?” seru Baek Hyun pelan. Terdengar gema yang bersahutan, menambah kesan mistis pada rumah itu. Lagipula, rumah itu sangat berdebu, terlihat sangat tidak terawat. Ruang tamunya saja sudah sekacau itu. Puntung rokok dimana-mana, berkas-berkas aneh bertebaran di lantai, botol dan kaleng minuman berserakan di atas meja dan sofa.

 

“Ah, mana mungkin ini rumah Detektif,” keluhnya sembari menutup hidung. Selain karena banyak debu yang beterbangan, aromanya juga kurang menyenangkan.

 

Ia melanjutkan langkah untuk masuk lebih ke dalam. Rahangnya hampir lepas saat mendapati keadaan dapur yang dipenuhi sarang laba-laba. “INI RUMAH???” pekiknya seorang diri. Tapi dia tidak mau ambil pusing. Bagaimanapun sosok Detektif Oh ini, ia tetap akan menyeretnya kembali. Demi masa depannya dan adik-adiknya.

 

“Detektif Oh, apa anda di rumah?” seru Baek Hyun berkali-kali, namun tak ada sahutan sama sekali. Yang terdengar hanyalah pantulan suaranya. Sampai ketika langkah mungilnya berhenti di depan sebuah pintu yang Baek Hyun pastikan adalah sebuah kamar tidur, senyumnya mengambang. Dengan sedikit bersemangat ia mengetuk pintu kamar itu. Kondisinya tidak lebih baik dari pintu depan, juga pintu lainnya. Tapi setidaknya, di gagang pintu itu tidak ada sarang laba-labanya. Menandakan bahwa pintu ini cukup berfungsi setiap hari.

 

15 menit lagi berlalu sia-sia hanya dengan mengetuk pintu tanpa ada sahutan. Baek Hyun merutuk diri dalam hati, mengesampingkan akibatnya jika saja penghuni rumah ini menghajarnya karena dengan seenaknya menorobos begitu saja kedalam kamar pribadi orang lain.

 

Baek Hyun menarik nafas cukup dalam, kemudian menghembuskannya kuat. “Maafkan aku Detektif Oh, tapi aku harus lancang untuk masuk kedalam. Siapa suruh tidak membukakan pintu untukku. Aku masuk!” ucapnya pada siapapun yang ada di dalam kamar itu.

 

 

Cklek_

 

 

Lagi lagi tidak terkunci. Dan Baek Hyun betul-betul memberanikan diri untuk membuka lebar pintu itu hingga kaki mungilnya menapak pelan di dalam ruangan tersebut.

 

Mata mungilnya membesar saat ia menangkap siluet seorang namja yang tengah terbaring dalam posisi tengkurap di atas lantai. Bukan di tempat tidur, dan itu membuatnya terkejut. Bisa jadi itu adalah Detektif Oh yang telah meninggal. Mengingat kondisi rumahnya yang betul-betul tidak terurus.

 

Dengan cekatan ia berlari ke arah jendela dan menyibak tirai panjang di sana hingga cahaya matahari masuk ke dalam ruangan remang itu. Tak lupa ia membuka jendela agar udara segar sedikit menghilangkan bau pengap di dalam ruangan itu. Setelahnya, Baek Hyun berlari ke arah ‘jenasah’ Detektif Oh yang terbaring itu dan langsung memeriksa nadinya.

 

“Eh? Masih hidup,” serunya seorang diri. Dengan gerakan terlatih ia membalik tubuh namja yang cukup jangkung itu dan membaringkan kepalanya di atas paha padatnya. “Detektif Oh… Detektif Oh, anda baik-baik saja? Bangunlah…” pintanya sembari menepuk-nepuk pipi namja itu.

 

“Eung…” lenguhan singkat itu semakin memperjelas bahwa namja yang matanya terpejam di hadapannya ini bukanlah jenasah. Hanya tertidur atau pingsan mungkin.

 

“Anda tidak apa-apa? Anda terluka?” tanya Baek Hyun lagi, masih berusaha membangunkan namja itu.

 

Namja tampan itu menggerakkan kepalanya, menoleh ke arah perut Baek Hyun untuk menghindari sinar matahari yang langsung menerpa kelopak matanya.

 

“Eh… Detektif Oh…” seru Baek Hyun tertahan. Namun tak ada sahutan. Sepertinya namja jangkung itu justru mendapatkan ‘kenyamanan’ baru dalam posisi tidurnya. Itu membuat decakan kecil terdengar dari mulut Baek Hyun. Tapi bukan Baek Hyun namanya kalau ia menyerah. Ia tidak pernah dididik untuk menyerah. Karena itulah ia berani menangkup pipi namja itu dan membuat wajahnya menghadap ke atas. “Detektif Oh, bisakah anda bangun dan meladeniku berbicara? Aku butuh pertolonganmu,” tegurnya sembari menepuk-nepuk pipi namja bermarga Oh itu.

 

“Hm…”

 

Mata Baek Hyun kembali berbinar saat mendapat respon singkat. “Detektif Oh…” dan ia semakin bersemangat menepuk pipi namja itu.

 

“Arrgghh…” Namja jangkung itu mengerang kesal, mencoba membuka kelopak matanya yang sangat berat.

 

“Hei, tolong. Bangunlah…”

 

Perlahan, namun Baek Hyun menunggu dengan pasti. Kelopak mata yang garisnya sangat tegas itu terbuka sedikit demi sedikit. Tertutup lagi, terbuka lagi, tertutup lagi. Membiasakan dengan bias cahaya matahari yang memaksa masuk ke dalam pupil matanya.

 

Mata bermanik hitam terang itu terbuka sempurna, mengarah ke atas tepat ke langit-langit yang menampakkan beberapa retakan. Setelahnya ia mengangkat tangan kanan untuk memijit batang hidung persis di antara sudut mata kanan dan kirinya.

 

“Detektif Oh…” seru Baek Hyun lagi, semakin bersemangat.

 

Menyadari bahwa posisi kepalanya lebih tinggi dari pada punggungnya, belum lagi seruan-seruan yang membuatnya terbangun itu, menunjukkan tanda nyata bahwa ada orang lain bersamanya saat itu. Dan ia pun menoleh dengan sangat kesal ke arah namja cantik yang menatapnya antusias.

 

“Selamat pagi Detektif Oh Se Hun-nim. Byun Baek Hyun imnida, jheo neun Kyeongjal imnida. Ah usiaku 23 tahun, jadi kau seniorku, aku diutus kesini untuk membawamu kembali ke departemen Penyidikan. Jadi harap kerjasamamu,” serbu Baek Hyun masih dengan posisi kepala Oh Se Hun berada di atas pangkuannya.

 

1 detik

 

5 detik…

 

10 detik…

 

Mata Se Hun membelalak seiring proyeksi yang diterima jelas oleh kedua matanya. “Lu… Lu Han?”

 

Kening Baek Hyun mengerut. “Eh? Lu Han?”

 

“Lu Han?” Se Hun bangkit dengan gerakan cepat, hampir membentur kening Baek Hyun yang tadi sedikit menunduk.

 

Baek Hyun menoleh ke sana kemari, mencari objek yang dimaksud. “Lu Han nugu?”

 

 

Deg_

 

 

Se Hun menggeleng keras satu kali, namun namja di hadapannya ini terlalu nyata untuk disebut sebagai ilusi. “Ya Tuhan… Kau kembali!” serunya keras dan tanpa aba-aba langsung menarik Baek Hyun kedalam pelukannya yang erat.

 

“Eh.. Eh… apa-apaan ini. Detektif Oh, anda salah orang. Aku Byun Baek Hyun, bukan itu… siapa tadi? Lu itu…”

 

“Apa kau tahu aku sangat merindukanmu? Apa kau tahu aku hampir gila setelah kepergianmu?”

 

Baek Hyun sedikit meronta karena merasakan pelukan itu terlalu erat. “Detektif Oh, anda betul-betul salah orang. Ini pertama kalinya kita bertemu. Ya Tuhan… aduh, lepasss…”

 

Se Hun melepas pelukannya, bukan karena menuruti permintaan Baek Hyun, namun karena ia ingin melihat wajah itu sekali lagi. Dengan tangan besarnya, ia tangkup wajah mungil itu, mengusapnya dengan gerakan cepat, yang dirasakan Baek Hyun seperti sedang teracak-acak. “Ini nyata… hahahaha… nyata… kau kembali.” Se Hun tertawa, tapi matanya berair, bahkan sudah menangis.

 

Baek Hyun bergidik ngeri karena perlakukan itu, ia tepis kedua tangan Se Hun kemudian berdiri dengan gerakan cepat. “Ck, sepertinya aku juga salah orang. Kau pasti bukan Detektif Oh, kau orang gila!” bentaknya berniat pergi, namun dengan mudah namja tadi menangkap tangannya, ikut berdiri dan langsung memeluk Baek Hyun dari belakang. Sekali lagi sangat erat!

 

“Aku mencintaimu! Sungguh…”

 

 

Deg_

 

 

Baek Hyun membelalak kaget saat mendengar penuturan yang sangat lembut itu.

 

“Aku bersumpah untuk mengatakan itu saat kita dipertemukan kembali. Sebelum kau raib dari sisiku lagi. Aku mencintaimu… sangat mencintaimu, betul-betul mencintaimu. Lu Han…”

 

Wajah Baek Hyun yang sempat memerah berangsur normal saat ia berhasil mengembalikan fokusnya. Dengan sedikit meronta ia berhasil melepaskan pelukan Se Hun dan bergerak menjauh. “Kau salah orang! Aku bukan Lu Han, aku Byun Baek Hyun. Byun… Baek… Hyun.” Namja cantik itu tampak begitu gigih mengeja nama lengkapnya. “Dan aku adalah seorang polisi, tugasku kesini untuk menemukan Detektif Oh Se Hun, dan sepertinya aku justru bertemu orang gila sepertimu. Tapi kalau kau macam-macam, aku tidak akan segan-segan menangkapmu!” tegasnya.

 

Se Hun terdiam, masih menatap wajah Baek Hyun lurus-lurus.

 

Baek Hyun yang merasa tersinggung dipandangi seperti itu berniat pergi, namun sekali lagi tangannya dicekal oleh namja bernama Se Hun itu. “Ya… apa yang__” mata Baek Hyun membelalak saat ia tidak diberi kesempatan untuk protes karena di pertengahan kalimatnya, Se Hun memotong dengan sebuah ciuman cepat di bibir tipis Baek Hyun.

 

Baek Hyun mematung beberapa detik sampai ketika ia sadar telah dipelakukan kurang ajar. Iapun memberontak sebisa mungkin, mencoba melepaskan diri dari pelukan dan ciuman yang terlalu … sulit dijelaskan itu. Baek Hyun merasakan kerinduan menumpuk di sana, dan dia tahu kerinduan itu bukan untuknya. Salah orang dan salah sasaran. Ini termasuk pelecehan.

 

 

PLAK_

 

 

Langkah terakhir yang ditempuh, adalah dengan menampar. “KAU GILA… BETUL-BETUL GILA!!!” makinya sembari mengusap bibirnya kasar. Setelahnya ia berlari meninggalkan ruangan itu. Beruntung namja gila yang dikiranya sebagai Detektif Oh itu tidak mengejarnya.

 

 

Ada seseorang yang harus bertanggung jawab akan kejadian ini.

 

 

 

😦🙂😦

 

 

Bugh… bugh… plak… plak…

 

“Ampun… ampun Byun Baek Hyun, ampun… tapi aku serius, setahuku itu rumah Detektif Oh,” seru Su Ho sesekali menghindari pukulan bertubi-tubi dari Baek Hyun.

 

“Apanya yang rumah Detektif Oh? Itu rumah psikopat, orang gila dan arrrgghhh… harus kukemanakan masa depanku? Ciuman pertamaku  bahkan direbut oleh orang yang tidak waras. Kalau berita ini menyebar maka hancur reputasiku,” keluh Baek Hyun setelah ia akhirnya menyerah memukuli Su Ho.

 

“Ya sekarang kau mau apa?”

 

“Tentu saja ke kantor, aku akan mengadukan semua ini. Termasuk perbuatanmu yang sudah menipuku.”

 

“Ya… Ya… Kenapa aku? Tau begini aku tidak akan sudi menolongmu.”

 

Baek Hyun menoleh dengan sorot mata tajam. Wajahnya sudah basah sejak tadi karena air mata, ditambah ucapan Su Ho sama sekali tidak cukup ampuh untuk menenangkannya.

“Arasso… Arasso, ayo kita ke kantor dan konfirmasikan semuanya pada Seojang-nim.”

 

 

 

😦🙂😦

 

 

Kris menatap heran pada dua polisi yang berdiri di depannya. “Itu… Kenapa matamu basah?”

 

“Dia menangis, Seojang-nim,” jawab Su Ho.

 

“Jadi bisa kau jelaskan kenapa kau menangis hanya karena gagal menjalankan tugas ini, Byun Baek Hyun?”

 

“Ini karena masalahnya tidak sesederhana yang anda pikirkan Seojang-nim, dan lagi… Memangnya siapa yang menangis? Aku ini Polisi, itu betul-betul fitnah saat kalian mengatakan bahwa aku menangis. Mataku berair seperti ini karena rumah hantu itu berdebu.”

 

“Rumah hantu?”

 

“Ne, Polisi Kim membawaku ke rumah hantu. Bukan rumah Detektif Oh, intinya, kami mendatangi alamat yang salah.”

 

“Aku tidak mengerti. Salah alamat apanya? Kim Kyeongjal mengatakan yang sebenarnya. Itu rumah Detektif Oh, alamatnya cocok.”

 

“Tapi Seojang-nim, yang ada di sana itu orang gila,” bantah Baek Hyun karena dia yang betul-betul mengalami kesialan. “Lagipula Su Ho Hyung, eh maksudku Polisi Kim tidak ikut masuk, jadi dia tidak tahu kebenarannya.”

 

“Aku mana ada perkiraan kalau akan kejadian seperti ini? Kupikir ini tugas yang terlalu mudah jadi kau tidak akan membutuhkan bantuanku,” Su Ho membela diri. “Lagipula saat aku ingin memastikannya, kau sudah menyuruhku untuk tancap gas dan meninggalkan tempat itu karena kau takut dikejar.”

 

“Tunggu, berhenti saling menyalahkan. Bukankah sudah kuberikan data pribadinya, di sana tertera foto wajah Detektif Oh.”

 

“Masalahnya… ruangan itu sangat remang Seojang-nim, dan kondisi orang yang kutemukan itu sangat buruk, sangat berantakan dan.. aaarrgghh dia sudah pasti orang gila.”

 

“Memangnya apa yang dia lakukan padamu sampai kau mengatainya orang gila?”

 

“Dia… Dia sangat lancang, memelukku sembarangan, betul-betul kurang ajar.”

 

Kris tampak berpikir. “Seperti itu?”

 

“Ne… sungguh sial.”

 

“Ini diluar dugaan, tumben sekali reaksinya seperti itu. Dia betul-betul memelukmu? Tidak mengusirmu?”

 

“Mengusir? Kalau bukan aku yang melarikan diri, aku tidak akan bisa lolos darinya. Aku  yakin dia orang gila, karena tindakannya itu betul-betul dipertanyakan untuk ukuran orang normal.”

 

“Eum… begitu?”

 

“Tentu saja begitu Seojang-nim, aku mana mungkin berbohong.”

 

Kris mengangguk. “Kim Kyeongjal. Kau ada tugas hari ini?”

 

“Ne Seojang-nim, masih kasus minggu lalu,” jawab Su Ho.

 

“Hm, kau boleh pergi.”

 

“Ne seojang-nim.

 

Baek Hyun mendesis jengkel saat Su Ho mengirimkan tatapan menakut-nakuti untuknya. Kris meminta Su Ho meninggalkan ruangan tentu saja karena ada yang ingin dibicarakan empat mata dengan Baek Hyun.

 

“Byun kyeongjal.”

 

“A… Ne seojang-nim,” sahut Baek Hyun kaget.

 

“Masih mengenai Detektif Oh,” Kris beranjak dari kursinya, sedikit berkeliling untuk keluar dari meja kerjanya. Berdiri persis di hadapan Baek Hyun yang dalam posisi tegap di hadapannya. Kris sedikit menyandarkan bagian pinggangnya di meja agar terlihat sedikit sejajar dengan Polisi yang tidak cukup tinggi di hadapannya itu. “Benar dia memelukmu?”

 

“Aku bersumpah, tepat saat dia membuka mata, aku memperkenalkan diri, tapi beberapa detik kemudian ia bangkit dan langsung menarikku ke pelukannya.”

 

Kris mengerutkan keningnya, terlihat sangat berpikir. “Ini aneh… biasanya ia akan langsung mengusir siapapun yang menemuinya.”

 

“Masalahnya aku tidak diusir, tapi di peluk dan dici__ ah lupakan. Dan lagi dia terus memanggilku dengan nama orang lain sementara aku sudah berkali-kali menyebutkan namaku.”

 

“Maksudnya?”

 

“Dia salah mengenali orang, dia mengira aku… siapa itu namanya… Lu… Lu… Lu Han kalau tidak salah.”

 

Kris terbatuk cukup telak, “SIAPA?”

 

Baek Hyun jelas terkejut mendapat bentakan itu. “Lu… Lu Han.”

 

“LU HAN????” Kris berdiri tegak dengan keadaan cukup terkejut.

 

“N… Ne Seojang-nim.”

 

“Tunggu, dia memanggilmu Lu Han?”

 

Ya Tuhan aku baru tahu kalau Seojang-nim mempunyai otak yang lemah_ “Ne Seojang-nim. Itu yang ditangkap oleh telingaku.”

 

Kris menatap Baek Hyun lurus-lurus. Seperti memikirkan, atau tepatnya mempertimbangkan sesuatu. “Lu Han?” seolah masih tidak percaya.

 

Baek Hyun jadi penasaran sendiri. “Memangnya kenapa dengan nama itu?”

 

“Ah tidak,” jawab Kris cepat, terulas senyum simpul di bibirnya. “Ck… Kurasa ini bukan kendala. Mungkin benar yang bisa membuatnya kembali itu adalah sosok sepertimu.”

 

“Maksudnya?”

 

“Jangan menyerah Byun Baek Hyun!”

 

“Ne?”

 

“Aku tahu ini sulit, tapi ini perintah. Aku hanya bisa mempertahankanmu di sini kalau kau berhasil membuat Detektif Oh kembali aktif di departemen ini.”

 

“Ma… Masalahnya…..”

 

Kris tersenyum, kemudian menyentuh kedua pundak Baek Hyun. “Berjuanglah..”

 

“Tapi…”

 

Kris melirik arlojinya sejenak, kemudian menghela nafas panjang. “Aku ada janji, jadi tidak bisa terlalu banyak membantumu hari ini.”

 

“Seojang-nim…”

 

“Mian, lain kali saja kau merengek. Aku tidak akan mau mengambil resiko saat Lay menghukumku karena terlambat di acara penting kami.”

 

“Eh?”

 

“Selesaikan saja tugasmu. Itu adalah satu-satunya hal yang bisa kau lakukan sekarang. Oke manis!” Kris buru-buru meraih mantel kulitnya di sandaran kursi dan langsung memakainya.

 

Baek Hyun melengos dalam hati. Atasannya itu memang sering memanggilnya seperti itu saat mereka hanya berdua. Tapi Baek Hyun tidak keberatan karena kalau tidak begitu, mereka tidak akan dekat, dan kalau mereka tidak dekat, maka sudah sejak awal Baek Hyun angkat kaki dari departemen itu karena pekerjaannya tidak ada yang beres.

 

“Ya sudah… selamat berjuang.” Kris mengacak rambut Baek Hyun kemudian mencubit pipinya. “Gwiyeoun Kyeongjal-nim.

 

Baek Hyun membelalak, merasa tersinggung. “Seojang-nim…”

 

“Selamat bertugas. Jika ada keperluan lain, hubungi Lee Sunbae-nim.”

 

Baek Hyun mengeluh saat atasannya itu dengan santainya meninggalkan dirinya di dalam ruangan. “Di saat aku susah begini, dia justru seenaknya berkencan. Beruntung wajahnya tampan, kalau tidak… akh… Dasar tua bangka genit!” pekiknya tertahan.

 

 

 

 

😦🙂😦

 

 

 

 

Rumah hantu itu terkunci. Dan Baek Hyun hanya bisa menghela nafas kesal setelah menendang besi pagar yang berkarat parah itu. “Kenapa susah sekali mencari Detektif itu?” gerutunya seorang diri.

 

Dan akhirnya ia menyerah. Ingin meminta bantuan Su Ho, itupun percuma karena dia sedang bertugas. Meminta bantuan langsung pada atasannya juga sangat mustahil. Atasannya itu lebih banyak bicara dari pada bertindak. Mau tidak mau, dia harus melakukannya seorang diri.

 

 

Drrt…drrt…

 

 

Baek Hyun menoleh ke jok sebelahnya yang kosong. Meraih ponselnya yang bergetar cukup keras. Keningnya sedikit berkerut saat melihat layar ponselnya, dan nama adik tertuanya tercantum di sana.

 

“Ne Kyung Soo-ya, ada apa?” tanya Baek Hyun langsung, karena ia tahu bahwa Kyung Soo pasti menginginkan sesuatu sampai memberanikan diri menganggu kakaknya yang sedang bertugas itu.

 

“Hyung… Kau tidak lupa kan?”

 

“Apanya?”

 

“Akhir pekan ini adalah hari terakhir untuk menyetor uang kuliah.”

 

Mata kecil Baek Hyun membelalak. “A… A… Itu, tentu saja aku tidak lupa. Tadi pagi aku ingin memberikanmu, tapi kau masih tidur.”

 

“Bukan aku yang masih tidur, kau yang berangkat kerja subuh-subuh Hyung.”

 

“Maaf… Maaf, be… besok lusa kukasih.”

 

“Besok lusa? Kenapa bukan besok?”

 

“Karena aku akan betul-betul sibuk mulai hari ini, besok, dan besoknya lagi. Mungkin tidak akan pulang dulu.”

 

“Oh, begitu? Ck…”

 

“Ah, akan kuminta Su Ho Hyung membawakannya untukmu. Dia tidak terlalu sibuk.”

 

Arassoyo. Ah, hampir lupa. Itu Hyung, Ahjushi pemilik apartemen tadi datang, katanya uang sewa harus dibayar secepatnya, karena sudah menunggak 2 minggu.”

 

Baek Hyun mengaduh tanpa suara. “Ah itu juga, sekalian akan kuberikan ke Su Ho Hyung.”

 

“Ne Hyung… sebenarnya sekalian ingin memberitahumu kalau Eun Jin merusak sepatunya. Aku sudah memperbaikinya, tapi ada baiknya dia dibelikan sepatu baru, karena aku yakin itu tidak akan bertahan selama seminggu.”

 

Baek Hyun memejamkan mata sejenak, menghela nafas sepelan mungkin agar tidak terdengar lelah. “Kalau tugasku selesai, akhir pekan kita akan berbelanja. Catat saja semua keperluan kalian yang kurang.”

 

“Jangan pikirkan itu dulu Hyung. Kembalilah bekerja. Jangan lupa makan dan istirahat.”

 

“Ne, kau juga. Kuliah yang rajin, dan setelah lulus, jadilah orang sukses.”

 

“Tentu saja Hyung. Annyeong…”

 

“Ne, Annyeong…”

 

Baek Hyun menghembuskan nafas panjang. Ia betul-betul lupa dengan semua itu. Bukan lupa bahwa adik-adiknya membutuhkan biaya. Tapi hampir lupa bahwa sebenarnya ia harus serius menyelesaikan tugasnya agar semua kebutuhan hidupnya dan adik-adiknya terpenuhi.

 

Bulan ini dan sekitar 4 bulan ke depan mungkin masih bisa dia atasi dengan berhemat, karena ia masih memiliki tabungan. Tapi kalau ia betul-betul diberhentikan dari pekerjaannya, maka 4 bulan kemudian mungkin dia akan kebingungan mencari biaya hidup dimana lagi.

 

“Betul-betul bodoh kau Byun Baek Hyun, kenapa kau tidak pernah mengerjakan sesuatu dengan benar?” makinya pada diri sendiri. Mengingat bahwa sejak ia bergabung di departemen penyidikan sesuai cita-citanya, belum satupun kasus yang ia tangani dengan sukses. Kalau bukan berhenti ditengah jalan (karena harus ditangani polisi lain), pastilah terjadi kekacauan yang lebih parah. Dan Baek Hyun tidak pernah menyangka bahwa mimpi dan realita itu betul-betul bertolak belakang. Targetnya adalah, langsung menjadi pusat perhatian di tahun pertamanya bertugas. Baiklah, itu terwujud, masalahnya ia menjadi pusat perhatian bukan karena prestasi, tapi tentu saja karena kekacauan yang ia buat di akhir.

 

Semua itu…

 

Semua itu membuat Baek Hyun…

 

 

 

Lelah…

 

 

😦🙂😦

 

Brugh_

 

Baek Hyun terlonjak kaget di dalam mobil Polisi yang sejak tadi terparkir di depan ‘rumah hantu’. Bukan tanpa alasan ia terlonjak kaget. Selain karena –ternyata- ia sudah tertidur cukup lama karena langit sudah terlihat gelap, juga suara tubrukan keras tadi kap belakang mobilnya.

 

“Oh brengsek, siapa yang ingin berurusan denganku?” Baek Hyun membetulkan jaket seragamnya, juga letak pistol di gun holster-nya.

 

Dengan angkuh dan penuh emosi (karena tidurnya terganggu) Baek Hyun turun dari mobilnya dan berjalan cepat menuju sumber suara tubrukan tadi.

 

Matanya membelalak saat melihat bagian belakang mobilnya sukses dihantam sempurna oleh sebuah mobil keluaran Eropa yang tidak cukup terawat.

 

Tanpa basa-basi, Baek Hyun menuju pintu mobil dimana si pengemudi masih duduk santai di dalam.

 

“Hey.. anda yang di dalam, cepat keluar,” bentak Baek Hyun sembari mengetuk-ngetuk kaca mobil itu. Tapi sepertinya tidak ada tanda-tanda bahwa orang di dalam akan merespon.

 

Baek Hyun tidak berpikir dua kali untuk menarik handle pintu mobil itu hingga terbuka dengan mudah. Manampakkan seorang namja yang tertidur dengan tenangnya di jok kemudi.

 

“Ugh…” Baek Hyun mengeluh saat hidungnya menangkap aroma alkohol yang begitu pekat. “Menabrak, mengemudi dalam keadaan mabuk, tertidur, dan mengabaikan Polisi yang sedang bertugas. Kau akan kutuntut dengan pasal berlapis, tuan!” ancam Baek Hyun pada orang yang jelas-jelas tertidur. Dan karena merasa semakin diabaikan, Baek Hyun pun mencengkram kerah jaket kulit namja itu dan menariknya keluar. Melepaskannya saat tubuh itu ambruk ke aspal.

 

“ARRRGGHH….” rintih namja itu sembari mengusap kepalanya yang menghantam aspal dengan cukup keras.

 

“Sudah terbangun pengemudi mabuk?” tanya Baek Hyun sembari melipat tangan di dada, menatap angkuh pada namja yang sukses dibantingnya ke aspal itu.

 

“Siapa kau?” tanya namja yang wajahnya tidak asing lagi di mata Baek Hyun.

Jelas saja orang gila itu.

 

“Satu lagi bukti bahwa kau bukan Detektif Oh, setahuku yang paling dibanggakan oleh seorang Detektif adalah daya ingatnya, tapi kau? Oh baiklah, siapapun kau, ikut aku ke kantor Polisi.”

 

Namja itu mencoba bangkit. Kakinya terlihat sangat lemah menopang tubuhnya yang tinggi dan atletis. Ia mengusap wajahnya asal-asalan dan menatap Baek Hyun datar. Sungguh berbeda dengan tatapannya tadi pagi.

 

“Jangan menatapku begitu, ikut aku!” Baek Hyun menyambar tangan kanan namja itu dan memutarnya ke belakang. Sempat ada pemberontakan dari namja tinggi itu, sukses membuat Baek Hyun jengkel dan akhirnya mendorong tubuh tinggi itu hingga sukses menghantam bodi mobil. Tekhnik penyergapan untuk seorang buronan yang tertangkap.

 

Namja tinggi itu tertawa, membiarkan tangan mungil itu memelintir lengannya ke belakang.

 

Merasa diremehkan Baek Hyun semakin mendesak tubuh jangkung itu ke kap mobilnya. “Kurasa kau akan merenungi kesalahanmu ini di dalam tahanan selama berbulan-bulan.”

 

“Kau di bagian apa?” tanya namja itu dengan suara sedikit mengambang.

 

“Apa urusanmu?” tanya Baek Hyun kembali, masih kerepotan memasang borgol di pergelangan tangan namja itu.

 

“Kau betul-betul polisi?”

 

Suara logam berat yang membentur benda keras berbunyi nyaring. Baek Hyun betul-betul tercengang dengan penghinaan itu. “Mwo?”

 

Kembali terdengar tawa dari namja tinggi yang seharusnya berhasil diborgol tadi. Namun apa daya, harga diri Baek Hyun seolah diruntuhkan. Polisi yang memakai seragam polisi, atribut polisi, mengendarai mobil polisi, akhirnya diragukan sebagai Polisi, apa yang lebih sakit dari pada itu?

 

Baek Hyun hanya menatap ulah namja tinggi itu dengan tercengang. Terlihat namja itu dengan santai berbalik karena cekalan tangan Baek Hyun terlepas. Masih dengan kondisi hampir kehilangan keseimbangan ia merunduk dan memungut borgol yang terjatuh di aspal, kemudian dengan gerakan yang sangat berantakan ia memakainya sendiri dan memperlihatkannya pada Baek Hyun. “Silakan tangkap aku, kyeongjal-nim.”

 

 

Sukses membuat wajah Baek Hyun memerah sempurna!

 

 

 

 

😦🙂😦

 

“Yang jelas ada yang harus bertanggung jawab karena malam-malam begini menelponku untuk ke kan__” ucapan Kris terpotong saat melihat kantornya cukup ramai. “Ada apa ini?” tanya Kris kebingungan melihat sejumlah bawahannya berkumpul di depan ruang Interogasi.

 

“Selamat malam Seojang-nim. Ada berita baik. Polisi Byun berhasil membawa Detektif Oh kembali,” lapor seseorang.

 

Kris mengangkat alisnya dengan cukup terkejut. “Lalu apa yang kalian lakukan di sini?”

 

“Itu, Polisi Byun melarang kami masuk. Katanya dia ingin menginterogasi Detektif Oh seorang diri.”

 

“Apa maksudnya dengan menginterogasi? Apa dia tidak tahu siapa yang sedang dia hadapi itu?”

 

“Mianhamnida Seojang-nim. Mungkin, polisi Byun tidak tahu.”

 

“Ck, sudah… kalian kerjakan apa yang bisa kalian kerjakan. Akan kutangani ini.” Kris membelah kerumunan dan menerobos ruang interogasi.

 

Tampaklah di dalam, Baek Hyun tengah berdiri di hadapan seorang namja yang duduk di kursi interogasi dengan tangan terborgol ke belakang.

 

“Ya Byun Baek Hyun! Apa yang kau lakukan?” seru Kris dengan suara meninggi.

 

Baek Hyun hampir melompat saking kagetnya mendengar teguran itu. Ia langsung berbalik dan menyambut atasannya itu. “Ah selamat malam Seojang-nim. Ini… namja ini kutangkap karena melakukan pelanggaran berlipat. Mengemudi dalam keadaan mabuk, bahkan tertidur, menabrak mobil polisi, mengabaikan perintah polisi, dan menghina polisi.”

 

Kris memejamkan matanya sejenak, kemudian menghembuskan nafas panjang. “Lepaskan borgolnya.”

 

“Eh? Tapi Seojang-nim, dia ini…”

 

“Ini perintah.”

 

Baek Hyun menurut, walau terlihat jelas dia sangat tidak ikhlas.

 

Kris melihatnya. Wajah yang hanya bisa menampakkan ekspresi datar itu berubah cukup drastis. Mengikuti setiap pergerakan Baek Hyun yang melepas borgol di tangannya. Yang Kris takutkan adalah, bahwa benar Se Hun melihat sosok Lu Han pada Polisi muda itu. Dan jelas sekali bahwa itu adalah kesalahan besar. Kris seharusnya cukup lega melihat eye smile kembali menghiasi wajah tampan itu, namun jika pencetusnya adalah karena sebuah harapan yang tidak seharusnya ada, maka sekali lagi, itu adalah salah besar.

 

“Jadi kau memutuskan untuk kembali?” tanya Kris setelah borgol di tangan Se Hun terlepas.

 

“Eh?” Baek Hyun langsung menoleh bingung karena pertanyaan atasannya itu.

 

“Tidak,” jawab Se Hun datar. Matanya masih melekat pada sosok yang tak jauh di hadapannya. Namja mungil berparas menggemaskan, berseragam polisi.

 

“Lalu? Keberadaanmu di sini?”

 

“Apa anda tidak mendengarnya? Kyeongjal-nim ini menangkapku karena aku melakukan pelanggaran.”

 

Kris melipat tangannya di dada, duduk di atas meja kayu berbentuk persegi, persis di hadapan Se Hun. “Aku bahkan sudah melakukan hal ini puluhan kali sepanjang 2 tahun ini, dan jangankan menurut, menunjukkan tanda-tanda kau akan bekerja samapun tidak sama sekali. Lalu kenapa anak ini…” Kris menoleh ke Baek Hyun yang masih memasang tampang bingung itu. “Kenapa hanya melakukan satu kali kontak denganmu, kau langsung menurut?” Kris mengangkat alisnya. “Detektif Oh?”

 

 

Deg_

 

 

“Ha? Orang gila ini Detektif Oh?” tanya Baek Hyun tak percaya.

 

“Orang gila?” giliran Se Hun yang bertanya.

 

“Tunggu, kau diam dulu Byun Baek Hyun. Aku belum selesai.”

 

Baekyun menunduk dengan alis masih berkerut.

 

“Jadi bisa kau jawab, Detektif Oh?” ulang Kris.

 

“Sudah kubilang, aku hanya tidak berdaya saat Polisi ini membawaku. Kalaupun kau menahanku di sel, tidak masalah. Tapi aku tetap dengan keputusanku untuk berhenti.”

 

“Tidak…. Tidak, maksudku kau menurut pasti karena ada yang kau inginkan, entah dari siapa.”

 

Se Hun tersenyum, sesekali memijit pergelangan tangannya yang sedikit keseleo. “Jadi kau mengajakku untuk membuat kesepakatan? Seojang-nim?”

 

“Hanya jika kau ingin bekerja sama. Percaya saja,  kami membutuhkanmu, maka sampai sekarangpun aku tidak pernah menyerah untuk memintamu kembali. Bahkan kantor pusat pun terus mendesakku agar kau kembali.”

 

Se Hun tertawa kemudian menoleh pada Baek Hyun yang semakin memucat. Sepertinya telah menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan besar dengan memperlakukan seorang Detektif terhormat seperti seorang penjahat.

 

Detik berikutnya, sebuah ide gila muncul di benak Se Hun. Sosok mungil di depannya itu terlihat begitu rapuh dari luar, dan mungkin ia akan mendapatkan kesenangannya dari namja itu.

 

“Mungkin bisa kupertimbangkan jika kau mengabulkan satu hal untukku Seojang-nim,” tawar Se Hun dengan wajah iblisnya. Biasanya ekspresi itu ia tunjukkan untuk menintimidasi seorang tersangka, karena ada aura tersendiri yang bisa ia tampakkan yang cukup sukses menekan lawan bicara.

 

“Apa itu?”

 

Se Hun berdiri dengan sedikit sempoyongan, bukannya menghampiri Kris, tapi justru menghampiri Baek Hyun. Membuat namja mungil itu mendongak, dan langsung bergerak mundur saat menyadari bahwa Se Hun tidak cukup puas jika hanya berjarak sejengkal darinya. Bahkan sampai punggung Baek Hyun telah menabrak tembok, Se Hun masih melanjutkan langkahnya, dan berhenti setelah ujung sepatunya bertemu dengan ujung sepatu Baek Hyun.

 

“De… Detektif Oh, sungguh aku tidak tahu bahwa itu anda, maafkan kesalahanku. Itu karena aku… aku… aku…”

 

Gwenchana, aku tidak keberatan. Bukankah yang kau lakukan padaku tadi memang seharusnya dilakukan oleh seorang Polisi?”

 

Baek Hyun mati-matian menahan nafas setelah dengan terpaksa menghirup aroma alkohol yang cukup tajam dari mulut Se Hun. “Go… gomapseumnida.”

 

Se Hun tersenyum tipis, tapi Kris menangkap senyum itu. Sedikit menebak-nebak apa yang akan diminta oleh rekan kerjanya beberapa tahun yang lalu itu.

 

Sampai ketika Se Hun menoleh pada Kris dengan satu sudut bibir mencuat ke atas. “Aku ingin dia.”

 

Alis Kris terangkat spontan. “Bisa lebih jelas?”

 

Se Hun masih dengan senyum sinisnya. Merangkul pundak Baek Hyun yang terkejut berkali-kali dan menariknya merapat. “Aku mau kembali, kalau anak mau mau tidur denganku.”

 

Dan jawabannya di dapat Se Hun saat itu juga.

 

Pukulan telak di ulu hati, dan satu bantingan keras hingga membelah meja kayu yang sebenarnya tidak lapuk.

 

 

 

KAU KIRA AKU APA??? DASAR BRENGSEK!!! AKU POLISI! BUKAN NAMJA MURAHAN. KAU MENGERTI! DETEKTIF GADUNGAN???” bentak Baek Hyun murka, setelahnya ia meninggalkan tempat itu dengan langkah cepat. Bahkan tidak sadar menyambar tubuh jangkung Kris sebelum keluar dengan membanting pintu.

 

“Jadi tidak perlu kujawab, kan?” lanjut Kris sembari menahan senyum.

 

Se Hun mengerang saat berusaha berdiri. “Apa tadi dia betul-betul membantingku? Tangan mungil itu membantingku?”

 

“Maaf Detektif Oh. Dia memang ceroboh, dan betul-betul payah untuk ukuran seorang Polisi. Tapi kukenalkan dia padamu. Namanya Byun Baek Hyun, pemegang sabuk hitam Taekwondo. Dan ini tahun pertamanya bergabung di Departemen ini.”

 

Se Hun tertawa, membiarkan Kris membantunya berdiri. “Aku tetap menginginkannya.”

 

“Tapi… Se Hun-ah… Dia Baek Hyun. Byun Baek Hyun.”

 

“Ne, kau sudah memberitahuku namanya, Hyung.”

 

“Maksudku… dia bukan Lu Han.”

 

Dan senyum itu pun lenyap. Digantikan senyum getir dan tatapan sendu yang menyakitkan. “Aku… tahu Hyung…”

 

 

 

😦🙂😦

 

 

 

 

“Baek Hyun-ah, ini aku. Bisa buka pintunya?” seru Su Ho dari depan kamar Baek Hyun. Ia didampingi Kyung Soo yang ekspresi wajahnya sudah terlihat lelah dan pasrah, menandakan ia juga sudah melakukan hal yang sama dalam kurun waktu yang cukup lama.

“Sudahlah Hyung, mungkin penyakitnya kambuh atau bagaimana. Dia akan keluar kalau dia lapar,” ucap Kyung Soo sembari menepuk pelan pundak Su Ho.

 

“Sebenarnya dia kenapa?”

 

“Kupikir kau tahu karena kau rekan kerjanya?”

 

“Ck, aku tidak bersamanya sejak kemarin. Ah, hanya menemaninya menjalankan tugas, itupun tidak cukup sejam, setelahnya aku melaksanakan tugasku sendiri. Jadi tidak tahu.”

 

“Baek Hyun Hyung sudah begini semalaman. Pulangnya juga tengah malam, dan langsung masuk ke kamarnya. Wajahnya kusut, dan kalau aku tidak salah lihat, dia sepertinya menangis.”

 

Su Ho berdecak, “Kebiasaan buruk.” kemudian kembali mengetuk kamar itu. “Baek Hyun-ah, ayo keluar. Jangan seperti anak gadis mengunci diri di kamar. Hey, kau itu Polisi, mana ada Polisi yang menangis sambil mengunci kamar?”

 

 

Cklek_

 

 

“SIAPA YANG ANAK GADIS???” bentak Baek Hyun saat ia baru saja membuka pintunya.

Su Ho langsung bungkam, Kyung Soo buru-buru kembali ke dapur menyiapkan sarapan pagi.

 

“AKU POLISI! AKU POLISI! KENAPA SEMUA ORANG MENGANGGAPKU LEMAH? KENAPA SEMUA ORANG TIDAK MENGHARGAIKU? AKU POLISI!!!”

 

Su Ho gelagapan mencoba menenangkan Baek Hyun yang sepertinya sudah siap mengamuk. “Ne… kau Polisi, siapa yang mengatakanmu bukan Polisi? Kau Polisi, ne… Polisi…”

 

“Aku Polisi…”

 

“Ne… Kau Polisi. Kau rekanku…”

 

 

😦🙂😦

 

 

 

Su Ho dan Kyung Soo memperhatikan gerakan Baek Hyun sejak menyeruput susu serealnya dan meletakkan mug nya di atas meja. Memastikan bahwa namja yang bersikeras untuk diakui sebagai Polisi itu sudah cukup tenang.

 

“Jadi… Bisa kau ceritakan apa yang terjadi, Byun Kyeongjal-nim?” tanya Su Ho, entah berniat menenangkan, atau meledek.

 

Baek Hyun mengangkat kelopak matanya yang sedikit bengkak, mengarahkan kedua manik matanya cukup tajam pada Su Ho. Membuat namja tampan itu hanya mengangguk dan mengangkat kedua tangannya.

 

“Kau tidak ada kuliah Kyung Soo-ya?” tanya Baek Hyun dengan suara serak.

 

“Ada Hyung, setengah jam lagi,” jawab Kyung Soo sembari mengunyah rotinya.

 

“Lalu kenapa masih di sini?”

 

“Kupikir kau sakit, jadi aku harus merawatmu dulu. Aku sudah mengantar Hye Min dan Eun Jin ke sekolah, jadi aku bisa mengurusmu hari ini.”

 

“Bersiaplah dan berangkat ke kampusmu. Aku tidak sakit, jadi jangan mencemaskanku.”

 

Kyung Soo menoleh pada Su Ho, dan mendapat anggukan darinya. Helaan nafas singkat terdengar, sebelum namja bermata indah itu mengangguk dan menuju kamarnya mengambil perlengkapannya.

 

“Kau tidak ke kantor?” tanya Su Ho.

 

“Aku bolos, katakan apa saja pada Seojang-nim,” jawab Baek Hyun malas.

 

“Kau ada masalah dengan atasan?”

 

“Sedikit. Tapi lebih banyak ke Detek… maksudku, ke orang gila itu.”

 

“Aku tidak mengerti, siapa yang kau maksud?”

 

Baek Hyun kembali menyeruput serealnya dan menatap Su Ho malas. “Pastikan sendiri ke kantor. Ah, dan tolong sekalian kau antar adikku ke kampus. Aku mau tidur,” lanjut Baek Hyun kemudian beranjak menuju kamarnya.

 

Su Ho tersenyum kecil. “Tumben tidak seprotektif biasanya. Tahu begini sering-sering saja kau bermasalah.”

 

“Aku mendengarmu Kim Kyeongjal!” seru Baek Hyun dari dalam.

 

Su Ho hampir terjatuh dari kursinya, kemudian tertawa garing. “Aku bercanda… hahahaha”

 

 

 

😦🙂😦

 

Baek Hyun hampir ambruk ke lantai saat pertama kali membuka pintu apartemennya untuk memastikan siapa yang memencet bel berkali-kali dan membuatnya harus menyerah dan akhirnya memutuskan untuk menerima tamu sebelum telinganya pecah.

 

“Seo… Seojang-nim,” pekiknya tertahan melihat seseorang berseragam polisi dengan lencana emas di dadanya.

 

“Oh, selamat pagi Polisi Byun!”

 

“Kenapa anda kemari? Ah maksudku… bukankah ini masih jam kerja?”

 

“Memangnya salah kalau aku menjenguk rekan kerjaku yang sakit? Polisi Kim bilang kau izin hari ini karena sakit.”

 

“I… itu.”

 

“Tidak membiarkanku masuk dulu?”

 

“Ya Tuhan, sampai lupa. Silakan Seojang-nim.”

 

Baek Hyun menuntun Kris menuju ruang tamunnya yang minimalis namun tertata rapi dan elegan. Kris tersenyum mengingat yang tinggal di apartemen ini rata-rata anak kecil. Bukan mengenai umur, mungkin ukuran badan.

 

“Minum apa Seojang-nim?”

 

“Tidak usah, kau duduk saja. Kau kan sakit.”

 

Baek Hyun tersenyum salah tingkah. Sebenarnya ia tidak benar-benar sakit secara fisik. “Eum, apa ada yang ingin dibicarakan sampai anda harus repot-repot menjengukku?”

Kris tertawa, mendapati ekspresi Baek Hyun yang menurutnya benar-benar lucu. “Hm, masih tentang Detektif Oh.”

 

“Maafkan aku Seojang-nim. Aku paling patuh dalam melaksanakan tugas, tapi kalau sudah menyangkut harga diriku, sekali lagi maaf. Aku menolak.”

 

“Hei, jangan salah sangka dulu. Aku kesini bukan untuk memintamu menuruti syarat gilanya. Ayolah, aku tidak sebejat itu.”

 

“Lalu?”

 

“Begini… Eum, entah siapa yang melapor ke kantor pusat perihal kembalinya Detektif Oh ke departemen kita. Dan itu jelas berita gembira bagi mereka. Tadi pagi aku mendapat telepon dari seniorku di sana, dan besok beliau akan mengadakan kunjungan. Tentu saja sekaligus untuk menyambut kembali Detektif Oh.”

 

Baek Hyun mengerjapkan mata berkali-kali. “Siapa yang melapor seperti itu?”

 

“Bukan perihal siapa yang melapor. Masalahnya, besok atasan akan datang untuk mengecek langsung. Dan kalau keberadaan Detektif Oh ternyata adalah kebohongan, maka…” Kris mengangkat bahunya.

 

Wajah Baek Hyun memucat, menatap Kris lekat-lekat. “Jangan bilang anda kembali memintaku untuk melanjutkan tugas itu. Bukankah anda tahu sendiri konsekuensinya?”

 

Kris menghembuskan nafas panjang, kemudian menatap Baek Hyun cukup bersahabat. “Perangainya memang seperti itu. Satu kekurangan dari sekian banyak kelebihannya, dan mungkin itu bisa dimaklumi mengingat dia masih muda.”

 

“MWO? Bisa dimaklumi? Seenaknya memintaku tidur dengannya itu bisa dimaklumi?” seru Baek Hyun tidak terima.

 

“Tenangkan dirimu dulu. Maksudku, dia tidak sepenuhnya seperti itu. Mungkin dia hanya ingin mengerjaimu atau sejenisnya. Jadi menurutku, dekati saja dia dulu. Bukankah bela dirimu cukup bagus, kau cukup menghajarnya kalau dia kurang ajar.”

 

“Itu sungguh tidak masuk akal Seojang-nim.”

 

“Tapi hanya itu yang bisa kau lakukan untuk memperbaiki reputasimu. Maksudku bukan sebagai namja penggoda, hanya… eum… apa sebutannya? Aku lupa.”

 

“Namja murahan?”

 

Kris membelalak kaget. “Bukan… tidak serendah itu… hanya sekedar.. err… bekerja sama.”

 

“Aku menolak.”

 

“Bahkan jika resikonya adalah pemberhentian tugasmu sebagai Polisi?”

 

Baek Hyun bungkam, kemudian menunduk dalam.

 

Kris menghela nafas, kemudian berpindah duduk di sebelah Baek Hyun dan mengusap puncak kepalanya. “Dulu sebelum terangkat sebagai Kepala Polisi, aku dan Se Hun adalah rekan kerja. Kami adalah 2 Polisi muda yang paling berprestasi dan berkali-kali mendapatkan Penghargaan. Se Hun dengan otaknya, aku dengan jiwa pemimpinku, kombinasi yang sangat sempurna dalam menangani sebuah kasus, bahkan kasus besar.”

 

Baek Hyun tidak merespon, karena tidak betul-betul mengerti arah pembicaraan Kris.

 

“Mengenai Lu Han…”

 

 

Deg_

 

 

Baek Hyun menoleh kaget.

 

“Aku tidak berhak menceritakan hal yang merupakan privasi seseorang. Tapi mungkin agar kau tahu bahwa Se Hun seperti itu, terpuruk dan betul-betul kehilangan jati diri, adalah karena dia kehilangan Lu Han. Orang yang menjadi semangat hidupnya selama ini,” lanjut Kris dengan suara lembut.

 

“Kehilangan? Pergi atau…?”

 

“Meninggal saat Se Hun sedang bertugas di tempat lain.”

 

 

Deg_

 

 

Baek Hyun tidak merespon.

 

“Aku tidak akan membahas tentang Lu Han cukup mendalam, mungkin kalau kau penasaran bisa kau tanyakan langsung pada Se Hun. Yang ingin kukatakan adalah, saat Se Hun mengira kau Lu Han di detik pertama ia melihatmu, itu tidak bohong.”

 

“Maksudnya?”

 

Kris tersenyum. “Tidak banyak, namun ada. Kau mirip dengannya.”

 

Mata Baek Hyun membelalak penuh mendengar penuturan itu. “Seojang-nim…”

 

“Jadi kuharap kau memaafkan sikap kurang ajarnya saat itu. Anggap saja itu adalah reaksi spontan dari kerinduannya yang menumpuk.”

 

Baek Hyun tidak menjawab lagi, ia hanya menatap ujung sandal beruang putihnya dan memainkan jari indahnya. Tampak sedang berpikir. Bisa jadi mempertimbangkan sesuatu.

 

“Ya sudah, sepertinya kau betul-betul butuh istirahat. Aku kembali ke kantor dulu, sekalian mencari siapapun yang kosong hari ini untuk menyelidiki kasus penggelapan senjata api di salah satu bar.”

 

Baek Hyun menoleh. “Aku saja Seojang-nim.”

 

“Eh, bukankah kau sakit?”

 

“Aku akan semakin sakit kalau tidak bertugas. Mungkin sekalian untuk mengobati penatku akan masalah aneh ini.”

 

Kris kembali tersenyum dan mengusap pelan rambut Baek Hyun. “Geure, akan kuminta beberapa bantuan dari Divisi penertiban umum.”

 

 

 

😦🙂😦

 

Baek Hyun merapatkan jaket kulit cokelatnya. Ia memang sengaja berpakaian cukup kasual malam itu. Tentu saja untuk menyamar. Memudahkannya menyelidiki kasus penggelapan senjata yang dimaksud Kris tadi pagi.

 

“Maaf anak muda, tapi bar kami tertutup untuk anak di bawah umur,” tegur salah seorang bodyguard yang sengaja berjaga di depan.

 

Baek Hyun menghembuskan nafas pelan, mencoba bersabar untuk membuka dompetnya dan memperlihatkan kartu identitasnya. “Usiaku 23 tahun, Ahjushii,” ucapnya tenang sembari memperlihatkan sekilas kartu identitas itu.

 

“Ah maaf. Mataku memang agak rabun malam hari. Silakan masuk Tuan.”

 

Baek Hyun melengos, kemudian melanjutkan langkahnya memasuki ruangan yang membuat kepalanya pusing.

 

Asap rokok di mana-mana. Orang-orang berjalan dengan sempoyongan, musik keras yang memekakkan telinga, dan tentu saja namja juga yeoja penggoda yang siap di tempat mereka.

 

“Dengan siapa manis?”

 

Teguran berat itu membuat Baek Hyun menoleh. Disambut pemandangan mengerikan dari namja bertubuh besar dengan bekas luka sayatan memanjang di pipi kiri. “Dengan rekanku,” jawab Baek Hyun asal. Karena ia tahu pertanyaan itu merupakan sebuah ajakan mengerikan.

 

“Lalu di mana rekanmu sekarang?”

 

“Di… sana, dan aku harus menemuinya sekarang. Selamat tinggal.”

 

Baek Hyun hendak beranjak, namun namja bertubuh besar itu langsung menyergap lengannya.

 

“Tidak perlu terburu-buru. Rekanmu tidak akan marah jika kau terlambat hanya 15 menit. Ayo ikut denganku.”

 

Baek Hyun sudah bersiap membanting tubuh namja besar itu, namun ia harus tetap tenang dan menghindari masalah sebelum tugasnya selesai. Kalau kedoknya sebagai Polisi terbongkar sekarang, bisa jadi rencananya untuk menyergap pelaku penggelapan senjata api akan gagal. “Maaf, tapi aku harus pergi.”

 

“Ayolah, sebentar saja.” Namja itu menarik pinggang Baek Hyun kearahnya, membuat Baek Hyun refleks menutup hidung karena aroma pekat alkohol kadar tinggi juga asap rokok.

 

Baek Hyun meronta sebisanya, namun namja bertubuh besar bersikeras menyeretnya. Hampir membuat kesabaran Baek Hyun berada di puncak dan sudah bersiap memasang kuda-kuda, sampai…

 

 

Greb_

 

 

Namja bertubuh besar itu terkejut saat ada yang mencengkram pundaknya dari belakang. Ia pun menoleh jengkel.

 

“Dia bersamaku,” ucap namja bertubuh tinggi dan berwajah tampan itu.

 

Namja bertubuh besar itu seketika melepas cekalannya dari Baek Hyun. Kemudian pergi dengan tergesa-gesa setelah beradu kontak mata dengan namja tampan tadi.

 

Baek Hyun berdecak, karena rasanya sama-sama bahaya. Baik namja bertubuh besar tadi, maupun namja yang bisa dibilang berniat menyelamatkannya ini.

 

“Kenapa kau ke tempat seperti ini?” tanya namja yang ternyata adalah Oh Se Hun itu.

 

“Kurasa bukan urusanmu, jadi tidak perlu kujawab,” balas Baek Hyun kemudian berlalu ke meja bartender.

 

Se Hun mengikutinya, dan mengambil kursi persis di sebelah Baek Hyun. “Di sini tidak tersedia susu Strawberry,” sindirnya.

 

Baek Hyun menoleh jengkel, kemudian menatap bartender yang sudah siap di depannya. “Wine…”pesannya dengan nada angkuh.

 

Red, White, Rose, Sparkling, atau Champagne?

 

Baek Hyun mengerutkan alisnya bingung. Sedikit asing dengan jenis-jenis yang disebutkan oleh bartender di depannya itu. “Yang terakhir saja,” jawab Baek Hyun akhirnya.

 

Se Hun tertawa kecil di sebelahnya, kemudian menjentikkan jari pada bartender tadi. “Seperti biasa, untukku. Dan softdrink untuknya.”

 

“Ah, baik tuan Oh.”

 

Baek Hyun mengangkat alis tinggi-tinggi. “Pelanggan tetap?”

 

Se Hun menoleh dengan senyum masih tercetak di bibirnya. “Kurasa bukan urusanmu, jadi tidak perlu kujawab.”

 

Baek Hyun mendesis jengkel karena Se Hun mengebalikan perkataannya. Untuk itu ia diam dan memilih cuek. Mengamati pergerakan aneh di dalam ruangan yang membuat kepalanya sangat pusing itu.

 

“Kau betul-betul cari mati kalau melakukan penyergapan seorang diri. Untuk mengepung penjahat sekelas mafia, kau butuh minimal 3 regu, masing-masing 7 sampai 8 orang. Apa Kris Hyung bercanda?”

 

Baek Hyun menoleh kaget. “Kris Hyung?”

 

“Maksudku Seojang-nim.”

 

Baek Hyun mengangguk paham, mengingat Kris memang sempat bercerita singkat mengenai hubungannya dengan Se Hun beberapa tahun yang lalu. “Sudah ada tim yang disiapkan untuk menyergap, aku kemari hanya untuk menyelidiki.”

 

Se Hun tersenyum lagi. “Begini caramu menyelidiki? Terlihat jelas tengah mengamati sesuatu dan terang-terangan mencari?”

 

Baek Hyun mengerutkan keningnya tidak mengerti.

 

“Tingkahmu betul-betul mencurigakan, bodoh!”

 

Baek Hyun membelalak. “Kau mengataiku bodoh?”

 

Se Hun meletakkan telunjuknya di bibir, menyuruhnya diam saat bartender meletakkan pesanan mereka. “Gomapta Jack,” ucap Se Hun sopan, dan mendapat anggukan dari bartender tadi sebelum ia pergi menyiapkan minuman untuk pelanggan lain.

 

Baek Hyun masih menunggu lanjutan kalimat Se Hun. Yang jelas, penjelasan panjang saja tidak cukup.

 

Se Hun memutar kursinya hingga ia berhadapan dengan Baek Hyun. “Kau tidak diajari saat di akademi?” tanya Se Hun saat meneguk minumannya. Terlihat jelas kadar alkoholnya cukup tinggi, terlihat Se Hun sedikit memicingkan matanya dan menggigit bibirnya sejenak.

Baek Hyun ikut memutar kursinya hingga posisi mereka betul-betul berhadapan.“Apanya? Aku belajar banyak,” jawabnya mengikuti jejak Se Hun meneguk minumannya. Non alkohol, tapi bersoda, itupun sudah membuat lidahnya berkerut.

 

“Berarti kau tidak fokus saat kelas. Menyelediki sesuatu, seseorang, dan sekumpulan orang itu berbeda.”

 

“Maksudmu?”

 

Se Hun tertawa kecil. “Ini saja kau tidak mengerti. Yang kau selidiki ini bukan sesuatu, bukan juga seseorang, tapi sekumpulan orang. Jadi jangan terang-terangan menunjukkan ekpresi menyelidiki.”

 

Baek Hyun semakin kesal dan merasa diremehkan. “Oh baiklah Tuan Detektif, urusi saja urusanmu.”

 

“Ck, sampai disini kau bahkan belum menangkap keganjilan?”

 

“Eh?”

 

Se Hun kembali meneguk minumannya kemudian meletakkan gelasnya di atas meja. “Arah jam 6 pada posisiku. Jam 12 pada posisimu.”

 

Baek Hyun sedikit memiringkan badannya untuk melihat apa yang ingin ditunjukkan Se Hun di belakangnya.

 

“Bodoh, jangan melihatnya seperti itu!”

 

Baek Hyun tersentak kaget, dan langsung membetulkan posisi duduknya.

 

“Kemari,” perintah Se Hun.

 

“Apa maumu?”

 

“Turuti saja kataku, akan kuajarkan cara sederhana memata-matai mereka tanpa kentara.”

 

Baek Hyun ragu, sangat ragu, namun ia juga penasaran. Oh Se Hun jelas tidak terkenal karena membual. Nama Detektif Oh sebesar itu jelas ada alasannya. Mungkin ia bisa menemukannya. “Baik, tapi kalau kau macam-macam, kau akan tahu akibatnya.”

 

Se Hun tertawa, “Santai sajalah, hanya itu yang kau perlukan.” Ia menyambut Baek Hyun saat namja mungil itu sedikit melompat dari kursi yang cukup tinggi itu. Berdiri persis di hadapan Se Hun dengan waspada. “Kubilang rileks, jangan memasang tampang hendak diperkosa begitu.”

 

“Ck, cepat katakan, apa yang harus kulakukan.”

 

Se Hun menarik tangan Baek Hyun hingga tubuh mungilnya terperangkap di antara paha Se Hun.

 

“APA YANG__”

 

“Tenanglah, letakkan kedua tanganmu di bahuku, dan sesekali melihatlah ke belakangku. Sesekali, dan jangan lebih dari 3 detik.”

 

“Ck, kau memanfaatkan keadaan!”

 

“Lakukan bodoh!, atau mereka akan pergi.”

 

Baek Hyun mendesis jengkel kemudian menurut. Ia letakkan kedua tangannya di atas bahu Se Hun, menatap malas wajah tampan yang sedikit mendongak ke arahnya.

 

“Ada berapa orang?” tanya Se Hun perlahan menarik Baek Hyun semakin rapat ke arahnya.

 

“Ck, jangan peluk-peluk. 3 orang…” jawabnya mencoba menyeimbangkan konsentrasinya antara menyelidiki dan menghindari tangan Se Hun yang mulai memeluk pinggangnya.

 

“Oke, sekarang menunduk.”

 

Baek Hyun menurut, ia menunduk hingga wajahnya sejajar dengan Se Hun.

 

 

Blush__

 

 

“Apa yang kau lihat dari mereka?” tanya Se Hun lembut sembari membelai wajah Baek Hyun.

 

Baek Hyun bergidik antara geli dan ngeri. “Hanya bercakap-cakap, tidak membawa apapun di tangan mereka.”

 

“Oh, artinya masih proses negosiasi. Sekarang mendongaklah. Ingat, hanya 3 detik, setelah itu pejamkan matamu perlahan, dan buka lagi dengan selang 3 detik.”

 

“Ck, arasso…” Baek Hyun menurut lagi. Ia mendongak seiring wajah Se Hun yang mulai berhadapan dengan lehernya.

 

“Menangkap keganjilan?”

 

Baek Hyun merinding saat nafas Se Hun menerpa kulit lehernya yang sensitif. Ia menggigit bibir, kemudian memejamkan mata perlahan. “Namja yang berpakaian resmi itu mengangguk sambil tersenyum, mereka bersalaman.”

 

“Oh, mereka sepakat.”

 

“Berarti mereka pelakunya?”

 

Se Hun menangkup telinga Baek Hyun, menuntunnya untuk merunduk. “Belum tentu, bisa jadi itu transaksi lain. Di sini adalah tempat yang paling sering untuk melakukan transaksi. Tidak hanya senjata. Obat-obatan terlarang, uang palsu, bahkan manusia.”

 

“Manusia?”

 

“Hm, rata-rata pekerja di sini, terutama pekerja s*x adalah hasil perdagangan.”

 

“Kau tahu itu? Dan kau tidak bertindak?”

 

“Untuk apa? Aku bukan lagi pekerja di pusat layanan masyarakat.”

 

“Tapi tetap saja…”

 

“Ya kecuali kau terima tawaranku yang kemarin, akan kupertimbangkan untuk kembali.”

 

Baek Hyun langsung mendorong tubuh Se Hun agar ia terlepas. “Brengsek!”

 

Se Hun tertawa lepas melihat wajah jengkel Baek Hyun. “Hanya bercanda. Lanjutkan penyelidikanmu.”

 

“Eh… kemana mereka?” tanya Baek Hyun panik.

 

“Ternyata kau bukan tipe yang bisa fokus pada banyak hal. Arah jam 9 dariku, pintu masuk. Kau lihat?”

 

Baek Hyun memegang telinganya, pura-pura menoleh. Dan seketika ia takjub. Se Hun bahkan tahu persis posisi orang-orang tadi, bahkan tanpa menoleh. “Ada 4 orang baru lagi. Membawa koper yang cukup besar dan bentuknya aneh.”

 

“Begitu? Selamat Polisi Byun, penyelidikan anda berhasil. Koper besar itu sudah pasti isinya logam berat. Karena koper untuk uang palsu dan obat-obatan hanyalah koper biasa.”

“Jadi? Sudah bisa kuhubungi rekan-rekanku?”

 

Se Hun mengangkat bahu, kemudian melanjutkan acara minumnya.

 

“Detektif Oh… mereka tidak masuk ke dalam, mereka hanya sampai ke tengah dan keluar dari pintu kiri.”

 

“Bukankah sangat mencolok kalau transaksinya di ruangan ini, bodoh?”

 

Baek Hyun kembali berdecak kesal. Dengan sigap ia meletakkan selembar uang di bawah gelasnya kemudian beranjak pergi. Sembari menelpon salah satu rekannya yang sudah siap di Lokasi yang tak jauh dari tempatnya sekarang. Baek Hyun berjalan santai ke arah pintu kiri. Mungkin langsung menuju lapangan parkir yang memang terletak di samping gedung.

 

Baek Hyun sedikit mengendap-endap di sisi tembok, sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan keadaan. Sampai ketika ia menangkap suara-suara yang mencurigakan di balik sudut tembok, iapun menghentikan langkahnya.

 

Ia merapatkan punggungnya di dinding dan mengatur nafasnya yang memburu. Belum pernah ia setegang ini sebelumnya. Karena ia belum pernah menyelidiki apapun tanpa pendamping seorang senior. Su Ho misalnya. Namun ini seperti pertaruhan baginya. Tugas untuk ‘membujuk’ Oh Se Hun kembali sudah pasti gagal, untuk itu ia menyimpan harapan besar pada tugasnya kali ini.

 

Baek Hyun menelan ludah dengan susah payah, takut-takut gerakan menelannya terdengar oleh mereka yang jaraknya bisa jadi hanya 4 meter dari tempatnya bersembunyi. Semuanya ada 7 orang, suda pasti ia kalah jumlah kalau ia ketahuan. Untuk itu, ia betul-betul waspada dalam bertin__

 

 

 

Prang_

 

 

Baek Hyun mengaduh tanpa suara saat kaki kanannya menendang tong sampah besi yang tidak terlihat olehnya.

 

“SIAPA DI SANA?” bentak seseorang di balik sudut tembok, suda pasti salah satu dari mereka. Kaburpun sudah pasti tidak sempat.

 

“Cepat periksa!” perintah seseorang lagi.

 

Baek Hyun sudah bersiap untuk lari, dengan resiko bisa jadi tertembak di punggung, atau ditangkap dan dihajar beramai-ramai, namun saat ia sudah hendak bergerak. Seseorang sudah berdiri persis di hadapannya. Seseorang dengan tubuh tinggi, karena wajah Baek Hyun sejajar dengan dadanya. Ia mendongak untuk memastikan siapa orang itu, namun belum sempat mata mereka bertemu, wajah itu sudah mendekat dan menghilangkan sekat udara di antara mereka.

 

Baek Hyun membelalak saat bibirnya dibungkam dengan sangat sukses oleh sepasang bibir yang sangat tidak asing baginya. Mengingat bibir itu pernah menyentuhnya satu kali, belum lama ini.

 

Lagi-lagi Detektif gila bernama Oh Se Hun mencium Baek Hyun seenaknya. Baek Hyun sudah hampir membantingnya lagi tapi tangan Se Hun lebih cepat meraih pergelangan tangan mungilnya untuk dilingkarkan di leher jenjang milik Se Hun.

 

Dan gerakan Baek Hyun betul-betul terhenti saat ekor matanya menangkap beberapa orang yang berhenti dengan spontan tak jauh dari mereka. Setelahnya orang-orang itu pergi sembari menghembuskan nafas antara lega dan berat.

 

“Tenang, hanya sepasang kekasih yang tidak punya cukup uang untuk menyewa kamar, lanjutkan transaksinya.”

 

Dan Baek Hyun yakin penuturan itu berasal dari salah satu anggota kelompok yang sedang bertransaksi di sana.

 

“Ceroboh,” lirih Se Hun persis di depan wajah Baek Hyun yang memerah.

 

Namja mungil itu menunduk. Antara malu, dan bingung dan… entahlah, baekhyun tidak punya penjelasan mengenai apa yang ia rasakan sekarang. Untuk sejenak ia tidak terpikir untuk menampar apalagi menghajar Se Hun saat ini. Dan Baek Hyun yakin ada sesuatu yang singgah di hatinya dan ia betul-betul tidak mengerti.

 

Se Hun tersenyum, mengusap pipi Baek Hyun pelan. “Selamat atas keberhasilanmu, Byun Kyeongjal-nim,” bisiknya kemudian pergi setelah memastikan bahwa ponsel Polisi mungil itu bergetar. Menandakan bahwa tim yang akan mengepung anggota kelompok penyelundup di tempat itu sudah siap.

 

Dan sekali lagi ada sesuatu yang tertinggal.

 

Baek Hyun merasa tercampakkan saat Se Hun pergi begitu saja.

 

 

 

“

“

tbc

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ALF special note: ehem… halo… #dipelototin

Ini FF Sehun birthday project loh… #grogi

Tapi dipostnya baru sekarang… #nyengir cantik

 

Hehehehe

 

Ah sudahlah, intinya ane baru post sekarang soalnya ada something. Yang kena sial berandanya penuh ama kicauan ane pasti tahu betul wkwkkwkwk #diarak keliling kampung.

 

Btw sebenernya ini oneshot, cuman kepanjangan, ya ane bagi 2 deh. Chap 2 nya nyusul ama project kiriman(?) author freelance. Kalo ini bagiannya Ilam, jadi kalo UN udah kelar, yang mau kirim FF nya silakan kontak Ilam.

 

Haih, ane malas bacot dulu #plak. Dikomen ye… ingat, ALF anti sider. Kalo ALF mengendus(?) hawa-hawa siders… ALF pundung. (Readers: oh monggo, silakan…)

 

—___—

 

ALF lagi malas nyumpahin. Sadar sendiri aja dah… ane tahu kok siapa yang nge siders.. aseeekk…

Udah bye… (ala TITI R.B)

 

ADIOOOSS SALAM PRAMUKA

533 thoughts on “Monochrome || HunBaek || Chap 1 of 2

  1. Kyaaaaa… hunbaek❤. baru ketemu wordpress ini huweeee. keren banget ceritanya detektif2an gituuuuu.

    mana sehunnya keren banget berasa banget aura detektifnyaaaa. dan si baekhyun polisi ceroboh tapi jago taekwondo. sumpa ngakak to the max pas baca bagian yang si sehun dilempar ke meja sampe kebelah gituuuuuu.

    couple fav bgttttt pokokna. fighting thoooor

  2. keknya dah 2tahun lebih gue waktu itu komen disini.. tapi belom sempet.baca yg chap 2 keburu diprotwk duluan sama ALF
    dari gue belom punya KTP sampe sekarang dah punya *ehh maksudnya dri belom legal sampe dah legal baca beginian wkwk

    ya gpp dehhh… alfff gue penasaran setengaj mampua nunggu nih ff… si sehun ngapain si baekhyun lagii dicahp 2 belom liatt guee… huhuhu mohon izin password.ya boleh kan alf??

  3. hehehe, ni ff meskipun di baca berkali2 tetap aja g bosen2… ini juga review yg ke2 kli (kak alf aku gnti uname hunhanniequ – heny_B)

    ok. mari kembali ke TKP #tsahh kata2 biar sama dengan ceritanya….

    ini ff nya humor ya? si mungil byun baekhyun yang seorang polisi tapi kelakuan kaya anak TK.. baru apa itu tadi? yg lain kerja dia malah naik pohon buat nolongin kucing nenek2? oke baiklah, polisi juga melakukan itu.. termasuk pelayanan maayarakat.. ㅋㅋㅋ

    kalo jadi kris yg punya bawahan ceroboh kyak baekhyun pastilah stress berat.. apalagi klau tiap hari di tegur atasan.. bisa2 tua sebelum waktunya…

    scence ini nih yg bikin ketawa2.. pas baekhyun di suruh buat bujuk sehun agar mau masuk lagi di divisi mereka…

    emang sih kalau di lihat dari deskripsi rumah sehun pastilah orang juga berpikiran yg sama, pagar berkarat, dinding penuhi tumbuhan lumut, sarang laba2 dimana2.. ㅋㅋㅋ

    dan itu si sehun juga, baru bangun langsung aja tiba2 main peluk cium orang… emang dasar ya image mesum selalu menyertaimu di setiap FF.. ㅋㅋㅋㅋ (sehun: aku g mesum, aku masih polos -_-)

    tapi akhirnya, neskipun crrobohnya bukan main tapi setidaknya baekhyun berhasil lah bujuk sehun (sebenarnya bukan juga sih, mengingat sehun adalah ‘tersangka’ tapi setidaknya baekhyun sudah bisa membawa sehun masuk k kantor polisi)

    tapi tapi syarat si sehun bener2 ya… asdfghjkl masa iya baru aja ketemu udah minta itu? tapi ya bner kata seojang-nim, kali aja itu bercanda…

    fufufu kalau bener2 di filmin bagus tuh, apalagi ekspresi kenyes2 baekhyun… duh jagankan kris, aku aja pngen gigit…

    terus terus caranya si detektif oh itu menyelidiki kasus bener2 mencari kesempatan dalam kesulitan…

    ah syudahlah, jiwa mesum seperti itu tidak bisa hilang darimu detektif oh sehun…

    andaikan bner2 di film-in, pasti dah ratingnya tinggi… tapi apalah daya ini hsnya imajinasi,, imajinasi yang menyenangkan..

    sukses buat kak alf.. ff yang lain masih di tungguin kelanjutannya…

    ok sip sayonara~~

  4. suka bngt sm pairing baekhun…
    ha ha ha mana ada polisi seimut dan ngegemesin kaya baekhyun. dia bodoh dan berkali kali bikin masalah sampe kris pusing.
    tp kasihan kalo baekhyun di pecat, dia punya 3 adik yg butuh biaya sekolah. tulang punggung keluarga.
    oh ho si suho ternyata suka sama kyungsoo, pantesan nurut bngt sm baekhyun.
    aduh apes baekhyun suruh membujuk detektif oh, tp malah dicium, tentu aja baekhyun marah n berpikir detektik itu bukan detektif oh tp orang gila.
    nah… loh… ada aja maunya sehun, yg akhirnya kena jurus bantingannya baekhyun, candaanya ga kita2 sich.
    tp kayaknya detektif oh bakal balik ke kantor polisi krn ada baekhyun.
    dan scen terakhir bener2 detektif oh cari2 kesempatan dalam kesempitan, dan dapat bonus besar, kissing…..

  5. ya ampun thoorrr, aku kudet banget masa ya baru nemu ni ff. padahal mah udah lama ngesearch ff hunbaek. baru nemu ni ff yang super ketjeh badai cetar membahenol.
    suka banget ama karakter baekhyun,sehun juga cari-cari kesempatan aja ya.

  6. aaaa demi apa ini unyu banget. sehun sekalian modus gitu ya xD baekhyun juga kenapa ada polisi seunyu kamuuu QAQ serius suka banget sama ff ini xD hunbaek juga unyu soalnya haha. suho suka sama baekhyun ya? atau gimana? thor berikan aku password bbuing bbuing TTATT

  7. Hai hai…
    aku baru sempet baca lagi ff di blog kamu author.. sibuk kerja.. huuft…

    Ff ini sebenernya dulu pernah aku baca… cuma ga sadar kalo dari KC.. hahaha mian
    Tapi yg jelas keren…

    ngomong-ngomong pairing.. aku suka aja baekhyun dipasangin sama siapa pun… asal masih member exo.. dan juga karakternya emang cocok-cocok aja nemplok sana sini.. hehe
    Yeheet…!! 😆😆

    Di chapter dua baekhyun ga dibikin sakit hati kan thor ?? jangan ya,, kasian.. hehehe
    makasih auhtor

  8. HALOOOO KAK ALF😀 kenalin aku readers/pengunjung baru mu disini xD Seneng banget deh akhirnya blog ini udah ga di protect lagi. Karena emang udah lamaaaa banget mungkin setelah lebaran kemarin pengen ngunjung blog iniii T _ T aku taunya dari temen aku, aku kepo sama ameterasuu dan akhirnya sekarang udah bisa dapet kesempatan baca pas banget setelah bebas UN😄 hehehe kok jadi curcoool.

    Okk emang pertama kali aku kepo banget sama FF nya chanbaek yg amaterasu, tapi aku tadi baru aja refresh blog ini eh nemu FF hunbaek(?) kebetulan emang lagi demen unyu unyu nya hunbaek :3 jadi baca ini dulu deh
    Aku suka banget sm karakter baekhyun disini ga lenjeh tapi gemesin secara refleks dari nurani dia sendiri aja gitu setiap dia ngelakuin suatu hal hahahahaha.

    Please banget Detektif Oh, pengen di cium yaaaa asal nyosor aja sm si baek😀
    Hehe kak aku minta passwordnya yg chapter ke dua dong u_u maaf aku bawel banget yaaa

  9. HALOOOO KAK ALF😀 kenalin aku readers/pengunjung baru mu disini xD Seneng banget deh akhirnya blog ini udah ga di protect lagi. Karena emang udah lamaaaa banget mungkin setelah lebaran kemarin pengen ngunjung blog iniii T _ T aku taunya dari temen aku, aku kepo sama ameterasuu dan akhirnya sekarang udah bisa dapet kesempatan baca pas banget setelah bebas UN😄 hehehe kok jadi curcoool.

    Okk emang pertama kali aku kepo banget sama FF nya chanbaek yg amaterasu, tapi aku tadi baru aja refresh blog ini eh nemu FF hunbaek(?) kebetulan emang lagi demen unyu unyu nya hunbaek :3 jadi baca ini dulu deh
    Aku suka banget sm karakter baekhyun disini ga lenjeh tapi gemesin secara refleks dari nurani dia sendiri aja gitu setiap dia ngelakuin suatu hal hahahahaha.

    Please banget Detektif Oh, pengen di cium yaaaa asal nyosor aja sm si baek😀
    Hehe kak aku minta passwordnya yg chapter ke dua dong u_u maaf aku bawel banget yaaa

    p.s aku gak ngerti cara main wordpress huhu gimana biar dapet password chapter kedua

  10. HALOOOO KAK ALF😀 kenalin aku readers/pengunjung baru mu disini xD Seneng banget deh akhirnya blog ini udah ga di protect lagi. Karena emang udah lamaaaa banget mungkin setelah lebaran kemarin pengen ngunjung blog iniii T _ T aku taunya dari temen aku, aku kepo sama ameterasuu dan akhirnya sekarang udah bisa dapet kesempatan baca pas banget setelah bebas UN😄 hehehe kok jadi curcoool.

    Okk emang pertama kali aku kepo banget sama FF nya chanbaek yg amaterasu, tapi aku tadi baru aja refresh blog ini eh nemu FF hunbaek(?) kebetulan emang lagi demen unyu unyu nya hunbaek :3 jadi baca ini dulu deh
    Aku suka banget sm karakter baekhyun disini ga lenjeh tapi gemesin secara refleks dari nurani dia sendiri aja gitu setiap dia ngelakuin suatu hal hahahahaha.

    Please banget Detektif Oh, pengen di cium yaaaa asal nyosor aja sm si baek😀
    Hehe kak aku minta passwordnya yg chapter ke dua dong u_u maaf aku bawel banget yaaa

    p.s aku gak ngerti cara main wordpress huhu gimana biar dapet password chapter 2

  11. Aaaaa, ketjeh ketjeh ketjeh sumpah ini FF Thor !*Histeris*LebayModeOn
    Hun, lu itu yadong level berapa coba ?-_-
    Main caplok bibir Baek yang pink unyu lembut menggoda Seme dan Seke*Plakk
    Terus, lu seenaknya bikin syarat begitu, eoh ?-_-
    Minta ditabok ?-_-
    Baek, yang sabar ne ngadepin namja macem Hun yang yadongnya kelewat akut*PelukCiumBaek
    Baek : Ta-Tapi, aku itu punya Kris, Hun malah caplok sembarangan
    Hun : Fitnah itu atuh Baek, kamu itu punya aku
    Baek : Ta-Tapi
    Udah ah, diem ! Berisik, mau mulai perdebatan rumah tangga itu di kamar*Ups*Plakk
    Luhan kok dijelasinnya sedikit doang ? Lanjutannya mana ?*HisterisNgeliatTandaProtect
    Thorr, password pleasee ndee*PuppyEyesBaekHunKrisYeolKai-_-
    Itu aja, daku tak sanggup menanggung sampah eh- mengetik ding maksudnya-_-
    Itu aja dewh !XD
    Fighting Thorrrr !!!*PelukCiumAuthor

  12. iih gilaa dong -.- lg enak2 mau komen malah dpet sms “kuota internet anda telah habis bla bla”. hahah. krn sy kepooo ini chap slnjut.y gmn mka.y sy ambil kartu internet dr komputer haha *dipelototin ayah* haha. duuuhh td sy mau komen apaaa -.- gara2 habis kuota.
    kereen ini pkok.y. cieee krislay dong *ohook. sehun ya ampuuunn sy masih gk bisa menghilangkan pkiran park sehun -avengers fault- saking keren.y sehun di ff itu. bogoooh doongg sm oseh. baek udh mulai cinta2an. miris bgt pas dyo ngasih tau hrs byar ini byar itu haduuuhh hidup ituuu memang begituuu :’|. suhooo sm dyo hahaha (masih ngakak gara2 inget amaterasu, ohook suhooo ngegombal gk kbyang datar.y hahaha *salah fokus).
    aq bca ff ini mengingatkan sm kdrama siwon yg poseidon, jd aq kepikiran muka oseh disini seganteng paps siwon :’3 ajegilaaa sy puber lg hahah.
    keren ff.y campur kocak dan serius hoho dasar pendek km baek *dicekek baek* baeeek kiss me?. haha

  13. akhrnya ada HunBaek jga,,yaaa mskipun agak susah jga sich bayangin Baek jf=di polisi,,udah imut,kecil,cantik pula,,hhehhheehhe
    tpi kak ALF bkin nya jdi beda ma yg laen, bakalan ada moment KrisBaek gak nieh ?
    krna q bru bca ff nie q mau lancut buat bca chap 2 nya dech,,slanjutnya End yyaa?
    semangat jga buat kak ALF yg lagi sibuk2nya

  14. annyeong.. salam kenal saya readers baru disini..

    sedikit susah bayangin baekhyun jadi polisi.. tapi aku suka ff ini keren.. apa sehun memandang baekhyun sebagai luhan?? di sini trus kris suka sama baekhyun??
    langsung aja deh baca chap 2 nya tpi end ya di sini danaku liat ada squell nya baca dulu ah.. anyeong..
    keep writing thor ^-^

  15. Siapapun pantas dipasangkan dengan Baekhyun yah?
    Apalagi ini ceritanya bagus, sifat Baekhyun yang menggemaskan [menurut saya]
    Rada kasian first kissnya dicuri…
    juga suka cara yang gunakan Detektif Oh untuk nyelametin Polisi Byun..

    Lanjut baca yang lain.

    Ah, senangnya, disini emang tempatnya si Baek,

    Terimasih..🙂
    Keep writing!!! Semoga ide selalu melimpah…

  16. duhhhh ada polisi hentuknya kek Baek yg Ada ntar pada buat criminal biar ditangkap ma Baek

    ughhhh part terakhir ewwww pengen liat /plak

  17. Aduhhhhh psti imut bgt itu Baek jadi polisi.. mski agak susah ngebayanginnyaa….
    Detektif Oh, blum apa2 udh main sntuh2 ah… hhhee
    Kasian Sehun masa lalu yg kelam yaa….. sabar ya sayang.. tenang ada Baek skrg…. hhheee….
    Cusss chap 2….
    Keep writing cantik…:)

  18. Astagaaaaa akhirnya nemu ff sebaek juga. Fyuh seneng banget pas baca ini gada orang yang namanya park chanyeol. Heheh jadi emg full sebaek deh mumumuu love u yang udah bikinin ff sebaek. Sering2 ya wkwkwk karena jujur emg susah bgt nemuin ff sebaek yg emg maincast nya sebaek .

  19. Hallo…. salam kenal aq reader baru di sini,
    Nemu ff HunBaek biasanya nemu nya ff yg cast nya sehun ama luhan yah walau pun luhan nya msh ada kebawa2 cm nama nya doang sih krn dia masa lalu nya sehun.

    Tema nya jg bagus gak terlalu banyak yg mau buat cerita detektif, misteri + romance. Suka…. suka…

    Baca ini ff pas luhan dah bkn bagian dr exo lg dan beberapa waktu lalu ada artikel ttg baekie yg manja2 ma sehun rasanya gmn gt…..

    Aq suka sehun ama luhan beberapa kali baca ff hunhan tp pas nemu ff hunbaek kamu ini ALF keren.

    sebenernya dah baca dr sebln lalu tp br ninggalin jejak sekarang setelah baca ulang krn ceritanya gak bikin bosen.

    Oke kyknya mulai sekarang aq bakal rajin baca ff kamu yg hunbaek nih kkkk 😄

  20. Hallo…. salam kenal aq reader baru di sini,
    Nemu ff HunBaek biasanya nemu nya ff yg cast nya sehun ama luhan yah walau pun luhan nya msh ada kebawa2 cm nama nya doang sih krn dia masa lalu nya sehun.

    Tema nya jg bagus gak terlalu banyak yg mau buat cerita detektif, misteri + romance. Suka…. suka…

    Baca ini ff pas luhan dah bkn bagian dr exo lg dan beberapa waktu lalu ada artikel ttg baekie yg manja2 ma sehun rasanya gmn gt…..

    Aq suka sehun ama luhan beberapa kali baca ff hunhan tp pas nemu ff hunbaek kamu ini ALF keren.

    sebenernya dah baca dr sebln lalu tp br ninggalin jejak sekarang setelah baca ulang krn ceritanya gak bikin bosen.

    Oke kyknya mulai sekarang aq bakal rajin baca ff kamu yg hunbaek nih kkkk 😄

  21. Aww.. Suka bgt sm chara mereka disini.. Sehun yg breng***, and sassy baekhyun.. Klop bgt kykviklan kue di tv#plakkkk… Tapi baek jadi pengganti :(((( tp rapopo, yg penting ntar endingnya hunbaek bukan hunhan. Hahahaha#dicekik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s