Tired Heart -Oneshot|| KaiSoo – HunSoo || AyouLeonForever


541605_163927407093699_237806600_n copy

KaiSoo|| HunSoo Fanfiction

Tittle: Tired Heart

Author: AyouLeonForever

Genre: Yaoi, Romance,  a lil’ bit angst

Rated: T

Length: satu kali.

Cast:

      Do Kyung Soo

      Kim Jong In

      Oh Se Hun

      And another cast

Disclaimer: All the cast belong to their agency.

Copyright: Ide cerita, Alur/plot belong to me, ALF.

Special present for Septaa. Mian kalo gak srek hehehehe, ane bikin semampunya lah.

 

ALF special note: Bentar… Bentar, ane lewat dulu. Begini, sebelum readers nim ngebakar KC gegara ALF makin belagu munculin FF baru dan nelantarin FF lama, ini ALF mau jelasin. Kemaren noh, ALF lagi chatingan ama Author Septaa, nah… Septaa request FF KaiSoo ALF’s version(?), dan  nawarin FF KrisBaek juga ke ALF, ya istilahnya barter. Wkwkwkwk, begonooohhh. Tahan ye, obornya dibuang ye.

Ini FF KaiSoo sebagai main pair nya ALF yg kedua. Ya semoga gak mengecewakan lah. Soalnya ALF bukan pakarnya(?) KaiSoo. (lah pakarya apaan dong? Pakarnya bikin orang penasaran kali yah? Wkwk maunya)

Oke, sekian cuap-cuap gak penting ane. Check this out.

 

Heart Thief~

Author POV

*~Tired Heart~*

 

 

 

Kyung Soo memberanikan diri membawa tubuhnya menemui seseorang, ah tidak… dua orang yang sedang duduk bermesraan di kantin sekolah. Tangannya yang dingin namun berkeringat menandakan bahwa ia betul-betul gugup.

 

“Kai…”

 

Namja yang dipanggil langsung menoleh, kemudian tersenyum hangat, “Waeyo Baby?”

 

Mata indah Kyung Soo menoleh pada sosok cantik yang memeluk lengan Kai dengan eratnya. Ada tatapan tidak suka di mata namja cantik itu saat kehadiran Kyung Soo mengganggu kegiatan mereka.

 

“Aku ingin bicara.” Lanjut Kyung Soo.

 

“Ah, bicara saja, untukmu apa yang tidak?” Kai meraih tangan mungilnya dan mengecupnya singkat, membuat namja cantik di sebelahnya merengut kesal.

 

Kyung Soo menarik kembali tangannya, kemudian meremasnya dengan sangat gugup. Tapi ia sudah siap, berminggu-minggu memikirkannya, ia yakin bahwa ia sudah siap untuk…

 

Mengakhiri rasa sesak yang terus menyiksanya. Membuatnya lelah dan menemukan satu keputusan penting demi kelanjutan hidupnya.

 

“Aku ingin… putus.” Tegasnya, walau dengan suara lembut.

 

 

Deg~

 

Mata Kai membelalak kaget, ia sempat tersentak membuat namja cantik di sebelahnya hampir terjatuh dari bangku.

 

“Bilang apa?” Tanya namja tampan itu tak percaya.

 

Kyung Soo menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya panjang, “kubilang… Aku ingin putus Kai.”

 

“Tunggu… Tunggu, lelucon ini konyol. Putus apa?”

 

“Aku lelah Kai, aku sudah tidak sanggup menjalani hubungan seperti ini.” Kyung Soo menoleh pada Lu Han yang sepertinya sedang berusaha menyembunyikan senyumnya, “jika kau memang merasa bahagia bersamanya, kupikir lebih baik aku pergi dari sisimu.”

 

“Kyung Soo-ya… bukankah saat itu kau bilang kau tidak apa-apa? Tapi kenapa sekarang kau mempermaslahkannya?” tanya Kai setengah membentak.

 

“Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku tidak apa-apa Kai, aku hanya diam. Tapi diamku kau anggap sebagai persetujuan bahwa aku tidak apa-apa jika kau duakan dengan… namja lain.”

 

Kai menggeram kesal, ia menoleh pada Lu Han yang hanya menyambutnya dengan ekspresi santai sembari mengangkat bahunya. “Kau  betul-betul membuatku bingung Do Kyung Soo. Aku betul-betul tidak mengerti kau.”

 

Kyung Soo tersenyum dalam sakitnya, “benar… Kau memang tidak mengerti diriku, karena jika iya… Kau tidak mungkin membuatku seterluka ini.”

 

“Do Kyung Soo!!”

 

“Kurasa kau tidak membutuhkanku Kai. Suatu hubungan tidak akan kokoh dengan hanya satu pilar penyangga. Jika hanya aku yang mencintaimu, sementara kau tidak, kurasa hubungan kita tidak akan tertolong.”

 

“Cukup, aku tidak mau membahas ini, kembalilah ke kelasmu, dan jangan pernah mengajakku membahas ini lagi.”

 

“Tidak… Aku akan kembali setelah ini selesai. Maksudku, jika memang kau masih ingin mempertahankanku, maka tegaskan padaku kalau hanya akulah yang akan kau tetapkan sebagai pemilik hatimu.”

 

“Konyol, sungguh konyol. Kau tahu kan kalau aku menyukai Lu Han?”

 

Kyung Soo kembali tersenyum sakit. “Jadi itu keputusanmu? Maka keputusanku juga adalah… selamat tinggal Kai.”

 

“Do Kyung Soo…”

 

“Hm, kita sampai di sini. Karena aku tidak mungkin memaksa seseorang untuk berada di sisiku sementara ia tidak betul-betul mencintaiku seorang.”

 

Kai menggeram marah. “Geure… pergilah. Aku juga tidak mungkin membiarkan orang yang tidak bisa kumengerti tetap di sisiku. Arasso… kita berakhir sampai di sini.”

 

 

*~Tired Heart~*

 

 

Biasanya Kyung Soo tidak menangis. Kyung Soo tidak suka menangis. Waktu kecil, ia terjatuh dan lututnya berdarah ia tidak menangis. Ia dipukul oleh kakak kelasnya pun ia tidak menangis.

 

Namun…

 

Kenapa saat ia merealisasikan keputusannya untuk berpisah dari Kai ia justru menangis?

 

Terduduk di sofa kamarnya, memeluk lutut dan membenamkan wajahnya di sana. Kain celananya sudah basah karena air mata, dan itu terjadi sudah sejak 2 jam yang lalu.

 

Ia tidak menyesal saat memutuskan untuk berpisah dari Kai, namun tetap saja kesakitan yang diderita hatinya membuatnya mengucurkan air mata tanpa sanggup ia bendung.

 

“Aku mencintaimu Kai… sangat mencintaimu…” Raungnya percuma.

 

 

*~Tired Heart~*

 

 

Ini adalah penghujung tahun, cuaca semakin tidak bersahabat karena memang ini sudah memasuki pertengahan musim dingin. Hari libur begini, kebanyakan orang lebih memilih berada di rumah, menyalakan pemanas, duduk di sofa bersama sang terkasih di balik selimut dan menonton acara TV yang sekiranya bisa menambah kehangatan suasana.

 

Tidak begitu halnya dengan seorang namja mungil berkulit putih pucat yang memilih berjalan-jalan di trotoar depan area pertokoan yang lumayan sepi. Ia tertunduk dalam, kedua tangannya dimasukkan ke saku, sesekali merapatkan mantel hitam yang menjadi satu-satunya pelindung tubuh agar tetap hangat di cuaca yang mulai ekstrim itu.

 

Ada yang menarik di ujung sepatunya, karena ia tak jengah memandanginya sejak tadi. Tapi sebenarnya jika diperhatikan lagi, pandangan mata namja itu bukannya fokus pada ujung sepatu, melainkan kosong, tak terbaca apa-apa di sana.

 

Sedih? Marah? Kalut? Gusar? Bimbang?

 

Tidak ada yang tahu, karena ia hanya ingin sendiri.

 

Gumpalan kabut berkali-kali keluar dari mulut dan hidungnya setiap kali ia menghembuskan nafas, pertanda bahwa cuaca memang tidak main-main saat itu. kedua pipinya memerah, terlihat jelas karena kulitnya yang sangat putih itu.

 

Srak~

 

Gesekan antara sepatu bergeriginya dan tumpukan salju pun terdengar tatkala ia menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke kiri, tepatnya ke arah sebuah cafe yang cukup bersejarah baginya. Tempat yang meninggalkan kenangan manis baginya, bersama sang tercinta.

 

Gumpalan kabut dalam jumlah banyak yang keluar dari mulut dan hidungnya menandakan ia menghela nafas cukup panjang, selanjutnya ia kembali melanjutkan langkah, ke tempat di mana seharusnya ia berada.

 

 

Brugh~

 

Ia terkejut saat mendapati seseorang ambruk hanya beberapa di depannya. Di atas tumpukan salju di pinggir trotoar.

 

Nalurinya sebagai manusia berhati mulia langsung menuntunnya untuk menghampiri sosok itu.

 

Omo… gwenchanayo?” tanyanya sembari membantu sosok itu untuk bersandar di pangkuannya.

 

“Dingin…” Keluh sosok itu dengan suara bergetar.

 

Kyung Soo berdecak kesal tertahan. Tentu saja namja itu mengeluh dingin, bukankah cuaca memang sedikit esktrim, kenapa namja itu nekat hanya mengenakan kaos tipis tanpa jaket?

 

“Dimana rumahmu? Aku akan mengantarmu.”

 

Namja itu menggeleng, dan detik berikutnya ia kehilangan kesadaran.

 

Kyung Soo terbelalak kaget. “Ya! Hey… jangan pingsan… aduh, dimana kau tinggal?”

 

Tidak ada sahutan.

 

 

*~Tired Heart~*

 

 

Kyung Soo menatap tak percaya namja tampan yang berada di depannya. Tidak menyangka bahwa namja tampan yang ia bawa ke apartemennya tidak hanya pingsan kedingininan 4 jam yang lalu, namun juga sangat kelaparan. Terbukti sudah 4 mangkuk nasi yang ia habiskan, berikut semua lauk dan sayur yang tadinya tersedia lengkap di atas meja.

 

“Ah, kenyang sekali,” ucap namja tampan itu puas, setelah menghabiskan butir terakhir nasinya.

 

“Syu… Syukurlah.” Balas Kyung Soo yang seketika juga merasa kenyang melihat tamu tak terduganya itu.

 

Namja tampan itu tersenyum sangat manis. Ditatapnya sekeliling ruang makan apartemen Kyung Soo sembari mengangguk-anggukkan kepala, “Kau tinggal sendiri?”

 

Kyung Soo menggaruk kepalanya cukup kikuk, sebenarnya ia tidak terbiasa menerima orang asing di apartemennya. “Ne, orang tuaku ada di Jepang. Aku di Korea karena aku memang bersekolah di sini.”

 

“Hm… Begitu? Oh ya, sampai lupa. Siapa namamu manis?”

 

Manis?

 

“Err… Kyung Soo. Do Kyung Soo.”

 

“Wah, namamu semanis wajahmu. Aku Se Hun, Oh Se Hun. Senang mengenalmu Kyung Soo-shii.”

 

Na… Nado Se Hun-shii.”

 

“Sudah kelas berapa?”

 

“Kelas 3 SMU.”

 

Mata Se Hun membulat antusias. “Jinjja? Wah… kalau saja aku melanjutkan sekolah, mungkin aku akan menjadi adik kelasmu. Jadi bolehkah aku memanggilmu ‘Hyung’?”

 

Kyung Soo semakin kikuk, ia memang tidak cukup baik dalam berinteraksi dengan orang baru, tapi ia rasa sedikit ada kemajuan saat berkomunikasi dengan Se Hun. “N… Ne, terserah kau saja Se Hun-shii.”

 

Se Hun pun kembali tersenyum, masih betah mengamati susunan perabotan di ruangan itu.

 

“Err… Se Hun-shii, sudah cukup malam… bukannya aku tidak suka kau berada di sini, hanya saja… ada baiknya kau cepat pulang sebelum orang tuamu panik mencarimu.”

 

“Aku tidak mau pulang.”

 

“Eh?”

 

Se Hun terawa kecil. “Aku kabur dari rumah.”

 

“MWO???”

 

“Mereka menjengkelkan, tidak mengerti keinginanku. Jadi aku memilih kabur. Jadi bolehkan aku tinggal di sini?”

 

“Aduh… itu… tidak… maksudku…”

 

“Wae? Aku tidak akan merepotkanmu. Aku bisa mencuci piring dan pakaian, aku bisa membersihkan rumah, dan bisa melakukan pekerjaan lainnya. Kecuali memasak mungkin.”

 

“Tunggu… Tunggu Se Hun-shii, aduh bagaimana menjelaskannya. Maksudku… kita bahkan baru beberapa menit berkenalan, dan… tinggal serumah itu… astaga…”

 

“Tenanglah Hyung, aku bukan orang jahat.”

 

Kyung Soo berdecak frustasi. “Bukan begitu, aduh. Ah, kamarku hanya satu.”

 

“Aku bisa  tidur di sofa.”

 

“Ck, pakaian… itu, pakaian yang kau kenakan, hanya satu pasang yang ukurannya cocok denganmu.”

 

“Aku bawa uang di dompetku, besok temani aku berbelanja, sekalian cari pekerjaan.”

 

Kyung Soo kembali mengeluh. “Tapi…”

 

“Apa kau punya kekasih?”

 

Deg~

 

Kyung Soo mengalihkan pandangan, kemudian menunduk, “Tidak…”

 

“Ya sudah, kurasa tidak ada pertimbangan lagi. Percayalah padaku, aku tidak akan menyusahkanmu Hyung, aku juga akan bekerja untuk memenuhi kebutuhanku sendiri tanpa membebanimu. Dan ah… aku akan mengantar jemputmu ke sekolah.”

 

“Se Hun-shii…”

 

“Walaupun bukan dengan kendaraan pribadi, bukankah lebih asyik pulang pergi sekolah ada yang menemani. Naik bus kan tidak buruk, lalu Hyung akan memasak untuk makan siang, juga makan malam, aku bagian mencuci piring dan__”

 

“Se Hun-shii, ini berlebihan. Maksudku, ck… bagaimana kalau keluargamu mencarimu?”

 

Se Hun mengibaskan tangannya  di depan wajah. “Jangan pikirkan mereka, biarkan sajalah. Ayolah Hyung, izinkan aku tinggal di sini.”

 

“Tapi…”

 

“Tolonglah, aku tidak punya tempat tinggal. Apa kau tega membuatku terlantar?”

 

 

Hening…

 

 

“Hyung…” Rengek Se Hun sekali lagi.

 

Sebuah hembusan nafas panjang sebagai tanda bahwa Kyung Soo menyerah. “Baiklah, tapi jangan bawa-bawa namaku kalau keluargamu mengamuk.”

 

Se Hun tertawa puas, ia pun beranjak dari duduknya menarik tangan Kyung Soo hingga ikut berdiri di hadapannya kemudian memeluknya erat. “Gomawo Hyung… Aku berjanji tidak akan merepotkanmu, akan kubuat kau bersyukur telah menerimaku di rumah ini.”

 

Deg~

 

Kyung Soo mengerjapkan mata berkali-kali. Belum pernah ia bertemu orang seperti Se Hun yang melakukan apa saja tanpa pikir panjang. Entah ini pertanda baik atau buruk, untuk sejenak Kyung Soo bahkan lupa bahwa ia masih sangat terpuruk pasca perpisahannya dengan Kai.

 

Oh Se Hun…

 

Bisa jadi Tuhan sengaja megirimkannya sosok  Se Hun untuk…

 

 

Membantunya melupakan Kai.

 

 

*~Tired Heart~*

 

 

Kyung Soo sedang membawa tumpukan buku saat tanpa sengaja ia berpapasan dengan Kai di tengah koridor.

 

“Kai…” Serunya tanpa sadar. Dan ia menyadari kebodohannya itu saat Kai berhenti persis di hadapannya.

 

Rindu

 

Sungguh… betapa ia merindukan namja yang sudah menjadi kekasihnya selama hampir 3 tahun itu. Namun apa yang harus ia lakukan untuk mereda kerinduan itu sementara ia tidak betul-betul mendapatkan tempat tunggal di sana.

 

“Ada apa?” tanya Kai datar.

 

Kyung Soo menelan ludah susah payah, akan ada kondisi buruk tersendiri untuk dirinya saat ia bertemu dengan Kai seperti ini, terlebih mendengar suaranya yang biasanya memanja telinganya saat mereka tengah bermesraan.

 

“Ah, maaf menghalangi jalanmu. Sepertinya kau terburu-buru,” ujarnya tak berani mendongakkan wajah.

 

Hening….

 

“Do Kyung Soo!”

 

Namja yang dipanggil tersentak kaget, seketika mendongak. “Ne?” terlihat jelas ada harapan berlebih dari pancaran matanya.

 

“Bukankah kita sudah berakhir? Kau tahu arti dari kata ‘berakhir’?”

 

Kyung Soo terdiam. Terlihat jelas ia seperti tertikam akan pertanyaan itu.

 

Kai mulai melangkah pelan hingga ujung sepatunya bertemu dengan ujung sepatu Kyung Soo. Ia sedikit menunduk dan mencondongkan wajahnya, dekat, bahkan bibirnya hampir menyentuh daun telinga Kyung Soo yang mendadak memerah. “Berakhir itu adalah…  semua kontak, komunikasi, dan interaksi antara kita itu berakhir.”

 

Kyung Soo menelan ludah susah payah, kemudian mengangguk, “Maafkan aku.”

 

Kai tersenyum, kemudian sedikit menggeser wajahnya hingga sejajar di depan wajah Kyung Soo yang semakin memerah. “Jika kau tak sanggup, jangan bersikap sok tegar di hadapanku. Nyatanya kau butuh aku Do Kyung Soo.”

 

Namja mungil itu menunduk, tak sanggup mempertahankan kontak mata.

 

“Coba katakan kau bisa tanpa ku,” tantangnya.

 

Kyung Soo semakin mengeratkan genggamannya di tumpukan buka yang ia bawa, semakin menunduk dalam.

 

“Tidak bisa Kyung Soo-ya, karena sejak dulu, kau sudah terikat denganku.” Kai kembali tersenyum penuh kemenangan, sebuah kecupan ia daratkan cukup ringan di pipi Kyung Soo sebelum ia menegakkan badan dan mulai melangkah meninggalkan Kyung Soo.

 

“Kim… Kim Jong In…” seru Kyung Soo memberanikan diri.

 

Namja tampan itu menghentikan langkah, kemdian menoleh. Seketika mendapati sosok Do Kyung Soo yang berdiri tegap sekitar 4 meter darinya. Wajahnya tak serapuh tadi, dan adakah seseorang yang bisa bangkit secepat itu?

 

“Aku bisa… Tanpamu.”

 

Itu bukan sebuah tantangan, namun pertaruhan. Bisa jadi penegasan bahwa memang Kyung Soo bersikeras bahwa ia mampu tanpa sosok Kim Jong In di sisinya.

 

Kai tertawa. “Mari kita lihat baby, tidak cukup seminggu, kau akan kembali padaku.”

 

Kyung Soo tersenyum semanis mungkin. “Aku lelah Kai, dan kau yang membuatku lelah. Tempatku beristirahat, bukan kembali padamu.”

 

Deg~

 

 

“Maksudmu?”

 

“Sama seperti persepsimu tentang kata ‘berakhir’. Bagiku … Kita… betul-betul sudah berakhir.” Tegas Kyung Soo kemudian beranjak melanjutkan langkahnya.

 

“Do Kyung Soo!!”

 

Kyung Soo memejamkan matanya sejenak, menahan gejolak yang menggebu-gebu di dalam dadanya. Bersikap tegar di hadapan Kai jelas bukan perkara mudah. Kyung Soo betul-betul menekan sebuah perasaan megah yang menguasai hatinya yang memang ia tujukan sepenuhnya pada Kai.

 

Dengan kata lain, membunuh cinta untuk menunjukkan ketegaran.

 

 

*~Tired Heart~*

 

 

Kyung Soo terhenyak saat ia mendapati Kai tengah memeriksa ban mobilnya yang kempes di depan gerbang sekolah. Langkah Kyung Soo yang berhenti tiba-tiba itu membuat Se Hun yang sedang asyik berceloteh di sebelahnya juga ikut menghentikan langkah.

 

“Waeyo Hyung?” tanya Se Hun bingung.

 

“Bisakah kita lewat belakang saja? Di sana ada Kai,” jawab Kyung Soo ragu.

 

“Kai? Mantan kekasihmu itu?”

 

Wajah Kyung Soo memerah, sangat jelas ia sedikit tidak nyaman membahas itu.

 

“Kenapa kau menghindar? Kau justru akan terkesan lemah kalau kau yang menghindar. Hadapi saja.”

 

Kyung Soo menoleh dan sedikit mendongak untuk mampu menyejajarkan pandangan. “Aku sendirian Se Hun-ah. Dan yang bisa kulakukan adalah menghindar. Bukan melawan mereka.”

 

“Mereka?”

 

“Hm. Kai dan… Lu Han, kekasihnya.”

 

Se Hun tersenyum penuh makna, mengusap puncak kepala Kyung Soo dengan lembut. “Jika Kai punya Lu Han, maka Kyung Soo Hyung punya Se Hun. Kajja!”

 

Kyung Soo terbelalak saat tiba-tiba Se Hun menggenggam tangannya dan menyeretnya menuju gerbang sekolah. Berhenti sekitar 2 meter dari tempat Kai berdiri memperhatikan ban mobilnya yang kempes, sementara Lu Han menyandarkan tubuhnya di kap mobil dengan tampang bosan.

 

“Kuantar sampai di sini yah Hyung, aku harus ke cafe untuk bekerja, aku mendapat shif pertama,” pamit Se Hun masih dengan kedua tangan menggenggam pundak Kyung Soo.

 

Kyung Soo kebingungan, wajahnya memerah dan fokus matanya tidak jelas.

 

Se Hun tertawa melihatnya, dengan santai ia menangkup kedua pipi chubby Kyung Soo membuatnya mendongak agar tatapan mata mereka terikat. “Kujemput sepulang sekolah, dan kita jalan-jalan lagi.”

 

Kyung Soo hanya bisa terdiam, tak mampu merespon, sampai ketika Se Hun menunduk dengan santainya dan menggapai bibir Kyung Soo lembut, mengulumnya singkat. “Sampai jumpa, chagi.” Dan  ia pun beranjak pergi dengan sebuah lambaian tangan.

 

Tanpa ada yang terlewat sedetikpun. Mulai dari rengkuhan, kalimat singkat namun lembut, ciuman singkat namun lembut, terakhir ucapan perpisahan yang… penuh makna.

 

Kai di sana, dengan ekspresi mengeras. Tanpa mempedulikan genggaman tangan Lu Han di lengannya, ia tatap sosok Kyung Soo yang terpaku dengan wajah merona sembari menyentuh bibirnya.

 

Suara remukan tangan Kai terdengar jelas oleh Lu Han, di sana bukan hanya terlihat aura kecemburuan. Ada amarah tertumpuk di sana, dan kalau ia tidak mengingat bahwa ia dan Kyung Soo telah berakhir, detik itu juga ia akan menyeret namja yang pernah menjadi kekasihnya selama bertahun-tahun itu dan memberinya sebuah pelajaran.

 

Deg~

 

 

Kai terperanjat saat Kyung Soo menoleh singkat. Tatapannya datar, kemudian beranjak meninggalkan gerbang menuju pekarangan sekolah.

 

Sungguh, tatapan yang dulunya salalu tertuju padanya, kini seolah tidak ia kenali. Nyatanya sudah tidak ada bayangan Kai di sana. Masa-masa indah yang hampir menginjak usia 3 tahun itu, seolah terhapus begitu saja dalam kurun waktu tak cukup 3 minggu.

 

“Kai…” Tegur Lu Han, membuat namja tampan itu menoleh.

 

“Kita pulang. Aku tidak mood bersekolah hari ini.”

 

“Karena Kyung Soo sudah punya penggantimu?”

 

Greb~

 

Tubuh Lu Han sedikit terangkat saat Kai langsung memeluk pinggangnya dan memaksanya merapat, ia gapai bibir Lu Han dan meumatnya cukup kasar namun singkat. “Berhenti menyebut namanya di hadapanku. Atau kau akan mendapatkan ganjarannya.”

 

Lu Han tersenyum, kemudian menyeka bibir Kai yang terlihat basah. “Aku siap menerima ganjarannya Kai. Aku juga tidak mood bersekolah sekarang. Ayo kita ke apartemenmu.”

 

 

*~Tired Heart~*

 

 

 

“Dan mereka mengira aku ada hubungan gelap dengan manager noona karena aku seperti dianak emaskan di cafe. Lihat, baru 3 minggu bekerja aku sudah mendapatkan gaji bulanan. Jadi Hyung, nanti malam kita makan di luar saja, kau bisa pesan apa saja yang kau suka biar aku yang bayar, kau mau hidangan barat? Hm sepertinya restoran Itali tidak buruk, kita bisa pesan Spagetti, steak sapi, makaroni panggang, pizza 5 rasa, Spagetti, eh spagetti sudah tadi kalau tidak salah, atau__”

 

“Se Hun-ah.”

 

“Ne Hyung…”

 

Kyung Soo menghentikan langkahnya persis di dekat halte bis, membuat Se Hun menoleh dan berhadapan dengannya. “Tadi… Kenapa kau menciumku?”

 

“Ha?”

 

Kyung Soo meremas ujung sweater putihnya yang menutupi seragam sekolahnya. “Kenapa kau menciumku di depan gerbang sekolah dan memanggilku chagi? Apakah kau sengaja? Apakah kau ingin membuat Kai cemburu?”

 

Se Hun justru tertawa melihat sikap menggemaskan dari Kyung Soo, diusapnya puncak kepala Kyung Soo hingga namja manis itu mendongak untuk menatapnya. “Kai cemburu?”

 

“Aku tidak tahu, dia tidak masuk hari ini. Mungkin pulang bersama Lu Han. Aku berusaha tidak peduli akan hal itu, aku hanya kaget dengan sikapmu.”

 

“Kau keberatan Hyung?”

 

“Ha… Hanya kaget.”

 

“Ya sudah, jangan dipermasalahkan lagi. Kajja…”

 

“Tapi Se Hun-ah.”

 

“Ayolah Hyung… dingiiinnn.”

 

Kyung Soo menghembuskan nafasnya berat, kemudian mengangguk. “Arasso, apapun tujuanmu… Terima kasih.”

 

Se Hun kembali tersenyum manis, kemudian dengan santai merangkul pundak Kyung Soo dan mengajaknya pergi.

 

Namun, satu yang tidak diketahui  Kyung Soo. Bahwa mungkin dalam waktu yang cukup lama, Se Hun tidak akan membiarkannya tahu alasan kenapa ia mencium  Kyung Soo.

 

 

Yang jelas, bukan untuk membuat Kai cemburu.

 

 

*~Tired Heart~*

 

 

Lu Han terbangun tengah malam, merasakan bahwa tempat di sebelahnya kosong. Sedikit janggal jika tidak ada Kai di sebelahnya sementara jam di nakas masih menunjukkan pukul 2 dini hari.

 

“Kai…” panggilnya dengan suara parau, efek masih setengah mengantuk.

 

Tidak ada sahutan, namun Lu Han menangkap sosok itu tengah berdiri di balkon kamarnya, menerima terpaan angin malam yang sebenarnya sangat tidak baik untuk tubuhnya yang hanya berbalutkan handuk di pinggangnya itu.

 

Lu Han meraih kaos hitam milik Kai yang tergeletak tak jauh darinya, memakainya kilat dan beranjak dari tempat tidur menyusul Kai yang bersikap cukup aneh malam itu. Tidak biasanya Kai menghabiskan lebih dari 4 kaleng bir dan masih terjaga saat itu juga.

 

“Tidak bisa tidur?” Tanya Lu Han sembari memeluk Kai dari belakang.

 

“Ah mian, apa kau terbangun karena aku membuka pintu balkon?” Tanya Kai balik.

 

“Bukan, aku terbangun karena tidak ada Kai di sampingku.”

 

“Maaf.”

 

Lu Han melepas pelukannya, kemudian bergeser hingga itu berdiri di sebelah Kai. “Memikirkan  Kyung Soo?”

 

Deg~

 

Lu Han terbangun tengah malam, merasakan bahwa tempat di sebelahnya kosong. Sedikit janggal jika tidak ada Kai di sebelahnya sementara jam di nakas masih menunjukkan pukul 2 dini hari.

 

“Kai…” panggilnya dengan suara parau, efek masih setengah mengantuk.

 

Tidak ada sahutan, namun Lu Han menangkap sosok itu tengah berdiri di balkon kamarnya, menerima terpaan angin malam yang sebenarnya sangat tidak baik untuk tubuhnya yang hanya berbalutkan handuk di pinggangnya itu.

 

Lu Han meraih kaos hitam milik Kai yang tergeletak tak jauh darinya, memakainya kilat dan beranjak dari tempat tidur menyusul Kai yang bersikap cukup aneh malam itu. Tidak biasanya Kai menghabiskan lebih dari 4 kaleng bir dan masih terjaga saat itu juga.

 

“Tidak bisa tidur?” Tanya Lu Han sembari memeluk Kai dari belakang.

 

“Ah mian, apa kau terbangun karena aku membuka pintu balkon?” Tanya Kai balik.

 

“Bukan, aku terbangun karena tidak ada Kai di sampingku.”

 

“Maaf.”

 

Lu Han melepas pelukannya, kemudian bergeser hingga itu berdiri di sebelah Kai. “Memikirkan Kyung Soo?”

 

Deg~

 

Kai menoleh spontan. “Apa maksudmu?”

 

“Hanya menebak. Tidak butuh waktu lama berada di sisimu Kai untuk tahu siapa yang sudah menguasai pikiranmu. Hanya saja, bukankah kalian sudah berpisah? Jadi jangan bersikap seolah kau tidak rela ditinggal olehnya.”

 

“Lu Han… Jaga bicaramu, siapa yang tidak rela? Tidakkah kau lihat aku bahagia bersamamu?”

 

Lu Han tersenyum, kemudian menyentuh pipi Kai lembut. “Kau hanya suka bersamaku Kai, bukan bahagia bersamaku. Seperti yang kau bilang, aku cukup banyak memberikan hal yang tidak kau dapatkan dari Kyung Soo. Namun selebihnya, kurasa hatimu sudah sepenuhnya untuk Kyung Soo.”

 

Kai mengatupkan rahangnya rapat-rapat, menelaah setiap penuturan telak yang disampaikan Lu Han barusan.

 

“Aku tidak mencintai Kyung Soo! Kau mengerti?” tegasnya.

 

Lu Han hanya tersenyum, membiarkan Kai mendekapnya erat dan sekali lagi memberinya ciuman yang tujuan sebenarnya bukan untuk bermesraan. Lu Han cukup tahu bahwa ciuman Kai kali ini sebagai bentuk pelarian dari sesak yang ia rasakan.

 

 

*~Tired Heart~*

 

Tenang…

 

Nyaman…

 

Damai…

 

Entah kenapa Kyung Soo justru merasakan hal-hal itu setelah perpisahannya dengan Kai. Atau ini bukan tentang perpisahannya dengan Kai, tapi pertemuannya dengan Oh Se Hun. Namja tampan yang sepertinya Kyung Soo tidak peduli asal dan latar belakangnya selain surga.

 

Benar… surga. Kyung Soo berpikir, namja itu memang berasal dari surga, tepat di saat ia betul-betul membutuhkan sebuah ‘pertolongan’ untuk menyembuhkan hatinya.

 

Entah ini adalah pelarian untuk hatinya yang telah lelah, Kyung Soo betul-betul nyaman berada di sisi Se Hun.

 

 

“Maaf…” ucap Se Hun saat ia betul-betul hampir kehilangan kendali dan berakhir menyakiti Kyung Soo.

 

Namja mungil itu merengkuh dadanya yang sesak karena merasa persediaan udara di paru-parunya menipis. Terlihat jelas ekspansi dadanya yang tidak teratur, terlebih wajahnya yang memerah dan…

 

“Tidak… apa-apa Se Hun-ah. Aku tidak apa-apa,” ucapnya lirih namun tegas. Ia menghampiri Se Hun yang berdiri di dekat meja makan,menumpukan telapak tangannya di sana dan menunduk dalam.

 

“Aku bisa menyakitimu kalau ini diteruskan!” balas Se Hun takut. Mengingat beberapa menit yang lalu mereka hanya bersenda gurau sembari mencuci piring bekas makan malam mereka. Dan entah siapa yang memulai, saat mata mereka bertemu dan terikat, keduanya langsung menghilangkan sekat udara di antara mereka. Menyatukan sebuah perasaan asing yang menggebu-gebu di dada mereka. Begitu mendera dan menerpa, hingga tanpa sadar Se Hun menghempaskan tubuh mungil Kyung Soo ke tembok dapur dan mengekspresikan perasaan asing itu tanpa mengedepankan logika.

 

Dan begitulah, saat ia telah sukses melepaskan celemek yang dikenakan Kyung Soo, melepas 4 kancing kemeja, juga meninggalkan sebuah tanda manis berwarna merah di sisi kiri leher Kyung Soo, iapun sadar bahwa tidak seharusnya ia melanjutkannya.

 

“Se Hun-ah…”

 

“Tidurlah Hyung, sudah malam. Sisanya biar aku saja yang mencucinya.”

 

Kyung Soo terdiam sejenak, sedikit gugup ia semakin mendekatkan tubuhnya, memeluk Se Hun dari samping dan mengecup pelipisnya.

 

“Aku… suka bersamamu Se Hun-ah. Bukan karena aku ingin melupakan Kai. Tapi karena aku___”

 

“Tidurlah Hyung.”

 

“Se Hun-ah.”

 

“Jika aku bisa meminta, tolong jangan katakan apapun tentang apa yang kau  rasakan padaku, karena aku tidak bisa menjanjikan apa-apa.”

 

Kyung Soo terkejut, kemudian mengerutkan keningnya kebingungan.

 

“Kau suka bersamaku, itu cukup. Jangan menambahkan apa-apa lagi.”

 

“Tapi aku tidak sekedar suka, kurasa aku mulai menya__”

 

“Hyung jebal!”

 

Kyung Soo terperanjat saat Se Hun terlihat panik dan membentaknya.

 

“Se… Se Hun-ah?”

 

“Ma… Maaf  Hyung, aku…” Se Hun tampak gelagapan. Ia mengusap wajahnya dengan terburu-buru kemudian meninggalkan Kyung Soo dengan langkah cepat.

 

“Se Hun-ah mau kemana kau?”

 

Tidak ada sahutan, nyatanya langkah Se Hun 10 kali lebih cepat dari Kyung Soo yang berusaha mengejarnya.

 

 

 

*~Tired Heart~*

 

 

Kyung Soo tidak pernah mengalami cemas seperti ini selama hidupnya. Cemas terparah yang pernah ia alami adalah ketika Kai kekaksihnya jatuh sakit sementara ia hanya sendirian di apartemennya. Tapi kali ini Kyung Soo akan menggeser sejarah itu, cemas terparah dalam hidupnya adalah yang ia alami saat itu juga.

 

Se Hun tidak pulang selama 2 hari.

 

Sebenarnya apa yang ditakutkan Se Hun jika Kyung Soo merasakan hal indah pada dirinya?

 

Namanya cinta jika ada yang ingin tahu. Namun Se Hun tidak betul-betul ingin tahu. Sikapnya lebih kepada, takut untuk tahu.

 

 

 

 

“Sonsaeng-nim, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan. Aku kurang enak badan, bisakah aku berisirahat di ruang kesehatan?” pinta Kyung Soo lemah.

 

Ia tidak sakit secara fisik, namun wajah pucatnya mewakili batinnya yang didera perasaan cemas berlebih itu.

 

Guru olahraga yang tengah mempraktekkan tekhnik memegang bola basket itupun mengangguk.

 

——

 

Kyung Soo terbaring cukup gelisah di atas brankar UKS. Seperti ada yang menarik di langit-langit karena mata indahnya menatap fokus ke atas sana. Memasuki sebuah ruang yang bernama halusinasi, ia memproyeksi bayangan wajah Se Hun yang tertawa di sana. Namun tawa itu memberinya sedikit luka yang cukup sakit di dada kirinya.

 

“Dimana kau Se Hun-ah?” lirihnya seorang diri.

 

 

Braaakk~

 

Bantingan pintu itu cukup keras, namun Kyung Soo hanya mampu merespon dengan menleh ke sumber suara.

 

“Kai?” lirihnya bahkan tanpa suara.

 

Kai di sana, dengan nafas terengah-engah dan keringat bercucuran, mengisyaratkan bahwa ia sangat terburu-buru ke tempat itu. Hanya butuh waktu 5 detik untuk mengontrol sedikit nafasnya, Kai menghambur ke arah brankar tempat Kyung Soo terbaring, direngkuhnya tangan mungil itu, kemudian menyentuh pipinya dengan tangan yang satu lagi.

 

“Gwenchanayo? Mana yang sakit? Kau demam? Kau sakit apa? Sudah berapa lama? Kenapa tidak ke rumah sakit? Bagaimana kalau keadaanmu semakin par__”

 

“Aku tidak apa-apa. Aku hanya sedang gelisah dan mencemaskan Se Hun.”

 

Deg~

 

“Se Hun?”

 

“Hm, sudah dua hari dia tidak pulang.”

 

Kai spontan melepaskan tangannya. “Se Hun, apakah namja yang selalu bersamamu  itu?”

 

Kyung Soo memejamkan matanya sejenak, terlihat sangat lemah. “Benar. Aku khawatir terjadi apa-apa padanya. Aku… sangat mencemaskannya.”

 

“Kyung Soo-ya…”

 

“Pergilah, aku tidak apa-apa. Mungkin sebaiknya aku pulang dan menunggu Se Hun di sana.”

 

Greb~

 

 

Kyung Soo menoleh saat Kai meraih tangannya cukup erat.

 

“Kalian tinggal bersama?” tanya namja tampan itu.

 

Kyung Soo mengulas senyum tipis bermakna. “Hm, sama seperti kau dan Lu Han.”

 

Kai kembali melepas tangannya, kali ini bergerak mundur seolah hendak limbung. Masalahnya, ia bahkan tidak pernah sekalipun menginap di apartemen Kyung Soo, dan namja bernama Se Hun itu bahkan telah tinggal bersamanya. Bisa jadi, mereka pun telah tidur bersama.

 

“Ugh…” keluh Kyung Soo saat pusing menyerang kepalanya tepat saat kaki mungilnya menyentuh lantai.

 

Kai tidak membutuhkan waktu cukup lama untuk mengembalikan fokusnya, karena detik itu juga ia langsung meraih pinggang Kyung Soo agar namja itu tidak terjatuh.

 

Deg~

 

 

Sensasi itu. Demi Tuhan betapa Kai merindukan masa-masa itu, saat di mana ia bisa merengkuh tubuh mungil beraroma lembut itu.

 

“Akan kuantar kau pulang!” tegas Kai.

 

Kyung Soo menoleh dan menatap lekat namja tampan itu. “Bukankah kau sendiri yang bilang, berakhir adalah tidak ada kontak, tidak ada interaksi, dan tidak komunikasi? Jangan menjilat ludahmu sendiri Kai.”

 

Kai mendesis kesal. “Anggap saja ini bukan Kai yang menolong Kyung Soo. Anggap saja aku adik kelas yang membantu kakak kelasnya. Hanya mengantarmu pulang. Tidak bermaksud melakukan kontak apa-apa.”

 

Dan itu membuat Kyung Soo terdiam.

 

Sesungguhnya, Kai tidak tahu bahwa jauh di lubuk hati Kyung Soo yang terdalam, ada asa yang tinggi bahwa Kai akan mengatakan maaf dan mengakui bahwa ia tidak bisa tanpa Kyung Soo, sebagaimana Kyung Soo cukup tersiksa tanpa Kai.

 

Namun ego masing-masing telah meruntuhkan asa itu.

 

 

*~Tired Heart~*

 

 

“Hyung??? Gwenchanayo?” Pekik Se Hun saat Kai membawa Kyung Soo masuk ke apartemennya.

 

“Se Hun-ah!!!” pekik Kyung Soo tak kalah keras, ia bahkan tidak sadar bahwa kondisinya cukup lemah untuk sekedar melepaskan rengkuhan Kai dan berlari ke pelukan Se Hun. Terbukti ia hampir ambruk kalau saja Se Hun tidak buru-buru meraihnya ke dalam pelukan. “Kemana saja kau selama dua hari ini? Aku mencarimu kemana-mana, bahkan ke cafe tempatmu bekerja, kau tidak ada Se Hun-ah, kau kemana??” kali ini berubah menjadi raungan.

 

Kai hanya berjarak beberapa meter di belakang Kyung Soo, mendengar semuanya, melihat semuanya. Dan sebuah kenyataan baru menamparnya telak-telak.

 

Pernahkah Kyung Soo meraung sekeras itu karena mencemaskannya? Pernahkah ia menakis semenyedihkan itu?

 

“Aku… ada urusan di rumah Hyung, makanya aku pulang,” jawab Se Hun lembut, kemudian dengan perlahan mengangkat kedua tangannya dan melingkari punggung sempit Kyung Soo, menariknya lebih rapat ke arahnya. Meredam tangis yang mungkin akan lebih panjang jika Se Hun tidak menenangkan Kyung Soo dengan cara itu.

 

Dari balik punggung Kyung Soo, mata Se Hun tertuju pada mata tajam Kai.

 

Menusuk… tersirat rasa tidak suka dan hendak mengakhiri pemandangan itu. Namun adakah hak Kai untuk itu?

 

Bukan Kyung Soo yang meminta pergi, Kai yang menyebabkan hubungan mereka terisi sesuatu tepat di tempat yang tidak betul-betul kosong. Dan ketika Kyung Soo menemukan tempat yang menerimanya secara utuh, ego kembali menyeruak…

 

Kai ingin Kyung Soo kembali.

 

Jebal… Jangan pergi lagi tanpa memberitahuku.”

 

 

Namun raungan sakit itu kembali menyadarkan Kai bahwa.

 

Kyung Soo bukan lagi miliknya.

 

Ne Hyung, mianhae. Tidak akan kuulangi. Saat aku akan pergi, aku akan pamit dulu padamu,” balas Se Hun dengan lembutnya, sesekali mengusap punggung Kyung Soo untuk menenangkannya. Namun mata yang tetap melekat ke depan itu seolah tak ingin tertindas oleh tatapan penuh amarah Kai.

 

“Um…” Kyung Soo mengangguk cepat sembari  merapatkan pelukannya. Membenamkan wajahnya di dada Se Hun yang membuatnya selalu tenang.

 

Se Hun menyempatkan diri mengecup kepala Kyung Soo, hanya sekilas, namun menyebabkan dampak luar biasa dari perubahan ekspresi Kai yang masih mengawasi dalam diam.

 

Ada marah, cemburu, kesal, sedih, sakit dan… seharusnya ia tidak berada di sini.

 

“Kau demam Hyung, sebaiknya kau kubawa kekamar,” ucap Se Hun lembut, mendapat anggukan dari Kyung Soo.

 

Sebuah penegasan kecil bahwa, tugas Kai mengantar Kyung Soo sudah usai dan sudah saatnya ia mengangkat kaki dari tempat itu.

 

 

*~Tired Heart~*

 

 

“Kau sadar kan, sudah jam berapa sekarang? Dari mana saja?” tanya Lu Han cukup dingin saat Kai baru saja masuk ke apartemen ‘mereka’.

 

Kai tidak menggubris, ia melanjutkan langkahnnya yang sempoyongan menuju dapur, membuat Lu Han yang mengikutinya dari belakang langsung mengangkat alis.

 

“Kau mabuk Kai?”

 

Sekali lagi Kai tidak merespon, ia mengambil sebotol air dingin di  kulkas dan meneguknya asal-asalan.

 

“Kai…!” kali ini Lu Han menyentak lengan Kai hingga namja itu berbalik.

 

“Apa?” tanyanya dingin, tercium aroma alkohol yang cukup tajam, mendandakan bahwa namja ini betul-betul telah menenggak minuman itu dalam jumlah banyak.

 

Lu Han mendesis, berusaha menahan emosi. “Karena Kyung Soo lagi kan?”

 

“Aku lelah.”

 

“Bagaimana kau tidak lelah? Dari siang sampai selarut ini kau terus bersama Kyung Soo.”

 

Kai menepis tangan Lu Han kemudian beranjak ke kamarnya, mengacuhkan Lu Han yang terus memanggilnya.

 

“Kai… Aku tidak suka kau yang seperti ini. Tolong, kembalilah seperti kau yang biasanya. Jangan hanya karena Kyung Soo menemukan penggantimu, kau jadi sekacau ini.”

 

Kai menghempaskan tubuh lelahnya di atas tempat tidur tanpa melepaskan seragammnya, semakin membuat Lu Han geram.

 

“Kai…!!! Jawab aku? Kenapa kau seperti ini? Kenapa sejak Kyung Soo meminta berpisah, kau jadi selemah ini? Apa kau tidak rela berpisah dengannya? Tidak rela jauh darinya? Tidak rela jika ia telah menemukan namja lain? Apa kau masih mencintainya???”

 

Namja tampan itu meradang, ia bangkit dari tempatnya, menarik tangan Lu Han dan menghempaskannya ke tempat tidur, terakhir ida mencngekram kedua bahunya dan menindihnya kuat. “Benar… Sangat benar, aku lemah, aku tdak rela berpisah dengannya, tidak rela jauh darinya, tidak rela melihatnya dengan namja lain. Hampir mati karena melihat bibirnya disentuh namja lain… AKU MENCINTAINYA… AKU SANGAT MENCINTAINYA… PUAAASSS???”

 

Lu Han terdiam, ini bukan hanya karena Kai membentaknya sekeras itu, namun apa yang baru saja di dengarnya.

 

“Aku mencintainya Lu Han… aku…”

 

Brugh~

 

 

Kai menjatuhkan kepalanya persis di atas pundak Lu Han, dan untuk pertama kalinya selama Lu Han mengenal Kai, ia baru kali ini mendengar namja tampan itu…

 

Menangis!!!

 

“Aku mencintainya…. sangat mencintainya…” rintihnya pilu.

 

“Bahkan jika ada aku Kai?”

 

Kai mengeratkan rengkuhannya. “Maafkan aku.”

 

Lu Han menghembuskan nafasnya cukup panjang, kemudian perlahan mengulurkan tangannya dan memeluk punggung Kai, sesekali mengelusnya berharap bisa menenangkan namja tampan itu. “Baiklah, setidak biarkan dulu seperti ini.”

 

 

 

*~Tired heart~*

Se Hun tidak bisa memejamkan matanya barang sedetikpun, bukan karena Kyung Soo terlalu merapat padanya. Bukan… justru ia yang merengkuh Kyung Soo terlalu rapat, berharap demam Kyung Soo akan segera reda saat ia berbagi dengannya.

 

Masih tentang Kyung Soo yang terlelap di sebelahnya. Berharap waktu bisa bersahabat dengannya hingga masa-masa seperti ini bukanlah sesuatu yang harus dia khawatirkan. Namun membahagiakannya.

 

Hingga waktu betul-betul menjadi musuh besarnya.

 

 

 

 

 

 

Kyung Soo terkejut saat pagi itu ia terbangun dan tidak ada Se Hun di sebelahnya. Ia panik bukan main. Tanpa mengabaikan kepalanya yang masih pusing, ia berlari keluar kamarnya sembari menyerukan nama Se Hun berkali-kali.

 

Kaki mungilnya terhenti di depan dapur, dimana ia menangkap sosok Se Hun yang tengah menyiapkan sarapan untuknya.

 

“Ah hyung… good morning,” sapanya lembut.

 

Bibir Kyung Soo bergetar, seiring ekspansi dadanya yang naik turun, dan detik berikutnya ia kembali berlari dan menghempaskan dirinya ke pelukan Se Hun.

 

“Wow Hyung… ada apa ini?” kejutnya hampir menjatuhkan piring dari tangannya.

 

“Kukira kau pergi, kukira kau meninggalkanku lagi, kukira kau tidak ingin bersamaku lagi,” raung Kyung Soo bertubi-tubi.

 

Se Hun tertawa dibuatnya, sedikit bergeser hingga ia bisa meletakkan piring berisi masakannya di atas meja kemudian memeluk Kyung Soo lebih leluasa. “Aku masih di sini hyung, bersamamu. Tidak akan meninggalkanmu.”

 

Kyung Soo tidak menggubris lagi, ia lebih sibuk menenggelamkan wajahnya di dada bidang Se Hun. Lebih suka mendengar irama jantung yang teratur dan selalu membuatnya nyaman itu.

 

“Demammu sudah turun hyung, tidak ke sekolah?”

 

Kyung Soo menggeleng manja, masih betah memeluk Se Hun.

 

“Arasso, hari ini aku juga tidak bekerja. Bagaimana kalau jalan-jalan?”

 

“Jalan-jalan?”

 

Se Hun mengangguk, menyambut wajah Kyung Soo yang menatapnya lugu. Ia tangkup kedua pipi chubby itu dan mengecup puncak hidungnya singkat. “Kau masih sakit sebenarnya, kalau kita jalan-jalan di cuaca dingin begini kau bisa pingsan.”

 

Kyung Soo akhirnya tertawa, matanya masih sembab dan puncak hidungnya memerah, menambah kesan manis pada wajahnya. “Sakitku bukan karena cuaca di luar Se Hun-ah, sakitku karena cuaca di sini.” Kyung Soo menunjuk dadanya.

 

“Memangnya kenapa cuaca di sini?” Se Hun ikut menyentuh dada kiri Kyung Soo.

 

“Molla, di sini hujan deras.”

 

Dan itu membuat Se Hun tertawa keras. “Aku baru meninggalkanmu 2 hari, kau sudah parah begini, bagaimana kalau aku meninggalkanmu selamanya?”

 

 

“Kalau kau pergi untuk selamanya, aku akan menyusulmu kemanapun.”

 

 

Deg~

 

 

“Jangan mengucapkan hal yang aneh-aneh hyung.”

 

“Kau yang memulai kan?”

 

Se Hun menggumam pelan, kemudian mengusap pipi Kyung Soo. “Mianhae, tidak akan kuulangi. Ayo sarapan dulu. Setelah itu kita siap-siap. Akan kuajak kau jalan-jalan kemanapun yang kau mau.”

 

“Jangan memberi harapan palsu, kalau aku ingin ke luar negeri memangnya kau bisa mengabulkan?”

 

Se Hun mengulas senyum tipis, ia pandangi setiap garis sempurna yang menyusun wajah indah di depannya ini, berikut mata jernih yang tidak membuatnya jenuh untuk terus menatapnya. “Bahkan keliling dunia sekalipun hyung, jika aku… punya waktu banyak.”

 

“Ah sudahlah, kau menyeramkan kalau menatapku seserius ini. Ayo kita sarapan, aku penasaran dengan masakanmu.”

 

“Keracunan tidak dijamin yah hyung.”

 

“Bukankah kalau ini beracun, kita akan mati bersama? Jadi jangan khawatir.”

 

Se Hun menghela nafas panjang, kemudian membiarkan Kyung Soo melepas pelukannya.

 

Mati adalah sebuah kata yang sering terngiang di benaknya. Hal yang membuat asanya pupus. Namun saat ia menemukan asa itu kembali, kata ‘mati’ semakin menghantuinya. Dan kini ia mengerti akan sebuah perasaan takut akan mati.

 

Greb~

 

 

Kyung Soo cukup terkejut saat Se Hun kembali memeluknya dari belakang dan menumpukan dagu di pundak Kyung Soo.

 

“Eh? Kenapa Se Hun-ah?”

 

“Sebentar saja hyung… sebentar saja.”

 

Kyung Soo terkikik geli. “Berlama-lama pun boleh. Terserah kau saja.” Kyung Soo menolehkan wajahnya kemudian mengecup ringan pipi Se Hun, membuat namja tampan itu ikut menoleh dan tersenyum.

 

Aku mencintaimu….

 

Hanya bisa seperti itu. Menyampaikan perasaan mendalam itu lewat sebuah tatapan hangat dan ciuman lembut.

 

 

*~Tired heart~*

 

2 weeks later

 

 

Se Hun menatap replika wajah pucatnya di cermin washtafel. Bekas cairan kental berwarna merah masih terlihat jelas di bawah lubang hidungnya, walau ia menyeka dan mencucinya berkali-kali.

 

Musuh bernama waktu semakin mendesaknya. Tapi ia berharap, sampai musuhnya itu berhadapan langsung dengannya, ia tetap bersama Kyung Soo sampai akhir.

 

 

 

“Maaf hyung, apa aku lama?” tanya Se Hun saat sore itu mereka tengah ‘kencan’ di sebuah taman bermain.

 

“Tidak juga, memangnya apa yang kau makan semalam sampai kau sakit perut?”

 

Se Hun hanya tersenyum. “Ayo jalan lagi.”

 

“Tu… Tunggu.”

 

“Hm?”

 

Kyung Soo memeluk lengan kanan Se Hun kemudian memintanya menoleh. “Bukankah itu Lu Han?” tunjuknya pada sosok yang tengah tertawa riang bersama namja tinggi berambut pirang, dan jelas sosok tinggi itu bukan Kai.

 

“Lu Han?”

 

“Hm, kekasihnya Kai yang sering kuceritakan padamu.”

 

Se Hun memicingkan matanya. “Ah aku pernah melihatnya bersama Kai di gerbang sekolahmu. Sepertinya benar itu dia.  Dengan siapa dia? Saudaranya?”

 

“Setahuku Lu Han tidak memiliki saudara. Dan lihat, sepasang saudara tidak mungkin bersikap seromantis itu.”

 

Se Hun mengangguk sebagai pembenaran. Terlihat di sana Lu Han tengah bergelayut manja di lengan namja tinggi berambut pirang, dan..

 

“OMO!!!” pekik Kyung Soo seiring keterkejutannya dan Se Hun saat melihat Lu Han berciuman dengan namja tinggi itu.

 

“Pasti ada sesuatu.”

 

Kyung Soo terdiam, karena memang sepertinya ada sesuatu. ia tidak pernah lagi melihat Kai dan Lu Han bermesraan di sekolah. Ia bahkan sudah jarang melihat Kai di sekolah, dan ia baru mengerti hal itu setelah melihat pemandangan di depannya.

 

“Mencemaskan Kai?” tanya Se Hun pelan.

 

“Ne… eh tidak, maksudku itu, tidak terlalu, hanya sedikit.”

 

Se Hun  tertawa kecil, kemudian merangkul pundak Kyung Soo dan mengajaknya pergi dari situ.

 

“Eh, kita kemana? Bukankah kita harus naik wahana baru itu?”

 

“Kurasa ada tempat yang sangat ingin kau tuju sekarang, akan kuantar kau kesana, lagipula aku sedikit pusing naik wahan yang tinggi. Kajja..”

 

“Tapi Se Hun-ah..”

 

“Jangan banyak protes. Aku juga ada urusan sedikit di tempat lain, jadi kuantar kau dulu kesana, nanti kujemput lagi. Ayo…”

 

 

*~Tired heart~*

 

 

Kyung Soo pernah mengutuk sebuah kalimat ‘Waktu seakan berhenti saat aku melihatmu’. Namun kali ini justru Kyung Soo yang membenarkan kalimat itu 100 %.

 

Ia seperti sebuah patung saat melihat Kai membukakan pintu untuknya.

 

“Kai…” lirihnya bodoh.

 

Kai hanya menggumam kemudian kembali ke dalam apartemennya tanpa menutup pintu. Mengisyaratkan Kyung Soo boleh masuk.

 

“Kau sakit Kai?” tanya Kyung Soo ragu.

 

Kai tidak menjawab, ia melanjutkan langkah menuju kamarnya dan menghempaskan tubuh toplessnya di sana. Kyung Soo tidak pernah melihat Kai seberantakan itu seumur hidupnya, dan ia semakin sakit saat melihat namja yang pernah (atau mungkin masih) ia cintai seperti seseorang yang kehilangan semangat hidup.

 

Kyung Soo memberanikan diri untuk mendekat, bahkan duduk di sebelahnya. “Kai.”

 

“Untuk apa kau kesini?” tanya Kai dengan suara teredam karena ia di tidur tengkurap.

 

“Aku mencemaskanmu Kai.”

 

“Kenapa mencemaskanku?”

 

Kyung Soo terdiam sejenak, kemudian berdehem singkat. “Aku melihat Lu Han.”

 

Tidak ada respon dari Kai.

 

“Ber…ciuman dengan namja lain.”

 

“Biarkan saja, mungkin dia telah menemukan orang yang tepat.”

 

“Jadi kalian?”

 

“Jika kau kesini hanya ingin membahas Lu Han, sebaiknya kau cepat pergi.”

 

“Tapi kau…”

 

“Pergi…”

 

“Kai, aku…”

 

Greb~

 

Brugh~

 

 

“Kai… Apa yang kau lakukan? Lepaskan…”

 

“Saat kau minta aku pergi, maka aku pergi Kyung Soo-ya, tapi kenapa saat kuminta kau pergi, kau tidak menurutiku? Apa maumu?”

 

“K…Kai…”

 

“Aku tidak bisa tanpamu. Aku yang tidak bisa tanpamu… Aku Kyung Soo-ya… Aku… apa kau senang sekarang?”

 

Kyung Soo tidak menjawab, ia hanya berusaha menahan tubuh Kai dengan menapakkan tangan di dada bidangnya.

 

“Jangan pergi.” Tegas Kai dengan ekspresi serius.

 

Deg~

 

 

“Kai… Aku sudah…”

 

“Mencintai orang lain?”

 

Kyung Soo bungkam begitu tertampar dengan pertanyaan itu.

 

“Kyung Soo-ya… Aku… sangat mencintaimu.”

 

“Kai… Ugh,” keluhnya saat Kai mulai menyalurkan kerinduannya lewat sebuah ciuman lembut di sisi leher Kyung Soo. “Jangan seperti ini… kumohon…”

 

“Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku betul-betul tidak bisa tanpamu… aku… Akan mati tanpamu.”

 

“Se Hun..…”

 

“Tidak… Jangan ada orang lain lagi di antara kita.” Kai pun membungkam bibir Kyung Soo agar ia tidak lagi mendengar nama lain keluar dari mulut yang seharusnya hanya menyerukan namanya itu.

 

 

 

*~Tired heart~*

 

 

Kyung Soo memandangi wajah Kai yang terlelap di sebelahnya. Ekspresi yang berbeda 180 derajat dari sebelumnya. Tak ada gundah lagi di sana, Kai tertidur dalam senyum damai, dengan tangan kokoh yang terus menjerat tubuh mungil Kyung Soo dalam dekapannya.

 

“AKu juga mencintaimu Kai, namun Se Hun…”

 

Deg~

 

Se Hun!!!

 

Kyung Soo terkejut saat mengingat nama itu. Entah kenapa suatu firasat buruk menyergapnya. Sudah satu hari sejak Se Hun meninggalkan Kyung Soo di apartemen Kai, ia bahkan berjanji akan menjemputnya dalam waktu dekat. Namun saat hari sudah menjelang pagi, Se Hun tak jua datang menjemputnya.

 

“Mau kemana?” Tanya Kai saat menyadari Kyung Soo melepaskan pelukannya, kemudian buru-buru mengenakan pakaiannya.

 

“Se Hun…” jawab Kyung Soo panik.

 

“Kyung Soo-ya!!”

 

“Tidak, Kai… aku harus bertemu dengannya.” Kyung Soo mengenakan sweaternya asal-asalan kemudian beranjak pergi.

 

“Tunggu… Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri”

 

 

 

 

*~Tired heart~*

 

 

Kyung Soo menerjang pintu apartemennya dan meneriakkan nama Se Hun berkali-kali. Namun tak ada sahutan. Ia sudah memeriksa setiap ruangan namun nihil. Kondisi ruangan masih sama sejak terakhir ia dan Se Hun meninggalkannya.

 

 

“Se Hun-ah!!!” Pekik Kyung Soo berakhir dengan ambruknya ia ke lantai. Kai segera menghampirinya dan membantunya berdiri. “Seperti ini lagi Kai. Dia meninggalkanku, dia pergi…”

 

“Kyung Soo-ya, kau tidak membutuhkannya, ada aku.”

 

“Tapi dia ada saat aku membutuhkanmu Kai… hanya dia.”

 

Seolah tertusuk pedang panjang, Kai terdiam, kemudian meraih Kyung Soo ke dalam pelukannya. “Maafkan aku, tidak akan kubiarkan kau seperti itu lagi Kyung Soo-ya. Setiap kau membutuhkanku, maka aku akan selalu bersamamu. Kapanpun itu.”

 

Tangis Kyung Soo pecah, ia membenamkan wajahnya yang basah di dada bidang Kai. Menumpahkan segalanya. Sakit yang ia rasakan justru berlipat-lipat.

 

Saat ia kehilangan yang lama, maka ia menemukan yang baru, dan saat kehilangan yang baru, ia kembali menemukan yang lama.

 

Ia tidak bisa menjamin akan mampu mengambil keputusan tegas jika Se Hun juga memintanya tetap bersamanya. Namun, itu justru lebih baik dari pada ia kehilangan Se Hun tanpa tahu penyebabnya. Dan tanpa mendengar ucapan perpisahan darinya.

 

Kyung Soo dan Kai terperanjat saat terdengar buni bel dari pintu depan. Kyung Soo buru-buru berdiri dan berlari menuju sumber suara, berharap bahwa yang bertamu adalah…

 

“Se Hun-ah!!!” pekiknya saat ia baru saja membuka pintu.

 

“Ah mian, apakah anda Do Kyung Soo?” Tanya seorang yeoja yang bertamu itu.

 

“Benar. A… ada keperluan apa Ahjumma?

 

Yeoja itu tersenyum, dan tanpa pikir panjang langsung memeluk Kyung Soo erat. “Terima kasih nak… terima kasih…”

 

“N… Ne?”

 

“Terima kasih karena kau telah memberikan kenangan terakhir yang paling indah untuk anakku… Oh Se Hun…”

 

Deg~

 

“MWO???”

 

 

 

 

 

*~Tired heart~*

EPILOG~

 

“Kau kejam… Bukankah sudah kukatakan jika kau ingin pergi, tolong sampaikan padaku. Secara langsung, bukan dengan cara seperti ini! kau tahu? Sudah 2 kali kau sukses membuatku seperti orang bodoh.”

 

Kai merengkuh pundak Kyung Soo seolah hendak memberinya sedikit ketegaran.

 

“Kau bahkan tidak bilang kalau kau sudah menderita sakit sejak lama, dan kau menimpakan semua kesialan itu padaku. Kau menyeretku hingga terlibat terlalu jauh denganmu di… hari-hari terakhirmu.” Suara Kyung Soo mulai bergetar, walau ia telah berjanji tidak akan menangis dan mengaku sudah siap ‘bertemu’ dengan Se Hun. “Kau jahat Se Hun-ah… jahat.”

 

“Kyung Soo-ya…”

 

Namja mungil itu menyeka air matanya yang sukses membasahi wajahnya. Setelahnya ia mengulas senyum manis sembari mengusap pusara yang lembab karena rintik hujan itu. Pertanda bahwa langit pun menunjukkan kepiluannya karena kehilangan salah satu malaikat dari bumi.

 

“Aku bohong. Terima kasih Se Hun-ah, terima kasih atas waktu yang kau berikan padaku. Terima kasih telah menemaniku saat aku betul-betul rapuh dan menyerah. Terima kasih telah menolong hatiku yang lelah. Terima kasih telah mengisi hari-hari terburukku dengan senyummu… terima kasih… atas cinta yang sangat berharga yang telah kau berikan padaku. Terima kasih… Oh Se Hun,” tuturnya tulus kemudian membelai pusara itu sekali lagi.

 

 

Kyung Soo menoleh pada Kai yang terus menegang pundaknya, menyambutnya dengan senyuman tipis. Dijawab anggukan oleh Kyung Soo, pertanda bahwa ia siap untuk pergi dari tempat itu.

 

Tempat sebenarnya memang di sana, bersama Kai yang pernah membuatnya lelah. Namun karena ada jeda itu,  terlalu banyak hal berharga yang mereka dapat, termasuk memahami ego masing-masing.

 

“Kai… Jangan pernah meninggalkanku,” lirih Kyung Soo dalam pelukan Kai yang membawanya pulang ke apartemen ‘mereka’.

 

“Tidak akan. Bahkan jika kau yang memintaku pergi,” diteguhkannya sebuah janji kekal itu dalam sebuah ciuman yang lembut dipucuk kepala Kyung Soo.

 

 

 

To

Do Kyung Soo.

 

Mian… Mian… Mian. Jangan marah, jangan menangis, dan jangan cemberut, tolong! Kau sungguh jelek dengan wajah seperti itu. Tapi beruntung aku tidak akan melihatnya lagi. hahahaha….

 

Hyung, kau tahu? Tuhan betul-betul baik dalam memanfaatkan waktu. Kukira aku akan meninggalkanmu saat kau betul-betul akan terpuruk. Tapi saat kutahu bahwa masih ada seseorang yang betul-betul membutuhkanmu, dan masih menyediakan tempat utama untukmu, aku betul-betul bahagia.

 

Kau tahu hyung, tidak pernah sekalipun dalam hidupku merasakan kelegaan menanti ajal seperti ini. sebelum bertemu denganmu, yang kulakukan hanyalah menyalahkan Tuhan akan takdirnya yang kejam. Tapi ternyata, Tuhan justru menyediakan sesuatu hal yang lebih dari sekedar membahagiakan walau hanya bisa kurasakan di akhir hayatku.

 

Hyung… Kau telah menemukan tempatmu. Aku tahu bahwa yang kau cintai itu hanya satu orang. Hanya orang yang pernah menjadi kekasihmu itu, dan kuharap sekarang dan selamanya kalian tetap akan menjadi sepasang kekasih. Ah tidak, mungkin juga kalian akan menikah, tapi selesaikan sekolahmu dulu hyung. Oke!

 

Mengenai pedulimu padaku, sayangmu padaku… sungguh aku sangat berterima kasih. Aku bahagia… ah tidak, tapi sangat sangat sangat bahagia. Saking bahagianya, kau tahu hyung? Dokter tengah sibuk memasangkan alat-alat aneh pada tubuhku, katanya pertolongan terakhir, tapi aku tidak peduli, karena satu-satunya kesempatan yang bisa kuadapatkan untuk berpamitan padamu hanya saat ini. aku tidak ingin kau marah seumur hidup padaku, maka kugunakan waktu singkat ini untuk menyampaikan semuanya padamu.

 

Ah bukan, tidak semua. Karena jika aku ingin menyampaikan semuanya padamu, maka selembar kertas ini tidak akan muat. Intinya…

 

 

Do Kyung Soo, berbahagialah bersama kekasihmu. Ingatlah Oh Se Hun sebagai seseorang yang mengisi hari-harimu di masa lalu. Terakhir… ingatlah Oh Se Hun sebagai…

 

 

Namja bodoh yang tidak berani mengatakan “Aku mencintaimu Hyung!”

 

Astaga, aku mengatakannya. Tapi biarlah, hanya untuk kau tahu hyung, bahwa kau pantas mendapatkan yang terbaik. Cinta dari siapapun, termasuk namja bodoh dan lemah ini.

 

Hyung… dokter yang menanganiku cerewet sekali, dia memintaku berhenti menulis karena ia ingin melakukan operasi pengangkatan seol kanker di bagian otakku, padahal aku dengar sendiri bahwa 90% kemungkinannya adalah gagal. Tapi sudahlah. Aku juga sudah merasakan ajal mendekatiku. Setidaknya aku pergi dengan hati lega karena sudah memastikan bahwa kau telah bahagia.

 

Terlepas dari itu semua, sudah kukatakan juga mengenai perasaan yang kupunya untukmu sejak pertama kali kita bertemu.

 

Aku… mencintaimu D.O Kyung Soo Hyung!

 

Selamat tinggal… dan berbahagialah selalu.

 

 

From Heaven

 

Oh Se Hun!

 

 

 

 Tired Heart
status~ END

 

 

ALF special note: Wuaaahhh mian kalo gaje banget… hiks….. moga septaa suka deh. reader lain juga… RCL tetap, awas jadi siders… ALF sumpahin lagi loh… huahahahahah

 

adiosss

 

 

 

 

 

 

 

 

 

188 thoughts on “Tired Heart -Oneshot|| KaiSoo – HunSoo || AyouLeonForever

  1. KEREN! Ini yawloh sehun suami gue disini meninggal, angst tapi simbiosis mutualisme gitu, meskipun metong suami gue tapi tetep happy anding *apaansi*

  2. AAAAAAAA sehunnnn mati!! *nangis darah* knp c kkmjong bkin jengkel mulu ya,,, tiap q bca kaisoo kainya terus yang nyakitin kyungsoo,,,

    Hueeeee kai cemburu sukurin emang enak liat mama soo ciuman m thehun,, *leletin lidah ke kai*,,,

    Emng kai udah jodohnya m kyungsoo,, ga nyamngka sehun bakalan mati sumpah,,, aku nangis baca surat sehun,, sehun nyoba bkin surat lucu tapi tetep aja nangis,,, hueeee *nangis dipelukan suho*

    Nice ff thor,,, aku mau lanjut bca lg ya,,

  3. kirain sehun bakal balas dendam ke luhan.
    ada tuh kalimatnya tp saya lupa gimana penyusunannya.
    tp thor ko saya bayangin si baek yah
    ==”

  4. sumpah demi apapun.. ffny ngeness bnget!! hiks…
    awlnya aq skit hti sma kai tpi yasudahlah… yg pnting terakhir dia sdar….
    dan krkter sehun dsni bner2 kyk mlaikat…
    aq pling suka sma ff sad yg happy end kyk gni. KEREN ABISS menurutku..aplgi klo pairny BAEKYEOL HUNBAEK ato KRAY..huhuhu

    ttap smngat thor.. FIGHTING!!

  5. sehun T_T T_T T_T
    padahal udah berharap ending yang sweet buat kyung sama sehun
    tapi ternyata author udah nyiapin ending yang lebih greget hehehe😀
    keren paraaaah! daebak lah pokoknya!

  6. Huweeeeeeeee… Nyeseekkkk awalnya sempet kesel sama kai udah buat kyungsoo baby sakit hati dan lagi2 setiap saya baca ff kaisoo musti yg jadi selingkuhannya kai si manis lulu kkkkk kesian banget lulu…

    Trus berubah seneng pas kai ngungkapin dia yg nggak bisa tanpa kyungsoo disisinya.. Berarti kaisoo bersatu dong hehehe…

    Dan nyesek senyesek2nya pas tau kalo sehun simalaikay penolong meninggal huweeeee.. Author sadis buat thehun metong huhuhu… Tapi emang harus ada jalannya biar kyungsoo gak bimbang wkwkwk.. Author nim pinter neh buat konflik dan ini gak ketebak endingnya..

    Skali lagi saya suka.. Ternyata hunsoo couple anak ama mami ini bagus juga disandingin hehehe…

    Oke deh sekian dan terima kasih wkwkwkwk…

  7. T___T *NangisKejer sedih bgt… TT____TT tapi aku dukung.. haha aku kan KaiDo Shipper hehehe *NgakakEvil
    tapi endingnya ituloh tragis bgt bwt Sehun..
    yang sabar ya nak *PelukSehun

  8. Pengennya nangis, tp lagi puasa. Wkwkwk..
    Haduuhhh… Klau gk puasa udh nangis ini. Keren!
    Sehun’nya pake metong segala duuhh..
    Tp gpp deh, selama metong’nya cuma di ff, haha. Hidup KaiSoo!!!😀

  9. Thorr….. aku nangis gra2 sehun… hiks hiks…
    Pdhl sehun sm D.O kn udh bhagia!! Tpi knp? Knp sehun mati?? Huwweeeeeeee!!!!! Trharu thor!!! Hiks.. hiks..#lap ingus

  10. Aduuuh. Baru kali ini gua nangis baca ff. Yaampuun ini ff paling menyedihkan, seru, menghibur. Omaigat, thanks udh buat ff ini. Apalagi pemainnya bias sendiri d.o … sekali lagi thanks yaa. Ini ff paling menguras air mata sampe indonesia banjir bandang aokaok. Tetep lanjutkan karyanya oke. Ku tunggu karyamu lagi

  11. huweeeeeeeeee…. tragis, pda akhir.nya kmbali ketempat awal…..dgn kai, sehunnni….knpa mau prgi ga pamitan dlu….#o_O…..sumfehhhh….krennn punya….pko.nya hwaiting.lah….

  12. huweeeeeeeeee…. tragis, pda akhir.nya kmbali ketempat awal…..dgn kai, sehunnni….knpa mau prgi ga pamitan dlu….#o_O…..sumfehhhh….ff.nya krennn punya….pko.nya hwaiting.lah….for next ff

  13. ckckckck begini ini kalau ego datang
    giliran pisah sama-sama kesusahan kan
    dasar mereka gengsian aja
    sebenarnya ya thor kenapa kyungsoo nggak sama sehun aja
    nggak tau kenapa aku lebih suka kyungsoo sama sehun

  14. ……..

    ……

    ……
    .
    .
    .
    .
    spchlss….
    sehunku duh sarang burung ;______;
    kenapa sehun musti mati ;A; kalo dio juga labil banget hah…… kenapa sehun penyakitan ;A; kenapaaaaaa

  15. Kirain Kyung Soo sama Sehun,
    Tapi waktu baca kalo musuh Sehun waktu, aku dah mikir kalo Sehun bakal meninggal.
    Eh, ternyata beneran.
    Tapi Kai emang butuh Kyung Soo di sini, jadi gak butuh Luhan.
    Hehe

  16. sempet nebak sbnernya klo hun bkal mati ;_;
    jadi ngurangin tingkat galo ku wkwkwk
    pairing fav pertama ku.itu taoris bari kaisoo, jdi seneng kalo endingnya mreka bersatu, suka sama kputusan kai yg bisa tegas di hadapan luhan dan memilih dio ;_; great

  17. ff daebak T.T tadi aku udh nulis kmen panjang lebar alas kali tingg *loh
    tapi kmenya gak kekirim
    kaisoonya keren walo gk sekeren kaibaek yg white lily and us xD
    Aku lg lg jath cinta sama ff kaka T.T d sini kai ke makan omonganya sndiri aduh anak mamih jan sombg mangkanye..
    Lanjutkan bkatmu ka untk trus nulis ff kalo bisa nulis n0vel juga😀

  18. Aish jebal jebal wae wae? Sehunnieeeee 😭😭😭😭
    Kasian kyungsoo😦 cintanya harus berakhir 2 kali… Lai juga ish jahat amet sih… Tapi mungkin kai cuma bosen sama kyungsoo kali yaa jadi pelariannya ke luhannie 😆😆
    Gomawo author-nin atas ceritanya *bow*

  19. laki gue, oh Sehun…. gue sedih…. hiks hiks hiks….

    demi apa bagian ternyesek kata aku malah uang surat sehun. rasa nya tuh… asdfghjkl

    tapi ff ini sukses bikin nyes di ending. dan selamat kaisoo balikan….

  20. Saoloh thor aku nangis baca surat dari Sehun kok end ny malah gini? Yah walau aku smpt mikir kok Sehun ky nyembunyikan sesuatu hingga dy tdk mau mendengar perkataan cinta dari Kyungsoo, dan d scene saat nyinggung soal waktu aku makin curiga eh pas hidung sehun ngeluarin darah wah makin terbukti kecurigaan ku ah bkn kecurigaan tp keyakinan yg mengatakan sehun bakalan innalillahi, tapi walau gtu tetep nangis aku mah.

    Btw busway kok tumben byk typo y d ff nya? Hehe wajar aja sic. Dan aku suka bgt sm kalimat2 yg d ucapkan sm kyungsoo terlebih kalimat “aku lelah Kai, dan kau yang membuatku lelah.
    Tempatku beristirahat, bukan kembali padamu.”
    Sumpah maknanya dalem bgt..hmmm kyk ny bisa d jadikan pegangan nic bagi siapa saja yg sakit hati dan mencoba bangkit.

    Seperti peran2 biasa peran kai cukup nyebelin kali ini oh jgn lupakan luhan jg. Entah lah apa kai yg selingkuh atau luhan yg berusaha merebut. Tp pas luhan sm namja berambut pirang yg pastiny itu kris jd mikir gk bisa sebel jg sm luhan setiap org pasti bakalan mikir 2 kali untuk bersama org yg membuatny terluka.

    Yah seperti kata pepatah bahkan kyungsoo suatu hubungan tidak akan mungkin bisa berhasil jika cuma 1 pihak yg mempertahan kan nya.

    Sekali lagi,aku nangis thor. Ah kasian baby sehunku.*plaaak

  21. Oh iya lupa chukkae kaisoo udah balikan. Kalo dari awal udah jodoh{?} mah kg bisa d pisahin walau ada org ketiga atau cobaan lain. Dan untukmu kai bahagiakan lah kyungsoo,jangan membuatnya sedih lagi ya. Kalo tdk arwah sehun akan menghantuimu. Hahaha

  22. ahhh kai jahat.. masa ngeduain my baby kyungsoo😦
    dan udah PD banget kalo kyungsoo yang bakalan menderita kalo ga ada dia, eh ternyata sebaliknya.. yang lemah tuh kai, bukan kyungsoo. so2an kuat km kai aaahhh ternyata hatinya pink (?)

    dan yang aku suka waktu awal2 kyungsoo ketemeu sehun.. ah gemes ngebayangin sehun ngerengek2 ke kyungsoo pengen tinggal di apartemennya, ngebayangin sehun yang ceria selalu celoteh ini itu.. gemesss..
    tapi kenapa harus berakhir tragis siih😦
    hawa2 gak enaknya mulai dari sehun gak mau denger pernyataan kyungsoo, wah ini pasti ada apa2nya, eh taunya bener kan..
    sudahlah memang sudah jalannya, biar baby soo gak bimbang jg.. *tapi tetep aja nyesek*

  23. duuh sehuun.. sedih aku jadinya, bneran yah.. bneran malaikat buat kyungsoo, untunglah kai nya sadar.. coba kalo ngga, kan kesiaaan.. nanti ikutan nyusul deh kaya yg dia bilang.
    uum tapi apa ya yg bisa kai dapet dari luhan smntara dari kyunsoo ngga, soal “tidur” kah? hehe.. kyungsoo polos sih ya :v

  24. hmmmmmhhh…

    miris bgt bcanya. feel nya dpet.

    sedih bgt ya.. pngen nangis tpi gk bsa. jdi nyesek sndiri bcanya..

    pdhal kyungsoo udh mlai syang ama sehun. sehun jga udh cnta ama kyungsoo.

    hmmhh.. tpi takdir berkata lain. sehun udh dlm keadaan sekarat(?) wktu ktmu ama kyungsoo.

    kai jga, srakah bgt sih? msa pnya pcar dua-dua an. belagu bgt, sok gk btuh ama kyungsoo, jdinya kn kyungsoo berpaling hati. mrsa terabaikan mngkin.. tpi pda akhirnya lu jga kn yg mnta (lbih tepatnya mohon) buat kyungsoo blik lgi ama lu.

    tpi sehun baik, baik bgt mlah. dia ikhlas klo kyungsoo kmbali ama bang kai n nyuruh mereka hdp bhagia.. so sweet

    ini alurnya agak ke cepeten. kesannya kya ngebut pngen cpet” mnuju ending. tpi gk papa. tetep keren ko’

    aku kira ini bkal happy ending. soal nya ada bang kai, kyungsoo, luhan, n sehun… yah.. aku kra mrka bkal psang”an, si bang kai ama kyungsoo trus si sehun ama luhan. tpi sngat di syangkan sekali sodara – sodara.. ternyata tebakan sya slah.. ini justru berakhir dg menyedihkan. sngat menyedih kan bgt mlah.. sad endung tepatnya.. msih gk rela klo endingnya sehun mati.. hiks..

    tpi ini ff daebak pke bgt! slalu dkung smua karya ka ALF deh^^

  25. aigooo.. nyesek bingit lah……. sehunnyaaa meninggal.. tapi tetep happy ending sih sebenernyaaaa😀

  26. ALF AKU LAGI PUASAAA!!!! AKU NANGIS, ADA ASIN-ASIN KE MAKAN! ALF! Kaisoo ke feel, tapi gak rela ending gak sama sehun, maksudnya seneng juga sih kalo sama kai juga, tapi sehun:””” alf, bikin sehun hidup lagi!!

  27. Thor ane bacanya mewek thorr T.T
    Kenapa udah 2kali baca ff kai sini hubkeren mereka tuh kayak arghhh rumit gitu. Sejenis dark love (?)
    Kenapa kyungsoo selalu jd uke yg tersakiti :” syedih :” baca ff ini juga syedih :”
    Padahal kalo liat di rela life, misal di acara tv, pas konser atau di airport dks itu org nya mandiri tapi dia masih tetep peduli sama member lain. Teutama kai.
    Tapi thor, ini ane salut banget sama gaya penulisan nya author Alf. Kata2nya kerennn *daebakk* karakterisasi tokoh2 nya gak OOC. MAsih bisa dibayangkan melalui otakotak pembaca…. #tsahh

    “Tempat sebenarnya memang di sana, bersama Kai yang pernah membuatnya lelah. Namun karena ada jeda itu, terlalu banyak hal berharga yang mereka dapat, termasuk memahami ego masing-masing.”
    ☝☝
    Uwooooo sumpah sumpah keren banhet. Cocok dijadiin quotes😂 cocok di jadikan pelajaran hidup juga😂 emang kadang seseorang baru menghargai seauatu, kalau sesuati itu udah ga ada. Untung si dks masi mau ama jongin thankseu to author.

    Btw, ane udah meninggalkan jejak nih. Ikut meramaikan kolom komentar. Semangat buat malanjutkan karya2 mu selanjutnya thorr

  28. hai kakaa…
    aku reader baru disini.. kkkkkk~ salam kenal..
    suka banget sama ff ini.. bapernya kemana mana…
    awalnya sih udah seneng gitu sehun sama dio.. akhirnya kai yang sama dio padahal dia udah nyakitin diooo huweee :””””(((
    semangat terus authorrr..
    sekali lagi salam kenalll..
    aku usahain always komen kalo baca ff authorr.. dadah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s