PAYPHONE~ KrisBaek//BaeKris~ [Chapter 6]


payphone 6

FF KrisBaek

 

Tittle: Payphone

Author: AyouLeonForever

Genre: whatever -__-

Rate: TTM (?)

Length: Chaptered (sesuai peminat)

Main cast: Byun Baek Hyun-Kris-Park Chan Yeol

Main pair: KrisBaek/BaeKris

Slight: Baekyeol

Other cast: Find them… ^^

Disclaimer: Kris, Baek Hyun, Chan Yeol, ama semua member EXO ntu punya emak abahnya, makhluk ciptaan Tuhan yang bernaung di SM Ent, ALF cuman pinjam nama doang.

Copyright: Ide cerita, Alur/plot ntu dari hasil kerja sistem saraf sensorik yang ada di otaknya ALF gak tau apa hubungannya yang jelas jangan copas, menyebarluaskan, mempublikasikan dengan alasan apapun tanpa sepengetahuan ALF. Neraka ntu luas (?)

 

Summary: Cinta itu bukan kesalahan…

 

WARNING : UNTUK YANG KE 17.203.751.747.319.860 KALINYA INI FF KRISBAEK. MAIN PAIRNYA KRISBAEK, JADI JANGAN HERAN KALO ISINYA KEBANYAKAN KRISBAEK LAH EMANG JUDULNYA KRISBAEK. ASAFDJADKAJDAFG #baca mantra.

 

Buat ChanBaek Hardshipper… jebal, kalo nggak kuat baca ya jangan baca dari pada rusuh. ye… cari FF pure ChanBaek aja ye…. ALF sakit kepala kalo diajak rusuh, serius. oke…

 

 

“Baek Hyun-ah?”

“A… Aku tidak tahu dengan cara apa lagi aku membahasakannya tuan, ah maksudku… Kris… Ini sungguh berbeda, dan aku tahu ini salah. Tapi…”

“Katakan… Kumohon jangan menggantungnya.”

“A… Aku… Aku… Kurasa Aku… Tidak hanya sekedar menyayangimu… Kris…”

Mata elang Kris membulat, “Baek Hyun-ah???”

.

.

.

.

☏☎☏

 

 

Payphone

Chapter 6

 

 

Baek Hyun POV

 

Aku memalingkan wajahku ke samping sementara Kris terus menatapku serius. Aku tahu kalimat yang baru saja kukeluarkan sedikit aneh, tapi aku… tidak bercanda saat mengatakannya.

 

“Baek Hyun-ah jebal… Lanjutkan kalimatmu.” Kris menyentuh daguku dan memintaku kembali menatapnya.

Ini aneh, aku sendiri takut memberi nama akan perasaanku pada Kris.

 

Setiap aku menatap matanya, maka akan terasa getaran halus dari dadaku menuju wajahku, membuatnya memanas dan tidak mampu mempertahankan kontak mata.

 

Setiap aku mendengar suaranya, akan ada kelegaan tersendiri bagiku, bahkan jika aku memang tidak merasakan sesak, suara Kris selalu menenangkanku.

 

Sentuhannya di pipiku, itu hangat, walau dengan sangat jelas bila tangannya basah dan dingin, yang ditangkap oleh kulitku justru hangat, dan itu terus ke hatiku.

 

Pelukannya… Terlebih setelah aku tahu bahwa ia mencintaiku, aku merasa tempat yang paling menenangkan di dunia ini adalah… Pelukannya… dan lebih menakutkan lagi… bukan pelukan suamiku.

 

Kecupannya di keningku… Tuhan… selama hidupku belum pernah kurasakan berada di tempat di mana aku merasa sangat dicintai oleh seorang namja, selain suamiku, Park Chan Yeol, tapi… saat Kris mencium keningku, menuntunku memejamkan mata dan meresapinya, aku justru menerima perasaan luar biasa yang betul-betul membahagiakanku. Perasaan cinta, sayang, perhatian, kehangatan dan kelembutan di tempat yang sama… Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa Chan Yeol tidak memberikannya padaku, tapi kembali hal menakutkan menyergapku…

 

Semua itu kudapatkan justru dari Kris.

 

Lalu… Apa nama perasaan ini? Kurasa tidak sesederhana kata sayang, untuk ituah aku berani mengatakan pada Kris bahwa aku tidak hanya sekedar menyayanginya, dan itu jujur, terbukti aku tidak menyesalinya sama sekali.

 

Dengan tangan sedikit gemetar, berkeringat, dan tentu saja dingin, aku memberanikan diri menyentuh pipinya, menatapnya tepat di manik mata hitamnya, berharap ia mengerti semua perasaan tabu yang kurasakan padanya.

 

“Kris… Aku…”

 

Ia menyentuh punggung tanganku yang menapak di pipinya dengan tangan kanan, masih dengan tatapan mata yang saling mengikat. Saat Kris menolehkan kepalanya, mengecup telapak tanganku dengan sangat lembut sembari memejamkan mata, seolah betul-betul meresapi apa yang ada dipermukaan kulitku, aku… merasakan sesuatu itu semakin bergejolak di dadaku.

 

“Kris…” Dan aku hanya bisa berseru lirih dan bodoh, membiarkan bibirnya terus memanjakan jermariku.

 

Siapa yang menuntunku… bisa juga hatiku, saat kugerakkan jemariku dan menyentuh bibirnya dengan sangat pelan, seolah benda itu akan pecah jika aku tidak berhati-hati. Kris membuka matanya dan menatapku dalam diam, membiarkan jemariku menari di permukaan bibirnya yang berwarna merah alami.

 

Kembali, aku tidak tahu siapa yang menuntunku, tanganku meraih rahangnya, membuat wajahnya semakin mendekat ke arahku, sembari memejamkan mataku perlahan.

 

Astaga… Siapa aku… Akukah Byun Baek Hyun? Apa yang kulakukan? Berniat berciuman dengan Kris?

 

Maksudku… tidakkah ini gila saat mencintai namja lain padahal aku sudah terikat dengan seseorang?

 

Deg~

 

 

 

 

Mencintai???

 

 

 

Kris???

 

 

 

Tepat di saat kurasakan nafas Kris menyapu wajahku, kubuka mataku dengan cepat, tiba-tiba jantungku berdebar sangat cepat. Ya Tuhan! Apa yang kupikirkan barusan?

 

“Baek Hyun-ah…” Lirihnya bingung saat aku menjatuhkan tanganku dan kembali memalingkan wajah menghindari ciumannya.

 

Aku mencintai suamiku.” Tegasku tak berani menatapnya.

 

Awalnya hanya hening berkepanjangan, sampai kurasakan hembusan nafas hangat menyapu pipiku sekali lagi dan akhirnya aku tahu Kris tidak akan mendesakku.

 

Memang tidak pernah mendesakku.

 

“Aku mengerti.” Ia beranjak dari tempatnya, yang sejak tadi menindihku. Dan kekhawatiran baru menyergapku. Itu justru menuntunku refleks bangkit dan menangkap tangannya.

 

“Kris…”

 

“Tidurlah, kau butuh istirahat. Besok pagi aku akan menemanimu berbicara pada Chan Yeol.”

 

“Tapi kau mau kemana?”

 

“Aku akan tidur di sofa, dan kurasa kau mengerti.”

 

Aku terdiam, bahkan saat Kris mengusap puncak kepalaku dan sekali lagi memberikan kehangatan melalui kecupannya di keningku.

 

Hanya bisa menatap tubuh jangkungnya yang menjauh dan kini merebahkan diri di atas sofa panjang yang hanya berjarak 3 meter dariku.

 

Kris bilang dia tidak akan lelah mencintaiku, dan aku… bahagia akan hal itu. Tapi semakin lama, aku justru terlihat memaksanya untuk menyerah, dan kondisinya sekarang lebih parah dari sekedar lelah.

 

Aku kejam…

 

Aku egois…

 

Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Salahkah aku bila Kris mencintaiku? Salahkah aku jika membiarkan Kris tetap mencintaiku? Dan salahkah aku jika kupertahankan ia di sisiku dengan cara seperti ini?

 

Terlepas dari banyaknya hal dan lamanya waktu yang telah kulalui bersama Park Chan Yeol… tidak ada yang bisa mengelak bahwa apa yang kualui bersama Kris tidak bisa terabaikan begitu saja.

 

Aku hanya takut membenarkan bahwa…

 

Aku…

 

 

 

 

 

Mencintainya….

 

 

 

Kurengkuh dadaku, dan kupejamkan mataku. Bahkan saat mengatakannya dalam hati, aku merasakan gemuruh yang begitu hebat di dalam dadaku. Baiklah… ini tidak boleh. Tapi mungkin Tuhan akan paham kenapa aku merasakan hal seperti ini.

 

Aku tidak akan menyalahkan Tuhan karena telah mempertemukanku dan Kris dalam keadaan yang salah, dimana aku sudah menjadi milik orang lain. Tapi aku akan berterima kasih kepada Tuhan karena di kehidupan ini… Ia memberiku kesempatan untuk berada di sisi Kris.

 

Dan kuharap, saat Kris mengatakan “Aku mencintaimu.” Aku mampu dan memiliki keberanian untuk memberi pernyataan yang sama yaitu…

 

 

“Aku juga mencintaimu.”

 

 

 

☏☎☏

 

 

Pagi itu, aku keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang sudah rapi. Aku hanya berganti baju karena Kris melarangku untuk mandi. Apalagi sampai keramas.

Aku melihat Kris tengah membaca beberapa dokumen dan menandatanganinya kilat, setelah itu ia tumpuk di atas meja.

 

“Kau tidak ke kantor Tuan? Ah maksudku… Kris?”

 

Namja tampan itu mendongak, kemudian tersenyum, “Sudah selesai? Kajja.” Bukannya menjawabku, Kris justru meninggalkan pekerjaannya, menyambar jaket putihnya hingga penampilanya terlihat lebih kasual dari biasanya.

 

“Ke… Kemana?”

 

“Ke rumahmu tentu saja.”

 

Aku menunduk, kemudian memilin-milin ujung kaos putih yang disiapkan Kris untukku, entah dia dapat dari mana kaos pas badan ini untukku, “Aku… Takut.”

 

Kris menghela nafas, ia menghampiriku dan menyentuh kedua pundakku, memintaku agar mendongak hingga ia mampu menatapku, “Takut pada Chan Yeol?”

 

Aku menggeleng ragu, “Aku takut menerima kenyataan bahwa Chan Yeol… membenciku.”

 

Kris menangkup kedua pipiku dan menatapku hangat, “Kalau dia membencimu, berarti dia bodoh. Kupikir semalam itu hanya emosi sesaatnya.”

 

“Kris.”

 

Tatapan Kris berubah serius, “Sekalian pertaruhan terakhir Baek Hyun-ah, kalau benar ia mencampakkanmu, itu artinya…” Kris menggantung kalimatnya, mengirimkan tatapan penuh makna langsung ke manik mataku, “Tidak adalagi pertimbangkan untuk memilikimu.”

 

Deg~

 

Mata kecilku membulat, dan itu tidak main-main. Bagaimana jika benar Chan Yeol tidak sudi lagi menerimaku, bukankah itu berarti aku bisa bersama Kris tanpa memikirkan suamiku lagi?

 

Aku…

 

 

Senang… Tapi juga sedih.

 

Aku akan menemukan, tapi juga kehilangan. Dan itu membuatku seolah diserang kekhawatiran luar biasa.

 

“Sudahlah, aku hanya bercanda, kau jadi pucat begitu karena pernyataanku, saking takutnya kau kurebut dari Chan Yeol kan? Anggap saja tadi itu lelucon, karena apapun yang akan kulakukan, aku tidak akan bisa membuatmu melupakan Chan Yeol dan beralih mencintaiku.”

 

Aku menggeleng cepat, tapi tidak tahu harus mengeluarkan kalimat apa untuk meralat. Terlebih setelah melihat respon Kris yang hanya tersenyum kemudian mengacak rambutku. Ck, aku tidak suka ia berpikiran seperti itu.

 

Kajja.” Ajak Kris yang lebih dulu membalik badan.

 

 

 

GREB~

 

 

 

Aku tidak tahu dari mana keberanianku itu hingga dengan cepat kuulurkan tanganku dan memeluk perutnya dengan erat dari belakang. Bisa kurasakan tubuhnya tersentak kaget dan hendak menoleh.

 

“B…Baekhyun-ah?”

 

“Jangan….”

 

“Ne?”

 

“Jangan pernah….”

 

“Baek Hyun-ah, apa ini?”

 

“Kris… Jangan pernah berhenti mencintaiku. Kumohon!”

 

 

Deg~

 

 

“Baek Hyun-ah…” Kris hendak berbalik, tapi aku menolak. Aku semakin mengeratkan pelukanku di perut Kris.

 

“Apa yang kuucapkan tadi malam, itu tidak bohong, jadi aku tidak ingin karena kebodohanku mengambil sikap di depanmu, kau mengira aku tidak suka padamu.”

 

“Baek Hyun-ah…” Kris menggenggam punggung tanganku, ingin melepaskan diri dan berbalik, tapi aku tetap bersikeras dengan posisi itu.

 

“Kris… Jika sikapku membuatmu kesal, kumohon beritahu padaku agar aku merubahnya, aku tidak ingin kau menganggap aku tidak punya perasaan apa-apa padamu, hingga kau membenciku dan akhirnya meninggalkanku, aku tidak ingin__”

 

“Byun Baek Hyun!”

 

Mendengar suara tegas Kris,  akhirnya aku hanya bisa bungkam. Hingga Kris mampu melepaskan pelukanku dan berbalik menatapku tajam.

 

“Siapa yang tidak suka padamu? Siapa yang membencimu? Siapa yang akan meninggalkanmu?”

 

Aku menunduk dalam.

 

“Tidakkah kau tahu bahwa aku tidak sepenuhnya rela membuatmu kembali berbaikan dengan Chan Yeol setelah apa yang dia katakan padamu? Kau kira aku tidak mati-matian mempertimbangkan kesempatan langka ini? Kau tahu, jika bukan karena memikirkan kebahagiaanmu, maka aku akan melakukan apapun untuk memisahkanmu dengan Chan Yeol.”

 

“K… Kris…”

 

“Tapi seperti yang kukatakan, aku tidak menuntut. Asal aku bisa melihatmu tersenyum saja itu sudah cukup, karena bagiku… percuma memilikimu di sisiku jika yang kulihat adalah Baek Hyun yang menderita. Itu bukan cinta yang sesungguhnya, karena cinta itu membahagiakan Baek Hyun-ah, bukan membawa penderitaan,” Kris menghela nafas panjang setelah cukup lama berbicara, kemudian dengan pelan ia memelukku, “Aku bukan hanya menyukaimu. Aku menyayangimu, aku mencintaimu, dan aku lebih dari sekedar bahagia jika kau terus berada di sisiku, jadi mana mungkin aku sanggup meninggalkanmu,” Kris merenggangkan pelukannya dan menangkup pipku, “Mengenai cintaku… Harusnya kau khawatir kalau aku terus mencintaimu, bukan khawatir jika aku berhenti mencintaimu karena itu mustahil.”

 

Aku menelan ludah susah payah, tidak berani menatap mata Kris secara langsung.

 

“Kapan-kapan… Aku sangat ingin mendengar arti dari kalimat itu Baek Hyun-ah.”

 

“Ka…. Kalimat apa?”

 

“Bahwa kau… Tidak hanya sekedar menyayangiku.”

 

Deg~

 

 

 

“A… Aku.”

 

“It’s okay… Ayo kita pergi sebelum aku tidak bisa berpikiran dewasa lagi.” Ucap namja yang berusia 26 tahun itu sembari mengusap pipiku dengan kedua ibu jarinya. Hal yang kurasa akan ia lakukan jika ia begitu gemas dengan rona merah di pipiku.

 

“Ne… Mianhae, aku kekanak-kanakan.”

 

Kris tersenyum hangat, “Gwenchana, aku suka. Aku suka semua sikapmu. Aku juga sangat suka kalau kau bersikap childish, karena dengan begitu… Kau akan bermanja-manja padaku.”

 

Aku terbatuk, dengan wajah kembali memanas.

 

Kajja… aku justru ingin menciummu kalau melihat wajahmu semanis ini.”

 

“N… Ne…”

 

Dan akhirnya aku terlihat sangat penurut saat Kris menggenggam tangan kananku dan mengajakku keluar. Yang bisa kulakukan hanya terus menunduk, selain karena ingin menyembunyikan rona merah di wajahku, sebenarnya aku juga sedang memikirkan sesuatu.

 

 

Berciuman dengan Kris?

 

Tidakkah itu akan sangat hebat? Maksudku… Aku seperti memiliki kenangan di mana Kris menciumku dengan sangat lembut di bibir.

Ah… Seperti mimpi, tapi sungguh… Aku seperti merasakan ada sesuatu yang berkesan dan menempel di bibirku. Entahlah … Aku tidak yakin karena seingatku Kris terus berpegang teguh dengan permintaanku agar tidak menciumku di bibir. Sejak kami melakukan hal itu sampai sekarang pun Kris tidak pernah menciumku di bibir.

 

Lalu… dari mana asalnya kesan itu?

 

Jika itu adalah mimpi, maka aku menganggap itu adalah mimpi luar biasa kedua yang akan terus menghiasi tidurku.

 

 

Mimpi luar biasa pertama… sebenarnya sudah pernah kualami, tapi aku terus memimpikannya karena memang kesan yang tertinggal tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku. Tentu saja saat aku dan Kris… eum…

 

“Kenapa tanganmu dingin sekali?” Tegur Kris.

 

“Ah, itu… mungkin masih pengaruh kehujanan tadi malam.” Jawabku asal.

 

Kris menghentikan langkahnya, kemudian melepas jaket putihnya. Dengan sangat lembut ia memasangkan jaket itu di tubuhku, “Hey? Who are you? Heaven would be in trouble because one of their Angel run away and stand in front of me.”

 

“Eh?”

 

Kris tertawa, “Ani, aku betul-betul suka saat kau berpakaian putih. Betul-betul bersinar seperti malaikat.”

 

“Kris…” Sekali lagi kurasakan pipiku memanas.

 

“Ayo… Sebelum aku betul-betul kehilangan kendali dan menggigitmu.”

 

 

Aku hanya bisa mengontrol nafas, sampai akhirnya aku sadar, ini cara Kris agar perasaanku sedikit tenang untuk bertemu dengan Chan Yeol nanti.

 

Park Chan Yeol…

 

 

 

 

Suamiku.

 

Dan kenyataan itu seperti menampar pipiku keras-keras agar aku terbangun dari mimpi ini.

 

Kebersamaan dengan Kris hanyalah sesuatu yang fana…

 

 

 

 

☏☎☏

 

 

Author POV

 

Chan Yeol berjalan lesu ke pelataran parkir hotel milik Kris setelah turun dari mobil Chen. Ia sendiri menghampiri mobilnya yang memang terparkir di sana kemarin sore.

 

“Pulanglah beristirahat Chan Yeol-shii, aku yakin Baek Hyun akan pulang.” Hibur Chen sembari menepuk pundak Chan Yeol.

 

Chan Yeol hanya menggumam ragu, sudah semalaman penuh ia mengelilingi kota Beijing bersama Chen tanpa arah yang jelas, dan itu kembali membuatnya mengutuk diri sendiri atas kelalaian yang ia lakukan.

 

Sebenarnya ia masih ingin mencari, tapi jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, belum lagi ia sudah melibatkan Chen  untuk membantunya.

 

“Jangan patah semangat Chan Yeol-shii…” ucap Chen lagi.

 

“Hm, terima kasih atas bantuanmu Chen.”

 

Namja jangkung itu baru aja ingin memasuki mobilnya sampai kedua matanya menangkap sesuatu yang membuatnya meradang. Ia menoleh pada Chen sebentar dan menatapnya dengan tatapan benci, “Aku lupa bahwa kau kaki tangannya.” Sindirnya telak kemudian mempercepat langkahnya menuju tempat di mana matanya menangkap sesuatu itu.

 

Chen sebenarnya bingung, tapi saat matanya ikut mengarah kemana Chan Yeol pergi, iapun akhirnya mengerti. Ia sudah cukup merasa bersalah dengan berbohong, dan semakin merasa bersalah pula saat ia memutuskan untuk mengelabui Chan Yeol. Pada akhirnya, terbongkar juga. Chen tidak bisa menghindari hal itu lagi.

 

 

 

 

☏☎☏

 

 

 

 

BUGH~

 

 

 

Mata Baek Hyun membelalak saat tiba-tiba genggamannya di tangan Kris terlepas, dan namja tampan itu sudah tersungkur ke aspal. Makin terkejut lagi saat ia tahu siapa pelakunya.

 

“Park Chan Yeol!!!” pekik Baek Hyun tak percaya. Ia hendak menghampiri Kris yang tersungkur dengan sudut bibir mengeluarkan darah. Tapi tangannya langsung dicengkram oleh Chan Yeol.

 

“Tempatmu bukan di sini.”Ucapnya serius pada Baek Hyun.

 

“Ta… Tapi Chan Yeol-ah… Kris…”

 

Chan Yeol mengangkat alisnya, “Kris? Sejak kapan kau menyebut namanya seakrab itu?”

 

“Chan Yeol-ah…”

 

“Ayo pulang.”

 

“Park Chan Yeol… Hati-hati dengan sikapmu.”

 

Chan Yeol menoleh setelah mendengar teguran itu, “Sikapku yang mana Kris Wu?”

 

Kris berusaha bangkit, tanpa menyeka tetesan darah di sudut bibirnya dan menatap Chan Yeol dengan tenang, “Kau sudah menyakitinya.”

 

Chan Yeol mendesis marah, “Ini tidak akan terjadi jika bukan karena kelicikanmu Kris Wu. Kupikir orang terkejam di dunia ini adalah Ayah Baek Hyun, tapi kurasa Ayah Baek Hyun masih cukup baik dibandingkan kelicikanmu memanfaatkan orang-orang putus asa seperti kami.”

 

“Park Chan Yeol…”

 

“Apa? Kau tersinggung?” Chan Yeol menoleh pada Baek Hyun yang menunduk dalam dengan wajah pucat, ditatapnya namja mungil itu dalam diam yang mencekam. Tubuh Baek Hyun yang mungil, yang Chan Yeol pikir hanya ia yang pernah melihat semuanya, tapi naas, namja di sana justru telah melakukan hal yang lebih jauh dari yang pernah ia lakukan sendiri sebagai suaminya, dan itu kembali membuatnya murka. Setelahnya ia kembali menatap tajam ke arah Kris, “Kau memanfaatkan keadaan Kris Wu… Dengan sikap bejatmu membeli tubuh Baek Hyun-ku!”

 

Baek Hyun memejamkan mata rapat-rapat di kalimat terakhir Chan Yeol. Sungguh dia begitu sakit mendengar kalimat itu. Dan Kris menyadarinya.

 

“Aku mengakui kesalahanku, tapi tolong tarik kembali ucapanmu saat mengatainya… sekotor itu. Baek Hyun terlalu suci untuk kau katakan sekotor itu” Tegur Kris berusaha bijak.

 

Itu justru menyentuh Chan Yeol tepat di titik rawan, “Kau masih berani mengatakan hal itu namja biadab? Setelah apa yang kau lakukan pada Baek Hyun?” Chan Yeol memejamkan matanya, mengatur nafas sebisa mungkin. Baek Hyun bahkan merasakan genggaman tangan Chan Yeol di pergelangan tangannya menguat, dan ini bukan berita baik.

 

“Chan Yeol-ah jebal…” Lirih Baek Hyun berusaha menenangkan suaminya.

 

NIHIL~

 

Nyatanya Chan Yeol sudah cukup bersabar beberapa hari ini. Genggaman tangannya pada pergelangan tangan Baek Hyun terlepas, dan setelahnya tanpa ada yang bisa menduga, Chan Yeol sudah menerjang Kris dengan menghadiahkannya sebuah pukulan keras di daerah pelipisnya, membuatnya kembali tersungkur hingga Chan Yeol bebas menghajarnya bertubi-tubi.

 

Baek Hyun histeris bukan main, terlebih saat Chen datang, berniat melerai tapi yang ada ia justru terkena imbasnya. Ia tersungkur menabrak pilar di depan pintu keluar basement.

 

“KAU MASIH BISA SESANTAI ITU SETELAH APA YANG KAU LAKUKAN PADA BAEK HYUN-KU NAMJA BIADAB? KAU PIKIR SIAPA YANG TELAH KAU RUSAK KEHORMATANNYA? HA?”

 

“Chan Yeol-ah… jebal…” Pekik Baek Hyun berusaha menghentikannya.

 

Chan Yeol mencengkram kerah baju Kris kuat-kuat, memaksa wajahnya yang babak belur itu mendongak, “Aku bahkan tidak pernah menyentuhnya satu kalipun brengsek, dan kau… namja biadab yang menggunakan uang sebagai alat untuk membeli kehormatan Baek Hyun-ku dengan santainya mengatakan hal sok bijak di depanku?”

 

Pukulan lagi.

 

“Ambil restoranmu, ambil semua benda yang kau gunakan sebagai alat untuk membeli Baek Hyun-ku. Kami tidak butuh.”

 

 

~Brugh

 

Kris kembali ambruk ke lantai setelah Chan Yeol menghempaskannya. Chan Yeol sendiri menghampiri Baek Hyun yang sudah menangis sejak tadi.

 

“Siapa yang kau tangisi? Aku atau dia?”

 

Deg~

 

“Aku… Suamimu Byun Baek Hyun, dan dia bukan siapa-siapa.” Tegas Chan Yeol langsung menarik tangan Baek Hyun meninggalkan tempat itu.

 

“Park Chan Yeol…”

 

Seruan itu membuat langkah Chan Yeol berhenti dan menoleh. Kris masih berusaha bangkit sembari memegangi perutnya, “Apalagi? Itu belum cukup?”

 

“Aku tidak akan membahas perbuatanku yang menjadi kesalahan terbesar dalam hidupku, tapi kurasa aku berhak mengatakan ini…” Kris terbatuk sejenak karena dadanya betul-betul sakit akibat beberapa pukulan, “Jangan pernah membuatnya menangis atau aku akan betul-betul merebutnya darimu.”

 

Chan Yeol mendesis, membalas tatapan tajam Kris, “Siapa yang kau beritahu? Aku suaminya.” Chan Yeol meraih tengkuk Baek Hyun dan mengecup bibirnya di depan mata Kris, terlihat jelas ingin menegaskan sesuatu, “Dia milikku, dan tidak akan kubiarkan siapapun menyentuhnya lagi.”

Setelahnya Chan Yeol betul-beul pergi sembari merangkul Baek Hyun erat, meminimalkan kemungkinan Baek Hyun menoleh sedikit saja.

 

Baek Hyun miliknya… dan itu yang harus ditegaskannya.

 

 

☏☎☏

 

 

Sama sekali tidak ada pembicaraan selama perjalanan pulang, bahkan setelah Chan Yeol menarik Baek Hyun untuk turun dari mobil dan sedikit menyeretnya masuk ke rumah mereka.

 

Dan setelah pintu kamar mereka tertutup rapat juga setelah Baek Hyun sudah terduduk pasrah di tepi tempat tidur, barulah Chan Yeol membuka mulutnya.

 

“Aku… Oke baiklah, Aku minta maaf Baek Hyun-ah. Aku betul-betul minta maaf atas ucapanku kemarin dan aku menyesal telah mengatakannya.”

 

Baek Hyun tidak menjawab, ia hanya tetap menunduk sembari meremas kedua tangannya di atas lutut.

 

“Tapi bukan berarti aku bisa begitu saja melupakannya. Hanya suami bodoh yang tidak kecewa dan bisa bersikap santai setelah tahu bahwa orang yang paling ia cintai justru menyerahkan tubuhnya pada namja lain.”

 

 

Ini yang ditakutkan Baek Hyun…

 

 

“Ma… Maafkan… Aku Chan Yeol-ah…” Lirih Baek Hyun takut-takut.

 

Chan Yeol mencoba menenangkan diri dengan mangatur nafas, terlihat ia meletakkan kedua tangannya di pinggang, menghentakkan satu kaki sembari mengalihkan pandangan ke samping, mekanisme mengontrol emosi, “Baiklah… Aku memang memaafkanmu, karena aku sangat mencintaimu. Tapi aku tidak melihat kau betul-betul menyesal telah mengkhianatiku, buktinya kau dan namja itu masih sering…” Chan Yeol menggantung kalimatnya, karena ia tahu kelanjutan kalimat ini akan menyakiti Baek Hyun. Terakhir ia mengerang dan mengacak rambutnya frustasi.

 

Deg~

 

 

Detik berikutnya ia merasakan dada kirinya seperti tertusuk. Ngilu sekali dan itu membuatnya terduduk di lantai sambil meringis dan merengkuh dadanya.

 

Baek Hyun membelalak, ia melompat dari tempatnya dan langsung menghampiri Chan Yeol dengan panik, “Cha… Chan Yeol-ah…. gwenchana?”

 

Chan Yeol memejamkan matanya rapat-rapat kemudian menggeleng kuat, wajahnya memerah dan peluhnya mulai menetes, terlihat jelas ia menahan sakit yang luar biasa di dadanya.

 

Baek Hyun jelas hapal kondisi ini, dan dia betul-betul tidak suka. Tanpa pikir panjang ia langsung membantu Chan Yeol berdiri dan memapahnya sampai ke tempat tidur untuk membaringkannya. Dengan tangan gemetar, ia membuka laci nakas dan mengeluarkan beberapa botol obat dari sana.

 

“Air… Air… Mana air…” Serunya kalang kabut dan langsung berlari menuju dapur berniat mengambil segelas air. Wajahnya memucat pasi membayangkan beribu kemungkinan tentang kondisi Chan Yeol, dan ia tidak ingin terjadi apa-apa pada suaminya itu karena ulahnya.

 

Tangan mungilnya menggenggam segelas air, mempertahankan isinya tetap utuh sementara ia berlari dengan paniknya. Ia menghapus air matanya berkali-kali agar pandangannya tidak kabur, setelahnya ia menerjang pintu kamarnya dan berlari menghampiri Chan Yeol.

 

Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan semua jenis obat milik Chan Yeol dan membantu suaminya itu untuk meminum obatnya.

 

Jebal…” lirihnya dengan suara gemetar, berharap tidak ada dampak buruk dari pertengkaran mereka.

 

Chan Yeol kembali mengistirahatkan kepalanya di atas bantal, masih dengan mata terpejam kuat, melihat itu Baek Hyun buru-buru meraih tangan Chan Yeol yang dingin dan menggenggamnya erat.

 

Mianhae… Mianhae… Jeongmal mianhae Chan Yeol-ah… Tolong…” Serunya berkali-kali, air matanya sudah berderai tanpa penghalang, menampakkan penyesalan yang bertumpuk itu akhirnya tumpah.

 

 

Chan Yeol menggerakkan tangannya, menarik Baek Hyun agar namja itu ikut berbaring di sebelahnya untuk ia peluk, seiring rasa sakit yang berangsur mereda.

 

 

“Kau… Mencintaiku kan?”

 

Baek Hyun mengangguk cepat, semakin membenamkan wajah mungilnya di dada Chan Yeol.

 

“Aku…” Chan Yeol menarik nafasnya, sebenarnya masih sedikit kesulitan berbicara, tapi ia harus menyelesaikan semuanya agar ini tidak berkelanjutan, “Aku akan menganggap hal ini tidak pernah terjadi tapi tolong… Apapun yang terjadi pada kita, sesulit apapun kita,… Jangan pernah menemui apalagi meminta pertolongan pada namja biadab itu lagi.”

 

Lidah Baek Hyun kelu terlebih mendengar bagaimana Chan Yeol mengatai Kris seperti itu, sementara hidup Chan Yeol yang sampai sekarang masih bisa bertahan tidak lepas dari bantuan Kris saat itu.

 

“Baek Hyun-ah..” Chan Yeol menjauhkan wajah Baek Hyun dari dadanya, menghapus air mata Baek Hyun dengan sisi jarinya, meminta namja yang ia cintai itu untuk menatapnya, “Kau mendengarku kan?”

 

Baek Hyun mengangguk cepat, sebenarnya ingin bersuara tapi tenggorokannya terlalu sakit. Terlihat saat ia mengatupkan rahangnya rapat-rapat dan hanya menggumam pelan sebagai jawaban.

 

Chan Yeol menunduk menempelkan keningnya di kening Baek Hyun, sembari memejamkan mata, “Kumohon jangan begini. Jangan menunjukkan sikap seolah aku memaksamu dan memberatkanmu. Aku suamimu Byun Baek Hyun, akulah orang yang terus bersamamu selama bertahun-tahun, bahkan sebelum pernikahan kita yang akan memasuki tahun kedua. Kumohon… jangan hanya karena satu kesalahanku, kau mengabaikan itu semua dan berpaling pada orang lain.”

 

Leher Baek Hyun tercekat, ia menggeleng kuat berkali-kali, tapi suaranya tak kunjung keluar, kondisinya tidak cukup membantu untuk memperbaiki keadaan.

 

“Katakan… Katakan Baek Hyun-ah… Apa yang harus kulakukan untukmu? Katakan bagian mana dari diriku yang tidak kau sukai? Aku akan merubahnya… Aku akan menuruti semua keinginanmu, aku akan…”

 

“Park Chan Yeol…” Bentak Baek Hyun akhirnya. Itupun dengan suara bergetar.

 

Chan Yeol membuka matanya dan menatap wajah orang terkasihnya itu telah banjir air mata, “Baek Hyun-ah…”

 

Baek Hyun hanya menggeleng sembari mengatupkan bibirnya yang bergetar hebat, setelahnya ia menyentuh pipi Chan Yeol, menariknya sedikit agar ia bisa mengecup bibirnya, kemudian ia kembali  memeluk Chan Yeol dengan sangat erat. Menangis di dadanya… sejadi-jadinya.

 

Chan Yeol memejamkan mata, mendengar setiap isakan pilu dari namja yang paling ia cintai di dunia ini, dan itu menyakitinya tepat di dada kiri. Ia tidak harus menderita kelainan jantung untuk merasakan sakit itu kembali, karena hanya mendengar dan melihat Baek Hyun menangis, jantungnya sudah terasa remuk. Dan ia tidak sanggup lagi menahan saat kedua tangan kekarnya memeluk tubuh mungil Baek Hyun tak kalah erat. Dikecupnya pundak sempit Baek Hyun, sisi lehernya, telinganya, pelipisnya, keningnya dan kembali memeluknya sangat erat.

 

“Maafkan aku… tolong…” Ucap namja jangkung itu dengan suara parau.

 

“Aku… Aku yang… seharusnya… meminta… maaf, Chan Yeol-ah…” Balas Baek Hyun tak kalah parau, terlebih isakannya membuat ucapannya putus-putus.

 

“Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Aku marah karena aku tidak cukup baik menjagamu di sisiku, aku marah karena tidak menyadari orang lain memanfaatkanmu… aku… benci diriku sendiri atas semua kelalaianku.”

 

“Chan Yeol-ah jebal… hentikan…”

 

Chan Yeol meregangkan pelukannya, menyentuh telinga Baek Hyun dan mengamati setiap lekuk wajah indahnya yang dikotori air mata, “Kau… memaafkanku kan?”

 

Baek Hyun mengangguk cepat, “Karena aku yang salah.”

 

“Tidak… Kau tidak salah… Kita yang diperdaya oleh namja licik itu.”

 

“Chan Yeol-ah.”

 

“Jangan membelanya… Aku tidak suka.”

 

Baek Hyun bungkam.

 

“Jangan menemuinya lagi, jangan menghubunginya, jangan melakukan kontak apapun dengannya. Lupakan bahwa kau pernah mengenalnya.”

 

Baek Hyun mengangguk pelan.

 

“Aku… akan melepaskan jabatan di restoran itu, tabunganku cukup banyak, dan kurasa itu hakku atas kerja kerasku selama ini, jadi kita bisa menggunakannya untuk menyewa sebuah apartemen dan membuka usaha baru.”

 

Baek Hyun mengangguk lagi.

 

Tangan Chan Yeol terangkat, membelai rambut Baek Hyun yang terasa sangat lembut sejak terakhir ia menyentuhnya, “Kemasi barangmu, kita… Kembali ke Korea.”

 

Mata Baek Hyun membulat, seketika mengangkat wajah dan menatap Chan Yeol tercengang, “Mworago?”

 

“Kurasa tempat terbaik untuk kita adalah negeri sendiri Baek Hyun-ah, di sini… Bukan tempat kita. Kurasa Ayahmu tidak akan sekejam itu untuk meruntuhkan bisnis yang kita bangun dengan tangan sendiri. Atau sebisa mungkin kita menutupi keberadaan kita di Korea.”

 

“Tapi Chan Yeol-ah… Kondisimu…”

 

“Aku baik-baik saja. Kita berangkat pagi ini. Akan kuhubungi Kai dan Kyung Soo untuk menjemput kita di Bandara nanti, sekalian kuberitahu mereka untuk mencarikan kita sebuah tempat tinggal.”

 

Baek Hyun ingin menyerukan protes, tapi dengan apa? Ia tidak memiliki alasan kuat.

 

Ayahnya?

 

Chan Yeol sudah menegaskan bahwa itu bukan lagi masalah karena Chan Yeol sudah memiliki materi yang lebih dari kata cukup.

 

Tapi…

 

Meninggalkan Beijing…

 

Meninggalkan tempat yang menjadi akses satu-satunya ia bertemu dengan Kris…

 

Namja yang… terakhir ia sadari bahwa ia…

 

 

 

 

 

Memang mencintainya.

 

Apakah ia sanggup?

 

 

☏☎☏

 

 

 

Hari sudah menjelang sore, Chen memasuki kamar pribadi Kris setelah ia mengantar dokter kepercayaan keluarga besar Wu untuk keluar.

 

“Chen…” Panggil Kris saat ia melihat Chen masuk ke kamarnya.

 

“Ada apa Tuan?”

 

“Bisakah… Kau memberiku informasi tentang keberadaan Baek Hyun?”

 

“Tuan… Sebaiknya anda istirahat dulu untuk memulihkan luka-luka anda, masalah Byun Baek Hyun, saya akan __”

 

“Dimana dia sekarang?”

 

Chen menghela nafas, ia pamit untuk keluar, dan Kris tahu bahwa Chen akan melaksanakan perintahnya.

 

Tak cukup 10 menit, Chen kembali masuk dengan ponsel yang masih berada di tangannya.

 

“Tuan… Byun Baek Hyun dan Park Chan Yeol sudah meninggalkan Beijing tadi pagi, dan tujuan mereka adalah… Korea Selatan. Bisa jadi… sudah tiba.” Lapornya.

 

Kris memejamkan matanya sembari menghembuskan nafas pelan, “Sudah kuduga.”

 

“Anda tidak apa-apa?”

 

“Hm, keluarlah. Aku memang butuh istirahat.” Jawabnya masih dengan memejamkan mata. Dan Chen tahu bahwa itulah yang betul-betul diinginkan majikannya.

 

Bukan untuk mengistirahatkan fisik akibat setiap luka yang tercetak di sana, bukan karena instruksi dokter dan pengaruh obat anti nyeri. Sebenarnya bagian dari diri Kris yang betul-betul membutuhkan istirahat adalah…

 

Jiwanya yang tak berhenti untuk mencinta, dan tidak mengenal kata lelah.

 

 

☏☎☏

 

 

Chan Yeol menutup pintu apartemen barunya. Apartemen yang ia dapat dengan mudah karena Kai mengenal pemiliknya, lagipula apartemen Kai dan Kyung Soo terletak 1 lantai di bawah mereka, dan Chan Yeol baru saja mengantar Kai dan Kyung Soo sampai ke pintu depan.

 

Apartemen itu tidak terlalu mewah, tapi cukup bergengsi dengan fasilitas lengkap, belum lagi Chan Yeol beruntung karena mendapatkannya dengan harga yang tidak begitu mahal. Tidakkah ini pertanda bahwa hidup barunya bersama Baek Hyun akan semakin cerah ke depannya?

 

Chan Yeol melihat orang terkasihnya itu tengah memindahkan pakaian ke dalam lemari besar di kamar mereka, tampak begitu cekatan dan terlatih, selalu ada hal yang tidak bisa dilakukan Chan Yeol dengan baik tapi Baek Hyun melakukannya cukup sempurna. Lemari mereka akan terlihat sangat rapi karena Baek Hyun suka menatanya.

 

Greb~

 

Pelukan dari belakang adalah sebagian dari bentuk perlakuan Chan Yeol terhadap Baek Hyun ketika ia begitu ingin mendekap belahan jiwanya itu. Baginya, bahu Baek Hyun memang tercipta sebagai tempat Chan Yeol menyandarkan dagunya.

 

“Kuharap ini belum terlambat.”

 

“Apanya?”

 

Chan Yeol tersenyum kemudian mengecup sisi leher Baek Hyun, “Saengil chukkaeyo.”

 

Go…Gomawoyo, aku senang kau mengingatnya.”

 

“Maaf, aku tidak menyiapkan kado.”

 

“Tidak apa-apa, kau bersamaku itu sudah cu__ Eum… Chan Yeol-ah…” Keluh Baek Hyun saat Chan Yeol menggelitik tengkuknya dengan sentuhan bibir.

 

Wae?”

 

“Geli…”

 

“Aku tahu, makanya aku menggodamu.”

 

Baek Hyun sedikit menggeliat, selalu tidak tahan dengan sensasi geli setiap kali Chan Yeol menyentuh tengkuknya dengan cara apa saja.

 

“Aku harus menyelesaikan ini dulu.”

 

Chan Yeol memutar tubuh Baek Hyun hingga mereka berhadapan, “Masih ada besok.”

 

Baek Hyun menggigit bibir saat Chan Yeol mengecup sisi lehernya, persis di bawah telinga.

 

“Cha… Chan Yeol-ah…. Aku… Sebaiknya mandi dulu karena dari pagi aku belum man__YA!”

 

Chan Yeol tertawa puas saat berhasil mengejutkan Baek Hyun dengan menggendongnya dan menghempaskan tubuh mungilnya di atas tempat tidur baru.

 

“Sejak kapan itu menjadi masalah untukku? Wangi tubuhmu adalah yang terbaik, percayalah.”

 

“Tapi Chan Yeol… Aku berkeringat.” Baek Hyun berusaha menghentikan tangan Chan Yeol yang menurunkan zipper jaket putih milik Baek Hyun (milik Kris lebih tepatnya).

 

“Hm?” Chan Yeol tersenyum, “Katakan aku maniak, tapi keringatmu terasa sangat manis di lidahku.”

 

 

 

 

Deg~

 

 

 

 

Dan Baek Hyun seperti kehilangan kendali fokus, membiarkan Chan Yeol melanjutkan gerakannya.

Ada satu hal yang membuatnya seperti itu, sebenarnya hanya sederet kalimat sederhana yang membentuk sebuah struktur tersirat dan mengusik kotak memorinya.

 

Baek Hyun memejamkan mata, yang disangka Chan Yeol sebagai bentuk penerimaan atas sensasi yang ia berikan di permukaan kulit leher Baek Hyun yang ia sentuh dengan segenap cinta, dan itu  membuatnya tersenyum.

 

Jauh di dasar kotak memori, sekelebat bayangan muncul… di suatu malam dengan cuaca yang cukup dingin, tapi tidak cukup mendinginkan tubuh yang terbakar dan menghasilkan peluh.

 

“Setahuku keringat itu asin… tapi keringatmu sangat manis…”

 

Baek Hyun menggigit bibir membayangkan kalimat itu seolah kembali mampir di telinganya.

 

Ini kejam… Bukan sentuhan Chan Yeol di tubuhnya yang membuatnya mengeluarkan suara merdu. Itu karena kotak memori yang tiba-tiba saja terbuka tanpa sengaja oleh sebuah kalimat sederhana. Dan Baek Hyun tidak ingin saat ia disentuh oleh suaminya, yang menguasai otaknya justru namja lain.

 

Dan namja itu adalah…

 

Kris…

 

Chakkaman Chan Yeol-ah…” Baek Hyun menahan dada Chan Yeol saat namja tampan itu ingin memberikan sentuhan lebih padanya.

 

“Kenapa?”

 

Baek Hyun menelan ludah, ia sangat jarang menyaksikan wajah Chan Yeol begitu merona dan pandangan yang cukup sayu, betul-betul jarang dan bukankah ia sudah sejak lama menginginkannya? Tapi ia butuh sedikit waktu, setidaknya beberapa menit untuk menutup kotak memori yang akan mengusiknya.

 

“Aku gerah, dan merasa tidak nyaman. Tunggu sebentar, aku ingin mandi sedikit.” Elaknya kemudian bergegas turun dari tempat tidur sembari menyambar handuk yang tergantung rapi di sampiran dan menghilang di balik pintu kamar mandi setelah terdengar bunyi bantingan kecil.

 

Baek Hyun mencengkram dadanya saat ia merasakan kesulitan meredam gemuruh di sana. Ia mengumpat keadaannya berkali-kali karena ia tidak menginginkan kondisinya yang sekarang. Baru terhitung setengah hari ia meninggalkan negara di mana Kris berada, tapi ia sudah cukup sekarat hanya karena tak sengaja terkenang kejadian itu.

 

Ia sebenarnya tidak lupa, hanya saja kenangan itu semakin menguat. Membenarkan perkataan orang bahwa ~Yang pertama itu adalah yang paling berkesan. Dan Baek Hyun adalah salah satu orang yang tidak akan membantah kalimat itu.

 

Karena itu benar. Hal pertama yang ia maksud adalah saat seseorang pertama kali menyentuh ‘harta berharga’nya, dan bukan oleh orang yang mendampinginya, tapi namja lain.

 

Kris Wu…

 

Bahkan menyebut namanya saja dalam hati sukses membuat Baek Hyun luruh ke lantai, masih merengkuh dada kirinya.

 

“Tidak seharusnya aku memikirkanmu saat Chan Yeol bersamaku… Kris…” Lirihnya pilu, “Tolong… Lenyapkan dirimu dari pikiranku, karena ini begitu menyiksa.”

 

☏☎☏

 

 

Kris membuka matanya saat sesak di dadanya semakin parah, dan ia terpaksa bangkit dari tidurnya, menyambar segelas air dan meneguknya cepat-cepat.

 

Deru nafasnya terihat sangat memburu, matanya menatap kosong susunan keramik mahal yang membentuk lantai kamarnya, “Aku bahkan tidak bisa bertahan lebih dari sehari.” Rintihnya kesulitan menarik nafas.

 

☏☎☏

 

 

Baek Hyun tidak menyadari bahwa ia melewatkan 3 kali rotasi jarum panjang jam di dinding kamar mereka. Dan dampaknya adalah, ia sudah menyaksikan tubuh Chan Yeol yang terlelap di atas tempat tidur mereka.

 

Ia menghela nafas berat. Ada sesal, juga kelegaan, dan itu jelas membawanya pada kebingungan.

 

Kenapa ia harus menghindar untuk hal yang begitu ia inginkan?

 

Tapi itulah yang terjadi. Namja mungil itu terlalu sibuk memikirkan orang lain sementara ia berada di tempat seharusnya ia mencurahkan seluruh perhatiannya pada satu orang saja. Dan itu Chan Yeol…

 

Baek Hyun yang hanya dibalutkan handuk putih tebal, berjalan menghampiri Chan Yeol yang tertidur pulas. Ia mendudukkan diri di tepi tempat tidur persis di sebelah Chan Yeol, dan dengan jemarinya yang indah, ia kumpulkan rambut Chan Yeol yang menutup sebagian matanya ke samping agar ia lebih leluasa memandangi wajah tampan namja itu.

 

“Tuhan… Apa yang harus kulakukan…?” Lirihnya perlahan, kemudian ia sedikit membungkuk untuk mengecup kening Chan Yeol dengan segenap perasaan, “Aku mencintaimu… Selamanya.” Ucapnya lagi, namun sebuah keraguan terpancar di mata indahnya, “Semoga…” Lanjutnya dengan keyakinan tipis.

 

☏☎☏

 

Dua minggu terlewati ‘tidak’ begitu saja. Setiap senyuman yang terulas di bibir tipis Baek Hyun sebelum Chan Yeol pamit untuk mengunjungi lokasi baru bisnisnya, sebenarnya terlihat sangat aneh untuk ukuran seseorang yang suka tersenyum, karena itu bukan senyuman terbuka.

 

Sedikit beruntung karena Baek Hyun mampu menutupinya hingga Chan Yeol tidak menyadarinya. Sebisa mungkin mereka menghindari pembahasan mengenai kehidupan mereka di Beijing sebelumnya, dan itu berhasil. Chan Yeol pikir itu cukup ampuh agar Baek Hyun tidak mengungkit masalah Kris.

 

Namun satu yang tidak diketahui Chan Yeol… Bukan Beijing yang menjadi satu-satunya pengikat antara Baek Hyun dan Kris, karena sebenarnya hanya dengan memejamkan mata saja, Baek Hyun sudah menemukan sosok Kris di benaknya, dan itu terproyeksi dengan sangat jelas, dengan wujud sempurna tanpa cacat, begitu kuatnya memori yang ia miliki tentang sosok Kris.

 

Ia tidak lupa permintaan Chan Yeol mengenai Kris..

 

Jangan menemuinya lagi

 

Cukup sulit…

 

Jangan menghubunginya.

 

Sulit…

 

Jangan melakukan kontak apapun dengannya.

 

Sangat sulit…

 

 

Lupakan bahwa kau pernah mengenalnya.

 

 

Tidak sekedar sulit, karena ini mustahil.

 

Tapi ia tengah berusaha, karena ini adalah jalan satu-satunya agar ia mampu menggapai bahagia bersama orang yang tepat. Orang yang seharusnya menjadi pemilik tunggal hatinya…

 

Park Chan Yeol.

 

 

 

☏☎☏

 

`~Baek Hyun POV

 

 

 

“Kau sakit?” Tanya Chan Yeol saat kami tengah makan malam.

 

“Sakit? Tidak, kenapa bertanya begitu?”

 

Chan Yeol menggeser kursinya kemudian menyentuh pipi dan keningku, “Aku baru menyadari kalau kau agak kurus belakangan ini, wajahmu pucat dan…”

 

“Hanya perasaanmu saja, aku tidak merasa ada yang aneh.”potongku cepat sembari menyentuh punggung tangannya dan menggenggamnya.

 

“Baek Hyun-ah, apa sebaiknya kita ke rumah sakit besok pagi?”

 

“Ck, kau berlebihan. Aku baik-baik saja, lagipula kau sedang sibuk-sibuknya kan? Bukankah restoran yang baru kau buka itu sedang dalam masa promosi?”

 

“Manager Jung sudah tiba di Korea 2 hari yang lalu, dan seperti biasa, dia bisa menanganinya sendiri, kau itu prioritas utamaku Baek Hyun-ah.”

 

Aku menghela nafas, kemudian menatap Chan Yeol dengan serius, “Aku… Baik-baik saja. Tidak sakit dan tidak merasa kekurangan apapun. Aku bahagia bersamamu, dan itu sudah lebih dari cukup, jadi jangan mencemaskanku, ara?”

 

Chan Yeol tidak langsung menjawab. Sekeras apapun aku  menegaskan keadaanku, ia terus menatapku seperti itu, prihatin dan… ah entahlah aku juga tidak mengerti. Memangya kenapa dengan keadaanku? Aku merasa baik-baik saja dengan kesehatanku.

 

“Obatmu sudah diminum?” Tanya ku mengalihkan pembicaraan karena kupikir Chan Yeol tidak akan berhenti.

 

“Belum.” Jawabnya datar, dan aku hapal betul nada suaranya itu.

 

“Tunggu di sini, akan kuambilkan.”

 

Aku beranjak meninggalkan ruang makan menuju kamar kami, bukan ingin menghindari perbincangan… tapi…

 

GREB~

 

Mataku membelalak saat merasakan dua tangan terulur memelukku dari belakang sementara tanganku sibuk menyiapkan beberapa butir obat untuk Chan Yeol.

 

 

“Aku…. Ingin Baek Hyun-ku yang dulu.” Bisiknya lirih persis di telingaku. Cukup lembut, tapi yang sampai di telingaku justru teguran keras luar biasa.

 

“Cha… Chan Yeol…”

 

Jebal… Jangan begini.”

 

“Chan Yeol-ah… bicara apa kau?”

 

Chan Yeol merenggangkan pelukannya, memutar tubuhku hingga kami berhadapan, botol obat ditanganku ia rebut dan ia letakkan di atas nakas, “Hanya permintaan sederhana Baek Hyun-ah, jebal… kembalilah menjadi Baek Hyun yang dulu, Baek Hyun yang hanya memikirkanku seorang… bukan orang lain.”

 

Deg~

 

 

“Chan Yeol… Aku tidak…”

 

“Aku suamimu, dan aku mengenalmu.”

 

Lalu apalagi yang harus kukatakan untuk mengelak? Chan Yeol sudah menegaskannya hingga aku tidak bisa membantah lagi, “Maafkan aku.” Ucapku sembari menunduk dalam.

 

“Byun Baek Hyun…”

 

Aku menghela nafas panjang kemudian kembali mengangkat wajah untuk menatapnya. Chan Yeol tidak ingin aku menghindar.

 

“Berikan aku kesempatan lagi.”

 

“Ne?”

 

Chan Yeol menyentuh pipiku, menyunggingkan senyumnya yang selalu memberiku semangat, “Sekaligus sebagai penegasan, bahwa kau… milikku.”

 

Mataku membelalak, apa maksudnya adalah… “Chan Yeol apa maks__mmppffft…”

 

Kapan terakhir Chan Yeol menciumku? Kapan terakhir Chan Yeol menyentuhku dengan sangat lembut? Aku lupa… Aku lupa Tuhan karena pikiranku terus tertuju pada orang yang pertama kali ‘menyentuhku’.

 

“Chan Yeol…Eungh…” Keluhku saat Chan Yeol merebahkanku di atas tempat tidur kami dan membenamkan wajahnya di leherku.

 

Ne… Mendesahlah Baek Hyun-ah, sebut namaku…”

 

DEG~

 

 

 

“Mendesahlah… dan itu adalah suara nafas yang ingin kudengar”

 

“Tuan…”

 

 “bukan… tapi Kris”

 

“ng, ne…”

 

 “Kau sangat cantik, Baek Hyun-ah”

 

 

 

“Tu… ng… Kris…. jeballllhhh”

 

 

DEG~

 

Tidak…

 

Bukan Kris…

 

Ya Tuhan… apa yang kupikirkan? Aku sedang bersama suamiku… yang menyentuhku adalah Chan Yeol… bukan Kris…

 

“Chan Yeol…”

 

“Kris…”

 

“Eum…”

 

“Chan Yeol…”

 

“Kris…”

 

 

Ne Baek Hyun-ah…”

 

“Cha…mmmppfftt__”

 

“Kris…”

 

 

 

 

~%&~$^~((~*)(~_+((&%^$^$@^#$%^&*()_+++++++_)*(^&%^$

 

 

Author POV~

 

Jam berbentuk kotak di atas nakas sudah menunjukkan pukul 3 dini hari tapi sepasang mata mungil milik namja bernama Byun Baek Hyun itu tak kunjung terpejam. Ia masih betah terjaga, memandangi wajah tampan yang berada hanya sekitar beberapa senti meter dari wajahnya, karena ia memang merebahkan kepala di atas lengan namja tampan yang bernama Park Chan Yeol itu.

Pikiran Baek Hyun melayang-layang, bukan karena ia telah melewati hal menakjubkan untuk pertama kalinya bersama Park Chan Yeol, suaminya, tapi… apa yang sempat ia pikirkan saat Chan Yeol menyentuhnya.

 

Ia senang, ia bahagia, lebih dari pada itu, apa yang baru saja dilaluinya seperti sebuah mimpi terbesar yang ia pikir tidak akan terwujud sampai kapanpun.

 

Tapi…

 

Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ada sesuatu yang mengusiknya. Tidakkah itu ironis memikirkan namja lain sementara ia tengah berada dalam dekapan suaminya? Sayangnya itu yang dialami Baek Hyun.

 

Kenapa harus ada nama Kris yang terselip di ujung lidahnya saat Chan Yeol memintanya menyerukan namanya? Kenapa setiap sentuhan Chan Yeol justru membawa Baek Hyun kembali ke masa itu? Terputar di otaknya bagai sebuah reka ulang kejadian yang nyaris sama persis, hanya saja pemilik lengan kokoh yang mendekapnya, pemilik bibir tebal yang mengecap tubuhnya, pemilik deru nafas yang menyertai desahannya… Bukan Park Chan Yeol.

 

Baek Hyun memejam mata rapat-rapat, menggigit bibir keras-keras, berusaha menghapus memori yang terekam kuat di otaknya tapi tak kunjung berhasil. Ia bahkan memaksa dirinya untuk menegaskan bahwa keadaannya sudah berbeda. Ada Chan Yeol di depannya, ia bisa menyentuhnya, ia bisa melihatnya, dan Chan Yeol itu nyata.

 

Tidak seharusnya ia memikirkan Kris, tidak seharusnya ia berharap akan dekapan Kris, genggaman tangannya, sentuhannya, juga perhatiannya, karena kebersamaan dengan Kris itu betul-betul sesuatu yang fana dan penuh kemustahilan.

 

Sebuah helaan nafas panjang mengakhiri pertimbangannya, ia mengangkat tangan kanannya, menyeka peluh yang masih menempel di sekitar pelipis Chan Yeol, membuat beberapa helai ujung rambutnya basah. Tidakkah ia harus menghargai itu? Semua usaha Chan Yeol untuk membahagiakannya?

 

Benar… dia tidak perlu mencari pertimbangan lebih jauh lagi.

 

Kebersamaannya dengan Kris bukan apa-apa dibandingkan kebersamaannya dengan Chan Yeol selama ini.

 

“Bantu aku Chan Yeol-ah….” Ia benamkan wajahnya di dada polos Chan Yeol, menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka, “Bantu aku…” Lirihnya kemudian memejamkan mata, menyusul Chan Yeol ke alam mimpi.

 

☏☎☏

 

 

“Kenapa tidak membangunkanku?” Protes Baek Hyun saat ia melihat Chan Yeol sudah sangat rapi dengan pakaian kerjanya dan sudah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Sementara Baek Hyun hanya mengenakan baju mandi berwarna putih dengan rambut yang masih acak-acakan karena memang dia belum mandi.

 

“Kau kelihatan lelah sekali, aku tidak tega membangunkanmu.” Balas Chan Yeol santai.

 

“Ck, tapi kau kan sibuk, seharusnya aku yang menyiapkan sarapan.”

 

“Hei, memangnya kenapa kalau aku yang menyiapkan sarapan? Ini juga hanya sesekali kan?”

 

“Tapi.”

 

“Sudah!” Chan Yeol meraih segelas susu dan meneguknya sampai habis, “Aku berangkat.”

 

Baek Hyun bergegas menyusul Chan Yeol ke depan untuk membukakan pintu untuknya.

 

“Astaga Baek Hyun… Aku bisa melakukannya sendiri.” Protes Chan Yeol saat ia mulai melangkahkan kaki keluar dari apartemen mereka.

 

“Setidaknya ada yang bisa kulakukan sebelum kau pergi.”

 

Chan Yeol menghela nafas panjang, ia memindahkan tas kerjanya ke tangan kiri karena ia menggunakan tangan kanannya untuk meraih pinggang Baek Hyun, “Sini… memang ada yang harus kau lakukan sebelum aku pergi.”

 

Ne?”

 

Chan Yeol tersenyum, membungkuk sedikit dan mengecup bibir Baek Hyun dengan lembut, setelahnya ia berbisik lirih, “Untuk seminggu ke depan… Bisakah kita melakukannya dengan rutin setiap malam?”

 

Blush~

 

“YA! Jangan berpikiran aneh pagi-pagi, pergilah bekerja.”

 

Chan Yeol tertawa, “Gara-gara penyakit sialan ini, aku bahkan melewatkan hal menakjubkan selama waktu hampir 2 tahun.”

 

“Park Chan Yeol…”

 

“Aku tidak bercanda, yang semalam itu__”

 

“Park Chan Yeol… Itu memalukan…”

 

Arasso… Arasso. Aku akan pergi, setidaknya dengan bekerja aku tidak akan sadar perguliran waktu dan tiba-tiba saja hari akan berganti menjadi malam dan…”

 

“Tuan Park…”

 

Arasso… Aku berangkat. Kau masuklah, jangan sampai ada yang melihatmu berpenampilan begitu.”

 

Ne.”

 

“Kalau keluar jangan jauh-jauh.”

 

“Aku mengerti Park Chan Yeol, aku bukan anak kecil.”

 

Chan Yeol tersenyum, ia meraih wajah Baek Hyun dan sekali lagi mengecup bibirnya singkat, “Hati-hati di rumah.”

 

Ne, hati-hati menyetir.”

 

Baek Hyun melambai ke arah Chan Yeol yang mulai beranjak meninggalkannya, masih sempat mengirimkannya flying kiss sebelum sosoknya menghilang di ujung koridor menuju lift.

 

Terulas senyum tipis di bibir mungil Baek Hyun, “Begini… benar… Memang seharusnya begini.” Lirihnya dengan ekspresi wajah yang berubah sendu. Detik berikutnya ia kembali masuk ke apartemennya dan mengunci pintu.

 

 

 

Sekitar beberapa meter dari sana, sesosok namja tinggi bertopi dan berkacamata hitam tengah menyandarkan punggungnya di tembok, matanya fokus ke arah pintu yang baru saja tertutup. Tangannya ia masukkan ke dalam saku jaketnya, memasang ekspresi wajah yang…

 

Sulit dibaca.

 

Menjalankan rutinitasnya selama seminggu lebih belakangan ini, yaitu berdiri di depan pintu apartemennya dan menatap ke arah pintu apartemen lain di mana sepasang manusia berinteraksi dengan lembutnya. Tidak seperti biasanya, khuhus pagi ini ia melihat ada yang aneh. Namja mungil yang menjadi fokus perhatiannya sudah terlihat cerah dibanding  hari-hari sebelumnya. Entahlah, sosok yang biasanya terlihat sudah rapi dan membawakan tas kerja untuk suaminya itu terlihat cukup berbeda pagi ini di matanya, dan itu sedikit membuatnya sesak. Setidaknya perubahan itu terlihat baik, tidak mengapa jika itu bukan untuknya, asal ia masih bisa melihat senyuman itu.

 

“Senang melihatmu tertawa Baek Hyun-ah…”

 

☏☎☏

 

 

Baek Hyun menyeret 2 kantung besar sampah dari dapurnya keluar dari apartemen. Ia memilih melewati tangga dari pada menggunakan lift. Tentu saja benda yang dibawanya akan mengganggu orang lain, selain karena ukurannya cukup besar, sampah itu juga sedikit mengganggu indera penciuman.

 

Baek Hyun menghentikan langkahnya tepat di pertengahan anak tangga lantai 4, sedikit memiringkan kepala karena ia merasakan ada yang aneh sejak tadi.

 

Seperti… ada yang mengikutinya. Tapi itu ia abaikan dan kembali melanjutkan langkahnya menuruni tangga. Ia terlihat kesulitan mengangkat dua kantung plastik besar berisi penuh dengan sampah itu, terlihat tidak seimbang dengan ukuran tubuhnya yang cukup mungil. Sampai ketika tanpa sengaja kaki mungilnya salah menginjak anak tangga hingga membuatnya limbung dan hampir terjatuh ke lantai bawah, sebuah tangan kekar langsung memeluk perutnya, menariknya hingga ia berbalik dan terhempas ke sebuah dada bidang dan kokoh.

 

Deg~

 

Tidak dalam waktu yang cukup lama, sosok yang diyakini Baek Hyun adalah seorang namja itu menggeser tubuh Baek Hyun dan mendudukkannya di anak tangga, selanjutnya sosok itu bergegas merebut 2 kantung sampah dan segera meninggalkan tempat itu tanpa berkata apa-apa.

 

Chakkaman… Siapa kau? Hei… tunggu…” seru Baek Hyun berniat mengejar, namun sosok misterius, bertopi, berkacamata dan bermasker hitam tadi cukup cepat menuruni tangga dan keluar melalui pintu darurat yang tembus ke basement gedung.

 

Baek Hyun merengkuh dadanya di mana terdengar detak jantung yang memburu, bukan karena ia terkejut hampir terjatuh, tapi… ada banyak hal yang tertangkap olehnya.

 

Aroma parfum Clive christian’s yang tidak asing…

 

Genggaman kuat namun lembut…

 

Pelukan hangat…

 

Dada yang bidang dan kokoh…

 

Tubuh yang tinggi…

 

Irama jantung yang familiar…

 

“Kurasa aku sedang bermimpi,” Lirihnya tidak percaya. Terlihat saat ia memejamkan mata dan menggelengkan kepala kuat-kuat, “Ini Korea Byun Baek Hyun, jadi tidak mungkin!” tegasnya pada diri sendiri, setelahnya ia kembali menaiki tangga untuk kembali ke apartemennya, toh pekerjaannya untuk membuang sampah sudah digantikan oleh orang tadi.

 

☏☎☏

 

 

“Kyung Soo-ah…”

 

“Eum?”

 

“Kau tidak merasa aneh? Aku baru menyadarinya, namja berpakaian aneh itu selalu berada di sekitar kita saat sedang berbelanja.”

 

Kyung Soo meletakkan kembali bungkusan pasta setelah mengecek label expired-nya, “Mana?”

 

“Jangan menoleh, di belakang, arah jam 8.”

 

Kyung Soo menjatuhkan sebungkus nugged kemudian memungutnya, sedikit menoleh agar tidak kentara melihat ke arah yang ditunjukkan Baek Hyun, setelahnya ia kembali meletakkan bungkusan itu ke tempatnya, “Ah jangan mengada-ada, kau tidak lihat dia juga sedang berbelanja?”

 

“Ck, kurasa ini bukan kebetulan, aku baru menyadarinya seminggu belakangan ini memang ada yang terus mengikutiku.”

 

Kyung Soo menghentikan gerakan tangannya memilih-milih bahan makanan, “Tunggu, apa jangan-jangan suruhan Ayahmu?”

 

Mata Baek Hyun membulat, “Jangan menakutiku, Ayahku tidak tahu kalau aku dan Chan Yeol sudah kembali ke Korea.”

 

“Hei, siapa yang bisa menebak rencana Ayahmu?”

 

Baek Hyun menggaruk tengkuknya kemudian pura-pura menoleh, tapi sosok mencurigakan tadi sudah tidak ada di sana, “Ck, setidaknya tidak terjadi hal yang buruk. Kurasa dia juga adalah orang yang sama yang menolongku tadi pagi.”

 

“Maksudmu?”

 

“Aku hampir terjatuh di tangga karena kerepotan membawa kantung sampah, tapi tiba-tiba saja ada orang yang menyelamatkanku dan bergegas pergi tanpa berkata apa-apa. Dilihat dari ciri-cirinya, ya seperti orang tadi, menggunakan topi dan masker, juga selalu menunduk jadi wajahnya tidak kelihatan.”

 

“Aneh sekali, berarti dia tidak berniat jahat. Mungkin dia ingin mengawasimu saja.”

 

“Tapi apa alasannya?”

 

“Eum… coba kau rundingkan dengan Chan Yeol, mungkin dia tahu sesuatu.”

 

Baek Hyun tersentak, “Jangan, nanti dia khawatir.”

 

“Lalu?”

 

“Kapan-kapan kalau aku berpapasan lagi dengan orang ini, aku akan memberanikan diri untuk mengajaknya bicara.”

 

“Jangan ceroboh, kalau kau kenapa-kenapa, bagaimana?”

 

“Dari pada aku mati penasaran?”

 

“Ck, terserah kau sajalah, asal jangan gegabah.”

 

 

☏☎☏

 

Baek Hyun dan Kyung Soo baru turun dari taxi. Baek Hyun sedang mengatur belanjaan sementara Kyung Soo membayar ongkos taxinya.

 

Sedikit tidak fokus, dan juga posisi Baek Hyun yang berdiri agak ke tengah jalan membuatnya tidak sadar bahwa sebuah sepeda motor tengah melaju kencang ke arahnya. Kyung Soo yang menyadarinya lebih dulu sesaat setelah ia menoleh, ia cukup terkejut akan dua hal. Pertama adalah motor yang melaju tidak stabil ke arahnya, dan seseorang yang berlari kencang ke arah yang sama.

 

“Baek Hyun-ah… Aw…. as…” Suaranya melemah karena tegurannya lebih lambat dari gerakan orang yang menarik Baek Hyun agak ke tepi hingga pengendara motor tadi justru melaju dan menabrak trotoar tak jauh dari mereka.

 

Deg…

 

Baek Hyun yang tadi terkejut langsung membuka matanya dan mendapati dirinya tengah berada dalam dekapan seseorang yang… terasa sangat familiar baginya.

 

Chakkamanyo…” Cegat Baek Hyun saat orang itu hendak pergi.

 

Sosok tinggi berkostum hitam-hitam itu menghentikan langkah kemudian menoleh sedikit, tetap tidak memperlihatkan wajahnya.

 

“Si… Siapa anda?”

 

Sosok itu tidak menjawab, ia hanya melanjutkan langkahnya meninggalkan tempat dengan sedikit tergesa-gesa memasuki gedung apartement yang sama dengan milik Baek Hyun dan Kyung Soo.

 

Gwenchana?” tanya Kyung Soo yang tadi sibuk memarahi pengendara motor yang ceroboh itu.

 

“Ne.. seperti yang kau lihat.” Jawab Baek Hyun dengan kedua mata fokus ke arah sosok tadi pergi.

 

“Kau mengenalnya?”

 

Baek Hyun menggeleng lemah, “Aku tidak yakin.”

 

“Jadi… Sepertinya kita bisa menarik kesimpulan. Orang itu tidak berniat jahat padamu, sepertinya… lebih kepada ingin melindungimu.”

 

Baek Hyun menoleh dan menatap sahabatnya itu bingung, “Melindungiku? Kenapa?”

 

Kyung Soo mengangkat bahu, “Kau saja tidak tahu alasannya, apalagi aku.”

 

Baek Hyun tidak merespon lagi, ia kembali mengarahkan pandangannya ke tempat di mana sosok tadi pergi, “Aku… Tidak ingin menebak Kyung Soo-ah… Karena aku takut… tebakanku benar.”

 

“Eh?”

 

“Jangan katakan apa-apa tentang hal ini pada Chan Yeol.”

 

Sebenarnya Kyung Soo bingung, tapi akhirnya ia berusaha paham karena ia yakin Baek Hyun memiliki alasan kuat untuk itu.

 

 

☏☎☏

 

 

Ia menghempaskan tubuh tubuh tingginya di sofa ruang tamu apartemennya, melepaskan topi, masker juga kacamata dan melemparnya ke sofa seberang. Nafasnya terengah dan peluhnya bercucuran, bukan perkara mudah berlarian untuk menyelamatkan sang tercinta tepat waktu. Terlebih belakangan ini ia semakin yakin bahwa namja tercintanya itu memang ceroboh.

 

Seminggu lebih meninggalkan kehidupan yang sebenarnya. Menjadi sosok misterius tak dikenal karena memang ia hanya ingin berada di tempat yang sama, dimana ia bisa melihat dari jauh, mengawasi, dan memastikan keselamatan orang terkasihnya.

 

Tidak bisa ia pungkiri, betapa inginnya ia merengkuh tubuh mungil itu, betapa inginnya ia menggenggam jemari indah itu, membelai pipinya, mengusap rambutnya dengan sayang, sekedar mengecup keningnya dan memberi perhatian lebih sebagai bukti bahwa tidak ada yang lebih membahagiakannya dibandingkan melihat namja mungil itu tersenyum dan tertawa. Entah bersamanya, ataupun orang lain.

 

Terkesan naif, polos, seperti sebuah kanvas tanpa goresan warna. Tapi tidakkah itu terlalu buruk untuk ukuran namja yang memiliki sekian banyak ilmu dan pengalaman dalam kehidupan, menguasai hampir 80% hal di dunia, namun tunduk pada 0,00 sekian % bagian dari kehidupan.

 

Cinta

 

Ironisnya, pertama kali merasakan cinta… juga pertama kali merasakan patah hati di tempat yang sama. Bukan cintanya yang salah, karena memang cinta bukan kesalahan. Ia hanya terjebak di sebuah dimensi bertahta dinamakan ruang dan waktu. Berada di tempat yang salah, dan masa yang salah.

 

Mencintai seseorang yang telah memiliki orang lain di sisinya. Berdiri di tengah-tengah jelas adalah sebuah kesalahan. Untuk itu ia lebih memilih berada di belakang. Mengawasi dari jauh. Memastikan namja yang begitu ia cintai tetap tersenyum dan tidak merasakan kekurangan apapun.

 

Sampai kapan?

 

Ia tak bisa memastikan. Jangankan untuk terpisah di negara berbeda, melewati beberapa jam saja tanpa melihatnya sudah cukup membuatnya gelisah.

 

“Byun Baek Hyun…,” Ia merengkuh dadanya, tempat di mana Baek Hyun sempat terhempas di sana, “selamatkan aku.” Dan ia pun memejamkan matanya, mewakili lelah yang ia rasakan bukan di fisiknya.

 

 

☏☎☏

 

“Chan Yeol… Jangan banyak makan itu, kolestrolnya tinggi.” Tegur Baek Hyun saat Chan Yeol bersiap memindahkan sepotong besar steak sapi ke piringnya.

 

Chan Yeol mengerut kesal dan terpaksa mengambil salad buah dan memakannya agak malas.

 

“Biarkan saja Baek Hyun-ah, sesekali.” Belas Kyung Soo yang memang ia dan Kai mengunjungi apartemen mereka untuk makan malam berempat.

 

“Benar… Kau yang terbaik Kyung Soo-ah.” Chan Yeol mengacungkan 2 jempol unuk namja bermata indah itu.

 

“Heum, kurasa Kyung Soo yang akan melarikanmu ke rumah sakit kalau jantungmu kambuh.” Sindir Baek Hyun telak.

 

“Hei…Hei, itu berlebihan.”

 

Kai dan Kyung Soo hanya bisa tertawa melihat 2 orang itu saling menyindir.

 

“Kau tidak menyiapkan bir, Baek Hyun-ah?” tanya Kai sekalian melerai mereka yang masih saling menyindir.

 

“Ah maaf, aku lupa. Aku memang tidak menyediakannya karena tidak ada salah satu dari kami yang minum.” Jawabnya.

 

“Aku juga lupa membelinya, padahal Kai terbiasa minum itu saat makan daging.” Tambah Kyung Soo, “Ah bukankah di sebelah gedung ini ada minimarket? Aku akan turun membelinya.”

 

“Tunggu biar aku saja, kalian kan tamu.” Baek Hyun beranjak dari duduknya kemudian meletakkan serbet di meja.

 

“Perlu kutemani?” tawar Chan Yeol sudah bersiap untuk berdiri.

 

“Tidak perlu, mana bisa kita meninggalkan tamu.”

 

“Astaga, kenapa kalian jadi repot begitu? Tidak apa-apa, jus juga lumayan.” Potong Kai.

 

Gwenchana, steak tanpa bir rasanya memang hambar. Aku hanya akan beli 3, karena Chan Yeol tidak boleh minum.”

 

Chan Yeol menggerutu sendiri, sudah hapal betul tingkah Baek Hyun yang satu itu, “Jangan lama-lama.”

 

“Eum, hanya beli bir, kalian mengobrol saja dulu.”

 

“Hati-hati…”

 

Yes my Lord…

 

 

☏☎☏

 

 

Baek Hyun tersenyum setelah melirik isi tas plastik yang ia bawa keluar dari sebuah mini market, ada 4 buah kaleng minuman, mungkin Chan Yeol sedang menyantap daging habis-habisan sekarang, untuk itulah Baek Hyun sengaja menolak diantar, melanggar pantangan dari dokter sesekali bukankah tidak masalah? Dan Baek Hyun merasa, Chan Yeol juga butuh makanan seperti itu sesekali.

 

“Tuan muda…”

 

Deg~

 

Langkah kakinya seketika berhenti setelah mendengar suara yang tidak asing di telinganya. ia meremas tas plastik di tangannya, merapatkan jaket kemudian melanjutkan langkah lebih cepat.

 

“Tuan muda Byun!”

 

Jantungnya semakin terpacu, ia tidak suka situasi ini. Terlebih langkah kaki di belakangnya terdengar semakin dekat.

 

“Tuan muda Baek Hyun!”

 

Kini seseorang berjas kelabu langsung menghadang jalan Baek Hyun untuk memasuki area parkir gedung apartemennya. Baek Hyun menunduk dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya.

 

“Maaf, anda salah orang, permisi.” Baek Hyun hendak beranjak, tapi ada sekitar 4 orang lagi yang menghadang jalannya di segala arah.

 

“Tuan besar ingin bertemu anda.”

 

“Anda salah orang, aku bukan Byun Baek Hyun!” bentak Baek Hyun bersikeras, tapi mereka tetap bergeming sampai ketika Baek Hyun hendak menerobos, dua lengannya langsung dicengkram, membuat belanjaannya terjatuh di aspal.

 

“Tolong ikut kami, karena ini adalah perintah.”

 

“Lepas… Aku tidak ingin bertemu dengannya, aku bukan lagi bagian dari keluarga Byun… pria keji itu telah mengusirku, kalian dengar???”

 

Mereka tidak menggubris, sialnya, mereka justru menyeret Baek Hyun dengan mudahnya untuk masuk ke sebuah mobil yang memang disiapkan berjejer sejak tadi.

 

“Lepaskan… akan kulaporkan kalian pada polisi… lepas…” Baek Hyun meronta,ia berusaha melepaskan cengkraman para pengawal itu dikedua lengannya, “Kim Ahjushii… lepaskan aku, ini perintah!”

 

Cwesonghamnida Tuan muda, tapi kali ini saya tidak bisa menuruti perintah anda, jadi tolong kooperatiflah.” Namja bermarga Kim itupun memberi instruksi pada anak buahnya agar sedikit lebih tegas walau yang mereka hadapi itu adalah majikan mereka sendiri.

 

“LEPAAASS….!!!” Pekik Baek Hyun sekuat tenaga saat tubuh mungilnya sudah didesak ke dalam mobil.

 

Tep~

 

BUGH~

 

BUGH~

 

2 namja yang tadi menghentikan pergerakan Baek Hyun kini ambruk ke tanah setelah mendapatkan 2 pukulan telak di wajah. Baek Hyun terhuyung, tapi sebuah lengan kekar yang lagi-lagi sangat familiar baginya langsung. Namun sekali lagi itu tidak berlangsung lama karena tubuh Baek Hyun segera di geser ke belakangnya, bersembunyi dari beberapa orang yang ingin kembali menyeretnya.

 

“Siapapun anda, tolong jangan ikut campur, ini masalah keluarga besar tuan Byun.” Tegur namja paruh baya bermarga Kim.

 

Sosok tadi maju beberapa langkah, melepas topi dan masker kemudian berhadapan dengan Kim Ahjushii itu.

 

Respon yang cukup membuat Baek Hyun keheranan di belakang, karena Kim Ahjushii langsung membungkuk hormat, diikuti keempat anak buahnya.

 

Cwesonghamnida… Tapi ini perintah langsung dari Tuan besar.”

 

“Sampaikan saja salamku padanya.”

 

Percakapan yang cukup pelan hingga Baek Hyun kesulitan menangkap suara mereka. Tapi ada yang bisa dipastikan Baek Hyun bahwa sosok yang membelakanginya ini memang bukan orang sembarangan, terbukti setelah pembicaraan singkat, Kim Ahjushii dan keempat anak buahnya langsung meninggalkan tempat itu setelah memberi hormat padanya.

 

Sosok tadi kembali memakai topi dan maskernya kemudian menoleh, “Kembali ke tempatmu.” Ucapnya dengan suara teredam, namun tidak cukup tertutupi bagi telinga Baek Hyun.

 

“Tunggu!” serunya saat sosok itu sudah beranjak meninggalkannya.

 

Sosok tinggi itu tidak menggubris, tetap melanjutkan langkah tanpa berniat untuk menoleh lagi.

 

Baek Hyun meremas kedua tangannya yang berkeringat. Ia memang takut jika tebakannya benar, tapi lebih takut lagi jika sosok itu benar-benar pergi.

 

“Itu kau kan…,” Baek Hyun menelan ludah dengan gugup, jantungnya berdegup cepat seiring desiran darahnya yang menderas hingga ke kepala, “Kris…” Lanjutnya.

 

Deg~

 

Langkah namja itu terhenti, hanya beberapa detik karena selanjutnya namja itu semakin mempercepat langkahnya meninggalkan Baek Hyun.

 

Baek Hyun tersentak saat tiba-tiba saja sosok yang diyakini sebagai Kris itu berlari meninggalkannya, “Kris tunggu… jebal…” Pekiknya sembari menyusul sosok itu.

 

Baek Hyun tidak kesulitan mengejarnya, bukan perkara ia sudah terbiasa berlari dengan cepat, tapi sosok itu justru masuk ke gedung apartemen di mana ia tinggal.

 

“Kris tunggu! Aku ingin bicara denganmu Kris… berhenti!”

 

Namja itu berdecak saat Baek Hyun sudah hampir menyusulnya. Pintu lift yang tak kunjung terbuka semakin mempersulitnya, dan jalan terakhir ia menggunakan tangga darurat.

 

Baek Hyun jelas tidak begitu saja melepasnya. Ini bukan perkara ia mengabaikan larangan Chan Yeol.. entahlah, tapi ada sesuatu di sudut hatinya yang menuntunnya untuk mengejar sosok itu, dan… dan…

 

Baek Hyun akan tahu alasannya jika ia sudah bertatap muka dengan Kris.

 

Sosok itu berbelok ke arah pintu penghubung koridor lantai 5, dan itu membuat Baek Hyun semakin terkejut, bukakah apartemennya berada di lantai 5? Dan semakin terkejut lagi saat ia melewati pintu apartemennya menuju apartemen paling ujung yang sebenarnya hanya dibatasi sebuah tembok pemisah dengan apartemen miliknya.

 

“Kris!” pekik Baek Hyun saat sosok itu masuk ke sebuah apartemen dan langsung membanting pintunya, tapi Baek Hyun lebih dulu mengulurkan tangannya, meraih sisi daun pintu.

 

“Akkkhhh…” Pekiknya saat pintu itu sukses menjepit tangannya.

 

Pintu yang sempat tertutup itu kembali terbuka, menampakkan sosok namja tinggi yang terkejut melihat Baek Hyun terduduk di lantai dengan tangan kanan bersimbah darah.

 

“Ya Tuhan… Baek Hyun-ah!!!” sosok itu langsung bersimpuh, meraih tangan Baek Hyun dan sebisa mungkin menghentikan perdarahannya.

 

Baek Hyun mendongak, dengan tangan kirinya ia melepas topi dan masker milik sosok di depannya ini, “Kris…” Lirihnya sendu.

 

Namja itu –Kris- berdecak, kemudian tanpa basa-basi lagi ia menggendong tubuh Baek Hyun untuk masuk ke dalam apartemennya.

 

☏☎☏

 

Hanya ada diam yang sebenarnya bermakna. Mata mungil Baek Hyun tak pernah lepas dari wajah Kris yang selalu mencemaskannya bila ia terluka. Begitu cermat dan teliti saat membalut luka di tangan Baek Hyun seolah tak ingin membuat kesalahan sedikit saja hingga memperparah keadaan namja yang begitu ia cintai itu.

 

Kris terus membisu, bahkan setelah ia selesai membalut luka Baek Hyun dan membereskan peralatannya. Ia bahkan hendak beranjak, namun Baek Hyun lebih cepat menangkap tangannya.

 

“Sejak kapan kau di sini?” tanya Baek Hyun tegas.

 

Kris tidak menjawab, ia menepis pelan tangan Baek Hyun dan kembali beranjak meninggalkannya menuju ruang tengah.

 

“Kris! Apa yang kau lakukan di Korea?” Tanya Baek Hyun setengah membentak setelah ia berhasil menyusul Kris ke ruang tengah.

 

Namja tinggi itu terlihat sibuk (atau berpura-pura sibuk) menyimpan kotak P3K di atas lemari kaca, kemudian melangkah santai melewati Baek Hyun seolah namja mungil itu tak terlihat olehnya.

 

“Kris!” kali ini Baek Hyun betul-betul membentak, tak lupa ia menarik jaket namja itu dan menyentaknya hingga ia menoleh.

 

“Kembalilah, suamimu pasti mencemaskanmu. Kau tidak perlu memikirkan alasan keberadaanku di sini, kalau kau terganggu, aku akan berangkat ke Beijing besok pagi.” Jawab Kris terkesan tidak peduli.

 

“Bukan… Bukan itu yang ingin kudengar. Kau itu punya prioritas lain Kris, perusahaanmu, kehidupanmu di Beijing, dan kupikir… Ya Tuhan… Ini terlalu konyol jika kau meninggalkan semua itu dan berada di Korea tanpa alasan dan tujuan yang jelas!”

 

Kris menatap Baek Hyun dengan alis terangkat, “Begitu?” lalu ia tertawa pahit, “jadi kau pikir aku berada di sini karena aku tidak punya tujuan? Tidak punya alasan? Ah bukan… kau bahkan menganggapku konyol Baek Hyun-ah?”

 

“Maksudku bukan seperti itu Kris… tapi…”

 

“Katakan aku konyol karena memang semua ini membuatku terlihat konyol. Seperti orang bodoh, seperti orang yang kehilangan harapan hidup, tidak bisa fokus pada apapun, kacau, berantakan, dan semakin hari akan semakin sesak tanpa melihatmu. Benar… aku konyol, semua alasan itu konyol.”Tutur Kris dengan suara meninggi.

 

“Kris…”

 

Kris memalingkan wajahnya, tak sudi menatap wajah namja yang menganggapnya terlalu naif, “Pergilah, kumohon.”

 

“Tidak… Kita butuh ini Kris, kita butuh tempat dan waktu untuk berbicara, begitu banyak yang ingin aku ketahui.”

 

“Pergilah. Anggap saja kita tidak pernah bertemu, anggap saja kau tidak tahu keberadaanku, anggap saja kau tidak tahu bahwa aku selalu megawasimu dari jauh, anggap saja kau tidak peduli mengenai orang yang terus mengkhawatirkan keadaanmu, anggap saja bahwa aku__”

 

Greb~

 

“Aku merindukanmu Kris!”

 

Kris terhenyak saat tiba-tiba saja Baek Hyun memeluknya dan mengucapkan kalimat itu.

 

“Aku hanya tidak percaya bahwa aku bisa melihatmu di sini, bisa menyentuhmu, dan bisa memelukmu seperti ini, aku betul-betul tidak percaya.” Lanjutnya dengansuara bergetar, dan akhirnya menumpahkan semua air mata yang telah ia tahan selama ini.

 

“B… Baek Hyun-ah…”

 

“Maafkan aku…”

 

Kris terdiam, tak mampu lagi bersuara.

 

“Ini… konyol… benar-benar tidak masuk akal Kris… dan aku juga akan terlihat sangat konyol saat aku hampir menyebut namamu padahal yang mendekapku adalah Chan Yeol…”

 

Kris semakin membelalak mendengar ucapan itu, “Baek Hyun-ah…”

 

“Aku… betul-betul merindukanmu. Aku benci ini, tapi aku ingin kau terus berada di sisiku. Karena aku… juga sesak tanpamu.”

 

Deg~

 

Tidak lagi, Kris tidak ingin berharap lagi. Segera ia melepaskan pelukan Baek Hyun dan menatapnya tajam, “Jangan mengucapkan kalimat yang tidak bisa kau pertanggung jawabkan Baek Hyun-ah. Kondisiku yang sekarang, juga pengaruh ucapanmu yang hampir membuatku gila. Kau pikir sejauh apa anganku saat kau mengatakan bahwa kau tidak hanya sekedar menyayangiku? Semua hal, mulai dari perkataanmu juga perlakuanmu betul-betul membuatku gila. Jadi kumohon, sebelum aku berakhir dengan mati di tanganmu, hentikan semua ucapan itu, berhenti mengatakan hal-hal yang tidak bisa kau pertanggung jawabkan… berhenti membuatu berharap dan akhirnya menjatuhkanku dengan hempasan keras, jangan bersikap seolah-olah kau__”

 

“Aku mencintaimu Kris… !!!”

 

 

Deg!!!

 

~~~~~~~~

 

Fortgesetzt werden

 

 

 


 

 ALF special note: Eh… eh… ALF ngetik apa aja nih ampe 9761 words? bingung. ah udahlah, yang mau bacot silakan ke kotak komen, ALF gak ngerti ama jalan pikiran ALF sendiri, gegara ada yg rusuh sih makanya jadi kacau gini, bleh…

 

Ingat, yang gak suka krisBaek gak usah ikutan baca, soalnya biki sakit mata aja yang ngebash kris gegara ini, orang ini FF juga FF krisBAek kok main pairnya. yang gak suka ama jalan ceritanya ya gak usah baca. oke.. (keanya udah 100 kali ALF ngomong ini)

 

ya sudah, komen…komenkomen, udah ampir ending.

 

 

Adiossss

 

 

 

 

 

288 thoughts on “PAYPHONE~ KrisBaek//BaeKris~ [Chapter 6]

  1. segitu cintanya ya si kris sama istri orang. sampe ujung dunia pun dia tetep nyariin ya ampun.

    kasian semua sih baekhyun chanyeol kris. semua tersakiti sama perasaan mereka masing masing. tapi senengnya di chapter ini chanbaek hmmm…….. ya begitulah haha. tp baekhyun malah mikirin kris. sedih nya disitu😦

  2. nah kaan.. emang dari awal baek udah cinta ko sama kris, baeknya aja yang terlalu takut mengakui, karena udah punya suami.. tapi toh yang selalu baek pikirin kan kris.. dan pas baek bilang cinta sama chanyeol, ga tau kenapa aku udah ngga ngefeel lagi..

    kebuktian kan, sekalipun udah pindah ke korea, sekalipun udah berhasil ngelakuin itu sama chan, tetap aja yang dipikirin baek cuma kris, kris, kris..
    aku pikir ya, baek itu takut kehilangan dua2nya.. dia gak mau kehilangan chan tapi disisi lain dia juga pengen tetep dicintai kris.. tapi ya gak bisa gitu dong!
    aaahhh eotteohkaeee?? baek galau, aku galau

    dan kris so sweet banget sampe jadi stalker, nyusulin baek ke korea terus ngawasin diem2 /udah bakat jadi sasaeng fans kali ya/

    gimana nih mereka udah saling mencintai, terus chanyeol gimana?

  3. Kriisss krisss krissss sentuh aku /g xDDDD
    hah gatau deh mau komen apa disini….. Bayangin dari dulu ampe skrg selalu baca ff ini (?) xd

    aslinya jadi penasaran sama endingnya aahhhhhh
    tapi apalah daya, endingnya dipassword :’))
    yatapi bagus sih, kan itu buat menghargai autor(?)
    aku ngerti karna aku juga kaya mengoleksi foto2 yg orang lain belum tentu nemu disembarang tempat :’))
    ya kalau asal ngambil sama aja dia nyolong dan ga menghargai(?)
    kasusnya sama kaya autor, pasti pengen dihargai dong ya
    mwahhh(?)

    ini kenapa jadi curhat=_=
    yaudahlah makin oot (?) out of topic ini mah=_=

  4. tuhkan kris emang manis kakkkkkk aaa makin cinta ama krissss T^T baekhyun beruntung bgt dicintain sama kris ane juga mau/? kris rela ninggalin kerjaannya cuma buat ngeliat baekhyun aduhhh:((

    chanyeol posesif bgt ya ama baekhyun-__- sakit sih pasti ngerasa kaya dikhianatin gitu/? fighting pcy/?!

  5. Hanjir ini apaan nih hah? Sumpah demi apa kris tuh greget banget. Duh mailop perannya oke banget-bangetan deh kak;; gila suka banget tjoy. Yang begini nih namanya cinta /halah

    Kalo jadi baekhyun yah bingung lah. Lah ya itu cogan semua yang rebutin wkwkws apapun endingnya diterima kok!! Gimana ya selagi baekhyun tetep jadi uke ya didukung ajalah ehehehehy

    Tapi serius, fav banget yang model begini mah. Meleleh sendiri baca omongan kris ;;;-)

  6. Aku diabetes gara2 sikap manisnya Kris :3
    Demi imutnya Baekhyun!! Jaman sekarang mana ada cowok yang segitu tulusnya mencintai seseorang, meskipun ada mungkin bisa diitung pake jari -_-

    Bener2 salut sama sikapnya Kris, sampek bela2in nyusul ke Korea cuma buat jadi stalker. Ckckckc…
    Tapi gak bisa nyalahin Chanyeol juga yang jadi posesif..
    Soalnya kan Baekhyun udah sah jadi milik Chan jadi wajar kalau dia gak mau Baekhyun direbut sama bang Kris…

    Nah loh, akhirnya Baekhyun ngaku..
    Apakah yang terjadi selanjutnya? *jrengjreng*
    *ngacirkech7*

  7. kris gilak ya dia keren. sampe jadi stalkernya baek gitu. mau dong punya stalker kaya kris’-‘)/

    bekyun ngaku juga kaaaaaaaaannnnnn’-‘)/ udeh deh ah elu sama kris aje baek. itu lebih baik hooh iya/? trus chanyeol buat gua deh/?^3^)/

    ayo dong cepet cepet bikin cinta segitigah/? ini kelar. kesian mereka saling di sakiti/?

    bener ya ini ff tuh bikin di kocok kocok/? ocidaaaaaaakkkkkkkkkkkkk

  8. ya ampun kris cinta bgt ye ame baek ampe nyusul baek ke koriya gtuh.. kasian chanyeol’a ka alf tp aku jg kasian ama kris siapa yg mau jg jatuh cnta ama org yg udah terikat. disini aku ngerti ko perasaan’a baek dsatu sisi cy org 1 yg dy cntai tp dsisi lain kris org yg pling berkesan bwt dy. aku jg pernah ngerain perasaan yg sma ama baek #curhat dikit😀 huaaa inti’a ini ff semakin seru aja makin penasaran ama ending’a bakalan krisbaek/ chanbaek?

  9. Nah kan baek emang cinta sama Kris hanya saja baek takut mengakuinya yah walaw pada akhirnya mengakui sic.

    Kris cinta mati y sama baek,kemana pun baek pergi pasti d kejar,walau ke neraka sekalipun/eh? Neraka? Sadis amat kesan nya,ah ganti ke surga aja dah.

    D chapter ini aku nangkep ny Baek ky plin plan gtu ya,gk bisa tegas dan lemah. Atau memang itu udah karakterny dri chapter pertama tapi aku baru meyakininya. Ah salahkan otak ku yg lemot.

    Menurutku Chanyeol tahu apa yg d rasakan baekhyun tp dia diam dan berusaha sabar dan percaya pada baekhyun.

  10. rebutan BAEKHYUN wah serunya sinetron pun kalah….CHANYEOL sabar jangan emosi inget jantung..
    KRIS pria idaman tapi sayang suka sama milik orang….oh mian aku baca dulu baru review

  11. Pada akhirnya bakalan KrisBaek jugalah yg bersatu, ya karna ini ff KrisBaek :3
    sedikit gk rela kalo ChanBaek pisah ._.v
    tapi gk mau juga KrisBaek gk bersatu :v

  12. Udahlah yeol,relain ajh baek sma kris,’
    Baek emg cinta ma kamu,tpi it dlu,skrg udah beda keadaannya,baek udh cinta kris,udah g bsa kehilangan n jauh dri kris,jd q rasa kebhagiannya baek udh bkn sma u lg,’
    Lpasin baek n datanglah kepelukan-q #plakk

    Baek q merestui u ma kris tpi please tinggalkan sedkit kbhgiaan jga untk yeol,’

    Kak alf q bru smpet bca lg,coz udh mulai aktf kuliah lg,’
    Kka pasti dlu jga gni,mkanya mlih hiatus,hehehe

  13. Karena ini KrisBaek, akhirnya Baekhyun bilang “aku cinta kamu” Kris, gimana gt ya duh kamu mau disalahkan juga ga bisa, ga bisa nyalahin siapa-siapa sih:3 ah ada, salahin orang tua nya Baekhyun:3 hohoho, Chanyeol nanti nya gimana? Yang tabah ya nak, Baekhyun kamu jangan plin-plan ya darl:3 Kris jangan jadi stalker ah ga cocok:v kira-kira orang tua Baekhyun bakalan muncul ga ya:v entah, berasa pengen tau gimana reaksinya orang tua Baekhyun deh:3 Chanyeol, kamu cari pasangan yang lain ya nak, aku tau susah ko tapi kamu pasti bisa:v*apadeh udah ah taku makin gj:3 keep writing yaap^^

  14. ini aku bingung ini mau nyalahin siapa? si kris si baekhyun apa si chanyeol? tpi semuanya tu gk slah.. kn semua perasaan itu dtengnya dri Tuhan. msa mau nyalahin Tuhan? giilaaja kli yaa

  15. Baek, lu maruk bener yeth-,-
    Udah punya si YeoYeol, Si FanFan juga lu sambet-,-
    Wajah sih, pantas sih:v
    Secara gituh ya, Baek itu imut imut, unyu unyu, thantik thantik, manis manis, polos polos menggoda gituh yaXD
    Nggak ada yang bisa nolak pesona Baek hahahaXD
    Okay, ane mulai menjauh dari topik-,-
    Chap ini keceh banget Thor, feelnya dapet, Krisnya dapet, Baeknya dapet, Yeolnya dapet, Soo dibuang/eh/oops/
    KrisBaek kapan bisa bersatu seutuhnya ?T.T
    Aneh gigitin bantal saking gregetnyaXD
    Itu Baek ngegemesin banget nggak sih /nggak/ditabokshiners/:v
    Tapi jujur ya, ane suka kalo image Baek di FF itu yang polos, manis, unyu unyu, bikin gemes, dari pada Baek yang ehem dan ehem*NgertiNggakSih?-,-
    Eh, ane ngomong pake bahasa apa coba ?
    Ngelantur banget yeth-,-
    Ane bersyukur sujud syukur ama Author karena nggak ada Lu Tao dan SOO ! Sebagai orang ketiga di FF ini-,-
    Eh, ketiga ato keempat ?-,-
    Ane kagak tau juga, yang jelas ane jengkel banget abis tiap FF yang ane baca, itu pasti si Seme selingkuh ama LuTaoSoo dan Baek selalu jadi pihak yang tersakitiT.T
    Apa salah Baekby guaaa ?*DikeroyokMassa
    Okay, besok ultahnya Baek kan ? Iya kagak ? Ane nggak salah kan ?
    Oops, keluar topik lagi-,-
    Udah ah, makin nyampah:’v
    Ntar malah diketawain Author-_-
    Itu aja nde
    Sekian
    Terima kasih
    Byeeeeeeeee*TerbangBarengNagaKris*
    Eh, ketinggalan :
    FIGHTING THOR !!!!

  16. AAAAAAAAA finally baek said i love you to kris OMOOOOOOO #apakabarjantung

    isshh chap ini tuh yah kaya tukang gado gado yg lagi ngulek? Aduhh perasaan perasaan tuh di aduk aduk gilaa, udah angst di awal, dan cunyul marah marah, kris nya di hajar?, baek nya galau mau pilih tiang bendera apa tiang listrik hohoho😮

    dan mereka pindah juga ke korea tuan muda byin udah mulai di kejar sama suruhan appa nya aduhh makin complicated aja ini, masalah cinta nya aja makin greget dan nambah bapak nya baek muncul akuu gemes banget sama nih panpic,,,
    btw kris disini maniak abis yeh ampe stalk in baekhyun segala tapi itu yg bikin aku makin suka sama sipat nya si kris,, dan akhirnya bingung antara krisbaek dan chanbaek,,,:/

    oke dah ka alf keep writing dan tetap semngat yaa

  17. Stresssseeeuu aduuuh hahahah. admin.y jgn marah klo aq komen dikit ya hahah aq udh bner2 speechles aja baca.y. chan sm baek udh gt. jadiiii SEKARANG GIMANA AKHIRNyaa???? *ehm*
    SEMANGAATT!!

  18. Aaahhh krisss saking cinta nya sama baek sampe di samperin kekorea and jadi penguntit yg jagain baeekkk!
    Aaa suka banget sama karakternya kris? Jadi pengen dinikahin sama kris *plak*
    and itu btw anak buah ayahnya baek mau ngapain ya thor?
    Baek udah tau kalo itu kris dan baek juga udah ngungkapin perasaan nya. Dan itu buat jantung ser ser

  19. Ahh..
    Tahn napas aja baca ni chap..
    Akhrnya baek jujur jg sm kris tntng feeling nya..
    Dan krisbaek moment nya manis banget..
    And for chanyeol, i’m feel sorry to you..
    Ok next chap..

  20. Huaaaaaa siapa yg patut d persalahkan kalo udh gini ;-( hueee semua salah tp semua juga bener …
    Tp d sini aku gedeg sama bekyuuuuuun ! Aku ruwed sm kamu mas ;-( kamu mengecewakankuh .. Mbo’ yo ko ‘ndableg’ kalo org jepang bilang mah ;->
    udah ah pokok nya aku setuju ny DIOH sama KAI TITIK ! /hayuhloh
    ALF lanjutkan generasi bangsa (y) *kga nyambung ? Biarin lg gerah ini
    kasusny kaya LOVE N PAIN tapi kok ya kya ny yg ini lebih bebel gitu, ngeyel cinta nya !
    Berharap ada keajaiban, TAO DATANGLAH DATANGLAH !! #lemparinsesajen #puspuspus

  21. Aduh Byun Baek..

    Rasanya saya senang, juga sedih…

    Sampai-sampai gak fokus baca…

    Kaya berada diposisi Baek gitu.

    Saat sama Chan kepikiran Kris

    Dan sebaliknya…

    Udah ah,,

    Lanjut ke tangga berikutnya..

    Let’s go…

    *terimakasih🙂

  22. Baekhyun akhirnya… akhirnyaa:”

    Jadi kris tersiksa banget ya hm:”
    Tapi chanyeol juga sakit hm sakiiit,
    Ko ini jadi serba salah ya:” aaaaaaaaaaaaaaaa
    Sekian.

  23. Scene favorit gue adalah waktu KrisYeol tinjutinjuan garagara Baekhyun TvT sukaaaaaaaaaaaaaa banget. Apalagi di tambah Baekhyun yang bisanya cuma nangis TvT terharu bangettt :” trus si Kris ngejar Baekhyun ke korea ya? Ahhhh rasanya tu sweet banget TvT sebenarnya dr yg apa gue baca, kayaknya Baekhyun ini cinta ke Kris tapi dia masih kasian sama Chanyeol 😂😂😂gue harap ini benerbener ff KrisBaek :”

  24. Sakit hatiku sakit, dunia terasa pahiiiiit ~~ kawin lagi istriku suaminya baru lagi ~ serrrr
    lupa mau ngomong apa tadi ya, padahal td udah d siapin >_<
    kasihan kriseu, dy lakuin apapun untk org yg dicintai . Cintany begitu besar begitu mewah begitu megah dan juga berdiri dg kokohnya (copy kalimat Alf) wkkxwk .. Tapi diberikan sm org yg sudah bersuami ;-(
    baek egois baek gamau ngelepasin salah satunya huhu

  25. Astagaaaaaa krisss. Kau rela menjadi guardian angel nya baekkie. Pake baju item item demi baekkie dan meninggalkan semua pekerjaanmu di beijing? Huwaaaaaaaaaaaa sumpah karna ff ini aku jadi ngeship krisbaek.
    Semakin tegang ceritanyaaaaa semakin er elelele ~
    Author tanggung jawab. Air mata ku jatuh membasahi pipi indah nan mulus:”((
    Keren keren!!!! Puja kris baekk ululululuulu
    Untk yg keenam kalinya aku berkata “muph aku telat baca-_-hikss”

  26. anio..aku gak kuat hieee
    aku galau antara kris atau chanyeol..nyesekkk thorr
    dibanyak ff biasanya yang satu pasti tokoh antagonis..nah ini! dua duanya punya cinta ke baekhyun..aku baper thor
    akuuu nyeraaaahh!
    terlalu miria keren tragis ..udahh huee gak kuat

    gak bs lanjutin ke chapter depan ..gomawo alf..krn km uda brhasil ubek ubek hati aku #alay
    #loncat kejurang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s