[FF YAOI] No Regret Life | ChanBaek Ft All Couple | – Chapter 4


BWAKAKAKAKAKAK YANG BROJOL NRL DULUAN…. #SLAP…NRL4

Fanfiction-EXO Couple

Tittle: No Regret Life [Machine]

Author: AyouLeonForever

Cover pic/poster edited by: AyouLeonForever

Genre: Yaoi, drama(?), Romance, Sad (?) Romance, action(?) dll

Length: Chaptered tergantung peminat

Rating: TTM (?)

Pairing: OTP, Crack Pair

Main Cast:

  • Park Chan Yeol

  • Byun Baek Hyun

  • Kim Jong In/Kai

  • Do Kyung Soo

  • Oh Se Hun

  • Lu Han

  • Kris

  • Huang Zi Tao

  • Su Ho

  • dll

 

Disclaimer: GOD

Copyright: AyouLeonForever™

Summary: “”

Warning: Boys Love, Out of character, Little bit lime, Bad Words, Not for kids

NO BASH, NO WAR, NO FLAMES…. NO KOMEN NO PW(?).

KALO ADA KOMENTAR YANG MENGANDUNG UNSUR SEPERTI ITU, LANGSUNG ALF APUS, MASUK SPAM. JADI MAAF KALO SEMISAL ADA YANG GAK TERIMA BIASNYA DIJADIIN PERAN ANTAGONIS, EUM PLIS GAK USAH DIBACA, INI CUMAN FIKSI YE, GAK ADA NIATAN PEMBUNUHAN KARAKTER DI SINI, CUMAN PINJAM NAMA SESUAI DISCLAIMER DI ATAS. OKEH… KERJASAMANYA YAH HEHEHEH

 

ALF special Note: Nanti deh di bawah

 No Regret Life

chap #4

Author POV

“Jadi apa yang akan kudengar sekarang?” Tanya namja yang dipanggil Kris oleh Lu Han.

“Banyak… sangat banyak. Dan mungkin kita harus mengatur ulang pertemuan karena aku datang bersama… kekasihku”

Kris  mengangkat alis, “Kekasih? Jadi kau berhasil menjerat Chan Yeol?”

Lu Han tertawa, “Bukan Chan Yeol… tapi yang satunya”

“Kai?”

Lu Han tersenyum kemudian melingkarkan lengannya di tengkuk namja itu, “Benar, bahkan sebelum kumulai rencanaku mendekati kelompok mereka, mereka duluan yang menawariku masuk. Kai tidak membawa kekasihnya dalam turnament nanti, dan sebagai gantinya dia mencari kekasih lain. Dan itu…aku”

Mata Kris membulat tidak percaya, dan detik selanjutnya senyum licik terukir di bibirnya, “Hm… Lebih hebat dari yang kubayangkan, tidak salah aku mengirimmu. Lalu… sudah kau dapat informasi yang kubutuhkan?”

Lu Han mengangguk, “Semuanya… kecuali satu”

“Apa itu?”

“Informasi yang paling ingin kau tahu. Latar belakang Park Chan Yeol”

Namja itu mendesis marah, kemudian mendorong Lu Han hingga terhempas ke sofa, “Seminggu ini apa saja yang kau lakukan?”

“Tenang dulu, kurasa kau tidak membutuhkan informasi itu, karena ada yang lebih penting dari pada jati diri Park Chan Yeol” Lu Han melipat tangan di dada, memasang tampang menantang.

Kris  jelas terpancing, ia tapakkan kaki kanannya di sebelah Lu Han, sedikit membungkuk dan ia tarik dagu Lu Han ke arahnya, “Apa itu?”

“Mengenai hal yang paling penting bagi Park Chan Yeol. Bukan keluarganya, bukan pula motornya, tapi… kekasihnya”

“Kekasihnya? Pria cantik itu?”

Bingo!”

Kris tertawa meremehkan, “Namja seperti Chan Yeol mementingkan kekasihnya? Kau ingin membuat lelucon denganku?”

Lu Han berdecak berkali-kali, “Chan Yeol itu tidak seperti kau. Dia memang brengsek, tapi setia pada satu-satunya kekasih yang ia miliki, dan kelihatan jelas dia sangat menyayangi kekasihnya itu”

“Apa maksudmu tidak sepertiku?”

Lu Han tertawa cukup meremehkan, “Kekasihmu… bukan hanya Tao kan?”

“Jaga mulutmu Lu Han.. kau katakan hal itu saat Tao ada, kupatahkan tanganmu”

“Ayolah… Aku tahu kelemahanmu” Lu Han menarik kemeja Kris hingga terhempas kembali ke sofa, dan dengan sigap ia duduk di atas pangkuan Kris sambil menatapnya dengan seringaian menggoda.

“Sayangnya aku tidak punya banyak waktu untuk mengerjaimu sekarang, aku juga pastinya kesulitan keluar dari Red Villa tanpa pengawasan, jadi… tunggu saja kabar dariku.”

“Kau sangat licik.” Kris kembali tersenyum sinis, “Tapi aku suka kelicikanmu ini” Lalu ia gapai bibir Lu Han cukup liar.

Tapi itu tidak berlangsung lama karena Lu Han buru-buru mendorong tubuh jangkung namja itu, “Kubilang aku tidak punya waktu meladenimu. Aku hanya punya saran untukmu. Nanti jangan bawa Tao karena Kai tidak hanya akan mengincarmu, tapi juga Tao. Ah tidak, sesuai yang aku tangkap, target utama yang akan ia buat celaka adalah Tao.”

Kris mengangkat alis, jelas terkejut dengan info yang baru saja ia dapat, “Kenapa Tao?”

“Ayolah, kau pasti tidak lupa perbuatanmu setahun yang lalu saat berhasil mencelakai kekasih Kai. Kau membuatnya cacat, dan Kai akan menuntut balas padamu dengan harga yang sama, yaitu… membuat kekasihmu cacat.”

Kris terdiam sejenak, menatap Lu Han lurus-lurus, jelas sangat terpengaruh dengan apa yang baru saja ia dengar itu. tapi detik selanjutnya ia kembali tersenyum licik.

“Hm… Menarik… Kerjamu cukup bagus.”

“Kau pikir aku melakukan ini karena menuruti perintahmu? Aku melakukannya karena aku suka, kali ini menjadi kekasih gelap sama sekali tidak buruk. Aku cukup tertantang.” Lu Han mengangkat alis, “Terlebih… hm, Kai lumayan juga. Aku jadi semakin penasaran, sejauh apa Kai mampu mengesampingkanku.”

Namja itu tertawa puas, “Jangan bilang kau menyukainya.”

Lu Han balas tertawa, “Ayolah,.. yang kusukai di dunia ini hanyalah hidupku yang menyenangkan. Kurasa bersama Kai lumayan menyenangkan, intinya…Akan kubuat Kai terjerat padaku.”

“Licik… Benar-benar licik…”

“Itulah yang kudapat darimu, Tuan muda… Kris Wu.”

Kris tersenyum, “Jangan memojokkanku, kita berasal dari lubuk yang sama.”

Lu Han mengangkat alisnya, kemudian ia meraih satu tangan Kris dan mengigit kulit jari manisnya hingga berdarah, “Darah kita tetap beda Kris Wu.”

Kali ini Kris tertawa, tidak peduli dengan jarinya yang terus mengeluarkan darah, “Itu adalah suatu keuntungan bukan? Jadi apa yang selama ini kulakukan padamu tidak termasuk larangan.” Ia menarik dagu runcing Lu Han hingga mulutnya terbuka, ia masukkan jarinya yang berdarah itu di sana dan membiarkan Lu Han mengulumnya seduktif.

“Ah, berhubung kau tadi membahas ini. Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku.”Pinta Kris setelah ia mengeluarkan jarinya dari mulut Lu Han.

“Apa itu? apa menyenangkan?”

“Kurasa akan sangat menyenangkan, karena ini cukup menantang.”

Lu Han tersenyum licik, “Aku suka… baiklah, apa itu?”

“Siapa nama kekasih Park Chan Yeol?”

Namja cantik itu mengerutkan keningnya, “Byun Baek Hyun, kenapa?”

Seringaian jahat kembali terukir di bibir Kris, “It would be interesting. And I need your help”

~*N*R*L*~

Kai turun dari mobil kemudian memasuki pagar rumah yang sediki berkarat itu. langkahnya terhenti saat ia melihat Lu Han keluar dari rumah sambil menggeret koper yang cukup besar. Ada senyuman kecil yang terulas di sana, dengan cepat ia menghampiri Lu Han dan langsung mengambil alih koper itu dari tangannya.

“Ya Tuhan…” Lu Han terkejut sembari mengelus dadanya.

“Serius sekali, kau bahkan tidak menyadari kedatanganku.”Ucap Kai kemudian mengangkat koper itu keluar.

Lu Han berlari kecil dan menyusul Kai, “Belanjanya sudah selesai?”

“Ne. Ah jangan bilang pada Baek Hyun kalau aku membeli Bir, akan kusembunyikan di kamarku.”

“Hm baiklah, aku tidak akan melapor untuk hal-hal yang seperti itu.”

Kai menoleh setelah memasukkan koper besar tadi di jok belakang, “Lalu hal-hal apa yang akan kau laporkan padanya?”

Lu Han tersenyum simpul, sebenarnya sangat manis, “Tentu saja hal-hal yang menguntungkan, atau demi kebaikannya.”

“Misalnya?”

“Eum… Chan Yeol berselingkuh, mungkin.”

Detik berikutnya Kai tertawa, “Itu mustahil. Di dunia ini ada 2 hal yang tidak akan kau lihat dari Chan Yeol. Pertama, berlutut atau mengemis, dan kedua adalah berselingkuh dari Baek Hyun. Sisanya, sedikit banyak sudah pernah dia lakukan.” Ucapnya sambil mengacak rambut Lu Han.

Lu Han mengangkat alisnya, kemudian buru-buru ia sembunyikan dengan senyuman manis, “Hanya misalnya… Hm, sepertinya memang mustahil.”

Arasso… Arasso, Kajja.”

Ne…”

Tak cukup jauh dari situ, di balik tirai Kris tertawa puas melihat tingkah Lu Han yang dibuat-buat. Selama hidupnya belum pernah ia melihat Lu Han sepolos itu. Terkadang Lu Han justru lebih licik darinya.

“Benar-benar menarik.”Desisnya.

~*N*R*L*~

Baek Hyun POV

Aku berhasil keluar dari kamar Chan Yeol, yang aku lupa bagaimana caranya aku bisa membuka pintu kamar mandi dengan cepat lalu kabur begitu saja tanpa sempat ditangkap Chan Yeol. Sekarang aku tengah membantu Kyung Soo mempersiapkan makan malam di dapur.

Err… seperti ada yang kurang. Maksudku walau baru seminggu lebih Lu Han di sini, rasanya sedikit janggal kalau sore-sore begini hanya aku dan Kyung Soo yang berkutat di dapur, dan lidahku jelas gatal kalau tidak menanyakan hal itu.

“Kyung Soo-ah.”

“Hm…”

“Di mana Lu Han?”

“Pulang sebentar mengambil barangnya yang tertinggal.”

“Oh, sama siapa?”

“Kai.”

“Uhuk…” Aku langsung memukul-mukul dadaku begitu aku tersedak sesuatu. Aku tersedak nama Kai mungkin, tapi jujur itu membuatku terkejut. Dan lihat ekspresi Kyung Soo yang datar itu. Ck, sudah kubilang ini akan sulit. Kyung Soo begitu peka, maksudku serapih apapun mereka menyembunyikannya, feeling Kyung Soo yang begitu kuat pasti akan merasakannya. Ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.

“Ah iya, tentu saja Kai yang mengantarnya, bukankah hanya dia dan Chan Yeol yang bisa menyetir mobil?” Ucapku sambil menyenggol lengannya.

Ne.”

“Kau pasti bangga memiliki kekasih yang serba bisa.”

Kyung Soo menoleh padaku, “Kenapa kau tidak mengatakan hal ini pada dirimu sendiri?”

“Uhuk… Kyung Soo-ah…”

Barulah kulihat senyuman manis itu kembali menghiasi bibirnya, “Akhir-akhir ini kuperhatikan kalian makin romantis.”

Mataku membulat penuh, kenapa ia justru membahas ini?

“Romantis dari jurang? Dia itu tidak mengenal kata romantis.”

“Jangan munafik begitu, kurasa nanti malam juga kau akan menginap di kamarnya lagi.”

“MWORAGO? Aisshh jinjja… itu tidak akan terjadi, tidur dengannya itu seperti neraka. Ah maksudku tidur bersamanya, ah maksudku… hanya tidur, tidak melakukan apa-apa… ah maksudku…”

Kyung Soo akhirnya tertawa lepas, “Lihat wajahmu, setahuku Byun Baek Hyun itu jenius. Tapi kalau membahas Chan Yeol, kau terlihat tidak lebih pintar darinya.”

“Do Kyung Soo… itu penghinaan. Park Chan Yeol itu bodoh, jadi jangan menyamakanku dengannya.” Bentakku tidak terima.

Kyung Soo terus tertawa, tapi detik berikutnya, matanya membulat kaget, “Opps…” Dan buru-buru ia lanjutkan pekerjaannya memotong sawi.

“Ya! Jangan menghindar, pembicaraan kita belum seles__”

GREB~

“Siapa yang bodoh? heum?”

Oh Tuhan… siapkan satu tempat untukku di surga-Mu.

“I… i… Itu, teman sekelasku yang bodoh. mungkin tahun ajaran berikutnya dia akan dipindahkan ke kelas F.” Elakku sambil tertawa garing, tak lupa dengan usaha melepaskan sebuah pelukan kuat di perutku, yang tiba-tiba saja dilakukan dari belakang oleh Park Chan Yeol.

“Heum, begitu?”

Aku seperti cacing yang menggeliat tidak karuan bergerak ke atas, ke bawah, ke kiri, dan ke kanan saat Chan Yeol memainkan bibir tebalnya di tengkukku, (Area tersensitifku). Maksudku…

“YA! APA YANG KAU LAKUKAN??? LEPASKAAANNN!!” Pekikku saat aku meyakini sesuatu. Park Chan Yeol meninggalkan sebuah tanda di sana.

“Aku tidak bodoh, sebenarnya tidak benar-benar bodoh.”

“Aku tidak mengataimu bodoh.”

“Bohong… Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa kau merasa terhina saat aku menyamakanmu dengan Chan Yeol, karena ia bodoh.” Kyung Soo menyulut api, dan langsung saja ku berikan tatapan membunuh padanya, tapi sikap jahilnya kambuh, ia hanya bersiul-siul sembari melanjutkan kegiatannya.

“Pekerjaanmu masih banyak Kyung Soo-ah?”Tanya Chan Yeol, dan aku mulai merasakan firasat buruk.

“Ah tidak, hanya menunggu pasta yang dibeli Kai di Italia. Ambil saja Baek Hyun-mu.” Balas Kyung Soo sadis. Aku masih bisa menangkap nada kesal di sana. Tapi aku lebih kesal lagi karena Kyung Soo membiarkan nyawaku terancam.

“YAYAYAYAYA! Pekerjaanku juga belum selesai, itu__”

“Biar Kyung Soo yang melanjutkannya, Ayo kita bermain”

“ADWAEEEEEEEEEEEEEEEEE!!!!”

~*N*R*L*~

Aku menatap heran Park Chan Yeol yang membawaku ke lapangan basket yang ada di belakang Villa. Sekarang aku sudah berada di tengah lapangan sementara Chan Yeol mendribel bola basket di hadapanku.

“Maksudnya?” Tanyaku betul-betul tidak mengerti.

“Bukankah kau bilang aku bodoh? Akan kuperlihatkan kalau aku tidak bodoh, aku juga bisa dibanggakan sebagai kekasih.”Jawabnya angkuh.

“Tunggu… Tunggu. Kau ingin membuktikan bahwa kau cerdas dengan… bermain basket?” tanyaku sambil mengerutkan kening.

Kuharap jawabannya ‘tidak’, karena jika Park Chan Yeol menjawab ‘iya’ berarti kecerdasannya memang patut dipertanyakan.

“Hm, jadi kalau aku menang darimu, berarti aku cerdas kan?”

Oh bagus. Siapapun tolong pukul kepalaku.

“Sejak kapan bisa bermain basket menjadi patokan bahwa kau cerdas? Jelas saja kau menang. Badanmu tinggi, dan kulihat tekhnikmu juga sudah di atas rata-rata, dan kau menantangku yang lebih pendek 10 sentimeter darimu?”

“Lalu salahnya?”

“Ya! Park Chan Yeol, kau letakkan di mana otakmu? Bukan begini cara membuktikan bahwa kau lebih cerdas dariku.”

“Lalu dengan apa? Mengerjakan soal Matematika? Itu sistem penilaiannya tidak adil, kau pasti mematok jawabanmu yang paling benar”

Aku memijit keningku, kembali teringat bagaimana Chan Yeol mengerjakan PR teman sekelasku dengan begitu percaya dirinya, “Baiklah, masih di bidang olahraga, tapi bukan mengandalkan otot dan kekuatan fisik, tapi otak.”

Chan Yeol mengangkat alis, masih mendribel ringan bola basket di tangannya. Terkadang kalau dia tenang-tenang begitu, dia sebenarnya sangat keren. Apalagi sore ini dia mengenakan kaos tanpa lengan berwarna hitam, menampakkan dua lengan kekarnya yang… selalu memelukku posesif itu.

“Renang?” Tawar Chan Yeol sambil menunjuk kolam renang yang berjarak beberapa meter dari lapangan basket Red Villa.

“Sudah kubilang bukan olahraga yang mengandalkan kekuatan fisik, tapi otak. Haih… apa kau betul-betul punya otak?” Keluhku, yang jelas saja kalimat terakhir tidak keperdengarkan pada Chan Yeol.

“Lalu apa?”

Aku sedikit bergumam, “Eum… Catur.”

“Ck, Kau sengaja menjebakku? Aku tidak pandai bermain catur.”

“Akan kuajarkan, kecerdasan seseorang bisa dilihat di sini, dari cepat atau lambatnya daya tangkap yang ia miliki.” Aku melipat tangan di dada dengan sangat angkuh.

“Hm baiklah, tidak cukup semenit aku pasti menguasainya.”

Aku menahan senyumku, melihat Chan Yeol tidak pernah satu kalipun kehilangan rasa percaya diri.

~*N*R*L*~

“Kuda larinya L, kau bisa meletakkannya di sini, atau di sini.” Jelasku serius memberikan instruksi.

“Kenapa larinya harus L?”

“Haih… Itu sudah ketentuannya, sama seperti benteng yang larinya vertikal atau horizontal, atau menteri yang larinya diagonal.”

“Dan kenapa pion ratu bisa ke segala arah sementara rajanya tidak? Mana mungkin langkah pion raja sama dengan pion prajurit, tidak masuk akal. Di mana-mana itu raja yang berkuasa, harusnya posisinya di ganti. Ratu yang dilindungi,  Raja yang bisa kemana-mana.”

Aku berdecak kesal, “Ya sudah, kau main saja sendiri dengan aturan yang kau buat.” Aku sudah bersiap menghambur papan catur yang susah payah kutemukan di lemari hias ruang tamu Villa.

Arasso… Arasso, kita main sesuai aturanmu.”

“Ini bukan aturan yang kubuat sendiri, brengsek. Ini sudah aturan internasional.”

“Sudah… jangan cerewet, langkah selanjutnya bagaimana?” Chan Yeol memajukan pion prajuritnya satu langkah.

“Nah, kalau aku memajukan pion prajuritku di sini, artinya kau bisa memakan pionku.”

Chan Yeol mengerutkan kening, “Memakan pionmu?”

“Hm, jadi artinya pion prajuritku mati satu.”

“Harus dimakan?”

“Kalau kau tidak memakannya, ya aku yang memakanmu. Dan kau kalah.”

Chan Yeol mengambil pion prajuritku yang berwarna putih, dan hal yang selanjutnya terjadi adalah…

..

“YAAAA!!! APA YANG KAU LAKUKAN???? KENAPA KAU MEMAKANNYA???” Pekikku mendarah daging.

“Bwukankah kwau bwilang harus dwimwakan agwar akwu tidak kwalah?” (Bukankah kau bilang harus dimakan agar aku tidak kalah?)

Ppabo…ppabo…ppaboooooo… keluarkan cepat, itu kotor.”

Chan Yeol mengeluarkan pion yang berhasil dimasukkan ke dalam mulutnya tadi, “Permainan bodoh.” Ucapnya kesal kemudian meletakkan pion basah yang baru saja dikeluarkan dari mulutnya.

“Kau yang bodoh, maksudku dengan di makan itu seperti ini.” Kupindahkan pion prajurit Chan Yeol di tempat pion prajuritku. Kemudian kuletakkan pion prajuritku di atas meja depan Chan Yeol, “Dan ini artinya pionku mati satu, istilahnya dimakan.”

“Ck, sama sekali tidak menarik. Apa untungnya bermain begini? Tidak ada kepuasan.” Keluhnya sembari meletakkan kedua kaki panjangnya di atas meja.

Aku melipat tangan di dada dan menyandarkan punggung di sofa ruang tamu tempat kami bermain, “Lalu apa kepuasan yang kau dapat dari bermain sepak bola dan basket?”

“Pertanyaan bodoh, tentu saja ada kesenangan sendiri saat bisa mencetak gol dan point. Rasanya… err… susah kujelaskan, tapi tidak semenyenangkan saat aku melawan kecepatan angin dan melaju bersama Phoenix, terlebih kalau ada kau di belakangku”

“Uhuk…”

“Sudah… kita main yang lain saja.”

“Tunggu… Bagaimana kalu kita buat permainan ini semakin menarik?” Tanyaku antusias, berhubung aku punya keinginan yang harus dia penuhi. Dan mungkin dengan cara seperti ini dia akan mengabulkannya.

“Caranya?”

Aku tersenyum penuh kemenangan, “Kita taruhan. Kau kan sudah kuajari tekhniknya, dan kau bilang kau sudah mengerti. Jadi, kurasa kita bisa sedikit taruhan agar permainan ini sedikit menarik.”

Kulihat alis Chan Yeol terangkat, “Hm, ide bagus. Jadi apa hadiahnya? Ah aku tahu, kalau aku menang, aku menciummu, kalau kau menang, kau yang menciumku.”

“Ih… Itu aku akan rugi dua kali, menang kalah sama-sama petaka.”

“Mwo?”

“Haih, maksudku begini, kalau misalnya aku menang, kau mengabulkan permintaanku, dan kalau kau yang menang, aku akan mengabulkan permintaanmu.”

Chan Yeol menurunkan kakinya dan menatapku serius, dia betul-betul tertarik, “Serius?”

“Tentu saja, tapi dalam permainan ini tentu saja. Kalau basket, sepak bola, renang, apalagi balapan ya sudah pastilah aku kalah.”

“Jadi kau sudah yakin menang dalam permainan ini?”

“Tentu saja, mana ada guru yang kalah pada muridnya?”

Chan Yeol mengangguk-angguk, memperhatian papan catur di hadapannya, kemudian kembali menatapku, “Kalau boleh tahu apa permintaanmu, takutnya itu terlalu merugikanku, karena kulihat dari wajahmu, kau merencanakan sesuatu.”

Aku tertawa lebar, Kyung Soo datang membawa sekotak es krim dan meletakkannya di atas meja, kemudian ia duduk di sebelahku.

“Main apa kalian?”Tanya sahabatku itu.

“Catur, yang menang akan menuruti permintaan yang kalah. Ah terbalik, yang kalah mengikuti permintaan yang menang.” Jawabku.

“Hei cepat katakan apa permintaanmu.” Seru Chan Yeol.

“Arasso… ini tidak akan merugikanmu, aku hanya ingin kau membuatkanku kamar pribadi seperti Lu Han.”

Chan Yeol mengerutkan keningnya, “Permintaan macam apa itu? kenapa harus membuatkanmu kamar pribadi sementara kau bisa menggunakan kamarku sesuka hati?”

“Haih… Semua orang butuh privasi, lagipula kamarmu semacam lubang buaya, atmosfernya menyeramkan.”

“Munafik…”

“Mwo???”

“Ah sudahlah, kuterima tantanganmu. Lagipula aku juga punya permintaan.”

Aku terkesiap. Benar juga, jangan sampai Chan Yeol meminta yang macam-macam. Bukannya aku takut kalah, ayolah… kemampuan Chan Yeol tadi sudah bukti nyata kalau daya tangkapnya lemah, tapi bagaimanapun aku harus waspada, bagaimana kalau dia curang?

“Memangnya apa permintaanmu?” Tanyaku.

“Eum, gampang. Kalau aku menang, kau harus mau saat kuajak melakukan itu.” ucapnya santai, terlalu santai, seolah permintaannya itu semudah memungut kerikil di depan Red Villa.

Deg~

“Me.. Melakukan apa?” Tanyaku panik, terlebih Kyung Soo sudah tertawa puas di sebelahku.

“Jangan pura-pura bodoh, hal yang paling ingin kulakukan bersamamu.”

“Aku tidak mau!”

“Wae? Jadi kau takut kalah?”

“Bukan takut kalah,  tapi takut dengan permintaanmu itu.”

“Memangnya aku minta apa?”

Aku meremas jariku, sesekali meletup-letupkannya, “Me… Me… Melakukan… Arrgghhh yang jelas aku tidak mau.”

“Sebenarnya kenapa kau tidak mau melakukannya denganku?”

“Apa ada alasan aku harus mau?”

“Aku kekasihmu kan?”

“Itu bukan jaminan, kau hanya kekasihku, bukan suamiku.”

Chan Yeol mengangguk pasti, terlihat tidak ada masalah sama sekali, “Hm begitu? Arasso, besok kita menikah.”

“Mwo???”

“Sudahlah, kau terlalu banyak pertimbangan. Kalau kau takut bilang saja.”

Aku menelan ludah mati-matian, sepertinya pertaruhan ini tidak kalah menegangkannya dengan ajang balapan yang biasa dilakukan Chan Yeol.

“Si… Siapa yang takut, asal kau tidak curang saja.”

“Hei, kapan aku curang. Jadi mau main tidak?”

Aku semakin meremas jemariku yang berkeringat. Sialan Park Chan Yeol.

“Kau betul-betul kalah mental Baek Hyun-ah, Chan Yeol menyerangmu, ayo balas.” Seru Kyung Soo semangat.

“K… Kau tidak akan curang kan?”

“Aku akan bermain adil, pegang kata-kataku.”

Aku sedikit terpengaruh, aku memang sudah 99 % yakin akan menang, 1 % kalah itu kalau tiba-tiba saja roh master catur dunia merasuki Chan Yeol. Lagipula ini satu-satunya cara agar aku mendapatkan kamar pribadi di Villa ini.

Aku menoleh pada Kyung Soo, ia sudah berhenti tertawa. Sebuah anggukan kecil darinya semakin meyakinkanku.

“Baiklah… Aku setuju.” Ucapku lantang.

.

Detik selanjutnya Kai dan Lu Han datang sembari membawa barang belanjaan dan koper. Lu Han menyerahkan sekantung barang belanjaan pada Kyung Soo, dan langsung diterima dengan ramah oleh sahabatku itu.

Kai langsung menyerahkan 2 box besar –yang isinya mencurigakan– pada Se Hun yang baru saja turun dari lantai 2.

“Bawa ini ke kamarmu.” Perintahnya, dan dia sendiri membantu Lu Han menggeret koper besar sampai ke atas tangga lantai dua. Ada adegan saling senyum pula sebelum Lu Han masuk ke kamarnya,dan Kai turun kembali menghampiri kami. Saat hendak kupastikan Kyung Soo tidak melihatnya, ck.. aku gagal.

Kyung Soo yang mendongak ke lantai dua jelas lebih peka dariku. Sebuah hembusan nafas pasrah sebagai bukti bahwa ia berusaha mengontrol diri.

“Sepertinya Kyung Soo benar, kau membeli pasta di Italia, Kai?” Sindirku.

Namja sexy itu menarik tangan Kyung Soo agar ia bisa duduk di sebelahku, dan selanjutnya ia memeluk pinggang Kyung Soo agar sahabatku itu duduk di pangkuan Kai.

“Italia? Wae?” Responnya santai.

Aku melirik arlojiku, “3 jam sebentar sekali yah?”

Ia tertawa kecil, “Rumah sewaan Lu Han jauh, jarak tempuh dari villa ini ke sana sudah memakan hampir 1 jam, belum lagi aku harus berbelanja pesanan Kyung Soo dan Chan Yeol, ah dan juga kembalinya, hitung saja sendiri berapa lama waktu yang digunakan untuk semua itu.”

“Tunggu, apa yang dipesan si keparat ini?”

“Biasa, perlengkapan untuk modifikasi Phoenix. Jangan lupa Phoenix belum sembuh total.”

Sial… sindirannya lebih telak dariku.

“Hey sudah… kapan kita mulai permainannya?” usik Chan Yeol membuatku menoleh padanya.

“Main apa kalian?” kali ini Kai yang bertanya. Entah karena dia sudah sehati dengan Kyung Soo atau apa, tapi susunan kalimat pertanyaan dan intonasinya tidak ada bedanya dengan pertanyaan Kyung Soo tadi.

Baseball.” Jawabku jengkel.

Baseball?”

“Apa kau buta? Di sini ada papan catur, ya jelas saja kami main catur.”

“Kau main catur dengan Chan Yeol?”

Aku memutar bola mata kesal, “Kau betul-betul buta?”

“Aish jinjja, pemarah sekali.”

“Pergi kau, merusak mood saja.”

Kai melengos kemudian mencubit pinggangku, “Arasso, kami ke dapur saja kalau begitu. Kajja baby

“Pergi… Pergiii…”

~*N*R*L*~

Author POV

Kai mengerutkan keningnya saat Kyung Soo dengan terang-terangan menolak ciumannya. Dan melihat ekspresi datar kekasihnya itu, Kai jelas tahu pasti ada sesuatu.

“Kau kenapa?”

“Tidak kenapa-kenapa. Aku hanya ingin memasak, sebentar lagi jam makan malam.” Jawab Kyung Soo acuh, ia berusaha menyibukkan diri merebus air untuk pasta nanti.

Kai mendesah berat, kemudian memeluk Kyung Soo dari belakang, tak lupa ia menciumi Kyung Soo di tengkuknya sembari menurunkan syal biru yang dikenakan Kyung Soo.

“Kai… aku harus memasak, pergilah.”

Kai menarik lepas syal Kyung Soo, memudahkannya menciumi bekas luka Kyung Soo itu. Kai bahkan tak sungkan menurunkan kerah kaos Kyung Soo hingga bahu kirinya  terbuka.

“Kai…”

“Heum.”

“Aku… Sedang memasak… Ugh…” Kyung Soo merinding saat bibir Kai menancap kuat di kulit lehernya.

“Kau sedang marah padaku kan?” Kai terus melakukan aksinya, membuat Kyung Soo seperti kehilangan tenaga untuk menopang tubuhnya. Terlebih saat tangan Kai menyusup ke balik kaos Kyung Soo dan mengusap perut ratanya.

“Ngh… Ti… Tidak…”

“Lalu?”

“Hanya… Tidak suka… dengan sikapmu… pada Lu Han…”

Kai refleks menghentikan gerakannya, dan itu dirasakan Kyung Soo, bahwa Kai terkejut dengan tebakannya barusan.

“Kenapa dengan sikapku padanya?” Kai membalik tubuh Kyung Soo agar mereka berhadapan. Bisa ia saksikan wajah Kyung Soo sudah memerah karena tindakannya tadi.

“Molla… Aku hanya tidak suka caramu manatapnya dan tersenyum padanya.”

Deg~

Baek Hyun benar, Kyung Soo begitu peka jika itu sudah menyangkut Kai.

Arasso, aku tidak akan melakukannya lagi. Aku akan menghindari interaksi dengan Lu Han.”

Mata Kyung Soo membulat, “Ah bukan begitu maksudku. Ya Tuhan… Aku tidak bermaksud melarangmu berteman dengan siapapun. Astaga sikapku…”

“Tapi kalau kau tidak suka, aku jelas tidak akan melakukannya. Mungkin aku akan mulai dengan, eum.. meminta Se Hun mengantar jemput Lu Han ke sekolah dan aku…”

“Kai jebal…”

“Hm?”

Kyung Soo terdiam, menatap mata Kai lamat-lamat. Dan sedikit demi sedikit bisa terlihat ada genangan air di mata indahnya itu, “Mianhae…”

“Untuk apa? Bukankah aku yang salah?”

Kyung Soo menggeleng, membuat air mata yang menggenang itu jatuh begitu saja, “Aku terkesan mengekangmu. Maafkan aku.”

“Tidak begitu, ayolah.” Kai buru-buru menghapus air mata Kyung Soo dan mengecup bibirnya sekilas.

“Aku percaya padamu Kai… Maafkan aku.”

Kai menghembuskan nafasnya cukup panjang kemudian memeluk tubuh mungil kekasihnya itu, “Maafkan aku juga karena membuatmu resah. Aku akan berusaha menghindari kontak dengan Lu Han.”

Kyung Soo buru-buru menggeleng, “Jangan. Kumohon jangan.”

“Heum?”

“Biarkan saja seperti semula, aku tidak akan apa-apa. Entahlah, kenapa belakangan ini sifat egoisku kambuh. Jadi… jangan menghindari Lu Han atau aku akan semakin merasa bersalah karena sangat mengekangmu.”

“Kyung Soo-ah…”

“Aku mencintaimu Kai, sungguh.”

Kai tersenyum, semakin mengeratkan pelukannya, “Dan kau tahu bahwa aku akan melakukan apapun untukmu. Hidupku untukmu Kyung Soo-ah…”

Kyung Soo menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan.

Bisakah kudapatkan jawaban lain Kai?__ keluhnya dalam hati.

===

“Oh iya, kenapa tiba-tiba Baek Hyun dan Chan Yeol akur begitu dan bermain catur?” Tanya Kai saat Kyung Soo menghidangkan kimchi spagetti nya.

“Molla, itu berawal saat Baek Hyun terang-terangan mengatai Chan Yeol bodoh. Kudengar sebelum bermain catur, Chan Yeol menantang Baek Hyun bermain basket dan renang, tapi ujung-ujungnya begitulah. Mereka malah memilih catur dan membuat taruhan.” Kyung Soo menyuapkan sesendok spagetti ke mulut Kai. Disambut mesra oleh kekasihnya itu.

“Taruhan? Maksudnya?” tanya Kai dengan mulut sedikit penuh.

Kyung Soo menyeka saus yang mengotori sudut bibir Kai, “Ya yang kalah harus menuruti permintaan yang menang. Baek Hyun minta kamar baru kalau dia menang, dan Chan Yeol..” Kyung Soo angkat bahu kemudian meletakkan sepiring besar spagetti di atas meja, “Kalau dia yang menang, maka malam ini Baek Hyun akan kehilangan keperjakaannya.”

Kai tersedak dan terbatuk beberapa kali. Kyung Soo jadi panik sendiri dan langsung menyuguhkan segelas air dan menepuk-nepuk tengkuknya.

“Astaga… Baek Hyun berani sekali menerima tantangan itu.” Seru Kai setelah ia berhasil meloloskan spagetti tadi di kerongkongannya.

“Ayolah, Chan Yeol jelas tidak akan menang melawan Baek Hyun. Lihat saja tampangnya tadi, Chan Yeol betul-betul terlihat bodoh dan tidak tahu apa-apa tentang catur.”

Kai menghembuskan nafasnya panjang, “Seolah kau tidak tahu Chan Yeol saja.”

“Maksudmu?”

“Biar kuberitahu, Chan Yeol itu tidak sepenuhnya bodoh. Ia hanya membentuk imagenya seperti itu karena dia mau.”

Kyung Soo membelalak, “A… Aku tidak mengerti.”

“Aku juga tidak tahu banyak, tapi mengenai catur, dia pernah ditantang seorang pengunjung bar bermain catur dengan taruhan uang yang cukup banyak, kupikir Chan Yeol ingin sok-sok hebat lagi. Tapi yang selanjutnya terjadi adalah…”

====

====

“SKAK MAT!!!”

Baek Hyun langsung merasakan seluruh persendiannya lumpuh. Matanya menatap kosong ke atas papan catur di mana pion berwarna putih hanya ada tinggal satu di sana, dan pion berwana hitam mengepungnya di segala arah.

Keringat dingin bercucuran di pelipisnya, dan wajahnya berangsur-angsur memutih melebihi warna alami kulitnya yang memang sudah sangat putih. Mulutnya terbuka sedikit dan dengan mata masih terbelalak, lengkap sudahlah ekspresi wajahnya yang menampakkan ketercengangan.

“Kau kalah Byun Baek Hyun… Malam ini kau milikku.”

Bahkan jika Chan Yeol tidak mengatakan itu dengan suara menyeramkan, Baek Hyun sudah sukses terintimidasi.

Tamat sudah riwayatku__ Keluhnya dalam hati.

===

===

Kyung Soo membelalakkan matanya tidak percaya.

“Jadi Chan Yeol pandai bermain catur? Lalu kenapa dia bersikap seolah dia buta akan permainan itu?”

“Bukan hanya pandai, dia setaraf master. Kubilang itu sudah sifatnya jadi tidak ada yang bisa menebak seperti apa sebenarnya dia.” Jawab Kai enteng.

“Ya Tuhan…. berarti Baek Hyun…”

“Berdoa saja levelnya di atas master, itu satu-satunya harapan agar ia tidak kalah.”

“Oh God…”

Detik berikutnya Chan Yeol muncul sambil menggenggam tangan Baek Hyun ke ruang makan. Terlihat jelas perbedaan ekspresi dari kedua orang itu.

Chan Yeol yang tertawa puas, dan Baek Hyun yang pucat pasi seperti mayat hidup yang diseret Chan Yeol.

Kyung Soo buru-buru menghampirinya dan menuntunnya duduk di kursi meja makan.

“Minum Baek Hyun-ah…” Ucap Kyung Soo saat menyuguhkan segelas air minum pada sahabatnya itu.

“Aku menang…” Seru Chan Yeol dengan wajah brengseknya.

“Ne… Ekspresi Baek Hyun sudah menjelaskannya.” Balas Kyung Soo ketus, “Kau licik Park Chan Yeol…”

“Licik apanya? Aku bermain adil.”

“Kau tidak bilang sejak awal kalau kau menguasai catur.”

Chan Yeol tertawa bangga, “Kurasa hal seperti itu bukan sesuatu yang patut diumbar.”

“Dan makanya kami tertipu, mana pernah kau tidak menyombongkan diri terhadap sesuatu yang kau kuasai?”

“Sudah… Sudah. Jadikan ini pelajaran, jangan pernah mengajak Park Chan Yeol dalam hal yang serius. Apalagi berdampak buruk padamu.” Kai berusaha menengahi.

“Itu benar… Jangan macam-macam dengan Park Chan Yeol.” Lagi-lagi ia tertawa bangga. Ia menyambar sebuah apel dan memakannya bringas.

“Byun Baek Hyun, aku mandi duluan, kutunggu kau 10 menit, ah tidak 20 menit karena kau harus makan banyak-banyak, kau butuh stamina.” Chan Yeol pun beranjak setelah sukses dilempari Kyung Soo dengan buah apel lainnya.

“BRENGSEEKKK!” kali ini Kyung Soo yang mewakili Baek Hyun untuk mengumpatnya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Kai saat menyadari Baek Hyun tidak bersuara sejak tadi, takutnya anak itu sudah mati sejak tadi.

“Tidak… Aku tidak baik-baik saja, aku akan tewas.” Jawab Baek Hyun masih dengan tatapan kosong ke depan.

“Memangnya benar kau bertaruh seperti itu?”

“Tanyakan pada namja keparat itu.”

“Memangnya dia bilang apa?”

Baek Hyun memejamkan matanya, kemudian menghembuskan nafasnya pelan, “Kalau dia menang, aku harus mau saat dia mengajakku melakukan itu.”

Kai mengangkat alisnya tinggi-tinggi, “Itu apa?”

“Kai, kurasa kau lebih tahu karena kau dan Kyung Soo sering melakukannya.”

Kyung Soo terbatuk cukup telak, ingin protes karena namnya dibawa-bawa, tapi tidak tega saat melihat wajah pucat Baek Hyun.

“Memangnya Chan Yeol mengatakan hal itu secara gamblang?” tanya Kai lagi.

Ck, saat ingin kuperjelas, dia mengatakan bahwa hal itu adalah, hal yang paling ingin dia lakukan bersamaku. Dan apalagi yang paling ingin dia lakukan padaku selama ini selain memperkosaku?”

Kai tertawa, sebenarnya kejam, tapi ia betul-betul tidak bisa menahan tawanya, bahkan ketika Kyung Soo menegurnya.

“Maaf… Maaf, ini lucu.”

“LUCU? Kau bilang Lucu Kai??? Besok aku sudah tidak perjaka lagi dan kau bilang itu lucu???” pekik Baek Hyun tidak terima.

Kai mati-matian menghentikan tawanya kemudian berdehem sejenak, “Naiklah, temui Chan Yeol.”

“Andwae… Aku akan kabur saja.”

“Kau pikir kondisimu tidak akan lebih buruk setelah Chan Yeol tau kau kabur? Pikirkan saja apa yang terjadi saat Chan Yeol menangkapmu nanti.”

Baek Hyun semakin pucat mendengar hal itu.

“Begini, Chan Yeol itu brengsek. Semua makhluk Tuhan tahu hal itu, tapi ada satu hal yang Seluruh makhluk Tuhan belum tentu tahu.”

“Apa itu?”

Kai tersenyum, “Bahkan kaupun tidak tahu. Yaitu… Park Chan Yeol tidak akan pernah menyakiti orang yang dia sayangi.”

Deg~

“Ja…  Jadi… Chan Yeol tidak akan memperkosaku?”

Kai menggumam, “Kalau itu membuatmu terluka dan menangis, yakin saja tidak akan.”

“Bagimana kalau keyakinanmu salah?”

“Hm? Berarti selama ini aku memilih sahabat yang salah. Dan aku jelas tidak akan bertahan memiliki sahabat yang salah kan? Hampir 4 tahun, kalau memang keyakinanku salah terhadapnya, maka aku tidak akan bersamanya selama itu.”

Baek Hyun menelan ludahnya dengan susah payah, entah kenapa setiap perkataan Kai selalu meyakinkannya. Belum hilang diingatannya bagaimana Kai meyakinkannya saat ia meminta maaf perihal musibah Phoenix itu.

Yah, walaupun Chan Yeol memang menganiayanya, tapi memang Chan Yeol tidak pernah sedikitpun berniat membuatnya terluka.

“Kai…”

“Hm…”

“Setelah lulus SMU pilihlah jurusan Psikologi. Kau betul-betul punya bakat di situ, dan aku membencinya.” Kesal Baek Hyun kemudian meninggalkan meja makan.

Kai tertawa mendengarnya, “Berjuanglah, sebenarnya aku sudah punya gambaran mengenai keinginan Chan Yeol itu, menurutku kau juga akan suka, tapi kau pastikan saja sendiri.”

“Kalau tebakanmu meleset, kau harus bertanggung jawab.” Masih terdengar suara Baek Hyun dari ruang tengah.”

“Boleh saja kalau Kyung Soo ingin dimadu.”

Dan alhasil Kyung Soo memberinya tatapan membunuh. Tapi itu justru membuat Kai gemas dan menarik kekasihnya itu ke pangkuannya dan memberinya ciuman panas.

Se Hun yang melihat moment itu sebenarnya tidak ambil pusing karena dia sudah lapar. Ia menoleh pada Lu Han yang tadi berpapasan dengannya di lantai dua.

‘Tunggu di sini, aku akan mengambil makanan dan kita makan di ruang tengah saja

Lu Han mengangguk karena sudah sedikit paham dengan bahasa isyarat Se Hun . Sebenarnya namja cantik itu melihat kejadian itu juga. Sedikit ada yang menggelitik hatinya, dan kali ini ia yakin, bukan hal yang menyenangkan.

Ia masih sempat melihat Se Hun yang menepuk bokong Kyung Soo untuk mengusik kegiatan mereka, setelahnya Se Hun berlari dengan membawa sepiring besar spagetti dan langsung menangkap tangan Lu Han pergi dari tempat itu sebelum Kai mengumpatnya habis-habisan.

.

.

“Apa… Mereka memang selalu seperti itu?” Tanya Lu Han saat ia dan Se Hun menyantap spagetti itu di ruang tengah.

Se Hun mengerutkan keningnnya, masih dengan mulut penuh.

‘Siapa?’

“Kai.. dan Kyung Soo.”

Se Hun mengangguk-angguk paham, kemudian kembali menggerakkan tangannya teratur, ‘Itu sudah pemandangan lumrah, sama seperti saat kau melihat Chan Yeol tiba-tiba mencium Baek Hyun. Mereka memang begitu, kalau sudah di Villa, seluruh ruangan sudah dianggap kamar mereka sendiri, ya walaupun aku belum pernah menonton langsung mereka bercinta’.

Lu Han terbatuk, berharap ia salah menerjemahkan gerakan terakhir Se Hun.

Namja tampan itu sigap menyuguhkan air minum dan menepuk punggung Lu Han berkali-kali.

“Ah, aku sudah tidak apa-apa, terima kasih”

‘Hati-hati saat makan, kau bisa mati tersedak

“Ne… tadi hanya kaget.”

Se Hun mengangguk paham kemudian melanjutkan makannya.

Lu Han tertawa melihat tingkah Se Hun. Bukankah dia sendiri yang menyuruh Lu Han berhati-hati saat makan? Kenapa justru anak itu yang makan dengan terburu-buru.

“Hei pelan-pelan, bibirmu belepotan saos.” Lu Han tanpa sadar mengulurkan tangannya dan menyeka sisa saos di bibir Se Hun.

Namja tampan itu tersenyum, kemudian mengangguk tanda terima kasih.

Lu Han mengangkat alisnya, sedikit tertegun dengan senyuman Se Hun barusan.

Anak ini sangat tampan ternyata__ lirihnya dalam hati.

~*N*R*L*~

Baek Hyun berdiri di depan kamar Chan Yeol dengan tegangnya. Mulutnya sejak tadi bergerak seperti mengucapkan sesuatu tapi tak terdengar. Mungkin semacam doa agar dia diberkati Tuhan demi keselamatannya.

Satu hembusan nafas kuat mengantar Baek Hyun membuka pintu itu penuh keberanian, dan saat tubuh mungilnya sudah berada sepenuhnya di dalam, hanya sekitar 3 detik kemudian ia kembali keluar dan menutup pintu dengan cepat.

Tangannya masih menyentuh kenop pintu sementara tangan kirinya menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Alasannya hanya satu.

Baek Hyun melihat proses Chan Yeol mengenakan celana.

Cklek!

Baek Hyun terperanjat saat kenop pintu itu bergerak dan daun pintunya tertarik ke dalam, membuatnya yang masih menggenggam kenop itu ikut tertarik dan berakhir dengan posisi cukup nista yaitu berlutut di depan Chan Yeol yang berdiri persis di depannya. Chan Yeol sudah berpakaian full… tapi.

Gulp~

Terdengar jelas Baek Hyun kesusahan menelan ludah saat matanya sejajar dengan sesuatu yang hampir tidak sengaja dilihatnya tadi.

“Kenapa kau diam? Suka melihatnya?” tegur Chan Yeol telak.

Baek Hyun terbatuk kemudian buru-buru berdiri dan berhadapan dengan Chan Yeol, walau selalu… ia harus mendongak agar pandangan mereka sejajar.

“Kenapa kau tidak mengunci pintu saat kau berganti pakaian? Tadi itu nyaris saja.” Bentak Baek Hyun dengan wajah memerah.

“Jangan heboh sendiri, suatu saat juga kau akan melihatnya.”

“YA!!! Park Chan Yeol brengsek, kau__”

“Kajja…”

Baek Hyun membelalak saat Chan Yeol sudah menangkap tangannya dan mengajaknya turun ke lantai bawah.

“Ke… kemana?”

“Bukankah aku sudah menang darimu. Ya tentu saja kau harus mau melakukannya denganku.”

Baek Hyun tersentak, “Tidak melakukannya di sini?” Itu jelas pertanyaan bodoh, tapi Baek Hyun betul-betul menanyakan hal itu karena ia ingin tahu.

Chan Yeol menoleh dan mengerutkan kening, “Mana bisa dilakukan di sini.”

“Lalu kau akan membawaku kemana?” tanya Baek Hyun panik. Di pikirannya sudah terlintas tempat-tempat aneh seperti love hotel, penginapan atau apalah sejenisnya.

Chan Yeol berpikir sejenak, masih tidak mengerti ekspresi ketakutan Baek Hyun, “Sebenarnya di pikiranmu kita akan melakukan apa?”

Deg~

“Itu…”

S*x?”

Baek Hyun hampir ambruk ke lantai saat Chan Yeol menerkanya terang-terangan. Dan itu membuat Baek Hyun menunduk dengan wajah panas.

“Ck, jadi kau pikir hal yang paling ingin kulakukan denganmu adalah bercinta?” tanya Chan Yeol sekali lagi, dan itu membuat Baek Hyun muak.

“Lalu kau pikir apalagi yang bisa kutebak selain itu. Selama aku menjadi kekasihmu kau selalu mengancamku dengan itu, jadi mustahil kalau aku tidak berpikiran ke situ!” jawab Baek Hyun dengan nafas terengah-engah karena kelewat emosi.

Hal itu justru membuat Chan Yeol tertawa, “Melihatmu begini aku jadi betul-betul ingin memperkosamu.”

“Mwo??”

“Ah sudahlah, yang itu jangan dibahas dulu. Aku tahu kau belum siap, bukannya tidak siap tapi belum. Lagipula aku tidak akan menyentuhmu sampai kau sendiri yang meminta.”

“Me… Meminta? Kau pikir aku gila??”

Chan Yeol mengangkat bahu, “Sekarang mungkin kau bilang begitu, tapi nanti siapa yang tahu. Kalau saat itu tiba, maka aku akan jual mahal terhadapmu.”

Baek Hyun mendesis, “Berarti saat itu aku sedang kesurupan, amnesia, gila, atau aku terkena ilmu hitam.”

Chan Yeol mengangkat alis kemudian dalam hitungan detik menarik pinggang Baek Hyun hingga tubuhnya terhempas ke dada Chan Yeol.

“Hati-hati dengan kata-katamu sayang, kau bisa menjilat ludahmu sendiri.”

Baek Hyun menelan ludah susah payah, menatap Chan Yeol waspada, “Ma… Maaf, ha… Hanya bercanda,hehehe… Jeongmal..”

Chan Yeol menghela nafas pelan, “Arasso, lagipula aku tidak ingin bertengkar karena ada yang ingin kulakukan denganmu.”

“nn… Ne…”

Baek Hyun hanya bisa menurut saat itu karena memang dia tidak suka saat Chan Yeol marah padanya. Bukan karena takut Chan Yeol akan menyakitinya, itu mustahil tentu saja. Tapi Baek Hyun betul-betul tidak suka saat Chan Yeol tidak seperti dirinya.

Cukup satu kali Baek Hyun melihat Chan Yeol marah besar, dan dia berjanji tidak akan membuatnya seperti itu untuk kedua kalinya.

Mengenai apa yang ingin sekali dilakukan Chan Yeol bersamanya, Baek Hyun masih sangat penasaran. Entah apa itu, yang jelas Baek Hyun tahu, ini pasti akan sangat menyenangkan bagi Chan Yeol…

Dan semoga dirinya juga.

 

 

 

~*N*R*L*~

 

 

 

 

“Tapi tidak semenyenangkan saat aku melawan kecepatan angin dan melaju bersama Phoenix, terlebih kalau ada kau di belakangku”

 

Ternyata ucapan itu tidak hanya bermakna biasa, karena memang benar kalimat itu memiliki arti luar biasa. Sudah sangat jelas tanpa tersirat makna lebih mendalam, karena itu sudah sangat gamblang.

Hal yang paling ingin dilakukan Chan Yeol bersama Baek Hyun adalah, melawan angin bersama Phoenix saat Baek Hyun berada di belakangnya dan memeluknya erat.

“WOOOOOWWWWWWWWW!!!” Seruan Chan Yeol bahkan masih terdengar walaupun ia mengenakan helm.

Baek Hyun tersenyum di balik helmnya, semakin mengeratkan pelukannya di perut Chan Yeol. Ia tapakkan dagu kecilnya di pundak kekasihnya itu, bersama melawan angin dan menikmati pemandangan malam yang sangat sepi di jalan itu. Lintasan yang akan mereka lalui nanti saat turnament yang tinggal menghitung hari itu.

Tangan lentik Baek Hyun terangkat, menggeser sesuatu di sisi kiri Helm Chan Yeol, dan melakukan hal yang sama di sisi kiri Helmnya.

“Hey keparat.” Sapanya dan didengar jelas oleh Chan Yeol karena bantuan alat ciptaan Se Hun itu.

“Hm, Waeyo…”

“Aku tahu ini sangat menyenangkan, tapi kupikir bukankah kita sudah melakukan ini berkali-kali, kenapa kau masih menempatkan ini sebagai hal yang paling ingin kau lakukan bersamaku?”

Terdengar kekehan geli dari Chan Yeol, “Hey, tidak mengendarai phoenix selama 3 hari itu seperti 3 tahun lamanya. Jadi saat Se Hun bilang Phoenix sudah stabil, aku betul-betul ingin mengendarainya. Sekalian uji lintasan juga. Kau merasakannya? Phoenix semakin bisa diajak kerjasama. Se Hun betul-betul daebak.”

Baek Hyun kembali tersenyum, “Hm…”

“Kau tahu kenapa aku suka saat kau mendampingiku di lintasan?”

Baek Hyun menggeleng kecil, “Kau tidak pernah mengatakannya secara serius, jadi aku tidak tahu. Yang paling melekat di ingatanku adalah, dulu kau bilang karena bokongku sexy saat duduk di atas jok motormu.”

Chan Yeol tertawa lagi, “Itu memang benar, tapi bukan itu juga alasan utamanya.”

“Lalu?”

“Begini…” Chan Yeol melepaskan tangan kirinya sejenak dan mengusap punggung tangan Baek Hyun yang memeluk perutnya, “Ada sensasi tersendiri saat aku merasakan tanganmu memelukku. Kubilang, kau cukup langka juga, sebagai orang baru yang langsung kuajak ke arena balap, kau cepat sekali beradaptasi. Saat pertama kali mengajakmu, kupikir kau akan berteriak ketakutan, menangis, memukul-mukulku untuk minta diturunkan atau apa saja yang menurutku sangat cengeng. Kau tidak, ya walaupun kau memang gugup di awal dan kurasakan tanganmu sedikit gemetar, tapi itu hanya sejenak dan kupikir itu wajar dan alamiah, dan hebatnya hanya beberapa menit kau sudah mampu menyatu denganku dan Phoenix. Kau tahu, detik itu juga aku merasa, kau memang ditakdirkan untuk menjadi milikku.”

Sungguh penuturan yang keras kepala dan egois, tapi sebenarnya manis. Dan Baek Hyun tahu itu cara Chan Yeol mengatakan bahwa Chan Yeol begitu menyanginya.

“Sebenarnya aku takut menantang maut seperti ini. Tapi entah kenapa, saat kau yang membawaku, aku merasa ini lebih menyenangkan dari apapun. Ini adalah cara terekstrim dalam hidupku untuk menguji adrenalin, dan aku serius, sangat menyukainya.”

“Sudah kubilang, karena kau itu pilihan yang tepat.”

Baek Hyun sedikit menggumam, “Ah iya, kebetulan kau membahasnya, sebenarnya ini ingin kutanyakan sejak dulu-dulu, tapi selalu lupa karena kau selalu punya cara untuk membuatku jengkel.”

“Ne… Ne… Ne, tanyakan saja.”

“Itu… Saat kau memintaku menjadi kekasihmu, apa memang kau sudah mengincarku dari dulu   atau…”

Chan Yeol menggumam cukup lama, “Oh itu, sehari sebelumnya Kai membawa brosur tentang turnament berpasangan itu, dan aku tidak punya kekasih. Aku hanya iseng ke sekolah, dan bertaruh akan menjadikan siapa saja orang yang pertama kali kulihat di sekolah sebagai kekasihku.”

“Ck, sudah kuduga. Dasar serampangan, ceroboh. Brengsek keparat!”

“Hey, itu justru lebih bermakna, artinya yang mempertemukan kita itu adalah takdir. Coba bayangkan saat yang pertama kali kutemui adalah satpam sekolah.”

“Kau akan memacarinya?”

“Tentu saja tidak, karena aku akan mencarimu dulu.”

“Lalu kalau misalnya kau bertemu dengan siswa lain sebelum aku?”

Chan Yeol bergumam, “Aku akan pura-pura tidak lihat sampai aku bertemu denganmu.”

“Saat itu kan kau tidak mengenaliku, jadi siapa tahu saja siswa yang kau temui lebih dulu langsung menarik perhatianmu.”

Chan Yeol terdiam sejenak, “Mau tahu sesuatu?”

“Apa itu?”

“Aku melihat sekumpulan siswa di gerbang, tapi phoenix tidak mau berhenti, dia terus menuntunku masuk ke pelataran parkir dan berhenti tepat di depan gedung di mana ruang UKS berada. Dan selanjutnya… kau tahu kan? Walaupun dengan sedikit bodoh, Takdir mempertemukan kita.”

Baek Hyun terkekeh geli. Kadang ucapan jenaka Chan Yeol justru lebih manis dari pada puisi, dan jujur saja, Baek Hyun lebih suka itu.

==========

Baek Hyun POV

Chan Yeol menatap nanar besi pembatas jalan yang sampai sekarang masih tidak diperbaiki itu. Tangannya yang memakai sarung tangan hitam mengelus besi yang bengkok parah itu. Aku diminta tetap duduk di atas motor dan melihatnya dari sini.

Aku bisa melihat Chan Yeol menggenggam besi itu cukup kuat, menunduk sambil memejamkan mata, kemudian ia menghembuskan nafas panjang.

“Kau baik-baik saja?” Tanyaku pelan saat Chan Yeol berbalik dan berdiri di hadapanku. Aku membetulkan dudukku hingga bisa berhadapan dengannya, membuka lebar pahaku agar aku bisa mengapit pinggang Chan Yeol dan berada dalam jarak yang sangat dekat dengannya.

“Heum, hanya bernostalgia.” Jawabnya sembari meletakkan kedua tangannya di pinggangku. Membuatku sedikit mendongak untuk menyejajarkan pandangan.

“Jangan sampai itu membebanimu. Sebenarnya sampai sekarangpun aku masih belum setuju dengan motif kalian yang menjadikan balas dendam sebagai fokus utama balapan nanti.”

Ya Ppabo… bukankah kita sudah membahas ini berkali-kali? Aku, terlebih Kai, tidak akan sudi membiarkan orang yang mencelakai Kyung Soo tertawa lepas di luar sana.”

Aku hanya bisa menghela nafas, “Arasso, aku hanya mengemukakan pendapat saja.”

Chan Yeol terdiam sejenak, masih menatapku serius, dan itu membuatku gugup.

“Ya! Kenapa melihatku begitu?” tegurku merasa kurang nyaman ditatap begitu. Masalahnya bukan tatapan mesum seperti biasanya, tapi tatapan aneh yang cukup jarang kuterima.

“Kupikir Kai orangnya cukup sabar juga.”

Aku mengerutkan kening saat tiba-tiba ia membahas Kai, “Wae?”

“Tentu saja karena Kai sabar menunggu sampai si China muncul sendiri.”

“A… Aku tidak mengerti.”

Chan Yeol menghembuskan nafas, dan bisa terlihat gumpalan kabut tipis keluar dari mulutnya, pertanda cuaca mulai dingin, “Kalau aku di posisi Kai, dan yang dicelakai dulu adalah kau, aku tidak akan berhenti mencari sampai si China itu kutemukan dan kupatahkan kedua kakinya.”

Gulp~

“P.. Park Chan Yeol…”

Chan Yeol mengangkat tangannya dan menyentuh pipiku, “Aku… Serius. Jadi tolong, apapun yang terjadi, bagaimanapun kondisinya, jangan pernah jauh dariku.”

“N… Ne….”

Chan Yeol terdiam, masih menatapku seperti itu, membuatku semakin gugup dan akhirnya menundukkan wajah untuk menyembunyikan rona merah yang sudah pasti tercetak di kedua pipiku.

Sialan Park Chan Yeol, dia membuatku tampak begitu bodoh saat kami berada dalam situasi seperti ini, dan jujur saja aku tidak suka. Bukan karena Chan Yeol, tapi karena aku kesulitan mengontrol degup jantungku.

“Se… Sebaiknya kita pulang, udara mulai dingin.” Aku berusaha memecahkan situasi aneh itu.

“Kau kedinginan?”

“Hu-um…” jawabku sambil mengangguk.

“Sini tanganmu.” Chan Yeol meraih kedua tanganku yang tadi hanya kuletakkan di samping tubuhku. Dan selanjutnya Chan Yeol menggenggamnya dengan kedua tangan, mengusap-usapnya sesekali dan menghembuskan nafasnya di sana.

Blush~

Sejak kapan seorang Park Chan Yeol bisa melakukan hal semanis ini?

“Kenapa tadi kau tidak memakai sarung tangan?” tanya namja itu padaku.

“Mana mungkin sempat, kau sudah menyeretku duluan.” Jawabku kesal.

Iapun memasukkan kedua tanganku di saku jaketnya yang memang hangat, hal itu membuat jarak kami semakin dekat.

“Byun Baek Hyun…”

“N… Ne?”

Chan Yeol tampak gugup, atau hanya perasaanku saja, entahlah.

“A… Aku… Eum… Aku…”

“Ne?”

Chan Yeol semakin gelisah, dan terakhir ia mengacak-acak rambutnya seperti orang frustasi.

“Aih… Jinjja, aku tidak bisa…”

Dan akhirnya aku mengerti, kenapa dia segugup ini. Dan itu membuatku tersenyum dan menyentuh pipinya.

“Hey, tunjukkanlah dengan caramu sendiri.” Tegurku.

“Hah… syukurlah kau paham, kupikir kebanyakan orang akan suka hal-hal menjijikkan begini. Rayuan, puisi yang mendayu-dayu.” Chan Yeol bergidik dan aku baru yakin kalau Chan Yeol betul-betul tidak suka hal-hal manis penuh bualan seperti itu.

Aku dibuat tertawa olehnya, “Kubilang jangan menjadi orang lain. Aku suk… eum… aku senang kau menjadi dirimu sendiri, apa adanya kau.”

Chan Yeol ikut tertawa, “Beberapa hari lagi turnament, kau tau artinya?”

“Ya tentu saja kau akan mengajakku ikut.”

“Bukan… kau tidak ingat?”

“Apanya?”

“Itu adalah tanggal yang sama di mana aku memintamu menjadi kekasihku.”

Deg~

“Be…. benarkah?”

“Aish jinjja, sebenarnya siapa yang bodoh di sini, bahkan tanggal resminya hubungan kitapun kau lupa.”

Aku mendesis kesal, “Memangnya kapan kita resmi berhubungan? Kau memberiku kenangan buruk saat itu, makanya aku tidak ingin mengingatnya.”

“Dasar bodoh.”

“Sudahlah lupakan. Siapa yang menyangka aku bisa bertahan selama satu tahun bersama pria brengsek sepertimu?”

Chan Yeol tertawa cukup keras, bahkan gemanya terdengar karena ini daerah pegunungan, “Baiklah, itu rekor. Kau hebat.”

Aku memutar bola mata kesal. Situasi manis bersama Chan Yeol memang tidak pernah bertahan lebih dari 10 menit. Ujung-ujungnya pasti begini.

“Heum.. Agar kau tidak menganggapnya kenangan buruk, bagaimana kalau setiap tahun di tanggal itu aku memberimu kesempatan untuk meminta sesuatu padaku?”

Aku langsung membelalak dan menatapnya tak percaya, “Jeongmal?”

“Heum… Kau ingin kamar baru kan? Setelah turnament akan kubuatkan satu untukmu. Masih ada ruangan kosong di sebelah kiri kamarku.”

Mataku semakin melebar, “Kau serius???”

“Ayolah, Park Chan Yeol tidak pernah menarik kata-katanya. Sekalian ucapan terima kasih karena selama setahun kau selalu bersamaku.”

Aku tidak berkata apa-apa lagi, entah kenapa aku jadi terharu dan tanpa sadar meneteskan air mataku.

“Haih cengeng.”

“Siapa yang cengeng, mataku perih karena dingin, brengsek…”

Chan Yeol kembali tertawa dan mengusap puncak kepalaku, “Akan kuhangatkan.” Ucapnya santai kemudian mengecup kedua mataku membuatnya refleks terpejam.

Kurasakan hembusan nafasnya yang hangat memanja permukaan kulit wajahku. Betul-betul hangat, menenangkan, dan tumben tidak bau alkohol. Kali ini sangat wangi, bau khas Chan Yeol.

Saranghae…”

Deg~

Mataku membelalak, hendak memastikan apa yang baru saja mampir di telingaku, tapi saat perglihatanku fokus, wajah Chan Yeol sudah berada persis di depan wajahku dan mempersatukan bibir kami.

Hangat…

 

Lembut…

 

Dan…

 

 

Manis?

Chan Yeol menciumku dengan sangat manis. Pelan, tanpa membuatku kesulitan bernafas seperti biasanya. Chan Yeol bahkan cukup lama berhenti menyesap bibir bawahku, dan seperti memintaku melakukan sesuatu, maka aku mencoba membalasnya dengan hal yang sama di bibir atasnya. Dan itu menuntunku kembali memejamkan mata dan perlahan menumpukan tanganku di bahunya. Mengikuti manuver sederhana dari bibirnya, dan kurasa Chan Yeol semakin terlatih melakukan ini.

Kurasakan tangan Chan Yeol bergerak dari pinggang hingga punggungku, sedikit menarikku ke arahnya sebelum ia menggerakkan kepalanya ke arah berlawanan, membuat tautan bibir kami semakin dalam.

Saranghae

 

Entah aku betul-betul mendengar kalimat itu atau tidak, betul-betul terucap dari bibirnya atau tidak. Tapi cara Chan Yeol menunjukkannya padaku kurasa memang lebih bermakna dari pada sekedar ucapan itu.

Terlalu gengsi untuk mengaku?

Kurasa tidak masalah, karena jujur aku juga sama. Chan Yeol mungkin tidak tahu saat kupanggil ia brengsek, terselip kata sayang di sana,. Dan aku tidak masalah saat Chan Yeol memanggilku Ppabo, karena sepertinya kami berada di posisi yang sama. Mengumpat kasar, tapi ada makna tersendiri di dalamnya.

Park Chan Yeol brengsek!

.

.

..

.

Park Chan Yeol sayang…

~*N*R*L*~

Aku dan Lu Han keluar dari kamar pukul 7 tepat dengan seragam sekolah dan tas lengkap. Lu Han sudah lebih dulu menuruni tangga, karena aku hendak merapatkan pintu kamarnya dulu.

Saat aku berbalik, hendak menyusul, sosok Park Chan Yeol keluar dari kamarnya sambil menguap lebar-lebar dan tak lupa mengacak-acak rambutnya yang memang sudah berantakan. Ia berjalan santai kearahku, maksudnya ke arah tangga, tapi pandangan kami bertemu dan entah kenapa aku justru terlihat bodoh dengan berhenti di sana sambil terus menatapnya.

Deg…

Deg…

Deg…

Demi Tuhan, aku belum pernah merasakan segugup ini hanya karena Park Chan Yeol berjalan ke arahku. Dia sudah menjadi kekasihku, dan oh apalagi memangnya yang kubutuhkan?

“Pagi Ppabo!” sapanya sembari mengacak rambutku yang sudah kusisir rapi.

“Pa… Pa… Pagi.”

Brengsek… kenapa aku gugup?

“Ayo sarapan.”

Dan jantungku semakin berdebar gila saat tangan besar Chan Yeol meraih tanganku dan menggenggamnya. Degupan yang betul-betul cepat dan sangat keras, aku bahkan khawatir akan terdengar oleh Chan Yeol.

Ada apa ini Tuhan…

Sejak kejadian kemarin sore, ditambah kejadian tadi malam, aku jadi sering salah tingkah begini.

Oh baiklah, tidak terlalu banyak yang terjadi tadi malam. Hanya berciuman lembut, dan bukan ciuman renyah seperti saat Chan Yeol menghukumku. Durasinya juga hanya beberapa menit, dan tidak terjadi apa-apa lagi setelah itu. Chan Yeol hanya tersenyum padaku saat itu kemudian menyeka bibirku yang basah, setelahnya kami pulang dan tidur di kamar terpisah.

Itu saja.

Tapi sebelum tidur, Lu Han sempat menegurku tadi malam kalau aku seperti orang gila yang tersenyum-senyum sendiri. Dan kagetnya aku saat Lu Han mengatakan.

“kau seperti orang yang baru saja jatuh cinta!”

Oh Tuhan. Dan jika itu benar, berarti aku baru jatuh cinta setelah setahun bersama Chan Yeol?

Padahal kupikir selama ini, saat aku ingin terus berada di sisinya, mencemaskannya dan segala hal tentang dirinya, itu sudah cinta. Dan setelah aku cukup jeli membedakannya, aku ingat pada kalimat pertamaku bahwa aku menyayanginya.

Ah sudahlah, itu tidak penting, karena sekarang Chan Yeol sudah sukses membuatku seperti orang gila.

“Sepertinya tadi malam aku membawamu terlalu lama di luar, tanganmu dingin.” Ucapnya sebelum langkah kami memasuki ruang makan.

Astaga, tanganku sampai dingin?

“Mungkin karena tadi aku mandi terlalu lama.” Balasku asal.

“Setelah sarapan jangan lupa minum vitamin, ingat, 3 hari lagi turnament, kondisimu juga harus Fit.” Bisiknya, karena kami berada di area yang tidak seharusnya membahas itu karena ada Kyung Soo.

Chan Yeol melepas tanganku dan menyuruhku duduk di kursi makan. Iapun memilih kursi sebelahku.

“Ne..”

====

Sret~

Itu Se Hun, yang langsung menyembunyikan tangannya di bawah meja saat melihatku.

“Se Hun-ah… Buang.” Perintahku.

Ia mengangkat alisnya, ‘Apa?’

“Jangan minum bir pagi-pagi, tidak baik untuk kesehatanmu, berapa ribu kali harus kukatakan itu padamu?”

Se Hun menatapku jengkel, kemudian melempar kaleng yang digenggamnya ke tempat sampah dekat meja.

Klek~

 

Glup…glup…glup…

 

Kalau ini Chan Yeol yang membuka kaleng bir di sebelahku dan meneguknya terang-terangan. Aku hanya memperhatikannya, dan ekor matanya melirikku.

Wae?” tanyanya santai.

Aku menghela nafas, kemudian menggeleng.

“Kupikir kau akan melarangku minum bir pagi-pagi seperti Se Hun.”

“Untuk apa? Kau tidak akan mendengarkanku kan?”

“Coba larang aku.”

Aku mengerutkan kening, “Jangan minum, tidak baik untuk kesehatanmu.”

“Oke.” Sahutnya cepat kemudian melempar kaleng bir yang isinya masih banyak itu ke tempat sampah.

Aku membelalak kaget, “Ini serius?”

“Kenapa tidak?” Chan Yeol kembali mengacak rambutku kemudian menyantap roti bakar yang disiapkan Kyung Soo.

Aku menoleh ke Kai, maksudnya untuk bertanya ada apa gerangan Chan Yeol mau mendengarkanku? Responnya justru lain.

“Hey, kalau aku tidak mempan. Kyung Soo saja tidak melarangku.”

Aku mendesis jengkel, “Memangnya siapa yang mau melarangmu? Minum saja sesukamu sampai mati.” Aku langsung menyumpal mulutku dengan potongan roti selai strawberry. Berharap moodku yang  baik ini tidak drop karena Kai.

“Tapi ada baiknya kau juga mengurangi kebiasaan minum mu Kai. Maksudku, aku juga tidak berniat melarangmu, tapi perhatikan kesehatanmu.”

Aku terbatuk mendengar Lu Han mengatakan itu. Dan jujur hal pertama yang ingin kupastikan adalah respon Kyung Soo.

Tepat dugaanku, itu berpengaruh, terbukti gerakan tangannya yang mengoles roti dengan selai itu terhenti sambil menatap Lu Han dengan ekspresi yang….

Ah sulit kubaca.

Kai tertawa, “Kau pasti tertular Baek Hyun.”

Dan yang mengejutkanku adalah, Kai meremuk kalengnya yang belum kosong dan membuangnya ke tempat sampah.

YA TUHAN!! BUKANKAH ITU BERARTI BAHWA KAI MENURUTI KATA LU HAN???

Tidak… tidak… aku harus melakukan sesuatu.

“Nah begitu… Baguslah kalau kalian peduli kesehatan. Bukankah di raga yang sehat, tersimpan jiwa yang sehat?”

Jujur aku tidak tahu dengan kalimat spontan yang baru saja keluar itu. Dan bukannya suasana menjadi bagus, semua orang justru menatapku dengan kening berkerut.

“Jadi kalau misalnya kami sakit, artinya jiwa kami juga sakit? Artinya kami gila? Begitu?” tanya Chan Yeol yang sukses membuatku terlihat semakin bodoh.

“Ya maksudku bukan… Ah, intinya sehat itu mahal. Jadi jangan memandang remeh kesehatan. Itu saja.” Aku buru-buru melanjutkan sarapanku. Setidaknya aku bisa melihat senyum kecil dari Kyung Soo dan kembali melanjutkan kegiatannya melayani suami brengseknya yang mata kerangjang itu.

“Pagi ini aku dan Kai tidak ke sekolah, ada yang harus kami urus bersama Se Hun perihal Phoenix dan motor Kai. Jadi tidak bisa mengantar kalian ke sekolah.”

Aku menoleh pada Chan Yeol kemudian mengangguk, “Gwenchana, aku akan ke sekolah dengan mobil Appa.”

“Siapa yang menyetir?”

“Aku, tentu saja.”

“Kau ingin kakimu kupatahkan?” ancam Chan Yeol kelihatannya tidak suka. Dan ah… itu membuatku ingat, dia tidak mengizinkanku mengendarai mobil sendiri karena aku belum lancar.

“Ya siapa lagi? Lu Han lebih tidak tau dalam hal menyetir.”

“Kubilang jangan.”

Aku mengangguk-angguk patuh, “Arasso, kami naik bis saja.”

“Itu juga jangan, di bis banyak namja mesum. Naik taxi saja.” Chan Yeol merogoh saku celananya dan memberikanku beberapa lembar uang.

Aku… tersinggung.

“YA! KAU PIKIR AKU MISKIN???”

Chan Yeol mengusap telinganya dengan kesal, “Harus berapa kali kubilang jangan berteriak dengan suara melengking… Aisshh jinjja… Aku tahu kau kaya, tapi selama di Red villa kau itu tanggunganku, bukan tanggungan ayahmu. Jadi segala keperluanmu selama di Red Villa, aku yang menanggungnya, kau mengerti?”

Deg~

“… Ne… A… Aku mengerti.”

“Ya sudah, habiskan sarapanmu dan berangkat ke sekolah. Dan nanti sepulang sekolah jangan kemana-mana, langsung pulang dan jangan singgah kemana-mana, kalau ada keperluan, pulang dulu ke sini dan aku yang akan mengantarmu kalau sempat. Mengerti?”

“Ne Park Chan Yeol, aku mengerti.”

Aku mendengar ledakan tawa Kai dan Kyung Soo, Lu Han juga menyembunyikan tawanya, tentu saja Se Hun juga walau tanpa suara.

“Kau lebih kepada Ayahnya ketimbang kekasihnya Chan Yeol-ah… dan anakmu itu betul-betul penurut.” Sindir Kai telak.

“Aku bukan kekasihnya lagi.”

Uhuk…

“Wae? Kalian putus?” Tanya mereka serempak.

“Maksudku… aku bukan kekasihnya, tapi suaminya.”

Bruk!

 

Dan itu sukses membuatku terjatuh dari kursi. Chan Yeol betul-betul hampir membuatku mati jantungan. Awas saja kalau dia berani memutuskanku, setelah dia sukses membuatku seperti orang gila karena jatuh cinta padanya…

Akan kuracuni makanannya kalau itu terjadi.

~*N*R*L*~

Author POV

Baek Hyun dan Lu Han berjalan bergandengan keluar gerbang sekolah 10 menit setelah bel pulang berbunyi. Mereka memang lebih suka memperlambat gerakan membereskan buku untuk sejenak bergosip tentang apa-apa saja yang mereka lalui seharian itu di sekolah. Lu Han juga sempat bertanya mengenai apa yang terjadi semalam antara Baek Hyun dan Chan Yeol hingga sedikit memberi nuansa baru dalam hubungan mereka.

Terjadi banyak perubahan, dan itu kearah yang sangat positif. Mereka beberapa derajat lebih akur, lebih penurut satu sama lain, walau belum mengurangi kebiasaan rutin dengan mengumpat kasar satu sama lain.

Tidak ada pemandangan Baek Hyun dianiaya dulu sebelum sekolah hingga ia biasanya terpaksa memakai syal untuk menyembunyikan jejak yang ditinggalkan Chan Yeol di leher Baek Hyun. Bibir mereka juga sudah tampak mulus, artinya tidak ada penganiayaan dan perlawanan lagi dari pasangan langka itu.

Intinya mereka sedikit lebih manis dari biasanya, dan jelas Lu Han penasaran akan alasan mengapa mereka begitu, sayangnya Baek Hyun menolak bercerita karena ia terlalu malu untuk itu. Tapi ia berjanji akan menceritakannya suatu saat.

“Baek Hyun-ah…” Seru Lu Han saat Baek Hyun menghentikan taxi yang melintas.

“Hm? Waeyo Lu Hannie?”

“Kau eum.. Pulang saja duluan. Aku ingin singgah ke toko buku, ada yang ingin kubeli.”

“Eh, jangan pergi sendiri. Kita pulang saja dulu, dan minta Kai, Chan Yeol atau Se Hun untuk mengantarmu.”

“Eum… Aku sungkan pada Kyung Soo, merasa tidak enak setiap kali aku harus merepotkan Kai. Kalau Chan Yeol, aku masih segan terhadapnya. Se Hun… aku memang mulai akrab dengannya, tapi kurasa dia sedang sibuk, pasti juga sangat lelah membantu Kai dan Chan Yeol.”

Baek Hyun mengangguk-angguk setuju, “Benar juga. Ya sudah, kita pergi bersama saja.”

Mata Lu Han membulat, “Jangan… Chan Yeol bisa marah.”

“Dia marah kalau dia tahu, asal kita tidak bilang saja.” Baek Hyun mengdipkan sebelah matanya.

“Benar tidak apa-apa?”

“Ayolah, mana mungkin kubiarkan kau pergi sendiri. Kajja…” dan Baek Hyun langsung menarik tangan Lu Han untuk masuk ke dalam taxi.

Tanpa disadari Baek Hyun, Lu Han mengulas senyum tipis..

Senyum kemenangan.

~*N*R*L*~

Saat Kris bilang bahwa Lu Han itu licik, itu betul-betul kenyataan. Lihatlah bagaimana dengan mudahnya ia mengajak Baek Hyun ke sebuah cafe yang cukup sepi pengunjung setelah mereka mencari buku yang sebenarnya tidak begitu penting. Lu Han juga asal membeli buku, karena itu hanya salah satu siasatnya. Dan memang tujuannya adalah cafe ini.

Ponsel Lu Han berbunyi, dan itu pertanda ada pesan masuk. Setelah membacanya sekilas,  Lu Han tersenyum.

“Baek Hyun-ah…”

“Hm?”

“Aku ke toilet dulu.”

“Ah ne…”

“Hanya sebentar, setelah ini kita pulang.”

“Oke…”

====

Baek Hyun cukup heran dengan kalimat ‘hanya sebentar’ yang dilontarkan Lu Han 15 menit yang lalu. Ia sudah sedikit gelisah karena jam pulangnya sudah lewat satu jam, dan walaupun Chan Yeol tidak hapal jadwal sekolah, tentu saja Kai akan menyadarinya.

Baek Hyun semakin resah, terlebih cafe itu sangat sepi, bisa jadi yang berkunjung hanya dia dan Lu Han saja, dan satu pria berjaket hitam di sudut rungan tadi yang entah kenapa ikut menghilang ke Toilet.

Deg~

Jangan-jangan terjadi sesuatu pada Lu Han__ terkanya. Dan itu membuatnya bergegas menuju toilet cafe itu.

Matanya membelalak tatkala melihat Lu Han sudah terbaring tak sadarkan diri di lantai toilet. Dengan sangat panik ia menghampiri Lu Han dan memeriksa keadaannya.

“Lu Hannie… Gwenchana?” Serunya cemas.

Tentu saja tidak ada sahutan.

“Lu Hannie… bangunlah, ya Tuhan Luh__eummmmpppfff”

Sesak~

Pandangan Baek Hyun meredup seiring obat bius dosis rendah yang ia hidup paksa dari sapu tangan yang membekapnya dari belakang.

Brugh~

Dan akhirnya kesadarannya hilang dalam pelukan namja jangkung bertopi dan berjaket hitam. Seringaian lepas tercetak di bibir merah mudanya yang cukup berbentuk, tak lupa  sebelah sudut bibirnya yang mencuat ke atas simbol jelas kelicikannya.

“Hey… Bangunlah, sudah beres.” Ucap namja jangkung itu.

Lu Han membuka matanya dan langsung bangkit sembari meregangkan otot lehernya.

“Haih, dia lama sekali, punggungku sakit tidur di lantai.” Keluh Lu Han jengkel.

“Sabarlah cantik, akan ada sesuatu yang menyenangkan setelah ini.” Ucap namja itu sembari menepuk pipi Lu Han lembut.

“Hm, mau kau bawa kemana dia Kris?”

Namja yang ternyata adalah Kris itu tertawa, “Tenang, tidak akan kubawa ke hotel. Aku masih belum mau cari mati dengan meniduri kekasih Park Chan Yeol.”

“Lalu?”

Kris tersenyum, “Markas. Mungkin sedikit bermain-main dengannya.”

“Hm, aku mengerti.”

“Ya sudah, lanjutkan peranmu, kau keren.”

Lu Han tertawa, “Urus sisanya, dan jangan terlalu lama, leherku sakit.”

Kris betul-betul kagum dengan sikap Lu Han ini, seperti memiliki 2 kepribadian, dan hebatnya Lu Han betul-betul mampu menjalani dua peran itu.

“Kau selalu membuatku puas, itu alasan kenapa aku betul-betul menyukaimu.”

“Jangan membuatku muntah Kris. Aku melakukannya karena aku suka, aku meladenimu juga karena aku suka. Semua hal yang menyangkut tentangmu, betul-betul membuatku senang.”

Kris kembali tertawa, “Kau jelas tidak bisa keluar malam ini kan? Aku betul-betul ingin menghabisimu.”

Lu Han merilekskan otot lehernya sekali lagi, “Tidak, mungkin saja Chan Yeol akan membunuhku setelah ini, tapi aku punya cara sendiri. Kapan-kapan saja aku menemuimu.”

“Ya sudah.” Kris bangkit dengan Baek Hyun yang pingsan di gendongannya, “Aku pergi.”

“Hm, tapi ingat. Jangan membuatnya lecet, atau kau akan kehilangan kepalamu.”

Kris tertawa puas, “Kau akan melihat Park Chan Yeol seperti sampah setelah ini.” Ucapnya licik sembari menatap Baek Hyun yang tak sadarkan diri itu.

“Lu Han..”

“Hm… Maaf, tapi menurutku. Dia lebih cantik darimu.”

Lu Han tersenyum sembari menyandarkan punggungnya di tembok, “Aku tidak tersinggung, karena yang mengatakannya adalah orang brengsek sepertimu.”

“Tapi tenang, kau tetap yang terhebat untukku.”

“Sudahlah, pergi kau.”

“Oke..Oke… Sampai ketemu lagi cantik.”

~*N*R*L*~

Chan Yeol menoleh berkali-kali ke pintu depan garasi yang lurus sejajar dengan pintu gerbang Red Villa, tidak terhitung ini yang ke berapa tapi Kai bosan melihatnya.

“Kenapa tidak kau telepon?” tegur Kai karena jengah sendiri melihat ulah Chan Yeol.

“Aku hanya ingin tahu sejauh mana dia menurut padaku.” Balasnya kemudian mengambil handuk kecil dan menyeka keringat juga sisa oli yang menempel di badannya yang topless itu.

Kai mematikan mesin motornya sesuai instruksi Se Hun, dan setelah mendapat jempol dari rekannya itu, Kai pun bernafas lega. Setidaknya menurut Se Hun kondisi motornya stabil dan tidak ada kendala untuk turnament nanti.

Chan Yeol mengoper botol air mineral pada Se Hun yang sudah cukup berkerja keras satu harian itu, walau sebenarnya namja tampan itu lebih suka diberi sekaleng bir dingin.

“Santai sajalah, Lu Han bersamanya.” Ucap Kai yang langsung duduk di bangku panjang di tepi ruangan.

“Aku justru semakin khawatir kalau anak itu pergi bedua dengan Lu Han, kau pikir apa yang mencolok dari dua namja manis, cantik dan mulus sedang jalan berdua?”

Kai tertawa, “Kau pernah mengatakan itu pada Baek Hyun? Pernah memujinya terang-terangan?”

“Entahlah, mungkin pernah sesekali.” Chan Yeol mengibaskan kaos you can see berwarna putihnya kemudian memakainya kilat, sedikit tidak nyaman saat kulit punggungnya yang berkeringat menyentuh sandaran bangku besi yang catnya kering dan lepas-lepas.

Drrtt… drrtt…

 

Kai langsung menyambar ponselnya yang kebetulan ia letakkan tak jauh darinya. Keningnya sediki berkerut saat ada nama Lu Han di layar ponselnya itu.

“Waeyo? Kau ingin dijemput?” tanya Kai heran saat ia menjawap panggilan itu.

Cwesonghamnida, saya bukan pemilik ponsel. Tapi saya diminta pemilik ponsel untuk menghubungi nomor ini

Deg~

Kai sontak berdiri dengan ekspresi serius terpasang di wajahnya, membuat Chan Yeol yang tadi tengah meneguk air mineral langsung menatapnya tajam.

“Ada apa dengannya?”

Err… Saya tidak bisa menjelaskan, tadi saya menemukan namja ini pingsan di dalam toilet, tapi dia sudah sadar sekarang dan keadaannya sangat lemah, pesannya, tolong datang ke sini sekarang juga. Ke cafe X di daerah Hongdae

Kai tidak banyak bicara lagi, dia langsung menyambar jaket dan helmnya.

Di detik yang sama, Kyung Soo muncul dengan membawa nampan berisi buah semangka segar yang telah dipotong-potong. Ia sedikit kaget saat melihat Kai terlihat panik memakai jaket dan helmnya.

“Chan Yeol-ah, Lu Han pingsan. Aku akan menjemputnya sekarang.” Tegas Kai tanpa menyadari Kyung Soo sudah berada di sana.

“Lalu Baek Hyun?” tanya Chan Yeol kaget.

Kai menghentikan gerakannya saat hendak men-starter motornya, “Ada yang tidak beres..” Ucapnya.

“Ck aku ikut, aku akan bawa mobil.” Chan Yeol buru-buru memakai jaketnya sambil melangkah masuk ke dalam villa, dan langsung menyambar kunci mobil yang diletakkan di atas meja tamu.

“Kai…” Seru Kyung Soo pelan.

“Jangan sekarang Kyung Soo-ah, Lu Han pingsan di sana, nanti akan kujelaskan.” Kai menepis pelan saat Kyung Soo merengkuh lengan jaketnya.

“Aku ikut.”

“Kyung Soo-ah… Jebal… kau di sini saja.”

“Tapi aku juga ingin melihat kedaan  Lu Han dan Baek__”

“KYUNG SOO-AH…” Bentak Kai tidak bermaksud sengaja. Dan saat melihat Kyung Soo terlonjak kaget dan mundur beberapa langkah dengan wajah pucat, barulah Kai menyadarinya.

Kai mengerang frustasi, ia langsung menangkap tangan Kyung Soo yang bergetar.

“Maaf… Maaf, aku sedang kacau sekarang. Baiklah kau ikut, tapi naiklah ke mobil bersama Chan Yeol. Karena Se Hun ikut denganku.”

Kyung Soo mengangguk lemah.

“Aku… Tidak bermaksud membentakmu, kumohon jangan masukkan ke hati.”

Ne, gwenchana…”

~*N*R*L*~

Chan Yeol lebih dulu menerjang pintu cafe saat mereka sudah sampai tujuan. Matanya langsung mengelilingi seisi ruangan sampai ia menemukan Lu Han terbaring di sofa panjang dekat meja kasir, didampingi seorang ahjumma yang mengipasinya.

Kai menyusul dan langsung menghampiri Lu Han di sana. Ia terduduk di lantai dan menggenggam tangan Lu Han erat. Se Hun dan Kyung Soo masuk terakhir dan perlahan mengikuti Kai menghampiri Lu Han. Sementara Chan Yeol panik karena objek yang dicarinya tidak terlihat. Ia langsung menerobos ruangan belakang termasuk dapur dan toilet untuk mencari alasan ia berada di sini.

Gwenchana?” tanya Kai cemas.

Lu Han membuka matanya perlahan, bibirnya bergetar hebat dan wajahnya pucat, “KAAAIIII!!!” pekiknya dan langsung bangkit untuk memeluk Kai.

“Aku di sini, tenanglah.”

Lu Han menggeleng cepat, tubuhnya bergetar hebat karena ia menangis sesenggukan. “Baek Hyun… Baek Hyun…”

Deg~

Chan Yeol yang kembali ke ruangan itu langsung tersentak. Seketika ia menghampiri tempat Lu Han. Dilepasnya paksa pelukan Kai dan Lu Han, gantinya ia merengkuh kedua pundak namja itu dan menatapnya tajam.

“DI MANA BAEK HYUN???” Bentaknya murka.

“Dia… Dia… Dia…” Lu Han semakin gemetar ketakutan.

Greb~

“Park Chan Yeol… kendalikan dirimu, dia masih lemah.” Tegur Kai yang menarik lengan Chan Yeol agar cengkramannya terlepas.

“DI MANA BAEK HYUN?? JAWAB!!!” Chan Yeol tidak menggubris Kai, ia terus menginterogasi Lu Han bahkan menguncang-guncang tubuhnya yang lemah.

“A… Aku tidak tahu…” Jawab Lu Han lemah.

“BAGAIMANA MUNGKIN KAU TIDAK TAU SEMENTARA KAU BERSAMANYA, DASAR JALANG!”

Bugh~

Siapapun pasti tau alasan kenapa Kai memukul Chan Yeol hingga tersungkur ke lantai.

“APA KAU TIDAK BISA TENANG? KAU MENYAKITINYA BRENGSEK! DIA JUGA KORBAN!” bentak Kai kemudian kembali duduk di dekat Lu Han dan merangkulnya.

Chan Yeol meludah ke samping, terlihat bercak darah yang menyertai salivanya itu, “Oh… jadi kau berani memukulku karena namja jalang ini Kai?”

Kai memijat keningnya kemudian menghembuskan nafas beratnya, “Kau boleh membunuhku setelah ini, tapi dengarkan penjelasan Lu Han dan tenangkan dirimu.”

Kyung Soo menghampiri Chan Yeol dan membantunya untuk berdiri. Sebenarnya ada yang sangat merusak pemandangannya di sana, tapi ia tidak ingin bersuara dulu, karena ini bukan tempatnya untuk memikirkan diri sendiri.

“Ma… Maafkan aku. Tadi saat aku ke toilet, seseorang tiba-tiba membekapku dengan sapu tangan dari belakang, setelah itu aku sudah tidak tahu apa-apa lagi, dan setelah sadar beberapa menit yang lalu, aku sudah tidak melihat Baek Hyun. Aku panik Kai… terlebih pemilik cafe bilang, seorang pria tinggi berjaket hitam menggendong namja dengan ciri-ciri seperti Baek Hyun keluar dari cafe ini.”

Deg~

Chan Yeol kembali murka, dia sudah hampir menerjang ahjumma yang ada di situ sebelum Se Hun menghentikan pergerakannya dengan memeluknya dari belakang, Kyung Soo juga membantu dengan menarik lengannya.

“KENAPA KAU BIARKAN DIA MEMBAWANYA? HA?” Bentak Chan Yeol tanpa pandang bulu.

Ahjumma yang sudah sejak tadi ketakutan itu semakin gemetar, Seorang namja menghampirinya dan langsung berdiri di hadapannya.

“Jangan membentak ibuku, anak muda kurang ajar. Aku yang melihatnya, bukan ibuku. Aku sempat mencegahnya dengan bertanya kenapa ia membawa namja yang pingsan itu bersamanya, tapi dia bilang namja itu adiknya, aku mana punya hak mencegahnya.”

“DAN KAU PERCAYA BEGITU SAJA??? DI MANA OTAKMU?? INI PENCULIKAN!!”

“Kau keliru menyalahkan orang. Salahkan dirimu kenapa kau tidak menjaga dengan baik orang yang kau anggap penting itu. Kami yang tidak mengerti apa-apa ikut terseret menjadi korban karena ulahmu. Niat kami hanya membantu, dan kau dengan kurang ajarnya menyalahkan kami? Bersikaplah manusiawi, kau bahkan membentak ibuku, wanita yang lebih tua darimu. Apa itu yang diajarkan orang tuamu? Atau jangan-jangan, ibumu juga sama kurang ajarnya denganmu hingga kau tidak bisa menghormati ibu orang lain?”

Deg~

Kai tertegun melihat ekspresi Chan Yeol yang berubah dingin dalam hitungan detik.

“Oh Sh*t..” Kai tidak buang waktu, langsung ia lepas rangkulannya di pundak Lu Han dan langsung menghambur ke arah Chan Yeol yang tiba-tiba saja menghempaskan Se Hun dan Kyung Soo hingga tersungkur ke belakang.

Kai menubruk perut Chan Yeol yang hampir menerjang namja yang menceramahinya tadi.

Keadaan semakin genting melihat Chan Yeol betul-betul mengamuk, seolah hendak mencabik-cabik wajah namja yang ‘menyakitinya’ di titik yang paling rawan tadi.

“OH SE HUN!!! LAKUKAN APA SAJA UNTUK MEMBUAT ORANG INI PINGSAN!!!” Pekik Kai kewalahan menghadapi Chan Yeol, ia terus menghadang Chan Yeol dengan memeluk perutnya dan mendorongnya dengan bahu seperti orang yang sedang menghadang lawan dalam permaianan rugby.

Se Hun bangkit, sedikit panik ia menatap sekeliling, mencari apa saja yang masuk akal dan bisa membuat Chan Yeol pingsan. Matanya tertuju pada sebuah kursi kayu di dekat pintu, dan dengan gerak cepat ia mengambilnya dan menghantamkannya di punggung Chan Yeol… dekat tengkuk.

Usaha Chan Yeol meronta terhenti seketika, ia masih berdiri kokoh beberapa detik sebelum ia betul-betul ambruk dan langsung ditahan oleh Kai sebelum tubuhnya menghantam lantai.

Kyung Soo langsung membungkam mulutnya dengan kedua tangan, Lu Han yang sebenarnya tidak percaya dengan kejadian itu hanya bisa tercengang. Se Hun menggaruk kepalanya frustasi. Berharap pukulannya tidak terlalu keras sampai membuat Chan Yeol mati.

Kai menghembuskan nafasnya cukup panjang, tubuhnya berkeringat dan sakit semua. Entah bagian mana saja yang sukses terkena amukan Chan Yeol.

Namja berkulit tan itu menoleh pada pria pemilik cafe yang tengah memeluk ibunya dalam keadaan ketakutan.

“Maaf atas kekacauan ini, kami akan pergi. Tapi bisakah aku mengetahui sesuatu?” tanya Kai setenang mungkin.

“Si… Silakan tapi cepatlah pergi dari sini.”

Kai membungkuk sejenak, “Aku hanya ingin tahu pria yang membawa teman kami tadi. Apa ada ciri-ciri khusus selain tubuhnya yang tinggi?”

Namja itu berusaha berpikir, padahal wajahnya juga cukup tegang, “Rambutnya pirang karena sedikit terlihat di belakang, kulitnya putih pucat, selebihnya aku sulit menyebutkan ciri-cirinya karena dia memakai kacamata dan pakaian yang cukup tertutup.”

“Itu sudah cukup, terimakasih.” Kai kemudian menoleh ke arah Se Hun, dibalas anggukan oleh namja tampan itu.

Sudah tidak salah lagi. Ini ulah…

Si China!

Terpotong(?)

 

11.009 Words

 

Rekor…. demi apa coba? Astaga…. ALF nyelipin hal gak penting apa aja sampe bisa sepanjang itu? Saolooohhhhh….

Oke, berhubung ALF sengaja bikin ringan dulu sebelum klimaks pertama(?), jadi ALF gak bakal banyak cuap-cuap. Palingan readers juga bakal ngumpat ALF

“Brengsek keparat sialan nih ALF, udah nunggu lama-lama, keluarnya cuman begini, cih…”

Wkwkwkwkwkwkwk dosa loh ngumpat-ngumpat ALF.

Jadi buat yang nanya-nanya “sebenarnya siapakah Park Chan Yeol ini?” dan ALF udah buka sedikit-sedikit karakter aslinya sejak chapter awal ampe dia di sini dengan clue yang memang ‘mudah’ ditebak kok. Jadi slow aja, santai kea di pantai, semua akan indah pada waktunya karena ini ada kerangkanya kok.

 

Oh iya, terima kasih buat readers yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca FF nya ALF dengan judul apapun. Terlebih yang ninggalin jejak, ALF seneng banget loh, :-*😀

Walopun untuk men-tobatkan(?) SR itu cukup sulit juga, tapi Alhamdulillah ada juga yang telah menuju ke jalan yang benar. Wkwkwkkw <— ngustad.

 

Chap 5 protek ye… hahahahahah *Dan lagi-lagi ALF diumpat sekasar mungkin.

 

Jadi jebal… sekali lagi buat pemain(?) baru yang belum terlalu paham kerese’an ALF di sini, itu kalimat-kalimat jelek di halaman ‘Password FF’ mohon di pahami baik-baik. ALF kadang kejudak(?) meja kalo nemu reader yang minta pw terus ALF tanya “Udah komen di chapter2 sebelumnya?” dan dia bilang, “Emang harus komen dulu baru dapat pw?”

Obor mana obor? ALF mau nelen obor *plak.

Jadi dimohon, dibaca baik-baik yah, pake penghayatan biar gak tersesat, sampe-sampe ada yang minta pw di kolom komentar sementara ALF udah jelasin panjang kali lebar kali tinggi gimana caranya minta pw ke ALF atau ke ILAM.

 

Dan sekali lagi plis… NO BASH, NO FLAMES, NO WAR, NO KOMEN NO PW(?), NO KUMAN NO CRY(?). Ini hanya fiksi, gak nyata, hanya asal-asalannya aja ALF bolak-balikin jadi cerita abal. Jangan nanggepin serius karena semua chara di sini OOC banget. Okeh….

Buat Biasnya Lu Han, maafin ALF karena minjem namanya buat peran antagonis…

Biasnya Kris juga maaf… (padahal selingkuhan sendiri).

Jangan nge bash siapapun apalgi ALF, jangan marahin ALF, jangan siksa ALF, ALF anak baik kok, rajin menabung. Okeh…

Oke segitu dulu, dan tentu saja komentarnya kalo bisa panjang sepanjang-panjangnya, secara ini juga panjangnya demi apa… walopun isinya gak jelas semua.

Oke…

Lemme feels your love guys… :-*

 

 

 

 

 

999 thoughts on “[FF YAOI] No Regret Life | ChanBaek Ft All Couple | – Chapter 4

  1. hi there! dapet rekomendasi dr temen suruh baca ff ini dan akhirnya baca juga dan SUMPAH KEREEENNN HAHAHA. anw ini aku mau baca lanjutan chap5 d protect trs hrs minta pw? seriusan aku ga paham soalny seringan baca ff d aff hehehe.

    rada aneh aja baca ff pake bahasa tp setelah baca smp chap ini jadi ketawa2 sendiri. GOOD JOB AUTHORNIM ^^

  2. Duhh luhan nya makin licik, jadi greget gue ahhh, kasian chanyeol nya, kasian kyungsoo nya, kasian baekhyun nya dan kasian juga gue nya:((((, pas gue buka chap 5 dan yg terpampang adalh tulisan di PROTEKSI. gue potek beneran nih thor:((. Oke bentar lagi gue ask ke fb/twitter lu ttg pw nya. Dan semoga fast respon yy:(( hatiku terobek adek melihat kegiatan baca ff daebak ini terputus:((( lu keren thorr❤️❤️

  3. Yayay! Teruuuskan! Wew, Baekkie diapaiin? Jangan diperkosa, yah? Eh tapi liat ch 5 di proteksi, jangan2 emang iya? Engga ah, buat Ceye doang aja mah. Kyungsoo, oh kau punya konflik batin uhm sama Kai. Suka-suka Kai merhatiin Luhan biar Kyungsoo syediih *ahelah, saya suka kalo bias sendiri kesiksa gini tsk. Bikin greget banget ya, tapi kok cuman secuil doang nih? Kurang panjaaang -_- Ada yang mati kagak? Ada death chara? ada dong ada biar seruuu! Terus, sad end? sad end aja deeh *iniceritapunyasiapawoy

    Reader tidak berkehendak, tapi mungkin ALF tergugah dengan request itu wqwq

    ALF balesin review gini ngga? atau cmn dipelototin? Wqwq, thank youu for this great fanfiction! Yeeheeet!

  4. Yayay! Teruuuskan! Wew, Baekkie
    diapaiin? Jangan diperkosa, yah? Eh
    tapi liat ch 5 di proteksi, jangan2
    emang iya? Engga ah, buat Ceye
    doang aja mah. Kyungsoo, oh kau
    punya konflik batin uhm sama Kai.
    Suka-suka Kai merhatiin Luhan biar
    Kyungsoo syediih *ahelah, saya suka
    kalo bias sendiri kesiksa gini tsk.
    Bikin greget banget ya, tapi kok
    cuman secuil doang nih? Kurang
    panjaaang -_- Ada yang mati kagak?
    Ada death chara? ada dong ada biar
    seruuu! Terus, sad end? sad end aja
    deeh *iniceritapunyasiapawoy

    Reader tidak berkehendak, tapi
    mungkin ALF tergugah dengan
    request itu wqwq

    ALF balesin review gini ngga? atau
    cmn dipelototin? Wqwq, thank youu
    for this great fanfiction! Yeeheeet!

    ohiya, ini akun yg sama dengan DontJudgeMelikeyoureright ya..
    duh ribet amat -_-

  5. Yach di protek jeball jgn donk. .jatuh hati bgini nih rasanya di suruh menunggu. .

    Kan bener mas luhan mah gtu,hahaha
    exo K vs exo M (critanya doang ga bneren)😉

    kyungsoo ;-( sabar ya,duh aduh bnyk bgt yg ngerasai pilu kaya kyungso,,mantan pelacur opps hnya sapaan sayang chanyeol padanya,tp cute ga marah cuma mbulatkn mata doang..

    Setragis it kah,luhanie tega benner dah..padahalkn keluarga redvilla uda pada sayang sma dy,tapi klw ga bgitu ga ad klimaks juga kali ya. .
    Author dn staf (haha kya perushaan aje) fighthink smoga ga lama2 buat meluncurin captr brikutnya. .ga sabar:-D

  6. Yeeeaaayyy 🎉 liat chan ngamuk gitu bikin ikut ngerasa emosi 😢 chan cowok idaman bnget gitu 😊 cmburunya bikin melted
    Bagian main catur 😂 freak bnget.. tpi waktu udah d phoniex.. romance bngeeettt, rasanya ada yg nggelitikin (?) Nih perut 😄 bikin ngebayabgin hal yg sama klo pnya pcar racer
    Itu soo kasian bnget :’v karna terlalu peka kali yeee, kris juga cari mati tuh kyaknya 😄
    Smngat kuliah kak!! 🎉 jngan lma2 hiatus yaa

  7. Okeeeh huuuh haaaah huuuh haaah*tarik napas dulu aku thor* wkwkkwwkk
    Waaaah greget banget nih chapter ini thooor.. wkwkwk
    Aku mau ngomong banyak tapi yg ada ntar authornya sebel bacanya saking panjangnya wkwkwk
    Intinya aku suka perkembangan hubungannya chanbaek aaaaaah romantis manis manis gimana gitu~ Tapi kenapa giliran mereka lagi romantis-romantisnya malah ada adegan penculikan baek sih wkwkwkwk muka dan posturnya baek emang cocok buat di culik siih wkwkwk
    Aaaaaa please kaisoo berakhir bahagia dong thooor:( luhan berakhir nista pun tak apa~ wkwkwk*jangan bash aku* hihihi Pokoknya chapter ini greget bangetlaaah~
    Ohiya min, chapter selanjutnya diprotect? kenapa? karena ada adegan rate m-nya kah? hehehe*tenang aku anak 18th yg ga pervert ko*wkwkwk aku mau pw-nya doong thor:( cara dapetin pw-nya gimana thor:( aku sudah meninggalkan setiap jejak di setiap chapter ko thooornim:) okeh ini aja udah panjang banget yaaa… fighting authooornim:)

  8. Udah bisa ketebak sebenernya kalo luhan itu ga sepolos yang keliatannya. Bagian akhir bikin penasaran sumpah. Lanjut ka (y)

  9. Hai kak. Suka banget sama karyamu. Boleh minta pw chap 5 ? Sumpah aku udah jarang buka wp atau blog ini? Jd pas mau komen rada bingung, lupa2 dikit. Kal ff mu daebak bgt, kenapa ga nulis di ffn kak? Ehehehe. Best bgt.

  10. Hai kak. Suka banget sama karyamu. Boleh minta pw chap 5 ? Sumpah aku udah jarang buka wp atau blog ini? Jd pas mau komen rada bingung, lupa2 dikit. Kal ff mu daebak bgt, kenapa ga nulis di ffn kak? Ehehehe. Best bgt.
    Kak pw ya kak ehehe. Love u

  11. Whaha lucu bgt baek ngatain chanyeol bodoh, sampe ngajak taruhan sgala. Ga tau’a ceye jago maen catur, kecelek si Bebek wkwkwk.
    Si kyung dh mlai curiga ma kdekatan luhan n kai, tp kai jagp bgt acting ya, smpe bkin kyung mlah balik minta maaf, pdhl emg kai “selingkuh” ma luhan. Kasian kyung2 huhu.
    Eh si bebek kecelek buat yg k’2 kali’a. Dy dh mkir macem2 dgn ngira chan bkal nglakuin “itu” k dy, eh ternyata chan mlah nglakuin sesuatu yg manis.
    Kyaaaa.. Sumpah chapter ini so sweet bgt thor. Sampe meleleh q. Rasa’a bsa ngerasain deg2an’a baekhyun dpt perlakuin kek gt dr chanyeol. Senyum2 sndri q thor.
    Eh si baek mau diapain tuh ma kris,? Punya rencana apa lg dy,?

  12. wuhu…
    aku salut sama kamu thor..
    bisa nulis sepanjang ff ff ini.
    aku gak betah nulis panjang2.
    bawaannya pengen update mulu.. kk..

    btw aku suka banget karakternya chanyeol.. kereeennn.
    tapi rasanya beda aja gtu. soalnya dulu pas pertama baca ff ini pas msh umur 14 thn :3 dan skrg aku udah 16 :3 jadi hawa(?)nya beda gitu.

  13. Duhh degdeg serr baca yg terakhir bc para seme kece bgt/abaikan. tp gw sakhat bayangin jdi d.o kesel juga liat kai entahlah chap ini greget banget awalnya diabetes gegara chanbaek eh akhirnya di bikin down hah author pinter ih bikin hati ini di obok obok, pokoke ch ini greget se gregetnya padahal belum klimax heh.. eh ch 5 di protek? Coba aku liat, penasaran ih okeh next ch..

  14. akhir nya pangeran china muncul . bener kan luhan satu komplotan sama kris .

    kai bener bener menduakan kyungsoo .. yang sabar kyungsoo . kai emang gitu orang nya

    kisah manis baekhyun sama chanyeol di pegunungan pas di tempat racer bikin meleleh .
    iya setahun mereka jadian
    se

    luhan kenapa kamu kerja sama dgn kris buat menghancurkan chanyeol . apalagi sampai Menculik baekhyun
    semoga baekhyun baik – baik sja ..

  15. Sumpah miapah gue ngebut baca ini ff sengebut motor chayeol bin phoenox haha *apadah gue* –,–
    eh ALF nim jubilleh gue ngakak waktu adegan chanyeol makan pion catus njirrr bhahaha ekting bodoh lu keren yeol lu harusnya jadi aktor ajah *emang udah kutil* bhahaha 〜(^∇^〜) . eiyy si baekhyun mesum juga etahhh canyul belon bilang apa taruhannya udah rate M aje otak lu byun bhakk *joged bareng sehun* ternyata canyol romantis juga weleeeh gue mau dong pacar kek lu yeol bhakzz *bugh di lempar sendal baekhyun* ampun baek gue kagak doyan doby macem canyol gue masih setia ame AA SEHUN yg jadi jones di ff ALF nim ini bhakzz (❁´▽`❁)
    .
    eh gue kok ngerasa si khamjong jadi kek suami yg gelagatnya mau poligami yee ampun kcian kyungiee imutt kai bazeng lah minta di rajam pake kolor sooman ih –,– thor nazi kaisoo diujung rambut neh jebbal jan pisin mereka *buing2 bareng sehun*
    .
    ehh luhaen cantik cantik jahat elaaah kagak jadi ah gue jodohin lu ame aa sehun #ngeeek apa ini ???
    waduuuh Cabe baekhyun diculikkkkkkkk mau diapan hoy kris naga tonggosh ?? AYO YEOL CARI BAEKKI CEPAT YEOL JAN NGAMUK AJE LO . PIKIR DGN PALA DINGIN MAU LU GUE CELUPIN KE AIR ES BIAR DINGIN ??? *tteak pake toa demonstran//toa masjid mainstream vrooh* bhakkzz
    eh alf nim MINTA PWNYA CHAP 5 PLEASSSS GUE PENASARAN PUNYA IG/FB/TWITER TA GUE MAU DONG NEE ??? *puppyeyes bareng sehun* okelah kutunggu jandamu eh kutunggu jawabanmu maksudnya haHaha *tawa nista* oke sekian komen gaje naudzubilah dari gue saya ucapkan terima sehun sah AMINN . wkwk tangks alf nim o (^‿^✿)o

  16. adminnnnnn ffnya kerennnnnnnnnnnnnnnn
    aku paling suka cerita tentang anak motor giniiiii *o*
    gaya bahasanya rapiiii, gk ribet/?, the best lah pkoknya
    tapii knapa chapter 5 di protek😥
    minn minta pwnya dongg

  17. Ouch!

    Ngebayangin wajah frustasi Sehun pas liat channy pingsan dengan tangannya..
    Cute pasti..

    (っ ‘o’)っ…ΌōŎőнн my~
    Kris ampe senekat itu cuLik baekki!

    Sayang sekali ya,
    Di protect!
    Kalo berkenan pw aku tunggu di akun fb ku..

    Wasalam!

  18. TETEPPP YAAAA SUKAAAAKKK SUKAAAAKKK APALAGI CHAP INIIII KAK ALF DOHHH!!! aku panas dingin bacanya saking kerennya saking bener2 suka nya ama nih ff aku bener2 ampe komen dua kali loh kak demi PW chap 5😦

    Kakkk aku suka disini chanyeol bener2 nunjukin rasa sayangnya ama baekhyun. seriusan ini dah nangis setitik loh (?) dah keluar air mata aja.gw bayanginnya bener2 kek gtuu dan ah sudahlah~ gw sedih

    tetep kaisoo my fav!!!! sehun dah jadian aja ama han lah :)) hihi lanjutttt chap 5!!

  19. Di awal.chaper bkin senyum” sendiri endignya malah dbkin nyesek udah duga.seblumnya kalo kris bakal gunain baekhyun buat lawan chanyeol.
    Ah kesel sama luhan dsni luhannya.licik bangt greget .
    Lebih greget lagi sama kai yang tanpa sadar mulai tertarik sama luhan smpe kyungsoo di bentak hanya.karena luhan .
    Mudah” endingnya ttp kaisoo luhan.kasih sehun aja tuh jomblo .
    Overall suka bangt sama ceritanya.paragrafnya rapi bahasanya juga.bagus. 👍
    well liat nanti gmna kmrhan chanyeol sama kris dan caranya perjuangin nyelametin baekhyun

  20. “Dan itu sukses membuatku terjatuh dari kursi. Chan Yeol betul-betul hampir membuatku mati jantungan. Awas saja kalau dia berani memutuskanku, setelah dia sukses membuatku seperti orang gila karena jatuh cinta padanya…

    Akan kuracuni makanannya kalau itu terjadi.”
    Pikiran baekhyun itu polos stengah bego tp ini yg bikin manisss bgttt ><
    Kamprettt bgt si luhan. Ga bakal bisa tidur aku klo ngebayangin chanyeol murka gr2 baekhyun diculik.
    Nice niceeeeee
    Chapter dpn siappp kejang baca betapa menderitanya chanyeol khawatir ama baekhyun
    Jongin cintahh ku kamu kok gt sihhh. Jgn kebujuk wajah hello kitty luhan dong. Apa aku kurang (?) #gamparajaplis
    Kak bgian sehun bnyakin dong pleasee

  21. Kamvrettt banget dah luhan. Cantik2 ternyata licik juga. sekongkol sm kris huh musuh dalam selimut. Kalo chanyeol tau huh abis tuh anak.
    Beneran deh kak aku agak baper sm luhan kok bisa jahat gtuuu. Mau2 aja disuruh jadi mata-mata. Nakal huh nakal/disruduk rusa cina/
    Baekhyun diculik huhuhu selamatkan baekhyun jebalT.T
    Padahal chanbaek makin mesra makin sweet makin anget(?) tapi kok malah kejadian gini:’) jahat bgt si naga cina gak gentle bgt mau bales dendam sm chanyeol tapi harus melalui baekhyun. mentang2 baekhyun titik kelemahan chanyeol.
    Aku melting bgt lohh kak pas baca adegan chanyeol natep baekhyun yaaampun manis banget=g /ngiler/
    Ngakak bgt pas chanbaek main catur yaelah ngakak smpek langit
    Kak alf makan apasih kok bisa bikin ff seunyuk ini? aku baca nya nyut-nyutan abisss. keren aneddddd daebakkk!!

  22. TUH KAN TUH KAN SI LUHAN NYA BEGITU!!!!!

    PLEASEEE ITU AH ELAH MASA BARU AJA CHANBAEK BIKIN MOMENT MANIS BAEK UDAH DI CULIK TT

    please ah suami(?) gue kenapa jahat disini ya tuhannn TT luhan beneran licik ih, bikin kesel gue ah elah kaisoo makin rawan TT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s