Amaterasu (The Undying Flames)|| ChanBaek-BaekYeol || – [Chapter 7]


ama 7b

 

Fanfiction-BaekYeol/ChanBaek

Tittle: Amaterasu (The Undying Flames) – Sequel Avenger’s Fault

Author: AyouLeonForever

Cover pic/poster edited by: AyouLeonForever

Genre: Yaoi, action, Romance, Thriller, crimes, Tragedy

Length: Chaptered- Sequel

Rating: T, NC 17 (untuk adegan kekerasan dan darah-darahan(?), dan juga… ehem, a lil’ bit lime, maybe *evil smirk).

Main Cast:

  • Park Chan Yeol

  • Byun Baek Hyun

  • Kim Jong In/Kai

  • Lu Han

  • Wu Yi Fan/Kris

Support Cast:

  • Oh Se Hun (yang dalam cerita ini udah almarhum)

  • Do Kyung Soo

    • Kim Joon Myeon /Su Ho

    • Dan seseorang yang akan diungkap di akhir cerita.(sok misterius)

Disclaimer: GOD

Copyright: semua isi, alur/plot, ide cerita, OC, dan di luar dari karakter asli itu murni pemikiran ALF (AyouLeonForever). Jika ada kesamaan cerita, apalagi kalo bener-bener mirip, cuman alih bahasa aja, itu perlu dipertanyakan (kebawa-bawa). Dilarang menjiplak, mengedarkan, mengkopi paste, mengalih bahasakan, tanpa seizin pemilik. Intinya PLAGIATOR… INSYAF LAH DIRIMUA NAK(?), dan gue masih nyari itu orang dengan uname breakfastcoupleasdfjkfekfyu.

No Copas Jeballlll

 

Warning: OOC, Typo(s), Tidak sesuai EYD, dan uhuk… Lime detected.

 

ALF special note: Akhir-akhir ini ALF malas ngoceh di awal, abis ini aja yah… becikot…

 

 

Preview

 

“MATI KAU BYUN BAEK HYUN!!”

Tring~

 

 

Itu jelas bukan bunyi ledakan pistol… itu adalah suara dentingan yang tercipta akibat benturan logam yang terjatuh di tanah berbatu itu, tak cukup jauh dari Baek Hyun, dan cukup jelas tertangkap oleh mata tajam Chan Yeol.

Mata tajam itu semakin membesar tatkala ia menyadari benda apa yang baru saja terjatuh dari tubuh Baek Hyun itu.

 

 

 

Kalung itu~

 

 

 

 

Chapter #7

 

AMATERASU

 

Kyung Soo mondar-mandir bagai cacing kepanasan di depan rumah Baek Hyun yang terkunci sore itu, sementara Su Ho sibuk menelpon beberapa rekannya.

 

“Ck, ini semua karenamu hyung, kau terlalu lamban, coba dari siang kita ke sini.” Protes Kyung Soo kesal.

 

“Hm, kabari aku langsung saat kau dapat info.” Su Ho mematikan ponselnya setelah pembicarannya selesai, kemudian fokus pada Kyung Soo, “Tenanglah, melihat gelagat Park Chan Yeol, dia belum berniat membunuh Baek Hyun. Menurut informasi yang kudapat, semalam Park Chan Yeol menginap di sini, dan baru pulang beberapa jam yang lalu. Kalau memang Baek Hyun akan terbunuh, kurasa tadi malam adalah moment yang tepat bagi Park Chan Yeol untuk membunuhnya, bukan justru menidurinya.”

 

“Uhuk… Bahasamu Hyung…”

 

“Untuk itu kukatakan santai sajalah. Sekarang katakan padaku, kemana biasanya Baek Hyun pergi selain kantor dan cafemu?”

 

“Kalau bukan pergi berkencan dengan Park Chan Yeol, mungkin saja dia ke makam Park Se Hun… Arrrgghhh aku bisa gila, kenapa nasib Baek Hyun justru setragis ini? terlibat cinta dengan orang-orang yang begitu bernafsu untuk membunuhnya…”

 

Su Ho tertawa kecil, “Kau begitu menyayangi Baek Hyun?”

 

Kyung Soo memutar bola mata kesal, “Hyung… Aku sudah bersamanya sejak kecil, dia itu sudah seperti saudara kembarku sendiri.”

 

“Hm begitu?”

 

“Waeyo?”

 

“Aku sedikit cemburu.”

 

Kyung Soo terbatuk cukup telak, “M…Mwo…?”

 

Su Ho tertawa kemudian mengacak rambut Kyung Soo, “Setelah aku berhasil membongkar kedok Park Chan Yeol, tolong luangkan waktumu untuk memikirkanku.”

 

Wajah Kyung Soo bersemu merah, “H… Hyung?”

 

Arasso, kita punya banyak tugas. Setelah ini selesai, baru kita bicarakan masalah pernikahan.”

 

Mata bulat Kyung Soo semakin membesar, “H… Hyung… Kau bercanda?”

 

Waeyo? Apa persepsimu masih sama terhadapku? Bahwa aku hanya bisa serius dalam urusan pekerjaanku?”

 

“Ta… Tapi Me… Menikah? Denganku?”

 

Su Ho semakin tertawa, “Dengan siapa lagi? Atau kau tidak menyukaiku?”

 

“Bu… Bukan begitu, aku…” Kyung Soo buru-buru meralat, “Aku hanya kaget, kupikir kau hanya bercanda seperti tadi pagi.” ucapnya sambil menunduk dan memainkan kukunya.

 

Su Ho menghela nafas panjang, mendekat ke arah Kyung Soo, memeluk pinggangnya, membuat namja bermata bulat itu mendongak kaget, dan detik selanjutnya Su Ho tidak memberi Kyung Soo kesempatan untuk bertanya karena ia telah membungkam bibir Kyung Soo dengan ciuman manisnya.

 

Sebenarnya hanya sebuah ciuman ringan dan tidak begitu lama, tetapi kesan yang sampai ke hati Kyung Soo justru lebih dari apapun. That’s the first time his lips touch someone’s.

 

Su Ho melepas ciumannya sambil tersenyum, sementara Kyung Soo hanya bisa mengerjapkan mata berkali-kali.

 

“Kalau aku memang punya waktu luang, tidak akan kugunakan untuk bercanda karena aku tidak suka bercanda.”

 

“H…Hyung…” Kyung Soo hanya bisa merespon seperti orang bodoh.

 

“Baiklah, aku payah. Mungkin orang lain yang berada di posisiku sekarang akan menuturkan kata cinta, tapi aku tidak. Lebih tepatnya tidak handal. Dan sebagai orang yang cukup mengenalku, kuharap kau mengerti maksudku. Kalau mencintai seseorang itu tidak harus mengumbarnya kemana-mana. Kau tahu saja itu sudah cukup. Ottae?”

 

Kyung Soo menelan ludahnya susah payah. Cara melamar Su Ho memang tidak bisa diperhitungkan, bisa dibilang payah dan tidak romantis sama sekali, tapi lihat pesan tersirat di dalamnya. Ini bahkan lebih romantis dari apapun.

 

Rona merah pun menghiasi pipi chubby Kyung Soo, dan itu membuatnya menunduk malu, “Kurasa responku sama hyung. Sebagai orang yang sudah cukup lama mengenalku, kuharap kau tahu jawabanku.”

 

Su Ho tersenyum dan gemas sendiri dengan ekspresi malu-malu itu, ekspresi yang selalu menjadi penyemangatnya belakangan ini, “Ini memang sedikit menggelikan, tapi kurasa sesekali tidak apa-apa juga.”

 

Mwo?”

 

Su Ho menyentuh pipi Kyung Soo dan mengusapnya pelan, “Do Kyung Soo… Aku mencintaimu”

 

Kyung Soo terbatuk. Jika saja bisa terjadi, ia pasti akan mimisan saat ini, “Na…. NadoHyung.” Jawabnya rikuh dan malu-malu.

 

Sampai ketika Su Ho tak melepas senyumnya, namja tampan dan dewasa itu menyentuh dagu Kyung Soo, menariknya sedikit untuk sekedar memberi ciuman yang lebih dari yang tadi.

 

Kyung Soo pun paham situasi, mata indahnya terpejam dan siap menantikan hal itu, walau nantinya ia akan sedikit mengutuk dirinya kenapa ia justru berciuman di depan rumah orang yang pemiliknya mungkin saja sedang dalam bahaya sekarang.

 

Drrt… Drrrt…

 

Kyung Soo mengerutkan kening saat bibir tebalnya tak jua merasakan sentuhan bibir Su Ho, dan karena sedikit penasaran, ia pun membuka mata dan mendapati Su Ho membelakanginya sembari meletakkan ponsel di telinga.

 

Ia rasa di masa depan Kyung Soo tidak perlu cemas jika Su Ho selingkuh, karena itu mustahil. Otaknya sudah dipenuhi berbagai macam kasus, dan sisanya hanya diberikan sedikit pada Kyung Soo. Intinya, musuh besar Kyung Soo di masa depan adalah…

 

PROFESI SU HO!

 

“MWORAGO??? Bukankah tadi pagi kau bilang Park Chan Yeol tenang-tenang saja?” Bentak Su Ho pada si penelpon.

 

“Kali ini tidak Hyung. Tampak jelas kalau ia sangat marah, masuk ke mobil seseorang pun dengan terburu-buru, dan saat ia melintasiku di depan gedung apartementnya, aku mencium bau bubuk mesiu, dan detektor senjata yang kugunakan berbunyi, 1 unit pistol 45 ACP dan 1 unit lagi sejenis Revolver, mungkin tipe HGX 132S, karena detektornya hanya menangkap itu”

 

“Ck, Apa ada orang yang bisa berubah sedrastis itu dalam waktu singkat? Sial…”

 

Kyung Soo terhenyak saat mendengar Su Ho mengumpat sekasar itu. artinya hanya satu.

 

Ada berita buruk.

 

Hyung, Aku masih dalam pengejaran, tapi kurasa yang membawa Chan Yeol bukan orang biasa. Dia menyadari kebadaanku bahkan tidak cukup 1 kilo meter sejak aku aku membuntutinya. Dan alhasil aku kehilangan jejak mereka”

 

“Baiklah, Park Chan Yeol serahkan saja padaku, kau langsung ke kantor polisi membuat laporan, juga siapkan penyergapan. Akan kukirimkan alamat lengkap di mana Polisi bisa melakukan penyergapan”

 

“Aku mengerti Hyung

 

“Hyung ada apa?” Serbu Kyung Soo saat Su Ho telah memutuskan sambungan dan buru-buru memasukkan ponselnya di saku jas.

 

“Kyung Soo-ah, kau tunggu di sini saja, atau di cafemu. Prediksiku meleset 180 derajat. Jadi aku harus bergegas, nanti kujelaskan”

 

Chakkaman, aku ikut…”

 

Su Ho berdecak saat Kyung Soo menangkap lengannya.

 

“Kau mau mati sebelum menikah? Tunggu saja di sini.”

 

“Tidak.. Aku harus ikut kalau ini menyangkut nyawa Baek Hyun”

 

Su Ho mengacak rambutnya frustasi, “Arasso… tapi jangan gegabah, tetap di dekatku”

 

Ne Hyung…”

 

 

~**Amaterasu**~

 

 

Kai menyandarkan punggungnya di kap samping mobil, menatap sebuah gerbang area pemakaman yang berlokasi cukup jauh dari kota. Tempatnya pun terpencil di daerah berbukit yang di kelilingi pohon Oak Cyclobalanopsis tua.

Tidak cukup 5 menit yang lalu, Chan Yeol turun dari mobilnya dan langsung berlari memasuki area pemakaman itu. Makam Se Hun memang agak jauh, tepatnya di bukit paling atas, karena makamnya tunggal. Baek Hyun memang sengaja membeli semua area itu khusus untuk makam Se Hun seorang.

Kai sedikit menoleh saat sebuah mobil keluaran Eropa terparkir tak jauh di sana. Ia tidak terkejut lagi siapa orang itu, karena memang dialah yang paling menanti moment ini.

“Lu Han…” Panggil Kai, tapi cukup lirih. Buktinya Lu Han tidak menoleh tapi langsung berlari memasuki area pemakaman itu.

Kai tidak mengejarnya, karena memang dia hanya diberi tugas menunggu di situ. Dan mengingat betapa Kai mendewakan perintah Kris, maka ia menurut dan tetap betah di tempatnya.

 

Menunggu sampai terdengar bunyi ledakan pistol, atau apapun yang menandakan bahwa tugas Chan Yeol selesai.

 

Menunggu sampai Chan Yeol keluar dari area pemakaman dengan bermandikan darah Baek Hyun.

 

Menunggu ….

 

Sampai seorang real Avenger terlahir kembali.

 

Kai tertawa kecil, kemudian menggelengkan kepalanya pelan, “Sebenarnya sampai di mana kau memprediksi masa depan kami, sajang-nim?” Tanya Kai pada angin yang berhembus.

Perlahan ia meraih sebungkus rokok berikut pemantik api di sakunya. Seperti orang yang telah terbiasa melakukannya berkali-kali, Kai menyelipkan sebatang rokok di bibirnya dan menyalakan pemantik untuk membakar ujungnya.

Satu tarikan kuat terlihat saat kedua pipinya melengkung ke dalam, setelahnya kepulan asap berkumpul di udara dalam jumlah banyak.

Ia melirik arlojinya, dan sesuai perkiraannya, Chan Yeol tengah berhadapan dengan Baek Hyun sekarang.

 

“Padam…” Lirihnya sambil tersenyum.

 

~**Amaterasu**~

 

Lu Han langsung bersembunyi di balik pohon Oak besar sekitar 6 meter dari tempat Chan Yeol dan Baek Hyun yang tengah berpelukan. Atau tepatnya, Baek Hyun yang langsung memeluk Chan Yeol.

Tubuh Lu Han bergetar hebat, seringaian iblis terukir jelas di bibir mungilnya, serasi dengan tatapan matanya yang penuh ambisi menggebu-gebu.

Ia sedikit menunjukkan ketidak sabarannya saat ia mendengar percakapan membosankan dari Baek Hyun dan Chan Yeol, sampai ketika Chan Yeol memulai intinya dengan menepis tangan Baek Hyun yang tadinya menempel di pipi Chan Yeol.

Pandangan dua orang itu telah berubah. Chan Yeol yang seolah menguliti Baek Hyun hidup-hidup, sementara namja mungil itu sendiri membalas dengan ekspresi terkejut bukan main.

“Bunuh dia… Bunuh… biarkan tubuhnya bermandikan darah…. balaskan dendam Se Hun-ku… biarkan dia membayar dengan darahnya. Park Chan Yeol… ledakkan kepalanya.” Ucap Lu Han dengan keinginan menggebu-gebunya.

Sampai ketika mata mungilnya menangkap sosok tubuh Baek Hyun yang dihempas oleh Chan Yeol ke tanah, dan mendengar umpatan kasar menggelegar dari Chan Yeol, ia semakin yakin saatnya Baek Hyun mengucapkan selamat tinggal pada nyawanya.

 

 

 

 

“MATI KAU BYUN BAEK HYUN!!”

 

 

Tring~

 

 

Itu jelas bukan bunyi ledakan pistol… itu adalah suara dentingan yang tercipta akibat benturan logam yang terjatuh di tanah berbatu itu, tak cukup jauh dari Baek Hyun, dan cukup jelas tertangkap oleh mata tajam Chan Yeol.

Mata tajam itu semakin membesar tatkala ia menyadari benda apa yang baru saja terjatuh dari tubuh Baek Hyun itu.

 

 

 

Kalung itu~

 

 

 

Seperti tersengat listrik ribuan Volt, ia tersentak bukan main, tanpa sadar menjatuhkan pistolnya dan seolah kehilangan tenaga ia ambruk dan bersimpuh di hadapan Baek Hyun kemudian meraih kalung itu dengan tidak sabaran.

 

 

Nafasnya tercekat, jantungnya seolah berhenti berdetak, tangannya gemetar dan ditatapnya kalung itu dengan tatapan mencekam.

 

“Ke… Kenapa…” Chan Yeol menarik nafasnya cukup panjang seolah mengisi paru-parunya yang kosong, “KENAPA KALUNG INI BISA ADA PADAMU????” Pekiknya mendarah daging.

Wajah Baek Hyun sudah memucat pasi, kondisinya sudah sangat parah karena bisa jadi tak lama lagi ia akan segera tak sadarkan diri, “Se… Se Hunie yang…”

 

 

“WAE???? WAE??? KENAPA SE HUN MEMBERIKANNYA PADAMU???”

 

 

Baek Hyun menutup telinganya dan membenamkan wajahnya di atas tekukan lututnya “Molla… Molla…”

Chan Yeol menatap Baek Hyun tak percaya, ia cengkram kedua bahu namja itu dan menghempaskannya ke tanah hingga punggungnya kembali merapat di sana, “Kenapa Se Hun memberikan ini padamu?”

 

“A…ku tidak tahu… Park Chan Yeol…” Jawab Baek Hyun gemetar. Air matanya makin menggenang di sana.

 

 

“Kau tahu apa ini Byun Baek Hyun? KAU TAHU APA INI???”

 

Baek Hyun menggeleng cepat, bukan membenarkan bahwa ia tidak tahu, tapi itulah respon pertama dari ketakutannya.

 

“Ini… Ini…. Peluru pertama yang hampir merenggut nyawaku, peluru yang membenarkan sosokku sebagai seorang Avenger. Amaterasu… identitasku, sebagian dari nyawaku yang kutitipkan pada Se Hun agar bisa melindunginya, menegaskan bahwa aku tetap berada di dekatnya. Ini seharusnya mengingatkan Se Hun bahwa dendam keluarga kami tidak akan pernah padam. Tapi kenapa ia justru memberikan ini padamu???”

 

Baek Hyun tidak menjawab, hanya terus berusaha sebisa mungkin mempertahankan kontak mata dan membalas tatapan seorang Avenger yang terluka.

 

“KAU APAKAN ADIKKU HINGGA IA MELARANGKU MEMBUNUHMU!!!” Pekiknya lagi seluruh jiwa raga. Air matanya bahkan sudah keluar bergerombol. Hal yang tidak sepatutnya terlihat dari seorang Avenger. Air mata adalah salah satu bentuk luapan emosi, dan jelas seorang Avenger tidak boleh menampakkan itu.

 

Tidak bisa Baek Hyun elakkan, ia tercengang dengan ucapan itu. Sebegitu dalamnya kah makna kalung itu hingga tanpa bertemu langsung dengan Se Hun, Chan Yeol langsung tahu apa keinginan Se Hun? Seolah mendengar langsung amanah terakhirnya.

 

“Park Chan Yeol….” Lirih Baek Hyun pelan.

 

“Kau apakan adikku Byun Baek Hyun… Kau apakan adikku satu-satunya?” lirih Chan Yeol betul-betul terdengar menyakitkan, lelehan air matanya justru membentuk genangan di wajah Baek Hyun.

 

Baek Hyun menggeleng dengan bibir pucat terkatup rapat dan bergetar hebat.

 

“Bukankah seharusnya aku membunuhmu Byun Baek Hyun? Bukankah seharusnya kubuat tubuhmu bermandikan darah? Bukankah seharusnya kubuat kau menderita dengan mati di tanganku? Di tangan orang yang kau cintai? Sama seperti kau buat adikku terbunuh di tanganmu?”

 

“Aku… Tidak… Membunuhnya…” Ucap Baek Hyun kesulitan saat Chan Yeol mencengkram kerah bajunya sementara kedua paha Chan Yeol mengapit pinggangnya di tanah.

 

“Lalu yang ingin kau katakan bahwa ia mati dengan sendirinya?” bentak Chan Yeol murka.

 

Baek Hyun menarik nafas sedalam-dalamnya dan menghembuskannya cepat, mengumpulkan segenap keberanian untuk bersuara.

 

“Park Chan Yeol… Apa menurutmu masuk akal bahwa aku membunuh namja yang begitu kucintai?”

 

Deg~

 

“Tahukah kau Park Chan Yeol bahwa aku juga mengharapkan mati saat itu? Jika bukan karena Se Hun begitu mempertahankan nyawaku, jika bukan karena nyawaku ini begitu berharga, jika bukan karena nyawaku ini adalah hal terakhir yang ditinggalkan Se Hun… Maka kau tidak akan melihatku sekarang Park Chan Yeol… karena detik itu juga, detik di mana Se Hun melenyapkan nyawanya di hadapanku, akupun akan melenyapkan nyawaku.”

 

Deg~

 

Chan Yeol menatap nanar ke wajah Baek Hyun, kedua tangan kekarnya yang masih mencengkram kerah baju Baek Hyun terlihat bergetar, buku-bukunya memutih saking kerasnya ia menggenggam, rahangnya mengatup rapat, bisa terdengar gesekan keras dari gerahamnya, terakhir, lelehan air mata dari kedua mata tajamnya menandakan bahwa Chan Yeol betul-betul terluka.

Avenger itu terluka, tepat di titik di mana tidak ada siapapun yang bisa menyentuhnya.

 

Kecuali satu…

 

Adiknya…

 

Tapi kini yang menyentuh titik itu justru Byun Baek Hyun. Namja yang memporak-porandakan harga dirinya sebagai seorang Avenger. Sosok yang seharusnya sudah ia lenyapkan dengan tangannya sendiri.

 

Tapi apa.?

 

Ia justru terseret terlalu jauh dengan permainan yang ia ciptakan sendiri dari awal. Bermaksud menyiksa Baek Hyun, tapi seperti senjata makan tuan, hal ini jutru berbalik menyiksanya lebih parah dari apapun.

 

“Seperti apa sebenarnya kau Byun Baek Hyun…? Bagaimana mungkin kau mampu melukaiku dan adikku sekaligus di titik yang sama?”

 

Baek Hyun tidak menjawab, ia hanya memberanikan diri mengangkat tangan kanannya dan menyentuh pipi Chan Yeol yang basah. Betul-betul basah karena air mata kepedihan. Dan hal itu justru menuntun Chan Yeol memejamkan matanya. Menunjukkan sosoknya yang rapuh tanpa daya lagi. Menyerap kelembutan dan kehangatan yang dikirimkan Baek Hyun lewat sentuhan tangannya.

 

“Park Se Hun…. Apa maksud semua ini???” Keluh Chan Yeol masih terus menangis.

 

 

~**Amaterasu**~

 

 

Kai mematikan puntung rokoknya bagitu mata tajamnya menangkap satu unit mobil yang terparkir di depan area pemakaman dengan begitu tergesa-gesa. Dan alisnya terangkat saat ia tahu siapa yang baru saja turun dari mobil itu dan langsung berlari memasuki area pemakaman tanpa menyadari kebaradaan Kai yang hanya berjarak beberapa meter dari mobilnya terparkir.

 

Kai mengumpat kasar kemudian segera mengambil topi, masker dan pistolnya di dalam mobil.

“Sial… Aku lupa bahwa ada pecundang ini.” Umpatnya kemudian buru-buru memaksa kakinyanya melangkah diam-diam memasuki area pemakaman berbukit itu.

.

.

.

 

 

Lu Han membungkam mulutnya dengan satu tangan. Air matanya berderai tanpa penghalang melihat pemandangan mengenaskan itu.

Terlebih…

 

 

Kalung itu…

 

Kalung yang dikatakan Se Hun sebagai nyawa kakaknya, identitas kakaknya, pengganti kakaknya. Dan itu adalah lambang bahwa Chan Yeol melindungi Se Hun dengan nyawanya itu.

Lalu kenapa Se Hun justru memberikan benda berharga itu pada Baek Hyun?

 

Tidakkah ini berarti bahwa Se Hun sengaja menjadikan kalung itu sebagai pesan terakhir, dan jika Chan Yeol melihatnya, maka Chan Yeol akan sadar, bahwa saat ia berani membunuh Baek Hyun itu sama saja halnya ia membunuh Se Hun yang ia lindungi dengan nyawanya sendiri.

 

 

Srak… srak…

 

Lu Han tersentak begitu mendengar suara langkah cepat di belakangnya. Ia buru-buru menghapus air matanya dan bersembunyi di sisi pohon yang tak terlihat.

Mata kecilnya membelalak saat tahu siapa sosok yang baru saja muncul dengan tergesa-gesa itu dan langsung menghampiri dua sosok yang masih terdiam dengan posisi yang tidak berubah.

 

“Ya Tuhan… Chan Yeol….” Pekiknya tertahan. Belum sempat ia menekan tombol ponselnya untuk mengontak Kai, benda itu sudah bergetar lebih dulu, dan memang itu dari Kai.

 

“Kai… detektif itu…” Lapor Lu Han dengan suara tertahan.

 

“Ne… Aku mengejarnya, kau turun ke bawah, siapkan mobilku. Aku akan membawa Chan Yeol.”

 

Lu Han menoleh, dan ia sudah bisa melihat sosok Kai yang baru muncul dari bawah bukit.

 

“Kai…” Seru Lu Han.

 

“Bergegaslah…” Perintah Kai. Kemudian melanjutkan langkahnya.

 

“Ne…”

.

.

.

 

Su Ho dan Kyung Soo terkejut bukan main saat melihat Chan Yeol mencengkram kerah baju Baek Hyun dan duduk di atas pahanya. Sementara Baek Hyun menyentuh pipi Chan Yeol.

 

Tanpa pikir panjang, Su Ho langsung mengeluarkan pistolnya dan…

 

 

Dooorr…~~~

 

 

Baek Hyun membelalak begitu darah dalam jumlah banyak terciprat ke wajahnya.

Chan Yeol membuka matanya yang masih mengeluarkan air mata kepedihan. Sikap yang begitu santai bagi orang yang baru saja tertembak di pundak.

“Tetap di tempat Park Chan Yeol… atau kepalamu akan pecah.” Ancam Su Ho waspada. Ia menodongkan pistolnya itu ke arah Chan Yeol, sementara Kyung Soo yang ketakutan bersembunyi di balik punggung Su Ho.

Chan Yeol menoleh pada Su Ho yang sepertinya begitu siap melesatkan pelurunya jika saja Chan Yeol berniat melakukan sesuatu.

Namja tinggi itu kembali menoleh pada Baek Hyun, kemudian menyeka darah yang mengotori wajah Baek Hyun dengan tangannya.

“Kau pernah tertembak? Rasanya sakit… Byun Baek Hyun.” Lirihnya datar.

“Cha… Chan Yeol-ah…” Baek Hyun berusaha bangkit dan dengan takut-takut menyentuh pundak Chan Yeol yang terus mengeluarkan darah.

“Bukankah seharusnya kau yang berakhir dengan berlumuran darah, Byun Baek Hyun??”

 

“Kubilang jangan bergerak… Park Chan Yeol…!!!”

 

HYUNG!!! JANGAN TEMBAK!!!” Pekik Baek Hyun histeris saat Su Ho sudah menarik kembali pelatuknya.

“Bicara apa kau Byun Baek Hyun… Namja itu berniat melenyapkan nyawamu, dan apa yang kau lakukan? Menyingkir darinya…”

AndwaeJeball…” Baek Hyun langsung beralih, menjadikan dirinya tameng dan duduk di hadapan Chan Yeol, berniat melindunginya kalau saja Su Ho betul-betul akan melesatkan peluru lagi.

 

“APA KAU GILA? NAMJA ITU PEMBUNUH!!!” Bentak Su Ho.

Baek Hyun menggeleng cepat, “Jangan HyungJeball…”

“Byun Baek Hyun!!!” Su Ho mendekat, berniat menembak Chan Yeol dalam jarak dekat.

Baek Hyun langsung berbalik dan memeluk Chan Yeol. “Kalau kau ingin membunuhnya, maka bunuh aku terlebih dahulu.” Tegas Baek Hyun.

“BYUN BAEK HYUN… SADARLAH!!!”

 

“Dia benar, menyingkir dariku karena aku seorang pembunuh.” Bisik Chan Yeol persis di telinga Baek Hyun.

 

Baek Hyun menggeleng, justru mempererat pelukannya, “Aku tidak mau, aku tidak bisa.”

 

 

Wae?”

 

 

 

“Jangan bertanya… Aku tidak tahu…”

 

 

“Bukankah jika aku mati, maka kau tidak perlu ketakutan lagi?”

 

 

Baek Hyun kembali terisak, “Aku justru lebih takut kehilanganmu Park Chan Yeol… kumohon…”

 

Deg~

 

 

 

 

“Kau bodoh.”

 

 

 

 

“Bahkan jika setelah ini kau membunuhku pun… Aku… tidak akan berhenti mencintaimu.”

 

Chan Yeol memejamkan matanya, mengatupkan rahangnya keras-keras, “Byun Baek Hyun… Jangan menyiksaku.”

 

Baek Hyun terdiam, ia merasakan rengkuhan yang cukup kuat melingkar di punggungnya, dan itu adalah rengkuhan yang begitu ia kenal. Karena itu berasal dari pria yang ia cintai di hadapannya ini.

 

Su Ho menoleh pada Kyung Soo, betul-betul tidak mengerti dengan pemandangan di depan mereka ini, dan jelas ini harus diakhiri.

 

Nama Amaterasu bukan sekedar nama. Puluhan bahkan ratusan nyawa yang sudah lenyap oleh tangan namja itu juga sudah menjadi bukti nyata bahwa…

 

Namja itu tidak memiliki hati nurani, jadi yang mereka lihat di hadapan mereka ini bisa saja sebuah ilusi yang tengah diperlihatkan oleh seseorang yang dalam dirinya tengah berkobar api dendam yang tak akan padam, karena sejak lama ia telah terbelit oleh rantai kebencian itu. tidak akan pernah padam, dan tidak akan pernah putus.

 

Su Ho mengarahkan ujung pistolnya saat ia melihat celah untuk menembak Chan Yeol di paha kirinya, setidaknya itu akan melumpuhkannya dan tidak akan ada lagi perlawanan saat Polisi menyergapnya nanti. Dan…

 

DOORR~

 

 

Baek Hyun membuka matanya dengan sangat terkejut, melepas pelukannya dan Chan Yeol untuk memastikan keadaan namja itu.

 

 

Chan Yeol tidak tertembak.

 

 

“HYUNG!!!” Pekik Kyung Soo menggema.

 

Itu membuat Baek Hyun tersentak dan segera menoleh. Ia menyaksikan Su Ho terduduk di tanah dengan punggung tangan kanannya mengeluarkan darah dalam jumlah banyak.

 

Dan detik selanjutnya ia melihat sosok tinggi berkostum hitam-hitam serta bermasker tengah menghampirinya dan Chan Yeol.

 

Ia terperanjat waspada, “Mau apa kau.” Bentaknya.

“Kau mau Chan Yeol mati kehabisan darah? Serahkan dia padaku.” Jawabnya.

Mata kecil Baek Hyun membulat, “Kai?” terkanya dengan suara tertahan.

“Hm… Aku pergi.” Kai langsung memapah Chan Yeol yang masih terlihat seperti patung itu. Tatapan matanya tidak fokus dan pikirannya seolah kosong.

 

Ia sempat menoleh pada Baek Hyun, bertatapan dalam selang waktu 10 detik. Seolah ingin menyampaikan sesuatu, tapi ia tidak tahu apa itu. dan kenapa pula Baek Hyun mengangguk pelan seolah ia mengerti apa yang disampaikan Chan Yeol dengan tatapan itu? sekali lagi ini betul-betul menyiksanya.

 

Ia hanya tertembak di bahunya, tapi entah kenapa, ia seperti merasakan….

 

 

 

Mati.

 

 

 

~**Amaterasu**~

 

 

Lu Han meletakkan sewadah air hangat dan handuk kecil di atas nakas, kemudian beranjak menutup tirai setelah ia memastikan tidak ada apa-apa di luar sana.

“Rumah ini aman, tenang saja.” Ucap Kai seolah tahu kekhawatiran Lu Han.

Namja cantik itu menoleh, dan bisa ia saksikan gerakan Kai yang begitu cekatan membuka kotak peralatan medis, mengeluarkan sepasang Handskun dan memakainya kilat.

“Bantu aku lepaskan pakaian atasnya.” Perintah Kai.

“Ba… baik.” Lu Han menurut, dan langsung menghampiri Chan Yeol yang duduk bersandar di atas tempat tidur.

 

Sempat ia lihat wajah pucat Chan Yeol itu, tatapannya kosong dan tidak ada apa-apa di sana. Matanya memang fokus ke depan, tapi tidak betul-betul ada objek yang menjadi fokus tatapannya, dan itu sungguh suatu pemandangan miris untuk seorang Avenger yang tidak memiliki hati.

 

“Cepatlah, pelurunya harus dikeluarkan.” Pinta Kai lagi.

“N… Ne.” Lu Han buru-buru menyelesaikan tugasnya. Ia sedikit meringis saat ia berhasil melepas kaos pas badan Chan Yeol. Di bahunya jelas terlihat luka bekas tembakan yang masih mengeluarkan darah.

Lu Han meringis karena ia yakin luka itu sangat perih dan sakit, tapi… ekspresi Chan Yeol sama sekali tidak memperlihatkan bahwa ia kesakitan, seperti orang yang telah mati rasa, padahal Kai baru saja akan menyuntikkan Lidokain di sekitar area luka itu.

Kai pun sedikit takjub karena Chan Yeol tidak menunjukkan reaksi apa-apa saat jarum suntik itu menembus kulit dan dagingnya.

“Ini sakit, percayalah.” Kai mengambil satu pinset Anatomis dan Cirurgis, bersiap mengeluarkan peluru yang menembus bahu Chan Yeol itu, “Jangan karena melihat orang ini tidak bereaksi apa-apa maka kau menyangka ini tidak sakit.”

“N.. Ne… melihatnya saja aku sudah merasakan sakitnya. Apa kau yakin bisa melakukannya? Tidakkah seharusnya kita memanggil dokter?” tanya Lu Han cemas.

“Percayalah, aku sudah melakukan ini berkali-kali.”

Lu Han pun mengangguk, dan akhirnya membenarkan bahwa Kai bisa melakukannya. Terbukti saat ia berhasil mengeluarkan sebuah peluru utuh dari bahu Chan Yeol itu. selanjutnya dengan cekatan ia menangani luka Chan Yeol itu, terakhir mambalutnya cukup kuat karena bisa saja terjadi sedikit retakan pada tulang selangkanya.

Kai menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya, “Orang ini seperti mati.”

“Ne?”

“Ah ani… Kurasa sebentar lagi Kris sajangnim akan menelpon, jadi ceritakan saja apa kebenarannya.”

“Ne Kai…”

Kai menoleh, mendapati wajah sembab Lu Han, “Kau tidak terluka?”

Lu Han mengangkat wajahnya dan menatap Kai sendu, “Kurasa dia lebih terluka.” Jawabnya sambil menunjuk Chan Yeol dengan dagunya.

“Ikut denganku, dia butuh ruang untuk sendiri.”

Lu Han mengangguk lemah, masih mengarahkan pandangannya pada sosok Chan Yeol yang seperti mayat hidup itu.

 

 

“Byun Baek Hyun…. Kekuatan apa yang ia punya hingga sukses melukai dua Avenger sekaligus?” Rutuk Lu Han tertahan, terlihat kilatan amarah yang semakin menjadi-jadi di kedua bola matanya.

“Lu Hanie…”

“Jangan menegurku lagi Kai, aku membencinya.”

Kai menghembuskan nafasnya cukup berat, “Tidak, aku tidak akan menegurmu. Karena ada yang ingin kuberitahukan padamu.”

“Apa itu?”

Kai menoleh pada Chan Yeol yang masih tak memperlihatkan rekasi apapun, kemudian ia menarik tangan Lu Han untuk keluar dari kamar itu.

 

~**Amaterasu**~

 

 

 

“Bagaimana tanganmu Hyung?” Tanya Kyung Soo saat ia masuk ke sebuah ruang perawatan Rumah Sakit Swasta Seoul. Ia meletakkan satu keranjang buah di atas meja dekat tiang Infus.

Su Ho mengangkat tangan kanannya yang dibalut perban, “Mau tidak mau aku harus membiasakan diri menembak dan beraktivitas dengan tangan kiri, karena ini pasti akan pulih dalam waktu lama.”

“Menembak? Apa di pikiranmu hanya ada itu? hanya ada pekerjaanmu? Lihat kondisimu ini. aku tahu kau adalah detektif yang handal, tapi kau juga manusia, bisa saja kau celaka karena tidak berhati-hati.”

Su Ho tertawa kecil, kemudian menarik tangan Kyung Soo agar duduk di dekatnya, “Arasso… Arasso… Istriku yang cerewet.”

Kyung Soo berdecak, “Aku tidak bercanda, tolong pentingkan juga keselamatanmu.”

“Ne… Ne, memangnya siapa yang bilang kalau kita sedang bercanda? Aku juga serius, kasus ini belum selesai. Nyawa Baek Hyun masih terancam, sebelum Park Chan Yeol dan sosok misterius di pemakaman tadi tertangkap, status Baek Hyun masih dalam bahaya.”

Kyung Soo menghela nafas, “Ck, posisi apa ini? Di satu sisi aku ingin Baek Hyun terbebas dari semua ini dan bisa hidup tenang seperti saat kami di Jepang dulu. Tapi di sisi lain, aku takut kau terluka karena terlibat sangat jauh dalam kasus ini.”

Su Ho tersenyum, kemudian membelai pipi chubby Kyung Soo dengan tangan kirinya, “Semuanya akan baik-baik saja, tenanglah. Percaya padaku, heum.”

“Bukannya aku tidak percaya padamu, hanya saja. Ah sudahlah, bukan kau namanya kalau aku mudah merubah pola pikirmu.”

Kali ini Su Ho tertawa, dipeluknya namja mungil bermata indah itu cukup erat dengan tangan kanannya.

“Kau salah, justru kau satu-satunya orang yang bisa mengubah pikiranku. Dalam rancangan hidupku sampai 20 tahun kemudian, aku tidak memasukkan rencana pernikahan sama sekali. Tapi aku merubahnya setelah bertemu denganmu.”

 

Blush~

 

Hyung…”

“Jadi jangan memikirkannya lagi. Ayo kita jenguk Baek Hyun, mungkin saja dia sudah sadar, karena aku meminta dokter memberinya obat tidur dosis ringan.”

Kyung menghembuskan nafasnya cukup panjang dan lama, “Ne… Aku juga ingin melihat kondisinya. Dia tidak banyak bicara sejak kita membawanya ke rumah sakit.”

 

~**Amaterasu**~

 

 

Lu Han mengangkat alisnya tinggi-tinggi, tak lupa mengerutkannya tatkala Kai mengajaknya ke sebuah ruangan bawah tanah di rumah tunggal yang letaknya terpencil itu. Kai tidak banyak bicara sejak tadi, ia hanya membuka sebuah lemari besi di sudut ruangan dan mengeluarkan satu koper yang tampaknya tidak begitu berat.

Ruangan itu cukup remang, dan bau mesiu yang pekat cukup menusuk hidung. Jadi tidak heran kenapa Kai tidak merokok di ruangan itu.

Lu Han mendekat ke tempat di mana Kai meletakkan koper tadi di atas meja. Ia tidak terkejut saat koper itu terbuka, matanya langsung menangkap beberapa komponen senjata api yang belum tersusun.

Dan satu lagi keahlian Kai yang baru Lu Han ketahui selain menembak, berkelahi, dan menangani luka. Gerakan tangannya cukup cepat saat ia merakit komponen-komponen itu hingga menyatu menjadi sebuah senjata api yang siap digunakan.

Kai mengarahkan senjata itu ke depan, kemudian memutar gagangnya dan menyerahkannya pada Lu Han.

“Untukmu.” Ucapnya santai.

Lu Han terkejut bukan main, dengan sedikit limbung ia mundur ke belakang hingga pinggungnya menabrak lemari.

“Ja… Jangan bercanda Kai… aku tidak bisa menggunakannya.” Ucapnya dengan gelengan kepala kuat.

“Kau sudah lihat hasil akhirnya kan? Chan Yeol tidak bisa membunuh Baek Hyun. Jadi, mau tidak mau, harus kaulah yang turun tangan sendiri.”

“Ti… tidak begitu, Chan Yeol hanya gagal kali ini. Tapi tidak akan gagal untuk yang kedua kalinya. Aku yakin itu.”

“Dan kau juga yakin masih ada yang kedua kalinya? Tidakkah kau lihat kondisi Chan Yeol? Dia sudah mati, dia bukan lagi Avenger.”

Lu Han tetap menggeleng dengan mulut terkatup rapat, matanya mulai berair dan wajahnya memucat, “Tidak… Chan Yeol akan membunuh Baek Hyun, itu sudah takdir, dan tidak akan bisa dielakkan oleh siapapun. Baek Hyun tetap akan mati di tangan Chan Yeol.”

“Lu Hanie…”

“Chan Yeol hanya shock karena Baek Hyun punya kalung itu, dan setelah Chan Yeol merasa lebih baik, dia akan menuntaskan dendamnya.”

Kai menghela nafasnya kemudian meletakkan senjata tadi di atas meja. Ia mendekat dan menyentuh pundak Lu Han yang bergetar.

“Chan Yeol tidak akan pernah merasa lebih baik. Aku sudah pernah melihat hal ini sebelumnya, jadi aku tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Jika Se Hun mengambil langkah dengan bunuh diri untuk mengakhiri kesakitannya, kurasa Chan Yeol akan mengambil langkah yang tidak jauh beda. Kau tau alasan kenapa Kris sajang-nim menyuruh bahkan memaksa para avenger untuk membunuh emosi dan perasaan mereka? Inilah alasannya, karena saat kau punya hal itu, maka kau akan mati.”

Lu Han tidak mampu merespon, ia bahkan tidak bisa melakukan apa-apa saat air matanya jatuh begitu saja.

“Aku tidak suka kau seperti ini terlalu lama, karena ini akan merusakmu semakin parah.” Kai meraih tubuh Lu Han dan memeluknya sangat erat, “Jika memaafkan Baek Hyun adalah hal yang mustahil bagimu, dan kau sudah tidak bisa berharap banyak lagi pada Chan Yeol, maka sebaiknya.. lakukan ini dengan tanganmu sendiri.”

“Kai…” Rintih Lu Han sembari mencengkram lengan kekar Kai yang terbalut jacket kulit.

Kai melepas pelukannya dan menatap Lu Han tepat di manik mata, “Aku… Tidak suka ini. Tapi aku harus.”

Lu Han membalas tatapan Kai sangat dalam, bibir bawahnya bergetar karena ini sepertinya bukan main-main.

“Aku akan mengajarimu tekhnik menggunakan senjata. Pikirkan baik-baik hal ini dan temui aku setelah kau siap.”

“Kai… Kenapa… Bukan kau saja yang  menolongku? Bunuh Byun Baek Hyun.”

Kai menghembuskan nafasnya, kemudian menyentuh pipi Lu Han dengan sangat lembut.

“Alasannya banyak. Salah satunya adalah bukan aku yang mempunyai dendam padanya. Kedua, aku tidak mendapatkan perintah untuk itu. Ketiga, kalau saja ini juga bukan perintah, maka aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuh Byun Baek Hyun.”

“Kai…”

“Jika kau bertanya apa aku punya perasaan khusus padanya? Benar, aku punya. Tapi seperti yang dikatakan sajang-nim, cinta adalah musuh besar seorang Avenger, dan aku tidak mau melanggar itu.”

Lu Han menunduk, masih  terisak. Kata-kata Kai justru semakin melukainya, dan Kai sadar akan hal itu.

Mianhae, tapi aku juga mementingkan dirimu. Percayalah.”

 

 

Hening…

 

 

“Kai…”

“Hm…”

“Jika…” Mulut Lu Han kembali terkatup, sedikit ragu ia mengatakannya.

“Jika apa?”

“Jika… posisiku dan Baek Hyun ditukar, dan kau juga mendapatkan perintah yang sama. Apakah kau juga akan mengajari Baek Hyun menggunakan senjata untuk membunuhku?”

 

Deg~

 

“Lu Hanie…”

“Jawablah… Karena aku ingin tahu, apa benar-benar ada Avenger yang tidak mempunyai hati?”

Kai menghela nafasnya panjang dan memejamkan matanya. Ia meraih senjata yang tadi ia letakkan di meja kemudian ia tempelkan persis di kening Lu Han.

“Avenger itu sudah seperti ini Lu Han. Jika Kris sajang-nim memintaku membunuhmu sekarang, maka akan kulakukan.”

Lu Han menatap Kai persis di manik matanya, bahkan saat Kai melakukan itu, tidak ada keraguan sama sekali di matanya.

Kai menurunkan senjatanya dan kembali meletakkannya di atas meja, “Avenger itu… Tidak punya hal baik apapun. Jadi jangan mengujiku.”

Kai beranjak setelah melepaskan tangannya dari pinggang Lu Han.

Ia buru-buru meninggalkan ruangan itu dan masuk ke sebuah kamar persis di sebelah kamar tempat Chan Yeol beristirahat.

Ia mengusap wajahnya cukup kasar dan mengerang antara kesal dan frustasi. Beberapa kali ia seperti ini, dan beberapa kali pula ia sulit mengontrolnya.

Ia melepas jacket kulitnya paksa dan membuka kemeja hitam yang membuatnya gerah. Teringat bagaimana Kris memintanya melakukan dua hal, dan itu masih terngiang-ngiang di kepalanya.

=====

“Dan yang kedua adalah… Lakukan cara apapun agar Lu Han mampu menggunakan senjata yang akan ia gunakan untuk menghabisi nyawa Byun Baek Hyun.”

 

Kai tersedak cukup telak, “A… Apa maksudnya sajang-nim? Bukankah anda mengatakan bahwa aku harus membawa Chan Yeol menemui Baek Hyun? Bukankah itu artinya yang akan mengeksekusi Baek Hyun adalah Chan Yeol sendiri. Bukan Lu Han.”

Kris tertawa keras, “Kurasa kau lebih tahu dariku apa yang akan terjadi nanti. Instingku mengatakan bahwa Chan Yeol tidak akan membunuh Baek Hyun hari ini, juga tidak akan membunuhnya di hari kemudian. Dan berhubung bukan hanya Chan Yeol yang mempunyai dendam pada anak itu, maka harus ada orang kedua yang bisa menuntaskan tugas ini.”

Kai terdiam, tidak tahu harus merespon apa.

“Tunjukkan pada Lu Han, apa itu Avenger yang sebenarnya. Aku tau kau punya cara sendiri unuk mengajarinya.”

“Ne sajang-nim, akan kulakukan.”

“Bagus, karena sebenarnya masih ada yang harus kau lakukan lagi setelah Lu Han sukses membunuh Baek Hyun.”

“Apa itu sajang-nim?”

Kris berdehem sejenak, dan mngubah nada suaranya menjadi semakin serius.

Bersihkan sisanya!!!

===

 

Kai merebahkankan tubuhnya di atas sebuah tempat tidur berukuran besar, ia tatap langit-langit kamar itu dengan pikiran berkecamuk.

 

Bersihkan sisanya

 

Itu adalah perintah yang paling ditakuti Kai selama ia berada di bawah kendali Kris. Karena perintah itu sungguh tidak hanya mematikan hati nuraninya, tapi segala hal yang ada padanya.

Lu Han pasti tidak menyadarinya tadi, bahwa Kai ‘mencoba’ sebuah pertaruhan awal dengan meletakkan ujung pistol di kening Lu Han. Tangannya bergetar, dan ia akhirnya tidak punya bayangan jika hari itu benar akan tiba.

 

Lakukanlah sebisamu Kim Jong In… yang terbaik.__ tegasnya dalam hati.

 

 

“Kai…”

Seruan itu membuat ia menoleh ke arah pintu yang memang tidak tertutup. Dan bisa ia lihat, Lu Han berdiri di sana dengan begitu kikuknya.

“Ada apa?” tanya Kai sembari membetulkan posisinya hingga duduk di tepian tempat tidur, menghadap Lu Han yang berjalan pelan ke arahnya.

Kai terkejut bukan main saat melihat apa yang digenggam namja cantik itu.

 

Senjata tadi

 

“Aku… Ingin melakukannya.” Jawab Lu Han saat ia sudah berdiri persis di hadapan Kai.

 

Kai harusnya senang akan hal ini karena dengan begitu, tugasnya juga akan selesai dengan cepat tanpa membebaninya lebih lama. Tapi khusus menyangkut Lu Han, terlebih Baek Hyun, entah kenapa ia berharap agar ia mampu mengulur waktu sedikitnya lebih lama dari yang ditentukan Kris.

“Hm… Ikut denganku.”

 

~**Amaterasu**~

 

 

‘Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi’

 

Baek Hyun tahu hal itu, sangat jelas. Tapi ia masih berusaha sebisa mungkin untuk mengetahui kabar Chan Yeol.

Sudah 6 hari berlalu sejak peristiwa di makam itu, dan ia seperti kehilangan jejak Chan Yeol. Seperti Su Ho yang betul-betul kelimpungan mencari data-data pribadi tentang Chan Yeol.

Semua data pribadi Park Chan Yeol yang ia temukan di WYF group betul-betul bertolak belakang dengan data Park Chan Yeol, anak sulung Presdir terdahulu PJS group. Dan itu menyulitkan Su Ho untuk semakin mempertegas bahwa pelaku kriminal yang paling dicari itu adalah orang yang sama dengan yang meneror Baek Hyun.

Baek Hyun tidak heran akan hal itu, dia juga tidak akan mempertanyakan segala persiapan matang seorang Avenger sebelum memulai aksinya, termasuk sebisa mungkin mengaburkan data pribadi asli miliknya.

 

Tuk~

 

Baek Hyun menoleh saat melihat Kyung Soo meletakkan secangkir cokelat cereal hangat di atas meja dekat tiang infusnya, kemudian duduk di tepian tempat tidur Baek Hyun.

“Baek Hyun-ah, minumlah. Setidaknya ada sesuatu sebagai pengisi perutmu.” Pinta sahabatnya itu.

“Aku tidak lapar Kyung Soo-ah.”

“Aku sudah mendengar ini lebih dari 10 kali sejak kemarin. Dan aku tidak percaya.” Kyung Soo meraih tangan Baek Hyun yang tidak ditutupi selimut dan menggenggamnya erat.

 

“Jebal… jangan menyiksa dirimu, kau bisa sakit.”

Baek Hyun berusaha tersenyum, “Aku tidak apa-apa Kyung Soo-ah. Percayalah.”

Kyung Soo menghela nafasnya pasrah, kemudian mengusap rambut Baek Hyun lembut, “Arasso, sejak kapan kau mau mendengarku.”

“Kyung Soo-ah…”

“Ah sudahlah, aku pergi dulu, sejak tadi pagi belum mandi. Sekalian menunggu Su Ho Hyung menjemputku.”

“Hm, maaf merepotkanmu terlalu banyak Kyung Soo-ah…”

“Ani, aku justru lebih kerepotan karena tidak tahu harus kuapakan semua makanan yang kusiapkan untukmu itu.” Ucapnya kesal sembari menujuk kotak makanan di atas meja.

“Mian… Mian… Nanti kumakan. Jadi pulanglah beristirahat.”

“Baiklah, jaga dirimu. Kau tidak perlu cemas karena Su Ho Hyung sudah menyewa beberapa orang untuk berjaga di depan kamar perawatanmu.

“Ah, kumohon jangan berlebihan Kyung Soo-ah, katakan pada Su Ho Hyung untuk menyuruh mereka pergi dan beristirahat. Aku tidak apa-apa.”

“Apanya tidak apa-apa? Pembunuh itu bisa saja datang kapapun dan mencelakaimu.”

 

Deg~

 

“Dia bukan pembunuh.”

Kyung Soo terdiam mendengar penegasan Baek Hyun yang terkesan sangat serius itu. Ia tidak habis pikir, bagaimana mungkin Baek Hyun masih terus membela orang yang hampir saja melenyapkan nyawanya? Baek Hyun bahkan berkali-kali menutupi apa yang dia ketahui tentang Chan Yeol saat Su Ho menginterogasinya, dan itu membuat Su Ho cukup kesal padanya.

“Istirahatlah, aku pulang dulu.”

Baek Hyun hanya mengangguk, masih sedikit tersinggung karena ucapan Kyung Soo. Ia bahkan mengelak saat Kyung Soo hendak mengecup keningnya seperi biasa. Dan yang bisa dilakukan Kyung Soo hanyalah menghela nafas dan mengusap bahu sahabatnya itu sebelum betul-betul meninggalkan ruangan.

 

Katakan saja Baek Hyun gila, karena ia melindungi namja yang kapan saja bisa mencelakainya. Tapi apakah Baek Hyun betul-betul gila jika ia berusaha melindungi namja yang begitu ia cintai?

 

Baek Hyun menghela nafasnya, kemudian kembali merebahkan tubuhnya di atas Brankar ruang perawatan Rumah sakit tempatnya menginap. Alasan Su Ho memaksanya untuk terus dirawat adalah, agar mudah mengawasinya, dan Chan Yeol akan sulit menemukan jejaknya.

 

Tapi tahukan orang-orang seperti Su Ho mengenai sesuatu?

 

Chan Yeol tidak bercanda saat ia mengatakan, harus ada dirinya dalam setiap tarikan nafas Baek Hyun.

 

 

~**Amaterasu**~

 

 

Kai meletakkan wadah besi yang berisi perban bekas di bawah meja, kemudian dengan terlatih membalut luka Chan Yeol dengan perban baru dan terlihat lebih bersih.

Sejak 6 hari yang lalu, Chan Yeol masih seperti itu. Seperti manusia yang kehilangan nyawanya di suatu tempat. Dan Kai tidak bisa berkomentar banyak akan hal itu.

Ini bukan perkara biasa. Ini mengenai tujuan hidup Chan Yeol yang tiba-tiba saja putus akibat sesuatu hal yang begitu membuatnya serasa tertampar. Bukan hanya mengenai ia telah terlanjur mencintai target balas dendamnya, tapi masih ada hal lain, dan itu justru melukainya lebih dari apapun.

Mengingat bagaimana terlukanya Chan Yeol setelah melihat kalung itu. Sebuah benda penting yang ditinggalkan Se Hun sebagai pesan tersirat bahwa…

 

“Hyung… Kau lindungi aku dengan nyawamu, maka dengan nyawamu pula kulindungi orang yang sangat  kucintai… Byun Baek Hyun.”

 

Tidak heran kenapa Kai tahu makna mendalam itu. Karena seperti yang Baek Hyun bilang, Kai adalah portal, dan bisa jadi sebagai penghubung antara satu dengan yang lain.

Chan Yeol kepada Se Hun, Se Hun kepada Baek Hyun, Baek Hyun kepada Chan Yeol, dan juga Lu Han kepada Se Hun.

Kai berada di tengah-tengah dan ia tahu segalanya. Bahkan tanpa mendengar langsung apa pesan yang terkandung di dalam kalung yang terus digenggam Chan Yeol itupun dia sudah tahu jelas.

 

“Baek Hyun dirawat di sebuah rumah sakit swasta di Seoul.”

 

Mata Chan Yeol berkedip. Itu salah satu contoh bagaimana Kai begitu mengenal Chan Yeol, bahkan apa yang bisa membuatnya memberikan respon setelah sejak kemarin-kemarin ia seperti orang bisu dan tuli saat diajak mengobrol.

 

“Dia… terluka?” tanya Chan Yeol begitu lirih, tapi tidak mengurangi nada kecemasan di sana. Dan untuk suara pertama sejam 6 hari yang lalu, itu masih cukup jelas.

“Tidak, tapi kondisinya cukup lemah, karena dia menolak untuk makan. Sama sepertimu.” Jawab Kai berusaha tenang.

Chan Yeol tidak lagi merespon. Ia hanya memejamkan matanya, mencoba tertidur.

Lu Han masuk sembari membawa sebuah nampan berisi makanan hangat untuk Chan Yeol, kemudian diletakkan di atas meja.

“Makanlah Park Chan Yeol, kurasa kau butuh ini untuk memulihkan staminamu.” Ucap Kai kemudian meninggalkan ruangan setelah memberi anggukan berarti pada Lu Han.

 

Namja cantik itu menggantikan posisi Kai dan duduk di tepi tempat tidur.

 

“Chan Yeol-shii, makanlah walau hanya sedikit.” Pintanya lembut.

“Akan kumakan, jadi keluarlah.” Balas Chan Yeol tanpa membuka matanya.

 

Sebuah helaan nafas panjang menunjukkan bahwa namja berparas cantik itu menyerah untuk kesekian kalinya. Masih kuat di benaknya saat ia pertama kali bertemu dengan sosok Park Chan Yeol. Sosok yang tanpa sungkan meledakkan pistolnya menembus kepala orang lain tanpa mempertimbangkan benar salahnya orang itu. Sosok yang sangat haus darah jika emosinya meningkat, begitu buta akan makna cinta sampai saat ia terjerat tanpa sadar, itu justru melukai harga dirinya.

Awalnya Lu Han menganggap, Avenger itu adalah sosok dengan aura pekat yang hanya berbeda beberapa ruas jari dengan malaikat maut. Avenger itu sosok terkuat yang ditempa bertahun-tahun agar tidak memperturutkan perasaan dalam dendam.

 

Tapi…

 

Melihat kondisi Chan Yeol yang sekarang, akhirnya Lu Han sadar akan sesuatu…

 

Avenger itu… masih manusia, yang saat ia terluka, maka ia akan terlihat lebih rapuh dari apapun.

 

“Aku keluar.” Lirih namja cantik itu seiring langkahnya meninggalkan ruangan yang atomosfernya lebih menyedihkan dari pada pemakaman. Tetapi sebenarnya masih ada kesamaan, karena sosok yang tengah terbaring di tempat tidur itu, seolah telah kehilangan nyawa.

 

Chan Yeol membuka matanya, menatap langit-langit kamar yang memiliki ukiran rumit seperti api, mengingatkannya pada sebuah identitas yang ditegaskan sebagai jati dirinya sendiri.

Avenger…

Amaterasu…

 

Sosok yang diselimuti dendam berbentuk kobaran api kekal yang tidak akan pernah padam. Dengan pemicu sebuah kemarahan yang akan membuat kobaran itu semakin megah.

 

Sebenarnya… Tak ada yang lebih menakutkan saat kemarahan itu memuncak dan menebarkan apinya ke segala penjuru…

Tapi sosok yang dibentuk dan ditempa bertahun-tahun itu kini lenyap hanya dalam kurun waktu yang sangat singkat.

Dampak rasa kecewa… sakit hati… dan… putus asa… terlihat begitu jelas dan itu sungguh mematikan.

 

Park Chan Yeol …

 

Seorang Avenger yang terluka…

 

Luka itu sangat terasa, sangat menyiksa, dan bila disimbolkan dengan kata-kata, apa yang ia alami seperti burung yang kehilangan sayap, seperti ilalang kehilangan tangkai, seperti laut kehilangan air, seperti gunung kehilangan ketinggian, seperti gurun kehilangan pasir, bahkan seperti matahari kehilangan cahaya… luka yang betul-betul membuat jati dirinya hilang.

Berawal dari keretakan… berakhir dengan sebuah luka yang terus berdarah…

Rasanya sosok diri Avenger yang sebenarnya sudah tidak ada lagi. Parahnya… ia sendiri tidak tau kapan sosok dirinya yang sebenarnya pergi… ia merasa… tak mengenali dirinya yang sekarang…

Entahlah… ia bahkan merasa tidak yakin kalau sosok Avenger yang sebenarnya pernah ada. Dan sebuh halusinasi menyerangnya dengan segala bentuk ketakutan… ataukah sosok dirinya yang sebenarnya hanyalah sebuah ilusi?…

 

 

Deg~

 

Sebuah hantaman baru membuatnya terhenyak.

 

Jika sosok Amaterasu telah padam… Jika sosok Avenger telah musnah…

Lalu siapa sebenarnya sosok Park Chan Yeol yang sekarang?

 

Lalu… jika rantai kebencian itu telah putus, dan kobaran api dendam itu telah redup…

 

Maka apa tujuan hidup Park Chan Yeol sekarang?

 

Greb~

 

Ia mengangkat tangannya yang masih menggenggam kalung yang menjadi akar dari segalanya.

Di sana terdapat sebuah peluru yang telah mengukuhkan dirinya sebagai seorang Avenger. Sebuah peluru yang terukir identitas asli dirinya, bahwa dia adalah sosok Api yang tak akan padam…

 

Amaterasu…

 

Tapi di akhir, justru peluru itulah yang membuatnya ambruk.

 

Peluru yang dianggap jati diri,  justru melenyapkan jati dirinya yang sebenarnya.

 

 

Dan satu-satunya orang yang dianggap harus bertanggup jawab akan hal itu adalah…

 

 

 

 

Byun Baek Hyun!

 

 

~**Amaterasu**~

 

 

“Ah maaf…” Lu Han buru-buru berbalik dan menghadap tembok saat tanpa sengaja ia masuk ke kamar Kai tanpa mengetuk, dan mendapati Kai tengah melepaskan baju kaosnya.

“Kenapa kau sekaku itu? Bukankah kau sudah pernah melihat lebih dari ini?” Ucap Kai sedikit dihiasi senyuman.

Pipi Lu Han merona, dan akhirnya ia pun hanya bisa mengangguk dan memberanikan diri memandang Kai yang saat itu memang sedang topless.

“Mengenai latihanku… Kai…”

 

Kai sedikit bergumam, “Baru 6 hari, jadi tidak apa-apa kalau belum ada kemajuan.”

“Eum… bisakah kau menerapkan tekhnik latihan yang kau terima dari sajang-nim, kepadaku?”

Namja tampan itu mengangkat alis tinggi-tinggi, “Tidak, itu terlalu keras. Yang akan kuajarkan padamu hanyalah agar bisa melesatkan peluru minimal tidak meleset dari sasaran.”

Lu Han terdiam, terlihat gerakan ekspansi dadanya yang cukup berkontraksi, artinya ia menarik nafas cukup dalam dan menghembuskannya panjang.

 

“Aku hanya… Tidak ingin membuang waktu Kai.”

 

Kali ini Kai yang terdiam. Masih mengamati bahasa tubuh Lu Han yang tidak mampu menyembunyikan ambisinya untuk menyelesaikan ini semua.

 

“Jika benar… Chan Yeol tidak bisa menghabisi Byun Baek Hyun, aku yang akan melakukannya. Dan sebelum Chan Yeol mengubah dirinya menjadi seorang pelindung bagi Byun Baek Hyun… Aku harus bertindak lebih cepat dan melenyapkan nyawa Byun Baek Hyun.”

 

Kai memejamkan matanya cukup rapat, sedikit tidak suka melihat ambisi menggebu-gebu dari sosok sepolos Lu Han, betul-betul tidak suka.

 

“Baiklah…” Kai kembali memasang baju kaosnya, meraih jaket yang tergantung di belakang pintu dan memakainya kilat. Ia menghampiri Lu Han dan berdiri tegap di hadapannya.

 

“Aku tidak akan membuang-buang waktumu, saatnya kau belajar menembak objek hidup.”

 

Mata kecil Lu Han membulat, “Ob… Objek hidup?”

“Hm, dulu aku mendapatkan latihanku menembak objek hidup setelah 1 tahun mengusai tekhnik menembak dengan berbagai jenis senjata. Dan kau tahu siapa korban pertamaku?”

Luhan menggeleng cepat, cukup terintimidasi dengan tatapan tajam Kai.

“Seorang pelayan yang mengurusku sejak aku menjadi anak didik sajang-nim. Dalam artian lain… ibu angkatku.”

 

Lu Han menelan ludahnya dengan susah payah, kedua mata mungilnya masih menatap Kai waspada.

“La… Lalu siapa yang harus kubunuh?”

Kai menepuk pipi Lu Han lembut, “Orang terdekatmu yang tersisa bukankah hanya aku dan Park Chan Yeol, jadi tidak mungkin kuminta kau membunuh kami.”

“Lalu?”

Kai menarik tangan Lu Han, menyerahkan senjata yang entah sejak kapan dipegangnya itu, “Bisa siapa saja. Kajja…”

 

~**Amaterasu**~

 

Malam itu, seperti biasa Baek Hyun hanya bisa terdiam saat Su Ho memasang segala jenis alat aneh di kamar perawatannya. Sesekali terdengar bunyi ‘bip’ saat Su Ho mengetes alat detektor logam berat dan bubuk mesiu itu.

Anggukan kecil dan senyum puas terlihat tatkala detektif tampan itu memastikan alatnya berfungsi sempurna. Setelahnya ia menghampiri brankar tempat Baek Hyun duduk bersandar sambil menatapnya datar.

“Karena kau menolak kami mengawasimu di ruangan ini, jadi terpaksa aku harus memasang alat-alat ini di sini. Kuharap kau tidak keberatan.”

“Terserah kau saja Hyung.”

“Sudah ada 4 yang menjaga di luar. Aku… Dan Kyung Soo menginap di hotel yang tak jauh dari sini, begitu ada hal-hal yang mencurigakan, aku akan langsung ke sini, jadi kau tidak perlu takut.”

“Bisakah aku pulang saja Hyung, kau seperti memenjarakanku.”

Su Ho menghela nafas, kemudian mengusap lembut puncak kepala Baek Hyun, “Ini juga demi keselamatanmu, jadi kumohon menurutlah padaku.”

Baek Hyun tidak menjawab, ia akhirnya kembali merebahkan tubuhnya di brankar dan langsung menarik selimut, “Aku lelah Hyung, aku ingin istirahat.”

Su Ho tersenyum kemudian membetulkan selimut Baek Hyun yang tidak menutupi kakinya, “Ne, istirahatlah.” Ucapnya kemudian meninggalkan ruangan itu setelah mematikan lampu.

Sebuah helaan nafas panjang terdengar, Baek Hyun kembali bangkit dan duduk bersandar di sana. Tangan lentiknya meraih sakelar lampu tidur agar ruangan itu tidak terlalu gelap.

 

Mata kecilnya terpejam, ia tangkupkan kedua tangannya di depan bibirnya, ia tekuk lututnya hingga ia bisa menumpu di sana.

 

“Park Chan Yeol….” Lirihnya pelan namun terdengar penuh perasaan, karena memang benar, tak ada detik yang terlewat tanpa ia memikirkan namja bermarga Park itu, tak ada nafas yang terhembus tanpa ia mencemaskan namja itu, dan setiap detak jantung selalu ada nama itu.

 

Bagaimana keadaannya?

 

Apa ia baik-baik saja?

 

Apakah ia bersedih?

 

Apakah ia terluka?

 

Ia tertembak, bagaimana lukanya?

 

Dan segunung pertanyaan lain yang menandakan betapa ia ingin sekali bertemu namja itu, kembali memeluknya dan meneriakkan namanya disertai kalimat yang sebenarnya ia ingin ucapkan berjuta-juta kali agar namja itu mempertimbangkannya.

 

“Aku mencintaimu Park Chan Yeol.. sangat mencintaimu

 

Dan itu justru mengantarkannya pada sebuah kesakitan luar biasa dari dalam. Berasal dari dada kirinya, menjalar ke tenggorokannya hingga seperti ada batu karang yang mengganjal, naik ke kepala dan membuatnya berdenyut hebat, dan akhirnya respon terakhir yang dikeluarkan tubuhnya adalah dengan menangis.

 

Ia ingat bagaimana cara Chan Yeol menatapnya setelah ia melihat kalung itu. Ia ingat bagaimana terlukanya namja itu saat tahu bahwa alasan mengapa ia ingin membunuh Byun Baek Hyun, justru melarangnya untuk melakukan hal itu.

 

Park Se Hun! Adiknya yang paling berarti dalam hidupnya.

 

 

~**Amaterasu**~

 

Kai menghentikan mobilnya persis di depan sebuah rumah yang cukup elegan namun sulit terjangkau karena terdapat di daerah terpencil dan betul-betul jauh dari kota.

Ia menoleh pada Lu Han yang duduk di jok sebelah, dalam keadaan cukup… sekarat.

Bukan dalam artian harfiah, tetapi melihat tatapan matanya yang mencekam, wajahnya yang pucat pasi, bibirnya membiru, tangannya yang masih menggenggam pistol terlihat bergetar dan nafasnya yang memburu itu terlihat jelas bahwa ia mendapat serangan tepat pada mentalnya.

Kai membuka pintu mobilnya, bergegas turun untuk kemudian menghampiri Lu Han dengan membuka pintu mobil di sisi yang satunya lagi. Tanpa membuang waktu Kai langsung menggendong tubuh Lu Han yang betul-betul sekarat itu.

Namja tampan berkulit sehat itu langsung menerjang pintu depan, dan buru-buru memasuki sebuah ruangan yang memang selama 6 hari ini menjadi kamar Lu Han.

Ia rebahkan tubuh yang lebih pendek darinya itu di atas tempat tidur berukuran besar, dan langsung menyelimutinya dengan selimut tebal, berhubung ia betul-betul merasakan bahwa tubuh Lu Han sangat dingin.

Set point di hyphothalamus nya menurun drastis, dan bisa jadi itu pengaruh ketakutan berlebihan setelah apa yang dia lakukan hampir satu jam yang lalu.

 

Kai memintanya menembak objek hidup, dan benar yang dimaksud adalah seorang manusia yang tidak tahu apa-apa kenapa ia harus menyerahkan nyawanya sebagai uji coba target tembakan Lu Han.

 

Seorang namja paruh baya yang malam itu tengah membetulkan mesin mobilnya yang mogok di tengah jalan yang memang sepi dan remang. Kai tidak banyak pertimbangan saat menghentikan mobilnya sekitar 10 meter dari namja paruh baya itu, dan seperti tidak ada masalah, Kai hanya mengatakan, “Tembak ia tepat di dada kiri.”

Dan Lu Han yang memang tidak cukup berani melakukan itu dengan tangannya sendiri, harus berpikir ribuan kali untuk mengarahkan pistolnya dan akhirnya melesatkan peluru itu ke arah namja paruh baya yang mungkin saja sedang dinantikan kedatangannya oleh anak dan istrinya di rumah.

 

Tembakannya meleset, bukan di dada kiri tapi perut dan Kai menyuruhnya menembak untuk kedua kalinya dan peluru kedua bersarang di dada kanan.

Untuk seseorang yang sudah dilatih bertahun-tahun untuk menembak target dengan tepat seperti Kai, Chan Yeol dan Se Hun, menembak dada kiri sebenarnya sama saja mudahnya dengan meletupkan jari. Tapi bagi Lu Han yang baru diperkenalkan dengan senjata selama 6 hari, menembak seseorang tepat di dada kiri jelas sebuah tugas yang sangat berat.

Targetnya itu ambruk dengan tubuh bersimbah darah. Dan siapapun pasti tahu, tidak harus menembak tepat di jantung karena namja itu pasti akan tewas beberapa menit lagi karena kehabisan darah. Terlebih tidak akan ada yang melihatnya karena jalanan itu benar-benar sepi pada malam hari.

“K… Kai… a… aku membunuh…” Lirih namja cantik itu dengan suara bergetar.

Respon Kai hanya terdiam, karena memang untuk siap membunuh, waktu yang dibutuhkan bukan hanya 6 hari, tapi berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Jadi Kai tidak bisa melakukan apa-apa setelah sesi ‘perkenalan’ Lu Han dengan prosesi itu.

 

======

 

“Ini yang kau sebut tidak ingin membuang waktu? Kau sama sekali tidak siap, Lu Hannie” ucapnya tenang.

Lu Han menggenggam tangan Kai yang tadi menyentuh pipinya, “Aku sudah… Siap…”

“Jangan memaksakan dirimu.”

“Setidaknya setelah aku melenyapkan Byun Baek Hyun… semuanya akan terbayar. Aku seperti ini karena aku membunuh orang yang tidak bersalah. Yang ingin kubunuh itu Byun Baek Hyun, jadi aku tidak perlu melenyapkan nyawa orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan ini. Aku sudah siap Kai… aku sudah siap.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan setelah membunuh Baek Hyun?”

 

Lu Han terdiam, menatap Kai dengan pandangan sayunya.

 

“Baiklah, sebagai Avenger, aku tidak akan menanyakan sesuatu yang berakar dari dendam. Istirahatlah, besok aku akan mengajarimu sesuatu lagi.” Kai sedikit menunduk, mengusap pipi Lu Han dan mengecup sudut bibirnya singkat, “selamat malam.”

 

Grep~

 

Kai belum sempat membetulkan posisi karena Lu Han merengkuh bagian depan jaketnya.

“Kai…”

“Heum?”

Ditatapnya penuh arti namja tampan itu, seperti mengirimkan sesuatu yang mendalam lewat sorot mata sendu itu, “Sekali lagi… Tolong… Temani aku.”

 

Deg~

 

“Lu Hannie…”

“Aku memikirkan pertanyaanmu. Mengenai apa yang akan kulakukan setelah menghabisi Byun Baek Hyun…”

Kai tidak meresepon, karena ia menunggu sampai Lu Han sendiri yang melanjutkannya.

 

“Bisakah… Kau memberiku gambaran masa depan, Kai? Karena… aku… hanya mempunyaimu, tidak adalagi selain kau yang tersisa dari masa laluku.”

 

Kai memejamkan matanya, menghembuskan nafasnya panjang. Jarak yang masih sangat dekat itu menyebabkan nafas hangatnya menyapu wajah Lu Han.

“Bagaimana bisa kuberikan kau gambaran masa depan sementara masa depanku pun… gelap.” Lirih Kai kemudian membenamkan wajahnya di leher Lu Han.

 

Namja cantik itu memindahkan tangannya untuk memeluk tengkuk Kai, membiarkan namja itu semakin tak menyisakan sekat antara bibirnya dan kulit leher Lu Han. Ia memejamkan matanya meresapi sentuhan lembut saat Kai mulai memanjakannya.

 

“Benar… Gelap. Sangat gelap…”

 

“Dan yang lebih penting dari itu semua… Kau harus sadar, bahwa aku… bukan Se Hun.” Tegas namja berkulit tan itu sembari melepas satu persatu kancing kemeja Lu Han.

 

“Ne… Aku memang tidak pernah sekalipun menempatkanmu sebagai pengganti Se Hun. Aku mencintai Se Hun, dan masih, sampai saat inipun seperti itu. Karena aku masih bertahan hidup sampai sekarang hanyalah untuk membalaskan dendam pada Byun Baek Hyun. Namja yang membuatnya terbunuh.”

 

Gerakan tangan Kai terhenti, ia tatap kedua mata mungil di bawahnya ini lurus-lurus, mencari sesuatu di sana.

 

Lu Han menyentuh pipi Kai dan mengerakkan ibu jarinya untuk mengelus pipinya, “Tapi… Aku mampu menyentuhmu Kai. Dan aku membutuhkanmu.”

 

Kai butuh waktu sekitar 10 detik untuk menerjemahkan makna kalimat itu, dan ia bertemu pada satu titik kesimpulan.

 

Kau justru semakin membuat posisiku sulit Lu Hannie. Dan akan semakin sulit pula jika aku harus bertemu dengan akhir yang melibatkanmu.__Keluhnya membatin.

 

“Kai…”

 

“Avenger tidak punya perasaan Lu Hannie.”

 

“Aku tahu, tidak apa-apa. Kai yang tanpa perasaanpun tidak apa-apa.”

 

“Tapi kurasa… Satu kali saja melanggarpun tidak apa-apa.” Kai beringsut, membetulkan posisinya hingga betul-betul menindih tubuh Lu Han.

 

“Ne?”

 

Kai tersenyum, dan senyum itu cukup berbeda, “Untuk malam ini saja… Biarkan Avenger bernama Kai menunjukkan bahwa ia punya perasaan.” Namja tampan itu menyentak kemeja Lu Han yang kancingnya sudah terlepas semua.

“K… Kai?”

 

“Aku…”

 

 

 

 

 

 

 

“ Menyayangimu.”

 

Mata kecil Lu Han membulat, terlebih Kai tidak memberinya kesempatan untuk mencerna kalimat singkat itu karena kali ini Kai mencium bibir Lu Han, bukan di sudut kanan, bukan pula di sudut kiri, tapi bibir Lu Han seutuhnya.

Dan Lu Han membiarkan Kai menyentuhnya terlebih dahulu tanpa perlu ia tuntun lagi seperti pertama kali mereka melakukannya dulu.

 

 

 

~**Amaterasu**~

 

 

Baek Hyun membuka matanya yang basah, perlahan memaksa tubuh lemahnya untuk turun dari brankar-nya, nyatanya ia memang tidak bisa memaksa matanya untuk terpejam karena itu justru membuatnya semakin perih akibat air mata yang tak bisa ia bendung.

Ia perlahan melangkahkan kaki nya menapak lantai yang dingin karena ia memang tak mengenakan alas kaki. Merasa selang infusnya membuat pergerakannya terbatas, ia melepasnya secara perlahan.

 

“Arrgghhh…”

 

Perih dan sakit itu ia abaikan, karena ia tidak membutuhkannya. Bahkan saat lubang bekas jarum infus di tangannya itu mengeluarkan darahnya, ia abaikan dan terus melanjutkan langkahnya menuju jendela.

 

Angin malam langsung menerpa tubuhnya, membuat mata kecilnya terpejam dan membiarkan angin memanjakan kulit putihnya yang tampak bersinar akibat pantulan cahaya lampu taman Rumah sakit besar itu karena memang ruangan yang ditempati Baek Hyun, menghadap ke taman belakang.

Anginnya berbeda, seperti sengaja berhembus menyapa Baek Hyun, menyampaikan salam seseorang yang sebenarnya juga sedang ia rindukan.

 

“Park Chan Yeol… Aku ingin… Bertemu lagi denganmu…” lirihnya pelan, seirama dengan aliran air mata yang menetes.

 

 

Cklek~

 

Blam~

 

 

Baek Hyun menghembuskan nafas setelah mendengar suara pintu terbuka dan kembali menutup. Pertanda bahwa ada yang sengaja mengunjunginya.

 

“Hyung… Sudah kubilang aku tidak butuh pengawasan…” Keluhnya tanpa berniat menoleh.

 

Bip…

 

Bip…

 

Bip…

 

 

 

Itu adalah bunyi alat detektor yang dipasang Su Ho beberapa jam yang lalu. Alat detektor khusus yang akan berbunyi jika seseorang yang bertamu sedang membawa senjata api. Dan detektor itu tersambung dengan detektor milik Su Ho yang juga sudah pasti sedang berbunyi sekarang.

 

“Kau… Betul-betul ingin bertemu denganku?”

 

DEG~

 

Suara itu!!!

 

 

 

Baek Hyun langsung menolehkan kepalanya ke arah sumber suara itu.

 

 

Dan kedua matanya pun hampir keluar dari tempatnya saat ia memastikan siapa pemilik suara yang memang sangat ingin ditemuinya itu.

Segala aktivitas metabolismenya mendadak bekerja 3 kali lebih cepat dari biasanya. Degup jantung, pernafasan, juga aliran darahnya. Sebagai respon pertama saat ia mendapati sosok yang begitu ia rindukan itu tengah berdiri di hadapannya.

 

Menatapnya sendu…

 

 

“Park… Chan Yeol….” Lirihnya tanpa suara.

 

 

 

~**Amaterasu**~

 

Akibat Kai yang selalu merokok!

 

ALF special note: Err…. Ane mau ngomong apa tadi ye? lupir…

mian telat postnya, maklum banyak proyek…

sekali lagi NO BASH yah,,… mian juga buat HunHan Shipper, soale ane menjebloskan(?) KaiLu dalam FF ini. 

Review yang panjang yah…. adiooosss

361 thoughts on “Amaterasu (The Undying Flames)|| ChanBaek-BaekYeol || – [Chapter 7]

  1. Yaampuunn kalung nya sehun kek jimat yaa bermanfaat bgt buat baekhyunn . Sumpah bagian pas chanyeol pengen ngebunuh baekhyun terus liat kalunh sumpah itu so sweet bgt ihiihhjjh ><

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s