[Yaoi] Not About Dreams \\ ChanBaek // | Chapter 1


252763_150044155148691_838286146_n

Tittle: Not About Dreams

Author: AyouLeonForever

Genre: Yang simpel saja dululah

Rate: T(ua) ke M(uda) wkwkwkw Tapi aman lah…

Length: 2 kali pertemuan

Main cast:

      Byun Baek Hyun

      Park Chan Yeol

 

Other cast: Find them… ^^

Disclaimer: Byun Baek Hyun dan Park Chan Yeol, milik emak bapaknya, makhluk ciptaan Tuhan yang bernaung di SM. ALF cuman minjam nama.

Copyright: Seluruh alur, ide cerita dan OC murni dari hasil berdiam dirinya ALF di kamar gegara teringat olehnya.. *saahhh. Mengenai latar cerita, sedikit banyak ALF ambil dari pengalaman pribadi, tapi sudah pasti jelas ALF BUKAN musisi, wkwkwkwkwk. Masih di bidang seni sih, tapi sudahlah, dan lagi ALF belum bertemu dengan ending(?) dari perjuangan hidup(?) sendiri, ya jadi selebihnya diberi sedikit bumbu lah, termasuk kisah romansanya… aseeekkk. Kisah ALF gak semanis ini juga. banyak paitnya -_-

 Intinya dilarang menjiplak baik sebagian atau seluruh isi dari cerita ini tanpa izin dari yang punya. Kalo ngelanggar, urusannya sama Tuhan, ya kecuali lagi dirimu tidak beragama, maka dirimu abaikan peringatan ini.

ALF special note: ALF persembahkan untuk semua orang yang punya mimpi. Raih selagi kamu bisa, selagi kamu mampu, dan selama kamu masih punya waktu.

Summary: Ini bukan hanya tentang mimpi… Tapi kenyataan yang akan kau raih di masa depan!

Warning: SR dilarang baca. kecuali mau tobat trus ninggalin jejak silakan baca.

Bacanya jangan buru-buru, soalnya ini cuman 2shot jadi alurnya rada cepat, kalo ditambah bacanya cepat banget tanpa pendalaman(?) yakin feelnya gak dapet. *plak

 

Not About Dream.. #1

Chan Yeol  POV

Dia di sana, duduk di bangku panjang halte bis yang sepi. Kubilang sepi karena hanya ada aku di ujung kiri dan dia di ujung kanan.

Kupikir ada yang begitu menarik di ujung sepatunya hingga ia tak henti-hentinya memandang ke arah itu. Tak ada senyuman apalagi tawa, tapi wajahnya terlihat bersahabat.

Manis…

Kurasa itu kata yang cocok untuk mendeskripsikannya.

Sekali lagi satu bis melintas, dan seperti sebelum-sebelumnya, ia masih betah di tempat tanpa berniat mengangkat tubuhnya dan beranjak dari tempat itu, seperti berada di dunianya sendiri ia mengabaikan Bis yang baru saja meninggalkan halte karena tak ada satupun dari kami yang berniat untuk naik.

Ini sudah bis ke 3 yang dia lewatkan, dan setahuku tinggal satu bis lagi yang akan singgah satu jam berikutnya. Bis tengah malam.

Lalu apa sebenarnya yang dilakukan namja manis itu malam-malam begini?

Kupikir ada sesuatu, dan sesuatu itu seperti mengundangku untu menggeser dudukku hingga akhirnya bisa bersebelahan dengannya dengan jarak tak cukup sejengkal.

“Hai…” Sapaku pelan.

Ia menoleh dengan alis bertaut, ekspresi bingung setahuku, “Eh… um… Hai.” Balasnya kemudian mengangkat bahu lalu kembali ke aktivitasnya semula, menatap ujung sepatunya.

“Menunggu seseorang?” Tanyaku membuka obrolan.

“Tidak.” Jawabnya singkat.

“Eum… Kau sudah melewatkan 3 Bus, apa kau memang sengaja menunggu Bus terakhir?”

“Tidak juga.”

“Lalu?”

Ia menoleh lagi padaku, “Aku memang seperti ini kalau sedang gugup.”

“Gugup? Kenapa?”

Ia menghela nafas, kemudian tersenyum, “Byun Baek Hyun imnida.” Ucapnya sambil mengulurkan tangan.

Aku sedikit tersentak saat menyadari ketololanku, segera kujabat tangannya itu dan balas tersenyum, “Ah… sampai lupa, Chan Yeol… Park Chan Yeol imnida.”

Bangapda Chan Yeol-shii.”

Nado, bangapseumnida Baek Hyun-shii. Jadi… bisa aku tahu alasan kenapa kau gugup?”

“Aku, baru saja lulus audisi putaran pertama.”

“Audisi? Bukankah lulus dalam sebuah audisi adalah kabar yang menggembirakan? Tapi kulihat kau tidak hanya gugup, tapi resah. Ada yang kau pikirkan?”

“Hm, mengenai bagaimana menyampaikan ini pada orangtuaku.”

Aku mengangkat sebelah alis, “Ada… Yang kau sembunyikan dari mereka?”

“Banyak, sangat banyak.”

“Hm begitu?”

Ia tersenyum, sedikit memiringkan kepalanya karena melihat tasku yang kuletakkan di ujung bangku sebelah kiri.

“Melihat dari bentuknya, itu pasti gitar.” Terkanya.

“Ne, aku baru saja pulang dari latihan dengan teman Band ku.”

“Gitaris?”

Aku mengangguk sambil tersenyum.

“Musik memang menyenangkan, sangat menyenangkan, dan aku sama sekali tidak pernah bosan karenanya.”

Aku menatapnya lamat-lamat, sedikit menggumam sembari mengusap daguku, “Biar kutebak, kau juga suka musik sepertinya.”

“Hm, dari kecil aku suka musik.”

“Boleh kutebak alat musik apa yang kau mainkan?”

Ia tersenyum hangat, manis sekali, “Silakan.”

“Lenganmu sedikit kurus, dan pergelangan tanganmu tidak begitu kokoh, jelas bukan alat musik perkusi atau pukul. Jarimu sangat indah, ukurannya juga panjang, tapi tidak kasar, kupikir bukan gitar dan biola. Tidak seperti jariku yang kapalan.”

Ia terkekeh geli, “Lalu?”

“Kalau bukan alat musik tiup, mungkin saja kau seorang pianist? Tapi melikuat ukuran bibirmu, pasti bukan alat musik tiup. Jadi jelas saja tebakan terakhir, kau pasti seorang pianist.”

Kali ini ia tertawa kecil, sangat hangat melihatnya, “Walaupun sederhana, kurasa analisamu masuk akal. Dan memang benar, aku seorang pianist. Aku sudah mendaftar untuk sebuah pertunjukan musik tingkat pelajar se Korea Selatan, dan tadi sore aku lolos audisi putaran pertama. Kau benar, lulus dalam sebuah audisi itu sangat menyenangkan, sangat menggembirakan, hanya saja kupikir tidak semenyenangkan itu kalau yang merasakannya hanya aku.”

“Hm, ini pasti ada kaitannya dengan orangtuamu. Mereka tidak suka kau jadi musisi?”

“Ne, 2 bulan lagi aku harus mendaftar di sebuah Universitas pilihan mereka, fakultas dan jurusan pilihan mereka karena aku akan meneruskan bisnis Ayahku.”

“Sudah bisa kucerna mengenai keresahanmu ini. Kasus ini tidak jarang terjadi, pilihan yang bertentangan dengan kemauan orang tua itu sangat berat. Seperti kita tidak punya masa depan lagi.”

“Apa kau juga mengalaminya?”

“Hm, kita senasib, tapi aku begitu mencintai musik, dan akhirnya mengikuti jejak seniman-seniman yang kabur dari rumah karena tidak dapat restu dari orang tua. Seorang pembangkang, sebut saja begitu, tapi aku tidak menyesal karena ini adalah pilihanku.”

“Begitu?” Ia mengangguk-angguk seperti mempertimbangkan sesuatu.

“Ah tapi bukan berarti aku menyuruhmu mengikuti jejakku, di mana-mana melawan orang tua itu adalah kesalahan besar. Tapi aku sudah berjanji, akan kutunjukkan pada orang tuaku bahwa musisi juga bisa sukses. Tidak harus duduk diam menghadapi tumpukan berkas memusingkan di kantor.”

Ia kembali tertawa, menampakkan deretan gigi kecilnya yang rapih, ia juga memiliki 2 taring kecil yang unik, membuat tawanya semakin khas, ditambah eyesmiled-nya yang meneduhkan.

Aku suka.

“Kau hebat, karena kau berani. Kalau aku sejak kecil memang tidak pernah membantah, tidak bisa membantah lebih tepatnya. Kupikir tidak ada orang tua yang ingin anaknya tersiksa, mengenai pilihan mereka juga kurasa demi masa depanku, semuanya untuk kebaikanku, untuk itulah mengenai mimpiku menjadi seorang Pianist profesional yang bisa menembus pertunjukan skala Internasional akan kukubur saja.”

“Eh kenapa begitu? Kau ingin menyerah mengenai mimpimu?”

Ia menyandarkan punggungnya di sandaran bangku besi, kemudian mendongak, seolah menerawang sesuatu, “Kedengaran payah jika kau mengatakan aku menyerah, aku dihadapkan pada dua pilihan, dan aku memilih ikut perintah orang tuaku. Mengenai mimpiku, setidaknya aku berharap bisa masuk putaran final agar aku memiliki kenangan indah mengenai mimpiku sebelum aku betul-betul menguburnya.”

“Cukup kejam.”

“Ne?”

“Kau terhadap mimpimu.”

Ia masih tersenyum, “Kalau kita membahas mimpi, memang iya, aku kejam. Tapi… yang kita bahas ini tentang kenyataan, bukan tentang mimpi. Yang kuhadapi di depanku nanti adalah kenyataan, bukan mimpi.”

Aku tidak merespon lagi, karena aku paham posisinya. Dia bukan anak yang dengan mudah melawan orang tuanya, tidak sepertiku.

“Ah Chan Yeol-shii, sudah cukup larut, aku harus pulang sebelum orang tuaku mencemaskanku.” Ia beranjak dari duduknya, otomatis aku juga melakukan hal yang sama. Beranjak dari dudukku dan berhadapan dengannya.

“Kau tidak menunggu bis?” Tanyaku.

Ia menggeleng, “Rumahku tidak jauh dari sini, aku hanya duduk di sini untuk merenung sedikit, dan sepertinya Tuhan mengirimmu tepat waktu. Aku sedikit lebih lega setelah mengobrol singkat denganmu.”

“Ah itu… bukan apa-apa. Aku juga senang mengobrol denganmu. Aku juga sedikit lebih sadar, dan kurasa aku sudah rindu pada orangtuaku.”

“Temui mereka, mereka pasti cemas.”

“Hm, tentu saja.”

“Baiklah, sampai jumpa Chan Yeol-shii.” Ia meraih ranselnya, merapatkan jacket kemudian berbalik arah dan mulai melangkahkan kaki mungilnya meninggalkan tempat itu.

“Ah Baek Hyun-shii tunggu!” Aku sedikit berlari kecil untuk menghampirinya.

“Ne?”

“Bisa pinjam ponselmu?”

Ia sedikit kebingungan, tapi ia tanpa sungkan merogoh saku jeansnya dan menyerahkan ponselnya padaku. Sambil menahan senyum, aku mengutak-atik ponsel itu sampai terdengar bunyi ringtone yang tidak asing lagi dari balik saku jeansku.

“Eh?”

Kuserahkan kembali ponsel miliknya, “Itu nomorku, jangan dihapus.” Ucapku kemudian mengeluarkan ponselku di balik saku, “Nomormu kusimpan, annyeong!” Ucapku sembari malambai-lambaikan ponselku di depannya.

Masih sempat kulihat ia tersenyum manis sebelum aku meninggalkan halte itu. karena sebenarnya aku juga tidak menunggu bis. Aku punya motor dan kuparkir di depan cafe tempatku bekerja.

Pertemuanku dengan Baek Hyun…

Kurasa ini berjalan secara naluriah saat aku melihat namja yang begitu manis duduk termenung di halte bis. Dan setelah menunggu beberapa jam dalam pengamatanku terhadapnya, dan setelah aku berhasil mengobrol dengannya, juga mendapatkan nomor ponselnya, kupikir memang pertemuan ini bukanlah sebuah kebetulan.

Dan tentu saja akan ada pertemuan selanjutnya setelah ini.

~ξξξξ~

I wanna be a billionaire… so freakin’ bad…”

Kyung Soo mengakhiri lagu yang kami bawakan dengan begitu sempurna, berikut petikan akustik gitarku. Suara riuh tepuk tangan penonton yang kesemuanya adalah mahasiswa kampus kami bergemuruh, bahkan ketika kami sudah turun dari panggung.

“Ah suaraku serak sekali, semoga tidak ada yang menyadari.” Keluh Kyung Soo frustasi, aku langsung menghampirinya dan merangkul pundaknya.

“Ayolah, tadi itu sempurna. Suaramu daebak.” Hiburku.

“Hyung, kudengar tanganmu terkilir.” Tegur Lay, pemegang Bass kami.

“Sedikit memang, tapi tenang saja itu tidak akan berpengaruh.” Jawab Kris hyung, pemain Drum sekaligus Leader kami.

Band kami memang terdiri dari 4 anggota, seperti Kris hyung dan Lay hyung yang sudah kujelaskan posisinya, Aku di gitar dan Kyung Soo yang melengkapi vocal kami kurasa sudah mendekati sempurna.

“Chan Yeol-ah…” seru seseorang membuatku langsung menoleh, otomatis Kyung Soo juga ikut menoleh.

“Ah Su Ho Hyung, kami baru saja hendak menemuimu.” Sahutku.

Ia berlarian kemudian menghampiriku dengan tergesa-gesa, “Ponselmu berdering dari tadi, tidak biasanya.” Keluhnya malas kemudian menyerahkan smart phone itu padaku.

Mataku membelalak begitu memeriksa dari siapa- siapa saja 4 panggilan tak terjawab itu.

Kesemuanya dari Byun Baek Hyun.

“Astaga Tuhan… jam berapa sekarang?” Pekikku membuat 3 rekan band ku ditambah Su Ho hyung selaku manager dadakan kami terkejut.

“Hei, santailah. Kau ini heboh sekali. Pukul setengah 10, belum terlalu larut, dan bukankah kau bukan anak rumahan? Tumben sekali.” Ledek Kris hyung.

“Ck, aku ada janji. Semuanya aku duluan, annyeong…” Seruku kemudian berlari menerobos kerumunan mahasiswa yang masih berkumpul di depan panggung.

“Ya! Acaranya belum selesai. Kita belum makan!” seru Kris hyung tapi kuabaikan. Karena aku punya sesuatu yang lebih penting dari pada makan.

~ξξξξ~

Aku memarkir motorku asal-asalan di depan sebuah gedung yang kuyakin sebagai tempat diadakannya pertunjukan yang diikuti Baek Hyun. Ini adalah putaran kedua sejak audisi 2 minggu yang lalu. Dia menelponku pagi-pagi sekali, jadi antara sadar dan tidak saat aku mendengar bahwa ia akan tampil malam ini di mulai pukul 8 malam hingga 10 malam, dan kuharap dia menjadi peserta terakhir agar aku bisa menontnnya langsung saat jari-jari indahnya memainkan piano.

Feelingku mulai tidak enak saat kulihat orang-orang mulai keluar dari aula utama. Dan tidak banyak pertimbangan lagi saat tanganku menyentuh pundak seseorang untuk memastikannya.

“Permisi, apa pertunjukannya sudah selesai?” Tanyaku.

“Ne, baru saja.” Jawabnya kemudian berlalu begitu saja.

“Kamsahamnida.” Aku melanjutkan langkahku memasuki aula yang sudah mulai sepi, hanya terhitung beberapa orang di dalam, itupun mereka sudah berniat keluar.

Sial… bagaimana mungkin aku lupa hari ini? oh baiklah kami memang ada pertunjukan juga, tapi sebenarnya itu gampang diatur, aku bisa meminta Su Ho hyung menggeser jadwal tampil kami menjadi peserta pertama. Pembuka dan penutup bukankah akan sama-sama heboh?

Arrrghhh… bodoh kau Park Chan Yeol.

Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan yang cukup luas dan remang ini, dan tidak ada tanda-tanda keberadaan Baek Hyun. Mungkin karena dia bosan menungguku, terlebih aku ketahuan tidak menonton pertunjukannya, maka ia pulang lebih dulu.

Jinjja….

Padahal hubungan kami sudah cukup dekat, dan aku tinggal mengumpulkan moment-moment seperti ini agar kami bisa semakin dekat dan… ah kalian pasti tahu apa yang kumaksud.

Aku masih berusaha memaksa kedua mataku mencari sosok itu, mulai dari sudut ke sudut. Sampai ketika mataku ini menangkap sosok yang terduduk di bangku barisan paling depan dengan kepala tertunduk, barulah aku merasa sedikit lega.

Tanpa pikir panjang aku langsung berlari menuruni setiap tangga barisan kursi penonton menuju tempat Baek Hyun berada.

“Baek Hyun-ah…” Seruku dengan nafas tersengal-sengal.

Ia menoleh dan mendongak, “Hum? Baru datang? Pertunjukan sudah usai 10 menit yang lalu.”

Aku berdecak kemudian langsung duduk berjongkok di depannya, menyentuh kedua tangannya yang menumpu di atas paha kemudian kutatap wajah manisnya dengan serius.

MianhaeMianhaeMianhae… Tadi aku juga ada pertunjukan, festival musik tahunan di mana aku dan teman-temanku sebagai pengisi acaranya, aku bukannya lupa kalau hari ini adalah pertunjukanmu tapi__”

“Hei, gwenchana. Aku mengerti. Lagipula kau sudah datang kan?”

Aku mengeluh, “Apanya yang gwenchana? Aku betul-betul terlambat.”

Baek Hyun menarik tanganku dan mengajakku duduk di sebelahnya, “Ini masih putaran audisi, jadi bukan event yang terlalu penting. Sejak kemarin-kemarin kau terus mendukungku, itu sudah lebih dari sekedar cukup. Aku mana pernah mendapatkan dukungan sebanyak itu dari keluargaku sendiri.”

Aku menghembuskan nafas lega kemudian mengusap puncak kepalanya, “Tapi bagaimana hasilnya? Kau pasti lulus lagi kan? kau masuk putaran selanjutnya kan?”

Tiba-tiba wajahnya berubah mendung, dan jujur aku tidak suka itu.

“Baek Hyun-ah…”

“Semua peserta lomba sangat hebat, bayangkan, untuk masik 25 besar dari 50 peserta itu sungguh berat.” Ia tertunduk begitu lemah.

“Jadi tidak…. Lulus?” Tanyaku cemas.

Ia mengangkat wajahnya yang murung, kemudian tanpa terlihat jelas olehku ia mengangkat tangan kanannya dan membentuk V sign di dekat pipinya.

“Aku… Lulus… heheheheheh.” Ucapnya kemudian, berikut cekikikan khasnya.

“Aaaiiisshhh Jinja… kau membuatku hampir terkena serangan jantung.” Jeritku sembari mengelus dadaku. Bayangkan kalau Baek Hyun tidak lulus, lengkap sudahlah kesalahanku hari ini.

Mian.. Mian, mengerjaimu sesekali kan lumayan. Lagipula sebenarnya aku juga sedikit kesal karena kau tidak melihat pertunjukanku.”

“Apa-apaan ini, tadi kau bilang tidak apa-apa. Kenapa sekarang kesal lagi?”

“Ya memang tidak apa-apa sih, tapi karena kau tidak melihat pertunjukanku… rasanya jadi kesal sendiri.”

Aku berdecak, apa-apaan ini? “Ya sudah, di sana masih ada piano kan? coba mainkan untukku.” Ucapku sembari menunjuk Grand piano berwarna hitam mengkilat di atas panggung.

“Eh…?”

“Ayolah, aku ingin melihat pertunjukan solomu.”

“Eum, oke. Tapi tidak gratis.”

“Mwo? Pelit sekali.”

“Hei… kau ini ingin menonton pertunjukan seorang pianist berbakat yang sebentar lagi pensiun, jadi setiap melodi yang kau dengar dariku itu sangat berharga.”

Aku hanya bisa mengulas senyum mendengar kalimat sarkastik itu. Aku memang tidak bisa berkomentar banyak sejak itu adalah keputusan yang ia ambil setelah mempertimbangkannya matang-matang.

Geure… Akan kuberikan hadiah setelah ini, untuk itu berikan pertunjukan terbaikmu untukku.”

Jinjja? Baiklah… Kau tunggu di sini.” Ia buru-buru naik ke atas panggung. Sungguh ia terlihat begitu mempesona dengan tuxedo hitam dan dasi kupu-kupu biru yang ia kenakan. Langkahnya di panggung juga terlihat elegan, betul-betul seperti seorang profesional.

Begitu ia sudah berdiri di sebelah piano, ia berbalik ke arahku, membungkuk seolah memberi hormat, terkesan seolah aku tamu penting yang akan menikmati pertunjukan specialnya.

Aku mengangguk angkuh sambil melipat tangan di dada, bisa kulihat ia melengos karena ulahku. Dan itu membuatku tertawa.

Palli juseyo. Aku orang sibuk.” Seruku berlagak angkuh.

“Baik sajangnim…” Ia pun menyibak bagian belakang tuxedonya dan duduk begitu anggun di bangku kecil itu. jemari cantiknya sudah bersiap di atas tuts-tuts piano yang menantikannya untuk menciptakan melodi indah.

Aku langsung teringat sesuatu, segera kurogoh saku jeansku mencari ponsel, dan kuabadikan moment pertunjukan solonya itu dalam sebuah video.

Alunan nada indahpun mulai terdengar merdu. Jantungku berdegup setiap kali jemari indahnya menciptakan nada indah lainnya.

Deoneun mangseoriji ma jebal…  nae simjangeul geodueoga….  geurae nalkharoulsurok joha dalbitjochado nuneul gameun bam 

Mataku membelalak penuh. Ia… Byun Baek Hyun tidak hanya memainkan pianonya… ia… ia bernyanyi dengan begitu….

Indahnya….

Na anin dareun namjayeotdamyeon… hwigeun anui han gujeori eotdeoramyeon… neoui geu saramgwa bakkun sangcheo modu thaewobeoryeo…. baby don’t cry, tonight… odumi geodhigo namyeon…. baby don’t cry, tonight obseotdeon iri dwael geoya…. ulgeophumi dwaeneun geoseun niga aniya… kkeutnae molla ya hae deon…. so baby don’t cry, cry nae sarangi neol jikhilthenii”

Byun Baek Hyun mengakhiri pertunjukannya dengan melodi penutup yang begitu menyentuh, seperti membawamu tinggi-tinggi ke awan, jika kau menutup mata, kau akan merasa bahwa kau tidak berada di tempatmu sekarang.

Entahlah, tidak bisa kudeskripsikan dengan kata-kata. Mungkin ini juga pengaruh perasaan pribadiku terhadapnya, tapi sungguh, aku tidak bohong. Demi musik yang aku cintai sepenuh hatiku, kini bertambah satu hal di dunia ini yang akan kucintai selain musik.

Byun Baek Hyun!

“Demi Tuhan… Aku mencintaimu Byun Baek Hyun… jeongmal…” Lirihku tanpa sadar, dan baru berakhir ketololanku itu begitu Baek Hyun berdiri di atas panggung sambil memberikan hormatnya padaku. Detik berikutnya aku juga baru sadar bahwa semua tadi itu terekam oleh ponselku.

Aku langsung bertepuk tangan setelah meenghentikan rekaman videoku itu, sungguh. Ini adalah pertunjukan piano terdaebak yang pernah kutonton langsung.

Baek Hyun turun dari panggungnya dan berlari kecil ke arahku.

“Bagaimana?” Tanya Baek Hyun sambil tersenyum.

“Bagaimana apanya? Itu luar biasa…” Jawabku heboh sendiri.

“Lalu hadiahku?”

Aku terkekeh sambil menggaruk tengkukku, “Oh ya mana ponselmu?”

Baek Hyun mengerutkan kening, “Untuk apa? Kau ini.. aku meminta hadiah, kau justru meminta ponselku.”

“Pinjam…”

Baek Hyun berdecak kesal, ia mengambil tas yang tadi ia letakkan di kursi dekatku, meraih ponsel di sana dan menyerahkannya padaku, “Untuk apa?”

“Diam saja dulu.”

Kukirimkan video amatir hasil rekamanku tadi padanya, berharap dia mengerti maksudku saat ia menontonnya nanti.

“Sudah…”

“Sudah apanya?”

“Aku merekam pertunjukanmu tadi, kalau kau sampai di rumah, kau harus menontonnya lagi.”

“Untuk apa?”

“Ck jangan banyak bicara, kau mau hadiah tidak?”

“Mau…”

“Ya sudah, kalau sampai di rumah, kau harus menonontonnya. Pakai earphone biar suaranya jelas.”

“Arasso-arasso..” Ia kembali memasukkan ponsel itu ke tas nya.

“Tapi kalau boleh tahu? Kau juga bernyanyi seperti itu saat tampil di pertunjukan tadi?”

Ia menggeleng polos, “Ani, Wae? Suaraku jelek?”

“Jelek apanya? Aku tidak bercanda, tapi selain berbakat jadi pianist, kau juga berbakat jadi penyanyi.”

Ia tertawa, “Hanya coba-coba.”

Aish jinjja, sombong sekali. Pertunjukan sempurna begitu kau bilang coba-coba? Betul-betul sombong.”

“Ya mau bagaimana lagi.”

Aku terkekeh geli melihatnya mengerucutkan bibir imutnya.

“Ah, sampai lupa, ini sudah hampir larut. Kajja kuantar pulang.”

“Tenang saja, orang tuaku sedang keluar negeri, jadi pulang subuh pun aku tidak akan dimarahi.”

“Hei… Hei… mulai nakal anak ini”

Bugh~

Baek Hyun meninju lenganku, “Tidak sopan!”

Aku tertawa melihatnya kesal. Sungguh, apapun ekspresi yang ia keluarkan, semuanya indah di mataku.

Kajja… kita pulang.”

“Bawa motor?”

“Ne..”

“Asyik…”

Wae?”

“Aku suka naik motor.”

“bilang saja kau suka memelukku!”

“Park Chan Yeol !!!!”

~ξξξξ~

Baek Hyun POV

Aku sedikit melompat saat turun dari motor Chan Yeol kemudian menyerahkan helmnya.

“Terima kasih ya untuk hari ini.” Ucapku girang.

“Sama-sama, kau juga membuat hari ini sempurna.” Balasnya juga tak kalah girang. Atau memang namja ini selalu girang? Entahlah, aku tidak pernah melihatnya tanpa ia tersenyum atau sekalian tertawa, dia pribadi yang ceria. Alasan kenapa aku begitu suka berteman dengannya. Bahkan aku rela melewatkan waktu istirahatku hanya untuk sekedar mengobrol tengah malam dengannya lewat telepon, atau melewatkan latihanku saat sore hari karena Chan Yeol mengajakku jalan-jalan dan makan.

Aku serius, kesemuanya itu menyenangkan. Dalam hidupku aku tidak pernah merasa begitu gembira mempunyai teman. Ini memang berlebihan, tapi aku lebih memilih 1 teman seperti Chan Yeol dari pada disuguhkan 100 teman yang pribadinya tidak seperti Chan Yeol. Tidak heran, karena Chan Yeol memang sangat ramai.

“Lain kali aku ingin menonton pertunjukan band mu.”

“Wah boleh, dengan senang hati, akan kuberitahu kalau aku ada jadwal.”

Geure, Aku masuk dulu. Hari ini lelah sekali, aku ingin istirahat.”

“Ah Baek Hyun-ah tunggu!”

“Hm? Wae?”

“Aku serius, jangan lupa nonton videonya.”

“Arasso… Arasso, kalau aku sudah di kamar, akan langsung kutonton.”

“Hm, good, kutunggu teleponmu.”

Aku mengerutkan kening, “Kenapa aku harus menelponmu?”

“Ya kalau kau tidak menelponku, berarti kau tidak menontonnya, atau kau tidak menyelesaikannya sampai habis.”

“Sepertinya ada sesuatu.” Terkaku curiga.

“Kalau tidak ada sesuatunya tidak mungkin kudesak kau menonton pertunjukanmu sendiri.”

Aku membelalakkan mata, “Apa kau merekam sesuatu yang aneh?”

Ia tertawa geli, “Sudahlah… masuk ke rumahmu dan tonton itu sampai habis. Aku pergi. Annyeong…” Ucapnya kemudian melajukan motor besarnya, meninggalkanku yang masih kebingungan.

“Ah sudahlah, dia memang aneh.”

~ξξξξ~

Aku menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur kesayanganku setelah mengganti baju, rasanya semakin lama semakin empuk. Atau memang karena aku terlalu lelah?

Sesaat setelah aku memejamkan mata, bayangan Chan Yeol yang mengomeliku langsung muncul di benakku.

Aisshh jinjja, video itu harus ditonton dulu.” Keluhku walau sebenarnya kelopak mataku sudah sangat berat.

Aku meraih ponsel dari dalam tasku kemudian membetulkan posisi tengkurap di atas ranjang sembari mengutak-atik ponselku itu.

Tidak ada yang spesial, itu adalah video diriku yang tengah memainkan piano, sesekali di zoom ke wajahku dan jemariku yang tengah memainkan tuts piano. Suaranya tidak begitu kedengaran karena suara nafas Chan Yeol begitu mendominasi. Bahkan saat kugunakan earphone pun tetap yang mendominasi adalah suara nafas Chan Yeol.

Wajahku bersemu merah karena membayangkan yang tidak-tidak. Maksudku… nafas Chan Yeol terdengar seperti desahan yang….

Aih pikiranku menjijikkan.

Sampai di menit terakhir aku menyelesaikan permainanku di video itu, aku tidak menangkap apa-apa, aku baru saja hendak menekan tombol ‘stop’ saat tiba-tiba aku mendengar..

“Demi Tuhan… Aku mencintaimu Byun Baek Hyun… Jeongmal…”

Aku membelalak kaget, “M…M… MWO???” pekikku tak percaya. Sampai kemudian aku mengulang-ulang detik-detik terakhir video itu, tapi tidak ada yang salah dengan pendengaranku.

Itu suara Chan Yeol…

Dan dia mengatakan…

Oh bagus, jadi ini alasan kenapa dia memaksaku menontonnya,? Ck, sekarang yang bisa kulakukan adalah langsung mengontak nomornya karena jantungku sudah berdebar-debar tidak karuan. Chan Yeol berhasil mengerjaiku, seperti yang dia bilang, aku pasti akan menelponnya sehabis menonton video rekamannya ini.

“Jadi sudah dinonton?” Itu sambutannya begitu ia menjawab panggilanku.

“Tu… Tunggu, Park Chan Yeol apa maksudmu di akhir video itu?” tanyaku gugup. Aku bahkan menggigit kuku ibu jariku saking geroginya.

“Ha? Jadi tidak kedengaran? Aish padahal aku yakin sudah terekam jelas.”

Jantungku seperti dikejutkan oleh sesuatu, itu hanya karena suara Chan Yeol yang begitu santai.

“Me… Memang terekam jelas, dan… A… Aku mendengarnya dengan jelas… Ha… Hanya saja…”

Aku mendegar suara kekehan geli di seberang, “Yang itu aku serius. Sebenarnya aku tidak berniat menyatakannya dengan cara seperti itu, terkesan pengecut bukan? Tapi mau bagaimana lagi? Sudah terlanjur terekam, dan kupikir tidak ada salahnya membuatmu tahu dengan cara seperti itu.”

“Ja… Jadi benar… Kau…”

“Wae? Apa terlalu cepat kalau aku mengatakan bahwa aku sudah jatuh cinta padamu? Kalau kukatakan bahwa aku sudah tertarik padamu sejak pertemuan pertama, mungkin kau tidak akan percaya, tapi, mau bagaimana lagi. Pesonamu sudah membuatku seperti orang bodoh.”

Deg..

Deg…

Deg…

Oh Tuhan, kenapa dengan jantungku, kenapa dengan suhu tubuhku, dan kenapa aku gemetar begini?

“Byun Baek Hyun? Kau masih di sana?”

“Ah, Ne…”

“Jadi?”

“Jadi apanya?”

“Ck, apa responmu? Aku sudah mengatakannya terang-terangan kau malah sesantai itu.”

 

Santai dari jurang? Aku bahkan sudah sekarat sekarang.

“A… Aku tidak tahu harus merespon dengan cara apa?”

“Haih payah.”

“Mwo?”

“Buka jendelamu.”

“Jendela? Untuk apa?”

“Buka saja.”

Aku pun menurut, sedikit melompat dari tempat tidur, kuhampiri jendela kamarku, menyibak tirai dan menggesernya ke atas.

Deg~

“Park Chan Yeol???” Seruku tidak percaya.

Chan Yeol di bawah sana, menjauhkan ponsel dari telinganya dan menggosok-gosoknya kesal.

“Ya! Kau hampir membuatku tuli.”

“Dan kau hampir membuatku jantungan, apa yang kau lakukan di bawah sana??”

Ia tersenyum kemudian melambai ke arahku, dan apa itu di tangannya?

 

Deg~

Bunga matahari???

Piipp~

 

 

Chan Yeol memutuskan sambungan telepon, bisa kulihat ia memasukan ponselnya itu ke saku.

Dengan cengiran khasnya ia mendongak ke tempatku yang berdiri mematung dengan bodoh. ia justru begitu santai mennggenggam setangkai bunga matahari di kedua tangannya dan mengarahkannya padaku.

“Byun Baek Hyun! Aku… mencintaimu. Maukah kau menjadi kekasihku?”

Ada satu keuntungan tubuhku pendek, karena pembatas jendela ini setinggi perutku, dan itu sangat berguna pada situasi seperti ini. Mendengar ucapan langsung dari Park Chan Yeol tadi, aku hampir jatuh terjungkal keluar jendela lantai dua ini kalau tubuhku tidak tertahan pembatas jendela.

Park Chan Yeol sungguh….

“Ya! Jangan membuatku terlihat seperti orang bodoh, ayo jawab.” Serunya lagi, dan kuharap tetanggaku tidak mendengarnya.

“Ke… Kenapa tidak besok saja Park Chan Yeol? Kau hampir membuatku gila.”

Ia terkekeh, “Itu memang tujuanku, membuatmu tergila-gila padaku.”

Blush~

 

“Park Chan Yeol…”

“Jadi???”

Aku menggaruk kepalaku frustasi, “Ne… Ne. aku mau jadi kekasihmu, tapi pulanglah dulu.”

“Ha? Kau mau jadi apa? Tidak kedengaran.”

Aish… Jinjja…”

“Katakan kalau kau juga mencintaiku, baru aku mau pulang.”

Pipiku memanas, Park Chan Yeol ini sungguh…

“Ayolah, leherku pegal terus mendongak ke atas.”

Aku menyentuh dadaku yang berdebar tidak keruan, tidak lama lagi aku akan divonis mengidap kelainan jantung karena degupnya diluar kendali, ini terlalu cepat dan keras, jantungku seperti akan meledak.

“A… A… Aku… Aku…”

“Aku apa? Palli… Di sini sudah gerimis.”

Kupejamkan mataku rapat-rapat, dan kucengkram kusen jendela kuat-kuat, “AKU MENCINTAIMU PARK CHAN YEOL!!!” pekikku seperti orang bodoh. Aku tidak tahu bahwa mengucapkan kalimat itu betul-betul menguras tenaga, terbukti nafasku tersengal-sengal dan jantungku…

Eh…

Sudah lebih baik. Ternyata memang ini yang dari tadi mengganjal di dalam hatiku. Setelah mengeluarkannya memang terasa lebih baik.

Chan Yeol di bawah sana tertawa girang, “Yeayyy… Jadi sekarang kau kekasihku kan?”

“Kenapa masih bertanya lagi? Pulanglah ini sudah larut malam..”

Arasso Baby…”

Pipiku langsung memanas, “A… Apalagi dengan sebutan itu? Pulanglah, langit tampak mendung dan kurasa sebentar lagi akan turun hu__”

Tes…

Tes…

Tes…

 

BYUUUURRRRR….

~ξξξξ~

~Author POV

Cklek~

Baek Hyun menoleh saat pintu kamar mandinya terbuka. Matanya membelalak saat ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri dada bidang Chan Yeol yang terekspos tanpa sehelai benangpun, karena memang handuk yang ia berikan tadi pada Chan Yeol hanya melilit di pinggangnya saja.

“Ba… Bajumu sedang dicuci, jadi pakai ini dulu.” Ucap Baek Hyun gugup sembari menyodorkan kaos dan celana tidurnya untuk Chan Yeol.

Chan Yeol mengernyit heran, ia perhatikan dengan seksama baju yang baru saja diterimanya, tapi ia tidak ambil pusing dan langsung mengenakannya, “Masih ada yang lebih besar lagi Baek Hyun-ah? ini sem__”

Breet~

 

“Pit…” Lanjut Chan Yeol tapi terlambat, karena kaos yang dipaksa masuk ke badannya itu justru sobek di bagian kerah.

Baek Hyun menghela nafas pasrah, “Itu sudah yang paling besar.”

Gwenchana… Gwenchana, ini tidak begitu sempit juga, dari pada tidak pakai baju sama sekali kan?”

“Ya sudah, terserah.” Baek Hyun menyerahkan satu handuk lagi pada Chan Yeol, “Keringkan rambutmu.”

“Ne, gomawo.”

“Hujannya lebat, jadi kau pulang naik mobil saja, akan kutelpon Kim ahjushi untuk mengantarmu.”

“Eh, dari pada repot mengantarku pulang, lebih baik aku menginap saja, kulihat ranjangmu luas.” Chan Yeol sedikit melompat saat merebahkan tubuh jangkungnya di ranjang king size itu.

Mwo? Kau gila? Kita baru resmi berpacaran 15 menit yang lalu dan kau sudah menerobos ke kamarku?  Dasar tidak sopan.”

Chan Yeol tertawa puas, “Ini bukan perkara waktu, Baby.” Ia menepuk-nepuk sisi tempat tidur sebelahnya, seraya meminta Baek Hyun mendekat.

“Lalu?” Baek Hyun menurut saja, ia duduk di sebelah Chan Yeol yang terbaring sembari menyibak rambut Chan Yeol yang masih basah.

“Kau mencintaiku kan?”

Baek Hyun menggaruk kepalanya, “Iya sih, tapi kan…”

“Ya sudah, itu cukup.” Chan Yeol menarik tangan Baek Hyun hingga ia menunduk, dan tanpa sungkan lagi ia gapai bibir mungil itu dengan bibirnya yang dingin.

Namja mungil itu hanya bisa membelalak kaget, ingin berteriak tapi bibirnya sudah di bungkam oleh namja tampan yang sudah menjadi kekasihnya ini. meronta pun percuma, karena Chan Yeol lebih cepat memeluk pinggangnya dan membantingnya ke tempat tidur.

“Ya Park Chan Yeol, jangan gila.” Protes Baek Hyun setelah berhasil melepas tautan bibir mereka. Wajah Chan Yeol masih begitu dekat di atasnya, dengan seringaian khasnya tampak begitu tampan terlebih saat rambut pirangnya itu basah.

“Bagaimana ini? aku terlalu menyukaimu.”

“Tapi tidak harus seperti ini juga kan? Aku juga sangat menyukaimu, jadi bersikap baiklah, jangan sampai kau mengecewakanku.”

Arasso… Memangnya siapa yang mau mengecewakanmu. Di bibir saja tidak apa-apa kan?”

“Chan Yeol… lihat kondisimu.”

“Tenanglah Baek Hyun-ah, di antara teman-temanku, akulah yang paling hebat dalam pengendalian diri.”

Baek Hyun mengerutkan keningnya, “Pengendalian diri? Maksudnya?”

“Mau coba?”

“Eh… Tidak per__eummppphh…”

Dan Chan Yeol kembali mengekspresikan rasa sukanya itu pada Baek Hyun. Seperti yang ia katakan, pengendalian dirinya cukup bagus, dan itu yang ia tunjukkan. Ciumannya tidak begitu menuntut, terkesan manis dan memanjakan, terlihat saat Baek Hyun tersenyum dan akhirnya melingkarkan lengannya di tengkuk Chan Yeol untuk menambah durasi ciuman manis itu.

~ξξξξ~

Chan Yeol buru-buru mematikan rokoknya saat Baek Hyun baru saja keluar dari sebuah gedung yang ia katakan sebagai tempat latihannya. Ia melambai saat Baek Hyun melihatnya duduk di atas motor yang terparkir di depan gedung itu.

Bisa Chan Yeol lihat, kekasih cantiknya itu berlari menghampirinya dengan sedikit kerepotan membawa tas dan beberapa buku note di tangannya.

“Bagaimana? Dimarahi?” Tanya Chan Yeol langsung mengambil alih tas Baek Hyun dan memakainya.

“Dimarahi sih tidak, ditegur iya. Selama ini aku tidak pernah terlambat datang latihan seperti tadi pagi.”Jawab Baek Hyun sembari memanyunkan bibirnya.

MianMian. Siapa suruh tempat tidurmu nyaman, dan siapa suruh juga tubuhmu enak dipeluk, aku jadi terlambat bangun kan?”

“Kenapa jadi aku? Semua salahmu, bagaimana mungkin ada orang yang dibangunkan dari tidurnya begitu susah, seperti membangunkan orang mati saja.”

Chan Yeol tertawa puas, langsung menarik pinggang Baek Hyun dan mengecup pipinya.

“Ya!… ini tempat umum, bodoh.” protes Baek Hyun sembari mencubit lengan kekasihnya itu.

“Memangnya salah mencium kekasih sendiri di depan umum? Yang salah itu kalau aku mencium kekasih orang lain.”

Baek Hyun berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepala, “Semuanya lumrah di otakmu. Kajja, aku lapar.”

“Kita makan di mana?”

“Di rumahku saja, masakan bibi Lee itu tidak kalah dengan masakan restoran.”

“Wah, berarti malam ini aku bisa menginap lagi?”

“100 % tidak. Tadi malam itu yang terakhir.”

“Haih, tidak asyik. Baru berciuman saja kau sudah panik begitu, belum ke tahap lainnya.”

“Park Chan Yeol!!!”

~ξξξξ~

Chan Yeol POV

Tidak terasa hubunganku dan Baek Hyun sudah memasuki usia satu bulan, usia yang terlalu muda jika kukatakan hubungan kami lancar-lancar saja. Walaupun kenyataannya memang begitu, kami belum pernah terlibat pertengkaran apapun. Ya kecuali minggu lalu saat aku malam-malam memanjat jendela kamarnya saat kutahu orang tuanya keluar negeri lagi, dan alhasil Baek Hyun mengomeliku habis-habisan, tapi ujung-ujungnya dia membiarkanku tidur di ranjangnya lagi, dan saat aku sedikit menggodanya dengan menggelitik pinggang dan tengkuknya (sambil mengulum bibirnya yang manis itu tentu saja), aku berakhir dengan tersungkur di kolong meja belajarnya karena Baek Hyun entah sengaja atau tidak menendangku dengan keras.

Setahuku memang ada orang yang area sensiifnya di sekitaran itu, tapi aku tidak menyangka Baek Hyun terlalu…

Err…

Ah sudahlah, membayangkannya membuat langsung berpikiran yang iya-iya terhadapnya.

Kembali lagi, kalau memang yang seperti itu disebut pertengkaran, ya berarti kami sering bertengkar karena aku merasa ada yang kurang kalau tidak mengerjainya.

Tapi dari semua kejahilanku itu, ada satu yang tidak akan pernah kuulangi untuk kedua kalinya.

Yaitu…

Menyembunyikan buku lagunya.

Itu pernah satu kali kulakukan saat satu harian jadwal manggungku kosong, aku ingin menghabiskannya dari pagi sampai malam bersama Baek Hyun. Tapi saat kujemput,  kekasihku yang cantik itu justru sibuk menyusun buku lagunya dan bersiap untuk latihan dengan dengan Ahn sonsaeng.

Siapa yang tidak jengkel. Ahn sonsaeng itu keterlaluan, kenapa dia masih membuka kelas pada hari minggu.

Jadi jangan salahkan aku saat Baek Hyun ke toilet sebentar, aku menyembunyikan buku lagunya di bawah tempat tidurnya, (Jangan tanya kenapa aku bisa berada di kamarnya. Aku bebas keluar masuk saat orang tuanya tidak ada).

Kupikir dengan begitu Baek Hyun akan malas ke tempat latihan karena buku lagunya hilang, tapi yang terjadi justru sebaliknya.

Awalnya dia hanya bingung kenapa buku lagunya tidak ada di tempat, dari bingung ia langsung ke tahap cemas dan memintaku mencari buku lagunya, dan hanya 5 menit ia berada di tahap cemas, karena selanjutnya ia pindah level ke tahap panik. Betul-betul panik karena wajahnya pucat dan gemetar sendiri sembari membongkar meja belajarnya di mana ia biasa meletakkan buku lagunya di sana.

Terakhir… dia menangis. Sekali lagi… Menangis…

Dan ayolah… kekasih macam apa aku ini yang tega membuat Baek Hyun menangis? Akhirnya dengan sikap sok pahlawan, aku berlagak tidak sengaja menemukan buku itu di bawah tempat tidurnya.

Betapa bahagianya dia, sampai-sampai dia memelukku dengan histerisnya mengucapkan terima kasih. Padahal aku baru mau mengaku kalau aku yang menyembunyikannya, tapi tidak jadi. Biar saja dia menganggapku penolongnya. Hahahaha… kejam kan? tidak juga…

Untuk itu kubilang waktu satu bulan itu masih terlalu muda sebagai usia hubungan kami, karena kami akan menghabiskan seluruh waktu kami di dunia untuk bersama. Aku bukannya membual, tapi aku serius, seperti yang Baek Hyun bilang padaku tempo hari bahwa tidak ada hari yang membosankan saat ia bersamaku, akupun sama. Setiap hari akan terasa seperti surga saat bersamanya. Walau aku belum pernah ke surga dan tidak tahu seperti apa itu surga, yang jelas Baek Hyun itu surgaku. Itu saja.

“Kenapa melamun?” Tegur Baek Hyun, membuatku terhenyak.

“Eh, tidak… hanya merasa waktu bergulir begitu cepat saja. Tidak terasa sudah satu bulan.” Jawabku sembari merebahkan kepalaku di pahanya. Sore itu aku main lagi ke rumahnya, dan bersantai di balkon menikmati udara sore.

Baek Hyun membelai rambutku dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang Novel yang sejak kemarin ia baca, “Satu bulan apanya?”

“Usia kandunganmu.”

“Chan Yeol…”

“Ya tentu saja hubungan kita, Byun Baek Hyun.”

“Ne aku tahu, baru juga satu bulan, bukan satu abad. Jadi tidak ada yang perlu dibanggakan.”

Aish jinjja, jual mahal sekali.”

Ia terkekeh kemudian menutup novelnya dan melepas kacamatanya, “Aku tidak ingin menghitung waktu. Tapi berhubung kau mengingatkanku, ya artinya sisa 2 minggu lagi karirku sebagai pianist kujalani.”

Aku tidak merespon, hanya menatap wajah manisnya dari sini.

“Jangan menatapku begitu, aku sudah siap sejak dulu-dulu.”

Aku beringsut dari pembaringanku, kemudian membetulkan posisi dudukku untuk berhadapan dengannya, “Baek Hyun-ah…”

“Apa…”

“Eum, kau tidak pernah berpikir untuk memberitahukan hal ini pada kedua orang tuamu? Maksudku… cita-citamu, mengenai sebesar apa keinginanmu untuk menjadi seorang pianist?”

Baek Hyun sedikit bergumam, “Sudah kukatakan, dan untuk itulah aku diberi kesempatan 2 bulan untuk menikmati betul masa-masa terakhirku sebagai seorang pianist.”

“Baek Hyun-ah…”

Kekasihku itu mengangkat bahu, berlagak tidak peduli padahal aku tahu apa yang ada di hatinya, “Walaupun appa bilang bahwa aku hanya akan menyia-nyiakan waktu 2 bulan ini.”

Aku hanya bisa menghela nafas melihatnya, tidak tahu harus mengatakan hal apa agar membuatnya lebih baik.

“Menjadi pengusaha itu tidak buruk, bukankah saat aku sukses nanti, aku bisa membeli Berunit-unit Piano dengan hasil kerjaku sendiri? Aku bisa memainkannya di waktu senggang, ya intinya masih banyak hal positif yang bisa kudapatkan saat aku menuruti keinginan orang tuaku. Selain membuat mereka bahagia, ya… aku juga senang karena menjalani peranku sebagai anak penurut sampai akhir.”

Aku menatapnya lamat-lamat, dia berbicara seolah itu bukan dirinya, jelas sekali dari nada bicaranya, dan ini bukan dari hati. Aku tahu secinta apa Baek Hyun pada piano (walau kutahu dengan jelas bahwa dia lebih mencintaiku), aku tahu sebesar apa keinginannya untuk menjadi musisi profesional yang bisa menembus tingkat Internasional. Tapi karena keinginan sepihak orang tuanya itu, ia yang memang adalah anak penurut harus mengubur dalam-dalam mimpi indahnya itu.

Jujur saja, semua hal yang dilakukan Baek Hyun, aku suka tanpa terkecuali. Tapi ada beberapa yang paling-paling aku sukai. Selain saat ia tersenyum padaku, dan berciuman denganku, aku paling suka saat Baek Hyun memainkan piano dengan jemari indahnya itu. Ini bukan dari sudut pandangku sebagai kekasihnya, tapi sebagai penikmat musik. Sungguh disayangkan kalau ia betul-betul mengubur bakat luar biasanya itu. Sungguh, aku tidak bercanda. Baek Hyun betul-betul menjadi dirinya sendiri saat ia berhadapan dengan sebuah piano, seperti berada di dunia yang ia bangun dengan tangannya sendiri, begitu ringan, begitu tanpa beban, dengan segenap jiwa yang ia curahkan di sana, jadi bagaimana mungkin aku sebagai kekasihnya tega melihat ia mengubur semua itu?

“Baek Hyun-ah… itu…”

“Ah, sudah petang. Bukankah kau ingin mengajakku ke apartementmu? Kau berjanji akan memperkenalkanku pada teman-temanmu kan? lihat, sudah sebulan aku menjadi kekasihmu, tapi kau tidak juga membawaku menemui teman-temanmu.” Ucap Baek Hyun yang kutahu ia berniat mengalihkan pembicaraan.

Aku menghembuskan nafas panjang, kalau dia saja tidak ingin membahasnya, kenapa aku harus? Jadi sudahlah.

“Kau yang susah sekali diajak, waktu luangmu kan sedikit sekali. Kalaupun ada, jelas saja aku tidak akan menyia-nyiakannya. Lebih baik waktu luangmu kau habiskan denganku dari pada dengan teman-temanku.”

“Serakah sekali. Kajja… Siapa tahu saja ada yang lebih tampan darimu di antara mereka.”

Aku membelalak kaget, “Mwo? Tidak… tidak, aku yang paling tampan di antara mereka, jadi kau tidak perlu bertemu dengan mereka.”

Baek Hyun tertawa, kemudian memelukku sembari meletakkan dagunya di bahuku, “Makanya aku ingin memastikannya, biasanya anak band itu kan tampan semua, sampai kita terkadang pusing memilih siapa yang lebih tampan.”

“Kau sudah memilihku, dan itu adalah pilihan yang tepat.”

Aku berdiri sembari merenggangkan tengkukku. Baek Hyun justru melompat ke punggungku, membuatku terpaksa menggendongnya ke dalam.

“Aku pernah melihat foto teman-temanmu di ponsel mu itu, yang tinggi, dan berambut pirang itu juga tampan.”

“Mwo Kris hyung???”

Ia tertawa puas, “Jadi namanya Kris?”

“Ck…”

Ia terkekeh persis di telingaku, “Tapi Chan Yeol-ku yang paling tampan.”

Aku menggigit kecil lengannya yang memeluk leherku dengan gemas itu. kurasa begini saja sudah cukup. Walau ia menyerah pada mimpinya, setidaknya aku akan terus bersamanya di masa-masa tersulitnya nanti.

Setidaknya aku akan menggantikan mimpinya itu, aku akan menjadi sebuah realita dalam hidupnya. Mempertahankan senyumnya, kebahagiannya, dan keceriaannya.

Aku ingat apa yang ia katakan padaku.

Ini bukan tentang mimpi, tapi tentang kenyataan yang akan ia hadapi di masa depan. Kalaupun ia tidak bisa berhadapan dengan piano di masa depan, maka aku yang akan berada di sisinya saat itu.

Melindunginya, dengan segenap cinta yang kumiliki untuknya.

~ξξξξ~

Dari sekian banyak keuntungan saat kau memiliki kekasih yang sangat manis, tetap saja tak sedikit pula kerugiannya. Ya salah satunya ini, saat kau memperkenalkannya pada teman-temanmu maka kau harus mati-matian menahan dongkol karena temanmu menatap penuh kekaguman berlebihan pada kekasihmu itu.

“Ini Su Ho Hyung, yang mematenkan diri sebagai manager kami, ini Lay Hyung, bassis kami, dia kekasihnya Kris Hyung yang itu, yang jelek itu namanya Kris hyung, dia drummer kami, dan ini Kyung Soo, maknae sekaligus vocalist kami, ah dan dia ini ibu negara, karena dia istrinya manager.” Ucapku sembari menunjuk satu persatu rekanku yang ada di apartement milik kami itu. Baek Hyun menjabat tangan mereka satu persatu, dan sambutan mereka luar biasa ramah. Kelewat ramah, apalagi yang tinggi, pirang, jelek itu.

Greb~

Aku mempererat rangkulanku di bahu Baek Hyun saat ia sudah menyalami Kris hyung, mengingat Baek Hyun mengatakan Kris hyung itu tampan saat melihat fotonya di ponselku. Setidaknya aku harus mengantisipasinya lebih awal.

“Byun Baek Hyun imnida…” Ucap Baek Hyun manis, sangat manis, sampai aku hampir saja menggigitnya karena seharusnya sikap manisnya itu hanya ia tunjukkan di hadapanku.

“Kris Wu imnida, tapi karena aku lebih tua darimu, panggil saja hyung. Senang mengenalmu manis.”

Aku menatap tajam ke arah Kris hyung, dan dibalas oleh kedipan mata olehnya, yang kutahu dia tengah menggodaku.

“Sudah… Sudah, perkenalannya cukup. Baek Hyun-ah, ikutlah dengan Kyung Soo dan Lay Hyung ke dapur, saatnya les memasak.”

“Les memasak? Tapi aku tidak bisa memasak.”

“Makanya mereka akan mengajarimu, ibu negara sangat pandai memasak, Lay hyung juga tidak kalah, kau pasti bisa. Hwaithing… aku ingin mencoba masakanmu.”

Baek Hyun menggumam, “Hm… Walaupun eomma melarang keras aku ke dapur, kurasa tidak apa-apa. Ya sudah, aku ke dapur dulu kalau begitu.”

“Itulah istriku.” Ucapku bangga sembari mencubit pipinya.

.

.

Kris hyung langsung mencekikku dari belakang dan menjitak kepalaku berkali-kali saat para ‘istri’ sudah menghilang ke dapur.

“Brengsek, dari mana kau menculik anak itu?” Maki Kris hyung yang aku tahu itu bercanda.

“Menculik apanya, kami saling mencintai, bodoh…” Ucapku berusaha melepaskan diri.

“Seperti katamu, dia manis sekali.” Ucap Su Ho hyung lebih normal dari pada cara Kris hyung memuji kekasihku.

“Kubilang juga apa, jadi sudah cukup kalian pamer kemesraan padaku. Karena aku juga sudah punya kekasih.” Balasku bangga setelah berhasil terbebas dari Kris hyung.

“Jadi sudah sampai mana?” Tanya Kris hyung jelas saja langsung ke arah situ.

“Ck, melihat dia sepolos itu, kau pikir aku tega menjamahnya? Ya paling hanya sebatas pinggang ke atas. Karena ke bawahnya harus meminta persetujuan dulu dari si pemilik.” Ucapku jujur, terlalu jujur malah, dan kalau Baek Hyun mendengarku berkata sevulgar itu, ia tidak akan membiarkanku menciumnya selama satu tahun.

“Ha? Hanya sebatas itu? cih payah.”

Aku tidak menggubris, aku menghampiri Su Ho hyung yang membaca sesuatu di sofa ruang tamu.

“Apa itu Hyung?”

“Jadwal kalian, seniorku mengadakan pesta pembukaan hotel barunya, dalam hal ini launching perdana. Berhubung selera musiknya juga lumayan, dan dia tahu bahwa aku mengurus sebuah band, dia mengundang kalian untuk tampil sebagai pengisi acara.”

Jinjja?”

“Hm… honornya lumayan, jadi tidak ada alasan untuk di tolak. Hanya saja jangan mempersembahkan musik Rock, karena kebanyakan tamu yang datang itu kesemuanya orang-orang berumur, yang kau tahulah.”

“Hm, arasso… R & B, atau reggae juga bisa kan?”

“Terserah, asal jangan rock. Tapi kalau Jazz atau ballad, maka Kris hyung tidak dipakai.”

Aku tertawa mendengar itu, alhasil Kris hyung yang sedang menyetel TV langsung melemparku dengan remote.

“Jangan sok tahu begitu Su Ho-ya, Jazz dan Ballad juga butuh irama drum, walau dengan pukulan halus. Yang benar saja kalian tampil tanpaku. Tapi kalau memang kalian ingin menampilkan jenis musik itu, bukan harus mengurangi personil, tapi justru menambah satu di melodi.” Kris hyung mengangkat alis, “Piano, keyboard mungkin…” Yang ia arahkan padaku. Karena semua juga tahu bahwa kekasihku itu pianist handal.

Bagaimana tidak, setiap kali aku selesai menonton pertunjukannya, maka aku akan mengelu-elukan nama kekasihku itu dengan begitu heboh. Ah aku tidak lupa bagaimana Kris hyung mengomeliku karena aku terlambat datang latihan. Itu karena malamnya aku menonton pertunjukan Baek Hyun yang akhirnya masuk ke 10 besar, kami merayakannya sampai tengah malam, dan besoknya aku terlambat bangun. Jadi begitulah.

“Aku tidak yakin dia mau ikut.” Ucapku langsung mengerti.

“Kalau kau tidak bisa meyakinkannya, berarti kau payah dan tidak bisa diperhitungkan sebagai kekasihnya.”

Aku kembali melempar remote tadi ke arah Kris hyung akibat ledekannya itu.

“Arasso… akan kutanyakan. Lagipula ada satu lagu yang sangat ingin kubawakan bersama kalian, terlebih kalau vocalist kita juga ditambah satu. Percayalah, suara Baek Hyun itu memukau, dan kurasa harmonisasi dengan suara Kyung Soo akan sempurna.”

“Ne… Ne… Ne, kalau kau membanggakan kekasihmu memang tidak tanggung-tanggung.” Ledek Su Ho hyung.

“Ck, aku berbicara fakta. Ayolah…”

“Ya sudah, besok sore setelah kau berhasil meyakinkannya, bawa Baek Hyun ke tempat latihan. Oke?”

Aku mengacungkan dua jempol, masing-masing satu untuk Kris hyung dan Su Ho hyung.

“Saatnya makan!” Teriak Kyung Soo dari arah dapur. Kebetulan sekali, perutku juga sudah minta di isi.

Lagipula sedetik saja tidak melihat Baek Hyun rasanya aneh.

“Ya…Ya…Ya…, jangan peluk-peluk, supnya tumpah.” Protes Baek Hyun saat aku tiba-tiba memeluknya dari belakang.

Semua orang menertawaiku, tapi kuabaikan. Siapa yang peduli mereka. Ini tentang kami kan?

~ξξξξ~

“Apa? Coba katakan sekali lagi?” Tanya Baek Hyun memastikan saat aku mengantarnya pulang sehabis makan malam di apartementku dan rekan-rekanku.

“Eum, aku ingin kau tampil dengan band ku satu kali saja, karena sepertinya kami memang membutuhkan irama pianomu untuk jenis musik Jazz dan Ballad. Dan juga sebagai vocalist kami mendampingi Kyung Soo.” Jawabku berusaha santai.

“Ta… Tapi, aduh. Tapi aku tidak biasa tampil di acara seperti itu, aku hanya memainkan piano dengan pertunjukan solo, bukan kolaborasi.”

“Lumayan kan untuk menambah pengalaman?”

“Chan Yeol-ah… pengalaman untuk apa? 2 minggu lagi, aku berakhir.”

Aku menghela nafas, menarik tangannya agar ia mendekat ke arahku. Kutangkup kedua pipinya dan mengecup bibirnya singkat, “Sebenarnya aku masih tidak setuju kau berhenti menjadi pianist, tapi bukankah ini juga sangat bagus untuk menambah kenangan indahmu saat kau pensiun nanti?”

“Chan Yeol-ah…” Masih terlihat keraguan di kedua mata kecilnya.

“Kau bisa Baek Hyun-ah, ayolah…”

“Ck…”

“Aku serius, aku ingin sekali membawakan lagu Baby Don’t Cry itu dengan kami sebagai pengiringmu. Bayangkan betapa daebaknya lagu itu saat kau berduet dengan Kyung Soo.”

“Chan Yeol-ah… aku.”

“Tapi tidak apa-apa juga kalau kau tidak mau, aku tidak berhak memaksa kan? ya walau sebenarnya aku akan sangat bahagia kalau besok kau mau datang untuk latihan bersama kami.”

Baek Hyun masih terlihat ragu, sampai kudengar ia berdecak kesal kemudian mengangguk, “Arasso… aku setuju. Tapi hanya satu kali kan?”

Mataku membelalak penuh harap, “Ne… hanya satu kali. Hanya di acara kenalan Su Ho hyung saja.”

“Ya sudah, besok jemput aku.”

Aku melebarkan senyumku, kemudian kembali mengecup bibirnya. Kali ini lebih lama.

“Hei pulanglah, Ayahku mungkin sudah pulang, kalau dia melihat kita berciuman di depan rumah, kau bisa dihajar.”

Aku terkekeh, “Kapan-kapan aku ingin bertemu secara langsung dengan ayah mertua.”

“Ne… Ne…, siapkan saja mentalmu, karena ayahku cukup keras.”

“Beres… aku akan menjadi menantu yang baik. Jadi tenang saja.”

“Arasso… pulanglah, jangan membalap. Hati-hati di jalan.”

“Ne BabyJaljayo.”

“Hm… Jaljayo…”

~ξξξξ~

~Author POV.

Baek Hyun mengangkat alisnya tinggi-tinggi saat ia melihat Chan Yeol keluar dari kamar ganti dan bersiap di backstage yang khusus dipersiapkan pemilik acara peresmian hotel itu.

Annyeonghaseyo Park  Sajang-nim.” Sambutnya sembari membungkukkan badan.

Chan Yeol tertawa cukup keras, “Apa-apaan sebutan itu, sajang-nim dari mana?”

Baek Hyun sedikit mendekat dan membetulkan dasi kupu-kupu hitam milik Chan Yeol, “Aku bahkan tidak pernah membayangkan kalau kau setampan ini saat berpakaian resmi.”

Chan Yeol semakin semangat tertawa, “Sudah kubilang, banggalah karena kekasihmu ini tampan.”

“Ck, jangan tertawa seperti orang gila, tidak cocok dengan penampilanmu.”

Kyung Soo datang sembari mengusap-usap tengkuknya, “Apa kita tidak sebaiknya memakai pakaian kasual saja? Ini agak… err… membuatku semakin gugup.”

Chan Yeol menepuk pundak Kyung Soo, bermaksud memberinya semangat, “Santai sajalah. Walaupun kita menggunakan pakaian seresmi apapun, jiwa kita tetap anak band… jadi jangan terlalu kaku. Oke!”

Kyung Soo menghela nafas, kemudian tersenyum sangat manis, “Hm.. beruntung ada Baek Hyun yang menemaniku di vocal, apalagi dia yang menyanyikan part awal, bagian itulah yang tersulit karena aku terkadang butuh waktu lama dengan penyesuaian panggung.”

Baek Hyun merangkul pundak Kyung Soo hangat, “Ayolah jangan merendah, kau benar-benar hebat. Aku suka warna vocalmu, terlebih artikulasimu sangat sempurna.”

“Kau terlalu memujiku Baek Hyun-shii.”

“Aku mengatakan yang sebenarnya. Jadi ayo bersemangat.”

“Eh… Kris hyung memanggil. Kajja…”

“Ne…” Seru Kyung Soo dan Baek Hyun bersamaan.

~ξξξξ~

Kris sudah siap di depan susunan drumnya, Lay di kanan depan duduk santai sembari memetik kecil gitar bassnya, Chan Yeol masih senyam-senyum ke arah Baek Hyun yang mengetes bunyi dentingan grand piano berwarna putih di depannya, dan Kyung Soo mengecek mic miliknya dan Baek Hyun.

guys.., tamu sudah berdatangan, mainkan lagu pembuka.” Perintah Su Ho dari samping stage. Diberi acungan jempol oleh Kris sang leader.

Kyung Soo buru-buru memasangkan satu mic lagi di stand mic dekat piano Baek Hyun. Jelas untuk Baek Hyun bernyanyi.

Mereka semua saling bertatapan, mencari tahu kesiapan masing-masing, dan setelah mereka semua mengangguk serempak tanda siap, Baek Hyun pun merilekskan jari-jarinya, karena iringan melodi pertama memang dari piano.

Baek Hyun memejamkan mata sejenak, kemudian menghembuskan nafas. Awalnya suasana cukup bising karena tamu yang berdatangan saling menyapa, tertawa dan bercakap. Tapi itu tidak melenyapkan konsentrasi Baek Hyun, ia sudah hapal situasi ini.

♬…♪…♩…♬…

Suasana yang awalnya cukup berisik tiba-tiba meredup begitu puluhan bahkan ratusan pasang telinga menangkap lantunan melodi indah perpaduan sempurna antara jemari lentik Baek Hyun dan tuts-tuts piano mewah di atas panggung.

Bahkan Kris hampir saja lupa bahwa partnya setelah 4 ketukan nada dari Baek Hyun, tapi Baek Hyun cukup lihai menutupi dengan mengulang intro di awal.

#Song: Angel By EXO ( Intro Teaser version)

Suara Baek Hyun yang begitu merdu, tidak kalah memukau dengan permainan pianonya, ditambah iringan halus akustik dari Chan Yeol dan Lay, serta harmonisasi sempurna dengan suara Kyung Soo, membuat suasana di dalam ball room yang tadinya didominasi oleh suara percakapan tak bernada dari para tamu kini mendadak hening, membiarkan lantunan merdu yang dipersembahkan oleh band baru bernama EXO itu.

Senior dari Su Ho tersenyum puas saat para tamunya terlihat sangat menikmati pembukaan itu, padahal hanya lagu sambutan.

“Jung Sajang-nim, dimana anda menemukan anak-anak itu?” Bisik seseorang pada presdir Jung penyelenggara acara itu.

“Dari kenalan lama di kampus, Presdir Lee. Junior, dan anak-anak itu adalah band asuhannya.” Jawab Preadir Jung bangga.

“Ah, berarti sudah punya manager sendiri? Mungkin anda bisa mengenalkanku padanya di akhir acara? Saya tertarik dengan anak-anak ini, sekiranya ditrainee 2 sampai 3 tahun saya yakin anak-anak ini akan sukses.”

“Oh dengan senang hati Presdir Lee, saya juga merasa tersanjung telah mempromosikan anak-anak ini.”

“Secara keseluruhan kolaborasi mereka sempurna, tapi secara personal, saya sangat tertarik dengan yang memainkan piano sambil bernyanyi itu.”

“Hm, mungkin anggota baru, karena sebelumnya setahuku mereka hanya 4 orang dan tidak ada yang memainkan piano. Tapi ini sempurna bukan Presdir Lee?”

“Ne, sangat sempurna.”

.

.

.

Lagu diakhiri dengan betul betul sempurna oleh suara khas Kyung Soo, membuat para tamu bertepuk tangan meriah.

Presdir Jung pun memulai acara pengguntingan pita, sambutannya mengenai pendirian hotel tersebut dan sebagainya.

Barulah setelah acara inti yang kesannya tidak penting itu berakhir, Chan Yeol dan kawan-kawan bersiap mempersembahkan lagu yang sudah mereka siapkan sejak kemarin.

Seorang namja paruh baya bersama istrinya masuk ke dalam ruangan, terlihat begitu disegani karena para tamu yang sempat melihatnya langsung berdiri dan membungkuk hormat.

Presdir Jung yang sempat melihat kedatangan tamu agungnya itu langsung tersenyum sumringah dan menyambut tamunya itu.

“Selamat datang Presdir Byun, silakan duduk.” Sambut Presdir Jung sembari mempersilakan tamu agung beserta istrinya itu duduk di tempat special yang telah disiapkan dari tadi.

“Maaf sebesar-besarnya atas keterlambatan saya presdir Jung, saya baru menyelesaikan rapat akbar di perusahaan.”

“Ah bukan apa-apa Presdir Byun, anda menyempatkan diri untuk hadir saja itu sudah merupakan suatu kehormatan bagi saya.”

“Hm, Hotelmu sangat mewah. Kupikir kelak akan sangat sukses.”

“Kamsahamnida Presdir Byun…”

.

.

Seperti sebelumnya, Baek Hyun memulai intro dengan melodi indahnya, kali ini 16 ketukan di intro sebelum Kris memukul ringan drumnya sebagai pengiring. Baek Hyun kembali membuka lagu dengan suara indahnya. Kembali melengkapi keheningan yang secara otomatis tercipta sejak ia menyentuh tuts piano itu dengan penuh perasaan.

#Song” Baby Don’t Cry- EXO

“Yeob…. Yeobo…” Nyonya Byun langsung memeluk lengan suaminya begitu ia menyadari sesuatu.

“Ne yeobo, ada sesuatu?”

Nyonya Byun langsung menuntun suaminya untuk melihat siapa yang tengah bernyanyi sambil memainkan piano di atas panggung itu.

“A… Anak kita Yeobo…” Bisik Nyonya Byun sedikit tidak percaya.

Dan saat kedua mata milik namja paruh baya itu menangkap sosok yang dimaksud, ia seperti dihantam palu besar di ubun-ubun.

Matanya membelalak penuh, wajahnya memerah menahan emosi yang meningkat drastis, terlihat bagaimana caranya ia meremukkan kedua tangan dengan urat-urat pembuluh darah di dahi yang timbul dan menebal.

“Byun Baek Hyun!” Erangnya tertahan.

“Yeobo…”

“Presdir Jung, bisakah saya meminta tolong?” Tanya Presdir Byun masih menahan gejolak amarahnya.

“Ah tentu saja Sajang-nim.”

“Bisa tunjukkan jalan menuju ruang backstage?”

Walau agak bingung, presdir Jung akhirnya mengangguk.

~ξξξξ~

Kris, Lay dan Kyung Soo langsung menghempaskan duduk mereka di sofa yang tersedia di backstage,  sementara Chan Yeol langsung memeluk Baek Hyun dari belakang dan berjalan dengan posisi seperti itu menghampiri teman-teman mereka.

“Aku baru pertama kali merasa benar-benar melakukan sebuah show. Ini gila… aku gugup luar biasa tapi menakjubkan, Ya Tuhan!” seru Kyung Soo tak henti-hentinya.

“Berikan terima kasih pada bintang baru kita.” Ucap Chan Yeol sembari mengecup ringan pundak Baek Hyun.

“Ck, apanya bintang baru. Ini semua juga karena kerja sama kita yang kompak.” Ralat Baek Hyun.

“Tapi Chan Yeol benar, kau membuat pertunjukan tadi sempurna, kau bahkan menutupi kesalahanku di awal, padahal tidak ada perencanaan sejak awal.” Tambah Kris sembari merangkul Lay yang duduk di sebelahnya.

“Hm, untung saja Baek Hyun cepat tanggap dan buru-buru menyiasatinya.” Lanjut Lay.

“Oh sudahlah teman-teman, semua orang sudah mengambil partnya dengan sangat baik, aku hanya pelengkap.”

“Dan dimana-mana itu pelengkap yang menjadikannya sempurna.” Chan Yeol semakin mengeratkan pelukannya dan menciumi puncak kepala Baek Hyun berkali-kali.

“Ma… Maaf tuan, ingin bertemu siapa?”

Suara Su Ho barusan langsung membuat ke 5 namja tadi menoleh ke arah pintu. Terlihatlah di sana seorang pria paruh baya yang langsung mendorong tubuh Su Ho hingga terhempas ke daun pintu dan langsung menerobos masuk.

Mata kecil Baek Hyun membelalak tak percaya, seketika sekujur tubuhnya beku, bahkan lupa melepaskan lingkaran lengan kokoh Chan Yeol di perutnya.

Namja paruh baya yang terlihat murka itu menghampiri Baek Hyun.

“Ap… Ap… Appa!” Pekik Baek Hyun tertahan.

Chan Yeol langsung tersadar, seketika melepas rangkulannya dan membungkuk berkali-kali pada namja yang dipanggil Appa oleh Baek Hyun tadi.

“A… Annyeonghasimnika abo__”

PLAKKK!

Semua yang ada di situ tercengang saat tiba-tiba namja yang dipanggil appa oleh Baek Hyun melayangkan tangan kanannya dan mendarat sempurna di pipi mulus Baek Hyun dengan suara menggema.

Chan Yeol langsung terperanjat kaget dan langsung menarik tangan Baek Hyun hingga namja mungil itu berdiri di belakangnya.

Abonim… apa yang anda lakukan?”

“Bukan urusanmu anak muda, lepaskan tanganmu dari anakku.” Bentak Appa Baek Hyun dengan wajah memerah penuh emosi.

“Tapi kenapa anda memukulnya?” Chan Yeol tetap tidak terima.

“Minggir…” Appa Baek Hyun mencengkram kerah baju Chan Yeol dan menghempasnya ke samping.

Appa!” Pekik Baek Hyun saat ulah ayahnya menyebabkan Chan Yeol tersungkur dan menabrak meja.

“INI YANG KAU LAKUKAN SELAMA 2 BULAN?”

“Ap… Appa…”

“KAU TARUH DI MANA OTAKMU BYUN BAEK HYUN!!! NAMA DEPANMU ITU BUKAN NAMA SEMBARANGAN, DAN KAU JUSTRU MENGESAMPINGKAN NAMAMU DAN MENJADI ORANG BODOH DENGAN MENGHIBUR ORANG-ORANG YANG DERAJATNYA DI BAWAHMU???”

“Ap… Appa… Itu tidak..”

Abonim…” Chan Yeol kembali berdiri di hadapan Baek Hyun, berniat melindunginya.

“Kubilang jangan ikut campur!!”

Appa Baek Hyun yang murka sudah siap menampar Chan Yeol, tapi namja tinggi itu lebih cepat menangkap tangan yang hampir menampar pipinya.

“Saya tidak terima kalau anda membentak Baek Hyun, Abonim.”

Appa Baek Hyun semakin berang, “KAU PIKIR SIAPA KAU!! DIA ANAKKU, DAN APAPUN YANG KULAKUKAN PADANYA ITU ADALAH SEPENUHNYA HAKKU, JADI MENYINGKIR…”

ABONIM!!”

“Park Chan Yeol…” Tegur Kris pelan, sedikit memberi kode agar dia tidak kurang ajar pada orang tua.

Chan Yeol yang mendengar itu segera membungkuk berkali-kali di hadapan Appa Baek Hyun, “Jeballyo… Jangan bertindak kasar Abonim.”

Appa Baek Hyun mengacuhkannya, ia tahu anaknya sedang bersembunyi di balik punggung namja tinggi itu.

Takut? Tentu saja… karena anak itu memang harus takut pada ayahnya, bukan membantahnya.

“BYUN BAEK HYUN!!! Kau sudah mengewakanku, ayahmu! Mulai detik ini, lupakan musik persetan itu. Kemasi barangmu dan bersiap untuk melanjutkan studimu di Jerman”

Mata Chan Yeol membelalak sempurna, ia sampai mundur beberapa langkah setelah mendengar ancaman mematikan itu.

“M…M…Mwo???” Pekiknya tanpa sadar.

TBC~

ALF special Note: Hm… ALF mau ngoceh apa tadi yah? hm lupir… ya intinya ini cuman 2 kali pertemuan, dan pertemuan kedua digembok, soalnya readers di sini kalo gak diancam gak bakal komen… wkwkwkwk gak semua kok, yang lagi bandel aja *plak. *cium satu-satu

mengenai ini curahan hati ALF hehehe bener kok dikurangi bumbu. yang bener cuman mimpi yang terkubur(?) karena ikut pilihan ortu. just it, mengenai romancenya jangan percaya, Gak semua pujangga sukses dalam cintanya sendiri wkwkwkwkwkwk… *tunjuk role model.

ya sudin, segitu aja dulu, sampai ke temu di chap 2 yang digembok. apresiasinya dulu ye, ini FF hasil berdiam diri ALF seharian. Gak kea FF chaptered yang dipikirnya jungkir balik… ini ngalir gitu aja sesuai apa yang ALF rasain, wkwkwkwk semoga galaunya ALF yang diperanin suami sendiri di sini tersampaikan.

sekian dulu…

Throw me your love juseyo…🙂

Salam Dunia mimpi(?)

 

 

 

 

428 thoughts on “[Yaoi] Not About Dreams \\ ChanBaek // | Chapter 1

  1. kyaaaa aku suka pas chanyeol nyatain cintaaa sweet banget, pengen ada moment krislay sama sudonya dong thoor hehe kasian dong chanbaek nanti kepisah kalo baekhyum ke jermanb😦

  2. tuan byun kerasnya…

    ah, aku suka sekali lah sama moment Chanbaek nya… yang chanyeol nembak tuh apa lagi….

    berarti chanyul juga orang kaya ya….

  3. *sigh* kenapa byunbaekku ditampar, abonim 😢😢 sukses gak harus yg kerja diperusahaan gitucgitu.. Asal disertai niat tulus ikhlas, insyaallah sukses gak akan kemana….
    *mianhae kbnyakan kasih komen* *bow*

  4. Hmmm…
    Huufffttt… /tarik nafas… Hembuskan/
    .
    .
    Ya Salam, maafkan diriku Kak ALF.. Baru baca + comment ;_; /guling2/
    Awalnya yang terifikir dalam otakku itu…
    Bekyun bukan manusia masa ._. /dibakar Ceye/
    scene-nya seperti familiar, Kak :’v

    aduh.. Ekspressi malu-malunya Bekyun buat greget to the max😄
    pernyataan cinte CeYe membuatku menggeleparrrr~ /gigit ddangkko(?)/

    Bekyun nyanyi Chagi, uljjima (Baby Don’t Cry)..
    Menurutku benar-benar nge-feel..
    Aaaaaaaa~!!!
    Manis syekaleeeeee~
    saya suka saya suka😄
    .
    .
    Bapaknya Byun Baek thelem(?), Kak ;_;
    dan scene terakhir..
    ???
    Ah, aku jadi kepo X3
    Keep writing and fighting, Kak ALF! :* :*
    /love sign😀 /

  5. kirsin aku si baeknya hantu ternyata bukan.jfdi ini ceritanya tengtang si baek yg mau jdi gk di bolehin ma keluarganya.ih ff kak alf memng susah ketebak.dn setiap bacanya selslu penasaran

  6. Suka bangetlah sama cara chanyeol nembak lewat video itu ;;; trus bagian backstag itu asdfghjkl skinship abis-abisan suka banget-bangetan lah.

    Btw papanya baekhyun songong banget kak. Greget pengen jorokin /?

    Untuk temanya aku suka banget sama unsur musik trus pianonya. Realita banget ini mah!!!

    Udah dua kali baca terhitung sama yg hari ini tp beda uname ._. Lama banget hiatusnya kaaaaksssss

  7. Ceritanya manis d awal tapi pahit d akhir.

    Tuan Byun kenapa tega sekali menghancurkan mimpi anak nya. Ah org tua yg egois hanya demi nama baik saja sampe gtu. Tp y sbg anak mah gk bisa berbuat mcm2, jd keingetan mimpiku dlu. Pgen masuk hukum ataw psikologi tp larinya ke manajemen. Ah tp gk papa toc asal org tua senang,anak pun akan senang. Yah kok curcol?

    Mwo? Jerman? Aish kasian chanyeol kalau gtu bakal d tinggalin. Ah tuan Byun benar2 tega ya. Udh menghancurkan mimpi sang anak eh skrg malah misahin chanbaek, gk ngerti perasaan mereka atau gmn sic?

    Hehe sorry say,aku emosi. Hehe

  8. baca ini aduhhh aku jadi inget cerita ttg kak ALF /ikut sedih/
    disini ALF pasti yang jadi baekhyunnya kan?

    manis.. cara chanyeol ngungkapin perasaannya.. tapi baru aja sehari jadian udah nyosor masuk kamar orang aja nih chan, udah maen cium n peluk, untungnya baek ga keberatan..

    baekhyunnaaaa, siapa sih yang gak jatuh cinta sama km kalo lagi maenin piano + nyanyi.. ngebayanginnya pasti indah banget /chan dkk aja sampe tergila-gila/ sayang orang tuanya tetep ngga bisa liat keindahan itu.. keindahan bermusik, keindahan wajah ceria anaknya ketika bermusik..

    sebenernya sangat-sangat disayangkan kalo orang tua ngga bisa liat bakat dan minat anaknya.. yah setidaknya kalo tetep pengen jadiin anaknya sesuai dengan bidang yang orangtuanya inginkan, seharusnya minat dan bakat anak itu jangan dimatikan juga.. biarlah itu jadi hobi dia, jadi selingan.. jangan sampai dilarang banget.. kan sayang bakat disia-siakan ituuu.. /pengalaman pribadi/
    yah syukur2 kalo cocok, gimana kalo keinginan orangtua itu gak cocok sama anak? kan repot
    yah sudahlah.. live must go on.. mudah2an baek bisa ngeyakinin orangtuanya mengenai hobinya.. mengenai keinginan terbesar hidupnya /jadi keingetan farhan di film 3 idiots kan/
    sekalipun tetep gak bisa, mudah2an setelah sukses nanti baek bisa lanjutin hobinya maen musik🙂
    dan OMG kalo baek ke Jerman, chan gimana?? huhuuuu

    buat kak ALF semangat terus, semoga sukses dengan pilihannya.. walau bagaimanapun, hobi tetep jangan dihilangin yaaaa🙂

  9. Plis pengen ditembak kayak gitu.. Gk usah depan rumah juga gpp :3
    appa Byun nyebelin banget.. Jangan gitu jugalah sama anak sendiri T.T

  10. ChanBaek again,
    Awalnya ketawa ketiwi sndiri pas bca bgian atasny pa lg pas yeol nenbak bwa2 bunga matahari,unik.’
    Tpi pas bpak ny baek muncul kog jd brantakan gni,mana baek mau d pndah k jerman lg,trus nasib hub chanbaek gmana.?’
    Mreka ttp brsatukan.?’
    Atau mgkin yeol blik lg k rumah trur nerusin bisnis kluarga,eh ntar ktmu deh ma baek dlm dunia bisnis,’
    #soktau
    Lnjt chapter 2 ajh lah,hehe

  11. haloha, reader baru datang kkkk

    wah keren baru baca 2 ff di blog ini, ini ff slh satunya.

    astaga itu appa baek kejem amat, amat aja tak sekejam itu xD

    ah g sabar baca part 2nya.

    keep hwaithing!!!

  12. waaaaa aduh sweet aned dah chanbaek huhuhu, sampe semyum semyum sendiri bacanya wkwkwk.
    duh itu appanya baekhyun minta di ajdjaissaadsjaj /keypad jebol/
    songong banget ih.
    sebenernya ini ff rada baper sih huahahahaha /curhat/ /abaikan/
    keep writing thornim~„~

  13. haaaaa…..
    pagi pagi udah dibikin klepek klepek sama ChanBaek.. *0*
    selalu deh yaa ffnya jjang!!!

    Couple Chanbaek nya manis sekali ^^ jd iri/wks..
    mwoo??? baekhyun mau ke Jerman, trus Chanyeol kemana ?? andwaeeeee jangan pisahkan Chanyeol dengan Baekhyu T.T
    eotteokhae ??? byun abonim….

  14. not about dreams….. jadi inget pengalaman pribadi dimana aku harus ikutin kemauan orang tua buat masuk jurusan 8′) #curhat
    emang ya kalo ngeliat baek maen piano duh hati rasanya tenang adem ayem ngahahaha apalagi jari2nya itu cantik banget(?) pls ngebayangin kris maen drum cool banget pasti. Chanyeol selengean banget=_= susah dah dapet restu dari mertua(?)
    Kasian baekhyun ditampar ;–;;; soleh banget dah jadi anak apa2 nurut orang tua patut dicontoh(?)

  15. not about dreams, but about life ngahahah. keren papah byun hahah bawa2 derajat -.- aq mah gk pernah ngerti emang derajat ada berapa? di kelas olahraga bahkan cuma ada 1 yg nama.y derajat hahah. yaaaa gk d.pungkiri sih ortu pasti pngen yg terbaik buat kita. jalanin aja toh hal yg kita lakuin d.dunia bukan untk “mencari kebahagiaan” tp menjalani kehidupan sesuai aturan tuhan enak maupun engga.
    eeeeiiyy kriiisss iiih *kiss babe kriss*
    ada kalimat yg bkin aq ngakak pas di awal2 part chan nembak baek smpe udh pcran tp lupa lg bgian mana haha pdhal udh ingetin otak bkal komen bgian situu *duh penyakit lay*. suka pas bagian baek naik d.punggung chan trs chan gigit lengan baek. pcran bgtu ituu paling indaah, serasa kita dan psangan sdah menyatu *pengalaman hahah*
    lanjuttt yaa ff ff nyaa. jgn lama2 soal.y sy mulai kecanduan ff ff di wp ini. hohoo kereen. ff horror.y d.tunggu yaaa *maksa*.

  16. Ping-balik: LIST FF CHANBAEK FAVORITE | Shouda Shikaku's World

  17. So damn great:’ Ugh, dibikin terbuai sama karakter canyol yg romantiz/masa/ Tp manis bgt loh serius, Suka bgt sama Chanyeol, yang gasuka betele2 dan langsung ceplas ceplos kalo dia suka yh bilang suka secepatnya, awalnya gue ngumita mereka jadianya bakalan lama soalnya pendiskripsian perasaan Baekhyun diawal gabegitu kentara ato memang guenya yg gapeka :v eh gataunya mereka langsung jadian dalam waktu singkat>< gataunya Baekhyun masih pen mertahanin keperawananya(?) dan canyol bukan bajingan walopun dia messssuuum :v Heleh heleh canyol nyosor(?) mele doh :''' Tp beneran, Baekhyun itu maniiiiiiiiiiisssss bgt di ff ini(aslinya juga manis oke)
    Dan kak, suka bgt sama penjelasan mengenai mimpi Baekhyuj atulah– Dan gedhek bgt sama ayahnya Baekhyun yg suka bdsmin/? anak sendiri :' main gaplok aja– MINTA DITABOK?! Kak kalo minta pw lewat pm yak? .-. btw, gue readers baru jadi gatau/?

  18. Oke, kalau udah pair ChanBaek mah, udah menggiurkan terlebih dahulu..

    Aku bener2 ngelakuin pesan diawal buat baca dengan tidak terburu2..

    Dan hasilnya?

    Jangan ditanya..

    Feelnya dapet banget.
    Jadi semakin sayang Baek, suka Chanyeol (apalagi disini Si Chan sifatnya membuat hati terbang)
    Dan itu Karena ff kakak..

    Terimakasih~🙂
    blog ini menyediakan ff yang bisa mengobrak abrikan hati saya/?
    Kenapa saya baru menemukannya?

    Dan bertanya, minta pw nya bagaimana?

    Terimakasih sekali lagi~ *bungkukkanbadan

  19. Di awal awal kerasa banget sweetnya.. Selembut lembutnya seorang park chanyeol, kalo soal baekhyun tetep ajah sifat possessivenya adavbiarpun sekelumit(?).. Dan diakhir chap,, kata kata appa byun itu bikin mood drop. Jerman?? Whut the… Diluar kota ajah kita gak ikhlas, apalagi di lintas benua#gettingslaped.. Moga gak berakhir angst deh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s