[FF Frelance] Yaoi_HunHan || Suddenly Love ||


312483_319699061483626_459232500_n (1)

Author             : ryulnana; nanasabila

Title                 : Suddenly Love

Genre              : Yaoi, MATURE++ (tapi bohong)

Rating              : PG14

Length             : 1Shoot

Cast(s)            : Oh Sehun; Luhan

Note                :

The fanfiction is belong to me. All plots was appeared on my mind. The absurd poster too, made by me. Oh Sehun, Luhan and other casts isn’t mine. Hopefully can be mine.

Olla..err.. aduh bingung buat kata sambutan. Ohok..ohok. Tidak berbakat sih Ohok. Jadi, intinya aku seneng banget deh bisa nitip ff ke kak ALF lewat kak Ilam. Hohoho. Aduh mereka inspirasi banget naikin mood nulis ff, thalanghey<3

Aku gak bisa cuap-cuap ah, udahan yah. Selamat membaca aja deh. ^^

 

.:—–:. ™— .:—–:. –˜ .:—–:.

 

Sore itu udara terasa menusuk kulit, maklum saja baru pembukaan musim dingin. Salju juga baru turun tadi malam, tapi jalanan sudah penuh saja dengannya. Namun, sedingin apapun udara Seoul saat itu, disebuah café kecil itu tetap saja terasa hangat.

Sekitar lima orang remaja sedang duduk di sofa melingkar dengan meja berbentuk lingkaran di tengahnya. Beberapa dari mereka meminum teh dan kopi, sementara sisinya berkutik dengan lembaran kertas penuh rumus.

“Jangan minum terus, bantu dong!” gumam namja mungil dengan setelan jas musim dingin berwarna hitam itu.

Uhuk..jangan mengagetkan begitu dong!” gerutu namja berambut brunette disampingnya.

Kedua namja itu saling menggerutu tak jelas, menyalahkan satu sama lain. Sementara yang lain menatap mereka dengan tatapan sudah-biasa.

“Apa yang harus dibantu Baekhyun?” tanya namja kecil lainnya yang bermata bulat itu.

“Ini..aku tidak mengerti kenapa hasilnya selalu berbeda,” jawab namja mungil bernama Baekhyun itu. Tangannya mengambil kertas dan memperlihatkan bagian mana yang tidak dimengerti.

“Sudah kau balik rumusnya?” tanya namja bermata bulat tersebut.

“Sudah Kyungsoo, berulang-ulang,” jawab Baekhyun.

“Coba kulihat,” ujar sebuah suara dingin mengambil kertas itu.

Namja tampan itu berkulit putih dengan rambut cokelat keemasan. Diperhatikannya kertas itu baik-baik dan mencoba memecahkan soal sesuai pemikirannya.

“Aku juga tidak mengerti,” balas namja itu sambil memberikan kertasnya pada Baekhyun.

“Ku pikir karena seserius itu kau mengerti, ternyata kau bodoh juga ya Oh Sehun,” jawab namja disebrangnya yang tertawa geli.

“Setidaknya tidak lebih bodoh darimu,” jawab namja bernama Sehun itu datar dan kembali meminum kopinya.

“Jadi bagaimana?” tanya namja berambut brunette yang tadi.

“Kau juga harusnya berpikir!” kesal Baekhyun.

Bagaimana tidak, namja itu bertanya bagaimana, sementara dia sendiri tak mengerjakan apapun. Sementara waktu untuk mengumpulkan tugas adalah besok.

“Luhan, ah iya,” gumam Baekhyun. “LUHAN-SSI!”

Baekhyun berteriak memanggil seseorang yang berada di pantry café, namja yang merasa namanya dipanggil itu melirik arah suara.

“Luhan-ssi, kemarilah!” ajak Baekhyun.

Merasa dipanggil, namja manis bernama Luhan itu mendekati meja dimana memang keempat anak itu biasa menghabiskan waktu.

“Luhan kan bisu, bagaimana mengajarkannya?” ujar namja berkulit tan yang duduk disamping Kyungsoo itu.

“Shut! Dia tidak bisu tahu,” seru Baekhyun kesal pada Kai, ya namja berkulit tan tersebut.

Namja bernama Luhan itu sudah dekat di meja Baekhyun. Namja itu terlihat manis bahkan dengan seragam kerja sekalipun. Luhan tetap berdiri sambil membawa nampannya dalam diam, mencoba memberikan isyarat pada Baekhyun, ada apa?. Dan Baekhyun mendapatkan isyarat itu.

“Ah, Luhan-ssi apakah kau mengerti soal yang diberikan Kim Seonsaengmin?” tanya Baekhyun ramah.

Luhan menatap Baekhyun dan masih diam, kemudian dia mengangguk pelan.

“Benarkah? Kau bisa membantu kami mengerjakan soal yang ini?” tanya Baekhyun lagi sambil menunjuk soal yang menurutnya sulit itu.

Luhan menatap soal di kertas itu, dia mengerti sangat mengerti. Tapi, Luhan menggeleng secara lembut menolak permintaan Baekhyun.

“Wae?” kali ini Chanyeol yang bertanya dan Luhan hanya menjawabnya dengan gelengan pelan.

“Sudah kubilang dia tidak bisa bicara,” bisik Kai pelan pada Kyungsoo disampingnya.

Dan sedetik kemudian, Kyungsoo memukul keras paha Kai. “Awww!”

Kyungsoo melirik Kai malas sambil memperhatikan lagi Luhan yang terdiam. Namja itu cukup manis, sangat. Sayangnya, dia begitu pendiam.

“Luhan-ssi, benar-benar tidak bisa membantu?”

Suara itu membuat Luhan melirik Sehun yang tepat duduk disampingnya. Sehun yang nampak memperhatikan Luhan itu bertanya lembut. Luhan menggeleng pelan, lagi.

“Padahal, aku sangat tidak mengerti,” gumam Sehun sambil menyenderkan dirinya lemah pada sofa.

“Ya sudah, kalau tidak bisa bantu. Maaf mengganggu ya, Luhan-ssi,” ujar Baekhyun sambil tersenyum.

Luhan menunduk dan sesekali melirik Sehun dengan ujung matanya, terlihat Sehun yang putus asa disampingnya. Dia kemudian menengadahkan kepalanya, dan mengenggam pergelangan tangan Baekhyun.

“Ada apa?” tanya Baekhyun saat tangan hangat itu menyentuhnya.

Luhan mengarahkan kepalanya ke arah pantry, memberitahu kalau dia bisa memberitahunya disana.

“Ah? Ayo!” Baekhyun dengan senang menarik Luhan segera ke pantry meninggalkan teman-temannya.

Sementara itu di meja, yang lainnya menatap Baekhyun tidak percaya.

“Dia itu punya kemampuan telepati?” kata Chanyeol asal.

“Manis,” gumam Sehun pelan melihat Luhan dari pantry yang tersenyum senang ke arah Baekhyun.

“Kau bilang apa?” tanya Chanyeol mendengar gumamam kecil Sehun.

“A-a-apa?” Sehun balik bertanya gugup, kemudian dia meminum kopinya lagi.

“Apa ini, setelah Sehun yang minta dia langsung meminta Baekhyun,” ucap Kai yang sukses membuat Sehun tersedak.

Uhuk..

“Sehun kau kenapa?” tanya Kyungsoo menggoda.

“Ani,” jawab Sehun datar.

Setelah beberapa menit mengobrol dalam tawa menunggu Baekhyun, akhirnya namja mungil itu kembali datang dengan wajah sumringah sekali. Yang lain pasti tahu dia sudah tahu jawabannya.

“Ah, aku ceroboh sekali melupakan satu hal,” ujar Baekhyun sambil kembali duduk ditempatnya.

“Lupa apanya?” tanya Kyungsoo.

“Lupa dibagi, ehehe,”

Beberapa orang lain menatapnya dasar-baekhyun, sementara Sehun tak bergeming. Dia malah melihat kebelakangnya dimana pantry itu berada. Tentu saja bukan melihat pantry, dia melihat Luhan.

“Aih, uri Sehun sedang jatuh cinta ya?” goda Chanyeol yang melihat tingkah aneh Sehun.

Sehun menatap Chanyeol, dan Baekhyun ikut-ikutan menatap Sehun. Dan kini, semua temannya memandangi Sehun dengan tatapan menggoda.

“Jatuh cinta? Pada siapa?” tanya Sehun gugup.

“Oh ayolah Sehun, aku sudah punya Kyungsoo dan Chanyeol sudah ada Baekhyun, kau saja yang betah sendiri,” goda Kai sambil merangkul Kyungsoo disampingnya, begitupun Chanyeol ikut-ikutan memeluk Baekhyun.

“APANYA YANG SUDAH PUNYA?” teriak Baekhyun dan Kyungsoo bersamaan sambil mendorong kedua temannya yang lain agar berhenti memeluknya.

“Jauh lebih senang sendiri kok,” jawab Sehun datar sambil kembali meminum kopinya.

 

 

.:—–:. ™— .:—–:. –˜ .:—–:.

 

Sehun’s POV

 

Sudah beberapa hari ini, kebiasaanku sedikit berubah. Seperti kali ini misalnya, sebelum tidur biasanya aku membaca komik atau hal sejenisnya, sekarang aku menelentangkan tubuhku menghadap langit-langit kamar yang sudah gelap tanpa ada buku komik ditanganku. Mataku tak bisa terpejam. Lagi-lagi ada satu nama yang terlintas dipikiranku. Luhan.

Sejak bertemu dengannya beberapa hari lalu dengan teman-teman, nama itu selalu saja ada dipikiranku. Aku sering bertemu dengannya, tapi tak pernah mengajaknya bicara. Tentu saja karena dia anak pemilik café tempat aku dan teman-temanku menghabiskan waktu. Dan kemarin, aku mengajaknya mengobrol. Wajahnya selalu tertunduk ditambah poni rambutnya yang sedikit panjang itu menutupi sebagian wajahnya.

Aneh, dia bahkan tidak bicara sama sekali, tapi reaksiku seperti. Bagaimana kalau aku bisa mengobrol dengannya? Benar ya Luhan itu bisu? Ah, tidak. Buktinya dia menjelaskan soal itu pada Baekhyun.

Benar ya aku jatuh cinta pada namja? Namja pendiam seperti itu pula. Rasanya ingin cepat besok saja, biar aku bisa ke café lagi. Bertemu dengan Luhan.

***

“ITU SEMUA KARENAMU SIH!”

“KOK JADI MENYALAHKAN AKU?”

Chanyeol dan Baekhyun. Seperti anjing dan kucing, seperti kucing dan tikus, seperti tikus dan aku. Tidak pernah sekalipun tidak bertengkar. Kapan mereka akrabnya? Awas saja kalau mereka sampai menikah dan punya anak.

“Sudahlah kalian jangan bertengkar terus!” suara Kyungsoo menginterupsi.

“Benar kata Kyungsoo, kalian berisik sekali,” tanggap Kai yang selalu setia disampingnya.

Ini juga, Kai dan Kyungsoo tidak pernah lepas sama sekali. Seperti perangko dan amplop, tapi sayangnya kupikir hanya Kai yang betah menempel lama-lama dengan Kyungsoo. Kalau Kyungsoo sih sepertinya benar-benar tidak menanggapi keberadaan namja mesum yang selalu menggodanya itu.

Sekarang kami seperti biasa berada di café milik Paman Wu. Di tempat biasa, sofa merah melingkar yang ditengahnya ada meja bulat. Masing-masing dari kami sibuk dengan formulir pendaftaran, sementara aku hanya minum dalam diam. Masih penasaran, kenapa aku belum juga melihat sosok Luhan?

“YA OH SEHUN!” suara teriakan Baekhyun terdengar melengking di telingaku.

“Apa-apaan sih?” jawabku datar.

“Kau sebenarnya mendengar kami tidak sih daritadi?” tanya Baekhyun kesal.

“Paling dia sedang mencari Luhan,” tanggap Kyungsoo.

Sontak aku menatapnya dalam sekaligus malu. Apa aku benar-benar tidak bisa tidak bersikap kalau aku menyukai namja bisu itu? Dan sejak kapan Kyungsoo suka menggodaku?

“Luhan apanya?” tanyaku kesal.

“Kau mencari Luhan, Sehun-ah?” suara berat milik Paman Wu membuatku menoleh padanya.

“A-aniya,” jawabku bohong. Jelas saja aku mencarinya sejak kemarin-kemarin.

“Iya Ahjussi, memangnya kemana Luhan?” tanya Chanyeol penasaran.

“Baekhyun tau kok,” jawab Paman Wu sambil melirik Baekhyun. “Aku kembali kerja ya anak-anak,”

Semua langsung menatap Baekhyun, termasuk aku. Bisa-bisanya Baekhyun menyembunyikan Luhan tanpa memberitahuku? Katanya sahabat, tapi tidak punya solidaritas! Sialan kau Byun Baekhyun, awas saja kalau –eh?

 

Astaga, tunggu. Umpatan macam apa yang aku gumamkan. Kenapa pula aku begitu peduli soal kemana perginya Luhan. Oh benar, aku mulai menyukai namja itu.

“Dia pergi ke Beijing,” jawab Baekhyun mengerti tatapan kami.

“Untuk apa ke Beijing?” tanyaku.

Ah, sial. Semua orang jadi menatapku penasaran. Ck, kenapa mereka kompak sekali dalam urusan tatap menatap orang.

“Perlu kuberitahu?” tanya Baekhyun acuh.

“Mungkin kembali pada kekasihnya, lalu menikah, punya pekerjaan, dan kemudian mempunyai seorang anak yang sama bisunya dengan dia. Luhan sudah hidup bahagia rupanya,” tanggap Kai asal.

Uh, rasanya ingin sekali menonjok wajahnya yang sembrono itu. Menyebalkan sekali. Dan kenapa tidak ada yang mau tau lebih lanjut tentang Luhan? Apa hanya aku saja yang antusias disini?

“Kau mau tahu Sehun-ah?” Baekhyun mulai menggodaku.

“Untuk a-apa?” jawabku acuh.

“Yasudah kalau tidak mau tahu. Siapa tahu saja omongan Kai benar, dan apa salahnya jika itu benar terjadi kau bisa menghentikan upacara sakral Luhan di Beijing,” Baekhyun mulai aneh.

Aku diam. Rupanya tanpa ku beritahupun, mereka sudah tahu kalau aku menyukai namja bisu itu. Dan sialnya, mereka memergokiku yang gugup melakukan apapun sekarang.

“Oke, jadi sebenarnya kenapa Luhan ke Beijing?”

Pertanyaanku membuat semua aktifitas di meja bundar itu terhenti. Terlebih Chanyeol dan Baekhyun yang menatapku excited. Persetan dengan dua anak iblis itu.

“Sehun menyukai Luhan ya,” tak disangka Kyungsoo mulai menggodaku, lagi.

“Aigo~ Sehun sudah besar!” si hitam itu –Kai– juga sama menyebalkannya.

Baekhyun cekikikan kecil. “Dia ke Beijing untuk menemui Ibunya,”

“Ibunya tidak tinggal di Seoul?”

“Ibunya tinggal di Beijing,”

“Kenapa tidak tinggal di Seoul, bersama Luhan dan Paman Wu?”

“Ada alasan kenapa Ibunya tidak bisa ke Seoul,”

“Kenapa Luhan dan Pam–,”

“TANYA SAJA PADA LUHAN!”

 

Baekhyun akhirnya malas juga menanggapiku. Dilihat dari caranya berteriak padaku, disusul suara cekikikan puas Kyungsoo, Kai dan Chanyeol. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, mencoba mengatakan maaf. Namun, gengsiku lebih tinggi dari teriakan Baekhyun. Ya sudahlah, paling nanti juga dilupakan.

Aku memutuskan untuk pergi dulu dari mereka. Café sedikit ramai, tapi tetap saja pantry tidak ramai. Akupun menuju pantry dan duduk disana, memperhatikan setiap interior yang tersusun rapi di dapur cantik itu.

“Ini Luhan?” gumamku begitu melihat sebuah bingkai foto.

“Iya dengan ibunya,” sebuah suara membuat perhatianku dari bingkai itu terhenti.

Paman Wu, memergokiku memandangi Luhan. Sial, sekarang ayahnya.

“Luhan begitu manis, ahjussi,” tanggapku dengan senyuman kikuk.

“Ibunya juga cantik, dia membawa sifat Ibunya sih,” jawab Paman Wu santai.

“Ah, benar. Ibu Luhan sangat cantik,”

Bodoh, pekiku dalam hati.

Kenapa justru ungkapan ‘Luhan begitu manis’ malah keluar. Bisa-bisa Paman Wu juga menggodaku karena menyukai Luhan.

“Luhan sangat dekat dengan Ibunya, setiap tiga bulan sekali, ia bahkan ke Beijing mengunjunginya,” Paman Wu memulai cerita.

“Aku bahkan baru sekali mengunjungi Ibunya tahun ini, Luhan sangat menyayangi Ibunya, Sehun-ah. Aku sangat menyesal membawa Luhan ke Seoul, tapi itu semua demi kebaikan Luhan juga sebenarnya,”

“Kenapa ahjussi tidak bawa saja Ibu Luhan ke Seoul?” tanyaku.

“…. kau pasti mengerti nak,” jawabnya dengan nada pelan.

 

Aku mengerti. Luhan pasti sangat sakit merasakan hal seperti ini. Orangtuanya berpisah, dan Paman Wu memutuskan untuk membawa Luhan ke Seoul. Pasti sulit untuk Luhan tidak bersama dengan ibunya.

“Aku kembali bekerja ya,” lanjutnya. “Dan, hari ini Luhan sudah kembali ke Seoul, jam tiga,”

Aku memandangi kepergian Paman Wu ke kasir depan dengan senyuman lemah. Sesungguhnya, apa arti senyuman itu ya? Oh dan, apa tadi? Luhan kembali ke Seoul jam tiga sore? Hari ini? Ya Tuhan! Aku harus jadi orang pertama yang menjemputnya.

Aku bergegas menghampiri teman-temanku yang lain. Berhubung sekarang sudah jam 2:45PM. ASTAGA? LIMA BELAS MENIT LAGI HARUSNYA AKU SUDAH SAMPAI DI BANDARA!

Aku berlari kearah meja dan menemukan teman-temanku tidak utuh. Bukan secara harfiah, hanya saja tadi kutinggalkan teman-temanku berempat dan sekarang tinggal tiga. Aku heran, kemana perginya si ‘jenius’ Baekhyun.

“Mau kemana?” tanya Chanyeol melihat aku terburu-buru.

“Pergi sebentar,” jawabku singat sambil mengambil setelan jas musim dinginku.

Tanpa bertanya perginya Baekhyun, aku sudah panik duluan menuju Bandara. Aku suruh cepat-cepat supir taksi itu biar aku bisa menjemput Luhan di Bandara.

..

 

Traffic Jam.

Sial! Bisa-bisanya saat ini macet. Sial, kalau sampai tujuh menit lagi aku tidak sampai, kubuang percuma keringat berhargaku ini.

Ah sudahlah, lagian Bandara sebentar lagi juga sampai. Aku memutuskan untuk berhenti disini saja. Aku berikan ongkos pada supir taksi, dan segera lari keluar.

Itu dia, Bandara Incheon. Waktuku semakin berkurang.

..

..

 

“Pesawat kedatangan Beijing, China telah mendarat. Pastikan datang di pintu kedatangan. Terimakasih,”

Tepat saat aku baru saja mengatur nafas lega, suara itu menggema di seluruh Bandara. Langsung kulangkahkan kakiku menuju pintu kedatangan dari Beijing dan menunggu seseorang disana.

Kalau dipikir-pikir, tujuh menit dari jalan menuju Bandara itu cukup jauh juga jaraknya. Ternyata, aku benar-benar berbakat menjadi atlet ya. Wus, kubuang pikiranku jauh-jauh. Aku kesini bukan untuk jadi atlet, tapi untuk mencari Luhan.

“Ah itu dia!”

Aku berhasil menemukan pintu kedatangan dari Beijing, dan seseorang yang kukenal sedang duduk manis dengan balutan jaket musim dingin. Duduk dibangku panjang sambil bermain handphone.

Aku..mengenal handphone itu. Byun Baekhyun.

Sekali lagi, SIAL! Ternyata anak itu hilang untuk datang kemari. Ku pikir ada apa anak itu hilang tanpa sebab. Oh, aku kalah cepat dengan bocah itu.

Aku menghembuskan nafas kesal. Lagi, keringatku buang percuma. Aku tidak berani menghampiri Baekhyun, dia pasti akan mati-matian menggodaku dengan Luhan. Hingga akhirnya, aku putuskan untuk memperhatikan anak itu dari jauh saja.

Belum lama menunggu, anak itu berdiri tegak dan menghadap timur. Senyuman merekah di wajah manisnya, tidak heran sih Chanyeol begitu senang menggodanya. Dan Oh, itu Luhan!

Anak itu datang dari timur dengan tas ransel, dan jaket musim dingin. Cantik sekali. Aku tidak bisa menahan senyumku begitu mengetahui wajahnya sangat manis. Sekarang, wajahnya tidak tertutup poni lagi. Alangkah senangnya melihat Luhan secantik itu.

Mereka berdua nampak berbincang ringan dan aku masih dengan bodohnya memperhatikan mereka dari jauh. Ah, tidak. Persetan dengan Baekhyun yang mendahuluiku. Aku hanya memperhatikan sosok manis itu. Luhan.

Oh sial. Dia menatapku?

Aku buru-buru bersembunyi di balik pilar. Ya Tuhan, jangan sampai Luhan tahu aku menguntitnya.

 

.:—–:. ™— .:—–:. –˜ .:—–:.

 

Sudah hampir sebulan, dan tidak ada perkembangan apapun tentang aku dan Luhan. Berbeda dengan Baekhyun yang walaupun sikapnya tidak peduli begitu, ternyata punya perhatian lebih pada Chanyeol. Begitu juga Kyungsoo pada Kai. Hampir saja aku tertawa terbahak-bahak kalau dua orang itu ternyata sudah..pacaran!

“Kupikir Kai hanya bercanda soal kalian berpacaran,” sahut Chanyeol sambil menahan cekikikan.

“Diam kau Chanyeol!” seru Kyungsoo kesal.

“Lagipula siapa suruh menyembunyikannya dari kami,” sahutku.

Kai hanya senyum-senyum tidak jelas, berbeda dengan Kyungsoo yang wajahnya sudah sangat merah menahan malu.

“Ih kalian. Beri selamat dong! Bukannya digodain begitu,” tanggap Baekhyun sambil memukul kepalaku dan Chanyeol bersamaan dengan gulungan majalah.

“Aww!” erangku bersamaan dengan Chanyeol.

“Hmm, Chukkhaeyo!” seru bersamaan dengan Chanyeol dengan nada menggoda.

Kyungsoo menepuk jidatnya pasrah, dan Kai disampingnya tetap tersenyum-senyum tidak jelas. Aku penasaran, apakah si ‘jenius’ Baekhyun dan si ‘idiot’ Chanyeol akan berakhir tragis seperti Kai dan Kyungsoo juga ya? Aku harap sih, aku dan Luhan yang selanjutnya menyusul.

“Karena kalian sudah tahu, aku traktir deh hari ini!”

“ASYIIK!” tawaran Kai benar-benar menggiurkan, semua orang bersorak.

“Tapi tetap di café ya? Hehehe,”

Dasar Kim Jong In. sekali pelit, tetap saja pelit.

Kami mulai memilih minuman dan makanan yang mungkin bisa mengganjal perut. Seperti biasa, kami diam di café juga bukan tidak mengerjakan apa-apa. Setahun lalu, Baekhyun sudah berperan aktif dengan lembaga peduli sosial. Jadi, sekarang sambil menunggu pengumuman tim basket siapa yang maju ke final, kami membantu Baekhyun membungkus permen-permen itu ke dalam plastik untuk diberikan kepada anak-anak jalanan.

“Kau yang antar ya Sehun,” pinta Kyungsoo seenaknya sambil memberiku nota pesanan.

“Kok aku?” tanyaku kesal.

“Sekalian bertemu dengan Luhan kan?” Baekhyun menggodaku.

“Ish!”

Aku mengambil nota itu kesal dan berjalan menuju pantry. Benar juga sih kata Baekhyun, sekalian bisa melihat Luhan.

 

“Luhan-ssi, ada pesanan,” ucapku begitu sampai di dapur.

Bruk.

Sendok yang Luhan pegang jatuh begitu saja. Luhan menatapku terkejut dan buru-buru mengambil sendoknya yang terjatuh.

“Kamu kenapa?” tanyaku pelan. “Aku memesan ini untuk teman-temanku,”

Aku memberikan nota itu pada Luhan, dan Luhan mengambilnya.

..

..

 

 

Entah kenapa dunia serasa di slowmotion saat tangan Luhan tak sengaja menyentuh tangaku. Tangannya hangat sekali, entah efek dia seharian dengan mesin kopi atau memang pembawaannya begitu. Ditambah gerakan lambat saat aku menatap wajah Luhan yang bersinar itu.

Ini, pertama kalinya aku melihat wajah Luhan sedekat ini. Dia tersenyum padaku. Sangat manis. Sangat cantik. Seperti seorang malaikat yang salah tujuan.

Sial, sial. Aku terbangun dari khayalan slowmotion itu. Nyatanya Luhan tidak pernah berani menatap orang selain ayahnya, dan Baekhyun saat di bandara sebulan lalu.

Tidak berniat kembali ke meja, aku malah duduk di kursi tinggi pantry. Memperhatikan Luhan yang dengan cekatan membuat satu per satu pesanan kopi yang ku pesan tadi. Aku menumpukan daguku di tangan kiri, dan aku rasa aku tersenyum terus.

Saat Luhan menatapku, tumpuan itu seakan lemas saja. Membuat kepalaku refleks tegak kembali. Luhan tersenyum kecil. Eh? Astaga dia tersenyum untuk mentertawakan aku? Astaga! Aku membuatnya tersenyum dong? Wahahaha, pasti teman-teman tidak akan percaya.

Perhatianku tidak pernah lepas sedetikpun dari Luhan. Karena sekarang, aku mengerti kesusahannya. Dia tidak bisa menjangkau lemari yang jauh diatasnya. Tubuhnya mungil, dan tidak lebih tinggi dariku. Dan, oh kenapa aku diam saja?

Aku bangkit dari kursiku dan membuka lemari yang Luhan maksud. Disana, ada barisan botol kopi yang entah apa namanya. Dan aku mengambilnya satu.

“Kalau butuh bantuan bilang saja,” ujarku sambil memberikannya botol kaca itu.

Luhan mengangguk pelan, kemudian dia berbalik dan menghampiri mesin kopinya lagi.

Jujur saja, tadi jantungku berdegup begitu cepat. Ini pertama kali, aku sedekat itu dengan Luhan. Tingginya hanya sampai daguku, dan terlihat begitu manis. Aku menggigit bibir bawahku, menahan kesenangan. Astaga, Luhan hangat sekali, padahal tadi aku mati-matian menahan dingin karena udara di luar.

 

.:—–:. ™— .:—–:. –˜ .:—–:.

 

Author’s POV

 

Sekarang Luhan membelakangi Sehun, dan Sehun tetap terpaku di tempatnya. Namun, beberapa detik kemudian namja tampan itu sudah memeluk Luhan dari belakang. Luhan kaget setengah mati.

“Kau cantik sekali,” ucap Sehun berbisik di telinga Luhan.

“Aku jadi ingin memilikimu,” lanjutnya.

Luhan diam tidak bisa bergerak karena tangan Sehun begitu kuat menahannya. Sampai akhirnya, sentuhan basah diperpotongan leher dengan pundaknya terasa.

Astaga! Sehun menciumnya, hangat dan lembut. Ciuman itu basah, dan membuat Luhan kecanduan. Luhan bergelinjang geli, sementara tangan Sehun mulai menyusup ke kaos kerja Luhan. Tangannya merayap lembut di perut datar Luhan.

“Mmh, Se–hun,”

Itu ucapan pertama yang Sehun dengar dari Luhan. Astaga, itu yang pertama dan Luhan mengucapkan namanya merdu. Ternyata, suara Luhan sama manisnya dengan wajahnya.

“Sedang apa kalian disini?”

 

Sial. Sehun menggelengkan kepalanya. Bukannya kembali ke meja teman-temannya, Sehun malah berimajinasi tinggi dengan namja di hadapannya, sebelum akhirnya suara berat itu datang menginterupsi.

“Ah, mianhae. Tadi aku hanya membantu Luhan,” ujar Sehun kikuk.

Dengan kekikukannya, Sehun kembali ke meja tempat teman-temannya berada. Dia pun mengambil nafas lega setelah sedikit terkejut karena iterupsi Paman Wu.

“Lama sekali disana Oh Sehun,” goda Kai.

“Sibuk memperhatikan malaikatnya sih,” tanggap Chanyeol.

Sehun menatap kesal kedua sahabatnya itu. Dia lalu mengedarkan pandangan ke arah lain.

“Habis berimajinasi tinggi, langsung kecapekan begitu, bagaimana kalau benar-benar,”

Ucapan Baekhyun membuat Sehun tersentak kaget dan perlahan menatap Baekhyun. Anak disebelahnya ini jenius sekali bisa membaca pikirannya.

“Imajinasi apa?!” seru Sehun kesal begitu seseorang membaca pikirannya.

“Kekeke,” Baekhyun cekikikan, begitu juga Kyungsoo yang melihat perubahan sikap Sehun.

Tidak lama setelah itu, suara langkah kaki mendekati meja mereka. Rupanya pesanan telah datang, dan Luhan yang mengantarkanya. Sehun makin saja tidak bisa menahan semburat merah di wajahnya.

“Biar aku bantu,” ujar Sehun.

Dia segera berdiri dan membantu Luhan membawa lima pesanan teman-temannya, termasuk dirinya. Sekali lagi, tangan mereka bersentuhan dan sekarang tangan Sehun yang menyentuh tangan Luhan duluan.

“Ehem..ehem,” deheman itu menginterupsi.

“Hkk, Hkk,” begitu pula suara aneh yang sudah jelas datang dari si idiot Chanyeol.

Pesanan yang telah disiapkan sudah terhidang diatas meja. Kopi-kopi bervarian rasa yang Luhan buat. Segera setelah Luhan membungkuk, Sehun mengambil pesanananya. Secangkir espresso.

 

.:—–:. ™— .:—–:. –˜ .:—–:.

 

Minggu depan, turnamen final basket diadakan. Sehun jadi sering sekali latihan begitu tahu kalau tim yang dibawanya benar-benar masuk final. Chanyeolpun dipaksa harus ikut setidaknya sebagai pemain cadangan, padahal anak itu benci sekali basket belakangan.

Dan seperti biasanya, kelompok anak-anak itu istirahat di café Paman Wu, kebetulan dihalaman café juga ada sedikit lahan untuk bermain basket. Chanyeol masih saja bersemangat membantu Baekhyun mengemas beberapa ons permen ke dalam plastik.

“Mana Kyungsoo?” tanya Sehun yang baru kembali dari latihannya di aula.

“Diajak Kai berkencan,” jawab Chanyeol tanpa mengalihkan pandangannya pada Sehun.

“Oh begitu. Heh, kau Park Chanyeol sudah kubilang hari ini latihan kenapa tidak datang?” tanya Sehun kesal.

Dilemparnya bola basket itu ke arah Chanyeol dan..hap! Chanyeol refleks menangkapnya. Baekhyun menatap Chanyeol tidak percaya. Sudah lama sekali Chanyeol tidak memegang bola basket.

“Aku bilang aku tidak mau. Aku tidak suka basket,” jawab Chanyeol datar dan melempar sembarang bola basket Sehun.

“Dulu kau kapten tim sekolah, Chanyeolie,” gumam Baekhyun.

Chanyeol yang murung makin murung mendengar gumamam orang yang disukainya itu. Dia benar-benar tidak suka menyangkut-nyangkutkan basket lagi pada dirinya.

“Memangnya aku harus sependek dulu?” tanya Chanyeol kesal.

Dia terus bersikap dingin dan tanpa peduli di sekitarnya. Baekhyun menatap Chanyeol sedih, itu yang tertangkap oleh Sehun. Anak itu malah menghembuskan nafas panjang.

“Kalian mau aku pesankan minum?” tawar Sehun.

“Tidak,” jawab mereka bersamaan.

Sejenak mereka saling bertemu pandang dan sedetik kemudian membuang muka jijik. Dasar aneh.

“Yasudah, aku saja,”

“Ambilkan aku cutter dan lem ya Sehun,” pinta Baekhyun.

“Hmm,”

“Aku juga, ambilkan stepler dan gunting ya Sehun,” kali ini Chanyeol yang meminta, dan Sehun menjawabnya sama.

Sehun berjalan menuju pantry dan seperti biasa, dia menemukan sosok malaikatnya disana. Sedang diam tidak mengerjakan apapun. Hampir sore dan pengunjung yang datang semakin sedikit karena café juga mau tutup.

“Luhan-ssi, aku..”

Luhan yang sedang menumpu dagunya itu, tiba-tiba berdiri dan bangkit.

“Aku butuh..”

Sebelum Sehun mengucapkan pemintaannya, sebuah cutter sudah berada ditangan Luhan. Sehun menatapnya kaget.

“Dan aku..”

Dengan cekatan Luhan mengambil cutter  dan gunting bersamaan. Sehun membawa peralatannya itu dan Luhan lupa memberinya satu benda lagi, Lem.

Sehun terkejut betapa cekatannya Luhan saat memberikannya barang-barang itu. Entah karena insting atau apa, Luhan tahu bahkan Sehun belum selesai mengucapkannya.

“A-ah, terimakasih,” ucap Sehun gugup.

Sehun membawa keempat benda itu dan memberikannya pada Chanyeol dan Baekhyun di meja. Lihat betapa keadaan kembali seperti biasanya. Baekhyun sedang memukul Chanyeol karena anak itu mencuri satu buah permen lagi. Hmm.

Ah, Sehun jadi lupa tujuannya ke pantry untuk memesan segelas teh limun. Dengan terpaksa, padahal dia sudah berkeringat capek-capek latihan basket dia kembali ke pantry.

“Luhan-ssi, satu ice lemon tea, ya?” pesan Sehun dan terduduk di kursi.

Luhan segera membuatkan segelas teh limun pesanan Sehun, dan secepat kilat minuman dingin menyegarkan itu sudah dihadapan Sehun.

“Cepat sekali,” gumam Sehun terkejut. Luhan hanya menunduk.

Luhan diam-diam memperhatikan namja dihadapannya itu dalam diam. Lekuk wajahnya seperti seorang pangeran yang sempurna, tampan sekali.

“K-kenapa?” tanya Sehun gugup diperhatikan seperti itu.

“A-aku tampan ya? Hahaha,” Sehun mencoba mencairkan suasana.

Luhan tertawa kecil dan sekarang, wajahanya tidak menunduk lagi. Dia menikmati waktunya dengan Sehun.

“Aku lelah sekali berlatih seharian, dan Chanyeol malah disini bersama kekasihnya itu,” ujar Sehun yang sedari tadi ternyata mengobrol dengan Luhan.

“Aku harap sih mereka benar-benar bersama sampai menikah dan punya anak,”

Luhan cekikikan lagi. Padahal menurut Sehun itu tidak lucu, namun pembawaan Sehun yang membuat Luhan cekikikan.

“Menyenangkan melihat Luhan-ssi tertawa seperti itu. Manis sekali,” ucap Sehun.

“Coba kalau Luhan-ssi lebih banyak bicara dan tidak sering menunduk, pasti sangat cantik,”

Luhan kemudian diam. Dia menatap Sehun dan mengeluarkan handuk kerjanya. Handuk kecil yang lembut yang biasa dia pakai untuk membersihkan peluhnya saat bekerja.

Diarahkannya handuk itu ke dahi Sehun yang cukup berkeringat. Entah keringat karena capek latihan sejak tadi, atau keringat karena gugup berhadapan sedekat ini dengan Luhan. Dihapusnya keringat yang bercucuran itu oleh Luhan perlahan. Diam-diam, Sehun memandangi wajah Luhan yang sempurna itu. Matanya bulat hitam, hidungnya mancung, tulang pipinya terangkat manis dan bibir tipis itu begitu menggoda.

Aih, jangan Oh Sehun, jangan, batin Sehun.

***

Udara malam begitu menusuk kulit. Sehun sempat-sempatnya berlatih basket di sebuah taman kecil. Mau bagaimana lagi, turnamen final besok lusa, harus rajin-rajin latihan. Namun tampaknya tidak lama lagi, anak itu sudah menyimpan bola basketnya dibalik semak dan berjalan pulang.

Hanya saja sebuah siluet bayangan membuatnya terhenti di sebuah minimarket. Terasa seperti Luhan…

Ting Tong!

Suara lonceng berbunyi begitu siluet itu keluar dari dalam.

Ah, ternyata memang Luhan. Dengan memakai jas musim dingin hitam dan penghangat telinga cream dia keluar dari minimarket. Kenapa anak itu pergi sendiri ke minimarket malam-malam begini?

“Hai, Luhan-ssi,” sapa Sehun.

Luhan mundur selangkah terkejut karena sapaan namja tampan dihadapannya. Jelas saja, dia senang bisa bertemu malam-malam begini dengan Sehun.

“Kenapa malam-malam sendirian begini?” tanya Sehun.

Luhan hanya menggeleng seperti biasa, diam tidak menjawab.

“Oh begitu. Hey, mau bermain dulu denganku tidak?” ajak Sehun.

Luhan melongo, tentu saja kalau diajak Sehun dia mau. Tapi, bermain dalam konteks seperti apa?

“Asyik!” tanpa menunggu jawaban Luhan, Sehun seenaknya menarik namja manis itu ke tempat tujuannya.

Taman kecil di dekat café Paman Wu, disana ada dua buah ayunan dan sebuah jungkat-jungkit kecil. Luhan menunggu sambil bermain ayunan sendirian, sementara Sehun membeli kopi di mesin kopi otomatis.

“Ini untukmu,” ujar Sehun sambil memberikan sebuah regular cup kopi pada Luhan.

Luhan menunduk sambil tersenyum. Menggeleng dan mengangguk, hanya bahasa itu yang Luhan gunakan untuk berkomunikasi dengan Sehun. Tapi, Sehun mengabaikannya selama Luhan terlihat sangat lucu dimatanya.

“Aku belum pernah mengajak siapapun kesini,” ujar Sehun. “Baru kau seorang,”

Sehun meminum kopinya sambil duduk diayunan disebelah Luhan.

“Dulu, aku dan ayahku sering menghabiskan waktu disini. Hanya saja dia jadi lebih memikirkan perusahaan dan pekerjaan ketimbang aku belakangan. Rasanya seperti, tidak punya ayah saja,”

Luhan menangkap ekspresi sedih wajah Sehun. Perlahan, dia menggenggam tangan Sehun yang diam.

“Eh?” Sehun kaget.

“Luhan-ssi, sangat hangat,” lanjut Sehun, dia membalas genggaman tangan Luhan.

“Ingat waktu aku membantumu membawa botol kopi? Padahal tadinya aku sangat-sangat kedinginan, begitu berhadapan denganmu..rasanya hangat sekali,”

“Waktu itu juga, aku pertama kalinya melihat wajah Luhan-ssi sedekat itu. Cantik sekali, manis, dan tampan diwaktu yang bersamaan,”

“Sehun juga sangat tampan, seperti seorang pangeran,”

Sehun melirik arah suara. Astaga, itukah suara Luhan? Atau halusinasinya saja? Suaranya lembut sekali, sedikit manis. Berbeda dengan suara aneh saat dia berimajinasi dulu.

“Luhan?” tanya Sehun. “Kau bicara?”

“Aneh ya aku bicara? Ya sudah, aku diam saja kalau begitu,” jawab Luhan sambil menahan tawa kikuk.

“A-aniya. Selama ini kau tidak pernah berbicara, jadi agak asing. T-tapi, aku senang sekali kau bicara padaku. Ucapan pertamamu memujiku pula, indah sekali,” tanggap Sehun salah tingkah.

“Hehehe, Sehun sangat sering memujiku. Aku jadi malu,” ucap Luhan.

“Lagi pula, kau sangat cantik, seperti sesosok malaikat,” balas Sehun.

Ya Tuhan, betapa senangnya hati Sehun saat ini. Seperti mendapat doorprize bertubi-tubi, atau dapat kupon konser gratis. Astaga, indah sekali malam ini. Apalagi, mereka menggenggam tangan satu sama lain.

“Kau mendapatkan kecantikan Ibumu ya? Bicara tentang Ibumu, bagaimana keadaannya?”

“Ibuku ya? Dia sangat bahagia disana,” ujar Luhan.

Atmosfir sedikit berbeda sekarang, jadi sedikit terdengar alunan-alunan lagu ballada.

“Oh iya, kalau kau repot bulak-balik Korea-China, kenapa tidak ajak saja Ibumu tinggal di Seoul?”

“Maunya begitu. Hanya saja…”

“Kenapa?”

“Ibu tidak bisa. Lagipula tempatnya sekarang lebih indah dari China ataupun Korea,” kata Luhan.

“Ibu disurga dengan adikku,” lanjut Luhan.

Oh astaga. Luhan hampir menangis karena pertanyaan bodoh Sehun. Jadi selama ini, yang dimaksud berpisah itu bukan perceraian? Jadi, Ibu Luhan sudah…

 

Astaga, Oh Sehun bodoh sekali.

 

“Aigo~ mianhae, Luhan-ssi aku tidak tahu,” kata Sehun sambil menghampiri Luhan dan berjongkok dibawahnya.

“Tidak apa-apa. Sehun kan tidak tahu,” jelas Luhan sambil tersenyum.

“A-ayo kita pulang saja. Ayahmu pasti khawatir,” ajak Sehun bangkit.

Luhan ikut bangkit dan tangan mereka tidak lepas sama sekali. Lalu mereka meninggalkan taman dan menuju rumah Luhan yang tidak jauh dari sana. Setelah beberapa lama, akhirnya mereka sampai di depan rumah Luhan.

“Hati-hati ya,” ujar Luhan manis.

Sehun hanya diam sambil membalas senyuman Luhan. Anehnya, Luhan tidak beranjak masuk juga kedalam.

“Kenapa tidak masuk?” tanya Sehun.

Luhan cekikikan kecil. “Tanganmu,” kata Luhan.

Sehun tidak mampu menyembunyikan rona merahnya karena malu. “Oh, mian,”

“Luhan?” ujar Sehun saat namja manis itu hendak masuk.

“Ya?”

 

Chu~ ♥

 

Saat Luhan berbalik, tiba-tiba saja pipinya berubah hangat dan lembab. Oh Sehun, mencium pipinya. Bukankah ini terlihat sangat manis?

“Selamat malam Luhan! Sampai bertemu besok,”

Sehun segera berlari kencang setelah mencium pipi Luhan. Sialan, iblis kecil itu. Dan Luhan sendiri, lihatlah betapa merah wajahnya menahan malu.

 

.:—–:. ™— .:—–:. –˜ .:—–:.

 

Brug.

“Ahh!”

“Oh Sehun!”

Pekikan Baekhyun membuat semua tertuju padanya. Kai dan Kyungsoo pun segera menuju halaman belakang melihat Sehun. Luhan yang sedang membersihkan pantry juga.

“Sehun…” gumam Kai.

“Cepat bawakan mitela atau perban, jangan diam saja!” teriak Baekhyun pada semua yang disekitarnya.

Kai dan Kyungsoo cepat-cepat menuruti perintah temannya itu. Sementara Luhan menatap kasihan pada Sehun yang meringis kesakitan.

“Luhan, angkat Sehun ke kursi ya, anak ini dislokasi harus segera ditangani. Aku ke pantry dulu membawa air kompresan,”

Baekhyun mempercayakan Sehun pada Luhan dan setelahnya anak itu menuju pantry, mencari baskom dan air dingin. Luka dislokasi Sehun sedikit bengkak, jadi harus dikompres dulu agar normal lagi.

Luhan membantu Sehun berjalan menuju kursi tak jauh dari sana. Tampak sangat khawatir sekali, padahal Sehun yang merasakannya.

“Aku baik-baik saja kok,” ujar Sehun.

Luhan menatap Sehun. “Kamu tidak baik-baik saja,”

Sehun tersenyum, ternyata benar ini Luhan yang kemarin ditemuinya semalam. Luhan yang ia cium pipinya lalu melarikan diri begitu saja.

“Lain kali, kamu harus hati-hati,” ucap Luhan perhatian.

“Cidera kecil, lagipula besok aku harus tanding,”

Tanpa disadari, Baekhyun tersenyum kecil melihat perubahan Luhan di depan Sehun. Akhirnya, Luhan berani juga bicara di depan Sehun, dimana sebelumnya namja manis itu hanya bercerita tentang kekagumannya akan Sehun pada Baekhyun.

“Kompres lukanya, setelah itu akan kueratkan. Aku perlu mencari tensokrap at–,”

“Biar aku saja yang carikan, takutnya Sehun kenapa-kenapa,” kata Luhan sambil memberikan tempat duduknya pada Baekhyun.

Luhan pergi dan mencari barang bernama tensokrap itu untuk mengobati luka Sehun. Setelah itu, tinggalah Baekhyun dan Sehun.

“Kau bodoh sih! Siapa suruh latihan sekeras itu? Dislokasinya cukup parah, kau tahu kan kalau turnamennya besok?!” Baekhyun menggerutu kesal sambil mengompres pergelangan kaki kiri Sehun.

Sehun diam tidak menjawab.

“Lagi pula, couch Kim juga bilang jangan terlalu dipaksa latihan rutin. Ototmu kan pegal juga,”

“Kenapa kau perhatian sekali padaku?” tanya Sehun.

Baekhyun diam. Apa yang harus dia jawab untuk pertanyaan Sehun?

“Aku hanya khawatir,” jawab Baekhyun buntu.

Dia menyapu poni Sehun yang sedikit menutupi dahinya lembut. Suaranya parau, dan Sehun mengerti. Dia tidak boleh seceroboh tadi.

 

.:—–:. ™— .:—–:. –˜ .:—–:.

 

Luhan’s POV

 

Bel makan siang telah berbunyi. Murid-murid di kelas berhamburan keluar, selain setelah ini pelajaran berhenti karena ada turnamen basket, rupanya ada sesi jujur-jujuran di radio sekolah. Jujur saja aku tertarik dengan acara seperti itu, kapan lagi.

“Hai Luhan!” seru Baekhyun.

Anak itu rupanya menungguku daritadi. Aku hanya melambaikan tangan dan tersenyum padanya, dia menghampiriku. Ternyata, Baekhyun tidak sendirian ada Kyungsoo disana.

“Bagaimana kalau makan siang bersama?” ajak Kyungsoo.

Baekhyun mengangguk setuju, mana mungkin aku menolak tawaran baik teman-temanku?

***

“Kim Myungsoo-ssi! Sudah lama aku ingin mengutarakan ini, tapi aku tidak tahu caranya. Jadi, karena sekarang aku bisa, akan kukatakan bahwa AKU MENCINTAIMU MYUNGSOO-SSI!”

Suara itu terdengar nyaring dari pemancar suara. Sementara anak-anak di kantin, heboh sekali menggoda pangeran sekolah bernama Myungsoo itu.

“Itu pasti Sungjong deh,” Baekhyun memulai obrolan. “Suaranya cempreng sekali,”

“Kekekeke,” aku dan Kyungsoo tertawa.

Suara-suara pernyataan cinta itu terdengar dari pemancar suara di kantin. Tanggapannya ada yang heboh, teriak kesana-kemari bahkan ada juga yang tertawa karena kekonyolan si pembawa pesan. Konyol sekali.

“Jadi ingin mencoba,” gumamku.

Aku bisa melihat Baekhyun tersenyum padaku. “Coba saja,”

Aku menggeleng, kenapa bisa jadi salah tingkah begini? Aku memutuskan untuk pergi ke kamar mandi.

“Aku ke kamar mandi dulu ya,” ujarku dan segera bangkit meninggalkan Baekhyun dan Kyungsoo.

Sepanjang jalan, aku memikirkan untuk pergi saja ke ruangan radio sekolah. Hanya saja, aku tidak punya keberanian sekuat itu. Lagipula, aku harus bicara apa.

 

Krieeet…

 

Suara pintu terbuka. Aku lantas memandang gugup, semua orang didalam juga begitu. Termasuk si Ketua OSIS Kim Junmyeon, atau Suho.

Langkah kakiku membawaku ke ruang radio sekolah. Aku terkejut setengah mati, bukannya balik pergi aku malah melangkah maju masuk ke dalam. Menunduk, aku hanya diam.

“Jadi, pesanmu bagaimana, Luhan-ssi?” tanya Suho lembut.

Si Ketua OSIS itu mengenalku, kami sekelas dan tentu saja dia pasti terkejut dengan kedatanganku yang pendiam ini ke radio sekolah.

“Aku ingin menyanyi saja,” jawabku.

Suho mengangguk mengerti, kemudian dia ambil microphonenya.

“Tampaknya seseorang disini sangat hebat sekali. Dia akan menyatakan perasaannya lewat sebuah lagu!” ucapnya pada microphone itu.

“WUAAAA!” terdengar suara seruan histeris dari lantai bawah, kantin tepatnya.

Murid-murid disana banyak sekali yang kulihat dari atas sini. Membuat mental block saja. Aku hanya diam sampai Suho bertanya padaku.

“Lagu apa yang kau nyanyikan Luhan-ssi?”

Aku menulis sebuah lagu dan Suho tersenyum sambil menyiapkan melodinya. Aku melangkahkan kakiku dekat ke microphone, dan sedetik setelah itu nada lagu yang kupilih terdengar. Merdu sekali, dan aku harap seseorang bisa mengerti maknanya.

 

Onew – In Your Eyes

To The Beautiful You OST (2012)

 

 I’ve never said this before

Aku tidak pernah mengatakan ini sebelumnya

 

To tell you the truth,

Untuk memberitahumu yang sebenarnya

 

I felt my heart beating on that day

Aku rasa jantungku berdetak hari itu

 

Since the beginning, I knew

Sejak awal, aku tahu

 

I wasn’t sure but it felt like

Aku tidak yakin, tetapi aku merasa seperti

 

Our fate was already decided

Takdir kita telah diputuskan

 

Love is coming to me

Cinta datang padaku

 

It leads me toward you

Itu mengarahkanku kepadamu

 

It feels like a dream that

Terasa seperti mimpi yang

 

I’ll never wake up from

Aku tidak ingin terbangun darinya

 

It really seems like a dream

Benar-benar terlihat seperti mimpi

 

I remember the day we first met

Aku ingat hari saat kita pertama bertemu

 

You came to me

Kau datang padaku

 

On a dazzling and bright day

Hari yang silau dan cerah

 

Thank you for coming to me

Terimakasih telah datang padaku

 

Since the beginning, I knew

Sejak awal, aku tahu

 

I wasn’t sure but it felt like

Aku tidak yakin, tetapi aku merasa seperti

 

Our fate was already decided

Takdir kita telah diputuskan

 

Love is coming to me

Cinta datang padaku

 

It leads me toward you

Itu mengarahkanku kepadamu

 

It feels like a dream that

Terasa seperti mimpi yang

 

I’ll never wake up from

Aku tidak pernah terbangun darinya

 

It really seems like a dream

Benar-benar terlihat seperti mimpi

 

You are smiling at me

Kau tersenyum padaku

 

On this beautiful day

Di hari yang indah ini

 

But why are tears forming

Tapi kenapa air mata terbentuk

 

In my eyes?

Dimataku?

 

I hope this is a dream

Aku harap ini mimpi

 

That I’ll never wake up from

Dimana aku tidak pernah bangun darinya

 

I hope things will never change

Aku harap hal-hal tidak akan pernah berubah

 

I hope the place where love lingers

Aku harap tempat dimana cinta bertahan

 

Can be somewhere we can be together

Dimanapun asalkan kita dapat bersama

 

It feels like a dream that

Terasa seperti mimpi yang

 

I’ll never wake up from

Aku tidak ingin terbangun darinya

 

It really seems like a dream

Benar-benar terlihat seperti mimpi

 

I remember the day we first met

Aku ingat hari saat kita pertama bertemu

 

You came to me

Kau datang padaku

 

On a dazzling and bright day

Hari yang silau dan cerah

 

“Thank you for coming to me..”

 

Aku menyelesaikan part terakhir dari lagu yang aku bawakan. Lega rasanya, ditambah Suho memasang senyum manis padaku.

 

“Terimakasih,” ujarku.

“Suaramu indah sekali,” puji Suho.

Aku buru-buru meninggalkan radio sekolah, sebelum akhirnya Suho mulai bercuap-cuap lagi. Kalau dipikir-pikir tingkahku barusan bodoh sekali. Aku hanya bisa menahan senyum sampai kembali ke meja dengan Baekhyun.

 

.:—–:. ™— .:—–:. –˜ .:—–:.

 

Suara riuh penonton semakin menjadi-jadi ketika tim putri memasukan bola lagi. Hari ini hari yang ditunggu-tunggu oleh Sekolah. Turnamen Final. Jadwal setelah makan siangpun digantikan dengan pertandingan basket, hal itu sudah berlangsung selama beberapa hari, karena kali ini giliran sekolah kami yang kedapatan jadi tuan rumah.

Aku duduk dibarisan paling depan dengan Kyungsoo. Anak manis bermata bulat, kekasihnya Kai –sahabat Sehun. Anak yang tadi mengajakku makan siang.

“Tadi ada yang bernyanyi bagus sekali, sayang kau di toilet,” ujar Kyungsoo.

“Bernyanyi seperti apa?” tanyaku.

“Tidak tahu, pokoknya artinya dalam sekali,”

Aku menahan senyum, Kyungsoo memujiku walaupun tidak langsung. Apa Kyungsoo tidak tahu ya aku yang menyanyi? Ah, jelas saja. Orang pendiam seperti aku mana mungkin disangka yang ‘iya-iya’. Lagipula, untuk apa aku berharap Kyungsoo mengetahui itu aku.

“Sepertinya Sehun dimarahi couch,” ujar Kyungsoo.

“Dimarahi?” tanyaku.

Sama seperti Baekhyun, aku juga tidak segan berbicara banyak dengan Kyungsoo. Dia sama seperti Baekhyun, dia juga sama baiknya dengan Baekhyun.

“Kau tau couch Kim bagaimana,” jawab Kyungsoo malas.

Aku melihat kearah tim Sehun yang sedang menunggu giliran. Benar saja, namja jangkung bertubuh atletis yang biasa dipanggil couch itu berdiri kesal di hadapannya. Kasihan, Sehun.

“Kira-kira siapa yang mengganti Sehun ya? Cidera begitu pasti tidak bisa bermain,” kata Kyungsoo.

“Tidak ada cadangan?” tanyaku.

“Hanya satu, dan itu tidak mendukung sama sekali. Pemain cadangan yang lain sudah sama-sama cidera, mungkin ada sih satu. Tapi, tidak usah dibahas karena itu tidak mungkin,”

“Kenapa tidak mungkin? Memang siapa?”

“Park Chanyeol,”

“Oh dia. Benar, dia kan bisa membantu?”

“Tidak mungkin, Chanyeol sudah mengeluarkan diri dari dunia basket setahun lalu. Dan, dia tidak akan kembali. Percaya deh,”

“Kok bisa begitu?”

“Tidak tahu. Baekhyun saja yang sejak kecil berteman dengannya tidak tahu,”

“Oh begitu,” aku mengerti mendengar ucapan Kyungsoo.

“Tapi kalau dipaksa, cidera Sehun bisa bahaya,” lanjutku.

 

***

Turnamen Final Putra. SM High School melawan JYP High School.

Ini yang para penonton tunggu. Pertarungan sengit antara dua sekolah ternama di Korea, begitu pula aku. Suara pendukung semakin riuh, terutama para gadis remaja yang mendukung atlet favoritenya.

“Oh Sehun, fighting!”

“Kai kau bisa!”

Suara seruan para fans Sehun dan Kai terdengar melengking di telingan ku dan Kyungsoo. Apalagi, Kyungsoo sedikit iri melihat gadis-gadis yang sangat cantik itu mendukung Kai dengan bebasnya. Tidak seperti dirinya yang malu-malu.

“Ck,” Kyungsoo bergumam kesal.

Aku kembali melihat ke lapangan, dan Sehun sedang berjuang keras disana. Pasti rasanya sakit berlari dengan luka dipergelangan kakinya. Seharusnya Sehun tidak boleh begitu, untuk alasan apapun itu bisa membahayakan dirinya.

“Kenapa Chanyeol tidak mau bermain sih?” tanyaku kesal.

“Aku juga tidak tahu,” jawab Kyungsoo sama kesalnya.

Sementara kedudukan JYP High School mendukung jauh diatas sekolah kami. Sial, Sehun kan sudah berjuang. Aku tentu saja tidak apa-apa kalau sekolah kita kalah karena tidak ada pemain lagi, permainan Kai cukup kok untuk mendukung sekolah kita menang.

Aku hanya khawatir dengan keadaan Sehun. Sangat khawatir.

“Ahhh!”

Para pendukung berteriak saat Sehun terjatuh. Astaga! Sehun kau harus baik-baik saja! Berhentilah saat ini juga.

“Kau pasti sangat khawatir,” ucap Kyungsoo disampingku.

“Sehun pasti akan baik-baik saja kok,” lanjutnya.

Dia menepuk punggungku sayang, dan aku hanya bisa berdoa semoga Sehun cepat-cepat kembali akalnya agar dia berhenti sekarang juga. Setidaknya, Tuhan memberikannya kesempatan untuk sembuh saat ini juga.

Dari sini aku melihat Baekhyun yang sedang tertunduk. Nampaknya, dia juga kena marah couch Kim. Setelahnya, dia pergi entah kemana. Apa yang dilakukan Baekhyun?

“Ya nampaknya aka nada pergantian pemain,” ujar suara Host.

“Nomor punggung 12. Dari SM High School, Oh Sehun keluar lapangan,”

“Digantikan oleh Nomor Punggung 27. Dari SM High School, Park Chanyeol!”

Suara riuh tepuk tangan menggema diseluruh aula. Aku menghembuskan nafas lega, setidaknya Chanyeol membuat Sehun diam dan mengobati dirinya.

“Ini benar-benar mukjizat!” ujar Kyungsoo berlebihan.

“Aku sangat senang sekali!” seruku sambil memeluk Kyungsoo, dan kami dengan konyolnya saling berpelukan sambil melompat senang.

Aku bisa melihat Baekhyun yang terengah-engah dilapangan, menatap Chanyeol dengan pandangan benar-benar melegakan. Dia tidak henti-hentinya tersenyum. Lalu dia beralih ke Sehun dan mengobati lukanya.

 

***

“Chukkhae,”

Sehun menatap botol minuman dingin yang kusimpan dipipinya. Dia menatapku dan mengambil botol minumannya. Lalu, aku duduk disampingnya. Bukannya bersama teman-teman merayakan euphoria kemenangan, dia malah duduk ditangga masuk sekolah.

“Pasti sakit sekali,” ujarku sambil menatap pergelangan kaki kiri Sehun yang dibungkus tensokrap.

“Baekhyun merawatku degan baik. Keparat dengan si Chanyeol yang datang dipertengahan,”

Aku tertawa kecil. “Tapi dia datang kan?”

“Iya sih.. Luhan, terimakasih ya telah mendukungku,”

Aku menunduk malu. Ucapan terimakasih dari Sehun selalu membuatku salah tingkah.

“Tidak seberapa dengan perjuanganmu mengharumkan nama sekolah kita,”

Sehun hanya diam dan meminum minuman yang aku berikan. Dia lalu menghembuskan nafas. Dalam keadaan seperti ini, tidak ada yang mengajak pembicaraan satu sama lain. Aku sangat canggung, kurasa Sehun juga begitu.

“Luhan,”

“Sehun,”

Aku tertawa, begitu pula Sehun saat kami berdua sama-sama menyebut nama yang lain.

“Kau duluan,”

Uh, kenapa kami bicara sama di waktu yang bersamaan.

“Kau saja,” ujarku kemudian.

Sehun tersenyum kikuk sebelum dia mulai berkata. “Tadi itu..lagu yang indah sekali,”

“Eo?”

“Lagu yang kau nyanyikan tadi saat makan siang. Suaramu juga merdu sekali,”

Aku hanya bisa menahan senyum. Sehun ternyata tahu yang menyanyi tadi itu aku. Kenapa bisa? Aku malah mati-matian menahan malu.

“Wajahmu merah sekali, kekeke,”

Sehun mencubit pipiku gemas. Sudah tahu aku tersipu begini karenanya, dia malah mencubit pipiku. Tambahlah wajahku merona seperti tomat.

“Nanti malam, datang ya ke Taman yang waktu itu,” ajak Sehun.

“Aku tunggu jam tujuh malam, ya?”

Sehun lantas bangkit setelah sebelumnya mengacak pelan rambutku. Sehun memberiku ajakan ke taman? Ini ajakan biasa atau, ajakan berkencan? Astaga, senang sekali rasanya.

 

.:—–:. ™— .:—–:. –˜ .:—–:.

 

Aku buru-buru menuju taman. Sayang sekali, nampaknya Sehun menungguku terlalu lama. Aku harus membantu Appa membereskan café karena dipakai pesta merayakan kemenangan sekolah oleh teman-teman.

“Hhh, hhh,”

Sesampainya di taman, tidak ada orang. Nampaknya Sehun menungguku terlalu lama, jadi mungkin dia putuskan untuk pulan. Luhan, bisa-bisanya kau bodoh memanfaatkan keadaan sepert ini.

“Wa!”

Aku terlonjak saat suara itu mengejutkanku. Siapa lagi kalau bukan, Oh Sehun.

“Kenapa kau suka mengagetkan orang?” tanyaku.

“Hhh, aku pikir mengerjaimu sedikit tidak masalah kan?”

Sehun hanya tertawa. Dan aku langsung duduk bermain ayunan, Sehun juga duduk disampingku. Dia mulai mengobrol dan aku menanggapinya. Cukup banyak hal yang membuat aku tertawa, terharu dan kesal disaat yang bersamaan. Ternyata, dibalik sosok Oh Sehun yang terlihat dingin, inilah sifat aslinya. Hangat dan menyenangkan.

“Ah, aku harus pulang,” ujarku mengingat hari semakin gelap.

“Begitu ya?”

“Aku pulang duluan ya,”

Sedetik setelah aku mengucapkan itu, Sehun malah menahan tanganku digenggamannya. Dia membalik tubuhku untuk menghadapnya.

“Sebenarnya ada satu hal yang ingin aku sampaikan padamu,” air wajahnya berubah serius.

“Apa?” tanyaku.

“Maaf karena ciuman tempo hari lalu,” jawabnya.

Aku tertawa kecil. Rupanya dia mengingat kejadian konyol yang dilakukannya itu. Aku hanya menghela nafas kecil.

“Tidak masalah,” balasku. “Jadi, bisa aku pulang?”

Tangan Sehun yang bertumpu di pundakku menahanku untuk bergerak. Jadi, bagaimana aku bisa pulang.

“Tapi ad–,”

“Tapi apa?”

“Aku menyukaimu sudah cukup lama,”

Hening.

Dunia seakan slowmotion sekarang. Aku bisa mendengar suara Sehun yang cukup terdengar di telingaku. Dia barusan mengutarakan perasaannya padaku?

“Y-ya?”

Bodohnya, aku hanya membalas dengan pertanyaan konyol.

“Luhan, aku menyukai –ah, ani. Aku mencintaimu,”

Aku terpaku. Benar yang aku dengar, dia mengutarakan perasaannya padaku. Justru, inilah yang aku ingin dengar dari dulu. Kenyataan bahwa cintaku juga tidak bertepuk sebelah tangan. Lalu, kenapa aku hanya diam dan memandangi wajah pangerannya?

Belum menjawab apapun, kedua tangan Sehun menengkup pipiku. Hingga sedetik kemudian, sesuatu yang lembab, basah dan hangat itu menyentuh bibirku. Aku terdiam, malah mengerjapkan mata berkali-kali. Deru nafas Sehun terasa di wajahku.

 

Sehun. Menciumku…

 

di bibir…

 

Refleks, aku menutup mataku. Membiarkan aliran hangat itu mengalir ke setiap inchi tubuhku. Bahkan tanganku tidak bergerak sama sekali. Aku hanya diam, berdiri tegak tanpa melakukan hal apapun.

“Mianhae,” ujar Sehun setelah ciuman itu terlepas.

Lagi-lagi, aku hanya menunduk. Wajahku pasti sangat merah sekali menahan malu. Ciuman yang tadi itu, berbeda dengan yang sebelumnya. Juga lebih lama, ditambah Sehun baru saja mengatakan perasaannya padaku.

“Jadi?” tanya Sehun.

“A-apa?”

“Kau tidak berniat menjawab?”

“O-oh, jadi tadi itu sebuah pertanyaan ya, bukan pernyataan?”

“Kenapa balik bertanya?”

“A-ah? Tidak tahu,”

Kemudian kami jadi merasa canggung lagi. Apalagi, posisi kami saling berhadapan seperti ini. Rasanya, makin canggung saja.

“Aku menyukai Sehun,”

“Tidak lebih?” tanya Sehun.

Aku mendongakan kepalaku dan menatapnya. “Saranghae,”

Aku menghambur kepelukan Sehun dan mengalungkan tanganku dilehernya. Dia pasti harus sedikit turun karena aku tidak lebih tinggi darinya.

 

.:—–:. ™— .:—–:. –˜ .:—–:.

 

Author’s POV

 

Sehun tersenyum senang, pernyataan cintanya dibalas dengan pernyataan yang sama. Dia membalas pelukan Luhan yang tiba-tiba itu.

“Aku ingin kau jadi kekasihku,” ucap Sehun.

Luhan menenggelamkan wajahnya diceruk leher Sehun. “Kalau tidak mau?”

“Kau tidak boleh pulang,”

“Ya sudah, aku mau jadi kekasihmu,”

“Sungguh?”

Sehun melonggarkan pelukannya dan melihat Luhan mengangguk lucu.

“Ayo pulang~” pinta Luhan manja pada Sehun.

Sehun hanya tertawa melihat tingkah Luhan yang begitu manis dimatanya itu. Dia senang karena tim basketnya menang, juga karena namja manis dihadapannya ini sekarang adalah kekasihnya. Dalam satu hari, dia mendapatkan dua kesenangan sekaligus.

“Tidak mau~” balas Sehun tak kalah manja.

“Disini dingin~” tanggap Luhan, sambil menutupi kegugupannya.

Greb.

Sehun langsung memeluk Luhan erat sekali. Wajah Luhan tenggelam diantara dada bidang Sehun. Dia hanya terkekeh geli. Keinginannya menjadi kenyataan. Dari yang tidak mungkin, menjadi mungkin. Senang sekali.

 

 

¥ THE END ¥

 

 

DORRR! (/.\)

Gimana ffnya? Maaf kalau ada penulisan yang salah dan gak enak dibaca, maklum an amateur writer, terus makasih yah yang udah baca sampai akhir. Aduduh, terharu (/.\) *ngelap ingus*. Aku butuh kritik dan saran nih buat ff aku yang berikutnya, kalau misalnya ada yang minat ya nantinya akan ada sidestorynya sih. HOHOHO. See ya ^^

SHARE BY ISTRI KIM JUNMYUN TERCINTA (?)

 

58 thoughts on “[FF Frelance] Yaoi_HunHan || Suddenly Love ||

  1. kyaaaaaa,,
    Hunhaaaaaan❤
    Baekyeol❤
    Kaido❤

    Huaaaaaaaaaaaaaa,,
    Q pikir luhan m baekhyun itu saudara,,
    Kekkek,,
    Trus,, q pikir luhan itu bener2 bisu,,
    huaaaa,,
    Good author,,
    I like it,,

    #popoLUHAN.

  2. Ehhh…..authornya MyunJong shipper ya??
    pdhl Sehun ya yg gk bnyk ngomong.
    tapi kalo Sehun yg dibikin bisu,bisa keinget ff ALF
    gimana cara Baekie ngebujuk Chanyeol?
    kirain wkt Sehun lg berimajinasi itu beneran.

    • myungjong shipper? hmm sedikit😄
      aku inspirit sih jadi ya nambah casts dari infinite sih hehehe
      jadi spy buat exostan.. danger.. danger ._.

      penasaran sama BaekYeol nih ceritanya? Tunggu ya😄

  3. nice story ^^

    tapi, mungkin karna 0nesho0t ya, jadi banyak bagian yg bikin rada bingung + penasaran. wehehe
    misal, tentang chanyeol yg jadi ga suka basket, alasannya apa…
    #reader kepo
    hik hik😀

    tapi secara keseluruhan, manis kok ceritanya ^^

    go0d job😀

    NB: sehun otaknya mesum banget ya. wkwkwk~

  4. aaaaaaawwwww sumpaaaaaaaaaaaaaahh HNUNHAN manis bangeeeeeeett!! bener bener ya, pada malu malu tapi mau,. kiraiin si luhan itu gak bisa ngomong beneran, ternyata itu karena dia suka banget sama sehun trus gugup banget kalo di depan sehun gitu ya? suka banget deh sama nih couple,, HUNHAN SO SWEEEEEEEEEEEEEETT keren deh pokoknya author^^

  5. *tarik nafas *buang nafas
    123!
    Yoyoyo(?)
    Ini kerennnnnnnnnnn thorrrrrr ceritanya sumpahhhhh!
    Dohhh!
    Daritadi g bs berhenti ketawaa gaje~
    Aaaaaaaa
    Hunhan selalu so sweet :3
    Hunhan jjang!
    Muach muachhh muachhhh :*
    FF nya kecehhh badaii deh!
    Authorr nya daebak! :3
    Love this FF ><

  6. Tiga couple co cweet banget, apalagi hunhan *3*
    Sequel dong buat baekyeol kasi tau kenapa chan mengundurkan diri dari basket? Sumpah aku pnasaran ‘-‘)/
    Keseluruhab ini daebak haha aku iri ama luhan :3

  7. thor…kelupaan ma baekyeol nyahhhhh…………kenapa hubungan mereka menggantung diakhir? hunhan bahagia, kaisoo bahagia juga, baekyeol ku manaaaaaaa?
    wuuuh…sehuun pakek malu2 anjing tp aslinya mau banget ma lulu. nah kenapa lulu g bisa ngomong diawal?dia malu yak ma sehuun?

    baguuus thor ceritanya, squel dong buat baekyeol ku tercintah

  8. sweet banget… sumpah keren… bikin aku senyum2 gaje terus nih….
    pokoknya mah HunHan polepel banget dah…. mau diapain aja tuh orang bedua bawaannya selalu dapat feel romancenya.
    awalnya aku pikir akan ada HunBaek and cinta segiempat gitu…. tapi ternyata eh ternyata HunHan berjaya…
    Chingu buat sequel dong bikin cinta segiempat ChanBaekhunHan….

  9. Keren kok, daebak! Gak bisa ngelepas senyuman pas bacanya, apalagi hunhan couple lagi ya<3 so sweet. Tapi baekyeol gimana itu nasibhya? Terus kenapa chanyeol gak mau ikut basket?
    Feelnya dapet banget,gak tau mau ngekomen apalagi, daebak thor! Lanjutin lagi karyanya

  10. eh btw, masih ada yang kaga ngarti gua… Kenapa chanyeol gamau turun buat maen basket? Gimana caranya baekhyun ngebujuk chanyeol?
    tapi DEMI APA INI KEREEEEEN!! Tapi kenapa luhan gamau ngmomong awalnya xD daebak!

  11. HUNHAN couple so sweettttttt …
    bonus bgt ya ada KaiSoo ChanBaek sama HunHan ,,, bagus thor FFnya
    Lucu juga sih yg malu2 kucing, pdhal sama2 suka ya mereka berdua yaa
    alur ceritanya bagus dan tidak membosankan, romantic scenenya ngena dan dapet ^^
    coba dibuat sekuelnya deh thor yang HunHan ini pasti seruuuu..

  12. hehehe,, ini FF aku demen banget pasalnya saya HunHan shipper
    buat author :: gomawo sudah bikin FF HunHan dimana akhir2 ini saya jarang nemuin FF dengan cast HunHan hehe
    setelah saya liat komen sebelum saya ada yang bilang minta sequel hehe,, kalo begitu saya juga ikut-ikutan minta sequel ne???? yang BaekYeol atau KaiDo terserah authot #padahal mau semua hehe

    jjang !!!
    fighting !!!
    -sarabghaja !!!- <— ikut2an member exo

  13. HUNHAN…………………….CINTAQ……………………………………………….LUPH..LUPH..LUPH….eh yg bkin pnasaran itu gmn critanya luhan cm mau ngobrol m baekhyun,kl m yg laen cm angguk2..geleng2..tunduk2….?ampe d blg bisu m kai?
    wueh…saya sdh bahagia pas tau sehun peluk luhan dr belakang trs cium luhan.eh g taunya cm khayalan,hohohohohohohoho.
    tp akhirnya jadian jg,horay…horay…horay….cm kurang romantis….tp ff-nya bgs k’

  14. Wah couple” favorit ada semua,.cerita yg ringan tp menarik sekali,.happy end lagi ^^
    luhan lucu bnget bela”in jemput kebandara,.dan 4 sekawan yang kompak menggoda sehun,.bkin ketawa-ketiwi,.😀

  15. Luhann bisuu..
    Ga ahh..

    Jadi sehunn jatuh cintrongg ma luhan.. (•̯͡.•̯͡)
    Yaampun ampee jemput kebandara..
    *eh ada baekhyun disana sabar ya hun.. (~˘▽˘)~
    Segitu sukanya kah dirimu pada dirinya.. (˘⌣˘ʃƪ)

    Omaigat.. (˘̶ِ̀ ˘̶́҂)-σ sehunn itu kenapa tiba2 begitu sihh..
    Ciummciumm pelukpeluk gerayangan pula..
    *ehh untung cumaaa imajinasi..
    Soalnya aneh aj masa tiba2 langsung begitu si sehun.. (~˘з˘)~
    Dasar seponbob.. Penuh imajinasii dia.. Kekekekkk..

    Penasaran aku kenapa sama chanyeol side storynya tentang chanyeol ma baek ya.. Penasaran ama anak 2 itu ak..
    Hihii..
    \(´▽`)/ akhirnya jadiann.. Cieyyyy hunhan..

    Iia ada sedikit yg agak ga ngerti pi kebanyakan ngertii sihh..
    Good epep –b

  16. APA INI?? FIC MACAM APA INI???? SWEET BANGET MASAAAA HUHUHU *lopelope di udara*
    jadi sehun semacam cinta pada pandangan pertama gitu? luhannya malu” masa. unyu beud.. kirain bisu beneran, ternyata cuman malu ngomong toh. dan cuma mau ngomong sama baekhyun sama kyungsoo doang ._.
    btw yg pas sehun berimajinasi itu kirain beneran. taunya ngebayangin yang iya” -_- dasar thehun pervert *plakk* tp kok baekhyun tau ya sehun bayangin yg iya”? apa emang baekhyun punya kekuatan bisa baca pikiran??
    tapi syukurlah akhirnya mereka bisa bersatu ‘-‘)9 pake malu” kucing segala. awawaw.. itu kris jd ba[ak” masa. hahahaha *ngebayangin* tetep ganteng weh :p
    btw, yg chanyeol gamau main basket lagi kok ga dijelasin? kan penasaran😦 terus baekhyun ngapain aja kok sampe chanyeol mau main basket lagi ._.a hubungan baekyeol misterius bgt *dor*
    tp overall ini ficnya sweet bgt. yg pas cerita ibunya udah meninggal itu hampir mau nangis bacanya. huhu..
    tp daebak lah. ffnya keren! keep writing ‘-‘)b

  17. assalamualaikum.. /muncul di ff sendiri/
    huaaaa kak Ilam makasih sudah dishare, kak alf juga sudah menerima titipan ff yang gak seberapa ini.. makasih kaka (/.\) *terharu*
    belum liat responnya makin terharu ;^;

  18. uwaaaaaaaaaaaa KEREN thor😀
    haha awalnya pas sehun berimajinasi aku kaget luhan ngeluarin desahan eh trnyta cuma imajinasi :*
    nyentuh bgt baca part luhan nyanyi buat sehun apalagi bacanya smbil dnger lgunya yg asli huah tambah berkesan , aku seneng semua berakhir bahagia :* CHANBAEK KAISOO dan HUNHAN yipiiii

  19. kyakkyaaaaaakkkkk><< sehunnya mana suka ngegoda lagi😄
    ditambah baekyeol + kaisoo beuh lengkap sudah😄
    wkwwakw keren thor'-'9 lanjutkan karyamuu

  20. uwa………….#teriak histeris bareng hunhan
    ff nya sweet banget…..kemanisan malah
    hwahahahahaha…saya suka…akhirnya cinta mereka tak bertepuk sebelah tangan

  21. huaaaaa kereeeenn !!! tapi kependekan ni thor -_- sequelnya plisss.
    kasih tau dong knapa chanyeol nya gak mau berurusan sama basket lgi ._.
    suka deh sama awal”nya, sisehun pdkt adoh😄
    intinya daebak deh ‘-‘b, sequel ya thor pliss. masak sibaekyeol gantung gitu hbngannya. hayoo bikin orgnya pacaran, yg pacaran disini baru kaido kan? trus hunhan nyusul. baekyeol juga dong😀

  22. Baguuuussss . . . . . . . Angkat dua jempol kaki (eh?)

    bikin sekuel yg BaekYeol dong thorrr….
    Penasaran ama kelanjutan cerita mereka, sekaligus alasan kenapa chanyeol nggak mau maen basket lagi sebelum final ini…

    Disini Luhan manis benerr aku bayanginnya…
    Omonaaa, my little deer.. Baby LuLu ku tersayang . . . Malaikat tanpa sayap.. Beruntungnya si pangeran Sehun bisa dapetin Luhan.. Kekeke~

    nice thorr, good job..
    Ini FF manis banget, enak dibacany.. DAEBAK !! >,<

    sekuel ditunggu pokokny..
    BAEKYEOL !!!!! *angkat banner BaekYeol..😄

  23. so sweet bgt crtany. Uri sehun daebak ne. Bisa buat luhan yg tadiny cma mau ngmg ma baekhyun ato kyungsoo jd mau ngmg ma dia juga.

    Alasn chanyeol brhenti jd pemain basket knpa emangny thor? Knpa ga dicrtain alsnnya?

    Kasihan uri sehun, sampe cedera gtu. Chanyeol lg, dtg pas di tengah2. Kan sehun jd memaksakn dri.

    Pokokny, satu kata buat author, DAEBAK!!😄

  24. eeeh co cwiiit banget hunhaaannn gyaaaaaaaa!!!!! *loncat” dikasur girang*
    adoh adohmbacanya sambil nyengir nyengir masa, kalo orang ngeliat dibiang gila mungkin bisa-_-
    Daebak banget, sehunnya cedera pukpuk yaaakkk,
    luhannya dikira bisu beneran eh ternyata eh ternyata(?) cuma pendiem aja tooh
    Cuma thor dibagian Chanyeol gantiin sehun nya kurang klimaks gimana gitu, tapi tetep bagus thoooor
    Paman wu siapa ya? *nanya ke diri sendiri* apa itu kris *lho(?)
    dan emakny luhan apa itu tao #ngaco
    OKE intinya ff nya co cwiiit hunhannya
    Keep Writing Author ryulnana; nanasabila
    DAEBAKK

  25. Kyaaaaa~ HunHan,
    Di sini gada yang bikin ChenMin gitu kesian masa gada yang bikin xiumin *plak apa ini*

    BaekYeol.nya kurang kuranggg~ kalo lebih banyak BaekYeol pasti lebih ngena(?) Lebih kocak lebih berasa(?) #HunHan woyy HunHan ngapa nuntun BaekYeol hahaaa~

    Udhlah pokonya ane mau ninggalin jejak aja meskipun ganyambung ama cerita yang di koment(?)

    Nice FF yah buat author.nya

  26. haduh, aku udah mikir yg aneh2 pas bagian hun nyium leher han. eh gatau nya cuma imajinasi.. hehe *ketauan omes-_-* disini sehun dibikin bawel ya trus suka berimajinasi gitu wkwk. tp ini kereeeen.. semangat bikin ff keren ya thor’-‘)9

  27. Sooooo sweeeeettt….
    Suka banget ma ff nya,karakter tiap tokohny pas banget deh. Trus alurnya jg enak dbaca,pokoke smuanya terasa manis banget. Yg baca jd pengen senyum terus:-)
    Ditunggu side storynya baekyeol yach…

  28. Itu baekyeol gimana?
    Si chanyeol awalnya knp? Trus baekhyun bujukin chanyeol nya gimana?
    baekhyun apa suka sama sehu, kok tiba2 gugup ditanya kenapa dia perhatian?

    ah~~ aku penasaran masih, ini ada sequel kah author nim? Di buat yak? Hehe

    epepnya manis banget~~~ sehun bener-bener bikin gemes, pake acara bayangin lagi, pertama aku mikir ni bocah berani bgt sampe buka-buka kaos luhan segala, trnyata cuma halusinasi..
    dasar bocah..

    ah~~ endingnya.. ><
    Bisa manja-manjaan gt~~
    daebak.. Manis bgt..

  29. Manis ^^ aku suka

    Tp ada yg ganjil deh..
    Baekhyun suka Chanyeol, Luhan, ato Sehun???
    Di awal cerita Baekhyun kaya yg ngerti banget nget nget Luhan, bahkan kaya kata KaiYeol, apa dia bisa telepati???
    Di pertengahan Baekhyun seakakan prihatin karna tau masalah masa lalu Chanyeol dengam basket *ini juga belum dijelasin kenapa, jadi penasaran*
    Di akhir2 Baekhyun perhatian sama Sehun..
    Itu semua bikin aku bingung -___-???

  30. ih epepnya keren bgt unyu-unyu gimana gitoh >< setelah sekian lama gg nemu epep yg castnya hunhan akhirnya ketemu juga dan ternyata ini epep authornya adalah seseorang yang aku kenal hehhehe🙂
    keren bgt nathor ceritanya bikin aku pas bacanya senyum2 geje gitoh…

    kenapa chanyeol gg mau main basket hayo? tolong dilanjutkan ya nathor ceritanya biar lebih gimana gitoh biar lebih dapet feel nya hehehehe🙂
    HWAITINGG!!!!😀

  31. nana xD ffnya bagus aku terharu siah xD lanjutin ceritanya. kenapa chanyeol balik lagi ke basket trs kenapa luhan deket sama baekhyun ._.?

  32. Kyaa,,hunhan soooo swiiiiitt.. >,<
    lulu pmalu+mnislucu gt,,thehun psti lngsung klepek2…
    aaa,,,bkin snyum2 gaje ni ff…hunhan tll maniiiss..

  33. author mau minta saran dan kritik?

    ♛ my saran: buatlah kalo bs ff yg ber chapter …..*ehm! ehm! trnyta modus bgt Eka *
    ad modus dibalik saran _=
    yaaah~ sarannya cm pngn blg……
    g ad xD *plaaak!!*

    ♛ my kritik: mianhe thor q g py kritikan kl mau, beli aj di toko makanan *watados, #plakkk!!*
    ralat: Kalo kritikannya sih
    bnyakin adegan so sweet
    nya ya thor!!, msh haus nih ma adegan yg so sweet sweet gt deh~ >°^
    *kritikan dr Eka yg sgt tidak bermodal krn g py uang, #plakkk!!*

    Waah side story??? boleh2 *semangat 45* klo bisa side story nya KaiSoo xD
    #ngarep.com

    My comment ⇩
    Bagus thor ff nya xD
    Knp yah klo HunHan yg jd main
    couple nya bawaannya gemes2 gt >o<

    macam2 perasaan Eka stlh bca ff ini dgn keseriusan tingkat harvard *buik?_=*

    1. Kaget pas adegan pertama
    kalinya si Luhan ngomong
    ma Sehun
    sprti yg kt ketahui Luhan it
    peeeeliiit bgt ngomongnya
    *dilempar sendal*
    wlpn it hya imajinasi si Sehun belaka_=

    2. Takjub pas adegan si
    Sehun meluk Luhan dr belakang
    sprti yg kt ketahui emgnya
    si Sehun agresif ya? kyknya Sehun
    tuh
    pemalu2 gmn geto~
    jd takjub aj g percaya si
    Sehun bs se agresif gt dan
    ternyta Eka tertipu krn it
    hya imajinasi Sehun sekaki *plak!!*
    ralat: imajinasi Sehun semata

    3. Lucu pd saat si Sehun and
    Luhan g sengaja ngomong barengan, udh gt main dulu2 an siapa yg ngomong xD
    kekekeke gemes~ :3

    4. Sempet terpengarah wktu tau Eommanya Luhan udh disurga O.O

    5. Cemburu pd saat si Baekhyun ma Luhan lg barengan pd saat tertentu , udh gt si Luhannya cm mau ngomong ma Baekhyun doang lagi……#lirik Sehun

    6. Bahagia……bahagia? yaaaah pstilah tdk lain dan tidak iya dan tdk bukan it disebabkan krk HunHan akhirnya jadiaaaaan xD cieeeeeeeee minta traktiran dong *dikasih rumput ma Hunhan_=

    Sekian dan terimaksih dr comment Eka
    yg bnar2 tdk bermodal^^ #bow

    Fighting and keep writing *^▁^*

  34. Thor, ini nih yg bikin aku suka sama hunhan hahaha. Selalu sweet kapanpun pas lg bareng haha.

    Thor, ff nya daebak. Panjang, jd puas bacanya. Dimulai dr luhan yg ga pernah ngomong sama sehun, eh lama-lama jd ngobrol, deket, pacaran deh. Pokonya aku senyum-senyum aja nih bacanya pas mereka jadian huahaha..

    Tulisannya rapi, enak di baca, feel nya dapet. Tp ini nih yg aku kurang suka sm oneshoot, suka ada tanda tanya hahaha. Tp klo itu hunhan, aku tetep suka.

    Itu chanyeol kenapa ga mau main basket thor? #abaikan hha
    Pokonya overall aku suka sm ff mu thor🙂

    Aku tunggu ya karya mu yg lain.. Tentunya hunhan hahaa. Hwaiting!!🙂

  35. sehun keren bnget di sini,
    *eh sehun kan emang slalu keren dimana mana,
    hahaha
    ya pkokny gitu deh,
    ternyata seorang ice prince kaya dia bisa jga yah jtuh cinta…
    Luhan pun jga…
    Yang lugu2 gitu bisa jga jtuh cinta ternyata,
    haha

    eh thor tpi aku bingung thor knapa luhan pura2 bisu kalo di dpn org bnyak, kcuali org tu ber 3,,
    hmm tah lah bingung yg penting dia udah jadian ama sehun,
    haha
    cara nembak ny sehun gak banget deh,
    kerenan carany si luhan lg,
    hahaha

    keren deh thor ff ny

  36. aduh ana kasian deh telat bacanya ckckck bodohnya aku *jedotin pala ke tembok

    dan WHOAAAAAAAAAH~ INI MAH MANIS GA NYANGKA YA AMPUN~ YA AMPUN~ YA AMPUN~ INI AAAAAAA~ SANGAT MANIS ehem! Jd ini teh awal dari ff chanbaek td yah oooooh~ ada yg sama yah pas tanding itu ama yg acara radio kyaaaaa~ mrka sweet bnget..hunhan entah emang cocok kalo karakternya bgni sweet gmna gtu kkk~ ana kira luhan bisu eh nggak yah cuma pemalu akut😄 dan sehun suka deh ama dy malu2 awalny tp maju jg, terbang bacanya pas part sehun chu~ pipi luhan ya salaam~ blushing gmn gtu yah ana.. Ana jd mikir apa org jatuh cinta slalu merasa akan sperti slow motion kalo dket orangnya? (lha ana mah ga se-sweet ini kisahnya) wajar sih lha wong lg berbunga2 gtu, luhan dsni lugu bnget deh sangat lugu malu2 meong pdhal bpaknya naga *peace yah wufan-ge* ga nyangka ibunya ud meniun mencelos jg sih hati pas tau..dan BAEKYEOL TETEP RIBUT DIMANA2 ckckck tp bagus emang ciri mrka S2 alias sweet tp rusuh(?).. Ini sweet skali lanjutkan nice ff author nana ^^9 fighting..

    #deepbow

  37. thor thor .. ni epep bner2 bkin gw jadi orang gilak …😀😄
    gmn gag? sukses bwgtt bikin gw senyum2, ngekek, dan sejenisnya sndrian pulak …
    dooohhh thor jdi ini ada sequelnya toh?
    aku malah baca yg misunderstand baekyeol dlu tuh … jgn2 ada yg ver KaiSoo nya jg nih?
    tp gpp keduanya bagus thor .. seru bacanya😀

  38. oooooooooo… harusnya aku baca ff ini dulu baru yang miss understanding #plak ahahahaha mian ne.. hihihihi

    pantes aga bingung.. kirain aku ini side storynya MU eh trnyata justru MU side storynya ini wkwkwkwkw…

    keren bbgt bgt bgt bgt adoooohhh… itu loh.. menggemaskan banget..so sweet momentnya ih… hehehehehe ini aku baca ini senyum senyum gaje gmna gtu ah authornim sy malu ini org2 kantor pada ngeliatin.. hihihihi

    oke lanjutkan menulis ff2 bermutu macam gini thor.. hihihihi
    WE ARE ONE!!! WE (aku ama suho) ARE FUTURE (buru2bawa suho ke KUA)😛

  39. DAEBAAAAAKKKK!!!!! WOOOAAAAHHH!!!! UUUUUU!!!! LALALA!!! LILILI!!! *tarikbaekhyun

    kereeeennn thhhooorrr!!!!!!!!!!
    aku tersentuh bgt *PLAK (lebay) xD
    bikin sequelx doooonnggg…,, *-*
    plisss…pliiss…😀
    baca ff ini tuuhh bikin aku melaaayaaanngggg *wuussshhh..😀

  40. kyaaaaaaa… HunHan nyaaa es ou es doubleU i i ti So Sweet >w<
    aku baru baca ehehe..
    Aigoo sweetnyaaaa aa aa aa aa
    cute couple HunHan .. gak nahan sumpah..
    ini ceritanya gak ringan gak terlalu berat juga
    tapi kesannya dapeeettt bangeet. . daebaaakk ^^d
    kebayang itu Luhan diem2 tapi unyu
    trus Sehun nya kereeeen kyaa kyaa kyaa
    emang udah cocok bangeett laah HunHan
    just HunHan forever \^0^/
    daebaaaaaaakkk

  41. Ekh td aq kira baekhyun ada rasa ke sehun loohh, ternyata gak yyaa?
    Ceritax bagus siihh,
    Kalo dibuat sequel mungkin lbh bagus lg thor xD

    Soalny aku td ngarepnya ada hunbaek gitu *plak!
    Tapi secara keseluruhnya aku suka ceritanya, alurnya juga baguss gak rumit TOP dehhh :3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s