[FF Frelance] Yaoi_All Couple || The Empty Heart ||


27274_149950905158016_1431273091_n

The Empty Heart

Author: EggCheese_ a.k.a  HYOMINSTAL!

Genre: SAD COOYYY! *telor udah peringatin dari awal ya..*

Length: oneshoot

Cast: *gak ada yang jadi peran utama, tapi telor nempatin bias telor yang pertama aja ya* PARK CHANYEOL

Byun Baek Hyun

Huang Zi Tao

Kris Wu

Kim Jong In

Oh Sehun

Xi Luhan

Do Kyung Soo

Su Ho

Disclaimer: FF, PLOT, CASTNYA KALAU PERLU *eh enggak deh* milik saya!! Gak ada unsur plagiatnya. Ini ff dibuat dengan perasaan telor yang GALAU! Ini rada ngebut yaa bikinnya. Jadi maaf kalau feelnya kurang, alurnya kecepetan. Okay?

a.n: ini masih author yang sama, yaitu.. author HYOMINSTAL. Cuma ya.. pengena cari suasana baru aja yaa… jadi telor ganti jadi EggCheese_ ini ff pertama kali aku post di blog temenku. Udaaahhh lamaaaa banget, tapi baru share di sini sekarang. http://exoyaoifanfiction.wordpress.com.  Ada ff baru loh di sana, itu ff chaptered. DAN BUKAN PHOENIX adalah yang baru. Itu aku dapet inspirasi dari temen telor yang punya tuh blog.

untuk ff Phoenix, sebenarnya aku udah inbox ke temenku yang punya tuh blog buat dia post di blognya. Tapi dia bilang ff Phoenix harus dipost di blognya dia doang, kecuali di FB. Jadi gimana?? Maaf ya readers.. telor gak bisa share di sini. Kalian cek aja di blog itu, aku paling update di sana. Atau mau tahu update-an ffku lainnya? Follow twitter telor aja : @EggCheese_ just mention, telor bakal follback kalian.  kalo FB, kalian add aja anita dwi Nurhayati, yang ada tulisan Hyominstal-EggCheese… sekalian kenalan sama telor… asal kalian jangan ngerusuh di beranda aja..

sekali lagi, mianhae… gak bisa share di sini. Jangan bilang temenku egois ya, dia temen baik telor di kelas, wkwkwk.

 

Telor suka seme nangis… jadi kalau gak suka ff sad, menjauh aja deh.

summary: “apakah tuhan sengaja menciptakan makhluk yang nyaris sempurna seperti kalian untuk tidak bisa kami miliki?”

.

.

The Empty Heart

.

.

“ini pesanannya..”

Sehun mengambil malas bubble tea yang baru saja disodorkan. Ia menghela nafas panjang sebelum ia menyerahkan uangnya pada penjual bubble tea itu.

Tentu ini bukan kali pertamanya ia ke sini.

Umm… bisa dibilang cukup sering.

“sendiri? Kemana kekasihmu?”

Kali ini Sehun yakin jika penjual itu bukan salah satu dari penggemarnya. Atau mungkin juga dia bukan penggemar sebuah grup pria baru yang berada dibawah naungan SM Ent.

Mungkin saja tragedi itu belum sampai ke telinga orang banyak…

“hey… mana kekasihmu?” kembali, penjual itu menanyakan hal yang mungkin membuat goresan luka di hati Sehun semakin terbuka lebar.

Ia menggertakkan giginya kesal, wajahnya mulai mendekati penjual itu dan membisikkan sesuatu di sana.

“bukan urusanmu..” tegasnya dingin. Dan sesaat setelah itu, Sehun menapakkan kakinya menjauh dari tempat yang membuat moodnya kembali buruk.

Bukan seperti Sehun yang biasanya..

Kakinya berjalan seperti biasa. Hanya saja.. ia hanya memandang kosong keluar.

Pandangannya memang kosong, tapi siapa yang tahu dengan isi pikirannya? Berkecamuk.

Marah, sedih, panik semuanya seolah bersatu untuk membuatnya hilang kendali.

Ia menatap langit siang itu. mendung. Bahkan rintik hujan sudah mulai membasahi pakaiannya.

Tidak sepenuhnya hujan, hanya rintiknya saja. Seolah langit tengah menahan tangisnya.

Seperti dirinya kini.

Oh baiklah, ingin rasanya ia menangis histeris, berteriak seperti orang gila. Tapi, hanya satu yang membuatnya hanya bisa menahan pilu ini.

Xi Luhan.

Namja cantik itu yang membuatnya seperti ini.

Bukan karena Luhan berulang kali mengatakan padanya untuk tidak cengeng… Tapi, jika ia menangis karena hal ini.. itu berarti kenyataan itu memang benar. Luhan telah pergi.

“Sehunnie jangan marah.. Tao memintaku untuk mengajarinya memasak untuk Duizhang. Sebentar lagi kami menyusul…. Ya, aku tahu. Aku juga mencintaimu Sehun-ah”

Percakapan terakhir sebelum akhirnya tuhan mengambil malaikat itu dari sisinya.

Begitu cepatnya… hingga membuatnya nyaris menyerah menghadapi hidup ini.

Dan satu lagi, Sehun bahkan tidak datang saat pemakaman Luhan. Karena ya… itulah alasannya.. ia tidak ingin seperti orang yang merelakan kepergian Luhan.

Jangan harap, ia akan merelakan pengendali tubuhnya pergi.

Oh baiklah, mungkin dia tidak setegar Chanyeol yang pergi ke pemakaman.

Aaahhh Persetan!

Happy Virus yang satu itu mungkin tidak tahu rasanya bersedih!

 

Sehun kembali menghela nafas panjang, membiarkan seluruh beban yang seolah menghimpit kepalanya keluar sedikit demi sedikit. Dia dudukkan tubuhnya pada bilah kursi dekat pohon tinggi nan lebat di tengah taman.

Taman yang selalu mereka kunjungi ketika EXO M berkunjung ke Seoul.

“Luhannie…” hanya sahutan kecil.

Sehun menghiraukan orang-orang yang berlalu lalang di depannya dan menatapnya haru. untungnya mereka tak sekalipun mengambil gambar Sehun yang tengah frustrasi.

Mengerti situasi, sepertinya.

“Luhannie.. kau mendengarku?”

Bubble tea yang digenggamnya dia letakkan di sampingnya. tidak punya selera lagi untuk memakannya.

Sekali lagi… Sehun seperti kehilangan jati dirinya.

Hey! Sehun yang begitu maniak dengan minuman bernama Bubble tea sekarang menghiraukannya?

Umm.. sebenarnya ia sedikit beruntung di antara yang lainnya. Menikmati kebersamaan bersama Luhan dalam sebuah ikatan status bernama kekasih, cukup beruntung untuknya.

5 bulan lebih…

Oh tentu saja selama 5 bulan itu.. hubungan mereka romantis-romantis saja. Tidak pernah ada pertengkaran di antara mereka.

Serasi bukan?

Tapi sayangnya, tidak ada lagi…

Dan  ia sendiri tidak tahu, siapa yang akan menggantikan hatinya kosong ini.

Bisakah? Tidak!

Ia tidak rela jika ada orang lain yang menggantikan sosok malaikatnya.

“Luhan, aku membawa bubble tea… kau mau kan?”

Tidak ada sahutan dari yang diajak mengobrol.  Hanya angin yang menjadi pengantar jawaban, menerbangkan daun-daun kering yang berserakan.

“wo ai ni… Luhan hyung”

TES

 

Akhirnya. Cairan bening itu keluar, seiring dengan derasnya hujan yang mengguyur tubuhnya. Dengan disertai angin yang begitu besar. Hey! Dialah yang memiliki kekuatan angin, kenapa ia tidak bisa mengendalikan angin yang begitu besar ini?

SRET

 

Sehun hanya memandang datar pahanya yang kini sudah ada sehelai daun di sana. Ia mengambil malas daun itu, hendak membuangnya.

Tunggu..

Ia membalikkan cepat daun itu, hingga menampilkan beberapa huruf hangul yang begitu acak-acakkan.

“na.. do.. saranghae.. Sehun-ah”

DEG

 

“Luhan?? XI LUHAN??? Hey, jangan bercanda.. kau di mana?” ia tolengkan beberapa kali kepalanya ke kiri dan ke kanan, untuk memastikan bahwa memang malaikatnya ada di sini.

Kemeja biru yang dikenakannya sesudah hampir seluruhnya basah. Tak ia hiraukan. Ia hanya ingin menemukan malaikat yang baru saja mengirimi pesan dalam sehelai daun.

Cukup, ia menyerah.

Ia mulai beranjak dari duduknya dan pergi menjauh dari kursi itu. ia berjalan tertatih, air matanya sudah tersamarkan oleh hujan.

Air mata?

Itu artinya, ia memang sudah menganggap kenyataan ini benar.

Kenyataan yang tidak bisa dikembalikan lagi…

Walaupun untuk sekali, tidak akan pernah untuk bisa menemukan Luhan di dunia ini.

Kakinya terus melangkah, berjalan untuk menemui masa depan, mencoba merelakan Luhan yang kini tidak bisa untuk ada di sampingnya.

WUSHH

TAP

 

Sehun menghentikan langkahnya, ketika angin yang lumayan besar menghantam tubuhnya. Sudut matanya menangkap sosok yang memakai pakaian serba putih di sampingnya.

Kali ini ia memutar kepalanya ke samping dan tersenyum hangat menatap sosok indah itu. ia menengadah memandang langit yang menangis dan kembali berjalan dengan sosok itu di sampingnya.

Sosok khayalan.

Tentang Luhan-nya.

.

X

.

Duk

 

Duk

 

Bola pertama dari kesebelas bola yang gagal masuk ring. Keringat tinggallah keringat. Air mata tinggallah air mata.

Karena pada akhirnya dua cairan itu sudah tersamarkan oleh hujan.

Tubuh tingginya membungkuk dengan telapak tangan menumpu pada lutut. Bahunya naik turun. Entah itu karena dia capek atau mungkin menangis tertahan.

Ia kembali menegakkan tubuhnya dan menatap langit kelam.

Ini… ini ada di mana??

Ah tentu saja ini di lapang basket.

Tapi.. ini di daerah mana?

Mata elangnya menatap ke sekeliling lapangan, ini jelas bukan lapang basket di China tempat di mana ia pernah menjadi kapten basket.

Tapi Kris juga yakin… ini bukan Seoul.

Yang dia ingat tadi hanya.. berlari dari rumah sakit dan melesat pergi memakai mobilnya ke tempat ini.

Ia menghela nafas panjang, terlihat asap  dingin yang keluar dari mulutnya. Cuaca memang tidak baik saat ini. persis seperti kehidupannya bukan?

Sekarang ia ada di mana… itu sepertinya tidak penting. Akan lebih baik jika ia tersesat di ujung dunia atau ke mana pun tempat hingga ia bisa terhindar dari kenyataan ini.

“gege ke sana duluan.. aku akan menyusul nanti dengan Luhan-ge, Baekhyun hyung, dan Kyungsoo Hyung”

 

 

“gege menyukai seseorang yang pandai memasak bukan? Aku akan memasak untuk gege.. tapi dibantu oleh Luhan-ge, tidak apakan?”

 

“gege jangan makan dulu ya… tunggu kami datang… aku tidak tahu kenapa Kyungsoo ikut kami menyusul. Tapi jika Baekhyun hyung, sepertinya gege tahu jika ia sudah seperti itu, berarti ia ada masalah dengan Chanyeol hyung”

 

Sayangnya panggilan gege dengan begitu manisnya sudah tidak bisa ia dengar lagi.

“Bbuing-Bbuing”

 

Tidak akan ada lagi aegyo yang bisa dilihatnya ketika panda manis itu meminta tas gucci padanya. Siapa lagi yang akan merengek, memintanya untuk melihat aksi wushu panda-nya??

Tao..

Panda kesayangannya..

Sudah mati bersama hatinya..

Membiarkan hati ini kosong, tanpa celah yang bisa dilewati oleh orang yang menggantikan Tao nanti di hatinya.

Sepertinya baru kemarin ia merasakan kebahagiaan bersama Tao.

Sudah berjalan satu Minggu ia berpacaran dengan Tao… dan itu pun, Tao yang pertama kali menyatakan perasaannya.

Satu lagi.. hubungannya selama satu Minggu itu sedikit renggang.

Sebenarnya jika dilihat dari luar, memang mereka biasa-biasa saja. Tidak pernah merasakan konflik dalam suatu hubungan.

Tapi Kris menyadari… jika Tao menyimpan kecemburuan pada member EXO M lainnya. Lay.

Oh ya tentu saja alasannya hanya satu. Lay pintar memasak, dan dia menyukai orang yang bisa memasak.

Oh, astaga! Bahkan Kris tidak pernah berpikir jika ia memilih Lay dari pada Tao karena hal sepele itu!

Bahkan Tao rela pergi menyusul karena ingin membuatkan makanan.

Harusnya ia bisa melarangnya…

Jika memang ia tahu dari awal.. tentu ia akan memaksa Tao untuk pergi bersamanya, bukan menyusul.

Ah tidak, jika perlu, ia rela menemani Tao memasak, dan mati bersama. Itu cukup bahagia.

Ia… terlalu banyak menyakiti hati Tao.

Jahatkah ia?

Hey! Sekarang sudah tidak ada Tao, seharusnya dia bisa tenang bukan?

Tao selalu memintanya untuk menemani belanja dengan ancaman ia akan membongkar rahasia masa lalunya.

Tao adalah sumber kelemahannya… dan sekarang sudah tiada.

Seharusnya ia bahagia bukan?

Tapi… tanpa sadar, ancaman-ancaman yang selalu keluar dari mulut Tao..  semakin ia terjerat dalam pesona panda itu.

Kris memejamkan matanya rapat. Potongan kejadian hari kemarin seakan mengiang di pikirannya. Menghantam kepalanya dengan berjuta batu yang besar. Sakit.

EXO M dan EXO K memang diundang untuk hadir ke suatu acara untuk tampil ber-12. EXO M sebenarnya baru datang kemarin ke Seoul dan harus dipaksa pergi ke acara. Hanya delapan orang yang berangkat bersama, dan empat lainnya pergi menyusul.

Sebenarnya mereka semua yang sudah tiba terlebih dahulu merasa cemas karena empat lainnya tidak kunjung datang. Dan dering ponsel Kris berbunyi, memecah kesunyian di sana. Dengan ekspresi serius Kris menjawab panggilan telepon itu.

Dan sebuah kenyataan pahit harus ia lalui.

Mobil yang ditumpangi oleh ketiga rekannya dan kekasihnya mengalami kecelakaan…

“kau menginginkan apa? Tas? Boneka panda? Akan aku belikan.. asal kau jangan menyiksaku dengan cara seperti ini Tao…”

BRUK

 

Kris jatuh dengan lutut yang menumpu tubuh tingginya. Ia.. menyerah.

Ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hari esok atau hari lainnya tanpa Tao.

Rambut blondenya.. benar-benar sudah tidak teratur lagi, sekarang juga Kris malah mengacak rambutnya dan kembali menundukkan kepalanya.

DUK

 

Masih tetap dalam posisinya yang semula. Menghiraukan benda kecil yang tergeletak tepat di samping tubuhnya. Oh ya, Kris sudah tidak peduli lagi dengan keadaan sekitarnya.. karena yang ia pedulikan hanya Huang Zi Tao. Garis bawahi itu, Huang Zi Tao.

 

WUSH

 

Angin kencang sore itu menerbangkan rambutnya yang basah karena hujan. Menusuk dingin menyapu kulitnya.

Sekali lagi.. Kris masih bertahan pada posisinya, tak sekalipun melirik benda mungil di kanan tubuhnya.

“Gege..”

 

Sontak Kris membuka matanya lebar-lebar. Ini nyatakan? Ia baru saja mendengar suara Tao memanggil namanya.

Ia menoleh ke arah kanan dengan sekali sentakan, karena memang tadi ia merasa Tao membisikkannya dari telinga kanan.

Dan apa yang ia lihat?

Panda… ah bukan lebih tepatnya boneka panda. Tangan kekarnya mengambil cepat boneka panda yang tentu saja Kris mengenal boneka itu.

Boneka milik Tao, yang selalu anak itu bawa ke mana-mana termasuk ke Disneyland dulu.

“Tao.. kau ada di sini kan? Huang Zi Tao!!”

Kris berdiri, mengedarkan pandangannya ke seluruh lapangan. Tao tidak ada di sana.. dan ia harus menerima itu.

Dengan langkah gontai, ia berjalan meninggalkan lapangan itu menuju tempat di mana mobilnya terparkir.

Ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hari esok dan hari-hari lainnya tanpa Tao. Dan berapa tahun lagi, akan ada celah di hatinya untuk bisa diisi oleh orang lain yang menggantikan posisi Tao.

Saat ini hatinya begitu kosong, kelam karena penghuninya pergi.

Kris menutup pintu mobilnya dan menjalankan mobilnya dalam kecepatan standar. Hujan masih deras, memecah kesunyian dalam mobilnya.

Tak perlu ia menepikan mobilnya untuk melihat siapa sosok yang duduk di samping kemudi. Tao. Lelaki itu kini ada di sampingnya, menemaninya menyetir. Namun itu hanya ilusi belaka.

.

X

.

Kai menggerutu kesal karena setiap ponselnya berdering tentu ada satu pesan masuk dari satu orang yang sama. Zhang Yi Xing. Bukan karena ia membenci Lay, pasalnya anak itu selalu mengirim pesan tidak jauh dari topik yang sebenarnya.

From: Lay

Kai, bagaimana dengan kondisi Suho Hyung?

 

Oh ya, memangnya Suho masih anak kecil hingga harus diperhatikan seperti ini?

Ia tutup telinga sebelah kirinya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya sibuk untuk mengirim pesan untuk Lay.

Ada beberapa alasan karena tadi ia tidak sempat membalas pesan dari Lay.

To: Lay

Suho Hyung sekarat!!

 

Sent

Oke, itu berlebihan. Tapi emang itu kenyataannya. Leader EXO-K kini tengah sekarat, bahkan di ambang kematian!

Ia menghela nafas panjang dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana Jeans-nya.

Mengenai alasan mengapa ia terlambat membalas pesan dari Lay, itu karena… tangan Suho tidak bisa diam dan.. bau alkohol dari tubuh Suho benar-benar mengganggu.

Kali ini Kai menggunakan dua tangan untuk menutup kedua telinganya. Musik club benar-benar membuat kepalanya pecah. Terlebih dengan suasana hati buruk seperti ini.

“Kyungsoo-ah.. jangan pergi.. kembali.. kembali Kyungsoo.. aku mencintaimu, hahaha uhuk”

Kai memandang datar Suho yang duduk di sampingnya. sudahlah, Kai tidak mau menghitung berapa gelas whisky yang diminum Suho.

Guardian Angel?

Oh, Kai tidak yakin orang akan memanggil Suho seperti itu lagi jika melihat kehancuran lelaki itu.

Beruntung sekali ia tidak ikut-ikutan mabuk, jika seperti itu.. siapa yang akan mengantar Suho pulang?

Meski ia adalah orang yang paling terpukul dalam tragedi ini.

Do Kyung Soo.

Orang yang ia cintai.. bukan.. bukan hanya dia, tapi Suho juga! Dan.. Kyung Soo sudah memutuskan untuk memilih Suho.

Rumit. Bahkan Kai hampir putus asa menjalani hidup ini dengan kepura-puraan.

Pura-pura untuk bersikap seperti biasa pada Kyung Soo. Bersikap sebelum ia mengenal cinta yang ia tujukan pada namja cantik itu.

Pada akhirnya, baik Suho maupun Kai tidak ada yang bisa memiliki lelaki itu.

Tapi sepertinya Suho lebih beruntung darinya, sangat beruntung malah.

GREBB

 

“Kyungsoo-ah..”

Suho memeluk erat lengan Kai. Kai hanya menghela nafas berat dan memejamkan matanya, sepertinya ia sedikit maklum dengan sikap Suho yang seperti ini.

Tapi awas saja jika ia bersikap seperti ini dalam keadaan normal, ia tak segan-segan untuk melayangkan bogemnya pada sang leader.

“jika aku memergokimu minum, jangan harap kau bisa tidur di kamarku malam ini…”

 

Kai tersenyum masam, masih memejamkan matanya. Tak peduli dengan Suho yang kini memainkan kancing kemeja hitamnya.

Memang pada awalnya ia akan ikut dengan Chanyeol, Lay, Xiumin dan Chen untuk pergi ke pemakaman. Oh ya, dia juga sudah memakai baju yang biasa dipakai orang untuk pergi ke pemakaman, dan tiba-tiba saja Suho mencegat mereka, dan memaksa Kai untuk menemaninya minum.

“Suho Hyung.. sampai kapan kau akan berada di sini? Ayo pulang~”

Tak peduli ia seperti anak kecil yang merengek untuk dibelikan sesuatu, yang Kai inginkan hanya satu!

Ia ingin pulang dan menenangkan diri!

 

Drrtt.. drrtt..

From: Lay

jangan bercanda Kkamjong! Cepat pulang!

 

Kai berdecak kesal ketika melihat isi pesan dari Lay. Dengan cepat ia mengetikkan balasan untuk Lay.

 

 

To: Lay

kau rela.. jika aku meninggalkan Suho hyung di sini? Kau saja yang kemari! Di dorm juga pasti ada orang kan? Chanyeol Hyung, Xiumin-ge dan Chen hyung

 

Kai menjilat bibir bawahnya. Jika dipikir, dalam keadaan seperti ini, menurutnya sikap ia terlihat sedikit lebih dewasa dari Suho. Ia bisa berpegang teguh dalam pendiriannya untuk tidak minum padahal hatinya sedang tak tenang.

Ia kembali melihat tubuh Su Ho yang sekarang ambruk ke meja bartender. Benar, ia tidak bisa meninggalkan Su Ho sendiri di sini meski memang ia pernah menaruh benci pada hyung yang satu itu.

“maaf Kai, aku.. aku tidak bisa membalas.. perasaanmu”

 

Kai meremukkan jarinya, nafasnya naik turun. Perkataan Kyung Soo dua Minggu yang lalu berhasil membuat tubuhnya menegang seketika. Jika diingat lagi, waktu itu Kai hanya tersenyum dengan perkataan Kyung Soo yang berhasil mengobrak-abrik seluruh isi hatinya.

Cukup, tidak ada yang perlu disesali, tidak ada yang memiliki namja cantik itu. sekali lagi, tidak ada.

Tapi sepertinya ia cukup beruntung dalam hal ini. Kyung Soo tahu perasaannya yang selama ini ia pendam tidak seperti seseorang. Park Chan Yeol. Berita itu seharusnya sudah didengar oleh semua member. Tapi kenyataannya Baek Hyun belum mengetahui perasaan yang dipendam Chan Yeol.

Kai tertawa miris. Su Ho sepertinya sudah tidur, terdengar dari bunyi helaan nafasnya yang teratur. Tangan Kai terangkat dan menempel di rambut Su Ho. Ia usap lelaki yang lebih tua darinya walau sebenarnya ia ingin menghajar lelaki ini.

Tapi tidak, Kai masih waras untuk melakukannya. Dan satu lagi, ia sangat menyayangi leadernya.

Ia kasihan pada Su Ho walau dirinya juga perlu dikasihani.

Kyung Soo mereka telah pergi, dan tak akan pernah kembali…

Kai menghembuskan nafasnya dalam-dalam dan kembali mengetikkan pesan di ponselnya.

To: Lay

aku akan pulang sebelum jam 4 pagi

Sent.

Ia baru saja hendak menggendong Su Ho, tapi lagi-lagi Su Ho mengigau. Berlebihan jika karena Su Ho mengigau, Kai menghentikan niatnya. Tapi igauan itu membuat Kai kaget sekaligus terdiam.

“Kyung Soo-ah, kau boleh… bersama… Jong In… asalkan kau.. uhuk.. ada di sini”

Dan selepas itu, Kai hanya bisa menyeka air matanya kasar. Jadi… Su Ho telah mengetahui semuanya, mengetahui jika ia menyimpan perasaan pada kekasihnya.

Tentang masalah kenapa Kyung Soo ikut menyusul bersama ke tiga rekannya, Kai sepertinya tahu alasannya.

Kyung Soo ingin menghindarinya.

Sudah terlalu sering Kyung Soo melakukannya, tentu setelah ia menyatakan perasaannya. Dan jangan lupakan kejadian pagi hari sebelum mereka pergi ke acara itu, interaksi terakhirnya bersama Kyung Soo. Saat lelaki itu tengah memasak, dan ia hanya ingin menjahili lelaki itu saja dengan menutup kedua mata bulat milik Kyung Soo.

Dan sialnya, Kyung Soo menganggap Kai itu Su Ho!

Sebenarnya itu tidak masalah untuk Kai, tapi sepertinya Kyung Soo benar-benar canggung saat itu hingga ia buru-buru pergi dari dapur.

Jadi, kalau sudah seperti itu… Kai tidak bisa untuk membuatnya kembali dekat dengan Kyung Soo.

Bahkan setelah takdir memisahkan mereka, Kai tidak bisa di samping Kyung Soo.

Ia tidak berhak.

Bahkan sekarang ia lebih tidak berhak. karena Kyung Soo sekarang milik tuhan.. bukan miliknya ataupun Su Ho hyung.

Kai menghela nafas dalam-dalam. Ia membutuhkan banyak oksigen. Sesak, di sini di dadanya.

Kyung Soo adalah oksigennya yang tidak bisa ia miliki.

Su Ho dan Kai. Mereka berdua, adalah dua lelaki yang begitu kosong hatinya. Kekosongan yang bisa berlangsung begitu lama tanpa bisa mereka hitung.

.

X

.

“eh iya.. Eh tidak.. Iya.. Tidak.. Tidak..” Chan Yeol masih sibuk dengan pikirannya. Hampir tengah malam, dan Chan Yeol masih berdiri di sana dengan berbagai pikirannya. Bunga lily yang dipegangnya bergerak tarik ulur.

Jika Chan Yeol menyimpan Lily itu di pusara Baekhyun, itu artinya Chan Yeol sudah mengikhlaskan lelaki itu. Dan Chan Yeol benar-benar tidak bisa melakukannya.

no more shakin like that~

 

 

Chan Yeol membuka flap ponselnya dan membaca deretan huruf di layar ponselnya.

Si pelupa Lay.

“ada apa lagi? Bukankah sudah ku katakan jika aku akan pulang sebentar lagi…”

“kau baik-baik saja kan?” terdengar nada khawatir di ujung sana.

Chan Yeol diam untuk beberapa saat. “aku? Tentu saja aku baik-baik saja, Lay bodoh! Aku.. Hanya ingin mengantar kepergian si pendek itu saja, hahaha”

Berusaha sebisa mungkin agar tawanya tidak terlihat kaku. Dia itu happy virus, tentu saja dengan mudah bisa mengelabui semua orang dengan semua kekonyolannya.

Terdengar helaan nafas dari ujung sana disertai dengan decakan halus. “cepatlah pulang, sangat aneh jika tidak ada kegaduhan di kamarmu dan…. Maaf, Baek Hyun”

Chan Yeol sekali lagi tertawa. “kau begitu canggung sekali menyebut nama Baek Hyun… Kau takut ya jika Baek Hyun mendengarnya di sini dan menggentayangimu?”

Kembali terdengar bunyi decakan di sebrang sana. “seperti kata Baek Hyun, kau tidak pandai berbohong Chan Yeol…”

Tawa kembali terdengar memecahkan keheningan di pemakaman itu. “itu berarti aku anak yang baik”

“terserah Kau mau mengatakan apa, tapi cepatlah pulang sekaraaanggg jugaaaaa!”

Chan Yeol sedikit menjauhkan ponsel Dari telinganya ketika lengkingan khas Lay terdengar begitu keras Dan berisik. “suara kau jelek sekali” Chan Yeol berdecak dan mengusap telinganya.

“aku tidak peduli… Kau juga, tidak bisa menari. Payah!”

“tapi setidaknya aku bisa rapp” bangga Chan Yeol tidak mau kalah.

“aku juga bisa”

“rapp-mu jelek” hardik Chan Yeol yang sebenarnya hanya bercanda.

“awas kau jika kembali ke dorm nanti”

“awas? Memang ada apa? Aku tidak takut pada kau yang lebih pendek dariku”

“aih Park Chan Yeol!!! Aku akan berdoa pada tuhan agar Baek Hyun bisa tiba-tiba keluar dari tanah dan beradu mulut denganmu. Karena menurutku hanya dia yang bisa mengerti apa yang kau bicarakan dan menjadi lawan mainmu”

Chan Yeol diam untuk beberapa saat. “baiklah, lain kali aku juga akan ikut berdoa untuk yang satu itu…. Tapi, karena Baek Hyun tidak ada, bisakah aku mem-bully kau? Hahaha”

“Chan Yeol sepertinya persepsiku tentang kau gila itu benar, karena kau sudah berulang kali tertawa keras di pemakaman… Kau tidak takut?”

“tentu saja tidak! Di sini ada teman sekamarku, Byun Baek Hyun…”

Terdengar helaan nafas dari sebrang sana. “cepatlah pulang..”

“sebentar lagi Yi Xing”

“Baiklah, asal kau tidak pulang pagi..”

Klik.

Chan Yeol bungkam sekarang. Tak perlu lagi sekarang ia berdusta. Chan Yeol tersenyum masam dan bernafas lelah.

“aku tidak bisa Baek Hyunnie…” lirihnya.

Sebenarnya hujan sudah reda sejak satu jam yang lalu, kemeja hitam yang digunakannya juga sudah nyaris kering sepenuhnya. Tapi hawa dingin semakin menyeruak menyiksanya.

Ia jadi ingat dengan kebiasaan Baek Hyun yang tidak tahan dingin.

Chan Yeol mendudukkan tubuh tingginya di samping pusara yang menyimpan tubuh seseorang yang menjadi alasan mengapa ia hidup.

“maafkan aku karena sedari tadj berbohong… Kau pasti tahu tadi aku berbohong. Benarkan?”

Hening.

“diam, itu berarti benar. Aku benar-benar bukan pembohong yang baik” jeda sebentar untuk Chan Yeol mengambil nafas. “kau pasti kedinginan tidur di sini, keke”

“aku juga pasti akan kesepian ketika sudah berada di kamar kita nanti. Apa perlu aku menginap di sini?”

Chan Yeol kembali beranjak. Dan dengan berat hati, ia menyimpan lily itu di pusara Baek Hyun. “tapi aku tidak bisa tidur di sini. Lay sudah memperingatkanku… Baekkie aku pergi.. Besok, aku akan kembali lagi kemari”

Chan Yeol tersenyum. Ia mengusap pelan pusara Baek Hyun dan mulai berjalan meninggalkan pemakaman itu dengan hati yang sebenarnya berat.

****

Mata Chan Yeol bergerak mengelilingi ruangan. Tidak terlalu luas juga, hanya dua tempat tidur kecil dengan nakas sebagai pembatasnya.

Terdengar gemericik air dari luar jendela yang belum ditutup. Sepertinya hujan lagi. Beruntungnya ia karena segera pulang.

Sebenarnya dorm begitu sepi malam ini. Terbukti ketika ia datang, hanya Xiumin, Chen dan Lay yang menyapanya, dan setelah itu mengomelinya.

Se Hun, Kris, Su Ho dan Kai menurutnya mereka menghilang hanya karena ingin menenangkan diri terlebih dahulu. Oh ya, ia ingat juga tadi di antara mereka berempat tidak ada yang pergi ke pemakaman.

Sebenarnya ia juga tidak ingin pergi ke pemakaman. Tapi apa alasannya? Ia bukan siapa-siapa dari ke empat orang yang meninggal, termasuk Baek Hyun. Ia bukan siapa-siapa lelaki itu. Tidak seperti Se Hun yang memang kekasih Lu Han, Kris kekasih Tao dan.. Su Ho kekasih Kyung Soo. Kai, sepertinya lelaki itu juga tidak memiliki alasan, ia juga tadi hendak bersamanya pergi ke pemakaman. Tapi Su Ho segera mencegat mereka dan meminta Kai untuk menemaninya minum. Frustasi sepertinya.

Chan Yeol beranjak dari posisinya yang duduk di pinggir ranjangnya. Ia berjalan menghampiri pemanas ruangan dekat tempat tidur sebelah. Tempat tidur Baek Hyun. Ia menyalakan pemanas ruangan itu. Nyaman. Pantas saja Baek Hyun senang sekali menyalakan benda ini sampai harus berdebat dulu dengannya sebelum tidur. Sekarang mungkin ia merasa nyaman karena memang cuaca dingin, sangat cocok sekali jika menyalakan penghangat ruangan.

Baek Hyun. Ia ingat sekali dengan jelas. Baek Hyun pasti akan menyalakan penghangat ruangan dengan temperatur tinggi, meski itu sedang musim panas sekali pun.

Chan Yeol kembali menyentuh penghangat ruangan itu, menaikkan temperaturnya.

Panas.

Benar kata Kai dulu. Ruangan ini terasa seperti sauna. Karena ia juga merasakannya. Tapi ia yakin, penghuni tempat tidur ini pasti tidur nyenyak sementara ia sibuk kegerahan.

Chan Yeol kembali memandangi kamar. Panas. Ia membuka kancing kemeja pertama dan kedua paling atas. Masih terasa panas.

Akhirnya ia membuka semua kancing kemejanya, dan melepas kemeja itu.

Topless.

Kejadian seperti ini juga pernah ia alami, terlalu sering malah. Ia memejamkan matanya sebelum akhirnya ia menarik nafas dalam-dalam.

“meow..” Chan Yeol tersentak ketika suara itu tertangkap gendang telinganya.

Kucing.

Yang sebelumnya akan ia namai Baekkie tapi Baek Hyun marah dan ia mengganti nama kucing itu menjadi BaekYeol.

Chan Yeol memangku kucing itu di pahanya dan mengusap bulu halus dan lembut Baek Yeol.
Kucing itu menatap mata Chan Yeol dengan manik tajamnya dan sesaat kemudian kucing itu meloncat dari paha Chan Yeol dan berlari keluar kamar.

Seperti Baek Hyun saja yang tiba-tiba pergi.

Chan Yeol terlonjak kaget ketika ia merasa kaki panjangnya menyentuh sesuatu di bawah. Ia memandang ke bawah. Ada snack di sana. Ia akhirnya melongok ke bawah tempat tidur. Dan menemukan banyak sekali snack di sana.

Jadi di sini Baek Hyun menyembunyikan snack miliknya agar Chan Yeol tidak mencurinya.

Ia tersenyum tipis. Itu memang salah satu kebiasaannya. Mencuri snack Baek Hyun, dan memakannya. Hingga membuat lelaki yang lebih tua beberapa bulan darinya marah dan melempar bantal atau guling padanya.

Ia mengambil satu snack, membuka, dan memakannya. Mungkin saja Baek Hyun akan marah, hingga datang kemari dan…

PLUK

Chan Yeol terhempas tidur di tempat tidur Baek Hyun setelah mendapat lemparan guling. Bukan. Bukan karena lemparan guling itu yang terlalu keras mendarat diwajahnya. Tapi… Hanya Baek Hyun yang selalu melakukannya ketika ia tertangkap basah memakan snacknya.

“Park Chan Yeol cepatlah tidur!”

BRAKK

Rupanya Lay yang melempar guling itu. Mengagetkan saja. Ia berdecak sebal dengan sikap Lay. sejak dia masih di pemakaman, Lay selalu mengaturnya seperti anak kecil. Mungkin karena sebelumnya ia nyaris dipilih sebagai leader EXO M.

Malam sebelum Baek Hyun kecelakaan, sebenarnya ia ada masalah dengan lelaki itu hingga Baek Hyun menghindarinya dan lebih memilih pergi menyusul ke acara bersama Kyung Soo, Lu Han dan Tao.

Chan Yeol malas mengingatnya. Tapi, semua kejadian malam itu seolah menyiksanya. Entahlah ia tidak tahu ini masalah kecil atau besar. Tapi, masalah ini juga melibatkan orang lain.

Kim Ye Jin.

Mantan kekasihnya.

Entahlah apa yang mempengaruhinya malam itu, tapi ia tiba-tiba saja bercerita tentang Ye Jin yang dikabarkan akan debut sebentar lagi.

“kau masih menyukainya?”

Chan Yeol bungkam ketika mengingat Baek Hyun yang bertanya seperti itu. Sama seperti malam itu, Chan Yeol hanya diam.

Bukan, bukan karena ia ragu dengan perasaannya. Bahkan jika bisa, Chan Yeol akan menjawab dengan tegas jika ia sama sekali tidak menyimpan perasaan apapun pada gadis itu. Tapi jika Chan Yeol mengatakannya, pasti Baek Hyun akan bertanya kenapa ia sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Ye Jin.

masa iya Chan Yeol harus mengatakan jika Baek Hyunlah orang yang membuatnya bisa melupakan Ye Jin.

“kau adalah orang yang paling mengerti tentang diriku, ku harap aku juga menjadi orang yang mengerti tentang kau, meski itu sedikit”

Dan setelah perkataan terakhir itu, mereka tidak mengobrol lagi karena Baek Hyun sudah menutup obrolan itu dengan dengkingan halusnya. Itu sudah kebiasaan Baek Hyun jika tertidur.

Posisinya masih sama. Tidur di ranjang Baek Hyun. Dia tidak memejamkan matanya, hanya menatap langit kamarnya.

Ia lirik nakas kecil di sampingnya. Ada sesuatu di sana. Ia mengambil benda segi empat itu tanpa beranjak dari tidurnya.

I-Pad milik Baek Hyun.

Benda mati yang pernah ia cemburui karena Baek Hyun lebih mementingkan benda itu.

Jarinya sudah mulai menari di atas benda itu. Sedikit tercengang karena wallpaper I-Pad itu adalah fotonya dan Baekhyun saat di pesawat dan Kyung Soo yang duduk di belakang mereka.

Foto ini diambil baru-baru ini. Astaga, ia baru sadar jika ada sederet huruf di bawah foto itu.
ChanBaek//BaekYeol Love.

Chan Yeol tersenyum masam. Pantas saja Baek Hyun melarang orang lain menyentuh ‘pacarnya’, jadi karena ini?

“aku merindukanmu… Pasti sangat kesepian jika menempati kamar ini sendiri”

Hanya merindukan. Tapi sebenarnya hatinya berkata lebih. Tapi tidak mungkin ia mengatakan suka pada Baek Hyun.

Sekali lagi, ia bukan siapa-siapa Baek Hyun.

Hatinya hampa. Begitu kosong karena penghuninya pergi. Ia menarik nafas panjang, ia harus tidur sekarang. Kalau tidak, ia akan terlambat untuk pers conference mengenai berita duka ke empat member EXO.

Ia menoleh ke samping kanan tubuhnya. Sosok itu begitu dekat dengannya. Sosok Baek Hyun yang memakai baju putih bersih.

Hanya ilusi. Hey! Mereka satu ranjang? Baiklah, biarkanlah seperti ini meski memang Chan Yeol tidak bisa memeluknya. Ia menyadari itu dan memejamkan mata dan setelah itu, suara nafas yang teratur telah terdengar.

.

X

.

Begitu hening pagi itu. tidak ada kegaduhan di meja makan itu. tidak ada masakan enak yang dimasak Kyung Soo, meski masakan Lay tidak kalah enaknya.

Chan Yeol menarik kursi meja makan dan mendudukinya. Sedikit aneh karena kursi di sampingnya kosong. Ia tersenyum tipis, tempat di samping kanannya adalah tempat duduk Baek Hyun. Sehun duduk di hadapannya, lelaki itu lebih banyak diam dari tadi. Hanya memain-mainkan sendok di makanannya.

“tidak mau? Aku saja ya yang menghabiskannya?” canda Chan Yeol memecahkan kesunyian itu.

Chan Yeol tersenyum kikuk. Err… tidak ada yang terpengaruh candaannya. Bahkan Kris yang duduk di samping Sehun menjatuhkan sendoknya ke piring hingga menggema di ruangan itu. hanya ada 6 orang di sana. Kai dan Su Ho? Ah sepertinya mereka berdua ada di kamar Kai. Kata Lay, mereka berdua pulang jam tiga subuh.

KLEK

Pintu salah satu kamar dari tiga kamar di sana terbuka dan sosok Kai berdiri di ambang pintu dengan mengucek ke dua matanya. Sepertinya lelaki itu tampak kelelahan. Kai mulai berjalan ke ruang makan menghampiri ke enam temannya yang memperhatikannya.

“Su Ho hyung akan menyusul.. dia muntah di kamar mandi” terangnya dan menarik kursi di sebelah kursi kosong dekat Chan Yeol. Sepertinya Kai cukup mengerti tentang kursi kosong itu adalah kursi yang selalu ditempati Baek Hyun.

Ia mengambil nasi dan lauknya. Sesaat kemudian matanya mengerjap, bingung karena ke enam temannya memperhatikannya. “kenapa?”

“kau masih bisa makan Kai?” tanya Chan Yeol telak, membuat pergerakkan tangannya yang hendak memasukkan suapan pertamanya terhenti.

Kai mengernyit, ia tatap piring ke enam temannya. Belum ada sebiji nasi yang ada di piring mereka. “kenapa kalian tidak memakannya? Karena bukan masakan Kyung Soo ya? aahhh Kyung Soo kemana ya?”

Hening.

Tatapan ke enam temannya malah tertuju pada orang yang berdiri di ambang pintu yang berhadapan yang punggung Kai, membuat lelaki itu tidak bisa melihat. Kai memutar kepalanya melewati bahu dan menemukan sosok yang tadi ia gendong ke dorm.

“O-oh, selamat pagi Su Ho hyung!” sapanya.

Su Ho menarik nafas panjang dan berjalan menghampiri mereka bertujuh. “kita harus siap-siap… akan ada pers Conference siang nanti”

Kai sekarang bungkam. Padahal ia rasa kejadian itu adalah mimpi, karena itulah ia bersikap sewajarnya pagi ini. dan tiba-tiba saja persepsinya salah setelah Su Ho datang dan kembali mengingat apa yang seharusnya tidak ia ingat.

Kehilangan empat temannya. Terlebih Kyung Soo.

Kemudian, terdengar suara-suara rusuh di dekat Kai. Tentu saja itu Chan Yeol. Ia buru-buru menuangkan nasi beserta lauknya terutama telur ke piring putihnya dan memakannya cepat. Makanan masih tersisa di mulutnya, tapi Chan Yeol terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

Air matanya turun dengan ia yang masih sibuk memakan makanannya. Semua member menatapnya kaget. Mulutnya benar-benar penuh. Pipinya bahkan jadi membengkak karena terlalu banyak makan, dan air matanya juga terus mengalir.

“Chan Yeol hentikan!” interupsi Kris, membuat pergerakan tangan Chan Yeol terhenti.

Chan Yeol menatap Kris tajam, masih dengan pipinya yang bengkak. “menahishah… sesuha.. halian.. halena.. hengan cahla ini… isahan.. halian.. tidhak.. ahan.. heluar.. (menangislah sesuka kalian.. karena dengan cara ini.. isakan kalian tidak akan keluar)” ucapnya masih dengan mulut yang penuh.

Chan Yeol mulai mengunyah makanan di mulutnya, membuat pipi bengkaknya bergerak. Dan setelah mulutnya habis ia mulai berbicara. “suara kalian tidak akan terdengar… kalian juga tidak bisa terus menerus menyimpan tangis kalian dalam hati..”

Ia usap kasar air matanya dan menatap Sehun, Kris, Kai dan Su Ho yang masih menatapnya datar. Ia yakin, empat temannya juga mengalami guncangan hebat dalam hatinya. Semua itu karena orang-orang yang mereka cintai.

“apakah tuhan sengaja menciptakan makhluk yang nyaris sempurna seperti kalian untuk tidak bisa kami miliki?”, batinnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

END

Udahkan?? Selesaikan?? *iya bawel*

Menurut kalian, siapa kisah yang paling ngenas banget di hati? Kalau menurut telor sih gak ada ya, orang telor bikinnya ngebut banget. Jadi maaf banget nih ffnya banyak typo dan pendek banget.

SHARE BY NILAM

53 thoughts on “[FF Frelance] Yaoi_All Couple || The Empty Heart ||

  1. huhu… T.T di ff ini ttep miris si Chanyeol.. blom nyatain perasaannya udah ditinggal mati. nah yg laen dah pda pacaran smua. ah iya,lupa ama Kai. ck,kasian juga tuh bocah.
    mirisnya lagi pas Chanyeol kekuburan Baek trus ngmong sndiri.. demi apa itu terharu bgttt.. apalagi pas Chanyeol tau kenyataannya klo Baek jga suka ama Chanyeol. JLEBBB~~ knpa pas udah mninggal bru tau?? itu bner” bkalan nyesell…
    trus pas Chanyeol mkan cpet” smpe mulutnya full bgtt itu… ah,deep bgt lah..😥
    Suho jga kasian,,lah semuanya kasian deh.. ditinggal mati gmna gk sedih..
    yasudah. pkok’y ffnya Daebak.. kta”nya bagus + dalem.. ^^ keep writing thor..

  2. ini….
    hhuuweeeeee….eommmaaaaa #nangisdipojokan
    gimana sih kalo orang nangis yang sampe ga bisa ngomong tuh? kalo aku jadi mereka aku bakal gitu,,karena menurutku percuma kalo tersenyum tapi hati malah nangis , dari pada berat di hati mendingan di keluarin toh ? chanyeol oppa? dhuizhang aja nangis, thehun juga,,,aaaaaahhhh aku ga bisa membayangkan kalo ini kenyataaan bakal aku bunuh author yg buat ff ini,,,hehehehe nggak ding bercanda thor,, jangan serius gitu mukanya #plaakkkk..hahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s