[FF YAOI]- PAYPHONE~ KrisBaek//BaeKris~ [Chapter 5]


pp5

FF KrisBaek

Tittle: Payphone

Author: AyouLeonForever

Genre: whatever -__-

Rate: TTM (?)

Length: Chaptered (sesuai peminat)

Main cast: Byun Baek Hyun-Kris-Park Chan Yeol

Main pair: KrisBaek/BaeKris

Slight: Baekyeol

Other cast: Find them… ^^

Disclaimer: GOD

Copyright: ALF

ALF Special note: Hm… gak ada, nanti aja di akhir. wkwkwkw

 

 

 

 

Preview:

 

“Aku tidak begitu yakin, tapi kurasa begitu. Waktu itu dia juga terlihat sangat putus asa dan sepertinya sangat membutuhkan uang, dan saat kuberitahu bisa meminjam uang pada Tuan Kris dengan jaminan tertentu, kurasa dia juga melakukannya. Eum, mungkin anda bisa mengingatnya sendiri, apakah pria cantik tadi pernah memberi anda uang yang cukup banyak? jika iya, berarti memang uang itu ia dapatkan dari Tuan Kris… dan tentu saja setelah…”

Chan Yeol menatap Lu Han dengan tatapan memohon, agar Lu Han lebih memperjelas kalimatnya.

“eum… menjadikan tubuhnya sebagai jaminan”

Chan Yeol membelalak, seolah ada yang menghantam jantungnya dengan keras “Tu… Tubuh?”

“Benar… maaf, bukan bermaksud ikut campur, tapi tolong jangan menyalahkan pasangan anda, karena kurasa dia sama sepertiku. Orang yang putus asa dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi hingga menjadikan tubuh kami menjadi pertaruhan terakhir”

Chan Yeol mundur ke belakang, hingga punggungnya membentur tembok.

“Ma… Maaf… aku tidak bermaksud. Aduh, aku permisi” Lu Han buru-buru pergi begitu melihat Chan Yeol terkejut bukan main. Pandangannya mencekam dan, wajahnya seketika pucat.

 

Jadi… biaya operasi itu…. kau dapatkan dengan…. menjual diri???

 

 

Payphone

Chan Yeol menggeleng berkali-kali, tatapannya betul-betul tidak fokus, air mata yang tadinya hanya menumpuk di pelupuk mata kini berlomba-lomba bergulir membasahi pipinya.

Ini bukan hanya sebuah tamparan, tapi tusukan, pukulan, dan hantaman bertubi-tubi di hatinya.

Satu-satunya manusia yang begitu ia cintai di dunia ini…

 

 

 

Mengkhianatinya!!!

 

 

 

“Akh….” Keluhnya saat ia merasakan sakit yang teramat sangat di dada kirinya. Ia luruh ke lantai sembari merengkuh dadanya itu. wajahnya mulai memerah menahan sakit, sesekali terbatuk sebagai bentuk mekanisme pengalihan nyeri. Nihil… tiap kali jantung itu berdenyut, tiap kali pula ia merasakan dadanya hendak meledak, dan rasa sakit yang tidak tertahankan itu membuatnya tak mampu mempertahankan kesadarannya.

“Cha… Chan Yeol-shii?”

Chan Yeol menoleh begitu mendengar suara yang cukup familiar. Tapi detik berikutnya ia pun betul-betul ambruk dan tak sadarkan diri di sana.

 

🙂 Payphone😦

“Hm? Maag akut?” Baek Hyun mengerutkan keningnya saat membaca catatan kesehatan Kris, sementara orangnya sendiri baru saja selesai mengganti pakaiannya di kamar mandi.

“Ayo kita ke rumahmu, sudah agak sore, takutnya nanti tidak sempat. Banyak yang harus di benahi, membuat kue, menghias rumah, menyiapkan makanan dan__”

“Minum obat”

“Eh?”

Baek Hyun berdecak kemudian menarik tangan Kris dan menyuruhnya duduk di atas tempat tidur, “Anda itu sedang sakit Tuan, bisa-bisanya memikirkan hal-hal tidak penting seperti ini”

Kris mengangkat alisnya, “Apa maksudmu tidak penting?”

“Ya tentu saja mengenai persiapan ulangtahunku. Kesehatan anda jelas lebih penting tuan.” Baek Hyun meraih beberapa bungkus obat di atas nakas, membaca keterangannya dan menyiapkannya agar bisa diminum Kris.

“Bagiku penting”

Baek Hyun menoleh, dan bisa ia tangkap raut keseriusan di wajah Kris, “Tapi tidak harus memaksakan diri juga Tuan, aku bisa melakukannya sendiri.” Namja mungil itu duduk di sebelah Kris, menyerahkan beberapa butir obat dan membantu namja itu minum.

“Siapa yang memaksakan diri? Aku baik-baik saja, kau ini yang berlebihan.”

“Apanya yang baik-baik saja? Lihat wajah anda, apa anda tidak sempat bercermin, wajah anda sekarang sudah seperti mayat hidup.”

“Ini bukan apa-apa, setelah mempersiapkan pesta ulang tahunmu, aku akan pulang dan beristirahat, lagipula aku sudah minum obat, jadi tidak akan__”

“Diam! Jangan membantah.” Bentak Baek Hyun serius.

Kris mengerjapkan matanya, mencoba percaya bahwa namja kecil di depannya ini baru saja membentaknya.

Keterpakuan Kris membuat Baek Hyun menyadari apa yang baru saja dilakukannya, “A… maaf Tuan, aku… kelepasan.”

“Ne?”

“Ah… mungkin karena kondisinya sedikit sama, aku memperlakukan anda seperti suamiku.”

 

Deg~

 

Baek Hyun makin membelalak, “Maksudku Chan Yeol… Eum.. itu, kalau Chan Yeol menunda-nunda jadwal minum obatnya aku akan memarahinya, aku tidak bermaksud…. err…”

Kris tertawa kecil, “Aku mengerti maksudmu, sudahlah jangan tegang begitu”

Baek Hyun menunduk, “Aku hanya kaget telah membentak anda Tuan, maaf… aku betul-betul tidak sengaja ”

Kris mengacak rambut Baek Hyun pelan, “Kau tahu, selama hidupku aku hanya pernah dimarahi oleh Ayahku, itupun sudah lama sekali, saat aku masih kecil, jadi aku agak lupa rasanya dimarahi.”

“U… Untuk itu maafkan aku tuan…”

“Ayolah, aku suka.”

“Ne?” Baek Hyun langsung mengangkat wajah dan menatap Kris.

“Dimarahi itu artinya diperhatikan bukan? Kurasa tidak ada yang lebih menyenangkan lagi dari itu, sejak aku tidak bisa mendapatkan seluruh hatimu, perhatian seperti ini saja sudah sangat lebih dari cukup.”

“Tu… Tuan.”

“Ah, maaf… aku jadi berbicara yang aneh-aneh. Ya intinya aku suka saat kau memarahiku. Kesannya hangat.”

Baek Hyun pun tersenyum, “Kuharap anda tidak akan menyesal mengatakan itu Tuan,”

“Wae?”

“Karena mulai sekarang, kalau anda keras kepala, aku tidak akan sungkan lagi memarahi anda.”

Kris tertawa, hendak rasanya langsung membenamkan namja mungil itu di dekapannya.

“Sekarang berbaring.”Lanjut Baek Hyun lagi, masih dengan tegas.

“Ne?”

“Berbaringlah, dan istirahat.”

“Tapi…”

“Tidak ada tapi-tapian. Sekarang istirahat, masih pukul 3, jadi masih lama. Anda harus beristirahat minimal 2 jam.”

Kris mengerutkan keningnya, ternyata Baek Hyun betul-betul serius saat ia mengatakan akan mulai tegas padanya, “2 jam? Aku bahkan tidak pernah tidur siang melebihi 15 menit.”

“Oh tidak untuk hari ini tuan, anda harus tidur minimal 2 jam.”

“Aku tidak mengantuk.”

“Kalau anda masih keras kepala, aku pulang.”

“Baiklah…. baiklah, aku tidur. Tapi kau jangan pulang duluan”

“Hm, aku akan menunggu sampai anda bangun”

“Lalu apa yang akan kau lakukan sambil menungguku?”

Baek Hyun berdecak jengkel.

“Arasso… aku tidur.”

“Hm, aku akan menunggu di depan”

 

Tep~

 

“Eh?”Baek Hyun tersentak saat Kris tiba-tiba saja mencekal pergelangan tangannya.

“Bagaimana kalau kau juga tidur? Kulihat kau juga sangat lelah.”

“Ta… Tapi… Aku tidak mengantuk.”

“Sama, aku juga tidak mengantuk, dan kau memaksaku tidur. Jadi aku ingin tahu bagaimana caramu bisa tidur sampai 2 jam padahal matamu tidak mengantuk.”

“Ini pasti hanya alasan anda Tuan.”

Kris tertawa kecil, kemudian bergeser. Memberi ruang di sebelahnya dan menepuk satu bantal di sana, “Tidurlah bersamaku.”

 

Blush…

 

“Ah, maksudku… Tidur, ng… di sebelahku”

“Ta… pi…”

“Atau begini saja, temani aku mengobrol. Bukankah mengobrol sambil berbaring sama saja halnya dengan beristirahat?”

“Dari mana teori itu?”

“Asal tidak beraktivitas lebih kan?”

Baek Hyun menghela nafas kemudian membaringkan tubuh mungilnya di sebelah Kris, sama-sama terlentang dan memandang langit-langit, “Kebetulan… ada yang ingin kutanyakan tuan.”

“Hm, tanyakan saja.”

Baek Hyun berdehem, terlihat sangat hati-hati, “Namja cantik tadi…”

Kris tersenyum, sebenarnya sudah bisa menduga, “Oh, Lu Han. Apa yang ingin kau tahu tentangnya?”

“Apakah… kasusnya sama denganku?”

Kris terdiam sejenak, kemudian menggumam sambil mengangguk.

“Tuan…”

“Hm…”

“Kenapa anda bersedia meminjamkan uang pada orang-orang seperti kami?”

Kris menoleh, dan bisa ia saksikan wajah indah Baek Hyun dari samping, begitu murni dan polos, seperti pikirannya, “Istilahnya bukan meminjamkan, Baek Hyun-ah, sebut saja barter, karena… Aku… mendapatkan imbalannya, dan aku memang…. menginginkannya.”

“Jadi… sebelum aku, anda sudah melakukan itu berkali-kali dengan orang lain?”

Kris terbatuk sejenak, masih betah memandangi wajah Baek Hyun yang setia menatap plavon kamar itu, “Hanya… yang menarik perhatianku saja Baek Hyun-ah, bukan orang sembarangan, aku tidak seceroboh itu.”

“Hm bisa kulihat, namja tadi sangat cantik”

Kris tersenyum, mengingat bahwa Baek Hyun bahkan tidak menghitung seistimewa apa dirinya, “Tapi aku sudah tidak melakukannya lagi.”

Baek Hyun langsung menoleh, “Kenapa?”

 

Hening…~

 

Pandangan mereka bertemu, menyelami arti kedua manik mata di hadapan masing-masing.

Bohong besar kalau Kris tidak apa-apa saat itu. Kenyataannya, jantungnya berdegup sangat kencang, dan ia sudah kesulitan mengontrolnya, takut-takut Baek Hyun akan mendengar degup jantungnya yang seperti debuman gendang itu.

“Kenapa tuan?” Ulang Baek Hyun lagi.

“Kenapa kau yang bertanya? Apa menurutmu aku masih bisa menjamah tubuh lain sementara hatiku sudah terpaut pada satu orang?”

 

Blush~

 

“A… Itu… A…”

Kris menghela nafas panjang, “Kau kembali mengingatkanku.”

“Te… Tentang apa?”

“Saat itu, saat dimana aku… menyentuhmu. Saat dimana aku melakukan kesalahan terbesarku, yaitu… menyakitimu Baek Hyun-ah… andai aku bisa lebih cepat menyadari rasa cintaku padamu sejak awal, maka aku bersumpah akan memberimu apapun saat itu juga tanpa meminta imbalan dengan….” Kris menelan ludahnya, seperti tak sanggup melanjutkannya, ”Tubuhmu.”

 

Deg~

 

“Tu… Tuan…”

“Aku brengsek, aku namja yang tidak tahu diri. Aku punya segalanya, tapi karena keserakahanku… kubuat kau menyerahkan sesuatu yang paling berharga dalam hidupmu, dan aku__”

“Tuan…” Baek Hyun buru-buru memotong, ”Apa aku pernah mengatakan bahwa aku menyesal telah melakukan hal itu?”

Kris diam.

“Pernahkah kukatakan bahwa aku membencimu karena telah memperlakukanku seperti itu?”

Kris masih terdiam.

“Tidak bisa kusangkal, itu adalah kesalahan terbesar yang pernah kulakukan seumur hidupku, dan sampai sekarangpun aku tidak tahu bagaimana cara menebus kesalahan itu di depan suamiku. Tapi tahukah anda tuan, selama hidupku aku tidak pernah melakukan hal yang betul-betul berguna seperti yang telah kulakukan itu. terlepas dari sehina apa aku saat itu, tapi… aku berhasil menyelamatkan nyawa suamiku dengan usahaku sendiri.”

“Baek Hyun-ah…”

“Dan tahukah anda Tuan, bahwa aku tidak pernah sekalipun menyesali pertemuan kita, tidak pernah sekalipun mengutuk apa yang telah anda lakukan padaku, karena aku sempat membayangkan… bagaimana jika saat itu aku tidak bertemu dengan anda? Bagaimana jika aku bertemu dengan seseorang yang betul-betul memperlakukanku sebagai seorang pelacur?”

“Baek Hyun-ah…”

“Anda adalah penolongku Tuan, dan aku betul-betul mengatakan hal itu, tulus dari dasar hatiku.”

Kris tidak mampu bersuara lagi, karena teggorokannya sakit. Hal yang paling tidak ingin ia tunjukkan di hadapan Baek Hyun kini justru tampak begitu jelas tanpa bisa ia hindari.

 

Air mata!

 

Buliran itu begitu jelas, walau hanya beberapa tetes, mewakili perasaan yang bercampur aduk di dalam hatinya. Sesal, merasa bersalah, sakit, marah pada diri sendiri, dan semua hal yang sukses membuatnya hanya bisa memejamkan mata. Membiarkan genangan air itu mengalir dari mata yang satu, ke mata yang lain hingga merembes ke bantal.

“Tuan…” Sapaan itu begitu lembut, seiring sentuhan jari di sisi hidungnya, memutus aliran air mata yang terus menetes di sana.

“Maafkan aku…”ucap Kris masih enggan membuka matanya.

“Lupakanlah Tuan… Aku… tidak pernah satu kalipun menyalahkanmu”

“Aku tahu… tapi tetap saja perbuatanku…”

 

Greb~

 

Kris terbelalak saat ia merasakan Baek Hyun memeluknya, “B… Baek Hyun-ah?”

“Aku… Tidak suka melihatmu menangis Tuan” Bisik namja mungil itu yang membenamkan wajahnya di dada Kris.

Kris menggeleng tidak percaya, “Baek Hyun-ah…”

“Gomapseumnida…. dan kuharap ini tidak akan membuatmu merasa bersalah lagi”

Tidak bisa disangkal Kris, ucapan dan pelukan Baek Hyun membuatnya tenang dan lega. Ia tersenyum, dan dengan sangat hati-hati ia mengulurkan tangan kanannya dan menyentuh belakang kepala Baek Hyun, mengusapnya dan mengecup puncak kepalanya itu.

“Aku… mencintaimu…” Lirihnya tulus kemudian memejamkan matanya.

“Aku menyayangimu.”Balas Baek Hyun tidak kalah lirih.

Senyum Kris tak pudar, dan entah kenapa kelegaan itu justru menuntunnya semakin mengeratkan pelukannya pada Baek Hyun.

Menit-menit berlalu dalam ketenangan, dan akhirnya iapun tertidur.

 

Adakah cinta yang seperti ini?

Tidak menuntut, tidak meminta balasan, tidak memaksa.

Kris akan menjawab iya. Karena dia merasakannya.

 

~**Payphone**~

 

Petang itu, Kris mengantar Baek Hyun pulang. tentu saja membantunya membuat kue, memasak dan menghiasi rumah.

Seumur hidup, Kris tidak pernah membayangkan bahwa memasak bisa semenyenangkan ini. sebenarnya bukan acara memasaknya yang menyenangkan, tapi partnernya di dapur itu yang membuat kegiatan apa saja terasa sangat menyenangkan.

Seumur-umur, mana pernah Kris terjun langsung ke dapur, mana pernah dia mencuci sayuran, mana pernah dia memotong-motong daging, mana pernah memperhatikan orang lain membuat adonan kue? Tapi sekarang dia melakukannya.

“Tuan tolong bantu aku masukkan terigunya” Pinta Baek Hyun yang masih sibuk me-mixer adonannya.

“Berapa takarannya?”

“Masukkan itu semua, tapi sedikit demi sedikit”

“Ah aku mengerti”

Dan sejak kapan Kris suka perannya sebagai asisten seorang koki?

Demi apapun, Kris yang gila kerja itu justru lebih memilih perannya yang sekarang.

“Nah selesai, sisa dipanggang”Ucap Baek Hyun girang. Ia memasukkan cetakan kue berisi adonan tadi ke dalam microwave dan menatapnya puas.

“Baek Hyun-ah…”

“Ne?”

“Itu ada terigu di pipimu”

Baek Hyun menyeka pipi kanannya,

“Bukan, yang di sebelahnya”

“di sini?”

Kris berdecak kemudian menggunakan ibu jarinya sendiri menyingkirkan sisa terigu di pipi kiri Baek Hyun, dekat dengan sudut bibirnya.

 

Deg~

 

Kris langsung menggelengkan kepalanya cepat saat fantasi aneh berputar-putar di otaknya, “Sudah bersih, aku ke ruang tengah dulu memasang balon dan pita”

“Ne, tapi jangan terlalu banyak. Yang ulang tahun bukan anak-anak, tapi namja dewasa berusia 23 tahun beranjak ke 24 tahun”

“Ara… Ara…”

Baek Hyun terkekeh melihat sikap Kris yang begitu penurut itu. dan sejak kapan pula ia merasa tidak sungkan menyuruh-nyuruh seorang presiden direktur, pemilik sebuah group besar perusahaan yang memiliki cabang di banyak negara. Baek Hyun terkadang tidak habis pikir, tapi dia suka perannya.

 

~**Payphone**~

 

“Baek Hyun-ah.. sudah jam 8, aku pulang dulu” Pamit Kris yang sudah memasang jacketnya.

“Tunggu… makan dulu Tuan…”Cegah Baek Hyun.

“Nanti saja di rumah. Kau sudah susah-susah membuatnya, kalau kukacaukan, bentuknya tidak akan serapi itu”

“Ck… Apanya?” Baek Hyun menarik tangan Kris dan memaksanya duduk di kursi makan. “Ini porsinya banyak, aku dan Chan Yeol juga tidak akan bisa menghabisinya”

“Eh… Eh… sedikit saja” Protes Kris saat Baek Hyun mencampurkan makanan yang cukup banyak di piringnya.

“Akhir-akhir ini aku yakin anda makan tidak teratur, makanya anda terkena maag akut. Aku tidak mau tahu, anda harus menghabiskan ini sebelum pulang”

“Ya Tuhan…” Kris menggeleng-geleng melihat sepiring makanan dengan porsi besar di hadapannya.

Baek Hyun terkekeh jahil, dan ikut duduk di sebelah Kris yang mulai menyantap makanannya, “Ottokheyo?”

“Hm… Sangat enak. Aku yang memotong daging dan sayurannya kan?”Ucap Kris bangga.

“Ne… Ne” Baek Hyun melebarkan senyumannya, memandangi Kris makan dengan cukup baik.

“Hei, kau memperhatikanku seperti iu, aku jadi grogi. Bagaimana aku bisa menghabiskan makananku kalau begini?”

Baek Hyun melebarkan senyumnya, “Kenapa anda tidak menikah Tuan?”

“Uhuk…”

Baek Hyun buru-buru menyuguhkan air putih pada Kris, langsung disambut oleh namja tinggi itu dengan tegukan banyak-banyak, “Gwenchanayo?”

“Pertanyaan macam apa itu Baek Hyun-ah?”

“Yang mana?”

“Menikah…”

Baek Hyun menautkan alisnya, “Menurutku pertanyaanku itu wajar. Bukankah usia anda sudah 26 tahun? Anda sukses, anda kaya, tampan, berbakat, dan tentu saja cerdas. Kenapa anda tidak menikah?”

Kris mengelus-elus dadanya, berusaha menenangkan diri agar tidak kembali tersedak. Setelahnya ia menoleh pada Baek Hyun dan menatapnya serius, “Katakan saja aku aneh, tapi… aku memang tidak suka terikat pada sesuatu”

“Jadi anda akan terus sendiri seperti ini sampai tua?”

Kris tersenyum geli, “Ya mungkin tidak, entahlah, aku hanya tidak sempat berpikir ke arah itu”

“Kenapa?”

“Sudah kubilang aku tidak suka terikat”

“Persepsi anda tentang menikah sepertinya adalah sebuah kekangan. Yah… mungkin benar, karena anda memang suka kebebasan”

Kris mengganti senyum gelinya dengan senyum penuh arti, “Mungkin akan kupikirkan lagi. Kulihat Chan Yeol begitu bahagia memiliki pasangan sepertimu. Dan mungkin akan seperti itu yang kurasakan jika aku juga menemukan orang… sepertimu”

Baek Hyun tertegun, dan percakapan itu justru membuatnya gugup, “Itu… eum itu…”

“Ah sudahlah, lagipula aku masih betah seperti ini. asalkan kau tidak melarangku menemuimu saja” Kris kembali melanjutkan makannya.

“Aku punya kuasa apa melarangmu menemuiku Tuan? Lagipula aku senang berteman denganmu”

Masih sambil tersenyum, Kris mengacak rambut Baek Hyun dan mencubit pipinya, “Kuharap kau tidak bosan mendengar ini, tapi… aku sangat mencintaimu”

Baek Hyun menghela nafas, antara tidak enak hati dan canggung, “Anieyo… aku justru khawatir anda tersiksa dengan perasaan itu”

Kris menggeleng dengan mulut penuh makanan, “Aku bahagia, sungguh”

Baek Hyun pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain tersenyum. Selalu ada kesan yang tertinggal saat memandangi wajah Kris, sebuah sensasi yang hangat, bermula di sudut hatinya, menjalar ke seluruh raganya, hingga ke wajahnya dan membuatnya bersemu merah.

Tidak bisa ia sangkal…

 

Ia…

Suka berada di dekat Kris.

Hanya suka?

Entahlah, Baek Hyun tidak ingin mencari tahu secara jelas, begitu sudah cukup. Menerima cinta yang begitu besar dari Kris tanpa tuntutan apa-apa… ia merasa

.

.

.

.

 

 

Bahagia…

 

~**Payphone**~

 

Chan Yeol membuka matanya perlahan. Aroma yang tidak asing langsung menyergap indra penciumannya. Tentu saja bau obat yang begitu menyengat.

“Anda baik-baik saja Chan Yeol-shii?”Tanya seseorang membuat Chan Yeol langsung menoleh ke sumber suara.

“Ah… Chen… kenapa aku bisa… ugh…”Chan Yeol mengeluh saat ia mencoba bangun.

“Tunggu di sini Chan Yeol-shii, akan kupanggilkan dokter”

“Nanti saja… Kumohon”

Chen membatalkan niatnya untuk pergi, “Ada apa Chan Yeol-shii?”

“Kau… adalah tangan kanan tuan Kris bukan?”

Chen menautkan alisnya sejenak kemudian mengangguk, “Ada sesuatu?”

“Bisakah kau… menolongku?”

Sebenarnya Chen ragu, apalagi melihat ekspresi Chan Yeol yang begitu sendu, “Selama aku bisa Chan Yeol-shii, akan kubantu”

“Aku… Hanya ingin tahu sesuatu tentang… tuan Kris dan juga… Baek Hyun”

“Tentang… apa Chan Yeol-shii?”

Chan Yeol mengangkat wajahnya dan menatap Chen begitu pilu, “Apakah… telah terjadi sesuatu antara… mereka berdua?”

Chen tersentak kaget, dan buru-buru mengubah ekpresi terkejutnya menjadi terlihat biasa, “Maksud anda?”

Chan Yeol menghela nafas, menyandarkan punggungnya di sandaran branker dan memejamkan matanya, “Aku… sudah tahu semuanya, hanya ingin… memastikan”

“Jika yang anda maksud adalah, apa yang dilakukan Tuan Kris pada Baek Hyun, kurasa anda tidak boleh salah paham, karena itu semata-mata beliau lakukan untuk membantu__”

“Aku tahu… Bahkan jika kupaksakan diriku untuk menerima pengorbanan Baek Hyun untukku, tetap saja mengenai apa yang ia lakukan tanpa sepengetahuanku sangatlah…. menyakitkan”

Chen menepuk pundak Chan Yeol, berusaha menyemangati, “Sepertinya anda betul-betul sudah tahu semuanya. Dan kurasa aku hanya bisa memperjelas bahwa, Baek Hyun betul-betul putus asa saat itu, kudengar anda sangat sekarat dan tidak akan terselamatkan jika operasi itu tidak segera dilaksanakan. Dan pada akhirnya, Baek Hyun menemui tuan Kris untuk…”

“Menjual diri”Potong Chan Yeol dengan nada sakit.

“Chan Yeol-shii… Ungkapan itu terlalu kejam untuk seseorang yang sudah berjuang mati-matian demi kesembuhan anda”

Chan Yeol membuka matanya dan menatap Chen lurus, “Masih bisakah kau berpikir bijak saat kau berada di posisiku? Saat orang yang kau cintai melebihi hidupmu kini tengah bersama namja lain di sebuah kamar hotel. Dan setelah tahu bahwa orang yang kau cintai itu telah menjual diri pada namja itu, masih bisakah kau berpikir jernih bahwa mereka tidak melakukan apa-apa di belakangmu? Dan bagaimana perasaanmu saat tahu bahwa orang yang selama ini sangat baik padamu, memberikan segala bentuk barang dan fasilitas mewah ternyata hanya sebuah kedok sebagai bayaran karena telah menjamah tubuh orang yang kau cintai sementara kau sendiri belum pernah menyentuhnya secara utuh, masih bisakah kau bersikap bijak… Chen?”

Chen terdiam, karena memang ia tidak punya kalimat yang tepat untuk membalas penuturan sakit Chan Yeol.

“Aku mencintai Baek Hyun… sangat mencintainya. Bahkan jika aku disuruh memilih, aku lebih baik mati saat itu dari pada mendapati orang yang sangat kucintai itu menjual tubuhnya demi kesembuhanku. Demi Tuhan… sekarang untuk apalagi aku hidup?”

“Chan Yeol-shii… Setidaknya anda tahu bahwa Baek Hyun sangat mencintai anda”

Chan Yeol menunduk, penuh sesal.

“Apapun yang anda pikirkan, tolong jangan sampai itu menuntun anda untuk bertindak gegabah”

Chan Yeol tidak menjawab, ia menatap punggung tangan kirinya yang di tempeli jarum dan selang infus.

Chen menghela nafas, “Tenangkan diri anda. Akan kupanggilkan dokter untuk memeriksa kondisi anda. Setelah itu… aku akan mengantar anda pulang”

 

~**Payphone**~

 

“Terima kasih sudah membantuku banyak Tuan…”Ucap Baek Hyun saat ia menganar Kris sampai ke depan pagar.

“Membantu? Kupikir tidak, ini menyenangkan, sungguh”Balas Kris masih tidak melepaskan senyum kebahagiaannya.

“Aku… Tidak tahu harus berkata apalagi selain berterima kasih”

“Tetaplah tersenyum, itu sudah lebih dari apapun”

Baek Hyun pun menurut, ia menyunggingkan senyum termanisnya, hal itu menuntun Kris untuk menyentuh pipi Baek Hyun dengan tangan kanannya, “Semoga kau bahagia Baek Hyun-ah… selamanya”Ucapnya tulus.

“Tu… Tuan…”

“Ah, aku sampai lupa, tunggu di sini sebentar” Kris buru-buru menuju mobilnya, mengambil sesuatu di dalam laci dashboard dan kembali ke tempat Baek Hyun sembari membawa sebuah tas plastik.

“Apa ini Tuan?” Tanya Baek Hyun setelah menerima tas plastik itu.

“Hadiah ulang tahunmu, buka saja. Maaf tidak sempat membungkusnya, tadi buru-buru saat kau sibuk mencari bahan kue”

“Ah tuan… ini ck…” Baek Hyun pun membuka sebuah kotak di dalam tas plastik itu, “Po… Ponsel?”

Kris mengangguk cepat, “Jarak telepon umum itu dari rumahmu cukup jauh, aku khawatir saat kau butuh sesuatu, kau terlalu repot untuk berlari ke box telepon itu. jadi kapan pun, dimanapun, saat kau kesulitan dan membutuhkanku, telepon saja aku”

“Tu… Tuan… Aku…”

“Ini hadiah ulang tahun, dan tidak boleh ditolak”

Baek Hyun menghela nafas panjang kemudian tersenyum, “Gomawoyo…”

Kris balas tersenyum, kemudian mengusap puncak kepala Baek Hyun, “Kau memang lebih cocok tersenyum. Manis sekali”

 

Blush…

 

Kris terdiam sejenak, kemudian dengan sangat hati-hati ia mendekat. Melihat Baek Hyun tidak ada penolakan, ia pun meneguhkan hatinya untuk sekedar memeluk tubuh mungil itu dan berbisik lirih, “Saengilchukka hamnida… nae sarang

 

Deg~

 

Baek Hyun tidak menjawab, tapi tidak mampu menyembunyikan senyum kebahagiaan yang terpancar di wajahnya. Ia pun mengulurkan tangan dan melingkarkannya di punggung kokoh Kris.

Sejak kapan kecanggungan itu hilang? Sejak kapan membalas pelukan Kris membuat Baek Hyun tidak mempertimbangkan apa-apa lagi. Sejak kapan berpelukan dengan Kris seolah lumrah.

Pelukan itu sungguh hangat… juga menenangkan, berikut selalu ada sensasi lain yang menyertainya. Di sana…. di dada bagian kirinya, dengan degup yang sesekali tidak beraturan, dan sesekali teratur, dan itu bukan sesuatu yang menyusahkannya.

Sekali lagi… itu sangat… menenangkan.

 

Pelukan yang penuh perasaan itupun lebih dulu diakhiri oleh Kris. Ia tatap wajah mungil dan bersinar di hadapannya, dan dengan sangat pelan ia menundukkan wajah dan mengecup kening Baek Hyun. Tanpa banyak bicara, menyalurkan semua cinta yang dirasakan Kris untuknya. Membuat namja mungil itu hanya bisa memejamkan mata, menerima ekspresi cinta Kris yang tidak pernah menyesakkannya, karena memang Kris tidak pernah menuntutnya.

Sedikit gila saat Kris hendak bertindak lebih, tapi mengingat ia hanya bisa sebatas itu, dan ia betul-betul tidak ingin kehilangan Baek Hyun… ia akhiri pula kecupan ringan itu.

“Aku pulang…” Ucap Kris setelahnya.

“Ne… Terima kasih atas semuanya Tuan…” Balas Baek Hyun dengan wajah merona.

Kris masih sempat menyentuh pipi Baek Hyun sejenak sebelum ia betul-betul masuk ke mobilnya dan melajur pergi. Meninggalkan ssok namja mungil yang diam mematung dengan senyum mengambang di bibirnya, tak lupa jemari lentiknya menyentuh pipi di mana Kris sempat menyentuhnya. Selalu… kesan yang ia tangkap dari Kris adalah…

 

Hangat!

 

~**Payphone**~

 

 

Chan Yeol sengaja menolak saat Chen menawarkan tumpangan hingga ke depan rumahnya. Ia hanya menerima tumpangan sampai di halte bis sekitar beberapa belas meter dari gang luas menuju rumahnya. Selebihnya Chan Yeol berjalan kaki melewati gang itu.

Sebenarnya ia sedang menyusun deretan kalimat, berikut pertanyaan yang akan ia ajukan pada Baek Hyun nanti. Tentu saja mengenai hubungan namja itu dengan Kris, keberadaannya di hotel, dan juga mengenai uang 100 juta yang ia dapat dengan… menjual tubuhnya.

Memikirkan kalimat itu saja sudah membuat otaknya hampir meledak, lalu bagaimana mungkin ia menyampaikan semua itu?

 

 

Srak~

 

Langkah Chan Yeol terhenti saat kedua mata besarnya menangkap sebuah pemandangan yang jauh lebih menyakitkan dari apa yang ia lihat tadi sore. Di sana, sekitar beberapa meter dari tempatnya berdiri, ia menyaksikan hal yang paling tidak ingin ia lihat. Karena hal-hal demikian lah yang memaksa otaknya untuk tidak bisa lagi mengelak bahwa memang telah atau masih terjadi sesuatu antara Baek Hyun-nya dengan namja yang selama ini memberikannya naungan materi berlimpah.

 

Mereka berpelukan…

 

Dan ini bukan perkara Chan Yeol telah memiliki prasangka buruk sebelumnya, tapi orang awam pun tentang hal ini akan langsung mengklaim bahwa itu… bukan pelukan biasa.

 

Bagaimana Kris menyentuh belakang kepala Baek Hyun dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya memeluk erat punggung sempit namja-nya itu. Sementara Baek Hyun sendiri tak sungkan mengulurkan tangannya dan melingkari punggung bidang Kris, jangan lupakan bagaimana Baek Hyun dengan damainya membenamkan wajahnya di dada Kris, dan lihat bagaimana Kris menunduk, membisikkan sesuatu di telinga Baek Hyun hingga membuat namja mungil itu tersenyum bahagia.

 

Kata-kata cinta kah?

Hanya mereka yang tahu…

 

Chan Yeol hanya bisa menatapnya nanar, mengatupkan rahang rapat-rapat dan terus begitu. Mematung seperti orang bodoh sampai Kris mengecup kening Baek Hyun penuh perasaan dan cukup lama, membelai pipinya kemudian pergi diiringi lambaian tangan Baek Hyun seolah melepas kepergian kekasihnya…

 

Deg~

 

Kekasih?

Sadarkan Baek Hyun bahwa saat ini statusnya telah resmi menjadi milik orang lain?

Bukan… bukan milik orang lain, tapi milik Park Chan Yeol.

Suaminya…

Kekasihnya yang selalu bersamanya melewati berbagai penderitaan hingga mereka gapai bahagia.

Sayangnya bahagia itu hanya sebuah kedok dari penderitaan yang sebenarnya.

 

Pengkhianatan!!!

 

 

 

Chan Yeol memejamkan matanya, bahkan memikirkan kata itu saja sudah sukses memporak-porandakan perasaannya. Ini bukan hanya sekedar sakit… ini nama lain dari kata…

 

 

Mati!!

 

 

 

“Chan Yeol-ah??”

 

Seruan lembut itu membuatnya tersadar, kemudian perlahan membuka matanya. Tampaklah sosok namja mungil, lincah dan menawan tengah menghampirinya dengan berlari kecil, tak lupa senyum yang terus menghiasi bibir mungil itu. Bibir yang mungkin saja telah sukses ia bagi dengan namja selain dirinya.

“Sudah pulang? mana mobilmu?” Tanya Baek Hyun riang. Tangan lentiknya lihai membenarkan kerah kemeja Chan Yeol yang terlipat tidak sempurna.

“Kutinggal… di sebuah tempat. Mogok” Jawab Chan Yeol datar.

Baek Hyun terkikik geli dengan wajah merona, yang jelas Chan Yeol menyangkanya sebagai sebuah ekspresi kebahagian yang masih bersisa sejak kebersamaan namja ini dengan Kris tadi…

Kemarin…

Kemarinnya lagi…

Kemarin dari hari kemarin…

Setiap hari… kebersamaan Kris dan Baek Hyun…

Sampai kepada hari itu…

Hari di mana Baek Hyun menyerahkan segalanya pada Kris.

 

Oh Tuhan… sanggupkah aku?__Lirih Chan Yeol berikut kesakitannya.

 

“Syukurlah kau tepat waktu” Baek Hyun mengalungkan lengannya di tengkuk Chan Yeol sembari menatapnya manja.

“Tepat waktu untuk apa?” Tanya Chan Yeol. Untuk melihat pengkhianatanmu kah?__Lanjutnya dalam hati.

Baek Hyun menggumam, masih dengan tingkah manjanya, “Nanti kau juga akan tahu, kajja kita masuk. Langit sepertinya sangat mendung malam ini, kudengar dari ramalan cuaca, sepanjang malam akan hujan deras sampai siang.”

 

Benar… bahkan langitpun ikut menangis karena merasakan kepedihan hati Chan Yeol.

 

“Baek Hyun-ah…”Lirih Chan Yeol dengan suaranya yang semakin berat karena tenggorokannya semakin sakit.

“Hm?”

“Kau… Mencintaiku?”

Bisa ia lihat kedua alis yang terukir indah milik malaikat mungil di depannya ini bertaut, mengisyaratkan tanda tanya akan sebuah pertanyaan rancu yang baru saja Chan Yeol keluarkan.

“Kau bercanda? Tentu saja aku mencintaimu. Kenapa dipertanyakan lagi?”

Chan Yeol terdiam, bola matanya terus fokus pada wajah Baek Hyun-nya ini, meneliti setiap garis dan struktur sempurna yang dilukiskan Tuhan dengan kekuasaannya. Dan akhirnya ia semakin sadar, ia bukan satu-satunya manusia yang terpikat akan struktur dan garis indah yang di lukiskan Tuhan di depannya ini.

“Waeyo? Ada sesuatu yang aneh? Kenapa kau menatapku begitu? Mesum sekali”Goda Baek Hyun sembari mencubit hidung Chan Yeol. Tapi namja tinggi itu jelas tidak menggubris. Gerakan bola matanya masih terlihat meneliti setiap garis sempurna itu.

 

Betapa ia…

 

Sangat mencintai namja bernama Byun Baek Hyun ini.

 

 

Baek Hyun sedikit tersentak saat langit mulai terisak. Memperdengarkan gemuruh bahwa ia ikut terluka.

“Chan Yeol-ah, ayo masuk. Sepertinya betul-betul akan hujan. Petirnya menyeramkan sekali” Baek Hyun menarik tangan Chan Yeol, berniat mengajaknya masuk tapi namja tinggi itu tak beranjak dari tempatnya.

“Di sini saja… sebentar”Ucap Chan Yeol datar. Sedatar wajahnya yang menyembunyikan luka.

“Heum? sepertinya kau ingin bicara. Tentang apa?”

Chan Yeol menghembuskan nafas panjangnya. Ia betul-betul tidak siap, jika jawaban yang akan Baek Hyun keluarkan nanti justru mengantar mereka pada sebuah kata mematikan.

 

Perpisahan!!!

 

Chan Yeol menelan ludahnya yang sudah seperti karang, masih menatap Baek Hyun dengan sendu, “Hanya akan kutanyakan ini satu kali, dan kuharap aku tidak perlu mengulanginya agar kau mau menjawab dengan jujur.”

 

Deg~

 

Baek Hyun mulai merasakan firasat buruk. Ekspresi Chan Yeol, juga nada bicaranya, belum pernah ia mendengar dan melihatnya seperti itu.

“A… ada sesuatu, Chan Yeol-ah?”

“Sebenarnya banyak hal, tapi aku akan langsung ke akar permasalahannya saja.”

Baek Hyun semakin gugup, terlihat dari raut kecemasan di wajahnya. Sebenarnya ia sempat menerka apa yang akan Chan Yeol tanyakan, tapi… ia tidak berani memperkuat terkaannya.

 

Ia takut…

Takut sekali.

 

“Baek Hyun-ah…”

“N… Ne…” Suara Baek Hyun bergetar.

Chan Yeol memejamkan matanya sejenak, kemudian membuka perlahan, menatap Baek Hyun lurus-lurus tepat di sepasang manik matanya, “Katakan padaku dengan jujur… Apa yang telah kau lakukan dengan Tuan Kris di belakangku selama ini.”

 

Kedua mata mungil Baek Hyun membulat. Seiring dengan amukan langit yang memperdengarkan gelegar panjang dengan sahutan mencekam, “Cha… Chan Yeol-ah… pertanyaan apa itu?”

“Bukankah sudah kukatakan, aku hanya akan menanyakannya satu kali, dan kuharap kau langsung menjawabnya dengan jujur tanpa menungguku untuk mengulanginya. Karena jujur saja Baek Hyun-ah… menyusun kalimat pertanyaan itu sudah sukses menghancurkanku, jadi kumohon jika kau ingin membunuhku, lakukan dengan cepat, jangan menyiksaku dengan perlahan”

Baek Hyun menggeleng cepat. Matanya sudah mulai berair, dan wajahnya sudah pucat pasi, “Aku… tidak…melakukan… apa-apa”

Chan Yeol kembali menghela nafas, terlihat sekali ia berusaha menjadi setenang mungkin menghadapi situasi yang sudah merajamnya habis-habisan ini.

“Haruskah kukatakan bahwa aku sudah mengetahui semuanya?”

 

Sekali lagi langit memperdengarkan amukannya. Tapi gelegar petir itu tak lebih mengejutkan dari pada penuturan Chan Yeol barusan.

Seketika seluruh persendian Baek Hyun kehilangan tenaga untuk menopang tubuh, rasanya seperti akan ambruk dan terbenam cukup dalam di tanah, tapi ia tidak boleh menampakkannya. Karena itu akan membenarkan bahwa ia pantas menjadi pihak yang bersalah.

“Chan Yeol-ah… Aku dan Tuan Kris hanya bersahabat”

Chan Yeol menggeleng dengan senyum pahit di bibirnya, “Bukan status yang kupertanyakan Baek Hyun-ah… tapi apa yang telah kau lakukan dengannya di belakangku selama ini,” Chan Yeol menggantung kalimatnya sejenak, “Atau lebih tepatnya… Apa.. yang telah kau lakukan dengan Tuan Kris sebelum aku akhirnya bisa selamat dari penyakit itu dan bisa berdiri di hadapanmu sekarang”

 

Kedua mata Baek Hyun kembali membelalak. Tanpa sadar kakinya mundur dua langkah, mulutnya terbuka dan langsung ia tutup dengan satu tangannya.

“Bahkan jika itu kau lakukan demi kesembuhanku Baek Hyun-ah… aku tetap tidak bisa menerimanya dengan akal sehatku. Aku terlalu mencintaimu, dan mengetahui kenyataan bahwa kau…” Chan Yeol buru-buru mengatupkan rahangnya kuat-kuat dan memalingkan wajahnya ke samping saat air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya meruntuhkan pertahanannya hingga sukses mengalir tanpa penghalang di kedua pipinya.

Baek Hyun menggeleng cepat, ingin rasanya ia berteriak bahwa hal itu ia lakukan karena ia sama sekali tidak punya jalan keluar lain. Tapi rasa sakit berbentuk gumpalan menyumbat tenggorokannya hingga ia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

 

Langitpun akhirnya ikut meruntuhkan pertahanannya. Langit mulai menangis, perlahan berbentuk rintik sampai akhirnya jutaan tetes mengguyur dua namja itu.

 

“Tidakkah itu ironis Baek Hyun-ah, bahwa aku harus menerima kenyataan bahwa namja yang paling kucintai di dunia ini telah menyerahkan tubuhnya untuk orang lain?”

Baek Hyun menggeleng lagi, air matanya sudah membanjir. Kedua pipinya basah, dan sudah tidak jelas mana air mata dan air hujan karena langit semakin tak mampu membentung air matanya.

“Adakah yang lebih ironis saat orang yang selama ini kuanggap malaikat penyelamat ternyata tengah menyogokku tanpa kusadari sebagai bayaran karena telah menikmati tubuhmu?”

“Chan… Yeol…-ah…” lirih Baek Hyun akhirnya, itupun jelas tidak terdengar akibat gemuruh hujan yang menghantam tanah tempat mereka berpijak.

“Jawab Baek Hyun-ah… Jawab…”

Baek Hyun mengusap air mata juga air hujan yang menghalangi padangannya, dengan cepat ia menyentuh kedua tangan Chan Yeol dan menggenggamnya, “Aku… mencintaimu…” Ucapnya dengan suara bergetar hebat, “Dan aku tidak ingin kehilanganmu…”

Chan Yeol memalingkan wajahnya, tidak sudi menatap wajah memelas di hadapannya itu.

“Jika ada hal yang bisa kulakukan untuk mengumpulkan uang 100 juta dalam sekejap selain menjual tubuhku, akan kulakukan Chan Yeol-ah… akan kulakukan demi keselamatanmu”

Chan Yeol masih tidak sudi merespon.

“Aku mengkhianatimu, geure… kuakui kesalahanku itu. tapi percayalah, itu kulakukan karena aku tidak ingin kehilanganmu… aku sangat mencintaimu”

Chan Yeol menggeleng dengan mulut terkatup rapat. Ia menoleh dan menatap Baek Hyun dengan perasaan sakit, “Tidak begitu yang kulihat Baek Hyun-ah… tidak begitu. Sentuhan tangan, pelukan, dan kecupan Tuan Kris yang ia berikan padamu, kau terima begitu saja tanpa pertimbangan apa-apa. Bahkan aku… suamimu…”

“Chan Yeol-ah… aku tidak…”

Chan Yeol menepis tangan Baek Hyun perlahan, “Aku mencintaimu Baek Hyun-ah, sangat. Melebihi nyawaku sendiri.” Ia rengkuh dada kirinya kuat-kuat, “Jika kutahu jantung ini dibeli seharga dengan kau menjual tubuhmu… aku lebih baik mati Baek Hyun-ah… dari pada menerima kenyataan bahwa namja yang paling kucintai di dunia ini…menjadi seorang pelacur”

 

Seolah kehilangan nyawa. Bumi tempat Baek Hyun berpijak seakan terbelah dan hendak menguburnya hidup-hidup, gelegar petir yang bersahutan seperti berasal dari dalam kepalanya seakan hendak menghancurkan isinya, hatinya dirajam habis-habisan dan semakin bertambah perih bagai luka sayatan panjang dan dalam, mengenai titik rawan di dada kirinya.

Baek Hyun terhuyung ke belakang sembari menggelengkan kepalanya tak percaya, matanya tertuju pada Chan Yeol, tapi seolah tak fokus lagi akibat genangan air mata juga hujan yang semakin mengguyur tubuh lusuhnya.

“Aku… Bukan… Pelacur…” Lirih Baek Hyun hanya dengan gerak bibirnya, bahkan pita suaranya tak mampu lagi bekerja secara sempurna.

Chan Yeol mendekat dan menatap Baek Hyun cukup tajam, “Lalu… seseorang yang telah bersuami, menemani pengusaha kaya memasuki sebuah kamar hotel berjam-jam… tidakkah ia pantas disebut pelacur?”

 

Krak~

 

Luka itu akhirnya semakin memanjang, tak mampu lagi ia tahan hingga akhirnya rasa sakit itu menuntun tangan kanannya untuk terangkat dan menampar pipi namja tinggi di depannya.

“Kau bukan Park Chan Yeol… kau bukan suamiku… kau bukan…” Baek Hyun membungkam mulutnya, tidak bisa ia kontrol lagi hingga akhirnya ia berbalik kemudian memaksa kaki mungilnya untuk melangkah dengan sangat cepat, menerobos hujan dan meninggalkan tempat itu.

 

Sementara itu, Chan Yeol… namja yang terluka dan berakhir melukai Baek Hyun, akhirnya tersadar…

Ia sentuh pipinya bekas tamparan keras itu, pandangannya lurus ke arah punggung Baek Hyun yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang di balik belokan.

“Apa… Yang baru saja… kukatakan???” Lirihnya seperti orang bodoh.

 

“Tuhaaaannn… APA YANG BARU SAJA KULAKUKAN???!!!” Pekiknya mengalahkan suara gemuruh hujan yang menderas itu.

 

 

~**Payphone**~

 

 

“Anda menginap lagi Tuan?” Tanya Chen saat ia menyambut Kris yang baru keluar dari mobilnya.

“Hm… Hujannya deras sekali, dan aku terlalu lelah untuk menyetir terlalu lama” Kris menyerahkan kunci mobilnya pada Chen untuk memarkirnya lebih ke dalam.

“Ne, akan kuperintahkan pelayan untuk mengantarkan makanan ke kamar anda”

“Ah tidak perlu, aku sudah makan. Lagipula lambungku sedang bermasalah akhir-akhir ini, jadi tidak bisa asal menyantap makanan”

“Ah mohon maaf Tuan, perlu kutelpon dokter?”

“Tidak usah, aku sudah agak baikan. Besok saja sekalian check up kesehatan di klinik Dr. Ahn”

“Saya mengerti Tuan”

.

.

.

Kris merebahkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur kamar pribadi di hotel miliknya itu. entah kenapa ia merasa jauh lebih nyaman berada di kamar itu dibandingkan kamarnya sendiri di istananya.

Jelas saja karena kamar itu adalah tempat yang paling bersejarah baginya.

Melebihi apapun di dunia ini.

Sebuah senyum damai tercetak jelas di bibir tebalnya. Dan kedamaian itu seolah hendak mengantarnya pada sebuah mimpi indah yang mungkin menyambutnya di alam bawah sadarnya.

Bersama Baek Hyun?

 

Tentu saja!!

 

 

Selang beberapa menit ia memejamkan mata, getar ponsel di atas nakas mengusiknya, membuat mata lelahnya kembali  terbuka.

Sedikit malas ia menyambar ponsel itu dan menatap layarnya.

Awalnya matanya hanya memicing, karena ia masih setengah sadar, tapi begitu ia pastikan penglihatannya, kedua matanya membelalak penuh, menampakkan pembuluh darah tipis di sekitar sklera matanya yang sedikit memerah karena kantuk.

Tidak salah lagi… nama kontak yang tercantum di sana adalah…

 

 

 

Payphone???? Baek Hyun???” pekiknya tak percaya.

 

 

~**Payphone**~

 

Baek Hyun menapakkan tangannya di pintu box telepon umum. Nafasnya tersengal-sengal, air matanya terus berjatuhan, tak mengalahkan derasnya hujan yang menerpa tubuh mungilnya.

“Aku bukan pelacur…” Lirihnya lagi entah sudah ke berapa kalinya.

Wajahnya menoleh ke tempat di mana tangannya bertumpu. Dan sekali lagi ia takjub saat mengetahui kemana hatinya menuntun langkah gusarnya itu.

 

Tempat ini lagi!!__batinnya semakin pilu.

 

Ia usap wajahnya yang basah, kemudian perlahan memasuki bilik telepon umum itu. seperti sebuah robot yang telah diprogram otomatis saat berada di dalam tempat bersejarah itu.

Tangan lentik Baek Hyun secara teratur mengeluarkan koin di saku jeans nya, koin yang ia dapat sehabis berbelanja dengan Kris sore tadi. Masih dengan gerakan teratur, ia mengangkat gagang telepon, dan tangan kirinya menekan tombol dengan digit angka yang ia hapal di luar kepala.

Dan saat panggilannya tersambung ke seberang, matanya yang tak berhenti mengeluarkan tangisan kepedihan itu akhirnya membelalak.

 

Kenapa aku selalu mengadu pada Tuan Kris?__Batinnya.

 

Dan dengan buru-buru ia kembali meletakkan gagang telepon itu dan berharap agar Kris sudah tertidur hingga tidak menyadari panggilannya itu.

Baek Hyun menyandarkan punggung mungilnya di dinding kaca box telepon itu, kemudian luruh ke lantai seperti orang yang kehilangan tenaga. Ia peluk kedua lututnya dan ia benamkan wajahnya di sana.

 

Sekali lagi, suara lirih penuh luka terdengar…

 

“Aku… bukan pelacur Chan Yeol-ah…”

 

 

Tok… tok… tok…

 

Samar-samar suara pintu kaca  itu diketuk cukup keras. Jelas saja, itu adalah properti umum, jadi tidak seharusnya Baek Hyun menggunakannya sebagai tempat pribadi untuk berkeluh kesah.

Dengan sangat lemah ia mengangkat wajahnya. Dan alangkah terkejutnya ia saat ia tahu siapa sosok yang berada di luar sana, sebentuk wajah tampan yang terlihat di balik dinding kaca berkabut itu.

 

“Tu… Tuan…” Serunya tertahan, bahkan hanya bisa terlihat dalam gerakan bibir.

Kris yang melihatnya jelas tersentak, tubuhnya yang basah akibat guyuran air hujan yang ia terobos beberapa meter ke tempat itu tidak ia pedulikan. Ia membuka pintu bilik telepon itu dengan tergesa-gesa dan masuk ke sana untuk mendekap malaikat mungilnya.

“Ada apa ini Baek Hyun-ah?” Tanya Kris setelah membantu Baek Hyun berdiri.

Tidak ada jawaban, hanya derai air mata juga bibir yang bergetar hebat, entah karena tangis atau karena kedinginan, melihat bibir itu mulai membiru.

“Baek Hyun-ah…” Dengan diliputi perasan cemas, tangan Kris mengusap sekitaran wajah Baek Hyun yang basah, berkali-kali menghapus air mata yang masih menderas itu.

“Aku… Bukan… Pelacur Tuan….”

 

Deg~

 

Kris tersentak akibat penuturan pilu itu.

“Si… Siapa yang menyebutmu seperti itu?”Bentak Kris berang.

“Aku… bukan… Pelacur…”Ulangnya tanpa berniat menjawab pertanyaan Kris.

Kris mengatupkan rahangnya rapat-rapat, “Chan Yeol yang mengatakan hal itu?”

Bibir Baek Hyun semakin bergetar, “Aku… bukan pelacur…”

 

Baiklah, Kris mengerti. Bukan saatnya mengajak Baek Hyun berbicara. Tanpa basa-basi lagi ia meraih tubuh mungil itu dalam dekapannya. Menenangkannya sebentar kemudian menggendongnya ala bridal style keluar dari bilik itu.

“Aku bukan pelacur…” Baek Hyun terus mengigau, dan Kris jelas semakin emosi melihatnya.

“Ne… Baek Hyun-ah… tidak ada yang mengataimu pelacur… Tidak ada” ucap Kris sesekali mengecup kening Baek Hyun yang berada dalam gendongannya, “Tidak akan ada.” Lanjutnya dengan emosi meluap-luap.

Chen buru-buru menghampiri Kris sambil membawa payung besar.

“Chen, minta pelayan bawakan selimut tebal, air hangat, handuk kecil, juga obat penurun panas. Anak ini demam”Perintah Kris dengan wajahnya yang serius.

“Baik Tuan…”

“Dan juga… apapaun yang terjadi, jangan biarkan Park Chan Yeol tahu bahwa Baek Hyun bersamaku”

Chen sempat tersentak, “A… Aku mengerti Tuan”

 

~**Payphone**~

 

Chan Yeol menyeret langkahnya memasuki rumah, sekali lagi, mengejar Baek Hyun dengan kedua kakinya sendiri tidak akan bisa ia lakukan, lagipula jika ia mengejarnya, apa yang akan ia katakan lagi?

Membiarkan kondisi tenang, bukankah itu lebih baik?

Itu yang ada di pikiran Chan Yeol.

.

Ia tengah menenteng sebuah tas plastik yang dijatuhkan Baek Hyun tadi. Tidak peduli isinya apa, ia meletakkannya di atas sofa kemudian berniat menyalakan sakelar lampu.

“Saking betahnya kau bersama Tuan Kris, Baek Hyun-ah… kau bahkan lupa menyalakan lam___”

 

Deg~

 

Kedua mata Chan Yeol membulat penuh saat mendapati kondisi ruang tamunya setelah ia menyalakan lampu.

 

Balon…

 

Pita…

 

Dan beberapa pernak-pernik pesta yang tersusun rapi di atas meja.

 

Ya Tuhan… Hari apa ini?__ Serunya panik. Ia masih sempat membeku beberapa saat sampai ketika ia betul-betul sadar.

 

Dengan sangat  buru-buru ia masuk ke ruang makan, dan dugaannya benar.

 

Di sana sudah ada beraneka makanan yang tersusun rapi, berikut sebuah kue tart dengan krim merah muda dan putih, tersusun dengan lilin berwarna warni tertancap di sana yang Chan Yeol yakin jumlahnya ada 24 buah, jelas belum menyala karena Chan Yeol akhirnya teringat akan sesuatu…

 

 

“Shireo… jangan lembur, kau harus pulang sore”

“Waeyo?”

“Anieyo, karena malam harinya kau harus menemaniku”

“Hm… kalau aku pulang jam 1 malam boleh?”

“Tidak boleh, kau sudah harus di rumah sebelum pukul 12, eum ah tidak, pukul 10”

“seperti cinderella saja, arasso. Kuusahakan, jadi kau mau ikut ke restoran?”

 “Tidak, ada yang harus kuurus di rumah”

“Apa itu?”

“Rahasia…”

 

 

“Syukurlah kau tepat waktu”

“Tepat waktu untuk apa?”

“Nanti kau juga akan tahu, kajja kita masuk. Langit sepertinya sangat mendung malam ini, kudengar dari ramalan cuaca, sepanjang malam akan hujan deras sampai siang.”

 

 

Chan Yeol jatuh terduduk di atas lantai dengan pandangan kosong ke depan.

 

“Aku tidak hanya melukainya dengan melupakan hari ini… Bahkan kubuat ia menangis… Di hari ulang tahunnya…” Lirihnya tak percaya.

 

Detik berikutnya ia menggeleng cepat. Ia usap kasar air matanya dan buru-buru meninggalkan tempat dan menerjang pintu rumahnya. Menerobos lebatnya hujan dan berlari mencari Taxi pertama yang lewat.

 

“Mianhae Baek Hyun-ah… Mianhae…” Pekiknya berkali-kali.

 

 

~**Payphone**~

 

 

Kris merebahkan tubuh Baek Hyun di atas tempat tidur, dengan panik ia meraih handuk dan berusaha sebisa mungkin mengeringkan rambutnya.

Chen masuk ditemani pelayan yang membawa troli besar berisi semua keperluan yang dipesan Kris tadi.

“Keluarlah… aku ingin mengganti pakaiannya.”Perintah Kris.

Chen tersentak beberapa saat, sampai kemudian ia membungkuk, “Baik Tuan. Jika ada keperluan, saya ada di luar.”

“Terima kasih Chen, ini sudah cukup.” Balas Kris sembari menunjuk troli itu dengan dagu.

“Saya permisi Tuan.” Pamit Chen bersama  pelayan yang bersamanya tadi.

Kris sedikit berlari untuk mengunci pintu, dan masih dengan gerak cepat ia membuka lemari pakaian yang memang sengaja ia siapkan untuk keperluan pribadinya kalau saja ia menginap di kamar hotel itu.

Sedikit kesal karena ia hanya menyiapkan pakaian-pakaian resmi di lemari itu, dan akhirnya ia hanya mengambil satu kemeja biru muda berlengan panjang dan celana kain hitam panjang.

“Baek Hyun-ah…” Seru Kris sembari menepuk-nepuk pipi Baek Hyun, memastikan kesadaran Baek Hyun masih stabil.

“Tuan… Aku bukan pelacur.” Lirih Baek Hyun masih dengan kalimat yang sama… dan dengan suara bergetarnya.

“Bajumu… Akan kulepas agar kau tidak kedinginan.” Ucapnya sekedar meminta izin. Dan dengan sedikit hati-hati, Kris mulai menurunkan zipper jacket Baek Hyun dan membantunya melepas jacket basah itu.

Kris sedikit menelan ludah saat tangannya mulai menyentuh ujung baju kaos Baek Hyun, berniat menariknya ke atas.

 

Tep~

 

Tangan Baek Hyun yang dingin menapak di pergelangan tangan Kris, saat ia sudah berhasil menaikkan baju kaos itu sebatas pusar, “Tuan… Jangan…” Tolaknya dengan nada lemah.

“Baek Hyun-ah… kau jelas tidak akan kubiarkan tertidur dengan keadaan basah kuyup, kau bisa sakit.” Balas Kris.

“Tuan…” Mata sayu Baek Hyun tampak memohon.

“Aku tidak sekeji itu Baek Hyun-ah, aku jelas tidak akan memanfaatkan kesempatan dengan melakukan hal yang tidak-tidak padamu. Saat kukatakan aku mencintaimu, aku serius mencintaimu. Dan aku jelas tidak mungkin berbuat sesuatu yang akan menyakiti orang yang sangat aku cintai. Maka dari itu, percaya padaku.” Lanjutnya meyakinkan.

Baek Hyun berusaha mempertahankan kesadarannya, bisa ia lihat wajah Kris yang diliputi kecemasan, sampai akhirnya ia menyingkirkan tangannya, bermaksud mempersilakan Kris menolongnya.

“Tanganmu dingin sekali Baek Hyun-ah…”Keluh Kris cemas, terlihat dari raut wajahnya itu.

Dan ini dia…

Kaos putih itu akhirnya terlepas sempurna. Menampakkan bagian tubuh atas Baek Hyun yang begitu putih dan mulus, membuatnya mati-matian mengedepankan logika dari pada perasaannya. Karena jika perasaan cintanya begitu menggebu-gebu, bisa jadi saat ini Kris akan langsung menenggelamkan namja yang dicintainya itu ke dalam pelukannya dan takkan melepaskannya sampai kapanpun.

Kris bergegas memasangkan kemeja baru untuk Baek Hyun, mengancingnya cepat agar tubuh topless-nya tidak terpajang cukup lama, selain untuk menyingkirkan niat yang tidak-tidak, Kris juga harus mempertahankan kondisi Baek Hyun agar tetap hangat.

Ia sedikit mengernyit heran saat melihat kemeja yang ia kenakan untuk Baek Hyun cukup kebesaran, atau sangat kebesaran, lengannya sudah ia gulung beberapa kali agar jemari lentik Baek Hyun terlihat. Tapi ukuran kemeja yang besar ini cukup membantu karena ujung kemeja itu hampir menutupi lututnya, untuk itu ia bisa lebih leluasa membuka pakaian bawah Baek Hyun dan langsung menyelimutinya dengan selimut baru.

“Baek Hyun-ah.. kau masih mendengarku?”Panggil Kris.

“Mmp….”Balas Baek Hyun dengan mata setengah terpejam.

“Minum obatnya Baek Hyun-ah…”

“Eung…” Baek Hyun menggeleng.

Kris berdecak, kemudian mengambil satu tablet obat penurun panas, “Kau harus minum obat Baek Hyun-ah.”

Tak ada respon lagi, Baek Hyun sudah memejamkan matanya rapat-rapat.

“Bukan hanya kau yang bisa tegas padaku saat aku tidak meminum obatku, aku juga bisa tegas padamu kalau kau menolak untuk minum obat”Bentak Kris, betul-betul marah.

 

Baek Hyun tidak merespon.

 

“Baek Hyun-ah jebal…” Kris meletakkan punggung tangannya di kening Baek Hyun, kemudian berdecak kesal, “Demammu tinggi sekali Baek Hyun-ah…”

 

Masih tak ada respon.

 

“Baiklah, akan kupaksa. Terserah kau mau menamparku setelah ini, aku tidak peduli”, Kris mengambil gelas kosong, dan mengisinya dengan seperdelapan gelas air hangat, setelahnya ia melarutkan satu tablet obat penurun panas di dalamnya. Sedikit-sedikit ia melirik ke arah Baek Hyun yang sepertinya memang betul-betul tertidur.

Ia pun menghela nafas pasrah, “Mianhae… ini karena aku tidak ingin kau kenapa-kenapa.” Setelahnya ia meminum larutan obat tadi tanpa menelannya, dan perlahan ia dekatkan wajahnya ke wajah Baek Hyun yang tertidur itu.

 

Deg…

Deg..

Deg…

 

Kris berhenti saat jarak antara bibirnya dan bibir Baek Hyun hanya sekitar 3 senti meter. Tetap belum ada respon karena memang sepertinya namja mungil di hadapannya ini sudah betul-betul tertidur.

Dan ketika Kris semakin memperpendek jarak itu, sebuah memori ringan seolah memukul kepalanya.

 

“maafkan aku Tuan, tapi bisakah kau tidak menciumku di bibir?”

 

Benar, sebuah permintaan sederhana saat Kris menjamahnya dulu. Lalu, bukankah ini sama saja dengan menolak permintaan sederhana itu?

Niat Kris memang baik, tapi cara ini jelas salah. Baek Hyun pasti akan terluka saat tahu Kris hendak menciumnya walau tujuannya adalah untuk membantunya minum obat. Kris memejamkan mata dengan beribu pertimbangan lainnya. Tapi intinya… ia tidak mau Baek Hyun lebih terluka lagi dari ini.

 

Kris hendak menjauhkan wajahnya, tapi begitu ia kembali menatap wajah pucat di depannya, terasa seperti berjuta-juta pedang merajam jantungnya. Bibir yang selalu tampak berwarna merah muda alami itu kini membiru pucat, sesekali bergetar karena kedinginan, padahal suhu ruangan itu sudah sangat hangat, dan saat Kris menyentuh kening Baek Hyun dengan punggung tangannya..

 

Kris menggeleng cepat, Baek Hyun harus segera di tolong, dan akhirnya ia pun meneguhkan hatinya untuk melanjutkan niatnya.

Dengan hati-hati Kris menyelipkan tangan besarnya di tengkuk Baek Hyun, berniat menengadahkannya sedikit. Ia tatap wajah pucat yang sepertinya telah kehilangan kesadaran sepenuhnya itu dengan sangat intens, dan tanpa membuang waktu lagi, ia pun akhirnya mendekatkan wajahnya ke wajah Baek Hyun dan menempelkan bibir mereka.

 

Deg…

Deg..

Deg…

 

Dingin sekali, itu kesan pertama yang diterima permukaan bibir Kris saat menyentuh bibir pucat itu. tapi ia tidak ingin menggila, karena memang bukan itu tujuannya.

Tangan kirinya menarik dagu Baek Hyun, berniat membuka mulut namja mungil itu, dan saat ia merasakan ada akses masuk, ia pun menyalurkan larutan obat itu ke dalam mulut Baek Hyun.  Ia tegakkan sedikit leher Baek Hyun agar namja itu tidak tersedak, sampai terdengar suara tegukan kecil, Kris kembali meminum segelas air tanpa menelannya, dan kembali melakukan metode yang sama untuk membantu Baek Hyun minum.

 

Dan ini yang dikhawatirkan Kris.

 

Seluruh cairan itu sudah berpindah, tapi ia masih enggan melepaskan tautan bibirnya. Bahkan ketika Kris kembali merebahkan kepala Baek Hyun ke bantal, bibir mereka tetap menyatu tanpa sekat.

Tangan kanannya menyentuh pipi Baek Hyun dengan lembut, semakin memperdalam ciuman itu dan tidak berniat melepasnya lagi.

Gejolak cinta yang ia rasakan di dadanya begitu bergemuruh, bagaimana tidak, sejak saat itu dan sejak hubungan mereka semakin dekat, Kris bahkan tidak berani bermimpi bahwa ia akan menyentuh bibir mungil yang dipatenkan Baek Hyun sebagai milik suaminya. Dan saat kesempatan itu tiba, Kris betul-betul memanfaatkannya…

 

Deg~

 

Kris memanfaatkan kesempatan?

 

Seketika kalimat itu membuatnya sadar, dan segera membuka matanya yang sempat terpejam karena meresapi sentuhan lembut dari penyatuan bibir mereka. Suara decakan yang begitu halus terdengar begitu Kris dengan tidak relanya melepas tautan itu.

Kini ia tak ubahnya seorang maniak, mencium seseorang saat tidak sadar, dan itu membuatnya mengutuk diri berkali-kali.

 

Ia usap bibir dan dagu Baek Hyun yang basah, kemudian beranjak dari sisinya, merepatkan selimut di tubuh namja mungil itu dan mengecup kening hangatnya dengan penuh perasaan.

“Maafkan aku Baek Hyun-ah, tapi aku terlalu mencintaimu” Lirihnya tulus.

 

~**Payphone**~

 

Chen membulatkan matanya saat sosok yang ia kenal tengah berlari di sepanjang koridor menuju kamar pribadi Kris, dan Chen buru-buru menghampirinya.

“Ada apa Chan Yeol-shii?”Cegat Chen.

“Baek Hyun… Baek Hyun… Baek Hyun-ku ada … di sini kan? Kris … dia bersamanya kan?” Ucap namja tinggi itu sembari berusaha mengatur nafas.

Chen terdiam sejenak, kemudian menyunggingkan senyum, “Aku baru saja mengunci ruangan ini Chan Yeol-shii, dan tidak ada siapa-siapa di dalam. Apa terjadi sesuatu?”

Chan Yeol melangkah mundur, “Lalu kemana Tuan Kris membawanya? Di rumahnya pun tidak ada…” Bentak Chan Yeol tidak sabaran.

“Tuan Kris dalam perjalanan pulang ke rumahnya, mungkin kalian berselisih jalan. Dan kupastikan, dia menyetir sendiri tanpa penumpang.”

Chan Yeol menatap Chen lurus-lurus, kemudian mengacak rambutnya frustasi.

“Apa… terjadi sesuatu dengan Baek Hyun?”

“Jangan katakan apa-apa pada Tuan Kris… Aku sedang mencari Baek Hyun. Permisi” Chan Yeol buru-buru meninggalkan tempat itu.

“Tunggu Chan Yeol-shii…”

“Ada apa lagi Chen? Aku tidak punya banyak waktu…”

“Aku akan menemani anda mencari Baek Hyun”

Chan Yeol terdiam sejenak, kemudian mengangguk, “Geure, kamsahamnida…”

 

~**Payphone**~

Kris berbaring di sebelah tubuh Baek Hyun yang terlentang. Ada handuk kecil yang menempel di keningnya, yang 5 menit sekali di ganti oleh Kris setelah merendamnya di air hangat dan memerasnya. Kedua mata tajamnya tak pernah luput dari wajah malaikat yang tertidur di sebelahnya itu, sedikit takut saat ia lengah dan terjadi sesuatu padanya, maka Kris akan mencabut nyawanya sendiri.

Ia meraih tangan Baek Hyun yang tersembunyi di balik selimut, menggenggamnya sangat erat, memastikan suhu tubuhnya sudah kembali normal.

“Obatnya bekerja” Lirihnya pelan, dengan hembusan nafas lega.

Ia pun menyingkirkan handuk kecil yang menempel di kening Baek Hyun itu, dan menyekanya dengan handuk kering. Semuanya serba hati-hati, karena ia takut sedikit saja kesalahan akan membuat kondisi Baek Hyun semakin parah.

Karena memang… sosok ini begitu rapuh.

 

Tanpa sengaja Kris melirik ke sebuah jam kotak di atas nakas. Sebuah senyum kecil terukir saat ia memastikan bahwa hari telah berganti 5 menit yang lalu.

Ia sedikit bergeser, dan mendekatkan mulutnya ke telinga Baek Hyun, “Saengil chukkaeyo Baek Hyun-ah… kudoakan yang terbaik untukmu, selamanya. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun membuatmu menangis lagi. Saranghae…” Bisiknya, kemudian mengecup kening Baek Hyun lembut.

“Eung…” Keluh Baek Hyun dengan sedikit menggeliat. Itu membuat Kris tersentak dan buru-buru menjauhkan tubuhnya.

“Baek Hyun-ah Gwenchana?”Tanya Kris antusias.

Baek Hyun sedikit mengerjapkan matanya, masih terasa sangat lemah dan kepalanya sangat berat, “Tuan…”

“Ne ini aku, bagaimana perasaanmu? Apa kepalamu pusing?”

Baek Hyun menggeleng lemah, “Aku baik-baik saja.”

 

Kris terhenyak, “Baik-baik saja apanya… tadi kau demam tinggi, wajahmu pucat. Sudah kubilang jika kau membutuhkanku, kau tidak perlu ke tempat itu, bukankah aku sudah memberimu ponsel? Lihat apa yang kau lakukan? Hujan sangat deras, dan kau dengan nekatnya menerobos hujan itu, apa kau mau mati?” Bentak Kris tanpa sadar.

“Tu.. Tuan…”

Kris terhenyak, “Ah maaf… Aku tidak bermaksud… Akh…” Ia pun beranjak dari tempat itu dan duduk di tepi tempat tidur dan membelakangi Baek Hyun.

“Kau marah padaku Tuan?”

 

Kris tidak menjawab.

 

“Kumohon jangan marah padaku. Chan Yeol sudah marah padaku, ia membenciku, jika kaupun marah padaku, aku harus kemana lagi?”

Kris menghela nafasnya kemudian menggeleng, “Aku tidak marah padamu Baek Hyun-ah… Tidakkah kau melihat bahwa aku terlalu mengkhawatirkanmu? Melihat kondisimu yang sekarat, aku hampir… gila…”

 

Hening sesaat.

 

“Apa… yang dikatakan Chan Yeol padamu?” Tanya Kris dingin.

 

Baek Hyun bungkam.

 

“Aku akan bicara padanya.”

“Jangan Tuan… kumohon”

“Lalu kau akan membiarkan Chan Yeol menganggapmu seperti itu setelah apa yang kau lakukan selama ini demi dirinya?”

 

Baek Hyun kembali tidak menjawab.

 

“Aku… Tidak terima jika kau disebut sekotor itu, terlebih dari orang yang membuatmu harus berjuang mati-matian seperti itu… aku…”

“Tuan…”

Kris menghela nafas panjangnya sekali lagi, masih tak ingin menoleh.

“Jika ada yang harus dipersalahkan dalam hal ini. Itu aku, bukan justru kau Baek Hyun-ah. aku yang memanfaatkanmu, aku yang memaksamu, aku yang menyudutkanmu hingga kau tidak punya pilihan lain, dan jika ada orang yang harus bertanggung jawab dalam hal ini… orang itu aku. Bukan kau. ini gila, hanya mendengarnya darimu bahwa kau dikatai pelacur oleh orang yang mati-matian kau perjuangkan kehidupannya membuatku hampir… akh…” Kris menggeleng, mengusap cepat air mata yang menetes tanpa ia sadari. Namja setegas dirinya menangis jelas ada alasan kuat di baliknya, dan ia ingat, ia tidak pernah meneteskan air mata sedikitpun dengan alasan apapun kecuali hal itu menyangkut dengan…

 

Byun Baek Hyun!

 

“Tuan…”

 

Kris meletakkan kedua tangannya di samping, berniat menjadikannya penumpu untuk berdiri, “Maaf… mungkin karena ruangannya terlalu hangat, mataku sedikit perih, aku harus…”

 

Greb~

 

 

Mata Kris membelalak saat ia merasakan dua tangan indah terulur memeluk perutnya. Ia hendak berbalik tapi Baek Hyun yang memeluknya dari belakang itu menolak.

“Baek Hyun-ah…” Lirih Kris, masih tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

“Aku tidak ingin mendengarnya lagi.” Balas Baek Hyun dengan suara lemahnya.

“Maaf.. Aku__”

“Aku tidak ingin mendengar hal apapun saat kau mempersalahkan dirimu… Aku… tidak suka, Tuan.”

 

Deg~

 

 

“Baek Hyun-ah?”

“Aku sudah meminta dan menerima banyak hal darimu, tapi… masih bisakah aku meminta satu hal lagi?”

“Apapun Baek Hyun-ah… Apapun”

Baek Hyun menghembuskan nafasnya, menyapu punggung Kris, membuat namja tinggi itu semakin berdebar.

“Aku terlihat semakin menyedihkan saat kau mempersalahkan dirimu, Tuan. Jadi bisakah kuminta, ini terakhir kalinya aku mendengar hal itu? Dan juga… Kumohon jangan menangis… Karenaku”

 

Deg~

 

“Kenapa… Aku tidak boleh menangis karenamu?”

Baek Hyun menelan ludahnya, “Karena aku… Tidak suka melihatnya…”

Kris menyentuh punggung tangan indah yang melingkar di perutnya, mengusapnya pelan, “Bahkan jika air mata ini menetes dengan sendirinya?”

 

Baek Hyun tidak menjawab.

 

“Melihatmu sekarat, melihatmu terluka, melihatmu tersakiti, yang kuterima dan yang kurasakan justru ribuan kali lipat.”

“Jangan Tuan… Jangan ikut terluka karenaku.”

“Bisakah aku mengendalikannya Baek Hyun-ah?… Tidak, semua ini di luar kontrolku.” Kris meraih tangan kiri Baek Hyun hingga pelukan di perutnya itu terlepas, dan perlahan ia geser tangan indah itu ke dadanya. Membiarkan Baek Hyun merasakan denyut pilu di sana, “Di sini Baek Hyun-ah… asalnya dari sini. Jadi tidak bisakah kutunjukkan kesedihanku untukmu? Tidak bisakah aku menangis untukmu? Menunjukkan bahwa aku… Tidak sanggup membiarkanmu terluka?”

Baek Hyun memejamkan matanya, kemudian menumpukan keningnya di punggung Kris, “Jika seperti itu Tuan… Maka menangislah untukku, bukan karenaku. Menangislah bersamaku… Bukan menangis di belakangku.”

 

Deg~

 

Tak adalagi suara, hanya deru nafas teratur yang kemudian berubah menjadi isakan halus.

 

Tes…

 

Baek Hyun baru saja merasakan setetes air menyapa punggung tangannya, untuk itu ia kembali mengeratkan pelukannya di dada Kris.

 

“Aku mencintaimu… Byun Baek Hyun” Lirih Kris di tengah isakannya.

Baek Hyun mengangguk, sembari mengatupkan mulutnya rapat-rapat, air matanya ia biarkan membasahi punggung lebar Kris, “Aku tahu….”

 

Kris memejamkan matanya, membuat genangan air di matanya tumpah, dan detik berikutnya ia melepas pelukan Baek Hyun hingga ia mampu berbalik dan menatap wajah kusut namja yang sangat ia cintai itu. dan terakhir, perasaan cinta yang ia miliki menuntunnya menghempaskan diri untuk memeluk tubuh mungil itu. membuat Baek Hyun limbung dengan punggung lebih dulu terhempas ke tempat tidur.

“Tuan…” Lirih Baek Hyun saat Kris menindihnya dan membenamkan wajah di atas bahu sempit Baek Hyun.

“Baek Hyun-ah… Bisakah kuminta satu hal padamu?”Bisik Kris pelan.

“Apa itu Tuan?”

“Kumohon… Panggil aku dengan namaku”

 

Deg~

 

“Tu…”

“Namaku… Namaku, Baek Hyun-ah…”

Baek Hyun memejamkan mata pelan, mencoba mengatur nafasnya yang memburu,

 

 

“K… Kris…”

 

Deg~

 

“Ne Baek Hyun-ah…”

 

“Kris…”

“Ne Baek Hyun-ah…”

Baek Hyun mengulurkan tangan, dan akhirnya memeluk punggung namja tinggi itu, “Kris…”

Dan setiap kali mulut namja mungil itu menyerukan namanya, jantung Kris merespon dengan sangat hebat. Degupan yang begitu keras, mempercepat desiran darahnya naik ke wajah dan membuatnya memerah, juga ke otak membuatnya memerintahkan syaraf motoriknya untuk bergerak,

Ia mengecup bahu sempit Baek Hyun perlahan, kemudian sisi leher Baek Hyun di bawah telinga, naik ke belakang telinga, kemudian kening.

“K… Kris?” Keluh Baek Hyun.

Kris menjauhkan wajahnya dan menatap Baek Hyun lembut, tanpa kata-kata, hanya isyarat bermakna lewat sorotan mata.

Baek Hyun merasakannya. Tatapan penuh cinta itu tertangkap oleh kedua mata mungilnya, menuntunnya mengangkat tangan kiri dan menyenuh pipi kanan Kris.

Namja tampan itu memejamkan mata, menoleh ke tempat di mana tangan indah itu menapak, hingga bisa ia kecup dengan penuh perasaan.

“Kris…”

“Hm…”

“Apa… Kau… Tidak lelah mencintaiku?”

Kris membuka matanya kemudian kembali menatap Baek Hyun, ia menggeleng, “Tidak… Bahkan jika suatu saat kau yang lelah karena aku terus mencintaimu dan itu menyusahkanmu.”

Baek Hyun menghela nafasnya, “Aku… Mencintai… Suamiku, Park Chan Yeol…”

“Ne… Aku tahu, aku tidak pernah menuntutmu untuk membalas perasaanku”

“Tapi… Aku…” Baek Hyun menggigit bibirnya, ragu, “Aku… Selalu ingin… berada di… dekatmu” Lanjutnya gugup.

 

Deg…

 

“Baek Hyun-ah?”

“A… Aku tidak tahu dengan cara apa lagi aku membahasakannya tuan, ah maksudku… Kris… Ini sungguh berbeda, dan aku tahu ini salah. Tapi…”

“Katakan… Kumohon jangan menggantungnya.”

“A… Aku… Aku… Kurasa Aku… Tidak hanya sekedar menyayangimu… Kris…”

Mata elang Kris membulat, “Baek Hyun-ah???”

.

.

.

.

 

 

Apakah maksud dari ucapan Baek Hyun? Nantikan di chapter berikutnya…

 

 

 

 

 

 

Hohohoho… papaan ane.

Ya intinya bersambung dulu deh…

ALF malas bacot sekarang, kapan-kapan aja bacotnya.

Anyway hahahahaha Wo-o… kamu ketahuaaannn…

Wkwkwkw readers mulai nakal ne, ntu viewersnya FF kaisoo waiting for the diviner, 2 hari sejak terbit udah 200an kali views(sekarang udah hampir 500) dan yang ninggalin jejak sekitaran 50 readers, , hayo…hayoo siapa yang nge SR, mentang2 oneshot, komennya malas *plak…

ALF ada  FF Chanbaek oneshot. Tapi malas posting kalo SR sebanyak itu mah.

FF oneshot yang sebenernya proyek birthdaynya Chanyeol november lalu, tapi gegara fokus ama L&P, amaterasu, PP ama beberapa FF baru, maka terabaikanlah FF itu, bahkan ALF lupa simpen di mana. Sekarang sih udah nemu, tapi malas posting ah *belagu.

 

Waks paan nih, katanya malas bacot, wkwkwkw udah ding, RCL tetep, udah hampir menuju ending nih.

Adioooosss… Salam asghddsjdryetdg

316 thoughts on “[FF YAOI]- PAYPHONE~ KrisBaek//BaeKris~ [Chapter 5]

  1. Akh tanggung bgt sih endnya kak .. Gak jadi netes ni >_<
    alam pun ikut bersedih huhuu, pas bgt mereka debat d tengah2 hujan lebat ..
    Gemes bgt sm baekcun aduduu dia kecil2 serakah bo wakkaka
    sama si ini mencintai, sama si anu menyayangi … Haha jadi mending dicintai apa disayangi ini *selamat berpusing ria

  2. Ya ampunnn. Ya aulohhhh. Aku harap baek mencintai krisss. Sesakkkk jantung anee sesakkkk hikssss. Sumpah tegang bacanya. Setiap katanya bikin hanyut. Authorrrrr daebakkk!!!!! Ceye jahat. Salah semdiri kenapa kek gitu ke baekkie.
    Suka banget pas kris lgi ngerawat baek. So swettt yaaulohhh. Tereak tereakkkk sendiri udh tmgah malemmm.
    Udh brapa kali bilang ini ya. Aku harap author ga bosan bacanya.
    Miannnnnn aku telat baca😢

  3. jngan cinta pliss..hue kasian chamyeol..
    demi apa kasian chanyel ..deuuhh wae?!!
    hiee aku gatau mau komen gimana..gakuat mikirin nasib ma perasaan chanyeol T.T

  4. Yahhhhhhh kok kesannya baekhyun selingkuh dri chanyeol yaaa???? Sdih bner dehhh
    Tu kan bnerr chanyeolnya kumatt, untung gpp. Klo smpe skit kya dlu lgi gmnaa??
    Apalgi wktu chanbaek debat. Aduhhhh gk kuattt ngeri bgtt wktu chanyeol blang baekhyun pelacurr
    Jgn smpe mrka jdi pisahhhh
    Jgn smpe mrka ceraiiiiii
    Knpa sihh? Baekhyun klo ada mslah psti lrinya k kriss?
    Jgn slingkuh dong baekkk, kshan chanyeolnyaaa
    Dan, yeah…. pda akhirnya kris bsa dptin bibirnya baekhyun jgaa. Ksmpatan itu nmanyaaa
    Jgn smpe baekhyun jdi ska jga sma krisss

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s