[FF YAOI] No Regret Life | ChanBaek Ft All Couple | – Chapter 3


nrl3

Fanfiction-EXO Couple

Tittle: No Regret Life [Machine]

Author: AyouLeonForever

Cover pic/poster edited by: AyouLeonForever

Genre: Yaoi, drama(?), Romance, Sad (?) Romance, action(?) dll

Length: Chaptered tergantung peminat

Rating: TTM (?), PG 15

Pairing: OTP, Crack Pair

Main Cast:

  • Byun Baek Hyun

  • Park Chan Yeol

  • Kim Jong In/Kai

  • Do Kyung Soo

  • Oh Se Hun

  • Lu Han

  • Kris

  • Huang Zi Tao

  • Su Ho

  • dll

Disclaimer: GOD

Copyright: AyouLeonForever™

Summary: “Chan Yeol lebih memilih Baek Hyun dari pada phoenix yang merupakan sebagian dari hidupnya karena telah menemaninya selama bertahun-tahun. Alangkah merasa bersalahnya Baek Hyun karena gara-gara sikap konyolnya, Phoenix akhirnya sekarat karena ditabrak Chan Yeol, bagaimanakah nasib Phoenix? Eh nasib Baek Hyun maksudnya” (Ini kok lama-lama ALF jadi ngerasa parto di sini? haih, abaikan)

Warning: Boys Love, Out of character, Little bit lime, Bad Words,

Not for kids <–  kurang Gede??? Yang penting ane udah kasih warning yah, kalo ane nemu lagi ada bocah apdet status perihal FF ini terlalu vulgar, banyak lime dan kata-katanya kasar, Ane sekalian bakal protek semua chap depan, dan yang bisa dapat PW yang umurnya di atas 15 tahun. Mau?

Udah jelas-jelas ada tulisan warning juga, kalo gak suka beginian gak usah baca dek, kasihan otak polosmu kalo gak sanggup baca FF begini. ALF gak mau jadi author yang nyesatin bocah(?), makanya ALF gak pernah nyelipin scene lemon di FF nya ALF.

Oke… petik nilai postifnya (entah di bagian mana, ALF juga ragu bakalan ada), yang negatifnya buang jauh-jauh, hindari dan jangan di tiru. Nah ALF langsung adi Uztazah kan… ckckckckck

Alhamdu…. Lillaaahhh

 

Oke, ini ALF antara sadar dan tidak sadar ngetik ini, maklum aja otak lagi gak beres.

Check this out.

 

~ No Regret Life ~

Chapter 3

Author POV

Se Hun mengerutkan keningnya saat sebuah mobil mewah yang lampu kirinya pecah dan kapnya sedikit penyok terparkir di dekatnya yang tengah membantu Kai memperbaiki rem motornya.

Lebih terkejut lagi saat yang keluar dari mobil itu adalah Chan Yeol  tanpa banyak bicara seperti biasanya. Ia mengeluarkan sebuah koper besar dari jok belakang.

“Bawa ini ke kamar Lu Han,” perintah Chan Yeol, entah kepada Kai atau Se Hun. Yang jelas bukan Lu Han dan Kyung Soo yang saat itu tengah merangkai bunga(?), karena dijamin kedua namja itu tidak akan bisa membawanya sampai lantai dua.

Setelahnya Chan Yeol buru-buru masuk ke dalam, naik ke lantai dua dan membanting pintu kamarnya hingga suara debuman itu terdengar hingga ke depan.

4 namja itu bertatapan satu sama lain, berharap ada salah satu dari mereka yang mengerti, kenapa Chan Yeol yang tadi pergi sambil tertawa-tawa kini pulang dengan keadaan sangat marah?

Blam…~

 

Satu orang lagi turun dari mobil, dan itu Baek Hyun.

Ini lebih mengherankan lagi karena namja itu menangis cukup keras.

Kyung Soo langsung berlari menghampirinya, “Baek Hyun-ah gwenchana?”

Lu Han ikut menghampirinya, “Kalian bertengkar?”

Baek Hyun tidak menjawab, dia lebih sibuk menangis.

Puk~

 

Se Hun menepuk pundak Kai, sepertinya ingin mengatakan sesuatu.

“Waeyo Se Hun-ah?”

‘Apa Chan Yeol memperkosanya?’

Kai mengerutkan kening, berharap ia salah mengartikan bahasa isyarat Se Hun, “Bilang apa?”

Se Hun menghela nafas, dan kembali menggerakkan tangannya sesuai bahasa isyarat orang bisu pada umumnya, ‘kubilang… sepertinya Baek Hyun betul-betul diperkosa sampai dia menangis begitu, tapi kenapa Chan Yeol yang marah?’

“Ck, Ah… palingan mereka bertengkar. Memangnya kapan mereka tidak bertengkar? Jadi sudahlah abaikan saja,” Kai kembali melanjutkan kegiatannya.

“Phoeniiiiiiiiiiiiiix…” rintih Baek Hyun dengan pilunya. Hal itu membuat Kai langsung menoleh.

“Benar juga, mana phoenix?” tanya Kai heran.

“Semua salahku…” Baek Hyun kembali menangis keras.

“Ck, apa lagi ini?” Kai menghentikan kegiatannya kemudian menarik tangan Baek Hyun untuk duduk di bangku panjang depan Red Villa. “Ada apa sebenarnya? Dan mana Phoenix?” tanya Kai lagi.

Baek Hyun sesenggukan, berusaha mengontrol tangisnya, “Phoenix… Phoenix”

“Iya Phoenix kenapa?”

“Phoenix tertabraaaaaaakkkkkk!!!”

Mata Kai membelalak, “MWO????”

Kyung Soo membungkam mulutnya, Se Hun menjatuhkan perkakas di tangannya dan menatap Baek Hyun terkejut. Sementara Lu Han yang tidak begitu tahu siapa itu Phoenix hanya bisa turut berduka.

“Si… Siapa yang menabraknya?” tanya Kai lagi. Dan itu justru membuat Baek Hyun semakin menangis. “Ya Tuhan, sudahlah, berhentilah menangis,” Kai memeluk Baek Hyun dan mengusap punggungnya.

“Park Chan Yeol yang menabraknya,” rintih Baek Hyun lagi.

“MWORAGO???” Kali ini Kai semakin terkejut, Se Hun hampir menjatuhkan motor milik Kai, si Anonymous, karena memang Kai tidak segila Chan Yeol untuk memberi nama pada motornya.

“Semua kesalahanku, semua karena aku. Kubilang Park Chan Yeol lebih menyayangi Phoenix dan tidak mau Phoenix kenapa-napa sehingga ia menolak untuk membawakan barangku ke sini. dan akhirnya…” Baek Hyun menunjuk mobil Ayahnya yang juga rusak di kap kiri depan, “Chan Yeol menabraknya dengan itu.”

Kyung Soo menghampiri Baek Hyun dan ikut memeluknya. Sementara Lu Han hanya bisa tercengang.

“Ta… Tapi Phoenix tidak mati kan?” tanya Lu Han cemas. Membuat Baek Hyun berhenti menangis, kemudian menoleh pada Lu Han, diikuti Kai, Kyung Soo dan Se Hun.

“W… Waeyo? Aku hanya cemas, kalau sampai korban yang ditabrak Chan Yeol itu mati, maka kalian akan bermasalah.”

Se Hun menahan senyumnya di sana, tidak menyangka bahwa ada anggota baru yang sepolos ini setelah Baek Hyun. Kyung Soo pun tidak tega untuk tertawa hingga ia hanya bisa menutup mulutnya.

Baek Hyun masih sesenggukan kemudian melepaskan pelukan Kai, “Phoenix itu nama motor kesayangan Chan Yeol, Lu Hannie. Motor merah kebanggaannya, yang selalu ia bawa kemana-mana.”

“Motor? Lalu kenapa Chan Yeol menabraknya kalau memang itu motor kesayangannya?”

“Semua kesalahanku, kebodohanku…”

Kai menghela nafas panjang kemudian mengusap puncak kepala Baek Hyun, “Tenanglah, aku dan Se Hun akan mengambil Phoenix. Kau meminta maaflah pada Chan Yeol.”

“Sudah ribuan kali, tapi dia tidak mau memaafkanku…”

“Bukannya tidak mau, dia hanya masih marah. Tunggu sampai dia tenang lalu bicara lagi padanya. Masalah phoenix, kita masih punya Se Hun untuk memperbaikinya. Semoga kerusakannya tidak parah.”

Baek Hyun mengusap air matanya pelan, ada  sedikit kelegaan saat Kai memberinya harapan bahwa Phoenix akan selamat, “Jeongmal..??”

Kai membantunya menyeka sisa air mata yang tertempel di pipi mulusnya, “Hm… Jadi jangan menangis lagi.”

“Hm, gomawo Kai,” ucap Baek Hyun sambil tersenyum sangat manis. Senyum yang terkadang membuat orang-orang yang melihatnya merasa damai.

Kai balas tersenyum, kemudian mengusap puncak kepala Baek Hyun. Ada kalanya ketika ia begitu gemas dengan kekasih rekannya ini, ia akan melakukan hal itu. tidak lebih, karena kalau ia nekat melakukan lebih, maka akan lebih banyak hati yang tersakiti.

“Sekarang pergilah meminta maaf.”Usul Kai.

“Jangan sekarang,” cegat Kyung Soo.

“Waeyo?”

“Ada baiknya kita membiarkan Chan Yeol tenang dulu. Melihat kondisinya tadi, sepertinya cukup berisiko mengirim Baek Hyun ke kamarnya.”

Seketika bulu kuduk Baek Hyun merinding akibat pernyataan Kyung Soo, dan ia menjadi cemas sendiri.

“Jadi kau pikir Chan Yeol akan melakukan hal buruk pada Baek Hyun? Tidakkah kita bisa mengambil pelajaran dari hal ini? Phoenix saja yang notabenenya adalah rekan sehidup semati Chan Yeol, ia hancurkan begitu saja hanya karena Baek Hyun mengira posisinya di hati Chan Yeol berada di bawah phoenix. Itu artinya Chan Yeol sangat menyayangi anak ini.”

Baek Hyun menoleh pada Kai, dan menatapnya penuh harap, “Apa… benar begitu?”

“Bukankah kau paling tahu sendiri sesayang apa Chan Yeol pada Phoenix? Pernyataanmu pada Chan Yeol secara tidak langsung memintanya memilih antara kau dan Phoenix. Dan lihatlah hasil akhirnya.”

Baek Hyun menunduk, “Arasso… aku akan menemui Park Chan Yeol.”

“Berusahalah, soal Phoenix serahkan saja pada kami.”

“Hm, kalau misalnya aku tidak keluar dari kamar Chan Yeol sampai besok, tolong beritahu Ayahku kalau aku mencintainya, dan tolong makamkan aku di sebelah makam ibuku.”

Kai dan Kyung Soo bertatapan sejenak, sementara Lu Han dan Se Hun hanya melempar senyum tipis.

“Kau ini kenapa setakut itu pada kekasihmu sendiri? Kalaupun dia melakukan hal-hal yang aneh padamu, kupikir kau justru akan menyukainya,” ujar Kai, seketika mendapat tatapan tajam dari Kyung Soo.

“Seperti apa?” tanya Baek Hyun polos.

“Maka dari itu kubilang temui dia, dan cari tahu sendiri.”

“Eum, baiklah…. tapi ingat pesanku tadi.”

“Arasso… Arasso.”

“Kai…”

“Apalagi…”

“Aku akan baik-baik saja kan?”

“Byun Baek Hyun!!!”

~*N*R*L*~

Baek Hyun membuka pintu kamar Chan Yeol yang memang ternyata tidak dikunci, selanjutnya ia menutupnya kembali setelah ia berada di dalam.

Chan Yeol di sana, hanya dengan kaos tanpa lengan berwarna hitam berbaring tengkurap di atas ranjang king size-nya dan membenamkan wajahnya di atas bantal, entah sejak kapan.

“Hei… Breng_…. eum… Park Chan Yeol…” panggil Baek Hyun takut-takut.

Hening… tak ada sahutan.

“Aku ingin bicara…”

“Aku ingin minta maaf, Park Chan Yeol…”

“Ma… Maaf atas kebodohanku, tadi itu aku, eum… sebenarnya aku tidak bermaksud mengatakan hal itu… aku,” Baek Hyun menggaruk kepalanya frustasi, ia tidak pernah membayangkan, meminta maaf pada seorang Park Chan Yeol akan sebegitu susahnya.

Chan Yeol masih tidak menggubris, ia malah memalingkan wajahnya dan membelakangi Baek Hyun. Dan itu lebih menakutkan dari pada saat Chan Yeol mengancam akan memperkosanya. Baek Hyun semakin gelisah, hawa di sekitar Chan Yeol terasa menakutkan dan ingin rasanya Baek Hyun kabur dari tempat itu sebelum Chan Yeol murka dan melakukan hal buruk pada Baek Hyun.

Tapi… Baek Hyun kembali percaya pada sesuatu…

“Tidakkah kita bisa mengambil pelajaran dari hal ini? Phoenix saja yang notabenenya adalah rekan sehidup semati Chan Yeol, ia hancurkan begitu saja hanya karena Baek Hyun mengira posisinya di hati Chan Yeol berada di bawah phoenix. Itu artinya Chan Yeol sangat menyayangi anak ini.”

Baek Hyun meneguhkan hatinya berkat perkataan Kai itu, apapun yang terjadi, ia harus mendapatkan maaf Chan Yeol.

Tep…

Tep…

Tep…

Dengan langkah takut-takut Baek Hyun mendekat ke arah tempat tidur Chan Yeol dan berdiri persis di sebelahnya.

“Park Chan Yeol,” lirih Baek Hyun sembari meremas ujung sweaternya.

Tak ada sahutan.

“Maafkan aku. Mengenai phoenix… eum… aku hanya bercanda, intinya… aku tidak akan mengulanginya lagi. Tadi aku tidak betul-betul berniat memintamu memilih antara aku dan Phoenix,… entahlah, aku bingung sendiri kenapa ucapan konyol itu keluar dari mulutku. Jadi,” Baek Hyun berdecak kesal, baru kali ini ia merasa sangat berantakan dalam berbicara, “Park Chan Yeol… kumohon, maafkan aku… jangan marah padaku.”

Chan Yeol masih diam. Dan itu membuat Baek Hyun semakin kacau.

“Park Chan Yeol… kumohon jangan marah, jangan mendiamkanku seperti ini…”

“Kau betul-betul marah padaku?” bibirnya kembali bergetar, dan sesekali ia menyeka air matanya yang jatuh perlahan.

“Park Chan Yeol kepar__ ah, maksudku… Park Chan Yeol… kau tidur?”

Baek Hyun menghela nafas pasrah, mungkin belum saatnya ia menerima maaf dari Chan Yeol, “Arasso… sepertinya apa yang kulakukan sudah betul-betul tidak termaafkan.”

“Aku… kembali ke rumah saja kalau begitu.”

Masih tak ada sahutan.

Baek Hyun menghela nafas lagi kemudian berbalik, melangkah ke arah pintu kamar, berniat membukanya. Persis saat tangannya sudah menyentuh kenop pintu itu, derap langkah cepat terdengar, dan saat Baek Hyun memutar kenopnya dan menariknya sedikit, pintu itu langsung tertutup kembali dengan cukup keras. Penyebabnya disadari Baek Hyun adalah sebuah lengan yang cukup panjang dan kekar melewati bahunya dan menapak di pintu itu hingga membuatnya tertutup kembali.

Setelahnya, tangan kekar yang satu lagi melingkar di dada Baek Hyun, menariknya hingga punggung Baek Hyun menyentuh dada yang cukup bidang.

Chan Yeol… memeluknya dari belakang.

Namja mungil itu tersentak, dan belum sempat ia menoleh, sebuah dagu runcing sudah menapak di pundaknya.

“Park… Chan Yeol,” lirih Baek Hyun antara kaget dan ….senang? Entahlah.

“Aku tahu nama lengkapku Park Chan Yeol, tapi tidak usah memanggilku selengkap itu.”

“A… A… Aku… Minta… Maaf.”

Hening…

“Kau… masih marah padaku?”

Sebuah hembusan nafas panjang menyapu leher Baek Hyun, Chan Yeol melepas rangkulannya, memutar tubuh Baek Hyun hingga kini ia bisa berhadapan dengan ‘kekasih’nya itu. ia sandarkan punggung Baek Hyun di pintu, masih dengan tangan kanan menapak di sana, persis di sebelah telinga Baek Hyun, “Kau payah sekali.”

“MWO?”

“Bukan begitu caranya meminta maaf.”

“La… Lalu?”

Chan Yeol menyentil hidung mancung Baek Hyun sejenak, membuat namja mungil itu mengaduh, “Kau lihat tadi itu aku marah, seharusnya kau langsung berbaring di sebelahku dan memelukku, aku pasti akan langsung memaafkanmu. Tindakan itu jauh lebih berguna dari pada sekedar ucapan.”

Baek Hyun melengos, entah kenapa dia kembali jengkel dengan ‘kekasih’nya ini, “Aku mana berani.”

“Kenapa tidak berani? Aku ini kekasihmu.”

“Ne, dan kau sudah memberitahu semua orang tentang hal itu, jadi tidak perlu mengingatkanku.”

“Lalu kenapa tidak berani.”

“Kalau aku memelukmu, dan kau balas memelukku bagaimana?”

“Apa salahnya? Memang seharunya begitu kan?”

“Kalau tidak dilepas bagaimana?”

Chan Yeol tidak bisa menyembunyikan senyumannya. Dia memang tidak bisa bertahan untuk marah terlalu lama pada namja manis di depannya ini, “Tunggu… bukankah keberadaanmu di sini memang untuk meminta maaf padaku? Kenapa kau justru mengajakku berdebat lagi.”

Baek Hyun menunduk dengan wajah memerah, “A… Aku… tidak bermaksud…”

“Aku belum memaafkanmu.”

Baek Hyun jelas tersentak, “Ne?”

“Karena aku belum menerima bentuk permintaan maaf tulusmu, kau terkesan sangat terpaksa.”

“Tapi aku betul-betul serius meminta maaf.”

Chan Yeol tersenyum, “Kubilang tindakan itu lebih berguna dari pada ucapan.”

Mata kecil Baek Hyun membulat, “Jadi kau memintaku memelukmu?”

“Dan cium di sini juga,” Chan Yeol menunjuk bibirnya, “Yang lama.”

“Hueekkk… Kau marah saja sana, terserah,” Baek Hyun hendak berbalik untuk membuka pintu.

“Kau serius ingin aku marah?”

Deg~

Baek Hyun menelan ludah, seketika membeku di tempat.

“Ya sudah… keluarlah,” Chan Yeol menyingkirkan tangannya, kemudian berbalik dan kembali menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.

“Park Chan Yeol…”

“Keluarlah, moodku sedang jelek.”

Tidak ada sahutan lagi, dan Chan Yeol sempat berpikir bahwa anak itu betul-betul keluar. Tapi saat ia baru saja hendak menoleh ke arah pintu, ia merasakan seseorang berbaring di belakangnya dan lengan mungil itu akhirnya melingkar di pinggangnya.

Chan Yeol berusaha menyembunyikan senyumnya, dengan sangat tidak sabar ia  menoleh pada Baek Hyun. Seperti mimpi, kekasihnya itu langsung membenamkan wajah mungilnya di dada bidang Chan Yeol.

“Masih marah?” lirihnya sangat pelan, terkesan malu sekali. Dan tanpa melihat secara langsungpun, Chan Yeol sudah tahu pasti kalau wajah Baek Hyun saat ini sudah semerah tomat.

“Masih,” Chan Yeol mati-matian menyembunyikan senyumnya. Bayangkan selama hampir setahun, mana mau Baek Hyun memeluknya seperti ini. Kecuali saat mereka berboncengan tentunya, jelas saja Baek Hyun harus memeluk Chan Yeol sebagai pegangan. Ini pengecualian, walaupun sudah tidak terhitung berapa kali Chan Yeol memeluk Baek Hyun, tapi belum pernah satu kalipun Baek Hyun yang memeluknya terlebih dulu.

Baek Hyun menjauhkan kepalanya dan mendongak sedikit, “Haih… apalagi?”

“Tidak ikhlas?”

Baek Hyun mengatupkan rahangnya rapat-rapat, bahkan dalam keadaan seperti inipun Chan Yeol tetap membuatnya sakit kepala, “Aku ikhlas…”

“Cium…”

Mata Baek Hyun membelalak, hendak rasanya ia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya. Mendengar nada manja dari Chan Yeol membuat terlinganya berdengung dan perutnya mual, “Ya sudah… cium saja. Bukankah kau juga tidak pernah izin untuk menciumku?”

“Maksudku… kau yang menciumku.”

“Kau gila???”

“Ani, hanya masih marah.”

Baek Hyun mendesis, “Arasso… tutup matamu.”

“Shireo… aku ingin melihat wajahmu saat menciumku.”

“YA! Kau mengerjaiku? Sialan!”

Chan Yeol hanya diam dan menunggu. Hanya mengangkat kedua alisnya, Baek Hyun sudah cukup terintimidasi.

“Arasso… Arasso… memangnya kapan kau tidak licik? Namja brengsek!” Baek Hyun pun mengangkat wajahnya hingga posisi wajahnya persis di atas wajah Chan Yeol.

Chu~

Hanya sekilas, tapi itu sukses membuat wajah Baek Hyun memanas.

“Ck, kalau kau sudah membuatku gemas begini, lama-lama kau betul-betul akan kuperkosa. Ciumnya yang lama…”

“Arrrggghhh,” Baek Hyun memekik frustasi, ditangkupnya kedua pipi Chan Yeol dengan kedua tangan mungilnya, menunduk perlahan dan menempelkan bibirnya di sana. Bisa ia rasakan Chan Yeol tertawa saat bibir mereka masih bersentuhan. Dan saat Baek Hyun hendak melepas ciumannya, Chan Yeol lebih dulu menahan tengkuk namja mungil itu, menariknya lebih rapat, membuat ciuman itu terkesan lebih dalam lagi.

Mata Baek Hyun membelalak saat Chan Yeol mulai memainkan manuver lidahnya, dan dengan sangat jengkel ia pun menggigit lidah Chan Yeol sebelum namja itu bertindak lebih.

“Akkkhhhh.”

“Sudah kuduga kau itu sengaja. Sekali brengsek tetap brengsek!” bentak Baek Hyun saat ia berhasil lepas.

“Hei… itu pertama kalinya kau menciumku duluan, jadi jangan salahkan aku kalau aku gemas.”

Baek Hyun mendesis, “Jadi selesai kan? kau sudah tidak marah kan?”

Chan Yeol tersenyum kemudian mengusap bibir Baek Hyun yang basah, “Hm, anggap saja sudah selesai, tapi aku serius. Kalau kau mengulangi ucapanmu itu, aku akan menghabisimu.”

Baek Hyun terhenyak sekejap, ia percaya kalau Chan Yeol memang betul-betul marah tadi, “Nnn… Ne…”

“Bagus, karena kau memang harus menurut padaku, kau itu milikku.”

“Ck, walau aku protes pun kau tidak akan mendengarkan, jadi aku hanya bisa mengiyakan.”

Chan Yeol tertawa lagi kemudian merengkuh tubuh Baek Hyun mengangkatnya sedikit hingga posisinya berubah.

Chan Yeol menindihnya.

Baek Hyun mengerjap-ngerjapkan matanya gugup, “Ya! Namja keparat, ma… ma… mau apa kau?”

“Tenang… Tenang, aku tidak mood untuk memperkosamu sekarang.”

“Lepaskan aku brengsek!”

Chan Yeol tersenyum, “Aku sudah tidak marah, tapi moodku masih jelek, kau tahu kan apa akibatnya kalau seorang Park Chan Yeol sedang tidak senang?”

Baek Hyun menelan ludahnya susah payah, menatap Chan Yeol waspada.

“Byun Baek Hyun….”

“W… Waeyo?”

“Kudekap sampai pagi yah.”

Mata Baek Hyun membelalak dengan ukuran penuh, “MWORAGO? SHIREOOOOOO!!!!”

Chan Yeol terkekeh, “Tidak mau? Ya sudah… Kucium sampai pagi.”

Baek Hyun tersentak kaget dengan wajah memucat, Chan Yeol menikmati setiap aksinya saat berhasil mengintimidasi kekasihnya itu, “NEO MICCHIOSSEO?  LEPASK___ Mmmppffff… LEPASKAAAAAAAAAANNNNNN!!!!”

~*N*R*L*~

“Kuharap Baek Hyun akan baik-baik saja,” Kyung Soo membuka obrolan setelah beberapa menit sejak Baek Hyun mencari mati dengan masuk ke kamar Chan Yeol.

Kai dan Se Hun sedang mengganti baju di kamar masing-masing, tubuh mereka penuh oli, jadi mereka tidak mungkin keluar dengan kondisi seperti itu.

“Eum kurasa dia memang akan baik-baik saja,” respon Lu Han, masih serius membantu Kyung Soo merangkai bunga yang akan diletakkan di atas meja tamu.

“Kau tidak tahu Chan Yeol, dia memang lebih banyak tertawa seperti orang gila, tapi saat dia marah, kami semua tidak akan berani mendekatinya, kecuali Baek Hyun mungkin.”

“Hm bisa kulihat, Chan Yeol sangat menyayangi Baek Hyun.”

Kyung Soo tertawa, “Seluruh dunia juga tahu Lu Han-shii.”

Lu Han ikut tertawa, “Hm, seluruh dunia tahu kecuali satu orang, yaitu Baek Hyun sendiri.”

Kyung Soo masih tertawa kecil dan mengangguk sebagai pembenaran, “Chan Yeol sudah mulai terlihat seperti manusia sejak Baek Hyun bergabung.”

Luhat mengerutkan kening, “Seperti manusia? Memangnya Chan Yeol tidak seperti manusia sebelum Baek Hyun bergabung?”

Kyung Soo terkekeh, “Maksudku sikap dan tindakannya. Lihat perilakunya, bahasanya dan semuanya, sekarang itu sudah agak lumayan sebenarnya, dulu betul-betul tidak terkontrol, betul-betul bajingan. Chan Yeol dulu suka sekali mabuk-mabukan setiap kali turnamen usai, dan pasti akan ada masalah setelahnya. Aku masih ingat bagaimana Chan Yeol mematahkan hidung orang yang tidak sengaja meludah di dekatnya, belum lagi kalau kegilaannya kumat, ia akan mengajak Kai keluar malam-malam untuk menghajar orang. Tapi sejak Baek Hyun bergabung, walaupun Chan Yeol masih suka minum, dia tidak sampai mabuk parah dan berbuat yang aneh-aneh. Chan Yeol juga sudah jarang membuat orang babak belur tanpa alasan, nah.. terkecuali kalau ada namja yang terang-terangan bahkan sembunyi-sembunyi menggoda Baek Hyun itu lain lagi perkaranya.”

Lu Han memiringkan kepalanya, “Memangnya apa yang Chan Yeol lakukan pada orang yang menggoda Baek Hyun.”

“Ayolah… Phoenix saja yang notabene nya adalah rekan sejawat Chan Yeol, langsung dihancurkannya hanya karena Baek Hyun merasa dikesampingkan. Apalagi orang yang menggoda Baek Hyun. Eum, jangan katakan ini pada Baek Hyun. Siswa yang menjadi teman duduknya sebenarnya pindah sekolah ke Jerman karena harus menjalani pengobatan. Salahku juga karena aku melapor pada Chan Yeol mengenai hal itu. Waktu itu Baek Hyun cerita padaku kalau dia kebingungan bagaimana cara menolak seseorang yang menyatakan cinta padanya, dan saat dia memperjelas, ternyata memang ada yang menyatakan cinta dan terus mengejar-ngerjarnya. Teman duduknya itu, sayangnya namja itu tidak tahu kalau Baek Hyun punya kekasih orang tidak beres, kukira Baek Hyun merasa terganggu makanya kuberitahu hal itu pada Chan Yeol. Dan bisa kau tebak, Chan Yeol menghadang pemuda itu di gang sempit dan menghajarnya sampai babak belur, tentu saja dengan intimidasi andalannya, kau sentuh pacarku, kucongkel kedua matamu.”

Dan entah kenapa Lu Han justru tertawa mendengar hal itu, “Beruntung aku bukan tipe namja seperti itu. Coba iya, mungkin aku juga akan bernasib sama dengan namja itu. Yah… aku menyukai Baek Hyun, karena dia sangat manis.”

“Hm… semua penghuni Villa ini juga menyukai Baek Hyun, terlebih Chan Yeol… anggap saja dia maniak.”

Obrolan itu terpotong saat Kai muncul sembari membetulkan jaketnya, “Baby… Resletingnya rusak,” lapornya pada Kyung Soo sembari berusaha membetulkan zipper jacket kulitnya.

“Tidak rusak, hanya lepas,” balas Kyung Soo, “Sini…” Kyung Soo yang posisinya memang lebih rendah karena sedang duduk memudahkannya membetulkan zipper jacket Kai, dan setelah selesai, ia berdiri seiring gerakan tangannya yang menarik zipper itu ke atas hingga terkancing full, “Beres kan?”

Kai tersenyum kemudian mengecup bibir Kyung Soo ringan, “That’s my wife

Wajah Kyung Soo bersemu merah kemudian meninju ringan dada Kai, “Jangan mengatakan hal aneh, cepat pergi. Selamatkan Phoenix.”

Kai tersenyum sembari mengusap rambut Kyung Soo dengan sayang.

Tanpa ada yang terlewat, Lu Han menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, bagaimana namja yang memintanya menjadi kekasih itu tengah bermesraan dengan kekasih aslinya di depan mata. Terlalu cepat kalau dia mengatakan dia iri, karena memang dia masih belum merasakan apa-apa, hanya saja dia cukup canggung menyaksikan adegan romantis itu.

Se Hun keluar dari kamarnya kemudian turun ke bawah sambil menenteng helm, ia menghampiri Kai sembari menepuk pundaknya.

Baek Hyun sudah keluar?’ tanya Se Hun dengan bahasa isyaratnya.

“Belum, kau kira menenangkan Chan Yeol yang kalap tidak membutuhkan waktu? Walau itu Baek Hyun sekalipun, kurasa kita baru akan melihatnya besok,” jawab Kai sadis.

Se Hun memutar bola mata kesal.

“Memangnya kau butuh apa dari Baek Hyun?”

Se Hun menunjuk tungkuknya, ‘Punggungku sakit, aku ingin dia memijatku, biasanya akan sembuh dengan cepat kalau dia yang memijitnya.

“Besok saja, kita punya tugas. Lagipula kalau Chan Yeol tahu kau menjadikan kekasihnya tukang pijit, kau bisa habis.”

Se Hun tersenyum jahil, ‘Aku suka sentuhannya

“Dasar pervert

Kyung Soo melengos sendiri mendengar (dan juga melihat) percakapan aneh dua orang ini sementara Lu Han hanya memasang tampang bingung, karena hanya menangkap percakapan satu arah, tidak bisa menerjemahkan bahasa Se Hun.

 

“MWORAGO? SHIREOOOOOO!!!!”

4 namja itu langsung menengok ke arah lantai dua, tepatnya ke arah pintu kamar yang tertutup rapat.

“Itu Baek Hyun?” tanya Kyung Soo memastikan.

Kai menahan senyumnya, “Sepertinya Chan Yeol mulai mengerjainya.”

“Aih, tolong dia.”


“NEO MICCHIOSSEO?  LEPASK___ Mmmppffff… LEPASKAAAAAAAAAANNNNNN!!!!”

Mata Kyung Soo semakin membulat, “Kai… ini sepertinya serius. Kasihan Baek Hyun kalau Chan Yeol betul-betul menjamahnya.”

Kai tertawa, “Yakinlah… tidak akan sampai tahap itu.”

“Ck, siapa yang bisa menjamin?”

“Aku kenal Chan Yeol sudah lama, kupikir dia tidak akan menyentuh Baek Hyun kalau bukan Baek Hyun sendiri yang memintanya.”

“Benarkah?”

“Ne… Aku yang menjamin,” Kai menyentuh pipi Kyung Soo sebentar sebelum mengambil Helmnya yang tergeletak di meja. Ia sempat menoleh pada Lu Han yang tak sengaja juga tengah menatapnya. Hanya sepesekian detik, karena Lu Han buru-buru menyibukkan diri memotong tangkai bunga.

“Awww,” keluhnya.

Kyung Soo langsung menghampirnya dengan panik, “Waeyo? Ah astaga… jarimu berdarah.”

“A… aku ceroboh, Pisau Cutter nya mengenai tanganku.”

“Tunggu kuambilkan obat di kamarku,” Kyung Soo buru-buru naik ke lantai dua menuju kamarnya.

Kai menghela nafas pendek kemudian menghampiri Lu Han, berjongkok di depannya kemudian meraih tangan namja itu.

“Eh…?” mata Lu Han membulat saat ia menyaksikan Kai memasukkan jari Lu Han ke mulutnya, dan wajahnya seketika memerah saat ia merasakan Kai menghisap jarinya yang berdarah.

Pandangan mereka bertemu, dan itu membuat Lu Han gugup kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain.

“Darahnya sudah berhenti, tunggu saja sampai Kyung Soo mengobatinya, kami pergi,” pamit Kai setelah ia melepaskan tangan Lu Han.

N… Ne… go… go… Gomawoyo.”

Hm… Se Hun-ah kajja.”

Lu Han menatap kepergian namja tampan itu, dan senyum manis terukir di bibirnya.

 

~*N*R*L*~

Pagi itu Chan Yeol keluar lebih dulu dari kamarnya, tampangnya yang memang sudah berantakan, terlihat lebih berantakan lagi saat ia mengacak-acak rambutnya.

4 namja yang tengah sarapan itu memandang aneh pada Chan Yeol yang tampaknya sudah kembali waras. Eum sedikit, karena kewarasan Chan Yeol memang harus dipertanyakan.

Kyung Soo kehilangan selera makan tatkala melihat dada bidang Chan Yeol yang terekspos tanpa penutup. Bukan karena bodynya keren, memang body Chan Yeol keren, tapi apa itu yang menghiasinya? Bekas cakaran dan lebam-lebam biru, terlebih bibirnya yang sedikit bengkak dengan bekas luka kecil dalam jumlah banyak.

Arrrkkkhhsss!!!” keluhnya saat bir kaleng yang ia teguk menyentuh bibir dan lidahnya. Rasanya seperti melepuh.

“Mana Baek Hyun?” tanya Kyung Soo dingin.

Chan Yeol menoleh, kemudian terkekeh, “Di kamar, masih tidur,” namja itu berlagak berpikir, “tidur atau mati kehabisan nafas yah? Ah molla.”

Mata Kyung Soo membulat dan hampir melemparkan piring ke arah Chan Yeol kalau Kai tidak mencegahnya.

“Kau apakan Baek Hyun? HA?” tanya Kyung Soo murka.

“Tenanglah… Kami tidak seekstrim kalian. Dia tidak apa-apa, justru aku yang parah.  Lihat ini, ini, ini, ini, dan… ah banyak, tidak terhitung jumlah cakaran, gigitan, cubitan dan pukulannya. Belum lagi bagaimana ganasnya dia mengigit bibir dan lidahku,” Chan Yeol tertawa bangga sementara Kyung Soo dan Lu Han yang membayangkan hal itu terlihat kikuk dan salah tingkah.

Kai menggigit roti selai cokelatnya dan menatap Chan Yeol santai, “Memang kau apakan dia?”

“Hanya kucium, rencananya sampai pagi, tapi baru 1 jam saja dia sudah terkapar. Kupikir kalau dia diam-diam saja dan tidak melawan, kami bisa melanjutkannya sampai pagi. Dia hanya buang-buang tenaga saja dengan mengahajarku,” Chan Yeol menyambar roti milik Se Hun dan melahapnya dalam satu kali gigitan.

“Benar-benar brengsek,” umpat Kyung Soo.

Chan Yeol tertawa bangga.

Menit selanjutnya, objek yang dibicarakan oleh mereka muncul. Langkahnya diseret, seperti tengah diikat rantai dengan bola pemberat di masing-masing kakinya, ia memegang tembok sebagai tumpuan saat ia berjalan, tangan satunya lemas tak berdaya, tubuhnya agak dibungkukkan, kaosnya terlihat sangat longgar, hingga bahu kirinya yang mulus terekspos sempurna, rambutnya berantakan, matanya sayu, bahkan dengan mata sesipit itu orang akan mengira dia berjalan sambil tertidur, mulutnya sedikit terbuka dengan bibir yang, hm… walau tidak separah Chan Yeol tapi kondisinya tetap mencurigakan.

Penampilannya sangat kacau, 4 namja di sana jadi sedikit ragu untuk mempercayai perkataan Chan Yeol yang mengaku tidak menjamah namja ini, tapi jujur saja penampilannya jauh lebih buruk dari orang yang habis diperkosa. Intinya dia tidak kalah berantakan dari namja tinggi yang sedang terkekeh bangga sembari mencomot roti bakar yang kali ini milik Lu Han.

Brugh~

Baek Hyun bahkan begitu lemah saat menghempaskan bokongnya di kursi sebelah Kyung Soo, tidak sampai di situ, ia membaringkan kepalanya di atas meja, “Kyung Soo-ya… haus,” rengeknya.

Kyung Soo jelas prihatin, ia membantu Baek Hyun membetulkan posisinya hingga duduk bersandar, setelahnya ia membantu Baek Hyun meminum segelas air.

“Sepertinya kau tidak hanya haus Baek Hyun-ah, tapi dehidrasi,” ucap Kyung Soo takjub sembari menatap gelas kaca besar yang tadi berisi penuh dengan air mineral.

“Lapar…” rengeknya lagi.

Kyung Soo menoleh ke Chan Yeol dan menatapnya tajam. Chan Yeol memang mengurungnya semalaman, dan sudah pasti Baek Hyun tidak sempat makan tadi malam. Dengan cekatan, namja bermata besar itu mengolesi roti dengan selai strawberry kesukaan Baek Hyun, dan membantunya makan.

“Lama-lama kau kulaporkan pada Ayahnya, Park Chan Yeol keparat,” bentak Kyung Soo kesal.

Chan Yeol malah tertawa, ia menggeret kursi, hendak duduk di sebelah Baek Hyun tapi Kyung Soo mengusirnya jauh-jauh dan terpaksa harus duduk di antara Kai dan Se Hun.

“Lapor saja, Ayahnya sendiri yang memintaku menjaganya,” balas Chan Yeol santai, “Kau hanya bikin roti pagi ini?”

“Aku masak kimchi spaghetti, tapi itu untuk Baek Hyun,” Kyung Soo beranjak dari duduknya membantu Baek Hyun berdiri dan mengajaknya ke dapur. Memang lebih leluasa makan di dapur tanpa melihat wajah brengsek Chan Yeol.

“Haih… Dasar pelacur pelit,” umpat Chan Yeol asal.

Hening sejenak sampai ketika Se Hun memberi kode pada Kai untuk membuka obrolan yang memang harus dibahas saat ada Chan Yeol.

“Kap depannya patah, pelek bengkok, dan ada beberapa bagian yang harus diganti.”

Chan Yeol menghentikan gerakan mulutnya mengunyah roti. Sempat terlihat perubahan yang cukup drastis dari ekspresi wajahnya.

“Kupikir aku harus membahasnya sekarang Chan Yeol-ah, turnamen tinggal seminggu lagi dan tanpa Phoenix…”

Chan Yeol meletakkan kaleng birnya di meja dengan sedikit bantingan, sempat membuat Se Hun dan Lu Han tersentak kaget.

Namja tinggi itu menatap kosong tangan kanannya yang masih memegang kaleng bir, ia remukkan kaleng itu hingga tak berbentuk dan menggeram kesal, “Aku akan melihatnya nanti,” ucap Chan Yeol pada akhirnya. Membuat Se Hun yang sejak tadi menahan nafas akhirnya bisa kembali bernafas lega.

Se Hun mengetuk meja beberapa kali, membuat Kai dan Chan Yeol menoleh padanya.

‘Secara keseluruhan, phoenix baik-baik saja, kupikir memang sudah saatnya Phoenix dimodifikasi, sekalian ganti ban karena ban yang sebelumnya hanya cocok untuk lintasan kering, kali ini di pegunungan lagi kan? cuaca agak buruk belakangan ini.

Chan Yeol dan Kai mengangguk setelah mengerti penyampaian Se Hun.

“Eum… Mianhae… sepertinya aku satu-satunya orang yang tidak mengerti pembahasan ini, jadi kurasa aku ikut Kyung Soo dan Baek Hyun saja ke dapur,” pamit Lu Han. Tapi begitu ia hendak berdiri, Kai menangkap tangannya.

“Kau tetap di sini, karena kau juga bagian dari kelompok ini. Mumpung Kyung Soo tidak ada, aku ingin kita membahas strategi nanti,” ucap Kai.

Lu Han yang tadinya hanya diam akhirnya terpaksa mengangguk.

Kai kembali menatap Chan Yeol dan Se Hun bergantian, “Kali ini targetnya bukan hadiah. Mr.x lagi-lagi tidak tanggung-tanggung menyediakan sesuatu yang menarik, tapi kupikir untuk apa mobil mewah kalau kita lebih sering keluar dengan motor? Jadi…”

“Ganti posisi Kai, aku yang akan mengawasimu dari belakang,” potong Chan Yeol.

“Eum… kau membawa Baek Hyun? Tidakkah itu terlalu beresiko? Karena target kali ini bukan untuk menang.”

“Tenanglah, aku tidak akan ceroboh dengan menempatkan anak itu dalam bahaya.”

“Jadi kau tidak membawanya?”

Chan Yeol memutar bola mata malas, “Aku tetap membawanya, aku tidak suka mencium orang lain selain Baek Hyun.”

Kai menahan senyumnya sementara Se Hun sudah tertawa tanpa suara sejak tadi. Lu Han? Sekali lagi dia tidak mengerti. Apa hubungannya balapan dengan berciuman?

“Argghh…. Mr.X itu memang harus dipertanyakan kewarasannya, kenapa setiap ada turnamen yang membawa pasangan harus melibatkan kekasih? Dan kenapa harus mencium pasangan sebelum balapan dimulai?” protes Chan Yeol kesal sendiri.

“Ini sebenarnya masih kabar burung, tapi kudengar Mr.X itu pernah kehilangan kekasihnya saat ajang seperti ini juga. Dia memang sedikit tidak waras, tapi… dia bisa menjalankan bisnis judi skala besar seperti turnamen liar ini kupikir dia tidak betul-betul gila,” jawab Kai.

“Baiklah… kembali ke topik, aku tetap membawa Baek Hyun, kau bawa Lu Han. Target… si China.”

Ekspresi Kai terlihat semakin serius, tampak jelas hasratnya yang begitu menggebu-gebu ingin menghancurkan si China yang mereka maksud.

“Kebiasaan si China, entah dia start di baris depan ataupun belakang, ia tetap akan berusaha di depan sebelum jarak menuju finish mencapai setengah jalan,” Chan Yeol menoleh pada Se Hun, “Se Hun-ah, mana peta wilayah yang akan dijadikan lintasan balap nanti?”

‘Wilayahnya sama dengan turnamen… yang itu. setahun… yang lalu, Se Hun tampak sangat hati-hati menyampaikannya.

Chan Yeol menoleh ke Kai, dan ia sudah tidak heran lagi dengan ekspresi keras itu. Chan Yeol mengambil buah jeruk dan melemparnya ke arah Kai, beruntung refleks namja berkulit tan itu cukup cepat, ia menangkap jeruk itu dan langsung menoleh ke Chan Yeol.

“Santai sajalah, kali ini dia tidak akan lolos. Kyung Soo memang bukan kekasihku, tapi aku tidak akan membiarkan orang yang telah mencelakai sahabatku masih bisa tertawa di luar sana,” ucap Chan Yeol santai.

Itu sedikit membuat ketegangan Kai berkurang, “Hm, gomawo…”

Chan Yeol meraih kaleng bir milik Se Hun dan meneguknya sampai habis, “Se Hun-ah… temani aku melihat Phoenix, katakan bagian mana saja yang perlu diperbaiki. Dan kau Kai, beritahu segala sesuatunya mengenai aturan main pada Lu Han, ini bukan main-main, jadi yang ini juga kau harus serius.”

“Hm… serahkan padaku.”

“Ah iya… Se Hun-ah duluanlah, aku mau melihat Baek Hyun dulu.”

Se Hun menghela nafas, pantas saja Chan Yeol berbelok ke dapur, bukannya keluar. Namja itu memang sudah terlihat sangat maniak pada kekasihnya sendiri. Semenit saja tidak mengerjai Baek Hyun, Chan Yeol merasa ada yang kurang.

Se Hun hanya bisa menerka-nerka apalagi yang dilakukan Chan Yeol saat terdengar suara jeritan Kyung Soo yang mengusir Chan Yeol dan suara barang-barang berhamburan. Minimal Chan Yeol memberikan sedikit kecupan pada kekasihnya yang masih tak berdaya itu.

~*N*R*L*~

Baek Hyun POV

“Sudah baikan Baek Hyun-ah?” tanya Kyung Soo setelah meletakkan piring yang kupakai tadi ke washtafel.

“Hm… sudah agak lumayan, terima kasih Kyung Soo-ya, seperti biasa masakanmu enak,” jawabku sembari menyandarkan punggungku di kursi tunggal dapur, sementara Kyung Soo duduk di meja sudut persis di sebelahku.

“Benar-benar brengsek si Chan Yeol itu, kau masih lemah begini masih sempat-sempatnya dia datang menggodamu.”

Aku hanya menghela nafas, masih tidak ada tenaga untuk protes saat Chan Yeol tiba-tiba saja masuk ke dapur dan menciumku sementara mulutku masih penuh spaghetti. Sebenarnya aku sedikit tertegun juga. Chan Yeol padaku… eum… bagaimana menjelaskannya? Sebenarnya ini sedikit menjijikkan, tapi saat Chan Yeol mengambil makanan dari mulutku tadi dan menelannya. Reaksinya biasa saja, tanpa sungkan, segan, dan risih, entah otaknya yang tidak waras atau memang Chan Yeol padaku…. sangat…

“Tapi aku cukup penasaran, bagaimana caramu meredakan kemarahan Chan Yeol sampai dia mau memaafkanmu?” ucapan Kyung Soo mengembalikan kesadaranku.

“Tidak akan kubahas, awalnya sulit, tapi yah akhirnya aku juga berhasil dianiaya olehnya.”

Kyung Soo mengangguk-angguk, “Tidak heran.”

“Oh ya Kyung Soo-ya, bagaimana keadaan Phoenix?” tanyaku cepat saat aku teringat hal penting itu.

“Um… aku tidak tahu betul soal motor, tapi Kai bilang Phoenix baik-baik saja. Hanya ada beberapa bagian yang harus diganti.”

Kupejamkan mataku sejenak, membayangkan sepotong adegan di mana Chan Yeol dengan ekspresi dinginnya menabrak Phoenix dan meninggalkannya begitu saja. Dan itu karena…

Dia lebih memilihku.

“Aku ingin melihat Phoenix,” ucapku kemudian beranjak dari tempatku.

“Baek Hyun-ah… Aku ikut”

~*N*R*L*~

Aku mematung di depan garasi, tempat di mana Se Hun menjadikannya bengkel khusus. Kyung Soo mengusap bahuku, karena kurasa dia mengerti bagaimana perasaanku sekarang saat melihat si keparat Chan Yeol tidak sebrengsek biasanya.

Chan Yeol tidak bertindak aneh, tidak menunjukkan sikap brengseknya, itu bukan kabar baik. Chan Yeol yang diam-diam saja, memandagi Phoenix sendu seperti itu menurutku jauh lebih menakutkan dari pada Chan Yeol yang bertindak gila.

“Dekati dia,” bisik Kyung Soo, karena memang Chan Yeol belum menyadari keberadaanku. Pembenaran bahwa ia memang tengah berada di dunianya sendiri dengan Phoenix. Dunia yang kuhancurkan begitu saja walau aku berani bersumpah itu sama sekali tidak kusengaja.

Aku menghembuskan nafas panjang kemudian mengangguk. Perlahan kulangkahkan kakiku mendekati Chan Yeol, berdiri di sebelahnya dan ikut mengelus kap depan Phoenix yang lecet parah.

Aku sempat melihat Se Hun yang baru datang dengan sekotak peralatan bengkelnya. Dan aku bersyukur dia cukup mengerti saat Kyung Soo mengajaknya keluar meninggalkan aku dan Chan Yeol berdua.

..

Ah tidak… tapi bertiga dengan Phoenix.

Aku sudah di situ, dan kurasa Chan Yeol sudah melihatku, tapi pandangannya masih seperti itu. ada sesal di sana, rasa bersalah juga sakit hati. Dan itu karena aku.

Chan Yeol sudah memaafkanku, tapi bukan berarti aku sudah memperbaiki sesuatu yang membuatnya marah. Chan Yeol terluka sebenarnya, dan obatnya bukan hanya kata maaf.

“Phoenix chagi-ah,” Lirihku sembari mengelus kap merah phoenix.

Chan Yeol menoleh bingung, tapi kuabaikan.

Mianhaeyo, karena sikap kekanak-kanakanku kau jadi  terluka,” lanjutku, “Aku minta maaf, walau aku tahu kau sudah memaafkanku. Tetap saja aku merasa bersalah. Kuharap kau bisa sehat kembali, bisa pergi kemanapun, memenangkan setiap turnamen dan… tetap menjadi rekan sejawatnya. Jadi… Phoenix chagi-ah… Bertahanlah… karena aku tahu kau kuat,” tuturku sembari mengulas senyum di akhir kalimat.

Ppabo…”

Aku menoleh dan kulihat Chan Yeol tersenyum di sana, “Waeyo… Namja brengsek.”

Ia menghela nafas kemudian menarikku ke pelukannya yang sangat erat, “Aku malas mengatakan ini terang-terangan padamu. Tapi… gomawo.”

Aku berusaha menahan senyumku agar tidak semakin melebar. Kuulurkan kedua tanganku dan melingkari punggungnya dengan erat, “Aku juga malas mengatakan ini, tapi… Aku tidak suka melihat Park Chan Yeol menunjukkan wajah sedih, sama sekali tidak cocok. Wajahmu yang seperti Ahjushii genit dan minta dihajar itu sudah pas denganmu.”

Chan Yeol tertawa, kemudian mengecup bahuku yang sepertinya terbuka. Ah sudahlah, asal dia senang dulu saja.

~*N*R*L*~

Author POV

“Mengobrol apa? Sepertinya asyik sekali,” tanya Kyung Soo saat ia kembali ke ruang makan dan duduk di sebelah Kai. Se Hun juga ikut bergabung dan duduk di sebelah Lu Han.

“Hm? Itu…  Mengenai festival sekolah minggu depan,” jawab Kai.

“Festival sekolah? Dalam rangka apa?”

“Ulang tahun sekolah. Acaranya malam hari, semua siswa harus hadir memeriahkan festival itu.”

“Festival? Festival musik?” Kyung Soo terlihat antusias, padahal jelas-jelas itu hanyalah karangan Kai.

“Beragam.. Intinya semua anak club seni mengisi acara. Kau mau ikut?”

Kyung Soo berdecak, “Kau tidak malu membawa kekasih cacatmu ke sekolah dan disaksikan teman-temanmu?”

Ekspresi Kai yang tadinya lembut berubah dingin, “Bilang apa?”

“Ah tidak, aku harus ke dapur. Piring-piring ini harus di cuc__”

Greb~

Kyung Soo tersentak kaget saat Kai langsung menarik namja mungil itu ke arahnya hingga terduduk di pangkuannya. Belum sempat protes, bibir Kyung Soo langsung dibungkam oleh Kai dengan ciumannya yang cukup menuntut.

Puk~

Lu Han menoleh ke Se Hun saat merasakan pundaknya ditepuk.

Wae?” tanya Lu Han bingung. Ia sebenarnya cukup kaget dengan pemandangan yang masih berlangsung di dekatnya itu.

Se Hun menggerakkan tangannya, menginstruksikan agar mereka menyingkir. Dan gerakan sederhana itu langsung dimengerti Lu Han. Ia pun menerima uluran tangan Se Hun  dan meninggalkan ruangan itu.

Setidaknya Lu Han akhirnya bisa membenarkan bahwa Kyung Soo memang sedikit sensitif. Dan Kai punya cara sendiri untuk menegur kekasihnya itu.

.

.

.

Se Hun menggaruk kepalanya saat ia dan Lu Han juga menemukan pemandangan yang sama di garasi. Walau tidak seekstrim yang di ruang makan, dan kesannya yang di garasi ini lebih manis karena penghuninya berpelukan dengan penuh perasaan seolah dunia milik mereka berdua, dan untuk mewujudkan dunia itu, Se Hun akhirnya kembali menarik tangan Lu Han dan mengajaknya duduk di bangku taman samping Red Villa.

Lu Han kebingungan, kikuk dan canggung, kelihatan dari wajahnya dan sikapnya yang tidak tahu harus berbuat apa.

Se Hun menepuk pundak sempit Lu Han, membuat namja cantik itu menoleh.

“Ada apa?” tanya Lu Han.

Se Hun mulai menggerak-gerakkan tangannya, ‘kau baik-baik saja?’

“Um? Apa? Aku tidak mengerti.”

‘Kau terlihat bingung’

“Errr… Se Hun-shii, aku tidak mengerti.”

Se Hun memutar bola mata kesal. ‘Tunggu di sini’

“Itu juga aku tidak mengerti.”

Se Hun langsung beranjak pergi, sedikit berlari memasuki Red Villa dan kembali beberapa menit kemudian sembari membawa sebuah buku dan pena.

Se Hun kembali duduk di sebelah Lu Han dan memperlihatkan lembaran buku yang baru saja ditulisinya.

‘Kau baik-baik saja??’

Lu Han tersenyum saat ia membaca tulisan tangan Se Hun yang terbilang cukup rapi, “Ah maaf… sampai harus berkomunikasi begini. Ne, aku baik-baik saja Se Hun-shii, hanya masih berusaha beradaptasi.”

Se Hun kembali menuliskan sesuatu, ‘Aku sudah tahu kalau kau kekasih gelapnya Kai.

Lu Han tersentak saat membaca itu, “Eum… itu sedikit tidak mengenakkan, tapi memang kau benar. Aku kekasih gelapnya Kai.”

‘Tapi tenanglah, kau tetap akan menjadi bagian dari kami, bahkan setelah turnamen usai.

Lu Han tersenyum kemudian menatap Se Hun, “Gomawo… kau sangat baik. Semua orang di sini sangat baik.”

‘Karena saat kau sudah masuk kelompok ini, artinya kau sudah menjadi saudara kami.

“Hm… Bisa kulihat. Walau cara bersosialisasi kalian agak… eum… sedikit keras, tapi tetap saja aku merasakan kehangatan keluarga yang kalian bentuk ini.”

‘Benar… kita semua keluarga, jadi jangan merasa terkucilkan lagi. Aku senang akhirnya punya teman sebagai pengalih perhatian saat dua pasangan itu sedang bermesraan.

Lu Han terkekeh lagi, “Kau sangat menyenangkan Se Hun-shii… Ah sekalian saja ajarkan aku bahasa isyarat”

Se Hun tersenyum, kembali menunjukkan tulisan tangannya ‘BOLEH’

 ~*N*R*L*~

Baek Hyun POV

Ini sudah 3 hari belalu sejak insiden penabrakan Phoenix. Beruntung kami punya Se Hun sehingga keadaan Phoenix berangsur membaik. Ah… sejak kejadian itu entah kenapa aku justru menganggap Phoenix itu bukan sekedar motor dan benda mati. Phoenix itu sangat berharga, karena tidak bisa kusangkal aku dan namja keparat bernama Park Chan Yeol kemana-mana selalu bersama Phoenix.

Aku ingin muntah mengatakan ini. Tapi Phoenix adalah saksi bisu kisahku dengan Park Chan Yeol.

“Hueeeekkkkk…”

Kai, Kyung Soo, Se Hun, juga Lu Han langsung menoleh padaku saat sore itu kami menghabiskan waktu luang dengan berkumpul di ruang tengah.

Gwenchanayo Baek Hyun-ah?” tanya Kyung Soo langsung menghampiriku.

“Hm… Gwenchana, aku hanya mual karena mengingat sesuatu,” jawabku.

Kyung Soo justru tertawa, “Jangan-jangan kau hamil.”

Aku hampir saja terjatuh dari sofa saat mendengar itu, “Kau gila Kyung Soo-ya?”

“Chan Yeol bohong hanya menciummu waktu itu.”

“Kyung Soo-ya…”

Ia masih menertawaiku, kemudian kembali ke tempatnya, di sebelah Kai. Bergelayut manja di lengan namja itu sembari meneruskan tontonan mereka. Mood Kyung Soo sepertinya sangat bagus belakangan ini, entah karena apa. Tapi nanti saja membahas Kyung Soo karena…

Ada yang tertangkap oleh mataku.

Lu Han…

Duduk di sofa tunggal yang bersebelahan dengan sofa yang ditempati Kai dan Kyung Soo. Lu Han memang tengah memijat pundak Se Hun yang duduk di lantai, persis di depan Lu Han. Tapi mata namja cantik itu mengarah ke Kai dan Kyung Soo.

Ck, ini yang kukhawatirkan. Ia menanggapi perannya sebagai kekasih Kai dengan serius. Cukup sulit karena kuihat Kai juga cukup memperhatikan Lu Han, dia sempat cerita perihal jari tangannya yang dibalut plester luka itu. katanya Kai sempat tanpa sungkan memasukkan jari Lu Han yang terluka itu ke mulutnya untuk menghentikan perdarahannya, beruntung Kyung Soo tidak lihat katanya.

Mereka juga sering mengobrol cukup banyak, terlebih mereka bebas bersama saat di sekolah. Ah entahlah apa saja yang mereka bahas karena saat aku hendak membuntuti mereka ke kantin, namja brengsek yang berstatus kekasihku itu langsung menghadangku dan mengajakku makan di luar.

Aneh bukan, saat jam sekolah walau itu sedang istirahat, siswa dilarang keluar dari pekarangan sekolah kecuali ingin pulang atau ada alasan tertentu. Tapi Chan Yeol santai-santai saja mengeluarkan mobil Appa dari gerbang sekolah dan melesat menuju restoran terdekat.

Hm, kami ke sekolah memang menggunakan mobil appa, Se Hun juga sempat mengganti lampu depannya yang retak. Dan mengenai kapnya yang penyok, akan ia perbaiki setelah Phoenix betul-betul pulih.

Dan kenapa aku justru membahas namja keparat itu? Haih… akhir-akhir ini dia terus membuatku sakit kepala karena terus muncul di otakku. Ah sudahlah… kembali lagi ke tempatku sekarang, dan kembali lagi ke Lu Han yang tak jengah mengamati Kai dan Kyung Soo, sempat kutangkap scene di mana Kai menoleh padanya. Lu Han tersentak kaget, kemudian menunduk cepat seperti kedapatan mencuri. Dan sialnya, Kai malah tersenyum penuh makna.

Ada… sesuatu, dan aku harus segera mencari tahu.

“Oh ya… mana Ayah dari janinmu itu Baek Hyun-ah?” tanya Kai yang kali ini menoleh padaku.

“Kai… cukup namja sialan itu saja yang kurang ajar, kau tidak perlu ikut-ikutan. Kalau  ada orang yang akan hamil di Villa ini, yang lebih berpotensi itu Kyung Soo,” balasku kesal.

Kyung Soo langsung menoleh padaku, “Ya!… kenapa jadi bawa-bawa namaku?”

“Kalian yang mulai kan? Menggelikan sekali.”

Greb~

“Siapa yang hamil?”

Aku melengos saat tiba-tiba saja ada yang duduk di sebelahku dan memeluk pundakku erat.

“Baek Hyun,” seru Kyung Soo sambil terkekeh.

Chan Yeol tertawa sangat keras, “Kau hamil?”

“Park Chan Yeol…!!!”

“Arasso… Arasso…”

“Oh ya, dari mana saja kau?”

Chan Yeol tertawa lagi, “Wae? Mencemaskanku?”

Aku memutar bola mata malas, memutuskan untuk tidak menggubrisnya.

Dan sikap acuhku itu justru membuat si keparat Chan Yeol menarikku dan membaringkanku ke pangkuannya seperti bayi.

Tidak perlu kujelaskan apa yang ia lakukan, yang bisa kulakukan hanyalah menggapai-gapai sesuatu di meja untuk memukul kepala Chan Yeol agar ia melepaskan bibirnya dariku.

“Tapi betul juga, kau dari mana Chan Yeol-ah?” tanya Kai, sedikit membantuku karena Chan Yeol berhenti menciumi wajahku dan menoleh pada Kai.

“Menemui Mr.X”

“Untuk apa?”

“Memastikan sesuatu tentang… Si Chi… Eum maksudku mengenai kapan turnamen selanjutnya berlangsung.”

Kai mengangguk-angguk, kulihat Chan Yeol memberinya kode dengan menunjuk Kyung Soo dengan dagu. Oh jelas, di sini hanya Kyung Soo saja yang tidak tahu bahwa akan ada turnamen 4 hari lagi.

“Sepertinya aku ingin minum jus buah. Bisa kau buatkan?” tanya Kai.

Kyung Soo mendongak, “Jus buah? Kau minum jus buah?”

“Entahlah, aku ingin sekali minum jus buah.”

“Akan kubuatkan, tunggu sebentar.”

“Hm… Gomawo Baby.

Kyung Soo beranjak menuju dapur, dan kurasa itu cara Kai untuk tidak melibatkan Kyung Soo dalam permbahasan ini.

“Si China sudah di Korea, dan dia sudah dipastikan ikut,” ucap Chan Yeol serius.

“Berapa orang?” tanya Kai tajam.

“Dia sudah pasti membawa kekasihnya yang bermata panda itu, mereka semua 5 orang, tapi yang ikut balapan jelas hanya dua motor.”

“5 orang, 2 motor? Siapa yang satunya?”

“Posisinya seperti Se Hun bagi kita, masih orang lama, tapi aku baru tahu namanya Lay.”

Kai mengambil kaleng bir di atas meja dan meneguknya perlahan, menatap tajam ke depan dengan pandangan mencekam.

“Santai sajalah, yang bisa diperhitungkan itu hanya si China keparat itu, rekannya abaikan saja, tinggalkan mereka di belakang.”

Arasso, yang menjadi target fokusku memang Si China brengsek itu. Minimal akan kubuat kakinya patah dan…” Kai mengangkat alis sembari menatap Chan Yeol, “kubuat kekasihnya memiliki cacat yang sama.”

“Tunggu… Tunggu,” Aku bangkit dari pangkuan Chan Yeol, berusaha melepas diri dan duduk cukup jauh darinya, “Kai… aku tahu kau dendam, aku juga marah pada si China itu, tapi… jangan sampai dendammu itu membuatmu tidak fokus pada keselamatanmu sendiri, apalagi kau membawa orang lain bersamamu.”

“Kau tidak perlu mengajariku Baek Hyun-ah, aku tahu langkah apa yang akan kuambil. Kau persiapkan saja dirimu karena Chan Yeol juga membawamu,” balas Kai dingin.

“Aku tahu itu, aku hanya ingin mengingatkanmu. Kau tidak hanya mempertaruhkan nyawamu,” Aku menoleh pada Lu Han yang hanya diam saja karena kupikir dia masih begitu polos akan hal ini, “tapi juga nyawa orang lain,” lanjutku.

Kai berdecak kemudian menatap Lu Han, “Kau bersedia ikut denganku kan?”

Lu Han mengangguk cepat, “Ne Kai…”

Lalu namja berkulit tan itu kembali menatapku, “Lihat? Dia sendiri yang mau.”

Aku mendesis kesal, Kai memang sulit diajak bicara kalau menyangkut hal ini, “Ah ya sudah terserah kau,” aku beranjak dari tempat itu, naik ke lantai dua dan berniat masuk ke kamar Lu Han, tapi derap langkah cepat yang kukenal itu menyusulku, lebih dulu menarik tanganku dan membopongku ke kamar miliknya.

Si brengsek Park Chan Yeol.

~*N*R*L*~

“Akhir-akhir ini kau sering marah, jelek sekali. Akh… lebih keras,” tegur Chan Yeol yang saat itu berhasil memaksaku untuk memijat punggungnya. Tentu saja dengan ancaman, Mau kuperkosa?

“Kapan kalian tidak membuatku marah? Tidak bisakah kalian menyelesaikan ini dengan cara lain? Aku sampai merinding melihat Kai begitu terobsesi membuat kekasih si China itu cacat. Ck ini sudah keras, namja brengsek,” jawabku masih berusaha meredakan kejengkelanku.

“Kupikir ini wajar, Kyung Soo jadi cacat karena Si China brengsek itu, dan jangan lupa bagaimana hari-hari berat yang dilalui Kyung Soo yang harus menerima dirinya seperti itu. Ahhhh benar… di situ, lebih ditekan lagi Ppabo.”

Aku memukul kepala Chan Yeol karena desahannya menjijikkan, “Tapi… ck, maksudku yang salah itu si China yang mengendarai motor, bukan kekasihnya. Aku sempat melihat namja itu tersenyum padaku, aku jadi tidak tega kalau Kai betul-betul ingin membuatnya cacat.”

“Lalu kau lebih tega melihat Kyung Soo yang cacat? Ahh… kebawah… tekan sedikit.”

“Ck bukan begitu. Maksudku… apa untungnya membalas dendam? Apa setelah kekasih si china itu cacat, Kyung Soo akan sembuh? Tidak kan? yang ada si China juga akan memendam dendam pada kalian dan akan menyusun rencana untuk membalas lagi. Mungkin begitu seterusnya sampai semua orang di Red Villa ini cacat.”

Chan Yeol diam, kupikir kata-kataku berhasil mempengaruhinya. Sekalian saja semakin kuyakinkan dia kalau balas dendam itu tidak ada untungnya sama sekali.

“Kurasa setelah membalas dendam yang kalian dapat hanyalah kepuasan, dan itu sama sekali tidak ada pengaruhnya bagi Kyung Soo.”

Chan Yeol masih diam, mungkin merenungkan kata-kataku. Tumben sekali kan dia mendengar.

“Mengenai cacat yang diderita Kyung Soo, aku yakin akan ada jalan keluarnya. Dokter kulit dan bedah plastik di negara ini kan sangat terkenal, jadi kurasa….”

~Zzzzzzzzzzzzzzzzzz….

Aku terhenyak, tunggu… nafas Chan Yeol begitu teratur dan terdengar dengkuran kecil. Jangan-jangan…

“YA! SIAPA YANG MENYURUHMU TIDUR???” jeritku setelah aku memastikan matanya tertutup.

Dia tidak menggubris dan itu membuatku semakin jengkel, rasanya percuma berceloteh karena sama sekali tidak didengarkannya. Kupukul kepala belakangnya sebelum beranjak dari posisi tidak mengenakkan tadi. Duduk di pinggang belakangnya dan memijat punggungnya seperti namja murahan.

“Hei… kenapa berhenti? Ayo pijat lagi, kau berbakat, aku sampai tertidur,” Chan Yeol menangkap tanganku begitu aku hampir berhasil turun dari tempat tidurnya.

“Aku lelah keparat, enak saja menyuruh-nyuruhku. Aku disekolahkan Ayahku bukan utnuk menjadi tukang pijat, dasar brengsek.”

“Harusnya kau bangga, karena selain ibuku, tidak pernah ada yang berani menyentuh punggungku.”

Deg~

Aku terdiam, sekiranya ini membuatku teringat sesuatu.

Aku… tidak tahu tentang masa lalu Chan Yeol.

Dengan terpaksa aku kembali ke posisi nista itu dan memijat punggungnya yang kekar itu, “Eum Park Chan Yeol…” panggilku.

Waeyo Byun Baek Hyun ppabo?”

Aku mendesis kesal saat selalu aja ada embel-embel tidak mengenakkan pada namaku itu, “Boleh aku bertanya?”

“ tanya saja.”

“Tapi kau jangan marah.”

“Itu tergantung pertanyaanmu.”

Aku tersentak, niatku surut, “Ya sudah… tidak usah saja.”

Chan Yeol bergerak dan memutar tubuhnya hingga menghadap ke atas, itu membuatku terjatuh sebelum Chan Yeol buru-buru menarikku hingga terhempas di atas dadanya, “Kau tahu kan kalau kau lebih baik melihatku marah dari pada membuatku penasaran.”

“Ini tidak penting, hanya pertanyaan eum… sederhana,” balasku gugup.

“Ya sudah, sesederhana apa pertanyaan itu?”

“Aku takut kau marah.”

“Memangnya kenapa kalau aku marah?”

“Kau pasti menganiayaku.”

Chan Yeol keparat ini malah tertawa, “Kapan aku menganiayamu? Cepat tanyakan atau kau tidak akan kubiarkan keluar kamar ini lagi.”

“Arasso… Arasoo… Tapi kalau kau marah dan menganiayaku, akan kuminta Kyung Soo meracuni makananmu.”

Chan Yeol semakin tertawa, membalik tubuhku hingga sekarang dia yang menindihku, “ tanya cepat”

“Aish jinjja…”

“Cepatlah, mau kucium dulu baru buka mulut?”

Chamkkanman... Ne… akan kutanyakan.”

Chan Yeol tersenyum, “Aku mendengarkan.”

Aku menelan ludah dengan sangat susah payah, tetap waspada pada kedua manik mata Chan Yeol, takut-takut seandainya saja aku lengah dan dia menganiayaku lagi.

“Eum… Park Chan Yeol…”

Ne Byun Baek Hyun ppabo.”

“Di… di… di mana….”

“Di mana apa? Hey kenapa kau tegang begini, aku bisa merasakan detak jantungmu.”

“Ck, itu… di mana kau tinggal se… eum…”

“Haih lama sekali, cepat!”

Aku menghela nafas cepat, “Intinya aku hanya ingin mengenalmu lebih jauh, mengenai masa lalumu. Siapa orang tuamu, di mana kau tinggal sebelum ini, dari keluarga mana kau berasal, semuanya… karena aku baru sadar bahwa aku sudah cukup lama bersamamu tapi aku tidak betul-betul tahu siapa kau?”

Deg~

Sama seperti Chan Yeol yang merasakan detak jantungku, akupun sama. Aku sempat merasakan bunyi degupan yang cukup keras dari dada Chan Yeol yang menindihku. Dan kurasa memang benar, topik ini sensitif. Senyumnya hilang, pandangannya sendu tapi datar, sulit kubaca, yang jelasnya aku menemukan amarah di sana.

Chan Yeol bangkit, dan beranjak meninggalkanku, tapi segera kucekal tangannya, “Sudah kubilang kan, kau pasti marah.”

“Aku tidak marah.”

“Lalu kenapa kau tidak menjawab?”

“Karena pertanyaanmu tidak penting untuk dijawab”

Aku mendesis, kubalik badannya hingga ia mau menatapku dan…

Sekali lagi… saat Chan Yeol tidak menunjukkan wajah brengseknya, itu bukanlah kabar baik. Aku benci melihat ekspresi Chan Yeol yang begini.

“Aku… Hanya ingin tahu kau lebih jauh Park Chan Yeol.,” lirihku berusaha selembut mungkin, “Aku seperti tertampar saat Lu Han mengatakan bahwa aku tidak tahu apa-apa tentangmu, tentang… kekasihku sendiri.”

Chan Yeol terdiam cukup lama, masih menatapku dengan ekspresi yang kubenci itu. sampai ketika ia menarikku ke arahnya, memelukku erat dan membisikkan sesuatu, “Seperti apa aku di matamu?”

Deg~

“Jika orang bertanya siapa itu Park Chan Yeol, seperti apa dia di masa lalu. Jawab saja sesukamu. Bilang saja, Park Chan Yeol itu seorang racer, brengsek, nakal, bajingan, dan berantakan. Keluargaku adalah semua penghuni Red villa,” Chan Yeol merenggangkan pelukan kami dan menatapku, “status Park Chan Yeol… adalah kekasih Byun Baek Hyun. Itu saja.”

“Ta… Tapi…”

“Kalau kau ingin mengenalku lebih jauh, kau tidak perlu mencari tahu masa laluku, karena itu bukan aku. Park Chan Yeol adalah yang seperti ini.”

Chan Yeol bertutur dengan lembut, ini juga kabar buruk.

“Ini… terakhir kalinya kita membahas tentang hal tidak penting ini. Kau mengerti?”

Aku menghela nafas panjang, kurasa memang ada sesuatu di masa lalunya hingga aku sendiripun tidak sudi ia beritahu, “Aku mengerti.”

Chan Yeol berdecak, kemudian menyentuh pipiku, “Kalau ada lagi yang bertanya seperti itu abaikan saja. Jangan kau pikirkan sampai seperti ini.”

Ne…”

“Haih… mendengarmu begitu penurut membuatku merinding.”

“Tapi… Kuharap suatu saat akan mempercayaiku dan menceritakan semuanya padaku. Tapi sudahlah… aku memang tidak punya hak memaksamu.”

Chan Yeol beralih menyentuh daguku, membuatku mendongak dan menatapnya, “Kau sering sekali menggunakan kalimat yang tidak kusuka.”

“M… Mwo?”

“Kau terlalu sibuk untuk tahu seperti apa Park Chan Yeol di masa lalu, sementara Park Chan Yeol yang sekarang belum terlalu kau pahami. Masih tidak sadar mengenai apa yang kulakukan pada Phoenix?”

Aku membelalak kaget, “I.. itu…”

“Kalau kubilang kau milikku, maka kau betul-betul milikku. Jangan mempertanyakan posisimu lagi bagiku. Aku tidak menceritakan masa laluku bukan karena aku tidak mempercayaimu, tapi karena aku memang tidak mau membahas itu. jangan mempertanyakan hakmu, karena kau punya hak apapun tentangku, kau jangan membandingkan dirimu dengan siapapun, karena sudah jelas kau adalah kekasihku, kau adalah milikku dan aku mencin…”

Deg~

Deg~

Deg~

Brengsek Park Chan Yeol… kenapa dia menggantung kalimatnya dan membiarkanku berharap banyak tentang kelanjutan kalimatnya, “Dan kau apa?” tanyaku tidak sabar.

“Ah sudahlah…”

Ia melepaskan tangannya kemudian kembali menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.

Ada satu lagi yang baru kusadari.

Park Chan Yeol tidak pernah menyatakan secara gamblang bagaimana perasaannya padaku.

Oke dia selalu bilang kalau aku miliknya, aku kekasihnya, tapi… dia tidak pernah bilang kalau dia mencintaiku.

Ah… mengenai ucapan samarnya saat pertama kali aku ikut bersamanya dalam turnamen itu, aku masih ragu kalau dia mengucapkan kalimat, “Saranghae,” padaku, dia mengucapkannya saat deru motor bersahutan, bukti kalau dia tidak betul-betul serius mengatakannya, bisa jadi juga aku salah dengar?

Kuhembuskan nafas lelahku, kemudian beranjak dari tempat itu.

“Hey… mau kemana?” tegurnya.

“Keluar, kulihat kau sangat lelah dan ingin beristirahat,” sahutku.

“Siapa yang mengizinkanmu keluar. Kesini…” panggilnya lagi dengan sok berkuasanya.

Tapi pikiranku sedang kacau, dan aku tidak punya tenaga menyulut pertengkaran lagi. Makanya aku menurut dan duduk di sebelahnya. Chan Yeol membetulkan posisinya hingga ikut duduk berhadapan denganku.

“Kau masih memikirkannya?”

Aku menggeleng.

“Lalu kenapa kau cemberut begitu? Sudah pernah kubilang kan, kalau kau sangat jelek saat cemberut?”

“Wajahku sudah begini sejak dulu, kalau kau mengatakan jelek berarti wajahku memang jelek, tidak bisa kuubah lagi.”

“Dan kau pikir seleraku seburuk itu hingga menyukai orang jelek?”

Aku mengangkat wajah dan menatapnya, “Ne?”

“Waktu kuminta kau menjadi kekasihku dan kubilang kau manis, aku tidak bercanda.”

“Oh mana bisa kulupa kenangan menyeramkan itu.”

Ia tertawa kemudian sedikit bergeser untuk meraih pipiku dengan telapak tangannya yang besar, “Jangan membuatku marah Byun Baek Hyun, karena aku juga tidak suka mendapati diriku menyiksamu.”

“Ne?”

“Eum… sedikit kuberitahu tentang diriku. Aku tidak sepenuhnya kasar, aku juga bisa lembut.”

“Ng… Ne, kau memang kadang bersikap lembut, tapi itu masih bisa dihitung dengan jari.”

“Lalu kau suka yang mana?”

“Maksudmu?”

“Kau suka aku yang mana? Yang kasar atau yang lembut?”

Aku mengangkat alis, menahan senyumku, “Memangnya kapan aku pernah mengatakan kalau aku menyukaimu?”

Ia mendesis kesal, “Lalu kenapa kau mau menjadi kekasihku?”

“Hey… Kau lupa ingatan? Kau yang memaksaku, brengsek!”

“Lalu kenapa saat kutawarkan putus, kau tidak mau??”

Sialan… namja ini mengerjaiku, “Itu karena kau hanya memberiku waktu 3 detik, mana bisa aku berpikir jernih.”

“Berarti kau menyukaiku, karena kau mempertimbangkan dulu kan?”

Aku tahu Park Chan Yeol ini bodoh, tapi menunjukkan kebodohannya terang-terangan padaku, ya Tuhan… hendak rasanya kuganti isi otaknya ini, “ya sudah, kenapa bertanya lagi,” balasku dengan wajah memerah.

“Jadi kau suka aku yang kasar?”

Aku menghela nafas panjang, “Aku hanya tidak suka saat kau bersikap bukan seperti dirimu, itu saja.”

Chan Yeol tersenyum, “Apa susahnya mengatakan bahwa kau menyukaiku apa adanya?”

Blush

“Brengsek… aku keluar saja.”

Greb~

Chan Yeol menarik pinggangku dan menghempaskanku ke pangkuannya, “Kau manis saat malu-malu begini.”

“Yak! Namja breng__”

Satu lagi kebiasaan Chan Yeol yang kutahu pasti, dia selalu punya cara untuk memotong ucapanku. Ciumannya, yang kali ini entah kenapa begitu lembut. Bagaimana ia memeluk pinggangku, bagaimana ia menuntun tanganku untuk menyentuh pipi dan rahangnya, bagaimana gerakan lembut bibirnya hangat memanjakan bibirku.

Hm… aku tidak sepenuhnya tidak tahu tentang Park Chan Yeol. Aku tau sifat-sifatnya. Aku tahu kebiasaannya, aku tahu apa yang ia suka dan tidak ia suka. Kurasa aku semakin tahu banyak tentangnya.

Dia benar, aku tidak perlu tahu Park Chan Yeol di masa lalu seperti apa, karena Chan Yeol yang sekarang sudah menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya. Tidak masalah dia brengsek, tidak masalah dia bajingan, nakal, biadab, keparat dan semua umpatan-umpatan buruk yang sering kualamatkan padanya.

Seperti yang kubilang, dan diperjelas olehnya…

Aku… suka Park Chan Yeol apa adanya.

~*N*R*L*~

Author POV

“Kai…”

Seruan kecil itu membuat Kai yang tengah mengecek performa mesin motornya langsung menoleh, “Lu Han… Waeyo?”

Lu Han mendekat, sedikit kikuk ia menggaruk tengkuknya, “Itu… Ada sesuatu yang kulupakan di rumah sewaanku, bisakah aku izin keluar sebentar?”

“Baiklah… Akan kuantar.”

“Ah tidak perlu, Kyung Soo ada di__”

“Selama kau di sini, kau tanggung jawabku. Statusmu sebagai kekasihku, hanya tidak berlaku saat di depan Kyung Soo.”

Lu Han menelan ludah gugup, kemudian mengangguk.

“Apa benda yang kau lupakan itu cukup besar? Kalau iya, akan kupinjam mobil Baek Hyun untuk mengantarmu.”

Travel bag, sebagian pakaianku masih di sana.”

“Hm baiklah, tunggu di depan. Aku pinjam kunci dulu di Chan Yeol.”

Ne…”

***

“Park Chan Yeol pinjam kunci mobilm__” Kai membelalak dengan pemandangan yang disuguhkan persis di depan matanya. Bukan fenomena langka kalau melihat Chan Yeol mencium Baek Hyun, tapi melihat Baek Hyun cukup lihai meladeni, ini jarang sekali.

“Haih… Apa kau tidak diajarkan di keluarga Kim untuk mengetuk pintu sebelum masuk di kamar pribadi seseorang?” protes Chan Yeol saat merasa terganggu, terlebih Baek Hyun sudah berlari ke kamar mandi dengan wajah memerah.

“Pintunya tidak terkunci, ya aku masuk saja. Pinjam mobil…”

Chan Yeol mendesis, kemudian meraih kunci mobil di atas nakas dan melemparnya ke Kai, “Kemana?”

“Mengantar Lu Han, ada barang yang ingin dia ambil.”

“Oh… sekalian beli 2 krat bir, persediaan habis.”

Kai tertawa kecil, “Bukan habis, Baek Hyun membuangnya lagi.”

“Ck… Ya sudah keluarlah, kau mengganggu saja.”

Kai mengangkat alis, “Berbicara tentang Baek Hyun, kau apakan dia? Kenapa jinak begitu?”

Molla… Dan habis ini dia pasti tidak jinak lagi, kau betul-betul merusak.”

Kai tertawa kemudian meninggalkan kamar Chan Yeol. Sempat ia dengar Chan Yeol mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi dan memanggil Baek Hyun. Kai semakin geli karena tanpa sengaja ia berhasil mengerjai mereka.

“Mau kemana Kai?” tanya Kyung Soo yang berpapasan dengannya di tangga.”

“Ah membeli bir, disuruh Chan Yeol, sekalian mengantar Lu Han mengambil barang,” jawab Kai sembari mengusap kepala Kyung Soo, “Mau titip?”

“Hm, belikan aku 3 pak pasta.”

“Oke,” Kai mengecup kening Kyung Soo sejenak sebelum berlari kecil menuju garasi.

Kyung Soo memandangnya dengan tatapan datar, “Kenapa harus kau yang mengantar Lu Han?” lirihnya.

 

~*N*R*L*~

“Tidak ikut masuk Kai?” tanya Lu Han saat melihat Kai tidak turun dari mobil.

“Ah tidak usah, aku sekalian beli pesanan anak-anak dulu, kau kemasi saja barangmu, selesai berbelanja aku akan menjemputmu lagi.”

“Hm, Negomawo.”

“Atau telepon aku kalau sudah selesai.”

“Aku akan menunggumu,” balas Lu Han sembari menyunggingkan senyum.

Kai pun melajukan mobilnya menuju daerah pertokoan yang tidak begitu jauh dari wilayah itu. sementara Lu Han bergegas masuk ke dalam rumah sewaannya.

Terlihat buru-buru sekali, memeriksa segala sesuatu yang ada di dalam rumah sewaan yang tidak cukup besar itu. sedikit terkejut memang saat sore itu ponselnya berdering nyaring dan orang itu memintanya bertemu.

Lu Han menerjang pintu kamarnya, dan di situlah ia. Duduk di sofa dengan begitu angkuhnya, mengepulkan asap rokok ke udara, menampakkan kuasa yang begitu kuat.

“Lama sekali… Lu Han,” tegur namja itu.

Lu Han membulatkan matanya, hanya beberapa detik kemudian sebuah senyuman tercetak di bibirnya. senyum yang sangat aneh, senyum yang tidak pernah ia tampakkan saat ia berada di lingkungan Red Villa dan para penghuninya. ia melipat tangan di dada, tak kalah angkuh kemudian berjalan mendekati sofa di mana namja yang memintanya bertemu itu duduk masih dengan angkuhnya.

“Selamat datang cantik, I miss you.”

Luhan tertawa, cukup berbeda. Ah tidak tapi sangat berbeda, karena itu bukan tawa seseorang yang berhati malaikat, “Mendengarmu selancang itu, kupikir kau tidak membawa Tao.”

Namja itu menarik Lu Han hingga terhempas ke pangkuannya, “Aku membawanya, tapi dia tidak di sini. Lagipula aku ke sini tidak untuk membahas Tao,” Namja itu menyentuh dagu Lu Han dan membelai pipinya, “bagaimana tugasmu?”

Lu Han menyunggingkan senyumnya, “Aku suka… Tapi, mendesakku untuk bertemu denganmu saat aku masih berada di tengah mereka… Kau… betul-betul ingin mempersulitku… Kris Wu.”

Maybe Next Time

ALF special Note:

9837 words <—- Gue ngetik apaan aja ini?

KEkekekekek… sebelum cuap-cuap gak penting, ALF pengin bilang makasih ternyata Banyak yang minat ama NRL, walopun isinya ‘brengsek'(?) semua eh ternyata banyak yang suka. ya itu lagi, mohon jangan dicontohi hal-hal buruk di dalamnya.

eum… curcol dikit boleh? ALF lagi Andi Lau, antara dilema dan galau gegara masalah kuliah, sepertinya ALF memang harus hiatus lebih cepat nih, *Reader angkat obor*

Yah doain aja ALF segera diberi pencerahan mengenai pilihan(?) yang tepat. AMiiinnn….

oke, ALF malas ngoceh, tapi readers harus ngoceh, yang panjang. kalo komennya seuprit, langsung masuk spam… oke…

adioss…

salam pramuka

930 thoughts on “[FF YAOI] No Regret Life | ChanBaek Ft All Couple | – Chapter 3

  1. Chanbaek nya sweet banget disini aku jadi diabetes nih thor~, trus iri lgi sma Baekhyun. Sifat mereka itu aku suka.. Chanyeol yang berandal digabungin sma Baekhyun yang Cerewet+Cute itu kesannya gimana ya.. gak bisa diungkapkan dengan kata-kata #lebay..
    But, sumpahhh…. aku suka suka suka, makin demen malah sama ChanBaek.

    Tapi.. aku kecewa kenapa Luhan ada sangkut pautnya sama Kris.. padahal aku kira Luhan itu anak baik-baik terus deket sma Sehun #JiwaHunHanKeluar. But, gapapa sih terserah authornya mau dibuat apa.

    Buat KaiSoo aku sempet terpukau sama Kai, Kai itu punya Kyungsoo tapi deket sama Luhan, semoga aja gak ada KaiLu di FF ini, soalnya aku gak suka Crack Pair. Ups.. kayanya aku kebanyaan komen di Chap ini, udahlah.. FIGHTING kak ALF.. ^^

  2. Min kai ga suka sama luhan kan??
    Plis jangan buat kyungsoo sakit hatiii
    :3
    chanbaeknya makin switt duh,gemes gemes gemssss

  3. So sweet 😳😳 meskipun chanyeol brengsek tapi tetep aja romantis 😳
    Luhan luhan kenapa kau begitu polosss

  4. Hai kak Alf ({}) /?
    Aku berasa terserang diabetes di chapter ini awh/?
    Kok aku baru nyadar ya kalo ChanBaek berantemnya lucu amat :”3
    Oh oh oh ada hunhan moment, tapi tapi sejak aku tau kalo sehun suka baekhyun kok aku jadi suka HunBaek ya *dasar labil* xD
    Kak kapan latar belakang cenyol dijelasin -____- uda penasaran banget ini
    Dan berantemnya ChanBaek ama ocehannya ChanBaek kok makin lawak xD
    Apalagi pas Baekhyun ngomong panjang lebar eh anjir malah malah si cenyol molor -3-)r
    Terus rada bingung sama jongin, hatinya ada di kyungsoo kan? Dia suka Luhan ngga sih kak?
    Semoga Luhan sama Sehun /homina homina homina/?
    Eh tapi kok bikin kratak yah <///3 di akhir chapter ini ;-;
    Luhan itu jadi kekasih gelapnya dua orang dong, berharap Tao ama Bekyun berteman.
    Kan aku suka tuh kalo mereka menggil nama kesayangan. Beef! '3')r Panda'3')r eeeerrraawrr '3')r (?)
    Disini aku berasa ilpil(?) sama om kris xD

    Okelah aku mau baca chap selanjutnya xD
    Big hug kak Alf ({})
    Mumumumuntah(?) /gak ;*

    Oya kak Eja minta unem fbnya dong ;3
    Makasih ({})

  5. lucu tuh sama tingkah baekhyun, polos bgt. ga nyangka chanyeol bakal semarah itu ke baekhyun. tapi untung nya skrg mereka udh baikan haha
    paling suka sma kalimat “Aku… suka Park Chan Yeol apa adanya” duh ngena bgt thor wkwk. jadi penasaran sama masa lalu chanyeol yang selalu ditutupi.

    WHAT THE FUCK! Luhan! dia trnyata krjasama sm kris, si china! brengsek keparat blah blah blah. ga kebayang muka sepolos itu trnyata jahat. apa jadi nya klo luhan smpe ketahuan coba? ak kira dia nnti bakal klepek klepek sm sehunie.

    tambah seruuuu! keep writing kak alf ^^ fighting😀

  6. Aaaaaaaaa bener bener suka banget sama sifatnya Chanbaek disini, entahlah ngehipnotis(?) banget deh duh duh
    syaallah beneran chapter ini bikin mimisan huaaawowww Chanbaek Chanbaek yeheehee
    nah kan saya udah ngira kalo Luhan tuh polos polos pitekeeun(?) ternyata bener kan dia kerja sama sama si China Kris, dasar kau licik ckck
    Pokoknya jangan sampe si Kai suka sama Ciluhan dah kkk
    pokoknya saya banget sama chapter ini, ngehipnotis banget Chanyeol nya ah Baekhyun nya mereka mah duh suka pokoknya, entahlah suka banget ah suka suka baguss banget hehe😀

  7. Bangsaatt si luhan, jadi dia sekongkol ama kris huaaahhh…. makin ribet aja ni nanto, ttg baekyeol huff ini beneran pasangan anek kocak gokil rada gila ah semua dehh satu lagi chanyeol ngehormatin baekhyun ndak nges*x tidur sambil kiss pun nggak samalah hahahaha

  8. back haha. ini aq bner2 ya ampuuunn how great bgt tingkah.y si chan hahahaha aq gk suka cheesy kan ya aq bilang? tp ini bner2 cheesy yg aq suka hahah aq suka hal2 ky ‘ tindakan lebih mempunyai makna drpd kata2’. klo boleh curhat sih ini aq sbner.y org.y kasar loh ‘tp hati.y baik’ cuma gk suka basa basi gt gk akan mempan klo ada cwo yg gombalin bgni bgtu haha. tp disni aq pngen bgt jd baek.y hahahahahahahahah (ngakak). oh ya aq blm blang ya klo aq sssyukaaaa sm kris hahah ya tp klo bleh d.bilang 50:50 antra chanbaek sm krissbaek hahah mka.y kurang suka klo d.hub chanbaek itu mlah kris jd org ke3. aq sih blm tau ini ff bkal kris jd org ke3 d.hub chanbaek atau apa tp aq menyimpulkan kris ini pure licik dan gk ada niatan bkal naksir sm baek mskpun dia blng baek oke. aq gk protes sih kris mau dpet peran gni, habis aq bner2 naksir kris yg kasar macam peran ini hahahahahah jd inti.y aq justru suka kris disini hahahah.

  9. Aigooo, tinggal peluk juga udah di maafin, noh peluk mas cenyol sana, biar kagak bating” pintu lagiii

    Uda menduga sih dari awal kalo si Luhan itu sekongkol sama China keparat yang bikin kyungsoo cutecute badai bibir lopelope punya bekas luka yang mengerikan *kayak udah liat aja*

    Aku lope lope sama ALF :*

  10. Hahahahahahahah Hamil!!!!! hahahahahahahahahaha!!!!!!!!
    Duh duh, Chanyeol itu piinter(?) yang tersembunyi ngerjain mtk aja babo tapi…. ah sudahlah nyahahaha
    Krisssssssss untung loe gantengggggggggg untung bang untung temen sepadepokan(?) exo gue ng bias dirimu untung banget badan loe berguna buat nyolong rambutan tetangga gue visualnya dia cucok sih ye jadi antagonis gitchu >3_<

  11. OHMYGOD. CHANBAEK >.< sweetness overload. Aaa mereka lucu banget sumpah. Oh park chanyeol terlalu pintar untuk memanfaatkan kepolosan baekhyun. Suka banget sama baekhyun yang panik pas tau si chanyeol marah. Hihi😀 .Chanyeol yaampun suka banget deh ngerjain baekhyun. Tapi tetep mereka sweet banget. Jarang2 mereka bisa akur gitu hahah

    Kaisoo yaampun. Ke kamar dulu lah seenggaknya. Dasar yah mereka emang ckckck -.-

    Hunhan moment yeah. Yah, walau biasa sih sebenernya. Udahlah yah. Luhan sama sehun aja. Cocok banget kok.

    WTH. LUHAN SAMA KRIS?! Asdfghjkl
    Tuhkan bener luhan bukan orang baik baik. Ah, luhan tega sekalee. Yah, makin rumit dong hiks😥

  12. BAEKHYUNN!!! KENAPA KAMU MUAL? KAMU HAMIL YA? SIAPA YG MENGHAMILIMU, NAK?? KATAKAN SAMA EOMM—ma,

    B: Eheh,, itu. Cuma mual aja, bayangin wajah brengseknya si you-know-who. Bukan hamil beneran kok.

    TERUS KENAPA KAMU MIJITIN DIA SAMBIL DUDUK DIATAS PINGGANGNYA DIA, HUH? YOU KNOW, DIA BISA NGERASAIN BOKONG ELU DIATAS PUNGGUNGNYA. BERHENTI MELAKUKAN HAL SEPERTI ITU!

    B: Itu… si freakin’ dumbass yang maksain gue. Jangan salahin gu—

    NO…JANGAN LAKUIN LAGI YANG BEGITUAN, BAEK. I SWEAR TO GOD—
    ALF: HOII !! MANA REVIEW-ANNYA? JANGAN NYAMPAH, HOI!

    Eehehehe..gue kebawa suasana—yang sialnya gue ngarang sendiri—heh…

    Gue penasaran gimana raasanya berada diposisi paling atas dalam hati someone, hiks… terus that dude berani korbanin benda yang paling dia sayang hanya karena kita ngerasa posisi kita dibawah hal yang paling ia sayangin itu..hikss… i can’t imagine it, author-nim! How can you write such a good damn story like this? Where did you find this amazing feels? Who is your inspiration? Tolong jangan bilang that baekhyun kid or anything! I’m.. <=mulai lebay

    Dan for my god’s sake gue melted saat si ChanfuckingYeol bilang “Kalau kubilang kau milikku, maka kau betul-betul milikku. Jangan mempertanyakan posisimu lagi bagiku. Aku tidak menceritakan masa laluku bukan karena aku tidak mempercayaimu, tapi karena aku memang tidak mau membahas itu. jangan mempertanyakan hak mu, karena kau punya hak apapun tentangku, kau jangan membandingkan dirimu dengan siapapun, karena sudah jelas kau adalah kekasihku, kau adalah milikku dan aku mencin…”

    Sadar ga si loe Yeol, you know, gue mau sambung kata-kata loe, so let me … ekhemm “T*I-MU”
    *dibakarsatukampung

    iii..maaf maaf..*sungkem ama yeol

    sebenarnya sih manis momentnya, tapi kenapa KAMU MENGGANTUNGKAN KATA-KATAMU, PARK CHANYEOL? KENAPA KAU BIARKAN BAEKHYUN MENGHARAPKAN KATA ITU KELUAR DENGAN MULUT BUAYAMU YANG SIALNYA SANGAT SEKSI! KAMU JAHAT JULEHA~~#PLAKKK

    terus yang dibagian ini “Satu lagi kebiasaan Chan Yeol yang kutahu pasti, dia selalu punya cara untuk memotong ucapanku. Ciumannya, yang kali ini entah kenapa begitu lembut. Bagaimana ia memeluk pinggangku, bagaimana ia menuntun tanganku untuk menyentuh pipi dan rahangnya, bagaimana gerakan lembut bibirnya hangat memanjakan bibirku.”
    Itu benar-benar—

    B: SUMPAH YA, NIS! ITU GA USAH DIREVIEW KATA-KATANYA. GUE MALU!!!

    C: Kenapa, baek? Kalo mereka me-review-nya, berarti mereka suka kan? Nanti kita buat konferensi pers ya.

    Ehh guys, please. Gue lagi mereview.. so leave me alone.

    -hening—

    Udah.. gue lupa mau ketik apalagi,, ohyaa.. kenapa gue ngerasain fic ini dipikiran gue Cuma chanbaek aja, padahal disini ada sehun, jongin, kyungsoo ama Lu—mungkin karena gue terlalu spazzing around them—in fanfiction, off course hehe—

    Pokoknya chap 3 ini bener-bener memporak-porandakan(?) hati gue dengan konflik dan juga sweet moment-nya chanbaek hehhe… kalo ada award atau apaan yang ada nominasinya “author yang sukses membuat readersnya ber-ringdingdong-ria” gue akan jadi voter pertama yang buat kampanye utk mensukseskan elu, kak!! –soalnya kan ga pernah ada acara begini, so just lemme pretend—ngokk!

    Ahh.. selamat dan sukses deh atas wisuda—ehh engga ding. Suksses terus deh buat kak alf. Luv ya

  13. maniiiiiiiss sangat chanbaeknyaaa. waaaa suka deh😀 karakter cynya /emotngacai/
    baeknya polos bingit -_- terlalau lamban jadi agak kesel gimana gitu. tapi bagus sih yg satu brengsek yg satu imut2 gimana gitu. haha :v
    pliss ka ALF jangan bikin kai suka sama luhaaan. kasian kyungsoo nya :’3

    dan hell luhan sialan. jadi elu sekongkol sama kris yah -_- mukamu terlalu polos nak :3

    well, sekali lagi aku bilang ff ini emang kereen (y)
    semangat ka ALF buat next chapnya ^_^

  14. Thor lama2 aku bisa diabetes nih klo dikasi chanbaek yg sweet2 gini sunpah ni sweetest banget.. Ngefeel oy :G
    Kaisoo udh mulai ada konflik nih ._. Plis jgn ada kailu. Trs apa ITU? Luhan bawahannya kris ?? Astaga muka 2 -_- kupikir dia anak baik -___- aduhh lanjut deh thor

  15. Aih… manis banget sih… adegan ranjangnya chanbaek meskipun engga seekstrim kaisoo tetep juara hahaaaa…..
    Aku suka banget mereka disini, bener2 cocok…
    Seratus jempol buat author… bener2 cerita yang rapih…. indah banget!!

  16. Ping-balik: LIST FF CHANBAEK FAVORITE | Shouda Shikaku's World

  17. yaaambbruuuuggg~
    diabet baca bekyol di sini. unyu muny banget sih :3

    ck, udh aku duga. entah kenapa rada gimana gitu sama luhan. tapi ngerinya dia tuh jadi demen beneran sama kai. ya sekalipun hunhan lebih masuk akal.

    betewe, aku demen bangetlah sama kebrutalan bekyol di sini wakakak~

  18. Cieee luhan kria cieeee, barisan para mantan namanya ada di chapter ini ciyeee/?
    Gua ga pernah satu kalipun baca fanfic hunhan/apahubungannya/ tapi tiap baca fanfic chanbaek kadang suka greget kalau tbtb luhan dateng sama ide2 konyol. good job author

  19. sebenernya selama baca ff ini gue ngebayangin sehun make bahasa isyarat ._.
    wkwkwk
    chanyeol sweet banget ;A;
    gue suka banget bahasa/? Author ngena bgt ;A;

  20. Cieee luhan kria cieeee, barisan para mantan namanya ada di chapter ini ciyeee/?
    Gua ga pernah satu kalipun baca fanfic hunhan/apahubungannya/ tapi tiap baca fanfic chanbaek kadang suka greget kalau tbtb luhan dateng sama ide2 konyol. good job author

  21. ah ada si Luhan sama Kris barisan para mantan nih eeaaa….
    plis ya thor jangan sakiti hati Kyungsoo…
    yaudah deh pengen lanjut ke chapter 4.
    fighting ya thor…

  22. OMG THEYRE SO CUTEEEEE tp chanyeol nya jaim bgt lmao terus2 kyknya masa lalu chanyeol suram bgt ya smp dia jd dingin bgt gitu, TRS ITU APA LUHAN OMG JD SELAMA INI DIA AKTING UGH btw keep writing kak fighting

  23. “Kalau kubilang kau milikku, maka kau betul-betul milikku. Jangan mempertanyakan posisimu lagi bagiku. Aku tidak menceritakan masa laluku bukan karena aku tidak mempercayaimu, tapi karena aku memang tidak mau membahas itu. jangan mempertanyakan hakmu, karena kau punya hak apapun tentangku, kau jangan membandingkan dirimu dengan siapapun, karena sudah jelas kau adalah kekasihku, kau adalah milikku dan aku mencin…” FAV PARAH DUH CEYE TEH. ngapa pake digantungin duuh. Daebak thooooor

  24. kyungsoo kaya perempuan lagi pms xD sensitio banget xD . oh iya 1 pertanyaan aku , apa jati diri , latar belakang chanyeol bakal kamu keluarin nanti’a ? . btw makin greget sama chanbaek xD . kris – luhan . ey ey eyy mata mata ? luhan kau jahatttt -_- kai tetaplah bersama kyungsoo jangan berpindah haluan ;-;

  25. Author tercintaaa… Tiap chapter bikin gue keringetan mulu bacanyaa. Gatau knp bisa tapi sumpah baca ff karya lu itu udh jadi hiburan tersendiri bagi gue. Ff2 lu bagus semua thorrr

  26. Hoah! Serius tegang dibagian akhiiir! Yah! Luhan jadi penghancur bertopeng malaikat yah! Aku sukaaa karakter Luhan! Yaks! Eh Kai beneran kepincut masa? Kok jadi kasian Kai-nya? Yuhuuuu, Kris mesti jadi antagonis yah emang cocok tuh muka -_- yaelaaah ChanBaek nge-fluuuuuf bangeet wqwq. Emang ntar Luhan kaga jatuh hati sama Sehun? Harus dong ya. Kyungsoo? Wah wah, kayanya dia yang paling menderita disini waks daku senaaang sekalii hoho!

    Lanjutkan! Aku mau baca Chapie selanjutnya! Tsk. Udah telat banget ya bacanya nih, author liat komenku ngga ya? Ey, author ngga kepikiran bikin akun dan ngepost ff di FFn atau asianfanfics atau Ao3 atau manapun? Yeeheet, soalnya disana kagak pake password-_- ah elaah ini udah th 2015 dan author udh buat ini cerita kaya udah jaman bahuka dulu kala. Nih aku kolot banget gatau ada fic oke macem begini yakali.

    Ah sudahlaaah, aku tidak komen terpaksa panjang kok. Ini murni curhatan mulu kali ya. Hahah

  27. Tiba2 ad perasaan ga enak gtu sama mas luhan. .mmh biar mnunggu aj daah klangsungannya. .

    Dokai smoga langgeng deh,mesra bgt sii😀..my baby cute ah. .klw si chanyeol sesadis gtu mau ah jd baekhyuni phabbonya..
    Mas sehun kece jenius deh ah tp jd obt nyamuk mulu..sabar ye,:-D

  28. Aaaaaaaaaa 😊 overdose bneran :v ceritanya perfect gk boong 😄 sweeeeeettt bnet, tiap kli chan marah.. feelnya dpet bnget, pngin liat chan stress gegara yeol :v
    Bad feel bnget ama luhan kali ini -_- gatau knapa ngersa kek PHO bnget gitu.. nah byangin luhan bgitu itu susah 😢
    Smngat kuliahnya ya kak!! 🎉🎉😊 –> nxtchp

  29. Aaaaaaaaaa 😊 overdose bneran :v ceritanya perfect gk boong 😄 sweeeeeettt bnet, tiap kli chan marah.. feelnya dpet bnget, pngin liat chan stress gegara baek :v
    Bad feel bnget ama luhan kali ini -_- gatau knapa ngersa kek PHO bnget gitu.. nah byangin luhan bgitu itu susah 😢
    Smngat kuliahnya ya kak!! 🎉🎉😊 –> nxtchp

  30. Okeh aku ga tau harus komentar dari mana wkwkwwk pertama: apa yg chanyeol lakukan pada baekhyun waktu baekhyun minta maaaf thooot!! Aaaah sumpah authornya bikin kepo nih~ kenapa ga digambarin aja sih min adegan yg dalem kamar *oke itu otak pervert aku* wkwkwkwk. Kedua: gimana ceritanya itu baekhyun dikira hamil wkwkwkw ngakak bagian itu:D yawloh baek hamil itu kocak dibayangkan apalagi hamilnya ama namja brengsek macam chanyeol wkwkwwk. Ketiga: kenapa luhan tiba-tiba jadi ada hubungannya dengan kris dan karakternya jadi berubah gitu??? aku kepo apakah ini akan berakhir hunhan atau engga wkwkwkwk. Keempat: pliiis jangan jadikan luhan orang ketiga diantara hubungan manis kaisoo.. walaupun emg bakal lebih seru kalau ada intrik2 gitu sih diantara hubungan mereka*sok sinetron deh* wkwkwkwk
    Pokoknya aku suka banget ff ini deh thor!!!:D susah kalau dijelaskan secara mendetail pandangan aku tentang ff ini *aseeeek~ wkwkwkwk

  31. Baekhyun bikin gemes :3
    Chanyeol punya cara dia sendiri buat ngungkapin rasa sayang dia ke baekhyun :3 Meskipun agak sedikit kasar sih ya hahaa

  32. Haduh chanyeol menyeramkan kl lg marah, baek nyampe ketakutan, eh trnyata chanyeol manfaatin it wt ngerjain baek, wkwkwk
    Btw ciyeee kai ngisap jari’a luhan. Jgn2 kai mulai suka ma luhan n sebalik’a ya,? Ntr gmn nasib kyung2,?
    Mwooo,?? Eh trnyata luhan it mata2’a kris ya,? Apa selingkuhan’a,? Ga nyangka bsa brmuka 2 namja innocent it. Kalo chanyeol tau gmn jal,? Bisa abis dy. Udh ah mau cpet2 baca chapter 4 hehe.. Pai2 author

  33. suka chanyeoooollll….
    suka karakternyaaaaa….
    chanyeoooollll…
    *apasih.
    tapi sehun tetep nomer satu untukku hihi…
    nah.. coba kalo baekhyn manis selaluu.. kan enak..
    tp ngomong2 ff ini ditulis pas era ot12 ya..
    hiks…
    yasudahlah..

  34. KYAAAAAAAAASDFJKL ehm.. Itu.. chanbaek miapah gue diabetes manis banget kak yampun speechless, okeh aku setuju ama authornya untuk ninggalin komen yg panjang gak heran ffnya kece bangeet so sweet >< eh itu yg terakhir ciyus luhan? gak nyangka wtf hah padahal kai udah perhatian gitu suka banget sama kai di sini omo. Gak tau mo ngomongin yg mana soalnya ch ini panjang banget intinya aku suka banget ch ini dah huwahhh😄 okeh lanjut baca

  35. aku jadi penasaran sama masa lalu nya chanyeol .. sama baekhyun juga dia gk cerita .

    ternyata luhan kerja sama kris .
    aduh . padahal semuanya sudah percaya sama dia .

    dan jongin bener – bener sudah kejerat sama luhan .

    aihh yang paling manis tetep aja chanyeol sama baekhyun .
    aduh baekhyun nya polos bgt pingin di bawa pulang. boleh yah

    semoga pas turnamen nya gk ada masalah

  36. etjieeeeeee bunga bunga cinta bermekaran *lirik Chanbaek//gue korban iklan* haha sukaaaaaaaaaaa banget liat chanbaek moment disini ALF nim sosweet meski rada2 pait baca kelakuan idiot chanyeol haha *plakk di gampar canyul* (^∇^) gue greget thorrr ame cinta segi tiga kaisoohan pen makan sendal gue jadinya ȏ.̮ȏ dan jeng jeng jeng jeng luhan memang udang di balik tepung ehhh di balik batu maksudnye –,– *gue laperkan//apaini* . wehhh thor daripada si lulu jadi hello kitty perusak rumah tangga mas bram ehh kaisoo maksudnya haha *gue korban sinetron CHSI* Mending luhan kasih aje noh ke sehun dia pan Jones hwkwk . ehh ALF nim gue juga baru sadar si chanyeol masih abu abu masa lalunya weleh makin penasaran au ah khamjong. next yoooooooo thor tar minta paword ff ini yg di protek boleh? bolehh lah boleh lah *buing2 bareng sehun* okiy lanjut baca yoooooooo KEEP WRITING AND FIGHTING

  37. Diabates liat moment chanbaek dsni hahaha
    Saking manisnya bisa.bkim senyum” sendiri
    dsni Kyungsoo mulai curiga sama kai .
    Bingung sama luhan dia udah bner” tertarik atau cuma ngejalin tugasnya dri kris.
    Luhan pengkhianat ternyata mudah”aja cinta kai ttp buat kyungsoo dan ga terjerat cinta palsu nya luhan .
    Daebak thor fighthing 💪cinta bangt sama fanfic ini hahaha 😘

  38. bhak demi apa ini bagus banget :g gua udah baca keseluruhan tapi baru bisa komen /? /ditendang/ ekhem CHANBAEK DEMI APA SOSWIT ANGET :G gua paling suka banget moment chanbaek dimari kayak yang ada manis manisnya gityuuu saoloh :'”” GUA PALING SUKA DI SCENE CHANBAEK PAS DIKAMAR BHAK SAOLOH SWEET BANGET :'” jadi pengen/? .gg

    ekhem kaisoo hawt banget lah karakternya apalagi pas dichapter ke dua /kalo kagak slah/ ama yang kesatu saoloh 😂😂😂😂 bikin anak perawan pen ikutan pen kapel laen pen ikutan/? lirik chanbaek / kaiso jjang .gg hawa haw orang ketiga mulai terlihat sejauh mata memandang.g

    karakter luhan dimari kayak memberikan pencerahan/? kalo jangan terlalu percaya ama orang /? plus kalau sebaik-baiknya orang pasti dia punya sisi kelamnya .g hnggg bang kriseu kalo kagak jadi orang ketiga biasanya jadi perusak hubungan atau antagonis 😂😂😂 /ditendang/? yang thabal yah bang :v

    sehun dan luhan bakal bersatu nggak yah hngg :’v gua baca di chap 6 kalo nggak salah sehun udah mulai ngerasa benih/? cinta ke luhan moga bersatulah :3 .. gua proud ama karakter baekhyun dimari .. banyak banget disukai ama orang2 … pen banget gtu disukai :’v sikap baekhyun gua suka anget :’v .

    mohon dilanjut :’v ditunggu ff yang laennya eonni alf eonni kiaraa gua selalu nunggu apdetannya.. dan buat project ntar gua baca :’v /brb/?

  39. Omaigatttt d sini luhan my angel honey bunny sweety ko d buat jahat sih thor😣

    Arrghh pdhal sempet ngarep luhan lempeng2 aja tuh, walauapun sdkit mencurigakan ko luhan mau2 aja d ajak gabung gitu, but why!!

    Tapi d sni moment cb nya swet bgt, semoga d next nya moment cb lbh bnyk ke arah menjurus (?)

    Oke numpang next love u 😗

  40. Aaaaaaa diabetes gueeee diabetesssssss asdfghjkl

    Kenapa manisss ya tuhannnnn…..

    Bentar bentar, itu luhan sama kris apa maksudnya? Kok gue jadi mikir jelek *plak* luhan pasti ada maksut nih. Njir gak bakal ada kailu kan? Kasian soo TT

  41. ALF, chinggu izin share-nya kata ini :“Kalau kubilang kau milikku, maka kau betul-betul milikku. Jangan mempertanyakan posisimu lagi bagiku. Aku tidak menceritakan masa laluku bukan karena aku tidak mempercayaimu, tapi karena aku memang tidak mau membahas itu. jangan mempertanyakan hakmu, karena kau punya hak apapun tentangku, kau jangan membandingkan dirimu dengan siapapun, karena sudah jelas kau adalah kekasihku, kau adalah milikku dan aku mencin…” . heheheh soalnya itu menyentuh binggo… boleh iya .. iya boleh😀.. #Paksa hahahaha

  42. Aaarrgghhh sweet bangeeeettttt moment di kamar chanyeol aaaaahhhh asyyiik baek udh mulai bisa ngebuka diri huuhuhuuhu sumpah ini cerita fluffy bangeeett suka, simple tp complex jugaaa hehehe semangat authorrrr buat lanjutin ceritanyaa:3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s