[FF Freelance] Yaoi BaekYeol- Love Under The Rain-Sequel


574749_143264655826641_415105335_n

Love Under The Rain – SEQUEL

Author: hyominstal a.k.a telor *eh

Genre: fantasy tentunya, romance, school life dan bumbu sate *jadi suka nih sama genre satu*

Cast: Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Oh Sehun

Xi Luhan

Kris

Disclaimer: ini jelas ff telor dong yaaa… ini tidak ada unsur keplagiatan. Ff ini emang berinspirasi bukan hanya dari 49 Days doang, tapi yaaa… kehidupan nyata juga. Tapi bukan telor dong yang ngalamin. *ya allah semoga aja enggak*.

a.n: kenapa aku manggil diri sendiri telor? Tanyakan pada orang yang suka manggil aku telor. Tapi aku suka >.< secara yaa… dia itu orang yang.. ekhem.. telor suka *malu* reader juga gak apa-apa kok manggil aku telor. Kembali ke ff. Ini ff kepanjangan gak ya? Soalnya ini ff tuh 8624 words. Cumpah ciyus miapah mie Chanyeol *rambutnya woyy* menurut telor ini tuh kepanjangan, tapi gak apa-apa deh dari pada entar dibikin twoshoot jadi 4000 kata perchapter. Kependekan banget coyy!

Bentar.. bentar.. masih inget gak nih dengan cerita Love Under The Rain yang dulu? Masih inget gak? Gak inget? Udah deh telor kasih nih link buat baca cerita awalnya. Dari pada langsung ke cerita ini kan gak asik! *joget iwak peyek bareng BaekYeol* ini nih link cerita awal>>>> https://keluargacemaraexolovers.wordpress.com/2012/10/19/ff-frelance-love-under-the-rain-yaoi-baekyeol/

Summary: “hujan. Sepertinya Tuhan memang berniat mengaitkan takdir kalian dengan hujan..”


.

.

Love Under The Rain – Sequel

.

.

Chanyeol tersenyum, manis sekali. Melihat Baekhyun yang mengobrol bersama Sehun di kantin, membuat kebahagiaan tersendiri bagi Chanyeol karena masih diberi umur untuk bisa menatap namja cantik itu lebih lama. Chanyeol melangkahkan kakinya, hendak menghampiri baekhyun dan Sehun yang duduk di meja dekat jendela.

Brakk

Hampir saja minuman yang Chanyeol bawa tumpah, ketika tanpa sengaja ada seorang lelaki yang menyenggol tubuh tingginya. “aish… tidak sopan sekali” cibirnya ketika orang yang hampir membuat minumannya tumpah terus berjalan tanpa menghiraukan Chanyeol.

“aku mendengar itu Park Chanyeol…” Chanyeol membalikkan badannya ketika lelaki yang tadi menyenggolnya ikut juga berbalik badan, hingga posisi mereka saat ini berhadapan.

Chanyeol merasa pernah mengenal lelaki ini, tapi…. ada perasaan tidak yakin juga Chanyeol pernah mengenal lelaki cantik ini.

“kau lupa denganku Chanyeol-ah?”

Chanyeol menyipitkan kedua mata bulatnya. Dia amati wajah cantik lelaki yang ada di hadapannya. Sepertinya memang benar, dia pernah melihat lelaki ini. tapi di mana?

Apakah itu terjadi sebelum dia koma 3 bulan yang lalu?

“kau siapa?”

Lelaki cantik itu tak langsung menjawab pertanyaan Chanyeol, dia lirik sebentar lelaki yang tengah berjalan ke arah mereka di belakang Chanyeol. Baekhyun. Sepertinya Baekhyun menyadari kedatangan Chanyeol di kantin ini.

“temui aku sepulang sekolah di bukit belakang sekolah….” pesan lelaki cantik itu sebelum lengkingan suara Baekhyun mendengung di telinga Chanyeol.

“Park Chanyeol”

Chanyeol refleks membalikkan badannya, dan mengacuhkan lelaki cantik yang kini sudah tidak ada lagi di sana seiring tubuh Chanyeol yang berbalik.

“Baekhyun? Ada apa?”

Baekhyun menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal. “tidak. Hanya saja aku melihat kau di sini…. umm, tadi kau berbicara dengan siapa?”

“aku tadi berbicara dengan….”

DEG

Chanyeol memperhatikan sekelilingnya begitu tubuh jangkungnya membalikkan badan.

‘kenapa tidak ada?’ bisiknya dalam hati. Dia yakin, tadi ada lelaki yang menghampirinya… dan sama seperti yang lainnya juga, lelaki itu memakai pakaian seragam sekolah ini.

“Chanyeol? Mana?” Baekhyun memperhatikan arah pandang Chanyeol yang menelurusi setiap sudut kantin ini.

“tadi… aku yakin dia ada di sini…” bingungnya.

Langsung saja Baekhyun mengerti dengan keadaan Chanyeol, karena dirinya juga tentu saja pernah mengalaminya. Mengalami bagaimana mengenal seseorang yang hanya kita sendiri yang dapat melihatnya. Tapi pasti, Chanyeol mungkin melupakannya.

“ah sudahlah, kita ke sana saja. Kasihan Sehun sendirian”

“tapi tadi…. aku benar-benar….”

“ya… ya aku percaya, sekarang ayo kita ke sana”

.

xx

.

“ah Baekhyun, kau pulang bersama Sehun saja ya. Aku ada sedikit urusan”

Chanyeol kembali memasukkan semua buku pelajaran ke dalam tas ranselnya. Sudah saatnya pulang, tapi Chanyeol sepertinya penasaran dengan sosok lelaki tadi yang mengajaknya bertemu di bukit belakang sekolah.

Baekhyun mengangguk mengiyakan. Meski dia juga bingung, jarang sekali Chanyeol tidak mau diajak pulang. Biasanya lelaki itu akan mengumpat habis-habisan guru yang datang pada jam pelajaran terakhir jika guru itu sedikit saja minta jam tambahan.

“Ah… umma… appa!!”

Sehun berlari ke arah mereka. Di kelas masih ada murid yang kebagian jadwal piket, tentu saja kaget karena Sehun memanggil Baekhyun dan Chanyeol dengan sebutan ‘umma dan appa’. Oh astaga! Apakah bumi yang mereka injak sudah terbalik?

“aish… anak ini! sudah ku ingatkan jangan memanggil kami seperti itu ketika ada orang lain. Memalukan!”

Sehun menatap sinis Chanyeol yang sepertinya tidak terima dengan ‘panggilan kesayangan’ yang dia berikan. “tapi menurutku itu cocok. Aku kan masih kelas 1 SMA, sementara kalian kelas 2. Jadi apa salahnya aku memanggil kalian seperti itu? itu tidak aneh, kecuali jika aku kelas 3 SMA dan memanggil kalian seperti itu”

“aish…. menyebalkan sekali anakmu itu Baekhyun” cibir Chanyeol kesal dan mulai meletakkan ransel di punggungnya.

Baekhyun hanya tersenyum menanggapinya. Bagaimana pun juga dia senang dipanggil seperti itu oleh Sehun. “ayo Sehun kita pulang…”

“loh, Chanyeol appa emang belum mau pulang, umma?”

“aku ada urusan penting, jadi kau tidak boleh ikut A-N-A-K ku” balas Chanyeol dengan sedikit penekanan di kata ‘anak’.

.

xx

.

Chanyeol mengatur nafasnya yang tak beraturan. Sebelah tangannya dia gunakan untuk menumpu tubuhnya di pohon rindang di belakang bukit sekolah. Kedua bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan memperhatikan sekeliling. Namja cantik tadi…… kenapa tidak ada?

Husssshhhh

Trakk

Chanyeol buru-buru memutar kepalanya ketika telinganya berdengung mendengar seseorang yang menginjak ranting pohon yang berjatuhan disaat angin sore menerpa tubuhnya.

Namja cantik itu.

Tampak dia mulai berjalan ke arah Chanyeol dengan satu tangan dia jejalkan di saku celana seragam sekolahnya. “maaf aku terlambat…”

Chanyeol menggeleng pelan hanya untuk menanggapi pertanyaan namja manis itu. Lelaki yang lebih pendek darinya terus mendekat ke arahnya. Jika dipikir-pikir, Chanyeol merasa aneh dengan tubuh orang yang ada di hadapannya. Banyak sekali cahaya yang menyertai tubuhnya.

“ada apa kau mengajakku kemari? Dan kau siapa?” mata elangnya menatap mata lelaki itu. mata itu sungguh membuat semua orang betah untuk menatapnya. Penuh kelembutan. Dan Chanyeol termasuk di antara orang-orang itu.

Lelaki manis itu tersenyum tipis ke arahnya. Sangat tipis, bak pasir yang bisa diterbangkan oleh angin. “Xi Luhan, aku adalah Xi Luhan. Kau tidak mengingatku?”

Chanyeol menggeleng ragu. “aku tidak mengingatmu, apakah sebelumnya kita pernah bertemu? Maaf karena kecelakaan itu aku jadi lupa sebagian ingatanku”

Luhan mengerutkan sebelah alisnya. Dia rasa Chanyeol tidak kehilangan satu pun ingatan dari memorynya, hanya saja Chanyeol akan melupakan kejadian selama dia koma saja. “hilang ingatan?”

“ya, aku merasa ada kenangan yang aku lupakan. Terlebih jika aku melihat Baekhyun dan….. melihatmu”

“menyebalkan sekali kau melupakanku…. selama 6 bulan aku terus di sampingmu. Tapi, kenapa sampai sekarang kau tidak mengingat semuanya?” Luhan mem-poutkan bibirnya lucu. “kau yakin tidak mengingatku?”

Chanyeol menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan menggeleng ragu. “tidak. Ya! Kenapa kau malah menginterogasiku? Untuk apa kau mengajakku kemari?”

“apa ada yang salah ya? Kenapa selama tiga bulan, dia tidak bisa mengingatnya? Seharusnya selama 1 bulan saja dia bisa mengingatnya!” Luhan terus bergelut dengan pikirannya dan mengacuhkan Chanyeol dengan wajah bingungnya.

“hey, kau kenapa hah?!” Chanyeol mengayunkan tangannya hendak menepuk bahu kecil Luhan.

Deg

Kenapa tangannya mengayun di udara? Dia tidak menyentuh sosok Luhan! “kk….kau? kenapa?”

Chanyeol memegang tangannya sendiri, terasa dingin. “kau malaikat?” tanya Chanyeol asal yang membuat Luhan berhenti bergelut  dengan pikirannya.

“kau sudah mengingatnya?!”Luhan menatap Chanyeol dengan mata yang berbinar. Dia memegang pipi Chanyeol, meski itu tak dapat dirasakan oleh namja tinggi itu.

Spontan Chanyeol memundurkan tubuhnya, hingga tangan Luhan terlepas dari pipi Chanyeol. “jadi kau benar malaikat? Padahal aku tadi hanya asal menebak saja, hehehe”

Luhan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Apa salahnya selama ini sampai dia harus kenal dengan seorang lelaki bernama Park Chanyeol.

Ia membalikkan badannya masih dengan menutup kedua matanya. Perlahan cahaya yang menerangi tubuh Luhan semakin banyak hingga menyilaukan mata Chanyeol. Sangat silau, hingga Chanyeol harus menempelkan sebelah tangannya di dahi untuk menghalau silau itu.

Berhenti.

Chanyeol menurunkan kembali tangannya ketika cahaya itu sudah tidak lagi menyilaukan matanya. Dan oh…. betapa terkejut dan takjubnya ia ketika melihat sepasang sayap yang indah menempel di punggung kecil Luhan.

Luhan berbalik menatap Chanyeol dengan wajah yang tak luput dari cahaya. “sekarang kau mengingatku?”

“belum….” Chanyeol menggelengkan kepalanya.

Luhan menepuk pelan jidatnya sebelum akhirnya ia mengayunkan tangan kanannya hingga jubah putih yang dipakainya berkibar mengikuti gerakan tangannya. Kumpulan kabut telah berkumpul di tangan Luhan, pelan-pelan kumpulan kabut itu semakin besar.

Dan Luhan melempar kabut-kabut hitam itu ke arah samping Chanyeol, ajaibnya kabut itu kini berbentuk bingkai lingkaran. “perhatikan baik-baik”

Mata elang Chanyeol menatap serius bingkai yang kini menampilkan sosok dirinya di sana. Dirinya yang tengah berjalan di sekitar sekolahnya. Malam, dan Chanyeol masih menggunakan seragamnya.

.

Flashback

.

Chanyeol mengusap-ngusap tangannya mencari kehangatan di malam hari ini. seharusnya ia sudah pulang dari sore tadi, hanya saja gara-gara Minggu kemarin dia tidak mengikuti test, maka dia harus susulan hari ini.

Pranggg

Ia menendang asal kaleng minuman yang kebetulan ada di bawah kaki panjangnya. Nasib sial apa yang menyertai Chanyeol hingga sedari tadi tak ada bis satu pun yang lewat.

“menyebalkan….” cibirnya masih terus menendang kaleng minuman itu. jarak dari sekolah ke rumah Chanyeol sangat jauh, hingga membuatnya hampir setiap hari terlambat. Jika dia terus berjalan seperti ini sampai rumah, kapan dia akan sampai? Mungkin pergantian hari dia akan pulang.

Gezzz…. Gezz

Chanyeol menutup telinganya ketika suara petir tertangkap oleh telinganya. Oh….. nasib sial apa lagi sekarang?

Seragam Chanyeol sekarang sudah basah kuyup karena setelah bunyi petir tadi, ada rintikan air yang menyusul.

Brrmmmm

Chanyeol mengangkat kepalanya ketika dia dengar suara mesin kendaraan di depannya. Bis. Tapi…. sayangnya bis itu sudah melaju.

“Hey, tunggu!!” Chanyeol berlari kilat menembus hujan hanya untuk mengejar bis yang mungkin terakhir. Kaki panjangnya terus mencoba untuk membuat langkahnya sedikit lebih panjang hingga dia bisa lebih mudah menggapai bis itu.

Tangannya sedikit lagi sampai. Sebentar lagi dia bisa menggapai body bis itu.

Brrrmmmm

“aish…” dia menutup hidungnya rapat-rapat ketika asap knalpot bis itu tiba-tiba dua kali lebih banyak. Dan ternyata bis itu menambah kecepatannya hingga membuat Chanyeol menyerah.

Chanyeol menunduk dalam. Bibirnya bergetar hebat mengingat suhu semakin dingin, membuat uratnya mati rasa.

Tidd

Tidd

Bruak

Tubuh tinggi Chanyeol terbanting hebat hingga tubuhnya menabrak kaca mobil bagian depan hingga kaca itu pecah dan tentu saja mengenai wajah Chanyeol.

Chanyeol tergeletak tak berdaya di atas aspal basah. Darahnya bercampur dengan air hujan yang kian lebat. Seorang membuka pintu mobilnya dan berjalan ke arah Chanyeol dengan sempoyongan.

“hahahaha….. kau harus MATI…. HARUS hahaha” bisa dipastikan lelaki itu berada dibawah pengaruh alkohol dengan kadar tinggi. Chanyeol sudah tidak sadarkan diri sedari tadi, sementara lelaki mabuk itu terus menerus memukul wajah Chanyeol yang memang sudah terluka dari tadi.

“hahahaha….. tidak ada yang bisa melaporkanku pada polisi, karena kau akan mati…. hahaha”

Bugh…

Bugh…

Dua pukulan tadi berhasil lelaki itu daratkan pada hidung mancung Chanyeol yang memang sudah mengeluarkan banyak darah ketika tabrakan tadi.

“Berhenti di sana…. aku seorang polisi, kau jangan melarikan diri, karena aku sudah menemukanmu”

Lelaki setengah baya itu tercengang kaget ketika telinganya mendengar suara tegas bak seorang polisi.

Bugh

Dia memukul kembali Chanyeol sebelum akhirnya dia berlari dan masuk ke dalam mobilnya. Melajukan mobilnya cepat, meninggalkan Chanyeol yang sekarat di tengah rintikan hujan.

“aish…. seharusnya ahjussi tadi diberi pelajaran….” seorang lelaki berlari ke arah Chanyeol. Luhan. Dia yang menyuarakan suara polisi tadi hingga membuat orang tadi pergi.

Luhan berjongkok di dekat tubuh Chanyeol dan mulai memperhatikan setiap lekuk tubuh jangkung itu yang penuh dengan luka. “bangunlah…” dengan lembut, Luhan membisikkannya tepat di telinga Chanyeol. “cepat bangun…. aku melihatmu jiwa yang tersesat…”

Luhan memperpanjang kembali jarak tubuh Chanyeol dengan wajahnya ketika dia merasa tubuh Chanyeol akan bangun. Ah tidak, bukan raganya melainkan jiwanya.

Chanyeol menolengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Oh, betapa kagetnya ia ketika dia menduduki tubuh seseorang yang tak lain adalah dirinya. “apa aku sudah mati?”

Luhan menarik nafas panjang. “apa keinginanmu? Kau mau hidup kembali, atau….” Luhan mempersempit jaraknya dengan Chanyeol. “pergi ke kehidupan yang abadi?”

“aku ingin hidup kembali” jawab Chanyeol dengan antusias. Hey! Memang siapa yang akan memilih pilihan yang kedua? Tentu saja Chanyeol menjawabnya tanpa berpikir dua kali.

“tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Semuanya…. ada pada takdirmu sendiri, PARK CHANYEOL”

“takdir? Aku tidak percaya Takdir”

“jadi… kau tidak mempercayai aku ada di hadapanmu? Aku ada di sini karena TAKDIR. Kesembuhanmu bukan aku yang menentukan… kita lihat saja apa yang akan terjadi di masa depan, kau akan mati atau hidup”

Chanyeol mengerutkan keningnya bingung. Dia sekarang berbicara dengan siapa? Kenapa dari tadi bahasa yang digunakan lelaki di hadapannya itu hanya bahasa yang tidak ia mengerti. Takdirlah… masa depanlah…. demi apapun, Chanyeol tidak mengerti.

“baiklah…. aku tidak akan membuatmu bingung lagi. Jika kau ingin hidup kembali, cari tahu siapa yang membuatmu seperti ini, dan buat dia mengaku di hadapan orang lain” Luhan seakan mengerti apa yang ada di pikiran Chanyeol. Pembaca pikiran.

Chanyeol tersenyum, menampilkan deretan giginya yang nyaris sempurna. “setelah itu… apa aku akan hidup kembali?”

Luhan menggelengkan kepalanya. “tentu saja bisa. Tapi ingat, aku memberimu waktu 6 bulan dan jika kau ditakdirkan untuk hidup kembali, kau akan melupakan semua yang terjadi ketika kau koma”

“aku lupa hanya kejadian saat aku koma saja kan? Ahh tidak apa-apa…. lagi pula ini tidak seberapa dari pada aku meninggalkan mereka”

Luhan tersenyum misterius, sepertinya dia sudah mengetahui jalan kehidupan Chanyeol ke depannya. “tapi jika nanti kau tidak setuju dengan ketentuan ini, kau harus mati”

.

xx

.

Chanyeol mengetuk-ngetukkan tangannya pada kursi halte, musik yang dia dengar dari i-phone membuatnya sedikit menghilangkan kepenatannya.

“ooo….. yeahh” Chanyeol bernyanyi mengikuti lagu yang didengarnya. Meski dia bernyanyi sekencang apapun, tak akan ada yang mendengarnya. Sudah hampir 6 bulan dia dalam keadaan seperti ini, tidak sekolah, tidak bisa mencium tangan orang tuanya, dan semuanya.

Chanyeol merindukan semua orang yang mengisi hidupnya. Tapi….

Buru-buru dia tolehkan kepalanya ke samping kiri halte, dia tersenyum ketika melihat sosok lelaki berperawakan kecil yang tengah mengeringkan jas sekolahnya. Selama 6 bulan ini, sepertinya dia sudah terpikat pada lelaki itu, lelaki yang dia sangka bisa melihatnya. Indra keenam mungkin.

Ketika lelaki itu menoleh ke arah Chanyeol buru-buru Chanyeol memasang kembali headphonenya.  Mungkin anggapan Chanyeol benar, lelaki itu sepertinya melihat Chanyeol.

Brukk

Chanyeol tercengang ketika tubuh lelaki yang selalu dia perhatikan tersungkur tepat di kakinya yang dia julurkan.

Bagaimana ini? lelaki itu pasti akan menyadari jika tangannya tidak menyentuh kaki Chanyeol, sementara tubuhnya berada tepat di bawahnya.

“ck” Chanyeol berdecak dan segara menjauhkan kakinya dari lelaki manis itu.

“ah, mianhae” lelaki itu membungkukkan badan, sialnya Chanyeol merasa gugup dengan tingkah lelaki itu. ia memalingkan kepalanya ke arah lain  hingga mengacuhkan lelaki itu.

Semua orang menatap mereka, ah tidak lebih tepatnya lelaki itu dengan aneh. Tentunya, karena mereka pasti mengira apa lelaki yang ada di hadapannya kini gila?

.

xx

.

Chanyeol sengaja sore ini dia mengikuti lelaki yang tadi jatuh di hadapannya, ini bukan atas kehendaknya, tapi Luhan yang menyuruhnya untuk seperti ini. tidak tahu, adalah jawaban ketika ada orang yang bertanya mengapa Luhan menyuruhnya ke rumah mewah bercat Cream ini dan kali ini ia yakin, lelaki itu tidak bisa melihatnya, karena tadi Luhan sudah memberinya sesuatu yang entahlah Chanyeol tidak mengetahuinya. Tapi, ia tahu apa fungsi benda itu, agar ia tidak bisa dilihat oleh siapapun termasuk lelaki ini.

Sayangnya Luhan hanya meminjamkannya hanya ketika Chanyeol akan menyelinap saja.

“appa!” lelaki tadi memeluk cepat seorang lelaki setengah baya yang bersantai di taman depan rumahnya.

“Baekhyun-ah, kau sudah besar jangan bersikap manja seperti ini….” lelaki setengah baya itu mengacak pelan rambut Baekhyun, hingga membuat lelaki cantik itu mengerucutkan bibirnya lucu.

Baekhyun? Nama yang indah…..

“aku terlalu sayang pada appa” Baekhyun kembali memeluk erat ayahnya. Nampak kehangatan menyelimuti kedua lelaki itu. seperti ada dinding kasat mata, hingga membuat semua orang tidak bisa mengganggu mereka, termasuk Chanyeol.

Lelaki itu lebih memilih diam, dan mencengkram dada kirinya. Ada rasa rindu di sana, rindu pada kehidupan dia yang sebelumnya, dimana dia bisa menyentuh dan memeluk ayah beserta ibunya.

“tapi….. apa kau akan tetap menyayangi appa jika appa melakukan kesalahan eoh?”

Chanyeol membelalakkan matanya, setelah dari tadi dia diam terus menerus. Dia merasakan ada hal yang disembunyikan ayah Baekhyun. Oh ternyata persepsinya tentang kehangatan keluarga Baekhyun sedikit dia ralat, karena ternyata kehangatan dalam keluarga tetap saja ada kebohongan yang disembunyikan.

“appa memang melakukan kesalahan apa hem?”

Ayah Baekhyun melepas pelukan hangatnya dan menangkup kedua pipi Baekhyun. “bagaimana jika appa melakukan kesalahan besar?”

Baekhyun mengerutkan keningnya tak mengerti. “kesalahan apa yang appa perbuat?”

“Byunnie, apa kau akan memaafkan appa jika appa telah membunuh seseorang?” pernyataan yang datar. Sangat datar. Bahkan Chanyeol sendiri bisa merasakan aura datar dari perkataan ayah Baekhyun.

Sementara di tempatnya, Baekhyun masih terdiam tak percaya. Sebelah kakinya dia gerakkan ke belakang hingga tubuhnya sedikit mundur dari wajah sang ayah yang dia lihat begitu datar hingga tangkupan tangan ayah Baekhyun pada pipinya lepas.

“hahahaha…. kau lucu sekali Baekhyun-ah. Appa hanya bercanda, kenapa kau menganggapnya serius hem?” ayah Baekhyun tersenyum, manis sekali. Entah Baekhyun tidak menyadarinya, atau hanya Chanyeol yang melihat, senyum ayah Baekhyun terlihat kaku. Dia seperti mencoba tertawa saja, dan chanyeol tahu itu.

“appa….” Baekhyun mengerucutkan bibirnya lucu setelah mencubit pinggang ayahnya. Tidak sakit memang, hanya saja sang ayah harus bisa mendramatisir keadaan hingga membuatnya harus berpura-pura meringgis.

Dan sekali lagi, Chanyeol dilanda kerinduan pada keluarganya.

.

xx

.

“eh?”

Chanyeol membuka matanya mendengar suara yang berteriak di dekatnya. Dia tengah menikmati lagu hingga membuatnya menutup mata. Bukan untuk tidur!

Apakah arwah seperti Chanyeol masih bisa untuk tidur?

Masih bisa untuk bermimpi?

Tidak, karena kehidupannya yang ini adalah mimpi bagi raganya yang koma.

Mata elangnya melirik sekilas ke arah Baekhyun yang tengah menutup mulutnya, mungkin lelaki itu menyadari jika suaranya sudah membuat bising bis.

Kembali Chanyeol menikmati lagunya sembari melihat keluar jendela melihat rintikan hujan yang kian banyak membasahi bumi, dan memberikan kehidupan bagi makhluk di dalamnya.

“hachim”

Aish! Hidungnya terasa gatal.

“hachim”

Chanyeol merogoh tas selempangnya, hingga akhirnya ia menemukan sehelai sapu tangan kuning polos miliknya. Ia mengusap hidungnya yang serasa gatal, aneh juga kenapa ia bisa merasakan rasa gatal itu padahal ia… ehem…. you know lah, Chanyeol adalah jiwa yang tak tahu arah kini.

“Hamm~ pakailah ini…”

Chanyeol melirik sekilas sebuah syal yang diulurkan Baekhyun. Pendengarannya sedikit terganggu dengan headphone yang terpasang manis di telinganya, dan ia segera melepasnya dan mengalungkannya di leher “apa?”

“pakai ini… kau kedinginan” Chanyeol tersenyum tipis, sangat tipis malah. Setelahnya ia mengambil syal itu dan mengucapkan “gomawo”

Chanyeol melepas headphone di lehernya yang kini sudah berlapis syal bermotif kotak-kotak dengan berbagai macam warna dan memasukkannya ke dalam tas miliknya.

“Park Chanyeol”

Opps…

Kenapa tiba-tiba bibirnya berucap demikian?

Padahal Chanyeol tidak berniat sedikit pun untuk berkenalan dengan Baekhyun.

“Byun Baek Hyun…”

Mata elang Chanyeol sedikit mengintip wajah Baekhyun dari sudut matanya. Bukan apa-apa, mengapa ia hanya bisa ‘mengintip’, masa iya dia harus terang-terangan menatap Baekhyun?

Ckittt

Rumah sakit.

Tentu saja hari ini ia harus kemari, dia ingin menengok keadaannya. Ah maksudnya keadaan raganya..

Dia bangkit dari duduknya dan menatap Baekhyun dengan wajahnya yang memelas.

Ya, dia berharap Baekhyun bisa merasakan jika ia tengah meminta tolong padanya, meminta tolong agar dikeluarkan dari takdir yang menjerat pada hal yang sangat tidak masuk akal ini.

.

xx

.

Chanyeol kembali menyelinap ke rumah Baekhyun, dan tentunya itu suruhan Luhan. Di kehidupannya yang sekarang, Chanyeol sering kali diperintah oleh Luhan seenak jidatnya.

Baiklah, ini hanya sementara Chanyeol.. _batinnya.

“Appa… kenapa appa tidak jujur sebelumnya?”

Chanyeol terdiam di tempatnya berdiri kini. Bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan, memastikan dimana sumber suara yang baru saja di mampir di gendang telinganya.

Di ruang keluarga. Chanyeol melangkah dengan jarak langkah yang diperbesar, memudahkannya untuk sampai di ruangan itu.

“maafkan appa Byunnie”

Ayah Baekhyun merengkuh anaknya dalam sebuah dekapan hangat. “mianhae…” ia tenggelamkan kepalanya pada bahu kecil Baekhyun. “waktu itu appa dalam keadaan mabuk, appa tak sengaja menabrak anak lelaki itu. aa.. appa juga tak sadar memukuli wajah lelaki itu hingga sekarat atau mungkin mati, appa tidak tahu pasti”

Chanyeol terpaku diam di tempatnya. Tubuhnya terhalang oleh pintu megah yang kini dekat dengan hidungnya. Sebentar… setelah ia pikir, kenapa Luhan meminta ia datang kemari? Untuk mendengar pernyataan ini?

Jadi… orang yang membuat Chanyeol seperti ini… adalah appa Baekhyun?

.

X

.

Chanyeol menggosok kedua tangannya, memberikan sedikit kehangatan di tengah kedinginan yang melandanya. Apa karena besok adalah hari terakhirnya di dunia ini sehingga ia – yang bisa dikatakan roh merasakan dinginnya hujan?

Tentu saja ia melihat sosok mungil yang berdiri tak jauh darinya dengan sudut matanya. Baekhyun menatap Chanyeol err… entahlah Chanyeol sendiri bingung mendeskripsikannya.

Sepertinya Chanyeol tidak kuasa melihat Baekhyun yang kedinginan. Ia menyapa Baekhyun, begitu ceria. Baekhyun juga membalasnya, tapi dengan suara pelan. Sangat pelan.

‘apa ia sudah menyadarinya?’ Chanyeol membatin.

“aku mau mengajakmu ke suatu tempat..”

“kemana?” tanya Baekhyun lagi-lagi dengan suara pelan.

“nanti kau juga akan tahu… jadi ikuti aku”

Baekhyun sepertinya pasrah ketika Chanyeol menarik tangannya dan masuk ke dalam bis.

Cukup lama mereka berada di dalam bis itu, tapi tak ada satu pun dari mereka yang memulai percakapan. Terlalu sibuk dengan pikiran rupanya.

Ckitt

Bis itu kembali berhenti di seberang rumah sakit.

“ayo ikut aku”

Chanyeol berjalan mendahului Baekhyun untuk keluar bis. Bahkan ketika mereka masuk rumah sakit, Chanyeol tetap memimpin di depan, seolah tak ingin berjalan bersisian dengan namja manis yang kebingungan dengan keberadaannya di rumah sakit ini.

Hingga sampai di depan pintu ruangan tempat tujuan mereka. Kening Baekhyun berkerut samar karena tubuh Chanyeol menembus pintu itu tanpa kesusahan sedikit pun!

Jelas Baekhyun tidak bisa melakukannya, ia membuka knop pintu itu pelan, sangat pelan dan penuh kehati-hatian.

Kini tubuh mungilnya sudah berada di samping kiri tubuh Chanyeol, begitu dekat. Sehingga jarak tinggi mereka terlihat jelas.

“kau mendekatlah pada lelaki itu…”

Baekhyun diam sebentar sebelum langkah kakinya berjalan mendekati branker pasien yang ia tidak ketahui siapa. “Chanyeol-ah, apakah dia itu…”

“itu adalah aku Baekhyunnie” potong Chanyeol cepat.

“kenapa bisa?”

“aku hanya ilusi Baekhyun, ragaku ada di sana, yang ada di hadapanmu adalah jiwaku yang tersesat”

Flashback off

Luhan tersenyum dan mengibaskan tangannya hingga kumpulan kabut berbentuk bingkai itu lenyap dan menatap Chanyeol yang masih memandang kosong ke tempat di mana bingkai tadi berada.

“kau ingat sekarang?”

Chanyeol masih tidak merespon. Kejadian yang tampak di bingkai tadi… ia yakin belum selesai hingga akhir, tapi kenapa pikirannya seolah berimajinasi dan memikirkan kelanjutan dari kejadian itu. tapi entahlah, ia tidak yakin yang ia pikirkan sama dengan kejadian yang sebenarnya.

Luhan kembali tersenyum dan menatap Chanyeol. “itu benar Chanyeol.. besoknya kau kembali menemui Baekhyun di sini.. bukit belakang sekolah.. oh ayolah, kau pasti mengingatnya”

Chanyeol tak menggubris Luhan ia kini memejamkan matanya, lebih memaksakan diri untuk mengingat semuanya. “bukit belakang sekolah… hujan..” Chanyeol masih memejamkan matanya lebih rapat lagi… “10 detik… Baekhyun berkata, dia mencintaiku.. dan.. aku..”

Chanyeol membuka matanya lebar-lebar. “aku pergi??”

“benar!!” Luhan memandang Chanyeol dengan tersenyum lebar. Oh ya, siapa yang tidak girang ketika orang yang kita bantu  untuk membuatnya mengingat kembali berhasil kita lakukan?? Meski pada awalnya Luhan harus menjelaskan semuanya nyaris detail!

Alis Chanyeol berkerut samar. “jika aku pergi saat itu.. kenapa aku masih ada di sini sekarang?”

“itulah kenapa kau tidak bisa mengingat semuanya… kau bisa kembali hidup, asalkan kau rela untuk melupakan kejadian selama koma”

Chanyeol mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Sesaat kemudian, senyuman tipis terlukis di wajah tampannya. “jadi.. sebenarnya Baekhyun itu mencintaiku?”  Chanyeol menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuknya.

Baekhyun dari awal memang mencintainya… dan itu berarti cintanya bukan cinta sepihak bukan? Chanyeol mencintai Baekhyun, begitu pula baekhyun yang memang mencintai Chanyeol.

“tapi—“

“apa lagi hah? Hey! Park Chanyeol, sebodoh apakah dirimu hingga aku harus menjelaskannya berbelit-belit hah?”

“dengar dulu.. aku benar-benar tidak mengerti dengan ini…” Chanyeol menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal. “kenapa aku dan Baekhyun selalu bertemu di kala hujan?”

“oh?” Luhan terdiam. Ia mengubah air matanya menjadi orang bingung dengan mata yang menatap langit dan telunjuk yang disimpan di dagu. “kenapa ya? Aku juga bingung. Itu sudah takdir mungkin.. kehendak langit… atau jangan-jangan…” Luhan menggantungkan kalimatnya.

“apa?”

“tuhan sepertinya punya kehendak lain untuk kalian, sepertinya kisah ini belum selesai… mungkin saja akan ada kisah lain antara kau dan Bakhyun nanti di kala hujan dan sebaiknya aku juga ikut campur di sini… ahh aku juga bingung dengan akhir kisahmu dengan Baekhyun…” Luhan terlihat begitu frustrasi dengan pemikirannya karena sejak tadi ia berpikir, ia belum menemukan titik temu.

“apalagi setelah ini? jangan coba lagi untuk memisahkanku dengan Baekhyun!”

“kenapa kau menyalahkanku? Itu bukan salahku Park Chanyeol bodoh”

“aish.. apa gunanya dia menjadi malaikat?” gerutu Chanyeol yang sebenarnya berbicara sendiri.

“aku mendengar itu..”

.

X

.

“Appa.. hey! Appa.. Chanyeol appa! Chanyeol hyung! Park Chanyeol!” sehun sepertinya sudah lelah untuk memanggil Chanyeol yang saat itu tengah melamun di dalam kelas. “PARRKKKK CHAAANNNYEEEOOLLL” teriak Sehun tepat di telinga Chanyeol dan mengguncangkan bahu Chanyeol dengan keras.

“sshh.. kau kenapa hah? Mengagetkanku saja” Chanyeol mengusap telinganya yang memerah akibat teriakkan nyaring Sehun yang nyaris membuatnya tuli. Ok, itu terlalu berlebihan. Tapi memang benar, Sehun berteriak keras sekali.

“yang kenapa itu appa. Dari tadi aku memanggil appa..”

“tidak ada Baekhyun di sini, jadi jangan sebut aku appa. Mengerti?”

Sehun memandang Chanyeol sebal dan menggelengkan kepalanya. “aku tidak mengerti!”

“kau ini, awas saja jika aku benar-benar punya anak seperti kau! Lalu, kenapa kau kemari hah?”

Sehun sepertinya kembali sadar dengan apa yang seharusnya ia sampaikan pada Chanyeol. “itu… tadi umma pingsan di luar.. itu gara-gara Kai yang salah melempar ke kepala umma”

BRAKK

“MWO?” Chanyeol menggebrak meja yang digunakan Sehun untuk menopang dagunya, hingga membuat Sehun  kaget.

“di mana dia sekarang?” tanya Chanyeol cepat pada Sehun yang masih berusaha mengatasi rasa kagetnya. Dia menatap Chanyeol heran, ada satu makna di balik tatapan Chanyeol. Kekhawatiran yang sangat..

Yang ia tahu, Chanyeol itu sepertinya hanya biasa-biasa saja terhadap Baekhyun. Hanya sekedar teman, tidak lebih! Itu yang selalu ditangkap Sehun setiap Chanyeol dan Baekhyun dekat. Tapi sekarang? Chanyeol begitu khawatir pada Baekhyun, benar-benar khawatir, jelas terlihat dari sorot mata indahnya yang bulat.

“Oh Sehun!! Jawab aku!!

Sehun tersadar dari lamunannya ketika suara berat Chanyeol menginterupsinya.

“i-itu.. Baek— Umma ada di ruang kesehatan”

Chanyeol tidak mempedulikan Sehun yang kembali melamun, memikirkan tentang Chanyeol maupun Baekhyun.

“pasti ada sesuatu di antara mereka…”

.

X

.

BRAKK

Pintu kesehatan terbuka lebar seiring dengan suara tabrakan tubuh tinggi Chanyeol dengan pintu kesehatan. Mata Chanyeol bergerak ke kiri dan ke kanan memperhatikan sekeliling ruangan.

Hingga tatapannya terpaku pada sosok mungil yang tengah berbaring di branker di ruangan itu.

Tep~

Kaki panjangnya membawa Chanyeol untuk menghampiri sosok Baekhyun yang masih memejamkan matanya dan..ohhh Chanyeol merasa menjadi makhluk paling hina karena melihat wajah Baekhyun begitu pucat.

“Baek.. hyunnie.. cha.. chagiya” Chanyeol memejamkan matanya. Memanggil Baekhyun dengan panggilan sayang seperti itu memang seharusnya ia lakukan dari dulu.

Padahal hari ini ia akan memberikan kejutan untuk Baekhyun karena ia kembali mengingat semuanya, semua tentang yang ia lalui bersama Baekhyun selama 6 bulan dalam komanya.

Chanyeol menggenggam erat tangan Baekhyun yang menumpu di perutnya. Ia usap jemari lentik Baekhyun. “Baekhyunnie… mianhae..”

Tangan Chanyeol yang bebas ia tempelkan di dada kirinya. Sakit ketika melihat orang yang kita sayang terluka.

“haruskah aku memberi pelajaran pada Kai?”

Chanyeol menarik kursi agar lebih merapat duduk di dekat Baekhyun. Ia cium berkali-kali jemari yang kini ia selipkan satu persatu dari lima jari Baekhyun pada tangannya.

“Chanyeol-shii..”

“ne?” Chanyeol mengangkat kepalanya menatap perawat sekolah yang kini berdiri di sisi lain branker Baekhyun.

“jika ia sadar nanti, dan masih merasa pusing, kau berikan obat yang ku simpan di atas rak itu, arasso?”

Chanyeol mengangguk pelan. Meski ia tidak begitu memperhatikan ke mana arah telunjuk perawat itu menunjuk letak obatnya.

“aku pergi dulu.. jaga dia baik-baik. Karena kurasa ia memang sedikit pusing sebelum bola itu menghantam kepalanya”

Tidak perlu dijawab sebenarnya. Karena Chanyeol sendiri akan menjaga Baekhyun tanpa disuruh oleh orang lain.

Baekhyun…. cintanya.

Belahan jiwanya…

Separuh dari hidupnya…

Perawat itu tersenyum tipis dan berjalan keluar ruangan menghampiri seorang lelaki yang berdiri di dekat pintu seperti orang yang mengintip.

“tidak ikut masuk?”

“oh..  yaa… aku masuk nanti saja noona” Sehun sedikit gelagapan ketika perawat itu memergokinya mengintip dari luar.

Perawat itu sepertinya tidak ambil pusing dengan sikap Sehun, ia lebih memilih untuk meninggalkan lelaki itu.

Sehun menarik nafas lega ketika perawat itu sudah berbelok ke arah lain. Ia ke sini memang ingin mengintip, mencari tahu sisi dibalik status teman yang melekat antara Baekhyun maupun Chanyeol.

Chanyeol menenggelamkan kepalanya di sisi dekat pinggang Baekhyun. Hembusan nafas yang teratur menjadi penegas bahwa dia kini tertidur.. di samping Baekhyun.. cintanya.

.

X

.

“Chan.. Yeol?” matanya tidak sepenuhnya terbuka.. tapi Baekhyun mengenali wangi rambut Chanyeol yang tidur di sampingnya.

“Baekhyunnie??” Chanyeol mengerjap-ngerjapkan matanya karena efek mengantuk masih bersarang dalam tubuhnya.

“kau tidur lagi saja”

“kau ini! kau yang sakit, seharusnya kau yang istirahat” Chanyeol mengucek matanya hingga kini matanya sudah bisa melihat Baekhyun dengan jelas.

Baekhyun cekikikkan dibuatnya. “kau lucu sekali ketika tidur Chanyeollie..”

“aku bukan badut Baekhyunnie..”

“hahaha.. ahh  aww..” Baekhyun berhenti tertawa dan memegangi kepalanya yang sedikit berat dan pusing.

Chanyeol sigap menyentuh punggung Baekhyun. “gwenchana? Kau pusing? Istirahatlah” ia membantu lelaki yang lebih tua beberapa bulan darinya untuk bersandar.

Chanyeol beranjak dan berjalan menuju rak obat yang dimaksud perawat sekolah tadi. Di mana obat yang dimaksud perawat tadi?

“yang ini? bukan.. bukan.. ini obat untuk diare” Chanyeol bingung sendiri dibuatnya.

Tanpa Chanyeol sadari, Baekhyun tersenyum manis sekali di tempatnya. Chanyeol yang kebingungan benar-benar membuat lelaki itu lucu sekali.

Tes~

Baekhyun mengusap air matanya cepat sebelum Chanyeol membalikkan tubuhnya karena obat yang ia cari telah ditemukan. Lelaki tinggi itu kembali duduk di samping Branker Baekhyun dan memberikan obat pada lelaki itu.

Setelah Baekhyun memasukkan obat ke dalam mulutnya, Chanyeol memberikan sebotol air mineral pada Baekhyun dan membantu lelaki itu untuk minum.

“Baekhyunnie harus istirahat..”

Chanyeol kini membantu Baekhyun untuk berbaring kembali. Keadaan Baekhyun sepertinya tidak memungkinkan untuk keluar dan ke kelas meski itu ada tes pada jam pelajaran ini.

“Chanyeollie tidak masuk kelas dari tadi?”

Chanyeol tersenyum manis sekali. “aku menemanimu di sini dari tadi..”

“Chanyeollie harus masuk kelas, ada tes sekarang”

“aku akan menyusul tes itu nanti… bersama Baekhyunnie”

Baekhyun menghela nafas panjang dan memejamkan matanya sejenak. Menjalani tes bersama Chanyeol? Tidak buruk. Bersama Chanyeol akan lebih membantu karena yaaa Chanyeol bisa dibilang termasuk jajaran murid pintar di kelas.

Bukan.. bukan itu yang membuat Baekhyun gelisah. Tapi, bisakah ia menjalani tes itu bersama Chanyeol? Sementara sebentar lagi ia akan meninggalkan lelaki itu.

“kalau kau tidak ke kelas sekarang, aku akan memaksakan diri untuk ke kelas…” seperti ancaman kedengarannya. Dan tentu saja sangat diindahkan oleh seorang Park Chanyeol. Baekhyun akan memaksakan diri untuk ke kelas?

Bunuh saja dia, jika dalam keadaan seperti ini Baekhyun pergi ke kelas.

Chanyeol menelan salivanya dengan susah. “Baiklah.. ”

Chanyeol beranjak. Menghela nafas sebentar dan hendak berjalan.

Tep~

Chanyeol menoleh pada pergelangan tangannya yang dipegang erat oleh Baekhyun. Setelahnya ia tatap manik mata bening dengan mutiara hitam itu dengan tatapan lembut disertai senyuman manisnya. “ada apa Baekhyunnie?”

“aku…” Baekhyun membuang muka. Memang apa yang ingin dia katakan?

“hm?”

“aku… ah tidak! Kau cepatlah keluar.. kau akan terlambat Park Chanyeol!!”

Chanyeol berdecak berkali-kali. “aku juga mau keluar.. kau yang menahanku, Byun Baekhyun..”

Baekhyun kembali menatap mata indah milik Chanyeol. Ada sesuatu yang tersampaikan dari tatapan itu, Chanyeol sendiri kurang bisa menafsirkannya. “you still my no. 1..”

“eh?”

Chu~

Mata indah Chanyeol membulat sempurna, ketika belum sampai Chanyeol menafsirkan perkataan Baekhyun, bibir Baekhyun telah menyentuh permukaan bibir Chanyeol.

Tes~

Chanyeol memundurkan wajahnya, hingga ciuman itu lepas. Ia tatap lelaki yang baru saja menghadiahinya sebuah kecupan manis. Baekhyun terlihat mengusap air matanya kasar.

“kau kenapa?”

Baekhyun menggeleng cepat, dan tersenyum manis. Oh ya, siapa yang bisa tahan dengan senyuman itu? hingga mulut Chanyeol saja bungkam dan tidak menanyakan apapun lagi pada Baekhyun.

“you still my no. 1. Dari awal, kau memang nomor 1 begitu pun sekarang, dan seterusnya..”

Chanyeol hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Baekhyun, meski sebenarnya ia sedikit terharu. “aku tahu itu… dari awal”

.

X

.

Matanya menatap sekeliling ruangan kelas. Baekhyun tidak ada. Orang yang duduk sebangku dengannya tidak ada hari itu. sebenarnya kemarin setelah selesai tes, Chanyeol kembali ke ruang kesehatan. Tapi dia tidak menemukan apa-apa di sana, dan ia menanyakan pada perawat sekolah yang mengatakan jika Baekhyun pulang lebih awal karena ayahnya menjemput.

Sudah waktunya istirahat, dan selama guru yang masuk, tidak Chanyeol pedulikan. Matanya terus menerus menatap kursi kosong di sampingnya.

Kemana Baekhyun?

Masih sakit kah?

Oh baiklah, ia akan mengunjungi anak itu sepulang sekolah…

“APPA!!!”

Kembali Chanyeol harus melindungi telinganya dari suara lengkingan Sehun. Memang ini tidak sopan, anak kelas 1—– seorang junior datang ke kelas senior dan berteriak-teriak di dalam ruangan, jelas tidak sopan. Tapi, apa yang tidak bisa dilakukan Sehun? Anak pemilik sekolah ini.

“ada apa Oh Sehun?”

“itu… eomma.. eomma…” Chanyeol menoleh cepat ke arah Sehun. Eomma? Ah maksudnya Baekhyun, ada apa dengan lelaki itu?

“katakan dengan jelas apa yang terjadi dengan Baekhyun?” Chanyeol mencengkeram kuat bahu Sehun yang bergetar, salah satu kebiasaan Sehun jika lelaki itu tengah panik.

“eomma… eomma… aih! Baekhyun pindah sekolah”

DEG

Bukan karena Sehun yang tiba-tiba memanggil Baekhyun dengan nama yang benar.. ia terpaku karena baru saja mendengar sebuah kenyataan.

Baekhyun pergi?

“pindah… ke mana?” tanya Chanyeol dingin, tapi matanya sudah berkaca-kaca.

“Kanada”

Mutiara hitam yang ada di mata Chanyeol bergerak ke kiri dan ke kanan, menandakan kegelisahannya.

“mungkin ia sudah sampai di sana, ia mengambil penerbangan sore kemarin” jelas Sehun.

Pantas ia tak menemukan Baekhyun di ruang kesehatan kemarin setelah ia menyelesaikan tes. Karena memang Baekhyun sepertinya sudah mempersiapkan semuanya.

Pergi darinya dengan diam-diam..

Kata cinta yang tidak tersampaikan..

Bahkan ia sendiri tidak tahu kapan ia akan melihat sosok lelaki pendek dan manis yang selalu hadir dalam mimpinya ketika koma.

“orang tuanya pindah dinas ke Kanada, jadi dia juga ikut ke sana dan bersekolah di sana. Itu informasi yang aku dapat dari aboji”

Chanyeol tak menanggapi perkataan Sehun, ia lebih memilih diam dan berharap Baekhyun akan datang saat ini juga seperti apa yang ia lihat di drama-drama yang selalu ia tonton.

Tapi nyatanya tidak, Baekhyun telah sampai di sana.

.

X

.

Beberapa tahun kemudian…

Lelaki berperawakan tinggi itu melepas maskernya paksa dan melemparnya sembarang. Peluh telah menghiasi kening putihnya.  Pasien ruang 570 memang mempunyai penyakit yang serius, membuatnya kewalahan karena memang tugasnya adalah seorang dokter.

KLEK

“Dokter Park, pasien ruang 570 muntah darah sejak tadi” kepala Lay menyembul di balik pintu mahogani ruangan Park Chanyeol.

“Lay, sepertinya kita memang membutuhkan dokter dari Kanada itu..”

Mata Lay mengerjap pelan. “bukankah dokter itu memang akan kemari siang ini? anda memang mempunyai janji bukan dengan dokter itu?”

Chanyeol mendesah pelan. Memang waktu itu dokter dari Kanada menghubunginya (yang entah dari mana ia dokter itu tahu nomor ponselnya), memintanya untuk bertemu siang ini. matanya kembali memandang dokter Lay yang masih berdiri di depan pintu tanpa ia persilahkan duduk.

“siang ini? baiklah, tapi aku tidak menjamin pasien itu akan tetap hidup sampai esok pagi” ketus Chanyeol yang hanya dibalas senyuman manis dari Lay. Lelaki itu tak lagi berdiri di ambang pintu, kini kakinya membawa ia menghampiri Chanyeol yang frustrasi.

“ingat tugas seorang dokter Park Chanyeol..” Lay menepuk pundak Chanyeol pelan.

“aku tahu itu.. jadi jangan ingatkan aku! Aku ini seniormu”

“ya. Ya.. aku tahu.. tapi umurku lebih tua dari anda..” ledek Lay.

“terserah” Chanyeol menelungkupkan kepalanya diantara lipatan tangannya di meja. Nafasnya naik turun, terbukti dengan gerakan punggungnya.

Lay cekikikkan dibuatnya. Chanyeol memang seniornya, tapi sikapnya itu.. ck, seperti anak kecil. Mungkin karena memang Chanyeol lebih muda darinya. “umm, Chanyeol! Dia itu kekasihmu ya?”

Chanyeol mengangkat kepalanya dan melihat arah telunjuk Lay yang menunjuk bingkai kecil di sudut meja kerjanya. Chanyeol bungkam.

Orang yang ada di foto itu – Baekhyun, bukan kekasihnya. Ya, Baekhyun bukan kekasihnya.

“dia temanku” balasnya datar.

“teman special?”

“cerewet sekali kau! seperti yeoja saja… kalau memang ia teman spesialku, kenapa? Ada masalahkah?” Chanyeol sepertinya naik pitam, kening berpeluh itu berkerut menahan emosi.

“maaf.. maaf..”

Drrtt.. Drrtt..

“yoboseyo?… mwo? Dokter itu sudah tiba di Korea? Kau katakan padanya untuk segera datang ke rumah sakit.. Dokter Park menunggunya”

Chanyeol memutar bola matanya kesal. Dirinya butuh ketenangan saat ini, belum lagi pasien di kamar itu akan segera di operasi begitu tibanya dokter dari Kanada itu.

“Ah, Dokter Park! Sepertinya dokter dari Kanada itu tiba sebelum waktunya, anda harus menyiapkan segalanya terlebih dahulu..”

“baiklah..” balas Chanyeol malas.

.

X

.

Chanyeol melepas maskernya kesal, mulutnya sedari tadi tak henti-hentinya memaki dokter dari Kanada itu. siapa yang tidak kesal, sejak di dalam ruangan operasi sejak tadi, Chanyeol seperti tidak melakukan apa-apa.

Bahkan untuk mengambil gunting operasi pun, ia tidak dapat melakukannya karena dokter yang sedari tadi memakai masker itu sudah lebih dulu mengambilnya.

Ini pun Chanyeol keluar lebih dulu, karena dokter itu masih membereskan peralatan operasi mereka tadi. Ralat.. bukan mereka, tapi dokter itu saja. Chanyeol tidak ikut-ikutan.

Dia juga seorang dokter. Hey, ia baru saja menyelesaikan s2nya kemarin. Jadi, jangan meremehkannya!

Ingin rasanya Chanyeol menarik paksa masker itu, dan melihat wajah dokter lelaki itu. Chanyeol kembali memutar tubuhnya dan menatap pintu yang menjadi penghalang antara ia dan ruang operasi. Ia tatap pintu itu dengan tatapan sebal, seolah ia sedang berhadapan dengan dokter itu.

KLEK

“ekhem..” Chanyeol sedikit kikuk ketika pintu ruangan itu terbuka. syukurlah bukan dokter dari Kanada itu yang membukanya, tapi Lay.

“Dokter Park? Masih di sini?” bingung Lay.

“oh? Ya.. a-aku.. sudahlah.. oh ya Lay, katakan pada dokter itu untuk menemuiku di ruanganku..”

Lay mengangguk cepat. “siap”

.

X

.

Chanyeol POV

“memanggilku Dokter Park?”

Lihatlah! Bahkan dokter itu tidak memiliki etika sama sekali. Ia masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu?

Hey, betapa aku ingin menendangnya keluar dan mengulangi pergerakannya untuk mengetuk pintu terlebih dahulu.

Tapi ingat, aku masih waras untuk melakukan itu semua.

“ya.. aku memang memanggilmu” balasku ketus.

Terlihat ia menendang pintu ruanganku sehingga pintu itu kembali tertutup. Apa? Menendangnya? Ingin sekali aku mencakar wajahnya yang masih dibalut masker itu.

Sungguh, aku tidak tahu jika etika di negara orang lain seperti ini..

Ck, sungguh memalukan.

“maaf, bisakah anda lepas maskermu, Dokter..” aku kembali membaca identitas yang baru saja aku dapat dari Lay. “Dokter Wu Yi Fan? Hey! Kau orang China?”

Aku mengatupkan bibirku rapat-rapat. Sepertinya aku menyadari ada kata-kata kurang sopan yang baru saja aku lontarkan. Tapi.. tapi.. untuk apa aku bersikap sopan pada dokter yang tidak mempunyai etika sama sekali?

“ne Dokter Park, namaku Kris Wu”

Aku hanya mengangguk malas, persetan dengan namanya yang banyak.

Ia melangkahkan kakinya menghampiri meja kerjaku dan mendudukkan tubuhnya di kursi yang berhadapan denganku.

Ia mulai melepas maskernya.

Dan..

“tampan…” bisikku dalam hati.

Oh ya, memang dia tampan! Aku mengakui itu..

“oh ya Dokter Wu, anda bisa berbahasa Korea?” tanyaku karena memang aku baru sadar sedari tadi dokter itu berbicara menggunakan bahasa Korea.

“ne, aku belajar dari kekasihku..”

“kekasih?” tanyaku tanpa sadar.

Kata itu terdengar cukup tabu di telingaku. Karena memang sampai usiaku yang sudah semakin tua ini, aku tidak pernah memiliki kekasih.

“ya, kekasih. Dia juga mengenal anda”

“mengenalku?” tanyaku heran.

Sebegitu terkenalnya kah aku hingga kekasih dari dokter ini mengenalku?

“ya, anda sering dipanggil Happy Virus ketika masih SMA dulu bukan?”

Tunggu.. tunggu.. aku mulai curiga jika kekasih dokter Kanada ini memang sekelas denganku ketika SMA. Tapi siapa?

“apa aku mengenal kekasih anda?”

“sangat, sangat mengenalnya. Aku bisa mengantar anda untuk menemuinya, anda pasti senang”

.

X

.

Aku tidak mengerti ketika mobil yang aku tumpangi berhenti di depan sebuah rumah bercat cream.

Sepertinya aku mengenal rumah ini. iya, betul! Aku seperti pernah kemari, tapi.. kapan?

“Annyeong haseyo.. Aboji” Dokter Kanada eh, maksudnya kris membungkuk hormat pada seorang lelaki setengah baya di hadapannya.

Tunggu.. tunggu.. aku juga sepertinya pernah melihat lelaki itu.

Lelaki itu tertawa pelan. “anakku benar-benar telah mengajarimu bahasa korea yang baik” kepalanya sedikit bergerak seperti melihatku, entah aku juga tidak yakin. “kau membawa teman Kris?”

Kris mengangguk cepat dan bergeser sedikit hingga tubuhku yang memang berada di belakangnya bisa melihat lelaki itu dengan jelas.

“Annyeong ahjussi” aku membungkukkan badanku sopan, seperti adat Korea selatan pada umumnya.

“kk—kau?” mata kecil lelaki itu membulat ketika melihatku. Apa benar perasaanku jika aku memang mengingat lelaki ini?

“ahjussi mengenal aku?”

Ahjussi itu memalingkan wajahnya tepat setelah aku menyelesaikan pertanyaan. “sepertinya tidak, kau mengingatkanku pada seseorang di masa lalu..”

Aku hanya mengangguk menanggapi jawabannya.

“ah Kris, masuklah… ajak sekalian temanmu, di dalam juga ada teman Baekhyun”

Ba-Baekhyun? Baekhyun… Baekhyun? Byun Baekhyun??

Aku masih terpaku di tempat, menghiraukan Kris yang berjalan mendahuluiku masuk ke rumah itu. pikiranku masih kalut. Tunggu. Baekhyun yang dimaksud lelaki itu, Baekhyun.. Byun Baekhyun?

“Hey, Dokter Park.. cepat masuk” aku sama sekali tidak peduli dengan teriakkan Kris dari dalam rumah, juga ketika ia menarik lenganku dan menuntunku masuk ke rumah itu juga aku tak peduli.

Jadi… ahjussi tadi.. appa Baekhyun?

Pantas saja aku mengenalnya! Dan rumah ini.. ini juga rumah Baekhyun.

Tapi…

Aku melirik lelaki yang sedari tadi menuntun tubuh kaku ku. Perasaan geram menyelinap masuk ke dalam tubuhku. Aku memandang sinis paras tampannya.

Kekasih Baekhyun?

Tapi.. hey! Aku siapa Baekhyun? Hanya cinta lamanya. Tapi tak apa, hari ini aku akan dipertemukan kembali dengannya, berhasil atau tidak dengannya, biar tuhan yang menentukan. Siapapun, meskipun itu Kris.. tidak akan ada yang bisa merubah takdir.

“Park Chanyeol..”

Sebentar.. sebentar.. aku juga sepertinya mengenal suara itu..

Aih! Kenapa otakku kali ini sulit untuk bekerja? Efek benturan kemarin kah? Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Aku tersenyum tipis, rumah ini mengingatkanku ketika aku masih koma dulu. Saat-saat indah bersama Baekhyun.

“yak! Park Chanyeol.. kau lupa padaku?”

Kris benar-benar cepat dalam menuntunku. Lihat saja! Sekarang aku sudah berdiri di hadapan seorang lelaki yang lebih pendek dariku.

Aku bungkam. Benar! Aku seperti orang bodoh yang bingung dengan keadaan sekelilingku. Bahkan dengan orang ini, sepertinya dia lebih muda beberapa tahun denganku.

“aih! Appa” tangannya memukul kecil lenganku.

Appa? Hey! Sepertinya aku juga pernah mendapat panggilan seperti itu dari seseorang ketika masa SMA. Sebentar.. namanya pasti..

“Oh Sehun?” tanyaku tak yakin.

Lelaki itu mengangguk cepat. “kau sudah pikun ya sampai melupakan anakmu yang tampan ini?”

Aku hanya cekikikkan. Mengingat Sehun yang dulu memanggilku aku dan Baekhyun dengan sebutan eomma dan appa, memang sangat manis. Menyesalnya aku karena waktu itu aku kesal dipanggil seperti itu.

“maaf.. maaf.. hari ini kepalaku berat sekali”

“whoaa kau keren sekali appa bisa menjadi dokter! Baekhyun eomma pasti senang”

“UHUK” aku benar-benar kaget ketika Sehun kembali memanggil Baekhyun dengan seperti itu, bahkan aku sampai tersedak makanan ringan yang nyaris melewati kerongkonganku.

“pelan-pelan Chanyeol..” ada seorang lelaki lagi yang menyodorkan segelas jus jeruk padaku, suara lelaki itu begitu lembut. Dengan sekali sentakan aku mengambilnya dan meminumnya cepat.

“gomawo” aku mengatur nafas yang memang tidak teratur ini. aku kembali memberikan gelas kosong pada lelaki itu dan mendongakkan wajah menatap lelaki yang sudah pasti lebih pendek dariku.

….

….

….

“LUHAN?” pekikku tertahan. Bahkan semua yang ada di sana melihatku dengan pandangan aneh. Membingungkan memang, hey! Kenapa dia bisa berada di sini? Dia… dia malaikat!

“kau mengenalnya?” tanya Sehun yang duduk di sebelahku kini. “dia kekasihku”

“kk-ka-mi..”

“hanya kenal sepintas” potong Luhan cepat.

Kulihat Sehun hanya ber-oh ria begitu mendengar jawaban Luhan yang begitu pendek tapi membuat mulut Sehun yang terkenal cerewet ketika SMA bungkam.

Aku kembali mengedarkan pandanganku ke rumah ini. siapa lagi yang akan kutemui di sini? Kenapa anak pemilik rumah ini tidak kunjung keluar kamar? Eh, memang dia ada di sana?

“Kris.. kekasihmu mana?” tanyaku yang sebenarnya tidak rela menerima Baekhyun memang kekasih si dokter tidak tahu sopan santun ini.

“sepertinya ada sesuatu di antara kalian hingga kau sudah tidak sabar melihatnya..”

“a-ah? Ah tidak.. eum, aku ada sedikit urusan di rumah sakit..” sedikit mengarang memang, tapi tak apalah selama ini untuk melihat Baekhyun kembali.

“baiklah.. ia ada di taman samping.. ayo aku temani” ia sudah menarik tanganku sebelum aku sempat membalas. Untuk apa ia temani? Aku sudah hapal taman samping rumah ini. aih! Dia mau mengganggu acara pacaranku dengan Baekhyun? Awas saja jika itu terjadi!

Aku dan dia sudah sampai di taman samping. Masih seperti dulu, hanya saja ada yang sedikit berbeda dengan cat pagar itu.

Tapi.. hey, kemana Baekhyun? Jangan katakan jika dokter ini mengerjaiku! Akan ku tendang dia ke benua lain kalau itu sampai terjadi.

“Baekhyun mana?” ups! Pertanyaan tadi sungguh terlalu menunjukkan jika aku benar-benar tidak sabar bertemu dengan lelaki mungil itu.

“sabar dulu.. kenapa langkahmu tiba-tiba berhenti di sini? Dia ada di sana” desis Kris.

Baiklah aku tidak peduli dengan yang ia bicarakan. Aku hanya ingin bertemu dengan Baekhyun! Itu saja. Tapi kalau lebih juga tidak apa-apa.

TAP

Kris menghentikan langkahnya, sontak membuatku juga berhenti. “lihatlah yang ada di bawah pohon itu”

Aku mengikuti arah tunjuknya. Dan berjalan untuk memperjelas penglihatanku jika itu memang..

Pusara.

“itu.. tempat peristirahatan terakhir Baekhyun..” aku menoleh seketika ketika Kris mengatakan kenyataan yang memang sangat menusuk itu.

“aku kekasihnya, ahh iya aku kekasihnya. Tapi tidak sampai satu hari aku menjadi kekasihnya… itu juga karena dia melihatku seperti melihatmu. Tinggi badan kita hampir sama, itu yang menjadi alasan Baekhyun” jelas Kris yang masih sempat aku dengarkan. “waktu itu aku masih menjadi dokter baru di sana, dan selalu menemaninya”

“kapan ia meninggal?” tanyaku dengan pandangan kosong ke pusara itu.

“4 tahun yang lalu. Ia pernah koma selama 2 tahun.. lama memang, tapi ia kembali sadar. Kupikir umurnya akan panjang, tapi nyatanya tidak”

“beruntung sekali kau bisa bersamanya di detik-detik terakhirnya” gumamku. Jelas saja kecewa. Baekhyun meninggalkanku begitu saja, bahkan tidak memberitahuku sebelumnya. Dan ketika ia sudah bisa bertemu dengan Baekhyun, bukan sosok mungil itu yang ia lihat, tapi kenyataan bahwa Baekhyun telah tiada.

“aku menyayanginya… aku juga sakit karena ia melihatku sebagai Park Chanyeol bukan Kris Wu”

Aku bungkam. Tidak bisa membalas perkataannya. Aku berjongkok di samping tumpukan tanah yang menyimpan Baekhyun di dalam sana. Ironis karena kita saling mencintai dan belum sempat terdengar kata cinta di antara kami. Ralat. Bukan kami tapi aku, dia jelas pernah mengatakannya ketika aku masih koma dulu.

“dia menitipkan ini padaku” aku menatap heran dengan kertas yang disodorkan Kris.

Kris tersenyum tipis dan mengangguk. Dengan ragu aku mengambilnya, belum sempat membukanya karena Kris kembali berucap. “aku telah menyuruh orang untuk membawa mobilmu ke sini. Aku akan pergi lagi, tugasku untuk mengatakan semuanya sudah selesai. Sampai jumpa Park Chanyeol”

Aku tak menggubrisnya, tapi tetap aku mendengarkannya, begitu juga mendengar langkah kaki panjangnya yang kian menjauh. Aku menghela nafas lelah. lelah karena kenyataan yang tidak bisa ditepis ini.

GEZZ GEZZ

Aku mendongakkan wajah menatap butiran air sebesar jagung menerpa wajahku. Dingin. Tapi aku menyukainya.

Hujan, tempat di mana aku dan Baekhyun bertemu.

Hujan, tempat di mana kami nyaris saja berpisah dulu.

Hujan, tempat di mana aku tahu ia telah pergi.

Baekhyun.. tunggu aku di sana.

Di pintu keabadian.

Aku terhenyak ketika tersadar aku masih menggenggam surat yang diberikan Kris tadi. Surat dari Baekhyun kah?

Sebelum hujan menghancurkan surat terakhir dari Baekhyun, aku cepat-cepat membukanya.

Untuk Chanyeol;

Hey, kau baik kan di sana?

Tentunya kau akan sangat baik-baik saja… Happy Virus sepertimu sangat pantang untuk menangis, benarkan?

Di mulai dari mana ya? Aku juga bingung sendiri jadinya..

Oh ya! Kau sudah mengingat semuanya Chanyeol? Mengingat masa-masa ketika kau koma dulu?

Dari mana aku tahu? Tentu saja dari Luhan. Bukan hanya kau yang bisa melihatnya, aku juga bisa.

Jika kau mengingat masa-masa itu, berarti kau juga ingat ketika aku menyatakan perasaanku dulu?

Ingat tidak?

Aaahh aku sangat malu >.<

Hey, bagaimana kabar anak kita? Eh, Sehun maksudnya. Aku merindukannya. Tapi padamu, jelas sangat rindu.

Luhan itu baik yaa.. dia bahkan memberikanku kode jika aku akan meninggal besok, jadi aku gunakan kesempatan ini untuk menulis surat sebanyak yang aku inginkan.

Eh tidak.. tidak.. aku hanya menulis surat satu saja, yaitu untuk kau.

Hn~ Chanyeollie, aku lelah harus di operasi terus menerus di sini.

Kalau memang penyakitku tidak bisa disembuhkan, ya sudah menyerah saja. Bukan hanya dokter yang lelah, aku juga lelah harus bolak-balik keluar masuk ruang operasi.

Chanyeollie marah padaku?

Maaf karena waktu di ruang kesehatan itu aku tiba-tiba menghilang.

Aku langsung pergi dari sekolah dan bersiap diri karena jadwal penerbanganku sore.

Dan aku sengaja mengambil jadwal itu, karena dengan begitu kau tidak menyusulku ke Airport seperti di drama-drama picisan yang sering ku tonton.

Sebenarnya aku benci hidupku yang lemah ini..

Tapi, jika aku kembali mengulang kehidupanku, aku ingin aku tetap mengenalmu dan..

Mencintaimu.

Chanyeollie, kau mencintaiku kan?

Jangan bohong.. akui saja..

Jangan malu, karena percuma aku tidak ada di hadapanmu.

Jadi jangan pernah menyesal karena kau belum sempat mengatakan perasaanmu padaku, karena aku juga sudah mengetahuinya.

Bukan karena aku percaya diri, tapi Luhan memberitahukannya padaku.

“eh?” Chanyeol kaget ketika membaca tulisan selanjutnya karena ber-spasi darah. Begitu parahkah penyakit Baekhyun?ia menggerakkan sebelah tangannya yang bebas untuk mengusap air matanya.

Aku menulis surat ini malam hari di tengah dinginnya hujan.

Hujan memang selalu mengingatkanku padamu Chanyeollie.

Kris Wu, dokter muda itu memang kekasihku. Tapi itu berlaku sejak sore tadi… kau jangan cemburu, karena aku terlalu merindukanmu.

Ketika aku melihat Kris, aku seperti melihatmu.

Tinggi badan kalian hampir sama, hingga membuatku iri pada kalian yang bisa memiliki tinggi badan sempurna seperti itu.

Chanyeol, ini kedengarannya aneh.

Tapi… kutunggu di keabadian.

Ingin sekali aku menulis sebanyak-banyaknya, tapi tubuhku terlalu lemas. Bahkan untuk menggerakkan tanganku pun terasa susah.

Aku juga mengantuk, bisakah aku menghentikan kegiatan tulis menulisku sekarang? Aku sudah lelah, dan tinggal menunggu besok pagi di mana aku tidak bisa membuka mata kembali.

You still my no. 1

Forever.

Dari yang menunggumu, Byun Baekhyun.

Sudah. Surat itu telah hancur oleh hujan semakin deras yang menerpa tubuhku. Tak peduli seberapa menggigilnya tubuh ini, hanya bisa diam menatap pusara di depanku.

“Chan Yeol..” tepukan yang mendarat di pundakku, membuatku dengan perlahan menoleh dan mendapati Lu Han yang tengah tersenyum padaku.

“aku…. lelah

Kepalaku menunduk dalam seiring dengan helaan nafas lelahku. Sejak awal memang takdir mempermainkan kami. Dari mulai aku yang koma dan dengan ajaibnya bisa hadir dalam kehidupan nyata Baekhyun. Hingga sekarang, Baekhyun pergi meninggalkanku begitu saja?

“be-benarkah kau lelah? Padahal masih ada satu lagi kejadian yang akan kau temui”

Seketika aku mengangkat wajah dan menatap Lu Han dengan tajam. Satu lagi? Oh apalagi setelah ini hah?? Ingin rasanya aku berteriak marah, kesal pada malaikat berwajah cantik ini.

“a—apalagi.. Lu Han?” sial! Bukan umpatan, makian atau teriakkan yang aku berikan tapi malah sebuah lirihan yang membuatnya bisa melihatku sebagai sosok yang nyaris putus asa.

“kau akan tahu nanti Chan Yeol… aku akan menerima hukumanku lagi jika aku sampai memberitahukannya… ah! Itu mobilmu, cepatlah pulang.. kau akan mati kedinginan di sini”

Entah apa yang membawaku hingga tiba-tiba saja aku melangkah menjauhi pusara tempat di mana orang yang aku cinta beristirahat. Hey, aku masih ingin di sini! Aku belum ingin pulang… hey kaki! Cepatlah berhenti melangkah!

Kudengar suara cekikikkan Lu Han di belakang sana. Aih! Aku yakin dia yang melakukan ini semua hingga membuatku sedikit pun tidak bisa untuk menghentikan langkah kakiku. Dan bahkan kini aku sudah berhadapan dengan mobilku sendiri, Lu Han masih tetap saja cekikikkan.

BLAM

Kututup pintu mobil dengan keras, dan menjalankan mobilku dengan kesal.

.

X

.

Author POV

Sore itu Chan Yeol benar-benar menjalankan mobilnya sedikit ngebut. Pandangannya menatap kosong ke depan. Hujan bertambah lebat.  Tatapannya masih lurus ke depan, kosong. Ia tak peduli dengan cercaan pengendara mobil lainnya yang kesal karena ia menjalankannya dengan sembrono. Tidak hanya itu, ia juga tidak peduli dengan wiper kaca mobil yang belum ia fungsikan.

Matanya membulat, sadar dari lamunannya ketika tiba-tiba saja rem yang ia injak tidak berfungsi. Bola matanya bergerak menandakan ia dalam kegelisahan yang sangat.

“a—ada apa ini?”

Chanyeol benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa.

“Chanyeollie…”

Cukup, Chan Yeol tidak bisa lagi fokus ke jalanan jika ada yang sudah memanggilnya seperti itu. bukan masalah panggilan kesayangan atau apa. Tapi, dari tadi dia sendiri di mobil ini!

Sudut matanya perlahan menoleh ke kursi penumpang di sampingnya. Dan matanya terpaku pada sosok itu hingga membuat kepalanya juga ikut menoleh dan menyaksikan sosok cantik dan polos yang kini tengah menatapnya.

“Bb-Baekhyun?”

Yang dipanggil hanya tersenyum manis dan mengusap tangan Chanyeol yang masih memegang kemudi. Dingin. Chan Yeol memang tak bisa merasakan sentuhan itu. tapi, sensasi dingin itu jelas terasa.

“ku tunggu kau.. di keabadian”

Baekhyun tersenyum manis sekali. Ia kembali menarik tangannya dari tangan Chanyeol. Matanya melirik ke depan, ke jalanan yang begitu tidak Chan Yeol pedulikan. Hm, sebentar lagi!

BRAAKKKKK

..

.

.

.

.

Dengarkan..

Kau bahagia sayang?

Tunggu aku..

Jangan pernah mendahului..

Kita raih bersama, kebahagiaan itu..

Hidup ini adalah sebuah pilihan yang kita putuskan..

Dan aku memutuskan seperti itu..

Jangan bertindak bodoh jika tidak ingin terlihat bodoh.

Aku memilihmu

Dan selamanya memilihmu.

Lu Han hanya tersenyum ketika melihat banyak sekali orang berbondong-bondong untuk melihat keadaan sebuah mobil yang baru saja menabrak pembatas jalan dan akhirnya menabrak tebing.

Berulang kali ia mengeluarkan decakan ketika banyak sekali orang yang dengan mudahnya bisa melewati tubuhnya yang memang tak terlihat. “hn~ Park Chan Yeol, kau senang bukan dengan takdir seperti ini?”

“hujan. Sepertinya Tuhan memang berniat mengaitkan takdir kalian dengan hujan..” lanjutnya.

Lu Han menatap langit sore itu. “sepertinya petang nanti aku akan menyusul kalian, setelah berpamitan pada Sehun. Hah, tidak rela juga harus meninggalkan anak itu. Baekhyun, Chanyeol, aku senang karena melakukan kesalahan dulu sehingga aku dihukum untuk berada di dunia manusia dan bertemu kalian. Hey! Kalian berdua, tunggu aku di sana!”

Kau tahu sesuatu yang hanya dapat kau lihat ketika melihat ke depan atau ke bawah?

Kau tidak bisa melihat sesuatu itu jika melihat ke atas.

Kau tahu itu apa?

Bukan.. bukan tubuhku yang lebih pendek darimu..

Tapi..

Hujan.

Lihatlah ke depan, kau bisa melihat rintikan itu tepat di hadapanmu.

Dan lihatlah ke bawah, kau bisa melihat rintikan itu jatuh ke permukaan air yang menggenang.

Lihatlah juga ke atas! Kau tidak bisa melihat hujan bukan?

Aku tahu hujan itu berasal dari langit, tapi jika kau melihat ke langit, kau tidak bisa melihat hujan.

Seolah hujan itu datang dengan sendirinya.

Benar bukan?

Percayalah, karena itu benar.

.

.

.

.

FIN

OOOOOOOOOO YEEAAAAHHHHH!!!!

Ulala~

Jangan salahkan telor karena ffnya berakhir dengan SAD ENDING! Tapi yaa mungkin aja ya BaekYeol bisa bahagia di sana kalau bertemu nanti.

Sebenarnya ini ff gak bakal dibikin SAD, Cuma yaaa Cuma,,, ane nonton pelem habibie dan ainun noh *siapa yang belum nonton? Keren cuyy pelemnya. SBY aja nangis*. Gara-gara tuh pelem telor jadi kepikiran buat bikin ff ini SAD. Kenapa? Karena telor suka :p

Terserah sih mau ngelempar telor make apa! Make telor juga gak apa-apa, ane kan maniak telor. Dipanggil Telor serasa jadi EGGYEOL *ngarep*

Oke, yaaa udahan aja ya… awas loh jangan bawa-bawa para suami telor *Kris & Chanyeol* buat bakar telor awas loh jangan ngadu domba telor sama para suami #plakk *bercanda, tapi kalo mau bawa KrisYeol buat nyium telor gak apa-apa, telor seneng malah*

Akhir kata.

REVIEWNYA!!! *bukan wassalam woy?!*

SHARE BY NILAM

57 thoughts on “[FF Freelance] Yaoi BaekYeol- Love Under The Rain-Sequel

  1. Wahhhh,,,,, asli ini rumit dri awalx tp aq udh bisa nebak soalx bnyak bgt clue distu,,,
    Awalx aq kira dokter itu si baekkie gataux si Kris wkwkwkwkwk
    Tp keren thor ,, daebaak lahh :3

  2. *hening*

    sumpah ampuuunn author-ssi ampuuuuunnnnn knpa sih knpa knpa knpa knpa kamu itu nyebelin bgt bkin sy nangis ah *lari kepelukan suho
    ini ff nya sumpah ya kereeeeeeeeeeeeeeeeeeennnn pake bangeeeeeeeeeeeeeeettt…. bikin merinding serius.. >,<

    klo mnurut aku ini happy ending aja deh.. chanyeol kan mati.. jd mungkin disana sam baekhyun #sotoy #toyorpalasendiri ==" adudududuh.. aku ga nyangka yah luhan yg jd benang merah yah semacem bgtu deh. kasian uri sehunie di tinggal umma sama appa nya.. TT TT

    aku ketawa2 pas sehunie manggil baekyeol umpa.. ahahaha lucu bgt #cubit sehun
    keren keren keren dan aku suka.. :3

  3. huaaaaa … sad ending T.T #bner2 gk nyangka ni ending nya bkal kya gni T.T tpi so sweet lah baekyeol mati berdua:D, cuma kasian aja tuh sma maknae cadel si sehun, wkwkw di tinggal Luhan o.o ,, eonni telor bkin yg lebih sad lagi dong😀 *apa ini nyuruh2 org seenaknya ._.v keren eonn, daebak:)

  4. Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~~ TTTTTTTTTTTTTTTTTT^TTTTTTTTTTTTTTT
    Author~!!!!! FF’nys sdih banget.. TT,TT
    Bibir aku sakit nih~!!! Nahan tangisannya.. XDDD
    HUhuhuhuhuhuh~~ Author… DAEBAGG~!!! #Bukan pake K lagi~
    Author… Tetep Berkarya ya~??? ^^♥

  5. Nyesek juga ya kalo ternyata orang yang hampir membunuh kita ternyata adalah ayah dari orang yang kita cintai? Aku nggak nangis thor baca ff ini. Kenapa? Bukan karena nggak dapet feel ya, justru aku dapet banget malah. Aku nggak nangis soalnya baekyeol tetap bersama. Ini sehun jadi anak baekyeol imut imut gimanaa gitu. Trus luhannya kok setiap saat tersenyum? Aih…angel.
    Author angel!!! Kapan kapan bikinin ff komedi atau horor mau gak? Atau yang happy ending gitu? Reader banyak mau ya saya, haha biarin.
    Bagus ffnya, kece,

  6. sumpah ya.baca love under the rain yang pertama itu unyu abis.trus ini sequelnya sedih banget hueeee ;A; kenapa harus meninggaaaalll ini juga luhan nanti gimana ama sehunnnn hueeee…..sedih abis pas chanyeol ke pusara nya baekhyun.kejer.udah ah bingung mau nulis apa lagi.jjang~~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s