Amaterasu (The Undying Flames)|| ChanBaek || – [Chapter 6]


ama6

Fanfiction-BaekYeol/ChanBaek

Tittle: Amaterasu (The Undying Flames) – Sequel Avenger’s Fault

Author: AyouLeonForever

Cover pic/poster edited by: AyouLeonForever

Genre: Yaoi, Romance, Thriller, crimes, Tragedy

Length: Chaptered- Sequel

Rating: T, NC 17 (untuk adegan kekerasan dan darah-darahan(?), dan juga… ehem, a lil’ bit lime, maybe *evil smirk).

Main Cast:

  • Park Chan Yeol

  • Byun Baek Hyun

  • Kim Jong In/Kai

  • Lu Han

  • Wu Yi Fan/Kris

Support Cast:

  • Oh Se Hun (yang dalam cerita ini udah almarhum)

  • Do Kyung Soo

  • Kim Joon Myeon /Su Ho

  • Dan seseorang yang akan diungkap di akhir cerita.(sok misterius)

Disclaimer: GOD

Copyright: semua isi, alur/plot, ide cerita, OC, dan di luar dari karakter asli itu murni pemikiran ALF (AyouLeonForever). Jika ada kesamaan cerita, apalagi kalo bener-bener mirip, cuman alih bahasa aja, itu perlu dipertanyakan (kebawa-bawa). Dilarang menjiplak, mengedarkan, mengkopi paste, mengalih bahasakan, tanpa seizin pemilik. Intinya PLAGIATOR… INSYAF LAH DIRIMUA NAK(?)

No Copas Jeballlll

Summary:Se Hun-ah… selamatkan Byun Baek Hyun…

 

Previous Chapter…

Seorang namja tampan berkulit tan, berdiri di anak tangga pertama sambil mengusap-usap wajahnya, sepertinya sempat tertidur.

Chan Yeol tidak bersuara, tapi jelas sekali perubahan raut wajahnya itu.

Namja berkulit tan itu menguap lebar-lebar, membetulkan kancing kemejanya “Ah… Park Chan Yeol… Hai…” Sapanya santai.

Chan Yeol menghempaskan koper yang ditentengnya tadi ke lantai dan beralih menatap Baek Hyun, tajam “Jadi… bisa kutahu alasan kenapa namja sialan itu bisa berada di rumahmu?”

Baek Hyun menelan ludah, gelagapan, baru kali ini ia melihat Chan Yeol menatapnya setajam itu.

“Katakan sekarang atau….”

AMATERASU

“Atau apa Park Chan Yeol? Hm?”Tantang Kai sambil menahan senyumnya. Sebenarnya ia cukup terhibur saat melihat Chan Yeol bereaksi seperti ini, menurutnya sedikit lumayan bisa mengerjainya. Sekalian bertaruh, apakah Chan Yeol akan naik pitam dan langsung mengeluarkan senjata dari balik jasnya, menodongnya pada Kai, atau sejenisnya lah sampai identitasnya terbongkar.

Walaupun dalam hal ini Baek Hyun sudah tahu betul bahwa Chan Yeol adalah seorang Avenger….

“Ka… Kalian saling mengenal?”Tanya Baek Hyun, yang sebenarnya hanya sebatas formalitas. Caranya juga untuk keluar dari situasi sulit.

Chan Yeol meremukkan kedua tangannya menatap Kai dengan emosi bergemuruh, “Lalu… kau sendiri mengenalnya?” lirihnya tertahan tanpa menatap Baek Hyun sedikitpun, walau pertanyaan itu ditujukan untuknya.

“Ne… Dia temanku, juga… sahabat dari… seseorang yang sangat penting di masa laluku”

Barulah Chan Yeol menoleh, ditatapnya Baek Hyun dengan sangat tajam. Wajah namja mungil itu kembali memucat, bibirnya yang memutih itu, serta bola matanya yang bergerak ke sana-kemari tanpa berani menatap Chan Yeol menandakan bahwa Baek Hyun betul-betul ketakutan saat itu.

“Dia… Rivalku di Beijing”Jawab Chan Yeol akhirnya dengan nada suara diturunkan.

Barulah Baek Hyun berani menatapnya lagi, “Ne?”

“Rivalku… di… Universitas. Dan aku… Tidak suka dia”

Baek Hyun tidak menjawab, kemudian menunduk.

“Kejam sekali kau Park Chan Yeol, padahal kau juga belajar banyak dariku”Sambung Kai. Namja itu sangat santai, terlalu santai, karena nyatanya ia tengah berjalan menghampiri Chan Yeol dan Baek Hyun.

“Pergilah dari sini atau kau akan menyesal karena berurusan denganku”Ancam Chan Yeol.

“Ayolah… santai saja, kami ini teman lama, apa salahnya bernostalgia, kau juga pasti tidak mengizinkanku menginap di apatermentmu kan? jadi… berhubung si cantik ini bersedia menampungku, kenapa harus mencari tempat lain lagi? Hm,  Lagi pula aku sedikit janggal akan sesuatu, sebenarnya siapa Baek Hyun bagimu?”

Puk~

Dengan santainya Kai merangkul pundak Baek Hyun dan membuat namja mungil itu semakin bergetar.

“Tanganmu… Kim Jong In”Tegur Chan Yeol dengan suara tertahan.

“Kenapa dengan tanganku?” Kai mengeratkan pelukannya di pundak Baek Hyun dan menariknya lebih mendekat.

Chan Yeol sudah hampir kehilangan kesabarannya, terlihat dari gerakan expansi dadanya yang begitu cepat, jelas sekali kalau ia sedang mengontrol nafasnya. Buku-buku jarinya sudah memutih saking kerasnya ia meremukkan tangannya.

Drrrtt…Drrrtt…

Kai segera merogoh saku jeansnya begitu ponselnya bergetar, dan setelah ia menatap layarnya, raut wajahnya langsung berubah drastis. Ia lepaskan rangkulannya dari Baek Hyun dan berjalan sedikit menjauh.

“Ne Sajang-nim?___ Belum, sajang-nim__ Bukan mengulur, seperti ada sesuatu yang menarik dengan orang itu__” Kai menoleh ke belakang, ke arah Baek Hyun dan Chan Yeol yang menatapnya dengan ekspresi berbeda, “Ne Sajang-nim… mungkin, paling terlambat akhir bulan ini___ Ne, Kamsahamnida” Kai kembali memasukkan ponselnya di saku, dan setelah itu raut wajahnya kembali seperti semula.

Ia menghampiri Baek Hyun dan mengusap puncak kepalanya “Aku tidak jadi menginap, ada urusan. Jangan merindukanku, ne…”

Baek Hyun menunduk dalam, kemudian mengangguk. Dalam hati ia mengeluh karena merasa setelah Kai pergi nanti, nyawanya akan melayang.

“Oh ya Park Chan Yeol, senang mengobrol denganmu, kapan-kapan kita mengobrol lagi, aku ada urusan”Pamit Kai sembari merapikan kemejanya dan menyambar jacket kulit yang memang dia letakkan tadi di atas sofa ruang tamu.

Chan Yeol hanya menatapnya dengan ekspresi keras, yang Kai tahu jelas kalau dia masih berlama-lama di situ, lehernya akan dipatahkan oleh Chan Yeol.

“Aku pergi” Kai mengecup puncak kepala Baek Hyun sejenak kemudian pergi dari tempat itu. sempat membuat Chan Yeol membelalak dan hampir menerjang Kai kalau saja namja itu tidak segera pergi.

Hening…

Bahkan lebih mencekam dari apapun. Yang terdengar hanyalah bunyi pergerakan pendulum dari jam tua raksasa di sudut ruangan.

Baek Hyun tidak berani mengangkat wajahnya, ia terus meremas tangannya yang berkeringat, dan berusaha mengontrol ketakutannya.

“Aku pulang”

Suara berat itu mengejutkan Baek Hyun, dan entah refleks atau apa, namja mungil itu langsung menangkap pergelangan tangan Chan Yeol dengan kedua tangan lentiknya.

Chan Yeol menoleh dan menatapnya datar, “Ada apa?”

Baek Hyun menunduk lagi. Sebenarnya ia sangat takut, tapi ada yang lebih membuatnya cemas. Entahlah, ia seperti tidak asing dengan situasi ini. karena memang dia juga pernah mengalaminya. Saat ia masih bersama…

Se Hun!

 

Tapi bagaimana mungkin ia menyama-nyamakan situasi ini, Se Hun jelas sekali berstatus sebagai kekasihnya, dan saat namja itu menghukumnya karena alasan cemburu, itu sangat masuk akal. Dan sekarang, kenapa ia berpikir Chan Yeol juga akan merasakan hal yang sama?

Cemburu!!!

“Kalau tidak ada yang ingin kau katakan, lepaskan tanganku karena aku mau pulang”

Suara berat Chan Yeol kembali menyadarkan Baek Hyun.

“Cha… Chan Yeol-shii… aku… dan Kai… tidak ada… hubungan apa-apa, dia hanya… temanku”Ucap namja mungil itu takut-takut.

“Dan pengaruhnya untukku?”

Deg~

Baek Hyun menunduk lagi, dan melepaskan cekalan tangannya, “Mianhae… ku… kukira kau marah”

“Aku memang marah”

Deg~

“Ne?”

“Aku marah dia ada di sini, dan memperlakukanmu seperti…”

“Ma…Maafkan aku”

Chan Yeol menatap sosok yang begitu kecil di matanya itu, seperti mangsa buruan yang betul-betul terpojok, “Aku akan memaafkanmu dengan satu syarat”

Baek Hyun mengangkat wajah dengan cepat, “A… Apa itu Chan Yeol-shii?”

Chan Yeol meraih tangan kanan Baek Hyun, dan meletakkannya di dada, mendiamkannya sebentar, dan menatap Baek Hyun tepat di kedua manik matanya “Kau rasakan gemuruh itu? redakan itu dan aku akan memaafkanmu”

Mata kecil Baek Hyun membulat, ia memang merasakan debaran jantung Chan Yeol yang tidak beraturan, begitu cepat dan keras, seolah ia sedang menggenggam jantungnya sekarang. Tidak hanya itu, ia pun merasakan hawa panas menjalar ke tangannya, dan itu berasal dari panas tubuh Chan Yeol.

Baek Hyun menelan ludah, masih dengan tatapan yang terikat oleh dua pasang mata tajam Chan Yeol. Dengan mengumpulkan sedikit keberaniannya, dia bergerak, mengulurkan kedua tangannya dan melingkari punggung bidang Chan Yeol, setelahnya ia rapatkan telinganya di dada Chan Yeol, kemudian memejamkan mata. Mendengarkan gemuruh itu, seolah hendak menyerapnya bersama ketenangan yang ada padanya.

Chan Yeol tertegun sejenak, tidak pernah ia bayangkan bahwa seseorang yang akan dibunuhnya kelak ini tengah berusaha meredakan emosinya dengan cara yang betul-betul…

Menenangkan…

Pandangannya lurus ke depan, seolah tak percaya, karena memang ada sesuatu yang di rasakannya.

Jangan luluh… jangan luluh… kau membencinya, sangat membencinya… kau dendam padanya, kau sangat….  oh sial__ Batinnya.

Greb~

Lengan kekar itu akhirnya ikut terulur, memeluk pinggang dan tengkuk Baek Hyun, erat dan… kuat.

Namja mungil itu sempat terkejut, tapi ia pun semakin mengeratkan pelukannya di punggung Chan Yeol. Merasakan dan mendengarkan irama jantung Chan Yeol tepat di telinganya yang semakin lama semakin teratur.

Oh Tuhan… kumohon hentikan waktu saat ini, jangan berganti dengan hari baru, karena aku takut… aku akan kehilangan sosok Chan Yeol yang ini__keluh Baek Hyun dalam hati.

Chan Yeol lebih dulu merenggangkan pelukannya, tangan kekarnya ia letakkan di telinga Baek Hyun, ia gunakan untuk menengadahkan wajah indah itu. hanya 3 detik waktu yang ia gunakan untuk mengamati kesempurnaan itu, karena di detik ke 4, ia sudah menurunkan wajahnya, dan merapatkan bibirnya di bibir tipis itu.

Masih dengan respon yang sama setiap kali Chan Yeol menciumnya tiba-tiba, Baek Hyun tersentak kaget. Mengerjap-ngerjapkan mata, kemudian lambat laun ia pejamkan matanya. Kali ini meresapi setiap sentuhan lembut dan hangat yang diterima bibirnya. Ada yang berbeda, ciuman Chan Yeol kali ini tidak menuntut. Seperti…

Ah…

Sulit dideskripsikan Baek Hyun, karena baru kali ini ia tidak mampu mengeluh dalam hati. Dan untuk pertama kalinya sejak ia berciuman dengan Chan Yeol… ia tidak membayangkan wajah Se Hun, dan tidak lagi memikirkan mendiang kekasihnya itu. ia bersama Chan Yeol… seorang pribadi yang mirip dengan mendiang kekasihnya, hanya mirip, tapi ia bukan bukan Se Hun. Dia adalah…

Park Chan Yeol…

Decakan halus terdengar, saat Chan Yeol melepas ciumannya. Masing-masing masih memejamkan mata, dan terbuka saat perlahan mereka menjauhkan wajah, hanya beberapa senti,  saling menatap dengan cara berbeda, seolah…

Takut kehilangan

Chan Yeol menunduk lagi, kali ini merapatkan keningnya di kening Baek Hyun, menggeser tubuhnya sedikit hingga ia mampu menutup pintu rumah itu dan menguncinya rapat.

Ia ingat dengan ucapannya. Hanya satu hari, biarkan dulu seperti ini, biarkan dulu sebuah ruang kecil di sebelah kobaran api itu terisi oleh perasaan menjijikkan bernama cinta. Bukankah hari ini belum berakhir?

Benar… biarkan dulu seperti ini.

Hanya hari ini.

Tak jauh dari dari sana, seorang namja masih betah menyandarkan punggungnya di cap samping mobilnya sambil melipat tangan di dada, memandang penuh arti ke arah pintu rumah yang beberapa detik lalu tertutup rapat.

Seulas senyum berarti tersungging di sana.

“Sudah kubilang… aku pasti menang darimu… Byun Baek Hyun…” Lirihnya sambil tersenyum.

~**AMATERASU~**

Chan Yeol menatap wajah indah yang terpampang di depannya. Walau ruangan itu gelap, tapi tak mengurangi kemampuannya melihat wajah bersinar itu. mata sipit dengan kelopak tipis yang baru terpejam beberapa menit yang lalu, bulu mata pendek, hidung runcing, bibir kecil dan tipis, dan kulit mulus itu… semuanya indah.

Perlahan dan hati-hati ia pindahkan tangan kanannya yang tadi menapak di pinggang ramping itu, lalu ia letakkan di pipi mulus namja yang tertidur di sebelahnya ini. Sisi jari telunjuknya ia gunakan untuk menyeka tetesan keringat di pelipis namja itu. Walau ini untuk yang kedua kalinya, tapi kali ini mereka melakukannya dengan cara yang berbeda. Entah apa, tapi ada kesan lain yang ditangkap Chan Yeol.

Seulas senyuman terukir di bibir namja tampan itu, senyum yang terkesan aneh untuk seorang pembunuh berdarah dingin yang didoktrin dan dibentuk sebagai pribadi tanpa perasaan. Tapi lihat senyum itu, lihat bagaimana ia bergeser, menarik tubuh polos Baek Hyun untuk lebih merapat padanya, mengecup keningnya yang berkeringat, kemudian ia tenggelamkan ke dalam pelukan hangat.

Apa arti semua itu?

Bukankah ia hanya ingin seperti itu dalam kurun waktu satu hari saja?

Hari ini sudah berakhir Park Chan Yeol… jam di atas nakas sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Hari yang ia maksud sudah berakhir 2 jam yang lalu, tapi mengapa ia masih seperti itu.

Adakah jawaban tertentu untuk hal itu?

Oh baiklah… Chan Yeol selalu punya jawaban akan setiap pertanyaan di dunia ini. Tapi mengkhusus untuk Baek Hyun… ia kembali pada sebuah jawaban buntu.

TIDAK TAHU!!!

“Ugh…”

Chan Yeol tersadar saat ia mendengar Baek Hyun mengeluh, “Waeyo Baek Hyun-ah? ada yang sakit?” Tanya Chan Yeol sembari memperhatikan wajah Baek Hyun.

Namja cantik itu menggeleng padahal matanya terpejam.

“Kau kedinginan?” Chan Yeol menarik selimut yang tadinya hanya menutupi tubuh polos mereka sebatas pinggang, dan kini ia naikan hingga sebatas bahu sempit Baek Hyun.

“Tetap seperti ini Chan Yeol…” Lirih Baek Hyun tanpa membuka matanya.

Chan Yeol hanya terdiam, menatap wajah cantik itu dengan pikiran kembali berkecamuk. “Baek Hyun-ah…”

“Aku mencintaimu…”

Mata Chan Yeol membelalak mendengar penuturan singkat itu, “Kau bilang apa?”

“Aku mencintaimu” Baek Hyun membuka matanya perlahan, menatap wajah tampan Chan Yeol yang hanya berjarak sepuluh senti darinya, “Saranghaeyo… Park Chan Yeol… Tetaplah seperti ini, di sisiku”

Chan Yeol menatap Baek Hyun tercengang, entah kenapa kalimat itu sangat menyakitkan di telinganya, seketika menyadarkan Chan Yeol mengenai apa yang sebenarnya membuat ia mengulur waktu untuk membunuh namja ini.

“Serang hatinya terlebih dahulu sebelum kau menghabisi nyawanya. Kau tahu, kematian akan sangat menyakitkan bila itu dilakukan oleh orang terdekat”

 

“Yang kumaksud dengan serang hatinya adalah… buat dia jatuh cinta padamu, bertekuk lutut padamu, dan di saat dia sudah menganggapmu sebagai nafasnya, lenyapkan nyawanya saat itu juga. Maka itulah kematian yang paling layak untuk namja yang mengoyak hati adikmu dan membuatnya terbunuh”

 

“Bantu aku membuat Baek Hyun jatuh cinta padaku, tergila-gila padaku, dan aku akan membunuhnya perlahan-lahan dengan perasaan yang sangat menjijikkan itu”

 

“Api ini tidak akan padam Baek Hyun-shii… bahkan jika aku sudah melenyapkan orang yang menghabisi keluargaku… atau lebih mengkhusus… adikku”

“Cha…. Chan Yeol… Kau baik-baik saja?”

Teguran Baek Hyun seketika menyadarkan Chan Yeol. Pengakuan Baek Hyun bahwa ia telah jatuh cinta, bukankah menandakan isyarat bahwa saatnya melakukan eksekusi?

“Chan Yeol… Kau sakit?”Tanya Baek Hyun lagi.

“Ani… kepalaku, pusing”Jawab Chan Yeol sekenanya, sementara di benaknya masih berputar kalimat-kalimat yang disampaikan Kris padanya, juga ucapannya sendiri mengenai tujuan sebenarnya Chan Yeol melakukan hal ini.

“Tidurlah…” Baek Hyun menyentuh wajah Chan Yeol dengan jemari lentiknya, dan mengusap pipinya lembut.

“Byun Baek Hyun…”

“Hm…”

“Kau… Betul-betul mencintaiku?”

Baek Hyun tersenyum, kemudian mengecup bibir Chan Yeol sekilas “Ne, Aku betul-betul mencintaimu”

“Jangan…”

“Mwo???”

Chan Yeol menghembuskan nafas, kemudian menarik wajah Baek Hyun untuk merapat di dadanya “Jangan biarkan orang lain tahu bahwa kau mencintaiku”

“Ke… Kenapa?”

Chan Yeol terdiam. Ia juga sebenarnya tidak tahu alasan kenapa ia mengatakan itu. yang jelas, dari wajahnya terlihat raut kekhawatiran itu.

“Chan Yeol…”

“Tidurlah, biarkan dulu seperti ini”

“hm, baiklah…”

Chan Yeol merasakan tangan Baek Hyun terulur dan memeluk pinggangnya, seolah menjadikan dirinya tumpuan, juga sandaran. Lalu apalagi yang diinginkan Chan Yeol? Kenapa ia masih mengulur waktu? Bukankah Baek Hyun sudah jatuh dan terjerembab ke dalam perasaan terkutuk itu?

Baek Hyun sudah bertekuk lutut di hadapannya, lalu apalagi?

Amaterasu…

Api yang kekal…

Apakah telah padam tanpa ia sadari?

 

~**AMATERASU~**

Lu Han membulatkan matanya begitu melihat siapa yang baru saja datang. Bukan si pemilik apartement, tapi…

“Kai?” seru Lu Han dengan senyuman girangnya.

“Wae? Kau pikir Chan Yeol?”Tanya namja tampan itu sembari melangkah santai masuk dan duduk di sofa ruang tamu.

“Hm, sudah pukul 3 dini hari dan dia belum kembali sejak mengantar Baek Hyun, apa dia masih di sana?”

Kai tertawa, “Molla, mungkin mencari mangsa”

Lu Han meletakkan 2 kaleng bir di atas meja dan duduk di sebelah Kai, “Jadi… ada urusan apa ke sini?”

“Wae? Kau tidak ingin dikunjungi?”

“Bukan begitu. Hey… aku kenal tipe orang seperti kalian, pasti ada sesuatu”

Kai masih tertawa, kemudian dengan santai membaringkan kepalanya di pangkuan Lu Han, “Aku hanya singgah karena targetku belum kelihatan. Sajang-nim menyuruhku melenyapkan detektif itu secepatnya, padahal aku masih ingin bermain-main dengannya”

Lu Han mengangguk-angguk sambil bergumam cukup lama, “Detektif yang kau maksud, apakah yang sering bersama Do Kyung Soo?”

“Kau mengenal Do Kyung Soo?”

“Hm, Namja yang sangat manis, hampir dilenyapkan Chan Yeol tak cukup sehari sejak perkenalan, karena dia pikir namja itu adalah kekasih Baek Hyun”

Kai membulatkan matanya, dan detik berikutnya iya tertawa terbahak-bahak, “Jadi sudah sejak lama namja itu menyukai Baek Hyun?”

“Entahlah, Chan Yeol berprinsip akan melenyapkan siapa saja yang berpotensi menggagalkan rencananya untuk membuat Baek Hyun jatuh cinta padanya”

“Lalu kenapa Kyung Soo masih hidup?”

Lu Han menghela nafas, sesekali mengusap rambut hitam Kai dan menatapnya sayu, “Tembakannya meleset karena saat itu Baek Hyun menemui Kyung Soo”

“Maksudku… Kenapa Chan Yeol membiarkan Kyung Soo hidup? Bukankah dia bisa membunuh anak itu di hari berikutnya?”

“Siapa yang bisa membaca pola pikir namja itu? percayalah, aku seperti melihat dua kepribadian dalam dirinya, terlebih belakangan ini”

Kai tersenyum, kemudian mengangkat tangannya dan membelai pipi Lu Han, “Sosok aslinya itu adalah yang kau lihat belakangan ini, karena dia memang seperti itu sebelum didoktrin”

“Benarkah?”

“Hm…” Kai meraih tengkuk Lu Han, membuatnya menunduk lalu ia gapai sudut bibirnya. Mengecupnya cukup lama.

“Kau kenapa?”

“Molla… patah hati mungkin”

“Dan kau ingin menjadikanku pelarian?”

Kai tertawa “Bukankah kau juga menjadikanku pelarian saat Se Hun pergi?”

Hening…

“Ah, maaf. Aku tidak bermaksud mengungkit itu” Kai membetulkan posisinya hingga duduk dan menghadapkan tubuhnya ke arah Lu Han.

“Tidak apa-apa… Aku hanya sedikit kaget saat mendengar nama itu lagi” Lu Han menyandarkan punggungnya ke sofa dan memejamkan mata, “Terlebih saat kau yang mengucapkannya Kai. Satu-satunya portal yang menyimpan kenanganku dengan Se Hun”

Kai tidak membalas, ia menyentuh pipi Lu Han dan menyeka setetes air yang perlahan keluar dari sudut mata Lu Han.

“Sedikit lagi…”Lirihnya.

“Ne?”

Lu Han membuka mata kemudian menatap Kai dengan tatapan yang cukup berbeda, “Sedikit lagi maka aku akan menyaksikan kematian Baek Hyun yang paling mencekam, bahkan setelah ia di neraka pun, ia tidak akan bisa melupakan kematiannya”

Kai menelan ludah dengan susah payah, ucapan mengerikan yang keluar dari sosok namja polos seperti Lu Han terlihat sangat kontras.

“Lu Hannie…”

“Apa…”

“Kau tahu alasan kenapa Se Hun tidak bisa membunuh Baek Hyun?”

Lu Han menghela nafas pendek kemudian memalingkan wajahnya “Seperti yang kau bilang, Se Hun mencintainya”

“Benar, Se Hun sangat mencintainya. Ia sudah menuntun dirinya untuk membunuh Baek Hyun, tapi tetap tak bisa”

“Untuk itu, Baek Hyun juga harus membayarnya dengan harga yang sama, meregang nyawa di tangan orang yang sangat ia cintai”

“Se Hun melenyapkan nyawanya dengan tangan sendiri, Lu Hannie. Bukan oleh Baek Hyun”

“Itu karena ia telah terpedaya oleh namja iblis itu” suara Lu Han mulai bergetar, sebenarnya ia tidak lagi ingin membahas ini.

”Lalu… apa itu salah Baek Hyun?”

Lu Han tidak menjawab. Namja itu hanya berusaha agar air matanya yang mulai menetes tak terlihat oleh Kai.

Kai menghela nafas, kemudian meraih Lu Han ke dalam pelukannya, “Aku, Se Hun, juga Park Chan Yeol… cukup kami saja yang sukses diberi racun oleh Kris sajang-nim. Kau tidak perlu terjerat di dalamnya Lu Hannie. Pergilah ke suatu tempat di mana kau bisa menjalani hidupmu dengan normal, tanpa ada sangkut pautnya lagi dengan seorang Avenger

Lu Han menggeleng, dan itu dirasakan Kai karena kepala Lu Han menempel di dadanya, “Walau tidak seperti kalian… aku tetap masih memiliki jiwa seorang Avenger

Kai memejamkan matanya rapat, seiring dengan rengkuhannya yang semakin erat, “Arasso… Kuharap kau tidak terluka di akhir Lu Hannie… itu saja”

“Terluka?”

“Hm… kalau seandainya kejadian itu terulang lagi, saat seorang Aveger setelah Se Hun melakukan kesalahan yang sama, keinginanmu akan pupus”

Lu Han merenggangkan pelukannya dan menatap Kai tajam, “Tidak akan… Park Chan Yeol tidak akan melakukan kesalahan itu…”

“Lu Hannie…”

“Kalaupun ia melakukannya… Maka aku yang akan menuntaskan dendam ini”

Mata Kai membulat, “Lu Hannie, bicara apa kau?”

Lu Han menggeleng keras, dan menatap Kai serius, “Kai… ajari aku menggunakan senjata”

Kai memejamkan matanya sejenak, menghembuskan nafas pendek kemudian beranjak dari duduknya, berniat pergi, tapi Lu Han lebih dulu menyambar tangannya.

“Kai jebal…”

“Jika itu kulakukan, dan akhirnya kau akan menggunakan hal itu untuk membunuh Byun Baek Hyun, itu sama saja halnya kalau kau memintaku membunuh Byun Baek Hyun!!”

Lu Han terdiam sejenak, dan menatap Kai serius, “Lalu kenapa? Bukankah membunuh orang itu sangat mudah bagi Avenger seperti kalian? Bukankah kalian memang dibentuk menjadi sosok tanpa perasaan? Lalu… kenapa kau khawatir jika ini sudah menyangkut Byun Baek Hyun? Apakah kau…”

“Pembicaraan kita selesai Lu Hannie…” Kai melepas cekalan tangan Lu Han, dan beranjak pergi.

Lu Han ikut berdiri, “Kurasa bukan hanya Se Hun yang terpedaya oleh namja iblis itu. kaupun sama Kai”

Langkah Kai kembali terhenti “Dia bukan iblis Lu Hannie. Yang iblis itu kita. Dia tidak memperdaya siapapun, hanya saja sosoknya yang lembut begitu asing bagi kami, para Avenger. Dan saat kelembutannya sampai pada kami, saat itu pula kami luluh. Bukan terpedaya”

“Jadi benar, kau jatuh cinta padanya?”

Kai tersenyum, “Tidak akan kubahas mengenai diriku, karena jika memang ada orang setelah Se Hun yang jatuh cinta pada Baek Hyun… kurasa orang itu adalah orang yang memiliki darah yang sama dengan Se Hun”

Mata Lu Han membelalak “Tidak mungkin… dia tidak boleh jatuh cinta, karena dia yang harus menuntaskan dendamnya…”

“Kau tahu? Tidak pernah ada yang luput dari prediksi Kris sajang-nim…”

Lu Han terentak hingga mundur beberapa langkah, “Jadi… Chan Yeol juga diprediksikan akan melakukan kesalahan?”

Kai menghela nafas, kemudian menggeleng, “sajang-nim sangat mengandalkan Chan Yeol, maka ia yakin bahwa kali ini Chan Yeol akan menuntaskan dendamnya tanpa cacat”

“La… Lalu… apa maksud ucapanmu tadi?”

Kai tersenyum penuh arti “Sajang-nim memang sempurna, tapi kau lupa bahwa dia juga manusia? Dia tahu segala hal, masa lalu juga masa depan. Tapi jangan lupa, ada Yang Lebih Tahu mengenai hal itu” Kai menunjuk ke arah atas, “Dia lebih tahu apapun”

Lu Han makin terhenyak, seketika menunduk.

“Aku pergi, jaga dirimu”

~**Amaterasu**~

 Drrt…drrtt…

 

Kyung Soo menggeliat malas sembari berusaha meraih ponselnya di atas nakas. Siapa yang berani menghubunginya subuh-subuh begini.

“Hm, yeobseyo!!”Sapanya kesal.

“Aku di depan rumahmu”

Kyung Soo langsung membelalak, seketika menatap layar ponselnya “MWO??? Hyung? Bukankah kau masih di Jeju?”

“Akan kujelaskan, bukakan cepat. Dingin”

“A… arasso, tunggu sebentar” Kyung Soo mematikan ponselnya, dan buru-buru ke depan untuk membuka pintu rumahnya, “KAU GILA HYUNG???” bentaknya.

Orang yang bertamu itu buru-buru masuk sembari merapatkan jacketnya, “Interogasinya nanti saja, cepat buatkan minuman hangat”

Kyung Soo menutup pintunya, dan dengan kesal berjalan menuju dapur sembari mengeluh beberapa kali.

“Cepatlah… aku hampir mati kedinginan”

“Tunggu! Sabarlah…” Kyung Soo buru-buru membuat secangkir cokelat hangat dan membawakannya untuk Su Ho, “Nah sekarang jelaskan perihal kemunculanmu yang mendadak ini”

Su Ho menyeruput cokelat hangatnya banyak-banyak, membuat Kyung Soo semakin jengah menunggu.

“Hyung!!!” pekiknya.

“Iya.. Iya, sabarlah. Kau harus belajar bersabar untuk nantinya bisa betah menjadi istri seorang detektif”

Mata Kyung Soo membulat penuh kemudian terbatuk beberapa kali, “MWORAGO???”

“Wae? Kau tidak mau menjadi istriku?”

Kyung Soo gelagapan sendiri, “Itu …. bukannya… aku… ah, menikah? Itu bukankah… Arrghhh  nanti saja dibahas. Sekarang katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Apa kau menemukan sesuatu?”

Su Ho meletakkan cangkirnya yang kosong kemudian mengeluarkan note dari saku jacketnya, “Bukan hanya sesuatu, tapi banyak hal. Tapi intinya memang berakar dari satu hal”

“Maksudnya?”

Su Ho menggumam kemudian memandangi notenya, “Baiklah… ini bermula saat kutemukan dokumen lama mengenai Kontrak kerja sama yang batal antara X elektronik dan TH group milik Baek Hyun. Tapi bukan mengenai kerja sama itu. seseorang yang ku tugaskan sebagai mata-mata di TH group mengirimkanku file yang cukup penting dan rupanya memang sengaja disembunyikan. Ini mengenai nama TH group yang sebelumnya adalah PJS group”

“Hm… aku tahu itu, PJS adalah nama perusahaan sebelum Byun Abonim mengambil alih semuanya”

“Bingo… di sinilah keterlambatanku memahami sesuatu. Aku terlalu lama berputar-putar perihal identitas Amaterasu sementara ada yang lebih mudah dari itu. jelas saja identitas asli kakak dari Park Se Hun yang sebenarnya adalah calon penerus PJS group sebelum Paman Byun mengambil alihnya”

“Lalu yang kau dapatkan?”

Su Ho menggumam, kemudian memperlihatkan Notenya, “Ini… Predir Park memiliki 2 orang anak. Kita sudah tahu bahwa anak bungsu dari presdir Park muncul lebih dari setengah tahun yang lalu untuk membalaskan dendam keluarganya bukan? Namanya Park Se Hun”

“Ne… lalu?”

“Ini data lengkap keluarga Park Jung Soo yang tersembunyi. Istri bernama Kang Sora. Dan anak-anaknya bernama Park Chan Yeol dan Park Se Hun”

Kyung Soo mengangguk-angguk seolah paham, tapi Su Ho jelas tahu mungkin anak ini masih mengantuk sampai ia belum sadar inti ucapannya.

“Kau mengerti?”

“Apanya?”

“Kakak dari Park Se Hun bernama Park Chan Yeol”

“Oh…” Kyung Soo  mengusap matanya pelan, seketika tersadar akan sesuatu “MWO??? PARK SIAPA?????????”

Su Ho memutar bola mata dan mendesis kesal “Park Chan Yeol… rekan bisnis Baek Hyun, sering bersamanya, berada sangat dekat dengannya. The Undying Flames, Amaterasu, pembunuh berdarah dingin yang telah melenyapkan nyawa puluhan bahkan ratusan orang tanpa terdeteksi, jadi intinya Baek Hyun betul-betul berada di tangan orang yang mengincarnya”

Kyung Soo hampir pingsan, bibirnya seketika memutih pucat, dan panik bukan main, “Andwae… Andwae… Hyung… selamatkan Baek Hyun… selamatkan”

“Tunggu, aku masih belum selesai”

“Arrgghhh Hyung, jangan mengulur waktu terus.. ayo kita selamatkan Baek Hyun”

“Yang mengulur waktu itu bukan aku Kyung Soo-ah, tapi Park Chan Yeol”

“Ne?”

Su Ho merapatkan punggungnya di sofa, kemudian menggumam, “Kau bilang ada  dendam yang mengikat keluarga Park dan keluarga Byun sebelum ini kan? dan dendam itu akan musnah kalau seluruh anggota keluarga Byun habis, bukan?”

“Ne… untuk itu sebelum Baek Hyun mati, kita harus bertindak cepat”

“Yang menjadi pertanyaanku, kenapa Park Chan Yeol mengulur waktu?”

“Ck, itu karena dia ingin menyiksa Baek Hyun secara perlahan… ayolah…”

“Begitu?”

“Bukankah itu analisamu?”

“Ada sesuatu Kyung Soo-ah… kurasa sama halnya kenapa Park Se Hun gagal membunuh Baek Hyun”

“Ne?”

“Untuk menyiksa Baek Hyun perlahan-lahan, waktu yang dia gunakan terbilang cukup lama. Lagipula dia sudah tahu betul bagaimana tersiksanya Baek Hyun karena terornya. Mengingat sosok Amaterasu ini yang begitu mudahnya melenyapkan nyawa orang tanpa pikir panjang, ini seperti bukan sosok dirinya yang asli”

“Maksudmu… apa dia juga… mencintai Baek Hyun, sama seperti Se Hun?”

“Aku tidak bisa memastikan. Dan yang paling penting di sini adalah, apa Baek Hyun tahu bahwa Chan Yeol adalah orang itu?”

“Tentu saja tidak!!! Kalau dia tahu, mana mungkin dia mau tidur dengan orang yang akan membunuhnya”

“Begitu?”

“Tentu saja!!!”

“Kalau kasusnya adalah cinta… apa itu masih berlaku?”

“Mwo?”

Su Ho kembali membaca notenya, “Ada satu yang kukhawatirkan”

“Apa itu hyung?”

Su Ho memejamkan matanya sejenak, “Baek Hyun… mencintai namja ini”

~**Amaterasu**~

Chan Yeol berjalan gontai menuju apartementnya, pandangan matanya terpaku pada ujung sepatunya. Kedua tangannya ia selipkan di dalam saku jacketnya, dan pikirannya kosong.

Tidak… tidak sepenuhnya kosong. Ada nama Baek Hyun di sana, tercetak tebal-tebal di dalam otaknya, membuatnya mengesampingkan apapun selain namja berwajah indah itu.

Ckleck~

Blam~

 

Chan Yeol menyandarkan punggungnya di pintu saat ia sudah masuk ke apartementnya sembari memejamkan mata, meresapi atmosfer ruangan yang memaksanya ingat pada jati dirinya sendiri dan mengenai apa tujuannya berada di negara ini.

“Selamat pagi Chan Yeol-shii…”Sambut Lu Han yang tengah menyusun berkas di ruang tamu.

“Hm…” balas Chan Yeol kemudian ia langkahkan kaki beratnya.

“Kusiapkan air hangat?”

“Aku sudah mandi…”

“Kusiapkan makanan?”

“Aku sudah sarapan”

“Di mana?”

Chan Yeol menoleh dengan mata sayu, membuat Lu Han bergidik ngeri kemudian menunduk.

“Ma… Maaf, hanya untuk memastikan”

“Di rumah Baek Hyun”Jawab Chan Yeol akhirnya.

“Ne?”

“Aku… Tidur, mandi, dan makan di rumah Baek Hyun… semua hal… bersamanya”

Mata indah Lu Han membelalak, “Ma… Maksudmu? Ti… tidur, mandi, dan makan… bersama Baek Hyun?”

“Hm… Salahkah itu Lu Han?”

Lu Han menggeleng cepat, takut memberi pendapat, melihat kondisi Chan Yeol betul-betul menakutkan. Lain dari biasanya.

“Aku ingin tidur, kau saja yang ke kantor”

“Ne Chan Yeol-shii…”

Chan Yeol berjalan menuju kulkas sudut ruangan dan mengambil sekaleng bir di sana “Bangunkan aku kalau kau sudah kembali”

“Cha… Chan Yeol-shii…”

“Apa…”

“Kau… baik-baik saja?”

Chan Yeol menoleh, menatap Lu Han masih dengan mata sayunya. Lagi-lagi membuat Lu Han tertunduk.

Pikiran Chan Yeol kembali melayang-layang, mengenai apa yang dirasakannya, mengenai apa sebenarnya tujuan dari tindakannya, mengenai semua hal direncanakannya dan belum dilakukannya. Mengenai kekeliruan yang bisa saja ia lakukan.

Mengenai harga dirinya…

Sebagai seorang Avenger…

Lebih mengkhusus… pada sosok dengan kobaran api dendam yang kekal di dalam dirinya.

“Lu Han…”

“Ne…”

“Kemarilah”

Lu Han tersentak, berdoa dalam hati agar kata-katanya tadi tidak membuat Chan Yeol tersinggung. Pada akhirnya tidak ada yang bisa ia lakukan selain pasrah saat melangkahkan kakinya lebih dekat ke arah Chan Yeol.

“Lu Han…”

“N… Ne…” Lu Han jelas gugup, mewanti-wanti saat Chan Yeol akan mengeluarkan pistol di sakunya dan meledakkan kepala Lu Han saat itu juga.

“Cium aku…”

Lu Han langsung mengangkat wajahnya kaget, “MWO?”

“Cium aku…, di bibir”

Wajah Lu Han seketika berubah merah, ia gelagapan dan refleks bergerak mundur, “Ke… Kenapa Chan Yeol-shi? Kenapa… aku harus menciummu?”

“Lakukan saja, ada pertanyaan yang yang ingin kuketahui jawabannya”

“Ta… Tapi kenapa harus dengan menciummu?”

Chan Yeol berjalan mendekat, kemudian menatap Lu Han masih dengan pandangan sayunya, “Lakukan…”

Lu Han menelan ludah dengan susah payah. Instruksi Chan Yeol kedengaran seperti ancaman. Cium aku atau kepalamu pecah.

Untuk itu ia mendekat, dan dengan tangan gemetar ia maraih jacket Chan Yeol  sebagai pegangan saat ia berjinjit. Ia pejamkan matanya rapat-rapat kemudian ia gapai bibir itu.

Hanya sekilas, dan saat Lu Han hendak melepasnya, Chan Yeol menahan pinggangnya hingga Lu Han tidak bisa bergerak kemana-mana.

“Lakukan sama seperti saat aku menciummu dulu”Perintah Chan Yeol.

“Ta… tapi…”

“Lakukan sekarang”

“A… aku mengerti” Lu Han menurut, dan dengan takut-takut ia kembali menempelkan bibirnya di sana. Detik berikutnya barulah ia berani menggerakkan bibirnya dan mengulum bibir Chan Yeol.

Deg~

Ada yang aneh. Chan Yeol tidak merespon sama sekali, Lu Han bahkan sempat melihat bahwa Chan Yeol tidak memejamkan matanya. Tapi bukan hanya itu yang aneh. Ada sesuatu yang dirasakan Lu Han, bereaksi di jantungnya dengan debaran hebat yang sulit ia kontrol saat ia mengulum bibir Chan Yeol yang baru kali ini bersentuhan dengan bibirnya dengan sangat lembut, tanpa ada kekerasan lagi di sana.

Seperti kehilangan akal sehat, juga karena kelembutan dan kehangatan yang dirasakan bibirnya, menjalar ke seluruh tubuhnya, Lu Han memindahkan tangannya dan kini mengalungkannya di tengkuk Chan Yeol, bermaksud untuk memperdalam ciumannya itu. Chan Yeol betul-betul tak membalas, hanya diam, tapi tidak menyurutkan niat Lu Han untuk terus mengulum bibirnya itu.

Sampai ketika Chan Yeol menyentuh pundak Lu Han dan sedikit mendorongnya hingga ciuman itu terlepas, barulah Lu Han tersadar dari fantasi anehnya.

“Cukup, Terima kasih” Ucap Chan Yeol kemudian berbalik.

“Chan Yeol-shii… Sebenarnya apa yang kau cari?”

Chan Yeol mengela nafas kemudian kembali menatap Lu Han, “Ada, dan sudah kutemukan. Terima kasih bantuanmu”

“Tapi kenapa wajahmu terlihat sangat gusar?”

Namja tinggi itu terdiam sejenak, ia ragu tapi akhirnya ia kembali bersuara, “Karena aku tidak menginginkan ini… Dan memang tidak seharusnya seperti ini”

“Tentang apa?”

Chan Yeol menggeleng, “Lebih baik kau tidak tahu” setelahnya ia pergi dan menghilang di balik pintu kamar.

Lu Han menatapnya tercengang, memangnya kapan dia dan Chan Yeol bisa berinteraksi selembut dan selama ini? baru kali ini, dan hal ini jelas menimbulkan banyak pertanyaan. Sampai saat Lu Han bertemu pada satu pertanyaan yang membuatnya hampir pingsan, ia pun panik dan menggapai sesuatu sebagai pegangan, “Park Chan Yeol… jangan bilang kalau api dendammu telah padam…”

Chan Yeol merebahkan punggungnya di atas tempat tidur, memandang langit-langit dengan mata yang terbuka sejak beberapa menit yang lalu, membuatnya terlihat merah dan berair, siapa sangka, itu cara Chan Yeol agar dia bisa menyamarkan air mata kepedihannya. Air mata sebenarnya… dari hati seorang Avenger yang harga dirinya terluka.

“Appa… Eomma… Se Hun-ah…. Jeongmal mianhaeyo….” Lirihnya pelan… kemudian memejamkan mata, membayangkan sebentuk wajah indah yang terus menghiasi pikirannya

“Aku….”

“Mencintainya….”

~**Amaterasu**~

Seulas senyuman terpatri di bibir tebal namja berperawakan tinggi itu. ia melepas sebuah Earphone di telinga kirinya kemudian memutar kursi rodanya menuju sebuah meja di mana ia meletakkan ponselnya.

“Ne sajang-nim” Sahut suara di seberang.

“Sedang apa kau? kenapa lama sekali menjawab teleponku?”

“Cwesonghamnida, aku sedang… eum, menyusun berkas”

Kris tersenyum, ia jelas tahu kenapa salah satu anak didiknya itu terdengar kacau, “Lu Han… Beritahu Chan Yeol untuk membunuh Baek Hyun secepatnya, paling lambat besok”

“N… Ne sajang-nim?” Terdengar suara tercekat Lu Han di seberang, dan itu membuat Kris tertawa.

“Waktunya Eksekusi untuk Byun Baek Hyun, katakan itu pada Chan Yeol”

“N… Ne Sajang-nim, akan segera kuberitahu”

“Suruh dia menelponku karena ada yang yang kuberitahu”

“N… Ne sajang-nim”

Kris masih tertawa “Jangan kaget begitu, bukankah ini adalah hal yang paling kau nantikan?”

“A… Aku hanya tidak menyangka sajang-nim…”

“Hum… katakan pada Chan Yeol, kutunggu telepon darinya”

Kris mematikan ponselnya dan kembali pada sebuah monitor aneh yang menampilkan grafik yang mirip tampilan Monitor EKG (Electro cardio Graph=alat pengukur detak jantung dalam bentuk grafik).

Ia kembali memakai earphone itu kemudian tersenyum, “Dr. Lim…”

Seorang namja berpakaian laboratorium berwarna putih menghampirinya “Ada apa Tuan?”

“Aku tidak mendengar suara Chan Yeol lagi, apa penyadapnya rusak?”

Dr. Lim menggeleng, “Kurasa tidak Tuan. Alat yang kutanamkan di tenggorokannya, dekat pita suara, bentuknya mikron, hanya sekitar 2 kali besar sel darah merah. Dan itu bertahan sampai 1 tahun berhubung Park Chan Yeol bukan perokok aktif seperti Kai”

“Hm, Kai memang perokok aktif, jadi itu sebabnya penyadap yang ditanam padanya sebelum ke Korea langsung rusak di hari pertama?”

“Benar Tuan… alat ini bereaksi keras terhadap zat Tar

“Tidak apa, aku percaya pada Kai… lalu kenapa aku tidak mendengar suara Chan Yeol lagi?”

Dr.Lim mengambil salah satu earphone dan memperhatikan monitornya “Dia tertidur Tuan…”

“Hm… bagus. Aku suka alatmu ini, sangat berguna untuk mengetahui perubahan sikap anak didikku” Kris tertawa tipis, “Sejak Park Se Hun…”

~**Amaterasu**~

 

Kai tengah memeriksa beberapa pistol dan 2 unit snipernya saat ponselnya berdering. Dan saat ia menatap layar ponsel itu, ia buru-buru meletakkan snipernya dan mematikan rokoknya.

“Ne Sajang-nim…” Sahut Kai dengan ekspresi seriusnya.

“Pergilah ke apartemen Chan Yeol”

“Kapan sajang-nim?”

“Sekarang, dan jangan bicara apapun”

Kai tampak berpikir keras, apalagi rencana atasannya ini? “Lalu aku harus apa setelahnya sajang-nim?”

“Aku ingin memintamu melakukan dua hal. Yang satu ini kau lakukan kapan-kapan saja, dan yang harus kau lakukan sekarang adalah… Bawa Chan Yeol ke suatu tempat”

“Ke… mana?”

Terdengar tawa dari seberang, “Santai sajalah Kai… akan ada pertunjukan menarik”

Kai terdiam, menunggu sampai atasannya itu menyelesaikan kalimat misteriusnya.

“Park Chan Yeol… Apinya mulai padam, dan kau harus membawanya ke sebuah tempat yang bisa membuat apinya kembali berkobar”

“Ke… Kemana aku harus membawanya sajang-nim?”

Kris kembali tertawa, kali ini sangat keras, “Ingat… kau jangan banyak bicara, seperlunya saja, dan aku bisa tahu hal itu jika kau melanggar. Jadi… bawa Chan Yeol menemui Baek Hyun”

Kai memejamkan matanya, menahan gejolak yang menyerang jiwanya saat itu.

“Kau dengar?”

“Ne sajang-nim, segera”

“Dan yang kedua adalah…”

~**Amaterasu**~

Baek Hyun menatap replika dirinya di cermin, ada senyuman manis dan lega tercetak di sana. Entahlah, padahal ia hanya ingin mengunjungi makam Se Hun, anehnya penampilannya kali ini sedikit beda. Biasanya ia akan kesana menggunakan kemeja dan jas hitam, kali ini ia terlihat sangat casual dan modis, ia terlihat begitu manis dengan kaos abu-abu juga sweater putihnya.

“Ah… hampir lupa” Ia menghampiri koper pakaiannya yang belum sempat ia bereskan saat pulang dari Jeju kemarin. Membongkar lipatan pakaiannya sedikit sampai ia menemukan celana kain berwarna hitamnya. Ia tersenyum setelah menemukan apa yang dicarinya di dalam saku celana itu.

Dentingan ringan terdengar saat ia mengenakan benda itu di lehernya, saat ujung bandulnya menyentuh zipper besi jacketnya. Ia rengkuh bandul itu dengan segenap jiwa raga.

“Kami akan bersatu kan, Se Hunnie?”Lirihnya masih dengan tersenyum.

~***~

Hari sudah menjelang sore. Lu Han masih di sana, berdiri di depan kamar Chan Yeol, bermondar mandir dengan gugupnya, sesekali menyeka peluh yang setia menetes dari keningnya.

Antara senang dan cemas, antara bahagia dan takut. Waktunya eksekusi, bukankah itu artinya semua penantian dan kesabarannya selama ini akan terbayar dengan sebuah keinginan yang terwujud?

Kematian Byun Baek Hyun!!!

Nafas Lu Han semakin memburu, senyum aneh terukir di sana, senyum ambisius dan tidak sabaran. Sampai akhirnya dia mengabaikan resiko jikalau Chan Yeol murka dan menembak kepalanya, karena saat itu ia memberanikan diri mengetuk kamar Chan Yeol.

“Cha… Chan Yeol-shii… sudah hampir sore… a… apa kau tidak bangun?”Seru Lu Han dengan suara bergetar.

“Masuklah…” Sahut Chan Yeol dari dalam.

Lu Han menelan ludah dengan susah payah, kemudian memutar kenop pintu secara perlahan, sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk masuk ke kamar Chan Yeol.

“Ada apa?” Tanya Chan Yeol yang saat itu tengah memasang kemejanya. Lu Han sempat tergagap melihat dada bidang Chan Yeol yang terekspos sempurna.

“Mau keluar?”

“Hm… Cari angin. Ada perlu?”

Lu Han menyeka peluhnya lagi, “A… Aku hanya akan mengatakan ini satu kali, karena selebihnya akan kau dapatkan seengkapnya dari sajang-nim”

Gerakan Chan Yeol mengancing kemejanya seketika terhenti, ia tatap Lu Han dengan serius, “Apa yang dia katakan?”

Lu Han berusaha mengotrol nafasnya, “Cha… Chan Yeol-shii… sajang-nim memerintahkanmu untuk… membunuh Baek Hyun secepatnya”

Deg~

Chan Yeol tersentak, tapi tidak ia tampakkan. Ia memang sudah menduga hal ini, tak ada yang luput dari penglihatan Kris.

“Hanya itu pesannya padaku, selebihnya kau harus menanyakannya langsung pada sajang-nim”

“Hm… arasso, kau boleh keluar”

“Ne Chan Yeol-shii…” Lu Han buru-buru keluar dari kamar Chan Yeol, menuju kamarnya sendiri. Buru-buru menerjang kamar mandi dan menatap bayangan dirinya di cermin washtafel.

Senyum iblis…

Itu yang ditangkap oleh kedua matanya itu. tapi ia abaikan, seperti kata Kai… mereka memang iblis, dan iblis tidak mengenal kata menyesal, apalagi menyerah karena merasa bersalah. Tidak akan luluh karena kelembutan, tidak akan kalah karena kasih sayang.

Darah di balas darah…

Nyawa di balas nyawa…

Itu prinsip yang tengah ia pegang sekarang. Di sebuah dunia di mana ia terseret tanpa sengaja.

Sebuah rantai yang membelenggu dengan sangat kuat. Dikelilingi api dengan kobaran membara dan begitu tinggi.

Dendam!

 

~**Amaterasu**~

Chan Yeol menatap ponselnya. Tangannya lemah, lidahnya kelu, dan itu membuatnya kesulitan untuk menghubungi namja yang terlalu suka memberikan doktrin padanya.

Kris!!

Sebuah helaan nafas panjang menandakan kesiapannya. Dia sudah terjerat cukup dalam, jangankan untuk keluar dari jeratan itu… menghindarpun ia rasa sudah sangat mustahil.

“Akhirnya kau menelponku juga Park Chan Yeol…” Sahut suara di seberang begitu Chan Yeol menghubunginya.

“Aku sudah dengar dari Lu Han, jadi bisa kutahu alasan kenapa kau terkesan buru-buru memerintahku untuk melenyapkan nyawa Byun Baek Hyun?”Balas Chan Yeol dengan nada dinginnya.

“Bukan buru-buru Park Chan Yeol… sudah kubilang saat kau telah berhasil membuatnya jatuh cinta padamu, bertekuk lutut di hadapanmu, dan menganggapmu nafasnya, maka saat itu pula kau harus melenyapkannya dengan cara yang paling menyakitkan, seharga dengan kematian adikmu”

Deg~

Chan Yeol menelan ludahnya cukup susah, ini yang paling ia takutkan… Kris membahas kematian adiknya.

“Dengan cara apa… agar bisa kupastikan Baek Hyun telah bertekuk lutut di hadapanku?” Chan Yeol masih berusaha menghindar.

Terdengar tawa yang cukup keras di seberang, “Ayolah… Byun Baek Hyun sudah mengatakannya, apa itu kurang jelas?”

Chan Yeol tersentak, dan tanpa tenaga ia hempaskan duduknya di atas tempat tidur, “Apa… yang sebenarnya bisa luput darimu hyung…”

“Bagus kalau kau mengerti Park Chan Yeol. Memang  tidak ada yang bisa luput dariku… bahkan… harga dirimu yang sudah diinjak-injak olehnya. Apalagi hal yang lebih mengenaskan dari pada melihat seorang Avenger jatuh cinta pada targetnya?”

Seolah kehilangan nafas, Chan Yeol semakin tak berkutik.

“Park Chan Yeol… akan kuajukan beberapa pertanyaan, dan jawab dengan jujur”

Namja itu menghela nafasnya panjang. Ia tahu apa yang akan ia hadapi setelah ini…

Selamat tinggal Park Chan Yeol.

“Kau mendengarku?”

“Ne… Hyung” Chan Yeol mulai memejamkan matanya.

“Siapa kau?”

“Park Chan Yeol…”

“Bukan… siapa kau?”

“Avenger…”

“Apa tujuan hidupmu?”

“Membalas dendam…”

“Bagaimana bentuk dendammu?”

“Kobaran api yang abadi dan tidak akan padam”

“Apa kesalahan seorang Avenger?”

“Melibatkan emosi dan perasaan dalam dendam”

“Apa musuh besar seorang Avenger?”

“… Cinta”

“Apa itu cinta?”

“…”

“Park Chan Yeol… apa itu cinta?”

“Perasaan paling menjijikkan dan terkutuk di dunia ini”

“Pantaskah seorang Avenger merasakan hal itu?”

“Tidak…”

“Kenapa Se Hun mati?”

“…”

“Park Chan Yeol… kenapa Se Hun mati?”

“Karena ia melakukan kesalahan itu”

“Siapa yang membuatnya seperti itu?”

Chan Yeol memejamkan matanya rapat-rapat, berusaha menghalau bara api yang sempat padam, tapi makin lama makin berkobar di dalamnya, membuat tubuhnya seketika panas dan berpeluh.

“Kau dengar aku Park Chan Yeol? Siapa yang membuat Park Se Hun, adikmu satu-satunya, keluargamu yang tersisa, melakukan kesalahan itu?”

“Byun… Baek Hyun”

“Siapa? Aku tidak mendengarnya”

“Byun Baek Hyun”

“Tidak cukup keras”

“Byun Baek Hyun!!!”

“Tidak.. itu bukan suara Park Chan Yeol, mana kobaran api itu Park Chan Yeol??? Siapa targetmu???”

Chan Yeol menarik nafasnya kemudian membuka matanya yang terlihat menyala “BYUN BAEK HYUN!!!!”

“Sekali lagi… siapa yang harus mati di tanganmu?”

“BYUN BAEK HYUN!!!”

Hening…

Yang terdengar hanyalah deru nafas Chan Yeol yang tersengal-sengal begitu ia meluapkan emosinya.

“Yang terakhir Park Chan Yeol… anak didikku yang paling sempurna. Berapa lama aku mendidikmu menjadi seorang Avenger?”

Chan Yeol menyentuh dadanya saat kobaran apinya kembali menyala, menyebabkan gemuruh yang tak bisa dibendungnya, “6 tahun lebih”

“Berapa lama kau mengenal Byun Baek Hyun?”

“Tidak genap 4 bulan”

“Dan kau pikir waktu 4 bulan bisa menghapus semua yang kuajarkan padamu?”

“…”

“Jawab!!!”

“Tidak Hyung…”

“Ambil pistolmu”

Chan Yeol menoleh ke nakas, kemudian mengeluarkan satu unit pistol dari lacinya.

“Arahkan ke depan”

Trak~

“Sekarang yang kau lihat bukan tembok kamarmu. Di sana ada Byun Baek Hyun…”

Tangan Chan Yeol bergetar.

“Tunggu apalagi? Tarik pelatuk pistolmu, ledakkan dan arahkan persis di jantungnya”

Chan Yeol memejamkan matanya, terlihat buliran keringat mulai membasahi wajahnya”

“Byun Baek Hyun telah membunuh adikmu… keluargamu satu-satunya”

Chan Yeol menggeleng kuat, terjadi pertarungan hebat antara logika dan perasaannya.

“Byun Baek Hyun menikmati seluruh kekayaan keluargamu setelah kedua orang tuamu membayarnya dengan darah”

Chan Yeol menggenggam kuat gagang pistol itu,nafasnya kembali memburu, masih tak berani menatap objek abstrak di depannya.

“Orang tuamu menangis Park Chan Yeol… terlebih adikmu”

Deg~

“Andwae…”

“Lalu kau masih berdiam diri di situ? Membiarkan Byun Baek Hyun melanjutkan kehidupan yang dihargai dengan nyawa adikmu?”

“Tidak…”

“Lalu apa? Lesatkan pelurumu dan pecahkan kepalanya, masih kah kau ingin biarkan dia menghirup udara yang seharusnya dihirup oleh adikmu?”

“Tidak…”

“Aku masih menunggu ledakan pistolmu Park Chan Yeol… kalahkah kau akan perasaan menjijikkan yang dimiliki Byun Baek Hyun?”

Chan Yeol menarik nafasnya dalam-dalam, seketika membuka matanya yang semakin merah menyala “MATI KAU!!!”

Dooorrr~

Kris menyunggingkan senyumnya saat ia mendengar bentakan Chan Yeol berikut ledakan pistol yang begitu nyaring di telinganya.

It’s time to revenge, Park Chan Yeol… my Son

“Siapa kau berani menyuruhku namja lumpuh? Anak itu memang akan mati di tanganku”

Kris semakin melebarkan senyumannya “That’s Park Chan Yeol… My Son. Real Avenger

“Persetan dengan semuanya…”

“Hm… pergilah menjalankan tugas terakhirmu. Setelah ini kau bebas ingin melakukan apa saja”

“Termasuk membunuhmu namja biadab??”

Kris tertawa lepas, “Terserah kau, karena memang kau yang akan menjadi penerusku”

H*ll No… like I care! Don’t waste my time, you F*ckin’ d*mn useless Old Man!!

Kris semakin tertawa mendengar kesuksesannya menyiram berliter-liter bensin di kobaran api dendam Chan Yeol yang tadinya hampir padam, “I’m not that old, you little brat! Come here and bring me his blood, I’m so thirsty right now”

You give me an order? Who do you think you are? Just wait for your destruction, you… d*mn paralized old man.”

“Kau mengagumkan Park Chan Yeol… really awesome. Inilah Park Chan Yeol yang kulihat dulu, pergilah, Kai sudah menunggumu di depan”

Chan Yeol mendesis, “Untuk apa lagi kau mengutus anjing peliharaanmu itu?”

“Dia berguna, percaya saja”

Chan Yeol mematikan ponselnya. Meraih jacket kulit hitam dan mengenakannya kilat, ia selipkan satu unit pistol di balik jacketnya itu dan bergegas menerjang pintu, “Brengsek kau namja lumpuh… kau apakan dendamku ini?” hardiknya seorang diri. Wajahnya betul-betul merah memendam emosi, gerakan expansi dadanya terlihat jelas, belum lagi bagaimana kerasnya ia mengatupkan rahang, terlihat dari urat-urat yang timbul di dahinya.

“Mau kemana Chan Yeol-shii?” Tanya Lu Han yang baru saja keluar dari kamarnya dan mendapati Chan Yeol hendak keluar.

Trak~

Lu Han terkejut saa tiba-tiba Chan Yeol mengarahkan pistol ke arahnya,

“Kau mau mengaturku, namja jalang?”

“Ti… Tidak Chan Yeol-shii”

“Jangan ikut campur kecuali kalau kau memang sudah bosan hidup” Chan Yeol keluar setelah sukses membanting pintu apartemennya hingga menimbulkan suara debuman keras yang membuat Lu Han bertambah pucat.

Tapi detik berikutnya ia tersenyum, “Ini akan memuaskan. Sangat memuaskan” segera saja ia sambar kunci mobil Chan Yeol yang tergeletak di atas meja, dan berlari menyusulnya.

~**Amaterasu**~

Kai menghentikan mobilnya persis di hadapan Chan Yeol, saat ia melihat namja tinggi itu keluar dari gedung apartementnya.

Tanpa banyak bicara Chan Yeol langsung masuk ke mobil itu dan tetap diam saat Kai mulai melajukannya dengan kecepatan di atas standar.

“Melihat kau hanya diam dan tidak banyak bertanya, kurasa majikanmu itu sudah memberitahumu kemana akan membawaku”Ucap Chan Yeol dingin.

Kai merasakannya, sosok di sebelahnya ini sangat panas, dan hanya satu hal yang bisa ia ajukan sebagai pertaruhan.

Se Hun-ah… selamatkan Byun Baek Hyun…

“Aku juga diperintahkan untuk tidak banyak bicara, jadi jangan mengajakku mengobrol”Balas Kai tak kalah dingin.

“Menyedihkan!!”

~**Amaterasu**~

“Se Hunnie…. apa kabar” Sapa Baek Hyun setelah ia meletakkan sebuket bunga di atas pusara mendiang kekasihnya itu, “Maaf akhir-akhir ini jarang mengunjungimu. Itu karena… eum…” Pipi Baek Hyun merona, “Ah sudahlah, kau pasti sudah tahu, bukankah kau yang menyuruhku untuk terus bersamanya? Kaupun mengatakan kalau kau tidak akan cemburu kan?” Baek Hyun terkikik sedikit geli, “Ini gila Se Hunnie, aku justru terjerat oleh pesona kakak beradik, Park bersaudara” kemudian ia tersenyum simpul, “Terjerat oleh 2 orang yang seharusnya membunuhku, tetapi justru membuatku mati dengan cara lain”

Ia hembuskan nafas panjang, menatap langit sore yang masih terang, “Aku… mencintaimu… tapi… aku tidak bisa menyangkal lagi. Sekarang…. Aku… mencintai kakakmu, sangat” Lirihnya tulus sembari memejamkan mata, membiarkan sinar matahari yang hangat menerpa wajahnya.

“siapa yang kau cintai selain aku, Byun Baek Hyun?”

Baek Hyun refleks menoleh begitu mendengar suara yang cukup berat itu, seketika ia menyunggingkan senyumnya dan berlari ke arah namja itu, menghempaskan tubuh mungilnya di sana dan memeluknya erat, “Chan Yeol…”Lirihnya senang.

Namja itu… Chan Yeol, menatap nanar pusara yang tak jauh darinya. membuatnya kembali bergetar, dan seolah tertampar hingga ia sadar…

Adik satu-satunya yang begitu ia cintai, terkubur di sana.

 

“Kenapa kau tahu aku di sini?”Tanya Baek Hyun setelah melepas pelukannya.

Chan Yeol menurunkan arah pandangannya ke wajah indah di depannya, “Aku… mencarimu”

Baek Hyun terkikik geli, “Kau sudah merindukanku?”

Chan Yeol tidak menjawab, “Ada yang ingin kukatakan padamu”

“Hm? Apa?”

“Mengenai siapa aku sebenarnya”

Gerakan tangan Baek Hyun yang tengah merapikan kemeja Chan Yeol dibalik jaket kulitnya pun terhenti seketika mendengar kalimat dingin itu. ia memang ingin membahas ini, tapi dalam kondisi yang berbeda.

“Aku… Sudah tahu”

Alis Chan Yeol terangkat begitu mendengar penuturan singkat Baek Hyun, “Benarkah? Lalu siapa aku?”

Baek Hyun mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Chan Yeol, “Park Chan Yeol… Kakak dari mendiang kekasihku… Park Se Hun”

Chan Yeol memejamkan matanya sangat rapat, “Apa kau juga tahu apa tujuanku?”

Namja mungil itu menelan ludah, kemudian berusaha terlihat setenang mungkin, “Hm, membunuhku”

Chan Yeol membuka matanya terkejut, tidak menyangka bahwa namja di depannya ini akan mengatakan hal itu dengan sangat santai.

“Aku tahu jati dirimu, aku tahu semua tentangmu… Tapi bodohnya aku… aku tidak bisa menolong diriku untuk tidak jatuh cinta padamu”Lanjut Baek Hyun lagi.

“Aku… Seorang penuntut balas… Byun Baek Hyun”

“Aku tahu…”

“Dan kau… adalah targetku”

“Aku tahu…”

Chan Yeol menghembuskan nafas pelan, kemudian mengubah tatapannya hinggi terlihat dingin dan sangat tajam, ia tepis tangan Baek Hyun yang masih menempel di pipinya, “Dan itu tidak akan berubah!!”

Deg~

“Cha… Chan Yeol…”

Chan Yeol mengeluarkan sesuatu di balik jacketnya dan mengarahkannya di kening Baek Hyun.

“Aku… Seorang Avenger… Seseorang yang diselimuti api dendam… yang tidak akan pernah padam, Byun Baek Hyun”Lirihnya dingin.

TRAK~

Chan Yeol menarik pelatuknya membuat namja di hadapannya ini tercengang bukan main. Ia mundur dengan tertatih seiring langkah Chan Yeol yang bergerak maju.

“Chan Yeol… apa yang…” Baek Hyun semakin panik saat ia akhirnya sadar akan sebuah kesalahannya. Chan Yeol dan Se Hun betul-betul berbeda. Kalau Se Hun tidak berani meledakkan pistolnya di kepala Baek Hyun karena perasaan cinta, Chan Yeol tidak… tidak ada yang menjamin karena Chan Yeol tidak mengenal cinta yang seperti itu.

“Aku tengah membantai satu keluarga saat Kris Hyung mengabariku perihal kematian adikku, Byun Baek Hyun… dan kau tahu bagaimana rasanya?”

Baek Hyun menelan ludah, tatapan matanya yang mulai berair terlihat waspada karena bisa jadi dalam hitungan detik, benda yang menempel di keningnya ini akan meledak dan mengantarnya menyusul Se Hun.

Chan Yeol meraih tangan lentik Baek Hyun yang gemetar dan meletakkannya di dada, “Gemuruhnya lebih besar dari ini, kau tahu? Dan saat itu aku bersumpah akan melenyapkan orang yang membunuh adikku”

“Chan Yeol… aku…”

“Kau permainkan adikku dengan perasaan busukmu, lalu kau buat ia terbunuh, kau pikir aku akan diam saja?”

Baek Hyun menggeleng cepat dengan mulut terkatup rapat, air matanya perlahan bergerombol keluar dan ia hapus berkali-kali agar tidak menghalangi pandangannya.

“Aku dilatih bertahun-tahun untuk membantai keluargamu Byun Baek Hyun… dan Kris sialan itu mengutus adikku tanpa sepengetahuanku untuk melakukan tugas yang seharusnya menjadi tanggung jawabku” Chan Yeol menarik nafasnya, kemudian menggeleng kecil, terlihat tetesan bening sukses keluar dari pelupuk matanya, mengalir pelan dengan sangat hati-hati, “Ia sukses menghabisi keluargamu, tapi masih tersisa satu orang, kau Byun Baek Hyun… Satu-satunya orang yang tidak bisa ia bunuh. Tahukan kau sebesar apa keinginanku untuk menghancurkan kepalamu saat mendengar itu?”

Baek Hyun semakin gemetar, suara isakannya mulai terdengar walau mati-matian ia tahan.

“Kenapa harus adikku? Kenapa harus adikku yang kau perdaya, Byun Baek Hyun?” Chan Yeol menarik nafasnya “KENAPA HARUS KELUARGAKU SATU-SATUNYA???” pekiknya mendarah daging.

“Aku… Aku… Tidak…. hiks… Aku…”

Greb~

Chan Yeol menarik kerah baju Baek Hyun hingga tubuh namja mungil itu sedikit terangkat, “Sekarang katakan, setelah semua yang kau dengar ini, apa kau masih berani mencintaiku?” Tanya Chan Yeol miris.

Baek Hyun terus terisak dan memejamkan mata rapat-rapat menahan sakit sakit Chan Yeol menekan ujung pistolnya di leher Baek Hyun yang sudah tercekik.

“JAWAB!!!”

“Aku… tetap mencintaimu Park Chan Yeol…”

Chan Yeol tertawa walau jelas-jelas matanya berair “Oh… Tapi aku tidak…, Bagaimana ini? sudikah kau mati di tanganku? Di tangan orang yang kau cintai? Seperti halnya yang kalukan pada adikku???”

Baek Hyun  tidak menjawab, ia terbatuk, saat cengkraman tangan Chan Yeol di kerah bajunya semakin menguat hingga ia makin tercekik. “Sa…kit…”

“Mwo? Sakit? Pantaskah kau mengatakan itu setelah membuat adikku terkubur di sana?” Chan Yeol semakin meradang.

Ia hempaskan tubuh Baek Hyun hingga ia jatuh dengan tulang ekor yang lebih dulu membentur tanah, secepat kilat ia arahkan pistolnya ke dada Baek Hyun bersiap melesatkan peluru pada namja yang tengah pasrah memejamkan matanya,

“MATI KAU BYUN BAEK HYUN!!”

Tring~

Itu jelas bukan bunyi ledakan pistol… itu adalah suara dentingan yang tercipta akibat benturan logam yang terjatuh di tanah berbatu itu, tak cukup jauh dari Baek Hyun, dan cukup jelas tertangkap oleh mata tajam Baek Hyun.

Mata tajam itu semakin membesar tatkala ia menyadari benda apa yang baru saja terjatuh dari tubuh Baek Hyun itu.

Kalung itu~

 

 

 

TO Be Continued


To Be Bersambung

MAYBE NEXT TIME

 

ALF SPECIAL NOTE:

Wkwkwkwkwkwkwkwkwk…  gimana? ada yang tebakannya benar perihal dialog/monolog di teasernya? hehehehe ALF perhatiin ada beberapa yang benar, sisanya meleset wkwkwkw kea lagi undian aja.

Ane malas ngoceh ah, pasti matanya readers langsung melotot, dan ngumpat ALF berkali-kali. “Sialan nih ALF, orang lagi tengang-tegangnya”

Wkwkwkwkwkwk dan sebelum ALF dapat lebih banyak umpatan lagi, ALF mau teleport ke makam Se Hun buat nyelamatin suami sebelum ditembak Chan Yeol, wkwkwkwkwk adiosss

 

 

Salam pramuka!

 

 

8263 word, 38 pages. Readers beneran maruk kalo bilang ini kurang panjang -_-

356 thoughts on “Amaterasu (The Undying Flames)|| ChanBaek || – [Chapter 6]

  1. UWAAAAAAAAAAAAAAAAA Adegan terakhirnya ga kuat…. Andwae!! Kesel kesel banget ama Kris di FF ini. Kenapa dia harus menyulutkan api kemarahan Yeol lagi setelah Baek dengan perlahan meredupkannya? WAE?!?

    Aaaaaa sebenarnya aku udah bagi2 part di FF ini supaya ntar aku bisa komen per-part itu thor. Tapi setelah melihat adegan terakhir ini, aku jadi ga sabar pengen baca chap selanjutnya secepat mungkin. ottoke? aku salin catatan sticky notes-nya aja kali ya thor.

    Baek nembak Yeol
    Pembicaraan Luhan-Kai –> dimana yeol suka baek
    Pembicaraan Kyungsoo-Suho –> yeol kakak sehun. yeol cinta baek. baek cinta yeol
    Adegan Luhan-Yeol
    Pembicaraan Kris-Yeol di telpon –> mengembalikan jiwa avenger yeol. keseeeeeeeeeeelll

    Ya, kira2 begitulah thor pembagian chap ini yang aku buat sebelum baca part terakhir di pemakaman sehun ini. Mau langsung lanjut aja ya thor..

  2. wadawwwww bru bisa lanjut baca lgi ini ff…..kangennyaaaaaaaa…>_<
    si kai muncul ujug2 (?) lgi…hadoooh,
    sehunieee..T_T, kangen bneran kmu di avengers fault, ayookkkk muncul ya dimimpi noonaaaa #mumumumumu

    doohh, rasanya klau aku bisa msuk ke dlm crita ini jdi orang super kaya raya yg pinter pengen aku bwa kabur smua tuh anaknya papi krisseu ke luar negri…KAI-YAAA~…dirimu disini itu bner2 nunduk bgt sma papi krisseu tpi berat ya ngjalaninnya jdi jdi jdi…ngerasain bgt feelnya dia apalagi pas cuap2 sma luhaeenn, bner2 pengen aku ruqiyah ini laki cantik attu…#thipoklulu

    bangchan~ #gaketjehbingid-_-''
    ehm…chanchan, tobat bang tobaaaattttttt…
    sblum ff ini tamat eh, sblum terlambat mksudnya…^_^v
    plis bangchan, sudah cukup bekyun menderita jangan kau bunuh pula…#auuuguk
    kesiaaaannn, plisssssss kalung jimat slametin bekyunnn…ToT
    doaku menyertaimu bekyun,

    nelangsa bgt bekyun disini chingu…ugh, #hug.baek
    hidup yg dijalaninnya berat bgt, si papi krisseu juga ni…pensiun sana deh, sentimen jdinya aku…
    eh tpi ttep smangat ya chingu…this ff so amazing a lot (?)
    pkonya KERENNNNNNNNNN

    hwaiting^_^
    SALAM KAEBSONGGGG~

  3. Hhhh~ hhhhh~
    .
    .
    Kak ALF.. Beneran aku berasa kek abis marathon -_-
    KYAAAAAA!!
    Aku malah suka part awal pas KaiYeol adu argumen du depan Baekhyun.. Dan bayangin Baekhyun yang memucat tapi dengan wajah puppy-nya :3
    jatuhnya malah nggemesin, Kak😀 /ditampar Kak ALF/

    uh yeah….
    Chanyeol.. Possesif gila X3
    lama-lama emang nyeremin kalau cemburu😄😄
    .
    Lu Han~
    Masya Allah.. Menyeramkan sekali dirimu, nak~ ;_;
    Kai bener lho, cukup para namja tamvan itu saja yang kena bujukan krissue /ngek :v/
    dikau jangan ikut-ikutan..
    Kesannya dikau iri ih sama ByunBaek :v /cobek melayang/
    .
    .
    Mwo? Kris pasang alat penyadap di tenggorokan Chanyeol? O.O
    pantesan tao yeth apa yang terjadi sama Chanchan..
    Tapi tetap tidak tahu Kris-ssi..
    Bagaimana rasanya terpedaya oleh doktrinmu :’v /dihajar Kak ALF/
    aku jadi berasumsi kalau Kris sebenarnya juga pernah merasakan cinta yang menyakitkan -..-
    ah, syudahlah.. Komenku makin ngawur..
    Aku mau lanjut baca chapter 7..
    Keep writing and fighting, Kak ALF… :3 :* :*
    /XOXO/

  4. aaaaaaa gilaaaaaa aku tegang bacanya ya ampunnnn unnn asdfghjkl
    adohh ane kesel ama karakter kris disini..betapa jahatnya dia —
    pantes dia tau segalanya,orang dia masang alat2 canggih sampe ke tubuh2 masa —
    api nya nyala lagi,padahal udah rada redup dan chanyeol kembali jadi park chanyeol bukan avenger —
    ah sialan kris,bisabisa nya dia,.
    udah dibilang bukan salahnya baekhyunn salahkan hati mereka ya ampunn aku napsuuu T.T
    chanyeol beneran trsesat..dan luhan dia malah seneng gitu..
    ah chanyeollllll

  5. tegang banget kakkkkk ga boonggggg kris ya ampun emang ya hati iblis mah kaya gitu/? luhan juga argghhh kenapa harus semenegangkan ini sihhh ayolah kai bantu baekhyun lu kan yang agak normal disini T^T kalungnya sehun yang dikasih ke baekhyun juga ayolah bergunaaaa aaaaa gemes ga boong kak sumpah gemes pen gigit orang sekarangg aduh baek kamu kesian banget T^T

  6. Astaga say lagi tegang2 ny ngebaca kenapa malah tebece? Y ampun

    Ah Kris kau jahat ah tidak lebih tepatnya gila, jdi begitu caramu mengetahui apapun tentang anak2 didikmu,dgn cr menancapkan chip d tenggorokan mrk tanpa sepengetahuan mereka. Ckkk kau gila.
    Bukan kai,sehun atau chanyeol yg jahat tapi kau tuan wu

    Nah kan Luhan menunjukkan taringnya. Jgn2 dy nanti yg bertindak membunuh byunbaek. Dan itu nama yg memperhatikan chanbaek pasti kai kan.

    Kai d mana kmu? Selamat kan byunbaek jg. Aku tahu kmu mencintainya hny saja kmu takut mengakuinya.

    Moment Sudo lucu ih apa lg ekspresi d.o yg kaget pas tw siapa chanyeol.

  7. Aaaaarrrrrrgggghhhhhhhhh!!! Klimaks nih, klimaks!!! Kacau deh semua gegara satu kata tiga huruf berwujud tbc. Hih, sialan -,- /ngumpat beneran/

    itu kalungnya jatoh kan, duh pasti chanyeol liat tuh kalung. Gimana tuh reaksinya aku kepo demi sehun yang udah matiiiiiiii >,<

  8. hallloooo thor-nim
    arrggghhhhhh mau bilang bagus tapi udah bilang berkali2
    q blm terlalu bisa koment thor soal.a susah jg mau bilang ap klo ff.a bikin specless ky gini
    h h h h h daebakkkkkkk

  9. Sebenernya ini kebetulan banget loh, hampir aja gue mo minta pw amaterasu chap 6. eh tapi gue nengok list ff disini, chap 6 agak di protect lagi….
    tapi sumpah gue lupa, dulu ngasih coment di ff ini mpe chap berapa. Eon jangan ragu kasih tahu ya, kalau masih belum ninggalin jejak di chap sebelumnya. gue baca ini kan setahun yang lalu.

    hampirrr lupa sama cerita di chap sebelumnya kaya apa, jadi tadi sempet baca beberpa part, dahhh ahhh mana mungkin gue lupa sama the avenger PCY dengan demdam membara tapi kalab kalau udah berhadapan sama makhluk ciptaan Tuhan Byun Baekhyun.

    Tapi karena Pak Tua(?) Kris nyiram berliter-liter bensin yang gue tahu sekarang harganya emang udah turun *eh?* gak kebayang lagi api kayak apa yang ada di diri Chanyeol. Mungkin aja masih kalah sama semburan api si Duizhang.

    “Siapa? Aku tidak mendengarnya”
    “Byun Baek Hyun”
    “Tidak cukup keras”
    “Byun Baek Hyun!!!”
    “Tidak.. itu bukan suara Park Chan Yeol, mana kobaran api itu Park Chan Yeol??? Siapa targetmu???”
    Chan Yeol menarik nafasnya kemudian membuka matanya yang terlihat menyala “BYUN BAEK HYUN!!!!”
    “Sekali lagi… siapa yang harus mati di tanganmu?”
    “BYUN BAEK HYUN!!!”

    Bukannya tegang sama part ini, gue malah ngikik, hhe. Soalnya saya keinget sama acara yang selalu disiarin di tv pagi2…
    Siapa yang Mau nana?
    SAYA!!
    Siapa yang mau nanya!?
    SAYAAA!!!

    ahhh eon pasti tahu sendiri lah,,, tapi argghh sebel banget sama elu Krissssss!!! tapi gue lebih sebel banget sama LUlu. jangan salahin gue, Kalo dari awal mpe sekarang, tokoh yang paling gue kagak suka itu malah Lulu. kenapa. You know lah,,, mungkin kalau ada alat pengukur rasa dendam. Rasa dendam milik Luhan-lah yang paling tinggi, itu sih menurut analisa gue,

    Dan eum, gue mau singgung soal Kai. Sebenernya Kai punya peran spesial disini, dia tokoh paporit gueee…. -selain main cast- Dan karena cuma Kai, avenger yang gak punya dendam sama Baek dan masih punya pikiran dan hati yang tulus buat Baek. Tapi sayangnya dia gak punya kekuatan apa-apa buat nyelametin Baekhyun. Dan itu yang bikn gue makin gregettt.

    Jadi siapa yang bisa nyelametin Baby gue???

    selainnn Kalung pemberian Sehun, sama hati nurani yang terbalut perasaan suci milik Chanyeol…

  10. Buseeett ampun chan ampun… Nyerah dh gur ah pasrah kalo jd baek.. Boam kalo cnta bisa apa eeaa.. Btw suho ko blm mati /? Kai sama do dong biar sweet..

  11. Thor ini keren bgt sumpahhh..
    Tegang gua bacanya
    Hwaaaaaaaaaa ><
    Baek selamet ya allah baek selamet dari amukan CY, sumpahhh yaa itu yg terakhir bikin tegang bgt, gua tau itu pasti kaalung pemberian Sehun yg nyelametin Baek dri peluru yg ditembakin CY
    Makin seruu…

    AUTHOR ALF GUA PUAS BGT SAMA KARYA2 FF LU, GUA PUAS KARNA CERITA NYA KAGA ADA YG PENDEK, SEMUANYA PANJANG DAAAANNNN GUA PUAS BGT…MAKASIH ALF, SARANGHAE ^^
    KEEP WRITING.

  12. Huanjerr dikira tadi gimana caranya Kris bisa tau segalanya, eh taunya masang alat canggih ditenggorokkannya Chanyeol, tapi itu tak berlaku ditenggorokkannya Kai :’v
    oh pleaseeeee~ siapa sih sebenernya Kris itu? Siapa jati dirinya yg sebenernya? Kenapa juga dia terobsesi sama yg namanya Real Avenger..

  13. tbcnya bener bener di waktu krusial!!!!!!!

    oke. oke. INI KEREN!!!!!!!!

    setial baca amaterasu aku selalu negrasa lagi berada dalam film action. asli keren!!!

    waaaa,,, akhirnya chanyeol dan baek mengakui perasaan mereka.
    tapi chanyeolnya gampang banget berubah dengan sedikit omongan.

    di chap ini ada moment so sweetnya, ada tegangnya, ada geregetannya juga. pokoknya nano nano deh.

    kyaaa,,, kalung sehun, arti kalung sehun akan segera kita temukan jawabannya di next chapter

    author pantes jadi penulis novel lho

  14. Luhan knpa berdebar pas ciuman lembut ma yeol,’? Jgan2 dia kya baek jga lg,jatuh cinta pda park bersaudara,’

    Kris kog canggih bgt ya.?’pdhal dri umur 20thn (setau q) dia kan udh lumpuh,kog bisa sekaya it.? Kog bsa se ditakutinya,’
    Alat yg d taruh d tenggorokan yeol jga keren,gmana nanemnya,’
    Pantes ajh kris tau bnyak hal yg trjadi ma yeol,’

    Smga jga suho g gegabah biar dia jga g mati mengenaskan,
    Berdo’a jga smga lugan cpet insyaf,hahahahahaha

  15. Astagfirullah!! gue kali yang udah kena peluru chanyeol telak, sesak banget bacanya..
    gimana kaga sesak, syakit ati gw lihat crita couple kesayangan gegana begituuu …
    ayolah abang chanyeol tercinta, bunuh gw aja!! jangan baekhyun!! kamvrit lu kris!! dongkol gue

  16. kris kampretttt. licik… pingin nimpuk kepala nich orang pake sandal. ternya dia itu tau segalanya lewat alat penyadapnya. super canggih n ga seorang pun tau. ccckkk jahatnya minta ampun.
    chanyeol ayolah sadar n jng terpengaruh sm dendam….
    jng ada yg mati lg di sini.

  17. argghhhhh krissss lu apain chanyeol zzzzzz.
    gilaa weh untung kalungnya jatoh huhuhu, udah ah bingung mau ngomong apa lagi;;;

  18. hwaaaaa chanyeol seolah dihipnotis gtu sm kris. setelah kris nelpon, jiwa pembunuh chanyeol bangkit lagi. gmna nasib baekhyun itu? semoga chanyeol gjadi bunuh baekhyun, setelah ngeliat kalung pemberian sehun.

    nambah seru!! keep writing ^^

  19. aduh… si bang kris kenapa pinter bgt sih nge hasut si chanyeol biar niatnya buat mbunuh si baekhyun muncul lgi? kn kasihan si baekhyun nyaaaa. cemas aku mikirin nasib si baekhyun ke depannya. si chanyeol jga. gmpang bgt sih ke hasut ama omongan nya si baeng kris? bkin gemes aja

  20. KALUNG ITU dan TBC aduhhh ka alf nih demen ye bikin jantungan aaaaa ;>

    kris bener bener yah doktrin nya gilaaa ceye yg udah ngaku cinta sama baek dan api dendam nya udah padam langsung berkobar? Cuman karna sugest nya kris,, aduhh bang naga ini yah sebener nya mau nya apa sih??? Aku malah jadi penasaran masa lalu nya kris itu gimana kenapa dia jadi obses banget bikin orang balan dendam deh ampunnn😡

    ah pokok nya ff nya ka alf selalu best lah😀, #angkatjempol

    okai deh aku mau lanjut baca lagi, keep writing dan tetap SEMANGAT ya ,,,

  21. kaluung ituuu.. kaluungg ituuu.. *iya itu kalung chan, lu kira itu oray?* *dicekek chan* *dikisseu kriss (?)* hahahah. chaaan keceee deeh udh paling keceee amarah.y. sukaaa deh sukaaaa. hahahah. kaaiii aduuuhh shiittt knp km bisa ngegeser posisi kriss di otak sayaa??? jaga kaiii yaaa penuliiss. jaga kriiss jg haha. eeiiyy chan minta di kepret bilang kriss bgtu? eiiyyy. hahah. baeeekkk hayoloooh mnding bunuh diri aja *apaan* hahaha. Niceeee tegang.y!

  22. Cieeeeee chan cemburu, wkwkwk, gue juga cemburu kalo udah org ketiga yang datang.ggg, mau langsung aja ke ujung ya eon, kalung itu kalung itu -_- gue nyari-nyari kalung itu biar bisa nyadarin chanyeol sesegera mungkin!? dan akhirnya muncul d akhir ini terus gue langsung senyum lebar karena beki gak bakal terbunuh mengingat itu kalung yg d berikan sehun. gue tau kok si chan gabakal bisa bunuh beki walaupun sebesar apa dendamnya karena urusan batin dari sehun ke chan, yeeee bahasa lo -_-

  23. Daebakkkk apa rasa nya jadi baekhyun ……..saat ada 2 namja keren di sisi nya walaupun seorang avenger …. alur cerita nya makin bikin tegang …. berapa kali aku ngucapin kta sial mulu ngeliat karakter chanyeol kai berasa bad boy nya…karakter chanyeol di sini justru makin buat aku cinta dia kkk…. dan aku tebak chapter selanjut nya sudah antiklimaks dan aku yakin masih ada pergolakan hebat di dalam diri chanyeol …..kelihatan nya luhan yg berpotensi membunuh baekhyun tapi ga bsa karena ada chanyeol…

    SUMPAH berasa baca sinopsis film action ….lanjutkan ALF …DAEBAKKK!!!

  24. Ping-balik: LIST FF CHANBAEK FAVORITE | Shouda Shikaku's World

  25. entah kenapa peran kris misterius sekali, identitasnya belum diungkap sama sekali…siapa dia, apa tujuan dia melatih sehun dan chanyeol sbg avenger.Apakah dia yg sebenarnya punya dendam? kemunculannya jelas beralasan!
    OK next chap~

  26. akkkhhh kesellll sama kris si dam*n old man -.- padahal baek udh buat chanyeol jatuh cinta sma diaaa…huwahhh panas nihhhh . scene pas bagian kai bilang “Se Hun-ah… selamatkan Byun Baek Hyun…” kerasa feel nya kalau kai , sehuun sayang baekkie.meskipun kai udh terlanjur jdi tangan kanan the dam*n old man :3.okee see u next chapter eonn<3 pyong~~

  27. akhirnyaaaaaaaaa chanyeolll nyadar kalo dia cinta sama baekhyun*sebarkonfeti. u, u knapa sihh kris jahat bgt sama chanbaek. emgnya dia gak pernah ngerasain cinta apaahhh

  28. Adegannya tegang, tp knapa justru terasa bngt angst?? Demi kolor itemnya kyungsoo, authornya sukses ngebangun chara2 n story ini bener2 idup. Ini yg reader butuhin tiap kali bc fanfiction. Story line yg kuat ajh gk cukup buat bikin sbuah ff jd bagus. Bahasa tulisan jga sangat ikut brperan. Dan bersukur, author kyknya bener2 mengyasai aspek2 itu. Congrats yoo. Btw jujur Kalo ajh ini dijadiin novel, aq pastiin aku gak akan kelewatan buat bli serienya. Ganbatte nee~

  29. Nangis gueeee nangisssss TT

    Kris biadab! Yang biadab kris disini huweeeeee TT aaaaaaa please baekhyun jangan mati TT please chanyeol ah elah elu cintaaaaaa huweeeee aaaa kejer gue TT

    Duh scene terakhir, chanyeol liat kalung itu kan? Pleaseee selametin baekhyun huwaaaa TT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s