[FF YAOI] No Regret Life | ChanBaek Ft All Couple | – Chapter 2


NRL CHAP 2

Fanfiction-EXO Couple

Tittle: No Regret Life [Machine]

Author: AyouLeonForever

Cover pic/poster edited by: AyouLeonForever

Genre: Yaoi, drama(?), Romance, Sad (?) Romance, action(?), little bit comedy etc

Length: Chaptered tergantung peminat

Rating: TTM (?)

Main Cast:

·         Byun Baek Hyun

·         Park Chan Yeol

·         Kim Jong In/Kai

·         Do Kyung Soo

·         Oh Se Hun

·         Lu Han

·         Kris

·         Huang Zi Tao

·         Su Ho

·         dll

 

Disclaimer: GOD

Copyright: AyouLeonForever™

Summary: “Kenapa aku baru menyadari hal ini? sudah hampir setahun aku menjadi kekasih dari orang yang ternyata tidak begitu kukenal.”

 

Warning: Boys Love, Out of character, Little bit lime, BAD WORDS, Not for kids

ALF special Note:

Oke… buat readers-nim tercintah dan tersayangsss… ALF’s present… just for you guys… saranghae Readers-deul…

Chek his out.

 

 

 

Baek Hyun POV

 

Tumben sekali… senin pagi kulihat Chan Yeol di depan rumahku, menjemputku dengan Phoenixnya.

“Kau kesurupan?” tanyaku sembari menghampirinya.

“Memangnya aku harus kesurupan dulu baru bisa ke sekolah?” Ia menyerahkan sebuah helm padaku.

“Ini di luar dugaan, seorang Park Chan Yeol bangun pagi-pagi untuk ke sekolah itu pasti ada apa-apanya.”

“Aku hanya mau sekolah saja, kudengar banyak yang menggodamu di sekolah. Aku mau tahu siapa-siapa saja orangnya.”

Aku naik ke motornya dan membetulkan posisi., “Siapa lagi yang memberitahumu?”

“Jangan meremehkanku, aku punya banyak anak buah di sana.” Ia menutup kaca helm nya sebelum melajukan phoenix dengan kecepatan standar.

“Terserahlah, asal jangan buat masalah saja. Tidak lucu kalau kau baru masuk sekolah tapi langsung di skors, atau lebih parah lagi dikeluarkan.”

“Tenang… walaupun sekolah itu sekalian kubakar, mereka tidak akan berani mengeluarkanku.”

Aku mencelanya dari belakang, mengumpatnya habis-habisan (tanpa mengeluarkan suara tentunya), kesempatan yang memang sering kugunakan karena dia tidak akan melihatku.

 

~*N*R*L*~

 

Chan Yeol merangkul pundakku erat sekali saat kami menyusuri pelataran parkir. Hanya beberapa orang yang tahu kalau aku kekasih Park Chan Yeol si preman sekolah, berhubung kami memang jarang terlihat besama, bagaimana bisa sementara si keparat Chan Yeol memang malas ke sekolah. Kalaupun ia ke sekolah, ia akan lebih banyak tidur di kelas atau paling tidak di hukum di ruang BP atau di tempat-tempat seharusnya ia berada (Di WC misalnya, di hukum menyikat WC walau akhirnya dia berhasil menyeret orang lain menggantikan tugasnya sementara ia asyik merokok di dalam).

Jadi tidak heran lagi kenapa banyak pasang mata yang menyaksikan kami dalam keadaan tercengang. Aku siswa terpelajar dan berprestasi, jatuh ke tangan namja brengsek ini juga sebuah fenomena.

Kelasku, kelas terunggul di angkatan kelas 2 pun langsung tercengang begitu Chan Yeol ikut masuk dan duduk di bangku sebelahku. Padahal jelas sekali kalau dia adalah makhluk terlarang untuk menginjak kelas ini.

“Hey… kau salah masuk,” tegurku pada si keparat Chan Yeol karena memang dia sudah membuat kelasku mendadak hening mencekam seperti pemakaman.

“Kenapa? Apa bedanya? Ini juga kelas 2 kan?,” balasnya santai, sekali lagi… SANGAT santai. Lihat kaki panjangnya yang ia tumpukan di atas meja.

“Tapi ini kelas 2A, bukankah kelasmu yang paling ujung, di kelas 2F? Pergi sana… merusak pemandangan saja,” usirku.

Kulihat dia berulah, dan mengabaikanku, “Hei kau, apa lihat-lihat,” bentak Chan Yeol pada seorang siswa di kursi depan yang kurasa hanya tidak sengaja menoleh.

“Ti… Tidak Chan Yeol-shii,” balasnya takut-takut kemudian membetulkan duduknya dalam keadaan tegang.

“Berani menoleh lagi dan mencuri-curi pandang pada pacarku, kucongkel matamu,” ancamnya.

Aku hanya bisa memutar bola mata, kuyakin setelah ini seluruh temanku akan lenyap dan menjauhiku.

“Pergi kau Park Chan Yeol… kau mengacau kelasku,” bentakku.

“Kenapa ppabo, aku sedang menegaskan kalau kau ini kekasihku.”

“Ya… itu sudah cukup, jadi kau sudah bisa pergi.”

“Ah, di sini saja. 2A dan 2F itu tidak beda jauh, pelajarannya saja sama.”

“Tapi penyampaiaannya yang berbeda, kau tidak akan mengerti.”

“Kau meremehkanku?” Chan Yeol menurunkan kakinya, kemudian menepuk pundak siswa yang ada di depannya, “kau mengerjakan apa?”

Siswa itu menoleh takut-takut, “PR Matematika Chan Yeol-shii.”

“sini buku PR mu, kau pasti kesulitan mengerjakannya. Aku akan membantumu.”

Siswa itu terkejut, “Tidak perlu Chan Yeol-shii, terima kasih.”

“Sudahlah, jangan sungkan.” Chan Yeol berdiri kemudian merebut buku bersampul hijau itu, kemudian mulai mengamati buku itu serius.

Aku iba sendiri pada pemilik buku itu., “YA BRENGSEK…” aku tersentak seketika tersadar akan kelalaianku, ini jelas bukan tempat yang tepat untuk memakinya dengan nama kebesarannya, “maksudku, Park Chan Yeol… kembalikan bukunya.”

“Sebentar, dia mengerjakan ini salah,” Chan Yeol berlagak berpikir keras, ia memutar-mutar pulpen di jarinya, “ini kalikan dulu, kau ini bodoh sekali. 8 x 9 itu… 89, kenapa kau menulisnya 72, ckckckc ppabo, betul-betul tidak bisa diandalkan siswa kelas 2A ini,” Chan Yeol dengan sukses menyilang jawaban di sana dan menggantinya dengan angka 89, “setelah dikalikan, hey… apa ini ax by, ini rumus apa? Kau pasti salah tulis, di ilmu matematika tidak ada rumus seperti ini,” Coretan besar lagi, “ini dikalikan, dikurangkan, dibagi, dikalikan lagi, dan dikurang nah… hasil akhirnya 0, tapi jelek sekali kalau hanya 0. Orang yang membuat soal ini pasti punya rahasia tersembunyi, mana mungkin pengerjaannya sesusah ini dan hasilnya hanya 0. Berikan saja 0 pangkat 3. Hum, selesai. Ini ambil, kujamin kau akan dapat nilai sempurna.”

Kulihat siswa itu sudah hampir menangis melihat bukunya penuh coretan tangan Chan Yeol.

“Kenapa diam? Aku sudah berbaik hati mengoreksi pekerjaanmu, mana ucapan terima kasih untukku?”

Siswa itu sesenggukan, “Terima kasih Chan Yeol-shii.”

“Bagus, kalau lain kali kau kesulitan matematika, nanti kuajarkan.” Chan Yeol menepuk-nepukkan kedua telapak tangannya seolah mengibaskan debu.

Aku merasa sangat bersalah pada siswa itu, tapi mau bagaimana lagi, Chan Yeol itu di luar kendaliku. Kalau aku menegurnya lebih dari ini, maka riwayatkulah yang akan tamat.

“Siapa lagi yang mau kubantu menyelesaikan PR matematikanya,” seru Chan Yeol menggema ke seisi kelas.

Hening, semua siswa menunduk dalam, dan sungguh aku merasa sangat bertanggung jawab akan masalah ini.

“Park Chan Yeol… bisakah kau keluar dari kelas ini?” pintaku sedikit memohon, inipun terpaksa.

“Tidak!” jawabnya santai.

Aku hanya bisa menghela nafas pasrah menghadapi namja keparat ini.

Kim sonseng masuk, dan lagi-lagi Chan Yeol berulah.

“Selamat pagi sonsaengnim, kau seksi sekali pagi ini,” serunya lancang sambil bersiul-siul. Yang bisa kulakukan hanya menunduk menyembunyikan mukaku yang memerah.

Kim sonsaeng yang memang seorang wanita menghentikan langkahnya yang baru saja hendak menghampiri meja guru., “Aku yang salah lihat atau ada makhluk ghaib tersesat di kelas ini? Keluar kau Park Chan Yeol hakseng.

“Jangan galak begitu sonsaengnim, aku juga ingin belajar di sini.”

“Oh ya, sejak minggu lalu Park sonsaeng sudah mencarimu, akan sangat berarti kalau kau langsung mencarinya di ruang BP.”

Chan Yeol mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah, “Park sonsaeng itu menyebalkan, sepertinya dia merindukanku.”

“Benar, sangat merindukanmu jadi bisa kau angkat kaki dari kelas ini?”

“Kenapa? Aku ingin pindah kelas saja sonsaengnim, bukankah bangku sebelah si ppabo ini juga kosong?” Chan Yeol menunjukku, bahkan di hadapan guru yang paling mengandalkanku pun, Chan Yeol tetap mengataiku ppabo.

“Tidak kosong, karena akan ada siswa baru yang akan mengisinya.”

Aku baru mengangkat wajah, benarkah aku akan punya teman sebangku setelah duduk sendirian selama 3 bulan lebih?

Betul, sudah 3 bulan lebih aku duduk sendiri. Siswa yang duduk di sebelahku tiba-tiba saja pindah sekolah secara misterius, tapi ujung-ujungnya aku juga curiga itu kerjaan si namja kurang ajar, Park Chan Yeol lagi.

“Masuklah!” perintah Kim sonsaeng ramah.

Dan detik berikutnya aku melihat seorang siswa yang menongolkan kepalanya masuk, kemudian dengan langkah ragu ia masuk ke kelas dan berdiri di sebelah Kim sonsaeng.

“Park Chan Yeol… keluar!” perintah Kim sonsaeng tajam.

Chan Yeol tertawa kemudian sedikit bergeser untuk membisikkan sesuatu padaku, “Anak itu cantik.”

Mataku membelalak, seketika menoleh, “Kau?”

“Jadi kurasa namja cantik hanya akan akan tertarik pada namja sepertiku.”

Aku menggeram kesal, hendak sekali mencakar wajah Park Chan Yeol yang sialnya memang sangat tampan.

“Arti lebih jelasnya, aku tidak perlu repot-repot meneror teman sebangkumu lagi karena kurasa dia tidak akan merebutmu dariku.” Ia mengacak rambutku kemudian meninggalkan bangku yang ia tempati tadi.

Mataku semakin membelalak, “JADI KAU???” pekikku tanpa sadar, tapi namja sialan itu sudah berjalan meninggalkan kelas sambil tertawa.

Aku masih bisa melihat ia berhenti di depan pintu untuk menggoda Kim sonsaeng., “Oh ya sonsaengnim? Bokongmu makin terlihat seksi akhir-akhir ini.”

Hampir saja aku terjungkal dari kursiku mendengar perkataan kurang ajar Chan Yeol, dan hal itu sukses membuat Kim sonsaeng melepas satu high heels cokelatnya dan dengan penuh emosi ia melemparnya ke arah Chan Yeol.

Tapi bukan Park Chan Yeol namanya kalau ia bisa terkena lemparan itu dengan mudah. Sekali brengsek, tetap brengsek. Park Chan Yeol menangkap sepatu itu dan membuangnya ke bawah, yang kuperkirakan akan mendarat di pekarangan sekolah. Padahal ini lantai dua.

“PARK CHAN YEEEOOOLLL!!!” lengkingan khas Kim seonsaeng membuat seisi kelas menutup telinga, sementara namja brengsek pembuat onar itu malah pergi dengan santai sambil tertawa keras.

 

~*N*R*L*~

 

“Anyeonghasimnika… cheoneun Lu Han imnida… bangapseumnida!

Betul kata Chan Yeol, namja itu cantik. Dan Chan Yeol itu… brengsek-brengsek begitu juga jarang memuji orang dengan benar. Jadi kalau dia mengatakan namja ini cantik, itu artinya memang benar dia cantik.

“Silakan ambil tempat dudukmu Lu Han hakseng!” perintah Kim songsaeng dengan nada lemah. Moodnya betul-betul sukses dirusak oleh Park Chan Yeol, beruntung ketua kelas kami sigap untuk turun ke lantai bawah mengambil sepatu Kim sonsaeng untuk menenangkan kemarahannya. Walau aku sedikit membayangkan, apa mungkin akan ada kisah Cinderella setelah ini?

Aku menyambut siswa baru bernama Lu Han yang kini duduk di sebelahku.

“Hai Lu Han-shii!” sapaku sambil mengulurkan tangan, “Byun Baek Hyun imnida.”

Bangapda Baek Hyun-shii,” ia menjabat tanganku dengan ramah.

“Mungkin kita bisa mengobrol lebih banyak setelah ini, Kim sonsaeng akan mudah marah saat moodnya sedang jelek.”.”

“Hm, kelihatan jelas tadi.”

 

~*N*R*L*~

 

Aku membulatkan mataku saat mendengar lebih detail identitas tentang Lu Han, langsung dari mulutnya.

“Beijing? China???” pekikku tertahan, karena kelas belum betul-betul sepi. Masih ada beberapa siswa yang belum keluar.

“Hm… ada yang salah?” tanya Lu Han bingung.

Oh dia jelas tidak tahu bahwa China itu adalah kata yang paling tabu di kelompok kami. Kuharap Chan Yeol tidak akan segera tahu bahwa teman dudukku ini adalah orang china.

“A… Ani, aku dan… teman-temanku sempat punya kenangan buruk dengan orang yang dijuluki si China.”

Ia mengangguk-angguk, “Hm, begitu?”

“Tapi bukan berarti kau juga termasuk, tidak semua orang China. Aduh bagaimana mengatakannya.”

Ia tertawa kecil, sangat hangat., “Aku mengerti. Mungkin si China yang kau maksud adalah orang yang tidak cukup baik hingga meninggalkan kesan buruk bagimu dan teman-temanmu.”

“Hm, mianhae. Tapi aku betul-betul tidak menyangka kau orang China, bahkan pronunciationmu dalam hangeul sangat sempurna.”

“Wah terima kasih, padahal aku baru belajar beberapa bulan.”

Aku tertawa kecil. Senangnya mengobrol sesantai ini, dan sesopan ini. tanpa ada umpatan-umpatan kasar di depan dan di belakang kalimat seperti yang sering kukatakan saat tengah berada di lingkungan orang-orang tidak waras seperti Chan Yeol.

Lu Han betul-betul orang yang ramah. Tidak cukup setengah hari, aku langsung akrab dengannya. Aku bahkan tidak ke kantin dan melewatkan 2 kali jam istirahat hanya untuk mengobrol dengannya. Sebenarnya teman seperti Lu Han ini yang cocok denganku, agar pertumbuhan mentalku tidak rusak.

“Kau pulang dengan siapa Lu Han-shii?” tanyaku saat bel pulang berbunyi dan kami tengah membereskan buku-buku kami.

“Eum, aku menunggu bis saja, taxi mahal sementara aku hanya tinggal sendiri di rumah sewaan. Kau sendiri?”

“Dengan Park Chan Yeol.”

“Park Chan Yeol? Pemuda tampan yang mengacau tadi?”

Aku menghela nafas panjang., “Berita baiknya, namja bernama Park Chan Yeol itu memang tampan, dan berita buruknya dia tidak hanya seorang pengacau, tapi penjahat.”

Lu Han tertawa, “Dia kekasihmu?”

Aku berdecak kesal, “Itulah berita paling buruknya.”

Ia makin tertawa, “Lucu sekali.”

“Jangan menertawaiku, nasibku memang sial bisa berpacaran dengannya.”

“Apanya yang sial. Dia betul-betul tampan, postur tubuhnya keren.”

“Tapi dia gila,” potongku cepat.

“Hm, kelihatannya sih iya, sedikit. Tapi ayolah, selama dia tampan dan keren apa salahnya. Aku juga ingin punya kekasih seperti dia.”

Aku menepuk pundaknya, “Cepatlah meralat kata-katamu sebelum Tuhan mendengarnya dan mengabulkan permintaanmu, karena kuyakin kau akan menyesal selama hidupmu.”

Ia terus tertawa sambil memegangi perutnya, “Ya Tuhan… aku belum pernah mendengar kekonyolan ini. Kejam sekali kau Baek Hyun-shii, begitu-begitu juga dia kekasihmu.”

Oh Whatever. Kajja, kutemani menunggu bis.”

Ne…”

 

~*N*R*L*~

 

Aku langsung mencekal tangan Lu Han ketika mataku menangkap sosok Chan Yeol dan Kai di pelataran parkir. Aku hendak kabur, tapi sial, namja keparat itu sudah melihatku lebih dulu. Ia melambai, memintaku menghampirinya, dan aku jelas tahu konsekuensinya kalau aku kabur terang-terangan di depan matanya.

“Lu Han-shii, berdoalah agar Tuhan melindungimu,” pintaku. Sialnya Lu Han malah menanggapinya sebagai lelucon, karena setiap kali aku membahas hubunganku dengan Chan Yeol, ia betul-betul tertawa. Entah karena dia menertawai kesialanku, atau memang itu lucu. Entahlah, aku sudah tidak peduli.

“Mau kabur?” tanya Chan Yeol begitu aku menghampirinya di lapangan parkir.

“Aniyo, aku ingin mengantar Lu Han ke depan dan menunggu bis.”

“Lu Han nugu?”

Aku memutar bola mata sedikit jengah, “Cukup Se Hun saja yang bisu, kau tidak usah ikut-ikutan cacat dengan tidak melihat,” sindirku jengkel, jelas-jelas aku membawa seseorang di sebelahku. Selemah itukah otak Chan Yeol hingga hal seperti ini pun tidak mudah ditangkapnya?

“Oh, namja cantik ini namanya Lu Han? Namanya aneh sekali,” balas Chan Yeol, entah meledek atau apa.

“Ya.. bisakah kau bersikap sopan satu detik saja? Menyebalkan sekali,” tegurku.

“Ani… Ani, aku tidak bercanda. Lu Han… kedengaran seperti nama orang China.”

Aku menelan ludah, aku jadi gugup karena menyadari hal itu.

“Aku memang dari China, Chan Yeol-shii,” ucap Lu Han tiba-tiba membuatku hampir terkena serangan jantung.

Matilah… matilah…

“Orang China?” tanya Chan Yeol memastikan. Kai yang sejak tadi sibuk merokok langsung menoleh, memandangi Lu Han dari atas ke bawah.

Ne… Bangapseumnida! sapa Lu Han, masih ramah. Salah satu sikap yang kusesalkan karena sikap ramah itu tidak pantas diberikan pada Chan Yeol.

“Hanya orang China atau kau cukup bergaul dengan anak berandalan yang berasal dari china dan mengacau di sini?”

Aku memijat keningku, pusing sekali, kurasa sebentar lagi aku akan pingsan. Demi Tuhan mana mungkin ada manusia sekurang ajar ini?

“Aku baru saja pindah ke sini sebulan yang lalu Chan Yeol-shii, jadi tidak punya banyak teman. Aku juga tidak mengenal orang-orang yang kau maksud, karena teman pertamaku di Korea adalah Baek Hyun,” balas Lu Han, tetap dengan sikap ramahnya.

“Hm, begitu?” Chan Yeol menoleh pada Kai dan mengangguk. Kai seperti mempertimbangkan sesuatu yang entah apa. Beberapa kali aku keheranan, kedua anak ini sepertinya bisa berkomunikasi tanpa bicara (Mungkin karena terbiasa dengan Se Hun), hanya dengan tatapan mata yang kata orang-orang ilmu telepati atau apalah aku tidak peduli. Memang sangat jarang hal yang masuk akal jika sudah berhubungan dengan Park Chan Yeol.

“Kau sudah punya pacar?” tanya Kai. Dan itu membuatku langsung membelalak. Firasatku tidak enak.

Lu Han menggeleng sambil tersenyum, “Aku belum pernah berpacaran.”

Chan Yeol mengangguk-angguk., “Bagus!”

“Jangan macam-macam Park Chan Yeol,” ancamku memperingatkan.

Chan Yeol keparat itu malah tertawa dan menarikku ke arahnya, memelukku erat dan menggelitik telingaku dengan bibirnya., “Tenanglah ppabo, aku itu bukan tipe yang suka selingkuh.”

“YA! Lepaskan… maksudku bukan kau.”

Chan Yeol terus memelukku erat, tak memberiku ruang sedikitpun untuk bergerak.

“Oh ya Lu Han… yang itu namanya Kim Jong In, ingat marganya Kim,” ucap Chan Yeol, yang memang kutahu Kai tidak begitu suka dipanggil dengan nama aslinya, apalagi menegaskan nama marganya. Dan bukan Chan Yeol namanya kalau tidak tahu apa yang dibenci teman-temannya, dan jelas sekali dia suka menggoda teman-temannya seperti itu, “panggilannya Kai, tampan bukan? Walau tidak setampan diriku tapi dia masih lumayan.”

Aku kembali memijat keningku, sudah tidak sanggup menanggung rasa malu ini. siapa manusia ini? apa benar dia kekasihku? Tuhan… kesalahan apa yang telah dilakukan nenek moyangku hingga aku mendapat kutukan seperti ini.

Bangapseumnida Kai-shii.”

Lihat bagaimana Lu Han tetap ramah menanggapi.

“Jadi panggil saja dia Kai, karena mulai sekarang dia itu kekasihmu,” ucap Chan Yeol lagi.

“MWO???” Aku yang menjerit heboh.

“Diam… mau kucium di sini?” ancamnya, dan sekali lagi aku mati kutu.

“Kekasih?” Lu Han yang bertanya.

Ne, kekasih. Seperti aku dengan si  ppabo ini,” jawab Chan Yeol.

Ini lagi yang tidak masuk akal,  kenapa Chan Yeol yang berkuasa sekali di sini, siapa yang mau jadi kekasih siapa? Kenapa Chan Yeol yang sibuk?. Lihat Kai juga santai-santai saja. Tidakkah dia memikirkan apa tanggapan Kyung Soo kalau dia menduakannya? Walau aku tahu ini pasti hanya untuk turnamen itu.

“Kau terlalu lama berpikir, pilihannya hanya dua. Ya atau mau?” tambah Chan Yeol lagi, masih dengan seenaknya.

“Untuk menjadi teman mungkin tidak apa-apa, tapi untuk menjadi kekasih tidakkah itu terlalu cepat?”

Bagus… proteslah Lu Han, jangan seperti diriku yang lemah, lagipula Kai tidak seperti Chan Yeol, yang pemaksa.

“Santai sajalah… aku dan si ppabo ini juga awalnya begitu, tidak perlu berteman dan langsung berpacaran,” Chan Yeol keparat ini memeluk leherku dari belakang dan mencium pipiku, “sudah hampir setahun dan kami masih seromantis ini.”

Apa katanya tadi?

Siapapun sadarkan aku kalau telingaku memang sedang bermasalah kali ini.

Romantis?

Hendak rasanya kurubuhkan seluruh gedung sekolah ini saking tidak masuk akalnya perkataan Chan Yeol.

Aku menatap Lu Han penuh harap dengan menggeleng kecil sebagai isyarat agar ia menolak.

“Apa harus kuminta Kyung Soo membersihkan kamarku siang ini? Atau kau mau kubawa sebuah hotel atau…” bisik Chan Yeol.

Aku membelalak kaget, “Waeyo? Aku tidak berbuat apa-apa.”

“Aku persis di belakangmu ppbao!”

Aku menghela nafas, betul-betul tidak ada yang bisa luput dari penglihatan Chan Yeol. Akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Lu Han.

“Kai… urus sendiri saja dia, kau ini bersikap layaknya bos saja. Sebenarnya siapa bos di sini?” protes Chan Yeol, yang sebenarnya justru dia yang terlalu banyak bicara hingga Kai malas buka suara.

Kai membuang puntung rokoknya dan menginjaknya, “Bagaimana Lu Han-shii? Mau menjadi kekasihku?” tawar Kai.

Ini juga… kenapa di otak mereka meminta seseorang untuk menjadi kekasih sama seperti meminta uang receh? Terkesan gampang sekali.

“Ta… Tapi aku tidak pernah berpacaran, dan tidak ada pengalaman dalam berpacaran sama sekali, jadi… aku…” Lu Han terlihat gugup, kuyakin itu salah satu bentuk penolakannya, karena memang dia harus menolak.

“Akan kuajari.”

Aku menoleh kaget, “Kim Jong In!” seruku. Tapi dia tidak menggubris. Ia menarik tangan Lu Han hingga sedikit mendekat ke arah Kai yang duduk di atas motornya. Dengan sangat santai memeluk pinggang Lu Han dengan satu tangan.

“Kau mau jadi kekasihku?” tawarnya langsung.

“Ng… aku…”

Tidak… ini tidak boleh dibiarkan. Ini bukan hanya tentang Lu Han yang akan terjerumus, tapi tentang Kyung Soo berikut dugaan-dugaannya tentang Kai yang tidak begitu serius mencintainya. Bayangkan jika hal ini sampai di dengar Kyung Soo… kurasa dia tidak hanya akan terpuruk, tapi akan mendadak gila. Dan aku tidak rela jika satu-satunya orang yang kuanggap waras di kelompok itu menjadi betul-betul gila.

“Jangan menerimanya Lu Han-shii, dia hanya menipumu, dia tidak benar-benar ingin menjadikanmu kekasihnya, karena nyatanya dia sudah punya kekasih yang begitu mencintainya. Dia hanya ingin memanfaatkanmu untuk mendampinginya di turnamen itu.” Potongku memberanikan diri. Aku bahkan menepis tangan Chan Yeol yang terus-terusan ingin membekap mulutku.

“Dan kau Kim Jong In, kau pikir aku akan membiarkanmu menyakiti dua temanku sekaligus? cih… tidak akan. Kupikir kau masih cukup waras dalam kelompok ini, tapi tidak juga, kau sama keparatnya dengan Park Chan Yeol sialan ini,” aku menyikut dada Park Chan Yeol yang terus berusaha memelukku.

Hening…

Chan Yeol menghentikan usahanya memelukku kemudian menoleh pada Kai, “Kau tahu di mana hotel terdekat di daerah sini?”

“MWO???” Aku terperanjat, langsung menjauhkan diri dari Chan Yeol, bersiap-siap untuk lari.

“Love hotel, 2 bangunan setelah lampu merah di ujung jalan,” jawab Kai, sepertinya tidak bercanda.

“Oh Bagus… Love hotel fasilitasnya lebih lengkap, bukankah mereka menyediakan video erotis? Lumayan untuk referensi.”

Leherku tercekat, dengan gesit aku melompat dan berlari meninggalkan tempat itu, yang sebenarnya kuyakin lariku sudah sangat cepat.

Tapi sial… aku lupa sepanjang apa kaki Park Chan Yeol. Aku sudah 10 langkah, dia baru 4 langkah hingga bisa menyejajariku, dan alhasil, akhirnya tubuhku dipikul layaknya karung beras dan di turunkan kembali di tempat semula. Di mana ada Kai yang masih menawarkan Lu Han untuk menjadi kekasihnya.

Seketika aku bersimpuh, karena memang tidak ada jalan keluar lagi, “Ampun Park Chan Yeol… maafkan aku… ya terserah… terserah kalian, aku tidak akan ikut campur lagi. Kai ingin pacaran dengan siapapun aku tidak akan protes, Chan Yeol juga… terserah…” pintaku serius, aku bahkan sudah hampir menangis.

Kulihat namja biadab itu tertawa, kemudian menarik tanganku, “Kajja ppabo…”

“Ampun Park Chan Yeol…. ampuni aku… jebaaallll!!!

“Kau ini kenapa? Kau itu kekasihku, apa salahnya kau menyerahkan tubuhmu padaku?”

Aniyaaaa…. shireoooooo, Kai tolooonnnggg….” jeritku mendarah daging, karena sekali lagi harus menerima nasibku yang tengah dipikul layaknya karung beras.

“Eum… maaf…” potong Lu Han.

Chan Yeol langsung berhenti melangkah kemudian menoleh pada Lu Han, “Wae?”

“Eum, kalau aku menjadi kekasih Kai-shii.. . apa kau akan melepaskan Baek Hyun? Dia memang kekasihmu, tapi jangan memaksanya begitu, dia… tersiksa,” tawar Lu Han yang entah kenapa aku langsung memujanya, berdoa agar Tuhan terus bersamanya. Karena dia malaikat.

“Hm? Walaupun kau sudah tahu perkara sebenarnya?” tanya Chan Yeol.

Ne, tidak mengapa. Aku ikut aturan main saja,” jawab Lu Han selembut mungkin.

Chan Yeol menatap Kai lagi., “Ini bahkan lebih bagus Kai, kau bisa menjadikannya kekasih gelapmu. Jadi dia hanya akan bersikap sebagai kekasihmu di belakang Kyung Soo.”

Ya Tuhan… aku tidak pernah menyangka bahwa namja sialan ini begitu licik, “Brengsek kau Park Chan Yeol… hentikan ide bejatmu itu, kau pikir Kyung Soo itu mainan? Pikirkan perasaannya,” kali ini aku tidak bisa menahannya lagi.

“Hanya sampai turnamen itu berakhir. Tidak genap 2 minggu, setelahnya Lu Han lepas,” ucapnya lagi kemudian menurunkanku hingga kakiku kembali menyentuh tanah.

“Kalian berdua memang sangat sangat licik!” hardikku.

“Ini juga untuk Kyung Soo, Baek Hyun-ah,” lirih Kai.

“Alasan yang betul-betul busuk, Kim Jong In.”

Kai turun dari motornya, menghampiriku dan menatapku datar, “Mereka harus membayar dengan harga yang sama. Minimal… akan kubuat kekasih si China itu cacat.”

Aku membelalak, “Hanya untuk balas dendam? Dan kau memanfaatkan orang yang tidak tahu apa-apa?”

Puk~

Kai menepuk puncak kepalaku., “Hanya sebatas formalitas, selama itu bisa membantuku mencapai keinginanku, kurasa jalan apapun benar di mataku.”

“Kau… Kaupun brengsek Kim Jong In!” pekikku tertahan.

“Tidak mengapa… selama itu untuk Kyung Soo,” Kai berbalik, kini berhadapan dengan Lu Han, “bagaimana?”

Ironis, Lu Han yang pada dasarnya berhati malaikat hanya bisa mengangguk sambil tersenyum.

“Jadi… bisa kita mulai dari sini?”

Ne?”

Dan aku hanya bisa mematikan hati nurani melihat Kai memeluk pinggang Lu Han, membungkuk sedikit dan menggapai bibirnya. Dan mungkin saja itu adalah ciuman pertama bagi Lu Han. Ciuman pertama yang direbut seseorang yang hanya akan menjadikannya kekasih dalam jangka waktu tidak genap 2 minggu. Lebih ironis dari nasibku.

Mianhae Kyung Soo-ya, Lu Han-shii… aku tidak bisa melakukan apa-apa.

 

~*N*R*L*~

 

Aku turun dari motor Chan Yeol dengan sedikit melompat, moodku betul-betul rusak hari ini dan kuharap moodku masih bisa diajak kerja sama karena Chan Yeol sudah memberikanku peringatan agar tidak membuka mulut di depan Kyung Soo.

Mengenai jati diri Lu Han, otak gila Chan Yeol berputar dan memintaku membuat Kyung Soo percaya bahwa Lu Han juga salah satu orang seperti mereka yang hampir putus asa jadi direkrut di dalam kelompok ini. Kutekankan sekali lagi… hanya MEREKA, karena aku tidak termasuk dalam kumpulan orang yang putus asa sebelum masuk aliran sesat ini, justru di dalam kelompok ini, barulah aku  menjadi orang yang putus asa.

Kondisi Lu Han yang memang tinggal sendiri di Korea justru mempermudah perekrutannya. Lihat bagaimana kondisi kami sekarang. Kulihat Kai dan Lu Han tengah membicarakan sesuatu, mungkin ide gila lagi sebelum kami masuk ke Red Villa.

“Kau apakan wajahmu?” tegur Chan Yeol yang ternyata sudah berdiri di sebelahku sehabis memarkir Phoenix.

“Memangnya kenapa dengan wajahku?” balasku.

“Jelek sekali saat kau cemberut begitu.”

“Dan apa itu juga kesalahanku? Aku membentuk mimik muka pun harus sesuai dengan perintahmu?”

Chan Yeol mengangkat alis, “Kau masih marah?”

Aku melengos sambil membuang muka., “Tidak, aku sedang tertawa terbahak-bahak,” sindirku. Apa dia betul-betul tidak bisa membaca situasi?

“Santai sajalah, Kai tidak benar-benar serius mengkhianati Kyung Soo, sudah kubilang tidak cukup 2 minggu, kami akan melepaskan Lu Han.”

“Melepaskan? Apa bagi kalian kami ini seperti anak ayam yang kalian tangkap begitu mudah dan begitu mudah pula kalian lepaskan?” tantangku, “ah tidak, yang anak ayam itu hanya Lu Han, buktinya sampai sekarang aku tetap berada di sini.”

Chan Yeol terdiam dan menatapku dengan ekspresi yang…

Eum, kali ini sulit kubaca.

“Kau ingin lepas?” tanya Chan Yeol.

Terkejutnya aku bukan main saat ia mengatakan itu dengan ekspresi serius., “Mwo?”

“Kau ingin lepas dari kelompok ini?”

Aku menelan ludah dengan susah payah. Lepas dari kelompok ini? Artinya berpisah dengan Park Chan Yeol bukan? Terbebas dari segala terornya bukan?

Chan Yeol melangkah maju, membuatku mundur beberapa langkah hingga punggungku membentur pilar besar penyangga Red Villa. Satu tangannya ia tapakkan di sebelah telingaku dan menatapku serius, “Katakan dengan tegas kau ingin putus dariku maka aku akan melepasmu.”

Mataku membelalak sempurna. Seriuskah pemuda gila ini menawarkan hal itu?

“Park… Park Chan Yeol apa maksudmu?”

“Kurang jelaskah? Gayaku sudah seperti ini. menyukai seseorang juga sudah seperti ini, jadi jika kau tidak suka berada di sisiku, kuberi kau kesempatan untuk pergi.”

Sungguh aku tidak tahu ada apa dengan diriku. Ini sungguh tawaran yang betul-betul menggiurkan. Maksudku… lepas dari Park Chan Yeol, ayolah… masa depanku akan kembali cerah. Tapi apa, ini seperti ancaman bagiku, bahkan lebih menyeramkan saat Chan Yeol akan memperkosaku. Nyatanya manusia brengsek ini sudah membuatku terikat padanya dan mana mungkin bisa kulepas begitu saja.

Segala jenis perlakuan kurang ajarnya padaku tidak pernah satu kalipun membuatku benci padanya, karena inilah Park Chan Yeol. Seperti yang dia bilang, inilah gayanya, menyukai seseorang pun sudah seperti ini. lalu aku harus apa? Park Chan Yeol ingin melepasku dan…

“Kuhitung sampai tiga, katakan kau ingin putus atau tidak?”

Leherku tercekat. Park Chan Yeol memang tidak pernah main-main dalam memberikan pertaruhan. Aku yakin ini serius, kalau kubilang aku ingin putus sekarang, maka kujamin dia akan melepaskanku sepenuhnya.

“A… Aku…”

Hana…”

“Aku… Aku… Aku…” gugupku. Ini perkara masa depan, entah kapan lagi aku bisa mendapatkan kesempatan emas ini.

Deul…”

“Aku… aku ingin… eung…” Aku ingin bebas… tapi aku juga tidak ingin  berpisah dari Park Chan Yeol…

Namja keparat ini tersenyum penuh kemenangan, “Set… kesempatan hangus. Jadi sudah kupatenkan, kau itu milikku sampai mati.”

Mataku membelalak sempura, “MWORAGO???”

Ia malah tertawa kemudian merangkul pundakku untuk masuk ke Villa., “Kajja… dan kita ikut permainan Kai. Jangan banyak bicara atau aku tidak akan segan-segan menyeretmu ke kamar.”

Dan sekarang aku betul-betul menyesal telah menyia-nyiakan kesempatan emas tadi., “AAAARRRRHHHHH AKU INGIN PUTUUUUSSSSS!!!”

“Sayangnya kesempatan yang kuberikan sudah hangus, siapa suruh kau berpikir lama sekali.”

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”

“Diam atau…”

“Ne… Ne… aku diam, jadi tidak perlu mengancam lagi.”

 

~*N*R*L*~

 

Aku hanya terus berusaha membuat mulutku penuh dengan roti isi milik Se Hun yang tergeletak di meja. Kulakukan agar menghindari kemungkinan kalau saja aku berbicara yang tidak-tidak. Sementara Chan Yeol sibuk memperkenalkan Lu Han pada Kyung Soo dan Se Hun. Dengar saja cara dia memperkenalkan mereka.

“Lu Han-shii, perkenalkan ini Se Hun. Jangan mengajaknya bicara karena dia bisu. Tapi jangan meremehkannya, di antara kami, dia yang paling jenius soal otomotif,” Chan Yeol memperkenalkan Lu Han pada Se Hun. Ini seperti flash back di masa lalu, saat aku juga diperkenalkan ke teman-temannya dengan cara seperti itu.

“Bangapda Se Hun-shii,” Lu Han mengulurkan tangan dan tersenyum ramah, dijabat oleh Se Hun, masih dengan wajah datarnya.

“Eum, lalu bagaimana aku berkomunikasi dengannya?” tanya Lu Han.

“Bicara saja, karena dia tidak tuli. Dia juga tidak bisu sejak lahir, jadi dia mengerti bahasa. Dan untuk memahami bahasa isyarat darinya, kau harus terbiasa. Seperti si ppabo itu, dia cukup cepat mengerti bahasa Se Hun.”

Tidak perlu ditanya siapa yang ditunjuk Chan Yeol dengan sebutan si ppabo.

Lu Han mengangguk-angguk.

“Dan ini Kyung Soo salah satu penghuni Red villa ini. Walaupun wajahnya sepeti anak SD, tapi dia seusia kita. Ah dan yang lebih penting sebelum bergabung, dia ini sebenarnya seorang pelacur.”

Bisa tebak, itu cara Chan Yeol memperkenalkan Kyung Soo, alhasil aku sangat mendukung perbuatan Kyung Soo yang memukuli kepala Chan Yeol dengan gulungan majalah. Aku bahkan ingin membantunya dengan menyodorkan pemukul baseball yang ada di lemari itu.

“Waeyo? Memangnya aku salah? Kalau waktu itu aku tidak membelimu, kau akan terus-terusan jadi pelacur,” elak Chan Yeol lagi.

Kyung Soo tidak menggubris, ia mengulurkan tangan pada Lu Han, “Salam kenal Lu Han-shii, aku Do Kyung Soo, jangan mendengarkan namja keparat ini. Aku bukan pelacur, walau memang aku sempat bekerja di club malam, tapi percayalah aku hanya bekerja sebagai pengantar minuman.”

Lu Han tersenyum hangat dan menyambut uluran tangan Kyung Soo, “Bangapseumnida Kyung Soo-shii. Iya, akupun tidak akan percaya begitu mudah, bisa dilihat dengan jelas, kau adalah namja baik-baik.”

“Jangan tertipu tampangnya, sekarang pun dia masih seorang pelacur,” tambah Chan Yeol lagi.

Kyung Soo menatapnya malas, “Apalagi keparat?”

“Eh, bukannya kau itu pelacurnya Kai?”

Kyung Soo memejamkan mata kemudian menghembuskan nafas dengan berat, “Baek Hyun-ah, bawa namja sialan ini dari hadapanku atau aku akan merobek mulutnya.”

Apa? Kyung Soo itu bagaimana? Akan kubawa ke mana si keparat Chan Yeol? Ke kamarnya? Yang ada  justru aku yang akan dimangsanya.

“Tidak perlu repot-repot. Sesi perkenalan sudah usai, jadi aku, Kai dan Se Hun akan membenahi kamar Lu Han, kau memasak saja,” balas Chan Yeol.

Mataku membelalak dan, “Uhhhuuukkk…” Sialaku tersedak, Ya Tuhan., “Uhhuuukkk…”

Kupukul-pukul dadaku untuk mempermudah roti yang tersangkut di tenggorokan agar masuk dengan lancar ke saluran pencernaanku, tapi sial, kurasa masih berbentuk gumpalan hingga sulit melewati kerongkonganku.

“Chan Yeol-ah, kenapa anak itu?” tegur Kai dengan sangat santainya.

Si keparat itu langsung menghampiriku, “Kau kenapa? Kenapa wajahmu biru?”

Aku menggapai-gapai ke meja, mencari sesuatu yang bisa di minum, tapi memang kebiasaan Se Hun tidak menyertakan air saat dia sedang makan, di situ hanya ada bir, dan jelas aku tidak akan meminum itu.

“Hei…” Chan Yeol malah hanya menegurku dengan santai, tidak berniat menolongku.

“Ya Tuhan… sepertinya dia tersedak sesuatu,” seru Lu Han… dan memang hanya dia yang menyadari hal itu. Malaikat… tolong aku…

Mwo? Tersedak? Orang sebesar ini masih bisa tersedak? Kyung Soo-ya, cepat ambilkan air….” Chan Yeol menarikku ke arahnya dan memukul-mukul tengkukku.

Aku sekarat, betul-betul terasa seperti akan mati, paru-paruku sudah kosong.. dan

“Haih…Ceroboh sekali.”

Aku membelalak saat Chan Yeol memasukkan jarinya ke dalam mulutku dan mengorek sesuatu di dalam dan…

“HHHUUUEEEEEKKKKKK.”

Alhasil aku memuntahkan seluruh makananku, dan benar saja gumpalan yang menyumbat kerongkonganku tadi itu sangat besar.

“Ini minumnya,” Kyung Soo datang sambil tergopoh-gopoh dan menyerahkan gelas itu pada Chan Yeol.

“Sebenarnya apa gunamu bersekolah? Sudah sebesar ini masih bertindak bodoh hingga tersedak.” Chan Yeol sempat-sempatnya mengomeliku saat ia membantuku minum.

Setelah saluran pernafasanku kembali plong, aku langsung melotot pada Chan Yeol dan memukul lengannya, “AKU HAMPIR MATI BRENGSEEKKK!!!”

“Salahmu sendiri kenapa ceroboh?”

“Siapa yang ceroboh? Kau yang membuatku tersedak.”

Chan Yeol megerutkan kening, “Aku? Kenapa aku?”

Aku menggeram kesal, “YA! aku sudah hampir satu tahun menjadi anggota kelompok ini tapi sampai sekarangpun kalian tidak membuatkanku kamar pribadi. Lihat Lu Han, baru bergabung beberapa menit saja kalian sudah akan membenahi kamarnya,” protesku, karena memang itu alasan yang membuatku tersedak.

“Kau tidak membutuhkan kamar pribadi, bukankah kau punya rumah sendiri?”

“Lu Han juga punya rumah sendiri.”

“Itu rumah sewaan, kalau dia tinggal di sini, biaya hidupnya bisa lebih ringan. Dia juga tinggal sendiri, jadi tidak masalah.”

“Tapi aku kan..”

“Lagipula untuk apa kau punya kamar sendiri? Kau bisa menggunakan kamarku. Itu juga kamarmu.”

Aku memuar bola mata kesal, percuma berdebat dengan Chan Yeol keparat ini.

“Sudahlah, selama kami membenahi kamar Lu Han, kau ikut Kyung Soo saja ke dapur, dan juga Lu Han untuk memasak,” Chan Yeol mengacak rambutku sebelum beranjak dengan Kai, juga Se Hun.

Aku menjulurkan lidah ke arahnya, “Kudoakan tanganmu terkena palu, tertimpa tangga lipat  atau sejenisnya,” lirihku tertahan.

“Aku mendengarnya Ppabo. Tunggu sampai kamarnya selesai, kita yang akan pertama kali menempatinya satu malaman.”

Aku membelalak karena ancaman Chan Yeol itu, “Ampun Park Chan Yeol… aku hanya bercanda, hahaha,” seruku saat mereka sudah naik ke lantai dua.

Oh hidupku yang malang.

 

~*N*R*L*~

 

Ne Appa, aku menginap di rumah Chan Yeol___ hm… beramai-ramai. Kami semua ada 6 orang. Ne Appa___ Ne___ Arasso___ Mwo? salam ke Park Chan Yeol? Sudahlah Appa, anak seperti itu tidak perlu diberi salam apapun___” Aku berdecak mendengar ayahku begitu memuji namja keparat ini, “Ne… Ne… akan kusampaikan. Itu saja, Bye…”

Aku buru-buru mematikan ponselku sebelum Appa meminta hal yang aneh-aneh lagi.

“Sepertinya Chan Yeol sudah diterima baik di keluargamu,” tegur Lu Han setelah ia melihatku meletakkan ponsel di atas meja.

Aku menghampirinya yang berbaring santai di atas tempat tidur barunya. Lihat bagaimana Chan Yeol sialan membenahi kamar Lu Han, semuanya lengkap., “Itu karena Chan Yeol pandai cari muka. Atau Appaku saja yang mudah dikelabui, molla. Waktu Appaku tahu aku berpacaran dengan pembalap liar sepertinya, bukannya menolongku, Appa justru mendukung hubungan kami. Entahlah, sepertinya Appa dihipnotis.”

Jinjja? Padahal kukira seorang anak dari keluarga ternama biasanya akan di atur dengan pola disiplin sedemikian rupa, termasuk pergaulan.”

“Ck, kau tidak akan menyangka, apa tanggapan Appaku saat kukenalkan dia pada Chan Yeol. Eum, saat hubungan kami baru berjalan 2 bulan kalau aku tidak salah ingat.”

 

Flashback…

 

“Ayo masuk, kukenalkan pada Appaku,tantangku pada Chan Yeol yang mengantarku pulang.

“Boleh,” balasnya santai. Kupikir dia akan takut atau apa. Dan kuharap setelah Appa tahu bahwa namja ini berandalan, dia akan mengusirnya dan melarang kami pacaran, jadi aku akan punya alasan menghindarinya.

Chan Yeol mengikuti langkahku memasuki rumah yang telah kutempati sejak kecil bersama Appaku dan mendiang eommaku yang meninggal saat usiaku 13 tahun. Chan Yeol sudah tahu itu, dan sebenarnya Chan Yeol punya cara agar aku tidak bersedih saat aku teringat eomma.

Ah jangan katakan ini pada Chan Yeol, tapi sebenarnya sejak aku bersamanya, aku sudah mulai menerima keadaanku yang tidak lagi memiliki eomma. Entahlah, bersama Chan Yeol aku merasa sedikit lebih tegar. Mungkin karena dia menempa kepribadianku dengan perilaku hidupnya yang berantakan. Mungkin itu juga alasan mengapa aku tidak lagi sering menangis, kecuali kalau dia sudah mengeluarkan ancaman kebesarannya itu.

“Aku pulang…” seruku saat aku masuk ke rumah, dan Appa sudah ada di ruang tamu sambil bersantai membaca koran.

“Baek Hyun-ah, dari mana nak?” sambut Appa.

“Dari rumah teman, Appa, aku menghampirinya dan memeluknya. Dan sialnya Chan Yeol justru menertawaiku.

“Bawa teman?”

“Ah, selamat malam Abonim!” Chan Yeol menghampiri kami dan menyalami Appa.

“Selamat malam anak muda, silakan duduk.

“Kamsahamnida Abonim.

Aku merinding melihat tingkah Chan Yeol yang betul-betul sopan. Lihatlah, siapa yang bisa percaya kalau dia ini berandalan?

“Tumben sekali uri Baek Hyun bawa teman ke rumah, pasti ada sesuatunya, goda Appa. Dan sialnya lagi wajahku bersemu merah.

“Ne Abonim… aku teman spesialnya, Namaku Park Chan Yeol.

“Geure Park Chan Yeol! Teman sekolah Baek Hyun?”

“Ne Abonim”

“Tinggal di mana?”

“Eum, di sebuah rumah yang kudapatkan dalam ajang taruhan balapan liar.

Sungguh aku tidak percaya Chan Yeol bisa sebegitu beraninya berkata jujur di depan Appaku.

“Balapan? Taruhan?”

“Ne abonim. Aku seorang pembalap, dan itu pekerjaanku. Jadi aku bisa hidup dengan uang hasil kerjaku sendiri.

Mata Appa membelalak. Bagus, marahi dia, usir dia, hajar dia Appa…

“Jadi selama ini Baek Hyun jarang pulang ke rumah karena bermain bersamamu?” seru Appa dengan nada tinggi.

Ah, mana tongkat golf Appa, ah di sana. Akan kutunggu sampai Appa meradang dan kuambilkan tongkat itu agar lebih mudah menghajar Park Chan Yeol.

“Ne Abonim. Maaf karena mengajak Baek Hyun mengikuti ku yang memang keseringan di luar.

“Pola hidup? Bukankah pembalap liar itu pola hidupnya cukup  berantakan?”

“Ne abonim”

“Merokok, minum, berjudi, main di club malam dan menyewa pelacur?”

“Yang terakhir itu tidak abonim, itu menijikkan.

“Baek Hyun mengikuti pola hidup seperti itu?”

Chan Yeol menggeleng, “Aku yang akan menghabisinya kalau dia menyentuh rokok dan minuman keras.

Lihat betapa beraninya Park Chan Yeol mengancamku di depan Appa. Mati kau Park Chan Yeol… mati kau setelah ini. Appa itu pemegang sabuk hitam taekwondo saat sekolah dulu. Kau akan dihajar, dicincang, di kubur hidup-hidup dan___

“Begitu? Jadi walaupun kau seliar itu, kau tidak membiarkan Baek Hyun ikut dengan pola hidupmu?”

Eh… kenapa suara Appa melunak?

“Eum, hanya menemaniku sesekali saat balapan Abonim.

Appa mengangguk-angguk, “Berarti benar kau.

“Ne?”

Appa tersenyum kemudian menepuk pundak Park Chan Yeol, “Aku senang dia bersamamu.

Aku sontak berdiri, “MWOYA?”

Appa justru tidak menggubrisku, “Baek Hyun itu anakku satu-satunya. Dia begitu manja bahkan kelewat manja dan tingkahnya seperti perempuan, aku terkadang takut dia dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Tapi sebulan belakangan ini, sifat manjanya berkurang, sangat drastis dan itu membuat kecemasanku setiap kali meninggalkannya untuk dinas ke luar negeripun sedikit berkurang. Kurasa memang kau yang membantunya tumbuh.

Apa ini? Kepalaku pusing, bumi tempatku berpijak seolah terguncang. Aku jusru sudah dimanfaatkan Park Chan Yeol… bisa-bisanya Appa justru memujinya.

“Aku hanya berusaha sebisaku Abonim. Saat aku menyukai sesuatu, maka aku akan menjaganya dengan segenap hatiku, begitu pula dengan Baek Hyun. Aku memang sedikit nakal, tapi aku tidak akan membiarkan Baek Hyun mengikuti kenakalanku, hanya menempanya sedikit agar tidak menjadi pribadi yang cengeng.

“Itu yang kumaksud. Anak ini selalu menangis tiap malam semenjak kepergian ibunya. Dan aku sudah tidak mendapatinya seperti itu sejak beberapa bulan ini.

Oh God… Appa salah paham, aku bukannya tidak lagi cengeng karena bantuan Park Chan Yeol… oke memang Park Chan Yeol yang membuat otakku penuh hingga aku lupa rutinitasku menangis tiap malam.

“Jadi tidak masalah jika aku terus bersama Baek Hyun?” tanya Chan Yeol sambil melirikku dengan senyum iblisnya.

“Kenapa harus bermasalah? Justru orang sepertimu yang kucari untuk menemani Baek Hyun.

“Ah.. kamsahamnida abonim”

Appa tersenyum lagi, “Berbicara tentang balapan… sebenarnya waktu muda dulu aku juga sering ikut ajang seperti itu, karena memang mengasyikkan.

“Ne?”

 

BRUGH~

 

Dan aku sudah tidak tahu kelanjutan permbicaraan Appa dan Chan Yeol karena aku sudah lebih dulu pingsan mendengar pengakuan Appa yang ternyata juga tidak jauh beda dengan Park Chan Yeol.

 

Flashback END

 

Lu Han tertawa keras sambil memegangi perutnya bahkan hampir terjatuh dari tempat tidur, “Pantas saja kau direstui, Appamu juga racer waktu muda ternyata.”

Aku merengut kesal, sebenarnya aku ingin menghapus bagian itu dari memori kehidupanku, karena sejak saat itulah aku sudah tidak punya alasan mengancam Chan Yeol.

Lihat saja bagaimana Chan Yeol setiap kali mengancam akan memperkosaku di depan ayahku, karena kurasa baginya mungkin itu mudah dan bisa terealisasi berhubung dia tidak takut ayahku. Bagaimana mau takut kalau ayahku sendiri yang menyerahkanku pada namja biadab itu?

“Berhentilah tertawa,” tegurku karena kulihat Lu Han sampai mengeluarkan air matanya karena terlalu keras tertawa.

“Baek Hyun-ah… jinjja…hahahaha.”

“Lu Hannie…,” tegurku kesal.

“Kurasa kisahmu tidak setragis Kyung Soo ataupun Se Hun, jujur ini justru konyol.”

“Kejam…”

Lu Han berusaha menahan tawanya, aku bahkan heran dengan mood anak ini. sewaktu kuceritakan perihal masa lalu Kyung Soo terlebih Se Hun padanya, dia justru menangis. Tapi kenapa saat aku menceritakan kisah tragisku dia malah tertawa? Bukankah kisahku tidak kalah menyedihkan?

“Ah mian… mian, sudah lama aku tidak tertawa seperti ini,” ucapnya sembari menghapus air matanya itu.

“Ah sudahlah… lupakan dan jangan membahasnya lagi.”

“Oh ya, mengenai Kai. Aku belum mendengar apapun tentangnya, bisa kau ceritakan padaku seperti apa dia sebelum bertemu Chan Yeol saat usianya 14 tahun? Sedikit aneh jika aku menjadi kekasih seseorang yang tidak betul-betul kukenali latar belakangnya.”

Aku membelalak kaget, seketita menoleh ke arah pintu yang sudah pasti terkunci, “Huusssttt…. jangan bahas tentang hubungan kalian di Villa ini. takutnya akan sampai ke telinga Kyung Soo.”

“Ah maaf, kupikir kalau kita hanya berdua, aku bisa membahasnya.”

“Boleh, tapi waspada. Kyung Soo itu sensitif, apalagi soal Kai.”

“Hm, arasso, bukankah sudah kau ceritakan perihal hubungan mereka? Juga tentang luka di bahu Kyung Soo itu.”

“Ne, jadi tolong hati-hati.”

Lu Han mengangguk, “Aku hanya ingin tahu tentang Kai. Aku juga sudah mengobrol  banyak tadi saat di motor.”

“Ck, kuharap kau tidak betul-betul jatuh cinta padanya, berhubung kau hanya dimanfaatkan selama 2 minggu.”

Lu Han tersenyum, “Tidak masalah, aku suka bergaul dengan kalian, terutama denganmu.”

Aku balas tersenyum, sebenarnya tidak enak hati padanya., “Kai sebenarnya dari keluarga baik-baik. Hanya saja, dia seperti orang yang terbuang dalam keluarganya. Dia terbebani oleh persepsi orang tuanya yang terlalu mendewakan kakak sulung Kai.”

Mata indah Lu Han membulat, “Maksudmu?”

“Hm, Kai selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya yang sempurna itu. dan Kai benci itu. setelah bertahun-tahun tertekan, akhirnya Kai memilih kabur dari rumah, dan yah… akhirnya bertemu kesialan yang bernama Park Chan Yeol.”

“Jangan begitu Baek Hyun-ah, kurasa Kai justru beruntung karena bertemu Chan Yeol.”

“Beruntung apanya?”

“Chan Yeol memang nakal, tapi tidak menjerumuskan dan merugikan orang. Anak yang putus asa seperti Kai itu kasusnya banyak, dan kebanyakan berujung pada kasus bunuh diri.”

Aku terdiam. Juga merenung.

“Apalagi Kyung Soo dan Se Hun. Tidakkah kau berpikir bahwa Chan Yeol adalah dewa penyelamat bagi mereka?”

“Hm, mungkin benar. Sedikit.”

Lu Han tertawa, “Sekarang aku siap mendengar cerita tentang Park Chan Yeol.”

Kuangkat alisku tinggi-tinggi, “Ya apa lagi? Hanya satu kata yang bisa mewakilinya. Dia itu brengsek.”

“Oke, dia brengsek. Maksudku, sebelum bertemu Kai, Se Hun, dan Kyung Soo. Chan Yeol itu seperti apa?”

“Tentu saja anak nakal.”

Kulihat Lu Han gemas sendiri, “Ya maksudku dia juga punya latar belakang bukan? Mana mungkin dia muncul begitu saja di dunia dengan wujud anak berandalan, pasti ada sebabnya.”

“Ah aku tidak tahu, yang kuingat dia sudah sebrengsek itu saat bertemu Kai.”

Lu Han mengangkat alis, “Jadi yang kau tahu tentang Park Chan Yeol hanya dari situ? Sejak ia bertemu Kai? Bukankah dia kekasihmu, kenapa kau justru tidak tahu alasan kenapa dia jadi seperti itu?”

“Maksudmu?”

Lu Han menepuk pundakku, “Ayolah, ini logis, selalu ada sebab dan akibat dalam sebuah perkara. Mereka yang putus asa semuanya karena alasan keluarga. Kau tahu orang tua Kyung Soo menjualnya ke club, kau tahu kedua orang tua Se Hun mati dalam keadaan tragis, kau tahu kedua orang Kai begitu pilih kasih, lalu orang tua Chan Yeol?”

Aku terhenyak kaget, “O… Orang tua Chan Yeol?”

“Ne, jangan bilang kalau kau justru tidak tahu apakah orang tua Chan Yeol masih hidup atau tidak?”

Itu pertanyaan yang sungguh sederhana, sialnya memang benar. Aku tidak tahu apa-apa tentang Park Chan Yeol. Aku tidak tahu dari keluarga mana dia berasal, aku tidak tahu alasan kenapa dia menjadi anak berandalan, kenapa dia brengsek, kenapa dia kurang ajar dan…

“Aku… tidak tahu,” lirihku dengan pikiran yang betul-betul kosong. Kenapa aku baru menyadari hal ini? sudah hampir setahun aku menjadi kekasih dari orang yang ternyata tidak begitu kukenal.

Lu Han mengusap bahuku, “Kubilang Chan Yeol begitu memahamimu. Dia bahkan tahu persis apa yang kau sukai dan apa yang tidak kau sukai. Berikut ancaman yang paling kau takuti dia tahu. Lalu… tidakkah kau berniat lebih memahaminya? Setidaknya bisa sedikit merubah pola pikirmu bahwa sebenarnya Chan Yeol itu tidak sepenuhnya brengsek. Seperti yang kukatakan tentang kebaikannya mengumpulkan dan menampung orang-orang putus asa seperti Kai, Se Hun dan Kyung Soo. Chan Yeol itu… sebenarnya baik. Dan akan lebih baik lagi kalau kau memahaminya.”

Aku terdiam. Kata-kata Lu Han seperti teguran.

“Kau menyayanginya kan?”

Sialnya itu benar. Dan aku mengangguk pelan. Karena aku memang menyayanginya, terbukti aku tidak bisa mengiyakan dengan cepat saat Chan Yeol memberiku kesempatan untuk pisah darinya.

“Mungkin… Kai, Kyung Soo, atau Se Hun tahu sesuatu tentang Chan Yeol,” lirihku.

“Kau tidak berniat mulai memahami Chan Yeol dari dirinya sendiri? Bukankah akan lebih baik jika kau tahu tentang Chan Yeol dari mulutnya sendiri?”

“ck, aku mana berani? Kalau aku banyak tanya dan dia marah bagaimana?”

Lu Han tertawa, “Sebenarnya kau takut apa hum? Takut diperkosa seperti ancaman yang dia keluarkan terus-terusan? Ayolah kau bilang sudah hampir satu tahun kalian pacaran, dan sepanjang tahun itu tidak ada satu haripun yang terlewatkan tanpa ancaman Chan Yeol yang akan memperkosamu, tapi sepanjang tahun itu pula tidak pernah terealisasi kan? karena memang sebenarnya Chan Yeol tidak betul-betul ingin menyakitimu. Kupikir dia hanya ingin membuatmu mendengarkannya.”

“Tapi beberapa kali dia hampir memperkosaku.”

“Hanya hampir, aku berani bertaruh Chan Yeol tidak akan melakukannya lebih dari itu.”

Aku menoleh pada Lu Han, “Kenapa kau begitu memahami Chan Yeol?”

Ia malah tersenyum, “Yang aneh itu kau, selalu bersamanya tapi tidak betul-betul memahaminya. Aku bisa langsung tahu hanya dengan mengandalkan ceritamu, dan dari kesemua ceritamu itu, yang bisa kutarik sebagai kesimpulan adalah, Chan Yeol itu orang baik. Dan dia sangat menyayangimu, kupikir mengenai sikap kurang ajarnya padamu, karena memang dia suka mengerjaimu. Itu seperti cara dia menunjukkan kasih sayangnya padamu. Seperti di pelataran parkir tadi, saat dia memelukmu sedikit posesif, dia terlihat sangat gemas sampai mengelitik telingamu, aku bisa menangkap pancaran kebahagiaan di matanya.”

Menakjubkan… Lu Han betul-betul teliti dengan kondisi sekitarnya. Bahkan hal sekecil itupun dia menyadarinya.

Aku jadi malu sendiri. Mungkin aku lebih banyak disibukkan dengan pikiran-pikiran jelekku tentang sosok Chan Yeol. Bagaimana brengseknya dia, kurang ajarnya dia, dan semesum apa dia. Kesemuanya itu seperti menutup mataku hingga membutakanku tentang sosok asli Park Chan Yeol sebenarnya. Bahwa memang dia orang baik.

 

~*N*R*L*~

 

Chan Yeol menatapku dengan alis terangkat saat sore itu kuminta dia menjemputku di rumah.

“Untuk apa koper sebesar ini?” tanyanya bingung saat aku menggeret koper berisi perlengkapanku itu keluar dari kamarku.

“Aku ingin menginap di Red Villa sampai turnamen itu berakhir. Sekaligus bisa mengawasi Lu Han dari dekat,” jawabku santai.

“Bukankah hanya 2 minggu? Kenapa kau membawa koper sebesar lemari?”

“Ini perlengkapanku, lengkap dengan perlengkapan sekolahku. Orang yang malas sekolah sepertimu mana tahu?”

“Lalu bagaimana cara membawanya? Aku bawa motor.”

“Aku sudah izin pada Appa. Dia juga akan ke Jepang selama 3 minggu, jadi mobilnya bisa dipinjam”

“Lalu Phoenix?”

“Telepon Kai saja, atau Se Hun untuk mengambilnya.”

Chan Yeol melengos, “Kau naik taxi saja, merepotkan sekali.”

“Ya sudah, aku yang bawa mobil Appa saja kalau kau tidak mau.”

Tep~

Chan Yeol mencekal tanganku membuatku menoleh padanya.

“Kau bisa menyetir  mobil?” tanya Chan Yeol ragu.

“Bisa.”

“Bisa atau baru belajar?”

Aku menggumam, “Aku baru belajar minggu lalu.”

Chan Yeol menyentil hidungku hingga memerah, “Dan kau pikir aku akan membiarkanmu menyetir sendiri dengan pengalaman menyetir seminim itu?”

“Lalu harus apa? Kau lebih menyayangi motormu kan? Kau tidak mau Phoenix kenapa-kenapa kan? Ya sudah aku saja yang membawa diriku sendiri, berikut barang-barangku.”

Chan Yeol terdiam, menatapku serius.

“Apa lagi?” tanyaku.

“Besok-besok kalau aku mendengarmu mengatakan itu lagi, aku akan menghabisimu.”

Wae? Bukankah itu kenyataan?”

“Kau dan Phoenix itu berbeda.”

“Hm, makanya kubilang lebih baik aku menyetir sendiri saja, Karena sepertinya bagimu lebih baik aku yang mengalami kecelakaan lalu lintas dari pada Phoenix yang lecet. Bukankah  kau lebih menyayangi Phoenix dibandingkan ak__”

Mataku membelalak sempurna ketika Chan Yeol tiba-tiba meraih tengkukku dan menciumku cukup kasar. Aku gelisah sendiri saat tidak bisa mengimbangi ciuman itu.

“Mana kunci mobilmu?” tanya Chan Yeol dengan nada marah.

“Ke… Kenapa lagi?”

“Ck, cepatlah”

Aku bergegas menuju lemari hias dan mengambil kuci mobil Appa yang selalu berada di situ. Kemudian menyerahkannya pada Chan Yeol.

Ia pun menggeret koper besarku menuju garasi tempat mobil Appa terparkir.

“Park Chan Yeol… kau marah?” tanyaku.

“Masuk saja, dasar cerewet,” jawabnya ketus. Dan aku punya firasat buruk akan hal ini.

Tuhan… apalagi kesalahanku? Kenapa aku betul-betul tidak bisa menebak apa yang dipikirkan Chan Yeol?

Betul kata Lu Han, sudah hampir setahun aku menjalin hubungan dengan Park Chan Yeol. Tapi aku tidak betul-betul mengenal siapa Park Chan Yeol ini.

Chan Yeol masuk dan duduk di jok kemudi setelah meletakkan koperku di jok belakang. Wajahnya masih keras dan datar, dan yang kutahu hanyalah, itu ekspresinya kalau dia tidak ingin diajak bicara. Tapi ada satu yang sangat jelas…

Aku pasti sudah melakukan kesalahan.

Chan Yeol mengeluarkan mobil dengan sangat mudah dan lancar. Kupikir dia hanya lihai mengendarai motor, tapi ternyata mobilpun dia kuasai.

Chan Yeol memutar mobil dengan sangat mudah, dan mulai menjalankannya untuk keluar dari pekarangan.

“Park Chan Yeol… pelan-pelan, bukankah kau memarkir phoenix di depan pag___”

BRUUUKKK…

Kedua mataku hampir keluar dari tengkorakku saat kulihat Chan Yeol begitu santainya menabrak phoenix hingga limbung dan menghantam aspal. Dan seolah tak terjadi apa-apa, Chan Yeol melajukan mobil Appa meninggalkan phoenix yang sepertinya rusak parah karena kap-nya patah.

“YA! APA YANG KAU LAKUKAN???” bentakku tidak percaya.

Itu adalah motor kesayangannya, yang setahuku sudah ada bersamanya bahkan sebelum bertemu Kai. Dan kuyakin karena sesuatu yang salah dari perkataanku hingga ia melakukan hal itu.

Chan Yeol tidak menggubrisku, ia terus fokus menyetir tanpa mempedulikan benda terpenting dalam kehidupannya itu telah rusak parah. Dan aku bersumpah itu membuatku merasa sangat bersalah. Karena memang ini pastilah kesalahanku.

“Park Chan Yeol…” tegurku dengan suara bergetar, tapi ia tetap tidak menggubris, “Aku tidak akan mengulanginya… maafkan aku… aku tidak akan mengatakan hal bodoh lagi, tapi kumohon jangan begini.”

Chan Yeol masih mengabaikanku.

“Maafkan aku Park Chan Yeol…” seruku histeris, karena nyatanya aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain menangis.

 

~*N*R*L*~

 

TO BE BERSAMBUNG (Soalnya pada benci TBC, jadi TBB aja wkwkwkwkwk)

ALF special note: Hm, kebanyakan biasanya readers kebingungan buat komen. Malahan ada yang kesannya terpaksa banget buat komen panjang, WKWkkwkwkwkwk mian readers-nim kalo ALF banyak nuntut.

#koinPeduliALF

#SeribuMawarUntukALF

#ALFCintaReaders

#ReadersGakCintaALF

#ALFYangTersakiti

#ALFMojokBarengBaekHyun

#ChanYeolAmaKrisBerapi-Api

#ALFTertawaNistaBarengSooman(?)

941 thoughts on “[FF YAOI] No Regret Life | ChanBaek Ft All Couple | – Chapter 2

  1. Lagi lagi bikin enyam enyum ndiri duh ceye emang dah ya. Aduh si ceye sama bokap baek gokil bat dah. direstuin pulak. Sama sama rider. Duh bahagia dah idup lu baek/? Daebak parah thor🙂

  2. greget se greget’a :v mereka serius pacaran ? ayah’a bener ridho gitu ? xD hahaha dibikin gemes sama pacaran merek . dannn . kaihan ? ¬_¬ omegat omegat omegat gimana perasaan kyungsoo kalo tau kai sama yang lain ¬_¬ plis jangan hancurin perasaan kyungsoo :v . trus dibagian ending si chanyeol bener” milih baekhyun dari pada phoenix . baekhyunnn jangan tes chanyeol terus kenapa -_- :v

  3. Thorr sumpahhh, walaupun panjang, alurnya ga ngebosenin. Malahan makin bikin greget. Apa salah gue baru nemuin ini ff. thor lu incredible bgt

  4. Asli ngakak waktu CY sama Baek debat2 gaje gitu hahaha! Uhm terus apa lagi ya? CY kan ngajak Baek pacaran scra tiba2, tapi dia beneran suka sama Baek kan, author? Takutnya mah dimainin doang kaya Luhan.

    O-oh, mengenai Luhan, apakah dia bakal jatuh cinta sama Kai? Kai-nya iyaiya ajadeh, woah! Pasti begitu kan, eh soalnya aku belum baca Ch 3 waks-_- Gapapa Author setuju mah aku kalo ada kisah cinta tragis2nya gini yehet!

    Lah si Sehun gimana? Mungkin aku kan mengerti di Ch selanjutnya yeah. Mungkin dia bisa sama Kyungsoo atau Luhan? Aku belum tau haha yasuda abaikan komen tak masuk akal ini.

    Tapi aku suka bumbu cerita cinta Ceye sama Baekkie ngena banget. Oh kalo Kai suka Kyungsoo atas dasar kasian, nyesek juga ya? La malah curhat -_-

    Udah deh aku baca Ch 3 dulu yeah !

  5. OMG gila parah,,seandainya ini di filmmin pasty kren bgt. .mmhh ga sabr untk slanjutnya.. Authornya kreatif bgt,kental bgt nilai sastranya. Waaah smoga brlanjut dengan gereget yg pstinya memicu perasaan. .baekhyunie mm cutetah

  6. Haaahh, skarang saya tau knpa ff ini selalu ada d setiap recomen ff chanbek 😍 keren sumpah :v feelnya dapet bnget.. gk terlalu bertele tele tapi alurnya juga gk terlalu cepat.. kereeennn 😊
    Lnjut baca aja deh :v –> nxt caph

  7. Waaah daebak thooor!! ini bener-bener permainin perasaan aku!! pertama kalinya aku baca ff sampe ketawa-tawa sendiri, senyum-senyum sendiri, ikut deg-degan kalo baekhyun lagi diancem wkwkwkwk serius ini ff terkeren yg pernah aku baca!!! hehehe *ga boong looh* dan aku suka penggambaran luhan yg polos~ aaaaaaah pokoknya aku suka banget semua yg ada di ff ini!! authornya kerenlaaaah

  8. Aiishhh chanyeol it bneran o’on ap gmn c,? Nyoret2 bku org dgn jwbn yg slah, Kurangajar pula ma guru’a wkwkwk.
    Btw ciyeee2 chanyeol dh dpt restu dr camer, jgn2 mantu idaman ya krna punya hobi yg sama ma appa’a baek. Si baek’a mlah sampe pingsan2 gt.
    Aduh chanyeol ngamuk sampe nabrak phoenix, mtor ksayangan’a. Lagian dy juga c pake mkirin phoenix pdh si bebek minta bawain barang2’a k’red villa. Ngeri jg chanyeol klo marah, bkin baek nangis jg. Makin seru cerita’a thor! *ngacir ke chapter 3*😀

  9. Suka banget sama jalan ceritanya, terlebih kisah cinta chan sama baek. Chan liar tapi manis
    Belom pernah baca yg begini, selain ceritanya keren juga bahasanya yg pas banget
    keep wriring thor

  10. dulu aku udah pernah baca ff ini..
    tapi karna sempet gak ngelanjutin jadi lupa ceritanya.
    dan lupa udah sampe mana kkkk …
    jadi ngulang deh.

    tapi akusuka banget ff ini..
    sebenernya aku ini hhs.. tapi juga cbs :3
    *gak tanya..

  11. Ck ck ck baek kamu ga peka banget sih say kasihankan ceye meski gue tau lu gak bakal ninggalin ceye karna lu sayang dia #dikasih tau author. yampun aku suka banget yg terakhir itu ahaha omagod omagod manis banget si ceye. Yampun ch ini gak brhenti bikin senyum sendiri, gila ahaha ngakak pas ceye ketemu appanya baek😄 dan dan gak rela juga ama luhan di jadiin simpanan tapi lebih gak tega ama kyung di duain gimana kalo luhan baper dan kyung tau? Jangan sakitin mereka berdua authornim huhu luhan ama sehun aja. Okeh gue gak tau apa2 lanjut ajah😄

  12. nah loch luhan muncul buat jadi selingkuhan nya kai . walaupun itu suruhan chanyeol tapi jongin nya santai bgt . jangan Sampai kejebak di permainan kalian .

    ya ampun chanyeol Segitu sayang nya sma baekhyun sampai di ikutin sampai kelas nya .. satu sekolah tuch takut kaya nya sama chanyeol ..
    chanyeol segitunya pas baekhyun tersedak . dia gk jijik gitu . mungkin chanyeol mach cinta mati sama baekhyun .

    baekhyun di hati chanyeol gk ada yang gantiin meskipun sama phoenix . sampai si chan rela nabrak motor kesayangan nya .

  13. wkwkwk eh Thor eh Thor kenapa Lulu may ajah dg mudah do jadii.n mainan lai e chanyeol??? hmmm aku mencium bay bay udang dibalik tepung eh *gue jadi laper*#plakkk haha maksudnya udang dibalik batu !! apa luhan bener2 baik yaah? wkwk sebenernya udah pernah baca dulu tapi lupa haha . btw polemik cinta segitiga kaisoohan sungguh rumit cem cinta fitri dulu haha *gue korban sinetron* yo weslah yg penting tar kaisoo di ending yoo thor *nyengir kuda* (´ヮ`) eh ALF cerita awal ktemu chanyeol ame camer asli bikin ngakak ckckck baek appa lu sama ajah wakssss *poorbaekii* suka Chanbaek moment manis manis gemes haha wadaw chan segitu cintanya ame baekkie ampe phonix jadi korban wkwk lagia si baek bibir nya lemes banget kagak kekontrol sini gue cium haha *digorok chanyeol* yo wes daripada gue kebanyakan ngetik reivew abzurd mending baca next chap hoho keren thor KEEP WRITING AND FIGHTHING YOO SEMANGATTT *treak pake toa masjid*

  14. apa apaan itu si Chanyeol. yakali 8×9: 89. hahaha.
    heraan kok bisa ya dia lulus SD bahkan sekolah sampe SMA.apa jgn2 Chanyeol bego gitu cm buat kamuflase doang. hahaha

    suka pas scene Chanyeol buang sepatu guru ceweknya itu. ngakak. dasar murid kurang ajar gak tau diri. hahaha

    pas part ini kak:

    Aku mencelanya dari belakang, mengumpatnya habis-habisan (tanpa mengeluarkan suara tentunya), kesempatan yang memang sering kugunakan karena dia tidak akan melihatku.

    ada ya orang pacaran tapi kayak mereka. apalagi kayak Baek hyun. gaada hari tanpa mencela Chanyeol. ckckck

    bahh, knp firasatku soal Luhan yang jadi partner balap Kai itu bisa tepat gitu ya? dan lg, jangan-jangan Luhan sebenarnya punya hubungan lg ama si China itu? china disini Kris kan kak Alf?
    kok aku negative thinking ke Luhan ya. padahal Baekhyun aja bilang kalo Luhan malaikat.

    Chan yeol beneran serius sayang Baekhyun sampe rela nabrak Phoenix demi nurutin kata Baekhyun. itu Chanyeol akhirnya marah juga ma Baekk.
    lu banyak bacot sih Baekk. Ceye marah kan jadinya.

    okelah aku cap cuss ke next chapter aja deh. /ngilang bareng Kai/

  15. daebak.. baru kali ini bisa ngerasain nikmatnya baca ff. seriusan. bener bener nikmatin banget baca ff ini. gak hanya di tiap chapternya, tapi juga di tiap paragraf pun reader baca pnuh pnghayatan. ampe gak kerasa n gak rela udah ada di ujung paragrafcakhir. gak beda kayak kita nonton drama favorit kita. dimana kita nontonnya juga fokus bgt ampe gak bisa nengok kanan kiri. bahkan klo ada laler menclok(?) di idungpun mata mah tetep weh liat tv, cmn tngn doang yg bkerja ngageplak(?) si lalet#kenapajadibahaslaletcoba -_- yeah intinyamah you made my day n night lah. thank you udah nyiptain ff awesome ini senpaii.. ttp brkreasi n ganbatte nee~

  16. Duh nih pasangan absurd banget ya
    Walaupun absurd tapi sukse bkin senyum senyum sendiri di setiap bagian chanbaek nya gemes bangt sama pasagan yang satu ini
    Cara chanyeol ungkapin perasaanya sma baekhyun itu anti mainstream hahahaha.

    Sama kaya baekhyun takut kalo akhirnya kailu bakalan keterusan semoga aja ending nya kaisoo ttp bersatu .
    Okela ckp sampe simi next ke chapter selanjutnya haha

  17. Astaga kak alf aku bacanya sampek terjungkal sangking ngakak nya. Lucu bnget sih gemesss anedddd. Beruntungnya dirimu baek, walaupun chanyeol urakan tapi protective bgt sama kamuuu:* Sisain cowok satu kayak chanyeol pleaseeee haha.
    Aku ngakak bgt baca adu mulut chanbaek. pada gakbisa ngomong baik2 apa yaaa ngegas muluuuu. itu pacaran apa bentrokan hahaha gemesin.
    Kak Alf keren bgt sumpah kok bisa sih bikin cerita sedaebak ini? hm? hm? /nodong/
    Terjungkal bgt juga pas flashback appa nya baekhyun bilang kalo beliau dulu juga seorang pembalap wahahahaha pantes aja appa nya setuju2 aja bekhyun dipacarin pembalap/ngakak sampek pluto/
    Kak, gue baper pas luhan diajak pacaran sm kai. ih apa bgt si kai sok cakep deh udah punya kyungsoo padahal.
    Walaupun alesan dia macarin luhan buat bales dendam sm kris karna udh bikin celaka kyungsoo sampek korengan gtu tapi tetep aja itu gak bener mana cium2 dasar yadong./dikroyok kaistan/
    Kayak chanyeol dong walaupun nakal tapi kesetiaan numero uno:*
    Demi apa kak alf ff nya panjang bgt puas aku puassss yeayyyy sampek gak kerasa aja tau2 udh tbc. Maunya sih gakada tbc hehe. udh ah mau baca chapter selanjutnya kak aku udh penasaran yoyoyoo kak Alf jjang!

  18. Ngukuk ya allah kkk kenapa ini manis sekaliiii kyaaaaa. ~

    Namja keparat ini tersenyum penuh kemenangan, “Set… kesempatan hangus. Jadi sudah kupatenkan, kau itu milikku sampai mati.”

    Buahahahaha kalimat yg bikin gue sukses menganga xD

    Ini serius itu ayahnya baek malah restuin xD ngakak tadinya mau bikin chanyeol biar jauhin baek taunya ayahnya malah setuju wkwk chanyeol pinter narik hati camer nih bhaks.

    Loh ada luhan :v ntah gue suka agak merasa bahaya sama luhan *belum move on dari amaterasu xD* mana dari china lagi, gue takut dia ada hubungannya sama si china. Tapi sih luhan keliatan baik disini

  19. Kenapa tiap ff yang jd favoritku selalu yg karakternya 6 orang ini yaaa wkwkw terkadang mikir seandainya suho diganti luhan aja di exok udah full team ini hahaha. I love these three pairs!! :3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s