[FF YAOI] Amaterasu (The Undying Flames)|| BaekYeol || – Sequel Avenger’s Fault [Chapter 5]


ama 5

Fanfiction-BaekYeol/ChanBaek

Tittle: Amaterasu (The Undying Flames) – Sequel Avenger’s Fault

Author: AyouLeonForever

Cover pic/poster edited by: AyouLeonForever

Genre: Yaoi, Romance, Thriller, crimes, Tragedy

Length: Chaptered- Sequel

Rating: T, NC 17 (untuk adegan kekerasan dan darah-darahan(?), dan juga… ehem, a lil’ bit lime, maybe *evil smirk).

Main Cast:

  • Park Chan Yeol

  • Byun Baek Hyun

  • Kim Jong In/Kai

  • Lu Han

  • Wu Yi Fan/Kris

Support Cast:

  • Oh Se Hun (yang dalam cerita ini udah almarhum)

  • Do Kyung Soo

  • Kim Joon Myeon/Suho

  • Dan seseorang yang akan diungkap di akhir cerita.(sok misterius)

Disclaimer: GOD

COPYRIGHT: SEMUA ISI, ALUR/PLOT, IDE CERITA, OC, DAN DI LUAR DARI KARAKTER ASLI ITU MURNI PEMIKIRAN ALF (AyouLeonForever). JIKA ADA KESAMAAN CERITA, APALAGI KALO BENER-BENER MIRIP, CUMAN ALIH BAHASA AJA, ITU PERLU DIPERTANYAKAN (KEBAWA-BAWA). DILARANG MENJIPLAK, MENGEDARKAN, MENGKOPI PASTE, MENGALIH BAHASAKAN, TANPA SEIZIN PEMILIK. ALF SUMPAHIN MASUK NERAKA SEKELUARGA KALO KEJADIAN INI TERULANG LAGI. (GUE BELUM LUPA BREAKFASTCOUPLE ASDFGHJKL, JADI INI TETAP TERLAMPIR)

 

AMATERASU Chap 5

Author POV

 

Tidak seperti biasanya, pagi itu Kyung Soo tidak langsung pergi ke cafenya. Ia menyetop mobilnya di depan sebuah rumah yang cukup elegan dan mewah.

Tiiiiiittttttttt~

 

Alarm itu langsung mengaung begitu Kyung Soo berniat menerobos pagar. “Aish Jinjja, rumah detektif” ia memencet tombol hijau pada sebuah alat yang tertempel di tembok pagar. “Ini aku Hyung…”

 

Piiippp…

Cklek~

 

Kyung Soo menghembuskan nafas lega “Akan kuminta satu alat pendeteksi suara ini agar di pasang di rumah Baek Hyun”

Kyung Soo langsung berlari masuk dan menggedor-gedor pintu rumah Su Ho dengan tidak sabaran.

“Ya…ya…ya… berhenti menggedor atau kau akan membuat pintu rumahku roboh”tegur Su Ho setelah ia membukakan pintu untuk Kyung Soo.

“Hyung gawat Hyung, gawat”

“Apanya?”

Namja bermata bulat itu mengatur nafasnya, kemudian menatap Su Ho serius “Baek Hyun tidak ada di rumahnya pagi ini”

Su Ho mengerutkan kening, “Ini yang kau bilang gawat? Seorang Presiden Direktur tidak berada di rumahnya pagi-pagi, kau bilang ini gawat?”

“Tapi dia juga tidak ada di kantornya, dia keluar kota tanpa pengawasan”

Su Ho melepas kacamatanya, kemudian membelalak “Mwo? Lalu kemana dia?”

“Mollayo… makanya aku mencarimu”

“Kau sudah menghubunginya?”

“Ponselnya tidak aktif”

“Arasso, masuklah” Su Ho membiarkan Kyung Soo menerobos ke rumahnya dan menyambar kopi susu hangat di atas meja tamu, yang sebenarnya itu adalah milik Su Ho tadi.

Su Ho hanya bisa menggelengkan kepalanya maklum akan sikap panik Kyung Soo. Dengan tenang ia mengambil ponselnya di atas meja dan menghubungi seseorang. Setelah bercakap tak cukup dua menit, ia pun mematikan ponselnya dan menatap Kyung Soo.

“Dia  berangkat ke Jeju, rapat pemegang saham”Ucap Su Ho tenang.

“Tahu dari mana?”

“Orang kantornya. Untuk mengawasi Baek Hyun, aku memang sudah menempatkan beberapa orang di sekitarnya”

“Baek Hyun tahu?”

“Sebaiknya tidak, agar ia tidak merasa tertekan”

“Lalu bagaimana sekarang?”

Su Ho tersenyum kemudian mengacak rambut Kyung Soo “Kalau aku jelas akan ke Jeju hari ini, tapi agak sore karena ada yang perlu kuurus”

Wajah Kyung Soo bersemu merah karena usapan Su Ho di kepalanya “Ne, a… aku ikut”

“Ya sudah, berkemaslah”

“Memangnya kita menginap?”

“Kalau kau setengah-setengah, lebih baik tidak usah ikut”

“Ya sudah, aku pulang dulu kalau begitu”

“Ne, akan kujemput nanti sore, dan kita berangkat bersama-sama”

 

*~~<Amaterasu>~~*

 

Kai menghisap batang rokoknya dengan tarikan kuat, mengepulkan asapnya ke udara, kemudian membuang puntungnya di parit kecil dekat gang tempatnya memakir mobil. Sudut bibir kanannya mencuat ke atas tatkala orang yang dari tadi di nantikannya muncul.

Seorang namja yang tidak begitu tinggi, berpakaian santai keluar dari pagar rumahnya sambil tersenyum hangat. “Kim Joon Myun, panggilan Su Ho. Usia 24 tahun” Ia menyamakan data pribadi yang tercantum di dalam sebuah amplop berikut selembar foto dengan wajah yang tak lain ada Su Ho itu.

Dengan santai ia meraih Sniper yang ia letakkan di Jok sebelahnya, kemudian tanpa kentara mengarahkannya lurus dan membidik kepala Su Ho. Jaraknya ada puluhan meter, tapi bukan halangan bagi Kai karena ia sudah melakukan ini puluhan kali.

Saat ia sudah hampir melesatkan peluru, sebuah objek lain langsung menghalangi pandangannya dari lensa teropong kecil di atas sniper itu. keningnya sedikit berkerut karena sosok itu sepertinya tidak asing. Sekali lagi sebelah matanya terpejam, dan sebelahnya lagi menatap fokus pada lensa okuler di sniper itu.

“Hm… bukankah itu sahabat Byun Baek Hyun?” Lirihnya sendiri, sesekali memperhatikan sikap kedua orang itu dari jauh. Su Ho mengusap puncak kepala Kyung Soo sebelum namja yang cukup mungil itu masuk ke mobil dan melesat pergi.

Kai memiringkan kepala “Lalu kenapa kalau dia akrab dengan Kyung Soo?” Pikirnya sendiri, kenapa ia tadi berhenti melancarkan aksinya. “Hm tunggu… pasti ada alasan kenapa Chan Yeol ingin bermain dengan detektif ini”ia kembali tersenyum penuh makna dan meletakkan snipernya di jok sebelah “Aku juga ingin bermain sedikit, bukankah sajang-nim tidak memberikan target waktu? Hm, menarik”

 

*~~<Amaterasu>~~*

 

Baek Hyun melonggarkan dasinya, membuka jas yang membuatnya sesak, kemudian menghempaskan tubuh lelahnya di sebuah tempat tidur king size di dalam kamar hotel yang ia sewa di Jeju.

Kepalanya serasa berat, setelah diserang habis-habisan oleh para pemegang saham saat rapat tadi siang, ia merasa ingin mundur saja. Tapi bukankah itu sebuah tindakan pengecut? TH group adalah perusahaan yang didapatkan dengan darah, jadi memang harus keluarga Byun yang mempertahankannya sampai akhir. Dan sebagai satu-satunya anggota keluarga Byun yang tersisa, maka inilah tanggung jawabnya.

Bukan tanpa alasan kenapa Presiden direktur muda itu diserang oleh beberapa orang yang lebih senior, tentu saja karena keputusan mendadaknya yang ingin membatalkan kontrak dengan WYF group, atau lebih khususnya dengan Direktur Park Chan Yeol. Belum lagi, tanpa persetujuan pihak lain, Baek Hyun sudah membicarakan kontrak baru dengan CEO muda dari X elektronik yang akan ia temui malam ini secara pribadi.

Dan untuk keputusannya yang penuh resiko itu, para pemegang saham memberinya lampu kuning. Waspada jangan sampai keputusannya yang terkesan gegabah itu justru merugikan Perusahaan.

“Seperti bukan diriku sendiri…” Keluhnya kemudian memejamkan mata.

Sebenarnya bukan hanya itu yang membuat kepalanya sangat berat. Ada sesuatu yang lebih penting…

Masalah pribadinya…

 

“Begini… lebih baik Baek Hyunnie, dendamku… sudah terbalas… mengenai nyawamu… aku yang akan menggantikannya… untuk itu… kau harus tetap hidup…. Appa, dan eomma akan memaafkanku… tumbuhlah menjadi namja dewasa yang kuat. Maafkan aku tidak bisa melindungimu sampai akhir… kau harus.. berjuang sendiri…”

 

“masih ada seorang lagi yang tersisa, Kris sajang-nim jelas tidak akan membiarkanmu….. aku bisa saja melindungimu, tapi aku lebih setia pada perintah Kris sajang-nim…. saat orang itu datang untuk mencelakaimu, kuharap kalung ini bisa menghentikannya…. tidak bermaksud menakutimu, tapi… waspadalah dengan keselamatanmu. Bukan dalam waktu dekat, tapi percayalah orang itu akan datang dan menjadi seorang Avenger yang sebenarnya”

 

“Orang tuaku terbunuh… juga adikku… dan kau tahu Byun Baek Hyun… aku hidup saat ini diselimuti api yang orang-orang sebut sebagai api dendam…. Api ini tidak akan padam Baek Hyun-shii… bahkan jika aku sudah melenyapkan orang yang menghabisi keluargaku… atau lebih mengkhusus… adikku”

 

Baek Hyun membuka matanya, lagi-lagi sepenggal kalimat penuh makna dari Se Hun, Kai dan Chan Yeol membuatnya tersadar bahwa sebenarnya dari awal, ia memang telah terkepung dan terjerat di dalam lingkaran api yang disebut dendam. Ia pernah memadamkan api itu pada satu sisi, menganggap bahwa itu akan menjadi jalannya untuk keluar dari lingkaran itu, nyatanya ia tak sadar bahwa bukannya padam, lingkaran api itu semakin membara, meninggi hingga ia tidak punya celah sedikitpun untuk lolos.

Melawan? Punyakah ia keberanian untuk itu? dan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanyalah menjaga agar dirinya tak terpercik api itu, berdiri di titik paling tengah dan terjauh dari api.

Baek Hyun kembali memejamkan mata sembari merengkuh sesuatu yang masih setia berada di lehernya, tersembunyi di balik kemeja biru lautnya “Se Hunnie… bantu aku, jangan biarkan aku terjerat lebih dalam oleh pesona kakakmu, kalaupun aku harus menyusulmu…. tak apa… namun… biarkan aku mati…. bukan di tangan orang yang kucintai”

 

*~~<Amaterasu>~~*

 

“Chan Yeol-shii” seru Lu Han saat Chan Yeol sudah memasukkan beberapa barangnya ke dalam bagasi mobilnya sore itu.

“Hm” Sahutnya tanpa menoleh.

“Kau sudah tahu kalau Baek Hyun membatalkan kontrak kerja sama dengan perusahaan kita?”

Gerakan Chan Yeol berhenti, ia menutup bagasi mobilnya dan menatap Lu Han dengan kening berkerut, “Siapa yang bilang begitu”

“Asisten pribadi Byun Baek Hyun, saat menanyakan berkas yang kuserahkan kemarin dulu, dia bilang akan mengembalikannya karena memang TH group dan WYF group sudah putus hubungan kerja”

“Sepihak?”

Lu Han mengangguk “Sepertinya begitu, dan kudengar alasan kenapa Baek Hyun melakukan rapat pemegang saham di Jeju memang untuk membahas ini, kudengar pula ia sudah berencana melanjutkan kerja sama dengan X Elektronik”

Namja tinggi berambut cokelat terang itu tertawa, “Anak itu sudah betul-betul jatuh cinta padaku”

“Ne?”

“Ck, kau tak akan mengerti. Terorku padanya membuatnya terpuruk belakangan ini dan ia menganggap terorku ini memang ditujukan untuk orang-orang terdekatnya. Dia bahkan memintaku menjauhinya agar aku tak terlibat, sepertinya dia masih mengkhawatirkanku. Dengan pembatalan kontrak ini, dia ingin menjaga jarak denganku, karena dia berpikir dengan begini peneror yang sebenarnya adalah aku sendiri, tidak akan mengganggu orang-orang terdekatnya lagi, dan tentu saja aku”

Lu Han terdiam akan argumen Chan Yeol yang cukup percaya diri itu, “Lalu… kita jadi ke Jeju?”

“Tentu saja, tujuanku kesana bukan untuk membahas perusahaan. Sudah kubilang, aku ingin di setiap tarikan nafas Baek Hyun, ada namaku di sana”Tegasnya menggebu-gebu.

 

*~~<Amaterasu>~~*

 

Malam harinya…

Baek Hyun menatap ragu sebuah kamar hotel bernomor 1215, tapi akhirnya dia pun memberanikan diri memncet belnya.

 

cklek

 

Seorang namja yang buru-buru mengenakan kemejanya muncul di balik pintu “Ah Mianhamnida, aku baru tiba sore tadi. Makanya kondisiku masih seperti ini”

Baek Hyun membelalak kaget “Ah, justru aku yangg harus meminta maaf Tuan Lee, aku mengira anda sudah di sini sejak siang tadi. Mungkin aku bisa kembali besok pagi”

“Ah tunggu… Tuan… eum… Byun Baek Hyun?”

“Ne…”

“Masuklah…”

“Aku jadi merasa sungkan. Maafkan aku Tuan Lee” Baek Hyun mengikuti langkah namja tersebut menuju sofa panjang sebagai tempat menerima tamu.

“Ah gwenchana… Silakan duduk, dan jangan sungkan. Panggil saja namaku… Baek Hyun-shii”

“Ah… geure…  Eun Hyuk-Shii”

“Jadi… TH Group?”Tanya namja bernama Eun Hyuk itu to the point.

Baek Hyun mengangguk sopan, tapi tetap berwibawa.

“Ah, sebelumnya aku turut berduka atas musibah yang menimpa keluargamu”

“Kamsahamnida Eun Hyuk-shii, tapi aku sudah menerimanya dengan ikhlas”

“Hm, kau memang orang yang sangat tegar. Menarik”

“Ne?”

“Ah tidak… langsung saja mengenai kerja sama yang kau tawarkan, sebenarnya aku tetap tak menyurutkan niatku sejak lama, bahkan sejak mendiang Ayahmu menolak”

“Maaf atas hal itu Eun Hyuk-shii”

“Sudahlah… bukan perkara besar, anggap saja penolakan saat itu adalah memang untuk pertemuan hari ini. sesama pengusaha muda memang lebih mengerti satu sama lain”

Baek Hyun tersenyum “Aku bahkan tidak menyangka bahwa CEO X elektronik juga masih sangat muda”

“Jangan remehkan pengusaha muda zaman ini Baek Hyun-shii”

“Ne…”

Mereka berdua sedikit tertawa, setidaknya lebih mencairkan suasana.

“Kudengar sebelum ini kau melakukan kontrak kerja sama dengan WYF group?”

“Ne Eun Hyuk-shii”

Namja berwajah sexy itu mengulum bibirnya kemudian mengusap dagunya “Bukankah itu adalah perusahaan besar? Sangat aneh jika pembatalan kontrak justru dari pihakmu, ah maksudku bukan untuk merendahkan, hanya saja keputusanmu sedikit berani juga”

Baek Hyun hanya bisa tersenyum “Semuanya jelas penuh pertimbangan Eun Hyuk-shii”

“Hm, begitu? Tapi bukankah kau paling tahu konsekuensinya? Ini akan berdampak pada nama perusahaanmu”

“Ne, aku sangat tahu dan sangat berterima kasih karena masih ada perusahaan anda yang mau mengikat kontrak dengan TH group, Eun Hyuk-shii”

Eun Hyuk tertawa “Jangan sungkan” Ia beranjak mengambil sebotol wine dan 2 gelas yang tersedia di atas meja yang tak jauh dari tempatnya duduk tadi. Setelahnya ia berpidah dan duduk di sebelah Baek Hyun, membuat namja manis itu spontan bergeser agak merapat pada pegangan sofa.

“Santai sajalah… jangan tegang, kita memang rekan bisnis, tapi kita bisa berteman dalam artian pribadi bukan?”

Baek Hyun tersenyum, walau ia betul-betul dalam keadaan gugup “Ne Eun Hyuk-shii”

“Mengenai perusahaan, kau tenang sajalah, X Elektronik walau tidak sebesar WYF group, tetap bisa membantu perusahaanmu”

“Ne Eun Hyuk-shii”

Namja itupun tertawa “Kau tegang sekali, minumlah” Tawarnya sembari menuangkan wine merah pada gelas Baek Hyun.

“Ma… maaf Eun Hyuk-shii, aku tidak minum”

“Jangan begitu, aku sengaja memesan wine produksi 90an ini dari Barcelona hanya untuk menyambutmu”

“Ta… Tapi…”

Eun Hyuk mengangkat gelas itu dan menyentuhkannya di bibir tipis Baek Hyun “Sedikit saja…”

Baek Hyun dengan ragu mengambil alih gelas itu dan meneguknya sedikit. Sedikit terkejut saat minuman itu menyentuh lidahnya.

“Bagaimana?”

“Ng… aku sama sekali tidak mengerti tentang minuman beralkohol, tapi menurutku rasanya memang unik”

Eun Hyuk tersenyum kemudian mengambil gelas Baek Hyun dan meletakkannya di meja. “Jadi… kau sudah punya kekasih?”

Mata Baek Hyun membulat “Ne?”

“Tidak… hanya meringankan obrolan” Eun Hyuk semakin bergeser dengan tangannya merangkul pundak Baek Hyun, membuat namja mungil itu semakin tegang.

“A… aku tidak punya”

“Hm… kabar gembira, bukan begitu Baek Hyun-shii?”Bisik Eun Hyuk begitu lirih, dan dengan sedikit seduktif ia menjilat telinga Baek Hyun.

“Ah maaf, sepertinya aku harus pergi”

 

TEP~

SRAK~

 

Baek Hyun semakin membelalak saat Eun Hyuk menarik tangannya dan menghempaskannya kembali ke sofa dan kini menindihnya sempurna.

“Ayolah, tidakkah kah kau ingin berterima kasih padaku?” Eun Hyuk mulai membelai wajah cantik Baek Hyun dengan sisi jarinya. Membuat namja mungil itu merinding.

“Eun Hyuk-shii… tolong jangan bersikap seperti ini” Rontanya.

“Jangan menolak, bukankah aku juga tidak menolak bekerja sama dengan perusahaanmu yang terancam pailit itu. Anggap saja kau sedang balas budi” Eun Hyuk mulai menciumi wajah Baek Hyun dan tentu saja namja mungil itu memberontak hebat.

“Eun Hyuk-shii… aku bukan namja seperti itu, tolong lepaskan”

“Ayolah, sedikit saja”

Eun Hyuk berusaha menggapai bibir mungil Baek Hyun tapi gerakannya terhenti karena Baek Hyun berhasil menamparnya. Eun Hyuk tercengang, dan kesempatan itu digunakan Baek Hyun untuk mendorong tubuh Eun Hyuk dan berlari menuju pintu.

 

Greb~

Brugh~

 

Seolah tanpa jeda, Eun Hyuk yang berhasil mengejar Baek Hyun yang baru beberapa langkah keluar dari pintu kamarnya, ia langsung menarik lengan Baek Hyun  kembali masuk dan menghempaskan namja mungil itu ke tembok. “Kau tahu, seumur hidupku tidak ada yang pernah berani menamparku. Jadi, kurasa kau harus sedikit membayarnya dengan tubuhmu”

Baek Hyun berusaha menjauhkan wajah Eun Hyuk yang terus ingin menyerangnya, sampai ketika bibir Eun Hyuk sudah menancap di sisi lehernya, Baek Hyun memejamkan mata rapat-rapat, karena berteriakpun percuma, kamar hotel yang ditempati Eun Hyuk adalah VVIP dan jelas itu kedap suara.

 

Se Hunnie… selamatkan aku… jebal….

 

Cklek…

 

Eun Hyuk terkejut saat ada yang membuka pintu kamarnya, belum sempat ia menoleh, sebuah hantaman sudah mendarat di wajahnya.

“Ah maaf… kau merusak pandanganku” Ucap namja tinggi itu setelah membuat Eun Hyuk tersungkur.

“Siapa kau? lancang sekali masuk ke kamarku” Bentak Eun Hyuk berusaha berdiri.

“Aku…? Aku suaminya” ucap namja itu sambil menunjuk Baek Hyun dengan dagu. Sementara namja mungil itu hanya bersandar di tembok sambil memegangi dadanya yang kembang kempis seolah kehabisan nafas. Ia betul-betul hampir dicelakai.

“Park Chan Yeol…” Lirihnya dengan suara terputus-putus. Tak menyangka justru Park Chan Yeol yang datang menyelamatkannya.

“Su… Suami?”

Ppabo… Dia milikku” Chan Yeol menghampiri Baek Hyun dan menggendongnya ala bridal, setelahnya ia tinggalkan kamar itu dengan santai.

Eun Hyuk sempat mengejarnya sampai di depan pintu kamarnya “Brengsek…” Makinya pada Chan Yeol yang sudah menjauh.

“1215… 1215… 1215” Gumam Chan Yeol terus menerus. Dan Baek Hyun tahu hal itu, Chan Yeol berusaha menghapal nomor kamar Eun Hyuk dan sudah tidak perlu dipertanyakan lagi apa yang selanjutnya akan terjadi pada CEO muda itu.

 

 

*~~<Amaterasu>~~*

 

 

“Jadi… kenapa kau membatalkan kontrak secara sepihak?” tanya Chan Yeol saat ia sudah membawa Baek Hyun ke kamarnya. Membaringkan tubuh mungil itu di tempat tidurnya dan memeluknya di sana. Sementara Baek Hyun?

Bohong besar kalau dia tidak ketakutan, tapi memberontak sama saja halnya dengan bunuh diri. Chan Yeol masih belum menyadari kalau Baek Hyun sudah mengetahui identitasnya, untuk itu Baek Hyun tetap seperti itu, bersikap seolah dia hanya mengenal Park Chan Yeol sebagai direktur cabang WYF group. Dan sialnya adalah seseorang yang sangat penting untuk dirinya.

“Mi… Mianhae”Lirih Baek Hyun dengan suara bergetar.

Chan Yeol menanggapi ketakutan itu sebagai trauma Baek Hyun yang hampir saja diperkosa tadi, untuk itu ia mengeratkan pelukannya dan mengecup puncak kepala Baek Hyun berkali-kali.

Baek Hyun merana, tidak pernah ia bayangkan berada sedekat ini dengan kematian, sedikit menimbang-nimbang, setragis apa kematiannya nanti.

“Malam ini kau tidur denganku saja, akan kuminta Lu Han memindahkan barangmu ke sini”itu jelas perintah, bukan tawaran.

“Ti… tidak perlu Chan Yeol-shii”

Chan Yeol merenggangkan pelukannya, menatap wajah Baek Hyun yang pucat pasi, “Namja tadi apa semenakutkan itu sampai sukses membuatmu seperti ini?”

Baek Hyun terdiam, karena memang bukan itu pertanyaan yang tepat. Ia ketakutan bukan karena hampir diperkosa oleh Eun Hyuk, tapi karena ada Chan Yeol di dekatnya. Yang sewaktu-waktu akan mengeluarkan pisau atau sejenisnya dan mencabut nyawa Baek Hyun saat itu juga.

Namja tinggi itu menghela nafas panjang, diangkatnya dagu Baek Hyun kemudian ia berikan sedikit kecupan hangat di bibir pucat itu, “Mandilah… atau lakukan sesuatu untuk membuatmu sediki rilex” ucapnya sebelum melepas pelukannya dan turun dari tempat tidur.

“K… Kau mau kemana?” Tanya Baek Hyun yang sebenarnya ia sudah tahu jawabannya. Tentu saja Chan Yeol akan menghabisi penghuni kamar 1215 itu.

“Cari angin” Ia melirik arlojinya “Setengah jam, aku akan kembali”

“Park Chan Yeol… kajima…” Seru Baek Hyun tiba-tiba. Ia jelas tidak boleh membiarkan Chan Yeol menghabisi nyawa orang lagi. Jujur ia sangat menyesali tindakan Eun Hyuk padanya, tapi ia rasa itu bukan alasan yang setimpal untuk menghabisi nyawanya.

“Apa kuminta Lu Han untuk menemanimu di sini? dia ada di kamar sebelah”

Baek Hyun menelan ludahnya, masih bagus Chan Yeol berpikir bahwa Baek Hyun takut ditinggal sendiri. Dan sekiranya, menyelamatkan nyawa orang lain bukankah itu sudah kewajibannya?. “A… Aku ingin kau” Ucapnya betul-betul terpaksa.

Alis tebal Chan Yeol terangkat tinggi-tinggi “Aku?”

“Ne…”

“Bahkan untuk setengah jam kutinggal kau tidak mau?”Tanya Chan Yeol sebenarnya menahan senyum kebanggaannya.

Baek Hyun menghela nafas pasrah “Ne…”

Chan Yeol menarik sudut bibirnya, dan selanjutnya ia sudah kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menciumi Baek Hyun berkali-kali.

Tubuh Baek Hyun membeku, ia tidak sanggup bergerak, ia pejamkan matanya rapat-rapat. Juga ia rengkuh sesuatu yang tersembunyi di balik kemejanya tepat di dada.

Chan Yeol melihat ketakutan itu, mungkin Baek Hyun memang masih trauma dengan yang tadi. Sampai akhirnya Chan Yeol tersenyum, ia membelai pipi Baek Hyun dengan sangat lembut, membuat namja mungil itu membuka mata karena keheranan.

“Tidurlah, aku tidak akan menyentuhmu”Lirih Chan Yeol.

“Ne?”

“Aku juga tidak akan kemana-mana, aku akan bersamamu sampai pagi”

Baek Hyun terdiam, mencoba untuk memberanikan diri menatap kedua manik mata Chan Yeol yang begitu memperdayanya, bagaimana bisa ia percaya bahwa di balik tatapan hangat itu ada hasrat yang menggebu-gebu untuk melenyapkan nyawa namja bermarga Byun itu?

Chan Yeol menunduk lagi, mencium bibir mungil Baek Hyun yang sudah basah sejak tadi. Kali ini sangat lembut, menuntun Baek Hyun untuk memejamkan mata meresapi kelembutan dan kehangatan yang dikirimkan Chan Yeol dari ciuman itu. sejenak melupakan bahwa namja ini adalah orang yang paling haus akan darahnya.

Chan Yeol melepaskan ciumannya dan memeluk tubuh Baek Hyun erat. “Tidurlah…”

Namja mungil itu mengatupkan rahang rapat-rapat, ia benamkan wajahnya di dada Chan Yeol, sebagai satu-satunya cara agar air matanya tak terlihat. Tidakkah ini ironis, bahwa ia justru bersandar pada sumber penderitaannya?.

Menjauhi Park Chan Yeol memang mustahil, karena nyatanya ia memang terjerat dalam satu rantai dengannya, seperti yang ia katakan, Chan Yeol itu seperti api yang mengelilinginya, tempat teraman hanyalah berada di tengah-tengah, dan menunggu keajaiban hingga salah satu sisinya padam.

Tanpa kentara, Baek Hyun merengkuh lagi kalungnya, karena sepertinya… itulah satu-satunya harapan agar nantinya Chan Yeol tidak meledakkan pistol di kepalanya.

 

*~~<Amaterasu>~~*

 

Pagi itu, Baek Hyun cukup bersyukur karena saat ia bangun, nyawanya masih bersamanya. Hanya saja dewa kematian masih betah berada di sebelahnya, memeluknya teramat erat. Dengan usaha ekstra ia berhasil lepas, dan dengan langkah gontai ia berjalan menuju kamar mandi.

Badannya seolah remuk, bagaimana tidak? Sepanjang malam dipeluk oleh Chan Yeol betul-betul seperti neraka. Bukan karena pelukannya sangat erat, tidak, justru sebaliknya… pelukan itu begitu hangat dan melindungi. Tapi bukan kesan itu yang ditangkap Baek Hyun. Dipeluk oleh orang yang suatu waktu akan membunuhnya, apalagi kesan yang bisa dirasakannya selain ketakutan luar biasa?

Dan bukan hanya itu…

Sesak itu nyata, getar itu juga. Berkali-kali ia tampik semuanya tapi naas… posisi Chan Yeol bagi Baek Hyun kini berada tepat di titik tertinggi hatinya. Entah karena alasan apa.

Yang jelas, Chan Yeol bukan hanya sekedar malaikat maut untuknya.

 

Guyuran air di wastafel itu ia gunakan untuk membasuh wajahnya, sedikit membuatnya tenang karena memang berhadapan dengan Chan Yeol betul-betul membutuhkan kondisi psikis yang kuat. Agar tidak mudah terbaca dan… tidak tampak rapuh.

Ia pandangi wajahnya di depan cermin washtafel yang berkabut, memproyeksi sosok dirinya yang begitu lemah, rapuh dan… tidak berdaya. Lama… ia hanya bisa seperti itu, merenungi kelemahannya, merenungi nasibnya, merenungi takdirnya.

Tangan mungil yang masih lemah itu, terangkat menyentuh dadanya. Ia raba sekitaran itu yang biasanya terasa ada tonjolan kecil, tapi…

Mata Baek Hyun membelalak. Ia periksa seluruh lehernya, bahkan rantainya pun tak ada.

“DI MANA KALUNGNYA????” pekiknya seorang diri.

Dengan panik ia memeriksa seluruh isi kamar mandi, berharap sempat terjatuh atau bagaimana. Tapi nihil, bahkan di washtafelpun kosong.

Ia mulai paranoid jika kalung itu hilang…

Atau…

“Andwae….” serunya tertahan. “Chan Yeol belom boleh melihatnya”.

Dengan gerak cepat ia menerjang pintu kamar mandi dan keluar dari sana.

Chan Yeol sudah bangun, dan duduk bersila di atas ranjang sambil meletakkan ponsel di telinganya, sepertinya sedang berbicara serius dengan seseorang, karena setelah melihat sosok Baek Hyun, raut wajahnya yang serius langsung berubah lunak.

“Hm, begitu saja, setelahnya temui aku” Chan Yeol mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas nakas. Ia tatap Baek Hyun dengan hangatnya, “Eh, sudah bangun. Cantik?”

Baek Hyun berusaha tersenyum, walau itu sangat kaku. Mata kecilnya ia paksa mencari sebuah benda yang menjadi satu-satunya kunci kehidupannya.

Dan matanya membelalak begitu ia temukan benda itu persis di dekat Chan Yeol. Ternyata memang terlepas saat ia tertidur.

Kepanikannya memuncak saat tanpa sengaja Chan Yeol meletakkan tangannya di samping, dan persis menapak di atas kalung itu.

Baek Hyun seperti tersengat ribuan volt listrik, dan itu membuatnya refleks melompat ke atas tempat tidur sebelum Chan Yeol menoleh ke benda yang tak sengaja ia sentuh.

“Park Chan Yeol…” Seru Baek Hyun seolah tanpa jeda dan dengan gerakan ekstra cepat, ia menerjang Chan Yeol dan langsung menyambar bibirnya.

Chan Yeol yang mendapat kejutan dan serangan tiba-tiba itu jelas terheran-heran. Kenapa justru Baek Hyun yang menciumnya terlebih dulu? Dengan cara ekstrim pula.

Tapi itu justru membuatnya tertawa, dan dengan senang hati ia mengulurkan tangannya dan memeluk pinggang ramping Baek Hyun yang terduduk di atas pangkuannya, dan menariknya lebih rapat.

Dengan usaha ekstra, Baek Hyun mengapai-gapai benda yang masih tergeletak penuh kenyataan di dekat Chan Yeol. Masih terus mengalihkan perhatian Chan Yeol dengan ciuman panas itu.

Sulit…

Tidak hanya itu. ia bahkan hampir kehabisan nafas karena ciuman itu terlalu dalam.

Dapat__ serunya dalam hati begitu ia berhasil menggapai kalung itu dan menggenggamnya kuat.

Baek Hyun menarik pelan rambut belakang Chan Yeol karena itu satu-satunya cara agar ciuman mereka terlepas.

“Wah ada apa ini? manis sekali”ucap Chan Yeol dengan senyuman lebarnya.

“Ah… itu, aku…” Baek Hyun jelas tidak punya alasan, wajahnya sudah memucat sempurna, belum lagi nafasnya putus-putus.

“Ini masih pagi Byun Baek Hyun, dan kau sudah membuat libidoku meningkat”

Blush~

Baek Hyun menunduk penuh penyesalan. Berdoa mati-matian agar Chan Yeol tidak betul-betul merealisasikan kata-katanya.

“Kita lanjutkan?”

Mata kecilnya membesar mendengar tawaran menakutkan itu.

“Tap__mmmppfff…”

Naas, tubuh mungilnya kini sukses terbaring dengan Chan Yeol yang menindihnya di atas. Hanya bisa mengeratkan genggaman tangan kuat-kuat saat Chan Yeol mulai melepas satu persatu kancing kemeja Baek Hyun yang memang tidak sempat ia ganti tadi malam.

“Aku memang tidak pernah bosan dengan tubuh ini” Chan Yeol berdecak kagum menyaksikan dada mulus Baek Hyun. Di kecupnya setiap inchi kulit putih yang membuatnya kehilangan kendali itu.

 

Drrtt… Drrtt…

 

Chan Yeol menghentikan gerakannya saat getar HP di atas nakas mengusiknya. Awalnya ia berniat mengabaikannya, dan kembali menjamah tubuh Baek Hyun, tapi getaran Ponsel miliknya yang tak mau berhenti membuatnya kesal juga.

Ia pun beranjak dan menyambar ponsel itu dengan kesal.

“Waeyo Kris Hyung…” Bentaknya pada si penelpon.

“Wah, sepertinya aku mengganggu pagimu Park Chan Yeol… bagaimana misimu?”

Chan Yeol melirik Baek Hyun sejenak, namja mungil itu masih berusaha mengatur nafas.

“masih setengah jalan”

“Hm, kau sudah bertemu Kai?”

“Ne… katakan padanya jangan ikut campur”

“Tidak, dia hanya kutugaskan untuk melenyapkan kecoa kecil”

“Terserah asal jangan campuri urusanku”

Terdengar suara tawa keras di sana “Kau membunuh berapa orang minggu ini?”

Chan Yeol memutar bola mata, sepertinya yang haus darah memang bukan hanya dirinya, tapi orang yang mendidiknya ini “Tidak ada”

“Mwo? Aneh sekali, hanya perasaanku saja atau semakin lama kau semakin tidak mirip dengan sosok Park Chan Yeol?”

“Aku hanya berhati-hati hyung, aku tidak ingin karena keseringan membunuh__” Chan Yeol tersadar, kemudian buru-buru meralat “Maksudku, membasmi serangga, maka aku akan lupa urusan ku yang sebenarnya”

“Hm… begitu? Ck sayang sekali, padahal aku suka sekali laporan darimu setelah menghabisi nyawa orang lain”

“Ah, tapi ada satu… semalam aku lupa karena ada urusan, mungkin paling lambat siang ini”

“Begitu? Bisa kau kirimkan nanti foto jasadnya yang bermandikan darah? Sudah lama aku tidak melihat keindahan itu”

“Ne hyung, tunggu saja”

Kris di seberang makin tertawa “Benar-benar bukan Park Chan Yeol”

“Mwo?”

“Tidak… kau terlalu penurut, entah apa yang membuat moodmu sangat baik. Tapi kusarankan… Jangan terus-terusan bercinta dengan Byun Baek Hyun atau kau bukan lagi sosok api yang abadi”

Mata Chan Yeol membulat, bahkan tanpa mengatakannya pun, Kris sudah tahu bahwa Chan Yeol memang sedang bersama Baek Hyun sekarang.

“Sudahlah, lanjutkan urusanmu, tapi itu saja. Jangan sampai membuatmu padam

Chan Yeol tidak menjawab, karena memang sambungannya sudah terputus.

Apa sebenarnya yang bisa luput darimu Hyung?__batinnya.

“Kau masih ada urusan di Jeju?”Tanya Chan Yeol, kali ini suaranya kembali datar. Sepertinya teguran Kris memang kembali mengingatkannya pada identitas aslinya.

Baek Hyun menggeleng “Kontrakku dengan X Elektronik sudah jelas batal”

“Hm, jangan mencari Investor lain lagi. Ini yang terakhir”

“A… Apa kau masih mau melanjutkan kontrak dengan TH group?”

Chan Yeol mengangkat alis, ia tarik tangan Baek Hyun yang sejak tadi mengepal hingga namja itu terduduk di hadapannya. Sedikit membungkuk, Chan Yeol menyejajarkan wajahnya dengan Baek Hyun, “Kontrak tidak akan batal kalau bukan dari pihak kami yang membatalkan, itu saja. Jadi kau jangan main-main”

Baek Hyun menunduk “Mianhae”

“Mengenai peneror itu, kau tidak perlu takut kalau dia akan menghabisiku, karena tidak akan ada yang berani menyentuhku”

Baek Hyun menelan ludah, sambil mengangguk. Ada baiknya juga Chan Yeol masih bertahan dengan persepsinya itu.

“Rapikan dirimu, kuantar ke kamarmu”

“Ne?”

“Kubilang rapikan dirimu, dan kuantar ke kamarmu, kau tidak mau terlihat seperti orang yang habis diperkosa kan?”

Baek Hyun tercekat, kemudian buru-buru mengancing kemejanya.

Sedikit janggal, dan itu tertangkap oleh mata besar Chan Yeol. Cara Baek Hyun mengancing kemejanya terlihat aneh karena tangan kirinya masih mengepal.

“Apa yang kau genggam itu?”

Refleks, Baek Hyun membeku sesaat “Ti… Tidak ada…”

“Itu di tangan kirimu, ada sesuatu yang kau pegang”

“I… Ini hanya benda tidak penting”

“Coba kulihat…”

 

Deg~

 

Baek Hyun gelagapan  “Hanya… jimat keberuntungan Chan Yeol-shii”

“Kenapa kau memakai jimat?”

“U… untuk melindungiku dari kejahatan”

“Apa itu berguna? Bukankah kau hampir saja diperkosa oleh namja kurang ajar itu? jadi jangan percaya hal semacam itu”

Baek Hyun mengangkat wajahnya dan menatap Chan Yeol serius “Ini berguna Chan Yeol-shii… dan terbukti, karena nyatanya aku tidak jadi dicelakai… kau… menolongku”

“Ne, artinya bukan jimat itu yang menolongmu tapi aku…”

“Salahkah jika kuanggap jimat ini jimat keberuntungan? Tuhan punya caranya kan? salah satunya dengan mengirimmu”

Chan Yeol terdiam, ditatapnya namja polos yang pandangannya sayu ini, “Rapikan dirimu” Ulangnya lagi karena nyatanya Chan Yeol sudah tidak ingin membahas hal konyol.

 

*~~<Amaterasu>~~*

 

“Kau… eng, tidak masuk?” Tanya Baek Hyun yang sebenarnya tidak betul-betul serius. Hanya sebatas formalitas.

“Tidak, aku mau mandi dan menyelesaikan sedikit urusan. Sore nanti kujemput, kita pulang ke Seoul bersama”jawab Chan Yeol.

“Ne…”

“Hm…” Chan Yeol membungkuk sedikit dan mengecup pelan bibir Baek Hyun “Beristirahatlah dan jangan kemana-mana”

Baek Hyun menghela nafas kemudian mengangguk. Ia hanya menatap punggung Chan Yeol yang menjauh.

Betul-betul merana… kenapa namja itu begitu perhatian padanya di detik-detik menjelang eksekusi matinya? Apa alasan Chan Yeol sebenarnya menyiksa Baek Hyun seperti ini?

 

*~~<Amaterasu>~~*

 

 

Baek Hyun sedikit terkejut ketika melihat Kyung Soo dan Su Ho sudah berada di dalam kamar hotelnya.

“Ya! Dari mana saja kau?”Bentak Kyung Soo, jelas sekali bahwa ia khawatir.

“Itu… aku tertidur di kamar… rekan kerjaku” Jawab Baek Hyun kemudian mendudukkan tubuh lelahnya di sofa panjang dekat Kyung Soo.

Namja bermata indah itu memicingkan mata, menangkap beberapa jejak aneh di sekitaran leher Baek Hyun. “Di kamar Chan Yeol?”

Baek Hyun memejamkan matanya dan membaringkan kepalanya di sandaran sofa.

“Oh baiklah… pembicaraan kita tentang hal itu belum selesai. Sekarang jawab aku, dan tidak pakai mengulur-ulur lagi. Apa hubunganmu dengan Park Chan Yeol? Kenapa waktu itu dia ada di rumahmu? Kenapa kau bercinta dengan Park Chan Yeol sementara hari itu kita masih berduka atas kematian Lay hyung? Kenapa kau__”

“Aku lelah Kyung Soo-ah, jebal…”

Kyung Soo memutar bola mata “Jelas saja kau lelah. Kurasa kissmark itu masih baru, jadi… yang semalam kalian lanjut juga di pagi hari?”

“Kyung Soo-ah… jebal…”

“Jadi kau berpacaran dengan Park Chan Yeol?”

“Dia hanya rekan kerjaku Kyung Soo-ah, karena dia satu-satunya yang mau bekerja sama dengan perusahaanku”

Kyung Soo terhenyak “Lalu kau menjadikan tubuhmu sebagai imbalan?”

“DO KYUNG SOO… JAGA BICARAMU!”

Kyung Soo terdiam, ini pertama kalinya Baek Hyun membentaknya seserius itu.

“Park Chan Yeol?” Gumam Su Ho tiba-tiba.

Baek Hyun menoleh padanya “Ne Hyung… direktur cabang WYF Group”

“WYF Group? Beijing?”tanya Su Ho lagi memastikan.

“Ne…”

Su Ho  buru-buru meraih notenya, membacanya sekilas kemudian membuka kacamatanya “Bukankah Park Se Hun juga adalah pekerja yang direkomendasikan oleh WYF group?”

Baek Hyun terhenyak, dia lupa tengah berbicara dengan siapa. “N… Ne hyung”

Su Ho mencatat sesuatu di notenya “Ck, kenapa aku luput di sini…” Terlihat ia melingkari sesuatu di sana.

“Waeyo hyung?” Tanya Kyung Soo cemas.

“A… Ani… hanya dugaan. Akan kuberitahu kalau aku selesai menyelidikinya”

Baek Hyun mengeratkan genggamannya kuat-kuat, entah kenapa dia sendiri takut jika identitas Chan Yeol terbongkar. Padahal sebenarnya jika Su Ho tahu bahwa Chan Yeol itulah yang mengincarnya, maka masalah selesai. Chan Yeol ditangkap dan ia akan aman. Tapi…

Ada sesuatu di sudut hatinya yang tidak menginginkan itu.

“Hanya kebetulan saja Hyung” Ucap Baek Hyun tiba-tiba, membuat Su Ho menatapnya heran.

“Memangnya kau tahu maksudku?”

“Ne… bermarga Park, berasal dari Beijing dan perusahaan yang sama. Park Se Hun, dan Park Chan Yeol”

Su Ho mengangkat alis “Selalu ada sesuatu dibalik sebuah kebetulan Baek Hyun-shii… tidak ada yang betul-betul terjadi karena sebuah kebetulan”

Baek Hyun berusaha tersenyum, dan dia tidak ingin berbicara lagi.

 

*~~<Amaterasu>~~*

 

Lu Han baru saja ingin keluar dari kamar Chan Yeol karena saat ia masuk, memang sudah kosong, tapi ia bertemu orangnya yang sudah berada di pintu.

“Dari mana Chan Yeol-shii?”Tanya Lu Han.

“Mengantar Baek Hyun”Jawab Chan Yeol datar.

Lu Han meremukkan tangannya, mengontrol nafas agar tetap tenang, hal yang berkali-kali ia lakukan saat mendengar nama Baek Hyun, terlebih berhadapan langsung dengannya “Hm, dia pasti shock setelah hampir diperkosa?”

“Dan aku jelas tidak terima. Yang bisa menyiksa Baek Hyun itu hanya aku, bukan orang lain”

 

TRAK~

 

Chan Yeol menge-chek peluru pistolnya yang ia ambil dari dalam koper. “sudah kau urus?”

“Hm… tuntas”

“Ada celah?”

Lu Han mengangguk “Sedikit, hanya bisa beberapa menit, bagimu pasti waktu yang cukup. Aku sudah menge-check ruang operatornya tadi pagi, gampang. Yang menjaga hanyalah namja jalang”, ia mengeluarkan sesuatu dari balik saku jacektnya “Ini rekaman CCTV di koridor lantai 12. Kau memang muncul di rekaman ini di pukul 07.49 malam saat namja itu menarik paksa Baek Hyun masuk ke kamarnya, dan kau yang berlari dari ujung koridor kemudian masuk ke kamar itu. Dan 5 menit berikutnya kau keluar lagi sambil menggendong Baek Hyun. Kalau rekaman ini tersimpan, kau jelas langsung dicurigai”

Chan Yeol mengangkat alis “Ada gunanya juga kau berwajah cantik”

Lu Han tersenyum tipis “Sekarang?”

Chan Yeol mendekat, membuka 2 kancing kemeja Lu Han yang dilapisi jacket cokelat dan melebarkan bagian dadanya, “Jangan sampai namja jalang itu menyentuhmu lebih dari ini”

“Ne Chan Yeol-shii”

 

 

*~~<Amaterasu>~~*

 

Lu Han menarik nafasnya dalam-dalam. Sebenarnya ini pekerjaan yang menjijikkan, tapi bukankah sejak awal dia sudah kotor. Lagipula, selalu ada harga yang harus ia bayar untuk keinginan terbesarnya.

 

Kematian Byun Baek Hyun yang lebih menyakitkan dari apapun.

 

Ia memang tidak bisa melenyapkan nyawa orang dengan tangannya sendiri, untuk itu ia mengabdikan seluruh hidupnya kepada orang yang bisa menghabisi Baek Hyun dengan betul-betul menyiksanya jiwa dan raga, fisik dan metal.

Lu Han menarik kedua sudut bibirnya, dan berjalan masuk ke ruang operator yang berada di dekat basement.

“Ini kopinya Tuan…” Tawar Lu Han bermanja-manja, pada seorang namja berusia sekitaran 30 tahunan yang memakai seragam securty hotel itu.

“Ah, terima kasih cantik, kupikir kau tidak akan kembali” namja itu menyambut Lu Han yang langsung duduk di pangkuannya.

 

“Lu Han… kau mendengarku?”

 

Lu Han membenarkan earphone yang tidak kentara karena tertutup rambutnya, “Wah… kita bisa mulai ne?”

“Kau tidak suka basa-basi cantik” Namja itu mulai membelai wajah Lu Han, sementara namja cantik itu sibuk melirik monitor ke 5 dari kiri. Ia menengadahkan kepalanya, seolah memberikan akses namja itu untuk menikmati lehernya, dan jelas saja namja itu menyambutnya suka cita.

Tanpa kentara, Lu Han mengulurkan tangan kanannya, mengutak atik sesuatu hingga tanda merah di sudut layar monitor ke 5 dari kiri itu berubah menjadi hijau. “Eungh… sekarang” Ucap Lu Han yang sebenarnya untuk Chan Yeol. Sementara ia harus menerima nasib digerayangi oleh namja mesum di hadapannya ini.

Manik matanya bisa menyaksikan sosok Chan Yeol yang berpakaian serba hitam, tanpa kentara dan sudah sangat terlatih membobol pintu kamar nomor 1215, dan jelas saja itu tidak akan terekam.

 

*~~<Amaterasu>~~*

 

Eun Hyuk membuka matanya malas karena ada sesuatu yang menempel kuat di keningnya.

Dan alangkah terkejutnya ia saat melihat seseorang bepakaian hitam-hitam berdiri di sebelah tempat tidurnya sambil menodongkan pistol di kepalanya.

“KAU!” pekiknya tertahan…

“Maaf membuatmu terlalu lama menunggu, sebenarnya aku ingin langsung membunuhmu tadi malam, tapi kau membuat istriku trauma berat. Jadi kuundur… dan kabar baiknya, kau tidak perlu menunggu lama-lama lagi, karena sekarang kau akan mati”

Mata Eun Hyuk semakin membelalak saat Chan Yeol menarik pelatuk pistolnya sambil tersenyum.

“Selamat jalan… kuharap kau menemukan namja-namja jalang di Neraka”

 

DOOORRR….

 

Seperti sudah terlatih menembak di tempat yang tepat. Darahnya tidak terciprat ke depan, tapi ke samping hingga tidak mengenai Chan Yeol.

“Ouh… segar sekali” Desis Chan Yeol begitu menikmati pemandangan di depannya. Dengan santai ia meraih ponselnya dan memotret wajah Eun Hyuk persis di keningnya yang pecah dan mengeluarkan banyak darah. Dan selanjutnya, seperti permintaan Kris, ia kirimkan foto itu pada namja haus darah selain dirinya itu.

 

*~~<Amaterasu>~~*

 

Lu Han membulatkan matanya saat ia melihat di monitor Chan Yeol sudah keluar dari kamar 1215, dan sampai sosoknya sudah tak terlihat, ia kembali mengutak-atik tombol di sana hingga CCTV di koridor itu kembali merekam.

“Ah, Tuan… aku sepertinya harus pergi” Lu Han menjauhkan wajah namja itu dari lehernya.

“Waeyo? Kita baru saja mulai cantik”

Lu Han berusaha tersenyum “Kapan-kapan kita lanjutkan”

“Jangan begitu…”

“Akan kutemui lagi, Ne” Lu Han buru-buru melepas diri sebelum namja itu semakin mendesaknya. “Sampai jumpa tuan…” Lu Han langsung berlari meninggalkan ruangan itu, mempertipis kemungkinan agar namja itu tidak mengejarnya.

*~~<Amaterasu>~~*

 

Chan Yeol merebahkan punggungnya di atas tempat tidur empuk itu. wajahnya terpancar kepuasan yang berlipat-lipat.

“Memang tidak ada yang lebih menyenangkan dari pada membunuh… segar sekali” Serunya.

Tak berapa lama kemudian, Lu Han masuk ke kamarnya dengan tergopoh-gopoh, membuat Chan Yeol menatapnya sambil tersenyum. “Bagaimana?”

Lu Han berjalan mendekat, dan menghempaskan duduknya di tepi tempat tidur Chan Yeol, “Aman… 6 menit tak terekam, itu tidak akan kentara”

“Bagus…”

Lu Han terdiam, kemudian menunduk.

“Apa perlu kuhabisi operator itu juga?”

Lu Han langsung menoleh “Ah tidak perlu, ini saja sudah sangat repot”

Chan Yeol bergeser dan memperhatikan leher dan dada Lu Han yang kemerahan, “Ada yang sakit?”

Lu Han menggeleng sambil tersenyum. Sedikit aneh karena dia mendapati seorang Park Chan Yeol mencemaskannya.

“Bersihkan dirimu dan istirahatlah, aku akan membelikan makanan”

Mata indah Lu Han membulat “Tidak perlu, biar aku saja”

Chan Yeol beranjak dari tempat tidurnya, mengusap puncak kepala Lu Han “Sudahlah, anggap saja imbalan karena membantuku”

Setelahnya Chan Yeol beranjak pergi, meninggalkan Lu Han yang hanya menatapnya tercengang.

“Sebenarnya yang mana sosok aslimu Park Chan Yeol?”

 

*~~<Amaterasu>~~*

 

Baek Hyun menatap malas makanannya, ia hanya mengaduk-aduknya sejak tadi tanpa selera. Dan itu membuatnya kena tegur oleh Kyung Soo yang memang tidak suka orang menyia-nyiakan makanan.

“Kalau kau tidak mau makan, ya tidak usah dimakan, kau hanya merusaknya saja” Tegur Kyung Soo lagi.

Baek Hyun hanya terdiam, tapi menurut juga dan akhirnya menghentikan kegiatan konyolnya. “Mana Su Ho Hyung?”

“Entahlah, dia bilang ada yang dia urus”Jawab Kyung Soo malas.

Ponsel Baek Hyun berdering, dan itu menjadi kesempatannya untuk sejenak mengusir kemelut di dalam pikirannya.

Bibir tipisnya sedikit tersenyum saat ia tahu siapa yang menelponnya.

“Ne Kai…”Sapa Baek Hyun.

“Hm, masih Di Jeju?”

“Ne, tapi aku akan kembali ke Seoul sore ini”

“Begitu? Kupikir kau akan sedikit berlama-lama di sana karena aku baru berniat menyusulmu”

Baek Hyun melebarkan senyumnya “Tidak perlu”

“Chan Yeol di sana kan?”

“Ne, tapi tidak bersamaku”

“Terjadi sesuatu?”

Baek Hyun menghela nafas “Hampir…”

“Maksudmu?”

“Nanti kuceritakan saat kembali ke Seoul”

“Kutunggu di rumahmu”

“Ne… kuncinya kuletakkan di bawah keset”

Kai tertawa di seberang “Percayalah, aku tidak butuh kunci untuk bisa masuk ke rumahmu”

“Mwo?”

“Sudahlah, lanjutkan saja kegiatanmu. Aku juga sedang cuci mata di Seoul, sudah agak lama tidak jalan-jalan”

“Oh Ne… selamat bersenang-senang”

“Kau juga….”

 

Piipp..

 

“Dari namja tampan yang waktu itu kau kenalkan padaku?” Serbu Kyung Soo saat Baek Hyun baru saja meletakkan ponselnya di atas meja.

Keningnya berkerut “Ne, tapi kenapa kau seantusias itu?”

Kyung Soo berdecak “Apa dia ada di Seoul sekarang?”

“Ne…”

“Curang, kenapa tidak memberitahuku?”

“Haruskah?”

“Dasar tidak setia kawan. Kau jangan serakah, kau sudah punya Chan Yeol, jadi berikan padaku namja tampan yang satunya lagi”

“Maksudmu Kai?”

Kyung Soo memutar bola mata “Siapa lagi?”

Baek Hyun menghela nafas, sebenarnya ia senang kalau Kyung Soo menyukai Kai, tapi… Kai masih salah satu dari mereka, karena Kai sendiri yang pernah mengakui bahwa ia juga seorang Avenger. Cukup dirinya saja yang terjerat di lingkaran itu, jadi ia tidak akan membiarkan Kyung Soo ikut terlibat dengan seorang Avenger. “Bukankah kau sudah punya Su Ho hyung?”

Namja bermata indah itu mendesis “Su Ho Hyung? Apa kau bercanda?”

“Waeyo? Kupikir kalian dekat, sering bersama, dan menurutku serasi”

“Serasi apanya, Su Ho hyung sudah punya kekasih”

“Benarkah? Aku tidak tahu”

“Kekasihnya itu ya pekerjaannya. Dia terlalu sibuk, terlalu banyak berpikir, terlalu serius dan… ah tidak ada romantis-romantisnya sama sekali. Pekerjaannya menyita habis waktunya, Dia mana punya waktu memikirkan hal-hal seperti ini”

“Seperti apa heum?”

Baek Hyun dan Kyung Soo terkejut, seketika menoleh pada sumber suara. Dan itu adalah Su Ho.

“Benarkah aku seperti itu?” Namja dengan senyuman manis itu ikut duduk di sebelah Kyung Soo, sementara namja yang ditegurnya tadi hanya bisa menunduk malu dengan wajah memerah.

Baek Hyun tertawa kecil melihat tingkah Kyung Soo yang tertangkap basah. Tidak ia ragukan lagi, Kyung Soo memang cocok itu Su Ho.

“Oh Ya Baek Hyun-shii…”

“Ne hyung…”

“Mengenai Park Chan Yeol, sebenarnya…”

“Aduh… perutku” Keluh Baek Hyun mengalihkan pembicaraan.

“Waeyo?”Tanya Kyung Soo cemas.

“Molla, sakit sekali, mungkin salah makan”

“Salah makan apanya? Kau tidak makan apa-apa sejak tadi”

“Sakit sekali…”

Ponsel Su Ho berdering nyaring, dan Baek Hyun pikir mungkin itu lebih baik untuk mengalihkan pembicaraan mengenai Park Chan Yeol dari pada harus berpura-pura sakit.

“Hm aku sendiri, waeyo?” Kening Su Ho terangkat “1215?”

Mata Baek Hyun membulat sempurna mendengar deretan angka itu.

“Geure…? hm, aku segera kesana” Su Ho memasukkan ponselnya dalam saku. “Kyung Soo-ah, Baek Hyun-shii, aku segera kembali”

“Chakkaman Su Ho hyung… 1215, apa yang terjadi di dalam kamar itu?”cegat Baek Hyun.

“Kau mengenal penghuni kamar itu?”

Baek Hyun mengangguk mantap “CEO X elektronik yang kutemui tadi malam”

Su Ho memejamkan matanya rapat-rapat “Sial…. dia lagi”

“Hyung?”

“Ikut denganku, kurasa kau bisa memberi keterangan”

 

 

*~~<Amaterasu>~~*

 

Baek Hyun dan Kyung Soo berpelukan di sudut ruangan sementara Su Ho, beberapa polisi, dan tim penyidik memeriksa sekitaran tempat jenasah Eun Hyuk yang masih tergeletak dengan darah merembes kemana-mana.

“Bersih…”Ucap salah seorang tim penyidik.

“Melihat kondisi jenasahnya, pembunuhan terjadi kurang dari satu jam yang lalu”Tambah seorang lagi.

Su Ho terus menggumam sambil memperhatikan jenasah Eun Hyuk. “Jejak kaki, sidik jari, semuanya bersih. Baek Hyun bilang, dia sempat bersalaman dengan korban tadi malam, tapi kuperkirakan sebelum tidur, korban sudah mandi dan membersihkan diri jadi kontak terakhirnya dengan orang luar hanya dengan Byun Baek Hyun tadi malam. Lalu… tidakkah ada rekaman CCTV yang memperlihatkan seseorang masuk di kamar ini tadi pagi?”

“Kosong… yang terekam hanyalah beberapa orang yang berlalu lalang, masih agak sepi karena kejadiannya mungkin masih agak pagi. Dan lagi, rekaman CCTV dikoridor lantai 12 yang kemarin juga katanya hilang”

Mata Su Ho membulat “Hilang? Maksudnya?”

“Operatornya salah tempat, entahlah… ini sedikit janggal. Seolah ini adalah pembunuhan berencana”

Su Ho meremukkan tangannya “Amaterasu…”

“Ne?”

“Ah, ani… apa kalian sudah selesai meminta keterangan dari Baek Hyun?”

“Sudah… dia terlihat sangat shock”

“Hm, tentu saja karena dia sudah mengalami hal ini berkali-kali”

“Ne?”

“Sudahlah, aku yang akan melanjutkan interogasinya. Jadi sebaiknya kubawa dia keluar sebelum dia pingsan”

“Ah ne Su Ho-shii, terima kasih bantuanmu”

“Ah, mianhamnida. Aku justru tidak bisa membantu banyak”

 

*~~<Amaterasu>~~*

 

Baek Hyun ambruk ke lantai begitu ia, Su Ho dan Kyung Soo kembali ke kamarnya.

“Baek Hyun-ah gwenchana?” seru Kyung Soo panik “Ya Tuhan, kau pucat sekali”

“Aku… tidak apa-apa…”

Kyung Soo membelalak “Tidak Apa-apa, apanya? Lihat kau sudah seperti mayat hidup, kau tidak sarapan pula” Kyung Soo memapah Baek Hyun untuk duduk di sofa, dan bergegas membuatkannya air madu hangat.

“Remakan CCTV yang tadi malam hilang tanpa sebab, jadi rekaman di mana kau berinteraksi dengan korban ikut lenyap. Kau yakin tidak ada kontak lain selain itu?”

Baek Hyun memejamkan matanya. Kondisinya yang lemah membantunya untuk tidak terlihat tegang, jadi Su Ho tak akan mencurigainya sedikitpun. “Kami hanya membicarakan masalah kontrak kerja sama, itupun secara pribadi, dan kami berencana melakukan rapat besar setelah ini, tidak kusangka…”

“Hanya seperti itu?”

“Ne Hyung…”

“Bisa kutahu alasan kenapa kau berencana untuk melakukan kerja sama dengan X Elektronik? Bukankah kau dan Park Chan Yeol masih terikat kontrak?”

Baek Hyun menunduk “Aku takut Park Chan Yeol juga bernasib sama dengan Lay hyung, Kyung Soo, dan terakhir CEO X elektronik ini, makanya aku berencana memutus kerja sama dengannya agar Park Chan Yeol tidak terlibat lagi denganku”

“Hm, kurasa ini menyangkut perasaan pribadi, jadi tidak akan kutanyakan”

“Mianhae Hyung…”

“Sudahlah, justru aku yang meminta maaf karena memaksamu memberi keterangan sementara kondisimu juga shock berat”

Baek Hyun menggeleng “Gwenchana…”

“Ya sudah, istirahatlah, aku harus kembali ke TKP. Hubungi aku kalau ada apa-apa”

“Ne…”

 

*~~<Amaterasu>~~*

 

Chan Yeol mengerutkan kening saat ia mendapati Kyung Soo yang membukakan pintu kamar Baek Hyun.

“Kenapa kau ada di sini?”Tanya Chan Yeol tanpa menyapa.

Kyung Soo tersenyum “Santai sajalah… aku hanya menemani sahabatku. Masuklah, Baek Hyun sedang tertidur”

Chan Yeol melirik jamnya “Sudah pukul 11 dia masih tertidur?”

“Masuklah dulu, biar kau lihat kondisinya”

“Kenapa memangnya?” Chan Yeol mengikuti langkah Kyung Soo menuju tempat di mana Baek Hyun terbaring.

“Musibah lagi, rekan bisnisnya mati terbunuh beberapa jam yang lalu, dan inilah… dia jadi seperti ini”

Mata Chan Yeol membulat melihat Baek Hyun terbaring lemas di atas tempat tidurnya dengan wajah pucat pasi. Dan entah dari mana asalnya perasaan itu, Chan Yeol betul-betul merasa sakit di dadanya melihat Baek Hyun seperti itu.

“Chan Yeol-shii… kurasa Baek Hyun betul-betul mencemaskanmu. Dia sampai mencari perusahaan lain untuk melakukan kerja sama agar peneror itu tidak mengincarmu” Lanjut Kyung Soo.

“Aku tahu…”

“Jadi sebaiknya kau menjauhlah dulu dari Baek Hyun demi keselamatanmu, karena belakangan ini, semua orang yang terlibat dengannya akan celaka”

Chan Yeol menoleh, menatap Kyung Soo datar “Aku tidak akan celaka, jadi aku tidak akan menjauhi Baek Hyun”

“Tapi…”

“Bisa kau tinggalkan kami sebentar?”

“Ah, Ne… aku juga belum mengemasi barangku, sebentar sore kami akan kembali ke Seoul”

Chan Yeol mengangguk, kemudian tersenyum tipis.

Kyung Soo berjalan menghampiri Baek Hyun, mengusap kening Baek Hyun lembut “Dia demam…”

“Ne, akan kutangani”

“Arasso, panggil aku bila butuh bantuan” Kyung Soo mengecup puncak kepala Baek Hyun dengan sayang, dan Chan Yeol melihatnya.

Entahlah… baru kali ini dia tidak marah, karena tindakan itu mengingatkannya pada Se Hun. Ia juga pernah melakukan hal itu pada adiknya. Dan kesan itulah yang ditangkap Chan Yeol sekarang. Hubungan Kyung Soo dan Baek Hyun… hanya sebatas saudara.

Chan Yeol mengantar Kyung Soo sampai ke depan, setelahnya ia mengunci pintu dan kembali ke tempat Baek Hyun.

Ia duduk di tepian tempat tidur Baek Hyun, meraih tangan mungilnya dan menggenggamnya.

“Kau menyedihkan Byun Baek Hyun, sepertinya tanpa membunuhmu secara langsung pun kau tetap bisa mati secara perlahan-lahan dengan cara seperti ini”Lirihnya entah bermaksud apa.

“Kenapa adikku justru mati di tangan namja selemah dirimu? Kenapa adikku justru terpedaya oleh namja menyedihkan sepertimu? Tidakkah kau menyadari kelemahanmu?”lanjutnya. tapi jelas tak ada respon karena Baek Hyun betul-betul tertidur.

Chan Yeol menghela nafas “Atau kuakhiri saja penderitaanmu di sini?”

Hening…

Nyatanya ada pertarungan hebat yang terjadi di dalam diri Chan Yeol. Logika dan perasaannya…

“Kau… mencintaiku Byun Baek Hyun?”Tanya Chan Yeol seperti orang bodoh.

“An… Adwae… jangan… bunuh…”

Mata Chan Yeol membulat, ia pikir Baek Hyun terbangun, tapi nyatanya matanya masih terpejam, hanya saja ia terlihat sangat gelisah, “Baek Hyun-ah?”

“Jebal… mianhae… jangan… bunuh… aku…”

Chan Yeol mengatupkan rahangnya kuat-kuat melihat Baek Hyun bahkan terbawa mimpi. Perlahan ia naik ke tempat tidur Baek Hyun, berbaring di sebelahnya dan menarik namja mungil itu lebih rapat padanya agar bisa dipeluknya dengan segenap jiwa raga. Setidaknya untuk hari ini saja, biarkan dulu seperti ini, biarkan dulu sebuah ruang kecil di sebelah kobaran api itu terisi oleh perasaan menjijikkan bernama cinta.

Dikecupnya puncak kepala Baek Hyun dengan lembut, kemudian ia usap punggungnya hangat “Aku tidak akan membunuhmu…” Lirihnya… kemudian ia memejamkan mata “Belum saatnya…”

 

*~~<Amaterasu>~~*

 

Baek Hyun POV

 

“Baek Hyunnie…”

 

Suara itu…

 

“Kemarilah sayang…”

 

Betapa rindunya aku pada suara itu, “Se… Se Hunnie… odiga?”

 

Greb~

 

Kurasakan seseorang memelukku dari belakang

“Merindukanku?”

Kufokuskan pandanganku ke depan, tapi sulit, di sekelilingku hanya ada kabut, serba putih dan bercahaya, bahkan diriku pun mengenakan pakaian serba putih.

Tunggu…

Aku bersama Se Hun… di tempat yang mungkin saja adalah surga,

Apakah aku sudah mati?

“Belum Baek Hyunnie..”

“Eh, kau mendengarku?” aku memutar tubuhku dan betapa bahagianya aku akhirnya bisa kembali menatap wajah tampan kekasihku ini. ku angkat kedua tanganku, menyentuh wajahnya yang tampak begitu nyata.

“Ini… alam bawah sadarmu sayang”Ucapnya lembut.

“Se Hunnie… bawa aku bersamamu, jebal…”Pintaku serius

Ia tertawa “Jangan begitu, kalau aku membawamu, lalu siapa yang akan menolong kakakku?”

Mataku membulat sempurna “Menolong? Menolong Park Chan Yeol? Menolong orang yang akan membunuhku?”

Ia masih tertawa kemudian menarikku ke dalam pelukannya, “Dia hanya tersesat Baek Hyun-ah… itu bukan dirinya. Tapi percayalah, saat ia bersamamu, itulah sosok kakakku yang sebenarnya. Dia hangat, bukan karena api yang membara di dalam jiwanya, ia hangat karena memang kakakku adalah pribadi yang penuh perasaan. Sekali lagi kukatakan, ia hanya tersesat, sama sepertiku sebelum aku bertemu denganmu”

Aku terdiam sejenak, kesulitan mencerna kalimat Se Hun. “Tapi Se Hunnie… bukankah Chan Yeol akan membunuhku? Bukankah ia ke Korea untuk menuntaskan dendam yang tak sanggup kau laksanakan dulu?”

Se Hun mempererat pelukannya “Tetaplah bersamanya Baek Hyunnie, semakin sering kau bersamanya, maka dendam yang berbentuk api abadi itu perlahan akan padam, sama seperti yang kau lakukan padaku”

“Tapi…”

“Kau, mencintainya kan?”

 

Deg~

 

Se Hun tertawa kecil “Aku sudah tahu jawabannya” Ia merenggangkan pelukannya dan menatapku “Aku tidak cemburu karena dia adalah kakakku, kalau kau bersama orang lain, baru aku cemburu”

“Se Hunnie…”

“Teruslah bersamanya sayang… bersama kakakku, adalah tempat teraman untukmu”

“Wae? Kenapa harus Park Chan Yeol…”

Se Hun membelai puncak kepalaku, “Aku… meninggalkan sesuatu di masa lalu, berbentuk kelalaian yang betul-betul tidak kusadari karena waktu itu Kris Hyung berhasil menghilangkan segala bentuk perasaan dan emosiku, termasuk… perasaanku pada orang itu, dan sosokmu hadir tepat mengisi seluruh kekosongan itu, hingga membuatku lupa ada orang sebelum kau yang mengisinya”

“Nu… Nugu?”

Ia tersenyum “Tanpa sadar, aku justru menempa sosok lemahnya menjadi sekeras pedang besi yang suatu waktu bisa melukaimu”

“Siapa dia Se Hunnie? Siapa?”

“Mian… bukan wewenangku untuk membukanya. Ini hanyalah bagian dari suratan takdir yang harus kau jalani, selamat atau tidak, itu tergantung bagaimana kau menjalaninya. Maka kukatakan, sebenarnya bukan kakakku yang patut kau waspadai…”

“A… Aku betul-betul tidak mengerti…”

“Tapi selama kau terus bersamanya, kau tidak akan apa-apa. Percayalah” Se Hun menyentuh dadaku, di mana aku juga masih memakai kalung berbandul peluru itu.

“Ini…”

“Hm… Ini akan melindungimu, ini adalah… kakakku”

“Ne?”

Ia lagi-lagi tersenyum, “saat itu akan tiba. Saat di mana ia akan mengerti kenapa aku membayar dendam keluarga kami dengan nyawaku”

“Tapi…”

“Kembalilah… ke tempatmu”

“Se… Se Hunnie…”

Se Hun membungkuk sedikit dan mengecup bibirku lembut “Saranghaeyo… jeongmal… tetaplah hidup, dan berbahagialah dengan kakakku”

 

~*AMATERASU*~

 

Author POV

 

Baek Hyun langsung membuka matanya, ia tahu bahwa itu mimpi, tapi… pertemuannya dengan Se Hun terasa betul-betul nyata, bahkan kehangatan yang menjalar di tubuhnya pun, berikut ciuman di bibirnya…

“Sudah bangun?”

Suara berat itu membuat Baek Hyun tersentak. Ia menoleh, dan sosok Chan Yeol ternyata ada di sebelahnya dan tengah memeluknya hangat.

Hangat?

Dia hangat, bukan karena api yang membara di dalam jiwanya, ia hangat karena memang kakakku adalah pribadi yang penuh perasaan”

 

Inikah yang dimaksud Se Hun?__pikirnya

 

Chan Yeol mengulurkan tangannya dan menyentuh kening Baek Hyun “Hm, demammu turun”

“Ne?” Baek Hyun masih kebingungan, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa ada Chan Yeol di tempat tidurnya?.

“Tadi aku ingin menemuimu, mengajakmu makan, tapi aku justru mendapatimu seperti ini, Kyung Soo kuminta beristirahat karena sepertinya dia juga lelah”

Baek Hyun terdiam, ia masih berpikir sementara tangan kekar Chan Yeol masih memeluknya erat.

“Hey… kau kenapa?”

“Kenapa… Chan Yeol bisa di sini?”

“Bukankah sudah kubilang, tadi aku ingin mengajakmu makan, tapi kulihat kau malah tertidur dalam keadaan pucat dan demam, makanya aku menemanimu. Sakit memang akan cepat sembuh kalau dibagi”

Wajah Baek Hyun memerah “Go… Gomawo Chan Yeol-shii…”

“Kau sudah baikan?”

“Ne…”

“Kudengar orang yang hampir memperkosamu tadi malam itu meninggal”

Baek Hyun tersentak, benar… kenyataan itu tetap tidak bisa ia elakkan “N… Ne, dia dibunuh secara misterius… dan pelakunya adalah orang yang sama dengan yang menerorku belakangan ini”

Chan Yeol mengeratkan pelukannya “Kau aman bersamaku, tenanglah”

Baek Hyun merana dalam hati, ia akhirnya mengambil pertaruhan ini. berada di pusat tornado yang sewaktu-waktu akan menghancurkannya. “Chan Yeol-shii, tadi aku dimintai keterangan oleh pihak penyidik, karena aku adalah orang yang melakukan kontak terakhir dengan orang itu. tapi… mengenai kejadian sebenarnya tidak kuceritakan”

“Juga tentang tindakan kurang ajar namja itu?”

“Hm, dan juga kehadiranmu di sana. Kupikir lebih baik kau tidak terlibat, dan kebetulan rekaman CCTV yang tadi malam juga hilang”

Chan Yeol tertawa “Kau begitu mencemaskanku?”

Namja bertubuh mungil itu hanya terdiam.

“Arasso… terima kasih”

 

~*AMATERASU*~

 

Su Ho cukup terkejut melihat siapa yang berada di kamar Baek Hyun, tengah membantu Baek Hyun membereskan barang-barangnya.

“Dimana Kyung Soo?”Tanya Su Ho saat itu.

“Di kamarnya”Jawab Baek Hyun santai kemudian mempersilakan Su Ho duduk di sofa.

“Park Chan Yeol-shii, bisa kita mengobrol sebentar?” Ajak Su Ho.

“Ah Hyung, Besok saja kalau kita sudah di Seoul” Baek Hyun yang menjawab.

“Ini mengenai kejadian tadi pagi”

Chan Yeol tersenyum pada Baek Hyun “Gwenchana, aku suka mengobrol”

“Jam berapa kau tiba di Jeju?”Su Ho memulai interogasinya.

“Wah… tunggu, anda seorang detektif? Baiklah, akan kumaklumi cara bicaramu” Chan Yeol berpindah tempat duduk di sofa yang berhadapan dengan Su Ho “Aku tiba tadi malam, jam 7.30”

“Lalu setelah itu?”

“Aku bertemu dengan Baek Hyun di Lobi”

Su Ho  mengangkat alis, karena memang ia dan Kyung Soo sudah berada di kamar Baek Hyun pukul 7 malam, Baek Hyun memang tidak ada di sana dan ponselnya tidak aktif, itu sebabnya mereka sulit menemukan Baek Hyun dan memutuskan untuk menungguinya saja di kamar.

“Lalu?”

“Kuajak Baek Hyun ke kamarku”

Su Ho mengangkat alisnya “Bukankah tadi malam Baek Hyun mengadakan pertemuan dengan CEO X Elektornik?”

“Ne Hyung, itu jam 7, aku bertemu Chan Yeol di lobi sekitar jam setengah 8 lewat”Tambah Baek Hyun meyakinkan.

“Begitu? Lalu apa selanjutnya?” Su Ho kembali menatap Chan Yeol.

“Selanjutnya? Setelah kuajak Baek Hyun ke kamar? Kau yakin aku harus menceritakan apa yang terjadi antara aku dan Baek Hyun di kamar? Apa kau juga membutuhkan cerita seperti itu untuk bahan penyelidikanmu?” sindir Chan Yeol telak. Sukses membuat Su Ho terbatuk dan Baek Hyun menunduk dengan wajah memerah.

“Baiklah, kita skip saja bagian itu, jam berapa kalian bangun?”

“Sedikit telat, anggap saja efek kelelahan karena semalam… ah sudahah. Intinya kami bangun sekitar jam 8 pagi”

“Begitu?” Su Ho sedikit berpikir “Baek Hyun kembali ke kamar ini sekitar pukul setengah 9 pagi, kau kemana?”

“Kembali ke kamar dan mengajak Lu Han jalan-jalan ke pekarangan hotel”

“Siapa Lu Han?”

“Asisten pribadiku”

“Jam berapa kalian kembali?”

“Aku kembali lebih dulu, sekitar jam 9, dan Lu Han yang memang jalannya agak lama sekitar 10 menit kemudian”

Su Ho bergumam

“Ada apa ini Su Ho-shii, apa kau mencurigaiku?”

“Ah mianhae, bukan bermaksud begitu, maaf jika pertanyaan-pertanyaanku mengganggumu”

“Tidak masalah, aku maklum pekerjaanmu”

“Hm, jadi kau sepertinya punya alibi. Maaf merepotkanmu”

“Tidak masalah”

Su Ho memperhatikan setiap gerak-gerik Chan Yeol berikut bahasa tubuhnya. Tidak ada tanda-tanda kegugupan atau kebohongan. Entah karena Chan Yeol betul-betul jujur, atau memang Chan Yeol sudah terlatih untuk terlihat seperti orang jujur, entahlah, yang jelas Su Ho kesulitan mendeteksi kebohongannya.

“Aku akan kembali ke kamar Kyung Soo, mungkin aku akan tinggal beberapa hari lagi di Jeju karena kasus ini”

“Ah ne Hyung, kami tetap pada rencana awal untuk pulang sore ini”

“Hm, akan kususul…” Su Ho menatap Chan Yeol sejenak “Kutitip Baek Hyun, tolong jaga dia”

“Ne Su Ho-shii, tenang saja”

 

*~~<Amaterasu>~~*

 

Dua buah mobil mewah yang di perintah Chan Yeol untuk menjemput telah terparkir rapi di depan bandara.

“Kyung Soo-shii, aku yang akan mengantar Baek Hyun pulang, dan kau biar bersama Lu Han saja”Tawar Chan Yeol.

Kyung Soo terkekeh “Arasso… Arasso” Ledeknya bersikap maklum.

“Kau menginap Chan Yeol-shii?” Tanya Lu Han.

“Tidak, hanya mengantarnya saja”Jawab Chan Yeol singkat.

“Ne, akan kusiapkan makan malam”

 

Tipis… tapi Baek Hyun merasakannya. Terkadang ia memang penasaran sedekat apa Chan Yeol dengan asistennya itu. berada dalam satu apartement, pastinya ada ruang dan kesempatan di mana akan terjadi sesuatu di antara mereka.

 

 

 

“Cha… Chan Yeol –shii”Tegur Baek Hyun takut-takut. Chan Yeol sendiri fokus menyetir.

“Ne?”

“Kau… dan Lu Han sudah kenal sejak lama?”

Chan Yeol menoleh sejenak, kemudian kembali fokus ke depan “Kupikir kau akan bertanya apa. Tidak… tidak begitu lama… baru beberapa bulan”

“Benarkah? Kelihatannya kalian sudah kenal bertahun-tahun, sangat akrab”

“Mungkin karena kami keseringan bersama”

“Oh… begitu” Baek Hyun menunduk dalam.

Chan Yeol tertawa “Kau cemburu?”

Baek Hyun terkejut bukan main “Ah bukan, maksudku… tidak… itu…”

Mobil hitam itu menepi di depan sebuah rumah minimalis yang tentu saja adalah milik Baek Hyun, sedikit tertawa, Chan Yeol menatap Baek Hyun “Dengar, Lu Han itu asistenku, hanya asistenku, dan kau…” Chan Yeol membelai wajah Baek Hyun.

“Ne?” Tanya Baek Hyun yang memang menantikan lanjutan kalimat Chan Yeol.

“Eum… masuklah, kau pasti lelah. Besok bukankah ada pembicaraan ulang mengenai kontrak kerja sama kita?”

Baek Hyun menghela nafas, terlihat sekali ia kecewa “Ne, selamat malam Chan Yeol-shii”

“Chakkaman” Chan Yeol menarik tangan Baek Hyun yang hendak membuka pintu mobil, dan tepat saat Baek Hyun menoleh, Chan Yeol sudah merapatkan bibirnya di bibir mungil itu.

Sebenarnya hanya melumatnya sedikit dan sebentar, tapi itu seperti sebuah penegasan bahwa Baek Hyun punya posisi sendiri.

“Kubantu membawakan barangmu, Ne”Tawarnya setelah melepaskan ciumannya di bibir Baek Hyun.

Namja mungil itu hanya bisa mengangguk dengan wajah memerah.

 

Chan Yeol menenteng koper kecil milik Baek Hyun sementara si pemilik berjalan lebih dulu dan membuka pintu rumahnya.

“Eh, kau meninggalkan rumahmu dalam keadaan tidak terkunci?” tanya Chan Yeol bingung saat melihat Baek Hyun begitu mudah membuka pintunya.

“Ne? ah itu…” seketika Baek Hyun teringat sesuatu. “Ah Chan Yeol-shii… sebaiknya kau pulang”

“Waeyo? Kau tidak ingin menjamuku dengan segelas kopi atau sejenisnya?”

“Lain kali saja” Baek Hyun berusaha mengajak Chan Yeol keluar dari rumahnya, tapi baru sampai di depan pintu, terdengar langkah berat dari lantai dua.

“Oh Baek Hyun-ah? kau sudah pulang manis? Lama sekali”

Chan Yeol dan Baek Hyun menoleh bersamaan ke sumber suara, dan terlihatlah di sana.

Seorang namja tampan berkulit tan, berdiri di anak tangga pertama sambil mengusap-usap wajahnya, sepertinya sempat tertidur.

Chan Yeol tidak bersuara, tapi jelas sekali perubahan raut wajahnya itu.

Namja berkulit tan itu menguap lebar-lebar, membetulkan kancing kemejanya “Ah… Park Chan Yeol… Hai…” Sapanya santai.

Chan Yeol menghempaskan koper yang ditentengnya tadi ke lantai dan beralih menatap Baek Hyun, tajam “Jadi… bisa kutahu alasan kenapa namja sialan itu bisa berada di rumahmu?”

Baek Hyun menelan ludah, gelagapan, baru kali ini ia melihat Chan Yeol menatapnya setajam itu.

“Katakan sekarang atau….”

….

 

 

 

 

 

 

 

TO BE CONTINUED!!!

ALF: <— tertawa nista—> Heheheheheh fiuh,,, selesai juga chap 5. Mian ye nunggunya lama, serius, ALF gak berbakat bikin cerita detektif-detektifan, makanya mentok di situ2 terus dan jadinya susah. Jadi maaf kalau bagian pembunuhannya tidak masuk akal, maklumlah amatir. Tapi anggap saja begitu. Jadi ALF gak bisa nanggepin kalo memang ada cacat pada bagian pembunuhannya, kalo semisal ada yg lebih bisa, silakan bikin FF detektif-detektifan, trus tag-in ke ALF biar ALF baca buat jadiin referensi, soalnya referensi utama ya cuman komiknya Gosho Aoyama, dalam hal ini Detektif Conan.

RCL nya tetap ye…. Wassalam

 

Adiooossss…

464 thoughts on “[FF YAOI] Amaterasu (The Undying Flames)|| BaekYeol || – Sequel Avenger’s Fault [Chapter 5]

  1. Dasar eunhyuk jalang,,
    pantas jg ahjussi mesum..bl0m knalan ma chan sich l0e,.akhrnya mati kan,ms0k nerakan kn,,baek d’g0da,gag tw ap empunya baek iblis b’muka 3..
    Hahaha..
    0h iy th0r,yg d”maksud sehun dlm mimpi itu sese0rang yg prnh mengisi hati nya,pasti yg d’maksud Luhan kan,,mw nangis dech ngebaca itu,ksian bnget ma luhan,,
    gegara kris gila tuh,.
    0oh iy th0r,ntar d’kasi tw d0nk knp kris bsa lumpuh,knp gag mati aja sekalian??

    Satu lg,lucu bnget ql0 ngebangin baek yg lari langsung mencium chan hny untuk ngambil kalung itu,k0q gag d’terusin sich min,lg2 krn kris jalang,,
    bkan hanya libido chan yg naik saat itu,ane jga,hahahahaha..

  2. eonn ane mewek di bagian hunbaek:”’.jadi yang harus di hindari baekhyun luhan keknya.soalnya ada yang suka sma sehun tpi sehun gatau dan mungkin itu luhan.ciyee chanyeol udh mulai tulus sma baekhyun*uhuk wakss ane seneng liat chanbaek makin mesra.scene terakhir itu si chanyeol pencemburu banget yaaaaa :v . yesungdahlah eonn:v.ketemu lagi di chap berikkutnya :v

  3. Jatuh cinta sm ff ini.. Tiap chapternya bkin kkaguman ini brtambah. Ottoke.. Skedar saran, ini ff yg bs kubilang sangat brkualitas. Gak abal abal. Mutiara yg trsembunyi#gakbrlebihankaloharusjujur.. Alangkah baiknya klo author jg bkin yg eng ver n publis-in d aff. Sy yakin ratingnya lebih dri yg dbayangin. Syang bgt klo ff sebagus n sekeren ini cmn d prkenalkan d indo ajh. CBS di seluruh dunia jg brhak tau*baca*. Mian klo bnyk prmntaan. Tp seriusan, this amazing story need to be showed all around the world. Nyesel bngt bru tau WP ini skr2 :”(

  4. Yang bahaya disinii itu luhan kayanya. Duhh tetep disebelah chanyeol please baek TT gue yakin(?) dia bakal lindungin elu huweee mewek gue TT ff nya menguras emosi astagaaaaaa TT

    Si eunhyuk baru ketemu juga, mati kan lu jadinya. Jangan maen maen sama mainan chanyeol makanya -_-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s