[FF] Love & Pain-//YAOI// [Chapter 10]


lp chap 10

CHAPTER 10

Tittle: Love & Pain

Author: AyouLeonForever

Genre: gado-gado

Rate: PG15

Main  pair: BaekYeol Vs BaeKris

Slight: KrisTao/TaoRis

Embel-embelnya sama seperti kemarin sajalah… (malas ngetik)

 

Author POV

 

Preview…

 

Baek Hyun panik, Otaknya buntu, sampai ketika Chan Yeol sudah bersiap menghandapkan pot itu ke kepala Kris, Baek Hyun terperanjat dan entah apa yang mendorongnya hingga ia dengan kilat menarik tangan Chan Yeol hingga menghadap ke arahnya dan…

PRAK~

Pot itu jatuh ke lantai dan berserakan di sana.

Tapi bukan itu yang membuat Kai-Kyung Soo, Se Hun-Lu Han dan terutama Kris tercengang seolah melihat sesuatu yang tidak bisa diterima akal sehat.

Cara Baek Hyun menghentikan Chan Yeol adalah…

 

Dengan  menciumnya.

Di bibir…

Sepasang adik kakak itu… memperlihatkan sesuatu yang mereka langgar…

Dan di depan 5 orang itu yang menatap mereka tercengang.

 

Love And Pain Chapter 10

 

Author POV

 

Chan Yeol mengerjap-ngerjapkan matanya tidak percaya. Mencoba menelaah apa yang sedang menimpa dirinya. Bukan musibah, ini justru kebalikan dari petaka…

..

Ini keajaiban…

Bunyi decakan halus itu terdengar hanya olehnya ketika Baek Hyun melepas ciuman itu dan menatapnya penuh makna

“Cukup Chan Yeollie…”lirih namja mungil itu.

Seperti terhipnotis, terlebih tubuhnya seolah kehilangan tenaga lagi untuk mengamuk, Chan Yeol hanya mengangguk, sesekali mengulum bibirnya dan menyesap rasa manis yang masih tertinggal di sana.

Mereka tidak lupa bahwa ada 5 pasang mata yang menyaksikan itu, hanya saja… lebih baik mengabaikannya dari pada ini akan bertambah parah.

 

Greb~

 

Lu Han mengeratkan genggamannya pada lengan Se Hun, dan namjacingunya itupun mengerti bahwa situasi yang mereka lihat barusan sebenarnya bukan perkara ringan.

 

Brugh~

 

Kyung Soo yang ambruk pun tidak mereka hiraukan kalau saja Baek Hyun tidak menoleh dan menatap Kai.

“Kau akan membiarkan Kyung Soo pingsan begitu saja? cepat bawa dia ke UKS. Dan lupakan apa yang kalian lihat barusan”

Kai tercengang, masih belum bereaksi.

“Kim Jong In…” seru Baek Hyun lebih keras.

“A… Ne… A… Arasso….” Kai langsung menghampiri tubuh Kyung Soo yang tergeletak tak sadarkan diri.

“Se Hun-ah, Luhannie… jebal…”lirih Baek Hyun lagi.

Mengerti akan makna tersirat di balik kalimat itu, mereka pun mengangguk kemudian menyusul Kai yang membawa Kyung Soo pergi.

Kali ini Baek Hyun menoleh pada Kris. Ditatapnya namja itu dengan tatapan…

Datar…

“Pulanglah, sebelum ada yang melihat kondisimu ini”Tegur Baek Hyun pelan, kemudian ia menarik tangan Chan Yeol untuk keluar dari kelas itu.

“Baek Hyun-ah…”

Tep~

Langkah Baek Hyun terhenti saat mendengar suara lirih penuh luka itu.

Ia tidak menoleh, hanya terdiam.

“Aku… Mencintaimu”Lirih Kris membuat Baek Hyun kontan memejamkan mata.

Ia benci akan hal ini, ia benci ketika ia mengetahui bahwa setiap kata cinta yang ia dengar, selalu berujung pada rasa sakit…

Park Chan Yeol…

Dan kini, namja bernama Kris itu…

Semuanya… hanya menimbulkan rasa sakit yang teramat sangat dan membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa.

 

Gyuts~

 

Baek Hyun menoleh saat ia merasakan tangannya digenggam kuat oleh Chan Yeol. Mereka tidak berbicara, hanya menyampaikan sesuatu dari sorotan mata.

 

Jangan kembali padanya~

 

Dan Baek Hyun jelas mengerti arti tatapan Chan Yeol itu.

Untuk itulah ia kembali melanjutkan langkahnya, membawa Chan Yeol pergi, meninggalkan seorang namja yang hanya bisa meratapi kesalahan yang sebenarnya bukan sepenuhnya ia perbuat dengan kesengajaan.

“Aku betul-betul mencintaimu…”lanjutnya lagi, seorang diri.

 

 

~***~

 

Chan Yeol hanya terdiam saat Baek Hyun membalut luka memar dan lecet di tangannya. Semuanya dalam keadaan diam. Tidak ada yang berani memulai percakapan.

Chan Yeol sibuk dengan harapan-harapan barunya, yang tidak bisa menolongnya untuk tidak berfantasi macam-macam tentang masa depannya dan Baek Hyun. Ia mengira ciuman mereka di bukit itu hanyalah sebuah kenangan terakhir untuk mereka, tidak pernah ia bayangkan bahwa Baek Hyun akan menciumnya di depan teman—temannya, terlebih di depan Kris. Dan itu jelas menuntun Chan Yeol memikirkan hal-hal manis yang mungkin akan membawanya pada masa depan yang cerah bersama Baek Hyun.

Sementara namja mungil berambut cokelat itu sendiri lebih parah. Bohong besar jika ia tidak mengkhawatirkan kondisi Kris, melihat punggung tangan Chan Yeol sampai koyak dan berdarah, pukulan yang diterima Kris jelas bukan main-main.

“Mencemaskannya?” akhirnya Chan Yeol yang membuka suara.

Baek Hyun tidak menjawab. Tidak berani menjawab.

“Pantaskah kau mencemaskannya?”

 

Hening…

 

“Sudah kukatakan padanya, saat ia berani membuatmu terluka dan menangis, satu-satunya hal yang akan ia temui adalah kehancurannya”

Baek Hyun mengangkat wajah dan menatap Chan Yeol, “Apa kau tidak melihatnya Chan Yeollie? Dia sudah bertemu dengan kehancurannya saat aku menciummu di depan matanya. Untuk itu,… berhentilah”

 

Deg~

 

Baek Hyun membetulkan posisinya hingga duduk di tepi tempat tidurnya, persis di sebelah Chan Yeol. “Kita tengah dipermainkan takdir Chan Yeollie. Kau, aku, Kris… dan juga… namja itu… awalnya kupikir Tuhan sengaja menuliskan takdir kita seperti ini. Tuhan mengikat kita dalam tali persaudaraan agar aku bisa bertemu dan mencintai namja bernama Kris. Tuhan memisahkan Kris dengan namja yang ia cintai, kupikir karena Tuhan sengaja membawa Kris padaku, sebagai sandaranku, sebagai obat dari lukaku, penghapus air mataku, tapi nyatanya… Tuhan justru semakin melibatkan kita dalam hubungan yang lebih rumit”

“Hyung” tangan Chan Yeol terangkat dan menapak di pipi Baek Hyun. Menatapnya penuh makna.

Namja mungil itu tidak menepisnya. Ia menolaknya dengan cara lain, dengan berdiri dan membetulkan celananya yang kusut di bagian lutut “Isirahatlah, aku harus kembali ke sekolah”

Chan Yeol sontak ikut berdiri “Hyung… yang tadi… aku_”

“Lupakanlah…”potong Baek Hyun cepat.

 

DEG~

 

Kedua mata Chan Yeol membulat, “Ne?” memastikan apa yang baru saja ia dengar

Baek Hyun menghela nafas kemudian memeluk Chan Yeol “Aku kakakmu. Bahkan jika aku tidak mampu memungkiri bahwa aku masih mencintaimu, sangat mencintaimu… tapi aku… tetap kakakmu”

Leher Chan Yeol tercekat, lidahnya kelu. Setelah apa yang ia lewati bersama Baek Hyun, kalimat singkat tapi menyakitkan itulah yang justru keluar dari mulut namja yang paling ia cintai itu.

“Kuharap yang tadi itu tidak mempengaruhimu, juga kejadian di bukit itu. Anggap saja kita tidak pernah membahasnya” Baek Hyun melepas pelukannya kemudian menyentuh pipi Chan Yeol lembut. “Aku berangkat, istirahatlah”

 

Dalam keadaan tercengang, Chan Yeol menyaksikan kepergian Baek Hyun dari kamar mereka.

“sebegitu mudahnya kah kau memintaku melupakannya hyung?”lirihnya tak percaya.

 

~***~

 

Baek Hyun memasuki kelasnya, yang memang sudah dimulai satu jam yang lalu. Dan tidak perlu ditanyakan kenapa Cho Sonseng begitu mudahnya membiarkan Baek Hyun masuk kelas padahal keterlambatannya sudah tidak bisa di tolerir.

“Adikku sakit sonseng-nim, dan aku harus merawatnya dulu sebelum kembali ke sekolah”Itu ucapan Baek Hyun dan langsung diterima oleh Cho Sonsaeng.

Sebenarnya Baek Hyun sedikit was-was mengenai keadaan kelas, tapi ajaib, kelas itu bersih, rapih. Tidak ada bekas pecahan pot, juga bercak darah, hanya saja papan tulis di depan masih retak.

Baek Hyun menoleh ke bangku Se Hun dan Lu Han, kedua namja itu mengangguk, mengisyaratkan bahwa mereka lah yang membereskan sisanya, hingga perkelahian heboh tadi pagi tidak sampai tercium oleh siapapun.

Kai dan Kyung Soo juga sudah berada di tempatnya. Wajah Kyung Soo masih pucat, dan mungkin Baek Hyun akan melakukan konferensi pers di hadapan keempat temannya itu agar situasinya tidak semakin memburuk.

 

~***~

 

“Siapa yang memukulmu Gege? Akan kuhabisi dia”ucap Tao penuh ambisi saat melihat kekasihnya tengah ditangani oleh Dokter Jung pagi itu.

Kris tidak menjawab, hanya menatap kosong ke depan dan menerima setiap perawatan yang dilakukan Dokter Jung di kamarnya.

“Apa pria tinggi yang menemuimu tadi malam itu yang menghajarmu?”

Kris masih tidak menjawab. Bahkan ketika Dokter Jung menyuntikkan Antibiotik di lengannya, namja itu tetap tidak berkutik, seolah ditusuk jarum itu benar-benar tidak berasa. Bagaimana tidak, rasa sakit yang memenuhi sekujur tubuhnya tidak sebanding dengan apa yang diterima hatinya.

“Biarkan dia beristirahat dulu, luka-lukanya cukup parah, aku bahkan mengkhawatirkan pukulan di daerah kepalanya itu. Untuk itu dia harus banyak beristirahat” Ucap Dokter Jung pada Tao.

“Terima kasih dokter”

“Baiklah, aku pergi dulu, kalau ada apa-apa, hubungi aku”

Tao mengangguk kemudian mengantar Dokter Jung sampai depan pintu kamar.

Namja berambut hitam itupun kembali menghampiri Kris dan duduk bersandar di sebelahnya. “Gege…”

Masih tidak ada respon.

Tao meraih tangan Kris dan menggenggamnya hangat “Adakah yang bisa kulakukan untuk membuatmu lebih baik?”

Kris menoleh perlahan, menatap kekasihnya yang tidak sepatutnya ia abaikan begitu saja. dengan lembut ia meraih Tao, dan membiarkan Panda nya itu berbaring di dada bidangnya.

“Maafkan aku” Dikecupnya puncak kepala Tao dengan lembut dan penuh kasih sayang.

“Untuk apa meminta maaf Gege?”

Kris menghembuskan nafas beratnya, “Baek Hyun…”

Tao langsung merasakan ngilu di sudut dadanya. Mendengar nama itu, emosinya seketika tersulut. “Jadi Baek Hyun yang membuat Gege seperti ini?”

Kris menggeleng cepat sembari mengeratkan pelukannya “Ini semua karena kesalahanku, setiap pukulan dan rasa sakit yang menerpaku, semua adalah balasan atas keegoisanku”

Namja berambut hitam itu mendongakkan wajahnya, menatap Kris yang memang seolah bukan dirinya saat itu, “Gege… tidak bisakah kau melupakan Baek Hyun dan ikut bersamaku ke China?”

Permintaan yang sebenarnya sangat mudah…

Merupakan salah satu jalan keluar yang pastinya tidak akan berujung luka lagi…

Masih ada cinta di sana…

Harapan, dan juga kebahagiaan yang bisa saja menemaninya di sana…

Tapi sekali lagi, ego dikedepankan.

Baek Hyun telah menguasai sebagaian besar ruang di hatinya…

Melepaskannya hanya akan menimbulkan kehampaan yang mendera…

Meninggalkannya hanya akan membuat pikirannya kacau, dan bisa saja akan menuntunnya menjadi pribadi yang betul-betul berbeda. Karena telah ia patenkan bahwa Baek Hyun memanglah separuh dari jiwanya. Dan jika separuh jiwanya itu lenyap… maka apa artinya separuh jiwanya yang satu lagi.

Hampa!

“Gege… kau mendengarku?”

Kris menoleh, dan menatap Tao tepat di manik mata hitamnya “Berikan aku waktu, Tao…”

Namja berwajah manis itu hanya terdiam, mencari sesuatu di sepasang mata yang sering menatapnya hangat. Hanya ada satu di sana…

 

 

Luka!

 

~***~

 

Se Hun dan Lu Han jelas adalah pihak yang telah mengetahui betul ada apa dibalik hubungan Baek Hyun dan Chan Yeol selain hubungan saudara tiri. Mereka hanya bungkam, berusaha mengerti karena memang Baek Hyun akan segera memperjelas, dan menenangkan pihak yang satunya lagi. Kai dan Kyung Soo.

“Kenapa kau mencium adikmu Baek Hyun-ah? Itu sangat… tidak… eum…”

“Masuk akal?” Baek Hyun memotong pertanyaan Kyung Soo.

“Ne… tidak wajar”Tambah namja bermata bulat itu, masih merangkul lengan Kai, belum mampu mengatasi keterkejutannya.

“Kau tahu kan seperti apa Chan Yeol saat marah? Kris bisa saja mati kalau aku tidak menghentikannya”

“Ta… Tapi dengan menciumnya?” Kyungso semakin histeris, sementara Kai baru kali ini menjadi pribadi yang tenang dan terus mengusap-usap punggung Kyung Soo.

“Kenapa kalau aku menciumnya? Kau tidak pernah melihat seorang kakak mencium adiknya?”

“TAPI DI BIBIR???”

Baek Hyun memejamkan mata sejenak kemudian menghembuskan nafas “Itu bukan apa-apa Kyung Soo-ah, tidak ada makna tersembunyi di baliknya. Aku juga sudah kehabisan akal, dan hanya memikirkan hal itu. Sebuah tindakan yang akan menghentikan Chan Yeol untuk membuatnya shock. Lagipula, tidak ada yang menyaksikannya kan selain kalian berempat?”

Kyung Soo menaikkan alisnya “Berempat? Kau betul-betul melupakan kekasihmu?”

Baek Hyun terdiam.

“Chagi… sudahlah, Baek Hyun benar, kurasa masuk akal. Mencium Chan Yeol di bibir hanya untuk membuatnya shock saja agar kesadarannya kembali, walaupun ini masih di luar nalarku, tapi aku mengerti tindakan Baek Hyun” Tegur Kai, masih berusaha menenangkan Kyung Soo.

Kyung Soo menatap Kai dengan ekspresi yang sulit dibaca “Aku hanya tidak ingin melihat kekacauan lagi Kai. Tidakkah kau memikirkan posisi Kris hyung? Dan lagi, jika benar ada sesuatu antara Chan Yeol dan Baek Hyun… itu betul-betul… tidak dibolehkan”

“Kyung Soo-ah… terima kasih karena kau begitu peduli pada kami. Tapi percayalah, ada sesuatu yang terjadi yang hanya aku, Kris, dan Chan Yeol yang mengerti. Jangan salahkan Chan Yeol atas kemurkaannya, akupun tidak memintamu menyalahkan Kris, tapi… percayalah, lebih baik kalian tidak terlibat”

“Baek Hyun-ah… tapi betul kau dan Chan Yeol tidak ada apa-apa kan? Kalian hanya saudara kan? Kalian tidak melanggar sesuatu yang terlarang kan?”

Baek Hyun tersenyum kemudian menggenggam tangan Kyung Soo “Aku… mencintai Chan Yeol… karena dia adikku. Itu saja”

Kyung Soo masih ingin bersuara tapi pandangan Baek Hyun yang begitu meyakiankannya membuatnya menyerah “Aku… hanya takut Baek Hyun-ah. Aku hanya mengkhawatirkanmu. Tidak bisa kubayangkan kalau kau dan Chan Yeol adikmu terlibat dalam hubungan terlarang”

“Tidak akan… percayalah”

 

~***~

 

 

Malam itu, suasana di ruang makan keluarga Park cukup menegangkan, Sang ayah berang melihat tangan anak kandungnya dibalut perban. Sementara lebam-lebam yang pernah menghiasi wajah dan sekujur tubuhnya belum hilang sempurna, masih berbekas di beberapa tempat.

“Sebenarnya kau sekolah itu untuk apa? Untuk belajar atau untuk menjadi preman? Ha?”Bentak Ayahnya.

Baek Hyun dan ibunya hanya bisa terdiam, tidak bisa sama sekali menelan makanannya, sementara objek yang kena marah hanya memasang wajah tanpa ekspresi sambil terus menyantap makanannya.

“Beruntung karena sekolahmu tidak memanggilku dan eommamu untuk mempertanggung jawabkan kenakalanmu ini. Ayah kecewa padamu Park Chan Yeol? Ayah pikir kau sudah berubah setelah sikapmu yang___”

“Aku selesai” Chan Yeol meletakkan sendok dan sumpitnya, diteguknya air putih seadanya kemudian beranjak meninggalkan meja makan.

Jelas saja ayahnya semakin naik pitam “PARK CHAN YEOL DI MANA SOPAN SANTUNMU ANAK KURANG AJAR???”

“Yeobo…”

“Aboji” Baek Hyun langsung berdiri dan menahan tangan ayah tirinya itu saat hendak menyusul Chan Yeol, “Chan Yeol berkelahi tidak sepenuhnya karena dia mencari masalah. Dia punya alasan sendiri”

“Dan kau pikir ada alasan yang masuk akal yang bisa menjelaskan kenalakannya itu?”

Baek Hyun terdiam sejenak, ini pertama kalinya ia mendapati ayah tirinya berbicara dengan nada tinggi padanya, walau bukan sepenuhnya marah padanya, tapi ia tetap merasa, “Ka… kalau Aboji menganggap bahwa Chan Yeol berkelahi untuk melindungiku itu tidak masuk akal, berarti… akulah yang salah di sini”

“Melindungi?”

“Ne aboji…” Baek Hyun menelan ludah kemudian menunduk “Chan Yeol melindungiku dari seseorang yang… ingin menyakitiku” ucapnya, dan secara harfiah memang itu tidak bohong.

Ayahnya terdiam, dan sang eomma tetap setia menenangkan suaminya itu.

“Aku akan menyusul Chan Yeol, karena mungkin moodnya semakin drop. Selamat malam aboji, eomma”

 

~***~

 

Baek Hyun POV

 

“Chan Yeollie” Sapaku saat kuhampiri ia di tempat tidurnya. ia hanya duduk bersandar, memakai Headphone dan bersenandung lirih sambil memejamkan mata. Aku menyentuh punggung tangannya karena kupikir ia tidak mendengarku.

“Ada apa?” sahutnya begitu ia menatapku.

“Eum… Kau marah?”

“Tidak”

“Lalu kenapa sikapmu begini?”

“Kenapa dengan sikapku?”

Aku terdiam, menatapnya lamat-lamat “Aku begitu senang saat kau sudah kembali seperti Chan Yeol yang dulu, tapi setelah kejadian tadi pagi… kau seperti…”

Chan Yeol melepas Headphone nya dan membetulkan duduknya, menatapku dingin “Sebenarnya apa maumu Hyung?”

“Ne?”

“Saat aku menjadi diriku sendiri, kau mati-matian menolakku yang begitu mencintaimu, memaksaku menerima kenyataan bahwa kau adalah kakakku. Dan saat itu kulakukan, kaupun tidak suka karena sikapku begitu dingin padamu sementara itu adalah usahaku agar aku bisa mengubur perasaan gila ini padamu, selanjutnya, kau justru menampakkan rasa sakitmu padaku hingga mau tidak mau aku harus kembali lagi menjadi Chan Yeol yang dulu, mencoba menerimamu sebagai kakakku, mengubur cinta ini dalam-dalam, dan saat kau kembali terluka karena namja sialan itu, kau memberiku harapan baru, mengatakan padaku bahwa kau masih mencintaiku, membiarkanku menciummu, dan terakhir… kau memintaku melupakan semuanya karena hubungan persaudaraan kita ini? Dan sekarang apa? Saat aku kembali mencoba melupakannya, kau datang lagi padaku dan memintaku kembali menjadi Chan Yeol yang dulu?” Chan Yeol mendesis “Aku betul-betul tidak mengerti kau hyung”

Aku terdiam mendengar penuturan panjangnya, seperti tertampar telak-telak dan aku baru menyadarinya. Aku seperti seseorang yang tengah menolong Chan Yeol saat sedang tenggelam, terkadang kutarik ia ke atas permukaan, tapi kuceburkan ia kembali ke dasar air, kutarik lagi, dan kuceburkan lagi ia, dan kurasa akhirnya ia jengah juga karena terlampau sesak, ia berusaha melepaskan tanganku yang sebenarnya tidak sepenuhnya menolong dirinya.

“Bukan kemauanku Chan Yeollie”Lirihku kemudian meninggalkannya.

..

Tep~

..

Aku menoleh karena ia menangkap tanganku, “Apa tidak ada yang bisa kita lakukan untuk kita berdua Hyung? Maksudku…Tabunganku lumayan banyak, kita bisa lari kemanapun, Ke Jepang atau kemanapun, di tempat yang tidak ada seorangpun tahu bahwa kau adalah kakakku. Kita bisa hidup bersama sebagai pasangan yang saling mencintai tanpa memikirkan bahwa kita diasuh oleh orang tua yang sama”

 

Tertegun!

 

Hanya itu reaksiku.

Ini adalah permintaan yang mudah, karena memang yang meng-imingiku adalah kebahagiaan dan cinta.

Hidup bahagia bersama Chan Yeol…

Demi Tuhan betapa aku sangat mendambakannya.

Tapi…

Eomma…

Aboji…

Dan…

Kris?

Munafik kah aku jika kukatakan pikiranku masih dipenuhi bayangan Kris? Kekasihku yang telah sukses memporak-porandakan hatiku? Di saat hatiku betul-beul terisi oleh kehadirannya, ia justru menyeruak keluar dengan meninggalkan kekecewaan yang betul-betul tidak bisa…. Kukendalikan.

Jika aku mendengar dari orang lain mengenai perselingkuhan Kris, aku tidak akan percaya, karena memang yang bisa membuatku percaya hanyalah namja itu. Tapi tidak begitu yang kualami. Kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri, ia berselingkuh terang-terangan di belakangku, di tempat yang sama di mana ia begitu memanjakanku disetiap sentuhan lembutnya.

Semua pengkhianatan itu tidak bisa kumaafkan, tapi kenapa aku masih mempertimbangkannya di kala Chan Yeol menawarkan sebuah pilihan manis tapi cukup beresiko?.

“Hyung… Jawablah…” Desak Chan Yeol.

“Kita… tidak bisa melakukannya Chan Yeollie, bahkan jika kita lari ke ujung duniapun, tali yang mengikat kita sebagai saudara tidak akan putus”

Chan Yeol terdiam… dan itu kugunakan sebagai kesempatan untuk melepas genggamannya.

 

Greb~

 

Nihil… karena Chan Yeol justru mengeratkan genggamannya. Ia menundukkan wajahnya, “Lalu… jika kuputuskan tali itu, sudikah Hyung untuk kembali padaku?”

Kali ini aku membulatkan mataku “Chan Yeol… jaga bicaramu, kau tahu makna dari itu kan?”

Ia mengangkat wajah, dan semakin terkejutnya aku saat kulihat matanya memancarkan luka. Tanpa air mata memang, tapi tatapan itu jusru lebih menyakitkan, “Eomma sangat menyayangi kita kan? Aku sangat tahu itu… untuk itu… Akan kukatakan pada Eomma bahwa kita saling mencintai, dan kuharap, setelah itu eomma akan meminta cerai dengan Aboji dan kita akan__”

 

PLAK~

 

Entah dalam keadaan sadar atau tidak, tapi aku berhasil menamparnya dengan tangan kiriku, “Kau gila… Pernikahan dan Perceraian bukan ajang main-main, lalu kau pikir eomma dan Aboji tidak saling mencintai? Tegakah kau melihat mereka bersedih?”

“Mereka lebih gila Hyung… tindakan mereka ini, justru berakhir pada pembantaian hati anak-anak mereka”

Aku memejamkan mataku. Sakitnya bukan main melihat Chan Yeol mengatakan hal itu dengan tatapan penuh luka.

Chan Yeol  menyentakku, membuatku terkejut hingga aku jatuh di lantai dan duduk bersimpuh di hadapan Chan Yeol. Ia menarikku hingga tubuhku bergeser lebih merapat padanya, disela kedua rentangan pahanya. Ia menunduk, menyejajarkan wajahnya dengan wajahku setelah ia menangkup kedua pipiku “Aku gila hyung… aku kejam, dan itu semua beralasan. Aku tidak bisa menolong diriku sendiri yang begitu mencintaimu. Mengubur cintaku padamu sama halnya dengan mencabut nyawaku sendiri, dan kau tahu… bagaimana seorang Park Chan Yeol jika ia mati ?”

“Cha… Chan Yeollie…”

“Aku mencintaimu Hyung… sangat mencintaimu”

Kugigit bibirku keras-keras, mati-matian melawan gejolak di dalam dadaku, siapapun tidak akan menyangka bahwa detik ini juga logika dan kata hatiku tengah berperang hebat. Logikaku terus memaksaku sadar bahwa Chan Yeol adalah adikku, sementara kata hatiku semakin mendera agar menerima setiap ekspresi cinta yang diberikan Chan Yeol.

Kurasakan ibu jari Chan Yeol menyeka bibir bawahku yang kurasa sudah berdarah karena kugigit terlalu keras.

“Jadilah milikku Hyung… Jebal…”

Sekali lagi, hendak rasanya aku mendorong tubuh Chan Yeol yang semakin mendekatkan wajahnya ke arahku, tapi apa?  Kata hatiku seolah menahan semua saraf motorikku hingga aku tidak bisa bergerak, bahkan untuk memalingkan wajah sedikitpun.

Hanya bisa membelalak sempurna, saat Chan Yeol berhasil menggapai bibirku. Seolah mengajakku kembali mengenang apa yang kami lakukan di bukit itu.

Kugerakkan tangan kananku, yang diperintahkan otakku untuk mendorong tubuh Chan Yeol, tapi reaksi yang dikerjakan tubuhku berbeda, tanganku justru menyentuh rahang Chan Yeol dan membelainya seiring kelembutan yang diberikan bibirnya padaku.

Terkutuklah perasaan bernama cinta yang membuatku gila. Melupakan hal logis, akal sehat dan melakukan hal yang seharusnya tabu.

Aku hanya bisa menengadah saat kurasakan paru-paruku mengempis. Sialnya itu dianggap Chan Yeol sebagai akses untuk menjelajahi leherku. Aku berhasil menarik rambutnya di bagian belakang, bermaksud untuk melepaskan diri, tapi yang kulakukan justru sebaliknya.

“Ughk…” Lenguhku tertahan saat kurasakan Chan Yeol meninggalkan jejak di sisi leherku.

Sampai ketika tangan Chan Yeol menyusup di balik kaosku… logikaku menang.

Kukumpulkan seluruh kekuatanku dan mendorong tubuhnya cukup keras hingga aku terlepas, “KAU GILA PARK CHAN YEOL…” Bentakku dengan nafas hampir habis.

Sementara yang kubentak hanya menatapku datar. Itulah yang membuatku meninggalkannya dan berlari keluar rumah, bahkan mengabaikan panggilan eommaku yang berpapasan denganku di ruang tengah.

 

~***~

 

Sruk~

 

Aku menjatuhkan tubuhku dan bersandar di pagar tembok sebuah gang yang tak jauh dari rumahku.

Menangis…

Hanya bisa seperti itu.

Kupikir setelah melihat pengkhinatan Kris, itulah terakhir kalinya aku menangis, tapi aku lupa… Konflik kehidupanku yang sebenarnya sampai detik inipun belum juga terselesaikan.

Sampai kapan aku akan mengelak? Sampai kapan aku akan terus mengabaikan ini semua?

 

Kris… kenapa di saat aku betul-betul membutuhkanmu, kau justru mempertegas bahwa kau bukan milikku lagi???

 

Tep…

Tep..

Tep…

 

Aku mendongak dan menoleh ke kiri saat kudengar ada suara langkah kaki mendekat. Kukira itu Chan Yeol yang mengejarku, karena kulihat sosok itu sangat tinggi. Tapi tidak, bukan Chan Yeol… sosok itu mengenakan topi dan masker, juga jacket hitam tebal.

Firasatku buruk, oh baiklah, sudah jam berapa sekarang dan aku masih berkeliaran di luar.

Kuhapus kasar air mataku, dan bergegas meninggalkan tempat itu.

 

Greb~

 

Mataku membulat penuh saat lenganku dicekal dari belakang. Aku menoleh dan hendak memberikan pukulan, tapi ia lebih sigap mengunci kedua tanganku dan menyeretku ke pojok pagar tembok dan menghempaskan tubuhku di sana.

“Lepaskan aku…” Bentakku sembari meronta.

“Baek Hyun-ah… ini aku”Ucap sosok itu teredam maskernya. Tapi tidak cukup membuatku lupa siapa pemilik suara ini.

Ia lepas kacamata hitamnya yang tadi membuatku curiga karena ia mengenakannya malam hari. Dan kedua mata yang selalu menatapku dengan penuh kasih sayang itupun menyambutku.

 

Hatiku kembali remuk… terlebih setelah ia melepas masker hitamnya, menampakkan wajahnya yang cukup dipenuhi lebam. Kupalingkan wajahku sambil menutup mata, tak sudi menatapnya.

“Baek Hyun-ah…”

“Jangan sebut namaku lagi, lepaskan aku atau aku akan memanggil Chan Yeol untuk menghajarmu”

“Kau bisa memintanya membunuhku setelah ini. setelah aku menjelaskan semuanya”

“Tidak ada penjelasan lagi yang bisa menyelesaikan ini Kris… tidak ada. Kita berakhir, dan ini sudah selesai” Kutepis tangannya yang merengkuh pundakku, tapi ia tetap bergeming.

“Aku tidak bisa tanpamu…”Ucapnya.

Kutatap ia tajam “Benarkah? Sayangnya aku tidak akan lagi tertipu kata-kata manismu, bagaimana mungkin kau mengatakannya sesantai itu sementara di belakangku kau bahkan lebih intim dengan namja lain?” Aku diam sejenak, memberinya kesan bahwa aku begitu membencinya “Oh, bukan namja lain. Bagaimana mungkin aku bisa lupa wajah namja yang terus menghiasi dompetmu itu. Tunggu, bagaimana cara menyebutkan namanya? Huang Zi Tao…? Benar begitu? Lalu kau masih bilang kalau kau tak bisa tanpaku sementara ada namja itu dalam dekapanmu? Bagaimana mungkin kau tega membohongiku dengan mengatakan bahwa namja itu telah mati 2 tahun yang lalu? Bagaimana mungkin kau membuatku terpedaya dengan menunjukkan luka hatimu padaku bahwa kau adalah seseorang yang telah kehilangan cintamu? Menarikku terlibat lebih jauh denganmu hingga di setiap aku memikirkan hal-hal yang membahagiakan, selalu ada kau di sana. Kau tidak hanya seorang penipu dan pengkhianat Kris…. Kau juga bajingan, kau…”

Sial… tenggorokanku tercekat, sakitnya luar biasa sementara air mataku terus saja bergerombol membasahi pipiku.

“Kenapa tidak kau teruskan Baek Hyun-ah?”lirihnya pelan, terus menatapku dalam. “Katakan semua hal yang kau rasakan sekarang, keluarkan semua hal yang membuatmu benci melihatku, katakan semuanya…”

Bahkan jika Kris memintaku seperti itu, tetap saja tidak bisa kukeluarkan semua kekecewaanku padanya. Aku hanya terus menangis dengan bodohnya, menampakkan kelemahanku di hadapannya.

“Kau benar… namja itu adalah Tao…” Ucapnya tanpa perasaan. Membuatku yang mendengarnya hanya bisa menahan sesak di dadaku. “Semua perkataanmu benar, mengenai apa yang kulakukan di belakangmu. Aku berkhianat, berselingkuh, menipu, atau apapun terserah bagaimana kau mengatakannya” Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya berat “Namun kau keliru akan satu hal. Mengenai segala hal yang kuceritakan padamu tentang masa laluku… aku sama sekali tidak berbohong”

Kutatap ia tajam “Maksudmu… cerita bahwa Tao telah mati itu bukan kebohongan?”

Sialnya ia justru mengangguk, dan aku kini semakin terlihat bodoh di hadapannya. “Lepaskan aku Kris, aku justru semakin benci padamu”

Kris menarikku dan kembali menghempaskan punggungku ke tembok, ia turunkan kerah bajuku dan meraih sesuatu di sana. Bodohnya aku, benda itu bahkan masih terpajang di leherku. “Tao betul-betul tertembak Baek Hyun-ah… ia betul-betul meregang nyawanya di pelukanku, peluru ini adalah salah satu buktinya… dan itu yang kuketahui 2 tahun yang lalu” Tegasnya kemudian mengeratkan rengkuhannya di bahuku.

“Dan kau akan mengatakan, Tao hidup kembali dengan sebuah keajaiban dan muncul di hadapanmu sementara kau sudah menjalin hubungan denganku, begitu?”

Ia terdiam, menatapku penuh makna. Dan aku hanya bisa menggelengkan kepalaku tak percaya.

“Kris Wu… jangan bilang kalau kau ingin mengatakan hal itu?”

“Mustahil memang… tapi itulah yang sebenarnya. Beberapa minggu yang lalu, Tao memang membuatku terkejut bukan main dengan kemunculannya. Hari di mana aku mengajakmu makan es Krim, dan kau bertemu dengan seserang yang memberimu sapu tangan bermotif panda, hari itulah Tao kembali”

Aku membelalak tidak percaya. Mencoba mengingat kejadian itu. Akhirnya aku sadar, kenapa wajah namja itu begitu familiar, karena memang aku pernah melihat fotonya, dan Oh Tuhan… Kris sudah mengkhianatiku sejak saat itu?? Lalu firasatku mengenai keberadaan seseorang di rumahnya waktu itu memang benar, karena Tao sudah bersama Kris saat itu. Dan begitu bodohnya aku mempercayai ucapan Kris mengenai bercak kemerahan di sekujur tubuhnya itu sebagai akibat dari alergi makanan, dan oh,… bagaimana mungkin aku lupa kejadian di mana Kris memukulku dan membuatku pingsan sebelum aku memastikan siapa yang mengetuk pintu kamar itu dan berseru memanggil “Gege”, harusnya sudah kuperkirakan bahwa terjadi sesuatu saat itu. Tapi sekali lagi, kadar kepercayaanku pada namja ini telah membuatku buta dan tuli dengan semua kenyataan yang sebenarnya sudah sejak lama ingin tampak di mataku.

“Kau… Iblis” Hardikku kemudian memberontak.

“Tapi akupun tidak bohong mengenai perasaanku padamu. Bahkan setelah kemunculan Tao, tidak mampu merubah kenyataan bahwa aku betul-betul mencintaimu”

“AKu tidak peduli… lepaskan aku bajingan”

“Baek Hyun-ah… dengarlah… aku tidak bisa hidup tanpamu”

“Lalu kau mau apa? Kau mau aku tetap di sisimu sementara kau juga tengah bersama namja itu? Kau ingin aku menjadi selingkuhanmu? Begitu?”

Kris menggeleng, “Setidaknya percayalah padaku bahwa semua yang kulakukan selama ini adalah untuk melindungimu”

Aku tertawa pahit “Melindungi? Dan kau minta aku percaya akan hal itu?”

“Aku tidak bisa mengatakannya secara jelas, karena kau pasti akan mengataiku pengecut dengan menjadikan latar belakang Tao sebagai alasan”

Aku mengangkat alis “Apa maksudmu?”

Kris terdiam sejenak, dan mungkin karena mengira aku sudah tenang, ia justru memelukku.

“Lepas…”

“Aku tidak akan membiarkan siapapun mencelakaimu, bahkan jika aku harus melakukan hal bodoh sekalipun. Jangankan mengemis, bahkan jika aku harus menyerahkan nyawaku sebagai taruhan keselamatanmu, akan kulakukan”

 

Deg~

 

Gerakanku memukuli pundak Kris terhenti, entah apa alasannya, kata-kata Kris membuatku terkejut.

Kris mendekatkan bibirnya di telingaku, aku bisa merasakan nafasnya menyapu daun telingaku, mengirimkan getaran familiar yang menembus jantungku.

Demi mendiang kedua orang tuaku… aku mencintaimu”Lirihnya dengan nada…

Ketulusan!

 

Tuhan…. Hendak rasanya aku berteriak. Apa yang dikatakan Kris barusan? Tidak kah ia keterlaluan menempatkan nama kedua orang tuanya dalam sebuah sumpah yang melibatkanku?.

Leherku tercekat dalam beberapa saat, sampai ketika tangisku betul-betul pecah, akupun menumpahkan segalanya.

“Waeyo Kris? Waeyo??? Kenapa kau lakukan semua ini padaku? Kenapa?” Raungku dalam pelukannya.

Ia semakin mempererat pelukannya, “Mianhae… Maafkan segala keegoisanku yang tak bisa melepasmu. Sebenarnya mudah Baek Hyun-ah, Tao mengajakku ke China dan melanjutkan kehidupan kami di sana karena tidak ada lagi yang menghalangi hubungan kami. Tapi… sekali lagi demi mendiang kedua orang tuaku, aku terlalu mencintaimu. Melepasmu sama saja halnya dengan kehilangan nyawaku. Lalu apalah arti ragaku tanpa nyawa?”

Aku semakin terjerat dalam luka batin. Dua kali mendengar kalimat yang hampir sama dari dua orang yang berbeda membuat diriku sendiri seolah berada di ambang kematian.

“Lalu aku harus apa Kris? Aku harus apa? Mana mungkin aku tetap di sisimu sementara kau telah menjadi milik orang lain?”Raungku lagi.

Kris merenggangkan pelukannya dan menangkup kedua pipiku “Berikan aku waktu Baek Hyun-ah… aku masih mencari jalan keluarnya. Aku tahu, sikapku terlalu egois jika aku mempertahankan kalian berdua di sisiku. Tapi… percayalah akan satu hal, suatu saat, aku akan melepas salah satunya… dan…” Ia menyeka air mataku dengan ibu jarinya “Ini bukan janji, tapi kata hati… karena bila saat itu tiba, saat di mana aku harus melepas salah satu dari kalian…percaya padaku, bahwa orang itu pastilah bukan kau”

Sekali lagi Tuhan…

Sekali lagi Kau telah membuat hatiku luluh karena perkataan namja ini.

“Aku masih mencintai Tao, aku tidak munafik. Tapi jika kubiarkan Tao terus bersamaku sementara aku sudah sangat mencintaimu, aku yakin hanya akan membuatnya menderita, karena sedtiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik kehidupanku… aku hanya memikirkanmu”

 

Cukup… cukup… kumohon…

 

“Sampai saat itu tiba… Baek Hyun-ah… maukah kau tetap berada di sisiku? Menjadi kekuatanku? Nafasku? Nyawaku?”

Aku memejamkan mata, membiarkan sisa air mataku tumpah “Mianhae…”

Ia terhenyak “Baek Hyun-ah Jebal… berikan aku kesempatan satu kali lag__”

“Maafkan aku karena nyatanya aku juga sangat mencintaimu”

“Ne?”

“Jadi kumohon, bisakah kau berhenti mengatakan semua hal itu. Hatiku sakit…”

Ia mengerjapkan matanya “Baek Hyun-ah?”

“Kau mencintaiku?”

Ia menatapku tidak mengerti “tentu saja, semua yang kulakukan ini adalah karena aku mencintaimu”

“Kalau begitu cukup. Aku tidak butuh apa-apa lagi”

Matanya membulat sempurna “Baek Hyun-ah?”

Aku memaksakan diriku tersenyum di sela tangis, kuangkat tanganku dan menyeka air mata tipis yang membasahi pipinya. Dan itu justru membuatnya meringis. “Sakitkah Kris?”Tanyaku cemas.

Ia pun tersenyum kemudian menggeleng.

Aku berdecak “Kuobati?”

“Ne?”

Aku berjinjit dan meniup kecil lebam yang berada di pelipisnya, pipinya, sudut bibirnya, rahangnya dan…

 

Chu~

 

Aku membelalak begitu Kris menolehkan wajahnya dan menggapai bibirku.

Bahkan tidak cukup satu jam, aku telah berciuman dengan 2 namja berbeda. Tapi percayalah, ciuman Kris kali ini justru menghilangkan keresahanku, tanpa beban karena tidak ada sebuah ikatan yang menghalangi kami. Aku tidak menangis dan mengeluh akan takdir. Tidak seperti saat Chan Yeol menciumku, dengan cinta yang berwujud pisau, melukai setiap kali ia berekspresi.

Kinipun aku tidak sungkan lagi mengulurkan tanganku, memeluk tengkuknya untuk memperdalam ciuman kami. Entahlah… untuk sekejap Kris berhasil mengusir kegundahanku, seolah membawaku terbang bersamanya, ke dunianya yang tidak ada rasa sakit di sana.

Ciumannya begitu lembut, hangat, tapi tidak menuntut. Memberi kesan bahwa aku begitu berarti untuknya, bahwa ini adalah cinta, bahwa ini adalah kasih sayang. Penuh perasaan dan…

Ciuman ini tidak bisa tergambarkan oleh deretan kata-kata berarti. Yang jelas… aku hampir berpikir untuk tidak melepas ciuman ini sampai aku betul-betul kehilangan nafas.

 

~***~

 

AUTHOR POV

 

Bilur-bilur itu membias…

Menerpa…

Mengisi kekosongan akan sebuah fenoma yang menciptakan luka.

Menetes…

Membentuk garis yang mewakili teriakan kesakitan hati yang paling dalam. Tetesan tak terbaas, dari genangan yang tak terbatas.

 

Chan Yeol menyaksikan pemandangan itu dalam diam, tragis… bahkan setengah jam lalu ia berada di posisi yang sama, hanya saja ia mendapatkan respon yang berbeda…

Bentakan…

Bukan balasan dari ciuman itu.

Melihat bagaimana Baek Hyun membalas ciuman Kris tanpa beban, tanpa keluhan…

Mengingat betapa mudahnya Baek Hyun kembali pada Kris yang bahkan telah mengkhianatinya terang-terangan. Kenyataannya… Chan Yeol yang tidak punya kesalahan sama sekalipun tidak dihiraukannya.

Apakah menjadi saudara tiri Baek Hyun adalah kesalahannya?

Apakah pernikahan kedua orang tuanya adalah kesalahannya?

Bukankah itu adalah karena takdir yang mempermainkan mereka?

Lalu inikah balasan akan kesalahan yang bukan dikarenakan olehnya?

Sosok Baek Hyun begitu dekat dengannya, tapi menjangkaunya begitu sulit, seperti angin.

Menggenggam Baek Hyun… sama halnya menggenggam angin.

 

“Siapa kau Byun Baek Hyun? Aku semakin tidak mengenalmu”Lirihnya seorang diri, hingga kemudian ia menyeret langkah putus asanya, menahan rasa sakit yang tidak lagi merajam hatinya, tapi seluruh jiwanya.

Park Chan Yeol…

Telah mati…

Hasratku terkapar tak berdaya…

pilar-pilar kebahagiaanku roboh akan martil derita…

Panorama indahku retak karena sebuah getar penyiksaan hati…

Bilakah aku masih utuh? Bilakah aku masih berarti?

Tidak…

Diriku hanyalah raga tanpa jiwa

Karena hidupku kehilangan cinta

Bukan aku yang memusnahkan cintaku

Penyebabnyalah yang berlalu

Mengukir hatiku secercah harapan,

Dan meninggalkannya dalam bentuk sebuah nisan.

Kematianku…

 

[Quota: AyouLeonForever-Looking For New Light-2008]

 

 

~***~

 

Senyum itu terukir jelas, terlihat tenang. Tapi siapa yang bisa menebak, dibalik senyuman tenang itu ada sesuatu berbentuk sebilah pisau berkarat yang mengiris hatinya. Terbukti saat kedua mata sipitnya berhasil mengeluarkan setetes… tidak… dua tetes… ah tidak, kali ini dalam jumlah banyak air mata, membentuk garis yang membelah pipinya.

“Inikah alasan kau memintaku memberimu waktu? Untuk kau gunakan untuk mencampakkanku pelan-pelan?” Ia kembali tersenyum “Tidak Gege, kau itu hanyalah milikku”Tegasnya pada diri sendiri.

Perlahan ia rogoh ponselnya dan mengontak nomor yang sudah dihapal betul olehnya.

“Peter…” Sapanya saat orang yang diteleponnya menjawab “Rekam pembicaraan ini” ia berhenti sejenak, menunggu orang yang dipanggil Peter itu kembali mengiyakan “Detik ini, segala sesuatu hal yang berhubungan dengan Organisasi besar Huang, kuserahkan padamu, Peter…”

Ke… kenapa tuan?”

“Aku ingin berhenti dari dunia itu, karena nyatanya duniaku bukanlah di Organisasi itu, aku punya dunia sendiri yang telah kuabaikan cukup lama, dan dampaknya kini sangat fatal. Untuk itu, kulepas jabatanku sebagai pemimpin Organisasi dan kuserahkan padamu. Setelah pembicaraan ini terputus, lupakan bahwa kalian pernah mempunyai pemimpin bernama Huang Zi Tao, karena Pemimpin kalian yang baru itu adalah kau Peter”

Tapi Tuan, apa yang akan anda lakukan setelah ini?

“Cukup banyak, pertama melenyapkan segala sesuatu yang membuat mataku terusik. Setelah itu aku akan pergi ke Negara lain, entah itu salah satu negara di Eropa  atau Amerika dan tentu saja akan merancang kehidupan normal di sana bersama Kris Gege”

Peter tak bersuara, jelas karena dia shock dengan keputusan tiba-tiba dari atasannya.

“Kau mengerti Peter?”

I… Iya Tuan…”

“Bagus… jadi ini adalah kontak terakhirku dengan Organisasi. Jangan pernah satu kalipun mencariku atau menghubungiku karena aku bukan lagi bagian dari kalian”

Tuan…

“Begitu saja, sisanya kuserahkan padamu”

Tao mematikan ponselnya dan melemparnya di Jok sebelah. Masih tak jengah menatap pemandangan yang berjarak beberapa meter dari tempat mobilnya terparkir.

“Ini yang kau mau Gege, aku tidak akan luluh lagi…”

Ia usap kasar air matanya, kemudian melajukan mobilnya membelah malam yang terkesan lebih mencekam karena aura yang dipancarkan Tao dari dalam dirinya.

Seketika tercium aroma kematian di sekitarnya, dan yang paling jelas, namja bertubuh mungil yang masih berada dalam dekapan Kris itu tidak akan baik-baik  saja.

 

~***~

 

Bunyi decakan halus terdengar ketika Kris melepaskan ciumannya dengan Baek Hyun “Kenapa bibirmu berdarah?” Tanya namja tampan itu.

“Ne?”

“Apa karena Chan Yeol? Apa jejak di lehermu ini juga karena Chan Yeol?”

“I… itu…”

Ia tersenyum “Aku cemburu. Jangan lagi, Ne

Baek Hyun membelalakkan matanya, takjub akan ekspresi cemburu Kris. Atau karena Kris juga melakukan kesalahan yang sama sehingga ia tidak terkesan terlalu menuntut?

Entahlah, yang jelas Baek Hyun tahu… Inilah Kris… kekasihnya.

“Sudah larut, masuklah ke rumahmu”

Baek Hyun menunduk “Aku tidak ingin di rumah malam ini”

“Waeyo?”

“Kalau aku bertemu Chan Yeol… kau tidak akan bisa bersamaku lagi”

“Aku tidak takut padanya. Saat itu aku tidak melawan karena memang akulah pihak yang bersalah”

“Bukan… Bukan perkara Chan Yeol akan menghajarmu. Ini masih tentang sesuatu di antara kami”

Kris paham, dan sangat mengerti. Baek Hyun masih berani mencium Chan Yeol itu artinya memang masih ada sesuatu di antara mereka. Dan Baek Hyun memang butuh ruang di mana ia tidak akan membuat sesuatu  itu semakin berkembang.

“Tapi aku tidak bisa membawamu ke rumahku, di sana ada Tao…”

“Hm, aku juga tidak berniat ke rumahmu, tempat itu memberiku kesan buruk karena aku melihatmu bercinta dengan Tao di rumah itu”

Seketika wajah Kris memanas “Bi… Bisakah kau tidak membahasnya?”

“Apa kalian melakukannya setiap hari?”

“Byun Baek Hyun berhentilah…”

“Arasso… arasso, tunggu di sini, aku akan mengambil kunci apartementku”

 

~***~

 

Baek Hyun membuka pintu kamarnya dengan sangat hati-hati, seolah jika ia bersuara sedikit saja, rumah itu akan roboh. Dan ketika ia mendapati ruangan itu kosong, tidak menunjukkan tanda-tanda keberadaan Park Chan Yeol, ia pun bergegas menuju meja belajarnya, menarik laci dan mengambil dompet beserta kunci di sana. Sedikit terkejut karena dompet Chan Yeol tidak ada.

Dia keluar?__Lirihnya dalam hati. Tapi kemudian ia berusaha tidak peduli. Setelah mengambil beberapa keperluannya, ia pun bergegas pergi setelah sebelumnya meminta izin pada kedua orang tuanya.

“Sekalian kalau kau bertemu Chan Yeol, suruh dia pulang. Anak itu pergi tanpa pamit, kebiasaan sekali” Titah ayahnya.

“N… Ne aboji” Sahut Baek Hyun seadanya.

Ia benci situasi ini, saat di mana ia tidak bisa untuk tidak mencemaskan Chan Yeol… tapi sekali lagi… ia berusaha untuk tidak peduli.

 

~***~

“Di situ Baek Hyun-ah… ne… terus… lagih… ssshhh aduh…”

“Diamlah, kau ini berisik sekali”

“Lebih kuat… Jebalhhh Ouuuhhh”

“Ck… Menjijikkan. Kau ini meringis kesakitan atau mendesah nikmat?”

“Dua-duanya, makanya tekanlah lebih kuat biar terasa, kau itu hanya membuatku geli saja”

Baek Hyun menggeram kesal, hingga akhirnya ia mengeluarkan seluruh tenaganya.

 

Krak~

 

“AAAARRRRRRRGGGHHHH…” Pekik Kris membahana.

“YA… Jangan berteriak Ppabo, kalau tetangga mendengarnya, mereka pasti akan mengira kita sedang berbuat aneh-aneh”

“Kau membuat punggungku patah, bagaimana aku tidak berteriak?”

“Bukankah kau sendiri yang memintaku memijatnya lebih keras?”

“Tapi tidak sampai membuat tulang belakangku retak kan?”

“Ah sudahlah… kau cerewet” Baek Hyun akhirnya menyerah, ia turun dari posisinya yang tadi menduduki pinggang Kris yang terbaring menelungkup agar memudahkannya memijat punggung Kris yang katanya sakit semua.

Entah alasan apa saja yang dikeluarkan Kris tadi sehingga Baek Hyun menyetujui permintaan gila itu.

“Besok kau ke dokter saja, kalau aku yang memijatmu, kau betul-betul akan patah tulang” Baek Hyun menyambar minuman kaleng yang ia letakkan di atas nakas tadi. Ternyata memijat Kris betul-betul menguras tenaganya. Bagaimana tidak, namja tinggi itu terus meminta lebih. Err… maksudnya pijatan yang lebih kuat.

Kris meraih kaosnya yang tergeletak di atas tempat tidur dan memakainya kilat. Sedikit merenggangkan lehernya. Setelahnya ia menarik tangan Baek Hyun hingga terduduk di pangkuannya dan memeluknya posesif.

“Kau kenapa?” Tanya Baek Hyun tak bisa menyembunyikan senyumannya.

“Ani… aku hanya begitu merindukanmu”Jawabnya klise.

Baek Hyun mengusap rambut pirang Kris. Posisinya yang lebih duduk lebih tinggi memudahkannya untuk mencium puncak kepala Kris dengan sayang, sementara namja berwajah sedikit blaster itu membenamkan wajahnya di dada Baek Hyun.

“Kris…”

“Hmm…”

“Apa kau juga memperlakukan Tao seperti ini?”

Kris terdiam, kemudian merenggangkan pelukannya agar bisa menatap Baek Hyun “Kau betul-betul tidak pandai memanfaatkan situasi”

“Aku hanya sekedar bertanya. Salah?”

“Tidak salah, hanya saja tidak seharusnya kau membahas Tao saat kita sedang bersama”

“Tapi aku selalu memikirkannya”

“Memikirkan apa?”

“Apa Kris juga selalu memanjakan Tao? Aku sedikit tidak rela”Ungkap Baek Hyun dengan wajah bersemu merah.

Kris tertawa kecil “Aku tidak ingin menjawab, karena kau pasti berpikir kalau aku membual”

“Jawab saja, tidak apa-apa”

“Aku lebih memanjakanmu, dan lebih suka saat kau bermanja-manja padaku”

 

Blush~

 

“Hm, waktunya Baek Hyun-ku tidur, besok sekolah”

Baek Hyun memutar bola mata “Sekarang aku jadi merasa kalau lagi-lagi kau memperlakukanku seperti anak TK”

Kris kembali tertawa kemudian membenahi tempat tidur untuk Baek Hyun. Direbahkannya tubuh mungil itu di sana kemudian ia kecup keningnya lembut, “Selamat tidur sayang…” Ucapnya sambil terus tertawa kecil.

Baek Hyun mengerutkan kening saat Kris turun dari tempat tidur dan beranjak menuju sofa panjang yang tak jauh dari tempat tidur Baek Hyun. “Apa yang kau lakukan? Kenapa tidur di situ?”

“Ayolah Baek Hyun-ah, aku hanya ingin melihatmu tidur dari dekat. Aku berjanji tidak akan menyerangmu atau melakukan hal yang aneh-aneh padamu, jadi biarkan aku tidur di kamar ini yah”

Baek Hyun mendesis “Ppabo… kenapa tidur di situ sementara ranjangku cukup besar?”Baek Hyun menepuk-nepuk bantal di sebelahnya “Sini” panggilnya lembut.

Kris memicingkan matanya “Kau mengerjaiku kan?”

“Dalam rangka apa?”

“Kau serius membiarkanku tidur di sebelahmu?”

“Ne, kita sudah beberapa kali tidur bersama… err…maksudku, hanya tidur bersebelahan, jadi apanya yang salah?”

Kris menyunggingkan senyumannya, dan bergegas mengambil tempat di sebelah Baek Hyun “Besok kita bolos saja bagaimana?” Usul Kris sambil memeluk pinggang Baek Hyun dan menatap wajah kekasihnya itu dari dekat.

“Tidak mau, besok ada ujian”

“Payah…”

“Tidurlah atau aku akan berubah pikiran dan menyuruhmu tidur di luar”

“Arasso, arasso” Kris mempererat pelukannya, sesekali menciumi wajah Baek Hyun.

“Hanya tidur Kris, dan jangan berbuat aneh-aneh”

“Sedikit saja…”

“Tidak…”

“Hanya gambaran luar, Ne…”

“Huaaaaaa………”

 

~***~

 

Kai mengacak rambutnya frustasi “Kyung Soo pasti membunuhku kalau dia tahu aku masuk ke tempat seperti ini”

Se Hun tak kalah frustasi “Kau pikir Lu Han juga tidak akan membunuhku kalau dia tahu aku mereject panggilannya karena aku tidak ingin dia mendengar suara bising club malam ini?”

“Lalu bagaimana? Kita pulang saja?”

“Kau tega meninggalkan Chan Yeol?”

Dua namja tampan itu menoleh pada rekannya yang tak henti-hentinya menenggak minumannya, kali ini dia tidak lagi menggunakan gelas, tapi langsung dari botol.

“Ck, sepertinya kita terlalu khawatir pada kekasih-kekasih kita, karena bisa kupastikan, kita bukannya akan mati di tangan Kyung Soo atau Lu Han. Tapi di tangan Baek Hyun”

Se Hun mengangguk lemah, membenarkan perkataan Kai, “Jadi kau sudah menemukan alasan untuk menghadapi Baek Hyun nanti? Akh, aku tidak bisa membayangkan bagaimana murkanya Baek Hyun saat dia tahu kita membiarkan adiknya mabuk-mabukan seperti ini”

Kai mendesis kesal “Lagipula, kenapa Chan Yeol seperti ini? masalah apalagi yang menimpanya?”

“Molla”

Kedua namja itu akhirnya memilih pasrah, sesekali berusaha menegur Chan Yeol agar menghentikan aksi minumnya, bukan perkara mereka takut Chan Yeol tidak akan membayarnya, Chan Yeol membawa banyak uang malam itu, tapi ini mengenai keadaan Chan Yeol yang sudah nyaris tak sadarkan diri.

Mereka sudah cukup dikejutkan saat Chan Yeol menjemput mereka satu persatu dan menyeret mereka agar mau menemani Chan Yeol minum. Dan tentu saja hanya Chan Yeol yang minum karena dua namja ini lebih takut jika kekasih mereka murka.

Sampai ketika Chan Yeol akhirnya ambruk di atas meja, barulah mereka menghela nafas.

“Bagaimana kalau kau telepon Baek Hyun dulu, suruh dia menunggu di depan rumah agar bisa membawa Chan Yeol masuk diam-diam ke dalam rumahnya”Usul Kai.

“Ne, kau benar… dari pada ujung-ujungnya Chan Yeol dihajar Ayahnya?” Se Hun membenarkan kemudian mencoba mengontak nomor Baek Hyun. “Ck, tidak diangkat. Coba kau saja yang menelponnya”

“Apa bedanya sih?” Kai merengut kesal sembari mengutak atik ponselnya.

“Ya siapa tahu Baek Hyun malas menjawab panggilanku karena aku selalu mengganggunya”

Kai melengos kemudian meletakkan ponsel di telinganya.

“Hm… yeoboseyo…”sahut suara berat di seberang.

“Baek… eh?” Kai menatap layar ponselnya, memastikan ia mengontak nomor yang benar, dan setelah ia sudah memastikan bahwa memang itu adalah nomor Baek Hyun, ia kembali meletakkan ponselnya di telinga “Nuguya?”Bentak Kai.

Kau yang siapa? Kenapa mengganggu orang tidur?

“Ha? Kau pasti pencuri, ini ponsel milik Baek Hyun-kan?”

Hening sejenak, siapa yang mengira orang diseberang berusaha mengerjapkan matanya dan menatap layar ponsel yang baru saja dijawabnya “Oh Kai… kenapa kau menelpon Baek Hyun tengah malam begini?”

Mata Kai membulat “Tu… tunggu… K… Kris hyung?”

“Ne, ini aku

“Kenapa ponsel Baek Hyun bisa ada padamu?”

“ck… pemilik ponsel sedang bersamaku, dia tidur, jadi kecilkan suaramu

Mata Kai semakin membelalak, dan ia memberi kode pada Se Hun bahwa yang menjawab panggilannya adalah Kris, dan sekarang Baek Hyun ada bersamanya. “Eum… Hyung, bisa kau berikan ponselnya pada Baek Hyun? Ada yang ingin kubicarakan dengannya”

“Besok saja, Baek Hyun sedang tidur

“Tapi ini penting…

“Sepenting apa sampai kau memaksaku membangunkan Baek Hyun? Sudah kubilang besok saja”

“Itu…”

Kau belum pernah bermasalah denganku kan? Jadi jangan hanya karena masalah sepele maka kau memintaku menghajarmu. Matikan ponselmu dan jangan menghubungi Baek Hyun sebelum matahari terbit, kau mengerti?”

“Ne… Ne hyung, arassoyo”

 

Piiippp…

 

Kai mengelus dadanya, kaget bukan main “Kris hyung menyeramkan”

“Tunggu, kau bilang Kris hyung yang menjawab kan? Kenapa bisa seperti itu? Bukankah mereka sudah putus?”

Kai membulatkan matanya “Jadi ini alasan kenapa Chan Yeol seperti ini?”

“Mwo?”

“Lihatlah… setelah apa yang dilakukan Chan Yeol untuk menghindarkan Baek Hyun dari Kris, akhirnya mereka tetap bersama juga, Chan Yeol pasti sangat kecewa”

Se Hun menggumam, sedikit membenarkan “Tapi… kau bilang mereka sedang bersama malam ini kan? Apa Kris hyung menginap di rumah Baek Hyun?”

Ppabo… dan kau pikir orang tua Baek Hyun akan membiarkan mereka tidur sekamar? Ini artinya Baek Hyun tidak di rumahnya, jadi percuma menghubunginya”

“Jadi bagaimana?”

Chan Yeol mengangkat kepalanya, menatap kedua temannya dengan kelompak mata setengah tertutup, detik berikutnya ia tersenyum sambil melambai-lambai “Kalian pacaran yah?” Igaunya tidak jelas dengan suara yang betul-betul berat. Kemudian ia menggerak-gerakkan jari telunjuknya di depan wajah “Ani… Ani… Ani, Se Hun dan Kai tidak boleh pacaran, karena kalian sudah punya kekasih…. Hic…”

Kai menutup wajahnya dengan satu tangan “Bagaimana ini?”

“Bagaimana kalau kau membawanya ke rumahmu saja” Usul Se Hun, dan hal itu berhasil membuatnya mendapat tatapan tajam dari Kai.

“Dan kau pikir Ayahku tidak akan menghajarku kalau tahu aku membawa orang mabuk ke rumah? Kenapa tidak kau saja?”

“Boleh, kalau kau tidak ingin melihatku di sekolah lagi karena aku yakin Ayahku akan memasukkanku ke sekolah militer yang lebih disiplin”

“Jadi bagaimana?”

“Eum, bagaimana kalau kita bawa ke tempat Kyung Soo, bukankah eommanya masih di luar kota?”

Kai menjitak telak kepala Se Hun “Kau pikir aku sudi? Bagaimana kalau Chan Yeol memperkosa Kyung Soo? Bukankah orang mabuk terkadang melakukan hal-hal yang aneh?”

“Tidak akan… Chan Yeol itu bisa membedakan mana teman mana mangsa”

“Ne, Chan Yeol yang sadar mungkin iya, tapi ini?” Kai sekali lagi menoleh ke Chan Yeol menatap gelas kosong sambil tertawa-tawa. Terkadang ia berpikir, apa memang tingkah orang mabuk dan orang gila itu tidak jauh berbeda?.

“Tidak ada jalan lain… kita berdoa saja bukan Ayahnya yang menyambut”

 

~***~

 

Kai dan Se Hun akhirnya bisa bernafas lega, karena yang membuka pintu rumah Chan Yeol adalah eommanya.

“Omo Chan Yeol? Kenapa ini nak?”seru eommanya tertahan.

“Eum… Mianhaeyo omonim, Kami tidak bisa mencegahnya minum”Jawab Kai merasa bersalah.

“Ya Tuhan… cepat bawa dia ke kamarnya sebelum Ayahnya bangun”

“Ne Omonim.

.

.

.

 

Eomma Baek Hyun dengan cekatan menyediakan sewadah air hangat juga segelas susu, karena setahunya susu bisa menteralkan kadar alkohol di dalam tubuh Chan Yeol, setidaknya sedikit karena ia begitu tersiksa melihat anaknya seperti itu.

“Chan Yeol-ah… kenapa kau seperti ini sayang?” Wanita paruh baya itu dengan penuh kasih sayangnya menyeka keringat Chan Yeol yang bercucuran. Sesekali menahan air matanya karena tidak sanggup melihat kondisi Chan Yeol.

Dengan tenaga ekstra ia membantu Chan Yeol untuk duduk bersandar di tempat tidurnya, dan memintanya untuk meneguk segelas susu yang ia sediakan.

“Minum sayang…” Eommanya tampak kesulitan karena kepala Chan Yeol bergerak ke sana kemari tak beraturan, belum lagi igauan tidak jelasnya.

“Eomma…”

“Ne chagi…”

Chan Yeol tertawa sesekali cegukan “Eomma sayang padaku kan?”

“Tentu saja Chan Yeol-ah” Yeoja itu membelai rambut anaknya.

“Aku… juga menyangimu eomma… saaaaaaaaaaangat sayang”

Yeoja itu mengatupkan rahangnya rapat-rapat, terharu sekaligus tidak tega melihat Chan Yeol melanturkan kata-kata aneh, walau ia tahu terkadang orang yang tidak sepenuhnya sadar, akan mengatakan hal yang paling jujur dari dalam hatinya.

“Eomma… lebih sayang padaku atau pada Baek Hyun hyung?”gumam Chan Yeol lagi dengan mata redup, sesekali terpejam.

“Eomma sayang kalian berdua. Tidak ada perbedaan, bahkan eomma menganggapmu sebagai anak kandung eomma sendiri sayang”

Chan Yeol tertawa lagi kemudian merentangkan kedua tangannya “Peluk”

Yeoja itu menghela nafas kemudian bergeser untuk memeluk anak tirinya itu.

“Hyung jahat eomma… hyung membuatku sakit”keluh Chan Yeol masih dengan nada suara melantur.

“Ne?”

“Sakit sekali… eomma…”

“Mana yang sakit sayang? Katakanlah”

“Hatiku… sakit… sangat sakit. Cinta ini membuatku sakit”

Eommanya tersentak “Ne?”

“Hyung bilang dia masih mencintaiku, tapi dia memintaku untuk melupakan semua hal yang pernah terjalin antara aku dengannya eomma… aku… hic… tidak bisa… aku terlalu mencintai Hyung…”

 

PLETAAARRR… 

 

Gelegar petir yang membelah langit malam itupun tidak mampu mengalahkan keterkejutan yeoja paruh baya yang kini menjadi ibu dari Chan Yeol itu. Ia lepas pelukannya dan menatap serius pada anak tirinya itu “Katakan dengan jelas Chan Yeol… apa yang baru saja kau maksud ini? cinta apa?”

Chan Yeol tertawa, masih menahan rasa kantuk di matanya “Eomma tidak tahu… hic… ah… eomma bukankah juga salah satu dari orang itu… orang yang kejam seperti Aboji… memisahkan aku dan… Hyung. Ah Bukan… tapi Baek Hyunnie, aku tidak ingin dia menjadi hyungku… dia  itu kekasihku… yang paaaaaaaaaaaaaaaling aku cintai di dunia ini”

Mata eommanya semakin membelalak “Park Chan Yeol… apa yang kau katakan nak?”

“Tapi kalian jahat… aku dan Baek Hyunnie saling mencintai… hic… tapi kalian justru menikah, membuat kami akhirnya bersaudara dan tidak bisa bersama… Eomma tidak sayang padaku… karena eomma membuatku sakit… eomma… hic…sakit sekali… seperti akan… ma…tiiii”

 

Brugh~

 

Chan Yeol jatuh tertidur dengan kepala membentur pundak eommanya. Cukup keras tapi yeoja itu tetap bergeming, wajahnya masih tampak terperangah dengan kalimat kacau yang baru saja mampir di telinganya.

 

Pluk~

 

Sebuah benda tersingkap dan jatuh dari balik saku jacket Chan Yeol, dan itu adalah sebuah dompet.

Tersadar bahwa posisi Chan Yeol akan membuatnya lelah, maka eommanya membaringkan tubuh Chan Yeol dan menyelimutinya hangat. Masih dengan perasaan kalut dan bercampur aduk. Penuh tanda tanya dan… membuatnya takut.

Ia raih dompet Chan Yeol yang tergeletak di lantai, dan seperti mempunyai naluri untuk mengetahui sesuatu, tangan yeoja itu bergerak membuka lipatan dompet itu dan lagi… bahkan suara gelegar petir tak sanggup mengejutkannya, karena apa yang dilihatnya lebih membuatnya terkejut.

Di sana ada sebuah foto lama tapi sangat terawat. Menampakkan dua orang namja berseragam SMP tengah berangkulan mesra di bawah sebuah pohon rindang. Yeoja itu jelas tidak lupa bagaimana wajah anaknya 3 tahun yang lalu, karena memang tidak banyak yang berubah. Tapi… anak laki-laki di sebelahnya bukankah…

Yeoja itu membungkam mulutnya karena seolah mendapat serangan tiba-tiba. Seketika ia teringat percakapan ringannya dengan Chan Yeol beberapa saat yang lalu… mengenai semua yang dikatakan Chan Yeol…

Perasaannya.

 

“ng… pacar idamanku … wajahnya cantik, matanya kecil, hidungnya runcing, kulitnya putih, bibirnya tipis, tidak mengapa kalau dia pendek, karena dia imut, suka tertawa, pandai bernyanyi, main piano, hebat dalam ilmu beladiri, dan… apalagi yah?”

 

“Hyung sangat perfect eomma, dia tipe idealku”

 

“Apa hyung tidak mengatakan siapa nama temannya ini eomma?”

 

“Kisah cintaku tidak sesukses Hyung, eomma. Bisa dibilang aku bertepuk sebelah tangan”

 

 “Entahlah, orang yang kusukai ini banyak sekali yang suka, dan dia juga sudah punya pacar”

 

 “Aku tidak takut apapun eomma, tidak mencemaskan apapun, aku berani merebutnya dari pacarnya, aku berani menghajar semua namja yang mengganggunya, tapi terakhir aku sadar, ada sesuatu yang tidak bisa kulewati untuk bisa bersamanya”

 

“Takdir yang tidak bisa membuatku bersatu dengannya… dan terakhir aku sadari, mungkin hanya ini yang bisa kulakukan demi kebahagiaannya. Beginilah caraku menunjukkan betapa aku… sangat mencintainya…”

 

Sekali lagi yeoja itu membungkam mulutnya sambil menggeleng keras. Tangisnya hampir pecah kalau saja ia tidak membungkam mulutnya sangat rapat, bahkan dengan kedua tangan.

Meratapi kesalahan yang betul-betul tidak ia sengaja. Ia masih bisa melihat luka batin yang terpancar dari raut wajah Chan Yeol. Luka yang sukses menyiksanya sekian lama, dan teganya ia membiarkan anak itu terus tersiksa dengan perasaan itu.

Ia tidak pernah menyangka, bahwa Chan Yeol menolaknya pada pertemuan pertama bukan karena tidak ingin posisi eommanya terganti, tapi ia tidak terima diikat dengan Baek Hyun dalam sebuah tali persaudaraan yang membuat mereka mustahil untuk bersatu.

Chan Yeol terluka, Chan Yeol tersiksa, menangis, berteriak dalam pembantaian hatinya. Dan ironisnya, justru yeoja itulah yang melakukan pembantaian itu.

“Mi… Mianhae chagi-ah… jeongmal mianhae…”lirihnya dengan suara bergetar. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya pun keluar bergerombol, membasahi punggung tangan Chan Yeol yang digenggamnya dan dikecupnya berkali-kali.

“eung… Hyung… jangan… jangan pergi dengan Kris… kembalilah padaku hyung…” Igauan Chan Yeol dengan mata terpejam membuat eommanya semakin miris. Tak sanggup berkata apa-apa lagi.

“Byun Baek Hyun… eung… saranghaeyo…. Jeongmal saranghaeyo… jangan membuatku sakit lagi…”

Yeoja itu mempererat genggamannya dan mengusap kening Chan Yeol “Bertahanlah sayang… bertahanlah…”

 

~***~

 

 

Baek Hyun menggeliat malas, sebenarnya ia masih mengantuk, tapi ia harus pulang ke rumahnya untuk bersiap-siap ke sekolah.

“Ugh…” Keluhnya saat ia hendak bangkit tapi sebuah lengan kokoh melingkar di dadanya. Ia bahkan merengut kesal karena nyatanya telapak tangan Kris menyusup masuk ke dalam kaosnya. Ia berusaha melepaskan tangan Kris tapi nihil, Kris justru mempererat dekapannya.

“Sebentar lagi Baek Hyun-ah…” Gumam Kris masih dengan mata terpejam.

“Aku ingin ke sekolah, jadi aku harus ke rumah pagi-pagi sekali untuk bersiap-siap. Dan.. YA.. TANGANMU…”

“10 menit…”

“Lepaskan aku Kris…”

“Tidak akan kulepas… karena kalau kau kulepas, kau akan lari dari sisiku”

Baek Hyun memutar bola mata, kemudian menoleh. Menyaksikan wajah tampan Kris yang mengoceh dalam keadaan mata terpejam. Hal itu membuatnya tertawa kecil. “Hanya sebentar Kris. Bukan selamanya”

“Cium…”

“Mwo?”

“Cium dulu baru kulepas”

Baek Hyun terkekeh kemudian mengecup pelan bibir pink Kris.

Kedua matanya terbuka dan menatap Baek Hyun malas “Apa-apaan itu?”

“Bukankah kau minta cium?”

Kris berdecak, kemudian ia ubah posisinya hingga ia menindih Baek Hyun di bawahnya, “Morning Kiss itu bukan seperti tadi…”

“Hanya beberapa hari aku putus darimu, kau sudah berubah sepervert ini, bagaimana kalau aku memutuskanmu selama berbulan-bulan?”

Kris tersenyum licik “Kubantu membayangkannya?”

“Ne??”

Dan kembali, Baek Hyun hanya bisa pasrah saat Kris memanjakan bibirnya dengan sentuhan-sentuhan hangat dan lembut dari bibir Kris.

 

Tuhan… kuharap Kau tidak memintaku membayar harga yang cukup mahal untuk kesempurnaan ini…

 

~***~

 

“Tadi malam… kau tidur di mana Yeobo?” Tanya Ayah Chan Yeol pada istrinya yang sedang menyiapkan sarapan.

“Di kamar anak-anak” Jawabnya datar.

“Waeyo? Bukankah Baek Hyun menginap di apartementnya?”

“Chan Yeol sakit”

“Sakit apa?”

Sang Istri menoleh, menatap suaminya penuh makna “Dia sudah sakit sejak lama, hanya saja kita tidak menyadarinya”

Mwoeyo? Sa… sakit apa anak itu?”

Sang Istri menghela nafas “Saat Baek Hyun datang nanti… bisakah kita semua berbicara? Kau, aku, dan anak-anak. Ada yang perlu kita bahas”

Ayah Chan Yeol cukup tercengang, ini pertama kalinya istrinya berbicara dengan cukup… dingin padanya, “Terjadi sesuatu Yeobo? Apa Chan Yeol menderita sakit parah?”

Eomma Baek Hyun tidak menjawab, ia hanya meletakkan tangannya di atas punggung tangan suaminya “Nanti kita bicarakan setelah semuanya berkumpul”

“Aku khawatir ini sangat serius”

Yeoja paruh baya tetapi masih sangat cantik itupun tersenyum “Kau… mencintai anak-anak kan?”

“Te… Tentu saja, Aku mencintai Chan Yeol, dan juga anakmu Baek Hyun. Dia juga sudah kuanggap anakku sendiri, tapi kenapa kau bertanya hal yang seaneh ini?”

Tidak ada jawababn, hanya senyuman yang sarat akan makna.

“Aku pulaaaannnggg…”

Seruan khas itu membuat sepasang suami istri ini menoleh ke depan.

“Masuklah chagi” sambut eommanya.

Baek Hyun yang mendengar itu langsung menuju ruang makan di mana Ayah dan ibunya menyambut “Selamat pagi eomma, Aboji”

“Selamat pagi sayang”

“Selamat pagi Baek Hyun-ah. Sudah sarapan?”

“Tidak sempat Aboji, aku harus bersiap-siap ke sekolah”

“Hm Ya sudah… bergegaslah, dan panggil Chan Yeol untuk sarapan”

Eomma Baek Hyun menyela “Biar Eomma yang membawakannya sarapan, dia sakit”

Baek Hyun yang baru saja meneguk susunya langsung tersedak “Chan Yeol sakit? Sakit apa eomma?”

Sang eomma tidak menjawab, kepanikan Baek Hyun semakin menambah luka batinnya.

Baek Hyun berdecak karena ia tidak mendapat jawaban, segera ia berlari menuju lantai dua, kamarnya dan Chan Yeol. Semakin memperjelas bahwa…

Perasaan mereka bukan hanya sebatas saudara tiri…

 

~***~

 

Baek Hyun panik saat melihat kamarnya kosong, dan ketika ia mendengar suara-suara aneh di kamar mandi, ia langsung menerobos masuk.

“Ukhuuk… Uhuukk… Hueeeekkk”

Chan Yeol yang tengah merasakan efek mabuknya semalam kini berdiri di depan washtafel karena perutnya terasa panas dan melilit. Alhasil, ia hanya bisa pasrah saat lambungnya protes dan memuntahkan semua isinya.

“Chan Yeollie.. gwenchana?” Tanya Baek Hyun panik. Ia segera menghampiri Chan Yeol dan memijit tengkuknya.

“Keluar…” Pinta Chan Yeol dingin.

“Ne?”

“Jangan sentuh aku… kubilang keluar…”

“Ta… Tapi kau”

 

Greb~

Brak~

 

Chan Yeol mencengkram kerah baju Baek Hyun dan menghempaskannya ke dinding “Kenapa kau tidak pernah mau mendengarku ha? Kubilang Keluar atau kubuat kau menyesal”

“Cha… Chan Yeol… apa yang… Akh…”

Baek Hyun mengeluh saat Chan Yeol mengeratkan cengkramannya di kerah baju Baek Hyun, membuatnya seperti tercekik.

“Apapun yang kulakukan, apapun yang terjadi padaku, semua itu bukan urusanmu”

“Cha… Chan Yeol…”

“Kini yang kusesali bukan karena Tuhan menakdirkan kita menjadi saudara… tapi… Tuhan membiarkanku terus mencintai namja sepertimu”

 

Baek Hyun terperangah. Chan Yeol yang dilihatnya seperti bukan Chan Yeol yang ia kenal, sungguh drastis, sungguh… “Chan Yeol…” Lirih Baek Hyun sembari menyentuh pipi namja jangkung itu.

“Kau masih berani menyentuhku?”

“Mianhae…” Ucap Baek Hyun terputus, karena tenggorokannya terasa tercekat akibat cengkraman Chan Yeol.

Namja jangkung itu mendesis, “Maaf? Sampai sejauh ini yang bisa kau katakan hanya maaf? Aku memohon bahkan mengemis padamu untuk kembali bersamaku tapi kau enggan, bahkan bila aku sudah menemukan jalan keluar yang terbaik untuk kita pun kau enggan. Sementara Kris… setelah pengkhianatan yang ia lakukan padamu, kau begitu mudahnya kembali padanya? Manusia macam apa kau Byun Baek Hyun?”

Namja mungil itu memejamkan mata, tak sanggup matap sepasang mata terluka di depannya, “Apa yang bisa kita lakukan? Aku kakakmu Park Chan Yeol…”

 

Braaakkk…

 

Seperti de javu, tembok di sebelah teliga Baek Hyun retak dan tak lama mengalir darah di sela-sela punggung tangan Chan Yeol yang masih menapak di sana. “Berhenti mengatakan hal menjengkelkan itu atau…”

“Atau apa? Kau mau apa? Membunuhku? Geure… lakukanlah. Kau pikir hanya kau yang menderita? Kau pikir hanya kau yang terluka? Tahukah kau bagaimana aku menyambut pagi setiap harinya? Selalu, dalam nafasku kuminta pada Tuhan agar Ia terus mengingatkanku bahwa kau adikku, bahwa kau adalah seseorang yang tidak bisa kucintai, dan pada malamnya aku hanya bisa meminta maaf pada Tuhan karena walaupun Ia terus mengingatkanku bahwa kau adikku… perasaan cinta ini tak kunjung sirna. Selalu… hanya bisa melihatmu sebagai Park Chan Yeol yang sejak dulu kucintai…”

Chan Yeol merenggangkan cengkramannya di kerah baju Baek Hyun, namun kini ia cengkram kedua pundak namja mungil itu “Kau masih bisa berbohong Byun Baek Hyun? Kau bilang kau masih mencintaiku? LALU APA YANG TELAH KULIHAT? KAU BERCIUMAN BEGITU HEBOHNYA DENGAN KRIS… ITU APA? ILUSI?”

Baek Hyun tidak menjawab, hanya bisa menahan agar air matanya tidak keluar bergerombol. Lihat bagaimana kehidupan mempermainkannya. Saat ia bersama Kris, sudah ia patenkan hatinya untuk memilih namja itu, tapi lagi-lagi, saat ia bersama Chan Yeol, ia seolah tak sanggup mengatakan bahwa ia mencintai Kris, karena kenyataannya nama Park Chan Yeol kembali menguasainya.

Munafik kah ia?

Dirinya sendiripun tak mampu mengiyakan.

“Siapa kau Byun Baek Hyun… siapakah kau? Aku betul-betul tak lagi mengenalmu” Chan Yeol luruh ke lantai, bersimpuh dengan kedua tangan bergelantungan di lengan Baek Hyun. Ia menunduk, tapi bahunya yang bergetar menandakan bahwa namja jangkung itu menangis.

Baek Hyun hanya bisa memalingkan wajahnya sembari mengatupkan bibirnya serapat mungkin.

Naas… matanya panas, dan akhirnya hanya bisa menemani Chan Yeol dalam diam dan tangis.

Dan tanpa mereka sadari, seseorang yang paling menyesali semua ini berdiri dan bersandar di tembok tekat pintu kamar mandi yang terbuka, mulutnya tertutup rapat dengan kedua tangan agar tangisnya tak terdengar.

Sekarang ia sadar, seberapa besar ia telah melukai anak-anaknya.

 

~***~

 

“Yeobo… ada apa sebenarnya?”Tanya ayah Chan Yeol begitu melihat istrinya tiba-tiba saja menangis saat turun dari lantai dua dan berlari memeluknya.

“Kita harus menghentikannya yeobo… kita harus menghentikan semua ini… aku sudah tidak sanggup melihat penderitaan mereka” Raung istrinya.

“A… ada apa? Aku tidak mengerti… hentikan apa? Penderitaan apa? Siapa?”

Eomma Baek Hyun melepas pelukannya dan menatap suaminya dengan wajah banjir air mata “Demi anak-anak…” Ia menarik nafas, berusaha meneguhkan hati “Ceraikan aku sekarang”

 

Pletaaarrrr…

 

“MWORAGOYO??? KANG SORA BICARA APA KAU???”

Yeoja itu menelan ludahnya susah payah “Kita melakukan kesalahan sejak awal Yeobo… kita berpikir dengan menikah, maka anak-anak akan bahagia memiliki orang Tua lengkap. Tapi… inilah kesalahan terbesar kita yang tidak kita sadari”

“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti…”

Eomma Baek Hyun berusaha menguasai tangisnya “Kita salah…. Pernikahan kita bukannya membawa kebahagiaan untuk anak-anak kita… tapi justru penderitaan berkepanjangan”

“Apa maksudmu? Kumohon bicaralah yang jelas…”

Eomma Baek Hyun menarik nafas dalam-dalam… “MEREKA SALING MENCINTAI… MEREKA TERLAHIR BUKAN UNTUK MENJADI SAUDARA… TAPI SEPASANG KEKASIH….”

Namja paruh baya itu membelalak “Apa ini?”Lirihnya tak percaya.

 

“Selamat pagi.  Ada orang di rumah?”

Dua orang itu langsung menoleh begitu ada yang menginterupsi di depan. Eomma Baek Hyun hendak menerima tamu itu, tapi suaminya mencegat tangannya.

“Biar aku saja, benahi dulu dirimu. Kau kacau sekali sampai mengatakan hal yang bukan-bukan, nanti kita lanjutkan”

“Yeobo… aku…”

“Kumohon… aku belum ingin mendengarnya lagi”

Eomma Baek Hyun menghela nafas kemudian mengangguk, membiarkan suaminya beranjak ke depan unuk menerima tamu pagi itu.

Keningnya berkerut saat mendapati siapa yang bertamu. Perkirannya, pemuda itu seusia Chan Yeol dan Baek Hyun, jadi mungkin temannya.

“Cari siapa anak muda?”Sambut ayah Chan Yeol.

“Apa ini rumah Byun Baek Hyun?”

“Benar, masuklah…”

“Terima kasih, anda ayahnya?”

“Benar. Kau temannya?”

Pemuda itu tersenyum “Bukan”

“Lalu?”

Senyum itu semakin merekah, kemudian mengambil sesuatu di balik saku jacketnya dan mengacungkannya ke arah ayah Chan Yeol, “Aku adalah Malaikat maut untuknya”

 

Dooooorrrrrr~

 

 

~***~

 

Kris masuk ke dalam rumahnya, seperti biasa disambut oleh beberapa pelayan. “Ayahku sudah pulang?”Tanya Kris begitu kepala pelayan menyambutnya.

“Belum Tuan, Masih ada keperluan dinas di Jeju, jadi mungkin besok”

Kris mengangguk, “Lalu Tao?”

Kepala pelayan itu mengguman dengan wajah cemas “Semalam Tuan muda Tao pulang dalam keadaan kacau, eum… dan setelahnya terdengar bunyi aneh dari kamar anda beberapa kali. Pagi-pagi sekali, Tuan Muda Tao juga sudah pergi entah kemana”

Kris mengerutkan keningnya “Bunyi aneh? Seperti apa?”

“Saya… tidak bisa membayangkan Tuan, tapi.. seperti suara letusan… eum… mungkin senjata api…”

Mata Kris membelalak sempurna, seketika ia berlari ke lantai dua menuju kamarnya. Dan baru di pintu kamar, ia sudah di sambut oleh sebuah memo dengan font dari darah yang beruliskan

“Welcome Home Gege, semoga kau suka hadiahku”

Kris segera merobek memo berdarah itu dan menerjang pintu kamarnya… dan…

Alangkah terkejutnya ia dengan pemandangan yang menyambutnya…

Hadiah yang dimaksud Tao adalah…

 

 

TO BE CONTINUED

Hehehehe hadiahnya TBC.

Penasaran? Pengen tau kelanjutannya? Pengen tau aja atau pengen tau banget? *Ditampol berjamaah

sekali lagi Next part itu udah END. Jadi bakal ALF protek dengan PW yang…um belum kepikiran. Jadi yang bisa minta PW adalah, yang udah komen dari chapter 1 sampe chapter ini. di blog loh, ALF gak terima alasan yang bilang gini “Aku udah komen di FB”. Ya kalau begitu tungguin ALF kirim ke FB aja, tapi jaraknya sebulan dari tanggal publishnya di blog (*Dibakar Chan Yeol ama Kris, di tiup Se Hun, dikubur D.O).

jadi yang komennya belom lengkap, harap segera dilengkapi, untuk chap 8 bakal ALF cabut(?) PW nya, dan chap 5 tetap di protek, biar gak ribet minta PW. Mintanya ke asistennya ALF aja. si Ilam kalau mau cepat. Soalnya dia OL setiap saat. Search aja “Jung Arnilamda” itu Fb nya. Atau SMS ke nomornya 083196321116. Jangan ke ALF lagi, ALF  lagi kere gegara paket internetan (bukan pelit loh, beneran). Oke, jadi jangan marah kalo SMS nya gak di balas.

Sekalilagi…. ALF nge protek bukan pelit, tapi segala sesuatu itu ada timbal baliknya. ALF gak minta duit, ALF gak minta pulsa (tapi kalo ada yang ikhlas ngasih ALF gak nolak juga kok *plak). Ini dikerjainnya lama loh, dipikir, diketik, diedit dan… yah… gak gampang lah walopun hasilnya gak bagus-bagus juga, tapi tetep aja ini nguras tenaga.

Jadi intinya SR pergi dulu jauh-jauh karena ALF nggak bakal ngirim ke FB kalo komentar di blog belum sampe 100 wkwkkwkwkwkw sadis ye. Ya eyalah, orang udah END juga, (chapter 11 nanti maksudnya).

Ah dan satu lagi, hal yang paling penting dari yang paling penting.

JANGAN NYEBARIN PW SEENAKNYA… kalo semisal ada temennya yang baru baca, ajak aja baca dari chap 1, suruh komen juga dari chapter 1. Kalo semisal ada yang nyebar PW apalagi ke SR, ALF sumpahin nggak kawin-kawin 7 turunan. (Loh, kalo gak kawin nggak punya keurunan dong…) pokoknya sesadis mungkin  deh.

ALF lagi PMS nih, jadi bawaannya gini. Harap maklum, tapi yang di atas serius loh. Okeeehhh

 

Nah komennya yah… *Bawa Baek Hyun ke kamar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

329 thoughts on “[FF] Love & Pain-//YAOI// [Chapter 10]

  1. Nah kan baru aja hatiku lega eh sekarang malah nyesek lg. Haduh kenapa jadi gini ceritanya? Udah mau end tp konflik masih ada.

    Itu ayah chanyeol beneran tewas kah?
    Kalo ky gni biar lah chanyeol jg ikutan tewas agar dy tdk merasakan sakit lagi dan juga KrisBaek bisa bersama,krn sumpah aku gk tega bgt sm chanyeol,mati demi melindungi org yg d cintai bukan sesuatu yg salah kan.

  2. ㅠㅠ… so baby don’t cry tonight~ eodumi geochido namyeon~

    huwaaa apa itu… kasian chanyeolll~ baekkie~ah jeball jangan menyakiti chanyeol lagi…😥😥
    akhirnya eomma baekhyun tau kalau chanbaek saling mencintai…

    Siapa itu?? knp bunyi “doooooooorrrrr” apakah tao????
    aku kira tao bener2 akan meninggalkan kehidupan mafia~ …. km hrs berubah tao demi kris demi cinta kamu dan krissss~

  3. PLIS CHAPTER YG INI AKU GK BISA NGOMONG APA2 T.T
    ini sangat… Ya Tuhan ceritanya luar biasa, aku, aku aaaaaa suka banget terutama adegan yg eomma Baek akhirnya tau tentang cinta ChanBaek T.T
    daaann ayah Chan duh, ini jadi jalan buat cinta ChanBaek aaaaa bagus banget ceritanya ini sumpah.. >///<

  4. astaga ff ini nyesek banget yah, terutama chanyeol. Ya allah dia sabar banget sumvehhh deh. Kalo gue jadi dia gua udah bunuh diri kali yak. Bener kata chanyeol jelas2 baek tau kalo kris uda selinkgkuh eh tapi dia malah balikan lagi sama kris. Giliran dia yang terluka chanyeol pasti akan selalu ada buat dia, tapi pas chanyeol terluka baek pasti gak bakal ada. Itu endingnya kenapa gitu, jangan2 entar ayahnya yeol matii terus akhirnya ntr chanbaek bakalan bersatuu (iya kan kak ??) sok tau banget deh elo haha #plakk .

  5. kak,ktanya kaka baekyeol shipper. kok hmpir semua ff disisni krissbaek. sdih kak bacanya. nyesek bgt. situ jahatnya baek. mnyia-nyiakan perasan cinta chanyeol. dan sgitu sabatnya chanyeol. klo ku jd chanyeol, ku bkal marah bgt. d gk kn mau lg brhubungan dgn baek. memutusinya secepat mngkin. dn gk kan mnoleh kbelakang sedikitpun. sekalipun itu baek yg memanggil untuk minta balikan. isss….rasanya geram. ff kk ni bner2 daebak. aku selalu trbwa emosi….

  6. bener kata chanyeol, ia sudah ga mengenal baekhyun.
    baekhyun yg memberinya luka, memintanya mengakui kalau ia hyungnya tp saat chanyeol berusaha menerima dan menganggapnya hyung, Baekhyun malah menariknya lg, menciumnya, mengatakan cinta dan parahnya tanpa sadat baekhyun tak ingin chanyeol menjadi adiknya.
    seperti kata kak ALF…. baekhyun menenggelamkan chanyeol, mengangkat, menenggelamkan lg, hingga chanyeol merasa sakit, dan sesak.
    Nah oemma udah tau kenyataan kedua anaknya saling mencintai, dan mengambil keputusan untuk bercerai, tp apa itu jalan keluarnya?
    Cerai, lalu meminta kedua anaknya bersatu, apa mudah, jng lupa omma dan appa jg saling mencintai,
    dan lagi sudah ada kris di hati baekhyun.
    Yahh… apa yg dilakukan Tao apa dia nempak appanya baekhyun?
    huuwaaaa pengen cepet lanjut….

  7. Ah eonni mutusin endingnya kok gitu udah dek-dekkan nih
    Hadiah apa dari tao? Trs gimana orang tua baekhyun-chanyeol ?
    Intinya aku pengen tau ending nya eonni jebal…jebal….jebal…
    Imajinasiku di ff ini udah porak-poranda(?)
    POKOKNYA….. ALF-JJANG….
    Semangat buat eonni
    Eonni ngomong2 apa sebutan buat fans mu ini ….. ❤

  8. huaaaaa knpa baekhyun hatinya gampang goyahhhhhhh-_„- chanyeol juga:’3 isshhhhh udh berusaha berubah tapi baekhyun nya-_- ab dbh .
    aaajjjhhhhh kgk bosen2 nya baca ff di neh blog apalagi ff ttng ChanBaek ♥♥

  9. hubungan chanbaek makin rumit, apalagi sekarang baekhyun udh maafin kris.
    sedih thor T_T berasa ikut ngerasain penderitaan chanyeol, pas ngeliat kris sma baekhyun ciuman di gang. aku nangis baca nya, hiks

    akhir nya eomma mereka tau juga klo sebenernya chanbaek saling mencintai. salut deh sma eomma baekhyun yg lgsg minta cerai, demi kebahagiaan anak nya. walaupn tanpa pikir panjang.

    itu tao kan yg dtg ke rumah baekhyun? atau orang suruhan dia? appa chanyeol ga mati kan? tpi kok ada suara tembakan nya? siapa yg di tembak? T_T

    makin rumit cerita nya, tapi makin seruuu
    keep writing! *chu

  10. Tuh Kan bener, Chanyeol tersakiti lagi /main biola terkecil di dunia ala Tn. Krab/
    Minta Chanyeol melupakan sesuatu yang begitu penting baginya dengan begitu mudah.. Baekhyun~ lama-lama kuculik kau😡😡

    Perkataan Chanyeol pas lagi mabuk emang menyakitkan. Dan emaknya Baek yang emang pada dasarnya ndak tau apa-apa ya kaget, tha? huh, cekat cekut di hati sama kepala konflik-nya 😀😀😀

    ARGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH~!!
    SERU, KAK!! SERU!! /tebar Confetti/
    Ya Allah, Dag-Dig-Dug serr ini jantung. :>
    Apa yah..
    ituyang terakhir.. Tao, kan?? Tao kan yang nembak?😮😮
    Dan yang kena tembak bapaknya Chanyeol?
    Keep writing, kak^^

  11. NJIIRR…. BAEK ELU PHP BANGET JADI ORANG,
    Elu yang pertama cium chanyeol dibukit, itu udah bikin chan terbang baek. Terus paginya elu baik-baikin dia, bikin chanyeol suka, bahagia. Siangnya elu cium chanyeol dihadapan kris, bikin chanyeol naruh harapan besar ke elu dan kemudian…. ELU SURUH CHANYEOL LUPAIN ??? WHAT THE…. itu sumpah bikin chanyeol langsung terjun kembali kebawah. Baek.. elu kejem baek..
    .
    “Saat aku menjadi diriku sendiri, kau mati-matian menolakku yang begitu mencintaimu, memaksaku menerima kenyataan bahwa kau adalah kakakku. Dan saat itu kulakukan, kaupun tidak suka karena sikapku begitu dingin padamu sementara itu adalah usahaku agar aku bisa mengubur perasaan gila ini padamu, selanjutnya, kau justru menampakkan rasa sakitmu padaku hingga mau tidak mau aku harus kembali lagi menjadi Chan Yeol yang dulu, mencoba menerimamu sebagai kakakku, mengubur cinta ini dalam-dalam, dan saat kau kembali terluka karena namja sialan itu, kau memberiku harapan baru, mengatakan padaku bahwa kau masih mencintaiku, membiarkanku menciummu, dan terakhir… kau memintaku melupakan semuanya karena hubungan persaudaraan kita ini? Dan sekarang apa? Saat aku kembali mencoba melupakannya, kau datang lagi padaku dan memintaku kembali menjadi Chan Yeol yang dulu?” Chan Yeol mendesis “Aku betul-betul tidak mengerti kau hyung”
    Bagian ini, adduuhh.. aku gak bisa bayangin perasaan chanyeol kak.. baek secara gak langsung ngebunuh chanyeol perlahan. TT.TT
    .
    Waktu chanyeol liat baekhyun sama keris ciuman… ugh~ pengen aku getok tuh kepala byun baekhyun. Dulu dia bilang nama Chanyeol berdiri megah dihatinya, nama keris Cuma menutupi sebagian, enggak semua. Tapi kalau emang begitu kenyataannya~ kenapa baek kembali lagi ke kris ?? dduuhh… plin-plan banget :3
    .
    DUAAARRR !!!!!!
    AKHIRNYA NTU EOMMA PEKA JUGA JADI ORANG :3
    KAK…
    “Atau apa? Kau mau apa? Membunuhku? Geure… lakukanlah. Kau pikir hanya kau yang menderita? Kau pikir hanya kau yang terluka? Tahukah kau bagaimana aku menyambut pagi setiap harinya? Selalu, dalam nafasku kuminta pada Tuhan agar Ia terus mengingatkanku bahwa kau adikku, bahwa kau adalah seseorang yang tidak bisa kucintai, dan pada malamnya aku hanya bisa meminta maaf pada Tuhan karena walaupun Ia terus mengingatkanku bahwa kau adikku… perasaan cinta ini tak kunjung sirna. Selalu… hanya bisa melihatmu sebagai Park Chan Yeol yang sejak dulu kucintai…”

    Itu maksudnya. Baekhyun masih cinta sama chanyeol ??
    YEAAAYYY!!!
    .
    Pasti yang ngebunuh itu TAO #EkspresiDatar. HADIAH ??? APAAN ?? apa itu sejenis daging berlumuran darah ??
    KAK LEOON..
    AKU MINTA PASSWORDNYA
    GIMANA CARANYA KAAK~~~

  12. Dan Lagi Lagi Lagi CHANYEOL YANG HARUS TERSAKITI. WAE? WAE? WAE BAEKHYUN AHH. aslinya sakit banget baca chap ini, Chanyeol kalo aku jadi kamu pendingan gue buang jauh jauh perasaan cinta itu dari Baekhyun deh, rasanya terhina banget gitu. aish aslinya chap ini bikin emosi, kesel, geuleuh(?) banget sama Baekhyun apalagi Kris. dan ah pokoknya kesel kesel kesel sakit sakit sakit dan uh oh itu siapa yang ditembak? dan apa yang ada di kamar Kris? oh my penasaran

  13. “Saat aku menjadi diriku sendiri, kau mati-
    matian menolakku yang begitu mencintaimu,
    memaksaku menerima kenyataan bahwa kau
    adalah kakakku. Dan saat itu kulakukan,
    kaupun tidak suka karena sikapku begitu
    dingin padamu sementara itu adalah usahaku
    agar aku bisa mengubur perasaan gila ini
    padamu, selanjutnya, kau justru
    menampakkan rasa sakitmu padaku hingga
    mau tidak mau aku harus kembali lagi
    menjadi Chan Yeol yang dulu, mencoba
    menerimamu sebagai kakakku, mengubur
    cinta ini dalam-dalam, dan saat kau kembali
    terluka karena namja sialan itu, kau
    memberiku harapan baru, mengatakan
    padaku bahwa kau masih mencintaiku,
    membiarkanku menciummu, dan terakhir…
    kau memintaku melupakan semuanya karena
    hubungan persaudaraan kita ini? Dan
    sekarang apa? Saat aku kembali mencoba
    melupakannya, kau datang lagi padaku dan
    memintaku kembali menjadi Chan Yeol yang
    dulu?” Chan Yeol mendesis “Aku betul-betul
    tidak mengerti kau hyung”
    disini aku ngerasain gimana prustasinya jadi cy. ya ampun. ga ngerti sama baek. ih egois sumpah
    kadang berharap cy nya mati aja biar baekhyun nyesel. atau kalo engga cy nya jadi cowo berengsek aja. terus taoris kembali ke china. haaah rumait bgt ya ampun :3 :”

    wow tao mau ngebantai keluarga cy? baguslah biar chanbaek mati. jadi ga ada krisbaek lagi :3
    tapi tetep aja gue berharap ending nya chanbaek bahagia :’3

  14. DAEBAK!!DAEBAK!!!

    Chan Yeol merana lagi perannya. ya ampun. kenapa lu perannya kesiksa mulu ya Yeol??
    *sroottt*
    *lap ingus bareng luhan*

    jd Baekki jg gak mudah. tp jadi Chan Yeol lebih gak mudah lagi.. dia seolah cm sebagai tameng buat Baekki. mereka pisah. Chan Yeol masih bertahan buat ngejar2 tp Baek Hyun yang denial.
    giliran Chan Yeol nyerah dan ngelepas Baek Hyun buat Kris, Gantian Kris yg bikin Baek Hyun sakit hati gegara keegoisannya.
    pas BaekHyun sakit hati ujung-ujungnya lari ke Chan Yeol juga.
    gimana nggak stress tuh si Chan Yeol. oke mungkin kesannya aku belain Chan Yeol disini.
    hehehe. emang iya sih. kasihan banget soalnya.

    pokoknya part ini feel hurt/pain nya(?) ChanBaek itu kerasaaaa banget. bikin arghhhh gimana yaa gak bisa dijelasin deh.

    Lalu soal Tao moga aja mereka bunuh bokap nyokap ChanBaek. biar ChanBaek bersatu lagi *abaikan*

    aku langsung ke next chapter aja ya kak. udah kepo banget ini. ga bisa ngebacot lebih banyak lagi disini.

    pokoknya kak Alf, jjang!!!

  15. Duh baby B, baru ajah disanjung dialem diogo(?), eh skr mlh ngcewain. Kyk dibawa terbang tinggiiii banget, udah di puncak ktinggian malah dijatohin tanpa aba aba(?)#deepsigh. Dan skr gak bisa juga nyalahin sikap kasar chanyeol. Soalnya jngnkan chanyeol, reader ajah yg baca pnya pmikiran yg sama, “sperti apa sbnrnya byun bacon itu???”#gettingslap.. Trus itu siapa yg ditembak, siapa siapa siapa?? Bdo’a moga bkn C/B..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s