[FF YAOI] Amaterasu (The Undying Flames)|| BaekYeol || – Sequel Avenger’s Fault [Chapter 4]


 

Fanfiction-BaekYeol/ChanBaek

Tittle: Amaterasu (The Undying Flames) – Sequel Avenger’s Fault

Author: AyouLeonForever

Cover pic/poster edited by: AyouLeonForever

Genre: Yaoi, Romance, Thriller, crimes, Tragedy

Length: Chaptered- Sequel

Rating: T, NC 17 (untuk adegan kekerasan dan darah-darahan(?), dan juga… ehem, a lil’ bit lime, maybe *evil smirk).

Main Cast:

  • Park Chan Yeol

  • Byun Baek Hyun

  • Kim Jong In/Kai

  • Lu Han

  • Oh Se Hun (yang dalam cerita ini udah almarhum)

  • Wu Yi Fan/Kris

Support Cast:

  • Do Kyung Soo

    • Kim Joon Myeon /Su Ho

    • Dan seseorang yang akan diungkap di akhir cerita.(sok misterius)

Disclaimer: GOD

COPYRIGHT: SEMUA ISI, ALUR/PLOT, IDE CERITA, OC, DAN DI LUAR DARI KARAKTER ASLI ITU MURNI PEMIKIRAN ALF (AyouLeonForever). JIKA ADA KESAMAAN CERITA, APALAGI KALO BENER-BENER MIRIP, CUMAN ALIH BAHASA AJA, ITU PERLU DIPERTANYAKAN (KEBAWA-BAWA). DILARANG MENJIPLAK, MENGEDARKAN, MENGKOPI PASTE, MENGALIH BAHASAKAN, TANPA SEIZIN PEMILIK. ALF SUMPAHIN MASUK NERAKA SEKELUARGA KALO KEJADIAN INI TERULANG LAGI  *sadis

 

Oh iya catatan kecil… mungkin readers bakal dipusingkan(?) ama chapter 4 ini karena ALF sengaja nggak memperjelas Point Of View nya siapa ini. biar lebih menghayati aja, seolah menebak “siapakah aku…” “dimana ini?” dan “kapan ini?” tapi ALF yakin, readers yang udah baca dari Avenger’s Fault bakal langsung tau, makanya ALF sedikit maksa readers buat baca Avenger’s fault biar feelnya dapet.

ALF sempat kaget baca ada komenan readers di AMATERASU chap 3 yang bilang “Aku baru tahu kalo Kris lumpuh” ya eyalah dirimu baru tahu, soalnya nggak baca sih di Avenger’s Fault, itu ada kalimat “Tapi aku masih bisa melihat sosok namja yang masih sangat muda, berusia sekitar 20 tahunan duduk di kursi roda yang di dorong pelan oleh seorang namja yang kiranya usianya 15 tahun, sepertiku”

Ah kebanyakan bacot ya ALF belakangan ini. aish jangan tanya kenapa deh… langsung aja ke TKP.

Tarik maaaaannnggg *lo kate dangdutan? (diseret readers)

 

AMATERASU CHAP 4







Hosh…hosh… hosshh…

Tidak… aku tidak ingin kembali…

Harus kemana lagi aku bersembunyi???

Pandanganku kabur. Wilayah ini terlalu gelap saat malam, ditambah hujan yang sangat deras ini mengguyur tubuhku yang lusuh.

“ITU DIA… CEPAT TANGKAP!!!”

Jantungku seolah meledak saat mendengar suara mengerikan itu. jumlah mereka ada 4 orang, bukankah itu terlalu berlebihan untuk mengejar orang lemah seperti aku.

BRUGH…

Sialnya aku menabrak tong sampah di gang sempit yang ternyata buntu. Bahkan Tuhan pun tidak ingin aku selamat…

“Tolong… aku tidak ingin kembali…”pintaku, atau lebih tepatnya mengemis.

PLAK~

“DIAM!”

Seorang pria bertubuh kekar yang kuketahui bernama Jim langsung menarik tanganku.

“Aku tidak ingin melakukannya… ini di luar perjanjiaaannn”pekikku sembari meronta.

“Dengan siapa kau membuat perjanjian? Selama kau sudah menjadi pekerja di Club malam, tidak ada kata perjanjian. Kerjamu bagus, gajimu juga akan tinggi”

“Tapi aku hanya bekerja sebagai pengantar minuman, bukan melayani tamu dengan tubuhku!”

“Apa kau buta? Kau tidak tahu siapa yang ingin menyewamu? Dia itu Tuan Han, pemilik organisasi terbesar ke dua di Beijing. Dia itu tamu kehormatan club kita. Jarang-jarang dia tertarik pada pekerja di Club kita. Seharusnya kau bangga, karena setelah kau melayaninya, kau pasti akan mendapatkan tip yang berlimpah”

“Tapi… aku tidak mau melayani siapapun dengan cara seperti itu… aku bukan pelacur”

Pria itu dan ketiga rekannya justru tertawa “lalu apa tujuanmu melamar pekerjaan di Club malam kami? Kau itu bekerja di sebuah tempat yang memang bertujuan untuk melayani tamu”

“AKU TIDAK MAU… AKU TIDAK MAU”

Pria bernama Jim itu berdecak “seret dia”

Aku membelalak, ketika dua pria lainnya langsung mencengkram lenganku. Tubuhku masih menggigil. Hujan memang mulai berhenti, tapi hawa yang disisakannya justru semakin menyiksa kulitku yang hanya berbalutkan pakaian bodoh yang sangat tipis, aku juga terpaksa memakai pakaian bodoh ini karena mereka bilang ini adalah pakaian seragam para pekerja. Ditambah hawa malam ini membuatku tidak bisa meronta sedikitpun melawan tubuh tubuh berotot itu.

“LEPASKAAANNNN!” pekikku sebisa mungkin.

Tep…

Tep…

Langkah mereka berhenti, dan kupikir mereka ingin melepaskanku karena permintaanku. Tapi saat kufokuskan ke depan, tampaklah seseorang yang berdiri di ujung gang sambil membawa satu krat minuman kaleng.

“Hey pria asing… mau apa kau?”bentak Jim yang berdiri di depanku.

“hanya lewat, tapi ulah kalian merusak pemandangan”jawabnya santai.

Perlahan kupicingkan mataku, hendak melihat siapa pria itu, tapi sulit karena dia membelakangi cahaya, yang bisa kusaksikan hanya siluet hitam yang disekitarnya dipantulkan cahaya lampu yang cukup remang.

“menyingkirlah, karena kami tidak ingin mencari masalah, kami hanya menyelesaikan urusan di sini”balas Jim lagi.

Pria itu meletakkan krat minumannya di dekat tembok kemudian berjalan menghampiri kami. Sempat terlintas di otakku bahwa orang ini sengaja dikirim Tuhan untuk menolongku. “Kalian tahu wilayah siapa yang kalian tempati mencari masalah ini?”

Jim dan rekan-rekannya bertatapan “Kami tidak ada urusan denganmu, jadi menyingkirlah sebelum kesabaran kami habis”

“Jadi kalian benar-benar tidak tahu bahwa ini adalah wilayah kekuasaan WYF group? Ah… orang-orang rendah seperti kalian jelas tidak mengenal nama itu karena WYF group mengkhusus untuk perusahaan” pria itu melipat tangan di dada “kalau kusebut nama… Kris Wu?”

Entah apa pengaruh nama itu hingga membuat 4 pria yang menahanku ini tersentak bersamaan.

“Jim… kita habisi saja anak ini sebelum kita terlibat masalah dengan Organisasi Tuan Kris Wu”bisik pria yang memegang lengan kiriku.

“Benar Jim, dia hanya satu orang, habisi dia baru kita kabur sebelum ada yang melihat”

“baiklah…baiklah…. salah satu dari kalian jaga anak ini, jangan sampai kabur. Yang lainnya, ikut aku lenyapkan pria itu”

Dan aku membelalak kaget saat tiba-tiba saja Jim dan kedua rekannya langsung menyerang pria tadi tanpa aba-aba. Tubuhku bergetar hebat karena aku paling tidak bisa melihat perkelahian seperti ini. dengan payahnya aku justru luruh ke tanah dan menatap tercengang apa yang terjadi di depanku.

Mataku kembali membulat saat dalam hitungan menit, Jim dan kedua rekannya tersungkur ke tanah. Aku tidak bisa menelaah apa yang terjadi hingga 3 orang bertubuh besar ini tidak bisa menjatuhkan pria tinggi berpostur sedang itu.

“Hei… lama sekali, kau membuatku menunggu sampai berkarat di mobil”seorang pria tinggi lagi muncul. Dan aku sedikit terkejut mendengar pria itu berbicara dengan bahasa Korea“Eh, ada masalah?”

“Ne, lihat apa yang mereka lakukan pada namja cantik itu”

“diperkosa?”

“mungkin, dan kita jelas tidak boleh membiarkannya selama ini masih wilayah Kris hyung kan?”

“siapa namja itu? dia sepertinya bukan orang sini”

“ah sudahlah, kalau kau takut bermasalah, tunggu saja aku di mobil”

“Aish… jinjja, ya sudah kubantu membereskannya, atau Sajang-nim akan menghukumku karena membuat latihanmu tersendat”

2 pria yang sama-sama tinggi itu mendekat.

BUGH~

Pria yang pertama tadi langsung menghantam pria yang mengunciku. Hanya 3 kali pukulan tanpa perlawanan berarti dan aku pun bebas.

“kau tidak apa-apa?” tanya pria itu.

DEG~

Tepat saat ia berjongkok untuk menanyakan keadaanku, detik itu pula lah bisa kusaksikan wujud dan wajah sebenarnya malaikat yang dikirmkan Tuhan untuk menolongku ini.

Dia sangat…

Tampan

Entah karena dia telah menolongku hingga pesonanya menyilaukanku, tapi aku bersumpah, pria ini adalah pria yang paling tampan yang pernah kulihat seumur hidupku.

“a… aku baik-baik saja”jawabku gugup. Mungkin juga pengaruh kedinginan. Dan ajaibanya, pria ini tahu. Maka dari itu ia melepas jacket kulitnya dan memasangkannya di tubuhku.

JLEB~

BRUGH~

Kami terkejut saat mendengar suara orang ambruk.

Pria yang menolongku ini langsung membelalak “Kai-Shii… apa yang kau lakukan?”

Pria yang dipanggil Kai itu hanya terkejut sedikit, kemudian menendang tubuh Jim yang entah dari mana awal mulanya hingga ia tersungkur penuh darah dan menindih kaki pria bernama Kai itu.

“Maaf…maaf, namja ini hendak menikamku dari belakang, aku hanya memutar tangannya dan mengarahkan pisau yang dia pegang ke dadanya sendiri”jawab Kai santai. Dan aku betul-betul tidak percaya dengan ekspresinya yang sesantai itu setelah melenyapkan nyawa manusia.

“aish… jinjja, bagaimana kalau mereka ini salah satu dari anggota Organisasi sekutu?”

“kau terlalu khawatir Se Hun-shii” Kai mengeluarkan sesuatu dari dari balik jacketnya dan…

Door..

Door…

Door…

3 rekan Jim yang tadinya hanya meringis kesakitan di tanah akhirnya meregang nyawa setelah kepala mereka ditembusi peluru yang dilesatkan Kai tadi dalam hitungan detik.

“beres… tanpa jejak. Hujan akan menghapus sidik jarimu, jadi kita pergi sekarang”lanjut Kai santai.

“kau…”

Kepalaku pusing, perutku betul-betul mual, melihat darah berceceran dan…

“Hey… jangan pingsan… hey…”

Dan akupun tidak bisa melihat dan merasakan apa-apa lagi selain…

Gelap.

*~~Amaterasu~~*



Hangat…

Empuk…

Lembut…

Itulah kesan yang diterima tubuhku saat seluruh inderaku mulai kembali bekerja. Saat kubuka mata lelahku, sebuah ruangan dengan nuansa putih elegan menyambutku. Ini kamar tidur, yah, siapapun bisa tahu. Tapi kamar siapa ini???

“kau sudah sadar?”tanya seseorang mengejutkanku.

Pria itu, pria yang menolongku semalam, yang kalau aku tidak salah ingat, pria bernama Kai memanggilnya dengan nama Se Hun.

Dan oh Tuhan apa yang dikerjakannya itu? dia baru saja keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk putih melilit di pinggangnya, mengekspos bahunya yang lebar, tulang selangkanya yang seksi, dadanya yang bidang, serta perutnya yang… baiklah, tidak begitu berotot, tapi sangat memukau.

Ia menghampiriku dan duduk di tepian tempat tidur persis di sebelahku yang terbaring. Bisa kulihat sebuah kalung berbandul peluru yang menjuntai di lehernya yang masih sedikit basah, menambah kesan betapa kerennya pria ini.

Dengan cepat kubetulkan posisiku hingga duduk bersandar di tempat tidur dan membetulkan selimutku. Eh… sejak kapan aku memakai pakaian ini?.

“Jangan cemas, aku tidak berbuat macam-macam padamu, hanya menggantikan pakaianmu, karena kulihat pakaian yang kau pakai tadi malam sangat tidak layak”ujarnya seperti membaca pikiranku.

Xie Xie ni… tuan…”

“jangan panggil aku Tuan, kita sepertinya seumur. Panggil saja aku Se Hun”

“Se… Se Hun?”

“benar…”

Pria itu menyunggingkan senyuman yang sangat hangat. Dan tidak perlu kutanyakan kenapa jantungku berdebar tidak karuan seperti ini?

Cklek~

Kami berdua langsung menoleh ke pintu saat seseorang masuk begitu saja tanpa mengetuk.

Se Hun langsung melempar sebuah bantal ke orang itu, yang kuingat semalam dipanggil dengan nama Kai “Hya! Siapa yang menyuruhmu masuk begitu saja???”

“Hey tenang… tenang. Aku ke sini untuk menjemputmu, sajang-nim sudah meloloskanmu di bidang ilmu bela diri, sekarang saatnya kau latihan menembak”jawab Kai itu. entah apa alasannya saat kedua orang ini bercakap dan tidak melibatkanku, mereka menggunakan Bahasa Korea, bukan bahasa Mandarin.

Terlihat Se Hun membelalak “secepat itu??”

“Kenapa? Kau belum siap pegang senjata?”

“Bukan… tapi…”

Kai tertawa kecil kemudian menatap ke arahku, itu membuatku tersentak kemudian menunduk. “kalau dipikir-pikir, semalam itu kita berbuat baik, benar kan Se Hun-shii? Wah… perlu diabadikan”

“berbuat baik apanya? Kau menghabisi 4 nyawa sekaligus tidak cukup semenit”

“hey, ambil sisi positifnya, kau tidak kasihan melihat namja cantik ini diperkosa oleh 4 namja berotot itu? setidaknya mereka mendapatkan ganjaran”

Se Hun berjalan menuju lemarinya dan mengambil sepasang pakaian “dia tidak diperkosa”

“dari mana kau tahu?” Kai menatapku dan Se Hun bergantian “oh… kau memastikannya sendiri?”

Se Hun berdecak setelah melempar jeans nya pada Kai “aku yang menggantikan pakaiannya, tidak ada tanda-tanda kalau dia diperkosa”

BLUSH~

Wajahku memerah. Mereka mungkin tidak tahu bahwa aku mengerti bahasa Korea hingga mereka bisa berbicara sevulgar itu.

“Jadi kau melihat seluruh tubuhnya?”pekik Kai.

“hei… aku mematikan lampu”balas Se Hun.

“tapi tetap saja kau melihatnya… seluruh bentuk tubuhnya”

“lalu kenapa?”

Aku menelan ludah “Eum… chogiyo…. bi… bisakah kalian tidak membahas itu saat aku ada di sini?”

Se Hun dan Kai bertatapan sejenak kemudian mengalihkan pandangan ke arahku dengan mata membulat “KAU BISA BAHASA KOREA???”

“N… Ne…. aku lulusan salah satu SMU di Seoul, aku baru tamat 2 tahun lalu”

Wajah Se Hun dan Kai terlihat shock.

“siapa kau sebenarnya?”tanya Se Hun akhirnya.

“Lu Han imnida… usiaku 21 tahun, aku memang orang China Asli, mendiang orang tuaku tinggal di Beijing, sebelum aku dikirim ke Korea Selatan untuk melanjutkan sekolahku. Setelah tamat 2 tahun lalu, dan sempat berkuliah selama setahun, aku kembali ke Beijing dan mendapati bahwa kedua orang tuaku telah tiada dan meninggalkan banyak hutang yang terpaksa harus kulunasi karena aku adalah anak mereka. Dan semalam kalian mendapatiku bukan nya aku diperkosa, hanya saja tempat di mana aku bekerja memaksaku melayani tamu layaknya seorang pelacur”jawabku lancar, tanpa cacat.

“errr… Se Hun-shii, kutunggu di luar.. annyeong” pamit Kai.

“YA! Chakkaman… Kai-shii, kenapa kau kabur…”seru Se Hun panik. Ia tidak jadi memakai pakaiannya, hanya menatapku serba salah.

“Gwenchana… kau dan temanmu sudah menolongku, jadi aku tidak mempermasalahkan apapun”

Se Hun menghela nafas kemudian menghampiriku “Maaf, aku sedikit kurang sopan padamu, tapi aku berjanji setelah latihanku selesai nanti, aku akan mengantarmu pulang”

Aku jelas terkejut bukan main “Shireo…”

“Mwo? Waeyo?”

“Aku… tidak punya rumah. Jika aku kembali ke club itu… maka aku pasti mati”

Se Hun terlihat kebingungan “Tapi aku jelas tidak bisa selamanya membiarkanmu tinggal di sini”

“Tolonglah Tuan… maksudku, Se Hun-shii… akan kulakukan apapun. Akan kuabdikan seluruh hidupku padamu, atau apapun sesuai perintahmu. Tapi kumohon jangan kembalikan aku ke club itu”

“sepertinya kau salah persepsi terhadapku Lu Han-shii… aku bukan orang baik”

Aku menggeleng kuat “Aku tidak peduli… seburuk apapun dirimu, aku akan mengikutimu”

“Kau lihat tindakan Kai semalam? Aku juga akan menjadi orang seperti itu.”

GLEK~

“tapi tenang saja, aku tidak akan mengembalikanmu ke club itu, akan kucarikan sebuah rumah yang bisa kau__”

“maka jadikanlah aku budakmu Se Hun-shii…”

Se Hun membelalak “bicara apa kau?”

“Entah kau adalah pembunuh, perampok, atau mafia sekalipun… aku tidak peduli. Hidupku sudah hancur tanpa tujuan sejak kematian orang tuaku, dan setelah kau menyelamatkan kehormatanku, aku telah bersumpah untuk mendedikasikan seluruh hidupku hanya untukmu Se Hun-shii”ucapku tulus.

“Lu… Lu Han-shii… ini sangat”

“Jeball…”

Se Hun menatapku lurus-lurus, mungkin mempertimbangkan keseriusanku “Arasso, tapi bukan berarti aku setuju, kita bicarakan lagi nanti seusai aku latihan

Ada sedikit harapan yang kutangkap dari nada bicaranya “Ne… akan kutunggu, kapanpun itu”

*~~Amaterasu~~*



Aku langsung menyambut Se Hun saat ia pulang cukup larut, malam itu. dia terlihat sangat lelah dan … akh, aku sangat mencemaskannya. Segera kubantu ia melepas jacket kulitnya yang kelihatan sangat berat itu.

“sudah kusiapkan air hangat untukmu mandi, setelah itu temui aku di ruang makan untuk makan malam”ucapku lembut kemudian beranjak meninggalkannya.

TEP~

Aku menoleh saat Se Hun menangkap tanganku.

“Jangan bersikap seolah kau adalah pelayanku… aku tidak suka”tegurnya tajam.

“Apa sikapku terlihat seperti pelayan? Aku melakukan ini sebisaku untuk menolongmu. Kau sangat lelah dan jelas tidak ada tenaga untuk menyiapkan makanan. Terlebih kau hanya tinggal sendiri di apartement ini”

“aku tidak tinggal di sini”

“Ne?”

“bisa dibilang ini hanya tempatku menenangkan diri dari kepenatan di istana Kris hyung”

“Kris hyung?”

“sudahlah… nanti akan kujelaskan. Seperti saranmu, aku akan menemuimu di ruang makan setelah mandi”

Ia berdiri, mengacak rambutku sejenak kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi.

DEG~

Tuhan… salah kah aku kalau sudah kupatenkan hatiku untuk mencintai namja ini? baru terhitung 1 x 24 jam aku mengenalnya tapi aku telah mempunyai perasaan sedalam ini…

Dia adalah penyelamat hidupku… kehormatanku…

Kalau bukan karena dia… aku pasti mati.

*~~Amaterasu~~*

“mungkin aku bisa bercerita sedikit mengenai diriku Lu Han-shii, sebagai pertimbangan juga apakah kau tetap akan ikut denganku?”Se Hun membuka obrolan setelah kami menyelesaikan makan malam dan bersantai di ruang tamu.

“Ne… aku siap mendengarkan, tapi percayalah Se Hun-shii, apapun yang akan kau katakan, tidak akan merubah keputusanku”

Ia menghela nafas “Arasso… kita mulai” ia memejamkan mata sejenak, kemudian menatapku serius “Namaku Park Se Hun, usiaku sudah menginjak 19 tahun. 4 tahun yang lalu orang tuaku meninggal dalam sebuah pembantaian yang dilakukan oleh orang terdekat keluarga kami, dan yang tersisa hanyalah aku dan kakakku”

GLEK~

Apa benar ini hanyalah sebuah pembukaan? Kenapa aku merasa ini sudah mencapai klimaks?

“Kris hyung dan Kai menemukan aku dan kakakku. Dengan alasan akan mendidik kami untuk menjadi seorang Avenger, kami akhirnya setuju dibawa ke Beijing dan memulai latihan ini”

“Avenger?”

“Ne, Avenger… penuntut balas. Dalam artian… kami akan dididik oleh Kris hyung sampai kami benar-benar siap untuk membalaskan dendam kami”

“a… aku masih tidak mengerti”

“Hm.. hanya orang-orang seperti kami yang bisa mengerti”

“la… lalu hubunganmu dengan Kris sajang-nim ini seperti apa?. kenapa kau memanggilnya Hyung sementara Kai memanggilnya sajang—nim?”

Se Hun menghela nafas, mungkin karena aku terlalu banyak bertanya “berbeda dengan Kai yang dipungut oleh Kris hyung saat usianya 12 tahun. Kai sudah menjadi tangan kanannya, jadi tidak heran kenapa dia terlihat begitu setia pada Kris hyung. Sementara bagiku dan kakakku… bisa dibilang Kris hyung adalah orang tua angkat kami, tapi berhubung perbedaan usia ku dengannya hanya 7 tahun, jadi kupanggil dia dengan sebutan hyung”

“er… mengenai Kakakmu?”

“Ne… aku punya seorang kakak yang seusia denganmu” Se Hun sedikit menyunggingkan senyumannya, walau hanya berbentuk sebuah garis lurus, tapi itu cukup mewakili ekspresi hangatnya “kupikir karena wajahmu sangat manis, dan kelihatan mungil… awalnya kukira kita seumur, tidak kusangka kita justru tarpaut 2 tahun”

Aku tersipu, kemudian menunduk “Eum… lalu… kemana kakakmu?”

Se Hun menghela nafas seolah sangat lelah“Entahlah… sebulan yang lalu, ia hanya mengatakan padaku akan menjalani ujian terakhir dari Kris hyung, tapi setelah itu, aku sudah tidak pernah lagi bertemu dengannya”

Se Hun menyentuh kalung berbandul peluru yang menjuntai di lehernya “Hanya ini hal yang ditinggalkan kakakku sebelum ia lenyap entah kemana. dan saat kutanyakan pada Kris hyung, jawaban yang kudapat hanyalah…”Se Hun menelan ludahnya dan menatapku nanar “kakakku gagal dalam ujian terakhir itu”

Aku bersumpah, betul-betul tidak mengerti tentang apa yang dibicarakan Se Hun. Aku memang sangat fasih berbahasa Korea, tapi ini bukan persoalan bahasa. Tapi inti di balik cerita samar yang disampaikan Se Hun padaku.

Ia menghela nafas sedikit kemudian menatapku “Kau pasti tidak mengerti, karena aku menceritakannya dengan setengah-setengah. Ah entah kenapa aku begitu ingin menceritakan semua bebanku padamu”

Aku tersenyum padanya “Suatu kehormatan bisa menjadi tempatmu berbagi Se Hun-shii. Kau adalah penyelamatku, apalah yang bisa kulakukan dengan kelemahanku ini, tapi percayalah, aku adalah pendengar yang baik”

“gomawo… sebenarnya Sudah lama aku ingin mempunyai teman untuk berbagi”

“eh… bukankah Kai-shii tadi adalah sahabatmu?”

Se Hun menggaruk tengkuknya “Dibilang sahabat, mungkin iya karena kami sering bersama, dibilang rival… juga iya karena Kris hyung selalu membandingkan prestasiku dengannya. Tapi percayalah… tanpa menceritakan apapun padanya, orang itu sudah bisa tahu apapun tentang masalahku. Makanya aku malas menceritakan apapun padanya, dia tidak pernah menanggapi dengan serius”

“begini saja, kalau aku tidak bisa menjadi pelayanmu, mungkin aku bisa menjadi sahabatmu”

“sahabat?”

“Hm… teman berbagi keluh kesah atau apapun”

Mata Se Hun membulat “Jinjja?”

Aku mengangguk antusias “kenapa tidak?”

“oke…” Se Hun mengulurkan tangan kanannya padaku, dan kujabat penuh semangat.

Best friend..”

Se Hun kemudian melirik jam bundar di dinding “sudah sangat larut, mungkin ceritanya sampai di sini dulu, besok aku akan masuk kuliah, juga melanjutkan latihan”

“Ne… aku siap mendengarkan apapun dan kapanpun Se Hun-shii”

Se Hun mengacak rambutku kemudian berdiri sambil merengangkan otot punggungnya “maaf, kamarnya hanya satu…”

“Gwenchana, aku bisa tidur di sofa”

Ia malah tertawa kemudian menarik tanganku untuk masuk ke kamarnya “Tempat tidurku cukup luas, tidak apa-apakan sepasang sahabat tidur bersama?”

Blush~

“n…ne…”

*~~Amaterasu~~*



Se Hun betul-betul menjadikanku sebagai orang kepercayaannya, maksudku… segala hal yang menyangkut dirinya ia ceritakan padaku. keluarganya, tujuan hidupnya, apapun mengenai dirinya, dan itu membuatku semakin mengenalnya. Setiap hal yang ia kerjakan saat dia tidak bersamaku, akan dia ceritakan padaku tanpa mengurangi apapun.

Aku juga akan menjadi saksi setiap kali Kai masuk tanpa permisi ke apartement bahkan ke dalam kamar Se Hun, mendapati mereka berdebat, entah dalam hal apa. Aku terkadang tidak mengerti dengan hubungan mereka, pernah beberapa kali kulihat mereka saling bersitegang dan kupikir akan berakhir dengan saling melukai, tapi tidak. Kai selalu santai menghadapi apapun, sementara Se Hun, walau wajahnya jarang menampakkan ekspresi berarti, dan lebih banyak serius, aku tahu bahwa dia juga menanggapi Kai dengan santai.

Pernah satu kali aku merasa ingin sekali mencubit pipi Kai saking gemasnya saat ia terang-terangan membahas perihal kejadian malam itu, dia selalu bertanya pada Se Hun mengenai cara Se Hun menggantikan pakaianku. Dan itu membuat Se Hun gelagapan dan mengusir Kai saat itu juga. Dan itulah pertama kalinya kulihat wajah Se Hun bersemu merah dan terlihat sangat… lucu.

Semuanya… selalu tentang Se Hun. Jadi bukan salahku… kenapa aku merasa bahwa Se Hun sudah menjadi bagian dari diriku.

Sampai pada suatu malam, menjelang tidur, Se Hun bilang begitu merindukan kakaknya, dan kami kembali membahas perihal kepergian kakaknya yang entah kemana. yang Se Hun tahu dari Kris sajang-nim hanyalah, bahwa kakak Se Hun dalam keadaan baik-baik saja.

“ini…” Se Hun menyentuh kalungnya “hyungku bilang, ini adalah nyawanya”

“Ne?” aku jelas terkejut, bagaimana mungkin sebuah kalung dilambangkan sebagai nyawanya.

“sudah kubilang, Kris hyung mendidik seorang Avenger itu dengan cara yang sangat… beda. Selain latihan menembak, bela diri, menyusup, dan sebagainya, ada sebuah latihan yang kalau kita tidak hati-hati maka nyawa lah taruhannya”

“Apa itu?”

Se Hun menghela nafas kemudian menatapku serius “Latihan menghindari peluru”

Aku jelas membelalak “Me… menghindari peluru? Maksudmu?”

“ne… aku memang belum melewatinya karena latihan menembakku baru di mulai”

“lalu hubungannya dengan kalung itu?”

“Hm… peluru ini adalah peluru yang ditembakkan Kris hyung dan sempat bersarang di dada kiri kakakku, hampir mengenai jantungnya”

DEG~

“Se… sekeras itukah latihan kalian?”

“Kakakku hampir mati saat itu, entah karena keajaiban atau memang tubuh kakakku sudah betul-betul terlatih untuk itu, hingga sebelum ia ditangani oleh dokter pribadi Kris hyung, kakakku masih sempat menyelesaikan ujiannya. Yaitu menghindari peluru berikutnya dan merebut pistol dari tangan Kris hyung”

Kepalaku pusing, entah kenapa saat aku membayangkan senjata api, darah, kekerasan, seluruh tubuhku merinding dan…

Puk~

Se Hun merebahkan kepalanya di pundakku, dan itu membuatku mati-matian mengontrol detak jantungku agar tidak terdengar oleh Se Hun.

“sayangnya… kakakku justru gagal di ujian terakhirnya dan entah sekarang di mana keberadaannya”

Kulihat Se Hun merengkuh kalung berbandul peluru itu, dan sekilas tadi aku menangkap itu bukan peluru biasa, seperti ada ukiran di sana “Se Hun-shii…”

“Hm…”

“mengenai kalung itu…”

Se Hun menghela nafas “Peluru itu adalah nyawanya. peluru pertama yang menembus dadanya.  peluru yang hampir merenggut nyawanya saat ia dilatih menjadi seorang Avenger. Jadi aku tidak akan bertanya kenapa kalung ini sangat berharga bagi kakakku”

“kalau memang sangat berharga… kenapa diserahkan padamu?”

Se Hun tertawa dalam kepiluannya “Hm… walau kami dilatih dan dididik untuk membunuh, ada satu hal yang tidak akan berubah” Se Hun melepas sebentar kalungnya dan menatap penuh arti bandul peluru itu “aku adalah adik satu-satunya, keluarga satu-satunya yang ia miliki, sebelum dia melakukan ujian terakhir dan gagal hingga pergi entah kemana, kakakku menyerahkan ini padaku dan mengatakan… Se Hun-ah… ini adalah nyawaku, ini adalah identitasku, kalaupun hyung nanti tidak bisa di sisimu untuk sementara waktu, kalung ini akan menjagamu. Selanyaknya nyawaku menjagamu . jangan melepasnya, terlebih memberikannya pada orang lain, karena sekali lagi… ini nyawaku, untuk melindungimu Se Hun-ah.

Aku menelan ludah, betapa dalamnya makna kalung itu dan betapa eratnya tali persaudaraan Se Hun dan kakakknya “Lalu apa arti ukiran di peluru itu? itu bukan aksara china, bukan aksara Hanja, apalagi Hangeul”

“ini aksara hiragana Jepang, kakakku meminta seseorang yang cukup profesional dalam hal ini dan mengukir aksara ini di salah satu sisinya, arti jelasnya aku tidak tahu ..tapi kakakku pernah bilang, bahwa ini adalah identitasnya… aku lupa, tapi dia pernah membahas tentang Api dendam yang tidak akan pernah padam”

Sampai di situ… karena setelah menunggu beberapa menit, Se Hun tidak lagi melanjutkan ucapannya, dan saat kupastikan alasannya, mendengar suara nafasnya yang sudah teratur… ternyata ia tertidur.

Aku tahu seberat apa beban Se Hun, aku tahu sekeras apa peran seorang Avenger, dan semakin aku mengenal Se Hun… aku semakin mengerti mengenai sosok sebenarnya seorang avenger.

Sedikit hati-hati, aku membantu Se Hun membetulkan posisi tidurnya dan merebahkan kepalanya di atas bantal.

CHU~

Seperti biasa, aku akan besikap layaknya seorang pencuri saat mengecup bibir Se Hun yang tengah terlelap. Karena hanya saat itulah aku bisa meluapkan perasaanku tanpa takut dia akan menolakku.

Sungguh… wajah tampannya telah menghiasi seluruh pikiranku.

Tuhan… aku mencintai namja ini. aku mencintai Avenger ini…

Park Se Hun!

*~~Amaterasu~~*

“Lu Hannie…” sapa Se Hun saat ia tengah mendapatiku membereskan kamarnya pagi itu.

Sebenarnya ada hal yang sedikit janggal…

Dia tidak memanggilku Hyung sebagaimana panggilan untuk orang yang lebih tua, saat kutanya kenapa, dia hanya bilang lebih suka memanggilku Lu Hannie.

“Ne Se Hun-ah…”sahutku

“sudah beberapa bulan kau tinggal di sini, apa kau tidak merasa bosan? Tidak merasa terkurung?”

Aku mengerutkan kening “Tidak… memangnya kenapa?”

Ia duduk di tepian tempat tidur yang baru saja kubereskan, kemudian menepuk-nepuk sisi sebelahnya memintaku duduk di sampingnya. Dan aku tidak berpikir dua kali untuk menurutinya.

“sepertinya ada yang ingin Se Hun ceritakan lagi”

“bukan tentangku, tapi tentangmu”

“Aku? Kenapa denganku?”

Se Hun menatapku lamat-lamat, membuatku gugup. Apa Se Hun akan mengatakan sesuatu yang sangat serius?

DEG~

Tunggu… ini tidak seperti yang kuharapkan selama ini kan? Bahwa Se Hun akan menyampaikan sebuah kalimat yang seharusnya di katakan kepada seseorang yang terus bersamanya. Makan bersamanya, bersenda gurau bersamanya, berbagi keluh kesah bersamanya, tidur di sebelahnya dan…

“Kau sudah cukup lama terkurung di sini, apa kau tidak berniat keluar? Maksudku, ke suatu tempat, melakukan aktivitas lain?”

“Se Hun… mengusirku?”

Namja tampan itu membelalak “Bukan… bukan begitu, aku terkadang berpikir sebosan apa kau hanya bisa beraktifitas di dalam apartement ini”

“aku tidak bosan, kegiatanku banyak. Saat pagi, aku dan Se Hun akan sarapan bersama, saat Se Hun latihan dan berkuliah, aku akan menonton TV sambil membaca buku-buku milik Se Hun, makan siang dan makan malam bersama Se Hun, mengobrol bersama Se Hun, dan tidur di sebelah Se Hun semuanya tidak membosankan”

Se Hun kembali menghela nafas kemudian menarik tanganku dan menggenggamnya “Tidakkah kau punya sesuatu sebagai tujuan hidupmu?”

“ada…”

“apa itu?”

“mendengarkan seluruh cerita Se Hun saat melewati hal apapun setiap harinya, bukankah itu merupakan suatu kebanggaan menjadi saksi dari sepak terjang seorang Avenger hingga dendamnya terbalas?”

“Lu Hannie jebal, maksudku… cita-cita. Bukankah kau pernah berkuliah di Korea?”

“Hm…. jurusan Bisnis perkantoran”

“itu yang kumaksud”ucapnya tegas.

“jadi Se Hun ingin aku kembali berkuliah?”

Se Hun mengangguk antusias..

“dan berpisah dengan Se Hun?”

“bukan… maksudku…”

….

“susah sekali kau menyampaikannya…”

Kami berdua menoleh bersamaan saat mendengar suara yang tidak asing itu.

“ck… Kai, sudah kubilang aku bisa mengurusnya…”keluh Se Hun sepertinya tidak suka karena Kai tiba-tiba ikut campur.

“Kau terlalu lama, Kris sajang-nim menunggu di ruang tamu”jawab Kai santai. Ia masih bersandar di pintu sambil melipat tangan di dada.

Se Hun berdecak “apa sebenarnya yang bisa luput dari perhatian Kris hyung?” keluhnya kemudian pergi begitu saja meninggalkanku…

Dan Kai.

Benar karena Kai masih di situ, sambil menatapku.

“Kai… apa Kris sajang-nim sudah mengetahui keberadaanku?”tanyaku.

“hm” Kai menghampiriku kemudian duduk di sebelahku “sejak lama sebenarnya. Bahkan tepat di malam Se Hun membawamu ke sini, Kris sajang-nim sudah tahu”

Aku jadi ketakutan sendiri mendengar penuturan Kai itu, walau ia menyampaikannya dengan santai, tapi tetap saja itu kedengaran seperti detik-detik menuju eksekusi matiku.

“kau kenapa jadi pucat begitu?”

“Apa aku akan dibunuh?”

Entah apa yang lucu dengan kalimatku, namja tampan ini justru menertawaiku “Kris sajang-nim memang tidak pandang bulu untuk melenyapkan nyawa siapapun, tapi hey… siapa yang tega membunuhmu? Bahkan pembunuh berdarah dingin sekalipun akan merasa itu adalah pekerjaan yang sangat sia-sia”

“Kai…”

Namja tampan itu malah mengusap punggungku lembut “sudahlah, tidak perlu takut. Kris sajang-nim memang punya rencana untukmu, tapi bukan kematian”

Aku hanya bisa menghela nafas, berusaha tenang.

“kau takut mati atau takut berpisah dengan Se Hun?”terka Kai yang kurasa kini bisa kubenarkan perkataan Se Hun bahwa namja ini selalu tahu apa saja walau kita tidak memberitahunya apapun.

“kurasa kau tahu jawabanku”

“lalu sudah kau ungkapkan perasaanmu itu?”

Aku menggeleng sambil menunduk “aku takut akan merusak hubungan baikku dengan Se Hun. Kurasa asal bisa bersamanya seperti ini, sudah cukup bagiku”

“Naif sekali…”

“kau tidak akan mengerti”

“aku mengerti”

Kutatap ia lamat-lamat, dan ia pun balas menatapku serius “Kai…”

“sebenarnya tidak ada yang salah dalam mencintai, tapi… kau jatuh cinta pada orang yang salah Lu Hannie”

Aku menunduk dalam, paham betul apa maksud Kai.

Entah karena iba padaku atau apa, namja tampan itu meraihku dalam pelukannya “seorang Avenger, tidak boleh memiliki emosi dan perasaan apapun di sebelah dendamnya. Apapun… terlebih itu cinta”

Entah kenapa aku mendengarnya seperti sebuah pembantaian di hatiku “maka dari itu Kai, kubiarkan saja seperti ini, berusaha sebaik mungkin menjadi orang yang bisa Se Hun andalkan sebagai tempatnya bersandar saat ia lelah akan semua ini”

Kai tidak menjawab lagi, ia mengeratkan pelukannya di tubuhku dan mengecup puncak kepalaku. Dan perlahan kuulurkan tanganku untuk membalas pelukan hangat ini yang entah apa maknanya bagiku, tapi… satu yang sangat jelas.

Kai juga sudah merupakan bagian terpenting dari diriku setelah Se Hun.

TUK~

“bisa-bisanya kau mencuri kesempatan di sini”teguran Se Hun berikut timpukan sebuah buku yang mendarat di kepala Kai membuat pelukan kami terlepas.

“Maaf-maaf, dia terlalu takut, dia pikir Kris sajang-nim kemari untuk membunuhnya”bela Kai.

“sudahlah” Se Hun kemudian menarik tanganku “Kris hyung ingin bertemu”

Aku terperanjat bukan main, seketika seluruh tubuhku dingin “ke… kenapa?”

“tenanglah, ada yang ingin dia bicarakan denganmu”

Aku menelan ludah dengan susah payah.

Kai menepuk pundakku “Tidak akan terjadi apa-apa, percayalah”

Aku menatap namja tampan berkulit Tan itu penuh harap “Benarkah?”

“Hm, jadi jangan takut” Kai mengusap puncak kepalaku, membuatku sedikit tenang.

“Arasso…”

“Kenapa kalau Kai yang meyakinkanmu, kau langsung menurut?”tegur Se Hun, dan itu justru membuat pipiku bersemu merah. Aku bahkan berharap itu adalah bentuk dari kecemburuan Se Hun.

“waeyo? Kau cemburu?”

Dan aku suka saat Kai bersikap seolah memanas-manasi Se Hun.

“Akh sudahlah, jangan bahas ini lagi”

*~~Amaterasu~~*

Ini pertama kalinya aku melihat sosok Kris sajang-nim dengan mata kepalaku sendiri. Awalnya kupikir Kris sajang-nim adalah pria berotot seperti Jim dengan bekas luka di mana-mana, atau jahitan di pipi, kulit hitam legam dengan keringat mengerikan, rambut Mohawk, bertatto, piercing di mana-mana, serta 2 senjata api di tangan.

Tapi tidak…

Kurasa pendeskripsian Se Hun dan Kai tentang semenyeramkan Kris sajang-nim selama ini terlalu berlebihan.

Walau di mataku, namja tertampan di dunia ini adalah Se Hun, tapi aku tidak bisa mengelak bahwa Kris sajang-nim teramat sangat tampan, dia tidak berotot, walau kutahu tubuhnya tinggi, kulitnya sangat putih, tidak ada bekas luka, tatto, dan piercing di mana-mana seperti yang kubayangkan, kecuali piercing di telinga dan tatto yang mungkin berada di tempat tersembunyi.

Dan ada satu hal yang membuatku tidak mengerti. Bagaimana mungkin seorang namja yang duduk di kursi roda ini begitu di takuti?

“jadi namamu Lu Han?”ia membuka suara.

“Ne sajang-nim”jawabku takut-takut.

“di mana keluargamu?”

“orang tuaku sudah meninggal, dan aku tidak punya kerabat lain sajang-nim”

“berapa usiamu?”

“21 tahun sajang-nim”

“kau tidak sekolah?”

“aku sempat melanjutkan kuliah selama satu tahun di korea, tapi aku berhenti setelah mengetahui kedua orang tuaku meninggal di Beijing”

“hm… menarik”

“Ne?”

Kris menoleh pada Kai dan Se Hun yang berdiri di belakangnya “Se Hun-ah, kau pergilah dengan Kai menemui Tuan Luo. Ini sudah jatuh tempo sejak terakhir ia berjanji melunasi sisa transaksi bulan lalu”

“Tapi hyung, bukankah memang transaksinya sudah selesai tanpa meninggalkan hutang? Tuan Luo hanya meminta 76 unit senjata untuk diselundupkan ke Shanghai”potong Se Hun yang sebenarnya aku tidak betul-betul mengerti dengan ucapan mereka.

“selalu ada yang tersisa jika bertransaksi denganku Se Hun-ah… yang kita cari adalah keuntungan bukan? Sudah kubicarakan ini dengan Kai sebelumnya, jadi kau bisa meminta penjelasan pada Kai selama kalian menuju ke sana”

Se Hun melirikku sejenak kemudian menghembuskan nafas pendek “Ne hyung, akan ku bereskan”

“ah Kai…” Kris sajang-nim menyerahkan sebuah amplop pada Kai “di dalamnya ada foto juga identitas pemilik organisasi Teratai Putih, besok sudah harus kuterima kabar bahwa dia sudah mati”

“Ne sajang-nim”

Glek~

Sekarang aku tahu semenakutkan apa namja ini. belum pernah kulihat wajah Kai seserius dan semencekam itu. setahuku dia adalah pribadi yang santai, tapi saat ia bersama Kris sajang-nim, dia seperti pribadi yang berbeda dan tidak kukenali.

“kalian pergilah, aku masih ingin mengobrol dengan Lu Han”

“Ne Hyung”

“Ne sajang-nim”

*~~Amaterasu~~*

“jadi… kau terima tawaranku?”

Suara yang cukup berat dan menakutkan itu membuyarkanku dari sekian banyak pertimbangan-pertimbangan di benakku.

“sebenarnya aku bukan tipe orang yang akan menawarkan untuk kedua kalinya. Tapi sekedar mengingatkan saja, semua ini demi Se Hun”lanjutnya lagi membuatku semakin bimbang.

“Tapi sajang-nim, Perancis… tidakkah itu terlalu jauh?”

“untuk menumbuhkan bibit-bibit bermutu sepertimu, aku tidak akan tanggung-tanggung menanammu di lokasi terbaik kan?. Aku tahu siapa kau, kau adalah salah satu siswa berprestasi yang diutus ke Korea saat pertukaran pelajar itu kan? Dan kau juga menjadi lulusan terbaik di sekolahmu. Sangat sayang, kalau kau hanya berkuliah selama satu tahun dan berhenti di tengah jalan”

Aku meremas kesepuluh jariku yang berkeringat. Siapa yang tidak bimbang dengan tawaran sebagus ini?.

“aku, tidak punya keturunan, tapi aku sudah menemukan bibit-bibit penerusku dalam diri anak-anak didikku seperti Kai, terutama Se Hun. Prestasi akademiknya luar biasa, dan kulihat… nantinya dia bisa sebanding dengan Kai dalam hal menggunakan senjata” Kris sajang-nim terus menatapku “seperti Kai untukku, tidakkah kau bercita-cita menjadi tangan kanan Se Hun nantinya?”

Glek~

“saat aku sudah lelah dengan perusahaan dan juga organisasiku, mungkin akan kuserahkan pada dua anak itu. perusahaan akan cocok dengan Se Hun, sementara organisasi, sangat cocok dikendalikan oleh Kai. Dan kulihat prestasi akademikmu juga di atas rata-rata, aku ingin mengasahnya dan membuatmu layak mendampingi Se Hun nantinya”

Mataku membulat kemudian dengan seluruh keberanian kutatap wajah Kris sajang-nim “Me… mendampingi?”

“Benar… seorang calon Presiden direktur juga harus memiliki pendamping kan? Hanya saja aku sendiri yang akan memilih pendamping untuk calon penerusku” namja itu tertawa kecil “Jadi… kalau kuanggap kau pantas, maka bisa jadi orangnya itu adalah kau”

“Sa… Sajang-nim”

“atau akan kuberi tawaran ini pada orang lain? Masih banyak anak didikku yang__”

“aku terima… aku terima. Aku akan berkuliah di Perancis sesuai rekomendasimu Sajang-nim”potongku cepat.

Dan aku sudah tidak mempedulikan apa makna tawa keras Kris sajang-nim itu karena dibenakku sekarang hanyalah bagaimana aku bisa seterusnya mendampingi Se Hun di masa depan.

*~~Amaterasu~~*

“Maaf hanya bisa mengantarmu sampai di sini, tugas dari Kris hyung sudah menunggu”ucap Se Hun padaku saat ia membantuku menurunkan barangku dari mobilnya dan meletakkannya di depan pintu bandara.

“Gwenchana, aku bisa masuk sendiri”balasku.

“Jadi… berapa lama?”tanya Se Hun padaku, ada guratan ekspresi yang menunjukkan bahwa ia tidak rela, dan aku sangat bahagia akan hal itu.

“akan kuusahakan secepatnya Se Hun-ah, kau tidak usah meragukan kemampuanku, kalau perlu, akan kuhabiskan semua mata kuliah dalam waktu 1 tahun”

Ia pun tertawa “dan kau akan pulang dengan bentuk menyerupai Albert Einsten”

“Kuanggap itu pujian”balasku.

Se Hun menghela nafas kemudian memelukku “Aku akan sangat merindukanmu, pada siapa lagi aku harus berbagi keluh kesahku?”

“Hei, kau lupa dengan penemuan terhebat sepanjang sejarah yang dinamakan Ponsel?”

“Arasso… arasso” Se Hun melepas pelukannya dan mengusap puncak kepalaku.

Dengan sedikit mencondongkan badan, Aku melirik ujung jalan “sepertinya Kai betul-betul tidak bisa mengantarku yah”

“Hm, tadi sebelum dia ingin ke apartementku, dia sudah ditugaskan Kris hyung untuk melenyapkan seseorang”

Sepertinya aku sudah mulai terbiasa dengan percakapan orang-orang seperti Se Hun dan Kai, melenyapkan orang di telingaku sudah tidak tabu lagi, seperti mendengar kalimat, menangih hutang atau apalah yang mereka anggap wajar. “Padahal aku sangat ingin mengucapkan salam perpisahan padanya”

“Wae? Sepertinya Kai cukup berpengaruh di sini?”Se Hun mengangkat alisnya.

“tentu saja, bukankah Kai juga sahabatku?”

“jadi posisiku dan Kai disamakan?”

Aku mengerutkan kening, selanjutnya barulah aku mengerti “Beda, Se Hun kan orang yang paling penting dalam hidupku”

Ada senyum yang tergambar di bibir tipisnya “begitu?”

Aku mengangguk antusias “lalu… posisiku untuk Se Hun?”

“hm… bagiku kau adalah yang terbaik”

“terbaik dalam artian apa?”

Ia kembali tersenyum, kemudian merogoh ponselnya “coba hubungi nomorku”

Walau tidak mengerti, aku tetap menurut. Kuambil ponselku dari dari ransel, padahal aku sudah menonaktifkannya tadi.

Dering ponsel Se Hun terdengar nyaring begitu aku menghubungi nomornya. Ia pun memperlihatkan layar ponselnya padaku.

DEG~

“My… My Best?”

“Ne… kau tidak perlu menanyakan terbaik dalam hal apa. Karena bagiku, Lu Han adalah yang terbaik dari yang paling baik bagiku”

Seperti ditetesi embun, hatiku merasa sejuk setelah mendengar itu.

“terbaik dari yang terbaik” lirihku merasa terharu. Entahlah, aku pernah memimpikan Se Hun akan mengatakan kalimat saranghaeyo padaku, tapi… bagiku, kalimat Se Hun barusan justru lebih berarti dari apapun.

“ya sudah… ini hanya perpisahan sementara, jadi aku tidak ingin ada air mata”Se Hun menyeka pipiku yang mungkin saja sudah banjir sejak tadi.

“Ne… mian”

“Jaga diri di sana Lu Hannie, perhatikan kesehatanmu”

“Ne, Se Hun-ah, kau juga”

Se Hun pun mengecup keningku dengan lembut, dan bisa kurasakan kehangatan menjalar di sekujur tubuhku.

Tuhan… betapa aku mencintai namja ini.

“maaf tidak bisa menemanimu lebih lama. Aku pergi” pamit Se Hun lebih dulu karena memang dia punya tugas sendiri.

“Ne… hati-hati menyetir”

“hm… hubungi aku kalau kau sudah sampai”

Aku mengangguk kemudian melambai pada mobil Se Hun yang sudah melaju pergi. “Saranghaeyo… Se Hun-ah….”lirihku bodoh.

*~~Amaterasu~~*

Saat Kris sajang-nim mengatakan akan menanamku di lokasi yang terbaik, dia betul-betul melakukannya. Maksudku bukan secara harfiah. Siapa yang menyangka setelah aku menginjakkan kakiku di Paris, maka derajatku terangkat. Seorang pria berkebangsaan Perancis yang fasih berbahasa Mandarin langsung menyambutku di bandara dengan mengatakan “Selamat datang Tuan Muda Lu Han”

Seumur hidupku aku tidak pernah dipanggil Tuan muda. Di antar dengan mobil mewah dan tinggal di sebuah rumah yang kukatakan ini sebagai istana di mana aku adalah Tuan Muda di sana.

Ini berlebihan… tapi mengingat Kris sajang-nim memang mempersiapkanku sebagai calon pendamping Se Hun kelak, kurasa ini wajar. Untuk itu akan kuberikan yang terbaik semampuku.

*~~Amaterasu~~*

Kuliahku betul-betul menyita habis waktuku. Beberapa kali aku terkejut saat memeriksa ponselku dan kutemukan ada belasan panggilan tak terjawab dari nomor Se Hun. Dan terakhir akan kutemukan sebuah pesan yang dikirm olehnya dengan isi yang selalu sama “sepertinya Lu Hannie sangat sibuk, kapan-kapan saja kalau begitu”

Dan ketika aku yang menelponnya, ponsel Se Hun justru tidak aktif atau tidak dijawab, dan aku juga akan mengirimkan pesan “Maaf baru bisa membalas, jadwal kuliahku padat, semoga lain waktu bisa mengobrol. Bogoshippoyo Se Hun-ah

Sayangnya kami tidak pernah di hadapkan pada posisi di mana kami sama-sama dalam waktu senggang. Dan terpaksa kami hanya akan saling mengirimkan SMS dan menerima balasan yang cukup terlambat, entah itu aku ataupun Se Hun.

Tapi anehnya, setiap aku menelpon Kai, selalu saja tersambung, dan akhirnya aku mengerti bahwa ternyata latihan Se Hun untuk menjadi seorang Avenger betul-betul telah memasuki intinya. Waktu senggangnya tipis, dan Kai bilang, Se Hun hanya diberi waktu untuk tidur selama 4 jam perharinya, karena memang ada latihan menembak objek dalam keadaan gelap. Artinya, latihan itu di lakukan pada malam hari. Dan aku tidak perlu bertanya mengapa ada latihan seaneh itu. karena memang latihan untuk menjadi seorang Avenger tidak ada yang masuk akal menurutku.

Begitu seterusnya. Se Hun akan memberiku kabar mengenai latihan-latihan apa saja yang dijalaninya, dan aku juga akan membalas dengan menyemangatinya, memberitahu perkembangan perkuliahanku, dan segala hal yang kulewati selama berada di Perancis.

Sampai pada tahun berikutnya, kabar yang kunanti-nanti dari Se Hun akhirnya kuterima.

From: My Love

 

Lu Hannie, aku sudah melewati latihan menghindari peluru

Hanya sampai situ, dan jelas saja aku langsung panik dan berpikir setengah mati mengenai apa hasilnya dan apa yang di dapatkan Se Hun. Apakah dia juga tertembak? Dan dengan tangan bergetar kubalas SMS nya itu.

To: My Love

 

Lalu apa hasilnya Se Hun-ah? Kau lolos? Kau tidak tertembak kan? Ya Tuhan kumohon… kau baik-baik saja kan? Kutunggu teleponmu.

Dan untuk memastikan kabar itu, aku terpaksa membolos kuliah satu hari dan menunggu balasan dari Se Hun. Sampai ketika siang itu ponselku berdering, dan Se Hun menelponku, tanpa menunggu lama aku langsung menyerbunya.

“Se Hun-ah gwenchanayo? Apa kau tertembak? Kau terluka? Apa kau___”

“hey..hey… aku baik-baik saja. Aku justru tidak terkena tembakan satu kalipun”

Mataku membulat sempurna “Jinjja? Dan kau lolos?”

“Hm… tapi masih ada rentetan ujian lagi sebelum ujian terakhir”

Aku menghela nafas panjang sambil mengelus dadaku“yang penting kau tidak terluka”

Hening… aku tidak mendengar respon Se Hun.

“Se Hun-ah..gwenchanayo?”

Se Hun menghela nafasnya berat “secara garis besar, aku lulus ujian itu. tapi entah kenapa aku justru merasa gagal”

“Wa… waeyo? Bukankah Se Hun telah melewatinya?”

“aku hanya merasa, Kris hyung tidak serius mengujiku”

“apa maksudmu?”

“mengenai ujian itu, Kai juga telah melewatinya saat usianya 16 tahun, dan dia mendapatkan 2 tembakan di pundak dan lengannya, sementara kakakku, 1 tembakan di dada kirinya. Siapa yang tidak mengenal kelihaian Kris hyung dalam melesatkan peluru?”

“lalu kenapa kau merasa gagal? Kau tidak tertembak itu artinya kau lebih baik dari pada Kai dan kakakmu”

“Justru aku yang paling buruk di antara mereka. Aku merasa Kai dan kakakku punya lencana khusus di tubuh mereka. Bekas tembakan itu, kupikir adalah sebuah lencana bagi seorang Avenger”

“dan kau merasa tidak layak menjadi Avenger hanya karena kau tidak memiliki bekas luka tembak?”

Se Hun terdiam.

“Se Hun-ah, kurasa kau lebih mengenal sajang-nim dari pada aku. Bagaimana mungkin kau mengatakan bahwa beliau tidak serius mengujimu sementara ia mengatakan padaku bahwa kau adalah calon penerusnya? Seorang penerus tidak dipilih asal-asalan kan? Dan juga tidak akan mungkin diuji asal-asalan”

“Lu Hannie…”

“jadi kumohon jangan membebani pikiranmu, kau adalah yang terbaik, tidak ada yang bisa mengelak dari hal itu”

Se Hun terdiam sejenak, sampai kudengar ada hembusan nafas lega darinya, barulah aku bisa tenang.

“Gomawo Lu Hannie…”

“U… untuk apa?”

“semuanya, setelah mendengarmu aku merasa lebih baik”

BLUSH~

“Bu… Bukan perkara besar, aku justru merasa senang bisa membantumu Se Hun-ah, walau hanya sebatas teman berbagi, aku senang”

“Aniyo… sudah kubilang bukan hanya teman berbagi. kaulah yang terbaik”

Deg~

“Se… Se Hun-ah?”

“Ah… sudah dulu Lu Hannie, aku ingin istirahat. Lanjutkanlah kegiatanmu”

“N..ne, sampai jumpa”

“hm… bogoshippo”

Jeongmal saranghaeyo Se Hun-ah.

*~~Amaterasu~~*

From: My Love

 

Besok adalah ujian terakhir dari Kris hyung, ujian yang gagal dijalani kakakku setahun yang lalu, aku khawatir tidak bisa melewatinya juga

Bohong jika kukatakan aku tidak gugup. Tapi kalau aku menampakkan kegugupanku, maka Se Hun juga akan semakin patah semangat.

To: My Love

 

Maaf baru bisa membalas, jadwal kuliahku padat. Hm, jangan patah semangat, kau pasti bisa menjalaninya. Kau bukan orang selemah itu Se Hun-ah, dan juga, apapun bentuk ujian itu, kuharap kau lolos, dan tidak menyerah begitu saja. Hwaiting…

 

Hm… semoga Se Hun bisa melewatinya.

*~~Amaterasu~~*

Siapa yang menyangka itu adalah interaksi terakhirku dengan Se Hun. Keseokan harinya aku menunggu kabar tentang hasil ujiannya tapi tidak ada berita sama sekali yang kudapatkan. Aku ingin menghubunginya tapi aku takut panggilanku justru akan mengusik konsentrasinya.

Seminggu berlalu, aku semakin tidak tahan. Maka kuputuskan untuk menelponnya saat itu juga.

nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, mohon periksa kembali nomor tujuan anda”

 

Aku membelalak kaget, tidak mungkin aku salah nomor. Dan kalaupun Se Hun mengganti nomornya, dia pasti akan memberitahuku lebih dulu. Seperti saat aku mengganti nomor ponselku begitu tiba di Perancis.

Apa yang sebenarnya terjadi?

*~~Amaterasu~~*

Satu bulan tanpa kabar dari Se Hun, aku masih baik-baik saja. Masih bisa berpikir positif, mungkin Se Hun telah menjalankan perannya menjadi seorang Avenger dan tidak boleh diganggu oleh siapapun.

Itupun kalau ujiannya berhasil. Tapi kalau ujiannya gagal seperti kakaknya? Dan pergi entah kemana?

Ah tidak mungkin, walau Se Hun gagal, dia pasti akan tetap menghubungiku, dan bisa jadi lebih leluasa. Ya, dia pasti berhasil dalam ujian itu dan kini ia tengah menjalankan misinya menuntut balas.

Yah… pasti seperti itu.

2 bulan tanpa kabar dari Se Hun… oh baiklah, aku gelisah. Dan masih beruntung karena kegelisahanku tidak mempengaruhi kuliahku. Kai juga mendadak sulit dihubungi, dan hampir membuatku stress kalau tidak mengingat sebentar lagi aku akan menyelesaikan kuliahku. Aku bahkan tinggal menunggu ujian terakhirku beberapa bulan lagi setelah menyelesaikan risetku. Se Hun pasti akan mengabariku.

Tepat di bulan ketiga sejak terakhir Se Hun mengirimkan SMS nya padaku. Firasatku mulai tidak baik. Entah kenapa aku merasakan perih di hatiku, sangat sakit. Aku memang merindukan Se Hun, tapi aku yakin rasa sakit di hatiku ini bukan karena rindu. Setahuku, rindu adalah perasaan yang hangat, jadi tidak mungkin sesakit ini. pasti ada apa-apa.

dan saat aku berhasil menghubungi Kai, jelas saja aku menyerbunya dengan berbagai pertanyaan.

“Kai.. apa yang sebenarnya terjadi? Di mana Se Hun? Apa yang menimpanya? Apa dia gagal dalam ujian itu?”

“dia berhasil, sangat sempurna”jawab Kai datar. Entah kenapa aku juga merasakan ada yang berbeda pada dirinya.

“kenapa dia sulit di hubungi?”

“dia sudah berangkat ke korea 3 bulan yang lalu, dan sekarang dia masih menjalankan misinya meneror keluarga Byun”

“tapi dia baik-baik saja kan?”

“Hm, sangat baik”

“Kai…”

“ne…”

“apa terjadi sesuatu?”

Kai menghela nafas sejenak “tidak, semuanya berjalan lancar”

“Lalu kenapa aku merasa ada yang aneh dari kalian?”

Kai terdiam sejenak “tidak terjadi apa-apa. Se Hun hanya keasyikan bermain dengan salah satu target balas dendamnya di korea”

“Maksudmu?”

“sajang-nim baru saja memerintahkanku untuk ke Korea besok pagi. Sekaligus mengechek sesuatu, maksudku seseorang yang membuat Se Hun mengulur waktu untuk membalaskan dendamnya”

Firasatku semakin buruk “Kai… apakah maksudmu dengan kata bermain di sini adalah… berpacaran?”

Kai tidak menjawab. Dan aku tidak perlu mendesaknya, karena aku cukup mengenal Kai untuk tahu bahwa diamnya adalah suatu pembenaran.

“Jadi Se Hun berpacaran dengan salah satu target balas dendamnya?”

“tenanglah Lu Hannie, kupikir ini hanyalah bagian dari rencana Se Hun. Walaupun akhir-akhir ini watak anak itu berubah drastis, tapi aku tahu, prioritas utamanya sekarang hanyalah balas dendam. Kalaupun Se Hun nantinya berpikir unuk menjalin sebuah hubungan, kurasa dia akan memilih bersamamu”

Ucapan Kai bagai setetes embun yang membasahi hatiku yang gersang. Setidaknya aku bisa sedikit tenang karena ucapannya.

“jadi tunggulah sampai Se Hun menyelesaikan tugasnya sebagai seorang Avenger”

“Ne Kai…”

“jangan memikirkannya dulu. Fokuslah pada studimu”

“Ne… aku akan menyelesaikan kuliahku secepatnya”

“ah, mungkin setelah aku ke korea, aku juga akan mengganti nomor ponselku, dan juga aku akan semakin sibuk jadi mungkin…”

“Arasso… arasso, baik Se Hun maupun Kai, aku tidak akan mengganggu kalian sampai misi kalian selesai. Sampai ketemu di Beijing”

“Baguslah kalau kau mengerti. Semoga berhasil Lu Hannie…”

“Ne Kai…”

Piiip…

Saranghaeyo Se Hun-ah…

Bogoshippoyo… Kai!

*~~Amaterasu~~*

Ini adalah hari yang kunantikan…

Saat aku kembali menapakkan kedua kakiku di Tanah kelahiranku… Beijing. Sudah hampir 2 tahun aku tidak bertemu dengan Se Hun dan Kai. Kuharap misi mereka telah selesai.

Seseorang yang kuketahui sebagai kaki tangan Kris sajang-nim langsung menyambutku di Bandara, kemudian masih selayaknya orang penting aku di antar menggunakan mobil mewah ke istana Kris sajang-nim.

Namja berkuasa itu sama sekali tidak berubah, walau dia terlihat tengah tersenyum, tapi aura kelamnya yang pekat tidak bisa tertutupi.

“selamat datang anak didikku…”sambutnya.

Aku cukup terkejut dia menganggapku anak didiknya. Walau tidak secara langsung, tapi memang dialah yang membiayaiku selama 2 tahun ini. “Ne sajang-nim”

“Prestasi yang luar biasa. Lulusan terbaik? Betul-betul memuaskan, kau tidak menyia-nyiakan apapun Lu Han”

“berkat anda sajang-nim”

“ah baiklah, kau pasti sangat lelah. Sudah kusiapkan kamar untukmu beristirahat”

Mataku membulat, benarkah aku akan menjadi bagian dari istana ini?

“Kai… bawa Lu Han ke kamarnya”

Aku  terkejut saat nama itu disebut, Kai ada di Beijing itu artinya….

….

“Ne sajang-nim”

Aku menoleh, dan bisa kusaksikan salah satu dari 2 namja yang begitu kurindukan kini tengah berdiri tegap di sana dengan ekspresi yang…

Sulit kubaca.

“Ikut denganku Lu Han-shii”ucapnya teramat sangat formal. Dia bahkan memanggilku Lu Han-shii.

“n…. Ne… Kai-shii” dan terpaksa akupun bersikap serupa dan kuikuti langkahnya menuju lantai dua istana ini dan memasuki sebuah ruangan yang terlalu megah jika dikatakan ini sebagai kamarku.

Aku langsung menutup dan mengunci pintu setelah kami berdua berada di dalam.

Dengan penuh semangat aku berlari memeluk Kai dari belakang “Bogoshippoyo… Kai…”jeritku tertahan.

Kai lambat merespon, entah apa yang sedang dipikirkannya. Kemudian ia menoleh, melepas pelukanku sejenak agar dia bisa lebih leluasa memeluk tubuhku yang lebih pendek darinya “Nado… bogoshippoyo, Lu Hannie”

Ah akhirnya, dia memanggilku dengan nama itu “Oh ya Kai? Di mana Se Hun? Misinya selesai kan? Dia telah menuntaskan dendamnya kan?” tanyaku antusias.

Kai tidak langsung menjawab, ia menatapku lamat-lamat seperti mempertimbangkan sesuatu. Kemudian perlahan ia menuntunku untuk duduk di tepian tempat tidur megah itu.

“ada sesuatu Kai? Sepertinya serius”terkaku.

Kai menghembuskan nafas panjang, kemudian menyentuh pipiku “Kurasa kau sudah sangat paham apa arti Avenger sebenarnya”

“Ne… Se Hun sudah membahasnya berkali-kali denganku”

“untuk itu aku tidak akan memperjelasnya, hanya akan menambahkan sesuatu yang tidak pernah disampaikan Se Hun padamu”

“apa itu?”

“mengenai ujian terakhir seorang Avenger”

DEG~

“benar, Se Hun tidak pernah membahas ini”

Kai memejamkan matanya sejenak, seperti berkonsentrasi untuk pemilihan kata yang tepat “ujian terakhir dari seorang Avenger adalah, tidak melibatkan  emosi dan perasaan agar tidak tercampur dengan dendam. Dengan kata lain, segala bentuk emosi, dan perasaan… dilenyapkan”

Aku langsung merasakan firasat buruk “La… lalu”

“Se Hun berhasil, bahkan terlalu berhasil. Kris sajang-nim sudah merubahnya menjadi sosok dingin tanpa emosi, perasaan dan belas kasihan. Sosok lain…”

Mataku membulat “Ti… tidak mungkin”

Kai menangkupkan kedua tangannya di pipiku begitu ia melihatku panik “dan itu berjalan cukup lama sampai… ia bertemu Byun Baek Hyun”

DEG~

“Byun…? salah satu target balas dendamnya?”

Kai mengangguk “dan kuharap kau pun mengerti saat kukatakan. Ada suatu hal yang bisa menjadi musuh terbesar seorang Avenger,  dan itu disebut… kesalahan seorang Avenger”

“Kai… a… aku tidak mengerti”

“ada alasan kenapa Kris sajang-nim mendoktrin para Avenger untuk membunuh semua bentuk emosi mereka, karena memang musuh terbesar seorang Avenger adalah emosi, dan lebih mengkhusus lagi… perasaan cinta”

Aku menelan ludah susah payah, firasatku semakin buruk akan hal ini.

“Dan kesalahan seorang Avenger adalah… jatuh cinta… pada target balas dendamnya hingga ia tidak bisa membunuhnya”

“Hentikan… aku tidak mau dengar” aku menepis tangan Kai dan beranjak meninggalkannya, tapi Kai mencegatku dan memelukku erat dari belakang.

“Se Hun melakukan kesalahan itu Lu Hannie”

PLETAAARRR….

Aku seolah mendengar petir menyambar tepat di jantungku, dan rasanya seperti… meledak dan menyebarkan rasa sakit kemana-mana. “Kau bohong Kai… kau bohong”

Mataku yang tadinya hanya memanas, kini mengeluarkan butiran kristal bening secara bergerombol.

Kai semakin mempererat pelukannya “Se Hun… tidak bisa membunuh Byun Baek Hyun karena ia sangat mencintai namja itu, dan terakhir… sebagai bayarannya…” Kai memutar tubuhku dan menuntun wajahku untuk menatapnya “Se Hun… melenyapkan nyawanya sendiri”

Hening…

Entahlahlah, kalimat terakhir Kai mendadak menjadi sebuah kalimat yang begitu sulit kumengerti. Aku bisa menyelesaikan ratusan soal, merangkai berlembar-lembar laporan, tapi aku tidak mengerti kalimat terkhir Kai karena itu membuat otakku tiba-tiba kosong.

“Lu Hannie…”tegurnya.

“sudah malam Kai… aku ingin tidur, besok aku akan ke apartement Se Hun untuk menemuinya, mungkin dia menenangkan dirinya di sana. Jaljjayo” aku melepaskan pelukan Kai dan beranjak menuju tempat tidur.

“Se Hun telah meninggal 2 bulan yang lalu”ucap Kai lagi, kali ini lebih tegas.

“besok saja kita membahasnya kalau kita sudah bertemu Se Hun” aku naik ke tempat tidurku dan membetulkan posisi bantal.

“Lu Hannie jebal… jangan bersikap begini. Terimalah kenyataan ini. Se Hun mati… Se Hun telah tiada, dia telah menyusul kedua orang tuanya, dia telah kehilangan nyawanya karena___”

“AKU TIDAK PERCAYA…. AKU TIDAK TERIMA… SE HUN KU TIDAK MATIIIII” jeritku tiba-tiba… kenapa Kai begitu memaksaku untuk percaya kebohongan itu?

Kai menghampiriku, berusaha memelukku tapi aku menghindar dan memukulinya berkali-kali “Lu Hannie tenangkan dirimu…”

“KAU BOHONG KAI… KAU BOHOOOONNNGGG!!! SE HUN TIDAK MUNGKIN MATI… KAU PASTI MERENCANAKAN SESUATU…KAU PASTI IRI KARENA SE HUN ADALAH SEORANG AVENGER YANG SEBENARNYA… KAU__”

PLAK~

“LU HAN!!! KENDALIKAN DIRIMU”bentaknya setelah menamparku.

“kau… bohong Kai… bohonnnggg”raungku.

Kai menghela nafasnya, menatapku serba salah, kemudian ia menarikku kembali ke pelukannya “Mianhae aku harus menyampaikan padamu dengan cara seperi ini, tapi… Se Hun pergi setelah ia menyelesaikan tugasnya sebagai Avenger. Byun Tae Hwang, juga istrinya dan sejumlah bawahannya telah dilenyapkan Se Hun dengan tangannya sendiri”

“tapi kenapa… kenapa dia tidak bisa melenyapkan satu orang yang kau sebut dengan nama Byun Baek Hyun itu??? kenapa?”

Kai mempererat pelukannya dan mengecup puncak kepalaku “karena dia mencintainya”

Aku mencengkram baju Kai “tidak… tidak mungkin”

“itulah kenyataannya. Se Hun terbunuh karena perasaan cintanya lebih besar dari pada dendamnya”

“Tidak Kai… Se Hun seharusnya mencintaiku, karena aku mencintainya….”

“sayangnya dia tidak tahu itu Lu Hannie”

DEG~

Kulepas pelukan Kai dan menatapnya lamat-lamat “Kai…?”

“Andai kau katakan sejak awal bahwa kau mencintainya… mungkin hatinya tidak akan sepenuhnya dikuasai oleh Byun Baek Hyun”

KRAK~

Aku bahkan bisa mendengar suara patahan dari retaknya hatiku.

“Se… Se Hun-aaaahhhhh”

“tapi percayalah… Se Hun pergi dengan sangat tenang, ikhlas dan… penuh kedamaian, jadi jangan seperti ini, atau kau akan membuatnya sedih di sana”

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, otakku kosong. Hanya bisa terisak dalam pelukan Kai tanpa bisa berkata apa-apa lagi.

Cukup lama kami hanya bisa seperti itu, sampai suara isakku mulai teredam entah oleh apa. Kai melepas pelukannya.

“beristirahatlah… karena kehidupanmu baru akan dimulai besok” Kai mengecup pipiku hangat, hampir menyentuh sudut bibirku, dan itu justru membuatku semakin merindukan Se Hun. Kai… satu-satunya orang yang terlalu mengingatkanku pada Se Hun

TEP~

Kutangkap tangan Kai saat ia ingin beranjak.

“kaupun ingin meninggalkanku?” lirihku tanpa menatapnya.

“aku hanya ingin membiarkanmu beristirahat Lu Hannie, bukan meninggalkanmu”

“Jangan pergi Kai… jebal… aku hancur… aku terluka… aku….”

“Lu Hannie” Kai kembali memelukku, dan kubalas pelukannya lebih erat.

“temani aku Kai, jangan tinggalkan aku, jangan biarkan aku sekarat”rintihku.

“Lu…Han?”Kai kebingungan saat aku menuntunnya untuk merebahkan diriku di atas tempat tidur, dan menuntunnya untuk menciumiku.

Entah apa yang terjadi pada diriku, mengetahui bahwa Se Hun telah meninggalkanku, aku merasa betul-betul sekarat, dan jika Kai tidak menemaniku… aku betul-betul akan mati.

*~~Amaterasu~~*

Aku berharap, saat aku membuka mataku di pagi hari, maka semua yang kudengar dari Kai itu hanyalah mimpi belaka. Tapi tidak… keadaanku yang betul-betul sekarat membenarkan segalanya.

Rasa perih di tubuh bagian bawahku saat aku berusaha untuk duduk bersandar juga membenarkan bahwa semua yang kulalui ini adalah nyata, bukan ilusi.

Kai yang menyibak tirai jendela, kemudian menghampiriku dengan hanya menggunakan jeans yang tidak terkancing sempurna juga membenarkan bahwa…

Sekeras apapaun aku mengelak, sekeras apapun aku menyangkal…

Kenyataan bahwa Se Hun telah meninggal, tidak bisa lagi kupungkiri.

“gwenchanayo?”tanya Kai sembari membelai rambutku.

“Mianhae… kau sampai harus menemaniku dan berakhir seperti ini”lirihku sambil tertunduk. Menatap pilu selimut yang hanya menutupi tubuhku sebatas pinggang.

“tidak apa-apa Lu Hannie…”Kai bergeser, kemudian mengecup bibirku pelan.

“Kai…”

“Ne…”

“Bagaimana cara untuk menjadi seorang Avenger?”

Kai membelalak “Kau bercanda?”

Aku menggeleng lemah “Byun Baek Hyun… akan kubuat dia membayar semua ini”

“Ta… tapi”

“ajarkan aku untuk bisa membunuh orang, Kai”

“Tidak… kau tidak akan sanggup”

“kalau begitu, bantu aku membalaskan dendam ini. bunuh Byun Baek Hyun!”

Kai tersentak, kemudian terdiam cukup lama.

“Kenapa? Kaupun tak sanggup membunuh Byun Baek Hyun?”

“Bukan begitu… tapi… Se Hun bukan terbunuh karena Byun Baek Hyun, maksudku… bukan salahnya, Se Hun memutuskan untuk mengakhiri nyawanya karena itulah yang terbaik untuk memutus rantai dendam itu”

Kutatap Kai tajam “Tidak… pelakunya tetap saja Byun Baek Hyun”

“Ck, Lu Hannie… itu tida__”

ponsel Kai yang berdering membuat ucapannya terhenti. ia kemudian meraih jacketnya yang tergeletak acak di atas tempa tidur.

“Ne Sajang-nim”sahut Kai dengan Ekspresinya yang serius saat berinteraksi dengan Kris sajang-nim. kai menatapku, masih dengan ponsel yang menempel di telinganya “Ne, dia bersamaku, dia sudah agak tenang__ Ne? sekarang?__” mata Kai membelalak “Anda sudah mengabari Park Chan Yeol?” Kai terdiam cukup lama, mungkin mendengarkan penjelasan panjang dari Kris sajang-nim “Saya mengerti sajang-nim… Ne, segera”

Piiip

Kai menghembuskan nafas kemudian menatapku “Kau ingin menjadi seorang Avenger?”

Aku terhenyak “Ne?”

“Tidak secara langsung, tapi kurasa harapanmu akan terkabul. Kau akan mendapatkan tugas yang berhubungan dengan Byun Baek Hyun”

“Tugas apa?”

“setelah kupikirkan… aku akhirnya tahu mengenai rencana sebenarnya mengapa Kris sajang-nim menyekolahkanmu setinggi ini. karena sepertinya, ini sudah ia prediksikan sejak awal”

“aku tidak mengerti Kai…”

“walau bukan ini yang kuinginkan, tapi sepertinya akan ada jalan untukmu untuk membalaskan dendammu”

Aku terdiam, menunggu kelanjutan kalimat samar Kai.

“kau akan ditugaskan menjadi tangan kanan Park Chan Yeol”

Entah kenapa saat mendengar nama itu, seluruh tubuhku merinding “si…siapa Park Chan Yeol?”

“Real Avenger… The Undying Flames…. kakak dari Park Se Hun”

Mataku membulat sempurna “MWO? Bukankah dia…”

“Dia bukannya menghilang, hanya saja ia masih menjalani ujian terakhirnya selama 2 tahun di Argentina”

“aku tidak mengerti”

“untuk itu, persiapkan dirimu. Kris sajang-nim akan membahas ini bersamamu. Kuperkirakan sore ini Park Chan Yeol akan tiba karena sajang-nim baru menyampaikan kabar kematian Se Hun padanya kemarin”

“P… Park Chan Yeol…”

“Lu Hannie… berhati-hatilah. Orang ini bukan orang biasa. Terlebih setelah ia dikirim ke Argentina, pribadinya akan semakin berubah bengis”

“Tapi… dia yang akan ditugaskan untuk membunuh Byun Baek Hyun?”

Kai menghela nafas “Ne… dengan kata lain, kau akan kau juga akan turut andil dalam misi ini”

“Baiklah… siapapun dia… akan kulakukan apapun sampai tugasnya untuk membunuh Byun Baek Hyun selesai”

Kai masih menatapku sendu, tapi aku mengabaikannya. Aku bukannya tidak ingin mendengarkan nasehat Kai, tapi sesayang apapun aku pada Kai, bahkan setelah kuminta Kai menemaniku dengan cara meniduriku, aku tetap tidak bisa mendengarkannya…

Byun Baek Hyun… harus membayar semua perbuatannya karena telah merebut namja yang paling kucintai di dunia ini, dan membunuhnya dengan cara itu…

FLASH BACK END

*~~Amaterasu~~*

Author POV

Lu Han membuka matanya, sadar akan lamunan panjangnya.

“Arasso… sepertinya apapun yang kukatakan tidak akan bisa merubah pendirianmu”ucap Kai kemudian melepas pelukannya di tubuh mungil Lu Han.

Lu Han terdiam dan membiarkan Kai menyeka air matanya.

“aku pulang, jaga dirimu” Kai sedikit membungkuk dan mengecup pelan sudut bibir Lu Han. Mengacak rambutnya kemudian pergi meninggalkan apartement milik Chan Yeol itu.

Lu Han hanya bisa menatap kepergian Kai dengan perasaan campur aduk. Kai terlalu mengingatkannya pada Se Hun dan itu membuat dendamnya semakin mendera untuk segera di tuntaskan.

“Apa yang kulihat ini?”

Suara berat dan dalam itu mengejutkan Lu Han, sontak membuatnya menoleh. Dan bisa ia saksikan, Chan Yeol duduk di pegangan sofa ruang tamu sambil melipat kedua tagan di dada.

“Cha… Chan Yeol-shii”seru Lu Han tertahan.

Chan Yeol mendengus, kemudian berjalan pelan menghampiri Lu Han “Kekasih? Simpanan? Pacar gelap? Atau… pelacurnya?”

“Cha… Chan Yeol-shii… aku tidak seperti itu”

Chan Yeol menutup pintu apartementnya, menyentuh pundak Lu Han dan menghempaskannya ke daun pintu “kau merencanakan sesuatu dengan Kai di belakangku?”

Lu Han menggeleng cepat. Ditatapnya Chan Yeol dengan sangat waspada seolah jika ia lengah sedikit, dia tidak akan sadar saat nyawanya melayang.

TRAK~

Lihatlah bagaimana Chan Yeol meletakkan ujung pistolnya di kepala Lu Han dalam hitungan detik “katakan padaku kalau kau mengkhianatiku atau peluru ini akan menembus kepalamu”

“Tidak… tidak Chan Yeol-shii, aku tidak pernah berniat mengkhianatimu”jawab Lu Han meyakinkan. Tubuhnya sudah bergetar hebat, dan keringat dinginnya bercucuran.

“kalau begitu, yakinkan aku mengenai hubunganmu dengan Kai. Mengapa kalian dengan terang-terangan berciuman dan berpelukan di apartementku?”

Lu Han menelan ludah dengan susah payah “Kai adalah kenalan lamaku…”

“belum… aku belum puas” Chan Yeol mengarahkan pistolnya ke leher Lu Han, membuat namja cantik itu semakin terdesak.

“sebelum aku dipungut oleh Kris sajang-nim, Kai lah yang menyelamatkanku dari orang-orang jahat yang ingin menjual tubuhku”

Chan Yeol mengangkat alis “Lalu…”

“Kai adalah penyelamatku… karena itulah kami sangat dekat sebelum Kris sajang-nim mengirimku ke Perancis”

“Hm, begitu… jadi namja sialan itu juga bisa menjalin hubungan seperti ini?”

“bukan hubungan special Chan Yeol-shii, karena kami tidak saling mencintai. Hanya sebatas, saling memahami. intinya… apapun hubunganku dengan Kai, tidak akan mempengaruhi kesetiaanku padamu”

Chan Yeol tersenyum sinis kemudian memasukkan pistolnya ke balik saku jacketnya “aku heran dengan namja-namja lemah sepertimu dan Baek Hyun, bisa saja dijamah sebegitu mudahnya oleh namja labil itu”

Lu Han tidak menjawab, ia hanya bisa merutuk dalam hati perkataan sadis Chan Yeol.

“Sudahlah, aku mau tidur, sudah kuselesaikan berkas-berkas itu, sudah bisa kau periksa”

“ne Chan Yeol-shii”

“siapkan keperluanku untuk ke Jeju besok”

“Ne Chan Yeol-shii”

Lu Han hanya bisa memandangi punggung Chan Yeol yang menghilang di balik pintu kamarnya. Ia usap sisa air matanya dengan penuh keteguhan “bahkan jika aku harus melakukan hal hina pun, akan kulakukan sampai aku melihatmu membunuh Byun Baek Hyun dengan mata kepalaku sendiri Chan Yeol-shii…”

*~~Amaterasu~~*

Baek Hyun menatap replika dirinya di cermin washtafel. Terlihat dengan jelas butiran-butiran air yang menempel manja di kulit putihnya yang tidak lagi mulus, karena berbagai macam bentuk kissmark bertebaran di sana. Itu membuatnya terlihat sangat kontras.

Ia menghela nafas panjang kemudian memejamkan mata, bayangan Se Hun juga Chan Yeol berputar di otaknya silih berganti.  Mengingat perkataan Kai bahwa takdir telah mengikatnya di antara dua nama itu.

“Se Hunnie… apakah aku akan mati di tangan Chan Yeol?”lirihnya seorang diri dan tentu saja tidak akan ia temukan jawabannya.

“Kenapa lagi-lagi seperti ini Se Hunnie? Kenapa harus… orang yang sangat berarti dalam hidupku???”ia menunduk, menatap genangan air washtafel yang kini mulai beriak saat air matanya jatuh.

“Kenapa harus kau… Park Chan Yeol???? Kanapa harus kaulah Orang itu?


“selama kau punya kalung itu”


Seketika ia teringat ucapan Kai. Ia kembali mengangkat wajah kemudian menyentuh kalung berbandul peluru yang dipakainya.


“kurasa ada alasan kenapa Se Hun menyerahkan itu sebagai amanah, sebuah kalung yang pasti punya makna khusus yang mengikat Se Hun dengan kakaknya.”


 

“tebakanku adalah, dia pun tidak akan sanggup membunuhmu”


Baek Hyun menunduk dan menatap bandul peluru itu “benarkah kalung ini akan melindungiku? Benarkah Hanya sebuah kalung mampu melindungi nyawaku?”ia kembali menatap pantulan dirinya di cermin, kemudian merengkuh kalung itu “Apa makna kalung ini sebenarnya?”

*~~Amaterasu~~*

To be continued

ALF special note: Oke readers…. panjang kan? jangan heran lagi yah… pan ALF demen panjang. kekekekek jadi komennya juga setimpal dong… jangan cuman “keren… lanjut thor..” hemeeehhhh….

oke….. diriku menunggu review kalian

474 thoughts on “[FF YAOI] Amaterasu (The Undying Flames)|| BaekYeol || – Sequel Avenger’s Fault [Chapter 4]

  1. wahh ternyata luhan juga punya dendam sma baeknya duh duh malang nasib mu baek:v waksss:v aing bingung di ff ni mau ngeship hunbaek/hunhan :v sma2 sweet dua2nya.meskipun luhan ngga kek baekhyun yang dipilih sehun.si chanyeol mah main tidur2in anak orng aja :v kesian baeknya ada kissmark:v gpp sih ada encehnya sedikit biar agak asem :v.ini chapter panjang banget:v tpi aing suka :v Buat kak ALF jangan berhenti nulis Ni ff sma NRL soalnya aing suka :v.Laff u eonn❤

  2. sempet bingung tadi bacanya, ternyata flasbacknya luhan tohh. nyesek bgt sih jadi luhan. padahal udah mempersiapkan diri buat jadi pendamping sehun, eh sehunnya malah mati😦 takdir takdir

  3. The flashback of hunhan… Hmm jujur bcnyanya diskip. I’m not into hunhan soalnya. Miah yah author.. Tp intinya lu pny perasaan aka jtuh cnt ama sehun. Itu sbbnya dia pngen bgt liat yeol bunuh baek?

  4. mian krn ngelompatin chap ini..sprti yg aku blang aku dah pernah baca+komen ne..ff ini bbrapa tahun yg lalu wkwk
    aku hibernasi dr ff n skrang balik lg..

    huft..masi mikir luhan ..mungkin engga gitu dia yg akhirnya bunuh baekkie

  5. Tuh kan ada hunhan TT lahh jadi luhan juga mau balas dendam sama baek? Yawlaaa TT

    Oh jadi kalung yg dikasih sehun itu peluru pertama chanyeol. Pantes aja dikasih ke baekhyun, oke jelas deh semua.

    Otw next chap :v

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s