Amaterasu (The Undying Flames)|| ChanBaek || Chapter 3


Fanfiction-BaekYeol/ChanBaek-

Tittle: Amaterasu (The Undying Flames) – After story Avenger’s Fault

Author: AyouLeonForever

Cover pic/poster edited by: AyouLeonForever

Genre: Yaoi, Romance, Thriller, crimes, Tragedy.

Length: Chaptered-

Rating: T, NC 17 (untuk adegan kekerasan dan darah-darahan(?), dan juga… ehem, a lil’ bit lime, maybe *evil smirk).

Main Cast:

·                 Park Chan Yeol

·      Byun Baek Hyun

·      Kim Jong In/Kai

·      Lu Han

·      Wu Yi Fan/Kris

Support Cast:

·      Oh Se Hun (yang dalam cerita ini udah almarhum)

·                 Do Kyung Soo

·      Kim Joon Myeon /Su Ho

·                 Dan seseorang yang akan diungkap di akhir cerita.(sok misterius)

Disclaimer: GOD

Copyright: AyouLeonForever

Summary: “ada seseorang bermarga Park yang cukup membuat bulu kudukku merinding, aku tidak tahu nama aslinya, tapi Baek Hyun-shii, kuharap kakak dari Park Se Hun bukanlah orang ini”

CHAPTER 3

Author POV

Baek Hyun menggigit ujung selimutnya. Pikirannya seperti kosong, tidak ada apa-apa di sana, terlebih saat ia ingin menyelami hatinya, mencari jawaban dari beberapa deretan pertanyaan yang menggerogoti kepalanya. Yang ia temukan hanya jawaban…. “Tidak tahu.”

Kenapa saat Lay meninggal, ia langsung terpikir bahwa orang itu yang membunuhnya…

Kenapa saat Lay meninggal, ia menarik kesimpulan bahwa orang itu memang sengaja ingin menerornya dengan melenyapkan orang-orang terdekatnya…

Kenapa saat Baek Hyun memikirkan orang-orang terdekatnya, nama Park Chan Yeol langsung muncul di deretan nama itu…

Kenapa Baek Hyun begitu takut, begitu cemas kalau Chan Yeol akan terbunuh selayaknya Lay, atau diteror selayaknya Kyung Soo yang sebenarnya juga hampir terbunuh…

Kenapa nama Park Chan Yeol langsung muncul di benaknya saat ketakutan itu menghantuinya..

Kenapa ia langsung menelpon Park Chan Yeol untuk tidak lagi terlibat dengannya.

Kenapa saat Park Chan Yeol menemuinya dengan emosi yang terlihat bergemuruh, otak Baek Hyun seolah kosong.

Kenapa saat Park Chan Yeol bertanya pada dirinya alasan kenapa dia begitu mengkhawatikran Park Chan Yeol, ia tidak bisa menjawab apa-apa?

Kenapa Baek Hyun hanya terdiam saat Park Chan Yeol menciumnya?

Terakhir… mengingat kondisinya sekarang… kenapa tadi malam ia membiarkan Park Chan Yeol menjamahnya. Kenapa ia bisa sampai kehilangan akal sehat hingga ia melakukan hal itu dengan Park Chan Yeol yang hanya berstatus sebagai rekan bisnisnya?

 

Baek Hyun menelan ludah, masih merasakan tangan kekar  itu memeluk perutnya. Hangat tubuh Chan Yeol masih ia rasakan di punggungnya karena memang, Baek Hyun tidur membelakangi Chan Yeol yang terus memeluknya. Deru nafas Chan Yeol yang teratur pun terus dirasakan Baek Hyun di tengkuknya.

Ia masih tidak habis pikir, alasan kenapa ia menyerahkan tubuhnya pada Chan Yeol tanpa perlawanan. Ia bahkan meladeni setiap manuver yang Park Chan Yeol lakukan untuknya.

Bukan mengenai ia sudah pernah melakukan hal itu berkali-kali dengan Se Hun… tapi… ini Park Chan Yeol… bukan kekasihnya… bukan orang yang dia cintai selayaknya ia mencintai Se Hun. Jadi kenapa? Kenapa ia terhanyut dalam permaianan memabukkan yang ia lakukan semalam bersama Park Chan Yeol?

Dan tentu saja jawabannya kembali. “Tidak tahu.”

Hal itulah yang membuatnya hampir gila.

Dengan takut-takut, Baek Hyun memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Chan Yeol yang masih terlelap. Ia perhatikan setiap lekuk dan garis yang membentuk wajah tampannya… bahkan dengan sangat lembut, seolah ia takut sentuhannya akan membangunkan Chan Yeol… jari lentiknya membelai wajah tampan itu. mulai dari kening… hidung, bibir, dagu… naik ke pipi… dan… mata….

DEG~

Kenapa pemuda ini mirip Se Hun saat ia memejamkan matanya dan diam seperti ini?__batinnya.

Dan seketika ketakutan baru menyergapnya… jangan-jangan ia melakukan hal itu karena membenarkan persepsinya bahwa ia menemukan sosok Se Hun di dalam diri Chan Yeol?

Baek Hyun membungkam mulutnya.

Terkejut!

Karena kalau tebakannya benar, berarti ia tidak sepenuhnya menyerahkan dirinya pada Chan Yeol, tapi pada sosok yang mirip Se Hun. Pemuda yang sangat dicintainya.

Se Hunnie…

Apa yang kau lakukan pada diriku?

Kenapa kau mengirimkanku sosok yang begitu mirip denganmu?

Marahkah kau jika kuserahkan diriku pada pemuda ini?

Atau justru ini kemauanmu?

 

Drrt…drrrt….

 

Ponsel Baek Hyun bergetar di atas nakas, dan itu membuatnya harus menghentikan kegiatannya memandagi wajah Chan Yeol yang masih pulas.

Dengan sangat hati-hati ia menggeser tangan Chan Yeol yang masih setia memeluknya, kemudian setelah terbebas, ia duduk di tepi ranjang dan menjawab panggilan dari ponselnya itu.

“Kenapa Kyung Soo-ya,” sapa Baek Hyun dengan suara serak.

“Akh… akhirnya kau menjawab teleponku. Kau baik-baik saja?”

“Hm…”

“Aku ingin bertemu…”

“Tidak sekarang, aku baru bangun.”

“Tapi aku sudah ada di depan rumahmu bersama Su Ho-hyung.”

Pemuda mungil itu langsung membelalak. “Apa? Kenapa tidak menelponku sejak awal?”

“Karena kalau aku izin dulu untuk menemuimu, kau pasti menolak.”

“Tahu begitu kenapa kau tetap bersikeras???” Baek Hyun menyibak selimutnya, menarik baju mandi tebal berwarna putih dan menyelubungi tubuh polosnya. Langkahnya terhenti sejenak ketika ia merasakan sakit di sekitar pinggang ke bawah. Ini pasti masih efek permainannya dengan Chan Yeol semalam, cukup kasar hingga ia sedikit tersiksa setelahnya.

Rasa sakit itu ia abaikan. Ia melanjutkan langkahnya, keluar kamar, turun ke lantai satu dan membukakan pintu depan untuk kedua tamunya.

Kyung Soo mengangkat alis melihat kondisi Baek Hyun yang cukup berantakan untuk kategori orang yang menyambut tamu. “Kau betul-betul baru bangun? Kacau sekali.”

Baek Hyun sebisanya membetulkan rambutnya yang sudah pasti tidak beraturan lagi. “Masuklah.”

Kyung Soo dan Su Ho akhirnya masuk dan memilih duduk di sofa ruang tamu.

“Ada apa?” tanya Baek Hyun langsung.

“Su Ho hyung sudah menyelidiki masalah ini, dan setelah kematian Lay hyung, dia punya informasi untukmu.”

Baek Hyun tercengang, seketika tubuhnya merinding. “Te… tentang orang itu?

Su Ho mengangguk. “Aku sudah menghubungi kolegaku di Beijing. Memintanya untuk mencari data mengenai orang Korea bermarga Park yang kini berdomisili di Argentina.”

“Tunggu… tunggu… kenapa aku menangkap kesan bahwa kau sudah mematok orang yang kumaksud sedang mengincar nyawaku adalah kakak dari Park Se Hun yang melanjutkan studinya itu di Argentina?”

Su Ho menoleh ke Kyung Soo, dan pemuda bermata bulat itu mengangguk. “Baek Hyun-ah… kau tidak punya musuh kan? Dan satu-satunya orang yang berpontesi untuk mengincarmu adalah juga satu-satunya anggota keluarga Park yang tersisa, terlebih setelah kematian adiknya, sesuai pengamatan Su Ho hyung… ia akan semakin dendam padamu, karena kau satu-satunya anggota keluarga Byun yang tersisa.”

Baek Hyun memegangi kepalanya, sakit sekali. “Jadi benar…ini masih mengenai rantai dendam itu? dendam yang terus membara dan akan padam bila aku mati?”

“Baek Hyun-shii… tenangkan dirimu. Kami akan terus melindungimu, dan tuan Park ini akan segera kutemukan sebelum ia berhasil menyentuhmu.”

Baek Hyun mengangkat wajah menatap Su Ho. “Aku tidak takut mati hyung, kalau memang yang diincarnya adalah nyawaku, tidak mengapa. Aku ikhlas, asal jangan orang di sekitarku, yang tidak ada sangkut pautnya dengan dendam ini.” Matanya mulai berkaca-kaca. Kyung Soo yang melihatnya langsung pindah tempat duduk dan memeluknya.

“Jangan menyerah dulu Baek Hyun-shii,” Su Ho mengeluarkan notenya. “Ini info yang kudapat. Ada sekitar belasan orang Korea bermarga Park yang bersekolah di Argentina, ada yang masih tingkat SMU, dan perguruan tinggi, setelah kueliminasi, hanya ada beberapa orang Mahasiswa bermarga Park, dan saat kutelusuri lagi, mereka bukan Anggota keluarga Park yang kita cari. Bukan anak dari Tuan Park Jung soo dan Kang Sora, juga bukan kakak dari Park Se Hun. Tapi…”

Baek Hyun dan Kyung Soo menoleh bersamaan. “Tapi apa hyung?”

“Ada seseorang bermarga Park yang cukup membuat bulu kudukku merinding,” Su Ho menelan ludah. “Aku tidak tahu nama aslinya, tapi Baek Hyun-shii, kuharap kakak dari Park Se Hun bukanlah orang ini.”

Baek Hyun masih menatap Su Ho cemas. “Orang ini? si…siapa?”

“Seorang pembunuh bayaran berusia 23 tahun. Dia orang korea asli bermarga Park. Tapi dia lebih dikenal dengan sebutan Undying Flames di sana.”

“Tu…tunggu… pembunuh bayaran?”

Su Ho mengangguk. “Sudah ada puluhan, bahkan ratusan nyawa yang berakhir di tangannya. Dia musuh bebuyutan Polisi selama setahun lebih di Argentina, ajaibnya identitas si Undying Flames ini sama sekali tidak bisa dikuak. Setiap pembunuhan yang ia lakukan sangat bersih tanpa jejak sedikitpun.”

Kyung Soo semakin mengeratkan pelukannya saat merasakan tubuh sahabatnya itu bergetar hebat ketakutan.

“Setiap pembunuhan sadis tanpa jejak dan bukti yang tertinggal, sudah pasti adalah kelakuannya. Dan inilah yang kutakutkan.”

“Hyung?”

“Si Undying Flames sudah meninggalkan Argentina sejak hampir 2 bulan yang lalu, berhubung sudah tidak ada lagi kasus pembunuhan samar yang terjadi di sana dalam kurun waktu itu.” Su Ho menyeka keringatnya. “Baek Hyun-shii… berhati-hatilah, orang yang mengincarmu ini bukan orang sembarangan. Kurasa dia memang sengaja tidak membunuhmu langsung karena ingin melihatmu tersiksa perlahan-lahan. Tidak diherankan karena prinsip seorang pembunuh berdarah dingin tidak akan ada yang bisa menyangkanya.”

Baek Hyun menunduk, tubuhnya masih bergetar, dan keringatnya bercucuran. “Se Hun… tidak mungkin punya kakak seperti itu…”

Su Ho menghela nafas. “Tidak ada yang bisa menerka kehidupan Baek Hyun-shii, bahkan seekor kucing jinakpun bisa berubah menjadi seekor serigala jika kerasnya kehidupan memaksanya berubah. Aku tidak heran lagi dengan hal ini, banyak kasus yang kutemukan yang terkadang keluar dari nalar. Ibu yang membunuh anak perempuan kandungnya sendiri karena kedapatan berselingkuh dengan suaminya yang seharusnya menjadi ayah tiri anak perempuannya itu. suami yang membunuh istrinya demi mendapatkan asuransi jiwa yang sudah bermilyar-milyar, bawahan yang membunuh atasannya yang setelah diusut ternyata sang bawahan adalah seorang pemuda yang tersakiti ketika istrinya harus direbut oleh atasannya, dan terakhir ia ketahui, sang istri hanya dijadikan budak seksnya.” Su Ho kembali menghela nafas. “Kasusmu hanyalah salah satu dari rentetan kasus yang kusebutkan, dan kuharap… kau tetap kuat, waspada hingga pada akhirnya kaulah orang yang tetap hidup dan mengalahkan kerasnya kehidupan ini.”

Baek Hyun mengusap air matanya. “Apa Tuhan akan tetap menolongku untuk kedua kalinya?”

“Maksudmu?”

Ia menatap Su Ho sendu. “Satu kali… aku sudah pernah berada dalam posisi melawan kerasnya kehidupan itu. aku sudah berhadapan dengannya… pemuda yang kucintai… yang seharusnya membunuhku… aku bahkan menyerahkan seluruh jiwa ragaku untuk ia habisi dengan tangannya sendiri. Tapi terakhir… akulah orang yang tetap hidup dan mengalahkan kerasnya kehidupan itu… aku ..”Baek Hyun menelan kasar ludahnya yang seperti karang. “Kurasa Tuhan tidak akan memberiku kesempaan semulia itu untuk kedua kalinya. Karena jika benar aku bertemu dengan orang ini… akan kuminta ia melenyapkan nyawaku secepatnya.”

“Baek Hyun-ah, jaga bicaramu, tidak akan kubiarkan siapapun melukaimu,” bentak Kyung Soo.

Baek Hyun menggeleng. “Aku harus membayarnya Kyung Soo-ya. Secara tidak langsung, akulah yang membunuh Se Hun… dan aku akan menerima ganjarannya jika benar kakak dari Se Hun akan menuntut balas terhadapku.”

Kyung Soo kembali memeluk Baek Hyun. “Tidak akan kubiarkan…”

Su Ho menepuk pundak Baek Hyun, berusaha menenangkannya. “Kau hanya perlu waspada, semoga orang ini bukanlah si Undying Flames. Karena kematian beberapa karyawanmu, penembakan Kyung Soo, dan kematian Lay-shii… semuanya tidak meninggalkan jejak, semuanya samar… itu yang kukhawatirkan bahwa orang ini adalah Undying Flames itu… dan kurasa bukan tanpa alasan dia menamai dirinya seperti itu. kupikir karena ini adalah jati dirinya yang sebenarnya, seseorang dengan kobaran api di sekitarnya yang tidak pernah padam. Di Jepang kami menyebutnya… Amaterasu.”

DEG~

Baek Hyun tersentak

“Kenapa Baek Hyun-ah?”

“Ti… tidak…” ia kembali menatap Su Ho. “Amaterasu?”

Su Ho mengangguk. “Kenapa? Ada sesuatu yang kau ingat?”

Baek Hyun menggeleng cepat. “Ah… tidak… tidak ada.”

TEP~

TEP~

TEP~

Ketiga orang itu menoleh pada sumber suara. Langkah kaki berat dan kedengaran seperti di seret.

Mata Baek Hyun membulat saat mendapati Chan Yeol turun dari lantai dua dengan menggunakan baju mandi yang sama dengannya.

Kyung Soo membungkam mulutnya, karena tak percaya. “Kau… dan Park Chan Yeol…”

Baek Hyun gelagapan panik, ”Tidak… tidak seperti itu…”

Kyung Soo masih membulatkan mata besarnya. “Kalian???”

“Baek Hyun-shii… aku lapar,” keluh Chan Yeol sambil mengusap-usap matanya. “Eh… Do Kyung Soo?”

“Park Chan Yeol??? Kau dan Baek Hyun???”

Chan Yeol tersenyum, menampakkan deretan giginya yang putih.

Baek Hyun semakin panik, kemudian beranjak dan langsung menyeret Chan Yeol kembali ke kamarnya.

KLEK~

BLAM~

“KENAPA KAU KELUAR???” bentak Baek Hyun dengan wajahnya yang panas dan memerah.

Chan Yeol mengerutkan kening. “Sudah kubilang aku lapar. Jam segini biasanya Lu Han sudah menyiapkan sarapan untukku. Tadi malam aku juga tidak makan.”

Baek Hyun mengacak rambutnya frustasi. “Apa yang menimpaku ini Tuhaaaannnn.”

“Kenapa? Kau menganggap tidur denganku adalah sebuah musibah?”

Baek Hyun mendongakkan wajahnya menatap Chan Yeol. “Tunggu di sini. aku harus memastikan Kyung Soo dan Su Ho hyung pulang dulu, baru kita bicara.”

“Dengan senang hati yeppo…”

 

 

 

*~~Amaterasu~~*

 

 

Baek Hyun masuk ke dalam kamarnya dengan wajah memerah. Setelah dengan susah payah ia berhasil mengusir Kyung Soo (dan juga Su Ho) yang terus mencecarnya dengan seribu pertanyaan yang sebenarnya hanya satu intinya . kenapa Chan Yeol bisa ada di rumahnya dengan kondisi yang mencurigakan?.

Dan Baek Hyun hanya bisa menjawab. “Akan kujelaskan nanti, jadi pulanglah dulu.”

Terakhir Kyung Soo mencelanya. “Bisa-bisanya kau bercinta dengan rekan bisnismu setelah kau mendapatkan musibah.”

Itu yang membuat wajah Baek Hyun semakin panas dan akhirnya membentak Kyung Soo agar dia mau pulang. sayangnya sahabat Baek Hyun yang satu itu telah menyimpan deretan pertanyaan yang sudah pasti akan menyiksanya seharian penuh kalau mereka bertemu lagi.

Dengan langkah gontai ia berjalan menuju sofa dekat jendela dan duduk di sana sambil menekuk lutut. Pikirannya kini terbelah dua. Mengenai orang itu yang berinisial Undying Flames, dan juga tentang kebodohannya yang telah membawa dirinya terikat pada Park Chan Yeol.

 

Baek Hyun menoleh setelah mendengar pintu kamar mandi dibuka. Dengan mata membelalak ia saksikan dada bidang nan kokoh milik Chan Yeol, otot lengan yang tidak terlalu besar tapi tampak begitu kekar di mata Baek Hyun, membuatnya terlihat seperti orang bodoh yang hanya bisa menelan ludah tanpa berkedip.

“Kau punya bir?” tanya Chan Yeol sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.

“Bir? Tidak… aku tidak minum,” jawab Baek Hyun.

Chan Yeol menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Masih dengan handuk yang melilit di pinggangnya.

Seketika Baek Hyun membelalak melihat apa-apa saja yang menghiasi sekitaran dada Chan Yeol, kulit putih itu tidak mulus, sangat kontras dengan apa yang tercetak di sana dalam jumlah banyak. (bukan seperti yang kalian pikirkan. Karena kuyakin kalian memikirkan kissmark, sayangnya bukan, karena Baek Hyun tidak seagresif itu).

Di sana, begitu banyak bekas luka sayatan, jahitan, dan bisa jadi bekas luka membundar yang hampir menyamai ukuran diameter peluru itu adalah luka tembak.

Sedikit teperangah kenapa Baek Hyun tidak melihatnya semalam. Oh jelas saja, dia seperti orang mabuk, hingga tidak fokus pada sekitarannya.

“Kenapa memandangiku begitu?” tanya Chan Yeol setelah menoleh pada Baek Hyun.

“Ke…kenapa di tubuhmu banyak bekas luka begini?” tanya Baek Hyun takut-takut.

“Hm… ini, karena aku sedikit nakal.”

“Tapi kenapa sampai banyak begini?”

“Aku pernah tertembak 2 kali, tertikam 3 kali, dan luka-luka lecet dan jahitan ini aku lupa di mana mendapatkannya.”

“Kau seceroboh itu rupanya, tidak heran kenapa tanganmu tidak sembuh-sembuh juga.”

Chan Yeol tertawa. “Ini bukan ceroboh, ini hanyalah harga kecil yang perlu dibayar agar aku bisa menjadi sosok yang kuat.”

“Sosok yang kuat? Untuk apa?”

“Hm… untuk sesuatu yang seharusnya dilakukan seorang anak sebagai bentuk pengabdiannya.”

“Aku tidak mengerti.”

Chan Yeol tersenyum pahit. “Kau ingin mengerti?”

Baek Hyun mengangguk ragu.

“Sudah kukatakan padamu bukan, kalau keluargaku telah meninggal.”

Baek Hyun terhenyak kemudian mengangguk lagi. “Hm, kita berada di posisi yang sama.”

Chan Yeol mengubah air mukanya hingga kelihatan mencekam. “Keluargaku telah meninggal, dan itu yang membuatku tersiksa sampai sekarang.”

Baek Hyun mengangkat wajah. Menatap 2 pasang manik mata gelap di depannya. Ada luka yang masih berdarah di sana, sangat jelas karena Chan Yeol tidak bisa menutupinya walau dengan eskpresi dinginnya.

“Orang tuaku terbunuh,” ucap Chan Yeol membuat Baek Hyun tersentak. “Juga adikku… dan kau tahu Byun Baek Hyun… aku hidup saat ini diselimuti api yang orang-orang sebut sebagai api dendam.” Chan Yeol meraih tangan Baek Hyun dan menuntun tangan indah itu menapak di dadanya.

Baek Hyun merasakannya,, hawa panas di dada Chan Yeol, juga detak jantung yang sangat cepat dan keras membuatnya yakin bahwa Chan Yeol akan seperti ini jika ada yang membahas tentang kenangan masa lalunya.

“Api ini tidak akan padam Baek Hyun-shii… bahkan jika aku sudah melenyapkan orang yang menghabisi keluargaku… atau lebih mengkhusus… adikku.”

Baek Hyun menelan ludah, untuk kesekian kalinya ia menemukan sosok Se Hun di dalam diri Chan Yeol. Tatapan ini, sekali lagi mengingatkannya pada tatapan yang sering diperlihatkan pemuda yang dicintainya itu jika telah menyangkut mengenai perannya sebagai seorang Avenger.

Perlahan walau sedikit takut, Baek Hyun menyandarkan kepalanya di dada Chan Yeol dan memeluk tubuh yang bergemuruh akibat api membara itu.

Chan Yeol terhenyak, tubuhnya semakin bergetar hebat. Sekali waktu akibat dari pertanyaan Baek Hyun yang mengingatkannya pada dendam itu, hendak rasanya ia mematahkan leher Baek Hyun saat ini juga. Tapi belum… belum saatnya. Tunggu sampai pemuda ini bertekuk lutut di hadapannya hingga ia bisa menghadapkan Baek Hyun pada mimpi buruk paling mencekam sebelum kematian menjemputnya.

SRAK~

Chan Yeol bergeser, dan itu membuat pelukan Baek Hyun terlepas.

Baek Hyun mengernyit heran. “A…ada apa?”

Chan Yeol membetulkan posisinya.“Tidak, sepertinya aku harus pulang. Lu Han pasti sudah gelisah.”

“Ng… kau tinggal serumah dengan Lu Han?”

Chan Yeol mengangguk santai. “Kenapa? Kau cemburu?”

Baek Hyun menggeleng cepat dengan wajah memanas.

“Kuharap suatu saat akan kudapatkan jawaban berbeda darimu atas pertanyaan ini.”

Baek Hyun menunduk, dan membetulkan baju mandinya yang sudah melorot hingga menampakkan dada putihnya yang dipenuhi bercak merah kebiruan. Jejak yang baru kali ini ditinggalkan Chan Yeol dengan bentuk berbeda selain luka tembak dan darah.

Chan Yeol berdiri, melangkah santai menuju tempat tidur Baek Hyun di mana pakaiannya terletak acak.

Dan ada sesuatu yang membuat Baek Hyun seketika membelalak.

Punggung Chan Yeol…

..

bertatto.

Dia tidak ambil pusing tentang itu, tapi masalahnya, tatto di punggung kiri Chan Yeol itu begitu familiar, pernah dilihatnya, atau mungkin sering dilihatnya. Tatto yang bertuliskan deretan aksara Jepang kuno dengan design yang cukup rumit tapi keren, menampakkan kesan dingin dari seorang Park Chan Yeol walau nyata-nyata dipinggir deretan huruf itu adalah kobaran api yang jelas saja keseluruhannya berwarna hitam.

Aksara itu begitu rumit, terlebih model hurufnya yang terlihat seperti font api. Dan rasa penasarannya itu menuntunnya berdiri, menghampiri Chan Yeol dan menyentuh punggung kiri Chan Yeol itu dengan jemari lentiknya.

Chan Yeol sedikit terkejut, seketika menoleh. “Ada apa? Kau mau lagi?”

Baek Hyun terbatuk. “Ti… tidak… bukan… itu.”

“Aku akan kembali malam ini, jadi tenang saja.” Chan Yeol mengenakan kaosnya, dan langsung memasang sweater dan celana panjangnya. Dilemparnya handuk yang melilit di pinggangnya tadi ke sembarang arah.. “Aku pulang.” dikecupnya bibir Baek Hyun sejenak sebelum pemuda tampan itu meninggalkannya dengan keadaan tercengang.

“Pasti bukan…,” ucapnya seorang diri.

Dan dengan tubuh bergetar hebat ia menghampiri nakas di sebelah tempat tidurnya, menarik lacinya dan mengeluarkan sebuah kotak perhiasan berlapiskan beludru hitam di atas frame foto Se Hun.

Dengan tangan masih bergetar, ia buka kotak itu dan mengeluarkan isinya. Ia tatap kalung berbandul peluru itu dengan seksama dan…

Seketika lututnya lemas. Membuatnya luruh ke lantai dengan wajah terperangah tak percaya.

“TIDAK MUNGKIN… TIDAK MUNGKIN…. “ pekiknya membahana. Kalung berbandul peluru itu terlepas dari tangannya, menggelinding tak jauh darinya.

Terlihatlah sisi bandul itu, deretan aksara Jepang kuno dengan font rumit yang dikelilingi api hitam. Ukiran yang persis sama dengan Tatto yang terletak di punggung kiri Park Chan Yeol…

Kedipan matanya membuat genangan air yang tadinya hanya berani menumpuk di pelupuk matanya kini mengalir tanpa penghalang. Tubuhnya masih bergetar dan pandangan matanya seperti kosong.

Masih terduduk di dekat nakas, ia membuka lemari bawahnya, mengeluarkan sebuah buku usang setelah ia teringat sesuatu. Selanjutnya ia mengambil pena dan kertas.

Tetap dengan tangan bergetar, ia raih kalung tadi dan mengamati huruf itu lamat-lamat. Menyamakan huruf itu dengan deretan huruf Hiragana yang terdapat di buku aksara jepangnya. Karena benar, Font rumit itu adalah huruf Hiragana yang dimodel sedemikian rupa sehingga sulit membacanya dalam waktu singkat.

Baek Hyun mencocokkannya tiap huruf dan menulisnya di lembaran kertas tadi.

Ia menelan ludah saat menulis huruf pertama.

A…

MA…

TE…

Jantungnya berdegup kencang, ia usap kasar air matanya yang mengganggu penglihatannya.

RA…

Seluruh persendiannya seolah lumpuh.

SU…

AMATERASU

Undying flames …

 …

Pembunuh berdarah dingin..

Orang yang mengincarnya selama ini...

Orang yang dimaksud oleh Kai agar diwaspadai Baek Hyun…

Kakak dari Park Se Hun yang merupakan satu-satunya anggota keluarga Park yang tersisa…

 …

Semuanya adalah orang yang sama…

Park Chan Yeol!

Dan tidak ada lagi yang bisa ia sangkal.

Seketika seluruh tubuhnya bergetar, ektremitasnya dingin, dan dia berkeringat. Ia beringsut, duduk sambil memeluk lutut di pojok antara sisi tempat tidurnya dan meja nakas. Pandangan matanya tidak fokus, bisa terlihat bola matanya bergerak kesana kemari. Masih tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Jantungnya berdebar cepat dan hebat, dan itu yang membuatnya semakin gemetar.

Ia sudah tegas mengatakan bahwa ia tidak takut mati saat orang itu nantinya datang menuntut balas. Tapi kenapa?

Kenapa saat ia tahu bahwa orangnya adalah Park Chan Yeol, ia justru mengalami ketakutan luar biasa.

Kenapa harus…

Park Chan Yeol???

Orang yang dengan tanpa perlawanan telah Baek Hyun serahkan tubuhnya kepadanya….

Kenapa harus Park Chan Yeol lah orang itu. pembunuh berdarah dingin yang dijuluki undying Flames?

Kenapa harus Park Chan Yeol???

Kakak dari Park Se Hun…

“Se… Se Hunnie… jebal… selamatkan aku… Se Hunnie… aku… takut,” rintihnya dengan suara hampir tak terdengar.

 

*~~Amaterasu~~*

 

 

Lu Han merinding saat melihat Chan Yeol pulang sambil bersiul-siul. Terlebih wajahnya itu terlihat girang dan… entahlah, sulit menyandingkan ekspresi bahagia dan hangat untuk seorang pembunuh berdarah dingin bernama Park Chan Yeol.

“Kusiapkan air hangat?” tanya Lu Han

“Aku sudah mandi,” jawab Chan Yeol kemudian duduk di sofa sambil meluruskan kaki panjangnya di atas meja.

“Kau ingin sarapan?”

“Hm…”

“Kubawa ke sini atau kau saja yang ke dapur?”

Chan Yeol menoleh menatap Lu Han. Dan itu membuat pemuda cantik itu menyadari kelalaiannya.

“Maaf…” ia pun menunduk dalam sambil memejamkan mata rapat-rapat

“Kau kenapa?”

Lu Han membuka matanya dengan kebingungan. “Tidakkah kau akan memberiku pelajaran?”

Chan Yeol tertawa ia hampiri Lu Han kemudian mengacak rambutnya. “Aku tidak akan menciummu sembarangan lagi. Entahlah… setelah menghabiskan satu malam dengan Byun Baek Hyun, aku tidak tertarik lagi menjamah pemuda cantik manapun selain dia.”

Lu Han membelalak. “Kau sudah…”

“Benar… dia sudah kumiliki, tinggal menunggu dia mengatakan padaku secara gamblang bahwa dia mencintaiku, dan tidak bisa hidup tanpaku.” Chan Yeol tertawa bagai orang gila. “Dan saat itulah… dia akan melihat dengan mata kepalanya sendiri, nyawanya dicabut oleh pemuda yang ia cintai. Ckckckckc… aku suka rencana Kris hyung ini. hebat… lebih menantang dari apapun.” Chan Yeol kembali mengacak rambut Lu Han kemudian menghilang ke dalam dapur.

Tinggallah Lu Han memandangi punggungnya yang menjauh. “Park Chan Yeol… pemuda seperti apa kau?” ucapnya masih terperangah

 

*~~Amaterasu~~*

 

“Hm… begitu?”Kris tertawa. “Jadi anak itu sudah mendapatkan Baek Hyun? Menarik, lebih cepat dari yang dilakukan Se Hun. Atau karena pemuda yang bernama Byun Baek Hyun itu adalah pemuda jalang yang mudah tergoda oleh pemuda tampan?ckckckckck menyedihkan, Se Hun mati karena seorang pemuda murahan seperti ini. ya sudah, terus amati perkembangannya dan laporkan padaku. Hm… kau juga akan semakin dekat dengan tujuanmu kan…..hm, aku tidak lupa. Aku memang hidup untuk urusan seperti ini, mendidik calon-calon avenger dan membuatnya menjadi sosok kuat untuk mampu menuntaskan dendamnya dengan tangan sendiri.” Kris tertawa lagi. “Ya sudah… nanti kuhubungi lagi.” Kris meletakkan ponselnya di atas meja.

“Kai…” serunya

“Ada apa sajang-nim?” pemuda berkulit sedikit gelap itu menghampiri atasannya dengan hormat.

“Detik-detik eksekusi semakin dekat, aku cukup banyak urusan di Beijing jadi mungkin aku akan terlambat ke Seoul. Kau duluan lah ke sana.”

“Baik sajang-nim…”

“Ahh… anak itu, aku suka sekali perangainya, dia tidak pernah mengecewakan.”

“Sajang-nim.”

“Hm…”

“Bolehkan aku bertanya sesuatu?”

“Tentu saja Kai… aku suka saat anak didikku bertanya.”

“Kenapa kau tidak membiarkan Chan Yeol langsung membunuh Baek Hyun saja? Kenapa kau membiarkan mereka terlibat dalam sebuah hubungan yang bisa saja akan menyebabkan kesalahan itu terulang lagi. Kesalahan di mana Se Hun tidak bisa menuntaskan dendamnya karena dia terlanjur mencintai byun Baek Hyun.”

Kris meneguk wine nya, kemudian tersenyum. “Kau tahu, ujian terakhir untuk seorang Avenger?”

Kai mengangguk. “Tidak melibatkan emosi dan perasaan dalam dendam.”

“BINGO! Sejak awal aku sudah mendoktrin anak-anak itu untuk memiliki prinsip kuat selayaknya Avenger yang sebenarnya. Chan Yeol sebenarnya hanya memiliki satu bentuk emosi. Amarah. Dan itu sangat jarang, jadi mustahil dia akan jatuh cinta pada anak itu, jadi tenang saja. Berbeda dengan Se Hun yang awalnya sudah berhasil kudidik dia menjadi pemuda tanpa emosi dan perasaan, tapi takhluk oleh seorang pemuda bernama Byun Baek Hyun. Kau tahu… itu membuatku tersinggung.”

Kai mengerutkan keningnya. “Aku tidak mengerti sajang-nim.”

“Aku menyukai Se Hun, layaknya aku menyukaimu. Kutemukan bibit-bibit penerusku dalam diri kalian. Jadi aku cukup sedih kehilangannya.” Kris meletakkan gelasnya di atas meja dan menangkupkan tangannya di depan menatap Kai serius. “Setelah berhasil menanamkan doktrin kuat di otak Se Hun selama bertahun-tahun, pemuda bernama Byun Baek Hyun justru melunakkannya hanya dalam kurun waktu beberapa bulan, jelas aku tersinggung. Ajaranku kalah dengan perasaan busuk yang bernama cinta milik anak itu. aku tidak terima.”

Kai mengangguk-angguk, mulai mengerti.

“Untuk itu… kusuruh Chan Yeol menghabisi anak itu dengan cara yang sama sebagai mana Se Hun terbunuh. Dengan kata lain, aku ingin melihat anak itu terbunuh dengan perasaan yang ia agung-agungkan, yang sukses membunuh anak didik kesayanganku. Park Se Hun.”

Kai menelan ludah. Ia tidak heran lagi dengan pola pikir aneh dari atasannya ini. kesemuanya sangat sulit ditebak, biasanya terlalu logis, tapi kali ini justru kekanak-kanakan. Kris merasa kalah oleh pemuda polos yang berusia 21 tahun. Dan itu baru pertama kalinya Kai melihat Kris mengakui sebuah kekalahan.

“Persiapkan dirimu, berangkatlah ke Seoul. Kudengar Byun Baek Hyun menyewa detektif untuk melacak keberadaan Chan Yeol. Aku paling malas berurusan dengan detektif… Lenyapkan kutu itu.”

“Baik sajang-nim.”

 

*~~Amaterasu~~*

 

Baek Hyun masih betah di tempatnya sejak pagi, padahal jam di dindingnya sudah menunjukkan pukul 8 malam. Perutnya sudah menyerukan protes sejak tadi tapi ia abaikan. Bahkan untuk melangkah keluar kamar pun ia takut. Ia merasa Park Chan Yeol sudah menguasai segala aksesnya kemana-mana. Mengingat kemarin malam, pemuda itu dengan mudahnya langsung menggedor pintu kamarnya.

Artinya…

Untuk seorang Park Chan Yeol, tidak terlalu sulit menyusup masuk ke dalam rumah minimalis ini. Bukan tanpa alasan dia menjadi musuh bebuyutan Polisi di Argentina.

 

TING… TONG…

 

 

Baek Hyun terperanjat bukan main saat ia mendengar suara bel di depan. Seketika sekujur tubuhnya dingin, bergetar hebat, dan berkeringat. Ia langsung menarik selimutnya dan menyelubungi tubuhnya.

Suara bel di pintu rumahnya terus bersahutan. Entah kenapa Baek Hyun justru mendengarnya seperti panggilan kematian, dan itu yang membuat lehernya tercekat padahal ia ingin berteriak dan menangis sekeras-kerasnya.

Menit berikutnya suara itu berhenti. Baek Hyun mengira ia sudah aman, tapi tidak. Sayup-sayup telinganya menangkap suara langkah kaki yang berat dan sedikit diseret. Semakin lama semakin jelas, … semakin dekat dan…

 

Tok…tok…tok…

 

Sekujur tubuh Baek Hyun merinding, kaku, dan menegang. Keringatnya semakin bercucuran. Dan…

“Baek Hyun-ah… kau di dalam?”

Tunggu… Baek Hyun masih ingat suara itu.

Dengan sigap ia melempar selimutnya dan berlari menerjang pintu kamarnya.

Matanya yang berair dan sembab kini melebar sempurna saat melihat sosok tinggi dan tampan itu.

Bibirnya bergetar hebat, dan akhirnya tangis itu pecah juga…

“Baek Hyun-ah?” pemuda itu jelas kebingungan.

“Hiks… KAAAAIIIIIIII…..” Pekik Baek Hyun sembari menghempaskan dirinya ke pelukan Kai.

“A… ada apa ini? kau kenapa?” Kai mengusap punggung Baek Hyun, berusaha membuatnya tenang.

“Dia datang Kai… dia datang… orang itu sudah datang…”

Kai terdiam. Jelas saja dia yang paling tahu siapa orang itu, karena dialah yang menyuruh Baek Hyun waspada.

“Orang itu… mencelakai semua orang-orang terdekatku, dia membunuh semua orang-orang yang terlibat denganku. Kau tahu… Kyung Soo juga hampir terbunuh,” raung Baek Hyun.

Kai menghela nafas panjang kemudian mengeratkan pelukannya pada Baek Hyun. “Tenangkan dirimu…”

“Tolong aku Kai… tolong aku… dia menakutkan… manakutkan… aku tidak ingin mati ditangannya… aku…. aku takuuutttt.”

Seolah remuk redam, Kai merasakan sakit di dada kirinya. Baek Hyun bahkan tidak sadar bahwa Kai masih lah salah satu orang yang terlibat di belakangnya.. “Sebisaku Baek Hyun-ah.”

 

*~~Amaterasu~~*

 

Kai menghisap batang rokoknya dengan tarikan-tarikan kuat, dan mengepulkannya ke udara. Ia pandangi kelamnya malam dari balkon kamar Baek Hyun. Ia memang sengaja menunggu di balkon sementara pemuda mungil itu membersihkan diri dan berganti pakaian, sampai ketika suara tirai tersibak mampir ke telinga Kai, pemuda tampan itu pun menoleh.

“Sudah selesai?” tanya Kai setelah mematikan puntung rokoknya.

“Hm, masuklah. Cuaca agak dingin,” pinta Baek Hyun.

Kai mengangguk, kemudian mengikuti langkah pemuda mungil itu menuju sofa kamarnya.

“Sudah agak baikan?” tanya Kai.

Baek Hyun menghela nafas. “walaupun kematian mencekam masih membayangiku, setidaknya aku tidak sendirian sekarang.”

Kai tersenyum kemudian mengusap puncak kepala Baek Hyun.

“Kai…”

“Ya…”

“Kenapa kau tidak bilang sejak awal kalau orang itu adalah kakaknya Se Hun?”

Kai tidak menjawab.

“Kenapa kau tidak memberitahuku secara jelas mengenai orang itu sebelum kau pergi. Setidaknya kalau aku tahu bahwa orang itu adalah kakaknya Se Hun, dan jika kutahu kakaknya Se Hun bernama Park Chan Yeol… aku tidak akan… semenderita ini.”

Pemuda tampan itu mengamati perubahan sikap Baek Hyun saat membahas Chan Yeol, ada yang aneh tertangkap oleh kedua matanya. “Kau… menyukai Park Chan Yeol?”

Baek Hyun tersentak. “Bu… bukan seperti itu…”

“Lalu?”

“Aku hanya…. aku… tidak… ng… maksudku…”

Kai tertawa kecil. “Entah ini takdir atau apa, tapi sepertinya, selain rantai kebencian yang terjalin antara keluarga Park dan keluarga Byun, masih ada rantai lain di sebelahnya, yaitu rantai cinta.”

“Kai…”

“Kurasa sedikit setimpal. Untuk melenyapkan orang yang tidak tahu apa-apa sepertimu, yang hanya karena nama depanmu adalah Byun hingga kau masuk ke dalam rantai kebencian itu, harga yang harus dibayar oleh keluarga Park adalah… nyawa Park Se Hun.”

“Kai jebal… jangan mengungkit itu.”

Kai menghela nafas, kemudian sedikit bergeser dan menyentuh pipi Baek Hyun. “Park Se Hun adalah rekanku yang paling kusegani diantara semua anak didik Kris sajang-nim. Bukan karena aku takut padanya, bukan… kalau memang aku harus takut, maka orang yang paling tepat untuk kutakuti adalah Park Chan Yeol. Kau tahu… aku menyegani Se Hun, bukan karena kesempurnaannya, dia memang anak didik Kris sajang-nim yang terbaik. Dia cerdas, kemampuannya untuk mengontrol emosi tidak bisa diremehkan. Rencana yang ia buat selalu matang dan berhasil… tapi bukan itu… bukan itu yang kusegani darinya.”

Baek Hyun tak jengah menatap Kai, ia begitu ingin Kai menyelesaikan pembahasan mengenai Park Se Hun, pemuda yang sangat ia cintai itu. kerinduan itu sudah menumpuk, dan hanya Kai lah satu-satunya portal berbentuk memori dan kenangan yang bisa Baek Hyun jelajahi untuk meredakan kerinduan itu.

“Se Hun rela mati untukmu.”

 

DEG~

 

“Park Se Hun, seorang Avenger yang dididik selama bertahun-tahun, dengan latihan fisik, juga doktrin kuat yang berakar hingga ke dasar otak, akhirnya mampu melupakan dendam, dan memutuskan rantai kebencian tepat pada nyawa terakhir dari target balas dendamnya. Itu sulit Baek Hyun-ah, aku sendiri mungkin tidak sanggup jika saja aku berada di posisinya. Seperti pertaruhan nyawa, dendam keluarga, atau target balas dendam. kau tahu artinya?…” Kai menangkupkan kedua tangannya di pipi Baek Hyun, dan menggunakan ibu jarinya untuk mengusap air mata Baek Hyun yang keluar bergerombol. “Bahwa Se Hun mampu memadamkan api dendamnya di detik-detik terakhir hidupnya, dengan embun yang menyejukkan yang kalian namakan cinta.”

Baek Hyun memejamkan matanya. Kai seolah membuka kembali luka yang sudah hampir mengering, dan kini kembali berdarah dan menganga lebar.

“Aku tidak ingin membuatmu bersedih karena kembali teringat pada Se Hun, Baek Hyun-ah. Aku hanya ingin mengingatkan, betapa berharganya hidupmu. Nyawamu, keselamatanmu, yang sebelumnya di bayar oleh nyawa seorang Avenger… Park Se Hun.”

Kai melihatnya. Sosok yang rapuh itu, sosok yang awalnya hanya ia anggap sebagai mainan yang mudah rusak… dan lihat bagaimana air mata Baek Hyun begitu mempengaruhi hatinya untuk ikut terhanyut.

Tidak perlu lagi kucari alasan kenapa kau begitu mencintai anak ini Se Hun-shii. Ia begitu murni__lirihnya membatin.

Dan kemurnian itu justru menantang Kai untuk masuk ke sana, mencari celah di mana sebelumnya Se Hun terjerat di sana.

Baek Hyun terhenyak ketika Kai mulai mendekatkan wajahnya, teringat bagaimana pemuda ini pernah pergi darinya setelah menciumnya dan meninggalkan kebimbangan yang melandanya.

Pemuda tampan itu melihatnya, Baek Hyun memalingkan wajah sebagai bentuk sebuah penolakan. Dan yang bisa Kai lakukan hanyalah tersenyum kemudian mengecup kulit leher Baek Hyun.

Ponsel Baek Hyun berdering, dan itu membuatnya terkejut bukan main. terlebih setelah melihat siapa nama yang terpajang di layar ponsel itu. bibirnya langsung pucat pasi dan sedikit gemetar. “P… Park Chan Yeol,” lirihnya ketakutan.

Kai mengangguk, meminta Baek Hyun untuk mengangkatnya.

“A… aku takut Kai.”

“Baek Hyun-ah, sepanjang sejarah, belum ada orang yang terbunuh hanya karena mengangkat telepon. Angkat saja dan bersikaplah sewajarnya seolah kau belum tahu bahwa dialah orang yang menerormu selama ini.”

Baek Hyun berusaha mengatur nafas kemudian ia jawab juga panggilan itu. “Ha… Halo?”

“Baek Hyun-shii, ini aku Park Chan Yeol.”

“Iya, aku tahu. Ada apa menelponku?”

“Tidak kenapa-kenapa, aku hanya ingin memberitahumu kalau aku tidak bisa ke rumahmu sekarang.”

Seolah mendapatkan keajaiban, Baek Hyun mengucap syukur berkali-kali dalam hatinya. “Ah, tidak apa-apa…”

“Tapi tenang saja, besok pagi-pagi sekali, aku akan ke rumahmu sebelum ke kantor. satu jam cukup kan?”

 

DEG~

 

Baek Hyun menatap penuh harap pada Kai, kemudian pemuda tampan itu memperlihatkan layar ponselnya setelah ia mengetikkan sesuatu di sana. Baek Hyun mengangguk tanda mengerti. “Besok aku ada urusan Chan Yeol-shii. Ada rapat pemegang saham di… ng, Jeju.”

“Oh begitu?”

“I… Iya.”

“Baiklah, kapan kau kembali?”

“Aku tidak tahu, 2 atau 3 hari mungkin.”

“Hm baiklah, akan kususul kau di sana, bukankah Jeju Do adalah tempat paling sempurna untuk berbulan madu?”

Baek Hyun membelalak. “JANGAN!”

“Apa?”

“Ma… maksudku… sepertinya aku tidak akan punya waktu luang di sana, karena kunjunganku ke sana juga untuk melakukan survei lokasi.”

“Hm begitu?”

“Iya…”

Chan Yeol terdiam sejenak. “Hanya perasaanku saja atau kau tidak ingin bertemu denganku?”

Baek Hyun tersentak kaget. “Bukan… bukan begitu.”

“Apa karena aku bermain terlalu kasar padamu?”

“Bukan… itu.”

“Lain kali kita akan melakukannya dengan lembut, jadi jangan menghindariku lagi.”

Baek Hyun menelan ludah dengan susah payah. “Baiklah…”

“Bagus… ya sudah, besok tunggu aku di Jeju.”

 

Piippp…

 

Seluruh tubuh Baek Hyun melemah. “Apa sebaiknya aku bunuh diri saja?”

Kai menyentuh wajah Baek Hyun dan menuntun wajah mungil itu untuk menatapnya. “Kau tidak mengerti ucapanku tadi? Bunuh diri sama saja dengan kau menyia-nyiakan pengorbanan Se Hun.”

“Tapi… walau bagaimanapun aku tetap akan mati.”

Kai tersenyum. “Menurutku belum tentu juga, selama kau punya kalung itu.”

“Kalung itu?”

“Ne… kurasa ada alasan kenapa Se Hun menyerahkan itu sebagai amanah, sebuah kalung yang pasti punya makna khusus yang mengikat Se Hun dengan kakaknya. Kau memakai kalung itu?”

Baek Hyun menggeleng. “Aku menyimpannya. Karena kalau aku memakainya, aku akan teringat Se Hun lagi, dan itu akan membuatku drop”

Kai mengusap puncak kepala Baek Hyun. “Pakai kalung itu, jangan pernah melepasnya. Paham!”

“Hm, baiklah…”

“Ya sudah, sepertinya aku harus pergi.”

“Kemana?”

“Ada urusan penting. Aku akan mengawasimu dari jauh, karena Kris sajang-nim jelas tidak boleh mengetahui hal ini.”

“Kai…”

“Hm…”

“Bisakah kau meninggalkan atasanmu itu dan pergi bersamaku ke suatu tempat yang sangat jauh? Bawa aku kemanapun agar aku tidak terlibat lagi dengan Park Chan Yeol.”

Kai mengangkat alis, sungguh permintaan yang… patut dipertimbangkannya. “Tidak semudah itu Baek Hyun-ah. Aku sudah bersama Kris sajang-nim sejak usiaku 12 tahun. Aku dipungutnya ketika aku sudah tidak punya harapan hidup lagi, jadi sudah kupatenkan hidupku untuk mengabdi padanya.”

Baek Hyun menghela nafas kecewa.

Kai hanya bisa tersenyum melihatnya, ia membantu Baek Hyun berdiri hingga mereka berhadapan. “Takdir sudah mengikatmu dengan Park Chan Yeol, aku tidak punya hak untuk berada di tengah kalian, tapi…” Kai menyentuh pipi Baek Hyun. “Kurasa Tuhan juga menuliskan takdir untukku agar terlibat di sini.”

“Kai…”

“Aku sedikit penasaran dengan Park Chan Yeol. Apakah nanti, saat ia berada di posisi Se Hun kelak… sanggupkah ia membunuhmu?”

Baek Hyun mengela nafas pasrah. “Mengingat dia mampu membunuh orang tanpa sungkan, kurasa melenyapkan nyawakupun dia tidak akan berpikir dua kali.”

Kai tersenyum. “Mau bertaruh denganku?”

“Apa?”

“Tebakanku adalah, dia pun tidak akan sanggup membunuhmu.”

“Ck, dia akan membunuhku…”

“Baiklah, kita bertaruh. Jadi kalau tebakanku benar… kau harus menuruti permintaanku.”

Baek Hyun memiringkan kepalanya. “Permintaan apa?”

Kai tersenyum, kemudian mengecup kening Baek Hyun. “Nanti saat aku ingin menciummu di sini.” Kai menunjuk bibir Baek Hyun. “Jangan mengelak lagi.”

Baek Hyun menghela nafas lelah. “Dan kalau tebakanku yang benar, tolong makamkan aku di sebelah makan Se Hun.”

Kai tertawa kecil. “Hm, baiklah… aku pergi dulu.”

 

*~~Amaterasu~~*

 

Chan Yeol menatap frustasi dokumen-dokumen aneh yang berceceran di meja kerjanya.. “Aisshhh jinjja… bagaimana cara menyelesaikan ini?” ia pun meneguk bir kalengnya dan sekali lagi memeriksa dokumen-dokumen itu. “Lu Han… harus kuapakan dokumen ini?”

“Hanya dibaca, sesuaikan dengan target pemasaran,” jawab Lu Han juga sibuk mengurus pekerjaannya. “Ah, yang di map Kuning jangan ditandatangani. Belum kuperiksa.”

Chan Yeol berdecak. “Lu Han… tidak bisakah kau kerjakan ini sendiri? Aku ingin ke rumah Baek Hyun saja.”

Lu Han menoleh. “Chan Yeol-shii, walau Kris sajang-nim menempatkanmu sebagai direktur hanyalah sebagian kecil dari rencanamu untuk menghabisi Baek Hyun, kau tetap tidak boleh meremehkannya. Kau tidak ingat bahwa perusahaan ini adalah cabang perusahaan terbesar di Korea milik WYF group dengan laba tertinggi? Jadi kau tidak boleh main-main.”

Chan Yeol tertawa. “Kau tahu? Di dunia ini yang bisa mengomeliku hanya ibuku. Dan sejak ia tiada, sudah tidak ada lagi yang berani mengomeliku seperti itu.”

Lu Han tersentak kaget, seketika wajahnya pucat. “Ma… maafkan aku.”

“Sudahlah, lupakan saja. Moodku sedang baik saat ini. lagipula kau ada benarnya juga. Setiap kali aku membahas masalah perusahaan dengan Baek Hyun, aku tidak ubahnya orang bodoh. setidaknya dengan begini aku bisa tahu sedikit.”

Lu Han menghembuskan nafas lega. “Iya…”

Chan Yeol sedikit bergumam. “Oh ya Lu Han…, menurutmu, kenapa Baek Hyun mencemaskanku saat ia mengira bahwa orang yang menerornya juga mengincar orang-orang terdekatnya??”

“Mungkin karena Baek Hyun sudah menganggapmu orang penting.”

“Hanya orang penting?”

“Kurang lebih.”

“Lalu kenapa dia mau tidur denganku saat itu?”

Lu Han menatap Chan Yeol serius, memastikan bahwa moodnya masih baik. “Ng… kau… ng… memaksanya…mungkin,” lirih Lu Han pelan-pelan.

“Sedikit, itupun hanya permulaannya, selebihnya dia meladeniku.”

“Berarti dia sudah mulai menyukaimu.”

“Menyukai? Bukannya mencintaiku?” tanya Chan Yeol bingung.

“Kupikir terlalu cepat kalau kau mengatakan Baek Hyun telah jatuh cinta padamu. Mengingat baru 4 bulan sejak kematian Se Hun, pemuda yang ia cintai.”

Chan Yeol tampak berpikir. “Lalu bagaimana aku tahu kalau dia sudah jatuh cinta padaku?”

“Banyak cara. Salah satunya adalah menanyakannya langsung.”

“Menanyakan apakah dia mencintaiku?”

Lu Han mengangguk. “Atau kalau kau merasa gengsi, cium saja dia. Kau bisa mendapatkan jawabannya saat dia membalas ciumanmu.”

Chan Yeol berdecak. “Berarti dia sudah jatuh cinta padaku. Aku sudah menciumnya berkali-kali, dan kesemuanya mendapatkan balasan.”

Lu Han tertawa kecil sambil menutup mulutnya. “Dalam hal membunuh, kurasa tidak akan ada yang bisa melebihimu, tapi ternyata kau punya satu sisi untuk membuatmu terlihat lugu.”

Chan Yeol meremuk kaleng bir yang sedari tadi di pegangnya dan ia lemparkan ke tempat sampah persis di dekat Lu Han.

“Ah maaf… kupikir aku bisa mengajakmu sedikit rileks dalam mengobrol.”

“Tidak apa-apa, aku juga heran kenapa aku sulit marah akhir-akhir ini. tapi mendengarmu mengataiku lugu, telingaku berdengung. Apa kau sadar tengah mengatai siapa?”

Lu Han mengangguk cepat. “Pembunuh berdarah dingin, Park Chan Yeol.”

“Lalu kau sebut aku lugu?”

“Hanya tentang cinta Chan Yeol-shii… hanya suatu hal yang cukup tabu di matamu.”

Chan Yeol menatap dokumen-dokumennya. “Kertas-kertas sialan ini kurasa masih masuk akal dari pada hal yang kau sebut cinta itu. belum pernah aku berada pada posisi di mana aku harus berpikir keras. Sialnya hanya karena perasaan menjijikkan yang kalian sebut cinta.”

“Chan Yeol-shii…”

“Hm…”

Lu Han menelan ludah, berusaha terlihat setenang mungkin. “Atau jangan-jangan… kau… sudah jatuh cinta lebih dulu pada Byun Baek Hyun?”

Chan Yeol membelalak, seketika berdiri dan menatap Lu Han tajam. “APA???”

“A… aku hanya bertanya. Tidakkah kau merasakan sedikit perubahan dalam dirimu? Mi… misalnya kau akan merasakan sejuk dan hangat bersamaan saat kau bertemu dengan seseorang? Selalu memikirkannya dan…”

“Aku selalu memikirkan Baek Hyun. Memikirkan bagaimana cara membuat pemuda jalang itu mati setelah mengemis padaku… memikirkan kematian yang paling menyakitkan baginya dan akan terus menghantuinya bahkan sampai di neraka.”

“Ng… hanya itu? apa kau yakin tidak ada yang lain?”

Chan Yeol mengatupkan rahangnya kuat-kuat. “Tidak… Tidak ada.” ia kembali duduk dan berkutat dengan dokumen-dokumen itu.. “cepat selesaikan ini, kita rapatkan pagi-pagi , karena sorenya kita akan ke Jeju.”

“Jeju? Untuk apa?”

“Menemui Byun Baek Hyun. Misiku saat ini adalah, di setiap nafasnya harus ada aku di sana.”

Lu Han menelan ludah, menatap horror pada Chan Yeol. Maka beruntunglah orang-orang yang tidak terlibat dengannya.

“Apa ada yang bisa kubantu?”

Chan Yeol dan Lu Han menoleh bersamaan saat mendengar suara itu.

Wajah Chan Yeol langsung berubah dingin. “Mau apa kau ke sini? Kai.”

Kai tertawa kecil, melangkah pelan menuju meja kerja Chan Yeol dan menyambar bir kalengnya. “Aku hanya ingin menemuimu. Apa kabar sahabat!” ucapnya kemudian meneguk bir itu.

“Jangan berbasa-basi, cepat katakan tujuanmu, aku sedang sibuk.”

“Sajang-nim memintaku mengurus sesuatu.”

“Jangan ikut campur urusanku.”

“Memang masih urusanmu, tapi aku berniat membantu. Sesuai informasi yang di dapatkan sajang-nim, Byun Baek Hyun menyewa seorang detektif untuk mengawasimu.”

Chan Yeol melengos. “Aku sudah tahu itu. namanya Su Ho, detektif dari Jepang.”

Kai membulatkan matanya, takjub, atau bisa jadi menantang. “Oh ya! Lalu kenapa kau tidak melenyapkannya?”

“Aku hanya ingin bermain-main dulu dengannya, orang ini sepertinya cukup patut diperhitungkan juga. Dia sampai menyelidiki data-dataku hingga ke Argentina. Dan dia langsung tahu bahwa yang mengincar Baek Hyun adalah The Undying Flames, walau ia belum sepenuhnya tahu bahwa orang itu adalah aku.”

“Begitu?” Kai duduk di atas meja Chan Yeol. “Lalu dari mana kau tahu tentang orang itu, dan informasi yang baru saja kudengar ini.”

“Hm, orang itu datang ke rumah Baek Hyun kemarin. Aku tidak sengaja mendengar percakapan mereka.”

Kai mengerutkan kening. “Apa yang kau lakukan di rumah Baek Hyun?”

Chan Yeol tertawa, sangat keras. “Bercinta… apalagi?”

Kai hampir tersedak bir nya. “Oh… jadi kau pelakunya? Kukira anak itu menderita alergi kulit.”

“Maksudmu?”

“Aku baru saja menemuinya, dan kulihat begitu banyak bercak merah di sekitar lehernya. Jadi itu ulahmu?”

Chan Yeol membelalak. “Ada urusan apa kau menemui Baek Hyun?”

“Hm… apa salah menemui kenalan? tidak kusangka, 4 bulan tidak melihatnya, dia justru semakin cantik.”

Chan Yeol berdiri dan langsung mencengkram kerah baju Kai. “Apa maksudmu? Kau mengenal Baek Hyun sedekat itu?”

Kai tertawa cukup keras. “Reaksi apa ini? kenapa serasa de javu saja. Se Hun pernah memperlakukanku seperti ini karena membawa lari Baek Hyun ke hotel bersamaku.”

 

TRAK~

 

Tanpa ada yang melihat gerakannya, Chan Yeol sudah meletakkan ujung pistol di dagu Kai. “Apa hubunganmu dengan Baek Hyun?”

Kai semakin tertawa. “Kenapa? Kau cemburu?”

“Kim Jong In, jangan kau pikir karena kau adalah anak buah kesayangan Kris hyung maka aku tidak berani membunuhmu?” Chan Yeol meludah ke samping. “Atau kau mau aku membunuhmu langsung di depan Kris hyung?”

“Sabarlah Park Chan Yeol. Kau terlalu tegang. Aku dan Baek Hyun hanya berteman. Hanya saja saat itu Se Hun mengira Baek Hyun berselingkuh denganku.”

Chan Yeol sudah hampir meledakkan senjatanya, tapi ia teringat akan kebodohannya. Sikapnya sekarang tak ubahnya seseorang yang cemburu buta karena kekasihnya direbut.

Dan masalahnya, apakah Baek Hyun adalah kekasih Chan Yeol?

Jawabannya bukan.

Karena itulah Chan Yeol kembali meletakkan pistolnya di balik saku jaketnya dan kembali berkutat dengan dokumen-dokumennya.

Lu Han yang sudah tegang di sudut ruangan langsung mengelus dadanya, ia pikir akan ada pertumpahan darah lagi.

“Sajang-nim menyuruhku melenyapkan detektif itu,” lanjut Kai.

“Tidak perlu, biar aku saja.”

“Dalam waktu dekat.”

Chan Yeol kembali menatap Kai. “Pulanglah ke Beijing dan katakan pada Kris hyung kalau aku tidak suka ada yang ikut campur urusanku.”

“Aku akan pulang kalau sajang-nim yang meminta. Itu saja, dan aku akan membatalkan niatku menghabisi detektif itu kalau memang ada perintah langsung dari sajang-nim.”

Chan Yeol meletakkan dokumen yang tadi di pegangnya ke atas meja. “Ya sudah…terserah kau… lakukan apapun sesukamu … tapi jangan sentuh Byun Baek Hyun. Dia milikku.”

Kai menahan tawanya. “Oke… oke aku mengerti…” Kai membuang kaleng bir nya yang sudah kosong. “Oh ya Chan Yeol-shii…” Kai mengusap bibirnya. “Kau tahu apa yang dipakai Baek Hyun di bibirnya? Kenapa rasanya manis?”

 

Krak…krak…krak…

 

“Lu Han, antar Kai keluar, urusannya sudah selesai,” perintah Chan Yeol berusaha meredam emosinya.

“Aku hanya bercanda… baru satu kali aku menciumnya. Itupun hanya sekedar menyentuh bibirnya.”

“CEPAT BAWA DIA KELUAAARRR,” bentak Chan Yeol.

“Ba… Baik Chan Yeol-shii.” Lu Han langsung meraih lengan Kai dan membawanya keluar.

“Sampai jumpa lagi Chan Yeol-shii… kapan-kapan aku akan kembali.”

Chan Yeol memejamkan matanya rapat-rapat, mengepalkan tangannya kuat-kuat. Berusaha meredamkan emosi.

.

.

.

“Berhentilah membuatnya emosi Kai, nyawaku bisa terancam kalau dia murka,” ucap Lu Han begitu ia sudah berada di ambang pintu apartement bersama Kai.

“Maaf… maaf, aku hanya ingin mengetahui sesuatu,” balas Kai sambil tersenyum.

“Tentang apa?”

Kai mengidikkan bahu kemudian mengusap puncak kepala Lu Han. “Hal yang juga ingin kau tahu.”

Lu Han menghela nafas. “Tentang perasaan Chan Yeol pada Baek Hyun?”

Kai mengangguk. “Kurang lebih.”

“Dia sudah bersumpah tidak akan jatuh cinta pada Baek Hyun, dia hanya ingin membuat anak itu tergila-gila padanya dan… membunuhnya pelan-pelan.”

Kai menatap Lu Han penuh makna, mencari luka yang sukses disembunyikan Lu Han dengan wajah lembutnya. Dan saat Kai menemukannya, ia menghembuskan nafas kemudian memeluknya lembut. “Bukan salah Baek Hyun. Percayalah.”

Lu Han tersentak. Ia tidak lupa bahwa Kai juga sangat mengenalnya. “Tidak… kalau bukan karena anak itu…” tenggorokan Lu Han mulai tercekat. “Se Hun… tidak akan mati.”

Kai mempererat pelukannya. “Lu Hannie…”

“Aku… bukan seperti kalian. Aku… tidak sekuat kalian… tidak seberani kalian membunuh orang lain… tapi aku tetap punya jiwa seperti kalian…” Lu Han mengulurkan tangan mungilnya dan membalas pelukan Kai. “Jiwa seorang Avenger.”

 

*~~Amaterasu~~*

7.248 word

TO BE CONTINUED

ALF’s special note: errr…. keanya sehabis ini ane bakal di arak keliling EXO planet. Diiket pada sebuah bambu panjang dengan kaki dan tangan terikat seperti kambing guling oleh Readers-nim…

Dan untuk menjaga keselamatan diri saya yang sangat berharga ini, maka saya akan kabur memakai kekuatan Teleportation nya Kai. Sembunyi dibalik selimut bareng Baek Hyun dan… …

Adiooossss…

 

496 thoughts on “Amaterasu (The Undying Flames)|| ChanBaek || Chapter 3

  1. di ff sblumnya si sehun ska ama baekhyun smpe akhirnya pcran ama si baekhyun, di ff ini si bang-kai kemungkinan ska ama si baekhyun, tpi ada kemungkinan si chanyeol jga ska ama si baekhyun, tpi mrka sma sma udh jlas klo mrka ska ama si baekhyun… ah jdi bingung mau mlih yg mna? Kaibaek apa Chanbaek yah?

  2. Aaaaaaa chap ini nano nano deh, manis asem asin nya hubungan chanbaek sama pembalasan dendam nya chanyeol ke baekhyun ,,:/:/:/

    aduhhh itu lagi luhan kenapaaa kok aku jadi agak curiga ya sama luhan :>

    kai selalu muncul dengan gaya yg bikin orang kesel as always, dan reaksi ceye aihhh cemburu banget kaya nya yah kalo baek nya deket sama namja lain,, ga beda jauh sama reaksi sehun ,,, *yaelah pan mereka sodara😀

    baek udah tau kalo ceye itu undying flames dan bakal nge bunuh dia, aduhh serasa banger jleb nya yah baek di saat baek udah pasrah? Sama ceye eh dia tau kenyataan ceye itu orng yg bkal bunuh dia huweeeee ga rela baek di bunuh hiks hiks ;(

    dan kris kaya nya malah jadi dia deh yg punya dendam ke baekhyun haha😀

    okai dah ka alf keep writing dan tetap SEMANGAT yooo~ next chapter nya masih ditunggu #eaaa

  3. Luhan kayaknya ada rasa sma sehun deh.. #curiga
    G tau knp aq suka pas kai nyoba buat chanyeol cemburu,, chanyeol udh panas dingin tuh, terus ajja d sangkal tp ini msih awal jg sih,,

    Chanyeol ihh,, udh kayak di exo next door ajja, suka marah2, jdi skrng bisa memvisualisasikan gmn mukanya chan klo lgi marah… hahaha

  4. Suka pas bagian baekhyun yg bilang “aku tidak takut mati hyung, kalo memang yg diincarnya adalah nyawaku tak mengapa. Aku ikhlas asal jangan orang disekitarku, yag tidak ada sangkut pautnya dengan dendam ini.” Uhhh.. baekby.. ya udah min alf bikin baekby cepet mati aja biar bisa ngumpul ma sehun n keluarganya lagi /plak/apalah/mhuehehe*evil smilenya kyu

    Ohh ya.. kris belum pernah ketemu ma baekhyun ya ? Kalo belum bikin dia ketemu ma baek, siapa tau dia juga ikutan suka l.. hihihi^_^

    Okey sekian dulu..min alf fighting. .. *PYONG

  5. baguusslah chan gk bnuh org dlu. sering2 yadong sm baek biar gk suja bnuh org hahah. kaii km jgn matii ya naak. gk ada berondong lg klo km matii (?). kriisss yess km keluar baby, meskipun dkit tak apa2 deh haha. luhan suka sehun? emjiii. kyung ada hubungan sesuatu sm suho gk sih? gkgk makin aq baca ff ff dsni makin aq terDoktrin suka pasangan suho-d.o *pdhal krisho shipper jg* haha.
    hayoloooh kabuur baek kabuurr trs nikah aja sm kai :’v

  6. Part 3 bikin tegaangggg ….

    Anjayyy bener yha si chanyeol ga nyangka makin dingin makin liar ….main kasar (?)pulaaa ke baek …wuihhh ngg bsa ngebayangin klo posisi gue kaya baek …antara bahagia ato sedih bisa dekat ma chanyeol yg notabene nya pembunuh berdarah dingin ….

    Dan kai ….masya allah ….pervert benerrrr yg gue rasa karakter nya gue ngebayangin muka nya byk smirk nya hahahahaaa
    Mulai ska dgn pervert karakter kai di chapt ini trlalu jjang….

    Selalu nulis tanpa salah menurut ku …so Daebakkkkk lanjutin ALF

  7. BINGOO!!!!!!!!!!!!! Ternyata kalung itu yang gue cari d chapter 1, ada yang ilang gitu dari avenger’s fault ternyata kalungnya yang dikasi sehun. Ah, finally, tapi apa coba hubungannya dengan chanyeol ? Terus, gue tau kai itu orangnya baik cuma dia terlalu tunduk sama si wupan itu terkutuk kau wupan!!!! kenapa wupan jadi penjahatnya, pengen baca juga tao jad penjahatnya tapi ya memang kris memiliki perangaian yang jahat juga menurut gue sih, hehehe😄 eh itu si wupan yg ngatan jalang itu gue bacanya ngumpat abis-abisan depan hp. mati kau wupan mati ! mati d ff ini maksudnya😦 tolong jangan bash ane cuma baper aja baca ini tapi cuma marah d ff ini kok wkwk, liat kris psti ngeluluh lagi hati gue *-*/\ buat beki, kalo gue diposisilu gue bersikap santai aja sih *yakarnaemangguenyadingin._.* tapi mungkin juga gue gemetaran kek gitu udahlah suka tambah lagi dia bunuh tapi gue bingung kenapa si beki takut takut dibunuh padahal kan sehun dulu mau bunuh dia terus dia iya iya aja tapi disini gemetara, gue bingung, pegangan dulu ya sama sehun.

  8. Ping-balik: LIST FF CHANBAEK FAVORITE | Shouda Shikaku's World

  9. Baek mah gitu,,
    murah bnget,,msh kenal bbrp wkt udah pke acra tdur breng ja,,

    si chan jg brengsek,kurang ajar,,s0k ganteng,kepedean…

    Kau mau lagi??
    wuakakakakakaka,,pertanyaan kurang ajar tp menghujam telak baek,
    seharusnya baek ngejawab “sampk r0nde 5 d0nk…”

    wuaahhh,,
    auth0r mah bsa bnget bwt readers gigit2 selimut….

    Lanjut th0r..

  10. chapter ni keknya si chanyeol mungkin udh suka sma baek meskipun baru seujung paku *plak :v mudah2an si chanyeol berubah dehh. mungkin tebakain kai bener.si chanyeol nggak akan bisabunuh baekhyunn.sudahan ae lah :v.Dilanjutinn yaa eonn<3

  11. Udh trlalu larut. Dan baca ffnya jg jd sdikit blurr aka gk focus ngelawan ngantuk. Tp krn pnasaran, cb dikuat2in ini mata#curhatdikiit..

    Kai is back. Jujur sdikit tenang juga. Setidaknya kai bkln ngjaga baek untuk saat ini.. Jujur, ff ini i mean cara author nulis ff ini sangat mendetail. Itu menambah point plus buat ff ini.. Dan aku dibikin takjub di bbrp part. Dan sbenernya aku ckp pnasaran dngn sosok kris. Dia bukan siapa2 di tngah2(?) kluarga park dan byun kan? Ohh brhrp bgt ntar kris jg bkln jd pihak yg bkln trtarik sm psona byunbaek. Haaa.. Ugh pdhl td ckp bnyk hal yg pen aq tulis d kolom komentar. Tp ngeblank gitu ajh pas mulai ngtik cmnt. Slhkan rasa kantuk ini#plak.. Yeah #yeahiamgoingbedritenow .. Ntar lnjut lg.. Night author..

  12. hue hue hueee..aku suka bnget ma tokoh kai diff ini
    dr avenger sampe amaterasu ini ..kai bikin gemeeeesss deuh
    sikapnya yg santai woles kayak dipantai ni wkwk
    aku kadang lupa kalo luhan kan avenger juga ya ..jd ada kemungkinan klo chan gagal luhan yg bertindak..mungkinkah?

  13. Chanyeol klo cemburu mainnya pistol ihh sumpah keren bgt, apalgi kai wkwk thor ceritanya luhan itu suka ma sehun tapi sehun suka ma baekhyun yaa? >< oalah seruuu bgtt

  14. Hunbaek-chanbaek-kaibaek dan gue pikir ada hunhan juga disini xD

    Apa sebenernya luhan suka sama sehun? Dia juga dendam sama baekhyun? Argghhh makin gereget. Gue gak tau mau komen apaan.

    Gue curiga sama luhan, dia kayanya ada someting juga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s