[FF] Another Chance [Part 11]


FF

Tittle : Another Chance [Part 11]

Author: AyouLeonForever

CoverPic/ Poster edited By: AyouLeonForever

Genre: Romance, Angst, Suspense, Tragedy

Rating: PG 15

Lenght: Chaptered/ Series Fic

Main cast:

*Do Kyung Soo

*Lee Hana

*Kim Joon Myun/ Su Ho

*Wu Yi Fan/ Kris

*Park Min Yeong

                         Other Cast: Find It By Your Self

Disclaimer: All off the cast(s) belong to his/her self, parents, agency, and GOD

Copyright: The story and OC belong to me!No Copy paste without permissions!

warning: Typo(s) every where

Important: Last Chapter would be protected (?),

 

Part 11

 

Rasa sakit, Luka, darah, nafas yang tercekat, nadi yang melemah, menyadarkanku akan satu hal… kehidupan dan kematian sangatlah dekat, bahkan jaraknya tak lebih dari satu ruas jari.

Yang kutakutkan bukan mengenai kehilangan nyawaku, tapi kehilangan kesempatan untuk bersama orang yang kucintai lebih lama lagi. Masih banyak yang ingin kukatakan padanya, masih banyak yang ingin kulakukan bersamanya, masih banyak hal yang tertunda dan belum sempat kurealisasikan dengannya. Dan satu penyesalan menamparku telak-telak.

Aku… belum menerima lamarannya.

Naifnya aku… bodohnya aku, kuberikan tenggang waktu 7 tahun untuk Kyung Soo kembali menanyakan hal itu padaku maukah kau menikah denganku? aku menyesal tidak mengatakan NE sesegera mungkin, dan seharusnya aku tidak menyuruhnya menunggu 7 tahun.

See… sekarang Tuhan menegurku akan keangkuhanku itu, seolah aku sudah memastikan bahwa aku masih bisa hidup sampai 7 tahun ke depan lagi. Tuhan menegurku … bahwa bukan aku yang bisa memastikan lamanya hidupku…

Tuhan menegurku, bahwa tidak seharusnya kusia-siakan waktu yang diberikan untukku.

Dan kalau Tuhan masih ingin memaafkanku, ada satu permintaan yang ingin kusampaikan pada-Nya untuk dikabulakan.

Tuhan… kalau betul ini adalah waktuku untuk menghadap-Mu, perkenankanlah aku meminta waktu-Mu beberapa menit lagi untuk mengatakan pada Kyung Soo bahwa… aku mencintainya… sangat sangat mencintainya

 

Author POV

 

Kyung Soo menatap kosong ujung sepatunya yang menghadap ke atas. Sejak 3 jam yang lalu ia masih betah dengan posisinya seperti itu. duduk bersandar di lantai rumah sakit, menjulurkan kaki ke depan, dan kedua tangan berada di sampingnya, lemas tanpa ada kekuatan.

Su Ho dan Kris hanya bisa menatapnya prihatin. Setidaknya keadaannya yang seperti itu masih lebih mending dari pada keadaannya  beberapa jam yang lalu. Berteriak-teriak seperti orang gila, menghadang setiap petugas kesehatan yang berlalu lalang keluar masuk ruang operasi untuk sekedar bertanya bagaimana keadaan pasien bernama Lee Hana yang masih ditangani. Yang menjadi masalah, Kyung Soo begitu panik hingga dia tidak sadar sudah menghambat jalannya operasi. Sampai ketika Kris terpaksa mematikan hati kemudian menampar namja yang sudah dianggapnya adik itu, barulah Kyung Soo bisa mengendalikan dirinya.

Dan sekarang, Kyung Soo hanya bisa terdiam seperti itu. tatapannya masih kosong, sesekali bibirnya bergerak seolah menyerukan nama Hana, tapi tidak terdengar suara sedikitpun.

Ponsel Su Ho yang berbunyi nyaring, tidak jua mengagetkannya.

“yeoboseyo”sapa Su Ho pelan. “ne, dengan saya sendiri…. ke… kantor Polisi? Sekarang?… tapi teman saya…. ne, aku segera ke sana” Su Ho menghampiri Kris.

“ada apa?”tanya Kris

Su Ho sedikit berjinjit untuk membisikkan sesuatu pada Kris, sengaja seperti itu agar Kyung Soo tidak mendengarnya, karena berita yang akan disampaikan cukup sensitif “aku dipanggil ke kantor polisi untuk memberikan keterangan. Min Yeong sudah ditangkap, dan jeep itu masih dalam pengejaran”

Kris mengangguk “cepatlah ke sana, akan kuhubungi kalau ada perkembangan tentang Hana”

“ne, kutitip Kyung Soo”

Kris tersenyum tipis “posisi kita sama, dia sahabatku”

Su Ho menepuk pundak Kris “ah ne… aku akan segera kembali. Tolong hubungi aku sesegara mungkin”

“ne”

Sepeninggal Su Ho, Kris menghampiri Kyung Soo dan duduk di sebelahnya “Kyung Soo-ya…”

Kyung Soo tidak menyahut, matanya masih memandang kosong ke depan, masih dengan bibir menyebutkan nama Hana berkali-kali.

Kris berdehem sejenak, mencoba mencari sesuatu untuk bisa menenangkan namja di sebelahnya ini “kau ingin tahu satu hal? …. Tentang Hana”

Seketika bibir Kyung Soo mengatup, sedikit menoleh. Pertanda bahwa ia mulai fokus setelah mendengar nama itu.

Kris sengaja tidak menatapnya, ia memilih menatap langit-langit rumah sakit, agar ia berkonsentrasi untuk setiap pemilihan katanya “Hana saat bersamaku, jarang tertawa. Jarang tersenyum, jarang berbicara panjang lebar dan… yang lebih penting jarang menatap mataku secara langsung. Sangat berbeda saat dia bersamamu. Cara dia tertawa, tersenyum, berceloteh, dan cara dia menatap matamu… aku seperti telah kehilangan bayangan tentang Lee Hana di masa lalu”

Kyung Soo masih tidak merespon. Selain karena dia tidak mengerti arah pembicaraan ini, otaknya juga masih dipusingkan dengan keadaan Hana yang belum jelas di ruangan operasi itu.

Kris kembali melanjutkan “melihat bagaimana antusiasnya Hana saat bersamamu,…” Kris menoleh “dia jelas tidak akan semudah itu menyerah. Tuhan juga tidak akan sekejam itu menghentikan upaya Hana untuk meraih kebahagiaan setelah sekian lama terpuruk dalam penderitaannya” Kris menepuk pundak Kyung Soo “untuk itu, kau harus yakin! Hana… pasti hidup. Dia akan terus tersenyum, tertawa, berceloteh… hanya bersamamu”

“hyung…” suara Kyung Soo tak jua keluar, tenggorokannya sakit.

“simpan air matamu, tunggu sampai dokter keluar dan mengatakan bahwa Hana selamat”

Kyung Soo memejamkan mata, menyandarkan kepalanya ke tembok. “Tuhan… selamatkan Hana lirihnya dalam hati

Sampai beberapa menit kemudian, seorang dokter keluar dari ruang operasi “keluarga pasien…”

Kyung Soo dan Kris langsung menoleh. “Ne…”

“siapa di antara kalian kerabat dekat pasien?”

Kyung Soo dan Kris saling bertatapan. “saya, dok”jawab Kyung Soo cepat

“saudara?”

“bukan… ng… saya…. calon suaminya”

Kening dokter berkerut “calon suami?”

“anak ini tidak bercanda dok, dia calon suami pasien”tambah Kris

“Dokter… apa masuk akal saya bercanda di saat kritis seperti ini? bagaimana keadaan Hana?”Kyung Soo mulai kesal, ia bahkan tidak sadar mengguncang-guncang tubuh dokter itu.

“maaf… maaf. Ini mungkin karena saya terlalu lelah. Calon istri anda selamat, saat ini dia masih belum sadarkan diri tapi masa kritisnya sudah lewat, jadi anda bisa sedikit tenang”ucap dokter itu sesegera mungkin karena Kyung Soo semakin sulit mengontrol dirinya

Kyung Soo luruh ke lantai “Hana selamat… Hana selamat…”air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya terburai juga. “dokter… apa saya sudah bisa melihat kondisinya?”

“untuk sementara belum. Pasien akan dipindahkan ke ruang ICU. Setelah itu, anda boleh melihatnya” dokter kemudian beralih pada Kris “anda juga kerabat pasien?”

“bukan Dok… ng, saya calon kakak iparnya. Ini adik saya”jawab Kris sambil menunjuk Kyung Soo yang terus menyebut nama Hana berkali-kali.

“Oh… arayo. bisa anda ikut ke ruangan saya sebentar?”

“ne…, saya akan menyusul dok, tapi setelah saya menenangkan dongsaeng saya ini dulu”

~***~

 

Author POV.

 

Kris keluar dari sebuah ruangan dengan ekspresi aneh. Tatapan matanya kosong, mewakili otaknya sekarang. Ia blank bukan karena tidak ada yang dipikirkan, justru kebalikannya. Terlalu banyak hal yang menyerang pikirannya hingga ia tidak tahu hal seperti apa yang perlu dipikirkan.

Ia melangkah gontai, mencari kursi terdekat dan menghempaskan duduknya di sana. Dengan tertunduk lemah ia mencoba menenangkan diri. Kata-kata dokter yang menangani Hana beberapa menit yang lalu terus terngiang-ngiang di telinganya. Terus berulang bagai sebuah tape recorder.

kecelakaan yang diterima pasien cukup hebat. Beberapa luka sudah kami tangani dengan baik, dan beruntung tidak ada efek serius dari luka-luka itu. tapi… masalah sebenarnya adalah, trauma di sekitar pelipis pasien. Itu menyebabkan kerusakan parah pada kornea matanya. Tidak tanggung-tanggung, mengenai kedua matanya. Bahasa sederhananya… um… Dengan terpaksa saya mengatakan bahwa, pasien akan kehilangan kemampuan penglihatannya. Dan sangat disayangkan, ini akan permanen

Kris lagi-lagi menggeleng. Tidak percaya dengan semua itu. tapi apa yang didengarnya beberapa menit yang lalu jelas bukan sebuah lelucon. Selalu ada dampak dari sebuah kecelakaan besar. tErlebih seperti yang menimpa Hana. Sebenarnya buta permanen adalah resiko teringan yang diterima oleh Hana, melihat kerasnya benturan yang diterima tubuh mungil itu melawan sebuah jeep besar yang melaju dengan kecepatan tinggi.

Tapi… buta? Tidak bisa melihat? Itu adalah sebuah cacat fisik yang tidak main-main. Bukan berniat mengabaikan panca indera lainnya. Tapi Indera penglihatan, berada sedikit di atas lebih penting dari indera pendengaran, penciuman, pengecapan, dan perasa.

Kris masih berusaha menelaah lanjutan kalimat dokter yang masih menganggunya

Alasan mengapa saya memanggil anda ke sini adalah untuk memberitahukan kondisi pasien yang sebenarnya, karena kelihatannya, anak muda yang mengaku sebagai calon suami pasien ini kondisi psikisnya cukup… memprihatinkan, jadi lebih baik saya menyampaikan ini dulu kepada anda sebagai perantara. Karena mau tidak mau, dia juga harus mengetahuinya

Dan sekarang beban baru kembali bertengger di pundaknya. Bagaimana cara memberitahu hal ini pada Kyung Soo?

Dengan kondisi masih lemah, Kris merogoh saku jacketnya, mencari ponsel dan menghubungi seseorang.

“sudah ada kabar tentang Hana?”sahut seseorang di seberang setelah panggilannya tersambung.

“ne Su Ho-shii. Hana selamat… tapi….”jawab Kris lemah

“tampaknya ada kabar yang tidak begitu baik sampai suaramu terdengar seperti itu”

“aku tidak tahu harus bagaimana mengatakannya… tapi kondisi Hana tidak sepenuhnya baik”

“maksudmu?”

Kris menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan “Hana kehilangan fungsi penghlihatannya. Dengan kata lain, dia buta”

Terdengar suara yang tercekat di sana “K…Kris-shii, bisa kau ulang?? Aku pasti salah dengar karena di sini berisik sekali”

“tidak. Kau tidak salah dengar. Akibat kecelakaan itu, Hana mengalami kerusakan pada kedua matanya. Hana tidak akan bisa melihat lagi dengan kedua matanya sendiri”lanjut Kris.

“Mworago???” pekik Su Ho di seberang. Tapi Kris tidak begitu mempedulikannya karena ia mendengar bunyi kaleng minuman yang terjatuh ke lantai dan menggelinding pelan ke arahnya.

Tanpa memastikan siapa yang menjatuhkan kaleng itupun Kris sudah tahu. Ia menutup ponselnya, menghembuskan nafas panjang dan menoleh “Kyung Soo-ya”lirih Kris lemah

“Ha… Hana buta..hyung?”tanya Kyung Soo dengan suara bergetar.

Kris memejamkan mata, dengan hembusan nafas pasrah ia mengangguk.

Kyung Soo tidak sempat menunjukkan respon keterkejutannya, karena detik berikutnya ia merasakan sakit yang sangat hebat di kepalanya. Itu membuatnya ambruk dan jatuh bersimpuh di lantai sambil menjambak rambutnya sendiri sebagai mekanisme pengalihan rasa sakitnya.

Kris yang melihatnya sontak melompat dari duduknya dan menghampiri Kyung Soo “gwenchana-yo?”

Kyung Soo menggeleng, sambil memejamkan mata rapat-rapat. Sampai saat di mana ia tidak lagi mampu menahan sakitnya, dan tubuhnya merespon dengan memberinya jeda untuk fungsi kesadarannya. Ia pingsan.

~***~

 

Kyung Soo mengerjapkan mata. Tidak tahu sudah berapa lama ia tidak sadarkan diri. Tak jauh dari branker tempatnya berbaring, ia melihat Kris dan Su Ho yang tengah mengobrol dengan ekspresi suram di kedua mata mereka. Yah, Kyung Soo tidak berniat menampik kenyataan yang ia dengar sebelum kedadarannya hilang.

Hana buta!

Dan ekspresi Kris adalah ekspresi yang sama dengan yang ia lihat sebelum ia pingsan.

“hyung!”seru Kyung Soo lemah, membuat namja tinggi itu menoleh.

Kris dan Su Ho menghampirinya kemudian membantu Kyung Soo untuk meninggikan bantal sebagai sandaran.

“Hana sudah dipindahkan?”tanya Kyung Soo.

Kris dan Su Ho mengangguk bersamaan.

“kita sudah boleh menemuinya?”tanya Kyung Soo lagi.

“ne, tapi tidak boleh lama-lama. Kami menunggumu sampai sadar, agar kau adalah orang pertama yang menengoknya”jawab Kris.

Tatapan Kyung Soo beralih Su Ho yang hanya menatapnya diam “banyak yang ingin kubahas denganmu”

“aku tahu… aku juga harus menjelaskan banyak hal padamu. Karena walau bagaimanapun, semua ini terjadi juga karena kelalaianku”balas Su Ho dengan raut wajah penuh sesal.

“katakan itu nanti, karena aku harus menemui Hana sekarang”

>>> L

 

Kyung Soo POV

 

Kenyataan memang sulit berbohong. Atau kalau itu adalah sebuah kebohongan, jelas saja aku tidak akan bisa melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Yang membuaku hendak merobohkan menara adalah, kenapa kenyataan di depanku ini begitu menyakitkan?.

Tubuh Hana dibalut perban sedemikian rupa. Tapi yang membuatku pilu bukan perban yang melilit di tangan, kaki atau kepalanya. Tapi perban yang melilit dan menutupi kedua mata indahnya.

Awalnya kupikir Tuhan cukup berbaik hati karena telah menyelamatkan nyawa Hana. Tapi… ada konsekuensi yang bahkan tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Hana sudah mulai belajar menatap mata lawan bicaranya secara langsung, mengkhusus padaku. Tapi… sekarang sudah tidak ada gunanya lagi karena Hana tidak akan bisa melakukannya. Selamanya!

Kuraih tangan Hana yang tidak diperban, menggenggamnya lembut, mengecup jemarinya sejenak, dan …

Apalagi?

Aku menangis. Air mata ini keluar begitu saja mewakili apa yang diteriakkan hatiku. Menangisi apa yang menimpa yeoja yang paling kucintai di dunia ini. kenapa harus seperti ini??? ironisnya, bahkan jika aku mengeluarkan beribu-ribu butir air mata untuk menangisi Hana, ia tetap tidak akan tahu, karena sampai kapanpun ia tidak akan pernah melihat air mataku.

Kenapa Hana harus kehilangan penglihatannya?

Kenapa Hana harus mengalami hal seperti ini?

Dan kenapa aku baru menyadarinya di tempat terakhir bahwa penyebab sebenarnya dari semua rentetan kejadian yang menimpa Hana adalah… AKU!.

Aku tetap tidak akan memaafkan Min Yeong… aku bahkan tidak ingin melihatnya sampai kapanpun. Tapi alasan sebenarnya mengapa Min Yeong melakukan ini semua adalah… AKU!

Yeoja itu berubah menjadi seorang Psycho juga karena AKU!

Cinta yang dia miliki padaku, (yang sampai sekarang masih tidak kumengerti cinta seperti apa itu) telah menuntunnya bertindak seperti ini. memudarkan akal sehatnya dan… akh… sudah kubilang aku tidak mengerti kenapa ada cinta yang seperti itu.

Aku masih sedikit memahami cinta yang dipunya Su Ho pada Hana. Walau terakhir kusadari bahwa Su Ho betul-betul mencintai Hana dalam diam, dan melindunginya sampai akhir, aku masih mengerti cinta yang seperti itu.

Cinta itu mendatangkan kebahagiaan… tapi kenapa Min Yeong merubahnya total menjadi sebuah malapetaka???

`~`

Langkah kaki yang samar terdengar membuyarkan lamunanku. Segera kuhapus air mataku yang entah sejak kapan telah membanjiri wajahku.

2 orang perawat menghampiri tempat Hana terbaring. Salah satu dari mereka memeriksa tetesan infus, yang satunya lagi memerika monitor EKG untuk memeriksa kestabilan detak jantung juga tanda-tanda vital lainnya di sana.

“Suster… kapan Hana akan sadar?”tanyaku bodoh

“itu tergantung perkembangan kondisinya. Denyut nadi, pernafasan, tekanan darah semuanya stabil. Tapi trauma yang diterima fisik dan psikisnya membuatnya membutuhkan waktu cukup lama untuk beristirahat”jawab perawat itu dengan sabar.

“apa yang harus kukatakan pada Hana mengenai kondisinya sekarang ini?”lirihku, sebenarnya pada diriku sendiri.

“bersabarlah tuan, semua pasti ada jalannya. Kenyataan tidak selamanya menyakitkan”

Aku mendongak untuk menatap siapa yang bicara barusan. Yah setidaknya dia sedikit mengerti dengan apa yang kupikirkan.

Setelah mengobservasi perkembangan Hana, kedua perawat itu pun meninggalkan ruangan ini.

Sekali lagi aku menghela nafas panjang. Terlalu banyak mengeluh tidak akan merubah apa-apa, bahkan akan semakih memperparah keadaan. Setidaknya, harus ada satu orang yang bersikap tenang di sini. dan kuharap orang itu adalah aku!

 

~***~

 

“semua salahku, seharusnya tidak semudah itu aku percaya pada perubahan sikap Min Yeong, seharusnya aku bisa lebih peka membaca jalan pikirannya, seharusnya aku bisa lebih cermat membaca gerak-geriknya, dan seharusnya aku bisa lebih cepat menghindari kejadian ini… semuanya salahku”tutur Su Ho, masih dengan kepala tertunduk dalam.

Aku menatapnya kosong, menyalahkannya juga percuma. Dia juga sudah berusaha di tempatnya “lupakanlah… sekarang bukan saatnya mencari siapa yang salah. Tetap tidak akan mengembalikan kondisi Hana seperti sedia kala”

“Kyung Soo-ya… aku betul-betul meminta maaf. Aku sudah berusaha sebisa mungkin agar Min Yeong melupakan cinta gilanya padamu, dan kukira itu sudah berhasil… nyatanya… sigh”Su Ho tidak bisa melanjutkan ucapannya. Kurasa dia juga mati-matian menahan tangisnya

Kutatap Su Ho dengan datar “bisa kau membantuku?”

“apapun..”

“tolong… mulai sekarang, jangan sebut nama Min Yeong di depanku”

Su Ho terdiam sejenak “ne, arasso”

“selebihnya… anggap tidak pernah ada masalah di antara kita. Kurasa saat ini, aku betul-betul membutuhkanmu”

Su Ho menepuk pundakku “percayalah, semua yang kulakukan selama ini adalah untukmu. Hanya saja aku lalai dan berakhir seperti ini”

“gomawo…”

Kris hyung keluar dari ruang perawatan Hana. Bisa kulihat matanya memerah, dan berusaha menyembunyikan gerakannya menyeka air mata dari kami. Aku, Su Ho, juga Kris hyung berada di posisi yang sama. Namja yang mencintai Hana. Dan melihat kondisi yeoja yang kita cintai seperti itu, jelas hati hati kami merasa terkoyak. Terlepas dari siapa di antara kami yang memiliki kadar cinta yang lebih banyak, pada kenyataannya, kami tetap sama-sama terluka.

“Do Kyung Soo-shii?”sapa seseorang.

Aku menoleh, dan mendapati seorang perawat membawa sebuah map “Ne, aku Do Kyung Soo. Ada apa?”

“harap temui dokter Choi di ruangannya”

“dokter Choi?”

“Ne, dokter yang menangani pasien Lee Hana, juga yang memeriksa kondisi anda yang sebelum ini jatuh pingsan”

Aku menatap Su Ho dan Kris hyung bergantian.

“kami akan berjaga di sini, tenang saja” sahut Kris hyung seolah tahu apa yang kupikirkan.

Akupun mengangguk tenang kemudian mengikuti langkah perawat tadi.

~***~

 

Aku hanya bisa mengerutkan kening saat duduk berhadapan dengan seseorang yang dipanggil dengan dokter Choi ini. ada sekitar 5 menit sejak terakhir dia mengeluarkan suara dan mengatakan silakan duduk. Setelah itu ia terus memandangi sebuah kertas, ah tidak… beberapa lembar kertas yang tidak kuketahui apa isinya.

“apa kau sering mengalami sakit kepala atau pusing belakangan ini?”tanya dokter Choi saat ia membuka obrolan.

“ne…”jawabku. aku jelas bingung karena kukira dia memanggilku untuk membahas kondisi kesehatan Hana.

“apakah kau terkadang mengalami perdarahan di hidung, mimisan?”

Aku membulatkan mataku “bagaimana anda bisa tahu?”tanyaku bodoh, sampai ketika aku menyadarinya “ah aku lupa, anda kan seorang dokter”

“apa ada keluhan lain selain itu? pusing yang disertai mual dan muntah?”

“sekitar seminggu belakangan ini aku mengalami hal itu dokter, bahkan frekuensinya meningkat, padahal aku tidak mempunyai riwayat gangguan pencernaan”

Dokter itu mengangguk-angguk kemudian melepaskan kacamatanya dan meletakkannya di atas meja yang menjadi pemisah di antara posisi duduk kami “sebelum ini, apa kau pernah mengalami kecelakaan?”

“kalau yang anda maksud kecelakaan lalu lintas, tidak pernah, dan semoga tidak akan pernah”

“tidak mesti kecelakaan lalu lintas. Maksudku… kecelakaan apa saja yang menyebabkan benturan keras di kepalamu”

Aku berpiki keras, perasaanku mulai tidak enak “pernah dok, satu kali. Saat sebuah pot besar menimpa kepalaku, dan aku harus dirawat di rumah sakit ini juga karena tidak sadarkan diri selama 2 hari”

Dokter itu kembali mengangguk-angguk, kemudian menoleh pada seorang perawat yang berdiri di sebelahnya dan menyerahkan beberapa lembar kertas tadi “bawa pasien… maksudku tuan ini ke ruang pemeriksaan CT Scan”

“Dwe, sonseng-nim”sahut perawat itu

Dokter itu menatapku “untuk pemeriksaan saja Do Kyung Soo-shii, silakan ikuti perawat ini”

“pe… pemeriksaan apa dokter?”

“akan kujelaskan begitu pemeriksaannya selesai”

Aku hanya bisa mengangguk dengan sejuta tanda tanya. Dokter bahkan tidak membahas tentang Hana sedikitpun.

~***~

 

Setelah melakukan serangkain pemeriksaan yang perawat itu bilang pemeriksaan radiologi dan CT scan, aku kembali ke ruangan dokter Choi untuk mengetahui hasil pemeriksaanku setengah jam yang lalu.

Dokter Choi berdehem, membuat suasananya sedikit menegangkan. Aku juga tidak pernah memikirkan ini, apa mungkin ada yang salah dengan kondisi kesehatanku “Do Kyung Soo-shii, aku tahu bahwa saat ini kau masih berada dalam masa-masa sulit perihal kondisi calon istrmu. Tapi, jauh lebih baik kalau kau mengetahui ini lebih awal”

“te… tentang apa itu dokter?”tanyaku makin cemas. Firasatku tidak enak tentang ini

“kondisi kesehatanmu sendiri. Aku akan menyampaikannya dalam bahasa sederhana” dokter choi memperlihatkan sebuah foto scan hitam dan buram itu padaku, hanya ada sebuah gambar yang kurang jelas yang pernah kupelajari di SMU mengenai Anatomi tubuh manusia, bahwa itu adalah gambar tengkorak kepala manusia, atau dalam hal ini adalah tengkorak kepalaku “benturan keras yang pernah menimpa kepalamu, menyebabkan perdarahan di dalam sini” lanjutnya sambil menunjuk gambar yang sebenarnya aku tidak peduli letak-letak organ itu, aku hanya fokus pada penyampaian dokter yang mulai tidak mengenakkan ini, dan tanpa alasan yang jelas jantungku berdebar dan keringat dinginku bercucuran “saat kau melakukan pemeriksaan di awal, gumpalan darah ini mungkin luput saat itu karena posisinya tidak begitu tampak. Tapi lama-kelamaan, gumpalan ini semakin membesar dan menekan organ penting di otakmu. Dan ini sangat membahayakan, terlebih gejalanya sudah muncul, seperti yang kau sebutkan, sakit kepala, pusing, perdarahan di hidung, mual, muntah dan sebagainya itu adalah__”

“Dokter… anda berjanji akan menyampaikannya dengan bahasa sederhana, tapi percayalah, dari awal sampai akhir kalimat, aku betul-betul tidak mengerti. Bisa langsung pada intinya saja?”potongku. sekarang tingkat kecemasanku sudah meningkat, dan aku tidak suka bertele-tele. Dari penyampaiannya yang terlalu medis itu, aku tahu bahwa aku sedang sakit. Parah! Untuk itu aku ingin mendengarnya secara langsung, ke intinya!

Dokter itu menghela nafas “dengan tidak menyembunyikan apapun. Do Kyung Soo-shii, hidup mu dalam bahaya”

PLETAAAARRRRRRR

Aku seperti mendengar kalimat Dokter Choi bagai sambaran petir di otakku “Dok…Dokter, ini… ini…tidak mungkin, anda salah bicara kan? Atau aku yang salah dengar?” baiklah, aku memang ingin mendengar intinya saja, tapi kalau intinya langsung mengejutkanku seperti ini, aku lebih baik mendengarnya secara perlahan.

“gumpalan ini berada di area yang tidak terjangkau bahkan dengan pembedahan. Walaupun kita nekat melakukan pembedahan, resikonya sangat tinggi karena ini akan mengenai pembuluh-pembuluh penting dan saraf-saraf penting di otakmu”lanjutnya semakin membuat lututku lemas

Aku semakin tidak bisa mempercayai apa yang kudengar, bagai terkena serangan jantung, tenggorokanku ikut tercekat “dokter… aku akan mati?”

Dokter itu menghela nafas panjang “mengenai kematian, Tuhan lebih tahu Do Kyung Soo-shii. Yang kuketahui hanyalah, gumpalan itu semakin lama semakin menekan area vital pada otakmu, bahkan pembuluh darah di sekitarnya. Yang bisa kuperkirakan hanyalah,saat di mana gumpalan itu akan menghimpit pembuluh utama di otakmu, maka akan terjadi vasokonstriksi, atau bahasa lainnya penyempitan pembuluh darah sampai akhirnya pecah dan…”dokter Choi menggeleng pelan, dan aku tahu artinya adalah… mati.

Aku hampir terjatuh dari kursiku saking tidak kuatnya aku menopang tubuhku. Ini betul-betul… Oh Tuhan, sebenarnya permainan takdir apa yang sedang kujalani saat ini? aku bahkan setidak mulia itu untuk mendapatkan umur yang melebihi angka 20. Itu artinya hidupku hanya sampai di angka 20, bukan 27 tahun di mana Hana akan menerimaku sebagai suaminya.

Seketika pandanganku kabur, bukan karena aku ingin pingsan, tapi sebuah genangan air menumpuk di mataku membuatku hanya bisa memproyeksi bayangan dokter Choi dengan samar-samar. Dan saat aku berkedip, genangan air itu sukses meluncur membasahi pipiku dan terus menetes hingga membentuk genangan baru di atas punggung tanganku.

“aku turut menyesal Kyung Soo-shii, tapi ada baiknya kau tahu lebih awal”

Aku tertawa,sebenarnya pilu, padahal mataku terus mengeluarkan tangis kepedihan. kalau ini lelucon, berarti ini adalah lelucon yang paling tidak lucu di dunia “sebenarnya apa salahku pada Tuhan?”

“Kyung Soo-shii, bersabarlah. Tuhan selalu punya rencana di balik ini semua”

“rencana? Rencana apa? Hana kehilangan penglihatannya, aku… akan kehilangan nyawaku, memangnya rencana apa yang tengah di susun-Nya?”

“Kyung Soo-shii, tenangkan pikiranmu, kau sudah kehilangan kontrol bicara”

“aku akan mati dokter, aku sedang mempersiapkan deretan pertanyaan yang akan kusampaikan pada Tuhan nantinya, kenapa Dia tidak memberiku waktu sedikit lebih lama untuk menemani Hana yang pastinya akan terluka setelah ia tahu bahwa ia akan buta permanen”suaraku semakin bergetar, dan kuharap dokter Choi masih cukup bersabar mendengarnya.

“Kyung Soo-shii… mengenai pasien Lee Hana ini mungkin akan sedikit meringankan bebanmu, tapi… dia memang akan buta permanen dengan mengandalkan kedua matanya sendiri, tapi masih ada jalan untuk menyembuhkannya. Transplantasi kornea mata bisa membantunya mengembalikan fungsi penglihatannya. Hanya saja dia harus bersabar untuk menunggu pendonor”

Aku mendengarnya dengan sangat jelas. Apa ini rencana Tuhan yang dimaksud oleh Dokter Choi tadi? Dan aku langsung berpikir ke arah itu setelah mendengar ucapannya barusan. Kuusap pelan air mataku yang menganggu penglihatan “Dokter… berapa lama aku akan bertahan?”

“melihat kondisimu, mungkin sekitar 2 bulan, bisa kurang bisa lebih. Bahkan bisa saja hari ini kalau ada trauma kapitis yang menyertainya”

2 bulan… bahkan tidak cukup satu tahun.

“lalu kapan Hana bisa menjalani operasi transplantasi mata itu?”

“maaf?”

Kuteguhkan hatiku untuk membuat keputusan ini. Tuhan akan memisahkan kami tapi akan menyatukan kami dengan cara lain. Aku memang akan kehilangan nyawaku, tapi aku tidak ingin pergi begitu saja tanpa melakukan apa-apa untuk Hana. “dokter… apa persyaratan untuk menjadi seorang pendonor?”

 

~***~

 

Hana POV

 

Ah… kenapa ini? sekujur tubuhku sakit semua. Betul-betul sakit, seolah remuk. Dan kalau aku merasakan sakit ini dengan sangat jelas, itu artinya aku belum mati. Karena roh tidak akan mungkin merasakan sakit pada fisik.

Ah kepalaku, mataku juga perih sekali. Sakit… dan lagi, apa ini? aku tidak bisa membuka kelopak mataku.

“Hana-ya…”lirih seseorang dengan suara paling indah yang pernah mampir di telingaku

“Kyung Soo-ya, kau kah itu?”tanyaku memastikan. Bukan orangnya, maksudku memastikan bahwa aku sudah bangun, bukan mimpi.

“ne chagi-ah, ini aku. Kyung Soo”

“apa ini di mataku? Kenapa aku tidak bisa membuka mataku?”

“itu perban Hana-ya”

“bisa bantu aku melepasnya? Aku ingin melihatmu saat ini juga. Banyak hal yang ingin kukatakan padamu”

Tidak ada sahutan darinya. Sedikitpun tak ada suara.

“Kyung Soo-ya… kau mendengarku kan?”

“ne chagi-ah”sahut Kyung Soo akhirnya, tapi aku medengar suara itu bergetar. “itu, belum bisa dilepas. mata…ng…. lukanya belum kering”

“oh, geure!. Oh ya, berapa lama aku tak sadarkan diri?”

“seminggu lebih”

Selama itu? Aku menghela nafas, kemudian menggeser tanganku, berusaha menggapai-gapai sesuatu, dan tangan Kyung Soo meraih tanganku “Kyung Soo-ya”

“ne?”

“maaf…”

“untuk apa?”

“tindakan bodohku saat itu. aku berlari setelah melihat ulah gila Min Yeong bukan karena aku percaya skenario murahannya. Aku hanya.. akh… aku tidak tahu kenapa tiba-tiba kakiku bergerak sendiri, aku menangis begitu saja dan…

“husst… sudahlah. Kita sama-sama dijebak oleh yeoja sialan itu”

“Kyung Soo-ya”

“sekarang kau tenanglah. Min Yeong sudah divonis 15 tahun penjara karena menjadi dalang di balik pembunuhan berencana ini. dan orang suruhannya sudah tertangkap beberapa hari yang lalu, dia memang buron, dan hari ini persidangannya. Su Ho dan Kris hyung sudah menghadirinya, kuharap orang itu dihukum seberat mungkin”

“Kyung Soo-ya…”

“sudahlah, jangan membahasnya lagi. Kau tidak butuh sesuatu?”

Aku menghela nafas “aku haus, tenggorokanku kering sekali”

“tunggu, kuambilkan air”

“oh ya, Kyung Soo-ya, sekarang ini malam atau siang?”

Lama baru Kyung Soo menjawab “pagi, Hana-ya. Pukul 10 pagi”

“tapi kenapa gelap gulita begini? Atau ruangannya memang sangat tertutup sampai aku tidak bisa merasakan seberkas cahaya sedikitpun?”

Kyung Soo terdiam lagi. Aku semakin tidak mengerti kenapa Kyung Soo selalu memberi jeda di setiap jawabannya? “perban di matamu cukup tebal, makanya tidak tembus cahaya. Ini minumlah”

“mana…? Kyung Soo-ya, seriuslah sedikit, aku tidak bisa melihat apa-apa. Mana gelasnya”

Kyung Soo bergumam “mau mencoba minum dengan cara lain?”

“cara lain?”

“berhubung kau tidak melihatnya, aku ingin tahu sepeka apa kau”

“Kyung Soo-ya…”

Aku mendengar Kyung Soo meneguk air “ah, kenapa aku yang minum” ia malah tertawa “tunggu yah, kuisi gelas spesialnya dulu”

“tidak bisakah kau cepat sedikit? Aku betul-betul hau___”

Aku membelalak ketika aku merasakan sesuatu yang hangat, lembut dan basah menempel di bibirku. Belum sempat aku memastikan bahwa itu adalah bibir Kyung Soo, aku kembali dikejutkan ketika aku merasakan aliran air masuk ke dalam mulutku. Seketika aku menelannya dan “Hya!! Cara apa ini? kau memanfaatkan keadaan?”

Kyung Soo tertawa keras “tapi kau suka kan? Masih haus?”

Sontak wajahku memanas “Kyung Soo-ya… awas kau”

“Hana galak sekali, padahal sebelum ini tidurmu pulas sekali”

“tidak ada hubungannya. Kau selalu mengerjaiku Kyung Soo-ya”

Kurasakan sebuah sentuhan di pipiku,itu tangan Kyung Soo “aku tidak mengerjaimu, aku menciummu sekalian membantumu minum. Bisa membedakannya?”

Lagi, wajahku memanas “ck, kapan perban ini di buka”

“kenapa? Kau mau menghajarku?”

“tidak… itu supaya aku tahu kalau kau tiba-tiba ingin menciumku, setidaknya aku tidak terkejut seperti tadi”

“baiklah, akan kuberitahu kalau aku ingin menciummu”

Aku menghela nafas.

“Hana-ya…”

“ne?”

“bersabar yah!”

“untuk apa?”

“sampai perbannya dibuka, kita hanya bisa berinteraksi seperti ini”

“sampai kapan?”

Kyung Soo terdiam lagi.

“Kyung Soo-ya” tegurku.

Dan kurasakan tangan terulur dan memelukku secara perlahan “bersabarlah sampai waktunya tiba, 2 bulan… bisa lebih bisa kurang, bisa juga hari ini, itu tergantung kondisinya”

Aku tidak mengerti ucapan Kyung Soo, terlalu aneh “kau mengigau?”

“hm?”

“bicaramu aneh”

“mmp”

“apa yang mmp? Kau tidak bisa bicara?”

Tidak terdengar apa-apa, sampai ketika aku seolah mendengar isakan, yang kupikir itu dari Kyung Soo.

“kau menangis?”tanyaku

Kyung Soo tidak langsung menjawab ia terdiam sejenak, sampai ketika kudengar hembusan nafas berat berkali-kali barulah Kyung Soo bersuara “siapa yang menangis?”

“aku hanya tidak bisa melihat karena perban ini Kyung Soo-ya, bukan berarti aku tuli. Kenapa kau menangis?”

“molla, aku sudah menangis sejak seminggu terakhir ini”

“karena aku?”

“karena siapa lagi? Melihatmu dibalut perban seperti mumi ini, siapa yang tidak miris?”

Aku tertawa “seperti mumi? Aku ingin melihatnya”

“akan kupotret, dan sampai perbannya di buka, kau akan sepuasnya bisa melihat”

“ne…ne…ne”

“jadi sekarang bersiaplah. Aku ingin menciummu”

~***~

Ada yang aneh pada diriku, maksudku, kedua mataku. Sangat sakit saat aku menggerakkan bola mataku, dan lagi. Aku tidak bisa membedakan siang dan malam. Suasananya sama. Gelap gulita. Ini sudah hari kedua sejak aku sadar, tapi… tetap tidak bisa kubedakan.

Maksudku, biasanya walau dalam keadaan mata tertutup, orang akan tahu apakah ini siang atau malam karena berkas cahaya matahari masih sanggup menembus kelopak mata. Ini… sedikitpun tidak, bahkan secuil berkas cahayapun tidak bisa ditangkap kedua mataku. Baiklah, aku percaya pada kata-kata Kyung Soo bahwa perban di mataku cukup tebal. Yah, masuk akal juga.

“Kyung Soo-ya…”panggilku pada Kyung Soo yang ikut berbaring di sebelahku di atas branker tempatku terbaring

“ne…”sahutnya

“apa tidak sebaiknya aku rawat jalan saja? Takutnya biaya perawatanku melonjak, apalagi harus menunggu sampai 2 bulan”

“kau jangan mencemaskan itu, semua biaya perawatanmu ditanggung oleh yeoja sialan itu sebagai ganti rugi. Pokoknya sampai kau sembuh total, kau mau melakukan apapun di rumah sakit ini jangan sungkan-sungkan, bahkan kalau kau ingin menyewa ruangan ini selama setahun juga tidak usah sungkan-sungkan. Uang yeoja sialan itu tidak akan habis”

“Kyung Soo-ya…”

“wae?”

“Jangan menyebut Min Yeong sekasar itu”

“lalu aku harus menyebutnya apa? Psikopat?”

“Kyung Soo-ya!”

“ara-ara… aku masih butuh waktu untuk menenangkan pikiranku tentang yeoja sia___ maksudku yeoja itu. jadi berhenti membahasnya atau aku akan semakin kesal”

Kurasakan tangan Kyung Soo memeluk perutku.

Aku mengangkat tanganku. Mencoba meraba-raba(?) mencari wajahnya, kemudian menyentuh pipinya “Kyung Soo-ya”

“ne…”

“sekarang jam berapa?”

“9 pagi”

“kau tidak ke kampus?”

“tidak, aku cuti”

“cuti?cuti apa?”

“cuti hamil”

“Kyung Soo-ya…”

“aku hanya ingin cuti, itu saja, jangan protes” kurasakan bibir Kyung Soo menyentuh pipiku. Dan itu membuatku tertawa kecil.

“kenapa akhir-akhir ini kau jadi sangat manja. Apa aku terlihat imut sampai kau terus memelukku dan menciumku?”

“hm, kau sangat imut, cantik, menggemaskan. Dan lagi aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu berharga ini”

“heh? Kau mengingau lagi”

“maksudku, mumpung kau tidak melihatku, jadi aku bebas memelukmu dan menciummu”

“ah… jangan senang du__”

BRAAAKKK!

Aku cukup terkejut saat mendengar ada yang membuka pintu dengan bantingan keras.

“Su Ho-ya”seru Kyung Soo di sebelahku.

“kau… kau…”aku mendengar suara Su Ho bergetar hebat, nafasnya tersengal-sengal

“aku kenapa?”tanya Kyung Soo

“kenapa kau tidak bilang padaku?”bentak Su Ho.

Kyung Soo terdiam sejenak “baiklah, kita bicara di luar” Kyung Soo mengelus pipiku sejenak “aku keluar dulu yah, jangan merindukanku. Hanya sebentar”

Aku hendak mengomel, tapi suara Su Ho yang tertangkap oleh telingaku cukup membuatku… curiga

~***~

 

Kyung Soo POV

 

Aku hanya menatap langit saat Su Ho membentak-bentakku di taman rumah sakit pagi itu. aku tidak begitu fokus dengan bentakannya, intinya… dia sudah tahu bahwa hidupku sudah tidak lama lagi.

“Kyung Soo-ya!”

Aku menghela nafas, kemudian menatap Su Ho yang berdiri di hadapanku. Matanya berkaca-kaca dan bibirnya bergetar. “duduklah dulu”

Su Ho mengacak rambutnya frustasi “kenapa kau justru sesantai ini? kau akan mati dan…”suara Su Ho tercekat, ia tidak sanggup lagi.

Aku menyunggingkan seulas senyuman “lalu aku harus apa? Protes? Kepada siapa? Dokter? Min Yeong? Orang suruhannya? Atau pada Tuhan?” aku memejamkan mata sejenak, lalu kembali menatap Su Ho “kontrakku di dunia semakin berkurang, dan sampai kontrakku habis, aku tidak ingin melakukan hal yang sia-sia”

Su Ho luruh ke tanah yang diumbuhi rumput itu “jadi kau betul-betul akan mendonorkan matamu pada Hana?”

“jika bisa berbuat lebih lagi, maka akan kulakukan. Tidak buruk Su Ho-ya, aku pergi juga akan meninggalkan sesuatu yang berguna. Aku akan memberikan penglihatanku pada Hana”

Su Ho berdecak, semakin frustasi “lalu bagaimana dengan Hana? Kau tetap menyembunyikan ini sampai kau mati?”

Aku mengangguk santai, lebih tepatnya pasrah “jangan memberitahukan apapun padanya, mengenai kebutaannya, juga mengenai… hal yang akan menimpaku”

“tapi Kyung Soo-ya….”Su Ho sudah terdengar seperti meraung

Aku berdiri, menarik tangan Su Ho untuk ikut berdiri kemudian memeluknya erat “aku sudah mempersiapkan semuanya Su Ho-ya, jangan menangis. Karena aku tidak mau melihat air matamu, dan itu akan membuat pertahananku runtuh. Sangat sulit menerima ini semua Su Ho-ya, tapi kurasa yang bisa kulakukan memang hanya sampai di sini”

Su Ho mempererat pelukan kami “kenapa harus kau? Kenapa? Tidak adakah yang bisa kulakukan untukmu? Nyawaku… nyawaku, ambil saja nyawaku”

“Su Ho-ya… berhenti mengatakan hal bodoh. kalau kau mati, siapa yang akan memegang amanahku?”

Su Ho merenggagkan pelukan kami “a… amanah?”

Bisa kulihat air matanya di sana dan kurasa aku memang tidak salah memilih orang “hm… amanah, setelah aku pergi”

~***~

 

Aku memandangi kotak cincin berlapis kain beludru merah itu di genggamanku. Ironis, aku tidak punya kesempatan memberi cincin ini. cincin yang seharusnya akan mengikat Hana untukku.

Aku jelas sudah tidak punya harapan untuk memberi cincin ini, mengingat bahwa cincin ini begitu besar maknanya. Memberikannya pada Hana, sama saja dengan memberinya janji untuk harus kutepati.

Aku jadi teringat percakapan konyolku dengan Kris hyung saat dia memanggilku ke ruangannya.

Flash back

Kris hyung menggetok kepalaku dengan sebuah map yang ia gulung kau taruh di mana otakmu? Bahkan jika itu aku, akan kutolak kau mentah-mentah. Mana ada orang melamar dengan sesantai itu. apa kau serius melamar?

Aku terkekeh menerima omelan Kris hyung aku serius, um… bisa juga diselingi candaan. Maksudku, kalau saat itu Hana menerimanya, aku akan langsung menelpon eomma dan appa agar membicarakan pernikahan kami

ppabo… kau tidak pernah melihat orang melamar kekasihnya? Seharusnya kau tunjukkan ketulusanmu

Aku mengerutkan kening caranya?

Kris hyung menghela nafas lelah, apa aku sebodoh itu? seorang yeoja itu sangat mudah tersentuh. Bukan bermaksud mengatai mereka matrealistis. Tapi, seorang yeoja akan lebih menghargai ketulusan dan keseriusan kita saat kita melambangkannya dalam sebuah benda

Aku semakin bingung maksudnya?

apa kau pernah melihat orang melamar dengan tangan kosong? Kecuali kau tentunya

sindiranmu cukup telak hyung. Tapi kurasa kau benar. Aku mengesampingkan hal penting itu

jadi kau mengerti?

ne. cincin kan?

Kris hyung mengangguk mantap cincin itu merupakan lambang tertinggi sebuah ikatan. Baik itu pertunangan atau pernikahan. Tidak penting mengenai harganya. Tapi maknanya… ara?

Ne… terima kasih masukannya hyung. Kukira kau memanggilku untuk menghukumku karena mengobrol di kelas. Kalau itu benar, maka aku akan protes kenapa Hana tidak ikut dipanggil

sebenarnya ada alasan lain kenapa aku memanggilmu

apa?

Kris hyung tertawa kecil, membuatku curiga bantu aku memeriksa hasil kuis ini. kepalaku pusing meihat tulisan tangan teman-temanmu

akh hyung… ternyata tadi hanya modus…

Kris hyung tertawa kemudian menyerahkan beberapa lembar kertas padaku.

<Flash back end>

 

“aku sudah menemukan cincin yang tepat hyung, sayangnya… aku tidak akan pernah bisa menyerahkannya”lirihku pelan. Berikut air mata yang menetes di pipiku.

Aku melirik jam di dinding kamarku. Pukul 6 petang. Hana pasti sudah mencariku, seharusnya aku sudah berada di rumah sakit sejam yang lalu. Tapi… belakangan ini kondisiku memburuk, tadi siang aku pulang lebih awal untuk beristirahat, karena aku tidak ingin Hana tahu kondisiku. Frekuensi perdarahan hidungku meningkat, bisa sampai 2 atau 3 kali sehari. Dokter choi bilang, aku tidak boleh kelelahan, dan harus banyak istirahat. Tapi apa itu berguna? Toh tidak lama lagi aku akan pergi.

Yang harus kupersiapkan sekarang adalah, bagaimana cara memberitahu Hana perihal kematianku nantinya, saat ia sudah bisa melihat dengan kedua mataku yang kudonorkan padanya.

Masih banyak yang ingin kukatakan padanya. Sangat banyak!

~***~

 

Aku berlari secepat mungkin menyusuri koridor rumah sakit yang tampak lengang malam itu. Su Ho menelponku karena terjadi hal yang buruk. Sangat buruk!

Hana telah mengetahui bahwa ia buta permanen. Salah seorang perawat tidak sengaja mengucapkan hal tabu itu di dekat Hana. Dan kini, Hana mengamuk di ruangannya.

Dan betul saja, saat aku masuk ke ruangan itu, Hana sudah tak lagi berada di atas tempat tidurnya. Semua benda berhamburan, bahkan gelas kaca, juga vas bunga yang seingatku ada di atas meja nakas tadi siang berhamburan di lantai.

“Hana-shii, tenangkan dirimu”bisa kulihat Su Ho berusaha mendekati Hana, tapi yeojaku itu berteriak histeris dan melemparkan apa saja ke sembarang arah. Perban yang melilit di sekitar matanya tidak lagi rapi seperti sebelumnya. Ikatannya terbuka dan itu membuat perbannya longgar.

Aku menepuk pundak Su Ho, memintanya keluar bersama 2 perawat yang masih berusaha menenangkan Hana.

“hati-hati” pesan Su Ho, karena kulihat tangannya berdarah. Mungkin terkena pecahan kaca atau sejenisnya.

BLAM

Pintu ruangan itu tertutup. Kini tinggal aku dan Hana di ruangan itu.

Tanpa bersuara, aku perlahan mendekatinya. Ia masih terisak di sana, bersandar di jendela sambil mengacungkan pecahan kaca.

Aku memegang pergelangan tangannya, bisa kulihat ia tersentak.

“Kyung Soo-ya…” rintihnya.

Aku cukup lega, juga takjub karena Hana langsung mengenalku hanya dengan sebuah sentuhan. Perlahan kulepaskan pecahan itu dari tangannya dan membuangnya. Detik berikutnya Hana menghempaskan tubuhnya ke pelukanku.

“aku buta… aku buta… aku buta” raungnya dengan tangis memilukan.

Aku menelan ludah yang seperi karang, “kau akan sembuh Hana-ya, aku berjanji…”ucapku berusaha menenangkannya. Juga menenangkan diriku agar tidak ikut menangis.

“mereka bilang aku akan buta permanen. Mataku rusak… aku sudah tidak bisa melihat…”

“apa mereka juga mengatakan kalau kau bisa sembuh dengan jalan transplantasi mata?”

Hana masih terisak “tapi itu bukan hal yang mudah, siapa yang mau mendonorkan matanya begitu saja?”

Aku menghela nafas, merenggangkan pelukan itu. menangkupkan kedua tanganku dipipi Hana dan menatap wajahnya yang masih di balut perban di sekitar matanya “untuk Hana… tentu saja ada”

“jangan menghiburku Kyung Soo-ya… jangan menghiburku. Jangan memberiku harapan kosong”

“ini bukan harapan kosong Hana-ya, ini janji”

“kenapa kau seyakin itu?” Hana masih sesenggukan

Aku menelan ludah “karena aku sudah menemukan pendonor yang cocok untukmu”

Hana tersentak “ji…jinjja?”

“ne… jadi berhentilah menangis. Lihat perbuatanmu, kau mengamuk seperti orang gila”

“aku shock… kau tidak tahu rasanya Kyung Soo-ya”

Aku lebih shock lagi saat tahu bahwa hidupku tidak lama lagi Hana-ya “aku paham Hana-ya… jeongmal….”kurengkuh tubuhnya yang masih bergetar itu “jadi kumohon bersabarlah…”

~***~

 

Sial… kondisi tubuhku menurun drastis. Dr. Choi akhirnya memaksaku untuk rawat inap. Karena kemungkinan untuk aku kehilangan kesadaran sangat tinggi. Terkadang aku merasakan sakit yang teramat sangat di kepalaku, dan saat aku melakukan CT scan (untuk kesekian kalinya) gumpalan di kepalaku semakin membesar. Itu yang dikatakan Dr. Choi dalam bahasa sederhana.

“bisa kalian tidak menatapku begitu?”tegurku pada Su Ho dan Kris hyung. Ne, Kris hyung sudah tahu.

Su Ho akhirnya menunduk, masih dengan mengaduk-aduk semangkuk bubur yang masih panas, dan nantinya akan ia suapkan ke mulutku.

Kris hyung.. dia tengah berdiri di dekat jendela, memandang keluar dan… menangis. Aku benci melihatnya.

“arasso… arasso… menangislah sepuas kalian. Dan saat aku mati nanti, akan kuhantui kalian kalau masih menangis seperti ini”

BRAK…

Kris hyung menggebrak meja di dekat jendela itu, menimbulkan getaran yang merambat ke kaca jendela, terdengar hampir pecah “KUBUNUH YEOJA SIALAN ITU!!!”pekiknya dan sudah berniat keluar dari ruang perawatanku dengan ekspresi yang… mencekam.

“Hyung..! aish… jinjja” aku menatap Su Ho “Su Ho-ya, aku tidak bisa mengejarnya, jeball”

Su Ho justru mematung, dan menatapku lemah “Min Yeong berada di ruang  tahanan khusus, Kris hyung tidak akan bisa menemuinya”

Aku mendesah pelan “sudah berapa hari kau tidak makan?”

“heh?”

“Su Ho-ya… jeball, jangan memaksakan dirimu. Aku akan merasa sangat berdosa saat pergi nanti. Lihat, aku masih hidup saja kau sudah patah semangat begini”

Su Ho tertunduk “bisakah kau tidak sesantai itu membahas kematian? Aku sudah berusaha mati-matian untuk tidak memikirkannya… tapi kau…”

Aku menepuk pundak Su Ho “gomawo… kau tahu apa yang paling membahagiakan dalam hidupku? Aku dikelilingi oleh orang yang mencintaiku tulus. Walau salah satu di antaranya menyalah gunakan cinta itu”

Aku melihat pundak Su Ho bergetar… lagi! Dia menangis “mianhae… jeongmal mianhae… seharusnya aku tidak mempercayai Min Yeong begitu saja… seharusnya aku lebih peka, seharusnya aku bisa menghindari ini… seharusnya…”

“Su Ho-ya… kita sudah membahasnya kan? Tidak ada kata penyesalan. Ara?”

Su Ho menatapku, dan bisa kulihat matanya yang sudah sembab sejak kemarin-kemarin semakin memerah “tidak adakah yang bisa dilakukan? Operasi? Atau…. apapun itu… aku akan mengusahakannya”

“operasi?”aku tertawa kecil “bisa jadi aku langsung mati saat operasi. Kau tahu, kemungkinannya hanya 10 %”aku menepuk pundak Su Ho “Masih ada sebulan lagi Su Ho-ya, dan aku tidak mau menghabiskan waktu berharga itu di dalam ruangan yang penuh peralatan medis yang menyeramkan”

“Kyung Soo-ya…”

Aku melirik jam di meja nakas sebelahku “Hana sudah bangun pasti. Aku akan ke ruangannya?”

Su Ho menghela nafas panjang “makan dulu Kyung Soo-ya, kau semakin kurus belakangan ini”

Aku tertawa “kau juga…kita makan saja bersama kalu begitu”

 

~***~

Author POV.

 

Kyung Soo sengaja mengajak Hana berjalan-jalan di taman rumah sakit. Berjalan-jalan dalam hal ini adalah, hanya Kyung Soo yang berjalan, karena Hana menggunakan kursi roda.

“angin musim semi memang yang terbaik”ucap Kyung Soo tenang.

Hana masih terdiam. Sejak ia tahu bahwa ia buta, ia seolah patah semangat dan tidak lagi meladeni candaan Kyung Soo.

Namja itu jelas menyadarinya. Ia berhenti mendorong kursi roda itu dan berteduh di bawah pohon mapple yang mulai rimbun. Kyung Soo duduk di depan Hana, dengan satu lutut menyentuh Hana “apa ini? hari ini cukup cerah, tapi kenapa aku melihat wajah Hana yang mendung?”

“aku tidak tahu secerah apa hari ini, karena aku tidak melihatnya”balas Hana lemah.

Kyung Soo merutuk dalam hati “Hana-ya…”

“hm, aku baik-baik saja. Aku hanya sedang membiasakan diri”

Kyung Soo melihatnya semakin miris. Lihat betapa Hana ingin sekali melihat “sedikit lagi Hana-ya, untuk itu… nikmati saja kebersamaan ini”

Hana mendongak, mencari-cari keberadaan Kyung Soo yang sebenarnya hanya beberapa centimeter di depannya. Ia mengulurkan tangan dan tepat menangkupkan telapak tangannya di kedua pipi Kyung Soo “kau agak kurus Kyung Soo-ya”

Kyung Soo terhenyak. Hana… bahkan saat buta pun tahu “ah, hanya perasaanmu saja”

“ani, kau kurus, pipimu tirus sekali”

Kyung Soo menelan ludah, berusaha bersikap santai padahal hatinya kembali sakit “aku kurang nafsu makan”

“waeyo?”

“karena Hana jarang tersenyum”

Hana menghela nafas panjang “Kyung Soo-ya… jangan begini. Kau juga harus memperhatikan kesehatanmu”

“untuk apa, melihat Hana ku yang patah semangat, aku juga patah semangat”

Sekali lagi Hana menghela nafas “baiklah, malam ini aku mau makan Kimchi spagetthi. Jadi kau juga harus makan”

“ne, akan kuminta Su Ho atau Kris hyung membawanya”

Hana mengulas senyuman “makan malam dengan Kyung Soo memang moment terbaik”

Kyung Soo yang melihatnya juga ikut tersenyum, rasa sesak di dadanya semakin menjalar “akan kubuat moment-moment makan malam kita semakin berkesan tiap harinya”

Hana terhenyak “Kyung Soo-ya…”

“ne?”

“peluk aku…”

Ganti Kyung Soo yang tersentak “eh? Tumben sekali Hana minta peluk”

“aku sendiri juga tidak tahu. Akhir-akhir ini aku merasa sangat rindu padamu. Aneh padahal kau selalu ada di dekatku, tapi… aku gundah. Aku… takut kehilanganmu”

DEG!

Inikah yang dinamakan firasat? Dan Hana merasakannya. Kyungso takjub akan hal itu. perasaan Hana terlalu dalam hingga ia bisa merasakan firasat itu.

“Kyung Soo-ya? Kenapa diam? Kau tidak ingin memelukku?”tegur Hana membuat Kyung Soo tersadar

“ah ne…” ia pun membantu Hana berdiri, kemudian ia merengkuh tubuh itu. erat, sangat erat.

“oh Tuhan…”

“waeyo Hana-ya?”

“molla… hatiku sakit sekali. Bahkan saat kau memelukku. Aku semakin gundah” Hana semakin mengeratkan pelukannya, seolah tak ingin melepas Kyung Soo.

“Hana-ya, jangan begini. Aku di sini, bersamamu”

“Ne, aku tahu. Tapi perasaan ini menyiksaku. Lakukan sesuatu Kyung Soo-ya… hatiku sakit sekali”keluh Hana,

Kyung Soo memejamkan mata rapat-rapat. Kini beban di pundaknya semakin berat. Ia tidak akan bisa membayangkan bagaimana kondisi Hana saat Kyung Soo meninggal nanti. Tak bisa ditahannya, Kyung Soo menangis.

Ia merenggangkan pelukannya, menatap wajah Hana yang matanya masih dililit perban. “aku ingin menciummu. Boleh?”

Hana mengangguk.

Dan detik itu juga Kyung Soo menghilangkan sekat itu. itu mengecup lembut bibir Hana. Sangat lembut, seperti tidak ingin melepasnya. Karena tidak akan lama lagi, ia tidak akan bisa menyentuh bibir ini.

“ngh…” Hana mengeluh sesak. Untuk itu Kyung Soo melepasnya.

“Hana-ya…”

“ciuman mu berbeda…”

“ne…?”

Hana mengulurkan tangannya, memeluk leher Kyung Soo “apa berciuman dengan orang buta seburuk itu?”godanya

Kyung Soo tersenyum di balik luka hatinya “ani… Hana tetap the best kisser untukku”

“Kyung Soo-ya…”

“kali ini tidak akan kubuat kau sesak” Kyung Soo kembali mengulum bibir Hana dengan lembut. Tidak mempedulikan ada beberapa pasien yang juga berjalan-jalan di taman itu dan memperhatikan mereka. Kyung Soo tidak peduli, karena tiap detik, tiap menit bersama Hana adalah waktu yang sangat berharga untuk sekedar disia-siakan.

“akh…” keluh Kyung Soo seketika melepaskan ciuman dan rangkulan Hana, ia mundur ke belakang dan mencengkram rambutnya sendiri.

“K…Kyungsoo-ya, gwenchanayo?” tanya Hana panik, ia mengulurkan tangannya, mencoba meraba sesuatu tapi yang ia sendtuh hanya udara halus.

“N…ne… gwe….gwen…chana…” nafas Kyung Soo mulai sesak, sakit yang teramat sangat menyerang kepalanya tiba-tiba. “Ha… Hana tunggu di sini dulu, aku… aku beli minuman kal___”

BRUGH….

Kyung Soo ambruk ke tanah.

Hana semakin panik mendengar bunyi debuman di tanah. “Kyung Soo-ya… Kyung Soo-ya…” seru Hana histeris.

“Lihat… namja itu pingsan. Cepat tolong dia”

Hana tercekat mendengar seruan yang tak jauh di sebelahnya. Ia kembali berusaha menggapai-gapai sesuatu sambil melangkah pelan. Dan saat ujung sepatunya menumbuk sesuatu, seketika darahnya berdesir. Ia luruh ke tanah dan menggapai-gapai apa yang ia temukan. Lehernya tercekat. Sosok yang di pegangnya ini. “Kyung… KYUNG SOO-YAAAAAAAAAAAAAA” pekiknya mendarah daging.

 

~***~

 

TBC

 

Note: baru sadar, part sebelumnya juga berakhir dengan teriakan. Cuman objeknya ganti. Next chap udah ending…

BOW

 

 

 

 

 

 

54 thoughts on “[FF] Another Chance [Part 11]

  1. authoooooorr >.<

    Bnr2 speechless' gk tau hrus comment ap ..
    Haizzz jinja ..

    Miris Bca semua .
    mmm..

    Bnr2 daebak …..

    Kta orng yg liat sya bca .
    Muka q , berhasil jd kepiting rebus .

    Lanjuttt thor .^^
    Fighting …..

  2. Hiks.. Hiks.. T^T
    /nulis komen ini sambil nangis/

    Beneran ini aku mewek thor T^T huaaaaa.. Sad ending ya?

    Hiks,, aku kira bkalan happy ending, ato stidknya biarin kyungsoo sm hana merasakan sbg sepasang suami istri, tapi…… yasudahlah, cerita semua ditentukan tuhan dan author (?)

    sbenarnya byk ini yg mau aku komen, tapi suasana hati ikut nyesek /sambil lap ing*s/ xD

    Next capt sudah ending?
    Huaaaaaa.. T^T

    Aku gk mau ending cepetcepet, tapi penasaran juga sama endingnya /plakk/ xD

    next chap jgn ditunggu thor ^^

  3. So, Baby don’t cry.. Cry..
    Nae saranghae neol jigitaeni..

    Aigo.. Saya bsa gila kalo begini,
    Kyungso’ya.. Aku saja yang jadi kau..

    Sepertinya bukan hanya kyungsoo dan pemain lain yang tercekat…
    Aku juga tercekat >_<
    huuaaaaa… #nangis guling-guling#
    Andwaeyo… Kyungsoo'ya…

    Authoorr.. Daebakkk.. Daebakk.. *histeria
    Part sellannnjutttnyaaa…

  4. authorrr T.T kenapa jadi makin rumit seperti ini huaa >.< tapi sumpah tambah Daebak !! no typo sama sekali
    Lanjut, oh iya mian thor bisa komennya disini di grup gk bisa cuman bisa like,soalnya bukan FB aku tapi punya adek hehe

  5. Author TT miris sekali, sumpah keren kali, lanjut thor…
    mian thor cuman bisa comment di WP kalo di Grup cuman like doang hehe bukan FB sendiri soalnya. GPP ya thor hehe. Lanjut thor ditunggu

  6. omo author,,
    sukses bikin aku nangis di chap ini… T_T
    jadi…. kyungsoo nantinya mati?! sad ending gitu?? kenapa takdirmu malang sekali….
    thor, cepet di publish ya kelanjutannya…
    tapi, chap selanjutny udah end ya?? ah… jadi berasa bener” mau kehilangan kyungsoo oppa…😦
    mian thor, saya kebanyakan ngomong,
    keep writing and FIGHTING!!😀

  7. chap ini sukses buat ak nangis minthor eonni…😥

    kenapa hrus ada takdir seperti itu, eonni? Trlalu nyesek ngebayanginnya…

    Ini bnar2 ff tragedy yg pernh ak baca…

  8. Aaaaaaaaa!:” aku baru nemu FF ini, pas baca part 1 langsung ketagihan, seharian baca FF ini…. Pas mau part 12 di protek</3 bagus banget ff-nya yaampun, feelnya dapet, authornya daebak! Good job thor!:) btw, pass FF part 12nya gimanaaaaa?

  9. Berhasil thor , kau mengeluarkan air mataku di part ini (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩) dua sejoli bernasib buruk, gmna jdi’y hana nanti, dpt mata pengganti tapi org yg d sayang udh ga ada.. Ahhhh (˘̩̩̩_˘̩̩̩ƪ)

    Keren bgt part ini…
    Aku next part ya thor😦 smoga sesuai harapan part berikut’y..

  10. ALF otthokee……
    kenapa jadi bgini sih *nangis kejer*
    oh tuhannnnn D.O waeeee waeeeeee
    ga bisa trima kenyataan skali hana + D.o menderita kesusahan yg sangat
    ide2 ALF bener2 cemerlang bgt T^T…….
    sepasang kekasih bernasib buruk bgt ini….
    *lap ingus*

  11. hadduuhh nasubnya DO tragiisss..
    si eunhyoonya sudahh sekarat ,,, hauduuhh.. sad storyy againnn… hooaa. saya nangis baca ff inii sumpahh mengharukann.. eommaa. padahal aku pengennya berakhir dengan punyaa anakk.. chinguu buat jangan matii si d.o

  12. 2 kalimat yg ingin qe katakan yang pertama Jahat buat min yeong,selamat usahamu untk mNcelakai hana berhasil dan selamat mendekap dpenjara slama 15thun,dan yang kedua mengapa hana buta dan kyung-soo akan mati PLTAR>.< apakah diending kyung-soo mati(semoga tidak).
    .segitu aja dech coment qe g usah bnyak*hehehe ,

  13. D.o meninggall?? Andwaeeeee….. (۳˚O˚)۳
    Ntar hana trauma lagi gimana?!
    Tega ah Alf, masa baru sembuh jadi trauma lagi??

    Trs minyeong, udah gitu aja dianya??
    Si suho gak sedih gitu tunanganya masuk penjara??
    Yyaaahh… padahal enak (?) Bgt kalo suho sama minyeong,, trs d.o sm hana.. biar krisnya sama aku aja.. #kris muntaber
    Hahaha

    hana kasian bgt nasibnya kalo smpe harus kehilangan d.o lagi..

  14. doh, minyoung kebangetan deh, ga ada kapok2nya T.T
    itu dio mimpinya jadi kenyataan ya tuhaan.. d.o jangan mati ne .. T.T itu kan kepala d.o sakit juga gegara minyeong..a T.T ..

  15. hana buta..
    kyung soo ada pendarahan di otak dan mau ngedonorin matanya..
    chapter ini tuh beneran ngobrak-abik perasaan banget thor..
    pengen nangis tapi juga ketawa..
    would it be sad ending??

    author minta pw chapter 12 dums..🙂

  16. Aku udah gak tau harus ngomong apa lagi.
    Sakit banget thor,nyesek,T.T
    Kenapa selalu sad ending?.aku bener2 sedih.
    Kyungsoo….apa mungkin hanya menjadi sbuah nama yg selamanya dikenang sebagai pahatan paling indah dihati Hana?.
    Akankah posisi kyungsoo terganti?.
    Sedihhhhhh…..huaaaaa
    Kenapa harus Kyungsoo?.
    Dari banyak ff,kenapa harus selalu dia yg berakhir tragis?.
    Ini smuanya akarnya dari Minyeong,coba Minyeong g nyuruh orng buat neror Hana,smuanya gak akan begini.
    Kyungsoo gak akan ketiban pot,gak akan mengalami penyumbatan di otaknya.
    Hadeuhhhh……hatiku….sakit,T.T

  17. Aahhhh, ada d exo fanfic sampe part 8, niat na nyari epep baekyeol malah ktemu page ini..
    Rela2 in jam 1 mlm ngebut baca part 9 10 11..
    padahal awal na uda ngdukung pasangan SuYoung, tp minyoung g bs d prcaya…
    Dan apa lg ini, ..
    Haduiih, no komen tll pjg utk dktik di hape komen saya..
    Tp part 12 na d protect, gmn dpt pw na ya? Newbie bgt nih ama page ini..

  18. Alf, sdih bgt.. Ak sesak nafas..
    T.T

    kyungsoo oppa jgn mati.. Please, angst-nya sampe sini aja..

    Ya Allah, smoga ak punya shbat yg benr” kaya suho oppa di crita ini.. Sahabat yg bnar” mngrti sgla kkurangan kta..

    Apapun ending.a, ak bner” jtuh cinta sama sifat suho oppa dari awal ampe akhir..
    Sahabat idaman..
    Ya Tuhan, smoga di dunia ini ad org yg sbaik itu ama aku..

    Ffnya bgus bgt, alf.. Kren.. Kren bgt..

  19. hhhh..
    aku cuma bisa ngelus dada sambil menghela napas panjang. Air mataku uda menggenang ini..
    membayangkan Kyung Soo seperti itu.. ah.. biasku.. TT.TT

  20. Aduh thor, sumpeh bikin sedih banget adohh yeoja sialan itu sukses bgt ya buat semuanya menderita! Adoh endingnya gimana ini? Jgn bilang kyungsoo meninggal? Kyaaaa! Terus hana sama siapa? Kris! Suho? Sepertinya bersama suho? .

  21. untuk part ini kak alf, DEMI APA AKU NANGIS TENGAH MALAM GARAGARA PART INI???! huaaaaaa sumpah pengen peluk siapapun di kamar ini tapi kenyataannya cuma aku sendirian di kamar. T.T sumpah aku ga berenti nangis….hana buta,kyungsoo mau pergi, sesaaakkk kali bacanya TT.TT aku penasaran siapa yang bakal pakaikan cincin itu buat hana nanti. siapa yang nikah sama hana nanti. siapa? siapa kak alf? siapaaa???!! oke ini sangat berlebihan. tinggal minta password, baca, dan tau endingnya. oke….oke…. *masih sesegukan* *tarik nafas* huf~~
    ff buatan kak alf emang the best deh sumpah emosi aku dipermainkan(?) sama ff ini. daebak! ^^

  22. di part ini kak alf suksed buat aku berhujan air mata, semua kalimat yang dikeluarin dio berhasil buat aku nangis dan asli sedih banget.
    oiya btw covernya keren thor bisa bikin muka dio jadi mupeng gt hahaha😀

  23. PW eon jebal., hwaa eonie aq udah mulai nge ship ama kyungso tp knp kyungso mau di bkin mati..

    Another chance? Jd ini mksudnya eon.. Kesempatan untuk orang lain untuk mencintai hana.. Apa suho? Kris??

    Aq gag kuat eon jika harus mati my baby q kyungso.. Sumpah aq suka bgt ama dio..

  24. Awal baca dari part pertama.. Keya ini cerita happy ending.. Tpi.. ah jngan pikir yg engga2 dulu lh. Belum tau kelanjutan nya gimana

  25. Kyaaaaaaa kyaaaaa ALF kenapa di tiap FF kalo mau ending kenapa selalu adegan nangis2an wae wae WAEEE?

    Aaaaaaa ALF bener bener FF nya emang bener bener, tapi kenapa setiap FF nya ALF itu kayaknya pasti ada ciri khas dimensi ruang,waktu,darah dan nyawa *bingung sendiri

    Aku pengen baca endingnyaaaaaa~

  26. nyesek,, sumpah nyesek…
    knp jg gini… kejamnya dunia(?)…….
    tuh kn bnr kyungsoo penyakitan(?)….
    gmn dong, endingnya pasti kyungsoo mati -pasti-…. minta pw apa ga ya, ga tega bacanya…
    udh diawang-awang sih endingnya kaya gmn… dg beberapa alternatif mungkin,,
    jd mau merenung dulu minta pw endingnya apa ga…
    terima kasih atas suguhan ff’y, keren , feel’y dpet… dan konfiknya klimaks😀 -takut ga baca ending komen mujinya disini aja kkkkk-

  27. Aku bener2 emosi sama sifatnya minyeong disini:/
    Bener2 mewek waktu tau kyungsoo mau meninggal secepat itu semua gara2 minyeong !!
    Eon jebal jangan bikin kyungsoo meninggal . biarkan mereka bahagia eon 
    Cz eonni yg buat alur ff ini :p

  28. knp hrus kyung soo? bnr” g rela klo kyung soo akhirny meninggl.. ;( aku kn jd glau.. knp kyung soo? dan wktu yg tersisa cm kurang lebih 2 bulan… bnar” pgen nangis.. stlah begitu bnyak musibah,ku pkir bkln happy ending… tp dg kemungkinn besr kyung soo meninggl kyknya bkl sad ending nih…
    klo kyung soo meninggl, trus spa yg bisa nenangin hana.. wktu di rs ja cm kyung soo yg bisa bhkn su ho pun g bs.. gmn klo hana g bs kehilangan kyung soo trus dia bnuh diri? menykitkn.. trus abis transplantasi kornea bukankh org pertm yg pgen di liat hana itu kyung soo, bgaimn perasaan hana wktu tau kyung soo meninggl…?
    pa stlh itu hana bkl blikn ma kris ato sama su ho? tp keduany g bkl bisa gntiin kyung soo di hti hana… kish cinta yang tragis… ;(

  29. Part ini sedih banget thor T_T
    D.O kena penyakit, hana buta
    D.O makin lama makin sering mimisan, badannya kurus aaaa ;A;
    Trus amanahnya D.O ke suho apa? Kutebak amanahnya itu pasti disuruh buat ngejagain hana
    Kenapa D.O gak nyuruh kris buat jagain hana? Ya meskipun dulu ada kejadian tdk mengenakkan(?) diantara kris-hana, tapi kan bisa aja sekarang udah beda ceritanya(?)

  30. ;-(;-(;-(
    authooooor…
    Koe harus tanggung jawab thor..
    Sumpeh thor
    part ini btl2 sukses buat aku nangis kejer,
    dari awal part sampe akir part gak berhenti2 aku nangis thooor..
    Suer, ini emang cerita yang paling sedih dari crita2 alf yang pernah aku baca..
    Gak pernah aku nangis sampai segininya thoooor..
    Suer deh,,
    aku gak rela banget sama keadaan mereka thor.. Miris.. Btl2 miris thooorr,,
    beruntung banget sih d.o punya orang yg btl2 mengkhawatirkan dia..
    Suho sama kris emang btl2 sahabat sejati,
    thor aku cuma berharap di endingnya happy thoor..
    Aku mohon..
    Suer thorr

  31. kau harus bertanggung jawab thor!!!! kau membuatku menangis di pagi hari….:'(

    trus kyung soo ya bkl meninggal??hana gimana dong??

    kasian kan hana mesti dpt musibah mulu….

    happy ending dong thor…..^^

    part 12 di protec, aq uda kirim permintaan pw ke fb..jd tolong segera di bls ya thor…

    aq dah komen dr part 1_11…

    gamsha…^^

  32. Nggak bisa ngomong apa-apa lagi..
    Hiks..

    Kyungsoo oppa, kamu berkorban untuk menyelamatkan satu nyawa
    Bahkan tak melihat nyawamu yang warnanya mulai pudar

    Aku sangat menghormati pengorbananmu hiks TT,TT

  33. Waaa.. baca lagi..
    Rasanya pingin nagis
    Tapi aku ga nangis -_- payah nih

    Suho tulus banget menyayangi Kyungsoo
    Btw amanah Kyungsoo untuk Suho itu.. menjaga dan melindungi Hana ya??
    Seneng banget..Tapi juga sedih

  34. kurang nyesek thor kenapa gak di buat nyesek aja lagi T_T
    author jahat ihh nyiksa cowok imut gitu :((
    tapi ada hiburan juga sih waktu suho bilang ‘“Min Yeong berada di ruang tahanan khusus, Kris hyung tidak akan bisa menemuinya” ketawa sendiri padahal gk lucu thor.
    sorry ya thor aku baru nemu wp ini jadi baru ngasi koment😀

  35. Akhh… speechless
    Authornim daebak. Sukses bikin campur aduk
    Kyungsoonya sweet banget
    Huhu… *sedih nangis sambil guling2.
    Eh.. bwt blm kenalan
    Salam kenal I’m your new reader. Baru pertama baca ini ff langsung klepek2.. penarasaran ma pa yg terjadi sama kyungie selanjutnya. *siapin tissue segulung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s