[FF] Another Chance [Part 10]


FF

Tittle : Another Chance [Part 10]

Author: AyouLeonForever

CoverPic/ Poster edited By: AyouLeonForever

Genre: Romance, Angst, Suspense, Tragedy

Rating: PG 15

Lenght: Chaptered/ Series Fic

Main cast:

*Do Kyung Soo

*Lee Hana

*Kim Joon Myun/ Su Ho

*Wu Yi Fan/ Kris

*Park Min Yeong

                         Other Cast: Find It By Your Self

Disclaimer: All off the cast(s) belong to his/her self, parents, agency, and GOD

Copyright: The story and OC belong to me!No Copy paste without permissions!

warning: Typho(s) every where

~***~

Part 10

Apa ini? kenapa gelap sekali? Di mana aku? Dan… apa itu?

Kupicingkan mataku saat ada seberkas cahaya merah menyambut mataku yang mulai peka terhadap spectrum warna selain hitam.

Seketika indera penciumanku menangkap aroma yang… pekat… tajam… ng… seperti darah? tanyaku pada diri sendiri, semakin melangkah kini indera pendengaranku menangkap suara tangis dan nafas terengah Ha… Hana? tanyaku lagi pada diri sendiri. Sebenarnya lebih kepada ingin memastikan.

Dugh…

Kakiku menabrak sesuatu.

Saat aku menurunkan wajahku… Di situlah aku hampir kehilangan nafasku…

Dengan mata kepalaku sendiri kusaksikan tubuh Hana tergeletak tak berdaya di atas tanah retak itu. menatapku dengan pandangan mata mencekam dan nafasnya tercekat

Ha… HANAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA…………. aku segera terduduk dan menyambar tubuhnya, meletakkannya dalam dekapanku, menatap wajahnya selekat mungkin, memastikan bahwa Hana sebenarnya tidak apa-apa.

Tapi tidak, sekeras apapun aku menyangkal, darah yang mengalir dari mulutnya, kedua lubang hidungnya… itu terlihat nyata.

Hana-ya… apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini??? siapa???seruku dengan suara keras namun bergetar hebat. Air mataku berjatuhan, bercampur dengan darah yang telah mengotori wajah Hana ku…

Hana tidak menjawab ia mengangkat tangannya dan menyentuh pipiku, ia berusaha keras berbicara, tapi tengorokannya seperti tercekat. Dan apa yang bisa kulakukan selain tercengang meliha luka sayatan di sana.

Hana-ya, kita ke rumah sakit sekarang

Ia menggeleng kuat, kemudian ia menurunkan tangannya dari pipiku, menunjuk arah yang ada di hadapanku.

apa? Apa? Apa di sana? Jangan mencegahku, kau sekarat, kau harus___

pemandangan yang indah kan… Do Kyung Soo?

Aku membelalak begitu melihat peneror berjubah hitam itu, ia tidak mengenakan masker, ia hanya menggunakan ujung topinya untuk menutupi matanya hingga ujung phyltrum, hingga yang terlihat hanya sepasang bibir yang… menggambarkan kalau dia adalah iblis Su… Su Ho? nama yang sudah tertanam jelas di otakku mengenai siapa peneror itu langsung keluar begitu saja dari mulutku. dan bisa kulihat sudut bibir kanannya mencuat ke atas, menandakan betapa liciknya dia.

Hana terlihat begitu cantik saat bermandikan darah lanjutnya, ia mengangkat sebilah pisau yang tadinya ia sembunyikan di balik mantel hitamnya. Pisau itu pun penuh dengan darah, dan aku tidak perlu bertanya darah siapa itu. kejinya lagi, aku bisa melihat ia menjilati sisi pisau penuh darah itu manis sekali…

KIM JOON MYUN……… AKAN KUBUNUH KAU…………. aku sudah hampir menerjang peneror biadab itu tapi tangan Hana langsung mencekal pergelangan tanganku, dan anehnya saat kutatap Hana, ia menggeleng cepat dengan ekspresi aneh. Dia seperti… melarangku. Hana-ya…

Lee Hana… saatnya berpisah dengan kekasihmu dan peneror itu pun pergi seiring kalimat terakhirnya.

Lagi… aku tanpa daya, mana mungkin aku mengejar peneror itu dan meninggalkan Hana yang sekarat di sini.

Aku memandangi Hana yang mulai bergetar hebat Hana-ya… jebal, bertahanlah, kita ke rumah sakit sekarang

Hana terbatuk, langsung memuntahkan darah yang begitu banyak, dan kurasa itulah yang menyumbat tenggorokannya sejak tadi Kyung Soo-yaHana mulai bisa bersuara, walau sangat lirih dan terlihat kesulitan

Air mataku terus mengalir, membuat pandanganku semakin kabur akan bayangan Hana.ne Hana-ya… aku di sini, aku bersamamu

aku… aku… Hana terbatuk lagi kali ini memuntahkan darah lebih banyak lagi aku… mencintaimudan Hana pun memejamkan matanya, kepalanya terkulai lemah jatuh ke pangkuanku.

Ha… Hana-ya… buka matamu, aku tidak suka melihatmu seperti ini, ayo buka chagi. Atau aku akan menghukummu

Ancamanku yang paling menjanjikan jua tak berguna. Hana masih diam membisu, dengan mata terpejam.

Hana-ya, aku tidak main-main, buka matamu atau aku akan menghukummu

Tetap seperti itu.

baiklah, kau yang minta kutegakkan kepala Hana hingga wajahnya menghadap ke arahku. Miris… Hana-ya, kau tidak mengindahkan ancamanku?

Hana tak jua bersuara.

Dan aku tidak lagi mengancamnya. Kutundukkan wajahku dan langsung menyambar bibirnya yang kaku itu. ia tidak merespon, sungguh tidak biasanya. Bahkan saat aku mengerjainya dengan menggelitik sisi bibirnya dengan lidahku, ia tak jua merespon. Darah yang kini ikut menempel di sekitaran mulutku tak menghentikan niatku terus mengulum bibirnya tapi tetap tak ada respon.

Do Kyung Soo… Lee Hana telah pergi, dia telah mati.

TIDAK… TIDAK… SIAPA YANG BICARA ITU, DIA TIDAK MATI, DIA HANYA MENGERJAIKU

Do Kyung Soo, relakanlah Hana.

ANDWAEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE…………… Hana-ya… jangan tinggalkan aku…

T_T

Kyung Soo POV

BRUKKKHHHH….

Aku langsung mengusap pelipisku yang sukses membentur lantai. Kukerjapkan mataku berkali-kali. Ini…

…kamarku. Aku berada di kamarku. Apa itu tadi? Mimpi?

Dan kenapa wajahku basah,? Kenapa aku menangis? Ini bukan pertanda bahwa mimpi itu akan berubah nyata kan?

Hana… Lee Hana…

Kusibak selimutku yang mengganggu pergerakanku, melemparnya asal-asalan kemudian menerjang pintu kamarku sesegera mungkin keluar dari apartementku menuju apartement Hana.

TOK…TOK..TOK….

Kuketuk pintu apartementnya dengan tidak sabar tapi Tak ada sahutan

BUGH…BUGH…BUGH…

Kugunakan telapak tanganku untuk menggedor pintu ini. tapi tak juga ada sahutan.

“HANAAAAAAAAA…. HANAAAAAAAAAA…….” seruku dengan suara keras, tak peduli tetanggaku yang lain akan menegurku.

Kugerakkan kenop pintunya dengan kasar. Ck.. Hana tak juga keluar, apa terjadi sesuatu di dalam??

Aku semakin panik, kugerakkan handle pintunya semakin kuat. Ah sial… tentu saja pintu ini terkunci.

Kepanikanku memuncak. Aku mundur beberapa langkah mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu ini. akupun mulai menerjang

“YA!… kenapa malam-malam begini kau dat____ AAAAAAAA………..”

BRUGH,,,,,,,,,,,,,,

Bukan pintu yang kuterjang, tapi tubuh Hana yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu. Alhasil aku jatuh menimpa Hana yang terlebih dulu menghantam lantai.

“Auuuu Appooo” keluhnya sembari mengusap belakang kepalanya

“ha… Hana-ya… gwenchanayo?”tanyaku masih panik.

“gwenchana apanya? Aku kesakitan”

Aku semakin panik “mana yang sakit?” kutangkupkan tanganku di wajahnya. Ah tidak ada darah. Lehernya pun tidak ada sayatan, dan saat aku ingin memastikan tidak ada luka tusukan di dadanya dengan cara membuka piyamanya, Hana menamparku.

“MAU APA KAU??????????”

“aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja”sergahku masih panik

“bagaimana bisa aku baik-baik saja kalau kau bertindak seolah ingin memperkosaku?”dia malah membentakku.

“Hana-ya, aku betul-betul mengkhawatirkanmu”

“ah menyingkir” Hana mendorong tubuhku yang tanpa kusadari masih menindihnya. Alhasil aku terjungkal ke belakang dan punggungku sukses menghantam daun pintu.

Hana langsung berdiri, membetulkan kancing piyamanya “APA KAU GILA?”

“Hana-ya… aku tidak bercanda, aku ke sini untuk memastikan keadaanmu”

Hana melipat tangan di dada “bisa kau lihat? Sebelum kau menerobos ke sini, aku tertidur sangat lelap, dan sekarang jelaskan padaku kenapa kau bertindak segila ini“

“aku tidak gila… aku serius, aku melihatmu sekarat. Tergeletak di tanah, bersimbah darah dan… akhirnya mati”

Hana menatapku dengan kening berkerut “kau bermimpi?”

“bisa saja mimpi itu menjadi kenyataan”

Hana mendengus kesal “jangan jadikan mimpi sebagai alasan agar kau bisa seenaknya bertindak mesum terhadapku”

Aku membelalak, jelas saja tidak terima “LEE HANA… AKU BUKAN PRIA MESUM…”

“lalu apa? Maniak?”

“LEE HANA!!!”

Ia menghela nafas “jangan kekanak-kanakan Do Kyung Soo. Lihat, sekarang masih jam 2 subuh. Mengenai mimpi itu, yang aku sendiri tidak tahu seperti apa., jangan menganggapinya serius, itu hanya mimpi. Dan sekarang pulanglah lanjutkan tidurmu, kita ada kelas pagi-pagi sekali”

Aku tak percaya tanggapannya sesantai itu “Hana-ya…” kutatap ia… nanar “kau tidak akan tahu setakut apa aku kehilanganmu” aku bangkit, kemudian dengan langkah tertatih (karena sepertinya pinggangku terkilir), aku meninggalkan apartement Hana.

“hei… kenapa jadi kau yang marah?” Hana menangkap tanganku. Tapi aku menepisnya. Aku sakit hati, sungguh tega Hana mengataiku pria mesum, bahkan maniak. Padahal aku begitu mencemaskan keadaannya. “Kyung Soo-ya…”

“lepaskan, kembalilah ke kamarmu dan tertidur pulas. Abaikan kecemasanku yang kau bilang HANYA mimpi itu”

Hana berdecak, kemudian menarikku kembali masuk ke apartementnya. Menyuruhku duduk di sofa panjang ruang tamunya. Sementara ia berjongkok di hadapanku, menggenggam kedua tanganku dan mendongak untuk menatap wajahku “sebenarnya apa yang kau lihat di mimpimu?” tanya Hana, lembut dan sabar.

Aku tidak mau menjawab. Masih sakit hati karena ucapannya.

Hana berpindah posisi, kini ia duduk di sebelahku “mianhae… mianhae, tadi itu aku betul-betul terkejut karena ulahmu. Umpatan itu keluar begitu saja dari mulutku”

“aku bukan maniak”lirihku akhirnya

“aku tau… aku tau…”Hana terkekeh kemudian merangkulku, menangkupkan satu tangannya di rahangku, membuatku menoleh dan menatapnya “sekarang katakan, apa yang kau mimpikan?”

Aku menelan ludah. Menatap wajah Hana sedekat ini kembali mengingatkanku pada mimpi buruk itu, di mana wajahnya bersimbah darah dan tubuhnya penuh sayatan dan luka tusukan “Su… ng, maksudku peneror itu, mencelakaimu dan aku tidak punya daya menolongmu. Lehermu tersayat, kau tertikam di bagian dada dan perutmu,seluruh tubuhmu bersimbah darah, dan saat aku ingin membawamu ke rumah sakit, kau menolak, terakhir… kau memejamkan matamu dan kau… kau mati, kau meninggalkanku sendiri, bahkan saat aku ingin membangunkanmu kau tidak juga menyahutku, kau__”

Hana menghentikan ucapanku, ia mengunci bibirku dengan ciumannya sejenak “aku di sini. aku masih hidup, dan berkat kau, aku masih sehat-sehat saja”

“tapi bagaimana kalau mimpi itu nyata?”

“Kyung Soo-ya, dengar. Mimpi itu terjadi karena kau terlalu memikirkannya. Kau bilang sendiri kan, peneror itu tidak akan mencelakaiku kalau aku ada di dekatmu. Dan kau betul, beberapa hari sejak teror terakhir itu, dia tidak pernah muncul lagi”

“tapi bukan berarti kau sudah aman…”

“aku akan hati-hati. Aku akan selalu berada di sisimu. Yah… kecuali…Kalau memang Tuhan menentukan takdirku untuk mati” Hana mengangkat bahu “aku tidak bisa mengelak”

“Hana-ya…”

“sekarang tenangkan dirimu. Itu hanya mimpi. Ara!”

“tapi…”

“ayolah Kyung Soo-ya, aku betul-betul mengantuk. Aku masih harus bangun pagi-pagi sekali untuk membuat kimbab”

Aku menghembuskan nafas panjang “arasso… tapi biarkan aku tidur di sini. aku akan tidur di sofa, atau di manapun asal aku bisa memastikan keselamatanmu”

“Kyung Soo-ya…”

“jebal… aku bersumpah tidak akan melakukan apa-apa”

“bukan begitu, aku hanya…”

“arasso-arasso, aku akan berjaga di depan pintu apartementmu saja”

“Kyung Soo-ya, bicara apa kau. Aku tidak melarangmu tidur di sini, aku hanya mengkhawatirkan kesehatanmu. Kau selalu mengeluh punggungmu sakit karena tidur di lantai, dan lagi cuaca sangat dingin, dan itu membuatmu sering mimisan, jadi mana mungkin kubiarkan kau tidur di luar”

“lalu aku harus apa? Aku bisa gila sendiri karena mencemaskanmu”aku mengacak rambutku sendiri, menambah kesan bahwa aku betul-betul hampir gila.

Hana mendesah berat, kemudian berdecak “ya sudah, kau tidur di kamarku saja”

Aku mengangguk pasti “aku tidak akan mengeluh sakit punggung lagi, aku akan membiasakan diri tidur di lantai” aku mengikuti langkah Hana menuju kamarnya. Jujur aku sering ke apartementnya, tapi ini pertama kalinya Hana  membiarkanku masuk ke kamarnya. Kamar seorang yeoja betul-betul indah dan menenangkan. Aromanya…

“apa yang kau lakukan, ayo tidur”tegur Hana

Aku membelalak “aku tidur tanpa alas? Kejamnya! Aku memang berjanji tidak akan mengeluh sakit punggung, tapi Hana-ya, tulang punggungku bisa betul-betul remuk kalau tidur di lantai tanpa alas”

ppabo, kapan aku bilang akan membiarkanmu tidur di lantai?” Hana menepuk bantal yang ada di sebelahnya. Dan lagi, kenapa Hana agak bergeser ke tepi tempat tidurnya? “tidurlah di sini”

Aku tersedak “M…M… MWORAGO? Aku tidak salah dengar kan?”

“hanya tidur di sebelahku, dan awas saja kalau kau melakukan hal yang aneh-aneh, maka kau tidak perlu mencemaskan masalah peneror itu karena aku sendiri yang akan menerormu sampai mati”

“a… aku… tidur… di sebelahmu… ti… tidak apa-apa kah?”

Hana berdecak kesal. Ia kembali turun dari tempat tidurnya, kemudian menarik tanganku “tidur!” perintahnya setelah aku di dudukkan paksa di atas tempat tidurnya. Dan aku seperti melihat bayangan eomma ada pada dirinya.

Aku menelan ludah dengan susah payah “ne…”aku menurut dan mulai membaringkan tubuhku di sana dengan sangat kaku seperti robot,.

Hana kembali naik ke tempat tidurnya, menarik selimutnya untuk menutupi tubuh kami “jal jayo Kyung Soo-ya, dan awas tanganmu”

“n..ne…” aku tidur membelakanginya, dan sepertinya aku akan melewati waktu berjam-jam dengan… err… tersiksa!.

~***~

Hana POV

Alarm ku berbunyi nyaring, aku langsung memencet tombol atasnya sesegera mungkin sebelum raungannya itu membangunkan orang di sebelahku. Sudah pukul 5 pagi, dan aku harus buru-buru ke dapur untuk membuat kimbab seperti biasanya.

Aku menoleh, dan kulihat Kyung Soo tidur dengan posisi yang sangat… aneh. Dia meringkuk di tepi tempat tidur, yang dengan satu gerakan saja aku jamin dia akan langsung terjatuh. Maksudku, aku memang mengancam akan membunuhnya kalau dia berani macam-macam padaku saat tertidur. Hanya itu, aku tidak menyuruhnya meringkuk sampai seperti itu, menyisakan tempat di tengah-tengah antara kami yang kurasa masih muat untuk dua orang lagi. Lihat pula bagaimana kepalanya hanya menyentuh ujung bantal, posisi seperti itu bisa membuat lehernya tegang.

Aku tersenyum geli. Namja ini memang terkadang sedikit genit padaku, tapi di luar hal itu semua, dia adalah namja yang paling… bertanggung jawab yang pernah kutemui. Bayangkan saja kalau Kyung Soo adalah namja brengsek. Aku pasti sudah tidak selamat dari dulu, bukan perkara aku membiarkannya tidur di sebelahku sekarang, tapi waktu aku menginap di apartementnya tempo hari, dia bisa saja menyerangku saat itu kalau dia benar-benar brengsek.

Tapi lihat bagaimana dia sangat waspada dan hati-hati terhadapku. Kurasa dia tidak akan betul-betul menyentuhku kalau bukan aku sendiri yang memintanya. Sama seperti bagaimana akhirnya akulah yang harus merontokkan harga diri dan meminta agar Kyung Soo mau menciumku. Ah memalukan, betul-betul memalukan. Aku tidak bisa membayangkan masa itu.

Aku bergeser sedikit ke arah Kyung Soo, mengangkat kepalanya, dan membetulkan posisinya hingga berada tepat di atas bantal, aku juga sedikit menggeser tubuhnya agak ke tengah agar tidak ada resiko dia terjatuh saat bergerak nanti.

Aku hampir tertawa melihat bentuk bibirnya yang tebal itu. maksudku, selain kedua matanya yang jernih, aku suka melihat bibirnya. Sangat….

CHU~

Dan kurasa kalau Kyung Soo tau aku baru saja menciumnya saat ia masih terlelap, dia pasti akan mengataiku maniak, sebagaimana aku mengatainya semalam.

Ah kejadian semalam. Aku baru kali ini melihat Kyung Soo sepanik itu. matanya merah dan sembab, makanya aku berani menjamin bahwa mimpi yang ia alami betul-betul mempengaruhinya. Hm… mimpi tentang aku yang terbunuh oleh peneror itu.

Kalau boleh jujur, sebenarnya aku sangat takut. Siapa yang tidak takut saat nyawanya terancam? Tapi kalau aku menunjukkan ketakutanku di hadapan Kyung Soo, dia tidak akan tenang dan akan semakin gelisah. Untuk itulah aku berusaha terlihat sangat tenang seolah posisiku aman-aman saja.

Dengan satu helaan nafas panjang, kuusap pelan rambut Kyung Soo, mengecup pipinya sejenak, kemudian beranjak dari tempat tidurku dengan sangat hati-hati agar Kyung Soo tidak terbangun.

~***~

Aku baru saja mengantarkan kimbab buatanku ke minimarket milik ahjumma, seperti biasa dia menyambutku dengan hangat, menanyakan keadaan Kyung Soo dan mengobrol sebentar kemudian pulang. Sampai ketika aku menangkap sosok yang tengah berdiri di depan pintu apartement Kyung Soo sembari memencet bel berkali-kali.

Sosok yang amat sangat familiar sekali di mataku. Tapi yang menjadi pertanyaanku, ini masih pukul 7 pagi, dan alasan apa yang membawanya sampai ke sini.

“Kyung Soo tidak di rumah”ucapku tanpa basa-basi.

Yeoja itu menoleh “oh Hana-shii, selamat pagi” ia menyambutku. Saaaaaaangat ramah. Dan itu membuatku merinding. Aku yakin sebentar lagi akan ada badai salju karena perubahan drastis sikapnya ini.

“ne Min Yeong-shii, selamat pagi”balasku juga akhirnya. Aku jelas tidak boleh terlihat dingin sementara yeoja ini bersikap hangat padaku.

“boleh kutahu Kyung Soo ada di mana?”

Oh ini rupanya, jelas saja dia akan bersikap ramah padaku karena ada maunya. “dia ada di apartementku”

Ia mengerutkan kening “sepagi ini?”

Aku mengangguk santai “kau ingin bertemu dengannya?”

“hum, bisa dibilang begitu”

Apa lagi maksud yeoja ini “ya sudah, ikut denganku”

“ne..”

Min Yeong betul-betul mengiringi langkahku menuju apartementku yang tidak begitu jauh dari apartement Kyung Soo. Aku membuka kenop pintu dan mempersilakannya masuk.

“duduklah Min Yeong-shii, akan kubangunkan dia dulu”ucapku. Tapi langkahku terhenti seketika saat kurasakan Min Yeong mencekal atau lebih tepatnya mencengkram lenganku. Sontak aku menoleh.

“kau bilang apa barusan?”tanya Min Yeong dengan mata membelalak.

“kau ingin bertemu Kyung Soo kan? Tunggulah di sini, akan kubangunkan dia dulu”ulangku

“tunggu… tunggu. Membangunkan? Kyung Soo… tidur di sini?”

Aku mengangguk santai.

Ia bergerak mundur, Ia terlihat bergetar, menatapku dengan ekspresi yang… sulit kubaca… seperti sedang berusaha menahan emosi, mati-matian menahan tangis. Bisa terlihat dari urat-urat lehernya yang timbul keluar juga kedua tangannya yang mengepal kuat. “geure…?

Aku mengerjapkan mata. Apa yang terjadi barusan? Seperti menghadapi dua orang yang mempunyai kepribadian ganda. Lihat Park Min Yeong, ia malah santai duduk di sofa sambil mengitarkan pandangannya ke seluruh penjuru apartementku. Aneh, padahal beberapa detik yang lalu aku merasa dia hendak memangsaku hidup-hidup “minum apa?”tawarku

“tidak usah, aku tidak lama. Aku hanya ingin menemui kau dan Kyung Soo”

“tenang saja, aku tidak akan meracuni minumanmu. Tunggu di sini, kubuatkan cokelat hangat. Diluar sangat dingin”

“terserah kau saja”

Aneh. Ini pertama kalinya kami berinteraksi sesantai ini, tidak saling menahan emosi agar tidak menjambak rambut satu sama lain. Yah, siapa bilang aku tidak berani padanya? Aku bahkan ingin sekali melakukannya. Tapi itu jelas tidak boleh. Dia datang ke sini baik-baik, jadi aku juga harus menyambutnya baik-baik.

“silakan diminum”ucapku setelah aku menyuguhkan secangkir cokelat panas di hadapannya.

“sejak kapan kalian sudah tinggal bersama?”tanya Min Yeong langsung

“ne?”

“kau dan Kyung Soo”

“kami tidak tinggal bersama, dia punya tempat tinggal sendiri”

“lalu kenapa__”

“Hana-ya…. kenapa kau tidak membangunkanku? Hoooaaaahhhmmm…”

Kami menoleh bersamaan ke sumber suara. Itu Kyung Soo yang sudah bangun. Berjalan ke arah kami sambil merenggangkan lehernya, pasti sangat kaku, siapa suruh tidak menggunakan bantal dengan benar.

“selamat pagi Kyung Soo-shii” sapa Min Yeong selembut mungkin.

Kyung Soo mengusap-usap wajahnya “ah Min Yeong-shii, selamat pagi”balasnya dengan kening berkerut. Dia heran, lebih-lebih aku. Ada alasan apa yeoja ini mencari Kyung Soo pagi-pagi begini.

Kyung Soo berjalan pelan sambil memegangi pinggangnya dan duduk di sebelahku.

“kau kurang sehat Kyung Soo-shii?”

“ah tidak juga…”

“kelihatannya pinggangmu sakit”

Kyung Soo terkekeh “ini gara-gara Hana”

Aku membelalak “kenapa aku?”

“YA! Kau tidak ingat? Doronganmu hampir membuat pinggangku patah”

Aku jelas tidak terima, aku tidak akan mendorongnya kalau dia tidak menindihku “kau duluan yang menyerangku. Kau pikir punggungku tidak sakit?”

“Lee Hana!”

“Do Kyung Soo!”

“ehem… itu…”

Kami sontak menoleh bersamaan, mendapati Min Yeong memandang kami dengan wajah memerah. Kupikir kenapa, tapi setelah melihat dia salah tingkah, kurasa dia salah paham “ah Min Yeong-shii, ini bukan seperti yang kau pikirkan. Ng… maksudku__”

Kyung Soo menyentil hidungku “memangya kau tahu apa yang dia pikirkan?”

“ng, begini Kyung Soo-shii, Hana-shii” Min Yeong menengahi kami. Ajaib!

“ah maaf, silakan”

“mengenai pesta ulang tahunku nanti malam. Kalian akan datang kan?”

Kyung Soo membelalak “nanti malam? Astaga, aku hampir lupa”

Min Yeong menghembuskan nafas panjang. Sebenarnya aku sedikit kasihan juga padanya. Lagipula kenapa Kyung Soo kentara sekali menampakkan kalau dia benar-benar lupa ulang tahun Min Yeong “untuk itu aku datang ke sini. aku sangat mengharapkan kedatangan kalian”

Aneh… hanya untuk itu?

“Hana-shii… bisa kau lihat, aku ke sini tidak bermaksud apa-apa. Sedikit terlambat kalau aku mengatakan ini sekarang, tapi… aku tidak akan mengganggumu lagi” tutur Min Yeong seperti tahu isi kepalaku.

Dan sekarang, justru aku yang tidak enak sendiri “Min Yeong-shii, aku tidak bermaksud…”

“seseorang menyadarkanku, percuma mengejar sesuatu yang tidak akan pernah kuraih, itu hanya akan membuatku lelah. Dan benar saja, ambisi itu… sekarang tidak ada lagi, yang tersisa hanya rasa lelah yang sangat tidak mengenakkan”

“Min Yeong-shii…”

Ia tersenyum. “kuharap tidak terlambat kalau aku memintamu menjadi temanku”ucapnya tulus, terlihat dari pancaran matanya.

“te… tentu saja”

“jadi, nanti malam kalian datang kan?”

Aku mengangguk pasti, kemudian menyikut Kyung Soo. Sepertinya dia masih setengah sadar

“ne, kami pasti datang”ucapnya cepat. Sudah kuduga, dia masih tertidur.

“syukurlah kalau begitu” Min Yeong merapatkan mantelnya, menenteng tas tangannya “aku pulang dulu”

“kenapa terburu-buru Min Yeong-shii?” aku ikut berdiri

“bukankah ada kuliah pagi hari ini, aku belum menyiapkan bukuku” ia tersenyum menyambutku. Membayangkan kami bisa seperti ini, rasanya mustahil.

Aku bahkan tidak sungkan menghampirinya dan mengantarnya sampai ke depan “sebenarnya kau tidak perlu repot datang pagi-pagi begini hanya untuk memberitahu itu. kami pasti datang”

Ia tertawa lepas “hanya mengingatkan, aku ingin kalian menjadi tamu spesial”Min Yeong sedikit mendekat ke arahku kemudian berbisik “aku ingin menyampaikan kabar penting nanti di pesta ulang tahunku”

“kabar penting? Tentang apa?”

“jangan bilang pada siapapun dulu, ini kejutan. Kau juga pasti tidak akan menyangkanya”

“Min Yeong-shii…”

“arasso, supaya kau tidak memikirkan hal aneh” Min Yeong kembali berbisik “aku akan mengumumkan berita pertunanganku”

“mwo?”

Min Yeong mengangguk antusias “jadi kau harus datang, agar kau yakin betul bahwa aku sudah melepaskan Kyung Soo dan tidak akan mengganggu kalian lagi”

“Min Yeong-shii, masalah itu aku sudah mempercayaimu, jadi kau tidak perlu mencemaskannya”

Min Yeong menghela nafas panjang “terima kasih atas kepercayaanmu. Dan jangan lupa nanti malam, kalian harus datang”

“ne…”

~~~***~~~

Author POV

Min Yeong membanting pintu kamarnya, melempar tasnya ke sembarang arah, dan berjalan cepat menuju meja riasnya, menatap bayangannya di cermin.

“Lee Hana…. aku betul-betul akan membunuhmu…”ucapnya tertahan, rahangnya mengatup rapat, matanya memerah mulai berkaca-kaca. Tangannya mengepal kuat, hingga terlihat buku-bukunya memutih. “AAARRRRRRGGGHHHHH” jeritnya mendarah daging.

Dengan masih diselimuti emosi, ia membuka laci meja riasnya, dan mengambil sebilah pisau di sana. Seperti kesurupan, ia mencari-cari sesuatu, dan saat matanya tertuju pada sebuah boneka beruang putih raksasa yang memakai syal, ia langsung menerjangnya, membantingnya ke lantai, mendudukinya dan mulai melampiaskan emosinya di sana.

“MATI KAU…. MATI KAU…” makinya berikut hunjaman pisau yang terus ia layangkan pada boneka bisu itu. ia tusukkan ke matanya, ke dadanya sampai sobek dan mengeluarkan kapas dan busa yang menjadi isinya. “YEOJA SIALAN… BRENGSEK… BERANI-BERANINYA KAU TIDUR DENGAN KYUNG SOO–KU… MATI KAU!”

Tok…tok…tok…

“NUGUSEYO????” pekiknya masih emosi. Kalau yang mengganggunya itu adalah pelayan, maka bisa jadi ia tidak akan segan-segan membunuhnya

“Min Yeong-ah, ini aku” sahutan dari luar.

Min Yeong membelalak. Seketika ia panik. Diseretnya boneka beruang itu dan melemparnya ke luar balkon, menutup tirainya dan..

“sedang apa kau?” Su Ho masuk ke kamarnya

Min Yeong tersentak, ia segera menyembunyikan pisau tadi di belakangnya. “ah tidak… tidak sedang apa-apa. Aku hanya panik mencari bukuku” Min Yeong gelagapan. Harus bagaimana dia menyembunyikan pisau itu. kalau Su Ho tahu, maka habislah sudah.

“buku apa? Kubantu mencarinya?” Su Ho berjalan mendekat, membuat Min Yeong semakin panik.

“ah tidak perlu”

Su Ho memiringkan kepalanya “apa di tanganmu itu?”

DEG!

“apa? Tidak ada apa-apa” Min Yeong gemetaran.

“coba kulihat” Su Ho sudah menjulurkan tangannya.

Min Yeong panik, dan tanpa pikir panjang, ia mendorong tubuh Su Ho hingga terhempas dan terduduk di lantai sementara punggungnya membentur sisi tempat tidur Min Yeong “Min Yeong-ah, apa-apaan in__” Su Ho tidak sempat menyerukan protes karena Min Yeong lebih dulu menduduki pahanya dan membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman.

Setelah Min Yeong merasa sudah berhasil mengalihkan perhatian Su Ho, dengan cepat ia menyelipkan pisau tadi di antara celah springbed king size double nya itu.

Su Ho yang masih terkejut seketika menangkupkan kedua tangannya di kedua telinga Min Yeong dan menjauhkan wajah Min Yeong darinya “apa yang kau lakukan?”

Merasa sudah aman, Min Yeong tersenyum “ciuman selamat datang, kau suka?”

“apa-apaan ini?” Su Ho jelas tidak mengerti.

“maaf, terlalu mengejutkan kah?”

Su Ho berdecak, makin tidak mengerti.

Min Yeong memainkan jarinya di rambut Su Ho “kau sangat tampan pagi ini, aku tidak bisa mengendalikan diriku”

“Min Yeong-ah.. bicara apa kau?”

Min Yeong tertawa kecil “kita lanjut dulu agar kau tidak kebingungan” Min Yeong sudah kembali mendaratkan bibirnya ke bibir Su Ho, tapi Su Ho mengelak.

“arasso… arasso, tidak akan kupertanyakan lagi, sekarang menyingkirlah” Su Ho menyerah.

Min Yeong menyembunyikan senyum kemenangannya. See… Joon Myun-ah, youre nothing against me. “ada urusan apa kau kemari?”tanya Min Yeong setelah ia duduk di tepian tempat tidur.

Su Ho ikut duduk di sebelahnya “hanya ingin menjengukmu, kenapa? Kau keberatan?”

Mata Min Yeong membulat, kemudian dengan santainya ia merangkul leher Su Ho “untuk apa aku keberatan? Aku justru senang”

“arasso… arasso” Su Ho melepaskan pelukan Min Yeong dengan hati-hati “perutmu masih sakit?”

Min Yeong mengelus perutnya “kalau ditekan akan sakit, tapi lebamnya sudah berkurang, kau mau lihat?”

“tidak usah…” Su Ho buru-buru mencegah sebelum Min Yeong mengangkat ujung bajunya.

Min Yeong tertawa kecil “kau sangat manis, naif sekali”

“Min Yeong-ah”

“arasso, hanya bercanda” Min Yeong bersandar di dada Su Ho sambil memeluk pinggangnya “kau ke kampus hari ini?”

“tidak”

“kenapa?”

“kau tidak perlu bantuanku untuk menyiapkan pestamu malam ini?”

Min Yeong mengangkat wajah menatap Su Ho “gomawo, tapi aku sudah menyuruh tuan Lee untuk mengurus semuanya. Aku hanya tinggal menunggu kata beres”

Su Ho mengangguk “ini cukup aneh”

“maksudmu?”

“tumben sekali kau tidak begitu fokus menyiapkan segala pernak-pernik pesta ulangtahun mu, kau bahkan mengadakannya di rumah, tidak di hotel”

Min Yeong tertawa dalam hati. Yang menjadi point bukan pesta ulang tahunku Joon Myun-ah, tapi… pesta penyambutan kematian Lee Hana. “hey… apakah kau tidak suka kalau aku sedikit merubah diriku? Untuk apa menghambur-hamburkan uang hanya untuk sesuatu yang akan berlalu satu malam saja?”

“itulah yang membuatku merasa heran”

“berubah itu tidak boleh setengah-setengah Joon Myun-ah… kau saja memulainya dari situ, aku juga harus”

Su Ho mengangguk, “hum, bisa kulihat. Lalu apa kau sudah menyiapkan gaunmu?”

Min Yeong menggeleng “rencananya aku akan memakai gaunku yang pernah kupakai 2 tahun lalu”

“kalau begitu bersiaplah, kita jalan. Kutemani kau mencari gaun”

Mata Min Yeong membelalak “kau serius? Kau tidak ke kampus?”

Su Ho menggeleng kemudian mengusap puncak kepala Min Yeong.

“gomawo Joon Myun-ah”.

“ne…ne. tapi kelihatannya kau sudah rapi. Kau memang berencana pergi ke suatu tempat?”

Min Yeong membetulkan posisinya, ia mengembangkan senyuman riang yang sebenarnya itu 100 % palsu “aku dari apartement Hana”

Su Ho terbatuk “mwo?”

“jangan kaget begitu, aku ke sana tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Aku hanya mengingatkan mereka agar tidak lupa datang ke pestaku nanti malam”

“mereka?”Su Ho mengerutkan kening.

“ne, Hana dan Kyung Soo. Awalnya aku mencari Kyung Soo di apartementnya, tapi kebetulan aku berpapasan dengan Hana. Kau pasti tidak menyangka hal ini, mereka… sudah tinggal bersama”

Su Ho terbatuk lagi “bicara apa kau… style mereka tidak seekstrim itu”

“kau tidak mempercayaiku? Aku juga terkejut saat bertamu ke apartement Hana, dan Kyung Soo keluar dari kamar Hana sambil… ng… mengeluh sakit pinggang. Dan Hana mengeluh punggungnya yang sakit”

Wajah Su Ho berubah blushing “kita… bahas yang lain saja Min Yeong-ah”

Min Yeong tertawa kecil “mereka bermain terlalu kasar, tidak selembut kita”

Wajah Su Ho sudah sepenuhnya merah padam “Mi… Min Yeong-ah, kajja”

Kyung Soo POV

Ini aneh, sekaligus fenomena langka. Sudah jam kedua tapi seorang mahasiswa teladan dengan prestasi seabrek di fakultas seni tidak juga menunjukkan batang hidungnya di kelas. Ini semakin membuatku khawatir. Bukan mengkhawatirkannya, aku justru mengkhawatirkan Hana, karena sesuai firasatku, dia pasti sedang merencanakan sesuatu. Su Ho-ya…. apa yang sedang kau rencanakan???

“Min Yeong tidak hadir yah? Sejak tadi aku tidak melihatnya”bisikan Hana membuyarkan lamunanku.

“ah, benarkah? Iya… aku juga tidak melihatnya”jawabku kacau.

“Su Ho juga tidak hadir. Apa dia sakit?”

Aku melirik Hana “wae? Kau khawatir?”

“kau tidak khawatir? Dia itu kan sahabatmu”

Aku memutar bola mata, telingaku sakit mendengar kata sahabat  itu. “oh ya, sepulang kuliah, ayo kita mencari kado”kualihkan pembicaraan yang membuat telingaku sakit ini.

“ah iya, benar juga. Kita belum menyiapkan kado untuk Min Yeong”

Bagus, aku berhasil mengalihkan pembicaraan “kira-kira kado ulangtahun yang cocok untuk seorang yeoja apa?”aku pura-pura kebingungan.

“um… aku juga bingung. Yang ulang tahun ini adalah Min Yeong. Seleranya pasti tinggi. Jangan sampai kado pemberian kita berakhir di tempat sampah”

Aku terkekeh, kemudian mencubit pipinya karena gemas “kau terlalu khawatir. Kita akan menemukan kado yang tepat nanti”

“Do Kyung Soo…”tegur Kris hyung saat kelasnya sedang berlangsung

“ne hyung?”sahutku kaget, tapi begitu semua mata tertuju padaku, aku buru-buru meralat “Dwe sonseng-nim”

“setelah ini ikut denganku ke ruang dosen”

“Mwo??? Ehem maksudku, apa salahku?”

“memangnya kau harus melakukan kesalahan dulu baru kau mau ikut denganku ke ruang dosen?”

“bu… bukan begitu sonseng-nim…”

“hm, baiklah. Anggap saja ketidak sopananmu ini sebagai alasan kau harus menemuiku di ruang dosen”

Mati lah aku.

~***~

Sebut saja ini kencan. Karena aku tidak begitu serius mencari benda yang cocok untuk dijadikan kado. Aku lebih menikmati peranku sebagai seorang namja yang menemani kekasihnya jalan-jalan.

“kau sama sekali tidak membantu Kyung Soo-ya” protes Hana setelah kami keluar dari sebuah toko boneka

“hey, mengunjungi toko boneka ini kan usulmu. Apa kau tidak berpikir? Min Yeong berusia 20 tahun, bukannya 2 tahun.kenapa kau mau menghadiahkan boneka untuknya?”

“itu karena otakku sudah buntu, dan kau sama sekali tidak membantu”

Aku tertawa melihatnya hampir stress “arasso, ayo kita cari ke toko perhiasan itu”

“jangan mengada-ada, bagaimana kalau uang kita tidak cukup?”

“tenang saja. Aku memang tidak sekaya Su Ho, tapi aku punya uang banyak”

Hana menatapku aneh “dasar angkuh…”

Aku kembali tertawa“kajja…”kurangkul pundaknya dan mengajaknya masuk ke sebuah toko perhiasan. Ini lebih pantas disebut toko pernak-pernik. Segala macam perhiasan wanita ada di sini.

“kau carilah di tempat hiasan rambut, aku cari di tempat lain”saranku.

“arasso, tapi kau harus mencarinya dengan serius”

“jangan cerewet… aku akan mencarinya”

“ne, kalau ketemu panggil aku”

“kau juga”

Dan kami berpisah di situ. Aku mulai mencari di sebuah etalase yang isinya berjejer kalung-kalung cantik dan indah. Sebenarnya sangat sayang kalau aku memberikan ini untuk Min Yeong, mending untuk Hana.

“naikkan lagi tuan… ini terlalu murah”

“tapi ini sama sekali bukan logam mulia, permata yang digunakan saja bukan yang bernilai tinggi, jadi mana mungkin aku bisa menerimanya dengan harga tinggi”

“cincin ini bernilai tinggi tuan, ini cincin khusus yang kudapatkan di Athena, dan cincin ini sangat langka, ada cerita di baliknya”

Aku cukup tertarik dengan percakapan itu, aku menoleh ke arah sumber suara, di mana seorang namja berumur sekitar 30-35 tahun tengah berusaha membujuk pemilik toko agar bisa membeli cincinnya dengan harga mahal.

“tuan, aku menerima perhiasan yang dijual kembali di sini bukan karena cerita atau legendanya, tapi nilai jualnya. Ini logam biasa, permata biasa dan…”

“lihat ukiran ini. di dalamnya ada tulisan dengan huruf latin”

Pemilik toko itu mengambil kaca pembesar dan meneliti objek yang dimaksud “one”

“benar, kalau bahasa kita adalah Hana”

Mataku membulat. Hana?

“tuan, aku memang tidak begitu pandai bahasa inggris, tapi aku masih tahu kalau One itu artinya Hana”

“bukan begitu tuan… aduh bagaimana menjelaskannya. Aku tidak mengada-ada kalau cincin ini punya arti yang mendalam. Ini adalah cincin yang sangat cocok jika digunakan untuk melamar seseorang. One, artinya yeoja yang akan di lamar akan menjadi satu-satunya wanita yang akan menemaninya seumur hidupnya, bahkan selamanya”

“itu artinya pasangan yang mengenakan cincin ini tidak akan memiliki anak perempuan? Begitu?”

“aduh tuan, bukan itu, maksudku pendamping hidup, satu-satunya…”

“maaf tuan, aku hanya bisa menawarkan dengan harga itu, jadi menjualnya?”

Pria paruh baya itu mengeluh “tidak jadi tuan” pria itu mulai beranjak dan keluar dari toko.

“Ahjushii tunggu sebentar”seruku pada pria itu dan aku berhasil mengejarnya saat ia sudah berada di luar pintu toko

“ada apa anak muda”tanya namja itu

“cincin nya, jual saja padaku”jawabku bersemangat

“ha? Kau yakin ingin membeli cincin ini?”

“ne… tapi apa benar di dalamnya ada ukiran One?

“dari mana kau tahu anak muda?”

Aku mengusap tengkukku “aku sempat mendengar pembicaraan anda dengan pemilik toko tadi”

Pria itu menatap cincin di tangannya “pria pengecut sepertiku, tidak pantas menyimpan cincin ini”

“ahjushii”

“4 tahun yang lalu, aku ingin melamar gadisku, tapi aku terlalu pengecut. Padahal aku berharap banyak pada cincin ini”

“cwesonghamnida, lalu bagaimana dengan kekasih anda itu?”

“dia mungkin terlalu lelah menunggu, dan akhirnya menerima perjodohannya yang sudah ditentukan oleh kedua orang tuanya”

Aku jadi serba salah “saya turut bersedih ahjushii”

“ah sudahlah, memangnya kau ingin melamar kekasihmu?”

Aku tertawa kecil, masih terbawa suasana tadi.”namanya Hana, makanya aku tertarik dengan cincin ini”

“benarkah? Wah berarti cincin ini memang ditakdirkan untukmu atau lebih tepatnya untuk kekasihmu. Kau tahu, aku berniat menyimpannya seumur hidupku, tapi entah kenapa aku tiba-tiba berpikir untuk menjualnya saat aku melintasi toko ini. sepertinya cincin ini memang telah menemukan pemiliknya”

“jadi ahjushi mau menjualnya padaku”

Ahjushi itu tersenyum. Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya, kotak perhiasan dilapisi kain beludru merah, membukanya dan menyelipkan cincin itu di tempatnya “pemilik toko tadi benar-benar buta. Logam ini bukan logam biasa, ini logam yang lebih mulia dari pada emas, perak dan apapun, ini logam langka, yang hanya bisa di dapatkan di wilayah tertentu di dunia ini, pemilik toko tadi pasti tidak pernah melihat jenis logam ini, makanya dia bisa mengoceh semudah itu. dan permata ini” ahjushii itu tertawa “dia bilang ini adalah permata biasa? Dia tidak tahu, ini adalah permata yang hanya ada beberapa puluh di dunia”

Aku menelan ludah. Aku terlalu percaya diri bisa membelinya. Aku tidak menyangka akan semahal itu.

Ahjushi itu meraih tanganku, meletakkan kotak itu di tanganku “lamarlah kekasihmu dengan ini”

“A.. Ahjushii ini…”

“aku tidak semiskin itu. jadi tenang saja, aku ikhlas memberikannya untukmu. Tadi itu aku hanya tidak tahu kenapa tiba-tiba terpikir untuk menjualnya, dan aku jelas tidak rela menjualnya dengan harga murah pada pemilik tokoh tadi. Menyebalkan bukan? Tapi… melihat ketulusanmu, kupikir mungkin cincin ini memang sudah menemukan pemiliknya”

Aku membulatkan mataku. Ini gratis? Woaaahhh “A… Ahjushii…”

“sudahlah, anggap saja kau berhutang padaku. Berikan cincin ini pada kekasihmu saat moment yang tepat, maka kuanggap hutangmu lunas”

Aku seperti ingin menangis “ka.. kamsahamnida ahjushii, kamsahamnida”

Namja itu menepuk pundakku “berjuanglah”

“ne ahjushii, pasti”

“huaah… sekarang entah kenapa hatiku lega”namja itupun berlalu meninggalkanku.

“Kyung Soo-ya” seru Hana

Aku segera menyembunyikan kotak cincin tadi di dalam sweaterku “kau sudah menemukannya?”

Hana menggeleng lemah “kau?”

Aku juga menggeleng “kita cari di tempat lain saja. Di sini barangnya mahal-mahal”

Hana tertawa “bukankah kau punya banyak uang?”

“jangan menggodaku, kajja…”

~***~

Aku mulai menepikan mobilku di area parkir depan istana Min Yeong, sudah banyak mobil yang berjejer memanjang di sisi kanan. “aduh…”

“kenapa?” tanya Hana

“parkir paralel”

“kenapa memangnya?”

Mengakui kelemahan di depan pasangan memang memalukan, tapi aku tetap harus menjawab pertanyaan Hana agar ia tidak bingung kenapa mobilku masih berada cukup di tengah, dan tidak sejajar dengan deretan mobil di depan dan belakangku. “aku masih belum lancar”

Hana mengangguk-angguk tanda maklum. Syukurlah, kupikir dia akan menertawaiku. “aku turun saja kalau begitu”

“ne, menghindari kau terluka kalau saja saat aku mencoba memarkir mobil ini dan menabrak sesuatu”

“hwaithing”

Aku tersenyum “ne…”

Menginjak dalam kopling, menggerakkan tongkat perseneling, menginjak pedal gas perlahan untuk maju, tanpa melepas pedal kopling kopling , memundurkan tongkat perseneling, menginjak pedal gas untuk mundur sedikit. Begitu seterusnya sampai aku bisa menyelipkan mobilku di celah pas-pasan itu. aku turun dari mobil, membanting pintuku agak kesal “akh, kenapa harus paralel…??? jalan ini kan cukup lebar. Menyebalkan”

Hana tertawa kemudian menghampiriku “lumayan kan agar kau semakin lancar” ia berdiri di hadapanku, sambil memeluk kado besar di tangannya. Sebenarnya isinya hanya album foto yang besar, kami memutuskan membeli itu saja, sekalian dijadikan kenangan untuk Min Yeong , kami juga menyelipkan satu lembar foto kami di sana (fotoku dan Hana yang tersenyum lebar), hasil take dari kamera polaroid tua yang tidak pernah kugunakan, yang baru kutemukan tadi sore di lemariku. Hana juga menyelipkan surat di sana, aku tidak terlalu membacanya, tapi Hana bilang inti suratnya adalah, agar Min Yeong menggunakan album foto pemberian kami untuk menyimpan foto-foto kenangan mengenai teman-temannya. Termasuk aku dan Hana yang menjadi peserta pertama yang mengisinya. Cukup masuk akal, yeojaku memang cukup pandai dalam hal itu. salah satu alasan kenapa aku begitu tergila-gila padanya.

“tapi kan seharusnya Min Yeong membiarkan tamunya memarkir sesuka hati, asal tidak menghalang jalan. Lihatlah, ini masih bisa dilalui kendaraan dua jalur”

“berhentilah mengoceh, mana bunganya?”

“ah aku lupa” aku kembali membuka pintu jok tengah dan mengambil sebuket bunga di dalam sana. Ini usulan Hana juga, agar aku tidak terlihat datang dengan tangan kosong “kajja” aku merenggangkan lenganku, memberi celah agar Hana menggamitnya.

“belajar dari mana?”sindirnya

“jangan meremehkanku, kita sudah berpenampilan sekeren ini, style kita juga harus elegan. Tidak pernah menonton acara red carpet nya Hollywood? Saat Angelina Jollie dan Brad Pitt bergandengan memasuki gedung melewati red karpet”

Hana tertawa “arayo… dan kau Angelina Jollie nya”

Aku membelalak “Wae?”

Hana menunjuk bibirnya “kalian punya kesamaan di sini”

“Hana-ya…” protesku

“hei… itu pujian. Angelina Jollie itu terkenal karena bibir seksinya”

“tapi aku seorang namja…”

so what… bibirmu seksi”

Aku mengangguk-angguk sambil tersenyum licik “dan kau suka itu kan???”

“ah sudahlah.. aku hanya bercanda.kajja…” Hana langsung menggandeng lenganku layaknya pasangan hollywood yang baru saja kusebutkan di hadapan Hana “woah…rumah Min Yeong tidak kalah besar dari rumah Su Ho”ucapnya takjub

“nanti setelah kita menikah, akan kubelikah rumah yang lebih besar dari ini”

Hana mencubit lenganku “makanya kubilang pikirkan dulu karirmu sebelum memikirkan pernikahan”

“arasso… arasso…”

rumah Min Yeong yang sangat luas ini dijadikan tempat untuk menggelar pesta ulang tahunnya. Aku tidak bisa terlalu detail mendeskripsikan tempat ini, aku hanya akan menggunakan satu kata… DAEBAK!

“Kyung Soo-shii, Hana-shii”seru seseorang membuat kami menoleh.

“ah, Min Yeong-shii”Hana yang menyahut. Kedua yeoja ini langsung berpelukan dan saling menyapa dengan menempelkan pipi kanan dan pipi kiri bergantian. Sungguh kejadian langka dan baru pertama kali kulihat. Biasanya kedua yeoja ini akan saling menyindir satu sama lain dengan kalimat yang terkadang tidak dimengerti oleh namja. “saengil chukkae, semoga panjang umur dan sehat selalu” ucap Hana setelah meyerahkan kado kami.

“gomawo Hana-shii”Min Yeong terlihat senang menerimanya.

“saengil chukkaeyo” giliranku mengucapkan selamat kemudian memberikan buket bunga itu.

“gomawo Kyung Soo-shii, ayo… kalian masuk dululah ke dalam”

Kami pun mengikuti langkah Min Yeong memasuki ruang utama rumahnya, yang bisa kubilang seluas ballroom hotel berbintang.

“tuan Lee” seru Min Yeong pada seseorang

“ne agashii”sahut seorang namja berjas hitam yang dipanggil dengan nama tuan Lee tadi

Min Yeong menyerahkan kado dan bunga dariku dan Hana tadi “tolong suruh pelayan bawa ini ke kamar. Ini kado spesial dari temanku”

“ne agashii”

Aku dan Hana saling menatap dan tersenyum, kado kami dikatakan kado spesial, padahal Hana sempat mengira bahwa kado kami akan berakhir di tempat sampah.

“dan katakan pada MC nya aku akan segera memotong kue ulang tahunku”

“tapi, tuan muda belum datang”

“dia sudah datang tadi, entah kemana. Dia akan kembali kalau MC nya memulai acara”

“arayo, agashii. Saya permisi”tuan Lee itu pun beranjak pergi.

“kau punya saudara laki-laki Min Yeong-shii?”tanyaku

“aku anak tunggal. Kenapa?”

“lalu siapa yang dimaksud dengan tuan muda oleh namja tadi?”

Min Yeong tersenyum kemudian mengedipkan sebelah matanya pada Hana, dan Hana mengangguk sambil tersenyum.

“wah, ada hawa persekongkolan di sini”sindirku. Sialnya kedua yeoja ini tertawa.

“ambil minuman dulu Kyung Soo-shii, Hana-shii. Aku ke sana dulu”

Aku dan Hana mengangguk kompak “ne…”

Sepeninggal Min Yeong, aku langsung menyerbu Hana dengan pertanyaan “kau tahu sesuatu?”

Hana mengangkat bahu “Min Yeong hanya mengatakan akan menyampaikan berita penting di pesta ulang tahunnya, kalau ini kau anggap sebagai sesuatu itu, ya berarti aku tahu”

Aku berdecak “mengenai tuan muda itu…”

“aku tidak tahu, jadi tunggu saja sampai Min Yeong menyampaikannya”

Kusambar gelas berisi minuman berwarna hijau dan meneguknya cepat “yeoja memang menyebalkan”

BATSS…

Lampu utama sengaja di padamkan, tapi tidak membuat suasana menjadi gelap gulita, hanya terkesan remang. Kemudian beberapa sorotan cahaya terfokus di tengah-tengah, tempat di mana kue ulang tahun yang tingginya menjulang berada. Dan Min Yeong yang malam itu mengenakan gaun merah menyala berdiri di sana di dampingi tuan Lee tadi. Tamu-tamu mulai merapat, begitupun aku dan Hana.

Setelah MC membacakan susunan acaranya, iringan musik klasik dengan instrument piano, violint, dan cello mengalun, sungguh selera musik kelas atas. Kami semua serempak menyanyi sebelum Min Yeong menangkupkan kedua tangannya sambil memejamkan mata kemudian meniup lilin yang kutebak jumlahnya ada dua puluh di tingkatan kue yang sejajar dengan tubuh Min Yeong.

Suara tepuk tangan dan sorakan membahana, menambah kesan ramainya pesta itu.

Min Yeong mulai memotong kuenya dengan irisan kecil dan meletakkannya di piring kecil “ini adalah potongan pertama, dan akan kuserahkan pada orang yang paling spesial dalam hidupku”

Aku menoleh pada Hana, dia mengangkat bahu “apa untuk tuan muda itu?”

“kau penasaran sekali”sindir Hana

“itu artinya, aku tidak perlu mencemaskanmu yang cemburu buta lagi”

“mwo? Cemburu buta?”

Aku terkekeh “bercanda” segera meralat sebelum Hana berniat membuat lenganku biru karena cubitannya.

Min Yeong mulai melangkah, membuat tamu-tamu membuka jalan untuknya. Lampu sorot tak pernah lepas dari sosoknya yang sangat anggun malam itu. tapi yeoja di sebelahnya jelas lebih anggun lagi di mataku.

“Hana-ya, hanya perasaanku saja, atau memang Min Yeong berjalan ke arah kita?”bisikku

“jangan terlalu percaya diri”balasnya

“hey, bisa jadi kan potongan pertama kue itu akan diserahkan untukku, walau bagaimana pun, Min Yeong kan pernah menyukaiku, atau masih yah?”aku sengaja menggodanya.

“berhenti mengoceh, Min Yeong datang”

Dan betul, Min Yeong berdiri di hadapan kami sambil tersenyum. Aku jadi grogi sendiri, bagaimana kalau kue itu betul-betul dia serahkan padaku?

Tapi ternyata kekhawatiranku itu tidak berlangsung lama, dan tidak terbukti benar karena Min Yeong justru menyerahkan kue itu pada orang di sebelahku.

Bukan di sebelah kiriku, karena di sebelah kiriku adalah Hana, itu jelas mustahil, bisa jadi skandal. Tapi Min Yeong menyerahkan kue itu pada namja di sebelah kananku yang tidak kuketahui sejak kapan dan bagaimana asal muasalnya hingga dia berada di situ.

Tu… tunggu… namja itu!

Lampu utama kembali menyala, dan itu membutku semakin mengerjap-ngerjapkan mata menyesuaikan penglihatanku.

for you…” lirih Min Yeong sambil tersenyum

“gomawo”balasnya.

Kurasakan cengkraman di lengan kiriku, Hana juga terkejut “SU HO???” pekikku bersamaan dengan Hana, juga beberapa rekan sejurusanku di fakultas seni yang turut meramaikan pesta Min Yeong.

Dan lebih mengejutkan lagi, Min Yeong menyuapkan kue itu ke mulut Su Ho dengan sangat romantisnya, kemudian dengan sedikit mendongak, Min Yeong mengecup ringan bibir Su Ho yang juga menyambutnya dengan sedikit menunduk.

“I…Ige mwoya???” pekikku tertahan. Dan kurasa bukan hanya aku yang menyaksikan kejadian itu dengan mulut menganga.

Kedua tokoh utama yang sukses membuat para tamu tercengang itu berjalan bergandengan, kembali ke tempat di mana kue raksasa tadi berada, aku bahkan tidak sadar kue nya sudah dipindahkan karena menghalangi pandangan.

Min Yeong memulai pidatonya “teman-temanku sekalian, juga para undangan yang berkenan hadir dalam pesta ulangtahunku yang sederhana ini…”

Sederhana? Ini sudah termasuk gila-gilaan untuk ukuranku.

“maaf membuat kalian terkejut, karena ini memang dirancang sebagai kejutan” Min Yeong menatap Su Ho, masih dengan tersenyum “perkenalkan, tunanganku. Kim Joon Myun, yang lebih sering kalian panggil dengan nama, Su Ho”lanjutnya.

“Hana-ya… Hana-ya… air… air”bisikku pada Hana.

“air apa?”

“apa saja asal bisa diminum. Leherku tercekat”

“ah tunggu” Hana langsung menyambar segelas soft drink berwarna hijau dan menyuguhkannya padaku “ini…”

“ne…” kuteguk langsung minuman itu sampai habis, kemudian menatap Hana “mereka… bertunangan???”

“kenapa kau bertanya padaku? Aku juga baru tahu hari ini. seharusnya kau lebih tahu karena Su Ho itu sahabatmu”

“tapi dia tidak pernah mengatakannya padaku, asal kau tahu saja”

“sahabat macam apa kau, tidak tahu hal sepenting ini mengenai sahabatnya”

Aku berdecak kesal “yang benar itu, sahabat macam apa Su Ho sampai tega menyembunyikan hal sepenting ini dariku”

“itu karena akhir-akhir ini kau menghindarinya, mungkin dia ingin memberitahumu tapi kau sangat cuek padanya”

“ah sudahlah, kita lihat saja apa yang selanjutnya terjadi pada dua orang itu”

~***~

Aku, Hana, Min Yeong dan Su Ho, duduk mengelilingi meja oval di ruang utama rumah Min Yeong yang memang dijadikan tempat perjamuan para undangan. Kami cukup spesial sampai di tempatkan di meja yang sama dengan orang yang punya acara malam ini. dan sebenarnya kalau kuperhatikan, tamu yang datang kesemuanya adalah anak muda seusia kami, ada beberapa yang lebih tua, tapi kuperkirakan mereka adalah senior kami.

“jadi…ng Min Yeong-shii, ini kah berita yang kau maksud itu? jadi… kau dan Su Ho-shii…”Hana membuka obrolan dengan sedikit canggung karena tidak ada di antara kami yang mau memulai. Aku juga tidak mungkin menyapa Su Ho seperti biasa, berhubung ada situasi yang tidak bisa diselesaikan dalam waktu sebentar dan berbaikan.

“maaf baru memberitahu kalian sekarang”potong Su Ho yang kurasa sudah tahu kelanjutan dari pertanyaan Hana.

aku semakin pusing, tidak bisa menyembunyikannya sampai aku mengacak rambutku. Maksudku… aku lebih shock saat Min Yeong menjalaskan bahwa sebenarnya dia Su Ho sudah dijodohkan sejak SMU. Ini sangat tidak masuk akal. Lihat bagaimana sikap mereka saat di kampus. Tidak ada tanda-tanda sedikitpun yang memperlihatkan kalau mereka kenal dekat bahkan sudah bertunangan. Dan kupikir saat itu, hubunganku dengan Min Yeong masih kelihatan lebih dekat. Akh… sungguh memusingkan.

“ada alasan di balik ini Kyung Soo-ya, yang hanya aku dan Min Yeong yang tahu, dan kupikir, karena sudah saatnya, maka kuminta Min Yeong untuk memberitahu semua orang bahwa memang kami sudah bertunangan”lanjut Su Ho yang sepertinya bisa membaca pikiranku.

Aku sudah tidak tahan lagi. “tapi bukankah kau bilang kau mencintai Han__ ng maksudku, ada yeoja lain yang kau cintai?”

Su Ho dan Min Yeong bertatapan sejenak, “itu… dia sudah tahu”jawab Su Ho “posisi kami sama, karena dia juga mencin__ maksudku menyukai namja lain”

Kepalaku semakin pusing “Hana-ya… air”

Beruntung Hana tidak banyak bertanya dan langsung menyuguhkanku segelas softdrink. Kuteguk sampai habis kemudian mengatur nafasku.

“sebenarnya sandiwara apa yang kalian mainkan? Kalian sudah bertunangan, jadi mana mungkin kalian mencintai orang lain?”tanyaku lagi, masih tidak mengerti.

“itu, aku yang memintanya Kyung Soo-shii. Ada alasan tersendiri, yang hanya aku dan Su Ho yang tahu”jawab Min Yeong.

“sebenarnya itu sudah tidak penting lagi, karena kami sudah belajar untuk mencintai satu sama lain”tambah Su Ho.

Hana menatapku, memberi kode agar aku berhenti mengoceh.

“arasso… arasso”aku akhirya menyerah.

“aku betul-betul tidak menyangka Min Yeong-shii, tunanganmu ternyata bukan orang asing, tidak jauh-jauh. Aku betul-betul terkejut”

Lihat betapa curangnya Hana, dia menyuruhku berhenti sementara dia sendiri memulainya lagi.

“berarti kejutan malam ini sukses”balas Min Yeong.

Dan obrolan kami pun didominasi oleh kedua yeoja itu. sementara aku dan Su Ho hanya diam, tak berniat sama sekali memulai obrolan.

“boleh bergabung?”

Aku langsung menoleh mendengar suara familiar itu. “Kris hyung…”seruku seolah aku baru bertemu dengan Kris hyung setelah berpisah ribuan tahun.

“maaf terlambat, ada urusan. Selamat ulang tahun Park Min Yeong”ucap Kris hyung kemudian memberikan sebuket mawar merah untuk Min Yeong.

“kamsahamnida sonseng-nim”

“jangan terlalu kaku. Ini bukan di kampus. Kris saja”

“ah, ne… Kris-shii. Sebenarnya aneh juga memanggilmu dengan sebutan sonseng-nim sementara umur kita tidak terpaut jauh”

“oh ya Min Yeong-shii, benarkah kau dan Su Ho sudah bertunangan? Sepanjang perjalanan menuju meja kalian, Aku mendengar tentang itu”tanya Kris hyung.

“Joon Myun-ah… sepertinya kita sudah membuat berita heboh”

Su Ho tersenyum sambil memandang Min Yeong. Aih, kedua orang ini betul-betul membuatku pusing. Aku tidak bercanda. Kepalaku pusing, dan perutku mual sekali.

“Min Yeong-shii, bisa tunjukkan toiletnya?”pintaku

“ah tentu saja…”

“kau kenapa Kyung Soo-ya?” tanya Hana khawatir.

“panggilan alam, hanya sebentar”aku mengusap puncak kepala Hana sejenak. Kemudian aku teringat sesuatu. Ah… ada Su Ho. Itu artinya Hana dalam bahaya.

“di sini ada Kris sonseng, jadi kau tidak perlu khawatir. Atau kalau kau masih ragu, biar aku saja yang mengantarmu”ucap Su Ho seolah bisa membaca pikiranku. Sebenarnya aku merasa tidak enak, tapi… untuk apa aku merasa sungkan pada peneror ini.

“arasso… kau saja yang mengantarku” sepertinya itu lebih baik.

Akupun mengikuti langkah Su Ho memasuki istana Min Yeong.

“tuan Lee, toiletnya kosong kan?” tanya Su Ho pada namja yang bernaa tuan Lee itu

“maaf tuan muda, tadi ada tamu yang masuk”

“toilet belakang?”

“juga ada”

“dapur?”

“cwesonghamnida tuan muda, cuaca mungkin terlalu dingin sampai beberapa tamu memerlukan toilet, bahkan kamar tamu pun terisi”

Sial… kenapa seperti ini. lambungku sudah protes berat

Su Ho menoleh padaku “kau mual lagi?”

Dan kenapa pula namja ini hanya bertanya dan tidak mengusahakan apapun. Aku jelas tidak bisa membuka mulutku, karena kalau itu kulakukan, aku tidak bisa menjamin bisa menahan isi perutku lagi.

Su Ho langsung menarik tanganku “ikut denganku”

Akupun mengikutinya dengan langkah cepat menaiki lantai dua. Aku tidak punya waktu mengagumi kemewahan rumah ini karena perutku sudah mulai bergejolak. Su Ho membuka sebuah pintu, dan menuntunku masuk.

“pakai saja kamar mandi Min Yeong”usulnya kemudian menunjuk sebuah pintu.

Aku mulai berlari ke sana, tapi pikiranku kembali negatif. Bagaimana kalau Su Ho mengunciku di dalam kamar mandi dan dia bisa dengan sesuka hatinya meneror Hana.

“arasso… aku akan menemanimu masuk”lagi-lagi Su Ho bisa membaca pikiranku hanya dengan menatap mataku. Tidak sia-sia dia menjadi sahabatku selama hampir 3 tahun.

Aku langsung menyerbu washtafel terdekat dan memuntahkan seluruh isi lambungku di sana. Su Ho memijit tengkukku,suatu tindakan yang… entahlah… aku semakin tidak bisa percaya bahwa Su Ho ini adalah seorang peneror.

“gwenchanayo”tanya Su Ho, dan bisa kulihat bayangannya dari pantulan cermin.dia… cemas. Dia sahabatku… tapi… kalung cincin itu. bahkan saat ini dia masih terang-terangan memakainya dan aku bisa melihatnya secara jelas lewat pantulan cermin.Akh… kenapa harus Su Ho????

Aku segera membasuh wajahku di air kran washtafel. Su Ho menyodorkan handuk kecil untukku “gomawo…”ucapku datar

“kau serius tidak apa-apa?”

“ne…” aku mulai melangkah keluar sementara Su Ho mengikutiku dari belakang.

“kau ada gangguan pencernaan? Tempo hari aku juga melihatmu seperti ini”Su Ho terus menanyakan keadaanku, dan itu membuat hatiku semakin bimbang. Sebenarnya mana sosok asli sahabatku ini?

“entahlah, mungkin karena aku kebanyakan makan dag__”

Su Ho langsung menangkap lenganku saat aku hampr jatuh “Kyung Soo-ya… gwenchana?”

Ah dan kondisiku ini… Aku sendiri juga tidak tahu kenapa dengan diriku. Kepalaku pusing sekali “ne…”

Su Ho berdecak kemudian menuntunku untuk duduk di tempat tidur king size itu. “istirahatlah sebentar di sini, kuambilkan air hangat dan obat dulu”Su Ho sudah mulai beranjak, kemudian menoleh kembali “aku hanya ke dapur, atau kalau kau tidak percaya, akan kusuruh__”

“aku percaya… mianhae”

Su Ho menghela nafas pendek, kemudian tersenyum “gomawo”

Aku menatap punggung Su Ho yang mulai menjauh. Sebenarnya jauh di lubuk hatiku yang terdalam, aku merindukan sahabatku ini. aku sebenarnya masih tidak bisa percaya bahwa dia adalah peneror itu. tapi… bukti itu, kalung yang terus menjuntai penuh kenyataan di lehernya. Akh, kepalaku semakin pusing memikirkannya.

Kurenggangkan dasiku, kubuka beberapa kancing kemejaku karena ini membuaku benar-benar kesulitan bernafas. Dan Saat aku hendak berbaring, tanpa sengaja tanganku menyambar sebuah kotak berukuran sedang yang tadinya terletak di atas nakas. Isinya terhambur ke lantai, membuatku terkejut. Ah sial, aku mengacau di kamar orang.

Dengan segera aku berjongkok di lantai dan membereskan perhiasan-perhiasan mewah yang berhamburan itu. sampai ketika mataku terpaku pada sebuah perhiasan yang sangat familir di mataku.

Deg~

Dengan sedikit gemetar kuraih benda itu, memperhatikannya dengan seksama hingga membuat jantungku berdebar. Seketika aku diserang rasa paranoid. Benda ini adalah… kalung cincin itu. benda yang persis sama dengan yang dikenakan Su Ho sekarang, benda yang membuatku langsung menempatkan nama Su Ho di urutan pertama mengenai peneror itu, benda yang membuat persahabatanku dan Su Ho retak, benda yang…

Tunggu… ini adalah kamar Min Yeong. Apa itu artinya, benda ini adalah miliknya? Dan tunggu… jika semua perkataan Su Ho saat membela dirinya adalah benar, bahwa dia tidak mengenakan kalungnya saat itu. maka peneror sebenarnya adalah pemilik kalung ini, kalung yang sama dengan milik Su Ho… dan itu artinya……

Akh tidak mungkin… Yang jadi pertanyaanku adalah, kenapa Su Ho tidak membela diri sampai akhir? Kenapa Su Ho hanya terdiam saat kuperlihatkan kalung cincin ini? bukankah itu sebuah pertanda bahwa Su Ho mengiyakan semua tuduhanku? Atau… itukah cara Su Ho untuk melindungi peneror sebenarnya??

Deg!

Aku semakin membelalak… Su Ho melindungi peneror sebenarnya…??? bukankah itu berarti penerornya adalah…. orang terdekat Su Ho???

Aku begitu terkejut dengan pemikiranku barusan, dan itu membuatku tersentak ke belakang dan membentur sisi tempat tidur Min Yeong. Dan sesuatu langsung menyambut punggungku. Springbed ini empuk, tapi kenapa kulit punggungku merasakan seperti ada benda tajam yang menusuk?

Dengan perlahan aku memasukkan tanganku di antara celah springbed itu. dan saat tanganku menyentuh sebuah benda yang keras dan… tajam, aku semakin gugup. Kutarik benda itu dan…

Deg…~deg….~deg

OH TUHAN… INI ADALAH PISAU! Tidak tanggung-tanggung, ini adalah pisau yang sama dengan yang digunakan peneror itu dalam penyerangan terakhirnya. Jadi… peneror sebenarnya adalah…

CKLEK…

Ada seseorang yang membuka pintu, kusembunyikan pisau itu di balik jas hitamku, kuselipkan kalung cincin itu di sakuku dan kuletakkan kembali kotak tadi di atas meja nakas. Semuanya dalam gerak cepat

“ah, Kyung Soo-shii, kau tidak apa-apa?”tanya Min Yeong yang baru saja masuk. “kau sakit? Kau sangat pucat…”Min Yeong menghampiriku. Sementara pikiranku terus berkutat dengan masalah ini. bukan Su Ho penerornya… tapi “kau kenapa? Kau… tidak apa-apa kan?”Min Yeong hendak menyentuh wajahku, tapi langsung kutepis tangannya dan mencengkramnya kuat. Sudah tidak bisa diragukan lagi. Penerornya memang bukan Su Ho, tapi… yeoja ini! “Kyung Soo-shii.. ada apa ini, lepaskan tanganku, sakit”

Kutatap dia dengan tajam “akan kutanyakan ini satu kali saja Min Yeong-shii, jadi jawab dengan jujur atau aku akan menggunakan kekerasan untuk membuka mulutmu”suaraku mulai bergetar menahan emosi

“Kyung Soo-shii, bicara apa kau? Lepaskan…”

Kutampung semua emosiku agar tidak meledak, aku bahkan bisa mendengar suara gemeratak rahangku yang kupaksa mengatup “Peneror itu… kau kan?”tanyaku dengan suara bergetar hebat.

Min Yeong terperanjat kaget dengan mata membelalak. “bi… bicara apa kau? Pe… peneror apa?”

Aku muak, kucengkram kedua pundaknya, dan kuhempaskan tubuh yeoja itu hingga membentur cermin meja riasnya, membuat benda-benda di atasnya berhamburan. Tidak kupeduli kalau dia adalah seorang yeoja. Dia juga sudah tega menyakiti Hana sampai seperti itu. “aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Katakan dengan jelas” kuatur nafasku yang mulai memburu, kuraih kalung cincin sialan itu di sakuku dan memperlihatkannya persis di depan wajahnya… tapi sial, aku tidak bisa lagi mengonrol emosiku “KENAPA KAU MENCELAKAI HANAAAA???”Bentakku mendarah daging.

Yeoja ini menatapku dan kalung itu dengan sangat tercengang, dia mulai menangis ketakutan dan gemetaran “bukan aku… bukan aku…”

Kulempar kalung itu ke sembarang arah, kemudian Kuraih pisau di sakuku, dan menancapkannya di atas meja rias Min Yeong tidak jauh dari tangannya “KAUUUU…”

Tok…tok…tok…

“Kyung Soo-ya, kau di dalam?”

Itu suara Hana… tidak, dia tidak boleh ke sini, dia tidak boleh bertemu dengan peneror sialan in__

SREEETTT… SREEETT!

“Apa yang kau lakukan????”aku terkejut saat tiba-tiba Min Yeong menyobek gaunnya hingga tubuh bagian atasnya tampak, bahkan sebagian branya terlihat. Aku membelalak, hendak menjauh… tapi naas, yeoja ini menarik tanganku dengan paksa hingga aku limbung dan jatuh menimpanya. Sialnya lagi, yeoja ini memanfaatkan ketidakseimbanganku untuk menjatuhkan dirinya ke lantai dan alhasil, aku jatuh menimpa tubuhnya.

“KYAAAA…. TOLOOONG… KYUNG SOO-SHII… LEPASKAN AKU!!” pekik Min Yeong yang membuatku hendak merobek mulutnya

CKLEK… “Kyung Soo-ya, gwenchan____”

Oh sial… kenapa Hana justru melihat ini??

“LEPASKAAANNN… KUMOHON LEPASKAAAANNNN….”Min Yeong sialan ini masih berulah. Terakhir aku menamparnya sebagai jalan terakhir agar aku bisa lepas dari cengkramannya. Akupun langsung menyingkir dan membetulkan posisi.

“YEOJA GILA!” bentakku. Kemudian beralih menatap Hana “Hana-ya, kau tidak___”

“apa yang kau lakukan?” sial. Hana terpengaruh dengan adegan murahan yang diperankan oleh yeoja terkutuk ini. ia menatapku dengan mata berkaca-kaca dan wajah merah padam.

“Hana-ya…ini tidak seperti yang kau lihat, Min Yeong___…”

“Hana-shii, selamatkan aku. Kyung Soo ingin memperkosaku” Min Yeong berlari dan memeluk Hana.

Sialnya Hana menatapku dengan ekspresi yang… aku tidak ingin menjelaskannya karena aku benci ekspresi itu. “betulkan pakaianmu Min Yeong-shii” ucap Hana datar.

Min Yeong mengangguk “terima kasih Hana-shii, kau sudah menyelamatkanku” ia melepaskan pelukannya kemudian tanpa terlihat oleh Hana, ia sedikit bergeser menuju lemarinya hendak mengambil sesuatu.

“Hana-ya, jangan bilang kau percaya dengan sandiwara murahan yeoja gila ini”pintaku penuh harap.

Hana justru menatapku, menatap kondisi pakaianku yang sialnya semakin mendukung kesan bahwa aku hendak memperkosa Min Yeong. Dasiku tidak keruan, kancing kemejaku terbuka dan… oh sial….

Bibir Hana bergetar, dan saat air matanya jatuh, detik itu juga ia berbalik dan berlari keluar.

Aku bergegas mengejarnya, sampai aku menangkap gerak-gerik aneh Min Yeong. Ia menatapku sembari meletakkan ponselnya di telinga “bersiaplah di tempat. Ini lebih cepat dari yang kuduga. Dia sudah keluar”

Aku membelalak, firasatku tidak enak. Tapi aku tidak punya waktu banyak. Tidak pernah terlintas dalam pikiranku kalau yeoja ini betul-betul gila.

“Hana-ya, chakkaman…”pekikku sekuat tenaga. Dan sialnya, jeda tadi justru membuat Hana semakin jauh di depan.

Aku berpapasan dengan Su Ho di tangga “a… ada apa?”

“jangan banyak tanya, bantu aku mengejar Hana”aku langsung menarik tangan Su Ho membuat nampan yang ia bawa terhambur begitu saja. Ia berusaha mengikuti langkahku dengan terpontang panting.

“apa yang sebenarnya terjadi?”

“nanti kujelaskan, kita harus menyelamatkan Hana”

Su Ho tersentak “arasso”

Kami berdua mengejar Hana yang sudah jauh di depan. Aku sedikit berharap banyak saat kulihat Kris hyung berada di depan Hana.

“Kris hyung… tahan dia?”seruku

“ng… mwo?” Kris hyung terkaget, terlebih Hana menyambarnya begitu saja hingga ia tersungkur dan terjatuh.

Akh siaaaaaaaaaaallllllll “Hana-yaaaaaaaaa…. berhenti, ini hanya umpan yang dilakukan Min Yeong agar kau terpengaruh…”seruku sebisa mungkin,

Hana sudah keluar dari gerbang, bisa kulihat ia melepas sepatunya dan mempercepat larinya.

~**~

Author POV

Hana meneruskan larinya di jalan yang lengang itu sementara Kyung Soo,, Su Ho dan juga Kris mengejarnya.

“HANA-YAAAA… PENEROR ITU ADALAH MIN YEOOONNNGGG!!” seru Kyung Soo sekuat tenaga. Dan itu terdengar jelas oleh Hana..

“mwo?”lirihnya pada diri sendiri. ia menghentikan langkahnya dan menoleh.

Kyung Soo mulai lega, tinggal beberapa meter lagi dia mencapai Hana “Ah… syukurlah, Hana menger___”

CKIIIIITTTTT…… BRRUUUMMM……

Hanya sepersekian detik saat Hana memfokuskan perlihatannya ke arah kanan, sebuah Jeep hitam melaju dengan kecepatan tinggi. Dan…

BRRRRUUUUUUGGGHHHHHHH….

Tubuh Hana tertabrak, dan terhempas ke kaca depan mobil, sebelum tubuh mungilnya itu menggelinding ke samping dan tergeletak tak berdaya di pinggir jalan dengan tubuh berlumuran darah yang semakin lama semakin banyak. Sementara jeep itu melajukan kecepatannya meninggalkan lokasi kejadian.

3 namja yang menyaksikannya dengan mata kepala sendiri tercengang seketika, sampai kemudian.

“HANAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA-YAAAAAAAAAAAA” pekik Kyung Soo memekakkan telinga.

~***~

TBC

36 thoughts on “[FF] Another Chance [Part 10]

  1. akhirnya, part 10 dateng juga xD

    Huaaaaaaaaaaaaaaa.. /tereak pake Tao(?)/

    Min Yeong!! Benerbener aishhh! /injek Min Yeong/sobeksobek(?)/ maap thor, kebawa emosi soalnya ^^v/

    akhirnya, semua udah kebongkar, siapa peneror sebenarnya.

    Tapi thor, plis thor, jangan bikin hana meninggal thor, plis,plis,plis..
    T^T
    Gak mau sad ending, biarkan Kyungsoo-Hana kopel bersatu thor, soalnya ini sudah bikin nyesek, mereka udh melewati ke-nyesek-an(?) yang luar binasa xD
    /Haha, etapi, terserah author aja deh :D/

    ditunggu kelanjutannya thor😀

    • gomawo udah mampir ching…. hum, masalah endingnya di tunggu aja. ini genrenya Angst,… tapi yah liat aja deh (sok misterius)
      ntar bakal update kok, tapi kapannya masih belum tau, tergantung Abah baekhyun nih ngasih inspirasi nya kapan… *pletakding

      *bow

  2. mmmm … “WOW” …

    hu.. hah .. hu hah ….#mencoba menurunkan tensi darah, emosiiiii .. >.<
    aigo , apa Minyoung itu manusia …?

    Hana … bagaimanapun dia gak bolh mati .. (hehe.. maksa bener …)

    dan lihat kyungsoo … bagaimana ada namja yg seperti itu .? gak ada alasan buat gak suka sama kyungsoo qlo dia terus seperti itu ..

    daebak2 ..

    amat sangat ditunggu kelanjutannya … ^^

  3. omo… Omo… Omo… Demi apapun, hana eonni ga bleh meninggal😥 X’O

    D.O oppa yg sabar hadapi cobaan ya…

    Minyeong mendingan yg harus mati!! :@

    minthor eonni jgn buat hana meninggal ya… XO

  4. Si min yeong bikin geregetan aja sih-.- nyebelin banget! Envy banget sama hana-kyungsoo kayanya saling mencintai bangeeeeeet aaaaa, kasihan hana nya ketabrak dasar minyeong kurang kerjaan… Seperti part sebelumnya, feelnya dapet, terus puas banget karena panjang wkwk, good job;)

  5. Thor ini part sukses bkin aku kesel pas akhr2nya..
    Pertma buka ktawa2 pas hana blng bibir kyung soo seksi hahaha langsung ngebayangin.LOL

    Emosi berat deh sama itu wanita Щ(º̩̩́Дº̩̩̀щ) jahat bgt siiiiiii , udh dptin suho yg baik bgt malah tetep kaya gtu sifat’y..
    Ksian hana… Rumit sekali hidup’y -___-”

    Aku next part ya thor🙂

  6. HIKS ya ampun MinYeong kok jahat banget sih dia.
    tega banget ya tuhan sampe mau bunuh si hana aja pake pembunuh bayaran.
    ga cukup apa si suho ya Щ(º̩̩́Дº̩̩̀щ)
    keterlaluan sekali, sumpah ALF gue benci bgt ama si Min yeong titik (.)
    Jangan meninggal ya ALF si hana jeballl ALF jeballll

  7. Dgn kata lain, minyeong itu sejenis psikopat yaahh…
    Nyeremin…..
    Hana mati gak thor??
    Jg dehh… atau sama2 mati gitu.. kan d.o jg sakit?
    Haaa…..

    Padahalmsuho udh ikhlas bgt yah mau nikah ama minyeong..
    Masa depan berdua kayak apa? Minyeong di penjara gitu??
    Hoooaaa……
    Gak bisa ketebak alur ceritanya ini…
    Dr awal aku slh nebak mulu..

  8. Akhirnyaa~ ketauan juga sama D.O siapa aslinya yang jahat.. sempet geregetan waktu D.O nyalahin Suho.. hihihi author sukses bikin ceritanya rumit, tapi seru rumitnya itu gak terlalu rumit juga kayak sinetron-sinetron..😀

  9. Tidaaaakkkk …. TT..TT
    hana ya jeball jangan matiii TT…TT
    Aaahh…. min young benar benar menyebalkan min… ganggu hubungan orang aja TT..TT
    Daebak bgt thorr ^^ emosi naik turun waktu baca ff ni hehehe 
    Fighting thorr…

  10. gilaaaaa
    sumpah min yeong bener-bener..
    hana gimana nasibnya??

    sumpah ini aku bacanya cepet banget.. –‘

    keren thor🙂

  11. Mimpi Kyungsoo bener,Hana celaka#nangis#
    Kenapa harus Hana?.kenapa gak Minyeong,thor,kenapa gak biarin mereka berdua#tunjuk Kyungsoo jga Hana#hidup bahagia?.kenapa terlalu banyak rintangan bagi keduanya?.
    Thor,aku bener2 sedih,kenapa harus Hana?.kenapa kyungsoo gak bsa bahagia ?.
    Thor,aku udh mulai ngerasain firasat gak enak,moga aja Hana dan Kyungsoo dpat bersatu.

  12. Hesh.. terjadi juga. mimpi itu jadi kenyataan..
    aku g nyangka wanita bisa jadi sekejam itu. Menyeramkan.
    (meski aku sadar aku wanita, aku g mau jadi sekejam itu.. ahh.. aku juga pernah sakit hati, tapi g gitu juga kali..) DAEBAK thor..

    TT.TT Kyung Soo.. (terbawa suasana)

  13. aaaaaa, ternyata disini ada jugaaa T.T aku terharu seneng banget dpt lanjutannyaaa abis kalo di page author alf ngupdatenya akhir pekan, kelamaaaaaan T.T huhuhuhu

    min yeong udah bukan manusia kali yaa, kejam bangeeet aaaa >,<

  14. Hueeeeee!! Gile gile min yeong emang yeoja psikopat bgt, gila, sarap, sadis. Bisa-bisanya yah. Adoh thor dpt ide dr mana sih? Hahaa sukses sukses deh.

  15. kak alf aku ga kuat baca pas mimpinya kyungsoo bikin degdegan jantung aku T.T jadi aku skip aja langsung pas kyungsoo kebangun dari mimpi buruknya. ‘-‘v ntar aja dibacanya pas udah baca endingnya. *plak
    ah entah kenapa ya tiap ad minyoung diantara hana dan kyungsoo itu saa ngerasa pengen seret minyoung ke kutub utara -.- dia tibatiba baik begitu ya pasti lah ada sesuatu yg udah direncanain. minyoung kurang ajaaarrr bener bener licik grrr *emosi sendiri* *banting hape* *hape rusak* *nangis dipojokan*
    Ya tuhaaaannnnnn!!! hana. hana. hana. T.T dia ditabrak T.T hana jangan mati, hana yang kuat ya, hana pasti selamat kok. aaaaaaa sumpah bikin saya serangan jantung bacanya ka alf T.T capcus lanjut part 11 hehe

  16. “Hana-ya… Hana-ya… air… air”bisikku pada Hana.

    “air apa?”

    “apa saja asal bisa diminum. Leherku tercekat”

    “ah tunggu” Hana langsung menyambar segelas soft drink berwarna hijau dan menyuguhkannya padaku “ini…”

    “ne…” kuteguk langsung minuman itu sampai habis, kemudian menatap Hana

    bayangin muka dio pas part ini pasti kocak abis.😀

  17. Hwaaaa akhrny ketauan juga penerornya… Min yeong licik,udah pandai memutar balik kan fakta..dasar yeoja gila.. Dan hey hana jgn percya ama min yeong.,dy itu psycho.. Waduh aq jd gag rela ama suho low ntar mreka mnikah.. Mending ama aq.. Hehe

    hwaa hana dtabrak..apa nanti hana bkal mati eon?

  18. Kyaaaaa….. Tegang au dahhhhh ga bisa banyak koment di chap ini pokonya aku langsung mau ke chap selanjutnya kyaaaa kyaaaaa lf-shii(?)

  19. menegangkan……….!!!
    sumpah tu minyoung licik bgt sumpaaaaaahh -emosi jiwa- …
    pdahl di awal” udh sweet” bgtu ya,,
    aduh itu hana ketabrak gmn dong…. cincin’y blm di kasih ke hana.. jgn mati dulu deh..
    trs kyungsoo qo mual” lg, dia ga sakit kan?? beneran ga sakit kan….
    yg mati minyoung aja gmn?? hahaha
    oke oke baca next part

  20. bc awlnya smpt bingung,kok toba” hana mati? loh pa da part yg kelewat? aku buka part seblumnya isinya g nymbung.. benar” bingung sndiri trus aku coba lnjutin bc.. oooohhhh ternyt mimpi to pantasan -.-”
    tp ru krn mimpi ja kyung soo udh hmpir gila.. gmn klo hana bnran hrus ningglin kyung soo? bisa bnuh dri dia nanti… kyung soo kesadaane mengkhwatirkan…
    min yeon gila,skit jiwa,psikopat… bnr” g thn pas bc bgian min yeong pura” diperkosa kyung soo… pgen aku buang min yeong ke laut…
    hana,tetplh hidup buat kyung soo, kmu taukn btp kyung soo membutuhknmu.. kmu beruntung dicintai 3 laki” dg tlus,berjuang hana ;(

  21. Minyoung tukang fitnah ih, licik banget dia nuduh D.O mau merkosa dia padahal dia sendiri yang ngerobek bajunya
    Sebel banget sama dia #apaini
    Suho tetep perhatian ya sama sahabatnya meskipun udah di tuduh awaw co cwit deh(?) wkwk
    Terus hananya gimana tuh abis ditabrak?selamat gak?

  22. WHAT THE……?
    Jangan bilang hana mati thoor..
    Hana gak mati kan thor..
    Iya kan thoor?
    Yaampuun thor..
    Itu hana btl2 ketabrak mobil thor?
    Authoor..
    Plis thor jgan buat hana mati thor..
    Kasian si d.o…

    Park minyong cewe monyoooooong..
    Dasaaaaaaaar……
    Jaat banget sih jadi oraaaang..
    Aaaa geram akuuu..
    Bisa bisanya dia berbuat kaya gtu stelah apa yang di janjikannya sama suho?
    Dia itu gak mikir apa sama gimana perasaannya suhoo…?
    Aaaa
    pkoknya part ini sukses deh buat aku emosi stengah mampus..

  23. ahhhh………menyebalkan banget si min young…..pake acra pura2 di perkosa lg…
    haduuhhhh…..hana g bakal mati kan thor????

    next part dlu deh…

    oh iya, thor minta pw part 12x dong…aq aku kirim permintaanx lwt fb tp blm dpt tanggapan….makasih ya thor…^^

  24. Tuh kan
    Suho itu perhatian banget yaa
    Pingin punya pacar kayak gitu

    Kyungsoo.. sakit apa?

    MinYeon jahat banget sihh
    Benarkah kebencian membutakan segalanya??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s