[FF] BLANK SHEET [ONESHOT]


Fanfiction

Tittle: Blank sheet… [side story Love is…]

Author: AyouLeonForever

Cover pic/Poster by: BelKyuHae (Bellaelfitiara)

Genre: Family life, romance, friendship

Rating: PG12

length: Oneshot

Main cast:

# Oh Se Hun
# Shin Ri Ran

Other cast: find it by your self

Disclaimer: Oh Se Hun belong to his parents, Shin Ri Ran belong to her(?) self. The story belong to me!

Copyright: The story and OC belong to me!No Copy paste without permissions!

warning: Typo(s) every where.

Story begin

Se Hun POV

Aku tidak mengerti, betul-betul tidak mengerti, sangat tidak mengerti. Bukan mengenai aku ketinggalan pelajaran sekolah karena aku harus bed rest total untuk pemulihanku. Bukan itu, sama sekali bukan itu.

Ini tentang cinta!

Menggelikan bukan? Aku bahkan merinding saat kata itu mampir di benakku. Baiklah, aku pernah menonton beberapa film dan drama percintaan, tapi kupikir semua itu hanya fiksi, hanya khayalan dan tidak akan terjadi di dunia nyata.

Maksudku, serumit apakah cinta itu? dan kenapa pula aku sepusing ini.

Byun Baek Hyun, Lee Eun Yoo, dan terakhir Kim Jong In (yang kata mereka nama bekennya Kai). Mereka inilah…. deretan nama yang mambuatku sampai sepusing ini.

Pertama mengenai Byun Baek Hyun. Baiklah, aku tahu dia sangat mencintai Eun Yoo yang sudah menjadi kekasihnya sejak SMP. Aku tahu betul sepak terjang mereka karena aku juga satu sekolah dengan mereka sejak SMP. Kembali lagi mengenai Baek Hyun yang sangat mencintai Eun Yoo. Ayolah… memangnya sebesar apa cinta itu sampai Baek Hyun rela melepaskan mimpinya menjadi atlit basket?

Yeoja di dunia ini tidak hanya Lee Eun Yoo, yeoja-yeoja berparas cantik bertubuh indah dan seksi bertebaran hingga ribuan di luar sana. Tetapi mimpi dan bakat yang sudah diasah sejak kecil… itu sama sekali tidak bisa di dapatkan lagi atau diganti semudah itu dengan bakat lainnya.

Oke cukup… itu terserah Baek Hyun. Dan sekarang yeoja yang bernama Lee Eun Yoo. Sudah kubilang setahuku dia dan Baek Hyun saling mencintai. Tapi dalam hitungan bulan, Eun Yoo dengan mudah berpindah ke tangan Kai. Apa itu cinta? Itukah cinta yang mereka elu-elukan selama ini? mengabaikan hubungan yang terjalin hampir 5 tahun dan berpindah ke lain hati. Itu kah cinta?

Dan sekarang Kim Jong In. Atau akan kusebut juga dia dengan nama Kai, sebagaimana teman-temanku memanggilnya begitu. Aku pernah bertemu satu kali dengannya, yaitu saat tim sekolahku mengadakan pesta kecil-kecilan di rumah Baek Hyun untuk merayakan kemenangan tim sekolah kami dalam tournament akbar basketball tingkat nasional yang hanya di adakan beberapa tahun sekali. Dan bisa kutarik kesimpulan, Kai memang punya kharisma yang luar biasa. dia tampan, cool, dan keren. Sesama namja, aku bisa menilainya dari sini. Bahkan aku iri melihat kharisma itu.

Hanya iri, bukan cemburu. Aku juga tidak marah karena dia menggantikan posisiku sebagai pemain inti di tim kami, aku justru bersyukur karena dengan demikian, bebanku akan sedikit berkurang.

“Oh Won Bin” seru seorang perawat yang bertugas memanggil nama pasien yang akan melakukan pemeriksaan. Ah kukira sudah namaku.

Sampai di mana tadi lamunanku? Ah, tentang Kai yang menggantikan posisiku. Gwenchana, it’s okay, aku baik-baik saja. Aku juga tidak berhak protes karena kondisiku tidak memberiku hak untuk protes.

Kutatap nanar kaki kananku yang digips hingga lutut. Ah… sial… aku benci setiap kali aku melihat kakiku. Aku akan langsung teringat mengenai kecelakaan yang menimpaku beberapa bulan yang lalu, dan saat aku sadar, kondisi kakiku sudah seperti ini dan dokter dengan santainya memvonis bahwa aku harus beristirahat total selama beberapa bulan dari aktivitas hari-hari termasuk sekolah. Dan lebih parahnya lagi, saat dokter mengetahui bahwa aku adalah pemain basket, dia bahkan dengan santainya mengatakan “untuk sementara, hentikan aktivitasmu dalam olahraga basket. Paling tidak selama satu tahun, bisa lebih, bisa kurang, itu tergantung perkembangan kesehatanmu. Kau mengalami patah tulang di fibula kanan, traksi yang dipasang di kakimu hanya untuk membantu perlekatan kembali tulang yang bergeser itu, dan itu akan sia-sia kalau kau membebani kerja kakimu itu

Vakum selama satu tahun? Baru 3 bulan saja aku sudah merasa hampir gila. Ah sial… karena Kim Jong In, aku kembali teringat tentang hal yang  paling membuatku stress saat ini.

jane… mianhamnida…” tegur seseorang yang duduk di kursi tunggu sebelahku. Aku menoleh, dan tampak seorang yeoja yang kiranya seumuran denganku tengah menatapku.

“jeo?”

“ne… apa anda yang bernama Oh Se Hun?” tanya yeoja itu pelan dan lembut.

“dari mana anda tahu?”

Ia menyunggingkan senyuman tipis “perawat itu sudah 7 kali memanggil nama anda”

Aku terhenyak “ah…” aku segera menoleh ke arah pintu masuk ruang pemeriksaan. Dan bisa kulihat perawat itu menatapku dengan alis terangkat.

“Oh Se Hun… atau sebaiknya kita melangkah ke pasien selanjutnya?”

cwesonghamnida… saya segera masuk” aku menoleh sedikit ke yeoja tadi dan menyunggingkan senyum terima kasih karena sudah menyadarkanku dari lamunan anehku tadi, kemudian aku melangkah pelan memasuki ruang pemeriksaan di bantu tongkat yang menjadi tumpuanku berjalan saat ini.

“perkembanganmu cukup pesat, tulang yang retak mulai ada tanda-tanda kembali menyatu. Tapi bukan berarti kau sudah boleh beraktivitas lebih berat, tetap pertahankan pola pembatasan aktivitasmu dan….” bla… blaa… bla… aku sudah bosan mendengar ocehan dokter itu. kapan gips ini di buka? Dan yang lebih penting, kapan aku bisa kembali ke lapangan dan bermain basket???

“Jane… Oh Se Hun-shii” sapaan lembut itu lagi membuyarkan lamunanku.

Aku langsung menoleh, yeoja itu lagi “ah ne…”

Ia tersenyum, sambil memegang punggung tangan kanannya “namamu, bukankah kau ingin menebus obat?”

Aku langsung menoleh ke apoteker yang tengah meracik dan menyusun obatku “Oh Se Hun-shii, Oh Se Hun-shii”

Oh bagus, aku melamun terlalu dalam (untuk kedua kalinya) dan yeoja ini menyadarkanku lagi. Dengan buru-buru aku meraih tongkatku dan hendak mengambil obatku, tapi naas, tongkat itu malah terjatuh ke lantai dan menggelinding jauh dari tempatku.

chakkamanyo, biar aku saja”cegat yeoja itu begitu aku nekat berdiri tanpa tongkat.

“eh… aku…”

gwenchana, urutan nomor kita berdekatan, biar sekalian aku mengambil obatku” yeoja itu berjalan pelan, mengambil tongkatku dengan tangan kirinya dan meletakkannya di sebelahku. Sedikit aneh, yeoja itu terlihat menekuk tangan kanannya dan meletakkannya di depan dada. Selanjutnya ia kembali menggenggam punggung tangan kanannya dengan tangan kirinya (?)

Tidak terlalu lama, dia berdiri di depan apoteker itu, ia menerima dua paket obat berbeda kemudian menghampiriku. “ini obatmu Oh Se Hun-shii”

“ka… kamsahamnida… nona… ng?”

“Ri Ran. Shin Ri Ran”

“bangapseumnida Ri Ran-shii, dan terima kasih bantuanmu”

cheonmaneyo” ia menatap sekeliling ruangan “kau datang sendiri?”

“ah tidak. Aku datang dengan hyungku. Aku diminta menelponnya kalau semua pemeriksaanku selesai, dan aku baru saja menelponnya, sebentar lagi dia akan datang menjemput”

“oh baguslah. Kalau begitu aku duluan, masih banyak yang harus kuurus” ia mengambil tasnya yang tergeletak di sebelahku “ah, Se Hun-shii”

“ne…?”

Yeoja itu tersenyum, tipis tapi sangat indah “jangan terlalu banyak melamun. Annyeong…”

DEG!

Aku menelan ludah, dan hanya bisa menatap punggung yeoja itu yang mulai menjauh. Apa yang kurasakan barusan tadi? Saat dia tersenyum… seperti ada yang memukul jantungku satu kali, kemudian jantungku berdebar cukup cepat, wajahku panas dan…

“sudah selesai?”

Aku tersentak,  kemudian menoleh ke belakang “oh hyung… ne, sudah selesai”

“maaf tadi tidak bisa menemanimu melakukan pemeriksaan”

“gwenchanayo, ini sudah selesai”

“baguslah. Ayo pulang”

“ne…” aku meraih tongkatku dan bersiap berdiri, tapi mataku cukup terkejut saat menangkap sebuah benda yang terselip di bawah kursi yang kutempati duduk tadi, atau lebih tepatnya yang ditempati oleh yeoja tadi.

Sebuah notebook yang cukup tebal. Apa ini punya yeoja tadi?

“Se Hun-ah…kajja”

“ah, ne hyung” kuselipkan notebook itu ke dalam jacketku, dan dibantu oleh hyungku, kami pulang.

~**~

Malam itu, aku duduk di atas tempat tidurku, menatap serius notebook tebal bersampul merah muda itu. saat kubuka lembaran pertama, identitas Shin Ri Ran yang lengkap tercatat di sana. Nama lengkap, umur, golongan darah, alamat, nomor ponsel dan sebagainya.

Apa perlu kutelpon dia sekarang dan mengatakan benda miliknya ada padaku? Tapi aku sedikit pensaran dengan buku ini. atau lebih tepatnya, aku sedikit penasaran dengan sosok Shin Ri Ran, dan mungkin saja buku ini bisa memberiku sedikit informasi tentangnya.

Lembaran kedua yang menyambutku adalah barisan not dan tangga nada yang sepertinya di tulis dan digambar sendiri. Jadi dia seorang seniman musisi. Violint kah? Atau giar?

Bethoven Fur Elise, itu judul lagu di lembaran kedua itu. ini jelas bukan not yang digunakan untuk gitar ataupun biola. Shimphony classic dan khas… Jadi… dia seorang pianist.

Aku membuka beberapa lembar buku itu kebelakang, kesemuanya adalah barisan not dan lambang nada yang tidak begitu bisa kubaca. Sampai mataku sedikit terkejut di lembar ke 17.

23 january…

Aku sangat senang… amat sangat senang. Aku lulus audisi seleksi perlombaan Piano tingkat SMU di yayasan terkenal itu. aku jelas sangat senang karena ini percobaan pertamaku, dan aku bisa masuk 50 besar, itu sudah sangat lumayan, mengingat begitu banyak pianist muda berbakat di negeri ini.

Oh Tuhan… ini buku harian. Aku jelas tidak boleh membacanya.

Segera kututup buku itu dan meletakkannya di meja nakas samping tempat tidurku. Yeoja itu begitu ceroboh, mana mungkin dia bisa meninggalkan benda pribadinya itu di tempat umum.

Aku menelan ludah, masih menatap lurus ke arah buku harian itu. Saat tahu bahwa itu adalah buku harian, hasratku untuk membacanya justru semakin memuncak.

Apa-apaan ini, ini jelas tidak boleh. Buku harian itu adalah benda pribadi seseorang, dan hanya orang itu yang boleh tahu isinya.

Aku semakin berpikir keras. Sampai sebuah pikiran bodoh mampir ke otakku. Aku bisa mengembalikan benda itu pada Shin Ri Ran dan mengaku tidak membacanya, bukankah itu mudah?

Sial… pikiran bodoh itu sukses menuntun tanganku meraih buku itu dan melanjutkan bacaanku.

1 februari,,,

Aku sungguh gugup, sangat gugup. Sebentar lagi aku tampil di panggung untuk seleksi 20 besar. Semua peserta tampak hebat, tinggal 3 peserta lagi sampai giliranku tiba. Semua rival yang ada disekitarku terlihat tenang-tenang saja, sementara aku terlalu gugup. Tapi dengan menulis sedikit, aku bisa sedikit lebih tenang.

Lihat siswa gemuk yang berada 2 bangku di depanku. Siapa yang menyangka dia bisa sehandal itu memainkan piano. Ah, aku mulai meracau. Dan peserta yang baru saja menyelesaikan permainannya di atas panggung tadi mendapatkan sorakan dan tepuk tangan meriah. Kuharap aku juga bisa seperti itu.

Ah… buku harianku, sampai di sini dulu. Aku harus bersiap-siap.

 

7 februari.

Kau tahu… aku sangat senang, aku masuk 20 besar. Ini sangat membanggakan. Aku sudah mengirim e-mail pada appa di Jepang, dia langsung menelponku tadi. appa jelas bangga memiliki anak sepertiku. Aku juga bangga memiliki orang tua sepertinya. Walaupun appa sangat sibuk sampai harus meninggalkanku sendiri di Korea, itu tidak masalah, ia sering mengunjungiku kalau ia punya waktu luang.

Ah sudahlah… aku mau merayakannya dengan Dee Dee. Aku sudah mengabaikannya terlalu lama karena sibuk seleksi ini.

Aku segera menutup diary itu. hanya appa? Eomma nya kemana? Dan Dee Dee…nama yang aneh, siapa itu? apa dia sudah punya pacar? Bahkan dia memanggil pacarnya dengan nama sayang.

Aku kembali melanjutkan bacaanku, kulangkahi beberapa halaman karena sepertinya Ri Ran hanya membahas perlombaan piano itu dan Dee Dee yang terabaikan. Sampai aku menemukan tuisan singkat dan lembaran selanjutnya sudah kosong.

3 maret…

Besok adalah seleksi akhir, bisa dibilang final. Siapa yang menyangka aku bisa masuk 5 besar. Besok adalah penentuannya untuk menentukan siapa yang terbaik dan akan dikirim ke Amerika untuk melanjutkan study. Tuhan… aku tidak pernah meminta banyak padamu, aku bahkan tidak protes saat dengan terpaksa menerima kenyataan bahwa aku sudah tidak punya eomma, dan untuk membiayaiku appa harus rela meninggalkanku di seoul dan bekerja di Jepang.

Kali ini… Tuhan… biarkan aku menang!

 

Hanya sampai di situ lembaran selanjutnya kosong. Tapi anehnya aku terlalu penasaran. Tulisannya hanya sampai di tanggal 3 maret, sementara sekarang sudah akhir juni menjelang July. Lalu untuk apa dia membawa-bawa buku hariannya kalau dia sudah berhenti menulis?.

Aku begitu tercekat ketika membuka 3 lembar kosong berikutnya. Di situ ada tulisan tangan yang… aku tidak bercanda, jelek, tidak rapih, dan seperti cakar ayam. Seperti tulisan tangan anak TK yang baru belajar menulis. Tapi bukan itu yang membuatku kaget, tapi apa yang tertulis itu “AKU TIDAK INGIN MENGINGATNYA” lembaran berikutnya dengan model tulisan yang sama “AKU HARUS MELUPAKANNYA” lalu lembaran berikutnya “TUHAN MUNGKIN MEMBENCIKU” selanjutnya “APA YANG HARUS KUKATAKAN PADA APPA?” lalu terakhir “AKU HARUS TENANG DAN MENERIMA SEMUANYA”

Apa artinya semua ini? apa namja yang bernama Dee Dee memutuskannya? Apakah dia tidak juara? Atau apa?

Dan mataku kembali terkejut dengan tulisan tangannya. 29 juni, itu artinya hari ini. anehnya, tulisan tangannya tidak serapih pada lembaran-lembaran pertama tadi, tapi tidak sejelek lembaran cakar ayam sebelumnya. Masih bisa terbaca.

Hai… sudah cukup lama aku tidak menulis, itu karena aku malu dengan tulisan tanganku. Bagaimana sekarang? Sudah agak mendingan kan? Aku berlatih selama sebulan terakhir ini untuk menulis dengan tangan kiri. Kurasa sudah mulai bisa terbaca.

Sebenarnya aku berjanji tidak akan menulis sampai tulisanku sudah kembali rapih seperti dulu, tapi hari ini, aku harus mengabadikannya.

Hari ini, pukul 3 sore, di ruang tunggu ruang pemeriksaan ahli saraf dan tulang. Aku duduk di sebelah seorang namja yang sepertinya seusia denganku.

Glek… apa maksudnya adalah aku? 

 

Kakinya di Gips, jadi aku tidak perlu menanyakan alasan kenapa dia ada di sini. sejak tadi dia melamun, memandangi kakinya yang dibalut perban menggembung itu. tatapannya cukup nanar, dan kurasa dia terlalu sibuk memikirkan nasibnya sampai tidak tahu sejak tadi aku memperhatikannya.

Dari wajahnya yang sayu, aku bisa menebak. Nasibnya sama sepertiku. Mimpi yang kandas karena takdir.

Aku terhenyak, apa maksudnya?

Buru-buru kulanjutkan bacaanku.

 

Melihat dari postur tubuhnya yang tinggi dan cukup atletis, aku bisa menebak, dia seorang atlit. Pemain sepak bola mungkin? Ataukah pemain basket. Dan siapapun pasti tahu apa arti kaki yang kokoh bagi seorang pemain sepak bola, maupun pemain basket. Sama seperti arti tangan bagi seorang pianist.

Dari sini aku bisa langsung menebak. Telah terjadi sesuatu padanya. Tepatnya pada tangannya, mengenai mimpi yang kandas karena takdir, kurasa hal yang menimpanya itu berhubungan dengan… kemampuannya bermain piano. Betul… dia mengunjungi dokter ahli saraf dan tulang jelas bukan tanpa alasan. Tangannya… yah tangannya yang saat aku melihatnya, dia selalu menggenggam punggung tangan kanannya.

Kulanjutkan bacaanku.

 

Namanya Oh Se Hun. Aku tahu itu karena sejak tadi perawat menyerukan namanya, dan namja ini tidak juga bereaksi. Tunggu. Aku harus menyadarkannya dulu.

 

Namanya betul Oh Se Hun, dan dia betul-betul melamun tadi. Sekarang dia sudah masuk ke ruang pemeriksaan. Tadi dia tersenyum padaku. Dan untuk ukuran seorang namja, dia sangat manis.

Sayangnya, begitu ia keluar ruang pemeriksaan, dia tidak menoleh padaku. Dengan masih menyeret langkahnya dengan tongkat, ia berjalan pelan menuju apotik untuk menebus obat. Pandangannya masih sayu, pasti ada yang dikatakan dokter mengenai kondisi kakinya sehingga ia sesedih itu. Aku mengerti perasaannya, karena aku juga melewati hal yang sama dengannya.

Ah sudah dulu, namaku sudah dipanggil.

Kubuka lembaran berikutnya. 

 

Masih di hari yang sama aku bertemu namja manis itu lagi. Lagi-lagi aku mendapatinya melamun sambil memandangi kakinya yang di gips. Ini cukup aneh, lucu, kalau kubilang kebetulan, kenapa harus terulang sampai kedua kalnyai?.

Tunggu, kusadarkan dia dulu karena sejak tadi apoteker itu sudah memanggil namanya.

Oh betapa malunya aku. Tulisannya sudah berhenti sampai di situ. Kurasa saat itu dia tidak sengaja menjatuhkan buku hariannya saat ia menolongku mengambil tongkat dan obatku.

Shin Ri Ran, sepertinya kita harus bertemu.

***

Aku membuka pintu apartementku begitu ada yang memencet bel.

“ah, Ri Ran-shii, kau sudah datang”

Yeoja itu tersenyum “ne, tidak sulit menemukan apartementmu”

“mianhae, seharusnya aku yang mengantarnya sendiri ke rumahmu, tapi aku masih belum diizinkan bepergian jauh. Hyungku juga sangat sibuk saat kuminta ia mengantarku. Jadi…”

“gwenchana… gwenchana, aku sudah sangat bersyukur ternyata buku harianku jatuh di tangan orang yang bertanggung jawab sepertimu”

Aku menggosok tengkukku sendiri. Kuharap pujian itu akan bertahan lama, mengingat bagaimana aku membaca habis seluruh isi buku hariannya. “oh iya, sampai lupa, silakan masuk. Maaf sedikit berantakan. Berhubung yang tinggal di sini hanya 2 orang namja”

Yeoja itu tersenyum lagi kemudian masuk dan duduk di sofa ruang tamuku.

“tunggu di sini Ri Ran-shii, aku ke kamar dulu mengambil buku harianmu”

“ne…”

Yeoja ini sangat baik dan ramah, dia bahkan tidak curiga sama sekali padaku bahwa aku sudah membaca buku hariannya. Ini memang bukan pelanggaran berat, tapi aku tahu, buku harian itu benda yang sangat pribadi, sangat sensitif dan tidak seharusnya diketahui isinya oleh orang lain. Maaf Shin Ri Ran, ini karena aku sangat penasaran padamu.

Aku kembali dari kamarku, menyerahkan buku harian itu pada pemiliknya. Bisa kulihat Ri Ran begitu lega setelah menerima benda berharga itu.

“gomawoyo Se Hun-shii…” ia memperhatikan buku hariannya itu dengan seksama, membolak baliknya dan membuka beberapa halaman.

“ng… maaf, aku membaca halaman pertamanya. Untuk mencari identitasmu, beruntung ada nomor ponselmu di sana”

“gwenchana, gwenchana. Kau sudah sangat banyak menolongku”

“itu… sudah kewajibanku”

Yeoja itu kembali tersenyum “kalau begitu, aku permisi dulu Se Hun-shii, maaf sudah menganggumu pagi-pagi sekali. Kemarin itu aku panik sekali, tapi setelah tahu bahwa benda ini tidak jatuh di tangan orang aneh, Aku begitu antusias dan segera kesini”

Aku tertawa kecil “santai sajalah. Ah, apa kau buru-buru?”

“tidak juga, aku hanya tidak ingin menganggu waktu istirahatmu”

“aku sudah kelebihan waktu untuk beristirahat. Aku sangat bosan melakukan hal itu terus. Hyung ku terlalu sibuk bekerja, jadi tidak punya waktu untuk menemaniku”

Ri Ran terdiam sambil menatapku.

“ah, tapi kalau kau sibuk, tidak apa-apa. Aku hanya sekedar iseng”

“baiklah, akan kutemani mengobrol”

Aku mengerjapkan mata. Sungguh pribadi yang hangat.

“bulan depan mungkin aku sudah bisa kembali ke sekolah, tapi itu lagi. Aktivitas tetap dibatasi”tuturku saat kami memilih mengobrol di balkon samping apartementku.

“aku tahu rasanya. Aku juga sedang dalam masa pemulihan. Tapi sedikit lebih beruntung darimu, minggu depan aku sudah bisa kembali ke sekolah”

“pemulihan?” aku sok bertanya, pura-pura tidak tahu

Yeoja itu tersenyum “tidak semengerikan kakimu sih. Tapi aku juga sempat mengalami patah tulang di pergelangan tangan kananku dan 3 ruas jariku” ia memperlihatkan tangan kanannya padaku.

“kalau kuperhatikan, kelihatannya tidak apa-apa”

Yeoja itu tersenyum lagi “ne… secara kasat mata memang begitu” ia mengangkat tangannya, melebarkan jari-jarinya, tapi di saat bersamaan ia mengeluh kesakitan.

Aku langsung panik”gwenchanayo?”kuraih tangannya dan memeriksanya.

“ne gwenchana… memang selalu begini saat aku berusaha menggerakkan jariku”

“awalnya… bagaimana?”

“ne?”

“kenapa tanganmu bisa seperti ini?”

Dia menghela nafas panjang “kecelakaan lalu lintas. Aku tidak ingin mengingatnya”

Ah benar juga, dia pasti trauma. Terlihat dari buku hariannya yang kosong beberapa lembar dan penuh coretan cakar ayam beberapa lembar.

“kau sendiri?” yeoja itu balik bertanya padaku.

“kakiku? Sama, kecelakaan lalu lintas. Sore itu sepulang latihan basket. Mungkin karena kelelahan, makanya aku tidak fokus menyetir. Kecelakaan itu terjadi begitu saja, aku tidak begitu ingat, aku hanya terkaget saat itu menghindari pejalan kaki di depanku dan… aku sedikit lupa, karena saat aku sadar, aku sudah terbaring di rumah sakit dengan keadaan kakiku sudah seperti ini”

Ri Ran menyentuh pundakku, sepertinya berniat menenangkanku. “aku mengerti bagaimana rasanya. Kau pasti sangat shock saat tahu bahwa kau tidak bisa bermain basket lagi”

Aku tersenyum “sebenarnya tidak sepenuhnya begitu. Dokter bilang aku masih bisa kembali bermain basket kalau aku sudah benar-benar pulih. Hanya saja, aku butuh masa pemulihan selama setahun”

“oh, kalau begitu… kau sedikit lebih beruntung dariku”

Aku mengerukan kening “maksudmu?”

“aku sudah divonis dokter untuk tidak bisa lagi memainkan piano seperti dulu lagi”

Aku menelan ludah, ini sudah bisa kuprediksikan, berlandaskan catatan hariannya, tapi kalau yang dia maksud dengan cacat permanen, aku sungguh tidak menyangkanya. “Ri Ran-shii…”

“ah tidak apa-apa” Ri Ran mengalihkan pandangannya membelakangiku, yang aku tahu betul, ia menyeka air matanya di sana, tanpa membiarkanku melihatnya.

Aku tidak tahu dari mana keberanianku ini berasal. Aku mengulurkan tanganku, membalikkan tubuhnya dan perlahan membenamkannya di pelukanku. Kupikir dia akan menolak, tapi tidak. Yang ada, dia malah menangis di pelukanku sedikit lebih keras. “Ri Ran-shii… bersabarlah”

“dokter tidak tahu… dia tidak tahu, betapa pentingnya bermain piano dalam kehidupanku”tuturnya di sela tangis.

“Ri Ran-shii…”

“piano adalah mimpiku, cita-citaku, masa depanku, hartaku yang paling berharga, tapi semuanya lenyap tak bersisa setelah kecelakaan itu”

Aku semakin mempererat pelukanku. Kurasa inilah kalimat yang tidak sempat ia tuliskan di buku harian itu, tapi ia curahkan padaku.

“dokter tidak tahu sesakit apa aku saat tidak bisa menghadiri seleksi terakhir itu… kesempatan yang sudah berada tepat di depan mata… lenyap karena kecelakaan itu… musnah…”

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Benar. Seperti catatan hariannya sebelum ia berhenti menulis, adalah sehari sebelum final stage itu. Itu artinya, dia mengalami kecelakan tepat di hari penting itu. Ironis!

Ri Ran sudah tidak bersuara lagi. Hanya menangis dan sesekali mengangguk, aku membiarkan ia melakukannya dalam pelukanku.

~~~@

Aku menyuguhkan sekaleng softdrink dingin pada Ri Ran. Selain karena itu praktis, kurasa itu bisa sedikit menenangkannya “sudah agak baikan?”tanyaku, masih dengan terpincang berjalan dan duduk di sebelahnya.

Ia menunduk dalam “mianhae…”

“kenapa kau minta maaf?”

“aku… ah entah apa yang terjadi padaku, aku justru mengeluhkan semuanya padamu”

“gwenchana. Alamiah, kau mungkin menemukan tempat yang cocok untuk mencurahkan isi hatimu, berhubung kita memiliki nasib yang sama”

Ia mengangguk “gomawoyo, kau sudah mendengarkanku”

Aku mengusap tengkukku, merasa tidak enak “ah bukan masalah besar”

Ri Ran meneguk sedikit soft drinknya, dan itu cukup membuatku gugup melihatnya. ah, sayang sekali, yeoja ini sudah punya kekasih. “Se Hun-shii”

Aku terkaget “ne?”

“kau hanya tinggal dengan hyung mu?”

“benar”

“kemana orang tuamu?”

“eomma sudah meninggal. Appa menikah lagi dan itu membuat hyung marah dan membawaku pergi bersamanya”

Ri Ran menyentuh pundakku dan mengelusnya “aku… bisa memahaminya, aku juga sudah kehilangan eommaku”

Aku tanpa sadar mengangguk “ne, aku tahu”

“ng? Dari mana kau tahu?”

Aku terkejut “ah, maksudku. Aku tahu kalau kau bisa memahamiku. Karena kita memiliki nasib yang sama. Sama-sama mengalami kecelakaan dan menghambat mimpi kita”

Ri Ran mengangguk pelan “kau benar” ia kemudian melirik arlojinya “sudah pukul 1, sepertinya aku harus segera pulang”

Sedikit rasa kecewa menghampiriku “kenapa buru-buru?”

Ri Ran tersenyum tipis “Dee Dee belum makan. Kalau terlambat sedikit saja, rumah akan kacau”

Aku terhenyak. “kau… tinggal serumah dengan Dee Dee?”

Ia mengerutkan kening, seolah ingin mengatakan lalu kenapa? “benar…sejak appa pindah ke Jepang, Dee Dee yang menemaniku di rumah”

GLUP

Ia tinggal dengan namjachingunya? “appamu tahu kau tinggal dengan Dee Dee?”

Keningnya semakin berkerut “tentu saja, karena appa yang mempertemukanku dengan Dee Dee”

Kepalaku pusing, apakah ada seorang ayah yang rela membiarkan putrinya tinggal serumah dengan namja yang bukan kerabatnya?? “kau… pasti sangat mencintainya…”

“siapa?”

“namjachingumu”ucapku lemah

“namjachingu? Ein? Aku tidak punya kekasih”

Aku terkejut lagi “lalu Dee Dee?”

“kenapa dengan kucing peliharaanku itu?”

Aku semakin membelalak “jadi Dee Dee itu seekor kucing? Bukan seorang namja?”

Dan untuk pertama kalinya aku melihat yeoja ini tertawa geli “kucing Angora bisa berubah menjadi seorang namja? Kau lucu sekali Se Hun-shii”

“aku jelas berpikir begitu, karena setiap kau membahas Dee Dee di buku harianmu, kau… omo…”gawat, aku kelepasan bicara. Ri Ran pasti akan mengataiku namja tak bertanggung jawab. “Ri Ran-shii… mianhae, aku sudah membacanya”

Anehnya Ri Ran malah tersenyum “gwenchana, aku sudah tahu”

“hm?”

“aku tahu dari tatapanmu. Tatapan iba itu, beda dari tatapan kemarin. Makanya aku tahu bahwa kau sudah membaca buku harianku dan tahu sedikit tentangku”

Aku semakin merasa bersalah “mianhae”

“gwenchana, lagipula aku juga sudah menjadikanmu buku harianku, aku sudah mengutarakan semua keluh kesahku yang tidak sempat kutuang dalam buku itu. Anggap saja, kaulah lembaran kosong itu”

“Ri Ran-shii…”

“sudah yah, aku pulang dulu, senang mengenalmu”

“chakkaman”aku langsung menangkap tangannya begiu ia hendak beranjak.

“ne?”

“ini… bukan pertemuan terakhir kan?”

“maksudmu?”

Aku menelan ludah “karena keterbatasan ini, aku tidak bisa kemana-mana. Jadi, selama gipsku belum dibuka… ng, bisakah kau yang datang mengunjungiku? Aku berjanji saat aku sudah bisa kembali berjalan, aku yang akan mengunjungimu”

Ia tersenyum, sangat manis “besok jam 4 sore. Annyeong!” kemudian ia pergi.

Kurasa Ri Ran tidak suka dengan basa-basi. Dan aku suka itu.

~~@~

Beberapa minggu berlalu. Ri Ran menepati janjinya. Setiap pukul 4 sore, aku akan mendengar suara bel bersahutan pelan, dan saat kubuka pintu depan, yang datang pasti adalah Ri Ran yang membawa makanan, kue dan sejenisnya. Dan akan mengobrol ringan denganku tentang apa yang ia alami seharian, apa yang terjadi di sekolah, dan sebagainya.

“kalau saja tangan kananku tidak seperti ini,aku pasti bisa membuat kue yang lebih enak lagi”

Aku tersedak saat ia mengatakan itu. walau ia terlihat santai, tapi aku tahu kalimat tadi cukup sensitif “kau sudah check up pekan ini?”

Ia menghela nafas “aku bosan. Dokter juga pasti sudah bosan melihatku. Dan lagi, biaya check up nya mahal, aku tidak ingin menambah beban Appa”

“kau… masih belum memberitahunya?”

Ia menggeleng “aku takut”

“Ri Ran-shii, ini sedikit kejam. Appa mu bekerja mati-matian di sana mengirimkanmu uang dengan harapan kau bisa menggunakannya untuk mencapai mimpimu”

“kukatakan padanya kalau aku gagal di seleksi akhir”

“tapi tetap saja, appamu harus tahu bahwa kau… sudah tidak bisa bermain piano lagi”

Ri Ran menatapku “aku tidak mau dia sedih”

“Ri Ran-shii… pikirkanlah, semakin lama kau merahasiakan ini, maka akan semakin besar harapan appamu akan kesuksesanmu. Dan suatu saat nanti, saat kau memberitahukan kenyataan ini maka pukulan yang akan diterima appamu akan jauh lebih besar”tuturku bijak. Atau lebih tepatnya sok bijak. Tapi aku tulus.

Ri Ran awalnya terdiam, kupikir dia mempertimbangkan ucapanku “arasso, nanti akan kupikirkan cara yang tepat untuk menyampaikannya”

Barulah aku bernafas lega.

“sudah hampir petang, aku pulang dulu” Ri Ran mulai berkemas, dan membersihkan piring dan gelas yang kami gunakan tadi di meja makan.

PRAAANNGGG!!!

Itu dalam hitungan detik, dan tanpa bisa kuduga. Padahal tadi kulihat Ri Ran sudah memegang piring dan gelas itu cukup kuat. Dan saat kulihat ia meringis kesakitan sambil memegangi tangan kanannya, aku tahu penyebabnya kenapa ia menjatuhkan benda-benda itu.

“gwenchanayo?”serbuku panik.

Wajahnya merah padam menahan sakit “gwenchana, ini memang sering terjadi tiba-tiba”ia berdecak memandangi lantai dapur apartementku kotor dipenuhi pecahan kaca “maaf mengacaukan dapurmu”

“abaikan itu, yang terpenting adalah tanganmu”aku mengusap punggung tangan kanannya perlahan, dengan serius dan sebisa mungkin berusaha agar rasa sakit yang dialami Ri Ran berkurang. Aku bahkan meniup-niup nya, dengan harapan itu bisa sedikit memberikan rasa sejuk di tangannya.

Sediki aneh, amosfer yang kurasakan disekitarku berubah. Hening, dan yang terdengar hanya hembusan nafas Ri Ran yang tanpa kusadari jarak antara kami hanya terukur beberapa sentimeter. Saat aku beralih menatap wajahnya…

DUG!

Pandangan kami bertemu. Dan seperti orang bodoh, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan untuk sekedar melepaskan genggamanku di tangan Ri Ran pun tak bisa.

Naluriku menuntunku untuk melakukan sesuatu, yaitu menunduk perlahan, mendekati wajah Ri Ran yang mendongak menatapku dengan sangat hati-hati seolah takut dunia akan kiamat kalau aku terburu-buru.

Sampai ketika aku menggapai bibirnya kurasakan genggamannya di tanganku semakin menguat. Mungkin terkejut, atau tidak menyangka bahwa aku menciumnya seperti ini.

Pelan, lembut, dan sangat hati-hati aku mengulum bibir tipisnya. Ini sangat…

“aku harus pulang”ucapnya cepat ketika ia lebih dulu melepaskan tautan bibir kami.

“ah ne…”aku kikuk, canggung “kuantar sampai depan”

Ia pun mengangguk kikuk, tak berani menatapku lagi. Apa dia marah karena aku telah menciumnya?

“Ri Ran-shii…”

“ne?…”

“ng… itu”

“aku tidak marah, kau tidak melihatnya? Aku malu”

“maafkan aku…”

“untuk apa?”

“karena membuatmu malu dengan menciummu tanpa permisi”

“ng… gwenchana, sudah kubilang aku tidak marah. Hanya malu”

Dengan sedikit polos kukeluarkan kalimat ini “lain kali, aku akan meminta izin dulu sebelum menciummu”

“jangan… itu akan membuatku lebih malu lagi”

“maksudmu?”

“aku mana punya keberanian untuk mengangguk dan mengatakan iya, itu lebih memalukan”

Aku tersenyum riang “itu artinya kau mengizinkanku menciummu kapanpun?”

Wajahnya merona “sudah kubilang jangan bertanya, aku malu untuk mengatakan iya”

Aku baru saja hendak memeluk Ri Ran saking senangnya aku mendengar kalimat itu, tapi hyungku sudah pulang .Tumben sekali ia pulang cepat.

“Se Hun-ah… hyung pulang”serunya dari depan.

“aku di dapur, hyung”Aku menatap Ri Ran “itu hyungku, sekalian saja kukenalkan kau padanya”

Ia mengangguk “ne”

“Se Hun-ah, aku bawa banyak makanan untuk___” ucapan hyung terpotong saat ia masuk ke dapur dan menemukan kami.

Gawat, hyung pasti marah melihat dapur berantakan.

Tapi ada yang mengejutkanku. Hyung sama sekali tidak menatap lantai dapur, tapi ia menatap Ri Ran dengan sangat tercengang. Dan lebih mengejutkan lagi, Ri Ran menatap hyung dengan tatapan yang sama.

“kau…” seru mereka bersamaan.  Dan aku semakin panik saat tiba-tiba Ri Ran mengeluarkan air mata. Tunggu, aku punya firasat buruk tentang ini. Apa mungkin dua orang ini punya keterikatan pribadi?

Mereka masih bertatapan kaget, seolah ingin memastikan siapa yang tengah ditatap…

Dan begitu Ri Ran menoleh padaku, menatapku lurus. Air matanya mulai membanjir “Se Hun-shii…”lirihnya tertahan.

“a… ada apa denganmu?”

“kau… kau…”

“aku kenapa?”

“agashi, ini bisa kita bicarakan lagi”kata-kata hyung juga aneh

Tapi Ri Ran terus menatapku, kali ini berubah tajam, sekali lagi menatap hyung kemudian kembali padaku dengan air mata berlinangan “aku pernah membayangkan, bertemu, bertatapan muka, melihat orang itu dengan mata kepalaku sendiri, dan berpikir keras mengenai apa yang kulakukan kalau aku betul-betul bertemu dengannya. Marah? Murka? Mengamuk?… ternyata tidak… jauh lebih buruk… karena yang bisa kulakukan hanyalah menangis”

“Ri… Ri Ran-shii… a… ada apa ini?”

Ri Ran memejamkan mata, seolah ada luka di sana yang tidak ingin ia tunjukkan padaku.”kenapa orang itu harus kau?”

Aku merengkuh kedua pundaknya “kumohon jangan seperti ini, jelaskan padaku apa yang terjadi sebenarnya, kenapa kau…”

Ri Ran menepis tanganku “kurasa kakakmu bisa menjelaskan semuanya. Selamat tinggal Oh Se Hun-shii”

“chakkaman… Ri Ran-shii… aku tidak mengerti… Ri Ran-shii…”

Sekali lagi keterbatasanku membuatku tidak bisa apa-apa, masih dalam keadaan bingung aku hanya pasrah melihat Ri Ran berlari meninggalkan apartementku. Dan yang lebih membuatku bingung adalah sikap hyung…

Ia tertunduk dalam dengan menghela nafas berkali-kali, dan saat ia menoleh padaku “yeoja tadi bukan kekasihmu kan? Kau tidak mencintainya kan?”

“hy…hyung? ada apa ini?”

Hyung memejamkan matanya “Se Hun-ah… bersabarlah”

~***~

kukatakan ini hanya satu kali, Se Hun-ah. Kau ingat kecelakaan beberapa bulan lalu? Selain dirimu, ada korban lain dalam kecelakaan itu, seorang pejalan kaki yang hendak melintas menuju gedung pertunjukan di seberang jalan. Kau memang tidak menabraknya, tapi sambaran mobilmu menyebabkan pejalan kaki itu terhempas ke tengah jalan dan tangannya terlindas pengendara sepeda motor yang melaju dengan kecepatan tinggi saat itu. Se Hun-ah, pejalan kaki yang kumaksud adalah… yeoja tadi 

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Leherku tercekat dan…

saat aku mengunjunginya di ruang perawatannya, sementara kau masih belum sadar saat itu. aku berniat memberikan ganti rugi dan apapun sebagai bentuk tanggung jawab atas kecelakaan yang disebabkan olehmu. Adikku sendiri. Tapi saat kukatakan itu di depannya, yeoja itu mengusirku, berteriak histeris dan… tidak ingin melihatku, lebih-lebih… kau. Jadi itulah alasan kenapa aku tidak menceritakan secara detail mengenai perisitiwa yang menimpamu itu

Kata-kata hyung terus berputar diotakku, seperti suara-suara dengan gema yang membuatku semakin terpuruk.

Seharusnya ini bisa kuperkirakan dari awal. Buku hariannya, tulisan terakhirnya sebelum kecelakaan itu menimpanya, hari di mana ia mengalami kecelakaan adalah hari yang sama di mana aku juga mengalami hal itu. ini di luar dugaanku, bukan hanya hari yang sama tapi ternyata… kami memang mengalami tragedi kecelakaan yang sama.

Kecelakaan itu… akulah yang menyebabkannya, menyambar tubuh Ri Ran dan membuatnya terhempas ke tengah jalan hingga tangannya terlindas…. akulah yang menyebabkan tangannya cacat, akulah… orang yang membuatnya tidak bisa lagi memainkan piano…Aku… yang telah mengubur mimpi Ri Ran untuk menjadi pianist… akulah orang itu… aku…

Lembaran kosong itu… ternyata benar akulah lembaran kosong di buku harian Ri Ran. Lembaran kosong itu seharusnya terisi tentang cerita Ri Ran mengenai keberhasilannya memenangkan kontes piano itu. tapi karena aku… karena kecerobohanku saat menyetir, aku menghapus cerita itu dan membiarkan halamannya kosong.

Aku…. adalah lembaran kosong itu.

END…

Bwakakakakakakakakak juskid

Se Hun POV

Aku memencet bel pintu rumah minimalis itu berkali-kali tapi tetap tak ada sahutan. Sampai ketika seorang ahjumma yang terlihat sedang menyiram tanaman di sebelah rumah ini menegurku.

“mencari Ri Ran?”

Aku membungkuk sejenak memberi salam dan hormat “ne Ahjumoni, apa Ri Ran sedang tidak di rumah?”

“kau tidak tahu? Ayahnya menjemput Ri Ran kemarin sore dan membawanya ke Jepang. Mungkin akan tinggal di sana karena rumah itu sudah dijual”

“m..mwo???”

“Anak itu benar-benar malang. Dia bertahan di Seoul hanya karena ia ingin melanjutkan sekolah dan kursus pianonya di sini, tapi sejak kecelakaan itu…”

Tidak lagi… tidak lagi, aku tidak ingin mendengarnya… aku… tidak bisa mendengarnya.

Apa ini hukuman? Apa ini ganjaran karena aku telah menyepelekan cinta? Kalau itu benar… maka kurasa Tuhan telah menghukumku dengan sangat berat. Saat aku sudah mulai merasakan hal itu, menemukan seseorang yang membuat hatiku tergerak… dalam sekejap aku langsung kehilangannya. Tidak tanggung-tanggung, aku sendirilah penyebab utamanya.

~***~

Setahun lebih berlalu, harus kulewati seperti ini. Hampa, dan penuh rasa bersalah. Aku pernah mencoba untuk mengenyahkan nama Ri Ran dari benakku tapi hasilnya…. nihil. Sia-sia. Yang ada aku hanya menyakiti beberapa yeoja yang kujadikan tempat pelarianku. Sampai pada akhirnya aku jengah dan tidak bisa menolong diriku lagi.

Basket? Ya, aku sudah bisa bermain basket. Tapi entah kenapa saat menatap ring basket aku merasakan beban yang sangat berat. Mana mungkin aku berani menatap mimpiku setelah aku sukses mengubur mimpi orang lain?

Mimpi seorang yeoja yang terakhir kusadari bahwa aku… sangat mencintainya.

Naasnya… Aku menyadari itu setelah aku kehilangan dirinya. Sekarang, aku tidak akan bertanya lagi tentang rumitnya cinta. Tidak akan memusingkan masalah cinta segitiga antara Baek Hyun, Eun Yoo, dan Kai. Aku tidak akan bertanya kenapa Eun Yoo lebih memilih Kai (yang terakhir kutahu bahwa Eun Yoo melakukan itu agar Baek Hyun kembali bisa bermain basket), aku tidak akan bertanya kenapa Kai berusaha merebut Eun Yoo dari tangan Baek Hyun menggunakan cara licik, dan tentu saja aku tidak akan menanyakan kenapa Baek Hyun menyerah dan melepaskan Eun Yoo, pindah ke Jepang bahkan melupakan mimpinya menjadi atlit basket. Semuanya hanya satu alasan. CINTA!

Dan sekarang aku semakin mengerti, apa itu cinta!

Aku duduk di pojok ruangan ball room hotel yang disewa keluarga Kai dan Eun Yoo untuk pesta pertunangan mereka. Kepalaku penat dengan keramaian ini, kalau bukan karena aku sangat menghormati Chan Yeol hyung, tentu saja aku tidak akan datang ke tempat ini.

“Se Hun-ah, ayo ke sana, mereka akan memulai prosesi tukar cincin” ajak Su Ho hyung.

“aku di sini saja hyung, bisa kan?”tolakku

“ayolah, Chan Yeol mencarimu”

Aku menghela nafas, “arasso, duluanlah, aku mau ambil minum dulu”

“jangan lama-lama”

“ne”

Aku melangkah gontai menuju meja yang telah di atasnya disusun sedemikian rupa gelas berisi minuman warna-warni yang sebenarnya aku tidak peduli rasanya. Aku hanya ingin membasahi tenggorokanku.

SREETTT…

DUGH

“aduh…”

“ah mianhae-mianhae… aku tidak melihat anda” aku panik begitu tanpa sengaja tadi aku menoleh, aku menabrak seseorang

“ah tidak apa-ap___…”

Aku membelalak. Ia pun demikian “Ri… Ri Ran-shii???”pekikku tak percaya.

Bisa kulihat ia terperangah, kemudian dengan sedikit terburu-buru ia meninggalkanku.

Ri Ran POV

Apa-apaan ini, kenapa aku bisa bertemu orang ini di sini? ah sial… seharusnya sudah bisa kuperkirakan bahwa dia bisa berada di sini berhubung dia adalah alumni sekolah SMU yang sama dengan Chan Yeol sajang-nim, atasan ayahku sekarang. Ne. appa menerima tawaran kerja yang lebih menjanjikan di Korea. Dan kami kembali ke Korea sebulan yang lalu.

Seharusnya aku mati-matian menolak saat appa memintaku menggantikannya menghadiri acara pertunangan adik dari Chan Yeol sajang-nim. Lihatlah apa yang menimpaku sekarang, aku bertemu dengan orang ini lagi. Dan lihat kedua kakinya sudah bisa berdiri dengan tegak sempurna.

“maaf, anda salah orang” elakku kemudian bergegas meninggalkan tempat itu. Aku harus buru-buru menemui Chan Yeol sajang-nim, menyampaikan salam appa sekaligus permintaan maafnya atas ketidak hadirannya saat ini, mengucapkan selamat pada adik Chan Yeol sajang-nim, dan pulang secepatnya.

“chakkaman… tolong dengarkan aku”

Aku mengabaikannya, dan bisa kulihat dia terus mengejarku di tengah kerumunan orang yang berusaha kuterobos ini.

BATSSSS

Suasana tiba-tiba gelap gulita. Ah… sial, aku benci kegelapan. “aduh… aduh” aku mengeluh beberapa kali setiap ada yang menyenggolku, menginjak kakiku dan apa saja karena aku memang berada di tengah kerumunan orang. Sepertinya Tuhan memang benar-benar membenciku. Setelah mempertemukanku kembali dengan orang itu, kini aku dihadapkan pada posisi sesulit ini. Bisa kudengar orang-orang panik dan kacau.

“ha? Yeojanya di culik?”

Aku bisa mendengar suara itu. Oh tidak, apalagi ini, ada teroris di dalam sini?

Dan ketakutanku semakin memuncak saat aku merasakan seseorang berada di belakangku, meraih pinggangku dari belakang dan membisikkanku sesuatu “ikut aku”

Dan aku tidak diberi kesempatan protes karena aku sudah ditarik olehnya untuk keluar dari kerumunan ini.

~~

“lepaskan aku” aku menghentikan langkahku begitu ia sudah membawaku ke basement. Aku juga menyentak tanganku agar genggamannya terlepas.

“Ri Ran-shii… dengarkan aku”

“aku tidak mau mendengar apa-apa, aku ke sini bukan untuk bertemu denganmu, jadi jangan menyia-nyiakan waktuku” aku mulai beranjak

“Ri Ran-shii… aku mencintaimu” ucapnya sambil menangkap pergelangan tanganku.

DEG…

Aku tidak menoleh, hanya mematung sejenak “berhenti mengatakan hal konyol, dan lepaskan tanganku”

“aku tidak mengatakan hal konyol. Aku sudah menyimpan kalimat ini selama satu tahun lebih dan berjanji akan langsung mengatakannya padamu saat kita bertemu”

Ia mengatakannya dengan lirih, tidak ada kebohongan dari nada suaranya. Tapi tetap saja, kenyataan bahwa namja ini adalah orang yang telah membuatku harus mengubur mimpku sebagai seorang pianist tetap tak bisa terelakkan.

Sial… kenapa aku harus menangis lagi? Kenapa di saat seperti ini aku harus menangis. Padahal sudah kuteguhkan hatiku untuk tidak terlihat lemah di hadapan siapapun, terutama namja ini.

“Ri Ran-shii…”

Aku mendengus “tampaknya kau sudah sukses menjadi atlit basket seperti mimpimu itu”

“aku sudah berhenti dari dunia itu” lirihnya.

Lalu kenapa? Dia pikir aku akan turut berduka?

“aku tidak punya keberanian meraih mimpiku sendiri sementara aku telah menghancurkan mimpi orang lain”

Leherku tercekat. Nada penyesalan itu!

“mianhae… jeongmal mianhae….”

Kata-kata yang kuhindari itu akhirnya terdengar juga dari mulutnya. Aku memejamkan mata rapat-rapat.

“setelah tahu bahwa akulah yang membuatmu seperti itu… aku betul-betul hancur Ri Ran-shii. Awalnya aku berharap, aku bisa menjadi orang yang terus berada di sisimu, membantumu membangun kembali mimpimu dan terus membuatmu tersenyum. Tapi kenyataan menamparku telak-telak… bukannya membantumu membangun kembali mimpimu, justru akulah yang telah menghancurkan mimpimu. Bukannya membuatmu tersenyum, justru aku yang melenyapkan senyuman di wajahmu dan menggantinya dengan air mata. Aku pantas di hukum. Dan kau tahu, aku telah mendapatkan hukuman yang paling setimpal” Se Hun berhenti sejenak, menyentuh lenganku dan memutar tubuhku hingga aku berhadapan dengannya “kehilangan orang yang membuatku jatuh cinta, tanpa sempat memberitahunya bahwa aku… sangat mencintainya”

Hentikan tangismu shin Ri Ran… berhentilah menangis… jangan tunjukkan hatimu di hadapan namja ini…

“Ri Ran-shii… saat kecelakan itu menimpaku, hal yang paling kusesali adalah, tidak bisa bermain basket selama setahun penuh” ia masih mencoba menatapku sementara aku terus mengalihkan pandanganku “tapi terakhir, ada hal yang lebih membuatku menyesal” ia menangkupkan kedua tangannya di wajahku, seolah memaksaku menatap matanya “kenapa Tuhan menentukan pertemuan kita dengan cara seperti itu?”

Aku mengatupkan bibirku rapat-rapat. Mencoba agar tangisku tidak pecah, walau air mataku sudah membanjir, aku tetap tidak boleh terisak di hadapannya.

“Ri Ran-shii, maukah kau memaafkanku atas kesalahan yang tidak kusengaja ini? andai aku bisa memilih saat itu. aku lebih baik mati dalam kecelakaan itu dari pada membuat mu kehilangan kemampuanmu memainkan piano”

Bibirku semakin bergetar, memaksaku untuk berteriak histeris. Aku tidak membenci namja ini. Yang kubenci adalah diriku. Aku takut bertemu dengan namja ini, aku takut dengan keadaan yang tengah kuhadapi saat ini. Benar… aku takut, karena cinta yang kumiliki padanya, membuatku luluh dan memaafkan orang yang menghancurkan mimpiku.

“aku membencimu… aku membencimu… aku membencimu” pertahananku jebol. Tangisku akhirnya pecah juga di sana. Aku terisak.

“Ri Ran-shii…”

“aku membencimu… karena kau membuatku jatuh cinta pada orang yang mencelakaiku, aku membencimu karena aku___”

Ucapanku terpotong. Se Hun… menciumku tepat di bibir. Namja ini menciumku sementara aku terus menangis. Aku benci ini… aku benci…

Aku benci karena aku… tidak bisa berbuat apa-apa untuk melepaskan ciuman ini.

“mianhaeyo…”ucapnya setelah lebih dulu melepaskan ciuman itu. “jeball…”

Aku tidak tahu harus berbuat apa. Hanya bisa menangis seperti itu. Inilah yang kutakutkan… cintaku pada namja ini menghapus semuanya… inilah yang kutakutkan. Sampai ketika Se Hun menarikku ke pelukannya maka jelaslah sudah, bahwa sebenarnya aku tidak sepenuhnya menyalahkan namja ini.

~~###~~

Mobil Se Hun berhenti tepat di depan rumahku. Ia mengantarku pulang setelah acara pertunangan adik dari Chan Yeol sajang-nim berakhir kacau. Kudengar dia diculik oleh seseorang, untuk itulah Se Hun buru-buru mengantarku pulang setelah pembicaraan kami selesai. Atau lebih tepatnya, sudah tidak ada lagi yang bisa kami bicarakan.

“kau masih tinggal di sini?” tanya Se Hun mencairkan suasana

“ne” jawabku singkat. Walau tangisku telah berhenti, suasana hatiku masih kacau.

“bagaimana kabar Dee Dee?”

“Dee Dee sudah meninggal beberapa bulan yang lalu”

“ah maafkan aku”

“bukan salahmu, kenapa kau terus meminta maaf?”

Ia tertunduk dalam “aku…”

Aku memberanikan diri menoleh padanya “kecelakaan itu, bukan sepenuhnya kesalahanmu, kecelakaan itu jelas murni tanpa kesengajaan. Siapa yang mau dengan bodohnya menabrakkan mobilnya?” entah dari masa kalimat sok diplomatis ini. Seharusnya kalimat ini sudah ada di kepalaku sejak lama hingga tidak membuatku tersiksa selama setahun lebih. Kalimat ini muncul begitu aku melihat wajah polos namja ini.

“Ri Ran-shii…”

“aku marah Se Hun-shii, aku marah. Tapi aku tidak tahu harus marah kepada siapa?”

Se Hun menatapku “marah saja padaku, kalau itu bisa membuatmu tenang, maka limpahkan saja kemarahan mu itu padaku”

Aku balas menatapnya “apa satu tahun lebih ini belum cukup untukmu? Belum membuatmu kapok?”

“ne?”

Aku menghela nafas “aku sudah marah padamu selama ini, apa kau mau menambah beberapa tahun lagi?”

“andwae… aku tidak ingin kau marah seperti itu”

“kalau begitu, berhentilah mengoceh. Keadaan tidak akan kembali, sudah terlanjur seperti ini” kutatap nanar tangan kananku yang masih kaku kugerakkan.

“Ri Ran-shii… kalau ada yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku… kumohon katakanlah”

Namja ini… bagaimana aku bisa marah padanya? Dia terlalu mengkhawatirkanku. “ada…”

“apa itu?” ia terlihat antusias

Dengan satu hembusan nafas panjang, maka menguaplah rasa sesal yang ada dalam hatiku. Aku sudah ikhlas dengan semuanya “kembalilah bermain basket”

“m…mwo?”

“setidaknya di antara kita, masih ada satu orang yang melanjutkan mimpinya”

“tapi…”

“sudah kubilang, jangan membenani pikiranmu. Ini bukan kesalahanmu, bukan kesalahan pengendara motor itu. Mungkin ini sebuah pertanda kalau aku harus mengganti mimpiku”

“Ri Ran-shii”

Aku berpikir sejenak “aku menemukannya… aku menemukan mimpi baruku”

“apa itu?”

Aku mengembangkan senyuman ikhlasku “melihatmu menjadi atlit basket profesional”

Ia membelalakkan matanya.

“tidak usah setakjub itu, ini tidak buruk, tidak mempertaruhkan apapun, hanya menyaksikanmu___”

Untuk kedua kalinya Se Hun menciumku dengan cara seperti ini. Dan kali ini, aku tidak hanya tinggal diam dan membiarkan air mataku menganggu ciuman ini. Aku tersenyum kemudian tanpa sungkan lagi kubalas ciuman Se Hun.

“aku mencintaimu…”lirihnya persis di depanku

“aku tahu”

“ck, bukan begitu… katakan kalau kau juga mencintaiku”

Aku kembali tersenyum “akan kupikirkan lagi”

“Ri Ran-shii…”

“Ri Ran-shii???”aku mengangkat alis

Ia mengerti sambil tersenyum “chagi-ah…”

Aku tertawa kecil “kekanak-kanakan sekali. Dan lagi, kenapa kau selalu saja menciumku seperti ini?”

“bukankah kau yang bilang sendiri, tidak perlu meminta izinmu kalau aku ingin menciummu”

“kapan aku bilang begitu?”

“saat aku pertama kali menciummu”

“aku sudah lupa…”

“baiklah, akan kubuat kau ingat”

“Se Hummmpphhhh”

Terlambat, dia sudah kembali membungkamku dengan ciumannya.

Jika itu adalah cinta… maka tidak akan ada yang mustahil di dunia ini.

-END-

25 thoughts on “[FF] BLANK SHEET [ONESHOT]

  1. *tengak tengok* ehem ehem…
    Sehun lelaki sejati bertanggung jawab senasib sepenaggungan…loch??#abaikan
    Kaget thor nakutin pake END lg asyik bcanx…

  2. wahhh aku pikir Sad-Ending ehhhhhhhhhhhhh

    Happy end kekeeee….

    Sehun ternyata dalang kecelakaan Ri Ran… untung Ri Ran pengertian dan mau maafin juga nerima Sehun lagi …

    suka Thorr……

  3. duh thor dikira beneran edn pas ditengah2–” *jitak*
    keyen2 atuh hampil nangis maza/.\
    coba dibikin twoshoot, makin makin deh(?)

  4. kiakkkk…. akhir’y baca ff straight lgi stelah berbulan-bulan baca yaoi sking cinta’y sma ff yaoi #gapenting -__-!
    sumpah miapa ini kerennn… !! aiihh… author pinter bgt sih bikin ff,,bner” nancepp #apaan?
    wahh.. pling sneng nih klo cast’y Sehun,,ccok lgi jdi anak basket #bayanginSehunmaenbasket😀
    kasian si Ra Rin gk bsa nggapai mimpi’y,,tp ya gpp lah klo si Sehun bsa nggapai mimpi’y. dri pada gk ada sma sekali ya thor..
    sudah lah,,pkok’y ff mu daebak thor ^^

  5. kerennn ini eon..

    wah ga nyangka itu menyangkut satu sama lain kecelakaannya.
    dan sebenernya yang aku bingung
    kan sehun naek mobil trus kakinya koq bisa kena..
    aku kira dia naek motor eon..

    brarti klo naek mobil harusnya kepalanya dong kena setir.. *hihiii
    udahlahh..

    yang jelas sehunnya mantep disini dia bener2 nunjukin cintanyaa..
    ouuhh…
    mauuuu..

    ni aku lewat pc eon susah komen klo lewat hp..
    😄 eon Alf daebak!!!
    dapet salam dari aku..

  6. daebak thorrrr…
    ff nya ngegemesiiinn kkkkkk😀
    pengen juga di popo sama sehun dong # plakkk
    sehun disini manis bgt , cintanya tulusssss >,,<
    loh eun yoo sama kai nih thorr…😀 yaudah baekhyun sama aku aja …😀
    tetep fighting ya thoorrr😀
    ditunggu selalu ff yang lainnya ^^

  7. uwaaaaaaaaaaa,, dede thehun dewasa sekali….. >.< sebenernya udah nnebak dari awal tadi pas dede thehun bilang dia kecelakaan lalu lintas trus nabrak pejalan kaki, kemungkinan ya korbannya si Ri Ran ini. ternyata iya, akhirnya jadi ngerti kan gimana rasanya ngelakuin hal hal gak masuk akal karena cinta. keren authoooooooooooooorrrr^^

  8. hm.. setidaknya salah satu dari kami bisa mewujudkan mimpinya.. Mirip “Not About Dreams”

    Selama setahun seperti itu, pasti sangat menyiksa.. TT.TT Se Hunnie.. bersabarlah.. “everything happens for a reason”

  9. Annyeong thor🙂

    Thoorr ff nya keren.. Bener-bener terenyuh aku bacanya pas tau kalo Se Hun yg bikin Ri Ran tuh jd mengubur mimpinya.

    Dan apa itu thor ada kata END di atas haha. Harusnya tulisan END nya agak di bawahnya lagi. Space nya yg agak panjang, biar lebih cetar membahana kejutannya.

    “melihatmu menjadi atlit basket profesional..”
    Aaa thor Ri Ran tuh baik banget sih. Dia ttp pgn Se Hun namjacingu nya ttp meraih mimpinya.

    Pokonya terus berkarya yaaa… Semangat author-nim🙂

  10. Huaaaaaaaaaa thooor bru smpet bca nih ff…
    Keren pake bangeeeeet ..

    Suer thor..
    Aku akirny ngerti kenapa di cover ny ada gambar piano + buku wrna merah itu,
    pas pertma awal2 bca smpat mikir “pasti ceritanya sedih”, tpi tetep aku bca,
    eh pas udah smpai di pertengahan udah serius2 ny terus udah asik2 baca tiba tiba ada tulisan TBC,
    sumpeh thor kaget sangat saya..
    kurang ajar dah author yg stu ini,
    tpi pas liat di bwhny ternyata msh ada lnjutannya emang btl2..
    Haha
    tpi akirny untung aja endingny happy jadinya seneng..
    Haha
    daebak thor…

  11. :. menjebak banget .,. belum kelar tau” ending .. eh ternyata masih ada lanjutannya .. huuaaaaa .. seneng deh endingnya bahagia gitu🙂
    :. kok kakaknya sehun gag luhan aja sih .. hehehe .. maksa bener :p

  12. oh…
    lucu, keren, sad..
    udh gk tau harus muji ffnya gmna..
    keren alurnya juga bagus..

    aku pembaca baru.. ^ ^

  13. salam kenal..aq reader baru..^^

    kereeennn….bahasanya simpel dan sederhana tp isinya jelas dan nyentuh banget……daebakk thor….^^

  14. daebakkk thor!!
    its really really precious fanfiction!
    dari awal sama sama kecelakaan aku udh punya perasaan gak enak, ehh rupanya bener ri ran kecelakaan karna sehun :((
    aaa tapi keren thor keren!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s