[FF] ANOTHER CHANCE [PART 7]


FANFICTION

Tittle : Another Chance [PART 7]

Author : AyouLeonForever

Cover pic/poster edited by : AyouLeonForever

Genre: Romance, Angst, Tragedy, Suspense

Length: Chaptered / Series Fic

Rating: PG15, T

Main Cast:

*Do Kyung Soo

*Lee Hana

 Kim Joon Myun

*Wu Yi Fan/Kris

*Park Min Yeong

Other Cast: Find them by your self :p

Disclaimer: All off the cast(s) belong to his/her self, parents, agency, and GOD

Copyright: The story and OC belong to me!No Copy paste without permissions!

warning: Typo(s) every where

Author POV

Sore itu

*Ia berjalan mengendap-endap, merapatkan jacket, topi dan kacamata hitamnya. *Ia bersandar pada sebuah pintu bangunan tua di ujung gang sempit yang jauh dari keramaian.

Diraihnya ponsel dari dalam sakunya dan mengontak seseorang yang sejak awal memang ingin ditemui aku ada di depan

masuklah, tidak dikunci

*Ia pun mematikan ponselnya setelah mendengar sahutan itu. Perlahan *ia menggeser pintu gudang itu ke atas, terdengar bunyi gesekan yang memekakkan telinga, menandakan bahwa gudang ini jarang digunakan dan memang terbengkalai.

kau bawa uangnya? itu sambutan pria yang berada di dalam gudang itu.

*ia tertawa kalau masalah uang kau sangat cepat, sementara pekerjaanmu tidak becus sama sekali *ia lemparkan sebuah amplop tebal ke arah pria itu itu hanya separuhnya, kau jelas tahu alasannya

Pria itu balas tertawa, ditangkapnya amplop itu dan mengihitung sejumlah uang di dalamnya, alisnya terangkat menandakan ia sama sekali tidak kecewa dengan helaian kertas bernilai itu tugas yang kau berikan cukup sulit, mencelakai target tanpa membuatnya terbunuh, aku tidak pernah melakukan tugas seperti itu

kau sudah melakukannya dengan cukup bagus, yang terakhir ini memang gagal, tidak ada yang terluka…tapi cukup membuatnya terintimidasi

aku suka bekerja denganmu, kau cukup licik

*ia tertawa lagi berhati-hatilah, jangan sampai kau ketahuan, karena sepertinya pelindung Hana bertambah satu lagi

Pria itu mengangguk namja tinggi itu? Baiklah, aku akan waspada, atau kalau perlu, kulenyapkan saja namja itu

jangan… ini semakin menarik. Lanjutkan saja teror ini

kau tidak ingin langsung menghabisi Lee Hana?

tidak…*ia tersenyum belum saatnya…

 

Kyung Soo POV

“kenapa Hana lama sekali?” keluhku sambil mondar mandir di hadapan Su Ho.

“kau ini yang kenapa? Tidak bisakah kau hanya duduk di sini dan menunggu? Kepalaku betul-betul pusing melihatmu”

“Su Ho-ya, perasaanku tidak enak”

“pasti karena kau lapar”

“Hya… bukan begitu. Aih, ini tentang Hana”

“bukankah jarak antara minimarket dan gedung ini hanya beberapa meter, lagipula di luar itu pasti sangat ramai. Kalau peneror itu nekat mencelakai Hana di tengah keramaian, itu betul-betul tindakan bodoh”

Aku semakin mengeluh “masalahnya, yang mengganggu pikiranku sekarang bukan hanya peneror itu”

“maksudmu?”

“ah sudahlah, akan kupastikan sendiri”aku menyambar jacketku dan bergegas pergi

“tunggu, aku ikut”

Aku mengumpat berkali-kali di depan lift. Kenapa lama sekali? Lain kali aku akan pindah apartement kalau fasilitasnya seperti ini.

“kau betul-betul tidak bisa sabar?”tegur Su Ho.

“akh, lewat tangga saja”aku bergegas menuju tangga alternatif untuk turun ke lantai bawah,Su Ho masih setia mengikutiku.

“hei, hati-hati. Perhatikan langkahmu, kalau kau jatuh kau bisa langsung mati, atau paling tidak kedua kakimu patah”Su Ho memperingakan, tapi aku tidak peduli. Perasaanku betul-betul tidak enak.

Aku langsung mempercepat langkahku saat aku sudah tiba di lantai satu. Keluar dari pintu utama dan hendak berlari menuju minimarket yang langsung terlihat dari tempatku berdiri.

Tapi seketika langkahku terhenti saat mataku menangkap sebuah pemandangan yang … mengejutkan.

Awalnya aku berusaha meyakinkan diri bahwa aku salah lihat. Tapi… bahkan jika Hana berada di tengah kerumunan ribuan yeoja, aku akan langsung mengenalnya bahkan jika dia membelakangiku. Bukan karena outfit nya yang sangat tertutup, tapi… aku betul-betul mengenalnya.

Su Ho ikut berhenti di sebelahku “waeyo?”

Aku tidak menjawab. Tidak bisa…

Kuyakin Su Ho terlalu heran sampai ia harus menelusuri apa yang kulihat. Dan saat ia juga terkejut, aku semakin yakin bahwa aku tidak salah lihat.

“Ha… Hana-ya” seruku bagai orang bodoh.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku meminta pada Tuhan  agar aku menderita kelainan penglihatan, sekiranya untuk meyakinkanku bahwa yeoja yang berpelukan dengan seorang namja di hadapanku ini bukan Hana… bukan yeoja yang sangat kucintai.

Tapi tidak… tidak ada yang salah dengan penlihatanku. Semuanya bahkan terlihat berjalan dalam gerakan lambat. Bagaimana Hana melepaskan pelukan itu, dan menoleh padaku dengan takut-takut.

Aku bahkan memejamkan mata saat iya menyerukan namaku tanpa suara.

“Kyung Soo-ya” hanya dengan gerakan bibir.

Detik itu juga otakku kosong. Ini bahkan lebih parah dari keadaanku saat aku panik, ini seperti… ah… aku bahkan tidak bisa membuat pengandaian saking kosongnya otakku.

“Kyung Soo-ya” kali ini Hana mulai bersuara, dan bisa kulihat ia mulai melangkah ke arahku, tapi tangan namja itu… yang baru kusadari bahwa dia adalah Kris hyung, mencekal tangan Hana, membuatnya terhenti seketika. Bisa kulihat Hana sedikit meronta, tapi Kris hyung menolak untuk melepasnya.

need some help?

Aku menoleh, dan bisa kulihat Su Ho menatap Kris hyung dengan sangat tajam. Seharusnya itulah ekspresi yang kutunjukkan. Marah! Bukannya mematung bagai orang bodoh.

“gomawo Su Ho-ya. Tapi kali ini, biar tanganku sendiri yang melakukannya”tolakku. Akupun melangkah menghampiri mereka, dan tanpa basa-basi lagi kulayangkan pukulanku ke wajah Kris hyung hingga cekalannya di tangan Hana terlepas. Aku tidak tahu sekeras apa pukulanku, tapi membuat namja tinggi tegap seperti Kris hyung tersungkur ke tanah dengan satu kali pukulan, sepertinya tadi itu memang benar-benar keras.

“Kyung Soo-ya” lirih Hana.

Aku menoleh “ikut denganku. Dan katakan apa saja tentang kejadian yang kulihat tadi, bahwa Kris hyung memaksa untuk memelukmu, dan kau tidak dibiarkan mengelak, atau apa saja. Aku akan percaya dan tidak lagi mempermasalahkannya” segera kutarik tangan Hana dan membawanya pergi dari situ.

“Do Kyung Soo, berhenti di situ”seru Kris hyung membuat langkahku terhenti dan menoleh ke arahnya.

Kris hyung berdiri sembari menyeka bercak darah yang menetes di sudut bibirnya, kemudian melangkah pelan ke arahku “situasi sudah berubah Kyung Soo-ya, sepertinya kau harus tahu itu”

Kuremukkan jari tanganku, menatap Kris hyung penuh amarah “tidak… bahkan jika kau memperbaiki kesalahan masa lalumu dan Hana memaafkanmu, tetap tidak akan merubah apa-apa. Karena kenyataan yang sebenarnya adalah… kau hanya sebuah kenangan buruk yang harus di lupakan”

BUGH…

Itu tidak bisa kuduga sama sekali. Kris hyung memukul tepat di wajahku membuatku terhuyung dan terjatuh ke tanah. Bisa kulihat Hana hendak meenghampiriku tapi Kris hyung lebih dulu menangkap tangannya.

“Mianhae… tapi Hana adalah milikku”ucapnya tegas. Hendak membawa Hana pergi.

“lepaskan tanganmu dari yeojaku” bentakku.

Kris hyung tertawa meremehkan “berhenti mengigau, dan pulanglah”

Aku tidak lagi banyak bicara, segera kutarik tangan Hana yang satunya lagi, tapi Kris hyung tetap bertahan dengan menggenggam tangan kanan Hana. “hyung, ini yang terakhir, lepaskan tanganmu dari Hana”

“tidak lagi. Aku tidak akan menuruti kemauanmu lagi sementara aku tahu hubunganku dan Hana masih bisa diperbaiki”

“Hyung…”gertakku, masih berusaha menarik Hana ke arahku.

“Do Kyung Soo… bisakah kau paham posisimu sendiri? Kau hanyalah pengganti sementara aku tidak ada. Dan sekarang setelah aku kembali ke sisi Hana, kau sudah tidak dibutuhkan lagi”

Aku mendengus, berusaha tidak semakin terbakar emosi. “Hana-ya, abaikan saja namja itu, dan kita pulang” aku kembali menarik tangan Hana. Tapi tetap saja Hana tidak bisa beranjak karena Kris hyung tetap mempertahankan tangan Hana yang satu lagi.

Aku menatap Kris hyung dengan sangat tajam, tak sedikitpun dia berniat melepaskan Hana, bahkan jika aku menarik Hana lebih kuat ke arahku.

“Kyung Soo-ya…” lirih Hana. Aku bisa melihat bagaimana yeojaku ini memohon agar situsi ini diakhiri. Untuk itu aku bersikeras menarik Hana ke arahku. Kembali lagi, Kris hyung juga menarik Hana ke arahnya. Dan kurasa memang situasi ini tidak akan berakhir karena di antara aku dan Kris hyung tidak ada yang ingin mengalah. Dan aku bersumpah akan mempertahankan Hana di sisiku dan tidak akan melepaskannya sampai Hana sendiri yang memintaku melepasnya.

BUGH…

BUGH…

Aku terhuyung ke tanah karena sebuah pukulan mendarat persis di pelipisku, dan semuanya tidak bisa kuduga, saat aku mengangkat wajah, hal yang sama juga terjadi pada Kris hyung. Aku cukup terkejut begitu mengetahui siapa yang telah melakukannya.

“su… Su Ho-ya…” seruku tak percaya. Su Ho memukul Kris hyung… dan juga aku!

“APA KALIAN GILA???” bentaknya murka.

Aku bahkan tidak pernah melihat Su Ho semarah ini. aku hanya bisa menatapnya dengan terpana. Ia menggenggam tangan Hana dan menarik yeoja itu ke belakangnya.

“Kalian tidak sadar? Keegoisan dan tindak kekanak-kanakan kalian membuat Hana kesakitan”tambahnya.

Dan sial, aku baru menyadari hal itu. Bisa kulihat Hana meringis sembari memegangi pergelangan tangannya. Jelas saja dia kesakitan, karena dua namja mencengkram kedua pergelangan tangannya dan menariknya kuat.

“Ha… Hana-ya” lirihku layaknya orang bodoh.

“renungkan sikap kalian, dan sampai kalian sadar akan hal itu, tidak akan kubiarkan kalian berdua menyentuh Hana” tegas Su Ho

“chakkaman Su Ho-ya, mau kau bawa kemana Hana?”tanyaku panik.

“kemana saja asal tidak ada kalian berdua”

“Su Ho-ya… tunggu!” seruku, tapi Su Ho sudah berlalu dengan sangat cepat sambil membawa Hana bersamanya.

Kini tinggallah aku termangu menyesali kesalahanku. Benar, aku begitu egois dan hanya memikirkan bagaimana caranya agar Hana kembali padaku dan tidak mempertimbangkan kondisi Hana. Aku… betul-betul egois!

“kemana dia membawa Hana?” itu suara Kris hyung.

“kau tidak dengar? Kemanapun, asal tidak ada kita berdua”

Kris hyung berdiri, sekali lagi menyeka darah yang masih menetes di sudut bibirnya “jadi… bukan hanya kau yang harus kuhadapi agar Hana kembali ke sisiku?”

“apa maksudmu?”

“anak tadi… yang kau bilang sebagai sahabatmu”

Aku menghela nafas, tidak lagi. Aku sudah tidak ingin bertambah pusing “pulanglah hyung… dan lakukan apa yang Su Ho katakan pada kita. Renungi sikap egois yang kita miliki, demi Hana”ucapku sebelum aku betul-betul meninggalkan tempat itu.

~@@@~

Hana POV

Aku menunduk dalam, hanya bisa begitu sembari mengusap kedua pergelangan tanganku yang sepertinya terkilir. Aku betul-betul tidak tahu harus bagaimana mengambil sikap. Di satu sisi, aku cukup terkejut dengan apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Kris oppa, mengetahui bahwa Kris oppa sama sekali tidak menyakitiku, hanya melakukan sesuatu untuk kesembuhanku walau menurutku caranya sangat tidak rasional, juga mengetahui bahwa dia tidak meninggalkanku seperti apa yang kupikirkan selama ini membuatku…

Entahlah… aku tidak berani menyebutkan bahwa aku bahagia, tidak begitu karena tetap saja aku punya Do Kyung Soo, aku punya seorang namja yang melindungiku selama ini, dan apa yang lebih membahagiakan dari itu?

“kau baik-baik saja?”

Pertanyaan Su Ho membuatku tersadar dari lamunanku, aku menoleh pada Su Ho yang tengah serius menyetir mobilnya “mmp, ne. Hanya sedikit… sakit”jawabku.

“kita obati kalau kita sudah sampai”

Aku menelan ludah “ng… kau mau membawaku kemana?”

“ke rumahku. Kau tidak keberatan kan?”

Yah… memang untuk saat ini, menghindar dari situasi itu memang satu-satunya cara yang bisa kulakukan saat ini “ne, aku tidak keberatan. Aku seharusnya berterima kasih karena kau telah menolongku keluar dari situasi rumit tadi”

Su Ho berdecak “aku bahkan sudah memukul Kyung Soo…”

Bisa kulihat ada rasa sesal yang terpancar dari matanya, pantas dari tadi dia diam saja “aku mengerti tindakanmu, kau tidak betul-betul berniat memukul Kyung Soo, hanya berniat melerainya dengan Kris oppa”

Su Ho menoleh sejenak “juga untuk membebaskanmu dari cekalan mereka”

Aku mengangguk “arayo… jeongmal gomawoyo”

“kulakukan semampuku Hana-shii”

Aku cukup grogi saat memasuki rumah Su Ho yang bisa kubilang sangat besar dan mewah. Dua orang yeoja berseragam langsung menyambut kami di ruang tamu, awalnya kukira salah satu dari mereka adalah eomma Su Ho, tapi bagaimana sikap hormat mereka menyambut Su Ho, kurasa mereka adalah pekerja di sini.

“orang tuaku ada?”tanya Su Ho

“Aniyo opseumnida…” jawab kedua yeoja itu.

“kemana mereka?”

“Mianhamnida tuan muda, orang tua anda mengambil penerbangan ke Beijing siang tadi”

“hum, arasso… kalian berdua antarkan makanan ke kamarku” Su Ho menarik tanganku dan menuntunku mengikuti langkahnya “ah jangan lupa handuk, es, juga obat analgesik. Temanku sedang terluka”

dwe, tuan muda”

Dan kini, di sinilah aku. Duduk termangu di sebuah sofa panjang di dalam kamar Su Ho yang luasnya mungkin hampir sama dengan luas apartementku. Beberapa pelayan masuk berjejer, membawa benda-benda yang dipesan Su Ho tadi. Dan kesemuanya di letakkan di atas sebuah meja oval yang tadinya kukira meja makan pribadi Su Ho, karena sedikit mirip itu.

“kalian keluarlah” perintah Su Ho.

Sungguh pemandangan langka, karena kupikir ini hanya ada di drama atau film-film kolosal yang bercerita tentang kekuasan seorang putra mahkota. Lihat bagaimana para pelayan itu keluar dari kamar Su Ho dengan barisan rapih sambil menunduk hormat. Aku jadi sungkan sendiri. Aku sempat mendengar bahwa Su Ho ini cukup kaya, tapi tidak pernah terbayang dia bahkan sekaya ini.

“mana yang sakit?”

“Ha? Mwo?”

Su Ho tertawa kecil “kenapa kaget begitu? Perlihatkan tanganu, mana yang sakit?”

Aku jadi malu sendiri “sebenarnya tidak begitu sakit Su Ho-shii, tidak perlu sampai seperti ini”

“gwenchana, bisa kulihat tanganmu?”

Sebenarnya aku segan, tapi aku harus bagaimana lagi? Dengan kikuk kugulung lengan sweaterku hingga siku dan memperlihatkannya pada Su Ho.

“Omo, sampai biru begini”ucapnya takjub. Aku sendiri bahkan tidak bisa menduga kondisi pergelangan tanganku sampai seperti itu.

“ah… aku bisa sendiri Su Ho-shii” tolakku saat Su Ho hendak mengompres tanganku.

“sudahlah, kau diam saja. Saat ini kau adalah pasienku”

“tapi…”

“diam!”

Terpaksa aku menurut. Aku tidak begitu dekat dengan Su Ho, tapi mengingat semua hal yang dia lakukan padaku aku baru sadar akan sesuatu. Su Ho… memperhatikanku.

Tunggu.

Apa yang kupikirkan barusan. Tidak… tidak, aku sudah cukup dipusingkan dengan kehadiran Kris oppa kembali. Tidak… tidak. Lagipula perhatian Su Ho padaku hanya sebatas teman, karena aku adalah kekasih dari sahabatnya.

Terakhir, Su Ho mengolesi obat berbentuk jell di sekitar pergelangan tanganku yang membiru. Rasanya dingin “ini obat analgesik, biasa kugunakan kalau ada memar di tubuhku”

“gomawoyo, kurasa aku sudah agak lebih baik”

“baguslah. Ayo kita makan”

“eh itu…”

“jangan sungkan, kau juga pernah menjamuku dengan masakanmu. Walau aku membalasnya bukan dengan masakanku, aku harap ini cukup”

“Su Ho-shii, ini bahkan sudah sangat lebih, sama sekali tidak ada bandingannya dengan masakanku yang sederhana”

Su Ho tertawa “mau tau satu hal? Aku rela menukar semua hidangan ini dengan sepiring pasta buatanmu”

“su… Su Ho-shii”

“kajja…”

Ini sudah tidak terhitung, bagaimana Su Ho meraih tanganku dan menuntunku menuju meja oval itu. Aku tidak tahu harus meresponnya dengan cara apa sekarang, karena pikiranku betul-betul mengambang kesana kemari. Do Kyung Soo, Kris oppa, dan kini… Su Ho.

“kau bisa makan sendiri atau perlu kusuapi?”

“ha?”

“itu, bukankah tanganmu sakit? Dan kau hanya menatap makananmu sejak tadi”

Aku langsung terhenyak, kedapatan melamun sungguh memalukan “a… aku bisa sendiri, gomawoyo… itu tidak perlu”

“hm… kalau begitu makanlah”

“ne Su Ho-shii”

~@@@~

“aku tidak tahu selera berpakaianmu, tapi… melihat keseharianmu kurasa aku tahu kalau kau suka berpakaian yang cukup tertutup”ucap Su Ho saat ia menyerahkan padaku sepasang pakaian.

“ng? Kenapa kau memberiku pakaian ganti?”tanyaku bingung.

“bukankah sebelum tidur kau harus mengganti pakaianmu dulu? Pakaian yang kau kenakan juga agak basah terkena salju”

“su… Su Ho-shii, aku punya banyak pakaian di rumahku”

“aku tahu,tapi ini bukan rumahmu”

“tunggu… maksudmu, aku akan menginap di sini?”

Su Ho mengangguk pasti “memangnya kau akan menginap di mana lagi?”

“itu… maksudku apa tidak sebaiknya aku kembali ke apartementku?”

“dengan resiko bertemu mereka lagi?”

“itu…” aku tidak bisa menjawab.

“hanya malam ini, istirahatlah di sini, tenangkan pikiranmu. Karena bisa jadi, besok adalah saat di mana kau harus memilih secara tegas antara Kyung Soo, atau namja masa lalumu itu”

“su… Su Ho-shii…”

“tidak bermaksud ikut campur Hana-shii, tapi aku mengkhawatirkanmu, dan juga… Kyung Soo adalah sahabatku. Aku hanya menginginkan yang terbaik untuk kalian. Untuk itu, pikirkanlah baik-baik”

Aku terdiam sejenak, kemudian mengangguk lemah.

“ya sudah, beristirahatlah, aku juga harus beristirahat. Annyeonghi jumuseyo” Su Ho hendak beranjak pergi

“su… Su Ho-shii, odigayo?

Su Ho menoleh sambil mengerutkan kening “ke kamar sebelah, waeyo?”

“kau tidak tidur di sini?”

Su Ho terbatuk. Kupikir karena dia tersedak, tapi terakhir aku menyadari ketololanku.

“A… maksudku, bukankah ini kamarmu? Kenapa kau tidak tidur di sini dan aku yang di kamar tamu?”ralatku cepat-cepat.

“bukan masalah, kuharap kau bisa tidur nyenyak di kamar ini. sudah yah… aku keluar dulu. Selamat beristirahat”

“mmp, jal jayo Su Ho-shii

Pakaian ini hangat, selimut ini hangat, tempat tidurnya sangat empuk dan nyaman, tapi tetap saja aku tidak bisa memejamkan mata barang sedetikpun. Bukan karena aku tidur di kamar Su Ho yang setiap aku menarik nafas terhirup  aroma Su Ho yang menenangkan, bukan itu… hanya saja aku sungguh merindukan Kyung Soo.

Baiklah, aku adalah yeoja yang sangat plin-plan dan tidak tegas. Seharusnya aku bisa langsung menentukan pilihan saat Kris oppa secara samar meminta ku untuk memilih antara dirinya dan Kyung Soo. Bukannya aku bingung untuk memilih, aku jelas akan memilih Kyung Soo, hanya saja aku tidak bisa menemukan kalimat yang tepat untuk menyampaikannya. Karena tidak bisa kusangkal, walau sudah berlalu 4 tahun, Kris oppa tetap pernah mengisi hari-hari suramku dengan kebahagiaan yang ia tinggalkan. Terlebih setelah mengetahui bahwa ada kesalahpahaman di antara kami yang memupuk rasa benci dalam benakku untuk dirinya. Kris oppa tidak menyakitiku, juga tidak berniat meninggalkanku. Mengingat upanya memperbaiki kesalahan yang ia perbuat di masa lalu, cukup tega lah aku bila mengabaikannya begitu saja.

Aku beringsut, kemudian bersandar di tempat tidur elegan itu. Berpikir keras tentang langkah selanjutnya yang harus kuambil.

Kyung Soo-ya, ottoke… aku harus bagaimana???.

Dengan yakin kuraih ponselku dan menatapnya sendu. Foo Kyung Soo dengan mata melebar karena terkejut langsung menyambutku. Aku memang sengaja memakai foto Kyung Soo yang ini sebagai wallpaper ku karena aku suka, wajahnya begitu polos dan menenangkan. Kedua matanya yang bening membuatku bisa sedikit melupakan kepenatan dan kelelahanku beraktivitas setiap harinya. Aku ingat bagaimana Kyung Soo menyerukan protesnya saat aku mengambil gambarnya tiba-tiba, dan inilah hasilnya, begitu natural dan… neomu jhoa.

Apa aku harus menelpon Kyung Soo? Setidaknya mendengar suaranya sedikit saja, mengucapkan kalimat selamat tidur seperti biasa dan… apa saja agar aku tahu bahwa dia sedang baik-baik saja sekarang.

Tapi… aku takut. Aku khawatir… terlebih setelah Kyung Soo mendapatiku berpelukan dengan Kris oppa secara terang-terangan, bagaimana mungkin aku masih punya muka untuk bertemu dengannya dan berbicara padanya?

Oh Tuhan… ini sungguh membuatku hendak gila.

Aku sedikit terkejut begitu ponselku berbunyi, kuharap itu dari Kyung Soo, tapi setelah melihat nama yang tercantum di layar ponselku, aku sedikit kecewa. Bukan Kyung Soo.

“waeyo Su Ho-shii?” sahutku.

“sudah kuduga,kau pasti belum tidur”

“aku… belum mengantuk”

“Hana-shii, ini sudah pukul 1 dini hari”

“arayo”

“lalu bagaimana mungkin kau belum mengantuk?”

“aku tidak bisa memejamkan mataku dengan pikiran berkecamuk seperti ini”

“jadi sesulit itu kah kau memilih? Aku tidak bisa membayangkan sepenting apa namja masa lalumu itu sampai kau tidak bisa dengan dengan tegas memilih namja yang sudah berbuat banyak padamu  selama ini”

Aku terkejut “su… Su Ho-shii, bukan seperti itu. Namja yang kucintai adalah Kyung Soo”

“lalu apalagi yang kau pikirkan?”

“masalahnya tidak sesederhana itu Su Ho-shii, aku jelas tidak bisa sesantai itu menyampaikan pada Kris oppa untuk melepasku sementara hubungan kami sebelumnya tidak seharusnya seperti ini”

Terdengar helaan nafas dari seberang “jangan terlalu lemah Hana-shii, dalam hal ini, kaulah yang menentukan pilihan, artinya kaulah pihak yang harus tegas. Atau Kyung Soo akan berpikir bahwa benar selama ini posisinya hanya sebagai pengganti

“Su Ho-shii… tidak seperti itu… aku”

“ah… tidak seharusnya aku menambah beban pikiranmu. Istirahatlah besok aku akan mengantarmu pulang pagi-pagi”

Aku tidak lagi menjawab.

jal jayo Hana-shii, tidurlah”

“ne Su Ho-shii, jal jayo

Aku menatap datar ponselku begitu sambungannya terputus. Su Ho benar, aku sudah punya keputusan sendiri dan untuk apalagi aku bimbang?

~***~

Kyung Soo POV

Tidak pernah kubayangkan aku akan dipertemukan pada situasi yang seperti ini, berada dalam kekhawatiran dan kecemasan yang tak sanggup kubendung dengan akal sehatku. Bagaimana kalau Hana meninggalkanku? Bagaimana kalau ia lebih mencintai Kris hyung? Bagaimana kalau masa lalu Hana jauh lebih berarti dari pada masa-masa yang kami lalui bersama… dan bagaimana kalau… aku harus merelakan Hana pergi dengan jaminan ia akan bahagia bersama Kris hyung???

Semua pengandaian itu membuatku hampir tak bisa bernafas. Terlalu menyesakkan dadaku dan…

Nanbeonman nae mameul deuleojwoEvery day every night I am missing you

Dering HP ku membuatku terkejut. Ini sudah lewat tengah malam, dan siapa yang berani mengangguku saat aku ingin sendiri?

“MY FIRST??? HANA???” pekikku seorang diri, aku memang mencantumkan nama Hana di kontak list ponselku dengan sebutan “My First” dan aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya sekarang.

“Yeob… yeoboseyo!” sapaku cepat.

Tidak ada sahutan.

“Hana-ya, kau kah itu?”

Masih tak ada sahutan. Apa Hana memang tidak berniat menelponku? Apa mungkin ponselnya tertindih hingga tepat mengontak nomorku?

“Hana-ya…”lirihku dalam. “jeongmal bogoshippoyo”

Tetap tak ada balasan dari sana.

“arasso… istirahatlah, sepertinya kau sangat lelah sampai kau tak sanggup bersuara sedikitpun. Jal jayo Hana-ya… saranghae”

“chakkaman Kyung Soo-ya” barulah terdengar suara Hana.

“hm, aku masih di sini”

“kau…. belum tidur?”

“ne”

Oh sungguh, obrolan ini sangat canggung. Dan aku betul-betul tidak tahan dengan kondisi seperti ini.

“Kyung Soo-ya… gwenchanayo?”

“aku… tidak baik-baik saja. pikiranku melayang-layang, dan itulah alasan kenapa aku tidak bisa tidur”

“mi… mianhae”

“untuk apa kau meminta maaf?”

“segalanya”

Aku menelan ludah, berusaha menutupi ketakutanku. Apakah Hana bermaksud untuk mengakhiri hubungan kami? Apakah itu tujuannya meminta maaf?

“Kyung Soo-ya, aku.. dan Kris oppa__”

hajima… jangan lanjutkan lagi, aku tidak ingin mendengarnya”

“waeyo… aku ingin menjelaskannya padamu”

“kalau yang ingin kau katakan adalah bagaimana kuatnya perasaan kalian, aku tidak ingin mendengarnya”

“apa yang kau katakan? Aku hanya ingin menjelaskan bahwa… aku dan Kris Kris oppa tidak ada hubungan apa-apa”

Aku terhenyak “ng?”

“aku tidak ingin munafik di hadapanmu Kyung Soo-ya, … benar antara aku dan Kris oppa pernah punya kenangan dan ikatan yang tidak bisa begitu saja diabaikan. Tapi terlepas dari itu semua, aku tidak bisa berbuat apa-apa”

“ha… Hana-ya, aku tidak mengerti”

“aku mencintainya…”tutur Hana, dan aku tidak mendengar nada kebohongan di sana.

Aku jelas terkejut “Hana-ya!”

“setidaknya itu dulu, seandainya dia langsung datang padaku menjelaskan semuanya, jauh sebelum aku bertemu denganmu.”

Aku terdiam, menunggu penjelasan Hana yang lebih detail.

“saat kuselami perasaanku, mencari kemanakah cinta yang kumiliki untuk Kris oppa, tetap saja, aku tidak bisa menemukannya. Jangan tanya kenapa, kuharap kau tau alasannya”

“Hana-ya…”seperti orang idiot, aku tidak bisa berkata apa-apa.

“aku pernah mengatakan bahwa aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Bahkan jika Kris oppa kembali padaku, memperbaiki semua kesalah pahaman antara kami, tetap saja, aku tidak akan menarik kata-kataku. Sungguh munafik kalau aku mengatakan sudah melupakan perasaanku pada Kris oppa setelah mendengar penjelasannya. Tapi sekali lagi… seperti apapun perasaanku padanya, tetap tidak bisa menuntunku untuk berpaling darimu”

Aku semakin tidak bisa berkata-kata. Yang kulakukan asekarang adalah mengontrol deru jantungku agar tidak meledak.

“Kyung Soo-ya, kaulah yang memberiku kesempatan itu, kaulah yang menarikku dari jeratan kelamnya masa laluku, kaulah yang telah menyelematakanku saat aku hampir tenggelam dalam keterpurukan. Sebutlah aku bodoh kalau aku rela menyia-nyiakan kesempatan itu” Hana menarik nafas sejenak, begitu banyak penjelasan yang dia utarakan dan aku tidak mampu meresponnya sedikitpun, bukan karena aku tidak mau, tapi… aku begitu tertegun. “maafkan aku karena tadi aku hanya diam saat Kris oppa secara samar memintaku untuk memilih di antara kalian. Itu bukan karena aku tidak bisa memilih, pikiranku masih melayang. Tapi percayalah, di kesempatan lain, saat aku kembali di hadapkan pada pilihan itu, aku tidak akan segan-segan menyebut namamu dan berlari ke pelukanmu. Karena aku… betul-betul mencintaimu”

Begini… seperti ini. aku tidak bisa mengeluarkan suara saking tidak percayanya aku dengan penjelasan Hana barusan. Aku betul-betul…

“Kyung Soo-ya, kenapa kau tidak bicara? Semarah itukah kau padaku? Mengenai pelukan itu… akan kujelaskan, sebenarnya aku tidak bermaksud__”

“ani…ani. aku hanya… tertegun”

Hana berdehem sejenak “jadi kau memaafkanku?”

“tidak juga”

Bisa kudengar suara Hana terkejut “lalu?”

“lalu apa? Di mana kau sekarang. Aku tidak akan mengampunimu”

“Kyung Soo-ya…”

“setelah membuatku hampir berubah menjadi orang gila, kau harus membayarnya”

“tapi aku tidak punya uang”

Aku tertawa kecil, aku bahkan tidak sadar bahwa air mataku menetes “aku betul-betul ingin memelukmu saat ini, memelukmu seerat mungkin sampai kau tidak bisa bernafas”

“kalau begitu tidak akan kubiarkan kau menemuiku”

Aku kembali terkejut “waeyo?”

“karena kalau nantinya kau memelukku, aku khawatir tidak rela melepasnya lagi”

Aku semakin tertegun. Hana ini…. “gwenchana, karena aku sendiri juga tidak akan melepasmu”

“hum… baiklah, akan kupertimbangkan hal itu”

Aku menghembuskan nafas lega “Hana-ya, jeongmal bogoshippoyo”

“nado…”

“kujemput sekarang?”

“jangan… sudah sangat larut, bahkan sudah dini hari. Di luar pasti sangat dingin”

“hum, arasso… jadi kapan kau pulang”

“besok pagi, Su Ho akan mengantarku”

Aku mengguman “jadi, Su Ho membawamu ke rumahnya?”

“ne…”

Sebenarnya tidak apa-apa, karena aku tahu tempat yang paling aman untuk Hana sekarang adalah rumah Su Ho.

“Kyung Soo-ya, kau masih di sana”

“ah ne. Waeyo Hana-ya?”

“setelah mendengar suaramu, dan kau memaafkanku kurasa aku sudah merasa tenang, aku baru menyadari kalau aku sangat mengantuk”

Aku tertawa kecil “nado, kupikir hanya aku yang merasakan hal itu. Hum, kurasa aku sudah bisa tidur setelah ini”

“Kyung Soo-ya…”

“ne…”

“saranghaeyo”

Ini sudah yang keberapa kalinya Hana mengatakan hal itu tapi tetap saja aku merasa sangat… takjub “nado sarang__”

Tit…tit…tit…

Dan kurasa Hana masih cukup malu untuk terus mengatakannya.

~@@@~

Aku duduk di luar gedung, mondar-mandir sembari memperhatikan ujung jalan, menunggu munculnya mobil yang plat nomornya kuhapal di luar kepalaku. Sudah pukul 7 pagi tapi Su Ho belum juga mengantar Hana pulang. cuaca juga sangat tidak mendukung, dingin sekali di sini.

Sekitar 15 menit berikutnya barulah mobil itu muncul dari ujung jalan, berbelok ke area parkir gedung apartement tempatku tinggal, dan berhenti di tempat kosong, sekitar beberapa meter dariku.

Aku sedikit memiringkan kepala melihat tingkah Su Ho. Ia buru-buru turun dari mobilnya, berlari kecil ke pintu sebelahnya, membukakan pintu untuk penumpangnya dan terakhir menyambutnya bagai seorang putri. Tak lupa senyuman yang ia layangkan untuknya

Oh baiklah, aku memang tidak pernah memperlakukan Hana seperti itu, sampai kupikir itu cukup berlebihan. Tapi terakhir aku sadar, itu Lee Hana, yeoja yang lebih rapuh dari seorang bayi.

Mereka berdua berjalan bersisian ke arahku, sampai ketika mereka menyadari kehadiranku, langkah mereka berhenti.

“Kyung Soo-ya” menyapaku pun serempak.

Aku berjalan menghampiri mereka.

“sudah lama menunggu?” tanya Su Ho. Dan kurasa tidak hanya aku yang merasakan perubahan atmosfer antara kami

“tidak juga”jawabku.

Kami berdua kikuk. Saking kikuknya, kami baru sadar setelah Hana berdehem.

Su Ho menatap Hana sejenak, kemudian menatapku “Kyung…. Kyung Soo-ya”

“ne?”

“yang kemarin itu, aku benar-benar minta maaf”

“yang mana?”

Su Ho menunjuk pelipisku yang membiru “maaf telah memukulmu”

Aku mengusap pelan pelipisku “oh ini, gwenchana. Sedikit berlebihan mungkin kalau aku bilang, terima kasih atas pukulanmu. Tapi aku serius, kalau saja kau tidak memukulku, aku tidak akan sadar dengan keegoisanku”

“tapi aku betul-betul merasa bersalah” Su Ho berdecak sedikit “atau begini saja, pukul aku dimanapun kau mau”

“Su Ho-ya”

“pukul aku”

Aku tertawa. “kemarilah” dan aku memeluk sahabatku itu.

“Kyung Soo-ya”

“dari pada memukulmu, aku lebih baik membenturkan kepalaku ke dinding. Begini lebih baik kan?”

“ne…”

Aku menepuk-nepuk punggung Su Ho sebelum melepas pelukan itu. “gomawo atas bantuanmu menjaga yeojaku”

with my pleasure

Kami berdua tertawa. Setidaknya tidak seperti tadi, walau kemarin situasi memang sangat tegang antara kami berdua, tapi tetap saja tidak bisa menutupi kenyataan bahwa kami adalah sepasang sahabat.

“oh ya, tugasku sampai di sini kan? Aku pulang dulu”pamit Su Ho

“secepat itu?? mampirlah dulu ke apartementku”

Su Ho mengedipkan sebelah matanya padaku, dan aku tahu dia ingin memberikan waktu untukku dan Hana “sampai ketemu di kampus”

Aku mengangguk “arasso…hati-hati”

Su Ho menyunggingkan senyum pada Hana sejenak sebelum ia kembali ke mobilnya dan melaju pergi meninggalkan kami.

“kau ingkar”ucap Hana tiba-tiba

Aku menoleh padanya dengan kening berkerut “ingkar? Dalam hal apa?”

“kau bilang saat kita bertemu kau akan langsung memelukku sangat erat. Tapi kenapa kau justru memeluk Su Ho lebih dulu?”

“ha?” aku jelas keheranan. Hana mengatakan itu?

“kau sama sekali tidak peka”

Hana hendak beranjak, tapi aku menghentikannya dengan sebuah pelukan “menurutmu, apa itu etis aku memelukmu sementara ada Su Ho di situ?”

“Kyung Soo-ya, a… aku hanya bercanda, kau bisa melepaskanku sekarang”

“sayangnya aku tidak bercanda”kueratkan pelukanku, seperti janjiku semalam.

“chakkaman” Hana melepas pelukanku dengan cepat.

Aku mengeluh “tidak bisakah kau hanya diam saja sebentar? Aku masih ingin memelukmu”

“tidak” Hana memegang kedua pipiku, membuatku berhenti menyerukan protes “berapa lama kau di luar sini?”

“ha… hanya beberapa menit”

“bohong…”

“arasso… arasso, sejak pukul 6 pagi”

Hana membelalak “mwo? Kau menungguku sejam lebih? Neo ppaboya?”

“lalu kenapa kalau aku bodoh? kau lebih bodoh lagi karena mencintai orang bodoh”

“jangan bercanda lagi, ayo masuk, dan hangatkan tubuhmu”

“woah Hana…”

“kenapa lagi?”

“kau ingin menghangatkan tubuhku?”

Hana kembali membelalak. Dan untuk pertama kalinya, dia berani menjitak kepalaku. “berhenti bercanda, atau kau akan mati”

“arasso… arasso. Kau benar-benar ingin membunuhku rupanya. Luka di kepalaku belum sepenuhnya pulih, apa kau lupa?”

Hana terperanjat “Oh Tuhan… Kyung Soo-ya, mianhae… jeongmal mianhae” dengan panik Hana memeriksa kepalaku “oh Tuhan, kenapa aku seceroboh ini? gwenchanayo Kyung Soo-ya? Mana yang sakit?”

Melihat kepanikan Hana, aku semakin ingin mengerjainya “aduh kepalaku pusing. Kenapa ini? pandanganku kabur”

“Kyung Soo-ya… bagaimana ini? kita ke rumah sakit sekarang”

“Hana-ya, kenapa aku melihatmu ada banyak…?”

Hana sudah hampir menangis “Kyung Soo-ya…. mianhae. Aku harus bagaimana sekarang? Tidak ada taxi yang lewat”

Detik berikutnya aku tertawa “hanya begini saja kau sudah menangis?”

Hana menghentikan kepanikannya “kau…”

Aku menyunggingkan senyum dan menyentil puncak hidungnya “I got you… Lee Hana!”

Hana mengusap kasar air matanya “Kyung Soo-ya!” Hana sudah bersiap menyerangku, tapi kuhentikan usahanya, karena detik itu juga aku menyelipkan tangan kananku di lipatan lututnya, dan tangan kiriku di punggungnya, aku menggendongnya dengan Bride style, dan membawanya masuk ke apartement kami. “Kyung Soo-ya, turunkan aku”

Bahkan saat dia meronta pun aku tetap menggendongnya dengan senyuman lebar di bibirku. “Hana-ya, youre mine

“TURUNKAAAANNNN!!!”

~~~

Lee Hana sedang sibuk menyiapkan sarapan untukku, sementara aku sendiri hanya duduk menunggunya di meja makan, memandangi punggungnya dari belakang. Seperti seorang suami sedang menyaksikan istrinya menyiapkan sarapan pagi sebelum ke kantor (yang dalam kasusku adalah sebelum ke kampus). Bayangan kehidupan kami di masa depan sudah terlihat di benakku, betapa manisnya.

“hal jorok apa lagi yang sedang kau pikirkan?” tegur Hana yang tanpa aku sadari sudah duduk di hadapanku setelah meletakkan sepiring bibimbab di atas meja.

“hal jorok apa? Kau saja yang mengada-ada”elakku

“lalu kenapa kau memandangi tubuhku sambil senyam-senyum begitu”

Aku terbatuk “Hana-ya, kalimatmu sungguh tidak enak didengar”

“kenyataannya seperti itu kan?”

Aku melengos “sudahlah, lupakan saja” aku menggeser sepiring bibimbab tadi ke dekatku “kau tidak ikut sarapan?” aku memicingkan mata “atau kau ingin aku menyuapimu yah? Woah Lee Hana”

“jangan berpikiran aneh lagi, aku sudah sarapan di rumah Su Ho sebelum ke sini”

Aku tersedak “kau sudah sarapan lebih dulu sementara aku sejak semalam tidak makan?”

“Hya, siapa yang menyuruhmu untuk tidak makan? Bukankah kau bisa memasak sendiri?”

“kejam”

“sudahlah, makan saja”

Aku mengomel dalam hati. Hana, menginap di rumah Su Ho, pasti juga sempat makan malam di sana. Dan lihat pakaian yang dia kenakan. Elegan sekali, sejak kapan Hana mengenakan mantel semahal itu?.

“kenapa lagi?”

“aniyo”

“lalu kenapa kau memandangiku seperti itu?”

“tidak, pagi ini kau sangat anggun, elegan. Bahkan di dalam ruangan pun kau tidak melepas mantelmu”sindirku.

“oh ini… mantel ini sangat hangat” ia baru melepasnya setelah aku menegurnya. Dan lihat, pakaian yang ia kenakan di dalamnya, lebih keren lagi, bahunya agak terbuka, dan aku yakin Su Ho sudah melihatnya lebih dulu.

“bisa kulihat, kau sangat betah memakainya”

“Su Ho yang memberikannya. Ck, sudah ada dua pasang, dia juga memberiku sepasang baju tidur semalam”

“baju tidur?”

“ne, pakaianku yang semalam sedikit basah. Aku terpaksa menerimanya, selain karena Su Ho mendesak, aku juga tidak enak kalau harus tidur di ranjang mewahnya dengan pakaian basah”

Lagi-lagi aku terbatuk “kau bilang apa barusan?”

Hana mengerutkan kening “yang mana?”

“kau tidur di mana?”tanyaku memastikan, berharap aku yang salah dengar.

“di tempat tidur… Su Ho”

“MWORAGOYO???”

“tapi jangan salah paham, aku memang tidur di kamarnya, tapi Su Ho tidur di kamar lain”

Aku meraih segelas air dan meneguknya cepat-cepat. Ini sudah pertengahan musim dingin tapi kenapa aku merasa di sekitarku panas sekali?

“cepat habiskan makananmu”

“aku sudah kenyang” kujauhkan piring itu dari hadapanku, kemudian beranjak pergi.

“kau mau kemana?”

“mandi. Wae, kau mau ikut?”

“Kyung Soo-ya, kau ini kenapa?”Hana mencekal tanganku

Aku tidak menjawab.

“kau cemburu?”

Aku melengos. Memalingkan wajah.

Hana melepaskan genggamannya kemudian beranjak pergi. Itu sangat tiba-tiba, makanya aku kaget. Spontan aku mengerjarnya, dan baru bisa mencapainya saat ia sudah berada di pintu depan.

“kau mau kemana?”

“pulang”

“kenapa jadi kau yang marah?”

“aku tidak marah. Kaulah yang marah. Aku mau pulang untuk ganti pakaian”

“kenapa kau ingin ganti pakaian?”

Hana menatapku serius “bukankah kau tidak suka kalau aku mengenakan pakaian pemberian Su Ho?”

Aku terkejut bukan main. Kurang lebih memang seperti itu, tapi bukan berarti aku melarangnya mamakai pakaian itu “bu… bukan seperti itu Hana-ya”

“lalu kenapa kau marah?”

Aku menepuk keningku “mianhae, mianhae, aku bukannya marah padamu atau pada Su Ho”

“lalu kenapa sikapmu begitu? Kau marah kepada siapa?”

Aku mengeluh, memalingkan wajah ke arah lain “aku marah pada diriku sendiri”

“Kyung Soo-ya…”

“aku terlalu payah sampai harus membiarkan yeojachinguku sendiri bergantung pada namja lain. Bukan padaku”

“Kyung Soo-ya, situasinya lain”

“aku tahu, tapi tetap saja…”

“kau lupa apa yang kukatakan padamu? Sedikitpun jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri”

Aku tidak menjawab, masih belum berani menatap Hana.

Hana meraihku pelan, dan membiarkan tubuhnya bersandar di dadaku, memelukku lembut “maafkan aku Kyung Soo-ya, maafkan semua tindakanku yang membuatmu tidak senang. Kalau kau tidak suka aku menginap di rumah namja lain, aku tidak akan melakukannya, kalau kau tidak suka aku makan dengan namja lain, aku tidak akan melakukannya, aku juga tidak akan menerima begitu saja pemberian namja lain, atau kalau situasinya mendesak, aku akan meminta izin dulu padamu. Jadi katakanlah hal-hal yang tidak kau sukai, aku akan menghindarinya”

Aku tertegun. Sampai seperti ini? dan lihatlah apa yang kulakukan, aku tidak ubahnya seperti namja posesif yang mengekang kekasihnya sendiri “Hana-ya, tidak seperti itu. Aku… akh… maafkan aku. Tadi itu aku hanya… akh…harus kusebut apa perasaan bodoh ini?”

Hana meregangkan pelukannya “Kyung Soo-ya… aku__”

“diamlah, jangan lakukan apapun… jangan karena diriku, kau merasa terbebani, lakukan apapun yang kau suka, selama kau menyukainya, aku juga akan menyukainya. Terlepas dari kejadian semalam, aku… aku bukannya tidak suka. Su Ho membantumu, aku harusnya senang. Hanya saja untuk sejenak, rasa cemburu menguasai pikiranku. Perkara Kris hyung__” aku menggantungkan kalimatku untuk topik yang sensitif ini “rasa paranoid ku akan kehilanganmu di mulai dari situ, makanya aku tidak bisa berpikir jernih akhir-akhir ini”

Hana menghembuskan nafas sejenak “tentang Kris oppa, kau tidak perlu memikirkannya lagi. Seperti kata-katamu, bahkan jika Kris oppa memperbaiki kesalahannya di masa lalu, dan pada akhirnya aku memaafkannya, tetap tidak akan merubah apa-apa” Hana masih menatapku “aku tidak bercanda, lain kali jika Kris oppa masih memintaku untuk memilih” Hana tersenyum sangat manis “inilah pilihanku. Do Kyung Soo”

Aku menatapnya, tepat di manik mata. Lagi-lagi aku adalah pihak yang seharusnya dipersalahkan, lihat bagaimana usaha Hana menegaskan bahwa apapun yang terjadi, dia akan tetap memilihku. Lalu apa lagi yang kukhawatirkan? Dan aku akan semakin terlihat bodoh karena sampai saat ini aku tetap tidak bisa menemukan susunan kalimat untuk membalasnya.

“masih marah?” tanya Hana.

Aku menggeleng bodoh.

“lalu kenapa tak bersuara?”

“bersuara hanya akan semakin membuatku terlihat sangat bodoh di depanmu”

“tidak juga. Saat kau bersuara, kau terlihat sangat keren”

“Hana-ya…”

“jangan anggap ini lelucon, tapi… aku suka suaramu. Semalam, kalau aku tidak memberanikan diri untuk menelponmu dan mendengar suaramu, aku tidak akan bisa tidur sampai pagi”

“Hana-ya…”

“diamlah… bukankah kau ingin memelukku erat? Aku sudah di sini, lalu apalagi?”

Aku pun akhirnya menghembuskan nafas lega, dan belum sempat aku bersuara, Hana sudah menghempaskan tubuhnya ke pelukanku, melingkarkan lengannya di punggungku, seolah tak ingin melepasku. Kuraih pinggang Hana agar lebih merapat ke pelukanku.

“Kyung Soo-ya…”

“ne?”

“sepertinya aku harus mengembalikan mantel yang diberikan Su Ho padaku”

“kenapa? Bukankah sudah kubilang, Aku tidak marah kalau kau memakainya”

“aku sudah tidak butuh lagi”

“tapi musim dingin masih panjang”

“tidak masalah, selama kau terus memelukku sehangat ini, aku sama sekali tidak membutuhkan mantel”

Untuk kesekian kalinya aku tertegun. Ada yang baru kusadari, tentang respon Hana terhadapku. Maksudku, semua ucapannya yang mampir di telingaku… dan terkadang saat berpelukan saja aku awalnya sedikit khawatir Hana ketakutan. Tapi makin lama, aku bahkan beberapa kali lupa bahwa Hana pernah menderita phobia terhadap namja. Bagaimana aku menjelaskannya. Lihat bagaimana Hana yang lebih dulu memelukku seperti ini. siapa yang bisa menyangka bahwa aku mati-matian mengontrol diriku untuk tidak segera melepas pelukan ini, meraih wajah Hana dan menciumnya.

Ah tidak, apa yang kupikirkan? Begini saja sudah cukup, seharusnya aku tidak boleh berharap lebih. Mengenai ide mencium Hana, mungkin dalam waktu dekat tidak bisa kurealisasikan, Hana jelas tidak akan seperti itu selamanya kan? Dan aku akan bersabar sampai saatnya tiba. Sampai suatu saat, Hana akan diam dan memejamkan matanya sebagai pertanda ia membolehkanku menyentuh bibirnya.

~***~

“Hana-ya, apa sebaiknya kita tidak masuk kelas pertama saja?”tanyaku saat kami sudah berdiri di depan pintu utama gedung fakultas seni.

“waeyo? Masalah Kris oppa?”tanya Hana kembali.

“kurasa kau tau kekhawatiranku”

Hana menghela nafas, kemudian merapatkan genggamannya di lenganku “ini belum cukup?”

“tapi tetap saja…”

Hana memiringkan kepalanya untuk menatap wajahku “aku di sini Kyung Soo-ya, di sisimu. Aku tidak akan kemana-mana. Bahkan kalau kau sendiri yang mengusirku”

Aku balas menatapnya. Kekhawatiranku memang sedikit berkurang, kata-kata Hana memang membuatku sedikit lebih tenang, tapi tetap saja bayangan Kris hyung yang bersikeras merebut Hana dariku terus mengusikku.

“Kyung Soo-ya…”

“arasso… arasso”

“kajja…”

Dan di sinilah aku, duduk dengan gelisah di bangku sebelah Hana. Aku sudah mengatakan pada Su Ho bahwa khusus saat kelasnya Kris hyung, aku akan duduk di sebelah Hana, beruntung Su Ho mau mengerti.

Saat-saat menegangkan itupun tiba. Saat di mana seorang namja tinggi, putih, dengan wajah agak blaster masuk ke dalam kelas. Situasi kelas yang heboh sudah bisa kuperkirakan sebelumnya, terutama dari kalangan mahasiswi. Diajar oleh dosen muda dengan kharisma luar biasa itu jelas membuat para yeoja memandang ke depan tanpa berkedip.

Beruntung yeoja di sebelahku hanya betah menatapku.

“Good morning everyone”

“GOOD MORNING SIR….” lihat saja sambutan heboh dari seluruh mahasiswa di kelas ini. kecuali 3 orang tentunya, aku, Hana dan Su Ho hanya berusaha bersikap santai.

so great for my first impression. Seperti yang sudah diinformasikan sebelumnya, mulai hari ini aku akan menggantikan Miss Ahn sebagai dosen bahasa Inggris di jurusan ini. jadi mohon kerja samanya”

“YES SIIIRRRRR…”

okay, first of all, let me introduce my self. My name is Kevin Li, my real name is Wu Yi Fan, but since Im in Korea, you can call me Kris

Kelas kembali heboh, para yeoja sibuk berbisik.

“Kyung Soo-ya” bisik Hana. Dan kurasa yang dia bisikkan bukan topik yang sama dengan mereka “kau terlihat sangat tegang, santailah”

Aku menoleh, membenarkan perkataan Hana. Aku memang tegang. Bisa kulihat sejak tadi Kris hyung masih berusaha mengitarkan pandangannya ke segala penjuru kelas, seolah sedang mencari sesuatu, tepatnya seseorang, dan lebih tepatnya lagi adalah Lee Hana. “arayo…”

Dan saat aku menatap ke depan, detik itu juga pandanganku dan Kris hyung bertemu. Walau tempatku dan Hana duduk adalah yang paling belakang, aku masih bisa melihat manik mata Kris hyung tertuju padaku.

Apapun yang terjadi, akan kupertahankan Hana di sisiku!. Kupasang wajah tegasku, berharap Kris hyung terintimidasi dan tidak berniat menghampiri bangku kami dan melanjutkan perkara kemarin.

Tapi kekhawatiranku tidak terbukti benar… Kris hyung memulai kuliahnya, dan beruntung Kris hyung masih mengedepankan sikap profesionalismenya. Kuliah berjalan sebagaimana layaknya, hanya ada interaksi antara dosen dan mahasiswa, bukan antara sahabat yang spontan berubah jadi rival, bukan juga interaksi antara mantan kekasih yang berharap yeojanya kembali. Ah bukan, Hana bukan yeojanya.

Dan begitu kelas Kris hyung usai, aku segera membawa Hana keluar dari kelas sebelum Kris hyung punya ide untuk menyuruh Hana menemuinya di ruang dosen atau di mana saja agar mereka berdua bisa bertemu.

“apa ini tidak berlebihan Kyung Soo-ya?” tanya Hana saat aku mengajaknya ke cafetaria.

“apanya yang berlebihan?”

“menghindari Kris oppa, kau akan menghindarinya sampai kapan? Dalam seminggu kita akan bertemu dengannya dua kali, jadi cepat atau lambat kita tetap akan dihadapkan pada situasi yang kau khawatirkan”

“memangnya kau tahu situasi seperti apa yang kukhawatirkan?”

“ne, saat di mana Kris oppa akan meminta kita bicara bertiga”

Aku berdecak “bukan itu Hana-ya, aku berani menghadapinya. Yang kukhawatirkan adalah kalau Kris hyung menggunakan wewenangnya sebagai seorang dosen untuk memanggilmu menemuinya tanpa ada siapapun yang menemanimu”

Hana tertawa kecil “lalu kenapa?”

“tentu saja aku khawatir”

“apa yang kau khawatirkan?”

“semuanya… semuanya. Bagaimana kalau Kris hyung melakukan apa saja agar kau kembali ke sisinya?”

“kau tidak percaya padaku?”

Aku jadi speechless sendiri.

“Kyung Soo-ya, sudah kubilang, bahkan kalau Kris oppa memintaku secara jelas memilih, aku tetap akan dengan tegas memilihmu”

Aku menghembuskan nafas panjang. “arasso, lalu apa yang harus kita lakukan? Menemui Kris hyung dan memintanya jangan mengusik kita?”

“tidak perlu sampai seperti itu, aku juga segan melakukannya. Maksudku, biarlah kondisinya berlalu sebagaimana layaknya. Tidak perlu menghindar, saat kita harus berhadapan dengan Kris oppa, ya kita hadapi saja”

Aku menatap Hana “sebenarnya aku bukan takut menghadapi Kris hyung, hanya saja saat melihatnya, aku langsung emosi, dan aku tidak berani menjamin kondisinya tidak akan berakhir dalam sebuah perkelahian”

Hana berdecak berkali-kali “susahnya menjadi seorang namja”

Aku mengeluh “sudahlah, kuharap tidak akan terjadi apa-apa”

“Kyung Soo-shii….” seru seseorang membuat kami berdua menoleh.

Ah… belum hilang kepenatanku tentang Kris hyung, kini muncul lagi yang satu.

“waeyo Min Yeong-shii”balasku sedikit malas.

Min Yeong menggeret kursi dan duduk di sebelahku, bahkan tanpa sungkan bergelayut di lenganku walau jelas-jelas dan dengan penuh kenyataannya Hana berada di sebelahku. “kau akan datang kan?”

“kemana?” dengan hati-hati aku berusaha melepaskan rangkulan Min Yeong yang melilit bagai ular di lenganku.

“tentu saja ke pesta ulang tahunku minggu depan”

“oh itu, sudah kubilang akan kuusahakan”

Min Yeong menyodorkan selembar undangan dengan desain mewah di hadapanku. “maaf, hanya tersisa satu. Dan ini spesial kusimpan untuk Kyung Soo. Maaf yah Hana-shii, tapi aku tetap mengundangmu ke pestaku, jadi datang saja walau tanpa undangan resmi. Ini hanya sebatas formalitas”

“Oh gwenchanayo. Untuk apa menyerahkan dua lembar undangan?”Hana mengambil undangan yang diserahkan Min Yeong tadi padaku “ini sudah cukup. Aku dan Kyung Soo memang satu paket. Terima kasih telah menyadari hal itu”

Aku terbatuk. Takjub juga Hana bisa mengatakan itu. Aku hampir tidak bisa menyembunyikan tawaku.

Sebenarnya aku sedikit tidak enak melihat Min Yeong jadi speechless karena perkataan Hana. Tapi… aku lebih menikmati pemandangan saat Hana cemburu dan memperlihatkan usahanya untuk mempertegas hubungan kami.

“kami akan datang Min Yeong-shii, kami usahakan” ucapku memecah keheningan itu.

Min Yeong semakin berulah “gomawoyo Kyung Soo-shii, kau memang sangat baik, tidak percuma kita dekat sejak tahun pertama”

Hana berdehem, dan aku tahu itu sebuah sindiran untukku.

“ah, aku kembali ke kelas dulu, masih ada yang harus kuurus. Lagipula, aku merasakan ada hawa panas di sekitar sini”pamit Min Yeong yang siapapun pasti tahu kepada siapa dia tujukan sindirannya itu “sampai ketemu di jam kedua Kyung Soo-shii”

Dan aku tidak bisa menduga saat Min Yeong mengelus pipiku sebelum ia betul-betul pergi.

Sekarang, aku takut menoleh. Leherku seperti tegang. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana wajah Hana sekarang.

“bisa kau lakukan hal yang sama?”ucap Hana, lirih tapi tegas..

“hal… yang sama… seperti apa?”

“seperti yang kulakukan, bila Kris oppa memintaku memilih, dan aku akan memilihmu secara tegas. Bisakah kau melakukan hal itu? Memilihku secara tegas di hadapan Min Yeong?”

Akupun menoleh, menatap wajah Hana yang datar, dan itu ekspresinya kalau sedang tidak senang “apakah status kita sebagai sepasang kekasih belum cukup tegas?”

“tanya saja pada dirimu sendiri. Kalau itu sudah cukup tegas, kenapa Min Yeong masih secentil itu terhadapmu. Dan lagi, aku ada persis di sebelahmu, kenapa dia berani bergelayut manja di lenganmu dan membelai wajahmu?”

Aku menelan ludah, Hana kalau marah ternyata menyeramkan “aku sudah berulang kali mengatakan padanya bahwa yeoja yang kucintai itu kau, Lee Hana. Tapi pada dasarnya saja Min Yeong yang keras kepala”

“dan kau tetap bersikap lunak padanya?”

“Hana-ya, dia itu seorang yeoja”

“lalu kenapa?”

“tentu saja aku tidak bisa semudah itu membuatnya terluka sementara dalam hidupku aku punya eomma dan kau yang harus kupertanggung jawabkan. Membuat seorang yeoja menangis, bagaimana bisa aku masih punya muka menghadapi kalian?”

Hana tidak menjawab.

Detik berikutnya aku tertawa kecil “sekarang kau bisa merasakan apa yang kurasakan bukan?”

“apanya?”

“kekhawatiran itu. Aku pada Kris hyung, dan kau pada Min Yeong”

Hana memukul ringan lenganku “sama sekali tidak lucu”

“tidak mengenakkan bukan?”

“jadi maksudmu dari tadi aku belagak sok tahu dengan berusaha menenangkan kekhawatiranmu? Begitu? Jadi kau berniat membalasku?”

“tidak… tidak begitu. Entah kenapa kondisinya sampai kebetulan seperti ini. mungkin ini cara Tuhan untuk menguji cinta kita”

“ah… telingaku sakit” Hana mengeluh, dan itu terlihat nyata.

“waeyo?”

“kata-kata gombalmu membuat telingaku sakit”

“Hana-ya…”

“sudahlah, anggap kita impas. Yang jelas, kita harus berjanji satu sama lain untuk saling mempertahankan”

Aku tersenyum, senang, juga tenang.

“waeyo? Kenapa hanya senyam-senyum?”

Masih sambil tersenyum, aku membelai pipinya yang memerah karena cuaca dingin “Hana yang tegas seperti ini… neomu jhoa…”

“Aaaaa…. telingaku sakit lagi”

“Hana-ya, kau kenapa?”

Hana berdecak, seperti gelisah “aku sengaja melakukannya karena ini tempat umum”

“kenapa kalau tempat umum?”

“kau betul-betul tidak tahu atau kau pura-pura tidak tahu? Setiap kali kau membuatku luluh, yang ingin kulakukan hanyalah satu, yaitu berada di pelukanmu. Jadi aku harus melakukan apa saja untuk mengalihkan keinginanku itu”

Aku tertawa. Hana betul-betul… “JEONGMAL SARANGHAE HANA-YA” kutarik dia dalam pelukanku

“kyung… Kyung Soo-ya, apa kau gila??? Orang-orang melihat kita”

“biarkan saja… bukankah kau yang memintaku untuk menunjukkan ketegasanku. Biar semua orang tahu, bukan hanya Min Yeong. Bahwa aku memilih Lee Hana… yeoja yang kucintai adalah Lee Hana…”

“Aaaa… telingaku sakit…”

Aku semakin tertawa, karena Hana betul-betul berusaha agar tidak tenggelam dalam pelukanku.

~###~

Author POV

 

*Ia menyaksikannya dalam diam… hanya bisa bungkam. Menahan sakit yang bergejolak di dada mendesak keluar, tapi hanya bisa tertahan di tenggorokan. Memicu debaran jantung lebih cepat, lebih keras, mengalirkan darah lebih deras ke kepala, menambah temperatur dan suhu tubuhnya, hingga wajahya panas, matanya perih dan…

lihat bagaimana kau berbahagia di atas penderitaanku. Haruskah kulenyapkan kau agar semua rasa sakit ini berakhir? lirihnya seorang diri.

Diraihnya ponsel dari dalam saku, mengontak deretan nomor misterius di kontak list ponselnya kau di Seoul? tanya *ia langsung, begitu ada sahutan dari sana. sudah kupikirkan tugas baru untukmu. Kali ini bukan sekedar intimidasi, untuk itu persiapkan baik-baik, aku tidak ingin kau gagal kali ini

*Ia memutuskan pembicaraan dan meremuk ponselnya sendiri. Melampiaskan kemarahan pada benda yang tahu apa-apa kau… tunggulah

~>o<~

Kyung Soo dengan spontan menarik tangan Hana dan meraihnya hingga mundur dan bersembunyi di belakangnya. Alasannya tidak lain dan tidak bukan adalah karena sosok namja tinggi putih tengah bersandar di sisi pintu mobil Kyung Soo.

“mau apa kau?” tanya Kyung Soo jelas kurang ramah.

Kris tertawa kecut “urusanku bukan denganmu, tapi yeoja di belakangmu”

“kurasa kau dan yeojachinguku sudah tidak ada urusan apa-apa lagi. Dia sudah memaafkanmu, jadi kau boleh pergi”

“YA! Do Kyung Soo, berhenti bersikap seolah kau lebih berhak atas Hana dibandingkan diriku”

see… kau bahkan paham sikapku. Kau hanya masa lalunya hyung, dan setelah kesalahan masa lalumu sudah kau perbaiki, its over, sudah tidak ada lagi yang bersisa”

“Do Kyung Soo…”

“wae… Kris hyung. Masih belum jelas???”

Pelataran parkir sudah cukup sepi sore itu, jadi tidak ada yang menyaksikan kejadian fenomenal pertengkaran antara dosen dan mahasiswa memperebutkan seorang yeoja.

Kris tidak bisa lagi menahan sabar, ia berjalan menghampiri Kyung Soo, mencoba meraih tangan Hana yang masih bersembunyi (atau lebih tepatnya di sembunyikan) di belakang Kyung Soo.

“secuilpun kau menyentuh yeojaku, akan kuhabisi kau” ancam Kyung Soo berang.

Kris tertawa kecut lagi, meremehkan. “bisa apa kau?”

Kyung Soo sudah hampir menyerang, tapi Hana yang bisa membaca pergerakan Kyung Soo langsung menahannya “cukup Kyung Soo-ya”

“tapi…”

“Lee Hana, ikut denganku, kita bicara” Kris sudah mengulurkan tangan di dekat Hana.

“ne oppa… tapi, bisa kita bicara di sini saja? Aku sudah berjanji pada Kyung Soo untuk tetap berada di sisinya”

Kris terkejut “Hana-ya, bicara apa kau. Apalah arti seorang namja yang baru kau kenal beberapa bulan dibandingkan aku, kekasihmu”

“tentang itu, oppa. Benar… aku adalah kekasihmu”

Kyung Soo sudah bersiap protes, tapi Hana mengeratkan geggamannya, menyuruhnya hanya diam.

“tapi itu dulu”

Kris tersentak ke belakang “Hana-ya, bicara apa kau? Tidak ada yang berubah antara kita. Ini hanya perkara waktu”

“sepertinya kau melupakan satu hal, oppa… waktu tidak bergulir begitu-begitu saja. Kenyataannya, dalam potongan waktu itu, ada nama Kyung Soo yang terselip di sana”

“Ha… Hana-ya… bahkan setelah kau tahu kebenarannya, tidakkah itu merubah kebencianmu padaku??? Tidakkah kau memaafkanku”Kris semakin tidak terima.

Hana melangkah pelan, maju sedikit, berdiri di antara Kyung Soo dan Kris, mendongak agar bisa memandang wajah namja tinggi itu “sebut saja ini benar. Bahwa memang setelah kau menjelaskannya, kondisi kita berubah. Aku… tidak lagi membencimu, aku tidak lagi takut untuk bertemu denganmu. setelah kucari lagi apa yang berubah selain itu. Aku tidak menemukannya. Dan mengenai perasaanku. Aku masih memiliki rasa cinta itu” Hana berhenti sejenak, tidak cukup tega menyaksikan ketercengangan namja di hadapannya itu “hanya saja… perasaan itu sudah kutujukan pada orang yang berbeda. Aku bahkan berani menjamin, bahwa yang ini jauh lebih kuat”

“Hana-ya….”seru Kris, memohon.

“ne… aku mencintai Do Kyung Soo”

“Hana-ya” kali ini seruan Kris sudah menyerupai bentakan.

Hana menoleh sejenak ke balakang, menitip senyum kemudian kembali menatap Kris “awalnya, setelah kau menjelaskan semuanya padaku, sempat terpikir olehku. Andai saja aku tidak bertemu Kyung Soo, mungkin kondisinya akan berbeda. Mungkin setelah aku memaafkanmu, dan saat kau memintaku kembali ke sisimu, aku akan kembali tanpa syarat apapun” Hana berhenti lagi sejenak, menarik nafas, mengumpulkan keberanian dan kemudian menghembuskannya “tapi pada akhirnya, aku menemukan kehampaan di situ. Andai aku tidak bertemu Kyung Soo, masih bisakah aku merasakan hal ini? cinta yang seperti ini? dan yang lebih penting… masih bisa kah aku berani menatap wajahmu setelah apa yang kau tinggalkan di masa lalu untukku?”

Kris mengalihkan pandangannya ke samping, menyembunyikan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

“percayalah, apa yang kau lakukan padaku di masa lalu meninggalkan luka yang lebih menyakitkan dari apapun. Bahkan jika kau menjelaskannya seperti itu, akal sehatku tetap tidak akan menerimanya” Hana menelan ludah, pandangannya juga mulai kabur, air matanya mulai menetes “aku luluh dan akhirnya pulih dari lukaku bukan karena penjelasanmu oppa, baru kusadari hal itu. Yang membuatku luluh dan akhirnya menerima kebenaran itu adalah… bahwa memang luka itu mulai mengering saat kau datang dan menjelaskannya. Oppa… karena aku bertemu dengan Kyung Soo, karena kesempatan yang diberikan Kyung Soo padaku, aku … akhirnya pulih dan bisa memaafkanmu”

Kris merengkuh kedua pundak Hana, Kyung Soo terlonjak dan hendak menepis tangan Kris, tapi Hana menahan Kyung Soo. “ini tidak benar… ini tidak benar. Pikirkan sekali lagi Hana-ya, pikirkanlah… ini hanya perasaan sesaatmu padanya. Ingatlah bahwa kita melewati hari-hari indah juga masa-masa sulit bersama… ingatlah”desak Kris, berikut air matanya yang mulai menetes pelan.

“gomawoyo… oppa. Hanya itu yang bisa kuucapkan”

“Lee Hana….” bentak Kris.

“kurasa sudah cukup hyung” Kyung Soo sudah tidak tahan lagi. Ia menepuk pundak Kris dan menyuruhnya mundur “kurasa kau lebih tahu maksud perkataan Hana dibandingkan siapapun. Jadi…terimalah”

“kau jangan ikut campur…”

“kurasa aku yang lebih pantas mengatakan hal itu sekarang. Lee Hana, adalah yeojachinguku”

Kris sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia mundur ke belakang seolah tanpa daya. Dan seandainya tidak ada mobil Kyung Soo di belakangnya sebagai tumpuan, ia akan luruh ke tanah pula tanpa daya. Ia tertunduk, penuh sesal “sudah sejauh ini… aku menunggu beberapa tahun untuk hari ini, hari di mana kita mulai memperbaiki hubungan kita setelah aku berhasil menjelaskan semuanya… tapi berakhir seperti ini?”

“oppa… jeongmal mianhaeyo. Aku… tidak bisa berbuat apa-apa”

“kenapa kau minta maaf Hana-ya?” Kyung Soo yang protes “namja ini yang harusnya meminta maaf, dan dia sudah cukup beruntung menerima maafmu setelah apa yang dia lakukan padamu di masa lalu”

“Kyung Soo-ya…”tegur Hana, meminta namja itu diam.

“tapi…”

Kris mengangkat wajahnya. Mengumpulkan semua kekuatannya agar bisa menahan beban tubuhnya. Ia menyeret langkahnya meninggalkan tempat itu dengan pandangan kosong ke depan.

“Oppa…”seru Hana. Kris tidak menggubris, lebih tepatnya tidak peka lagi. Ia melanjutkan langkahnya meninggalkan Hana dan Kyung Soo.

Kyung Soo menegur Hana “ck, apalagi yang mau kau lakukan. Ini sudah berakhir”

Hana mengusap kasar air matanya “Hya, tidak bisakah kau membaca situasi? Kris oppa sedang terpukul, seharusnya kau bisa sedikit memahaminya”

“arasso… arasso… aku akan diam”

“untuk apalagi? Dia sudah pergi”

“setidaknya semuanya berakhir dengan baik kan?”

Hana mengeluh “kau pasti tidak tahu betapa tidak teganya aku mengatakan semua hal tadi. Aku bahkan gemetaran”

Kyung Soo tersenyum “kemarilah”

“aku tidak ingin dipeluk sekarang ini. aku mau pulang” Hana berbalik dan hendak melangkah. Tapi Kyung Soo lebih dulu meraih pinggang yeoja itu dan memeluknya dari belakang.

Kyung Soo menyandarkan dagunya di bahu Hana “apa aku pernah mengatakan ini? Lee Hana, kau sangat keren”

Hana jadi gugup sendiri “Kyung Soo-ya, apa yang kau lakukan? Lepaskan…”

“sebentar saja” Kyung Soo melingkarkan tangan kirinya di perut Hana, dan tangan kanannya meingkar di depan leher Hana, kemudian ia sandarkan pipinya di puncak kepala Hana

“Kyung Soo-ya, ini…” Hana semakin gugup. Ia merasakan pelukan Kyung Soo kali ini begitu beda, mungkin karena kelegaan yang mereka berdua rasakan hingga menimbulkan sensasi tersendiri.

“harus seperti ini Hana-ya, berada dalam pelukanku. Karena kalau kucium, kau pasti tidak mau”

Hana tersentak kaget, dan Kyung Soo jelas merasakan tubuh yang dipeluknya itu tersenak.

“lihat, saat aku mengatakannya saja kau sudah sekaget ini”

Hana mengeluh dalam hati. Kyung Soo tidak tahu saja bahwa Hana tersentak bukan karena takut diberi ciuman, ia hanya kaget saat kesempatan itu sepertinya akan ada.

“cuaca semakin dingin Kyung Soo-ya, ayo kita pulang. akan kubuatkan sup hangat untukmu”

“hm baiklah…”

~###~

Kyung Soo POV

Cuaca betul-betul dingin. Aku bahkan tidak beranjak sedikipun dari pemanas ruangan milik Hana.

“Kyung Soo-ya, supnya sudah siap. Ayo makan”seru Hana dari arah dapurnya.

“nae chagi-ah…”sahutku kemudian menuju ruang makan.

“kau bilang apa barusan?” Hana meletakkan panci kecil yang bersisi sup panas di atas meja.

“kenapa? Kau tidak suka?” aku mengambil mangkuk dan mendekatkannya ke arah Hana agar ia menuangkan sup ke mangkuk ku.

“bukankah kita sudah pernah membahasnya. Aku bukannya tidak suka,aku hanya merasa aneh”

“arasso… yeobo”

Hana terkejut, ia bahkan tidak sengaja menyiram tangannya dengan sup panas itu. “aduh…” keluhnya

Aku panik, segera meraih tangannya“kenapa kau seceroboh itu???”

“kenapa kau menyalahkanku? Kau yang membuatku terkejut”

“kenapa kau terkejut? Harusnya kau mulai terbiasa saat aku memanggilmu dengan panggilan sayang”

“itu berlebihan Kyung Soo-ya, kita hanya berpacaran. Tidak menikah”

“bukannya tidak menikah” ralatku “tapi belum menikah, bisa membedakannya kan?’

“arasso… arasso, belum menikah” Hana mengeluh “ah perih sekali”

“tunggu kuambilkan obat”

“tidak perlu, biar aku saja. Kau duduk di sini dan habiskan sup mu”

“benar kau bisa sendiri?”

“ne, ini hanya sedikit” Hana beranjak pergi, mengambil kotak P3K di ruang depan. Yeoja ini benar-benar langka. Sepertinya kesempatan untuk menciumnya akan semakin menipis,. Dipeluk saja kadang dia gemetaran, dipanggil dengan mesra saja dia kaget, merasa aneh. Akh… aku bahkan khawatir dengan kehidupan kami nanti setelah menikah. Apa mungkin dia akan bersedia disentuh?.

Ya Tuhan, pikiranku sudah semakin menggila. Slow down Do Kyung Soo… keep calm and waiting for another chance.

Hana kembali ke meja makan sembari meniup-niupi punggung tangannya yang terkena sup panas tadi. “kau tidak suka sup nya?”

Aku tersadar “ah.. aku suka”

“lalu kenapa belum dimakan?”

“aku menunggumu. Ayo makan bersama”

“okay…” Hana menggeser kursinya lebih dekat denganku.

Aku mengerutkan kening sambil menatapnya heran.

“waeyo? Ada yang salah?”

Aku menggeleng “hanya saja sedikit aneh, kenapa kau duduk di sebelahku? Biasanya kan kita makan berhadapan”

“kalau aku duduk di seberang meja, bagaimana tanganmu bisa sampai untuk menyuapiku?”

Aku terbatuk “ha?”

Hana mengangkat tangan kanannya “aku sedang terluka, kau tidak berniat menyuapiku?”ucapnya bermanja-manja

Aku kembali terbatuk. Kemudian Menyentuh dahinya dengan punggung tanganku “tidak demam”

Hana membelalak “HYA… KAU PIKIR AKU SAKIT???”

“bukan… hanya saja aku heran. Ah, apa mungkin tadi di depan saat kau mengambil kotak P3K di lemari, kotak itu menimpa kepalamu?”

“DO KYUNG SOO…”

“LEE HANA…” balasku “kau membuatku cemas”

Hana mendengus kesal “ya sudah, aku makan sendiri saja”

Aku langsung menangkap tangannya begitu ia hendak menggser kursinya menjauh “chakkaman, aku akan menyuapimu, kita makan bersama”

“bukankah kau tidak mau?”

“kapan aku bilang tidak mau? Aku hanya kaget, ini sangat drastis. Biasanya kalau aku yang menggodamu duluan seperti itu kau akan marah. Sekarang justru kau yang bersikap manja seperti ini, bagaimana aku tidak kaget. Kupikir ada sesuatu yang salah denganmu”

“kau tidak suka?”

“siapa yang bilang tidak suka???”

“lalu kenapa?”

Aku menghela nafas. “buka mulutmu”

“ha?”

“jadi sekarang kau yang tidak mau disuapi?”

Hana tertawa kecil, kemudian membuka mulutnya. Aku menyuapkan sesendok sup buatannya tadi itu ke mulut imutnya.

“woaaahh… tadi tidak seenak ini”seru Hana begitu ia menyeruput sup di ujung sendok itu.

DUG… oh sial… apa yang kulihat. Tindakan sederhana yang dilakukan yeoja ini membuatku hampir gila. Mataku terus tertuju pada bibir Hana, bagaimana menyeruput sup itu, menjilati bibirnya… lebih sialnya lagi, semua pemandangan itu seolah terproyeksi dalam gerakan lambat.

“Kyung Soo-ya… Kyung Soo-ya”

Aku terperanjat kaget, Hana mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku “ah ne…”

“kau tidak makan?”

“ng?”

“kau tidak suka sup buatanku?”

“ah… bukan begitu. Aku akan makan”

Good… pikiran aneh lainnya mampir ke otakku, sendok ini. sendok yang menyentuh bibir Hana tadi, dan akan kugunakan juga. Artinya… ciuman tidak langsung….

Dan Hana hanya santai saja di sana, meniup-niup punggung tangannya sambil menunggu gilirannya. Apa aku saja yang seheboh ini? apa aku maniak? Sejak kapan aku semenjijikkan ini? bahkan sendok bekas Hana pun membuatku…

Sial… ketika ujung sendok itu menyentuh bibirku, bayangan aneh berputar-putar di benakku. Seperti memutar sepotong adegan romantis di mana aku berciuman dengan Hana…

“aaa”

Aku tersentak lagi. Hana sudah membuka mulutnya lagi di dekatku. Kalau akal sehatku sudah tidak bekerja, bisa jadi aku melemparkan sendok ini, dan langsung menarik wajah Hana dan menciumnya saat ini juga. Tapi…bayangan menyeramkan langsung menghampiriku, menghapus sepotong adegan romantis tadi di benakku. Bayangan di mana Hana kalap, berlari dan meringkuk di pojokk ruangan, menangis sekeras mungkin dan menjerit-jerit ketakutan. Mana bisa aku mengabaikan hal itu. Walau dia sendiri mengaku sudah pulih, siapa yang berani menjamin kalau traumanya tidak akan pernah kembali?

“Kyung Soo-ya, supnya mulai dingin”

“ah ne…”

Kuulangi lagi unuk yang kedua kalinya. Menyuapi Hana…

Kali ini lebih parah. Maksudku ulah Hana, sesaat setelah sup itu masuk ke dalam mulutnya, (mungkin karena tanganku gemetaran menyuapinya), aku melihat ada yang menetes di sudut bibirnya. Dan Hana menggunakan sisi jarinya untuk menyeka tetesan itu. Lagi-lagi semua pemandangan seduktif itu terproyeksi dalam gerakan lambat di mataku. Membuatku semakin gila!

Tenangkan dirimu Kyung Soo… tenang… kau harus mengontrol dirimu.

Segera kusambar mangkuk sup itu dan meneguk airnya sampai habis. Setidaknya itu bisa mengalihkan pikiran gilaku.

“kau lapar? Kubuatkan yang lain?”tanya Hana

“ah tidak-tidak… kurasa aku sudah kenyang, lagipula masih beberapa jam lagi menjelang makan malam”jawabku asal.

“um… arasso, nanti kubuatkan gurita saos asam pedas”

“ne…”aku menalan ludah, berusaha agar mataku tidak terutuju pada wajah Hana.

“OMO… Kyung Soo-ya” seru Hana dengan mata membulat kaget.

“wae… waeyo?” aku jelas ikut kaget.

“kau mimisan…” ucapnya.

Oh bagus… lihat bagaimana tubuhku merespon dengan segenap gejolak pikiran jorokku. Mimisan! Ada yang lebih memalukan dari itu??? “ah… ini, pasti karena cuacanya sangat dingin” elakku asal-asalan.

Hana dengan sigap meraih sapu tangan di sakunya dan menyeka tetesan darah sialan yang ada di hidungku. “makanya kubilang tadi, kita cepat pulang, jangan berlama-lama di luar. Lihat kondisimu sekarang”

Beruntung Hana percaya alasanku. Aku hanya diam sementara Hana masih dengan setianya menyeka darah yang terus menetes dari hidungku. Bagaimana mimisanku bisa berhenti kalau Hana berada sedekat ini denganku, aku bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya yang hangat menyapa wajahku. “biarku aku saja, Hana-ya” aku menepis tangan Hana dengan sangat hati-hati agar bisa memegang sendiri sapu tangan yang menempel di hidungku itu. Kalau Hana yang melakukannya, aku tidak bisa menjamin bisa mengontrol diriku lebih lama lagi.

“sudah berhenti?”

“kurasa begitu” aku melepaskan sapu tangan yang menempel di bawah lubang hidungku itu, dan menyaksikannya takjub. Darahku lumayan banyak.Tapi ketakjubanku berhenti hanya sampai di situ, karena detik selanjutnya mataku menangkap sesuatu di sapu tangan itu “DKS?”seruku dengan intonasi terkejut.

Hana juga terkejut seolah baru menyadari sesuatu.

“Hana-ya, ini…”

Hana menunduk dengan wajah merona “mian… mianhae.. itu”

“punyaku?”

Hana semakin gelagapan “mianhae Kyung Soo-ya… Waktu itu aku bilang tidak bisa mengembalikan satu helai lagi sapu tanganmu karena tidak bisa menghilangkan nodanya. Aku bohong tentang hal itu. Sebenarnya aku… hanya ingin menyimpannya sebagai benda penting”

“Hana-ya…”

“itu sebelum aku menjadi kekasihmu. Makanya saat itu aku sempat berpikir bahwa aku harus menyimpan sebuah benda yang mengingatkanku pada penolongku” Hana langsung mengangkat wajah “tapi setelah aku menjadi kekasihmu, aku pernah berniat mengembalikannya, tapi selalu lupa. Percayalah…”

Aku menghela nafas, “ppabo… kau pikir aku marah karena yeoja yang kucintai menyimpan sapu tanganku?”

“Kyung Soo-ya”

“yang membuatku marah itu justru kalau kau menyimpan sapu tangan milik namja lain sebagai benda penting. Kalau saja ini sapu tangan Kris, dan kau menyimpannya, aku akan membakarnya saat ini juga”

Hana terdiam, masih menunjukkan rona merah di kedua pipinya. Perlahan kusentuh pipi kirinya, menuntunnya menatapku.

“Hana-ya, aku senang… aku bahagia. Ini bisa menjadi salah satu bukti kalau kau menempatkan diriku pada posisi yang sangat penting”

Lama kami bertatapan seperti itu. Sampai kulihat mata Hana berkaca-kaca.

“Kyung Soo-ya”lirihnya, bahkan lebih mirip desahan karena nafas hangatnya menyapu seluruh wajahku.

DUG…

Situasi ini lagi… dan aku tidak bisa mengelak lagi saat kedua mataku bergerak turun dan tetuju pada bibir kecilnya yang berwarna merah muda itu. Bisa kulihat ada gumpalan kabut kecil yang keluar dari mulutnya saat ia menghembuskan nafas. Dan sialnya, kali ini aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghindari situasi ini. tanganku yang sudah terlanjur menempel di pipinya kini seolah bergerak sendiri menuju tengkuknya, aku bahkan tidak tahu bagian mana dari diriku yang memberi kekuatan pada tanganku untuk sedikit manarik wajah Hana ke arahku. Seolah terhipnotis, mataku tertuju pada satu titik. Bibir Hana!

Hana yang diam-diam saja (atau memang tidak paham situasi bahwa aku tidak bisa menolong diriku untuk tidak menciumnya saat ini) membuat suasana semakin mendukung dan tidak ada ada alasan untuk menghentikan hal ini.

Sampai ketika aku hampir menggapai bibir Hana, bayangan menyeramkan itu kembali mengusikku, seolah menamparku keras-keras, membuatku langsung sadar dan akhirnya bisa menguasai diriku sendiri.

Segera kulepaskan rengkuhanku di tengkuk Hana, membetulkan posisi dan… “aku akan kembali nanti malam, aku pulang dulu, sepertinya aku lupa minum obat siang ini. annyeong”pamitku buru-buru. Aku beranjak dari dudukku dan melangkah cepat menuju pintu depan.

Do Kyung Soo…kau sungguh bodoh… tadi itu hampir saja. Kau hampir menyakiti Lee Ha__

Langkahku terhenti. Begitu aku sudah bersiap membuka pintu depan apartement Hana. Tapi betapa terkejutnya aku melihat Hana yang melintasiku dari belakang dan segera berdiri di depan pintu, bersandar di sana dan menunduk dalam.

“ha… Hana-ya,?”tanyaku tidak mengerti. Apa mungkin Hana melarangku pulang? “Hana-ya ada apa?”

Yang lebih mengherankan, ia tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, menyandarkan punggungnya pada pintu, dengan kedua tangan bersembunyi di belakangnya. sampai terdengar suara…

CKLIK!

Hana mengunci pintunya. Aku jelas semakin tidak mengerti “ada apa ini?”

Hana… yang masih menunduk, melangkah pelan dan akhirnya berdiri persis di hadapanku “waeyo Kyung Soo-ya?”lirihnya

“ha?”

Hana mengangkat wajah. Dan aku terkejut melihat genangan air mata di sana. “kenapa kau seperti itu?”

“aku … tidak mengerti dengan apa yang kau maksudkan”

“kalau kau ingin memanggilku dengan sebuatn Chagi… maka panggilah aku seperti itu, kau tidak perlu menanyakan pendapatku, karena aku suka selama itu adalah kau Do Kyung Soo”

“Ha… Hana-ya”

“kalau kau ingin memelukku, maka peluklah aku… kau tidak perlu meminta izin terlebih dahulu untuk sekedar memelukku. Karena aku tidak akan menolak, selama itu adalah kau Do Kyung Soo”

“Hana-ya”

Hana terdiam sejenak, kemudian tanpa bisa kuperkirakan sebelumnya, ia menjulurkan kedua tangannya, menapakkannya di dadaku, sembari mendongakkan wajah, menatapku dalam “kalau kau ingin menciumku… maka ciumlah aku, kau tidak perlu mempertimbangkan apa-apa, karena aku tidak akan ketakutan… selama itu adalah kau… Do Kyung Soo” Hana mengakhiri kalimatnya.

Aku tertegun, membelalak saking tidak percayanya. “Hana-ya… tapi kau……”

“tidakkah kau mendengarnya bahwa aku sudah sembuh?”

“tapi siapa yang bisa menjamin kalau traumamu tidak akan kembali?”

“betul… siapa yang bisa menjamin?”Hana menatapku sendu “tidak ada yang bisa menjamin, tidak ada yang bisa memastikan, sebelum kau memastikannya sendiri”

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Jantungku berdegup kencang, seolah berlomba dengan aliran darahku yang rasanya seperti mangalir semua ke wajahku. Kurasa Hana akan merasakan debaran jantungku di telapak tangannya.

Hana mulai memejamkan matanya “go ahead…

Aku menelan kegugupan luar biasa, walaupun Kali ini Hana sendiri yang memintaku… api kegugupanku kali ini seribu kali lebih besar.

Aku tidak tahu sejak kapan tangan kiriku meraih pinggangnya, dan tangan kananku meraih pipinya. Aku juga tidak sadar sejak kapan aku mulai menundukkan wajahku hingga kurasakan sesuatu yang lembut dan hangat menyambut bibirku.

Aku… mencium Hana!

Ini bukan ciuman pertamaku, bukan pula pertama kalinya aku mencium Hana… tapi apa yang kurasakan saat ini, serta kesan yang tertinggal seolah inilah pertama kalinya aku mencium seorang yeoja tepat di bibir.

Tapi disampaing itu semua, ada hal yang lebih penting!

..

Hana tidak meronta, tidak ketakutan, tidak menangis, tidak berteriak histeris. Tidak kalap… tapi Juga tidak hanya tinggal diam….

Jauh dari yang pernah kuduga sebelumnya…

Hana membalas ciumanku.

TBC

ALF℠

42 thoughts on “[FF] ANOTHER CHANCE [PART 7]

  1. kyaaaaa.. Thoorrr..
    ini kenapa jadi aku ikutan deg deg’an juga ya O.o

    Cieeee.. Hana,Kyungsoo. ehmm..😉
    Tapi kasian juga sama si ‘tiang listrik’ alias Kris :p

    Lanjutkaaan thor😀

    Aku penasaran sama peneror Hana, kyaknya penerornya itu…. Hmmm…

  2. akhirnya… Kesampean jga niat D.O oppa buat nyium eonni…

    Hana eonni daebak! >.< nolak kris dgn ketegasan seperti itu…

    Penasaran ma chap 8… #buru2kechap8

    Minthor eonni daebak!!! Pgn bgt bsa buat crta dgn kta2 yg indah seperti yg eonni buat… Ak fansmu eonni!! ^o^

  3. akhirnya… Kesampean jga niat D.O oppa buat nyium eonni…

    Hana eonni daebak! >.< nolak kris dgn ketegasan seperti itu…

    Penasaran ma chap 8… #buru2kechap8

    Minthor eonni daebak!!! Pgn bgt bsa buat crta dgn kta2 yg indah seperti yg eonni buat… Ak fansmu eonni!! ^o^

    *ralat buat yg comment atas nama kartika sari utami, eonni. Itu ak salah pake us. Ak pikir tdi pake username pnyaku, ga tauny punya temenku itu eonni. Hehehe

  4. oMooo,,so sweet bget adegan ciuman,,
    jadii pengen liat bibir kyungsoo haha

    Kalau kyungsoo udah sma hana aku sma baekhyun aja*-*

  5. Waaaw ciuman! Wkwk:D lucu banget sih pasangan hana-kyungsoo ini, adegannya bagus wkwk, kris kasihan bangewt sih “pukpukkris* terus itu psternya gambar dio sama hana-nya pas gitu ya letaknua hehehehe, bagus thor, good job!:)

  6. Huahhhhhh kata2 part ini yg terakhr bener2 passsss bgt.. Sampe d cium’y.. Tuhkan hana jdi pemberani skrng.
    Hahaaaha makin gregetan sama pasangan ini.
    😀 next part ya thor .. Ga bosen2nya blng daebak buat ff ini.

  7. Kyaa ALF … Hana minta dicium ama D.O akhirnyaaaaaa………
    wkwkwwkwkk….ini siapa sih penerornya eh kenapa eeling gue si suho yak >_<
    dari awal feel aku ke suhosi masa… semoga salah deh yah yah …
    bener2 hana bikin deg2an yah,,, at the end dia tetep milih D.O as his partner in love..
    makin penasarannn hikss
    ALF paswwordnya belom… T^T…..udah ke ilam masa….

  8. woaaah ><
    minyeong kecentilan bgt masa.. — bikin ilfil aja… suho… dirimu asdfghjkl.. dan baru pertama kali aku ga suka ama tindakan suho -.- , buat kris, yg tabah ya, masih bnyk kok, yeoja cntk di luar sana😉 *kibasin rambut* #loh . dan ini pertama kalinya aku komenya pjg bgt ._.

  9. Waaaah… kissing scene juga akhirnyaaaaa…..
    Hahaha… d.o emang gak peka kayaknya…
    Mesti di jelaskan dulu sedetailnya…
    Kkkkkk

    Yang neror sapa mba broo?? Suho kah?? Minyeong??
    Aaaaaaa…..
    Molla molla molla molla ottokhae??
    Krissseu? Aah,, kris oppa terlalu baik lohh..
    Gak mgkn dy yg neror…

    • Comment aku kepotooong -_____-”
      Lanjut sini yawhhh…

      Sikap suho mulai abu2 nih thorr…
      Itu bagian author pov nya lebih menuju ke karakter cowok deh kayaknya..

  10. wah hana udah sembuh
    kyaa~ makin penasaran sama peneror nya
    suho mencurigakan, wah jgn sampe suho suka sama hana
    next chap ahhh
    penasaran gue

  11. Hihihi.. itu si Hana sama D.O makin romantis aja. . author ini terinspirasi dari mana siih bisa bikin kita tegang karena teror, senyum2 gaje karena romancenya, bikin perasaan campur aduk waktu bacanya🙂

  12. So sweeeeeet bgt thorrr…
    Aahaha… senyum senyum sendiri habis baca ini thorr… kkk😀
    Suka bgt thoorr…. aa d.o romantis walaupun suka panik kkk…:D
    Daebak bgt thorr… ^^

  13. suho lagi suho lagi..
    tinggal tunggu waktu sampe suho ngaku..

    kyungsoo keliatan lemah dihadapan hana kalo ada suho..
    tapi kyungsoo n hana bener2 hidup kalo mereka lagi berduaan..
    and it makes more complicated..

    entah apa yg ada dipikirannya author sampe bikin konflik serumit itu..
    kereeeennnn

  14. #nge fly#
    Suho makin mencurigakan nih.
    Lhat aja gimana dia ngasih perhatian berlebih sama hana.kenapa pula harus dibawa kerumahnya?.kan hana jga punya rumah.iya sih emang bahaya kalo hana tnggal dirumahnya sendiri.tpi suho harus ngabarin kyungsoo juga dong.
    Kan kyungsoo khawatir setengah mati.
    Hana,jangan gengsian dong,bilang aja mau,kenapa g trang-trang an aja sih?.
    Kan kesempatan itu bisa jadi datang sekali dalam seumur hidup,pliss jangan gengsian.
    Akhirnya mau juga hana dicium#plakkk…otak yadong#hoho#tpi seneng banget deh pas part itu.semuanya boleh selama itu Do Kyungsoo.hoho….#gombal deh Hana#
    Suho itu mencurigakan sangat orangnya,dia pasti dlang dibalik layar OVJ#apa kate lu dah,gue saraf#haha…..
    Maksudnya,suho pasti yang ngakalin semua rencana jahat ini#suudzhon mulu idup#-.-
    Tpi keren banget Hana,jadi ceritanya udah mulai cemburu dan tegas nih!?.bagus lah.
    Jadi kan pasti,kris udah ditolak,dan bahaya terbesar masih menanti di depan.Fightinggggg!!!😀

  15. Siapa peneror itu?? Siapa dy?? Ya! Kau, siapapun kau peneror, aku benci kaauuuuuuuu!! Dsar jhat bgt sih! Aish! Minyeong kah? Kalo kris gege kyanya sdikit ga mgkin.. Tpi bisa juga kris gege.. Kyaaa, siapa dirimu? T.T

    Aaa, hana-kyungsoo mkin sweet aja! :p sweeeeet.. Ahh, jadi melayang aku😀

    yes! Akhirnya hana eonni lbih milih kyungsoo oppa dibanding kris gege! Bagoes d(^^)b

    ampe mimisan bgitu? Ng.. Masa sih cuma krena dingin? Oke, bisa aja org mimisan krena dingin, tp kalo mimisan cuma krena mikirin ssuatu yg ‘waw’?? Sbnernya kyungsoo oppa mimisan knpa sih?😮 #curiga

    hyaaaa!! Akhirnya ciumannya kesampean juga yaa! Stelah skuat tenaga kyungsoo oppa nahan supaya ga nyium hana eonni😀
    aduh kopel ini swit skali!😀 johaa…

    Now, let’s teleport to the next chapt!😀

  16. hadeh.. adegannya detail banget.. gila..
    panas-panas..
    padahal di luar angin lagi hebatn2nya. Kenapa disini panas sekali. Apa hanya perasaanku saja??

  17. Kris kasihan juga yah. Hahaha aduh kyung soo mau nyium hana ampe ketakutan gt wkwkw. Wah hana sudah mulai pulih dari traumanya. Bagian suho nya disini sedikit yah?

  18. Wow hana sembuh, yg piku terakakhir mantep bgt
    Yg masih penasaran sapa sosok yg nge bully hana itj?
    antara suho dan minyoung
    Editing pikunya ^^ g nahannn wkkkkk

  19. wah bisa banget bayangin hana ditarik tarik sama dua orang tampan itu hakhak. aku penasaran sebenernya suho itu suka ga sih sama hana. perhatiaaannn banget. caranya perhatian itu bikin saya geregetan. wkwk. jadi nebak nebak ni apakah nantinya suho akan menyatakan cinta juga pada hana? jengjengjeng. harus baca part selanjutnya. ahaha *gaje* *abaikan tolong*.. tapi kalo dicerna sih suho tepatnya perhatian sesama sahabat ya. oke ini labil. suho hanya sangat hobi menolong dan rajin menabung. *2 kata terakhir setelah ‘dan’ harap abaikan* di part ini aku lega karna kyungsoo-hana janjijanjian.
    kak alf benerbener hobi bikin detakan jantung saya naik turun. penasaran. itu yang nelpon pembunuh bayaran(?) itu siapa? kris kah?
    ah pokoknya dipart ini hana-kyungsoo romantis sekali lah. aku ga nyangka kalo hana tibatiba jadi berbalik agresif(?) juga sama kyungsoo. hahaha aku senang xD dan yang terakhir yg mengejutkan di part ini…….kyungsoo akhirnya nyium hana! oh.em.ji.! prokprokprok cinta mereka makin bersemi. belum tau deh konflik part depan gimana. penasaran dan bikin degdegan ><

  20. so sweet banget loh di sini pas akhirnya tengah malem hana mutusin buat nelfon kyungsoo buat ngejelasin dan ngeyakinin kungsoo kalo hana bakal pilih dia daripada kris. dan akhirnya sedih waktu berfantasy pas bagian kris berjalan gontai ninggalin hana dan kyungsoo dengan kecewa setelah akhirnya hana lebih milih kyungsoo daripada dia.😦 “sudah sejauh ini… “

  21. Horeee hana akhrnya milih kyungsoo… Congrats ya kyungsoo stlah smua usha yg kau lakukan dy memilihmu..
    Eits jgn sneng dlu..kan blum tau endingnya..hehe

    hwaaa hana ama kyungso ciuman.. Dan yg bkin aq sneng.. Hana yg minta sndri.. Aq dkung kalian..saranghae hanado.. Always dkung kalian..

  22. Pletakkkkkkkkkkk kedubrakkkkkk tengah malem baca yang begini ini nih beginiiii !!! Hana sama kyungsoooooo ???????????????? Hana kyungsoo !!! ciuman:/:/

    Okeh ini apaaaa….

    Tapi yang masih bener bener bikin penasaran itu sosok misterius yang neror hana itu siapa? Suhokah? Apa suho suka sama han? Atau suho anaknya orang yang dulu hana bunuh _-_ aaaaaaaaaa sebenernya siapa suho? Siapa penerornya , atau Kim songsaeng *gua mulai ngigau*

    Seriusss bikin penasaran hokehhh saya lanjut ke chap selanjutnyaaaaa

  23. sapa itu??? yg ngerencanain itu sapa, qo aku malah curiga sama suho ya -ok ini ngawur- tp ga kemungkinan itu ttp ada kan ya…
    kris~~~ aduh ngerti deh maksud kris tuh baik sama hana cuma caranya salah, disini cara kyungsoo yg bnr jd wajar kalo hana lbh milih kyungoo…
    dan endinya,,, aaaaaa manis manis manis, hana ternyata agresif ya, tp klo ga gtu hubungan mrk ga berkembang(?) hahahha…

  24. Kyaaaaaaaaa kasian kris ge😛
    Sabar kris ge pasti kris ge nemuin yeoja yang lebih baik dari hana ko ^^
    Biarkan kyungsoo oppa dan hana eonni bahagia . mereka saling mencintai😀
    Yaa ampun ALF eon aku ketawa ketawa sendiri waktu hana mau di cium kyungsoo hihi😀

  25. mksih thor udh mematenkn hti hana cm buat kyung soo😀
    su ho perhtian nya berlebihn lgi… jgn2 dia nksir bnran ma hana? oh My God.. diam2 bnyk jg yg nksir hana,pdhl kn awalnya hana tu dingin bgt… menkjubkn
    awl” ku kira hana bkl luluh ma kris, bnr” deg”n mau bc lnjutn.e…
    selmt buat hana yg traumanya udh mulai sembuh🙂
    kyung soo knp kau sering mimisn??? dan penyebab yg kau utrakan ckup memalukn hehe😀

  26. aih irinya hana manja-manjaan sama D.O udah gitu disuapin pula
    woaa hana udah mulai ngebales ciumannya D.O
    co cwit banget(?)

  27. uwaaaaaaaaaaaaaa hana sama kyungsoo akirnya ngelakuin ituuu..
    Aaaa scene yang aku tunggu2 akirnyaaaa..
    Aduuuuuh senangnya……
    Apalagi si hana udah mau jelasin sama kris kalo dia udah mutusin buat milih d.o daripada kris..

    Aaaaa keren deh gak nyangka juga si hana berani ngomong gtu sama kris…
    Terus terus si hana juga daebak banget kalo udah berurusan sama si minyong…
    Kayanya rasanya pengen maraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah terus..
    Trus juga siapa si sbtlnya peneror ny hana tu..
    Stelah baca part ini aku jadi ragu kalo ternyata dalangnya adalah si minyong, tpi yg ada di pkiran aku tu si suhoo..
    Haha aneh kan, emang..

  28. hurrraaayyyyy….akhirnya….^^ ( loncat2 kegirangan )

    tp….siapa yg msh mau nyelakain Hana ya ( mikir keras sambil meluk guling ) ^^”

    ahhh…next part deh….

  29. Well, kasihan juga melihat Kris menghadapi kenyataan bahwa Lee Hana, telah memilih Do Kyungsoo

    Dugaan awal, sang peneror itu.. seseorang yang juga menyukai Hana tapi menyadari kalau ia tak bisa memiliki Hana, karena itu menginginkan Hana juga tersakiti seperti dirinya
    Apa itu Suho? Molla, aku juga mulai terpengaruh kata2 Kris untuk Kyungsoo ‘Cinta itu bisa merubah segalanya’ ‘Teman bisa jadi lawan’ jujur itu masuk akal bangett

    Suka banget sifat Hana yang sekarang. Jago panas-panasin Minyeong, deket dan akrab banget sama Kyungsoo, bisa tegar dan berani lagi dihadapan Kris. Belum kelakuan Hana-Kyungsoo yang manis banget bikin aku geregetan sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s