[FF] ANOTHER CHANCE [PART 6]


FANFICTION

Tittle : Another Chance [PART 6]

Author : AyouLeonForever

Cover pic/poster edited by : AyouLeonForever

Genre: Romance, Angst, Tragedy, Suspense

Length: Chaptered / Series Fic

Rating: PG15, T

Main Cast:

*Do Kyung Soo

*Lee Hana

 Kim Joon Myun

*Wu Yi Fan/Kris

*Park Min Yeong

Other Cast: Find them by your self :p

Disclaimer: All off the cast(s) belong to his/her self, parents, agency, and GOD

Copyright: The story and OC belong to me!No Copy paste without permissions!

warning: Typo(s) every where.

PART 6

Ia lalai akan sesuatu, terus menatap ke belakang membuat pandangannya luput akan bahaya di depan. Dimensi waktu menyadarkannya. Adalah salah jika terus dibayangi masa lalu hingga buta akan masa depan.

Ia rapuh akan sesuatu, terus menatap ke depan membuatnya terjatuh akan sandungan dari belakang. Dimensi ruang menyadarkannya. Masa lalu tidak untuk dilupakan, tapi dijadikan pengalaman untuk tidak lagi jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya.

Kini tinggal dirinyalah yang memilih, siapakah yang lebih kuasa antara dimensi ruang dan dimensi waktu

 

Before accident

Hana POV

Aku menutup buku ku kemudian menoleh begitu melihat siapa yang tiba-tiba duduk di bangku sebelahku sambil memasang senyuman yang sangat ramah. Aku bukannya heran, hanya bingung. Kenapa dia menghampiriku sementara Kyung Soo belum juga kembali dari toilet sejak 10 menit yang lalu.

“Su Ho-shii??”sapaku dengan intonasi yang lebih mirip kepada bertanya.

“anak itu mengantuk, jadi dia istirahat sebentar di ruang kesehatan”Su Ho justru menjawab dengan caranya sendiri, dan kurasa aku bisa langsung tahu alasan keberadaannya di sini.

“oh,… jadi dia yang menyuruhmu menemaniku?”

Su Ho mengangguk “kau keberatan?”

“tidak… tidak. Hanya saja, justru aku yang merasa tidak enak karena telah banyak merepotkanmu”

its fine, selama itu kau”

Aku mengerutkan kening “ma… maksudnya?”

Su Ho tertawa “hanya bercanda, kulakukan semua untuk sahabatku. Kalau anak itu senang, semua orang juga akan bahagia”

Aku (mencoba memberanikan diri) menatapnya. “Su Ho-shii, kau terlalu baik. Sekali-sekali, bisakah kau memikirkan kepentinganmu sendiri? Belakangan ini, Kau terlalu direpotkan dengan urusanku dan Kyung Soo, aku merasa telah menarikmu langsung ke dalam masalahku, dan kau terjebak di dalamnya. Bukan masalah Kyung Soo yang memintamu, tapi… Su Ho-shii, melihatmu kesusahan dan kelelahan saat mengawasi dan menjagaku___”

“sudah kubilang aku baik-baik saja. Aku melakukannya dengan suka hati”Su Ho buru-buru memotong

“tapi tetap saja aku merasa sangat tidak enak padamu”

Su Ho menyunggingkan senyum padaku “santai sajalah, aku tidak bercanda, aku melakukannya dengan suka hati. Dan lagi..”Su Ho menggantung kalimatnya, menatapku serius “bahkan jika bukan Kyung Soo yang meminta, aku akan tetap melakukannya”

Aku tersentak. Terlebih ekspresi Su Ho terlalu meyakinkan dengan penuturannya barusan. Dan semoga kali ini aku melakukan kesalahan dalam mempersepsikan kalimatnya itu.

“Hei… aku akan tetap menjagamu dari mereka-mereka yang menyakitimu. Aku mana mungkin membiarkan temanku terancam bahaya sementara aku masih mampu menolongnya”

Aku bernafas lega setelah Su Ho memperjelasnya “kamsamnida Su Ho-shii, kau memang teman terbaik yang pernah ada, tidak heran kenapa Kyung Soo sangat betah denganmu”

Su Ho tersenyum sebagai balasan. Senyuman yang betul-betul menenangkan.”oh ya, kau sedang membaca apa?”

“ah ini” kuperlihatkan sampul depan buku itu “riwayat hidup Leonardo Da Vinci, seniman favoritku”

“hey… sama denganku”

Aku mengerutkan kening “bukankah kau lebih tertarik seni musik dan vocal?”

“aku suka segala jenis dan macam seni, makanya aku masuk jurusan ini. kalau Kyung Soo baru bagian itu”

Aku mengangguk-angguk, dan terakhir.. aku baru tahu kalau namjachinguku punya bakat di seni musik dan vocal, kapan-kapan akan kuminta ia bernyanyi untukku “kenapa dia tidak masuk kelas khusus Musik dan vocal saja?”

Su Ho tertawa “mungkin karena ikut denganku, tahun kemarin dia sudah punya akses masuk kelas khusus, tapi dia justru mengikuti jejakku mengikuti kelas umum”

“wah, kalian memang sangat dekat”

Su Ho lagi-lagi menampakkan ekspresi serius itu “sangat dekat, dan bisa jadi karena kau… kami tidak akan lagi sedekat itu”

Lagi-lagi aku terkejut dibuatnya “su… Su Ho-shii”

Su Ho memberi jeda beberapa menit, sempat membuatku tegang “karena kau terlalu menyita waktu dan perhatian Kyung Soo. Waktu bermainku dengannya jadi berkurang”lanjutnya.

Dan lagi-lagi aku baru bisa bernafas lega. Namja ini memang suka membuat pernyataan mengejutkan dan penjelasannya rumit, parahnya dia baru menjelaskannya di belakang, sempat membuatku serangan jantung dulu baru mengerti isi ucapannya “itu terlalu berlebihan Su Ho-shii”

Barulah namja itu tertawa

~***~

Park sonseng sudah memulai kuliahnya 15 menit yang lalu dan Min Yeong baru masuk ke dalam kelas sambil tersenyum riang. Ekspresi yang sangat jarang karena biasanya ia akan masuk kelas dengan memamerkan aura dingin, angkuh dan pesona pemikatnya.

Dan lihat bagaimana cara Park sonseng mempersilakannya masuk tanpa ceramah panjang terlebih dahulu. Pesona sempurna memang terkadang membutakan siapapun.

“Su Ho-shii, apa tidak sebaiknya aku menemui Kyung Soo di ruang kesehatan? Aku khawatir… jangan sampai terjadi apa-apa dengannya”tanyaku pada Su Ho yang masih betah duduk di sebelahku.

“biarkan saja dulu. Dia tidak akan kenapa-napa”

“apa kepalanya sakit lagi?”

“hum… aku kurang tahu. Tapi setelah istirahat beberapa menit, dia pasti baik-baik saja. Jadi biarkan saja dulu”

Aku menghela nafas “arayo…”

Aku terpaksa menyimpan kekhawatiranku ini. Su Ho memang ada benarnya, mungkin Kyung Soo butuh istirahat sejenak, tadi pagi dia memang kelihatan sangat kusut. Apa aku membangunkannya terlalu pagi?.

Ya, ini pasti salahku. Aku terlalu bersemangat untuk bertemu dengannya, sampai-sampai aku membangunkannya pagi-pagi sekali, padahal kelas pertama di mulai pukul 10 tadi.

Dan sekarang, Kyung Soo pasti kelelahan. Tadi malam dia juga main cukup lama di apartementku, hampir pukul 11 malam, itupun aku yang mengusirnya sampai dia mau pulang. tentu saja mengenai candaannya tentang tinggal satu apartement itu. Dia tidak berhenti membahasnya. Dan kadang, aku juga cukup gila sampai mempertimbangkan hal itu.

Ah tidak… tidak. Aku baru saja memulai langkahku untuk menata kehidupanku bersama Kyung Soo, dan aku harus melewatinya tahap demi tahap tanpa melewai satu langkah pun.

Dan lagi yang harus kupikirkan sekarang adalah keadaan Kyung Soo, apa benar dia baik-baik saja?

“Su Ho-shii… aku mencemaskannya”kuutarakan saja kegelisahanku itu pada Su Ho.

“tenanglah… sebentar lagi dia akan kembali”

“tapi sudah hampir setengah jam sejak kelas dimulai. Tidak apa-apa kalau dia ketiduran, tapi kalau dia kenapa-napa? Kepalanya sakit lagi atau apapun itu”

“Hana-shii, tenanglah…”

Aku makin panik. Apalagi mengingat bahwa Kyung Soo berhasil menolak minum obat tadi pagi dengan alasan dia sudah sembuh total. Bagaimana kalau itu mempengaruhi kesehatannya? Lagi-lagi ini salahku karena teralu lemah. Seharusnya tidak kubiarkan dia menolak untuk minum obat.

“aku harus menemuinya”aku bersiap pergi.

Tapi Su Ho mencekal pergelangan tanganku “kau mau kemana?”

“tentu saja ke ruang kesehatan. Aku harus memastikan keadaan Kyung Soo. Percuma saja aku tetap duduk di dalam kelas mendengar ceramah Park sonseng sementara pikiranku tidak bisa fokus”

“tapi Hana-shii__”

“son.. Sonseng-nim, saya permisi ke toilet dulu” pamitku memberanikan diri. Dan ini adalah pertama kalinya dalam sejarahku di kampus ini, aku berani meminta izin sementara kelas masih berlangsung. Dan lihat saja bagaimana seluruh isi kelas menatap ke arahku dengan pandangan takjub.

Bahkan Park sonseng terdiam sejenak dan memandangku heran “ah ne… silakan, jangan terlalu lama”

“kamsahamnida sonseng-nim” akupun segera meninggalkan bangkuku dan mempercepat langkahku begitu aku keluar dari kelas.

“Hana-shii, chakkaman”Su Ho mengejarku dari belakang.

Aku tidak peduli, dan terus mempercepat langkahku berbelok di perempatan koridor.

“Hana-shii, tunggu. Kyung Soo pasti baik-baik saja, mungkin dia ketiduran, biar aku saja yang memanggilnya”seru Su Ho yang sudah berhasil mengejarku.

Aku menoleh sejenak padanya tapi kemudian meneruskan langkahku ke depan. Dan mataku sedikit membelalak begitu menangkap sosok yang kucari. Ia berdiri berhadapan dengan seorang namja yang cukup tinggi, pantas tadi aku tidak langsung melihatnya dari ujung koridor karena sosok tinggi yang membelakangiku ini menghalangi pandangan.

“Kyung Soo-ya….” seruku girang. Tapi ada yang aneh begitu pandangan kami bertemu. Ia membelalak kaget dan …. panik

“Hana-ya… jangan…”balasnya.

Bukankah ini sangat Aneh?…apa maksudnya dengan jangan? jangan apa? Aku meneruskan langkahku menghampirinya “Kyung Soo-ya, aku mengkhawatirkan keadaan__”ucapanku terpotong begitu kurasakan ada yang menyentak keras tanganku dari belakang hingga membuat tubuhku terputar, terhuyung dan limbung ke arahnya. terakhir kuketahui, pelakunya adalah Su Ho.

Yang membuatku terkejut dan sempat tertegun beberapa detik adalah, saat ia membenamkanku ke dalam pelukannya, memeluk pinggangku dengan tangan kiri dan menahan tengkukku dengan tangan kanan hingga aku tidak bisa bergerak, apalagi untuk sekedar menoleh pada Kyung Soo. “Su Ho-shii, ada apa ini, apa yang kau lakukan???”tanyaku jelas kebingungan.

Ada jeda di mana Su Ho terdiam. Dan aku juga tidak mendengar suara Kyung Soo sedikitpun. Yang terdengar di telingaku hanyalah suara detak jantung Su Ho yang begitu jelas saking rapatnya wajahku di dadanya.

“Su Ho-shii, lepaskan aku”pintaku dengan sedikit meronta.

“tunggu… jangan menoleh”Su Ho terus mencegahku

“waeyo?? Apa terjadi sesuatu?”

“itu…”

“itu apa?”aku semakin tidak sabar, kecemasanku meningkat. Pasti telah terjadi sesuatu.

“Kyung Soo…”

“kenapa dengan Kyung Soo?”

“resleting celana Kyung Soo terbuka”ucap Su Ho membuatku berhenti meronta

“Mwo… Mworagoyo?”tanyaku kaget, bukannya tidak percaya.

“Kyung Soo-ya, betulkan resleting celanamu”tegur Su Ho

Aku tidak mendengar respon Kyung Soo setelahnya.

“Kyung Soo-ya…” tegur Su Ho sekali lagi, lebih kepada membentak.

“ah ne… mian, aku tidak sadar. Tapi ini susah sekali. Sepertinya rusak.”barulah terdengar suara Kyung Soo yang sepertinya terkejut

“a… apa yang rusak?” aku memberanikan diri bertanya.

“resleting celanaku, kau kembalilah ke kelas dengan Su Ho. Aku akan menyusul setelah membetulkan ini. aigo memalukan sekali”jawab Kyung Soo. Aku bahkan tidak bisa menebak bagaimana ekspresinya saat ini.

“arayo… aku akan kembali ke kelas”

“jangan menoleh”

Aku mengangguk, kemudian terpaksa bertingkah seperti orang buta yang dituntun langkahnya oleh Su Ho.

Walaupun ini memalukan, tapi aku bisa memastikan sau hal…. KYUNG SOO BAIK-BAIK SAJA!

~###~

Kyung Soo POV

Aku hanya bisa menatap kepergian Hana yang dituntun oleh Su Ho. Jujur aku begitu shock melihat tindakan spontan Su Ho tadi, tapi beruntung otakku jalan di saat yang sangat tepat sebelum kecemburuan menguasai akal sehatku.

Itu adalah cara Su Ho menghindari kontak mata antara Hana dan Kris hyung. Dan kurasa itu adalah kondisi darurat. Aku seharusnya takjub pada Su Ho karena dia bisa berpikir dan bergerak se spontan itu. Dan hasilnya???

Pertemuan Hana dan Kris hyung terhindari.

Tapi, aku juga baru menyadari sesuatu. Yaitu sikap Kris hyung. Maksudku kalau memang dia ingin mengusik Hana, kenapa dia tidak mencegah Su Ho saat membawa Hana pergi? Kris hyung bisa saja bersuara hanya dengan memanggil nama Hana, dan aku bisa menjamin seribu persen bahwa Hana tidak akan pernah lupa pada suara namja yang pernah mencelakainya ini.

“wae?”aku akhirnya bertanya.

Kris hyung menoleh padaku, yang sejak tadi juga ikut menatap kepergian Hana. “apa maksudmu dengan kenapa?”

“kenapa kau tidak bersuara? Bukankah kau ingin mengganggu Hana lagi dengan hadir di kehidupannya? Bukankah hanya dengan menyerukan namanya, Hana akan menoleh dan melihatmu?”

Kris hyung terdiam sejenak, menatapku datar “masih dengan persepsi awalmu terhadapku, seolah kau tidak mengenal betul diriku”

“hyung…”

Dia menghembuskan nafas panjang, tampaknya lelah “benar, tadi itu kesempatan yang sangat bagus membuat Hana menyadari kehadiranku, tapi aku punya beberapa alasan kenapa aku hanya diam” Kris hyung memberi jeda “pertama adalah, karena aku memang mengindahkan ancamanmu, aku menghargaimu dan masih menganggapmu sebagai adik”

Aku memalingkan wajahku, berharap agar aku tidak terpengaruh.

“kedua, karena aku mencemaskan keadaan Hana. Aku juga tidak boleh gegabah, kusadari bahwa aku meninggalkan kenangan terburuk baginya, pertemuan 2 hari yang lalu itu adalah bukti bahwa sangat beresiko menampakkan diri di hadapannya dengan keadaan mendadak seperti ini. aku akan menunggu sampai waktu yang tepat”

“dan aku jelas tidak akan tinggal diam sampai waktu yang kau maksud itu tiba hyung”

Kris hyung mengangguk “arasso. Tapi melihat keadaan Hana tadi, sepertinya kondisinya cukup stabil. Mengingat pertemuan tempo hari, aku yakin kau melakukan sesuatu padanya”

Aku masih meladeni Kris hyung bicara “inilah yang kumaksud dengan menghapus kenangan lama dan menggantinya dengan kenangan baru. Hana menganggap pertemuannya denganmu tempo hari hanyalah mimpi buruk, dan tidak benar-benar terjadi”

Kris hyung mengangguk “kau sudah cukup dewasa dan cerdas untuk berpikir sampai di situ, seharusnya aku bisa meperkirakannya”

Sebenarnya ini adalah ide Su Ho, tapi aku tidak mungkin berkata jujur pada Kris hyung dan membuatku terlihat seperti orang idiot di hadapannya.

“sebenarnya aku belum selesai”

Aku mengerutkan kening “maksudmu?”

Kris hyung berjalan ke arahku, berdiri persis di hadapanku dan terpaksa aku mendongak untuk mempertahankan kontak mata “namja tadi, seingatku adalah namja yang sama dengan yang menghajarku tempo hari”

Aku tidak menjawab, dan kurasa Kris hyung paham bahwa aku mengiyakan tebakannya dalam kebungkaman.

“alasan ke tiga kenapa aku diam…” Kris hyung memberi jeda “namja tadi… memang dekat dengan Hana atau…?”

“dia adalah sahabatku. Teman pertamaku di tahun pertama aku menginjak kampus ini dan Seoul. Jadi berhenti menunjukkan ekspresimu itu seolah kau mencurigai Su Ho. Aku sungguh tidak suka”tegasku.

Anehnya Kris hyung malah tertawa, itu justru membuatku semakin emosi terhadapnya “sepertinya kau terlalu banyak mengkhawatirkan kehadiranku di kehidupan Hana padahal kenyataannya ancaman yang lebih berbahaya justru berada sangat dekat denganmu”

“HYUNG!!” bentakku, aku jelas tidak terima saat Kris hyung melibatkan Su Ho dalam kasus ini.

“hanya mengingatkan” Kris hyung menepuk pundakku “bahwa cinta itu bisa lebih rumit dari apapun. Bisa merubah apapun menjadi baik, dan sebaliknya bisa menjadi buruk. Dan saat cinta sudah bicara, terkadang…. kawan bisa jadi lawan. Ingat itu!” ia pun meninggalkanku setelah mengeluarkan kalimat menyebalkan itu.

Tinggallah aku, mematung di tempat dengan keterpanaan. Berusaha menepis semua kebenaran dari pernyataan Kris hyung. Tapi sial, memoriku kembali mengait-ngaitkan kejadian-kejadian yang ada sangkut pautnya dengan Su Ho dan Hana. Bagaimana antusiasnya Su Ho menolongku menjaga Hana, bagaimana usahanya melindungi Hana, dan terakhir, bagaimana murkanya dia saat kami mendapati Hana di apartementnya tengah diganggu namja asing yang terakhir kuketahui bahwa namja itu adalah Kris hyung.

Benar, semuanya bukan jelas tanpa alasan, bukan tanpa tujuan. Tapi tidak mungkin… Su Ho adalah sahabatku, dan di dunia ini tidak adalagi yang bisa kupercayai sepenuh ini selain dirinya. Jadi mana mungkin Su Ho akan menikamku dari belakang, tidak mungkin! Sangat mustahil. Ini pasti cara Kris hyung untuk mengacaukan pikiranku, agar aku lengah dalam kewaspadaanku menjaga Hana. Ya benar, ini hanya akal bulus Kris hyung untuk mengadu dombaku dengan sahabatku sendiri!

~***~

~ ᴥᴥᴥ ~

AUTHOR POV

Kyung Soo masuk ke kelas setelah mata kuliah Park sonseng selesai. Ia Berusaha untuk tidak terkejut saat mendapati Su Ho duduk di bangku sebelah Hana. Walau Perkataan Kris kembali mengusiknya, tapi ia tetap percaya pada Su Ho.

Dan benar saja, begitu ia menghampiri bangku Hana, Su Ho langsung menyingkir dan memberinya tempat di sebelah Hana.!

“nanti kujelaskan, aku ke auditorium dulu”pamit Su Ho

“aku mengerti, kau tidak perlu menjelaskannya”balas Kyung Soo kemudian menepuk pundak Su Ho .

Su Ho pun tersenyum padanya kemudian beranjak pergi. Sementara Kyung Soo menggantikannya duduk di bangku sebelah Hana.

“gwenchanayo?” tanya Hana

Kyung Soo  mengangguk “maaf membuatmu cemas”

“kukira terjadi sesuatu denganmu, makanya aku sedikit panik”

“mianhae, seharusnya aku memberitahumu kalau aku ingin istirahat di ruang kesehatan”

“bukan salahmu, aku saja yang tidak bisa mengontrol kepanikanku”

Kyung Soo  tersenyum, kemudian meraih tangan Hana dan menggenggamnya “terima kasih karena mencemaskanku, aku senang. Tapi aku baik-baik saja”

“ng… mengenai kejadian tadi…”

Kyung Soo tersentak, pikirannya langsung kalut. Apakah Hana membahas kejadian di koridor tadi? Apa mungkin Hana sempat melihat sosok Kris? “ke… kejadian apa?”

Hana tertunduk “itu…”

Kyung Soo semakin cemas “itu apa?”

Hana langsung memalingkan wajah ke arah lain, “perkara resleting celana, aku bersumpah aku tidak melihatnya”tutur Hana buru-buru.

“res… resleting celana?”

Hana mengangguk sembari menyembunyikan semburat merah di kedua pipinya.

Barulah Kyung Soo merasa lega, ia pun tertawa sekiranya Hana betul-betul tidak menyadari kehadiran Kris tadi “gwenchanayo… jangan memikirkannya sampai seperti itu”

“tapi sangat memalukan. Terlebih bagaimana Su Ho mengalihkan perhatianku, ah… aku tidak bisa membayangkan, lagipula kau ini ceroboh sekali, kenapa kau sampai lupa kalau resleting celanamu terbuka?”

Kyung Soo tersenyum tipis, ia menyentuh dagu Hana, membuat yeoja itu menoleh padanya “yang terpenting dari hal ini adalah, kau betul-betul tidak melihatnya”ucapnya serius.

“aku bersumpah, aku tidak melihatnya”

Kyung Soo mengangguk “hum, arayo, dan aku lega. Karena kalau kau sampai melihatnya, aku tidak tahu lagi harus berbuat apa”

“kyung… Kyung Soo-ya”

“dan aku akan berusaha sampai akhir, juga semampuku agar tak ada sedikitpun celah agar kau bisa melihatnya

Hana mengerutkan kening. Ekspresi Kyung Soo terlihat aneh, terlalu serius untuk sekedar membahas resleting celana. Hana bahkan ragu kalau mereka tengah membahas objek yang sama. Tapi Hana tetap mengangguk, berusaha mengerti kalimat aneh Kyung Soo itu.

“saranghaeyo Hana-ya. Dan akan kulakukan apapun untuk melindungimu dari siapapun yang hendak mencelakaimu. Aku berjanji” Kyung Soo menyentuh pipi Hana.

Bertambah lah keheranan Hana, ekspresi Kyung Soo berubah sendu, dan itu sangat… mencurigakan “Kyung Soo-ya, apa terjadi sesuatu?”

Kyung Soo menggeleng “ani… dan kuharap sampai kapanpun tidak akan terjadi apa-apa”

Hana menghembuskan nafas, ia menyentuh punggung tangan Kyung Soo yang masih menempel di pipinya kemudian ia genggam dengan kedua tangannya “Kyung Soo-ya, apapun yang menganggu pikiranmu, yang membuatmu susah, dan membebanimu, kuharap suatu saat kau bisa mengatakannya padaku. Dan saat itu aku juga akan melakukan apapun untuk membantumu menyelesaikannya”

Kyung Soo terdiam sejenak, menatap Hana lekat dan dalam, memastikan tak ada yang luput dari pandangannya “just stand by me, stay with me, thats more than anything

“Kyung Soo-ya…”

Barulah Kyung Soo tersenyum “siang ini kita makan di luar yah”

Dan Hana akhirnya hanya bisa memendam rasa ingin tahunya, mencoba mengerti bahwa Kyung Soo tidak ingin lagi melanjutkan pembahasan tadi “hum, terserah padamu”

Tak jauh dari sana, sepasang mata mengawasi dalam diam, menyembunyikan luka yang hampir berubah menjadi teriakan kesakitan. Memendam amarah yang lambat laun berubah menjadi benci dan obsesi. Menunggu, hingga saat yang tepat tiba dan ia akan kembali menyeruak ke permukaan tanpa ada yang menyadari.

~<3 ~<3 ~<3

Hana POV

Seperti hari-hari biasa sepulang kuliah. Kyung Soo akan berjalan ke palataran parkir untuk mengambil mobilnya sementara dia menyuruhku menunggu di depan gerbang kampus yang lumayan teduh. Tapi kali ini tidak seperti sebelum-sebelumnya. Entah ada masalah apa lagi sampai Min Yeong menghampiriku dengan senyuman angkuh yang tercetak jelas di bibirnya.

“Annyaeonghaseyo Hana-shii” dan aku tahu jelas Min Yeong hanya berbasa-basi

“annyeonghasimnika Min Yeong-shii”balasku pelan.

“menunggu Kyung Soo?”

Aku mengangguk. Sebenarnya aku tidak tahu kenapa Min Yeong cukup percaya diri menghampiriku di sini, terlebih sejak tadi dia tersenyum penuh kemenangan, seolah ada yang ingin dia bangga-banggakan, dan aku tidak tahu apa itu.

“kelihatannya kau tenang-tenang saja setelah secara terbuka menantangku memperebutkan Kyung Soo. Sangat percaya diri, dan aku suka jenis rival yang seperti ini”

Masih tentang ini, dan sebenarnya ada bagian yang tidak kusuka dari kalimatnya. “Min Yeong-shii, bukan bermaksud melawan. Hanya mengingatkan, bahwa Kyung Soo bukan sebuah barang untuk diperebutkan”

“wow… mengejutkan sekali. Beberapa tahun sekelas denganmu, aku baru tahu kalau kau cukup tangguh juga. Aku semakin tertantang, dan semakin ingin merebut Kyung Soo.”

“Min Yeong-shii. Aku tidak cukup pandai dalam hal ini tapi… akan Kulakukan semampuku untuk mempertahankan Kyung Soo di sisiku”

Min Yeong melipat tangan di dada “menarik… kita lihat saja selanjutnya. Hanya sebagai bahan pertimbangan agar kau lebih mengenal rivalmu, tapi percayalah. Selama hidupku, aku tidak pernah gagal dalam mendapatkan apapun”

Aku kesal. Dan entah dari mana keberanianku ini, seolah aku ingin menjambak rambut yeoja di hadapanku ini “kalau begitu kau harus mulai terbiasa. Karena kali ini, bisa jadi pertama kalinya kau gagal mendapatkan sesuatu dalam hidupmu”

Min Yeong membelalak “KAU!”

Bertepatan saat mobil Kyung Soo menepi tak jauh dari tempat kami berdiri.

“permisi… namjachinguku sudah di sini. Waktu benar-benar sangat berharga saat seseorang sudah punya kekasih. Aku baru menyadarinya saat berada di sisi Kyung Soo. Dan hari ini cukup banyak hal yang kami rencanakan berdua. annyeong” pamitku kemudian masuk ke mobil Kyung Soo.

“Hana-shii… kau… kau akan menyesal” seru Min Yeong yang kurasa sudah cukup marah. Aku tidak peduli.

Kyung Soo mulai menjalankan mobilnya setelah membunyikan klakson untuk Min Yeong. “kalian sedang membicarakan apa?” tanya Kyung Soo

“bukan apa-apa. Kau tidak perlu bertanya, Konsentrasi saja menyetir”jawabku ketus.

“kenapa ketus sekali? Apa salahku?”

Aku sendiri juga tidak mengerti, kenapa aku semarah ini. oh baiklah, ini adalah perasaan yang orang-orang sebut dengan cemburu. Ini sungguh menyebalkan, tapi sangat tidak etis kalau aku justru melampiaskannya pada Kyung Soo. “mianhae… aku kesal pada Min Yeong”

“gwenchana. Aku tidak akan bertanya. Tenangkan saja dirimu”

Aku menoleh pada Kyung Soo, dan menatapnya serius “Kyung Soo-ya”

“hum?”

“kau menyukaiku kan?”

Kyung Soo menoleh sejenak, sedikit bingung “tentu saja, tapi kenapa kau bertanya begitu?”

“menurutmu… Min Yeong itu cantik?”

Kyungso semakin bingung, dan aku tahu kenapa, karena memang pertanyaanku begitu mendadak dan relasinya satu sama lain cukup jauh. “pertanyaan macam apa ini?”

“jawab saja” desakku.

“ne… dia cantik”

“apalagi menurutmu tentang Min Yeong? Maksudku, bagaimana dia di matamu?”

“Hana-ya, apa ini pertanyaan menjebak?”

“bukan… bukan. Aku hanya sekedar bertanya, jawab dengan jujur”

Kyung Soo menghela nafas. Masih dengan tatapan fokus ke depan “hum? Min Yeong… ng, dia cantik, menarik, seksi tapi tidak eksentrik, lebih mendekati kata eksotis dan elegan, anggun, cukup keren untuk ukuran seorang yeoja. Dan sangat perhatian”

“sesempurna itu dia di matamu?”tanyaku kaget.

“hei… itu hanya pandangan seorang namja, hanya dari mata”

“tapi tetap saja, cukup sempurna hingga membuatmu suka padanya?”

Kyung Soo tersentak, hampir menghentikan mobilnya secara mendadak “Hana-ya, jangan konyol. Yang kusukai itu kau”

“tapi dibandingkan Min Yeong, aku sama sekali bukan apa-apa”

“siapa bilang? Menurutku, kau bahkan puluhan kali lebih cantik darinya”

“bohong besar”

“kau tidak percaya? Kalau aku bohong, mana mungkin aku sampai setergila-gila ini padamu”

Dug!

Aku tertegun. Speechless.

Kyung Soo menepikan mobilnya di depan sebuah restoran. Kemudian menatapku lamat-lama “Hana-ya… sebenarnya, menurut pendapatmu, cantik itu seperti apa? Apakah kata cantik hanya digunakan untuk membahasakan nilai dari wajah seorang yeoja?”

Aku tertunduk. Malu.

Kyung Soo meraih daguku dan mengangkat wajahku hingga kembali menatapnya “baiklah…kita mulai dari wajah” Kyung Soo membelai pelan pipiku “siapa bilang Min Yeong lebih cantik darimu? Min Yeong sendiri tidak bisa menyangkal kalau dia tidak secantik itu. Buktinya, lihat saja bagaimana Min Yeong memakai make up untuk menutupi wajahnya. Make up itu digunakan untuk mempercantik wajah bukan? Itu artinya dia masih tidak cukup cantik untuk menunjukkan wajah alaminya sendiri. Tidak seperti kau Hana-ya. Kau cukup seperti ini, tidak butuh apa-apa lagi, karena kau sudah cantik”

Wajahku langsung memanas. Memalukan!

Kyung Soo tertawa kecil “kau bahkan tidak butuh pemerah pipi untuk menambah rona merah mudah di wajahmu. Di mana-mana, yang natural itu lebih baik”

“Kyung Soo-ya…”

“itu baru dari segi wajah. Jangan bicarakan sikap, kalian benar-benar berbeda 180 derajat. Min Yeong itu cukup agresif dan… ah susah membahasakannya. Dan anehnya, aku baru menyadarinya akhir-akhir ini. padahal setahuku sejak tahun pertama, dia terlihat sangat keren dengan sifat diamnya. Maksudku tidak sependiam kau. Aku bingung membahasakannya… um… awalnya dia kelihatan sangat berkharisma, tapi ternyata…”

“itu karena dia menyukaimu. Dia mana mungkin menunjukkan sikap angkuhnya pada orang yang dia sukai”

got it? Itu pointnya. Sekali lagi dia tidak sekeren yang kita kira. Karena selama ini dia tidak menjadi dirinya sendiri”

“lalu apa bedanya denganku?”

“jelas beda… kau punya alasan spesifik sebagai background mu. Padahal sebenarnya kau yeoja yang apa adanya”

Lagi-lagi, aku tidak bisa berkata apa-apa.

“kau punya sesuatu Hana-ya. Bisa kusebut ini kelebihan yang tidak dipunyai yeoja seperti Min Yeong. Kecantikan yang dipunya Min Yeong itu hanya sementara Hana-ya, temporer. Akan usang dimakan usia. Tidak seperti kecantikan yang kau miliki, yang terpancar dari dalam, dan aku berjanji bahkan sampai 100 tahun ke depan saat Tuhan masih mengizinkanku berada di sisimu, aku akan tetap berani mengatakan bahwa kau lebih cantik dari Min Yeong, bahkan yeoja manapun. Jadi jangan bilang kalau kau bukan apa-apa dibandingkan Min Yeong. Arajjhi?”

Lagi-lagi aku tertegun, sangat dalam, namja ini… tidak bisa kubayangkan kalau aku tidak bertemu namja ini. “Kyung Soo-ya…”

“hum?”

“saranghaeyo Kyung Soo-ya”ucapku lirih, dan itu betul-betul tulus dari dalam hatiku

Kyung Soo mengerjapkan mata berkali-kali “kau… bilang apa barusan?”

“aku mencintaimu, sangat mencintaimu”

“sekali lagi… sepertinya aku hampir gila”

“waeyo?”

Kyung Soo terlihat sangat girang “jinjja no molla? Kau tidak pernah mengatakan ini sebelumnya. Makanya aku setakjub ini”

“aku tidak pernah mengatakannya bukan berarti aku tidak mencintaimu. Aku hanya….”

“baiklah, katakan sekali lagi. Aku suka mendengarnya”

“Kyung Soo-ya, kau mengerjaiku?”

“ani… ani. Kumohon katakan sekali lagi”

Kuhembuskan nafas panjang, padahal tadi itu aku betul-betul tersentuh, dan suasananya begitu menjanjikan. Lagi-lagi Kyung Soo menunjukkan sikap konyolnya. Tapi tidak masalah, karena… “aku mencintaimu Kyung Soo-ya, sangat mencintaimu. Dan kalau kau menyuruhku mengulanginya lagi, aku akan menyetop taxi dan pergi dari sini”

“NADO SARANGHAEYO HANA-YA… JEONGMAL JEONGMAL JEONGMAL SARANGHAEYO” di luar dugaanku, Kyung Soo langsung menarikku ke dalam pelukannya.

Awalnya aku kaget. Tapi sebatas itu, karena hanya namja ini yang tidak membuatku merinding ketakutan saat berada di dekatnya. Hanya namja ini yang membuatku tenang dan percaya bahwa… Aku bisa kembali pulih.

Kyung Soo mengulur pelukannya, dan menatapku dalam. Masih dengan jarak yang begitu dekat. Kegugupan luar biasa langsung menyerangku. Berada sedekat ini dengan Kyung Soo membuatku gemetar dan seperti orang bodoh yang tidak tahu harus berbuat apa. Terlebih ketika tatapan Kyung Soo beralih ke bibirku, berikut gerakan wajahnya yang lambat laun mendekati wajahku.

Aku… gugup, bahkan panik. Sampai ketika bibir Kyung Soo HAMPIR menyentuh bibirku, aku langsung mencengkram kemeja Kyung Soo. Maksud sebenarnya adalah untuk bertumpu, tapi kepanikanku merubah segala sesuatunya menjadi terlihat sangat mencekam, hingga Kyung Soo terkejut dan menatapku.

Ia lepaskan rengkuhannya dari tengkukku dan beralih memegang kedua pundakku, ia juga membetulkan posisi agar tidak sedekat tadi “ah… mi… mianhayeo Hana-ya, jeongmal mianhaeyo. Aku benar-benar lupa. Kau tidak apa-apa kan?” Kyung Soo langsung cemas melihatku.

Aku tidak menjawab, sebenarnya tidak tahu tahu harus berkata apa. Dan kebungkamanku justru menambah kecemasan Kyung Soo.

“Ya Tuhan… betapa bodohnya aku… Hana-ya, maafkan aku. Aaakkkhh… apa yang baru saja kulakukan”

“Kyung Soo-ya… aku”

“mianhae… mianhae. Aku berjanji, lain kali akan lebih berhati-hati”

“ng… itu”

“sepertinya aku harus lebih berusaha mengontrol diri. Maaf Hana-ya, aku berjanji ini yang terakhir”

What the… kenapa jadi sekacau ini? apa Kyung Soo masih menganggap bahwa aku ketakutan saat berada dalam situasi seperti itu? Apa dia berpikir aku masih trauma?

Baiklah, memang tidak 100 % pulih. Tapi kalau dengan Kyung Soo sebenarnya berciumanpun sudah tidak apa-apa. Sialnya, kegugupanku ini justru dianggapi Kyung Soo sebagai respon ketakutan. TIDAK SAMA SEKALI! Aku tidak takut, hanya gugup… grogi. Walau bukan untuk pertama kalinya… tapi berciuman dengan Kyung Soo dalam suasana seromantis ini… betul-betul membuatku gugup.

Lalu sekarang aku harus apa? Mana mungkin aku berani mengatakan gwenchanayo Kyung Soo-ya, lanjutkan saja. Apa tanggapan Kyung Soo nanti? Bisa jadi aku akan terlihat lebih munafik dari pada Min Yeong.

Dan apa maksudnya tadi? Ini yang terakhir? Apa itu artinya Kyung Soo tidak akan pernah menciumku? Good, see Lee Hana, bahkan jika kau ingin berciuman dengan namjachingumu, itu akan sangat mustahil.

“kau terlihat pucat Hana-ya” Kyung Soo makin cemas.

Dan semuanya sudah terlihat sangat sempurna bahwa kesannya aku masih trauma “a.. aku baik-baik saja”

“aku sungguh menyesal, maafkan aku. Tidak akan kuulangi”

Dan terpaksa, diiringi helaan nafas sesal, aku mengangguk. Hell not kiss me in the future… forever???

“kajja… kita makan siang dulu”

@@@

Kyung Soo POV

“Kyung Soo-ya, pulanglah. Ini sudah hampir tengah malam. Kalau kau di sini terus, orang-orang akan berprasangka buruk” pinta Hana saat aku masih main di apartementnya

Aku melirik jam “masih setengah sebelas, lagipula kita kan hanya mengerjakan tugas bersama”

“kau pikir mereka tahu? Pulanglah. Kau juga harus banyak istirahat. Akhir-akhir ini kau kurang tidur kan?”

“tidak juga, aku fit”

“bohong besar. Kau istirahat di ruang kesehatan tadi siang bukan tanpa alasan kan?”

“itu karena kepalaku pusing, bukannya mengantuk”

“jangan membantah. Pulang lah. Dan itu… obat sebelum tidur jangan sampai kau lupa. Aku hapal jumlah butir obatmu, Awas saja kalau besok aku mengeceknya dan tidak berkurang sedikitpun, aku akan…”

Aku mengangkat alis, terkadang Hana akan mengeluarkan statement yang menarik, dan sangat pas untuk menggodanya “akan apa?”

“akan… ng… akan…”

“kau bahkan tidak berani mengancamku” aku  tertawa penuh kemenangan. Hana ini selalu bersikap bisa segalanya, tapi tidak begitu juga.

“aku tidak akan mengunjungi apartementmu lagi” ancamnya

“hum, kalau begitu apartementku saja yang kujual, dan aku pindah ke sini”

“KYUNG SOO-YA…”

“aku suka membahas ini, masukkan saja ke dalam rancangan masa depan kita”

Wajahnya langsung memerah “menggelikan, kuliahmu saja belum beres”

Aku semakin tertarik menggodanya, wajahnya yang memerah terlihat lebih menggemaskan dari apapun “jadi kau mau aku menikahimu tepat setelah kita lulus? Aku tidak keberatan, hanya saja…”

Ia  melipat tangan di dada, bersikap layaknya bos “pulang…”

“kau mau tinggal di Seoul atau ikut denganku ke Ilsan, sebenarnya aku diminta ayah untuk meneruskan perusahaannya”

“kau tidak mau pulang?”

“tapi kubilang padanya aku tidak tertarik bisnis. Ayahku tetap bersikeras, ada bagian yang cocok dengan bidangku, karena memang perusahaannya juga bergelut di bidang seni”

“Kyung Soo-ya, aku tidak akan mengulanginya lagi. Kayo!

“ah… atau aku ikut Su Ho saja, aku pernah mendengar rancangan masa depannya. Keren sekali, dia ditawari salah satu perusahaan Management artis ternama di Korea”

“Hya Do Kyung Soo… kau ini kenapa?” Hana membentakku pada akhirnya. Sepertinya ia kesal. Ekspresinya bahkan lebih lucu.

“kau yang kenapa. Tidak asyik sekali, padahal rancangan masa depanku ini tidak kalah keren”

“besok saja kau lanjutkan. Kau harus pulang dan isirahat”

Aku menatapnya “arasso… arasso. Aku pulang”

“ah chakkaman”

“lihat… kau bahkan tidak rela aku pergi”

“bukan begitu, aku lupa sesuatu” ia merogoh sesuatu dari saku sweaternya dan memberikannya padaku.

Aku mengerutkan kening “ini apa?”.

“ini lipbalm. Cuaca makin dingin, dan kulihat bibirmu mulai pecah-pecah”

Aku memicingkan mata, menatapnya curiga “wah, ternyata kau memperhatikan bibirku sampai seperti itu, padahal aku saja yang selalu bercermin tidak menyadarinya”

Ia membelalak dengan kedua pipi memerah “bukan seperti itu, jangan berpikiran macam-macam”

“woah… Hana… padaku ternyata….”

Dia kelihatan salah tingkah, pada akhirnya menyentak kembali benda itu dari tanganku “ya sudah, aku tidak jadi memberikannya”

Aku tertawa terbahak-bahak “bercanda. Sini berikan padaku. Bagaimana cara menggunakannya?”

Hana melengos “ppabo” ia segera membuka tutup lipbalm itu, mencoleknya sedikit di ujung jari manisnya, dan tanpa bisa kuduga sebelumnya ia mengoleskannya di bibirku. Dengan jarinya.

Awalnya kukira hanya aku yang heboh, karena detik-detik pertama Hana mengolesi bibirku dengan sangat santai. Sampai ketika tatapan kami bertemu, Hana menghentikan gerakannya, masih dengan jarinya yang menempel di bibirku.

Sial, situasi ini lagi. Kalau tidak mengingat bahwa aku hampir membuat Hana kumat lagi tadi siang, mungkin aku akan segera meraih yeoja ini ke dalam dekapanku dan memberinya sedikit…. kecupan.

Tapi tidak, maksudku tidak boleh. Hal seperti itu sangat tabu untuk Hana. Aku harus mengerti, harus paham kondisinya. Untuk situasi seperti ini… aku harus menghindarinya agar bisa mengontrol diri.

“su… sudah malam, aku pulang dulu” aku bergerak mundur, mengambil lipbalm itu dari tangan Hana “gomawo, aku akan memakainya”

“um, ne… sampai jumpa besok”

Akupun beranjak pergi sambil berusaha mengontrol detak jantungku yang memburu. Kurasa jantungku akan meledak kalau aku keseringan berada dalam kondisi seperti tadi.

~<3 ~<3 ~<3

~<3 `~

Akhirnya hari yang sangat kutakutkan akan segera tiba. Benar, hari di mana Kris hyung untuk pertama kalinya menggantikan Miss Ahn untuk mengajar di kelasku. Dan harinya adalah besok. Tidak tanggung-tanggung, tepat di jam pertama. Sialnya, Sampai detik ini aku masih belum menemukan cara agar menghindari pertemuan antara Hana dan Kris hyung. Aku sudah menelpon Su Ho, tapi dia juga buntu. Saran terakhirnya adalah dia memintaku untuk melakukan apa saja agar Hana tidak ke kampus dulu besok hari. tapi itu mustahil, Hana itu mahasiswi teladan, aku mana bisa mencegahnya.

“Hana-ya” panggilku.

Hana masih sibuk mencari buku saat kami tengah mengunjungi perpustakaan sore itu “waeyo?”

“besok, um… kita membolos saja yah”

Hana langsung menoleh kaget. Lihat bagaimana terkejutnya dia saat kuajak membolos, bisa kulihat ajakanku pasti gagal “neo michiosso? Besok itu ada 4 mata kuliah, terlebih di jam pertama ada dosen baru, kita mana boleh bolos di kuliah perdananya”

“hanya satu hari”

Hana melengos, kemudian kembali sibuk mencari buku “bolos saja sendiri”

“Hana-ya…”

“jangan merengek untuk sesuatu yang tidak jelas, lebih baik kau membantuku mencari buku”

“ck, tidak asyik”

“ya sudah, kau pulang saja duluan”

Lihatlah, ini namanya betul-betul gagal. Apa aku harus menaruh obat tidur di sarapan Hana besok agar dia tidak bisa ke kampus? Ah… itu kejam sekali. Atau kesembunyikan saja semua buku-bukunya. Tapi kalau aku ketahuan, dia pasti membunuhku. Ah…Aku betul-betul tidak punya ide.

“Kyung Soo-shii… kau di sini?”seru seeorang membuatku menoleh.

Ah… yeoja ini “ada apa Min Yeong-shii?”

Yeoja itu langsung menggamit lenganku, bahkan saat Hana berada tepat di sebelahku “minggu depan, kau ada acara?”

Aku sedikit berusaha melepas genggaman Min Yeong, tapi sulit. Yeoja ini cukup bersikeras juga “aku tidak bisa memastikan, memangnya kenapa?”

“minggu depan adalah ulang tahunku, dan aku akan merayakannya. Kau pasti datang kan?”

“itu… tidak bisa kupastikan, tapi akan kuusahakan”aku berhasil melepaskan genggamanya dan bergeser sedikit ke arah Hana. Bisa kulihat Min Yeong menatapku tajam. Tapi itu hanya beberapa detik

“Hana-shii kau datang kan?”Min Yeong beralih pada Hana.

“akan kuusahakan”

“bagus, besok akan kusebar undangannya, jadi kalian harus datang. Annyeong Kyung Soo-shii”

Aku mengangguk. Dan akhirnya bisa bernafas lega setelah Min Yeong pergi.

“akrab sekali yah!”

Aku menoleh pada Hana “ha?”

“kau dan Min Yeong, kelihatannya sangat… dekat”

Aku tersenyum kecil “woah… Lee Hana cemburu”

Dia menatapku sambil membelalak “apa kau gila?”

“jadi kau tidak cemburu sama sekali?”

“ne…”

Aku mengangguk-angguk, mencoba mengetesnya “syukurlah, kupikir kau cemburu, jadi kapan-kapan, aku tidak perlu menolak saat Min Yeong bergelayut di lenganku seperi tadi”

“terserah…” Hana meletakkan kasar buku tadi di tempatnya, membuat deretan buku di sebelahnya hampir berjatuhan.

“Hana-ya… chakkaman, aku hanya bercanda”aku mengejarnya, tapi langkah Hana cukup cepat meninggalkanku. Sampai ia berhenti di depan perpustakaan karena ada Su Ho yang melintas di sana.

“kalian belum pulang?” tanya Su Ho saat aku juga tiba di sana.

“belum, ada yang di cari Hana di perpustakaan”aku yang menjawab “kau sendiri?”

“ada yang kuurus di auditorium. Festival akhir tahun tinggal beberapa bulan lagi, dan aku jelas harus memberikan yang terbaik untuk festival tahun ini”

“betul juga, tahun ini kan kau ketua nya”

“jaga kesehatanmu Su Ho-shii, jangan sampai kelelahan, kulihat kau cukup sibuk akhir-akhir ini”tutur Hana. Aku menoleh padanya. Kaget! Sejak kapan Hana bersikap sehangat ini pada Su Ho?.

“gomawoyo Hana-shii”Su Ho juga… dan melihat mereka bertatapan begitu…

“ya…ya…ya… mataku sakit”sindirku.

“kau kenapa?” tanya Hana seolah tak mengerti.

“ayo pulang” pintaku.

“tapi aku belum menemukan buku itu”tolaknya. Menjengkelkan bukan? Lalu untuk apa dia keluar dari perpustakaan kalau dia belum menemukan buku yang dia maksud.

“buku apa yang kau cari?” tanya Su Ho.

Hana kembali menoleh padanya “kau ingat buku yang kuperlihatkan padamu tempo hari? Leonardo Da Vinci, Aku mencari jilid 2 nya”

“pantas kau tidak menemukannya, di perpustakaan hanya ada satu”jawab Su Ho.

“lalu siapa yang meminjamnya? Ah, padahal aku membutuhkannya untuk resume ku”

Su Ho tersenyum pada Hana, senyum yang membuatku hendak membangun tembok besar china di antara kedua orang ini “buku itu ada padaku, aku meminjamnya kemarin”

“woah, kenapa kau tidak bilang sejak tadi? Apa kau sudah selesai?”

“sebenarnya belum, tapi kalau kau lebih membutuhkannya, kau pinjam saja dulu”

“gomawoyo Su Ho-shii… kapan bisa kuambil”

“buku itu ada di rumahku, kalau siang ini kau tidak ada acara___”

“ada… ada… aku dan Hana ada kencan siang ini”potongku cepat.

Kedua orang itu langsung menoleh padaku “kencan? Kapan kita ada janji?”sialnya Hana mengelak.

“Hana-ya…”

Su Ho langsung tertawa, dan aku yakin dia menertawaiku. “malam ini aku akan ke apartement Kyung Soo, sekalian saja kubawakan buku itu untukmu”

“maaf merepotkanmu Su Ho-shii, padahal yang butuh itu aku”balas Hana.

mwoya ige, sepertinya ada yang terlewatkan oleh ku” aku menatap Su Ho “kau, sejak kapan kau tertarik dengan Leonardo De Caprio?”

Su Ho kembali tertawa, kini lebih keras “Da Vinci. Kyung Soo-ya, jangan mempermalukan image Mahasiswa fakultas seni”

“terserah… setahuku kau tidak begitu tertarik dengan seni lukis”

“siapa bilang? Everything about art… aku suka semuanya”

“omong kosong”

“kau cemburu?” tanya Hana

Sontak aku menoleh padanya. Dan saat menatap matanya, aku tahu Hana sedang membalasku. “menurutmu?”

“beda Kyung Soo-ya. Su Ho adalah sahabatmu, dan dia tidak menyukaiku sebagaimana Min Yeong menyukaimu. Jadi untuk apa kau cemburu?”

Aku terdiam, masih menatapnya. Bisa-bisanya Hana berkata begitu “sebenarnya aku tidak mempermasalahkannya, tapi berhubung kau membahasnya, baiklah, akan kulanjut” aku menatap Su Ho sejenak kemudian beralih lagi ke Hana “sejak kapan kau sedekat ini dengan Su Ho. Bahkan kulihat, selain denganku, kau sudah berani menatap mata namja lain. Maksudku… Su Ho”

“Kyung Soo-ya, itu karena Su Ho adalah sahabatmu, dan begitu dekat denganmu, dan secara tidak langsung aku juga dekat dengannya”

“oh ya?”

“Kyung Soo-ya” Su Ho menegurku, dan aku baru sadar, situasi mendadak jadi tegang, karena Su Ho sudah berhenti tertawa.

Sial… kenapa denganku? Ini pasti karena kata-kata Kris hyung tempo hari. Aku bahkan terpengaruh sampai seperti ini, menyedihkan, aku cemburu pada sahabatku sendiri. “maaf… maaf, pasti karena aku lapar. Jadi bicaraku sedikit kacau”

Su Ho menepuk pundakku “malam ini aku akan ke tempatmu. Sepertinya aku memang harus menjelaskan hal itu”

“bukan begitu… aku…” aku semakin serba salah. Su Ho pasti mengira aku masih mempermasalahkan kejadian di mana dia memeluk Hana untuk menghindari pertemuan Hana dengan Kris hyung.

“ya sudah, aku duluan. Ada yang harus kuurus. Sampai jumpa” pamit Su Ho “oh ya Hana-shii, bukunya nanti malam yah”

“mmp, ne Su Ho-shii, maaf merepotkan”

Sekarang tinggallah aku dengan sikap konyolku yang hampir membuat segalanya semakin kacau.

“kenapa denganmu?” tanya Hana, dan aku sudah bisa menduganya.

“kepalaku sakit”jawabku asal.

“kita pulang sekarang?”

“kalau sudah tidak adalagi yang ingin kau urus”

“bukunya sudah ketemu kan? Aku akan mengambilnya di apartementmu kalau Su Ho sudah membawanya”

“hm, kajja

~<3 ~<3 ~<3

Sial… hari ini betul-betul sial. Ban mobilku bocor, tidak tanggung-tanggung, empat-empatnya. Dan aku yakin, sangat jelas ini ulah orang yang tidak punya kerjaan yang lebih berguna.

Dalam kondisi seperti ini, biasanya aku akan langsung menelpon Su Ho untuk meminta bantuan. Tapi, setelah siatuasi tadi, aku merasa sangat canggung padanya. Terpaksa aku sendiri yang menelpon jasa derek mobil, yang biasanya Su Ho yang melakukannya karena dia punya kenalan yang bekerja di sana.

Akupun meninggalkan pelataran parkir dengan perasaan kesal, Hana pasti sudah menunggu cukup lama di depan gerbang.

“Kyung Soo-ya” seru seseorang dari belakang

“ah.. Su Ho-ya” balasku

“kukira kau sudah pulang”

“seharusnya. Tapi aku betul-betul sial hari ini”

“kenapa lagi?”

“ban mobilku pecah”

“hanya begitu? Sini kubantu menggantinya, kau bawa ban serep?”

“hum, tapi hanya satu”

Su Ho mengerutkan kening “memangnya yang bocor ada berapa?”

“empat-empatnya”

“omo… sudah kau telepon Jang Hee hyung?”

Aku mengangguk “beruntung dia masih mengenalku, jadi aku tidak perlu menjelaskan segala sesuatunya lebih detail”

“ya sudah, kalian ikut denganku saja”

“ck…”

“kenapa lagi?”

“Tuhan sepertinya murka padaku. Lihat bagaimana cara-Nya menghukumku”

Su Ho tertawa kecil “sudahlah,. Aku maklum. Maaf karena kedekatanku dengan Hana membuatmu kurang nyaman”

“bukan begitu… aduh, justru aku yang merasa bersalah padamu”

“ya sudah kalau begitu. Lupakan saja. Aku tidak suka kalau kita jadi secanggung tadi”

“hum… mengenai ucapanku tadi, jangan kau ambil hati. Aku betul-betul tidak mengerti dari mana asalnya semua kalimat aneh itu”

Su Ho meninju ringan dadaku “dari sini, cemburu itu manusiawi”

Aku tertawa “kupikir kau akan mengatakan cemburu adalah seni”

“bisa jadi..”

“Su Ho-ya…”

“bercanda. Kajja

“eh, bukannya kau harus mengambil mobilmu dulu?”

“kuparkir di depan, di area parkir rektorat, senator dan dosen”

“woah, daebak…”

“itu yang namanya kuasa. Kajja, Hana pasti sudah menunggu”

Akupun mengangguk. Su Ho merangkul pundakku dan mengiringi langkahku menuju gerbang depan.

“di mana Hana?” tanya Su Ho

“tadi kusuruh dia menunggu di depan gerbang”jawabku sembari memfokuskan pandanganku ke depan, masih tengah berjalan. “nah itu dia”

“kau menyuruh Hana menunggu di pinggir jalan?”

“tidak, kusuruh dia menunggu di depan gerbang, bukannya di pinggir jalan”

“ya sudah, kau hampiri dia, aku ambil mobil dulu”

“hm…” akupun melangkah lebih dulu menuju gerbang depan sementara Su Ho mengambil mobilnya yang dia parkir tak jauh dari tempat itu.

Sedikit ganjil memang, Hana berdiri cukup jauh dari gerbang, dan terlalu dekat dengan jalan raya. “Hana-ya” seruku

Dia menoleh sambil tersenyum. Ia melambai padaku.

Akupun setengah berlari menuju ke arahnya. Dan sesuatu langsung tertangkap jelas oleh mataku.

Cukup membuatku terperanjat kaget begitu melihat sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi dari arah ujung jalan. Semakin ganjil karena mobil itu melaju di jalur yang salah, di jalur kiri, tepat segaris lurus dengan tempat Hana berdiri.

Oh sh*t. Ini pasti sudah direncanakan. “HANA-YA, MENYINGKIR DARI SITU” seruku sekuat tenaga, juga berusaha mempercepat lariku

Sialnya, Hana tidak cukup peka untuk menyadari bahaya yang sedikit lagi menimpanya. Dia masih mematung di sana, dan tinggal menunggu detik sampai tubuhnya dihempas oleh mobil itu.

“HANA-YA…” pekikku lagi. Sial… tidak akan sempat…

Bisa kudengar deru mesin dan decitan rem mobil itu yang memang menjadikan tubuh Hana sebagai target.

Dan…

“HANA-YAAAAAAAAAAAAAAAAAA………..” seruku, hampir memutuskan pita suaraku.

Naas…

Aku luruh ke tanah… seketika seluruh tenagaku lenyap, seolah nyawaku telah dicabut saat itu juga.

Hana…

Hana…

Hana tidak tertabrak. Tapi ada yang lebih parah dari itu. Hanya sepesekian detik sebelum badan mobil itu menabrak Hana, seseorang lebih dulu menerjang tubuh Hana hingga terhempas ke trotoar. Hana selamat, ia tidak tertabrak…

Tapi sekali lagi, ini lebih parah dari apapun. Karena orang yang menolong Hana adalah…

Kris hyung!

~@@@~

10 minutes Before accident…

Hana POV

“Hana-shii”

Aku menoleh saat mendengar seseorang memanggilku. Tapi saat mengetahui siapa orang itu,hendak rasanya aku kabur saja dan tidak menggubrisnya “oh Min Yeong-shii, ada apa?”

ia menghampiriku, masih dengan sikap angkuhnya kalau di hadapanku “jadi sekarang Su Ho?”

aku mengerutkan kening “maksudmu?”

“setelah kau mulai eksis, tidak tanggung-tanggung kau memperdaya 2 namja sekaligus. Kyung Soo, dan Su Ho. Hebatnya, mereka berdua bersahabat”

“kalau kau ingin mengajakku membahas hal yang tidak penting ini, maaf.. aku sibuk”aku hendak beranjak tapi Min Yeong mencekal tanganku.

“apa Kyung Soo tidak memberitahumu sesuatu?”

Aku tertegun, seketika menoleh padanya, apalagi yang ingin dibicarakan yeoja ini?.

Min Yeong bersikap aneh, terlihat seperti tengah menyembunyikan sesuatu. Ia menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki “pantas saja Kyung Soo tidak berhasrat padamu, kau sama sekali tidak ada menarik-menariknya”

“apa maksudmu?”

“lihat saja penampilanmu, sweater tebal, syal tebal, rok panjang, dan… kupluk? Siapa yang akan berselera? Aku bahkan berani bertaruh kalau Kyung Soo tidak pernah menciummu”

Aku tersentak kaget. Yeoja kurang ajar…

“kalau seperti, apa gunanya status sebagai kekasih” Min Yeong menyentuh bibirnya yang mengkilap karena polesan lipstik mahal “ah aku lupa, kau pernah menyaksikan kami berciuman. Aduh, tidak seharusnya kubahas ini. padahal aku hanya ingin mengatakan, bahwa Kyung Soo memberiku kesempatan untuk menunggunya” Min Yeong makin berulah “Oopps, sesama yeoja tidak boleh saling menyakiti. Maaf yah, aku betul-betul tidak sengaja. Ah, sopirku sudah menjemput. Annyeong” dan yeoja kurang ajar itupun beranjak meninggalkanku.

Sial… telingaku panas mendengarnya, dan aku betul-betul tidak terima. Tidak masalah kalau dia mengataiku, tapi… saat dia membahas ciuman itu, aku kesal, marah… dan… tidak terima “chankkamanyo Min Yeong-shii” cegahku. Aku berjalan menghampirinya yang sudah hampir masuk ke dalam mobilnya.

Ia menoleh“ada apa?”

“hanya ingin meralat, kalau tebakanmu salah”

Min Yeong mengerutkan kening dan melipat tangan di dada “maksudmu?”

“mengenai Kyung Soo tidak pernah menciumku. Kau salah”

Min Yeong membelalak “kau…”

“jauh sebelum kau menciumnya paksa” aku mulai berlagak, menyentuh bibirku “dan kurasa ciuman paksa tidak bisa disebut sebagai berciuman kan”

“Lee Hana…”

“dan kau pasti tidak tahu kebiasan Kyung Soo saat berciuman. Oh jelas saja kau tidak tahu, karena saat kau menciumnya paksa, Dia hanya mematung saking terkejutnya. Berbeda kenyataannya denganku” sebenarnya aku tidak tahu dari mana asal keberanianku mengatakan hal konyol dan memalukan ini, tapi melihat ekspresi terkejut Min Yeong, aku menikmati peranku saat ini. kulanjut saja  “Aku ingat berapa hari yang harus kulewati untuk menyembuhkan luka di bibirku”

“LEE HANA… KAU…KAU… ugh…” Min Yeong langsung masuk ke dalam mobilnya setelah melengos kesal terhadapku, ia sempat mengumpatku berkali-kali sebelum mobilnya melaju meninggalkanku “kau betul-betul akan menyesal. Lihat saja sampai Kyung Soo kurebut persis di depan matamu”

Aku hanya menatap mobil itu yang mulai menghilang di ujung jalan. Ada kelegaan tersendiri setelah membalas Min Yeong, walau perkataanku tidak sepeuhnya benar. Mengenai kebiasan itu… aku hanya mengada-ada. Hanya berlandaskan kenyataan bahwa benar saat itu bibirku terluka setelah Kyung Soo menciumku, ironisnya, ini juga ciuman paksa. Dan aku akan kehilangan muka kalau saja Min Yeong tahu hal itu.

“Hana-ya”

Aku menoleh begitu ada yang menyerukan namaku. Itu dia, Do Kyung Soo, namjachinguku yang masih berusaha kupertahankan dari sikap agresif Min Yeong yang ingin merebutnya. Aku tersenyum dan melambai padanya.

Dia mulai berlari kecil ke arahku, eh… di mana mobilnya?

Dan beberapa detik kemudian bisa kulihat Kyung Soo berhenti sejenak, hanya sejenak, karena detik berikutnya ia seketika berlari kearahku secepat mungkin.

Itu yang membuatku tidak mengerti, kenapa Kyung Soo berlari ke arahku dengan sangat panik, terlebih dia meneriakkan namaku berkali-kali. Dan aku baru menyadari alasannya begitu aku menoleh ke belakangku. Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi hendak menabrak__

Brugh…

Kupejamkan mataku rapat-rapat. Bahkan sebelum mobil itu menabrakku, aku merasakan ada yang menyambar tubuhku, membuatku terhempas ke trotoar. Aku yakin hempasan tadi cukup keras,. Tapi anehnya, tidak begitu sakit di tubuhku karena orang yang menyambarku ini menjadikan tubuhnya sendiri sebagai landasan. Orang ini… menyelamatkanku.

Aku belum berani membuka mata. Bayangan maut yang hampir menjemputku barusan benar-benar terlihat sangat nyata. Bisa kurasakan penyelamatku ini melepas pelukannya dan membantuku duduk

“gwenchanayo?” tanya orang itu.

Deg…

Dan seketika seluruh tubuhku merinding. Darahku berdesir, jantungku berdegup lebih cepat.

Apa yang baru saja kudengar?

Suara itu…

Ah… pasti aku salah dengar. Dan kalau memang aku mendengar suara itu, belum pasti pemiliknya adalah orang itu. Di dunia ini pemilik suara seperti itu bukan hanya dia.

“Hana-ya… gwenchanayo?”ulangnya.

Tidak… pasti bukan dia, pasti seseorang dengan jenis suara yang sama dan secara kebetulan tahu namaku. Siapapun, asal bukan dia.

Aku tidak ingin menyadari realita ini, tapi ketakutanku terus menuntunku untuk memastikannya. Karena kalau tebakanku benar bahwa orang yang menyelamatkanku ini adalah dia, itu artinya… duniaku sudah berakhir.

Perlahan, dengan ketakutan berlebih, kucoba membuka mataku. Hal pertama yang tertangkap oleh mataku adalah sebuah dada bidang yang kokoh dibalutkan kemeja putih, semakin ke atas kulihat sebentuk leher yang cukup panjang dengan jakun tajam, kulit yang putih dan bersih, dagu yang runcing…

Dan….

“Hana-shii” seru seseorang yang langsung menutup kedua mataku dengan telapak tangannya. Kurasakan dia berada persis di belakangku. Kuharap itu Kyung Soo, tapi bukan. Aku jelas mengenal suara namja ini, juga bagaimana cara dia memanggilku.

“Su Ho-shii, apa yang kau lakukan? Kenapa kau menutup mataku?”tanyaku, sedikit melupakan ketakutanku karena tindakan aneh Su Ho.

“kau bisa berdiri?”dia tidak menjawab

“ne… tapi…”

“nanti kujelaskan. Berdirilah”

Akupun menurut. Dengan bantuannya, aku bangkit dari dudukku.

“ayo kita pergi, Kyung Soo menunggumu di sana”

Aku mengangguk. Su Ho jelas punya alasan kuat melakukan hal ini. dan aku jamin, ini demi kebaikanku.

Baru beberapa langkah meninggalkan tempat itu, aku merasakan seseorang meraih tangan kananku. Dan lagi-lagi, sentuhan itu… ah tidak mungkin, tidak mungkin.

“pejamkan matamu Hana-shii, jangan membukanya sedikitpun” lirih Su Ho terus mengalihkan perhatianku.

“ne” aku terus menurut.

Kemudian bisa kurasakan Su Ho melepaskan tangannya dari mataku. Memutar tubuhku hingga berhadapan dengannya. Dan untuk kedua kalinya ia membenamkanku ke dalam pelukannya, kali ini ia melingkarkan lengannya di belakang kepalaku hingga sukses menutup kedua telingaku.

“pergilah… demi yeoja ini”ucap Su Ho. Dan aku mendengarnya sangat jelas, karena aku bisa merasakan getaran suaranya di telingaku.

“cepat atau lambat, Hana juga akan menyadari kehadiranku” suara orang itu kedengaran samar,dan teredam. Mungkin ini maksud Su Ho untuk menutup telingaku, agar aku tidak mendengar jelas siapa pemilik suara ini.

“walau tidak bisa mencegahnya, memperlambatnya pun tidak apa-apa”

“ini sudah cukup. Sekarang saatnya Hana tahu, kalau aku kembali untuknya”

Deg…

Oh Tuhan, aku memang tidak mendengar jelas siapa pemilik suara ini, tapi sekali lagi aku bisa mendengar isi percakapan ini. sekeras apapun aku menyangkal, kenyataan yang kuhadapi tidak bisa terelakkan begitu saja.

“tidak. Tidak akan kubiarkan hal itu. Dan percayalah, aku tidak pernah bercanda  dengan ancamanku. Tinggalkan kami atau… akan kubuat kau menyesal karena mengabaikan peringatanku”tegas Su Ho, dan ini pertama kalinya kusadari bahwa Su Ho punya sisi ini.

“menarik sekali, bukankah kau sahabat Kyung Soo? Dan sepertinya terlihat jelas kalau kita berdiri di tempat yang sama”

“Ani… berbeda, sangat berbeda. Caraku dan caramu sangat berbeda. Jadi pergilah”

“hm, arasso. Namamu Su Ho kan? Akan kuingat itu baik-baik”

Akupun bisa mendengar derap langkah yang pergi menjauh secara perlahan.

“Su Ho-shii…”lirihku

Su Ho pun melepaskan dekapannya, memegang kedua pundakku dan memintaku membuka mata untuk menatapnya “its okay Hana-shii, kajja” Su Ho mulai mengajakku pergi. Tapi tetap ada yang mengganjal di benakku, tidak bisa kusangkal begitu saja.

“Su Ho-shii, namja tadi… aku…”

“dia bukan siapa-siapa”

“tapi aku…”

Su Ho memegang kedua pipiku, memintaku menatap matanya “lihat aku, dan camkan ini baik-baik Hana-shii. dia hanya namja biasa yang kebetulan lewat untuk menolongmu. Dia bukan siapa-siapa, kau tidak mengenalnya, kau tidak tahu siapa dia, dan dia mengenalmu hanya sebuah kebetulan” tegasnya.

“bahkan jika kau mengatakan itu Su Ho-shii, kenyataannya aku mengenal suara___”

“tidak… tidak. Jangan biarkan memorimu menuntun dirimu jatuh kembali ke masa lalu. Sekali lagi, dia bukan siapa-siapa, kau tidak mengenalnya. Kau hanya harus menanamkan itu di otakmu dan kau akan baik-baik saja. Arajjhi?”

Aku menelan ludah. Aku tahu ini semacam doktrin sederhana, dan dilakukan Su Ho untuk menolongku. Aku tahu jelas ini, dan kalau aku tidak menurut, maka aku sendiri yang akan terluka “mmp, ne, kau benar. Aku tidak mengenal namja tadi, aku bahkan tidak tahu siapa dia, aku tidak melihat wajahnya, dan tidak mendengar suaranya. Yah, dia hanya orang yang kebetulan lewat dan tahu namaku. Hanya itu”

Su Ho menyunggingkan senyum “itu yang kumaksud Hana-shii, ayo, kuantar kau pulang”

~<3 ~

Aku hanya bisa terdiam saat Su Ho merawat luka lecet di siku dan lututku. Aku sudah mengatakan bahwa aku bisa melakukannya sendiri, tapi Su Ho bersikeras membantuku, terlebih melihat Kyung Soo yang hanya bisa duduk mematung di sofa ruang tamuku dengan pandangan kosong ke depan. Dia benar-benar shock.

“hei kau… kalau nanti kau mempermasalahkan ini, akan kuhajar kau” sindir Su Ho.

“gwenchana… gwenchana… lanjutkan saja. Tanganku masih gemetar, aku tidak keberatan”balas Kyung Soo.

“kau betul-betul tidak bisa diandalkan saat panik”

“kau jelas tidak bisa membayangkan keterkejutanku, bagaimana kalau pertemuan Hana dengan____ ah maksudku, bagaimana kalau mobil itu benar-benar menyambar Hana???”

“dan kau hanya bisa mematung seperti itu tanpa melakukan apa-apa? Bagaimana kalau saat itu tidak ada yang menolong Hana?”

“itu… aku…”

Aku merasa menyesal melihat Kyung Soo dipersalahkan, dan semakin merasa menyesal karena kedua orang ini mempermasalahkan keselamatanku, aku betul-betul menjadi sebuah beban bagi mereka “um… Su Ho-shii, sebenarnya aku tidak apa-apa. Tadi itu, aku betul-betul ceroboh dan kurang waspada, jadi lupakan saja masalah ini”

“tidak sesederhana itu Hana-shii. Kami tidak akan seperti ini kalau ini hanya masalah biasa. Tapi ini menyangkut nyawamu. Kupikir peneror itu telah menghentikan aksinya, tapi ternyata tidak”

“Su Ho-ya, apa maksudmu dengan peneror?”tanya Kyung Soo, kurasa dia sudah mulai bisa menenangkan diri.

“mobil itu, adalah mobil yang sama dengan yang kukejar saat itu. Plat nomornya sama. Plat nomor yang tidak terdaftar”jawab Su Ho yang aku tidak mengerti apa isi percakapan mereka.

“sial…” Kyung Soo mengumpat sendiri.

Su Ho menatapku “sudah selesai. Lukamu tidak begitu parah, tapi usahakan jangan kena air dulu. Terutama yang di lututmu”

Aku mengangguk, kemudian menurunkan rokku setelah Su Ho menempelkan plester di luka ku. “jeongmal gomawoyo… Su Ho-shii”

“cheonmaneyo. Lain kali, kau harus lebih berhati-hati. Terlebih saat tidak ada Kyung Soo atau aku di dekatmu”

“hm… sekali lagi terima kasih”

“Kyung Soo-ya, aku pulang dulu. Aku akan kembali nanti malam”

“ne… terima kasih bantuanmu”

Sepeninggal Su Ho, aku langsung menghampiri Kyung Soo yang terduduk lemah di sofa ruang tamuku. Aku langsung duduk di sebelahnya “gwenchanayo?”

“kenapa kau yang bertanya? Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu. Apa kau tidak apa-apa?”

“hum, aku baik-baik saja. Kau bisa lihat kan? Hanya luka lecet”

Kyung Soo menghembuskan nafas, kemudian menunduk, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan dan bertumpu di kedua lututnya “di saat seperti ini, aku betul-betul tidak bisa diandalkan”

“Kyung Soo-ya, jangan berkata seperti itu, kau juga sudah berusaha di tempatmu”

“tapi kata-kata Su Ho benar, bagaimana kalau tidak ada orang yang menolongmu, bagaimana kalau Su Ho juga tidak ada di situ? Semuanya akan kacau. Bahkan aku tidak bisa merawat lukamu dengan tanganku sendiri. Aku betul-betul… lebih payah dari siapapun”

Aku menggenggam kedua tangan Kyung Soo, memintanya menatapku “Kyung Soo-ya, jangan seperti ini. melihat kondisimu sekarang, membuatku semakin merasa kalau aku hanya menjadi beban untukmu”

“Hana-ya…”

“jadi kumohon, jangan menyalahkan dirimu terus”

Kyung Soo menatapku sendu “maafkan aku Hana-ya, aku lemah”

“ani… siapa bilang kau lemah, sebelum ini, justru kaulah yang menolongku lebih banyak. Kau jangan melupakan kejadian di mana kau hampir mati karena menyelamatkanku. Itu bahkan sudah lebih dari apapun. Jadi Kyung Soo-ya, berhenti menyalahkan dirimu. Aku tidak suka melihatmu seperti ini”

Kyung Soo terdiam, menatapku semakin dalam “lain kali aku tidak akan lengah lagi. Aku berjanji”

“ne… aku juga akan lebih waspada agar tidak membuatmu semakin khawatir”

Bisa kulihat di mata Kyung Soo mulai terpancar kelegaan. “seharusnya aku bisa bertindak lebih cepat agar tidak menyaksikanmu dipeluk oleh namja lain di depan kedua mataku sendiri”

“Kyung Soo-ya…”

“tapi… kali ini aku bisa terima, karena secara tidak langsung, Su Ho juga telah menolongku”

“maafkan aku Kyung Soo-ya”

“untuk apa?”

“kau pasti merasa kurang nyaman melihat kedekatanku dengan Su Ho, aku bisa menghindarinya kalau kau yang meminta”

“ah… ani, ani… tidak seperti itu. Baiklah… aku memang sedikit cemburu, karena selain diriku masih ada namja lain yang bisa membuatmu tenang berada di sisinya. Tapi… sudahlah, kuanggap itu kabar baik sebagai tanda bahwa kau sudah kembali pulih”

Aku menatapnya lekat“um… sebenarnya ada yang ingin kukatakan, dan semoga ini akan membuatmu lebih baik”

“oh ya? Kalau begitu katakanlah”

“kau salah akan sesuatu Kyung Soo-ya… um sebenarnya, berada didekatmu tidak membuatku tenang”

Kyung Soo membelalak “mwo… mworagoyo?”

“jangan menyela, maksudku seperti ini” aku meraih tangan Kyung Soo dan menggenggamnya “saat berpegangan tangan seperti ini, detak jantungku bertambah 2 kali lebih cepat”

“ha?”

“dan lagi” aku menatap mata Kyung Soo “saat bertatapan mata denganmu, detak jantungku bertambah 3 kali lebih cepat”

“Hana-ya”

Kuraih tangan Kyung Soo dan meletakkannya di pipiku “kalau kau membelaiku seperti ini, detak jantungku bertambah 4 kali lebih cepat. Belum lagi saat kau mengeluarkan kata-kata yang membuatku luluh, detak jantungku bertambah 5 kali lebih cepat. Itulah yang kumaksud dengan tidak bisa tenang kalau berada di dekatmu”

Kyung Soo akhirnya tersenyum “lalu… saat aku memelukmu, detak jantungmu bertambah berapa kali lebih cepat?”

Aku mengangkat bahu “molla… kenapa kau tidak memastikannya sendiri?”

Sambil tertawa kecil, Kyung Soo meraihku ke dalam pelukannya “hum, aku bisa mendengarnya. Pasti 10 kali lebih cepat dari sebelumnya”

Aku tidak membalas lagi. Melihat kelegaan di mata Kyung Soo, itu sudah cukup bagiku.

~<3 ~

Malam itu, aku sengaja mampir di mini market untuk menemui ahjumma, juga untuk mengambil upah kerjaku selama 2 hari. Dan lagi membeli beberapa bahan untuk makan malam, aku akan memasak di apartement Kyung Soo, berhubung Su Ho juga sedang berkunjung di sana.

“bagaimana keadaan Kyung Soo?” tanya ahjumma

“dia baik-baik saja ahjumma, dia sudah seminggu masuk kuliah”jawabku

“wah, kenapa dia tidak pernah lagi mampir ke sini?”

“akan kusampaikan padanya, ahjumma”

Ahjumma tertawa “melihatmu sangat ceria seperti ini, sungguh pemandangan yang luar biasa. Kyung Soo memang anak yang baik”

“ahjumma…” aku jadi malu sendiri.

“aku akan selalu berdoa agar hubungan kalian bertahan lama dan berlanjut di altar pernikahan”

Wajahku semakin merona “kamsahamnida”

HP ku berdering ketika ahjumma tengah menghitung belanjaanku. Dari Kyung Soo “waeyo Kyung Soo-ya”

“KAU DI MANA? KENAPA APARTEMENTMU TERKUNCI?”

Aku menjauhkan ponsel itu dari telingaku, Kyung Soo betul-betul kacau kalau sedang panik “aku di minimarket, sedang belanja sedikit”

“kenapa kau pergi sendiri?”

“apa salahnya? Tempat ini kan ramai”

“sudah kubilang jangan kemana-mana seorang diri. Bukankah kau sudah berjanji padaku untuk waspada”

“arassoyo, mian sudah melanggar. Aku akan segera pulang”

“ne, jangan berlama-lama”

“mp ne”

Aku mematikan ponselku dan memasukkannya ke saku.

“wah, perhatian sekali yah, sudah seperti suami”

“ahjumma, bukan seperti itu”

“arasso, hanya bercanda. Ini belanjaanmu”

“kamsahamnida ahjumma, aku pulang dulu”

“ne… datang lagi”

~<3 ~

Ahjumma betul-betul… ah, dia terlalu baik. Saking baiknya aku tidak kuat mengangkat belanjaanku yang separuhnya dia berikan secara Cuma-Cuma. Belum lagi cuaca makin dingin. Dan harus kuapakan semua bahan-bahan ini? aku tidak selihai koki internasional yang bisa menyihir bahan apapun menjadi santapan lezat. Ah iya, Kyung Soo… dia pasti punya banyak ide dalam memasak.

“Ha… Hana-ya” seru seseorang dari arah belakangku. Aku bahkan tidak tahu sejak kapan dia mengikutiku.

Bagai remote kontrol, langkahku berhenti seketika.

Suara itu. Suara yang cukup khas. Suara yang sangat bass, dalam dan sangat rendah. Suara yang membuatku langsung merinding ketakutan.

Ah tidak, bukan dia… bukan dia.

Segera kulanjutkan langkahku menuju gedung apartement.

Tapi langkahku kembali terhenti. Kali ini bukan karena keinginanku, tapi karena sebuah cekalan di tanganku. “Hana-ya, jeball… dengarkan aku”

Ini mimpi… pasti mimpi, aku sedang bermimpi. Seperti yang dikatakan Su Ho, namja ini bukan siapa-siapa, aku tidak mengenalnya, suaranya hanya kebetulan sama dengan orang itu, dan dia tahu namaku juga karena kebetulan.

Aku menyentak tanganku, dan bersiap untuk lari. Tapi kali ini lebih parah. Aku tidak bisa mengelak lagi. Namja itu… berdiri di hadapanku. Dengan segera kupejamkan mataku sebelum aku bisa memproyeksi apa yang kulihat.

“Hana-ya… ini aku… Kris”lirihnya

Aku salah dengar, pasti salah dengar.

“aku sudah lama menantikan saat ini, saat di mana aku bisa bertemu denganmu dan menjelaskan semuanya. Bahwa aku… tidak pernah meninggalkanmu”lanjutnya tanpa basa-basi.

aku mencoba meyakinkan diri bahwa ini tidak nyata. Tapi Seperti tertampar telak, membuatku bangun dari mimpi dengan penuh keterkejutan.

“aku tidak sanggup melihat kondisimu yang terus seperti itu, sampai aku dihadapkan pada sebuah pilihan bodoh yang tanpa kusadari justru semakin melukaimu”

“cukup… cukup… aku tidak mau dengar. Aku tidak mengenalmu, aku tidak tahu siapa kau, pergi… pergi” aku masih berusaha mengontrol diri,mencoba berpikir positif sebelum aku kalap. Karena kalau sampai itu terjadi, maka usahaku selama ini untuk bisa pulih total akan sia-sia.

“Hana-ya, aku tidak pernah meninggalkanmu. Sedetikpun aku tidak pernah sedikitpun punya niat untuk meninggalkanmu. Pagi di mana kau tidak melihatku adalah… saat di mana aku sudah tidak sadarkan diri”

“aku tidak mau dengar….” pekikku, masih dengan memejamkan mata, aku berniat menerobos. Tapi sial, yang ada aku justru terhempas ke pelukannya.

“Hana-ya, dengarkan aku…malam itu saat kau pingsan, aku panik dan__”

“BOHONG…. SEMUA YANG KAU KATAKAN BOHONG… LEPASKAN AKU…LEPASKAN” aku mulai hilang kendali.

“Hana-ya, saat itu aku keluar mencari dokter agar bisa menanganimu tapi___”

“AKU TIDAK MAU DENGAR… AKU MEMBENCI__”

“aku mengalami kecelakaan mobil dan nyaris merenggut nyawaku”

Aku tersentak. Apa yang baru saja kudengar?.

“aku berusaha membantumu melupakan trauma itu, dan setelahnya aku ingin memberi penjelasan, Tapi Tuhan tidak memberiku kesempatan, aku mengalami kecelakaan tak jauh dari gedung apartementku di mana aku berharap kau menungguku pulang”lanjutnya.

Aku membuka mata, dan mendorong tubuhnya menjauhiku. Detik itu juga aku bisa melihatnya. Terpampang jelas penuh kenyataan, berdiri di hadapanku. Menghembuskan nafas berkabut tak jauh dari wajahku. Dia ada… dia kembali, dengan sebuah penjelasan yang menghentikan kekalapanku. “kau…”

“setelah kecelakaan itu, dalam keadaan koma aku dibawa ke luar negeri oleh kedua orang tuaku, dan tanpa tahu bahwa aku tidak membuka mata selama 2 bulan lebih, dan selama itu pula aku tidak tahu bahwa aku meninggalkan kenangan buruk bagimu tanpa sempat memberi penjelasan detail. Hana-ya, aku mencintaimu. Dulu, sekarang, dan sampai aku mati aku akan terus mencintaimu”lirihnya pelan.

Satu yang kusesali saat aku sudah mulai pulih. Aku bisa mendengar, melihat, dan merasakan dengan jelas apa yang terjadi saat ini tanpa berteriak histeris dan lari ketakutan. Sekarang, sebuah palu besar seolah menghantam kepalaku. Apakah ini realita? Apakah semua yang dikatakannya adalah benar. Aku bahkan tidak bisa melihat kebohongan dari pancaran matanya yang tulus, tapi tetap saja… “aku… membencimu”tegasku

“Hana-ya…”

“kenapa kau melakukan itu padaku? Bahkan setelah kau tahu kelemahanku, kenapa justru kau yang melukaiku”

“Hana-ya, kau salah paham. Aku tidak bermaksud melakukan itu padamu. Aku hanya…”

“ingin menyakitiku dengan merenggut kehormatanku? Dengar… Kau… tak ubahnya namja-namja biadab itu”

Kris terdiam sejenak, masih menatapku dalam “bisakah kau memberiku waktu beberapa menit untuk menjelaskannya?”

“tidak lagi… waktu yang kuberikan padamu sudah kau sia-siakan. Sekarang pergilah dari hadapanku sebelum aku betul-betul muak terhadapmu” aku mulai beranjak

“aku melakukan itu untuk menyembuhkan traumamu” ucapnya.

“dan kau minta aku mempercayaimu?”

“tatap mataku, dan lihat apakah aku berbohong?”

Aku membuang muka, mengalihkan pandangan ke sembarang arah.

“malam itu….

#flash back

Kris POV

 

Aku sudah mempertimbangkannya matang-matang. Dan ini satu-satunya cara agar Hana bisa kembali pulih. Terlepas dari kesimpulan akhirnya nanti, itu akan kuselesaikan di belakang. Dan yang paling penting, saat aku berhasil dengan terapi ekstrim ini, Hana tidak akan lagi bersembunyi di belakangku saat ia bertemu dengan namja asing, ia tidak akan lagi gemetar ketakutan saat berhadapan face to face dengan ayahku, intinya… akan kuhilangkan ketakutan Hana terhadap semua namja.

Hana tengah melihat-lihat isi lemari hiasku, semua benda favoriku kupajang di sana. Melihat tubuh mungil itu berada di antara benda-benda favoritku, semakin membuatku yakin, bahwa memang yeoja ini lebih berarti dari apapun.

Dengan sebuah helaan nafas tegas, kuteguhkan hatiku untuk melakukannya, tidak mengapa kalau yeoja ini menangis, dan kuharap itu hanya untuk sementara. Karena satu-satunya cara agar Hana terbebas dari belenggu trauma itu, adalah dengan mengahadapkannya kembali pada situasi yang sama dan menuntunnya dengan cara paksa melawan trauma itu.

Aku berjalan pelan mendekatinya, melingkarkan kedua lenganku untuk memeluk perutnya dari belakang. Bisa kurasakan dia tersentak.

op.. oppa… apa yang kau lakukan? tegurnya gelagapan.

mianhae… Hana-ya

oppa…???

Hana-ya… na neun naega neomu saranghaeyo… jeongmal saranghaeyo aku berhenti sejenak, aku sempat berpikir untuk membatalkan niatku ini tapi, setiap kali melihat sorot mata Hana yang masih memancarkan bekas luka, menuntunku untuk berusaha menyembuhkannya, aku terpaksa melanjutkan niat ini apakah… kau mencintaiku?tanyaku pelan.

Ia mengangguk ne… aku mencintaimu. Tapi ini ___

betul-betul mencintaiku?

ne… tapi oppa, ada apa ini?

Aku melepas pelukanku, memutar tubuhnya hingga berhadapan denganku bila… aku meminta sesuatu, apakah kau akan memberikannya?

Bisa kulihat keraguan di matanya, mmp, ne, selama aku bisa memberikannya

bisakah kuminta bukti bahwa kau betul-betul mencintaiku?

Hana tersentak kaget, seketika mundur ke belakang. buk…. bukti apa?

kalau kau betul-betul mencintaiku, kau tidak akan segan memberikan segalanya kan?tuturku sembari mematikan hati.

Hana lagi-lagi tersentak, ia memejamkan mata, sambil merengkuh dadanya. Dia terluka, aku tahu itu, tapi aku tidak bisa mundur, akan kubuka luka lama itu, kucabut duri yang terus menyiksanya selama ini, dan akan kututupi luka itu dengan segenap ketulusanku.

Aku mulai mendekati dan meraih wajahnya.

lepaskan… ia menepis tanganku, menatapku tajam dengan air mata yang mulai menggenang kita selesai sampai di sini

Aku terkejut, sebenarnya ini sudah bisa kuduga, tapi aku tidak tahu bahwa akan secepat ini, aku bahkan belum memulainya. Hana-ya…

kupikir kau tulus, kupikir selama ini kau berada di sisiku untuk melindungiku, tapi pada akhirnya… kau, dengan topeng bertuliskan cinta tulusmu padaku, kau justru menuntut sesuatu yang kupertahankan mati-matian, bahkan eonniku pergi dari dunia ini karena mempertahankan kehormatanku. Dan kau… dengan begitu mudahnya datang padaku, membawa cinta sebagai alasan untuk menukarnya…bibir Hana bergetar, ia semakin terluka.

Aku memejamkan mata sejenak, aku tidak bisa mundur mianhae… kulakukan semua ini hanya untukmu Dengan cepat kuraih yeoja itu dalam pelukanku. Kuhimpit dia di tembok dan kugapai bibirnya.

Ia meronta sekuat tenaga OPPA… LEPASKAN…jeritnya histeris. Tapi aku sudah menutup mata dan telingaku untuk ini. aku harus menunggu sampai klimaksnya, dan bila saat itu tiba, akan kuminta Hana melawannya, dan mengenyahkannya. Dan saat itulah aku akan menghentikan semuanya. OPPA JEBALL…. LEPASKAN AKU, LEPASKAN….

Aku membawa Hana masuk ke dalam kamarku dan kuhempaskan di atas tempat tidurku, ia beringsut, menyudut di sana dengan tubuh bergetar ketakutan.

JANGAN MENDEKAAAAAATTTT…. PERGI… PERGI….jeritnya.

Aku meraihnya, melepas paksa syal yang ia kenakan, juga kemeja yang menutupi tubuhnya.

ANDWAEEEEEEEEEEEEEEEEEE…………….

Ini yang kumaksud… Hana mulai kalap, dia sudah tidak berada di dunianya. Segera kupegang kedua tangannya Hana-ya…

PERGI… JANGAN SAKITI AKU…. LEPASKAAAAANNNN ia semakin histeris, aku bahkan tidak yakin, umpatan ini tertuju kepadaku atau bukan. Aku memeluknya sekuat tenaga, mencoba meredam ketakutannya yang berlebihan ini.

Hana-ya, dengar… kau baik-baik saja, ayahmu sudah tidak ada, juga namja-namja itu tidak melukaimu. Sekarang tidak ada lagi yang perlu kau takutkan. Mereka itu tidak nyata, mereka hanya ilusi, dan kenyataannya tidak semua namja di dunia ini akan menyakitimuaku mulai memberi penjelasan, dan bisa kurasakan Hana berhenti meronta. Awalnya kupikir aku berhasil menenangkannya, tapi, begitu aku melepas pelukanku, Hana sudah tidak sadarkan diri. Ia pingsan. Dan aku mengutuk diriku saat itu juga karena telah membuatnya ketakutan sampai hilang kesadaran.

 

#flash back end

 

Hana POV

“Dan sesaat setelah itu, seperti yang kusebutkan sebelumnya, aku langsung panik, dan pergi mencari dokter untuk memeriksakan keadaanmu. Saking paniknya, aku bahkan tidak terpikir untuk membawamu serta menuju rumah sakit. Aku betul-betul hilang kendali.” Kris menarik nafas, dan menghembuskannya perlahan, berikut kabut dari mulut dan hidungnya, menandakan cuaca semakin dingin “mungkin karena rasa bersalahku juga hingga aku menyetir uring-uringan. Dan… tepat di persimpangan, sebuah truk menghantam sisi mobilku, dan aku sudah tidak ingat apa-apa sejak saat itu. Saat aku membuka mata, yang kudapati hanya kedua orang tuaku, dan seorang dokter asing yang menanganiku. Yang lebih mengejutkan lagi, aku sudah tidak berada di Seoul saat itu. Orang tuaku membawaku ke Amerika untuk pengobatanku. Dan saat aku bersikeras kembali ke Seoul untuk mencarimu… memberi penjelasan yang belum sempat kulakukan. Aku sudah kehilangan jejakmu. Dan aku tidak bisa menemukanmu di mana-mana. Sampai sebulan pencarian sia-sia itu, aku tetap tidak menemukanmu, hingga aku terpaksa menyerah dan kembali ke Amerika melanjutkan studyku”

Aku tetap bungkam bahkan setelah Kris menyelesaikan cerita panjangnya. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Entah cerita Kris membuatku terpengaruh atau tidak, aku tidak tahu. Juga alasan kenapa aku tidak menepis tangannya ketika ia menggenggam kedua tanganku, aku sama sekali tidak tahu.

“kau membenciku? Aku bisa menerimanya, karena aku telah meninggalkan kenangan yang lebih buruk dari apapun dalam kehidupanmu tanpa sempat memberimu penjelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, satu yang perlu kau ketahui Hana-ya…”Kris mengangkat wajahku dengan sisi jarinya, menununku untuk menatap matanya “aku… tidak pernah menyentuhmu sama sekali”lanjutnya. “karena aku tidak mungkin menyakiti yeoja yang bahkan lebih berharga dari nyawaku”

Aku masih terdiam. Aku tidak tahu harus merespon dengan cara apa. Apa ini nyata? Sialnya semua memori indahku bersama Kris kembali berputar di otakku. Memori pertemuan pertamaku dengannya, di mana ia menyelamatkanku dari kakak kelas yang menjahiliku. Memori di mana Kris terus melindungiku dari semua namja yang ingin mengerjaiku, saat di mana Kris terus ada saat aku ketakutan, membantuku menyembuhkan phobiaku terhadap darah juga kegelapan, saat di mana pertama kalinya ia memelukku dan menemaniku menyaksikan pemandangan sunset di tepi pantai dan mengatakan bahwa… dia mencintaiku dan akan terus melindungiku sampai akhir hayatnya. semuanya… semua memori indah yang sempat kukubur di bawah tumpukan kenangan pahit yang dia tinggalkan. Kenangan pahit yang tertanam jelas akibat penjelasan tertunda. Semua itu… membuatku menangis… hanya bisa menangis seperti orang bodoh yang tidak tahu berbuat apa-apa.

“Hana-ya” Kris meraihku ke dalam pelukannya. Dan untuk sejenak, aku tidak terpikir sedikitpun untuk menolaknya. Rentetan kejadian selama 4 tahun setelah Kris meninggalkanku seolah tidak pernah terjadi, aku seolah kembali menjadi Hana empat tahun yang lalu, Hana yang sebentar lagi akan naik ke kelas 3 SMU dan akan menyaksikan Kris yang akan masuk ke perguruan tinggi.

“oppa…” lirihku dengan suara terisak.

“Hana-ya…”balasnya

“aku tidak tahu harus berkata apa… betul-betul tidak tahu”

“kalau begitu, diamlah. Karena yang kubuthkan hanya ini. kau kembali ke pelukanku”

“Oppa…” aku semakin terisak.

“Ha… Hana-ya”

Aku tersentak. Itu… itu bukan suara Kris. Suara itu lebih lembut, tapi sukses menamparku. Seketika aku mendorong tubuh Kris hingga terlepas dariku. Dengan penuh kecemasan, aku menoleh ke kanan. Dan…

Oh Tuhan…

Inilah yang kusebut dengan bencana. Kenyataan kembali menamparku, membawaku kembali ke alam sadar bahwa 4 tahun setelah Kris meninggalkanku tidak berlalu dengan begutu saja. Begitu banyak rentetan kejadian yang tidak seharusnya kuabaikan sejenak.

Seluruh persedianku seolah lumpuh, terlebih melihat ekspresi wajahnya yang menatapku sendu, terkejut, kecewa, dan… sakit.

“Kyung Soo-ya” lirihku tanpa suara saat mendapati Kyung Soo berdiri tak jauh dariku dan Kris. Menatapku dalam diam.

TBC

~ALF™~

39 thoughts on “[FF] ANOTHER CHANCE [PART 6]

  1. what the…?? D.O oppa pasti shock brat itu😥

    kris ngeselin!! XO
    knpa hrus dtg disaat eonni ku sudh mulai pulih spt dulu…
    Ini lg suho oppa. Knpa hrus brsikap spt itu dgn hana?? Menunjukn bgt klu dia pny perasaan lbh… Jgn sampai kau nusuk D.O oppa dri blkg!!

    Ff-mu ini sukses bgt buat emosiku naik trun minthor eonni >,< DAEBAK!!

  2. Maki kesini si kriss oppa makin menyebalkan,,kebencian ku sma kriss oppa kumatt help…
    Miann author jadi terbawa emosiii tapi aku salutt sma ne ff,..

  3. -_- hana jadi punya bnyak kepribadian ya hahaha kadang tkt2 kadang berani sama rival’y😀 kadang klo berdua sama kyung soo jdi bkin greget.. Dua dua’y.

    Ihhh kris nyebelin bgt si… Щ(º̩̩́Дº̩̩̀щ) jgn sampe hana kembali ke kris, udh cocok hana sma kyung soo😦

    Aku next part ya thor.. Daebak part ini (y)

  4. suho udah 2 kali tuh meluk hana pas mw mnghalangi hana ketemu kris.

    Jd gitu ya yg trjadi sbnr’a..kris itu cuma mw ngobatin trauma’a hana.
    Trus siapa yg bklan hana pilih? Kris atau kyung soo??

  5. aigoooo.. ternyata Kris ga sampe merenggut kehormatan hana !!!
    Kris baik donk berartiiii, dia sampe koma gitu, kan bukan salah kris T^T.
    aduh kepergok pelukan lagi ama si D.O otthokee otthokee…
    ALF aku juga mau donk diobatin trauma nya kaya metode Kris aw aw aw #Yadong wkwkwkwk…
    sik asik makin complicated ini makin seruuuu cit cit cuitt…

  6. aaa… makin nyesek… minyeong mau ngerebut d.o ? suho n kris mau ngerebut hana ? malah hana lost control lagi, mau2 aja gt d peluk ama kris, aigoo kyungsooya.. chemunghud ea T^T9

  7. Krissseu…….
    Kamu baeek ternyata…
    Aku terharuu… #nangis brg suho

    Hooaa.. makin complicated aja yahhh…
    Abang suho mulai terang2an…
    Si hana mulai brani ama dua cowok sahabatan itu…
    Miyeong mulai ngancem2…
    Dan tiang listrik ituuu… mulai berani menampakkan diri…
    Aahh… si peneror juga udh muncul lagi…

    Gimana ini? Gimana ini? #muter2 #berasa jadi gila..
    Aku galaaau kakaaaa….
    Aku pengenya kris ama aku aja, jgn ganggu hana d.o yg udh tenang..
    Pleaseeee…. jebaaaal.. #ngareeepp

  8. aigoo aigoo…
    ga nyangka ternyata g bakalan tersakiti si kyungsoo.
    pdhal udh cemas akut kalo si hana bakalan tersakiti gara2 ulah minyoung.
    udh penasaran nih. lnjut baca deh ><

  9. aigoo aigoo…
    ga nyangka ternyata g bakalan tersakiti si kyungsoo.
    pdhal udh cemas akut kalo si hana bakalan tersakiti gara2 ulah minyoung.
    udh penasaran nih. lnjut baca deh. ><

  10. aigoo~~~ kris??!!! kau kasian sekali… ak tak menyangka kau sebaik itu.. hiks..
    kyungsoo ya~~ dirimu lebih kasiaaannn.. ㅠㅠ

    si hana galau tingkat dewa tuh

    author sumpah gila keren banget! tegang melongo lega sesenggukan dag dig dug der lah pokoknya! cinta banget sama author! penggambaran konfliknya keren setengah idup!

  11. Aigoooooo
    adegan terakhrinya thorr.. kasian d.o TT..TT #nangis brg d.o
    aaaaa… andweee jgn kembali ke kris hanaa….
    d.o kasihan bgt aaa.aa.. tapi gag rela suho nolongin hana kan seharusnya d.o
    Seru bggt thorrr ^^

  12. lho! pemikiranku sama kris (ato author?) sama kalo suho ada rasa sama hana..

    ngakak baca rancangannya kyungsoo😀

    suho melindungi hana (lagi) ! –‘

    sumpah thor, ngga lucu kalo hana balik sama kris –‘

    kereeeennnn

  13. Yang disebut lalai diatas itu pasti Kyungsoo.
    Menurut aku nih ya,kyungsoo emang lalai,trus mikirin kris,takut hana direbut sama kris,takut gimana lah.padahal menurut aku,yang jadi ancaman besar itu suho.
    Lhat aja gimana suho ngasih banyak perhatian sama hana.bgitu memprioritaskan hana.
    Apa kyungsoo gak nyadar juga?.
    Ucapan kris ada benernya juga sih,kalo yang patut diwaspadai itu bukan cuma kris,tpi temennya alias suho.
    Peneror itu siapa sih?.kenapa selalu ada?.
    Kyungsoo,fighting!!!jangan biarkan hana jatuh ke tangan siapapun,jadikan dia milikmu.
    Thor,daebakkkk

  14. Aigoo~ rumit sekali T.T gimana ini… Kyungsoo-hana-kris.. Dan………suho oppa ga ikutan suka ama Hana eonni kan? Tlong, ini udaa rumit bgt T.T

    bwahahahaahaahahahahahahaaha!! Resleting celana kyungsoo oppa kebuka!! Wkwk, ngakak guling”😀 alasan suho oppa kok ga elite bgt!😀 wkwkwk..

    Kyaaa, pdhal tdi mau kisseu, tpi ga jdi krena d.o oppa slah paham😦 sabar ya hana eonni..

    Oh, begitu critanya? Seperti itu? Brrti hana eonni msih suci donk?? *plak!

    Eung, kok aku jdi kshan yaa ama kris gege?😮 duh, plin-plan ini -,-

    nah trus nasib kyungsoo oppa pas ngeliat hana-kris pelukan itu gimana????

    Aku mau teleport ke chapt slnjutnya aja deh🙂

  15. aish.. jinjja..
    author demen banget ya nge-cut di bagian yang klimaks, maksa orang nahan napas
    kalo motong kayak sinetron, pas momen klimaks tiba-tiba jeng jeng jeng jeng.. tbc..
    hhhhhh..

    tapi, cerita kamu benar-benar bikin aku penasaran, thor
    “i’m so curious yeah..” (dance ala Sherlock)

    hh..aku udah dance ala sherlock berapa kali gara-gara baca FF kamu.. tega banget nih author.. salut..

  16. Waw ternyata gitu yah hana sama kris. Haduh semakin seru saja nih. Errr min yeong tambah ngeselin ya. Hahaa lanjut

  17. Waw ternyata gitu yah hana sama kris. Haduh semakin seru saja nih. Errr min yeong tambah ngeselin ya. Hahaa lanjut …🙂

  18. Do dah mulai mikir yg engak2 nih sm hana.
    Do mulai protektif (krg stuju sih) untungnya hana g keberatan.
    Kris tdk seburuk yg gw kira (salahin hana yg ngomong g bnr )
    Knpa suho g deket sama minyoung j, drpd minyong gangguin org lain

  19. setiap adegan dimana hana lagi beromantis ria dengan kyungsoo kenapa tibatiba minyoung selalu datang. pengganggu itu -.- aku shock loh kak alf waktu yang nyelamatin hana waktu hampir ketabrak itu aku kira suho, ternyata…..kris! wow… sumpah ya bikin geregatan banget aku bacanya pas adegan itu.. >< aku mikirnya cepat atau lambat, pasti kris bakal nemuin hana. dan ternyataaaa… huaaaaaaa!~ tepat di ending part ini bikin aku nangiisss~ T.T ga nyangka hana bakal ketemu kris dan secara gamblang ngejelasin ke hana. dan……ketika kyungsoo manggil hana,aku sesak nafas kak alf. rasanya…. ga bisa diungkapin pake katakata(?). kyungsoo pasti cemburu berat.. ga nyangka hana dapet dilema kayak gini. ahh serasa saya bisa merasakan kegalauan hana. Kyungsoo….. pukpuk. T.T

  20. sedih pas tau yang sebenernya kalo kris ga ngelakuin apa-apa bukan dalam tanda kutip ya. dan sempet lega juga pas akhirnya si KRIS berhasil meluk HANA lagi. tapi berending nyesek pas KYUNGSOO ngeliat mereka, mengapa aku jadi ikutan galau antara KYUNGSOO atau KRIS disni

  21. Hwaaaa andweeee sumpah eon critanya makin komplet.! Jd ini smua hanya slah paham.. Kris tidak pernah memperkosa hana.. Wah!! Sekarang critanya cinta segi empat!

    Kyungso.. Aq gag bs mendiskripsikan nya.? Nanti endingnya gmn ya? Ama kris? Apa kyungso? Atau suho.. Rumit eon!

  22. tuhannnnnnnnnn ampuni aku karena begitu tergila gila sama FF nya ALF

    Di part ini aku bener bener ALF-shiii(?) Disini akhirnya muncul juga sisi misteriusnya Suho.. Memang suho mencurigakan terlalu banyak dan antusias nolong kyung soo kalo berhubungan dengan hana alf emang ga bisa di tebak …

    Kira kira suho benar2 memang suka sama hana atau nggak gatau dah.. Dan yang bikin bingung lagi juga peneror itu motifnya apa coba , masa iya minyoung yang nyuruh gamungkin juga , kalo suho masa iya terussss siapaaaaa arggghhh pusing kalo masalah nebak FFnya alf mahh…

    Lagi lagi yang bikin bener bener part ngehhh ngehhhh yaitu tentang Kris, omona Kris Hyung ternyata….. Gatau bener bener gatauuu ini otaknya alf gimana bisa nyusun cerita sedemikian rupa imajinasinya ituloh kok bisa sampek kayak giniiiii!!!!

    Jadi bingung ternyata Kris itu punya niat baik,, tapi di sisi lain Kyungsoo kasiannnn kyungsoo…

    Dari pada aku bingung nebak nebak kelanjutan FF nya alf yang sangat sulit di tebak mending aku terbang chap selanjutnya biar ga mati pensaran(?)

  23. nambah rumit aja neh….
    tuh kan suho jg suka sama hana, kyungsoo harus lebih waspada 2kali lipat…
    nambah seru, menegangkan….
    gmn neh kalo udh kusut gini, mana kyungsoo ngeliat tu adegan terakhir….
    cus baca cap 7 aja kali ya😀

  24. Kyusngsoo saking cintanya sama hana sampe sahabat sendiri di cemburuin kekekke jjangan percaya ssama omongannya kris ge kalo suho mencintai hana akurasa suho lebih mencintai minyoung kekekke *soktau
    Yaaa kris ge!! jangan ambil hana dari kyungsoo dong:/
    Hana eon jangan buat kyungsoo sakit hati 
    Buat eon ALF endingnya jebal biarkan mereka ( D.O HANA ) bahagia TT

  25. wah kyung soo benr” pecemburu.. tapi su ho emg sdkit mencurigkan..
    kris benar” nekat, masa tega mau bkin kyung soo pth hati?
    hana kmu bisa ja maafin kris,tp jgn tinggalin kyung soo please..
    ku rasa hidup kyung soo pnuh cobaan.. benar” ikut ngrasa skit wktu kyung soo lihat hana plukan ma kris.. moga happy ending, amin

  26. aish alasannya suho konyol banget wkwk resleting D.O kebuka
    tapi suho cepet banget ya mikirnya sampe bisa ketemu ide resleting celana D.O kebuka(?)
    aigo kris meluk hana, udah gitu D.O ngeliat lagi
    wah wah makin penasaran deh antara D.O sama kris dan hana

  27. OH GGOOODDD..
    Penjelasan kris emang btl2 daleeeeeeeemmm,,
    aku sampai mewek bacanya eonn..
    Suer deh gak nyangka ternyata perasaan kris sama dgan perasaan d.o ke hana.. Gila di sukai 2 org cowo kece kece kaya gtu, dengan tulus pula, yaampuuun,,
    skarang aku jadi bingung sndiri thor..
    Disisi lain aku pengen bnget hana akirny sama d.o,, tapi stelah tau alasan kris ninggalin hana smpai akirny jadi kaya gtu,, suer aku jadi bingung sndiri, tpi pengen juga hana balikan sama kris…
    Tapiii suhooo…
    Aaaaaaaaa
    bingung deeeeh..
    Kan btl apa kata aku..
    Bkal jadi cinta segi 4,
    aduuuh makin rumit aja deh ni crita…

  28. tinggalin jejak dulu…

    huaaa……..kyung soo patah hati…….:-(
    sini sm aq aja…( di gampar author )

    ahhh….g sabarrr…..
    maaf ya thor, aq mau lanjut ke part berikutx….^^

  29. Sebenarnya sejak ada ‘kejadian-kejadian’ yang harus melibatkan Suho untuk membantu hubungan Kyungsoo dan Hana, aku udah mulai mengarah kesana
    Cuma karena aku bukan penulis FF Another Chance, jadi aku ga mau sok tau
    Sampe Suho menjadi ‘seseorang’ yang sudah ‘diperingatkan’ Kris
    Itu artinya SUho telah menjadi namja biadab pula dam FF ini

    Bingung juga sama Hana, dia trauma. Salah satu traumanya juga karena Kris kan?
    Kenapa dia bisa setenang itu saat pertama menyadari bahwa namja dihadapannya saat itu benar-benar Kris
    Walaupun dia mematenkan untuk melakukan doktrin yang Suho berikan, bukannya ga semudah itu??
    Udah deh, ditunggu aja di part berikutnya
    Ciayouuu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s