[FF] ANOTHER CHANCE [PART 4]


FANFICTION

Tittle : Another Chance [PART 4]

Author : AyouLeonForever

Cover pic/poster edited by : AyouLeonForever

Genre: Romance, Angst, Tragedy, Suspense

Length: Chaptered / Series Fic

Rating: PG12, T

Main Cast:

*Do Kyung Soo

*Lee Hana

* Kim Joon Myun

*Park Min Yeong

Other Cast: Find them by your self :p

Disclaimer: All off the cast(s) belong to his/her self, parents, agency, and GOD

Copyright: The story and OC belong to me!No Copy paste without permissions!

warning: Typo(s) every where.

 Part 4

Rengkuhan itu sebagai bukti, ucapan itu sebagai janji, dan tatapan itu sebagai saksi yang akan menjadi jaminan untuknya dalam pertaruhan terakhir. Mencoba sekali lagi untuk percaya, sekali lagi untuk berharap, dan sekali lagi untuk bermimpi bahwa masih ada kesempatan bagi dirinya untuk mengobati retak yang masih tercetak jelas di relung hatinya.

Nama baru, wajah baru, dan sosok baru…

Bahkan ulasan senyuman itu tak tampak kebohongan di sana, dan tak ada alasan untuk tidak percaya…

Inilah kesempatan lain yang harus ia berikan unuk dirinya sendiri.

Mencinta…

Hana POV

TRING….TRING…TRING….

Bunyi alarmku memekakkan telinga, aku menatapnya sejenak sebelum mematikan deringnya. “kali ini kau telat… aku sudah bangun lebih dulu”ucapku pada alarm sahabatku itu, temanku menghitung detik berlalunya waktu di dunia ini.

Aku tidak langsung menuju kamar mandi, aku hanya duduk di atas tempat tidurku sembari menelaah kembali apa yang sebenarnya terjadi kemarin.

Do Kyung Soo…

Namja itu, aku tidak mengerti apa yang dia punyai sehingga aku bisa dengan begitu mudahnya memberikan kepercayaan penuhku padanya. Bahkan, aku membuka kembali kenangan buruk masa laluku dan kubeberkan semua padanya dengan pertaruhan harga diriku yang pasti dinilainya rendah.

Tapi tidak. Siapa yang menyangka dia masih bersikeras mengatakan bahwa dia mencintaiku, berikut kekurangan dan cacat yang kumiliki ini.

Bagaimana dia memelukku, bagaimana ia menenangkanku, terakhir bagaimana ia berhasil meyakinkanku untuk menerimanya di sisiku.

Aku bahkan mengira aku sedang bermimpi. Apakah dialah jawaban yang dikirimkan Tuhan untukku atas semua penderitaanku bertahun-tahun?

Do Kyung Soo… kuserahkan semua kepercayaanku untukmu, kumohon jangan sedikitpun menyalahgunakannya.

“annyeonghaseyo… bagaimana keadaanmu?” sapaku pada Kyung Soo saat aku menjenguknya di apartementnya.

“yah… tadi itu aku merasa kurang enak badan, tapi saat kau datang, ah… badanku langsung terasa segar kembali”balasnya.

Sebenarnya aku belum terlalu mengenal sosok Kyung Soo, setahuku dia tidak banyak bicara, tapi lihatlah, setelah aku mulai membuka diri untuknya, siapa yang mengira dia akan segombal ini. “hari ini ada kuliah pagi, jadi aku tidak bisa berlama-lama. Ini sudah kusisihkan kimbab buatanku untuk sarapanmu. Setelah ini jangan lupa obatmu”

“siap…”

“aku pergi dulu, kalau ada sesuatu… um, kau bisa hubungi ahjumma. Aku sudah memberitahunya selama aku tidak ada agar dia bisa mengawasimu”

Kyung Soo malah tertawa “manisnya…”

“apanya?”

“aniyo… pergilah atau kau akan terlambat”

“nae… sampai jumpa Kyung Soo-shii”

“ah… nae…”

Seperti hari-hari sebelumnya sejak Kyung Soo tidak masuk kuliah. Su Ho akan menungguku di depan gerbang Universitas dan memintaku untuk bersamanya masuk ke kelas. Awalnya dia justru menawarkan untuk menjemputku dan juga mengantarku pulang, tapi ini saja sudah lebih dari kata merepotkan. Lagipula, Su Ho tetap seorang namja, dan aku sudah berusaha semampu mungkin untuk tidak menampakkan rasa takutku padanya.

Tapi mengingat bagaimana Su Ho memperhatikanku atas permintaan Kyung Soo aku jelas harus bersikap kooperatif agar dia tidak tersinggung.

“bagaimana keadaan namja gila itu?” tanya Su Ho

“maksudmu… Kyung Soo-shii?”

“nae, siapa lagi?”

“dia sudah agak mendingan. Hanya butuh beberapa hari lagi untuk pemulihan”

“hum begitu. Oh ya Hana-shii,sebenarnya ini sudah cukup lama ingin kutanyakan tapi selalu lupa”

“tentang apa Su Ho-shii?”

“itu… kudengar dari Kyung Soo, bahkan sebelum kejadian terakhir yang menimpa kalian, kau mengalami kejadian yang hampir membahayakan nyawamu. Mengenai kejadian di balkon atap itu…”

“nae… apa yang ingin kau ketahui tentang itu?”

“tidak banyak, hanya intinya saja. Apa kau mengetahui siapa orang yang mengerjaimu itu?”

Aku terdiam sejenak, mencoba mengingat “tidak. Aku bahkan tidak bisa melihat wajahnya karena orang itu mengenakan masker hitam, juga kacamata hitam, sweater tebal dan, kupluk hitam”

“apa kau bisa menebak apakah dia namja atau yeoja?”

Aku berpikir lagi “mengingat bagaimana cara orang itu menyeretku, kurasa itu bukan tenaga seorang yeoja. Tapi namja. Entah apa yang dia inginkan dariku, aku lebih dulu pingsan setelah dia melepaskan pakaian luarku dengan paksa”

Su Ho mengangguk-angguk “namja… tapi kau beul-betul tidak ada gambaran siapa orang itu?”

Aku menggeleng “sedikitpun tidak. Tapi, kenapa kau mempertanyakan ini? apa Kyung Soo juga menyuruhmu?”

“ah tidak… tidak. Ini hanya untuk referensi penyelidikanku. Aku berpikir bahwa ada keterkaitan kejadian yang sebelumnya menimpamu dengan kejadian yang baru-baru ini”

“gomawoyo Su Ho-shii, kau sudah sangat membantu banyak”

“ah tidak juga, kulakukan sebisaku. Aku hanya tidak ingin Kyung Soo berada dalam bahaya”

“hum?”

“tentu saja bagaimana bersikerasnya namja gila itu melindungimu. Selama peneror itu terus mengincarmu, Kyung Soo juga akan berada dalam bahaya”

Aku menunduk. Merasa semakin bersalah.

“A… bukan begitu maksudku Hana-shii. Aduh, Kyung Soo melakukan itu karena dia sangat mencintaimu. Jadi itu wajar…”

“arayo… tapi, karenaku, keselamatan Kyung Soo-shii juga terancam”

“tenanglah, aku tidak akan membiarkan Kyung Soo celaka”

Aku mengangkat wajah “kamsahamnida Su Ho-shii”

“bukan masalah, ini tugasku sebagai sahabat. Memastikan keselamatan sahabatku”

Aku tidak bisa menebak sedekat apa Kyung Soo dengan Su Ho, tapi kesimpulan yang bisa kutarik adalah, mereka adalah sepasang sahabat yang akan saling membantu saat salah satunya kesusahan. Satu lagi pelajaran yang kudapat, bahwa manusia punya sisi itu, sayangnya aku terlalu lama mengurung diri dalam keterpurukan dan ketakutan hingga mataku buta akan makna persahabatan.

Su Ho berjalan lebih dulu saat kami menyusuri koridor Fakultas seni lantai tiga. Ruangan kami berada 2 kelas dari ujung, kurasa tidak begitu jauh sampai Su Ho harus mengawalku setiap hari. Dan jujur saja, aku merasa sangat tidak enak… merasa sudah sangat merepotkan orang lain yang bahkan tidak begitu akrab denganku.

Akrab? Sejak kapan pula aku bisa akrab dengan orang lain? Jangan hitung namja itu, aku benci. Baiklah, anggap saja aku memulainya dari Kyung Soo, dan berhubung Su Ho adalah sahabat Kyung Soo, anggap saja aku juga akrab dengannya. Begitu lebih baik.

“setelah Kyung Soo-shii, kini Su Ho-shii. Wah, ternyata diam mu itu harus sedikit dipertanyakan”ucapan itu terdengar jelas begitu aku melintasi bangku Min Yeong.

Seperti magnet, aku malah berhenti di tempat dan hendak menoleh. Awalnya berusaha tidak peduli, tapi ini sudah kesekian kalinya Min Yeong menyindirku dengan tujuan yang sama, walau kata-katanya di improvisasi setiap harinya.

“waeyo? Cemburu?” Su Ho yang angkat suara, dan itu diselingi tawa kecil.

“Su Ho-shii, aku tidak sedang berbicara denganmu”balas Min Yeong

“tapi aku mendengar namaku terselip di kalimatmu tadi”

“bukan berarti__”

“ayo Hana-shii, Kim sonseng akan masuk”Su Ho menarik tanganku, dan itu sedikit tidak bisa kuduga. Dan beruntung, aku masih bisa mengontrol diri untuk tidak langsung kalap dan menepis tangannya, mengingat bahwa aku sedang berusaha mengobati ketakutanku ini.

“n… nae…”aku menurut saja. Dan beruntungnya lagi, Su Ho masih menerima penolakanku saat ia memintaku duduk di bangku Kyung Soo, dengan kata lain, di sebelahnya. Aku masih belum siap begitu dekat dengan namja. Aku baru memulainya lagi dengan Kyung Soo, dan itu masih dalam tahap berusaha.

Mata kuliah terakhir kosong. Artinya aku bisa pulang lebih awal, dalam artian lain pula, aku bisa pulang untuk menyiapkan makan siang untuk Kyung Soo. Kali ini aku tidak berhasil menolak ajakan Su Ho untuk mengantarku pulang, karena kini aku sudah duduk di jok mobilnya, persis di sebelahnya yang tengah menyetir serius.

Tidak banyak yang kami bicarakan sepanjang perjalanan. Tidak banyak, artinya kami masih bicara seperlunya. Aku bisa menyadari kecanggungan di antara kami saat Su Ho memulai topik ini.

“oh ya Hana-shii, apa kau tidak bosan setiap hari hanya mengurung diri di apartementmu? Yah selain kuliah dan kerja paruh waktu”

Dan aku akan menjawab seperti ini “tidak, karena aku sudah terbiasa”

“lalu apa yang kau lakukan saat kau mengurung diri?”

“tidak banyak. Biasanya, hanya merajut”

Su Ho bergumam “ah, biar kutebak. Syal yang dibangga-banggakan Kyung Soo itu, kau yang merajutnya?”

Aku menangguk “nae…”

Hening. Dan itu berlangsung sampai di persimpangan, tepat saat lampu merah menyala. Alangkah kaku nya bila di saat seperti itu kami tetap diam. Sayangnya aku tidak selihai orang banyak yang bisa mencairkan suasana kaku dengan memulai obrolan baru.

“Kyung Soo mencintaimu”ucap Su Ho tiba-tiba.

“nae?”

Su Ho menoleh padaku “apa kau tidak ingin mencoba untuk membuka hati untuknya?”

Benar juga. Su Ho pasti belum tahu tentang perkembangan hubunganku dengan Kyung Soo, berhubung itu terjadi kemarin, tapi… terlalu ajaib kalau Kyung Soo belum menceritakan apa-apa pada sahabatnya ini “a… aku… aku sedang”

“dia namja yang baik”

Aku menelan ludah “arayo”

Dan obrolan aneh kami kembali terhenti saat lampu hijau menyala. Itu bertahan sampai mobil Su Ho memasuki area pelataran parkir gedung apartement yang kutempati.

“oh ya Hana-shii, kalau kau menemui Kyung Soo, katakan aku tidak bisa mampir, ada yang harus kuurus. Mungkin nanti malam aku akan menemuinya”

“baiklah, akan kusampaikan. Terima kasih banyak atas tumpangannya, dan juga… untuk hari ini. maaf merepotkanmu”

“tidak perlu sungkan, aku melakukannya dengan suka hati. Masuklah, aku akan melihatmu dari sini”

“ah tidak perlu. Kurasa di sini sudah aman, sudah sangat ramai dan akan sangat kontras bila ada yang nekat mengerjaiku”

Su Ho tertawa “hanya memastikan yeoja idaman sahabatku ini baik-baik saja”

Aku menghela nafas “sampai jumpa Su Ho-shii”

“nae… annyeong”

“Kyung Soo-shii, kau di dalam?” ini sudah ke delapan kalinya aku berseru di depan kamar Kyung Soo sambil mengetuk pintunya. Tapi pemilik apartement ini juga tidak kunjung keluar, bahkan menyahutpun tidak. Dan sekarang, aku mulai khawatir, bahkan jika Kyung Soo berada di kamar mandi, dia pasti mendengar seruanku. “Kyung Soo-shii…” ulangku untuk yang ke sembilan kali.

Rasa khawatirku meningkat menjadi cemas. Aku memberanikan diri memutar kenop pintu kamar Kyung Soo dan masuk ke dalam.

Kyung Soo tidak ada. Kamarnya kosong, bersih dan… rapih. Kemana Do Kyung Soo?. “Kyung Soo-shii, kau di mana?” aku menjelajahi kamar Kyung Soo yang luasnya tidak jauh beda dengan luas kamarku, karena memang kami punya tipe apartement yang sama. “Kyung Soo-shii…” ruangan ini betul-betul kosong, tak berpenghuni.

Aku melanjutkan pencarianku ke ruangan lain. Ruang makan, dapur, kamar mandi utama, balkon kamar, bahkan balkon samping juga tidak menunjukkan tanda-tanda keberadaan Kyung Soo.

Tunggu…. jangan-jangan peneror itu kini telah mengincar nyawa Kyung Soo. Bisa jadi raibnya Kyung Soo akibat penculikan peneror itu. Oh Tuhan… “Kyung Soo-shii… Kyung Soo-shii”seruku panik, aku langsung membongkar isi tas ku, mencari ponsel untuk bisa segera menghubungi Su Ho. Isi tasku berhamburan ke lantai, dan masih dalam keadaan panik aku luruh ke lantai dan membongkar tumpukan barang-barangku.

Sial, tanganku bergetar, dan di saat seperti ini, rasa takutku langsung menguasai logikaku dan tidak bisa berpikir jernih. Bagaimana kalau peneror itu berbuat jahat pada Kyung Soo? Bagaimana kalau Kyung Soo tidak bisa menyelamatkan diri? Bagaimana kalau…. Kyung Soo mati… “ANDWAEEEEEEEEEEEEEE…………..”

***

Kyung Soo POV.

Kuharap ini hanya perasaanku saja, tapi sejak meninggalkan gedung apartement tadi, seolah ada yang membuntutiku dari belakang. Tapi setiap aku menoleh untuk memastikan firasatku, aku tetap tidak bisa menangkap sesuatu atau seseorang pun yang mencurigakan. Area ini sangat ramai, jadi kurasa tidak akan ada yang berani terang-terangan berbuat kejahatan terhadapku. Tapi tetap saja… ada yang tidak beres.

“kau sudah sehat Kyung Soo-ya?” tanya ahjumma pemilik minimarket saat aku meletakkan barang belanjaanku di atas meja kasir. Ahjumma sudah memanggilku dengan sebutan Kyung Soo-ya, mungkin karena eomma sudah cukup akrab dengannya, dan aku juga sudah cukup dekat dengan ahjumma.

“yah, sejauh ini sudah lumayan ahjumma. Aku sudah tidak merasakan pusing lagi kalau berjalan jauh”jawabku.

“eommamu memintaku mengawasimu”

Aku tertawa kecil “cwesonghamnida ahjumma, eomma membuatmu kerepotan”

“ah… gwenchana…gwenchana. eommamu wanita yang hebat, senang berteman dengannya”ahjumma balas tertawa. “Hana juga memintaku mengawasimu. Sepertinya aku punya banyak amanah”

Aku jadi malu sendiri “aku merasa sangat tidak enak, ahjumma”

“santai saja, aku suka dengan anak-anak seperti kalian”

Aku tersenyum, kemudian menerima bungkusan belanjaanku setelah ahjumma menghitungnya. “kamsahamnida ahjumma, aku kembali dulu”pamitku setelah membayar semuanya.

“nae… nae, jangan bosan mampir”

Lagi-lagi, aku merasakannya. Aku memang tidak bisa mendengar langkah kakinya secara pasti, tapi samar… betul-betul ada yang mengikutiku. Sialnya, kondisiku tidak sedang fit untuk bisa membela diri kalau saja ada yang tiba-tiba menyerangku.

Tapi tidak mengapa, walau aku tidak begitu hebat, setidaknya aku punya modal untuk membela diri. Aku harus memancing stalker ini agar menampakkan dirinya.

Aku sengaja masuk lewat basement gedung, karena cukup sepi, jadi orang ini pasti tidak akan segan-segan untuk menampakkan sosoknya.

Dan betul juga, derap langkahnya yang mengikutiku dari belakang terdengar sangat jelas. Bahkan ketika aku pura-pura berhenti untuk membetulkan tali sepatuku, suara langkahnya juga terhenti. Hum,… menarik.

Aku sudah berdiri di depan lift basement, berpura-pura jenuh menunggu pintu lift terbuka. Dan suara derap langkah itu semakin mendekat, dengan cepat.

Aku menelan ludah, ini cukup menegangkan, dan aku tidak bisa menduga apakah orang ini membawa senjata tajam atau tidak. Aku hanya membuat pertaruhan dengan memperkirakan gerakanku lebih cepat saat orang ini akan menyerangku.

Langkahnya sudah sangat dekat, sisa menghitung mundur. Bertepatan saat pintu lift terbuka, dan…

Aku menoleh dengan cepat begitu ada yang menepuk bahuku, dengan ilmu beladiri dasar yang kupelajari di SMU, aku membanting tubuh orang ini ke lantai dan bersiap melayangkan tinju ke___

“Kyung Soo-ya… Kyung Soo-ya chankkaman…”orang ini langsung mengangkat tangan saat punggungnya sudah terhempas di lantai, sementara aku sudah mencengkram kerah bajunya dan siap melayangkan tinju.

Mataku memicing beberapa detik mencoba mengenali sosok ini, sampai seketika memoriku mengejutkanku “Hyu… Hyung??? Kris hyung?” terkaku dengan mata membelalak.

“ah syukurlah, kau masih mengenalku”

“Omo… hyung, apa yang kau lakukan di sini?”

“sebelum kujawab, bisa kau lepaskan aku?”

Aku tersadar “ah mianhae” kemudian membantunya berdiri.

“kau ini, bagaimana mungkin kau menyambutku dengan seperti itu?”

Aku tertawa kecil “mianhae… mianhae, kupikir kau seorang stalker

“dalam rangka apa aku harus menguntitmu? Aku hanya tidak sengaja menangkap sosokmu di jalan tadi, dan hendak memastikan apakah kau benar-benar Kyung Soo, makanya aku mengikutimu sejak tadi. Dan setelah melihat lebih dekat, ternyata tebakanku tidak salah. Dan wow… siapa yang menyangka kau sudah cukup besar”

“tidak sebesar itu hyung tinggiku masih di bawah rata-rata”aku merasa kurang percaya diri, terlebih Kris hyung semakin tinggi menjulang sejak terakhir aku melihatnya di Ilsan.

Kris hyung mengusap puncak kepalaku.

“AWWW…” keluhku

“Ah, gwenchanayo? Ah, maaf kenapa dengan kepalamu?, aku tidak memperhatikan kalau kepalamu di perban”

“ini… tertimpa pot”

“pot?”

“panjang ceritanya hyung, akan memakan waktu lama. Mampir lah ke apartementku, kita harus mengobrol banyak, terhitung sudah hampir 7 tahun sejak kabar terakhir darimu yang berhasil terdaftar di SMU populer di Seoul ini”

“maaf, bersekolah di Seoul benar-benar menyita waktu, sibuk”.

“nae, aku sudah merasakannya sejak berkuliah di sini”

“betul-betul sudah sangat lama yah, ah kau pasti sudah punya yeojachinggu. Ayo kenalkan padaku”

Aku tertawa kecil “maka dari itu, ikutlah denganmu. Kita mengobrol di apartementku saja”

Kris hyung melirik arlojinya “aku sangat ingin Kyung Soo-ya, tapi… aku ada urusan penting. Lain kali saja aku mampir. Di mana apartementmu?”

“di gedung ini, lantai 12”

“baiklah, kapan-kapan aku akan mampir. Annyeong…”

Aku mengangguk, kemudian melambaikan tangan pada Kris hyung yang sepertinya memang ada urusan penting, dia terlihat sangat terburu-buru.

Aku melangkah santai memasuki apartementku, cukup aneh, aku memang tidak mengunci pintu depan, tapi seingatku, aku menutupnya rapat. Lalu kenapa aku menemukan pintu ini terbuka cukup lebar? Apa eomma kembali menjengukku? Bersama aboji? Ah tidak, ini pasti mimpi buruk.

Aku baru masuk beberapa langkah ke dalam, dan mataku seketika membelalak dengan apa yang ditangkap oleh kedua mataku.

“Ha… Hana-shii, gwenchanayo?”seruku panik saat menemukan Lee Hana terduduk di lantai sambil membongkar barang-barang yang berserakan di lantai.

Lee Hana mendongak “Kyung Soo-shii…” ia menangis, dan itu membuatku terkejut. Kemudian tanpa menunggu waktu bergulir lebih lama dan melihatnya dalam ketakutan cukup lama. Aku langsung memeluknya.

“gwenchanayo? Apa sesuatu menimpamu? Ada apa? Apa yang terjadi” tanya ku panik.

“Kyung Soo-shii…” ia masih terisak.

“nae… aku di sini”

“aku takut… aku takut”

“tenanglah, aku selalu bersamamu”

“aku takut kau kenapa-kenapa”

Aku  terdiam, mencoba menelaah kalimatnya “aku? Kenapa denganku?”

Kulihat ia masih berusaha menghentikan tangis dan menenangkan diri. Dan perlahan ia mengangkat wajah dan menatapku “kupikir peneror itu menculikmu, karena aku tidak segera menemukanmu di tempat ini, tadi”

Aku balas menatapnya, awalnya bingung, tapi… Ya Tuhan, Hana mencemaskanku, dan itu sangat… lucu, “Hana-shii, jangan berlebihan, untuk apa peneror itu menculikku? Yang harus dikhwatirkan itu justru kau”

“tapi, mengingat kejadian yang menimpamu itu, tidak menutup kemungkinan kau juga ikut diteror”

Aku menghela nafas, kemudian membantunya berdiri “dengar, aku tidak akan kenapa-kenapa. Kejadian yang menimpaku tempo hari itu hanyalah kecelakaan, targetnya adalah kau, jadi… kaulah yang harus hati-hati. Berhubung terror yang diarahkan padamu seketika berhenti, tidak menjadi jaminan kalau kau sudah selamat, bisa jadi… diamnya peneror itu adalah untuk memikirkan rencana selanjutnya”

Hana terdiam sejenak sembari memandangi ku. “Kyung Soo-shii”

“nae?”

“kau… tidak pandai menghibur”

Kata-kata Hana, dan itu membuatku tertawa “mianhaeyo…mianhaeyo. tapi terima kasih, kau sudah mengkhawatirkanku sampai seperti ini”

Ia menunduk dalam, sambil berkata lirih “aku… hanya tidak siap unuk mengalami kehilangan besar-besaran lagi”

“hm?”

Ia kembali mengangkat wajah, menatapku lamat-lamat “merasa memiliki sesuatu itu sangat… membahagiakan, tapi juga menakutkan. Aku… takut suatu saat nanti, sengaja atau tidak sengaja, kau raib dari sisiku”

Kata-kata Hana membuatku terdiam sejenak, sungguh… seolah menyentuh langsung hatiku, dan itu menuntunku untuk mengulurkan tangan dan meraihnya ke dalam pelukanku. “Hana-shii, jangan pikirkan perpisahan sementara kita masih bersama. Kau benar, aku tidak pandai menghibur orang, tapi coba dalami kata-kataku ini” aku berhenti sejenak “aku memintamu di sisiku bukan hanya karena aku mencintaimu, tapi juga karena aku ingin melindungimu dari siapapun yang hendak menyakitimu. Aku, dengan segenap perasaanku padamu, akan selalu berada di sisimu, bahkan ketika kau ingin mengenyahkanku, aku akan tetap bersamamu. bisa jadi aku akan kembali ke cara semula” aku terdiam sejenak “yaitu mencintaimu dalam diam”.

Hana ikut terdiam, dan kubiarkan dia terbenam dalam pelukanku. Sampai ketika ia mengulurkan pelukan kami, mencoba menatapku sekali lagi dengan sedikit ragu, kurasa ketakutannya terhadap namja masih bersisa, dan dia tengah berusaha menghilangkan ketakutan itu saat bersamaku “Kyung Soo-shii, kau betul-betul tidak pandai menghibur orang”

Aku sedikit tertegun “Hana-shii…”

“tapi kau pandai membuat hati orang luluh”

Jadi ini maksudnya? Manis sekali. dan aku kembali memeluknya. “saranghaeyo Hana-shii”

***

“jadi… tadi itu kau kemana?”tanya Hana saat kami tengah menyantap makan siang.

“ke mini market. Ada sesuatu yang kubeli”jawab ku santai, aku tengah sibuk menyantap makanan hasil kerja samaku dengan Hana tadi.

“oh..”

Aku menoleh pada Hana “kau tidak tanya, benda apa yang kubeli?”

“apa aku harus bertanya?”

Aku langsung terbatuk.

“gwenchanayo?” Hana segera menyuguhkannya segelas air.

“nae…nae, gwenchana. Aku hanya tersedak”

“sudah kubilang saat makan jangan terburu-buru”

Ternyata menghadapi orang yang sedikit tidak peka memang kurang menyenangkan, sebenarnya aku bisa melanjutkan obrolan yang lebih manis lagi kalau saja Hana mau bekerja sama. Sayangnya dia terlalu serius. “besok aku mau ke kampus”

“secepat itu? Kau Masih harus beristirahat beberapa hari sebelum masa pemulihanmu selesai”

Aku memegangi kepalaku “ini bukan lagi kendala, terlebih kalau aku berlama-lama istirahat, Kim sonseng akan semakin bermurah hati memberiku tugas”

“tapi apa kau yakin? Atau kita ke rumah sakit dulu untuk memastikan kondisi kesehatanmu”

“tidak perlu, check up terakhir sudah cukup jelas, kalau aku sudah sembuh”

“tapi tidak menjadi jaminan kau sudah boleh beraktivitas seperti biasanya. Bagaimana kalau luka jahitannya terbuka, infeksi dan… itu akan semakin berbahaya”

Aku tertawa kecil “mau tau satu hal Hana-shii, kau mirip eommaku. Aku bahkan tidak menyangka kau sedikit cerewet untuk masalah kesehatanku”

Hana tertunduk, dan kurasa karena ia tersipu “aku… hanya ingin memastikan kau baik-baik saja Kyung Soo-shii”

Aku tetap tidak bisa menyembunyikan senyumku. Perlahan kuraih tangan kiri Hana dan menggenggamnya “aku baik-baik saja, percayalah. Sudah cukup baik untuk bisa kembali melindungimu”

“Kyung Soo-shii, kumohon jangan paksakan dirimu. Aku juga akan baik-baik saja”

Sebenarnya untuk kondisi normal, suasana ini sudah cukup romantis, dan perfect. Hanya saja, aku tidak boleh lupa siapa yeoja yang berada di sisiku ini, Lee Hana. Jangankan berpikiran untuk menciumnya, memegang tangannya seperti ini saja aku harus paham situasi. “aku hanya tidak mau kau terlalu banyak menghabiskan waktumu dengan namja lain?”

Hana mengerutkan kening “namja lain?”

“hum..m, Su Ho”

“apa kau gila, Su Ho itu sahabatmu”

“tapi dia tetap seorang namja, dan sampai sekarang aku belum pernah mendengar ceritanya tentang siapa yeoja yang dia sukai”

Hana menghela nafas “dan kau khawatir yeoja itu aku?”

Aku mengangguk pelan.

“mau tau satu hal Kyung Soo-shii. Hanya namja gila yang mau menyukaiku. Dan Kurasa pikiran Su Ho-shii masih cukup sehat, masih cukup waras untuk bisa menyukaiku”

“jadi menurutmu aku namja gila?”

“lalu aku harus menyebutmu apa? Aku bahkan sudah membeberkan semua cacatku padamu, dan kau masih saja__”

“jangan menyalahkanku, salahkan dirimu kenapa kau membuatku jatuh cinta”

Hana terdiam, dan kurasa dia kehabisan kata-kata.

“yang jelasnya, besok aku sudah mulai kuliah lagi. Jadi kita bisa berangkat ke kampus bersama-sama”

Hana tersentak “a… apa itu tidak berlebihan? Maksudku, akan sangat transparan”

“kenapa? Kau kan yeojachingguku”

Hana menatapku heran “sejak kapan aku menjadi yeojachinggumu?”

Untuk kesekian kalinya aku tersedak “Hana-shii, aku tidak bercanda”

“aku juga tidak bercanda. Aku payah dalam hal bercanda”

“tapi lihatlah lelucon yang kau keluarkan”

“ini bukan lelucon”

“lalu apa?. Bisa-bisanya kau bertanya sejak kapan kau menjadi yeojachingguku sementara saat ini kita…. baiklah…kalau kau bukan kekasihku, lalu apa?”

“kau serius ingin menjadikan yeoja sepertiku ini sebagai kekasihmu?”

Aku memegangi kepalaku, kurasa kepalaku pusing.

“lihat kondisimu, kau masih belum pulih total dan kau tetap bersikeras untuk ke kampus. Kau  Masih harus istirahat beberapa hari lagi Kyung Soo-shii”

“itu karena leluconmu sangat tidak lucu, makanya kepalaku sakit”

“tunggu di sini, kuambilkan obatmu dulu”

“aku tidak mau obat, aku benci obat. Yang kumau sekarang hanyalah kau mengiyakan bahwa kita sepasang kekasih”

“jangan kekanak-kanakan Kyung Soo-shii, sudah kubilang aku payah dalam membuat lelucon. Lagipula, sejak kapan kita menjadi sepasang kekasih?”

“jadi kemarin itu bukan penegasan?”aku jadi kesal sendiri.

Hana menghela nafas “aku kan hanya mengatakan akan mencoba menata kembali hidupku. Dan itu kumulai dari berhubungan denganmu. Kuputuskan untuk mulai memberikan kepercayaan pada orang lain, yaitu kau”

just it? Ah…sepertinya aku benar-benar akan gila” aku meninggalkan meja makan, beranjak menuju kamarku.

Tapi kurasakan tangan Hana mencekal lenganku “kau marah?”

“tidak, kepalaku pusing. Aku mau tidur”

“apa sepenting itu mengenai status hubungan?”

Aku menoleh padanya “kenapa kau bertanya? Menurutmu?”

“kurasa dalam berhubungan, status tidaklah penting. Selama kita saling percaya kurasa itu cukup”

Aku menghela nafas “dan kurasa namja di masa lalumu itu telah meracunimu sampai seperti ini”

“maksudmu?”

“aku hargai pendapatmu, tapi persepsi kita beda. Aku memang tidak meninggikan status sebuah hubungan, tapi dengan begitu, akan ada penegasan mengenai hak dan kewajiban”

“Kyung Soo-shii, kata-katamu semakin membingungkan”

Aku terdiam sejenak, menatapnya lamat-lamat “setidaknya sebagai penegasan bahwa aku berhak cemburu saat kau bersama namja lain, karena kau adalah kekasihku”

Hening. Lee Hana sudah tidak mengeluarkan statement anehnya. Kurasa aku memang membutuhkan waktu yang lebih lama untuk betul-betul mengenal yeoja ini.

“tapi kalau itu sudah keputusanmu, aku ikut saja. Karena memang aku yang memintamu berada di sisiku. Aku ke kamar dulu”

“Kyung Soo-shii, chakkaman…”

Aku menoleh lagi padanya “waeyo?”

“ng… itu… kurasa kau benar” Hana kelihatan salah tingkah “ng… untuk itu…baiklah. Kuberikan kau hak untuk cemburu kalau aku bersama namja lain. Walau aku juga tidak yakin apakah aku bisa dekat dengan namja lain selain kau”

Aku mengerjapkan mata, mencoba mendalami makna kata-katanya “kau bilang apa barusan?”

“kau tadi berceramah panjang tentang hak dan kewajiban kan? Mengenai status hubungan kita. Sudah kubilang, aku memberimu hak untuk cemburu kalau suatu saat aku bersama namja lain”

Jelas… sangat jelas. Begini cara Hana menyampaikannya, dan aku sangat suka. “bolehkah aku memelukmu?”

“ng?”

“Hana-shii, aku betul-betul ingin memelukmu sekarang”

Hana terdiam sejenak, kemudian mengangguk.

Dan tanpa menunggu lagi, kutarik Hana ke dalam pelukanku “saranghaeyo Hana-shii, jeongmal saranghaeyo”

“aku… tidak bisa menjanjikan apa-apa Kyung Soo-shii. Tapi… aku bahagia saat bersamamu”

“gwenchana…gwenchana, ini sudah lebih dari kata cukup”

“gomawoyo…”

Aku sudah tidak menggubris. Aku hanya ingin menikmati setiap detik dan setiap detak jantungku yang berlalu saat Hana berada dalam dekapanku. Selebihnya, aku tidak butuh apa-apa.

“ng… Kyung Soo-shii, aku… kesulitan bernafas”keluhnya

Dan aku baru sadar kalau aku memeluknya terlalu erat “mianhaeyo… aku terlalu, bahagia”

“um… gwenchanayo. Tidak apa-apa, selama itu adalah kau”

Oh Tuhan… betapa aku mencintai yeoja ini. “jadi besok, aku sudah boleh ke kampus kan?”

“kenapa topik ini lagi?”

“karena inilah intinya”

Hana menghela nafas “geureyo… kalau begitu kita ke rumah sakit”

“untuk apa lagi?”

“tentu saja untuk check up kesehatanmu, aku harus mendengarnya langsung dari dokter bahwa kau sudah boleh kembali beraktivitas normal”

“Hana-shii, ayolah”

“kalau kau tidak mau chek up, ya sudah, kau tunggu saja sampai masa pemulihanmu berakhir”

“arayo…arayo. aku ganti pakaian dulu”

Hana mengangguk.

“eh…tapi, bukannya kau tidak suka tempat ramai Hana-shii?”

“memang”

“lalu kenapa kau bersikeras memaksaku ke rumah sakit? tempat itu bahkan sangat ramai di jam-jam seperti sekarang”

“aku tidak suka tempat ramai saat aku sendiri karena phobia ku akan mudah kumat. Tapi… bukankah sekarang aku sudah tidak sendiri?”

“ng?”

“perdebatan tadi kurasa sia-sia. Kau benar-benar tidak peka. Bergegaslah ganti pakaian, aku menunggumu di depan”

“tunggu, aku betul-betul tidak mengerti”

Hana menghela nafas “aku sudah punya namjachinggu yang bahkan rela mengorbankan nyawa untuk melindungiku. Lalu untuk apalagi aku takut tempat ramai? Kalau kau masih belum paham, aku sendiri yang akan memecahkan pot di kepalamu”

Aku tertawa, bahkan sampai terbahak. Hana memang tidak pandai menampakkan ekspresi wajahnya, dia terlalu datar, bahkan senyumpun tidak pernah. Tapi… aku bahkan tidak menyangka leluconnya bisa lebih lucu dari siapapun. “aku mencintai ibumu”

“apalagi ini?”

“karena dia telah melahirkan yeoja yang membuatku sampai seperti ini”

Hana menghela nafas lagi.“aku prihatin pada ibumu”

Aku jelas terkejut “waeyo?”

“bagaimana mungkin ibumu bisa sesabar ini membesarkan namja gila sepertimu”

“Hana-shii…”

“tapi kalau bukan karena kesabaran ibumu itu, aku mungkin tidak akan punya kesempatan lain seperti yang kupunya sekarang ini”

Lagi-lagi, kata-kata Hana.

“bergegaslah…”

“ara…ara”

***

“coba katakan sekali lagi? Kurasa aku salah dengar”Su Ho mengulangi pertanyaannya untuk kesekian kalinya.

“aku dan Lee Hana sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Dan kalau kau masih memintaku mengulanginya, aku akan mengusirmu”jawabku.

“jinjja???”

“hei.. apa semustahil itu? Ekspresimu berlebihan sekali”

“tapi ini Lee Hana… bagaimana mungkin kau bisa meluluhkan yeoja itu?”

“dan aku adalah Do Kyung Soo, apakah ada yang mustahil saat kau melakukannya dengan sangat tulus? Tak terkecuali perasaaku pada Hana yang akhirnya mendapatkan balasan”

“woaaah…. daebak”

“Su Ho-ya, berhenti bersikap berlebihan. Aku hanya pacaran dengan Hana, bukannya ratu Inggris”

“masalahnya Lee Hana lebih fenomenal dari pada ratu Inggris”

“hey, hati-hati menyebut nama yeojaku, atau aku betul-betul mengusirmu”

Su Ho berdecak berkali-kali “woah…. jinjja”

Aku melirik arlojiku. “sudah pukul 7 malam, tapi Hana belum datang”

“memangnya kalian ada janji kencan?”

“bukan kencan, tapi seperti biasa, Hana akan menyiapkan makan malam untukku”

“chankkaman, kalian hanya berpacaran kan? Bukannya menikah”

Aku tertawa “menikah? Nae..nae… mungkin beberapa tahun lagi”

“woah…. daebak”

“Hya… kau ini kenapa?”

“aku masih tidak habis pikir”

Aku jadi kesal sendiri, Su Ho betul-betul berlebihan “memangnya semustahil itu sampai kau sulit percaya. Tunggu saja kalau Hana datang, dan kau bisa menanyakannya langsung”

“segera… kalau begitu telepon saja”

Aku mengerutkan kening kesannya jadi aku yang berlebihan. “Tunggu, kutelpon dia dulu” aku meraih ponselku di meja tidur dan mengontak nomor Hana

“yeoboseyo…” sapa Hana

“Hana-shii, ini aku”

“nae Kyung Soo-shii, waeyo?”

“kau tidak jadi ke sini?”

“tunggu sebentar. Aku merapikan dapur dulu”

“kau tidak memasak di sini?”

“bahan-bahanmu kurang, jadi kugunakan punyaku saja”

“ah iya benar, bahan-bahan yang disiapkan eomma mungkin sudah habis. Besok saja sekalian aku berbelanja”

“nae… aku sudah selesai, tunggu saja”

“sampai jumpa Hana-shii…”

“nae…”

Aku mematikan ponsel, dan menatap Su Ho “dia akan segera kemari”

“kau bohong”responnya.

“kau tidak percaya? Dia benar-benar akan datang”

“bukan yang itu”

“lalu apa?”

Su Ho membetulkan duduknya, kemudian menatapku “kau bohong kalau Hana itu sudah menjadi kekasihmu”

“Su Ho-ya, kau ini kenapa? Kenapa kau tidak sepercaya itu”

“mana mungkin aku percaya. Kalau Hana memang kekasihmu, kenapa kau memanggilnya dengan seperti itu. Mana ada orang berbicara seformal itu pada kekasihnya sendiri, kalian kan masih muda”

“maksudmu… karena aku memanggilnya Hana-shii?”

Su Ho mengangguk “kalau begitu perkaranya, apa bedanya dengan hubunganku dan Hana, aku juga memanggilnya demikian”

“jelas beda, Hana itu kekasihku, dan kau hanyalah sahabat dari kekasihnya. Mengenai panggilan itu… um… benar juga, aku baru menyadarinya. Kami sudah terbiasa bicara formal”

“dasar aneh. Kaku sekali. Kenapa tidak memanggilnya dengan sebutan Hana-ya saja, atau chagi-ah lebih terkesan gyeowo, ah… atau begini saja, berhubung pronunciation mu dalam bahasa Inggris cukup bagus, panggil saja dia my love, darling, honey, dear, atau sejenisnya”

“kenapa jadi kau yang pusing? lagipula seiring berjalannya waktu semuanya akan berubah sesuai kondisi. Aku jelas tidak akan memanggilnya Hana-shii selamanya”

Su Ho tersenyum.

“kenapa lagi?”tanyaku jelas merasa aneh melihatnya tersenyum begitu.

“tidak, aku hanya berpikir. Sepertinya aku juga harus mulai memikirkan diriku”

“maksudmu?”

“hey, aku jelas tidak boleh selamanya berstatus single kan?”

Aku membelalak “kenapa tiba-tiba?”

Su Ho mengangkat bahu.

“mencurigakan, atau memang sudah ada yeoja yang kau incar?”

Su Ho angkat bahu lagi.

“arasso…arasso… girl is also an art” ucapku sebelum Su Ho mendahuluiku.

Su Ho malah tertawa “hati-hati menempatkan kata seni dalam sebuah kalimat, konteksnya kadang akan berbeda”

“maksudmu?”

“bayangkan saja. Ke mana arah pikiranmu saat ada yang mengatakan bahwa seorang gadis adalah sebuah seni

Aku membelalak “Su Ho-ya”

Su Ho kembali tertawa dan mengangkat tangannya “salahmu sendiri”

~***~

Hana pov

Aku sudah menyusun kotak makan untuk Kyung Soo. Aku memasak cukup banyak karena dia bilang Su Ho juga datang. Kurasa ini sudah cukup.

Sebenarnya aku masih tidak habis pikir. Aku bahkan tidak pernah membayangkan kalau aku punya sisi ini. maksudku, terkadang saat aku mengobrol dengan Kyung Soo, dia akan tertawa tiba-tiba dan aku tidak tahu bagian mananya yang lucu. Dan lagi, dia mengataiku cerewet, yang aku sendiri juga tidak sadar apa betul aku secerewet itu?. Aku sendiri juga tidak mengerti. Saat Kyung Soo mengajakku mengobrol, aku bisa mengimbangi dengan sangat lancar. Entah dari mana semua kosa kata yang keluar dari mulutku, semuanya berjalan natural. Dan aku tidak heran lagi saat Kyung Soo mengatakan “aku baru tahu kalau Lee Hana adalah yeoja yang seperti ini. tau begitu kita pacaran lebih awal sajaatau “tidak… tidak, kau tidak secerewet eommaku. Kau masih satu tingkat di atas eommaku “ dan aku akan kebingungan apakah dia meledekku atau memujiku.

Belum pernah dalam hidupku aku mendapatkan kebiasaan baru. Yaitu menghabiskan waktu untuk mengenang hal-hal menyenangkan yang kulakukan dengan Kyung Soo. Dan terkadang aku baru menyadari kalau memang kata-kataku cukup lucu sampai berhasil membuatnya tertawa keras. Bahkan mengingat wajahnya yang sedang tertawa saja sudah cukup membuatku lupa bahwa aku melewatkan waktu beberapa menit untuk kegiatanku yang berikutnya.

Yah… aku merasakannya. Akhir-akhir ini batinku terasa damai, cerah. Apalagi kalau aku akan mengobrol ringan dengan Kyung Soo, entah topik apa, kesemuanya akan menyenangkan. Aku tidak bisa mendefinisikan bagaimana senangnya hariku saat bersama Kyung Soo, waktu bahkan berjalan lebih cepat dari biasanya. Berbeda dari sebelumnya, bahkan 180 derajat perbedaannya. Biasanya di siang hari sepulang kuliah, aku hanya akan duduk di meja belajarku, mengerjakan tugas kalau ada. Kalau tidak ada, aku akan melanjutkan rajutanku. Koleksi syalku sudah tidak terhitung, mungkin aku bisa menjualnya beberapa. Mengingat itu, aku baru sadar, begitu banyak waktu yang kubuang percuma.

Dan lagi… Awalnya kupikir Kyung Soo telah merubahku untuk membentuk pribadi baru. Tapi terakhir kusadari, ternyata inilah aku. Kyung Soo tidak merubahku, justru dia yang membantuku kembali menjadi diriku yang sebenarnya. Karena memang, dibandingkan dengan diriku yang dulu, aku lebih nyaman dengan diriku yang sekarang. Yang biasanya aku akan berharap kapan Tuhan akan memanggilku untuk menyusul eomma dan eonni. Tapi sejak ada Kyung Soo di sisiku, aku setiap detiknya akan berdoa agar Tuhan memberiku umur panjang agar bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi bersama Kyung Soo.

Andai saja aku mengenal Kyung Soo lebih awal. Dan jika Tuhan masih ingin berbaik hati lagi, andai saja Dia mempertemukanku dengan Kyung Soo jauh sebelum aku mengalami keterpurukan mental. Andai saja Kyung Soo adalah orang pertama yang berada di sisiku saat itu… bukannya namja biadab itu…

Ah Tidak… ini saja sudah lebih dari membahagiakan. Bertemu dengan Kyung Soo sudah merupakan keajaiban yang seharusnya kusyukuri. Hum… aku bahagia, dan aku berharap aku bisa seterusnya seperti ini. berada di sisi Kyung Soo.

Suara bel di pintu depan membuatku terkejut. Siapa yang bertamu di saat seperti ini? dan sejak kapan aku punya tamu. Sebenarnya hanya ahjumma dan Kyung Soo yang pernah bertamu ke apartementku, jadi mungkin saja salah satu dari mereka yang datang.

Lagipula, kalau benar Kyung Soo yang datang, aigo namja itu. Setidak sabar apa dia sampai dia sendiri yang datang ke sini?

Bel itu terus meraung sementara aku sudah berjalan menyusuri ruang tamu menuju pintu depan. Pasti bukan ahjumma, karena biasanya ahjumma hanya akan memencet bel sebanyak 2 kali. Ini pasti Kyung Soo yang mempermainkan bel pintu depan lagi.

Aku membuka pintu “kau ini tidak sabaran seka__” ucapanku terhenti begitu melihat sosok yang bertamu. Tinggi menjulang, dan membelakangiku. Yang jelas bukan Kyung Soo, karena Kyung Soo jelas tidak setinggi ini, punggungnya tidak sekokoh ini. rambut orang ini juga Blonde, dan aku akan mencukur habis rambut Kyung Soo kalau dia seperti ini. dan lagi, kedua telinganya yang di piercing… “ng… nugu…seyo?”tanyaku pelan.

Orang ini menoleh “eh… bukankah ini apartement milik Kyung Soo?” tanya namja itu.

Aku terkejut.

Sangat terkejut.

Bukan karena namja ini mempertanyakan Kyung Soo, tapi… dia….

“a… agashii? Gwenchanayo?” tanya namja itu saat aku sudah hampir kalap.

Nafasku memburu, dan bisa kurasakan seluruh tubuhku merinding.

“a… agashii, ada apa?” ulang namja itu lagi. “gwenchanayo?” namja itu bergerak maju, hendak menyentuhku.

“JANGAN MENDEKAAAAAAAAAATTTTT….” pekikku

Namja itu terkejut “ada apa ini?”

“jangan mendekat… jangan mendekat…”

“agashii…”

“AKU MEMBENCIMUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU”

Namja itu tersentak ke belakang

Aku bersiap membanting pintu, tetapi kalah cepat saat namja itu mulai menyadari siapa aku.

“chankkaman…” ia menahan sisi pintu itu dengan satu tangan, sementara aku dengan tangan bergetar berusaha semampu mungkin mendorongnya

“PERGI… PERGI KAU…”

Sialnya, aku justru terhempas ke belakang dan tersungkur ke lantai. Namja itu berjalan mendekatiku, dan itu membuatku semakin panik. Semua memori yang seharusnya sudah mulai kukubur dalam-dalam kini kembali muncul ke permukaan. Berputar jelas di otakku. Aku bahkan bisa mendengar setiap jeritan-jeritan yang sebenarnya hanya ilusi, tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas, hampir memecahkan gendang telingaku.

“kau…” namja itu semakin mendekat, sementara aku berusaha sebisa mungkin beringsut ke belakang, bahkan menyeret tubuhku sendiripun aku seperti tak punya kuasa. Tubuhku bergetar hebat dan… otakku seperti kembali dipukul keras oleh kenangan-kenangan buruk itu.

“pergi…. jangan mendekat….”

Namja itu sudah berdiri di hadapanku, sementara aku sudah tidak bisa bergerak mundur lagi, punggungku sudah merapat pada tembok.

Kuraih apapun di sekitarku dan melemparnya ke arah namja itu “PERGI KAU NAMJA BIADAB”

Sialnya namja itu duduk di hadapanku dan menangkap kedua tanganku, menatapku dengan seksama kemudian menurunkan syalku hingga ia bisa lebih jelas melihat wajahku. Bisa kulihat matanya membulat “Lee…. Hana???” terkanya.

Aku hampir pingsan saat mendengar dia menyebut namaku dengan sangat jelas. Artinya, aku sudah tidak punya kesempatan untuk mengelak bahwa ini sebenarnya adalah kenyataan, ini bukan mimpi buruk yang tiap malamnya menghantuiku. Namja ini…. kembali.

“kau benar Hana? Lee Hana???”

“PERGI KAU… PERGI….”

“Hana-ya tenanglah…, aku tidak__”

“TOLOOOOONNNNGGG…..”

“Hana-ya…. tenanglah”

“KYUNG SOO-SHII… TOLONG AKU…”pekikku

“ya Tuhan… kau masih seperti ini???”

“KYUNG SOO-SHII…..”

“Hana-ya sadarlah…”

BUGHHHH…

Aku merasakan genggaman tangan namja itu terlepas seketika dari tanganku. Aku tidak berani membuka mata, aku sangat takut.

“Hana-shii, gwenchanayo?” sampai suara menenangkan itu mampir di telingaku.

Barulah aku berani memfokuskan pandanganku. Semuanya kabur karena genangan air mataku “Kyung Soo-shii… Kyung Soo-shii”

“nae, ini aku” Kyung Soo memelukku, “apalagi ini, kenapa kau seperti ini lagi??”

***

Kyung Soo POV

Hana terus terisak, tidak berani menjawab. Tubuhnya masih bergetar, dan saat kusentuh tangannya, ya tuhan… dingin sekali. Ini bahkan lebih parah sejak terakhir aku melihatnya seperti ini.

Aku hendak kembali menghajar namja tadi, tapi keadaan Hana yang seperti ini tidak mungkin bisa kuabaikan. Dan kurasa Su Ho sudah berhasil menghajar namja itu. Tunggu sampai Hana sudah tenang dan aku akan membunuh namja brengsek itu.

“chankkaman… chankkaman, ini salah paham” namja itu menangkis pukulan Su Ho.

dan seketika aku tersentak begitu aku sadar siapa orang itu. “Hy… Hyung?” lirihku tak percaya.

Su Ho menoleh padaku “MWORAGO??? HYUNG???” Su Ho lebih-lebih tidak percaya saat terpaksa ia harus menghentikan pukulannya karena aku memanggil namja yang dihajarnya itu dengan sebutan hyung. “KAU KENAL NAMJA INI?” bentak Su Ho.

Aku tidak menjawab.

“Kyung Soo-ya, kau kenal dengan namja yang hampir mencelakai Hana ini???” Su Ho mempertegas. Dan aku sudah tidak mau pusing mencari alasan kenapa Su Ho justru marah padaku.

Aku menatap Hana, dia masih gemetar, kemudian kembali menoleh pada Kris hyung “hyung… apa yang kau lakukan?”

“Kyung Soo-ya… ini salah paham. Aku tidak berniat mencelakai Hana” Kris hyung membela diri.

Tunggu dia menyebut nama Hana… ah mungkin karena dia mendengarnya saat Su Ho menyebut nama Hana.“tapi kondisi Hana mengatakan lain…”aku tidak tahu harus berbuat apa. Sungguh serba salah.

“percayalah aku tidak berbuat apa-apa”

“lalu kenapa Hana seperti ini?”

Kris hyung terlihat bingung, dan sedikit cemas “Hana memang seperti itu saat penyakitnya kambuh. Saat kenangan masa lalunya kembali menghantuinya” tegasnya.

Dan itu membuatku semakin terkejut, bahkan aku tidak menyadari bahwa pelukanku pada Hana terlepas. Aku juga merasa antara sadar dan tidak sadar saat melihat Su Ho menghampiri Hana, dan menggantikan posisiku untuk merengkuhnya. Aku… tidak bisa memikirkan hal lain lagi. Pernyataan Kris hyung barusan membuatku… harus memastikannya. Aku berjalan mendekatinya. “kau bilang apa barusan?”aku juga tidak sadar sudah membentak Kris hyung dengan bahasa banmal.

“Kyung Soo-ya…”

“kenapa kau sepertinya tahu banyak tentang Hana?”aku sudah berdiri di hadapannya.

“kau kenapa?”

“KAU YANG KENAPA HYUNG??? KENAPA KAU BEGITU TAHU BANYAK TENTANG HANA?”bentakku.

Kris hyung tersentak ke belakang “aku… karena aku mengenal Hana”

“mengenal? Maksudmu?”

Kris hyung menoleh pada Hana. “kami saling kenal” Dan kulihat ia mulai bergerak, dan melangkah maju menuju tempat Hana. Aku langsung menahannya dengan meletakkan tanganku di dadanya

“berhenti di situ, hyung”

Kris hyung berdecak  “Hana-ya, dengarkan aku”

“hyung…”

Kris hyung kembali menatapku “bisa lepaskan tanganmu. Ini adalah urusan pribadi”

“apa maksudmu dengan ururusan pribadi? Kita sedang membahas Hana”

“itulah yang kumaksud, membahas Hana, sama saja dengan membahas urusan pribadiku” Kris hyung kembali menoleh pada Hana” karena Hana… Lee Hana… adalah yeojachingguku” ucapnya

TBC

39 thoughts on “[FF] ANOTHER CHANCE [PART 4]

  1. hubungan D.O oppa n hana lucu bgt sih..😄
    Oppa jd suka ngegombal…

    Hana-sshi, kau beruntg bgt bsa jadian dgn D.O oppa…

    Trnyata bnar dugaanku, kris adlh org dimasa laluny hana. Mana msh brani blg kalau hana pacrny lgi…

    Chap ini, bkin emosi nih minthor eonni… XO

  2. Waktu membaca part ini entah mngapa aku sempat benci sma kriss oppa,,ne ff emang bisa bikin orang terbawa suasanaa…
    miann kris oppa

  3. Alur’y.. Pertama so sweet😀 trs deg2an.. Makin tegang krn ada kris ampun deh ni bnr2..

    Yg mesti di tnyain? Knpa hrus kris yg ngerusak hdup si hana ihhh Щ(º̩̩́Дº̩̩̀щ) gregetannnnn , knpa mesti balik lagi !
    Hahahaha
    (Agak lebay dkt)
    Aku next part ya thor🙂

  4. hah ??? KRIS ??/ WAEYOOO KRISS ???
    Jgn blg namja yg ninggalin hana study ke amerika itu Kris !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    omagah ALF its goin to be complicated right waaaaa…
    pas udah ga ada halangan antara D,O and hana kenapa si Kris pake acara dtg2 lagi sihhh T^T
    eleh eleh Щ(º̩̩́Дº̩̩̀щ)

  5. Hoooaaaaaaaa…….!!!!!
    Krissss… tiang listrikkkk…
    Ternyataaaa…
    Jgn katakan kalo kris yg sengaja neror hana???
    Motifnya apaan tapi?? Ngaco deh aku….

    Trs, berasa deh kalo suho emang bnrn naksir juga sama hana..
    Firasat aja gitu.. cinta segiempat??
    Aah… 3 aja udh ribet, entar kalo abang suho ikutan terlibat cinta juga??
    Yg jadi teman curhat do sapa hayyooo?

    Aaigoo.. penasaran!

  6. daebak sumpah kerennn!
    mian ya author, ga semua part aku komen soale aku baca pake hape. ya gitu lah pokoknya,ribet.
    ya ampun, ini ff daebakkk banget banget banget.
    aaaaaaaa
    chap terakhir di password yah?

  7. asseeek akhirnya kyungsoo sma hana. fufufu. party tuh si kyungsoo dlm hatinya :3
    eh iya, ini si kris jgn2 namchingnya hana yg udh bkin trauma????! O_O
    haduh krisssssss ><

  8. asseeek akhirnya kyungsoo sma hana. fufufu. party tuh si kyungsoo dlm hatinya :3
    eh iya, ini si kris jgn2 namchingnya hana yg udh bkin trauma????! O_O
    haduh krisssssss¡ ><

  9. “dia tetap seorang namja, dan sampai sekarang aku
    belum pernah mendengar ceritanya tentang siapa yeoja
    yang dia sukai” <– apa ini??!! kau lupa sama aku ya!! wah! suho memang jahat menjadikanku pacar simpanannya dan tak menceritakanku padamu kyungsoo- sshi
    *bikin alur sndri »» ditimpuk author pake kolornya d.o. #nahloh!

    cettiar!! jadi si bebi syangku kris mantan biadabnya hana gitu?!! yaowo.. salah apa juga sih dia thooorr~~

    ffnya badai dah!

  10. suho perhatian banget..
    aku takut suho suka hana.. –‘

    hahahaaa
    inget waktu kyungsoo bilang aku mencintai ibumu..
    kirain mau apa gitu eh ternyata ternyata..
    *ketauan authornya suka ngrayu

    kris mantannya?
    tapi kris bukan penerornya kan??

    authornya pinter deh kalo ngerumitin cerita..
    baca next chapter dulu deh..

  11. Kris itu emang mencurigakan dari awal.
    Sama kayak Suho,kenapa senafsu itu coba?.kenapa harus sedeket itu sama Hana?.
    Ishhh…..Suho nyebelin.Kris,aku gak nyangka karena dia itu ternyata…O.O
    Good story thor.aku bener2 selalu bngung mau bilang apa.rasanya smuanya udah dikemas lewat sebuat kalimat
    ‘I LOVE YOU’
    #Plakkkkk#hehe
    Masa lalu Hana kelam banget,hingga Kyungsoo datang dn memberikan sdikit pencerahan*?*
    Tpi cerita cinta keduanya bener2 menyentuh.hoho

  12. Kyaaaa!!! Hana-d.o makin dket aja.. Ampe udaa pcran😀 wkwk.. Sneng deh saiia..

    Kris? Oh kris? Kris??
    Jadi…….. Lo cowo itu?? Cowo yg udaa bkin trauma Hana eonni?! Jhat bgt sihhhh!! #timpukin kris

    aduh, jgn blg trauma hana eonni ntar balik lagi.. Kan ksian d.o oppa udaa brusaha menyembuhkan Hana eonni T.T krisssss, ke laut aje!😀 *dibakar pake api kris

    let’s teleport to chapt 5!

  13. Adududududu..
    Kris jadi orang ketiga lagi.. jinjja..
    ketika dia masuk sebagai cast, sepertinya masalah menjadi complicated.

    (teringat Payphone =,=a)

  14. ahh kris keluar(?) akhirnya setelah penantian berabadabad(?) #plak
    maksudnya beberapa part. haha. .-.v
    yaampun ini makin kesini complicated aaaa sukasuka bikin degdegan lanjut baca part depaaann hehhe~

  15. OMG..apa2 an ini min.?? Kris?? Kris hyung nya kyungsoo.. Namja yg udah memperkosa nya! Namja yg membuat hana jd sperti itu. Maigat.. Knp jd bgni eon.? Udah seneng2 kyungso dkt dgn hana..knp muncul kris!

  16. Tuhkah benert Kris masalalunya Hana (ini karna lu baca variety shownya ELLL) aokaok…

    Padahal baru aja baca adegan adegan manis di part ini tapi kris muncul ngengggggggg mulai dah konfliknya _——–_

    lanjut ke part selanjutnya dingGggg *adioossss

  17. ahhh finally hana, mau jg jadian sama kyungsoo, ya walaupun awalnya sedikit maksa sih kyungsoo’y buat negasin status doang, tp ya ga sia” jg ternyata…
    jgn bilang…………. kris yg udh memperkosa hana?? ga kan ya ga kan….
    tp aku curiga emang kris yg ngelakuin itu…
    ahhhhh konfilk baru konflik baru, tambah menegangkan neh. kris sama kyungsoo bakal saingan….

  18. kyungso oppa yang udah bisa dapetin hatinya hana eonni *toeltoel Xd

    Hhahahaha hana eonni syukurlah udah bisa ngobatin traaumamu dikitdikit 
    Hahaha ngakak deh waktu suho ngmongnya berlebihan saat tau kyungsoo sama hana pacaran😀
    Suho oppa sama aku aja ottke ? :p *diserang aquatic –v …
    jadi kris kekasih hana waktu SMA ? asataga !
    Setelah dia bertindak gtu sama hana . sekarang datang tibatiba dan mengaku dia kekasihnya hana ?
    Apaapan:/ *emosi –v

  19. kyung soo klo lg mnja bkin gmes hehehe😀
    awal2 kris msuk cerita aku cm menduga2 jgan2 kris bgian msa lalu hana yg bkin dia setrauma itu, tnp di duga tebkn ku benar😀
    tpi kok su kris msih anggp hana yeojachingunya ya? sbnrny pa yg terjdi????
    kyung soo di ambng kegalauan, ksihan😦
    su ho marahnya kok segitunya? mkin penasran nih.. lnjut lh chap5

  20. gak nyangka ya kalo kris itu mantannya hana
    si hana udah nganggep kalo dia udah putus sama kris, tapi krisnya malah nganggep kalo dia itu masih pacaran sama hana
    hmmm makin penasaran deh sama FF ini

  21. Yeay betul tebakan akuuu..
    Pertama pas liat ada kata “kris hyung” muncul udah langsung mikir, “jgan2 ternyata cowo masa lalunya hana tuh si kris” daaaan..ternyata betuuuuuuul..
    Aaaaa
    keren keren..
    Makin kesini makin jelas deh ceritanya..
    Dan jga kalo biasanya adegan sudo bikin aku ngakak, sakarang di tambah lagi si hana-d.o couple…
    Keren deh…
    Tapi kayanya makin rumit aja nih, masalah si minyong blum selese, ditambah si peneror itu, trus tambah lagi si kris..
    Aduuuh ribeuuut deh..

  22. haaahhhh…..( terkejut dng mata membulat, biarkan author yg membayangkan ekspresiku…hehe )

    ada cinta baru lg neh…..Kris???jangan2…

    ah…g mau berspekulasi…mau lanjut part berikutx ah….^^

  23. Yeaaaay dhuizzang orang ke3^^
    aaaah inii gila !!
    Msalah smkin rumit, jgn smpe kris yg merebut khormatan hana O.O
    aigooo saaabbaaar yaaaa uri kyungso^^

    EONNIE KAU DAEBBAKK !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s