[FF]ANOTHER CHANCE [PART 3]


FANFICTION

Tittle : Another Chance [PART 3]

Author : AyouLeonForever

Cover pic/poster edited by : AyouLeonForever

Genre: Romance, Angst, Tragedy, Suspense

Length: Chaptered / Series Fic

Rating: PG12, T

Main Cast:

*Do Kyung Soo

*Lee Hana

* Kim Joon Myun

*Park Min Yeong

Other Cast: Find them by your self :p

Disclaimer: All off the cast(s) belong to his/her self, parents, agency, and GOD

Copyright: The story and OC belong to me!No Copy paste without permissions!

warning: Typo(s) every where.

PART 3

 

Luka itu tak kunjung sembuh, karena memang tak akan pernah sembuh. Mengingat bagaimana perihnya masa lalu yang berhasil dia lewati dengan darah dan air mata. Membuatnya menutup mata untuk masa depan. Dan prinsip itu pun di mulai jauhi mereka, atau kau akan terluka 

Pernah ada kesempatan untuk mengobatinya, tapi berujung dengan timbulnya luka baru. Luka yang bahkan menambah perihnya luka lama yang masih berdarah. Menambah trauma batin dan hampir membuatnya berakhir dengan mengantarkan nyawa ke Pemilik sesungguhnya.

Kini di depannya, tengah muncul sosok yang mengiminginya kesempatan lain, sebagai pengobat luka itu. Tapi naas… trauma batin itu terlalu kuat, bahkan hanya untuk menatap ke depan pun tak sanggup.

Saat kenyataan itu kembali membuatnya menutup mata. Ia yakin, ia memang tidak punya kesempatan lagi untuk kembali. Hanya untuk tersenyum, hanya untuk tertawa bahagia… ia tak punya kesempatan itu lagi.

Pengantar luka baru lagi… dan itulah yang Ia dapatkan sebagai jawaban atas kebenaran prinsip yang ia pegang teguh. mereka semua sama, tercipta hanya untuk menyakiti. Akhirnya ia enyahkan begitu saja.

Benarkah sosok baru itu lalai? Atau hanya sebuah kesalahan yang tidak ia sadari? Benarkah sosok itu benar-benar akan menuntunnya pada sebuah kesempatan lain untuk menyusun kembali retak yang berserakan itu?

Sebuah bentuk ketulusan menamparnya telak. Bahkan tetesan darah itu begitu nyata di depan matanya. Sebuah senyuman yang mengabaikan rasa sakit yang diterima sosok itu sendiri tetapi masih peduli terhadap apa yang ingin dilindunginya…

Terakhir… masihkah ia akan mengabaikan ketulusan itu?

Kyung Soo POV.

Aku mendengar suara lembut Hana memanggil namaku dengan begitu lirih. Menyapa telingaku dengan sangat halus, membuatku terbuai.

Kumpulan kabut tebal membatasi penglihatanku, dan kugunakan naluriku untuk mencari pemilik suara itu.

Kyung Soo-shii kembalilah…

Aku semakin jelas mendengarnya, tapi di mana dia? Dan sebenarnya yang lebih penting adalah… di mana aku berada sekarang. Tempat yang begitu asing dan…

Tunggu… apa aku telah mati?

Kalau benar… ini sungguh tragis. Mati karena tertimpa pot sungguh tidak keren. Tapi… masih ada yang bisa kubanggakan. Aku mati untuk melindungi yeoja yang aku cintai.

Hum… aku bahagia.

Tapi tidak. Tunggu dulu…

Lalu… siapa yang akan melindungi Hana setelah kepergianku? Su Ho? Tidak mungkin, dia juga punya prioritas lain. Tidak.. tidak, aku tidak boleh mati. Hana… aku harus kembali melindungi Hana dari peneror itu.

Kyung Soo-shii…

Suara itu terdengar lagi. Semakin jelas. Benar… Hana membutuhkanku, Hana tidak boleh kutinggal sendiri. Aku harus…

Ugh… dadaku sesak sekali… dan seperti ada yang memukul keras dadaku… sakit…

“naikkan 100 jeoule”

“Dokter… detak jantungnya sudah kembali”

“kerja bagus. Lanjutkan intervensi. Tetap observasi TTV. Pasien masih harus menerima transfusi darah”

“baik dokter”

Suara-suara ini… begitu mengusik telingaku. Ah sekujur tubuhku… sakit… terutama di bagian… kepalaku. Rasa sakit ini… membuatku ingin tidur.

Aku mengerjapkan mata dengan perlahan. Seberkas cahaya cukup menyilaukan pandanganku, dan saat aku berusaha memfokuskan pandanganku… sebuah ruangan serba putih menyambutku. Kupikir aku masih berada di tempat yang penuh kabut itu, karena suasananya hampir sama.

Tapi begitu indera penciumanku bekerja, menangkap aroma tajam obat-obatan yang begitu menusuk hidungku, aku langsung tahu. Ini Rumah Sakit.

“Kyung Soo-shii… Kyung Soo-shii… kau sudah sadar?” suara itu menyapaku.

Apakah itu Lee Hana?

Aku menoleh ke aras sumber suara. Sosok seorang yeoja berdiri di sebelahku, merengkuh kedua pundakku dan menatapku sangat cemas.

Lee Hana???

“Kyung Soo-shii… kau bisa melihatku kan? Tidak terjadi apa-apa dengan penglihatanmu kan? Ah, kau mengingatku kan? Benturan itu tidak menyebabkanmu amnesia kan?

Bukan… bukan Lee Hana. Suaranya tidak seperti Hana. Lagipula, sikap antusiasme ini… “Min Yeong-shii”lirihku saat pandanganku mulai jelas.

“Oh Syukurlah…” Min Yeong langsung memelukku. Dan aku tidak punya banyak tenaga yang tersisa untuk menolak pelukan ini.

“kenapa kau berada di sini?” tanyaku. Rasanya sangat lemas sekali, sekujur tubuhku kaku dan kram.

Min Yeong mengulur pelukannya, menatapku sembari mengusap kedua pipiku. Yeoja ini bahkan menangis saat menatapku “kau tidak akan menyangka betapa terkejutnya aku saat mendengar bahwa kau masuk rumah sakit 2 hari yang lalu”

“mworagoyo? 2 hari yang lalu?”

Min Yeong mengangguk “kau pingsan sejak terakhir musibah itu menimpamu”

Benar juga. Ingatan terakhirku adalah, ketika aku berusaha menyelamatkan Hana yang hampir saja tertimpa pot besar itu, sebagai gantinya, justru aku yang tertimpa benda yang tidak bisa kujelaskan berapa beratnya, karena sukses membuat batok kepalaku pecah dan mengeluarkan darah. “lalu… di mana Hana? Apa dia terluka? Bagaimana keadaannya?” tanyaku cemas.

“Kyung Soo-shii, yang terluka itu kau, dan yang lebih penting adalah, musibah yang menimpamu ini adalah ulahnya”

“Min Yeong shii…”

Min Yeong mengalihkan pandangannya dariku. Matanya terus meneteskan buliran air mata, dan bibirnya bergetar hebat “apa kau tidak bisa membayangkan kepanikanku saat keabsenanmu di kampus adalah karena kau masuk rumah sakit. Dan lagi, setelah mendengar penjelasan Su Ho-shii mengenai kejadian yang menimpamu… aku… aku…”Min Yeong berhenti, kurasa aku bisa mengerti perasaannya.

“Min Yeong-shii.. aku baik-baik saja”

Min Yeong langsung menatapku “baik-baik saja apanya? Dokter bilang kau kehilangan banyak darah, belum lagi benturan keras di kepalamu itu bisa saja menimbulkan dampak jangka panjang… dan kau tahu? Kau hampir saja kehilangan nyawa”

Aku terdiam. Mungkin benar begitu, karena aku sempat berada pada sebuah dimensi ruang yang kuyakin bukan dunia tempatku tinggal ini.

“dan masih sempat-sempatnya kau mecemaskan Hana. Lihatlah, dimana yeoja itu saat kau kesakitan seperti ini”

“dia pasti sangat shock saat pot itu hampir menimpa dirinya”

“Kyung Soo-shii… berhenti mencemaskan orang lain, lihat kondisimu sekarang”

Aku tersenyum “gomawoyo… tapi percayalah, aku baik-baik saja”

Min Yeong menggenggam tanganku erat. Dan lagi-lagi aku tidak punya cukup tenaga hanya untuk menggeser tanganku agar geggaman itu terlepas. Tidak mengapa, biarkan saja seperti ini “di mana Su Ho?”

“dia belum kembali. Aku memintanya pulang beristirahat, dia yang membawamu ke rumah sakit, juga menjagamu sejak hari pertama kau dirawat”

Aku merasa sangat bersalah telah merepotkan banyak orang. Su Ho, dan juga Min Yeong, mereka punya prioritas lain, dan keadaanku sekarang justru menghambat mereka.

“Kyung Soo-ya, kau sudah sadar?” seru seseorang dari arah pintu.

Dan aku tidak perlu menebak siapa pemilik suara yang sangat familiar itu “nae… Su Ho-ya. Maaf membuatmu cemas”

Su Ho menghampiriku, meletakkan sekeranjang buah di meja sudut kemudian ia menggeret kursi dan duduk di sebelah branker tempatku terbaring “kapan dia siuman?” kurasa pertanyaan itu tidak tertuju padaku, tapi pada yeoja di sebelahnya.

“baru saja”jawab Min Yeong

“sudah kau hubungi dokter?”

“ah mian, belum. Aku terlalu senang saat Kyung Soo membuka matanya, aku bahkan tidak terpikir ke situ”

“um… kalau tidak keberatan, bisakah kau memanggil dokter yang menangani Kyung Soo? Kita juga harus mengetahui perkembangan kesehatannya kan?”

Min Yeong mengangguk. Kurasa orang secerdas Min Yeong pun tahu maksud Su Ho. Benar, Su Ho ingin mengobrol empat mata denganku “baiklah Su Ho-shii, aku juga sekalian ingin membeli cola”

“maaf merepotkanmu”

“gwenchana” dan Min Yeong sempat membelai pipiku sebelum ia meninggalkan ruangan.

Su Ho menatapku.

“hya… kenapa kau melihatku begitu. Ini bukan salahmu, jadi jangan menampakkan ekspresi bersalah itu padaku”tegurku.

“kalau saja aku bisa menebak spekulasi yang dibuat peneror itu lebih awal, kau tidak akan celaka”

“Su Ho-ya… kau sudah berusaha di tempatmu. Kudengar dari Min Yeong, kau yang membawaku ke rumah sakit”

Su Ho mengangguk “dan aku hampir pingsan saat menemukanmu bersimbah darah. Terlebih Hana menangis histeris sambil memelukmu, jadi kukira… kau sudah mati”

“tunggu… Hana ada di sana saat kau menemukanku?”

Su Ho menatapku heran “tentu saja. Dia juga yang menungguimu sampai sadar”

“lalu di mana dia?”

Su Ho menghembuskan nafas berat “itu dia masalahnya. Aku baru saja mengantar Hana pulang, dengan usaha ekstra tentunya karena dia terus menolak. Posisinya sangat berat… aku kasihan saat dia dipersalahkan terus menerus. Min Yeong menyalahkan Hana atas kejadian yang menimpamu”

“aih…yeoja itu..”

“salahku juga kenapa pula aku harus menjelaskan secara detail perisiwa yang menimpamu ini pada Min Yeong”

“sudahlah… yang penting Hana tidak apa-apa. Dan lagi… aku senang”

“senang?”

“hum… sikap Hana, kurasa akan ada perkembangan”

Su Ho menghembuskan nafas panjang dan berdecak berkali-kali. “bahkan saat kau hampir mati pun kau masih memikirkannya? Aku menyesal memberimu advise untuk berjuang mendapatkan hati Hana, aku menyesal… kalau aku tahu akhirnya akan seperti ini dan hampir mengorbankan nyawamu, aku akan menyuruhmu berhenti dan menyerah”

“Su Ho-ya…”

Su Ho mengalihkan pandangan. Bisa kulihat ia masih menyimpan kecemasan dari sorot matanya.

“gomawo… kau adalah sahabat terbaik yang pernah kupunya”

“berhenti mengatakan itu. Aku hampir saja berubah menjadi seorang sahabat yang menyesatkan sahabatnya sendiri”

“ani… ani, justru kau lah yang membantuku banyak. Semua advise yang kau berikan padaku, semuanya berhasil”

“Kyung Soo-ya…”

“aku baik-baik saja.. percayalah”

Su Ho menghela nafas, dan akhirnya aku bisa melihatnya tersenyum tipis.

“oh ya… kau tidak memberitahu keluargaku tentang ini kan?”aku hampir lupa dengan pertanyaan penting ini.

Su Ho tertawa kecil “maaf…”

~***~

“eomma… berhentilah mengomel atau anakmu ini akan bertambah sakit”pintaku setelah dengan sangat sabar mendengar ceramah eomma sejak dari rumah sakit beberapa hari yang lalu sampai saat aku sudah dibolehkan pulang ke rumah dan berbaring sendiri di tempat tidurku.

“Kyung Soo-ya, lihat kondisimu, apa kau pikir eomma bisa berdiam diri saja saat mendapati anak eomma hampir celaka seperti ini. aigo… lihatlah kepalamu yang dililit perban itu, sudah seperti mumi saja, ah… dan lihat wajahmu, bagaimana mungkin kau terlihat sangat pucat? Omo… kau bahkan terlihat lebih kurus sejak terakhir eomma melihatmu”

“eomma…” aku jadi malu sendiri pada Su Ho dan Min Yeong yang ikut mengantarku pulang. Su Ho malah mengedipkan sebelah matanya padaku, dan aku yakin setelah ini dia akan meledekku habis-habisan dan mengataiku anak manja.

“jangan banyak protes. Kalau appamu tahu kau seceroboh ini sampai mencelakai dirimu, dia pasti akan sangat marah”

“tapi eomma tidak memberitahukannya kan?”

“tidak… lebih tepatnya belum. Appamu sedang sibuk dengan pekerjaannya, dan begitu dia sudah pulang dari dinas luar kotanya, akan kuberitahu padanya”

“eomma… jebaall”

“jangan banyak bicara lagi. Waktunya makan” eomma membantuku meninggikan sandaran bantal di tempat tidurku.

“eomma… aku bisa makan sendiri, tidak perlu di suapi”

“tapi kau sedang sakit. Jangan cerewet”

“eomma… yang sakit itu kepalaku, bukan tanganku”

“kau ini… apa kau tidak malu dengan teman-temanmu dengan bersikap seperti ini, tidak menuruti perintah orang tua”

Aku justru lebih malu lagi diperlakukan layaknya bayi. Kalau hanya berdua dengan eomma tidak apa-apa. Tapi…

“Omoni… ini buahnya, sudah kukupaskan” Min Yeong meletakkan sepiring buah apel yang telah dikupasnya di atas meja tempat tidurku.

“aigo… manis sekali. Gomawo” eomma mengelus pundak Min Yeong, dan aku hanya bisa mengeluh dalam hati. Kuharap eomma tidak punya ide untuk menjadikan Min Yeong sebagai menantunya.

Menit berikutnya, aku hanya bisa tertegun dan menganga selebar mungkin saat melihat siapa yang bertamu saat itu.

“Lee Hana?” seruku tertahan. Dia datang bersama ahjumma pemilik minimarket.

“wah… uri Kyung Soo punya banyak teman. Dan cantik-cantik” itu respon eomma setelah melihat Hana

“cantik-cantik?” Su Ho jelas protes

Eomma tertawa dan menepuk pundak Su Ho “kecuali kau tentunya Su Ho-ya”

“ah omoni, aku hampir saja pingsan di tempat”

Eomma langsung menarik tangan Lee Hana yang berdiri mematung di dekat pintu kamarku. Eomma bahkan mempersilakan Hana duduk di atas tempat tidurku,… di sebelahku. Dan Hana hampir saja terjatuh dari tempat tidurku begitu jarak kami sudah terbilang tanpa sekat.

“gwenchana, tidak perlu malu. Aku menganggap semua cinggudeul Kyung Soo sebagai anak-anakku sendiri”

Hana masih tertunduk. Dia pasti sangat canggung.

Yang menjadi point penting lagi adalah, eomma lagi-lagi memperlihatkan eksistensinya sebagai ibu-ibu populer. Tanpa proses panjang, ia dan ahjumma sudah terlihat sangat akrab, dan sudah menghilang menuju dapur, meninggalkan aku, Hana, Su Ho dan Min Yeong di kamarku.

Atmosfer langsung berubah hening dan… tegang.

“untuk apalagi kau datang?” tanya Min Yeong dengan ekspresi tidak suka.

Dan jelas saja Hana tidak punya keberanian untuk menjawab.

“Min Yeong-shii” tegurku.

“wae? Kyung Soo-shii, sadarlah, kau tidak akan seperti ini kalau bukan karena yeoja yang tidak tahu terima kasih ini”

“Min Yeong-shii, bisa kau jaga ucapanmu? Ini bukan salah Hana. Aku sendiri yang memutuskan setiap tindakanku, kau tidak perlu ikut campur”

“Kyung Soo-ya” tegur Su Ho, dan saat aku menoleh padanya, dia memberi isyarat padaku untuk diam. Itu berarti kata-kataku cukup keterlaluan. Masalahnya aku tidak suka Hana disudutkan.

“maaf… aku hanya tidak ingin kau menyalahkan Hana”ucapku akhirnya

“Kyung Soo-shii… kau”

“Min Yeong-shii, kau pasti kelelahan, biar kuantar pulang”Su Ho yang menengahi

“tapi…”

“terima kasih telah menemaniku Min Yeong-shii”tambahku. Dan yeoja ini sudah bisa dikategorikan keras kepala kalau saja tidak tetap bersikeras untuk tinggal.

“baiklah… lagipula kondisimu juga sudah membaik. Aku akan kembali besok pagi” Min Yeong menghampiriku, membelai pipiku pelan dan tersenyum padaku. Entah apa maksudnya ia melakukan itu saat Hana masih duduk mematung di sebelahku. “semoga cepat sembuh”

“gomawoyo”

Aku mengirimkan isyarat pada Su Ho sebagai tanda terima kasihku sebelum ia beranjak pergi bersama Min Yeong. Sahabatku itu memang bisa diandalkan dalam kondisi apapun.

Dan di sinilah aku, ikut mematung di sebelah yeoja yang sama sekali tidak sudi menatapku. Bahkan ujung kukunya ia anggap lebih menarik di matanya dari pada wajahku.

“mianhaeyo” lirihnya tiba-tiba

“ha?”aku memastikan pendengaranku

“Mianhaeyo, karena aku… kau sampai seperti ini”

Aku tersenyum “ah ini bukan apa-apa. Fisik seorang namja lebih kuat dari pada yeoja. Bisa kau bayangkan kalau kau yang tertimpa pot itu?”

“setidaknya akan lebih baik dari pada harus melihatmu hampir mati karenaku”

Kata-kata Hana…

Aku menggeser dudukku, hingga bisa berhadapan dengan Hana. Aku juga sedikit mengatur jarak agar yeoja ini tidak takut. “Hana-shii, kau tahu sesuatu?”tanyaku, hendak membuatnya penasaran. Tapi tetap saja tidak cukup membuatnya sepenasaran itu untuk sekedar mengangkat wajah menatapku, dia masih seperti itu, tertunduk dalam sambil memperhatikan ujung kuku “bagiku, ini bukan musibah… tapi keajaiban. Kalau tidak ada kejadian ini, mana mungkin kau akan berada di sini, duduk di dekatku dan berinteraksi denganku. Rasanya seperti… mimpi”

“kenapa aku Kyung Soo-shii?”

“hm?”

Perlahan namun pasti, Hana memberanikan diri menatapku “kenapa harus aku? Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa untukmu, tapi… kenapa kau melakukan hal yang begitu berbahaya hanya untuk menyelamatkanku?”

“harus kusebut alasannya?”

“Kyung Soo-shii”

Aku menghela nafas, menatapnya tepat di manik mata Hana yang baru kuperhatikan lensanya kecokelatan “aku khawatir kau tidak suka jawabanku. Karena alasan aku berbuat seperti ini, adalah Alasan yang sama kenapa aku menyakitimu di tempat ini”tuturku, dan kuharap Hana mengerti kalimat terakhirku.

“itu…”

“aku betul-betul minta maaf. Aku betul-betul menyesal dengan perbuatanku. Saat itu, entah apa yang ada di otakku sampai nekat menciummu. Perasaanku yang begitu kuat menuntunku tanpa sadar menyakiti__…”

“aku sudah melupakannya”

Aku membelalak “m..,mworagoyo?”

“tentang itu… aku sudah melupakannya. Jadi… tidak perlu minta maaf lagi”

Aku semakin tak percaya “ji…jinjjayo?”

Hana mengangguk “apakah aku bisa marah padamu sementara hidupku yang masih berlanjut sampai sekarang adalah karena pertolonganmu?”

“ah mengenai itu lupakan saja. Aku jelas tidak akan membiarkan pot itu jatuh menimpamu”

Hana terdiam sejenak “bukan hanya itu”

Aku mengerutkan kening “maksudmu?”

“aku hanya diam Kyung Soo-shii, bukannya tidak peka. Aku mengabaikanmu bukan berarti aku tidak menyadari kehadiranmu”

“Ha…Hana-shii aku masih tidak mengerti”

Hana membuka tasnya, dan mengelurakan sebuah tas plastik dan sebuah kotak yang sangat indah, kutebak kotak unik itu adalah karyanya. “kurasa… ucapan terima kasih saja tidak akan cukup”

Aku mengambil tas plastik dan kotak yang dia sodorkan untukku. Perlahan membukanya. Dan aku seketika tertegun. Dalam tas plastik itu adalah jacket milikku yang kupakaikan pada Hana saat kutemukan tubuhnya tergeletak di balkon atap, Ya Tuhan, berarti dia sudah tahu bahwa aku yang menolongnya saat itu

Dan isi dari kotak indah itu… Aku kenal semua lembaran sapu tangan ini. kesemuanya adalah milikku, di mana ujungnya terdapat inisial namaku. “DKS”

“jacket dan sapu tangan pemberianmu yang terakhir tidak bisa kuselamatkan. Darah yang menempel di sana… tidak bisa kuhilangkan”

“Hana-shii, kau tidak perlu serepot ini…”

“sebagai gantinya” Hana mengeluarkan kotak indah lainnya lagi dari dalam tasnya dan menyerahkannya padaku.

Dan isinya adalah sebuah “syal?”.

Hana mengangguk “aku… membuatnya sendiri, memang tidak bisa dibandingkan dengan barang milikmu yang harganya pasti mahal, karena itu___”

“ani… ani… ini adalah syal terhebat yang pernah kulihat. Bisakah aku memilikinya?”

Hana kembali tertunduk “baguslah kalau kau suka. Kau punya banyak sapu tangan dan jacket, tapi aku tidak pernah melihatmu mengenakan syal. Ini sudah hampir memasuki Pertengahan musim dingin, dan cuaca bisa saja semakin memburuk… untuk itu, kubuatkan ini untukmu”

Aku tak henti-hentinya memandangi syal pemberian Hana ini dengan takjub. Apa aku bermimpi? “lihatlah inisial nama ini…. apa kau yang membuat bordiran ini?”

Hana mengangguk “sebisaku”

“ini sangat indah”

“go… gomawoyo”

Aku masih tidak bisa menyembunyikan kekagumanku pada syal buatan Hana ini, segera kulilitkan saja di leherku dengan asal-asalan“ah bagaimana cara mengenakan ini”

“bukan seperti itu” ajaibnya Hana membantuku memasangnya dengan sebuah simpul indah seperti syal yang melilit di lehernya.

Dug…

Jantungku berdetak lebih cepat saat Hana melilitkan syal itu di leherku, dan seketika, saat gerakannya terhenti di sana, pandangan kami bertemu dengan jarak yang cukup dekat. Dan aku harus mati-matian menguasai diriku agar tidak segera meraih wajah yeoja ini untuk sekedar kuberikan kecupan ringan.

Detik berikutnya Hana tersentak, dengan… reaksi berlebihan lagi. Walau tidak separah tempo hari, tapi lagi-lagi, rasa penasaranku dengan reaksi menghindar Hana yang berlebihan ini semakin meningkat. “se… sebaiknya aku pulang dulu, sudah… hampir malam. Selamat beristirahat…”

“Hana-shii chankkaman” aku refleks menangkap tangannya.

“Kyaa…” dia menepis tanganku dengan spontan. Seketika ia gelagapan “mianhaeyo… mianhaeyo… aku tidak bermaksud… ah jeongmal mianhaeyo”

“ah tidak, mungkin aku yang membuatmu terkejut”

“maafkan aku Kyung Soo-shii, maafkan aku…”

Aku semakin bingung “bu… bukan salahmu”

“aku harus pulang…”

“ah… nae… sampai jumpa”

~***~

Dokter bilang aku harus istirahat total, bed rest sampai trauma kapitis yang kuterima di kepalaku berangsur membaik. Sebut saja ini juga keberuntungan karena aku tidak akan bertatap muka dengan Kim sonseng beberapa minggu.

Sayangnya keberuntungan itu betul-betul bukan milikku. Entah karena Kim sonseng betul-betul memanjakanku atau memang dia senang menyiksaku. Ia bersama beberapa teman sejurusanku datang menjenguk. Dan lihat apa yang Kim sonseng bawakan untukku. Bukan buah-buahan, makanan ringan, bunga atau sejenisnya. Tapi…

“ini kubuatkan kumpulan soal untukmu, juga tugas essay yang bisa kau kerjakan untuk mengisi waktu luangmu, karena kupikir kau pasti bosan hanya berbaring di tempat tidur. Ini bukan hanya dari mata kuliah yang kubawakan saja, tapi mata kuliah lainnya agar kau tidak tertinggal selama kau istirahat”itulah cemarah singkat Kim sonseng harus kuterima dengan ucapan.

“Kamsahamnida sonseng-nim. Terima kasih atas perhatianmu ini”

“bukan masalah. Kau adalah Mahasiswa teladan, untuk itu aku tidak ingin kau tertinggal. Sangat disayangkan aku tidak bisa mengajarmu secara langsung beberapa minggu ke depan. Tapi kalau aku punya waktu luang, aku akan mampir ke sini___”

“tidak apa-apa sonseng-nim, ini sudah lebih dari cukup. Aku sangat terharu”

“baiklah kalau begitu, cepat sembuh. Dan selamat beristirahat” itu pesan terakhirnya sebelum ia pergi, disusul teman-temanku yang juga menjengukku tadi.

Su Ho tertawa habis-habisan menatapku.

“dia bilang apa barusan? Selamat beristirahat? Sementara dia memberikan setumpuk tugas ini? kapan aku bisa beristirahat?”protesku yang seharusnya tidak kutujukan pada Su Ho, tapi pada orangnya langsung. Yang Mulia Kim sonseng.

“tunggu saja, tidak lama lagi kau akan diangkat menjadi asisten dosen”

“oh terima kasih banyak”aku melengos. Aku bahkan berdoa mati-matian agar tidak bertatap muka lagi dengan Kim sonseng di tahun akademik berikutnya.

“oh ya, tetangga kesayanganmu mana?”

Aku menatap Su Ho “Hana?”

“siapa lagi? Atau kau punya selingkuhan baru?”

“Su Ho-ya…”

“kau yang memulai”

Aku mencibir “dia tidak datang kalau sedang ramai. Seolah kau tidak tahu Hana saja”

“rutin?”

Aku mengangguk “sudah 3 hari ini, dia selalu datang pagi-pagi sekali dan menjelang petang untuk membantu aktivitasku. Berhubung eomma sudah kembali ke Ilsan. Aboji sudah kembali dari dinasnya, dan untuk menghindari kecurigaannya, kuminta saja eomma pulang lebih awal. Walaupun itu juga harus kulakukan dengan usaha ekstra”

“tunggu… tentang Hana membantu akivitasmu!apakah… Termasuk aktivitas pribadi?”

“jangan berpikiran aneh-aneh. Di luar aktivitas kamar mandi dan berganti pakaian”

Su Ho membulatkan bibirnya “Ooo…”

“tapi siapa yang bisa menduga, aku akan mendapatkan perhatian Hana. Membayangkannya pun tidak pernah, tidak terpikir”

“arasso… arasso… lalu bagaimana dengan kekasihmu yang satunya lagi”

Aku mengerutkan kening “maksudmu?”

Su Ho tertawa kecil, sangat mencurigakan “Park Min Yeong”

Hampir saja kulemparkan bantal ke wajah Su Ho “berhenti membuat lelucon yang tidak lucu”

“ah kau ini sensitif sekali. Tapi serius, bagaimana dengan yeoja itu”

Aku menghela nafas. “Dia juga rutin, bahkan aku sempat khawatir dia akan berpapasan dengan Hana di sini. Beruntung, yeoja itu menjengukku di siang hari, sebelum Hana muncul di sore harinya”

Su Ho berdecak berkali-kali “double bigprice. Mimpi apa kau sebelum ini? dirawat bidadari-bidadari itu, memangnya kebaikan apa yang sudah kau perbuat sampai Tuhan memberikanmu keajaiban seperti ini?”

Aku tertawa kecil “Su Ho-ya, kau pikir aku nyaman? Aku hanya merasa tidak enak pada Min Yeong”

“tapi kalau dengan Hana kau nyaman-nyaman saja kan?”

Aku hanya mengangkat bahu, kurasa Su Ho tahu betul jawabanku. “oh ya…berhubung kita membahas tentang Hana, bagaimana tentang peneror itu, apa sudah ada petunjuk?”

Su Ho menggeleng “masalah ini sangat kabur, tidak ada petunjuk sama sekali”

“lalu selama beberapa hari aku tidak ke kampus, tidak ada tindakan mencurigakan dari peneror itu?”

“itu dia yang kutunggu-tunggu. Masalahnya, sejak kejadian terakhir yang menimpamu dan Hana, peneror itu seolah hilang ditelan bumi, entah apa dalihnya. Kurasa dia ingin membersihkan jejak dulu. Dan untuk sementara, Hana aman di bawah pengawasanku. Aku juga sudah meminta beberapa teman untuk mengawasi Hana saat aku terpaksa harus meninggalkan kelas, jadi… kau tidak perlu khawatir”

Aku tersenyum, girang “gomawo Su Ho-ya, kau betul-betul bisa diandalkan”

“yah… kuharap kau juga bisa melakukan hal yang sama kalau suatu saat nanti aku juga tergila-gila pada satu yeoja dan membutuhkan bantuanmu agar aku bisa mendekatinya”

“oh kalau itu gampang, apapun akan kubantu, tapi tidak secara langsung, takutnya yeoja yang kau sukai nanti justru jatuh cinta padaku”

Su Ho tertawa “tidak segampang itu selama aku masih setampan ini”

Aku melengos sambil tertawa. Kemudian teringat sesuatu “ah iya, sebenarnya… masih ada satu pertanyaan besar lagi yang mengganjal pikiranku selain perkara teroris itu”

“apa itu?”

“masih tentang Hana… dan… phobianya terhadap namja asing”

Su Ho berpikir sejenak, kemudian menggeret kursinya lebih dekat dengan tempat tidurku, dari gerak-geriknya, Su Ho akan memulai pembicaraan serius “hum… berhubung kita membahas ini, aku punya informasi tentang Hana, kuharap ini sedikit bisa membantumu memahami yeoja itu”

Aku semakin penasaran “apa itu?”

“beberapa hari yang lalu, saat kau di rawat di rumah sakit. Aku tidak sengaja bertemu dengan kenalanku, alumni universitas kita juga, jurusan Psikologi. Kau tahu, dia menjadi seorang psikolog di rumah sakit itu”

Aku mengerutkan kening “lalu apa hubungannya dengan Hana”

“jangan memotong dulu… ini di mulai dengan kejadian yang tidak disengaja. Saat aku dan Hana menungguimu yang sedang di tangani di dalam ruang operasi. Orang iu melintas, dan tak sengaja berpapasan denganku. Kusingkat saja, saat dokter itu meihat Hana, dia menyapanya dan hendak berjabat tangan dengannya, berhubung Hana bersamaku saat itu, otomatis dokter itu juga harus menyapa temanku kan?”

“lalu”

“seperti biasanya, reaksi seorang Hana… ia bergerak mundur dan menunduk dalam sambil menggenggam erat tangannya”

“lalu?”

“berhubung kenalanku ini seorang psikolog, dia jelas langsung membaca prikologis Hana, hanya dengan melihat gerak-geriknya. Dan sesaat setelahnya, kenalanku itu mengajakku mengobrol di ruangannya”

“tentang Hana?”

Su Ho mengangguk “kau tahu, informasi yang kudapakan dari kenalanku ini cukup mengejutkan. Dia bertanya tentang perilaku Hana sehari-harinya, jelas saja kuceritakan sepanjang yang kutahu, tentang bagaimana tertutupnya Hana, bagaimana rasa takutnya pada namja, dan sebagainya”

“lalu apa respon Psikolog itu”

Su Ho menarik nafas panjang dan menghembuskannya “Hana… mengalami gangguan psikologis”

“maksudmu?”

“aku tidak begitu jelas menelaah setiap penjelasannya, bahasanya terlalu medis. Dia bilang, tindak-tanduk Hana menggambarkan bahwa ia mengalami tekanan mental, bisa jadi di masa lalu Hana, dia menerima perilaku kekerasan atau sejenisnya sehingga ia mengalami trauma batin. Yang jelas, sangat berhubungan erat dengan namja”

Aku membelalak “trau… rauma batin”

Su Ho mengangguk “dan kuharap… diagnosa piskolog itu sedikit keliru, karena dia menarik sedikit kesimpulan… tentang perilaku kekerasan itu… bisa jadi berhubungan dengan um…”

“Su Ho-ya… jangan menggantungkan kalimatmu. Kau bisa membuatku mati penasaran”

“kuharap ini tidak membuatmu shock. Karena sebenarnya, aku cukup terkejut dengan diagnosa yang ditarik oleh psikolog itu tentang kondisi kejiwaan Hana”

“sebenarnya apa kesimpulannya? Perilaku kekerasan yang diterima Hana, berhubungan dengan apa?”

Su Ho menepuk pundakku, mencoba menenangkanku “Psikolog itu bilang, bisa jadi perilaku kekerasan itu… berbentuk perilaku kekerasan seksual”

PLETAAAAAAARRRRR…

Aku seperti mendengar petir menggelegar di gendang telingaku “ke… kekerasan seksual?”

Su Ho mengangguk “berpatok dari ketakutan berlebihan Hana pada seorang namja, bisa jadi… trauma yang ia terima bukan hanya satu kali”

Aku hampir jatuh dari tempat tidur mendengar penyataan Su Ho “I… Ige Mwonggayo? Ini pasi tidak nyata”

“tenanglah Kyung Soo-ya, ini hanya diagnosa sementara. Bisa jadi itu salah”

“tapi… penjelasan dokter itu sangat masuk akal dan sulit ditampik kebenarannya… mana mungkin diagnosanya bisa meleset. Kau tidak di sana saat melihat reaksi Hana setelah aku menciumnya. Ia seperti karasukan, berteriak histeris dengan pandangan tidak fokus, seolah tidak berada di dunianya, dan kurasa tindakanku itu berubah menjadi sebuah portal untuk membawanya ke masa lalu yang mencekam itu”

“Kyung Soo-ya…”

Aku memejamkan mataku, menyelami isi hatiku. Sakit…

Lee Hana… apa yang sebenarnya menimpamu ini. sungguh kejam…

“Kyung Soo-ya… gwenchana?”

Aku mengangguk “Lee Hana… yeoja itu sungguh malang”

“Kyung Soo-ya… ada sesuatu yang ingin kutanyakan”

“hm… apa itu?”

Su Ho menatapku, serius “setelah mendengar ini, apakah perasaanmu pada Hana… berubah?”

Aku terdiam sejenak, kemudian menatap Su Ho tak kalah serius “nae… perasaanku pada Hana berubah”

Su Ho terkejut “apa karena kemungkinan tentang Hana telah menerima perilaku kekerasan seksual? Atau dalam bahasa sederhananya, pemerkosaan?”

Aku mengangguk pasti.

“Kyung Soo-ya…”

“benar perasaanku padanya berubah. Kadar cintaku berubah… dibandingkan kemarin-kemarin, saat ini Cintaku pada Hana jauh lebih besar”

Su Ho mengerutkan kening “kau sedang mengigau?”

“ani… kubilang perasaanu berubah karena memang, kemarin aku hanya mencintainya, tapi mulai sekarang… aku akan lebih mencintainya…”

Barulah Su Ho mengerti “Kyung Soo-ya, kau hampir membuatku mati terkejut dengan prosa yang buat, dasar pujangga cinta”

Aku tersenyum, sebenarnya pilu “kau akan mengerti, kalau saatnya sudah tiba. Saat di mana kau hanya memikirkan kebahagiaan yeoja yang kau cintai. Dalam kasusku… Lee Hana”

***

“Hana-shii… biarkan saja, aku bisa mencucinya sendiri” ucapku, merasa sangat tidak enak hati saat Hana sedang mengumpulkan baju kotorku yang hendak ia cuci.

“gwenchanayo… ini bukan apa-apa. Kau istirahat saja”tolaknya

“tapi… kau sudah membantuku banyak beberapa hari ini”

Hana menoleh, walau ekspresinya cukup datar, tapi aku masih melihat sinar di sana “tidak sebanyak kau membantuku”

“Hana-shii”

Hana tidak menggubrisku, dia sudah menghilang ke belakang membawa sekeranjang pakaian kotorku.

Sejam kemudian, ia kembali ke kamarku sambil mengelap tangannya pada celemek yang ia kenakan “aku akan kembali sore hari untuk mengangkat jemuranmu. Aku sudah memasakkan nasi, sup, telur gulung dan chicken salad. Min Yeong akan datang lagi siang ini kan?”

“Hana-shii”aku semakin tidak enak hati. Selalu saja seperti ini. Hana akan mengerjakan semuanya, mulai dari memasak, membersihkan aparementku, bahkan mencucikan pakaianku, dan saat Min Yeong datang, semuanya sudah beres, dia hanya akan tinggal memanaskan masakan Hana, dan membantuku makan.

“makan yang banyak Kyung Soo-shii, agar kau cepat sembuh. Aku ke kampus dulu”

“chankkaman…” aku beranjak dari tempat tdiruku, sembari menahan rasa pusing saat aku menapakkan kaki di lantai.

“Kyung Soo-shii, apa yang kau lakukan?” Hana menghampirku, dan langsung memapahku saat aku hampir terjatuh.

“aku.. hanya ingin mengantarmu sampai ke luar”

“jangan berlebihan. Bagaimana kalau kau terjatuh. Kau ini masih belum pulih”

Aku menoleh padanya dan tersenyum “terima kasih atas perhatianmu, Hana-shii”

Yeoja itu terdiam, dan seperti biasa ia mengalihkan pandangannya. Sesegera mungkin membantuku kembali ke tempat tidur dan melepaskan pegangannya dari lenganku. “jangan banyak bergerak, istirahatlah. Aku ke kampus dulu”

“hati-hati”

Siang harinya Min Yeong datang menengokku seperti biasa. Memapahku sampai ke ruang makan dan menemaniku menyantap masakan Hana.

“Min Yeong-shii,”

“nae… Kyung Soo-shii”

“sebenarnya… kondisiku sudah membaik, jadi kurasa kau tidak perlu serepot ini untuk setiap harinya menjengukku”

“aku tidak merasa kerepotan Kyung Soo-shii, aku justru senang”

“aku sudah bisa mengerjakan aktivitasku sendiri, dan mungkin minggu depan aku sudah bisa kembali kuliah”

“jangan bercanda, dokter bilang kau harus istirahat total selama sebulan”

Ah sulit juga berbohong pada Min Yeong. Tapi aku harus tetap berusaha meyakinkan Min Yeong agar dia berhenti memberikan perhatian penuhnya padaku.

“oh ya, aku sedikit penasaran dengan hubungan Hana dan Su Ho” Min Yeong mulai berceloteh.

“penasaran kenapa?”

“yah, selama di kampus, Su Ho jarang sekali meninggalkan kelas hanya untuk bersama Hana. Hum, memang sih mereka tidak duduk bersama, tapi bagaimana mereka saling menatap___”

“Su Ho menggantikanku menjaga Hana, karena selama aku sakit, aku jelas tidak bisa terus berada di dekatnya”

“kau ini kenapa Kyung Soo-shii, Hana itu bukan bayi yang harus setiap harinya dijaga”

“dia memang bukan bayi, tapi.. dia lebih rapuh dari seorang bayi. Kau tahu, ada yang sengaja memanfaatkan kerapuhan Hana dengan menerornya terus menerus”

“tapi tetap saja, perhatianmu padanya sangat berlebihan”

Aku tersenyum tipis “tidak juga, kurasa ini wajar. Memperhatikan yeoja yang kusukai kurasa sangat wajar”

Min Yeong menghentikan makannya, seketika menatapku tajam, barulah aku sadar kecerobohanku dengan tidak mengontrol ucapanku. Maksudku, Min Yeong memang tahu kalau aku menyukai Hana, tapi tidak seharusnya aku membahas ini di depan Min Yeong.

“Mi… Min Yeong-shii, aku tidak bermaksud__”

“apa Hana juga menyukaimu?”tanya Min Yeong tiba-tiba. Dan aku sedikit gelagapan dengan pertanyaannya, terlebih tatapannya terlalu tajam.

“itu…”

“jawablah, apa Hana juga menyukaimu?”

“mungkin sekarang tidak, tapi aku yakin suatu saat nanti__”

“aku menyukaimu Kyung Soo-shii. Sekarang… dan kau tidak perlu menunggu suatu saat nanti, seperti kau mengharapkan yeoja tertutup itu”

“tapi aku… tidak bisa membalasmu dengan perasaan yang sama Min Yeong-shii. Mianhae…”

Min Yeong meletakkan sendoknya di meja, semakin menatapku serius “aku bisa menunggu”

Kuhembuskan nafas panjang dan memberi jeda sejenak “lalu apa bedanya posisimu dengan posisiku? Min Yeong-shii, aku sangat berterima kasih dengan seluruh perhatianmu, sangat berterima kasih. Tapi percayalah, aku tidak bisa membalasmu dengan perasaan yang sama. Aku terlalu menyukai Hana, dan untuk menoleh saja pada yeoja lain kurasa aku tidak__”

“Kyung Soo-shii, tidak bisakah kau sedikit saja mempertimbangkan perasaanku? Berikut penantian sia-siaku selama beberapa tahun ini?”

Aku juga menghentikan makanku “kepalaku pusing, aku ingin kembali ke kamar” aku menggeser kursi dan berusaha sendiri melangkahkan kakiku meninggalkan ruang makan. Sangat sulit berbicara dengan Min Yeong tanpa harus berbicara pada intinya, sementara Su Ho terus mengingatkanku untuk tetap bersikap selembut mungkin padanya.

“Kyung Soo-shii, kita belum selesai bicara” Min Yeong mencekal tanganku begitu aku sudah hampir mencapai pintu kamarku.

“Min Yeong-shii, aku ingin istirahat, kepalaku sakit”

“tidak sampai kau memberiku penegasan”

“apakah pernyataanku bahwa aku menyukai Hana itu bukan suatu penegasan?”

“tapi dia tidak menyukaimu. Sadarlah Kyung Soo-shii, ada aku di sini. Di depan matamu, bahkan saat kau membutuhkanku, aku akan selalu ada untukmu”

Aku menghela nafas “maaf tidak bisa mengantarmu pulang Min Yeong-shii”aku menepis tangan Min Yeong selembut mungkin.

“Hya… beginikah sikapmu memperlakukanku?”

“lalu aku harus apa? Aku sudah berusaha sebisa mungkin Min Yeong-shii, tapi tetap saja aku tidak bisa membalas perasaanmu. Ini yang terakhir… yeoja yang kusukai adalah Hana, Lee Hana… dan aku sudah tidak bisa berpaling lagi pada yeoja lain”

“Kyung Soo-shii”

“maaf, aku betul-betul lelah. Sampai jumpa” aku kembali mengalihkan pandangan darinya. Kemudian bersiap masuk ke kamarku.

“bukan ini yang kumau Kyung Soo-shii, bukan begini”

Apalagi maunya yeoja ini? “Min Yeong-shii sudah kubilang aku tidak___”

Kata-kataku terpotong. Bukan karena aku mendadak bisu. Tapi karena alasan lain. Aku tidak bisa menduga semua gerakan cepat yang di lakukan Min Yeong . Tepat saat aku menoleh tadi, kedua lengannya sudah memeluk tengkukku dan tanpa jeda sepersekian detik sekalipun, bibirnya sudah tertancap di bibirku.

Entah aku yang terlalu bodoh atau memang ini terlalu mengejutkan untukku. Aku bukannya membiarkan Min Yeong menciumku seenaknya, tapi… ini…

aku merengkuh kedua bahu Min Yeong dan mengenyahkannya dariku “Min Yeong-shii, apa yang kau lakukan?” bentakku begitu ciuman itu terlepas.

“hanya sebuah bentuk penegasan bahwa aku tidak pernah bercanda dengan keputusanku”

“tapi bukan seperti ini caranya”

“kenapa? Kau tidak suka? Sepenglihatanku tidak juga? Kau tadi bisa langsung mengelak kan? Lalu kenapa kau membiarkanku menciummu”

“itu…”

“Kyung Soo-shii, cepat atau lambat, kau akan sadar siapa yang pantas untukmu”

Hendak rasanya aku membenturkan kepalaku sekali lagi ke tembok. Apa yang sedang terjadi? Dan yang lebih celaka adalah, ekor mataku menangkap sosok yang berdiri mematung tak jauh dari tempat kami berdiri.

Siapapun itu… semoga bukan orang yang paling tidak kuinginkan menyaksikan kejadian tadi.

Tapi sayang, harapanku pupus begitu aku menoleh ke arahnya dan memastikan penglihatanku “Ha… Hana-shii” lirihku tanpa suara. Dan benar juga, sosok yang berdiri mematung di sana adalah Lee Hana.

Ekspresi Hana terlalu datar, hingga aku tidak tahu apa reaksinya. Entah ia terkejut atau santai saja. Tapi setelah ia berlari keluar meninggalkan apartementku, seluruh tubuhku langsung lemah.

Kenapa justru saat aku sudah mulai dekat dengan Hana, ia malah menyaksikan kejadian tadi?

“Min Yeong-shii… aku tidak meminta banyak, tapi kuharap ini terakhir kalinya kau menginjak apartementku”tegasku tanpa melihat ke arahnya

“a… tapi Kyung Soo-shii”

“aku juga tidak pernah bercanda dengan keputusanku, dan aku bisa saja berbuat kasar kalau kau terus memaksaku”

“Kyung Soo-shii”

“pergilah, selama aku masih bisa memohon dengan kata-kata”

~***~

Bukan Lee Hana namanya kalau tidak membuatku hampir mati penasaran dengan sikapnya. Maksudku, keesokan harinya setelah kejadian di mana dia menyaksikanku berciuman dengan Min Yeong,,,, (ah bukan, kami tidak berciuman, Min Yeong yang memaksa menciumku) Hana masih datang menjengukku pagi harinya. Sekarang dia tengah memasak untuk sarapanku. Meletakkan senampan makanan di meja tidurku, kemudian merapikan semua pakaian yang sudah di cucinya kemarin. Pertanyaanku adalah, apakah aku yang terlalu heboh dengan mengira bahwa Hana akan marah melihat kejadian kemarin? Aku bahkan sempat mengira bahwa Hana akan cemburu, tapi kenyataannya? Hana bahkan terlalu santai untuk dikategorikan sebagai yeoja yang sedang cemburu

“Hana-shii…”tegurku ragu-ragu.

“nae… Kyung Soo-shii, kau butuh sesuatu?”sahutnya tanpa menatapku, ia masih sibuk merapikan pakaianku dan memasukkannya ke dalam lemari

“ah tidak… ini sudah cukup”

Hana terdiam kembali, dan menyibukkan diri dengan kegiatannya.

“Ha… Hana-shii”

“nae?”

“itu… cuaca sangat dingin yah” hanya kalimat bodoh ini yang keluar dari mulutku.

“hum, apa kau kedinginan? Tunggu biar ku setel pemanas ruangannya”

Apa-apaan ini. Hana beul-betul sangat santai sementara aku sudah hampir mati gelisah. Sebenarnya apakah Hana sama sekali tidak terpengaruh dengan kejadian kemarin? “Hana-shii, bisa kita bicara?”

Hana menoleh “bukankah sejak tadi kita memang sedang bicara?”

“ma… maksudku… tentang kita”

Hana terdiam sejenak “tentang kita? Ada apa?”

Aku turun dari tempat tidurku, memberanikan diri berjalan ke arahnya. Dan seperti reaksi Hana sebelum-sebelumnya saat seorang namja mendekatinya, dia bergerak mundur dan sebisa mungkin menciptakan jarak “Hana-shii”

“ja… jangan seperti ini Kyung Soo-shii, aku…”

“takut?”terkaku

Hana tidak menjawab, ia hanya menunduk.

“aku tidak akan berbuat apa-apa padamu, aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu”

“ta… tanyakan saja”

Aku kini berdiri di hadapannya, dan Hana semakin merapatkan punggungnya ke tembok, bahkan sampai berjinjit, seolah aku ini pria hidung belang yang hendak menyekapnya. “Hana-shii”

“ah nae…!” keterkejutannya bahkan sudah sedikit berlebihan.

“bisa… kau tatap mataku?”

Hana tidak menjawab, dia terus menunduk sembari memilin-milin ujung bajunya dengan tangan bergetar.

“kau tidak percaya padaku?”tambahku

Hana sempat tersentak lagi,, kemudian perlahan dan sangat ragu ia mengangkat wajahnya dan mencoba menatapku. Wajahnya…. pucat. Dan lagi-lagi pikiranku mengarah pada pembahasanku dengan Su Ho mengenai diagnosa psikolog itu.

“Hana-shii… yang kemarin, yang kau lihat di sini. Saat Min Yeong menciumku… apa kau… apa kau tidak terpengaruh sama sekali?”tanyaku memberanikan diri.

“kyung… Kyung Soo-shii, kenapa kau menanyakan hal seaneh ini?”

“aku hanya ingin tahu reaksimu. Aku yang mati-matian gelisah seperti ini sementara kau terlihat sangat santai”

“apa yang membuatmu gelisah?”

Kuharap Hana sedang bercanda, atau dia sedang lupa ingatan sesaat karena mana mungkin aku kembali memberi penegasan tentang perasaanku “Hana-shii…”

“kalian cocok”

Aku membelalak dengan pernyataan singkatnya barusan “ha… Hana-shii?”

“hum, menurutku kalian cocok. Min Yeong begitu menyukaimu, dan dia sangat perhatian padamu, jadi… untuk apa lagi kau gelisah”

“Hana-shii… apakah kau lupa siapa yeoja yang kusukai?”bentakku tanpa sadar.

Hana terdiam dan itu membuatku sadar bahwa intonasi suaraku memang sedikit tinggi tadi.

“mianhaeyo…”ucapku “tapi… kumohon jangan berpura-pura lupa kalau yeoja yang kusukai itu adalah ka__”

“Min Yeong adalah yeoja yang tepat untukmu” Hana buru-buru memotong “dia cantik, cerdas, ramah, dan… dia sempurna. Kau akan sangat beruntung kalau bisa memilikinya”

“Hana-shii, berhenti membahas tentang Min Yeong sementara aku hampir gila karena terus memikirkanmu” bentakku lagi.

Hana terdiam. Walau tidak tampak jelas, bisa kulihat ukuran matanya sempat melebar saking kagetnya.

Aku menghembuskan nafas berat, perlahan meraih tangannya. Ia menolak dengan menarik tangannya, tapi aku kembali meraihnya dan meletakkannya di dadaku “aku tidak butuh kesempurnaan itu… yang kubutuhkan hanyalah bisa bersama yeoja yang kucintai” aku terdiam sejenak, memberi jeda “Hana-shii, aku tidak hanya sekedar menyukaimu. Aku… mencintaimu, sangat mencintaimu. Dan melihatmu sesantai ini menanggapiku, aku merasa… tersiksa”

“tapi Kyung Soo-shii, aku… aku…aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu. Aku… punya banyak kekurangan”

“sudah kubilang, aku tidak butuh yeoja sempurna. Aku mencintaimu… berikut kekurangan yang kau miliki”

Hana mengeluh, kemudian menarik kasar tangannya hingga terlepas dari genggamanku “kau tidak tahu apa-apa tentangku, jadi jangan mengklaim perasaanmu itu sebagai cinta”

“itu karena kau sangat tertutup. Aku mana bisa mengenalmu lebih dekat kalau kau terus menutup diri dariku?”

“Kyung Soo-shii, kita hentikan saja pembicaraan ini. aku tidak bisa melanjutkannya lagi” Hana bersiap beranjak dariku.

Tapi lagi-lagi kenekatanku menguasai pikiranku, tanpa bisa kukontrol, tanganku sudah melayang sendiri meraih tubuhnya dan memeluknya dari belakang.

“Kyung Soo-shii, apa yang kau lakukan. Lepaskan… kumohon….”ia meronta. Dan bisa kurasakan tubuhnya gemetar.

“tidak akan kulepaskan sebelum kau membiarkanku mengenalmu lebih jauh”

“Kyung Soo-shii, ini sangat berlebihan. Aku bisa…”

“kenapa kau sampai setakut ini pada namja?”

Hana tersentak, kontan berhenti meronta. Kurasa aku bertanya tepat di titik rawan.

“Lee Hana-shii, apa yang telah terjadi di masa lalumu sampai kau setakut ini pada namja? Apa benar kau punya trauma masa lalu dan sangat berkaitan erat dengan namja?”

Hana masih bergeming, tak merespon apa-apa.

“apapun itu… aku bisa menerimanya, asalkan kau sendiri yang menceritakannya padaku”

Hana tetap bergeming.

Perlahan kuurai pelukanku dan kuputar tubuhnya agar menghadapku. Dan saat melihat wajahnya… seketika aku terkejut.

Ekspresi wajahnya sungguh… mencekam, pandangannya tajam tapi kosong ke depan, nafasnya memburu dan…”Ha… Hana-shii, gwenchanayo?” tanyaku panik

Hana tidak merespon. Kulihat ia semakin ketakutan, nafasnya semakin memburu, dan air matanya terus bergulir tanpa henti. Ia tidak menatapku, dan kurasa ia memang tidak sedang melihat kejadian saat ini, tapi… ia seolah berkutat dengan memori-memori masa lalunya yang kuperkirakan telah membuatnya se trauma ini.

“Hana-shii sadarlah… Hana-shii” aku mengguncang-guncang tubuh Hana.

Hana tetap tak merespon.tubuhnya bergetar hebat, air matanya terus mengalir, dan pancaran ketakutan mencekam terus tergambar di wajahnya. “LEPASKAN AKU!!” pekiknya tiba-tiba, dan kuyakin ia masih tidak berada di sini. Jiwanya masih berkutat dengan kenangan buruk masa lalunya.

“Hana-shii, sadarlah. Ini aku, Kyung Soo”

“LEPASKAN!!! LEPASKAN… LEPASKAN… JANGAN SAKITI AKU…. JEBAAAAALLLLLLL”aku yakin pekikan ini bukan untukku, karena Hana masih tidak menatapku.

“Hana-shii”

“LEPASKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAANNNNNNNNNNN….!!!”

Kepanikanku memuncak, dan alternatif terakhir yang bisa kulakukan adalah menenangkannya dalam pelukanku. Aku memeluknya erat, sangat erat, berusaha menyadarkannya bahwa ia tidak sendiri menghadapi ketakutan itu “Hana-shii, sadarlah… kumohon”

“lepaskan…” suaranya mulai melemah

“Hana-shii, kuatkan dirimu… jangan menyerah pada kenangan itu”

“lepaskan aku…”

“Hana-shii”

“aku…”

Dan kurasakan Hana sudah tidak mampu menopang tubuhnya sendiri. Ia pingsan.

***

Aku masih di situ, menatapnya yang masih terdiam memandangi sisi tembok kamarku. Ia bersandar di tempat tidurku, dan membiarkanku menggenggam tangannya dengan erat.

“gwenchanayo?” tanyaku akhirnya.

Hana tidak menjawab, ia masih menatap sisi tembok kamarku, dengan sisa-sisa air mata yang menetes di pipinya.

“mianhaeyo… aku tidak bermaksud membuatmu kembali teringat dengan masa lalumu. Aku hanya tidak ingin kau terus dihantui oleh kenangan buruk itu, dan menutup diri seperti ini. Hana-shii, biarkanlah aku berada di sisimu, membantumu mengobati luka masa lalumu, karena aku… betul-betul mencintaimu”

Hana menoleh “Kyung Soo-shii”

Aku jelas terkejut, Hana mulai merespon “nae… Hana-shii”

“kumohon, jangan terlibat lebih jauh denganku”

“tapi…”

“aku bukanlah yeoja normal yang bisa menjanjikan masa depan untukmu”

“Hana-shii”

Hana kembali meneteskan air matanya, tapi kali ini ia menatapku lekat “betul… semuanya betul Kyung Soo-shii, aku punya kenangan buruk di masa lalu hingga menimbulkan trauma mendalam untukku, dan betul… penyebabnya adalah namja”

Aku mengeratkan genggamanku di tangannya, berusaha memberinya kekuatan. Ini pasti tidak mudah untuk Hana kembali membuka lembaran kelam masa lalunya.

“bukan sekali dua kali Kyung Soo-shii… aku… aku benci mereka”

Aku terdiam, kini aku menggunakan dua tanganku untuk menggenggam tangannya.

“Appa adalah pribadi yang keras, sejak aku lahir dan hidup bersamanya, aku sama sekali tidak pernah merasakan bahwa aku memiliki sosok seorang ayah yang seharusnya menjadi pelindung keluarga” Hana menarik nafas, sesenggukan “tiap harinya, eomma akan membanting tulang mencari nafkah untuk menghidupi aku dan eonni, sementara appa.. ah tidak, seharusnya tidak kusebut lelaki bejat itu sebagai appa”

“Hana-shii…”

“kau tidak akan menyangka, lelaki macam apa yang tega memukuli istri dan anak-anaknya setiap hari. Yang kerjaannya hanya mabuk-mabukan dan menghabiskan tabungan eomma yang sebenarnya adalah untuk biaya sekolahku. Kyung Soo-shii, saat itu usiaku masih 12 tahun. Dan kenangan apa yang lebih buruk dari pada seorang gadis berumur 12 tahun menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana seorang namja tega menghabisi nyawa istrinya sendiri dengan begitu sadis”

Aku membelalak. Ini di luar penalaranku.

“aku hanya bisa menangis dan berteriak histeris, melihat darah berceceran ke mana-mana, aku melihatnya Kyung Soo-shii. Eomma dengan wajah diipenuhi darah, menatapku dan memintaku untuk lari bersama eonni, tapi apalah daya 2 orang gadis berusia 15 dan 12 tahun melawan namja beringas itu?”

Aku menggeser dudukku, perlahan meraih Hana dan menenangkannya dalam pelukanku. Ia masih terisak di sana “kau bisa menghentikannya kalau kau tak sanggup Hana-shii, aku tidak akan memaksa”

Tapi Hana terus melanjutkannya “Dan bisa kau bayangkan? Ayah macam apa yang tega menjual anak-anaknya pada mucikari hanya untuk mendapatkan uang sebagai modal berjudi? Apakah namja itu pantas di sebut ayah?”

Aku mempererat pelukanku, dan hanya itu yang bisa kulakukan.

“eonniku… berteriak histeris, menangis sekuat tenaga, saat seorang namja biadab merenggut kehormatannya. Dan kau bisa bayangkan… itu semua terjadi di depan mata kepalaku sendiri”

“cukup Hana-shii, cukup”

“namja biadab itu mendekatiku, dengan tampangnya yang begitu menjijikkan, setelah melukai eonniku… dia berjalan ke arahku…” suara Hana semakin bergetar, aku yakin dia tengah me- reka ulang kejadian buruk itu. “aku melawan sebisaku…”

“Hana-shii… hentikan”

Hana melepas pelukanku dengan kasar. Ia menatapku dengan tatapan mencekam. Lagi-lagi… trauma itu membuatnya kehilangan akal sehat “ini…” Hana melepas syalnya, dan itu membuatku terkejut, terlebih ia langsung menanggalkan sweaternya.

“Hana-shii, apa yang kau lakukan?” seruku panik

Hana tidak juga menggubrisku, kini ia menurunkan kerah kaos tank topnya hingga bahunya terbuka lebar. Dan mataku membelalak dengan apa yang tertangkap oleh mataku. Itu adalah bekas luka sayatan pisau “ini yang kudapatkan saat aku hendak melawan” Hana masih bersikap seolah bukan dirinya “dan ini” ia mengangkat ujung kaosnya dan kemudian membelakangiku, membuatku hampir hilang kesadaran saat melihat bekas luka sayatan pisau yang lebih panjang di punggungnya, dan itu sangat kontras dengan kulitnya yang mulus. “dan lagi__”

Aku menghentikan tangannya saat ia hendak menanggalkan kaos tank topnya. Aku sudah tidak sanggup melihatnya. “Hana-shii… cukup” pintaku dengan suara lirih. Aku bahkan tidak sadar sejak kapan air mataku meleleh.

“eonniku… satu-satunya sandaran hidupku… mengorbankan nyawanya demi menyelamatkanku… dia membunuh namja biadab itu saat kehormatanku betul-betul hampir raib olehnya”Hana masih bersikeras melanjutkan cerita kelamnya, dan kuyakin alasannya bukan hanya sekedar untuk memberitahuku. Lagi-lagi, ia sedang berkutat dengan masa lalunya.

Aku menarik selimut, dan menyelubungi tubuh Hana, kemudian kembali memeluknya.

“lari Hana-ya… lari…” Hana semakin kacau, dan sekarang ia mulai berdialog sendiri. Oh Tuhan… aku betul-betul tidak tahu tekanan batin yang di derita Hana sudah sampai separah ini “aku mana mungkin meninggalkanmu eonni…” Hana mulai berulah, tapi aku mempererat pelukanku sebelum ia melompat dari tempat tidur “lari Hana-ya, lari. Selamatkan dirimu dari semua namja biadab ini. jauhi mereka atau kau akan terluka… jangan pernah terlibat dengan mereka, atau nasibmu akan jauh lebih parah dari eomma dan eonnimu ini”

“Hana-shii hentikan… aku sudah tidak ingin mendengarnya”pintaku tulus masih dengan memeluknya sangat erat.

Hana terdiam. Aku merasakan tubuhnya gemetar, bahkan menggigil. Terkutuklah namja-nama biadab itu…

“mianhaeyo Hana-shii, aku tidak bermaksud membuatmu mengingat kembali masa lalu suram itu.. mianhaeyo… jeongmal mianhaeyo”

“eonniku mati Kyung Soo-shii, dia mati. Namja –namja itu menyakitinya lebih sadis setelah mengetahui eonniku telah membunuh bos mereka. Dan aku… yang bisa kulakukan hanyalah lari… berlari sekuat tenaga sambil menangis. Aku … aku tidak bisa menyelamatkannya Kyung Soo-shii. Seharusnya aku tidak lari, seharusnya aku berusaha sebisa mungkin menyelamatkan eonni. Tapi ketakutanku….”lanjut Hana. Kurasa dia sudah kembali.

“Hana-shii, jangan menyalahkan dirimu, akan lebih parah jika saat itu kau tidak berlari, eonnimu mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanmu, dan kalau kau justru membahayakan dirimu itu sama halnya membuat pengorbanan eonnimu sia-sia”

Diluar dugaanku, Hana mengulurkan tangannya dan membalas pelukanku, sangat erat “aku takut Kyung Soo-shii, aku takut. Namja-namja itu… semua perbuatannya… melukai… menyakiti kami…”

Aku mengusap rambut Hana “Hana-shii… tenangkan dirimu. Aku ada di sini. Dan aku bersumpah akan melindungimu sampai kapan pun”

Hana sudah tidak bicara lagi, ia hanya terisak, dan aku hanya bisa menenangkannya daam pelukanku. Lama kami seperti itu sampai Hana kembali membuka suara “Kyung Soo-shii… tidak seharusnya kau menyukai yeoja sepertiku,… sudah kubilang aku tidak bisa menjanjikan apa-apa untuk masa depanmu. Kau namja yang baik… menyukai yeoja kotor sepertiku… itu adalah musibah”

“Hana-shii, jangan memvonis dirimu. Mereka tidak menyentuhmu dan itu artinya___”

Hana melepas pelukanku, kemudian menatapku dengan tatapan… sakit.

“bukan mereka Kyung Soo-shii, bukan mereka yang merenggutnya”lirih Hana, berikut luka yang terpancar dari matanya.

Aku membelalak. Apa maksud Hana dengan kalimat bukan mereka yang merenggutnya. Bukankah ini berarti, cerita masa lalu kelam Hana masih berlanjut? Dan setelah ia berhasil menyelamatkan kehormatannya dengan imbalan nyawa kakaknya… namja biadab mana lagi yang tega merenggutnya?. “Ha… Hana-shii”

“aku… berjuang seorang diri menafkahi hidup. Melewati semua rintangan seorang diri. Menjadi pribadi yang tertutup dan sebisa mungkin menghindari kontak dengan namja manapun” Hana menarik nafas “dan saat itulah dia datang”

Aku menelan ludah “di… dia?”

Hana memalingkan wajahnya, menatap keluar jendela. Dia sudah tidak sekacau tadi, tapi kurasa… inilah klimaksnya “kupikir dia adalah penyelamatku. Ia datang tepat di saat aku hampir menyerah dengan kehidupan ini” kemudian ia menatapku “saat itu, aku sudah kelas 2 SMU, dan namja itu… adalah kakak kelasku”

“hentikan… aku sudah tidak ingin mendengarnya” aku beranjak hendak turun dari tempat tidurku itu. Tapi tangan Hana mencekalku.

“kau harus tahu Kyung Soo-shii, kau harus tahu semuanya… agar kau sadar tidak sepantasnya kau menyukai yeoja ini”

“aniya Hana-shii,  apapun yang kau katakan, tidak akan merubah apapun. Perasaanku padamu, tidak akan berkurang sedikitpun”

“lalu dengarkanlah ceritaku hingga akhir, dan aku ingin mendengar apakah kau masih bisa mengatakan hal itu?”

Hana seolah mengancamku. Entah apa yang terjadi antara dia dan kakak kelasnya itu, tapi kujamin, aku sudah tidak bisa menanggung ini. tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa menurut, dan kembali duduk di hadapannya. Menatapnya dengan pandangan putus asa dan… “aku sangat mencintaimu Hana-shii, aku hanya tidak ingin membuatmu kembali teringat dengan masa lalu yang membuatmu terluka seperti ini”

Hana terdiam sejenak “ironisnya Kyung Soo-shii. Kata-kata kalian tidak jauh berbeda. Kata-kata yang sama, yang pada akhirnya membuatku luluh dan mempercayai dia sepenuhnya”

Aku tersentak. Aniya… aku bukan namja seperti itu.

“awalnya dia memang menepati kata-katanya. Dia melindungiku, membantuku mengobati luka masa lalu. Cinta yang dia berikan membuatku luluh, dan aku tidak bisa melakukan apapun selain mempercayai kata-katanya”

“hentikan… hentikan, aku tidak mau dengar. Siapapun namja itu, percayalah aku tidak seperti dia”

Hana masih menatapku “saat itu, tahun terakhirnya di SMU. Malam sebelum acara perpisahan sekolah, dia membawaku ke apartementnya”

Aku mengalihkan pandangan, segera kutinggalkan tempat Hana.

“dia bilang dia begitu mencintaiku dan bertanya apakah aku juga mencintainya?”

Pernyataan Hana membuatku menghentikan langkah, terpaksa mematung membelakanginya.

“kujawab saja sejujurnya, bahwa aku juga mencintainya. Kau tahu apa tanggapannya selanjutnya?”

Aku jelas tidak menjawab. Tidak ingin menjawab.

“dia bilang, kalau aku betul-betul mencintainya… maka aku harus mau menyerahkan apapun padanya”

Aku meremukkan ke sepuluh jariku. Aku sudah tidak ingin mendengarnya.

“detik itu juga aku sudah tahu maksudnya, dan detik itu juga kepercayaanku padanya sudah luntur. Kupikir cintanya tulus, kupikir dia betul-betul ingin melindungiku, tapi siapa yang menyangka, justru dirinyalah yang menginginkan tubuhku”

“Hana-shii… bisakah kau hentikan ceritamu?”

“sayangnya… lagi-lagi aku yang tidak punya daya apa-apa, tidak punya kekuatan sedikitpun melawannya. Kejadian buruk itu seolah terulang kembali, bagaimana dia menahanku saat aku ingin pergi, bagaimana dia memaksa untuk memelukku, menyeret tubuhku dan menghempaskanku ke tempat tidurnya. Aku… lagi-lagi hanya bisa berteriak histeris dan menangis. Dan… “

“Hana-shii jeball” aku menoleh padanya, memohon.

“ada yang lebih ironis Kyung Soo-shii, entah sejak kapan aku mulai tak sadarkan diri saat itu, karena paginya, saat aku membuka mata, aku tidak menemukan namja itu. Dan terakhir kuketahui kabar bahwa…dia meninggalkanku untuk melanjutkan studynya ke luar negeri.” Hana beringsut, turun dari tempat tidurku berjalan menghampirku dan berdiri persis di hadapanku “lalu… katakan padaku, masih adakah alasan lain lagi yang bisa kau sebutkan agar aku tidak takut lagi pada namja?”

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Hanya menatapnya dan … seperti itu. Mematung.

“kau bilang kau mencintaiku. Apa? Bagian mana dari diriku yang kau cintai? Kalau kau… yang juga pada akhirnya menginginkan tubuh ini… kau tidak perlu bersikap sebaik ini padaku. Aku tidak suka, aku membencinya. Kalau kau memang menginginkan tubuhku sejak awal” Hana mengulur genggaman tangannya pada selimut yang menutupi tubuhnya, membuat selimut itu jatuh di lantai tanpa daya, “maka ambillah…”

Aku memejamkan mata. Hana memang tidak bertelanjang di hadapanku, tapi melihatnya seperti itu, sama saja dengan melihat Hana melepaskan pakaiannya sendiri untukku. “Hana-shii” aku membungkuk, meraih selimut itu dan menyelubungi tubuh Hana kembali “entah aku pantas mengatakan ini atau tidak, karena memang aku berada pada garis gender yang sama dengan manusia-manusia yang menyakitimu” kurengkuh kedua pundak Hana “tapi… tidak semua namja itu biadab Hana-shii. Setidaknya, aku yang detik ini berdiri di hadapanmu, dengan segenap perasaanku padamu, bersumpah tidak akan memperturutkan nafsuku hanya untuk melukaimu. Aku… yang mencintaimu seutuhnya, bukan hanya menginginkan tubuhmu, tapi agar bisa berada di sisimu… melindungimu dengan segenap jiwa ragaku”

Hana terdiam, menatapku dengan pandangan yang sulit kubaca. Air matanya menggenang di pelupuk mata.

“untuk itu… bisakah aku meminta kesediaanmu untuk memberiku kesempatan untuk mencoba menata kembali perasaanmu? Kepercayaanmu?” kuseka air mata Hana yang menetes “untukku!”

Hana memalingkan wajah, bibirnya bergetar dan air matanya semakin menderas. Entah sudah berapa banyak persediaan air mata yang ia habiskan.

“Hana-shii…”aku menyentuh dagu Hana, dan membuat wajahnya menatapku.

“apa aku bisa? Apa aku masih punya kesempatan lain menata hidupku yang berantakan ini?”

Aku menyunggingkan senyum “jika kau yang memberikannya, tidak akan kusia-siakan kesempatan itu”

“Kyung Soo-shii, tapi aku__”

“aku tidak peduli. Sudah kubilang aku mencintaimu seutuhnya. Jangan tanyakan bagian mana, karena yang kucintai itu Lee Hana. Dan hanya itu yang bisa kuberikan sebagai jawaban”

Awalnya Hana bergeming, tapi detik selanjutnya tangisnya pecah dan saat ia menghempaskan tubuhnya di pelukanku, aku tahu bahwa Hana memutuskan untuk memberikanku kesempatan itu. Juga kesempatan untuk dirinya sendiri. “jangan menyakitiku Kyung Soo-shii, kumohon jangan pernah menyakitiku”

“aku berjanji… dan kalau itu sampai terjadi, maka jangan sungkan-sungkan untuk menancapkan pisau di dadaku”

Hana masih menangis “dan kalau itu betul-betul terjadi, setelah aku menancapkan pisau di dadamu, aku juga akan menggunakan pisau itu untuk mengakhiri nyawaku”

Aku tersenyum, kemudian mengeratkan pelukanku. “dan bisakah kita berpelukan dalam posisi duduk? Berdiri selama ini membuat kepalaku pusing”

Hana melepas pelukannya “ma… maaf”

Aku kembali tersenyum kemudian meraih tubuhnya kembali ke pelukanku “sekarang giliranmu mengenalku. Aku adalah orang yang seperti ini. apa adanya”

***

TBC

45 thoughts on “[FF]ANOTHER CHANCE [PART 3]

  1. aih… Untuk D.O oppa ga meninggal. Syukurlah~ ^o^

    So sweet bgt kata2 oppa, ngebuat hana percaya jga akhirny sama D.O oppa.

    So sweet bgt ceritany…😀

  2. emang suamii ku kyungsoo baikk bnget,byar dia tau masa alu hana dia tetap cinta sma hana,,
    Di jman sekarang jarang ada cowo kaya kyungsoo oppa Mantappp

  3. Di part ini pas terakhr’y kyung soo salah blng thor😀 dy bukan org apa ada’y.. Dia lebihhhhh dari apa ada’y.. Hampir sempurna😀 kerennn mau terima hana apa ada’y sampe terus ngejar se jauh ini.
    so sweet bgt deh kyung soo🙂

    Ohh jdi ternyata itu toh yang di alami si hana, tpi knpa dy sampe separah itu benci nya.. Kaget hana jdi pribadi yg beda klo pas cerita gtu.. Kaya kalap -_- prihatin😦 ksiannnn hana .. Jahat yg udh bkin hana kya gtu..

    Part 3 mengungkap smua yg d pertnyakan d part 2 ni😀 daebak thor.. Aku next part ya🙂

  4. masa lalu hana terkuak jg..
    Ga nyangka hana punya masa lalu yg buruk bgt. Pantes aja hana jd trauma ama namja.tp aq salut ama kyung soo’a dia masih mw nerima hana apa adanya^^

  5. ohhhhhh ternyataaaa papanya hana jahata bgt yaa T^T ga sangka ada ya tega bgt bapak jual anak2nya buat judi …pantesan hana trauma bgt !!! ga ibunya ga oenni nya smua ngorbanin nyaawa mereka demi kehormatan dan keselamatan Hana …

    Thanks God D.O sabarrrr bgt ngadepin hana, kalo aku jadi namjanya hana mana mungkin aku bisa sabar x ya kkkkkkkkk/////
    itu jugaaaa aaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhh apa bgt sih si min yeong cium2 D,O segala elah elahhhhh…..

  6. OMG ! I cant explain what i feel , 1 kata, NYESEK !
    hoaaa, hana akhirnya kau membuka hatimu untik uri kyungsoo… tetaplah seperti ini, /.\ pertahankan …. *nahloh keep writing thor..😉 ff nya keren…😀

  7. Aahaha.. asli..
    Kepala dio parah bgt yagh?? Potnya segede apa sih, smpe2 dio sekarat??
    Tapi, itu kepala membawa berkah lho..
    Buktinya, hana jadi mulai terbuka sama dio..
    Euumm… firasat aku,, suho kok kayak suka sama hana, jelas, perhatianya lebih gitu..
    Apa jgn jgn…. ngaco ah!
    Mungkin yg neror si min yeong kali yahh??.
    Molla!
    I’ve no idea…
    Yg jelas d.o hana pasti pacaran..
    Haha..

    Oke, langsung lanjut ke part berikutnya..🙂

  8. aduh aku jengah baca nama minyoung disini -____-
    sumpah bikin iritasi mata, gara2 ganjen ke kyungsoo (walopun ini bkn real ttp aja bkin kesel)
    dan syukur laaaaaah, kayaknya hana udh mulai berubah ya (sedikit). dan ternyata tebakanku bener. ada trauma yg dalam dr hana. hohohoho
    semoga dia cpet smbuh ya🙂

  9. hhuuaahh…. akhirnya hana nya mau sedikit terbuka sama kyungsoo..
    scene hana ktungsoo bikin tegang sumpah tapi tetep sweet..

    ya ampun! kata2 kyungsoo gillee beneerr…

  10. Iyalah,gak enak banget kalo mati cuma gara-gara ketimban pot,kan gak keren,kkk
    Tapi ada untungnya jga ketimban pot,jadinya Hana bsa perhatian sama Kyungsoo,kkk
    Minyeong nyebelin ih,agresif banget sih jadi perempuan,heran deh.cantik-cantik kenapa gak sama cowo lain aja?sama suho kek,sama siapa kek,asal jangan ganggu hubungan Kyungsoo juga Hana.
    Ada hambatan boleh thor,tpi jangan terlalu menghambat sehingga bikin cinta keduanya berhenti di tengah jalan tanpa hasil yang jelas.
    Pleaseeee thor,bkin keduanya bersatu.
    Dan lagi,aku bener2 gak bisa berhenti muji author.keren sangat deh.hoho

  11. Mwoo???? Pemerkosaan???????
    #dhuaaaakkkk!!! -,-

    awalnya smpet sneng deh tu pas d.o oppa mau xiuman *:p*, tak kirain itu cewe si hanna eonni, eh rupanya minyeong! -,- kecewa..
    Tp gpp, tuh kan jadinya si hana-d.o jadi lbih baek hub.a😀 wkwk! Setuju! Setuju! Kyaaa!!

    Wahahahaha, ngakak sumpah pas eomma d.o blg tmen”.a oppa cntik” trus suho oppa lgsg ga terima!😀 sumpah! Ngakak guling”😀

    waaah, diceritain smuanya tuh ama hana eonni!😮 trnyata critanya gitu?😦 ksian bgt..😦
    cinta d.o oppa gede bgt yah, dy msih ttep cnta ama hana eonni wlwpun tau crita hana eonni bgitu.. d(^^)b lanjutkaaan! *ala pak SBY

    cowo itu…….siapa yah? Krg ajar bgt! Dsar cowo itu, tunggu aja d.o oppa habiskan dirimu! -,-

    ja, teleport to the chapt 4!😀

  12. ah.. kejujuran memang menyakitkan.
    apa memang akan ada laki-laki yang bisa melakukan hal semacam itu?
    berpikir dan mau menerima sejauh itu seperti Kyung Soo-shii..?

    TT.TT Kyung Soo..

  13. shock….
    masa lalunya hana bener2 nyeremin ><
    apalagi yang pas nyeritain perjuangan kakaknya yang rela berkorban sampe mati buat dia…
    terus,, sosok yang sempet bikin hana bahagia di masa lalu itu,,,, kok jahat bangeeeetttttttt TT
    dan meskipun kyungsoo kudu sekarat dulu baru bisa dapet kepercayaannya hana, tapi kayaknya ini setimpal ya ^^

  14. huuuuuwwwwwwwaaaaaaaaa…………akhirnya hana terbuka dgn kyungsooo*nyalain petasan**plakk
    pengalaman hidup hana bner2 bikin aq ga bisa nafas…ck

  15. Oh jd itu alasanya.. Sungguh tragis .. Malang skali nasibmu hana.. Siapapun yg mengalaminya pasti akan sama posisinya dgn u.. Dan kyungsoo..mulailah lembran baru.. Sngat berat trnyta usha untk mengembalikan kepercyaan itu.. Aq dkung qm kyungsoo

  16. *DIAM* alf aku harus ngoment apaan lagiiii????

    *tarik nafas* kisahnya hana terlalu errrrrr *gabisa ngomong lagi*

    Alf alf alfff …. Seriusssss gua harus ngoment apa lagiiii??????????? FF nya bener bener emangggg!!!!!!!

    Gabisa ngebayangin itu si hana , bener bener ga habis pikir sama otaknya alf gimana sihhh kok bisa sampe terpikir terbayang buat bikin yang sebegini asdfghjklllll….

  17. sadis sumpah…….setragis itu kah… ya ampuuun…
    beruntungnya hana ktmu kyungsoo,, tp konfliknya blm ada, pasti selanjtnya tambah seru neh…
    tuh kn tuh kan pasti cowo yg memperkosa hana ntar balik lg -sok tau hahaha0
    bnr kan ya konfliknya baru akan di mulai, yg ini blm apa” moga ada yg lbh nyesek dri ini di part selanjutnya #loh hahahah
    oke lanjut ke part berikutnya ^^

  18. astaga eon gw rada jengkel sama minYoung (?)
    Eh ternyata masa lalu hana cukup … emm mengerikan . papah nya hana kejem bgt masa
    Ngejual sama ngebunuh keluarga nya sendiri
    Papah macam apa itu * emosi
    Trus kyungsoo juga disini keren bgt sungguh keren *njiplak suho😄
    Kaya’a disini hana udah mulai ada rasa sama D.O *ciyee Xd
    Udah berani terbuka lagi sama kyungsoo ^^
    Ayo eon part berikutnya😀

  19. masa lalu yang suram, kasihn bgt hana ;(
    kyung soo semngt ya, bntu hana bangkit lagi.. jgn sia-sia in kepercyaan hana. buka lembrn baru buka hari yg baru..😀
    min yeong egois bangt, lma2 jd psikopat sking egoisnya..
    lnjuttt…

  20. Untung aja kyung soo gakpapa. Ceritanya kenapa bisa gini sih. Seru banget sampe bikin geregetan sendiri. Bwahaha. Nggak bisa komen apa-apa. Cerita hidupnya hana sangat tragis. Saoloh, gimana bisa min ALF punya cerita segini rumitnya. Bahkan terorganisir begini. Daebak pokoknya. Whoa… pas ada kris, aku jadi semangat… tapi…
    Endingnya… Apa lagi itu????? Kris pacarnya hana? Berarti namja jahat yang hana ceritain itu? Beneran??? Saoloh, ff ini bikin aku frustasi sumpah… min ALF daebakk!!

  21. denger cerita hana tentang masa lalunya itu sesuatu banget ya
    bahkan dia ngira D.O namja jahat yang cuman mau tubuhnya
    duh D.O kan anak baik” *cipok D.O(?)*

  22. sumpah hana hidupnya kaya gue ngeliat asli masa ;___; kesian banget biarpun ff tapi kayak nyata(?) daebak atuh si author mah;;;

  23. Aaaaaaaaaaa part 3 ny keren banget thor….konfliknya terungkap semua…
    Suer deh, tau jadinya kenapa si hana bisa trauma kaya gtu,
    ternyata emang btl gara2 itu..
    Haha tapi aku msh penasaran deh thor sama si minyoung..
    Sbtlnya dia ato bukan sih yang nyelakain si hana tu?
    Makin penasaran aja sama ni ff,
    juga bagian yang terakir itu sukses buat aku mewek,
    tapi lagi2 kalo nginget tingkah suho disini suer, emang btl2 buat aku ngakak guling guling…hahaha

  24. huuwwaaaaa……aq terharuuuu……
    akhirnya terungkap juga trauma Hana….moga langgeng ya hubunganx..

    lanjut part ya thor….^^

  25. MICHIGETDAA !! Nae Kyungsoo disini so sweet banget yah
    Bikin iri deh.. hiks TT,TT
    Eh MinYeong itu kenapa sih? Lama2 gue tendang juga tu anak
    Lebay ga segitunya juga kaleee

  26. Astaga !! Astagaaa !!
    Eonn ALF MIANHAE jeongmal mianhae T_T
    di part 2 anna ga sempet cment, sumpaah penasaran next chapt.a mianhae anna jamak di part ini aja yaaa….

    INI PART TER-ROMANTIS anna ngfly gila…
    Eonn kau bawa imajinasiku melayang bersama tulisanmu *pujangga ff* gatau kdu cment apa laagiii…
    Ini benar benar KEREN !!! *_*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s