[FF] ANOTHER CHANCE [PART 2]


FANFICTION

Tittle : Another Chance [PART 2]

Author : AyouLeonForever

Cover pic/poster edited by : AyouLeonForever

Genre: Romance, Angst, Tragedy, Suspense

Length: Chaptered / Series Fic

Rating: PG12, T

Main Cast:

*Do Kyung Soo

*Lee Hana

 *Kim Joon Myun

*Park Min Yeong

Other Cast: Find them by your self :p

Disclaimer: All off the cast(s) belong to his/her self, parents, agency, and GOD

Copyright: The story and OC belong to me!No Copy paste without permissions!

warning: Typo(s) every where.

Part 2

Ia di sana, ditemani air mata dan jeritan luka batin. Mencoba mengenyahkan bayangan kelam masa lalu yang bertahun-tahun menghantuinya. Menuntunnya menjadi pribadi yang dingin dan terus dibayang-bayangi ketakutan mencekam.

Tak ada lagi tempat bersandar, tak ada lagi tempat mencurahkan rasa sakit yang menggilas habis hatinya. Menelan kepahitan hidup yang memaksanya menunduukan wajah agar ia tidak jatuh lebih dalam.

Menyesali kelemahan yang ada padanya, mengutuk kerapuhannya, berharap akan ada suatu masa di mana ia mampu dan berani menantang apa yang menghalangi jalannya.

Tetap saja, luka itu tak kunjung sembuh, tak akan pernah sembuh, dan akhirnya ia juga tidak punya tameng untuk melawan ketakutan itu.

eomma eonni, aku sudah tidak sanggup lagi…” 

 

 

Kyung Soo POV

Secangkir cokelat panas yang disuguhkan Su Ho padaku tak cukup ampuh untuk membuatku tenang. Terlebih setelah aku menceritakan semuanya pada Su Ho dan mendengar reaksinya.

“sebenarnya apa yang ada di otakmu sampai kau bertindak sebodoh itu?”itu reaksi Su Ho, dan aku semakin sadar kesalahanku.

“mollasso… aku kalap, mendengarnya mengacuhkan dan meremehkan perasaanku, emosiku memuncak, terakhir aku terlalu percaya diri untuk memastikan bahwa dia bisa takhluk oleh namja sepertiku”balasku, masih tidak bisa fokus. Kejadian tadi di apartementku terus berputar-putar di otakku. Reaksi berlebihan Hana waktu itu, Masih terus menjadi misteri untuk memaksa otakku menerka-nerka penyebabnya.

“seharusnya kau mempertimbangkannya. Yeoja itu begitu takut pada namja, lalu kenapa kau nekat menciumnya…”

“arasso… arasso, tapi kondisiku saat itu tidak bisa menuntunku berpikir rasional, aku seperti tidak sadar. Dan lagi, Su Ho-ya, berhenti menyalahakanku. Aku ke sini tengah malam begini untuk meminta solusi darimu, bukan mendengar ceramahmu…”

“maaf… maaf. Aku terlalu shock dengan ceritamu, hanya tidak habis pikir dengan tindakanmu”

“Su Ho-ya… aku harus apa???”

Bisa kulihat Su Ho menghela nafas panjang “pertama, tenangkan dulu dirimu. Dinginkan kepalamu. Lalu kita pikirkan langkah apa yang harus kau ambil selanjutnya. Karena jujur saja, masalahmu ini sudah lebih dari sekedar rumit”

Aku menatap Su Ho penuh harap “aku mengandalkanmu Su Ho-ya…”

Su Ho menepuk pundakku“tidak begitu Kyung Soo-ya, kali ini aku tidak bisa membantu banyak dengan terlibat langsung, karena aku memang tidak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah, mengingatkanmu untuk tidak terlalu gegabah dalam mengambil sebuah tindakan. Khawatirnya, justru akan membuat semuanya bertambah parah”

Aku semakin putus asa, bahkan satu-satunya harapanku tidak bisa menolongku.

***

“sepertinya Hana tidak akan datang mengambil uangnya” itu kata ahjumma saat aku memutuskan untuk menunggu kemunculan Hana di minimarket.

Aku melirik arlojiku, sudah pukul 1 malam, sudah mustahil untuk seorang Hana keluar dari apartementnya. Aku menghela nafas kemudian beranjak dari tempat itu setelah berpamitan pada ahjumma.

Menemuinya langsung di apartementnya juga mustahil. Kecuali aku nekat mendobrak pintu apartementnya, barulah aku bisa bertatap muka dengannya. Tapi itu sungguh tindakan gila. Hana tidak hanya akan membenciku sampai mati, tapi juga akan melaporkanku ke polisi.

Ah… memikirkannya saja aku sudah hampir gila. Dan bagaimana mungkin aku bisa menuruti nasehat Su Ho untuk menenangkan pikiranku?

Dan dengan berat hati, aku hanya bisa pasrah. Pulang ke apartementku sendiri, mengutuk semua perbuatan cerobohku dan berharap aku masih diberi kesempatan untuk memperbaikinya.

Yah… semoga!

Aku tak henti-hentinya memandangi bangku di pojok belakang ruangan ini, tapi tetap saja kosong, tak berpenghuni. Dan kenapa hatiku pilu hanya dengan memandangi bangku kosong itu? Dan terakhir, sejak kapan aku selemah ini? perasaan bodoh ini… sukses membuatku tak berdaya.

PLETAK!

“AWW…” keluhku saat menyadari ada yang menimpuk kepalaku dengan sebuah buku. Aku mengangkat wajah, dan Su Ho yang baru datang sudah berdiri di sebelahku.

“kau bisa kerasukan kalau melamun pagi-pagi begini”tegurnya.

“aku tidak melamun”

“lalu apa? Mengkhayal? Ah payah” Su Ho memintaku sedikit bergeser agar dia bisa masuk dan duduk di bangkunya. “sudah ada perkembangan?”

Aku menggeleng lemah…

“Hya…ige mwonggayo? Menyaksikan pangeran cinta yang patah hati ternyata cukup mengenaskan”

“Su Ho-ya…”

Su Ho menepuk pundakku “bersemangatlah, jangan begini terus, kau tidak akan menemukan jalan keluar kalau seperti ini”

“aku masih tidak tahu harus berbuat apa”

Su Ho menghela nafas panjang “andai aku bisa membantu banyak”

Perkataan Su Ho justru membuatku semakin patah semangat.

“oh iya, tadi pagi aku mampir di sebuah toko buku dan tidak sengaja menemukan ini” Su Ho menyodorkan sebuah buku padaku, yang aku yakin benda itulah yang menyapa kepalaku tadi.

Aku mengambil buku itu dan menatapnya tanpa semangat “The Little Mermaid?”aku menoleh pada Su Ho “Su Ho-ya, jangan bercanda, aku bukan anak kecil yang butuh dongeng sebagai hiburan”

“bukan hiburan, bahan pelajaran”

“sejak kapan dongeng cengeng seperti ini bisa jadi bahan pelajaran”

Su Ho menggetok kepalaku “bisa kau rubah sedikit cara pandangmu? Kalau kau melihat buku ini dengan ego sabagai landasanmu, kau hanya akan menganggapnya sebagai cerita cengeng” Su Ho lalu membuka lembaran buku itu “jangan hiraukan endingnya, aku ingin kau fokus pada bagian ini”

Aku menurut, mungkin ada makna tersirat yang ingin disampaikan Su Ho padaku lewat buku dongeng ini. aku membacanya sekilas, itu adalah bagian di mana sang putri duyung bersembunyi setelah menyelamatkan pangeran”

“sudah baca?”

Aku mengangguk “tapi aku belum mengerti apa hubungannya cerita aneh ini denganku?”

Su Ho lalu membuka beberapa lembaran lagi, dan memintaku membacanya “juga bagian ini”

Aku menurut. Yang ini adalah bagian di mana putri duyung memutuskan untuk memendam cintanya, dan memilih untuk menjadi buih dari pada harus membunuh pangeran yang ia cintai. “Su Ho-ya… berhentilah berperang logika denganku. Aku tidak bisa memaknainya sama sekali. Kalau memang kau memintaku mengikuti cerita ini, aku harus menjadi siapa? Putri duyung? Jadi aku harus mati? Begitu?

Su Ho berdecak berkali-kali “orang patah hati memang tidak bisa berpikir realistis. Baiklah, akan kujelaskan secara detail. Di bagian sebelumnya, apa kau tidak bisa menebak maksudku? Tidak bisa kah kau berpatok pada tindakan tokoh utama cerita ini? dia menolong pangeran, tapi bersembunyi setelahnya, karena ia yakin pangeran akan takut saat mengetahui ada sosok manusia berekor ikan di dekatnya. Coba kita lihat, kau bukan sosok manusia berekor, tapi kau adalah sosok yang ditakuti Hana. Maksudku… saat Hana kesusahan, kau bisa menolongnya tanpa harus memperlihatkannya pada Hana. Seperti ceritamu, saat Hana menolakmu dan mengatakan bahwa kau itu termasuk orang yang pamrih, itu bisa jadi pelajaran. Kau tidak harus muncul di hadapannya untuk menolongnya dengan alasan agar ia tahu kaulah penolongnya. Tapi bukan berarti kau juga acuh… tetap saja kau harus ada saat ia membutuhkan pertolongan”

“menolongnya… diam-diam?”

Su Ho menjentikkan jari “Bingo, kurang lebih begitu. Dan terakhir, bagian endingnya. Tokoh utama memilih untuk mengorbannya nyawanya sendiri dan berubah menjadi buih hanya untuk menyelematakan nyawa orang yang dicintainya. Ia tidak ingin, karena perasaan tulus yang ia miliki justru akan membunuh orang yang ia cintai. Ia memang telah musnah, tapi cintanya tetap utuh”

“Su Ho-ya, ini hanya dongeng, manusia biasa tidak mungkin mengaplikasikannya di dunia nyata”

“hey… siapa yang bisa menebak, akan ada ending yang berbeda dengan tindakan awal yang sama”

Aku mengerutkan kening sebenarnya bingung.

Su Ho tersenyum “life is art…”

“Su Ho-ya…”

“renungkan saja ini, dan kita akan menunggu apa yang terjadi selanjutnya”Su Ho menepuk pundakku, memberiku semangat. Tapi aku sendiri ragu untuk melakukannya.

“tapi Su Ho-ya, apa yang harus kulakukan pertama kali?”

“hum… pertama, kita bersihkan nama Hana dulu. Percuma saja kau terus menolongnya kalau kau tidak mencabut akar masalahnya. Hana dikerjai seperti itu karena rumor yang belum tentu benar itu kan? Nah… kita mulai dari situ dulu”

“kita? maksudmu, kau ingin membantuku?”

“kalau kau bisa sendiri, ya aku tidak perlu membantumu”

“ah ani… ani. Aku butuh bantuanmu”

Su Ho tertawa kecil “yang itu serahkan saja padaku. Ada yang lebih penting untuk kau lakukan”

“apa itu?”

“hum.. coba kita pikir. Sudah 2 hari Hana tidak beraktivitas. Ada kegiatan penting yang terbuang sia-sia, dan salah satunya adalah mencari uang”

“jadi maksudmu???”

“hum.. sebut saja ini bentuk dari tanggung jawab atas kesalahanmu”

***

“aku tidak berani menjamin ini akan seenak buatan Hana, tapi… anggap saja ini buatan Hana”ucapku saat menyerahkan beberapa gulung kimbab buatanku yang di kemas rapih di dalam sebuah kotak makan besar pada ahjumma pemilik minimarket.

“wah, kelihatannya lezat sekali, kau bisa memasak sendiri?”

Aku tertawa kecil “tidak begitu mahir”

“baiklah, akan kuletakkan di tempat biasa. Oh dan juga mengenai upahnya?”

“oh itu, aku hanya akan mengambil potongan beberapa persen untuk modal bahannya. Sisanya, bisa anda serahkan pada Hana nantinya”

“ha?”

“itu saja ahjumma”

“kenapa keuntungannya untuk Hana? Yang membuat ini kan kau, menggunakan tenagamu”

“nae, tapi karena akulah Hana tidak bisa beraktivitas seperti biasanya, jadi anggap saja ini untuk membayar keabsenan Hana”

Ahjumma menatapku bingung “begitu yah? Baiklah…”

“um… satu lagi, ahjumma. Boleh aku minta tolong?”

“oh tentu, selama aku bisa”

Aku meletakkan satu kotak makanan di atas meja kasir. “bisakah anda menolongku menyerahkan ini pada Hana? Aku khawatir dengan keadaannya, sudah 2 hari ini dia tidak keluar rumah, takutnya… dia mengabaikan pola makannya”

Ahjumma itu tersenyum “tentu.. tentu akan kuantarkan ini padanya. Aku juga ingin menjenguknya sekalian memberikan uang hasil penjualan kimbabnya beberapa hari yang lalu”

“kamsahamnida ahjumma…”

“nae… cheonma. Aku senang melakukan ini”

“nae?”

“melihat baru kali ini ada anak muda yang sangat perhatian pada Hana, aku sangat senang melihatnya. Gadis malang itu…”

“ah ini… karena dia teman sejurusan denganku. Dan juga tetanggaku, aku jelas harus memperhatikannya”

“manis sekali”

Aku tersenyum kecil “Oh ya ahjumma, tolong jangan katakan apapun padanya. Mengenai semua yang kulakukan ini, juga makanan ini, jangan katakan kalau ini dariku”

“wae? Bukankah akan sangat bagus kalau yeoja itu tahu kalau kaulah yang membantunya?”

“semuanya justru akan lebih buruk kalau dia tahu. Tolonglah ahjumma”

Ahjumma menghela nafas “baiklah, kalau itu permintaanmu, aku juga tidak boleh menolong setengah-setengah”

“ah kamsahamnida… jeongmal kamsahamnida”

***

“ha? Aku baru tahu kalau Hana itu punya sepupu” respon seorang agen koran lokal tempat Hana bekerja. Ia juga seorang ahjumma (itulah kenapa Hana mau bekerja di sini, karena bosnya seorang yeoja).

“se… sepupu jauh Ahjumoni…”

“begitu? Jadi kau akan menggantikan Hana beberapa hari ke depan untuk mengantar koran?”

“nae Ahjumoni”

“lalu bagaimana dengan perkara pembagian upah kalian?”

“tentang itu… tidak perlu dipikirkan, kumpulkan saja upah kerjaku untuk gaji Hana”

“hum… baiklah, biar kalian saja nanti yang mengatur pembagiannya kalau Hana sudah terima gaji”

Aku mengiyakannya saja, aku malas berdebat “oh dan juga, tolong jangan beritahukan apapun pada Hana tentang ini”

“eh kenapa?”

“aku khawatir Hana marah kalau aku ikut campur dalam pekerjaannya”

“bukankah justru bagus kalau Hana tahu selama ia tidak berkerja, ada yang membantunya?”

“percayalah ahjumoni, Hana akan marah kalau dia tahu aku membantunya”

“ya sudah, akan kulakukan sesuai permintaanmu. Itu, kau antarkan 2 ikat koran itu di sekeliling kompleks ini. dan ini, daftar nama kepala keluarga yang tidak berlangganan berikut alamat rumahnya, jangan asal mengantar koran saja”

“nae ahjumoni, arayo”

***

Oh Lee Hana… apa betul kau seorang yeoja??? Bagaimana mungkin kau sanggup menjalani kegiatan-kegiatan melelahkan ini setiap hari? Membuat kimbab berpuluh-puluh gulung, menngantarnya ke mini market, pergi ke agen koran, mendengar ocehan ahjumma cerewet itu, mengantarkan koran keliling kompleks, dan terakhir mengantar susu,belum lagi harus pergi kuliah, mendengar ocehan dosen, dan akan bertambah parah kalau para dosen dengan suka hati memberikan tugas bertumpuk, bagaimana mungkin kau survive sampai sekarang dengan kegiatan seperti itu?. Satu hari saja menggantikanmu sudah hampir membuat seluruh persendianku remuk.

Aku bahkan tidak punya tenaga untuk ke kampus siang ini. sudahlah, aku membolos saja satu hari. Lagipula tidak ada mata kuliah dari yang Mulia Kim sonseng.

Ini adalah ketiga kalinya aku mengantarkan kimbab ke ahjumma. Itu artinya, sudah 5 hari Hana tidak juga keluar dari apartementnya.

“sejauh yang kulihat, dia baik-baik saja. dia sehat, dan kau pasti tidak akan menyangka, kalau Hana menghabiskan makanan yang kau buatkan untuknya setiap hari. Walaupun dia mengira aku yang memasakkannya”kata ahjumma saat aku menanyakan keadaan Hana.

“syukurlah kalau begitu… setidaknya dia tidak jatuh sakit”

“tapi… Kyung Soo-shii, apa kau tidak lelah? Masih banyak hal yang bisa kau kerjakan selain mengurusi Hana”

Aku menggeleng, sambil tersenyum tipis “tidak… ini adalah caraku untuk menebus kesalahanku pada Hana”

“memangnya apa yang kau lakukan padanya? Apa itulah sebabnya mengapa Hana mengurung diri selama beberapa hari ini?”

“a… aku tidak bisa mengatakannya secara jelas, tapi benar, akulah penyebabnya”

Ahjumma mengangguk paham “tapi setidaknya kau bukan namja yang sengaja menyakitinya. Kuperhatikan, kau memang tulus”

Aku hanya tersenyum sebagai balasan.

“ah… ini uangmu, kau lupa mengambilnya tadi malam. Dan seperti biasa, keuntungannya kusisihkan untuk Hana nantinya”

“kamsahamnida ahjumma…”

Keesokan harinya lagi, aku dikejutkan dengan kehadiran Hana di kelas. Duduk di bangkunya, membaca buku dan mengabaikan usikan di sekitarnya. Beberapa hari tak melihatnya, serasa sudah tak bertemu selama bertahun-tahun. Dan lagi-lagi aku menyadari bahwa sejak menyukai Hana, aku berubah layaknya seorang pujangga cinta.

“akhirnya kau tersenyum juga” teguran Su Ho menyadarkanku, dan membuatku kembali fokus pada duniaku. Aku menoleh padanya.

“waeyo?”

“sudah beberapa hari aku hanya melihat langit mendung di wajahmu. Tapi pagi ini, kau terlihat cerah”

Aku tertawa kecil, memang… aku merasa sedikit…. Bahagia hari ini. ini juga berkat Su Ho. Su Ho did a good job. Aku tidak pernah mendengar rumor lesbian pelacur itu lagi. entah bagaimana caranya dia mengubur rumor itu, tapi… aku betul-betul takjub. Yah, kalau Su Ho yang berbicara, siapa yang tidak akan percaya?.

“kurasa yang kau lakukan sudah cukup banyak untuknya”

“tidak juga, aku hanya menggantikannya melakukan pekerjaan yang seharusnya ia lakukan setiap hari”

Su Ho meraih tanganku, dan mengamatinya “bisa kulihat usahamu”

Aku tersenyum, juga memperhatikan jari tanganku yang dipenuhi plester. Yah, terkadang aku akan mengiris jariku saat memotong sayuran atau sejenisnya untuk membuat kimbab. Aku jelas tidak dengan sengaja, rasa kantuk yang berlebih membuatku sering lalai, dan berakhir melukai tanganku sendiri. Tapi itu sama sekali bukan apa-apa dibandingkan apa yang kulakukan pada Hana tempo hari.

“kuharap kau bisa bertahan Kyung Soo-ya, salahmu sendiri mengapa jatuh cinta pada yeoja tertutup seperi Hana”

“kau kira ini kemauanku?”

“arasso… sudah kubiilang, jatuh cinta juga adalah seni”

Aku menatap Su Ho dengan malas “enough with art

Aku tidak sengaja mendengar percakapan kumpulan ratu gossip itu. Tidak sepenuhnya, tapi telingaku mendengar ada nama Hana terselip di obrolan mereka. Entah itu apa, dan kurasa untuk kesekian kalinya mereka merencanakan sesuatu yang buruk untuk Hana.

“apalagi yang akan kalian lakukan padanya?” tegurku. Dan itu sukses membuat mereka terkejut

“eh… Kyung Soo-shii, ini… bukan apa-apa”

“nae Kyung Soo-shii, kami hanya membahas masalah… fashion. Yah fashion

Aku menatap mereka satu persatu “whatever, tapi kalau sampai terjadi sesuatu pada Hana karena ulah kalian, lihat saja. aku tidak akan tinggal diam” ancamku. Dan kurasa ancamanku sudah cukup membuat mereka terperangah dengan wajah pucat pasi. akupun berlalu meninggalkan mereka.

Saat hendak keluar kelas, Min Young, yeoja terpopuler di jurusanku yang entah datang dari mana langsung menghadang langkahku. Ekspresinya aneh, tajam dan…

“kau menyukai Hana?” tanya yeoja itu langsung.

Aku mengerutkan kening “bisa aku tahu kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?”

“jawab saja, apa kau menyukai yeoja itu?”

Aku semakin tidak mengerti. Yeoja yang kudengar adalah The Most Wanted Girl di jurusanku ini menghadang langkahku hanya untuk mempertanyakan hal ini? “sebelum kujawab, bisa aku tahu apa pengaruhnya denganmu?”

“Kyung Soo-shii…”

Ah situasi ini… “Permisi, aku mau ke kantin” akupun beranjak pergi. Tapi Min Young mencekal tanganku. ini sedikit aneh. Siapa aku siapa Min Young. Maksudku, kami tidak begitu dekat, terkadang kami bicara hanya sebatas formalitas karena kami sejurusan. Oh… memang biasanya ia yang lebih dulu menyapaku, mengajakku mengobrol dan apalah, kurasa itu normal. Tapi hari ini… suasananya aneh, terlebih ekspresi wajah Min Young…

“apa yang kau sukai darinya?”

“Min Young-shii, kurasa pertanyaanmu sudah cukup mengarah ke privasiku. Dan aku berhak untuk tidak menjawab”

“Ani… kau harus menjawabnya. Harus…”

Aku kembali menatapnya, fokus. “dengan alasan?”

Min Young bertingkah aneh, dia menatapku tajam, aku menangkap ekspresi marah di sana, “sampai sejauh ini kau masih tidak sadar? Aku bersikap seperti ini kau juga tidak sadar?” matanya kini berkaca-kaca. Dan aku mulai cemas dengan tindakanku, bagian mana dari tindakanku yang membuat yeoja ini ingin menangis. Apa aku memang sekasar itu sampai aku telah sukses membuat 2 yeoja menangis. Hana… jelas penyebabnya, tapi ini?

“… Min Young-shii… aku, tidak mengerti”

Kulihat dengan jelas Min Young memejamkan matanya sembari menghembuskan nafas, tekhnik yang kuketahui untuk menenangkan emosi. Bisa kulihat buliran air matanya yang jatuh perlahan mengarungi kedua pipinya “Hya Do Kyung Soo-shii… kau sungguh… tidak peka” dan Min Young pun meninggalkanku dengan langkah cepat.

What the

Apalagi ini? kenapa Min Young seperti itu? Disaat kepalaku hampir meledak karena memikirkan Hana, kenapa Min Young tiba-tiba bersikap itu padaku? Dan Kenapa semua yeoja diciptakan untuk membuatku pusing???

***

“betul kata Min Young, kau sangat tidak peka”itu respon Su Ho saat kutemui dia di auditorium. Sikap Min Young membuat rasa laparku hilang dan tidak jadi mengunjungi cafetaria. Dan Su Ho satu-satunya tujuanku untuk berkonsultasi mengenai masalah ini.

“Su Ho-ya, kau ini di pihak siapa?”

“di tengah-tengah, karena kau betul-betul ppabo”

“Su Ho-ya…”aku jelas protes, dalam rangka apa Su Ho mengataiku ppabo?

“masih tidak mengerti?” Su Ho berdecak berkali-kali dan menggeleng-gelengkan kepalanya “dia menyukaimu… ppabo”

“ha?” kurasa pendengaranku sedang terganggu.

“Min Young… dia menyukaimu. Lihat betapa tidak pekanya kau. Aku saja yang hanya mendengarnya dari ceritamu bisa langsung tahu maksud yang ingin disampaikan Min Young, nah kau… yang kenyataannya berhadapan langsung dengan yeoja itu mana mungkin tidak bisa menebaknya, bahkan dari ekspresi Min Young saja kurasa sudah sangat jelas”

Aku tertegun. Otakku langsung kosong, seketika tidak bisa memikirkan apa-apa “sebenarnya apa yang menimpaku ini?”

“hei… kenapa kau menganggap ini musibah? Yeoja sepopuler Min Young menyukaimu, harusnya kau bangga”

“mana bisa aku bangga setelah sukses menyakiti dua yeoja sekaligus?”

“sebenarnya aku juga tidak menyangka, ternyata namja yang disukai Min Young itu kau. Aku memang sering mendengar kalau Min Young menolak setiap namja yang menyatakan cinta padanya, dengan alasan, sudah ada namja lain yang dia sukai. Dan hey… sobat, namja itu kau”

“Ani… ani… jangan menambahnya lagi. aku sudah cukup dibuat gila oleh satu yeoja, jangan ada lagi yang selanjutnya”

Su Ho tertawa, kemudian menepuk-nepuk pundakku “bersemangatlah, bukan salahmu kenapa pesonamu meluluhkan primadona jurusan kita”

“Su Ho-ya…”

“arasso… arasso, kulakukan sebisaku untuk menyemangatimu”

“AAAKKKHHH…” aku mengacak rambutku saking stressnya.

“oh ya, berhubung kau membahas tentang yeoja yang membuatmu tergila-gila. Bagaimana keadaannya”

Kalimat Su Ho memang sangat menjengkelkan, tapi tidak ada yang salah dengan kalimat itu “sejauh yang kulihat tadi dia baik-baik saja. masih dengan aktivitas yang sama, mengasingkan diri di pojok ruangan sambil membaca buku. Aku jelas tidak ingin terlihat transparan dengan mengamatinya terus. Seperti yang kau bilang. Aku akan mencintainya dalam diam”

“Oh…” Su Ho merengkuh dadanya.

“kenapa lagi kau”

“saat pangeran cinta mengutarakan isi hatinya, aku betul-betul tersentuh. Pantas saja para pujangga cinta membuat mahakarya yang bernilai seni tinggi, karena memang… love is the highest art

“sekali lagi kau membahas tentang seni, aku akan mengacau di ruangan ini”

Tawa Su Ho justru meledak. Su Ho memang punya berbagai cara untuk menghiburku. Ini salah satunya, walau menjengkelkan, ini manjur. Setidaknya otakku tidak sepenat tadi.

Dan sebuah pikiran konyol muncul di otakku. Andai saja Su Ho ini adalah seorang yeoja.

“Hya… kenapa tatapanmu menjijikkan sekali” tegur Su Ho, tawanya berhenti seketika.

“ani… aku hanya berpikir”

“tentang apa?”

“andai saja kau itu yeoja. Aku lebih baik memacarimu saja dari pada dipusingkan oleh Hana, ditambah Min Young”

Su Ho membelalak “Hya… singkirkan pikiran gilamu itu. Satu rumor tentang penyuka sesama jenis di jurusan kita ini Sudah cukup, dan jangan menambahnya”

“hey… hey, kau berlebihan. Aku hanya bilang seandainya. Aku tidak betul-betul ingin memacarimu. Apa kau gila?”

Su Ho langsung bernafas lega. Menggelikan juga melihat dia menanggapinya serius “ah… syukurlah”

Dan melihat ekspresinya itu, aku tertarik untuk mengerjainya “tapi… aku bisa membayangkan bagaimana cantiknya kau seandainya kau yeoja”  .

Su Ho kembali membelalak “Do Kyung Soo… apa kau sudah bosan hidup???”

***

Aku sedikit salah tingkah saat melintasi bangku Min Young, terlebih dia sempat mendongak dan tatapan kami bertemu. Kurasa kedepannya nanti, aku akan semakin  canggung dengannya. Aku segera mengalihkan pandanganku, dan bergegas menuju bangkuku.

Yeoja yang duduk di bangku pojok belakang itu lebih mengusik pikiranku. Dan aku tidak punya ruang lain lagi untuk memikirkan yeoja selain dia.

“berhenti memandanginya, atau kau akan dikatai psikopat”teguran Su Ho menyadarkanku.

“apa aku punya tampang psikopat?”

“siapa yang bisa menebak asumsi Hana terhadapmu. Sudah kubilang jangan terlalu transparan”

“Su Ho-ya… percayalah, ini lebih sulit dari yang kau bayangkan”

“tidak sesulit itu, selama kau mau berusaha. Terlebih… kau juga harus menjaga perasaan yeoja yang duduk di bangku depan itu, dan jangan melihat ke sana, yeoja itu sedang menatap kemari”

Aku menelan ludah. Tragis… “ba…. Baiklah, akan kuusahakan”

“kalau tebakanku benar, tidak lama lagi Min Young akan jengah dengan ketidakpekaanmu, dan hanya tinggal menunggu waktu sampai yeoja itu datang padamu, dan berkata secara langsung bahwa dia menyukaimu”

“Su Ho-ya… jangan menakutiku”

“bagian mana dari kata-kataku yang terkesan menakutimu. Apa disukai yeoja populer itu adalah hal yang menakutkan? Sadarlah, siapa Min Young itu”

“apa kau mengira ini kemauanku?”

Su Ho tertawa lagi “tapi kau keren…”

Aku sengaja memperlambat gerakanku untuk berkemas-kemas. Bahkan untuk memasukkan buku-buku ke dalam tas ku, kulakukan dengan sangat lambat. Aku berharap dengan begini aku bisa menghindari pertemuan dengan Min Young di luar kelas. Tapi sebenarnya alasan utamaku adalah, agar bisa membiarkan Hana pulang lebih dulu, dan aku akan membuntutinya dari belakang, memastikan keselamatnnya sampai pulang ke apartement.

Nah itu dia. Kelas sudah kosong melompong, dan Hana sudah mulai beranjak meninggalkan kelas. Aku harus memastikannya keluar dari pintu kelas dulu sebelum aku mulai membuntutinya. Seperti kata Su Ho, jangan terlalu transparan.

Dan saat sosok Hana sudah menghilang dari balik pintu, akupun mulai bergerak. Meninggalkan bangkuku dan mulai melangkah ke luar kelas.

“Kyung Soo-shii, bisa kita bicara”

Aku menoleh, dan kudapati Min Young tengah bersandar di luar pintu dan mana mungkin aku tidak menyadari kehadirannya di sana. “… Min Young-shii, waeyo?”

“aku hanya ingin bicara denganmu, dan sepertinya kau betul-betul menghindariku”

Aku tersentak“bukan… bukan begitu. Aku hanya…”

Min Young menoleh ke arah kiri,ke arah koridor di mana punggung Hana yang terlihat mulai menjauh. “atau karena dia?”

Lagi-lagi aku tersentak. Kenapa aku jadi salah tingkah begini (terlebih setelah mendengar perkataan Su Ho, juga tebakannya bahwa yeoja ini menyukaiku). “begini saja Min Young-shii, kalau tidak ada yang benar-benar penting untuk dibahas, sebaiknya lain kali saja. karena sekarang aku sedang sibuk. Sampai jumpa besok, hati-hati di jalan”aku melambaikan tangan, sebisa mungkin bersikap lembut.

“Kyung Soo-shii” Min Young malah mencekal tanganku.

Mana mungkin aku tidak mengeluh kalau sudah seperti ini “ada apa?”

Min Young tidak buka suara setelah itu, dia hanya menatapku dengan ekspresi yang… sangat susah membacanya. Ada sorot mata penuh harap di sana, dan aku tidak berani menebak apa yang diharapkannya.

“Min Young-shii… jangan seperti ini. kalau ada yang melihat, mereka pasti akan berpikir yang macam-macam”

Min Young menunduk, melengos di sana. Berdecak berkali-kali, dan kurasa ia sedang berusaha menenangkan emosi “bahkan saat aku sudah seperti ini kau masih saja menutup mata? parahnya kau justru memikirkan tanggapan orang lain. Kalau memang seperti ini, kenapa harus orang lain yang lebih peka, kenapa kau sendiri sampai sekarang tidak juga menyadarinya”

“Min Young-shii…”

Min Young menatapku sangat dalam “Jhoasso… aku menyukaimu… kau dengar… aku menyukaimu Kyung Soo-shii”

Ini dia yang kutakutkan. 100 point untuk Su Ho. “Min Young-shii”

“lihat bagaimana tanggapanmu setelah aku merontokkan harga diri untuk menyatakannya lebih dulu padamu. Aku jengah… Menunggumu sama saja halnya dengan menunggu laut mengering. Tidak ada kepastian”

Aku terdiam. Merenung, mencoba berpikir tentang tindakan yang akan kulakukan. Kalau Su Ho yang berada di posisi ini, kira-kira apa yang akan dia lakukan? Kata-kata bijak apa yang akan dia keluarkan untuk menenangkan yeoja ini.

“kenapa kau diam?”

Aku menghela nafas “Min Young-shii, gomawoyo. Mengetahui bahwa kau menyukaiku, itu sungguh mengejutkan. Aku bukannya tidak peka, hanya saja, ini di luar logikaku. Kau… setahuku adalah yeoja yang paling populer di jurusan kita,mungkin saja di seluruh universitas ini, dan kau memilihku, namja yang tidak eksis sama sekali sebagai namja yang kau sukai itu sungguh di luar dugaan”

“kau pikir aku menyukai seorang namja hanya karena kepopulerannya? Aniya Kyung Soo-shii, aku menyukaimu, bahkan sejak awal aku melihatmu. Oh Tuhan apa yang kulakukan… aku sudah terlihat sangat bodoh di depanmu”

Aku menghela nafas lagi, aku butuh jeda untuk menenangkan diri, agar bisa menyelesaikan perkara ini dengan kepala dingin “Min Young-shii…” kuberanikan diri menyentuh pundaknya “gomawoyo… jeongmal gomawoyo. Tapi… aku tidak cukup layak untuk menerima perasaanmu itu. Bagaimana aku harus mengatakannya. Min Young-shii, aku tersanjung, tapi sekali lagi… betapa bodohnya aku karena aku tidak dianugerahkan perasaan yang sama terhadapmu. Itulah kelalaianku yang harus kurenungkan”

“tapi aku bisa menunggu Kyung Soo-shii, aku bisa menunggumu”

“andwae… jangan menungguku. Seperti penyataanmu barusan, menungguku sama saja halnya dengan menunggu sampai air laut mengering. Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa. Terlebih lagi… aku…” kuberanikan diri menatap Min Young. Kuharap kalimat terakhirku ini akan membuatnya mengerti “aku… sudah menyukai yeoja lain”

Bisa kulihat Min Young bergerak mundur. Matanya berkaca-kaca dan bibirnya bergetar. Dia mengangguk-angguk, mengalihkan pandangan ke sembarang arah dan terakhir menatapku “apa yang dimiliki Hana dan tidak kumiliki?”

Aku cukup bersyukur karena Min Young sudah tahu objek yang kumaksud “aniyo… opssoyo. Kau bahkan memiliki segalanya, dan Hana tidak memiliku itu semua. Dan entah mengapa, justru kekurangan Hana itulah yang membuat hatiku tertuju padanya”

“itu pasti bukan rasa suka Kyung Soo-shii, kau hanya kasihan padanya”

Aku menggeleng “aku hanya tidak ingin lebih menyakitimu dengan menceritakan secara jelas bagaimana rasa sukaku pada Hana. Percayalah, kau tidak akan suka mendengarnya”

“Kyung Soo-shii”

“kau yeoja yang baik, aku tahu itu. Dan kau pasti akan mendapatkan namja yang baik dariku. Sampai jumpa”

“Kyung Soo-shii”

Aku terpaksa mematikan hati untuk mengabaikan seruan Min Young. Aku betul-betul merasa telah berubah menjadi namja kejam setelah sukses menyakiti 2 yeoja dalam kurun waktu yang berdekatan. Lagi-lagi ini di luar kendaliku. Dan kuharap Tuhan tidak semarah itu padaku sampai memberiku hukuman.

Aku kehilangan jejak Hana. Dan ini karena aku telah menghabiskan banyak waktu untuk mengobrol dengan Min Young. Yang tidak habis kupikir adalah, secepat apa langkah Hana sampai aku tidak bisa menangkap sosoknya bahkan di sepanjang pekarangan kampus yang luas ini.

Perasaanku mulai tidak enak setelah kutelusuri jalan sepanjang pekarangan menuju gerbang utama universitas, dan sosok Hana tak juga terlihat. Mustahil dia bisa menghilang secepat itu. Bahkan kalau dia berlari sekalipun aku tidak menjamin dia bisa langsung lenyap dari pandanganku.

Rasa khawatirku semakin kuat saat mengingat bahwa aku sempat mendengar para ratu gosip membicarakan Hana, dan masalah raibnya Hana dalam kurun waktu sekejap ini jelas ada kaitannya dengan mereka.

Aku memilih kembali mengitari gedung fakultas tempatku kuliah. Apapun rencana yang di susun oleh mereka, aku yakin sangat tidak menguntungkan bagi Hana.

Hari sudah semakin sore, dan aku belum juga menemukan sosok Hana. Kupastikan dia tidak pulang ke apartementnya, karena saat kutelepon ahjumma pemilik minimarket, dia juga tidak melihat sosok Hana melintas. Karena biasanya, Hana akan menyapa ahjumma dulu sebelum masuk ke apartementnya. Lalu di mana Hana?

Aku hampir putus asa, saat malam mulai menjelang dan Hana belum juga kuketemukan. Aku ingin menelpon Su Ho, tapi… melibatkannya dalam masalahku… teman macam apa aku ini? aku sudah terlalu banyak menyusahkannya.

Lee Hana, beri aku petunjuk tentang keberadaanmu, agar kupastikan kau baik-baik saja.

Di detik saat aku mulai menyerah untuk menghentikan pencarianku. Sesuatu tertangkap oleh mataku. Secarik kain dengan motif yang sama dengan kain rok Hana, terkait di ujung kawat yang mencuat di pembatas tangga menuju balkon atap. Aku bahkan tidak terpikir untuk mencari Hana di sana. Tapi…

Aku tidak buang-buang waktu, dengan segera aku mempercepat langkahku menuju balkon atap. 99 % kemungkinan Hana berada di sana, aku yakin.

Aku langsung mempertajam penglihatanku, mencari ke segala penjuru balkon atap yang luas ini sosok yang menyerupai Hana.dan ini cukup sulit, karena banyak pipa-pipa besar serta tower wadah penampungan air di beberapa tempat, membatasi penglihatanku. Belum lagi malam yang semakin gelap. Aku menyesali pencahayaan gedung ini yang sangat payah.

Awalnya aku mengira mataku menangkap sesuatu yang salah, tapi Betapa terkejutnya aku saat mendapati sosok Hana tergeletak tak sadarkan diri di sudut pembatas balkon. Segera kuhampiri tubuhnya di sana…

…. dan yang lebih mengenaskan adalah….

….

KEMANA PAKAIAN LUAR Hana????

Aku terpaksa mengutuk mataku yang tidak seharusnya melihat pemandangan ini. Hana memang tidak sepenuhnya bertelanjang, karena masih ada kaos tank top tipis yang melekat di tubuhnya, juga hot pants hitam. Tapi tetap saja…

Terkutuklah yang berbuat seperti ini pada Hana. Segera kutanggalkan jacketku, menyelubungi tubuh Hana yang… Oh Tuhan, betapa dinginnya tubuh ini. dalam keremangan inipun aku bisa melihat bibirnya membiru dan wajahnya pucat pasi.

Yeoja ini… harus segera dibawa ke Rumah Sakit.

***

Hana mengalami hipothermia, dan hampir saja membahayakan nyawanya kalau aku tidak segera membawanya ke Rumah sakit ini. itulah yang disampaikan dokter yang menangani Hana. Hana masih belum sadarkan diri sampai sekarang, dan itu membuatku semakin… menyalahkan diriku sendiri. Keterlambatanku menyelamatkannya, hampir membuat nyawanya terancam.

Aku diperbolehkan masuk untuk menengok kondisi Hana yang masih tak sadarkan diri di sana. Wajahnya yang tadi pucat berangsur membaik, bibirnya juga tak sebiru tadi. Dan saat aku nekat menggenggam tangannya, yah… panas tubuhnya sudah kembali normal.

Melihat pemandangan ini, air mataku meleleh seketika. Bagaimana mungkin Tuhan setega ini memberikan cobaan yang begitu berat pada yeoja selemah Lee Hana? Kenapa harus yeoja ini?.

Dan kenapa aku harus memiliki perasaan sedalam ini terhadapnya. Ini menyiksaku, bahkan setiap goresan luka dan lebam yang tercetak di tubuh Hana, aku merasakannya 100 kali lipat, dan itu lebih sakit dari apapun.

Ironisnya, aku hanya bisa seperti ini. menatapnya dari jauh, mengamatinya lekat saat ia tak sadar… mencintainya dalam diam.

Dengan tangan bergetar, juga air mata tanpa isakan menyertaiku membelai pipi yeoja ini. berharap dengan begini, perasaan tulusku padanya tersalur dan menyadarkannya bahwa ia tidak sendiri. Aku akan ada untuknya, selalu…

Sekali lagi… Mencintainya dalam diam.

***

Aku mengintip di balik tembok pemisah antara pertigaan koridor menuju ruang perawatan Hana. Ia berdiri di sana, mengenakan pakaian yang kuletakkan semalam di samping branker tempatnya terbaring. Karena mana mungkin ia pulang dengan mengenakan seragam pasien rumah sakit ini.

“bisa aku tahu siapa yang membawaku ke sini?” terdengar suara Hana bertanya pada perawat di depannya.

“seorang namja, kira-kira seumuran denganmu. Dia tidak hanya membawamu ke sini, tapi juga menjagamu semalaman, dan menyelesaikan administrasi selama kau di rawat di sini”

Ah sial… perawat itu cerewet sekali. Bagaimana kalau Hana menyadari kalau itu aku?

“apakah dia adalah orang yang sama yang memberiku pakaian ini?”

“sepertinya begitu. Karena saat ia membawamu ke sini, pakaianmu… ah maaf”

“gwenchana, aku ingat kondisi terakhirku sebelum aku pingsan. Tapi namja itu melihatku…”

“tenang saja, melihatnya begitu memperhatikanmu, kelihatannya dia namja baik-baik. Terlebih dia mengenakan jacketnya sendiri untuk menyelubungi tubuhmu. Bisa terlihat niatnya yang tidak ingin macam-macam terhadapmu”

Aigo perawat itu. Bisakah dia berhenti mengoceh???

“di mataku, semua namja sama saja”itu ucapan Hana. Dan aku cukup tertegun.

“nae?”

“ah bukan apa-apa. Kalau urusan administrasinya sudah selesai, itu artinya aku sudah bisa pulang kan?”

“benar. Tapi jangan lupa istirahat. Jangan memaksakan dirimu beraktivitas terlalu berat. Jangan lupa obat yang diberikan, minum secara rutin”

“nae… kamsahamnida. Aku permisi”

***

Aku memasuki kelas dengan emosi meluap-luap. Aku tidak langsung menuju bangku ku. Tapi deretan bangku depan yang isinya adalah yeoja munafik semua.

Tanpa basa-basi kugebrak meja mereka, membuat seisi kelas terkejut dan dan sekeika berubah hening.

“Kyung Soo-shii, apa-apaan kau mengamuk pagi-pagi tanpa alasan yang jelas?”itu respon salah satu dari yeoja psycho itu.

“tidak perlu basa-basi. Apa kalian benar-benar gila? Ini sudah sangat kelewatan”

Mereka bertiga saling bertatapan “ka… kami? Ada apa dengan kami?”

Aku melengos, sembari tertawa jengkel “apa perlu kubeberkan ulah kalian?”

“ulah apa?”

Emosiku semakin memuncak, bisa-bisanya mereka bersikap sok polos seperti ini. “apa kalian tahu? Lee Hana hampir mati karena ulah kalian” bentakku.

Mereka terkejut. Tapi bukan itu respon yang kuinginkan. Aku ingin mereka segera mengakui kesalahan mereka dan meminta maaf pada Hana, juga berjanji untuk tidak mencelakainya lagi. Tapi ekspresi terkejut mereka mengisyaratkan bahwa mereka tidak tahu apa-apa. Aku benci itu “apa yang kau bicarakan Kyung Soo-shii, memangnya apa yang kami lakukan?”

“seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Apa yang kalian lakukan pada Hana di balkon atap gedung ini kemarin sore?”bentakku lebih geram. Aku bahkan tidak sadar bahwa Su Ho sudah berdiri di sebelahku dan memegang pundakku, memintaku tenang.

Mereka bertiga bertatapan dengan wajah pucat. “ka… kami tidak tahu apa-apa, sungguh… kami bahkan tidak bertemu Hana kemarin sore, karena kami membolos di jam terakhir”

“bohong, itu justru semakin membuatku curiga, kalian pasti merencanakan sesuatu saat itu”

“aku bersumpah Kyung Soo-shii, aku dan kedua temanku tidak tahu apa-apa. Kami betul-betul tidak bertemu Hana kemarin sore, kami membolos bukan untuk mengerjainya, tapi membolos untuk mengunjungi sebuah toko pakaian yang baru buka”

“omong kosong”

Su Ho menepuk pundakku “tenangkan dirimu, apa yang kau lakukan”

Aku manatap Su Ho “kau tidak tahu apa-apa. Hana hampir saja mati karena ulah mereka, apa kau pikir aku bisa tenang?”

“baiklah, biar aku yang menginterogasi mereka. Kondisimu sama sekali tidak memungkinkan untuk membuat mereka buka mulut” Su Ho menarikku, sehingga aku bergeser dan berdiri di belakangnya. “Sun Wa-shii” Su Ho mulai menginterogasi salah satu dari mereka “apa benar kau tidak bertemu Hana kemarin sore”

“aku bersumpah, aku dan kedua temanku tidak bertemu dengannya kemarin sore. Sudah kubilang, kami membolos di mata kuliah terakhir”

“lalu… dari mana aku bisa tahu kebenaran ucapanmu ini”

“toko pakaian itu, kau bisa tanyakan saja pada pemiliknya karena sejak kemarin sore sampai malam, kami ada di sana”

“siapa yang bisa menjamin kalau dia bukan komplotan kalian?”

Sun Wa terlihat sudah hampir menangis. Dan aku sendiri mulai ragu dengan tuduhanku. Ini bukan ekspresi terdakwa, tapi tertuduh. “absensi kemarin, kau bisa menge check nya, bukankah kau ketua tingkat, kau bisa melihat daftar hadir mahasiswa di mata kuliah terakhir. Dan kalau kau masih tidak percaya, aku berani bersumpah, dan memotong kedua kakiku kalau memang aku yang mencelakai Hana kemarin sore seperti yang dituduhkan Kyung Soo-shii”

Su Ho menatapku “see?

“tapi… aku mendengar kalian merencanakan sesuatu dan menyebut-nyebut nama Hana”aku masih belum menyerah.

“benar… sangat benar. Waktu kau mendapati kami saat itu, kami memang berniat mengerjai Hana, tapi tidak sampai membuatnya hampir terbunuh. Kami hanya berencana mengerjainya dengan menumpahkan sekaleng cat di kepalanya, tapi itu juga kami urungkan karena kau mengancam kami. Aku bersumpah sejak saat itu sudah tidak lagi berniat mengerjai Hana… apalagi sampai membunuhnya…” Sun Wa betul-betul menangis, kedua temannya ikut-ikut menangis. Sekarang semua mata tertuju padaku

Sepertinya tahun ini aku sukses mendapatkan predikat namja bejat. Di tambah 3 yeoja ini, aku telah sukses membuat 5 yeoja menangis dengan alasan berbeda. Mau kutaruh di mana wajahku saat aku bertemu dengan ibuku nanti?

“ikut denganku” Su Ho menepuk pundakku dan mengajakku keluar dari kelas.

***

“arasso… arasso, salahkan saja aku”ucapku saat Su Ho mengajakku berbicara empat mata di ruang auditorium. Su Ho sama sekali tidak buka suara sejak tadi, hanya menatapku datar, dan itu membuatku jengah.

“aku tidak menyalahkanmu”

“lalu apa? Kenapa kau menatapku begitu sejak tadi tanpa bersuara?”

“hanya memberimu waktu untuk menenangkan pikiranmu. Apa emosimu sudah reda?”

Thats Su Ho. Punya segala cara untuk membuatku tenang “maafkan aku, aku kalap. Lagi-lagi”

“sudah kubilang, aku tidak menyalahkanmu. Kau jelas mencurigai mereka karena kau sendiri yang mendapati mereka merencanakan sesuatu untuk mencelakai Hana. Mungkin kalau aku di posisi mu, aku juga akan berpikiran yang sama, hanya saja sedikit disayangkan, lagi-lagi kau diperturutkan emosi”

Aku menunduk, cukup menyesal “aku masih berusaha Su Ho-ya”

“bisa kulihat itu”

“lama-lama aku bisa betul-betul gila. Bayangkan saja bulan ini aku sudah sukses membuat 5 yeoja menangis”

Su Ho mengerutkan kening “lima?”

“nae. Hana, Min Yeong, dan 3 ratu gosip itu”

Kulihat Su Ho hampir tertawa “3 ratu gosip? Maksudmu Sun Wa, Ji Hyeon, dan Ha Neul?”

“aku tidak hapal nama-nama mereka”

“bagaimana mungkin kau bisa hapal nama mereka sementara nama lee Hana menguasai otakmu”

“Su Ho-ya…”

“mian, hanya bercanda. Dan berhubung kau membahas tentang Hana, kenapa kau tidak memberitahuku kalau kemarin ada situasi seperti itu?”

“aku panik, dan aku tidak bisa memikirkan apapun selain menyelamatkan Hana secepatnya”

“hum… beruntung kau masih bisa bertindak cepat. Ada untungnya juga sifatmu yang satu itu”

Aku sedikit berpikir “Su Ho-ya, aku masih tidak ada gambaran, mengenai siapa yang mencelakai Hana. Orang-orang yang kucurigai justru bersih dari masalah ini”

“hm… sama denganku. Kupikir situasi sudah mereda sejak terakhir mereka mengerjai Hana, karena saat itu, aku sudah berhasil meredakan rumor itu, dan yang lebih penting, kulaporkan nama-nama yang terlibat dalam aksi mengerjai Hana tempo hari, dan mereka sudah diberi sanksi yang cukup untuk membuat mereka jera oleh pihak rektorat. Tapi, kenapa masih ada tindakan seperti itu? Oleh siapa?…”

“apakah… ada yang diam-diam mencelakai Hana? Tapi apa motifnya? Apa masih karena rumor tentang Hana adalah lesbian itu? Lalu kenapa? Memangnya Hana pernah menganggu mereka?”

“pelan-pelan saja Kyung Soo-ya, pasti ada petunjuk”

***

~***~

Aku cukup lega melihat suatu pemandangan janggal saat aku masuk ke kelas di kuliah jam pertama siang ini. 3 ratu gosip mengelilingi bangku Hana. Walau aku tidak bisa mendengar obrolan mereka, tapi aku bisa membacanya dari ekspresi penyesalan yang mereka keluarkan. Mereka meminta maaf atas segala perbuatan yang sempat mereka lakukan pada Hana.

“Kyung Soo-ya, bagaimana hubunganmu dengan Min Young?”

Aku langsung menoleh saat mendengar pertanyaan aneh Su Ho. “ha?” kupikir aku salah dengar.

“Min Young, Park Min Young. Bagaimana hubunganmu dengannya?”

“sepertinya aku lupa membahasnya” aku membetulkan posisi agar lebih leluasa mengobrol dengan Su Ho “seluruh tebakanmu benar, mulai dari perkiraan dia menyukaiku, juga perkiraan bahwa dia akan jengah menunggu dan akhirnya menyatakan perasaan padaku, semuanya benar”

“lalu, apa yang kau katakan setelah dia menyatakan perasaannya padamu”

“hum…cukup banyak, tapi intinya kukatakan saja kalau aku tidak cukup baik untuknya, dan terakhir sebagai penegasan adalah, aku tidak bisa menerima perasaannya karena aku sendiri sudah menyukai yeoja lain”

Su Ho mengangguk-angguk “dan itu sukses membuatnya menangis”

“yah… itulah kesalahanku. Tapi… kenapa kau bertanya begini?”

“tidak, hanya penasaran dengan pernyataanmu bahwa kau sukses membuat 5 yeoja menangis dalam kurun waktu berdekatan”

Aku memicingkan mata “ada yang tidak beres”

“apanya?”

“jangan-jangan… kau menyukai Min Yeong”

Su Ho terkejut “Hya, jangan gila…”

“lalu?”

“sudah kubilang, aku hanya penasaran”

***

“kau tidak pulang?” tanyaku saat Su Ho juga ikut-ikut memperlambat gerakannya membereskan buku dan tasnya.

“kau sendiri?”

Aku menunjuk Hana dengan dagu sebagai alasanku “seperti biasa”

“nado… aku ingin mengetahui sesuatu”

“sesuatu apa?”

“hey, bukankah pelaku yang mencelakai Hana belum diketahui. Itu artinya, yeoja ini bisa saja masih berada dalam masalah”

Aku tertegun. Benar juga. Permintaan maaf 3 ratu gossip itu bukan jaminan bahwa keselamatan Hana sudah tidak perlu dikhawatirkan. Ini justru akan mejadi sangat kabur, karena tak ada petunjuk sama sekali, siapa orang yang bergitu nekat dan tega mencelakai Hana sampai seperti itu.

Kelas sudah mulai kosong, dan mungkin Hana juga mulai jengah menungguku dan Su Ho keluar lebih dulu, makanya dia memutuskan mendahului kami, karena memang itu tujuan kami, agar bisa membuntutinya dari belakang.

BYUUUUUUUUURRRRRRR…

Aku dan Su Ho bertatapan dengan sangat terkejut. Seketika mempercepat langkah menuju depan kelas. Dan keterkejutan kami semakin meningkat saat menyaksikan Hana tersungkur di lantai dengan kondisi basah kuyup. Masalahnya… itu bukan air… tapi… dari warna dan baunya saja, semua orang sudah bisa menebak.

“DARAH???” seruku dan Su Ho bersamaan.

Mataku langsung menangkap sosok misterius yang bergerak cepat menghilang dari pertigaan koridor “Su Ho-ya…”

“ne, aku juga melihatnya. Aku yang akan mengejarnya, bawa Hana pulang” dan Su Ho langsung berlari mengejar sosok misterius ini tanpa persetujuanku.

Dia bilang apa barusan? Bawa Hana pulang? apa dia amnesia? Mana mungkin aku bisa dengan santainya membawa Hana pulang padahal mendekatinya saja sudah cukup mustahil. Lagipula, Hana mengabaikan kehadiranku. Untuk kesekian kalinya, aku hanya bisa mematikan hati untuk tidak segera merengkuh yeoja itu ke dalam pelukanku. Yang bisa kulakukan hanyalah meletakkan sapu tangan di atas tangannya kemudian bergerak mundur, memberinya ruang.

Kabar baiknya, dia menggunakan sapu tangan itu untuk mengusap wajahnya yang penuh darah. Dari bau anyirnya, ini bukan darah manusia, jadi perkiraanku… ini adalah darah hewan.

TAPI SIAPA YANG SETEGA INI MENEROR Hana? Ini sudah termasuk tindakan piskopat.

Aku mengikuti langkah Hana dari belakang. Yeoja itu berjalan berlawanan arah dari arah menuju pintu keluar gedung. Ia malah menuju koridor yang ujungnya ada toilet.

Benar juga, Hana tidak mungkin bisa pulang dalam keadaan seperti ini.

Akupun memutuskan untuk menunggu Hana di depan toilet, mengawasi setiap arah yang bisa saja menjadi sumber datangnya bahaya untuk Hana. Sementara itu, aku terus berpikir dengan setiap petunjuk yang bisa saja mampir di otakku dengan adanya kejadian barusan. Tapi… aku justru di pertemukan pada satu kesimpulan besar dan membuatku cemas, bahkan panik.

Ada yang mengincar nyawa Hana. Entah apa tujuannya, berpatok dari tindakan yang dilakukan pelaku itu pada Hana yang tidak segan-segan bahkan bisa saja membahayakan nyawanya, yah… ini tindakan peneror. Tapi????????? Apa motifnya?

Aku terus berpikir keras sampai lupa bahwa Hana sudah menghabiskan waktu berjam-jam di dalam toilet yeoja ini. suara gemericik air dari dalam membuatku yakin Hana masih beraktivitas, tapi lama kelamaan, aku jadi khawatir juga. Terlebih hari sudah mulai menjelang malam, kuliah terakhir saja berakhir pukul 5, dan jarum arlojiku sudah menunjukkan pukul 7 lewat.

Aku nekat mengetuk pintu toilet, memastikan yeoja ini masih merespon, menandakan dia baik-baik saja di dalam. Aku sedikit tersentak saat ada balasan ketukan dari dalam.

Aku mendekatkan telinga di sisi pintu “Ha… Hana-shii, gwenchanayo?”tanyaku takut-takut. Ada selang beberapa detik sampai terdengar ada sahutan.

“bisakah… aku meminjam jacketmu?”

Itu suara Hana, suara yang bahkan lebih lembut dari apapun. Aku jelas tidak menyangka dia akan menyahutku “ten… tentu saja. Bukalah pintunya, aku akan memberikannya untukmu”

“Andwae… aku sedang… aku sedang tidak mengenakan pakaian atasku”

Aku membelalak. Seketika wajahku panas, dan detik itu juga aku langsung mengusir semua pikiran macam-macam tentang bagaimana kondisi Hana di dalam. “ba… baiklah, kau tidak perlu membuka lebar pintunya, cukup untuk membuat celah agar jacketku bisa kau raih” aku menanggalkan jacketku dan bersiap menyerahkannya kalau pintu itu terbuka.

CKLIK…

Kulihat kenop pintu terputar, dan pintu mulai terbuka sedikit demi sedikit. Aku menelan kegugupanku saat sebuah tangan dengan kulit yang sangat putih dan mulus terjulur keluar. Dengan cepat keletakkan jacketku di tangannya, dan ia segera maraihnya sebelum ia kembali menutup pintu.

Aku segera mengatur nafas yang memburu. Ya Tuhan… suasana tadi, ini adalah interaksi dengan Hana… dan ajaibnya, ini berjalan sangat natural… apakah ini perkembangan? Apakah Hana mulai meresponku?

Tidak juga. Saat Hana keluar dari pintu toilet, masih dengan ekspresi sama, terkejut saat bertatapan denganku, seketika menundukkan wajah dengan cepat, kemudian beranjak meninggalkanku juga dengan langkah cepat. Kurasa dia memang tidak punya alternatif lain saat ia meminjam jacketku untuk menutupi tubuhnya. Karena memang tadi kulihat sweaternya yang penuh darah sudah tak tertolong.

Lagi-lagi aku hanya bisa menatap punggungnya menjauh, dan mengikutinya dari belakang. Tiba-tiba ponselku berdering. Dari Su Ho. Ah benar juga, bukankah tadi dia mengejar sosok misterius yang kemungkinan besar adalah peneror itu?

“yeoboseyo…”sapaku cepat

“Kyung Soo-ya, maaf, aku kehilangan jejaknya. Tadi aku sudah berhasil mengejar mobilnya, tapi setengah jam yang lalu mobil itu menghilang saat aku terjebak lampu merah”

“apa tidak ada petunjuk siapa pemilik mobil itu?”

“opsso… aku baru saja mencari tahu di kantor polisi. Plat nomornya tidak terdaftar, Kyung Soo-ya… pelaku ini bukan amatiran. Kurasa dia penjahat profesional”

“lalu bagaimana sekarang?”

“yah, selama Hana tidak berkeliaran di luar, kurasa dia akan aman. Bagaimana? Apa sudah kau pastikan yeoja itu pulang ke rumahnya?”

Aku tertegun. Menelan ludah, dan mulai merasakan kekhawatiran berlebih. “Su Ho-ya… ka… kami… masih di kampus”

Bisa kudengar suara decitan kuat dari seberang, Su Ho pasti terkejut sampai tiba-tiba mengerem mobilnya mendadak “APA KAU GILA? Apa yang kau lakukan di kampus?”

“Hana membersihkan tubuhnya di toilet tadi, dan itu memakan waktu berjam-jam. Dan terakhir kuketahui alasannya adalah, karena dia melepas pakaian atasnya. Kurasa dia berpikir jutaan kali sampai akhirnya memutuskan untuk meminjam jacketku”

“baiklah, nanti saja ceritanya. Kau harus segera membawa Hana pulang, karena bisa jadi pelaku itu kembali ke sana” Su Ho terdiam sejenak “Oh Tuhan…”

Aku jelas kaget “a.. ada apa, Su Ho-ya gwenchana???”

“bukan aku….  Kyung Soo-ya, untuk pertama kalinya aku berharap tebakanku salah. Yang tadi itu bukan tindakan teror yang sebenarnya, kurasa itu hanya umpan agar tidak ada yang mengawasi Hana. Peneror ini yang entah siapa sepertinya sudah tahu bahwa sehari-harinya kau membuntuti Hana untuk memastikan keselamatannya, dan tadi itu sebenarnya adalah tindakan yang dia lakukan agar kau meninggalkan Hana. Berhubung prediksinya salah, bahwa ada orang lain yang menemanimu, yaitu aku… aduh bagaimana aku menjelaskannya. Cepatlah keluar dari tempat itu. Nanti akan kujelaskan”

Aku gelagapan, juga panik “arasso… arasso” segera kumatikan ponselku dan mempercepat langkahku menyusul Hana yang sudah agak jauh di depan.

Hana sudah sampai di depan pintu utama gedung. Dan ada yang tertangkap oleh mataku.

Sejak Tahun pertama sampai sekarang di tahun ketigaku kuliah di fakultas ini, aku belum pernah melihat ada pot sebesar itu terpajang di atas pintu uTama gedung, dan kurasa memang bukan pajangan. Tapi…

Ya Tuhan….

….

….

“LEE HANA………. AWASSSSSSSSS” pekikku mendarah daging saat melihat pot itu sudah bergeser dari tempatnya saat Hana menarik handle pintu utama. Sialnya, seruanku justru membuat langkah Hana terhenti di sana dan menoleh padaku. Pot itu sudah bersiap menghantap ubun-ubun Hana.

Aku bahkan tidak menyadari bahwa diriku menerjang, seolah melayang ke arah Hana, menyambar tubuhnya dan melindunginya di dalam rengkuhanku.

PRAAAAAKKKKK….

Ada selang beberapa detik aku dan Hana masih seperti itu. Hening, kurasa Hana masih terkejut dengan kejadian yang hampir menimpanya. Perlahan kuulur pelukanku.

“gwenchanayo?” tanya pelan…

Hana mendongak, dan bisa kulihat wajah polosnya persis di hadapanku, begitu dekat dan…

“Kyung Soo-shii…. apa yang kau lakukan…”rintihnya. kulihat dia terkejut dan matanya mulai berair.

“mi… mianhae, aku tidak bermaksud menyentuhmu” aku bergerak mundur, berusaha menjauh agar Hana tidak merasa takut padaku. Tapi sesuatu terasa sangat jelas di kepalaku. Meleleh di kening, dan terus menderas hingga membasahi pelipis dan pipiku.

Hana bergerak mendekatiku dengan tangan bergetar menyentuh pipiku“Kyung Soo-shii… neomu… ppaboya!”

“lee Hana?”

Hana menangis histeris “WAE… WAE… kenapa kau melakukan semua ini untukku? WAE????”

Aku tidak mengerti. Tapi… pandanganku mulai kabur, dan lagi… kepalaku… sangat…. sakit.

Hana terus menangis, masih dengan tangan bergetar mengusap sekitaran kening dan pelipisku. Terakhir kusadari sesuatu memang terjadi padaku, tangan Hana penuh darah, dan kurasa itu memang berasal dariku.

Pandanganku semakin gelap, aku bahkan mulai tidak merasakan beberapa panca inderaku bekerja.

“Hana-shii…” lirihku berusaha sebisa mungkin.

Hana terus menangis, entah dengan alasan apa.

“aku senang… kau tidak terluka…” dan semuanya pun berubah sangat gelap gilita, aku tidak bisa melihat dan mendengar apa-apa lagi, dan terakhir…. Aku tidak merasakan apa-apa lagi. Hening…

To Be Continued

38 thoughts on “[FF] ANOTHER CHANCE [PART 2]

  1. Hi, aku new reader ^^ dan ingin meninggalkan sedikit jejak xD

    Woah.. Woah.. Woah..
    Thor! Ini benerbener DAEBAK!!
    Lanjut ya🙂 sumpah penasaran bgt sm kelanjutannya🙂

  2. huaaa…. Apa yg terjadi sma D.O oppa, minthor eonni???

    Oppa ga bleh meninggal… Andwae….😥

    penasaran tingkat dewa ini eonni…

  3. kyungsoo bnar2 namja yg baik,,sampai mau ngegantii si hana kerja pdahal bukan cewenyaa,,Kerennn
    sampai mau tertimpa pot sgala,,untung gak tertimpa tangga pula…

  4. Part 2 makin makin bkin penasaran.. !!
    – so sweet bgt khung soo (˘˘∫ƪ) sampe d gantiin smua tugas hana… Tpi ksian kyung soo jdi korban malah buat jaga hana sampe gtu kena pot.😦
    – baik’y pacarku su ho, kau memang teladan ya.. Sahabat yg bnr2 bsa ngerti situasi :*
    – terorrrrr nya Щ(º̩̩́Дº̩̩̀щ) adeuhhhh knpa sampe darah? Knpa hrus hana? Apa salah hana? Kenapa kenapa (oke aga lebay ini)😀 tapi ini memang bkin penasaran.. Siapa yg neror? Apa motif’y?

    Part 2 (y) aku next part 3 ya thor🙂

  5. hikkkkkksss ampe D.O rela gantiin hana buat kerja sangking hana trauma dicium D.O …
    Gila trauma kenapa sih si Hana ALF ?
    itu jahat bgt sih temen2nya Hana masa ngatain Hana Lesbian + Pelacur gitu yah.

    Damn bgt ihhh ampe dtimpukin batu apa banget deh terakhir disirem darah masyaolloooohhhh…

    Gila Gila Gila pake ada another D.O admirer lagi si Min Yeong haiss complicated bgt hiudp D.O

    huggggghhh makin penasaran ama trauma nya Hana…

    aduh D.O ku ketiban pot masa O_O

  6. ARGHHHH……
    Lee hana knp sih?
    Sapa yg neror dia?!
    Motifnya apa??
    Aku galauuuu #lho?!

    Udh aku bilang kalo suho calon suami yng baiikk… hahaha….
    Love you bang… setia kawan bgt yaah ama dio… heuummmm.. makin syg.. #plakk!

    Oh, ya.. adegan pas hana sblm masuk rumah sakit itu aku sdikit gak ngerti..
    Gimana yahh, maksud aku, bagusnya diceritain lebih detail gitu..
    Tapi setelah aku pikir2 entar kesanya gak misterius lagi..
    Hehhee…

    Trs itu yg terakhir, d.o yg kena pot bunga nya yahh?? Tiba2 ingat adegan dream high.. pas so hyun coba ngelindungin suzy #abaikan!

    Ok thor,., aku langsung ke part 3 yaahh.. udh penasaran akuut..
    Akutt.. seakut akutny…

    Pyeong~

  7. haduuh makin geregetan aja nih sma si hana >< tp maklum jg sih. kayaknya dia punya trauma masa lalu yg kelam deh. liat aja reaksinya berlebihan bgt -_-
    dan kalo smp si hana ini ttp memperlakuin kyungsoo kyk sbelumnya pdhal udh dislametin dr pot jahanam itu, mnding jana di ganti aku aja deh. hehehe *modus :b
    oke deh mau lnjut baca ;D

  8. “andai saja kau itu yeoja. Aku lebih baik memacarimu
    saja dari pada dipusingkan oleh Hana, ditambah Min
    Young” uwaa kalo benerean lah aku sma sapa dong?! mihihi

    sumpah si hana itu. WAE???!!! aduh gatel lama2 nih thor. bang d.o tuh melaas buangett~~ mencintainya dalam diam. hiks ㅠㅠ

    aaaa…. suho ya~ melting gue… bayangin suho pas nasehatin si d.o ada light effect from back.. hihihi

    semangat baca selanjutnya ^^

  9. kereeeennn bgt thorrr…
    aaa… aku selalu awesome bgt sama karya ff mu thoorrr..
    neomu choaa..daebakkk … ^^ seneng bgt waktu kyung soo nolongin hana
    so sweet bgt TT..TT tapi kyungsoo nya kena pott nya TT…TT
    oh iya romantis bgt thorr waktu kyung soo nolongin hana ngasihin jacket nya TT..TT
    gag bisa berkata” lagi pokoknya daebakk ^^

  10. Semakin suka sama dua karakter namja disini.. sifatnya si D.O yang tulus banget nolongin Hana sama Suho yang setia banget sama D.O selalu ngasih dukungan dan advise.. kombinasi yang pas deeh.. daebak deh pokoknya thor😀

  11. Tanda tanya besar sma Suho.
    Kenapa dia baik banget sma Kyungsoo?dan knapa kek ada maksud gtuh ya sma Hana?.
    Thor,ide nimu drima ntu?.
    Bsa yah bkin ff kayak gtu,jarang bnget yg bkin ff temanya kayak author ALF.
    Bnyakan tragis nya gtu.ngga pasaran ide ceritanya itu.keren lah,,,kyungsoo,smoga tuhan memberikan kelancaran untuk smua usahamu.hoho

  12. Alf, maap ye, ane baru bisa baca skrg.. Tiba” kmren pulsa.a abis -,-

    aaa!! Cerita putri duyung ama buih itu, jdi tringat MGIG! Sama” ad putri duyung.a..😀 mencintai dalam diam T.T

    eh ksian bgt Hana eonni diteror begitu!😮 udaa dibuat pingsan di atap gedung, eh disiram make darah lagi! -_______- ksian eonni *peyuk hana eonni*

    minyeong, kaya.a niat bgt ama d.o? Ck! Udahlaah sana aje lu ke laut sono! Ngapain dket” ama d.o oppa! D.o itu cuma punya kai! *plakk* mksudnya cuma punya hana.. -,-

    waaa! Pot! Pot! Itu kaya dreamhigh!! Kyaaaaaa!! #sarap, dibekep make kaos kaki tao#
    ayo slamatkan d.o! Slamatkan d.o oppaaaaaaaa~😀

    ja, teleport ke part slanjutnya! :p

  13. suho jadi tokoh temen yang super setia kawan ya :’)) tapi saya agak curiga,, kok dia bisa tau banyak hal tentang hana ya ???? terus2, di part ini muncul cewek nyebelin -“- kasian kyungso,, udah bingung sama sikapnya hana, masih aja ditambah sama ini cewek ganjen. sabar -“-
    dan siapa ya si peneror di akhir cerita ?? penasaran -“- *lari ke chapter selanjutnya*

  14. Author hey saya new reader🙂 . Wah wah bikin penasaran bgt sumpah. Kira-kira siapa ya yg neror hana sampe segitunya.

  15. aigooooo mencintai dalam diam, jd keinget sm time capsule. huaaaa *mewek inget nasib baekki*
    suho nya disini jadi orang penting yaa, kasian juga sih dia setelah jarang dpt peran akhirnya disini ada juga namanya.hahahahaa
    minyoung, entah kenapa aku mikirnya peneror nya itu minyoung yg sakit hati gara2 uco lbh milih ttp suka sm hana drpd milih dia yg notabene adalah most wanted girl di jurusannya, aigoo kyungsoo, pesona mu dek, sampe minyoung aja terpana sm kamu, ucooo, hahahahaaa
    lanjutin perjuangan mu uco, tuhan itu adil, suatu saat hana pasti bakalan sadar kok, percaya deh sama aku *abaikan*

    author jjang😀

  16. part 2.
    ahh kalo ga ada suho, mungkin kyungsoo udah uringuringan sendiri. haha
    aku shock waktu hana disirem pake darah itu yaampun apa rasanya. T.T dan terakhir itu di atas atap….yaampun hana kau malang sekali.
    akh kyungsoo pingsan. siapa yang berani berbuat setega itu ya allah~ konflik baru naik nih penasaran sama part selanjutnya. hihi capcus baca~

  17. Eoni aq semakin penasaran ama nich cerita.. Siapa hana sebenernya? Aq pngen tau latar belakangnya? Knp dy bs menutup dri seperti itu? Sumpah eon aq penasaran..

    Hwaa sudo moment.,aq ngakak wkt do membyangkan low suho yeoja..haha! Aq mendukung.. Yaoi q kumat lg eon..hehe

    hwaa kyungso kau knp? Apa kepalamu terkena pot.. Sbegitu gdenya cintamu sama hana..smpek2 membhyakan nyawamu.. Tp bukankah ini lngkah awal hub qm dgn hama.. Kyungso fighting

  18. Alf makin ke sini makinnnnnn asdfghjkl alf bener benerrr yah ceritanya …

    Aku gabisa koment lagi gatau mau koment apaan bingung FF nya terlalu bener bener gatauuuuu mau ngoment apaa…

    Tapi yang bener bener aku suka di sini emang karakternya kyung soo di sini bener bener asdfghjkl……..

    Sebenernya aku masih pengen ngoment tapi gatau harus ngoment apaaaaaa…….. FF nya terlalu bagussssss zzzzzzZZZZ

    Prediksiku aja (mulai dah gua sotoy) itu yang neror hana Minyoung kah????? Atau emang bener prediksi kyungsoo kalo suho suka sama minyoung bbbzzzZZZ gatau dahhhh FF nya alf gabisa di tebakkkk….

  19. huwaaaaaa kyungsoo~~~~~~….
    aduh aduh gmn ya ngomongnya.. feel’y dpt bgt..
    pas kyungsoo nolak minyoung itu dia keliatan dewasa bgt, ga kaya byasanya yg suka ga ngontrol emosi… kyungsoo emang kudu berterima kasih banyaaakkk sama suho, bnr” malaikat km junmyun huhuhuh
    jgn” yg neror iyu minyoung, tp aku ga bgt yakin dia sih, kali ada ada orng baru yg blm di jelasin disni, ga mau tebak” buah manggis dulu…
    oke cus~~~ ke part3 ^^

  20. wahh benar” mlaikat pelindung.. tp kasihan kyung soo ;(
    pa abis ni hana bakal luluh? pa pengorbanan kyung soo akan merubah semua? smoga ja abis ni kyung soo akan bhgia..
    hana buka htimu buat kyung soo ya? dia tlus banget syang ke kamu.. tp kok su ho jg pduli bgt ke hana ya? pa bnr cm pgen bntuin d.o tnp mksud lain?
    penasaran,lnjut deh😀

  21. Sumpah min, ceritanya bikin terus penasaran. Bikin penasarannya tuh stabil(?). Nggak kayak tanjakan gitu. Aku selalu penasaran sama cerita selanjutnua, selanjutnya, dan selanjutnya. Daebak pokoknya. Hahaha. Kyung soo emang pujangga cinta yang merana(?). Tapi suho sangat membantu disini, jadi makin sayang sama suho kekeke~
    Endingnya… Apa ini? *gebrak meja* kyung soo kejatuhan pot? *telen lepi*

  22. ada gitu ya yang tega nyirem hana pake darah hewan ish jijik
    D.O gimana tuh? kepalanya gak pecah abis ketiban pot? (?)
    semoga D.O gak kenapa” deh

  23. Aku curiga deh sama minyoung..
    Kayanya emang dia dalang dari smua teror nya si hana..
    Suer deh kalo emang betul pengen banget rasanya aku cekek tuh si minyoung sampe mati..
    Sumpeh loh thor,miris banget kehidupannya si hana, untung aja d.o tulus banget sama si hana, sampai2 rela ketimpuk pot bunga demi nyelametin hana?
    Oiya d.o gak mati kan thor..gak mungkin lah ya kaaan?
    Kalo pemain utamanya mati gimana sama ceritanya coba? Kan jadi aneh,, haha eh itu si hana tadi pegang pipinya d.o…aaaawww so sweeeet…
    Penasaran ni sama next partnya,,
    apalagi aku makin suka aja sama sifatnya suho kalo dia lagi ngegodain d.o, suer thor,gak bisa berhenti ktawa aku.. Haha

  24. aqr readers baru…^^

    waahhh….tambah seru aja neh…
    hmmm….kira2 siapa ya??
    min young kah??krn patah hati jd bls ngerjain hana??

    mau lanjut ke part berikutx ah…dr pd mati penasaran….^^”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s