[FF] WIFE FOR MY DAD [PART 1 of 2]


Tittle: Wife For My Dad

Author: AyouLeonForever

Cover pic/Poster by: BelKyuHae (Bellaelfitiara)

Genre: Family life, romance, friendship

Rating: PG15

length: 2shot

Cast: Song Hae Won

Zhang Yi Xing/Lay

Wu Yi Fan/ Kris /Daddy

Lee Eun Yoo/ Angela

Other cast: find it by your self.

Disclaimer: All off the cast(s) belong to his/her self, parents, agency, and GOD

Copyright: The story and OC belong to me!No Copy paste without permissions!

warning: Typo(s) every where.

Story begin

Hae Won POV

“daddy… sepatuku mana???” seruku panik. Ini hari pertama pembukaan tahun akademik baru, dan aku baru saja terhitung sebagai Mahasiswi baru di universitas ternama di Korea.

“chakkaman… daddy juga tidak melihat dasi biru daddy, padahal nanti ada rapat” daddy juga kelimpungan.

Sebulan yang lalu kami pindah ke Korea, berhubung aku sangat merindukan tempat asalku, dan aku ingin melanjutkan pendidikanku di Korea. Kebetulan sekali, daddy juga dipercayakan memegang kendali cabang perusahaan di Korea. Nae.. ini kesempatan yang sangat besar.

Kata daddy, eommaku sudah meninggal sejak aku lahir. Dan sejak itupula daddy menjadi seorang single parent untukku. Tapi daddy adalah ayah terhebat sepanjang sejarah karena berhasil membesarkanku sampai sekarang tanpa bantuan seorang istri. Nae.. daddy bilang, selama dia masih bisa membesarkanku sendiri, dia tidak membutuhkan pendamping, padahal daddy itu masih sangat muda dan tampan.

Tapi, aku tahu alasan sebenarnya. Daddy tidak bisa melupakan eomma, yang kalau saja beliau masih hidup, mungkin akan kupanggil dia mommy, berhubung kami tinggal di Canada sebelum pindah ke Korea.

Aku membuka lemari daddy dan mencari dasi biru yang ia maksud. Untung saja aku menemukannya di bawah tumpukan buku (yang entah kenapa daddy menaruhnya di dalam lemari).

“ini dasinya, sekarang daddy bantu aku cari sepatuku”aku menyerahkan dasi itu pada Daddy

Daddy tampak senang dan segera memasang dasinya “kau menaruhnya di mana kemarin?”

“di rak sepatu, tapi bukankah Daddy membereskannya kemarin sore? Lalu Daddy letakkan di mana sepatuku?”

Daddy kembali pusing, “ah Daddy ingat, coba lihat di halaman belakang. Daddy sudah mencucuinya kemarin”

Aku berdecak “arayo…” aku berlari dengan tergesa-gesa. Bayangkan saja, aku masih terhitung sebagai Mahasiswi baru, dan kalau hari pertama kuliah perdana saja aku terlambat, maka cap buruk akan menempel padaku.

Aku segera mengenakan sepatuku yang bersih dan mengkilap itu. Daddy… really jjang.

“kalau kuliahmu selesai, telepon Daddy, okay honey?”ucap Daddy saat ia mengantarku sampai ke gerbang kampus

“nae Dad… saranghae” aku turun dari mobil dan berlari sekencang mungkin menuju kelas pertamaku. Kelas Bahasa Inggris. “aduuh…” keluhku tertahan saat ada yang menabarakku hingga jatuh ke tanah.

“Ah mianhaeyo, gwenchanayo?”seorang namja membantuku berdiri, namja yang sama dengan yang menabrakku tadi

“nae… gwenchana, tapi aku buru-buru, annyeong” aku segera berlari meninggalkan namja itu. Kelas pertamaku….

“Chakkaman…”

Masih kudengar dia memanggilku, ah nanti saja. Aku buru-buru.

“annyeonghasimnika” sapaku takut-takut di depan kelas

Seorang dosen yeoja dengan kacamata bingkai kotak kecil menoleh “kau ikut kelas ini?”

“n…nae sonseng-nim. Mainhamnida, saya terlambat” jawabku takut-takut. Dosen ini sepertinya galak.

Dosen itu mendekat, suara hak sepatunya membuatku gemetar. Ini sungguh mankutkan, dikeluarkan dari kelas tepat di hari pertama kuliah… astaga… apakah ada sejarah yang lebih buruk dari itu?

“kau terjatuh di mana?” dosen itu meraih lenganku.

Aku bahkan baru sadar kalau lenganku tergores dan berdarah “ah itu, di depan… dekat gerbang”

Dosen itu menghela nafas. Ia mengeluarkan sapu tangannya dan menyerahkannya padaku “bersihkan lukamu dulu, setelah kelas ini bubar, pergilah ke ruang kesehatan untuk mengobati lukamu”

Aku mengerjapkan mata dan menatap heran pada sapu tangan unik itu. Ada bordiran huruf latin di sudutnya. FY, dan aku tidak punya cukup banyak waktu untuk menebak apa makna FY itu “Nae?”

“duduklah, kelas akan di mulai”

“nae sonseng-nim. Kamsahamnida” aku segera menuju ke bangku kosong yang tersedia. Tepatnya persisi di depan meja dosen.  Ternyata rumor yang mengatakan bahwa Mahasiswa sangat takut duduk berhadapan dengan dosen itu benar. Terbukti deretan bangku depan meja dosen itu kosong, dan aku yang mengisinya.

“okay everyone… let’s start our first lesson… but, before that, I’ll introduce my self to you guys”tutur dosen itu santai.

Wah… aku kira pelajaran bahasa Inggris di sini akan kaku, tapi justru sebaliknya. Aksen yang ia gunakan justru aksen sehari-hari, sangat santai. Ternyata tidak semua orang yang casing luarnya dingin itu galak, terbukti dosen yang berdiri di depanku ini. Walau senyumnya sangat mahal, tapi… dia sangat santai.

“My name is Lee Eun Yoo… but since I’m your English teacher, you can call me Angela. That’s my English name. Any question?” perkenalan yang sangat singkat. Dan itu menimbulkan banyak pertanyaan tentu saja.

“Mam (read:Mem) … excuse me, but… can I know your age?”tanya seorang mahasiswa yang duduk 3 bangku dari kiriku.

Dosen itu (yang mulai sekarang akan kupanggil dia Mam [read:Mem] Angela) mengangguk dengan senyum yang saaaaaaaaaangat tipis, bahkan hanya berbentuk sebuah garis, bukan lengkungan senyum yang sering kulihat di bibir orang “no problem. I’m 35 years old” ucapnya lantang tanpa malu sedikitpun.,

“wow… kukira anda baru 25 tahun” seru namja itu tidak sopan.

“any else?”mam Angela tidak menggubris.

“jadi… Mam, did you already married?”

Mam Angela mengangguk “Yes, I did”

Ah… sayang sekali. Padahal…. aduh apa yang kupikirkan. Tentu saja dia sudah berkeluarga, mana mungkin seorang yeoja matang sepertinya belum menikah. Lupakanlah.

Pelajaran pun berlangsung. Cara mengajar Mam Angela sangat santai, tapi mudah di tangkap. Aku sungguh mengaguminya. Beruntunglah anak yang memiliki ibu seperti dia.

Benar juga, seperti apa ibu kandungku? Aku hanya mendengar dari Daddy kalau ibuku adalah seorang yeoja yang cantik, manis, penyayang, dan lembut. Tapi aku tidak pernah melihat wajahnya satu kalipun. Maksudku tentu saja karena dia sudah meninggal sebelum aku fasih melihat. Yang sebenarnya maksud dari ucapanku adalah… Daddy tidak pernah memperlihatkan foto ibu padaku. Ia bilang, karena keadaan Daddy saat ibu meninggal sangat terpukul, ia menyingkirkan semua foto-foo atau apapun yang berhubungan dengan ibuku. Yah aku paham, Daddy pasti akan sangat terpuruk begitu ia mengingat ibuku.

“I think that’s all for today, hanks for your attention, and… see you next time”

“Thanks Mam…”

Aku menatap lekat mam Angela saat ia meninggalkan kelas. Begitu anggun dan… mengagumkan. Ah hampir lupa. Aku harus ke ruang kesehatan seperti yang dia instruksikan.

Aku menatap ke sekeliling ruangan yang serba putih itu, tapi tidak ada orang. Kemana dokternya? “Annyeonghaseyo, ada orang?” seruku pelan. Kenapa tidak ada yang berjaga?

Terpaksa aku sendiri yang bertindak. Mengeluarkan kotak P3K dari dalam lemari dan mengobati lukaku. Daddy pasti marah melihat ini.

Aku tersenak kaget begitu tirai di branker sebelahku terbuka tiba-tiba. Dan sosok seorang namja muncul dari situ dengan wajah kusut.

“mian,.. apa aku membangunkanmu?”tanyaku merasa tidak enak

“ah gwenchana. Tadi itu aku hanya menumpang untuk tidur, pinggangku sakit sekali setelah mengikuti kelas pertama”jawabnya lancar “hey… kau yang kutabrak di depan gerbang tadi kan?”

Aku mengerutkan kening. Mungkin saja, karena aku tidak begitu fokus tadi.

“kau terluka karena tabrakan itu? Ah maaf sekali” namja itu menghampiriku “sini kubantu”

“eh tidak perlu, aku bisa sendiri”

“bisa sendiri apanya, kau melewatkan bagian belakang lenganmu yang terluka, ini bisa infeksi” namja itu langsung menggenggam tanganku, dan mengolesi obat di sekitar lukaku.

“ng… apa ini tidak berlebihan? Ini hanya luka gores, kenapa harus dibalut perban?”

“agar tidak infeksi”

Aku takjub, namja ini lihai sekali membalut luka, sangat rapih. “wah, kesannya aku terluka parah dengan balutan ini” aku memperhatikan lilitan perban di sepanjang lenganku.

Namja itu tertawa “jangan sampai perbannya basah, itu juga bisa mengundang infeksi”

Dari tadi dia membahas infeksi terus. Sepertinya dia tau banyak.

“oh iya, siapa namamu?”

“jheo? Song Hae Won imnida”

“aaa… Hae Won-shii, nama yang indah. Aku Zhang Yi Xing. Tapi di sini aku lebih dikenal dengan nama Lay”

“chakkaman, Yi Xing? Chinese?”

Namja yang bernama Lay itu mengangguk “tapi sudah 4 tahun aku di Korea”

Hum.. pantas saja aksennya cukup berbeda.

“oh ya Hae Won-shii, kau mahasiswa tingkat pertama kan? Aku baru melihatmu di kampus ini”

“nae… aku mengambil jurusan bahasa Asing. Kau sendiri?”

“ah, aku sudah tingkat 3. Jurusan Art and performing”

Aku membelalak, ya tuhan, dia seniorku “Ah mianhamnida, sunbae-nim”

“tidak perlu sungkan, aku orangnya easy going”

“ah nae… oppa”

Lay tersenyum, sangat manis, dan aku baru menyadari ada lesung pipit di pipi kanannya. “begitu lebih baik”

Untuk sekejap, aku merasakan ada debaran aneh yang menghampiriku. Daddy pernah membahas ini denganku. Ciri-ciri yang kurasakan ini sama dengan penjabaran Daddy tentang jatuh cinta pada pandangan pertama, seperti yang Daddy rasakan pertama kali saat bertemu eommaku.

“oh ya Hae Won-shii, maksudku, Hae Won-ah, kau tidak ada kelas setelah ini?”tanya Lay oppa membuyarkan lamunanku.

“ada, tapi satu jam lagi”jawabku

“keberatan untuk menemaniku ke kantin? Tadi itu aku terbangun karena lapar”

“eh…”

“ayo…” Lay oppa menarik tanganku meninggalkan ruangan itu. Siapa yang menyangka, aku mendapatkan teman pertamaku di kampus ini, anehnya bukan teman satu angkatan, tapi malah seniorku, dan beda jurusan pula. Aneh bukan?

“wah… jadi kau pindahan dari Canada? Keren sekali” respon Lay oppa saat aku menceritakan asal usulku.

“tidak sekeren itu oppa”

“budaya di sana kan bebas sekali, dan kau masih tetap dengan budaya timurmu. Itu yang kumaksud dengan keren”

Wah, namja ini… ternyata sangat baik. “ah gomawoyo”

Lay oppa menyeruput milk tea shake nya “untuk seorang yeoja yang dibesarkan hanya oleh tangan namja, kau cukup feminin. Ah.. aku idak bermaksud buruk. Um… menurut pengamatanku, yeoja yang dibesarkan sendiri oleh ayahnya, akan mempunyai sifat yang mirip dengan ayahnya tersebut, seperti tomboy dan sebagainya, tapi kau tidak”

“entahlah… tapi terkadang aku suka permainan laki-laki. Kalau bukan karena Daddy yang melarangku, mungkin aku akan tumbuh sebagai anak yang tomboy”

“Daddy?”

“ah.. maksudku, appaku, aboji”

“oh… iya, aku lupa, kau dari Canada”

“bukan begitu, aku sudah terbiasa memanggilnya begitu sejak kecil”

“bukan masalah besar, itu keren”

“gomawoyo”

“ohiya, bulan depan jurusanku mengadakan pertunjukan, aku ingin kau ikut menontonnya. Aku akan tampil dengan groupku”

“kau punya group?”

“nae… group yang terbentuk dari dancer terbaik di kelasku”

Aku takjub, tidak heran, postur tubuhnya cukup bagus, walau tidak setinggi Daddy, tapi menurutku sudah proporsional. Stylenya juga keren, keren “aku ingin menontonnya. Kalau boleh”

“kenapa tidak boleh? Ini pertunjukan tahunan anak-anak seni”

“wah… sepertinya aku salah jurusan, jauh-jauh dari Kanada, aku malah memilih jurusan Bahasa asing.”

Lay oppa tertawa, sangat menduhkan “kau manis sekali. Lucu”

“mwo?”

“ani.. ani. Kapan-kapan aku akan mengajakmu ke ruang latihanku”

“ah tidak usah, apa tanggapan rekan-rekanmu nanti mendapat tamu asing seperti ku”

“itu mudah… tenang saja. Rekan-rekanku tidak ambil pusing tentang itu”

Aku mengangguk “nae”

Hari-hari di kampus terasa sangat menyenangkan. Terlebih ada Lay oppa. Ya tuhan… apa yang kukerjakan selama aku berada di SMU? Maksudku… usiaku sudah 18 tahun dan aku baru mengalami jatuh cinta? Kalau ada yang tahu tentang hal ini, mereka pasti menertawaiku.

Yah… aku jatuh cinta. Pada Lay oppa…

Api bukan hanya itu yang membuat hari-hariku di kampus begitu menyenangkan. Entah kenapa, aku sangat suka dan sangat rajin memasuki kelas bahasa Inggris. Bukan karena mata Kuliah itu, tapi karena dosen yang membawakannya.

Semakin hari, aku semakin mengagumi sosok mam Angela, pribadinya hangat dan… menambah kadar iriku pada orang yang mempunyai ibu sepertinya.

Dan untuk perama kalinya aku bersyukur karena cukup lama tinggal di Canada. Maksudku… bangganya menjadi Mahasiswi yang diperhatikan oleh Mam Angela. Untuk kuis pertama saja, aku mendapatkan nilai sempurna, dan itu membuat perharian mam Angela tertuju padaku.

“tidak heran bahasa Inggrismu cukup lancar, ternyata kau dari Canada” kata Mam Angela begitu aku membantunya memberskan kertas-kertas hasil kuis yang bertebaran di mejanya.

“tidak selancar itu Mam, kadang aku juga cukup kesulitan”

“kenapa kau berkata begitu, aku adalah dosen mu, dan aku tahu perkembanganmu, dosen-dosen lain juga mengatakan hal yang sama. Orang tuamu pasti bangga memiliki anak sepertimu”

Aku tersenyum. Aku juga berpikir hal yang sama terhadapnya, anak dari mam Angela pasti bangga memiliki ibu sepertinya. Tapi aku penasaran, maksudku, usianya lebih muda setahun dari Daddy, apa mungkin anaknya juga seusiaku? “um… Mam Angela, boleh aku menanyakan sesuatu?”

“tentu saja boleh Hae Won-ah, aku cukup banyak bertanya padamu dan kau menjawabnya”

Aku tertawa, walau tidak menunjukkannya dengan ekspresi, ternyata selera humor Mam Angela cukup lumayan juga “ini bukan sejenis pertanyaan dosen pada mahasiswanya, Mam”

“hum… dan kau cukup cerdas untuk membaca maksudku, baiklah.. apa pertanyaanmu?”

Aku agak ragu, tapi aku sangat penasaran “apakah… anak Mam Angela seusia denganku? Yeoja atau namja?”

Mam Angela cukup tersentak. Terbukti ia terbatuk tanpa sebab.

“ah mianhamnida.. apa aku salah?”

“aniyo… bukan begitu. Aku hanya kaget”

“waeyo?”

Mam Angela menatapku “sepertinya kau sangat penasaran terhadapku”

Strike! “mianhamnida”

“gwenchana… bukan masalah besar”

“um… mengenai pertanyaanku…”

Mam Angela menghela nafas “berapa usiamu?”

“18 tahun”

Mam Angela memejamkan mata sejanak. Hanya perasaanku saja atau wajah mam Angela berubah suram “dia mungkin seusia denganmu sekarang”

“mianhamnida. Kenapa ada kata mungkin? Kalian tidak tinggal serumah?”

“lebih rumit dari itu Hae Won-ah…” mata mam Angela berkaca-kaca.

“cwesonghamnida, sepertinya aku sudah menyinggung masalah yang cukup pribadi” aku menggenggam tangan mam Angela

“tidak apa-apa Hae Won-ah, mungkin ini teguran kalau aku tidak boleh melupakan masa laluku”

“Mam Angela…”

Mam Angela menatapku “aku kehilangan anakku saat dia lahir…”

Aku terkejut “mak… maksudnya?”

Mam Angela menghela nafas berat “dia meninggal” bibirnya bergetar hebat, bisa kulihat dia mati-matian menahan air mata “siapapun tidak akan menyangka bagaimana sakitnya seorang ibu yang kehilangan bayinya bahkan sebelum sempat melihat wajahnya”

“Mam…”

“anakku meninggal begitu ia lahir, dan aku mengalami pendarahan hebat hingga tidak sadarkan diri berhari-hari. Bahkan pemakamannya pun tidak sempat kuhadiri”

“aku turut menyesal…”

“kau tahu Hae Won-ah, kupikir aku akan mengakhiri hidupku saat itu, menantikannya selama 9 bulan… dan setelah ia lahir… Tuhan justru tidak memberikannya kesempatan untuk menghirup udara luar… itu sungguh…” Mam Angela menutup kedua wajahnya. Walau aku bukan seorang ibu, aku paham rasanya kehilangan. Maksudku… memang tidak secara detail, karena aku kehilangan ibuku saat aku belum tahu dan paham apa artinya kata memiliki.

Tanpa kuperintah, aku mengulurkan tanganku dan memeluk mam Angela “aku turut menyesal mendengarnya. Aku rasa… kita berada di posisi yang sama. Aku… aku juga kehilangan ibuku sejak lahir, bahkan sebelum aku sempat merasakan dekapannya”

Mam Angela menurunkan tangannya, ia mendongak dan menatapku “Hae Won-ah”

Aku berusaha tersenyum…

“mianhae…. sepertinya aku mengeluh di tempat yang salah”

“aniyo mam… berbagi beban pada orang yang paham terhadap situasimu, itu cukup melegakan”

Mam Angela memelukku “kau benar… kau benar”

Oh Tuhan… inikah rasanya pelukan seorang ibu? Hangat sekali “kamsahamnida Mam Angela…”

“untuk apa?”

“ternyata rumor itu benar. Tidak ada pelukan yang lebih hangat dari pada pelukan seorang ibu. Walau bukan dari ibu kandungku, kurasa ini sudah lebih dari kata hangat”

“Hae Won-ah…”

“tunggu… kumohon sebentar lagi, jangan dilepas dulu” cegatku begitu Mam Angela ini merenggangkan pelukannya untuk menatapku.

Mam Angela mengeratkan pelukannya. Semoga bel tidak berbunyi setelah ini, karena aku tidak ingin melepaskan pelukan yang sangat langka ini.

“Hae Won-ah…” sapa Lay oppa begitu aku baru saja selesai kuliah jam ke 3

“oppa… ada apa?”sambutku

“kau tidak ada kuliah setelah ini?”

“dosennya tidak hadir, kenapa?”

Lay oppa tersenyum. Manis sekali “waktunya sangat tepat. Ikut denganku” Lay oppa menarik tanganku menuju gedung Fakultas seni, yah cukup jauh, dan cukup membuat kakiku letih. Lay oppa pasti sudah terbiasa dengan hal seperti ini, buktinya dia tidak lelah sama sekali.

Lay oppa mengajakku masuk ke sebuah ruangan yang cukup luas, dengan fasilitas menyerupai ruangan latihan dance di sebuah gedung perusahaan management artis. Ruangan yang kedap suara, lantai kokoh dengan dinding yang mengelilingi ada cermin.

Aku cukup kikuk begiu semua mata tertuju padaku. Aduh, kenapa Lay oppa membawaku ke tempat asing ini?

“hya Lay… siapa yang kau bawa itu?” tanya seorang namja berkulit cokelat sehat, dan tinggi. Badannya kekar dan… cukup tampan. Semua orang di sini keren dan tampan.

“oh dia… dia Hae Won”jawab Lay oppa santai.

“dan siapa Hae Won itu bagimu?”tanya namja putih yang di sebelahnya.

Lay oppa tertawa dan merangkulku “perkenalkan… Song Hae Won.” Oppa melirikku sejenak “yeojachinggu ku”

Aku membelalak “mwo?” seruku tanpa suara.

“JINJJA???” seru orang-orang yang ada di situ. Kuhitung, selain aku dan Lay oppa, ada 7 orang lagi di ruangan itu. 3 di antaranya adalah yeoja

“nae…” tegas Lay oppa sambil tersenyum.

“oppa.. apa maksudnya ini?”tanyaku bingung

“husst… nanti kujelaskan”

“ah sial… berarti tinggal aku” namja dengan pipi yang cukup chubby terlihat sangat kesal.

Lay oppa tertawa “ayo latihan. Aku ingin menunjukkan kebolehanku pada yeojachingguku”

“nae…nae… tapi aku ingin berkenalan dengannya dulu” namja berkulit cokelat tadi menghampiriku “Annyeong, Jong In imnida, tapi panggil saja aku kai”

Wah… namja ini keren sekali “bagapseumnida Kai-shii”

“annyeong, Sehun imnida, senang mengenalmu Hae Won-shii, dan selamat datang di group aneh ini”

“bangapseumnida Sehun-shii, gomawoyo”

“annyeong, Luhan imnida…”

“annyeong, Min Seok Imnida, tapi panggil saja aku Xiu Min”

“bangapda Luhan-shii, Xiu Min Shii”

“sudah…sudah, latihan di mulai” Lay oppa menepis tangan Xiumin saat kami masih berjabat tangan.

“hya Lay… jangan posesif begitu”

“tidak… tidak, sekarang waktunya latihan”. Lay oppa menatapku “kau duduklah di sana” Lay oppa menunjuk sebuah bangku panjang di pinggir ruangan, yang sudah di isi 3 yeoja. Biar kutebak, mereka adalah para yeojachinggu namja-namja keren ini.

“nae oppa” jawabku, walau aku masih bingung dengan situasi ini.

“annyeong Hae Won-shii” seorang yeoja cantik berambut panjang langsung menyapaku begitu aku duduk di sebelahnya “aku Sang In, dan keberadaanku di sini karena alasan yang sama mengapa kau di sini. Namjachingguku menyeretku ke sini”

“bangapta Sang in-shii. Lalu di antara mereka, mana namjachinggumu”

“yang berbaju putih. Lu Han”

“oh… kalian sangat cocok” ba;asku. Berarti 2 yeoja di sebelah Sang In itu adalah kekasihnya Kai dan Se Hun, berhubung Xiu Min tadi mengakui kalau hanya dia yang belum punya kekasih.

Sang In tampak tersenyum malu-malu “ohIya, sejak kapan kalian pacaran?”

Lihat, aku harus menjawab apa? Ini terlalu mendadak “a… aku tidak tahu resminya kapan, tapi… hubungan ini berjalan sesuai alur”

“wah… romantis sekali”

Romantis apanya? Ini sangat rumit “gomawo”

Dan kami kembali fokus menatap para namja keren menunjukkan kelihaiannya dalam olah tubuh. Sungguh… aku baru pertama kali melihat sisi Lay oppa yang ini. Keren sekali, sungguh luwes dan lentur. Aku takjub bagaimana bisa seorang manusia bisa menunjukkan gerakan serumit itu.

“Hae Won-shii, kau tahu. Aku belum pernah mendengar Lay oppa punya kekasih. Sangat banyak yang mengaguminya, tapi tidak ada satupun yang menjadi kekasihnya. Dia sangat baik, bahkan menurutku terlalu baik. Makanya terkadang kami khawatir yeoja yang menjadi kekasihnya akan memanfaatkannya” sang In menoleh padaku “tapi kalau kulihat… kau betul-betul tipenya. Biar kutebak, dia yang menyatakan cinta padamu kan?”

Aduh… aku harus menjawab apa? Terpaksa aku hanya menunduk malu.

“banyak yeoja yang mengejarnya, dan kesemuanya yeoja yang… entahlah, kusebut mereka maniak. Beruntung kebaikan Lay oppa tidak membutakan matanya juga, dia juga punya cara sendiri untuk menolak hal yang tidak ia suka. Dan cara dia menolak yeoja yang menyatakan cinta padanya pun sangat… apa yah? Yeoja yang ditolaknya tidak akan sakit hai, justru akan semakin mengaguminya.”

“nae… Lay oppa sangat baik. Aku khawatir, aku tidak cukup baik untuknya”keluhku tidak percaya diri.

“hya… kau ini bilang apa. Kalau Lay oppa yang memilihmu, berarti kau sudah sangat baik untuknya”

Masalahnya aku tidak tahu, apakah hubungan ini nyata atau sebuah lelucon “yah… kuharap begitu”

“Ayolah Hae Won-shii semangatlah”

“nae… gomawo” aku kembali fokus memperhatikan namja yang katanya adalah kekasihku itu. Dia sungguh keren, dan bagaimana dia mengakhiri dance nya sambil mengdipkan sebelah matanya padaku membuatku semakin…. luruh, seperti lilin yang meleleh.

Lay oppa… ada banyak hal yang harus kau jelaskan.

Aku mengangkat alis sementara Lay memasang senyum dan wajah tanpa dosa di hadapanku. Kuharap dia cukup peka untuk langsung memberi penjelasan tanpa harus kutanya terlebih dahulu.

“kau marah?” tanya Lay oppa

“bukan marah, tapi bingung”jawabku. Beruntung lapangan parkir kampusku cukup sepi. Aku juga belum menelpon Daddy untuk menjemputku.

“bingung kenapa?”

“apa perlu kujawab”

“maaf… maaf. Tapi aku serius saat mengatakan kau adalah yeojachingguku” Lay uppa mengusap-usap tengkuknya “atau… kau tidak mau jadi yeojachingguku?”

Eh… kenapa dia bertanya begitu? Kenapa seolah aku yang harus bertanggung jawab “bukan begitu… jujur aku bingung. Contohnya saja saat Sang In bertanya kapan kita mulai pacaran, aku tidak tahu harus menjawab apa”

“katakan saja sesuka, dan aku akan menyetujuinya”

“oppa…”

Lay oppa tertawa “kau tahu, aku menyukaimu sejak kita pertama kali bertemu. 2 minggu yang lalu. Yah, anggap saja kita sudah jadian sejak 2 minggu yang lalu”

Astaga… Lay oppa ternyata blak-blakan sekali.

“maaf yah… aku memang bukan namja romantis seperti kebanyakan namja yang kau kenal. Aku tidak cukup berani untuk mengucapkan kalimat puitis untuk mengungkapkan perasaan. Aku terlalu kikuk”Lay oppa merogoh isi ransenya “tapi aku tidak sepayah itu dalam urusan romantis” Lay oppa menyerahkan setangkai mawar putih yang dibungkus plastik dengan pita pink.

Aku mengerjapkan mata begitu Lay oppa menyerahkan mawar itu padaku. Menurutku, ini sudah lebih dari kata romantis. Walaupun Lay oppa tidak segombal kebanyakan namja, bagiku… ini sudah lebih dari kata romantis.

Dengan rikuh dan malu-malu kuterima mawar itu “gomawoyo.. oppa”

“jadi… kita sepasang kekasih kan?”

“kenapa kau bertanya lagi? Aku sudah menerima mawarmu”

“jeongmal?” mata Lay oppa membulat, itu sungguh kyeopta.

Aku mengangguk malu-malu lagi.

“Hae Won-ah… saranghae” Lay oppa memelukku. Dan aku terkejut bukan main atas tindakan spontannya itu.

“ah nae… nae… nae.. nado” aku mengerjapkan mata berkali-kali saking kagetnya.

“kau tahu, aku sangat bahagia”

“aku juga”

Aku bisa melihat dari balik punggung Lay oppa, orang-orang berlalu lalang sambil cekikikan menatap kami. Tidak masalah, menjadi tontonan gratis di pelataran parkir, bukan masalah. Asal aku bersama Lay oppa.

Aku merenggangkan pelukan kami “oppa, terima kasih mawarnya”

“aku hanya berusaha” Lay oppa tertawa kecil

“tapi apa kau tahu makna mawar putih?”

“memangnya ada makna tersendirinya?”

Aku mengangguk “mawar putih itu biasanya diserahkan untuk sahabat atau saudara. Kalau untuk kekasih, orang biasanya menyerahkan mawar merah”

Lay oppa membelalak “MWO??? A… aku tidak tahu sama sekali. Aduh, tunggu, aku harus ke toko bunga sekarang”

Aku tertawa, dan menatap Lay oppa “gwenchana. Itu menurut pendapat orang lain. Bagaimana kalau kita membuat teori sendiri. Bagiku mawar putih lebih pantas sebagai lambang cinta, karena ia putih, bersih, suci”

Lay oppa mengangguk “alasan yang sama mengapa aku memberikan mawar putih. Karena aku berharap…” Lay oppa kembali kikuk “kuharap cinta kita seputih mawar… aduh, kenapa aku sepayah ini?”

“tidak apa-apa. Oppa… saat bersamaku, jadilah dirimu sendiri. Kau tidak perlu berusah-susah untuk menjadi orang lain, karena aku suka Lay oppa apa adanya”

Lay oppa tersenyum, matanya berbinar. “kau tahu Hae Won-ah, aku akan sangat menyesal kalau aku tidak mendapatkanmu”

“oppa”

“aku serius. Aku mencintaimu”

Aku tersenyum. Dan rumor tentang cinta tidak mengenal dimensi ruang dan waktu itu benar. Aku baru mengenal Lay oppa selama 2 minggu, dan kami sudah memiliki perasaan se manis ini “nado saranghae oppa”

“Daddy perhatikan, kau banyak tersenyum belakangan ini”kata Daddy saat kami sedang makan malam bersama di luar.

“apanya? Anak Daddy ini memang murah senyum kan?”balasku

“hei… seperinya anak Daddy sedang jatuh cinta”

“Daddy…” wajahku langsung panas dan merona

“wah…. uri Hae Won, Daddy tidak menyadari kau sudah dewasa”

Aku hanya pura-pura cemberut karena merasa sangat malu.

“jadi siapa namanya?”

Aku membelalak “siapa?”

“tentu saja namja itu?”

“Daddy…”

“hei, jangan kira Daddy bodoh”

Aku terunduk malu “namanya Lay”

“Lay? Aneh sekali. Hanya Lay?”

“zhang Yi Xing”

“zhang apa? Zhang Yi xing?”

“nae… dia chinese”

Daddy manggut-manggut “bagaimana orangnya”

“dia baik, sangat baik”

“Daddy setuju”

Aku membelalak “ha? Aku bahkan belum selesai mendeskripsikannya”

“Hae Won-ah, kalau kau mengatakan dia baik di tempat pertama, bukan tampan atau keren. Berarti namja itu sudah betul-betul baik. Apa gunanya namja tampan kalau sifatnya buruk”

“dia tampan dan keren Dad, dia juga hebat dalam dance”

“kau menyukainya kan?”

Aku mengangguk pelan

“kalau begitu, Daddy juga suka”

Aku mengangkat wajah dan menatap Daddy sambil tersenyum girang “kamsahamnida Dad… saranghae…”

“nae… Daddy tahu, sekarang habiskan makananmu. Kita harus berbelanja, banyak keperluan dapur yang kosong”

Aku menghela nafas bahagia. Daddy memang sangat sibuk, tapi masih sempat memikirkan urusan rumah. Lihatlah, Daddy terpaksa harus berbelanja di malam hari. Harusnya aku sudah berpikir sedikit lebih dewasa untuk mengurusi rumah. Daddy sudah cukup sibuk dengan masalah perusahaan dan harus pula mengurusiku. Ah… apa kata Lay oppa kalau dia tahu aku masih semanja ini terhadap Daddy. Hyak… Song Hae Won… mulai hari ini, kau harus dewasa. Hwaithing…

***

Aku sedang membantu Mam Angela memeriksa hasil kuis mahasiswa tingkat 2, ciri-cirinya aku akan diangkat sebagai asisten dosen kalau aku sudah naik tingkat.

“Hae Won-ah… um, apa kau punya waktu kosong besok pagi?” tanya Mam Angela

“besok? Hari sabtu…. seherian aku kosong. Hanya membantu Daddy membereskan rumah, dan kegiatan akhir pekan lainnya, waeyo Mam?”

“apa kau keberatan kalau kuajak jalan-jalan? Berbelanja, ke salon, dan kegiatan khusus yeoja… apa kau ma__”

“aku mau… aku mau” tentu saja aku mau. Ini adalah suatu hal yang paling kuimpikan. Seharian bersama Mam Angela, seperti pasangan ibu dan anak.

Mam Angela tersenyum “baguslah kalau kau mau. Entah kenapa aku sangat senang menghabiskan waktu denganmu. Serasa melihat anak sendiri. Kalau saja dia masih hidup, dia pasti akan secantik kamu”

Aku balas tersenyum “aku juga senang Mam… sangat senang. Rasanya seperti mimpi. Aku juga berharap hal yang sama, kalau saja eommaku masih hidup, kuharap dia juga secantik kau Mam”

Mam Angela mengusap puncak kepalaku, rasanya damai sekali. Sayang sekali dia sudah berkeluarga. Eh… aku belum pernah menanyakannya, padahal ini penting.

“um… apa aku boleh bertanya sesuatu?”pintaku ragu

“nae Hae Won-ah, tanyakan saja”

“itu… Mam Angela kan… sudah berkeluarga… lalu… um… suami… suami Mam__”

“kami sudah berpisah”

Aku membelalak “jeongmalyo?”

“nae… sejak anak kami meninggal, dia meninggalkanku”

Seharusnya aku turut bersedih, tapi percayalah… aku justru senang mendengar kabar itu “aku turut menyesal Mam…” tapi aku tetap berusaha bersimpatik.

“lupakanlah…  itu sudah keputusannya”

“lalu… kenapa Mam Angela tidak menikah lagi? Anda kan masih sangat muda”

Mam Angela tersenyum tipis “apa kau percaya, setelah dia meninggalkanku, aku sudah tidak punya niat untuk menikah lagi. Ah… padahal banyak yang menyangakan, tapi tetap saja tidak bisa”

“Mam Angela pasti sangat mencintainya”

Mam Angela memalingkan wajah. Kurasa aku tidak cukup berhak mengorek informasi ini. Tapi… aku punya rencana besar. Dan kalau ini berhasil, maka kebahagiaan terbesar dalam hidupku akan kudapatkan.

“mianhamnida Mam…”

“gwenchana… lupakan saja”

Aku merasa bersalah

“oh iya, biasanya kau pulang dengan siapa?”

“eh… dengan Daddy. Dia menjemputku sepulang kuliah. Tapi sejak ada Lay oppa, aku psering pulang dengannya”

“Lay? Yi Xing?”

“nae…”

“wah… Yi Xing dan kau?”

Aku menunduk malu, lidahku begitu lancar menceritakan apapun pada Mam Angela.

“wah… so perfect. Yi Xing adalah namja yang baik”

“aku tahu… itulah kenapa aku menyukainya”

“aigo… manis sekali” Mam Angela mencubit pipiku. Ya Tuhan… biarkanlah Mam Angela sering memperlakukanku begini, neomu jhoa.

“um… tapi kenapa Mam Angela bertanya begitu?”

“oh itu, aku ingin mengajakmu ke rumahku. Sekalian makan siang di rumahku”

“jinjja? Aku mau…”

“apa kau pandai memasak?”

“pandai? Aku bahkan tidak bisa memasak Mam, tidak ada yang mengajarkan. Yah kecuali ramyeon dan bibimbab asal-asalan”

“llalu siapa yang memasak di rumahmu?”

“kami kebanyakan makan di luar. Dan kalau Daddy tidak begitu lelah, dia yang akan memasak”

“wah… ternyata Daddy mu sungguh namja yang hebat”

Strike… bahkan sebelum aku memulai mempromosikan Daddy, dia sudah punya nilai plus di mata Mam Angela. Ini sangat lumayan. “nae Mam. Aku sungguh tidak berguna, padahal sudah 18 tahun tapi tidak bisa berbuat apa-apa”

“hei jangan putus asa begitu. You still have me, right? Agenda siang ini adalah pelajaran memasak”

Mataku berbinar “jinjjayo? Mam Angela… anda serius”

“why not?”

Ah… kalau saja ruang dosen ini tidak banyak penghuninya, maka aku akan melompat kegirangan.

“nah jangan lupa tugasmu di sini membantuku, ayo selesaikan tumpukan lembar jawaban itu”

“nae Mam… siap”

“Hae Won-ah, ayo pulang bersama, sekalian singgah di suatu tempat”ajak Lay oppa saat ia mencegatku di depan pintu kelas.

“mianhae oppa, aku sudah ada janji”tolakku halus

“mwo? Kita baru saja resmi berpacaran dan kau sudah ada janji dengan namja lain?”

Aku tertawa “ayolah oppa, aku tidak seburuk itu. Selama hidupku aku hanya pernah berkencan dengan satu orang namja, yaitu Daddy ku. Dan sekarang sudah bertambah. Yaitu kau. Jadi hanya dua namja yang akan berkencan denganku”

Lay oppa tampak salah tingkah “oh begitu… ng, lalu kau punya janji dengan siapa?”

“denganku…” Mam Angela muncul dari belakangku sambil menenteng tas nya.

“mwo? Dengan Mam Angela?”Lay oppa tampak tidak percaya.

“kenapa? Apa kau keberatan? Hae Won bilang, kalian baru saja resmi berpacaran. Posesif itu adalah nilai minus, apa kau mau diputuskan olehnya?”

“bu…. bukan begitu Mam, aku hanya kaget”

“kenapa? Apa hal ini mustahil?”

“anieyo Mam. Aku baru kali ini melihat anda mengajak mahasiswi sendiri untuk jalan-jalan. Kalau namja sih masuk akal, tapi ini…”

“hei… singkirkan pikiran negatifmu itu” Mam Angela menggandeng lenganku “hari ini Hae Won ada les memasak denganku”

“wah… asyik sekali…apa aku boleh ikut Mam? Aku juga suka memasak”

Aku dan Mam Angela bertatapan, kemudian tertawa kecil.

“lain kali saja yah. Hari ini khusus hari yeoja. Kecuali kau ingin berubah menjadi manusia transgender”tolak Mam Angela. Aku tidak menyangka Mam Angela punya sisi ini.

“arayo… aku hanya bercanda Mam”

Hanya perasaanku saja, atau memang Lay oppa dan Mam Angela cukup akrab. Mam Angela juga tampak begitu kenal Lay saat aku menceritakan bahwa aku dan Lay oppa sudah jadian. Ah… masih banyak waktu, aku akan menanyakannya.

“oppa.. kami pergi yah. Lain kali kita pulang bersama. Annyeonng” aku melempar senyum pada Lay sebelum meninggalkannya. Lay oppa melambaikan tangannya padaku.

Author POV

Hae Won baru saja ingin membuka handlle pintu mobil Angela, begitu ponselnya berdering. Daddy nya, Kris menelpon.

“hallo Dad… waeyo?”sapa Hae Won bingung, bukankah itu jam kantor

“kuliahmu sudah selesai? Mau Daddy jemput sekarang?”tanya Kris

“nae Dad, kuliahku sudah selesai. Tapi… Daddy tidak usah menjemput. Karena aku ada janji”

“dengan siapa?”

“dengan dosenku”

“mwo? Namja? Yeoja?”

“yeoja Dad… dosen bahasa inggris”

Terdengar Kris menghela nafas “dalam rangka apa?”

“tidak ada yang khusus, hanya hari untuk yeoja”

“aneh sekali… dosen seperti apa dia, mengajak mahasiswanya seperti itu”

“Daddy…”

Angela menghampiri Hae Won “sepertinya aku harus minta izin pada Daddy mu untuk menculikmu setengah hari”

Hae Won tertawa. Kebetulan sekali, ini langkah awal memperkenalkan mereka. “ah nae Mam, sepertinya Daddy tidak mengizinkan”

“protektif sekali. Sini biar aku yang bicara”

“nae Mam, dengan senang hati” Hae Won menyerahkan ponselnya pada Angela.

“yeoboseyo” sapa Angela dengan nada anggun

Kris sempat memperhatikan layar ponselnya, dia mengira ada gangguan sinyal karena suara di seberang berubah “yeob… yeoboseyo”

“dengan appanya Hae Won?”

“n..nae… ini siapa?”

“Angela. Dosen mata kuliah bahasa inggris di kelas Hae Won”

“a.. ada apa Miss Angela?”

“maaf tuan… um…”

“Wu… Kevin Wu” sergah Kris cepat. Dia memang sering menggunakan nama itu sebagai nama resminya.

“nae… tuan Wu!” Angela kebingungan, nama fam yang cukup jarang “apa anda keberatan jika saya mengajak anak anda ke rumah saya. Not to be mean, hanya hari khusus yeoja. tErlebih katanya Hae Won ingin belajar memasak”

Kris cukup tertegun. Aneh, tapi… ini hebat “tidak ada alasan untuk keberatan Miss Angel, tapi… ini sungguh tidak biasa. Bukankah anak saya baru beberapa minggu berkuliah di situ, saya cukup terkesan kalau dia sudah cukup dekat dengan anda, selaku dosennya”

Angela menahan senyum, terlebih Daddy Hae Won memanggilnya Miss Angel, bukan Angela “saya juga tidak mengerti. Tapi melihat Hae Won, naluri keibuan saya langsung muncul begitu saja, melebihi hari-hari biasanya”

“saya sangat senang Miss Angel. Hae Won pasti sangat senang, apalagi dia tidak pernah dan tidak akan pernah bisa menghabiskan hari-hari seperti itu bersama ibunya”

“tuan Wu…”

“ah saya tidak bermaksud apa-apa, hanya…” Kris jadi salah tingkah sendiri

“saya mengerti, Hae Won sudah cerita banyak tentang dirinya”

Kris tertawa “berarti anak saya sangat menyukai anda. Maaf telah merepotkan”

“tidak sama sekali. Saya justru senang”

“baiklah… kalau begitu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan”

“kamsahamnidah Tuan Wu”

“mohon bimbingannya untuk anak saya”

with my pleasure…” Angela mengembalikan ponsel milik Hae Won sambil berkedip tanda perkara izin telah beres.

Hae Won tertawa girang “Daddy saranghae” seru Hae Won di ponselnya

“nae… jangan terlalu merepotkan Miss Angel, bersikap baiklah padanya”

“siap boss”

Hae Won mematikan ponselnya “beres Mam… kajja”

Angela tersenyum. Tapi terasa ada yang mengganjal. Dan Hae Won menyadarinya.

“ada apa Mam?”

“aniyo…. opssoyo. Hanya teringat sesuatu”

“apa itu?”

“suara Daddy mu cukup berat yah…”

“nae… suaranya cukup berat dan dalam. Tapi Daddy tidak galak kok”

“aku mengerti, hanya teringat seseorang di masa lalu dengan jenis suara yang sama. Tapi lupakan lah.. kajja…”

Hae Won takjub. Ini seperti menonton sebuah acara demo memasak di televisi. Cara Angela memotong, mengiris, mengupas sayur dan buah, daging dan sejenisnya betul-betul.. like a pro

“Mam… anda tinggal sendiri?”tanya Hae Won sambil membantu mencuci daging.

“nae, sejak bekerja sebagai dosen, aku memilih untuk tinggal di apartement sendiri. Aku sudah terlalu dewasa untuk tetap tinggal bersama orang tua”jawab Angela sembari membuat saos.

“Mam tidak kesepian?” Hae Won mulai mencuri celah.

“hum… kalau aku bilang tidak, berarti aku bohong. Tapi… aku masih belum siap untuk membuat komitmen dalam berkeluarga lagi”

“begitu yah…”

“kenapa? Sepertinya kau sangat penasaran terhadap kehidupan pribadiku”

Hae Won tersentak “ng… itu…”

Angela tertawa “arasso… melihatmu saja, aku sudah merasa punya keluarga kembali.”

Hae Won bersorak dalam hati. Sedikit lagi. “Daddy makan apa yah siang ini?”Hae Won mulai bergumam tidak jelas. “Daddy pasti bosan makanan restoran”

Angela menoleh “kenapa kau tidak membuatkan satu porsi lagi untuk Daddy mu”

“Mam… aku tidak ingin Daddy mati karena masakanku”

Angela tertawa “kita membuatnya bersama. Bagaimana dagingnya? Sudah bersih? Masukkan ke panggangan itu. Tapi hati-hati, jangan sampai tanganmu terkena”

“nae Mam…”

***

“terima kasih tumpangannya Mam… hari ini sangat menyenangkan. Diary ku pasti penuh untuk kisah hari ini. Hari terbaik yang pernah ada”tutur Hae Won saat Angela mengantarnya pulang

“nae… aku juga berpikiran sama. Sayangnya aku sudah berhenti menulis diary sejak menginjak usia 25 tahun”balas Angela

“dan… ah, aku tidak sabar lagi mempraktekkan semua hal yang kau ajarkan dalam memasak. Walau belum sempurna, tapi aku akan mencobanya”

“nae… berlatihlah terus, seorang yeoja, walau dengan profesi apapun yang menuntutnya, hakikat seorang yeoja memang harus di dapur”

“nae Mam, aku mengerti”

Angela mengusap puncak kepala Hae Won “masuklah, Daddy mu pasti sudah menunggu”

“eh, Mam tidak ikut masuk dulu?”

“lain kali saja. Salam sama Daddy mu”

“ah sayang sekali. Padahal aku ingin mengenalkanmu pada Daddy”

“lain kali saja…”

“nae Mam…”

“annyeong. Semoga mimpi indah”

“nado”

Hae Won bercerita panjang lebar tentang satu hari khusus yang ia habiskan bersama Mam Angela sementara Kris, Daddy nya hanya tersenyum melihat kebahagiaan anaknya itu.

“ah Daddy, Mam Angela juga memasakkan sesuatu untuk Daddy, aku juga ikut membantu” Hae Won mengajak Kris ke ruang makan. Menyiapkan makanan yang sempat di masak Angela tadi di rumahnya bersama Hae Won.

“sepertinya enak” Kris sudah siap di meja makan.

Hae Won meletakkan sepiring hidangan di hadapan Kris “namanya steak saos aneka rasa”

“aneka rasa?”

“nae rasanya komplit… cobalah, aku yakin Daddy pasti ketagihan”

Kris tertawa, kemudian memasukkan sepotong kecil daging bersaos kental itu ke mulutnya. Tepat di detik pertama benda itu menyapa lidahnya. Sebuah memori terputar kuat di otaknya.

“Mam Angela sangat hebat, really really awesome, wah… kalau aku sering-sering berlajar memasak bersamanya, kita tidak perlu lagi makan di luar” Hae Won sibuk berceloteh sementara Kris berkutat dengan memorinya.

Rasa masakan ini… sangat familiar.

“Daddy… Daddy mendengarku?”tegur Hae Won merasa terabaikan

“ah nae… waeyo?”

“apa masakannya tidak enak?”

“bukan begitu, justru sebaliknya. Ini luar biasa enak”

“lalu kenapa ekspresi Daddy seperti orang yang dipaksa memakan makanan penjara?”

“bukan begitu… hanya saja. Ini makanan kesukaan Daddy”

“jinjja? Wah… Mam Angela memang daebak, hanya bermodalkan makanan favorit mantan suaminya, ternyata sangat ampuh juga untuk Daddy. Kebetulan sekali kan Dad?”

“ma.. mantan suami? Dosenmu itu sudah berkeluarga? Bahkan sudah bercerai?”

“nae… menurutku, namja yang meninggalkan Mam Angela adalah namja tebodoh di dunia”

“kau benar… hanya suami bodoh yang mau meninggalkan istri yang bisa memasak menu favorit untuknya”

Hae Won bersorak dalam hati. Ia merasa telah berhasil mempromosikan Angela pada Kris hanya dalam sekejap “Daddy…”

“nae…”

“ Daddy tidak ingin menikah lagi?”

Kris terkejut “jangan bercanda Hae Won-ah”

“Dad… Daddy itu masih muda, jangan menyia-nyiakan hidup”

“memangnya Daddy terlihat seperti orang yang menyia-nyiakan hidup?”

Hae Won menghela nafas “Daddy… aku adalah anak yang paling beruntung karena memiliki ayah terhebat di dunia, tapi Dad… percayalah… tetap saja tidak lengkap”

“Hae Won-ah…”

“eh, aku hanya bercanda. Lupakan saja Dad. Aku tidak mau menambah beban Daddy dengan tuntuan yang aneh-aneh. Oh ya, sudah malam. Aku ke kamar dulu”

“Hae Won-ah…”

good night Dad… have a nice dream

Kris menghela nafas “good night dear

Kris hanya bisa menatap kosong sepiring steak di hadapannya.  Perlahan ia memejamkan mata . Masakan itu seolah berubah menjadi sebuah portal, untuk dirinya kembali pada memori masa lalu… pada seorang yeoja yang begitu ia cintai, sampai sekarang dan bahkan tak terganti. Yeoja yang pernah menemaninya sepanjang hari di sisinya, yeoja yang setiap pagi menyambutnya dengan senyuman, dengan sebuah nampan berisi  segelas air putih, segelas susu dan sarapan pagi untuknya. Masa-masa itu, masa yang begitu tak terlupakan… bahkan sepotong scene singkat saat ia masih berada di masa lalu masih terekam kuat di otaknya. Sebuah reka ulang, memori masa lalu

“good morning my lord! Bagaimana tidurmu? Nyenyak?”sambut yeoja itu dengan senyuman hangat

“of course my queen, where’s mine?” Kris beringsut dari tempat tidur. Duduk di tepi dan meraih pinggang yeoja itu

Dan dengan lembut yeoja itu menunduk dan memberikannya morning kiss selembut dan sehangat biasanya. “hei… bergegaslah, atau kau akan terlambat ke kampus”

“arasso…arasso. aku hanya ingin menyapa permata kita” Kris mengusap perut yeoja itu yang sudah cukup besar “good morning my precious diamond… apa kabar?” Kris meletakkan telinganya di perut yeoja itu “nae… appa juga merindukanmu, maka dari itu jangan berlama-lama di perut eomma”

Yeoja itu tertawa dan mengetuk ringan kepala Kris “ada-ada saja kau ini”

“sebenarnya berapa bulan lagi aku akan melihat anakku?”

“tunggulah, tidak lama lagi. Tidak cukup 3 bulan lagi”

“ah… lama sekali”

“bersabarlah, saat dia lahir nanti, kau juga akan kewalahan. Berlatihlah menjadi seorang ayah”

“aku sudah siap sejak lama, untuk apa berlatih lagi?”

“kau ini…”

“ah aku sampai lupa. Mengenai panggilan untuk kita nanti saat permata kita lahir. Appa dan eomma itu sangat biasa”

“maksudmu?”

“hei.. investasi masa depan kita kan di Canada, kita juga harus membuat penyesuaian”

“termasuk panggilan orang tuauntuk kita?”

“that’s the reason why I loved You so Much, kau sangat mudah menangkap”

“bisa di pertimbangkan… Daddy..” yeoja itu tertawa

“neomu jhoa… Mommy”

“menggelikan sekali”

“menurutku keren”

“terserah kau saja.. Daddy”

Dan Kris tidak akan sungkan menggendong tubuh yeoja yang dicintainya itu dan membaringkannya di tempat tidur.

“hya… kau ingin membunuh anakmu? Kau ingin anak ini lahir sebelum waktunya?”tegur yeoja itu

“mian…. mian, kau sangat menggemaskan”

“you need to control your self, my Lord”

“yes my queen… that’s the last time”

 

Kris membuka matanya. Ia bahkan tidak menyadari pipinya basah. Memori itu hanya akan menjadi kenangan masa lalu yang tidak akan bisa kembali. Hanya bisa di kenang, hanya bisa diingat dan disimpan sendiri dalam hati.

Kris mengusap air matanya, menyapa cinta pada yeoja di masa lalunya, yeoja yang tetap mengisi relung hatinya… yeoja yang meninggalkan  Hae Won untuknya…

TBC

17 thoughts on “[FF] WIFE FOR MY DAD [PART 1 of 2]

  1. Huwaaaaaaa.. Mau jadi hae won, appa’a kris yg syg bget, namjachingu’a lay yg manis (lu kate gula)uuuuuhhhh~~ *muka pengen/gigit2 baju* penasaran ama kelanjutan’a atw jgn2 mantan suami’a mam angela itu kris? Atw chanyeol kn sma2 berat tu suara’a.. Penasaran..

  2. uwaahhhh kris jadi appa, kriss jadi appa muehehe😀
    masih nebak nih thorr.. jangan jangan miss angela itu eommanya hae won kkk😀
    seneng banget deh miss angela aka eun yoo kalau eommanya ^^
    akrab banget thorr.. kkk😀
    suka banget sama ni ff ^^ fighting thorr😀

  3. kkekkekke, saya mau punya apa kaya kris xD

    Aduh lucu deh pastinya kl bnran ngliat lay dngan sikap di crita xD wkkkwkk…

    :p

  4. Curiga.. Mam angela itu ibu kandungnya Hae Won -,,-. Aigoo Kris pantes bnget jadi appa, brwibawa gmana gtu haha xD. Lay itu emang baik kali, baiiik bangeet. Xiumin blum punya yeoching ? Sini sama aku aja gege #Baekhyun : Chagi!! Jangan selingkuh#ampun T.T. Udah ah tkut d gebugin Baekhyun, aku loncat k next chap aja.. Pyoong ^^

  5. hh.. portal masala lalu.. (pikiranku langsung ke Kai yang jadi portal masa lalu untuk Lu Han, Baekhyun dan Chanyeol di Amaterasu, hadeh2x..)

    Kris, bisa semelow itu.. TT.TT Let me cry.. Dia pasti appa yang benar-benar keren dan berwibawa.

  6. keren…..sebenernya ceritanya kayak di film ftv *maap unn’-‘v*
    tapi gatau knp beda aja bacanya kalo disini. lebih beda gimana gitu. mungkin karna cast nya yaaa? atau mungkin karna author nya? /ealooo/ wkwk

  7. Hiyaaaaaaaaaa pasti itu kris suaminya dosen tu kan? Terus dosen itu istriny kris,
    hahahahaha..
    Pintar kan aku nebak#sotoy,

    aigooo lay ge, kok koe selingkuh soko aku,
    yauwes, kalo km slingkuh q jga bisa..hehe mau slingkuh ama xiu oppa aja, mumpung dia msh sexy, free and single#haha..
    Rasain lu, siapa suruh koe nyelingkuhin aku#plakk..

    Hahaha..
    Kyaaaaaaaaaaa kris emang tipe suami idaman.. Gak salah aku milih dia#author:sbnrny kkasihmu ada brapa sih,,me:kagaktau…
    Hahaha

    udah deh thor mw lnjut ke chp 2 aja lngsung…pai pai

  8. Hae won anaknya kris? Aku juga mau itu. Huaaa. Aku juga mau kris masih muda tampan kan. Wkwk. Lee eun yoo kan min ALF, jadi min ALF jadi dosen bahasa inggris. Cie cie cie *plakk
    Aku nangis masa min. Pas bagian hae won curhat ibunya sudah meninggal itu. Nggak tau kenapa pengen nangis gitu. Walopun nggak smpe sesenggukan. Tapi kepana aku malah curhat? (-_______-)
    Temennya lay itu semua anak exo kkk~ ada hunhan, bikin seneng sendiri deh😄 bikin nyesek itu sang in. Aaaa luhan gaboleh T,T
    Kayaknya mem angela itu ibunya hae won yah. Aku nebak kek gitu kenapa ya. Pokoknya gitu deh. Semuanya serba berkaitan gitu. Apa jangan-jangan emang bener begitu? Aku lanjut part 2 min, annyeong😀

  9. Akhrnya aq bs coment jg eon..stlah di private hmpir lupa ama crita ni.,

    iseng2 baca yg stright eh ktmu judul ni., jdulnya unik eon aq lngsung tertarik bwt baca. “wife for my dad”,,coba2 nebak critanya gini eon..kris jd anaknya eon n punya kekasih.,tp truz ngerelain kekasih bwt ayahnya,trnyta perkiraan q slah..hehe

    klu ayah nya seganteng kris,aq jg mau eon jd anaknya..hehe

    opz..ada lay.. Whaaaa aq jg mau jd pcarnya..hehe jd byangan dri sndri nich..
    Next aja dech

  10. Waah envy sma hae won,pgen punya daddy kaya kris yg sayang banget sama dia (‘-‘/\)
    Apalagi punya namjachingu yg bener2 manis kaya lay,,
    Envy sumpah u,u

    Tentang mam angela,siapa kan mantan suami nya? Dari cerita aku nebak kalau kris itu mantan suami mam angela,tpi ntah lah,hanya tebakan,,
    Ok lanjut ke chapt berikutnya heheheh😄

  11. hyaaa, kris jadi appa. hm, punya appa kayak kris enak kali yaa, ganteng, berkarisma, tinggi, baik, pengertian lagi
    aishhh, ribetnya gak punya eomma kayak diawal itu. anaknya ribut nyari sepatu, daddy’nya ribut nyari dasi –” sini kris aku aja yang jadi eomma hae won, wkowkwkowok
    ada typo kak, tapi ga mengganggu kok, wajar hehe
    kayaknya ibunya hae won itu mam angela deh, kayaknya sih😀 ya udah daripada penasaran mending lanjut ke chap 2 ^^

  12. Waaaah ko aku jadi sedih, jadi inget mama aku huaaaaaa

    Mam angela itu sebenernya mommy-nya haewon yah. Iya pasti.
    Enak ya kalo punya Daddy setampan kris, pacar sekeren lay, dan mommy spt mam angela kyakyakya~~~
    Ilike this story. Mengingatkan aku sama mama aku hihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s