[FF] WIFE FOR MY DAD [PART 2 of 2/END]


Tittle: Wife For My Dad

Author: AyouLeonForever

Cover pic/Poster by: BelKyuHae (Bellaelfitiara)

Genre: Family life, romance, friendship

Rating: PG15

length: 2shoot

Cast: Song Hae Won

Zhang Yi Xing/Lay

Wu Yi Fan/ Kris /Daddy

Lee Eun Yoo/ Angela

Other cast: find it by your self.

Disclaimer: All off the cast(s) especially EXO members, belong to him self, parents, agency, and GOD

Copyright: The story and OC belong to me!No Copy paste without permissions!

warning: Typo(s) every where.

Author  POV

“oppa…” gumam Hae Won sambil menatap segelas jus di depannya. Ia  dan Lay tengah menikmati makan siang di sebuah restoran ala Jepang

“nae chagi-ah” Lay sibuk menyantap sushi pesanannya

“aku menyukai Mam Angela”

“ukkhhukkk…” Lay tersedak.

Hae Won terkejut, dan segera menyuguhkan air minum untuk Lay.

Setelah Lay bisa menelan dengan sempurna dan bernafas dengan lega, ia menatap Hae Won “kau bilang apa barusan?”

“apanya?”

“tentang kau menyukai…” Lay menggantungkan kalimatnya dan menatap curiga pada Hae Won

“Ya Tuhan, bukaN suka dalam artian begitu, bukan seperti rasa sukaku pada oppa”

“lalu apa?”

“aku ingin Mam Angela menjadi ibuku”

Lay membelalak “kau tidak bercanda kan?”

“apa aku kelihatan sedang bercanda? Oppa… aku sangat menyukai Mam Angela, dia tipe ibu yang paling kudambakan”

“arasso… semua anak juga berpikiran yang sama. Tapi, kalau kau ingin dia menjadi ibumu, bukankah itu berarti dia harus menikah dengan Daddy mu”

“itu dia perkaranya, aku kesulitan untuk mempertemukan mereka. Dua-duanya punya komitmen untuk tidak menikah lagi. Daddy masih sangat mencintai mendiang eommaku, dan Mam Angela terlihat masih belum sanggup melupakan mantan suaminya. Ini sanga rumit” Hae Won bahkan menyandarkan keningnya di atas mea saking pasrahnya.

“chagi-ah… di dunia ini tidak ada yang mustahil. Berusahalah”

“aku sudah berusaha oppa, aku sudah seperti seorang sales barang yang mempormosikan mereka satu sama lain. Tapi tetap saja…”

“kau bikin rencana saja untuk mempertemukan mereka”

“aku tidak tahu caranya….” Hae Won makin putus asa.

“hei, kau masih punya aku. Anggap aku berguna”

“oppa”

Lay tertawa “hanya bercanda. Oh ya, kau bilang, kau ada janji lagi dengan Mam Angela sore ini. Ini seperti menyelam sambil minum air, manfaatkanlah kondisi itu”

“maksudnya?”

“jam berapa kalian janjian?”

Hae Won melirik arlojinya, “jam 2. Setengah jam lagi”

“okay, ini misi yang menarik.  Seperti misi perjodohan”

Hae Won tertawa “oppa benar… misi pencarian istri untuk Daddy ku”

“okay, begini rencananya…..”

***

Angela menunggu kedatangan Hae Won di sebuah aman kota yang tidak begitu ramai. Musim gugur memang moment yang paling tepat untuk menghabiskan akhir pekan di taman, terlebih melihat cherry blossom berguguran.

“Mam Angela…” seru Hae Won setengah berlari.

“Hae Won-ah!” sambut Angela emudian memeluk ringan Hae Won

“mianhae, aku terlambat. Aku tadi ada janji dengan Lay oppa”

Angela tersenyum kemudian mencubit pipi Hae Won “arasso… aku juga pernah menjadi remaja sepertimu, jadi aku paham”

“gomawo Mam… oh iya, kita kemana setelah ini?”

“kita jalan-jalan saja dulu mengitari taman, ini awal musim gugur, cuaca tidak begitu dingin, bukankah menyenangkan melihat pemandangan di sini”

“nae… nae…ide yang sangat bagus” Hae Won menggandeng lengan Angela dan berjalan beriringan menyusuri trotoar yang membelah taman kota.

Angela menoleh pada Hae Won “rambutmu sudah cukup panang, tapi style nya monoton. Bagaimana kalu kita ke salon setelah ini”

“wah… aku tidak pernah ke salon untuk treatment khusus Mam, hanya potong rambut dan… begitu saja”

“untuk itulah aku mengajakmu. Sudah lama aku ingin seperti ini. Satu harian ini, kau adalah putriku, dan aku adalah ibumu”

Hae Won menghentikan langkahnya. Ia tertegun

“waeyo Hae Won-ah? Ada sesuatu yang salah?” tanya Angela bingung

“a… aniyo… opssoyo… u.. ucapan Mam Angela barusan…”

“kenapa? Kau tidak mau?”

“bu… bukan begitu. Aku hanya, tertegun”

Angela tersenyum, “kajja… Hae Won-ah…”

“nnae… eom… eomma”

Angela tertegun. Sekarang dia paham kenapa Hae Won terkejut seperti tadi. Untuk pertama kalinya, ada yang memanggilnya eomma.

“mi… mianhaeyo, aku hanya terbawa suasana, Mam… rasanya benar-benar nyata memiliki seorang ibu”

“gwehnchana… gwenchana… aku tidak keberatan, aku seperti ini karena aku juga tertegun”

“jadi boleh aku memanggilmu eomma untuk hari ini saja?”

“of course… why not…”

Hae Won tersenyum lebar “gomawo… eomma”

Mereka berdua pun melanjutkan langkah mereka mengeilingi taman yang cukup luas itu. Kalau saja hari Hae Won tidak punya mis, ia rela mengelilingi taman iu sampai 100 kali asal bersama dengan Angela.

“oh ya eomma… apa kau tidak kedinginan?”tanya Hae Won

“sedikit, kenapa kau kedinginan?” Angela merapatkan syal yang dikenakan Hae Won

“bagaimana kalau kita cari minuman yang hangat”

“ide bagus”

“baiklah, eomma.. kau tunggu di bangku taman itu saja, aku akan mencari stand yang menjual minuman di sekitar sini”

“eh… kau tidak ingin pergi bersama?”

“eomma.. aku putrimu, dan ini tugasku. Okay? Just wait for me

“Baiklah… jangan terlalu lama”

“nae eomma…” Hae Won pun pergi setelah memastikan Angela duduk di bangku taman itu. Saatnya beraksi.

Lay menyambutnya di depan gerbang taman “bagaimana? Sudah bisa berjalan?”

“yah… kuharap Daddy tidak lama. Aku takut Mam Angela terlalu lama menunggu, dia bisa sakit”balas Hae Won cemas.

“kalau begitu telepon Daddy mu lagi, tanyakan di mana posisinya sekarang”

“baiklah..” Hae Won langsung merogoh saku jacketnya dan menemukan ponsel, tanpa buang waktu ia menelpon Kris.

“nae Hae Won-ah…”

“Daddy di mana?”

“masih di jalan, kau ini… kalau ingin jalan-jalan harusnya membuat janji dulu, Daddy kan juga butuh persiapan untuk berkencan dengan putri Daddy”

“ah Daddy, Daddy sudah sangat tampan dengan style apapun. Aku lebih suka style Daddy yang casual”

“ara… ara, ini juga sudah sangat casual. Kau di mana? Daddy sudah hampir sampai di taman”

Hae Won membelalak, ia segera menarik tangan Lay untuk bersembunyi di balik semak-semak “nae… nae, aku ada di dalam taman, menunggu di bangku panjang dekat air mancur, tepat di bawah pohon Cherry yang paling besar”

“ah… Daddy mengerti. Daddy sudah sampai. Daddy parkir mobil dulu”

“nae… jangan lama-lama, cuaca mulai dingin. Ah… Daddy tidak lupa membawa minuman hangat kan?”

“nae… Daddy juga bawa snack hangat. okay dear…”

“perfect” Hae Won mematikan ponselnya “oppa… itu Daddy” seru Hae Won tertahan

Lay mengintip di balik semak-semak, ia merasa sudah seperti seorang stalker “mana?”

“itu yang baru turun dari mobil hitam, yang memakai kemeja putih”

“aku melihatnya, yang baru saja mengenakan jacket kelabu itu kan?”

“nae.. perfect. Mam Angela juga mengenakan kostum dengan warna yang sama. Hei.. ini kebetulan atau mereka seperti berjodoh”

Lay mengetuk kecil kepala Hae Won “kau bersemangat sekali”

“tentu saja… ini mimpi terbesarku oppa”

“arasso… arasso. Ayo kita ikuti Daddy mu, tapi jaga jarak, jangan sampai dia tahu”

“nae oppa, aku mengikuti langkahmu saja”

Kris mengitarkan pandangannya ke segala penjuru taman. Ia mencari bangku panjang dekat air mancur tepat di bawah pohon cherry yang paling besar. Dan tidak jauh-jauh, sekitar 10 meter dari tempatnya berdiri, ia menemukan seorang yeoja berjacket abu-abu, dengan topi kupluk di kepalanya. Kris sedikit lupa kapan dia membelikan kupluk seperti itu untuk putrinya.

Kris juga cukup takjub, rambut Hae Won sedikit berubah, karena stylenya berombak dan kelihatan sangat anggun menutupi wajahnya dari samping. Kris berjalan mendekat, ia mengeluarkan sekaleng minuman hangat dan berniat menyodorkannya pada Hae Won yang pasti sudah sangat bosan menunggunya.

sorry dear… Daddy membuatmu menunggu terlalu lama” ucap Kris sambil tertawa.

Yeoja itu tersentak, seketika menoleh pada sumber suara.

Kris membelalak, seketika merasa seluruh tubuhnya kehilangan tenaga, bahkan kekuatan untuk menggenggam pun seolah lenyap. Kaleng minuman di tangannya jatuh tanpa daya ke tanah tempatnya berpijak. Bahkan plastik kresek yang ia pegang pun ikut jatuh tanpa daya.

Seolah tak bisa berkedip, Kris berkali-kali meyakinkan diri tentang sosok yang di tangkap oleh kedua matanya, sehingga terproyeksi jelas menuju otaknya, membuka kembali kunci pada kotak kenangan masa lalu.

Yeoja itu tidak kalah kagetnya. Ia hanya bisa mematung sambil menutup mulutnya saking tak kuatnya menahan keterkejutannya.

“kau…” seru mereka bersamaan.

Kris menggelengkan kepalanya, sungguh tidak percaya “lee Eun Yoo…” lirihnya tanpa suara, hanya hembusan nafas berkabut yang keluar dari mulutnya.

“Kris oppa” yeoja yang ternyata adalah Angela itu juga besuara lirih. Seketika air matanya keluar bergerombol, menumpuk di pelupuk mata. Ia pernah bisa menduga akan terjadi pertemuan seperti ini, tapi ia sama sekali tidak pernah mempersiapkan diri.

“Eun Yoo-ah….” kali ini Kris sudah mulai mampu bersuara. Ia pun tak tahu harus berbuat apa pada sosok yang begitu ia rindukan di hadapannya ini. Andai ia sudah tidak mempertimbangkan logika, sudah ia tenggelamkan yeoja itu ke dalam pelukannya.

Tak jauh dari situ, Hae Won dan Lay saling bertatapan dengan penuh tanda tanya besar di kepala mereka.

“kenapa dengan mereka?” tanya Lay tidak mengerti

“molla… aku tidak bisa mendengar apa-apa dari sini, air mancurnya berisik”jawab Hae Won tak kalah bingung.

“maksudku… coba perhatikan tingkah mereka, sangat aneh. Itu bukan sikap yang ditunjukkan oleh kedua orang yang baru pertama kali bertemu”

“maksud oppa?”

Lay menatap Hae Won “kau yakin, Daddy mu dan Mam Angela tidak saling mengenal?”

“a… aku yakin, ini pertama kalinya kami kembali ke Korea setelah 18 tahun. Dan Daddy tidak pernah bertemu orang lain karena urusan kantornya. Yah kecuali Mam Angela adalah pekerja di kantor Daddy, api kita sama sama-sama tahu kalau Mam Angela adalah seorang dosen…”

“Hae Won-ah, tidak sesederhana itu. Sikap yang mereka tunjukkan lebih mengarah kepada… ah sulit membahasakannya… coba saja perhatikan mereka”

“arasso” Hae Won pun kembali fokus memperhatikan sikap kedua orang itu.

“Eun Yoo-ah…” lagi-lagi hanya sapaan bodoh yang mampu keluar dari mulut Kris.

“bukan… aku bukan Lee Eun Yoo. Maaf.. anda salah orang” Angela berbalik, kemudian berlari meninggalkan Kris

“Eun Yoo-ah… chakkaman…” Kris mengejarnya.

Hae Won dan Lay terkejut, dan ikut menguntit dari belakang.

Kris dengan mudah berhasil meraih tangan Angela “Eun Yoo-ah… tunggu”

“aku bukan Eun Yoo, namaku Angela…” Angela berusaha menutupi wajahnya yang sudah banjir air mata

“siapapun namamu, kau tetap sosok yang sama”

Angela menepis tangan Kris dan menatapnya tajam “kau sengaja menyiksaku kan? Kau sengaja hadir di depanku setelah sekian lama meninggalkanku kan? Setelah apa yang kau lakukan padaku, kau masih berani menampakkan wajahmu di hadapanku…”

“Eun Yoo-ah bukan seperti itu.. aku juga tidak tahu kalau akan bertemu denganmu di tempat ini, maksudku… ini sungguh di luar kendaliku. Aku hanya ada janji bertemu dengan putriku di sini, dan kukira kau adalah dia…”

Angela menahan sesak yang bergejolak di dadanya “jadi kau adalah ayah dari Hae Won. Yang dia panggil sebagai Daddy?”

Kris membelalak “kau… kenal Hae Won? Jadi yang berbicara denganku di telpon? Oh God… ini sungguh__”

Angela menatapnya nanar “chukkae… setelah meninggalkanku dan bayiku, kau berhasil mendapatkan pengganti kami dengan sangat mudah” Angela menatap Kris dengan penuh dendam.

Kris terkejut bukan main “Eun Yoo-ah, apa maksudmu…”

“kau bahkan tidak di sisiku saat aku melahirkan anakmu, kau bahkan meninggalkanku tepat di saat anak kita meninggal… kau… kau adalah namja terkejam di dunia ini” bentak Angela dengan emosi meluap-luap

“Eun Yoo-ah… bicara apa kau? Aku… sama sekali tidak paham dengan yang kau bicarakan… semuanya… berbeda dengan yang dikatakan___”

“ironisnya… aku bahkan sangat menyukai putrimu dari yeoja lain… aku sangat menyukai Hae Won… dan kenapa dia adalah putrimu? Kenapa harus kau lah ayahnya.. kenapa??? SHIREOYO… JEONGMAL SHIREOYO…”

Kris berusaha merengkuh Angela, tapi yeoja itu memberontak “Eun Yoo-ah.. dengarkan penjelasanku. Hae Won itu adalah___”

Plak…

Angela berhasil menampar Kris untuk menghentikan usaha namja itu memeluknya “tidak ada yang perlu dijelaskan. Kehadiran Hae Won sudah menjadi penjelasan detail atas semua masalah ini. Aku memang merasa bersalah padamu karena tidak berhasil melahirkan anak kita dalam keadaan hidup, aku sudah menebusnya dengan mengosongkan rahimku selama bertahun-tahun untuk mendiang anak kita. tapi… aku sama sekali tidak menyangka, saking kecewanya kau padaku, kau meninggalkanku untuk yeoja lain. Jadi untuk apa aku mendengarkan penjelasanmu lagi?  Aku membencimu… sangat membencimu”

“Eun Yoo-ah… ini tidak seperti yang kau pikirkan. Ya Tuhan, aku bahkan baru tahu kalau masalah kita serumit ini. Tapi intinya… Hae Won itu adalah__”

“tenang saja, aku tetap menyukai Hae Won. Walau aku sudah tahu dia adalah putrimu dari yeoja lain,. Aku iri pada yeoja yang telah berhasil memberikan Hae Won untukmu… aku.. aku tidak bisa membenci Hae Won… seperti aku membencimu” Angela membungkam mulutnya, tenggorokannya sangat sakit dan dadanya beigitu sesak, bagai terhimpit batu karang “aku harus pergi…” Angela berlari meninggalkan Kris yang hanya bisa menatapnya nanar. Angela telah hidup dengan racun kebencian yang di tanam pihak-pihak tak bertanggung jawab. Dan untuk menetralkan racun kebencian itu, sebuah penjelasan panjang tidak akan cukup.

“Daddy… apa yang terjadi, kenapa Mam Angela pergi sambil menangis? Apa yang Daddy lakukan padanya?”seru Hae Won panik begitu ia dan Lay menghampiri Kris

Kris menatap anaknya “ini bukan kebetulan… dear… kau menyukai yeoja yang kau panggil Mam Angela itu bukan karena kebetulan… tapi karena takdir” lirih Kris masih dengan tatapan nanar.

“Dad… Daddy, aku tidak mengerti”

Kris menoleh pada Lay “aku perlu bantuanmu , tolong antar Hae Won pulang”

Lay mengangguk cepat “nae abonim, percayakan saja padaku”

“maaf merepotkanmu, tapi aku harus pergi ke suatu tempat dulu”

“bukan masalah besar abonim”

“gomapta” Kris mengusap puncak kepala Hae Won sejenak, sebelum pergi dengan langkah gontai.

Hae Won hanya bisa menatap kepergian Daddy nya itu dengan penuh pertanyaan “oppa… bisakah kau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Aku sungguh… tidak mengerti” gumam Hae Won

“aku tidak ingin asal menebak, tapi… Hae Won-ah, seperinya Daddy mu dan Mam Angela punya keterikatan satu sama lain di masa lalu”balas Lay

Hae Won langsung menoleh padanya “maksudnya?”

Lay balas menatap Hae Won “aku juga penasaran, tapi… ada baiknya kau tanyakan saja pada pihak yang bersangkutan”

“tapi sepertinya kondisi Daddy tidak dalam keadaan baik untuk dimintai keterangan, terlebih lagi Mam Angela”

“yah… yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu sampai situasi reda”

Hae Won menghela nafas “ah… kenapa semuanya kacau begini?”

Lay tersenyum, kemudian memeluk Hae Won “bersabarlah, pasti akan ada jalan terbaik untuk ini. Arajjhi?”

Hae Won hanya bisa mengangguk

“ayo kuantar pulang, udara semakin dingin”

“nae oppa”

***

Sudah 3 hari Angela tidak masuk mengajar. Dia juga sulit untuk di temui. Saat Hae Won dan Lay mencoba mencari Angela di apartementnya, tetap nihil, apartement itu kosong. Tetangganya hanya mengatakan bahwa Angela pulang ke rumah orang tuanya.

“kita harus mencari dia kemana?” tanya Hae Won putus asa.

“hei… jangan menyerah begitu. Selama Mam Angela masih berada satu negara dengan kita, tidak akan sulit menemukannya” hibur Lay

“bagaimana caranya?”

“ayolah… semua dosen juga punya data pribadi lengkap kan? Ayo kembali ke kampus, misi kali ini adalah mencari Mam Angela”

Hae Won tersenyum lebar, kembali bersemangat. “kajja…”

Hae Won dan Lay tidak buang-buang waktu. Mereka langsung masuk ke ruangan dosen dan menuju meja Angela.

“oppa, apa kita tidak akan dimarahi?”tanya Hae Won cemas.

“serahkan saja padaku. Tunggu di sini” Lay menghampiri meja Park sonseng-nim yang berada persis di sebelah meja Angela. “cwesonghamnida sonseng-nim, saya Mahasiswi tingkat 3, saya ditugaskan Mam Angela untuk mencari berkas di mejanya”

“untuk apa?”

“saya tidak begitu tahu, saya hanya dipercayakan untuk mencari berkas itu dan mengantarkannya ke apartement Mam Angela”

“bukankah Angela sonseng sedang di Busan sekarang?”

Lay sedikit terkaget “nae… tapi itulah yang dipesankan kepada saya”

Park sonseng tampak berpikir “apa Angela sonseng berniat membereskan barang-barangnya? Apa dia berniat berhenti jadi dosen setelah acara pernikahannya?”

Lay tersentak “’maaf? Pernikahan apa?”

Park sonseng mengangkat wajah “sebagai mahasiswa yang dia percayai, sedikit aneh kalau kau tidak tahu Angela sonseng mengambil cuti satu minggu untuk kembali ke Busan. Dan besok adalah acara pernikahannya dengan namja pilihan orang tuanya”

“muoeyo???” Lay terkejut bukan main, bahkan lupa dengan siapa ia bicara.

Hae Won mendengarnya. Ia hampir luruh ke lantai saking kagetnya.

“ah cwesonghamnida, saya terkejut sonseng-nim”Lay membungkuk berkali-kali

“ah gwenchana. Ini memang berita heboh, setelah beberapa kali menunda perjodohan ini, akhirnya Angela sonseng terbuka juga mata dan pikirannya, dia masih muda, mana mungkin dia ingin menjanda seumur hidup”

“nn… nae sonseng nim”

“oh ya, besok para dosen dan senator akan menuju busan. Apa kau ingin ikut rombongan? Mam Angela adalah dosen paling berprestasi di kampus ini, jadi menghadiri acara pernikahannya jelas sangat wajib”

“nae sonseng nim. Akan saya usahakan. Terima kasih.” Lay hendak berbalik “tapi masalah berkas itu, saya masih ingin mencarinya”

“nae… silakan saja”

“kamsahamnida” Lay langsung menghampiri Hae Won yang sudah seperti mayat hidup saking pucatnya dia. “Hae Won-ah, gwenchanayo?”

Hae Won hanya menatap kosong ke depan “it’s over… betul-betul berakhir. Mimpi terbesarku… musnah”

“Hae Won-ah… kau jangan menyerah dulu, ini belum berakhir sepenuhnya”

“tapi Mam Angela akan menjadi milik orang lain, dan setelah itu terjadi, akan sangat mustahil untuk menyatukan Mam Angela dan Daddy”

“Hae Won-ah, kita bisa menghentikannya”

“bermodalkan apa?”

Lay menghela nafas “paling tidak… kita harus tahu alamat Mam Angela di Busan. Mengenai pernikahan itu… um.. pasti ada jalan, kita masih punya waktu satu hari untuk memikirkan jalan keluarnya”

“tidak akan sempat oppa”

“hei… kenapa kau seputus asa ini? Bukankah kau sendiri yang mengatakan kalau Mam Angela dan Daddy mu itu berjodoh. Mungkin ini bisa kita jadikan sebagai pertaruhan seberapa berjodoh nya mereka. Kalau mereka memang ditakdirkan bersama, pasti ada jalan untuk membatalkan pernikahan Mam Angela”

“Oppa…”

there were be miracle when you believe it…. keajaiban itu ada saat kau percaya”

Hae Won pun mengangguk pasti. “nae oppa, aku percaya”

“baiklah, tunggu di sini, aku harus mencari berkas data pribadi Mam Angela”

“nae oppa”

***

Hae Won semakin gelisah. Sampai malam itu Lay belum juga menelponnya untuk memberi tahu cara yang jitu untuk membatalkan pernikahan Angela. Kegelisahan Hae Won semakin bertambah terlebih Daddy nya, Kris belum juga pulang, padahal sudah pukul 9 malam. Sangat tidak biasa, karena kalaupun Kris lembur, dia akan menelon Hae Won terlebih dahulu.

Teka-teki mengenai keterkaitan masa lalu Kris dan Angela pun belum terjawab. Karena saat Hae Won hendak menanyakannya pada Kris, Daddy nya itu selalu punya alasan tersendiri untuk menghindar.

“ah ppabo, kenapa aku tidak mencari tahu sendiri?” gumam Hae Won pada dirinya sendiri.

Berhubung Kris juga belum pulang, Hae Won nekat mencari petunjuk dengan mengeledah isi kamar Daddy nya. Ia yakin, setidaknya ada satu benda yang bisa mengungkap teka-teki itu.

Hae Won mulai menggeledah, mulai dari lemari, tempat tidur, rak buku, meja tidur, bahkan sampai di bawah sofa. Tapi tetap tidak ada petunjuk. Mencari benda abstrak memang sama sulitnya mencari sebuah jarum di tumpukan jerami, benda seperti apa yang Hae Won cari pun ia tidak begitu yakin berwujud seperti apa.

Hampir setengah jam ia menggeedah, tetap tidak ada petunjuk. Ia menyerah, sampai ketika matanya tertuju pada sebuah kotak kecil di atas lemari yang tadi luput dari pandangannya. Hae Won menggeret kursi, dan dengan usaha penuh ia berhasil meraih kotak itu. Ia turun dari kursi, membawa kotak kecil itu menuju tempat tidur Kris.

Hae Won sangat penasaran, tapi ia ragu… apa ia siap melihat isi kotak itu. Begitu banyak tebakan dan kemungkinan yang menganggunya. Ia bahkan memejamkan mata saat tangannya mulai membuka tutup kotak itu.

Dan saat tangannya berhasil memisahkan penutup kotak itu, ia segera membuka mata.

“mwoya?” terkanya sendiri. ia menemukan sebuah kain terlipat rapih di dalamnya. Dengan sangat penasaran ia mengeluarkan lipatan kain itu, dan saat lipatannya terbuka, matanya membelalak.

Itu adalah sapu tangan. Bukan hanya sekedar sapu tangan. Bordiran huruf latin di sudut nya membuat Hae Won hampir terkena serangan jantung. FY

Inisial huruf yang sama, seperti yang ada di sapu tangan Angela yang pernah diberikan padanya. Hae Won segera merogoh saku jeansnya. Ia memang tidak pernah melepaskan sapu tangan pemberian Angela itu. Dan benar saja, semua motifnya sama, hanya warna nya yang berbeda. Milik Angela berwarna Pink, dan yang Hae Won temukan di kotak itu berwarna biru.

“Ige mwooyyyaa??? FY… apa maksudnya ini?” pekik Hae Won pada dirinya sendiri.

“itu inisial nama kami…” terdengar suara dari arah pintu, dan Kris sudah berdiri di sana dengan wajah keruh.

“Daddy… sejak kapan kau…”

“apa dia yang memberikanmu sapu tangan berwarna pink itu?”

“nae… sebenarnya hanya meminjamkan, tapi saat aku mengembalikannya, Mam Angela bilang untukku saja”

Kris berjalan menghampiri putrinya, dan duduk di sebelahnya. “jadi dia juga masih menyimpan ini”

“Daddy… kumohon, jelaskan padaku, sebenarnya apa keterkaitan Daddy dengan Mam Angela?”

Kris menghela nafas, ia memejamkan mata, meremas sapu tangan pink itu dan menempelkannya di kening “awalnya Daddy akan merahasiakan ini sampai mati, tapi… setelah apa yang terjadi, sepertinya kau memang harus tahu Hae Won-ah”

“tentang apa?”

Kris menatap putrinya “maaf telah membohongimu sejak awal…”

“Daddy?”

“ibumu… ibumu tidak meninggal, dia masih hidup”ungkap Kris dengan suara lemah

Hae Won hampir terjatuh ke lantai saking terkejutnya “Daddy… lelucon apa ini? Ibuku masih hidup? Lalu di mana dia? Kenapa dia tidak menemuiku?”

Kris menghela nafas “kalian sudah bertemu. Dan Tuhan punya cara sendiri untuk mempertemukan kalian”

Hae Won membelalak kaget “jangan bilang kalau….”

“nae… ibu kandungmu adalah… yeoja kau sering kau panggil dengan sebutan Mam Angela itu”

Hae Won berdiri saking terkejutnya “Daddy…”

“nae… dialah ibu kandungmu. Angela… atau harus kusebut namanya aslinya … Lee Eun Yoo”tambah Kris

Hae Won mengerjapkan mata, kesulitan mengatur nafas. Ini lebih dari sekedar membuatnya terkejut. Ia menatap sapu tangan biru di tangannya “jadi FY ini…”

“F dari nama Daddy, Wu Fan. Dan Y dari nama eommamu. Lee Eun Yoo. FY… Fan Yoo”

Sontak Hae Won menangis histeris “lalu  kenapa Daddy bohong? Kenapa Daddy menipuku? Kenapa Daddy mengatakan kalau eomma sudah meninggal?”

“keadaan yang memaksa Daddy Hae Won-ah… juga keadaan yang sama mengapa Eun Yoo membenci Daddy”

“wae… wae… keadaan apa?”

Kris menarik Hae Won untuk duduk di sebelahnya, dan menenangkannya daam pelukan. Hae Won masih sesenggukan, tak kuasa mengontrol tangis “bisa kubilang… ini adu domba. Semacam doktrin agar kami saling membenci”

Hae Won tersentak “maksud Daddy?”

“semuanya terjadi 19 tahun yang lalu. Saat Eun Yoo meminta Daddy  menjemputnya di sekolah”

“di sekolah?”

“nae… eommamu masih kelas 2 SMU waktu itu”

“lalu?”

“tapi percayalah, ini bukan kesalahan. Eommamu, Eun Yoo hamil di usianya yang menjelang 17 tahun”

“mwo?” pekik Hae Won. Dan terjawab sudahlah mengapa Daddy nya masih sangat muda padahal sudah mempunyai anak berusia 18 tahun.

“Daddy masih kelas 3 SMU waktu itu, dan sudah hampir lulus unuk masuk Universitas. Mendapati Eun Yoo sudah mengandung anak Daddy… maka kami memutuskan untuk menikah”

Hae Won melepas pelukan Kris “tapi Daddy, kalian masih sekolah”

“itulah perkaranya. Orang tua Eun Yoo tidak setuju. Dan mereka meminta Eun Yoo menggugurkan kandungannya”

“Oh Tuhan…”

“Daddy jelas tidak terima, dan hanya bermodalkan nekat, Daddy membawa Eun Yoo kabur dari rumahnya dan mulai menjalani kehidupan sederhana hanya berdua”

“lalu bagaimana dengan sekolah eomma? Mana mungkin eomma bersekolah dengan perut membuncit”

Kris mengusap rambut anaknya “percayalah Hae Won-ah, eommamu adalah eomma paling bertanggung jawab yang pernah ada, dia berhenti sekolah saat itu. Setidaknya itulah yang Daddy ketahui sebelum kami diracuni oleh doktrin-doktrin kuat dari orang tua Eun Yoo”

“aku masih tidak mengerti”

“kehidupan kami saat itu, saat kau masih dalam kandungan eommamu. Semuanya berjalan lancar, kami bahagia walau dalam kesederhanaan. Daddy menikmati peran sebagai seorang suami yang berkerja mencari nafkah, mengurusi istri yang sedang mengandung, juga berkuliah. Tidak buruk, semuanya membahagiakan”

“lalu apa masalahnya?”

“masalahnya adalah menjelang kelahiranmu. Kondisi fisik Eun Yoo memaksa persalinannya harus dilakukan dengan jalan operasi. Itupun dengan resiko terburuk, harus ada yang mati di antara kalian”

Hae Won menelan ludah. Sungguh keadaan yang ironis. Walau ia tahu akhirnya ia dan ibu nya masih hidup, tapi cerita selanjutnya masih belum selesai.

“uang yang Daddy persiapkan untuk biaya persalinan hanya cukup untuk persalinan normal, daddy putus asa, sementara keselamatan kalian berdua terancam. Dan pilihan terakhir Daddy hanyalah meminta pertolongan orang tua Eun Yoo”

Hae Won membungkam mulutnya. Ia bisa merasakan bagaimana perihnya hati Daddy nya saat merontokkan harga diri untuk mengemis pada orang tua eommanya.

“Daddy bersyukur, mereka tetap orang tua yang mementingkan anaknya, dan di situlah orang tua Eun Yoo mulai meracuni pikiran Daddy. Dengan sangat meyakinkannya, mereka datang pada Daddy dan mengatakan bahwa. Eun Yoo rela bayi nya mati asalkan dia selamat. Awalnya Daddy tidak percaya, setelah perjuangannya merawatmu dalam kandungan, Eun Yoo tidak mungkin menyerah begitu saja. Tapi kondisi memaksa Daddy untuk percaya. Daddy dihadapkan pada pilihan yang sulit, saat sebuah surat keterangan yang harus Daddy tanda tangani, itu seperti memilih antara nyawa Eun Yoo, atau nyawamu. Kalau saja bisa, Daddy akan menyerahkan nyawa Daddy untuk keselamatan kalian berdua. Tapi sekali lagi… Daddy dihadapankan pada pilihan yang mendesak, dan Daddy memilih agar dokter menyelamatkan eommamu”

“Daddy… kalau saat itu aku sudah bisa mengeluarkan suara, aku juga akan mendukung pilihanmu itu”

Kris menyunggingkan senyum pahit “orang tua Eun Yoo tidak berhenti sampai di situ. Eomma Eun Yoo yang mendampingi persalinan menyampaikan sesuatu yang tidak ingin Daddy percaya, bahwa….” Kris menggantung kalimatnya “Eun Yoo menyesal karena telah memilih Daddy, melewati kehidupan yang sulit, dan harus mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan anak Daddy. Bisa Daddy bayangkan perjuangan Eun Yoo melawan maut”

Hae Won mengelus punggung Kris, mencoba menenangkannya

“Daddy berusaha tidak percaya, tapi lagi-lagi… mereka sukses memanfaatkan keadaan,, terlebih, Daddy masih sangat muda untuk bisa berpikiran dewasa. Sampai ketika dokter keluar membawa kabar baik, bahwa keduanya berhasil diselamatkan, kau dan juga Eun Yoo, eommamu”

“disitulah perjanjian itu di mulai. Ternyata Daddy tidak di beri kesempatan untuk bertemu Eun Yoo bahkan untuk terakhir kalinya. Daddy hanya diberi sebuah pilihan, yaitu kau. Daddy boleh memilikimu, asal tidak menampakkan diri di hadapan Eun Yoo dan keluarganya selama-lamanya. Karena… mereka meyakinkan Daddy kalau Eun Yoo betul-betul tidak menginginkanmu sebagai anaknya, tentang bagaimana Eun Yoo masih ingin bersekolah, dan segala hal yang akhirnya membuat Daddy percaya kalau kita tidak diinginkan oleh eommamu”

“Daddy…”

“ternyata doktrin itu tidak hanya untuk pihak Daddy, tapi juga eommamu”

“aku bisa menebak Dad, tentang cerita eomma mengenai anaknya yang meninggal saat dilahirkan, dan tentang suaminya yang ternyata adalah Daddy meninggalkannya saat iitu… aku mengerti. Kalian telah diadu domba untuk saling membenci”

Kris menunduk dalam. Berkutat dengan masa lalu kelam itu.

“lalu kenapa Daddy tidak menjelaskannya pada eomma? Kenapa?”

“tak ada daya… otak eommamu betul-betul diracuni dengan sempurna. Ia bahkan mengira kau adalah anak Daddy dari yeoja lain. Dia mengira Daddy langsung menikah dengan yeoja lain setelah meninggalkannya”

“Hya… Daddy… kuncinya adalah pada penjelasan Daddy ini”

“Daddy tahu Hae Won ah, tapi situasinya masih tegang. Orang dewasa juga butu waktu untuk menetralisir keadaan. Daddy akan menunggu sampai Eun Yoo tenang, dan Daddy akan menjelaskannya sepelan mungkin”

Hae Won melengos kesal “dan saat itu tiba, eomma sudah menjadi milik orang lain”

Kris tersentak kaget “apa maksudmu”

“nae… besok, eomma akan menikah dengan namja lain”

“Mwo??”

“dan Daddy masih ingin membuang-buang waktu? Aku sangat menyayangkan kelambanan Daddy”Hae Won beranjak pergi

“hya… Hae Won-ah, kau mau ke mana?”

“aku akan meminta bantuan pada Lay oppa, karena hanya dia yang mau membantuku bertindak”

“Hae Won-ah… chankkaman”

***

Luhan menatap yeoja di depannya itu dengan kebingungan. Ia tidak tahu harus berbuat apa, saat seorang yeoja dengan wajah panik dan cemas bertamu malam-malam ke asrama mereka. Beruntung pemilik asrama tidak ada jadwal sidak malam itu.

“Hae Won-shii, masuk lah ke dalam, di luar dingin” pinta luhan merasa tidak enak, walau ia tahu membbiarkan seorang yeoja masuk ke asrama adalah pelanggaran besar, dan resikonya bisa saja diusir keluar asrama.

“aku akan menunggu Lay oppa di sini”tolak Hae Won halus, masih dengan wajah panik

“setidaknya… masuk lah ke dalam, kalau kau takut masuk ke dalam kamar namja, kau bisa menunggu di koridor atau di tangga. Asrama ini memang khusus asrama namja, dan tidak diperkenankan menerima tamu, makanya tidak ada ruang tamu”

“gwenchana Luhan oppa, aku akan baik-baik saja menunggu di sini”

“um baiklah… tapi, pakailah jacket ini, kau bisa sakit”

“nae… gomawo”

Luhan menemani Hae Won menunggu di luar

“sebenarnya apa yang dilakukan Lay oppa malam-malam begini di kampus?”tanya Hae Won begitu ia mendengar dari luhan mengenai tempat yang di tuju Lay hingga semalam ini belum pulang

“molla… hanya itu yang dia katakan sebelum pergi”jawab luhan sesekali menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, mencoba melawan dingin.

“oppa, kalau kau kedinginan, masuk lah. Aku akan menunggu Lay oppa”

“ah tidak apa-apa. Aku akan menemanimu. Lagipula kalau Lay tahu aku mengabaikan yeojachinggunya sendiri di sini, aku bisa mati dihajarnya” luhan tertawa lebar

Dan penuturan itu jelas membuat Hae Won merasa malu.

“ah itu dia, sudah datang” luhan berdiri, Hae Won ikut berdiri, menunggu Lay yang sedang berlari ke arah mereka

“Hae Won-ah… apa yang kau lakukan malam-malam begini?”seru Lay begitu mendapati yeojachinggu nya tengah menunggu

“ada yang harus kubicarakan denganmu oppa, ini tentang masa lalu Daddy…”jawab Hae Won antusias

“kebetulan sekali, kau tidak akan percaya dengan apa yang kutemukan” Lay melirik Luhan “ng… maaf sobat, bisakah kau mengungsi sebentar ke kamar Xiumin? Hanya beberapa saat, aku butuh ruang untuk berbicara dengan Hae Won”

Luhan manggut-manggut “arasso..arasso, sudah bisa kuduga, tapi… apa tidak terlalu berbahaya? Kalau ada yang melaporkanmu, bagaimana?”

“hei…aku tidak akan berbuat macam-macam”

“dan hanya kau yang tahu, memangnya orang luar tidak akan berpikiran aneh”

Lay tersenyum tipis “disitulah gunamu sebagai sahabat”

“hya…”

“apa kau lupa, aku juga pernah menolongmu saat kau bertengkar hebat dengan Sang In-shii, aku harus mengungsi, membiarkan kalian menguasai kamar, dan buntutnya aku yang harus membelamu mati-matian di hadapan pemilik asrama, apa kau lupa…”

“ah jinjja.. arasso… tapi kau tidak perlu mengumbarnya ke mana-mana, lagipula kami tidak melakukan apa-apa, kami hanya bicara dan menjernihkan masalah kami”

“nae…nae, aku percaya, makanya lakukan hal yang sama terhadap kami”

“baiklah pahlawan yang awalnya kukira tanpa pamrih”

Lay merangkul pundak Luhan “tidak menyesal kan kau sebagai teman kamarku”

“nae… nae… dan lepaskan aku”

***

Hae Won POV

Aku menatap selembar foto itu dengan sangat tidak percaya. Maksudku, aku percaya cerita Daddy… tapi melihatnya dengan mata kepala sendiri… ya Tuhan, mereka betul-betul real.

Foto itu adalah foto Daddy dan Mam Angela, eommaku. Mereka masih mengenakan seragam SMU. Walau sudah agak usang, tapi aku masih bisa melihat dengan jelas siapa pemilik kedua wajah yang tertawa bahagia sambil berangkulan mesra itu.

“awalnya itu luput dariku, baru tadi sore aku mengingatnya. Waktu aku masih tingkat 2, Saat Mam Angela memaanggilku ke ruangannya karena masalah akademik, aku tidak sengaja melihat foto itu di dalam laci meja Mam Angela. Pantas saja saat aku melihat Daddy mu di taman beberapa hari yang lalu, aku merasa pernah melihatnya, dan ternyata benar, dialah namja yang ada di foto yang disimpan Mam Angela di meja nya. Bruntung ingatanku sangat bisa diajak kerja sama. Setelah aku ingat, aku langsung menedap-endap ke kampus, dan terpaksa membongkar laci meja Mam Angela untuk mendapatkan foto itu. Sekarang terjawab kan, mereka betul-betul ada hubungan di masa lalu”tutur Lay panjang lebar.

“oppa…” aku  mengangkat wajah menatap Lay oppa “Mam Angela… adalah… eommaku”

Lay oppa balas menatapku dengan matanya yang membulat “mworago? Bukankah kau bilang ibumu sudah…”

“Daddy bohong padaku…”

“astaga, kenapa bisa serumit ini”

“ceritanya panjang, intinya mereka diadu domba oleh orang tua eommaku”

“maksudnya?”

Aku menarik nafas panjang, kemudian menceritakan semua yang kudengar dari Daddy kepada Lay oppa, mulai dari a sampai z, tanpa menambah, ataupun mengurangi.

“kalau kejadiannya begitu, kau harus mencegah pernikahan Mam Angela”begitu respon Lay oppa setelah mendengar ceritaku

“tapi bagaimana caranya?”aku tetap masih bingung

“hya… kau adalah anak kandung Mam Angela yang ia kira sudah meninggal. Kalau ia tahu kau masih hidup, kau pikir dia akan mau melanjutkan pernikahannya? Apalagi kalau dia tahu bahwa sebenarnya Daddy mu tidak meninggalkannya, tetapi dipaksa pergi oleh kakek nenekmu”

Aku menatap oppa dengan takjub, yah.. mungkin karena oppa tidak ada kaitan langsung dengan masalah ini, maka dialah satu-satunya orang yang bisa berpikir dengan tenang, tidak seperti aku dan Daddy “Oppa…”

“jadi… jangan putus asa, besok kita ke Busan, pagi-pagi sekali. Jangan lupa, Daddy mu harus ikut”

“nae oppa, nae. Harus… ini juga demi dirinya”

Lay oppa tersenyum “inilah Hae Won ku, bersemangat dan tidak mudah putus asa”

Penuturan Lay oppa membuatku sungguh malu “Oppa…” lesung pipit Lay oppa juga sangat manis, membuatku semakin malu menatapnya.

Lay oppa memegang kedua pipiku, menarik wajahku ke arahnya dan mengecup bibirku sejenak.

Hanya sepersekian detik tapi itu sukses membuatku terlihat sangat bodoh di hadapannya

“kuantar pulang yah, aku khawatir kisah kedua orang tuamu terulang lagi pada kita”godanya

“ma… maksud oppa”

“mengenai… Mam Angela mengandung dirimu sebelum menikah”

Aku membelalak “HYA… TIDAK SOPAN”

“hanya bercanda… makanya kubilang kuantar kau pulang. Sudah hampir tengah malam, kajja”

“ng… nae…”

Candaan Lay oppa benar-benar tepat pada tiitk rawan. Bagaimana kalau aku mengalami nasib yang sama dengan eomma, yah… Lay oppa memang terlihat seperti Daddy, namja yang bertanggung jawab, tapi hei… hanya orang bodoh yang ingin jatuh di lubang yang sama. Sebagai anak, aku harus membanggakan kedua orang tuaku dan membersihkan nama mereka. Bukan justru mencorengnya. Walau aku tahu, mereka pasti tetap menerimaku kalau aku berbuat kesalahan itu, berpatok pada pengalaman masa lalu mereka. Tapi sudahlah… aku ingin perkara ini selesai dulu, harus sukses.

Daddy menatapku dan Lay oppa bergantian. Aku pasrah kalau dia marah padaku, asal dia tidakmarah pada Lay oppa.

“terima kasih Lay-shii, di saat seperti itu, kau sangat membantuku” itu respon Daddy.sungguh di luar dugaan

“ah bukan apa-apa abonim, ini sudah tugasku, berhubung Hae Won datang ke tempatku, jadi aku bertanggung jawab sepenuhnya atas keseamatan Hae Won”

“maksudku, beruntunglah putriku kabur ke tempatmu, bukan ke tempat yang aneh-aneh, karena di saat seperti ini, sulit menemukan orang yang bisa kupercaya”

“kamsahamnida abonim…”Lay oppa menatapku “sudah larut malam, saya permisi dulu. Dan mengenai rencana besok, Hae Won mungkin bisa menjelaskannya pada anda”

“nae… gomawo”

Lay oppa menyunggingkan senyum padaku sebelu ia pergi.

Dan sekarang, aku sudah berhadapan dengan Daddy di sofa ruang tengah dengan atmosfer yang dingin dan kelam. Yah, mengingat tadi aku sempa kabur dengan kondisi marah besar.

“Hae Won-ah… maafkan Daddy” Daddy membuka obrolan. “Daddy bukannya tidak ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya, tapi… ini terlalu mengejutkan. Daddy tidak bisa berpikir jernih, Daddy terus berkutat dengan kenangan-kenangan buruk di masa lalu saat berpisah dengan eommamu. Mungkin kau tidak akan tahu seberapa terpuruknya Daddy saat ini”

Aku menghela nafas, beranjak dari dudukku dan berpindah ke sebelah Daddy. Aku memeluknya erat “aku mengerti Dad, setelah Daddy mengetahui yang sebenarnya, Daddy pasti sangat terpukul, dan seberapa kuatnya keinginan Daddy untuk kembali ke masa lalu agar dapat memperbaiki segalanya sebelum ini semakin rumit, aku mengerti. Untuk itu, kita harus bekerja sama merebut kembali yeoja yang kita cintai. Setelah lama terpisahkan, kita berhak merebut eomma kembali. Eomma milik kita, bukan milik orang lain”

Daddy membalas pelukanku dengan erat “you’re right dear, you’re right. Terserah kalau Eun Yoo membenciku, kenyataan bahwa kau adalah putri kandungnya tetap tidak bisa diabaikan begitu saja”

Aku merenggangkan pelukanku, dan menatap Daddy. Kurogoh saku kemejaku dan mengeluarkan seembar foto yang diberikan Lay oppa tadi “eomma tidak membenci Daddy, sebaliknya, eomma sangat mencintai Daddy.”

Daddy membelalak menatap foto dirinya dan eomma “ini…”

“nae… itu adalah foo yang disimpan eomma selama bertahun-tahun. Itu adalah bukti bahwa eomma masih mencintai Daddy”

“kenapa bisa ada di tanganmu”

“Lay oppa mengambilnya dari laci meja eomma”

“anak itu…”

“Daddy… apapun yang terjadi, kita harus menggagalkan pernikahan eomma dengan namja lain. Eomma milik kita. Hwaithing…”

Daddy tersenyum padaku, dan akhirnya kulihat binar semangat di matanya. Inilah yang kuinginkan. Mam Angela… eommaku, mommyku. Dialah istri untuk Daddy ku. Entah itu di masa lalu, sekarang, dan juga di masa mendatang.

***

 

AUTHOR POV

Eun Yoo  menoleh begitu ada yang masuk ke kamarnya.

“hai… mempelai wanita… tamu sudah berkumpul, acara sudah akan di mulai”ucap namja itu ramah.

“nae Kyung Soo Shii. Aku juga sudah selesai”balas Eun Yoo  berusaha tersenyum seikhlas mungkin.

Namja bernama Kyung Soo itumenghampirinya “kau sangat cantik…”

“terima kasih, untuk ukuran janda dewasa sepertiku, kurasa pujian itu cukup berlebihan” Eun Yoo meraih uluran tangan Kyung Soo dan berdiri dengan bantuannya

“aku tidak melihat seorang yeoja berusia 35 tahun yang mempunyai masa lalu kelam. Yang kulihat sekarang adalah agashii berusia 25 tahun yang akan menjadi pendampingku”

Eun Yoo  berusaha tertawa “ironis, calon pendampingmu ini bahkan lebih tua 3 tahun darimu”

“bukan masalah, sudah kubilang aku tidak mempermasalahkan background, kalau tidak begitu, aku tidak akan menunggumu selama 10 tahun sampai kau menyetujui perjodohan ini”

“Kyung Soo –shii…”

“hum? Waeyo…?”

“maaf telah membuatmu menunggu terlalu lama”

“tidak masalah, toh pada akhirnya, aku mendapatkan buah penantianku. Dan sama sekali tidak buruk, padahal akan lebih baik kalau 10 tahun yang lalu kau langsung menerima lamaranku”

“Kyung Soo-shii…”

“gwenchana, ayo kita ke lantai bawah, semuanya sudah menunggu. Ayahku sendiri yang akan menjadi pendamping mempelai”

Eun Yoo menghela nafas “aku gugup”

“santailah, semuanya akan terbayar setelah ini” Kyung Soo mengedipkan sebelah mata indahnya.

“aku tidak menyangka kau juga punya sisi ini, apa karena kau sudah menunggu terlalu lama?”sindir Angela

“bisa jadi begitu. Pelan-pelan menuruni tangga, hati-hati gaunmu”

“nae… nae…”

“Lee Eun Yoo… sebentar lagi kau akan menjadi nyonya Do”

Eun Yoo  tertawa “kau tahu, sebenarnya aku sedikit geli saat namaku akan berubah menjadi Do Eun Yoo”

“hum? Tidak apa-apa, atau aku yang akan mengubah nama menjadi Lee Kyung Soo?”

“kedengaran keren…tuan Lee”

“baiklah nyonya Lee”

“Daddy… bisa lebih cepat lagi? Pernikahannya akan segera mulai, kalau eomma sudah menikah, kita tidak punya kesempatan lagi” desak Hae Won yang duduk di jok belakang.

“ini sudah sangat cepat Hae Won-ah, kalau lebih dari ini, kita justru tidak akan sampai ke acara pernikahan itu, kita justru akan berjejer di branker Rumah sakit” Lay yang menjawab. Ia duduk dengan gugupnya di sebelah Kris yang mengemudi. Terlebih Kris sudah sangat serius menyetir, dengan mata tajam tertuju ke depan.

“kita sudah masuk Busan Lay -shii, kau yakin pernikahannya diadakan di rumah Eun Yoo? Maksudku Angela??”tanya Kris dengan nada serius

“nae abonim, Park sonseng sendiri yang mengatakannya”

“Daddy… apa keluarga eomma sangat kaya? Kenapa pernikahannya diadakan di rumah mereka?”Hae Won masih sempat bertanya

“nae Hae Won-ah, luas pekarangan rumahnya saja 10 kali lebih luas dari rumah kita”jawab Kris

“mwo??? Pantas saja keluarga eomma tidak menyetujui Daddy yang waktu itu hanya pelajar miskin”

“Hae Won-ah… husst” Lay menegur yeojachinggunya itu

“gwenchana oppa, aku dan Daddy memang santai dalam setiap obrolan”balas Hae Won “lagipula, Daddy sudah menjadi pengusaha sukses, bisa menghidupi aku dan eomma sampai 7 turunan”

Lay tersenyum, keluarga yeojachinggunya ini sangat unik. Terlebih Hae Won, bahkan di saat keadaan genting pun dia masih sempat mengeluarkan lelucon.

“sudah sampai” lirih Kris berusaha tenang

“mana? Daddy… aku tidak melihat rumahnya”balas Hae Won bingung, Lay juga iku mengitarkan pandangannya ke sekeliling.

“jalan ini adalah jalan khusus menuju kediaman mereka”

Lay dan Hae Won bertatapan sejenak “Mwo? Bahkan punya jalanan pribadi seluas ini?”

Kris mengangguk. “lihatlah, sepertinya kita hanya bisa sampai di sini, parkirannya penuh. Ayo bergegaslah” Kris menghentikan mobilnya, dan kedua penumpang itu pun langsung bergegas turun. Kris berlari lebih dulu menyusuri jalanan yang di samping  kanan dan kirinya berjejer mobil-mobil mewah.

Eun Yoo-ah, kumohon tunggu aku__lirih Kris dalam hati.

“saudara Do Kyung Soo, bersediakah engkau menerima mempelai wanitamu Lee Eun Yoo sebagai pendampingmu,  dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, dalam senang maupun susah, serta berjanji untuk bersama sehidup semati”

Kyung Soo melirik Angela sejenak, yeoja itu masih tertunduk “Dwe… saya bersedia”jawabnya lantang.

“dan Kau… Lee Eun Yoo”

Angela tersentak begitu pendeta memanggil namanya

“bersediakan engkau menerima mempelai priamu Do Kyung Soo sebagai pendampingmu, dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, dalam senang maupun susah, serta berjanji untuk bersama sehidup semati”

Angela menelan ludah. Sebenarnya sangat mudah mengatakan Ya saya bersedia, tapi kenapa baginya kalimat pendek itu sangat menakutkan, layaknya tali di tiang gantungan yang siap melilit lehernya setelah ini.

“saudari Lee Eun Yoo, bersediakan engkau menerima mempelai priamu Do Kyung Soo sebagai pendampingmu, dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, dalam senang maupun susah, serta berjanji untuk bersama sehidup semati” ulang pendeta itu.

Kyung Soo menoleh pada Eun Yoo “Eun Yoo-ah, kau baik-baik saja?”

Eun Yoo mengangguk, “ah nae… maaf, konsentrasiku buyar” Eun Yoo menghembuskan nafas

“pak pendeta, tolong diulangi sekali lagi, Eun Yoo sedang mempersiapkan dirinya”ucap Kyung Soo

“baiklah.  saudari Lee Eun Yoo, bersediakan engkau menerima mempelai priamu Do Kyung Soo sebagai pendampingmu, dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, dalam senang maupun susah, serta berjanji untuk bersama sehidup semati”

Eun Yoo menarik nafas panjang “Dwe… saya___”

“WAIT A MINUTE…” seru Kris setelah berhasil menerobos security yang berjaga di dekat altar.

Eun Yoo menoleh, dan matanya membelalak. Seketika ia mengangkat kain renda yang menutupi wajahnya. “Kris oppa…????”

Tamu undangan langsung heboh, tidak paham situasi.

Seorang namja separuh baya berdiri dengan wajah mengeras, istrinya mencoba menenangkan, tapi ia menepisnya “singkirkan pengacau itu… ini adalah acara sakral, jangan seenaknya merusak” gertak namja itu sangat marah

“Aboji kumohon… ada yang ingin kukatakan pada Eun Yoo… setelah dia mendengarnya, aku berjanji akan menyerahkan segala keputusan ini padanya” pinta Kris tulus, bahkan sudah lebih kepada memohon. Dua bodyguard ber jas hitam sudah hampir menyeretnya

“Tidak… kau tidak berhak mengatakan apapun… cepat angkat kaki dari tempat ini”

“Aboji…”

Dua bodyguard itu sudah mulai bertindak.

“tunggu… appa, biarkan dia bicara” seru Eun Yoo lantang

“tapi nak… ini__”

“kalau appa yakin tidak ada yang salah, maka ucapannya jelas tidak akan mempengaruhi hal ini kan?”

“tapi…”

Eun Yoo menatap Kris “Oppa… bicaralah”

Kris menyentak kedua tangannya yang digenggam kasar kedua bodyguard itu. Ia melangkah pelan di atas altar menghampiri Eun Yoo. Tapi ayah Eun Yoo menghadangnya.

“sudah kubilang jangan menampakkan wajahmu di hadapan kami”tegur ayah Eun Yoo dengan suara tertahan, wajahnya merah menahan marah

“cwesonghamnida aboji, tapi aku bukan lagi namja berusia 19 tahun yang bisa dengan mudahnya percaya setiap ucapanmu. Dengan tidak mengurangi rasa hormat, yang ingin kukatakan adalah… aku sudah tahu semua kelicikan anda” tutur Kris tanpa ragu

“HYA…. DI MANA SOPAN SANTUNMU???”

“setidaknya aku masih menghormati anda sebagai ayah mertua” Kris mengangkat wajah, menatap yeoja yang berdiri bersebelahan dengan namja asing “Lee Eun Yoo… yang ingin kukatakan adalah, kebenaran yang terjadi di masa lalu. Yang sebenarnya terjadi adalah, aku sama sekali tidak pernah meninggalkanmu selama persalinanmu, yang kulakukan hanyalah meminta bantuan kedua orang tuamu yang tidak kusangka justru berbuat kejam dengan memisahkan kita. Aku tidak meninggalkanmu, tapi lebih tepatnya, aku dipaksa untuk pergi dari sisimu. Dan kebodohanku saat itu adalah, mempercayai setiap ucapan busuk kedua orang tuamu”

“HYA… JAGA BICARAMU ANAK MUDAAA”

“A… apa maksudmu?” lirih Eun Yoo tidak percaya. Beribu tanda tanya besar bertumpuk di kepalanya.

Kris tidak mempedulikan bentakan ayah Eun Yoo. Ia juga tidak memperdulikan kasak-kusuk yang terdengar menyebalkan dari para undangan “Eun Yoo-ah, sejak dulu bahkan sampai detik ini, setiap aku bernafas, aku tidak pernah sedetikpun melupakanmu. Mengenai hal konyol yang disampaikan orang tuamu padamu saat itu bahwa aku kecewa terhadapmu dan segala hal… semuanya bohong. Aku mencintaimu… sangat mencintaimu__”

PLAAAKKK…

Kris mendapatkan tamparan hebat dari ayah Eun Yoo “BERHENTI MENGATAKAN OMONG KOSONG ITU DAN PERGI DARI SINI”

“Oppa…” Eun Yoo membungkam mulutnya, tubuhnya bergetar hebat, dan air matanya sudah menggenang di pelupuk mata.

“satu lagi Eun Yoo-ah” Kris tetap tidak peduli, walau darah mulai menetes dari sudut bibirnya “Anak kita… anak yang kau lahirkan. Dia tidak meninggal”

Eun Yoo membelalak. “MWORAGO??”

“DADDY…” seru Hae Won yang akhirnya berhasil lepas dari security yang menjaga di gerbang, Lay menyusul dengan nafas tersengal-sengal.

Eun Yoo hampir limbung, ia mundur beberapa langkah “jangan bilang kalau…”

Kris menggenggam tangan Hae Won “nae… Hae Won… dia adalah anak yang kau kira meninggal setelah kau lahirkan. Dia adalah anak kandungmu, anak kita, bukan anak dari yeoja lain… tapi anakmu”

“bohong… kau bohong, tapi orang tuaku bilang___” Eun Yoo mulai histeris

“disituah letak kepolosan kita Eun Yoo-ah. Dengan mudahnya kita di adu domba hingga membenci satu sama lain. Orang tuamu membohongimu bahwa anak kita sudah mati, dan aku meninggalkanmu. Orang tuamu juga membohongiku kalau kau tidak menginginkan anakmu dan juga aku… dan itu sukses membodohi kita sampai 18 tahun ini”tambah Kris dengan mata yang juga berkaca-kaca.

“JANGAN PERCAYA Eun Yoo-AH… JANGAN PERCAYA, PRIA INI PENIPU… PENIPU” seru ayah Eun Yoo mendarah daging. “SERET ORANG-ORANG INI KELUAR” perintah ayah Eun Yoo dengan suara menggelegar.

“Eun Yoo-ah… aku tidak mungkin berbohong, aku mencintaimu, aku tidak pernah meninggalkanmu, dan anak kita, Hae Won masih hidup, dia berdiri di sini sekarang… percayalah” seru Kris saat bodyguard itu mulai menyeretnya.

“Daddy…” pekik Hae Won saat seorang bodyguard juga menyeretnya.

Lay berusaha menyelamatkan yeojachinggunya tapi naas, seorang bodyguard lagi menghentikan pergerakannya dengan menguncinya dari belakang.

“Hya… lepaskan tanganmu dari putriku” seru Kris mendarah daging. Ia memberontak sekuat tenaga, sempat berhasil menjatuhkan namja berotot di sebelah kirinya, tapi yang di sebelah kanannya bertindak licik dengan mengantamkan kursi besi ke punggung Kris.

“PAK PENDETA, LANJUTKAN UPACARA PERNIKAHANNYA” perintah ayah Eun Yoo, bahkan tanpa sadar membentak pak pendeta

“ah.. dwe…dwe… sau… saudari Lee Eun Yoo”

“EOMMAAAAAAAAAAAAAA” pekik Hae Won ketika bodyguard yang menanganinya mulai bertindak kasar.

Eun Yoo yang akhirnya bisa menguasai dirinya langsung tersadar “HYA… LEPASKAN TANGANMU DARI ANAKKU” pekiknya. Ia berlari sambil menenteng gaunnya, “lepaskan tanganmu dari anakku, namja biadab”Eun Yoo melemparkan buket bunga yang ia pegang ke wajah bodyguard itu, dan melemparnya dengan sepatu hak tingginya. Setelah namja itu melepaskan Hae Won, Eun Yoo langsung menarik Hae Won ke dalam pelukannya “gwenchanayo?”

“nae eomma…” Hae Won sesenggukan, tangannya terkilir, bahkan memerah.

“Eun Yoo-ah… apa yang kau lakukan. Ini adalah acara pernikahanmu” tegur ayah Eun Yoo.

“cukup appa… cukup. Sekali lagi appa mengekangku, aku tidak akan memaafkanmu”seru Eun Yoo dengan suara bergetar hebat

“Eun Yoo-ah, berani-beraninya kau”

“Tidak puaskan appa telah memisahkanku dengan suami dan anakku selama bertahun-tahun? Di mana hati nuranimu appa? Tegakah kau melihat aku sudah seperti orang gila karena percaya bahwa suamiku meninggalkanku dan anakku meninggal? Kau sebut dirimu seorang ayah???”bentak Eun Yoo

“Eun Yoo-ah… jaga bicaramu, sadarlah dengan siapa kau bicara” eomma Eun Yoo baru angkat bicara, mendampingi suaminya.

“cwesonghamnida eomma, aku sangat menghormati kalian. Tapi… apa seorang anak tidak pantas menyuarakan isi hatinya? Eomma… kau adalah seorang ibu, bagaimana perasaanmu kalau seseorang membohongimu  kalau aku, anakmu sudah meninggal. Bagaimana perasaanmu???”

“Eun Yoo-ah…”

“tidak apa-apa… tidak apa-apa kalau kalian tidak ingin mendengarku, tidak apa-apa kalau kalian tega melukaiku, anak kalian sendiri. Tapi… cukup tegakah kalian membiarkan anakku, cucu kalian tumbuh tanpa seorang ibu?”

Orang tua Eun Yoo saling bertatapan, mereka marah, sedih, dan malu pada saat yang bersamaan. Tamu undangan yang kebingungan terpaksa membubarkan diri dan meninggalkan kekacauan itu.

Eun Yoo menoleh pada namja yang mengunci lengan Kris “kalian ingin kupecat?” bentak Eun Yoo

“mianhamnida agashii” namja itu melepas Kris.

Eun Yoo menghampirinya, sementara Hae Won menghampiri Lay yang juga terkapar.

“neo ppaboya? Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal? Aku hampir saja bertindak gegabah, kau tahu…”bentak Eun Yoo masih dengan suaranya yang bergetar.

“kau tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan”balas Kris

“kau bodoh… kau bodoh…”Eun Yoo memukul dada Kris berkali-kali.

“tapi… aku berhasil menghentikanmu kan?”

Eun Yoo menyeka darah yang menetes di sudut bibir Kris “kau berhutang banyak penjelasan”

“aku akan menjelaskannya. Semuanya… dari awal kellahiran Hae Won, dan setiap tahun yang kuhabiskan untuk membesarkannya di Canada. Semuanya.. akan kuceritakan. Tapi dengan satu syarat”

“syarat apa?”

Kris membelai pipi Eun Yoo dan menatapnya lekat-lekat “kembali lah ke sisiku”

“shireo…”

“Eun Yoo-ah…”

“apa kau betul-betul bodoh? Setelah apa yang terjadi, memangnya aku harus ke mana lagi selain kembali ke sisimu bersama anak kita?”

Kris tersenyum, dan tanpa menunggu lagi ia menarik Eun Yoo kedalam pelukannya “saranghae Eun Yoo-ah, jeongmal saranghae…”

“nado… oppa. Nado saranghae…”

“maafkan aku karena dengan bodohnya percaya kebohongan orang tuamu, maafkan aku karena meninggalkanmu. Seharusnya aku cukup tegar dan kuat untuk melawan apapun demi bersamamu waktu itu, maafkan aku… maafkan aku dengan segala kekuranganku”

“posisi kita sama. Anggap saja kita impas, aku juga bersalah padamu karena percaya omong kosong orang tuaku, seharusnya aku tidak meragukanmu, seharusnya aku tau ada sesuatu yang salah mengenai kepergianmu…”

“diamlah… aku sudah mengerti. Aku hanya ingin seperti ini dulu…”potong Kris.

Lama mereka teredam dalam pelukan kerinduan itu, sampai ketika ekor mata Eun Yoo menangkap sosok yang masih berdiri di sana tanpa beranjak. Dan dia harus bertanggung jawab akan kesalahannya itu.

Eun Yoo melepas pelukannya “oppa… aku masih punya sesuatu yang harus kuselesaikan. Tunggu di sini”

Awalnya Kris tidak mengerti, tapi setelah ia menangkap sosok itu, ia pun paham “nae… aku menunggumu, selesaikanlah”

Eun Yoo mengangguk kemudian menghampiri Kyung Soo yang masih berdiri di altar pernikahan “Kyung Soo –shii… aku… aku minta maaf”

Kyung Soo tersenyum “aku tidak habis pikir, penantian selama 10 tahun, berakhir dengan kekacauan selama 10 menit. Dramatis ”

“aku sungguh minta maaf, aku telah mengecewakanmu”

“sudahlah… aku memang kecewa, sangat kecewa. Tapi… aku masih punya hati nurani, aku tidak setega orang tuamu yang sanggup memisahkankau dengan namja yang kau cintai, serta sanggup membohongimu selama 18 tahun mengenai kematian anakmu. Aku tidak setega itu”

“kyung Soo-shii… aku…”

Kyung Soo menepuk lengan atas Eun Yoo “begini pun sudah cukup, setidaknya aku sudah tidak punya alasan lagi untuk menunggumu. Yah, penantianku berakhir, walau tidak berakhir dengan bersamamu”

Eun Yoo semakin menunduk penuh sesal. “Kyung Soo –shii, aku bukan yeoja yang pantas untukmu. Aku yakin banyak yeoja yang lebih baik dariku di luar sana yang sedang menantikanmu”

“hum… mungkin saja begitu. Tapi… agar kau tahu,baik buruknya dirimu, aku hanya ingin yeoja sepertimu. Yah… walau tidak sebanding dengan cinta yang dimiliki namja itu, aku masih berani mengatakan kalau… aku mencintaimu”

Eun Yoo tertegun “Kyung Soo-shii”

“lupakanlah, hari ini seharusnya kita memang memulai hidup baru, tak kusangka yang dimaksud hidup baru adalah, memulainya masing-masing. Kau sudah menemukannya… jadi jangan melepasnya lagi”

Eun Yoo tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menangis. Merasa sangat bersalah.

“aku ikhlas Eun Yoo-ah, jadi jangan salahkan dirimu. Aku yang akan merasa bersalah jika berada di pihak yang menindasmu”lanjut Kyung Soo

“gomawo Kyung soo-shii, jeongmal gomawo…”

Kyung Soo memberanikan diri memeluk Eun Yoo sejenak “sama-sama. Berbahagialah dengan keluargamu, itu sudah cukup bagiku”

“nae…”

Kyung Soo melepas pelukannya “masalah berita yang beredar nanti, tenang saja, aku yang akan menjernihkannya”

“aku sudah tak tahu lagi harus berkata apa Kyung Soo Shii, kau berjasa sangat banyak untuk kehidupanku”

“tersenyumlah, dan itu sudah cukup membayar semuanya”

Eun Yoo menyunggingkan senyum “sekali lagi terima kasih…”

“nae… kembalilah pada mereka. Suami aslimu pasti akan gelisah karena kau berlama-lama dengan namja lain”

“nae… dan jangan lupa, saat kau menemukan yeoja yang tepat, undang aku ke pernikahanmu”

“tidak akan, karena mungkin saja aku akan batal menikah karena melihatmu”

“kyung Soo-shii”

Kyung Soo tertawa ringan “bercanda, tentu saja akan kuundang”

“selamat tinggal Kyung Soo Shii, sangat beruntung telah mengenalmu”

“nado…”

“apa mereka akan baik-baik saja?” tanya Hae Won saat ia di suruh menunggu di mobil bersama Lay. Sementara Kris dan Eun Yoo menyelesaikan masalah rumit mereka bersama orang tua Eun Yoo.

“orang dewasa punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalah mereka. Kurasa Daddy mu bukan lagi namja yang mudah di manipulasi pemikirannya seperti di masa lalu”jawab Lay diplomatis

“padahal aku ingin melihat, bagaimana cara Daddy merebut kembali eomma dari tangan orang tuanya”

Lay tertawa “bayangkan saja di kisah-kisah cinta kolosal. Mungkin mirip itu”

“oppa…”

“nae…”

“maaf merepotkanmu. Kau bahkan terlibat sampai sejauh ini dengan masalah keluargaku. Aku Merasa tidak enak”

Lay kembali tersenyum, menampakan lesung pipi manisnya “sebenarnya ini asyik Hae Won-ah, keren. Aku belum pernah terlibat dalam kasus seperti ini”

“oppa…”

“dan juga, apa salah terlibat dalam masalah calon keluargaku sendiri”

Hae Won membelalak, sontak wajahnya bersemu merah.

“wae? Apa aku salah? Atau kau tidak menganggapku calon keluargamu?”

“bukan begitu… ini sungguh… memalukan”Hae Won menunduk. Menyembunyikan rona merah di wajahnya.

Lay menyentuh kedua pipi Hae Won dan menatapnya lekat “sudah kubilang, aku payah dalam hal ini, tapi… Hae Won-ah, saat kau kesusahan, aku merasa seolah diriku yang terlibat di dalamnya. Saat kau sedih,, aku juga akan merasa sedih bahkan dua kali lipat dari kesedihanmu. Entahlah, ini konyol… tapi aku tidak bohong. Melihatmu tersenyum dan tertawa, barulah aku merasa tenang dan bahagia”

“oppa… kau membuatku seperti yeoja bodoh saja. Apa yang harus kukatakan untuk semua kebaikanmu ini?”

“tersenyumlah seperti itu, itu sudah cukup”

Masih dengan rikuh dan malu-malu, Hae Won menarik sudut bibirnya untuk mengulas sebuah garis lengkung senyuman.

“Aku menyayangi Tuhan karena memberiku hidup dan takdir bertemu denganmu, aku menyukai kedua orang tuamu, karena telah melahirkanmu ke dunia ini. aku membanggakan bumi, karena planet ini lah tempat di mana aku menemukanmu…” lirih Lay dengan tatapan sarat akan makna tersirat.

“oppa…” hanya lirihan bodoh yang sempat Hae Won keluarkan sebagai balasan.

Lay membelai rambut dekat telinga Hae Won, menatap setiap guratan garis yang membentuk wajah yeoja itu hingga tak satupun garis yang luput dari matanya. Perlahan ia tarik wajah yeoja itu ke arahnya. Hae Won pun sudah mampu membaca situasi, ia memejamkan mata dengan deru jantung yang memburu saking gugupnya.

Lay tersenyum, menatap sepasang bibir di hadapannya, perlahan ia menunduk untuk menggapainya…

TOK…TOK..TOK…

Lay tersentak, Hae Won ikut tersentak, mereka menoleh ke sumber suara.

Wajah Kris terpampang di luar kaca mobil sambil mengetuk-ngetuk jendela mobil tersebut.

Lay dengan kikuk menurunkan kaca mobil “a… abonim, itu matahari cukup terik dan…”

“mataku tidak rabun, cepat turun”perintah Kris

Lay dan Hae Won turun dari mobil dan menghampiri Kris.

“Daddy… ng itu…”Hae Won ikut gelagapan

“mereka ingin bertemu denganmu” ucap Kris.

Hae Won menatap Lay sejenak, kemudian kembali menatap Kris “mereka siapa?”

“orang tua Eun Yoo. Atau dalam hal ini, kakek nenekmu”

“untuk apa mereka ingin bertemu denganku? Bukankah mereka tidak menginginkanku?”

“Hae Won-ah…”

“aku benci mereka”

“kau ingin eommamu kembali kan? Temui mereka”

Hae Won melengos kesal “kalau bukan karena eomma, aku tidak akan sudi menemui mereka”

“kajja…” Kris menarik tangan putrinya. Tapi seketika ia teringat sesuatu. Ia menoleh pada Lay, kemudian menghampirinya “kau juga ikutlah, ini langkah awal untuk lebih dekat dengan keluarga Hae Won bukan? Dari pada sembunyi-sembunyi, lebih baik terang-tarangan saja”

Strike! Tepat sasaran, Lay serasa tertohok pedang panjang “nae abonim” Lay tertunduk.

Kris tersenyum kemudian merangkul pundak Lay “sudahlah, tadi itu aku hanya bercanda, respon seorang ayah memang seperti itu saat melihat anak gadisnya tertangkap basah sedang berkencan. Anggap saja itu formalitas”

“abonim… mianhamnida”

“gwenchana… kau sudah cukup baik untuk putriku. Dan masalah tadi…” Kris mendekatkan mulutnya ke telinga Lay “tekhnikmu masih payah”

Lay membelalak “abonim?”

“Hae Won itu tidak jauh beda dari eomma nya, sangat mudah gugup menghadapi situasi seperti itu. Dan untuk mengatasinya, sebagai seorang namja, kita harus lebih agresif”

Lay takjub dengan ajaran Kris padanya. Ini fenomena langka, calon ayah mertua mengajarkan terkhnik bermesraan kepada seorang namja yang menjadi kekasih putrinya.

don’t waste the time, waktu adalah hal yang paling berharga saat kalian berkencan. Kurasa itu sudah cukup”

“nae abonim… kamsahamnida”

“kalian sedang membicarakan apa?” tanya Hae Won setelah lama menunggu

“urusan namja, nanti kau juga akan tahu. Ayo kita jemput eommamu”

***

Hae Won POV.

Namja tua pemarah itu berdiri di hadapanku, menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki, di sebelahnya juga ada yeoja tua yang penampilannya masih sangat modis, menatapku sambil berlinangan air mata. Mau apa mereka.

“apa nama yang diberikan ayahmu?” tanya namja tua itu

“Hae Won. Song Hae Won”jawabku datar

“song? Kenapa Song Hae Won?”

“aku tidak tahu, tanya saja pada Daddy”

“Hae Won-ah, apa begitu yang daddy ajarkan padamu. Perhatikan sopan santunmu” tegur Daddy yang berdiri bersebelahan dengan eomma di sana. Lay oppa juga ikut mendampingi mereka.

“cwesonghamnida… Daddy mendidikku dengan sangat baik. Aku paham dan mengerti sopan santun. Tapi melihat kalian, aku tidak bisa mengontrol emosi. Image kalian di benakku hanyalah, sepasang orang tua egois yang tega melakukan apapun untuk memisahkan aku dan ibuku”tuturku berusaha untuk tidak bersuara dengan nada tinggi.

“Hae Won-ah” tegur Daddy lagi.

“gwenchana… gwenchana…, ia pantas mengatakannya” namja tua itu masih menatapku “kau membenci… kami?”

“dwe… mulon imnida” bahkan dengan kalimat sopan pun, maknanya tetap sama. Aku membenci mereka, tentu saja.

“kami menerimanya, kami memang pantas dibenci”

Syukurlah mereka sadar.

“Hae Won-ah… kau adalah cucu kami. Sudikah kau memaafkan segala kesalahan kami? Walau kami tahu, kesalahan kami sudah terlalu besar untuk bisa mendapatkan maaf darimu”

Aku merutuk dalam hati, kenapa mereka mudah sekali meminta maaf, padahal di masa lalu, mereka dengan entengnya membuangku. “bukankah kalian bersalah pada orang tuaku? Saat itu aku masih bayi, belum fasih dalam merasakan apapun. Dan aku juga baru tahu tentang segala perbuatan kalian baru—baru ini, dan tetap saja itu lebih dari pada menyakitkan”

“Hae Won-ah…”

“biarkan… biarkan anakmu mengutarakan isi hatinya” namja yang mengaku harabojhi ku ini memotong saat Daddy hendak menegurku lagi.

“aku membenci kalian, dengan segala tindakan kejam kalian memisahkan kami dari eomma. Aku adalah cucu kalian, tapi tanpa hati nurani kalian tega membuangku. Lalu sekarang, dengan sangat mudahnya kalian memanggilku cucu dan memintaku memaafkan kalian?” lanjutku, dan sial.. aku malah menangis. Seharusnya aku tidak menangis untuk menunjukkan kebencianku pada mereka.

“Hae Won-ah…” kali ini eomma yang menegurku.

“apa kata maaf dari seorang cucu yang kalian buang selama 18 tahun ini perlu?”tambahku.

Harabojhi menatapku “andai kau tahu… kalau saja kakekmu ini diberi kesempatan skali lagi untuk kembali ke masa lalu, memperbaiki segala kesalahan yang pernah kulakukan pada kalian, maka kakekmu ini akan rela melakukan apapun, bahkan bisa harus menukarnya dengan nyawa, asal kau sudi memaafkan kesalahan kakek ini…”

Ya Tuhan, untuk apa namja tua ini menangis? Kenapa baru sekarang dia menunjukkan kalau dia punya hati? Kemana hai nuraninya selama ini?. aku menoleh pada Daddy dan eomma, mereka mengangguk padaku, memberi isyarat agar aku memberi maafku pada mereka.

Sejenak aku merenung. Pihak yang paling disakiti dalam kasus ini adalah kedua orang tuaku, kalau mereka sudi memaafkan, kenapa aku tidak? Daddy tidak mengajarkanku untuk menjadi pendendam seperti ini.

“Hae Won-ah… maafkan Halmoni mu ini” yeoja tua itu ikut menangis, ia bahkan menggenggam tanganku.

Aku menghela nafas “kedua orang tuaku memaafkan kalian, lalu apalagi yang harus kulakukan. Asal kalian membiarkan kami bahagia, aku akan melupakan semua memori kelam bagaimana aku adalah seorang cucu yang terbuang. Halmoni, Harabojhi… aku memaafkan kalian”

Mereka bertatapan sejenak, lalu dengan pandangan penuh binar serta air mata, kedua orang tua ini memelukku. Aku tidak bisa menyangkal kalau aku bahagia saat mendapatkan keluarga utuh.

“terima kasih nak… terima kasih”

Eomma menghampiri kami, juga ikut dalam pelukan itu. Sekarang aku sudah punya eomma ditambah kakek dan nenek. Rasanya seperti mimpi.

***

welcome home eomma…” seruku girang saat aku dan Daddy berhasil membawa eomma pulang ke rumah kami. (akan lebih menyenangkan lagi kalau saja Lay oppa ikut, sayangnya dia langsung pulang setelah kami dari Busan. Katanya ada latihan terakhir sebelum perform besok. Aku baru ingat kalau besok pertunjukan yang diadakan mahasiswa jurusan seni akan di mulai)

“hm… siapa yang menata rumah ini”?” itu respon eomma begitu ia pertama kali menginjakkan kakinya di rumah

Aku bertatapan dengan Daddy “um… Daddy, juga aku”

Eomma berdecak berkali-kali. Ia mengahmpiri Daddy dan berkacak pinggang di hadapannya “aku takjub padamu karena sukses membesarkan Hae Won tanpa sentuhan tangan wanita sedikitpun, tapi tetap saja, kau butuh tangan seorang yeoja untuk mengatur keadaan rumah”

Daddy tertawa dan langsung menarik pinggang eomma untuk memeluknya “untuk itu aku membawa mu kemari”

“KYAAAA…”pekikku. pemadangan itu…

Eomma mengetuk ringan kepala Daddy “you need to control your self my lord

Bisa kulihat Daddy tertegun “yes my queen… entah kenapa seolah baru kemarin kau mengatakan hal yang sama”

Entah apa isi percakapan mereka, aku sama sekali tidak mengerti. Tapi yang kutahu, mereka saling merindukan, tatapan mereka sangat dalam, seolah menyampaikan betapa mereka saling mencintai, saling membutuhkan.

“eomma… tanganku sakit” tegurku, sengaja mengganggu mereka.

“ah… mana sayang?” eomma langsung menghampiriku.

“namja besar itu mencengkram tanganku kuat sekali, sepertinya terkilir”

“eomma lihat dulu… aigo.. bengkak begini”

“yeobo… tengkukku sakit sekali, dan pipiku.. ah perih sekali” Daddy ikut-ikutan manja.

Eomma menoleh padanya “sejak kapan kau memanggilku yeobo?”

“kenapa? Kau tidak suka?”

“entahlah… aku merinding mendengarnya”

Daddy tersenyum, cukup licik “ah.. aku punya panggilan untukmu, sesuai perjanjian kita sebelumnya”

Eomma dan aku saling bertatapan. “panggilan apa?”

since our daughter called me Daddy… so… what about Mommy as yours?”lirih Daddy

“Kyaaaa… neomu jhoa…. Daddy… Mommy…”aku memeluk eomma, yang mulai sekarang akan kupanggil Mommy.

“hum… kedengaran lebih manis. Gwenchana”

“oh ya Hae Won-ah. Kau tidak ada janji dengan namjachinggumu malam ini? bukankah kalian ingin berkencan?”tanya Daddy

“opssoyo… Lay oppa akan sibuk sampai 3 hari ke depan”jawabku santai

“sibuk apa? Ah… kekasih macam apa dia, dia tidak akan sesibuk itu sampai tidak punya waktu untuk berkencan denganmu. Ayo telpon dia”

“tapi Daddy, Lay oppa sedang latihan untuk pertunjukan besok”

“ah lebih bagus lagi… kau menontonnya latihan saja, bawakan bekal atau sejenisnya”

“sudah ada yang mengurus hal seperti itu, karena pertunjukannya itu diadakan oleh Mahasiswa jurusan seni”

“Lay pasti akan lebih senang kalau kau menontonnya latihan”

“besok saja, lagipula sudah jam 9 malam”

Daddy berdecak. Daddy ini kenapa? Tumben sekali dia mendesakku untuk menemui Lay oppa, padahal biasanya kalau aku ingin izin keluar malam hari, Daddy bertanya sampai sedetail mungkin. Nah ini… justru sebaliknya.

“Hae Won benar. Lagipula tangannya sakit, dia harus beristirahat” Mommy menoleh padaku “Di mana kamarmu sayang? Tanganmu harus di kompres es supaya bengkaknya hilang”

“di lantai atas, Mom, persis di sebelah kamar Daddy”

“ayo kita ke kamarmu”

“nae Mommy. Malam ini Mommy tidur bersamaku yah…”

Mommy mengusap puncak kepalaku “yes dear

“tunggu… Hae Won-ah… bagaimana dengan Daddy. Daddy juga sedang terluka. Daddy lebih membutuhkan Mommy. Aduh… tengkukku, ah kenapa ini, pandanganku berkunang-kunang… aduh.”

Aku tertawa. Ini pertama kalinya kulihat sisi Daddy yang semanja ini. aku memeluk Mommy “Mom… kepalaku pusing sekali”

“Aigo… ayo kita ke kamarmu, kau betul-betul butuh istirahat”

“nae Mom…”

Author POV.

 

“ada apa?” tanya Eun Yoo begitu membuka pintu. Kris sudah berdiri di hadapannya dengan wajah kusut.

“Hae Won sudah tidur?” Kris melirik ke arah kamar

“Nae… waeyo? Kau butuh sesuatu?”

Kris berdecak “kenapa kita jadi secanggung ini?”

Eun Yoo mengangkat bahu “kurasa… setelah 18 tahun berpisah, kita butuh waktu lagi untuk beradaptasi”

“Eun Yoo-ah, kau jangan bercanda. 18 tahun sudah cukup untuk membuatku jengah. Jangan menambahnya lagi”

“aku hanya bingung harus memulai dari mana”

Kris menarik tangan Eun Yoo keluar dari kamar Hae Won, kemudian menutup pintunya. Hanya dengan jeda beberapa detik, Kris menyandarkan punggung Eun Yoo di sisi pintu dan merengkuh kedua bahunya “anggap saja 18 tahun itu tidak pernah ada, 18 itu hanya angka, tidak akan berpengaruh apa-apa. Kau tetap Eun Yoo, milikku”

Eun Yoo tersenyum “Yes… My lord. Daddy…”

Dan Kris sudah tidak memberikan respon berupa kata-kata. Kerinduannya sudah menumpuk hingga ubun-ubun. Ia gapai bibir Eun Yoo dan menyampaikan kerinduannya melalui ciuman hangat dan lembut.

“tunggu…” Eun Yoo melepas ciuman mereka sejenak

“Eun Yoo-ah… 18 tahun… 18 tahun, dan kau masih memintaku menunggu?”

“bukan begitu. Bagaimana kalau Hae Won terbangun dan tidak menemukanku di sampingnya?”

“Eun Yoo-ah, kau melahirkannya 18 tahun yang lalu, bukannya kemarin. Dia bukan lagi bayi yang akan menangis kalau ibunya tidak ada di sebelahnya”

“kau bisa berpikir begitu karena kau telah menghabiskan waktu sepanjang tahun bersamanya, sementara aku?”

“masih ada besok… okay. Tonight you’re mine

“tunggu___”

Kris sudah tidak memberi Eun Yoo kesempatan untuk protes. Ia sudah berhasil membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman yang lebih dalam dari sebelumnya.

Eun Yoo tidak bisa berbuat apa-apa selain membalas ciuman itu. Terlebih lagi ia tidak bisa menyangkal bahwa ia merindukan namja ini.

***

Kris gelagapan. Suasana sarapan pagi itu begitu mencekam. Bukan karena apa-apa. Hanya karena Hae Won terus menatap tajam ke arahnya.

“Hae Won-ah… salah Daddy apa?”tanya Kris akhirnya

“Daddy yang menculik Mommy tadi malam kan?”Hae Won memulai interogasinya.

Eun Yoo terbatuk di sebelahnya.

“Hae Won-ah, tempat tidurmu kan sempit, jadi Daddy berpikir kalian tidak akan muat, makanya Daddy meminta Mommy ke kamar Daddy. Lagipula, tempat Mommy kan memang di kamar Daddy”Kris memberi alasan.

“kami baik-baik saja, tempat tidurku muat untuk dua orang”

“tapi Mommy itu punya kebiasaan tidur yang aneh. Dia akan menggeliat ke sana-kemari saat tertidur, dan bisa-bisa Mommy mu terjatuh kalau tempat tidurnya sesempit itu”

“dari mana Daddy tahu kalau Mommy punya kebiasaan itu?”

Kris menepuk keningnya. Ia tidak menyangka putrinya akan sepolos itu “Mommy itu istri Daddy jadi Daddy tahu setiap kebiasaan tidurnya”

Eun Yoo menatap Kris dengan serius “aku sudah merubahnya, sejak 10 tahun terakhir, aku sudah tidak lagi memiliki kebiasaan tidur seperti itu”

Kris melirik tajam ke arah Eun Yoo, menyuruhnya diam. “semalam saja Daddy hampir terjatuh dari tempat tidur karena ulah Mommy”

Eun Yoo membelalak kearah Kris, dibalas kedipan mata oleh namja itu.

“baiklah… aku mengalah. Aku akan membiarkan Mommy tidur di kamar Daddy. Tapi dengan satu syarat”

Kris memandangi putrinya dengan serius “what’s that dear?”

Hae Won tertawa kecil “tahun depan… aku sudah harus punya adik baru”

Eun Yoo tersedak rotinya, sementara Kris terbatuk.

“Aku ke kampus dulu, Lay Oppa sudah menjemput. Anyyeong Dad, Mom. Saranghae” Hae Won kabur setelah berhasil mengerjai orang tuanya.

“kau ajari apa anakmu? Ha?” seru Eun Yoo setelah ia berhasil menelan roti yang tersangkut di tenggorokannya.

“aku tidak pernah mengajarinya begitu. Itu pasti dia dapat dari luar”Kris membela diri

“aku hampir mati terkena serangan jantung tadi”

Kris malah tertawa “tapi ide Hae Won cukup cemerlang. Aku ingin anak Namja”

“Hya… jangan bercanda, umurku sudah terlalu tua untuk hamil lagi”

“Eun Yoo-ah… Mommy…”

“jangan merengek. Kalau kau mau anak, lahirkan saja sendiri”

“kejam sekali. Ayolah… satu saja”

“Neo Micchieosso???”

“akan kubuang semua obat kontrasepsimu”

“silakan, aku akan pindah ke kamar Hae Won”

“Hya…”

“wae?”

Detik berikutnya mereka tertawa bersamaan.

“jadi kita bisa bertengkar seperti ini juga?”canda Eun Yoo

“for the first time? Ini tidak buruk. Tapi yang tadi aku serius” Kris menarik Eun Yoo hingga duduk ke pangkuannya

“aku juga serius. Kau ingin aku betul-betul mati? Usiaku sudah 35 tahun, sudah masuk usia resiko tinggi untuk hamil dan melahirkan”

“ada aku, aku akan menjagamu selama kehamilan dan persalinanmu. Aku selalu bermimpi untuk bermain Basket dengan anakku. Aku jelas tidak mungkin mengajak Hae Won melakukan olahraga berat itu”

“berapa umurmu? Kalau betul aku memberimu anak namja, kau sudah akan menjadi namja tua sebelum anakmu mahir memainkan bola basket”

“berani bertaruh?”

“shireo, aku selalu kalah saat taruhan denganmu”

Kris tersenyum, kemudian meraih wajah Eun Yoo untuk menciumnya.

“hei… hentikan” Eun Yoo melepas ciuman itu “habiskan sarapanmu dan berangkatlah bekerja”

“Eun Yoo-ah… kau ini tidak bisa sedikit saja melihatku senang. Hari ini… aku bolos bekerja tidak apa-apa kan? Satu hari saja. Jeball”

“jangan konyol. Aku sudah berhenti bekerja, jadi  Sekarang kau punya dua tanggungan” Eun Yoo membetulkan dasi  Kris dan memasangkan jas nya

“payah…”

“kau bilang apa?”

“opsso… kau tidak pernah mengabulkan permintaanku” Kris meneguk jus nya, menyambar tas dan kunci mobil kemudian mulai beranjak pergi

Eun Yoo menghela nafas, kemudian memeluk Kris dari belakang “kau betul-betul menginginkan anak namja?”

Kris tersentak, hendak berbalik tapi Eun Yoo menolak.

Ia tetap memeluk Kris dari belakang “jangan menoleh. Wajahku sudah seperti warna tomat merah saat ini”

“Eun Yoo-ah…”

“jawab saja, kau betul-betul menginginkannya?”

“nae… aku betul-betul ingin menimang versi mini diriku. Kris kecil”

Eun Yoo tersenyum “baiklah, akan kupertimbangkan”

Kris langsung berbalik, tanpa bisa di tahan oleh Eun Yoo, direngkuhnya pundak yeoja itu “are you serious???

Eun Yoo mengangguk, kemudian tertunduk malu.

“saranghaeyo Eun Yoo-ah… jeongmal saranghae” Kris memeluk Eun Yoo dengan sangat erat

“arasso… arasso, pergilah bekerja. Cari uang yang banyak, agar kau tidak perlu mengemis lagi pada orang tuaku untuk biaya persalinan”

“wah… sindiranmu menyakitkan sekali”

“bukankah itu kenyataan?”

“arasso… tapi kau sudah berjanji, jangan menariknya kembali”

“nae…nae… pergilah”

Kris mengecup kening Eun Yoo sejenak kemudian pergi “aku akan pulang cepat”

Eun Yoo menghela nafas sambil tersenyum sendiri. Moment-moment yang membahagiakan ini hampir saja tidak pernah ia rasakan sampai akhir hayatnya. Beruntung ia bertemu Hae Won di saat yang sangat tepat.

***

Hae Won POV

Aku tidak henti-hentinya berseru “WOW…” atas penampilan Lay oppa dan rekan-rekannya. Serasa seperti menonton pertunjukan boyband idola, semua penonton dari jurusan berbeda bersorak keras dengan penampilan inti yang dibawakan Lay oppa dan kawan-kawannya. Dan yang paling membuatku hampir pingsan adalah, saat Lay oppa mengakhiri pertunjukannya dan melayangkan fly kiss ke arahku. Bangganya!

Dan acaranya berlangsung sangat sukses. Lay oppa langsung menghampiriku begiu acaranya usai.

“bagaimana penampilanku?”tanya Lay oppa sembari menyeka keringat di sekitar leher dan wajahnya.

“OH GOD…. That’s awesome… great, really great”balasku heboh sendiri.

Lay melirik arlojinya “sudah pukul 10 malam, apa orang tuamu tidak mencarimu?”

Aku cemberut “jangan ditanya lagi, mereka mana mengingatku kalau sudah berduaan. Biarlah, hitung-hitung untuk menebus 18 tahun perpisahan mereka”

Lay oppa malah tertawa “mau kuajak ke suatu tempat?”

“kemana?”

“ikut saja” Lay oppa menarik tanganku, menyerobot kerumunan orang-orang yang juga belum pulang, masih ada stand makanan dan barang-barang unik yang mereka singgahi.

Ternyata Lay oppa tidak mengajakku jauh-jauh. Ia hanya mengajakku ke balkon atap gedung fakultas seni. Aku menyandarkan tubuhku pada pembatas balkon yang hanya setinggi perutku.

Tanpa sempat kuduga, Lay oppa melingkarkan kedua tangannya di perutku, memelukku dari belakang. Ia behkan menyandarkan dagunya di bahuku “Seoul sangat hebat kan? Lihatlah lampu-lampu kota yang beraneka warna itu”

Aku mengangguk, sebenarnya bukan mengiyakan pernyataannya, tapi… aku begitu gugup.

“Hae Won-ah, kau sudah melewati hari-hari sulit, dan aku bangga, kau bisa melewatinya dengan usahamu”lirih Lay oppa persis di telingaku

“aku tidak bisa melewati semua ini tanpa bantuanmu oppa, kaulah yang berjasa dalam hal ini. semuanya tidak akan seperti ini kalau kau tidak berada di sisiku”balasku tak kalah lirih.

Lay oppa merenggangkan pelukannya, memutar tubuhku hingga berhadapan dengannya. Aku langsung menundukkan wajah, mencoba sebisa mungkin agar tidak terlihat jelas sedang gemetaran.

Lay oppa tertawa kecil “Daddy mu benar, kau mudah sekali gugup”

Aku mengangkat wajah “kapan Daddy memberitahumu seperti itu?”

“tempo hari saat kita menjemput eommamu”

“ah itu…”

“dan dia juga benar, aku harus lebih agresif lagi terhadapmu”

Aku mengerutkan kening, mencurigakan “maksud oppa?”

Dan jawabannya kudapat saat itu juga. Tanpa jeda sedikitpun, Lay oppa sudah menempelkan bibirnya di bibirku. Dan aku hanya bisa membelalak kage, mencoba enelaah apa yang sedang terjadi padaku.

Lay oppa menciumku? Dan ini lebih lama dari ciuman sebelumnya.

Aku hanya bisa memaung sementara Lay oppa megulum bibirku. Dan setelah ia melepaskan ciuman itu, ia kembali tertawa “lain kali jangan hanya seperti ini. aku terlihat seperti orang bodoh saja”

Aku mengerjapkan mataku “aku… aku harus bagaimana oppa?”

“aigo… yeojaku yang polos. Tidak akan kuberitahu”

“mwo?”

“tapi akan kutunjukkan caranya” dan Lay oppa kembali menciumku.

END

15 thoughts on “[FF] WIFE FOR MY DAD [PART 2 of 2/END]

  1. *peluk cium kris/peluk cium kyungsoo/peluk cium lay/bughbughbuaghplakplak/ditabok eun yoo/ditampar hae won/dihajar exotic/akuu sekaraaat…(yeollie mode on, lirik L&P)*
    “WAIT A MINUTE…” kyaaaa kris HEBAAAT yaaa..sneng liat dy manja2an ama eun yoo sukses bkin aku senyum2 sndri..kyungsoo you’re so gentleman uuuh~ bneran nunggu ampe 10 thn aiiih aku mauuu ditungguin*mupeng*..lay AKU PADAMUU..aduuuh aku kehabisan kata2 thor ga tw mau komen apa lagi, makna dri ff ini nyampe ke aku, rangkaian kata2nya uuuh~ bkin aku melting ga karuan.. Ayo author-nim aku mendukungmu.. Fighting ^^9

  2. uwaaaahhh kris jadi appa muehehheheheh
    gag bisa bayangin thorr… kkk😀
    sarannya kris ke lay “jadi agressif” huooohooo gag nyangka kris bisa begituan kkk😀
    pokoknya daebak dehh thorr ^^
    tetep fighting buat authornya ^^

  3. huahahahahaha😀 *kenapa lu? -,,-. Daebak banget, ceritanya lucu, ada angst nya, ada romance nya, ada comedy nya, tpi aku lucu pas bagian Kris ngebet bnget nyuruh HaeWon kencan sama Lay, udah yakin banget itu MODUS supaya dia bsa brduaan sama EunYoo eomma -,,-. But this FF awesome bnget, cetar membahana badai.. Mumumumu >,< *cipok Baekhyun

  4. Kyung Soo.. kamu gentle banget.. TT.TT *terharu* mending sama aku aku aja deh.. XDDD (siap-siap kabur sambil narik lengan Kyung Soo..kekekekeke)

    Hm.. tak kusangka Lay bisa jadi se-wise itu.. Jujur aja, aku g terlalu suka dengan dia entah kenapa.. Tapi dari FF ini, aku bisa merubah sedikit persepsiku tentang Lay. Dia punya cara sendiri untuk menyatakan perasaannya..

    Aih.. Kris.. dia keren banget jadi Appa.. 18 tahun menyimpan memori kelam itu, hebat.. kalau aku, setahun bisa nangis darah, trus mati gara-gara kehabisan darah. hesh.. (abaikan.. abaikan..)

    FF ini benar-benar DAEBAK karena konfliknya g melebar atau mengikutsertkan orang luar. (Konfliknya murni konflik keluarga) jadi g melebar kemana-mana gitu.. Semangat terus thor untuk buat FF.. Saranghaeyo.. XDD (as your fan.. aku masih normal kok. Aku masih cinta sama Kyung Soo dan Baekhyun..hehehe V^^V)

  5. Hyaaaaaaaaa lay ama siapa nma cwe tu?? Aduh lupa,,
    mereka modus + smangat bnget pengen nyatuin kris ama angel, dengan bersusah payah, n banyak banyak(?) usaha akirnya kris ama angel bisa bersatu juga,, hahaha

    si kris daebak jadi bapak cocok bnget, udah gitu ngajarin camen untuk romantisan ama anknya sndiri pula,, bner bner gila,, ngarep punya bpak kaya gitu, tapi lbih ngrep lagi punya suami kaya gitu,,, hahahaha #ngayaltingkatdewa,,

    pkoknya ff author itu RANCAK BANA…..
    Hehehehehe

  6. Misinya ituloh. Bikin envy aaa. Kris emg tetep tampan dengan style apapun. Aku sangat setuju dengan itu. Lay sm hae won cerdik banget. Suka sm pasangan ini. Aku gak envy sm sekali. Tp bukan berarti aku nggak suka sm lay. Karena emang mereka pasangan yang cocok walopun tak nyata. Jalan pikiran mereka sejalan. Dan itu adalah bikinan min ALF yg kece badai😀
    Bener kan yang aku tebak. Angela itu istrinya kris. Wah, aku pandai menebak juga ternyata. Hihihi. Disini agak aneh kalo lay manggil kris dengan abonim. Aku lebih suka kopel mereka berdua ”KRAY” – Kris Lay. Hihihi. Ada kyung soo masa. Dia calon suami eun yoo? Ah, emang gabisa ditebak ff ini. Hemh..
    Pas acara pemberkatan itu aku serasa sesak napas. Walopun emang pada akhirnya nggak kejadian tapi tetep bikin hatiku heboh(?). bikin aku nangis sesenggukan mimin. Padahal aku sekarang lg on disekolah(nggak ada yang nanya) biarin, aku emang pengin curhat. Pas acara pernikahan itu, gatau kenapa aku terharu. Hae won dapet keluarga utuh. Kaya cerita di sinetron(plakk) gitu. Tapi kalo baca ff kek gini malah bisa smpe hati gitu. Ahh, pasti mataku merah semua. Haha. END

  7. Gw bacanya sampai terharu loh *air mata bercucuran
    Penghayatannya dpt bgt, segala unsur lengkap bgt
    Sesekali buat yg normal, tp dengan unsur dramatis romantis.
    Jgn yaoi mulu,,, ya walau gw g nampik kalo yaoi itu lbh indah #PLAKKK🙂

  8. Oh.,jd gitu ya critanya.. Jd kesalahpahaman akibat crita siluman dr orang tua angel.. Dasar orang tua jahat..
    Aq bejek2 deh.. Hehe lebay gue

    whaaa bpaknya malah ngajarin lay bwt lebih agresif..waduh gmn nich! Aq jd ngakak abiz thor wkt baca ini..hahaha pintu gerbang udah trbuka lebar bwt lay..

    Itu haewon lucu jg.. Mau minta adek baru..hehehe
    kris jg pervert bgt..tp gag pa2 pervert2 yg pnting ganteng..hehehe

  9. daebak thorr suka banget sama cerita ini, kalau ada sequelnya pasti lebih bagus lg thor, keep writing thor😉

  10. Huaaaa happy ending.
    Kris keren lah. Yuhhuuuuu asiiiikkk daddy mertua ngajarin calon mantu spy agresif huhahahaha ampun demi apa lucu
    Kyungsoo aku padamuuuuuu dah, hebat lah soosoo :))))
    Eun yoo nama korea kaka yah? /sotoy/
    Ciyeee krisyoo momentnya bikin saya ketawa ketiwa hhehe mesra banget
    Nice story kak🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s