[FF] Found You after I Lost you [PAR 2 0F 2]


Tittle: found You after I lost you _part 2

Author: AyouLeonForever

Genre: Romance, Sad romance

Rating: PG15

length: 2shoot

Cast: Kim Joon Myeon/Su Ho

Kim Hyun Mi (OC)

Other cast: find it by your self.

Disclaimer: All off the cast(s) especially EXO members, belong to him self, parents, agency, and GOD

Copyright: The story and OC belong to me!No Copy paste without permissions!

warning: Typo(s) every where.

 

Hyun Mi POV.

“Eomma… satu hari saja… kumohon,” pintaku untuk kesekian kalinya agar Eomma mengizinkanku

tidak ke sekolah hari ini.

Eomma masih sibuk menghidangkan sarapan.. “Sudah Eomma bilang tidak ada kata bolos. Cepat bergegas, atau kau akan ketinggalan bis.”

“Tapi Eomma, aku betul-betul tidak enak badan,” keluhku sambil memasang wajah lesu.

“Eomma tidak akan tertipu dengan candaanmu lagi. cepat habiskan sarapanmu dan pergi ke sekolah.”

“Eomma kejam.”

“Hyun Mi-ah…”

“Ne… arayo, aku sudah siap ke sekolah,” ucapku pasrah. Eomma betul-betul tidak bisa diajak kerja sama.

Siapapun yang ada di posisiku pasti tidak akan punya muka lagi untuk ke sekolah. Yah.. alasannya jelas saja karena namja brengsek yang bernama Su Ho itu. AAAAAAAAAAA… hendak rasanya aku juga ikut gila.

Ah sial, bahkan saat aku bercermin pun, bayangan di mana dia menciumku tiba-tiba langsung tereka jelas. Dan ada satu bukti yang menegaskan kalau aku juga sudah cukup gila. Hm, benar… kenapa di akhir… aku justru membalas ciumannya? Harusnya kan aku melawan sampai detik terakhir, tapi…

Aaaaaaaaaaaaaaaaaa………. Aku benar-benar gila.

Tuhan mungkin tidak mengabulkan doaku untuk membuatku sakit hari ini saja, tapi mungkin dia bisa mengabulkan doaku yang lain. Yah, semoga Su Ho tidak masuk sekolah hari ini. Yah… semoga….

Dan betul saja, Tuhan mengabulkan doaku yang terakhir. Karena saat bel masuk berbunyi, dia tetap tidak memunculkan batang hidungnya.  Dan aku bisa bernafas lega dan tidak perlu memikirkan banyak alasan bagaimana menghadapinya hari ini.

“Su Ho-shii tidak masuk?,” tanya Min Kyung padaku saat jam istirahat

“Kau bisa lihat sendiri kan? Dia tidak hadir,” jawabku santai.

“Maksudku… apa dia sakit atau bagaimana?”

“Kenapa kau bertanya padaku?”

Min Kyung mengerutkan keningnya. “Kalian kan sepasang kekasih, tentu saja untuk mengetahui kabar namachingumu, aku harus bertanya padamu.”

Aku terbatuk,. “Hya… ini masih pagi Min Kyung-shii, dan aku malas berdebat.”

“Um… entah aku harus mengatakannya atau tidak. Tapi… kemarin aku melihatmu dan Su Ho berciuman di koridor.”

Kali ini aku tersenak kaget. Kupikir saat itu koridor sedang sepi karena jam pertama sudah mulai. Astaga… dan aku harus mengelak dengan cara apa. “Itu… kami tidak berciuman.”

“Tidak begitu yang kulihat.ng… Hyun Mi-shii. Aku menyukai Joon Myun… dan kali ini aku menyukai Su Ho, tapi… mereka sama sekali tidak tertarik padaku. Joon Myun dan Su Ho, walau mereka pribadi yang berbeda… mereka tetap menyukai orang yang sama.”.

Wajahku langsung panas. Apa maksudnya Min Kyung mengatakan hal ini?. “Min Kyung –shii… bisa kita akhiri pembicaraan ini? Aku tidak suka.”

“Mianhae… aku hanya tidak tahu harus mengatakan apa. Seharusnya aku membencimu. tapi terakhir aku menyadari… bahkan posisimu juga sangat sulit. Kau pasti shock begitu mendapati sosok yang persis sama dengan Joon Myun, tapi dengan sifat yang berbeda. Dan keadaan ini memaksamu untuk terus menekan perasaanmu.”

“A… aku tidak mengerti ucapanmu.”

“Hyun Mi-shii… bisa aku bertanya satu hal?”

“Apa itu?”

“Apa kau menyukai Su Ho seutuhnya? Maksudku, bukan karena wajahnya mirip Joon Myun. Tapi menyukainya sebagai Su Ho… dirinya sendiri.”

Aku tersentak. Entah kenapa pertanyaan ini cukup menamparku. “De… dengar, ada yang salah dari pertanyaanmu. Maksudku…aku tidak pernah memberi pernyataan pada siapapun kalau aku menyukai Su Ho.”

“Siapapun yang melihatmu, pasti akan mengetahuinya Hyun Mi-shii. Tatapan matamu padanya, bagaimana cara kau menghindarinya, dan juga… sikapmu. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah… apa betul kau melihat Su Ho sebagai dirinya sendiri? Bukan replika Joon Myun?”

Aku tertegun. Aku tidak menyangka pertanyaan sederhana Min Kyung menyadarkanku akan sesuatu. tapi aku sendiri mempertanyakannya. Apa aku menyukai Su Ho?.

“Aku harap kebimbanganmu bukan untuk membenarkan tebakanku. Karena kalau itu benar, aku tidak bisa tinggal diam,”  tutur Min Kyung

“Ma… maksudmu?”

“Aku menghormatimu Hyun Mi-shii, tapi… aku betul-betul menyukai Su Ho. Dan kalau saja tebakanku benar, bahwa kau hanya melihat Su Ho sebagai pengganti Joon Myun, aku tidak bisa terima. Aku rasa Su Ho berhak mendapatkan perasaan yang tulus, dan posisi yang tepat, yang menerima dirinya apa adanya. Dan kalau itu tidak terdapat padamu. Artinya…,” Min Kyung sengaja menggantung kaimat, seolah memberi jeda untuk mendramatisir keadaan. “Aku akan melakukan apapun agar Su Ho menerima perasaan tulusku,” lanjutnya.

“Lakukan saja sesukamu, aku… aku tidak peduli,” balasku. Seharusnya aku mengacuhkan ucapan Min Kyung, seharusnya aku tidak peduli. Tapi kenapa, itu sangat menggangguku? Dan aku merasa… tidak suka. Dan setelah Min Kyung beranjak meninggalkanku, pikiranku langsung tertuju pada satu orang.

Su Ho!

Kim Su Ho… apa yang telah kau lakukan pada perasaanku?

2 hari berturut-turut Su Ho tidak masuk sekolah. Aku memilih tidak peduli. Justru itu bagus karena aku tidak perlu susah-susah mencari cara untuk menghindarinya.

Esok harinya Su Ho juga tidak masuk. Hm, baiklah… aku sedikit penasaran, kenapa dia tidak masuk? Anehnya guru-guru tidak pernah mempertanyakan keabsenannya? Bahkan saat guru mengabsen siswa dan menyebut nama Su Ho, mereka hanya akan manggut-manggut. Aku jelas tidak mengerti.

4 hari tidak masuk sekolah. Aku semakin penasaran. Baiklah… aku khawatir. Ada apa dengan Su Ho? Apa terjadi sesuau padanya? Kenapa guru-guru yang mengabsen namanya hanya manggut-manggut, bukan bertanya. “Kenapa Su Ho tidak masuk hari ini?”. Aneh bukan?

Dan saat genap seminggu Su Ho tidak masuk, kecemasanku sudah memuncak. Dan akhirnya kuberanikan diri bertanya pada Min Kyung. “Mi… Min Kyung-shii, aku ingin bertanya.”

“Tentang Su Ho?,” terka Min Kyung langsung

Dan itu membuatku kehilangan keberanian. Malu sekali rasanya. “Bukan… itu, apa PR Matematikamu sudah selesai? Apa aku bisa pinjam?”

Min Kyung jelas mengerutkan kening. “Tumben,” lalu dia menyodorkan buku bersampul biru padaku.

“Terima kasih,” ucapku sambil menerima buku itu dengan salah tingkah. Aku hendak beranjak.

“Sepertinya hanya kau yang belum tahu. Su Ho sedang sakit, dia terjatuh dari sepeda motor,”  tutur Min Kyung. Membuatku tidak jadi melangkah.

“MWORAGO??? Ya Tuhan… bagaimana keadaannya? Apa dia terluka parah? Dia di rawat di mana? Astaga… kenapa kau baru memberitahuku?”

Sialnya, Min Kyung menatapku sambil menahan senyum. “Aku juga baru tahu di hari ke 2 dia tidak masuk. Aku menanyakannya pada Park Sonseng, dan katanya Su Ho izin dari sekolah selama 2 minggu untuk pemulihan. Dan mendengar kata 2 minggu, sepertinya adalah waktu yang cukup lama untuk pulih. Itu artinya, keadaannya cukup parah.”

Aku menelan ludah. Sial, aku tidak bisa menyembunyikan kepanikanku. Masa bodoh…. “Min Kyung-shii, kau tahu alamat Su Ho?,” persetan dengan gengsi.

Lagi-lagi Min Kyung tersenyum tipis. Kemudian mencatatkan sebuah alamat di secarik kertas dan menyerahkannya padaku. “Dan sekarang, bisa kau kembalikan buku Matematika ku? Karena aku yakin kau sama sekali tidak membutuhkannya.”

Min Kyung-shii. Entah kau itu teman atau lawan. Tapi… kau cukup membantu.

Aku mencocokkan alamat yang ada di secarik kertas itu dengan nomor apartement yang berada di hadapanku sekarang. ternyata Su Ho tinggal di kawasan yang cukup mewah.

Dengan penuh keberanian aku memencet bel. Ah… aku hanya akan memastikan keadaannya saja, setelah itu pulang. Tak cukup semenit, pintu apartement itupun terbuka. Dan seorang yeoja cantik menyambutku.

“Ah… Anyyeonghaseyo, maaf mengganggu,” ucapku salah tingkah

“Ah ne, gwenchana. Kau sedang mencari siapa adik kecil?”Tanya yeoja itu.

Apa katanya? Adik kecil? Mentang-mentang postur tubuhnya tinggi semampai bak model, dia malah mengataiku adik kecil?. “Apa benar ini tempat tinggalnya SU, eh maksudku, Kim Su Ho.”

Yeoja itu tersenyum. “Oh, kau temannya. Masuklah.”

Ah benar. Lalu siapa yeoja ini? Dia terlalu muda untuk menjadi Eommanya Su Ho. Kalau dia Noonanya, ah… tidak mirip sama sekali. Ng… jangan-jangan, dia kekasihnya. Oh Tuhan, apa yang kulakukan, ini sama saja dengan merontokkan harga diri.

“Su Ho-ya… ada yang mencarimu,” seru yeoja itu di depan sebuah kamar. Dan tanpa mengetuk ia langsung masuk.

“Siapa?” balas Su Ho dari dalam kamarnya. Aku hanya bisa mematung dengan bodoh di ruang tamu. Aku hendak kabur saja, tapi sudah terlanjur basah.

Yeoja itu kembali menghampiriku. “Tunggu yah, dia sedang ganti baju.”

Aku menelan ludah. Ga… ganti baju, dan yeoja ini baru saja dari dalam kamarnya?. “Ah ne. Atau mungkin aku pulang saja. sepertinya aku datang di waktu yang kurang tepat”

“Ah gwencahana, aku juga mau keluar, ada jadwal pemotretan. Sepertinya agak lama, keberadaanmu di sini mungkin bisa menggantikanku menjaga Su Ho.”

“Eh itu…”

Yeoja itu menyambar tas tangannya di sofa. “Tolong yah… maaf tidak sempat menjamu, anggap saja rumah sendiri. Annyeong,” dan yeoja itu pergi dengan santainya.

Apa tadi? Maaf tidak sempat menjamu? Anggap rumah sendiri? Astaga… sebenarnya ini apartment siapa? Su Ho atau yeoja itu?

“Apa itu kau Hyun Mi-ah?,” tanya seseorang membuatku terkejut. Su Ho berdiri tak jauh dariku. Keningnya di lilit perban, dan tangan kanannya di gips. Ia menghampiriku dengan langkah terpincang.

“Ne,” jawabku. Dan otakku langsung blank. Aku sudah tahu keadaannya, lalu sekarang apa? Kenapa aku tidak memikirkan langkah selanjutnya.

“Kau pasti merindukanku. Hahahahah, sudah kubilang berikan aku nomor ponselmu dan kita akan telpon-telponan, kau malah menolak,” Su Ho menarik tanganku dengan tangan kirinya dan mengajakku masuk ke kamarnya. Astaga… ke kamar.

“Hei… hei, kemana ini?”Aku hendak meronta.

“Kata dokter aku harus banyak istirahat. Mana mungkin kan kita bisa mengobrol kalau kau di ruang tamu dan aku di kamar. Lebih baik kalau kita berada dalam satu ruangan.”

“Ta… tapi… kenapa tidak di ruang tamu saja?”

“Kepalaku masih sakit, aku butuh tempat untuk berbaring.”

Ya Tuhan… apa ini?

Su Ho naik ke tempat tidurnya dan berbaring.”Duduklah,” ia menepuk-nepuk sisi tempat tidurnya, menyuruhku duduk di sebelahnya.

“Aku berdiri saja. lagi pula aku ke sini hanya untuk… hanya untuk…”

“Hanya untuk menemuiku kan? Kau mengkhawatirkanku kan?”

“Bu… bukan. Itu Park Sonseng menyuruhku mengantarkan buku PR untukmu,” sungguh alasan yang dibuat-buat. Tapi percayalah, otakku sudah buntu.

“Ah… aku tidak butuh PR, kemarilah,” Su Ho menarik tanganku hingga aku terhempas di dadanya.

Aku sempat terkejut karena kukira aku menimpanya. Tapi melihat senyum jahilnya, aku yakin dia tidak apa-apa.

“34 C,” lirihnya di depanku.

Aku membelalak. “Hya… bahkan saat sedang sakitpun pikiranmu masih sejorok itu,” aku hendak beranjak, tapi Su Ho menahanku di pelukannya.

“Aku merindukanmu.,” lirihnya lagi.

Sial…sial…sial… aku tidak bisa menghentikan wajahku yang merona. “Menjijikkan.”

“Jadi… kau sudah bisa membedakannya?”

“Maksudmu?”

Su Ho tersenyum. “Aku… dan Joon Myun.”

Tepat di titik rawan. Aku tersentak, dan segera melepaskan diri darinya. “Aku pulang.”

Chamkkanman,” Su Ho kembali menarikku. “Yang tempo hari itu, kau bisa menghindar. Kali ini tidak akan kubiarkan,” Su Ho menghempaskan tubuhku di atas tempat tidurnya,

“Hya… jangan gila… kalau kau macam-macam, aku akan membunuhmu. “Aku jelas gelagapan. Kenapa aku tidak mempertimbangkan ini? Kalau dia berani menciumku di tempat umum (walaupun saat itu sedang sepi), tentu saja dia akan berani bertindak lebih apalagi tempatnya mendukung.

“Kau boleh membunuhku kalau aku benar-benar berani berbuat macam-macam padamu. Percayalah, kalau aku sudah serius menyukai sesuatu, aku tidak akan merusaknya. Tapi, tidak apa-apa kan kalau aku sedikit menikmati keindahannya.”

Mataku membelalak. “A… apa maksudmu?”

Jawabannya kutemukan setelah Su Ho mengangkat sebelah alisnya. Ia menciumku saat itu juga. dan dengan posisi seperti ini, aku sudah tidak bisa melawan karena tubuhnya menindihku. Namja gila, bahkan dalam keadaan sakit pun dia tetap seperti ini.

Ciuman Su Ho memang lembut, tapi aku masih ragu untuk membalasnya. Astaga… aku hampir lupa akan sesuatu.. “Hya Su Ho-shii,” aku mendorong tubuhnya hingga menjauhiku.

“Ada apa? Kau ini menyebalkan sekali.”

“Siapa yeoja tadi?,” tanyaku langsung. Dan memang itu harus kutanyakan.

“Oh… maksudmu Lee Minjung noona… dia tunanganku.”

“Oh,” aku manggut-manggut….. eh tunggu. “MWORAGO???”

“Bisa kita lanjutkan?”

Aku mendorong tubuhnya begitu hendak mendekat lagi. “APA KAU BENAR-BENAR TIDAK WARAS?”

“Kenapa?”

“Hya… kau ingin mempermainkanku?”

“Ani…”

“Lalu yeoja tadi? Kau bilang dia adalah tunanganmu.”

“Benar, lalu di mana letak kesalahannya?”

Aku mengeleng-gelengkan kepala tanda tak percaya. Apa namja ini bodoh atau pura-pura bodoh.

“Hya… mana mungkin namja yang sudah punya tunangan masih berani bermesraan dengan yeoja lain. Dan sialnya yeoja lain itu aku. Kau pikir aku yeoja murahan?”

“Hei… hei… jangan mendramatidir keadaan, kenyataannya tidak serumit itu.”

Aku menepis tangan Su Ho saat ia hendak menyentuhku. Aku turun dari tempat tidurnya dan beranjak pergi meninggalkannya.

Sial… hatiku sakit sekali. Kenapa aku sebodoh ini? Setelah merontokkan harga diri menjenguknya dan memastikan keadaanya, ternyata dia malah mempermainkanku. Astaga, kenapa hidupku semenyedihkan ini? Saat aku sudah mulai membuka hati, kenapa aku juga patah hati di tempat yang sama.

“Hya… kau lupa kalau aku sedang sakit?,” seru Su Ho saat ia sukses menggapai tanganku tepat saat aku sudah hampir masuk lift. Nafasnya tersengal-sengal karena mengejarku dengan kesusahan.

Aku membuang muka, tidak ingin menampakkan air mataku.

Su Ho malah memelukku. “Aku dan Minjung Noona di jodohkan sejak kami kecil. Tapi dia sudah kuanggap kakak kandungku sendiri, dia juga sudah menganggapku adiknya sendiri. Terlepas dari itu semua, kami berdua juga punya perasaan pribadi masing-masing.”

“Aku tidak peduli, aku ingin pulang. “Aku kembali meronta

“Ppabo… dengarkan penjelasanku dulu. Kau tahu, tadi itu Minjung noona mengajakku untuk mengajukan pembatalan pertunangan ini sebelum orang tua kami betul-betul mengharapkan kami menikah. Minjung noona sudah punya kekasih, dan dia sangat mencintai namja itu,” Su Ho melepas pelukannya, dan menatapku. “Sama sepertiku, karena aku juga sudah punya yeoja yang kucintai.”

Aku menelan ludah. Masih terisak. Betapa bodohnya aku, kenapa aku secepat ini bisa luluh dengan ucapannya.. “Kau pembual”

Su Ho malah tertawa. “Tapi kau suka dengan pembual ini kan?”

“Siapa bilang?”

“Lalu air mata ini?”Su Ho mengusap sisa air mata di pipiku.

Sial. “Air mata apa? Ini hanya karena aku kesal, seolah kau permainkan.”

Su Ho tertawa lagi. “Mian… aku memang seperti ini. Sulit dibedakan saat serius atau bercanda. Tapi percayalah, saat ini aku sedang serius.”

Dan aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.

“Ayo kita kembali. Terlalu lama berdiri, kepalaku bertambah pusing.“ Ajaknya.

“Kembali ke mana? Ke kamarmu? Tidak… tidak.”

“Lalu kau mau kucium di sini?”

Ya Tuhan… ada apa dengan namja ini. “Memangnya siapa yang mau dicium olehmu? Tidak… tidak.”

“Sayangnya saat kugapai bibirmu, jawaban yang kudapat itu lain,” Su Ho tersenyum jahil.

Namja ini.

“Ayo masuk… buatkan aku makanan. Aku lapar,” ucap Su Ho akhirnya.

“Kalau itu aku setuju,” aku membantunya berjalan memasuki apartemennya.

“Dapur juga bukan tempat yang buruk untuk bermesraan.”

“Otakmu perlu dicuci Su Ho-shii.”

“Baiklah… cuci saja.”

“Tunggu setelah perban itu di lepas, dan aku akan mencuci otakmu.”

Su Ho tertawa dan mencubit hidungku dengan gemas.

***

Sebulan berlalu sejak kejadian itu. Kejadian, yang tidak kutahu judulnya. Su Ho juga mengungkapkannya masih samar, jadi aku tidak tahu sebenarnya seperti apa hubungan kami sekarang.

“Jadi kalian sudah jadian?,” tanya Min Kyung, yang lagi-lagi aku hanya bisa mengangkat bahu sebagai jawaban.

Min Kyung tidak semenyebalkan yang kukira. Yeoja ini sungguh dewasa dalam berpikir. Dan aku bisa membenarkan kalau perasaan yeoja ini pada Su Ho benar-benar tulus, karena tujuannya semata-mata adalah untuk kebahagiaan Su Ho. Aku saja yang perasaanku belum jelas ini merasa tidak rela kalau Su Ho bersama yeoja lain.

Dan saat Su Ho tiba-tiba saja datang memotong obrolan kami. “Hyun Mi-ah, aku lapar”. Minkyung akan tertawa dan meninggalkan aku dan Su Ho berdua.

“Kenapa kau mengeluh padaku? Pergilah ke kantin.”Balasku

“Ck… Hyun Mi tidak romantis.”

“Untuk apa aku melakukan hal yang romantis di hadapanmu?”

”kau membuatku gemas Hyun Mi-ah,” Su Ho memelukku.

“Hya.. ini di dalam kelas.”

“Aku tahu, karena kalau bukan, aku sudah menciummu dari tadi.”

Lagi-lagi aku hanya bisa geleng-geleng kepala.

Siang itu, sepulang sekolah, Su Ho mengajakku ke café (dengan paksa tentunya). Katanya dia ingin mencoba coffe  rasa terbaru. Padahal sudah kubilang aku tidak suka kopi.

“Kau pesan jus buah saja yah,” itu usulnya.

Aku tetap tidak bisa menolak dengan cara apapaun. Dan di sinilah kami, di meja yang paling pojok, dinding kaca yang menghadap taman. Lokasi yang strategis untuk berkencan. Eh… ini termasuk kencan atau bukan?

“Hyun Mi kan? Benar Kim Hyun Mi?,” tegur seseorang yang berdiri di sebelahku.

Aku menoleh dan mengangkat wajah. Seorang namja dengan posur atletis memandangiku dengan senyum sumringah. “Benar… ng, dengan siapa yah? Maaf karena daya ingatku cukup lemah.”Balasku.

Bisa kulihat Su Ho terkekeh di tempatnya.

“Wah… aku sudah dilupakan. Aku Lay.”

Mataku membelalak. “Lay Oppa?,” aku sontak berdiri

“Ne. Lama tidak berjumpa Hyun Mi-ah. Wow… kau banyak berubah.”

Aku langsung memeluk Lay oppa. “Ya Tuhan, bagaimana mungkin aku tidak mengenalimu, kau juga banyak berubah.”

“10 tahun yah… lama sekali juga kita tidak bertemu. Kau bertambah cantik.”

Aku tersenyum malu-malu. “Kau juga Oppa, kau bertambah tampan, makanya aku kesulitan mengenalmu. Dulu kan kau Chubby.”

Lay oppa tertawa. “Omoni abonim sehat?”

“Ne oppa. berkunjunglah ke rumah, mereka pasti akan sangat terkejut”

“Tentu. Mumpung aku masih di Korea.”

“Uhuk…uhuk…,” suara batuk seseorang memotong obrolan asyik kami. Oh iya, Su Ho. Aku bahkan sempat lupa kalau dia ada.

“Hampir lupa, Su Ho-shii, perkenalkan. Ini Lay oppa, teman semasa kecilku. Kami tetanggaan sejak kami masih bayi. Tapi Lay Oppa pindah saat usiaku 7 tahun,” aku memperkenalkan Lay oppa pada Su Ho. Lay langsung mengulurkan tangannya, dan Su Ho menjabatnya. “Oppa… ini Su Ho. Teman sekelasku.”

“Bangapta Su Ho-shii.”

“Ah ne… bangapseumnida Lay-shii.”

“Oppa, bergabunglah dengan kami, masih banyak yang ingin kubicarakan.“ Ajakku.

Lay oppa melirik arlojinya. “Aku sangat ingin Hyun Mi-ah, tapi… aku ada keperluan, jadi lain kali saja yah. Aku akan kerumahmu.”

“Ah ne… kami akan dengan senang hai menyambutmu.”

Lay oppa mengacak rambutku. “Sampai jumpa yah. Jada diri,” lay oppa menoleh ke Su Ho. “Su Ho-shii, sampai ketemu yah, maaf tidak bisa berlama-lama.”

“Ne gwencahanayo.”

Su Ho POV

Namja yang bernama lay itu sudah pergi sejak 10 menit yang lalu. Tapi aku tetap masih kesal. Baiklah, tidak ada alasan untuk kesal padanya, karena dia hanya teman masa kecil Hyun Mi. yang kusesalkan adalah… cara Hyun Mi memperkenalkanku pada Lay tadi.. “Oppa… ini Su Ho. Teman sekelasku.”. Hendak rasanya aku mati berdiri saat itu. Teman sekelas? Hanya itu.

“Hei, kenapa kau hanya menatap kopimu? Bukankah kau yang bersikeras kesini untuk mencobanya?”Tegur Hyun Mi membuyarkan lamumanku.

“Seleraku lenyap,” jawabku.

“Loh? Kenapa?”

“Molla.”

“Dasar aneh.”

Lihatlah sikapnya. Kenapa yeoja ini begitu cuek terhadapku. Seharusnya dia bertanya dengan sabar, bersikap manis terhadapku, dan aku akan menjelaskan penyebabnya.

Dan terpaksa kencan spesial yang kurencanakan siang itu berlalu begitu saja tanpa meninggalkan kesan apa-apa. Sial…

Malamnya aku tidak bisa tidur. Aku terus memikirkan Hyun Mi. maksudku, aku merasa kecolongan, selama sebulan ini aku pikir hubungan kami sudah jelas, dan aku sudah tidak perlu mengucpkan kata norak. “Would you be my girl,” Untuk menjadikan Hyun Mi sebagai kekasihku. Aku rasa dia sudah cukup dewasa untuk mengerti hal ini. Semua perlakuanku padanya, pelukanku, ciumanku, memangnya itu akan dilakukan dengan status teman sekelas saja? aku tidak habis pikir dengan pola pikir Hyun Mi.

Yeoja itu sepertinya butuh ungkapan gamblang agar dia mengerti. Hm… baiklah, sepertinya Hyun Mi memang butuh kepastian hubungan ini.

====

Keesokan harinya di sekolah.

“Kenapa kau menatapku seperti itu? Menyeramkan sekali,” tegur Hyun Mi saat ia mendapatiku tengah menatapnya.

“Sore ini kau ada acara?,” tanyaku.

“Sore ini? Tidak ada. Kenapa?”

“Aku hanya ingin mengajakmu ke suatu tempat”

“Di mana?”

“nanti kuberitahu sepulang sekolah. Oke.”

“Dasar aneh.”

====

Aku cukup keheranan saat melihat respon Hyun Mi saat aku bilang. “Tunggu aku di taman kota sore ini jam 3.”

Hyun Mi langsung terkejut dengan maa membulat. Tak lama kemudian wajahnya pucat. Memangnya kenapa?

“Kau tidak suka taman kota?”Tanyaku penasaran

“Bukan begitu, maksudku… kenapa harus taman kota?”

“Karena aku memang ingin beremu dengan mu di sana.”

“Dan kenapa aku harus menunggumu di sana? Kenapa kita tidak pergi bersama saja?”

“Soalnya ada yang perlu kuurus dulu sebelum ke sana.”

“Kalau begitu aku ikut denganmu mengurus keperluanmu.”

Aku semakin heran, ini pertama kalinya kulihat Hyun Mi bersikeras ingin bersamaku, padahal biasanya dia menolak mati-matian kalau kuajak. “Tidak bisa, ini cukup pribadi.”

“Tapi…”

“Ayolah… seorang namja juga punya privasi kan?”

“Aku tidak mau.”

Aku kembali terkejut. “Kenapa?”

“Aku tidak mau menunggumu di taman itu.”

“Ayolah Hyun Mi-ah, apa yang kau takutkan?”

Hyun Mi merengkuh kerah kemejanya. Ah, mungkin sesuatu di balik kemejanya. Sepertinya sebuah kalung. Dan wajahnya semakin pucat.

“Hyun Mi-ah, ayolah. Kalau kau tidak mau, aku akan marah.”

“Tapi Su Ho-shii…”

Aku menngecup bibirnya sejenak,. “Percayalah, tidak akan terjadi apa-apa. Entah apa yang kau takutkan itu.tidak akan terjadi apa-apa. Arajjhi?”

Hyun Mi tidak berkata apa-apa lagi. ia mendesah singkat. “Arasso.”

Aku tersenyum dan mengusap puncak kepalanya.. “Masuklah, jangan lupa jam 3 yah.”

“Ne…,” Hyun Mi turun dari mobilku. Melambai padaku sebelum masuk ke dalam rumahnya. Baiklah… saatnya bersiap-siap.

***

“Kenapa lama sekali ahjushi? Bukankah aku sudah memesannya sejak 2 hari yang lalu?”Keluhku pada seorang penjaga toko perhiasan.

“Mianhamnida. Tapi bahannya baru datang kemarin, dan kami baru mengerjakannya tadi malam. Bersabarlah sedikit lagi. kalau tergesa-gesa, hasilnya juga akan jelek, lagipula pesanan anda ini cukup berkelas, jadi kami tidak bisa asal membuatnya. Ukirannya juga rumit, makanya kami harus ekstra hati-hati,” balas ahjushi itu.

“Lalu aku harus menunggu berapa lama lagi?”

“Paling lambat satu setengah jam lagi.”

Aku melirik arlojiku. “Tapi aku sudah terlambat setengah jam. Hyun Mi pasti akan marah kalau harus menunggu selama 2 jam.”

“Kami mengusahakan yang terbaik tuan muda.”

Aku mengeluh. “Ya sudah, kerjakan saja pesananku, aku akan menunggu di sini.”

=====

Aku menatap penuh kekaguman dengan perhiasan pesananku. Hyun Mi-ah, aku akan memperjelas semuanya, dan aku akan sangat marah kalau setelah ini kau masih memperkenalkanku ke orang lain dengan istilah. “Teman sekelas”.

Akupun segera meluncur ke tempat Hyun Mi menunggu

***

Hyun Mi POV

Aku berkutat dengan pikiranku sudah cukup lama. Saat kulirik jamku, ternyata sudah hampir jam 5 sore, itu artinya sudah hampir 2 jam aku menunggu, dan aku tidak sadar akan hal itu.

Tunggu. 2 jam? Astaga, satu lagi ketakutanku. Waktu itu, aku juga menunggunya selama 2 jam. Joon Myun!. Dan lihatlah, aku bahkan duduk di bangku yang sama tempatku menunggu waktu itu, karena tempat yang lain sudah diisi oleh pasangan kekasih.

Ah tidak, ini adalah kebetulan. Ini tidak akan mungkin terulang. Karena kali ini juga adalah orang yang berbeda. Joon Myun telah pergi, kini ada Su Ho di sisiku, jadi aku tidak boleh berpikiran macam-macam lagi.

Dan untuk memastikannya, aku pun menelpon Su Ho dengan menggunakan dialog yang sama, yang pernah kugunakan dengan Joon Myun. “Kau dimana?,” tanyaku saat Su Ho menjawab telponku

“Aku masih di jalan, jalanan macet, bersabarlah sedikit, aku segera ke sana.”Jawab Su Ho. Aku merinding mendengarnya. Baiklah, sususan kalimatnya memang tidak persis sama, tapi maknanya tetap ke arah sana.

Lalu kulanjutkan lagi dengan kalimat yang pernah kugunakan.”ng… baiklah aku akan menunggumu di depan. Di sini hanya akan membuatku jengah, semua orang di taman ini sedang bersama pasangannya.”

Su Ho juga tertawa sebagai balasannya. Oh Tuhan… ini seperti de javu. Dan semakin lama, aku semakin ketakutan.

Kulanjutkan lagi kalimatku. “Kenapa kau malah tertawa, kalau aku tahu taman ini dipenuhi pasangan kekasih, aku tidak akan mau menunggu mu di sini.”

“Memang itu tujuanku.”Jawab Su Ho, kali ini respon yang cukup beda

“Maksudmu?”

“Karena sebentar lagi, kau juga akan menyusul mereka.”

Jantungku seolah meledak. Astaga… kalimat itu. “Su Ho-shii, cukup. Kau tidak perlu ke sini,” pintaku histeris.

“Waeyo? Tidak bisa begitu Hyun Mi-ah, aku sudah merencanakan semuanya. lagi pula aku ingin memberikanmu sesuatu.”Jawabnya lagi.

Astaga. “Jangan bilang kalau itu kalung,” seruku berusaha mengontrol ketakutanku.

“Wah… maaf sekali mengecewakanmu, karena aku harus mengatakan bukan, dan memang bukan kalung.”

“Apapun itu, brisak saja padaku besok di sekolah.”

“Tidak bisa, karena aku ingin memberikannya dengan cara yang cukup special.”

Lihatlah. Aku tidak perlu menunggunya menjelaskan karena aku yakin cara yang dia maksud adalah mouth to mouth.. “Kau di mana sekarang?”

“Aku sudah sampai. Aku sedang memarkir mobil.”

Aku terkejut bukan main. Segera kututup ponselku dan berlari ke luar gerbang taman. Dan…

Katakan ini mimpi. Aku seperi melihat Joon Myun. Entah ini disengaja oleh Su Ho atau tidak, tapi Su Ho juga mengenakan kemeja hitam dengan model yang sama seperti yang dikenakan Joon Myun waktu itu.

Ia melambai ke arahku begitu ia melihatku. Aku tidak membalas lambaikannya. Ketakutanku sudah berada di titik puncak.

“Su Ho-shii… jangan kesini,” jeritku, tapi enah kenapa suaraku justru tidak bisa keluar. Seolah ada yang menekan tenggorokanku. Air mataku sudah mengalir deras. Su Ho sudah bersiap menyeberang, dengan mulut terkatup sambil mengulas senyum. Aku yakin benda itu sudah ada di dalam mulutnya, apapun itu.

Aku hendak berlari ke arahnya, tapi lututku lemas. Aku seolah tidak punya tenaga.. “Su Ho… jangan ke sini.”Jeritku lagi, tapi tatap saja sia-sia karena suaraku tidak bisa keluar.

Dan saat aku menoleh ke arah kiri, sebua mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Dan aku langsung mengarahkan pandanganku pada Su Ho yang masih menyeberang jalan dengan tergesa-gesa.

Andwee… andwee… andwee… aku tidak ingin kehilangan Su Ho… aku… aku tidak ingin kehilangan namja yang kucintai. Su Ho-shii… aku mencintaimu, kumohon jangan mati…

“ANDWEEEEEEE,” jeritku mendarah daging sambil memejamkan maa, dan menuup telingaku dengan kedua tangan. Aku tidak mau mendengar suara tubrukan itu, aku tidak mau melihat tubuh Su Ho yang tertabrak dan tergeletak penuh darah, aku tidak ingin…

“Hya… kau membuatku kaget,” lirih seseorang dengan nafas terengah-engah di hadapanku.

Siapa itu… suara siapa itu? Apakah Su Ho sudah menjadi malaikat? “Hya… kenapa kau menangis? Kenapa kau menutup mata dan telingamu, hei… ada apa? Terjadi sesuatu?”

Aku merasakan kedua lenganku direngkuh. Dan itu adalah rengkuhan yang terlalu nyata untuk kategori seorang malaikat. perlahan kubuka mataku.

Agak remang dan kabur, silau… wajah Su Ho terpampang jelas di depanku. yah… Su Ho. Aku melihatnya sebagai Su Ho, sebagai namja yang kucintai seutuhnya. Bukan sebagai namja yang mirip dengan seseorang di masa laluku. Tapi sebagai Su Ho seutuhnya.

Sontak aku kembali menangis dengan sangat keras.

“Hya…Hya… Hya, kenapa kau menangis?”Tanya Su Ho panik

“Aku pikir kau akan meninggalkanku.”Jawabku tersendat-sendat karena tangisku.

“Ppabo, aku menemuimu, mana mungkin aku meninggalkanmu.”

Aku menelan ludah dan menatapnya. “Aku pikir kau akan meninggalkanku, dengan cara yang sama seperti Joon Myun meninggalkanku.”

Su Ho mengerutkan kening. “Maksudmu?”

“Di sini, di jalan itu. Sama seperti kejadian tadi, saat kau hendak menyebrang jalan untuk menemuiku. Tidak sepertimu yang berhasil merengkuhku saat ini. Waktu itu Joon Myun tertabrak persis di depan mataku, dan…”

“Hyun Mi-ah… aku ada di sini. Dan aku tidak akan meninggalkanmu. Mengenai Joon Myun… aku betul-betul tidak menyangka kejadiannya akan sangat kebetulan seperti ini. Tapi… aku rasa Tuhan mengirimku untuk menggantikan Joon Myun untukmu.”

Aku menggeleng kuat. “Tidak seperti itu…”

“Ke.. kenapa? Kau tidak suka kalau aku menggantikan Joon Myun?”

Aku berusaha menghentikan tangisku. “Kau dan Joon Myun adalah sosok yang berbeda. Joon Myun adalah Joon Myun, kau adalah kau.”

Su Ho tersentak. “Maksudmu… kau masih mencintai Joon Myun?”

Kali ini aku berani menggeleng dengan pasti. “Aku akhirnya sadar akan satu hal, mengenai kepergian Joon Myun. Aku yakin Tuhan mengambilnya dariku, karena Ia ingin mempertemukanku denganmu.,” lirihku.

Barulah Su Ho tersenyum. “Kau benar, kita tidak akan bertemu kalau saja tidak ada kejadian itu. Aku tidak akan di terima di sekolah yang sama denganmu kalau saja tidak ada satu tempat yang kosong.”

Aku terisak. “Su Ho-shii, kau tidak akan tahu setakut apa aku.”

Su Ho memelukku dengan sangat erat. “Aku tidak ingat apa aku pernah mengatakan ini atau tidak. Tapi… Hyun Mi-ah… aku sangat mencintaimu.”

Dan kali ini aku tidak perlu ragu lagi untuk mengatakan. “nado saranghae Su Ho…. Su Ho-ya.”

Aku merasakan Su Ho mempererat pelukannya.. “Ah aku hampir lupa.”

Pelukan kami terlepas, aku menatap Su Ho. “Apa?”

Su Ho merogoh sakunya. “Sebenarnya aku ingin memberikan ini dengan cara lain,” ia memperlihatkan sebuah cincin yang sangat indah, ada ukiran inisial namaku dan Su Ho di sana. “SH,” Su Ho-Hyun Mi..

“Sebenanya aku ingin memberimu kalung, tapi… sepertinya kau sudah punya.”

Aku mengangguk. “Ini kuterima dari Joon Myun sebelum dia meninggalkanku.”

Mata Su Ho membulat. “Berarti kalau tadi aku tertabrak, aku juga akan memberikan cincin ini sebelum aku mati?”

“Sekali lagi kau bicara tentang mati, aku tidak akan memaafkanmu.”

Su Ho tertawa, kemudian meraih jemariku. “Kau yeojachinguku sekarang, dan aku tidak menerima kata penolakan,” aneh, cincin itu sangat pasdi jari manisku.

“Ppabo, setelah sekian banyak hal yang terjadi? Menolakmu hanya akan merugikanku.”

“Jelas saja kau rugi karena aku adalah namja sempurna.”

“Bukan begitu, kalau aku menolakmu, maka aku akan rugi, mana mungkin aku akan membiarkanmu setelah kau dengan seenaknya memelukku dan menciumku tanpa izin.”

Su Ho tertawa. “Ikut denganku.”

“Kemana?”

“Kau harus kuberi pelajaran.”

“MWORAGO?”

***

Su Ho ternyata tidak bercanda. Dia membawaku ke apartemennya. Dan sekarang aku sudah mematung seperti orang bodoh di kamarnya, sementara si tuan rumah katanya sedang membuat minuman. Yang menjadi pertanyaanku adalah. Kenapa aku harus menunggu di kamarnya?

oke, kamarnya memang luas, ada sofa tamu, home teater dan peralatan elektronik lainnya. Tapi apa tidak sebaiknya kau disuruh menunggu di ruang tamu saja?

“Kenapa kau bengong?,” tegur Su Ho yang ternyata sudah selesai membuat minuman. Ia menyodorkan segelas jus strawberry untukku.

“Te… terima kasih,” aku menerima gelas itu dan meneguknya sampai habis.

Su Ho memandangiku. “Wah… kau haus rupanya.”

Sungguh memalukan.. “ng… Su Ho-ya, sudah hampir petang, aku pulang saja yah.”

Su Ho langsung mencekal tanganku sebelum aku beranjak keluar. Dengan satu sentakan ia sudah berhasil membuat tubuhku terhempas di tempat tidurnya.

“Su… Su Ho-ya.”

“Just a little taste of your lips, my babe.”

Dan belum sempat aku menyuarakan protes, Su Ho sudah sukses membungkam mulutku dengan ciuman lembutnya. Dan kali ini, aku sudah tidak punya alasan untuk tidak membalasnya.

“Tumben,” Su Ho melepas ciuman kami.

“A… apanya?”

“Biasanya kau hanya diam, dan aku akan tampak seperti namja bodoh yang menciummu tanpa balasan.”

Aku tertawa kecil. “Kau tidak suka? Ya sudah, kita hentikan saja.”

“Bukan begitu… ppabo.”

“Kau ini menyebalkan sekali yah, selalu mengataiku ppabo. Mana ada namja yang mengatai yeojachingunya seperti itu.”

“Karena kita spesial Hyun Mi-ah, kita beda dari mereka.”

“Ppabo,” balasku

“Hahahaha… aku tidak akan melepaskanmu.”

“Okay… go ahead and… don’t stop”

Su Ho tertawa lagi. “I’ll hurt you if I can’t stop”

“Aku percaya… kau tidak akan menyakitiku kan.”

“Sudah kubilang, kalau aku betul-beul serius menyukai sesuatu, aku tidak akan merusaknya,” dan lagi-lagi Su Ho membungkam bibirku dengan ciuman lembutnya.

Masa itu ada Joon Myun… kini ada Su Ho…

Joon Myun-ah, apa kau tenang di alam sana? Jangan mengkhawatirkanku lagi, karena aku telah menemukan belahan jiwaku.

Aku percaya.. kehadiran Su Ho bukan kebetulan, kau pasti meimnta pada Tuhan untuk mengirimkannya padaku.

Joon Myun-ah… hari-hari berat setelah kehilanganmu kini berlalu. Aku tidak akan melupakanmu, Su Ho juga tidak memintaku melupakanmu, terbukti karena dia tidak memintaku melepas kalung pemberianmu. Kau tahu… aku mencintaimu.

Tapi.. setelah kehilanganmu… aku menemukan cintaku yang sebenarnya. Aku menemukan Su Ho… setelah kehilanganmu Joon Myun-ah.

“Saranghae… Su Ho-ya.,” ucapku setelah ciuman itu terlepas

Su Ho tersenyum. “nado saranghae. Dan akhir pekan ini, ikutlah denganku ke Jeju.”

“Kenapa?”

Su Ho tersenyum lagi. “Kau tidak ingin bertemu calon mertuamu?”

Wajahku langsung merona. Sial, dia mengerjaiku.

“Kau sangat menggemaskan Hyun Mi-ah,” Su Ho memelukku dengan sangat erat, seolah tidak ingin melepasku. Ku tatap cincin pemberiannya. Hm… ini adalah sebuah awal. Dan ini adalah sebuah bukti, untuk saatnya nanti Min Kyung atau siapapun bertanya mengenai siapa Su Ho buatku. Aku akan dengan tegas menjawab. “Su Ho adalah namjachinguku.”

END

9 thoughts on “[FF] Found You after I Lost you [PAR 2 0F 2]

  1. Thor (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩) knpa su ho d sini sifat’y gtu bgt ya, ampun deh..
    Suho sampe nabak2 no bra *plak hahhaaha

    Knpa hrus mirip suho? Knpa ga jtuh cinta aja sama suho tanpa hrus mirip.. Su ho’y jgn jdi play boy dong thor (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩) ga rela.hahaha (terbawa suasana..)

    Aku next part ya thor

  2. yahh joon myun udah ga ada kan aku baru suka samaa dia #lohhh???

    ini suho ada2 aj dehh ngeselin..
    pii aku suka kata2nya itu lohh…
    “terlepas dari kau membenci sifatku yang berbeda dari Joon Myun. Sebenarnya, kau menyukaiku kan?”

    pedehh abiss ni anakk..
    aku jadi inget chanyeol.. hihiii

    tuh kan eon alf aku baca jg kan akhirnya..
    hiihii..

    ssusah komen dihp ga masuk2.. akhirnya buka di pc dehh..
    #eh curhatkan jadinya..

    pokoknya eon Alf mantapp..

  3. Wiiiihhh… thorrrr…. kereeennn bgtt kkk😀
    Itu joon myun sama suho kan sama aja kkk😀
    suho nya beda bgt sama joon myun sifatnya>,>,,<<
    daebak bgt thorr ff nya ^^ aku next part ya thorr.. ^^

  4. Aku telat bacanya yah min, hihihi. Joon myun-ah?? Nggak cocok masa . lebih cocok kalo suho. Lebih keren. Ahaha. Lucu pasti kalo suho maen ff keke gini. Dia kan wajahnya selalu serius gitu *plakk
    Kasian banget itu suho. Pas dia dibentak, ditampar eh malah si hyun mi yang nangis kkk~ tapi kasian juga si cewek itu pas dikerjai sm suho. Seharusnya diakan membalasnya. Eceileh, cinta nih ye😄
    Ada min seok ya? Kkk xiumin😄
    Itu Choi Sang In yg di ff I’m Not sm Luhan kan? Aduh, jadi keinget luhan, hihihi. Sebenernya ceritanya enteng tapi gatau kenapa aku penasaran sm su ho dari awalanya. Kenapa nggak diceritain scr gambalang disini? Bikin penasaran aja ini mimin. Apa jangan-jangan su ho kembaran joon myun?

  5. Hiyaaaaaa
    my angel jadi evil, malahan ngalahin kyuhyun si maknae evil dari yg terevil(?)
    *Kyu:ngapa nama gua dibwa2. Me:ish kepedean…kyu:-___- *

    gila aja coba, suho jadi kaya gtu, gak nyangka..
    Hahahahaha
    eh tpi itu si suho udah mlai suka kan sma si cwe?
    Aduuuh ni jga si junmyun kok mati mendadak pula, kan kasian si hyun mi, mana cuma di kasi liontin pula..
    Hadeeeeh…
    Nyesek..
    Tpi daebak kok thor..seperti biasa..
    Hahaha
    udah deh aku pnasaran bnget nih sma next part ny, langsung cap cus aja deh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s