[FF] LOVE IS…. Part 7


FF

Tittle: Love is… (part 7)

Author: AyouLeonForever

Cast: * Byun BaekHyun

* Lee Eun Yoo(yg karena manipulasi cerita, dia sodaraan ama Chanyeol, marganya diganti jadi Park)

* Kim Jong In/ Kai

* Park Chanyeol (yg karena manipulasi cerita, dia jadi kakaknya Eun Yoo, dan lebih tua dari baekhyun)

*Do Kyung Soo/ D.O

* Kim Joon Myun/ Su Ho

* Oh Se Hun

support cast: EXO M Member

disclaimer: the story belongs to me, the casts belongs to her/his parents and GOD. don’t claim itu yours, or You’ll dead (makin hari makin sadis aja)

Eun Yoo POV

Aku berharap, saat aku membuka mata nanti, semua yang terjadi kemarin adalah mimpi

Aku mengerjapkan mataku, berharap aku sedang berada di kamarku yang damai dan tenang, sebagai bukti bahwa tidak terjadi apa-apa.

Tapi tidak… sekeras apapun aku menyangkal, sekuat apapun aku mengelak, tetap saja, aku telah mengucapkan janji pada Kai dan memang harus kutepati. Yah… aku dan Baek Hyun sudah berakhir. Keberadaanku di kamar yang elegan ini adalah sebuah bukti bahwa… aku telah menepati janjiku pada Kai.

Suara ketukan pintu dari luar menyadarkanku. Ah sial… bahkan sepagi ini pun air mataku langsung menetes.

Segera kuusap kasar air mataku dan membuka pintu kamar.

“selamat pagi Eun Yoo-ah” sapa Kai yang aku tahu dia berusaha bersikap seramah mungkin, seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah ingin menegaskan kalau aku harus memulai hubungan yang baru dengannya.

“hm… pagi” sahutku sebisa mungkin.

“bagaimana tidurmu? Nyenyak?”…

Lihatlah bagaimana Kai berbasa-basi. Realistislah sedikit, aku baru bisa memejamkan mataku pukul 5 pagi. “Hm…” aku hanya menggumam sebagai jawaban.

Kai menyodorkanku sebuah tas plastik “ini pakaian ganti untukmu”

“pakaian ganti? Untuk apa?”

“bukankah setelah mandi, kau harus mengganti pakaianmu?”

“itu… bukannya kau bilang akan mengantarku pulang pagi ini?”

“benar, tapi setelah badanmu segar, aku juga sedang menyiapkan sarapan untukmu. Setelah mandi dan berganti pakaian, temui aku di ruang makan”

“Kai… ini… apa ini tidak berlebihan?”

“berlebihan? Kau adalah yeojachinguku sekarang. Apa yang berlebihan? Sudahlah… lakukan saja perintahku” Kai membelai pipiku sejenak, kemudian meinggalkanku.

Hhhh… ini bahkan terasa lebih berat dari apa yang kubayangkan. Kim Jong In, aku sungguh tidak mengerti dengan cinta yang kau miliki itu karena selama ini, arti kata cinta yang kutahu adalah… cinta yang kumiliki bersama Baek Hyun, cinta yang membahagiakan, bukan menyesakkan.

***

“kau sangat cantik Eun Yoo-ah…” sambut Kai begitu aku menemuinya di ruang makan.

“gomawo…yo”sahutku.

“jangan terlalu kaku Eun Yoo-ah, aku namjachingumu”

Aku menghela nafas “nae… arasso”.

“begitu lebih baik”.

Aku menatap sepiring roti selai beserta segelas susu di depanku. aku tidak yakin apa makanan ini bisa masuk ke kerongkonganku, karena aku sama sekali tidak punya selera makan sekarang. Tapi lagi-lagi, aku harus melakukannya. Kuteguk susu putih itu sedikit, dan hampir saja sukses membuatku mual. Hm… aku memang tidak begitu suka susu putih. Segera kusambar roti itu, menggigitnya sedikit untuk menyumbat kerongkonganku. Ah… aku semakin merindukan Baek Hyun, di saat seperti ini dia pasti akan menyuguhkanku susu strawberry kesukaanku.

“besok… kau ke sekolah?” Kai kembali memulai obrolan yang menurutku sangat tidak penting. Hei… besok adalah hari senin, tentu saja aku ke sekolah.

“nae… waeyo? Apa ada alasan yang mengharuskanku untuk tidak ke sekolah?”tanyaku.

“ah… bukan begitu, maksudku… kau dan Baek Hyun duduk bersebelahan. Itu cukup meganggu pemandangan”

Aku menghela nafas, ternyata hal ini “Kai-shii, aku tahu hal itu, aku juga sudah memikirkannya. Aku akan pindah tempat duduk”

“tukaran saja dengan D.O. kita bisa duduk bersebelahan mulai besok”

Lagi-lagi aku mengeluh “Kai-shii, bukankah kau sudah menyusun rencana ini agar siapapun tidak curiga bahwa ada spekulasi di balik semua ini bukan? Kau bahkan sudah menyiapkan alibi agar kau tidak dicurigai sebagai dalangnya. Dan kalau kau menunjukkan hubungan… ini… dengan terang-terangan, aku rasa alibi yang kau siapkan akan sia-sia”

Kai menghentikan makannya dan menatapku “lalu apa rencanamu? Kau ingin membuatku menunggu lagi? apa aku juga harus memberimu waktu untuk menemukan alasan yang tepat memberitahu semua orang kalau kau adalah kekasihku?”.

Aku memejamkan mata… ini sungguh menyesakkan “paling tidak, berikan aku waktu untuk menyakinkan Baek Hyun ku kalau hubungan kami benar-benar berakhir. Ini bukan tanpa alasan Kai-shii, ini akan percuma kalau Baek Hyun ku tetap mempertahankan hubungan kami”

BRAAAAAAKKK!

Kai menggebrak meja makan dan itu membuatku cukup kaget. A… apa yang salah dengan ucapanku?

“Baek Hyun ku… Baek Hyun ku…” Kai menatapku dengan tatapan menyala “hya Park Eun Yoo… kau membuat telingaku sakit. Sekarang kau bukan lagi yeojachingunya… kau adalah milikku. Apa kau bisa sedikit saja mengakhiri kalimat konyol itu.? Berhenti menyebut nama Baek Hyun seolah kalian masih punya ikatan. Aku sangat membencinya”.

Oh Tuhan… aku bahkan tidak bisa menghilangkan kebiasaan itu “Mi… Mianhae” lirihku.

Kai menghembuskan nafas “ah… apa yang sudah kulakukan. Eun Yoo-ah, maaf… aku sudah membentakmu… itu murni refleks”

“nae… aku mengerti”

“tapi aku serius… kumohon jangan menyebut nama Baek Hyun seperi itu lagi. aku tidak suka”

“nae… arasso”

Kai beranjak dari duduknya dan menghampiriku. Ia merengkuh kedua pundakku hingga aku berhadapan dengannya. Ia sedikit membungkuk untuk menyejajarkan wajahnya dengan wajahku “Eun Yoo-ah… tatap mataku?”

Dengan sedikit enggan, aku mengangkat wajah dan menatapnya.

“bisakah kau jalani hubungan ini tanpa beban? Seperti komitmen awal… inilah yang kumaksud dengan tidak hanya menjadikanmu yeojachinguku hanya sekedar status. Yang kumaksud adalah… aku ingin kau betul-betul memposisikan dirimu sebagai kekasihku. Jiwa mu… juga ragamu… adalah milikku. Jadi kumohon… jangan jadikan kebersamaan ini sebagai bebanmu”lirihnya persis di depan wajahku.

Aku mengeluh berkali-kali. Bagaimana bisa kujalani hubungan ini tanpa beban, sementara sekarang ini hatiku telah raib. Aku sudah menyerahkan seluruh hatiku untuk Baek Hyun, bahkan celah sekecil apapun sudah tidak bersisa untuk menerima Kai. Tapi… “a… aku masih berusaha Kai-shii, jadi aku juga meminta pengertianmu”

Kai menghembuskan nafasnya, kemudian memelukku “arasso… mianhae. Mungkin aku cukup terburu-buru. Itu karena aku betul-betul mencintaimu, dan aku mendambakan kebersamaan ini”.

Beda… sangat berbeda. Cara Kai menunjukkan perasaannya padaku jauh berbeda dengan Baek Hyun… sekali lagi… ini sangat menyesakkan.

Hyunie-ah… lihatlah betapa besarnya cintaku padamu… aku rela melakukan ini semua demi kau… kuharap dengan begini, aku tidak lagi menjadi penghalang impianmu. Dengan segenap perasaanku, dan juga remuknya hatiku… Byun Baek Hyun… jeongmal saranghaeyo…

Author POV

Pagi itu…

Chan Yeol langsung memeluk Eun Yoo  begitu adiknya itu pulang ke rumah. Sayang sekali karena Baek Hyun juga sudah pergi satu jam yang lalu.

“kemana saja kau…?” serbu Chan Yeol

“rumah teman lamaku” jawab Eun Yoo dengan suara datar. Ia bahkan tidak membalas pelukan opanya.

Chan Yeol menyadarinya. Eun Yoo pasti masih terpukul dengan kejadian konyol yang telah meracuni pikirannya. Ia menatap adiknya dengan lembut “kau mengenal Baek Hyun dengan baik kan?”

Eun Yoo tidak menjawab, karena dia tahu arah pembicaraan ini.

“sejak kecil, bahkan sebelum kalian berpacaran… apa anak itu pernah membuatmu kecewa?”Chan Yeol mengusap puncak kepala adiknya “chagi-ah… aku tahu sekuat apa perasaan kalian, hal konyol seperti ini sangat musahil untuk merusak hubungan kalian”

“oppa… kalau kau terus mengajakku membahas soal ini… oppa tidak akan melihatku di rumah ini”ancam Eun Yoo  masih dengan ekspresi datar.

Chan Yeol jelas terkejut “ng… nae… ara… ara. Mungkin kau butuh waktu untuk menenangkan diri, istirahatlah”

Eun Yoo menghela nafas, “dan juga… kalau Hyunie-ah…” Eun Yoo terdiam sejenak “maksudku, kalau Baek Hyun menelpon, katakan aku masih belum pulang. Aku serius, aku tidak ingin bertemu dengannya sekarang. Kalau oppa mengizinkannya menemuiku, aku betul-betul akan pergi dari rumah”

Chan Yeol menghela nafas “arasso… arasso… anak itu juga sudah cukup tersiksa, setidaknya dia juga butuh istirahat kerana semalaman dia tidak tidur”

Eun Yoo langsung beranjak naik ke lantai dua menuju kamarnya, ia tidak bisa lagi menahan air matanya setelah mendengar laporan oppanya. Ironis… bahkan Eun Yoo sendiripun tidak percaya dengan kalimat apa yang baru saja keluar dari mulutnya. Pada kenyataannya, “tidak mempercayai Baek Hyun” adalah hal terakhir yang akan dia lakukan di dunia ini kalau memang dia tidak diberi pilihan lain lagi… karena sebenarnya… apapun yang akan dilakukan namja itu, Eun Yoo tetap akan mempercayai penjelasannya. Tapi… kembali lagi, ini bukan kondisi normal, jadi Eun Yoo terpaksa menjadikan hal konyol ini sebagai alasan untuk bisa mengakhiri hubungannya dengan Baek Hyun.

Sakit? Tidak… tidak hanya sekedar sakit… rasanya lebih dari pada itu. Eun Yoo bahkan tidak tahu lagi apa yang akan terjadi keesokan harinya di sekolah. Duduk bersebelahan dengan Baek Hyun sepanjang tahun akan berakhir esok pagi.

Sementara itu, Baek Hyun sudah seperi cacing kepanasan di rumahnya sendiri. Matanya tidak bisa terpejam barang sedetikpun, walaupun Chan Yeol sudah memaksanya untuk pulang dan beristirahat, tetap saja ia tidak bisa melakukannya. Berkali-kali ia menelpon Eun Yoo, tapi tetap saja nomor iu tidak aktif. Menelpon Chan Yeol pun percuma karena jawabannya tetap saja “Eun Yoo belum pulang Baek Hyun-ah… kau bersabarlah, tenangkan dirimu. Semua akan bertambah parah kaua kondisimu juga drop, jadi beristirahatlah, dan berhenti menelponku. Aku yang akan menelponmu lebih dulu kalau Eun Yoo sudah pulang”

Dan terpaksa Baek Hyun hanya bisa mondar-mandir di sekitar kamarnya tanpa tahu harus berbuat apa. Dan entah kenapa ia merasa kalau hari minggu ini terasa sangat panjang.

Ingin rasanya ia melewati hari minggu ini agar bisa langsung ke hari senin. Menemui Eun Yoo di sekolah, memeluknya erat-erat dan menjelaskan semuanya. ia bahkan tidak menyangka Eun Yoo begitu mudahnya terpengaruh dengan kejadian konyol itu.

Hari senin pun tiba. Baek Hyun bahkan sudah sampai di sekolah setengah jam lebih awal dari biasanya. setelah menyimpan tas nya, ia langsung berjaga di depan gerbang sekolah. Chan Yeol baru menelponnya tadi subuh kalau Eun Yoo sudah pulang, Chan Yeol baru menelponnya karena Eun Yoo mengancamnya. Tapi pagi ini Eun Yoo akan ke sekolah bersamanya. Mendengar itu, Baek Hyun hendak menuju ke rumah Eun Yoo, tapi Chan Yeol melarang. Karena Eun Yoo menolak untuk bertemu, Chan Yeol  juga menyampaikan ancaman Eun Yoo perihal kabur dari rumah kalau saja Baek Hyun nekat menemuinya di rumah.

Baek Hyun semakin tidak sabaran, ia sudah ratusan kali melihat arlojinya, dan dia mengumpat berkali-kali, bahkan ia mengira arloji nya mati saking lamanya waktu bergulir. Sudah hampir pukul 8 dan Eun Yoo belum juga muncul. Ia terkejut begitu bel masuk berbunyi. Guru piket yang menjaga di situ sudah menegur Baek Hyun untuk segera ke kelasnya. Baek Hyun semakin yakin kalau Eun Yoo sengaja menghindarinya.

Terpaksa Baek Hyun kembali ke kelas dengan langkah gontai.

“Eun Yoo tidak datang?” tanya Kai begitu melihat Baek Hyun duduk sendiri di bangkunya.

“molla… mungkin dia terlambat”jawab Baek Hyun lemah.

“kau tampak tidak sehat”

“hm… aku tidak bisa tidur 2 hari ini”

“kau ada masalah dengan Eun Yoo?”

“sedikit… dan kuharap bisa menyelesaikannya hari ini. Terima kasih perhatianmu Kai”

Kai tersenyum “nae… cheonmaneyo… aku… turut prihatin”

Baek Hyun balas tersenyum.

Ada sedikit perasaan tidak enak hati yang menghampiri Kai. Istilah yang tepat untuknya sekarang adalah, lempar batu sembunyi tangan, atau lebih sadisnya, menusuk teman dari belakang. Tapi Kai mengenyahkan semua itu. Walaupun ia sudah mulai berubah menjadi manusia berperasaan, ia tetap tidak bisa menghentikan ulahnya sekarang, karena dia sudah berindak terlalu jauh, terlebih lagi ia sudah berhasil meraih Eun Yoo. Dan hal yang paling mustahil ia lakukan sekarang adalah… menyerah.

Eun Yoo masuk kelas hampir bersamaan dengan Kim Sonseng-nim. Guru Matematika mereka yang terkenal killer. Dan Baek Hyun akan memaksa diri untuk sedikit bersabar, paling tidak 2 jam ke depan sampai Kim Sonseng keluar. Eun Yoo betul-betul menghindarinya. Ia bahkan duduk di bangku Sulli yang hari itu absen. Dan bangku Sulli itu persis di depan meja guru. Membuat Baek Hyun tidak bisa berkutik.

Seisi kelas pastinya keheranan. Ini pertama kalinya sepanjang sejarah, pasangan fenomenal itu pisah tempat duduk di dalam kelas. Tapi rasa penasaran mereka terpaksa dipendam sebentar karena Kim Sonseng sudah memulai pelajarannya.

Eun Yoo POV

“Eun Yoo-ah… kita harus bicara” serbu Baek Hyun begitu Kim sonseng baru satu langkah meninggalkan kelas. Ia langsung menarik tangan ku dan mengajakku berbicara di koridor yang agak sepi

Aku  berusaha meronta “tidak ada yang perlu dibicarakan Hyunie-ah… semua sudah berakhir”.

“hanya karena kejadian konyol itu? Dan kau percaya?”

“aku melihatnya, dan itu sudah cukup membuatku yakin”.

“Eun Yoo-ah… aku mana mungkin nekat berbuat begitu, berpatok pada hubungan kita, apa aku pernah berubuat macam-macam padamu?”

Aku  menggeleng, bahkan (berusaha) tersenyum ketus “tidak… dan mungkin karena alasan itulah kau mencari yeoja lain untuk melakukan hal itu”

“Eun Yoo-ah… bicara apa kau?”

Aku  menghela nafas “sudah kubilang bukan, tidak ada gunanya kita bicara. Semuanya sudah berakhir. Jadi berhenti menggangguku. Aku tidak sudi lagi melihatmu”

“Eun Yoo-ah… jangan konyol… ini sungguh tidak lucu” Baek Hyun tampaknya sudah mulai hilang kesabaran.

Aku  juga sudah mati-matian menekan perasaan, berusaha sebisa mungkin terlihat ketus dan marah “Hyunie-ah… ini terlalu serius untuk dijadikan sebuah lelucon… jadi berhentilah sampai di sini” aku  hendak beranjak, tapi jelas Baek Hyun tidak akan menyerah begitu saja.

Baek Hyun mencekal tangan ku, “jadi 4 setengah tahun masih belum cukup untuk membangun rasa percayamu? Eun Yoo-ah… realistislah sedikit”

Pertahanan ku jebol, mataku yang masih bengkak kembali mengalirkan air mata. aku berharap Baek Hyun mengira air mata ini adalah air mata kekecewaan atas tindakannya (yang tidak pernah ia lakukan, dan aku yakin terpikir sedikitpun tidak). Walau sebenarnya air mata ini adalah tangisan kepedihan saking kerasnya aku  melawan kata hati dan harus berpura-pura kejam di hadapan Baek Hyun “Hya… Byun Baek Hyun… kau pikir sesakit apa hatiku sekarang?. Setelah dengan mata kepala sendiri kusaksikan yeoja lain dengan tubuh setengah telanjang, berada dalam kamar namjachinguku… dan memperlihatkan kemesraan sebagai tanda kalau kalian telah melakukan hal itu tanpa sepengetahuanku, apa aku hanya bisa diam? Apa aku hanya bisa menyangkal kalau itu tidak terjadi? Dan kau minta aku berpikir realistis… kau tahu… saking realistisnya aku berpikir, aku mengambil keputusan ini. Yeoja itu mana mungkin bisa masuk ke dalam rumahmu, bahkan ke dalam kamarmu kalau bukan kau yang mengajaknya. Dan lagi… berpatok pada kenyataan bahwa… tidak ada namja normal di dunia ini yang bisa menolak yeoja seseksi itu”

Baek Hyun menatap ku sangat dalam, dalam itu membuatku semakin rapuh “baiklah… kalau memang itu adalah patokanmu untuk menentukan namja normal, maka aku bukan namja normal. Aku sudah menutup mata dan hatiku untuk yeoja lain, karena semuanya sudah kutujukan padamu. Lalu tidak masalah kau mengatakan aku tidak normal selama alasannya adalah karena aku sudah mencintai satu yeoja. Yaitu kau”.

Lagi dan lagi, aku hendak berteriak. Harus sampai kapan aku sanggup bertahan melakukan perlawanan ini, menentang kata hati sungguh lebih berat dari apapun “sayangnya kekecewaanku padamu sudah menghapus segalanya Hyunie-ah… sedetail apapun kau menjelaskannya, kenyataan sudah terpampang jelas di mataku, bahkan telah tercetak abadi di benakku. Kau sudah mengkhianatiku, dan aku… tidak bisa memaafkan perbuatanmu. Aku membencimu, jadi kumohon… pergilah dariku”aku menepis kasar tangan Baek Hyun dan berlari sekuat tenaga untuk menjauh. Sedetik lagi aku bertahan di hadapan Baek Hyun dengan sikap ini, aku pasti mati.

“Eun Yoo-ah… dengarkan aku… Ya Tuhan… apa yang harus kujelaskan sementara aku tidak melakukan apa-apa… Eun Yoo ah… aku sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi, kumohon percayalah.” Baek Hyun masih berteriak di belakangku.

Nae Hyunie-ah… aku percaya, bahkan jika kau betul-betul melakukannya, aku tetap akan memaafkanmu. Tapi tidak dalam kondisi sekarang. Aku harus bersikap masa bodoh. Maafkan aku…

Aku memilih perpustakaan sebagai tempat persembunyian, karena memang hanya di ruangan inilah Baek Hyun akan kesulitan menemukanku. Aku menekan dadaku yang serasa ingin meledak. Kubungkam mulutku agar isakanku tidak terdengar. Aku memilih rak paling ujung sebagai tempat persembunyianku. Kuharap Baek Hyun tidak cukup bersabar agar tidak bisa menemukanku.

Aku bisa mendengar suara nya yang memanggil-manggil namaku dengan tidak sabar. Aku bisa mendengar bagaimana frustasinya dia, bahkan saat penjaga perpustakaan menegurnya, Baek Hyun justru membentak balik. Padahal seluruh isi sekolah tahu kalau Baek Hyun adalah siswa yang paling ramah, jangankan membentak yang lebih tua, bahkan dihadapan juniornya sendiripun Baek Hyun tidak pernah bersikap sok. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa, karena menolong diriku sendiripun aku tidak bisa.

Ah tidak… aku tidak sanggup menghadapi Baek Hyun. Setidaknya untuk hari ini… mungkin aku masih membutuhkan waktu untuk mempersiapkan diriku, membutakan mata dan hatiku agar mampu menghadapi Baek Hyun, dan mengambil sikap yang berlawanan dengan kata hatiku.

Kai POV

Sepertinya Eun Yoo sudah berhasil menyatakan putus dari Baek Hyun, terbukti saat Baek Hyun masuk ke dalam kelas dengan langkah gontai dan pandangannya kosong. Ia bahkan tidak sadar telah menabrak Boomie yang melintas di dekatnya. Ini sungguh pemandangan yang cukup miris, tapi… maaf, aku juga sangat membutuhkan Eun Yoo. Aku rasa 4 setengah tahun sudah cukup bagi Baek Hyun untuk bersama Eun Yoo. Jadi tidak mengapa kalau aku juga ingin memiliki Eun Yoo dalam kurun waktu yang cukup lama.

“gwenchanayo?” tanyaku. Walaupun aku tahu kondisinya tidak sedang baik-baik saja. tapi aku cukup tulus karena menanggap namja ini adalah temanku.

“ah… nae…” jawab Baek Hyun sepertinya tidak fokus. “kau melihat Eun Yoo? Ah maksudku… tentu saja tidak karena kau terus di kelas… ah maksudku, apa dia tadi ke sini? Ah tapi aku terus mengikutinya dan tidak melihat dia masuk ke sini”.

Aku cukup prihatin, bahkan Baek Hyun sudah tidak bisa mengontrol kata-kata yang dikeluarkannya. “sepertinya kau butuh istirahat Baek Hyun-shii”

“tidak… yang kubutuhkan sekarang adalah, bicara dengan Eun Yoo. Astaga… kenapa dia bisa percaya hal konyol itu, aku bahkan tidak tau bagaimana cara menjelaskan suatu perbuatan yang tidak pernah kulakukan”.

Maafkan aku Baek Hyun-shii… sama sepertimu, aku juga mencintai Eun Yoo. “bersabarlah” hanya itu yang bisa kukatakan. Karena aku tidak ingin tampak semakin munafik. Sudahlah… ini juga sudah  cukup. Aku sudah berbaik hati dengan cukup bersabar untuk tidak menampakkan hubunganku dengan Eun Yoo di depannya. Yah… ini sudah setimpal.

“apa yang harus kulakukan… terpikir ke sini pun tidak… semuanya kacau” Baek Hyun kembali menggumam sendiri.

“Baek Hyun-shii, sepertinya kau harus beristirahat di UKS, aku akan mengantarmu”tawarku.

“aku ingin menunggu Eun Yoo” Baek Hyun menatapku penuh harap, mungkin seperti meminta tolong.

Hm… maaf Baek Hyun-shii, tidak akan kubiarkan Eun Yoo kembali padamu. “aku akan segera memberitahumu kalau Eun Yoo sudah ketemu. Kau beristirahatlah di UKS, aku juga tidak yakin Eun Yoo akan kembali ke kelas”

Baek Hyun sudah tampak sangat pasrah “nae… arasso”.

Aku pun mengantar Baek Hyun menuju UKS di lantai satu, hm… sedikit licik memang, tapi Ini sudah cukup untuk tidak mempertemukan mereka dalam waktu dekat ini. Setelah ini aku akan mencari Eun Yoo.

Author POV

Eun Yoo menatap ujung sepatunya. Langkahnya terasa sangat berat.  Rasanya sangat kacau menjalani kehidupan seperti ini. Tidak ada Baek Hyun yang selalu di sisinya, mengusap puncak kepalanya, mencubit gemas hidungnya, memeluknya erat, dan tersenyum padanya. Hidup tanpa kesemua hal itu sama saja dengan di benamkan di tengah gurun tanpa ada oase di sekitarnya.

Eun Yoo memilih bolos sekolah. Berlama-lama di kelas hanya membuatnya sesak nafas. Berpura-pura membenci namja yang dicintai, apakah masih ada yang lebih ironis dari itu?.

Eun Yoo bahkan tidak tahu kemana kakinya melangkah sekarang, tau-tau dia sudah keluar dari pekarangan sekolah menuju halte di seberang jalan.

Hyunie-ah… bisa kah aku tanpamu? _lirihnya dalam hati berikut air mata yang mulai mengering.

“Eun Yoo-ah… tunggu” seseorang memanggilnya dari belakang. Tapi Eun Yoo jelas tenggelam dalam kesedihannya sendiri. “Eun Yoo-ah…” ulangnya dengan nada semakin naik. Eun Yoo bahkan tidak bisa mendengar hiruk pikuk kendaraan di sekitarnya. Ia hanya melangkah gontai menyebrangi jalan tanpa sadar lampu penyebrangan sudah berganti menjadi merah.

“PARK EUN YOO….” Suara panggilan itu makin histeris, begitu hiruk pikuk kendaraan di jalan semakin ramai karena keberadaan siswi yang menyebrang jalan dengan tatapan kosong.

Sebuah mobil box melaju dengan kecepatan tinggi dari arah kiri. Dan kebimbangan membuat Eun Yoo tidak bisa membaca dan menyadari keadaan. Bahkan suara-suara klakson pengguna kendaraan lain ikut memperingatkan.

Mobil box itu melesat, pengemudi baru sadar bahwa seorang siswi masih berada di tengah jalan saat jaraknya sudah terhitung meter.

TIIIIIIIIIIIIINNNNNNNNNNNNNNNNNNN………….

Pengemudi itu kesulitan membanting setir, terlebih saat ada seorang siswa dengan sangat nekat menerjang. “PARK EUN YOO… AWAAASSS……….” seru siswa itu saat Eun Yoo sudah tepat diambang maut.

***

Eun Yoo POV

Aku tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Saat sebuah lengkingan meneriakkan namaku dengan panik, aku mengangkat wajah, belum sempat aku menyadari posisiku di mana, tubuhku sudah terhempas ke trotoar karena ada yang mendorongku dengan sangat keras. Lututku terantuk. Dan aku belum sempat mengeluh karena…

Ckiiiitttttttttttt…… BRUUGGGHHHHHHHHHHH……….

….

….

Aku membelalak saat kulihat seonggok tubuh terhempas setelah tertabrak sisi mobil box yang kehilangan kendali itu. Aku membungkam mulutku yang tak bisa menahan shock.

Suasana seolah hening saat sosok tubuh yang tertabrak itu berguling dan berhenti tepat beberapa meter dariku.

Oh Tuhan… a… apa yang terjadi/…

Sosok itu begitu tidak asing…

… bukan dia… pasti bukan…

Aku memaksa kakiku untuk berdiri, berlari menerobos kerumunan di tengah jalan itu. Dan saat menyaksikan sosok itu terbaring bersimbah darah… lututku lemas, dan aku ikut ambruk dengan lutut lebih dulu mendarat ke aspal.

Satu hal yang tidak bisa membuatku berhenti menangis…

Sosok ini menyelamatkan nyawaku. Dan kini ia bersimbah darah persis di hadapanku. Semua karenaku. Dan kalau dia mati berarti…

Aku… aku adalah pembunuh…

aku…

AKU TELAH MEMBUNUH… KAI!!!

***

Aku berjalan mondar mandir dengan tubuh bergetar hebat di depan ruang Unit pelayanan gawat darurat di mana Kai ditangani. Oh Tuhan… selamatkan nyawa Kai. Karena kecerobohanku, untuk kesekian kalinya Kai celaka. Ini bahkan lebih parah dari apapun, nyawa Kai dalam bahaya.

Tak lama kemudian Chan Yeol oppa datang sambil berlari ke arahku. “gwenchanayo Eun Yoo-ah?” tanya oppa panik. Aku bahkan melihat nafasnya tersengal-sengal. “ya Tuhan… kau berdarah”

“ini bukan darahku…” jawabku gemetaran, dan air mataku sudah tidak bisa kubendung.

“tenangkan dirimu, dan ceritakan padaku dengan perlahan. Apa yang terjadi?” oppa menepuk punggungku, masih dalam pelukannya.

“Kai… Kai…”

“nae, kenapa dengan Kai?”

“Kai menyelamatkanku dari maut” aku langsung meraung di kalimat terakhir. Dan tidak mampu lagi bercerita.

Untung saja Chan Yeol oppa paham keadaanku. Ia hanya memelukku dan tidak lagi memaksaku bercerita. Ia juga menuntunku untuk duduk di bangku terdekat, dan sedikit membuatku sudah lumayan tenang.

Kami berdua tersentak begitu seorang suster membawa trolli berisi peralatan medis yang telah digunakan, aku sedikit ngeri melihat begitu banyak darah yang berceceran di trolli itu. Ya Tuhan… selamatkan Kai, apapun yang terjadi, selamatkan nyawa Kai.

“Oppa… Kai tidak akan mati kan?” tanyaku mulai takut, bahkan pada tahap paranoid.

“nae.. tentu saja. Kai tidak selemah itu. Jadi tenangkan dirimu” jawab oppa dengan nada yang sangat menenangkan. Inilah mengapa aku langsung menelpon Oppa begitu aku tiba di RUMAH SAKIT, karena hanya dialah yang bisa membuatku merasa cukup tenang.

Baiklah… aku sedikit bohong. Orang pertama yang terpikir olehku pada saat aku sepanik ini adaah Byun Baek Hyun. Dan percayalah aku sudah hampir menelponnya kalau saja aku tidak mengingat bahwa kami sudah berakhir. Ah tidak… kenapa aku harus memikirkan Baek Hyun lagi. lihatlah Kai… demi siapa dia seperti itu?. Di saat seperti ini yang seharusnya kupikirkan hanyalah keselamatan Kai… bukan yang lain.

Kai… Kim jong in,… sebodoh apa kau sebenarnya, kenapa kau rela membahayakan nyawamu yang berharga hanya demi yeoja ceroboh sepertiku? Wae? Wae?

Kau mencintaiku? tErima kasih… tapi, aku akan mengutuk diriku karena tidak bisa membalas cintamu itu. Kai… kenapa cintamu itu sangat membuatku tersiksa. Sekarang bahkan terasa lebih parah, karena kau membuatku merasa bersalah. Bukan… aku merasa berhutang nyawa padamu. Kai… kumohon jangan mati…

Dokter keluar dari ruangan itu. Jantungku langsung berdebar kencang, takut dengan kabar yang akan mampir ke telingaku. Bagaimana kalau dokter itu mengatakan Kai tidak bisa diselamatkan, dia telah meninggal. Oh Tuhan… apapun yang terjadi tolong selamatkan Kai.

Chan Yeol oppa menyuruhku tenang, dan dia sendiri yang menghampiri dokter “bagaimana keadaan teman saya Dokter?”

“bersyukurlah, pasien ini selamat. Walaupun benturan keras mengenai kepaanya, dan juga 2 tulang rusuk retak, kami berhasil menanganinya. Hanya saja…” dokter menggantung kalimatnya. Inilah yang kuherankan dari setiap penyataan dokter. Kenapa mereka memberi kabar baik dulu lalu memberi tahu kabar buruk di akhir kalimat? Ini sama saja membuat kami berharap lalu akan jatuh di tempat terakhir.

“hanya saja apa dokter?” Chan Yeol oppa masih bersabar.

“perkembangan selanjutnya belum kami pastikan. Benturan yang mengenai kepalanya menimbulkan trauma kepala yang cukup berat. Itu membuatnya kehilangan kesadaran. Dan bisa saja itu mempengaruhi fungsi syarafnya. Untuk itu… kita harus menunggu pasien sadar dan memantau kondisinya”

Tubuhku semakin lemah, apa itu artinya… Kai akan lumpuh?.

Dokter menepuk pundak oppaku “tenang lah, banyak berdoa. Beruntung fisik pasien ini cukup kuat dan bisa bertahan”

Tidak… dalam hal ini tidak ada kata beruntung. Kondisi Kai sangat parah, dan itu adalah karena aku.

“Eun Yoo-ah… Kai tidak akan apa-apa”oppa kembali memelukku setelah doker itu pergi. Aku bahkan tidak menyimak pembicaraan terakhir mereka karena aku lebih dulu shock.

“kalau saja Kai tidak nekat menyelamatkanku, dia tidak akan sekarat seperti ini” tuturku dengan penuh penyesalan. Aku bahkan bisa merasakan air mataku menetes membasahi pipiku. Lagi-lagi, aku menangis pilu.

“bicara apa kau. Terlepas dari kejadian ini, aku bersyukur tidak terjadi apa-apa padamu. Aku tidak yakin kau juga akan selamat seperti Kai saat ini kalau saja kau yang tertabrak. Aku bukannya lebih memilih keadaan kau selamat dan Kai yang tertabrak, tapi,… fisik Kai bisa melawan ini, sedangkan kau…”.

Aku mengeluh dalam hati “semua karena kecerobohanku”

“Eun Yoo-ah… kumohon berhentilah menyalahkan dirimu. Yang perlu kau lakukan sekarang adalah berdoa unuk kesembuhan Kai. Dan juga, jangan biarkan dirimu drop, karena kau juga bisa sakit”

“oppa…”

“tenangkan dirimu, semuanya akan baik-baik saja. kita pernah melewati keadaan yang lebih berat dari ini bukan, aku yakin kali ini kau juga bisa”

Aku menangis, dan memeluk Chan Yeol oppa dengan seerat mungkin. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya hidupku tanpa orang ini.

Saat ini, jiwaku sudah pincang tanpa Baek Hyun… dan aku sudah tidak sanggup menerima keadaan yang lebih berat lagi.

***

Kai dipindahkan di ruang perawatan intensif. Chan Yeol oppa sudah menghubungi keluarga Kai beberapa jam yang lalu, dan sekarang Chan Yeol oppa pergi untuk mengurus administrasinya. Sekalian juga dia ingin membeli makanan untukku, padahal aku sudah menolak karena memang aku tidak lapar. Aku tidak yakin makanan bisa masuk ke dalam mulutku sekarang. tapi Chan Yeol oppa tetap memaksa, aku hanya bisa pasrah dan mengikuti semua ucapannya.

Sudah hampir petang, dan Kai belum juga sadar. Aku terus duduk di dekatnya, menunggui namja ini sampai matanya terbuka. Aku cukup tersiksa melihat kondisi Kai yang terbaring tanpa daya, dengan mata terpejam, perban di kepala, bahu, dada, dan kaki kanan, lecet di sekujur tubuh, ah… dan wajah pucat pasi. Sungguh bukan penampilan Kai yang biasanya. ini membuat hatiku sakit.

Perlahan kuraih tangan kanannya dan kugenggam lembut “Kai-shii… ah ani, maksudku. Kai… kau bisa mendengarku? Ini Aku Eun Yoo. Kai… kau mendegarku kan? Sembuhlah Kai, bangun lah. Aku… aku sangat mengkhawatirkanmu” lirihku lembut. Tapi tetap saja tidak ada respon. Ini sungguh ironis, Kai pasti  sangat menderita.

“Jong In-ah… Jong In-ah… “ seorag yeoja paruh baya dengan penampilan cukup modis menerjang masuk ke kamar perawatan Kai. Ahjumma itu tampak sangat tergesa-gesa dan menghampiri Kai. Aku berduru dan membungkuk memberi salam, aku yakin ahjumma ini adalah eommanya Kai. Mereka mirip.

Ahjumma itu langsung menangis dan memeluk Kai. Aku khawatir dengan tubuh Kai “Jong In-ah… apa yang terjadi nak… kenapa kau sampai seperti ini?”

“ng… o… omoni, Kai, ah maksudku, Jong In-shii mengalami kecelakaan” laporku takut-takut.

Eomma Kai mengusap air matanya, melepaskan pelukannya dari Kai “kecelakaan? Kenapa Jong In bisa sampai mengalami kecelakaan?”

“itu…”aku menunduk penuh rasa bersalah, aku siap kalau eomma nya Kai memarahiku dan menghukumku “semuanya karena aku. Jong In-shii menyelamatkanku,harusnya yang tertabrak mobil adalah aku, tapi jong In-shii… dia menyelematakanku hingga dia sendiri yang tertabrak mobil” aku menantikan omelannya, tapi 20 detik sama sekali bukan waktu yang sebentar untuk merespon. Akupun mengangkat wajah, dan eomma Kai menatapku dengan ekspresi yang sulit kubaca.

“kau temannya?” tanya eomma Kai, dan itu membuatku semakin heran. Bukannya memarahiku, dia malah bertanya.

“nae omoni, aku teman sekelasnya”

“aku rasa bukan hanya sekedar teman sekelas. Kau… yeojachingu nya?”

Aku terkejut dengan pertanyaan itu. Yah… secara status memang sekarang aku sudah menjadi yeojachingunya. Tapi… ah.

Eomma Kai menghampiriku. Aku cukup canggung karena dia seolah meneliti dan memperhatikanku dari ujung kaki sampai ujung rambut. Aku bahkan masih mengenakan seragam sekolahku yang terkena darah Kai saat aku ikut mengantarnya ke RUMAH SAKIT bersama mobil ambulance tadi. “tidak perlu malu. Aku senang jong In akhirnya bisa serius menyukai seorang yeoja. Ini pertama kalinya aku mendengar Jong In punya kekasih dengan serius. maksudku, anakku ini sangat suka menyendiri, dia terlalu cuek dengan keadaan sekitarnya, dan juga dia terlalu egois. Makanya aku berpikir, kau sudah sangat spesial baginya karena sudah membuat Jong In senekat ini membahayakan nyawanya”

Ditinjau dari maknanya, ini adalah sebuah pujian, tapi entah kenapa aku justru semakin merasa bersalah.

“gwenchana…” eomma Kai menarik tangan kananku dan menggenggamnya “siapa namamu?”

Aku mengangkat wajah “Eun Yoo… Park Eun Yoo imnida”

“Eun Yoo-ah… gomawo”

“ng? u…untuk apa omoni? Aku telah mencelakai anak anda, dan sudah siap menerima hukuman. Tapi… kenapa anda justru berterima kasih”

“terima kasih telah menjadi teman yang baik untuk Jong In”

“itu… ng…”

“hm.. sekarang aku tahu kenapa jong In menyukaimu” eomma Kai memelukku, dan itu sungguh melegakan. Maksudku… dimana-mana pelukan seorang ibu akan lebih hangat dari apapun. Setelah melepas pelukannya, eomma Kai menatapku dan mengusap rambutku. Dan entah kenapa aku justru teringat omoni yang satunya lagi. yah… omoni yang kuimpikan menjadi mertuaku, Eomma dari Baek Hyun.

Hp eomma Kai berdering nyaring, itu membuatnya tersentak dan segera menerima panggilan masuknya “yeoboseyo___ ah nae sajang-nim___ cwesonghamnida jeongmal cwesonghamnida, saya tidak bisa hadir___anakku mengalami kecelakaan dan dia sedang tidak sadarkan diri sekarang__ cwesonghamnida sajang-nim, saya sudah terlalu lama meninggalkan anak saya, dan saya akan menjadi ibu yang sangat jahat kalau tetap meninggalkan anak yang kondisinya sedang sekarat__ saya sudah menghubungi suami saya sajang-nim, tapi dia sedang berada di luar negeri untuk dinas penting__anieyo, kami tidak punya kerabat lain di Seoul, jadi saya tidak bisa meninggalkan anak saya sendiri___ saya mengerti sajang-nim karena ini adalah proyek yang saya kerjakan bertahun-tahun, tapi anak saya jelas lebih penting dari apapun” eomma Kai tampak dalam kebimbangan besar, bisa kulihat ia memandangi anaknya dengan tatapan pilu sembari merengkuh dadanya. “jeongmal cwesonghamnida” eomma Kai mematikan HP nya dan menghembuskan nafas berat “tamat sudah”

“omoni… anda tidak apa-apa?”tanyaku cemas

“nae Eun Yoo-ah, sepertinya memang harus seperti ini. Aku sudah menelantarkan anakku cukup lama, aku bahkan sudah berpisah dengan appanya karena tuntutan pekerjaan ini, aku tidak pernah punya waktu untuk keluarga karena memang tempatku bekerja cukup jauh, di Beijing. Mungkin inilah teguran untukku saat dihadapkan pada dua pilihan penting. Mimpiku akan kesuksesan, atau anakku”tuturnya pilu. eomma Kai beranjak, mendekati branker tempat Kai tertidur, ia membelai wajah anaknya “jong In-ah… maafkan eomma nak, karena keegoisan eomma, kau tersiksa. Eomma bisa membayangkan kesulitanmu beradaptasi setiap kau pindah ke kota yang baru mengikuti appamu. Andai saja eomma bisa lebih banyak meluangkan waktu untukmu, akan kubiarkan kau ikut dengan eomma, tapi maafkan eomma nak, pekerjaan eomma menyita hari-hari eomma sepanjang tahun”

“omoni…” aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata yang tepat.

“ini ada teguran dalam bentuk nyata, saat mimpiku sudah di depan mata, musibah ini menimpaku. Padahal tinggal selangkah lagi, maka upayaku selama bertahun-tahun akan sukses. Tapi tidak… aku tidak menyesal, ini bukan apa-apa ketimbang anakku”

Aku sedikit paham dengan masalah yang omoni hadapi. Mungkin inilah kesempatanku untuk menebus kesalahanku “omoni… aku akan menjaga Kai, maksudku Jong In. anda bisa kembali ke pekerjaan anda, hanya selangkah lagi bukan?”

Omoni menatapku dengan binar yang cukup ragu “Tapi… aku”

“Yah walau aku juga akan mengklaim bahwa anda telah membiarkan Jong In kesepian sepanjang hidupnya. Tapi aku yakin jauh di lubuk hati anda, Jong In tetap yang terpenting” aku menoleh ke arah Kai yang terbaring “aku bisa merasakan kesepian yang menemaninya selama ini, karena aku juga mengalami hal yang sama. Tanpa kasih sayang ibu memang berat” aku kembali menatap omoni “tapi anak seperti kami bisa melewatinya omoni”

Omoni menatapku dengan mata berair “ini membuatku merasa sangat bersalah”

“ani… omoni, aku yakin Jong In juga mendukung anda. Ia pasti akan sangat marah kalau saja perjuangan anda bertahun-tahun berhenti sampai di sini saja. Jong In pasti sangat berharap akan kesuksesan anda, dan setelah ini anda akan punya waktu luang lagi bersamanya. Jadi untuk urusan menjaga Jong In, serahkan saja padaku.”

Omoni tidak banyak bicara lagi, ia kembali memelukku, kali ini sangat erat “gomawo Eun Yoo-ah, gomawo”

“ini memang sudah tugasku omoni, selain karena akulah penyebab semua ini, aku adalah teman Jong In”

“nae… aku bahagia anakku punya kekasih sepertimu” lirih omoni.

Ya Tuhan… ini… kekasih??? Hyunie-ah… maafkan aku.

Omoni melepas pelukannya sembari mengusap air matanya “tolong hubungi aku begitu Jong In sadar”

“nae omoni, tentu saja”.

Omoni kembali ke dekat anaknya, ia mengecup kening Kai, mengusap wajahnya “eomma sangat mencintaimu nak, kalau eomma kembali, eomma berharap kau sudah membuka matamu” lirihnya pilu. Lihatlah… inilah kasih sayang ibu, tidak akan ada yang bisa menyainginya.

Aku mengantar eomma Kai sampai keluar kamar. “berhati-hatilah omoni”

Omoni tersenyum kecil “nae Eun Yoo-ah, terima kasih nak” omoni lagi-lagi memelukku.

Tiba-tiba mataku menangkap sosok dari ujung koridor, berlari kearah kami dengan sangat tergesa-gesa. Dia adalah…

“Hyunie-ah” lirihku tanpa sadar.

Omoni melepaskan pelukannya “nugu?”

Aku tersentak “ah bukan, itu”

Baek Hyun dan D.O (yang menyusul dari belakang) kini berdiri di hadapan kami dengan nafas tersengal-sengal.

“Eun Yoo-ah… gwenchanayo?” tanya Baek Hyun masih kesulitan mengaur nafas. Entah siapa yang memberitahunya kabar ini tapi aku yakin begitu ia mendengarnya, ia langsung melesat ke sini.

“bukan aku yang celaka, tapi Kai”jawabku berusaha terlihat sedatar mungkin. Padahal aku mati-matian menenangkan debaran jantungku yang menyiksa ini.

“Kai? Kenapa dengannya?”

“dia tertabrak mobil”

“ya Tuhan… bagaimana keadaannya?”

“dia selamat. Hanya saja belum sadar”

Oh Tuhan… sampai kapan aku bisa bertahan melakukan percakapan sedatar ini dengan namja yang sangat kucintai?.

“kalian temannya Jong In?” untung saja omoni bersuara, itu bisa memberiku jeda untuk mengontrol rasa sakit di tenggorokanku.

“ah nae omoni” Baek Hyun dan D.O membungkuk memberi salam.

“ah… ternyata Jong In sudah menemukan tempat yang tepat. Dia punya teman-teman yang memperhatikannya, dan juga” omoni menatapku, dan itu membuat perasaanku tidak enak “yeojachingu yang sangat manis”

Tepat diakhir kalimat omoni, aku memejamkan mata.

“Yeo… Yeojachingu?” D.O yang merespon.

“omoni, anda bisa ketinggalan pesawat, bukankah anda terburu-buru? Jong In serahkan saja pada kami”ucapku pada omoni. Aku tidak ingin memperpanjang ini.

“ah kau benar. Sampai jumpa lagi Eun Yoo-ah, dan juga… Jong In chingudeul…”

Baek Hyun POV

Aku seolah tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun. Kata-kata yang mampir ke telingaku barusan seperti sebuah dentuman yang merusak gendang telingaku. Siapa yang dia maksud dengan Yeojachingu nya Kai?.

Aku menatap Eun Yoo begitu eomma Kai sudah pergi.

“ng… sepertinya aku akan masuk menengok Kai” D.O pamit, mungkin mengerti situasi kalau aku dan Eun Yoo perlu bicara. Dan aku yakin pembicaraan kami akan lebih dari kata serius.

Eun Yoo juga hendak masuk, tapi aku lebih dulu mencekal tangannya. “yeojachingu?”itulah pertanyaanku yang paling merusak pikiranku.

Eun Yoo meronta, dan menatapku dengan tajam “wae? Kita sudah berakhir bukan!”.

Sungguh respon yang tidak bisa kuduga. “bahkan dalam sehari kau sudah berpaling pada Kai?”

Eun Yoo menyandarkan punggungnya di tembok “karena aku sudah sadar akan sesuatu. selama ini aku dibutakan oleh cintaku padamu, aku hampir saja mengabaikan namja yang betul-betul mencintaiku”

Aku menelan ludah yang seperti karang. “apa maksudmu? Kau pikir aku tidak betul-betul mencintaimu?”

Eun Yoo membuang muka, aku lihat wajahnya memerah menahan emosi “entahlah, kejadian itu sudah menghapus pandanganku terhadapmu. Aku muak denganmu”

“Eun Yoo-ah” seruku tak percaya, aku bahkan hampir limbung ke belakang.

“kau tahu kenapa Kai tertabrak” lagi-lagi Eun Yoo menatapku tajam “kau tahu… kalau saja Kai tidak ada, kau tidak akan bisa menemuiku sekarang, kau mungkin akan meratapiku di pemakaman”

“EUN YOO-AH…” bentakku

“WAE? BYUN BAEK HYUN!”balasnya, ini bahkan pertama kalinya Eun Yoo melawanku dengan tegas, bahkan dengan bentakan.

“kau sadar dengan semua ucapanmu?”

“nae… aku sadar sepenuhnya. Hubungan kita sudah berakhir, sekarang kau bisa bebas bermain dengan yeoja sexy manapun tanpa sembunyi-sembunyi lagi dariku. Kau tidak perlu memikirkan siapapun lagi kalau kau ingin tidur dengan yeoja manapun”

PLAAAAAAAAAKKKKK

Tanpa bisa kukendalikan, tanganku menampar pipi Eun Yoo cukup keras. Aku shock… tapi kata-katanya jauh lebih mengejutkan dari tamparan yang tidak bisa kukendalikan ini.

“kau bahkan tega menamparku Byun Baek Hyun” Eun Yoo menatapku dengan air mata terburai.

Aku tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Kata-kata Eun Yoo sukses membuat isi kepalaku kosong. Kalau saja aku mempunyai riwayat penyakit jantung, aku yakin aku sudah mati sekarang.

“aku semakin yakin dengan keputusanku” Eun Yoo masih menatapku tajam “Nae … aku sudah memutuskannya. Aku akan menerima Kai di sisiku, karena aku sadar, namja seperti Kai lah yang pantas untukku. Namja yang bahkan rela melakukan apapun untukku, bahkan rela mengorbankan nyawanya demi diriku. Namja seperti Kai lah yang kubutuhkan, namja yang bisa melindungiku dan membuatku bahagia bersamanya. Bukan namja yang selalu mengekangku dalam kurungan”tuturnya lebih dari sekedar kejam.

Aku bahkan bisa merasakan dadaku tertohok pedang panjang. Kata-kata Eun Yoo diakhir kalimat menamparku telak-telak “oh… jadi selama ini kau merasa keberadaanku hanya membuatmu terkekang?”

“kata-kataku sudah cukup jelas bukan”Eun Yoo masih membalas.

Aku memejamkan mataku, menahan rasa sakit yang menyerang seluruh jiwaku “arasso… mungkin tidak sepantasnya aku terus berada di sisimu karena itu akan membuatmu merasa terkekang. Baiklah…” aku mundur ke belakang “Park Eun Yoo… maafkan aku karena selama hampir 5 tahun ini telah membuatmu terkekang bersamaku. Semoga kau bahagia bersama Kai. Selamat tinggal”

Aku beranjak pergi dengan langkah setengah berlari. Sial… aku menangis. Aku yang seorang namja… menangis!

***

Author POV.

Eun Yoo luruh ke lantai. Ia menangis sekeras-kerasnya, bahkan meraung dengan penuh rasa sakit, ia Membungkam mulutnya dengan kedua tangan, agar raungannya teredam, mengingat masih ada D.O di kamar perawatan Kai.

Hatinya hancur berkeping-keping. Bersikap sekejam itu di hadapan Baek Hyun rasanya sama seperti menghitung mundur saat kau akan dihukum mati.

Pertahanan Eun Yoo akhirnya sampai limit. ia limbung dan akhirnya kehilangan kesadaran.

Eun Yoo baru membuka mata saat pagi berikutnya datang. Ia mengerjapkan matanya yang perih karena terlalu banyak menangis. Ia menoleh ke kanan, ternyata ia sedang terbaring di branker yang bersebelahan dengan branker Kai. Lagi-lagi Eun Yoo berharap ini adalah mimpi, tapi kondisinya sekarang sudah menjadi bukti nyata kalau semuanya sudah terjadi. Ia sudah mengucapkan kata-kata kejam itu pada Baek Hyun, namja yang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Dan kata-kata kejam itu sukses membuat Baek Hyun menyerah.

Eun Yoo memejamkan matanya, air matanya seolah kering. Ia menyebut nama Baek Hyun dalam hatinya hampir ribuan kali. Dan itu membuatnya semakin sadar. Namja itu sudah menempati seluruh hati dan pikirannya. Melenyapkannya sama saja dengan bunuh diri.

“Eun Yoo-ah, kau sudah sadar?” tanya Chan Yeol yang sejak semalam menjaga Eun Yoo, bahkan tertidur di kursi dekat branker Eun Yoo.

“oppa..” lirih Eun Yoo, tapi suaranya tidak keluar. Tentu saja, ini adalah efek menangis terlalu keras kemarin.

Chan Yeol menyuguhkan Eun Yoo segelas air putih “kemarin kau pingsan, untung saat itu ada D.O, jadi kau tidak tergeletak di koridor cukup lama”

“mianhae” lirih Eun Yoo masih tanpa suara.

“apa yang terjadi?”

Eun Yoo menunduk. Dia tidak akan menceritakan apapun pada orang lain, bahkan pada kakaknya sekalipun.

“Eun Yoo-ah… apapun yang terjadi, ingatlah. Kau punya aku”Chan Yeol mengusap puncak kepala adiknya.

“oppa…” Eun Yoo berusaha mengeluarkan suara, walau tenggorokannya sakit. Suaranya bahkan sangat serak dan kering.

“nae chagi-ah”

“boleh aku meminta satu hal?”

“nae… apapun itu”

Eun Yoo menatap kakaknya penuh harap “Baek Hyun… jangan biarkan dia melakukan sesuatu yang bodoh”

Chan Yeol menghembuskan nafas berat “sudah kuduga. Jadi kalian sudah betul-betul berakhir?”

Eun Yoo memalingkan wajah.

Chan Yeol melihatnya, bibir Eun Yoo bergetar hebat, sangat jelas ia sedang menahan tangis “baiklah… aku akan menjaga Baek Hyun, sebisa mungkin memantaunya. Aku sangat menyayangkan keputusanmu. Tapi aku yakin, ada yang sedang kau pertimbangkan. Dan apapun itu, aku akan tetap mendukungmu, karena aku kakakmu”

Eun Yoo langsung menghempaskan tubuhnya ke pelukan Chan Yeol, dan menangis di sana “mianhae…mianhae…mianhae…”

Chan Yeol mengelus kepala adiknya “sekarang, perhatikan kesehatanmu”

***

Eun Yoo pulang sejenak ke rumahnya unuk menyegarkan diri dan berganti pakaian. Ia cukup terkejut melihat seragam sekolahnya penuh noda darah.

Walau hatinya masih kacau, ia tetap berusaha menjalani aktivtasnya. Terlebih lagi Kai masih belum menunjukkan tanda-tanda akan siuman. Dan itu membuat pikiran Eun Yoo semakin kalut.

Setelah beres, Eun Yoo kembali ke rumah sakit untuk gantian dengan Chan Yeol. Kasihan juga oppanya yang satu iu, sungguh sosok kakak yang beranggung jawab.“Oppa, kau pulanglah beristirahat, kau pasti sangat lelah. Sekarang gliranku menjaga Kai”

“tapi kau masih belum fit”

“ani… aku baik-baik saja, setelah mandi, pikiranku sudah segar. Kau juga membutuhkan itu”

Chan Yeol tertawa “arasso. Aku akan beristirahat sejenak dan kembali lagi. hubungi aku kalau butuh sesuatu”

“nae oppa”

Chan Yeol mengacak rambut adiknya kemudian pergi.

Eun Yoo menggeret kursi ke sebelah branker tempat Kai terbaring. Sangat miris melihat kondisi Kai yang masih belum sadar “Kai… kau mendengarku kan? Itu… aku sudah putus dari Baek Hyun” Eun Yoo terdiam sejenak, ia sendiri tidak mengerti dengan apa yang ia katakan. Ia hanya mengikuti instruksi dokter untuk sering berbicara pada Kai untuk memberinya motivasi. Dan satu-satunya bahan yang menurut Eun Yoo sangat ampuh untuk memberi Kai motivasi adalah, kabar itu. “Kai… sekarang, aku adalah yeojachingumu bukan? Kalau begitu.. bangun lah, banyak yang perlu dilakukan oleh sepasang kekasih bukan?”

Eun Yoo menghela nafas. Kai masih tidak menunjukkan respon. “Kai… kenapa kau mencintaiku? Maksudku… kenapa aku? Bukankah kau punya banyak penggemar, kau bisa tunjuk siapapun dan dalam hitungan detik kau bisa punya yeojachingu yang cantik. Astaga, aku sedang mengatakan apa?”. Eun Yoo menggenggam tangan Kai “apa kau tidak penasaran kenapa aku sangat mencintai Baek Hyun ku? Ah maaf, maksudku, Baek Hyun. Hm… aku mencintainya karena… karena dia… um karena… itu” Eun Yoo jadi bingung sendiri “Ya Tuhan, sepertinya aku sudah tahu kenapa kau mencintaiku. Kau benar, cinta yang tulus tidak butuh alasan”

Eun Yoo menghela nafas lagi “aku harus mengatakan apa lagi Kai? Kumohon buka matamu, beri aku pentunjuk kalau kau baik-baik saja” Eun Yoo mempererat genggaman tangannya. Dan Eun Yoo terkejut begitu ia merasakan kalau Kai juga meresponnya. “Kai… kau menggerakkan tanganmu kan?” tanya Eun Yoo saking tertegunnya.

Mata Kai masih terpejam, itu membuat Eun Yoo patah semangat, mungkin ia salah mendeteksi gerakan Kai. “Kai… aku harus melakukan apalagi agar kau bangun?” Eun Yoo menunduk pasrah.

“kiss me”

Eun Yoo tersentak kaget. Itu seperti suara Kai, tapi mata Kai masih terpejam “ng?”

“kau mendengarnya? Cium aku, dan aku akan bangun” ucap Kai, ya benar, bibirnya bergerak mengucapkan kalimat itu.

Eun Yoo mengerjapkan mata “ya tuhan… kau sudah sadar?”

Akhirnya Kai membuka mata “kau sangat berisik, itu membuatku terbangun”

Air mata Eun Yoo menetes, ia tak kuasa menahan harunya.

“bisa bantu aku duduk, seluruh tubuhku serasa remuk”

Eun Yoo segera membantu Kai bangun. Ia meninggikan bantal agar Kai bisa bersandar.

“hei… kenapa kau menangis?”tegur Kai

“karena aku manusia. Kau tahu, aku sangat mengkhawatirkanmu” jawab Eun Yoo sambil terisak.

Kai tersenyum “terima kasih”

“ppabo… harusnya aku yang harus berterima kasih, kau sudah menyelamatkan nyawaku”

“oh… jadi karena itu kau terharu?”

Eun Yoo tersentak “bu… bukan begitu. Aku… aku betul-betul mengkhawatirkanmu”

Kai menghela nafas “aku sendiri tidak mengerti Eun Yoo-ah. Saat melihatmu dalam bahaya, pikiranku langsung kosong. Yang tertanam di otakku saat itu hanyalah bagaimana agar kau tidak celaka. Terlepas dari kelalaianku, setidaknya kau tidak apa-apa kan?”

Bibir Eun Yoo bergetar. “gomawo …gomawo Kai”

“sebenarnya aku lebih suka saat kau memanggilku Jong In”

“ah nae… Jong In”

“aku namjachingumu”

Eun Yoo menghela nafas “nae Jong In-ah”

Barulah Kai tertawa dan menarik Eun Yoo ke pelukannya “aku mencintaimu”

“nae.. aku tahu, karena kalau tidak begiu mana mungkin kau sampai senekat itu menyelamatkanku” balas Eun Yoo.

“lain kali aku ingin mendengar balasan dengan kalimat lain”

“maksudmu?”

“kalimat… aku juga mencintaimu”

Eun Yoo mengeluh dalam hati. Sebenarnya mudah saja mengatakan itu, tapi kesannya akan sangat aneh kalau itu tidak dari hati. “a… aku akan mencobanya Kai… maksudku, Jong In-ah”

Hyunie-ah… maafkan aku…

***

Baek Hyun menatap bola basket di tangannya dengan tatapan kosong. Eun Yoo juga tidak ke sekolah hari ini, itu artinya dia masih menemani Kai. Dan hal ini juga menjadi sebuah realita bahwa Eun Yoo lebih memilih Kai ketimbang dirinya.

“Baek Hyun-ah.. apa latihan hari ini diakhiri saja, kau tampak tidak fokus” tegur Su Ho

Baek Hyun menoleh. Itu membuat Su Ho terkejut. Tatapan Baek Hyun sungguh berbeda, sangat tajam dan kelam “kau latihan saja hyung, jangan mengurusiku” balas Baek Hyun cukup kasar.

“B… Baek Hyun-ah… kau kenapa?”

“SUDAH KUBILANG JANGAN MENGURUSIKU!” Baek Hyun membanting bola basket itu ke lantai. Membuat si kulit bundar tak bersalah itu memantul keras bahkan hampir mengenai D.O yang sedang serius mendribel bola.

“HYA BYUN BAEk HYUN” Su Ho hendak menegurnya, tapi D.O langsung mencegahnya.

“hyung…, dia sedang ada masalah” bisik D.O karena Baek Hyun membereskan tas nya tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

“selama satu tim dengannya, dia tidak pernah membentakku, bahkan berteriak di depanku, ini sungguh membuatku heran”

“dia dan Eun Yoo putus”

“ah, aku sudah tau itu, tapi kemarin tidak separah ini”

“masalahnya, Eun Yoo sudah menjadi yeojachingu nya Kai”

Su Ho membelalak “MWO??? EUN YOO DAN KAI___” pekikan Su Ho terputus karena D.O langsung membungkam mulut Su Ho dengan tangannya.

Baek Hyun menoleh pada mereka sejenak. tatapan yang sangat tajam, seolah menikam kedua orang itu. Detik berikutnya Baek Hyun pergi dengan langkah yang dipercepat.

D.O dan Su Ho saling bertatapan. “ke… kenapa aku merasa Baek Hyun hendak membunuhku dengan tatapan itu?”tanya Su Ho

“nae hyung… ini pertama kalinya kulihat Baek Hyun semenyeramkan itu”

“lalu kemana anak itu? Aku khawatir”

“molla… ah, tadi Chan Yeol hyung menanyakan keadaan Baek Hyun, sepertinya inilah yang diprediksi Chan Yeol hyung?”

“sebaiknya telpon Chan Yeol, dan suruh dia ke sini”

“sepertinya dia sudah ke sini, karena saat kujawab kalau Baek Hyun hanya diam-diam saja menatap bola basket dia langsung berdecak, katanya itu pertanda buruk”

“hm… dan kurasa tebakan Chan Yeol memang benar”

Su Ho dan D.O terkejut begitu terdengar ribut-ribut di luar GOR. Su Ho menarik tangan D.O untuk memeriksa situasi di luar GOR. Mereka langsung membelalak begitu melihat Baek Hyun tengah menghajar siswa kelas 3.

“ASTAGA… Baek Hyun-ah… apa yang kau lakukan…”Su Ho panik. “HYA… Baek Hyun-ah..”

Su Ho dan D.O nekat menghampiri Baek Hyun, niat mereka ingin menghentikan amukan Baek Hyun, tapi yang ada D.O malah tersungkur karena tak sengaja terkena pukulan Baek Hyun. Su Ho juga hampir tekena imbasnya, makanya ia menyerah dan memilih menolong D.O saja.

“kenapa Chan Yeol hyung lama sekali?” keluh D.O

“Chan Yeol pasti akan menyalahkan kita karena tidak menghentikan Baek Hyun. Astaga… Baek Hyun bisa membunuh orang kalau dia seperti itu…” Su Ho panik, ia kembali nekat menghentikan Baek Hyun begitu melihat korbannya sudah hampir pingsan dengan sekujur tubuh penuh lebam.

D.O mengontak nomor Chan Yeol dengan tangan gemetaran “Hya… dimana kau” bentak D.O tanpa sadar, saking paniknya dia

“aku sudah sampai… kenapa? Astaga… apa Baek Hyun yang ada di tengah kerumunan itu??” seru Chan Yeol

“nae… dia menghajar siswa kelas 3”

Chan Yeol tidak menjawab karena detik berikutnya dia sudah sampai di TKP. Chan Yeol membelalak tak percaya menyaksikan pemandangan mengerikan itu. Baek Hyun dengan bringasnya memukuli siswa kelas 3 yang sudah terkapar tanpa perlawanan sementara Su Ho berusaha menghentikan pergerakannya dari belakang. Terakhir saat Su Ho pun ikut terhempas ke belakang, Chan Yeol langsung mendekat. Ia Menarik kerah baju Baek Hyun hingga korban yang hampir tamat itu terlepas. Chan Yeol langsung memberikan bogem mentah persis di pelipis Baek Hyun, membuat namja yang sempat mengamuk itu tersungkur ke tanah.

Baek Hyun mengangkat wajah, menatap Chan Yeol dengan mata menyala. Chan Yeol melihatnya. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Baek Hyun dengan tatapan mematikan seperti itu. Sepertinya Eun Yoo betul-betul telah melukainya tepat di titik rawan.

Chan Yeol terkejut begitu Baek Hyun bangkit sambil berteriak. Ia bahkan tidak menyangka kalau Baek Hyun akan menyerangnya. Baek Hyun mencengkram kerah baju Chan Yeol dan hendak melayangkan pukulan. Chan Yeol tidak berniat mengelak ataupun menangkis, ia hanya menatap namja yang sudah dianggapnya adik kandung sendiri itu dengan tatapan penuh makna.

Kepalan tangan Baek Hyun berhenti persis di dekat wajah Chan Yeol. Tangannya bergetar hebat. Tatapan Chan Yeol seolah menyadarkannya. “AAARRRRRRRRRRRRRRRRRGGHHH” Dalam sekejap emosinya menguap, dan itu justru membuat seluruh tenaganya hilang. Baek Hyun luruh ke tanah, persis di hadapan Chan Yeol.

Chan Yeol memejamkan mata sejenak. ia seolah ikut merasakan luka yang dialami Baek Hyun. Bukan luka secara fisik yang baru saja diterimanya, tapi luka yang tertanam jelas di hatinya.

Baek Hyun hanya bisa menatap kosong ujung sepatu Chan Yeol. Dan saat benda itu menjauh, ia mengangkat wajah. Chan Yeol ikut duduk di hadapannya.

“aku tahu apa yang terjadi, tapi. Bisakah kau tidak mencelakai orang lain? Ini bukan cara Baek Hyun yang kukenal”tegur Chan Yeol

“kau tidak tahu hyung, kau tidak tahu apa-apa”

“aku kakaknya, jangan lupa akan hal itu”

“baiklah… sekarang justru aku yang tidak mengerti apa-apa” Baek Hyun berdiri, meraih ranselnya, kemudian pergi.

“Baek Hyun-ah… jangan sampai kau mencelakai dirimu” itu pesan Chan Yeol

Baek Hyun tidak menggubrisnya. Ia tetap melanjutkan langkahnya, menjauhi kerumunan yang langsung membuka jalan untuk Baek Hyun. Siapapun jelas takut padanya setelah melihat peristiwa tadi.

Chan Yeol menghembuskan nafas berat “semoga dia betul-betul tidak bertindak bodoh”

“hyung, apa tidak sebaiknya kita menyusulnya?” tanya D.O sembari memegangi perutnya yang sempat terkena pukulan.

“aku rasa dia tidak akan suka kita mengikutinya, kita hanya bisa berharap dia tidak berbuat nekat” Chan Yeol menoleh “oh iya, lagipula kenapa Baek Hyun sampai menghajar anak itu? Apa masalahnya?”

Su Ho mendekat, juga memegangi lengannya yang sepertinya terkilir “kata mereka yang menyaksikan sejak awal, siswa tadi tidak sengaja menabrak Baek Hyun yang sedang melintas. Siswa itu hanya menyenggolnya, menurutku tidak ada alasan yang akurat sampai siswa itu harus dihajar. Memang letaknya pada Baek Hyun yang emosinya sedang tidak stabil”

Lagi-lagi Chan Yeol menghembuskan nafas berat “kalau begitu, kalian ikut denganku, kita harus membuntui anak itu. Sekarang aku baru bisa membenarkan perkataan orang mengenai marahnya orang sabar bisa melebihi apapun”

“aku pernah melihatnya satu kali hyung, saat Baek Hyun menghajar Kai. Tapi percayalah, kali ini 10 kali lipat lebih menyeramkan dari waktu itu”tambah D.O

Eun Yoo POV.

Eomma Kai sudah kembali, dia bilang urusannya sudah beres. Bisa kulihat Kai sangat terkejut. Dan dari binar matanya aku bisa merasakan kalau Kai benar-benar merindukan eommanya. Itu sebabnya pamit pulang, karena sudah hampir seharian aku menjaga Kai. Hari sudah hampir sore, dan aku belum menerima telpon dari Chan Yeol oppa. hm mungkin dia tertidur sangat pulas.

Aku cukup heran karena rumah juga kosong. Chan Yeol oppa tidak ada di kamarnya, entah apa urusannya tapi aku sedikit khawatir. Feelingku tidak enak. Segera saja kutelpon oppaku itu.

“nae chagi-ah” sahut oppa dari seberang

“kau di mana oppa?”tanyaku.

“di… ng… di…”

Aku bisa mendengar suara bisik-bisik yang cukup samar, sepertinya oppa tidak sendiri. “di mana?”

“di rumah Su Ho.. nae, dirumah Su Ho. Ada tugas kelompok”

“tugas kelompok?” cukup mengherankan, karena Chan Yeol oppa paling malas mengerjakan tugas kelompok. Ia hanya akan menyuruh teman kelompoknya mengerjakan tugas dan setelah selesai dia akan meminta salinannya untuk dipelajari.

“nae tugas kelompok. Sudah ya chagi-ah, aku akan menelponmu nanti___ HYA__”

Aku terkaget. Chan Yeol oppa memekik di kalimat terakhir, dan aku yakin bukan padaku. Ini membuat perasaanku semakin tidak enak.

Aku hendak menutup flip HP ku, tapi sebuah foto yang kujadikan wallpaper langsung membuatku terhenyak. Ya Tuhan… senyuman ini. Ah tidak boleh. Tidak boleh.

Hari sudah malam. Dan Chan Yeol oppa belum juga menelponku. Aku semakin cemas. Entah kenapa aku merasa ini ada hubungannya dengan Baek Hyun. Sudah seharian aku tidak mendengar kabarnya. Apa dia akan baik-baik saja?.

Hp ku berdering, dan itu cukup membuatku terkejut. Kukira panggilan dari Oppa, tapi dari Kai.

“yeoboseyo…”

“kau sedang apa Eun Yoo-ah?”tanya Kai dari seberang

“aku sedang… belajar”jawabku asal

“wah rajin sekali. Bisa kau hentikan dulu aktivitasmu? Karena aku ingin mengobrol denganmu. Aku sangat merindukanmu”

Aku mengeluh dalam hati. Kai yang dingin bahkan bisa terdengar seaneh ini kalau sedang jatuh cinta. Tapi satu yang sedang kupikirkan sekarang. kalau Baek Hyun sedang menelponku, aku tidak akan pernah bilang kalau aku sedang belajar, walau nyatanya aku memang sedang belajar atau mengerjakan PR. Kalau aku bilang seperti itu, dia akan menyuruhku melanjutkan kegiatanku dan akan menelponku besok karena dia tidak mau menggangguku belajar. Aku jelas tidak mau obrolan kami tertunda makanya aku bohong. Sementara Kai… justru sebaliknya. “kau ingin mengobrol tentang apa Jong In-ah”

“kalau aku sudah sembuh total, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat”

“kemana?”

“rahasia, aku jamin kau akan suka. Karena sepertinya kau memang suka ke sana”

Aku mengeluh dalam hati. Jangan bilang kalau Kai ingin mengajakku ke taman hiburan, karena memang aku suka tempat itu. Tapi kalau boleh jujur, bukan tempatnya yang kusukai, tapi orang yang sering mengajakku ke sana. Yah… dialah Baek Hyun. “baiklah, kalau begitu cepatlah sembuh”

“oh iya, kau tahu. Eomma sangat penyayang hari ini. Dia menyuapiku makan, dan membantuku dalam segala hal, Ya Tuhan… ingin rasanya kuabadikan moment hari ini. Sepertinya kecelakaan ini justru membawa berkah buatku”

“hya jangan bicara seperti itu, kau hampir saja tewas dalam kecelakaan itu”

“tapi sekarang aku masih hidup kan? Sungguh menyenangkan Eun Yoo-ah, sudah lama aku mendambakan kebersamaan dengan eommaku”

“omoni ada di situ?”

“tidak. Dia pulang sebentar untuk ganti baju”

“lalu siapa yang menemanimu sekarang?”

“perawat di sini banyak. Setiap jam perawat-perawat itu masuk ke ruanganku. Menganggu sekali”

Aku tertawa (agar kesannya aku sedang mengikuti alur pembicaraan) “mereka mungkin baru kali ini mendapati pasien sekeren dirimu”

“kau memujiku?”

“menurutmu?”

Kai terdiam sejenak “aku mencintaimu Eun Yoo-ah”

Aku menghembuskan nafas. Aku berharap Kai belum meminta balasan sekarang. karena tetap saja kalimat itu hanya bisa kuucapkan pada Baek Hyun. “oh iya, tentang kondisimu, tidak akan berpengaruh kan? Maksudku, kau kan atlit basket, setelah mengalami kecelakaan besar aku khawatir akan ada dampaknya”

“dokter bilang tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja aku harus istirahat total dari aktivitas berat termasuk basket selama 3 bulan”

“hm… baguslah. Aku kira kau akan mengalami nasib yang sama seperti Se Hun”

“Eun Yoo-ah… eomma ingin bertemu denganmu besok. Sepulang sekolah, kau bisa menemuiku kan? Ah dan juga, dokter bilang aku sudah dibolehkan pulang, tapi harus istirahat dulu selama satu minggu sebelum bisa ke sekolah”

Aku sedikit berpikir. Sekolah… sudah 2 hari aku tidak sekolah. “nae… tentu saja”

“eomma sangat menyukaimu. Kami terus mengobrol dan membahas tentang dirimu. Yang kuherankan dia langsung tahu kalau kau yeojachinguku padahal aku belum memberitahunya”

“ah… sungguh memalukan”

“wae…?”

“apa saja yang kalian bicarakan tentangku?”

“Bukan hal yang macam-macam kok. Aku hanya bilang pada eomma kalau aku sangat menyukaimu, dan dia sangat setuju”

Astaga… apalagi yang harus kukatakan “sampaikan salamku pada omoni”

“tentu saja. ah… eomma sudah datang. Kau ingin mengobrol dengannya?”

“itu… aku tidak tahu apa yang harus kubicarakan dengannya, kami masih canggung”

“oh aku mengerti, mungkin lain kali”

Aku menghela nafas, syukurlah. “kau beristirahatlah JongIn-ah, kau butuh itu”

“nae… kalau begitu lanjutkanlah belajarmu”

“nae”

“sampai jumpa besok Eun Yoo-ah… saranghae”

“s… sampai jumpa Jong In-ah”

Aku langsung menutup flip ponselku. Ya Tuhan… sampai kapan aku bisa bertahan menjalani ini semua. Aku justru merasa bersalah, karena menjalani hubungan ini dengan landasan kepura-puraan.

Sekarang, menjadi yeojachingu Kai bukan hanya untuk menepati janji, tapi juga membalas hutang nyawa. Aku tahu ini sedikit kejam. Tapi hanya ini yang bisa kulakukan saat ini. Terlepas dari pikiranku yang terus tertuju pada Baek Hyun, aku akan berusaha sebisa mungkin menjadi yeojachingu yang baik untuk Kai.

Author POV.

“saya akan tanggung jawab pak” Chan Yeol membungkuk berkali-kali.

“memangnya siapa anak laki-laki tadi? Apa dia adikmu?” seorang namja paruh baya dengan lengan berotot tengah melipat tangan di dada. Chan Yeol sedang berusaha menghadapinya.

Kejadiannya setengah jam yang lalu. Baek Hyun menyetir asal-asalan sampai menyerempet motor besar milik namja berotot itu. Chan Yeol, D.O dan Su Ho yang membuntuti Baek Hyun sejak dari sekolah jelas panik. Terlebih setelah namja berotot itu menyuruh Baek Hyun turun dari mobilnya. Dan melihat tampang Baek Hyun, anak itu sudah tidak takut pada apapun, karena memang sepertinya anak itu memang sedang cari masalah untuk bisa menghajar orang.

Chan Yeol jelas panik karena lawannya adalah namja berotot. Sehebat apapun ilmu beladiri Baek Hyun, tetap saja ia juga akan mendapatkan perlawanan yang sengit.

Namja berotot itu jelas meminta Baek Hyun ganti rugi. Tapi pointnya di sini adalah, Kalau saja kondisi Baek Hyun dalam keadaan normal, tentu saja dia akan menggantinya, tapi Baek Hyun sedang tidak sehat. Oleh sebabnya Baek Hyun malah memberi perlawanan dan menyalahkan namja berotot itu yang memarkir motornya sembarangan.

Perkelahian sudah hampir terjadi kalau saja Chan Yeol tidak langsung menengahi. Chan Yeol menyuruh D.O dan Su Ho membawa Baek Hyun pergi dengan mobilnya. Sementara Chan Yeol menghadapi namja berotot itu. Dan di sinilah dia, berhadapan dengan ahjushi menyeramkan itu.

“nae… dia adik saya. Biasanya dia tidak seperti itu, dia sangat ramah”jawab Chan Yeol saat ditanya.

“tapi saya tidak melihat sikap ramahnya, anak itu justru berani melawan”

Chan Yeol jadi kebingungan untuk menjelaskan “maafkan adik saya. Dia sedang ada masalah. Untuk kerugian ini akan saya ganti. Ini kartu nama saya, itu nomor telepon rumah dan ponsel saya. Anda bisa menghubungi saya bila motornya selesai diperbaiki”

Namja berotot itu menghela nafas”sudahlah, lupakan saja. kerusakan ini bisa saya tangani sendiri. Hanya saja saya tidak suka sikap anak tadi”

“sekali lagi maaf. Atas nama adik saya, saya minta maaf sebesar-besarnya”

“baiklah. Saya juga tidak sekejam itu membiarkan anak SMU sepertimu mengganti kerusakan ini. Ini cukup mahal, jadi gunakan saja uangmu untuk menyelesaikan sekolahmu”

Chan Yeol tertegun. Wow, ternyata dibalik casing yang menyeramkan, ahjushi ini berhati lembut “kamsahamnida… jeongmal kamsahamnida”

“bukan masalah besar. Susul saja adikmu, dan tenangkan dia, jangan sampai dia membuat masalah”

“ah nae… kamsahamnida… jeongmal kamsahamnida”

Kali ini Chan Yeol mengomeli Su Ho dan D.O karena kehilangan jejak Baek Hyun. Tentu saja begitu karena mereka tadi pergi dengan menggunakan mobil Baek Hyun. Sialnya Baek Hyun menurunkan kedua orang itu di tengah jalan dan menyetir uring-uringan entah kemana.

“Chan Yeol-ah… nasib kami sudah cukup tragis karena Baek Hyun menyuruh kami turun dari mobilnya, kau malah datang-datang langsung marah”tutur Su Ho

Chan Yeol menghela nafas “bukan seperti itu. Maksudku, bisa kan kalian mencegahnya pergi dulu sebelum aku datang”

“tidak bisa… kondisi Baek Hyun benar-benar sudah tidak mampu ditolong. Kami mungkin saja sudah habis dihajarnya kalau dia tidak mengingat kami sahabatnya”balas Su Ho

Chan Yeol menepuk keningnya dengan pasrah “lalu kemana kita harus mencarinya?”

“sungguh ironis. Aku sangat kasihan pada Baek Hyun. Eun Yoo sungguh tega”D.O malah memperkeruh keadaan.

“hya… jangan menyalahkan adikku, dia jelas punya alasan kuat di balik semua ini”tegur Chan Yeol

“mianhae, tapi aku betul-betul tidak mengerti pola pikir Eun Yoo. Yah… mungkin dia kecewa karena Baek Hyun kedapatan menyimpan yeoja lain di rumahnya, tapi, berpaling ke namja lain dalam waktu sekejap, itu sungguh kejam”

“D.O-ya… kau temanku, jadi jangan sampai aku menghajarmu”ancam Chan Yeol tidak terima.

“mian…mian, aku terbawa perasaan”

“sudahlah, kita lanjutkan pencarian”

3 jam pencarian yang sia-sia. Chan Yeol hampir putus asa, terlebih kedua rekannya sudah kelaparan. Ia jadi tidak hati “sebaiknya kuantar kalian pulang dulu, aku akan mencari Baek Hyun sendiri”

“eh… aku juga ikut. Bagaimanapun dia juga sahabatku”tolak D.O

“nae… aku juga ikut sampai dia ketemu”tambah Su Ho

“oke, kalau begitu kita makan dulu, kita juga butuh energi untuk mencarinya. Sudah jam 10 dan dari siang kita tidak makan apa-apa”

Kedua rekannya langsung berbinar bahagia.

Chan Yeol menghentikan mobilnya di depan sebuah resto jepang. Tempat favoritnya dan Eun Yoo. Sebagai ungkapan terima kasih karena sudah membantunya, Chan Yeol yang mentraktir semuanya. D.O dan Su Ho jelas kegirangan, kapan lagi makan enak dan gratis.

Setelah perut penuh, dan energi mulai full. Mereka kembali melanjutkan pencarian. Sudah hampir tengah malam tapi tetap belum ada kabar. Sampai ketika ponsel Chan Yeol berdering nyaring.

“Kris? Tumben dia menelpon” Chan Yeol menatap heran layar ponselnya

“angkat saja, mungkin itu kabar dari Baek Hyun”seru Su Ho

Chan Yeol langsung sigap menerima panggilan masuknya “Nae Kris, ada apa?”

“kau di mana? Bisa kah kau ke tempatku bekerja sekarang?”pinta Kris kedengarannya panik.

“waeyo? Ada masalah?”

“itu… Baek Hyun-shii… dia membuat onar di tempat kerjaku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kalau aku menghentikannya, aku akan ketahuan kalau masih SMU, dan aku bisa dipecat”

“B…B… Baek Hyun ada di situ?” Chan Yeol terkejut bukan main

“nae… kumohon cepatlah”

“nae… aku tidak jauh dari tempatmu”

“aku tunggu”

Chan Yeol mematikan ponsel “sial… anak itu sudah bertingkah lebih jauh”

“dia di mana?”tanya D.O panik

Chan Yeol menoleh “BAR”

D.O menoleh ke jok belakang tempat Su Ho duduk dan bertatapan saking kagetnya “tapi itu tempat untuk orang dewasa. Kenapa Baek Hyun sampai kesasar di tempat itu?”

“bukan kesasar. Dia memang mencari tempat itu.” Chan Yeol menoleh sejenak pada D.O “apapun yang terjadi nanti, jangan menghentikanku. Anak itu betul-betul harus dihajar”

D.O dan Su Ho menelan ludah. Chan Yeol sepertinya sudah sangat marah.

Baek Hyun sudah menjatuhkan 4 bodyguard bertubuh besar di bar itu, sekarang dia masih menghajar pria borotot yang ke lima. Semua pengunjung berlarian karena sesekali botol bir, kursi, asbak dan benda lain beterbangan karena perbuatan Baek Hyun.

Chan Yeol dan kedua rekannya datang. Dan langsung membelalak melihat pemandangan yang cukup tragis. Baek Hyun menghajar seorang namja bertubuh besar dengan sangat bringas.

Chan Yeol melepas jacketnya dan menyerahkannya pada D.O. “kalian tunggu di luar” Chan Yeol berlari menghampiri Baek Hyun dan mencengkram kerah bajunya. Baek Hyun meronta, tapi Chan Yeol menggunakan seluruh tenaganya untuk menyeret Baek Hyun keluar dari bar.

Ia  menghempaskan tubuh Baek Hyun ke pelataran parkir yang cukup sepi. Su Ho dan D.O mengikuti dari belakang.

Baek Hyun mengangkat wajah dan menatap Chan Yeol dengan mata memerah. “hya Chan Yeol hyung… jangan mencampuri urusanku”

Chan Yeol semakin naik pitam “KAU MABUK????”.

Tanpa menjawabpun semua bisa melihat bahwa Baek Hyun benar sedang mabuk, terlihat dari gerak-geriknya. Baek Hyun berusaha berdiri, dan benar, dia terlihat sempoyongan. “kalian pulanglah” Baek Hyun hendak pergi.

Chan Yeol sudah tidak bersuara lagi, ia langsung menarik jacket Baek Hyun membuat namja itu menoleh. Dan

BUUUUGGGHHHHH!!

Chan Yeol menghadiahkan bogem mentah di pipi Baek Hyun. Membuat namja itu tersungkur kembali ke tanah. Pukulan yang sukses membuat sudut bibir Baek Hyun meneteskan darah. Belum sempat Baek Hyun berdiri, Chan Yeol kembali memukul wajah Baek Hyun.

D.O dan Su Ho jadi tidak tega melihatnya. Baek Hyun pasti juga sudah menerima efek dari perkelahiannya dengan 5 boduguard tadi, sekarang Chan Yeol malah menambahnya. Dan terpaksa D.O dan Su Ho hanya bisa mematikan hati nurani karena Chan Yeol sudah memperingatkan mereka sejak tadi untuk tidak menghentikannya.

Sampai ketika Chan Yeol sudah kehabisan tenaga menghajar Baek Hyun, ia ikut luruh ke tanah. “Hya… sadarlah. Kau sudah seperti orang gila, kau tahu???” bentak Chan Yeol

Baek Hyun terbatuk karena kesakitan. Chan Yeol tidak main-main memukulinya.

“bukan karena Eun Yoo adalah adikku maka aku membelanya, tapi lihat dirimu. Apa begini caranya lari dari masalah? Kau sungguh menyedihkan Baek Hyun-ah… sungguh menyedihkan”tambah Chan Yeol dengan suara bergetar. Tidak bisa dia tahan, air matanya menetes. Melihat kondisi Baek Hyun yang sudah dianggap adik sendiri itu, hatinya remuk.

Baek Hyun tertawa. Tapi orang yang melihatnya justru miris “aku mengekangnya…”

Chan Yeol jelas tidak mengerti “apa maksudmu?”

“selama hampir 5 tahun menjadi kekasihnya, ternyata aku hanya mengekangnya”

“kau bicara apa? A… aku tidak mengerti”

“aku juga hyung… jadi kumohon jangan hentikan aku. Aku tidak bisa mengenyahkan Eun Yoo dari pikiranku barang sedetikpun. Dan aku melakukan ini semua hanya untuk menghilangkannya dari pikiranku, walau aku tahu bahkan setiap pukulan yang kulayangkan pada tubuh orang lain, nama Eun Yoo tetap memenuhi otakku”

Chan Yeol menghela nafas “caramu justru akan menjerumuskanmu dalam masalah Baek Hyun-ah”

“setidaknya dengan begitu aku bisa melupakan Eun Yoo”

“lalu ada hasilnya? Kau bisa melupakannya?”

Baek Hyun terdiam, dan semua orang sudah tahu jawabannya.

“kau hanya buang-buang waktu dan tenagamu saja Baek Hyun-ah, kau lihat sendiri, ini sama sekali tidak menghasilkan apa-apa selain masalah baru”

“aku tidak bisa melupakannya”

“yang memintamu melupakannya siapa?”bentak Chan Yeol

“kau tidak mengerti rasa sakit ini hyung, kau sama sekali tidak mengerti”

“lalu apa rencanamu? Kau ingin terus menjadi seperti ini? Menjadi orang yang tidak punya tujuan jelas dan justru suka berbuat onar? Hya sadarlah… adikku akan semakin menderita melihat kau seperti ini”

Lagi-lagi Baek Hyun tertawa “menderita? Benarkah? Dia justru merasa menderita saat dia bersamaku, jadi…setelah lepas dariku, dia pasti akan bahagia… dia sudah punya Kai bukan?”

“Baek Hyun-ah…”

“pembicaraan kita sudah usai hyung, aku lelah” Baek Hyun berdiri sekuat tenaga, ia oleng. Efek alkohol yang ia tenggak dengan paksa masih mempengaruhinya.

Chan Yeol langsung menangkap lengan Baek Hyun begitu meihat namja itu akan terjatuh.“Baek Hyun-ah, dengarkan aku” Chan Yeol terdiam sejenak “kalau kau tidak ingin mendengarkanku karena aku adalah kakak dari yeoja yang telah melukaimu, maka dengarkanlah aku sebagai hyungmu. Percayalah, aku sangat mengkhawairkanmu. Aku tidak sanggup melihatmu seperti ini”

Baek Hyun tertawa pilu. Lagi-lagi ia hanya bisa seperti itu “aku betul-betul lelah”

Chan Yeol menyerah. Baek Hyun sama sekali sulit untuk ditolong “aku akan mengantarmu pulang, kau jelas tidak boleh menyetir dalam keadaan mabuk” Chan Yeol langsung menyambar kunci mobil di saku jacket Baek Hyun, karena si pemilik sama sekali tidak memberi persetujuan.

Su Ho dan D.O yang merasa keadaan sudah membaik akhirnya berani mendekat “ng… kekacauan di bar itu”

Chan Yeol menyerahkan selembar kartu nama pada Su Ho “berikan ini pada pemilik BAR, besok aku akan kembali untuk ganti rugi”

Baek Hyun menolak, ia menepis tangan Chan Yeol “kekacauan ini, aku yang menyebabkannya, aku akan tanggung jawab. Katakan saja pada mereka, besok aku akan kembali untuk ganti rugi. Sekarang aku sangat lelah”jawab Baek Hyun masih kesulitan berdiri tegak. Ia merogoh dompetnya dan memberikan kartu siswanya pada Su Ho “jadikan itu jaminan”

“ng tapi ini kartu pelajar… mana mungkin kau bisa sembarangan menadikannya jaminan”Su Ho tampak ragu

Chan Yeol menyerahkan kunci mobilnya pada Su Ho “sudahlah, ikuti saja apa maunya. Kau pulang dengan D.O setelah mengurusi itu, aku akan pulang dengan Baek Hyun”

“ah nae…”

Chan Yeol baru pulang ke rumahnya hampir jam 2 dini hari. Tubuhnya seolah remuk, seolah tidak ada tenaga lagi. Eun Yoo baerlari turun dari kamarnya dan menyambut oppanya.

“Oppa…. dari mana saja kau?” tanya Eun Yoo antara marah, kesal, cemas, dan panik.

Chan Yeol tidak langsung menjawab, dia hanya menatap adiknya dengan pikiran berkecamuk. Setelah melihat kondisi Baek Hyun, ia seolah ingin menyalahkan adiknya, tapi tetap saja hatinya tidak bisa menuntunnya seperti itu.

“ugh… Oppa… kau bau alkohol. Apa kau minum?”tegur Eun Yoo.

Chan Yeol mengendus pakaiannya, memang benar. Saat mengantar Baek Hyun pulang yang sudah dalam keadaan tidak sadar, ia terpaksa membopong Baek Hyun sampai ke kamar tidurnya. Kalau tidak mengingat Eun Yoo sendirian di rumah, Chan Yeol mungkin akan menemani Baek Hyun di sana. “bukan aku”

“ng?”

“bukan aku yang minum”

“lalu?”

Chan Yeol menghela nafas “aku tidak akan memberitahumu karena aku yakin kau tidak akan suka mendengarnya”

“oppa”

“sudahlah. Masuk saja ke kamarmu, bukankah kau harus ke sekolah paginya? Aku juga sangat lelah” Chan Yeol mengusap puncak kepala adiknya lalu beranjak pergi menuju kamarnya.

“Hyunie-ah…”terka Eun Yoo, membuat langkah Chan Yeol terhenti “benar bukan?”

Chan Yeol menghela nafas, kemudian menoleh. Ia menyaksikan wajah suram Eun Yoo, dia ia semakin tidak mengerti “kalau kau masih mencintainya, kenapa kau melepaskannya? Aku betul-betul tidak paham dengan semua pertimbanganmu Eun Yoo-ah”

Eun Yoo menunduk “semuanya sudah terjadi oppa, dan hal yang paling mustahil kulakukan sekarang adalah… menarik kembali kata-kataku”

“jadi betul, kau dan Kai sudah… berpacaran?”

Eun Yoo tidak menjawab. Iya hanya berusaha menyembunyikan wajahnya.

“terserah padamu Eun Yoo-ah… aku juga sudah berusaha di tempatku. Entah itu Baek Hyun ataupun Kai, aku akan menyutujuinya asal kau bahagia” Chan Yeol menyerah dan ia beranjak menuju kamarnya.

Eun Yoo berusaha menenangkan diri. Ia berusaha tidak peduli. Entah apa yang terjadi pada Baek Hyun, ia tetap berusaha untuk tidak peduli.

***

Eun Yoo tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya melihat kondisi Baek Hyun yang babak belur sampai ke sekolah. Awalnya Eun Yoo mengira kalau Baek Hyun tidak masuk sekolah karena pelajaran pertama sudah berakhir, tapi anak itu justru muncul di jam pelajaran kedua. Kelas langsung heboh karena wajah Baek Hyun penuh lebam.

Eun Yoo sempat gugup saat Baek Hyun melintasi bangkunya. Ia mengira Baek Hyun akan menempati bangku sebelahnya seperti biasa, tapi tidak. Namja itu malah terus ke belakang dan duduk di bangku milik Kai, persis di sebelah D.O.

“kau baik-baik saja?” sambut D.O prihatin

Baek Hyun hanya mengangguk. Ia jengah saat semua teman kelasnya menatapnya bingung. “Wae? Kalian belum pernah melihatku seperti ini? Apa kalian juga ingin seperti ini?” gertak Baek Hyun membuat seluruh teman sekelasnya gelagapan dan berhenti mengamati Baek Hyun.

“latihan nanti bagaimana?” hanya D.O yang bisa bersikap biasa pada Baek Hyun. Karena ia tahu, anak ini kalau didiamkan akan semakin menjadi-jadi.

“ada alasan untuk membatalkannya? Tidak ada bukan? Latihan tetap jalan” jawab Baek Hyun.

Yeoja yang mendengar percakapan itu di bangku depan hanya bisa memejamkan mata. hatinya teriris-iris. Inikah efek dari perpisahan itu?Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ingin sekali rasanya ia langsung memeluk Baek Hyun, mengucapkan kata maaf beribu kali tapi tidak. Tembok pemisah antara mereka sudah semakin jelas. Eun Yoo jelas tidak boleh lepas tanggung jawab begitu saja, terlebih setelah ada kejadian dimana Kai hampir saja meninggalkan dunia ini demi dirinya. Setidaknya Baek Hyun masih fokus pada mimpinya.

panggilan ditujukan kepada Byun Baek Hyun, Do Kyung Soo siswa kelas 2A, dan Park Chan Yeol, Kim Joon Myun siswa kelas 3A, harap segera menghadap ke ruang guru. Terima kasih” terdengar suara panggilan informasi dari speaker yang berada di koridor depan kelas.

D.O menatap Baek Hyun “pasti yang kemarin itu”

Baek Hyun lansung berdiri, dan beranjak pergi meninggalkan kelas di susul D.O. tanpa menyapa, bahkan menoleh pada Eun Yoo sedikitpun. Yah, Eun Yoo bisa menerima hal itu karena memang inilah yang seharusnya terjadi setelah apa ia katakan pada Baek Hyun untuk lepas darinya.

Tapi yang membuat dirinya penasaran adalah, kenapa mereka dipanggil ke kantor? Dan kenapa nama kakaknya juga ada? Apa keadaan Baek Hyun yang penuh lebam di wajah itu berkaitan dengan hal ini?.

Sulli langsung menghampiri bangku Eun Yoo “jadi benar kau dan Baek Hyun putus? Aku kira itu hanya rumor”

Eun Yoo tidak menawab, ia hanya berusaha menyibukkan diri dengan membaca buku.

“kudengar kemarin Baek Hyun-shii menghajar kakak kelas. Tapi kenapa sekarang justru dia yang babak belur?” tambah Boomie membuat Eun Yoo semakin panas dingin.

“kau benar, aku hanya melihat Chan Yeol sunbae memukul Baek Hyun-shii satu kali, apa karena itu?”

Eun Yoo terkejut dengan pernyataan Sulli barusan “kau bilang apa barusan? Kakakku memukul Baek Hyun?”

“oh kau tidak tahu? Ah benar juga, kau kan tidak ke sekolah kemarin. Ah Kai juga tidak masuk. Kudengar dia sakit, apa itu benar?”

Eun Yoo tidak menggubrisnya, ia segera meninggalkan tempat hendak mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Di koridor kelas 2 ia menghentikan langkahnya. Ia melihat sosok yeoja yang cukup membuat otaknya mendadak kusut. Yeoja yang sama yang ia temui di toilet siswi yang memanas-manasinya, juga yeoja yang sama yang ia temukan di kamar Baek Hyun yang diyakininya adalah suruhan Kai. Ternyata yeoja itu ada di kelas 2 E. cukup jauh dari kelasnya, itulah kenapa dia tidak pernah melihat yeoja itu.

Entah ini keberuntungan atau justru kesialan, yeoja itu juga melihat keberadaan Eun Yoo. Dan lihat betapa beraninya yeoja itu, ia menghampiri Eun Yoo dengan langkah santai “hai Eun Yoo-shii. Kudengar kau sudah putus dari Baek Hyun?”sindirnya

“nae… terima kasih bantuanmu” Eun Yoo hendak beranjak pergi, tapi yeoja itu menghentikannya.

“terima kasih? Sungguh balasan yang diluar perkiraan. Jadi benar, kaulah yeoja yang dimaksud Kai itu?”

Eun Yoo menoleh “maksudmu?”

“ah… tidak seharusnya kukatakan ini. Tapi… kau tahu, Kai tidak pernah serius menyukai seorang yeoja, dan baru beberapa bulan di sini, dia sudah jatuh cinta padamu, ini sungguh sesuatu yang aneh bukan?”

Eun Yoo melipat tangan di dada “sepertinya kau cukup mengenal Kai”

“hm… dia temanku waktu SMP, kami sempat bertetangga”

“oh ya?, tapi aku tidak tertarik cerita masa lalumu”

“tunggu, aku belum selesai. Aku masih penasaran tentang statusmu. Jadi setelah putus dari Baek Hyun, kau sudah jatuh ke tangan Kai?” yeoja itu tertawa “Kai mungkin akan murka padaku kalau dia tahu aku mengatakan ini, tapi aku salut padanya karena akhirnya dia bisa mendapatkanmu”

“sudah selesai?”

“yang terakhir. Jadi peluangku untuk mendekati Baek Hyun sudah terbuka lebar bukan?”

Eun Yoo naik pitam, hendak rasanya ia merobek mulut yeoja ini. Tapi ia punya satu cara untuk membalasnya “silakan saja kalau kau bisa” Eun Yoo sengaja memasang tampang meremehkan “oh ya, perlu kau ketahui, bahkan jika kau bertelanjang sekalipun di hadapan Baek Hyun, dia tidak akan tertarik padamu. Kenapa? Karena Baek Hyun ku tidak akan sudi menyukai yeoja murahan sepertimu”

Yeoja itu membelalak “MWORAGO?”

“hei… apa aku salah? Kalau kabar mengenai keberadaanmu di kamar Baek Hyun ku dalam keadaan setengah telanjang itu beredar, kau pikir apa tanggapan orang lain selain mengataimu yeoja murahan?”

“Kau…” yeoja itu sudah bersiap menyerang “kalau saja kau bukan yeoja yang disukai Kai, akan kuhabisi kau”

“oh..aku takut sekali” Eun Yoo makin berulah, kemudian beranjak meninggalkan yeoja itu dengan tawa penuh kemenangan.

“Hya Park Eun Yoo,… kau akan menyesal telah mencari masalah denganku”

Eun Yoo masih tertawa dan semakin jauh dari tempat yeoja itu. Walau dalam hatinya ia juga ingin menghabisi yeoja ini.

Eun Yoo menghentikan langkahnya saat tinggal beberapa meter lagi dari ruang guru “memangnya apa yang akan kulakukan ini? Mencari ahu dengan cara seperti ini? Bukankah terlalu transparan? Apa pendapat Baek Hyun nantinya” Eun Yoo menyadari ketololannya. Akhirnya ia memilih kembali ke kelas. Ia memutuskan akan bertanya pada oppanya kalau sudah tiba di rumah. Lagipula guru mata pelajaran kedua sudah masuk.

Baek Hyun dan D.O tidak masuk sepanjang jam pelajaran kedua, itu membuat Eun Yoo semakin penasaran. Apa benar Baek Hyun terlibat perkelahian? Namja seramah Baek Hyun terlibat perkelahian? Dan itu adalah karena dirinya?

Eun Yoo semakin tidak bisa berpikir realistis, efek perpisahan ini ternyata tidak hanya menyiksa dirinya, tapi juga Baek Hyun secara nyata. Dan ucapan kakaknya semalam kembali mengusiknya. Bau alkohol… dan itu bukan oppanya, tapi Baek Hyun.

“AAAAARRRRRRHHHHH” jerit Eun Yoo tanpa sadar.

Cho sonseng, guru kesenian beserta seisi kelas langsung terkejut dan menoleh pada Eun Yoo.

“gwenchanayo Park Eun Yoo Hokseng?”tegur Cho Sonseng-nim

Eun Yoo jadi malu sendiri setelah sadar atas ulah bodohnya “ah nae sonseng-nim, tadi aku melihat cicak, dan aku paling takut dengan makhluk itu. Tapi cicak nya sudah lari SOnseng-nim”

“oh begitu? Sekarang kita lanjutkan pelajaran, Park Eun Yoo hokseng, harap fokus pada perlajaran, karena sejak tadi bapak perhatikan kau melamun”

“mi.. Mianhamnida sonseng-nim”

Baek Hyun dan D.O baru masuk kelas setelah jam istirahat. Wajah Baek Hyun datar-datar saja, sementara D.O seperti baru saja menerima bencana besar. Yah, terlibat perkelahian jelas akan mendapatkan ceramah panjang lebar yang maknanya berhasil membuat siswa seolah akan berserah diri kepada Tuhan keesokan harinya. Begitulah ekspresi yang dipasang D.O.

Lagi-lagi Eun Yoo tidak bisa menyembunyikan kegugupannya, terlebih setelah Baek Hyun melintas di sebelahnya kemudian duduk di bangku belakang.

“kurang ajar kakak kelas itu, kalau aku tahu dia juga melaporkan namaku, aku tidak akan menghentikanmu waktu kau menghajarnya” protes D.O tidak terima“untung saja kita tidak jadi diskors”

“kau tahu siapa nama anak itu?”tanya Baek Hyun dingin.

“ke.. kenapa?”

“sepertinya yang kemarin itu belum cukup”

“ta… tapi Baek Hyun-ah, yang kemarin saja itu sudah sukses membuat kita diseret ke ruang guru dan hampir di skors kalau saja pak pelatih tidak membela kita. kau jangan menambah masalah lagi”

“aku akan memberinya pelajaran di luar sekolah, jadi itu sudah bukan tanggung jawab sekolah kan?”

“Baek Hyun-ah, tetap saja, lagipula yang kemarin itu memang kau yang salah”

Baek Hyun langsung menoleh pada D.O, cukup tajam ”a… arasso, akan kutanyakan pada Lay, mungkin dia tahu. Tapi…”

“tenang saja, dia tidak akan sampai terbunuh”

Eun Yoo yang mendengarnya dibangku depan semakin cemas. Kenapa pribadi Baek Hyun berubah begitu drastis. Ia berusaha tidak peduli, tapi tetap saja tidak bisa. Hendak rasanya ia juga mengamuk dalam kelas ini, tapi ia jelas tidak boleh memperlihatkan betapa tertekannya dirinya saat ini. Untuk itu Eun Yoo memilih meninggalkan kelas dengan langkah cepat.

Baek Hyun yang melihatnya hanya bisa tertawa pahit. Eun Yoo bahkan tidak peduli padanya, padahal ia sengaja memancing Eun Yoo agar yeoja itu menoleh sedikit saja dan menegurnya. Paling tidak melarangnya untuk berkelahi. Tapi, jangankan melakukan itu. Bertahan lebih lama saja di dekatnya sepertinya Eun Yoo sudah tidak sudi. Dan itu membuat Baek Hyun semakin hancur. Tapi satu yang tidak diketahui Baek Hyun. Eun Yoo memilih pergi, karena dengan begitulah air mata kepedihannya tidak terlihat oleh namja yang ia cintai itu.

To BE Continued………………………….

38 thoughts on “[FF] LOVE IS…. Part 7

  1. Sumpah keren bgt chapter ini…
    Tapi kasian ama Baekki T.T
    Jadi bad boy …. tapi entah kenapa aku suka~~~ #PLAK

    Jangan lama-lama di updatenya yah chingu…. nggk sbr nunggunya nih T.T

  2. eon balesannya bertahap ya, hehehe
    Bang Kai jahat banget si kasian abah tau…
    tu lg si Eun Yoo bkin esmosi…
    Hufth lanjut mak….

  3. Keren-keren lanjuttttttttttttt😀 :O *heboh teriak-teriak pake TOA* ayo ayo dilanjut dilanjut ff nya kalau di pw tolong kasih sayah ayo ayo ini ff bagus sekali looo😮 *modus* hhe daebak thor🙂

  4. ya tuhan… Sumpah! Ni chapter buat ak nangis tau minthor eonni…
    Byangkan aja dikelas td, tangis ku pecah pas kai ketabrak. Pas ak baca dirmh, udah ga tahn lgi ni airmata.
    Perih bgt ngerasain klu aku ada diposisi eunyoo T-T *curcol

  5. aq adalah orang yg bru demen baca FF yg cast nya member EXO….dan nemu blog ini trus penasaran ama judul FF ini….aigooo setelah baca ampek part 7 ini….bener daebak….!!!!!

    salut dah ama yg bikin ni FF….berhasil buat aq msuk ke cerita and bayangan mreka seperti nonton drama…….#agak lebay sih…tapi inilah isi hati ku…..^_^

  6. Paling suka adegan pas Kai siuman….bisa2nya ngocol tu anak…HAHA ;D
    Sbnrnya Kai itu klo udh jatuhcinta perhatian jg, tp ya itu dia sifat egoisnya itu loh yg bikin salah memperlakukan cinta…Mudah2an eun yoo gak luluh, dia udh cocok bgt ma baekkie…

  7. Ahhhh semua jadi kacau gtu hidup’y..
    Kai keterlaluan, tapi kai kya’y bnran syang deh sma eun yoo.. Jpi ga mesti gni.

    -___- jagoan sekali baek hyun smpe mabuk2 sma ngehajar2 org, sulit bgt kaya’y hadepin masalah nya.. Ckckck

    Aku next part ya thor

  8. baekhyunnn nyaaa kasian banget thorrr…. kenapa baekhyun malah jadi kayak preman TT.TT
    harusnya kai juga gag ngrebut eun yoo,,
    tapi cara menyelesaikan baekhyun juga harusnya gag gitu… TT..TT
    sedih thorr terharu bacanya bener bener klimaks TT..TT
    tapi keren thorrr ff nya🙂

  9. Baeki jadi Bengis karena efek cinta omoooo…
    kasian baeki T^T bagaimana ini bisa jadi bgini hiks,,,,
    so complicated kah kisah cinta mereka ini ya ampun……
    udah ga tahan bgt pengen nyekek kai ama kristal suapaya mereka ber2 sadar sesadar2nya hfft….

  10. baca chapter ini cuma bisa diam, baca, kebawa emosi, nahan nyesek.. bacon yg ramah jd begitu karena terluka >,<
    jadi bacon sakit jadi eun yoo juga skait. andai kai gk sukaa sama eun yoo!! pasti mereka ber2 gk kyk gini.. sama sama nahan rasa sakit..

  11. Thor kenapa dirimu buat baekhyun jadi bringas gitu?! Itu lebih menyedihkan ketimbang saat eunyoo dan baekhyun putus T_______T gak kuat baekhyun kek gitu. Terlalu menjiwai u.u *peluk my baebek* trus juga pas chanyeol mukulin baekhyun, makin mewek aku’e thor.

  12. Hyaaa baeki jd anx brandalan gara2 eun yoo hadeuh eoni ksian ne baeki gebukin orng mulu… Kasian orang dgebukin mkrud nya.. Waduh itu kai trnyta srius cintanya ama eun yoo smpek2 menyelamatkan eun yoo dan mrelakan drinya tertabrak.. Hadeuh kai bgtu bsarkah cintamu pda eoni hehe

    eoni nti jtuh cinta ndk ama kai..jgn yah ntr baeki gmn..

  13. TT____TT

    baekhyun………
    hiks hiks hiks
    kenapa rasanya aku ikud hancur liad kehancuran baekhyun
    TT____TT

    nyesek banget se-nyesek2-nya.
    hiks hiks hiks

    tidak smua pengorbanan, berakhir indah, kan?
    keyakinan eunyoo, baekhyun akan lebih baik tanpanya ketimbang tanpa basket.
    tapi aku yakin, keyakinan baekhyun lebih baik kehilangan basket daripada kehilangan eunyoo.

    hampir 5 tahun.
    hampir 5 tahun perasaan cinta itu terus terjaga. bukannya memudar, malah makin kuat.
    hiks hiks

    tapi kenapa kekuatan cinta mereka, kalah oleh keegoisan kai??

    aaaarrghh…
    *mendadak melow
    TT___TT

    yaudah kalo gitu, kalo emang eunyoo mau sama kai,,
    baekhyun ama chanyeol aja.
    baekyeol bersatu.
    gimana e0n?
    *wink

    #ditabok kakak ALF
    #ini bukan ff yaoi, woyy…

    hikss…
    mian eon, efek NRL & amaterasu
    T.T

    moga2 tar ga mimpi buruk, biasanya kalo ne hati lagi sediiiih gitu, bobo jd ga tenang…
    dan ini ff sukses menyayat-nyayat hatiku…

    huweeeee
    #peluk luhaaan

  14. Hahhhh udah kehabisan kata nih saya ..
    Sumpah ..miris banget si jadi kamu baekki , apalagi waktu eunyoonya mtusin baekki d skolah ‘n d rumahsakit aishh nyeseknya berasa bangett kelubuk hati yang paling dalaaammm *lebay
    rada sebel juga sih sama eunyoo itu , tapi yaa mau gimana lagi itu juga demi baekkinya kan ?? Tapi ..oh ayolah apa gaada cara lain ??
    Dan ugh ..sama sekali ga trsentuh sama khidupan kai yang bisa dibilang lumayan miris itu ..bodoamat emang gue pikirin ?? Yang gue pikirin cuma baekki, chanyeol, dan tao *efeklagikasmaran(?)
    kalo kai mau mati , mati aja lo sono !! *dirajamfanskai
    astopirloh maap kai ..aku kalap , aku ttep suka koq sama mata+bibir sexy kamu *mukagenit mskipun masih lebih seksian bibirnya tao sih ..xixixi

    chanyeol yeobo ..kuatkan hatimu :’) aku kan slalu ada didekatmu *sing

    smoga baekki balik spti semula ..biar pngorbanan eunyoo gasia2 , sayang aja gitu kalo akhirnya baekki malah jadi ancur smentara eunyoo juga udah relain ngancurin prasaannya sndiri demi dia ..

  15. unn demi apa aku nangis disini. gaboong. permainan kata kata disini tuh ngena banget!!!
    baekhyun tersiksa batinnya. pasti sakit banget. nyiksa banget keadaan kayak gini.
    eunyoo juga serba salah jadinya.
    kunci semua ada di kai. dan juga eunyoo yang salah mengambil keputusan.
    aku nangis pas bagian baekhyun berantem dan hilang kesadaran itu. demi apa itu nyesekin hati banget. chanyeol….keren. aku bingung harus ngomong lagi. terlalu keren untuk part ini unn.

  16. Huaaahh………
    Sumpah ceritanya keren beud……..
    Baekkie oppa krkternya brubah jd bad boy…..
    Saking cinta nya nih ye ?? Kekeke…..
    Eonni, aku gk bsa coment apa2 lge…
    SPECHLESS
    FF nya DAEBAK…..
    I like…like…very like….this fanfic……
    Pyong~~

  17. Huwaaaaa nyesek tingkat dewa bc part ini T_T
    Knp kai pake keclakaan sih, jdnya kan makin susah eunyoo utk lepas dr kai..
    Kai bener2 egois gªκ̣̇ ketulungan dah..
    Baekie kasian bgt, mpe berubah drastis gtu sbg bntuk pelampiasan utk ngelupain eunyoo tp tetap ªjª gªκ̣̇ berhasil. ч̲̮̲̅͡ğ ª∂a̲̅ nambah mslah poor baekie..

  18. Awalnya aku simpatiku balik ke kai tapi pas baca baekhyun berubah drastis saat putus sama eunyoo, aku bener-bener kasian sama dua duanya

  19. ah jinjja.. Baekkie the bad boy… Iihhh tapi lucu dia kaya gitu.. Ga nyangka aja dia bisa ke bar. Itu anak ngga dikira anak sd yg lagi berkeliaran gitu yaa…

    Ahh jinjjaaaaa keren bangeettt *Q*

  20. ya ampun eunyoo hampir aja ketabrak kalo kai gak nyelamatin dia 0_0
    masa gara” di senggol si baekhyun bikin anak orang babak belur? udah gitu mabuk’an pula ckck

  21. Baekki jadi nappeum namja? Andwaeee! Hooo ayolah. Aklo gtu kapan baekyoo balikan? Huaaaa jangan sad ending T.T jadi makin galau bace part ini. Baekhyun chagi, kuatkan dirimu, ne? Aku akan selalu menyokongmu *lu kira akar apa pake nyokong. Wkwk

  22. Ahhh..dan ya, kenapa gak si baekhyun sm eun yoo ke jepang aja. Biar kan kesel sendiri tuh di seoul. Lagi pula disitu ata d.o sm luhan kan? Hayoo tinggal pilih yg mana kai. Couplemu ada dua duanya disitu^^

  23. Baekhyunku ko jadi kaya gitu, eunyoo ngomong aja ama baekhyun yang sebenernya, trus putus baik-baik. Kalau kaya gini ma baek tersakiti , , , ,
    part ini yang paliiiinnng kasian itu suho & do. Wkwkwk
    dan yang palinnngggggggg bijaksana adalah si abang kekar yang di tabrak baek.

  24. euyoo .. Baekhyunnnnnn…..

    Ah eon.. Bener2 nyesek aku baca nie epepppp……………..

    Napa sih kai sejahat itu..? Tapi melihat kai nolongin eun yoo dgn taruhan nyawa… Aku ga bisa ngomong2 apa2 lagii……

  25. Kyaaaa!!!! Baekhyun gila yah putus dari eun yoo -,- sampe segitunya amat hoek hoek. Aku suka banget kalo kai sama eun yoo. Bukannya nggak setuju sama jalan cerita, tapi menurutku lebih asik cerita cinta mereka daripada baekhyun eun yoo yang lancar adem ayem nggak ada apaapa *PLAK* kan agak galau gimana gitu. Komenku yah min, ceritanya terlalu panjang yang sebenernya bisa dipersingkat. Itu aja sih, lainnya keren apalagi jalan ceritanya aku suka banget. Daebak deh pokoknya!!!😀

  26. eunyoo jangan mulai perhatian napa ama si kai gue gaterimaaaaaaaaaaa(?) /peluk pelatih basketnya(?)/ -_-

  27. Tegany tegany engkau eun yoo hiks….hiks…sampe mau nangis nih…tapi eun yoo ĴƱƍǡ terpaksa kasian ({}) ∫∂♍∂ -∫∂♍∂({}). Tersiksa….apakah eun yoo λкªη bahagia dgn kai?
    Mnt pw part 8 Ÿ̲̣̣̣̥ά̲̣̣̣̥å媪 …..

  28. ini ff emng daebak ya.. huaa ><
    bikin nyesek, bikin ketawa-tawa, bikin geregetan ..
    pokoknya ini ff keren .. itu Baekhyun berubah banget .. Ya Allah, semua karena cinta, si Baekki jadi begini

    ehm..boleh minta pw ch.8 nya thor?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s