[FF] Love is… (part 4)


FF

Tittle: Love is… (part 4)

Author: AyouLeonForever

Cast: * Byun BaekHyun

* Lee Eun Yoo(yg karena manipulasi cerita, dia sodaraan ama Cahnyeol, marganya diganti jadi Park)

* Kim Jong In/ Kai

* Park Chanyeol (yg karena manipulasi cerita, dia jadi kakaknya Eun Yoo, dan lebih tua dari baekhyun)

*Do Kyung Soo/ D.O

* Kim Joon Myun/ Su Ho

* Oh Se Hun

support cast: EXO M Member

disclaimer: the story belongs to me, the casts belongs to her/his parents and GOD. don’t claim itu yours, or You’ll dead (makin hari makin sadis aja)

part IV

Author POV

“hei… kenapa kau senyum-senyum sendiri?” tanya Chan Yeol saat mendapati adiknya tengah menyiapkan sarapan sambil sesekali tersenyum dan menggelengkan kepala “seperti orang gila saja”

Eun Yoo meleletkan lidah “bukan urusanmu, oppa jelek”

“jadi… sudah sejauh mana?”

“apanya?”

“tentu saja hubunganmu dengan Baek Hyun. Jangan meremehkanku, walau aku tidak punya pacar, aku tahu perkembangan hubungan semacam itu.”

Eun Yoo menutup wajahnya sambil tertawa kecil

“kalian sudah berciuman?”

Eun Yoo menggumam “sebenarnya sih, bisa dibilang begitu”

“maksudnya?”

“memangnya harus menautkan bibir masing-masing baru dikatakan ciuman? Tidak kan”

“lalu?”

Eun Yoo cengengesan “tidak akan kuceritakan, ini rahasia antara aku dan Baek Hyun”

“jadi kau sudah berani merahasiakan sesuatu dariku?” Chan Yeol menyipirkan mata

Eun Yoo kembali meleletkan lidah.

“baiklah, aku akan bertanya sendiri ke Baek Hyun”

“Hya!, kenapa oppa suka ikut campur sih?”

“karena melihat ekspresimu sekarang, aku yakin pasti sudah terjadi sesuatu, dan wajahmu sungguh mengerikan”

“OPPA!!!!!!!!!!!”

Baek Hyun meminta D.O mengantar Eun Yoo ke auditorium karena ada latihan bernyanyi di sana. Baek Hyun bilang kepalanya pusing, jadi tisak bisa mengantar Eun Yoo. Tapi Eun Yoo tahu alasan sebenarnya.

Ruang auditorium berada di sebelah GOR, dan untuk pergi ke sana harus melintasi GOR terlebih dahulu. Tentu saja GOR adalah tempat yang paling dihindari Baek Hyun saat ini.

“D.O-shii, kenapa akhir-akhir ini kau jadi pendiam?” tanya Eun Yoo

“tidak juga, kenapa kau menganggapnya seperti itu?”tanya D.O balik

“ya aku merasakannya”

D.O mengeluh “aku tidak tahu harus bagaimana mengambil sikap. Besok adalah hari pertama babak penyisihan turnamen antar SMU terbesar tahun ini, dan keadaan tim masih kacau sepeninggal Baek Hyun”

Eun Yoo tercekat, tidak tahu harus berkata apa.

“Chan Yeol hyung juga sudah tidak mau ambil pusing, sekarang yang menjadi kapten adalah Kai, karena Chan Yeol hyung ingin melihat sejauh mana Kai bisa merealisasikan kata-katanya. Tapi tetap saja tim serasa pincang tanpa Baek Hyun”lanjut D.O lagi, sepertinya ini sudah lama dia pendam. “sekuat apapun tim pertahanan Chan Yeol dan Su Ho hyung, tetap saja mereka tidak bisa main full time, saat mereka di ganti, aku khawatir pertahanan akan jebol juga, sementara tim penyerang adalah Kai, dan aku yang tidak begitu menguasai sisi kiri. Jadi… kalaupun pertahanan kuat, tanpa menambah skor sama saja dengan berjalan di tempat”

“aku tidak begitu megerti basket, D.O-shii” lirih Eun Yoo. Ia sudah tidak ingin mendengar hal itu lagi

“ah mian, aku megoceh tanpa sadar. Biasanya aku akan menceritakan hal seperti ini pada Baek Hyun, tapi ini adalah hal yang sangat tabu baginya sekarang”

Eun Yoo hanya tersenyum.

Setiba di depan GOR, Su Ho memanggil D.O yang kebetulan melintas. D.O merasa tidak enak karena harus mengantar Eun Yoo, tapi Eun Yoo menolak tawarannya

“tidak apa-apa D.O-shii, auditorium kan tidak jauh, tinggal beberapa langkah lagi kan” begitu Eun Yoo menolak

“tapi Baek Hyun berpesan kalau kau harus diantar sampai pintu auditorium”

Eun Yoo tertawa “sudahah, aku bukan anak TK  yang harus diantar walau jaraknya dekat. Anak TK bahkan bisa melakukannya sendiri”

“hm… baiklah kalau begitu. Aku akan menemuimu di auditorium kalau urusanku dengan Su Ho hyung selesai”

“nae… gomawoyo D.O-shii”

“cheonmaneyo Eun Yoo-shii”

Eun Yoo POV

Aku berjalan santai menuju auditorium yang berada di ujung koridor terbuka. Aku melangkah pelan memasuki auditorium dan kesemuanya sudah berkumpul.

“Eun Yoo-shii, kenapa lama sekali?” tanya SeoHyun eonni, kakak kelasku

“mianhae eonni, tadi ada urusan sedikit”jawabku merasa tidak enak

“um… arayo, gwenchana. Kalau begitu bisakah kau ke gudang belakang mengambul beberapa flute? Yang ini sepertinya rusak”

“ah nae” aku segera berdiri. Setidaknya ini bisa menebus keterlambatanku.

“Luna-shii, bisa kau temani Eun Yoo?”perintah SeoHyun eonni

“nae eonni” Luna sudah bersiap berdiri

“ah gwenchana, aku bisa sendiri, lagipula hanya beberapa flute kan?”

“baiklah… letaknya di rak paling belakang, di dalam kardus berwarna hitam”

“nae eonni”

Akupun keluar dari auditorium kemudian menuju gudang yang berada di sebelah GOR. Aku memasuki ruang penyimpanan khusus alat musik. Ada beberapa benda seperti drum terompet, biola, piano, dan sebagainya. Ada beberapa yang sudah rusak, dan ada yang masih baru, terbukti dengan masih dilapisi stiker khusus.

Aku masuk lebih ke dalam lagi, menuju rak yang paling belakang. Ah ruangan ini begitu pengap dan berdebu, dan ventilasinya hanya satu, itupun tidak dibuka.

Aku membongkar isi seuah kardus hitam dan menemukan beberapa flute di sana. Tiba-tiba kudengar suara pintu tertutup. Aku langsung menoleh ke arah pintu, dan bisa kulihat sosok tinggi tengah bersandar di sana.

Ya Tuhan… mau apa lagi namja itu denganku?

“Hya… sedang apa kau di sini? Kenapa kau menutup pintunya?” bentakku padanya

Kai melangkah menghampiriku, itu membuatku spontan mundur. “aku hanya ingin menemuimu dan bicara empat mata denganmu. Selama ini sulit menemukanmu tanpa Baek Hyun atau Chan Yeol hyung di sekitarmu”

“mau apa kau?” aku bergerak mundur, sampai menabrak rak di belakangku. Itu mengakibatkan raknya goyang.

“awas…” Kai menarikku ke dalam pelukannya sebelum tumpukan biola jatuh menimpa kepalaku. Ah sial…

Yang kusesali adalah, lagi-lagi Kai menyelamatkanku. Aku segera melepaskan diri darinya “apa maumu sebenarnya?”

“sudah kubilang aku ingin bicara”

“ya sudah, bicaralah, aku sedang buru-buru”

Kai tersenyum, dan itu sungguh senyum yang membuatku merinding “sepertinya Baek Hyun baik-baik saja setelah lepas tangan dari basket”

“tau apa kau?”

“jadi tidak seperti itu?”

Aku tidak menjawab. Mungkin Kai punya maksud di balik ucapannya

“apa kau ingin melihat Baek Hyun kembali bermain basket?”

Ada secercah harapan di benakku. Apakah hati Kai  sudah melunak? “tentu saja”

“aku bisa memintanya melupakan taruhan itu”

“kalau begitu lakukanlah”

Kai menatapku “apa kau pikir aku akan melakukannya begitu saja?”

Sudah kuduga, orang ini pasti tidak akan melakukan sesuatu dengan tulus “lalu apa imbalannya”

Kali ini Kai tertawa “kembali pada tawaran awalku untuk Baek Hyun. Dia harus tetap melepaskan salah satunya. Basket… atau” Kai membungkuk ke arahku, membuatku spontan condong ke belakang “kau”

Aku melengos “kau sudah gila. Sudah lihat bukan, Baek Hyun memilih yang mana, kalaupun aku yang menyuruhnya melepaskanku, ia tidak akan mau. Dan itu juga mustahil bagiku”

“lalu kau tega melihatnya tersiksa? Aku rasa kaulah yang paling tahu sesakit apa perasaan Baek Hyun menahan keinginannya bermain basket”

Aku menelan ludah. Aku berkali-kali menangkap sorot mata Baek Hyun yang suram begitu ia mendengar sesuatu yang bersangkutan dengan basket. Dan itu pertama kalinya kulihat dia semenderita itu.

“sepertinya kau butuh waktu untuk berpikir. Bisa dibilang impian dan cita-cita Baek Hyun berada di tanganmu. Apa kau tidak pernah membenarkan anggapan orang bahwa kau begitu egois?”

Aku jengah “bercerminlah, dan katakan itu pada dirimu sendiri” aku menerobos tubuhnya dan berlari keluar gudang meninggalkannya.

Ah sial… kata-katanya terus menggangguku. Baek Hyun-ah, apa yang seharusnya kulakukan? Apa betul keberadaanku telah membuatmu menderita? Baek Hyun-ah, kalau itu benar, apakah aku harus menjauh dari sisimu?

“Baek Hyun-ah, kau langsung pulang?” tegur pak pelatih bagitu aku dan Baek Hyun menyusuri pelataran parkir

“ah… nae sonsengnim”jawab Baek Hyun sopan

Pak pelatih menghela nafas “sore ini ada rapat untuk seluruh anggota tim basket sekolah untuk menghadapi babak penyisihan besok. Bapak sangat mengharapkan sekali kedatanganmu”

Bisa kulihat tubuh Baek Hyun menegang,ia mengepalkan tangannya kuat-kuat “mianhamnida sonsengnim, tanganku belum pulih, sepertinya harus diistirahatkan beberapa bulan lagi” jawabnya yang aku tahu itu bohong. Saat itu aku iseng bertanya pada suster yang merawat Baek Hyun saat aku menemaninya melepaskan traksi di tangannya. Aku menghadang suster itu di depanpintu, dan saat kutanya Suster itu bilang cedera tangan Baek Hyun sudah pulih, sebenarnya juga sudah tidak perlu diperban, tapi Baek Hyun yang meminta agar tetap diperban. Aku tahu kalau Baek Hyun sengaja memakai perban untuk dijadikan alasan menghindari segala hal yang berhubungan dengan basket. Seperti saat ini

“sayang sekali. Kalau kau tidak bisa kembali. Turnamen ini adalah turnamen terbesar sepanjang 1 dekade belakangan ini karena mencakup tingkat Nasional, dan setelah menang tingkat nasional, akan melawan tim kemenangan SMU negara tetangga seperti Jepang, China, dan lain-lain. Tidak hanya itu, kabar terakhir yang kudengar adalah katanya pencari bakat terkenal NBA Amerika rencananya akan ikut menyaksikan sampai putaran final. Ini adalah langkah awal bagimu yang bercita-cita menembus NBA Amerika.”cerocos pak pelatih yang kutahu akan semakin membuat Baek Hyun terluka. Dan itu juga membuatku semakin tersiksa

“tetap saja pak, saya tidak bisa ikut”tolak Baek Hyun lagi, tapi aku menyadari suaranya bergetar. Mimpi yang selama ini dia kejar terpaksa ia lepaskan begitu saja, padahal sudah berada di depan mata.

“bapak mengerti… Tapi bapak sangat berharap kau bisa meluangkan waktumu untuk datang, yah sekedar menonton untuk membangkitkan semangat teman-temanmu”

Apa pak pelatih sudah gila? Itu sama saja dengan menyiksa Baek Hyun. Menonton saja jelas membuat Baek Hyun semakin ingin ikut bermain.

“akan saya usahakan pak” toh Baek Hyun merespon dengan sopan seperti biasa. Itulah dia, seorang Baek Hyun yang sebisa mungkin tidak membuat orang lain kecewa.

“baiklah… semoga cepat sembuh. Sampai jumpa”

“nae sonsengnim, annyeonghigaseyo”

Selama perjalanan pulang, aku terus memperhatikan Baek Hyun. Ekspresi wajahnya, gerak-geriknya, aku tahu dia ingin sekali ikut andil dalam turnamen itu, terlebih lagi pak pelatih sudah mengiming-iminginya dengan kehadiran pencari bakat baru NBA amerika itu, ah aku tidak mengerti.

“sudahlah jangan memperhatikanku seperti itu. Apapun tawaran yang mereka berikan kepadaku, aku tidak akan merubah keputusanku”ucap Baek Hyun menyadari bahwa sejak tadi aku mengamatinya

“tapi Baek Hyun-ah… tentang pencari bakat itu…”

“sudahlah, tetap tidak ada pengaruhnya. Dan jangan pernah mengajakku untuk membahas masalah ini lagi. arasso!”

Aku hanya bisa menghela nafas “nae… arasso”

Semalam aku tidak bisa tidur, aku terus memikirkan kata-kata Kai, kata-kata pak pelatih, D.O, dan semua orang yang mengharapkan Baek Hyun kembali ke tim basket.

Ah lupakan, selama Baek Hyun tidak memintaku pergi, aku tidak akan pergi dari sisinya.

Akupun segera masuk ke kamar kakakku setelah menyiapkan sarapan “Oppa, sarapannya sudah si__” aku menghentikan ucapanku, aku melihat Chan Yeol oppa tengah memandangi dirinya di cermin. Ia sudah siap dengan kostum basket tim sekolah kami, dan di tangannya ada satu baju lagi bernomor punggung 9. Dan aku hapal, itu adalah nomor punggung Baek Hyun. Walau tidak bisa membacanya dengan jelas, aku tahu nama punggung nomor 9 itu adalah Baek Hyun

“h Eun Yoo-ah” Chan Yeol oppa tampak grogi, ia menyembunyikan baju Baek Hyun di belakangnya, mungkin tidak ingn aku melihatnya.

“hm… Oppa keren sekali” pujiku mengalihkan pikiranku

“benarkah? Kau tahu, rancangan baju ini adalah ideku”

Aku manggut-manggut “aku jadi curiga, sepertinya jiwamu bukan di basket, tapi designer pakaian”

“Hya… jangan bicara sembarangan” oppa langsung menyelipkan baju Baek Hyun ke dalam ranselnya “kau nonton kan?”

“itu…”

“hei, walau namjachingumu tidak main, tetap saja kau harus menonton aksi kakakmu ini”

Aku mengangguk “tapi aku tidak enak dengan Hyunie. Sementara ia berusaha menahan diri untuk tidak terlibat dalam turnamen ini, aku justru asyik menonton”

Oppa menghampiriku, dan memelukku erat sekali. Tumben “kau adalah yeoja terbaik yang pernah kukenal Eun Yoo-ah, aku bangga menjadi kakakmu. Tapi lebih banggalah kau karena memiliki namjachingu seperti Baek Hyun-ah”

Aku tidak merespon. Sudah lama sekali oppa tidak memelukku seperti ini. Rasanya sungguh menenangkan. Pikiranku kembali jernih.

“aku tidak ingin mengatakan ini… tapi, sebenarnya aku sangat mengharapkan Baek Hyun ada di lapangan yang sama denganku, aku suka dan menjiwai basket juga karena Baek Hyun yang kukenal sejak SD itu. Aku dan Baek Hyun sudah bisa dikatakan couple di lapangan. Semua orang memujiku karena kemampuan bertahanku, tapi tidak ada yang tahu kalau semua sumber kekuatan itu adalah Baek Hyun. Saat sebelum dia menjadi kapten pun sebenarnya dialah yang menggerakkan tim. Dia bisa memposisikan diri dengan tepat, dan saat itu pula aku bisa mengoper bola padanya, seolah kami punya kontak batin saat bermain. Sungguh berbeda saat posisinya digantikan oleh Kai. Dia tidak bisa membaca gerakanku dan…” Chan Yeol oppa menghentikan kalimatnya “ah mian, aku mengoceh terlalu banyak”

Aku menelan ludah. Bahkan oppaku sendiri menyayangkan hal ini “Oppa… jujurlah”

Chan Yeol oppa melepas pelukannya “tentang apa chagi-ah?”

“menurut oppa, apa keputusan Baek Hyun yang lebih memilihku dari pada cita-citanya adalah salah besar?”

Bisa kulihat Chan Yeol oppa membelalak “bicara apa kau? Tentu saja tidak”

“realistislah, ubahlah cara pandangmu oppa, jangan memposisikanmu sebagai kakakku, tapi sebagai rekan Baek Hyun-ah dalam basket”

Chan Yeol oppa terdiam. Dan aku bisa mereka-reka jawabannya. “aku memang menyayangkan saat Baek Hyun menyerah begitu saja di hadapan Kai, setidaknya masih ada jalan lain. Tapi aku juga salut pada pendiriannya. Hanya itu Eun Yoo-ah. Terlepas dari kenyataan bahwa yeoja yang menjadi pertaruhan itu adalah adikku sendiri, aku bangga dengan sikap tegas Baek Hyun”

“Oppa… apa aku egois?”

Chan Yeol oppa memelukku lagi “kau sudah berjuang di tempatmu, tidak ada yang egois dalam hal ini. Baek Hyun lebih memilihmu jelas bukan tanpa alasan. Jadi lupakanlah masalah ini. Arasso?”

Aku mengangguk “oppa… maaf tidak bisa menontonmu langsung. Aku mencintaimu, tapi aku tidak ingin mengkhianati namja yang sudah berkorban besar untukku”

Chan Yeol oppa tersenyum “nae… arayo. Aku juga sangat mencintaimu, dan aku mengerti posisimu”

AUTHOR POV

Stadiun besar Seoul sudah penuh sesak sejak pagi. Hari ini ada 3 babak penyisihan, dan sekolah Eun Yoo akan main di babak ke 2. Pertandingan pertama sudah berlangsung hampir satu jam, sebentar lagi tim Chan Yeol akan maju.

Mereka sedang berkumpul di ruang ganti atlit mendengarkan arahan pak pelatih.

“Kai… jangan lupa ini adalah permainan tim, bukan individu. Permainanmu memang sangat hebat secara personal, tapi kau harus lebih bisa menyatu dengan rekan-rekanmu”

“nae sonsengnim”jawab Kai santai

“seperti strategi awal, Kai dan D.O menyerang di depan, Chan Yeol menjaga di tengah, Su Ho kiri belakang, Kris kanan belakang. Luhan, chen, Lay dan Yang lainnya menunggu untuk pergantian pemain. Paham?”

“Nae sonsengnim”

“bagus… kita tunggu info dari pihak penyelenggara. Untuk sementara siapkan mental kalian. Ini memang baru babak penyisihan, tapi jangan terlalu santai. Tetap fokus”

“Nae sonsengnim”

“Chan Yeol-ah, ikut denganku, ada yang ingin bapak sampaikan”

Chan Yeol mengangguk dan mengikuti langkah pak pelatih menuju pojok ruangan “ada apa sonsengnim?”

“tentang Baek Hyun. Apa kau sudah menghubunginya? Kau sudah memberikan bajunya?”

Chan Yeol menghela nafas pasrah “saya tidak tega pak, bagaimanapun saya sudah menganggap Baek Hyun seperti adik sendiri. Kalau saya nekat memberikan baju ini, artinya saya akan membuatnya terluka”

“bapak mengerti. Bapak juga tidak berhenti berharap, makanya bapak tetap memasukkan nama Baek Hyun di list cadangan”

Chan Yeol akhirnya mengerti kenapa cadangan yang disiapkan hanya ada 4.

Tepat pukul sebelas pagi, tim Chan Yeol akhirnya memasuki arena dan memulai pertandingan. Kai sudah berdiri di tengah-tengah lapangan berhadapan dengan kapten tim lawan untuk memperebutkan bola.

PRIIIITTTTTTTTTTTTTTT…….

Peluit tanda permainan dimulai berbunyi memekakkan telinga, tubuh Kai yang tinggi menguntungkannya di tempat pertama, ia meraih bola, mengoper ke D.O. Kai berlari ke kanan tepat di dekat ring, D.O mengoper ke Kai, Kai mendribel bola, berusaha melewati pemain lawanyang tinggi hampir 190 cm itu. Terakhir Kai berhasil melakukan slam dunk. Angka pertama untuk Kai.

“Chan Yeol-ah, sepertinya tim akan baik-baik saja kalau permainan Kai stabil seperti itu” bisik Su Ho di garis belakang

Anehnya Chan Yeol malah tersenyum tipis “justru sebaliknya Su Ho-ah, ini baru awal permainan, kalau Kai bermain dengan tekhnik yang sama sepanjang waktu, lihat saja apa yang terjadi. Keberuntungan memang di pihak kita di babak awal, tapi selanjutnya… jaga staminamu. Dan bersiap-siaplah, lawan sedang kemari”

Permainan pun berlanjut. Seperti kata Chan Yeol, babak awal memang berada di pihak mereka. 15 menit pertama tim mereka unggul 27-12. Kai menghampiri Chan Yeol saat break pertama.

“sepertinya kau sudah tidak berniat menyuarakan protes” sindir Kai sembari meneguk air mineralnya.

Chan Yeol menoleh, kemudian tersenyum acuh “baru babak awal Kim Jong In, dan percayalah, kau akan sadar secepatnya bagaimana perbedaan  jalannya permainan saat Baek Hyun ada dan permainan sekarang. Dan ingat, ini masih penyisihan, dan sekolah kita tidak pernah punya sejarah bersusah payah di babak penyisihan apalagi sampai kalah” Chan Yeol berdiri setelah wasit membunyikan peluit.

“baiklah, akan kubuktikan bahwa aku bisa menggerakkan tim melebihi Baek Hyun” lirih Kai saat melintas di sebelah Chan Yeol menuju tengah lapangan.

Chan Yeol hanya tersenyum tipis sembari menggelengkan kepala.

Permainan dilanjutkan. Kai berencana menggunakan tekhnik yang sama seperti sebelumnya, tapi ia terkejut begitu mulai mendrible bola. Posisi lawan berubah, ia dijaga dengan sangat ketat, bahkan mengoper bola pun kesulitan. Biasanya dia akan mendrible bola hingga mendekati ring, mengoper ke D.O untuk umpan, kemudian menerima bola kembali, barulah dia mencetak angka. Tapi D.O juga dijaga.

Kai akhirnya menerobos pertahan lawan dengan sedikit kasar

PRIIIITTTTTTT…

Peluit tanda peringatan berbunyi. Kai mengumpat kesal. Saat ia berbalik, ia mendapati Chan Yeol menatapnya sambil melipat tangan di dada dan mengangkat alis tinggi-tinggi. Itu justru membuat emosinya semakin naik.

Permainan semakin sulit. Chan Yeol terpaksa merangkap menjadi penyerang karena Kai dikawal ketat. Ia juga sudah hampir kehilangan kesabaran saat Kai terus meminta operan bola, padahal posisinya sulit. Beberapa kali Chan Yeol mengoperkan bola padanya, tapi dengan mudah direbut lawan, dan Su Ho mati-matian memblocking bola bersama kris di garis belakang. Berhasil memang, tapi hanya beberapa kali.

“sudah kubilang, oper padaku, jangan pada lawan” bentak Kai, saat bola sedang mati. padahal itu di tengah lapangan

“Neo… ppaboya? Kau tidak melihat posisimu yang dikawal 3 orang? Kau memaksaku mengopermu ya jelas saja ku opor. Sebenarnya apa maumu. Kau ingin main sendiri? Silakan!”balas Chan Yeol yang akhirnya sudah jengah

“Hya!”

“kenapa? Kau mau marah padaku?”

Priiittttttttttt!!!!!!!!

Kedua orang itu berbalik, wasit memperingatkan mereka untuk tidak berradu mulut di tengah lapangan.

Su Ho datang menghampiri Chan Yeol “Chan Yeol-ah., kendalikan dirimu”

“siapa yang bisa mengendalikan diri di saat-saat seperti ini. Lihatlah si hebat itu. Selalu merasa dirinya yang terbaik, dan lihatlah hasil yang ia ciptakan. Aku bahkan tidak sampai kepikiran skor kita terkejar”balas Chan Yeol

“ubah strategi… aku dan kris akan menjaga di belakang, kau tukaran dengan D.O. aku akan fokuskan bola padamu”

“ck… apa aku terlalu banyak bicara sampai kau sendiri menyuruhku ke depan?”

“tidak ada jalan lain Chan Yeol-ah. Kau memang handal di pertahanan, tapi bukan pemain basket namanya kalau tidak bisa mencetak skor. Arasso”

Chan Yeol mengeluh “andai Baek Hyun ada di sini, kita akan menang mudah dan tentu saja kita tidak akan sekacau ini”

Kai mendengarnya, tak ayal emosinya semakin memuncak. Bahkan saat dirinya sedang menjadi kapten pun, nama Baek Hyun tetap dibawa-bawa.

Permainan berlanjut, sesuai strategi dan juga arahan pelatih, Kai mundur di posisi tengah, Chan Yeol di depan bersama D.O. awalnya Kai protes, tapi pelatih bilang emosi Kai mudah terpancing dan beberapa kali ia membuat pelanggaran. Akhirnya Kai menyerah dan ikut peraturan saja.

Di atas kertas yang menjadi kapten memang Kai, tapi yang bekerja keras mengatur tim adalah Chan Yeol. Mereka seperti kembali pada permainan dulu, hanya sayangnya tim itu kehilangan tangan kanan.

Akirnya denga penuh perjuangan, bahkan Chan Yeol sempat jatuh beberapa kali, tim mereka pun menang tipis 65-63. Itu juga berkat Su Ho yang menembakkan 3 point di detik-detik terakhir.

Di ruang ganti, suasana menjadi tegang. Bukan karena pak pelatih marah-marah, itu jelas mustahil karena pak pelatih tidak pernah marah, yah mengomel sedikit sudah biasa. Tapi yang membuat tegang adaah perkataan Kai saat pelatih menegurnya untuk bisa bekerja sama dengan baik.

“bukan aku yang tidak bisa bekerja sama, tapi mereka yang tidak mau bekerja sama denganku. Posisi ku sebagai kapten hanya sebagai pajangan karena tidak ada yang mendengarku”

Chan Yeol jelas naik pitam”apa maksudmu? kAu saja yang payah, kau memaksa kami mengoper bola padamu sementara kau dijaga ketat. Jelas saja lawan bisa membacanya dan dengan mudah merebut bola. Setelah itu kau akan mempersalahkan kami karena tidak benar dalam mengoper bola. Sebenarnya di mana kau letakkan otakmu itu?”

“apa kau juga tidak bisa baca timing?”balas Kai lagi

“bisa, dan tidak ada timing yang tepat untuk mengopermu. Satu detikpun. Dan kau tetap saja membentakku untuk mengoper. Hya Kim Jong In, kau terlalu terobsesi untuk mencetak skor, seolah permainan ini hanya milikmu. Ingat…Basketball itu permainan tim, bukan individu. Dan seseorang yang individualis sepertimu tidak pantas jadi kapten”

Kai tidak merespon lagi, tapi ia menatap Chan Yeol dengan pandangan berapi-api.

“benar… kalau kau ingin kami bekerjasama denganmu, maka jangan egois. Kita ini punya tujuan yang sama, yaitu menang. Tim tidak akan sekacau ini kalau saja Baek Hyun ada” Su Ho mengeluarkan pendapat.

D.O, kris dan beberapa pemain cadangan pun mengangguk.

Tepat di titik rawan Kai berdiri dari tempatnya dan membanting botol air mineral yang sejak tadi dipegangnya “BAEK HYUN… BAEK HYUN… BAEK HYUN… yah… sebut saja nama itu terus. Dia keluar dari tim juga atas kemauannya, kenapa anggapan kalian selalu saja seolah aku yang memaksanya. Aku hanya menyuruhnya memilih, dan dia memilih untuk keluar, taruhan itu juga dia yang menyetujui. Jadi berhenti menyalahkanku“ Kai hendak pergi

“kalau begitu minta dia kembali ke tim” seru Chan Yeol

Kai berbalik “apa kau gila? Itu sama saja menyuruhku menjilat ludah sendiri. Dan itu bukan caraku, ARASSO!!!” Kai mengambil ranselnya dan meninggalkan stadiun tanpa berpamitan pada pelatih.

“bapak tidak habis pikir. Ini baru babak penyisihan, tapi mental kalian sudah seperti ini. Hhh”lirih pak pelatih

“maafkan kami sonseng-nim”ucap Chan Yeol merasa tidak enak

“lupakanlah, benahi diri kalian, besok lusa babak penyisihan berikutnya. Jangan sampai kalah, karena ini adaah sistem gugur”

“nae sonseng-nim”sahut mereka berbarengan.

Eun Yoo POV

“chukkae oppa… sekolah kita menang kan?” sambutku  saat Chan Yeol oppa pulang

“tau dari mana?” tanya oppa lemas

“pertandingan tadi disiarkan langsung di channel olahraga nasional. Karena turnament ini adalah event besar”

Oppa  tersenyum

“tapi…” aku menggamit lenganya “permainan kalian sangat sulit, kulihat kau terjatuh beberapa kali?apa ada yang terluka?”

Oppa  menggeleng “tapi malam ini kau harus memijiti ku

“nae… arasso”

“aku mandi dulu, baru kita makan sama-sama”

Aku mengangguk. Jelas saja aku menyadari ada kemuraman dari pancaran mata oppa, ini tidak seperti biasanya. walaupun kemenangan yang ia dapat adalah dengan berjuang mati-matian, seharusnya oppa senang. Ekspresinya saat ini seperti ia akan menghadapi hukuman mati besok.

Apa sesulit itu saat Baek Hyun tidak ada di tim? Apa Chan Yeol oppa mengharapkan Baek Hyun-ah ada di timnya?

Dan saat makan malam pun aku mendapatkan jawabannya

“apa tadi kau bertemu Baek Hyun?” tanya oppa basa-basi

“nae… tadi pagi dia mengantarku ke supermarket saat kau sudah berangkat ke stadion”jawabku berusaha santai

“um… apa Baek Hyun tidakmembahas sesuatu tentang turnamen ini? Apa dia tidak bicara apa-apa?”

“itu… aku justru menghindari agar obrolan kami tidak sampai pada pembahasan itu. Aku takut melukai perasaannya”

“hm… aku mengerti”

“memangnya ada apa Oppa?”

“ani…” Oppa tampak gelagapan “aku hanya ingin tahu pendapatnya tentang turnamen ini, hm… jadi dia tidak membahas apa-apa tentang basket?”

“nae… sepertinya kata itu sudah cukup tabu di telinganya”

Oppa hanya termenung

“apa kau menginginkan Hyun kembali ke tim?” tanyaku asal tebak

“tentu saja” mata oppa langsung berbinar “ah maksudku… kalau saja bisa ya tentu saja kami akan sangat senang. Tapi sepertinya itu mustahil”

Aku langsung merana dalam hati. Bukan hanya Baek Hyun yang terluka karena dia sudah tidak bisa bermain, tapi oppaku, juga rekan-rekannya juga sangat kecewa. Ya Tuhan… kenapa Baek Hyun-ah tidak memikirkan kepentingan orang banyak ini? Dan apa yang harus kulakukan?

“Eun Yoo-ah… gwenchana? Mianhae… aku hanya asal bicara, jangan kau ambil hati”tegur oppaku

“ah gwenchanayo oppa… habiskan makanmu, aku akan memijitimu setelah ini”

Oppa tersenyum. Tapi bisa kulihat beban itu masih mengusiknya. Yah… mereka membutuhkan Baek Hyun. Dan Sebagai akar pemasalahan ini… akulah yang harus menyelesaikannya.

Sepulang sekolah, Baek Hyun mengajakku ke rumahnya. Katanya Omoni merindukanku dan ingin melihatku. Aku memang cukup dekat dengannya karena Baek Hyun sering mengajakku menemuinya.

“besok eomma akan kembali ke Jepang, makanya sebelum berangkat dia mau bertemu denganmu. Ah… kenapa eomma tidak betah di Seoul? Menyebalkan sekali” oceh Baek Hyun saat kami masih dalam perjalanan pulang

“omoni kan seorang ibu direktur, jelas dia sangat sibuk. Makanya dia harus bolak-balik ke Jepang –Korea. Itu masih sangat bagus dibandingan kalian sekeluarga pindah ke Jepang”

Baek Hyun tampak berpikir “ah… kau benar Eun Yoo-ah. Kalau memang kami harus pindah, aku akan membawamu”

Aku tertawa “dasar konyol, mana mungkin aku akan meninggakan Chan Yeol oppa”

“kalau begitu Chan Yeol hyung ikut juga sekalian”

Aku menggetok kepala Baek Hyun saking gemasnya “kau pikir semudah itu”

Dan dia kembali tertawa.

Mobil yang dikemudikan Baek Hyun memasuki sebuah pekarangan rumah yang cukup luas setelah di sambut oleh 2 penjaga dengan setelan rapi hitam-hitam. Cckckckckck… life style orang kaya memang menakjubkan.

Setelah turun dari mobil, Baek Hyun mengajakku masuk ke rumahnya yang menurutku lebih mirip istana dari pada rumah.

“eomma… aku pulang” seru Baek Hyun

“nae… apa Eun Yoo-ah ikut“ omoni muncul dengan gaun rumahan yang santai tapi elegan. Ia sedang mengenakan celemek, mungkin sedang memasak

“aku sudah mengajak Eun Yoo-ah, sekarang apalagi?”

“kau naiklah ke kamarmu, ganti baju. Karena eomma dan Eun Yoo  punya pekerjaan khusus yeoja”

“arasso… memasak bukan? Tapi jangan memaksanya, Eun Yoo  baru pulang sekolah, pasti lelah”

“ah gwenchana… biasanya memang seperti ini kalau aku pulang sekolah. Ayo omoni, aku akan membantu memasak”potongku sebelum Baek Hyun membuatku dicap sebagai yeoja manja.

“eomma suka sekali dengan Eun Yoo… serasa punya anak perempuan sendiri” omoni memelukku dengan sayang. Hm… rasanya sangat hangat. Pantas saja orang-orang yang punya eomma terlihat sangat bahagia.

“tunggu saja eomma, kalau kami menikah, harapan eomma untuk punya anak perempuan akan terwujud”celoteh Baek Hyun

Omoni mencubit lengannya “sekolah saja belum selesai, sudah berpikiran untuk menikah. Cepat mandi dan ganti bajumu”

Aku tertawa. Mereka sangat lucu, hubungan mereka lebih kepada sahabat dari pada ibu dan anak.

“nae… nae eomma sayang” Baek Hyun mengecup pipi eomma nya kemudian naik ke lantai dua

“ayo omoni, kita beraksi” ajakku

“ah nae, aku sudah meninggalkan kukusanku cukup lama, pasti sudah masak”

Acara memasak dengan omoni memang menyenangkan. Aku jadi menambah wawasanku tentang resep baru, dan tentu saja makanan kesukaan namjachinguku.

“Eun Yoo-ah… sebenarnya ada yang ingin kutanyakan tentang Baek Hyun-ah”

Aku menoleh “tentang apa omoni?”

“itu… ng, apa kau tahu sesuatu? maksud omoni, apa terjadi sesuatu padanya belakangan ini”

Aku mengerutkan kening “a… aku masih belum mengerti omoni”

Omoni menghela nafas “entah apa yang sudah terjadi padanya, saat berada di rumah bersama omoni, Baek Hyun-ah kelihatan sangat murung. Biasanya saat bangun pagi di hari-hri kemarin, dia akan berolah raga di lapangan belakang rumah, sore hari juga seperti itu, dan omoni akan kewalahan menyuruhnya berhenti dan memaksanya mandi. Baek Hyun akan tertawa riang setelah itu. Tapi belakangan ini, omoni tidak pernah melihatnya lagi bermain di lapangan basket yang khusus dibuat appanya itu. Ah… barang-barang kesayangannya yang berhubungan dengan bola basket, omoni juga tidak melihat satupun tersisa di kamarnya. Omoni jadi khawatir”

Aku menelan ludah. Oh Tuhan… kenapa dampaknya sampai seperti ini? Ternyata seseorang yang kehilangan mimpi seperti orang cacat. Dan aku tidak mau itu terjadi pada Baek Hyun-ku

“Eun Yoo-ah? Apa terjadi sesuatu padanya?”suara omoni mengejutkanku

“ah… nae, ah maksudku tidak. Mungkin Baek Hyun sedang mengistirahatkan tangannya”

“tapi tangannya sudah pulih seminggu yang lalu. Ia juga pernah cedera tangan, tapi tidak pernah berhenti memegang bola”

Nah sekarang, aku harus menjawab apa?

“EOMMA… EUN YOO-AH…. Aku sudah lapar” seruan Baek Hyun di ruang makan membuat kami tersadar. Ah untung saja obrolan ini terputus

“tunggu sebentar sayang, eomma sedang membuat hidangan penutup”

“cepatlah… atau kau akan melihat anakmu ini mati kelaparan”

Kami berdua tertawa mendengar seruan konyol Baek Hyun. Aku memang sering melihatnya manja terhadap eommanya, tapi itu sama sekali tidak mengganggu. Aku terkadang ingin dia bersikap manja terhadapku sesekali, karena itu begitu membuatku gemas. Yah… sikapnya yang menggemaskan itu setidaknya bisa membuatku sejenak melupakan kegalauanku.

Setelah makan, Baek Hyun mengajakku ke kamarnya. Dan betul saja, terjadi perubahan besar-besaran di kamarnya ini. Dindingnya berubah, yang awalnya dipenuhi poster-poster pemain NBA terkenal seperti Michael Jordan, Kobe, dan banyak lagi, mading yang tertempel photo card, jadwal acara basket, ring basket di dinding, tirai bergambar bola basket, seprei, bola basket, dan semua yang berbau basket lenyap. Dinding kamarnya kini berwarna putih polos, tirai putih polos, dan semunya serba putih. Aku memang suka suasana seperti ini karena menyejukkan mata, tapi ini seperti sedang memandang isi hati Baek Hyun yang hampa. Dan ini membuatku miris.

“kau sudah menelpon Chan Yeol hyung?” tanya Baek Hyun membuyarkan pikiranku

“nae… dia sedang ada pertemuan dengan pak pelatih dan rekan tim bas__” aku tercekat, ya Tuhan, aku hampir menyebut kata basket.

Baek Hyun mengulas senyum tipis, senyum yang terkesan dipaksakan “aku baru saja beli DVD film baru, kau mau menontonnya?”

Lihatlah, Baek Hyun bahkan mengalihkan pembicaraan. Terpancar luka dari sorot mata kecilnya itu “nae… film apa?” toh aku berusaha merespon

“Twilight saga, Breaking dawn, kau mau nonton?”

“nae…”

“ng.,.. kau serius?” tanya Baek Hyun agak ragu

“hum… memangnya kenapa?”

“tidak kenapa-napa. Duduklah, aku menyetelnya dulu”

Aku menurut. Aku duduk bersandar di dekat tempat tidur yang menghadap layar TV besar. Baek Hyun menghampiriku dan duduk di sebelahku setelah ia menyetel filmnya.

Awalnya aku tidak begitu fokus pada film yang kutonton ini, karena pikiranku sedang kalut. Beribu macam hal yang bergulat di benakku. Tentu saja tentang Baek Hyun. Keandaannya setelah lepas dari mimpinya. Ini bahkan lebih menyedihkan melebihi yang kubayangkan. Dan kalau kupikir matang-matang, sungguh tega diriku membiarkan Baek Hyun mengubur mimpinya hanya demi mempertahankanku. Bisa dibilang akulah yang mengubur mimpinya, akulah yang membuatnya menderita, aku merenggut cita-citanya sejak kecil, aku merebut harapannya, harapan Chan Yeol oppa dan teman-temannya, dan akulah yang seharusnya mengembalikan itu semua.

Lamunanku buyar begitu kusadari Baek Hyun salah tingkah di sebelahku. Ia mengaruk-garuk kepalanya dan menatapku sesekali.

Aku menoleh padanya. Hendak bertanya kenapa dia aneh seperti itu. Wajahnya merah, dan beberapa kali mengulum bibirnya. Aku jelas mengerutkan kening saking herannya. Makanya aku mencari penyebab kenapa Baek Hyun salah tingkah. Dan jawabannya kutemukan saat mataku berhenti pada layar TV.

Mataku langsung membelalak. Itu…………….. ADEGAN CIUMAN!!!

Adegan saat Edward dan Bella sedang berciuman di depan pendeta saat mereka menikah. Dan tentu saja ciuman versi barat cukup… hot.

Aku jadi ikut gelagapan dan tidak tahu harus berbuat apa.. Ya Tuhan… aku jadi gugup. Kenapa Baek Hyun mengajakku nonton film itu di saat kami sedang berduaan. Oh Tuhan, seharusnya aku bisa menebak film seperti apa ini, karena aku sudah mengikuti setiap seri sebelumnya.

Kulihat Baek Hyun langsung menyambar remote control dan mematikan TV nya. Akhirnya aku bisa bernafas lega. Aku bukannya takut, tapi malu. Bagaimana kalau adegan di TV mempengaruhi kami. Bagus sih sebenarnya, tapi… bagaimana kalau kami kepergok omoni? Bisa-bisa omoni akan melarangku berhubungan lagi dengan anaknya karena mengira aku adalah yeoja yang tidak baik.

“awalnya aku hanya berniat mengerjaimu… tapi kenapa justru aku yang salah tingkah seperti ini?” suara Baek Hyun memecah keheningan kami

“paboya… kenapa kau justru menyetel film seperti itu?”

“aku hanya ingin melihat reaksimu. Ternyata Eun Yoo-ah santai saja melihatnya,?”

Wajahku memerah.ya Tuhan, bukannya aku santai, hanya saja aku tidak betul-betul menontonnya “bu… bukan seperti itu”

“kupikir saat adegan itu akan mulai, kau akan berteriak seperti biasa, ternyata kau malah menontonnya dengan serius”

“Hya… bukan begitu, tadi aku… aku…”

“hm… Eun Yoo-ah sudah dewasa”

“Hyunie-ah…”

“ara…ara… kita nonton yang lain saja”

Aku mengeluh. Aku jadi tidak punya niat menonton film apapun “sudahlah, aku hanya ingin mengobrol”

“tentang?”

Aku menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan. Kalau bukan sekarang membahasnya, maka akan semakin terlambat “Hyunie-ah… bisakah kau kembali lagi ke tim basket?”tembakku langsung.

Bisa kulihat keterkejutan yang luar biasa dari Baek Hyun. Senyum jahilnya lenyap, berganti dengan tatapan serius.

“Hyunie-ah, kumohon jangan marah”

“bahkan kau juga mengatakan hal yang sama”

“maksudnya?”

Baek Hyun menghela nafas “D.O, dan Su Ho hyung menemuiku semalam, dan memintaku kembali lagi ke tim. Mereka bahkan hampir memutuskan untuk keluar dari tim kalau aku tidak kembali”

“kalau begitu kembalilah. Mereka membutuhkanmu”

“tidak sesederhana itu Eun Yoo-ah. Seorang namja yang menarik kembali ucapannya adalah namja yang paling hina di dunia”

“tapi tidak pada kasusmu. Menarik kembali ucapan untuk kebaikan jelas bukan perbuatan hina”

“tapi tetap saja. rasanya seperti menghancurkan harga diriku di depan Kai. Ah… bahkan akan lebih memalukan melebihi saat aku berlutut padanya”

Aku menghela nafas. Bisa kulihat namjaku ini begitu galau “Baek Hyun-ah”

“sudahlah Eun Yoo-ah. Kau sudah berada di sisiku sekarang, dan aku tidak menyesalinya”

Aku terdiam. Baek Hyun mungkin bisa mengatakan itu, tapi… aku yakin di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia juga berharap bisa kembali ke tim. Baek Hyun-ah… kau memang harus kembali. Kau terlahir sebagai pemain basket profesional, dan aku terlahir untuk mendampingimu mewujudkan impianmu, bukan justru menghalanginya.

Baek Hyun-ah… kau harus kembali ke tim.

Kai POV

Aku baru saja memejamkan mataku beberapa menit saat ada yang mengetuk pintu di luar. Ah… Sial… siapa yang bertamu malam-malam begini? Ini sama saja dengan gila, karena besok aku ada pertandingan pagi-pagi. Aku juga harus mempersiapkan mental menerima setiap kritikan tidak penting dari rekan satu timku.

“hya… siapa yang bertamu malam-malam begi__” suaraku tercekat. Kuperjelas pandanganku, bahkan sampai mengucek-ngucek mataku. Ah… apa aku sedang bermipi “Eun Yoo-ah?” lirihku memastikan

“aku ingin bicara” ucap yeoja itu datar seperti biasa

“ah nae… masuklah”

Eun Yoo mengintip sedikit ke dalam “di sini saja. aku juga tidak lama”

Um, aku mengerti. Dia adalah seorang yeoja, lebih tepatnya yeoja yang sudah punya kekasih, dia mana mau masuk ke dalam rumah namja lain dan hanya berdua di dalam “baik. Bicaralah”

Eun Yoo tampak serius “apa yang kau sukai dariku?”

Aku jelas terkejut, kenapa dia bertanya seperti itu “a… aku tidak tahu, aku hanya menyukaimu sejak pertama melihatmu”

“itu bukan alasan yang cukup kuat untuk merebutku dari Baek Hyun”

Apa maksud yeoja ini “aku menyukaimu, aku tidak punya alasan tepat untuk menjelaskannya, tapi… melihatmu bersama Baek Hyun, aku tersiksa”

“lalu kau ingin agar aku menjadi yeojamu?”

Ah… sekali lagi Eun Yoo mengejutkanku seperti ini, aku akan mati terkena serangan jantung “nae… tapi bisa aku tahu inti dari pembicaraan ini?”

“aku mencintai Baek Hyun, dan aku tidak mau karena diriku ia menderita. Jadi aku ingin mengembalikan kebahagiaannya”

“maksudmu? Dengan kembali bermain basket?”

Eun Yoo mengangguk

“lalu kau datang kemari untuk memintaku agar membujuk Baek Hyun kembali ke tim”

“tepat sekali. Aku, Chan Yeol oppa, D.O dan Su Ho oppa sudah berbuat sebisanya untuk membujuk Baek Hyun kembali. Tapi dia tetap berpegang pada janji konyolnya padamu”

“aku bisa memintanya melupakan janji itu”

“untuk itulah aku datang padamu”

Aku tersenyum dalam hati “tidak semudah itu. Keadaan akan berbalik saat aku yang memohon padanya untuk kembali, itu sama saja dengan merontokkan harga diriku di hadapannya”

“apa aku tidak cukup sebagai alasan?”

“maksudmu?”

“inti dari pembicaraan ini adalah, negosiasi. Buatlah Baek Hyun kembali bermain basket, dan aku akan memenuhi semua keinginanmu”

Baiklah. Anggap aku berlebihan, tapi ini seperti saat kau dibawa terbang keangkasa dan jatuh ke surga “termasuk putus dari Baek Hyun dan menjadi yeojaku?”

Kulihat ia tercekat, tapi ia menghela nafas. Kupikir dia sudah mempertimbangkannya ribuan kali, dan sekarang dia sudah siap. “nae”

“tapi tidak ada artinya kalau kau menjadi yeojaku hanya sebagai status saja”

“arassoyo… aku tahu konsekuensinya, sudah kubilang aku akan menuruti semua keinginanmu”

Ini bahkan diluar rencanaku. Siapa yang menyangka hasilnya akan lebih membahagiakan dari ini “baiklah, besok… kau sudah akan melihat Baek Hyun berdiri di tengah lapangan”

“tapi… aku juga punya satu permintaan”

“apa?”

Eun Yoo menatapku dengan mata yang mulai berair. Aku tidak cukup tega melihatnya menangis, tapi kalau hanya cara itu yang bisa membuatnya jatuh ke tanganku, aku bisa menutup mata untuk itu.

TBC…

38 thoughts on “[FF] Love is… (part 4)

  1. Mian baru komen ._.
    Ceritanya bagus!!!!
    Aduh uri bacon ;_; cemangat ya kaka *ini apa
    Kai jahat banget sih-_- sebel deh .-.
    Ohya sehun kok lama banget sih istirahatnya? ._.v
    Daebak deh author ^^

  2. Bagus thor😀 aku suka ff ini lanjuttt *telat* mian tapi rame aku harap ff nya bagus terus yaa oia thor kalau ada pw minta dong ;;) baik deh *modus* hhe sekian , dan intinya bagus aja ff nya🙂

  3. MAKIIN suka sama karakternya baekhyun oppa,,,
    eum,,,,baekhyun oppa,lw gitu,kita main barbie aj nyoikkkk,,,
    #dikeroyok kai,,

  4. asekkkkk…penasaran si eun yoo klo jd yeojachingu si kai…apa gaya pacaran mreka beda dr si baekki.?soalnya si kai rada2 pervert..huhu *pletak *maunya
    penasaran ah permintaan si eun yoo apa sih.??asal jgn minta yg aneh2 aje #jiiaahhh

  5. Ahhhhhh kaiiii knpa jahat bgt si, smpe eun yoo minta dy buat bujuk .. Terlalu bnyak tekanan k eun yoo jdi bkin dy kya gtu (˘̩̩̩_˘̩̩̩ƪ) ahhh kesian..

    Bgaimana nnti’y klo jdian sama kai.. Ga sepenuh hati lgi..

    End di part ini bkin penasaran, apa permintaan’y????

    Aku next part ya thor

  6. arghh kenapa kai sejahat ituu sh?? harusnya kalo emg dia suka sm eunyoo dia gk bakal ngelakuin ituu. tapi baekhyun tetep tegar,gigih,dan tangguh(?) dlm menghadapi hidupny.. dia beneran cinta sm eunyoo>,< aigoo eunyoo kau beruntung!! baca ff ini ikutan deg degan thorr seakan salah satu castnya keke~~ okee lanjutt baca!!

  7. huwaaaaaaa…… kenapa eun yoo mau sama kai TT.TT
    kasian pengorbanan baekhyunn thorr… tapi demi baekhyunn TT.TT
    aku salut sama eun yoo tetep mikirin baekhyun TT.TT
    tapi gag terima aja kenapa harus mau jadi yeojanya kai TT.TT

    kai nya benar benar jahat TT.TT tapi daebak bgt thorr ff nya🙂
    tetap fighting ya thorr.. ^^

  8. bener2 si Kai kesel banget deh liat tokoh dia di FF ini.
    bener2 ga punya perasaan bgt jadi cowo, tega2nya ngerebut pacar temen sendiri,
    Eun yoo juga kenapa harus begging2 ama Kai coba haduhhh ><
    ga ngeri maunya Kai itu apa sih, padahal dia cakep kenapa ga cari cewe yg lain coba hhfttt..

  9. hwaaaa
    kaiiiii.
    kapan kamu t0bat nak??
    kasianilah si baekhyun & eunyoo. . . .
    T.T

    aku ikud merana kalo baekhyun merana gitu
    T.T
    #huwaaaa
    #nangis b0mbay

    aduh, itu eun yoo minta apaan ama kai??
    #kepooo
    >,<

    kalopun eun yoo jadi pacarmu, dia ga bahagia, kai.
    sudahlah. cari pacar lagi~
    #st 12 m0de on
    #nyiaahahaha

  10. hwaaaa
    kaiiiii.
    kapan kamu t0bat nak??
    kasianilah si baekhyun & eunyoo. . . .
    T.T

    aku ikud merana kalo baekhyun merana gitu
    T.T
    #huwaaaa
    #nangis b0mbay

    aduh, itu eun yoo minta apaan ama kai??
    #kepooo
    >,<

    kalopun eun yoo jadi pacarmu, dia ga bahagia, kai.
    sudahlah. cari pacar lagi~
    #st 12 m0de on
    #nyiaahahahaa

  11. hufh.. complicated..
    ini masih chapter 4 tapi sudah serumit ini. Bisa gila aku.. AARRGGGHHHH..!!

    Negosiasi sih negosiasi Eun Yoo.. Tapi ini akan berbuntut panjang dan membuat FF ini jadi berakhir di chapter 10..

    complicated, pusssiiing..

  12. Baekhyun galau, eunyoo pun tak kalah galau… Dari liat pic di atas aku dah mulai ngira” cerita’e bakalan kek gimana. Dan aku baca chap ini perasaan ku ga bisa tenang, terlalu terbawa dalam cerita! Good job thor ^^

  13. Hwaa chanyeol emang hobi godain orang.. Duh ngakak mau ciuman aja gag jd..hehe

    itu kai emang licik deh mau dapetin cwek aja smpek sgivnya.. Itu gag mlah bkin yeoja tu jtuh cinta tp mlah bkin menderita..
    Kai.,dsar psyicho.? Trobsesi bgt ama eun yoo..
    Itu knp eun yoo mlm2 nemuin kai? Psti bkin prjanjian nih ama kai.,
    kai licik…
    #tampar pake bibir
    wkwkwk

    next..

  14. Aaaaaa baekki galau ..sekali lagi GALAU !!!
    Ckckck miris emang ,, SANGAT malah ..aaaa aku pengen cincang kai , trus d bikin bakso deh *what??
    Alhamdulillah ..wasyukurillah ..akhirnya kai ngerasa juga *nyanyialaopik chanyeol chayooo ,, semangat yoo ,, aku slalu dukung kamu !!!
    Waa trnyata d timnya ada kris juga toh , ada tao juga ngga ?? *celingakcelinguk ..oKAI lah gausah nanyain tao mulu skarang mndingan ngomandoin KrisYeol untk ngebakar abangKAI siapa tau aja enak kalo disate HH ..

    Hey eunwoo apa yang kamu lakuin ?? Plis jangaaaaannnnn !!! Jangan tinggalin baekkiiiii huks *nangisnihceritanya ehehe ..

  15. jrengjreng. awal awal nya bagian menyenangkan. tapi…..lamalama akhirnya bagiannya kok jadi jleb banget :'[
    permainan kata kata nya lumayan bagus unn. aku jadi merasa terbawa langsung ff nya(?) *what?*
    aku kira mereka nonton BD pas…….. ‘itu’ annya wkwk ternyata pas ciumannya.
    Kai bener bener licik ya.hm. kasian baekyoo:’/

  16. T.T
    baekhyun oppa….
    serius…. FF nya menguras emosi, pengkarakteran baekhyun, eun yoo and kai keren beud….
    Btul2 pelik masalahnya, aku jg prnah di hdapi oleh permasalahn sperti itu, tp dg objek yg berbeda pstinya.. pkoknya gmna…gt rasanya
    # -,-” lhoh kok curhat ya?? Hehe…
    Yg pnting FF nya daebak, I LIKE IT… ^^

  17. Aigoooo kasiaaan uri baekie T_T ..
    Ah memang repot ya jd cwok, slalu deh ч̲̮̲̅͡ğ namanya harga diri no.1..
    Kasian tim basket jd mati2an berjuang bwt menang, pdhal klo ª∂a̲̅ baekie bsa menang mudah.. Aarggh geram liat kai. Kai emank tlalu individual, dia terbiasa sndiri n bner2 bruk dlm hal scra “sosial”, ya gara2 dia srg pindah2 sih jd slalu membentengi diri utk gªκ̣̇ terikat dgn lingkugannya.
    Jd pnasaran klo nti eunyoo jd ma kai, kira2 kai bkal berubah gªκ̣̇ ya?
    Trus baekie gmn? Wlopun dia bs maen bsket lg, tp tanpa eunyoo mana bisa?
    Aiish pnasaran, yoo go to next chap..

  18. Awalnya kasian sama baekhi and eunyoo doang tapi lama-lama simpatinya lari ke kai juga deh….

    Yang kuat ya baekhi sama eunyoo..
    Kai juga, berhentilah mencintai eunyoo dia itu udh miliknya baekhyun oppa….

  19. nahkannnn baru dibilaannnggg.. Eun yooo yaampuuunn.. Aahh kasian sm baekkie nyaa..

    Aigoo.. Sempet berkaca2 ini bacanyaaa.. Walaupun ga pernah ada di posisi nya baekhyun siihh.. Ah ya sudahlah ini biar bagaimanapun tetep keren.. Lanjut lah..

  20. Keren keren. Eun yoo emang egois *plakk* Kekeke. Ada kris sama luhan ternyata. Baekhyun nonton breaking dawn? Wah wah wah… bahaya ini anak -_-
    Menurutku, kai sebenernya baik tapi dia terlalu terobsesi sama eun yoo. Saoloh, ini ceritanya emang menguras emosi. Sangat menguras. 3 orang mencintai, 3 orang tersakiti. Wah semoga baekhyun nggak galau lagi ntar.

  21. aigo eunyoo rela banget jadi pacar kai biar baekhyun bisa main basket lagi. duh terharu *elap ingus(?)*
    kai pasti seneng banget tuh wkwk

  22. Aigoo kai masih keras kepala, makin menyebalkan. Yaudah baekhyun sini aja sama aku *peluk peluk baekhyun. Tapi bagus sih thor, semuanya berjalan mengalir apa adanya. Ceritanya gak maksa. Pokoknya baekhyun jadi pacar idaman deh disini

  23. Uuuuhhh
    ga bisa komen pa-pa.
    ALF neo jinja daebak !!!!
    Jago banget bikin aku & readerdeul kaya masuk di cerita ini(?)
    kesel+kasian ama kai
    sedih+cinta buat baek
    kalau buat eunyoo yang saba iia neng,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s